Page 1


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau keseluruhan isi buku ini dalam bentuk apapun secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan tehnik perekaman lainnya, tanpa seizin tertulis dari penerbit. Rujukan dari maksud Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan dan memperbanyak ciptaan pencipta atau memberikan izin untuk itu, dapat dipindana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii


Bunga Rampai Cerpen Minggu

Minggu Ke-V Periode: 23 - 29 Juli 2012

iii


Bunga Rampai Cerpen Minggu Minggu Ke-V Periode: 23 - 29 Juli 2012

All Rights Reserved Riset & Dokumentasi: Ilham Q. Moehiddin Gambar Sampul: Repro Lee Bogle | OpenArt Gambar Belakang: Repro Lee Bogle | OpenArt Desain sampul: IFW ArtDesign

Juli, 2012 x + 290 hal; 21 x 29,7 cm

iv


bunga rampai cerita pendek yang sedang anda baca ini adalah kumpulan yang diriset untuk dokumenasi. tidak ada kepentingan lain, kecuali sebagai data-base sematamata.

v


Daftar Isi

Daftar Isi g Pengantar | viii Maling | 1 Mbah Jo dan Pesta Demokrasi | 9 Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini | 17 Perempuan Rasa Es Krim | 29 Teungku Bakhee | 35 Ketegaran Cinta Bertasbih | 51 Ramalan Papa | 61 Rindu Hujan dan Senja | 71 Kekasih Kupu-Kupu | 77 Purnama di Mata Mama | 83 Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi | 93 Menunggu Kapak Ibrahim | 101 Perempuan Pilihan | 111 Cerita Sebelum Puasa | 119 Tangan-Tangan Buntung | 125 Rindu | 135 Di Bawah Kaki Pesagi | 145 Di Sore Itu | 153

vi


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

g Si Gelar M.Pd | 161 Negeri Tanpa Perempuan | 167 Sebuah Rumah di Bawah Menara | 175 Syarat Cinta Alya | 183 Surat Tengah Hujan | 191 Air Terjun NaCL | 197 Surat untuk Izrail | 203 Sedekah Minus | 215 Idul Fitri di Kampung Mati | 225 Meugang | 235 Perahu Morantab | 241 Pohon Zakaria | 251 Ie Boh Janeng | 257

Cerpen Anak Puasa Pertama Syahdan | 265 Hadiah Ramadhan untuk Sarah | 269 Arti Sebuah Kesetiaan | 273 Mukena Merah Jambu untuk Lisa | 279 Mati Lampu | 283 Lampiran Data Cerpen di Media Minggu Ke-V, Juli 2012

g vii


Pengantar

Pengantar o

C

ERPEN-CERPEN minggu ini masih memberi ruang pada gagasan religiusitas karena momentum bulan suci Ramadhan. Beberapa dari media tetap menyajikan cerpen-cerpen bertema sosial yang kuat dan hubungan kausal antara manusia. Media masih saja gagap dalam soal menilai sebuah cerpen yang baik, tidak saja salam artian gagasan di dalamnya, tetapi juga bagaimana cerpen itu dituliskan, dan sejauh mana pengetahuan teknis menulis di pengarang. Sehinggalah saat Anda membaca beberapa cerpen di himpunan data-base media mingguan ini, Anda akan menemui beberapa cerpen yang tak ditulis sesuai pola penulisan dalam ejaan yang disempurnakan. Beberapa kekeliruan juga didapati dari sisi ejaan dan penggunaan kata. Fenomena ini sesungguhnya menarik disimak. Di tengah pertumbuhan minat menulis dari para pengarang, media ternyata tak menyiapkan diri secara benar. Masih ada di desk sastra di beberapa media lokal yang tak merasa penting untuk ikut mencermati perubahan EYD, dan bagaimana teknis lainnya. Hal-hal yang berbau teknis memang akan sangat kentara memberi pengaruh pada mood baca ketika sebuah cerita viii


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

sudah terpasang di media cetak. Jika hendak membicarakan mutu cerpen Indonesia, maka media juga harus ikut meningkatkan mutu cerpen yang mereka langsir. Paling tidak media menahan diri untuk tidak menerbitkan cerpen yang ditulis “asal njeplak” dengan bahasa “acak kadut”. Sebagaimana perkembangannya, kini cerpen telah menjadi media penyampai pesan yang baik, seperti halnya novel dan animasi. Banyak lembaga untuk menyampaikan misinya pada penulis (sekaligus pembaca) mereka mengadakan lomba pengarangan cerpen, dengan tentunya menyisipkannya gagasan tertentu yang diemban lembaga bersangkutan. Selama tak merepetisi nilai-nilai posotif dalam masyarakat, upaya-upaya tersebut perlu didukung dan dibantu. Tetapi, apa jadinya jika masih banyak pengarang yang tak tahu (tak mau) mempertajam kemampuan teknis mereka dalam mengarang. Dalam mengarang ide dan gagasan bukanlah hal utama dan penentu satu-satunya. Kemampuan menulis dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi (ke pembaca) adalah salah satu kepiawaian yang mesti diasah. Bikin cerita itu mudah, namun masih sangat sedikit pengarang yang mampu menggunakan bahasa sebagai alat baginya untuk “memaksa” pembaca mengerti hal di sebalik ceritanya. Demikian. n Salam. Penyusun

ix


Maling

ilustrasi: repro flickr.com

x


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Maling Fandrik Ahmad ( Tribun Jabar | Rabu, 25 Juli 2012)

o

H

AMPIR setengah hari air muka Majid terlihat keruh. Tak berubah. Pesan kiai sebelum berhenti dari pesantren, sungguh berat dijalani. Tetapi, pembenaran tetap bercokol di atas keraguan; tak mungkin dawuh seorang ulama menyesatkan, benarnya. Selama 20 tahun menjadi abdi dalem kiai Khazin, tak sedikit pun terselip niat cela dari dawuh-dawuh beliau. Apalagi sampai bertentangan dengan nilai-norma agama. Tapi, Pernyataan emak atas pertanyaannya tempo pagi tak dinyana meletakkan sangsi pada pesan itu. Angin meruak dari celah-celah dinding sirap. Suara krikkrik Jangkrik berpagut gembira menyaksikan senja surup. Melintas seorang lelaki tua berselempang sarung mengantarkan anaknya mangkat ngaji. Pesan kiai Khazin menghitamkan selera. Berat tetap menjadi jawaban. Majid menyorongkan mata pada emak yang tengah beringsut ke bawah dop lima watt. Benar dirasa, penglihatan emak sudah tak lebih redup ketimbang pijar 1


Maling

itu. Namun, jemarinya tetap cekatan merajut benang, menambal sarung yang lepas jahitan. Keterampilan menjahit masih ada. Dan, tusukan terakhir mengembangkan senyum perempuan itu. “Cong, sini. Coba pakai,” Lekas Majid memenuhi panggilan itu. “Sudah, Mak?” “Coba pakai,” ia memberikan sarung itu. “Mak.” “Apa, Cong?” “Benarkah kata Emak kemarin pagi?” Per tanyaan meragukan. Sarung yang disorongkan melorot. Jatuh di atas kedua pahanya. Berat nafas setelah itu. Selama ini ia lakukan semata ingin membesarkan Majid tanpa bayang-bayang kecelaan seorang Epak. Apa jadinya bila semua sudah diketahui? Apakah tak akan membuat minder anaknya merajut kehidupan? Itu yang dipikirkannya. Tetapi, kran masa lalu terlanjur dibuka. Setetes air jatuh dan menandakan kalau masih ada tetesan air lagi yang akan mengalir. “Ya, Cong. Dulu Epakmu maling,” berat nada itu. “Benar, maling?” lagi. Majid meyakinkan. Kepala emak tegak menatap atap bubungan. “Epakmu apes meninggal digrebek warga. Itulah kenapa sejak kecil kamu kutitipkan ke pesantren biar tak mendengar gunjingan orang-orang tentang Epakmu.” Serasa hari itu Majid baru mengenal epak. Memang, emak tak banyak cerita perihal itu. Apalagi, menghabiskan waktu banyak di pesantren, hanya setahun sekali pulang libur Ramadhan, membuat Majid tak cukup waktu mendikte sosok kekar di balik emaknya. “Sudah, Cong. Tak usah sedih. Epakmu punya mimpi yang 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

terbaik untukmu. Epakmu tak ingin kau turut menjadi maling. Ia selalu mengingatkan emak untuk membawamu ke pesantren.” “Ah, tidak, Mak. Aku tidak sedih,” masai raut muka Majid. Anak dan ibu saling pagut. Bagaimanapun ibu tetaplah ibu, bahwa kesangsian lagi sedang melilit hati anaknya. Buah jatuh tak akan jauh dari pohon, begitulah pesan kiai Khazin perihal menyuruh menjejaki pekerjaan orang tua, sebelum berhenti mondok. Jika jadi petani, ya, petani. Pedangang jadi pedangan. Buruh, ya, jadi buruh. Lantas, bila ternyata maling, apa harus jadi maling? Ah, apa gunanya berpuluh tahun belajar agama. Apa gunanya beliau menyuruh menjadikan kitab Fathul Mu’in sebagai prinsip langkahnya. Kualatkah bila amanah itu tidak dilakukan? Berhari-hari, kata maling, M.A.L.I.N.G, berseliwer di pikiran. Benar-benar mengganggu. Pikirnya, masa harus maling. Adakah jadi maling yang dibenarkan? Alasan itulah yang sedang dicari agar nanti bila ada yang bertanya bisa membenarkan. Pembenaran menjadi maling! Pada saat semacam itulah muncul riwayat Sunan Kalijaga di benaknya. Ya, masa muda salah seorang Wali Songo itu maling totok, bahkan jadi perampok. Tak salah bila aku seperti Sunan Kalijaga, pikirnya. Kanjeng Sunan—nama populernya—tak hanya sebatas mencuri atau merampok. Tujuannya baik, membantu dan menafkahi orang-orang melarat. Mengambil hak fakir miskin, yang ada pada harta orang kaya, yang enggan mengeluarkan Zakat. Diam-diam, tanpa sepengetahuan emak, Majid melaksanakan pesan itu. Berat mulanya tanpa dampingan restu orang tua. Tetapi kemantapan hati untuk melaksanakan pesan itu tertanam kuat. Sarung yang baru dijahit diselempangkan ke bahu. Tiba langkah pertama diayunkan, ingatlah lagi, seharusnya yang bercokol di situ 3


Maling

bukan sarung, tapi sorban biru pemberian kiai untuk selalu dibawa setiapkali pergi—sebagaimana saran kiainya. Majid akan belajar merampok dengan yang kecil-kecil dulu. Jatuhlah pilihan menyatroni sebuah rumah yang terlihat seperti gubuk hampir reot, tak berpalang pintu, dan palang-palang dinding sirap yang sudah berpanuan dan sebagain di bawahnya lembab mengelupas. Memasuki pekarangan, aroma celatong (kotoran sapi) menguap. Sesampai di beranda, terdengar keluh yang sangat panjang. Seorang emak tengah menenangkan anaknya terbaring sakit. “Besok ke rumah sakit, Bhing. Emak sudah dapat uang pinjaman,” kata emak mengelus dahinya. “Mak, Rattin kerrong (kangen) Epak,” jawabnya lemas. Majid kaku cukup lama. Ia seperti menyaksikan lakon dirinya sendiri. Nasib yang tak jauh beda tak memiliki orangtua lelaki. Haram memakan harta anak yatim apalagi merampasnya; begitulah Fathul Mu’in berbicara, berontak batinnya. Mampuslah niat menyatroni rumah itu. Hari pertama gagal, hari kedua dicoba lagi. Gagal lagi. Kali ini ia benar-benar akan menyatroni rumah orang kaya. Jauh sampai langkah mencari rumah yang diinginkan, berjalan dari desa ke desa, ia menemukan sebuah rumah cukup megah milik juragan tembakau yang—sebagaimana kekabar tetangga—pelit minta ampun. Santapan empuk sudah ditemukan! Peralatan seadanya, yakni senter dan paku sekrup yang ujungnya sudah ditempa dan sedikit dibengkokkan. Kopyah putih digencet ke kepala. Sorban biru dililitkan ke leher agar tak jatuh. Majid mengangkat kedua tangan meminta perlindungan. Rumah berlantai dua dan pilar berlapis marmer sudah terang. Kisi-kisi jendela dan pintu berwarna kuning emas. 4


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Berkilap-kilap oleh Lampu-lampu neon di setiap setiap pojok. Hanya satu yang cukup gelap, gudang kecil di samping rumah. Majid mengendap-endap ke arah pintu gerbang. Dua anak muda asyik mansyuk bermain catur. Nyali sedikit ciut. Ya, Gusti Pangeran tuntunlah jejak hambaMu, doanya. Tak mungkin bisa menyusup dari depan, seketika berputar arah ke samping rumah, tepat di bawah pohon rambutan. Berlindung di bawah banyangan itu. Ampun, ternyata di samping rumah berpagar tembok berduri. Ragu memanjat, meniti tembok yang di atasnya bersarakan beling-beling. Untung sandal yang dikenakan terbuat dari ban mobil yang biasa dijual di pasaran. Kerapkali Majid berucap syukur. Merasa doanya terkabulkan. Sama ketika mencungkil jendela—tanpa kesulitan berarti—hingga ia sampai pada sebuah ruang kerja dan menggeledahnya. Mencari dokumen yang bisa menunjukkan daftar kekayaan. Lembar per lembar beterbangan. Sampai pada sepertiga malam, petunjuk yang dicari belum diketemukan. Bagaimana mungkin mengambil zakat tanpa perhitungan yang jelas. Lalu, pada sebuah laci paling bawah, ia menemukan note keuangan. Dihitung-hitung jumlah pemasukan dan pengeluaran dalam catatan tulisan tangan itu. “Kalau segini, jumlahnya segini. Ditambah ini, jadi…” hitungnya. Lirih sekali. Setelah hasil pengkalkulasian dirasa sudah tepat, ia mencari barang—apa saja—yang bisa dijual sampai menembus jumlah nominal yang hitung. Alangkah kaget ketika sebuah jam dinding berdetak tiga kali. Sepertiga malam hampir habis. Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan, waktu istijabah melaksanakan solat Tahajjud adalah 5


Maling

sepertiga malam terakhir, ingatnya. Maka, terpanggilah sejenak meluangkan waktu melaksanakan solat Tahajjud. Bersegeralah ia menghampar sorban biru seraya menegakkan takbir. Khusyuk. Saking khusyuk, saat menyudahi sujud dan berucap salam, Majid terperangah telah mendapati dua orang telah berdiri menyaksikannya. Ya, dua orang itu, pemilik rumah itu sudah bangun! “Si..siapa kau?” tanya si lelaki. Si bini bergelayut takut. “Saporanah (maaf), Pak. Aku maling,” jelasnya. “Maling?” Lelaki itu mengernyitkan dahi. Majid membalas dengan anggukan bercampur rasa takut. Si lelaki toleh kanan toleh kiri, memastikan dari mana maling di depannya datang menyusup. Semua puntu tertutup. Semua jendela tak ada yang terbuka. Bahkan, gorden tak bergeser sedikit pun. Hanya kertas-kertas yang berserakan. Benarkah maling? Mengapa harus melaksanakan solat segala? Maling Islami? Ah, ngaco! Jangan-jangan Nabi Khidir? Lelaki itu bergemetar. Bininya tetap diam. Erat dipelukan. “Bu, Nabi Khidir, Bu,” bisik lelaki itu. Pelan sekali. “Mungkin, Pak,” timpalnya. Majid sudah memasrahkan nasib kepada sejoli itu. Istighfar. Istighfar. Istighfar. Selalu, diucapkan. “Hai, pemuda. Mau apa kau datang malam-malam ke rumahku,” si bini memberanikan diri menghardik. Lelakinya menegur dengan isyarat. “Sudah kukatakan kalau aku ini maling. Aku ingin mencuri harta yang sepantasnya kalian harus bagikan kepada fakir miskin. Kata orang kampung, kalian juragan tembakau yang pelit, jarang mengeluarkan zakat. Malam ini aku datang untuk mengambil sebagian harta kalian,” jelasnya lantang bernada takut. Ia harus menyuarakan kalau dirinya di jalan yang benar. 6


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Nabi Khidir, Bu,” ujar lakinya. Tubuhnya mulai gemetar. “Benar mungkin lelaki itu Nabi Khidir.” Bininya lantas mengeluarkan keringat pucat. Cecericit serangga malam melahap waktu senggang ketiganya. Majid sudah pasrah pada kehendak hukum. Pasrah bila kasusnya akan diseret kepada pihak berwenang. Tapi, ia tetap yakin kalau jalan adalah benar. Sementara, sepasang laki-bini itu takjub dan tak percaya kalau yang dilihat benar-benar-maling. “Benar mungkin katamu, Pak. Ia benar-benar Nabi Khidir,” si bini mengamini. Lakinya memandang lekat. Membenarkan. “Mungkin ini teguran kepada kita,” tambahnya seraya langsung mendekap erat. Sayup-sayup dari luar rumah, adzan subuh menggema. “Silakan. Sialakan ambil barang-barang di rumah ini semaumu. Ambillah. Zakati semua tidak apa-apa. Kami tobat. Tobat,” ucap lakinya. Majid tercenung. Kiranya, riwayatnya akan habis dan berakhir di penjara. Tapi…. “Alhamdulillah. Ya, sudah kita solat subuh berjamaah dulu, Pak. Urusan zakat belakangan. Nanti, kita hitung bersama-sama,” ajaknya. Keduanya manut. n Annuqayah, 17 April 2012

Catatan: Fathul Mu’in: Salah satu kitab fikih | Istijabah: utama 7


Mbah Jo dan Pesta Demokrasi

ilustrasi: repro pemulung tua by madeaditya

g Rudi Setiawan, lahir di Kertosono, Jawa Timur, buku kumpulan cerpennya “Kang Soleh Naik Becak Menuju Surga� telah diterbitkan oleh PT Elex Media, Jakarta. 8


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Mbah Jo dan Pesta demokrasi Rudi Setiawan ( Kompas.com | Kamis, 26 Juli 2012 )

o

M

BAH JO masih asyik memunguti botol-botol plastik bekas minuman yang berserakan di sekitar tong sampah di pinggir jalan protokol di tengah kota

itu. Pagi sudah beranjak mendekati siang, tetapi di jalan protokol itu masih ramai lalu lalang kendaraan yang hampir memadati seluruh bahu jalan. Seperti layaknya kota-kota besar yang lain, kemacetan merupakan pemandangan lumrah sehari-hari. Mbah Jo terus berjalan menelusuri trotoar sembari matanya terus menatap liar mencari-cari sampah-sampah bekas yang mungkin masih bisa didaur ulang. Jepitan kayu ditangannya tangkas memunguti satu demi satu sampah lalu dimasukan kedalam keranjang yang tergantung dipunggungya. Ketidak disiplinan para pengguna jalan yang membuang dengan seenaknya sampah-sampah di pinggiran jalan justeru menjadi rejeki bagi para pemungut sampah seperti 9


Mbah Jo dan Pesta Demokrasi

Mbah Jo. Mbah Jo lelaki 65 tahun itu, masih cukup kuat berjalan jauh dari tempat tinggalnya di sebuah pemukiman kumuh di bantaran kali untuk mengais rejeki di jalan-jalan protokol di tengah kota besar itu. Sudah sepuluh tahun dia tinggal disana, sebagai seorang urban setelah rumah dan sepetak sawah lahan mata pencahariannya di kampung pinggiran kota tergusur oleh pabrik tekstil dengan ganti rugi yang tidak seberapa. Demi untuk sekedar bertahan hidup dia langkahkan kakinya ke kota mencoba mencari peruntungan dan mengais rejeki. Siang sudah semakin dekat, matahari hampir melintas tepat di atas kepala. Keringat dan peluh mbah Jo telah membasahi kaos oblongnya yang sudah kumal itu. Perlahan dia berjalan ke bawah pohon rindang di tepi jalan itu untuk sejenak berteduh melepas lelah. Duduk dia di bawah pohon itu, sembari termenung matanya menatap gedung-gedung pencakar langit yang tingg i menjulang, yang dengan angkuhnya seolah mengejek kekumuhan dan kemiskinan yang berserakan tersembunyi dibalik gedung-gedung tinggi, di bantaran-bantaran kali dan di pinggiran-pinggiran rel kereta api. Dari kejauhan Pardi, rekan seprofesinya sesama pemulung dan juga tetangga yang tinggal dekat dengan gubuk reotnya di sebuah pemukiman kumuh di bantaran kali, berjalan menghampirinya kemudian duduk di samping mbah Jo. “Mbah, sudah dapat banyak ya kok sudah istirahat?�, tanya Pardi. “Ya alhamdulillah lumayanlah Di, lagian sudah mulai panas ini cuacanya,� jawab mbah Jo sambil mengipasngipas peluh dilehernya dengan sobekan kardus bekas. “Mbah, nanti sore di tanah lapang dekat bendungan akan 10


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

ada kampanye Pilkada!”. “Nanti sepulang setor barang ke juragan Anas kita mampir ke sana ya mbah !”, ajak Pardi kepada mbah Jo. “Ngapain kita mesti ke sana Di, wong orang pidato kok dilihat paling yang diomongin janji-janji doang”, sungut mbah Jo. “Lho seperti biasanya nanti kan pasti ada pembagian sembako gratis, kaos dan juga uang tho mbah”. “Kan lumayan kaosnya bisa kita pakai untuk mengganti kaos kita yang sudah kumal ini dan sembako serta uangnya bisa membuat dapur kita ngebul untuk tiga hari ke depan”, rayu Pardi. “Ah enggaklah, aku nggak akan pergi ke sana, aku takut dosa”, tolak mbah Jo. “Dosa bagaimana sih mbah, kita kan tidak mencuri atau mencopet”, sanggah Pardi. “Uang dan sembakonya kan di berikan secara cumacuma alias gratis, ya anggaplah sebagai sedekah pada kita kaum miskin ini”, lanjutnya. “Lha kalau uang dan sembakonya itu adalah hasil dari korupsi bagaimana?”, Kalau kita ikut menikmatinya berarti kita bagian dari korupsi itu dong, alias secara tidak langsung kita ini koruptor juga !”, jelas mbah Jo. “Ah ya jangan berpikir sejauh itulah mbah, lha wong Pilkada kan hanya tiap lima tahun sekali dan jarang-jarang lho kita dapat uang dan sembako gratis kalau toh itu memang hasil dari korupsi, ya kita pura-pura tidak tahulah mbah”, sanggah Pardi lagi. “Meski kita pura-pura tidak tahu, tetapi Tuhan kan Maha Tahu Di!”, jawab mbah Jo. “Oalah mbah mbah, mbok ya jangan sok-sokan seperti itu. Kita kan kaum miskin untuk bisa makan sehari-hari saja susah dan keluarga kita lebih sering laparnya dibanding 11


Mbah Jo dan Pesta Demokrasi

kenyangnya”, rutuk Pardi. “Di, meski kita ini miskin kita harus tetap punya prinsip dan harga diri”, nasehat mbah Jo. “Punya prinsip, punya harga diri, lalu kalau keluarga kita mati kelaparan bagaimana?”, tanya Pardi dengan ketus. “Bagiku lebih baik mati kelaparan daripada makan dari rejeki yang tidak halal, dan bukankah kematian orang miskin seperti kita ini adalah hal biasa, semakin banyak orang miskin yang mati maka berkuranglah angka kemiskinan di kota ini” nasehat mbah Jo selanjutnya. “Ah sudahlah mbah, aku nggak mau berdebat lagi, kalau memang mbah Jo nggak mau datang aku akan datang sendiri dengan keluargaku”, jawab Pardi sambil berlalu meninggalkan mbah Jo yang masih terduduk diam di bawah pohon itu. Matahari telah tepat berada di ubun-ubun kepala dan perlahan-lahan mbah Jo pun beringsut dari tepi jalan itu menuju sebuah surau kecil di ujung gang sempit di celahcelah gedung-gedung pencakar langit itu. SORE hari di sebuah tanah lapang di pinggir bendungan, sebuah panggung besar lengkap dengan sound systemnya berdiri kokoh tepat di tengah-tengah lapangan. Seorang lelaki perlente berjas mewah sedang berorasi menggebunggebu diatas panggung, disekelilingnya sekumpulan orang berambut cepak dan ber tubuh kekar berdiri mengawalnya. Sementara di bawah panggung, serombongan orangorang miskin tua muda, laki-laki perempuan berbaris antre di depan beberapa meja. Para anggota tim sukses sibuk membagi-bagikan bungkusan sembako dan amplop uang pada para pengantri tersebut. Tampak pula Pardi dan isterinya ikut mengantri dalam barisan itu, ada sekulum 12


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

senyum di bibirnya, ada binar kebahagiaan di rona wajahnya. “Alhamdulillah minimal dalam tiga hari kedepan keluargaku tidak kelaparan dan aku bisa tenang dalam bekerja”, bisiknya dalam hati. Sementara itu di kejauhan, dari balik gubuk reotnya mbah Jo mendengar sayup-sayup suara seseorang sedang berpidato dari sebuah pengeras suara. “Jangan lupa, pilih lagi saya, coblos tanda gambar saya!”. “Saya jamin, bantaran kali ini tidak akan banjir lagi!”. “Saya jamin, akan ada jaminan kesehatan dan pengobatan gratis bagi anda semua!”. “Saya jamin, biaya sekolah gratis bagi anak-anak anda semua!”. “Sekali lagi jangan lupa, pada hari pemilihan datang ke TPS terdekat di rumah anda, buka kertas suaranya dan coblos tanda gambar saya!”. “ Janga lupa, saudara-saudara!”. “Jangan lupa, pilih lagi saya, bersama kita bangun kota ini menjadi lebih sejahtera!”. Masih terngiang-ngiang di telinga mbah Jo, lima tahun yang lalu orang yang sama berpidato dengan janji-janji yang sama pula. Dan di musim penghujan kampung-kampung kumuh di bantaran kali itu tetap kebanjiran, banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tak sanggup membayar biaya sekolahnya, beberapa warganya mati karena sakit dan tak sanggup membayar biaya pengobatannya. Dan masih terus terngiang-ngiang di telinga mbah Jo, lima tahun yang lalu orang yang sama berpidato dengan janji-janji yang sama pula. Diapun lalu tersenyum sembari mengurut dadanya, kemudian diapun berujar: 13


Mbah Jo dan Pesta Demokrasi

“Gusti Allah tidak tidur, Dia Maha Tahu dan kelak di akherat akan menagih semua janji-janjimu�. n Jakarta, awal Ramadhan 2012.

14


Repro Michail Kudinow | OpenArt

15


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

ilustrasi: repro okezone.com

g Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com 16


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman ( Okezone.com | Kamis, 26 Juli 2012 )

o

A

KU dan Qazi - istriku yang cantik - baru saja menikah. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Ya, tentu saja, di Menteng, di mana lagi? Di ibu kota, siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Belum lama juga kami tinggal di sini. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Nomornya, 1945. Sebulan silam, rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Aku tidak menawar harganya lagi. Esoknya, cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku, Nani, untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Sertifikatnya ternyata aman, tak ada masalah. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. Sertifikat dipalsukan, sehingga jadi berganda. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha 17


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

kaya. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa, lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN,â€? Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. Sesaat, kupingku yang tipis terasa seperti berdengingdenging begitu mendengar komentar Nani. Tapi tak mengapa, tak jadi soal. Aku bisa menebalkannya kembali. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu, setiap hari. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Begitu mudah aku memilikinya. Begitu mudahnya‌ Aha, engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini, bukan? Tenang saja, semua akan kuceritakan kepadamu, semuanya. Tapi jangan kaget, jangan heran. Ceritanya panjang, namun baiklah kupendekkan saja. Cuma ini rahasia di antara kita. Tak seorang pun boleh tahu mengenai ini cerita. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. Untunglah, syukurlah. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. Tanggung kelihatannya di mata. Aku bisa santai terus. Bersembunyi diam-diam. Sambil menyelinap ber foya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Hanya koran-koran, majalah-majalah, televisi-televisi, dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tanganâ€? membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Siapa yang mencurinya? Tentu saja, boleh kau terka. Eh, memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. 18


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta, posisiku masih aman tenteram. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Sebab, kendati begitu, para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. Setahun lalu, ketika orang-orang mulai ribut, aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. Seorang wartawan kecil yang usil, secara sembarangan bertanya, “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini,” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Sehari sebelumnya, dalam sidang kasus korupsi proyek itu, terdakwanya bekas bendahara Partai, mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku, si bendahara, dan seorang kepala departemen. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai,” kataku lantang, awalnya. Lalu, kemudian suaraku tergagap lagi. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan, itu tuduhan yang tidak ada buktinya. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Soal pemeriksaan 19


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

rek… rekening petingg i-petingg i Partai gu…guna memperjelas kasus ini, saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar.” Aku berhasil membuat publik kagum. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut, memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil, setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Hanya kakak sulungku saja, satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku, mantan artis berambut panjang, bintang iklan shampoo. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. Keponakanku yang lucu. Ketika orang mulai ribut-ribut, beberapa bulan lalu. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. 20


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Pesta pernikahanku dengan Qazi, yang – sssttt… ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. Dia merajuk, bahkan, sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. Tapi hari baik itu tiba juga. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku, akhirnya aku menikah. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. Di sebelah meja lainnya, tepat di samping kiri, duduklah saksi dari mempelai perempuan, yaitu Pak Amin. Di seberangnya, saksi dari mempelai lakilaki, entah siapa namanya aku lupa. Sebelum akad nikah, dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. Berikutnya, khutbah pernikahan. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. Nyaris tanpa jeda, sedetik saja, kemudian, kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut, tunai.” Lafazku tumben tidak gagap, disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan samasama mengucapkan, “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. Setelah bulan madu keliling Eropa, kami pindah ke rumah ini. Sebelum kubeli, kondisi rumah seperti tidak diurus. Rumah yang modelnya bagus nian. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. Luasnya 363 meter persegi, sedang lahannya 850 meter persegi. Arsitekturnya bergaya 21


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

sebuah vila Hindia. Namun, kami sering tidak saling bicara di rumah. Berdiam-diaman saja, walaupun tinggal berdua. Dia – istriku Qazi – tahu. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Padahal, dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. Mulanya, menurut sebuah cerita, dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Setiap sore, dulu, hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Gara-gara apalagi, kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. Meng isapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa, ibuku langsung jatuh pingsan. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. 22


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Kalau di Negeri Jiran, alamak, entah apa jadinya. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat, sampai hukum mati. Buat menutup isu penangkapanku, kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besar-besaran oleh berbagai media massa. Ah, memang, selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”, kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Para pengusut pun unjuk gigi. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. Semua pelakunya orang Partai. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Kini, mata tajam publik terus mengawasi lekatlekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran, majalah, televisi, dan radio yang “gatal mulut-gatal tangangatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan, mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Bila mataku letih, kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Matahari memancar, tapi 23


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

sinarnya terhalang atap model limas yang menaung i serambi. Tak lama membaca, karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an, saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Sebelumnya, oleh Si Belanda pertama, rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Di ruang tamu banyak perabot antik. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. Sementara itu, dari ruang tengah, di televisi terdengar suara penyiar membaca berita, menyebutkan bahwa namaku semakin melambung, membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. Tentu saja, yakinlah‌ 24


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. Bergegas aku berjalan ke garasi. Dengan anak kunci itu, kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers, siang nanti. Tapi acara belum dimulai, lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir, dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. Lalu langsung menodongkan alat perekam, menembakku dengan pertanyaan klise. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy, narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Kini, langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. Dalam sebuah bayangan yang tulus, komentarku akan berbunyi lancar: ”Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Enam bulan lalu, karena mengisap narkoba, saya tertangkap polisi di Singapura. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik, melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar, kukira. Kupikir, lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. 25


Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

“Pengampunan ini, ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’, merupakan perbuatan yang baik. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain.” Terakhir, sebelum pergi, aku berusaha serius. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. “Saat ini,” kataku, “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan, narkoba, dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain.” Kuberi dia senyum kecil. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. Masuk kantor Partai, kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. Kukunci pintu, setelah kukatakan kepada Nani, jangan mengganggu dulu: ”Aku mau belajar.” Ya, biasa, di kantor, aku belajar terus supaya makin cerdas. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. Kurogoh saku, kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Aku tak pernah henti-henti belajar. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini, maka harus kuhentikan sendiri, sekarang juga. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku, mungkin semuanya sudah basi. Sudah basi... n Makassar, 30 Juni 26


Repro Michail Kudinow | OpenArt

27


Perempuan Rasa Es Krim

ilustrasi: repro the atjeh post.com

g The Atjeh Post menerima kiriman cerpen, puisi, syair, hikayat, esai, resensi, yang akan dimuat pada rubrik Budaya. Kirimkan karya Anda ke email redaksi@atjehpost.com atau man_tulis@yahoo.co.id Tulisan tersebut akan tayang pada Kamis dan Minggu. 28


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Perempuan Rasa Es Krim Risman A. Rachman ( The Atjeh Post | Kamis, 26 Juli 2012 )

o

D

ARI ribuan jamaah Mesjid Raya Baiturrahman cuma satu orang yang bermukena coklat. Lainnya, semua bermukena putih. Wajar jika banyak yang melirik perempuan yang masih tampak muda itu. Bukan hanya jamaah laki-laki. Jamaah perempuan juga melirik. Aku apa lagi. Sebentar-bentar muka kupalingkan untuk sekedar menyapu wajah agak kecoklatan milik perempuan mjda yang juga bermukena coklat itu. Cahaya lampu semakin memberi efek indah pada wajahnya. Warna mukena coklatnya memang beda. Terasa agakagak sewarna es krim rasa magnum. Tapi, bisa jadi, tidak juga. Mungkin ini perasaan semata. Karena dipakai oleh perempuan cantik maka jadi terasa kayak es krim maknum. Di penghujung qamat, aku mencoba melirik sekali lagi. Aneh, langsung ada rasa bagai disetrum ular cobra begitu mataku dan matanya beradu pandang. Aku yakin kalau dia melihatku. Posisinya yang di saf depan jelas bisa menditeksi kelasakan gerak mukaku yang entah 29


Perempuan Rasa Es Krim

keberapa kali. Agak jauh memang. Walau mata hitamku agak rabun jauh tapi perasaanku nyakin kalau dia melihatku. Bisa jadi soal ukuran cantik hasil dari ilusi. Tapi, soal dia melihatku?! Aku yakin. Mukaku langsung memerah. Aku tidak tahu kenapa. Apa karena senang sebab bisa melakukan kontak mata. Atau, aku malu karena ketahuan berperilaku kayak lelaki kampungan. Aku mencoba menetralkan aliran darah di nadiku. “Allahu akbar...” Ya Tuhan, aku kehilangan kekhusukan. Takbiratul-ihramku berantakan. Wajahku ke sajadah. Pikiranku ke belakang. Ku coba sekali lagi. Sayangnya, imam sudah mulai hendak sampai pada aminnnn. Aku pasrah saja menjadi makmum. Menyerahkan sepenuh kendali kepada imam. Aminnnnnnn. Salat subuh usai. Tapi, disepanjang dua rakaat aku hanya berucap astarfirullah. Cuma itu yang bisa kulakukan untuk mengusir bayangan si perempuan muda dengan rasa es krim itu. Aku yakin dia masih ada dibelakangku. Tadi, rasanya jika ditarik garis maka perempuan itu persis sejajar denganku, dan itu artinya dia dari tadi melakukan gerak yang sama dengan gerakku. “Ya jelas samalah,” bisik hatiku. Semua gerak saalat sama. Beda-beda dikit ya. Berdasarkan mazhab masing-masing. “Nah, aku mashab apa ya? Jangan-jangan cuma mashab hana fi, hamba lih, atau mashab cari safaat saja, atau malah miliki?” Duh, aku jadi ngelantur kemana-mana. Ini jelas garagara perempuan itu. Jadi, aku sampai kepada ulok kawankawan saat memprotes tokoh-tokoh yang berpenampilan religius namun “bermashab” cari manfaat alias syafaat saja. “Konflik pun dijadikan manfaat,” kata kawan, dulu sekali. 30


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Atau, mereka yang tidak mau membantu jika tidak ada fee. Sementara rakyat kecil diposisikan sebagai hamba lih alias kaum yang cuma mendapat sisa-sisa belaka dari aktifitas meureupah syafaat pembangunan. Aku melirik ke belakang. Duh, sudah tidak ada lagi. Aku jadi merasa kehilangan. Reflek aku juga bangkit dan meninggalkan ceramah subuh. “Aku ingin menyusulnya. Moga ketemu dan ingin sekali memastikan kalau memang mukena dan pipinya bagai es krim rasa maqnum. Harus!” Aku sambar begitu saja sandal jepitku. “Ssssttt..” Aku nyaris tergelincir di ubin yang basah dan licin. Tapi, itu pula yang membuat aku bisa kembali menangkap bayangan perempuan itu. Aku mencoba memperlebar langkah. Dia mengarah ke arah parkir mobilku. “Kebetulan,” bisik hatiku. Jadi aku bisa berkelit jika nantinya aku kikuk. “Bismillah.” Aku harus memastikan siapa perempuan dengan rasa es krim magnum itu. Moga bukan karena pengaruh cahaya. Moga saja aku kenal, siapa tahu dia mantan pacarku dulu, yang kini semakin cantik. “Bang, kok cepat turun. Ndak ikut kultum subuh dulu?” “Nnnn...” “Kenapa, bang? Tadi sengaja mama susul. Mama mau tahu apa abang benar-benar kemesjid. Biar tidak ketahuan mama pakai kerudung baru ini. Cantikkan, pa?!” Ya Tuhan. Dia istriku rupanya. Dia benar-benar sangat cantik. Selama ini aku ternyata dilalaikan oleh aktivitas menulis di laptop. Rupanya istriku selama ini merawat dirinya untukku. Dia begitu perhatian sehingga ingin memastikan apa aku ke mesjid atau melakukan asmara subuh dulu. Duh, betapa cueknya aku dulu. Ternyata istriku semakin cantik dan nampak muda. “Ma, papa...” 31


Perempuan Rasa Es Krim

“Ya, sudah pa. Ayo kita pulang. Tadi mama numpang dengan mobil ibu tetangga. Mama ikut papa ya, pulang.” “Ya iyalah, mama cantik.” n

32


Repro Michail Kudinow | OpenArt

33


Teungku Bakhee

ilustrasi: repro the atjeh post.com

g The Atjeh Post menerima kiriman cerpen, puisi, syair, hikayat, esai, resensi, yang akan dimuat pada rubrik Budaya. Kirimkan karya Anda ke email redaksi@atjehpost.com atau man_tulis@yahoo.co.id Tulisan tersebut akan tayang pada Kamis dan Minggu. 34


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Teungku Bakhee Keumalahayati ( The Atjeh Post | Kamis, 26 Juli 2012 )

o

H

ARI beranjak senja ketika Buleuen sedang menyapu dan menumpuk dedaunan kering di halaman rumah. Buleuen membakar tumpukan sampah tersebut, asap mengepul membawa aroma dedaunan yang terbakar, beginilah wangi aroma pendesaan menusuk hidung setiap orang yang melintasi. “Brub…brub…brub.” Suara langkah sepatu. Buleuen melihat ke arah jalan. Seperti biasa, sepuluh orang tentara lengkap dengan senjata baru pulang berpatroli dari balik gunung. Mereka kelihatan sangat lelah, tapi wajah mereka tiba-tiba berseri dan tersenyum kepadanya. Buleuen dengan sapu ditangan berdiri mematung ditempatnya, menunggu sampai mereka lewat. “Nyapu yang bersih ya dek!” sapa salah seorang dari mereka sambil terus berjalan. “Suit…suit…,” suara siulan dari yang lainnya. “Hai jangan ribut, kalian ini pantang liat cewek cantik.” Suara komandan mereka yang jalan di depan. 35


Teungku Bakhee

“ Ayo dek, lanjutkan bersih-bersihnya.” Ujar komandan mereka. Pasukan tentara pun belalu dari depan rumahnya. Mereka pulang ke sebuah rumah penduduk yang telah mereka jadikan pos penjagaan. Tepatnya disamping rumah kepala desa. Menurut kabar berita mereka akan segera pulang kedaerah asalnya. Karena operasi militer telah berakhir didaerahnya kini. “Buleuen, jangan lupa umpan bebek.” Teriakan Cupo Manèh di dapur. “Iya mak.” Jawab Buleuen. Dengan segera Buleuen menuju kebelakang rumah, diambilnya sebaskom dedak lalu dicampurnya dengan sedikit air, kemudian diberikan untuk bebek. Setelahnya Buleuen mengambil handuk menuju kesungai dibelakang rumahnya, disungai itulah Buleuen sering mandi, walau pun dirumah ada sumur, tapi sudah menjadi kebiasaan warga desa Kumbang Kupula mandi di sungai. Buleuen memakai kain sarung sebagai pengganti rok dan menutup kepalanya dengan kain batik panjang, usianya baru delapan belas tahun tapi dengan pakaian seperti itu ia terlihat lebih matang dan dewasa, padahal baru sebulan ia tamat sekolah SMA. Buleuen akan segera ke pengajian, dengan tergesa ia minta izin kepada sang Ibu untuk mengaji. “Emak…Buleuen pergi mengaji dulu ya.” Pamit Buleuen. “Iya …, selasai ngaji langsung pulang jangan kemanamana lagi, sekarang emak dengar banyak anak gadis sebaya mu pacaran dengan tentara di pos penjagaan, kamu jangan bergaul dengan mereka ya…” Cupo Maneh mengingatkan putrinya. “Iya mak…!” jawab Buleuen. Buleuen berjalan menuju balai pengajian di tempat kediaman Tgk. Ali. Jaraknya hanya lima ratus meter dari 36


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

rumahnya. Tgk. Ali sudah lama menjadi ustad di gampoeng (Desa). Walau ia bukan ustad yang ternama tapi sangat di hormati oleh warga gampoeng. Banyak acara-acara warga selalu mengundangnya, mulai dari ceramah, turun tanah anak, peusijuk (Acara tepung tawar) rumah baru, wirid yasin dan lain-lain. Tgk. Ali sangat mahir mengajarkan baca Al’quran maupun kitab kuning, jadi tidak heran dalam usianya masih tiga puluh enam tahun Tgk Ali sudah menjabat sebagai Imum (Imam) desa. Tidak sedikit juga santri yang menaruh harapan masa depan dengan belajar mengaji kepadanya. Balai pengajian sederhana ukuran enam kali delapan itu setiap malam ramai oleh murid-muridnya. Buleuen naik ke balai pengajian, ia bersama santri lainnya mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-quran. Malam ini ada sekitar dua puluh orang yang mengikuti pengajian. Seperti biasa ada dua ustad muda yang membantu Tgk. Ali mengajarkan mengaji. Ketika sedang mengaji Buleuen turun dari balai pengajian karna hendak membuang air kecil, setelah selesai Buleuen buru-buru hendak naik lagi kebalai pengajian, baru kakinya melangkah tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan menutup mulutnya supaya tidak berteriak, dan sesaat tubuhnya sudah berada dalam pelukan seorang lelaki. “Jangan teriak� bisik laki-laki itu. Dalam remangan lampu di kamar mandi Buleuen dapat melihat bahwa laki-laki yang memeluknya adalah Tgk. Ali. Suara tengku Ali mempertegas bahwa itu memang dia. Buleuen merasakan tubuhnya gemetar dan takut. Menyusul gemetar dan belum hilang rasa takutnya, tiba-tiba Buleuen merasakan sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Ciuman yang membuatnya batal berteriak. Ini untuk pertama kali dalam hidupnya ia di cium oleh lelaki. 37


Teungku Bakhee

Buleuen larut dalam dekapan Tgk. Ali, perlahan rasa takut itu hilang dan tubuhnya merasakan gejolak yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Perlahan Tgk.Ali melepaskan ciumannya dan berbicara kepada Buleuen. “Buleuen jangan bilang ke siapa pun tentang ini.” Tgk Ali mendesah dan memandang pelan kepada Buleuen. “Malam besok kamu tetap mengaji ya.” Tgk Ali kembali mengingatkan Buleuen. Sentuhan pelan di ujung jemari membuat Buleun semakin kaku. Buleuen tidak menjawab apa pun, mukanya merah tidak berani menatap ke Tgk.Ali. Cepat-cepat dibalikkan badannya dan berjalan ke balai pengajian. Dalam hatinya menyimpan berbagai pertanyaan yang ia belum tau jawabnya. Sepulangnya dari pengajian Buleuen gelisah sepanjang malam. Tidurnya terganggu oleh peristiwa yang dialaminya dengan Tgk.Ali. Pikirannya bertanya-tanya, mengapa Tgk. Ali yang sangat ia hormati berani menciumnya, yang tak lain adalah muridnya sendiri. Buleuen merasakan keanehan lain, mengapa ia sendiri tidak melawan ketika Tgk.Ali menciumnya. Buleuen terbayang kembali adegan cepat bersama Tgk.Ali, darahnya berdesir. Kali ini Buleuen merasakan perlahan tubuhnya hangat oleh gejolak muda dalam dirinya. Pikirannya melayang-layang bersama bayangan wajah Tgk.Ali yang tergolong masih muda dan tampan. SEJAK peristiwa itu Buleuen jadi mabuk kepayang kepada Tgk.Ali. Tgk.Ali yang dari awal memang sudah tertarik dan mengincar Buleuen. Seperti gayung bersambut, mereka berdua tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka sering bertemu secara diam-diam, kadang ketika istri Tgk.Ali tidak dirumah, Tgk.Ali mengundang Buleuen kerumahnya. Mereka memadu kasih tanpa ada seorang warga desa 38


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

pun yang tahu kenikmatan yang mereka rasakan. Buleuen dengan keluguannya telah terlena bujuk rayu Tgk.Ali. Buleuen telah menyerahkan tubuh dan jiwa seutuhnya kepada Tgk.Ali. Perasaan ingin memiliki dan cintanya semakin besar terhadap Tgk.Ali, Ia ingin segera di peristri oleh Tgk. Ali. “ Bang Ali kapan kita menikah?” Buleuen menanyakan kepastian akan janji Tgk. Ali. “Sabar Buleuen, jangan sekarang nanti kalau sudah ada waktu yang tepat Abang akan segera melamar.” Tgk. Ali menyakinkan Buleuen. Buleuen bertahan dengan kesabarannya, tanpa terasa hubungan mereka sudah memasuki bulan ke-empat, tapi Tgk Ali belum juga melunasi janji untuk menikahinya. Dalam masa penantian itu, tiba-tiba Buleuen mendapati ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan; tidak datang bulan. Ternyata ia telah hamil. Kecemasan melandanya, takut, khawatir menjadi satu. Tgk.Ali harus segera menikahiku, pikirnya. Jam sepuluh pagi Buleuen pergi kerumah Tgk.Ali. Ia tau istri Tgk.Ali sedang pergi berbelanja ke hari peukan (Pasar Mingguan) bersama ibu-ibu tetangga lainnya. Ia melihat Tgk.Ali di depan rumahnya sedang memberi makan burung kesayangannya. Buleuen segera menghampiri. “Bang, aku ingin bicara,” kata Buleuen kepada Tgk. Ali. “Ayo masuk kedalam.” Jawab Tgk. Ali sambil melihat ke kiri-kanan jalan memastikan tiada yang melihat mereka berdua. Buleuen mengikuti langkah Tgk.Ali kedalam rumah. “Ada apa Buleuen pagi-pagi begini kamu datang tidak memberitahu?” tanya Tgk.Ali pada Buleuen. “Aku mau memberitahukan kepada mu bang, aku hamil” Jawab Buleuen cepat. “Apa? Hamil?” Tgk.Ali kembali bertanya. Ia seakan belum yakin dengan apa yang barusan di dengarnya dari mulut 39


Teungku Bakhee

Buleuen. “Iya bang, sekarang aku mengandung anak mu. Abang harus segera menikahiku bang!” Tgk.Ali terlihat linglung. Ia berjalan mondar-mandir di hadapan Buleuen, didalam kepalanya terus berpikir bagaimana ia akan menikahi Buleuen. Ia akan sangat malu apa bila warga sekampung tahu kalau Buleuen sudah dua bulan hamil oleh dirinya. Warga gampoeng juga akan curiga kalau selama ini ia punya hubungan gelap dengan santrinya. Tentu namanya akan tercemar. Tgk. Ali terus berpikir, sampai akhirnya timbul ide di kepalanya. “Buleuen, kamu gugurkan saja kandungan mu, sekarang situasinya tidak mungkin aku menikahi mu, aku akan berangkat ibadah umroh dua minggu ke depan dan menikah juga butuh waktu yang tepat, tidak terburu-buru seperti ini. Orang kampung juga akan curiga nantinya kalau kamu melahirkan waktunya lebih cepat dari yang mereka perkirakan.” Ujar Tgk.Ali. “Bang aku tidak akan menggugurkan bayi ini. Aku tidak mau terus menerus berbuat dosa, bagaimana pun abang harus menikahiku! atau aku akan teriak biar semua orang tau!” suara Buleuen terdengar tinggi. “Buleuen apa kamu bilang! jangan pernah kamu mempermalukan aku. Masyarakat desa juga tidak akan percaya dengan apa yang kamu sampaikan Buleuen, mereka sangat menghormati ku selama ini, jadi tolong dengar kata-kataku, segera kamu gugurkan kandungan itu.” Tgk.Ali terlihat marah dengan ancaman Buleuen. “Jadi kapan abang akan menikahi ku?” Buleuen mulai terisak. Tgk.Ali menghampiri Buleuen, ia menarik Buleuen dalam pelukannya dan dengan suara yang terkesan dilembutkan ia menjawab pertanyaan Buleuen. 40


