Page 1


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau keseluruhan isi buku ini dalam bentuk apapun secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan tehnik perekaman lainnya, tanpa seizin tertulis dari penerbit. Rujukan dari maksud Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan dan memperbanyak ciptaan pencipta atau memberikan izin untuk itu, dapat dipindana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii


Bunga Rampai Cerpen Minggu

Minggu Ke-IV Periode: 16 - 22 Juli 2012

iii


Bunga Rampai Cerpen Minggu Minggu Ke-IV Periode: 16 - 22 Juli 2012

All Rights Reserved Riset & Dokumentasi: Ilham Q. Moehiddin Gambar Sampul: Repro Duffy Sheridan | OpenArt Gambar Belakang: Repro Ampresionista by Alfred Sisley | OpenArt Desain sampul: IFW ArtDesign

Juli, 2012 x + 270 hal; 21 x 29,7 cm

iv


bunga rampai cerita pendek yang sedang anda baca ini adalah kumpulan yang diriset untuk dokumenasi. tidak ada kepentingan lain, kecuali sebagai data-base sematamata.

v


Daftar Isi

Daftar Isi g Pengantar | viii Hikayat Titibang | 1 Gara-Gara Cilok | 9 Buka Puasa Bersama Ibu | 19 Dukun Buang Jin | 27 Kampung Surga | 33 Sang Kepala Desa | 43 Sang Penyuap | 51 Lolongan Tengah Malam | 59 Pulang | 67 Perempuan yang Memanggul Duka | 73 Haji Sulaiman | 81 Jangan Pernah Menangis, Januari | 89 Tunggu Aku | 97 Berhala | 103 Ulang Tahun | 111 vi


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

g Pagi Menganga | 119 Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri | 125 Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus... | 133 Mbah Kardoen | 141 Tukang Ceramah | 149 Seindah Telaga Kautsar | 161 Memburai Kaki yang Ajaib | 169 Zam-zam Buat Ibu | 175 Senyum Terakhir | 183 Kau, Aku, dan Pendampingmu | 191 Elegi Tepian Ogan | 201 Nua Ora Meringkih | 211 Lelaki dan Dongeng Pembunuh | 219 Kecewa | 223 Kau Berkata tentang Senja | 229 Gulistan | 237 Seekor Unta pada Hari Jumat | 249 Lampiran Data Cerpen di Media Minggu Ke-IV, Juli 2012

g vii


Pengantar

Pengantar o

C

ERPEN-CERPEN minggu ini cukup menarik disimak. Ide dan gagasan yang dimunculkan para pengarang secara intrisik sangat menyegarkan. Berbalur bulan suci Ramadhan, sehinggalah kemudian beberapa cerpen memanfaatkan moment ini untuk mengangkat tema-tema ke-ramadhan-an, baik dengan taste personal, atau menggali ruang yang lebih luas. Beberapa juga bermain dalam tema lokal, seperti cerpen dari Flores (Kupang Pos) yang mengangkat tema krusial soal kepemimpinan adat yang disalah gunakan. Sayang sekali, cerpen yang konon ditulis oleh mahasiswa semester lima Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Flores, tak dituliskan dengan baik. Sangat banyak kekeliruan fundamental dari cerpen itu yang patut dicermati. Pada cerpen “Gara-gara Cilok�, si pengarang mengulangi kekeliruan serupa: tak tahu penempatan tanda baca yang benar, pengunaan kata sapaan dalam kalimat, dan beberapa teknik mendasar lainnya. Cerpen yang sangat menarik adalah cerpen yang ditulis Adek Alwi, berjudul “Buka Puasa Bersama Ibu�. Cerpen ini sangat menyentuh, dikisahkan dengan alur yang sangat baik, dan dengan bahasa yang enak, mengalir. Beberapa cerpen senior mewarnai himpunan cerpen viii


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

mingguan ini, seperti Adek Alwi, Hermawan Aksan, Soesi Sastro. Cerpen Tribun Jabar, “Berhala”, memiliki gagasan yang sangat menarik, dan akan jauh lebih menarik apabila dituliskan dengan baik. Si pengarang, seorang dosen pascasarjana, dan menerjemah kitab-kitab kuning, terasa memaksakan penceritaan sehingga merusak alur dan pembacaan. Cerpen “Tukang Ceramah” sebelum dimuat di Haluan Kepri, ternyata sudah lebih dulu pernah muncul di akun Kompasiana milik penulisnya, pada Oktober 2011. Menarik (atau barangkali aneh) yang terjadi pada Harian Medan Bisnis. Pada edisi minggu halaman 11 (Art & Culture), di kolom di mana biasanya cerpen bercokol, justru diisi artikel esai-kajian terhadap cerpen “Kaki yang Ajaib” karangan Hasan Al Banna yang termuat di Tempo, edisi Minggu 10 mei 2012. Kajian itu berjudul “Memburai Kaki yang Ajaib” ditulis oleh Syafrizal Syahrun. Typografi cerpen memang kadang jadi persoalan. Beberapa cerpenis sering mengeluhkan soal typo ini. Ketika karangan telah di tata letak, tampak sekali perubahan pada typo (paragraf, kata sambung, tanda hubung yang bertebaran di mana-mana, pemenggalan paragraf dari satu menjadi dua, dll.) sangat berbeda dengan typo karangan aslinya. Ini menganggu, sebab sebagai salah satu unsur estetik dalam penulisan, typo belum dilihat oleh penata letak sebagai hal yang mesti diperhatikan benar. Pergeseran typo dan berubahan bentuk tubuh cerpen akan sangat mengurangi nilai cerpen itu sendiri. n Salam. Penyusun

ix


Hikayat Titibang

ilustrasi: the atjeh post

x


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Hikayat Titibang Herman R N. RN. ( The Atjeh Post | Minggu, 16 Juli 2012)

o

S

EJAK kecil kau kubesarkan dengan sayapku. Kusisir bulu-bulumu agar kelihatan rapi, saban hari. Kubolakbalik rerumputan untuk mendapatkan umpan yang nikmat, lalu kusuapkan ke mulutmu dengan mulutku, dan lidah kita beradu. Kau pun meminum ludahku. Tatkala sehelai bulu pun belum tumbuh di badanmu, tak kubiarkan seekor semut jua mendekati apalagi sampai meneggigitmu. Kubangun tempat berteduh dari kumpulan ilalang kering. Kujalin dengan kokoh dan indah agar kau nyaman lagi betah di sarang. Ketika malam datang, kusimpan engkau di bawah ketiakku agar angin laut atau angin gunung tak mengusikmu. Sengaja kudirikan rumah di pohon yang tinggi dan berbuah lebat, agar air laut tak sampai menerjang, agar kau dapat menikmati ranumnya bebuahan. Semua yang terbaik kuajarkan kepadamu. Ketika tubuhmu mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, kuajarkan cara melompat dari satu dahan ke dahan lain agar kelak kau terbiasa meringankan tubuhmu saat terbang. 1


Hikayat Titibang

Ketika paruhmu mulai kokoh, kuajari cara mematuk buah. Kuajari cara menyimpan makanan di tembuluk sebagai bekal di saat lapar. Kuajari juga kau cara bersiul. Aku sangat senang ketika kau menyambutku pulang dengan suaramu yang masih nyaring itu. Aku tak pernah menyangka ketika kau beranjak dewasa, permintaanmu mengejutkanku. Sengaja kupelihara kau dengan manja di rumah kita. Aku tak pernah menyangka jika kau menginginkan terbang lebih jauh. Bahkan, sudah pernah kusampaikan dunia luar tidak seperti yang kau bayangkan. Ketahuilah, anakku, kau satu-satunya benih dari telurku yang selamat. Selebihnya ada yang diterbangkan badai, ada yang dicuri ular, ada yang diambil manusia, ada juga yang hancur digulung ombak besar. Kita bangsa burung memang mudah menjelajahi alam ini, tapi apa yang dapat kita lakukan? Kita burung Titibang, anakku. Tak ada yang dapat kita lakukan, percuma kau ke luar. “Aku hanya ingin melihat-lihat, Ibu,� sahutmu. Inikah balasanmu, Anakku? Kecil kau kupelihara, besar kau pandai berkata. Aku memang sangat senang melihat kelincahanmu di waktu kecil, tapi ketika kau begitu lincah untuk meminta setelah dewasa? Oh, Anakku. “Ibu, bukan maksudku begitu. Aku hanya ingin tahu keadaan di luar sana, seluas apakah dunia ini? Bukankah Ibu yang bilang dunia ini sangat luas? Ibu bilang juga, Tuhan tak pernah melarang untuk kita menjelajahi seluruh dunia. Mengapa ibu tak mengizinkanku? Lagia, aku ke luar tidak sendiri, aku mau keluar bersama Ibu.� Kita terus berdebat soal keinginanmu ingin melihat dunia luar. Berulang kali kukatakan baiknya kau tinggal di sarang. Baiklah, aku akan membawamu terbang ke seberang lautan 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

