Page 1


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau keseluruhan isi buku ini dalam bentuk apapun secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan tehnik perekaman lainnya, tanpa seizin tertulis dari penerbit. Rujukan dari maksud Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan dan memperbanyak ciptaan pencipta atau memberikan izin untuk itu, dapat dipindana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Bunga Rampai Cerpen Minggu

Minggu Ke-VII Periode: 05 - 12 Agustus 2012

iii


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Bunga Rampai Cerpen Minggu Minggu Ke-VII Periode: 05 - 12 Agustus 2012

All Rights Reserved Riset & Dokumentasi: Ilham Q. Moehiddin Gambar Sampul: Repro OpenArt Gambar Belakang: Repro Fatima Tomaeva Gabellini | OpenArt Desain sampul: IFW ArtDesign

Agustus, 2012 x + 318 hal; 21 x 29,7 cm

iv


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

bunga rampai cerita pendek yang sedang anda baca ini adalah kumpulan yang diriset untuk dokumenasi. tidak ada kepentingan lain, kecuali sebagai data-base semata.

v


Daftar Isi

Daftar Isi o

Pengantar | viii Kebun Merah Hati | 1 Kolak Emas | 8 Sisi Lain Bapak | 22 Sayap Abdi | 31 Mel, Ini Aku | 38 Merah Marah | 44 Awan Merah Jambu | 49 Laksa | 56 Potongan Kaki Perempuan | 64 Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | 74 Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop | 87 Upaya Menghindari Dosa | 96 Baju Lebaran | 104 Tamu Lebaran | 112 Seragam | 120 Huh....! | 128

vi


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Kakek dan Peti Mati | 137 Hujan Anak Panah | 147 Gagak Hitam | 154 Romadhon Tanpa Bunda | 161 Cangik Jadi Ratu | 167 Bingkai di Atas Pusara | 176 Aku Akui, Ibu! | 185 Ngabuburit | 193 Pintu Lebaran | 200 Hujan | 211 Lelaki Reinkarnasi | 219 Menebus Impian | 228 Lebaran dalam Semangkuk Bakso | 237 Baju Baru untuk Putriku | 244 Requiem Ingatan | 250 Mei Lie | 258 Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit | 267 Tentang Telepon, Lebaran, dan Demonstrasi | 275 Menunggu Ibu Pulang | 282 Tak Usah Menunggu Lebaran | 293 Surat untuk Pelangi | 299 Kehilangan Jejak | 305 Adik Tak Selalu Nakal | 310

Lampiran | 315 Data Cerpen di Media Minggu Ke-VII, Agustus 2012

vii


Pengantar

Pengantar o

C

ERITA pendek selalu menjadi salah satu alat yang baik untuk menyampaikan pesan sosial, moralitas, kritik, pun solilokui. Karena itulah cerpen menjadi penting dalam perkembangan sastra. Di negara-negara dengan tradisi sastra yang maju, cerpen yang baik kerap dianggap sebagai suatu pencapaian tertinggi selain puisi. Banyak pemenang nobel yang lebih dikenal namanya melalui cerpen yang mereka tulis. Cerpencerpen para penulis ternama dunia juga dijadikan alat dalam pembelajaran kepenulisan cerita pendek. Kendati begitu, gagasan cerita tetap dituntut selalu segar. Gagasan, sebuah ruang privat penceritaan kini bergeser menjadi ruang yang lebih terbuka dengan berbagai macam penyebutan atau istilah--atau dapat kita sebut saja: perluasan, penyegaran, reduksi, pinjaman, terinspirasi, dll. Demikian privatnya sebuah gagasan sehingga untuk sekadar meng ikutinya saja, kita perlu menemukan serangkaian istilah, agar si pengguna tidak terjebak dalam mainstream plagiasi. Di sisi lain, langgam kepenulisan telah menempatkan gagasan menjadi sesuatu yang ekslusif dalam penceritaan. Berbagai genre yang diusung para penulis ini, memberi nilai yang lebih terhadap posisi sastra cerpen, dengan viii


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mereposisinya ke tingkat tertentu. Maka cerpen, kian menjadi sesuatu yang menarik dan diminati. Tentu saja, untuk menghasilkan sebuah cerpen yang baik, siapa pun penulis mesti tahu dan memahami cara-caranya. Efek gaya cerita pada paragraf pertama kadang dijadikan maqom bagi media tertentu sebagai prasayarat sebuah cerpen layak terbit di kolom sastranya. Selera sastra setiap media berbeda, sehingga membuka peluang banyak penulis untuk bereksperimen, mencoba pendekatan baru dalam gaya penceritaan. Maka inilah yang menarik dalam sebuah tradisi per-cerpen-an di negeri kita: banyak ruang yang sengaja dibuka sekadar untuk melestarikan tradisi sastra agar senantiasa hidup dan berkembang. Tetapi, penulis pun harus tetap kreatif. Ini tuntutan masif. Penulis yang tak kreatif hanya akan memunculkan karyakarya bermutu rendah, dan cenderung membonceng pada gagasan karya lain. Mungkin, sekadar kreatif tidaklah cukup tanpa keterampilan menulis yang mestinya terus dipertajam. Rendahnya keterampilan menulis, adalah salah satu “ancaman� bagi perkembangan mutu cerpen Indonesia. Ini gejala yang mencemaskan, sebab masih kerap kita temui, pada setiap pekannya, cerpen-cerpen yang sebenarnya tidak layak terbit: terlalu banyak kekeliruan dalam penggunaan tanda baca, penulisan kata dan kalimat, serta hal teknis lainnya. Semoga sedikit ulasan ini menjadi perhatian kita semua; Anda dan saya. Salam, Penyusun

ix


Repro: Boris Indikrov | OpenArt

x


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Kebun Merah Hati Husen Arifin

o Published Š Harian Analisa, Minggu 12 Agustus 2012

u 1


Kebun Merah Hati | Husen Arifin

M

ATAHARI sudah mengetuk pagimu terburu-buru. Hari ini aku mendapat bagian meneruskan cerita yang aku janjikan padamu, sekadar mengurai kisah asmara dan kau tiba-tiba sedang duduk di meja dekat kasurku. Tatapanmu tak selesai ke bingkai sekecil ukuran box produk susu. Aku seru. Kau terpaku. Aku lempar bantal. Kau hanya memandang, lalu kembali bermuka sintal. Aku bilang jangan dilihat. Kau malah semakin di ratapan. Apa istimewanya? Di bingkai itu hanya aku dan perempuanku di kebun. “Aku mau kau mulai dari sini,” hanya terdengar suaramu tanpa wajah dan bola matamu. “Yang mana?” aku buka tirai jendela. “Yang di bingkai ini,” “Ooo… Nanti saja. Waktunya siram tubuh. Tunggu aku!” Aku bergegas ke kamar mandi tanpa hirau pada kesaksian pagimu melihatku dengan seorang perempuan. Aku berusaha meyakinkan ruanganku akan bersahabat kepada pemiliknya. Aku yakin, hanya dugaanmu tentang firasat atau suud’zzon atas kepergian yang tak terkemuka. Sebagai lelaki normal. Aku memiliki keinginan berdua dengannya atau meluangkan lima menit untuk bercumbu, tapi aku tak seperti hewan-hewan yang maunya bergantiganti pasangan. Bagaimanapun aku mengabadikanmu tepat di ubun-ubun dan tak lepas wajahmu di pikiranku. Cinta memang begitu seharusnya, tak perlu suka pada dua perempuan. Setia pada satu perempuan lalu ajaklah menjadi pasangan untuk kebahagiaan. Itu berlaku bagi kita yang benar-benar mencintai dan mengerti dan saling menghargai kekurangan-kelebihan. Baiklah, jam delapan ini aku ke kebun bersama perempuan yang sudah menunggu di kamarku. Dua bulan lalu, dia ingin sekali mendengar cerita tentang 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

hubungan kita dahulu. Sungguh, aku tak ingin mengulang peristiwa yang menyedihkan buatku. Aku kehilanganmu, sementara tak ada yang yakin kalau kau secepat itu berlalu meninggalkanku. “Itu mantanmu, bukan?” Dia begitu menebak dengan curiga. Aku mengusap kepalaku yang basah seolah tak mendengar meski aku telingaku paham kalimatnya. Dia seperti penasaran. AKU bersama perempuanku di kebun di bawah temaram senja. Sepulang kerja aku sering mengajaknya bermain bunga di kebun. Sebab di kebun, kita selalu mengawali percakapan tentang masa depan. Ah, aku selalu mendekatkan hidungku ke hidungmu. Biar kujangkau rinduku menuju hatimu. “Seperti di bawah pohon kamboja, kita akan sampai, Nda!” “Maksudnya apa Fin?” “Kita akan sampai ke masa depan” “Masa depan?” “Iya, masa depan kita.” “Kita?” “Bukankah kita belum mendapat restu dari orangtua?” “Semua tergantung kita yang memutuskan. Yang menjalankan hidup berumah tangga toh kita sendiri. Orangtua kita mengarahkan kepada yang terbaik saja, sederhana saja, kita menikah, beranak, dua saja dan kita membangun kebahagiaan begitu indahnya.” “Aku takut kita tanpa restu mereka dan menganggap kita pasangan durhaka.” “Apa? Pasangan drakula? Ogah ah, nanti kau hisap darahku.” “Ih, serius tahu.” 3


Kebun Merah Hati | Husen Arifin

Seakan ada jambu di pipimu. Memerah. Ranum. Ingin kupetik berkali-kali. Betapa kau elok dan cintaku tak ingin berbelok lagi. Berulang kubawa kau di kebun ini. Karena hatiku ingin seperti kebun di hidupmu. Teduh dan selalu menjadi naungan gelisahmu. “Aku takut kau setengah hati, Fin!” “Kok bilang begitu?” “Karena orang tua kita yang tetap tidak merestui kitakah, Nda?” “Bukan. Bukan masalah itu.” “Lantas apa?” “Bagaimana aku yakin padamu, sementara aku selalu menemukan perempuan di kasurmu setiap aku membuka pintu?” “Nda, tak ada di antara mereka seperti kamu. Mereka hanya bayang-bayang. Datang lalu menghilang. Aku tak pernah mencintainya seperti aku mencintaimu, Nda!” “Kenapa perempuan-perempuan itu begitu mudahnya?” “Jalan mereka. Aku tak memaksakannya, Nda.” “Kau berpura-pura mencintaiku, lalu kau setengah hati ingin memiliku. Aku takut kau bawa ke suasana begitu.” “Aku janji, demi Tuhan. Aku akan meninggalkan mereka demi kamu. Aku akan selalu menjaga kesetiaanku kepadamu. Pegang kata-kataku, Nda!” “Semoga saja. Baiklah kirimkan puisi-puisimu. Aku ingin malam ini kau menemaniku dengan puisi cintamu. Bulan Februari ini, aku ingin setiap hari di bawah senja, di kebun merah hati ini.” Kami melintasi jalan lengang. Sesekali kendaraan melintas, mereka penjual sayuran yang mau dikirim ke desadesa. Aku dan perempuanku terus mengukir perjalanan dengan doa-doa harapan, semoga kelak di akhir kehidupan, aku mendapatkan cintanya. Sesekali juga ia dekap erat 4


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

karena sepeda motorku kencang melaju, menebus trotoar sunyi. DI KEBUN, kita tidak menyempurnakan janji itu, mulai dari seminggu setelah kuhantarkan ia ke rumah. Aku menaruh curiga, apakah dia benar-benar ingin menghilang dariku atau orang tuanya melarang? Rasa kehilangan, rasa keterpurukan, rasa rindu. Semua berkecamuk. Aku tak sanggup berbuat sesuatu. Berulang kali kucoba untuk meneleponnya lalu meminta penjelasan atas ketakhadirannya saat itu. Entah, karena apa? Tapi ia diam tanpa menjelaskan sesuatu padaku. Aku seperti kehilangan segalanya. Dia tenggelam dari kehidupanku. Bahkan aku tak tahu kabarnya sampai aku tuliskan cerita ini. Padahal aku menginginkan pertemuan di kebun itu untuk mengungkap sesuatu. Seperti janjiku untuk memberanikan diri sebagai bagian dari belahan jiwanya. Aku ingin memohon kepada orangtuanya bersedia menerima lamaranku untuk menjadi istriku. Kasih sayang lelaki jambu di bulan merindu. Apakah ia memendam perih dan sedih mendalam? Mungkinkah itu semua lantaran ia tahu aku bersama perempuan-perempuan baru tiap hari di kamarku? Atau karena orangtuanya tidak sediakan lowongan bagiku? Rasa tanya itu yang membuatku gusar. Aku berlama-lama di kamar. Serasa tak ada lagi hidupku. Sambil memandangi wajahmu di bingkai itu, aku terasa sepi. Kesunyian yang berusaha menusukku. Aku tak mendapatimu di sampingku seperti di kebun. Haru. Linangan mataku terus mengalir ke sudut-sudut kamar. Aku terus mendiami kamar. Aku kesepian karenamu, Nda! Sudahkah kau membaca kesepianku ini. Yang dulu, setiap aku begini, kau datang menghampiriku dengan berlari-lari 5


Kebun Merah Hati | Husen Arifin

ke pelukanku. Mungkin saja, ini sudah bulan ke bulan, tak kuhitung berapa waktu yang kuhabiskan hanya untuk menyeduh senyummu bersama isyarat-isyarat cintaku. Yang hanya karena rinduku begitu sedalam lautan lepas. Di sampingmu dulu, aku sering mengutarakan apa yang menjadi impian sederhanaku. Sederhana saja. Kita menikah, beranak dua saja dan kita membangun kebahagiaan itu dengan indahnya. Sekarang, entah mengapa kau tak sesering dulu ber tandang, berlebur di kasur atau memasakkan nasi goreng mata sapi setiap pagi. Cuma bekas bibirmu di bajuku yang meninggalkan kenangan. “MANTANMU cantik juga?” “Perempuan itu seper ti bayang-bayang. Karena kehadirannya aku sering terjebak di bayanganku sendiri.” “Maunya siapa?” “Entahlah.” Parfum Bellagio mewangi ke sekeliling kamarku. Hidung perempuan selalu mengendus baunya. Tak percaya itu, coba pakai, sekali saja ke tubuhmu. Aku pakai baju dan bersiapsiap ke kebun untuk menemui peristiwa dan peristiwa. Di kebun, aku mengajakmu bercerita yang sama, memimpikan yang sama, membangun keluarga yang sama, beranak dua saja. Lantas, kau menyudahiku dengan satu irama, satu bahasa. Kau juga menjelma bayang yang membuatku terkesima. Apakah kau di sana menyaksikanku, Nda? n

6


Repro: Adam Martinakis | OpenArt

7


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

u

Kolak Emas Agung Dodo Iswanto

o Published Š Annida Online, Senin 06 Agustus 2012

u 8


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

A

LLAH selalu punya skenario agar hamba yang dicintai-Nya kembali. Aku sampai ingin nangis darah dapat pengalaman ini, tapi cuma sebatas ingin doang. Secara akhirnya mah kalau nangis kan yang keluar air mata, ya? Pengalamanku kehilangan uang membuatku bersyukur kalau ternyata nikmat lidah yang bisa mencecap rasa saja betul-betul karunia luar biasa dari Allah, tak sebanding dengan duit sejuta ataupun jika Allah mengubah kolak jualanku menjadi emas. AKU suka bulan Ramadhan. Di bulan ini konsumsi masyarakat jauh meningkat dalam banyak hal. Sepertinya mereka tak pernah berpikir membelanjakan uang. Begitu boros, jadi buat tukang dagang sepertiku, Ramadhan ini sangat menguntungkan. Padahal kalau puasa kan hanya makan 2 kali, ya? Atau jangan-jangan jadi makan 4 kali malah? Bagi kebanyakan orang bulan Ramadhan dijadikan waktu khusus untuk ibadah, tapi bagiku ini adalah bulan untuk meraup sebanyak mungkin uang. Hampurakeun abdi, Gusti. Maafkan saya, Ya Allah. Mudah-mudahan tidak kualat. One day one million. Target jualan hari ini, dapat keuntungan bersih satu juta. Bersama Romy, aku akan melakukan mission very possible ini. Let’s the story begin‌ Selepas sholat subuh, kutinggalkan kosan mungil seluas 3x4 meter di daerah Panyaungan ini. Suasana masih sangatlah gelap, apa matahari bangun kesiangan kali? Bermodal sepeda jangkung merah polos tanpa stiker, ku telusuri jalanan desa yang sudah di aspal seroda demi seroda. Seperti biasa, pemandangan subuh hari selalu dihiasi lalu lalang kakek-kakek tua yang baru selesai shubuh berjamaah di mesjid. “Ngambil baju lagi, Gus?â€? tanya kakek tua kurus dengan 9


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

peci hitam dan baju batik yang sama tuanya dengan beliau. Pak Ajat. “Iya, Pak!� ujarku singkat sembari merendahkan kepala. “Mudah-mudahan dagangannya laku keras, Gus!� ujar lagi kakek lain yang telah tertinggal di belakangku. Enaknya berangkat subuh itu banyak sekali dapat doa dari kakek-kakek. Kalau kuperhatikan ada satu, dua, eh ternyata nihil pemuda seumuranku yang ikut itu rombongan. Rata-rata usia mereka dua sampai tiga kali umurku. Tapi doa saja tentu tidak cukup untuk hidup di dunia yang keras ini, kawan. Konveksi Pak Ronny tempatku mengambil barang dagangan itu letaknya ada di Cicalengka. Kebayang kan jarak Cileunyi-Cicalengka pakai sepeda? Satu sampai satu setengah jam, brow. Mumpung jalanan masih sepi juga. Sesampainya di konveksi Pak Ronny, wilayah Cicalengka dan sekitarnya telah tersentuh oleh hangat dan terangnya sinar matahari. Jam tangan karet (bukan jam karet) di lengan kiriku telah menunjukan pukul enam tepat. Teman-teman seprofesi dari berbagai usia sudah menyerbu konveksi ini. Ya, dari berbagai usia, soalnya ada juga anak yang baru lulus SD mengambil dagangan di sini. Ngerti kan gimana muaknya hidup di dunia ini? Untunglah masih ada orang baik kayak Pak Ronny, kami boleh mengambil barang dagangan secara cuma-cuma baru uang hasil dagangan dan barang dagangan yang tidak laku disetorkan hari itu juga. Jadi sistem kerjanya based on honesty, bahasa Inggrisku jelek banget, ya? Semua pedagang yang kerja sama dengan Pak Ronny adalah orang-orang yang jujur, karena memang sebelumnya ada step by step sehingga seseorang dipercaya untuk ngambil barang. Aku mulai memilah dan memilih baju koko anak yang sekiranya menjanjikan bisa terjual. Memang masa 10


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

pertengahan Ramadhan ini ibu-ibu biasanya sudah mulai mencari baju lebaran untuk anak-anak mereka. Ketika konsumen membutuhkan, kami menawarkan. Itu kan prinsip berdagang? Dua puluh piece pakaian dengan berbagai warna dan motif telah kudapatkan. Setelah melakukan administrasi ke Rina, aku pun berpamitan ke Pak Ronny. Kali ini ransel hitam butut di punggungku telah terisi penuh, lagi-lagi dengan sepeda merah aku arungi berbagai kampung dan desa untuk menunjukan skill dan teknik berdagangku yang hebat. Ingat target, one day one million. Ku ubah rute perdagangan jalur reguler, biasanya Cicalengka-Haur Pugur-Warung Cina-Rancaekek sekarang jadi jalur perdagangan lintas kota, Cicalengka-Parakan Muncang-Tanjung Sari-Jatinangor-Cileunyi. Empat jam berlalu sudah, alhamdulillah baju koko sudah terjual setengahnya. Kalau tidak ingat sedang puasa ingin sekali rasanya minum. Aku putuskan untuk beristirahat dulu di sebuah mesjid yang berukuran sedang-sedang saja. Tidak terasa sudah di Jatinangor lagi, di daerah Sayang. Baru lima menit aku bersandar di tembok mesjid, ibuibu berbaris rapi keluar dari pintu mesjid usai pengajian. Kemudian seorang ibu melirik kumpulan baju koko dari ransel hitam yang terbuka tergeletak di lantai sebelahku. “Icalan naon, Jang? Jualan apa, Dek?” tanya ibu paruh baya dengan jilbab biru yang cantik, jilbabnya loh yang cantik. “Eh... ieu ibu. Baju koko kanggo murangkalih! Ini Bu, baju lebaran untuk anak-anak!” Aku yang setengah tertidur tiba-tiba terperanjat dan menjawab sekenanya. Bahasa Sundaku juga jelek sekali. Baju teh bahasa Sundanya bukannya acuk, ya? “Pangaosna sabaraha, Jang? Harganya berapa, Dek?” 11


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

“Mirah ibu, 75 rebu. Tiasa ditingal heula ibu, tiasa dipilih. Mangga. Murah Bu, 75 ribu. Boleh dilihat dulu, bisa dipilih. Silahkan.” Aku benci bahasa Sunda karena aku tidak bisa, huu…huu! “Tujuh puluh lima rebu?” Ibu itu terlihat tidak terlalu senang dengan harga yang kutawarkan, yah seperti ibu-ibu pada umumnya. Padahal dari Pak Ronny sendiri baju ini dipatok Rp. 49.000, dan aku menjual dengan keuntungan setengahnya lebih sedikit. Yang tragis kemarin, aku bawa jilbab dan hijab buat ibu-ibu dan tak ada satu pun yang terjual. Kenapa lagi kalau bukan karena kesepakatan harga yang tidak cocok. Benar-benar menyedihkan. Ibu itu mulai meraba-raba bahan baju koko lalu memperhatikan baik baik motifnya, lalu air muka si Ibu berubah sangat jelas sekali. Wajah Ibu itu tersenyum dan menampakan rasa penasaran. “Motifnya bagus, bahannya juga nggak murahan. Kalau cuma Rp. 75,000 sih saya beli baju ini.” Eh? Tiba tiba si Ibu berubah pikiran. Kayaknya ada aura positif nih. “Tunggu sebentarnya, Jang. Saya ngambil uangnya dulu.” Si Ibu bergegas meninggalkan mesjid, ibu-ibu yang lain mengalihkan pandangannya ke arahku. Bravo, kayaknya hari ini hari keberuntunganku. Tumben Allah kok baik banget, ya? Jangan-jangan ada apa-apanya nih di belakang? Kacau memang aku ini. Ibu paruh baya berjilbab biru tadi kembali menghampiriku, dengan tiga lembar uang berwarna merah bergambar Presiden Soekarno dan Moh. Hatta, dia memborong empat baju koko sekaligus. “Buat cucu saya, Jang, buat hadiah lebaran mereka.” serunya. “Sae ibu... sae pisan. Bagus ibu… bagus sekali.” Aku hampir ketawa terbahak-bahak memuji si Ibu. Yang bagus 12


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ya karena daganganku ludes lah. Dengan sedikit pemantik dari ibu berjilbab biru tadi, akhirnya belum sempat adzan dzuhur berkumandang seluruh daganganku telah ludes terjual hehehe. Alhamdulillah, akhirnya modal buat jualan kolak nanti sore terkumpul juga. Sebagai bentuk syukur dengan senang hati aku sholat berjamaah di mesjid yang tak mungil tapi tak juga luas ini. Yah, aku pribadi memang malas tak malas sholat berjamaah di mesjid. Sehabis sholat dzuhur tujuan perjalananku —> adalah Bank Al Ma’soem Dangdeur, nah loh? Bukannya ngambil uang tapi nitip sepeda di parkiran di samping bank itu. Aku segera naik angkot ke Kencana, ke rumah Romy. Karena kepada tetangganya lah kami mengorder kolak untuk jualan di depan pabrik garment. Dengan keuntungan Rp. 520,000 dari jualan baju. Hampir semuanya kugunakan untuk membeli kolak, yah hampir semuanya kawan. Karena dengan jualan kolak ini lah target keuntungan satu juta hari ini bisa kudapatkan. Selama awal bulan Ramadhan kami berdua hunting tukang dagang kolak yang murah, banyak dan enak. Karena memang kami berdua tak bisa bikin kolak. Dengan usaha yang keras akhirnya kami mendapatkan suplier kolak yang murah, banyak dan enak itu tadi. Ternyata supliernya itu masih tetangga Romy sendiri. Rp. 2,500 per cup, murah sekali kan? Tahukah kawan berapa kami akan menjualnya di pabrik garment? Kita tunggu sore ini ya. “Maneh, kamu akhirnya datang juga, Gus. Dikirain ga punya modal?” sambut Romy sesampainya aku di depan rumahnya. “Sembarangan! Nih lihat hasil jualan baju tadi pagi!” jawabku ketus. Romy menghitung lembar demi lembar uang hasil jualan 13


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

baju tadi, “Wah loh dapat sejuta lima ratus, Gus? Ga nyangka. Ga jadi dagang kolak dong?” “Eh itu mah hasil jualan baju, bukan keuntungan jualan baju,” ku ambil kembali uang yang ada di tangan Romy. “Nih, Rp. 500,000 kasihin ke Bu Ika. Kita ambil kolak dua ratus cup! Seperti biasa kamu datang duluan ke depan pabrik garment jam setengah empat, langsung ambil meja jualan di bawah pohon. Urang, saya masih harus ke Cicalengka dulu, ngasihin setoran ke Pak Ronny!” “Oceh deh, dua ratus cup harus habis nih, rada menantang yeuh. Kamu mau langsung cabut ke Cicalengka?” “Ya eyalah, kalau enggak sekarang enggak akan keburu!” “Dikirain mau minum dulu atau duduk santai sambil ngerokok.” “Gini-gini masih punya iman kali. Ya udah saya cabut dulu, jangan sampai ngaret yah! “So pasti, jangan khawatir! Kali ini kutinggalkan Romy dengan wajah anehnya, perpaduan raut muka seperti anak kecil yang dapat permen dan preman pasar yang lagi dapat setoran, tapi dia itu memang satu-satunya temanku yang bisa dipercaya dan juga punya jiwa bisnis yang kental. Perjuangan belum berakhir, hampir seluruh keuntungan yang kupunya kujadikan modal beli kolak. Tinggal tersisa uang untuk ongkos kasih setoran ke Cicalengka. Akan kujadikan sore ini soreku. Today is my day. PERHITUNGANKU meleset, tak kusangka akan macet parah di daerah Kahatex, ada truk kontainer terguling. Walaupun sudah naik angkot tetap saja aku terlambat kasih setoran ke Pak Ronny. Sudah hampir jam empat tapi aku 14


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

masih belum sampai di Panyaungan. Kukayuh sepedaku sejadi-jadinya, jam segini baru sampai depan sekolah Alma’soem? Parah. Seharusnya aku sudah ada di Panyaungan sejam yang lalu. “Sorry brow, telat. Tadi ada truk kontainer jatuh deket Kahatex!” Terpaksa aku minta maaf, dengan wajah penyesalan dan nafas yang belum teratur, aku langsung bergabung dengan Romy yang sudah setia dengan stand mini jualan kami. “Hadeuh Gus, dikirain enggak bakalan datang. Tahu sendiri kan gimana ramenya bubaran karyawan garment? Kalau sendirian yang jaga bukan cuma kolaknya yang habis, duitnya juga bisa-bisa habis nanti!” Romy protes keras, karena dia memang kebagian bawa kolak ke sini plus bantu jualan. Aktor utama jualannya masih aku.”Iyah siap, kolaknya udah kejual berapa, Romy?” “Lima puluh cup, nih duitnya!” Romy memberikan uang berlembar lembar dengan memasang tampang cemberut dan jengkel teramat sangat. “Wehhh, gila brow. Belum apa-apa udah kejual lima puluh lagi. Emang pantes Allah ngasih tuh wajah ganteng. Kepake! Hahaha.” “So pasti, terlalu kalau tukang dagang ganteng kayak artis gini enggak ada yang beli?” Dasar, temanku yang satu ini memang punya percaya diri melebihi anggota parpol yang lagi kampanye. “Tapi kolaknya dijual Rp. 6,000 per cup sesuai yang dibilang, kan?” “Heu euh! Tadinya saya juga rada ragu, kita cuma beli ke Bu Ika Rp. 2,500 terus di jual Rp. 6,000? Tapi setelah lihat wajah ganteng ini, nggak ada yang protes tuh.” “Ahh, bilang aja Mr. Agus Prasetyo ini memang punya talent bisnis tingkat tinggi,” ucapku tanpa keraguan. “Iyah, kamu memang punya talent dagang. Juga punya 15


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

talent apes ga ketulungan, digilir lagi sial boro-boro bisa dagang kolak? Dagang baju aja enggak ada yang laku berhari-hari,” sindir Romy. “Namanya juga dagang Romy, yah kadang ada untung kadang kurang beruntung. Dah lanjut lagi dagangnya.” Kemudian aku membuka ransel hitam lalu mengambi Al Qur’an keberuntunganku dan menyimpannya di laci bawah meja. “Buat apa Gus, make nyimpan Qur’an di bawah meja segala. Takut ada tuyul?” tanya Romy ketus. “Bukan, supaya dagangan kita ini diridhoi oleh Allah.” “Kebiasaan loh Gus, dari dulu.” Sore itu seperti yang telah kuperkirakan, dagangan kami laris manis diserbu oleh karyawan garment. Bahkan karyawan pabrik lain juga banyak yang sengaja datang untuk membeli kolak kami. Romy memang punya daya tarik tersendiri, walaupun aku sedikit lebih ganteng darinya (yah sedikit, banyakan dia), karyawan garment yang kebanyakan dihuni oleh kaum hawa ini pertama kali terpikat oleh senyumnya yang menawan. Walaupun harganya sedikit lebih mahal, tapi berkat senyum Romy, kolak yang satu cupnya memang banyak dan kurasa rasa kolaknya juga enak –kalau dicicipi sekarang– membuat sore ini benarbenar jadi milikku. Aku sendiri sedikit kesal karena banyak berdesakan dengan perempuan-perempuan yang bukan muhrim ini. Kebanyakan pada ingin berdekatan dengan Romy (ini sih kesal bukan karena mereka bukan muhrim, tapi ya karena yang berdesakan ingin deketan sama Romy bukannya aku, hiks), tapi setelah bubaran pabrik garment berakhir, segala sesuatunya sungguh sangat memuaskan. “Wah, sumpah deh Gus. Asli, kamu cerdas banget. Tadi saya bawa nih kolak dua ratus cup, sekarang tinggal sisa 16


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

satu doang? Luar binasa!” “Yeah, Alhamdulillah Romy! Eh, luar binasa? Luar biasa kali, hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Tuh uang yang ada di kaleng tempat kembalian ambil aja buat kamu.” “Yang di kaleng? Ah, serius loh Gus! Hampir 200 rebu loh?” “Iyah serius. Soalnya yang sejuta udah saya amanin di dompet. Hehehe.” sembari menepuk nepuk saku celanaku sebelah kiri. Anggap saja fee buat sewa Romy jadi SPB. “Ahh, sorry nya, Romy. Saya langsung cabut ke kosan, belum mandi dari tadi pagi!” pamitku pada Romy, sekaligus secara tidak langsung minta tolong membereskan meja jualan ini. “Oceh, siap Bos. Mimpi apa semalam, dapat 200 rebu cuma sekali jualan kolak begini.” Romy asyik dengan dirinya sendiri. Yah kalau aku pribadi ini bukan mimpi lagi, udah jadi target. One day one million, clear! KUTANGGALKAN kaos coklat polos yang dari tadi pagi basah kering bergantian menjadi saksi bisu aksi heroik menyelesaikan misi one day one million. Kedua kakikku juga jadi merah berjam jam mengayuh sepeda merah dari pagi sampai sore. Mandi sore sehabis bekerja keras sungguh sangat menyegarkan, kalau hati senang memang jadi lupa makan lupa perempuan. Asal jangan lupa sholat dan puasa saja. Setelah berpakaian, kini saatnya menikmati hasil jerih payahku seharian penuh. Ku ambil kembali celana jeans yang tadi kupakai. Bagai seorang yang tersambar petir di sore hari bolong, alangkah terkejutnya ketika kusadari dompet satu juta ternyata sudah menghilang dari saku celana. Kapan 17


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

dompetnya menghilang? Kenapa aku sampai tidak sadar? Kugeledah seluruh ruangan dan halaman kosan mungil ini, hasilnya nihil. Tidak ketemu. Betapa tololnya aku ini, bukankah sebelum pulang dari pabrik garment tadi masih sempat ku tepuk-tepukkan tangan ini ke saku celana? Cih, kemungkinan besar aku kehilangan dompet itu ketika berdesak-desakan dengan para pembeli tadi. Aku sungguh bodoh, bodoh, bodoh sekali. Tak terasa air mata mengalir dari kedua bola mataku, aku menangis seperti anak perempuan. Ada air mata tapi tidak bersuara, aku benar-benar putus asa. Kenapa jadinya seperti ini? Tak perlu kugambarkan bagaimana perjuanganku dari tadi pagi untuk mendapatkan uang itu, tadi aku cuma sahur dengan segelas air putih. Kemarin aku tak berhasil menjual sepotong baju pun, apalagi jualan kolak. Sisa uang yang ada hanya cukup untuk beli nasi buat buka puasa saja. Sekarang, aku bahkan tidak memiliki sekeping uang logam seratus rupiahpun. Suck! “Allahu Akbar... Allahu Akbar,� suara adzan yang sudah sangat kukenal berkumandang, itu suara Pak Ajat, kakek tua yang subuh hari tadi mendoakan kelancaran daganganku. Sampai adzan berakhir dikumandangkan, air mataku masih saja mengalir, tanpa suara. Ku usap air mataku, kata Pak Ustadz kalau buka puasa itu harus disegerakan sekalipun hanya dengan air putih. Yah dengan air putih, kok aku malah jadi ingat itu ya? Aku hampir lupa, di ransel hitam masih ada satu cup kolak sisa daganganku tadi. Yah masih mending lah, masa sahur air putih buka ketemu air putih lagi? Dengan menggunakan sendok plastik putih, secara perlahan kutuangkan kolak itu ke dalam mulutku. 18


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Ya Allah, manis sekali!� Kurasakan cairan lembut campuran santan dan gula merah itu melumer di lidahku. Manis, manis sekali. Kontras dengan suasana hatiku yang sangat pahit ini. Air mataku kembali membasahi pipi, tapi bukan air mata kesedihan. Anehnya aku malah tersenyum, ah mungkin ini cara Tuhan menghibur hatiku. Hanya Tuhan yang bisa melakukan hal seperti ini. Aku menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tak peduli mengganggu tetangga kosanku yang lain. Ya Allah, sungguh banyak sekali manusia yang mengingkari nikmatMu. Perasaan menikmati manisnya kolak dengan tulus ini langsung mengingatkanku pada sebuah cerita guru waktu SMA dulu. Tentang seorang Raja yang sedang barusuh (sakit tenggorokan), lalu dia ditanya oleh ulama jika harus memilih di antara dua; seluruh wilayah kerajaan kekuasaanya atau nikmat segelas air putih di atas mejanya. Sang Raja ternyata lebih memilih menyerahkan seluruh wilayah kerajaan kekuasaannya itu daripada kehilangan nikmat segelas air yang menyegarkan hausnya. Ya Allah, sungguh hambaMu ini sangat menyedihkan. Jikalau Engkau menawarkan kolak ini dijadikan emas dan diganti dengan kehilangan nikmat segelas air yang menyegarkan tenggorokan, tentulah aku tidak akan mau. Apalah artinya emas jika sebuah kenikmatan minum air saja dicabut dari kita? Kolak ini sungguh lebih berharga dari emas, nikmat ini sungguh lebih berharga dari seluruh kekayaan yang ada di muka bumi. CERITA masih berlanjut kawan, untuk pertama kalinya aku sholat berjamaah Isya dan Taraweh di mesjid dengan kesadaran penuh. Yah, kalau mau hitung-hitungan capek 19


Kolak Emas | Agung Dodo Iswanto

tidak capek sih mendingan tidur di kosan sambil kelaparan dan kelelahan. Aku ingin sedikit membuka mataku, membuka hatiku. Tuhan telah menghiburku dengan caraNya. Mencari uang itu penting, tapi kalau kita lupa dengan Yang Memberi kita rezeki, itu sama saja bohong. Aku terkejut setelah pulang tarawehan ternyata Romy sudah menungguku dengan Revo bututnya di kosan. Aku meninggalkan Al-Qur’an kesayanganku saat jualan di pabrik garment tadi, dan bukan cuma itu, tapi ternyata uang satu jutaku terselip di Al-Qur’an itu. “Ahh, kebiasaan maneh, Gus, nyimpen duit di Qur’an. Mana lupa dibawa lagi, bisa kualat! Untung temanmu ini yang nemuin, kalau orang lain udah dibawa kabur nih duit!” seru Romy sedikit kesal. Yah, memang cuma Allah yang bisa begini. Aku tak bisa berkata kata apa lagi. One day one million plus a cup of kolak. Clear. (Can this imagination be true?) End. n

20


Repro: Eric Marette | OpenArt

21


Sisi Lain Bapak | Nikmatus Solikha

u

Sisi Lain Bapak Nikmatus Solikha

o Published Š Annida Online, Rabu 08 Agustus 2012

u 22


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

M

IRIS hati Nurdin teringat bapaknya yang meringkuk di tahanan. Makin kurus tak terawat, juga sakit-sakitan. Satu lagi yang menambah beban pikiran Nurdin, kondisi ibunya yang tiap hari cuma cengengesan sambil asyik bercakap dengan bantal, atau kalau tidak, saling tarik menarik dengan beberapa orang yang sebenarnya berbaik hati membantunya menghabiskan obat. Yah, begitulah kebiasaan wanita itu sejak jadi penghuni tetap rumah putih, khusus untuk penderita gangguan jiwa. Benar-benar misis, bukan? Dunianya kini bak dijungkir balik. Bahkan kemungkinan besar Nurdin harus mengubur harapannya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. jangankan kuliah, bisa mengganjal perut tiap hari juga syukur. Ah, tak perlulah ia berharap banyak. Hidupnya kini pun hanya menumpang di rumah Ustadz Zulkifli yang sudah menganggapnya saudara sendiri. Malang nian hidup bagai parasit, tapi menghidupi diri sendiri juga belum sanggup. Tak pernah dibayangkan hidupnya berubah dalam sekejap mata. Dari terpandang menjadi hina. Belum lagi cerca dan gunjing para tetangga yang tiap harinya harus ia terima. Menyakitkan! Jika bukan karena dukungan dan ceramah yang diberikan Ustadz Zulkifli tiap lepas jamaah sholat Shubuh, mungkin ia sudah memilih melilitkan tambang di lehernya, atau menenggak racun yang dulu sering digunakan ibunya untuk membasmi tikus. “Tiap manusia yang hidup pasti akan diberi ujian. Seperti halnya sekolah, manusia juga akan meningkat derajatnya di mata Allah jika berhasil melalui ujian yang diberikan.� Kalimat Ustadz Zulkifli terngiang kembali. Inikah ujian yang dimaksud? Memang, dulunya ia merasa tak pernah mendapat cobaan. Hidupnya bahagia, tak kurang suatu apapun, tapi kini? Ah, bahkan bisa dibilang Nurdin tak punya 23


Sisi Lain Bapak | Nikmatus Solikha

apapun. Ironis memang. “Tapi, bukankah pada dasarnya manusia memang tidak punya apapun?” sindir Ustadz Zuklifli suatu ketika, “Ndak usah sesali sesuatu yang sudah nggak ada.” Dan saat itu, Nurdin hanya mengangguk dan membatin kalau ucapan Ustadz ada benarnya. “Ndak usah mikirin yang berat-berat.” Ustadz Zulkifli menepuk pundak Nurdin dari belakang. “Memangnya lagi mikir apa lagi kamu?” “Bapak dan Ibu, pak Ustadz. Kasian mereka.” Nurdin termenung di beranda rumah. Belum juga matahari terbit, ia sudah banyak habiskan waktu untuk melamun. “Musibah itu datangnya dari diri sendiri. Jika Allah menyayang i hamba-Nya, maka Ia akan memberikan balasan atas kesalahannya di dunia, sehingga bersihlah dosa-dosanya.” Ustadz Zulkifli duduk di kursi bambu. Berdampingan dengan Nurdin. “Apa bapak akan diampuni dosanya?” Ustadz Zulkifli tersenyum, sejurus kemudian menepuk pundak Nurdin, “Allah Maha Pengampun, ingat itu.” Nurdin hanya mengangguk, lantas kembali termenung, teringat saat dulu, Nurdin akan tersenyum senang tiap mendengar pendapat orang tentang ‘buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya’. Betapa tidak? Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Nurdin yang menjadi putra tunggal Widodo Kusuma, seorang anggota dewan yang terkenal sangat baik dan bijaksana. Sejak diangkat sebagai salah satu anggota dewan perwakilan rakyat, bapaknya itu makin dermawan saja. Tak seperti orang-orang lain, yang biasanya akan menjulang sisi sombongnya ketika derajatnya terangkat. Nurdin bersyukur, bapaknya tak seperti kebanyakan orang. Mungkin karena Widodo dibesarkan di lingkungan yang sederhana, jadi hingga kini pun tak pernah ada gaya hidup 24


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mewah dalam kesehariannya. Tak cuma Nurdin yang berpikir bahwa bapaknya itu pribadi teladan, yang ia dengar dari penuturan warga sekitar tempat tinggalnya, Widodo memang pribadi yang bersahaja, penampilan dan tutur katanya begitu apa adanya. Meskipun kekayaan yang ia peroleh lebih, pria tengah baya itu tak pernah berniat meninggalkan rumah sederhananya di kampung. Tak salah memang jika Widodo disegani. Menurut Nurdin, bapaknya itu patut mendapatkannya. “Din, bapakmu mau bangun masjid di kampung, ya? Kemarin Abah sudah ngukur tanah waqofnya,” ujar Mahmud, putra Sulung Haji Hasan yang sempat mendengar kabar dari Abahnya, bahwa Widodo akan membangun masjid besar di kampung. Sedangkan Nurdin hanya tersenyum simpul. Tak tahu harus memberikan respon bagaimana. Bukankah bapaknya selalu berpesan, “Kalau beramal itu harus ikhlas, Le. Kalau bisa, jangan sampai orang lain tahu, khawatir hati kita diracuni sombong.” Nurdin langsung setuju dengan nasihat Bapaknya. Beramal yang ikhlas itu seperti membuang hajat, tak perlu diingat dan jangan sampai orang lain tahu. Meski demikian, Nurdin tetap saja tak habis pikir mengapa para tetangga tetap saja tahu tentang amal yang dikerjakan Bapaknya. Masih jelas dalam ingatan Nurdin, setahun sebelum diangkat menjadi DPR, bapaknya pernah mengucap nazar, jika ia di terima sebagai anggota dewan, maka ia akan membangun masjid di tengah kampung. “Siapapun yang menyisihkan sebagian rejekinya untuk kepentingan masjid, insya Allah pahalanya juga mengalir, Le,” jelas Widodo suatu ketika Nurdin bertanya mengapa bapaknya sangat ingin membangun masjid. “Mengalir?” Nurdin memiringkan kepalanya. Masih tak mengerti maksud bapaknya. 25


Sisi Lain Bapak | Nikmatus Solikha

“Iya. Misalnya saja, kamu mewakofkan sajadah di masjid, tiap sajadah itu dipakai orang buat sholat, kamu juga dapat pahala.” “Jadi, makin banyak yang kita sumbangkan ke masjid makin banyak pahala yang mengalir?” tanya Nurdin saat itu dengan wajah antusias. Tentu saja muncul niat dalam pikiran Nurdin, kelak ia akan rajin beramal seperti bapaknya, tokoh yang ia banggakan. “Insya Allah...” Widodo tersenyum sembari mengusap kepala anak bujangnya yang baru menginjak remaja. “Tapi, belum tentu juga, Le!” sambung Widodo. “Kok belum tentu?” Nurdin menautkan alis. Bukankah tadi bapaknya sendiri yang bilang amal untuk masjid itu membuat pahala mengalir? “Kalau beramal tapi nggak ikhlas, alias dipamer-pamerin sama tetangga, ya percuma, Le...” Nurdin mengangguk mengerti. Benar juga apa kata bapaknya. Ah, ya! Tentu saja kuncinya ikhlas. Widodo resmi diangkat menjadi pegawai DPR setahun setelah mengucap nazar. Dan benar saja, pria itu menepati janjinya untuk membangun masjid. Tak hanya itu, ia menyantuni anak yatim, merenovasi panti asuhan, dan masih banyak lagi amal-amal yang Widodo kerjakan. “Bapak ini sudah tua, ya harus banyak-banyak nabung buat bekal di akhirat kelak.” Nurdin tersenyum. Tiap kali remaja itu bertanya, apa yang bikin bapak tambah dermawan? Pasti jawaban itu yang Nurdin dapat. “Tapi nggak semua orang tua kayak bapak, loh, banyak juga yang makin tua makin pelit,” puji Nurdin tulus. “Hahaha... dan nggak semua anak sepertimu, suka bikin kepala bapaknya besar.” Nurdin tertawa. Bapaknya itu memang ada-ada saja. 26


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

AWAL mimpi buruk Nurdin dimulai sekitar 3 bulan lalu, selepas mata pelajaran pertama berakhir, Nurdin dibuat terkejut dengan telpon dari ibunya yang mengabarkan bahwa bapaknya digelandang ke kantor polisi. “KPK menemukan bukti kalau bapakmu terlibat, Le.” Nurdin mendengar isak tangis Ibunya di seberang sana. “Mana mungkin bapak melakukan itu, Bu. Bapak kan orang baik.” Nafas Nurdin memburu, ia sangat yakin jika bapaknya hanya korban fitnah. “Semua berpikiran begitu, tapi sekarang bapakmu lagi diperiksa lebih lanjut.” Nurdin bergegas pulang sesaat setelah sambungan telpon berakhir. Selain suntuk memikirkan bapaknya, ia juga khawatir dengan ibunya. Takut-takut wanita itu pingsan saking shock-nya. Tuduhan KPK terbukti, dan Widodo resmi ditahan di tahun pertamanya menjadi DPR. Banyak yang kecewa, ternyata figur Widodo yang dibanggakan adalah seorang koruptor. Bahkan tak jarang rumah mereka dibanjiri massa. Berteriak-teriak menyerukan nama Widodo dengan embelembel cercaan, berdemo tanpa tujuan yang jelas, mungkin hanya meluapkan emosi. Ada pula yang mengutuk KPK yang membuat Widodo masuk penjara. Menurut sebagaian pihak, Widodo hanya perantara yang mengambil uang rakyat untuk dikembalikan pada rakyat. Tapi, siapa yang peduli? Hukum masih berlaku di negara ini. “Jadi, bapak berusaha membeli surga dengan uang haram?” pertanyaan itu yang terlontar di kunjungan pertama Nurdin di tahanan. Widodo bungkam, tak berusaha melontarkan pembelaan. “Kebaikan bapak selama ini... ternyata bapak hanya pengen menipu malaikat!” Nurdin merasa dadanya sesak. Pastinya geram dengan tindakan bodoh bapaknya. 27


Sisi Lain Bapak | Nikmatus Solikha

Widodo sedikit mengangkat wajahnya, kini ia dapat menangkap gurat kecewa putra tunggalnya dengan jelas. “Bapak khilaf, Din,” kilah Widodo. “Maaf.” “Kenapa minta maaf padaku?” Nurdin tersenyum sinis. Ia sendiri ragu, apa masyarakat masih bisa memaafkan bapaknya yang ternyata seorang koruptor berkedok wibawa. “Kamu tau, Le... bapak dari keluarga miskin.” Widodo terisak, dan entah mengapa Nurdin merasa bersalah mendapati itu. Apalagi ketika bapaknya memulai cerita tentang masa kecilnya yang memang bercita-cita ingin menjadi anggota DPR. “Kamu tau kenapa bapak pengen jadi DPR?” tanya Widodo dengan jejak airmatanya yang mulai mengering. Nurdin hanya menggeleng sebagai jawaban, tanpa balik menatap bapaknya. “Tentu saja ingin melakukan perubahan!” “Jadi perubahan besar itu adalah korupsi besar-berasan?” Nurdin mencibir. “Itu khilaf! Sebenarnya bapak ndak tahan melihat temanteman sesama anggota dewan yang menghamburkan uang dengan terbang ke luar negeri berkedok rapat penting. Ujung-ujungnya? Mereka lebih banyak liburan.” Ada sesuatu yang terasa menghimpit dada Nurdin. Sesak. Rasanya Nurdin ingin menyumpal kedua telinganya. Tak ingin mendengar penjelasan tak masuk akal dari bapaknya. “Bapak ndak tahan melihat mereka yang pulas tertidur ketika rapat. Bapak ndak tahan mereka yang mencuri uang rakyat untuk bermain dengan wanita.” Widodo kembali terisak, kini hingga bahunya terguncang. “Bukankah lebih baik jika bapak ambil uang rakyat untuk dikembalikan pada rakyat?” per tanyaan Widodo menggantung tanpa jawab. Nurdin seolah tak peduli, meski hatinya mulai sangsi, benarkah tindakan bapaknya itu? Ah, 28


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mana ada tindakan benar yang membuat malu. Apalagi jika membayangkan olok teman-temannya nanti jika foto bapaknya terpajang jelas di koran-koran? Di mata Nurdin, tindakan bapaknya tetaplah salah meskipun niatnya baik. Tapi, kadang orang-orang tak mau tahu atas dasar apa seseorang melakukan kesalahan, karena orang-orang menilai dari apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka tahu. n

29


Repro: Eduardo Naranjo | OpenArt

30


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Sayap Abdi Uzairul Anam

o Published Š Banjarmasin Post, Minggu 12 Agustus 2012

u 31


Sayap Abdi | Uzairul Anam

K

INANTI memanggilnya Alien karena ia sering menampakkan diri tiba-tiba. Masih mending bila muncul dengan salam sapaan. Selalu saja orang itu datang mengagetkan Kinanti. “Aku Abdi,” jawab Alien orang aneh itu, saat Kinanti bertanya nama. Katanya ia datang dari tempat yang amat jauh. Tak jelas dari seberang pulau sebelah mana. Katanya ia memang sengaja ditugaskan menemui Kinanti. Tapi yang terlintas dipikiran Kinanti, paling-paling Abdi tak lebih dari sekadar lelaki hidung belang yang gemar merayu. Selama ini Kinanti menganggap, lelaki mana yang tak ngilu saat melihat pinggulnya melenggak-lenggok. Lelaki mana yang tak kepincut melihat g incu merah pekat di sepotong bibirnya. Dan lelaki mana yang tak menginginkannya sebagai teman ranjang saat melihat rok mini super ketatnya. Selama ini Kinanti sukses menjaring mangsa berhidung belang. “Kau selalu mengagetkanku. Bisakah kau lebih pandai lagi bergaul? Salam itu penting. Kau tahu berapa banyak orang mati bunuh diri karena tersinggung tak pernah mendapat salam dari orang lain?” Kinanti meracau. Ia bosan dengan sosok Abdi, si Alien itu. “Ah, kenapa kau belum terbiasa dengan kedatanganku? Ayolah... Maksudku baik. Aku selalu mengunjungimu saat kau butuh teman, bukan? Dan itu penting untuk orang sepertimu.” Abdi menjawab dengan santai. Dengan senyum. Dengan suara yang terlalu lembut untuk seorang pria. “Kau gila! Aku tak butuh teman sepertimu. Sebentar lagi, pasti ada yang datang menghampiriku. Yang tampan, tajir, pandai melucu, dan lebih sopan ketimbang Alien sepertimu.” “Okey. Baiklah, aku pergi.” Abdi melangkah menjauh. “Oh. Aku lupa. Aku ingin mengajakmu pulang. Kau mau, bukan?” 32


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Pergilah!” Ribuan kali Abdi mengajaknya pulang. Kinanti selalu bertanya-tanya, kemana ia akan dibawa pulang oleh Abdi? Ke kampung halamannya di Jawa pelosok sana? Yang tak pernah tampak di peta meski memakai kaca pembesar ekstra. Karena memang pembuat peta tak akan sudi menuliskan nama kota asalnya. Atau mungkin karena kampung halamannya memang tak perlu ada. Bisa jadi sebab itulah tempat tinggal Kinanti dulu tak pernah tersambangi subsidi pemerintah. KEMBALI di malam berikutnya, Kinanti hadir di sebuah bangku panjang di pinggir jalan. Hanya ia sendiri duduk di sana. Di bawah langit gelap pekat. Berisi sekadar satu-dua bintang. Sisanya, rembulan amat pelit malam itu. Ia tampil menggores seumpama luka sayatan. Tepatnya, seperti sayatan di punggung kanan Kinanti. Ia ingat—mungkin juga tak akan pernah lupa—kejadian menjijikkan yang dilakukan majikannya dulu. Majikan yang menampungnya saat pertama kali menjejakkan kaki di kota pusat peradaban itu. Sudah dua minggu Abdi muncul di kehidupan Kinanti. Ia selalu muncul tepat saat Kinanti duduk sendirian di malam sunyi. Saat Kinanti menunggui pelanggan di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, terdapat gapura batas kota berdiri. Gapura yang jika di kampung Kinanti kerap teronggok sesaji di bawahnya. Entah pesugihan, entah pekasih. “Sepertinya susah, bila sekejap saja kau tak melamun, Kinanti,” ujar Abdi. “Benar sekali. Memang susah bagiku memahami jalan takdir. Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti keadaanku, nasibku, takdirku. Tak ada yang bisa mengerti. Mereka semua hanya melihatku dari luar semata. Lalu merutukku. Mereka 33


Sayap Abdi | Uzairul Anam

bilang aku jalang.” “Kau benar. Aku memang tak mengerti. Bahkan aku tak mau mengerti bagaimana keadaanmu, nasibmu, takdirmu. Aku tahu kau sudah sangat muak hidup di kota ini. Makanya, aku ingin mengajakmu pulang.” “Pulang kemana? Aku mau kau bawa pulang. Kemana pun itu. Tapi tunggu sampai aku bisa kembali bersih. Tunggu hingga tubuhku kembali suci.” “Kalau begitu, lakukanlah sekarang.” “Kau g ila. Aku bisa kembali suci hanya dengan reinkarnasi.” Keduanya terdiam. Abdi melihat Kinanti kembali melangut. Tampak raut sendu Kinanti. Pundaknya memberat seolah a puluhan peti kemas di atasnya. Tak lama, Abdi pun pergi. Tanpa permisi. Sesaat setelahnya, mobil mewah berplat merah menghampiri Kinanti. Mereka bertransaksi. Dan klik! Wajah sepakat terpampang di kedua roman muka. Kinanti dibawa terbang lagi. Ke hotel, atau ke losmen syaitonirojim. LALU kali ini, di minggu lainnya, Kinanti masih dalam wujud sosok wanita yang sama. Yang gigih berdagang di malam hari. Angin malam seperti tak mempan lagi mencumbui kulitnya. Ia pandai menahan gigil. Mungkin karena ia terbiasa menjelma jadi makhluk nokturnal. Berkeliaran malam-malam. Menemani mereka yang butuh dilayani. Sementara kota bernapas siang-malam. Hingga larut pun orang-orang masih sibuk cari rezeki. Termasuk si penjual sate yang lewat itu. Datang berlalu di depan Kinanti. Ia lupa, perutnya belum sempat terisi. Di panggilnya si tukang sate. Hidung mengendus asap sate yang melenakan bagai anestesi. Perut keroncongan tak tertahankan di balik baju 34


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ketatnya. Sementara sebagai pejantan, mata penjual sate sesekali melirik ke dada Kinanti. Dan Kinanti pun tahu hal itu. Kinanti mencoba mendekati. Ditemukannya seorang perempuan tua yang lusuh dan pakaiannya compang-camping. Sosoknya mengingatkan Kinanti pada ibunya. Ya, perempuan tua itu seusia ibu. Seorang wanita yang selalu menanti kepulangannya. Mungkin saja di desa sana, ibunya sedang kelaparan, lalu menantikannya pulang membawa sebungkus makanan. Sate? Spontan saja tangan Kinanti merentang, mengulurkan sebungkus sate Namun ia sadar akan kejalangannya dan diam saja. Ketika hendak melahap sebungkus sate di tangan, saat lidah sedetik lagi meraba rasa, ekor mata Kinanti menangka bayangan seseorang di dekat gapura. Seseorang yang tengah duduk berselonjor. Terdengar suara mengaduh dan mendesis dari mulutnya. Tangannya meremas-remas perutnya sendiri. kepada si perempuan tua. Ada semacam rasa bungah dan kepuasan yang muncul dalam dirinya setelah dilihatnya perempuan tua itu melahap habis sebungkus satenya. Kinanti merasa, hidupnya sebagai jalang ternyata bisa berarti bagi orang lain. Setelah lama mengamati si perempuan tua makan sate, Kinanti kembali ke bangku kosong di pinggir jalan seperti biasanya. Sendirian memandangi roda-roda pelalulalang. Sesaat kemudian disadarinya ada yang ganjil malam itu. Tumben sekali ia tak melihat sosok Abdi, si Alien itu. Bukankah biasanya ia acap datang mengagetkan? Kinanti mendadak merasa, tanpa adanya Abdi, malam jadi hening dan sesenyap pekuburan. Hingga heningan itu pun membuat Kinanti tak siaga. Awalnya lamat-lamat, namun kemudian suara sirine jadi 35


Sayap Abdi | Uzairul Anam

menggema keras. Datanglah mobil patroli itu. Ada beberapa orang berseragam di dalamnya. Kinanti panik. Ia tahu pertanda bahaya itu. Sesuatu yang harus dihindari segera dan secepat mungkin berlari. Jika tidak, salah seorang dari mereka akan menciduknya, meringkusnya, memungutnya, bahkan memperlakukannya seper ti kotoran sapi. Namun sayangnya ia terlambat. Seorang pria ber tubuh kekar berhasil mencengkeram lengannya. “Mau lari kemana kau? Dasar sundal!” Pria itu menyalak. Tercium bau alkohol saat ia terbahak. Saat itu juga, ia berniat berlari ke seberang jalan dan menghilang di perkampungan penduduk. Namun tanpa di duga, sebuah mobil lewat dengan kencangnya. Dan, buugg!! Kinanti terpental setelah sebelumnya kepala membentur kaca depan mobil itu. Ia tersungkur di atas jalan aspal. Matanya melihat banyak sekali kunang-kunang. Dari mana mereka datang? Jutaan kunang-kunang itu muncul dari balik punggung seseorang yang dikenalnya selama empat puluh hari belakangan. “Abdi? Kaukah itu?” “Ya, ini aku. Sekarang mari pulanglah bersamaku.” “Kemana?” “Ke tempat yang telah disebutkan dalam doa wanita pengemis di dekat gapura yang kau kasih makan itu.” Kinanti pasrah tangannya digamit Abdi. Untuk pertama kalinya, Ia melihat Abdi mengepakkan ratusan pasang sayap di punggungnya. Yang tentu mampu membawanya terbang. Ke atas, hingga ia bisa melihat tubuhnya sendiri teronggok bersimbah darah di atas jalan aspal. n

36


Repro: Claude ThĂŠberge | OpenArt

37


Mel, Ini Aku | Parlan Tjak

u

Mel, Ini Aku Parlan Tjak

o Published Š Bali Post, Minggu 12 Agustus 2012

u 38


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Percayalah, ini pasti kerinduan yang luar biasa. Di luar kebiasaanku hampir setiap aku membayangkan dirinya masih ada. Ini aku. Seorang kekasih dengan sepuluh tahun kerinduan. Seorang ayah yang mulai berangkat uzur digerus usia surup.