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Buleuen aku janji akan menikahimu sepulang aku dari ibadah umroh nanti, kamu akan jadi istri ke duaku, sekarang tolong jaga nama baik ku dan segera gugurkan kandungan ini, aku enggak mau masyarakat tahu kalau kita mempunyai anak di luar nikah. Aku akan menikahimu nanti, dalam keadaan kamu tidak mengandung lagi.” Ujar Tgk.Ali. “Apa janji Abang bisa ku pegang?” Buleuen kembali bertanya. Tgk.Ali menganggukkan kepalanya. “Tapi kamu juga harus berjanji akan menjaga nama baikku.” Ujar Tgk.Ali. Tgk.Ali melepaskan pelukannya, Ia melangkah masuk kekamar dan keluar dengan memegang sejumlah uang dan memberikannya kepada Buleuen. “Buleuen ini uang untuk kebutuhan menggugurkan kandungan mu, sekarang kamu harus segera pulang sebentar lagi istri dan anakku akan kembali dari peukan.” kata Tgk.Ali sambil menyodorkan uang kepada Buleuen. Buleuen sebetulnya masih ingin berlama-lamaan dengan Tgk.Ali tetapi jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, ia harus segera pergi atau istri Tgk.Ali akan mendapati mereka berdua. Buleuen mengambil uang yang di berikan Tgk.Ali. Perasaannya sedih dan kecewa, tapi dia harus pergi meninggalkan Tgk.Ali. SUATU pagi, dua minggu setelah pertemuannya dengan Tgk.Ali. Buleuen mendengar bahwa Tgk.Ali sudah berangkat umroh. Ia duduk diteras rumah merenungi nasibnya. Tibatiba ia merasa mual dan ingin muntah, Ia berlari kamar mandi membuang muntah. Cupo Maneh -Ibunda Buleuenmerasa heran melihat anak gadisnya muntah-muntah, Ia menghampiri Buleuen. “Ada apa Buleuen…Apa kamu sakit nak?” tanya Cupo Maneh. 41


Teungku Bakhee

Buleuen sesaat panik dengan pertanyaan ibunya. Ia tak ingin ibunya tau apa yang dialaminya saat ini. Ibu sudah cukup menderita dengan kepergian Ayah yang sampai sekarang tidak kembali. Ayah hilang tanpa kabar berita. Apakah Ayahnya masih hidup atau mati ia sendiri tak tahu. Ibu pasti akan menjerit histeris bila tahu ia sekarang sedang hamil. “Buleuen…kenapa kamu muntah-muntah nak?.” Cupo Maneh kembali bertanya. “Buleuen tidak apa-apa Mak, mungkin mual karna masuk angin.” Jawab Buleuen sambil berlalu dari tatapan mata sang ibu yang curiga kepadanya. “Buleuen main kerumah Kak Mutia dulu ya Mak…” Buleuen buru-buru pamit menghindari pertanyaan dari ibunya. Buleuen berjalan keluar rumah menuju jalanan bebatuan. Di seberang jalan sebuah sungai membentang memisahkan rumahnya dengan rumah Mutia sepupunya. Ia menyebrangi sebuah jembatan gantung menuju rumah Mutia. Dari atas jembatan yang bergoyang ia melihat air sungai mengalir dengan gemerciknya membelah bebatuan, begitu juga air matanya mengalir seirama dengan isak tangisnya yang tak mampu ditahan. Buleuen sampai di depan pintu rumah kak Mutia, ia mengetok pintu dan memanggil. “Kak Mutia…!! Kak Mutia…!!” Suara Buleuen memanggil. Dari dalam terdengar suara derikan pintu. Pintu terbuka, Beleuen masuk kedalam sambil menutupi wajahnya dengan selendang. Mutia tampak heran melihat Bulueun pagi-pagi datang dengan menangis. “Pakoen (Kenapa)…Pakoen…Pakoen…Buleuen?”, Mutia bertanya sambil memeluk Buleuen. “Aku hamil Kak…” 42


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Hah…?! Hamil?...” Mutia tersentak dan pucat. Terasa badannya menggigil mendengar kata hamil dimulut Buleuen, ia yakin bahwa Buleuen tidak sedang main-main dengan ucapannya karena Buleuen mengucapkan sambil berurai air mata. Buleuen menceritakan kepada sepupunya bahwasannya ia sekarang sedang hamil. Ia meminta pertolongan Mutia untuk membawanya ketempat dukun gampoeng untuk menggugurkan kandungannya itu. Tapi Buleuen merahasiakan lelaki mana yang telah menghamili dirinya. Ia sudah berjanji kepada Tgk.Ali untuk menjaga nama baiknya. “Baiklah kalau kamu belum siap menceritakan siapa lelaki itu tak apa, tapi Buleuen menggugurkan kandungan akan membahayakan keselamatan mu.” Ujar Mutia. “Kak Mutia tolong aku…” Buleuen memohon. “Baik lah Buleuen…, Tapi aku tak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa dengan mu.” Mutia menegaskan. Hari itu juga Mutia membawa Buleuen ke tempat Nek Midah. Ia seorang dukun beranak yang tinggal di kampung sebelah. Nek Midah memberinya ramuan obat-obatan tradisional. Segera saja Buleuen meminum ramuan tersebut. “Kalau nanti malam badan panas itu reaksi obat sedang bekerja, nanti oroknya akan keluar sendiri.” Kata Nek Midah kepadanya. “Bek kajak bak dokter beh, menyoe kajak bak dokter di kurek entek. (Jangan ke dokter, atau kamu akan di kuret nanti.).” Pesan Nek Midah. Sepulangnya dari tempat Nek Midah, malamnya Buleuen mulai merasakan seperti yang Nek Midah gambarkan. Badannya mulai panas dan perutnya sakit melilit. Buleuen terbaring dikamar tidurnya, menahan sakit perut yang terus 43


Teungku Bakhee

melilit. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya ia sudah tak sanggup lagi menahan sakit yang luar biasa. Buleuen ingin menjerit tapi ia takut ibunya tau tentang apa yang di alaminya, tapi tiba-tiba di balik pintu ia mendengar suara ibunya memanggil. “Buleuen‌Buleuen‌, sudah makan nak ?â€? suara Cupo Maneh dibalik pintu. Buleuen tak kuasa menjawab, perutnya terus melilit. Cupo Maneh yang tidak mendengar suara Buleuen membuka pintu kamar dan melihat Buleuen terbaring. Buleuen melihat ibunya tiba-tiba masuk ke kamarnya dan seketika itu juga ia jatuh pingsan. Cupo Maneh panik ia memengang badan Buleuen panas dan berkeringat. Malam itu juga Cupo Maneh dan beberapa orang tetangga membawa Buleuen kerumah sakit di kabupaten. Seperti layaknya kampung yang lain, kalau ada seorang saja yang sakit maka hampir semua datang mau membantu. Dirumah sakit dokter memberitahukan kalau Buleuen sakit karena mencoba Aborsi. Bayi dalam perutnya harus dikuret karena sudah gugur. Setelah peristiwa itu Cupo Maneh sangat terpukul dan malu, beg itu juga Buleuen. Masyarakat desa mulai membicarakan kalau Buleuen hamil karena pacaran dengan tentara. Ada juga yang bilang ia di perkosa oleh tentara dan sekarang tentara itu sudah pulang kedaerahnya karena Opersi Militer telah berakhir. Tidak ada yang bertanggung jawab sehinga Buleuen menggugurkan kandungannya. DUA minggu setelah itu Buleuen mendengar kalau Tgk Ali sudah pulang dari ibadah umroh. Ia menunggu kesempatan untuk menjumpai Tgk.Ali. Akhirnya kesempatan yang ditunggu-tunggu datang. Hari itu ibunya; Cupo Maneh 44


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

bersama Ummi (sebutan untuk istri Tgk. Ali) dan beberapa robongan ibu-ibu pergi kumawueh (Acara tujuh bulanan) ke kecamatan lain. Buleuen mendatangi rumah Tgk.Ali. Tgk.Ali yang dari jauh sudah melihat Buleuen merasa seperti akan menerima diteror. Ia sudah mendengar kabar dari orang-orang tentang apa yang di alami Buleuen semenjak kepergiannya. Ia ingin mengelak berjumpa dengan Buleuen, tapi terlambat Buleuen sudah sangat dekat dengannya. “Ayo! masuk kedalam jangan disini. “ Ujar Tgk.Ali. Buleuen tanpa basa-basi langsung masuk kedalam rumah. Ia ingin mencurahkan semua isi hatinya kepada Tgk.Ali. Ingin di sampaikan kalau ia sangat menderita atas apa yang menimpa dirinya sekarang. Ia malu untuk keluar rumah. Tgk.Ali harus segera menikahinya. “Bang…! abang harus segera menikahiku bang” ujar Buleuen. “Buleuen, aku sudah tidak mungkin menikahimu lagi” Jawab Tgk.Ali. “Kenapa bang? abang mau mengingkari janji Abang? Bukankan abang akan menikahiku setelah aku tidak hamil lagi. Sekarang buktikan janji mu bang.” “Ia, itu sebelum semua orang kampung tau kalau kamu pernah hamil.” Ujar Tgk.Ali. “Tapi aku hamil juga oleh mu bang, bukan oleh tentara seperti yang mereka sangkakan, kamu harus menikahiku bang! atau aku akan bongkar semuanya kepada orang kampung” Suara Buleuen mengancam. “Buleuen jangan coba-coba mengancamku, semua orang tidak ada yang akan percaya dengan perkataanmu, sekarang kamu pulang jangan pernah lagi kamu menuntut aku untuk menikahimu!” Ujar Tgk. Ali sambil melangkah membukakan pintu mempersilakan Buleuen untuk pergi. 45


Teungku Bakhee

“Apa bang pergi? tega abang memperlakukan aku begini, setelah semuanya ku berikan kepada mu.” Ujar Buleuen. “Buleuen kamu harus mengerti untuk sementara ini, orang kampung sangat menghormatiku selama ini, apa kata mereka kalau tiba-tiba aku menikahi mu, sedangkan mereka tau kamu baru menggugurkan kandungan mu, paling tidak kita tunggu sapai setahun sampai masyarakat melupakan apa yang terjadi dengan mu, sekarang pulanglah nanti orang curiga kamu disini.” Ujar Tgk.Ali. “Aku sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji mu bang! kamu tega biarkan aku menanggung semua ini sendiri. Teungku (Ustad) macam apa kamu bang! Seharusnya dari pertama aku tidak percaya dengan semua janji-janji mu, ingat bang suatu saat kamu akan merasakan malu seperti yang kurasakan!” Ujar Buleuen sambil menangis berlari meninggalkan Tgk. Ali. Tgk. Ali sedikit gusar dengan ancaman Buleuen yang terakhir, tapi ia tak ambil peduli. “Bukankah dalam masyarakat gampoeng telah tertanam isu kalau Buleuen hamil karena di perkosa oleh tentara, dan Buleuen pun telah menggugurkan kandungannya, tentara pun sudah pergi meninggalkan gampoeng mereka. Sekarang aku aman.” Tgk. Ali membatin. SEMENJAK saat itu Buleuen semakin jarang keluar rumah. Ia pun sudah tidak lagi mengikuti pengajian di tempat Tgk.Ali. Ia merasa risih dengan gunjingan teman sepengajian maupun orang-orang kampung. Buleuen tidak pernah membuka siapa yang telah menghamili dirinya, bahkan terhadap ibunya sekalipun. Masyarakat telah mengambil kesimpulan sendiri akan nasib yang dialaminya. Ada yang menganggap ia perempuan gatal karena telah menyerahkan dirinya untuk tentara. Ada 46


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

juga yang merasa kasihan dan iba terhadapnya karena telah menjadi korban pemerkosaan tentara. Semua aib itu harus ditanggungnya. Buleuen sudah pasrah dengan nasibnya, kini ia tak bisa berbuat apa-apa untuk meminta tanggung jawab Tgk. Ali. Hatinya sakit, cintanya telah berubah menjadi benci yang berkesumat. “Sekarang tidak ada satu pun laki-laki yang mau menikahiku.” Pikirnya. Tiada tempat untuk ia mencurahkan isi hatinya selain kepada yang maha kuasa. Buleuen menyesali semua yang telah dilakukannya bersama Tgk. Ali. Hari-hari dilaluinya dengan tabah, setiap malam ia menangis diatas sajadah meminta ampunan dan ketenangan dari YMH kuasa. Tiga bulan berlalu. Suatu malam Buleuen mendengar suara sorak-sorak di jalanan depan rumah. Suara itu makin lama makin keras. Buleuen dan Cupo Maneh berlari keluar rumah melihat apa yang terjadi, begitu juga para ibu-ibu tetangga. Di jalanan tampak puluhan warga gampoeng memegang obor setengah berlari menuju rumah Tgk.Ali. Mereka terdiri dari orang tua, ibu-ibu, dan pemuda gampoeng. Wajahwajah mereka beringas tanda luapan marah. Mulut mereka mengeluarkan sumpah serapah kepada Tgk.Ali. “Tengku bakhee (Ustat cabul)…tengku bakhee…tengku bakhee!” Teriak warga. “Kita bakar saja rumahnya!” Warga semakin marah. Buleuen berlari mengikuti warga gampoeng. Dengan matanya ia melihat sejumlah pemuda menyeret Tgk.Ali dari dalam rumah keluar, mereka memukulnya bertubi-tubi tanpa ampun. Dalam sinaran api obor ia mengenal salah satu dari mereka, itu Apa Dolah yang terbilang masih keluarga dekat Buleuen. Ia terlihat paling brutal, dengan 47


Teungku Bakhee

kayu di tangan ia memukul kepala Tgk.Ali sambil memaki. “Bub…bub…bub” suara kayu menghantam kepala Tgk.ali, darah segar berlomba keluar mengucur membasahi mukanya. “Teungku asee kah…!!! (Ustat anjing kau), aneuk ku jak jok bet (anakku diminta mengaji), kon ku yu jak peurusak bak kah! (bukan untuk kau hancurkan)” setiap sumpah serapah yang keluar dari mulut Apa Dolah disertai dengan pukulan. Kemarahan Apa Dolah membabi buta karena pengakuan Raudah anak perempuanya yang masih SMA. Tgk.Ali telah merayu dan mencabuli Raudah, hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang orang lain apalagi teungku seperti Tgk. Ali. “Ampun…tolong…tolong…” Teriakan Tgk.Ali. Demi mendengar teriakan itu. Apa Dolah bersama para pemuda semakin kencang memukul sampai babak belur. Tgk. Ali pun pingsan. Terlihat dipintu rumah, istri Tgk.Ali menangis histeris meminta tolong. “Tolong…tolong…jangan pukul suami ku, apa salah suami ku.. ya Allah…” Ummi berlari kehalaman rumah, memeluk tubuh suaminya yang pingsan berlumuran darah. Tapi kemarahan warga belum habis, dengan obor mereka membakar balai pengajian Tgk.Ali. Api berkobar-kobar melalap balai pengajian itu, membara seperti kemarahan warga gampoeng. Sejurus ketika warga hendak membakar rumah Tgk.Ali, tiba-tiba pak Geuchik mencegah mereka. “Kasep (sudah cukup)…kasep…bek maen hakim keudroe!!! (jangan main hakim sendiri)” seru pak Geucik. “Kejeut bubar ban mandum! (Silahkan Bubar!” Merasa sudah puas dan mendengar teriakan pak geucik, satu persatu warga pergi meninggalkan rumah Tgk.Ali. Buleuen yang se-dari tadi melihat Tgk. Ali dihajar warga 48


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

merasakan kepuasan dalam hatinya. “Allah telah membalas sakit hatiku�. Ia membatin. Wajahnya berseri seakan dendam kesumat itu telah terbang bersama malam. Buleuen pun beranjak pulang, langkahnya ringan, seakan hari esok yang cerah telah menantinya. Sekian. n Keumalahayati, Banda Aceh 2012

49


Ketegaran Cinta Bertasbih

ilustrasi: repro malut pos

50


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ketegaran Cinta Bertasbih Rudi Al-F arisi Al-Farisi ( Malut Pos | Sabtu, 28 Juli 2012 )

o

S

EORANG sahabat, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami samasama duduk di sekolah dasar (SD), selama beberapa tahun itu saya mengenalnya, sangat mengenalnya, Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya, termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang yang sangat sholehah, yang patuh pada kedua orang tuanya. Tetapi Ranu, Don Juan yang satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak menggoyahkannya untuk merebut hati Mimi. Sedangkan saya hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis ketegaran. Setiap pagi hari, petugas rutin kantor pos pasti sudah nangkring di sudut rumah besar di ujung gang kampung kami, (rumah Mimi). Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi 51


Ketegaran Cinta Bertasbih

dilewati selembar surat warna merah jambu milik Ranu untuk sang pujaan hatinya. Sedang Mimi yang semula tak bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang ribuan rayuan gombal milik don juan. Merekapun pacaran dari mulai kelas 1 SMP bayangkan, hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman yang baik, saya hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut. (walaupun hati ini meratap) Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama bisa menjaga dirinya, hingga ke Pelaminan..Insyaallah. Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, dibalik kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem, orang tua Ranu yang salah satu anggota di DP‌.!! itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk menikah, sekalipun diluar persetujuan orang tua Ranu, dan secara otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah serapah dan segala macam cacian. Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami, Dumai, menuju Pekan Baru, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah tidak ada, (semenjak Mimi di bangku SMA, orang tuanya kecelakaan). Untuk mengadu nasibnya menuju ke Pekan Baru “ Kota Bertuahâ€? Istilah si Mimi dan Ranu. Saya hanya dipamiti sekejap, tanpa bisa berkata-kata, hanya saling bersidekap tangan didada dan terharu panjang, 52


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri. Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”, melenggang pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju “Kota Bertuahnya” Pekan Baru. Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga tahun kelima, dimana saya masih membujang dan masih menetap tinggal di Dumai, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya, lagi. Bahkan Ibuku yang sudah berhijrah hampir tiga tahun ini di Pekan Baru tempat kakakku juga tidak bisa melacak keberadaan Mimi, Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta sahabat-sahabat yang lain yang masih rutin kami panjatkan, untuk keberuntungan Mimi di sana. Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan saya berada dirumah karena kantor memang libur dihari sabtu dan minggu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ketokan pintu dikamar, mbak “Inul” patner kerja (alias Pembantu) kami mengabarkan ada tamu dari Pekan Baru, siapa gerangan pikir saya ketika itu. Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan tamu tersebut, perempuan cantik berkulit putih, tapi bajunya sangat lusuh beserta ketiga anaknya, yang dua lakilaki kurus, bermata cekung terlihat sangat kelelahan, dan seorang bayi mungil dalam gendongan. Sejenak saya tertegun, lupa-lupa ingat, hingga suara perempuan itu mengejutkan saya “Faris….Faris khan !”, sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkul saya, sambil terisak keras dibahu saya, saat itu saya hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa, dan 53


Ketegaran Cinta Bertasbih

saya tidak bisa menepis karena hal ini bukan muhrimnya. Lalu setelah ia puas menangis, pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis bayi Mimi yang keras, yang rupanya tanpa kami sadari telah menyakitinya, dan menekan bayi itu dalam pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah mengampuni….. Saya menjauhkannya dari bahu saya sambil masih ragu, berguman pelan “Mimi…Mimikah?” Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang ingin merangkul Mimi, tapi karena syari’at masih membayang dibatin. Aku hanya bisa bersidekap tangan didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat kondisinya. Anak-anak Mimi yang melihat kami hanya termangu, Mimi terlihat lebih tua dari usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas, badannya kurus, dengan jilbab lusuh, yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau juga benturan berkali-kali, seperti orang yang telah berjalan berpuluh-puluh kilometer. Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan Mimi masuk kedalam rumah, membantu membawakan barangbarangnya, dibantu mbak Inul, meletakkan barangnya di ruang tamu, rumah saya. Menunda beberapa pertanyaan yang telah menggunung dipikiran saya, Saya menatap dalam-dalam, Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu saya kenal kini terlihat sangat berantakan, Masyaallah !, Mimi …ada apa denganmu!. Saya menunda pertanyaan saya, hingga Mimi dan anakanaknya mau saya paksa beristirahat beberapa hari dirumah saya, ia tidur dikamar ibu yang sudah dirapikan mbak Inul, saya rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya. Beberapa hari beristirahat dirumah saya, saya baru berani 54


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menanyakan tentang kabar keadaannya sekarang. Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan. Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat saya tanya keadaan Ranu, matanya berkaca-kaca, saya menghela nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam hitungan menit hingga keluarlah suara parau dari mulutnya… “Mas Ranu, Ris….sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu”. “Oh” desah saya pelan, kata-kata Mimi membuat saya tercekat beberapa saat, namun sebelum saya sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah meracau “Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah, keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orangtuanya masih saja membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu, aku bekerja serabutan di Pekan Baru, Ris.., mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dsb, hingga Mas Ranu meninggal, keluarganya, hanya memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutanghutang pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Dumai, aku tidak sanggup mengadu nasib disana Ris….” Kata-kata Mimi berhenti disini, disambut isak tangisnya, sedang saya yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada. Setelah kami sama-sama tenang, saya bertanya pada Mimi “ Lalu apa rencanamu, Mimi?”. Mimi tertegun… dia memandang saya nanar, saya 55


Ketegaran Cinta Bertasbih

menundukkan pandangan, karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, “Sisa hartanya “ begitu kata Mimi. “Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini Ris..”. yang menahan haru, sontak mataku langsung mengalirkan sesuatu, walaupun aku lelaki, namun hati ini bertindak sebagai makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami hanyut dalam haru. Pelan-pelan saya, meraih kalung itu dari meja, menimbang-nimbang, pikiran saya melayang menuju sisa uang saya di amplop, dalam tas, Jum’at kemarin saya baru saja mendapat lemburan, sebagai pegawai di suatu instansi, nilai lembur saya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uang saya, saya mengeluarkan amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi, semata mata karena ikhlas. Mimi menatap amplop di tangan saya, sejurus kemudian saya meletakkan amplop tersebut diatas meja sambil berkata “Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya, biar saya pikirkan caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha” Keesokan harinya, saya menjual kalung Mimi, pada sahabat baik saya yang lain, kebetulan ia seorang pemodalmuslim, yang baik hati,.. “Th anks ya Hans”.., saya menceritakan tentang keadaan Mimi pada mereka, Hans dan Istrinya banyak membantu “ Ya Allah limpahilah berkah pada orang-orang baik seperti mereka”. Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil didekat rumah saya, Alhamdulillah!, sekarang ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan 56


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

hasil, Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa saya contoh dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif. Kuat karena Mimi enggan bergantung pada orang lain, dan tegar karena diterpa cobaan bertubi-tubi, Mimi tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia juga Smart, tahu dimana dia harus meminta pertolongan pada orang yang tepat, dan tentu saja muslimah yang taat beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya. Saya hanya berpikir dan yakin pasti ada jutaan MimiMimi, diluar sana, akan tetapi pastinya sangat jarang yang melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan Indahnya. Saya hanya ingin berbagi‌..cobalah kita lihat, Mimi tetangga saya kini dan setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya kembali bersinar, meskipun ia menyandang status janda. Yang kemudian dia tekun mendengar keluh kesah saya pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya, termasuk ketika saya mulai mengeluh tidak betah dikantor sebagai pegawai sekian tahun, atau ketika saya menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah berkepala tiga, apa kata Mimi “Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu tidakâ€?. Subhanallah ! Mimi, contoh kekuatan wanita muslimah, ada disana. Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan bertubi-tubi dalam hidup saya, maka Mimi membawa saya menuju pintu rumah mungilnya, didepan pintunya, saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak, (sungguh rumah yang mungil) 57


Ketegaran Cinta Bertasbih

mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, dan juga tempat tidur gulung kecil dibawahnya, tempat si sulungnya tidur, kemudian katanya, “Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku menajalaninya, Ris, sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang panjang “. Duh, gusti betapa baik hati Mimi ini, betapa malu saya dihadapannya, cobaan saya, tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa saya jarang bersyukur, sering mengeluh, dan sering merasa kurang. “Stupid mind in the Stupid ordinary “ Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya menumbuhkan satu prinsip dihati saya bahwa “ Karena aku adalah lelaki, aku harus kuat dan tegar lebih dari wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika mungkin jauh lebih kuat dan tegar demi tangan-tangan mung il yang mungkin akan menjadi tangantangan perkasa yang siap mencengkram dunia, Insyaallah Amien” Singkat cerita, saya pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang saya bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja saya melintas didepan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati, Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah.. Allahu Akbar…. n

58


Repro Morgan Weistling | OpenArt

59


Ramalan Papa

ilustrasi: repro antizena.sk

60


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ramalan Papa Dwi Rejeki ( Suara Karya | Sabtu, 28 Juli 2012 )

o

A

YAH memang selamanya begitu. Diam saja kalau dipojokkan oleh gerutuan ibu. Tapi laki-laki yang bekas tentara, bertulang dada kukuh dengan sorotan mata yang tajam itu, akan membalikkan omelan ibu esoknya. Bukan dalam bentuk dampratan. Sambil bercanda, lalu mengecup kening ibu, papa akan membalikkan seluruh dampratan itu menjadi sebuah jawaban telak. Dan ibu sering terkecoh oleh strategi papa. Suatu siasat militer yang ampuh. “Ibumu tak sadar lagi dipancing?” tanya istriku. “Ibu tak pernah tahu permainan papa.” “Lantas ibumu menerimanya?” “Mungkin. Karena biasanya ibu diam saja. Lalu setelah sadar, tertawa terbahak-bahak,” jawabku. “Bahagia sekali mereka.” “Papa yang mampu membangun suasana,” ujarku. Dulu rumah kami termasuk yang terbesar di kampung. Empat kamar tidur, empat kamar mandi, satu dapur, satu 61


Ramalan Papa

ruang tamu, satu ruang baca dan satu gudang. Halaman depan ditanami dengan pohon rambutan dan kelapa gading. Di pagar disusun beberapa pot bunga. Di pintu pagar, dibangun papa sebuah gapura model Jepang, dicat merah. Di halaman belakang, ada sebuah kolam ikan, beberapa kawat jemuran dan beberapa pohon pepaya. Di antara rumah-rumah tetangga di kampung, hanya rumah kami yang berdinding tembok, lantai keramik dan genteng bagus. Memang waktu itu listrik belum masuk. Tapi papa yang lama tinggal di kota, tak mau rumahnya gelap gulita. Itu yang mendorong papa membeli mesin disel untuk menghidupkan listrik di rumah. Dan beberapa tetangga memanfaatkan pula aliran listrik itu secara gratis. Menurut gunjingan orang orang di kampung, kekayaan yang diperoleh papa berasal dari hasil menyelundupkan senjata dari Singapura, waktu revolusi mengganyang penjajahan dulu. Entahlah. Aku tak tahu itu. Yang paling aku ketahui dari seluruh kehidupan papa, adalah betapa percayanya ia pada ramalan bintang. Hampir tiap akhir pekan papa membolak-balik koran atau majalah yang memuat ramalan bintang. Dengan tertegun-tegun papa membenamkan dirinya ke setiap baris ramalan tersebut. Lalu setiap ramalan yang bagus isinya, digunting dan ditempelkannya di dinding kamar kerjanya. Sedangkan ramalan yang jelek, dibakar, abunya dikerumus sampai lumat, setelah itu dibuang ke lubang wese. Pernah suatu kali aku iseng. Sebuah koran lama yang memuat ramalan bintang aku gunting persis pada zodiac papa. Kebetulan isinya buruk. Diam-diam, guntingan itu aku jajarkan disamping ramalan-ramalan lainnya. “Perhatikan tamu-tamu yang berkunjung ke ruah anda dalam minggu ini. Mereka tidak membawa berkah. Bekas pacar akan berkunjung dengan pengharapan. Rezeki seret. 62


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Hati-hati dengan jempol kaki anda, sewaktu-waktu bisa bernanah. Berita buruk datang dari utara, bersiap-siaplah. Ingat, orang yang anda kasihi akan khianat.” Begitulah. Sore itu ketika pulang dari kota, papa segera masuk kamarnya. Seperti biasa, ia akan membaca ramalan bintangnya. Aku perhatikan tingkahnya diam-diam. Agak lama papa di kamar. Ketika muncul di ambang pintu, kulihat wajahnya lesu. Matanya redup, gig inya gemeratuk, tangannya seperti meremas-remas sesuatu. Sekali-sekali kelihatan badannya bergetar. Sampai malam, ketika kami makan bersama, papa banyak diam dan murung. Ibu tak mau mengusik. Sedangkan aku, terus saja memperhatikan kelakuan papa. Dalam hati, aku menyesal dan berdoa, mudah-mudahan ayah kapok. Ternyata tidak. Aku dipanggilnya ke kamar. Aku lemes, rahasiaku terbongkar. Pasti papa akan marah. “Kali ini papa meleset,” katanya. “Ramalan papa minggu ini jelek,” katanya. “Isinya apa pap?” “Bacalah sendiri,” suruhnya. Aku pura pura tak tahu dan membaca isi ramalan itu pelan-pelan. Kemudian aku manggut-manggut, mafhum. “Tadi pag i ada yang datang?” tanya papa. Aku menggeleng. “Kalau ada yang datang, bilang tak ada,” pesannya. “Siapa saja?” “Siapa saja!” “Ibu tadi ke mana saja?” tanya papa lagi. “Ke pasar. Ke warung Baba Ong,” jawabku. “Awasi ibumu. Jangan sampai ia kepincut Baba itu.” “Tidak mungkin,” bantahku. “Hampir tiap hari ibumu ke sana?” “Lha, ibu cuma belanja di sana,” jawabku. 63


Ramalan Papa

“Pokoknya awasi. Kau mata-mata papa kali ini.� Lalu papa keluar. Ia juga menasehati ibu, agar jangan terlalu sering berbelanja ke warung Baba Ong. Ibu mulanya mau protes, tapi sadar dengan sityuasi papa, ibu diam saja. Aku main mata dengan ibu. Begitu takutnya papa, sampai-sampai ia tak mau menerima tamu minggu itu. Dan ia tak pula keluar rumah selama itu. Ia berkurung dalam kamar. Tapi bila ibu hendak ke luar, selalu ditanyanya tujuan ibu. Selalu diingatkannya, agar ibu jangan ke warung Baba Ong. Agak memusingkan juga sikap papa dalam seminggu itu. Aku menyesal telah mengusik ketenangannya papa. Tapi aku ingin tahu, sampai sejauh mana perhatian papa pada isi ramalan itu. Ternyata, seperti yang anda ketahui, papa sangat takut dan merasa was-was. Papaku memang selamanya begitu. Diam saja kalau merasa dirinya terpojok. Padahal selama seminggu, ramalan itu tak pernah terbukti kebenarannya. Segala strategi perang yang dipelajarinya semasa aktif jadi tentara, tak pernah muncul lagi di saat itu. Hanya membungkus kedua jempol kaki saja yang dilakukan ayah, agar terlindungi dari apaapa yang bisa melukakan. Minggu depannya, papa sibuk lagi menyusuri ramalanramalan baru. Yang baik-baik saja tentunya. Tapi sesuatu hal telah terjadi, di luar dugaanku. Jempol kaki papa betulbetul bernanah kedua-duanya, ketika perban dibuka. Papa tentu saja kaget setengah mati. Ibu yang menasihati papa agar tak percaya pada ramalan bintang, ikut-ikutan kaget. Papa disuruh berobat ke dokter. Apa jawab papa? Nanah itu merupakan kutukan Tuhan yang sudah diramalkan. Walau dibawa ke dokter, tetap saja tak akan sembuh. Jadi ditunggu saja sampai Tuhan berkenan menyembuhkannya. Lalu kejadian selanjutnya, ini di luar dugaanku. Seorang 64


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

wanita separuh baya bertamu ke rumah. Begitu pintu kubuka, ia menanyakan apakah papa ada di rumah. Aku buru-buru menemu ibu, mengatakan ada tamu wanita mencari papa. Ibu tidak kenal siapa wanita itu. Setelah dipersilakan masuk - aku ikut-ikutan menyilakan duduk - ibu ke dalam, ke kamar kerja papa. Begitu diberitahu ada wanita yang mencarinya, wajah papa kontan pucat pasi. Ibu heran. Papa terduduk lemas di kursi. Dipandanginya ibu seperti memohon belas kasihan. “Tanyakan siapa namanya?” pesan papa menunduk. “Dia tak mau,” jawab ibu. “Seperti apa wajahnya?” “Agak putih, keriting, pendek, bangir hidungnya.” “Ya Allah!” ujar papa lemah. “Kenapa?” “Ramalan itu. Ramalan itu, setan!” gerutu papa. “Siapa dia?” “Mati aku!” desah papa. Aku yang berada di luar, begitu lama menunggu papa datang, langsung masuk ke kamar papa. Kulihat papa ngosngosan. Ibu bingung. “Ramalan itu terbukti,” desis papa. “Wanita itu?” tanyaku pelan. “Ya.” “Pacar papa?” tanyaku ingin tahu. IBU, tak pernah tahu masa silam papa dan selama ini menganggap papa suami setia, langsung meradang. Papa dimaki; tidak setia, pembohong, penipu, tukang main jablai, playboy, bandot tua, dan beragam sebutan jelek lainnya. Aku sendiri heran. Padahal ramalan bintang yang kutempelkan secara diam-diam itu berasal dari koran enam tahun lalu. Kok bisa tepat hasilnya? 65


Ramalan Papa

Papa didorong ibu ke luar kamar, menemui tamu tadi. Aku pun dibentak ibu karena bersikap membela papa. Dalam hati aku ingin mengatakan pada ibu, bahwa ini semua gara-gara aku. Tapi sudah terlambat, perang sudah pecah. Peluru peluru sudah ditembakkan. Tinggal menunggu siapa saja yang akan gugur sebagai pahlawan. Karena papa tak mau keluar, aku yang menemui tamu tadi. Dengan hati-hati kutanyakan keperluannya menemui papa. Tidak menduga apa telah terjadi di belakang, wanita ini mengatakan bahwa ia cuma ingin memulangkan dompet papa yang tertinggal di tokonya minggu lalu, ketika papa berkunjung ke kota. Itu pun dititipkan oleh suaminya yang memiliki toko itu, karena ia kebetulan ada urusan di kampungku. Setelah itu dia pergi. Tapi ibu tak percaya itu. Papa didampratnya, dituduhnya selingkuh di kota. “Papa lupa dompet? Keenakan pacaran,” kata ibu. “Tapi itu titipan suaminya, kok bu,” belaku. “Tidak bisa!” bentak ibu. “Ya, sudah.” “Kau mau bela papa, ya?” hardik ibu. Aku diam saja. Perang terus berlanjut. Tapi papa sudah mulai tenang. Wajahnya sudah mulai berdarah lagi. Dan papa memang selamanya beg itu. Diam saja kalau dipojokkan oleh gerutuan ibu. Sampai pagi besok, hubungan papa dan ibu seperti orang bisu. Papa main mata padaku. Artinya, siasat papa akan dipergunakan untuk menaklukkan hati ibu. Aku tidak tahu dari sudut mana papa akan menyerang ibu. Sehabis santap malam, ibu duduk sendiri di ruang tamu, sambil menonton televisi. Papa duduk dengan santai di kursi makan. Ketika bangkit, buru-buru kuhabiskan makananku, lalu membuntuti papa ke ruang tamu. “Masih marah,bu?” tanya papa kalem. Ibu melengos. 66


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Ramalan itu jahat ya, bu?” tanya papa lagi. Ibu memalingkan wajahnya. “Ternyata terbukti juga,” desis papa. “Dasar bandot!” bentak ibu tiba-tiba. “Jempol kakiku bernanah, tepat seperti yang diramalkan. Bekas pacar akan berkunjung, juga benar. Dari utara lagi. Wah tepat sekali, bu,” kata papa datar. “Mau cari gara-gara lagi, ya?” ibu sambil melotot. “Percaya ramalan, nggak?” tanya papa memanasi. “Emangnya saya siapa...” bantah ibu. “Tapi di situ ditulis, orang yang anda kasihi akan berkhianat,” kata papa. Aku rasa, jebakan papa mau masuk. Strategi yang dipola papa, mulai berjalan. Ibu mulai dijerat. Tahu apa yang terjadi? Ibu terpana begitu ditusuk oleh pertanyaan papa yang terakhir. Tak menduga sama sekali papa akan membalikkan pertanyaan ibu menjadi jebakan maut. Begitu papa menanyakan hubungan ibu dengan Baba Ong, ibu terkesima seperti tak percaya papa akan menuduh seperti itu. Waktu itulah papa menghambur dan mengucup kening ibu. Di balik tirai aku cuma mendengar suara tawa mereka. Sekarang yang jadi masalah, kenapa kedua jempol kaki papa bernanah. Apa hubungannya antara ramalan enam tahun lalu dengan keadaan sekarang? “Tidak,” kata dokter kepadaku. Pagi pagi aku mengajak papa ke Puskesmas buat mengobati kedua jempol kakinya yang bernanah. “Lantas kenapa?” tanyaku. Papa sih, diam-diam saja. Sebab pikirannya sudah disetel pada kalimat-kalimat dalam ramalan. “Kedua jempol itu tidak bisa bernanah walau berharihari dibungkus. Waktu mandi, kebasahan dan ketika kering dibiarkan jadi bau,” ujar Pak dokter. 67


Ramalan Papa

“Jadi bukan kutukan Tuhan?” tanya papa. Pak dokter tertawa terkekeh-kekeh. Aku heran, kenapa papa jadi selugu itu. Kok bekas tentara infantri, bertulang dagu kukuh bersorot mata tajam kupanggil sebagai papa, betul-betul seperti orang kampung yang tak pernah tinggal di kota, tak pernah bertualang di Singapura, tak pernah berjuang di medan perang, dan seperti tak pernah berurusan dengan kesehatan. “Papa masih percaya pada ramalan,” kata papa sesampai di rumah. “Ibumu tak berhasil mengubah kebiasaan papa itu?” tanya istriku suatu hari. “Tidak. Malahan ibu mulai ikut percaya,” jawabku. “Kamu sendiri?” tanya istriku. Aku diam saja. Sejak peristiwa dulu itu, aku mencoba belajar ilmu meramal pada seorang sinshe di kota. Hebatnya, sampai sekarang istriku tak pernah tahu. Ia cuma tahu, aku bekerja di sebuah koran, bukan sebagai wartawan, tapi sebagai tenaga administrasi. Istriku tak tahu, kalau ramalan bintang yang dimuat setiap minggu dalam koranku itu, adalah hasil karyaku sendiri. Dan istriku dengan setia menyimak isinya setiap minggu. n

68


Repro Maria JosĂŠ Aguilar | OpenArt

69


Rindu Hujan dan Senja

ilustrasi: repro banjarmasin post

g Pengiriman puisi atau cerpen, harap melengkapinya dengan data diri/copy kartu identitasi dan nomor rekening bank. Honor tulisan yang dimuat akan ditransfer. Tulisan dikirim lewat pos ke Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa No.16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop tulis Seni dan Budaya. Atau via email hamsibpost@yahoo.co.id 70


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Rindu Hujan dan Senja Miranda Seftiana ( Banjarmasin Post | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

L

ELAKI itu masih asyik menikmati hujan. Sesekali tersenyum, kemudian merenung, dan turunlah berkas embun kesedihan dari pelupuk matanya. Mata yang teduh, mata yang sempat menjadi alasan terkuat mengapa aku jatuh cinta padanya. “Mas, jangan main hujan terlalu lama. Nanti kamu sakit!� ucapku mengingatkannya. Sayang, dia tampaknya masih teramat merindukan hujan. Bukan tetesan air hujan sebenarnya, tetapi kenangan bersama hujan itu. “Sebentar lagi. Aku tengah melepas rindu,� jawabnya singkat tanpa memperdulikan aku yang masih berdiri mematung di depan halte sembari memegangi payung jingga. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikapnya itu. Hal seperti ini memang sudah tak asing lagi bagiku, ya lebih tepatnya sejak satu tahun belakangan setelah aku mengenalnya. Semenjak itu pula aku berusaha 71


Rindu Hujan dan Senja

mendamping i dan menjadi teman kesepiannya. Walau kusadar, aku takkan pernah sanggup menggantikan sang perempuan hujan di hatinya. “Ayo pulang!”. Ajakannya mengejutkanku yang tengah melamunkan tentang dirinya. Tanpa banyak bicara, aku hanya mengiringi langkahnya. Aku mungkin terlalu cinta dengan lelaki ini, lelaki yang kusadari mungkin takkan pernah kumiliki. “TEGAR Dwiraja,” ucapnya singkat mengawali perkenalan kami di suatu acara pertemuan para pemahat kata. Sejak itulah aku dan Tegar menjadi dekat. Awalnya hanya menjalin komunikasi biasa, hingga berlanjut ke kehidupannya yang pada akhirnya turut menyeret diriku untuk menjadi salah satu tokoh dalam kisah hidupnya. Beberapa bulan sejak perkenalan singkat tapi amat membekas itu, kurasakan ada rasa lain yang tumbuh di hatiku. Ya, sebuah rasa cinta untuk Tegar yang sebelumnya tak pernah terlintas di benakku. Aku yang pasif dalam urusan seperti ini, lebih memilih untuk menyembunyikan rasaku untuknya. Berharap kelak, dia akan menyadari dengan sendirinya. Bukankah seorang pemahat kata adalah orang yang “peka”? Demikian pikirku. Aku memang cukup dekat dengan Tegar, tetapi aku belum tahu banyak tentang kisah hidupnya. Termasuk riwayat cintanya. Hingga suatu ketika, kutemukan kenyataan yang berbeda dari sisi hidup Tegar. Tegar, lelaki yang bermata teduh itu ternyata pernah terluka oleh gadis yang juga dicintainya secara diam-diam. Gadis yang posisinya di hati Tegar takkan pernah terganti, termasuk oleh diriku. Gadis yang ternyata adalah “Perempuan Hujan” yang sering disebut-sebut oleh Tegar.