sana, tapi dengan satu syarat, jangan pernah bertanya ‘mengapa’ ketika kau melihat sesuatu sampai aku menjelaskannya suatu saat. “Mengapa begitu, Ibu?” “Sudah kukatakan, jangan bertanya ‘mengapa’. Jika kau bertanya mengapa, aku tak akan menemanimu. “Baiklah, Ibu.” “Kau harus berjanji.” “Aku janji, Ibu.” Hari yang kujanjikan tiba. Aku akan menemanimu terbang ke seberang lautan. Aku tahu kau Titibang kecil yang pintar. Kau akan bertanya tentang segala hal yang kau lihat. Pesanku kembali, kau jangan penah bertanya ‘mengapa’ padaku. Kita burung Titibang, terbang ke sebelah barat. Ini pertama kali kau kuajak menyeberang laut. Bisa kubaca ketakjuban di matamu ketika bintik-bintik putih di permukaan air laut pecah, lalu hilang. Anakku! Begitulah kenikmatan dalam hidup ini, seperti buih yang memutih lalu pecah. Di seberang laut, pada sebuah negeri kita akan singgah. Di sana kau dapat melihat sisa kehancuran. Rumah-rumah ambruk, pepohon tumbang, tanah tampak tandus di bawah sinar matahari, berlipat-lipat seperti becek yang mengering. Bibir pantai telah sampai ke darat bekas ombak laut. Hanya sebuah bangunan berkubah yang masih berdiri di tengah puing-puing. Anakku, kemarin di negeri ini ombak laut naik ke daratan. Laut menggulung semuanya. Hanya satu tersisa, bangunan berkubah itu. Di situ tempat orang-orang menyembah Tuhan. Makanya, barangkali laut tidak menghancurkan bangunan itu. Mungkin karena laut takut pada Tuhan. Aku kemudian mengajakmu ke tempat lain. Di sebuah 3


Hikayat Titibang

lokasi yang tak jauh dari tempat semula, kau lihat negeri yang tidak kalah sunyi. Namun, negeri ini sunyi bukan karena air laut. Lihat rumah-rumah itu! Semua pintu tertutup, jendela hanya terbuka setangah. Kukatakan padamu, setiap rumah manusia mempunyai ranjang tempat mereka tidur, tidak seperti kita. Tetapi, ketika malam, mereka lebih senang tidur di lantai, karena mereka takut dengan letusan. Kau tentu heran karena hanya melihat kaum perempuan yang berjalan di luar. Di tempat ini, Anakku, yang laki-laki semua bersembunyi. Mereka takut diculik dan dibunuh, karena di tempat ini semua laki-laki dilarang hidup, semua laki-laki dianggap pemberontak. Sudahlah, kita tak dapat berbuat apa-apa, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Malam menjemput, tapi kau masih ingin berputar-putar. Kukatakan padamu, sebaiknya kita mencari tempat berteduh. Di sebuah pohon Belimbing, aku mengajakmu melepaskan lelah. Kupilih tempat ini karena dekat sungai kecil, mungkin kau hendak membasahi tubuhmu yang seharian terjemur, atau sekedar minum. Bukankah perjalanan kita tadi siang sangat melelahkan? Malam semakin larut, perlahan kita mendengar suara riuh. Kau mengajakku memantau. Di sana kau lihat berpasang-pasang manusia sedang bermesraan. Kau tentunya merasa aneh dengan pemandangan di depanmu. Kulit sudah keriput, ubanan satu satu di kepala, tapi mereka bercinta di depan umum seperti sedang ada kompetisi bermesraan. Tak perlu heran, anakku, mereka bukan suami istri yang sah. Lelaki itu sudah punya istri dan dua orang anak. Sementara para perempuan itu, mereka mencari rejeki dengan perbuatannya. Setelah melayani lelaki-lelaki tua itu, mereka akan mendapatkan uang yang lumayan. Beginilah 4


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

kehidupan di tempat ini. Subuh masih merah, kau sudah berkicau. Aku tahu kau sudah tak sabar lagi hendak melanjutkan perjalanan yang tersisa. Hari ini aku mengajakmu ke kota besar. Kali ini, aku akan menunjukkan padamu kota kebanggaan manusia, gedung-gedung yang bertingkat, dan keramaian yang sangat padat. Matahari semakin panas, aku mengajakmu singgah di sepohon kayu rindang. Ini pohon Asam Jawa, kau dapat memetik buahnya jika kau lapar. Kau berjingrak dari satu dahan ke dahan lain. Lalu kau memanggilku, Ibu, lihat! Siapa yang di sangkar burung? Seorang manusia terpekur di balik jeruji besi. Kau mengira itu sangkar burung, karena kau melihat burungburung di pasar tadi dikurung di sangkar besi. Kita sedang berada di belakang kantor polisi, anakku. Dengarlah, itu bukan sangkar burung, itu penjara. Semua manusia yang bersalah dikurung dalam penjara. Dia pasti satu dari sekian yang ditangkap karena kesalahannya. “Tapi, Ibu, lelaki gemuk itu beda dengan yang lain. Lihat! Dia makan pakai talam, dan yang lain makan dalam kaleng yang dilemparkan dari luar.� Dengar, aku hendak bercerita padamu tentang lelaki gemuk yang membuatmu takjub itu. Dahulu, lelaki itu adalah orang nomor satu di negeri ini. Dia dipercaya rakyatnya memimpin di depan, tetapi ia menipu rakyatnya. Menurut orang-orang, dia memakan uang rakyatnya. Dia berhutang pada negeri luar dengan menjual nama rakyatnya. Makanya dia dikurung di sana. Lelaki di sebelah jeruji lain itu hanya seorang petani. Menurut kabar yang kudengar, dia mencuri ayam tetangganya untuk membeli makanan karena anak dan istrinya sudah tiga hari tidak makan. Lelaki kurus itu ketahuan 5


Hikayat Titibang

mencuri ayam tetangga, makanya dia dikurung di sana. Kau tentu heran, dua orang itu dikurung karena samasama mencuri. Tapi, yang lebih besar mencuri mendapat pelayanan istimewa, sedangkan yang mencuri hanya untuk makan dibuat seperti anjing. Begitulah kehidupan di sini, wahai Titibang kecil. Sudahlah, masih banyak lagi hal yang harus kau ketahui di dunia ini. Tak perlu berlama-lama di tempat ini. Ketahuilah, di sebelah sana masih ada hal serupa yang akan kau dapati seperti perjalanan kita kemarin dan hari ini. Di seberang sana juga ada kehancuran seperti negeri yang kita dapati kemarin, bahkan barangkali lebih parah, Anakku. Makanya kukatakan padamu, jangan sekali-kali kau tanyakan ‘mengapa’ padaku, karena aku sendiri tak tahu. Marilah kita kembali ke rumah kita. Percuma berseliweran di sini jika tak ada yang dapat kita lakukan untuk semua kejadian ini. Marilah, Titibang kecilku. n Banda Aceh, 2009-2011

6


Repro: Roberto Ferri | OpenArt

7


Gara-gara Cilok

ilustrasi: okezone.com

g Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com 8


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Gara-gara Cilok Nurasiyah Jamil ( Okezone.com | Senin, 16 Juli 2012 )

o

S

ELALU menjadi pagi yang cerah ketika Laila terbangun dan membuka jendela untuk dapat merasakan udara pagi Kampung Nanas yang sejuk. Ya, setidaknya di pagi hari, hari ini, mungkin kehidupannya tidak akan mengalami perubahan besar dari rencana yang selalu sama ia rancang di setiap pagi. Tetapi Laila selalu yakin, Tuhan lebih kuasa untuk membuat hari atau hatinya lebih dari indah! Dan menjadi sesuatu yang tidak terpikirkan Laila. “Ela........�, terdengar suara panggilan yang setengah melengking memanggil Laila. Ya, sekiranya begitulah cara orang betawi menyebutkan alfabet. Laila tetap bergeming di tempat, tidak menggubris panggilan itu sekalipun dia mendengarnya. Suara pintu yang tergeser maju pun tidak digubrisnya! Laila masih tetap memejamkan mata menikmati keindahan pagi ini. Siapa pun bisa mendengar suara langkah kaki yang akan mendekatinya jika orang yang melangkah menggunakan bakiak, karena bunyi tapak demi tapaknya akan terdengar 9