I

NI aku, Mel. Masih sangat muda. Tak satu pun uban tumbuh di kepala. Tak ada garis-garis kerut di gigir mataku. Sekali waktu, mataku mungkin nampak cekung. Malam terlalu cantik untuk ditinggalkan. Kawan – kawan datang, dan aku butuh teman tertawa. Jadi, aku berbagi dengan mereka sampai pagi. Apa salahnya ter tawa. Bukankah aku masih muda? Hari minggu sederhana. Benar-benar hari libur yang menyenangkan. Segelas besar Capuccino. Sebungkus rokok putih. Kuputar musik grunk. Serta merta adrenaline pada tubuhku melonjak. Aku kegirangan, melonjak-lonjak dan masa bodoh. Kamu dimana, Mel? Matahari sudah tinggi. Sudah saatnya kamu bangun, lalu meluncur kemari. Seperti hari minggu biasanya. Kamu paling suka berjingkrak-jingkrak kan, Mel? “Masuk, nggak dikunci, kok” “I will rock you!” Aku pasti suka kedatanganmu. Berteriak-teriaklah sesukamu. Jingkrak-jingkrak, loncat-loncat, kau juga boleh menendang-nendang. Ini hari yang menyenangkan. Sangat menyenangkan hingga saat kita harus berhenti nanti. Jangan mengganggu. Tidak satupun, boleh. Tidak juga kau, Mel. Masih tersisa selinting mariyuana di lipatan dompet, sisa tadi malam. Kau, cukuplah dengan filter rendah nikotin. Kalau ingin lebih ada sensasi, aku masih menyimpan soft drink di kulkas: soda bebas alkohol. 39


Mel, Ini Aku | Parlan Tjak

Pasti kau marah. Berkali-berkali aku berjanji untuk berhenti. Tetapi setiap kali jauh darimu, aku memakainya lag i. Bahkan belakangan, aku mulai tak peduli. Aku melakukannya di depan matamu. Bisa kubaca kecemasanmu. Gampang kucerna, marah yang meledakledak menghentak jantungmu. Tapi begitulah. Ternyata aku mencintaimu lebih dari besarnya rasa cemas dan amarah yang meledak-ledak. “Tutup pintu dong, sayang …” “Nggak, ah. Gerah !” “Please, dong. Biar lebih aman …” “Ah, takut amat sih!” Kau banting pintu dengan kakimu. Mulutku berbusa. Bertubi-tubi bujuk rayu. Berulang-ulang belaian sayang. Lalu kita memiliki sebuah kamar yang terbakar. Tak ada satupun akhirnya, selain kau, aku dan kita yang benar-benar terbakar. Berapa kali kau mengutukiku? Menyesal dan menumpahkan kesalahan hanya padaku. Tetapi aku lagi tinggi. Benar-benar lost control. SENJA datang, Mel. Ini bukan hari – hari seperti yang terlewati kemarin. Percayalah, ini pasti kerinduan yang luar biasa. Di luar kebiasaanku hampir setiap aku membayangkan kau masih ada. Ini aku. Seorang kekasih dengan sepuluh tahun kerinduan. Belakangan kabar beredar: Kau juga yang menemaniku dengan mata sembab di ruang VIP. Hampir sebulan, laki-laki itu dikerubuti selangselang infus di tubuhnya. Dokter bilang aku koma. Sebulan. Itu terlalu lama. Setiap detik, bahkan setiap detak jantung ini menandai aku masih hidup, rasanya terlalu sakit. Orang bilang aku koma. Tapi mereka tak tahu rasanya. Beragam mimpi yang tak pernah bisa benar – benar terekam dalam ingatan, hingga hari ini masih benar-benar 40


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mengganggu. Mengejarku, bahkan ketika aku merasa telah menemukan persembunyian yang paling aman. Justru mimpi-mimpi itu selalu merayuku untuk kembali kesana. Ke sebuah tempat paling putih di dunia. Dindingdinding kamar dicat warna putih. Orang-orang, lalu lalang dengan senyum yang dipaksakan, menghunus jarum-jarum suntik di tangan. Tiga kali sehari, mereka menancapkan benda nan runcing itu ke pantatku, ke tanganku atau ke bagian tubuhku yang lain. Seorang yang lainnya—yang cantik mirip kamu, Mel— menyodorkan segenggam pil. Lalu dengan tangan-tangan lembutnya ia membungkam mulutku dengan segelas air putih. Aku lebih sering sulit menelannya. Ini malapetaka! Sebab, mereka, orang-orang yang berwarna putih itu, bergegas memasukkan selang-selang ke dalam tubuhku. Bersama rasa sakit, benda-benda yang paling aku benci itu diperam ke dalam dagingku berhari-hari. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya, Mel?. Seharusnya kamu mengenal kata eutanesia. Kamu bisa mengambil keputusan secepatnya waktu itu. Bukankah kau, pandai meniru? Palsukan saja tanda tanganku. Buat seolaholah aku memberikan surat kuasa. Karena aku bahkan tak mampu mengingat apa-apa waktu itu, selain mimpi-mimpi, juga orang-orang berwarna putih yang dalam sekejap membiusku. Mengantarkan tubuh tak berdaya ini ke dalam sebuah jeda antara hidup dan mati. Sayang sekali, kau juga tak berfikir ke sana. Tapi aku terharu akhirnya. Orang-orang bilang padaku: kau terlalu cemas. Takut kehilangan. Tapi tak berani mengakui. Kau harap, aku kemudian ada. Ada dan menjadi lebih baik dari biasanya. Waktu itu, katanya aku masih koma, Mel. INI aku, Mel. Merasa benar-benar uzur. Uban tumbuh dimana-mana. Garis-garis kerut melahap gigir mataku. 41


Mel, Ini Aku | Parlan Tjak

Dinding-dinding pipi yang mengkerut menjadi kian mengkerut setiap kali kuhisap tembakau cangklong. Ini jugalah yang menemani malam-malamku. Ditambah secangkir kopi agak pahit, aku terbiasa menggalah anakanak kabut. Menjadi ruap-ruap malam dalam remang sinar bulan. Aku meninggalkan senja. Sebuah jeda antara matahari dan bulan. Sebuah koma dari hari yang panjang menuju malam dan bakal aku kalahkan. Tetapi aku lupa, ternyata rasa kantuk lebih dulu mengalahkanku. Malam sudah tak bisa dibunuh dengan kopi dan rokok. Angin malam biasanya menjadi musuh paling mengerikan. Dingin sudah tak bisa dibunuh dengan syal dan sweater. Aku pasti merindukanmu, Mel. Kubayangkan, wajahmu bulan jeruk purut. Warnanya kuning tua. Setua usia kita. Ingin rasanya, lama-lama menatap bulan itu dari beranda hingga lenyap di bukit-bukit sebelah barat. Tapi malam menjadi terlalu panjang. Mataku perlahan-lahan menjadi lamur. Kutemukan bulan itu pada tempat paling sumir: sebuah jeda antara sadar dan tidak. Ketika aku menduga ini pasti hanya mimpi, seseorang sepertinya datang menghampiriku. Bukan kamu, Mel. Ia berwarna putih. Baju putih. Celana putih. Rambut putih. Di tangannya menghunus jarum suntik berwarna putih. Ia berbisik padaku. Sangat lirih, Mel. “Tenang ya. Nggak sakit, kok. Nah, begitu. Biar cepat sembuh.� n

42


Repro: Escha Van Den Bogerd | OpenArt

43


Merah Marah | Mizunihara

u

Merah Marah Mizunihara

o Published Š Fajar Makassar, Minggu 12 Agustus 2012

u 44


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

D

ARI Abu Hurairah RA. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bila Ramadhon telah datang, maka dibuka pintu Surga, dikunci pintu Neraka dan dibelenggu semua syetan.” Aku masih bingung dengan hadis tersebut. Benarkah semua setan telah dibelenggu? Tapi mengapa masih banyak tindak-tanduk kejahatan. Dan, banyak godaan-godaan di bulan Ramadan yang menggiurkan. Apa itu hanya sekadar hawa nafsu kita sebagai manusia? Inilah yang membuatku tersiksa. Selalu kuanggap setan itu ada di dekat. Selalu membisikkan kata, “Makanlah, selagi tak ada yang melihat.” Ah, mungkin ini hanya hawa nafsuku saja. Tidak mungkin hadis itu salah. Hari ini dengan suasana yang berbeda. Aku, seorang pelajar wanita. Diminta membantu orang tua. Itu adalah permintaan yang begitu sulit kukabulkan. Bagaimana seorang pelajar—apalagi perempuan—dapat membantu ayahnya di sawah? Sulit dibayangkan. Apalagi di tengah bulan Ramadan. Pasti kehausan yang pertama menimpa. Maaf, Pak. Harus kukatakan ini. Aku tak bisa. Jika hanya mengantar alat-alatnya, ya, mungkin bisa. Mungkin. Tak ada kepastian. Godaan terlalu gampang menghasut. Susah memang, jadi jangan mengharapkanku untuk membantu. Lain lagi dengan ibu. Dia juga punya pekerjaan yang lebih ringan. Tapi bag iku, semuanya sama saja. Menyusahkan. Ibu adalah seorang pedagang. Pedagang buah. Dia selalu berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Bosan. Mereka menyuruhku memilih salah satu pekerjaan itu. Ah, kenapa harus aku? Aku ini masih SMP. Mana bisa melakukan salah satu pekerjaan itu. Tak ada yang mengerti. Mereka yang harus cari nafkah. Bukan aku. 45


Merah Marah | Mizunihara

“Hus, jangan begitu, Nak. Harus berbakti pada Ibu dan Bapak. Kami mau kamu belajar cari uang. Biar nanti tidak kesusahan jika bekerja.� Tetap saja aku tak setuju. Walau demi kebaikan sendiri. Masalahnya, kenapa harus di bulan Ramadan? Ya, okelah, kalau aku membantu mereka. Tapi jangan di aat-saat yang menyusahkan seper ti ini. Aku tak sanggup. Coba mengertilah. KERINGAT terus bercucuran. Tak tahan rasanya. Waktu berbuka terlalu lama bagiku. Dengan sangat terpaksa aku melakukannya juga. Yah, orang tua tetap orang tua. Dan, kita tetap sebagai anak. Tak boleh durhaka. Tidak boleh durhaka! Bukan aku yang memilih. Jika diminta, tentu memilih ibu. Tapi mereka seperti telah berunding. Aku ditempatkan bekerja di sawah. Kata ‘berbuka’ terus bertubi-tubi menyerang pikiran. Sudahlah, tidak sekarang. Aku ingin berbakti pada mereka. Jangan mengusikku dengan nafsunafsu itu. Sepertinya tidak semua setan itu terbelenggu. Yakin sekali, karena ada satu yang masih menjalar dalam tubuh. Sulit kulawan. Ia seakan telah menjadi teman. Terus ada di mana pun aku berada. Tak mengenal situasi. Mungkin karena memang itulah takdirnya. Tanganku terus bereaksi. Walau kehendak hati saja sangat kurang. Lelah rasanya. Apalagi setan itu terus mengusik. Tak ada malaikat yang menolong. Terus meminta bantuan. Ibu, ayah. Aku benar-benar lelah. Ayah menatapku. Sepertinya iba. Dia menyuruhku untuk beristirahat. Akhirnya! Lalu dia menyodorkan sebuah gelas. Bingung melanda. Dalam gelas tertuang air segar. Astaga! Setan dalam diri seakan merdeka. Tak percaya. Ternyata 46


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dalam diri ayah ada setan juga. Kuraih gelas itu. Walau ragu. Tapi kupikir tak rugi juga, lagipula ayah yang menyuruh. Tak usah khawatir. Setan itu terus berbicara. Sampai mulutnya berbusa-busa. Dia tak mau berhenti sebelum berhasil. Mulut telah bersentuhan dengan bibir gelas. Sontak gelas yang digenggam terjatuh. Bapak memandangiku. “Astagfirullah, sadar Nak. Kau sedang berpuasa. Jangan batalkan puasamu hanya karena kehausan. Bapak juga haus dan capek. Tapi masih menahannya. Lebih baik kamu pulang ke rumah saja kalau begitu.” Aku menurut. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Tidak mempertanyakan perihal bapak yang menyodorkan gelas. Mungkin tadi hanyalah halusinasi. Setan benar-benar telah berkuasa. “Orang-orang itu hanya terbiasa, Nak. Bukan karena ada setan yang memengaruhi mereka. Tapi kemauan mereka sendiri. Karena setan sudah menjadi sahabat. Jangan mau seperti mereka, Nak.” Lantunan-lantunan ayat terdengar dari bilik masjid. Rasanya tak sabar mendengar azan berkumandang. Tapi ada rasa tak nyaman menyelimuti. Entah itu apa. Perut terlilit. Mungkinkah aku telah tumbuh menjadi remaja putri? Ini kali pertama, menjadi sejarah tersendiri. Ada rasa takut. Wajar saja ini terjadi. Segera kaki melangkah menuju WC. Diam menusuk. Tajam. Tak ada kata yang mampu tercipta. “Akkkkhhhh...!!!” n

47


Repro: Alena Adamenko | OpenArt

48


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Awan Merah Jambu Dafriansyah Putra

o Published Š Harian Haluan, Minggu 12 Agustus 2012

u 49


Awan Merah Jambu | Dafriansyah Putra

A

WAN itu lagi! Takjub. Orang-orang mendongak. Matamata itu tak bosan-bosannya memelototi nun langit, meski silau matahari kian menggigit. Ada yang saling berbisik. Ada yang komat-kamit sendiri. Ada pula yang semakin rajin mengucap puja-puji kepada Tuhan sekeras-kerasnya. Terjadi pula pada Buyuang Bagak, preman pasar yang hobi membunuh orang. Sekali ini kudengar ia merayu Tuhan. Air mukanya pucat sejadi-jadi. Persis seperti beberapa tahun lalu, tepatnya sehari sebelum gempa bumi mahadahsyat mengguncang kampung kami. Senja itu, kami melihat bentuk awan menyerupai mata manusia. Persis benar. Tatapnya tajam nian. Seroman mata orang marah. Semua masyarakat percaya itu adalah ‘mata’ Tuhan. Terjadi pula di siang ini. Kami dikejutkan kembali dengan penampakan awan berbentuk serupa tempo hari: mata. Belajar dari pengalaman sebelumnya sehari setelah penampakan awan berbentuk mata itu muncul, terjadilah gempa besar yang banyak menimbulkan korban dan menghancurkan bangunan serta merta, masyarakat banyak yang tiba-tiba menghilang bak direguk bumi. Mereka mengamankan diri dan hati ke tempat sanak yang berada jauh dari sini. Ada pula yang rela menyewa hotel di balik bukit sana, biarlah uang keluar asal mendapat ketenangan, pikir mereka. Kucoba telusuri leliku setapak kampung. Hampir semua rumah kosong melompong. Seekor anjing lupak peburu babi terikat rantai di halaman salah satu rumah. Binatang itu berkali-kali melolongan panjang. Kadang tempat makannya di gilir kesana-kemari. Kadang terali kandang disepak-sepak. Tingkahnya tak karuan, seperti kemasukan ruh leluhur. Mungkin dalam pikirnya, begitu sampai hati sang tuan meninggalkannnya di tengah situasi gawat seperti 50


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ini. Anjing itu menyalak tak tentu sebab, sepertinya ia ingin sekali ikut diajak mengungsi. Barangkali anjing itu takut gempa pula. Aku mendapati Aji Sampono—orang kami lebih senang menyebut “Aji” dibandingkah “Haji”. Sepertinya, hanya dia dan aku saja yang tak beranjak dari kampung ini—sungguh! sepanjang jalan aku tak melihat ada sesosok pun manusia. Tak ada wajah mendung atau air muka khawatir terbesit dari muka keriputnya, meskipun seluruh keluarga dan tetangganya telah terbang jauh entah kemana. Kerjanya asyik membaca dan membolak-balik kitab sebesar saku yang selalu ia bawa kemana pergi. Kudatangi sandarannya, memilih duduk di sebelah kanannya. “Tak mengungsi Ji?” Bilah bambu yang menjadi rangka bangku panjang itu perlahan berderik. Lama kumenunggu jawaban darinya, sebelum ia akhiri bacaan kitabnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku. Aji menarik nafas panjang lalu melepaskannya boros. “Mengungsi ke mana? Ke neraka?” jawabnya, seolah meremehkan pertanyaanku. Aku menyulut sebatang kretek. Asapnya menyembur sesuka hati, membuat Aji batuk-batuk. Namun kuacuhkan saja demi kenikmatan yang kurasa. “Lah, kau sorang tak mengungsi?” Lelaki berkopiah beludu itu balik bertanya. Aku tak mau kalah. Kubiarkan ia sejenak menunggu jawabanku, seperti yang dilakukannya tadi kepadaku. Lambat kuhisap rokok di sela jemariku, sembari menikmatinya dalam. Tampak semakin menggila saja asap nikotin itu mencoba mengeracau beningnya udara. “Buat apa?” Jawabku lebih singkat dari jawabannya tadi. “Hahahahaha....” Aji melepaskan tawa selepas-lepasnya. Apakah jawabanku barusan lucu? Pikirku heran. “Kenapa 51


Awan Merah Jambu | Dafriansyah Putra

ketawa Ji?” Tanyaku penasaran. Aji lantas mengalihkan pandangannya ke badan jalan yang tepat berada di hadapannya. Jalan itu lengang tak seperti hari-hari biasa, ramai tak karuan, tidak itu angkot, ojek, gerobak atau pun pejalan kaki yang biasa lalu lalang. Kami duduk diteduhi sebatang mangga pelit berbuah satu-dua di halaman. Daunnya yang kering tampak beguguruan; pasrah kepada sepoi angin, kepada mau debu yang mengajarkannya liar. Aji meraih selembar dedaunan kering yang barusan jatuh di dekat kakinya. Kemudian lelaki itu memainkan daun itu di dalam belahan tangannya. “Lucu ya?” Ujarnya sembari tersenyum, agak sinis. “Apanya yang lucu Aji?” Sahutku menyelidik. “Perilaku manusia di akhir jaman.” Untuk kali ini nada suaranya sedikit tenang, setenang angin yang menemani kami. Kuhela napas panjang. Kubiakan ia melanjutkan pembicaraannya sembari sesekali memperhatikan manggamangganya, berharap ada yang jatuh. “Lantaran awan saja, banyak yang kemudian menjadi pendua Tuhan.” Kucoba cerna setiap kata yang keluar dari mulutnya, sembari terus menyambung batangan sigaret. Kurasa ini batangan terakhir. Alamak, kotak rokokku kosong, dan malangnya lagi tak ada satu pun toko yang buka. Ah, sepertinya aku terpaksa puasa menghisap sampai para pedagang rokok pulang mengungsi. “Bagaimana tak hendak panik Ji. Waktu dulu, sehari sebelum gempa besar itu datang, kejadian awan serupa seperti ini juga pernah terjadi. Aji masih ingat kan?” Kataku mencoba mengulang-ulang kejadian tempo hari. Aji lantas tegak. Kursi bambu berderak-derak dibuatnya. “Awan adalah awan! Tuhan adalah Tuhan!” Suaranya yang sedari dari tenang tiba-tiba menderas. Daun kering yang ia mainkan hancur sudah dalam kuat remasan tanganannya. 52


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Tak tahu apa selanjutnya yang akan kukatakan. Kulihat matanya semakin tajam saja, seperti mata awan yang membuat heboh masyarakat. HAMPIR seminggu setelah kejadian itu. Akhirnya satu persatu masyarakat yang mengungsi kini telah kembali. Pun Angku Polan, petinggi kampung kami, perlahan turun dari mobil berpelat merah yang didapat karena jabatannya. Angku Polan ikut mengungsi. Pemimpin kami itu bukannya mengajak masyarakat lebih mendekatkan diri kepada Yang Kuasa, bahkan dialah yang menyuruh seluruh penduduknya untuk mengungsi. Mau-maunya ia meliburkan perkantoran, juga proses belajar sekolah. “Kita harus waspada!� Katanya kala itu, kudengar suaranya dari siaran radio satu-satunya di kampung kami saat beberapa jam setelah ‘mata’ itu muncul. Di lain kisah, peristiwa ini rupanya juga membawa hikmah besar. Kulihat, Buyuang Bagak begitu tenang mematuk sujud di hamparan permadani surau. Kalung rantai berbentuk tengkorak yang biasa ia kenakan sekarang berganti butiran tasbih hijau maya-maya. Tato di lengan kirinya tak ada lagi. Setiap kali Buyuang Bagak memasang muka seram, sering aku membandingkan muka itu dengan nganga naga di lekuk tonjolan ototnya. Entah dengan apa ia angkat gambar itu. Yang kutahu, tato itu dibuat dari besi panas, ketika ia merantau ke Jawa dulu, dan tak akan dapat dihapus, katanya, pernah ia menceritakan perihal itu kepadaku. Suasana kampung kembali seperti biasa. Petani pergi ke sawah dengan topi lebarnya. Pegawai sibuk di belakang meja kerjanya. Anak sekolah yang pemalas asyik merokok diam-diam di belakang sekolah, sedangkan pak guru asyik sendiri menyilang-nyilangkan kapur di depan kelas. Semua 53


Awan Merah Jambu | Dafriansyah Putra

tenang. Semua bahagia. Gempa tak jadi datang. HAR I ini seluruh masyarakat kampung kembali dikagetkan dengan munculnya penampakan awan yang aneh di langit senja. Namun, wujud yang tampak kali ini lain dari sebelum-sebelumya. Bukan pula berupa mata yang membuat masyarakat gemetar seperti beberapa saat lalu. Sontak, pun aku terkejut akan hal ini. Entah mengapa aku teringat kepada Aji Sampono. Aku pun tertarik untuk menemuinya. Kutelusuri jalan menuju rumahnya yang selalu sejuk sebab diteduhi mangga pelit berbuah satu-dua. Di sepanjang jalan, setiap yang memiliki kepala pasti memandang cermat ke langit yang mulai kelam, bersebab mentari hendak berganti tugas dengan rembulan. Namun, kali ini tak ada yang terlihat pucat ataupun cemas lantaran teringat dosa. Mereka malah cekikikan. Mereka sibuk mengarahkan kamera handpone untuk mengambil gambar. Sesampai di rumah Aji Sampono, kulihat muka Aji berseriseri, seperti ada yang membebas dari dirinya. “Aji, girang sekali nampaknya. Ada angin apakah?” “Kau lihat awan itu.” Telunjuknya menari-nari mengikuti lekuk awan di lang it itu—yang tentunya lain dari yang sebelum-sebelumnya. Aku hanya tersenyum kecil, ikut membidik pandang ke awan itu, awan merah jambu itu. n

54


Repro: OpenArt

55


Laksa | Nofriadi Putra

u

Laksa Nofriadi Putra

o Published Š Haluan Kepri, Minggu 12 Agustus 2012

Nofriadi Putra, lahir di Belubus 1983. Alumni Universitas Negeri Padang. Bergiat di Komunitas Ruang Sempit. Sekarang bekerja di Haluan Kepri liputan Daik Lingga. 56


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Subuh itu cuaca menampakkan wajahnya. Cakrawala menyembul bagai fajar. Di pantai timur, para nelayan terlihat baru pulang menjaring ikan. Suara mesin pompongnya mendayu-dayu dari kejauhan. Sementara, dari kubah mesjid ada suara azan yang bersipongang ke sekeliling pulau ini.

G

ELIAT pagi seiring bola matahari mulai merangkak dan kokok ayam yang baru saja tertelan desaunya angin telah membangunkan warga yang ada di sekitar gunung bercapang tiga itu dari mimpinya. Tak terkeculi Nyak Sidek. Seorang laki-laki yang rumahnya terletak di tepi hutan sagu. Entah kenapa, kali ini ia bangun lebih awal dari pagi-pagi biasanya. Kelumun embun pagi membuat badannya terasa menggig il. Begegas ia mencuci muka ke sungai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Namun, di atas kasur yang beralaskan daun nipah, masih terlihat Sainah berbaring. Tak dihiraukannya istri kesayangannya itu. Sekembali dari sungai mencuci muka, Sainah masih berbaring di kamar. Diatas tipis pelantar kamar yang terbuat dari papan. Lalu, dilihatnya periuk berembang itu masih kosong. Dengan buru-buru, ia bangunkan Sainah. Istri yang melahirkan anak perempuan satu-satu baginya. Namun, setelah anaknya dilamar oleh anak kepala desa Pulau Seberang, Nurmita dibawa tinggal menetap dirumah suaminya. Sejak itu ia hidup berdua saja. “Sainah! Bangun Sainah!� Seru Nyak Sidek sambil mempersiapkan beberapa peralatan tebang sagu di dapur. Sainah yang masih berbaring di atas kasur tidak terlalu menghiraukan suar parau suaminya. Rasa cepek sehabis menjalin daun nipah untuk dijadikan atap rumbia masih terasa dibandannya. “Sainah, bangun! Saya mau ke pare 57


Laksa | Nofriadi Putra

erek (rumah pengolahan sagu), lepas itu ke hutan menebang batang sagu sama Awang!” Dengan nada lemas, Sainah menjawab,” Hmm, ya hatihati.” Nyak Sidek yang dari awal buru-buru, langsung keluar rumah dengan menenteng peralatan. Parang dan gergaji kecil yang telah dibelikan Awang pun tak ketinggalan. Ia akan menemui Awang di warung kawah Ncik Ndak terlebih dahulu. Sebelum itu, ia harus membeli mata parut sagu ke Warung Aleng. Satu-satunya warung yang menjual alat peragat. Setelah itu baru jumpa Awang di warung bubur lakse Nyak Ndak. “AWANG, saya berpikir untuk tidak ke hutan lagi,” terbesit suara Nyak Sidek ketika di hutan rawa setelah ia baru menabang dua batang pohon sagu. “Eh ada apa dengan ikak, Nyak?” tanya Awang kaget. “Sudah lama saya pikirkan ini Wang.” Awang terdiam sejenak, kaget mendengar anak buahnya itu yang telah lama membantunya mengolah sagu sejak putus sekolah SMP dulu. “Maaf cakap Awang, Awang kan tahu, orang-orang tidak lagi mau beli sagu mentah kita.” “Mau ikak kasih makan apa anak bini ikak, kalau ikak tak ke hutan lagi sama saya?” “Saya sudah berencana mau kredit motor. Saya akan mengojek di Kampung Cina,” imbuhnya. “Nyak Sidek, Nyak Sidek. Kalau kita tidak menebang sagu lagi ke hutan, apa yang akan kita hasilkan? Apa kita sanggup beli beras setiap hari. Ikak kan tahu di sini tidak ada sawah yang bisa untuk menghasilkan padi. Orang-orang kita disini hanya menghasilkan ikan dan sagu saja. Ikak pikir-pikir dulu lah apa yang ikak sebut itu,” kata Awang yang tidak tahu 58


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

apa maksud Nyak Sidek sebenarnya. Percakapan itu tidak belangsung lama. Nyak Sidek kembali melakukan kerjanya, begitu juga dengan Nyak Sidek. Kali ini, hampir 5 batang sagu yang mereka tebang. Berdua di dalam hutan bukan hal biasa. Sagu yang telah dipotong dan siap dibawa ke pare erek miliknya telah siap untuk dirol. Namun, Awang masih keheranan. Kenapa teman satusatunya yang dari kecil bahkan sampai usianya kini, malah tidak mau menabang sagu lagi. Pada hal usaha itu butuh bantuan orang lain. Apalagi dalam meneruskan usaha sagu orang tuanya. Namun kali ini, entah apa yang ada dalam pikiran temannya itu. Tak ayal memang, apa yang dikatakan Nyak Sidek ada benarnya juga. Dalam bulan ini saja, sagu mentah yang telah dihasilkannya masih menumpuk di pare erek miliknya. Bahkan, Aliong, salah seorang toke dari pulau seberang tak kunjung datang untuk membeli sagunya. Biasanya, memasuki minggu pertama bulan baru, Aliong telah datang untuk membali sagu mentah hasil olahannya. Untuk membayar gaji penebangan minggu lalu saja, Awang belum membayarkan hasil keringat temannya itu. Namun, dengan keterbukaan, ia telah sampaikan pada Nyak Sidek bahwasanya toke sagu belum juga datang. Namun dalam hatinya Awang, sebagaimana Emaknya dulu berpesan, tetap melanjutkan usaha yang telah mendarah daging dalam keluarganya. Cerita punya cerita, Aliong memang toke besar di Pulau Seberang. Selain toke sagu, ia juga mempunyai banyak kapal tangkap ikan. Namun, beberapa bulan yang lalu, ada kabar kalau kapal tangkap ikan milik Aliong tertangkap menurunkan jangkar di perairan milik warga Pulau Batu. Sampai-sampai kapalnya mau dibakar oleh warga. Apa boleh 59


Laksa | Nofriadi Putra

buat, akhirnya kapal Aliong diserahkan kepada pihak yang berwajib. Sejak itu Aliong tidak pernah lagi datang ke pulau ini untuk membeli sagu. Sampai sagu yang siap diolahnya pun masih numpuk berkarung-karung. Bukan hanya Awang saja. Pak Said, Atan dan Ngah Jalil yang punya pare erek di tepi sungai desa juga mengalami hal yang sama. Sagu mentah olahan mereka menumpuk berkarung-karung. Seminggu sudah Nyak Sidek tidak kerja lagi sama Awang. Ia cuma bantu istrinya merajut daun rumbia. Sejak itu Awang mulai gelisah. Apa yang musti ia lakukan. Untuk memenuhi kebutuhan harian, istrinya rela mengeluarkan tabungan hasil keringatnya, yang bekerja merajut daun sagu yang dijadikan atap rumah. Namun cukup membantu walau masih saja menjalin satu demi satu daun yang sudah dikeringkan itu. “Maimun, apa lagi yang hendak abang perbuat, Aliong tiada lagi membeli sagu kita. Sagu kita tak ada yang beli. Ditambah lagi sudah sebulan lebih Nyak Sidek tidak lagi mau menebang ke hutan,” gumam Awang pada istrinya yang lagi menjalin daun rumbia diteras rumah yang terbuat dari kayu dan ditemani lampu cahaya seterongkeng. “Sabarlah Bang. Rezki itu ada yang ngatur,” ujar Maimun pada suaminya. “Apa perlu abang menutup usaha ini dan cari usah lain. Gaji Nyak Sidek pun belum lag i dibayar. Sedangkan tabungan penjualan sagu sudah tidak ada lagi.” “Bang, yakinlah bang. Bukankah Emak sebelum meninggal dulu sudah pesan ke Abang, Bahwa jangan menutup pare erek ini.” “Tapi ini kenyataan Mun, kamu kan tahu sekarang toke tak ada lagi yang mau beli sagu kita.” Maimun berdiri dari tempat ia merajut daun sagu. Ia berusaha menyabarkan suaminya. Ditengah dingin sunyi 60


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dan suara kampung yang telah tertidur. Hanya serangga malam yang nakal sekali-kali berbunyi di balik semak, di balik rumput dan asamnya aroma sagu yang menyebar di sekitar rumahnya dan di sekitar pare erek milik keluarga Awang yang sudah empat keturunan. SIANG itu, cewang awan membiru di langit, sedikit awan menyisih di puncak gunung yang bercabang tiga itu. Sesekali air sungai merincik setelah sisa-sisa perahu yang lewat. Mungkin sebentar lagi pongang Azan Zuhur akan berkumandang. Namun, segerombolan elang bermain di siut angin, mengibaskan sayapnya. Sesekali ada yang seperti menukik melepaskan beban badannya yang ringan ke permukaan air. Namun, sebelum sampai dipermukaan air, elang itu kembali ke cakrawala yang biru. Entah angin apa, Awang yang lagi tidur-tidur di pare erek miliknya. Tiba-tiba saja didatangi Pak Pos dengan sepeda motor warna orange. Pak Pos itu langsung memberikan selembar amplop yang masih tersusun rapi. Tak lama bercakap-cakap seperti ada yang ditanda-tangani Awang, Pak Pos itu berlalu menuju jalan raya. Awang kaget, baru kali ini ia dikirimi surat. Biasanya, anaknya yang sekolah dengan beasiswa di kota kalau perlu apa-apa cukup menghubungi ke Hand Phone kecil miliknya. Namun, surat ini pun beda. Ada cap besar dikiri atas amplopnya. Gambar cap itu seperti gambar bihun, kalau dikampung Awang, gambar seperti itu disebut laksa. Ia yang dari tadi memikirkan dan kaget masuk ke dalam rumah memanggil istrinya. “Maimun! Maimun! Maimun! Ada yang mengirim surat untuk kita. Katanya surat dari kota Tapi entah dari siapa saya tidak tahu. Tidak mungkin anak kita mengirim surat seperti ini. Cuma disamping kiri ada cap gambar mirip laksa 61


Laksa | Nofriadi Putra

dan rumah.” Ujarnya. “Eh Abang, sabar Abang! Kenapa abang terburu-buru seperti itu?” “Ini ada surat, coba kamu lihat gambarnya. Abang pun tidak tahu siapa yang mengirim surat seperti ini,” getus Awang keheranan dengan penuh penasaran sambil memberikan amplop itu pada istrinya. “Coba kamu buka!” “Surat dari siapa ini Bang? Amplop Suratnya bagus seperti ini, ada gambar pabrik laksanya.” Maimun pun penasaran seperti Awang. Malah balik bertanya dengan penuh tanda tanya seperti suaminya. Tapi apa boleh buat, sambil memandangi dan membuka isi surat amplopnya. Kedua orang itu sepertinya tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka. n Ruang Sempit, Lingga Juli 2012. CATATAN: Periuk berembang: tempat masak nasi bagi masyarakat Daik Lingga. Ikak: Kamu dalam bahasa Melayu Daik Lingga. Pare erek: rumah tempat mengolah batang sagu jadi sagu mentah berbentuk tepung.

62


Repro: Edson Campos | OpenArt

63


Potongan Kaki Perempuan | Suhariyadi

u

Potongan Kaki Perempuan Suhariyadi

o Published Š Horison Online, Kamis 09 Agustus 2012

u 64


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

B

EBERAPA potong kaki tergeletak di sudut kota. Beberapa di super market. Beberapa di tong-tong sampah. Beberapa lagi di tempat-tempat hiburan. Di jalan-jalan, beberapa potong tergeletak dipenuhi debu dan dikerubungi lalat. Beberapa kendaraan melindasnya. Remuk‌.! Beberapa pelajar menggunakannya untuk senjata perkelaian sesama mereka. Beberapa mahasiswa menggunakannya untuk melempari istana negara saat unjuk rasa. Beberapa kenek menggunakannya untuk mengganjal bus. Beberapa polisi menggunakannya untuk menghantam kepala pedagang kaki lima saat penggusuran. Beberapa anak menggunakannya untuk mobil-mobilan. Tak ada yang merasa kehilangan potongan kaki itu. Orang-orang tak merasa ada kekurangan pada tubuh mereka. Bahkan setiap orang lewat tak tertarik untuk melirik. Bahkan tak satu pun yang ingin bertanya tentang potongan kaki itu. Apalagi merasa kehilangan. Bukankah tubuh mereka masih lengkap? Sempurna seperti kelahirannya? Tapi satu hal yang semua orang bersepakat, potongan kaki itu pasti milik perempuan. Rata-rata potongan kaki itu mulus. Bersih. Tak ada bulu sehelai pun tumbuh di sana. Tak berotot seperti kaki lelaki. Tak berlekuk seperti kaki lelaki. Lurus. Herannya, tak ada satu pun perempuan yang merasa kehilangan kakinya. Mereka tak merasa ada kekurangan dalam kakinya. Masih lengkap seperti sedia kala. Jangan sebut kaki itu palsu. Semua asli. Masih ada darah meleleh di sana. Darah beraroma amis, persis aroma darah manusia. Lalat sangat tahu betapa barang yang dikerubunginya itu asli milik manusia. Tak sulit untuk membedakan yang asli dan palsu. Insting mereka sangat peka untuk membedakan keduanya. Justru orang-orang kota tak merasakan aroma yang merebak ke udara. Memenuhi ruang kota, bercampur dengan kepulan asap 65


Potongan Kaki Perempuan | Suhariyadi

pabrik dan knalpot kendaraan. Mata mereka melihat, tapi hidung mereka tak merasakan aroma itu. Apalagi instingnya, tak merasakan apa-apa. Tak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Bahkan menjadi pemandangan yang biasa. Setidaknya, menjadi hiasan untuk mempercantik sudutsudut kota. Sebuah sentuhan artistik arsitektur kota. Makanya, pasukan kuning membiarkan saja potongan kaki itu tergeletak di sana. Jauh di pinggir kota, tak ada potongan kaki di sana. Pohon-pohon menghijau di kanan kiri jalan. Pohon-pohon tua yang sengaja dibiarkan tumbuh. Entah sampai kapan. Entah sudah berapa ratus tahun. Melihat begitu besar pohon dan kulitnya yang menghitam itu, ia pasti sudah ratusan tahun. Pepohonan itu sudah tak tegak lagi. Bahkan boleh dibilang, tinggal menunggu waktu untuk roboh. Dahan dan batangnya menjulur ke bawah hingga orang bisa meraihnya. Tapi sayang jika mesti ditebang. Biarkan saja alam yang menentukan, pikir yang berwenang. Alih-alih menciptakan artistik daerah pinggiran. Di antara pepohonan itu, nampak sebuah rumah kecil tepat di bawah pohon yang paling tua. Pemandangan yang harmonis antara rumah kecil sederhana itu dan pohon tua yang menghitam. Keduanya seolah saling menjadi saksi sudah berapa lama umur keduanya. Di sanalah seorang anak bersama emaknya tinggal. “Mak, di manakah surga itu berada?� Tanya seorang anak kepada emak di suatu hari. Sebuah buku tergeletak di depannya. Ada yang belum dimengerti kata-kata yang tertulis di dalamnya. Surga. Kata itu kerap kali dia baca. Tapi setiap kali pikirannya tak sampai ke pada maknanya. “Di telapak kaki emak, Nak.� Jawab emak sambil membersihkan kakinya dengan sabun. Wajahnya tergurat senyum penuh kebanggaan. Di telapak kakinya itu telah 66


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

bersemayam surga untuk anak-anaknya. “Tapi bagaimana melihatnya, Mak. Telapak kaki emak itu tak ada apa-apanya, selain debu yang emak bersihkan setiap hari. “Ia tak bisa dilihat, Nak. Ia hanya dirasakan saat kau cium telapak kaki emak.” “Ndak, Mak. Kaki Emak bau.” Jawab anak itu bersungutsungut. Jijik. Dia tahu, kaki emaknya tak pernah memakai sandal setiap melewati jalan-jalan becek. Dan emaknya hanya membersihkan kaki itu dengan sabun murahan, pikir anak itu. Emak tersenyum melihat tingkah anaknya yang masih lugu itu. Ia menyadari, suatu hari anaknya itu akan mengetahuinya. Kelak anaknya itu akan tahu arti pepatah itu. SUATU siang anak-anak berebutan potongan kaki yang tergelatak di sudut-sudut kota. Mereka pada memegang satu potong, lantas membersihkan dari debu yang melekat di telapaknya. Mereka meraba-raba permukaannya dengan tangannya yang mungil itu. Mereka sedang mencari-cari sesuatu di sana. Beberapa saat mereka saling menatap. Jidatnya menggaris kerut sebelum waktunya berkerut. Mata mereka menyiratkan sebuah pertanyaan tanpa jawaban. “Mana yang disebut surga?” Tanya seorang anak pada yang lainnya. Mereka hanya menggeleng. Mereka pada mengangguk. Antara tidak tahu dan saling mengiyakan, berkecamuk di benak mereka. Mereka sama-sama tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Dan mereka juga mengiyakan dalam satu hal, mereka tidak menemukan apa yang dicari. “Semua orang dewasa bohong!” Seru seorang anak. “Pak guru bohong!” seru yang lainnya. “Emakku juga bohong.” Kata seorang anak yang kemarin 67


Potongan Kaki Perempuan | Suhariyadi

mendapatkan cerita emaknya tentang surga. “Ibu juga bohong,” kata yang lainnya lagi. Dan mereka lantas melemparkan potongan-potongan kaki itu ke tengah jalan. Kendaraan yang lewat melindasnya. Remuk. Sepotong kaki terlempar dan menghantam pedagang bakso di pinggir jalan. Tapi pedagang itu tak marah. Ia ambil potongan kaki itu dan ia masukkan ke tempat kuah baksonya yang sedang mendidih. Anak-anak itu pun tertawa menikmati keasyikan melempar potongan kaki itu. Dan di setiap jalan yang dilaluinya, mereka berebutan mengambil potongan kaki dan melemparkanya bersama-sama ke tengah jalan. Mereka pun bertepuk tangan saat suara gemeretak potongan kaki itu terlindas kendaraan. Orang-orang dewasa yang melihat ulah mereka juga ikut ter tawa. Perempuan-perempuan ikut juga bertepuk tangan bersama anak-anak itu. Dan kota semakin riuh seolah ada pawai melintas di jalan. PULANG sekolah seorang anak menangis. Tak biasanya anakku seperti itu, pikir ibunya saat melihat anaknya sedang menangis. Dilihatnya pakaiannya kusut. Di sana-sini warna coklat tanah mewarnai bajunya. “Kau pasti habis bertengkar?” Tanya ibu, matanya melotot hendak keluar. Tapi anak itu tak takut. Hatinya telah terbakar kemarahan luar biasa. “Tidak!” Teriak anak itu seakan menantang ibunya. “Lantas, kenapa Kau menangis?” “Karena ibu tak punya surga lagi untukku!” Teriak anak itu semakin menjadi-jadi. Ibunya heran mendengar tuduhan anaknya seperti itu. “Apa maksudmu?” “Kata pak guru, surga itu terletak di telapak kaki ibu. Tapi ibu sudah tak punya kaki lagi. Kaki ibu sudah buntung. Tak 68


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ada lagi surga untuk aku.” Teringat di benak ibu sebuah peristiwa saat dia menjadi kurban tabrak lari. Kedua kakinya remuk, harus diamputasi. Tapi jiwanya masih selamat untuk melanjutkan hidup bersama anak semata wayangnya. Dan kini anak semata wayangnya itu menuntut kakinya karena di telapak kaki itu terletak surga untuk dia. Dilihatnya anaknya masih menangis. Wajahnya menggantung kesedihan luar biasa. Dan tangisnya berpijar kemarahan anak harimau yang lapar. “Mendekatlah,” kata ibu dengan lembut. Dibisikkan sesuatu di telinga anaknya itu. “Benar, Ibu?” Tanya anak itu tak percaya. “Ibu tak pernah berbohong pada anaknya.” Anak itu mengangguk senang. Dia usap air matanya. Dia usaikan kemarahan anak harimau laparnya. Dan berlari sambil tertawa bahagia. Ibunya tersenyum melihat betapa anaknya sangat menyayanginya. Betapa anak itu telah setia menemaninya, seperti kursi roda yang selalu menjadi sandaran tubuhnya setiap hari. “SAYA heran, Emak, di kota banyak potongan kaki perempuan. Kasihan anaknya tak punya surga lagi.” “Potongan kaki itu sudah bukan milik perempuan itu lagi, Nak. Potongan kaki itu sudah milik kota untuk mempercantik dirinya.” “Seperti pohon-pohon itu, Emak?” Tanya anak itu, teringat cerita emaknya tentang betapa tak indahnya daerah ini, jika pohon-pohon itu sudah tak ada lagi. “Seperti pohon-pohon itu. Tanpa pohon-pohon itu, daerah ini nampak kering. Begitu juga kota itu, tampak tak indah tanpa potongan-potongan kaki.” “Terus di mana letak surganya, Emak?” “Kota itulah yang menjadi surga, Anakku.” 69


Potongan Kaki Perempuan | Suhariyadi

“Tapi aku benci kota. Banyak orang jahat sering mengejarku minta uang. Kendaraan di sana juga terasa berisik. Bahkan aku hampir tertabrak mobil. Ibunya Ragil juga tertabrak mobil hingga kakinya buntung. Kasihan dia sudah tak punya surga lagi.” “Tapi di kota banyak mainannya, kan?” Gurau emak melihat wajah anaknya membersit kesedihan. “Ya, Emak. Aku suka mainan.” “Kota itu surga mainan, Anakku.” “Surga mainan, Emak? Maksudnya, Emak?” Berondong anak itu sambil memelototkan bola matanya. “Besuk kalau sudah besar kau akan mengerti.” “Apa di kota orang-orang yang sudah besar juga suka mainan, Emak?” “Ya, tapi berbeda mainannya. Sudahlah tak usah kau teruskan pertanyaanmu itu, nanti emak tak bisa menjawab lagi.” Jawab emak sambil tersenyum saat dilihat anaknya tampak memendam seribu tanya tentang kota. Anak itu diam, menelan pertanyaan yang sebenarnya ing in disampaikan kepada emaknya. Sementara emak melanjutkan pekerjaannya yang tadi terhenti oleh berondongan pertanyaan anaknya itu. Malam menjadi hening. Suara dedaunan tertiup angin sesekali terdengar, betapapun lembut suara itu. Keheningan semacam itu mampu menangkap suara betapa lemahnya suara itu. Bahkan, andaikan sebutir kerikil yang jatuh ke dalam genangan air pun akan terdengar. Suasana itulah yang merasuk setiap malam di hati emak dan anaknya itu. Suasana yang terasa damai dan menyejukkan setiap orang. Kalau anak itu membenci kota lantaran berisik, kedamaian dalam keheningan itulah yang sudah merasuki hatinya. Tak terasa anak itu telah tertidur di bangku panjang 70


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

berbantalkan buku. Sedang emaknya membiarkannya seperti itu. Kasihan jika dibangunkan. Biarlah malam ini anaknya tidur di bangku itu, pikirnya. Dia sendiri membenamkan tubuhnya di dipan tua dekat tempat anaknya tertidur. Malam pun semakin hening. Semakin beranjak tinggi, malam semakin membisu. Keheningan itu akan sirna saat fajar tiba. Suara ayam berkokok menjadi jarum waktu bagi keduanya untuk terjaga dari mimpinya. Begitulah arus waktu terus berlangsung mengikuti jalannya. Dan keduanya terbawa dalam arus waktu yang terasa penuh kenikmatan. “IBUKU benar. Dia tak berbohong kalau surga itu berada di telapak kaki ibu. Tapi sekarang sedang dititipkan pada Pak Presiden. Pak Presiden sudah berjanji, besuk surga itu akan dikembalikan lagi.” Kata seorang anak saat istirahat sekolah. “Kata emak, surga itu sudah dimiliki kota untuk menjadikan dirinya surga mainan.” Ujar anak yang lain setelah semalam diberitahu emaknya. Teman-temannya yang lain sontak ter tawa saat mendengar keduanya membicarakan tentang surga. Mereka merasakan ada yang lucu dari yang didengarnya itu. Mereka pun telah mendapatkan cerita yang lain dari ibu-ibunya. “Kau tak percaya?” Bentak anak yang bercerita tentang kebenaran ucapan ibunya tadi. “Yang benar itu kata mamaku. Katanya, surga ibu-ibu disumbangkan untuk keindahan kota.” Jawab seorang anak. “Tidak. Kata mamaku yang benar. Surga itu telah dijual agar jadi kaya. Buktinya orang tuaku kaya.” Bantah yang lain. “Ibumu bohong semua! Ibuku memberitahuku semalam, kalau surga itu sudah diambil kembali oleh Tuhan.” Bantah 71