72


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“RAS, bisakah kamu menemani aku hari ini? Ada naskah yang harus diedit. Kutunggu kamu di perpustakaan kampus.” Itulah isi pesan singkat yang dikirimkan Tegar padaku sekitar satu jam yang lalu, sebelum aku berangkat menuju tempat yang dimintanya. Bergegas aku menuju ke sana. Aku tak ingin membuatnya lama menunggu. Pembicaraan kami cukup serius kali ini. Aku tahu, Tegar adalah sosok lelaki yang amat bertanggung jawab akan tugas-tugasnya. Termasuk untuk urusan ini. Tak sedikitpun aku berani menyela ucapannya, hanya sesekali aku memasuki pembicaraannya, selebihnya mendengarkan. Namun Tegar tetaplah Tegar. Usai berdiskusi, dia akan kembali seperti semula, Jahil! Seperti itulah sosok Tegar yang sering dilihat oleh banyak orang. “Mas, aku boleh tanya sesuatu?” “Hmmm... Apa, Ras? Serius sekali sepertinya? Apa tentang perempuan hujan itu?” tanyanya seakan bisa membaca pikiranku. Ditanya seperti itu, aku hanya bisa mengangguk. Mungkin dia tahu, kalau kemarin malam, aku mampir di blog pribadinya dan sempat meninggalkan jejak di salah satu postingannya. “Jadi begini, Ras. Dia, wanita yang sering kusebut sebagai “Perempuan Hujan” itu adalah seorang gadis yang pernah kutemui di stasiun kereta sebelum aku berangkat ke ibu kota.” Aku hanya menyimak cerita yang meluncur dari bibir Tegar. Berharap ada sesuatu yang bisa kudapatkan di sana. Entah apa. “Lalu, Mas?” tanyaku dengan wajah penasaran. Sedangkan dirinya hanya tersenyum tipis. “Kami sempat akrab. Sebagai sesama anak rantau, aku merasa nyaman berbagi dengannya. Namun sayang, 73


Rindu Hujan dan Senja

sekarang aku tak pernah tahu dia ada di mana? Terakhir kami bertemu saat aku mengembalikan laptop yang dia pinjamkan padaku,” jelasnya padaku. “Kami bertemu saat hujan turun di stasiun kereta waktu itu. Sejak itulah aku mencintai hujan dan menganggap setiap tetesan air hujan adalah pelepas rinduku padanya.” Mata Tegar tampak menerawang ketika memandangi rinai hujan yang turun. Pandangannya tak lepas dari jendela kaca besar di salah satu tempat kami duduk. Aku tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Tegar. Ya! Siapa lagi kalau bukan “Perempuan Hujan” itu. Aku tak marah, sebab aku sadar sampai kapanpun aku takkan pernah bisa menggantikan sosoknya di hati Tegar. Karena itulah aku berusaha merelakan Tegar bukan untukku. “MAS, aku pamit,” ucapku singkat ketika bertemu dengan Tegar pagi tadi. “Kamu mau ke mana, Ras?” “Aku akan pindah ke Banjarmasin, orangtuaku yang meminta. Karena kakak lelakiku akan menikah, jadi di rumah hanya ada orangtuaku saja,” ucapku. Aku berusaha menahan dentuman keras di hatiku. Aku tak ingin Tegar tahu alasan sebenarnya mengapa aku memilih untuk kembali ke Banjarmasin, kota kelahiranku. Sebagai wanita, aku juga memiliki harga diri. Tak nyaman rasanya untukku jika harus “memulai” lebih dahulu. Walaupun Tegar seorang penulis, kurasa dia kurang peka terhadap perasaanku ini. Entahlah, kurang peka atau dia justru pura-pura tidak peka? “Hati-hati, Ras. Kudoakan kau sukses di sana. Aku pasti akan merindukanmu sebagai sahabat yang selama ini selalu sabar menemaniku ketika melepas rindu dengan hujan,” ucapnya sembari tersenyum padaku. 74


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Usai perpisahan singkat itu, aku memilih untuk pergi ke danau yang letaknya tak jauh dari perpustakaan kampus. Sejenak, ingin kulepaskan segala rasa yang tak seharusnya kubawa ke tanah kelahiranku. Aku ing in memulai kehidupan yang baru di sana. Tak terasa senja menjelang. Mentari perlahan rebah di peraduan. Namun aku masih terpaku di tepian danau ini sembari memegang sebuah buku kenangan dari Tegar. Buku berjudul Perempuan Senja karya Tegar, yang cetakan pertamanya ia berikan untukku. Aku suka senja. Aku termangu memandangi lukisan semburat jingga ini. Danau ini terasa amat romantis. Namun sayang, aku sendiri di tempat ini, tepatnya sebelum kusadari kehadiran sosok lain yang memegang pundak sebelah kananku. “Aku tahu kau memang bukan perempuan hujan yang selama ini selalu kurindukan. Tetapi engkau adalah perempuan senja yang selama ini terus hadir dalam hidupku. Tanpa hujan, aku hanya merasakan rindu. Namun tanpa senja, aku merasakan kehilangan,” ucapan Tegar terasa amat romantis di telingaku. “Aku tak ingin kehilanganmu, Ras. Aku sadar, selama ini aku tidak peka atas perasaanmu. Aku menyia-nyiakan waktuku hanya untuk seseorang yang memang bukan jodohku. Aku ingin kamu, Ras. Kamu, si perempuan senja yang setia menemaniku walau dulu hadirmu seakan tak kuperdulikan. Maafkan aku, Ras.” Hatiku luruh, mataku menghangat hingga bulir air mataku jatuh. Ah... Kata-katamu terlalu indah, Mas. “Kamu kenapa nangis, Ras? Aku terlalu romantis ya?” tanyanya sembari tertawa. “Dasar penulis!” ucapku sembari tersenyum dan memandang matanya yang teduh. n 75


Kekasih Kupu-Kupu

ilustrasi: repro teater malin kundang karya amrianis | haluan

76


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Kekasih Kupu-Kupu Dodi Prananda ( Haluan | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

A

PA binatang paling menarik di dunia ini? Bila mungkin pertanyaan itu kujawab, dengan matang aku akan menjawab; kupu-kupu. Bukan semata, karena karena aku memiliki kekasih cantik rupa bernama Kupu. Cantik, indah dan menawan, itulah komentarku ketika setiap bertemu kupu-kupu. Hal yang sama ternyata juga kualami ketika bertemu Kupu. Aku mengulang komentar itu untuknya; cantik, indah dan menawan. Aku ingat dulu, ibu sering bilang, kalau adaada kupukupu yang masuk rumah, itu artinya akan ada tamu yang datang. Imajinasi kanakku, membayangkan, kupu-kupu itulah yang akan berubah menjadi tamunya. Tapi, ternyata tidak. Seringkali, apa yang ibu bilang terjadi. Ada tamu yang datang. Tunggu! Itu akan terjadi kalau saja kupu-kupunya warna-warni, bukan berwarna hitam. Tapi, kalau saja kupukupunya berwarna hitam, “Penanda kematian. Akan ada yang mati. Kupu-kupu memberi kabar,� kata ibu. Cerita itu, tak mengurangi rasa cintaku pada kupukupu. Dan, karena 77


Kekasih Kupu-Kupu

aku telah menamai diriku; Kekasih Kupu-Kupu. AKU bertemu Kupu ketika sebuah pameran lukisan di Jakarta. Ia malam itu sangat anggun. Datang ke sebuah pameran lukisan terbesar tahun itu menemani ayahnya yang penggila lukisan. Aku tiba-tiba menjadi ingat. Sehari sebelum malam pameran itu, ibu sempat bilang,” Ada seekor kupu-kupu warna-warni masuk ke rumah kita,” katanya sambil berusaha menangkap kupu-kupu itu. Tapi, kupu-kupu itu beranjak pergi dari rumah, melalui kaca jendela yang menganga. Ayahnya bertanya padaku waktu itu, “Berapa harga yang harus kubayar untuk lukisan sebagus ini?” katanya. Aku tidak berani menjawab, maksudku, tidak berani menyebutkan harga itu di depan putrinya yang cantiknya mungkin jauh lebih dari kupu-kupu yang ada di lukisan itu. “Buat Tuan, tidak perlu bayar lukisan ini!” tulisku di kertas putih. Ia sontak agak terkaget. Jawaban yang sangat tepat kurasa baginya malam itu, karena beberapa hari setelah itu, aku berhasil mendapatkan putrinya. Amat jauh berharga bagiku ketimbang memberikan lukisan yang kurampungkan berhari-hari demi dipajang di pameran akbar itu tanpa harus dihargai uang dari ayahnya. Apalagi, ketika saat itu, aku mendengar pertama kali bahwa ternyata aku keliru selama ini; ada ciptaan Tuhan yang ternyata jauh lebih cantik, indah dan menawan dari kupu-kupu. “Namaku, Kupu..,” kata dia memperkenalkan diri. Di sebuah kafe, di suatu malam, saat aku berhasil bertemu untuk kedua kalinya dengan dia setelah malam pameran itu. Aku rasa, Kupu sangat mengerti betapa aku tak bisa berbicara langsung untuk menjawab salam perkenalannya. Tidak ke telinganya. Tapi, justru ke matanya. 78


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Nama yang cantik,” kataku, “seperti Kupu-Kupu,” aku membalas di atas kertas. Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya. Itulah, pertama kali ia telah berhasil membuat aku jatuh cinta. Jatuh cinta untuk pertama kali. SEMENJAK mengenal Kupu, aku merasa dilecut banyak inspirasi setiap hari. Banyak hari-hariku habis terdiam, bermenung, berhari-hari untuk duduk di depan kursi. Di depan kanvas yang masih putih perawan. Belum ada satupun di sana, tergores cat minyak dari kuas yang masih kuapit disela-sela jemariku. Suatu hari, Kupu terang bahagia, aku melukis dirinya. Ia duduk di sela kepak sayap kupu-kupu raksasa yang sedang mengembang terbang. “Ini kado satu tahun hubungan kita,” kataku padanya. Ia menciumku; aku maksud bibirku, untuk pertama kali. Mengingatkan aku bagaimana rasa bahagia seorang Rose DeWitt Bukater ketika dilukis seorang Jack Dawson difilm Titanic sehingga ia menghadiahi daun bibir Jack dengan sebuah ciuman paling hangat di atas geladak kapal. Aku rasa, kalau aku tak terlalu berlebihan, Kupu perempuan yang amat romantis. Bukan hanya karena ia perempuan yang mau masuk ke kehidupanku lebih jauh hingga sekarang, tapi justru karena sikapnya yang membuat aku menjadi sangat luluh. Tidak bisa menolak ajakannya berjalan ke taman; untuk mencari kupu-kupu, menikmati senja di taman, dan menutupnya dengan sebuah percintaan paling hangat di ruang lukisku. Ia menjadi pemantik imajinasiku, serta merta menjadi perempuan yang telah mengubah banyak hal. “Kau tidak bisu sayang, sungguh. Kau justru berkata dengan sangat lebih tajam lewat lukisan-lukisanmu,” kata 79


Kekasih Kupu-Kupu

Kupu suatu hari. Suatu hari. Usai aku merampungkan sebuah lukisan seorang laki-laki dengan kemaluan bernanah dan belatungbelatung menempel di sana, dan seorang perempuan dengan lutut tertekuk ke lantai, menjilati kemaluan itu dengan rakus dan lapar. Di hari yang sama, ketika Ibu mendapati Bapak selingkuh dengan gundiknya di kamar belakang. Di hari yang sama, ketika aku melihat langsung Bapak memasukkan seorang perempuan ke kamar itu, di saat Ibu dua hari ini tak tidur di rumah. Aku ingin temui Bapak di kamar itu, melayangkan sebuah tinju paling keras tepat di jidadnya. Kupu menahanku. Meredam amarah yang tidak bisa terbendung. Dan, Kupu berhasil membendungnya. “Biarkan Tuhan menyelesaikannya. Tuhan punya ending yang lebih bijak untuk semua ini. Dan, bukan berarti kau lemah atas semua ini. Kau kuat, laki-laki paling kuat, dalam kelemahanmu sekalipun,� ia membisikku kalimat itu ke telingaku. Aku menciumnya. Lalu, di ruang lukis, aku terus meneruskan lukisan lakilaki itu. Kini, tepat di kepala laki-laki itu, bersarang sebuah peluru panas yang menembus tengkorak kepalanya. Seorang perempuan lain, dari arah belakang yang mengarahkan pistol itu ke arah laki-laki itu. Sejenak, aku menghentikan lukisan itu. Melempar kuas. Tak kuasa meneruskan lukisan itu. Kupu kali ini diam di tempatnya. Membiarkan aku memandang lepas pemandangan dari jendela nako, memandangi malam yang biadab bagi laki-laki yang dipanggilnya; Bapak. “Hatimu tidak pernah bisu sayang. Hatimu sangat bijak menghadapi semua ini. Aku yakin, dan bantu aku buat meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja,� kini 80


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Kupu berkata. Ia mendekat. Memelukku dari belakang. Aku biarkan tangannya melingkari tubuhku, dan aku menyambut pelukannya, membiarkan airmataku jatuh di pundaknya ketika aku berbalik arah memeluknya. “Kau tidak pernah bisu! Tak sekalipun,” ia melanjutkan sambil menatap sesuatu masuk dari dalam jendela. “Lihat itu….!” katanya. Aku mengikuti telunjuknya. Seekor kupukupu hitam, baru saja masuk ke kamar lukisku. Seeekor kupu-kupu hitam, tidak..tidak.. tidak seekor, dan.. “Sayang, kupu-kupu itu banyak sekali..” Kupu setengah terkejut ketika sekawanan kupu-kupu hitam, masuk dari jendela nako yang terbuka. “Kalau saja kupunya berwarna hitam, itu penanda kematian!” suara Ibu di masa kecil, membuat aku menjadi terguncang beberapa saat. Kepalaku berdenyut begitu keras. Ada sesuatu yang membuat tubuhku menjadi tidak seimbang. Kupu mencoba membuatku tetap sadar, tetapi tubuhku sempoyongan, dan, ambruk ke lantai… Gelap. Semua sekonyong-konyong menggelap. Di dalam kegelapan itu aku melihat; seorang perempuan muda tengah menelepon seseorang, Ibu turun dari taksi, menyorongkan kunci rumah dari luar, masuk rumah dan memanggil-mangg il Bapak, Ibu berjalan ke kamar, Ibu menuju dapur, Ibu bertemu perempuan itu di depan kamar lukisku, Ibu menuju kamar belakang bersama perempuan itu, perempuan itu menyerahkan sebuah pistol ke tangan Ibu, lalu terdengar suara tembakan dari kamar belakang… “Dooorrr!!!” n Depok, 10 April 2012

81


Purnama di Mata Mama

ilustrasi: repro metamorfosa, lukisan reins asmara - rumahhitam batam | haluan kepri

g Richa Miskiyya, lahir di Grobogan, 08 November 1989. Karyanya dipublikasikan di media lokal dan Nasional. Cerpennya terkumpul dalam Antologi Cerpen Bukan Perempuan (OBSESI PRESS, 2010), Dua Sisi Susi (Universal Nikko, 2011), Bulan Kebabian (Belistra, 2011), Cinta dalam Koper (Universal Nikko, 2011), Membunuh Impian (ebook 15 cerpen pilihan Annida on line 2011), Puisinya masuk dalam 10 besar Pekan Seni Mahasiswa Daerah. 82


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Purnama di Mata Mama Richa Miskiyya ( Haluan Kepri | Minggu, 29 Juli 2012 )

o Mata Mama memerah, marah. Ini adalah kelima kalinya Mama marah padaku minggu ini dengan alasan yang sama.

N

A..., kamu itu sudah besar, bukannya belajar malah keluyuran terus tiap hari, selalu saja pulang malam,” suara Mama mulai meninggi. “Siapa yang keluyuran, Ma. Na itu belajar kelompok,” jawabku yang sebenarnya jelas-jelas berbohong, aku tidak belajar kelompok, tapi nongkrong di Mall bersama Fera, Tari, dan Gina. Tapi bukan Mama jika tidak tahu aku berbohong. “Kamu jangan bohong, Na. Mama tahu kalau kamu sebenarnya tidak belajar kelompok.” “Mama pilih kasih, Kak Rangga aja sering pulang malam tapi nggak pernah ditegur, nggak pernah dimarahi,” bantahku pada Mama. “Kak Rangga itu cowok, Na. Lagipula Kak Rangga itu jadi 83


Purnama di Mata Mama

relawan rumah singgah, nggak keluyuran,” ucap Mama. “Mama memang pilih kasih, jangan-jangan aku bukan anak Mama,” ucapku seraya pergi menuju ke kamar. Mama terus berteriak memanggil namaku dan tak kuhiraukan, kubanting pintu kamarku hingga menimbulkan suara keras, mengalahkan suara Mama. Sayup-sayup masih kudengar suara Mama, kuhempaskan tubuhku yang masih berbalut seragam putih abu-abu ke atas tempat tidur, sejurus kemudian mataku tertuju pada bingkai foto Papa dan Mama di samping tempat tidurku. “Seandainya Papa masih di sini, pasti semuanya nggak akan kayak gini, pasti akan ada yang akan membelaku.” Rinduku pada Papa kembali hadir. Pelan kuraba wajah Papa di foto yang kini kudekap, sudah tiga tahun Papa meninggalkan kami, meninggal dalam sebuah kecelakaan maut antara mobil Papa dan truk tronton saat pulang dari kantor. Sepuluh hari Papa koma di rumah sakit, masih kuingat dengan jelas wajah tenang Papa yang dibekap masker oksigen, lilitan perban menghiasi kepala Papa. Akhirnya, saat itu pun tiba, Papa menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Mama, Aku dan Kak rangga menangis, sedangkan Mama hanya terdiam tanpa tangis, mencoba untuk tegar di hadapan anak-anaknya. “Na, ntar hang out ya, ada film baru, trus habis itu kita ke cafe, ada cafe baru, wajib dicoba,” ucap Gina saat istirahat di kantin. “Kayaknya hari ini aku nggak bisa deh, kemarin Mamaku marah hebat gara-gara aku pulang jam sepuluh malam,” ujarku sambil menusuk batagor di hadapanku dengan garpu. “Ah, anak mami banget kamu, Na,” Tari menyindirku. “Bener kamu nggak akan nyesel kalau nggak ikut? Jenda 84


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

ikut lho, nanti kamu bisa duduk berdampingan pas di bioskop, kamu nggak mau?� sekarang giliran Fera yang bicara, menyebut-nyebut nama Jenda, seseorang yang setahun terakhir ini mengisi hatiku dan mimpiku. Aku hanya menjadi pemuja rahasianya, tanpa ada keberanian untuk mengungkapkan rasa. Sejenak bimbang menyergapku, hingga akhirnya kuiyakan ajakan mereka yang akhirnya disambut senyuman kemenangan Gina, Fera, dan Tari karena berhasil membujukku. Mama adalah seorang wanita karir, desainer dan pemilik butik ternama. Sebagai single parent, Mama akhirnya menjadi seorang Mama sekaligus Papa. Meskipun Mama sibuk, namun jika tak ada acara fashion show, Mama tak pernah pulang lebih dari jam 10 malam, itu karena Mama tak ingin kehilangan waktu bersamaku dan Kak Rangga. Entah kenapa akhir-akhir ini hubunganku dengan Mama sedikit merenggang. Perang dinginku dengan Mama dimulai sejak beberapa minggu lalu aku pulang jam 12 malam dengan masih mengenakan seragam sekolah, Mama belum tidur, menungguku di ruang tamu, dan akhirnya kemarahan Mama meledak karena aku memang tak berpamitan dan handphone kumatikan. Kak Rangga yang sudah tidur pun akhirnya terbangun karena mendengar pertengkaranku dengan Mama, Kak Rangga menenangkan Mama dan menyuruhku masuk kamar. Aku benci jika Mama masih menganggapku anak kecil, aku sudah 17 tahun, dan aku tahu apa yang aku lakukan, tak perlu diatur-atur seperti anak SD. Kulirik jam di tanganku, sudah jam delapan. Suasana cafe masih ramai, semua pengunjung asik bercengkerama di mejanya masing-masing sambil menikmati lagu yang 85


Purnama di Mata Mama

dimainkan oleh band cafe. Kualihkan pandanganku pada Tari, Gina, dan Fera yang masih asyik ngobrol dengan Jenda dan sepupunya yang ternyata pemilik cafe ini. Handphoneku yang kuletakkan di meja berdering, nama Mama tercetak jelas di layar, tanganku bergegas meraih handphoneku, namun aku kalah cepat, Tari sudah lebih dulu meraih handphoneku dan memencet tombol reject. Mataku seketika melotot melihat apa yang Tari lakukan, namun Tari hanya tersenyum. “Udahlah, Na. Mamamu justru akan marah kalau kamu angkat telponnya, karena dia akan tahu jika kamu tak sedang hang out,” Tari kemudian menonaktifkan handphoneku. “Mamaku bisa marah besar kalau aku reject panggilannya, apalagi sekarang handphoneku non aktif,” ucapku dengan nada agak tinggi. “Bilang saja kalau bateraimu habis,” sela Jenda pendek, ia membenarkan tindakan Tari. Mendengar kata-kata Jenda aku hanya bisa terdiam, membenarkan usulan Jenda tentang jawaban untuk Mamaku, meskipun di hati kecilku menyalahkan ucapannya. Mobil Gina sudah melesat pergi setelah menurunkanku di depan rumah. Kubuka pagar rumahku pelan, langkahku pun mengendap tanpa suara. Kukeluarkan kunci duplikat pintu rumah, aku sengaja menduplikat kunci untuk jagajaga jika suatu saat Mama, Kak Rangga, atau Mbok Yem tak membukakan pintu untukku, meskipun itu belum pernah terjadi. Pintupun terbuka, sepi. Tak ada Mama yang menungguku di ruang tamu, mungkin sudah tidur karena bosan terlalu lama menunggu kepulanganku, jam di ruang tengah berdentang satu kali, ternyata sudah pagi. Mataku yang sudah terasa berat akhirnya membuatku 86


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

langsung beranjak menuju kamarku, tanpa mandi dan berganti baju aku pun terlelap. Matahari pagi menerobos sela-sela jendela kamar, memaksa mataku untuk terbuka. Kulihat jam weker, masih jam setengah enam, dengan mata masih setengah terbuka, aku menuruni tangga menuju dapur. Sepi, itulah yang kurasakan saat langkahku tiba di dapur, tak ada Mama dan Mbok Yem yang sedang menyiapkan sarapan, suara musik dari kamar Kak Rangga yang biasa membahana di pagi hari pun sama sekali tak terdengar. Apa mungkin aku bermimpi, atau aku sedang berada di dunia lain yang hanya ada diriku di dalamnya. Kucubit tanganku, sakit, berarti ini bukan mimpi, namun kenapa sepi? Tiba-tiba dering telpon terdengar nyaring, semakin membuktikan jika aku tidak sedang ada di dunia lain tanpa penghuni. “Halo?” “Syukurlah kamu sudah pulang, Na.” “Kak Rangga? Kak Rangga pergi kemana pagi-pagi begini? Mama dan Mbok Yem juga nggak ada.” “Kak Rangga di rumah sakit sejak semalam, Mama kecelakaan mobil.” Seperti dejavu, aku mengalami ini lagi. Berada di sebuah ruangan yang penuh dengan bau obat. Memandang seseorang yang kucintai tergolek tak berdaya di atas tempat tidur dengan selang menghiasi tubuhnya. Ketakutan seketika menyergapku, ketakutan akan sebuah kehilangan. Pelan kuraih tangan Mama yang berhias selang infus, matanya terpejam tenang. “Semalam Mama mencarimu karena kata Mbok Yem saat Mama menelponmu handphonemu tiba-tiba mati. Mama khawatir terjadi sesuatu denganmu, akhirnya Mama pun keluar mencarimu, namun justru Mama mengalami 87


Purnama di Mata Mama

kecelakaan. Mama belum sadar sejak semalam.� Kak Rangga mengelus kepalaku pelan. “Mama sangat sayang padamu, Na,� ucap Kak Rangga pelan, namun justru ucapan itu sangat menghujam dadaku, sesak. Kak Rangga meninggalkanku sendiri bersama Mama. Kugenggam tangan Mama, kuletakkan pipiku di tangannya, mencoba mencari kehangatan yang aku rindukan, kehangatan yang justru aku tinggalkan karena sikap egoisku. Air mataku mengalir pelan. Meski Mama sedang tak sadarkan diri, tetap kurasakan kehangatan dalam genggam tangannya, tangan yang selalu membelai lembut rambutku, mengusap air mataku. Kukenang saat-saat indah pertama kali Mama mengantarku masuk SD, Mama menggenggam tanganku erat menuju ke sekolah, menyalurkan keberanian agar aku mampu menghadapi hari baruku di sekolah. Kuingat juga saat Mama memelukku erat, memberikan ketenangan saat kepergian Papa. Tak ada kata yang terucap dari bibir Mama, namun aku tahu Mama ingin mengatakan, “Jangan sedih, Na. Masih ada Mama di sini, Mama akan selalu melindungimu.� Nostalgiaku dengan kenangan bersama Mama membuat tubuhku lelah, lelah akan semua keegoisan akan sikapku yang merasa sudah dewasa, baru kusadari jika aku masih butuh Mama. Aku pun terlelap di samping Mama, berharap akan merasakan kembali keindahan masa-masa indah dengan Mama, meskipun hanya dalam mimpi. Suara derap langkah kaki itu beradu dengan suara berdenging di dekat telingaku, hingga memaksaku mencari asal suara itu. Dengan jelas kulihat tak ada lagi grafik hijau naik turun, yang ada hanya garis lurus tanpa lekuk. Beberapa orang berseragam putih memaksaku pergi, kemudian ada seseorang menggenggam kedua pundakku 88


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

dari belakang, kupalingkan wajahku, Kak Rangga. Satu detik kemudian aku sudah menangis dalam dekapan Kak Rangga. “Kak... Mama, Kak. Mama....” tangisku tertahan. Kulihat wajah Kak Rangga, matanya basah, menahan tangis, tapi hanya beberapa saat karena setelah itu kurasakan dadanya bergetar, ia menangis. Tangisan pertamanya setelah tiga tahun lalu ia menangis saat Papa pergi. “Mama baik-baik saja, Na. Mama baik-baik saja,” Kak Rangga terus menegarkanku, meski aku tahu Mama tak baik-baik saja. “Ini semua gara-gara Na, Kak. Seandainya malam itu Na nggak pergi, seandainya Na mengangkat telpon Mama, seandainya...,” belum semua penyesalanku usai, Kak Rangga kembali memelukku. “Tetap berdoa untuk Mama, Na,” ucap Kak Rangga. Tak berapa lama, dokter dan perawat pun keluar dari ruangan Mama. Tanpa diperintah, pertanyaanku tentang keadaan Mama pun langsung meluncur dari mulutku. “Gimana keadaan Mama saya, Dok?” “Mama anda mengalami pendarahan hebat di otaknya. Kami sudah berusaha, tapi Tuhan yang punya kehendak.” Aku dan Kak Rangga langsung menghambur ke dalam kamar Mama. Ada senyum di wajah Mama. “Mama nggak meninggal, kan, Kak. Mama cuma tidur, kan?” Kak Rangga hanya terdiam, tak menjawab pertanyaanku. “Jawab, Kak. Jawaaaaabbbb!!!” kudekati tubuh Mama yang begitu tenang, seperti orang yang sedang tidur. “Mamaaaa, maafin, Na!!!” aku terus menggoyang-goyang tubuh Mama, berharap Mama akan segera bangun. “Na... Na... kamu kenapa?” suara itu memenuhi gendang telingaku. “Kak Ranggaaa....” aku mendekap tubuh Kak Rangga. 89


Purnama di Mata Mama

“Kamu mimpi buruk, ya?” Kak Rangga mengusap pelan rambutku. “Mama mana, Kak?” Belum sempat rasa kagetku hilang, kini kudapati tempat tidur Mama sudah kosong. “Mama baik-baik saja kan, Kak? Mama kemana? Dari tadi Na tidur di samping Mama, tapi kenapa Na sekarang tidur di sofa?” Mataku mencari sosok Mama ke sekililing kamar. “Tadi Kak Rangga yang memindahkanmu ke sofa. Mama dipindah ruangan, Na. Mama sudah melewati masa kritis.” Aku segera meminta Kak Rangga untuk mengantarku ke ruangan Mama. Mama sedang tidur, kudekati wajah Mama, kukecup keningnya dan membisikkan sesuatu di telinga Mama. “Mama, maafkan, Na.” Melihat Mama tidur, pikiranku pun melayang kembali ke masa kecilku, teringat per tanyaan yang pernah kutanyakan pada Mama. “Ma, kenapa nama Kak Rangga ada bintangnya, sedangkan nama Na nggak ada?” tanyaku pada Mama, menanyakan nama lengkap Kak Rangga, Bintang Rangga Hutama. “Karena Na adalah Purnama, pasangan bintang. Purnama selalu bersinar indah sempurna, dan Na adalah Purnama di mata Mama.” Cepatlah bangun, Ma. Na rindu Mama, Na rindu melihat purnama di mata Mama, Na rindu kasih sayang Mama yang selalu terpancar sempurna. n

90


Repro Hugo Urlacher | OpenArt

91


Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi

ilustrasi: repro harian analisa

92


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi Ririn Anindya Putri ( Harian Analisa | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

S

UDAH delapan bulan hanya telapak perempuan muda itu sendiri yang mengelus perutnya. Raba hangat dia tuju kepada jabang bayi yang mungkin lelap, mungkin juga terjaga dalam rahim-sebagaimana dia selalu harap. Sudah delapan bulan tak lagi ia temu lelaki yang menikahinya dua tahun lalu, meraba, mengecup, atau mengupingi rumah sementara buah cinta mereka, memeriksa detak-detak kehidupan. Perempuan mana yang tak gaduh jika dia mencinta. Suami pergi, wujud tak kunjung pulang, kabar pun tak datang. Padahal tak pernah-pernah dia jumpa laku seperti itu, terpikir pun tidak. Itulah kini dia hadap. Keluh pun dia larung dalam. “AKU lurah di sini, tapi dibuatnya anak perempuanku seperti itu. Habis nanti kubuat dia!� Laki-laki berkumis tebal wajahnya merah masai. Tangannya memukul keras meja makan kayu Jepara. Berulang-ulang. 93


Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi

“Pelankan suaramu, Pak. Kalau Ransih dengar hancur hatinya nanti, Pak. Bapak juga dulu yang ngotot Ransih nikah sama dia, kan? Bapak pula yang usir dia waktu itu, kan?” “Dia sudah hancur, Bu. Dulu saja laki-laki itu baik, tapi sekarang…” Dia tak lanjutkan ucapan. Pergi melengos. Hanya perempuan paruh baya kini tercenung di ruang makan dengan air mata yang siap tumpah. Sekitar satu jam lalu, seorang kerabat bertandang ke rumah mereka. Niatnya hanya meminta dimudahkan pengurusan KTP. Memang bakat si kerabat satu ini untuk ngobrol hilir-mudik. Bermula cakap kerabat tadi dari katanya-katanya, sampai bercakap dia,”Katanya Si Apong lihat mantumu sama perempuan, usianya mungkin agak lebih tua, tapi dandan mencolok perempuan itu. Itu pekan lalu, waktu Apong bawa muatan sawit dari Labuhan Batu ke Panton.” Laki-laki menjabat lurah terkesiap, dia lonjak dari duduk. “Benar itu, Kak? Dimana?” Tamu yang disapa kakak, tak kalah terkejut. Rongga dadanya berdesir kacau. Dia sadar obrol santai suka-sukanya memantik api. Dia merasa tak aman, “Tak tahulah pastinya dimana, kudengar-katanya- di kedai kopi di Langsa, Si Apong berhenti di situ saat lewat sana.” PEMUDA berkulit sawo matang dan ramah anak tauke sawit adalah pilihan suaminya untuk putri mereka. Segala usaha mulai tutur manis sampai serapah suaminya lontar untuk mendekatkan putrinya dengan pemuda anak juragan sawit tadi. “Lurah besanan sama juragan sawit. Cocok kan, Bu?” Perempuan penuh bakti mengangguk. Dia suka calon mantunya bukan karena bapak si calon mantu, sedangkan 94


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

hati si anak perawan akhirnya tertambat pula. Tak sedikit manusia mengamini kalimat hidup seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Bagi suaminya, berharta ya berharta. Jangan disanding dengan kata: hidup susah. Pil pahit harus suaminya kunyah tak boleh dimuntahkan, saat kabar bangkrut si besan tiba. Pengangguran mantu tak terelak, sebab mantu bekerja di tempat yang sama. Kini, si mantu bekerja sebagai supir truk, itu pun serabutan. Setidaknya menyetir dia mampu. “TAK usah kau pulang kalau tak bawa uang.” Matanya menyipit, dia berdesis hanya sejengkal dari wajah menantunya. “Mau sampai kapan kau seperti ini. Menumpang dan menyusahi kami. Menantu kere!” lanjutnya, kali ini diakhiri dengan meludahi wajah menantunya. Si lelaki yang disemat gelar kere, menelan ludah. Giginya rapat. Kedua tangan dia kepal kuat. Gemuruh terbit dalam rongga dada. Dia lari ke dapur dan mengambil pisau, lalu menghadiahkan setusuk saja di dada kiri laki yang mengutukinya. Kesadisan hanya liar di kepalanya. Dia merunduk. Harga dirinya lesap. Sayup terdengar isak dari kamar istrinya. Ya, istrinya menangis. Hatinya kian teriris. “Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi, jelas dengan istri saya.” “Hah! Mau tinggal dimana kalian? Mau dikasih makan apa putriku? Percaya diri sekali,” tantang si mertua. Kali ini dengan menaikkan kedua lengan baju. Menunjukkan otototot kekar meski usia tak lagi muda. “Untuk sementara kami akan tinggal di rumah orang tua saya. Saya kan bekerja, Pak. Meski penghasilan saya jauh lebih kecil dibanding dulu.” 95


Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi

“Orang tuamu itu sama saja! Hutang mereka juga tak mampu mereka lunaskan. Aku panas kalau melihatmu. Bisa kau perg i? Terserah mau kerja apa, gembong apa terserahlah, asal jangan melarat. Kau dengar itu? Atau kau ceraikan anakku!” Isak dari kamar tak lagi sayup. Tangis pecah menderu. BIJI-BIJI air tumpah dari mata sang istri. Telah basah seper ti telaga kaosnya kini. Dia makin rapat memeluk perempuan muda yang tengah mengandung dua bulan. “Aku tak pernah bantah mau bapakku, Bang. Kini, aku hanya akan turut maumu saja,Bang.” “Bapakmu mungkin benar, Ransih. Aku menyusahi mereka dan kamu. Dulu harapannya terlampau besar padaku.” “Harga dirimu adalah harga diriku, Bang. Kita pergi saja dari sini, kita bukan lari. Kita telah sah menikah. Kita bukan pencuri. Kau ingat, dengan senangnya dia mengenalkan kita dulu, dengan bangga pula dia menikahkan.” “Kau yakin, kau sanggup?” Biji mata berkaca-kaca kini saling tatap. Ransih mengangguk yakin. “Benar, Ransih. Kita tak salah. Aku bukan pencuri, aku hanya kere. Tak akan selamanya.” Keduanya gegas membungkus potong pakaian dengan sarung lusuh. Lewat tengah malam, rumah telah sepi, siapa saja tampaknya telah lelap. Saat itulah mereka jalan berjingkat-jingkat. Mengendap-endap. Mereka bukan pencuri, bukan sedang mencoba kabur. Hanya sepasang suami istri yang hendak menentukan nasibnya sendiri. Dengan cara baik mereka tak pernah peroleh izin untuk pindah rumah. Maka dengan diam mereka coba pergi kini. Padahal izin pindah bukanlah perkara wajib mereka 96


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

kantongi. Pagar baru saja terlewat. Tiba-tiba sepasang tangan menarik tangan Ransih kuat. Sepasang kekasih itu sadar mereka ketahuan. Tangan kanan Ransih ditarik kuat oleh suaminya, tangan kiri ditarik oleh ayahnya. “Lepas! Dia istriku!” “Dia putriku!” “Bapak, lepaskan tanganku! Kumohon!” Bukan melemah, tapi tarikan semakin kuat. “Ijoool! Darmoo!” Ayah Ransih meneriaki kedua ajudannya. Ijol dan Darmo tergopoh, hanya sekian detik mereka berdua telah sampai di tepian pagar. “Bantu pisahkan mereka, gebuk saja laki-laki ini!” Tiga lawan satu. Genggam suaminya terlepas dari Ransih. Ransih terjatuh. Suaminya dihujani pukulan. Mata Ransih yang melihat namun jantunglah yang terenyuh, teremas-remas. Matanya melihat namun lehernya yang merasa tercekik. Tepat di dada kiri kini begitu nyeri. Ransih menangis tanpa suara. Begitu sakit hatinya, tak dia rasa cairan merah alir kedua betisnya. Sesuatu telah terjadi menimpa janinnya. “Pergi, Bang. Pergi, Bang! Kutunggu pulangmu, kutunggu, Bang!” Dia melihat istrinya ringkih, rasa yang tak berbeda mendekap. Pedih. Ngilu. Mati pun tak mengapa bagi pemuda itu kini. Hanya tak sannggup melihat perempuan yang dicinta begitu teriksa. Dia mengangguk ragu. “Tunggu abang, Dek. Tunggu.” Lelaki itu pergi dengan koyak luka di tubuh dan hati. Sesekali dia menoleh ke Ransih. Ransih, pandangnya tak berpindah sampai punggung suaminya lenyap dilahap jelaga malam. DIA meraba perutnya. Perlahan penuh kasih sayang. Da raba hangat rumah janin, buah cinta sepasang kekasih yang 97


Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi

tengah terpisah, sembari memainkan jemarinya menjentikjentik naik turun. “Sayang, sudah sepuluh bulan kamu di sini, Nak. Kamu tak mau keluar? Kamu tunggu ayah pulang dari dalam sini, ya? Sudah sepuluh bulan, Nak. Kenapa kamu tak tumbuh besar? Apa makan ibumu ini kurang banyak?â€? Air meluap dari ceruk mata kontras dengan senyumnya yang mengembang simetris. Adalah Ransih, perempuan muda yang tak pernah terima bahwa rahimnya telah kosong beberapa bilangan bulan lalu, tepat saat keperg ian suaminya. DIA menghirup kepul aroma kopi perlahan-lahan dan dalam-dalam. Secangkir kopi aceh di kedai kopi bibinya. Belum dia teguk, dia letak kembali di meja dihadapannya. Matanya yang tajam sarat akan kerinduan. Pikirannya rusuh setiap hari lebih dari separuh tahun, ia tak tenang. Lelaki berkulit sawo matang ini kokoh ambil pilihan yang tak dia suka. Sebuah pena dan buku agenda dikeluarkannya dari laci. Kerap dia ratap kacau hatinya dalam doa atau carik kertas. Ransih, Istriku. Abang belum bisa pulang. Maaf tak bisa dampingimu sambut buah hati kita tiba di dunia ini. Abang janji sebelum anak kita pandai berjalan Abang sudah disisimu. Pastinya telah ada berkarung-karung rindu untuk keluarga kecil kita. Itu semua tampaknya belum cukup untuk boleh membuatku pulang, sebelum ada sekarung uang untuk bapakmu‌n Rumah Cahaya Medan, April 2012.

98


Repro Hugo Urlacher | OpenArt

99


Menunggu Kapak Ibrahim

ilustrasi: repro menunggu kapak ibrahim oleh bagus | jawa pos

100


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Menunggu Kapak Ibrahim Abidah El Khalieqy ( Jawa Pos | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

M

ENDELIK Algojo tak percaya. Untuk membuktikan keanehan yang disaksikan, petugas pencabut nyawa itu coba menebas lehernya dengan pedang istana yang pernah digunakan oleh raja untuk memenggal leher-leher para durjana. Crrresss!!! Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala. “Ha! Kembali lagi?!” Algojo nyalangkan mata. “Kamu ini keturunan dajjal dari seberang mana, hah! Kok sakti amat. Ditebas pedang istana belum juga koit.” “Bukan ane yang sakti, tapi pedang ente yang sudah tumpul. Sono diasah dulu lima tahun lagi, biar gak kalah dengan keris Ken Arok.” Algojo coba menahan amarah dan menulikan kuping agar tak mendengar ejekannya. Bahaya. Pengkhianat baru 101


Menunggu Kapak Ibrahim

lahir saja sudah bikin pusing tujuh keliling. Jalan saja belum tegak, lidah masih cedal, berani-beraninya mengencingi negeri sendiri. Berani-beraninya membuat si miskin jadi kian terlunta. Ibu menjual anaknya, bapak menggorok tetangganya, anak menyetrika bapak, dan penjual meracuni pembeli, pembeli menjarah penjual, dan semesta keji dan semesta dusta dan semesta celaka kau tebar, kau tarikulurkan seperti pemain akrobat di alun-alun Istana. Pengkhianat ber tubuh legam, mendadak berubah pelangi. Tepatnya metamorfosis warna, seperti bunglon, tergantung pohon apa, di daun mana, di bunga semerbak wangi atau bunga bangkai. Tapi apa boleh buat, dasar pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apalagi hidungnya, masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun. Padahal, sebelum akhirnya diadili algojo, sudah lebih satu purnama pasukan istana mengepungnya dari segala penjuru bumi. Sampai bumi yang indah dengan langit nitrogen warna birunya kini berdebu-debu oleh tapak kudanya yang kencang. Diburu dan memburu. Entah siapa yang diburu, kalau ternyata di neraka Huthamah hanya ada tekanan radiasi, sebaran radioaktif, seperti muntahan reaktor nuklir yang meledak itu. Bisa jadi para pengkhianatlah yang berubah lebih dahulu. Lebih mengerikan dari hantu. Dibantu pasukan tentara dan polisi, sekian M dana sekian jam hari-hari, deal demi deal melanglang buana, melanglang segala kemungkinan dan ketetapan, pasukan istana pun sukses menangkapnya di Negeri Anggur Merah. Negeri tempat para pemabuk melabuhkan rindu pesta dan dusta. “Hayyo! Ketangkap kamu, Pengkhianat. Nih borgol untukmu!� 102


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Belum tentu. Ane punya banyak ilmu kebal. Ilmu meraib diri. Kemarin aja, ane baru menamatkan pelajaran dari David Copperfield.” “Tak usah banyak cing-cong, nanti boleh ngoceh di hadapan Algojo!” “Ane tak takut ame tu Algojo. Apalagi ame sang raja!?” “Eh, masih ngeyel juga. Kupotong kakimu di sini, baru tahu rasa!” “Silahkan aja. Siapa taqyut?” Karun melecehkan sembari tergeli-geli menatap satu demi satu pasukan istana yang bertopeng. “Gak sumuk tuh pakai topeng! Emang wajah kalian bopeng ya, kok rame-rame ditopeng, sih!” “Mau diam atau kupotong sekarang?” “Mana mungkin kalian berani main potong. Bunyi dealnya kan tidak demikian? Kalian ini hanya orang suruhan. Fuih!” Pengkhianat meludah. Gemeretak gigi pasukan bertopeng menahan amarah. Dan pengkhianat makin ketagihan menggoda. Terus saja mengejek para suruhan dari istana. “Stop! Kubilang stop! Sekarang rasakan peluru logam mulia ini di kedua betis kakimu!” Duest! Duesst!! Darah mengucur di tanah Kota Anggur Merah. Aneh. Karun diam tak mengaduh, tak kesakitan, tak kelojotan. Ia diam dan hanya diam, menunduk melihat kedua betisnya tertembus logam mulia dan menunduk makin dalam. Pasukan bertopeng heran dan bertanya ketakutan, namun pura-pura digagah-beranikan. Matanya tajam di celah topeng hitam. “Sakit kan? Tahu sekarang betapa kami bisa melakukan apa saja untuk membikin habis hidupmu?” Pengkhianat terdiam. Pura-pura diam. Namun tiba-tiba 103


Menunggu Kapak Ibrahim

kulit tubuhnya berubah warna. Membiru. Menjadi biru semua. Wajahnya biru, pakaian dan topinya pun jadi biru. Tanpa sepengetahuan pasukan bertopeng, kedua kakinya kembali seper ti sediakala. Bergerak tanpa luka dan menyepak ke sana-kemari tanpa jeda. “Tahu sekarang, betapa kuat dan liatnya ane?” Tak peduli apa kata Pengkhianat yang sudah membiru, pasukan bertopeng menggiringnya ke dalam pesawat. Lalu terbang di udara ambang. Tak ada perdebatan kecuali sedikit pesta, makan pizza dari Italia. Ngabisin donat dari Amerika. Lalu ngorok dan tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Algojo. Pada sebuah tempat di tengah hutan belantara. Hutan beton dan baja. Di negeri sendiri, tempat iblis dan setan saling berlomba memadamkan api neraka. Algojo tegak berdiri. Pedang berkilat di tangan kanan. Ruang besar jadi sunyi seperti ada kematian yang sedang mengintai. “Dari mana kau datang, Pengkhianat! Napas hidupmu sudah tersendat di kerongkongan, masih juga wajahmu menantang.” “Karena ane masih tetap waskita.” “Pernah kau lihat pedang sang raja ini?” Pedang pun mengacung ke udara. “Apalagi. Pedang Nabi Musa saja pernah ane lihat. Ane juga pernah lihat pedang Nabi Muhammad di museum agung….” “Kalau begitu, siapkan jiwa dan ragamu untuk menghadapi kilatan pedang ini.” “Siapa taqyuuut! Bukankah ane masih waskita!” “Tak ada satu pun bagian dirimu yang waskita! Tunggulah beberapa menit lagi dan rasakan betapa tajamnya pedang ini!” “Huahaha! Sudah ane bilang, kalo cuma pedang raja, 104


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

ane tak berasa!” Crrressst! Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala. “Sudah ane bilang, gak usah pake pedang itu….” Dasar pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apalagi hidungnya masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun. “Kamu lihat apa yang ada di belakangku… Kapak Milosevics, kapak Nero, kapak Mussolini, kapak Hitler, dan kapak-kapak lain yang lebih mumpuni.” “Huahaha! Hanya ada satu kapak di dunia ini yang benarbenar mumpuni,” Pengkhianat terkekeh-kekeh kegelian. Sok tahu dan meremehkan Algojo yang mulai kebingungan dan reka-reka, kapak apa kiranya yang lebih mumpuni dibanding semua kapak legendaris ternama itu. Mungkinkah kapak pembelah api, pembelah matahari? “Ane benar-benar kasihan ama ente! Sepertinya ente mulai bingung, mulai capek dan kehabisan ide untuk menghabisi para pengkhianat di negeri ini.” “Jangan sok begitu, Pengkhianat! Kamu pikir, hanya orang seperti kamu yang punya ide cemerlang melebihi ideologi istana?” “Ya pastilah itu! Sejak dari sononya ane ini penggagas ide-ide brilian! Itu kenyataan tak terbantahkan!” “Buktikan dulu faktanya. Jangan hanya bekoar seperti burung garuda kesepian!” “Haaa, apa? Burung garuda kesepian? Sini mendekat dan ane akan bisikkan gagasan cemerlang untuk ente dan 105


Menunggu Kapak Ibrahim

pasukan-pasukan bertopeng itu!” Algojo limbung. Ribuan lembar uang dolar merasuki kedua matanya yang mulai hijau. Gamang menerawang. Pasukan bertopeng dipanggil dan masuk ke dalam ruangan. Saling sikut agar maju duluan mendekat ke mulut pengkhianat yang bakal membuka rahasia, memberi ideide brilian. Tapi ngomong-ngomong, bukankah rahasia ini adalah untuk menghancurkan dia. Mengapa justru dia sendiri yang memberikan ide mautnya? Pasti dia hanya ingin memper tontonkan rekayasa besar di balik seluruh kebohongan dan dusta. Pasti dia hanya bermaksud memperdaya kami. Namun, para pasukan bertopeng itu tak peduli. Mereka ingin tahu dan mengukur seberapa brilian otak Pengkhianat sesungguhnya. “Sebelumnya ane mohon maaf ya, turut belasungkawa atas kematian otak kalian, ha-haha…!!!”’ “Bedebah! Inikah ide brilian yang kamu maksud?” “Bukan! Belum terkatakan. Sabar dululah, lihat dan contohlah ane yang masih muda ini. Meski muda, ane penuh sabar dan waspada. Awas betul ni ane punya mata biru, kwakakaka…!” Dasar Pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apala-gi hidungnya, masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun. “Sudah siap terima ide ane?” “Tidak usah banyak cingcong, cepat katakan apa maumu dan di mana dolar itu kamu simpan… atau kembali kutembak kedua betismu selama duapuluh empat detik sampai darahmu habis merembes ke dasar bumi, heh!” “Sekali lagi ane bilang, tak ada gunanya itu peluru logam mulia.” 106


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Nyeletuk algojo dari tempat duduk. “Ini kapak untukmu, Pengkhianat!” Kapak besar berkilau warna emas mengacung ke udara. Ganas. “Apalagi kapak emas, kapak berlian pun tak ngaruh. Leher ane yang mumpuni ini tak kan putus sebelum dipotong dengan Kapak Ibrahim. Ya. Kapak Ibrahim, hahaha…!” Crrressst!!! Algojo bertindak tanpa aba-aba. Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala. Dua kali pedang, dua kali kapak, wajah biru pengkhianat itu masih menyala. Kali ini justru bangkit dan menenteng kedua tangan di pinggang. Entah ke mana itu borgol. Wajahnya menantang, kedua matanya lebih biru dari sebelumnya. Seakan bintang pun pudar karenanya. Mungkin hanya matahari bakal mengalahkannya. “Kalian carilah ke ujung bumi dan lekuk-lekuk planetnya, barangkali kalian akan sanggup bertemu dengan Kapak Ibrahim. Dan jika ente-ente dah sukses membawanya ke dalam ruangan ini, kupersilahkan Algojo memotong leher ane, tauk..?!” . “Tapi, kalau kamu sudah lenyap dari bumi, di mana kami harus mencari tumpukan dolar dan menemukan harta karun yang kau simpan.” Pasukan bertopeng sudah tak karuan otaknya. Miring kanan miring kiri sampai teleng kepalanya. “Andai leherku dah putus beneran, dan tak bisa nyambung lagi di badan ane, maka tuntaslah pengembaraan ane menebar virus kematian, dan negeri ini akan merdeka dari koloni para pengkhianat seperti ane. Dan jika kalian berhasil beneran membawa Kapak Ibrahim, itu artinya negeri ini benar-benar memperoleh Lailatul 107


Menunggu Kapak Ibrahim

Qadar. Bukankah ini bulan Ramadhan??” “Sudah Pengkhianat, masih juga ceramah. Apa jadinya negeri ini jika bromocorah membawa kitab suci ke sanakemari.” “Mendingan ane, gak korupsi kitab suci. Gak bawa agama demi merampok dunia. Ane tuh masih tergolong orang beriman…!!” Pengkhianat terdiam beneran. Merunduk khusuk ke tengah dada. Namun, tak lama, tiba-tiba kulit tubuhnya berubah warna. Metamorfosis katanya, bukan bunglon. Dari biru jadi menguning, lalu ungu, lalu menghijau semuanya. Wajahnya hijau, pakaian dan topinya pun jadi hijau. Tanpa sepengetahuan pasukan bertopeng, kedua kakinya bergetar, hatinya bergetar, serupa burung Nasar menjelang pingsan. “Apalagi yang ingin kau katakan, Pengkhianat!” “Songsonglah negeri ini dengan hati. Ane bilang, ini negeri baldatun tayyibatun wa rab-bun ghafur. Seribu bulan memenuhi cahaya langit dan Mikail beterbangan tak hentihenti menebar rezeki seribu bulan dihujani rahmat Tuhan yang menenggelamkan seluruh penyakit peradaban, seribu bulan dikucuri hidayah penyucian jiwa yang mengangkat kemanusiaanmu bangkit kembali menuju hidup yang benarbenar hidup seribu bulan….’’ Matanya tajam mengitari ruangan, “Maaf, kalian lihatkan ada ruh wali yang merasuk ke tubuh ane??” Algojo diam seribu bahasa, serasa kursi yang diduduki kian panas. Kesulut lidah api dari neraka Huthamah. Pasukan melepas topeng hitamnya. Rasa loyo merambat di urat syaraf. Ruangan pun jadi sunyi dan senyap mengelilingi. Seberkas ayat cahaya melayang-layang mampir di kuduk para dusta. Allahumma inna naj’aluka fi nukhurihim wa naudzubika min sururihim . Ya Allah, Engkaulah yang telah menciptakan 108


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

apa pun yang ada di kuduk mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Agojo lemas. Pengkhianat ambil napas. Pasukan bertopeng ngeloyor begitu saja, keluar dari ruangan dengan langkah tenang. Aneh bin ajaib. Negeri makmur dipenuhi lumpur dan tak ada yang tahu, kapan Kapak Ibrahim bisa ditemukan dan menjadi senjata pamungkas sang raja untuk memotong leher-leher patung raksasa, para pengkhianat di sekeliling istana. n Jogja, awal Ramadan 1433 H

109


Perempuan Pilihan

ilustrasi: repro jurnal nasional

g Tita Tjindarbumi (Nita Tjindarbumi) banyak menulis cerpen di Anita Cemerlang, Gadis, Mitra, Tiara, Liberty, Kartini, Lampung Post, Story, Say, dll. Pernah menjadi jurnalis di majalah Editor, dll. Bermukim di Surabaya. 110


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Perempuan Pilihan Tita TTjindarbumi jindarbumi ( Jurnal Nasional | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

P

EREMPUAN itu duduk di kursi persis di depannya. Mereka hanya dibatasi oleh meja bundar berukuran kecil. Meja yang memang disiapkan untuk dua orang. Perempuan itu yang mengundangnya datang ke Caf dimana ia biasa bertemu dengan Baron setiap akhir pekan. Ami tertarik datang demi menjawab hatinya yang meragu. Dan benar perempuan itu mengaku kekasih Baron. “Aku tahu tempat ini punya arti bagimu,‘ kata perempuan yang mengaku bernama Elena dengan nada sinis. Ami membiarkan perempuan itu membuka pembicaraan. Ami juga membiarkan perempuan di depannya melihatnya dengan pandangan merendahkan. Ami justru sedang memandang perempuan itu dengan mata takjub. Makhluk sosialita. Tampilannya berkelas. Gaun, sepatu, tas dan pemantik plus rokok putihnya, semua menunjukan dia berasal dari kalangan mana. Hanya mata dan bibir itu saja yang bisa membuat orang memberi penilaian lain. 111