Gara-gara Cilok

sangat keras saat menyatu dengan lantai, ubin, ya atau apapun itu. hm, mungkin kecuali Laila. Dia masih tetap ber tahan dengan pejam matanya, seolah menanti keindahan yang lebih. “Eit, dah ni bocah.......... gue panggil”, Duuttt...... Laila baru membuka mata dan mengembangkan senyum lebih indah atau, ya, sepertinya senyum lega karena dia telah mengeluarkan sesuatu yang nikmat. Sementara Enyak Rohaye, Enyaknya Laila yang berdiri di belakangnya harus berulang meng ipas-ngipaskan tangannya di depan hidungnya dan tidak berhenti menaikkan mulutnya sementara hidungnya terus ia turunkan, menahan bau.. ya, bau dari sumber kenikmatan Laila. Laila yang baru menyadari kehadiran seorang Ibu di belakangnya hanya tersenyum tiada arti –nyengir– ketika menyadari bahwa suara dari gas tersebut hampir membuat enyak Rohaye pusing. “Aduh, enyak.... ngapain di situ? Bau dah kan nyium bau kentut aye!” “Elu bener-bener dah ye. Anak perawan tapi kentutnya bau benerrrr.....”, sambil terus mengipaskan tangannya, Enyak Rohaye berusaha membumihanguskan bau kentut Laila yang sudah mulai menghilang dari penciumannya. “Ye, maap nyak! Mana aye tau kalo enyak bakal ada di belakang aye. Maap ye. Enyak kagak nape-nape noh?” “Kagak! Elu dicariin babeh lu noh! Janji pergi jam berape lu? Liat tu muka babeh lu udah asem bener dari tadi nungguin lu!” “Yaelah, nyak.. aye janji pergi jam tujuh” Laila membelalakkan mata dan refleks terbangun, seperti disengat aliran listrik pada tulang duduknya, sangat cepat! Dan mengagetkan tikus-tikus yang mengintip dari lubang kecil dinding bawah kamar Laila. “Ya ampun, nyak! Udah 10


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

jam lapan! Ah elah, enyak... kenapa gak bangunin aye sedari tadi si? Telat deh aye...” “Ape lu kata.. gue udah bangunin lu sedari dua jam yang lalu noh..” Sepertinya Laila tidak mendengar apapun yang dikatakan enyak Rohaye. Dia hanya terburu-buru meraih kemeja kotakkotak yang tergantung di paku dinding kamarnya, memakainya dengan membiarkan kancing-kancingnya terbuka karena dia sama sekali tidak melepas kaos yang digunakannya sejak kemarin sore. Sementara celana jeans longgarnya yang selutut tetap tidak digantinya. Ya, padahal celana itu sudah ia gunakan sekitar 3 hari.. dan dengan cepat pula ia meraih topi di atas meja samping ranjangnya untuk segera bergegas menemui babeh Juki, babehnya yang sedari tadi menunggu Laila dengan kesal di halaman rumah. “Pagi, beh..” Babeh Juki melongo melihat penampilan anaknya dari bawah ke atas, lalu melotot! “Elu kagak mandi, La?” Sambil beringsut mendekati babehnya, Laila menarik mundur gerobak cilok yang sebentar lagi akan dimajukannya. “Kalau aye mandi, entar lama lagi, beh.. enyak bilang muka babeh udah asem.. aye kagak mau muka babeh entar jadi basi.. kagak bisa diangetin, beh..” Sementara Laila telah berhasil melepas gerobak keluar dari batu yang menahan bannya, Laila membiarkan gerobak diam sejenak, Laila menghampiri babeh dan menarik tangan babeh-minta izin” “Maap ya, beh agak bau jigong!”, lalu Laila beringsut menjauh sambil terus berteriak, “Cilokkkk..... cilokkk. Cilokk betawi aslii! Cilok babeh Juki...” terus.. sampai suaranya menghilang dari satu tempat dan ada di tempat lainnya. Babeh Juki di sana semakin mematung, benar-benar seperti patung setelah Laila mengatakan, “.. enyak bilang 11


Gara-gara Cilok

muka babeh udah asem...aye kagak mau muka babeh entar jadi basi.. kagak bisa diangetin, beh..” membuat muka babeh Juki semakin asem, sebelum akhirnya babeh berteriak “Rohayee.........!!!”, lalu burung-burung terbang menjauh, angin berhembus melawan arah babeh Juki, ayam-ayam terbang rendah, bahkan sabuk kebanggaan babeh Juki yang sedang dikenakannya juga seper ti ingin lepas dari tempatnya. Beberapa jam kemudian, ketika waktu menjelang siang, matahari mulai tampak menunjukkan keangkuhan sebagai penguasa langit, Laila sedang terduduk di bawah sebuah pohon sambil mengipas-ng ipaskan topinya di depan mukanya yang memerah, kepanasan. Cilok yang dijual Laila telah habis setengahnya, dan Laila mulai merasakan kelelahan karena sudah sejauh mungkin ia berjalan bersama gerobak mininya untuk menjual cilok. Di tengah-tengah keasyikannya menikmati sejuk angin dari kibasan topinya, Laila memerhatikan sekerumunan orang yang seperti sedang berkumpul untuk sesuatu. Di sana Laila menemukan seorang nenek di tengah kerumunan orang itu. Nenek itu seperti kebingungan, begitu juga dengan orang-orang yang mengerumuninya. “Ade ape ni, pak?” tanya Laila pada seorang warga yang ikut berkerumun di sana. “Kagak tau dah nih, nenek, kayak yang kebingungan, ditanya rumahnya di mane malah diem aje.” “Aah.. udah deh ah, kerjaan aye banyak! biarin aja dah ni nenek,” ujar seorang warga yang selanjutnya diikuti oleh warga-warga lainnya. Kerumunan orang-orang itu pun makin lama makin menghilang, tinggal Laila seorang yang masih memandangi nenek itu dengan rasa penasaran. Laila lebih mendekatkan dirinya pada si nenek, kemudian ia membuka mulut untuk bertanya,”Nenek mau ke mane? lagi ape di sini?” 12


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Persis seperti yang dikatakan warga, nenek itu hanya terdiam dan terlihat semakin kebingungan. waduh.. ni nenek ngape aneh begini ya?, tapi kalo diliat-liat si, ni nenek bukan orang miskin kayanye.. terus ngapa dia di jalanan begini ya? Aarrgghh....Sambil membenarkan berulang letak topi di kepalanya yang memang sudah tertata benar, Laila berbicara sendiri dalam hati. Perlahan si nenek mulai memerhatikan wajah Laila, kemudian menjawab pertanyaan Laila dengan pertanyaan baru, “Kamu siapa?. Mendengar kalimat itu keluar sebagai jawaban, Laila mulai tenang, setidaknya dengan ini, ia berharap kebingungannya akan segera terjawab. “Aye Ela, nek. Nenek lagi apa di sini? rumah nenek di mane?”. Ditanya seperti itu oleh Laila, nenek menjawab dengan gelengan kebingungan, “Gak tau...” Nada suara si nenek terdengar seperti suara anak kecil yang sedang merajuk meminta mainan. Bukan mengurangi kebingungan, jawaban nenek malah menambah kebingungan Laila. Sejenak Laila tetap diam di tempat semula, lama-lama, ia memutuskan untuk meninggalkan nenek, tetapi langkahnya terhenti ketika nenek memanggil namanya, Laila kembali menghampiri nenek dengan terpaksa. “Ada apa, nek?” “Nenek mau ikut... nenek gak mau sendiri... nenek takut!” Sejenak Laila terdiam, namun melihat keadaan si nenek, Laila mencoba merasakan apa yang nenek alami. Akhirnya, Laila membawa pulang nenek ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Laila buru-buru berteriak dengan nada toa dari depan rumahnya untuk memanggil enyak dan babehnya. “Beh, nyak! bbbeeehhh..... nnnyyyaaakkk.....!” Lengking jerit suara Laila membuat dedaunan yang belum waktunya berguguran menjadi tiba-tiba gugur dengan 13


Gara-gara Cilok

sendirinya dan ayam-ayam yang sedang asyik mencari makan ke sana-sini menjadi limbung mencari arah untuk menjauhi Laila. Sementara babeh Juki dan enyak Rohaye keluar dengan wajah siap menyembur Laila dengan balasan teriakan, “BERISIK!�. Cukup satu kata yang membalas lengking jerit suara Laila dan halaman rumah babeh Juki semakin takkaruan karenanya. Laila mencoba menjelaskan tentang apa yang ia alami hingga akhirnya ia pulang membawa nenek itu. Babeh Juki dan enyak Rohaye menyetujui nenek tinggal di rumah mereka, tetapi bagaimanapun, mereka bertekad untuk menemukan si nenek dengan keluarganya, entah bagaimana caranya. Beberapa hari berlalu dan pencarian keluarga nenek masih tetap berlanjut. Sambil menjual cilok, Laila terus bertanya-tanya kepada setiap orang yang dia temui, apakah orang itu mengenal si nenek, tetapi nihil. Hampir satu bulan berlalu dan Laila masih belum dapat menemukan siapa keluarga si nenek. Laila, babeh Juki, dan enyak Rohaye merasa putus asa, mereka akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian dan membiarkan si nenek tinggal bersama mereka mungkin untuk selamanya. Setelah pencarian terhadap siapa keluarga nenek berakhir, Laila, babeh Juki, dan enyak Rohaye melakukan rutinitasnya seperti biasa. Sementara si nenek biasanya hanya menghabiskan hari-harinya di rumah dengan menonton televisi atau sesekali membantu enyak di dapur walau terkadang malah semakin menjadi berantakan. Tak jarang nenek ingin ikut Laila berjualan cilok, tetapi enyak dan babeh Juki selalu melarang dengan alasan takut si nenek menghilang kembali. Akhirnya keinginan si nenek 14