Potongan Kaki Perempuan | Suhariyadi

yang lain lagi. “Kenapa diambil kembali Tuhan?” “Surga kan milik Tuhan!?” “Tapi kenapa diambil lagi?” “Karena kaki-kaki ibu kita sudah menjadi mainan kota. Tahu tidak!?” Mereka pun serempak diam atas jawaban itu. Mereka tak berani lagi membantah lantaran mendengar kata ‘Tuhan’. Mereka takut Tuhan marah. Mereka takut dosa. Dan mereka takut masuk neraka. Apalagi katanya, surga sudah diambil kembali oleh Tuhan. Mereka merasa tak punya lagi surga. Sedang mereka tak mau masuk neraka, karena gurunya pernah bercerita, kalau neraka itu seperti kompor raksasa. Dalam diam mereka merasakan kesedihan. Bahkan saat gurunya mengajar pun terasa seperti diam. Saat pulang sekolah, diam itu masih tersisa. Mereka diam saat melewati potongan-potongan kaki yang berceceran di jalan-jalan. Tak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu riuh. Pawai melempar potongan kaki seperti kemarin tak ada lagi. Tak ada lagi pula sorak-sorai menyambut bunyi gemeretak saat potongan kaki itu terlindas mobil. Satu hal yang mereka sama-sama merasakan, bahwa betapa kelam hidupnya kelak. Entah dalam bahasa yang bagaimana mereka menerjemahkan itu. Dalam hati mereka ada satu hal yang dirasakan semakin memuncak; kesedihan. Alam pun diam seolah membiarkan anak-anak itu menikmati kesedihan itu, karena mengerti apa yang bakal terjadi pada mereka. Esok, anak-anak itu akan melupakannya dan mengulangi apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Ah! n

72


Repro: Dascha Friedlova | OpenArt

73


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

u

Sebongkah Kertas dan Wajah Emak Muhdoer Al-Farizi

o Published Š Horison Online, Jumat 10 Agustus 2012

u 74


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

T

ENTANG hidup yang selalu mengingatkan sesuatu yang bahagia dan menderita. Di sinilah akarnya. Bahwa hidup itu tumbuh dalam kata-kata hingga tangis dan senyum dan tak ada lagi yang bisa disyairkan. Meskipun sempat untuk dibelai agar tumbuh dan bangkit. Semangat. Mungkin tak semua bahagia. Karena senyum telah terapung kebutuhan dan hutang. Dan semua itu bisa saja sembuh. Termasuk yang ini, Mak. Pada masanya kita akan kehilangan syair hidup. Mungkin, inilah sekarang yang menimpa aku, engkau, dan Mak. Kebutuhan angkuh dalam kondisi yang rapuh. Aku merasa malaikat yang di utusNya dari surga sudah menghilang. Dan aku hanya menangkap badai kata-katamu yang menenggelamkan semangatku untuk terus berkarya dan berkarya dalam kata. “Sudahlah, Nak. Tinggalkan aktifitasmu itu.” Sambil terbatuk-batuk wajahmu meredup, imajinasi dan semangatku petang dalam pekarangan karya yang aku tulis. Memang, Mak, untuk menuju puncak Himalaya itu perlu bekal yang banyak dan harus sabar untuk mendakinya. Kaki kita terlalu balita. Tak cukup dengan angan dan ambisi kita langsung bisa hinggap di puncak. Kita harus sabar, Mak. “Dulu engkau pernah berkata; “Jika karya saya ini duduk di beranda Koran, kita bisa beli beras dan obat untuk sakit Emak,” tapi mana, Nak? Sampai saat ini tak sehelai tukang POS pun yang mampir ke gubuk kita, untuk mengantarkan semua itu.” Aku hanya menangkap kata-katamu yang menumpuk di tenggorokanmu. Hanya keluhan itu yang perlahan mekar dan masih sehat mengalun, nyisir daun telinga keluar ke pekarangan menyentuh pena hingga merontokkan katakata yang sayup memenuhi tanah imajinasi terinjak kaki pejalan yang lewat hingga terasa lembutnya orang-orang 75


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

itu yang selalu menyangka alangkah lembek kehidupan kita, alangkah ciut semangat kita. Mereka mengetahui senja yang khusuk sujud di wajahmu, Mak. Kadang aku juga menjumpainya. “Apakah waktumu akan kau habiskan untuk selembar kertas yang penuh coretan tak jelas? Tak membawa hasil lagi.” Aku tidak tahu memulai dari mana untuk menyirami kata-kata yang kering di bibirmu. Hujan tidak lekas turun. Menyiram dan memenuhi kebutuhan kita hingga Emak tak perlu susah-susah bersabda demikian lagi. Karena resahmu membuncahkan segenap perasaan. Karena aku berusaha mengantarmu ke puncak ternyata kau tak mengerti juga maka, maafkan aku jika bibir ini bersyair yang mungkin membuat Emak bingung. “Malam, pagi, siang, sore, itu silih berganti, Mak. Satusatu. Dan harus sabar dalam mengarunginya. Kita tidak bisa langsung memiliki kesemuanya dalam waktu yang sama. Pelan-pelan dan sabar, Mak.” “Aku tidak pernah merasakan adanya pagi, siang, atau pun sore dalam hidup kita. Aku merasa hidup kita selalu berada dalam malam. Emak lelah menantinya, Nak. Apakah tulisanmu itu mampu mengundang pagi, siang, dan atau sore?” sambil membungkuk dengan batuk yang tertampung menyesaki dada, suaranya muntah. “Apakah, Emak, sudah mengetahui kenapa kita merasa kalau hidup kita ini selalu berada di malam?” “Apakah engkau juga menyadari mengapa engkau bertanya demikian?” “Sepenuhnya aku sadar, Mak.” “Kalau begitu tinggalkan kertasmu, pergilah ke seberang. Carilah pagi, siang, dan sore itu. Engkau tidak bisa menemukanya dalam kata-katamu yang tak jelas itu, Nak.” 76


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Batuknya semakin mengamuk, nafasnya terasa berat seperti orang tua renta yang memaksakan diri untuk berlari. Dadaku pun ikut terasa sesak melihatnya. “Apakah keseberang tidak membutuhkan waktu, Mak?” “Apakah engkau bisa langsung ke sana tanpa mengarungi waktu?” “Lantas mengapa, Emak, memaksaku agar meninggalkan kertas dan kata-kata yang dianggap tak jelas? Bukankah kita harus sabar dalam mengarungi waktu?” “Karena kertasmu tak jelas arahnya.” “Apakah ke seberang juga jelas arahnya?” “Di sana engkau bisa mendapatkan uang.” “Apakah Emak tidak melihat bayangan uang yang berserakan di atas kertasku ini? “Hanya malam, malam, dan malam yang aku ketahui. Tak sedikit pun aku menemukan cahaya di atas kertasmu, apalagi uang yang berserakan.” “Kalau begitu sama, Mak. Aku juga tidak menjumpai bayangan bahwa aku akan mendapatkan uang di seberang.” “Karena engkau tak mau berusaha untuk mengetahuinya.” “Karena Emak juga tak mau berusaha untuk mengetahuinya.” “Sesungguhnya akan berubah nasib kita jika engkau menuruti perkataan Emak.” “Sesungguhnya nasib kita juga akan berubah jika Emak merestui tulisanku.” “Sudahlah, engkau selalu senang memutar lidahku.” Sambil membungkuk ia berlalu meninggalkanku, sedang batuknya terus mendesing di telinga, meninggalkan bekas yang memelas. Ah, percuma saja. Ladangmu sudah terlalu kering. Disirami dengan syair pun tak akan subur. Cukup itu dulu. 77


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

Setidaknya aku menginginkan sidang seperti ini lagi. Dengan wajah terang dan banyak harapan. Sebab keinginanmu justru memperpanjang malam. Tipisnya lidah yang Emak putar akan membawa pedih memalung lebih panjang. Bisakah kau bersikap wajar dan bersama-sama mencari kata yang nyaris kita tenggelamkan, perlahan-lahan, tanpa sadar hingga sebenarnya diri kitalah yang terbenam. Alangkah nyamanya kau dan aku bisa berkata-kata lagi, mengurai kesesatan pikir dan ucap yang nyaris mematahkan semangatku untuk terus berkata-kata di atas kertas. Aku harus lebih berhati-hati untuk bersidang denganmu lagi. MALAM ini, setelah sekian tahun malam yang padam. Kembali aku merenung di atas kertas putih yang belum tersentuh ujung tombak pena. Sebongkah kertas dan wajah Emak tergeletak di atas meja. Kertas yang penuh tanaman kata-kata, tumbuh dan berbunga. Kadang aku juga menyebutnya taman kata-kata yang penuh wewangian, indah, dan mengharukan. Sebongkah kertas yang tak pernah gelap ketika malam, tak pernah ding in ketika badai memuntah dari bibir Emak, dan sebongkah kertas yang selalu bersinar walau hidup kami tak pernah menciptakan sinar di hari-hari yang malam. Walau berkali-kali aku mengirimkan kertas-kertas ini ke meja redaksi media cetak dan berkali-kali pula menjamur menunggu kabar bahwa tulisanku dimuat, aku tidak akan menyerah sampai di sini. Tak ada jalan lain kecuali sabar dalam menunggu kabar. Suatu saat jamur itu akan kering dengan dimuatnya tulisanku. Wajah Emak. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya dengan berat. Angin malam mendingin di paru-paru. Seper ti deru ombak laut Sarang yang menghantami bibir-bibir perahu nelayan, nafasku 78


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

terhempas, berserakan. Wajahnya yang keriput, senyum berat tak terawat, melukis kejenuhanya yang hidup melarat. Tak ada setitik cahaya di wajahnya, hitam yang tak jelas kapan pudarnya. Aku rebah di dada kursi, jalan-jalan dalam gemetar angan yang gamang. Kebutuhan hidup yang menumpuk, tumbuh dan berakar dalam usia yang memanjang. Seperti benih tanaman yang di taruh di tanah yang subur, hidup, tumbuh, dan berakar. Merambati pori-pori lembab yang meremang di sekujur badan. Entah yang keberapa aku menarik nafas dalam-dalam, lalu membiarkanya tercacar. “Sudahlah, Nak, tinggalkan aktifitasmu itu.” Saran yang membuatku sesak untuk bernafas. Menulis sudah menjadi bagian dari hidup. Aku tidak bisa meninggalkanya. Aku sudah terlanjur menjadikanya nyawa. Maka berhati-hatilah dalam bersaran, Mak. “Menulis lagi ya, Nak?” Bersama gelapnya malam, wajah Emak yang petang merayapi kesendirianku—berimajinasi dan berusaha menyususn kata-kata dalam karya. Jika sudah terjadi demikian maka, sesegera mungkin aku harus menyiapkan diri dan bersyair seindah firman Ilahi. “Sampai kapan kau akan seperti ini, Nak? Sampai aku tak ada?” “Apa yang Emak katakan? Tidak adakah kata lain selain kata itu?” “Emak sudah berusaha menyusunya, tapi kau tak pernah mengindahkan.” “Karena Emak terlalu ambisi. Hidup ini seperti nasi, Mak. Butuh proses panjang untuk memakannya.” “Aku tak tahu bagaimana lagi untuk mengentasmu dari lautan imajinasimu.” “Tidak akan bisa. Imajinasi sudah menjadi darah dalam hidupku. Mengalir memompa jantung dan hati. Aku tidak 79


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

bisa meninggalkanya…” “Mungkin jika bapakmu masih hidup, aku tidak akan susah-susah untuk mengentasmu dari lautan imajinasimu. Akan aku biarkan engkau mengarung inya. Sepuasmu. Hingga engkau benar-benar memperoleh mutiara dari lautanmu itu. Tapi, itu hanya khayalan di malam yang gelap.” “Mak, jangan kau sebut-sebut nama Bapak lagi. Ini urusan kita berdua. Biarlah Bapak tenang di sana. Aku tidak ingin mendengar kabar Bapak menangis karena kita di sini selalu menangis. Jangan kait-kaitkan masalah kita dengan bapak.” “Emak tak tahu lagi apa yang harus kita lakukan.” “Hidup ini seperti roda, berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Mungkin saat ini kita berada di bawah, Mak. Suatu saat roda kita akan berputar.” “Hah, kau terlalu dini membicarakan hidup. Roda itu akan berputar jika ada yang mengayuh pedalnya. Sedangkan selama ini kau tak pernah mengkayuh pedalnya. Seikat kayu tak cukup untuk mendorong roda, Nak. Beban kita terlalu berat. Jika kau benar-benar ingin memutarnya, maka lekas tinggalkan kertasmu itu.” “Sungguh, suatu saat Emak akan melihat betapa suburnya taman yang aku tulis.” “Sampai kapan?” “Sampai Emak meridhoinya.” Terdiam. Wajahnya semakin gelap dalam keremangan malam. Kepalaku berdenyut-denyut. Tak sabar ingin segera memuntahkan kata-kata. Tapi aku tak pernah menemukan kejernihan danau di mata Emak. Aku kehilangan kejernihan semangat yang melompat-lompat diantara percikan embun yang terjamah ujung pena. Keinginanku tersesat diantara kata-kata Emak. Menunggu kata ridho serasa menunggu hujan emas. Sedang langit tak pernah berawan emas. “Aku berharap semoga besok kau berubah fikiran.” Sambil 80


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

berlalu Emak tamparkan petir ke hatiku. Dan semoga besok Emak meridhoiku. Suaraku menggarang di tengah malam yang tak kunjung padam. Lalu, di balik kelebat petir aku melihat bayanganmu luntur. Sadarlah. Sebenarnya harapmu membuatku cemas, resah, dan takut. Berharap memenuhi permintaanmu di bawah merdeka dan membawamu ke istana yang kita damba, tentunya itu adalah bunuh diri bagiku, Mak. Menulis sudah menjadi darah dalam hidup. Angin malam semakin gigil. Aku tak ingin menyimak bayangan petirmu. Daun-daun di pekarangan berdesir-desir membicarakan imajinasi. Mungkin nanti atau mungkin sebentar lagi akan pagi. Mentari dhuha yang kita nantinanti akan menjadi sungguhan. Tunggulah, Mak. Semua itu pasti, asal kau meridhoi. PAGI menyisir, malam yang penuh keluhan terurai. Di tengah-tengah bibir pintu mataku merekam dan menuliskan tubuh Emak yang mulai renta, koyak oleh kayu-kayu setengah kering yang di sandarkan di dinding bambu, di belakang rumah. Memang orang-orang menyebutnya pagi. Waktu untuk bekerja bagi pekerja, waktu untuk berkantor bagi pekantor, dan atau waktu berdagang bagi pedagang. Tapi, pagi adalah malam bagi kami yang tertelan kebutuhan. Mengherankan memang, jika membicarakan kehidupan kami yang selama enam tahun ini, hidup berdua yang penuh derita yang melelehkan sel-sel darah, saling hantammenghantam tentang keinginan, mimpi menjadi seorang penulis sukses dan terkenal dan keinginan untuk berkelana ke seberang memunguti rizki yang mungkin tersisa untuk kami. Tiba-tiba kami seperti tersekat awan hitam, saling gelap pandang, tanpa sadar kami telah terperosok ke lembah yang tak menjernihkan bola mata. Kadang aku 81


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

merayap mengingat wajah bapak yang terapung di malammalam yang sepi. “Hidup ini perjuangan, Nak. Tak ada yang gratis dan kebetulan. Semua butuh perjuangan. Butuh proses. Berjuanglah. Raihlah keinginamu. Bermimpilah dan raihlah.� Sepertinya Emak tak pernah memahami syair bapak itu. Selama ini aku sudah berusaha untuk bermimpi dan meraihnya, tapi mengapa Emak tak pernah membuka tirai yang memisahkan mimpiku dengan keing inanya. Aku merasa hidupku tersekat dengan ambisi Emak. Mengherankan, bagaimana kami bisa membangun pagi jika tak pernah menyatuhkan jiwa dan motifasi. Kata-kata Emak tersangkut di bukit-bukit, gugur, dan ditebarkan angin. Mungkin demikian pula kata-kataku di surau hatinya. Meluruh bersama daun-daun yang coklat tipis memanjang, memudar dan tak bisa bersemi lagi. Apa benar rasa ini pudar saat pengertian juga mulai surut. Tidak bisakah ditemukan lagi dari reruntuhan hatinya. Tidak bisakah ditemukan lagi dari koyak-koyak wajah dan jiwanya sebagai seorang Emak yang sepatutnya membelai mimpi sang anak, mencium dan memeluk agar tetap semangat untuk meraihnya. Kupikir, ini memang kesesatan pikir saja. Saya yakin, masih ada rasa kasih sayang sebagai seorang Emak, walau hanya setitik embun di padang pasir. Dan ini memang harus segera diuraikan dan ditemukan dimana titik embun itu terjatuh. Terdengar deru motor yang perlahan merayap mendekati telinga kami. Siapa gerangan yang tersesat menuju gubuk tua ini. Dengan jaket kulit berwarna hitam, tampak seorang lelaki mengendarai sepeda motor berwarna orange, tas keranjang dikalungkan di jok bagian belakang, melaju kearah kami. “Permisi, apa benar ini rumah Mas Faris?� Tanya lelaki itu setelah mematikan mesin motornya. 82


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Iya benar,” jawabku dengan penuh tanda Tanya. “Ada perlu apa ya, Pak?” “Ada bingkisan dari redaksi Jawa Pos, untuk Mas Faris.” Kata lelaki itu sambil menyodorkan amplop berwarna cokelat dan beberapa helai Koran. Tiba-tiba mulutku terkunci, seperti ada lem yang melekat di antara kedua bibir. Tanganku gemetar menerima amplop dan beberapa Koran yang disodorkanya. “Selamat ya, Mas. Hebat. Cerpen, Mas, membuat geger di kantor POS. Kami suka dengan cara penceritaanya, asyik. Temanya pun menarik. Penggambaran-penggambaran tokoh dan peristiwanya sangat mengena sekali.” Cerita lelaki itu sambil membuka tas keranjangnya. “Oh ya? Benarkah itu, Pak?” Mataku berbinar-binar. Pelangi menari-nari di kelopak mata. Semua yang aku pandang tampak indah. “Untuk apa sih, Mas, saya berbohong?,” mengernyintkan dahi, “Tolong tanda tangan di sini dulu, Mas.” Sebuah buku bertuliskan Bukti Tanda Terima. “Terimakasih ya, Pak.” Kataku setelah bertanda tangan. “Iya, sama-sama, Mas.” Ia masukkan kembali buku itu ke dalam tas keranjang. Mesin motor dihidupkanya lagi, “Selamat ya, Mas. Mari…” Salamnya sambil merundukkan kepala dan merayaplah motornya menjauhi kami. Satu hal yang terbaik bagiku kini adalah diam dan segera membuka amplop ini. Biar Emak tahu sendiri bahwa apa yang dulu pernah aku katatan kini benar-benar jadi kenyataan. Sabda-sabdanya yang mengotori kertasku biarlah ia bersihkan sendiri. Itu saja. Aku hanya berharap setelah ini ia meracik melati untukku, meridhoi keinginanku yang selama ini tertutupi oleh kemenyan ambisinya. Itu saja. “Tidak menulis lagi, Nak?” Tiba-tiba suaranya berdesir 83


Sebongkah Kertas dan Wajah Emak | Muhdoer Al-Farizi

bersama ang in kecil, menyapu dan mengerdipkan pendengaranku. Dan batuknya memuntah. Aku tak mimilih untuk berkata. Ingin memastikan bahwa embun mulai menetes di padang pasirnya. “Memang benar apa yang kamu katakan, Nak. Hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah.” Katanya lagi sambil memilah kayu-kayu yang sudah kering. “Selama ini aku telah berbuat salah padamu. Emak tak pernah sadar diri bahwa sebenarnya Emaklah yang tersesat. Tebalnya kebutuhan telah menggelapkan hati Emak. Jadi, maafkan Emak jika selama ini tak pernah mengerti mimpimimpimu, Nak.” “Mimpi apa aku semalam?” Terpaksa kataku menolong bibir Emak yang terpleset tanpa sebab. “Tidak, Nak. Ini bukan mimpi.” Wajah yang keriput dan batuk yang memelas menatapku. “Aku tak tahu harus bagaimana untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi.” “Dengan airmata Emak?” “Cukupkah dengan airmata? Sedang semua yang aku lakukan lebih dari airmata.” “Dengan sujudku di depanmu, Nak!” Seperti keruntuhan gunung Himalaya, mata membelalak melihat Emak yang merangkak dan tiba-tiba sujud di depanku. Siapa orangnya yang tega melihat wajah orang tua wanita berwajah koyak sujud dalam tangis di depan sang anak. Aku merasa langit benar-benar runtuh. Bumi yang kupijaki lembek dan gugur. “Tak sepantasnya engkau sujud di depanku, Mak. Tak sepantasnya air matamu jatuh di ujung kakiku. Tak sepantasnya engkau melakukan ini padaku. Bangunlah, Mak…” Jiwaku lumpuh, terserok memeluk batang tubuh emak yang tenggelam dalam tangis. 84


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Maafkan aku, Nak. Selama ini Emak terlalu ambisi. Izinkanlah di akhir sisa usia ini Emak meridhoi mimpimu. Bangunlah. Raihlah mimpimu. Jangan rela hidupmu melarat seperti kehidupan kita selama ini.” “Apakah Emak tega meninggalkan aku sebelum mengetahui sebongkah kertasku benar-benar menjadi berlian dan mutiara?” “Aku akan tersenyum, Nak.” Aku menemukan kembali embun di wajahnya. Menangkap senyumnya yang bergelimangan. Menjemput pagi di cekung matanya. Bayangan pada masa-masa yang akan datang benar-benar terekam. Aku merasa pagi itu ada sekarang, menatapku dengan mentari, di ladang wajah Emak. Cerah. Kedipan-kedipan ridho menekukkan lututku. Juga bibir yang pernah aku kunyah untuk bersyair mengemis harapan. “Emak?” kataku lirih. Tiba-tiba ia rebah di pundakku. Tak terdengar suara batuknya. “Mak?” seperti pohon yang tumbang, rebah tak berdaya. Aku tak menemukan detak jantungnya. Nafasnya tak menyapu pagi yang baru aku temukan dari wajahnya. “Emmaaak…?” n

85


Repro: Andrius Kovellinas | OpenArt

86


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop Bamby Cahyadi

o Published Š Jawa Pos, Minggu 12 Agustus 2012

Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). 87


Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop | Bamby Cahyadi

T

AK ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun? Menjelang Kematian PEREMPUAN bertubuh mungil ini mungkin salah satu malaikat pencabut nyawa yang modis, keren dan jauh dari kesan seram yang dikirim Tuhan. Ia kini duduk di sofa depan televisi di apartemenku dengan rambut pixie cut yang ikonik, ia telah mencuri perhatianku. Aku masih tak percaya. Ia datang dengan rambut pendek nyaris cepak, lengan bertato, kaus tak berkerah dengan bentuk yang unik, persis permen. Mulutnya kini penuh mengunyah croissant yang belum sempat kusantap. Ia mempresentasikan dirinya sebagai gula-gula, maka tak cukup mengejutkan ia memakai kaus yang menyerupai permen. “Semua orang menyukai permen!� teriaknya lantang, ketika aku mengomentari soal busananya. Aku terkaget-kaget mendengar suaranya yang nyaring, tak sesuai dengan bentuk tubuhnya yang mungil. Ia menatapku lekat. “Apakah kamu tahu, kalau daddy longlegs adalah labalaba paling beracun di dunia?� tanyanya sambil melebarkan matanya yang bulat. Ia berkata sambil meneguk kopi dari cangkirku yang belum kusentuh. Meskipun ia mengaku punya ketakutan tersendiri terhadap spesies berkaki delapan itu. Tapi ia menikmati pembicaraan tentang itu. Kami sudah mengobrol soal arachnids. Selanjutnya sedikit soal sastra 88


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dan parfum. Aku hanya terpana. Mengapa ia bicara tentang laba-laba? Kenapa pula malaikat ini takut pada laba-laba? Aneh. “Giginya terlalu kecil untuk menembus kulitmu, artinya ia tidak bisa menyebarkan virus ke dalam tubuhmu. Tetapi kalau ia menggigit tubuhmu di luka terbuka, kamu bisa meninggal seketika,” dia tertawa terbahak-bahak. Lucu dan menggemaskan cara dia tertawa. Aku kini terpesona. Malaikat macam apa si Cepak ini? “Aku tidak tahu secepat apa kamu mati. Aku mungkin berbohong soal itu,” ia kembali terkekeh melanjutkan katakata. Aku tersenyum-senyum sendiri. Faktanya, ia memang sedang mengarang sebuah cerita. Semua itu, atau paling tidak hal itu benar bagi seseorang yang berhasil dikelabuinya. Tidak bagiku. Aku masih tersenyum-senyum melihat malaikat aneh ini berbicara. “Sudahlah, kita akan pergi ke lapangan berlumpur, minum bir sambil tertawa kencang, bermain bola lalu pulang ke apartemenmu dalam keadaan jorok dengan pakaian penuh noda lumpur,” celotehnya, membuyarkan gerombolan balon-balonan sabun di atas kepalaku. Aku tergeragap dibuatnya. “Apartemenmu sedikit berantakan, tidak seperti dalam gambar yang pernah kau kirimkan padaku,” ujarnya. Bicara apa lagi ia? “Kamu suka membaca?” Aku mengangguk. “Buku-buku sastra klasik, macam Leo Tolstoy, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marques, “ jawabku kalem menyebut sejumlah nama. “Menarik!” Ia berdecak. Lalu ia melanjutkan, “Kamu pasti tahu, bahwa cerpen Gabriel Garcia Marquez, atau yang lebih 89


Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop | Bamby Cahyadi

baru Roberto Bolano, itu sudah terbit dalam bentuk buku, saking menariknya, diterbitkan lagi di majalah New Yorker.” “Oh ya?” “Tak usah jauh-jauhlah, cerita AS Laksana yang dimuat bersambung di koran, lalu dimuat lagi sebagai cerpen di Koran Tempo. Artinya, karena cerita itu menarik untuk dibaca!” Aku mengangguk-angguk. Ia pasti banyak membaca, pikirku praktis saja. Ia tiba-tiba mengendus-endus, cuping hidungnya merekah. “Hei, kamu memakai Hugo!” “Dari mana kamu tahu?” “Ya, ampun…. Kamu memakai parfum bermerek Hugo, parfum itu merupakan percampuran sentuhan modern dan klasik, meyegarkan sekaligus maskulin, hmmm…,” ia mengendus lebih dekat dan dalam di bawah ketiakku. Membuatku kikuk. Meski ia benar-benar malaikat, ia kan perempuan. “Aromanya diawali dengan harum ice cold mint kemudian bersambung ke freesia dan basil. Dan diakhiri dengan molekul musk cashmeran, woody dan wangi rempahrempah. Sempurna. Aku suka lelaki berparfum, wangi!” pungkasnya. Ia menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya yang lentik. “Jadi kamu benar-benar malaikat, ya?” “Ya, ampun…. Kamu belum percaya?” Matanya melotot menatapku. “Aku heran saja,” ucapku pelan. “Aku ke sini untuk mengambil nyawamu, tapi kamu tak akan mati digigit laba-laba yang kuceritakan tadi,” ujarnya tersenyum misterius. Saat ini, aku besama perempuan bertubuh mungil 90


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dengan kaus serupa permen. Ia mengajakku bermain bola di lapangan berlumpur dan minum bir. Aktivitas menjelang ajal yang benar-benar aneh. Lamat-lamat kulihat dari lengannya yang bertato, terbentuk serumpun bulu-bulu unggas yang terus mengembang menjadi sepasang sayap yang kokoh. Sayap itu lantas mengepak-ngepak membawaku entah kemana‌. Sebentar! Ia membawaku ke sebuah kafe. Setelah Kematian PERNAHKAH kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh? Pernahkah kamu melihat seorang perempuan yang tampak begitu kesepian? Perempuan itu, duduk sendirian di satu sudut gelap di sebuah kafe sambil menjilati permen lolipop kegemarannya. Ujung lidahnya bergerak-gerak pada permen berwarnawarni itu. Dia menjilati lolipopnya, menikmati rasa buahnya, sembari berpura-pura tak memikirkan apa pun. Tapi kepura-puraan tak memikirkan apa pun tak bisa meredam kecamuk yang berdesak-desakkan dalam syaraf otaknya. Kecamuk itu tergurat jelas pada wajahnya yang muram. Perempuan itu sebenarnya berwajah cantik, tapi kemuraman menutupi pesona keayuannya. Kabut hitam menyelubungi pikirannya, mengunci benaknya hingga terpusat hanya pada satu hal: Kematian. Pikirannya melesat bagai peluru yang meletus menembus seluruh bagian-bagian tubuhnya. Menyeruak melewati langit-langit kafe hingga lepas menghujam atap. Meledak. Dalam keremangan pandangan yang samar-samar lantaran cahaya lampu yang minim dan tertutup asap rokok yang diembuskan oleh mulut seluruh pengunjung kafe, dia melihat ruhnya lepas dari tubuhnya dan terbang ke langit. 91


Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop | Bamby Cahyadi

Dia ingin mengejarnya, tapi tak dilakukan. Bukankah kini dia menjelma sebagai ruh yang keluar dari tubuhnya dan terbang ke angkasa? Dia gembira bukan kepalang menyadari dia bisa terbang, mengapung-apung di angkasa. Serasa mimpi memang, tapi ini nyata. Dia terbang. Dia melesat dengan kecepatan tinggi bagai kilat halilintar. Ketika itu dia melihat rembulan begitu benderang. Bulan tampak lebih besar, lebih emas dan begitu dekat. Tatapan matanya menjelajahi tubuh rembulan, sepertinya dia ingin menelanjangi tubuh bulan. Seharusnya dia tak menatapnya seperti itu, karena bulan tak pernah mengenakan baju apalagi celana. Lagi pula, bulan belum tentu berkelamin. Perempuan itu ingin menuju matahari, namun dia mengendus sesuatu. Wangi bunga melati tercium tajam di udara, nyaris memabukkan dirinya. Dia merasa aneh, kenapa tiba-tiba dia mencium aroma wangi melati di langit malam. Sejenak dia tercenung. Merenung sebentar, lantas dia teringat halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga itu. Pemakaman. Wangi melati menggiringnya menuju sebuah apartemen dengan atap yang luas di pusat kota yang hiruk-pikuk. Dia memperlambat laju terbangnya, lantas dengan hati-hati dia mendarat di atap salah satu apartemen itu. Napasnya sesaat tercekat di paru-parunya, dan dia bergidik. Dia mendengar suara tangisan para perempuan, batuk para manula, dan bunyi langkah kaki telanjang hilirmudik dari dalam apartemen itu. Orang-orang melantunkan ayat-ayat suci dan bergumam-gumam merapal doa-doa berbaur dengan aroma tubuh manusia. Bau parfum yang membuai, bau ketiak yang menusuk dan bau kemenyan yang mistis. Perempuan itu menerabas pintu apartemen yang 92


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

terkuak. Melewati kerumunan orang-orang, hingga tatapan matanya menancap pada sebuah tubuh yang telah dikafani. Wajah pemilik tubuh yang telah membeku itu sangat dia kenali. Dia mengertakkan rahangnya berusaha memendam rapat kata-kata yang ingin diteriakkannya. Dia mengerjapkan matanya. Matanya hitam, bagai sepasang kolam tak berdasar. Matanya menusuk bagai hendak menembus tubuh tak berjiwa yang terbujur di hadapannya. “Mati main bola,” seseorang berbisik kepada seseorang yang baru saja tiba di ambang pintu apartemen. “Bukan, kebanyakan minum bir,” bisik yang lain. Perempuan itu melihat kelebatan cahaya berwarna putih dengan cepat menyelinap keluar apartemen menuju langit malam. Dia dengan sigap mengikuti kelebatan cahaya berwarna putih itu. Kelebatan cahaya itu menuju sebuah kafe. Perempuan itu tertegun. Di panggung kafe, liukan tubuh perempuan penyanyi kafe senada dengan irama musik yang berdentam mengelegar, penyanyi itu mengangkat tangannya ke atas kepala, lalu dia menggerakkan tangannya menyisir rambutnya yang panjang tergerai bergelombang menuruni punggungnya. “Jakarta digoyaaaaannngggg!!!” Jeritnya histeris. Perempuan penyanyi itu mengajak pengunjung kafe bernyanyi dan berjoget bersamanya. Musik berdentum-dentum keras melatari pembicaraan beberapa pengunjung kafe yang tengah menikmati malam minggu. Di sebuah sudut gelap kafe, duduk sendirian perempuan yang terlihat berwajah muram, sedang menjilati permen lolipopnya, sembari sesekali dia menenggak sebotol 93


Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop | Bamby Cahyadi

minuman bersoda. Aku mendekati perempuan yang kesepian itu, untuk sekadar memberi kehangatan dan gurauan agar ia tak bersedih. Perempuan itu mengendus. “Wangi Hugo,” gumamnya. “Ya, aku di sini,” sergahku. Perempuan berwajah muram itu tetap saja dalam diam. Tetap saja menjilati lolipop. Tetap saja mencengkeram leher botol minuman bersoda. Dan menangis. Perempuan lolipop itu kekasihku. Bulan depan kami berencana menikah. “Mana si Mungil?” Sedikit menoleh ke belakang. Dari arah toilet perempuan bertubuh mungil dengan rambut pixie cut yang ikonik, datang mendekat. Dia telah mencuri segenap perhatianku, bahkan nyawaku. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata, agar aku segera mengikutinya. Perjalanan sepertinya segera dimulai. “Ke mana?” “Main bola!” “Dan, minum bir, ha.. ha.. ha…!” n Jakarta, 11 Juni 2012

94


Repro: Ans Markus | OpenArt

95


Upaya Menghindari Dosa | Dadang Ari Murtono

u

Upaya Menghindari Dosa Dadang Ari Murtono

o Published Š Jurnal Nasional, Minggu 12 Agustus 2012

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar, majalah dan jurnal. 96


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

K

EPALANYA berdenyut nyeri. Pandangannya berputar. Nafsu makannya hilang. Matanya tak sedetik pun mau terpejam meski seluruh tubuhnya telah terasa penat. Dan itu semua disebabkan bayangan api yang berjilatan, kilat tombak yang dihunjamkan ke perut hingga memburaikan segala jeroan, mulut yang dibuka paksa dan dituangi timah cair panas, rantai-rantai panas yang membelit-belit seluruh tubuh dan seperti tak bisa diurai dari simpulnya, tubuh yang hancur dalam sekali sabetan cambuk namun segera utuh kembali semata untuk kembali dicambuk, rasa sakit yang tak terperi, rasa sakit yang seakan tak dapat ditanggungkan, juga teriakan minta tolong yang sia-sia belaka. Ia bergidik ngeri. Dan ngeri itu membuat nyeri kepalanya bertambah. Membuat pandangannya semakin berputar. Membuat napsu makannya semakin hilang. Membuat matanya semakin tak bisa terpejam. Semenjak kecil, ia telah berulang-ulang mendengar cerita tentang neraka. Cerita itu ia dengar dari orangtuanya. Cerita itu ia dengar dari ustadz ngajinya di surau. Cerita itu ia dengar dari guru agama di sekolahnya semenjak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dan selalu, setiap kali mendengar cerita itu, tubuhnya bergetar, keringat dingin membanjiri tubuhnya, lalu berkali-kali ia mengucap istighfar. “Jangan masukkan aku dalam neraka, Tuhan. Jauhkan aku dari siksa neraka, Tuhan,‘ begitu senantiasa doanya. Karena itulah, ia tumbuh menjadi pemuda yang baik. Yang menjaga dirinya dari segala hal-hal yang dilarang agama. Tidak sekali pun ia tergoda untuk mencicipi minuman keras sekali pun semua kawannya melakukan hal itu. Ia hanya tersenyum ketika kawan-kawannya itu mengolok-oloknya dengan menyebutnya banci dan tidak gaul karena tidak mau ikut mabuk. Ketika kawan-kawannya 97


Upaya Menghindari Dosa | Dadang Ari Murtono

belajar bermain kartu, ia hanya duduk di kejauhan. Menahan diri untuk tidak ikut belajar. “Cuma belajar. Untuk menghabiskan waktu. Lagipula, ini tidak pakai taruhan. Jadi tidak termasuk judi,� kata seorang kawannya. Tapi ia tetap berhasil menjaga diri untuk tidak ikut-ikutan. Ia kuatir jika ia bisa bermain kartu remi, pada akhirnya ia akan tergoda untuk bermain dengan taruhan. Belakangan, ia hanya tersenyum ketika kawankawannya sedikit-sedikit, mulai memasang taruhan ketika bermain remi. Ia juga tidak pernah telat pergi ke surau setiap kali terdengar adzan dikumandangkan. Bahkan, tak jarang, ia yang mengumandangkan adzan. Ia juga kerap didapuk menjadi bilal sholat jumat. Dan seiring hari, ia bahkan diminta mengisi kotbah jumat. Lalu kotbah sholat ied. Lalu undangan-undangan dari kampung sebelah berdatangan untuk mengisi ceramah. Demikianlah. Dalam setiap ceramah dan kotbahnya, tak lupa ia selalu mengingatkan orang-orang untuk menjauhi dosa. Tak bosan-bosan pula ia ceritakan betapa menyakitkannya neraka itu. Alangkah tak tertanggungkannya siksa neraka itu. Siksa yang tidak hanya sekali. Melainkan berkali-kali. Sedemikian baik ia bercerita hingga orang-orang yang mendengar cerita itu ikut bergidik ngeri. Ikut berkeringat dingin. Ikut berulang menyebut nama Tuhan. Ikut berulang mengucap istighfar. Ikut meneteskan airmata ketika ia berdoa agar Tuhan menjauhkan mereka dari api neraka. Namun kini ia merasa semua usahanya itu sia-sia. Ia merasa api neraka begitu dekat dengannya. Ia merasa siksasiksa yang tak tertanggungkan itu diciptakan semata untuknya. Hanya untuknya. Ia berulang menangis. Ia berulang bertaubat. Ia berulang berdoa. Namun bayangan 98


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

itu tidak juga hilang. Malah semakin terlihat jelas. Malah seperti semakin mendekat. Dan itu semua bermula dari seorang perempuan. Perempuan yang pertama kali ia lihat di sebuah acara sema‘an Alquran. Perempuan yang terlihat begitu cantik dengan jilbab hijau menghiasi kepala yang oval. Perempuan yang membuat hatinya berdesir aneh ketika pertama kali melihatnya. Lalu, hari-harinya setelah itu dipenuhi ingatan akan wajah perempuan itu. Seperti itukah rasanya cinta? Dan cinta itu kian bertambah-tambah setelah tahu bahwa perempuan itu adalah putri kiai di kampung itu. Dalam pikirannya, seorang putri kiai pastilah seorang yang paham benar masalah agama. Pastilah orangtuanya telah mengajari bagaimana cara-cara menghindari siksa neraka. Perempuan semacam apa lagi yang paling pas buat lelaki sepertinya bila bukan putri kiai yang sholehah? “Bila kau merasa telah benar-benar siap secara lahir batin, maka sempurnakanlah sunnah nabimu dengan menikah. Lamarlah putri kiai itu,‘ kata bapaknya ketika ia mengutarakan niatnya untuk melamar putri kiai itu. Dan lamaran itu mendapat sambutan yang teramat baik dari si kiai yang memang telah lama mendengar cerita tentangnya. Pemuda baik yang sering berceramah dan pintar menjaga diri dari segala hal yang menimbulkan dosa. Namun kiai itu luput bertanya pada putrinya apakah putrinya bersedia atau tidak. Dan rasanya, pertanyaan semacam itu memang tidak akan berpengaruh banyak. Sekali pun putrinya menolak, si kiai pasti akan tetap melangsungkan pernikahan. “Tak ada pemuda yang lebih baik dan lebih sholeh dari dia,‘ kata si kiai. Awalnya, pernikahan itu terlihat sebagai pernikahan yang bahagia. Pernikahan ideal. Seorang pemuda sholeh 99


Upaya Menghindari Dosa | Dadang Ari Murtono

mendapat perempuan sholeh. Tapi cinta memang sesuatu yang rumit. Bahkan bagi dia yang begitu teguh memegang ajaran agama dan mengerti benar perihal perintah dan larangan. Ia tidak tahu apa nama dari perasaan yang kerap mendatanginya itu. Perasaan yang menimbulkan rasa sakit di hatinya. Seperti ada silet tajam yang ditorehkan di sana. Dan di atas luka torehan itu, air cuka yang perih dituangkan. Beg itu sakit. Beg itu pedih. Dan perasaan itu selalu mendatanginya setiap kali melihat putri kiai yang telah menjadi istrinya itu bercerita perihal lelaki lain. Lelaki yang merupakan kawan akrab istrinya semenjak kecil. Lelaki yang tinggal tak jauh dari rumah orangtua istrinya itu. Lelaki yang menurut istrinya tampan dan sopan. Lelaki yang sering mencuri-curi kesempatan untuk mengajak istrinya pergi berdua ketika istrinya itu masih gadis. “Dia selalu bisa membuatku tertawa,” kata istrinya. “Ia tidak datang pada pesta pernikahan kita. Aku tahu ia tidak akan datang meski aku berharap ia akan datang. Aku tahu ia sedang menangis ketika itu. Aku tahu itu. Dan aku tak dapat membayangkan betapa sakit perasaannya mengetahui aku menikah denganmu,‘ kata istrinya. “Dulu, kami pernah berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Dulu, kami berjanji untuk selalu bersama sampai mati,” lanjut istrinya. Tiba-tiba, ada telaga yang siap meluap di mata istrinya. Ia tercenung mendengar cerita itu. Kenapa istrinya menceritakan hal semacam itu? Dan sesuatu yang berdesir di dadanya semakin keras. Bertambah keras. Dan keras itu kemudian merambat ke seluruh tubuhnya. Mengalir deras ke tangannya. Terus ke jari-jarinya. Jari-jari yang ikut mengeras itu lalu mengepal. Kepal yang begitu keras. Dan tanpa sadar, kepalan itu tahu-tahu telah menumbuk wajah 100


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

istrinya. Membuat istrinya terjengkang dengan muka lebam dan tangis yang bersimbah. “Ampun! Ampun! Jangan pukul lagi. Ampun!” teriak istrinya. Tapi teriakan itu gagal menembus telinganya. Sesuatu di dadanya yang mengeras itu telah menjalar pula ke telinganya. Membentuk semacam sekat yang tak tertembus suara. Maka dengan kalap, ia mendatangi istrinya yang masih belum bangun itu. Lalu menendang tubuh istrinya. Lalu mengulang-ulang menimpakan kepalannya ke tubuh istrinya itu. Cemburu. Itukah yang tengah ia rasakan? Dan perasaan cemburu itu kian hari kian besar. Ia cemburu ketika ponsel istrinya berdering meski ia tidak tahu siapa yang menelepon atau mengirim sms kepada istrinya. Dan sekali pun istrinya bersumpah bahwa ibu atau bapak si istri yang menghubungi, ia tetap melayangkan pukulan. Ia cemburu dan curiga bila istrinya pamit pergi ke pengajian atau arisan. Ia takut istrinya sebenarnya pergi menemui lelaki itu. Lalu tibalah sebuah hari yang tidak akan bisa ia lupakan itu. Hari di mana dengan sesenggukan dan muka lebam, istrinya berkata, “tidakkah kau tahu bahwa perbuatanmu memukuliku ini adalah dosa? Tidakkah kau takut semua usahamu untuk menghindari dosa sia-sia belaka dengan memperlakukanku seperti ini? Tidak lagikah kau merasa takut masuk neraka?‘ Ia seperti dihempaskan dengan kalimat itu. Seperti ada gelombang besar yang menyeret dan membantingnya ke padas karang. Dan hempasan itu bertambah menyakitkan dengan kelanjutan ucapan istrinya, “kau terlalu cemburu. Tapi lebih dari itu, kau su‘udzon kepadaku. Tidakkah itu sama artinya dengan kau tengah memfitnah aku dan lelaki itu? Dan di mana lagi tempat seorang pemfitnah selain 101


Upaya Menghindari Dosa | Dadang Ari Murtono

neraka jahanam?‘ Begitulah. Semenjak hari itu, ia merasa kepalanya berdenyut nyeri. Pandangannya berputar. Nafsu makannya hilang. Matanya tak sedetik pun mau terpejam meski seluruh tubuhnya telah terasa penat. “Aku tidak lagi ingin berdosa. Aku tidak ingin lagi,‘ lirihnya. Namun ternyata, keinginannya itu seperti menguap begitu saja setiap melihat istrinya menerima sms atau telepon, setiap istrinya diam sendirian, setiap istrinya pergi arisan atau menghadiri pengajian. Ia masih saja cemburu. Ia masih saja mengira istrinya tengah sms-an atau telepon-teleponan dengan lelaki itu. Ia masih saja mengira istrinya keluar untuk menemui lelaki itu. Ia tetap saja mengira istrinya diam sendirian memikirkan lelaki itu. Dan selalu, perasaan cemburu dan kecurigaan itu berujung pada muka lebam istrinya. Ia tidak menyangka cinta bisa sebegini rumit. Ia tidak menyangka cinta bisa membuat seseorang sepertinya menjadi penyiksa dan pemfitnah. Ia tidak menyangka cinta bisa membuatnya menjadi ahli dosa. Ia ingin berhenti membuat dosa. Ia ingin berhenti menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam siksa neraka. Tapi bagaimana caranya? “Tinggalkan aku. Hiduplah sendiri saja. Dan jangan lagi mencintai orang lain. Bila kau sampai jatuh cinta, kau akan tetap melakukan hal ini. Kau terlalu pencemburu. Kau tidak akan bisa berhenti berdosa bila masih mencintai seseorang,� lirih istrinya. Itulah sebabnya, beberapa tahun kemudian, orang-orang mengenalnya sebagai lelaki tua yang hidup sendirian. Lelaki yang kesepian. n

102


Repro: OpenArt

103


Baju Lebaran

u

Baju Lebaran No Name Yet

o Published Š Joglosemar, Minggu 12 Agustus 2012

u 104


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

C

AHAYA sang surya mulai redup. Tenggelam berganti petang. Terdengar gemercik air di atas genting. Membuyarkan lamunan Pak Iman. Udara semakin menusuk hingga ke seluruh tulang. Membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Mengambil jaket yang selalu setia menemaninya. Walau sebenarnya sudah tak pantas lagi untuk dikenakan. Karena terdapat jahitan di sana-sini menutupi lubang bekas robekan. Namun apa mau dikata, itulah jaket satu-satunya yang ia miliki sekarang. “ Janji ya pak besuk aku dibelikan baju baru untuk Lebaran.” “Iya nduk.” Terlihat ada kegelisahan dari wajah keriputnya. Walau sebenarnya sangat sulit berkata “iya”. Tapi mengecewakan anak adalah pantangan bagi dirinya. Anak adalah titipan Ilahi yang harus dijaga dan dilindungi. Tidak peduli bagaimana caranya yang terpenting dapat melihatnya tertawa dan bahagia. Dan selalu berada di jalan Allah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, dini hari. Tapi matanya masih enggan terpejam. Kepala terasa berat dan penuh seperti tak mampu lagi berpikir. Masalah seakan tak pernah berhenti menghampiri dirinya. Sempat terlintas keraguan tentang keberadaan Tuhan. Di manakah Tuhan saat aku mengalami kesulitan. Di manakah Tuhan saat aku menangis memohon per tolongan. Semua pertanyaan itu mulai mengisi seluruh benaknya. Namun segera dihilangkannya kebodohan prasangka itu. Ia pun segera beranjak dari ranjang reyot. Tempat merebahkan tubuh rentanya. Menuju kamar mandi mengambil air wudu. Dan melaksanakan salat tahajud dengan khusyuk. Kedua tangan ditengadahkan memohon ampun atas segala salah dan khilaf. 105


Baju Lebaran

“Ya Allah ampunilah dosa hamba, berikanlah hamba petunjuk dan kemudahan dalam menjalani hidup ini,” pintanya diiringi isakan tangis. Ia lafalkan asma Allah dalam keheningan malam hingga terdengar suara “sahur…sahur…sahur…” dari dalam masjid. “Cepat bangun nak, kita sahur dulu nanti keburu imsak.” Suara Bu Nanik, istri Pak Iman memanggil cici anaknya. “ Iya bu.” Cici keluar dari kamar sambil mengucek kedua matanya. Nasi , sambal, tempe dan tiga gelas air teh sudah tersaji di atas meja. Itulah menu keluarga Pak Iman setiap hari. Saat sahur maupun berbuka. Tak pernah berbeda dan masih sama. “Sudah siap semua bu?” tanya Pak Iman menarik kursi untuk duduk. “Alhamdulillah sudah siap semua pak.” Dalam kesederhanaan mereka tetap merasa bahagia. Menyantap semua makanan yang disajikan. Walau bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Namun itulah kehidupan, seberapa pun yang kita peroleh harus tetap disyukuri. Nasihat yang selalu diberikan Pak Iman kepada istri dan anaknya. Ia langkahkan kaki keluar dari sebuah rumah kecil, sempit dan pengap. Berlantai tanah merah berhiaskan beberapa lubang pada dinding yang terbuat dari tripleks. Rumah yang hampir roboh itu adalah tempat tinggalnya. Tempat ia bercengkerama dengan anak dan istri. Tempat berteduh dari panas dan hujan. Ditelusuri jalan dengan sandal jepit usang yang ia kenakan. Ketebalannya semakin berkurang terkikis bebatuan jalanan. Tanah masih mengembun terkena guyuran air hujan tadi malam. Pagi ini Pak Iman memulai aktivitasnya kembali. Di bawah terik sinar matahari ia tata batu bata dan genteng. 106


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Bolak-balik membawa ember kecil berisi pasir yang telah dicampur dengan air dan semen. Matanya sayu gerakan tubuhnya tak seperti dulu. Selesai salat zuhur ia sandarkan tubuh kecilnya di tembok sambil menggerakkan kertas yang ia pegang. Mengambil sebagian udara yang dibawa angin untuk tubuhnya yang kegerahan. “Ndak makan pak?” “Insya Allah masih kuat puasa.” “Kalau ndak kuat ndak usah dipaksakan pak nanti malah sakit.” Pak Iman hanya tersenyum, ia kembali menggerakkan ker tas yang ia pegang. Dibenaknya masih terbesit permasalahan yang belum ditemukan jalan keluarnya hingga sekarang. Uang yang akan ia terima bulan ini sudah habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang. Pendapatan seorang kuli bangunan memang tidak seberapa. Namun tetap harus disyukuri, hanya untuk membelikan baju baru ia masih memutar otak mencari solusi. “Jam istirahat masih lama kenapa sampeyan hanya duduk-duduk saja di sini.” “Mau ngapain lagi Pak.” “Sampeyan Puasa?” “Alhamdulillah iya Pak.” “Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan? dari tadi aku lihat cuma diam.” “Ndd…ndak Pak cuma ada sedikit masalah keuangan.” Jawabnya dengan malu sambil menundukkan kepala. “Kenapa harus malu begitu, kalau ada masalah sebaiknya cerita siapa tahu saya bisa membantu. Kita di sini itu kan sudah seperti keluarga.” Setelah percakapan itu Pak Iman kembali melanjutkan 107


Baju Lebaran

pekerjaan. Pak Ismail memang benar masalah tidak boleh dipendam sendiri. Tapi jika harus bercerita dengan beliau sungkan hati rasanya. Karena Pak Ismail sudah terlalu banyak membantunya dalam mencarikan pekerjaan. Terik matahari semakin ganas mengeluarkan sengatannya ke bumi. Namun Pak Iman masih setia dengan ember dan pasir yang ada di hadapannya. Walau badan terasa amat lelah seakan tak kuat lagi membawa ember-ember itu lagi. Tapi ini harus dikerjakan demi anak dan istrinya di rumah. Azan berkumandang tanda Puasa hari ini telah usai. Dan saatnya berbuka tiba. Seperti hari sebelumnya nasi, sambal, tempe dan air teh sudah siap untuk disantap. Setelah itu Pak Iman bergegas ke masjid salat berjamaah. Dilanjutkan dengan salat isak dan tarawih bersama. “Sudah pulang pak, Cici masih ndarus kan?” Tanya Bu Nanik sambil melipat baju yang ia ambil dari jemuran. “Iya bu.” Beberapa menit kemudian mereka hanya terdiam. Hanya terdengar ayat suci yang dilafalkan anak-anak dari masjid. Di bawah lampu remang 5 watt mereka duduk tanpa kata. Hingga Pak Iman membuka kembali percakapannya dengan istri. “Gimana bu dengan Cici ?” “Gimana apanya pak ?” “Baju baru untuk Lebaran.” “Kalau ndak bisa lebih baik ndak usah dipaksakan pak.” “Tapi itu bisa sangat menyakiti hatinya bu.” Kemudian mereka kembali tertunduk. Dengan hati yang berkecamuk. Jika ada barang berharga yang bisa dijual. Tentu ia akan menjualnya. Tapi sayangnya tak ada sedikit pun barang yang layak untuk dijual. Kebingungan itu terus bergulir hingga hari pembagian gaji. Teman sekerjanya menunjukkan senyum lebar saat 108