Perempuan Pilihan

Pantas saja ia begitu marah ketika tahu lelaki yang dia puja-puja jatuh cinta pada perempuan lain. Elena pasti tak pernah mengira ia dibohongi oleh Baron, lelaki yang diyakininya tidak akan pernah pindah ke lain perempuan. “Saya sangat tahu selera kekasih saya,‘ ujar Elena dengan memberi tekanan pada kata “kekasih‘. Jengkel melihat Ami tak bereaksi sedikit pun meski ia telah menunjukan sikap tak suka. “Saya pikir tujuan anda mengundang saya kemari bukan untuk membicarakan soal selera,‘ jawab Ami cepat dengan senyum merekah. Ia tak akan mengumbar emosi di depan perempuan ini. Bisa saja Elena mengatakan selera Baron bagus dengan kata lain ia ingin mengatakan mana mungkin Baron tertarik pada perempuan cuek sepertinya. Apalagi sampai jatuh cinta? Emang mengapa jika Baron jatuh cinta padanya? Ami kesal tetapi juga merasa lucu. Bagaimana Elena begitu yakin lelaki yang dia sebut kekasihnya itu tidak akan berpaling dari darinya. Lagipula selama ini Baron tak pernah bilang bahwa Elena adalah kekasihnya. Bukan berarti Baron tak pernah menyebut nama Elena dalam percakapan mereka. Bagi Ami apa bedanya Elena dengan sederet nama perempuan yang pernah disebut Baron? Tokh mereka semua adalah perempuan yang keluar masuk dalam dunia asmara Baron. Dan dia? “Saya ingin anda menjauh dari Baron,” kata Elena akhirnya. Ami sudah tahu itulah maksud perempuan kaya itu mengundangnya. Ia ingin memberi tahu bahwa ia sangat tahu Ami sering bertemu Baron di Caf itu. Elena juga tahu setiap akhir pekan Baron sudah menunggunya di meja yang kini dipesan Elena. Yang paling penting, Elena ingin 112


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

memperlihatkan bahwa ia bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Dari mata yang memandangnya remeh dan senyum tipis yang mencibir, Ami tahu Elena memandangnya remeh! Ami membisu. Menyimpan senyumnya. Ia tak sedang ing in berdebat. Ia datang ke Caf itu hanya ingin mendengarkan apa yang diucapkan perempuan sombong itu. Sebab Ami sangat tahu, Baron tak akan peduli apa pun yang dilakukan Elena. Dia sedang mabuk kepayang. Tak aka nada yang bisa menghentikan rasa cinta itu. BULAN serupa sabit menggelantung di kegelapan malam. Taburan bintang mengerling mengejek. Seperti biasa Baron menunggu kedatangan Ami. Perempuan itu biasanya datang tepat waktu. Ia tak pernah ingkar seperti senyumnya yang selalu membuat benang-benang rindu di hati Baron bergetar. Malam kian larut tetapi senyum perempuan itu belum juga terlihat. Sudah sekian kali Baron melihat ke arloji di tangan kirinya. Detak jantungnya berdebar keras seakan ia sedang menunggu saat yang menegangkan. Kemana Ami? Ponselnya tidak aktif. Sejak pagi ponsel Ami tak bisa dihubungi. Baron baru sadar apa yang terjadi ketika tiba-tiba Elena muncul di depannya. Duduk di seberangnya. Di kursi yang biasa diduduki Ami setiap kali mereka bertemu. “Halo sayang ‘menunggu seseorang?‘ Ujar Elena yang malam itu dandananya kelihatan aneh. Sejak kapan dia memakai T-Shirt? Selama ini Baron tahu persis Elena tidak pernah lepas dari dandanan ala kaum borjuis. Dia selalu memakai pakaian ala perempuan kelas atas dan merasa tak afdol jika tak memakai barang bermerek. Elena rela menghabiskan waktu berjam-jam di salon hanya untuk 113


Perempuan Pilihan

pergi makan malam yang jaraknya hanya setengah jam dari apartemennya yang mewah. Tetapi malam ini‘ Baron seperti melihat perempuan sedang kesurupan. Dandanan Elena nyaris persis seperti cara Amin berdandan. Tepatnya dia seper ti sedang ingin menjelma menjadi perempuan lain. Perempuan yang begitu dibencinya. “Kenapa? Kaget melihat kedatanganku??!‘ Kata Elena dengan mata tajam ketika melihat Baron menatapnya dengan mulut menganga. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan setiap akhir pekan di tempat ini??!‘ Teriak Elena sambil mengayunkan tas bermerek yang harganya puluhan juta ke tubuh Baron. Baron diam. Tak ada keinginan menghentikan sikap Elena yang histeris. Dia tak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu, kemana Ami? Puluhan mata menyaksikan mereka tak membuat Baron beranjak membawa Elena keluar dari caf itu. Jumat malam tempat itu memang lebih ramai dari biasanya. Beberapa di antara sekian banyak pengunjung, teman Baron. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Baron tahu, sesuatu telah terjadi. Elena bertingkah. Pasti dia telah melakukan aksi pada Ami. Pasti dia telah menghina Ami sampai perempuan itu menghilang. Oh, My God. Ami pasti marah besar. Baron membayangkan wajah Ami yang memerah lalu berangsur-angsur memucat, silih berganti menghadapi hinaan demi hinaan Elena. “Aku tak suka kau campuri urusanku.‘ Akhirnya Baron buka mulut juga. Dia sudah tak tahan dipermalukan di depan orang ramai. Melabrak lelaki di depan orang banyak? Bertingkah seperti orang kesurupan. Sungguh memalukan. Bukan seper ti itu perempuan yang diing inkan Baron. 114


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ami tidak pernah bersikap beg itu. Ia selalu dapat mengendalikan kemarahannya. Ia begitu pandai mengatur bibirnya agar selalu tampak tersenyum meski hatinya terluka. Baron belum pernah merasa letupan kebahagiaan seperti yang dia rasakan saat bersama Ami. Klise. Tetapi itulah kenyataan. Buktinya ia memilih diam setelah Elena memintanya menjauhi Baron. Ami membiarkan perempuan bergaya ala sosialita itu mencemooh penampilannya dengan tatapan matanya yang menghunjam. “Ini bukan urusanmu saja. Ini juga urusanku!‘ jawab Elena dengan nada tinggi. Sengaja agar semua mata tetap mengarah ke meja mereka/. “Kita sudah tidak ada urusan lagi.‘ Kata Baron dengan suara rendah. Dia tak mau mempermalukan Elena. Kendati Elena telah membuatnya malu. Tak akan selesai. Elena memang sudah kesurupan. “Jangan asal bicara. Kau pikir siapa dirimu?‘ “Terserah.‘ Jawab Baron lalu beranjak meninggalkan Elena yang menjerit-jerit memanggilnya. Gila. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai perempuan histeris? Apa jadinya bila menikah dengan Elena? Dunia bisa kiamat dalam sekejab! PEREMPUAN itu menyusut air mata yang tak dapat lagi ditahan. Tuhan telah menolongnya. Menyelamatkannya dari insiden memalukan itu. Entah mengapa ada keraguan di hatinya saat ingin melangkah menuju caf itu. Malam itu Ami akan tetap datang menemui Baron. Bukan tak memperdulikan perasaan Elena yang terluka karena kekasihnya mengkhianati. Bukan pula ingin menantang Elena yang dengan tegas memperlihatkan sikap tak senang pada dirinya. Ami harus datang untuk sebuah kepastian. 115


Perempuan Pilihan

Pengecut jika ia tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Membiarkan lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta mencarinya dengan kegelisahan yang membuncah. Ami bisa melihat dari sikap Baron yang begitu gelisah saat ia tak muncul-muncul. Bahkan Ami juga melihat dengan jelas bagaimana raut wajah Baron saat berbicara dengan perempuan kaya itu. Yah‘ia memang tak membutuhkan penjelasan apa-apa dari Baron. Ia juga tak perlu bertanya bagaimana perasaan lelaki itu terhadapnya. Semua sudah jelas. Lelaki itu meninggalkan Elena. Tak peduli pada perempuan yang memanggilnya dengan suara penuh kemarahan. Tak peduli telah dipermalukan di depan orang banyak. Yah, ia memang tak perlu mempermalukan diri sendiri dengan masuk ke caf itu. Yang harus ia lakukan hanya menunggu lelaki itu datang ke rumah kontrakannya yang kecil dan berada di lingkungan yang kumuh. n

116


Repro Hugo Urlacher | OpenArt

117


Cerita Sebelum Puasa

ilustrasi: repro joko santoso | kedaulatan rakyat

118


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Cerita Sebelum Puasa Abidah El Khalieqy ( Kedaulatan Rakyat | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

A

NDAI kepala yang hilang itu milik koruptor kakap di negeri ini, mungkin Marzoq tak perlu gelisah. Tak perlu takut dicap warga sebagai orang yang tidak tahu adat, tidak kenal tradisi, jika menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Marzoq tak habis mengerti. Pada hitungan baik, tiga hari sebelum puasa Ramadan dimulai, kenapa kepala yang sudah terpisah dengan tubuh tiba-tiba hilang, dan orang sekampung percaya bahwa semua itu terjadi karena ia sudah lupa tradisi. Namun begitu, usai menyingkirkan perabotan rumah guna acara aqiqah dua putra laki-lakinya, ia duduk sendirian di pojok beranda. Gelisah tanpa arah. Mikirkan sepotong kepala kambing yang hilang, entah dicuri siapa. Mengapa hanya kepala, bukankah kikilnya lebih nikmat. Mengapa pula hanya satu kepala, padahal ada empat kambing yang telah disembelihnya. Sementara istrinya, Khadijah, masih mondar-mandir menata perlengkapan menu-menu dan mengatur ini itu. 119


Cerita Sebelum Puasa

Tak peduli risau suaminya. Bahkan tidak juga mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Karena memang, Marzoq berusaha menyimpan kejadian aneh itu sebagai rahasia keluarga. Tapi apa dikata, malam sehabis Isya itu Kasim dan Diran datang. Ketiganya pun ngobrol sana-sini, menghabiskan segelas, dan sepiring pi-sang goreng. Merasa menemukan teman bincang, Marzoq tak tahan untuk mengisahkan risau hatinya. “Kalian sendiri tahu, aku motong 4 kambing kan. Eh, tiba-tiba kepalanya cuma tinggal 3. Aneh!” “Coba kau periksa lagi, buntutnya 4 ekor atau 3 ekor?”, kata Diran. “Tak mungkin aku salah lihat. Saat Bardan motong lehernya, banyak saksi dan kami sama baca bismillah bareng, serta menghitungnya. Empat kali. Jelas empat kali. Kepalanya empat dan buntutnya juga empat. Aku tak salah hitung. Empat, Sim. Empat!”. Marzoq meyakinkan. “Bisa saja salah hitung. Tak ada salahnya kita periksa lagi jumlah buntutnya,” usul Kasim sekenanya. Lalu sama-sama Mengecek ulang jumlah buntut kambing yang sedang dimasak di dapur belakang rumah. Dengan sigap para ibu memberi info seyakinnya, memang jumlahnya ada empat. Sahih. Tapi kepalanya hanya tiga biji. Benarbenar tinggal 3 biji. Ketiganya saling berpandang mata. Ada yang aneh. Bagaimana mungkin 4 ekor kambing hanya memiliki 3 kepala. Karena itu pula, Khadijah jadi tahu dan merasa ada yang ganjil memasuki rumahnya. Sehingga bayinya nangis kencang tiap ada angin bertiup kencang. Khadijah berusaha menyusui bayinya, tapi bayi itu selalu menolaknya. Karena nangis tak hentihenti, Samila, adik Khadijah yang baru tiba dari luar kota berusaha menggendongnya sembari melafal ayat Kursi, ayat pengusir syaitan. Memang udara gerah seperti adatnya menjelang 120


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ramadan. Sesekali angin kencang mengembus melambaikan dedaunan. Sementara kesibukan di belakang rumah, mulai siaga dari kemungkinan hujan. “Bayimu nangisnya agak ganjil. Aku bisa mendengar nada itu,” Kasim mengerutkan dahi. “Tak usah bikin-bikin cerita, Sim. Di mana-mana bayi nangis ya seperti itu,” Marzoq tak terpengaruh. “Bayimu nangis seperti melihat sesuatu,” tambah Diran, mengompori. “Persis! Pasti ada sesuatu yang dilihat oleh anak bayimu. Coba dengar baik-baik, tangisnya seperti orang ketakutan!,” duga Kasim makin menjadi-jadi, “Aku khawatir, janganjangan ada hubungan antara tangis bayimu dengan raibnya kepala itu,” tambahnya. “Apa maksudmu, Sim?” “Begini, Juk. Aku pernah dengar orang kampung bilang, jika kita menyembelih kambing atau hewan ternak lainnya, mesti dilakukan dengan ritual khusus, ya macam selamatanlah, pasang takir dan bunga di sudut rumah, iya kan, Ran?” Diran mengangguk-angguk dengan mantap. Acungkan jempol pula. “Ah masa? Baru tahu aku, Sim. Kalau itu benar, jadi bagaimana harusnya yang aku lakukan?” Marzoq gelisah ingin tahu. “Gampang, Juk. Adakan saja selamatan besuk, untuk roh penunggu rumahmu ini. Biar dia rela dan tak mengganggu anakmu, juga tak nyuri kepala kambing sembelihanmu itu. Beres!”, wejangan Kasim berlagak. “O gitu ya, Sim. Baiklah kalau memang itu keinginan mereka. Besuk aku adakan selamatan dulu sebelum acara aqiqahnya dilaksanakan. Tolong besok pagi sekalian kau kabarkan pada para tetangga undangannya, Sim. Besok juga Pak Modin yang mimpin, jangan lupa!” 121


Cerita Sebelum Puasa

Kasim dan Diran mengangguk. Tak lama kemudian hengkang meninggalkan Marzoq yang sedikit kebingungan, hingga keduanya tak tahu jika Bardan datang setelah itu. Dan Marzoq merasa tenang, karena ada teman ngobrol di malam hari itu. Sekalian mengisahkan kegelisahan hatinya. “Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau aku minta sepotong kepala sebagai upahku motong kambing-kambing itu. Apa kau lupa?” “Gusti... aku lupa, Dan. Iya benar. Benar. Memang kamu sudah bilang begitu. Lalu gimana ini, aku sudah bilang pada Kasim dan Diran untuk ngundangi warga. Ya untuk selamatan itu. Gimana ini, Dan?” “Ya sudah. Biar selamatan itu tetap diadakan. Nanti kepala kambing yang masih aku simpan, aku bawa lagi kemari dan esuk kita tancapkan di ujung galah, lalu kita pancang di bawah pohon kebun belakang rumahmu yang serem itu.” “Untuk apa pula cari yang serem-serem? Untuk apa juga kepala itu dipancang-pancang begitu?” “Ah, kau ini gimana ta, Juk! Ya untuk yakinkan warga kampung. Apalagi kalau bukan itu. Biar mereka yakin, selamatanmu telah sukses mengembalikan kepala kambing itu dan meredam kemarahan roh halus yang bermukim di sekitar rumahmu ini. Dan anakmu tak diganggu-ganggu lagi”. Terjadi juga akhirnya. Acara selamatan digelar, tak lupa juga sesaji dipersembahkan. Pak Modin pun doa dan membaca entah matra apa. Marzoq hanya diam, tak mungkin bisa menggagalkan adat dan tradisi kampungnya. Rampung sudah acara selamatan. Dengan mimik teatrikal, Bardan sengaja teriak kencang-kencang mengagetkan para warga yang datang. “Hey! Aku melihat sesuatu...!!”, Bardan teriak. 122


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Apa, Dan! Apa yang kau lihat. Mengapa ketakutan begitu?” tanya Pak Modin. “Entah, Pa Modin. Panjenengan lihat sendiri saja di sana itu....!!î, Bardan pura-pura ketakutan. Dengan ragu dan takut juga, Pak Modin memberanikan diri untuk melangkah, dibantu penerangan senter para warga. Ia melafal segala doa yang pernah dihafalnya. Sampai kemudian melihat sendiri kepala kambing di bawah pohon itu sambil berkata. “Astaga.... ini kan kepala kambingnya si Juki yang hilang itu. Tak ada lain. P enunggu desa kita ini telah mengembalikannya. Berarti kita aman dan tidak ada bahaya yang akan datang di kampung kita ini....” Bardan pura-pura memberanikan diri dan mengambil kepala kambing itu serta membawanya ke dapur belakang rumah sembari ngoceh, kalau roh penunggu desa ini telah berkenan. Sementara Marzoq hanya diam seribu bahasa, merasa aneh dan ganjil kenapa Bardan begitu semangat dalam berpura-pura. Kenapa pula aku hanya membisu dan tidak mampu menceritakan kepada orang kampung sebagaimana adanya. Jangan-jangan, semua cerita dan kisah-kisah aneh di kampung ini hanya dibikin oleh orangorang seperti Bardan. Ah!! n Yogyakarta, 2012

123


Tangan-Tangan Buntung

ilustrasi: repro tangan tangan buntung oleh ipong purnama sidhi| kompas

124


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Tangan-Tangan Buntung Budi Darma ( Kompas | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

T

IDAK mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin. Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi rumah Nirdawat, dan berteriak-teriak dengan nada memohon, agar untuk kepentingan bangsa dan negara, Nirdawat bersedia menjadi presiden. Akhirnya beberapa di antara mereka masuk ke dalam rumah Nirdawat, lalu dengan sikap hormat mereka memanggul Nirdawat beramai-ramai menuju ke Gedung M.P.R. Sementara itu, teriakan-teriakan “Hidup Presiden Nirdawat,� terus-menerus berkumandang dengan nada penuh semangat, namun sangat syahdu. 125


Tangan-Tangan Buntung

Demikianlah, semua anggota M.P.R. menyambut kedatangan Nirdawat, dan segera menggelandang Nirdawat dengan halus dan penuh hormat untuk tampil di mimbar. Ketua M.P.R. pun berpidato, singkat tapi padat. Inti pidato: rakyat sangat merindukan pemimpin yang baik, dan pemimpin yang baik itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nirdawat. Maka Jaksa Agung dengan khidmat melantik Nirdawat sebagai Presiden Republik Demokratik Nirdawat (bukan salah cetak, memang presidennya bernama Nirdawat, dan nama negaranya diambil dari nama presidennya). Setelah menyampaikan pidato pelantikannya sebagai Presiden, dalam hati Nirdawat berkata kepada dirinya sendiri, bahwa dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya, dan sebelum masa jabatannya berjalan satu tahun, dia tidak akan pergi ke luar negeri dengan alasan apa pun. Banyak persoalan dalam negeri harus dia hadapi, dan semuanya itu akan diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Namun karena Nirdawat dikenal sebagai pribadi sederhana dan pekerja keras serta tidak mementingkan diri sendiri, maka begitu banyak pemimpin negara berkunjung ke Republik Demokratik Nirdawat, tentu saja khusus untuk menemui Presiden Nirdawat. Hasil pembicaraan dengan sekian banyak pimpinan negara itu mudah diterka: kesepakatan kerja sama dalam perdagangan, pendidikan, kesehatan, industri, dan kebudayaan. Ujung dari semua kesepakatan juga mudah diterka: dengan tulus tapi bersifat mendesak, semua pemimpin negara mengundang Presiden Nirdawat untuk mengadakan kunjungan balasan. Semua kunjungan balasan akan berlangsung paling sedikit tiga hari, karena dalam setiap kunjungan balasan, masing-masing pemimpin negara dengan bersungguh-sungguh menunjukkan kemajuan126


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

kemajuan negaranya, dan juga kekurangan-kekurangan negaranya. Demi kepentingan semua negara, kerja sama harus segera dilaksanakan, juga dengan sungguh-sungguh. Begitu sebuah kunjungan pemimpin asing usai, berita mengenai keengganan Presiden Nirdawat untuk melawat ke luar negeri muncul sebagai berita-berita besar, dan menarik perhatian hampir semua warga negara Republik Demokratik Nirdawat. Akhirnya, dengan berbagai cara, tokoh-tokoh masyarakat sekuler, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh pemuda menyuarakan hati nurani mereka yang tulus, bahwa untuk kepentingan negara dan bangsa, Presiden Nirdawat benar-benar diharapkan untuk memenuhi undangan sekian banyak pimpinan negaranegara asing itu. Desakan demi desakan terus berlangsung. Terceritalah, setelah malam tiba, dalam keadaan lelah Presiden Nirdawat masuk ke kamar tidur, dipeluk oleh isterinya, kemudian digelandang ke dekat tempat tidur. Dengan lembut isterinya memberinya beberapa ciuman, kemudian melepas baju Nirdawat, lalu melepas kaos dalam Nirdawat, dan akhirnya menelungkupkan tubuh Nirdawat di tempat tidur. Kemudian, dengan lembut pula isterinya memijit-mijit punggung Nirdawat. “Nirdawat, cobalah kita kenang kembali masa-masa pacaran kita dulu. Kita berjalan-jalan di kampus, dudukduduk di rumput, kemudian berjalan lagi ke bawah pohon jejawi, dan berbincang mengenai keinginan-keinginan kita. Bagi kita itulah keinginan biasa, tapi bagi teman-teman, keinginan itu merupakan cita-cita mulia.� “Cobalah kita tengok peta dunia ini,� kata Nirdawat dalam sebuah pertemuan dengan teman-temannya setelah membentangkan sebuah peta dan menggantungkannya di dinding. Bagi mereka yang tidak pernah menghadiri pertemuan 127


Tangan-Tangan Buntung

itu, amat-amatilah nama sekian banyak negara dalam peta, maka tampaklah sebuah negara yang namanya beberapa kali berubah. Setelah sekian lama nama ini berubah, akhirnya negara ini punya nama baru, yaitu Republik Demokratik Dobol, lalu berubah menjadi Republik Demokratik Abdul Jedul, lalu disusul oleh nama baru lain, yaitu Republik Demokratik Jiglong. Bukan hanya itu. Ternyata bendera negara ini juga berubah-ubah sesuai dengan nama negaranya. Maka pernah ada bendera dengan gambar seseorang berwajah beringas bernama Dobol, lalu ada bendera dengan gambar Abdul Jedul dengan wajah garang, disusul oleh bendera bergambarkan wajah tolol Jiglong. Mengapa nama negara dan benderanya berubah-ubah, padahal negaranya sama? Tidak lain, jawabannya terletak pada kebiasaan di negara itu: dahulu, ketika bentuk negara ini masih kerajaan dan tidak mempunyai undang-undang dasar, ada kebiasaan untuk menamakan negara itu sesuai dengan nama rajanya. Yang mewakili nama raja, dengan sendirinya adalah wajah raja, dan karena itulah, maka bendera negara juga disesuaikan dengan wajah rajanya. Menurut cerita, seorang jendral kerajaan bernama Dobol berhasil menggulingkan kekuasaan raja terakhir, dan bentuk negara pun berubah menjadi Republik Demokratik. Republik karena negara tidak lagi dipimpin oleh raja tapi oleh presiden, dan demokratik karena siapa pun berhak menjadi presiden asalkan memenuhi syarat. Maka, negara yang dulu diatur oleh kebiasaan tanpa undang-undang, semenjak Dobol menjadi presiden, kebiasaan pun diganti dengan undang-undang dasar. Karena Dobol beranggapan bahwa undang-undang dasar tidak boleh seluruhnya bertentangan dengan kebiasaan lama, maka dalam undang-undang yang kata Dobol bersifat 128


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

sementara itu pun dengan tegas mencantumkan kata-kata, bahwa nama negara disesuaikan dengan nama presiden. Bendera negara pun, mau tidak mau, harus menampilkan wajah presiden. Karena dalam kebiasaan lama masa jabatan raja tidak ada batasnya, maka, supaya undang-undang dasar tidak sepenuhnya bertentangan dengan kebiasaan lama, dalam undang-undang dasar negara republik demokratik ini, pasal mengenai masa jabatan presiden pun tidak perlu dicantumkan. Demikianlah, Dobol menjadi Presiden Republik Demokratik Dobol, dan karena masa jabatan presiden tidak ada pasalnya dalam undang-undang dasar, maka Dobol pun menjadi presiden sampai lama sekali, sampai akhirnya Sang Takdir menanam sebuah biji bernama tumor ganas dalam otak Dobol. Meskipun akhirnya lumpuh total, semangat Dobol untuk patuh kepada undang-undang dasar masih menyala-nyala dengan semangat penuh. Dalam undang-undang dasar dinyatakan dengan tegas, siapa pun berhak menjadi presiden, asalkan memenuhi syarat. Dan seseorang yang memenuhi syarat, tidak lain adalah Abdul Jedul bukan sebagai anak Dobol, tetapi sebagai warga negara biasa yang kebetulan adalah anak presiden negara republik demokratik ini. Demikianlah, maka Abdul Jedul menjadi Presiden Republik Demokratik Abdul Jedul, sampai akhirnya Sang Takdir mengulangi tugasnya sebagai penguasa hukum alam: sebuah bibit tumor ganas disisipkan ke dalam otak Abdul Jedul, dan tamatlah riwayat Abdul Jedul. Karena, sebagaimana halnya Dobol, Abdul Jedul juga sangat setia dengan undang-undang dasar negara yang kata Dobol dulu bersifat sementara, maka jatuhlah kekuasaan 129


Tangan-Tangan Buntung

presiden republik demokratik ini ke tangan Jiglong, seseorang yang memenuhi syarat untuk menjadi presiden bukan karena dia anak Presiden Republik Demokratik Abdul Jedul, tapi karena sebagai warga negara biasa dia benarbenar memenuhi syarat untuk menjadi presiden. Kebetulan Jiglong anak manja, malas, suka foya-foya, dan tentu saja suka main perempuan, dan karena merasa kekuasaan dan har tanya tidak mengenal batas, maka berjudi pun dia lakukan dengan penuh semangat. Setelah Jiglong merusak negaranya sendiri selama beberapa tahun, maka Sang Takdir pun mulai melakukan gerilya: kali ini tidak dengan jalan menanamkan bibit tumor ke dalam otak, tapi membuat otak Jiglong sedikit demi sedikit miring. Maka Jiglong pun tidak bisa lagi membedakan siang dan malam, dekat dan jauh, langit dan bumi, dan yang lebih payah lagi, Jiglong tidak bisa membedakan apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan. Maka, diamdiam Jiglong suka keluyuran sendiri di kampung, berusaha memperkosa perempuan, tapi ternyata laki-laki. Para pengawal pribadi dia pun sudah agak acuh tak acuh. Akhirnya, penggulingan kekuasaan pun terjadi, tanpa tahu siapa pemimpinnya, dan tanpa pertumpahan darah sama sekali. Tanpa diketahui siapa yang memberi komando, tahutahu Jiglong sudah diringkus dan dilemparkan ke rumah sakit jiwa. Juga tanpa diketahui siapa yang memberi komando, sekonyong-konyong serombongan anak muda merebut stasiun televisi dan radio, lalu secara spontan mengumumkan bahwa sejak saat itu nama negara diganti dengan Republik Demokratik Nirdawat, dengan bendera berwajahkan Nirdawat. “Kau harus melakukan sesuatu, Nirdawat, sekarang juga. Aku selalu mendampingimu,� kata isterinya dengan lembut, lalu menciumi Nirdawat lagi dengan lembut pula. 130


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Keesokan harinya keluar Dekrit Presiden, terdiri atas tiga butir, yaitu mulai hari itu nama negara diganti dengan nama baru yang tidak boleh diubah-ubah lagi, yaitu Republik Demokratik Nusantara. Itu butir pertama. Butir kedua, bendera Republik Demokrasi Nusantara harus diciptakan dalam waktu sesingkat-singkatnya, tanpa mencantumkan wajah siapa pun juga. Dan butir ketiga, masa jabatan presiden dibatasi paling banyak dua periode, masing-masing periode lima tahun. Lagu kebangsaan, seperti yang lalu-lalu, tinggal diganti liriknya. Dulu nama raja dipuja-puji, lalu nama Dobol diangkat-angkat setinggi langit, disusul dengan pujianpujian kepada Abdul Jedul. Terakhir, nama Jiglong dijejalkan ke dalam lagu kebangsaan, tentu saja dengan gaya pujapuji. Sekarang nama orang dihapus, diganti dengan nama negara, yaitu Republik Demokratik Nusantara. Maka, sesuai dengan tugasnya, mau tidak mau Nirdawat sering melawat ke luar negeri. Dalam sebuah perjalanan pulang dari kunjungan ke beberapa negara di Amerika Latin, dalam pesawat Presiden Republik Demokratik Nusantara memberi penjelasan kepada wartawan. “Sebagaimana kita ketahui bersama, semua kepala negara dan pejabat penting yang kita kunjungi pasti memujimuji kita. Republik Demokratik Nusantara adalah negara hebat, perkembangan ekonominya luar biasa menakjubkan, dan presidennya pantas menjadi pemimpin dunia. Coba sekarang jelaskan, makna pujian yang sudah sering saya katakan.� “Pujian hanyalah bunga-bunga diplomasi,� kata sekian banyak wartawan dengan serempak. Mereka ingat, pada masa-masa lalu, semua pujian kepada negara mereka dari mana pun datangnya, dianggap 131


Tangan-Tangan Buntung

sebagai kebenaran mutlak. Negara mereka memang benarbenar hebat, perkembangan ekonominya sangat mengagumkan, dan presiden negara ini benar-benar pantas menjadi pemimpin dunia. Terceritalah, di bawah pimpinan Presiden Nirdawat, Republik Demokratik Nusantara makin melebarkan sayapnya: sekian banyak duta besar ditebarkan di sekian banyak negara yang dulu sama sekali belum mempunyai hubungan. Presiden Nirdawat, dengan sendirinya, harus hadir tanpa boleh diwakilkan. Namun sayang, masih ada satu negara lagi yang belum terjamah oleh Republik Demokratik Nusantara, padahal negara ini terkenal makmur dan pemimpin-pemimpinnya hebat-hebat, setidaknya berdasarkan catatan-catatan resmi. Para pemimpin sekian banyak negara berkali-kali memuji keramahan penduduk negara itu, keindahan alam negara itu, dan kemakmuran negara itu. Maka, setelah waktunya tiba, datanglah Presiden Nirdawat ke negara itu. Laporan tlisik sandi ternyata benar: di negara yang sangat makmur ini, banyak pemimpin bertangan buntung. Hukum memang tegas: barang siapa mencuri uang rakyat, harus dihukum potong tangan. Dan Presiden Nirdawat dari Republik Demokratik Nusantara pun sempat terkagum-kagum: ternyata, para pemimpin buntung justru bangga. Kendati mereka kena hukuman potong tangan, mereka tetap bisa menjadi pemimpin, dan tetap dihormati. n

132


Repro Carrie Vielle | OpenArt

133


Rindu

ilustrasi: repro rindu oleh yuyun nurrachman| koran tempo

g Dewi Kharisma Michellia, lahir di Denpasar, 13 Agustus 1991. Kini tinggal di Yogyakarta. 134


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Rindu Dewi Kharisma Michellia ( Koran Tempo | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

M

ALAM di musim pengujan itu ia kembali mengetuk pintu. Aku menghampirinya sebagaimana biasa, membukakan pintu untuknya, menyambutnya dengan senyuman. Ia seperti biasa, terjatuh di lantai, muntah. Sebuah suara memanggilku dari arah atas. Aku segera berlari menaiki anak tangga, menuju ke kamar tempat di mana aku dan seorang pria sebelumnya bermesraan denganku. “Jim, tolong pergi,” kataku kepadanya itu sembari melempar celana bahannya ke pangkuannya. Pria yang sedang bertelanjang dada itu melotot, sedikit mengangkat tubuh. Pantulan sinar dari kalung salib di dadanya menyentuh retinaku. “Suamiku pulang,” Aku membantu mengancingkan kemeja Jim. “Lima ratus ribu.” Ia menyelipkan uang sejumlah yang disebutnya itu ke sela payudaraku. 135


Rindu

“Tolong, Jim. Aku tidak mungkin membiarkan suamiku membeku di bawah.” “Kau tidak mungkin menyuruhku pulang, hujan lebat beg ini!” tukasnya sambil meraih pinggangku dan mendekapku lebih erat. Ciuman bertubi-tubi mendarat di leherku. “Kau membawa mobil,” bisikku. “Suamimu juga sudah di dalam rumah, ia tidak mungkin kehujanan.” Ia balas berbisik. Tangannya memainkan rambut ikalku, meremas-remas leherku. “Ia mabuk, Jim,” jawabku keras, lantas kudorong tubuhnya hingga terjungkal kembali ke atas kasur. “Oh, Lara… aku juga mabuk!” Tiba-tiba seluruh wajahnya merah padam. Ada sesuatu yang berkobar di matanya, barangkali api kemarahan. “Aku istrinya,” tandasku, mencoba bersikap tenang. “Baiklah!” Ia beranjak dari ranjang dengan kilat, dikenakannya kembali celana, sabuk, dan kaos kakinya. Lalu ia berjalan melewatiku. “Lain kali jangan suruh aku datang kalau pulangnya harus dengan cara kau usir seperti ini,” ujarnya dekat-dekat ke telingaku, masih seraya sedikit memaksa mengecup bibirku, sebelum akhirnya kudorong ia ke arah pintu. Ia menuruni tangga, aku meng ikutinya dari arah belakang. Diludahinya suamiku yang sedang terkapar di lantai tak sadarkan diri. “Oh, Jim!” teriakku. Ia pergi, tak peduli. Setelah ia berlalu, kututup pintu rumahku. Lalu kutatapi sseseorang yang tidur di lantai itu, pria yang sepuluh tahun lalu layaknya suamiku. Ia yang tak kuketahui kapan bisa hadir menemaniku. Jikapun ia ada di rumah, lebih sering tak ada sepatah kata yang mampu keluar dari bibirku. Lebih sering kami terdiam. Atau aku terdiam, 136


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menatapinya merokok, minum-minum. Tubuhnya begitu berat. Susah untuk kupindahkan. Maka seperti biasanya, kuambil selimut dari kamar, kubiarkan ia tertidur di depan pintu. Aku duduk menemaninya di tangga. Menontoninya tidur pulas, seperti itu, meringkuk seperti kucing kecil. AKU duduk menontoninya sampai cahaya matahari masuk lewat lubang ventilasi. Terdengar suara koran pagi membentur pintu rumahku, namun tak mungkin kubuka pintu untuk mengambilnya karena suamiku masih tertidur di sana. Ia masih persis seperti dulu saat aku melihatnya tertidur pulas di hadapanku untuk per tama kali. Maksudku, mulutnya yang sedikit terbuka ketika ia tidur dan raut wajahnya yang sesekali masih terlihat belia seandainya saja tidak ada kerut-merut ataupun bekas luka di sana. Beberapa saat kemudian ia tiba-tiba terbatuk, mencoba bangkit dari lantai, dan kembali muntah. Aku kemudian menuntunnya ke dapur. Di sana lalu ia duduk dengan polosnya seperti seorang bocah yang menanti sarapan dari ibunya. “Siapa pria tadi malam?” Aku menoleh ketika ia mengucapkan kalimat itu. Di sana ia sudah mengambil roti tawar dan mengunyahnya dengan rakus. “Itu Jim. Langgananku.” “Berapa ia membayarmu?” “Uang darinya kupakai untuk langganan koran, juga membayar tagihan listrik, air, dan telepon.” Dengan santainya ia menambahkan, “Lalu uang untuk roti tawar dan selai ini kau dapat dari mana?” Ia mengangkat botol selai di tangannya tinggi-tinggi. Entahlah. Seolah baginya kerjaku sebagai pelacur adalah 137


Rindu

lelucon. Tidak ingin menjawab pertanyaannya, kuletakkan nasi goreng pedas beserta telur dadar gulung kesukaannya di atas meja. “Kau minggu lalu ke mana saja?” Aku mengambil nasi goreng untuk diriku sendiri, lantas duduk di hadapannya. Ketika ia mulai menyuap sendok demi sendok nasi goreng yang baru saja kumasak, aku memperhatikan telinganya yang bergerak-gerak. Aku tersenyum dalam hati, telinga itu selalu menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. “Sampai kapan kau akan biarkan aku tidur dengan pria lain, Jo?” Tawanya membahana hingga ia perlu menepuk-nepuk perut, aku menarik napas lagi, “Kau sudah mulai ketagihan tidur dengan banyak pria, ya?” Ia menyuap lagi. Sungguh suamiku sudah sinting. Ia lalu bangkit dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas. “Kapan kau akan mulai bekerja lagi, Jo?” “Selesaikan dulu nasi gorengmu, baru kita mulai makan yang lain. Sudah kubilang berulang kali, nasi goreng tidak pernah cocok dicampuradukkan dengan masalah pekerjaan,” jawabnya, bersendawa. Selera makanku tiba-tiba hilang mendengar itu. Aku bangkit dan menumpahkan nasi gorengku ke dalam keranjang sampah, lantas mengambil bekas piring Jo di meja dan kemudian merapikan dapur. Ketika aku menuju ruang tamu, Jo sedang menonton siaran berita di televisi. Aku melewatinya begitu saja untuk mengambil koran di luar dan kembali untuk menemaninya di ruang tamu. Kali ini ia sedang menonton program anakanak, kartun yang biasanya ditayangkan setiap hari Minggu. “Seharusnya ibu rumah tangga sepertimu tidak perlu membaca koran.” Ia berkomentar, dan tak juga kunjung 138


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

terbiasa mendapatiku menghindari tatapannya dengan menghalangi seluruh wajahku di balik koran. Ketika kuturunkan koran dari wajahku, di hadapanku ia tepat sedang menatapku. Lekat. “Koran hari Minggu isinya tidak begitu berat untuk dibaca, Jo,” kujawab santai. “Aku suka membaca cerita pendek di situ. Rasanya seperti ada sesuatu yang bisa kunikmati dari tulisan orang yang tak pernah kukenal.” Ia menaikkan alisnya lalu kembali menatap ke arah televisi, “Seorang pelacur biasanya tidak akan mampu menjawab seperti itu. Tetapi, kupikir lagi, barangkali memang akan pernah ada seseorang menuliskan kisah kita menjadi cerita pendek. Dan kelak mungkin kau akan ditakdirkan membaca cerita itu.” Ia menjawab sendiri retorikanya. Aku tersenyum kecil. “Menurutmu kelak kalau kita sudah tua, siapa yang akan paling direpotkan?” Ia mulai bertanya lagi. Kuturunkan lagi koranku dan di sana ia menatapku. Lekat, seperti sebelumnya. “Aku tidak bisa membayangkan wujudku sebagai neneknenek, Jo. Aku tidak akan memiliki pelanggan lagi, dan aku tidak tahu aku akan bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dari mana.” “Begitu, ya?” Ia terlihat merenung sebentar, namun lantas mengalihkan perhatiannya kembali ke televisi. Kulanjutkan membaca koran. Cerita pendek kali ini tidak begitu menarik. Entahlah, rasanya belakangan ini banyak ceria semakin turun mutunya. Atau memang karena ceritacerita kehidupan di dunia sudah semuanya pernah tertulis? Rasanya tidak pernah ada cerita yang baru. “Kau sedang baca cerita apa?” Kali ini aku menjawab dengan tidak memandang ke 139


Rindu

arahnya, “Hm, entahlah. Tentang kisah cinta beda agama, pertentangan dari keluarga mereka, dan cinta yang berakhir sangat pilu. Kedua-duanya bunuh diri.” “Kau suka kisah-kisah begitu?” “Aku berharap akan ada seseorang yang menuliskan kisahku. Kurasa kisah hidup kita lebih menarik untuk ditulis.” Ia kontan tertawa, “Kau sejak kecil memang naif sekali, ya, Lara.” Entahlah itu pujian atau bukan. Aku sudah tidak bisa membedakan apa maksud dari kalimat-kalimatnya. SELALU saja begitu akhirnya. Aku tidak peduli lagi yang mana hinaan, ledekan, ejekan, candaan, pujian, atau entah apa pun. Selama kalimat itu keluar dari mulutnya, rasanya tetap sama saja. Sama pahitnya. Karena bagaimanapun aku tetap tidak akan pernah tahu siapa ia sebenarnya. “Bagaimana ceritanya kau bisa menemukanku pertama kali, Jo?” Kulipat koranku dan kuletakkan di atas meja. Kami kemudian saling berhadapan dan dengan lugunya ia mengorek upil di hidungnya dan pergi menuju dapur. Sambil masih menuangkan botol air dingin pada gelasnya, ia menjawab pertanyaanku tadi. “Jadi begini ceritanya. Jo si pria tiga puluh tahun menemukan seorang gadis kecil telantar. Gadis itu tidur di atas kursi taman. Kurasa kau masih ingat pagi itu. Saat itu aku kelaparan, betulbetul kelaparan. Tidak ada yang bisa kumakan. Maka aku mengamen saja di sekitar taman. Setelah uangku cukup, kubelikan sebungkus nasi goreng dan telur dadar. Lalu kutemukan kau tidur di sana. Lara yang baru berusia enam belas tahun, menatap kelaparan ke arahku. Dan seharusnya aku yang tanya, karena sampai sekarang aku tidak tahu dari mana asalmu.” 140


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Aku mengangkat kakiku dan melipatnya di atas kursi, tanganku kusandarkan di pahaku dan daguku tertopang di atasnya, “Tolol. Sudah pernah kuceritakan. Masak bisa kau lupa? Pagi itu aku baru saja kabur dari panti asuhan. Hidup yang tidak nyaman. Bayangkan kau dijadikan pembantu dan kau dipaksa berpura-pura bahagia di depan para pengunjung panti.” Jo menatapku lekat, “Kau tidak pernah cerita sebelumnya.” “Pernah,” jawabku, agak melotot. “Sepertinya aku pun telah melupakan usiaku.” Dan ia tertawa. “Kau memang sudah setua itu. Kau lebih pantas menjadi ayahku. Ketika itu aku tidak pernah bertemu orangtuaku. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka. Sampai akhirnya aku menemukanmu dan menganggapmu sebagai ayahku.” “Sampai kita berlagak menikah enam tahun kemudian: aku menyematkan cincin ke jari manismu dan kita merasa seperti suami-istri, dan kemudian aku memaksamu melacurkan diri. Dan kau masih menganggapku sebagai ayahmu?” “Sampai akhirnya kita duduk berdua di sini, bernostalgia, dan mengobrolkan hal-hal aneh. Apa yang terjadi padamu selama seminggu ini, Jo?” “Serahkan tanganmu padaku, Lara.” Ia mengulurkan kedua telapak tangannya dan kuletakkan telapak tanganku di atasnya. “Beberapa hari lalu saat aku berlibur dengan istri dan seorang anakku, seorang peramal yang kutemui di taman hiburan mengatakan hanya akan ada satu gadis yang mencintaiku selamanya, seumur hidupnya,” ujarnya sambil membalikkan telapak tanganku dan menyusuri garis tanganku dengan jemari tangannya yang kasar. “Ciri-ciri 141


Rindu

gadis itu persis sekali denganmu, Lara.” “Ah, dan lalu bagaimana reaksi istrimu?” “Kupikir dia tidak begitu peduli dengan ramalan itu. Dia bertambah cantik saja setiap hari dan aku seolah beralih menjadi monster dari hari ke hari. Aku malu setiap kali berkencan berdua dengannya. Tapi untung ada anak-anak kami yang selalu membuatku nyaman. Istriku akan selalu bersama anak-anakku dan entah bagaimana aku selalu bisa memisahkan diriku dari mereka di tengah keramaian. Berjalan sendirian seperti the Beast, si buruk rupa.” Kugenggam tangannya erat, “Kau pasti akan pergi lagi malam ini. Lalu kapan kau akan pulang ke sini lagi?” “Setelah mengetahui ramalan itu, aku seperti ingin tinggal selamanya denganmu di sini, Lara.” Entahlah, tatapannya memang agak berbeda kali ini. “Ketika kau akhirnya tahu siapa yang akan mencintaimu untuk selamanya dan berada di sisimu sampai kapanpun juga, apa hatimu tidak akan tergerak untuk menghabiskan sisa hidupmu dengan orang itu sampai ajal menjemputmu?” “Kau masih butuh istrimu, Jo. Kau sudah tidak bekerja, kan?” “Dan istriku kaya raya. Yah, begitulah Lara!” Ia lantas melepaskan genggaman tangan kami, “Kupikir aku memang tidak harus memercayai ramalan.” “Kau mau ke mana, Jo?” tanyaku ketika ia beranjak dari kursinya dan naik menyusuri tangga, barangkali ke arah kamarnya. “Mengambil barang-barangku dan pulang ke tempat istriku,” sahutnya. KUBIARKAN ia membereskan barang-barangnya di atas. Kudengar banyak barang-barang yang dibanting olehnya. “Lalu kapan kau akan kembali?” Kuhadang langkahnya 142


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

ketika ia berjalan ke arah pintu. Ia berdiri di hadapanku dan menggendong ransel besar. “Mungkin kau harus mencari ayah yang lain untukmu, Lara. Kau sudah besar sekarang.” Ia memegang hidungku dan menciumnya. Dahiku persis menempel dengan dahinya. “Aku akan merindukanmu, putriku.” “Bukankah aku istrimu, Jo?” Ia lalu memelukku, “Istri yang tidak pernah kusentuh. Ya, kau istri yang akan selalu memiliki tempat di hatiku, Lara. Jaga dirimu baik-baik. Pilihlah laki-laki yang baik.” “Jo…” “Dan ingat, selalu gunakan pengaman.” Ada air mata di pelupuk mataku dan aku hanya bisa tertawa kecil, ia membalas tawaku dan mengecup dahiku lembut. “Jo...” Ia menatap ke arahku ketika kupanggil namanya. “Aku suka membaca apa pun. Aku sangat suka membaca... karena kaulah yang mengajariku membaca. Karena saat aku membaca sesuatu, aku selalu ingat bagaimana tanganmu memegang tanganku dan menunjukkan huruf-huruf satu-satu. Bagaimana kau mengajariku menulis…” Ia tersenyum, “Itulah sebabnya aku tidak pernah berani menyentuhmu. Seorang ayah tidak akan pernah punya nyali melukai putrinya. Ah, sudahlah.” Ia lalu pergi. Dan tidak pernah ada kabar lagi darinya setelah itu meski aku selalu menunggu ketukannya di pintuku. Berkali-kali pria lain telah mengetuk, mencariku sejak itu. Tidak ada seorang pun yang akan muntah seperti ia ketika pintu kubuka. Dan tidak akan ada seorang pun yang menyerupainya. Seumur hidupku. n

143


Di Bawah Kaki Pesagi

ilustrasi: repro gunung pesagi liwa lampung barat | saliwanovanadiputra.blogspot.com

144


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Di Bawah Kaki Pesagi Muhammad Harya Ramdhoni ( Lampung Post | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

S

IAPA pernah bayangkan seonggok jasad dewa merupakan singgasanaku kini? Dulu ia dipuja dan disembah. Tempat manusia dari berbagai kaum dan kasta memohon kasih sayang dan karunia-Nya. Mereka menyebutnya Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua. Berdiri tegak meneduhi ibu kota Kerajaan Pegunungan Tak Bernama di selatan pulau Sumatera. Setiap pagi dan petang dayang-dayang istana persembahkan wangi kemenyan berkepul-kepul dan secawan air bunga tujuh warna ke hadapannya. Lalu diam-diam ia hirup aroma sedap itu hingga tak bersisa. Tinggalkan bunga aneka warna yang jadi layu dan akhirnya mati kerontang. Tak ketinggalan harum dupa dan kemenyan pun lesap entah kemana. Demikianlah ia dipercaya hidup dan bernyawa. Memiliki ruh sebagaimana manusia dan hewan yang hilir mudik di sekitarnya. Diyakini berperasaan dan berkehendak. Seperti makhluk mahakuasa yang menentukan hidup dan mati setiap orang serta dunia di sekelilingnya. Di bawah kaki 145


Di Bawah Kaki Pesagi

Gunung Pesagi sembilan ratus tahun lalu ia adalah seperti yang kugambarkan kepada kalian. Di bawah kaki Gunung Pesagi sembilan ratus tahun lalu ia adalah sebatang pokok suci yang menjulang menantang langit. Pancarkan racun dan penawarnya secara bersamaan bagi sesiapa saja yang membutuhkannya. Namun di bawah kaki pegunungan ini sembilan ratus tahun kemudian kisahnya tak lagi sama. Ia tak lebih baik dengan alas kakimu kini. JANGAN dengarkan perihal diriku dari mulut lelaki yang mengukuhkan penistaan terhadapku! Ia dan lima kakek moyangnya adalah para lelaki durjana yang menjatuhkan harga diriku sebagai alas pantat. Sembilan ratus tahun lalu aku adalah dewa yang menguasai seisi negeri. Diriku adalah simbol resmi sebuah negeri berdaulat. Galilah puing-puing bekas ibu kota Kerajaan Pegunungan Tak Bernama maka akan kalian temui ratusan guci dan lempeng emas dan perak bergambar diriku. Tambo-tambo 2 dari kulit kayu dan hewan telah berujar dengan kagum tentang diriku, Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua. Seluruh wangsa telah persembahkan ketaatan dan ketakziman keharibaanku sejak tiga ribu tahun sebelum diriku dipermalukan sebagai tempat penobatan temurun lima lelaki berpikiran mesum. Keberadaanku ialah kunci rahasia asal usul nenek moyang pendiri Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Hidupku berkait pula dengan simpang siur sejarah kerajaan mereka. Maka tak heran bila tiada seorang pun berani mencemooh keberadaanku di negeri ini. Setiap jiwa yang bermukim di sini memperlakukanku layaknya dewata sendiri. Mereka layani diriku penuh cinta disertai segala sikap penghambaan yang mereka punya. Pada masa jayaku telah kusaksikan betapa makhluk bernama manusia tak hanya memendam hasrat 146