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

pun tidak pernah terlaksana. Hingga suatu hari, si nenek menyelinap masuk ke dalam gerobak cilok mini Laila lewat sebuah pintu kecil tempat Laila menyimpan ember untuk sesekali mencuci piring kotor bekas orang-orang memakan cilok. Laila yang saat itu merasakan kejanggalan dengan gerobaknya tidak mengecek apa pun pada gerobaknya, ia tetap menjalani aktifitasnya meski terkadang merasa ada yang aneh dengan gerobaknya. Sampai suatu ketika Laila harus membuka pintu itu karena ia harus mencuci piring bekas makan pembeli. Melihat si nenek ada di dalam gerobak, Laila menatap si nenek tanpa berkedip –melotot- dan juga dengan bibir terbuka –mangap-. Si nenek perlahan keluar dari dalam gerobak untuk selanjutnya dengan bawel protes mengapa tidak sedari tadi Laila membuka pintu itu. “Engap ni nenek...� Laila masih tetap mangap dan melotot, tidak habis pikir, bagaimana konyolnya ulah si nenek untuk dapat masuk ke dalam ruangan sesempit itu. “Heh, bengong! nenek laper ini... pengen makan cilok...,� pinta si nenek dengan masih menggunakan nada protes dan kali ini sambil menyentuhkan jarinya pada telinga Laila –menjewerLaila akhirnya tersadar dari kebengongannya. Maka kesadarannya ia gunakan untuk menyiapkan seporsi cilok buat si nenek. Nenek makan dengan lahapnya, sampaisampai tidak memerhatikan orang-orang yang sangat lekat memerhatikan si nenek. Nenek tetap cuek dan malah meminta tambahan porsi kepada Laila. Nenek tetap lahap makan, seolah dunia hanya miliknya sendiri, tidak memedulikan sama sekali mereka yang melihat aneh ke arah si nenek, bahkan ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan si nenek dan beberapa orang berpakaian necis keluar dari mobil itu, menghampiri nenek. Karena asyik makan, nenek tidak mengalihkan pandang 15


Gara-gara Cilok

sedikitpun dari piring yang berisi cilok di hadapannya. Justru Laila yang menyadari kemudian menghampiri orang-orang yang mendekati si nenek untuk kemudian bertanya,”Maap, ade ape ye?” “Maaf, adik siapa, ya?” “Lah.. ngape jadi situ yang balik nanya?, aye Ela... noh, yang dagang cilok ono noh...” (Laila menunjuk gerobak cilok di belakangnya) Sambil mengulurkan tangan, ia menjawab, “kalau begitu, kenalkan, saya Sam, cucu dari nenek yang sedang makan cilok itu” “Ape? cucu? yang bener? entar situ pura-pura lagi, terus mau nyulik si nenek...” Sam hanya tersenyum dan seperti hendak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda itu adalah dompet, tetapi bukan benda itu yang dimaksud Sam, melainkan isi di dalamnya, bukan juga uang, tetapi selembar foto dirinya bersama seorang nenek tua. Laila mengamati foto dengan seksama untuk kemudian mengangguk menyetujui sesuatu. “Iye dah, mirip bener ya ama tu nenek pikun. Eh.. maap-maap...,” Laila berkata sambil agak membungkan mulutnya setelah menyadari kata-kata terakhirnya. Dengan ramahnya Sam hanya menanggapi dengan senyuman santun, lalu menjawab,”iya, tidak apa... nenek memang sudah sangat pelupa... sudah satu bulan nenek menghilang, kami sudah mencarinya ke mana-mana, dan baru sekarang nenek dapat saya temukan. “Apakah adik Laila yang selama ini menjaga nenek saya?” tanyanya. Laila agak menggaruk kepalanya yang tidak gatalsalah tingkah “Iya.. aye ma kasian aje ye, nenek sendirian di jalanan kayak orang bingung, ya aye bawa dah ke rumah... biar ada temennya gitu diye..” “Oh... baiklah, terima kasih atas ketulusan hati adik untuk bersedia merawat nenek, sebagai tanda terima kasih kami, 16


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

kami sudah bernazar, siapa pun yang merawat nenek selama satu bulan ini, akan kami berikan hadiah berupa berhektar-hektar sawah dan tanah, mobil mewah, juga sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit, dan tidak ketinggalan juga voucher liburan selama satu bulan ke luar negeri. Laila sejenak tidak dapat menyatukan dua bibirnya yang saling berjauhan–mangap-, dan matanya yang tidak berkedip meski untuk sepuluh detik saja. Sampai akhirnya telapak tangan Sam menyentuh pundak Laila dan melemaskan kekakuan mata dan bibir Laila. Sedetik kemudian barulah Laila tersadar akan apa yang terjadi. Laila buru-buru menghampiri gerobaknya untuk kemudian berlari dan berteriak sepanjang jalan pulang, “Ennnnyyaaakkkk........... Babehhhhhh....... Kite kayyyyeeeee..........kayyyyeeee..... Hoorrreee.........” Sementara Sam yang masih berdiri di tempat semula malah kebingungan, karena belum tahu, di mana Laila tinggal. Bila bertanya pada nenek pun, tidak ada yang bisa diharapkan karena jawaban nenek adalah,”emang nenek pernah tinggal sama tukang cilok? Ayo Sam..... kita pulanggg.......” n

17


Buka Puasa Bersama Ibu

ilustrasi: repro yulia sugiarti achdris

18


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Buka Puasa Bersama Ibu Adek Alwi ( Suara Karya | Sabtu, 21 Juli 2012 )

o

S

UDAH berapa lama aku tak berbuka puasa bersama ibu? Sepuluh tahun? Dua puluh? Atau, lebih tiga puluh? Ah, rasanya memang sudah lama sekali. Sangat lama, sejak aku merantau di Jakarta dan hidup dipadati kesibukan dari hari ke hari, waktu ke waktu; mendirikan tiang-tiang keberhasilan dengan tebusan terlepas dari kebahagiaan yang sudah dipunyai, seperti berpuasa dan berbuka di dekat ibu, bersama ibu. Kalau pun aku ada pulang sewaktu-waktu ke kota kelahiran, mengunjungi ibu serta sanak-famili, di sela-sela hariku yang sibuk itu, rasanya memang tak pernah pula terjadi di bulan Ramadhan. Selalu di bulan-bulan lain, sehingga kesempatan berpuasa dan berbuka bersama ibu juga tak pernah lagi terjadi. Malah seolah kian sayup, samar, tertinggal jauh di belakang, di masa kecil dan remajaku yang tak akan kembali lagi. Tapi, ibu kini sedang di Jakarta! Di Duren Sawit, di rumah adik perempuanku; seper ti lazimnya perempuan19


Buka Puasa Bersama Ibu

perempuan tua Minang yang merasa bahwa rumahnya adalah di rumah anak perempuannya. Karena paham perihal adat yang matrilineal itu, maka hal itu tak jadi soal pula bagiku, dan agaknya juga bagi abang pun adik lelakiku. Aku malah bahagia, bersuka-cita bak dapat durian runtuh, girang tidak alang-kepalang mendapat kenyataan bahwa ibu sedang di Jakarta, di bulan Ramadhan ini pula. Maka kutelepon istriku dari kantor, di Senayan. “Kita buka puasa pertama di Duren Sawit saja, ya!” kubilang. Sekalipun berasal dari latar budaya berbeda, Jawa, istriku pun paham bagaimana adat di tanah asalku; bahwa ibu lebih memilih tinggal di rumah anak perempuannya daripada di rumah anak lelaki. Apalagi, adik perempuanku itu juga baru dua tahun menetap di Jakarta. “Setuju!” balas istriku bagai wakil rakyat di masa Orde Baru. “Akan aku bawa pula nanti masakan kesukaan ibu. Eh, siapa tahu beliau juga mau kita ajak puasa hari kedua di rumah kita, ya.” “Ya, ya. Kita jajaki saja nanti.” “Tapi anak-anak tak bisa ikut, lho. Mereka ada acara buka bareng di kantor.” “Tidak apa-apa.” “Menantu tentunya juga tidak bisa lho, Bang.” “Tak soal. Kita saja!” Kurasa, istriku pun maklum bila suaraku tetap terdengar riang gembira, meski anak-anak dan menantu kami tidak bisa ikut. Makanya ia berkata lagi, bak menggoda: “Sudah kangen sekali buka puasa bersama ibu ya, Bang?” Aku sambut godaannya dengan ketawa. “Tentu, tentu. Sudah lama sekali!” Begitulah, sekitar satu jam sebelum berbuka aku telah tiba di rumah adikku, di Duren Sawit. Kudapati istriku sudah di sana, diantar sopir yang lalu pulang kembali, berbuka di rumah. 20