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

menerima upah atas kerja kerasnya. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Iman karena upahnya kali ini hanya lewat, tanpa sisa. Ia pulang dan langsung memberikan amplop yang telah ia terima kepada istrinya. Tanpa membukanya terlebih dahulu. Setelah menyerahkan amplop itu ia langsung masuk ke dalam kamar berganti baju. Namun belum selesai ia berganti baju. Bu Nanik memanggilnya untuk mendekat. “Ada apa sih bu, kok teriak-teriak gitu.” “Ini lho pak jumlah uangnya banyak sekali. Tidak seperti biasa.” Segera diraihnya amplop yang berisi uang itu. Dan dihitung ulang beberapa kali. Hasilnya tetap sama uang itu lebih Rp 500.000 dari jumlah yang seharusnya ia terima. Tanpa pikir panjang ia kembali keluar rumah berjalan menuju rumah Pak Ismail. Sedang istrinya diam dalam kebingungan. “Maaf Pak ini uangnya kelebihan banyak sekali.” Ucap Pak Iman sambil memperlihatkan jumlah uang yang ia pegang. Pak Ismail hanya tersenyum dan menepuk pundak Pak Iman dengan hangat. Pak Iman semakin tak mengerti dengan perlakuan Pak Ismail. “Itu rezeki dari Allah karena kerja keras sampeyan selama ini Pak.” “Tapi Pak.” Pak Ismail kembali tersenyum memberi isyarat untuk menerima uang itu tanpa menolaknya. Karena uang itu adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Dengan keikhlasan dan tanpa lelah dalam menjalani semua permasalahan yang mendera. Dan kini tanpa ia sadari ia telah tersenyum kembali. Tersenyum bahagia karena akhirnya ia dapat membeli baju 109


Baju Lebaran

baru untuk anaknya. “Alhamdulillah ya Allah…Engkau telah memberikan nikmat luar biasa kepada hamba.” Ucap Pak iman seraya menangkupkan kedua tangannya. n Karanganyar, 29 Juli 2012

110


Repro: Ettore Aldo Del Vigo | OpenArt

111


Tamu Lebaran | Affan Safani Adham

u

Tamu Lebaran Affan Safani Adham

o Published Š Kedaulatan Rakyat, Minggu 12 Agustus 2012

u 112


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

P

AK BAHRON hanya duduk termangu di rumahnya. Sejak pulang dari tanah lapang melaksanakan salat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan jemaah lainnya, beliau lantas duduk sendiri di ruang tamu. “Ada apa dengan Lebaran tahun ini? Lebaran yang sedang kuhadapi kali ini sungguh membuat hatiku sedih. Mereka belum juga ada yang menyambangi rumahku. Sudah terasa panas pantatku menunggu mereka,� ujar Pak Bahron dengan raut muka sedih. Beliau dahulu menjabat camat dan kini sudah pensiun. Dahulu, saat masih menjabat sebagai camat, banyak bawahannya yang bertamu dan meminta maaf. Seakan hanya bawahannya yang mempunyai kesalahan kepadanya. Entah apa niat mereka itu sebenarnya, tidak pernah dipikirkan oleh Pak Bahron. Pemandangan ini sering terjadi di negara kita. Tidak sedikit bawahan di sebuah instansi yang mendatangi pejabat saat hari Lebaran. Namun, hampir tidak ada pejabat yang menyambang i rumah bawahannya saat hari kemenangan yang fitri itu tiba. Beberapa tahun sebelumnya, secara berturut-turut bawahannya mendatangi rumahnya. Hampir setengah jam mereka berada di rumahnya usai salat Idul Fitri. Mereka biasanya datang dengan membawa bingkisan yang beragam. Pak Bahron selalu menerima bingkisan mereka tanpa berprasangka buruk. Akan tetapi, hari ini berbeda dari pada tahun-tahun sebelumnya. Sudah dua jam ia menanti kedatangan mantan bawahannya. Tetapi belum ada juga yang datang menyambangi rumahnya. “Pak Udin, Pak Dayat, Bu Mira, ada dimana kalian saat ini? Aku mengharapkan kehadiran kalian di sini. Apa kalian sudah melupakanku? Aku memang sudah pensiun dan bukan siapasiapa lagi bagi kalian. Astagfirullah! Ya Allah, 113


Tamu Lebaran | Affan Safani Adham

ampuni aku yang sudah berprasangka buruk kepada mereka,” ucap pak Bahron dengan sedih dan kecewa. “Kek, mengapa melamun?” tanya istrinya. “Pada hari kemenangan yang bahag ia ini sebaiknya kakek jangan melamun!” Belum lagi Pak Bahron bicara, Erni bertanya, “Kakek tadi melamunkan apa?” “Ah, kakek tidak melamun. Tadi kakek hanya berpikir, mengapa Lebaran kali ini belum ada satu pun mantan anak buah kakek datang bertamu di rumah kita,” jawabnya. “Mungkin mereka sedang sakit perut, kek,” kata cucunya sambil tertawa kecil. “Kata Erni ada benarnya, kek. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit. Sebagiannya lagi mungkin ada kesibukan lain.” Bu Hari mencoba menenangkan hati suami tercintanya agar terhindar dari prasangka buruk. Pak Bahron sedikit tenang. Dan beliau pun melanjutkan makan kue bersama istri dan cucunya di ruang santai sambil menonton televisi. SETELAH waktu salat Zuhur berlalu satu jam, Pak Bahron kedatangan tamu dari tempat yang jauh. Pak Zaki sekeluarga sengaja datang dari tempat yang jauhnya tiga puluh kilometer hanya untuk bermaaf-maafan dengan pak Bahron. Keduanya adalah kakak-beradik. Pak Bahron merupakan kakak kandung Pak Zaki. “Assalamuíalaikum!” sapa Pak Zaki saat berada di depan pintu rumah pak Bahron. “Waíalaikumussalam!” sahut Pak Bahron dari dalam rumah. Setelah pintu dibuka dia lantas mempersilakan mereka, “Ayo, semuanya masuk ke sini!” “Sudah berapa orang yang telah datang di rumah ini, kak?” tanya pak Zaki. 114


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Kamu mungkin terkejut jika kuberi tahu jumlah tamu yang sudah datang ke sini hari ini,” kata Pak Bahron. “Jumlah tamu Lebaran hari ini jauh berbeda dengan jumlah tamu saat hari Lebaran tahun-tahun sebelumnya.” “Tambah banyak ya, kek, tamunya?” tanya Rumi, cucu pak Zaki. Pak Bahron menghela napas sejenak mendengar pertanyaan cucu saudaranya itu. “Tidak bertambah banyak, Sayang. Tetapi baru kalian yang datang,” ucap pak Bahron dengan nada sedih. “Sudah kuduga seperti itu. Dugaanku berdasarkan fakta yang sudah terjadi. Sudah menjadi kenyataan pejabat didatangi dan diberi bingkisan oleh para bawahannya saat ia masih memiliki jabatan itu. Akan tetapi sebaliknya, ia tidak akan dikunjungi, apalagi diberi bingkisan oleh seluruh mantan bawahannya saat ia sudah pensiun atau turun jabatan. Kalaupun ada, hanya satu atau dua orang yang masih mau melakukannya secara ikhlas,” Pak Zaki mengungkapkan unek-uneknya kepada Pak Bahron. “Sabar ya, kek!” kata Bu Hari menenangkan hati suaminya. Pak Bahron pun bertambah kecewa dan sedih karena kata-kata adiknya itu, memang ada benarnya dan baru saja beliau alami keadaan seperti itu. Prasangka buruknya semakin menjadi kuat terhadap para mantan bawahannya. “Inikah balasan dari orang-orang yang dulu pernah mendapatkan kebaikan dariku kepadaku, ya Allah? Dahulu aku begitu dihormati dan disanjung oleh setiap bawahanku. Kini, mereka sudah menampakkan wajah asli mereka kepadaku. Biarlah, hari ini aku berprasangka buruk kepada mereka karena hatiku ingin berkata demikian. Aku sadar, ini adalah hukuman dari-Mu karena dahulu saat Kau angkat derajatku, aku malah tidak bersyukur kepada-Mu. Ampuni 115


Tamu Lebaran | Affan Safani Adham

aku ya Allah karena dahulu aku tidak pernah bersyukur kepada-Mu!” ucap pak Bahron dalam doanya setelah salat Ashar. DUDUK sendiri di teras depan, Pak Bahron memandangi barisan semut yang berduyun-duyun dengan teratur. Sambil duduk, dia pun berkata dalam hati, “Aku iri dengan semutsemut yang begitu akrab di hari yang suci ini. Aku manusia, tetapi tidak dapat seakrab itu dengan para mantan bawahanku di hari yang suci ini setelah aku pensiun. Sungguh, aku malu kepada diriku sendiri. Aku mantan pemimpin yang gagal. Pemimpin yang sukses selalu dikenang para bawahannya dan juga rakyat banyak seperti pahlawan kemerdekaan. Bukan seperti diriku ini yang telah mereka lupakan. “Terasa nyaman duduk di sini ya, kek. Udaranya sejuk dan bersih dari polusi,” ucap bu Hari sambil membawakan secangkir kopi. Mereka terlibat dalam perbincangan yang hangat. Kadang-kadang mereka tertawa dengan hal yang mereka perbincangkan. Waktu pun tidak terasa berlalu oleh mereka hingga petang menjelang di hadapan mereka. Dengan segera mereka pun masuk ke rumah yang sudah lama mereka diami itu. “Ah! Ada apa denganku? Seharusnya aku bersyukur sudah diberi Allah SWT nikmat kehidupan yang masih kurasakan pada hari ini. Banyak kerabatku yang sudah tidak dapat menikmati indahnya Lebaran seperti diriku. Walaupun bawahanku tidak datang, aku masih memiliki tetangga dan keluarga yang menyayang iku. Aku masih ingat begitu baiknya sikap mereka kepadaku di tanah lapang tadi. Astaghfirullah,” ucap Pak Bahron. “Assalamuíalaikum,” seorang lelaki muda mengucapkan 116


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

salam dari luar halaman rumah pak Bahron keesokan harinya. “Waíalaikumussalam!” jawab Pak Bahron dari dalam rumah. “Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir batin ya, Pak!” ucap pemuda itu. “Ternyata kamu, Din. Terima kasih banyak Din atas kedatangan dan ucapan selamat Idul Fitri darimu,” kata Pak Bahron dengan raut muka yang cerah kepada Syamsudin. “Bagaimana kabar Bapak?” “Kabar baik. Untunglah kamu tidak melupakanku,” kata Pak Bahron. “Apa baru saya yang datang menyambangi rumah Bapak?” “Lebaran tahun ini sangat berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Aku hanya dapat memaklumi keadaan ini karena pensiunan seperti aku ini, tidak pantas mengharapkan tamu yang banyak.” “Semoga kedatangan saya dapat menghibur hati Bapak.” Pak Bahron sedikit terhibur dengan kedatangan Syamsudin. Mereka berbincang cukup lama. Sungguh, Pak Bahron tidak menyangka kalau tahun ini keadaannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia hanya berusaha memaklumi keadaan yang sedang dialaminya. Dan mencoba untuk tetap bahagia di hari yang fitri. “Ya Allah, jika Engkau masih mengizinkanku berharap sesuatu yang lain, aku hanya berharap para pejabat sekarang tidak mengalami nasib yang serupa denganku saat mereka telah pensiun nanti. Aku juga memohon kepada-Mu, jadikanlah para pejabat di negara ini dapat menjadi pemimpin yang sukses dan dapat menyejahterakan bawahannya. Terutama rakyat di negara ini. Dengan demikian, mereka tetap dikenang oleh bawahannya saat 117


Tamu Lebaran | Affan Safani Adham

menjalani masa pensiun, bahkan hingga berpulang kepadaMu!� ucap Pak Bahron sambil meneteskan air mata. Pak Bahron pun bangkit dan berjalan menapaki kehidupannya dengan kesabaran dan rasa syukur kepada-Nya bersama para keluarga dan masyarakat di sekitarnya. n

118


Repro: OpenArt

119


Seragam | A.K. Basuki

u

Seragam A.K. Basuki

o Published Š Kompas, Minggu 12 Agustus 2012

u 120


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

L

ELAKI jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba. Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuatbuat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar. Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu. “Jadi, apa yang membawamu kemari?” “Kenangan.” “Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.” Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti pelurupeluru yang berebutan keluar dari magasin. Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di 121


Seragam | A.K. Basuki

ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya. Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saatsaat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya. Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak. “Tidak ganti baju?� tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak 122


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok. “Tanggung,� jawabnya. Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian. Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi. Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tibatiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya! “Berguling! Berguling!� terdengar teriakannya sembari 123


Seragam | A.K. Basuki

melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam! Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menang is dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan per tolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka. Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama 124


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya. “Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu. “Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.” Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya. Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini. Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan. “Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.” “Ulahnya?” Dia mengangguk. “Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal 125


Seragam | A.K. Basuki

usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.� Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orang tua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya. “Kami akan bertahan,� katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus. Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya. n

126


Repro: OpenArt

127


Huh | Sutan

u

Huh....! Sutan

o Published Š Kompas.com, Selasa 07 Agustus 2012

u 128


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

G

ELAP. Segelap malam ketika bulan enggan menampakkan diri, dan bintang terselimuti hamparan awan menggelimpang kelam. Tak sekilas cahaya pun berkelebat mengitari bumi, seolah tersuruk oleh ketakutan oleh entah apa. Tak sebongkah benda yang bias tertampak meski disorong ke depan mata ke dekat hidung. Begitu kelam sehitam bongkah hati yang terajam oleh dosa-dosa tak terampuni. Segelap penjara bawah tanah yang dibentengi dindingdinding besi kokoh dan kusam, menghadap matahari yang hendak masuk menyinar. Sungguh gelap tak menyisakah setitik pun cahaya, walau di ufuk yang tak berarah. Sungguh kelam tak menyisakan asa dan harapan bagi mereka yang memiliki sedikit semangat untuk memacu hidup ke depan. Gelap. Sungguh menakutkan seolah tak mau berbagi cerah kepada umat yang telah rontok oleh kekalahan demi kekalahan dalam melawan angkuhnya dunia. Gelap dan Kelam seakan berlomba untuk menutupi hati yang selkalu mingin bergerak maju merubah detak nasib. Gelap dan kelam begitu menyesakkan, bak tak hendak menampakkan secercah pelita sekadar penunjuk arah kemana akan melangkah. Tak ada arah hendak dituju, tak ada jalan yang hendak ditempuh. Terbutakan oleh kegelapan yang memuncakkan dendam dan amarah oleh kekalahan hidup. Tak hendak beranjak dari gulatan keseharian yang menggeluti sedih, menjadikan kehilangan asa menjalani hari-hari ke depan. Kacau. Galau. Gelap membutakan mata, membutakan matahati. Dalam Gelap, hadirnya terang adalah anugerah tak terimpikan. Menjadikan Terang bagai setitik harap yang muncul dalam pekat, meski itu hanyalah titik api diujung antah berantah. Titik di tempat yang tak mungkin tergapai seketika. Titik ditempat yang mesti mengarungi derita dan 129


Huh | Sutan

nestapa untuk kesana. Terang. Walau harus menembus belantara tak bertepi, menerjang karang tak berbatas, melawan ombak tak berwaktu, datanglah kau wahai Terang. Biar aku kesana menerjang apapun yang menghalang. Terang. Engkaulah sesuatu yang selalu diimpi dan diangan. Imajinasi melayang nan tak mungkin tejadi meski sekejab. Terang. Walau cuma setitik lidah api, namun bak sebongkah mentari siang memanggang bumi. Cukup memberi tanda kehidupan pada alam jagad raya, cukup menunjuk tanda kemana akan beranjak. Cukup menerangi ujung dunia akan dicapai. Terang, tapi kenapa tak hendak juga datang? Agar bisa bercerita tengang indahnya memandang fana, dan nikmat menatap harap. Kenapa gelap yang selalu hadir, dengan setia setiap waktu, setiap saat kaki melangkah. Itu adalah pertanyaaan yang tak akan pernah terjawab. Pertanyaan yang seolah menyalahkan Tuhan atas takdir-takdirnya. Pertanyaaan yang menyesali kehendak Tuhan atas Mau Nya. Pertanyaan yang menafikan Kekuasaan Tuhan atas jagad rayaNya. Pertanyaaan bodoh yang tak boleh terucap dari mulut orang-orang saleh: bahwa Tuhan Berkehendak atas apapun yang IA mau. Jauhkan diri dari pertanyaan tentang Gelap dan tentang Terang ini. Yang boleh terucap adalah ungakapan syukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan. Bersyukur disetiap saat, dalam hidup dan dalam mati. Bersyukur di setiap darah mengalir, setiap jangtung berdetak, di setiap nafas terhembus. Bukankah setiap saat terucapkan kata: sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Tuhan semata. Lantas kenapa masih ada pertanyaan tentang Gelap dan tentang Terang ini? Huh ! Begitu ruwet bias mengerti perihal ini dan itu. 130


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Yang diingin Cuma mencari sesuap nasi, menyiasati hidup yang detik ini, saat ini dan hari ini. Kenapa harus begitu rumit dengan tahapan-tahapan yang harus dijalani, dilakoni, Sungguh melelahkan dan menyesakkan. Huh ! “Huh …! “, selalu terlompat dari mulut lelaki berwajah kusut berusia menjelang senja. Carut marut hidup terekam dalam wajahnya yang kusam. Sejarah panjang perjuangan yang meletihkan raga dan meletihkan hati, adalah goretan yang tak akan pernah habisnya. Dari kehancuran menuju kehancuran adalah takdir yang seolah melekat dalam takdirnya. Gelap dan kelam adalah kesehariannya. Susah ke nestapa adalah selimutnya menyiang gigitan dingin dikala subuh tiba. Ada lukisan derita dalam mata, dalam kening dan dalam kerut mata. Perjalanan hidup itu sungguh panjang, sungguh aku ingin istirahat, begitu bathinya sering berucap. Huh…! Seperti hari ini, terlentang dalam kamar sempit dan pengap rumah kontrakan. Di ujung lorong becek dan kumuh. Ketika hujan baru usai menghasilkan bau anyir dan pesing. Ditengah pasar dikitari tumpukan sampah penuh lalat dan tikus. Dilumuri berbagai kuman dan virus penyakit. Disitulah dia bermukim disisa usia yang tak tau akan sampai ke berapa. Huh…! Termenung, tecenung dengan kedua belah tapak tangan menutup separuh wajah adalah erkspresi galau dan kacau diri. Kenapa semua selalu kembali ketitik nol. Tempat dimana dulu memulai, disitulah kerap berakhir. Sudah empat puluh tahun. Sepanajng 20 tahun menamatkan sekolah dilewati dengan cucuran kertingat dan airmata seluruh keluarga. Semua begerak dalam sengsara demi sehelai kertas bertuliskan: SARJANA. Tak jua member arti disisa 20 tahun sesudahnya. Tetap dilalui dengan perjuangan dan kesengsaraan. Tak pernah 131


Huh | Sutan

mencapai titik aman, tak pernah menggapai puncak yang diangan. Bagai punduk merindukan bulan. Jauh dan tak mungkin digenggam. Naik dan turun adalah menu seharihari dari pergerakan panjang mengitari bumi. Naik dan terus jatuh tak terperih adalah sarapan pagi yang hadir disetiap mata terbuka. Sungguh hidup ini sakit tak tertahan: �Selusurilah lorong-lorong becek dan berbau penuh kubangan sampah bersatu dengan lumpur, tempat lalat dan kecoa mencari makan, dan tikus-tikus mengais-ngais sisa hajatan pesta pora manusia. Ketika orang-orang menjauh dari semua itu, kesanalah mereka-mereka yang kalah meletakkan harap. Luapan air kotor dari got-got menghamburkan aroma beragam busuk, karena itulah air buangan dari segala bentuk buangan manusia. Termuilah aku di situ. Kitarilah, hiruk pikuk derungan berbagai jenis kendaraan meraung-raung, dibarengi teriakan kondektur dan kenek bus-bus, mikrolet, metromini dan lainnya mencari penumpang. Penuh debu ber terbangan, asap rokok mengapung bercampur kewringat-keringat mengalir membasahi bahu dan pundak siapa saja yang lewat. Bau panggang daging, bau sampah berserakan dan bau segala jenis bau menyatu meramaikan suasana kerontang siang. Copet, garong dan calo-calo saling intip untuk menemukan mangsa. Semua demi sesuap nasi. Temuilah aku disitu. Jelajahilah. Hamparan sawah-sawah tempat pentai menyemburkan keringat menghujamkan tenaga untuk mencari panen. Atau puncak-puncak gunung yang berhampar rumput tempat petani melepas kerbau dan sapi mencari makan. Hutan lebat tempat mencari kayu untuk memasak, menyambung hidup. Naik turun lembah dan ngarai adalah keseharian yang penuh semangat. Hujaman lintah dan sengatan nyamuk kebun adalah suntikan vita132


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

min, Sayatan daun-daun kasar dan tajam adalah perjalanan yang harus dilalui. Teruilah aku disitu. Carilah di tempat-tempat orang-orang kecil menyatu dalam semangat dan putus asa. Carilah tempat-tempat orang-orang kalah meringkuk dalam ketidakberanian menatap dunia. Carilah tempat-tempat itu, karena pasti aku ada disana. Karena aku adalah mereka, Orang-orang kecil dan orang-orang yang kalah”. (b*) Lelaki itu masih di situ. Walau hari telah berputar beberapa waktu. Telentang dalam bisu menikmati kelam dalam pejam. Tercenung dalam angan menerawang kesemua arah. Cuma itu yang ia punya. Masih ingat, ketika dua bocah kecil miliknya paling berharga dialam jagad raya ini, dengan riang mengajak untuk bersama merayakan lebaran di rumah. “Semua orang dating, kenapa ayah masih sibuk bekerja””, begitu protes si sulung. Huh…! Kasihan anak-anakku. Ia masih saja mengidolakan ayahnya yang tak memiliki daya. Menganggap sama dengan ayah-ayah yang ada pada teman-temannya. Ayah-ayah yang normal yang punya segalanya. Kerja, penghasilan dan harga diri. Aku tidak nak. Kasihan anak-anakku. Masih juga menjadikan ayahnya superman, manusia serba hebat yang selalu hadir setiap dibutuhkan. Yang selalu diceritakan dengan nada bangga kepada teman-teman sekolahnya, apapun yang dihadiahkan ayahnya, walau itu cuma secuil barang berharga obral. Kasihan anak-anakku. Walau beberapa orang mendengar ocehan dengan cibiran, tetap saja mereka meletakkan aku diatas segalanya. Meski untuk itu kadang sdambil menangis mempertahankan kebanggaan itu. Karena memang itu yang mereka punya. Kasihan anak-anakku. Huh…! Memang indah angan mereka. Lebaran, setelah sebulan mengabdi kepada Yang Maha Agung dalam bentuk tunduk 133


Huh | Sutan

dan patuh pada semua perintah dan laranganNya. Berpuasa. Adalah kenikmatan tiada tara merayakan bersama keluarga besar, saling berma”afan, bersilaturahmi. Indah dan manis. Seperti anak-anakku, aku juga mengimpikanitu. Itulah Terang yang kumaksud. Tapi, bukankah gelap selalu mengitari takdirku? Lebaran yang dimaksud anak-anakku itu, selalu berbeda dalam kenyataan yang ada selama ini. Lebaran tak lain adalah ajang pamer keberhasilan, pamer kekayaan. Bahwa si anu sudah punya ini sudah nambah benda itu. Bahwa si entu sudah naik kesana pindah ke sini tempat yang lebih tinggi. Atau di enyong, sudah jadi itu dan jadi ini. Sedangkan aku? “Huh…!”, cuma kata itu yang aku punya selama 40 tahun. Inilah gelap yang aku maksud. Dan gelap inilah yang masih menaungi saat ini. Bagaimana mungkin aku bisa hadir? Justru itulah yang ingin dihindari. Tak sanggup menghadapi seringai manis yang penuh basa-basi dari semua orang yang akan bertanya segala macam hal. Dengan nada merendahkan yang akan berujung pada pamer kekayaan mereka. Tawa palsu yang dibaluti rasa keing intahuan sudah sampai dimana perjalanan Lelaki ini? Bukankah selama ini Ia akan mendapat sanjungan setinggi langit ketika sukses datang dan dikucilkan disaat gagal dan gagal menghampiri. Begitulah selalu. Lantas kalau harus hadir, apa yang harus dijawab andai berbagai pertanyaan kemana, mengapa dan ada apa menghujami selama pertemua berlebara itu? Selain itu, kalau tidak hadir, apa yang mesti dijawab oleh anak-anakku apabila beribu peretanyaan meluncur, kemana ayah, kenapa ayah tak hadir, kenapa ini dan kenapa itu? Ujungnya, pasti anak-anakku akan menangis. Kenapa ayah tidak datang. Huh…! Inilah Gelap… Biarlah waktu hapus itu (c*). 134


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Biarlah waktu jawab itu. Dan waktu itulah yang diingatkan Tuhan, agar kamu selalu memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan, kalau tidak mau menjadi manusia yang merugi. Waktu itu adalah waktu subuh, waktu ashar, waktu 2/3 malam. Sujudlah, sembahlah Aku, karena itulah jalan yang benar, begitu Tuhan berkata (d*). Jadilah manusia yang bersabar dan bersyukur, karena Tuhan selalu bnersama mereka. Ampuni aku Tuhan‌.. n Bogor, 10 Juli 2012 Catatan: a. Nama alias, nama asli adalah: Almansyah. b. Puisi: Temui Aku Disitu, karya Almansyah, Depok 1994. c. Penggalan lagu Grup Band Niji. d. Firman aslinya: “wa ani buduuni haadzaa shirathun mustaqim (dan hendaklah kalian menyembah-Ku, karena inilah jalan yang lurus)â€?.

135


Repro: Escha Van Den Bogerd | OpenArt

136


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Kakek dan Peti Mati Eka Maryono

o Published Š Koran Tempo, Minggu 12 Agustus 2012

Eka Maryono, lahir di Jakarta 2 Maret 1974. Pendidikan terakhirnya di jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional (1991-1997). Aktif di komunitas Studi Sastra Jakarta. 137


Kakek dan Peti Mati | Eka Maryono

K

AKEK, saya bantuin, ya?” “Ya, ya, bersihkan yang di ujung sana.” Kakek tertawa dan mengelus-elus rambut saya. Saya berlari ke ujung yang lain, lalu mulai mengelap peti mati buatan kakek. Begitulah, kakek adalah pembuat peti mati satu-satunya di desa kami, tapi kakek hanya membuatnya setelah musim tani usai. Dalam satu tahun hanya satu peti mati yang ia hasilkan. Ya, satu tahun untuk satu peti mati. Soal angka satu ini sepertinya sudah jadi angka keramat bagi keluarga kami. Lihatlah, saya adalah anak satu-satunya dari bapak, sementara bapak adalah anak kakek satusatunya, dan kakek tentu saja anak tunggal. Bisa dikatakan hanya bapak dan kakek keluarga saya. Ibu pergi meninggalkan rumah saat saya masih menyusu di dadanya. Saya tidak pernah tahu ke mana ibu pergi. Tidak seorang pun memberitahu alasan mengapa ibu pergi. Tapi dulu ada tetangga yang sering mengejek saya, katanya ibu perempuan nakal karena lari dengan mandor perkebunan. Saya tidak pernah mencari tahu apakah ibu benar-benar lari dengan lelaki lain. Barangkali saya sadar bahwa saya masih kecil atau mungkin sekadar takut untuk mengetahui sebuah kebenaran. Cerita macam itu terlalu sedih untuk dikenang. Sebelum bapak meninggal satu tahun lalu, saya sering melihat bapak menangis malam-malam bila kangen pada ibu. Dulu, setiap malam bapak selalu duduk di teras rumah. Suatu kali saya pernah bertanya, kenapa bapak selalu duduk di sana. “Sebentar lagi ibumu pulang,” katanya. Suaranya terdengar datar. “Malam ini atau besok, dia akan datang.” Kalau sudah begitu, bapak akan menitikkan air mata. Kebiasaan bapak ini sering membuat kakek marah. 138


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Katanya bapak laki-laki cengeng. Bapak akan marah jika kakek sudah berkata seperti itu dan ganti mengejek kakek sebagai laki-laki berhati batu. Jika sudah begitu, saya akan menjauhi pertengkaran mereka lalu mengurung diri dalam kamar sambil mengutuki malam karena membuat duka bapak semakin suram seperti kata-kata yang sulit dieja di atas selembar kertas kusam. Saya tidak mau seperti bapak, menangisi sesuatu yang tidak ada. Namun ada satu kenangan tentang diri bapak yang saya sangat senang untuk mengingatnya. Begini, ketika bapak masih hidup, ia rajin mengajak saya ke gereja. Ya, gereja, dengan dentang loncengnya yang sendu dan menjauh itu. Saya senang mendengar lonceng gereja karena serupa suara bapak saat memanggil-manggil saya agar cepat bangun di Minggu pagi yang mendung. Saya senang melihat bapak berdoa di gereja. Saya merasa gereja menjadi satu-satunya tempat bagi bapak untuk menyinggahkan hidupnya yang pahit. Saat bapak berdoa di sana, kegetiran merayap dari sudut mata pucatnya, menjelma jadi butiran air mata yang meluruhkan kata-kata. Sejak bapak meninggal, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di gereja. Kakek tidak pernah mau mengantar saya. Ketimbang pergi ke gereja, kakek lebih senang merawat peti mati buatannya yang diletakkan berjejer di lorong samping rumah. Hanya ada dua peti mati di sana. Satu ukuran besar, satunya lagi kecil. Karena kakek hanya membuat satu peti mati setiap tahunnya, maka itu artinya sudah dua tahun tak ada orang yang membeli peti mati buatan kakek. Tapi kakek tak peduli. Tiap hari kedua peti mati itu ia bersihkan sampai licin hingga lalat pun pasti jatuh terpeleset bila berani hinggap di atasnya. “Peti ini membuatku ingat akan mati,� kata kakek suatu 139


Kakek dan Peti Mati | Eka Maryono

ketika sambil mengelap sebuah peti mati yang ukurannya kecil dan penutupnya menggelombang seperti ombak. Warnanya cokelat kemerahan dan mengilap seperti cermin yang memantulkan wajah kami apa adanya. “Ingat bapak dan nenek juga?” tanyaku. Kakek diam sejenak, lalu kembali mengelap. “Suatu hari nanti, kita akan masuk ke dalam peti mati,” katanya. “Ah, kakek saja, saya nggak mau.” “Kau harus mau, peti ini kan ukurannya sesuai badanmu.” Hah? Biar saya masih kecil, saya tahu canda semacam itu tidak boleh diucapkan. Bagaimana kalau ada setan lewat? Bisa-bisa jadi kenyataan! Keterlaluan! Saya masih terlalu kecil untuk mati. Lulus sekolah saja belum. Rupanya kakek memahami ketidaksenangan saya. “Kau seperti nenekmu.” “Nenek seperti apa?” “Ya seperti dirimu. Sama-sama takut mati.” “Memangnya kakek nggak takut mati?” Kakek tak menjawab. Dia mengibaskan kain lap di tangannya. Tidak ada debu terlontar dari kain lap itu. Hanya hawa panas sedikit menerpa wajah saya. Akhir-akhir ini udara terasa agak lembap. Sudah lebih sebulan matahari kurang bersinar, namun udara malah lebih panas dari bulanbulan sebelumnya. Kiranya sebentar lagi musim kemarau akan tiba. Desa kami memang kerap dilanda kemarau panjang. Kalau sudah begitu, sawah-sawah akan kering kerontang karena sungai dan irigasi lebih dulu mengering. Padi-padi akan layu dan tak bisa dipanen. Dulu, kata kakek, untuk mengganti padi yang layu, orang-orang menanami sawah dengan palawija. Tapi ternyata hasilnya tidak memuaskan. Tetap saja tanaman mereka mati akibat kurang disiram. 140


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Hingga suatu hari kakek mengajari orang-orang untuk membuat batu bata. Sejak saat itu, orang-orang membuat batu bata setiap kemarau tiba. Sejak itu pula, desa kami dikenal sebagai desa penghasil batu bata. Namun lucunya setiap musim kemarau, kakek malah membuat peti mati, dan bukan batu bata. Sepertinya kakek memang memiliki ketertarikan yang aneh pada peti mati. Bukan hanya untuk mengingat kematian seperti yang sering dia katakan, tapi seolah ada kepedihan yang tertawan dalam hati kakek yang selalu mendorongnya untuk membuat peti mati. Menurut cerita bapak, saat nenek meninggal, nenek dimakamkan dengan peti mati buatan kakek. Anehnya, sebelum nenek meninggal, kakek sudah membuat sebuah peti mati yang ukurannya pas dengan tubuh nenek. “Kakek kamu punya bakat jadi dukun. Sejak dulu kakekmu itu memang memuja setan! Apa kamu pernah melihat kakekmu berdoa?� seru bapak suatu ketika, sehabis dia bertengkar dengan kakek. Saya menggeleng. Saya memang tidak pernah melihat kakek pergi ke gereja. Saya juga tidak pernah melihat kakek berdoa di rumah. “Begitulah kalau orang tidak mau menyalahkan dirinya sendiri, ketika sengsara mereka menyalahkan Tuhan. Sekarang kakekmu membuat peti mati yang ukurannya pas dengan badan bapak. Lihat! Lihat saja! Sebentar lagi bapak juga akan menyusul nenekmu.� Dan satu bulan kemudian, bapak benar-benar menyusul nenek. Tiba-tiba saya tersadar, bukankah sekarang tersisa dua peti mati, satu ukuran besar dan satunya kecil. Saya kira yang besar itu memang pas dengan ukuran tubuh kakek, dan yang kecil pas dengan badan saya. Apakah kebetulan 141


Kakek dan Peti Mati | Eka Maryono

saja jika kakek membuat dua ukuran yang berbeda? Atau jangan-jangan memang disengaja? Apakah kedua peti itu belum laku terjual atau jangan-jangan kakek memang tidak mau menjualnya? Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kakek pasti mendapat firasat tentang kematian kami. Saya tak mau masuk ke dalam peti mati itu. Saya juga tak mau kakek masuk ke dalamnya. Saya takut kehilangan dia. Cuma dia milik saya satu-satunya. Dalam hati saya berdoa agar kami dijauhkan dari kematian. Tapi apa kematian bisa diubah dengan doa? Firasat kakek pasti jadi kenyataan. Seperti firasatnya dulu sewaktu nenek dan bapak akan dijemput maut. Sebentar lagi kakek akan mati, dan saya pasti ikut menemani. “Kakek, kalau kita mati apa kita akan masuk surga?” “Yang pasti masuk ke peti mati.” “Setelah itu ke surga?” “Dikubur dalam tanah.” “Baru ke surga?” Kakek diam saja. Dia melipat kain lap yang ada di tangannya. “Kata Romo Pastur dulu, kalau tidak ke gereja, kita masuk neraka.” “Tahu apa dia soal neraka, memangnya dia pernah ke sana?” “Saya belum pernah pergi ke neraka, Bapak.” Saya dan kakek sangat terkejut. Romo Pastur tahu-tahu sudah berdiri di dekat kami, padahal kami tidak mendengar pintu pagar dibuka, juga tidak mendengar langkah kakinya. “Bagaimana kabar Bapak? Maaf kalau saya mengagetkan Bapak.” Kakek tidak menjawab. Wajahnya saja yang pucat. Mungkin belum hilang rasa kagetnya. Kaget bercampur 142


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

malu. Romo Pastur yang tinggi besar itu kemudian membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah saya. “Hampir satu tahun kamu tidak ke gereja,” kata Romo Pastur dengan lembut sambil menyentuh bahu saya. Sama seperti kakek. Saya juga diam. Saya bingung mencari jawaban. “Dia harus membantu saya membuat peti mati,” kata kakek. “Membantu Bapak membuat peti mati? Setiap hari? Tapi kenapa peti matinya cuma ada dua?” tanya Romo Pastur heran. Janggutnya yang lebat bergerak-gerak, mungkin bulubulu itu ikut merasa heran. “Oh, ya, ya, akhir-akhir ini dia memang malas ke gereja,” kata kakek menjadikan saya sebagai kambing hitam. “Saya tidak mau memaksa dia. Saya pikir berdoa di rumah sama dengan berdoa di gereja. Gereja toh bukan bangunan, gereja adalah hati kita. Kita bisa berjumpa Tuhan di mana pun kita berada,” kata kakek. “Oh, bapak benar sekali. Kalau begitu mari kita berdoa bersama,” kata Romo Pastur. “Apa?!” “Mari berdoa, Bapak.” “Berdoa? Di sini?” “Ya, kita bisa berjumpa Tuhan di mana pun kita berada, bukankah begitu? Atau Bapak ingin kita berdoa di dalam rumah? Saya tidak keberatan jika diundang masuk ke dalam rumah Bapak.” Romo Pastur membetulkan letak kecamatanya. Kelihatannya dia sedikit memaksakan kehendak. Sebenarnya saya sudah sering melihat Romo Pastur yang asli Belanda itu datang untuk mengajak kakek ke gereja sejak saya masih belajar melafalkan huruf dan angka. Tapi ada saja alasan kakek untuk menolaknya. 143


Kakek dan Peti Mati | Eka Maryono

“Saya sudah berdoa pagi ini, malam tadi, kemarin pagi, saya sudah berdoa berkali-kali,” kata kakek. “Tidak apa-apa, mari kita berdoa sekali lagi untuk menyenangkan hati Tuhan seperti Dia menyenangkan hati kita.” Kakek kelihatan gusar. Dia memijat-mijat keningnya. “Bapak kelihatan kurang sehat?” “Ya, betul sekali, saya sedang tidak enak badan.” “Kalau begitu mari berdoa, Tuhan Maha Menyembuhkan sakit manusia.” Kakek kelihatan makin gelisah. Tiba-tiba saja dia roboh ke tanah. Romo Pastur kaget sekali. Buru-buru dia membopong kakek ke atas kursi. Kakek dikipas-kipasi sampai sadar kembali. Romo Pastur kelihatan merasa bersalah. “Maafkan saya, Bapak sudah tua dan lemah, seharusnya saya tidak memaksa Bapak untuk berdoa bersama.” “Tidak apa-apa. Nanti saya berdoa sendiri.” “Ya, begitu lebih baik.” Tak lama kemudian Romo Pastur pamit pulang. Saya mengantarnya sampai halaman depan. “Jaga kakek kamu, dia sungguh orang baik,” pesannya. Saya pun kembali ke dalam rumah, kakek sedang mengelap peti mati ukuran besar dengan kain yang tadi sudah dilipatnya. “Kakek pura-pura pingsan ya?” tanya saya. Seperti biasa, kakek tak menjawab jika dia tak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Hanya saja, saya merasa, hari itu dosa kakek bertambah satu lagi. Benar-benar bertambah satu lagi. Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunan saya. “Kakek, saya bantuin ya?” “Ya, ya, ambil kain lap itu lalu bersihkan yang di ujung sana.” 144


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Saya mengelus-elus rambutnya sebelum dia berlari riang ke ujung peti mati yang sedang saya bersihkan. “Kakek, sekarang kan hari Minggu? Kakek tidak ke gereja?” tanyanya. “Kakek sudah tua, berdoa di gereja terasa berat bagi orang tua sepertiku,” jawab saya. “Di rumah kakek juga tidak pernah berdoa.” “Kata siapa? Tiap hari kakek berdoa, toh Tuhan Maha Pemurah.” Dia tersenyum penuh arti. Hari ini dosa saya bertambah satu lagi. n

145


Repro: Agnes-Cecile | OpenArt

146


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Hujan Anak Panah Absurditas Malka

o Published Š Lampung Post, Minggu 12 Agustus 2012

u 147


Hujan Anak Panah | Absurditas Malka

P

ERNAH melihat hujan selain hujan air? Aku pernah melihat hujan selain air, langit siang itu tidak menggelayutkan awan sesudut pun, tidak juga diterpa ang in badai, matahari pun bergelantung di ketinggian bersama sengatnya yang galak. Hujan itu terjadi ketika orang-orang yang menuntut keadilan dari Kampung Amone tumpah di padang rumput yang membatasi kampung mereka dan Kampung Wamea. Di padang rumput itulah, aku melihat hujan anak panah. Ratusan orang yang menuntut keadilan berlarian ke tengah padang rumput, mereka membawa tombak, anak panah, dan parang. Memburu musuhnya dengan senjatasenjata itu, ada sebagian dari mereka membawa tameng dari seng atap rumah, ada yang berlindung di balik pohon ada yang berkelit. Ratusan anak panah berjatuhan dari langit. Memburu siapa saja, ingin melesak dan berkait di tubuh siapa saja. Kedua kampung itu berperang dengan alasan yang sama, keadilan. Mataku semakin menatap layar televisi, menyaksikan hujan anak panah di padang rumput perbatasan. Aku menyeringai miris menyaksikan anak-anak panah yang melesak di tubuh orang-orang. “Kenapa mereka berperang?” Aku bertanya entah kepada siapa? “Kami berperang untuk menuntut keadilan.” Tiba-tiba seseorang dari dalam televisi menyembulkan kepalanya keluar, wajahnya menatapku geram. Busyet. “Hah, keadilan?” “Bukan, maksudku. Kami menuntut pelaku pencurian benda berharga agar segera diadili. Itu sama saja dengan masalah keadilan.” Jawabnya tergesa, sesekali orang itu kembali masuk ke dalam layar kaca, mengawasi langit, menghindari tembakan anak panah. 148


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Hoi, sudah dulu ya. Aku harus kembali berperang, keadilan harus ditegakkan.” Orang berkulit legam dengan rambut keriting itu kembali masuk ke layar, hujan anak panah semakin deras. Beberapa orang sudah jatuh kena tikaman. “Keadilan?” Aku bergumam, mulutku menyedot habis segelas kopi yang sudah dingin. “Para pencur itu harus dihukum! Serang!” teriak seseorang, mengomando ratusan kawanannya untuk semakin garang menyerang. Kedua penduduk kampung yang dipisah padang rumput itu semakin liar saling serang. “Boy! Awas!” Aku berteriak, mengingatkan seorang bocah yang seharusnya tertikam anak panah. Setelah mendengar suaraku, bocah dalam televisi itu melompat berkelit, anak panah amblas di atas tanah. “Boy, sini. Lu jangan ikutan perang.” Aku melambaikan tangan. “Sebentar...” Bocah itu balas melambaikan tangan. Dipungutnya anak panah yang menancap di atas tanah. Kemudian tangannya mengais-ngais bingkai televisi, mencari jalan ke luar. Pertama-tama jemarinya berhasil memegangi bingkai layar kaca, kemudian wajahnya diikuti seluruh kepalanya. Ia keluar, kaki kanannya pertama menginjak lantai di rumahku, kemudian seluruh tubuhnya sudah berada di ruangan rumahku. Bocah itu tidak memakai apa pun, kecuali celana dalam yang sudah dekil. “Duduk sini Boy, kita aman di sini. Eh, lu mau kopi?” Aku menarik lengannya. Bocah itu terduduk di sofa sebelah kanan, ia mengangguk. Matanya tak lepas dari layar kaca. “Tunggu sebentar.” Aku pergi ke dapur, menyeduh kopi panas. “Jangan pake gula!” teriak bocah itu. “Hah? Kagak pake gula? Kopi macam apa itu?” Aku 149


Hujan Anak Panah | Absurditas Malka

bergumam. Membuat kopi hanya butuh waktu 5 menit, aku sudah menyeduh segelas kopi tanpa gula sesuai pesanan. Bocah itu masih menelisik tayangan berita. “Nih kopinya Boy, coba aku lihat anak panah itu.” Aku meraih anak panah yang digenggamnya, bocah itu mendelik menatapku. “Mau mati kau! Anak panah ini beracun, jangan kau sentuh.” “Hah beracun? Orang-orang itu akan mati kalau kena anak panah?” Aku menunjuk orang-orang di dalam layar televisi yang tertembak anak panah. “Mereka sudah punya penawar, tidak akan mati. Hanya sakit saja.” “Boy, kenapa lu ikutan perang?” “Keadilan,” jawabnya singkat. Halah, aku bertemu lagi dengan wacana keadilan. Kenapa orang-orang itu begitu mudah menyebut keadilan, apakah karena mereka sangat mengerti tentang keadilan atau karena mereka tidak pernah memiliki keadilan. “Keadilan atau pencurian?” Aku teringat kata-kata lelaki tadi. “Pencurian.” “Apa yang mereka curi sampai-sampai kalian harus berperang?” “Kemerdekaan.” “Boy, gue kagak ngarti.” “Orang-orang Jakarta seperti kau tidak akan mengerti. Kami yang mengerti apa yang terjadi di kampung kami.” “Ya ya ya... Apakah orang-orang Wamea benar-benar mencuri kemerdekaan kalian?” “Katanya begitu.” “Katanya?” 150


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Ya, katanya begitu.” “Kata siapa Boy?” “Seseorang, kata seseorang.” “Seseorang siapa?” “Orang Jakarta.” “Haduh, orang Jakarta lagi. Kata siapa orang Jakarta?” “Sudah langganan, kemerdekaan kami hilang karena memang orang-orang dari Jakarta yang mencurinya. Siapa lagi yang paling suka mencuri di negara ini? Jakarta kan?” “Oke, oke... Gue ngarti. Tapi, kenapa kalian berperang dengan mereka? Penduduk Wamea kan bukan orang Jakarta?” “Nah itu dia, orang-orang Jakarta itu pengecut. Mereka tidak berani bertempur melawan kami, mereka menyusup, menghasut, mencipatakan kekacauan, merekayasa apa saja. Semua ini perbuatan orang Jakarta.” “Boy, lu tau dari siapa semua itu perbuatan orang Jakarta?” Aku mengambil gelas kopi, tinggal ampas. Bocah itu melirik ke arah gelas kopi miliknya. “Minumlah.” Aku menunjuk ke arah gelas kopi miliknya. “Kau kasih racun?” Bocah itu menunjuk gelas kopi dengan anak panah. “Tidak.” Aku mengangkat bahu. “Awas kau!” Gluguk, bocah itu menenggak habis gelas kopi pahit dengan tangan kiri, tangan kanannya menggenggam anak panah beracun, menodongkannya ke wajahku. “Mantap!” Bocah itu mengusap bibirnya, kemudian mengacung jempol. “Boy, lu mau tinggal di sini?” “Tidaklah, ngapain aku tinggal di Jakarta. Tidak ada guna.” “Kalau begitu buruan balik, nanti beritanya keburu udahan.” 151


Hujan Anak Panah | Absurditas Malka

Bocah itu terperanjat. Anak panah yang sedari tadi digenggamnya disimpan di atas meja, kemudian ia melompat memburu layar kaca. Kepalanya sudah berhasil masuk ke layar, diikuti kaki kanan, kaki kiri dan seluruh tubuhnya sudah sempurna kembali dalam layar. “Hoi! Selamat tinggal Jakarta!” Bocah itu berteriak. Aku melambaikan tangan ke arahnya. Hujan anak panah belum juga mereda. Semakin banyak orang menjadi korban. Layar kaca berganti tampilan, bocah itu kembali terlipat dalam berita. “Anak panah beracun.” Aku bergumam, tanganku meraih anak panah di atas meja. Betapa beracun Kota Jakarta. n Bandung, 20 Juni 2012

152


Repro: OpenArt

153


Gagak Hitam | Ramajani Sinaga

u

Gagak Hitam Ramajani Sinaga

o Published Š Medan Bisnis, Minggu 12 Agustus 2012

Ramajani Sinaga, lahir di Sipispis, 5 Oktober 1993. Mahasiswa semester dua Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Karyanya telah dimuat pada Detak Unsyiah Aceh, Harian Serambi Indonesia Aceh, Harian Medan Bisnis, dan Harian Waspada Medan. 154


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Saban malam, seekor burung gagak hitam selalu bertengger pada sebuah dahan pohon rambutan di depan rumahku. Dan tampak seperti ingin mengabarkan sesuatu. Aku acap mengusir dan melemparnya dengan batu, burung gagak itu menceracau dan menggerutu, namun burung gagak hitam itu selalu kembali dan bertengger pada pohon yang sama di depan rumahku. Aku mulai resah dibuat burung gagak hitam itu.

A

KU seorang lelaki berambut putih yang dihormati di huta ini, orangorang di huta memanggilku dengan panggilan Ompung Datu, entah kenapa mereka memanggilku dengan panggilan tersebut, sedangkan aku bukanlah seorang yang berilmu tinggi. Aku mengetahui jika akhirakhir ini orang-orang di huta sedang sibuk mempergunjingkan aku bersama burung gagak hitam itu. Mereka mengatakan bahwa aku atau salah satu keluargaku akan meninggal menghadap Tuhan sebentar lagi, namun mereka tiada yang berani menyampaikannya langsung di hadapanku. Mereka hanya berani berucap di belakangku. Di kedai tuak Martohap, di rumah-rumah makan, di jalanjalan, semua orang sibuk berbicara tentang aku yang akan menghadapi kematian. Bahkan, di rumah ibadah sekalipun, mereka juga membicarakan aku dengan gagak hitam itu. Burung gagak hitam yang kabarnya akan memberikan berita bahwa aku atau salah satu keluargaku akan meninggal dunia. “Ompung sehat-sehat saja, kan?� seorang pemuda bertandang ke rumahku, aku sangat tahu apa tujuannya datang ke rumahku, ia hanya ingin memastikan; apakah aku benar-benar akan menghadapi kematian sebentar lagi? 155


Gagak Hitam | Ramajani Sinaga

“Sehatlah! Kalau tidak sehat, aku tidak seperti ini, Togar!” “Tapi...” “Tapi apa? Karena burung gagak hitam itu?” “Iya, Pung, banyak orangorang di huta bercerita kalau setiap malam ada seekor burung gagak hitam selalu bertengger di depan rumah, Ompung.” “Lalu aku akan mati? Begitu maksudmu, Togar?!” “Bukan begitu, Pung..” “Apa hubungannya burung gagak dengan kematian?” Pemuda itu diam ter tunduk, tanpa menjawab pertanyaanku. “Pulanglah, Togar! Katakan pada orang-orang di huta semua, jangan suka mengumpat orang lain. Aku sehat-sehat saja, aku tidak mati!” “Maafkan aku, Ompung,” jawab lelaki itu sembari mencium tanganku. BURUNG gagak hitampembawa kabar kematian. Tetap saja aku tidak percaya akan hal itu, tapi sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku; aku juga merasa khawatir akan kedatangan kematian pada keluargaku. Kehadiran burung gagak hitam itu selalu membuatku semakin resah, meskipun aku telah berusaha untuk menepisnya. “Ulang pala songon in. Hamatean i tangan ni Naibata. Seng bani manuk nabirong ia!” (Jangan seperti itu. Kematian berada di tangan Tuhan. Tidak pada burung hitam itu) Ucap istriku, ia berusaha menghiburku agar aku tidak merasa khawatir. Meskipun begitu, aku tetap saja khawatir. Anakku, Riduan, diam-diam tanpa sepengetahuanku ia sering sekali mengikuti geng balap motor liar di jalanan. Padahal aku telah berusaha melarangnya, hal itu juga yang membuatku khawatir. Malam berikutnya, burung gagak hitam itu kembali hadir 156


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

menceracau pada dahan pohon di depan rumahku. Aku mengusirnya, namun burung itu selalu kembali. Maka dengan ditemani beberapa batang rokok dan segelas kopi yang dibuatkan oleh istriku, aku berjaga-jaga di teras rumah, sebab burung gagak hitam itu memang selalu kembali. Belum lama aku meneguk segelas kopi dan duduk di teras rumahku, burung gagak hitam itu kembali lagi. “Misir! Misir ma ho! Ulang hujon be!” (Pergi! Pergilah kau! Jangan ke sini lagi!) aku melempar burung gagak hitam itu dengan batu. Aku kesal. Aku memakinya dan dia terbang. Aku berharap ia tak kembali lagi ke depan rumahku. Masing-masing rumah warga di huta ini, pasti ada pohon rambutan yang tertanam dan tumbuh. Tapi entah kenapa burung gagak hitam jahannam itu hanya mau bertengger pada dahan pohon rambutan di depan rumahku. Burung itu tidak mau menghinggapi pohonpohon di depan rumah orang lain. Padahal, pohon di depan rumahku tiada bedanya dengan pohon-pohon yang lain, tiada mempunyai perbedaan atau keistimewaan sama sekali. Apakah Tuhan memang mengirimkan kabar kematian padaku melalui burung gagak hitam itu? Aku tambah khawatir. AKU duduk di teras rumah, sama seperti malam-malam sebelumnya, yaitu untuk bersiap-siap mengusir burung gagak hitam itu. Aku sangat membenci burung gagak hitam jahannam itu. Malam ini lebih dingin dari pada malam kemarin. Sesekali angin malam berhembus kasar menusuk pori-pori kulitku. Tiba-tiba seorang anak muda dengan mengendarai roda dua berkecepatan tinggi menuju rumahku. “Anaknya Ompung...” Napas anak muda itu terdengar tersengal-sengal. Wajahnya pucat. “Kenapa?” tanyaku pada pemuda itu. Aku mulai didera 157


Gagak Hitam | Ramajani Sinaga

rasa khawatir. “Riduan kecelakaan, Ompung.” Rasanya tubuhku tersungkur saat mendengar kalimat itu. Aku seperti melihat burung gagak hitam sedang tertawa ke arahku. Aku baru sadar bahwa Riduan tidak kembali sejak sore tadi. Sementara malam kian dingin menambah luka ketakutan. “Bawa aku ke sana!” “Baik, Ompung.” Aku gerah dan khawatir di atas desing roda dua. Sampai pada lokasi kejadian, aku berlari tergopoh-gopoh menuju orang ramai. Mereka membentuk bundaran. Aku menyusup di antara tubuh orang-orang itu dengan sangat susah payah. Aku melihat seorang pemuda terbaring lemah, tubuhnya bergumul dengan darah. Dia anak semata wayangku. Tapi aku tidak mampu mengenalinya lagi, kepalanya terlindas truk besar saat sedang beraksi menjadi geng motor, sehingga isi kepalanya tercecer di jalanan aspal. Aku tidak mampu merengkuhnya. Jantungku melemah. Pandanganku tibatiba rabun dan tubuhku mengg igil. Aku ketakutan dan terjatuh. Dan aku tidak merasakan apa-apa lagi, namun masih terdengar olehku beberapa orang ber teriak memanggilku. “Ompung... Ompung... Ompung.” KESUNYIAN rumah semakin menjadi. Kerap orang-orang banyak ber takziah ke rumahku, mereka turut berbelasungkawa atas kepergian anak semata wayangku. Istriku sangat terpukul akan musibah ini. Matanya tampak lembap, sebab seharian dia menangis, ia juga tidak mau makan. “Nyawa itu di tangan Naibata.” Aku mencoba menghiburnya. 158


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Dia tetap menangis dengan foto Riduan di tangannya. Aku harus mafhum, karena dia seorang ibu yang telah kehilangan anak semata wayangnya. Aku duduk di teras rumahku. Burung gagak hitam tiada tampak lagi. Apakah ini suatu kebetulan? Sesuai dengan kepercayaan para leluhur dahulu; kedatangan burung gagak hitam adalah membawa kabar kematian seseorang. Aku merasa sangat lelah memikirkan semua ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding rumahku, kedua mataku aku pejamkan. Saat membuka mataku kembali selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba aku melihat banyak burung gagak hitam bertengger pada setiap dahan pohon rambutan di depan rumahku. Aku tidak mampu menghitungnya dengan jari-jari tanganku. Mereka banyak sekali. Pada setiap dahan pohon rambutan itu dihinggapi oleh burung gagak hitam. Mereka menceracau seperti mengejekku. Mereka tertawa. Sementara angin malam berhembus sangat kencang. Aku menggig il ketakutan. Jantungku berdetak lebih kuat. Pikiranku menggerutu. Ini kabar kematian siapa lagi? Apakah ini kabar kematianku, atau mungkin kabar kematian istriku? Ya Tuhan.. selamatkan aku bersama istriku. n Catatan: Huta: desa, kampung Ompung: kakek Datu: orang yang berilmu tinggi Naibata: Tuhan

159


Repro: Ademaro Bardelli | OpenArt

160


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Ramadhon Tanpa Bunda Rian Harahap

o Published Š Metro Riau, Minggu 12 Agustus 2012

u 161


Romadhon Tanpa Bunda | Rian Harahap

Kembali kubaca surat ini. Surat dari seorang yang ku panggil Bunda. Seharusnya aku gembira dengan datangnya surat itu. Tapi tidak! Yang kurasakan hanya hampa, dan aku merasa tak ingin menyebut nama itu selamanya. Lima tahun sudah Bunda pergi meninggalkanku sendiri, dikala aku masih butuh kehangatannya. Ramadhan tahun inipun akan sama seperti sebelumnya, aku tak lagi menemukan wajah teduh Bundaku. Hanya mesin jahit tua yang teronggok di sudut ruang tamu setia menemaniku.