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

sebagai penakluk. Alam bawah sadar mereka juga menyimpan rindu untuk ditaklukkan. Sifat-sifat hamba sahaya nan laten muncul dari dalam diri mereka ketika pemujaan terhadap diriku berlangsung dengan sempurna. Lucuti segenap harga diri dan maruah mereka sebagai wakil sebenarnya Maha Dewa di atas dunia ini. Pemujaan terhadap diriku, tanpa mereka sadari, adalah kekalahan akal sehat oleh sikap penghambaan mereka yang terpendam. Kedatangan lima lelaki asing berpikiran pesong runtuhkan digdaya diriku di hadapan seisi negeri. Mereka sebarkan benih kebencian atas diriku. Menuduhku sebagai biang keladi kekerdilan jiwa dan alam pikir seluruh rakyat. Memang begitulah adanya. Wangsa penghuni Kerajaan Pegunungan Tak Bernama mencipta diriku sebagai dewa sambil mengagungkan kebodohannya sendiri. Sementara lima lelaki berwatak pesong terus menerus menyerang diriku tanpa ampun. Hingga kerajaan itu pun goyah dan akhirnya runtuh tak bersisa melalui sebuah perang saudara yang teramat mengerikan untuk dikisahkan bahkan dalam syair pilihan gubahan pujangga agung sekalipun. Kejatuhan kerajaan itu siratkan betapa masa hidupku tak lama lagi akan berakhir. Aku meraung memohon pertolongan penguasa dan seluruh rakyat Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Aku berteriak memohon iba. Tapi tak seorang pun mendengar jerit putus asa yang kupekikkan. Setiap orang tengah berjuang mempertahankan hidupnya masingmasing. Setiap orang yang berani menentang penyebaran ajaran agama baru yang dilisankan kelima lelaki berwatak pesong mesti bersedia menerima ajal atau terusir dari tanah kelahiran sendiri. Kepada putri kesayangan penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama kuserahkan nasibku. Sebab hanya dengannya aku dapat bercakap-cakap. Kusapa dirinya tiap 147


Di Bawah Kaki Pesagi

kali bertandang menyembahku. Suara batinku telah menembus nurani terdalamnya sejak sang putri masih bermukim di dalam rahim ibunya. Suara gaibku menyapa dirinya melalui setiap ranting, batang, dan daun yang berkecambah dari dalam diriku. Dialah satu-satunya hamba sekaligus teman karib yang setia menemaniku di saat-saat terakhir. Bahkan ibundanya, sang ratu kerajaan itu, sama sekali tak mampu menjalin kekariban mistik denganku. Hatinya terlalu angkuh untuk menembus alam arwah yang menuntut kesucian tindak dan pikir. Secara memalukan pula ia lari tungang langgang meninggalkan diriku sendirian di bawah ancaman mata pedang lengkung milik lima lelaki berwatak pesong. Dasar hamba sahaya tak tahu sopan santun! Pada pemujaan terakhir penguasa dan rakyat atas diriku di bulan bakha, tepatnya seminggu sebelum perang besar meletus, kutumpahkan kepadanya segala kegalauan hatiku selaku dewa tertinggi Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Saat itu bulan purnama berwarna semerah darah. Nujumkan tumpah ruah darah manusia yang tak lama lagi akan terjadi. Putri penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama membalas jerit putus asaku dengan duka cita yang tak kalah pilu. Kami bagaikan tuan dan hamba yang saling berbalas pantun. Rima yang terucap dedahkan luka dan harga diri yang remuk redam. Menyeret pula persinggungan antara nenek moyangnya dengan diriku sejak ribuan tahun silam. Pada akhirnya kami hanya bisa saling besarkan hati masingmasing tanpa tahu apa yang mesti diperbuat untuk membela diri melawan keangkuhan lima lelaki dan segenap pengikutnya. Marah dan kecewa meruyak dalam diriku ketika kutahu putri penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama akhirnya memalingkan pula wajahnya dari haribaanku. Ia pilih dewa 148


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

lain yang diusung lima lelaki berperawakan tak lumrah. Padahal ia satu-satunya harapanku agar diriku kekal sebagai sesembahan penduduk Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Ia satu-satunya hambaku yang mahir bercakap-cakap denganku tanpa dibatasi hubungan antara dewa dengan hambanya. Kupikir ia akan menjadi juru bicaraku dari alam arwah. Namun semua itu ia hancurkan dengan tega hati, demi menebus cinta buta bersama salah seorang lelaki aneh berwatak pesong. Tinggallah aku sendiri menunggu penugalan menjelang. Kedua dahanku memang istimewa. Dahan pertama dapat timbulkan luka nanah di tubuh siapa pun yang dengan sengaja maupun tidak sentuhkan kulitnya kepadaku. Sementara dahan kedua mampu sembuhkan luka itu dengan menempelkan bagian tubuh yang sakit. Sayangnya, dua keistimewaan itu seolah tak berarti saat diriku harus menghadapi lima lelaki kalap dengan hasrat membunuh tak terbatas. Pukulan demi pukulan belati lengkung milik mereka akhiri kisah hidupku. Diriku remuk redam tanpa perlawanan sama sekali. Apakah yang bisa dilakukan sebatang pohon untuk menghindari amuk seorang ayah dan keempat anak lelakinya yang bermata gelap? Tubuhku rubuh ke tanah disertai sorak sorai ribuan rakyat penghuni Kerajaan Pegunungan Tak Bernama yang telah bersalin keyakinan. Kemudian, lelaki setengah baya yang merupakan ayah dari empat lelaki keparat itu menginjak-injak diriku yang telah terbujur kaku sembari memaki dan menudingku di hadapan khalayak. Sungguh, perbuatan lelaki tua itu menista diriku tanpa ampun. Aku memang hanya dewa sesembahan suku pegunungan yang terkucil. Namun, betapa pun itu aku masih memiliki harga diri kedewaan. Diriku telah disembah oleh para puyang penghuni dataran tinggi ini sejak dua ribu seratus tahun 149


Di Bawah Kaki Pesagi

sebelum lima lelaki berpikiran pesong itu hadir disini, di tanah istirahat para dewa. Telah kusaksikan puluhan wangsa jatuh bangun silih berganti menguasai negeri ini. Telah kusaksikan pula ribuan perang pembinasaan dan penaklukan dilakukan tanpa segan dan takut. Semua atas nama diriku atau atas nama dewa-dewa lain. Diriku adalah saksi bisu sejarah kebangkitan dan keruntuhan sebuah wangsa. Semestinya mereka, para bekas hambaku, memelihara diriku dengan hormat walau telah beralih keyakinan. Bukannya malah menciderai hak istimewaku sebagai dewa. Ataukah ini bagian dari ajaran lima lelaki berwatak pesong yang menolak menghormati setiap tradisi kuno negeri-negeri yang mereka perangi? BER HATI-HATI LAH dengan bujuk rayunya. Atau kesombongannya kala dendangkan kembali berbagai dongeng muskil tentang masa jayanya selaku dewa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Ia seret kalian agar, setidaknya, bersimpati dan menyatakan kagum pada derajat kedewaannya. Kemudian pelan-pelan tanpa kalian sadari akan tersesat ke jalannya. Menyembah dan memuja dirinya seperti yang pernah dilakukan nenek moyang kita pada masa kegelapan adalah sesat pikir dan syirik belaka. Di bawah kaki Pesagi sembilan ratus tahun lalu para puyang telah berikrar mencampakkannya ke dalam tungku perapian masa lalu. Mereka menggantinya dengan Tuhan tunggal tanpa pesaing. Adalah kebodohan seekor keledai bila kalian menyembah dan mengimaninya setelah sembilan ratus tahun berselang. Setelah apa yang dilakukan nenek moyang kita demi merubah wajah negeri di bawah kaki Pesagi ini agar menjadi manusiawi dan bersahabat. Biarkan ia terbujur kaku menjadi alas pantat. Sebagai simbol tunduk dan takluk sebuah negeri penyembah berhala pada syiar para lelaki 150


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

pemanggul ajaran Jalan Yang Lurus. DI BAWAH kaki Pesagi sembilan ratus tahun kemudian, tepatnya menjelang dini hari, lima pemuda keturunan lima lelaki penugal Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua diam-diam memasuki bilik tempat penyimpanan jasad pohon keramat. Peringatan ayah dan paman mereka sama sekali tak diindahkan. “Berikan golokmu,” pinta pemuda pertama kepada pemuda kedua. Pemuda kedua ulurkan apa yang dipinta sepupunya tanpa mengucap sepatah kata. “Pelan-pelan, dong!” pemuda ketiga mengingatkan ketika melihat pemuda pertama tergesa-gesa membelah kayu bekas Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua. “Apa betul benda ini bisa bikin kita kebal dan juga manjur untuk pelet perawan?” tanya pemuda keempat dengan nada suara gemetar. “Bergantung pada tingkat imanmu kepada dirinya atau kepada Tuhan?” pemuda kelima malah balik bertanya. Nada suaranya terdengar sinis bukan kepalang. n Kuala Lumpur-Kota Karang, Mei 2012

Catatan: 1. Gunung Pesagi merupakan gunung tertinggi di Lampung yang terletak di Liwa, Kabupaten Lampung Barat. 2. Buku silsilah keturunan bangsawan Lampung Sai Batin. 151


Di Sore Itu

ilustrasi: repro medan bisnis

g Eva Riyanty Lubis, lahir di Padangsidimpuan, 13 Mei 1992. Karyanya telah dimuat di tabloid Gaul, Annida Online, Majalah Imut, majalah Smile E-Magz, Batak Pos, MedanBisnis dan Analisa Medan. Karyanya juga termaktub dalam satu kumpulan cerpen berjudul, Gadis Silayang-Layang serta 14 antologi lainnya. 152


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Di Sore Itu Eva Riyanty Lubis ( Medan Bisnis | Minggu, 29 Juli 2012 )

o Aku meringkuk kedinginan di balik ruangan berukuran 2x2 meter. Di sudut ruangan, kudekapkan kaki ke tubuhku yang tinggal terbungkus tulang. Erat. Tetapi tubuhku tetap berpeluh. Menggigil. Aku berusaha membendungnya, bersikap biasa, namun semua bagian tubuhku tidak mau berkompromi. Tetap bergetar hebat.

A

KU memandang mata bening itu beberapa saat. Berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir mungilnya. Wajahnya merona merah tatkala menceritakan hal itu kepadaku. Dan bisa kupastikan, dia sedang mengalami masa-masa bahagia. “Kamu setuju kan, Sayang?â€? Aku masih terdiam. Atau lebih tepatnya mulutkulah yang enggan untuk berkomentar. Aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Aku mencintainya dengan sangat. Tapi aku yakin, dia tidak merasakan itu. Ah‌ataukah aku yang tidak merasakan 153


Di Sore Itu

cintanya kepadaku? Setahuku, cinta anak dan ibu amatlah erat. Namun, kini aku merasa ada benteng pemisah di antara kami. Ataukah kami sendiri yang membuat benteng itu, aku tidak tahu. Aku merasa pusing setiap kali memikirkan kehidupan kami. Menurutku, kehidupan kami ini kehidupan tanpa cinta. Membosankan. Dan lambat laun, aku merasa malas untuk menghadapinya. Aku merasa hidup ini hanyalah pengulangan. Hari demi hari, tanpa ada yang spesial. Sangat membosankan…Apa masih bisa aku berharap? “Sayang, kamu dengerin Ibu nggak sih? Kok dari tadi cuma natapin Ibu aja? Kamu nggak setuju?” matanya mengerling menatapku. Aku menggeleng. Kemudian kudapati senyum manis bertengger di sudut bibir mungilnya. Ah.. Kapan terakhir kali aku memandangnya sebahag ia ini? Aku beg itu merindukan masa-masa itu. Dan tidaklah mungkin aku merusak kebahagiaan orang yang telah melahirkanku. “Makasih ya, Sayang. Beberapa hari lagi Ibu dengan Om Asrul akan mengadakan pernikahan. Kita buat acara yang sederhana. Maaf kalau ini mengagetkanmu. Namun kita berdua sudah memutuskan kalau inilah yang terbaik untuk kita. Bukankah kamu juga masih menginginkan sosok seorang ayah?” Lagi-lag i aku mengangguk. Aku sudah tidak ingat bagaimana cara untuk berbicara banyak dengannya. Yang kuinginkan adalah segera mengakhiri pembicaraan ini dan kemudian aku bisa terlelap dalam mimpi indahku. SAYA terima nikah Nur Rizka binti Muhammad dengan mas kawinnya...tunai. Di mesjid itu, para undangan menjadi saksi lahirnya pasangan pengantin baru. Semua tampak berbahagia. 154


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Kecuali aku mungkin. “Kamu Icha kan? Putrinya Bunda Rizka? Aku akan menjadi kakakmu. Kalian akan tinggal di rumah kami. Oh ya, namaku Yunita. Kami boleh memanggilku dengan sebutan Yuni. Ah…. Pasti Bunda sudah menceritakan tentangku kepadamu kan, Cha?” gadis manis itu menyodorkan tangannya kepadaku. Aku hanya terpaku. Tak tahu apa aku harus menerima uluran tangannya. Namun beberapa detik kemudian, dialah yang menarik tanganku ke dalam jemarinya. Senyumnya sangatlah manis. Parasnya membuat orang yang memandangnya langsung tertarik. Matanya bulat, dengan bola mata berwarna coklat bening. Alisnya hitam lebat. Hidungnya bangir. Kulitnya putih bersih. Wanginya mengeluarkan semerbak yang membuatku betah ada di sampingnya. Namun entah mengapa, aku tidak ingin mengakui hal itu. Atau malah aku sedikit cemburu kepadanya? “Icha kalau perlu apa-apa, bilang sama kakak ya,” ucapnya sebelum meninggalkanku dengan memberikan kerlingan manis kepadaku. Dan beberapa meter dari sini, aku lihat dia tengah menyambut kedatangan temantemannya. Mereka tampak sangat bahagia. Dan dia begitu kelihatan spesial di antara orang-orang itu. “Kamu adenya Yuni?” seseorang tiba-tiba mengagetkanku. “Ah… kenapa jantungku berdetak menjadi tidak karuan begini? Dag dig dug. Detakannya semakin keras. Apa dia mendengarnya? Ah….Pasti sangat memalukan.” “Boleh kenalan?” tanyanya. Aku hanya menundukkan wajahku. Berusaha menutupi rona merah yang kurasakan telah timbul di wajahku. “Icha?” dia memanggilku. Aku bergeming. Lalu dengan 155


Di Sore Itu

langkah cepat, aku berlari meninggalkannya. Aku sudah tidak peduli dengan tanggapannya tentangku. HARI ini hari penerimaan rapor. Orang tua diwajibkan untuk ikut. “Icha, Ibu sama Ayah mau ke sekolah Yuni dulu. Nanti habis dari situ kami akan datang ke sekolah Icha. Nggak apa-apa kan, Sayang?” Aku menatap mereka dengan tatapan tak menentu. Namun, aku anggukkan juga kepalaku. Setelah itu aku mendapati senyuman dari keduanya. Aku menunggu Ibu dan Ayah. Sampai hanya aku yang tertinggal di dalam kelas, mereka tak jua datang. Air mataku hendak luruh. Namun segera kutahan, agar tak jatuh. “Icha, Mamanya nggak bisa datang ya, Sayang?” ucap Bu Fatimah. Guruku yang baik hati. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku tahu dia bisa melihat bahwa senyumanku hanyalah sebuah senyum terpaksa. “Hm…. ya udah, nggak apaapa. Ini rapor kamu.” dia menyodorkan rapor berwarna abu-abu itu kepadaku. “Nilaimu terus menerus menurun, Cha. Bahkan sepuluh besar pun kamu tidak masuk. Ibu nggak tahu apa masalah yang sedang menimpamu. Namun Ibu harap, kamu harus mengejar semua ketinggalanmu. Sekarang kamu kelas dua SMA, Cha. Tugas akan semakin banyak.” Aku kembali mengangguk. Saat di rumah, Ibu mendekatiku. “Icha, aduh maaf ya, Sayang. Ibu dan Ayah tidak bisa datang. Tadi kita bertiga lagi merayakan keberhasilan kakakmu. Yuni berhasil meraih juara umum satu di sekolahnya. Kami hendak menjemputmu, namun kita nggak punya waktu banyak, soalnya Ayah mau berangkat ke luar 156


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

kota.” Ibu tampak menunjukkan wajah penuh penyesalan kepadaku. “Nggak apa-apa.” Ucapku sembari berjalan meninggalkan Ibu dan Yuni di ruang tamu. “Apa Icha akan marah, Bunda?” tanya Yuni. “Tidak, Yuni. Icha memang begitu orangnya. Pendiam.” “MANA boneka beruangku?” tanyaku pada ibu dan Yuni yang tengah duduk berdua menonton televisi. Ah…. Andaikan ibu tahu, aku juga merindukan saat-saat berdua dengannya. Namun kenapa malah Yuni yang selalu ada bersamanya? Kenapa mereka tidak pernah mengajakku untuk bergabung? Kenapa hanya Yuni yang dielus rambutnya? Suasana hatiku mendadak panas. “Oh, dipinjam ama Yuni, Cha. Dia suka. Jadi Ibu izinkan dia mengambilnya dari kamarmu.” “Tidak ada yang boleh menyentuh bonekaku!!” aku membentak mereka. Kulihat mereka terkejut. “Ambil bonekaku sekarang!” aku menatap tajam ke arah Yuni. “Kamu apa-apaan sih, Cha? Kan cuma boneka! Lagian bonekanya kan sudah buruk,” jawab ibu. “Tapi kalian tidak punya hak untuk mengambilnya. Kalian boleh mengambil semua barang yang ada di kamarku. Tapi bukan boneka itu! Sekarang cepat ambil bonekaku!” Yuni langsung berlari menuju kamarnya. Mungkin dia kaget dengan ucapanku barusan. AKU mencekik lehernya. Kuat. Dia merintih. Berusaha melepaskan diri. Namun tak ada sedikit celah yang kuberikan kepadanya. Kembali dia mengerang. Nafasnya terpenggalpenggal. “Ichaaa.... Lepaskan kakakmu! Lepaskan!!” Ibu dan Ayah 157


Di Sore Itu

muncul di belakangku dan berusaha melepaskanku dari tubuh Yuni. Aku terpelanting. Tenaga ayah jauh lebih kuat dariku. Aku diseret menuju sebuah tempat yang membuatku bergidik ngeri. Sedang sebuah ambulans melaju hebat membawa Yuni beserta ibu. Dan di sinilah aku kini. TEPAT sebulan, aku keluar dari balik jeruji besi itu. Ayah penguasa di sini. Dan katanya dia sudah bermurah hati dengan memberiku hukuman hanya sebulan. “Kau sudah membuatku malu! Kau mencoreng mukaku, Cha! Anak macam apa itu namanya?� Aku menatapnya tajam. Dia juga memandangku dengan emosi yang meluap-luap. Dia, anaknya serta ibuku. Mereka memandangku dengan sinis. Seakan-akan aku merupakan seonggok najis. “Minta maaf pada Ayahmu, Cha!� Ibu ikut membentakku. Aku menatap mereka berang. Seharusnya mereka tahu, aku juga butuh perhatian. Aku butuh kasih sayang. Sejak ayah meninggal lima tahun yang lalu, aku tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang. Ibu hanya sibuk dengan usahanya. Ketika kutahu dia ingin menikah, sebenarnya hatiku sakit. Tapi aku masih berharap mendapat kasih sayang darinya. Mungkin dengan kehadiran seorang ayah baru, dia tidak akan lagi sibuk mencari uang dan bisa berbagi denganku. Namun aku salah. Posisiku telah diambil oleh Yuni. Bahkan ibu menuruti semua keing inannya. Boneka beruangku, hadiah terakhir dari ayah, dengan entengnya ibu mengizinkan Yuni untuk menyentuh serta memilikinya. SORE itu, ibu dan Yuni sedang asyik bercanda gurau. 158


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Aku mendatangi mereka. Dan kulihat mereka memandang sinis kepadaku. Lalu Yuni berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiriku. Sedang Ibu membuang mukanya. “Kau sudah tidak diinginkan di sini, adek manis!� Kalimatnya itu membuatku semakin membencinya. Aku terus menatapnya tak berkedip. Dia balas menatapku, dengan seringainya yang menurutku menjijikkan. Keindahan fisiknya sangat bertentangan dengan perangainya. Dan beberapa detik kemudian dia jatuh tersungkur. Merintih dan menatapku ketakutan. Senyum kemenangan menghampiriku. Sebab pisau yang kuselipkan di balik tanganku berhasil melakukan pekerjaannya seperti yang kuperintahkan. n

159


Si Gelar M.Pd

ilustrasi: repro metro riau

g Muhammad Madun Anwar, bermukim di Obel-Obel Kec Sambelia, Lombok Timur, NTB. 160


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Si Gelar M.Pd Rian Harahap ( Metro Riau | Minggu, 29 Juli 2012 )

o Si Gelar M.Pd masuk ke kelas dengan tas punggung yang begitu kembung. Duduk di depan kami. Membuka leptop dan menyalakannya. Berdiri.

K

ALI ini kita akan membahas tentang replikasi DNA. Dimana sebelumnya kita sedikit menyinggung tentang anatomi di dalam sel, atau lebih jelasnya, yaitu komponen-komponen sel.� katanya. Lalu duduk sejenak. Mengotak atik leptopnya. Kebetulan sedang lagi mati lampu. Jadi, LCD listrik tak dapat digunakan. Ia berdiri lagi menatap kami. Menelan ludah. Bergerak kesana kemari, dan kembali lagi ketempatnya. Mengklik leptopnya. Entah apa yang ia klik. “Replikasi DNA merupakan penduplikasian, atau penggandaan yang dilakukan oleh DNA, dan biasanya disebut double helix.� Katanya lagi menerangkan. Ia diam sejenak. Lalu kembali lagi ke meja duduknya. Sedangkan di belakangku, Rudi dan 161


Si Gelar M.Pd

Hara sedang asyiknya berdiskusi. Entah apa yang mereka diskusikan. Yang pasti suara mereka terpecah dengan tawa yang tertahan. “Kalian berdua!” serunya menunjuk ke Rudi dan Hara. Berdiri dan melangkah. “Kalian sedang apa? Jika berbicara, di luar tempatnya!” tegurnya dengan volume yang beremosi, tepat di depanku. “Kalian seperti tidak menghargai saya. Jika kalian bosan dengan saya, kalian ngomong saja langsung. Saya tidak senang kalian berbisik-bisik seperti ini.” Rudi dan Hara terdiam. Menunduk. Merasa malu dengan teman-teman. Kami pun ikut terdiam. Sepi. Si Gelar M.Pd berbicara dari a sampai z. Mengudarakan petuah-petuah yang hampir setiap pelajarannya kami dengar. Mengeluarkan khotbah mini alanya. Dan masih banyak basa-basi yang dikeluarkannya. Membuat kami jenuh, bosan denga Si Gelar M.Pd. Hampir disetiap jamnya kami mengeluh. Anatara materi dengan ucapannya selalau berlawanan; materi sedikit, komentar tentang kehidupan membusa penuh. Sungguh Jangka Sembung yang selalu membawa golok. Si Gelar M.Pd membereskan barang-barangnya. “Pelajaran ditutup. Kita lanjutkan besok,” cetusnya dan keluar. Baru beberapa menit saja kami melihat batang hidungnya, kini pergi ditelan ombak emosi. Emosi anak kecil yang masih ingusan, bukan emosi orang bergelar. Si Gelar M.Pd berlalu. Kami menyorak, merasa bahagia atas kepergiannya. Lalu kami membuat sebuah lingkaran bulat. Mendiskusikan tentang Si Gelar M.Pd. “Aku sungguh tak tahan dengannya. Selalu makan gaji buta. Sungguh tak mengerti akan profesinya,” langsung 162


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Gyuri. “Betul itu! Betul!,” suara kami serentak. “Aku juga sama. Percuma saja gelarnya M.Pd, masuk cuma beberapa kali dalam semester, itu pun dijejali dengan tugas dan lainlainnya,” sahut Rama. “Selalu menjelaskan seperti itu. Lama-lama aku menjadi orang bebal. Bukannya mendapat ilmu, eee… malah dapat angin,” sahut Rudi ikut. Aku hanya tersenyum. Menyaksikan tiga puluh dua kepala berdiskusi. Menyerukan tentang Si Gelar M.Pd yang tak professional dengan profesinya. Gelar yang seharusnya mengerti akan perkembangan kami yang menuju dewasa. Gelar yang seharusnya mengerti akan karakter kami. Namun, malah berlalu tanpa makna yang berisi. Deburan demi deburan suara kami yang terbentur di dinding-dinding kelas benar-benar menemukan hasilnya. Dan hasilnya itu menyatakan bahwa Si Gelar M.Pd sungguhsungguh anak kecil yang belum tahu apa-apa. Salah? Memang salah. Tapi ini menurut kami, yang merasakan benar kinerja Si Gelar M.Pd yang tak mengusai materi, tak bisa mengontrol emosi, dan tak bisa sabar, sabar dan sabar. Selalu memunculkan sisi kekanak-kanakkannya. Dan kini kami pulang dengan membawa ilmu Replikasi DNA yang sudah menjadi catatan otak kami dari SMP dan SMA, bukan dari Si Gelar M.Pd. Yang ada hanya cetusan di hati kami tentangnya yaitu, dulu, apa dia sekolah dengan baik? Atau apa benar-benar ia seorang M.Pd? Entahlah. Hanya ia dan waktu yang bisa menjawabnya. JADWAL keberikutnya. Ia masuk dengan sebuah senyuman, yang kami pun belum mengerti akan hal tersebut. Soalnya ia termasuk orang yang pelit senyum saat masuk kelas. Namun, kali ini berbeda. Terlihat sekali oleh 163


Si Gelar M.Pd

kami senyumnya, sungguh cantik dan feminim. “Bagaiamana kabar kalian sekarang?” langsungnya. “Alhamdulillah, Bu. Kami baik-baik saja,” jawab kami serentak. “Maafkan ibu soal yang kemarin. Biasa kalu cewek kedatangan palang merah remaja, kebawaannya pengen marah saja.” Kami terdiam. Menatap Si Gelar M.Pd, tak biasanya ia berbasa-basi seperti ini. sungguh membuat kamai heran. Bahkan dalam hatiku pun berkata ‘apa mimpinya semalam?.’ “Baiklah. Sekarang kalian siapkan lembaran. Kita akan ulangan tentang materi yang kemarin.” “Ulangan, Bu. Kenapa mendadak seperti ini?” “Ya, Bu. Kenapa harus sekarang!?” seru Rudi dan Hara bergantian. “Cepat keluarkan lembaran. Ibu tidak butuh komentar banyak. Ulangan ya tetap ulangan, tidak ada tawar menawar.” Kami pun menyiapkan lembaran. Dan gumaman dalam hatiku semakin bordering, ‘Apa ini jawaban dari keherananaku. Sungguh ajaib sekali. Kufikir Si Gelar M.Pd ini bakalan mengajar, merincikan tentang DNA yang belum tuntas diterangkan.’ Tapi, apalah daya, karena kami mahasiswa yang mengikuti perkataan orang yang kami hormati. Dan untungnya soalnya tidak terlalu sulit. Jadi, aku masih bisa untuk menjawabnya. Sungguh gelar tak bisa dijadikan cermin untuk mengukur daya kedewasaan seseorang. Karena kedewasaan tetaplah membutuhkan proses dari suatu pengalaman. n Pancor, 2011

164


Repro Carrie Vielle | OpenArt

165


Negeri Tanpa Perempuan

ilustrasi: repro padang ekspres

g Kirim cerpen dan puisi Anda ke email: cerpen_puisi@yahoo.com 166


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Negeri Tanpa Perempuan Riza Multazam Luthfy ( Padang Ekspres | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

I

NI adalah persyaratan sangat berat bagi Raja Crob. Jika urung mendapatkan cairan ajaib itu, maka patut ia lenyapkan nyawa seluruh gadis yang berdiam di negerinya, guna menciduk darah terpendam dalam tubuh mereka dan menggelontorkannya pada sang istri—yang terbaring selama 9 atau 10 tahun. Duduk tercenung di beranda istana, kepala Raja Crob merekam percakapannya tadi siang dengan Nermus: “Jika Baginda ingin melihat permaisuri terbebas dari penyakitnya, maka Baginda layak menemui lima makhluk buruk rupa yang bercokol di gunung Yihho. Sebuah gunung yang belum suah dijamah manusia. Sekelilingnya dipenuhi ular dan kalajengking raksasa; siap melumat daging dan tulang manusia yang nekat mendekati gunung itu. Di sana sepi udara. Jadi, sesiapa yang bertandang dengan perbekalan udara kurang, maka ia akan dengan mudah berkalang tanah. Di tempat asing dan mengerikan itulah, hidup lima wanita dengan satu biji telinga. Guna sekadar 167


Negeri Tanpa Perempuan

menangkap suara, telinga itu mereka gunakan silih berganti.” “Telinga itukah yang aku cari?” “Bukan. Bukan, Bag inda. Salah satu dari mereka mempunyai cairan luar biasa yang sanggup mengobati sakit permaisuri.” “Jika gagal mendapatkannya?” “Permaisuri tak bisa sembuh.” “Selamanya?” “Selamanya, Baginda. Atau….” “Atau apa? Cepat katakan!” “Baginda hendak melakukan apa saja demi kesembuhan Permaisuri?” “Ya.” “Jika tak berhasil melakukannya, maka satu-satunya cara yaitu dengan membunuh semua perawan yang ada di negeri ini. Cuma darah merekalah yang mampu mengganti keampuhan cairan itu.” “Selain itu sungguh tak ada?” “Sungguh, Baginda. Bila hamba berdusta, penggallah leher hamba. Tapi….” “Apa lagi?” “Setelah perawan di negeri ini habis, para istri dan janda tak akan menitiskan bayi perempuan. Demikianlah yang hamba gali dari kitab Meerhusia.” DEMI menggayuh tujuan, genap Raja Crob mengirim 100 ksatria tangguh. Walakin, celakanya, nyawa mereka tumpah sia-sia sebelum mencapai kaki gunung Yihho. Ada yang kehabisan udara di hutan Lekku. Ada yang dada dan isi perutnya tercabik-cabik. Ada yang anggota tubuh satu dengan lainnya terpisah. Ada yang paha dan kepalanya luluh lantak dikeremus ular. Ada pula yang sekujur badannya 168


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

gosong tersengat kalajengking. Pungkasnya, terpaksa Raja Crob menitahkan Lehama. Jejaka yang tiada lain pun tiada bukan adalah putra kandungnya. Sebenarnya, kurang tepat jika dikatakan bahwa Raja Crob melempar tugas kepada bujangnya. Sebab, pangeran tampan berdagu lancip itulah yang memohon agar dianugerahi restu untuk memetik obat bagi sang ibu. “Izinkan putramu ini mengabdi kepada bunda, Ayah.!� Kalam tersebut berulang-ulang meluncur dari katup mulut Lehama. Raja Crob menelan gamang tatkala melayani permintaan putra semata wayangnya. Padahal, sesuai aturan kerajaan, ialah yang paling berhak mewarisi tahta, jika suatu saat Raja Crob tiada. “Bagaimana jika kau gugur, Anakku. Siapa yang bakal melanjutkan pemerintahan ayah. Sedang pamanmu, Nerl, pemuda dungu yang tak tahu-menahu urusan kerajaan. Saban hari kerjanya mabuk-mabukan, berburu kijang, dan bermain perempuan.� Batinnya memberontak. Dengan berat hati, Raja Crob meloloskan desakan Lehama, setelah terlebih dahulu putranya itu mengancam hendak bunuh diri dengan membakar tubuh hidup-hidup. Pada selembar pagi berselimut embun, Lehama bersiap menuntaskan hasrat. Dengan perbekalan udara melimpah, baju sakti buatan Verho, serta panah emas beracun yang dipesan dari daerah utara, Lehama akan menumpas kebengisan ular dan kalajengking raksasa di gunung Yihho serta membawa pulang barang istimewa yang selama ini dikejar-kejar para pendahulunya. Melepas kepergian sang putra, netra raja berkaca-kaca. Betapa ia sedih bercampur bangga melihat keberanian Lehama. Keberanian yang dikantongi anak berusia 18 tahun. Keberanian yang raja sendiri barangkali tak punya. 169


Negeri Tanpa Perempuan

SELURUH gadis sirna. Tiada lagi kelembutan. Tiada lagi orang bernyanyi tentang keindahan alam hingga mengantar burung hemi beterbangan riang di cakrawala. Betul-betul biadab. Atas perintah raja, prajurit-prajurit bertopeng hitam dan membagul pedang jangkap menghabisi mereka satu persatu. Tubuh mereka dibakar. Sedang darah mereka dikumpulkan lalu dicemplungkan dalam guci besar. Rehum, tabib ulung dari Acalu, menggenggam tanggung jawab menjaga permaisuri dan mengembalikan kondisinya. Lanang sepuh berjenggot putih itu bertugas mendidihkan darah perawan dalam kuali dengan campuran ramuan yang diperlukan. Ia juga yang dengan tekun mengalirkannya ke lidah permaisuri. Kurang lebih 13 bulan, permaisuri menenggak minuman asin dan sedikit asam itu. Secolek demi secolek, racun ganas yang disisipkan dalam makanannya beberapa tahun lalu meraib. Begitulah kekuasaan. Selalu saja terbit mereka yang bernafsu mengganyang kenyamanan di dalamnya. Neha, dayang istana, merupakan salah satunya. Nekat ia meracuni permaisuri dengan daun kulamayanu. Daun beripuh yang lekas mengakibatkan manusia menderita selebar umurnya. Tunai ia membuat permaisuri lumpuh, meski khatamnya harus menjemput ajal di tiang gantungan. Memirsa istrinya mulai pulih, hati Raja Crob mengayuh gembira. Kegembiraan yang terkadang berbaur kesedihan jika teringat dengan meninggalnya Lehama. Di sehelai malam yang ditentukan, raja mengundang segenap keluarga istana, ksatria, dan prajurit; guna merayakan kesehatan permaisuri. Domba panggang, kuda betina bakar, dan sup yemu menjadi menu utama dalam pesta mewah itu. Alangkah nikmatnya. Semua menghirup udara kebahagiaan yang berseliweran memenuhi ruang 170


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

istana. BAGI penduduk Fenn, perempuan ialah makhluk langka tiada duanya. Beberapa dari mereka gandrung bepergian ke negeri lain untuk mencerap sosoknya. Bagaimana tidak. Di negeri sendiri cuma ada satu tipe manusia: lelaki. Demi membayar gejolak jiwa, rela mereka berbulanbulan bahkan bertahun-tahun merantau dengan bekal seadanya: roti kering, buah toung, serta air sekempit. Sebalik dari perantauan, lekas mereka ceritakan perjalanan yang begitu menyenangkan. Terlebih lagi—ini yang paling dinantinanti—keelokan ser ta kesempurnaan yang dikantongi perempuan. Betapa mereka tercekat sekaligus terbius dengan aroma yang berhembus dari pori-pori perempuan, rambut yang menjuntai anggun sepundak atau sepinggang, juga semburat cahaya yang muncrat dari dua bola matanya. Cahaya yang muskil mereka temukan dari turunan Adam. Warita yang dilontarkan para pelancong merupakan hiburan tersendiri bagi sesiapa yang merindukan sosok perempuan. Lebih-lebih bagi pejantan yang belum berani meninggalkan kampung kelahiran maupun anak-anak di bawah umur 15 tahun. Mitos yang menjalar dari lisan ke lisan, bahwa lelaki kecil ringan terserang kegilaan bila nekat keluar dari negerinya. Tak ayal, salah satu angan mereka saat besar nanti yaitu bertembung dengan makhluk berjuluk perempuan. Guna menyalurkan cinta dan kasih sayang, mayoritas penduduk Fenn memilih berbagi hati antara sesama jenis. Sudah barang tentu, dalam istiadat mereka, ini bukanlah hal yang najis. Dalam rumahrumah biasa ditemui sepasang suami-istri berkelamin lelaki. Cara memperoleh keturunan? Mereka menyiasati dengan memanfaatkan rahim hewan 171


Negeri Tanpa Perempuan

ternak untuk menampung cairan sperma. Dalam jangka sekian bulan, kambing atau sapi atau kerbau tersebut akan melahirkan orok manusia berpadu binatang. Beruntunglah bagi orang tua yang mendapati si jabang bayi berkepala manusia dengan anggota badan berwujud binatang. Dengan bentuk semisal ini, masih dimungkinkan mampu berbicara layaknya manusia. Buntungnya, jika orok keluar dengan kepala binatang, berperut manusia, dan sisanya berwujud binatang. Ataupun serata badan berwujud manusia sedang kepala berupa binatang. Maka orok tersebut mustahil sanggup berbahasa (manusia). Paling-paling, guna berkomunikasi dengan ayah-ibunya, ia mengandalkan lenguhan dan lenguhan. Bagi yang disergap bosan, menyalurkan nafsu kepada hewan ternak merupakan alternatif terbaik. Tak heran, bila sapi-sapi yang merumput di bukit Bohire kerap bunting meski tak dialiri sperma oleh empunya. SIANG itu, menggelesot santai dekat bebatuan, Nerbu mengajarkan pelajaran berharga bagi sang cucu. “Berkunjung ke padang Poriz dengan melempar kutukan: ‘laknat bagi sang raja’, adalah kebiasaan yang diwariskan nenek moyang. Kau tahu siapa yang dimaksud raja?” “Siapa, Eyang?” “Ialah raja ke-6 kita. Raja Crob namanya.” “Kenapa orang-orang mengutuknya? Apa kesalahan yang diperbuat?” “Ketahuilah, Cucuku! Di tangannyalah dulu semua perawan dibumihanguskan. Itulah mengapa kita selalu berbondong-bondong kemari tengah malam saat purnama memeluk bulan. Karena pada waktu tersebutlah, mereka dibunuh secara keji dan brutal.” Sejak memafhumi peristiwa berdarah tersebut, nama 172


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

keturunan penduduk Fenn disingkirkan dari huruf c, r, o, atau, b. Kenapa? Supaya kekejaman yang melekat pada diri Raja Crob enggan menular. Punahnya perawan dua abad silam, nyatanya membuahkan ketidaknormalan dan kesengsaraan yang amat mendalam. Begitulah keadaan penduduk Fenn hingga sekarang. Sesungguhnya, kata-kata fenn sendiri berpunca dari bahasa kuno yang berarti perempuan. Aneh memang, negeri berstatus ‘perempuan’, namun tiada satu perempuan pun tinggal di dalamnya. Igauan anak-anak—berkepala manusia—ketika tidur dengan mengucap fenn inilah yang lantas menjadikan negeri mereka tersohor dengan sebutan itu. n Yogyakarta, 2012

173


Sebuah Rumah di Bawah Menara

ilustrasi: repro pikiran rakyat

174


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Sebuah Rumah Di bawah Menara Tjak S. P arlan Parlan ( Pikiran Rakyat | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

D

I tempat ini, senja segera saja membakar kaki cakrawala. Di batas pandang matanya yang mulai lamur oleh usia, ia menyaksikan kapal-kapal itu datang dan pergi. Kecuali senja, tak ada satu pun dari yang datang dan pergi itu berkenan singgah di tempatnya. Sudah sangat lama: waktu melata di sebuah menara, sebuah rumah kecil, juga seorang penghuni. SENJA mulai tinggi. Ia segera menuruni tangga. Sekitar 60 atau 70 pijakan akan membawanya sampai di rumahnya yang mungil. Sebenarnya hanya sebuah bilik kecil di bawah tangga yang berputar menuju puncak menara. Ia lepaskan nafasnya satu dua. Berbelok ke sebuah pintu yang dibiarkan menganga begitu saja. Lampu 25 watt menyala. Menerangi selembar karpet warna biru laut. Sebuah kasur bertilam biru, sebuah bantal sedikit kumal, menggelepar di pingir kamar. Ia menyisakan sedikit tempat di pojok untuk sebuah meja kecil. Di atas meja berserakan buku-buku juga 175


Sebuah Rumah di Bawah Menara

tumpukan koran lama. Sebuah televisi hitam putih menayangkan drama picisan dengan rating yang mengalahkan program-program berita yang disukainya. Layar hitam putih itu segera dimatikan.. Tak ada yang menarik. Tangannya segera berpindah memutar-mutar gelombang radio. Beruntung, transistor tua itu masih setia menemaninya. Pada malam-malam tertentu ia bisa mendengarkan siaran wayang kulit dari RRI. Atau ketika hatinya tengah muram dirajam sepi, ia akan memilih lagulagu keroncong dengan sepenggal-sepenggal sair yang ditirukannya. Sekali waktu, tempatnya kini pun melangutkannya dalam beragam kenangan. Keningnya berkerut-kerut seperti mengingat-ingat sesuatu. Matanya segera berlama-lama menekuni sebuah foto yang terselip di dompetnya. Sebentuk wajah dengan senyum yang selalu mengingatkan dirinya pada orang-orang terdekat yang menjadi miliknya. Terkadang ia tersenyum. Berbinar-binar matanya. Ada satu dua harapan yang sedang ia bangun menggantung-gantung di pelupuk matanya. “Lebih tinggi dari pohon kelapa. Di atasnya ada lampu besar yang selalu menyala.” “Besar mana dengan bola plastik?” “Pokoknya besar. Sebesar bola plastik yang besar.” “Besar mana dengan bulan?” “Ya, sebesar bulan.” Esok harinya, ia akan memergoki anaknya bercerita kepada anak-anak tetangga tentang rumah ayahnya. Rumahnya punya menara. Menaranya punya lampu. Lampunya terus menyala. Nyalanya terang seperti bulan. Pada hari yang lain, ia akan bercerita tentang kapal-kapal yang hilir mudik di depan rumahnya. Kapal-kapal itu begitu berjasa mengantarkan para penumpang sampai tiba di 176


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

rumahnya. Bertemu dengan kawan-kawanya. Berkumpul dengan keluarga. Menjenguk anak-anaknya. Di dalam kapal ada seorang nakhoda yang gagah berani. Yang dengan gigih mengarungi samodra. “Aku juga ingin jadi nakhoda,� ujar anaknya suatu hari. “Bagus. Makanya jangan nakal kalau ayah tidak di rumah. Kasihan ibu.� Pada malam - malam berikutnya ia bercerita tentang petualangan Marcopolo. Ia juga berkisah tentang Columbus. Ia juga mendongeng tentang semua laki-laki yang berusaha menjelajahi benua dengan menggunakan perahu atau kapal laut. Si kecil pun akhirnya terlelap bersama mimpi heroik menjelajah dunia. TAPI ia harus kembali. Lampu di puncak menara itu harus tetap menyala. Diputuskannya untuk tetap tinggal. Sebab selain dirinya, semuanya satu demi satu sudah pergi. Terkadang, ia juga berharap: barang satu dua kapal yang melintas di depannya akan berhenti untuk singgah. Dilepaskannya sekoci itu dari tambatan. Ombak pecah menjadi buih manakala menerjang perahu kecil yang dikemudikannya. Bersama bias lampu mercusuar, ia terus berputar mengelilingi rumahnya sendiri. Laut tenang. Di langit, bintang kerlap-kerlip menerangi malam. Ini malam yang ke sekian kalinya. Cuaca sedang bersahabat. Biasanya pada malam-malam seperti ini ia akan berkeliling barang beberapa menit. Tetapi sudah lama ia tak melakukan wisata kecil-kecilan. Berperahu mengitari rumahnya sendiri. Sekadar membunuh kerinduan pada orang-orang yang dicintainya. Jika dingin sudah mulai terasa, ia mendayung perahu itu keras-keras. Hingga peluh di seluruh tubuh akan membuatnya merasa hangat. Lelah 177


Sebuah Rumah di Bawah Menara

yang menggerogoti tulang dan tubuhnya sekembali di biliknya nanti, membuat matanya cepat mengantuk. Ia akan tertidur pulas. Mimpi bercengkrama dengan anak-anaknya. Mimpi bercinta dengan istrinya. Mimpi berkendara kapal pesiar bersama keluarga kecilnya. Sepuluh tahun kerinduan, bahkan lebih: dengan apa menuntaskan rasa kangen? Tentu saja. Ini malam yang menyenangkan untuk melaut. Tapi ia lebih senang teronggok di biliknya sendiri. Berhitung tenaga dan perasaan. Membandingkan dulu dan kini. Dipilihnya pulau kecil terpencil ini karena sebuah alasan. Ia sangat mencintainya. Tetapi harus menunggu. “Kau masih bisa melihat tempat itu. Sebuah rumah bermenara tinggi. Dengan lampu yang selalu menyala di puncaknya,” ujarnya suatu senja. Istrinya hanya bisa menunduk. Air mata yang bertahun diperam di dasar ketegaranya, senja itu menetes di sebuah dermaga. “Aku terpaksa melakukannya. Kita tak pernah menginginkan keluarga seperti ini,” ujar perempuan yang akan meninggalkannya. Erat-erat ia mengenggam tangan istrinya. Sebuah kapal tengah menunggu di pinggir dermaga. Satu persatu, orang – orang yang akan pergi itu mulai lenyap di telan buritan. Sebentar lagi perahu raksasa itu lamat – lamat akan pergi. Membawa orang terkasih bersama para calon TKI lainnya. “Kau pasti akan melewati tempat itu. Sebuah pulau kecil. Sebuah rumah bermenara. Aku selalu menyalakan lampu di puncaknya.” Ia tak tahu apa yang mesti dikatakan. Mesin mulai menderu. Kapal akan segera berangkat. Ia lepaskan genggaman dari tangan istrinya. Senja turun membakar kaki lang it di ufuk barat. Langkahnya satu-satu meninggalkan dermaga yang beranjak lengang. Sepanjang 178


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

jalan ia terus berfikir tentang orang-orang yang pergi. Setelah anak satu-satunya dipungut oleh Eyang Kakung dan Eyang Putri, ia memutuskan untuk berhenti sebagai penjaga mercusuar dengan harapan bisa sering berkumpul dengan keluarga. Tapi sayang, ia selalu harus kembali. Menyalakan lampu pemandu itu. Saat janjinya belum terpenuhi, ia pun harus melepaskan genggaman dari tangan istrinya. Keningnya kembali berkerut. Matanya belum berhenti menekuni sepenggal foto yang dengan hati-hati ia genggam. Seolah-seolah ia selalu ingin menjaganya. Sebentuk wajah teduh kekanak-kanakan. Ia ingat percakapannya. Ingat anaknya sewaktu menanyakan tentang rumah bermenara. Ingat lampu yang selalu harus menyala. Membayangkan seseorang tiba-tiba datang dan memanggilnya ayah. Mungkin seorang nakhoda seperti yang selalu diucapkan oleh anaknya. “Berapa usiamu?� gumamnya lirih. Dikecupnya wajah itu sebelum kembali ia masukkan potongan foto kenangkenangannya dalam dompet. Sungging bibirnya tipis. “Kita pasti telah menjadi Kakek Nenek. Kapan terakhir kali kau temui anakmu. Anak kita?� ia bergumam sendiri. Lalu pasrah pada sebongkah kasur di sudut ruangan. Di luar, malam terus membubung. Dingin melata hingga ke bilik, merayapi tubuh dan tulang-tulangnya. Ia sudah tak muda lagi. Ang in malam membuatnya lebih cepat mengantuk. SENJA merah. Lelaki tua, di tangannya menghunus sebatang kretek tengah menyala. Dalam-dalam ia menghisap rokoknya. Meneguk sisa kopi dalam cangkir hingga tandas. Ia sempat berfikir untuk turun. Masih ada sedikit air panas, gula dan kopi di biliknya yang kecil di bawah menara. Tapi tempat ini cukup tinggi untuk usianya. 179


Sebuah Rumah di Bawah Menara

Ia berfikir ulang untuk turun dan menyeduh yang baru. Lagi pula, dirinya seolah takut ketinggalan matahari. Ia putuskan menunggu hingga matahari berenang di ufuk barat. Ruap-ruap awan terbakar memantulkan merah berkilauan pada warna laut yang semula hanya biru. Di tempat ini, senja segera saja membakar kaki cakrawala. Di batas pandang matanya yang mulai lamur oleh usia, ia menyaksikan kapal-kapal itu datang dan pergi. Kecuali senja, tak ada satu pun dari yang datang dan pergi itu berkenan singgah di tempatnya. n

180


Repro Arthur Braginsky | OpenArt

181


Syarat Cinta Alya

ilustrasi: repro pontianak post

g Redaksi menerima tulisan berupa cerpen, puisi, ulasan sastra, budaya dan seni lainnya. Tulisan dikirim ke email apresiasi@pontianakpost.com. Tulisan adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media lain. Sertakan juga identitas diri Anda. 182


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Syarat Cinta Alya Erma Nurini ( Pontianak Post | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