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Begitu aku ke luar dari mobil, kulihat ibu sudah tegak depan pintu. Di sebelah beliau istri dan adikku. Meskipun sudah 82 tahun, ibu masih kuat. Shalat pun beliau masih berdiri. Dan selalu bangun tengah malam, shalat Tahajud, memohon terkadang dengan berurai air mata kepada Allah, agar anak-cucu-menantu senantiasa dilindungi dan dilimpahi-Nya kebaikan, tak jatuh jadi kemaruk, akibat kelewat mencintai dunia. Atau, istilah beliau kalau mengirim surat kepadaku, “Selalulah kau ingat jalan pulang, Nak. Selalulah ingat rumah yang abadi.” Maksudnya, dunia ini fana, akhiratlah rumah abadi. Oleh sebab itu, jalan luruslah yang harus kita tempuh di dunia, supaya lempang pula jalan menuju rumah abadi dan bahagia di sana. Aku melangkah menghampiri, dan ibu tersenyum menyambutku, tak ubahnya dulu sewaktu aku masih kecil, sepulang bermain di petang-petang hari di bulan puasa, sebelum beduk berbuka ditabuh. Bedanya, dulu ibu pasti berkata, “Baru pulang kau? Lekas mandi, shalat Asar, sebentar lagi kita berbuka.” Dan aku bergegas mandi, shalat Asar buru-buru, lalu kuamat-amati meja makan dengan penuh nafsu. Ya, hampir titik liurku. Semua yang aku harap dan bayangkan sejak pagi, apalagi di tengah hari yang garang saat bermain dengan kawan-kawan, terhidang di situ, di meja. Ada kolak, kalio tambusu, pangek ikan kacang panjang, rendang lengkap, begitu mengundang. “Sabar, tak lama lagi tiba saatnya kita berbuka.” Ibu biasanya mengusap-usap kepalaku, membujuk. Aku lirik jam, tapi jarumnya kulihat bergerak lambat. Atau, ah, matikah jam dinding besar merk Junghunn yang dibeli ayah zaman Belanda itu? “Tapi rasanya aku sudah tidak tahan, Bu!” kataku, nyaris menangis. “Eh, berpuasa itu kan menahan. Sudah dari subuh kau tahan, masak lima belas menit lagi tidak kuat?” 21


Buka Puasa Bersama Ibu

Ibu tersenyum, mengusap-usap bahku. “Tapi jam itu mati kulihat!” Ibu tetap tersenyum, mengusap-usap bahuku. “Tidak, jarumnya tetap bergerak. Sabarlah. Sabar, ya.” Akhirnya aku mengangguk, tentu saja tak sepenuh hati. Malah perutku diam-diam berbunyi, berkruyuk. Oh, betapa ingin aku sikat semua yang ada di meja makan itu! “Langsung dari kantor kau kemari?” tanya ibu. “Ya Bu, langsung dari kantor.” Kusalami beliau takzim. “Bagaimana kaki Ibu, masih terasa ngilu?” “Alhamdulillah. Sudah terasa baik habis minum obat sahur tadi. Shalat Asar-lah dulu. Sudah shalat kau tadi?” “Sudah, Bu. Di kantor aku shalat.” Dan kami masuk ke ruang tamu. Aku bimbing beliau. Lantas duduk, bercakap-cakap berdua. Adik serta istriku masuk ke dalam, tentu menyiapkan hidangan. Suami adikku tugas ke Bandung. Dan petang merambat di luar, bersiap menjemput Magrib, menjemput tibanya waktu berbuka. Daun-daun serta bunga-bunga di halaman rumah adikku bak ikut menanti. Aku juga, menanti waktu berbuka dengan sabar, tak tergesa-gesa dan penuh nafsu bagai dulu, di masa kecilku yang telah jauh tinggal di belakang. Ya, alangkah beda keadaanku kini dan dulu. Alangkah ajaibnya hidup dan kehidupan. “Kulihat ada kau tampak sehat, Nak. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya ibu. “Baik. Tak ada masalah, Bu.” “Alhamdulillah. Senang Ibu mendengar. Saudarasaudaramu, juga begitu. Ada mereka sehat, juga beres pekerjaannya.” “Ya.” Aku tersenyum, mengangguk-angguk. Aku renungi wajah ibu, yang kini kian keriput. Betapa beda keadaan beliau kini dan dulu. Dulu tiada keriput itu. Tubuh itu pun tak terlihat lemah. Tapi aku juga tahu, ada yang tak berubah 22


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

pada beliau, pada hati yang kini semakin tua itu. “Banyak benar Ibu dengar orang kini korupsi, ya? Juga kawankawanmu. Apa mereka tidak pernah puasa di bulan-bulan Ramadhan sehingga sampai berbuat begitu, Nak?” Pikiranku melayang ke beberapa teman sesama wakil rakyat dan kawan-kawan di pemerintahan, yang tengah bermasalah. Adakah kawan-kawan itu berpuasa dalam arti benar-benar berpuasa? “Aku tidak tahu, Bu,” kataku. “Tapi, kurasa, tentu mereka juga berpuasa.” Ibu mengangguk-angguk, disusul bisikan subhanallah. Dan rasanya aku tahu yang dipikirkan beliau. Dulu, bila beduk berbuka ditabuh tanpa ba-bi-bu lagi tanganku sering terjulur hendak menyikat semua yang terhidang di meja makan. Tapi acap pula ibu menyentuh tanganku. “Bacalah dulu bismillah, Nak. Hadapkan hati dan pikiranmu kepada Allah, karena Dia yang memberi rezeki yang kita nikmati ini,” ujar beliau. Aku sebut bismillah, kuhadapkan hati dan pikiran kepada Allah meski di awal-awalnya terasa sulit. Macam mana pula menghadapkan hati dan pikiran kepada Allah? Tapi tambah umur aku pun jadi terbiasa. Dan bila aku dan saudarasaudaraku berbuka dengan amat lahap bak lupa diri, rakus sekali, ibu pun berucap dengan lembut sabar: “Puasa melatih kita agar menjadi sabar, disiplin, dan tidak serakah.” Kami lalu makan dengan tertib, tidak lagi lupa diri. Seorang abangku malah sering berbuka tak banyak-banyak. “Sudah dulu, ah,” dia bilang. “Tapi nanti habis tarawih aku ingin kolak itu.” “Tentu. Boleh,” kata ibu. “Malah elok begitu.” “Kenapa elok, Bu?” tanyaku setelah abangku pergi. “Bila dimakan abangmu sekarang dia akan amat kekenyangan,” kata ibu. “Itu dapat jadi penyakit.” “Jadi penyakit?” 23


Buka Puasa Bersama Ibu

“Karena seharian tadi perut kita kosong berpuasa.” “Tapi, kenapa aku rasanya malah ingin memakan semuanya?” “Walau kau sudah merasa kenyang?” Ibu ketawa, menatapku. “O, itu namanya serakah. Puasa melatih kita untuk tidak menjadi serakah. Orang serakah itu tak pernah kenyang, tidak pernah puas dia. Kalau nafsunya itu terus dia turuti, malah bisa-bisa ia ambil punya orang lain, hak orang. Bila begitu terus, sulit dia ubah bila dewasa nanti.” “Punya saudara juga tidak boleh diambil?” “Tak boleh. Bila ia izinkan baru boleh.” Lalu, kata ibu: “Apa yang kau rasakan sebelum berbuka tadi?” “Lapar.” “Nah, tahu kau bagaimana rasanya lapar, kan? Itu yang dirasakan orang-orang miskin, orang tak punya. Karena itu, kita harus menyayangi mereka, memberi mereka bila ada rezeki. Bukan mengambil milik mereka, hak mereka. Ingatingat itu, ya?” Aku dan ibu terus bercakap-cakap, di ruang tamu rumah adikku. Ibu bertanya tentang anak-anakku. Beliau juga bercerita mengenai kuburan ayah, kakek dan nenek. Di luar, hari merambat dekat ke senja. Puasa pertama Ramadhan ini akan segera lalu, menyusul Ramadhan-Ramadhan terdahulu. Tidak lama, muncul istri serta adikku dari dalam. “Ayo, Bu, Bang. Pindah ke dalam. Sebentar lagi berbuka!” Benar. Di televisi, azan Magrib pun terdengar. Kami berucap syukur. Kuteguk segelas teh, kusyukuri rezeki-Nya yang mengaliri tubuh. Aku lengkapi dengan sebutir kurma. Di depanku ibu berbuat yang sama, menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Ibu sangat bangga dengan Abang,” kata istriku dalam perjalanan pulang. “O, ya?” “Sebelum Abang datang tadi, beliau bercerita terus mengenai Abang.” 24