K

ENANGAN indah bersama Bunda saat Ramadhon menjadi siksaan batin untukku. Setiap Ramadhon, Bunda selalu menyediakan menu special untukku, sholat taraweh bersama lalu meracik hidangan untuk berbuka. Namun,sudah lima kali Ramadhon hanya kulalui sendiri Sehari setelah acara perpisahan kelulusanku dari sekolah menengah, Bunda memelukku, “Di kampung kita, tidak ada yang sekolah hingga menjadi sarjana, nak. Sebab itu Bunda harus berusaha agar kamu bisa menjadi sarjana. Sesuai pesan almarhum Ayahmu.” Ujar Bunda pelan sambil menatapku lembut. “Tapi Nur tak ingin Bunda pergi….Nur bisa mencari uang sendiri,. kalau Bunda ijinkan… “Jawabku pilu.Genangan airmata mulai membasahi kelopak mata. “Tidak Nur! Kamu tak boleh bekerja sambil kuliah. Itu akan menguras tenaga dan pikiranmu.Kamu lihat Parmin anak Pak Broto tukang bubur itu, akhirnya …justru bekerjalah jadi pilihannya, kuliahnya..? Berhenti…!” Semenjak Ayah meninggal karena sakit kanker paru-paru dua tahun lalu, Bunda mengambil alih semuanya. Seorang diri. Tertatih-tatih bekerja apa saja. Bunda tak pernah mengeluh. Mesin jahit tua warisan Ayah, akhirnya menjadi 162


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

alat penyambung hidup kami, “Penghasilan dari menjahit tak cukup lagi untuk biaya kuliahmu nanti..” Keluh Bunda sambil menjahit baju pesanan tetanggaku. “Lalu Bunda..?” Tanyaku menatap Bunda. “Bunda akan kerja keluar negeri Nur. Jadi pembantupun tak apa, asal gajinya besar dan kamu bisa kuliah..” Aku terhenyak. Di usia Bunda menjelang empat puluh tahun, sanggupkah? “Insya Alloh…doakan saja ya..Yang penting kamu jadi sarjana, nak!” Jawab Bunda seakan tahu kegundahan hatiku. Awal kepergian Bunda adalah siksaan untukku. Nyaris aku tak bisa tidur semalaman. Yang terbayang adalah wajah teduhnya. Senyumnya, lambaian tangannya saat menaiki pesawat yang akan membawanya ke Negara Kuwait. Tak bisa kulupakan adalah sinar matanya yang kulihat aneh. Tatapan mata Bunda menyiratkan sesuatu, namun aku tak bisa menebak arti tatapan itu, “Jaga dirimu baik-baik ya nak….Bunda mencintaimu selalu. Bunda pasti pulang di tahun kelima setelah ini. Jangan lupa sholat dan mengaji ya, kuliah yang rajin biar bisa jadi sarjana..” Sungguh aku tak mampu berkata apa-apa, hanya linangan airmataku semakin deras. Saat pesawat itu take off, batinku meradang, “Bunda….! Mengapa Bunda harus pergi…mengapa tak kucegah kepergiannya? Apalah artinya jadi sarjana kalau harus berpisah denganmu, Bunda?” isakku pedih. Bude Mina tetanggaku yang turut mengantar kami ke bandara, menggamit lenganku untuk pulang, “Yang sabar ya nduk! Kan masih ada kami tho?” Aku mengangguk lemah. Walaupun Bunda selalu mengirimiku uang disertai kabar, namun kerinduanku pada Bunda sering tak tertahankan. Masa-masa sulit beradaptasi tanpa Bunda kulalui sendiri. 163


Romadhon Tanpa Bunda | Rian Harahap

Kutenggelamkan diriku dalam kesibukan kuliah, hingga sampai dirumah aku sudah lelah, sehingga tak banyak berpikir yang lain lagi. Bunda bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan penjaga anak majikannya yang masih balita. Dengan gaji 1200 real, cukup buat kami dan biaya kuliahku. Namun, Bunda hanya bisa pulang setelah lima tahun bekerja. Aku berusaha memakluminya. Kerja keras Bunda ku tebus dengan rajin kuliah. Nilai I PK ku Alhamdulillah selalu bagus. Dan yang lebih menggembirakan lag i adalah tahun depan aku akan wisuda! Bersamaan dengan kepulangan Bunda….Sungguh aku tak sabar melihatnya bangga melihatku. Namun, entah mengapa di tahun ini Bunda tak mengirimiku uang dan kabar darinya pun terhenti. Tahun kelima ini saatnya Bunda akan pulang. Apa beliau sibuk mengurus kepulangannya?...Tak mungkin. Aku mendadak sangat cemas. Segala hal kulakukan, mulai dari bertanya pada perusahaan tenaga kerja yang meng irim Bunda kesana, bertanya pada KBRI, pada teman-teman Bunda yang akan bepergian ke sana. Namun hasilnya nihil. Bunda seperti hilang ditelan bumi. Beragam berita tentang nasib buruh migrant menghantuiku. “Tuhan….lindungilah Bunda dimanapun berada. Ijinkan beliau pulang agar aku bisa berbakti di sisa usianya…” Doaku sesaat selesai sholat malam. Gelegar suara petasan seakan membelah atap rumahku. Malam takbiran bagai arena peperangan saja. Suara gemuruh bedug yang ditabuh, gema takbir yang bersahutan antar masjid, diselingi kilatan kembang api warna-warni menghiasi langit. Setelah kulalui Ramadhon tanpa Bunda, esok penantianku usai sudah. Kurajut renda–renda cantik bermotif bunga anggrek penghias tirai jendela ruang tamu, kususun kue aneka bentuk di atas taplak hijau meja tamu. 164


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Besok Bunda akan tiba di rumah ini. Bukankah Bunda tak pernah ingkar janji padaku. Keyakinanku tak goyah, sampai aku mendengar selentingan berita di televisi yang kunyalakan. Sekilas info tentang ditemukannya mayat wanita paruh baya, warga Negara Indonesia. Jenazah itu penuh luka, namun sayang tak ada identitas melekat padanya. Dan yang membuatku bergidik adalah tempat ditemukannya jenazah itu, di Negara Kuwait..! Sama persis dengan Negara dimana Bunda bekerja. “Tidak…! Itu pasti bukan Bunda…kasihan sekali jenazah itu!..Bunda pasti pulang esok hari….Bukankah Bunda tak pernah ingkar janji?” Aku bergumam sendiri. Walaupun satu tahun ini nyaris tiada kabar dari Bunda, aku selalu berusaha berpikir positif. Suara-suara berita di televisi berdengung dikepalaku. Hingga akhirnya aku tertidur di ruang tamu. Pagi ini, adalah hari terpanjang menurutku. Suasana lebaran mengharubiru perasaanku. Di rumah ini, aku menanti sosok yang lama kurindukan. Jam demi jam seakan menghisap nafasku yang terasa sesak. Kerinduan yang membuncah, membuatku menjadi tak sabar lagi. Bahkan aku lupa oleh berita yang sekilas kulihat di televisi , tentang sesosok mayat wanita tua yang mati karena siksaan majikannya. Rupanya saat tertidur tadi malam, sang pembawa berita belum selesai membacakan laporannya. Diketahui akhirnya, bahwa mayat wanita tua itu bernama Sarminem. Mirip dengan nama Bundaku. Aku yang tak tahu, masih tetap duduk di sofa ruang tamu, menanti Bunda….entah sampai kapan. n Zahra Muthia, Pekanbaru Juli 2012

165


Repro: OpenArt

166


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Cangik Jadi Ratu Eka Maryono

o Published Š Okezone, Jumat 10 Agustus 2012

Eka Maryono, lahir di Jakarta 2 Maret 1974. Pendidikan terakhirnya di jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional (1991-1997). Aktif di komunitas Studi Sastra Jakarta. 167


Cangik Jadi Ratu | Eka Maryono

I

SU Suksesi kepemimpinan berembus di Kerajaan Surasena setelah Prabu Basudewa berniat mundur demi menjadi pendeta di Pertapaan Randugumbala. Seluruh rakyat mulai kaum brahmana, kesatria, sampai golongan kawula bertanya-tanya kepada siapa tahta akan diserahkan. Tak heran jika saban hari terdengar obrolan mengenai masalah suksesi ini dari dalam istana dan pura bahkan sampai ke warung-warung kopi di pinggiran jalan. Padahal, Prabu Basudewa sebenarnya juga tidak tahu kepada siapa tahta akan ia berikan. Kakrasana, putra tertuanya, telah menjadi raja di Mathura dengan gelar Prabu Baladewa. Adik Kakrasana, Narayana, sudah bergelar Prabu Sri Batara Kresna setelah menjadi raja di Dwaraka. Sementara anak bungsunya, Putri Sembrada, menikah dengan Arjuna dan kini tinggal di Madukara. Tak satu pun dari ketiga anaknya yang berminat meneruskan tahta Surasena. Prabu Basudewa tertunduk lesu. Apa jadinya Surasena tanpa seorang raja? Berhari-hari Prabu Basudewa tak mau makan, tak bisa tidur, hanya termenung layaknya tokoh novel cinta-cintaan yang sering dia baca di masa muda. Sungguh akhir yang tragis jika Surasena pupus dari dunia pewayangan hanya karena tak punya pewaris tahta. Sang Prabu jadi ingat ketika ketiga anaknya masih kecil, betapa dia sangat berharap salah satu dari mereka akan menjadi the next number one, syukur-syukur bisa sekalian jadi the next Surasena idol yang dicintai rakyat. Tapi setelah dewasa, anak-anaknya malah lebih suka menjadi raja dan ratu di negara lain. Mungkin karena tak kuat menahan beban pikiran, berhari-hari kemudian Prabu Basudewa jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Jagat pewayangan pun gempar. Prabu Basudewa mangkat sebelum sempat menunjuk ahli waris, dan itu 168


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

artinya raja baru harus segera ditemukan atau Surasena akan dihapus selamanya dari daftar lakon kerajaan yang sering dimainkan dalang-dalang. Dewan Kerajaan yang terdiri dari kaum brahmana dan kesatria langsung menggelar musyawarah nasional tapi tidak menemukan kata sepakat. Ketiga anak sang prabu tetap enggan memimpin Surasena. “Kami tidak ingin ada di bawah bayang-bayang ketiak ayahanda,� kata Kakrasana mewakili kedua adiknya. Kakrasana malah menyodorkan ketiga istri ayahnya untuk dipilih sebagai ratu. Mereka adalah Dewi Mahira, Dewi Mahindra, dan Dewi Badrahini. Kalau ketiganya dianggap kurang pantas menjadi ratu, Kakrasana masih punya calon lain, yaitu Ken Sagupi, bekas cemceman Prabu Basudewa yang sekarang sudah jadi istri Antagopa. Ken Sagupi dinilai pantas untuk ikut bertarung memperebutkan posisi Si Nomor Satu karena dia pernah melahirkan Arya Udawa, putra Prabu Basudewa lainnya yang ternyata lebih senang mengaku sebagai anak Antagopa. Usulan Kakrasena disambut baik oleh seluruh peserta musyawarah. Namun, Dewan Kerajaan tak berani memutuskan, siapa di antara keempat calon yang pantas memimpin Surasena. Maka setelah melalui perundingan alot berjam-jam, akhirnya diputuskan biar rakyat sendiri yang akan menentukan siapa yang paling pantas untuk menjadi pemimpin mereka. Tanpa membuang-buang waktu keempat calon dihadirkan untuk bertarung dalam Pilratu alias Pemilihan Ratu. Masing-masing calon dipersilahkan menggelar kampanye untuk menarik simpati rakyat. Ada calon yang terang-terangan menunjukkan keinginannya menjadi ratu, tapi ada juga yang malu-malu. “Saya hanya meneruskan keinginan rakyat,� kata calon yang malu-malu itu. 169


Cangik Jadi Ratu | Eka Maryono

Yang jelas seisi Surasena menyambut gembira perhelatan akbar yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah negeri mereka. Rakyat mengelu-elukan jago masing-masing. Jargon-jargon politik dan janji-janji manis bertebaran ke tengah massa. Spanduk dan pamflet memenuhi seisi negara. Yelyel pendukung pun membahana di mana-mana. Suasana bukan main riuhnya saat hari pemilihan tiba. Rakyat berbondong-bondong memenuhi bilik-bilik suara. Pilratu pun sukses diselenggarakan. Beberapa hari kemudian hasil penghitungan suara diumumkan. Hasilnya keempat calon memperoleh suara sama banyak. Dewan Kerajaan segera menggelar rapat dan diputuskan untuk mengulang Pilratu, namun lagi-lagi hasilnya sama kuat. Bahkan ketika Pilratu diulang sampai sepuluh kali, hasilnya tetap saja sama. Rapat Dewan Kerajaan pun kembali digelar. “Weleh, weleh, rakyat sudah jenuh kalau terus-terusan mikirin Pilratu.” “Harus segera dicari solusi sebelum rakyat kecewa dan memilih jadi golput.” “Golput nggak bagus untuk pencitraan. Golput menandakan ada sesuatu yang salah dengan pemerintahan.” “Jadi solusinya bagaimana?” Semua diam. Kakrasana merasa tak enak hati. Dia merasa bersalah. Andai dia mau meneruskan jabatan ayahnya sebagai Raja Surasena, tentu masalah ini tak akan terjadi. Tapi sebagai kesatria berpikiran modern, Kakrasana tak mau terus menetek pada orangtua. Jika dia menjadi raja, maka itu harus usahanya sendiri bukan karena warisan, bukan karena nepotisme. Kakrasana ingat dengan kejadian di negara tetangga, di mana putra mahkota seorang raja sama sekali tak dihargai rakyatnya sendiri. Rakyat berani melempari putra mahkota dengan 170


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

telur busuk. Tentu hal itu karena sang putra mahkota terbiasa mengandalkan kewibawaan ayahnya sehingga lupa untuk mengembangkan kharisma diri sendiri. Kakrasana tak mau bernasib seperti itu. “Sebaiknya kita meminta petunjuk pada Paman Semar Badranaya,” kata Kakrasana sambil batuk-batuk sedikit biar kelihatan tambah wibawa. “Lho, kenapa harus Semar? Semar kan cuma abdi dalem, bukan kasta tinggi?” “Kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan dari status sosial, tapi dari nuraninya. Keluhuran budi pekerti Paman Semar sepatutnya menjadi cermin kebijaksanaan. Beliau merupakan perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Perkataan Paman Semar sama dengan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan. Jika kita mau merendah hati mendengarkan suara rakyat kecil, maka Surasena pasti akan menjadi negara yang unggul dan sentosa. Biarkan Paman Semar memilih siapa dari keempat calon yang pantas menjadi Ratu Surasena.” Karena tak satu pun peserta rapat yang dapat membantah perkataan Kakrasana, maka Semar pun segera dihadirkan di sana. Tanpa membuang waktu, Semar langsung disuruh menentukan pilihan. Keempat calon ratu duduk berjejer di hadapan Semar. Semar berjalan bolakbalik memerhatikan keempatnya. Tiba-tiba Semar tertawa, keras sekali. “Paman Semar, kenapa paman ter tawa?” tanya Kakrasana. “Saya merasa geli karena tidak ada satu pun yang pantas jadi ratu!” Wajah keempat calon ratu merah padam menahan malu dan marah. Suasana mendadak jadi riuh. “Tenang … tenang … mohon Paman Semar 171


Cangik Jadi Ratu | Eka Maryono

menjelaskan.” “Lihatlah tubuh mereka, semuanya gembrot! Tubuh gembrot pertanda banyak makan, tak pernah prihatin, jarang berpuasa. Bagaimana mereka bisa memahami arti penderitaan jika sehari-hari hidup mereka dipenuhi kesenangan?” “Maksud paman?” “Bagaimana seorang ratu bisa memahami penderitaan rakyatnya yang hidup miskin dan kekurangan makan, jika dia sendiri selalu memanjakan lidah dengan makanan?” “Senang makan enak itu urusan perut, nggak ada hubungannya dengan kualitas sebagai pemimpin,” bantah seorang kesatria anggota Dewan Kerajaan. “Benar tuh! Memangnya ada jaminan kalau pemimpin kurus bakal lebih baik dari pemimpin gendut?” sela yang lain. Semar tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Memang kualitas pemimpin tidak ditentukan dari ukuran tubuh, tapi daripada memilih orang gembrot jadi ratu, saya lebih senang memilih orang kurus,” kata Semar. Orang-orang tersentak. Mereka sadar ada suatu petuah yang wajib diperhatikan dalam kata-kata yang diucapkan Semar. Status Semar sebenarnya memang cukup terhormat. Semar bukan cuma pengasuh putra-putra Pandawa, tapi lebih dari itu, dia adalah sahabat bagi mereka. Tidak mungkin Semar berkata dusta. “Kalau begitu Paman Semar, siapa yang akan menjadi ratu?” tanya Dewi Sembadra. Sang dewi yang sedari awal lebih memilih diam akhirnya tergoda juga untuk buka suara. Semar diam. Orang-orang menahan nafas. “Cangik!” “Apa?” Kakrasena, Narayana dan Sembadra serentak berdiri. 172


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Bagaimana Cangik bisa jadi ratu? Dia kan pengasuh bayi, dan bukan bagian dari dinasti!” seru Narayana. “Sudah saatnya politik dinasti diakhiri. Tak akan pernah ada reformasi kalau penguasa selalu berasal dari dinasti yang sama. Lagipula Cangik mewakili penderitaan rakyat. Tubuhnya kurus sedari muda.” Semar berdiri di podium layaknya pemimpin mau pidato. “Cangik memang perempuan tua dan buruk rupa. Tapi dia sangat setia kepada junjungannya. Dia mewakili penderitaan rakyat. Lihat saja tubuhnya kurus kering begitu. Kurus melambangkan orang yang jujur, sederhana, nggak nekoneko, nggak mengejar materi maupun kekayaan. Orang gemuk pun jika dia bekerja tanpa pamrih maka pelan-pelan akan menjadi kurus. Surasena akan bahagia jika bisa memiliki kesetiaan Cangik yang tanpa batas. Dia akan menjadi pemimpin yang berpihak pada rakyat.” Orang-orang terpana mendengar pidato Semar. Tokoh satu ini memang memiliki getaran mistis Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa. Akhirnya Kakrasana mengusulkan kepada para brahmana dan kesatria untuk mencoba usul Semar dengan menjadikan Cangik sebagai ratu. “Jika nanti mbok Cangik ternyata melenceng dari garisgaris besar amanat penderitaan rakyat, maka para brahmana dan kesatria dalam Dewan Kerajaan berhak menurunkan mbok Cangik dari jabatannya,” katanya. Usul Kakrasana diterima semua pihak. Cangik pun mendadak muncul dalam ruangan itu. Seperti biasa, di mana dia bisa datang dan pergi semaunya dalam semua lakon yang melibatkan kaum Pandawa. Sambil menyisir rambutnya, ia berjalan tenang menuju kursi singgasana. Sesekali dia melirik genit ke arah para kesatria. Dan sejak saat itu, resmilah Cangik menjadi Ratu Surasena. 173


Cangik Jadi Ratu | Eka Maryono

BERTAHUN-TAHUN sudah Cangik letih bekerja sebagai pengasuh putri-putri pandawa. Selama itu dirinya selalu dituntut untuk bersikap ikhlas dan mengabdi pada junjungan dengan gaji seadanya sesuai standar UMR pembantu rumah tangga. Cangik tidak pernah berani minta kenaikan gaji karena takut dituduh pamrih dan tidak setia. Padahal gaji yang diterimanya hanya cukup untuk membeli sisir, sehingga hanya itu hartanya yang paling berharga dan dengan bangga dia bawa ke mana-mana. Sekarang dirinya sudah menjadi ratu, tentu keadaan tak boleh lagi sama, pikirnya. Maka dapur kerajaan jadi tambah sibuk saja. Saban hari sang ratu selalu minta disediakan bermacam hidangan lezat. Mulai mi ayam jamur, steak sapi lada hitam, sampai pizza ukuran besar ditambah susu segar jadi menu kesukaannya. Belum lagi aneka buah impor yang harus selalu tersedia di atas meja. Pelan-pelan berat badan Cang ik ber tambah dan bertambah terus. Cangik bukan lagi perempuan tua kurus renta berdada rata. Sekarang dia ratu bertubuh tambun dengan payudara menonjol di dada. Kepemimpinan Cangik disambut suka cita oleh Dewan Kerajaan. Di bawah kepemimpinan Cangik, gaji anggota dewan dilipatgandakan dan mendapat berbagai insentif bulanan. Cangik bahkan sering mengundang mereka dalam berbagai pesta yang diselenggarakan di ballroom istana. Surasena benar-benar menjelma sebagai kerajaan yang dipenuhi rasa bahagia dan gelak tawa. Namun, nun jauh di pinggiran negara, rakyat yang makin kurus bertanya-tanya, kapan Pilratu berikutnya akan digelar. n

174


Repro: Digital Art by Judas Paul | OpenArt

175


Bingkai di Atas Pusara | Zulfikar

u

Bingkai di Atas Pusara Zulfikar

o Published Š Okezone, Senin 06 Agustus 2012

Zulfikar, alumni Sastra Arab Unpad. Aktivis Sastra di Langkah Komunitas Sastra, Jatinangor. Bersama beberapa rekan Langkah, kini membentuk Metafor, sebuah Kelompok Studi Sastra-Sosial. 176


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

A

KU sudah berjanji, bila engkau mati aku pasti akan datang, saat jenazahmu dimandikan, saat-saat terakhir mayatmu masuk ke dalam tanah, atau jika sempat aku pasti datang saat engkau sedang sekarat. Kawanku yang malang. Mengapa pula waktu itu kita begitu asik menjalarkan obrolan hingga menyentuh soal kematian, dan aku begitu yakin kalau engkau akan mati lebih dulu dari aku. Tapi kawanku, maafkanlah aku, aku begitu sibuk dengan pekerjaanku yang baru. Aku baru hari ini bisa datang kepadamu, menyentuh tanah pusaramu yang masih merah. Sesaat setelah dirimu dinyatakan mati oleh dokter, aku mendapatkan telepon berdering kencang. Aku waktu itu saja sudah curiga mendengar deringan telepon, pasti ada kabar buruk datang, walaupun maaf waktu itu aku benarbenar tak curiga kalau itu telepon dari nenekmu yang bawa kabar bahwa engkau mati di rumah sakit kelas bawah. Kawanku, walaupun aku mengerti waktu itu engkau pasti sedang sibuk menahan rasa sakitmu menjelang kematian, tapi mengapa tidak engkau sendiri yang memberitahuku perihal kematianmu yang sebentar lagi datang. Tapi sudahlah, walaupun engkau sendiri yang memberitahuku waktu itu, aku belum tentu bisa datang, aku masih harus kejar target kerjaku sampai larut. Engkau sekarang sudah masuk tanah. Tubuhmu mungkin sekarang sedang disiksa malaikat, karena aku tahu engkau denganku bukan laki-laki yang baik, tapi di atas pusaramu aku mendoakan, jika memang engkau sedang mengalami siksaan agar diberhentikan barang sebentar minimal sementara aku ada di sini. Tapi aku dengar, engkau sudah menjalani hidup bagus setelah engkau memiliki istri dan seorang anak perempuan. Kawanku aku mendoakanmu, apa pun yang terjadi di bawah 177


Bingkai di Atas Pusara | Zulfikar

sana denganmu, tapi aku tak bisa membaca doa-doa berbahasa Arab, tapi sudahlah yang penting aku berdoa memang aku suka merepotkanmu semenjak dulu. Aku masih ingat hari itu hari Minggu. Saat setelah kita mengendarai sepeda motor mengelilingi kota. Dan kita mampir di sebuah kedai kopi. Tapi demi Tuhan aku tak bermaksud menyumpahimu mati terlebih dahulu, bukan pula karena aku melihatmu waktu itu terkekeh batuk-batuk memaksakan asap rokok masuk ke dalam rongga dadamu, tapi di sanalah feeling seorang kawan sejati. Harusnya engkau mulai berfikir waktu itu, bukan malah membuka baju telanjang dada karena gerah banget, katamu. Bukan pula karena prediksiku ngawur melihat hidupmu yang begitu susah semenjak bekerja di pabrik celana Jeans Amerika itu. Atau semenjak hidupmu dipertaruhkan di pabrik baja meski hanya sepuluh tahun. Sebagai kawan, tentu aku secara tidak sengaja merasakan bahwa sebentar lagi engkau akan mati. Hidupmu dihabiskan menghisap bau karat mesin-mesin, meniup kembung-kembung cerobong asap. Ini masalah prinsip kawanku. Tapi ngomong-ngomong. Di sekeliling pusaramu banyak sekali jejak kaki tertinggal, jejak-jejak itu mengelilingi pusaramu. Aku senang engkau banyak yang menyayangi, melihat jejak itu menandakan bahwa banyak orang yang membawakan doa untukmu. Aku tidak menyangka, aku kira hanya anak istrimulah yang datang ke sini, tapi mungkin engkau memang sudah menjadi laki-laki baik kawanku. Meski pun di sebelah kuburanmu, aku kasih tahu, bahwa ada kuburan baru juga semisal punyamu, mungkin saja jejak-jejak kaki ini milik dia. Tapi sudahlah, jika pun orang-orang itu datang bukan kepadamu, mungkin saja engkau kena ciprat doa dari mereka. 178


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Jika engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati Tuhan, mengapa juga tidak engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati uang. Aku hanya takut engkau mati karena tidak memiliki uang. Tapi tak apalah. Engkau sudah tak lagi memikirkan uang sekarang, berbeda denganku, ya mungkin giliranku yang nanti dikhianati alat tukar sialan itu. Aku juga berharap sepertimu, jika memang iya engkau sudah bertobat, aku ingin pula di akhir-akhir hidupku dekat dengan Tuhan. Pilihanku. Aku bisa mengadu pada uang saat Tuhan sedang tidak berpihak. Begitulah bergantian. Hidup ini menakutkan. Bagaimana dengan anak dan istrimu di luar. Bahkan, aku tak tahu di mana mereka tinggal. Aku bisa saja memberikan sedikit uang untuk mereka. Biar mereka tak sepertimu. Atau, aku bisa saja menikahi istrimu dan menganggap anakmu seperti anakku sendiri. Jangan marah, aku hanya bergurau, jangan terlalu serius, di alam dunia memang banyak gurauan yang tak menyenangkan jika didengar dari alam kubur. Istrimu pasti membanting tulang menghidupi anakmu, pasti dia kecewa jika engkau di sana hanya disiksa, baik-baiklah engkau agar istrimu juga sedikit tenang. Aku tak prihatin meski istrimu aku temukan membanting tulang, aku hanya akan prihatin jika istrimu sampai membanting daging. Aku pasti akan menolongnya, tenang saja. Sebenarnya hidupku juga tak sebaik jalan hidup yang engkau alami. Jika boleh bercerita sedikit. Aku sekarang bekerja di perusahaan asing, dengan gaji besar tentu saja. Engkau juga tahu, bukan berarti aku tak suka pribumi, tapi perusahaan asing itu lebih tahu cara mengajarkan berdagang dengan cara modern. Berbeda dengan pribumi, yang serba salah memilih antara tradisional dengan modern. Walaupun engkau juga bekerja di perusahaan asing, tapi cara hidupmu aku kira masih tradisional. Itulah yang 179


Bingkai di Atas Pusara | Zulfikar

membuatku iri kepadamu, engkau mengesankan dengan cara hidupmu yang tradisional, yang masih menyimpan uang lembaran di bawah bantal. Saat nenekmu meneleponku waktu engkau sekarat di rumah sakit kelas bawah. Nenekmu menangis dalam telepon, mungkin karena air matanya pula teleponnya mati karena konslet. Saat itu aku sedang negosiasi ratusan juta dengan salah satu pejabat di daerahmu. Proyek pembangunan pabrik. Jadi bukan aku yang menutup telepon nenekmu waktu itu, aku tidak berbohong, tentu malaikat di sisimu akan memberitahumu jika aku sekarang sedang berbohong. Meskipun aku sedang sibuk tidak mungkin aku menutup telepon dari nenekmu, percayalah kawanku. Aku ingin menelpon balik. Tapi sudah aku bilang, mungkin nenekmu terlalu bersemangat menangis, air matanya bikin telepon itu mati, aku tidak bisa menelepon balik. Aku berpikir untuk menyarankan membawamu ke rumah sakit yang lebih bagus, walaupun memang mahal, tapi jaminan kesehatannya bisa dipertanggung jawabkan. Engkau terlalu tradisional, terlalu percaya dengan kartu dari pemerintah untuk berobat. Jika sudah berhari-hari engkau dirawat, tentu rumah sakit akan bosan juga mengurusimu tanpa mendapat bayaran tambahan. Kartu itu kedaluarsa. Belum tentu juga dokter yang merawatmu itu yang terbaik. Kartu dari perusahaan asinglah yang lebih mantap di negara ini, kawanku. Aku kenal dekat nenekmu. Saat kuliah dulu, aku masih ingat nenekmu memberiku uang tanpa sepengetahuanmu. Katanya untuk beli buku. Tapi aku tidak menuruti sarannya, dan memakai uang itu untuk membeli arak bersamamu, juga tanpa sepengetahuanmu. Kita dulu benar-benar kacau. Dan, engkau sekarang sudah menghentikan kekacauan, 180


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mentok di bawah pusaramu yang masih basah. Sedangkan aku, bukan juga aku tak berpikir untuk memperbaiki diri, aku hanya takut mati hanya karena tanpa uang. Sungguh memalukan menurutku. Begitu pun dengan cara berdagang modern seperti yang aku katakan tadi. Jika engkau tahu, negara kita ini adalah rumah tangga paling tidak harmonis di dunia ini. Kepala rumah tangga kita selalu gambling dengan berbisnis ke perusahaan asing, dia kira akan memperbaiki keadaan dan memperoleh keuntungan, tapi dari mana anak-anak belajar berdagang modern jika bukan dari buku-buku mereka yang asing itu. Uang jajan rakyat dikurangi, untuk apa? Untuk berbisnis tentu saja. Aku juga ingin memperbaiki diri, tapi tidak olehku pun orang lain mengantri untuk mengambil posisiku. Pusaramu bau bangkai. Eh maaf. Aku tidak bermaksud bikin ziarah pertama kaliku ini tidak karuan, atau tidak khilaf menyebut dirimu bangkai, engkau tetap temanku dalam istilahku sekarang. Tapi terus terang saja. Tadi ada semliwir bau masuk ke dalam hidungku, entah dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah. Aku takut engkau sedang sakit perut sekarang, dan kentut terus-terusan, pasti engkau merasa bau sendiri karena tidak ada lubang udara di sana. Oh maaf. Aku tidak bisa membayangkan hidup susah apa lagi yang sekarang menimpamu. Terkadang juga ada bau wangi masuk ke dalam hidungku. Aku tidak bohong, aku tidak sedang membuatmu tersenyum sekarang. Aku mencium pucuk bunga yang sedang mekar, entah itu dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah. Kawanku, aku terkadang merasa bahwa aku sendiri yang sebenarnya sudah bau bangkai, atau merasa sudah sempurna dengan memakai parfum 181


Bingkai di Atas Pusara | Zulfikar

beralkohol. Tapi jika ditelisik, aku memang tanpa harum, aku merasa hidupku penuh bau bangkai akhir akhir ini. Aku sungguh takut sekarang. Aku takut bernasib seper timu. Aku hanya bisa menggaruk-garuk tanah pusaramu untuk meminta maaf, dan agar engkau memperoleh tempat yang layak di sana, agar nanti, jika aku memang bernasib sama sepertimu. Aku akan pulang juga, dan aku akan menumpang di tempatmu. Ya, ya, kawanku. Biarlah aku merebahkan badanku ini di atas pusaramu, tak apa-apa meski sedikit basah, meski mengotori baju kemeja baruku ini, kemeja putih. Owh, iya aku lupa. Seharusnya aku mengenakan pakaian serba hitam sekarang, menandakan aku mendung seper ti langit yang akan menangis, menandakan aku berkabung. Tapi kawanku, dengan aku memeluk pusaramu seperti ini, tentu aku bukan tidak berkabung dengan tidak memakai pakaian serba hitam. Kawanku yang sedang tengadah ke atas, mendengarkan aku bicara, lihatlah aku, aku pun mengenakan celana hitam dan sepatu kerja hitam, aku berkabung kawanku. Cuma masalahnya hanya dengan baju ini. Kawanku engkau harus mengerti, sejak kapan orangorang sepakat kalau tanda berduka itu warna hitam. Aku tidak sedang mendebatmu. Jika dengan membuka kemejaku bisa ini membuatmu senang di sana, aku akan melakukannya. Aku sudah membuka kemejaku, apalagi, kaos ini? Uh tapi aku benar-benar menuruti kemauanmu, mumpung aku di sini. Tak apa-apa aku akan membuka kaos dalam yang warna putih ini. Oh ya, kaos kakiku pun warnanya putih, tunggu sebentar tentu engkau pasti senang aku akan membukanya pula. Apa? Aku tidak boleh pulang. Baiklah untuk semalam 182


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ini. Engkau berlebihan kawanku, kulit tubuhku memang putih, harus berapa hari dijemur di sini biar agak kelihatan hitam. Untuk sementara aku berguling-guling saja, ya, kawanku, lumayan tanah di sini juga rada hitam. Janganjangan, engkau pun meminta aku‌ Jangan bilang engkau meminta mataku supaya ikut berkabung. Tapi, baiklah untuk kali ini saja. n

183


Repro: Alicia Suarez | OpenArt

184


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Aku Akui, Ibu! Syarifuddin Arifin

o Published Š Padang Ekspres, Minggu 12 Agustus 2012

u 185


Aku Akui, Ibu! | Syarifuddin Arifin

A

KU tahu, airmatamu telah kering ibu. Aku tahu, saat ini kau sedang menderita, merindukan aku yang telah kau buang saat di selangkangmu masih mengalir darah beku, yang membusuk seperti juga hatimu. Aku tahu, kini kau menyesalinya, apalag i setelah ada yang mengabarkan, anak angkat juragan sawit itu menjadi pebisnis yang sukses. Aku tahu, kau selalu berdoa, agar hatiku mencair dan mencarimu, lalu aku akan sujud di kakimu. Karena tanpa kau, aku tak akan pernah ada di dunia ini. Tapi, kau tak pernah tahu, dan aku yakin, kau tak akan pernah mau tahu, kalau aku, anak yang kau lahirkan dengan penuh dosa dan penyesalan, tidak akan pernah merindukanmu. Aku berdoa, agar Tuhan tidak pernah mempertemukan aku dan kau, Ibu. Kalau pun suatu saat nanti kita harus dipertemukan, ya aku berdoa semoga pertemuan itu cukup di akhirat nanti. Ketika para malaikat bertanya tentang kita. “Apakah dia anak yang kau lahirkan?� Tanya malaikat, dan aku yakin kau akan mengangguk lemah sambil mendesiskan kata “ya�. Tapi tahukah kau ibu, ketika malaikat itu kemudian melakukan pengecekan padaku, tentang apa yang kau akui itu? Aku akan membantah dengan tegas. Tidak ada tanda-tanda kalau kau seorang ibu, karena kau tidak pernah menyusuiku, tidak pernah membedungku, kecuali hanya membungkusku dengan kain panjang, penuh noda darah lalu kau taruh aku di beranda sebuah rumah yang pemiliknya merindukan seorang anak. Sebagai seorang anak, aku sulit merasakan bagaimana bau seorang ibu yang menidurkanku, yang meninabobokkan aku di sampingnya. Aku tak kenal bau keringatmu, bau keringat seorang ibu yang niscaya tak akan pernah dilupakan seorang anak sedurhaka apa pun. Bila kau bersumpah, seperti ibu tua yang 186


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

menyumpahserapahi anaknya agar menjadi batu. Maka itu tidak akan berlaku untukmu. Tuhan memekakkan telinganya terhadap do’a-do’amu, sebelum anakmu, aku memaafkan kesalahanmu. Tapi bagaimana aku bisa memaafkan seorang wanita yang telah melahirkanku? Yang telah mengirimkan penderitaan dan bergobang-gobang dosanya ke pundakku? Aku tahu, kalau aku sebagai anak wajib memaafkan perempuan yang telah melahirkanku itu. Aku rindu pelukan penuh kasih sayang darinya, tapi kenapa aku merasa jijik menyentuhnya? Inikah dosa yang harus kutebus melalui musibah demi musibah yang datang beruntun menimpaku? Seharusnya aku menyadari sebelum musibah itu menghantam semua harta bendaku. Rumahku tiba-tiba tenggelam dihantam banjir bandang. Beratus kubik material yang dikirimkan dari hulu, menimbun segala-galanya. DARI menara masjid kudengar suara merdu yang melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Meski aku tak paham apa yang telah dilantunkan itu, namun ayat-ayat suci itu seperti menembus jantunghatiku. Suara qori’ah itu seperti memencet hulu hatiku pelan-pelan, lalu mencair dan meneteskan berlian dari sela mataku yang bening ini. Dan berlian itu, bagaikan manik-manik yang menyimpan pelangi, jatuh ke dalam gelas yang kuteguk sebagai pembuka puasaku hari ini. Minuman yang kuteguk setelah membaca; Allahumalaka sumtu…… terasa bagaikan sekam, menyengak di kerongkongan ini. Aku terbatuk, kuat sekali hingga gelas yang kupegang jatuh ke lantai, lalu pecah berderai. “Sudah saya bilang, kalau nggak kuat jangan puasa,” kata Salimi, suamiku sambil menuntun aku ke kursi malas, tidak jauh dari meja makan kami. 187


Aku Akui, Ibu! | Syarifuddin Arifin

Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengikutinya, lalu duduk bersandar. Mataku terasa berkunang-kunang. Ya, siklus keperempuananku seperti terhenti, sudah lebih empatpuluh hari ini dia tak datang. Menjelang Ramadan, hal ini sudah kubicarakan pada suamiku, dan dia mengatakan kalau aku hamil muda. Dia menganjurkan agar aku tidak terlalu memaksakan diri untuk terus menjalani puasa, karena berbahaya untuk kesehatanku. Tapi aku tetap puasa. Banyak kudengar, orang hamil pun ternyata bisa puasa dan bahkan ternyata lebih kuat dari mereka yang tidak berbadan dua. Dokter pun tidak melarangnya. Aku menerjemahkan, bahwa anjuran suamiku, tak lebih karena ungkapan rasa cinta dan sayangnya padaku. Apalagi ini anak pertama kami. Sebagai seorang wanita, aku merindukan keturunan. Hamil dan melahirkan lalu menyusui, merawat bayi yang aku lahirkan, mendidiknya hingga menjadi seorang anak yang berbakti pada agama dan bangsa. Ya, agama kutaruh di depan kemudian baru bangsa. Karena bagaimana pun, masalah keyakinan perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Sejak ia tidak tahu apa-apa, jauh sebelum si anak mengenal lisan dan aksara. Ketika itulah, tiba-tiba aku merindukan seorang ibu. Kerinduan yang dulu sempat kuremas-remas, lalu kuinjakinjak dan kuludahi. Aku lupa membaca riwayatku sendiri. Ibu tidak akan meletakkan bayinya di depan rumah seseorang yang merindukan keturunan, kalau Tuhan tidak menggerakkan kakinya ke sana. Ya, hanya Tuhanlah yang tahu, sesuatu apa yang akan terjadi dengan seorang anak manusia yang masih merah dan ranum itu. Aku tidak akan pernah dirawat oleh seorang ibu yang suaminya cukup mapan, lalu membesarkanku dengan rasa kasih-sayang yang murni. 188


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Terimakasih tuhan, Kau telah menggerakkan hati ibu, menyerahkan bayi itu ke keluarga mereka yang kini kuanggap sebagai ibuku,� Lalu, akupun beranjak dewasa, kuliah dan aktif di berbagai organisasi sosial. Banyak wanita teraniaya yang aku bantu melalui organisasi tersebut. Tetapi tidak untuk seorang ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini. Sampai akhirnya aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang berkapital besar, sehingga aku bisa membeli sebuah rumah real estate di lokasi yang indah dan menarik. Bayangkan, sebuah sungai membentang dan di pinggirnya ditumbuhi pohon pinang, berbaris mengikuti liukan tanggul. Aku penyumbang utama untuk pembangunan sebuah masjid di komplek itu. Hanya beberapa hari setelah dinikahi Salimi, kami pun tinggal di sana. Aku masih ingat, bagaimana Salimi sering melirikku di saat aku asyik dengan komputer, menyelesaikan beberapa tugas yang terkadang sampai menjelang magrib. Kami sering salat bersama, dan Salimilah yang bertindak sebagai imam. Hingga akhirnya kamipun bersehatian, dan berakhir di pelaminan. Rasa maluku memuncak ketika aku menikah, karena ayah kandung yang tak pernah kukenal sejak kecil pun tidak pernah datang. Tidak seorang lelaki pun yang berhak menikahkan aku dengan Salimi, kecuali lelaki yang telah menghamili ibu, atau saudara-saudara lelakinya yang lain. Tapi bagaimana aku mencari mereka, sedang perempuan itu tidak pernah bercerita? Inilah yang aku benci darinya. Perempuan yang telah melahirkan aku itu telah mengunci rapat semua rahasianya, dan kunci itu ia buang ke semak belakar sana. Hingga tak satupun yang berhak mengetahuinya. Sebernarnya, ayah dan ibu angkatku telah sepakat 189


Aku Akui, Ibu! | Syarifuddin Arifin

mengakui kalau aku anak kandung mereka. Dan ayahlah yang akan menjabat tangan tuan khadi nikah, menikahkan aku dengan lelaki pilihanku, Salimi. Tapi, tiba-tiba ayah menangis tersedu sambil menggenggam tangan pak khadi nikah tersebut. “Aku tak sanggup berdusta, aku tak mau berdosa akibat semua ini nantinya….,” kata ayah lalu ia pun beranjak dari tempat prosesi pernikah tersebut. Tentu saja aku yang siap dengan pakaian seorang penganten ala daerahku terkesima dan ikut menangis. Ayah benar. Aku tidak bisa menyalahkannya. Segala kebaikan yang sudah ia curahkan dengan rasa cinta kepadaku sejak aku masih belum mengenal apa pun akan sirna dengan seketika, ketika ia membiarkan aku sekamar dengan Salimi sebagai suami istri. Karena ayah bukanlah lelaki yang telah menanam benihnya dan membuahkan aku sebagai hasil percintaan dengan istrinya. Akhirnya aku dinikahkan oleh seorang wali hakim dari catatan sipil. “Kamu harus banyak istirahat, besok jangan puasa lagi,” kata Salimi menasehatiku. Aku hanya bisa mengangguk sambil meremas telapak tangannya. “Ya, tapi magrib ini kita bisa salat bersama kan?” “Tentu sayang, akulah imammu,” katanya sambil menciumku dan meraba perutku. Di perutku kini sedang berproses sebuah janin yang akan menjadi keturunan pertama kami. Tapi salat magrib itu ternyata tidak terlaksana, karena darah segar mengucur dari selangkanganku. Aku terkejut. Padamulanya aku masih merahasiakannya. Tapi aku tidak bisa bertahan, darah itu mengucur membasahi ke dua pahaku. Aku mendengar Salimi menelepon bidan yang tinggal tak jauh dari rumah kami.