B

ERBAJU gamis abu-abu yang melekat di tubuh singsetnya dan jilbab lebar yang dikenakannya nyaris menutupi dada hingga punggungnya. Dia terlihat begitu anggun, wajahnya putih bersih bak kilauan mutiara. Alisnya tebal membuat setengah lingkaran dikelopak mata. Aku terkesima melihatnya. “Isfak!” terdengar suara panggilan yang mendenggungkan gendang telingaku. “Iya ustaz, tunggu sebentar.” Aku, Hanif dan Ust.Ihsan sedang menunggu tamu dari Kalimantan. Yang salah satunya adalah keponakan Ust.Ihsan. Terlihat Ust. Ihsan yang sedang mengetik nomor menghubungi keponakannya. “Assalamualaikum na, kamu dimana?” “wa’alaikumsalam. Aku sudah di bandara, di sudut kanan dari depan.Ustaz, aku di sini.” Sambil melambai-lambaikan tangannya. Hatiku berdesir seperti desiran pasir di tepi pantai. Rambutku seakan berdiri laksana kesetrum aliran listrik 183


Syarat Cinta Alya

tegangan tinggi . Kakiku kecut untuk melangkah. Ternyata apa yang aku pikirkan, itu yang alam semesta berikan. Gadis yang baru saja kutatap dari kejauhan mata, ternyata teman keponakan Ust.Ihsan. Dasyat, belum pernah aku melihat wanita secantik itu. Aku merasa aku telah jatuh cinta padanya. Ya, aku jatuh cinta padanya. “Assalamualaikum.” Ketiga dara cantik mengucapkan salam dengan tegas tanpa alun-alun . Terlihat wajah dia yang hanya memberikan senyuman sekedarnya saja. Tiga pemuda saleh menjawabnya dengan tangguh. Walau Ust.Ihsan sudah berkeluarga dan mempunyai anak dua. Tetap saja aura pemudanya masih mengkobar-kobar. “Kenalkan, di samping kanan ana ada Isfak dari Padang dan di samping kiri ana ada Hanif dari Jawa Barat. Mereka juga akan ikut partisipasi pada agenda kita besok pagi,” ucap Ust.Ihsan yang memperkenalkan aku dan Hanif kepada mereka. “Isfak,” ucapku. Aku hanya tersenyum sekadarnya. Tangan kananku menepuk dada sambil menganggukan sedikit kepala. “Liana.” “Fatmah.” “Alya.” Ketiga wanita itu beserta Hanif dan Ust.Ihsan menempelkan tangan kanan dan tangan kirinya mundur mengenai dada. Pebedaan 5 banding 1. Sepertinya wajahku kemerah-merahan. Denyut jantungku bisa dikatakan sudah abnormal apabila diauskutasi. Terlihat seyuman dari wajah Hanif yang memberi pancaran sebuah ejekan terpendam. Aku hanya bisa tersenyum menahan malu. SELAMAT datang di Hotel Inna Garuda Yogjakarta! Ucapan selamat datang memancarkan cahaya kelap kelip lampu nilon membuat bola mata mengecil saat 184


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menatapnya. Suasana hotel yang begitu harmonis. Penuh ketenangan dan kedamaian saat melihat pancuran air yang terus mengalir membasahi bunga-bunga kaktus di sekitarnya. Aku, Hanif dan Ust.Ihsan menjadi kepala jalan. Tiga wanita itu membuntuti kami dari belakang. Aku sambil mencuri-curi kesempatan untuk menanyakan nama lengkap Alya dan berkenalan dengannya. Saat berniat untuk memisahkan barisan dengan Ust.Ihsan dan Hanif. Tangan kanan Ust. Ihsan merangkul bahuku. Kini aku tak dapat berkutip. Pupus harapan untuk mengenalnya. DEKORASI yang begitu indah. Helaian kain melambailambai seperti daun yang ditiup angin. Warna putih dan biru terlihat di atas atap ruangan. Layar besar kanan dan kiri serta tempat duduk layaknya tempat para pemimpin sidang. Aku melihat ekspresi wajah Ust. Ihsan yang begitu ceria melihat lokasi tempat acara yang sudah didekorasi oleh pihak hotel. Kami hanya merapikan kursi dan mengecek kelengkapan alat dan kualitasnya. Seperti mikropon, LCD, kedua layar kiri dan kanan serta alat-alat yang lainnya. DUP...dup...terdengar irama jantung yang tidak teratur berdegup-degup. Terlihat ruangan sudah dipenuhi dengan ratusan kepala. Aku menjadi korban Hanif yang malu untuk memasuki ruangan. Dengan pedenya aku menjadi pemimpin jalan untuk memasuki ruangan itu dan duduk paling depan. Tetesan keringat muncul dipori-pori kulit, membasahi seluruh tubuhku. Tepukan tangan menyuara di setiap sudut ruangan. Menyambut kedatangan sosok pembicara dalam seminar kesehatan. Tiada henti terdengar suara manusia yang membuat ruangan bergema. Saat mata melirik sebelah kiri ternyata ada sosok wanita 185


Syarat Cinta Alya

berbaju gamis biru muda dan berjilbab lebar putih. Wajah yang sudah tidak asing lagi oleh pandangan mata. Seperti ada yang membisikan telinga kiriku, Alya, Alya. Mencoba untuk memanajemen perasaan agar hati lebih terjaga dan tak mudah terkontaminasi. Kembali meluruskan niat. Memfokuskan mata ke arah depan dan telinga tepat pada sumber suara. Sosok pria tampan berhidung mancung, tinggi dan berkulit sawo matang. Duduk di meja narasumber. Subhanaallah, publik speaking yang sangat bagus sebagai pembukaan. WAJAH Jogjakarta sepertinya sependapat dengan suasana hatiku saat ini. Gelap seakan bumi akan dilanda oleh hujan deras. Dedaunan melambai-lambai sayu menyabarkan hatiku yang sedang galau. Galau karena sebentar lagi akan ditinggalkan sosok wanita yang mampu membuat hatiku bergetar saat menatapnya dan membuat wajahku memerah saat berpas-pasan dengannya. Setelah selesai acara Alya dan temantemannya segera melakukan penerbangan pulang ke Kalimantan. Terlihat sebuah pesawat yang semakin lama semakit menjauh dari pandangan mata. Menghilang tanpa sisa. Tiga hari cukup membuatku mengenalnya. Pesan dari ayah sewaktu masa SMA selalu melintas-lintas di khayalan mata. Untuk adik perempuanku ayah selalu berpesan jangan cari calon suami tapi carilah calon pemimpin. Karena tidak semua suami mampu untuk memimpin dan menjadi seorang pemimpin. Setidaknya pemimpin dalam keluarga. Sedangkan pesan ayah untukku jangan cari calon istri tapi carilah calon ibu. Karena tidak semua istri mampu menjadi seorang ibu buat anak-anaknya. Setelah aku pikir-pikir setiap kata yang terucap dari bibir ayah ada benarnya juga. “Aku butuh calon ibu buat anak-anakku� bisikku pelan. 186


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Aku butuh wanita solehah untuk menjadi pendamping hidupku. karena keinginanku mempunyai anak-anak yang saleh. Hanya ada satu cara yang bisa mengabulkan keinginanku yaitu menikah dengan wanita yang solehah. Mengingat hanya ada tiga amalan yang bisa membantu manusia ketika ruh sudah dicabut dari nyawa. Salah satunya adalah doa anak yang saleh. AKU merebahkan tubuh di atas kasur empuk. Menghela nafas panjang dan kuhembuskan perlahanlahan. Aku merasakan kenikmatan setelah seharian beraktifitas hingga membuat tubuh dan tulangku ngilu karena kelelahan. Mata kantukku hilang seketika mengingat pertemuan dengan Alya. Sepertinya hatiku sudah tak sehat lagi. Selalu meikirkan Alya. Padahal dia belum halal untukku. HARI ini adalah hari terakhir aku merebahkan badan di Hotel Inna Garuda Yogjakarta. Dengan langkah berat aku membereskan baju-bajuku, bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman. Sebelum aku meningalkan Yogjakarta aku mempunyai niat untuk memberitahukan prihal sukaku kepada Alya. Dan berniat untuk menghitbahnya segera. Terdengar ucapan salam dari luar kamar. “Assalamualaikum.” “Wa’alaikumsalam, silahkan masuk.” Langkah kaki yang semakin dekat denganku. Sejenak aku kaget ternyata Ust.Ihsan. “Kebetulan sekali ustad datang, ada yang ingin aku sampaikan kepada ustaz.” “Ada apa Is?” Mulutku bungkam untuk mengeluarkan kata, sedikit demi sedikit aku membuka mulut perlahanlahan. “Sejak pertama aku ketemu dengan Alya, hatiku bergetar. Terasa getaran yang sangat dahsyat. Baru kali ini 187


Syarat Cinta Alya

aku merasakan hal seperti itu ustaz. Aku ingin mengenalnya lebih jauh lewat ustaz”. “O, baiklah aku akan coba membicarakan hal ini kepada keponakkanku Liana.” PULANG ke Padang membuatku rindu dengan suasana Yogjakarta bersama kawan-kawan. Pucuk dicinta ulampun tiba. Baru satu hari aku barada di Padang. Ust.Ihsan mengabariku perihal lamaranku yang diterima oleh Alya. Entah apa yang diceritakan oleh ust.Ihsan tentangku sehingga respon balik dari Alya begitu cepat aku dengar. “Apa mungkin Alya juga menyukaiku?” tanyaku pelan. Wajahku tak henti-henti menebarkan senyuman sepanjang hari. Ternyata kata lamaranku diterima bukanlah kata terakhir yang disampaikan oleh ustaz. Tapi, ada beberapa syarat yang harus aku setujui terlebih dahulu. Syarat cinta Alya : 1. Aku harus liqo/tarbiah 2. Setelah menikah aku harus tinggal di Kalimantan Mendengar syarat pertama hatiku sangat tenang. Karena sudah seminggu aku tarbiah gabung dengan kelompok Hanif. Murobbinya adalah Ust.Ihsan. Mendengar syarat kedua membuat napasku mengap-mengap seketika. Aku harus membicarakan hal ini kepada keluarga besarku dulu. Mereka sempat tidak menyetujui syarat itu, tapi setelah aku jelaskan bahwa Alya adalah anak yatim. Ibunya telah meninggal dan dia mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan adiknya dan menjaga ayahnya. Keluarga besarku memberikan restu dengan wajah menebar senyum. PIHAKKU sudah memberi restu. Sesegera mungkin aku menghubung i Ust. Ihsan dan merencanakan hari dan tanggal berapa acara pernikahanku dilaksanakan. Setelah ada respon balik dari Ust. Ihsan. Aku dan kedua orangtuaku 188


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

langsung melakukan penerbangan dari Padang ke Kalimantan. Aku disambut dengan ramah oleh pihak keluarga Alya. Alya yang tak berubah, dari cara berpakaian dan tutur bahasanya membuat hatiku semakin mantap untuk memilih hidup bersamanya. Hingga kami melangsungkan pernikahan. n

189


Surat Tengah Hujan

ilustrasi: repro artworks original | kupang.tribunnews.com

190


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Surat Tengah Hujan Lylaa V e Ve ( Pos Kupang | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

S

ELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benarbenar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan, siapa yang menyentuh permukaan bumi terlebih dahulu adalah pemenangnya. Aku duduk sendirian sambil mendengarkan rinai hujan yang mulai menderas dengan anggunnya diiringi nyanyian kodok yang menambah suasana hujan di malam hari ini. Aku ingat kamu. Aku suka hujan. Apalagi di malam ini. Memang suhunya sangat dingin tapi dapat memberikan aku inspirasi untuk terus berpikir. Berpikir tentang dirimu. Bahkan juga menulis puisi ataupun surat buatmu dalam suasana hujan. Kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor. Aku rindu suaramu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, sederhana dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dan bahkan terluka dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam SMS yang 191


Surat Tengah Hujan

kukirimkan tempo itu. Masih sangat teringat jelas saat itu, di mana telah kukabarkan keberhentianku untuk mengejar cintamu itu. “GISEL, aku memang mencintaimu. Kau tahu itu. Tetapi, kenapa kamu tak pernah menanggapinya? Oke, baiklah. Kalau begini terus, mulai saat ini aku akan berhenti untuk mengejar cintamu lagi.” “Apa maksud kamu, Verry? Kenapa kamu begini? Kamu aneh, Verry. Aku tak mengerti maksudmu.” “Kamu selalu acuh padaku. Setiap kali kuungkit masalah kita, kamu selalu menghindar.” “Verry, mengapa kamu begini? Please, Verry, jangan tinggalkan aku.” “Percuma saja, Gisel. Mungkin, setelah aku menyerah untuk mendapatkan cintamu, kamu pasti akan tertawa lepas. Karena sudah tidak ada lagi yang mengganggumu.” “Apa?! Tertawa lepas?! Kamu pikir aku tidak punya perasaan?! Please, Verry. Aku sebenarnya masih sayang kamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku.” “Gisel, semuanya sudah terlambat. Aku tak mau terusterus diombang-ambingkan dan digantung terus sama sifat acuhmu.” “Verry, ternyata perjuanganmu selama ini untuk mendapatkan cintaku hanya sampai di sini saja. Kamu harus ingat, bahwa aku masih sangat sayang sama kamu.” “Maaf, Gisel.” “Verry, hari ini kamu telah membuatku menangis kecewa untuk kedua kalinya. Kamu harus ingat itu!” “Gisel, aku memang telah membuatmu menangis kecewa untuk kedua kalinya. Tetapi asal kamu tahu, apakah kamu berpikir bahwa aku tidak menangis sewatku berpisah denganmu tempo itu? Aku selalu berusaha 192


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menghilangkannya. Kamu tahu bahwa aku selalu berusaha untuk mendapatkan cintamu, tetapi kamu selalu acuh. Namun aku bersyukur, walaupun hanya tiga bulan tujuh belas hari enam belas jam tiga puluh menit dan empat pulu lima detik aku pernah memilikimu, semuanya telah berakhir.” “Oke, baiklah. Mulai sekarang akan kuhapus semua kenangan dan rasa sayangku padamu.” “Maaf, Gisel.” AKU tahu, kamu mungkin sangat kecewa dengan keputusanku, namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima kenyataan dalam hidup yang penuh ketakterdugaan. Namun apakah kamu juga tahu bahwa aku sangat menyayangkan kejujuran tentang perasaanku padamu saat keputusanku untuk berhenti mengejar dan menggapai cintamu? Tapi tak apalah, aku memang sudah berpikir matang-matang dan siap menghadapi resikonya walaupun perih. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun karena kamu adalah cinta pertamaku. Aku kesepian. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir sepi ini? Oh ya. Aku membayangkanmu. Sosok yang baru lima kali kutemui. Dalam genggamanku ada foto yang kamu berikan kepadaku saat hari Valentine tahun lalu yang melengkapi imajinasiku. Seorang wanita berparas cantik dan menarik. Berambut panjang. Bermata indah. Senyum menggetarkan. Sedang duduk manis di kursi plastik dengan anggunnya. Saat itu aku merasa bahwa diri kita ini bagaikan intan, perasaan kita adalah ikatan yang menonjolkan dan menyemarakkan warna sisa-sisa intan itu. Hujan masih terus pada aktivitasnya. Kini aku kedinginan. 193


Surat Tengah Hujan

Apakah di tempatmu juga sedang hujan? Kamu sedang apa? Duduk membungkus badang dengan jaket dan kain tebal? Ataukah sedang menulis puisi, cerpen atau surat? Apakah kamu sedang membaca novel horor kesukaanmu? Ataukah kamu sedang melihat foto berukuran kecil yang kuberikan padamu tempo itu sambil mendengar lagu cinta dari handphone-mu? Atau jangan-jangan kamu sedang tertidur pulas? Hmm... ya. Kurasa kamu sedang tertidur pulas. Aku bisa merasakan dengusan nafasmu yang perlahan menyapa rasaku yang sedang sepi ini. TEMPIAS hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih terus menghantam ruang hati yang terdalam. Aku butuh kawan. Aku butuh cinta yang sanggup mengobati luka hatiku. Kamukah orangnya? Tidak. Kamu mungkin sudah berharap agar aku tidak hadir lagi di kehidupanmu. Semudah itukah hatimu tertutup rapat untukku? Atau, kamu hanya ingin menguji ketangguhan hatiku? Apakah perkataanku dulu akan kutepati? Tidak, aku tak ingin berharap apa-apa darimu. Aku memang ingin kau, dan aku akan kembali seperti dulu. Namun kini aku hanya ingin menjadi sahabatmu. Sahabat biasa, bukan pacar. Tapi, jika takdir menginginkan agar kita kembali menyatu, aku pasti tak akan menolaknya. Aku percaya, orang yang kita cintai selalu mempunyai tempat khusus di hati kita. dan kamu punya tempat khusus di hatiku, walaupun sekarang telah kosong. Aku berjanji. Tak akan ada yang mampu mengisi tempat ini. Meski aku ing in punya pacar, sebagaimana pria kebanyakan. Seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta sungguh-sungguh. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Seseorang di mana aku bisa berbagi dunia dengannya. Naifkah? 194


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

HUJAN telah berhenti. Namun kodok-kodok yang berderet di kolam ikan masih terus bernyanyi riang gembira. Indah sekali malam ini. Tanpa terasa sudah tengah malam. Aku sudah menghabiskan banyak waktuku bersama hujan dan imajinasiku tentang kamu. Aku mesti istirahat, banyak hal yang harus kulakukan di awal hariku esok. Sebelum beristirahat, aku berdoa, “Tuhan, jagalah selalu orang yang paling aku cintai dalam hidupku ini. Amin.� n Sepoi Kupang, 1 Februari 2011, 01.00

*) San Juan Community, SMASSTRA 195


Air Terjun NaCL

ilustrasi: repro radar lampung

g X-presi menerima karya cerpen dan puisi Anda. Karya terbaik akan kami terbitkan pada hari Minggu. Kirim cerpen dan puisi Anda dilengkapi dengan foto dan biodata lengkap ke irbairfa@yahoo.com. Info lebih lanjut dapat menghubungi Irfason (085769156773). 196


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Air Terjun NaCL Muhammad Septian Rachmandika ( Radar Lampung | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

M

ATAHARI telah menyumputkan wajahnya, lampulampu penduduk telah menerangi langkah sepasang kakiku ini. Aku berjalan ditemani rasa kekhawatiran, lalu kupercepat langkahku semakin cepat dan cepat sehingga tak kuperhatikan jalanku. Tiba-tiba aku tersandung oleh sebuah balok di tengah jalan, lalu kulihat benda itu penuh ukiran seperti sebuah kata sandi yang belum terpecahkan oleh pemilik sebelumnya. Terlihat dalam ukiran itu, tercantum alamat dan seperti di dampingi oleh sebuah kata sandi, “Gg. Beringin Raya, nin 6808 pu” yang tercantum dalam balok itu. Lantas, kubiarkan saja balok itu di tengah jalan. Langkah cepat tak terasa telah membuat diriku berdiri di bibir rumah. Dalam kekhawatiran ku coba membuat rancangan alasan untuk ibu. Kubuka gagang pintu perlahan. “Ihh, kok payah sih?” kejutku. “Assalamualaikum...!!??” kuteriakkan salam dan gedoran pintu mewarnainya. 197


Air Terjun NaCL

Tak ada yang membuka pintu itu, mungkin mereka sudah tidur atau sengaja tak menggubrisku. Lalu, dengan pasrah ku sandarkan badan ku yang sangat letih ini di pintu rumah. Sejenak ku pikirkan balok tadi, entah mengapa otakku selalu tercantel ukiran-ukiran itu? Tidak terasa aku tertidur dalam posisi yang kurang nyaman, semua rasa kesal dan lelah ku hilang di lenyap suara jangkrik. Tiba-tiba, Brak!!!, tarikan pintu rumah telah membuatku jatuh dari senderanku. Tiba-tiba ibu membentakku dengan keras. “Andi!! Udah jam berapa ini? Tadi malam main ke mana aja kamu!! Sudahlah, buka bajumu sana mandi!”tegas ibuku. “Kok cepat banget tidurku bu, kayaknya cuma 5 menit, gak nyampe malahan!?” renungku. “Andi..Andi, emang kamu ngitung waktu pas kamu tidur? Cepat sana, nanti telat masuk sekolah,” ungkap ibuku. “Iya ya, Bu,” jawabku. Kuguyurkan tubuh mungilku ini, setelah itu ku siapkan segala peralatan sekolah. Di sela-sela itu, terdengar suara sahabat karibku memanggil. “Ndi, yok berangkat bareng!” teriaknya. “Udah duluan aja Ndu!” teriak ku. Ketika sepatu telah lekat di kaki ku, lalu ku melangkah bersama sinar UV yang kaya akan vitamin D dan ku telusuri gang-gang sempit menuju sekolah. Ku tebar senyum untuk teman-temanku yang menyambutku di gerbang sekolah. Tepat, lonceng berdengung menarik kami untuk memasuki kelas. Pelajaran yang tak ada yang masuk di otakku, tak sama sekali. Ku lewati hari-hari sekolah penuh dengan renungan, renungan akan balok itu. Terasa cepat sekolah hari ini, lonceng berdering membawa para murid mengeluarkan teriakannya masing-masing. Ku langkahkan kaki ku penuh renungan melewati labirin kota. Suara hening tanpa obrolan, kulihat Pandu diam tanpa 198


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

kata. Tetapi, pemandangan ganjil telah merubah suasana ketika ku telusuri gang yang biasa kulewati, gang Beringin Raya. “Ndu, Ndu bentar geh!”kataku. “Ada apa Ndi?” tanyanya dengan suara serak. “Bentar….” Kuperhatikan dengan jelih setiap sudut gang. “Hhaaa…!!!” kejutku. Ku melihat rumitan angka dan huruf pada sebuah rumah anjing peliharaan di salah satu rumah yang ada di gang tersebut. Ku teringat akan balok misterius itu, ku berlari dengan kencangnya menuju ke tempat balok itu sebelumnya berada. Ketika ku berada di tempat asal balok itu, ku temukan balok dalam keadaan berbeda, ku raih balok itu lalu mulai berlari kembali menuju ke gang tersebut. “Hh..Hh..Hh..ada apa sih Ndi?” tanyanya dengan terengahengah. “Udah,ikut aja…!” jawabku. Rumah anjing peliharaan di sudut halaman rumah itu, telah mengundang misteri. Ku perhatikan seksama, terlihat rumitan angka dan huruf di rumah anjing itu tertera bacaan 8089 uiu. “Jika, balok ini dibalik hurufnya, sama!!” kejutku. “ Huh… uhh…hekk…ahh…yap!” “Eh, eh, mangga orang jangan diambil!” tegasku pada Pandu. Pandu tidak menghiraukannya, ia raih mangga itu lewat lompatannya yang cekatan. Tiba-tiba, rumah anjing peliharaan itu bergerak setelah Pandu meraih mangga dan menampakkan sebuah lorong rahasia. “Pandu? Lihat itu” “Waahh…lorong , Ndi” “Ayo coba kita lihat isinya Ndu,” ajakku. Ku telusuri anak tangga lorong itu, ku langkahkan kaki 199


Air Terjun NaCL

dengan perlahan. Terlihat 3 pintu terbuka di depan, lalu ku masuki jalan yang paling kiri. Ketika ku mulai memasukinya cahaya putih telah menyilaukan mataku. Kulihat anak kecil yang banyak tingkah berkeliaran teratur ke sana kemari dan di kawal dua insan yang bersatu. Wajah anak itu sudah tak asing bagiku lagi, wajah itu persis sekali dengan wajah yang ada di foto kamar ibu, yap benar! anak itu tak salah lagi adalah aku. Keluarlah diriku dalam ruangan yang penuh haru itu, entah Pandu pergi ke mana, mungkin hilang di telan cahaya tadi. Entahlah, yang harus kulakukan saat ini adalah memasuki ruang yang ke-dua tepatnya di tengah. Ketika ku memasuki ruangan itu tak terlihat apapun semua warna hanya putih silau, tapi tak sunyi. Ku dengar suara kasar pada ruangan itu, suara kasar dari pita suara yang belum terlalu besar dan terdengar suara lirih dari suara perempuan tua yang sudah tak lancar dalam berbicara. Tapi aku hafal suara itu, suara itu tak beda jauh dari suaraku. Sudahlah, tak tega ku mendengar suara perempuan tua itu. Lalu keluarku dari ruangan itu. Langsung saja ku tuju ke ruang terakhir dengan harapan, bahwa lorong itu menggembirakan. Ketika ku masuki lorong itu harapan ku nyata, ketika ku masuki ruangan itu, terlihat air terjun yang indah, karena keindahan tersebut, ku tertarik untuk sekedar meraupkan wajah dan meminum secukupnya untuk melepaskan segala haru dan takut, lalu ku raupkan wajahku dan meminumnya seteguk. Ketika ku meminumnya, air itu seperti mengandung NaCl, sangat tak enak rasanya. Karena penasaran, ku ingin ke atas untuk melihat sumber air terjun itu. Ketika tubuhku tegak berdiri di tebing dekat air terjun, ku dibuat terkejut olehnya. Ku lihat puluhan orang menangis membentuk gerombolan yang mungkin ada sesuatu di tengahnya, mereka lah yang membuat air terjun NaCl. 200


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Dengan cepat ku masuk gerombolan itu, ku menuju ke inti yang mereka geromboli dan pada saat ku melihat apa yang mereka geromboli? Ku melihat seseorang terkapar kaku di balik jarik kematian, saat ku buka jarik itu, wajah itu sangatlah persis dengan wajah ibuku, kulihat ia sudah tak berdaya. Tak tega ku melihatnya, ku ingin keluar dari ruangan buruk itu, ku keluarkan seribu langkah dengan cepatnya. Tetapi itu tak berbuah, karena sebuah gerbang lengkap dengan rantai bergembok telah menghentikan semua langkahku, ku terkurung dalam ruangan itu. Dalam keadaan pasrah tiba-tiba ku terbayang akan wajah ibu, aku ingin keluar dari lorong itu. Tiba-tiba sebuah balok besar menghujam bagian belakang tubuhku. Braaak!!! Balok itu telah membuatku terkapar, tak kusangaka, lantai tempatku terkapar terasa dingin. “Kok aku gak mati ya?” ku bertanya-tanya sendiri. “Jelas gak mati, orang tidur di depan rumah kok mati!!? Kalo kamu dimakan binatang buas, baru mati. Dari mana aja kamu semalem?” tanya ibuku. “Alhamdulillah, cuma mimpi, ibu!!!! Aku sayang kamu,” teriak ku sambil memeluknya dan mengeluarkan air mata “@#W%$TR@%?/+_?????? Ada apa sih kamu?? Aneh?? Udah mandi sana!!! “ibuku bingung. Aku sangat bersyukur tadi hanyalah mimpi. Mimpi itu telah membuatku jera, tetapi balok itu? Ahh, whatever! . Yang terpenting, saat ini aku masih memiliki bidadari yang tak memiliki sifat gaib, ia adalah Ibu. n

201


Surat untuk Izrail

ilustrasi: repro jujuk suwandoyo | radar surabaya

202


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Surat Untuk Izrail Richa Miskiyya ( Radar Surabaya | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

S

EMOGA ia lekas mati. Aku bergumam pelan, sangat pelan. Dari sudut sebuah ruangan aku menatap dingin tubuh yang tergolek tak berdaya di atas sebuah tempat tidur. Di samping kanan dan kirinya beberapa orang duduk bersila dan membacakan ayat-ayat firman Tuhan. Sudah satu minggu aku menunggu kematiannya. Aku menunggu hembusan nafas terakhirnya. Ia sedang menunggu ajal. Menunggu kematian. Dan ia sama sepertiku, menunggu Izrail. Orang-orang disekitarnya ingin dia lekas mati, tapi alasan keinginan mereka tak sama. Mereka punya tujuan masingmasing. Seperti yang kulihat, seorang perempuan di sampingnya yang terus menangis di tengah lantunan ayat sucinya. Ia ingin orang di hadapannya lekas mati, ia tak ingin orang yang ia sebut bapak itu menderita dalam penantian ajalnya. Dua lelaki di ambang pintu punya alasan berbeda, ia ingin orang itu lekas mati. Bukan karena sayang, tapi karena 203


Surat untuk Izrail

jatah warisan yang telah membayang. “Kapan lelaki itu mati? Lama sekali,� bisik lelaki yang lebih tinggi. Dari tempatku di sudut belakang pintu, aku dapat mendengar jelas kalimatnya. “Entahlah, ingin rasanya kubekap hidung dan mulutnya agar ia cepat mati. Warisan itu harus segera dibagi, aku sudah mengincar tanah di kampung sebelah milik Haji Romli. Jika warisan itu sudah ada di tanganku, akan kubeli tanah itu, dan kubangun tempat karaoke di atasnya,� ucap lelaki di depannya tak kalah berbisik. Lalu apa alasanku inginkan kematiannya? Aku bukan anaknya, bukan saudara, juga bukan musuhnya yang ing inkan hartanya. Aku hanya ing in melihatnya menghembuskan nafas terakhir. Aku ingin tahu saat-saat dimana Izrail datang dan mencabut nyawanya. Seminggu yang lalu, saat aku pertama kali datang ke tempat ini, kudekati lelaki yang kini sedang bertarung dengan ajal. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kuselipkan sesuatu di bawah bantalnya. Bukan surat tagihan hutang, bukan lembaran uang, tapi sepucuk surat untuk tamunya yang akan datang. Izrail. AKU tak gila, aku masih waras. Tapi inilah aku, seseorang yang selalu mencari Izrail, mencari tempat-tempat dimana ia akan datang. Dan inilah cara terakhirku menjemput kematian. Mengiriminya surat agar ia datang menjemputku. Segera. Berbagai cara kematian sudah pernah aku praktikkan, namun semuanya gagal. Aku pernah mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan penyeberangan. Kurencanakan akan naik terlebih dahulu ke pagar tepi jembatan. Aku ingin berteriak-teriak di tepian pagar, lebih dramatis, seperti yang sering aku lihat di sinetron kesukaan 204


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

ibu-ibu kala malam. Siang itu, aku pun mendekat ke arah jembatan penyeberangan. Sengaja aku memilih daerah yang banyak mobil berat melewatinya. Aku ingin jika aku jatuh langsung disambar tronton atau sejenisnya. Agar aku cepat mati. Langkahku menapak satu per satu undakan tangga jembatan yang terbuat dari kayu dengan rangka besi warna hijau itu, tak ada orang yang melewati jembatan, sepi. Baguslah, jadi tak akan ada yang mencegahku untuk mati. Mataku mengamati kendaraan yang lewat di bawah, dari laju mereka yang kencang, aku yakin semuanya berkecepatan di atas 80 km/jam. Cukup untuk membunuhku dengan sekali tabrak. Belum sempat aku naik ke pagar jembatan, tiba-tiba kakiku terperosok lubang yang menganga lebar di jembatan penyeberangan. Tubuhku jatuh seluruhnya, kupejamkan mata, berharap inilah akhir hidupku. Aku merasakan tubuhku jatuh dan menimbulkan suara keras. Kubuka mataku karena mencium bau sesuatu. Ternyata aku jatuh di bak truk penuh sapi, dan aku tak mati hanya belepotan kotoran sapi. Kupandangi jembatan penyeberangan yang mulai menjauh dari pandanganku. “Pantas saja tak ada yang lewat jembatan itu, gara-gara lubang lebar di jembatan, gagal rancangan kematianku,� rutukku dalam hati. Hari berikutnya aku tak putus asa, aku masih mencoba untuk mengakhiri hidupku. Aku berjalan menyusuri trotoar dekat pasar. Aku melihat pedagang kaki lima menjajakan bermacam obat-obatan, dari obat penyubur rambut, hingga obat penumbuh jenggot. Dengan uang seribu rupiah bisa tumbuh dalam tiga hari, begitulah rayuan yang kudengar dari pedagang itu. Namun, bukan obat tumbuh jenggot yang aku cari. Aku 205


Surat untuk Izrail

mencari yang lebih manjur dan cocok untukku. Kususuri trotoar hingga aku menemukan spanduk warna kuning yang ujung-ujungnya terikat pada sebatang pohon dan tiang listrik. Di spanduk itu tertulis Racun Tikus Mak Nyus. “Racun ini manjur, Bang?� “Dijamin manjur. Dioles sedikit di makanan tikus, langsung mampus deh. Tapi jangan dimakan sendiri, bisa langsung melayang ke awan,� aku tersenyum mendengar gurauan tukang racun tikus itu. Justru itu yang kucari, batinku. Kuletakkan kembali racun tikus pilihanku, aku berdiri dan merogoh uang yang masih tersisa di kantung celanaku. Belum sempat aku menyerahkan uang itu, si pedagang sudah membungkus semua dagangannya dengan gesit dan berlari. Kutengok ke arah kiri, semua pedagang juga melakukan hal yang sama. Dari kejauhan orang-orang sudah lari kocar-kacir. Gerombolan petugas berseragam hijau itu mengejar, memukul, dan mengobrak-abrik dagangan yang ada di depannya. Petugas itu memerintahkan untuk bersihkan trotoar itu segera karena besok Pak Menteri akan lewat jalan itu. Ah, gagal lagi rencana kematianku. Percobaan bunuh diri selanjutnya aku lakukan di rumahku sendiri, rumah kecil yang setahun lalu masih menjadi saksi bisu kemesraanku dengan istriku. Malam itu, aku naik ke atas kursi di ruang tamu. Aku bukan mau gantung diri, aku mau menyetrumkan diri. Tanganku menggapai bohlam lampu warna kuning 35 watt yang menyala. Kuputar searah agar lepas dari cangkangnya. Seketika rumahku terasa lebih gelap. Kupejamkan mata, pelan tapi pasti kurekatkan dua ujung jemariku ke cangkang bohlam yang tersambung dengan aliran listrik. Akan kunikmati bagaimana aliran darahku 206


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

bergetar karena aliran listrik. Kematian yang nikmat, kurasa. Beberapa saat aku menunggu, tapi tak juga kurasakan listrik menembus syarafku, jangankan syarafku, ujung kukupun tidak. Aku menuruni kursi yang sejak tadi menopangku. Aku beranjak menuju pintu depan. Kutengok sekitar rumahku, gelap. “Bu, mati listrik, ya?” teriakku pada Bu Lela yang kulihat ada di depan rumahnya. “Iya, Mas. Jatah pemadaman bergilir,” ucap Bu Lela yang kemudian beranjak menuju gerombolan ibu-ibu yang duduk di bangku semen di depan rumahnya. Pasti mereka akan mengobrol hingga kantuk datang. Itulah yang mereka kerjakan, pelampiasan karena sinetron kesayangannya tak dapat mereka saksikan. Dalam obrolan khas ibu-ibu itulah mereka akan bergaya bak sutradara dan penulis cerita, mereka-reka adegan yang tengah tayang dan yang akan datang. Samar-samar bisa kudengar, “Harusnya si Andi itu nggak kejebak dengan rayuan Marta,” yang kemudian disahut, “Iya, si Marta itu memang serigala berbulu ayam,” lalu ditimpali lagi, “Berbulu ayam? Kemoceng dong!!” gelak tawa pun membahana di tengah gelap gulita. TIGA kali percobaan bunuh diriku gagal total. Aku menyandarkan punggungku di kursi rotan bekas yang sudah hilang sandaran tangannya. Kusesap kopi tanpa gula, juga rokok hasil hutanganku dari warung Mak Yam. Mataku berkeliaran menyapu jalanan kecil depan rumahku yang tak kalah kecil. Cara apa lagi yang akan kugunakan untuk bunuh diri. Pandanganku terpaku pada rokok yang tinggal seperempat di tanganku. Apa aku bakar saja rumahku ini? Ah, tapi tak mungkin. Segera kutepis pikiran cara bakar-bakaran itu. Aku tak 207


Surat untuk Izrail

mungkin membakar diri beserta rumah ini. Aku disini tak sendiri, aku punya tetangga, lagipula tempat ini padat penduduk. Satu rumah terbakar bisa terbakar seluruh kampung. Sebulan lalu di kampung sebelah yang tak kalah padatnya pun beg itu, ada ledakan gas pemberian pemerintah. Tak hanya satu rumah, seluruh kampung ikut terbakar. Raungan sirine pemadam kebakaran berpadu dengan teriakan dan tangisan. Meskipun aku ingin bunuh diri, tapi aku ingin membunuh diriku tanpa menyusahkan orang lain apalagi mengajak mereka turut serta. Suara motor berderu, bersaing dengan tawa anak-anak yang bergurau sepanjang jalan menuju ke sekolah. Motor itu dikendarai Abdul bersama istri dan anaknya. “Mari, Mas,� sapa Abdul ketika lewat di depanku disertai istrinya yang tersenyum malu sambil terus melingkarkan tangan ke tubuh anaknya dan pinggang suaminya. Aku membalas sapaannya dengan senyum, getir. Rasa iri menyelusup di hatiku melihat keharmonisan keluarga Abdul. Meskipun hanya mengendarai motor bebek tua peninggalan Bapaknya, namun mereka sangat bahagia, dengan anaknya yang lucu dan istrinya yang setia. Istri? Ah, aku lagi-lagi teringat dengan istriku, istriku yang kucintai namun kini pergi bersama lelaki itu. Lelaki tua namun kaya raya. Peristiwa malam setahun yang lalu itu masih terekam jelas di otakku. Serupa adegan film yang diputar ulang, semuanya terlihat gamblang, seperti baru kemarin terjadi. Malam itu menjadi puncak dari semua amarah dan tangis keluarga kecilku. NISA mengeluarkan baju-bajunya dari lemari, memasukkannya ke tas besar. Tak hanya bajunya saja, ia pun memasukkan semua perlengkapan bayi, bedak, popok, 208


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

selendang ke dalam tas jinjing. “Kamu mau kemana, Nis?” tanyaku pada Nisa, istriku. “Nisa mau pulang ke rumah Bapak,” jawab Nisa dengan masih terus mengemasi barang-barangnya. Tak bisa kubiarkan sikap Nisa, aku pun merebut tasnya, mengeluarkan semua barang-barangnya dan memasukkannya kembali ke lemari. “Kamu mau apa pulang ke rumah Bapak? Aku ini suamimu, Nis. Aku yang sekarang bertanggung jawab denganmu, juga anak kita!” ucapku dengan nada tinggi. “Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Mas di PHK dari pabrik, dan sudah hampir satu tahun ini menganggur, bahkan hutang untuk persalinan enam bulan lalu pun masih belum bisa dibayar. Jangankan dicicil malah ditambah hutangnya.” “Aku sudah cari pekerjaan, Nis. Tapi memang belum dapat saja.” “Cari? Kemarin Bang Jarwo menawari pekerjaan buat jadi tukang bakso, tapi ditolak. Kamu memang lebih pentingkan gengsi. Keuangan kita sedang kritis, Mas. Dedi juga butuh susu, jadi jangan pilih-pilih pekerjaan seperti itu.” “Aku tidak pilih-pilih pekerjaan, aku hanya mencari pekerjaan yang pas dengan keahlian dan ijasahku sebagai lulusan mesin STM.” “Apa bedanya? Kamu memang tega, Mas. Kamu lebih memilih mencari pekerjaan karena ijasahmu daripada mencari pekerjaan karena anak dan istrimu.” “Oke, tapi kamu jangan kembali ke rumah Bapakmu. Apa kata Bapak jika dia tahu masalah keluarga kita. Aku akan malu, Nis. Apalagi Bapakmu memang dari awal tak begitu setuju aku menikahimu.” “Bapak sudah tahu semua masalah kita, pertengkaran 209


Surat untuk Izrail

seperti ini selalu saja terjadi tiap hari, tapi kamu tetap tak mengubah sikapmu, Mas. Aku capek!” Nisa langsung menyambar tasnya dan memasukkan kembali barangbarangnya. Dengan sigap ia mencangklong tasnya dan menggendong Dedi yang terlelap. Aku mengutuk diriku sendiri, aku memang tak becus menjadi suami dan ayah. Kususul Nisa hingga depan gang, tapi terlambat. Ia sudah masuk ke dalam mobil sedan, aku kenal mobil itu. Mobil si Karta, Tua bangka yang pernah dijodohkan dengan Nisa oleh Bapaknya. Esoknya aku menyusul Nisa ke rumah orang tuanya. Seperti yang sudah kuduga, Bapak mertuaku memakiku tanpa jeda. Tak mengapa, aku rela dengan semua makian dan hinaannya asal Nisa dan Dedi bisa kembali ke pelukanku lagi. “Lebih baik kau pergi saja! Jauhi anakku, Nisa akan kunikahkan dengan Karta. Dia lebih bisa membahagiakan anakku!” Bapak mer tuaku mengusirku dengan mengacungkan goloknya ke arahku. Dari luar halaman rumah, bisa kudengar tangisan Dedi, anakku. Miris dibuatnya, aku rindu padanya. “Pak, ijinkan saya bertemu sebentar dengan Dedi dan Nisa. Saya rindu pada mereka.” “Tidak ada kata rindu, pergi sana.” Aku pun pergi tanpa hasil. Satu minggu setelah itu, Nisa mengajukan gugatan cerai, menghadapi gugatan itu, akupun tak bisa apa-apa. Setelah hakim mengetuk palu tanda sahnya perceraian, Nisa pun dipinang oleh Karta yang sudah beristri tiga. Sejak itulah hidupku terasa tak ada gunanya lagi. Aku tak punya pekerjaan. Istri pergi, anakpun tak bisa kudekap. Aku tak lag i punya tujuan hidup. Hingga aku pun menemukan sebuah jalan keluar untuk semua persoalanku ini. Mati. Ya, aku ingin mati. 210


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Seminggu penantianku tak sia-sia, sepuluh menit lalu ia menghembuskan nafasnya. Semua orang mulai sibuk, menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman. Aku beringsut pergi, tujuanku sudah selesai. Tak sekali ini aku kirimkan surat untuk Izrail, sudah ada tujuh surat yang aku kirimkan saat menunggu kematian seseorang. Surat-surat itu tak panjang, karena aku memang tak bisa menulis surat, hanya berisi satu kalimat, AKU INGIN MATI. JEMPUT AKU SEGERA. “Mas Gik,” panggil Bu Lela saat aku akan memasuki rumah. “Ada apa, Bu?” “Dicari Mbak Nisa, seminggu ini dia tidur disini. Dia nunggu Mas Gik tapi nggak pulang-pulang.” “Nisa kesini, Bu?” “Iya, Mas. Mbak Nisa cerita kalau dia menggugat cerai suaminya yang tua bangka itu. Dia nggak tahan jadi istri keempat. Dia mau kembali sama Mas Gik. Tapi ditunggu nggak pulang-pulang. Coba Mas Gik cari di rumah Bapaknya.” Tanpa menunggu lama, aku segera menemui Abdul. Meminjam motornya untuk menjemput Nisa. Kebahagiaan membuncah di dadaku. Dengan rasa bahagia yang meletup-letup aku ingin segera sampai di rumahnya. Aku tak sabar untuk segera menjemput kebahagiaanku. Tinggal satu tikungan lagi sebelum aku sampai. Tanpa kukurangi laju motorku, aku menikung dengan tajam. Tak kusangka ada truk yang melaju kencang di depanku, semuanya berlangsung begitu cepat. Tanpa bisa menghindar, tubuhku terpental dan semuanya gelap. TUBUHKU tersungkur dalam sebuah ruangan, beberapa 211


Surat untuk Izrail

kali kukerjapkan mata mencari kesadaranku. Aku berada dalam ruangan gelap, kutelusuri seluruh ruangan dengan mataku. Tak ada siapapun, hingga aku menemukan sesosok tubuh berdiri tegap berbalut baju hitam, ia mendekatiku pelan tapi pasti. Kucari-cari wajahnya yang tertutup tudung, tapi sia-sia, gelap. Tiba-tiba disekitarnya melayang-layang beberapa amplop putih. Aku mengenali amplop itu. Amplop berisi surat yang pernah kukirimkan untuk Izrail. Mungkinkah? Mungkinkah ia Izrail? Aku belum ingin mati, aku masih ingin bahagia bersama istri dan anakku. Aku ingin mengatakan hal itu, namun bibirku sulit sekali terbuka, terkunci. Aku merutuki diriku, aku merutuki tindakan bodohku meminta kematian. Kini aku hanya bisa berharap, semoga Izrail tak bisa mengeja, tak paham bahasa Indonesia, hingga tak bisa membaca isi suratku untuknya. n

212


Repro Arthur Braginsky | OpenArt

213


Sedekah Minus

ilustrasi: repro republika

g Sinta Yudisia, pegiat FLP, penulis, mahasiswi Psikologi Universitas Tujuhbelas Agustus Surabaya. 214


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Sedekah Minus Sinta YYudisia udisia ( Republika | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

D

JIWO sedang sensitif mendengar nama kiai, ustad, atau Gus disebut-sebut. Bukan karena penolakannya pada Tuhan, juga nasehat-nasehat kebaikan; tetapi justru karena kalimatkalimat kebajikan nyaris setiap saat mampir ke telinga. Seolah yang dilakukannya masih salah, seolah ibadahnya masih terasa kurang hingga kesulitan hidup menghimpit tak sudah-sudah. Berjalin-sambung menyambung bagai antrian kendaraan bermotor yang macet tiap pagi di jalan protokol. Djiwo bukan orang yang enggan ibadah. Lima waktu, diusahakannya bersujud berjamaah. Berlomba dengan takmir masjid, Pujo yang bernasib sama: tubuh kering, kusut, legam, rambut keperakan. Djiwo dan Pujo bergantian mengumandangkan azan. Meski desas desus tak enak beredar: modin harusnya anak muda bersuara merdu. Kalau tuwek elek yang azan, siapa juga yang tertarik datang? Masjid-masjid di kota besar mulai 215


Sedekah Minus

memasang muazin, imam, takmir yang energik penuh vitalitas. Anak-anak muda punya segudang kreativitas untuk menghidupkan agenda-agenda masjid. Masjid kampung mereka masih sepi anak muda. Para remaja sibuk main futsal, nonton bareng piala Eropa, main play station atau ngenet berjam-jam. Djiwo bersyukur kampung mereka memiliki Pujo yang setia berdiam di masjid, membersihkan kamar mandi, menyiapkan sarana shalat. Pujo pun senang berteman Djiwo yang ringan tangan menyemarakkan masjid. Perbedaan Djiwo dan Pujo hanya satu: Pujo menduda lama sejak istrinya meninggal lima belas tahun lalu karena kanker paru-paru, Djiwo masih memiliki Kanthi, istri yang memberinya tiga anak. Djiwo cukup berbahagia memiliki Kanthi. Kanthi mampu membantunya menopang ekonomi keluarga, berjualan pecel di pinggir jalan Medokan Ayu tiap hari. Penghasilan sebagai tukang tambal ban tentu tak cukup menyuapi lima mulut, terlebih kebutuhan sekolah susul menyusul. Kanthi istri dengan gambaran perempuan pada umumnya: mengurus anak dan rumah, membagi uang, menabung sedikit-sedikit. Kekurangan—atau kelebihan—Kanthi, terletak pada semangat ibadah ser ta penutur yang hebat, penyambung lidah luarbiasa bagi para pendakwah yang menyampaikan nilai di mimbar-mimbar. “KIAI Dikin, yang punya pesantren besaaaar itu lho Mas Djiwo… sekeluarga mau berangkat umroh pas malam laitul qadar. Usaha bisnis travel hajinya sukses. Walaah, siapa sangka dia bisa jadi orang sukses, jadi kiai, santri dan jamaahnya banyak. Lha wong dulu hanya orang biasa, punya sakit kanker… apa itu? Pokoknya kanker di tenggorokan. Trus kiai Dikin rajin shalat malam, ndak pernah tinggal. Eeee, habis itu penyakitnya sembuh, usahanya maju, malah sering 216


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

diminta ngisi ke sana kemari. Mungkin, sampeyan harus kaya’ kiai Dikin, Mas Djiwo. Jangan tinggal shalat malam!” Djiwo hanya diam. Seingatnya, ia berusaha menggenapi tidur dengan witir. Bila terlalu lelah, shalat malam memang hanya sanggup dua rakaat. Kanthi datang dengan ceramah berbeda, lain hari. “Ustazah Romlah tadi huueebaat, Mas! Masih muda! Ilmunya banyak! Dia itu punya usaha rumah makan bebek kremes dekat kampus. Dulu, katanya hidupnya susah. Terus, ustazah Romlah ndak pernah tinggal shalat Dhuha delapan rokaat. Habis itu, usahanya kaya’ air rezekinya. Ngaliiiiir terus.” Kanthi dan Djiwo berusaha shalat dhuha. Sebelum berangkat belanja bahan pecel ke pasar Soponyono untuk bahan jualan esok hari, Kanthi sempatkan shalat dua rakaat. Djiwo sendiri membuka usaha tambal ban di dekat kantor pemerintah yang memiliki masjid megah. Disempatkannya shalat dua rakaat saat matahari sepenggalah naik. “Sampeyan kalau shalat Dhuha harusnya delapan rakaat, Mas. Aku kalau sempat juga delapan rokaat kok….” Djiwo mengangguk, mengiyakan dalam diam. Kali lain, Kanthi membawa cerita mengharukan. “Aku sampai nangis dengernya, Mas. Dulu, ada tukang roti yang ndak pernah berhenti beristighfar. Katanya, semua permintaannya terwujud kecuali satu hal: bertemu imam Ahmad bin Hambal. Eee, lha kok, suatu hari ada kejadian misterius yang menyebabkan imam Ahmad terpaksa harus bermalam di rumahnya. Istighfar yo Mas? Aku ya gitu kok, sambil motongin kacang panjang, motong timun, methik kemangi, ngulek bumbu, baca istighfar. Sampeyan nek pas nambal ban ya harus sering-sering baca istighfar biar rezekinya ndak mampet!” 217