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Termasuk tentang masa kecilku yang rakus, dan sering hampir-hampir tidak tahan kalau lagi berpuasa?” tanyaku tertawa. “Termasuk itu,” balas istriku. “Dan beliau bersyukur Abang bisa mengatasinya waktu kecil, lebih-lebih kini. Tak jatuh Abang jadi kemaruk, serakah, lalu korupsi!” Di hati aku berucap alhamdulillah, dan di bibir kepada istri, kubilang: “Lagian, masak iya aku bakal korupsi? Wakil rakyat kok ya menyikat hak rakyat!” Istriku bergeser lebih dekat, memegang tanganku. “Dan sebab itu aku juga ikut bangga dengan Abang. Lembut, tetapi berakar kuat sehingga tak mudah rubuh, persis ibu!” n Jakarta, 30 Juni 2012

25


Dukun Buang Jin

ilustrasi: repro flickr.com

g Nazar Djeumpa, alumnus Ilmu Komunikasi FISIP UNIDA, Banda Aceh 26


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Dukun Buang Jin Nazar Djeumpa ( Serambi Indonesia | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

B

EBERAPA bungkusan tergantung di pohon asan (angsana) besar itu. Terikat pada cabang setinggi orang dewasa berdiri. Entah apa isi bungkusan berbalut kain putih sebesar bola kaki tersebut. Kontras dengan tali penggantung dari ijuk berwarna hitam yang tersimpul rapi, pertanda benda itu sengaja dibuat dan digantung di pohon asan kebun itu. Tidak seorangpun warga kampungku berani mendekat untuk memastikan apa isi di dalam bungkusan tersebut. Nuansa angker terasa tatkala ada yang mencoba mendekati tempat itu. Warga yang saban sore mencari ternak lupa pulang saja tidak berani mendekat walaupun lembu, kerbau atau kambingnya tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon tersebut. Warga lebih memilih melempari ternak mereka dengan batu dan ranting-ranting kayu agar meninggalkan tempat itu. Kebun itu lumayan luas. Terletak di ujung kampung dekat dengan persawahan, agak jauh dari pemukiman penduduk. 27


Dukun Buang Jin

Pemiliknya orang kaya kampungku yang bermukim di luar negeri. Kebun itu dibiarkan semak tanpa ditanami tanaman musiman atau tanaman perkebunan. Pohon besar seperti sentang, asam jawa, dan pohon-pohon besar lainnya banyak tumbuh di sana. Keumiki dan naleung lakoe menutup rapat setiap jengkal tanahnya. Hanya di bawah kerindangan pohon asan itu tampak bersih, mungkin karena sering disinggahi oleh seseorang yang memiliki tujuan khusus sampai menggantungkan bungkusan-bungkusan misterius. Warga kampungku menyebut kebun tersebut dengan umpung burong. Kaum ibu sering menakut-nakuti anak mereka yang nakal dengan ancaman akan mengikat si anak seorang diri di kebun angker itu jikalau si anak tidak patuh dan tetap nakal. *** MALAM itu malam purnama dengan sedikit mendung. Aku dan Siyan sedang memasang perangkap meunom di pinggiran sawah. Tampak sebuah sepedamotor pelan-pelan merayap di jalan tengah sawah. Rasa penasaran membunuh rasa takut dan memaksa kami untuk mengintainya. Menjadi kebanggaan tersendiri apabila kami berhasil menggagalkan tindak kejahatan seperti pencurian ternak. Sosok itu mendorong sepeda motornya ke parit dangkal sisi selatan kebun angker dan menutupinya dengan jumpung. Setelah berhenti sejenak di sana, lantas dia masuk ke kebun angker itu dengan menenteng sesuatu. Kami memasuki kebun angker memutar dari arah timur, dengan harapan tidak diketahui oleh orang asing itu bahwa dia sedang dalam pengintaian kami. Pelan-pelan aku dan Si Yan memasuki semak. Cahaya purnama sedikit menerangi Bumi, namun kerindangan pohon asan tetap membuat kami 28


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

tidak mengenali sosok tersebut. Lebih 15 menit kiranya kami menunggu tanpa melihat makhluk lain hadir berdiri di hadapan sosok berbaju hitam yang bersila di sana, seperti dalam film-film horor yang kami tonton di warung kopi Apa Raman. Hanya orang asing itu sendiri masih tetap bersila. Tidak lama kemudian ia membuka bungkusan. Lalu berdiri dan berusaha menggantungkan di sisi cabang asan yang lain. Aku menghitung, ada empat bungkusan yang tergantung di sana, ditambah satu lagi yang baru saja digantungkan. Kesemua benda itu berayun pelan, mungkin dikarenakan hembusan angin. Setelah itu sosok tersebut memasuki belukar. Tak lama kemudian deru suara sepedamotor terdengar, pertanda ia telah pergi. “Yan, ayo pulang,� kataku setengah berbisik. Tanpa menjawab, Si Yan perlahan mundur dan berbalik arah. Sesampai di balee meulasah, aku dan Si Yan langsung tidur dengan mengambil posisi di tengah-tengah tanpa memperdulikan beberapa teman yang sedang asyik dengan handphone-nya di berbagai pojok balai itu. *** SORE itu aku sengaja menjumpai Guree Maknu di ploko kampong. Guree Maknu adalah lelaki tua mantan centeng di perkebunan. Konon, dia menguasai ilmu silat dan magis. Beliau adalah sosok yang disegani di kampung. Beliau juga menjadi guru bagi anak-anak atau remaja yang berminat belajar silat. Ploko pada sore itu sepi. Hanya dia seorang diri duduk sambil mengisap rukok oen. Setelah menyapa dan menyalami dengan takzim, aku duduk di sebelahnya. Kuceritakan padanya apa yang telah kusaksikan. 29


Dukun Buang Jin

“Hahahha.” Guree tertawa. “Kenapa Guree?” Tanyaku penasaran. “Itu dukun membuang jin” tukasnya. “Siapa dia?” tanyaku. “Kamu mau tahu? Untuk apa? Tidak penting bagimu,” jawabnya. Aku semakin penasaran dengan jawabannya itu. Memang sosok misterius itu bukan warga kampung kami, karena aku mengenal setiap gerak-gerik warga kampungku, walaupun dalam suasana remang-remang. Di tengah kebingunganku, dia melanjutkan, “Begini, saya sudah lama tau apa yang dikerjakan oleh orang yang kamu lihat semalam. Dia seorang dukun. Yang digantung itu merupakan jin-jin yang dia dapat dari pasien dia, setelah mengobati. Dibungkus dengan kain putih lantas dibuang,” jelasnya. ‘Apakah dibuang sama dengan digantung di pepohonan?” sergahku penasaran “Begitulah. Selama tidak ada yang menerima makhluk itu sebagai sahabat seseorang, maka ia akan tetap di sana, di tempat di buang itu. Kelak pohon itu akan mati karena tidak sanggup menanggung” “Apakah makhluk itu tidak akan merasuki warga kita? Apakah tidak akan ada warga kampung kita yang kerasukan gara-gara ulah dukun itu?” tanyaku. “Oh tidak… seperti kamu menggunakan handphone, jika tidak menelpon si Hasni apakah si Hasni akan menerima panggilan mu di Hp-nya?” tanya Guree dengan tersenyum. “Tidak,” jawabku tersipu malu, karena Guree tahu aku menyukai Hasni, anak keuchik di kampungku. Akhir cerita dia mengatakan bahwa, “Pawang buya matee bak buya, pawang rimueng matee bak rimueng.” Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar petuah Guree Maknu.

30


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

*** DUA tahun berlalu, kini aku berada Negeri Semenanjung, bekerja di kedai runcit membantu paman. Pagi itu seperti biasa, kubuka laptopku membaca berita situs koran terbitan nanggroe, sebagai pengobat rindu kampung halaman. Aku tersentak membaca berita dari kampung tetanggaku: Seorang dukun digebuki beramai-ramai, dibacok lagi. Konon, dia memiliki ilmu kebal. Kemudian pengadilan jalanan dilanjutkan dengan membakar rumah sang dukun. n

31


Kampung Surga

ilustrasi: repro flickr.com

g Hermawan Aksan. Kumpulan cerpennya berjudul Sang Jelata (Grasindo, Desember 2004) dan Ketika Bulan Pucat, Dia Pergi Seperti Angin (Saroba, 2009). Novelnya Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit (C Publishing, Desember 2005), Niskala (Bentang Pustaka, Juli 2008) dan Cincin Cinta Miss Titin (Kakilangit, September 2009). Peserta Ubud Writers and Readers 2010. 32


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Kampung Surga Hermawan Aksan ( Riau Pos | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