190


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

MENJELANG mag rib, Salimi membawa makanan kesukaanku ke rumahsakit. Dia ingin berbuka bersamaku. “Ini cobaan untuk kita. Maafkanlah ibumu, dan cari tahu siapa sebenarnya ayah kandungmu,� kata Salimi membujukku. Ia mencoba mencairkan hatiku yang membeku bertahun-tahun ini. Di luar angin barat terasa sangat kencang, menggoyang dedaunan, bahkan mematahkan cabang dan reranting pohon yang kalah bertahan. Gabak menggelantung di perbukitan arah timur. Lalu hujan lebat pun bagaikan menyungkup hulu sungai, dan lidah air menjalar, bagaikan seekor ular meluncur lari ke hilir menghantam dan memporakporandakan yang menghambatnya. Menumbangkan pepohonan, juga pohon pinang yang berbaris indah di sepanjang tanggul, dan tentu saja melahap semua harta benda dan rumah-rumah warga yang tinggal tak jauh dari tanggul sungai tersebut. Aku meneteskan airmata, terharu akan anjuran suamiku. Tapi terlambat, musibah itu datang bertubi. Hanya 24 jam setelah aku keguguran, rumah tempat kami menjalin cinta itu pun berubah menjadi gudang material beratus bahkan ribuan kubik. Aku semakin melemah, tuhan telah mengambil harta yang Ia pinjamkan kepada kami. “Ibu, maafkanlah anakmu ini,� mataku nanar setelah tanpa kusadari kalimat itu terucap begitu saja dari nuraniku. Apakah ibu mendengar desis piluku ini? n Padang, 11Ramadan 1433 M/ 1 Agustus 2012

191


Repro: Christine Peloquin | OpenArt

192


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Ngabuburit Nofita Chandra

o Published Š Radar Lampung, Minggu 12 Agustus 2012

u 193


Ngabuburit | Nofita Chandra

S

UASANA menjelang bulan Ramadan sudah sangat terasa sejak seminggu yang lalu. Sekolahku tidak mau ketinggalan dalam menyambut bulan suci yang paling ditunggu-tunggu seluruh umat muslim di dunia ini. Pak Parno, guru mata pelajaran agama Islam, sudah sejak jauhjauh hari merancang dekorasi setiap ruang yang ada di sekolah dengan nuansa islami yang universal. Begitu juga dengan berbagai acara keagamaan yang akan lebih sering dilaksanakan setiap minggunya. ’’Baru hari kelima nih, Nda,” ucapku sambil duduk di sampingnya. ’’Masih lama banget ya nunggu lebaran”. ’’Apa yang lo harepin dari lebaran sih?” Ginda menatapku. ’’Baju baru? Udah kayak anak kecil aja lo ini, Dis”. ’’Bukan, Nda. Gua udah kangen banget pengen pulang kampung, pengen ketemu sodara-sodara di sana, terus dikasih THR. Ya, terus pas pulang ke sini bisa shopping”. ’’Itu sama aja, Edis. Sama aja berarti lo itu kayak anak kecil yang ngarep dapet baju baru pas hari lebaran. Childish lo!” ’’Is, biarin....” aku menjulurkan lidah ke arah Ginda. Pak Parno benar-benar bersemangat menggalakkan Bulan Ramadan Sehat sepertinya. Itu slogan yang beliau ciptakan untuk menjadi tema bulan puasa di sekolah kami tahun ini. ’’…. Jadi, rencana sekolah akhir pekan ini adalah ngabuburit sehat. Jadi ingat ya, Sabtu besok jam setengah lima sore kalian sudah berkumpul di sini. Nanti kita juga akan buka bersama. Dan ingat, tidak ada yang telanjang pakaiannya! Kalau ngabuburit di luar biasanya kalian gayagayaan, kali ini kalian harus berpakaian yang sopan dan menutup aurat!” ’’HUUU, payah tuh, Pak Parno!” ucapku keesokan harinya. 194


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Masa ngabuburit pake baju panjang-panjang, udah kayak mau pengajian. Kenapa gak sekalian aja kita gelar tahlilan di sekolah, biar lebih pas?” gerutuku kesal. “Gue mana punya baju panjang. Ada sih, tapi itu mah ngepres banget ma badan gue. Percuma kan, panjang tapi pres badan gitu?” “Ah, bacot aja lo dari tadi, Dis. Pasrah aja, napa?” protes Ginda kesal. “Gue juga kagak punya baju panjang model muslimah gitu. Tapi paling gue nyerep punya nyokap.” “Enak lo bisa seserepan ma nyokap. Lah gue? Kagak!” “Ye itu sih derita lo dong, ya?” “Gue gak dateng deh....” Tiba-tiba saja, seorang cowok datang mengampiriku dengan senyuman lebarnya. “Hai, Edis.” sapanya ramah. “Eh, Farhan.” aku tersenyum. “Lagi bahas apa, Dis? Hai, Ginda.” sapanya lagi pada Ginda yang berdiri di sebelahku. “Enggak lagi bahas apa-apa kok. Cuma lagi ngomongin soal ngabuburit sekolah aja.” “Oh itu, kalian dateng kan?” “Gue sih dateng. Gak tau tuh, Edis.” jawab Ginda cepat. “Lho, kok gitu?” Farhan menatapku. “Dateng dong, Dis, gua aja dateng. Pokoknya dateng, ya? Gue tunggu lo dateng deh.” Ucapnya sambil pergi dengan senyuman penutup. Sesampainya di rumah, aku segera mengacak-acak isi lemari ku, mencari-cari pakaian apa yang kira-kira bisa aku pakai ke acara sekolah nanti. “Cari apa, sih, Edis? Kenapa kamarnya berantakan begini?” Mama tiba-tiba masuk ke kamarku. “Edis lagi cari baju muslim gitu, Ma. Buat acara sekolah sabtu besok. Ada gak sih?” “Hm, baju panjang gitu ya?” aku menatap wajah Mama yang tampak datar. “Udah gak ada kayaknya, Dis. Kan udah 195


Ngabuburit | Nofita Chandra

pada jelek semua, udah Mama sumbangin semua.” “Ya, Mama. Jadi gimana?” tanyaku dengan nada kecewa. “Edis udah janji dateng, Ma.” TEPAT ketika hari H. “Apa ini, Ma?” tanyaku ketika Mama menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan bungkus kado bermotif bunga berwarna putih. “Edis kan gak lagi ultah.” ucapku sambil merobek bungkus kadonya. “Anggep aja itu hadiah pembuka untuk bulan puasa ini, Sayang.” “Makasi, Ma.” ucapku senang. Aku segera berlari ke kamar dan mengenakan baju baru pemberian Mama, lengkap dengan kerudungnya. Aku benar-benar akan tampil cantik kali ini. Sesampainya di sekolah, aku melihat Ginda sudah menungguku. Ginda memakai long dress panjang berwarna dominan ungu dan manset berwarna putih, sedangkan kepalanya hanya ditutupi selendang panjang berwarna ungu muda. Aku tersenyum pada Ginda yang sudah menyambutku dari jauh dengan lambaian. “Mau kemana, Jeng? Kenapa ungu, sih?” tanyaku ketika sampai di sampingnya. “Janda, ih!” “Biarin aja.” jawab Ginda cuek. “Eh, lo baju baru nih, Neng? Ijoijo gini, udah kayak ketupat.” canda Ginda padaku. “Ih, apaan sih, Nda. Ngejek aja lo. Ini tuh baru dibeliin Mama tau.” “Cie, cuma ngabuburit di sekolah aja pake baju baru. Biar dilihat ma Farhan, ya?” Acara itu dimulai begitu saja. Dibuka dengan lagu-lagu Islami yang ceria, lalu ada acara membaca puisi bertemakan agama, mengaji dan kegiatan lainnya juga. Tiba-tiba saja ketika aku sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman 196


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

menunggu Ginda yang ke toilet, seorang cowok datang dan duduk di sampingku. “Hai, Edis. Sendirian aja, Ginda mana?” “Eh, Farhan.” ucapku gelagapan. “Ehm, Ginda lagi ke toilet. Kenapa, nyariin dia?” “Ya enggak lah. Kan ada lo, ngapain nyari Ginda.” candanya. “Hm, seneng ya, ada acara-acara beginian dari sekolah?” “Iya sih. Tapi....” “Lo cantik deh, Dis.” Potong Farhan menghentikan kalimatku yang belum rampung. “Pake kerudung gini, lo tambah cantik tau. Gue suka liatnya.” “Ah, iyatah? Masa, perasaan gue aneh deh?” “Bener kok. Lo tambah cantik pake kerudung gini. Gue seneng lihatnya. Sisi kewanitaan lo tambah keliatan sempurna dan lo kelihatan makin dewasa. Cocok kok.” “Is, Farhan... bohong aja.” “Gak bohong kok, kalo bohong, puasa gue batal dong sekarang ini?” ia tersenyum. “Mungkin menurut lo aneh, karena kan ini pertama kalinya mungkin... tapi kalo menurut gue lo tambah cantik kok. Tapi jangan abis ini lo langsung mutusin pake kerudung ya?” “Lho kenapa? Kalo lo suka seharusnya lo seneng dong kalo emang gue pake kerudung permanen nantinya.” “Iya. Tapi pake kerudung itu bukan main-main, harus dari hati. Dan kalo lo pake kerudung lo harus tanggung jawab tuh. Harus jaga sikap, omongan, pikiran dan yang lainnya. Gak asal aja.” ceramah Farhan panjang lebar. “Seneng deh denger ceramahnya Pak Ustadz Farhan. Makasi ya, Pak.” candaku sambil tersenyum menatap wajahnya. “Hehe, bisa aja sih, Dis.” “Hm, acara ngabuburit ini emang bener-bener sehat, ya?” 197


Ngabuburit | Nofita Chandra

ucapku sambil tersenyum menerawang ke langit sore yang mulai kemerahan. “Sehat buat pengetahuan, sehat buat puasanya, sehat juga buat hati gue.� ucapku sambil terkikik bahagia. n

198


Repro: OpenArt

199


Pintu Lebaran | Ilham Yusardi

u

Pintu Lebaran Ilham Yusardi

o Published Š Republika, Minggu 12 Agustus 2012

Ilham Yusardi, lahir di Padang, 28 April 1982. Pernah belajar di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media lokal dan nasional. 200


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

A

YAHKU tidak pernah menginjakkan kaki ke Rumah Gadang, rumah mertuanya. Maklum saja, ayah tidak dianggap sebagai mantu oleh Uwo, nenekku. Konon katanya, pernikahan ibuku dengan ayah tidak direstui Uwo. Ayah tidak mempersoalkan itu. Walau tidak dianggap sebagai mantu, atau sebagai bagian dari keluarga Uwo, ayah tetap menyuruhku untuk memperhatikan Uwo. Ayah selalu menyarankan supaya aku selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi Uwo yang tinggal sendirian di Rumah Gadang. Ibuku adalah Anak Uwo yang tertua. Anak-anak Uwo yang lain kini sudah pergi merantau. Sebelas orang anak Uwo, sepuluh orang paman dan bibiku itu hidup jauh dari kampung halaman. Paman Jamil, hidup dengan istrinya di Palembang. Lasmina sudah sepuluh tahun tinggal di Bogor. Sahida sudah beranak-pinak di Pekanbaru. Syaiful dan Ratnawilis mencari nafkah di Dumai. Zubaidah membuka usaha rumah makan di Tangerang, karena sukses ia mengajak adiknya Marjohan untuk membuka cabang rumah makannya. Dan kini Marjohan sudah berjodoh pula dengan perempuan setempat. Sedangkan tiga lainnya; Habibah, Aminah dan Syawaluddin sudah jadi orang Jakarta pula. Yang masih ada di sekitaran Uwo hanyalah Kamal dan ibuku. Paman Kamal, hanya merantau dekat, ke kota Payakumbuh. Ia bekerja sebagai pegawai pemerintah di kota itu. Sesekali ia datang ke Padang untuk mengunjungi Uwo. Jadi, yang masih ada di kota Padang hanyalah ibuku. Meski menetap di Padang, keluarga kami tidak menghuni Rumah Gadang. Sudah dua puluh lima tahun umurku. Belum sekalipun melihat ayah menjejakkan kakinya di Rumah Gadang. Bahkan, tidak sekalipun juga aku menemukan ayah bertutur 201


Pintu Lebaran | Ilham Yusardi

sapa dengan Uwo, nenek saya itu. Kala aku masih kanak-kanak, kalau ada acara semacam kenduri di Rumah Gadang, ayah tidak pernah ikut serta. Cuma ibu, aku dan kakak perempuanku yang datang. Sedangkan ayah tetap menunggui rumah kami. Rumah kami hanyalah rumah kecil yang kami kontrak dari orang lain di kampung itu. Jaraknya sekitar satu kilo meter dari Rumah Gadang Uwo. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Aku sebagaimana juga kakakku tidak pernah mengorekngorek cerita kepada ibu kenapa ayah tidak mau menempuh Rumah Gadang. Ibu sendiri tidak pernah pula meminta atau memberi aba-aba mengajak ayah untuk beperg ian ke Rumah Gadang. Paling-paling, di saat kami akan berangkat ke rumah Uwo itu, ayah akan menanyakan apakah kami akan menginap di Rumah Gadang atau kembali pulang ke rumah kontrakan. Meski tidak pernah menanyakan langsung pada ibu atau kepada ayah, cerita musabab pertikaian antara Uwo dengan Ayah, aku dapati juga ketika sudah beranjak bujang. Berbagai potongan cerita kudengar dari adik-adik ibu yang lain. Pamanku yang paling bungsu, Kamal pernah membeberkan bahwa nenek Uwo sangat tidak suka dengan ayah. Katanya, ayahku masa mudanya tersohor di kampung itu sebagai preman. “Ayahmu itu dulunya tukang mabuk, suka berjudi dan tidak bekerja. Bahkan ketika menikahi ibumu, dia sudah berstatus duda pula,� tutur Paman Kamal suatu kali. Melengkapi serpihan kisah itu, bibi Lasmina menuturkan bahwa sebelum menikah dengan ibuku, ayah sudah menikah dengan perempuan kampung tetangga yang kemudian aku kenali bernama Baidar. Meski berakhir dengan perceraian, ayah dan Baidar melahirkan seorang anak yang kini menjadi kakak tiriku, Amin. Hubungan 202


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

keluargaku dengan keluarga ibu Baidar itu terjalin dengan baik hingga kini. Menurut cerita Paman Jamil, karena tidak rela anaknya dinikahi oleh seorang preman, Uwo mengutuk ibu dan pernikahan mereka. Uwo sangat marah pada ibu. Bahkan untuk menggagalkan pernikahan ibu, Uwo menyuruh paman Jamil untuk mencari ibu yang kabur bersama ayah. Paman Jamil yang semasa muda berteman baik dengan ayah berhasil menemukan ayah di Pariaman, kota kecil di utara Padang. Beberapa hari setelah menikah ibu tinggal di rumah temannya di Pariaman. Tapi Paman Jamil berhasil menemukan mereka. Paman Jamil mengancamkan parang ke leher ayah. Tapi ibu berlari menghadangkan lehernya ke parang Jamil. Mencoba menepis. “Jamil, sampaikan pada Mak, aku ikhlas dibuang oleh Mak. Tapi jangan pernah berusaha melerai pernikahan kami. Ingat Jamil, kau hanya adikku. Kau tidak pantas mengatur diriku.� Begitu keras hati ibu untuk mempertahankan cinta mereka. Lebih dari lima tahun setelah pernikahan itu, ibu tidak pernah menginjakkan kaki ke Rumah Gadang. Ibu dan ayah telah dikaruniai seorang anak putri, Mila, kakakku. Mereka sudah kembali ke kampung dan menetap di rumah kontrakan. Meski tinggal di kampung yang sama, ibu dan Uwo tidak pernah bertegur sapa. Keduanya seperti saling membiarkan kehidupan masing-masing. Saat itu Uwo masih tinggal dengan adik-adik ibu yang belum menikah. Perubahan baru terjadi ketika Abak, kakek kami, meninggal. Mungkin saat itu aku sudah berumur tiga tahun. Ketika mayat Abak terbujur di ruang tengah Rumah Gadang, semua anak-anak Uwo saling rangkul, tumpah meratapratap di hadapan jasad Abak. Sejak itu pula untuk pertama kalinya ibu dan aku menginjakkan kaki di Rumah Gadang yang sudah tua itu. Sejak itu pula Uwo kembali bertutur 203


Pintu Lebaran | Ilham Yusardi

sapa dengan ibu. Sejak itu pula kami menyapa nenek kami dengan sapaan Uwo. Meski sudah bertutur sapa, hubungan ibu dengan Uwo sekadar berbaikan saja. Uwo tidak pernah menawarkan atau meminta ibu untuk pulang dan tinggal di Rumah Gadang. Padahal tak lama setelah itu Rumah Gadang sudah kosong melompong, karena semua anak Uwo, adik-adik ibu sudah pergi merantau. Sebagai anak perempuan tertua, ibu tidak pernah pula mengambil haknya untuk menghuni Rumah Gadang. Maka, Uwo hanyak tinggal sendirian di rumah yang terlalu besar untuk badan seorang. Kadang-kadang, Uwo mengajak Yuli, anak sepupunya yang gadis lapuk itu untuk bermalam, menemaninya tidur. DALAM gulungan tahun demi tahun yang terasa singkat, hingga kini kondisi seper ti itu masih terus berjalan. Kelihatannya baik bagi Uwo maupun ibu semua berjalan normal. Meski adik-adik ibu sudah bertegur sapa dengan ayah, menandai bahwa mereka sudah menerima ayah sebagai ipar mereka. Paman Jamil yang dulu mengancam Ayah dengan parang, selalu datang ke rumah untuk menemui ibu dan berbincang dengan ayah bila ia pulang dari Palembang. Bila melihat perbincangan Paman Jamil dengan Ayah, aku seakan menemukan dua teman lama yang saling akrab, bukan dua orang ipar-besan yang pernah saling ancam. Begitu pula dengan saudara ibu yang lainnya. Mereka sudah menerima ibu, Ayah atau kami sebagai sebuah keluarga besar. Mereka sering saling bertukar kabar melalui telepon. Tak jarang di awal tahun ajaran sekolah, paman dan bibi itu mengirim uang untuk membantu biaya sekolah kami. Entah kenapa semua itu. Mungkin di antara anakanak Uwo, hanya ibu yang hidup pas-pasan. Tinggal di 204


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

rumah kontrakan. Mungkin ditambah pula melihat ayah hanya bekerja sebagai kuli bangunan. KIAN hari aku lihat Uwo sudah semakin tua. Meski masih kuat untuk berjalan ke mesjid, tenaga Uwo sudah semakin berkurang. Di hari-hari sebelumnya Uwo masih sanggup untuk untuk membereskan kebun, memangkas rerumputan atau menyapu daun-daun mahoni yang gugur di pekarangan Rumah Gadang. Namun kemudian Uwo sering memanggil orang upahan. Kadang bila tepat waktunya, tak jarang aku melakukan pekerjaan itu. Aku mengambil cangkul atau sapu lidi untuk membersihkan halaman Rumah Gadang. Tapi Uwo yang tahu bahwa aku yang bekerja membereskan pekarangan rumahnya, selalu memberiku uang ketika mau pulang. “Ini uang bukan upahmu menyapu rumah. Simpanlah uang ini untukmu, Indra. Uwo ingin kamu melanjutkan belajar hingga kuliah. Nanti kalau sudah tamat, carilah pekerjaan yang baik yang tidak memerlukan tenaga hingga berpeluh-peluh seperti ayahmu,� suatu kali Uwo menyerahkan begitu banyak uangnya kepadaku. Siapa yang tidak senang mendapat uang. Lagi pula halal dan banyak. Tapi kalimat terakhir Uwo yang menyentil ayah, membuatku sedikit berpikir ulang. Mengapa Uwo sampai perlu menyebut ayah saat setiap kali memberikan sesuatu? Ah, tak ada yang perlu diperpanjang-rentang ucapan Uwo itu. Bukankah ia sudah terlalu tua. UWO terjatuh di tangga Rumah Gadang. Uwo sempat pingsan hingga dilarikan ke rumah sakit. Cerita dokter, Uwo tidak mengalami cedera apa pun. Hanya saja penyakit sesak nafas mulai kambuh dan bertambah akut. Penyakit itu pula membuat Uwo agak sering terbatuk-batuk. 205


Pintu Lebaran | Ilham Yusardi

“Pagi itu aku hendak pergi ke surau untuk sembahyang subuh. Lampu beranda tidak bisa hidup. Pandangan mataku tidak menemukan anak tangga untuk berpijak, aku rabaraba saja dengan kaki. Malang…. Huukh! Hukh!Hukkhh!” dengan suara yang teramat susah untuk didengungkannya, Uwo menceritakan kejadian itu pada setiap sanak keluarga yang mengunjunginya. Sudah seminggu Uwo di rumah sakit. Mendengar Uwo dirawat, satu persatu anak-anak Uwo di rantau ada yang pulang. Dengan kehadiran anak-anak di samping ranjang tidurnya sudah terlihat ringan badannya. “Aku ingin pulang. Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Aku sudah sembuh,” ujar Uwo kepada anak-anaknya. Melihat Uwo tiap sebentar merengek untuk keluar dari rumah sakit, paman Kamal pun mengurus kepulangan Uwo. Atas izin dokter, Uwo diperbolehkan untuk menjalani rawat jalan saja. Cek kesehatan bila obat habis. Setelah keluar dari rumah sakit dan kembali di Rumah Gadang, adik-adik ibu telah kembali pula ke halaman rantaunya masing-masing. Alasan bahwa mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan berlama-lama tentu saja masuk akal untuk diterima Uwo. Mereka, adik-adik ibu itu dengan senang hati, dan tentu dengan kebanggaan lain, meninggalkan begitu banyak uang untuk Uwo. BULAN Ramadhan sudah di penghujung. Malam selepas berbuka rumah kontrakan kami dikejutkan dengan kedatangan Yuli. Tergesa-gesa dan separuh panik ia menyeruak ke hadapan kami. “Uwon pingsan. Tadi Uwo memanggil-manggil nama Kak Masna,” kata Yuli rusuh tak karuan. “Di mana? Di mana Mak,” jawab ibu tergerus cemas pula. “Di Rumah Gadang.” 206


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Maka kami, kecuali ayah, bersigegas berkemas. Seperti yang teralah, ayah hanya berdiam diri saja di rumah. Tapi sebelum kami pergi, ibu dan ayah tampak bicara empat mata di kamar. Raut muka ayah tampaknya menyimpan awan hitam yang hendak menumpahkan hujan. Ibu jalan-berlari tergesa hendak sampai di hadapan Uwo. Berkali-kali ia memperbaiki kain sarung yang tiap sebentar longgar diayun langkah. Ia mengayuh langkahnya lebih cepat. Beberapa sanak kerabat kaum Uwo sudah mengelilingi ranjang di mana Uwo terbaring. Meski sudah siuman, nafas Uwo tampak berat. Mata kelabunya yang separuh terbuka seperti hendak menangkap bayangan seseorang. “Mak,” sapa ibu merangkul tangan Uwo yang dingin. “Masna…,” tangan Uwo tergerak merambati wajah Ibu, “usah kau membuat jarak lagi padaku. Mendekatlah. Maafkan aku,” ujar Uwo tiada membuat orang lain paham betul percakapan itu. Ibu semakin ringkuh dalam tangisnya yang lari ke dalam. “Tidak, tidak ada yang salah dari Mak. Akulah yang pernah meninggalkan Mak. Maafkan aku, Mak,” wajah ibu lengket di wajah Uwo. Ada dua sungai yang bertemu di muara yang sama. Sungai Uwo dan sungai Ibu. Saya serupa tongkang yang terhenyak di tepi muara itu. “Indra,” Uwo menggapai-gapai dengan tangannya. Mendapati namaku dipanggil aku segera lebih rapat ke Uwo. Ibu memberiku ruang untuk merapatkan telinga ke wajah Uwo. Perempuan yang kukenali dan kupahami sebagai nenekku setelah berumur lima tahun itu menarik kepalaku lebih lekat. Ia berbisik lirih sekali di telingaku. Aku tersentak. Aku memalingkan wajah. Semua orang menatapku seakan ingin menanyakan apa yang barusan diucapkan Uwo. Tidak. Aku tidak akan membeberkan apa yang barusan dieja oleh 207


Pintu Lebaran | Ilham Yusardi

mulut Uwo di telingaku. Aku meloncat dari bibir ranjang. Orang-orang saling bersitatap dan mengangkat bahu atau alis mata. Aku bergegas saja menuruni tangga rumah gadang dan meluncur dengan motor. Tidak dalam waktu yang lama aku sudah kembali ke Rumah Gadang. Aku tidak sendirian. Aku menjemput amanah Uwo. Ayah menyeru salam untuk pertama kalinya di pintu Rumah Gadang. Orang orang-orang terhenyak. Sejenak tertegun sebelum terlupa membalas kalimat salam. Lalu terdengar gemuruh saling berbisik lindap. Aku mengg iring Ayah ke pembaringan Uwo. Aku merapikan rambut yang jatuh menutup daun telinga Uwo. Dan berbisik. Mata Uwo membuka lamban. Bola matanya yang serupa kaca berdebu bergerak kaku mencari bayang sebuah wajah. Ia mendapati Ayahku yang berdiri rapat di samping ibu. Ayah menangkap mata itu. Ayah meraih tangan kikuk Uwo dengan hati-hati. Uwo merangkul kepala Ayah begitu lekat sehingga tak ada lagi jarak. Aku tersihir. Seumur hidup kali pertama aku melihat mata ayah menjelma sungai. Adat tiga sungai yang bermuara di tepi pembaringan itu. Bahkan, begitu lebatnya hujan di hulu sungai Ayah, membuat luapan yang menggenang di muara. Entah siapa yang memulai, lalu suara ratap yang bertindihan menyeruak memenuhi ruang itu. Ibu tidak sanggup menahan geletar dalam dirinya ketika nadi dan otot Uwo menegang kaku di rangkulan Ayah. Ayah seperti tiada sanggup melepaskan pagutan jemari Uwo yang dingin membeku di tangannya. Kelopak mata Uwo bagai pintu yang terbuka lebar, dan tak ingin tertutup lagi. Beberapa kerabat silih berganti mengucap inalillah‌, bersahutsahutan. 208


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

MALAM lebaran. Tak ada bulan di atas kuburan. Begitu juga tidak ada percakapan yang riuh di ruang tengah Rumah Gadang. Para takziah dan adik-daik ibu yang lengkap membaca ayat demi ayat ganti berganti dan saling menyimak. Ayah duduk tersandar tak jauh dari dua daun pintu yang dibuka lebar-lebar. Pandangan Ayah tidak jatuh di barisan huruf hijaiyah di pangkuannya, melainkan jauh ke luar menerabas pintu Rumah Gadang. Aku coba menerka, itulah pintu yang dua puluh lima tahun tiada lazim bagi ayah. Aku tidak tahu, apakah itu pintu yang mewakili diri ayah atau Uwo? Entahlah. Di luar, lamat-lamat suara takbiran beterbangan dan mendekat, menyelusup lirih mengalir ke ruangan itu. Barangkali juga ke dalam diri Ayah. n . Payakumbuh, 2012

209


Repro: A. Andrew Gonzalez | OpenArt

210


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Hujan Rafif Amir

o Published Š Radar Surabaya, Minggu 12 Agustus 2012

u 211


Hujan | Rafif Amir

Tahukah kau, dimanakah rembulan saat matahari perkasa dengan sinarnya yang memanggang bumi? Ia sedang mengintipmu dari balik punggung matahari, menunggumu menyelesaikan amanah kehidupan. Dan ketika malam datang, rembulan akan menghiburmu: mengusap ubun-ubunmu sambil menyanyikan tembang mimpi.

T

AP I itu tak pernah lag i terjadi. Hujan telah menggantinya dengan kemusnahan. Banjir bertubitubi. Dan yang paling memerihkan hati, hujan merenggut dua nyawa yang paling kusayangi. SEMUA bermula di pagi hari. “Kemana hendak kau pergi, Asih?” “Melihat jembatan putus.” Jika saja tak mengkhawatirkan Banyu, anak lelaki kami yang berusia empat minggu, biasanya pun tak pernah kumelarang-larang Asih pergi kemanapun ia suka. “Di rumah sajalah. Kasihan Banyu. Hanya jembatan putus saja, buat apa ditengok.” “Sebentar saja kok, Mas.” Inilah yang tak pernah berubah dari Asih. Sifat keras kepalanya. Jika sudah ada kemauan, pantang untuk dicegah barang sesiapapun. Pagi itu hujan memang telah reda, meski tak ada matahari di langit sana. Sudah hampir sebulan lamanya desa kami gulita, seperti rumah pengap tak berjendela. Jika tak ada hujan, mendung yang datang. Ya, sebulan lalu. Aku hapal karena hujan pertama itu bersamaan dengan lahirnya Banyu. Saat istriku mengeluh perutnya sakit karena hendak melahirkan, hujan turun sangat lebat. Bunyi petir menggelegar. Aku kebingungan 212


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

sendiri hendak memanggil bidan desa. Jaraknya dari rumah cukup lumayan, hampir tujuh kilo. Tak mungkin aku naik becak ke sana. Maka kuputuskan meminjam motor Arman, tetanggaku. Tak kupedulikan lag i jalan yang licin dan tubuhku yang basah kuyup. Di benakku, hanya keselamatan Asih dan calon bayi kami. Bidan sudah datang, dan tak banyak cakap langsung menyelenggarakan persalinan. Tapi apa daya, ternyata ia tak bisa menolong. “harus dioperasi, Pak, tekanan darahnya tinggi,” katanya. Aku langsung lemas membayangkan biaya operasi yang tak sedikit. Tapi demi Asih dan anak yang dikandungnya, apapun akan kulakukan. Malam itu juga kularikan Asih ke rumah sakit. “Syukurlah, sedikit saja terlambat istri Bapak bisa tak tertolong,” kata dokter waktu itu sambil tersenyum padaku. Aku bergidik ngeri, sambil tak henti-henti memanjatkan syukur pada Tuhan. “Selamat! Bayi Bapak laki-laki,” lanjutnya. Lengkap sudah kebahagiaanku. Anakku laki-laki, seperti citacitaku, kelak aku ingin ia menjadi pemimpin negeri ini. Sesuai keinginan Asih yang Jawa, akhirnya anak kami yang masih merah itu kami beri nama Banyu, artinya Air. Kata Asih nama itu sebagai perwujudan syukur yang sangat pada Yang Kuasa karena Banyu lahir di saat hujan pertama mengguyur desa kami. Hujan yang sudah lama kami nanti setelah kemarau yang membuat sawah kami tak lagi produktif menghasilkan padi. Sebenarnya aku juga sudah menyiapkan nama yang tak kalah bagus (setidaknya menurutku), Akmal Firdaus. Tapi urung kuutarakan pada Asih, karena aku tahu Asih sangat ingin memberinya nama Banyu. “Kok malah bengong. Tak berangkat dulu aku.” Kuikuti langkah Asih yang semakin jauh.

213


Hujan | Rafif Amir

TAHUKAH kau, bahwa hujan yang tak pernah usai seringkali membuatmu enggan keluar. Bahkan terkadang anak-anakmu meliburkan diri ke sekolah, atau memilih berkecibak ria diantara deru hujan dan air yang menggenang beberapa senti dari tapak kaki mereka. Hujan membuatmu malas beraktifitas, dan lebih dari itu semua, padi yang telah menguning dan hendak kau panen kandas direndam banjir. Setelah Asih pergi dari rumah pagi itu, barangkali ia tak kembali lagi untuk selamanya. Hujan telah membunuhnya, juga Banyu anakku. Aku tak tahu apa yang hendak ia tuju dengan melihat jembatan putus itu. Kata beberapa warga, sambil menggendong Banyu, Asih bersama kerumunan warga berdiri di sisi jembatan yang tak ikut putus, tapi beberapa saat kemudian ambruk. Asih dan anakku Banyu termasuk yang naas. Tentu saja mereka tak bisa berenang ketika harus terjatuh dalam sungai maut itu. Asih dan Banyu tergerus arus, hilang entah kemana. Berhari-hari, berbulan, tak kunjung ditemukan. Maka orang-orang bersepakat membuat simpulan: Asih dan Banyu meninggal. Maka sejak itu, kuputuskan untuk membenci hujan. Bagiku, hujanlah sumber malapetaka itu. Hujan yang menyebabkan banjir, lalu membuat jembatan satu-satunya di desa kami terputus sehingga membuat Asih tertarik untuk melihatnya. Entah, barangkali juga malaikat maut sudah menunggu di sana, memanggil-manggil Asih dan Banyu. Oh, tidak! Mulai saat ini aku akan memanggil anakku Akmal. Akmal Firdaus. LALU rembulan, dimanakah ia saat malam hanya gelap tanpa jeda. Betapa lemah ia saat bertatap muka dengan awan. Awan yang mengeram hujan, yang kubenci hingga ke sumsum tulang. 214


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Tahukah kau, sejak rembulan tiada, aku dan Asih belum sempat menghabiskan malam berdua. Malam-malam kami untuk Akmal, untuk bayi yang kami rindu hingga jerih sepuluh tahun lamanya. Lamat-lamat masih kudengar deritanya. Seperti diputar ulang. Terngiang di telinga. “Mas, kapan kita bisa menimang bayi?� Meski keras kepala, hatinya halus bak sutra. Tapi aku tahu bukan hanya karena itu ia menderita. Gunjingan tetangga tentang aku yang tak lelaki, atau rahim Asih yang tandus, lebih memerihkan hati. Bukan tak mau periksa, pekerjaanku sebagai tukang becak yang lebih sering pulang dengan pecahan-pecahan rupiah yang tak seberapa, lalu sepetak sawah yang diurus berdua yang tak menghasilkan apa-apa karena kemarau yang betah berlama-lama, rasanya sudah cukup menjadi jawaban mengapa kami lebih memilih bersabar. Tapi Tuhan menjawab kesabaran kami dengan hujan yang tak habis-habis, merenggut dua nyawa yang aku kasihi. Inikah keadilan itu? Aku tak lagi percaya Ia Maha Adil karena nyata-nyatanya ia membalas kebaikan dengan hukuman. Yang kami minta hanya air yang cukup untuk mengairi sawah, Ia malah mengirimi kami air bah. HUJAN terus menggerus tanah, menciptakan longsor, bah, kematian-kematian baru, menenggelamkan rumahrumah, menyulap sawah menjadi sungai, dan kehancuran. Aku sudah peduli dengan itu semua. Aku hanya memikirkan Akmal. Kucium popoknya, kubersihkan tempat tidurnya yang kecil mungil pemberian Arman. Tiba-tiba rumahku diketok seseorang. Cukup keras. Malam-malam begini, kupikir siapapun ia tentu bukan or215


Hujan | Rafif Amir

ang baik-baik. Dicekam penasaran, kuputuskan membuka pintu. Aku tak percaya. Aku sangat mengenal sosok di depanku meski dengan pakaian acak-acakan dan wajah yang tak lagi segar, kuyu dan layu. “Asih?” sudah tiga bulan. Aku tak yakin ia benar-benar Asih. Ia hanya mengangguk lalu rubuh ke pangkuanku. Selanjutnya hanya kudengar isak. Kutunggu beberapa jenak, hingga ia mulai membuka suara. “Mas..” suaranya begitu lirih, “maafkan aku..” Aku tak kuasa menahan air panas yang menggenang di mata, tapi kukuatkan juga agar tak larut dalam suasana duka. “Kau tak apa. Asih? Baik-baik saja kah?” tanyaku. Sengaja aku tak bertanya tentang Akmal. Aku takut Asih akan semakin merasa bersalah jika mengingatnya. Meski tentu saja, sebenarnya aku berharap-harap cemas Akmal juga selamat. Asih terdiam. Ia menatapku dengan mata berkaca. Digenggamnya tanganku erat, seolah hendak memberikan kekuatan. Bibirnya bergetar. Kristal di matanya telah pecah. Aku tak sanggup menatapnya lama. “Banyu meninggal, Mas” seperti disetrum halilintar aku mendengarnya. Meski sudah kusiapkan diri untuk hal terburuk, nyatanya aku masih seperti tak percaya juga. Asih pun bercerita. Tentang pengembaraannya yang panjang. Tentang perjuangannya kembali ke rumah, tanpa Akmal. Ketika sadar ia selamat, satu-satunya yang ia cari pertama kali adalah jasad Akmal. Ia menemukan Akmal di sela bebatuan sungai, jauh dari pemukiman penduduk. Akmal tak lagi bernyawa. “Aku sendiri yang menguburnya, Mas... di tengah malam 216


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dan hujan.” Isak Asih bertambah panjang. Hatiku kembali diterkam perih. Mendengar kata “Hujan” seperti hendak memuntahkan kesumat yang mendarah daging. “Sudahlah Asih.” Aku mencoba menghibur meski tak yakin diriku sendiri terhibur. Melihat Asih selamat sebenarnya sedikit membuatku gembira, meski pada akhirnya kegembiraan itu tertutupi oleh kabar duka yang dibawa Asih. Bagaimanapun, sulit rasanya kehilangan Akmal. BEGITULAH, hujan menjadi musuhku. Hingga ketika hujan telah reda dan warna langit kembali ceria, aku dan Asih merayakannya dengan ritual cinta, berharap Akmal baru akan segera hadir memenuhi gubuk tua ini. Sambil mencium pipiku, Asih bertanya, “siapa nama anak kita nanti, Mas?” “Hendak kau beri nama siapa dia?” aku balik bertanya, sekedar hendak mengetahui usulnya. “Mas saja yang memberinya nama. Jika perempuan?” “Rembulan,” jawabku asal. “Jika laki-laki?” “Kuberikan ia nama Matahari. Ya, Matahari. Agar ia bisa mengalahkan hujan,” kataku sambil tertawa. Kulihat senyum Asih membuat lesung kecil di kedua pipinya. n

217


Repro: OpenArt

218


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Lelaki Reinkarnasi Dessy Wahyuni

o Published Š Riau Pos, Minggu 12 Agustus 2012

Dessy Wahyuni, Adalah pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau. Menulis cerpen dan esai yang dimuat di beberapa media seperti Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan dan yang lainnya. Bermastautin di Pekanbaru. 219


Lelaki Reinkarnasi | Dessy Wahyuni

A

KU TERJEBAK dalam kostum badut yang kukenakan. Di tengah keramaian yang hiruk-pikuk aku merasa sepi. Hening menggenggamku. Tidak ada pilihan selain harus bersembunyi di balik kostum ini. Gelap itu telah merenggut seluruh terangku. Tidak ada yang tersisa. Sekalipun itu rongga asa. Hanya nista. Hanya hampa. Hanya mampu berdiam dalam cekam. Sebagai objek wisata, Jam Gadang dengan pelataran yang dijadikan taman di sekitar menara jam tersebut, mempersilakan siapa saja untuk berinteraksi di sana. Tidak peduli hari kerja maupun hari libur, Jam Gadang selalu ramai pengunjung. Turis lokal ataupun asing mengambil tempat setiap saat. Ada yang duduk-duduk menghabiskan waktu di taman itu. Yang berfoto dengan latar Jam Gadang tidak pernah ketinggalan. Tak jarang pula para lelaki menunggui keluarganya yang berbelanja di dalam pasar sembari melahap koran hingga terkantuk-kantuk, sebab disapa angin yang sepoi. Anak-anak berlarian. Para pejalan kaki hilir-mudik. Pedagang kaki lima pun turut serta. Belakangan ini berbagai badut karakter pun ikut andil meramaikan pelataran Jam Gadang. Siang dan juga malam. Jam Gadang yang fenomenal ini dijadikan sebagai pusat penanda atau markah tanah Kota Bukittingi. Simbol khas Sumatera Barat yang telah berusia puluhan tahun ini pun memiliki cerita yang unik. Masyarakat Minangkabau menamai bangunan tersebut dengan istilah Jam Gadang karena memang memiliki jam yang gadang atau besar di puncak menaranya. Di pelataran menara yang dibangun pada 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazid Sutan Gigi Ameh inilah aku bertarung hidup. Bertahan di tengah gelap yang tak mengenal terang lagi. Sejak peristiwa dua tahun lalu saat terang telah direnggut dariku. Hari-hariku kuhabiskan dengan menyuruk di dalam 220


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

tubuh SpongeBob ini. Dari pagi hingga tengah malam. Spons penyerap berwarna kuning dan berlubang ini menjadi sahabat setia yang selalu menemani. Hanya dia yang bisa mendengar aku tertawa, mendengar aku menangis, atau bahkan merintih. Dia mengerti benar tentang aku. Aku yang dulu pernah memiliki hidup yang cerlang. Penuh gemintang. Selalu sumringah. Semua orang berkata bahwa aku adalah perempuan ceria yang paling bahagia. Hingga peristiwa jahanam itu tiba. Merampas dengan paksa segala rasa. “Kau aman bersamaku,” katanya suatu ketika, tatkala dipayungi terik matahari yang seharusnya menggigit. “Pasti,” gumamku seraya bergelung di perutnya yang semestinya pengap miskin udara. “Tak ada yang bisa menyakitimu di dalam situ.” Dia kembali meyakinkanku di suatu ketika lainnya. “Pasti.” Aku semakin meringkuk membulat seperti bola di dalam dia. PEREMPUAN itu adikku. Adik tiriku lebih tepatnya. Anak dari istri bapakku. Bapak dan istrinya itu menikah dua tahun yang lalu. Janda dan duda yang kasmaran. Dan perempuan itu juga membuatku kasmaran. Sialnya aku, dia tidak punya rasa yang sama sepertiku. Seminggu mereka hijrah ke rumah bapakku, perempuan itu semakin menggelitik rasaku. Rasa dan emosi membaurku pada nafsu. Tapi ia selalu menutup pintu. Membuatku kalap bagai pemburu. Menerjang menghengkang bagai hantu yang tak bermalu. Hingga ia takluk di hadapku. Dan akhirnya menjadi canduku. “IBU…” rintihku. “Aku sakit, Ibu, aku perih.” Tapi ibu yang kasmaran pura-pura tak mendengar. Dan ibu yang kasmaran memaksa memicing mata. Sebab ia 221


Lelaki Reinkarnasi | Dessy Wahyuni

takut kehilangan cinta. Cinta dari bapak laki-laki biadab itu. “Minum saja aspirin, sakitmu akan raib seketika,� begitu selalu ibu menyuruhku tiap kali aku merintih perih. Padahal dulu ibu tidak begitu. Selama 20 tahun aku bersamanya, ia adalah wanita hebat yang selalu bisa diandalkan. Sejak ayah meninggal tujuh belas tahun silam, ibu selalu ada untukku, untuk setiap gelak-tawaku, untuk setiap keluh-kesahku. Namun sejak mengenal bapak lakilaki biadab itu, ibu seperti sirna seketika. Laki-laki biadab itu anak semata wayang sepertiku. Lakilaki biadab itu sangat disayang oleh bapaknya. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh kulit busuknya itu. Jika ada yang mencoba mencoleknya, maka bersiaplah ia akan memeroleh petaka. Begitu pun ibuku, wanita yang melahirkan aku. Rela berada dalam kepuraan tidak mengetahui perihku. Tubuhku telah menjadi candu laki-laki biadab itu. Telah lewat tiga purnama aku diperlakukan seperti itu. Dan ibu tahu itu. Bahkan tidak jarang menyaksikan kami berseteru dalam nafsu laki-laki biadab itu. Dan ibu hanya tertunduk lesu, kemudian berlalu. “Ibu, tolong aku!� jeritku suatu waktu. Ibu tergopoh menujuku, dan sekali lagi, ia hanya berlalu. Karena kasmaran yang mengharu biru ibu. Perihku semakin menyembilu. Ngilu. MENJADI badut adalah pilihan terakhirku. Setelah aku memutuskan meninggalkan rumah mewah yang berisi manusia-manusia berhati hantu itu, aku terlunta ke sinisitu. Hingga akhirnya aku terdampar di pelataran menara yang dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen itu. Terlihat banyak badut karakter yang ngamen di sana. 222


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Mulai dari tokoh kartun Winnie the Pooh, Angry Bird, Tazmania, SpongeBob, Barney, bahkan Upin dan Ipin berkeliaran di sana. Mereka mendekati anak-anak dan menggoda dalam bisu. Anak-anak pun terbius. Ada yang takut dan mengintip dari balik rok ibunya, dan tak jarang pula datang mendekat dan bersalaman dengan sang badut. Tentu saja para badut tidak ingin kehilangan momen ini. Mereka bekerja sama dengan juru foto amatir membujuk para orangtua untuk berpose bersama. Sang badut pun mejeng bersama anak-anak itu, si juru foto meng-klik mereka. Untuk itu orangtua harus mengeluarkan sekian rupiah untuk si badut dan sekian rupiah pula buat si juru foto. Bagi yang tidak menggunakan jasa juru foto amatir, tidak dipersoalkan. Mereka tetap boleh menjepret menggunakan kamera pribadi sepuas hati, namun tetap memberikan setoran pada si badut. Kostum badut itu kusewa pada Haji Abas —yang terkenal dengan julukan Juragan Badut. Dia memiliki lebih dari sepuluh kostum. Setiap bulan selalu saja ada kostum baru yang dibawanya, setidaknya satu. Uang setoran kami serahkan setiap tengah malam, tepat pukul dua belas, pada orang suruhan Juragan Badut. Kostum SpongeBob menjadi pilihanku. Sejak pertama kali aku bergabung sebagai penyewa kostum, aku telah jatuh hati pada spons laut yang berkarakter polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun tersebut. Dan mulai saat itu kami pun menyatu. Bahkan tidak ada orang yang berani memakai kostum itu, padahal siapa saja bebas memilih kostum yang dia suka. Siapa cepat, dialah yang dapat. PROFESI badut sebenarnya berusia cukup tua, konon katanya sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Menjadi 223


Lelaki Reinkarnasi | Dessy Wahyuni

badut bukan hanya sekadar menjadi penghibur, tetapi juga sebagai lahan pencari nafkah di jalanan. Boleh dikatakan, para badutlah penjaja hiburan jalanan tertua di dunia. Menjadi badut adalah pilihan terakhirku. Dengan menjadi badut dalam balutan kostum yang unik dan aneh harus memiliki kemampuan memeragakan gerakan-gerakan lucu dan konyol, tanpa melepas sedikit pun kata-kata. Orangorang yang menyaksikan akan tertawa —setidaknya tersenyum tanpa tahu adanya luka yang nganga di balik itu. Seperti aku. Aku perempuan yang bersarang dalam kelam. Semua menjadi hitam. Tak ada lag i terang bersemayam. Hingga aku masuk ke dalammu. Ada sesuatu menerpaku. Seketika aku terhenyak dalam riang yang mendadak. Ada nyaman yang berdetak. Membuatku enggan beranjak. “Saya adalah putra Rook Maker,” katamu memperkenalkan diri. Aku terhenyak. Ingatanku melayang pada papan penjelasan yang terletak di salah satu sisi pagar Jam Gadang. Di sana dijelaskan bahwa jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (sekretaris kota) Fort de Kock (sekarang Bukittinggi) pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Sementara putra Rook Maker adalah orang yang meletakkan batu pertama pada saat pembangunan menara itu. “Ya, kala itu saya berusia enam tahun.” Hanya nganga yang bisa kuperlihatkan. “Kini saya terlahir kembali di sini, sebab saya tak bisa melupakan menara yang ikut membesarkan nama saya. Dalam rongga yang diapit empat buah jam di atas menara itu saya berdiam, sebagai bandul.” Dengan aksen Belanda yang sering kudengar di film-film lama kau menjelaskan 224


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

panjang dan lebar. “Melihatmu dari atas sana membuat saya tergoda menyusup ke dalam kostum ini,” tambahmu. Aku tergugu. Diam dan kaku. Sebagai perempuan yang terlanjur gagu akibat peristiwa busuk itu aku hanya terpaku. “Ayo, tersenyumlah,” pintamu. “Hidup ini terlalu indah untuk kamu lewatkan begitu saja. Berbag ilah!” Kau mendongakkan daguku dan menatap dalam-dalam mataku. Aku kemudian masuk ke dalam mata itu, menyusuri setiap lorongnya, dan membuka setiap celah misterinya. Kutemukan kejujuran di sana. Terlihat sebuah taman yang menjadi impian di salah satu lorong di mata itu. Taman yang tak mengenal gelap. Segala yang ada menyeruakkan benderangnya. Aku terkesiap. Kau adalah lelaki tak berwujud. Kau tak teraba tetapi ada. Dan memiliki rasa. Perlahan kau urai gelapku. Terlihat kini rongga asa yang mulai mencuat ke permukaan. Terangku mengendap-endap menampakkan cahaya. Aku semakin betah bergelung dalam spons penyerap berwarna kuning itu. Spons bercelana kotak yang selalu sumringah menularkan cerianya padaku di dalam sini. Tak terasa olehku terik yang membakar dan angin dingin dalam kelam. Hanya rasa nyaman. Sebab kau, lelakiku, selalu ada membawa asa yang dulu pernah sirna. Aku berdiri, berteduh pada bayang-bayang menara jam setinggi 26 meter itu. Sebenarnya aku tak peduli harus berdiri di mana. Tak lag i kuperlukan tempat teduh untuk berlindung. Semua kulakukan semata karena kau, kekasihku. Aku hanya tak mau kau tersakiti karena ingin melindungiku. Sebab kita sudah berjanji saling mengasihi. Saling berbagi dalam setiap suka dan saling menggamit dalam setiap duka. 225


Lelaki Reinkarnasi | Dessy Wahyuni

“Kau cantik sekali hari ini, aku terpesona.” Kau selalu memulai pagi dengan menerbangkanku. Aku tersipu. Ah, lelaki. Memang tercipta untuk merayu. Tetapi perempuan mau. Di lain pagi, “Kau membuatku enggan berkedip,” sapamu membuatku terhanyut. Kau selalu berhasil mencipta keajaiban. Kau melayangkanku. Pertemuan-pertemuan kita selalu berakhir dengan tebaran aroma cinta di ladang kita. Namun belum kunjung menghasilkan putik yang siap dipetik. “Aku ingin menjadi perempuan yang benar-benar sempurna, Kasih,” kataku sambil terus menyelami lorong matamu. “Sempurna yang bagaimana?” Kau berkerut. “Aku ingin merasakan nikmatnya melahirkan dan membesarkan buah-buah cinta kita,” pintaku. Kau tak nyata, tetapi ada. Aku bisa rasa. Sebab setiap peristiwa memiliki dimensi misterinya sendiri yang tidak akan selalu terjelaskan, betapapun tersedia ribuan kata untuk menarasikannya. Oh, lelaki reinkarnasiku. Kau selalu berhasil membuat gunung rindu di setiap penghujung waktu. Kita selalu bercinta dalam kata yang biru. Sebelum kau kembali ke peraduanmu di tengah malam bisu, kita tak pernah lupa menyemai cinta di ladang rindu. Sehingga menetaslah anakanak kita setiap waktu, dan kita namai mereka hanya dengan kata yang satu. Rahasia. Kita beri nama itu. Sebab katamu, ada banyak arti dalam kata itu.Ya, setiap orang memiliki cara sendiri mengatur gerak rasanya, begitu katamu. n

226


Repro: OpenArt

227


Menebus Mimpi | Samsul

u

Menebus Impian Samsul

o Published Š Riau Pos, Minggu 12 Agustus 2012

Samsul, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Islam Riau (UIR). 228


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

R

INAI-RINAI hujan menyentuh permukaan tanah yang retak oleh jilatan mentari. Lebih dari tiga bulan hujan sembunyi. Wujudnya tak pernah ditampakkan. Seakan ia lenyap ditelan bumi. Mendung yang menjadi sahabat karibnya, juga tak pernah muncul. Siang, malam, selalu ditemani hawa panas yang merebak. Tapi kini, dua sahabat itu kembali. Bak pulang dari rantau. Di tengah cucuran hujan yang deras, aku harus menyelesaikan tugas yang baru kumulai. Rasa dingin yang menusuk perlahan membelit otot-ototku. Kaku. Tanganku bergeming. Bibirku bergerak-gerak tak karuan. Gemeretak gigiku terdengar keras. Mirip bunyi mesin penggiling padi yang sudah uzur. Tangkai dodos1 yang tadinya di tanganku terlepas. Tak mampu lagi tanganku memegang benda yang selalu bermusuhan dengan kelapa sawit itu. Inginku menyelesaikan pekerjaan yang telah dua tahun kugeluti ini, dan kembali ke rumah. Merebahkan ragaku yang telah kuyu. Tapi tanganku seakan merajuk. Seperti seorang anak yang tak diajak ayahnya berlibur ke Bali. Tanganku enggan berdamai dengan dodos. Bahkan ia tak mau menyentuh tangkai dodos itu. Aku tak bisa memaksa. Lagi pula, tenagaku telah disedot oleh hembusan angin yang begitu dingin. Semangatku mengkerut. Akhirnya, kuputuskan untuk pulang ke rumah. Istirahat. Aku tergontai mengayuh sepeda. Meninggalkan kebun sawit yang menjadi tempatku menyambung nafas. Di perjalanan, dadaku seakan ditumbuhi ilalang. Sesak. Mataku sayu. Jalan yang lebar seakan sempit. Aku berhenti di tengah hujan. Tak mampu melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan terlihat cahaya. Perlahan cahaya itu mendekat. Tak lama, suara klakson mobil terdengar dari balik cahaya itu. Mobil itu berhenti di sampingku. Seakan mobil itu ing in mengatakan pada sepeda bututku: hei sepeda reot. Ayo 229


Menebus Mimpi | Samsul

kita adu kecepatan! “Sedang apa kau di tengah hujan ini, Man?” sapa lelaki yang berada di dalam mobil. “Pak Ibas? Tidak ada Pak. Tadi dada saya sakit. Jadi, saya istirahat sebentar.” “O, ya. Sawitnya sudah kaupanen semua?” “Be… belum Pak. Saya mohon izin istirahat dulu Pak. Besok pasti saya lanjutkan.” “Besok katamu? Kaupikir itu sawit nenek moyangmu. Pokoknya sekarang kaukembali ke sana. Dan selesaikan pekerjaanmu! Atau kau mau tiga bulan tidak digaji?” bentak induk semangku itu. “Ba… baik Pak.” Aku memutar arah sepedaku. Rencanaku untuk istirahat di rumah, kini telah hancur. Bagaikan kepingan meteor yang menabrak atmosfer. Sakit di dadaku berbaur dengan bentakan dari induk semangku tadi. Semuanya menyatu. Seakan ingin merobek jantungku. Sakit sekali. Dua tahun sudah aku bekerja pada induk semangku itu, sebagai tukang panen kelapa sawit. Tak terhitung caci-maki yang telah dilontarkannya untukku. Ia sangat angkuh. Lebih angkuh dari ajudan kompeni. Tapi, dialah satu-satunya orang yang mau menerimaku bekerja di kampung ini. Bisa dibilang, orang-orang di kampungku tak banyak yang percaya denganku. Karena aku adalah mantan napi. Dulu, ketika umurku masih tujuh belas tahun, aku mendapat kepercayaan besar dari warga kampung. Mereka memintaku sebagai penjaga masjid. Itu dikarenakan, aku yang tidak pernah alpa ke masjid, dibandingkan dengan kebanyakan orang di kampungku. Bahkan mereka yang mengklaim dirinya ustad, lebih sering salat di rumah ketimbang di masjid. Namun, kepercayaan yang diberikan warga kepadaku hancur; bagaikan kota Nagasaki dan 230


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Hirosima yang luluh lantah akibat bom atom. Aku menggelapkan uang kas mesjid. Itu kulakukan bukan semata-mata ingin mencuri. Tapi aku punya alasan yang kuat. Ibuku sakit keras, dan aku harus membawanya ke rumah sakit. Aku tidak punya biaya sepeser pun. Hingga aku menggunakan uang kas itu untuk mengobati ibuku. Tapi, alasan itu tak mempan di depan hukum dan di depan orang-orang kampungku. Menurut mereka, maling tetaplah maling. Berbeda dengan koruptor, yang dianggap pahlawan katika membuka aib sesamanya. AKU sampai di kebun sawit dengan rasa letih yang telah pasang. Namun, aku harus menyelesaikan tugasku. Kalau tidak, tamatlah riwayat pekerjaanku. Inilah pekerjaan yang bisa kulakukan. Tak ada pilihan lain, jika aku masih mau makan. Mungkin ini adalah hukuman untukku, karena telah membuat ibuku meninggal; setelah tahu kalau aku mengobatinya dengan uang hasil curian. Aku menyesal. Sangat menyesal. Satu per satu buah kelapa sawit yang kupanen berguguran. Mataku sembab. Aku menangis. Meratapi impianku. Impian yang selalu kupelihara di benakku. Tapi, nampaknya impian itu kini tak lebih dari sekedar anganangan kosong. Aku tak mungkin mewujudkannya. Mimpiku yang ingin selalu membawa pena ke mana pun aku pergi, kini seakan pupus ditelan nasibku. Pena yang menjadi lambang seorang penulis. Tampaknya, kini tak lebih dari omong kosong. Buktinya, sekarang ke mana pun aku pergi, bukan pena yang kubawa, melainkan alat untuk memanen kelapa sawit ini. Aku tak sanggup lagi menahan gundukan keletihan ini. Pundakku seakan tengah memikul puluhan ton kelapa sawit. Remuk. Hujan masih belum berhenti. Tiba-tiba 231


Menebus Mimpi | Samsul

penglihatanku buram. Kepalaku seolah-olah dimasukkan ke dalam mesin cuci. Berputar-putar. Seketika itu juga, aku terkapar di atas buah kelapa sawit yang ranum. Pingsan. MALAM mulai merebahkan wujudnya yang pekat. Ia membalut senja yang keemasan. Perlahan cahaya matahari yang memudar, berganti dengan lapisan kelam. Derapderap langkah terdengar pelan di telingaku. Aku mengucekngucek mata. Rasa letih itu masih membalut otot-ototku. Tapi, suasana yang kurasakan sekarang berbeda. Ini bukan kebun sawit. Mana ada plafon di tengah kebun begini, gumamku dalam hati. “Eman, kamu sudah siuman?” Suara itu membuyarkan pikiranku yang masih ling-lung. Aku terperanjak ketika melihat sosok lelaki yang menyapaku. Lelaki ini tak asing lagi bagiku. Tapi kenapa ia bisa ada di sini. Bukankah dia tinggal di Pekanbaru, sejak orang tuanya pindah tugas dua belas tahun yang lalu. Sejak itu, ia tak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampung ini. Lalu kenapa tiba-tiba dia ada di sini. “Kamu masih lemah, Man. Lebih baik istirahat saja dulu!” “Fahmi? Ini benar kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini? Seingatku tadi, aku sedang berada di kebun sawit. Kamu yang ….” Belum sempat aku melemparnya dengan pertanyaan yang penuh rasa heran, ia memotong pertanyaanku dengan jawaban yang seolah telah disiapkannya sejak ia membawaku ke tempat yang masih aneh di mataku ini. “Iya, Man. Aku yang membawamu ke sini. Kamu sekarang di Pekanbaru. Di rumah sakit. Aku sudah dua hari di kampungmu. Tujuanku untuk membeli kebun sawit. Ketika pulang ke Pekanbaru, aku melihat sekerumunan orang di sebuah kebun sawit. Aku berhenti, dan melihatmu tengah 232


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

pingsan. Orang-orang itu menceritakan tentangmu, juga keluargamu. Dan aku putuskan untuk membawamu ke Pekanbaru. Sudah sembilan jam kamu pingsan.” “Nanti, setelah kamu baikan, kita pulang ke rumahku. Kamu tinggal di sana. Dan mulai sekarang lupakan pekerjaanmu,” sambungnya. Aku masih belum mengerti apa yang tengah kuhadapi. Teman lamaku ini muncul ketika aku membutuhkan tempat untuk membagi kegetiran hidupku. Aku tak bisa berkatakata. Hanya sorot mataku yang mampu menjawab ajakan teman lamaku itu. HARI ini, tak ada lagi kelapa sawit. Dodos. Dan sepeda yang hampir sepuluh tahun menemani hari-hariku. Semuanya bermetamorfosis. Mungkin di sini aku akan menebus impian yang telah diculik oleh suramnya masa laluku. Aku akan merangkul impian itu, dan membawanya ke duniaku. Di sini. “Aku masih ingat dengan cita-citamu dua belas tahun yang lalu, Man. Ini kubawakan seperangkat alat tulis dan laptop untukmu. Gunakanlah untuk mewujudkan impianmu, Man.” Lagi-lagi Fahmi membuyarkan lamunanku. “Wah, terima kasih Kawan. Terima kasih.” Bukan main senangnya perasaanku menerima barangbarang ajaib itu. Aku melompat. Bersorak. Seperti Macaca fascicularis yang baru saja mendapatkan setandan Musa acuminata. Tak sabar lagi aku ingin segera menulis. Sudah lama aku tidak menulis. Seingatku, terakhir kali aku menulis ketika membuat artikel dan mengikutkannya pada sebuah lomba tingkat SMA se-Riau, dan aku juara satu. Waktu itu aku kelas tiga SMA. Kuhabiskan hari-hariku di kamar. Membuat beberapa 233