Sedekah Minus

Ahya. Djiwo berusaha melafazkan istighfar bukan hanya saat tersandung, atau saat jemarinya tak sengaja tertusuk peralatan tambal ban. Sembari melangkah ke masjid, mengayuh sepedanya berangkat dan pulang; bukan hanya istighfar. Tasbih, tahmid, takbir, lisannya berusaha terus mengingat Kanjeng Pangeran. Ucapan Kanthi, sudah lebih dahulu dilaksanakan. Beberapa hari terakhir, Kanthi mengulang hal yang sama. Masih seputar ibadah yang membuka pintu-pintu rezeki. Wajar Kanthi uring-uringan, putri pertama mereka dilamar orang. Sesederhana apa pun perhelatan, pasti butuh biaya. Uang tambal ban yang diberikan Djiwo, hasil jualan pecel, tabungan sedikit—sedikit yang disisihkan tidak mencukupi. Meminjam saudara, itu terpaksa. Kalau sudah menagih, tentu harus dibayar dengan uang. Kanthi sudah mengupayakan arisan PKK dapat diminta lebih dahulu, pinjam ke koperasi; tapi belum mencukupi. Meminta Djiwo berbuat lebih, itu yang diminta. “Coba tho Mas Djiwo, usaha lebih!� Apalagi yang bisa diupayakan Djiwo? Kemampuan tamatan sekolah dasar, memberinya kesempatan bekerja mandiri tanpa bekal keterampilan maksimal. Usaha tempe, berdagang krupuk, membuat sambel pecel telah dilaui. Pekerjaan menambal ban ini yang ternyata bertahan cukup lama. Kanthi melihatnya belum berupaya seperti yang diharapkan. Djiwo masih berlapang dada ketika Kanthi menganggapnya kurang cekatan mencari uang. Tapi, ketika pembahasan menyinggung masalah kekurangannya beribadah, entah mengapa hatinya rasa tersengat sakit. Kurang ibadah? “Sedekah lho Mas. Itu temen-temenku juga bilang gitu. Sekarang sedang rame orang-orang pada sedekah, ada yang sendiri-sendiri ada yang rombongan. Balasannya bisa berlipat kali! Ibarat tanaman padi, 218


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

kelipatannya ratusan. Bu Ratih habis sedekah, dapat hadiah gratis umroh. Bu Endang sedekah gajinya, tau-tau dikasih hadiah sama majikannya yang habis jual tanah. Malah suami Bu Wiryo sedekah semua bonus gaji satpamnya, dikasih sepeda motor sama perusahaan. Itulah mas, kalau sedekah jangan setengah-setengah. Biar rezeki kita lancar. Aku sudah sering sedekah, tinggal Mas Djiwo. Gimana?� DJIWO tahu, sebagai manusia, mana berani mengatakan telah cukup beribadah? Nabi saja bahkan bengkak kakinya shalat malam, merasa sangat bersyukur. Setahunya, para shahabat dan ulama pun berlomba beribadah. Umar bin Khatab ra pernah menginfakkan separuh hartanya di saat Abubakar ra menyerahkan seluruh hartanya. Imam Ahmad bin Hambal semasa hidup shalat tiga ratus rakaat saat sehat, dan seratus lima puluh rakat saat sakit. Ibnu Mubarrak setahun berhaji, setahun berjihad, begitu bergantian sepanjang masa. Djiwo, tentu tak ada apa-apanya. Lelaki itu berusaha beribadah sebaik mungkin yang ia bisa. Apalagi bila usai mendengar khutbah Jumat atau pengajian rutin di kampungnya tiap kamis malam. Ketika kiai berkata Nabi Saw tak pernah meninggalkan shalat witir, dhuha dan puasa tengah bulan; Djiwo berupaya melakukan. Sesekali witirnya kedodoran, dhuhanya terburu, atau puasa tengah bulan yang seharusnya tiga hari hanya dapat dilakukannya sehari. Ketika kiai berkata bahwa surat Waqiaah dapat menjamin dari kemiskinan, Djiwo berusaha menghafalkan dan membacanya tiap hari; meski susah payah ia menghafalkan dengan otak yang beranjak tua. Ketika kiai menyampaikan, surat al Mulk dapat membebaskan dari siksa kubur, Djiwo pun berusaha memebaca tiap malam sebelum tidur. Sekali lagi, sesungguhnya, ia sama sekali tak berani 219


Sedekah Minus

merasa cukup beribadah. Karenanya, ketika Kanthi mendesaknya untuk banyak sedekah, ada yang terasa mengganjal. Menghadapi Kanthi yang tangkas bicara, Djiwo sering gelagapan. Itulah sebabnya puluhan tahun mereka menikah, sebagai lelaki lebih memilih diam ketika istri mengomel. Beruntung, Pujo bersedia menyediakan telinga saat dirinya pepat masalah. Djiwo tahu, ujung kisahnya hanya berujung pada nasehat: sabar. Tapi sungguh lumayan sudah berbagi beban pada orang lain, setidaknya, ada yang membantunya berpikir sekalipun penyelesaiannya pun tetap harus ditanggung sendiri. “Memang zaman Kalatidha, kata Ranggawarsito,” Pujo berkata, usai Djiwo selesai menarik nafas di kalimatnya yang terakhir. “ Orang bingung cari rezeki, mana halal mana haram. Orang yang beruntung yang eling lan waspodho, tetap ingat dan waspada. Ndak tergiur harta.” Djiwo tahu itu. Memangnya, selama ini ia telah tergiur? Banyak teman-temannya mengajak bisnis barang tadahan, uang cepat, tapi ia bertahan menambal ban demi rezeki halal meski sedikit. Mereka terus berdiskusi usai shalat Isya berjamaah, dan seperti biasa, Djiwo tak mampu berbicara menukik langsung ke persoalan. “Sampeyan… sering sedekah, Jo?” Djiwo bertanya hatihati. Pujo terkekeh. Memang, ibadah apa pun sebaiknya tersembunyi, namun dalam beberapa hal, baik untuk dibicarakan demi menambah semangat. “Ya iya laaa…. Dulu ada shahabat yang minta izin ndak jihad sama sedekah, trus sama Kanjeng Nabi dibilangin intinya, lha sampeyan mau masuk surga pake apa? Sedekah itu harus sudah jadi kebiasaan tho.” “Besarnya berapa? Maksudku, jumlahnya…,” Djiwo merasa mukanya merah menahan malu. 220


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Pujo mengernyitkan kening. “Aku memang ndak ada tanggungan, Wo,” papar Pujo. “Anak ndak punya, cucu apalagi. Paling sesekali keponakan minta dibantu. Jadi ya… aku bebas mau sedekah berapa pun. Yang pasti, kalau Jumat, aku usahakan sedekah yang terbaik. Ya terbaik jumlahnya, terbaik bentuk uangnya.” “Terus, ada… balasannya?” Djiwo betul-betul terbentur malu berpangkat-pangkat! Untung, Pujo memaknai perbincangan itu memang sebagai pencarian jawaban atas ibadah-ibadah mereka, orang-orang dengan ilmu agama yang masih jauh dari memadai. Djiwo dan Pujo saling melengkapi, sesekali Djiwo mendapatkan penguatan dari Pujo. Pujo pun acapkali mendapatkan pencerahan dari Djiwo yang diam-diam diakui Pujo sebagai lelaki dengan kesabaran dan keteguhan di atas rata-rata. Perlahan Djiwo mengisahkan kebutuhan keluarganya yang terlilit hutang. Memang, tidak sebesar hutang koruptor tapi sudah cukup memusingkan. Anak bungsunya yang harus masuk sekolah SMK, kebutuhan hidup yang tambal sulam. Djiwo menggaris bawahi perkataannya, bahwa ia sama sekali tidak mempertanyakan mengapa Tuhan memberikan kehidupan sangat sederhana—bahasa halus untuk miskin—kepada keluarganya. Yang ia tanyakan, mungkinkah semua disebabkan ibadahnya kurang sehingga rezeki tak mengalir? MATAHARI bersinar sepuluh kali lebih terang. Langit lebih meninggi, mobil berjalan lambat. Setiap orang tersenyum, daun lebih hijau, udara bersih jernih. Seperti ini rasa kebahagiaan itu. Segala yang tampak terlihat lebih dari biasanya. Djiwo mengayuh sepeda riang. Mulutnya ringan mengucap istighfar. Hari ini, ia merasa lebih baik dari hari221


Sedekah Minus

hari sebelumnya. Perbincangan dengan Pujo setidaknya memberikan kekokohan kaki untuk melangkah. “Kalau rezeki dimaknai uang, ya sedikit, Wo. Kamu masih punya harga diri buat cari uang sendiri, itu rezeki lho. Kita habis nengok pak Setyo kan, yang tergolek stroke? Apa ya enak, lelaki ndak bisa apa-apa seperti itu….” Ya. Rezeki itu bukan matematika, bukan seperti bunga bank yang perhitungannya selalu uang dan uang. Masingmasing orang boleh jadi tak punya pemahaman sama tentang rezeki, tetapi bagaimanapun rezeki seperti yang digambarkan Pujo. “….barang ghaib. Pintunya ada di arah tak disangka.” Manusia beranggapan rezekiya dari gaji, teryata dibuka dari pintu yang lain. Banyak pintu tersedia, tinggal mengupayakan kunci. Ya. Ya. Djiwo tetap berusaha memenuhi permintaan Kanthi untuk bersedekah. Bagaimanapun, saran Kanthi mungkin ada benarnya. Ia masih ragu untuk bersedekah, tetapi Djiwo tak ing in berhitung-hitung masalah pengembalian. Tuhan bukan pedagang, meski berniaga dengan Tuhan adalah perniagaan paling menguntungkan. Hari ini Djiwo mencoba bersedekah lebih banyak. Dan memang, Tuhan membayar kontan. Bukan bayaran kontan itu yang membuat Djiwo bersuka cita. Tapi makna lain yang ia dapatkan. Usai bersedekah, shalat asar, seseorang mendekatinya. Lelaki tinggi besar itu memperkenalkan diri sebagai kepala seksi di salah satu bagian. Ia menitipkan beberapa sepeda untuk diperbaiki mulai ban hingga pengecatan. Mereka sekeluarga akan lebih sering menggunakan sepeda untuk jarak-jarak pendek demi kesehatan. Djiwo tentu senang. Ditambah lagi, pak kepala seksi menambahkan instruksi berbeda untuk takmir masjid, sesuatu yang membuat Djiwo ternganga. 222


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Takmir masjid berniat menggelontorkan dana pinjaman sebesar lima ratus ribu, bisa dicicil hingga dua puluh kali, setelah sebelumya hanya mengizinkan pinjaman maksimal dua ratus ribu. Malu-malu, Djiwo bertanya pada takmir masjid, apa pasal yang menyebabkan pak kepala seksi berniat memperbaiki sepeda-sepedanya dan memerintahkan penambahan dana pinjaman untuk dirinya. “Aku pernah cerita ke beliau, kalau sampeyan itu termasuk yang tepat waktu mengembalikan pinjaman, jujur lagi,” terang takmir. Bukan pujian itu yang menyenangkan hati Djiwo, tapi justru kelebatan perkataan Pujo. Rezeki. Barang ghaib. Pintunya tersebar. Mungkin saja, buah komitmenya selama ini yang takut mati membawa hutang sehingga bersusah payah menyisihkan uang demi membayar pinjaman, membuat pintu rezeki terbuka. Mungkin juga, sedekah itu membuat lebih lancar semuanya. Setidaknya Djiwo lebih yakin, bahwa semua amal ibadah, memang layak dikerjakan tanpa pilih-pilih, demi balasan yang juga lebih terbuka lebar jenisnya. Djiwo memberitakan detil kejadian kepada Kanthi. Kanthi terbelalak. Mulut terbuka. Anehnya, wajahnya tak sumringah. “Yaaa… coba yang mas Djiwo sedekahnya bukan separuh imbalan. Pasti dapatnya lebih besar dari lima ratus ribu!” Mulut Djiwo terkatup. Jengkel tentu saja. Tapi mengingat wajah Pujo, hatinya ayem. Semua pantas disyukuri. Punya rezeki seper ti Kanthi, istri yang cerewet tapi selalu mengingatkan ibadah, juga rezeki. Djiwo ingin berkata, kalau ia ingin memperlakukan Tuhan bukan seperti pedagang. Kalau betul-betul berdagang dan berniat menginfakkan Kanthi pada Pujo, apa iya dapat ganti istri yang lebih baik lagi? n 223


Idul Fitri di Kampung Mati

ilustrasi: repro flickr.com

g Griven H Putera, karya-karyanya telah dimuat di berbagai media. Salah satu kumpulan cerpennya adalah “Tenggelam�. 224


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Idul Fitri di Kampung Mati Griven H. Putera ( Riau Pos | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

H

UJAN belum juga reda ketika pemuda itu sampai di sini. Kalau tak ada pengumuman susulan dari pemerintah, petang ini adalah akhir Ramadan tahun ini. Itu berarti, selesai Maghrib nanti, takbir penutup bulan puasa akan mengalun di sini. Bagi Musa, petang ini atau puasa bungsu ini adalah awal senja yang ditakdirkan sendiri tanpa istri, anak-anak dan kedua orangtuanya. Perjalanan senjanya sekali ini sepertinya sedang menembus badai. Membelah hujan yang kian menderu. Menantang kilat dan petir yang berdentum talubertalu. Setelah mengibas-ngibaskan peci dan jas hitam yang disiram hujan di muka pintu masjid dan meletakkan barang bawaannya di samping pintu, perlahan pemuda itu melangkah ke dalam. Dari jauh, seorang lelaki terlihat sedang menggulung tikar sembahyang. ‘’Assalamualaikum.’’ ‘’Assalamualaikum, Pak.’’ Musa membesarkan nada suara. 225


Idul Fitri di Kampung Mati

‘’Waalaikumussalaaam.’’ ‘’Sendiri, Pak?’’ Orang tua itu menegakkan badan dan menoleh ke arah datangnya suara. Pandangannya menyelidik. ‘’Dari mana?’’ ‘’Kota Lembacang Pandak,’’ jawab Musa coba tersenyum. Lelaki kecil berbadan sedikit bungkuk itu kembali melanjutkan kerja. Tampak sekali ia sangat tergesa-gesa. Musa mengikuti langkah lelaki itu. Karena merasa diikuti, lelaki tua itu pun menghentikan pekerjaannnya. Ia menoleh ke belakang. Tertegun sejenak. Matanya tak lama kemudian menghunjam Musa. ‘’Oh ya, namaku Musa, Pak.’’ Musa membungkuk sambil mengulurkan tangannya yang pucat. ‘’Hidir.’’ Lelaki itu seperti bergumam. Musa tersentak. Telapak tangan orang tua itu dingin bagai direndam dalam es. Siak masjid alias penunggu masjid yang bernama Hidir sesaat menunduk, dan kelihatannya sedang memikirkan sesuatu. ‘’Oh, iya. Kamu ustad yang akan jadi khatib besok?’’ Musa kini bisa tersenyum lebar. ‘’Betul kamu?’’ tanyanya lagi masih ingin yakin. ‘’Ya, Pak.’’ ‘’Masya Allah.’’ Hidir mengusap-usap bahu kiri Musa begitu senang. Kini senyumnya terkembang lebar. ‘’Tadi ke sini naik apa?’’ ‘’Naik bus, Pak.’’ ‘’Hoo. Oh ya, selain tas itu, apa ada lagi barang bawaan Dik Ustad?’’ ‘’Cuma itu saja, Pak.’’ ‘’Kalau begitu letakkan saja tasnya di sudut dekat mimbar sana. Masjid kita ini belum punya kamar khusus untuk Siak. 226


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Maklum...’’ SETELAH melaksanakan Salat Tahiyyat-al Masjid, dua gelas air mineral sudah tersedia di belakang ustad muda yang datang dari kota itu. Di sampingnya tak ada nasi, tak ada penganan lain seper ti kebiasaan berbuka pada umumnya. Di udara, tak terdengar suara radio orang mengaji atau santapan rohani Ramadan menjelang tabuh berbuka dipukul. Yang bising hanya deru hujan dan riuh dahan pohon karet yang saling bergesek dan melambai-lambai dihembus angin. Sesekali, dari langit suara guruh ikut pula meningkah, sayup-sayup sampai. Pun, di langit tak ada percikan mercon dan bunga api. Yang mulai tampak hanya garis kilat yang sudah terang satu dua kali. Dingin hujan makin mencucuk akibat tiupan angin yang makin lama makin kencang. Daunan pokok getah yang rimbun di belakang masjid semakin menambah gelap dan dingin. Listrik yang padam entah sejak kapan, pun melengkapi pekat malam. Selain kilat yang kini telah gencar memancar, lampu semprong sepertinya jadi satu-satunya sumber cahaya malam ini. ‘’Beginilah. Malam ini,’’ Pak Hidir menarik napas. Dipandangnya Musa lekat-lekat. ‘’Malam ini, kalau dik ustad tak keberatan, kita tidur di sini saja.’’ Tidur di sini? ‘’Pengurus masjid yang menghubungi dik ustad kemarin, pag i tadi buru-buru pulang kampung, katanya ada keluarganya meninggal mendadak.’’ Musa tertegun. Kalau malam ini tidur di sini, apakah kondisi kesehatan bisa terjamin? Besok jadi khatib. Ini bisa bahaya. 227


Idul Fitri di Kampung Mati

‘’Di sini memang tak ada kasur. Tapi kita bisa menumpuk tikar agak beberapa lapis,’’ kata Pak Hidir setelah menyeruput air mineral karena saat berbuka sudah tiba. Ajakan Pak Hidir itu menyadarkan Musa dari lamunan. ‘’Ya, bo, boleh juga.’’ Angin berhembus semakin terasa kencang. Musa menarik napas dalam-dalam sambil menutup kedua matanya rapat-rapat. Sesungguhnya kondisi inilah yang paling ia cemaskan. Kecemasan itu bukan disebabkan kebiasaan manjanya karena berasal dari keluarga kaya, bukan, bukan itu. Justru karena terlalu lama merasakan keadaan seperti ini di pesantrenlah, konon membuat ia divonis dokter mengidap paru-paru basah. Tapi malam ini tak ada kata untuk pergi. Tiada kalimat yang bisa dirangkai untuk menolak tidur dalam badai di masjid yang sedang terbengkalai. Kalau kini mau pergi, ke mana tujuannya? Selain Pak Hidir, siapa lagi yang ia kenal di kampung ini? Rumah pengurus masjid yang lain? Kalaupun Pak Hidir bisa menunjukkan alamatnya, pakai apa ke sana dalam ribut begini? ‘’Sebenarnya adik ditempatkan di rumah pengurus masjid. Tapi,’’ Pak Hidir terdiam sejenak. ‘’Ya, seperti yang baru saya ceritakan,’’ jelas Pak Hidir lagi. Sekarang tampak raut sedih begitu dalam terperam di wajah orang tua itu. ‘’Ya, ndak apa, Pak,’’ kata Musa berbasa-basi menghibur diri. Kini terselip rasa kurang sedap dalam hati Musa pada panitia Idul Fitri di kampung ini yang menghubunginya. Kalaupun panitia yang datang ke rumahnya itu pulang kampung, bukankah bisa menitipkan dirinya pada rumah pengurus yang lain? Atau setidaknya di rumah penduduk? Sudahlah datang jauh-jauh ke sini dalam kondisi anak yang sedang sakit. Sampai di sini pun tak pula dapat perhatian 228


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

yang patut. Subhanallah! Cobaan macam apa ini? Padahal, di kota sudah ada beberapa orang pengurus masjid memintanya jadi khatib pada Idul Fitri ini tapi semuanya ia tolak karena ia rindu menyampaikan pesan Tuhan di kampung. Ia ingin bertanding dengan kicau burung, deru angin dan lambai daun menyampaikan pesan Ilahi. Tapi kenyataannya begini. Okh. Lelaki itu terhempas. Rasa kesal dan sesal membuncah. Ia berusaha mengingat sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dalam berdakwah, yang bila dibandingkan dengannya malam ini tentu penderitaan anak Abdullah dan Aminah itu belumlah sebanding dan sepadan dengan pengorbanannya malam ini. Tapi, bukankah ia belumlah pantas dipertandingkan dengan manusia paling agung di muka bumi itu? Bukankah kesabarannya tak sampai sekubil kuku bila dipadankan dengan manusia pilihan itu? Jangankan dengannya, dengan para sahabatnya pun jauh. Malam makin larut. Hujan badai, petir dan kilat serta angin ribut kelihatannya takkan berhenti. Musa dan Pak Hidir terus berbual dalam gigil. Sekarang suara mereka sudah seperti ringkik keledai. KILAT dan petir makin menjadi-jadi. Puluhan jendela masjid yang terbuka membuat semua kejadian di luar tampak makin jelas dan makin mengerikan. Pancaran kilat sambung menyambung dari barat, utara dan selatan tanpa jeda. Dingin kian terasa menusuk sampai ke tulang rusuk. Pak Hidir menyalakan lampu semprong kapal dalam mimbar. ‘’Dik ustad, kemarilah. Salat kita yuk. Air wudhu Dik Ustad masih ada, kan?’’ ‘’Rasanya belum batal, Pak.’’ ‘’Kalau begitu marilah kita salat. Saya rasa jamaah tak 228


Idul Fitri di Kampung Mati

ada yang berani datang malam ini.’’ ‘’Bapak saja yang jadi imam.’’ Pak Hidir tersenyum. Melalui sinar kilat, Musa melihat jelas, wajah lelaki di depannya bersatu dengan cahaya yang memancar. Wajah berseri tanpa diliputi mendung. Wajah yang tiba-tiba berubah terang bak bulan dibasuh, umpama matahari dicuci. Lelaki muda itu tertunduk, badannya tibatiba bergetar hebat. Siapa orangtua ini? ‘’Adik saja.’’ ‘’Adik saja,’’ ulang lelaki itu. ‘’Yang tua lebih baik jadi imam, Pak,’’ kelit Musa sambil menunduk. ‘’Yang muda jauh lebih pantas. Yang tua banyak uzurnya.’’ ‘’Silakan,’’ suruh Pak Hidir sambil merentangkan tangan kanannya ke arah tikar imam. Musa coba melangkah. Dengan berat hati, akhirnya ia mengangkat takbir. Pak Hidir benar. Hanya mereka berdua yang bertakbir malam Idul Fitri ini. Suara Musa terdengar sayup. Antara khusyuk dan pilu tiada lagi punya batas. Antara rindu dan kelu hampir tak punya garis jelas. Sambutan dari Pak Hidir pun terasa begitu dalam. Dingin, sedingin malam yang kian kelam. Suara takbir mereka diiringi gelegar guruh dan petir yang terus mengamuk. ‘’Kampung ini sedang dalam masalah besar,’’ terdengar suara Pak Hidir begitu berat setelah mereka selesai bertakbir. ‘’Perhatian masyarakat pada agama sudah sangat kurang. Sementara kejahatan makin merajalela. Perampokan hampir terjadi tiap malam. Aparat sepertinya tak ambil peduli. Masyarakat banyak pun seolah-olah diam dan tak mau tahu apa yang terjadi pada orang lain.’’ Tiba-tiba mata Musa dan Pak Hidir terbeliak. Sontak keduanya memandang ke arah gelapnya pepokokan getah 230


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

di belakang masjid. Derak suara kayu tumbang itu terdengar begitu kuat. Suara itu hampir sama dengan suara petir yang baru pecah. Musa melihat ke Pak Hidir. ‘’Itu suara pohon karet tumbang,’’ jawab orang tua itu datar. Pak Hidir melanjutkan ceritanya lagi. ‘’Dik ustad tak usah cemas, malam ini insya Allah kita takkan apa-apa. Lagi pula tak ada sesuatu yang berharga di masjid ini kecuali nyawa kita. Ya, kan?’’ Pak Hidir terdiam sejenak. ‘’Entah kalau dik ustad membawa uang banyak.’’ Kedengaran tawa Pak Hidir di sela bunyi gemuruh di luar. ‘’Kini, di sini perjudian, perkosaan dan pelacuran merajalela. Tuak berserak di sepanjang jalan. Anak-anak gadis yang hamil di luar nikah hampir terjadi tiap bulan. Semua orang tak peduli. Kalau itu terjadi pada anak gadis mereka, mereka tinggal datang ke kantor pencatat nikah. Para pegawai pencatat nikah tak ambil acuh, yang penting isi amplop untuk mengurus surat nikah dipertebal. Aman! Dan tak sampai sembilan bulan ke depan, orangtua mereka pun riang gembira menimang cucu. Habis perkara! Suami tak lagi tahu peran. Bila bosan pada istrinya, ia cukup pergi menemui perempuan-perempuan nakal yang berkampung tak sampai 10 Km dari sini. Dan sang istri pun begitu, bila suami ngelayap ke mana-mana, maka pintu belakang rumah mereka pun terbuka selebar-lebarnya untuk lelaki lain. Lalu...’’ Kilat kembali memancar dan tak sampai lima detik kemudian petir pun pecah. ‘’Astaghfirullah!!!’’ ‘’Semua orang sibuk dengan urusan dunianya masingmasing. Sebagian ustad hanya pandai ceramah di masjid dan tempat-tempat wirid. Maaf! Penegakan syariat Allah 231


Idul Fitri di Kampung Mati

secara sungguh-sungguh tak pernah dilakukan. Ajaran Islam hanya tinggal sebutan di bibir tapi jauh dari pengamalan. Tuhan hanya jadi harapan ketika mereka tak dapat harta dan kedudukan.’’ Musa diam tak bergeming. ‘’Para guru sibuk mengajar anak murid hanya sebagai penghilang beban dan melepas kewajiban. Soal akhlak berubah atau tidak, itu bukan masalah. Yang penting bila soal ujian dibagikan, sang anak bisa menjawab dengan baik maka selesai perkara. Kalau murid tak bisa menjawab soal, guru yang mengerjakan. Setelah sekolah usai, apakah murid ngumpul dengan perempuan-perempuan nakal atau mengisap ganja, itu tak soal. Gila! Kalau ada orang alim mengikuti perintah agama dengan sungguh-sungguh, mereka akan dipandang kuno dan dicibir. Kiamat! Negeri ini sedang menunggu bala!’’ Musa diam mendengar semua kesah yang ditumpahkan Pak Hidir sambil terkadang pikirannya melayang entah kemana. Cerita Pak Hidir dengan suara yang makin lama makin tinggi terus saja mengalir bagai air tak bermuara. Hingga Musa tak sadar entah kapan cerita yang tak punya ending itu berakhir. Penat duduk berhadap-hadapan, ia pun membaringkan tubuh di atas teras mimbar yang cukup lebar. Khutbah Pak Hidir terus saja mengalir. Orang tua itu telah serupa orang mencacau. Suaranya kini telah mengalahkan gelegar petir dan riuh hujan yang kian tak sudah. PAGI. Musa tersentak. Tiba-tiba ia teringat Pak Hidir. Ke mana orang tua itu? Suara petir dan cahaya kilat tak ada lagi. Hari telah berubah. Sinar matahari menebar dan terasa hangat. Tapi 232


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

sesuatu yang lain telah terjadi. Ya, sesuatu yang tak biasanya telah berlaku di sini. Sesisi ruangan masjid dipandanginya berkeliling, kursi dan meja lintang-pukang. Pak Hidir tak ada. Musa menuju bibir jendela. Bersama matahari yang naik di langit, antara percaya dan tidak, Musa lihat pokok getah dan rumah penduduk telah rata dengan tanah. Tak ada lagi tanda kehidupan di sini. Musa berlari keluar. Ia coba berlari sejauh-jauhnya. Tak ada siapa yang ia jumpa. Musa terus berlari. Mencari kalau masih ada sesuatu yang tersisa di kampung ini. Semakin kencang berlari semakin sunyi yang ia jumpai. Napasnya terengah-engah. Kini ia merasa sedang terdampar di padang pasir tak tentu arah. Lapar, haus, risau, rusuh, perih, resah, gelisah, pusing, runsing, penat menyelimuti. Pelan-pelan ia merasa ada sesuatu yang luruh dari diri. Semua kekuatan tubuhnya runtuh. Ia terjerembab. Kini ia duduk tawarru’, tangannya bertelekan ke tanah basah. Matanya kosong menatap sampah dan mayat yang bersepah. Kini ia seperti seorang anak yang baru saja dimarahi seseorang, dan menunggu ayahnya segera pulang. n Ramadan, tanggal, bulan dan tahun entah berapa.

233


Meugang

ilustrasi: repro becak motor aceh | kiswasono.multiply.com

234


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Meugang Masriadi Sambo ( Serambi Indonesia | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

B

ULAN madu ini begitu indah. Aku baru saja menikah sepekan lalu. Kini, memasuki Minggu kedua. Aku bersama istri menghabiskan bulan madu di areal perkebunan milik mertua. Menanam padi pagi hari, dan membawa sapi pulang ke kandang saat senja mulai temaram. Semua berlangsung normal. Indah. Mertuaku melarang aku bekerja di Minggu awal kami menikah. Katanya, dia ingin miliki cucu dari kami sesegera mungkin. Minggu kedua ini, aku mulai bekerja. Membawa becak motor. Becak itu kusewa dari Apa Leman, pengusaha becak di kota ini. Perjanjian dengan Apa Leman, jumlah uang yang kuperoleh dibagi tiga, dua bagian buatku, satu bagian buat si pemilik becak. Jika beruntung, aku bisa mendapatkan Rp 50.000 per hari. Jika tidak, aku hanya mendapatkan Rp 20.000 per hari. Semakin hari, jumlah pemilik sepedamotor semakin banyak di kota ini. Sehingga, jasa tukang becak sepertiku mulai kurang diperlukan. 235


Meugang

Hari ini, hari pertama kukendarai becak setelah menikah. Pekan depan hari meugang telah tiba. Aku harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk membeli daging meugang. Mertuaku mengatakan agar aku membeli daging sapi minimal tiga kilogram dan maksimal sebuah kepala sapi. Untuk membeli daging sebanyak itu, aku harus bekerja ekstra. Harga sapi setiap musim meugang biasanya mencapai Rp 125.000 per kilogram. Untuk mendapatkan sekilo daging saja, aku harus bekerja dua hari lebih. Waktuku masih cukup. Enam hari menarik becak, aku harus bisa mengumpulkan tiga kilogram daging sapi. “Jangan buat malu Abu. Kamu itu meugang pertama di rumah ini. Sudah seharusnya membawa daging. Ini tradisi kita,” sebut Abu. “Ya Abang. Jangan sampai kita malu. Abang harus mendapatkan uang sebanyak mungkin, untuk acara adat meugang nanti. Jika kita tak sanggup beli kepala sapi, maka lebih baik kita beli tiga kilo daging sapi. Ambil yang minimal saja,” sebut istriku. Kalimat kedua orang itu selalu menggema di otakku. Setiap kali aku menunggu penumpang di Simpang Lima, kalimat itu selalu terdengar. Meugang bukan hanya menyambut Ramadhan. Meugang ternyata ajang pembuktian lelaki perkasa. HAR I ini kutemui Apa Leman. Aku berharap dia meringankan setoran uang becak. Lebih baik lagi, jika dia meminjamkan uang padaku. Ya, tak usah banyak. Cukup Rp 600.000. Buat tiga kilo daging sapi plus bumbunya. Apa Leman terlihat sibuk di bengkel depan rumahnya. “Ucok, apa kabar? Cepat sekali pulang narik becak? Kamu bukan lajang lagi. Harus rajin kerja, biar bisa bawa uang buat istri,” ujar Apa Leman menyambutku sambil tersenyum. 236


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Dia berhenti memperbaiki sebuah mesin becak. Memberikanku segelas teh dingin dan sebatang kretek. “Duduklah. Minum dulu. Kau pasti capek,” sebut Apa Leman, dengan logat Batak bercampur Aceh. Menimbulkan kelucuan tersendiri. Sejurus aku terdiam. Menikmati teh dingin dan kretek yang mengepulkan asap. Kuceritakan niatku kedatanganku pada Apa Leman. Dia tampak serius mendengarkan. Jidatnya mengkerut. Berpikir keras, mencari solusi buatku. “Berat memang Ucok. Adat susah buat dirubah. Sudah turun temurun. Soal daging meugang itu, nanti aku bisa bantu satu kilogram. Jika lebih, aku tak mampu juga. Kau taulah, anakku tiga kuliah di Jawa. Jadi, uang tak bisa kupinjamkan padamu,” jawab Apa Leman serius. Pria paruh baya ini dikenal baik. Jika ada uang, dia pasti membantu. Mungkin, dia juga sedang tak punya uang. Sehinngga, aku tak bisa meminjam uang. SENJA mulai hilang. Hitam membalut malam. Aku dan istri duduk santai di teras rumah mertua. Angin berhembus mendinginkan tubuh yang terpanggang siang tadi oleh mentari. “Apakah udah ada uang buat meugang Abang?” tanya istriku. “Sudah ada buat sekilo daging. Dua kilo lagi sedang Abang usahakan. Penumpang sepi sekali akhir-akhir ini.” “Jika memang tidak ada uang, lebih baik, cincin kawin kita jual. Kasihan juga Abang harus bekerja siang dan malam, hanya demi daging meugang,” usul istriku. Aku tak setuju usul itu. Itu mas kawin kami. Sepahit apa pun hidup ini, emas itu tak boleh berpindah tangan. Harus tetap di jari manis istriku. “Tenang saja, besok masih ada waktu sehari lagi buat 237


Meugang

cari uang. Semoga bisa cukup untuk beli daging. Jika perlu kepala sapi kita beli. Biar ayah dan umi bangga mendapatkan menantu yang patuh pada adat,” sebutku memberi semangat istri. Kutahu dia khawatir aku jatuh sakit. Namun, apa pun ceritanya, aku akan mendapatkan daging itu. USAI subuh aku langsung menuju pasar. Hari ini, aku bertekad menjadi buruh bongkar-muat barang di pasar pagi. Mengangkat beras, kebutuhan sembilan bahan pokok lainnya, sayuran dan lain-lain. Siang hari, aku berencana menarik becak. Ini satu-satunya cara mencari uang daging meugang. Menjelang siang, aku sudah mendapatkan uang sekitar Rp 150.000. Ditambah uang yang diberi Apa Leman sebanyak Rp 125.000. Sore nanti, aku yakin, uang ku sudah cukup membeli daging. Besok sudah meugang. Kubawa becak keliling kota. Mesin becakku sudah sangat panas. Tidak berhenti seharian. Bahkan malam ini aku berencana tak pulang ke rumah. Aku menarik becak hingga pagi di terminal pusat kota. Istriku sudah kuberitahu. Aku tak ingin dia malu pada keluarganya. Mendapatkan suami tak berdaya memenuhi kebutuhan jelang ramadhan. Jam berdetak tiga kali. Pukul 03.00 WIB dinihari. Mataku mulai mengantuk. Uang di saku sudah mencukupi. “Sudah Cok, pulang sajalah. Nanti sakit. Kamu baru menikah, anak belum punya. Tidak usah bekerja terlalu berat. Nanti cepat tua,” sebut Bang Husen, koordinator becak terminal kota. “Satu lagi saja Bang. Lagi perlu buat meugang. Setelah antar satu sewa lagi, aku langsung pulang,” jawabku. Gerimis mulai turun membasahi jalan. Angin bertiup pelan. Tempias hujan membasahi wajahku. Aku berteduh 238


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

alakadar di balik pos mangkal becak. Kupasang plastik di badan becak. Jika pun ada penumpang, dia pasti tidak basah. Mobil dari Medan tiba di terminal kota. Bang Husen menyuruhku mengantarkan sewa. Seorang remaja, yang kuliah di provinsi tetangga. “Hati-hati linto baroe. Jangan kebut-kebutan,� teriak Bang Husen, dan kubalas dengan senyuman. Hujan semakin deras. Penumpang itu berkata harus segera tiba di rumah. Dia takut sendirian di becak. Hujan disertai petir terus menyapa. Kugas becak motorku semakin kencang. Mataku tak melihat lubang, sementara dari arah berlawanan sebuah minibus datang dengan cepat. Bruk...tabrakan. Tubuhku terasa ringan. Mataku tertutup rapat, tubuhku penuh darah. Aku terbaring disamping tubuh ramping penumpangku. Tubuhnya diam tak tergerak. Aku tak bisa merasakan dingin, aku tak bisa merasakan sakit. Alamku telah berbeda. n

239


Perahu Morantab

ilustrasi: repro perahu morantab | hery purnomo

g Badrul Munir Chair, lahir di Ambunten-Sumenep, 1 Oktober 1990. Karyanya masuk dalam sejumlah antologi cerpen Di Pematang Pandanaran (Matapena: Yogyakarta, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo-Obsesi: Yogyakarta 2010), dan lain-lain. Bergiat di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta, dan kuliah di Jurusan Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 240


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Perahu Morantab Badrul Munir Chair ( Suara Merdeka | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

M

ATAHARI sore membiaskan warna jingga pada air laut ketika Morantab berjalan menyusuri tepian pantai dengan kaki telanjang. Sesekali ombak kecil datang ke tepian membasahi kakinya, hingga tiba-tiba Morantab merasakan kaki kirinya menginjak sesuatu empuk yang tak asing: kotoran manusia. Tak jauh dari pandangannya, seorang laki-laki duduk berjongkok menghadap laut, menyingkap sarungnya hingga pundak, kedua matanya terpejam, dan dahinya mengerut seperti menahan sesuatu. “Huh‌ patek!â€? Morantab mendengus, jengkel. Morantab menepikan sampah-sampah yang berserak di tepian pantai. Ia mendekati perahu-perahu yang berderet di sepanjang tepi. Setiap sore ia harus memeriksa perahunya yang dilabuhkan di ujung desa, tak jauh dari gugusan karang tanda batas kecamatan. Morantab memastikan tali tambang terikat kuat dan perahunya tak akan hanyut terbawa angin pasang. Perahu diikat dengan temali pada pohon lontar. 241


Perahu Morantab

Tak perlu jangkar, sebab perahu itu dilabuhkan di tanah pasir, hanya berjaga-jaga bila sewaktu-waktu air laut terlalu pasang. Cat-cat perahunya terlihat memudar, sebagian mengelupas, pertanda sudah lama tidak dirawat. Padahal papan-papan masih kokoh, merekat simetris. Papan-papan kayu itu dahulu diperoleh Morantab dari tengah laut, buangan kapal besar yang ber tolak dari arah Pulau Kalimantan. Ah, Morantab teringat dengan kejadian 15 tahun silam. Saat itu Morantab hanyalah kuli nelayan—mencari ikan dengan menumpang perahu orang—yang penghasilannya tidak seberapa dan terkadang tak cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan karena kondisi ekonominya sudah sangat memprihatinkan, Halil—anak semata wayangnya—memilih mengadu nasib hingga ke luar negeri sebab Morantab tidak mampu lagi membiayai sekolahnya. Dalam kondisi terpuruk seperti itulah, pada suatu malam, di tengah laut, Morantab melihat papan-papan kayu terapung tak jauh dari pandangan. Beberapa kayu ada yang sudah menyangkut di jalanya. Tak banyak pikir, Morantab melompat dari perahu, mengumpulkan kayu-kayu itu, mengikatnya agar tidak berserak dan tetap mengapung di sekitar perahu. Morantab kemudian meminta izin kepada juragan perahunya untuk mengangkut kayu-kayu itu ke atas perahu untuk dibawa ke pulau. Juragannya setuju, tentu dengan perjanjian ia juga mendapat bagian. Morantab yakin, papan-papan kayu itu sengaja dibuang oleh kapal yang terlalu banyak muatan, atau bahkan sengaja dihanyutkan awak kapalnya untuk menghindari patroli polisi laut sebab kayu yang mereka bawa adalah kayu ilegal hasil dari penebangan liar di Kalimantan yang hendak diselundupkan. 242


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

MATAHARI belum terbit ketika perahu yang membawa Morantab dan kayu-kayu itu berlabuh di pulau. Lamat-lamat terdengar suara sautan “Amiin….” dari speaker Toa di atap Masjid. Orang-orang desa sedang shalat, sebagian lainnya mungkin masih tidur. Selagi hari masih gelap dan pantai sedang sepi, Morantab bergegas memindahkan papanpapan kayu itu sebelum pantai menjadi ramai oleh orangorang yang menunggu perahu datang untuk membeli ikanikan segar. Dengan tergesa, Morantab memindahkan kayu-kayu itu ke rumahnya yang tak jauh dari pantai. Belasan papan kayu bergantian ia pindahkan ke dapur rumahnya yang tak beratap, memikulnya sendiri. Jangan sampai ada orang lain atau tetangga yang tahu, sebab mulut mereka begitu licin untuk mengadukannya kepada petugas kepolisian agar mereka juga mendapat imbalan dari sang petugas. Ah, di desanya itu memang banyak penjilat yang kerap mencari keuntungan walaupun orang lain harus jadi korban. Ketika semua kayu itu sudah dipindahkan ke dalam rumahnya, Morantab dikejutkan oleh suara bentakan istrinya. “Dari mana kau curi kayu-kayu itu, Morantab?” dengan sisa-sisa kantuk sehabis bangun tidur, istrinya bertanya curiga. “Jaga mulutmu, Ramlah! Kayu-kayu ini sudah dibuang pemiliknya ke laut, sekarang jadi milikku!” “Mana ada orang bodoh membuang kayu segini banyaknya ke laut?” “Jaga mulutmu!” Morantab membanting kayu di hadapan Ramlah. Suami-istri itu lalu beradu mulut, bertengkar sengit. Mereka berdebat. Ramlah terus mencurigai asal kayu-kayu itu, dan penjelasan Morantab tak membuat Ramlah percaya. 243


Perahu Morantab

PERTENGKARAN itu sudah 15 tahun berlalu. Kini kayukayu temuan itu menjelma sebuah perahu, perahu yang warnanya terlihat pudar, pertanda sudah lama tidak dirawat, perahu yang papan-papannya sebagian bocor dan sudah sekian lama tidak dipakai berlayar, perahu yang dahulu berjasa mengangkat martabat keluarganya hingga ia dan istrinya bisa membangun rumah dan naik haji. “Kabarnya, perahumu mau dijual, Ji?” tiba-tiba seseorang mencegat langkahnya tak jauh dari tempat perahunya dilabuhkan. Orang-orang desa itu memang memanggilnya “Haji” sebagai panggilan kehormatan. “Badanku sudah tak kuat, Mat. Kelamaan kena angin laut bisa meriang dan muntah.” “Jadi, betulan mau dijual?” “Tak tahulah, Mat. Perahu ini sudah banyak berjasa, sayang kalau dijual.” Sore itu Morantab kembali ke rumahnya dengan hati bimbang. Sudah banyak orang yang menawar perahunya, bahkan dengan harga yang lumayan tinggi. Berkali-kali ada orang yang mendatang i rumahnya untuk menawar perahunya, berkali-kali pula ia menolak. Dan tentu, berkalikali pula ia harus mendengar ocehan istrinya. “Kamu sudah tua, tak kuat lagi melaut, perahu itu sudah lama nganggur, kenapa tidak dijual saja?” “Belum ada harga yang cocok.” “Belum cocok katamu? Uang segitu bisa buat beli mobil pikep!” Ramlah berpikir realistis, memang banyak nelayan yang putus asa menjual perahunya lalu membeli mobil pikep guna disewakan kepada nelayan lain untuk mengangkut ikan hasil tangkapan, atau mengangkut terasi untuk dibawa ke luar kota. Itu akan lebih menguntungkan terutama jika 244


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

pancaroba berkepanjangan yang membuat nelayan tak berani melaut, yang barang tentu tak akan punya penghasilan. Perahu berlayar menyesuaikan cuaca, sedang mobil pikep bisa disewakan kapan saja. Begitulah pikiran Ramlah. Tetapi Morantab tidak mau tergoda dengan tawaran tinggi orang-orang yang datang hendak membeli perahunya. Ia enggan menjual perahunya dengan alasan ia masih punya harapan kepada Halil, anak semata wayangnya. “Halil bisa meneruskan perahu itu, Lebaran depan ia akan pulang.” Masih ada harapan bagi Morantab untuk tidak menjual perahu yang sangat berjasa dan banyak menyimpan kenangan itu. Harapan yang sebenarnya ia jadikan alasan untuk tidak menjual perahunya. “Halil ke Malaysia karena enggan jadi nelayan. Kalau Halil ada disini, tentu ia tak akan banyak pikir untuk menjual perahu tua yang sudah rusak itu!” “Halil ke Malaysia karena tidak tahan mendengar ocehanmu!” Kali ini terdengar suara pintu dibanting. Ramlah tak kalah sengit membalas perkataan suaminya dengan sumpahserapah. Suami-istri yang berusia lebih dari separuh abad itu lagi-lagi bertengkar sengit, seperti biasanya. HAMPIR enam bulan perahu itu tak berlayar, masih terikat kuat pada batang sebuah pohon lontar di tepi pantai ujung desa. Selama itu pula hampir setiap hari Morantab datang ke pantai, untuk memastikan perahunya masih terikat kencang. Mesin perahu dan segala perkakas penting sudah ia amankan di rumah, lampu-lampu kecil yang menghias tiang dan layar perahu, jala dan pancing, semuanya sudah ia simpan. Morantab menatap laut lepas. Sudah begitu lama ia tidak 245


Perahu Morantab

berlayar. Terakhir kali melaut sekitar setengah tahun lalu, ketika itu ia muntah di tengah laut dan sekarat di atas perahu. Awak-awak perahunya memutar arah perahu kembali ke pulau Madura. Ia benar-benar kritis ketika itu. Usia memang tak bisa dilawan, semakin tua penyakit semakin mudah datang. Morantab jadi sering mabuk laut, tubuh tuanya tak lagi tahan angin, belum lagi linu di punggungnya yang semakin menjadi setiap ia menarik jala. Sebab itulah ia memutuskan istirahat, walau keputusan itu tentu teramat berat. Sebulan dua bulan perahu itu memang masih terus berlayar walau tanpa Morantab. Awak-awak perahu yang sudah belasan tahun menemani Morantab masih bisa dipercaya. Selama itu pula Morantab hanya diam di rumah, menunggu hasil tangkapan tanpa jerih payah. Ramlah pun tinggal menunggu perahu datang, lalu menjual ikan-ikan tangkapan. Hasil penjualannya dibagi rata kepada empat orang awak perahu, tentu saja sudah dikurangi biaya beli solar, perbaikan perkakas, juga jatah keluarganya sebagai juragan. Namun itu hanya berjalan sebulan dua bulan. Bulanbulan berikutnya hasil tangkapan ikan semakin berkurang, pendapatannya semakin jauh menurun. Penghasilan perahunya tak cukup lagi untuk makan empat orang awak dan buat beli solar dan perbekalan melaut. Padahal perahuperahu nelayan lain membawa tangkapan melimpah. Sungguh sesuatu yang janggal. Menurut kabar burung yang beredar, awak-awak perahu Morantab kongkalikong dengan nelayan lain, memindah ikan-ikan tangkapan ke perahu lain dan hasil penjualannya dibagi rata ketika sampai di daratan. Karena kini awakawak perahunya sudah tak bisa dipercaya, akhirnya Morantab memilih mengistirahatkan perahu yang banyak 246


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menyimpan kenangan itu. Kini awak-awak perahunya telah menyeberang ke perahu orang. Tak mungkin ia berlayar sendirian. Keadaan menjadi semakin rumit karena Ramlah bersikukuh ingin menjual perahu itu. Morantab semakin bimbang, antara mempertahankan atau melepaskan, merelakan atau mengabadikan kenangan. SEBENARNYA ada alasan lain mengapa Morantab bersikeras tak ingin menjual perahu itu. Bukan hanya kenangan indah bersama Ramlah, bukan karena jasa-jasa perahu itu yang membuatnya bisa membangun rumah dan naik haji, bukan pula karena perahu itu adalah tumpuan hidupnya untuk mencari nafkah selama belasan tahun. Bukan itu, melainkan ada kenangan lain yang dirahasiakan Morantab dari siapa pun, tentang perahu itu. Setiap sore menjelang matahari surup, Morantab tak pernah absen memeriksa perahunya. Awalnya memang karena khawatir perahunya akan hanyut jika air pasang tiba, juga untuk memeriksa papan-papan perahu yang mungkin saja dicuri orang. Namun setelah beberapa minggu berlalu, Morantab mempunyai alasan lain untuk selalu datang memeriksa perahunya setiap sore, sesuatu yang begitu rapat ia sembunyikan, serapat papan-papan itu merekat di lambung perahu. Di ujung desa itu, di balik gugusan karang tak jauh dari tempat Morantab melabuhkan perahunya, setiap sore, seorang perempuan cemas menunggu kedatangan Morantab, menunggu lelaki itu menjemputnya di sungai kecil di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju sebuah perahu, perahu yang jauh terpisah dari perahuperahu lainnya, perahu yang sudah lama tak berlayar. Ya, sebenarnya setiap sore Morantab datang tidak hanya 247