S

ETEL AH berkelok-kelok naik menembus hutan cemara, aku seperti tiba-tiba berhadapan dengan gerbang surga. Surga yang memencil di hutan berbukit. Dua tugu batu menjulang di kanan dan kiri, bertuliskan huruf besar dari atas ke bawah: PARADISE VILLAGE. Mengapit dua tugu itu, dua pohon angsana menjega seperti Cingkarabala dan Balaupata. Ada tulisan di plang yang melarang masuknya taksi. Jadi, aku memilih turun dan berjalan kaki. Taksi berbalik dan meninggalkan derum di belakangku ketika perg i. Mengambang di latar belakang, matahari belum sejengkal dari puncak bukit, menjatuhkan bayang-bayang deretan pepohonan di kanan-kiri yang mengapit jalan batu andesit. Menghadap jalan itulah berjajar istana-istana berpilar raksasa, menopang gedung-gedung bertingkat tiga. Aku mendongak menatap kilau hijau atap-atapnya. Tapi anehnya, perumahan itu sunyi. Sekilas serupa surga mati. 33


Kampung Surga

Aku menyelinap ke pinggir palang besi, berharap di balik tugu seseorang sudah menanti. Tapi pos keamanan pun sepi. Anehnya pula, tak satu pun plang atau spanduk atau apa lah, yang memberitahukan padaku nama jalan utama. Bahkan rumah-rumah tak bernomor, apalagi disertai RT dan RW seperti di alamat manapun di negeri ini. Ada mobil melintas. Tapi kaca-kacanya yang hitam menjadi pembatas pandang. Dan mesin mobil hanya samar, nyaris tak terdengar. Kususuri jalan layaknya liliput. Nyaris tak ada suara, kecuali napas angin yang lembut. Nyaris tiada gerak, kecuali goyang dedaunan yang beriak. Ingin kuketuk pintu gerbang salah satu rumah. Tidak, ketukan di besi tempa tentulah takkan menimbulkan bunyi apa-apa. Aku mesti memukulnya dengan batu, supaya bunyinya menembus pintu. Bodohnya, bukankah biasanya terpasang bel di pintu gerbang? Aku sedang mencari-cari di mana bel gerbang itu dipasang ketika dari tikungan terdengar langkah sepatu dengan frekuensi ketukan yang agak cepat. Aku menoleh. Seorang lelaki berkaus putih dan bercelana pendek biru berlari ringan ke arahku. Handuk kecil merah muda melingkari lehernya yang tampak mengilat oleh keringat. Kepalanya nyaris botak, hidungnya merah membulat, dan usianya mungkin sekitar pertengahan enam puluhan. Rasanya tak asing. Aku kerap melihatnya, dulu, di televisi. Ternyata bukan kampung hantu. Aku mengangguk sambil memasang senyum, berharap sikapku sudah memenuhi unsur penghormatan. Tapi lelaki itu kelihatan kaget. Matanya terbelalak dan wajahnya sekilas pias, seakan-akan akulah yang menjadi hantu. ‘’Mau tanya, Pak,’’ aku memasang senyum yang makin lebar. 34


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Lelaki hampir baya itu menghentikan langkah kakinya sekitar semeter di depanku. ‘’Oh, oh, silaken, Dik.’’ Wajah piasnya memerah karena pastilah sudah kembali dialiri darah. ‘’Mungkin Bapak tahu di mana Jalan Nirwana II?’’ Mulut lelaki itu terbuka, tapi tak satu huruf pun terucap sampai hitungan kelima. Ia malah menggeleng. ‘’Wah, saya ndak tahu, Dik.’’ ‘’Oh. Bapak bukan orang sini?’’ ‘’Eh, tentu saja saya orang sini, Dik,’’ kali ini lelaki itu memasang wajah ceria. Matanya membulat tatkala memandang rumah-rumah di sekitar kami. ‘’Saya termasuk orang pertama yang tinggal di perumahan ini. Dulu cuman ada beberapa rumah dan jalannya masih dari tanah. Buat sampai sini dari pusat kota kayak ke ujung dunia saja. Tapi sekarang sudah menjadi tempat tinggal yang nyaman, apalagi bagi saya seorang pensiunan.’’ ‘’Bapak tinggal di mana?’’ ‘’Deket kok dari sini,’’ ia menunjuk ke pertigaan. ‘’Belok kiri, kemudian mentok. Di situlah.’’ ‘’Maksud saya, di jalan apa?’’ Lelaki itu mendongak sedikit dengan kening berkerut. ‘’Jalan apa, ya? Bentar, bentar. Waduh, kok saya lupa, ya?’’ ‘’Bapak lupa alamat rumah sendiri?’’ ‘’Tidak ingat.’’ Aku menarik napas. ‘’Bapak kenal dengan Pak Surandil?’’ Aku masih menahan diri. ‘’Dia tinggal di Jalan Nirwana II Nomor 5.’’ ‘’Pak, siapa? Ah, rasanya pernah denger nama itu. Tapi di mana, ya? Saya bener-bener lupa. Bentar,’’ jemarinya menggosok-gosok kerutan di keningnya. ‘’Terima kasih atas keterangan Bapak,’’ kataku tanpa menunggu ia menjawab lagi. 35


Kampung Surga

‘’Dik, Dik!’’ Tapi aku enggan menoleh lagi. ‘’Hanya orang gila yang bisa lupa tempat tinggalnya sendiri,’’ gerutuku dalam hati. Aku bergegas menuju taman perumahan. Benar juga, di sana ternyata lebih hidup. Beberapa orang berlari-lari kecil di lintasan semen bercampur dengan kerikil, diapit pagar hidup bebungaan aneka warna. Harum bunga, dedaunan, dan sisa embun menyegarkan dada. Dua atau tiga orang melakukan gerakan senam ringan sambil memandang kolam berair jernih dengan air memancur dari tengahtengahnya. Seorang lelaki duduk di kursi taman sambil membaca koran. Kacamata bergagang keemasan membingkai wajahnya jadi tampak cerdas. Rambutnya rapi disisir ke belakang. Usianya mungkin sekitar awal 40-an. Ah, rasanya wajah orang ini juga tak asing. Hari-hari ini ia kerap jadi berita di layar kaca. Ke situ aku menuju. ‘’Maaf, Pak, mengganggu.’’ Lelaki itu kelihatan terkejut. Wajahnya tertunduk, tapi dari atas bidang kacamatanya, ia memandangku dengan kening berlipat-lipat. Tapi tak lama kemudian lipatan di keningnya memudar dan kedua belah bibirnya membuka membentuk senyum dan memamerkan deretan giginya yang bersinar seperti di iklan pasta gigi. ‘’Oh, silakan,’’ lelaki itu melipat koran di tangannya. ‘’Ada yang bisa saya bantu?’’ ‘’Kalau Jalan Nirwana II di mana, ya? Tepatnya nomor lima. Saya kesulitan karena jalan-jalan di sini tak diberi nama.’’ ‘’Jalan, apa?’’ ‘’Nirwana Dua.’’ ‘’Just a minute rasanya saya tahu. Tapi yang mana, ya? Saya lupa.’’ 36


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

‘’Kata teman saya, tak jauh dari taman.’’ ‘’Of course, semua jalan di kompleks ini tak jauh dari taman. Sebab, taman ini ada di tengah-tengah kompleks. Taman ini ibaratnya adalah center of the circle. Semua jalan itu mengarah ke taman ini. Konsentris.’’ ‘’Bapak sendiri tinggal di jalan apa?’’ ‘’Jalan, aduh, jalan apa, ya? Saya tidak ingat.’’ ‘’Kok bisa, Pak?’’ ‘’Lupa. Really.’’ Kutarik napas dalam-dalam. ‘’Bapak kenal dengan Pak Surandil?’’ ‘’Ya. Ah, tidak. Saya tak kenal dengan Pak siapa tadi?’’ ‘’Surandil. Beliau bilang kenal dengan semua orang di kompleks ini.’’ ‘’Oh. Mungkin saja beliau tahu saya, atau tahu nama saya. Tapi saya tidak kenal dengan Pak.’’ ‘’Surandil.’’ ‘’Ya, dia. Kalau lihat orangnya, mungkin saya tahu.’’ ‘’Kalau dulu sih orangnya ganteng, Pak. Kami berteman semenjak sekolah dasar. Kami sudah berpisah belasan tahun, sejak lulus kuliah. Tingginya hampir sama dengan saya. Katanya sudah sepuluh tahun tinggal di sini. Dia minta saya main ke rumahnya. Beberapa hari lalu dia mengirim SMS. Datang saja hari Ahad, katanya. Tunggu saja di rumah, ada pembantu. Dia akan datang pukul sembilan. Soalnya dia ada janji main golf dulu pagi-pagi. Oh, ya, Bapak sudah lama di sini?’’ ‘’Hmmm very long time. Ada 5 tahun nggak, ya? Atau sepuluh tahun? Ah, mungkin 15 tahun. Saya tidak pernah menghitung. Saya lupa tepatnya berapa tahun.’’ ‘’Kalau gitu, terima kasih atas keterangan Bapak. Saya permisi.’’ Sekilas saya menangkap kelegaan di wajah lelaki itu. 37