Menebus Mimpi | Samsul

tulisan dengan alat-alat yang diberikan Fahmi kemarin. Walaupun aku sudah lama tidak menulis, tapi tidak ada hambatan yang kuhadapi. EYD, tata bahasa, pembentukan istilah, semuanya masih terekam dibenakku. Begitu juga dengan ide-ide tulisanku. Tak ada yang buntu. Tak sabar, aku ingin mengirimkan tulisanku pada salah satu media cetak di Pekanbaru ini. Siapa tahu, mereka mau memuatnya, gumamku. Hari ini adalah penentuan nasib tulisanku. Karena aku akan mengirimkannya pada media cetak. Pukul 08.00 WIB, aku bergegas mendatang i salah satu kantor media. Kusiapkan tulisan opini terbaikku. Persyaratan untuk sebuah opini sudah lengkap. Mulai dari aktualitasnya, keunikannya, fakta-faktanya, hingga argumen ilmiahnya. Setibanya di sana, aku langsung menuju ruang redaksi. “Permisi Pak. Saya mau menyerahkan tulisan.” “Ya.” Lelaki setengah baya itu dingin menanggapiku. Sama sekali tak bersahabat. “Maaf Pak. Ini opini saya.” “Pendidikan Anda apa?” “Saya tamatan SMA Pak. Enam tahun yang lalu.” “Maaf, media kami tidak menerima tulisan anak ingusan yang masih cetek wawasannya. Silakan Anda bawa pulang tulisannya!” Darahku seakan membeku. Harapanku kini telah dicabikcabik. Badanku panas dingin. Dadaku seakan penyet. Mirip seekor Tribolium castaneum yang diinjak oleh kaki manusia. Ketika mendengar penolakan yang penuh dengan cacian. Aku pulang dengan membawa gundukan kesedihan yang bernaung di hatiku. Lesu. TIGA minggu sudah penolakan itu berlalu. Aku semakin 234


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

rajin membuat tulisan. Tak sengaja, aku melihat pengumuman lomba menulis artikel di koran. Lomba itu tingkat umum. Tanpa membuang waktu, siangnya aku mengantarkan tulisanku ke media yang mengadakan lomba itu. Sungguh, aku tak menghiraukan hadiahnya. Bagiku, hadiah bukan tujuanku. Aku cuma ingin dikenal lewat tulisanku. Itu saja. Hari berikutnya, ketika pemenang lomba itu diumumkan, aku segera membeli koran. Takut habis. Perlahan koran itu kubaca, dan namaku bertengger di peringkat pertama. Aku bersorak-sorak. Seperti seorang arkeolog yang baru saja menemukan fosil langka Thalattosaur; makhluk laut dengan ekor panjang dan memenuhi air dangkal yang hangat pada zaman awal dinosaurus dan menghilang pada akhir periode triassic sekitar 200 juta tahun lalu. Besoknya, aku segera ke ruang redaksi untuk mengambil hadiahnya. Setibanya di sana, aku disambut langsung dengan hangat oleh pemimpin redaksinya. Dadaku kembali bertalu-talu. Hebat. Pemrednya memintaku untuk menulis di medianya. Ia meminta tulisanku dikirim tiga kali seminggu. Luar biasa. Ini diluar dugaanku. Sama sekali ia tak menghiraukan pendidikanku. Mimpi yang dulu kupelihara, kini menunjukkan kejinakannya. Ia benar-benar datang dalam duniaku. Impian itu telah menjadi bagian dari kenyataan hidupku. Aku telah menebusnya dari suramnya masa lalu yang menculik impianku itu. Impian itu bisa menjadi nyata, jika kita menempatkannya pada sisi yang bersebelahan dengan ikhtiar. Bermimpilah! Rangkul ia dalam duniamu. Segera! n Catatan: 1 Alat untuk memetik dan menjolok sawit, berbentuk panjang dan berujung tajam. 235


Repro: Fabian Perez | OpenArt

236


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Lebaran dalam Semangkuk Bakso Kartika Catur Pelita

o Published Š Satelit Post, Minggu 12 Agustus 2012

Kartika Catur Pelita, menulis cerpen, puisi dan novel. Beberapa tulisan pernah dimuat di Yunior, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Sabili, Kartini dan Annida Online. 237


Lebaran dalam Semangkuk Bakso | Kartika Catur Pelita

I

NI pertengahan bulan Ramadan. Berarti dua minggu lagi Lebaran! Sriasih gundah melingkari satu angka di penanggalan yang menggantung di dinding tembok kamar tidurnya yang sempit. Sriasih menghela nafas panjang berulang-ulang. Retina matanya termangu menyapu pandang halaman tangsi yang luas. Pepohonan hijau. Bunga-bunga di taman. Rumput hijau. Kupu-kupu kuning yang beterbangan. Pagi yang segar. Pagi yang cerah. Hangat. Indah. Berbeda dengan perasaan Sriasih saat ini. Berbeda pula dengan keadaan kamarnya ini. Kamar tidur yang dingin. Ranjang yang beku. Sejak sepuluh tahun lalu. Sejak Prabangkara, suaminya yang seorang tentara memilih lebih lama tinggal di istri mudanya. Sebenarnya Prabangkara masih ingin tinggal bersamanya. Tapi Sriasih yang tak sudi. Untuk apa jika tinggal bersama, tapi mereka selalu ribut, sering bertengkar. Salah paham. Cemburu. Untuk apa Prabangkara di sisinya, tapi hatinya entah ke mana. Uangnya diterbangkan ke istri muda. Kebutuhan sehari-hari tak dipenuhi. Sriasih memilih mengusir suaminya. Untuk apa mereka hidup bersama, jika pada kenyataannya Sriasih sudah tak sudi melakukan kebersamaan sebagai suami istri. Entah, sejak tahu kalau suaminya suka main g ila dengan perempuan jalang di luar rumah, Sriasih merasa jijik. Sriasih tak ingin tertulari penyakit kotor. Tidur bersisian pun enggan. Atau Sriasih memilih tidur di ranjang terpisah. Sriasih memutuskan pisah ranjang. Berbulan-bulan kemudian pisah rumah. Sriasih tinggal di tangsi tentara. Prabangkara di rumah istri muda. Istri yang dinikahinya secara siri. Janda yang dinikahi karena dihamilinya.Pada janda Prabangkara 238


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

mengaku duda, istrinya mati karena sakit gila. Sungguh keterlaluan! Padahal Sriasih baik-baik saja. Tabah menjalani perkawinan yang tak bahagia. Sarat penderitaan dan kesengsaraan. SEMINGGU lagi Lebaran. Tapi Sriasih belum melakukan persiapan apa-apa. Dia belum membeli baju baru untuk anaknya. Dia belum membeli makanan dan kue-kue khas Lebaran. Padahal Sriasih sebenanrya ingin membelinya. Tapi darimana dia mendapat uang untuk membeli semua keperluan itu? Sriasih sama sekali tidak memiliki uang. Gaji bulanan yang ditinggalkan suaminya, nominalnya min. Ya, Prabangkara saat ini sedang dihukum Komandan. Karena ketahuan menikah lagi, dia dibuang, ditugaskan perang di Timor-Timur. Untuk makan sehari-hari Sriasih ngutang di warung. Sudah berbulan-bulan utang belum dibayar. Masih bisakah dan bolehkah Sriasih hutang untuk kebutuhan Lebaran? Sriasih memikirkan nasib anak-anaknya. Semuanya ada di rumah hari ini. Sekolah telah libur menjelang Lebaran. Sriasih hatinya sedih. Dia tahu anak-anaknya menginginkan baju baru, sepatu baru, kue-kue Lebaran, seperti tahuntahun lalu. Tapi untung saja anaknya adalah anak-anak penurut. Mereka tahu keadaan dirinya. Hanya si kecil Ratna yang agal rewel. Dia tak bisa lepas dari susu dan agar-agar kesukaannya. Maklum Ratna masih anak TK. Tapi, Rasmi, Adi, Vina, dan Vita, anaknya yang telah duduk di SMA, SMP, dan SD itu tak banyak menuntut. Mereka semuanya tentu tahu, bisa merasakan bagaimana kehidupan sehari-hari bersama Sriasih tanpa didampingi ayah mereka. “Bunda sedih tak bisa membelikan kalian roti, kue, opor ayam, dan makanan lezat seperti tahun-tahun tahun lalu. 239


Lebaran dalam Semangkuk Bakso | Kartika Catur Pelita

Seandainya sawah sudah laku tentu kita bisa merayakan Lebaran seperti biasanya.” “Tak apa-apa Bunda. Bunda jangan bersedih. Kami bisa Lebaran bersama Bunda, kami sudah bahagia.” Sriasih memeluk satu persatu anaknya. Hanya si sulung yang saat itu kebetulan masih sekolah. Sriasih yang bila memiliki uang akan membelikan apa saja yang diminta anaknya. Pakaian bagus, makanan lezat, mainan mahal. Tapi kalau begini keadannya, menjelang Lebaran tanpa memiliki uang, Sriasih harus berbuat apalagi? HARI ini hari Lebaran. Beras dua kiogram telah berubah wujud menjadi ketupat. Ketan satu kilogram menjadi seikat lepat. Di meja makan tak ada opor ayam. Hanya ada sayur tempe-tahu dan sekaleng kerupuk kering. Meja tamu pun murung. Sebotol sirup framb os menunggu di sana. Tak ada kaleng biskuit, kue-kue kering, atau roti! Sriasih mengelus dada, nelangsa di jiwa. Beginilah keadaan keluarganya, karena ekonominya yang hancur lebur! Dia yang ibu rumah tangga biasa. Seharian penuh di rumah mengurusi anak-anaknya. Repot. Sementara semua anaknya masih sekolah, tak ada yang bekerja. Tak ada yang menghasilkan uang. Ketika selesai salat Id, Sriasih dan permata hatinya merayakan Lebaran dengan saling bermaafan. Sriasih ditelan keharuan saat satu persatu anaknya sungkem dan menciumnya.”Selamat hari Lebaran, Bunda. Mohon maaf lahir dan batin.” Satu persatu anaknya mencium tangannya, kemudian saling bermaafan. “Selamat Idulfitri, anakku. Bunda mohon maaf jika ada salah dan dosa pada kalian. Bunda sangat menyayangi kalian. Mohon maaf lahir dan batin.”Sriasih meneteskan 240


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

perasaan haru seraya memeluk dan menciumi permata hatinya satu persatu. “Mengapa Bunda menangis?” tanya si bungsu ketika si sulung dan yang lainnya pamit untuk halal bihal ke tetangga. Sriasih menggeleng. “Bunda tak apa-apa, sayang.” Dihapusnya air mata. Sriasih tak ingin anaknya turut bersedih. Padahal hari ini hari Lebaran. Saatnya bersenangsenang, setelah sebulan berpuasa. “Hati-hati kalian di jalan, ya,” Sriasih kembali berpesan seraya mengantar anak-anaknya di pelataran halaman tangsi. “Iya, Bunda.” “Jangan pergi jauh-jauh. Ke tetangga yang dekat saja.” Mereka mengiyakan. Mereka tinggal dia asrama tentara. Tapi tangsi terletak di dekat perkampungan. Dan anakanaknya mengenal sebagian warga perkampungan sebagai tetangga. Sriasih selintas terkenang suaminya. Sedang apa kini Prabangkara di tempat tugas? Dengan siapa dia merayakan Lebaran? Dengan teman-teman seperjuangan, atau demenannya? Sriasih tak bisa membayangkan kelakuan suaminya. Di kota ini, di Jepara saja Prabangkara berbuat bejat, apalagi di daerah nun jauh di sana. Ah, untuk apa aku mengenang suaminya, batin Sriasih menenangkan dirinya. Untuk apa dia mengenang lelaki yang hanya separoh-separoh bertanggungjawab pada anak istrinya! MASIH hari pertama Lebaran. Menjelang siang, Sriasih tersentak ketika melihat anak-anaknya beruntun datang, memasuki rumah. “Kami pulang, Bu!” 241


Lebaran dalam Semangkuk Bakso | Kartika Catur Pelita

“Bu, Juragan Dirman memberi uang banyak!” “Haji Romli juga memberi uang banyak!” “Hore-hore..aku dapat sekantung permen!” “Siapapun dapat uang, Bu. Lihat, lihatlah!” Sriasih terharu mendengar celoteh dan polah anakanaknya. Mereka yang sebulan ini menjalani puasa dengan ikhlas. Kini mereka menjalani Lebaran dengan seadanya, tapi tak mengurnagi keceriannya sebagai bocah. Aih.. “Bu, kita beli bakso ya, Bu.” “Ya, belilah kalau kalian ingin.” Si sulung mencegat tukang bakso. Si penengah mengumpulkan uang adik-adiknya. Beberapa mangkok bakso mereka beli. “Makan bakso dicampur ketupat ternyata enak, ya, Bu.” “Nggak kalah lezat sama opor ayam ketupat.” Sriasih mengucap syukur pada Allah. Inilah kebahagiannya sebagai seorang ibu. Walau Lebaran tahun ini dilaluinya dengan keadaan seadanya. Ketupat tanpa opor ayam. Makan bakso semangkok berbagi di hari Lebaran ini. Bakso yang dibeli dari pemberian uang orang-orang budiman itu. Sriasih merasa bahagia. Inilah Lebaran terindah baginya. Lebaran yang bisa dilaluinya bersama buah hatinya yang masih utuh. Rukun, akur, dan saling menyayangi. Sriasih takkan melupakan saat-saat Lebaran terindah seperti Lebaran tahun ini. n Kota Ukir, 11 Januari 2009-20 Juli 2012

242


Repro: Ira Tsantekidou | OpenArt

243


Baju Baru untuk Putriku | Mahdi Idris

u

Baju Baru untuk Putriku Mahdi Idris

o Published Š Serambi Indonesia, Minggu 12 Agustus 2012

Mahdi Idris, adalah penulis sastra. Bergiat di FLP dan Balai Sastra Samudra Pasai Lhokseumawe. Menetap di Dayah Terpadu Ruhul Islam Rayeuk Kuta Tanah Luas, Aceh Utara. 244


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

L

EBAR AN kian dekat. Rasa haru dan suka cita membuncah dalam dada. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini: Bagaimana caranya agar kedua putriku mendapatkan baju baru, seperti juga anak-anak yang lain. Bagi sebagian orang mungkin mudah, tapi bagiku tidak demikian. Laura, istri mudaku, belum tentu setuju aku membeli baju untuk kedua putriku. Sejak aku menikahinya tiga tahun lalu, aku memang terpaksa menitip kedua anakku di rumah neneknya, ya di rumah ibuku. Kupenuhi kebutuhannya setiap bulan, tentu secara diam-diam, tanpa sepengetahuan istri mudaku. Dia memang tak sudi putriku hadir dalam kehidupan kami. Suatu hari Laura bahkan pernah bertanya., “Siapa yang paling Abang cintai.� Lalu ku jawab, “Aku mencintaimu, seperti juga aku mencintai kedua putriku.� Jawabanku itu malah membuat wajahnya memerah. Dia tak sudi ada orang lain yang kucintai, meskipun itu darah dagingku sendiri. Namun, di hari-hari berikutnya, karena aku telanjur mencintainya, kukatakan bahwa aku lebih mencintainya, daripada anakku sendiri. Sebenarnya hati kecilku tetap berkata bahwa aku mencintai semua mereka. Pada Lebaran tahun pertama aku hidup dengan istri mudaku, tak ada masalah yang muncul, karena aku menuruti larangannya untuk tak membeli baju Lebaran kedua putriku. Saat itu secara diam-diam, pada pertengahan Ramadhan, aku pulang ke rumah orangtuaku membawa baju baru untuk mereka berdua. Namun saat ini, Lebaran tinggal sepuluh hari lagi, aku belum juga muncul di rumah orangtuaku. Aku menerka bahwa kedua buah hatiku pasti sedang menantiku membawa baju baru. Aku bisa membayangkan senyum mereka saat aku pulang; sambil menjinjing hadiah Lebaran. Aku yakin mereka sangat senang. Ya, aku yakin itu. 245


Baju Baru untuk Putriku | Mahdi Idris

Namun, sesekali terbayang perkataan istriku menjelang Ramadhan, “Pa, aku belum ingin punya anak sekarang. Aku ingin punya anak darah dagingku sendiri, tapi lima tahun lagi. Kalau anakmu, kapan pun aku tak sudi menerimanya. Sampai sekarang, tak ada yang tahu bahwa aku kawin dengan seorang duda. Jadi, Papa jangan coba-coba membawa anakmu kemari. Bukankah Papa masih punya orangtua yang masih bisa mengasuh mereka?� Aku hanya diam ketika itu. Cintaku padanya membuatku tak berdaya, bagai cacing dilindas truk muatan besi. Namun, aku juga seorang manusia, seorang ayah. Aku tak tahan dengan ujarannya yang lantang dan menusuk tajam jantungku. Aku benar-benar sedih dan terluka. Semua itu tertancap kuat bagai paku dalam sudut kepalaku. Kemudian, aku mendatangi Ustaz Hadi, meminta darinya pencerahan dan nasihat agar batinku tenang, juga sabar menghadapi cobaan yang amat berat ini. Lalu, Ustaz Hadi menasihatiku. Beliau mengatakan bahwa perempuan itu makhluk yang amat rapuh, bila digenggam kuat dia akan hancur. Oleh karena itu, aku harus membimbingnya dengan baik, memberinya pengertian bahwa yang kulakukan itu sebuah kewajiban. Allah akan murka pada kami bila mengabaikan kewajiban itu. Memang benar, nasihat Ustaz Hadi membuka pintu hati istriku. Dia menerima perkataanku dengan baik. Bahkan keesokannya mengajakku membeli baju baru untuk kedua anak perempuanku. Dia memilih sendiri baju itu. Menurutnya, itu baju trend masa kini. Dan dia benarbenar telah berubah. Aku tak menduganya sama sekali. Setelah itu dia menyuruhku menjemput kedua anakku untuk mencoba memakai baju itu. Aku benar-benar gembira. Berkali-kali aku bersyukur pada Allah.

246


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“PA, Mimi tidak suka baju ini. Mimi sudah besar. Kata ustaz, Mimi sudah wajib menutup aurat. Baju ini kan sempit sekali, Pa,” ujar anakku yang pertama. Kini dia sudah berusia sebelas tahun. “Iya, Pa. Ana juga tidak suka. Perempuan kan tidak boleh berpakaian ketat,” kata anakku yang kedua. Walaupun dia baru berumur delapan tahun, prinsipnya sama dengan kakaknya. Aku bingung. Semakin khawatir bila didengar oleh ibu tiri anakku. Dia akan marah dan berang. “Iya, tidak apa-apa Nak, ya. Ambil saja dulu, besok Papa beli baju lain,” ujarku, membujuk mereka. Aku terus berharap agar mereka mendengar nasihatku. Tapi, tampaknya sia-sia. Mereka masih tidak mau menerima baju itu. “Apa kata mereka, Pa? Tidak mau?” tanya istriku, sambil masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu. Wajahnya merah padam. Aku diam, sambil mengangguk pelan. Dibukanya lagi pintu kamar dengan wajah melongo keluar seraya berujar, “Ya, sudah kalau tidak mau. Minta saja dibelikan sama ibu kalian.” Tekanan darahku naik memuncak. Dia sudah menyebut-nyebut almarhumah istriku. Lalu, kedua anakku menangis sesenggukan. Menutup wajah mereka dengan kedua telapak tangan yang mungil. Aku yakin, anakku sangat sedih mendengarnya. Tapi, kukuatkan hati agar nafsu amarahku segera padam. “Pa, bawa pulang mereka! Dari dulu aku sudah yakin, kedua anakmu itu memang keras kepala. Dia tidak menghargaiku. Dan kau juga, sekarang keluar dari rumahku. Aku tidak sudi melihatmu lagi. Aku mencintaimu bukan bersama anakmu!” Kemudian aku keluar bersama kedua anakku, menuju rumah orangtuaku. Namun demikian, aku tetap 247


Baju Baru untuk Putriku | Mahdi Idris

mencintainya. Tak ada perempuan lain yang hadir dalam hidupku. Aku berdoa dengan keberkahan Ramadhan dan pengampunan pada hari Idul Fitri, Allah membukakan pintu hidayah istriku agar dia menerima aku dan kedua anakku sebagai orang yang paling dicintai. n Tanah Luas, 7 Agustus 2012

248


Repro: OpenArt

249


Requiem Ingatan | Titik Kartitiani

u

Requiem Ingatan Titik Kartitiani

o Published Š Sinar Harapan, Sabtu 11 Agustus 2012

u 250


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

H

ARUM bunga melati menyelimuti beranda itu. Senyap. Sekali lagi, lelaki itu menatap wajah lelap di depannya. Wajah perempuannya yang ditemuinya ketika bangun pagi mungkin sudah lebih dari 30 atau 40 perjalanan matahari. Dia tidak ingat persis. Dia tidak memerhatikan detail, sebagaimana perempuan itu mampu mengingat berapa helaian rambut yang jatuh di dahi lelakinya. Setiap harinya. Setiap paginya. Mengiringi suara lesung beradu alu. Thuk… thuk…thuk…thuk… Menghentak khusyuk seperti zikir, zikir semesta. “Kopinya sudah siap, Pak. Tanpa gula. Tembakaunya sudah saya taruh di opel*. O ya, sek-nya* sudah habis, tinggal 2 lembar. Nanti saya mampir ke warung,” katanya dengan senyum. Lelaki itu diam tanpa ekspresi. Dengan mata yang setengah terpejam, ia membuka pintu, menuju kali yang tak jauh dari rumah bambunya untuk memenuhi hasrat pagi. Perutnya mulas, mungkin karena kebanyakan makan sambal tadi malam. Walau menyisakan tragedi, lebam di pipi sang istri dan sakit perut si lelaki, sambal jenggot itu tetap terlezat. Masakan apa yang lezatnya melebihi masakan yang dibikin dengan cinta? Cinta apa adanya dari perempuan yang kini membungkuk, memindahkan gabah ke tampah. Seperti tarian lebah di luar sana, jemarinya lincah memilah gabah. Setiap geraknya adalah tarian kasih pada keluarga yang jelas beda dengan tarian tayub untuk penontonnya. Semua dilakukan dengan diam. Tak butuh penghargaan, apalagi saweran. Sebuah tarian pengabdian ikhlas untuk ketiga cuplis yang kini masih lelap. Untuk suami yang dihadirkan kedua orang tuanya. Bukan disebut kawin paksa karena memang sudah begitu. Tidak ada yang tidak begitu pada zaman itu. Jika gadis sudah 251


Requiem Ingatan | Titik Kartitiani

datang bulan, itu artinya orang tua siap membawakan lelaki untuknya. Bisa jadi tetangga yang dirasa baik oleh kedua orang tuanya, bisa jadi orang asing yang baru ditemui di malam pertama. Soal cinta? Bisa jadi tumbuh bersama usia. Sebuah rasa yang menjadi biasa dan sudah seharusnya begitu. Yang jelas, ikatan perjodohan itu mampu menghasilkan tiga anak yang sehat dan gemuk-gemuk. Mereka baik-baik saja, seperti keluarga pada umumnya. Kecuali hanya perbedaan-perbedaan kecil yang kadang menjadi runcing dan meninggalkan lebam di tubuh perempuan itu. Tapi memang sudah seperti itu, seperti juga tetangga. Selesai dengan gabah yang sudah menjadi beras, putih kekuningan tanda dilapisi kulit ari yang bergizi, tanpa dibleaching, perempuan itu mandi. Cepat sekali, tak selama bidadari mandi di telaga. Tapi dia menjelma bidadari berselendang lurik yang menggendong bakul berisi sayur mayur, hasil ladang dan kebun di depan rumah. Sepanjang 10 km akan ditempuh subuh itu dengan langkah tanpa alas kaki. Hari ini Selasa Wage, hari pasaran. Kebetulan terong hijau sedang mahal. Mungkin dia bisa membeli kain baru, corak pring sedhapur, seperti impiannya. Ah, tapi mungkin lain kali. Lebih baik membelikan buku tulis baru untuk kedua cuplisnya, dan satu potong seragam merah putih untuk si bungsu. Dibungkusnya angan itu di ujung selendang lurik yang sudah berkerut. Mantap langkah menapaki jalan tak beraspal, dingin kabut menyergap, kebaya biru pudar terlalu tipis untuk menghangatkan, hanya dengan nembang tubuhnya tak tumbang. Jago kluruk rame kapiyarsi lawa kalong luru padhelikan 252


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Jrih kawanan ing semune Bang wetan sulakipun Mratandani yen bangun enjing… MATAHARI sudah tak garang lagi, ketika langkah kakinya menapak kembali lurung rumahnya. Masih tersisa guratan sapu tadi pagi ketika satu demi satu daun bambu mulai menghinggapi. Masih dengan bakul di punggung, perempuan itu meraih beberapa lembar daun bambu yang masih segar. Ia berencana membuat sompil, nasi yang dibungkus daun bambu. Baru saja ia membuka pintu, cuplis nomor 2 sesenggukan. Matanya berair, hidungnya juga berair. Ada biru di kedua pahanya. Perempuan itu menghela napas, meletakkan bakulnya lantas memeluk si cuplis. “Saya hanya minta uang. Kalau tidak bayar SPP besok pagi, saya akan dipanggil di depan kelas lagi. Saya sudah malu, Simbok dan Bapak juga pasti malu. Kita tidak miskin kan? Kita tidak harus mencari surat RT supaya tidak bayar SPP kan, Mbok?” ratap anaknya, tanpa ditanya. Perempuan itu tersenyum sedikit. “Kita tidak miskin, hanya tidak punya uang. Lain kali kamu jangan minta uang kepada Bapakmu kalau habis dari sawah. Dia capek, bisa gampang marah,” katanya sambil membuka buntelan di ujung selendang dan mengulurkan sejumlah uang. Lantas memasukkan sisa lembar terakhirnya di balik stagen. Dia menuju dapur. Dilihatnya suaminya tengah lelap di balai bambu. Masih ingat frase tuduhan kemarin, di kasus yang serupa. Anak dianggap salah, ibunya yang kena marah. Tidak pernah berlaku sebaliknya walau kehadiran anak itu tidak bisa dari kerja mandiri, harus ada suami dan istri, tidak bisa salah satu. 253


Requiem Ingatan | Titik Kartitiani

Bagaimana seorang istri bisa disalahkan dalam mendidik anaknya, hingga anaknya tidak sopan kepada ayahnya? Bagaimana mau disebut sopan, minta uang pada orang yang tak punya uang pastilah tak akan bisa disebut sopan. Dalam hatinya hanya bisa berbisik, andai lelakinya bisa sesabar Resi Bhisma. Mungkin hidupnya akan lengkap, tanpa harus kena makian setiap hari. Tapi, bukannya memang sudah begitu? Sebelum memasak, istrinya menuju kandang kambing. Meletakkan dedak yang tadi dibelinya dari pasar. Di sana ada ikatan rumput yang masih nongkrong di boncengan sepeda. Mungkin si lelaki kelelahan hingga belum sempat menurunkannya. Diturunkannya rumput itu, ikatan laso dari kulit pohon waru pudar, rumput itu terbuka. Di tengah, ada tiga batang tebu, makanan kesukaan tiga cuplis itu. Lalu ada bungkusan daun jati yang disimpul dengan lidi yang sudah agak gepeng. Saat dibuka, isinya puluhan kembang turi. Putih bersih seperti pagi. Sayuran kesukaan perempuan itu. Si lelaki tak pernah lupa membawakannya. SENJA merah di balik rimbunnya pohon serut. Siluetnya jatuh di lantai beranda. Lantai tanah itu kini punya motif dedaunan. Lelaki menghirup teh panas tanpa gula. Dia pun melanjutkan merajang tembakau. Inci demi inci, daun tembakau menjadi serpihan. Itu akan menjadi tembakau terenak yang dibikin sendiri. Harum, pulen, dan legam. “Aku kepikiran menanam tembakau saja di musim tanam besok. Tembakau bagus di ladang, ini buktinya. Hanya di pematang saja bagus. Kalau bisa nanam semua, lakunya lebih banyak dibanding jagung,� kata lelaki itu. “Terserah Bapak saja,� kata perempuan itu sembari mipil jagung. Soal keputusan, apa pun memang urusan lelaki. 254


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Perempuan tidak punya pekerjaan di area pengambilan keputusan. Cukuplah mengatur rumah jangan sampai ada tahi ayam yang belum disapu. Cukuplah memastikan ada masakan di meja makan. Kebijakan rumah tangga adalah sesuatu yang sangat lakilaki, hanya Bapak yang berhak, termasuk marah. Bukankah amarah sesungguhnya adalah cinta yang tak terucap? Jangan pernah menunggu cinta itu berujud nyata sebagaimana impian Shinta kepada Rama. Bisa jadi cinta adalah amarah Gandari pada segumpal daging yang keluar dari garbanya. Amarah itu menendang gumpalan daging yang kemudian menjelma 1.000 bayi Kurawa. Yang betapa pun adalah lambang kejahatan, Gandari akan tetap mencintainya hanya karena dia ibunya. GANDARI lebih beruntung dibandingkan lelaki itu. Yang tak sempat mengucapkan cintanya, cinta yang seperti Rama untuk istrinya. Hingga suatu pagi yang menggigit, 30 atau 40 tahun kemudian. Candra musim ke-12, tirta sah saking sasana. Air meninggalkan rumahnya. Saatnya menanam palawija, membajak sawah untuk menanam jagung. Perempuan masih lelap seakan dimalaskan oleh musim mareng. Dingin enaknya memang tidur. Tak terdengar suara lesung bertalu atau aroma kopi meraup pagi itu. “Keblug!� maki lelaki itu. Jengkel mendapati istrinya masih lelap, sementara ia butuh kopi. Tak biasanya, perempuan itu bergeming dalam lelapnya. Ketika tubuhnya digoncang, telapak tangan lelaki itu hanya mendapati dingin kulit yang telah ditinggalkan ruhnya. Air bagi jiwanya menginggalkan raganya. Tanpa sakit, tanpa pamit. Dari mulai tergeletak, hingga dimandikan, hingga malam, hingga pagi esoknya, lelaki itu tak beranjak seinci pun dari sisi istrinya. Bahkan saat cucunya dari si bungsu meletakkan 255


Requiem Ingatan | Titik Kartitiani

tape ketan kesukaannya, lelaki itu bahkan tidak menoleh. Tidak beranjak. Sebagaimana waktu dan ingatannya berhenti bagi lelaki itu. Hingga tujuh tahun kemudian. Lelaki itu masih duduk di kamar yang sama, masih menatap wajah lelap yang seakan ada depannya. Lengkap dengan harum melati dan batik sidomukti yang menutupi tubuh bekunya. Wajah lelap yang tak akan pernah bangun lagi. Yang sesungguhnya kini terbaring di bawah pohon kamboja bali tiga warna yang ditanamnya sendiri, khusus untuk rumah abadi istri. Ia merindukan perempuannya, dalam kealpaan ingatannya, dalam diamnya, dalam kata cinta yang tak tahu cara diucapkannya, lebih dari sebelumnya. Di luar sana, di luar dimensi waktu lelaki itu. Si sulung hanya menggeleng dan bergumam: pikun. n Tangerang yang gerimis, Oktober. 09. 2011

256


Repro: Hans Jochem Bakker | OpenArt

257


Mei Lie | Djunaedi Tjunti Agus

u

Mei Lie Djunaedi Tjunti Agus

o Published Š Suara Karya, Sabtu 11 Agustus 2012

u 258


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

S

AYA orang China, tapi jiwa saya Indonesia,” kata wanita yang ada di depanku sambil mengulurkan tangan, sesuatu yang tak diduga. “Nama saya Mei Lie, tapi teman-teman mengenal saya dengan nama Meysa,” tuturnya lagi. Benar-benar tak disangka, karena sebelumnya dalam beberapa kali pertemuan tidak sengaja, gadis itu terkesan angkuh, tidak mau kenal. Diam-diam saya antipati padanya, sok cantik. Pertama kali kami bertemu dalam perut pesawat Garuda nomor penerbangan GA 0890 Jakarta - Beijing. Meski duduk bersebelahan, di bangku bagian tengah, saya 21E dan dia 21F, namun tak satu katapun keluar dari mulutnya dalam penerbangan selama 6,5 jam atau semalamam itu. Setiap coba diajak bicara, jawabannya hanya senyum, manggut, atau menggeleng. Semula saya mengira dia gagu, tapi anggapan itu buyar ketika dia bicara dengan pramugari dalam bahasa Inggris dan pada kesempatan berikutnya dalam bahasa Mandarin. “Oh, dia rupanya orang China,” pikir saya. “Ni hau ma?,” kata saya terucap begitu saja. Tapi juga hanya senyum yang tersunging ketika saya menanyakan apa kabar, salah satu kalimat dalam bahasa China yang saya tahu. “Ah, apa peduli saya. Apa perlunya beramah tamah dengan dia?” Tapi entah kenapa, sejak pertemuan tak sengaja itu kami berikutnya kerap jumpa hampir sepanjang tour di China. Ketemu di Forbidden City, komplek kerajaan terbesar di dunia yang pernah digunakan para kaisar China dari berbagai dynasty. Esoknya, secara tak terduga, jumpa lagi di The Greast Wall, tembok China di Badaling, yang dibangun kaisar China pertama Qing Shi Huang. 259


Mei Lie | Djunaedi Tjunti Agus

Beberapa hari kemudian kami juga berjumpa di Shanghai, ketika saya dan rombongan menaiki Televisi Tower yang amat terkenal di kota itu. Sepekan kemudian saya dan dia malah kembali duduk bersebelahan di pesawat Garuda membawa kami dari Guangzhou International Airpor t menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Serba kebetulan yang sangat tidak menyenangkan, karena sepanjang perjumpaan kami tidak pernah bertegur sapa. Hingga Garuda GA 0899 Boeing 737-800 mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tak sepatahkan pun kami bicara. Jika ada keperluan lewat di depannya, di antara bangku yang sempit, paling saya manggut, pertanda ingin lewat. “SAYA orang Indonesia keturunan China,” katanya lagi masih mengulurkan tangan. Saya tak percaya. Mengusap mata, melihat ke belakang, jangan-jangan ada orang di belakang saya yang dia ajak bicara. Dada saya terasa menggelegak, apa maksud perempuan angkuh, warga keturunan ini berlagak sok akrab. Tiba-tiba dia kembali berucap, “Maaf, bisa kita bersalaman.” “Oh,” kata saya sekenanya. Dia tersenyum. Saya baru sadar, ternyata senyumnya manis sekali, menawan. “Eh, ehem. Bagaimana perjalanan ke China dulu. Saya pikir anda bukan orang Indonesia,” kata saya sambil menyambut uluran tangannya. “Saya berpikir anda telah melupakan pertemuan kita dalam perjalanan ke China. Maaf waktu itu saya tidak menyenangkam,” katanya, lagi-lagi tersenyum. “Lalu sekarang mau ke mana. Ke Medan apa ke Pontianak,” kata saya coba menebak, dengan pertimbangan di dua kota itu cukup banyak WNI keturunan Tionghoa. 260


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Tersenyum sesaat, kemudian coba memandang lurus ke mata saya. Dada saya berdegub, sambil membatin, berani juga nih cewek. “Kenapa harus ke kota itu. Sama dengan anda, saya mau ke Jambi. Saya bukan China Kalimantan atau China Medan. Orangtua saya lahir dan bermukin di Jambi. Saya pindah ke Jakarta, mengikuti kakak untuk kuliah. Apa penjelasannya cukup?” Wuih, kok makin berani. Saya tak habis pikir, kenapa dia mendadak begitu akrab. “Saya sudah tahu nama kakak. Eh nama Anda. Tidak usah heran, saya ini calon intelijen. Saya ingin seperti kakak, eh anda,” katanya lagi, cukup mengejutkan saya. “MAAF ya, saya duluan. Ada yang menjemput,” katanya, lalu mengiring porter yang mendorong troli berisi koper dan barang-barang bawaan. Sebetulnya saya tak ingin berpisah secepat itu, ingin terus berdekatan seperti di dalam pesawat dari Jambi-Jakarta. Tapi apa hak saya. Saya juga gengsi numpang di kendaraan yang menjemputnya. Terasa ada yang hilang. Jujur saja, meski baru mengenalnya agak dekat dalam perjalanan Jakarta-Jambi dan sebaliknya, rasanya saya sudah begitu mengenal dia. Tapi saya tidak punya keberanian menawarinya ketemu lagi. Kedongkolan yang pernah saya rasakan padanya, kini berubah jadi harapan. “Apa tidak ada yang ketinggalan,” kata saya. “He hee, he. Yang ketinggalan, ya kakak, eh anda. Dah, duluan ya,” katanya, melambai. Tidak ada ucapan sampai ketemu lagi. Dia juga tidak memberikan alamat, kecuali menyebut Jatinegara. Apakah saya jatuh cinta. Apakah secepat itu? Lagi pula apa dia mau 261


Mei Lie | Djunaedi Tjunti Agus

menerima cinta saya? Ingin rasanya mengejarnya, setidaknya menemaninya menuju kendaraan yang menjemputnya. Tapi koper saya belum juga muncul. Ada rasa menyesal, kenapa koper kecil saya harus dimasukkan ke bagasi? Saya tak berharap bakal ketemu Mei Lie lagi. Tapi ketika saya keluar dari ruang kedatangan menuju Damri, saya melihat dia berdiri di dekat deretan kursi tunggu Bus Damri. Memandang ke arah saya. “Mana mobilnya. Apa belum datang?” “Saya suruh pulang duluan, saya mau naik Damri bersama anda. Bolehkan?” “Lo, apa nggak repot? Saya tidak langsung pulang, tapi ke kantor dulu,” kata saya penuh tanda tanya, tak tahu apa maunya. “Gak masalah, dari Blok M kita naik taksi. Kakak, eh anda turun di kantor, saya langsung pulang ke Jatinegara,” katanya. Saya makin tidak mengerti dengan gadis bermata sipit, berkulit kuning, berparas manis ini. Dulu ketika kami bertemu di pesawat menuju Beijing, kemudian di beberapa kota di negeri tirai bambu itu, dia begitu angkuh. Saya merasa dilecehkan, terhina. Kini tingkahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Perjalanan ke Jambi merupakan babak baru perkenalan kami. Dia begitu menyenangkan. Sepanjang perjalanan banyak bercerita, apa saja. Di Jambi dia pun ngotot mengajak saya mampir ke rumah orang tuanya. Sayangnya saya tak bisa, karena padatnya tugas di kota itu. Saya juga merasa surprise ketika dia ngotot mengubah jadwal tiketnya, agar kami bisa kembali berbarengan ke Jakarta. “Ah, ini mungkin hanya sementara. Esok atau lusa bisa jadi dia kembali cuek, pura-pura tak mengenal saya.”

262


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

LAMAT-LAMAT terdengar pembicaraan beberapa orang dengan istri saya. Sekali-sekali terdengar suara beberapa gadis, anak kami, menyebut-nyebut namaku. Kadang terasa ada remasan di jari-kari dan telapak tangan. “Insya Allah beberapa hari mendatang bapak sudah sadar sepenuhnya. Tinggal pemulihan,” kata seorang laki-laki, mungkin dokter. Ingin rasanya membuka kelopak mata, tapi tak kuasa. Mulut pun tak bisa digerakkan, jari tangan, lengan, paha, terasa kaku. Di mana saya? Beberapa saat terdengar telapak kaki menjauh, mulai sunyi. Saya ingin memanggil Mei Lie, anak-anak kami, tapi tak bisa. Semua sudah pergi, Saya mulai menyadari sedang dalam perawatan. Saya coba membuka mata, ada cahaya begitu tajam. Kembali saya pejamkan. Lamat-lamat terdengar langkah masuk ke kamar. Siapa dia, dokter, perawat, atau salah satu dari anggota keluarga. “Silakan masuk. Saya dan anak-anak memang selalu bergantian berjaga. Kami tidak tega meningalkan papinya anak-anak sendirian.” Saya merasa ada dua pasang mata menatap lurus ke wajah saya. Saya berusaha menggerakkan telapak tangan. Seper tinya berhasil, tetapi tak ada yang coba menggenggam. Saya berusaha membuka kelopak mata, kali ini berhasil bersamaan terdengarnya jeritan kecil. “Papiii! Dok, perawat! Suami saya!” Langkah tergopoh-gopoh terdengar mendekat. Sebuah tangan memeriksa detak nadi di lengan. Saya tersenyum, kemudian berusaha membuka mata selebar mungkin. Mei Lie terlihat ragu, kemudian di meremas jari-jari tangan saya. Saya kembali menutup mata, Mei Lie berteriak. “Papi, papi. Papi tidak pingsan lagi kan?” 263


Mei Lie | Djunaedi Tjunti Agus

Saya kembali membuka mata, tersenyum, saat bersamaan saya melihat senyum Mei Lie, yang tak akan pernah saya lupakan. Senyum seorang wanita keturunan China yang melahirkan 5 anak kami yang sangat cinta dan bangga terhadap Indonesia. Bahkan dua anak kami ikut mengharumkan nama negara dan bangsa di tingkat dunia. “Senyum mami masih seperti dulu,” kata saya. Mei Lie seolah merajuk, lalu menciumi pipi saya, hampir tidak pernah henti. “Oh, maaf. Ini ada teman mami, dia selalu menyemangati mami,” kata Mei Lie. Sepertinya saya mengenal wajah itu. Ya, dia teman akrab Mei Lie saat kuliah, Nurhalimah, wanita berkerudung yang memiliki pandangan menyejukkan. Saya tersenyum, dia membalasnya. “Ingat, papi sudah janji hanya Mei Lie yang ada di hati papi. Jangan pernah berpaling ke lain hati,” kata Mei Lie, tersenyum. Dia hanya menggoda, karena dari dulu kami memang suka saling menggoda. Tepat pada tanggal 14 Mei, bersamaan dengan hari pernikahan kami, saya meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah dengan cinta, cinta dari Mei Lie dan lima anak kami. “I LOVE YOU mami,” bisik saya ke telinga Mei Lie di suatu sore, di teras rumah kami, ketika kami hendak menjalani kebiasaan, menyusuri jalan lingkungan di pagi buta. Saya dan Mei Lie kembali pada rutinitas. Setiap bepepangan tangan kami saling pandang, kemudian tersenyum. Tak jarang tertawa terbahak-bahak. Jika tak malu, saya kerap meneruskan dengan mencium salah satu pipinya. “Masa lalu yang manis ya Pi. Semoga tak pernah terhenti,” 264


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

kata Mei Lie. Lebih seperempat abad Mei Lie mendampingi saya. Kami bukannya tak pernah melalui jalan susah, tetapi akhir-akhir ini hidup terasa makin indah. Kami tak pernah bosan jalan bersama, meski hanya sekadar naik busway keliling kota, naik bus reot bermusik pengamen, atau jalan kaki menelusuri trotoar yang tidak rata. Kami kerap terperosok, tapi itu alasan bagi saya mengelus betis Mei Lie, menunjukkan perhatian, memperlihatkan betapa sayang padanya. Beberapa pasang mata tak jarang memandang kami curiga, ada yang sinis, kemudian melengos. “Mungkin mereka berpikir kita sedang pacaran. Mereka gak tahu kita sudah punya anak lima,� kata Mei Lie. Saya tersenyum. Tiba-tiba saja kaki saya terperosok, terduduk. Saya memegang dada kiri. Mata berkunangkunang, kemudian gelap. “Papi, papiiiiii,� sayup-sayup saya mendengar teriakan Mei Lie. n Jakarta, Mei 2012

265


Repro: OpenArt

266


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Tidak Ada Seribu Kunangkunang di Langit N. Mursidi

o Published Š Suara Merdeka, Minggu 12 Agustus 2012

N. Mursidi, lahir di Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa lokal dan nasional. Selain menulis cerpen dia juga bekerja menjadi wartawan sebuah majalah di Jakarta. 267


Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit | N. Mursidi

B

ERTAHUN-TAHUN, laki-laki itu menunggu Ramadhan (tahun ini) cepat datang. Ramadhan yang akan menggenapi usianya tepat enam puluh tiga tahun dan dia merasa yakin, jika Ramadhan tahun ini, suatu peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu lama itu akan tiba. Dia menemui ajal, selepas shalat tarawih tepat di malam Lailatul Qadar. Di malam yang ditunggu-tunggu itu, ia akan menunaikan shalat tawarih di tengah malam yang hening. Malam yang membuat laki-laki itu harus rela meninggalkan semua yang dimiliki dan tidak lagi memikirkan dunia. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu yang bisu, sunyi dan sepi—seakan-akan malam tak pernah beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tak pernah dia rasakan lantaran tak ada angin berembus. Dan malam itu, ia benar-benar merasakan ajal yang ditunggu-tunggu itu akan tiba; maka ia menunaikan shalat tarawih tepat di malam yang hening—yang menurutnya malam Lailatul Qadar. Tepat pada malam itulah, sebagaimana yang pernah dia rasakan dalam mimpinya sepuluh tahun yang lalu, ia akan beranjak tidur dengan tenang selepas menunaikan shalat tarawih dan dia berharap tak akan bangun lagi karena dia akan meninggal dengan tenang, tepat di malam Lailatul Qadar setelah ia melihat seribu kunang-kunang. RAMADHAN hari pertama, sepulang dari menunaikan shalat subuh di masjid, laki-laki itu tidak kembali tidur. Dia pulang tergesa, meraih sepeda. Dalam gelap pagi, dia menggayut pedal dengan napas tersengal menuju pasar. Dia menggenjot sepedanya diiringi derit jeruji yang hampir terlepas, dan gesekan salah satu jeruji sepeda yang terlepas itu menimbulkan suara sesak di dada. 268


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Lelaki itu tak pernah bercerita pada anaknya, mengenai kematian yang akan menjemputnya di bulan Ramadhan ini. Tahu-tahu, lelaki itu pulang dari pasar tepat ketika mentari beranjak naik di atas kepala, dan menjinjing kain kafan yang dibungkus plastik putih. Berjalan semboyongan dilanda haus, lelaki itu menyandarkan sepeda di teras lalu memasuki rumah dengan langkah terhuyung hampir jatuh. Di ruang tengah, dia menghempaskan tubuh seraya menaruh plastik putih berisi kain kafan di atas meja. Mahmud, anak keduanya, keluar dari kamar, menguap seraya mendapati ayahnya yang terlentang di kursi panjang melepas lelah. Tubuh ayahnya gemetar, seluruh mukanya merona merah sebab dibakar terik mentari. “Ayah dari mana? Selepas subuh sudah mengeluarkan sepeda dan pulang seperti orang dikejar hantu?” “Dari pasar….” “Untuk apa ayah harus pergi ke pasar pagi-pagi sekali?” “Beli kain untuk baju….” Mahmud melirik bungkusan plastik di atas meja, membukanya lantas membentangkan kain kafan dalam bungkusan itu. “Mana mungkin ayah akan membuat baju lebaran dari kain seperti ini?” “Siapa bilang kain kafan itu untuk baju lebaran ayah? Itu baju kematian ayah. Mungkin, di bulan Ramadhan ini ayahmu akan dipanggil oleh Tuhan.” Mahmud tersentak. “Ayah jangan bercanda dengan Tuhan. Ayah masih sehat dan kuat menggayut sepeda sampai ke pasar… jangan berpikir aneh-aneh!” Lelaki itu diam dan Mahmud melangkah ke kamar mandi. BELUM cukup Mahmud dikejutkan dengan kain kafan yang dibeli ayahnya, hari kedua Ramadhan, ayahnya kembali membuat anaknya terperangah. Kali ini, ayah tiga 269


Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit | N. Mursidi

anak itu pergi ke pemakaman. Sesudah menunaikan shalat ashar, lelaki itu pulang dari masjid dengan langkah tergesa-gesa mengambil cangkul di belakang rumah lantas berjalan ke luar perkampungan, lalu menyusuri jalan setapak ke pemakaman umum. Setiba di sudut pemakaman, lelaki itu membersihkan rumput makam istrinya—yang sudah meninggal enam tahun lalu. Setelah rumput tak lag i menghuni gundukan makam istrinya, lelaki itu bersimpuh dan menangis. Hening senja itu semakin membuat ia larut. Tak ada kata yang terucap, kecuali hanya sebait doa dalam hati yang sendu membasahi bibirnya. Ia menghapus air mata, sebelum pulang saat matahari hampir tenggelam. Tapi, sesampai di rumah, lelaki itu seperti tidak dapat mengelak tatkala Romdon, anak ketiganya pulang kerja dan menemukan ayahnya pulang dari pemakaman dengan sebuah cangkul di pundak. “Banyak kuburan tak terurus, termasuk kuburan ibumu. Jadi, apa salahnya jika aku pergi ke pemakaman untuk membersihkannya?” “Tapi, kenapa ayah sendiri yang harus melakukan? Tidak bisakah ayah meminta bantuan orang lain dengan memberinya upah?” “Ada satu hal yang kita tak bisa minta bantuan orang lain. Ayahmu tahu kematian tak dapat digantikan. Ayahmu sudah tua. Jadi, tak mungkin ayahmu mengupah orang untuk menggantikan kematian ayah yang sebantar lagi akan datang….” Romdon termangu menatap wajah ayahnya yang mulai menua di makan usia. Tetapi, Romdon sama sekali tak menemukan garis putih di dahi ayahnya yang bisa memberinya tanda jika ajal ayahnya tak lama lagi akan tiba.