Perahu Morantab

untuk memeriksa perahunya, melainkan untuk menemui Halima, janda satu anak yang telah lama ditinggal mati suaminya. Di balik karang itu, Halima selalu menunggu kedatangan Morantab sambil (pura-pura) mencuci baju di sungai kecil, sesekali ia memandang ke timur jauh, mencaricari bayangan tubuh Morantab. Maka setelah Halima melihat Morantab datang dari kejauhan, ia sudah bersiap untuk meninggalkan sungai itu, dengan pakaian dan rambut basah tergerai. Sementara di sepanjang jalan pantai, Morantab tentu sudah memperhatikan seberapa ramai pantai itu, ia menghitung berapa orang yang masih berlalu-lalang, memastikan seberapa aman kesempatan untuk bercumbu, mencumbu Halima di atas perahu. Setelah semua dirasa aman, Morantab menjemput Halima yang menunggu di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju perahunya. Di atas perahu itu, mereka duduk berdua menunggu matahari lengser, menyaksikan senja surup di balik cakrawala, seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Morantab memeluk Halima tanpa khawatir ada orang lain yang mengetahuinya. Perahu itu cukup aman untuk mereka bercinta, memadu asmara. Itulah alasan mengapa Morantab tak pernah mau menjual perahunya, dengan tawaran berapa pun. Terlalu banyak kenangan, akan ada yang hilang jika perahu itu tak lagi jadi miliknya. Terlalu banyak yang ia rahasiakan, yang mungkin akan terungkap setelah perahu itu terjual. Ia tak ingin kenangannya luntur, tak ingin rahasianya terungkap. Ia masih ingin lebih lama lagi menjaring kenangan di atas perahu itu, bersama Halima. n Yogyakarta, Juni 2011

248


Repro Arthur Braginsky | OpenArt

249


Pohon Zakaria

ilustrasi: repro sumatera ekspres

250


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Pohon Zakaria Dadang Ari Mur tono Murtono ( Sumatera Ekspres | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

I

A tidak tahu kenapa bapaknya mengikuti Zakaria. Ia masih kecil benar ketika itu. Bapaknya berkata sebelum berangkat, “nanti kalau bapak sudah pulang, kita main petak umpet lag i.� Dan ia menunggu. Ibunya juga menunggu. Apakah bapaknya juga menjanjikan hal yang sama kepada ibunya? Apakah bapaknya juga akan mengajak ibunya bermain petak umpet? Namun sepanjang ingatannya, ibunya tidak pernah suka ia bermain petak umpet. Ibunya akan selalu berteriak-teriak memanggilnya untuk pulang dengan berbagai macam alasan. “Sudah surup. Salat Magrib dulu!� teriak ibunya ketika ia bersembunyi di balik pohon mangga dan temannya yang kebagian tugas jaga celingukan hampir putus asa terusterusan gagal menemukan tempat persembunyiannya. Ia mendengus kesal. Ia memasang tampang jengkel sambil keluar dari tempat persembunyiannya. Gara-gara teriakan ibunya, temannya jadi tahu tempat persembunyiannya. Ia penyembunyi yang baik. Jarang sekali ia tertangkap ketika 251


Pohon Zakaria

bermain petak umpet. “Tak baik anak kecil keluar rumah saat magrib tiba. Nanti bisa digondol wewe dan disembunyikan di rumpun bambu,” tambah ibunya sambil menggandeng paksa tangannya untuk segera pulang. Bapaknya pergi dengan membawa parang dan kapak. Ia ingat benar bagaimana pada hari sebelum hari keberangkatan bapaknya, bapaknya mengasah baik-baik dua benda kesayangan bapaknya itu. “Dengan ini bapak mencari uang. Dan uang itu untuk kebutuhanmu bersama ibumu,” kata bapaknya. “Bapak pergi dengan siapa?” tanyanya waktu itu. Dan ibunya, sambil menyiapkan nasi kepal berisi abon sapi untuk bekal bapaknya, menjawab dengan senyum, “tentu saja pergi dengan Zakaria. Tidak ada penebang pohon yang lebih baik dari Zakaria. Zakaria akan memastikan bapakmu pulang dengan banyak pohon tebangan. Dan bila bapakmu dapat banyak kayu tebangan, itu artinya kamu bisa ikut berwisata bulan depan bersama kawan-kawan sekolahmu.” Ia tidak tahu perihal tebang menebang. Ia hanya tahu perihal petak umpet. Perihal mencari tempat yang aman, yang tak bakal bisa ditemukan temannya yang kebagian tugas menjaga. Dan apakah Zakaria tahu perihal petak umpet? “Kenapa bapak tidak pulangpulang, bu?” tanyanya sambil menguap. Sudah berapa hari semenjak keperg ian bapaknya? Entahlah. “Apakah bapak sedang bermain petak umpet dengan Zakaria?” tanyanya lagi. Ibunya diam saja. Namun jauh di kedalaman mata ibunya, ia melihat sebuah telaga. Telaga yang sepertinya kian lama kian penuh airnya. Telaga dengan tepi-tepi yang tak bakal lag i muat menampung air dan siap meluber. Ia sering berpikir bahwa Zakaria bukanlah orang yang 252


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

tahu artinya ditunggu. Atau barangkali, memang tidak ada satu pun orang yang menunggu Zakaria di rumahnya. Menunggu untuk bermain petak umpet. Apakah Zakaria orang yang kesepian? Itukah sebabnya, kesepian itu, yang membuat Zakaria mengajak bapaknya pergi menebang pohon ke hutan dan tak membawa bapaknya pulang? Namun Zakaria tidak pulangpulang. Dengan begitu, bapaknya juga tidak pulang-pulang. Dan ia serta ibunya, juga mesti menunggu lagi. Sudah berapa abad? Bahkan ia sudah tak lagi ingat hal itu. Ia sudah tidak tahu lagi. Sama dengan ketidaktahuannya. Mengapa bapaknya mesti mengikuti Zakaria pergi. Namun dalam hati ia berjanji. Pada suatu waktu, ketika ia sudah cukup besar dan berani pergi ke hutan, ia akan menyusul bapaknya ke hutan. Ia juga akan membawa kapak dan parang. Ia akan menebang pohon. Pohon-pohon yang tumbuh menghalang i jalan bapaknya untuk pulang. Sungguh, ia merasa tak ada lagi orang di dunia yang makan lebih banyak garam dari ia dan ibunya. Suatu kali, ia bertanya kepada ibunya, “kenapa ibu tidak lag i menggoreng mujair?” Ibunya, dengan tersenyum dan mengelus rambutnya berkata, “tidak ada lagi kayu bakar yang bisa dijual, nak. Dan bapakmu tidak juga pulang.” Pada waktu itu, ia begitu membenci Zakaria. Kalau saja bapaknya tidak mengikuti Zakaria, bapaknya pasti akan segera pulang membawa tebangan kayu. Kayu yang bisa dijual sebagai kayu bakar. Sungguh, tekadnya sudah semakin bulat. Ia harus pergi ke hutan. Menyusul bapaknya. Dan berkata kepada Zakaria, “biarkan bapak pulang. Ibu sudah bosan makan garam.” ZAKARIA Memang bukan seorang pemain petak umpet yang baik. Ia tidak habis pikir bagaimana masa kecil Zakaria. 253


Pohon Zakaria

Barangkali Zakaria memang tidak pernah bermain petak umpet sewaktu kecil. Ah, kasihan. Masa kecil Zakaria pastilah bukan masa kecil yang menyenangkan. Zakaria pastilah anak yang kuper. Barangkali Zakaria kecil menghabiskan waktu sepanjang hari untuk membaca buku dan kitab-kitab tua di kamarnya ketika anak-anak sebayanya bermain petak umpet, belajar bersembunyi dan berlari. Barangkali karena itu pula Zakaria tumbuh menjadi lelaki yang sendiri. Lelaki yang kesepian. Lalu memutuskan mengajak bapaknya ke hutan. Zakaria menjengkelkan! Kenapa bapaknya mau mengikuti lelaki seperti itu? Tidak tahukah bapaknya bahwa ia dan ibunya berabad-abad menunggu? Dan masih terus menunggu? Seandainya Zakaria mau menghabiskan masa kecil seperti ia menghabiskan masa kecil, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Pasti Zakaria akan membawa bapaknya pulang. CERITA itu akhirnya sampai kepadanya. Entah siapa yang kali mengisahkan. Ia mendengar dari ibunya. “Tiba-tiba, polisi hutan berdatangan ke hutan itu. Menangkap siapasiapa yang menebang pohon. Menangkap mereka-mereka yang mencari kayu bakar. “Karena itu, semua pencari kayu bakar mesti ditangkap. Tapi Zakaria orang yang keras hati. Ia mengajak bapakmu. Zakaria bilang peraturan pemerintah itu adalah upaya pembunuhan secara perlahan-lahan terhadap orang-orang yang mata pencahariannya pencari kayu bakar. Seperti bapakmu. Seperti Zakaria sendiri. Dan itu harus dilawan. Peraturan yang membunuh, tidak boleh dituruti. Penguasa yang lalim dengan mengabaikan nasib rakyatnya, harus dibantah. Maka dia pergi. Bersama bapakmu. Pergi dan tak kembali.� 254


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ah, seandainya Zakaria pernah bermain petak umpet, pasti ia akan menemukan tempat bersembunyi yang baik ketika para polisi itu mengejar Zakaria dan bapaknya. Pasti Zakaria tidak akan masuk ke pohon itu. Itu tempat persembunyian yang buruk. Para polisi itu dengan mudah mengetahui keratan di batang pohon yang digunakan Zakaria untuk masuk ke dalam batang pohon itu. Dan begitulah. Dengan mudah pula, para polisi itu menebang pohon persembunyian Zakaria. Tentu saja bukan getah yang mengalir dari pohon tersebut. Melainkan darah Zakaria. Zakaria yang tubuhnya terpotong menjadi dua serupa pohon yang tertebang. Namun tidak ada kabar perihal bapaknya. Apakah bapaknya juga bersembunyi di dalam pohon serupa Zakaria? Bapaknya, walau tidak jago, namun pernah bermain petak umpet. Bapaknya pasti sedang bersembunyi. Sudah berabad-abad bapaknya bersembunyi. Dan kini, ia telah bersiap. Ia mesti menjemput bapaknya. Ia sudah lelah menunggu. Ia kasihan melihat ibunya bertambah kurus memikirkan nasib bapaknya. Ia akan pergi. “Berhati-hatilah, Yahya,� kata ibunya. n

255


Ie Boh Janeng

ilustrasi: repro the atjeh post.com

256


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Ie Boh Janeng Cut Meutia ( The Atjeh Post | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

D

EBURANNYA masih sangat sempurna. Tidak ada kebohongan yang tersirat di dalamnya. Kunikmati kejujuran itu, kejujuran yang tak pernah aku dapatkan dari makluk yang bernama manusia. Matahari belum juga menampakkan sinarnya, masih remang-remang fajar. kutelusuri bibir pantai dengan pasirnya yang kelabu. Hanya aku, ombak, dan desau angin. Sejak hukum Syariah timbul tenggelam di tanah ini, derap kebahagian anak-anak muda ikut-ikutan timbul tenggelam. Di bibir pantai ini, aku pernah ditelanjangi oleh hukum yang timbul tenggelam itu. Mereka katakan aku peri dari neraka. Dengan sorak sorai penuh kemenangan, mereka katakan aku najis yang menjijikkan. “Biadap!, baru sedetik aku tertunduk, mereka telah mengacungkan telunjuk. Dasar munafik!�. Kutelusuri bibir pantai setapak-setapak, menikmati ciptaan yang mahasempurna sambil hati berharap, semoga semua beban yang menggunung itu akan luruh terhempas. 257


Ie Boh Janeng

“Aneuk ie boh janeng!� terdengar makian khas ibu tiriku libelas tahun silam. Pernah suatu hari aku bertanya kepada bapak, kenapa ibu selalu mengumpamakan aku ie boh janeng. Mendengar pertanyaanku, mata tua bapak menerawang. Tak berkedip. Bapak balik bertanya padaku. “Bukankah boh janeng itu setelah diolah bisa menjadi sesuatu yang bekelas? Lihat saja, ibumu bisa menjualnya dengan harga mahal karna janeng sudah menjadi makanan langka di zamanmu. Kamu tidak perlu risau dengan kata-kata ibumu, yang penting kamu tidak pernah menjadi ie-nya janeng.� Aku anak bapak satu-satunya dari emakku. Dari ibu tiriku, bapak memilki tiga orang anak perempua lainnya. Bapak hanya seorang nelayan dengan penghasilan yang sangat tidak berkecukupan. Setelah tamat dari sekolah dasar, aku harus bekerja mencari nafkah sendiri untuk bisa melanjutkan pendidikanku di jenjang sekolah menengah, dan begitu seterusnya sampai aku selesai sekolah menengah atas. Ibu sangat tidak senang melihat aku sekolah, karna ketiga anak perempuannya hanya tamatan sekolah dasar. Pekerjaan ibu sehari-hari keluar masuk hutan, mencari keberadaan boh janeng. Ibu sangat mahir mengolah tumbuhan yang terkenal dengan sifat gatalnya itu. Bapak jarang sekali pulang ke rumah. Setelah bapak menikahai ibu, aku dan ibu tinggal di desa pedalaman, kampung tempat ibu berasal. Sedangkan bapak, masih bekerja sebagai nelayan di pinggiran kota. Jarak antara desa dan laut yang lumayan jauh menjadi alasan tersendiri kenapa bapak jarang sekali pulang. Selepas dari sekolah menengah atas, aku bertekad ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku tidak mau mewarisi pekerjaan ibu. Aku tidak mau menjadi perempuan pengolah janeng. Lagian, hutan dan rimba sekarang ini sudah mulai 258


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

tandus, tidak mungkin janeng akan bertahan sampai umurku setua ibu. Suatu hari kutemui Wak Leman, teman seprofesi bapak yang kebetulan menetap di pinggir kota. Wak Leman tidak punya anak perempuan. Aku memohon agar Wak Leman mau menampungku di rumahnya selama aku kuliah. Pertengahan tahun 2007, aku pun mulai tinggal dengan keluarga Wak Leman, membantu apa saja yang bisa aku bantu ketika jadwal kuliah sedang kosong. Bapak semakin jarang pulang ke desa, terakhir aku menemukan bapak duduk termangu di pantai ini. Senja itu bapak mengajakku duduk di pinggir pantai, tempat biasanya bapak mencari sesuap nasi. Tubuh tuanya begitu lusuh dan awut-awutan. “Bapak mau pamitan.” “Pamitan ke mana?” aku bertanya penuh kebingungan. Bapak tidak menjawab, bapak bangun dan mulai melangkah. Sebelum bapak pergi, ia menitipkan kepadaku laut sejauh mata memandang, tanah yang tak berpenghujung, dan angkasa tanpa batasan. Bapak bilang, itulah warisan bapak untukku. Tanpa berpaling, bapak pun melangkah pergi, menghilang di balik deburan ombak yang baru saja diwariskan untukku. Batinku menjerit. “Bapak! Taukah bapak kepada siapa bapak mewariskan itu semua?” “Bapak mewariskan alam yang indah ini untuk si “boh janeng”. “Bapak, ternyata suara ibu ketika memanggilku dengan sebutan “ie boh janeng” terdengar sampai ke kota ini. Kini… orang-orang kota ini juga memanggilku dengan panggilan “ie boh janeng”. Aku tidak tahu bapak, apakah itu kutukan atau hanya sekedar takdir semata, sungguh bapak, aku tidak pernah tahu.” 259


Ie Boh Janeng

“Bapak… Wak Leman dan istrinya telah perg i mendahuluiku dua bulan setelah bapak berpamitan.” “Sebelum pergi, Wak Leman menitipku kepada anak lakilakinya yang toke bangku itu.” “Bapak! Hidup ini begitu pahit. Lorong yang harus aku lalui sangat jauh lagi tak berpenghujung. Rasa lelah yang tak terkira itu telah membuat aku terkapar dalam belaian anak laki-lakinya Wak Leman, toke bangku suaminya Wak Aminah.” “Bapak! Maafkan aku. Bapak kan tahu, aku tidak akan pernah mau menjadi perempuan pengolah jeneng. Aku harus bisa menjadi dokter. Aku ingin mengecat bibirku dengan lipstik berwarna merah menyala. Aku ing in menegakkan daguku di hadapan para pesakit. Aku lelah dengan debu dan asap, bapak. Aku lelah dengan aroma ikan dan panorama laut yang menakutkan. Aku muak dengan ini semua. Aku muak. Aku tidak peduli bapak, apakah aku harus bergumul dengan jelatang atau berpautan dengan benalu, yang penting aku mampu menembus awan, bukankah begitu lenggak janeng, Bapak? Melilit dimana saja, asal pucuknya bisa menjulang.” “Bapak… kini benar kata emak, akulah ie boh janeng itu.” “Aku tak peduli telunjuk-telunjuk mereka menghujamku. Biar saja mereka menjerit, berkata kalau aku ini peri titisan neraka. Biar saja mereka berteriak, kalau aku benih setan, karna aku tahu mereka juga sama iblisnya denganku.” “Bapak, Jumat malam, sehari sebelum ramadan, ketika para pencinta Tuhan sibuk dengan tasbih dan tahmit, mereka yang kemarin itu menudingku “Lonte” malah sibuk menjilati lekuk tubuhku yang aduhai ini di ranjang setan itu.” “Bapak!, tidak berlebihan bukan, kalau aku juga 260


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

menyebut mereka iblis? Aku pernah mendengar kalau iblis dan setan itu akan diikat di bulan ramadhan, dan kami para boh janeng yang menurut mereka-mereka yang sok suci itu adalah mutlak bagian dari iblis betina ini, juga harus mengikat diri, menghentikan aktifitas melilit dan merayap seperti biasanya.” Yang anehnya, peraturan itu hanya berlaku untuk iblisiblis betina saja, sedangkan iblis-iblis jantan yang hampir setiap minggu melilit tubuh-tubuh sintal kami, masih saja bebas berkeliaran, mereka kelihatan aneh dan lucu-lucu, culun dengan sorban dan jubah, berkeliling kota sambil berteriak, “hentikan maksiat di bulan ramadan!” “Bapak! Apakah di bulan lain maksiat boleh jalan terus? Iblis-iblis yang sedang berteriak-teriak itu akan halal bergumul dengan kami para boh janeng ini di bulan lainnya? Entahlah bapak, aku tidak begitu faham dengan hukum yang suhunya sekali tegang sekali rendah itu.” “Bapak! Aku ingin kembali ke rumah kita, rumah emak, rumah tempat aku dilahirkan.” Aku merindui emak, emak yang tak pernah mengajariku istilah busuk apa pun, emak yang terus merangkulku sampai ajalnya lepas dihempas badai. Bukan ibu yang telah mengutukku menjadi “si boh janeng.” “Bapak! Emak! Aku yang menurut mereka-mereka itu adalah “boh janeng” atau lonte ini, kini telah resmi menggenggam gelar “dokter”. Namaku kini “dr Murni Binti Ishak. Emak, benar kata bapak, boh janeng itu jika diracik dengan bagus dan apik, pasti akan menjadi makanan yang berkelas dan bergengsi, biar saja aku menjadi boh janeng, asal saja boh janeng yang sudah kering dari ie-nya yang memabukkan. “Bapak, ini hari terakhirku di pantai dan kota ini. Besok setelah sahur aku akan kembali ke kota tempat aku dan 261


Ie Boh Janeng

emak dilahirkan, akan kulupakan segala pahit yang sudah kukecap selama duapuluh tahun di kota kelahiran bapak! Akan kularutkan ie boh janeng itu bersama ombak di pantai terakhir ini. aku akan pergi tanpa kutukan ibu.� “Bapak tidak perlu risau, bukankah bapak telah mewariskan aku lautan sejauh mata memandang, tanah yang tak berpenghujung dan angkasa tanpa batasan? Ke sana aku akan melangkah! Selamat tinggal bapak, selamat tinggal kota dengan suhu islamnya yang naik turun! Selamat tinggal semuanya... n Kuta Radja, 25 Juli 2012

Prakata: Ie : Air/Getah Boh Janeng: sejenis keladi hutan yang gatal dan bisa memabukkan. Ie Boh Janeng: getah keladi hutan, biasanya orang-orang di Aceh mengistilahkan Ie Boh Janeng kepada orang-orang yang hidupnya tidak benar seperti: pelacur, pemabuk, pencuri, penjudi, dan lain-lain. 262


Repro Morgan Weistling | OpenArt

Cerpen Anak 263


Puasa Pertama Syahdan

ilustrasi: repro haluan

264


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Puasa Pertama Syahdan Ananda M. Iqbal ( Haluan | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

H

ARI ini hari per tama Syahdan. Syahdan sangat bersemangat. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun untuk makan sahur. Sahur pertama ini, Syahdan yakin akan membuatnya kuat menghadapi puasa sehari nanti. Bundapun terheran-heran. “Tumben, anak Bunda tidak susah bangunnya,� kata Bunda. Syahdan hanya tersenyum. Usai makan sahur, Syahdan langsung menggosok gigi dan mengambil wudhu, bersiapsiap untuk sholat Subuh. Seperti biasa setiap kali bulan Ramadhan sekolah di kampung Syahdan diliburkan dan diganti dengan pesantren Ramadhan. Pagi-pagi sekali Syahdan sudah siap menuju mesjid komplek untuk mengikuti pesantren hari pertama. Tadi malam ia juga sudah mengikuti sholat tarwih pertama. Di mesjid, Syahdan bertemu dengan teman-temannya, Ihsan, Emon dan Ikrar. Keempatnya mengambil syaf yang 265


Puasa Pertama Syahdan

sama untuk sholat. Usai sholat Subuh setiap siswa yang mengikuti pesantren wajib mendengarkan ceramah Subuh, lalu mengikuti kegiatan pesantren lainnya. Usai pesantren, Syahdanpun pulang ke rumahnya. Di rumah Syahdan sudah bersiap berencana untuk bermain game hingga siang lalu tidur siang usai sholat Zuhur. Sorenya adalah saat yang paling ditunggu Syahdan. Ia akan ikut Bunda ke pasar pabukoan untuk membeli berbagai macam makanan dan minuman untuk berbuka. Di pasar Syahdan langsung kegirangan, melihat banyak makanan. Ia merengek pada Bunda minta dibelikan ini itu. “Kamu yakin ingin membeli banyak makanan itu, tadi kan sudah beli es dan gorengan,” tanya Bunda. Syahdan mengangguk mantap. Ia yakin akan bisa menghabiskan semua makanan itu. “Kalau tidak habis bagaimana?” tanya Bunda lagi. “Pasti habis Bunda,” katanya. Sesampainya di rumah, Syahdan pun tak sabar menunggu waktu berbuka tiba. Ia memperhatikan Bunda yang menyajikan makanan diatas meja makan. “Syahdan ayo mandi dulu, masih lama berbukanya,” kata Bunda. Dengan malas-malasan Syahdan beranjak. Setelah mandi Syahdan segera menuju meja makan. Tak lama suara sirine pun terdengar. Syahdan siap menyeruput es cendol yang tadi dibeli. “Syahdan, ayo berdo’a dulu,” tegur Bunda. Syahdan tersenyum malu, ia sampai lupa berdo’a. Setelah berdo’a Syahdan langsung menyantap semua makanan yang dibelinya tadi. Ada gorengan, kue, dan beberapa makanan lainnya. Sementara Ayah dan Bunda Syahdan memilih untuk menunaikan sholat Maghrib 266


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

terlebih dahulu. Usai makan, Syahdan benar-benar kekenyangan. “Syahdan ayo sholat maghrib dulu, waktunya sudah hampir habis,” ujar Bunda Syahdan. “Syahdan kekenyangan Bunda,” katanya terperangah. “Makanya kalau berbuka tidak boleh balas dendam. Makan secukupnya. Puasa bukan berarti kita bisa melampiaskan nafsu dan godaan yang telah ditahan pada siang hari. Ingat tidak makna puasa apa,” tanya Bunda. Syahdan tercenung, Bunda benar. Makna puasa adalah menahan diri dari godaan dan nafsu untuk melatih kesabaran. Selain itu juga agar kita bisa merasakan apa yang dirasakan saudara-sudara lain yang tidak beruntung. Makanya tadi Bunda tidak mengijinkan membeli makanan lebih banyak lagi. Ini saja sudah membuatnya tidak bisa berdiri dengan leluasa. “Ya, Bunda, besok Syahdan tidak akan makan banyakbanyak lagi waktu buka,” janjinya. n

267


Hadiah Ramadhan untuk Sarah

ilustrasi: repro jos | kedaulatan rakyat

268


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Hadiah Ramadhan untuk Sarah Wahyu Indriyati ( Kedaulatan Rakyat | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

S

ARAH, ayo nanti tarawih di masjid! Kan buku kegiatan Ramadan kita harus diisi,� ajak Meyna. Sarah hanya diam saja. Meyna jadi kesal karenanya. “Ya sudah kalau tidak mau. Nanti aku ajak teman lain saja. Aku akan memakai mukena baruku,� kata Meyna sambil meninggalkan Sarah yang masih duduk di bangkunya. Beberapa hari lalu di sekolah, Meyna sudah menunjukkan mukena barunya itu dengan bangga. Mukena itu berwarna pink dengan hiasan renda di bagian tepinya. Juga ada bunga-bunga imut menghiasi perlengkapan salat itu. Temanteman Meyna kagum melihatnya, termasuk Sarah. Meyna memang anak dari keluarga berkecukupan. Ia punya banyak koleksi kerudung dan mukena. Sering ia memakai kerudung atau mukena yang bagus-bagus ke sekolah atau masjid. Sedangkan Sarah hanya dapat melamun sedih. Anak itu sebenarnya juga ingin salat berjemaah ke masjid seperti teman-temannya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tak bisa setiap hari pergi tarawih. 269


Hadiah Ramadhan untuk Sarah

Ia malu mengatakannya kepada Meyna atau teman lainnya. Petang hari menjelang Isya, Sarah mendengar suara riuh anak-anak di luar rumah. Sarah mengintip dari balik jendela. Rupanya mereka beramai-ramai menuju ke masjid untuk salat tarawih. Anak-anak perempuan memakai mukena berwarna-warni. Di depan mereka ada juga beberapa anak laki-laki mengenakan sarung dan berkopiah. Mereka bercanda dan bercakap-cakap di sepanjang jalan. Pantas saja suara mereka ribut sekali. “Kak, kali ini aku yang ke masjid, ya!” sebuah suara mengagetkan Sarah. Rupanya Alifah, adiknya. Anak itu sudah rapi dengan mukena yang dikenakannya. Sarah mengangguk. Alifah tersenyum dan bergegas keluar rumah bergabung dengan anak-anak lain. Keesokan harinya teman-teman Sarah asyik bercerita tentang ceramah ustad di masjid semalam sebelum tarawih. Hanya Sarah yang diam saja karena semalam tak ikut ke masjid. Meyna, Ria, dan teman-teman lainnya bercerita dengan penuh gelak tawa karena Pak Ustad semalam ceramahnya bagus dan lucu. “Kenapa kamu semalam nggak ikut tarawih, Sarah?” tanya Ria. “Aku tarawih di rumah, berjemaah dengan Ibu,” jawab Sarah. “Ah, bilang saja kalau kamu malas. Kalau tidak malas, pasti kamu ke masjid!” kata Meyna dengan sinis. Sarah hanya diam. Ia tak tahu harus bilang apa. Malamnya, Sarah berangkat tarawih ke masjid. Adiknya gantian salat di rumah setelah Sarah pulang. Begitu seterusnya, mereka bergantian ke masjid. Hal itu membuat Meyna semakin sinis menyebut Sarah sebagai pemalas. “Alifah, kakakmu mana? Pasti malas, ya...?” tanya Meyna dalam perjalanan pulang dari masjid. 270


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

“Kakak di rumah. Tapi dia tidak malas, Kak Mey. Terpaksa kami gantian ke masjid seperti ini karena...,” Alifah nampak malu-malu untuk melanjutkan jawabannya. Tapi akhirnya Alifah bertutur bahwa mereka berdua hanya punya satu mukena. Jadi harus dipakai bergantian. “Bapak belum bisa membelikan kami mukena baru dan bagus seperti punya Kak Meyna ini,” kata Alifah sambil menunjuk mukena Meyna. Saat itu Meyna baru memperhatikan, alangkah beda keadaan mukena barunya dengan mukena milik Alifah. Mukena Alifah yang juga dipakai Sarah itu bukan mukena baru, bahkan sudah lusuh. Warnanya putih tapi sudah kusam. Ada beberapa bagian yang tampak bekas dijahit karena robek, mungkin karena terlalu sering dipakai. Tiba-tiba Meyna jadi merasa malu dan merasa bersalah sekali. Esok harinya, Sarah terkejut menemukan sebuah kado berpita merah di depan pintu rumahnya. Saat dibuka, ada dua mukena bagus berwarna putih bersih dan masih tampak baru di dalamnya. Sebuah surat terselip di antaranya. Sarah membacanya dengan rasa penasaran. “Sarah, maafkan aku, ya. Aku menyebutmu pemalas, padahal kamu dan adikmu sangat rajin salat. Ini, ada dua mukena yang mungkin dapat kalian pakai, biar tak usah gantian ke masjid. Jadi kita bisa ke masjid bareng-bareng, deh! Dipakai, yaa... Meyna.” “Alhamdulillah!” seru Sarah bersyukur atas pemberian dari seorang teman yang mau berbagi, yaitu Meyna. Inilah bingkisan Ramadan yang istimewa untuknya dan adiknya. Sangat istimewa! n

271


Arti Sebuah Kesetiaan

ilustrasi: repro david siagian | medan bisnis

272


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Arti Sebuah Kesetiaan Cha Canlierz ( Medan Bisnis | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

K

AU benar-benar akan kencan dengannya?” Ucapan Rini teman sekamarmu membuatmu berhenti mematut diri dikaca. Kau memandangnya dari biasan kaca. Jelas kau tangkap raut wajah khawatir diwajah sahabatmu itu. “Kenapa tidak?” Ucapmu ringan. Kau kembali memilihmilih baju yang akan kau kenakan. Kau melirik jam yang ada dipergelangan tanganmu, lantas menghembuskan nafas. Sesaat lagi ia akan datang menjemputmu. Lelaki yang pernah mencintaimu, juga pernah kau cintai. Lelaki yang lebih dari tiga tahun menemani harimu. Lelaki yang menghempaskanmu,tepat di saat kau melambung atas baitbait rasa yang ia tawarkan. “Jangan bilang kalian mau balikan?” Ucapan Rini tibatiba membenturkan perasaanmu. Kau membalikkan badan, menatap dalamdalam kematanya. Lalu kau mengerjap, membuang pandang kearah jendela. “Kau sayang dia?” Ucap Rini lirih. Kau tak menjawab, hanya mengangguk 273


Arti Sebuah Kesetiaan

pelan. “Kau tahu, dia masih jadian sama selingkuhannya itu?” Kau tak menjawab lagi juga tak mengangguk. Tapi, kau tahu persis lelaki itu masih mencintai gadis itu. gadis yang merebut setengah hasrat tertawamu. Suara klakson mobil membuat kalian menoleh bersamaan. Kau menyambar tas tangan dan gadgetmu. “Please... aku baik-baik aja.” Ucapmu lirih. Dari jendela, Rini masih mengamati. Lelaki itu turun dari balik kemudinya ketika kau berjalan mendekat. Membukakan pintu untukmu dengan sopan, sekilas ia memandang kejendela lalu melambaikan tangan kearah Rini. “Leo, kita mau kemana?” Ucapmu tak lama setelah mobil sedan hitam itu membelok diujung gang rumahmu menuju jalan besar. Leo menoleh kearahmu dan tersenyum ringan. “Tunggu aja, aku tak akan membuatmu kecewa.” Ucapnya pelan. Kau masih memandang i wajah itu beberapa jeda, hingga ketika mobil itu berhenti disebuah Restoran ternama dikotamu. Kau terdiam melihat ornamen restoran itu. Hingga kau merasa dadamu sesak, semua dinding bertaburan kerlap kerlip lampu, boneka dan coklat. Leo menarik kursi untukmu, setelah membungkukkan badan dan duduk dengan nyaman kau menangkap mata Leo menjurus kearahmu. Seorang pelayan datang ke arah kalian sambil membawa menu. “Ommelet di sini paling enak.”ucapnya tiba-tiba. Kau hanya mengangguk dan menyerah. Kali ini otakmu tak mampu bekerja, jantungmu berdetak tak seperti biasa. seperti dua tahun lalu, ketika Leo masih kau miliki. Beberapa menu dipesan oleh Leo, sepertinya ia masih sangat hapal kesukaanmu. Ketika semua menu itu ada dihadapanmu, selera makanmu menguap begitu saja. Pergi 274


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

entah kemana. Baru saja nafasmu mulai beriringan, kau menoleh ketika mendengar alunan jazz lembut. Lampu utama mati dan digantikan lampu temaram, slide berganti satu persatu. Bait-bait cinta terurai. Ah .... mengapa hari ini terasa begitu romantis? Batinmu. Kau lupa hari ini hari valentine, hari yang kata orang hari kasih sayang itu. Hari di saat teman-temanmu sibuk akan coklat dan kado, tapi tidak untuk kau. Kau tak pernah mengenal kata itu. bahkan tak begitu mengerti. Yang kau tahu, malam ini sangat manis, bukan karena hari kasih sayang, tapi atas semua sajian semu yang kau cicip. Kau menyentuh layar touchscreen tak keruan. Bingung dan tak mengerti apa yang akan kau katakan. Leo juga lebih banyak diam, hingga kau rasa tangannya menyentuh jemarimu dan memasukkan sebuah cincin emas putih dengan permata kecil diatasnya. Matamu mengerjap. Agak lama kau pandang cincin itu. cincin yang tak asing bagimu. Kau melepasnya dari jemari dan membaca kata dilingkaran dalamnya. Benar! Tak salah lagi! Itu adalah cincinmu dulu, cincin yang pernah kau campakkan ketika kau mengetahui Leo mengkhianatimu. “Saat itu, aku menyesal dan ingin meminta maaf. Tapi, waktu aku lihat kau membuangnya. Aku mencarinya dan selalu menyimpannya....� Leo tak meneruskan ucapannya. Sengaja berhenti bicara, tak berkata apa-apa. Ia memandangmu yang menunduk semakin dalam. “Aku masih mencintaimu.� Kau menarik tanganmu cepat, dan menyembunyikannya dibawah meja. Air mukamu berubah, kau meremasremas tanganmu resah. Tidak! Tak boleh jatuh cinta padamu lagi. Aku tak ingin jatuh kelubang yang sama dua kali. aku tak ingin sebodoh cacing. Batinmu. 275


Arti Sebuah Kesetiaan

Leo menatapmu linglung, tak tahu mengapa kau bersikap acuh padanya. Tak menger ti mengapa kau menarik tanganmu tiba-tiba. Kau merasakan sesak didadamu, pertanyaan dan fikiran buruk bersiliweran ditelingamu. “Aku mau pulang!” Ucapmu tegas, tapi terdengar ketus. Leo menatapmu dengan raut penyesalan. Waktu yang ia pilih tak cocok rupanya, hingga baru jam menunjukkan pukul delapan malam kau sudah ingin pulang. Kalian berjalan kearea parkir tak beriringan. Tiap kali Leo ingin sejajar denganmu kau mempercepat langkah. Hingga ketika mobil telah melaju kearah rumahmu, kau lebih banyak diam dan membuang pandang keluar jendela. “Maaf....” Ucap Leo tercekat. “Untuk semuanya.” “Sudahlah.” Sahutmu dingin. Leo memberhentikan mobilnya tepat didepan rumahmu. Kau membuka pintu yang terkunci itu. “Seandainya saja aku masih punya kesempatan.” Ucap Leo lirih tanpa menatapmu. Dari suaranya, kau tahu ada getaran yang keluar dari tenggorokannya. “Aku memang masih mencintaimu, tapi pengkhianatan itu, harus dibayar mahal. Aku tak bisa kembali.” Ucapmu sambil tetap mencoba membuka pintu mobil. “Jika aku menerimamu lagi saat ini, suatu saat bisa saja kau melakukannya lagi, dan semua terulang kembali. Terimakasih telah mengajarkan arti kesetiaan dengan mengkhianatiku.” Pintu terbuka setelah, Leo menekan tombol pengunci pintunya. Kau melangkah, tanpa membalikkan tubuhmu lagi. n

276


Repro Andrew Atroshenko | OpenArt

277


Mukena Merah Jambu untuk Lisa

ilustrasi: repro padang ekspres

278


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Mukena Merah Jambu untuk Lisa Shinta Hadia Putri ( Padang Ekspres | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

T

ERIK matahari begitu panas, membuat Lisa malas untuk pergi bermain. Dia hanya tidur- tiduran di lantai rumah sambil menonton televisi. “Sa, kok tidurnya di atas lantai, nanti masuk angin” kak Siti mengingatkan Lisa. “Tak tahan kak, panasnya membuat badan ni gerah” jawab Lisa. Kak Siti hanya menggeleng-gelang melihat kelakuan Lisa. “Katanya tadi mau menghapal, biar di kasih hadiah seperti kak Nisa tahun lalu? Mana semangat Lisa?” perkataan kak Siti membuat lisa kesal. “Iya, ne mau istirahat dulu menghilangkan gerah kak”. Kemudian kak Siti pergi meninggalkan Lisa. Setelah itu Lisa bangun dari tidurnya, kemudian mengambil buku dan menghapal. Terkadang hapalannya terbalik-balik, sehingga terdengar oleh kak Nisa yang baru pulang. “Udahlah, kamu tak bakalan bisa menghapal sebagus kakak” kak Nisa sambil mengejek adiknya. “Biarin, nanti juga hapal kok, namanya juga masih belajar. Gangguin 279


Mukena Merah Jambu untuk Lisa

saja kakak nih! Udah pergi sana jauh-jauh! Ibu liat kak Nisa gangguin Lisa” Kata Lisa dengan mendorong Nisa. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Biasanya ia sangat sulit untuk bangun pagi, tapi untuk hari ini, Lisa bangun lebih awal tanpa harus dibangunkan. Sebelumnya ibu telah mempersiapkan kado yang diminta oleh Lisa. Isinya mukena berwarna merah jambu bermotif bunga-bunga. “Ti ini mukena yang ibu beli, baguskan?” ibu memperagakannya kepada kak Siti. “Ini untuk Lisa bu? Bagus bu, ada motif bunga-bunganya” jawab kak Siti dengan terseyum. Tiba-tiba datang Nisa yang menguping percakapan ibu dan Siti. Nisa pergi dan merasa ibunya pilih kasih karena mukena Lisa lebih bagus dari pada mukenanya. Ibu menyadari kedatangan Lisa. “Sa, kamu kenapa? Kok nangis?” Kata ibu. “Mukena Lisa lebih bagus dari Nisa, kok Nisa tidak dibelikan seperti itu? Nisa menangis terisak-isak. “Nisa, Nisa tidak boleh gitu. Kalian ini bersaudara. Jadi tidak boleh saling cemburu gitu. Seharusnya saling mendukung.” kata ibu menasehati Nisa. “Iya bu, maafin Nisa. Tidak seharusnya Nisa begitu kepada adik Nisa sendiri. Maafin Nisa bu.” Nisa memeluk Ibunya. Lisa sudah selesai mempersiapkan diri. Kemudian ibu mengantarkan Lisa ke Madrasah. Di jalan Lisa terus mengulang-ngulang hapalannya. Sampailah Lisa di Madrasah. Ia duduk dibangku paling depan sambil menunggu giliran. Tubuhnya dingin dan berkeringat disertai gugup. “Baiklah peserta yang ikut ujian selanjutnya adalah Elisa.” kata pak guru. Lisa maju dan langsung membacakan hapalnnya dengan penuh konsentrasi. Semua peserta telah menyelesaikan ujiannya. Sekarang tinggal pengumuman kelulusan. Guru-guru sibuk membagikan hasil ujian kepada murid-muridnya. “Hore Lisa lulus, ibu Lisa lulus. Hore hore.” teriak Lisa. Ibu menghampiri 280


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Lisa dan memeluknya. Sebelum pulang pak guru memberikan nasehat. “Selamat kepada murid-murid bapak yang telah lulus dalam ujian. Bapak berharap kalian tidak bosan menghapal karena Allah. Selalu belajar dan belajar. Hmm, bapak ingin bertanya. Siapa yang mendapatkan hadiah dari orang tuanya?” tanya pak guru kepada muridnya. “Saya pak. Saya pak. Saya mendapatkan sepeda. Saya mendapatkan baju baru.” Teriak anak-anak. Pak guru senang melihat kegembiraan muridmuridnya. Pak guru berpesan jika mereka mendapat hadiah setelah hapalan, maka jangan menghapal karena ingin mendapat hadiah, tapi belajar karena Allah. Lisa termenung mendengar perkataan pak guru. Ia menyadari bahwa, ia menghapal karena ingin mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Sesampainya di rumah, Nisa hanya diam. Sehingga membuat ibu heran melihat perubahan Lisa. “Sa, kok diam saja dari tadi. Hapalnnya kan sudah selesai, senyum dong jangan cemberut gitu. Jelek banget anak ibu.” kata ibu menggoda Lisa. “Bu, Lisa tidak jadilah meminta hadiah mukena. Lisa ingin menghapal cuma karena Allah, supaya hapalannya menjadi berkah.” Begitu seriusnya Lisa mengucapkannya. Ibu tersenyum memandangi wajah Lisa dengan penuh haru. “Anak ibu, ibu sayang sekali sama kalian.” Ibu memeluk ketiga anaknya. Kemudian ibu memberikan kado yang ibu janjikan untuk Lisa. “Lisa, ini adalah hadiah dari ibu, karena Lisa telah berhasil menghadapi ujian. Kado ini bermanfaat untuk Lisa” Lisa tak dapat berkata apapun, ia hanya terus memeluk ibunya. n

281


Mati Lampu

ilustrasi: repro tar | pikiran rakyat

g Azka Fadhilah Nurfatmah, Kelas VI B. SD IT Luqmanul Hakim. Jln. Wuluku IV No.5 Babakansari Kiaracondong Bandung. 282


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Mati Lampu Azka FFadhilah adhilah Nur fatmasari Nurfatmasari ( Pikiran Rakyat | Minggu, 29 Juli 2012 )

o

K

ETIKA di rumahku mati lampu, kami: aku, dua or ang kakakku, dan adikku berkumpul di ruang keluarga. Kami berbincang-bincang. Lalu Anna kakak sulungku memutar sebuah lagu, dan Stuart kakak keduaku lalu menari mengikuti musik. Tiba-tiba, ketika Stuart sedang menari-nari, ayah dan ibuku datang menghampiri kami. Mereka meminta bergabung. Tentu saja kami mengijinkan dengan wajah berseri-seri. Ayah dan ibu jarang berkumpul dengan kami. Mereka selalu bekerja. Ketika makan malam saja mereka tidak ada dirumah. Mereka pulang pukul sebelas malam dan berangkat pukul empat pagi, ketika kami sedang tidur. Ayah berbicara mengenai kantornya. Mengenai meeting-nya yang berjalan lancar dua hari yang lalu. Mengenai teman-teman kantornya yang unik. Dan mengenai sebuah taman huburan. Katanya, dia berencana mengajak kami ke sana. 283


Mati Lampu

Ibu bercerita tentang teman-temannya, tentang pertemuannya dengan seorang kawan SMA di mal. Tentang rencananya mengajak kami berwisata ke Australia. Kemudian kami (Anak-anak) bercerita tentang sekolah kami. Prestasi kami di sekolah, dan teman-teman kami. Tawa dan lelucon terdengar malam itu. Tak seperti biasanya, diam dan diam. Menjelang pukul sembilan malam, ayah menyuruh kami tidur. Kami serentak mengeluh. Kami semua takut gelap, dan tak ada yang mau tidur ditemani gelap sendirian. Setelah berpikir sebentar, ayah pun memutuskan. Kami boleh tidur di ruang keluarga, beramai-ramai menggunakan kasur lipat. Kami pun bersorak riang. Ayah mengambil empat kasur lipat dari gudang dan menggelar kasur lipat itu di ruang tengah. Lalu kami beramai-ramai mengambil bantal dan kasur dari kamar kami. Pukul sembilan malam, kami berempat sudah siap tidur. Ayah memeluk kami dan Ibu mengecup kening kami sebelum tidur. Tak seperti biasanya. Katika kami tidur, ayah dan ibu tetap berada di ruang keluarga. Mereka mengobrol sambil berbisik. Aku sempat mendengarnya ketika belum tidur. Tanpa sadar aku tidur sambil tersenyum, dan berharap. “Tuhan, semoga keadaan seperti ini berlangsung seumur hidupku.� Tapi esoknya, semua berubah. Lampu telah menyala. Ayah dan ibu sudah tidak adadi ruang keluarga. Mereka sudah tidak ada di rumah. Mereka sudah berangkat kerja. Kurasa bahuku menegang. pikiranku dipenuhi satu kalimat, “Apakah hari-hariku akan berlangsung seperti biasa kembali?� 284


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Dan benar saja tiada lagi pelukan itu. Tiada lagi kecupan itu. Tak adalagi percakapan itu. Aku dan ketiga saudaraku hanya bisa berharap, “Semoga Tuhan mematikan lampu di rumah kami kembali”. Dan batinku berbisik, “Tuhan aku rela hidup dalam kegelapan asalkan kejadian itu terulang kembali.” n

285


Repro Andrew Atroshenko | OpenArt

286


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

Lampiran o TRIBUN JABAR Fandrik Ahmad | Maling KOMPAS.COM Rudi Setiawan | Mbah Jo dan Pesta Demokrasi OKEZONE.COM Arpan Rachman | Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini THE ATJEH POST Risman A. Rachman | Perempuan Rasa Es Krim THE ATJEH POST Keumalahayati | Teungku Bakhee MALUT POS Rudi Al-Farisi | Ketegaran Cinta Bertasbih SUARA KARYA Dwi Rejeki | Ramalan Papa BANJARMASIN POST Miranda Seftiana | Rindu Hujan dan Senja

287


Lampiran

HALUAN Dodi Prananda | Kekasih Kupu-Kupu HALUAN KEPRI Rischa Miskiyya | Purnama di Mata Mama HARIAN ANALISA Ririn A. Putri | Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi JAWA POS Abidah El Khalieqy | Menunggu Kapak Ibrahim JURNAL NASIONAL Tita Tjindarbumi | Perempuan Pilihan KEDAULATAN RAKYAT Abidah El Khalieqy | Cerita Sebelum Puasa KOMPAS Budi Darma | Tangan-Tangan Buntung KORAN TEMPO Dewi Kharisma Michellia | Rindu LAMPUNG POST Muhammad Harya Ramdhoni | Di Bawah Kaki Pesagi MEDAN BISNIS Eva Riyanty Lubis | Di Sore Itu METRO RIAU Rian Harahap | Si Gelar M.Pd PADANG EKSPRES Riza Multazam Luthfy | Negeri Tanpa Perempuan PIKIRAN RAKYAT Tjak S. Parlan | Sebuah Rumah di Bawah Menara PONTIANAK POST Erma Nurini | Syarat Cinta Alya POS KUPANG Lylaa Ve | Surat Tengah Hujan RADAR LAMPUNG Muhammad Septian Rachmandika | Air Terjun NaCL

288


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-V Juli 2012

RADAR SURABAYA Richa Miskiyya | Surat Untuk Izrail REPUBLIKA Sinta Yudisia | Sedekah Minus RIAU POS Griven H. Putera | Idul Fitri di Kampung Mati SERAMBI INDONESIA Masriadi Sambo | Meugang SUARA MERDEKA Badrul Munir Chair | Perahu Morantab SUMATERA EKSPRES Dadang Ari Murtono | Pohon Zakaria THE ATJEH POST Cut Meutia | Ie Boh Janeng HALUAN (Cerpen Anak) Ananda M. Iqbal | Puasa Pertama Syahdan KEDAULATAN RAKYAT (Cerpen Anak) Wahyu Indriyati | Hadiah Ramadhan untuk Sarah MEDAN BISNIS (Cerpen Anak) Cha Canlierz | Arti Sebuah Kesetiaan PADANG EKSPRES (Cerpen Anak) Shinta Hadia Putri | Mukena Merah Jambu untuk Lisa PIKIRAN RAKYAT (Cerpen Anak) Azka Fadhilah Nurfatmasari | Mati Lampu

u 289


Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-V, Juli 2012  

Rampai ini adalah database cerpen dari media-media yang menerbitkan cerpen. Kutipan sebagaian dan keseluruhan harus menggunakan sumbernya.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you