270


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

TIDAK hanya hari kedua di bulan Ramadhan tahun ini, lelaki tua itu pergi ke pemamakan dan baru pulang saat senja tenggelam. Tetapi di hari ketiga, keempat, dan seterusnya lelaki itu masih tetap pergi ke pemakaman. Lakilaki itu pergi ke pemakanan seakan ia sudah merindukan tempat yang akan dihuni kelak, tepat usai shalat tarawih di malam Lailatul Qadar. Dan malam ini laki-laki itu sudah menjalani puasa selama dua puluh hari. Bulan di langit tak lagi penuh, mirip buah semangka dibelah dua. Di bilik kamar, lelaki itu berdiri melongok jendela. Tak diduga, tiba-tiba ia melihat seribu kunangkunang berterbangan di langit dengan memancar kelapkelip aneka warna. Cakrawala tidak lagi gelap, dan langit seperti tersepuh warna seribu kunang-kunang. Lelaki itu tidak ragu, bahwa malam ini adalah malam Ramadhan yang ditunggu-tunggu. Malam penuh berkah, dan dia merasakan ada secercah kedamaian yang menelusup dalam dadanya‌. Tak ing in ia kehilangan suasana yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidup, memandang ke angkasa dengan diam. Adzan isya’ sudah lama berlalu, tetapi suara langkah kaki orang-orang yang pergi ke masjid untuk shalat tawarih tidak menggoyahkan kakinya beranjak pergi ke masjid. Ia sudah merasa ajalnya sudah dekat. Langit yang dipenuhi dengan seribu kunang-kunang seperti mengabarkan akan berita duka tersebut. Kini, malam yang ditunggu-tunggu itu, sudah tiba dan dia harus menunaikan shalat tawarih di tengah malam yang hening. Malam yang membuatnya harus rela meninggalkan semua yang dia miliki. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu, seakan-akan malam tidak beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tidak 271


Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit | N. Mursidi

pernah ia rasakan, lantaran tidak ada angin. Dan, malam ini, ia merasakan ajal yang ditunggu-tunggu akan tiba. Ia melangkah mengambil air wudhu, kemudian kembali ke kamar, dan berdiri lagi di balik jendela. Seribu kunangkunang yang barusan dilihatnya tak lag i terlihat. Dia mengedarkan pandangan mencarinya di segala penjuru langit. Tapi seribu kunang-kunang itu sudah hilang, tidak ia temukan lagi. Angin berhembus, menyelimuti sekujur tubuhnya dalam balutan rasa tentram yang tak pernah ia temui sepanjang hidup. Malam seakan lama beringsut. Suara orang-orang yang menunaikan shalat Tarawih di masjid, terdengar di telinganya. Ia tahu, malam belum sepenuhnya hening. Maka, ia mengambil kitab suci di atas meja lalu membacanya dengan suara lirih. Tatkala anak-anaknya tiba dari masjid, tak menaruh curiga; kenapa ayahnya malam itu tidak shalat tarawih di masjid. Malam merambat menjadi hening. Ia tahu anak-anaknya sudah beranjak tidur. Tepat di malam itu, ia berdiri menunaikan shalat terawih di tengah malam yang hening. Malam yang membuat lelaki itu harus rela meninggalkan semua yang dimiliki, tak lagi memikirkan dunia. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu yang bisu, seakan-akan malam tak pernah beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tidak pernah ia rasakan, lantaran tak ada angin berhembus. Dan malam ini ia benarbenar merasakan ajal yang ditunggu-tunggu itu akan tiba dan ia pun segera menunaikan shalat tarawih. Malam benar-benar hening. Angin seperti diam, dan membisu. Ia khusuk dalam sujud, dan tidak memikirkan dunia. Usai shalat tarawih, pelan-pelan ia beranjak ke ranjang untuk tidur dan berharap di malam yang sudah beranjak 272


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

menjadi pagi itu, ia tidak akan bangun lagi lantaran ia akan meninggal dengan tenang selepas shalat tarawih, tepat di malam Lailatul Qadar. Tapi betapa terkejutnya lelaki itu tatkala waktu sahur tiba…, ia merasakan tangan kekar menyentuh tubuhnya. Abdul, anak pertamanya menggoyang-goyang tubuhnya. “Ayah…, bangun! Sudah waktunya makan sahur! Dan ada kabar sedih yang melingkupi kampung kita. Haji Salim, imam masjid di kampung kita barusan meninggal dunia.” Lelaki itu membuka matanya, dan dilihatnya sosok anak pertamanya berdiri di tepi ranjang. Ia terperanjak karena Haji Salim meninggal dunia. Dalam hati, ia merenung: kenapa Haji Salim yang justru meninggal pada malam yang ia tunggu-tunggu itu? Ia beranjak dari ranjang, membuka jendela, dan melongok keluar dengan mata masih setengah terpejam. Tidak ada seribu kunang-kunang di langit. Hanya ada bulan separoh bulat mirip buah semangka yang dibelah menjadi dua…. n . Ciputat, Ramadhan 1431

273


Repro: Dmitry Brodetsky | OpenArt

274


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Tentang Telepon, Lebaran, dan Demonstrasi Febrie Hastiyanto

o Published Š Sumatera Ekspres, Minggu 12 Agustus 2012

u 275


Tentang Telepon, Lebaran, dan Demonstrasi | Febrie Hastiyanto

F

EBRUARI, 1987. Suatu sore. —ini ya yang namanya telepon. kok bisa ada suara di situ? Abang kok kayaknya begitu sakti bisa omong-omongan dengan gagang telepon. Hik...hik... hik... lucu ya?!— BARU dua minggu ini rumah dimeriahi tingkah dering dari kotak perseg i-bergagang yang kata orang-orang namanya telepon. Jadi lagi masa percobaan. Mulai deh, bapak menelepon semua kenalannya yang ada di buku telepon. Abang tidak usah disuruh. Cuma saya dan ibuk saja yang tidak merasa ada perubahan drastis dari hadirnya teknologi ini. Tapi ada juga. Ya. Di sekolah orang-orang mulai cerita tentang telepon. Interlokal?? Si Asti saja katanya sudah bisa menelepon sendiri. Ah masa. Beraninya dia. Eh, sakti seperti Abang. Hmm. Pernah sih lihat kotak persegi bergagang yang kata orang-orang namanya telepon. —katanya besok lebaran. pagi-pagi—seperti tahun kemarin—orang-orang pada baris di lapangan. seperti senam di sekolah. assyiiik! tapi malam ini semua berkumpul di ruang tengah. menghadap kotak persegi-bergagang yang kata orang-orang namanya telepon— Ini namanya silaturahmi? Semua dapat giliran. Kamu juga ya, kata bapak kepada saya. Untuk apa bapak, saya beranikan bertanya. Sttt... ini namanya silaturahmi, kata Abang. Tapi rambut saya tidak diacak-acaknya lagi. —(ini keponakanmu) kata-kata terakhir bapak. setelah itu gagang telepon ia sodorkan. kepada saya?? ayo, bilang saja: selamat lebaran Pakde, Abang menyorongkan punggung saya. saya pucat. tapi ibuk tersenyum— Gagang dari kotak persegi yang kata orang-orang namanya telepon saya terima juga. Abang membantu ‘cara 276


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

memakai yang benar’, begitu katanya. Ayo bilang apa? Abang sudah menguji ingatan saya. Padahal saya masih pucat. —(halo). suara dari gagang kotak persegi yang kata orang-orang namanya telepon yang masih saya tempelkan di telinga— Tangan saya bergetar. Saya mencari Abang. Cepat-cepat saya serahkan padanya. menggeleng-geleng. apa-apa, ayolah. Saya memerlukan menelan ludah berkali-kali. Halo, Abang?! Halo? Katanya pada saya. Itu artinya emm... selamat malam. Ya, selamat malam. Kamu jawabnya halo juga. Sudah cepet sana! —(halo ini siapa?)— —(halo)— —(oh, keponakan Pakdhe ya?! sudah beli baju baru belum?)— —(selamat lebaran Pakde)— —(oh, ya... ya. besok ke rumah Pakde kan?!)— Saya kembali mencari Abang. Saya geleng-gelengkan kepala. Wajah saya tambah pucat saja. Bilang saja selamat lebaran Pakde, kata abang sambil mencubit gemes pipi saya. Saya memandangi abang lagi. Ya jawab pertanyaan Pakde, bisik abang. Ayo. Saya hampir menangis sekarang. —(halo?!) terdengar dari gagang kotak persegi yang kata orang-orang namanya telepon— JULI 1987. Ada bapak ada ibu juga abang. Bapak, kenapa air laut asin? Saya tanyakan padanya, soalnya tadi sedikit ter telan. Abang ter tawa. Dia menghampiri kami mencicipi es kelapa muda. Bapak dan ibuk juga. —(mengapa tertawa?) tanya saya. habis, mereka seperti 277


Tentang Telepon, Lebaran, dan Demonstrasi | Febrie Hastiyanto

menertawai pertanyaan saya— —(karena pertanyaan kamu. Itu nggak ilmiah namanya) kata Abang. masih tertawa ditahan— Ilmiah? Bodoh ya mereka. Budek kali. Saya bukan tanya ilmiah, tetapi kenapa air laut asin. Huh, menyebalkan. Sok dewasa mereka. Bapak juga ikut-ikutan. —(lalu garamnya saudagar itu dari mana?. entah. naluri bertanya saya saat ini pun tidak pernah berpikir tentang feed back seperti itu. ah, anak kecil— —(garamnya diambil dari Kahyangan). bapak, sambil menyeruput es kelapa muda— —(di Kahyangan ada dewa bapak?)— —(o, banyak. ada bidadari. ada peri juga) kali ini ibuk— —(ada Tuhan juga bapak?)— —(nggg...) manggut-manggut. —(Tuhan itu anaknya siapa sih, bapak?)— —(husss!) ibuk mendelik. menjentikkan jari pertanda jeweran. (tidak b oleh ngomong seper ti itu). masih mendelik— —(Tuhan tidak punya bapak. juga nggak ada ibu. tidak ada kakak. tidak ada adik. Tuhan itu satu). bapak menghabiskan es kelapa mudanya— —(kok bisa?) tapi saya hanya bertanya dalam hati— 1991. Pulang dari mengaji. —Bersama Abang di halaman samping pohon jambu air. sepeda baru. biru. setangnya lurus. sebuah lebih tinggi untuk Abang. larinya kenceng, sepeda itu. kalah semua sepeda-sepeda punya yang lain. dan sebuah lagi. sedang saya naiki— 1991, September. Bersama abang dan bapak. —Di sini ramai. hari Minggu pagi. dingin ya, pantas saja 278


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

dingin: pukul 06.02! Abang sudah hampir mahir kecipakkecipak. kadang timbul, banyak tenggelamnya. kalau bapak jangan ditanya— SAYA mulai mencebur ke dalam kolam renang. Bukan wilayah buat bapak-bapak tentu. Airnya dalam. Mencapai leher saya. Dinginnya itu lho. Bapak baru saja selesai pemanasan. Lalu menghampiri saya. Kita akan belajar berenang. Kamu mau kan bisa seperti oom itu? Bapak menunjuk seorang oom-oom di pojokan agak sebelah kiri. Kekar, berotot. Agak terengah-engah. Mau bapak, saya langsung menyahut. Membayangkan menjadi seorang ninja-air. Dapat bertahan di dalam air, seorang ksatria. —(kamu tahu kenapa bapak bisa berenang?)— Suaranya terdengar samar. Di antara riuh kecipakkecipak. Meski saya tahu apa yang ditanyakan, saya tidak menjawab. Konsentrasi lebih penting ketimbang saya tenggelam. Dan bakal dapat jahitan di dalam perut?? Sumpah. Saya tidak akan pernah mengijinkannya. —(bapak dulu punya cita-cita bisa berenang di laut. bisa jalan-jalan. maksudnya berenang kemana saja. ke Bali. atau, naik haji)— —(bhhisa). saya terengah-engah (bhhisa itu bapp...hak?)— —(ya. asal kamu bisa berenang) bapak menyorongkan saya. setengah lintasan sudah saya kecipaki. (nanti kita sama Abang. bawa nasi yang banyak. biar dipincuk ibuk nanti)— Sabtu, 10 Agustus 2002. saat rindu. dalam kamar kos di antara kitab-kitab: Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Hujan Kepagian dan Tiga kota, Burung-Burung Manyar, Catatan Harian Seorang Demonstran.... 279


Tentang Telepon, Lebaran, dan Demonstrasi | Febrie Hastiyanto

KEB ERADAAN aksi turun ke jalan bagi perjuangan merupakan keniscayaan taktis yang tidak ditawar-tawar. Aksi serentak menghajar bersama (common enemy) dalam satu telah menjelma menjadi momok hiyong dalam perspektif gerakan ekstra-parlementer. Yang selalu meng intai, mendekap untuk kemudian menggerogoti rejim yang lalim. People powers merupakan pembenar dari kebenaran perjuangan yang diimani. Kehendak umum (volonte general) adalah hukum tertinggi dalam masyarakat. Ironi dalam tragedi aksi seringkali muncul. Semangat heroik yang tumbuh kemudian tidak direspon dengan bekal ideologi yang mumpuni. Empat mahasiswa Trisakti yang tertembak pada 12 Mei 1998 tidak lebih sebagai ‘korbankorban aksi’. Meski oleh media dijargonkan dengan semarak sebagai pahlawan reformasi. Tanpa mengecilkan arti pengorbanan keempat pahlawan: A. Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, Hery Hartanto, tidak satu pun diantaranya dapat dikategorikan sebagai aktivis (Zamroni dan Andin: 1998), sebuah kategori sosiologis yang dapat dijadikan indikator keterlibatan politik—meski terlalu dini. Kemudian dibutuhkan adalah martir-martir perjuangan. Artinya seorang yang memiliki kesadaran ideologis dan kesadaran taktis terhadap apa yang dikerjakannya. ‘Korban aksi’ akan menjadi pahlawan dan ‘martir’ akan menjadi pejuang (sekali lag i, sebuah kategori sosiologis yang seringkali kurang etis). Pahlawan hanya akan menjadi pemicu gejolak manifest sesudahnya sebagai konsekuensi ‘teori domino’. Sedang pejuang akan menjadi ilham yang menjadi penyebab gejolak laten sebagai ‘kelanjutan perjuangan’. n

280


Repro: OpenArt

281


Menunggu Ibu Pulang | T. Agus Khaidir

u

Menunggu Ibu Pulang T. Agus Khaidir

o Published Š Sumut Pos, Minggu 12 Agustus 2012

u 282


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

S

EPI sekali. Rumah kosong. Ibunya belum pulang juga. Padahal tadi, usai menjemputnya dari sekolah, ibu bilang hanya akan pergi sebentar. Ah, Mira, gadis cilik 11 tahun itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Kenapa tadi tak bertanya ibunya kemana, tujuannya apa, perginya sama siapa. Ia benar-benar lupa karena terlanjur senang mendengar ibunya berjanji membawakan Kurma Ajwa untuk buka puasa. Kurma Ajwa, iya, bagaimana Mira bisa lupa. Setahun lalu di acara berbuka puasa bersama di sekolahnya, Mira untuk kali pertama mencicipi kurma itu. Memang lezat tiada berperi. Dagingnya tebal, lemak, tapi tidak enek lantaran sedikit berair. Dua butir cukuplah untuk menawarkan lapar yang tadinya begitu merongrong. Konon, pohon-pohon Kurma Ajwa yang ada sekarang merupakan turunan pohon kurma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah. Mira melirik jam di dinding ruang keluarga. Pukul lima empat puluh menit. Cahaya meredup, berubah dingin seiring gerimis yang mendadak turun tanpa didahului gertak. Ibunya belum juga pulang. Kemana, sih? Sambil tersungut-sungut Mira menghempaskan diri ke sofa, lalu menyetel televisi. Serangkaian acara komedi dan sinetron religi. Mira mengenal pemeran-pemerannya, bintang-bintang tamunya. Yang biasa-biasa juga. Hanya saja kali ini mereka tak berpenampilan seperti biasa. Mereka kali ini berkerudung berbaju kurung, serta berbicara dan bertingkah laku agak lebih sopan. Memuakkan! Di saluran lain berita korupsi, isu SARA Pilkada, gosip artis, musik-musik jiplakan dari Korea, debat-debat kusir yang entah kapan berkesudahan, ceramah agama dari ustaz-ustaz yang ganteng maupun yang suka melucu. Kenapa tak ada kartun? Huh! Benar-benar memuakkan. 283


Menunggu Ibu Pulang | T. Agus Khaidir

Mira mematikan lag i televisi itu. Kemana, sih, ibu? Ia menghela nafas. Diliriknya jam dinding. Lima menit menuju pukul enam. Mira melangkah ke halaman, membuka pagar, melongok ke ujung jalan. Ah, sebenarnya bukan jalan. Barangkali lebih cocok disebut gang. Lebarnya tak sampai dua meter, hanya cukup dilalui satu mobil kecil atau dua sepeda motor berpapasan. Tak ada lapisan aspal. Hanya conblock motif segi enam yang dipasang tak terlalu rapi. Di ujung jalan yang lebih menyerupai gang inilah angkot yang ditumpangi ibunya biasa berhenti. Mira sudah hafal benar bagaimana adegan selanjutnya berlangsung. Ibunya turun dari angkot itu dengan gerakan setengah melompat, lantas tergesa merogoh kantung roknya atau celana panjangnya atau blousenya, mengambil uang, kemudian menyodorkannya pada supir lewat jendela sebelah penumpang. Ibunya selalu memenyediakan uang pas untuk membayar ongkos angkot sejak tasnya disambar pejambret persis di tempat yang sama. Waktu itu, mereka baru satu minggu pindah ke kompleks ini, kompleks perumahan murah yang dalam beberapa tahun belakangan muncul sebagai trend bisnis properti. Selain jalannya yang sempit, rumah-rumah di kompleks ini diberdirikan hanya atas dua tipe, 36 dan 45. Tanpa dapur, tanpa halaman, dan sudah tentu tanpa pagar. Jika menginginkan, pemilik harus membangunnya sendiri. Beg itupun, Mira kerap diajak ibunya bersyukur. Bukan cuma karena letaknya yang masih berada di kawasan inti kota, sehingga cukup dekat kemanamana, tapi lebih pada kenyataaan betapa di luar sana banyak orang bahkan tak punya rumah sama sekali. Dua tahun lalu, rumah ini dibeli ibunya dengan cara mencicil. Bagiannya dari pembagian harta gono-gini setelah bercerai dengan ayahnya, dijadikan ibunya sebagai uang muka. 284


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Hari-hari dalam dua tahun berlalu cepat bagi Mira. Ia pindah sekolah, mendapat teman-teman baru yang tak kalah menyenangkan. Tapi semua keceriaannya sirna kala Ramadan tiba, dan itu membuatnya makin benci pada ayahnya. Benci, kesal, tapi sekaligus rindu. Betapa berat menjalani puasa tanpa ayahnya. Sekarang tak ada lagi yang membangunkannya saat sahur. Tak ada lag i yang menggendongnya dari tempat tidur ke meja makan, menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya, membimbingnya melafazkan niat puasa. Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala. Sebenarnya lafaz ini sudah lama ia hafal luar kepala. Tapi entah kenapa, Mira suka membayangkan ayahnya menyangka ia tak bisa. “Kenapa kau di luar, Mira? Masuklah, sebentar lagi berbuka. Apa bukaan apa kalian hari ini?” seorang perempuan tua melintas bernaung payung. Di tangannya bungkusan plastik, barangkali panganan berbuka. Mira kenal betul padanya. Tetangga berselang dua rumah. Dia baik dan ramah, dan punya dua cucu yang umurnya sebaya Mira, teman sepermainannya yang paling akrab di kompleks ini. “Belum tahu, Nek.” Perempuan itu menghentikan langkah. “Tak masak rupanya ibumu?” “Ibu belum pulang.” “Kemana ibumu? Tantemu di rumah, kan?” “Tidak tahu, Nek. Tadi katanya pergi sebentar. Tante juga belum pulang.” “Mau ke tempat nenek saja. Bukaan sama-sama Amel dan Lia. Iya?” Mira menggeleng. “Tak usahlah, Nek. Mungkin sebentar lagi ibu pulang.” 285


Menunggu Ibu Pulang | T. Agus Khaidir

Iya, mungkin sebentar lagi. Perempuan itu berlalu sembari berpesan, pintu rumahnya tidak dikunci jika Mira berubah pikiran. Langsung masuk saja, katanya. Mira mengangguk, tersenyum. Setelah perempuan itu menghilang di balik pagar, ia melongok lagi ke ujung jalan. Tetap tak ada angkot berhenti. Rumah-rumah tetangga di kiri kanan tutup. Serentak Mira merasakan dirinya sangat sendiri. Tante Mia, adik bungsu ibunya yang sejak tiga bulan lalu tinggal bersama mereka, tadi pagi-pagi sudah bilang ada acara buka puasa dengan kawan-kawan sekampusnya. Sepi sekali. Nun dari masjid kompleks terdengar lantunan ayat-ayat suci. Syahdu. Dan Mira, makin merasakan rindu itu. Mengapa ibunya begitu keras hati? Padahal ayahnya sudah setengah mati minta maaf, bahkan sampai minta ampun segala, sampai mencium kaki ibunya sembari berjanji meninggalkan perempuan sialan itu. Mengapa ibunya membatu, lalu lancang pula menjatuhkan keputusan sendiri tanpa bertanya apapun pada dirinya? Apakah karena ia dianggap masih terlalu kecil untuk mengerti soal perceraian? Padahal Mira sangat mengerti. Ia tidak ingin mereka bercerai. Ia ingin tetap punya ayah dan ibu yang tinggal serumah seperti teman-temannya. Ia tak ingin seperti Awang. Tapi Mira tak protes. Ia menurut saja saat dibawa ibunya pergi. Dari rumah besar berpagar gedong, ada kolam ikan cantik di sudut halaman yang dinaungi pohon mangga Arum Manis, ia pindah ke rumah sempit ini. Mira diam-diam sering merindukan rumahnya yang lama, merindukan ikan-ikan dan mangga Arum Manis itu. Tapi ia memang lebih rindu pada ayahnya. Sudah dua Ramadan tidak ada lagi acara jalan-jalan sore mencari panganan berbuka. Sudah dua Ramadan ia merindukan saat-saat mereka makan Sate Padang sepulang Tarawih. Tak peduli di restoran atau 286


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

emperan kaki lima, mereka selalu makan bertiga. Sungguh mesra. Mira benar-benar tak habis mengerti, kemesraan seperti ini masih juga bisa membuat ayahnya membagi rasa cinta pada perempuan lain. Terlalu! Apa, sih, yang kurang dari ibunya? Dia cuma sedikit cerewet, sedikit suka merajuk, tapi dia baik. Cantik pula tentunya. Senyumnya manis sekali, dan dia pintar memasak, pandai menjahit, juga pandai menyanyi. Tante Mia, adik bungsu ibunya, kira-kira seminggu lalu membawa kabar mengejutkan. Sekarang dia kembali ke pacar lamanya. Kakak tahu pacarnya? Lelaki tua yang wajahnya jauh lebih buruk dari Bang Zainuddin. Tapi walau buruk, lelaki yang disebut Tante Mia sebagai pacar perempuan itu lebih kaya dari ayahnya. Selama ini rupanya dia salah sangka, Kak. Rasain! Mira tak terlalu paham kalimat Tante Mia. Namun ia kira kesimpulannya tak meleset jauh. Sekarang ayahnya dan perempuan sialan itu tak lagi bersama. Harusnya ini jadi kabar baik. Nyatanya tidak. Mira tahu ayahnya pernah beberapa kali menelepon dan ibunya menerima dengan sikap sangat ketus. Kenapa bara dendam harus dipelihara? Tapi Mira tak yakin juga ibunya membenci ayahnya sedalam itu. Ia pernah memergoki, usai bercakap dengan ayahnya, ibunya menangis sesengukan. Lalu kenapa tidak menerima saja ayahnya kembali? Tante Mia bilang, persoalannya tak sederhana. Rumit, Mira. Serumit apa? Ini soal prinsip. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti. Inilah! Orang-orang dewasa selalu menganggap anakanak kecil tak tahu apa-apa perihal persoalan mereka. Terlalu menganggap remeh. Prinsip? Huh! Semenjak Awang membikin heboh satu sekolah lantaran dikabarkan menggetok kepala seorang lelaki dengan martil, ia telah 287


Menunggu Ibu Pulang | T. Agus Khaidir

berkenalan dengan kata itu. Awang teman Mira di sekolahnya yang lama. Ia masuk di awal tahun ajaran kelas III. Meski duduk di bangku yang letaknya bersisian, mereka jarang bicara. Mira suka mengobrol (bahkan di dalam kelas hingga sering ditegur guru), tapi Awang, bocah berambut keriting kriwil panjang sebahu yang saban hari diantar pakai Alphard ke sekolah, itu pendiam sekali. Pada jam istirahat ia lebih sering di kelas. Menggambar atau membaca komik yang dibawanya dari rumah. Sesekali keluar kelas, Awang tetap memilih menyendiri. Ia selalu duduk di sudut lapangan bola, di atas gundukan tanah yang oleh Mira dan kawan-kawannya selalu diandaikan sebagai gunung. Dari sana ia menonton anakanak lain main bola sambil menikmati bekalnya. Mengapa Awang bisa berbuat senekat itu? Mira mendapat jawabannya seminggu kemudian, setelah –lagilagi– Awang membikin heboh. Ia hilang. Lebih tepatnya, menghilang. Berjam-jam dicari tak kunjung ketemu. Wali kelas, guru-guru, kepala sekolah, bahkan pemilik sekolah, ikut repot menelepon ke sana kemari. Seluruh orang tua siswa kelas III ditanyai apakah Awang ada di rumah mereka. Hasilnya nihil. Ibu Awang menangis. Lelaki yang datang bersamanya menyarankan untuk melapor polisi. Siapa tahu diculik orang. Lelaki itu perlente sekali. Kemejanya lincin, berdasi, tapi ada perban di kepalanya. Setelah ibunya dan lelaki perlente itu pergi ke kantor polisi, Awang tiba-tiba muncul. Rupanya ia bersembunyi di antara rerimbunan batang tebu yang tumbuh liar di balik gundukan tanah dekat lapangan bola itu. Mira yang belum dijemput, duduk menemani Awang yang menangis di dalam kelas. Aku tak mau satu mobil dengan laki-laki itu. Kalimat inu berkali-kali ia teriakkan dengan nada makin histeris, hingga kepala sekolah menyerah dan 288


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

memerintahkan wali kelas mengantar Awang pulang. Mira bertanya kenapa Awang begitu keras kepala. Awang, untuk pertama kalinya, tersenyum pada Mira. Ini soal prinsip, Mira. Kau tak akan mengerti. Kau punya ibu dan ayah. Aku tidak lagi. Karena laki-laki itu ayahku pergi. Mungkin lain kali aku harus buat perhitungan yang lebih serius dari sekadar menggetok kepalanya. Dering telepon memutus lamunan Mira. Ia berlari ke ruang tengah. Siapa tahu ibunya. “Halo!” Ternyata Tante Mia. Mengabarkan ia bakal pulang lebih lama dari rencana semula “Tante ke mal sebentar, ada kawan minta ditemenin beli baju buat lebaran. Bilang sama ibumu, ya, Mir. Dah…” Bahkan Tante Mia tak menanyakan ibunya sudah pulang atau belum. Tapi, eh, Mira baru sadar, Tante Mia memang tak tahu ibunya pergi. Ini seperti rencana mendadak. Ia sendiri baru tahu tadi siang. Gontai Mira melangkah ke dapur. Membuat teh manis. Dibukanya kulkas, ada pudding coklat sisa semalam. Jadilah, daripada tidak ada yang dikunyah. Azan Magrib terdengar saat Mira meletakkan pudding di meja makan. Bertepatan itu, dari depan terdengar suara derap kaki. Disusul suara yang ia rindukan sejak tadi. “Mira, maaf ibu telat, nak. Tadi jalanan macet. Ini ibu bawakan Pizza.” Lho, kok, Pizza? Bukan Kurma Ajwa? Mira menghambur ke depan, siap mencecar rajuk. Tapi langkahnya mendadak terhenti. Ibunya tak datang sendiri. Seorang lelaki berdiri di sisi pintu. Lelaki itu tersenyum padanya. “Oh, iya, ini Oom Sam. Kalian belum saling kenal, kan? Suruh masuk, dong. Magrib begini nggak baik berdiri di 289


Menunggu Ibu Pulang | T. Agus Khaidir

depan pintu. Nanti bisa kesambet setan, lho. Nanti‌� Ibunya terus mengoceh. Mira tak mendengarkannya lagi. Lelaki yang disebut ibunya Oom Sam memamerkan senyum makin lebar. Tapi Mira justru membayangkan wajah Awang. Wajah yang juga bersenyum dan tangannya erat menggenggam martil. n Medan, 5 Agustus 2012

290


Repro: Hans Jochem Bakker | OpenArt

291


Repro: Morgan Weistling | OpenArt

Cerpen Anak & Remaja 292


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Tak Usah Menunggu Lebaran Yayan Rika Harari

o Published Š Kedaulatan Rakyat, Minggu 12 Agustus 2012

u 293


Tak Usah Menunggu Lebaran | Yayan Rika Harari

H

AAAHHH... lukisanku kok jadi begini? “Lisa memekik. Murid-murid kelas 4A segera mengerumuni Lisa di mejanya. Lukisan Lisa penuh cat merah. Meja pun basah kena cat air. Kuasnya tergeletak di bawah meja. “Cat airmu tumpah, Lis?” tanya Zalfa. “Iya, Lis, pasti tumpah... Nih, paletmu kosong,” Fara menambahkan dengan yakin. ‘Tapi, tadi waktu aku tinggal keluar kelas tidak seperti ini. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Diva,” Lisa menunjuk teman satu mejanya. Semua menoleh pada Diva. “Benar, Va, yang dikatakan Lisa?” tanya Zalfa pada Diva. “Iya, benar, aku tadi lihat kok. Lukisan Lisa bagus. Lukisan anak-anak sedang takbiran keliling,” jawab Diva. “Tapi bagaimana bisa seperti ini, ya?” kata Fara. “Udah...udah... Tidak apa-apa kok, aku bisa melukis lagi nanti. Kita harus bersabar,” kata Lisa berusaha tersenyum. “Kalau begitu, ayo, kita bantu Lisa membersihkan mejanya!” ajak Fara. “Aku setuju, biar Lisa bisa segera melukis lagi,” tukas Zalfa. Setelah meja Lisa kembali bersih, Lisa lalu mulai melukis lagi. Semua murid kembali ke kursi masing-masing dan melanjutkan lukisannya. Sementara itu, di meja paling belakang di pojok kelas, Fara berkata pelan pada Ela sahabatnya, “Kasihan Lisa, ya, harus mengulang lukisannya.” Ela cuma mengangguk dan diam tidak menjawab perkataan Fara. “Semoga Pak Hery memberi waktu tambahan untuk Lisa kalau lukisannya belum selesai waktu bel nanti,” Fara terus berbicara meski tidak ditanggapi Ela. Karena Ela diam saja, Fara menoleh pada Ela. Dilihatnya Ela tertunduk sedih. Mulutnya mengatup rapat. “Ada apa, La, kok seperti itu?” tanya Fara. 294


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

“Tidak ada apa-apa,” jawab Ela lirih. “Ayo, dong, cerita. Tidak mungkin kamu diam aja kalau tidak apa-apa,” bujuk Fara. “Bener,” jawab Ela hampir tak terdengar. Fara meletakkan kuasnya. Ia menoleh pada Ela. Biasanya sahabatnya itu ceria, suka bercerita. Tetapi sekarang Ela diam saja. Fara mengamati Ela dan lukisannya. Gambar orang membuat ketupat itu dari tadi belum berubah. Baru ketupatnya saja yang diberi warna hijau. Fara membungkukkan badannya dan berusaha melihat wajah Ela yang menunduk. Ela menyembunyikan wajahnya. Fara gagal melihat wajah Ela, tapi ia menemukan sesuatu. Ada noda cat merah di baju Ela. Fara sedikit terhenyak. Diamatinya lagi lukisan dan palet Ela. Belum ada cat merah yang terpakai. Fara langsung mendekati Ela. “Ela, kamu tahu siapa yang menumpahkan cat air Lisa?” bisik Fara pada Ela hati-hati. “Iya..., aku yang menumpahkan, tapi tidak sengaja. Waktu lari keluar kelas aku tersandung meja Lisa. Isi paletnya tumpah ke lukisan. Kuasnya jatuh kena bajuku,” jawab Ela. “Oh, begitu ceritanya. Mengapa kamu tidak mau minta maaf?” “Mau, Fa, tapi besok aja waktu lebaran,” bisik Ela. “Aku takut Lisa marah. Kalau waktu lebaran, pasti Lisa tidak marah dan mau memaafkan.” “Eh, itu tidak benar, Ela. Kalau kita bersalah, ya harus segera minta maaf,” kata Fara. “Aku yakin Lisa tidak marah dan mau memaafkan kamu. Kamu kan tidak sengaja,” bujuk Fara. Ela menggeleng. “Ayo dong Ela, minta maaf saja...!” Fara membujuk terus. Akhirnya, Ela bangkit. Ia berjalan ke arah meja Lisa. Fara lega. Tetapi, ternyata Ela terus melewati meja Lisa dan meninggalkan kelas. Fara yang penasaran kemudian 295


Tak Usah Menunggu Lebaran | Yayan Rika Harari

mencoba melihat sahabatnya dari balik jendela. Dilihatnya Ela berpapasan dengan Pak Hery yang hendak kembali ke kelas. Entah mengapa Pak Hery kemudian berbalik. Ela mengikutinya. Tidak berapa lama kemudian Ela kembali ke kelas bersama Pak Hery. Wajah Ela tampak sudah lebih cerah. Ia kemudian kembali duduk di samping Fara. “Ngapain kamu tadi?” Fara bertanya dengan tidak sabar. “Menebus kesalahan!” jawab Ela singkat. “Apaan? Kamu belum minta maaf kepada Lisa...!” tukas Fara. “Ada deh...!” jawab Ela menyebalkan. Fara semakin jengkel. Menjelang jam pelajaran berakhir, Pak Hery mengingatkan agar murid-murid segera menyelesaikan lukisan. Tetapi, khusus kepada Lisa, beliau memberikan tambahan waktu saat istirahat. Rupanya beliau tahu ada kecelakaan kecil yang terjadi pada lukisan Lisa. Murid-murid pun bersorak girang. Mereka senang dengan keputusan Pak Hery. “La, kenapa kamu nggak istirahat?” tanya Lisa keheranan sambil menyelesaikan lukisannya saat istirahat tiba dan semua anak sudah keluar kecuali mereka berdua. “Lis, aku mau omong sesuatu...,” Ela terbata-bata. “Apa sih, bikin penasaran aja?” kening Lisa mengernyit penuh keheranan. “Aku minta maaf. Sebenarnya, aku yang menumpahkan cat air itu. Aku tersandung kaki meja tadi,” Ela menjelaskan dengan tersendat-sendat. “O, begitu... kirain apa... kok serius banget!” jawab Lisa dengan ringan. “Kamu nggak marah?” tanya Ela takut-takut. “Tadi sih dongkol. Tapi sudahlah, sudah telanjur. Lagian 296


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Pak Hery ngasih waktu tambahan kan? Eh, omong-omong kenapa Pak Hery bisa tahu, ya?” “Aku yang cerita ke Pak Hery tadi saat aku keluar kelas,” jawab Ela sambil menyalami Lisa. Sambil tersenyum Lisa menyambutnya. n

297


Repro: Barry Yang | OpenArt

298


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Surat untuk Pelangi Sartika Sari

o Published Š Medan Bisnis, Minggu 12 Agustus 2012

u 299


Surat untuk Pelangi | Sartika Sari

Dua bocah laki-laki duduk di pinggir sungai. Di depannya arus air cukup deras. Lantaran sejak pagi tadi, desa ini diguyur hujan. Baru beberapa jam lalu berhenti. Tentu saja, kedua bocah itu juga turut sibuk memperbincangkan pelangi yang nempel di langit sore ini. Ah, saban senja mereka memang sering menghabiskan waktu bersama. Biasanya ada dua teman lagi. Koko dan Lili. Tapi hari ini, mereka tidak diberi izin bermain di luar rumah. Tinggallah Tejo dan Jesmen. ”

A

KU tak percaya kalau pelangi itu bidadari.” Tejo bergeming. Tapi matanya sayu benar. “Kenapa pulak? Dari kecil kita kan sudah dengar cerita Inang kalau pelangi itu adalah bidadari.” Jesmen mencoba meluruskan pikiran Teja yang dianggapnya keliru. “Dulu memang aku percaya. Tapi sekarang tidak.” jawab Tejo singkat. “Aih, ada apa denganmu Jo? Aneh kali kau? Atau janganjangan kau lagi sakit ya? Kecapekan karena menguras rumahmu yang banjir?” tanya Jesmen. “Bukan begitu Jesmen. Coba kau lihat, kalau memang pelangi itu bidadari, kenapa munculnya sehabis hujan saja?” Tejo kembali melayangkan pertanyaan. “Kau ingat kan, bidadari itu tinggalnya di kahyangan? Mungkin saja ada peraturan disana yang cuma memperbolehkan bidadari keluar sehabis hujan. Memangnya di rumah kita, enggak pernah dilarang-larang kecuali kalau sudah malam. Cemananya kau ini Jo. Enggak betul pikiranmu.” jawab Jesmen ketus. “Tapi, kenapa tidak setiap hujan dia keluar? Yang aku tahu, bidadari itu baik hati dan bisa mengabulkan permintaan kita. Tapi apa buktinya, sejak dulu setiap ada 300


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

pelangi, aku selalu berdoa, tapi tidak pernah mereka bantu.” Sambung Tejo. “Hm, iya juga ya. Semalam hujan, tapi enggak ada pelangi. Dua hari yang lalu juga, tapi enggak ada pelangi. Bah, aneh juga. Tapi tunggu dulu Jo. Mungkin aja mereka dikasih jatah keluar kahyangan cuma satu kali seminggu. Bisa aja kan?” Jesmen masih berusaha mempertahankan pendapatnya. “Sudahlah Jesmen. Aku terlanjur tidak percaya dengan bidadari-bidadari itu.” “Ya sudahlah. Aku pun jadi bingung mau jawab apalagi. Yang penting aku masih percaya kalau pelangi itu bidadari. Dan suatu saat nanti, mereka akan turun terus mengajakku ke kahyangan dan mengabulkan apapun yang kuminta. Hahaha….” “Hus! Ngawur!” “Eh, kenapa lidi ini berdarah? Kau nulis lagi?” Jesmen terkejut melihat tangan dan lidi yang dipegang Tejo berlumur darah. Setahun belakangan, Tejo memang sering seperti ini. Setiap ditanya, katanya tak ada apa-apa. “Ini surat terakhir untuk pelangi.” jawab Tejo singkat sambil memasukkan selembar surat ke dalam sebuah kaleng lalu disangkutkan ke dahan pohon mangga. “Tadi kau bilang tak percaya dengan pelangi? Tapi kau buat juga surat untuk pelangi.” Jesmen mengalihkan pandangan lagi ke arah sungai. Ia menganggap sikap Tejo itu sudah biasa. “Ya, ini surat terakhir.” “Terserah kaulah. Sekarang kita pulang aja. Kasihan inang-ku di rumah.” “Iya-iya. Kita pulang.” Kedua bocah itu berjalan lurus. Menembus udara basah di senja yang manis. Meskipun berbeda etnis, Tejo dan 301


Surat untuk Pelangi | Sartika Sari

Jesmen tak pernah menganggap itu sebagai sebuah masalah. Malahan mereka sangat akrab. Sudah empat tahun sejak kelas satu Sekolah Dasar, ketika Tejo baru pindah ke wilayah ini, mereka bersahabat. Begitu pun dengan Koko dan Lili. Tapi sayang, mereka jarang bisa bermain bersama. Langit gelap. Suara jangkrik ramai. Lepas hujan pagi tadi, malam ini udara masih terasa dingin, pas untuk beristirahat dengan nyenyak. Tejo penghibur mereka. Seperti inilah sejak setahun tahun lalu, sepeninggalan bapak dan adik kembarnya. Tak mudah memang, mengikhlaskan kenyataan yang nyaris merenggut keutuhan keluarga. Tapi Tejo dan ibu selalu berusaha menerima, meskipun kadang duka dalam tak bisa disembunyikan. “Jo, masih sering mimisan?” Tejo terdiam. Kalau ia jawab jujur, Ibu pasti akan khawatir. “Tidak Bu, sudah tidak pernah.” “Syukurlah.” Terpaksa, Tejo harus berbohong. Hampir setahun belakangan ini ibu sangat mencemasi kesehatannya. Bagaimana tidak, kecelakaan mobil yang mereka alami waktu itu tak hanya mengambil bapak dan adik-adiknya tapi juga meninggalkan luka di kepala Tejo. Ia sering mimisan. Dokter sudah berulang kali mendiagnosa. Bahkan pernah, Tejo diklaim tidak akan hidup lama. Malam makin dalam. Seluruhnya tertidur pulas di rumah masing-masing. “Jangan diam aja, Jo. Sini, aku bersihkan darahnya. Kamu mau apa?” “Baiklah, sekarang juga kita naik rakit.” “Jo, jangan diam sajalah. Tadi kamu minta naik rakit, tapi malah begini. Atau kamu mau melihat aku atraksi?” “Jo, kamu enggak asyik ah!” “Jo, lihat pelanginya cantik sekali. Sini, lihat dari air sungai 302


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

ini. Ayolah, jangan membenci pelangi. Ini sungguh elok kawan.” “Jo, pegang tanganku! Sini pegang tanganku! Tejo….” “Inang, aku mimpi buruk. Aku takut terjadi sesuatu sama Tejo.” “Jes, barusan ibu Tejo bilang, Tejo masuk rumah sakit. Kondisinya kritis.” “Inang, aku harus lihat Tejo.” “Sabar dulu, sekarang dia belum bisa dijenguk. Lebih baik kau berdoa untuk dia.” Jesmen terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa. “Surat, surat!” “Hei, mau kemana kau Jesmen? Ini masih pagi.” “Aku mau ke sungai sebentar Inang.” “Pelangi, bantu aku bicara pada Tuhan. Aku cuma ingin meminta kesembuhan penyakitku. Walaupun dokter bilang, umurku sudah tak panjang, tapi aku tak ingin seperti ini. Kasihan ibu sendirian. Aku ingin membahagiakan ibu.” Air mata Jesmen tumpah. Surat yang kerap disimpan Tejo berlumur darah. Hidung, darah, yang seringkali dilihatnya dari Tejo ternyata sebuah isyarat kesakitan. Jesmen makin larut. “Kenapa kau tak menyembuhkan sahabatku, pelangi?” n

303


Repro: Himawan Dwi Prasetyo | OpenArt

304


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

u

Kehilangan Jejak Arsatma Bangun

o Published Š Medan Bisnis, Minggu 12 Agustus 2012

u 305


Kehilangan Jejak | Arsatma Bangun

K

ECANTI KAN dan kemolekan adalah anugerah terbesar dari Dibata, akan tetapi anugerah tersebut bisa menjadi peperangan dan malapetaka. Begitu yang terjadi pada keturunan Ginting Pase. Kelahiran Beru Ginting Pase atau sering disebut unjuk merupakan anugerah terbesar dalam keluarga Ginting Pase karena kecantikan memberikan cahaya putih hingga tersebar ke bumi turang dan hutan belantara. Maka ayah unjuk membuat acara syukuran menurut adat Karo ditengah kebahagian. Membuat gendang sebagai pujian dan memberikan sesajen kepada leluhur. Hal ini dilakukan dalam bentuk syukur kepada Dibata Datas, Dibata tengah dan Dibata Teruh. Karena pada masa itu dikenal tiga Dibata. Suara musik gendang tersebut terdengar ke hutan belantara Sinabung. Para Umang mendengar suara tersebut, oleh karena itu dia melihat apa yang terjadi sehingga ada acara meriah. Ketika melihat bunga desa yang bernama Unjuk, umang bersumpah: Ketika engkau kelak dewasa akan kujadikan istriku. Siapapun yang menghalangiku akan ku bunuh. Begitulah sumpah Umang. Ayah Unjuk merasakan ada sosok (sepasang) mata yang terlihat semak belukar.Siapa kau ?Sosok mata itu langsung hilang dengan segejab. Para pengawal kerajaan langsung mengejar sosok mata itu, tapi tidak kelihatan. Hal ini membuat ayah Unjuk resah. Kebahagian itu bercampur dengan ketakutan. Oleh karena itu ditanya dukun Karo yang disebut Guru Sibaso. Bulang tanya dulu nenek luhur kita. Sosok mata siapa itu gerangan membuat hatiku resah. Guru Sibaso membakar kemenyan. mulutnya komat-kamit dan berkata Gawat bapak Unjuk. Itu Umang yang tinggal di Gunung Sinabung. Dia jatuh hati kepada anakmu.Tolong aku Guru! Selamatkan anak aku guru. Buat sesajen ke Gunung. Iya Guru. 306


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Malam hari arak-arakan warga desa membawa sesajen untuk diberikan kepada Umang dekat gunung Sinabung. Sosok mata itu terlihat semak belukar di balik gua yang begitu besar. Guru sibaso membakar kemenyan serta memohon supaya tidak menggangu Unjuk. Dari pohon itu muncul mirip manusia akan tetapi kakinya terbalik ke belakang. Semua warga desa tunduk dan menyembah Umang tersebut. Setelah menghabiskan sesajen dan hilang tiba-tiba. Semua warga desa pulang dengan rasa gembira, akan tetapi yang lebih senang orang tua Unjuk. Akan tetapi kebahagian itu tidak lama. Seminggu setelah melahirkan Unjuk. Ibu Unjuk meninggal. Seluruh keluarga tidak mengetahui apa penyebab maka dia meninggal bahkan Guru Sibaso tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.Terdengar isak tangisan keluarga. Tangisan ayah Unjuk membanjiri amak bentar.Ibu Unjuk jangan tinggalkan aku. Anak kita masih kecil, aku tidak punya daya mengasuhnya. Sepeninggalan Ibu Unjuk kehidupan ayah Unjuk merana. Hidup dalam kesendirian dan melihat bayi munggil itu tidak dapat menahan kepedihannya. Dia harus pergi ke hutan belantara untuk berburu serta membuka lahan baru untuk memenuhi sesuap nasi dan anaknya. Banyak orang iri terhadap dia karena kesuksesanya di kampung Kutabuluh termaksud saudaranya. Seperti biasa setiap panen melimpah, maka Keluarga Ginting Pase membuat acara pesta syukuran dirumah Adat. Karena kebusukan hati saudaranya mereka meracuni makanan yang dimakan bapak Unjuk. Racun begitu cepat menyebar sehingga tidak dapat ditolong. Karena merasa bersalah atas perbuatannya, bapak Tengah dan bapak Uda bunuh diri. Mereka merupakan saudara dari ayah Unjuk. Kesendirian dan kesepian dalam 307


Kehilangan Jejak | Arsatma Bangun

hidup Unjuk. Tangisan di malam hari menghiasi kehidupannya. Hingga dia tumbuh dewasa. Kecantikan dan kemolekan hingga membuat dia menjadi bunga desa. Cahaya dan sinar wajahnya menyinari seluruh bumi turang. Bahkan Umang mengubah dirinya menjadi sosok pemuda yang gagah. Bahkan Umang menikahi Unjuk. Bahkan Unjuk tidak mengetahui bahwa suaminya adalah Umang. Mereka membangun rumah berbentuk batu di Kampung Amburidi. Malam per tama begitu mengerikan sehingga darah membanjiri amak bentar. Kepuasan sebagai insani terpenuhi. Akan tetapi tidak menghasilkan buah. Kehidupan mereka memang bahagia tapi sampai Unjuk meninggal dunia tidak mempunyai keturunan. Bahkan sampai sekarang Ginting Pase tidak mempunyai keturunan. n

308


Repro: OpenArt

309


Adik Tak Selalu Nakal | Khairy Ra’if Thaib

u

Adik Tak Selalu Nakal Khairy Ra’if Thaib

o Published © Padang Ekspres, Minggu 12 Agustus 2012

u 310


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

L

ONCENG tanda pulang sekolah berbunyi, aku dan teman-temanku pulang ke rumah masing-masing. Ketika membuka pintu rumah, sebuah bola mengenai mukaku. “Ivan, jangan main bola dalam rumah! Kan sudah sering kakak katakan kalau main bola itu jangan dalam rumah!” teriakku emosi. Dengan rasa kesal aku menukar bajuku. Berjalan ke meja makan dan aku makan. Sedang menyuap nasi tiba-tiba bola mengenai piringku. Piringku jatuh, pecah. Aku kembali memarahi Ivan, adikku yang baru kelas satu SD. “Ivan jangan main bola dalam rumah! Piring makan kakak pecah garagaramu. Sekarang kamu bersihkan nasi dan piring yang pecah itu, sebagai hukuman!” Dengan terpaksa Ivan membersihkan nasi dan piring pecah yang berserakan dilantai. Tak berapa lama setelah Ivan selesai membersihkan nasi dan piring yang pecah itu Mama pun pulang. Ivan mengatakan pada Mama bahwa aku yang memecahkan piring itu. Mama masuk dalam kamarku dan memarahiku. “Ma, bukan aku yang memecahkan piring, tapi Ivan yang melemparkan bola pada piring itu saat aku makan,” kataku membela diri. Mama tampaknya tidak percaya bahwa yang melakukan itu adalah Ivan.Akibat dari ulah Ivan yang mengatakan bahwa aku telah memecahkan piring pada Mama, uang jajanku dikurangi. Aku sangat kesal pada Ivan. Ivan malah tertawa-tertawa kecil melihat aku dimarahi Mama dan dikurangi uang jajan. Malam harinya aku bertengkar dengan Ivan di depan televisi. Aku mau menonton film ini, dia malah ingin menonton film yang lain. Aku rebut-rebutan remot televisi dengannya. Mama ke luar dari kamarnya. “Susan, kamu jangan begitu sama adikmu. Kamu yang lebih tua harus 311


Adik Tak Selalu Nakal | Khairy Ra’if Thaib

mengalah dengannya!� Dengan berat hati aku memberikan remot televisi pada Ivan dan tidak menonton film favoritku malam ini. Besoknya pulang sekolah aku membawa teman-temanku ke rumah untuk membuat PR bersama. Seperti hari kemarin ketika membuka pintu, bola sudah melayang menuju mukaku. Untung kali ini aku lebih waspada. Aku menepis bola yang siap mengenai mukaku. Aku menyuruh Ivan untuk berhenti main bola, karena aku dan teman-temanku akan mengerjakan PR bersama. Dia menganggu-angguk saja tanpa berbicara, tampaknya dia sudah mengerti dengan maksudku. Ivan melihat aku dan teman-teman mengerjakan PR. Dia sepertinya juga ingin belajar bersama kami. Aku memberikan buku gambar padanya. Aku menyuruhnya menggambar apa saja yang ingin dia gambar. Ivan menggambar pemandangan alam, seperti gunung, laut, sungai, jalan dan rumah-rumah. Melihat Ivan yang bersemangat menggambar, aku memberikan buku Belajar Menggambar padanya. Menurutku buku itu sangat cocok buatnya. Dalam buku itu ada gambar pemandangan alam, gambar binatang, sepeda, mobil, motor, pesawat, kapal, dan berbagai macam robot. Ivan mengamati buku itu., lalu dia menggambar ikan, ayam, kapal, pesawat, dan robot Power Ranger. Gambar yang dibuat Ivan cukup bagus. PR kami telah selesai, hari pun sudah sore. Temantemanku minta izin untuk pulang ke rumahnya masingmasing. Ivan tak mau memberi izin pada teman-temanku itu. Dia masih ingin belajar dengan temantemanku. Aku mencoba menahan teman-temanku supaya jangan pulang dulu, tapi teman-temanku tidak bisa terlalu lama di rumahku, karena mereka hanya dapat izin dari orang tuanya sampai sore. Akhirnya aku menjelaskan pada Ivan kalau 312


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

teman-temanku itu harus segera pulang. Ivan mengizinkan teman-temanku pulang asalkan aku mau mengajarinya sampai dia bisa jadi penggambar yang hebat dan besoknya temantemanku dimintanya untuk datang kembali ke rumah. Teman-temanku juga mau menerima permintaan Ivan. Setelah mengemasi buku-bukunya teman-temanku pun pulang ke rumahnya masing-masing. Tak berapa lama kemudian datanglah Mama. Ivan berlari menghampiri Mama. Dia mengatakan pada Mama bahwa yang memecahkan piring kemarin adalah dia, bukan aku. Dia minta maaf pada Mama karena telah berbohong, dan dia minta supaya Mama tidak mengurangkan uang jajanku lagi. Mama senyum-senyum bahagia melihat aku dan Ivan akrab. “Mama mau memaafkan kesalahanmu, tetapi kamu harus minta maaf dulu pada kakak.� Ivan berlari ke arahku dan langsung minta maaf. Aku tanpa merasa keberatan memaafkan kesalahannya. Aku juga minta maaf padanya karena aku sering memarahinya. Dia maafkan kesalahanku dengan senang hati. Aku, Mama, dan Ivan saling maaf-maafkan. Mama berjanji pada kami untuk membelikan kami buku yang banyak supaya kami lebih rajin belajar. n

313


Repro: Jean Pierre Alaux | OpenArt

314


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

Lampiran o

ANALISA Husen Rifin | Kebun Merah Hati ANNIDA ONLINE Agung Dodo Iswanto | Kolak Emas ANNIDA ONLINE Nikmatus Solikha | Sisi Lain Bapak BANJARMASIN POST Uzairul Anam | Sayap Abadi BALI POST Parlan Tjak | Mel, Ini Aku BERITA PAGI Rifhan Nazhif | Bunda Piara CEMPAKA Majalah Nimas Kinanti | Kasih Tak Bertepi FAJAR MAKASSAR Mizunihara | Merah Marah HALUAN Dafriansyah Putra | Awan Merah Jambu HALUAN KEPRI Nofriadi Putra | Laksa HORISON ONLINE Suhariyadi | Potongan Kaki Perempuan HORISON ONLINE Muhdoer Al-Farizi | Sebongkah Kertas dan Wajah Emak JAWA POS Bamby Cahyadi | Malaikat Mungil dan Perempuan 315


Lampiran

Lolipop JURNAL NASIONAL Dadang Ari Murtono | Upaya Menghindari Dosa JOGLOSEMAR Baju Lebaran KEDAULATAN RAKYAT Affan Safani A. | Tamu Lebaran KOMPAS AK Basuki | Seragam KOMPAS.COM Sutan | Huh....! KORAN TEMPO Eka Maryono | Kakek dan Peti Mati LAMPUNG POST Absurditas Malka | Hujan Anak Panah MEDAN BISNIS Ramajani Sinaga | Gagak Hitam MERAPI JOGJA Mulasih Tary | Parcel Lebaran METRO RIAU Rian Harahap | Lebaran Tanpa Bunda OKEZONE.COM Eka Maryono | Cangik Jadi Ratu OKEZONE.COM Zulfikar | Bangkai di Atas Pusara PADANG EKSPRES Syarifuddin Arifin | Aku Akui, Ibu! RADAR LAMPUNG Nofita Chandra | Ngabuburit RADAR SURABAYA Rafif Amir | Hujan REPUBLIKA Ilham Yusardi | Pintu Lebaran 316


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-VII Agustus 2012

RIAU POS Dessy Wahyuni | Lelaki Reinkarnasi RIAU POS Samsul | Menebus Impian SATELIT POST Kartika Catur Pelita | Lebaran dalam Semangkuk Bakso SERAMBI INDONESIA Mahdi Idris | Baju Baru untuk Putriku SINAR HARAPAN Titik Kartitiani | Requiem Ingatan SUARA KARYA Djunaedi Tjunti Agus | Mei Lie SUARA MERDEKA N. Mursidi | Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit SUMATERA EKSPRES Febrie Hastiyanto | Tentang Telepon, Lebaran dan Demonstrasi SUMUT POS T. Agus Khaidir | Menunggu Ibu Pulang KEDAULATAN RAKYAT (Cernak) Yayan RH. | Tidak Usah Menunggu Lebaran MEDAN BISNIS (Cernak) Sartika Sari | Surat untuk Pelangi MEDAN BISNIS (Cernak) Arsatma Bangun | Kehilangan Jejak PADANG EKSPRES (Cernak) Khairy Ra’if Thaib | Adik Tak Selalu Nakal PIKIRAN RAKYAT (Cernak) Ais Aliannisa | Persahabatan Abadi SUARA MERDEKA (Cernak) Yayan Rika Harari | Tidak Usah Menunggu Lebaran

u 317


Bunga Rampai Cerpen Minggu, Pekan ke-VII, Agustus 2012  

Bunga Rampai Cerpen Minggu, Pekan ke-VII, Agustus 2012

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you