Kampung Surga

‘’Well, ya, ya, silakan,’’ katanya. Aku mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan penduduk perumahan itu. Bagaimana mungkin mereka tak tahu nama jalan rumah sendiri? Apakah situasi aman, damai, tenteram dan sejahtera di perumahan ini membuat mereka jadi pelupa? Aku berniat hendak keluar dari taman ketika seorang perempuan melintasi gerbang taman sambil mendorong kereta bayi. Dia perempuan yang cantik dengan kulit secerah langit pagi. Rambutnya tergerai basah agak merah dan rambut yang basah akan menambah kecantikan seorang perempuan. Dari bentuk pinggangnya yang kelihatannya mulai disisipi lemak, aku menduga usianya sekitar 35 tahundengan toleransi hingga 40 (kalau dia jenis perempuan awet muda) dan 30 (kalau dia jenis yang kurang merawat diri). Siapa tahu daya ingat perempuan lebih kuat. ‘’Maaf, Mbak, boleh tanya?’’ Pundak perempuan itu bergetar menandakan ia terkejut disapa seseorang. Ia berhenti dan kami hanya dipisahkan kereta bayi. Ia memandangku dengan kening berkerut. Dan kerutan di kening, terus terang, mengurangi kecantikan seseorang. Tapi hanya dalam hitungan tiga, kerutan di keningnya hilang seperti baju kusut yang disetrikakembali mulus dan jelita. Dari bibirnya yang merah dan basah, senyumnya bahagia. Tiba-tiba aku juga yakin bahwa perempuan ini kerap jadi berita utama di televisi. ‘’Mbak pernah menjadi ratu kecantikan?’’ Sekilas keningnya membentuk kerutan lagi. ‘’Oh, maaf, maksud saya, barangkali Mbak tahu di mana Jalan Nirwana II?’’ ‘’Hmmm... jalan apaan?’’ ‘’Nirwana Dua.’’ 38


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

‘’Oh, ya... eh, enggak. Gak tahu.’’ ‘’Tidak tahu atau lupa?’’ ‘’Perasaan sih pernah denger, tapi... aku gak ingat, tuh.’’ ‘’Mbak sudah lama di sini?’’ ‘’Lama banget. Eh, gak juga sih. Lima taunan lebih, gitu. Tapi belum sampe sepuluh taun.’’ Aku tak perlu bertanya lebih jauh mengapa perempuan cantik ini jadi kelihatan dungu. Jadi, aku lebih suka menanyakan apakah ia mengenal nama Surandil. ‘’Mas... eh, Pak Surandil? Perasaan sih pernah denger namanya. Tapi apakah dia orang sini atau bukan, gak tahu deh. Coba tanya ke orang lain aja.’’ Aku mengangguk-angguk mafhum. Mata bayi di kereta membulat jernih seperti bintang pag i. Telunjukku menyentuh pipinya. ‘’Bayi yang cantik. Putri keberapa, Mbak?’’ Mata perempuan itu membesar. ‘’Siapa bilang ini bayiku?’’ ‘’Oh, bukan ya. Maaf.’’ ‘’Eh, siapa bilang bukan bayiku?’’ Kali ini mataku yang membesar. Tapi sebelum menjelaskan maksudnya, perempuan itu minta jalan dan mendorong lagi kereta bayinya. Aku bergeser dan perempuan itu melirikku seraya tersenyum manis sebelum meninggalkanku dan menanggalkan harum tubuhnya di udara. Keluar dari taman, aku nyaris terjengkang ketika sebuah mobil melaju kencang. Lalu terdengar suara nyaring berdecit akibat gesekan kuat antara ban dan permukaan jalan. Jendela kaca hitam pelan membuka, memperlihatkan wajah seorang pria. ‘’Surandil!’’ Aku meloncat memburu. Takkan pangling aku melihat wajahnya. Masih berjerawat seperti dulu. Bibirnya tetap tebal dan kumisnya masih jarang. 39


Kampung Surga

Bedanya, rambutnya bergaris-garis putih. Tapi ada yang aneh. Ia sama sekali tak tersenyum. ‘’Makanya kalau jalan buka mata,’’ ucapnya dengan suara dingin. ‘’Surandil, ini aku!’’ Tapi wajah lelaki itu masih memandangku dengan kaku. ‘’Kau siapa?’’ Aku menyebutkan namaku. ‘’Bukankah kita sudah janji akan bertemu di rumahmu hari ini?’’ ‘’Wah, apa iya?’’ Aku memandang lelaki itu, yang aku yakin Surandil adanya, tak ada duanya di dunia. ‘’Ndil, aku kan teman sekampungmu. Masa lupa?’’ ‘’Rasanya aku pernah punya teman seperti kamu. Tapi sumpah, aku tidak ingat.’’ ‘’Ndil.’’ Kaca jendela mobil kembali tertutup. Mobil mendecit di jalanan berbatu. Aku hanya termangu-mangu. Maka aku pun berbalik dan berniat pulang. Namun seketika itulah aku tak ingat lagi ke mana arah keluar. n

40


Repro: Erin Cone | OpenArt

41


Sang Kepala Desa

ilustrasi: repro flickr.com

42


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Sang Kepala Desa Humam S. Chudori ( Lampung Post | Sabtu, 21 Juli 2012 )

o

M

ALAM terus berjalan. Melewati Desa Hidup Fakir. Sebuah desa yang terpencil. Jauh dari sebuah kota kecil. Desa yang tak pernah tercatat dalam peta itu begitu senyap. Penduduknya masih jarang. Hampir tidak ada rumah yang berjajar. Hanya ada satu dua rumah yang menempel satu sama lain. Rumah seperti ini, biasanya, merupakan rumah satu yang disekat menjadi dua. Penghuni kedua rumah tersebut masih punya hubungan kekerabatan. Masih bersaudara. Kebanyakan rumah di sana masih berdinding papan atau gedek alias anyaman bambu, dan beratapkan blarak. Sebagian lainnya setengah permanen. Hanya ada satu dua rumah yang berdinding tembok. Penerangan listrik belum merata. Jika malam tiba, Desa Hidup Fakir laksana kuburan. Sepi. Sunyi. Lengang. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Hanya suara binatang malam yang tak pernah henti atau desah suara gesekan daun yang dibelai angin malam. 43


Sang Kepala Desa

Malam ini Desa Hidup Fakir benar-benar senyap. Lantaran hujan yang turun sejak sore belum sepenuhnya reda. Kendati butiran air yang jatuh dari langit sudah lebih lembut. Pun, angin malas bertiup. Hingga nyaris tak ada gesekan dedaunan di pucuk pohon seperti pada malam-malam sebelumnya. Padahal biasanya menjelang larut malam angin sudah menciptakan instrumentalia alam. Laksana musik jazz yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Binatang malam yang biasanya berdendang tak terdengar suaranya. Entah kenapa pula kodok yang senantiasa bernyanyi riang apabila hujan dicurahkan dari langit, tidak ada yang bersuara. Mereka bungkam. Atau barangkali mereka sedang merenungkan nasib yang dialami sebagian penduduk desa yang terisolir dari desa-desa sekitarnya. Lantaran mereka sudah dipaksa keadaan–makan nasi aking dan harus “berpuasa�. Ya, sejak era reformasi bergulir kehidupan penduduk makin terpuruk. Sudah bertahuntahun desa itu tak terjamah oleh berita. Apalagi terberitakan ke luar. Mungkin karena orang-orang lebih sibuk memikirkan politik daripada nasib rakyat.

DI SEBUAH gubuk berdinding anyaman bambu, seorang kakek renta tengah duduk di pinggir ambin. Gurat-gurat ketuaan menghiasi wajahnya yang telah keriput. Kerut-kerut yang menjadi garis penghias wajahnya bukan sekadar tanda ia sudah berusia lanjut. Melainkan pula disebabkan beban hidup yang terlalu berat. Kakek yang tak punya pekerjaan tetap itu duduk di pinggir ambin. Sementara itu, sang istri terbaring lemah. Tidak berdaya. Ambin yang terbuat dari papan itu berderik, tatkala istrinya terbatuk-batuk. Bukan saja karena tempat tidur itu sudah sangat tua. Melainkan juga kaki-kaki tempat tidur itu 44


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

sudah disangga di sana-sini. Lantaran tempat tidur tersebut sudah lapuk dimakan usia. “Kalau Karsini masih hidup,” ujar sang nenek, “Barangkali kita tidak akan begini, Pak ne.” Lelaki tua itu, Sumardi, bergeming. Membisu. Mematung. Tak berusaha memberi jawaban kepada istrinya. Kendati hanya sekadar anggukan atau gelengan kepala. “Betul kan, Pak ne. Kalau Karsini masih ada kita tak akan...” Suara Sukemi terhenti. Lantaran ia terbatuk-batuk. Napasnya tersengal-sengal. Kaki ambin kembali berderitderit. “Sudahlah Mbok ne. Tidak usah memikirkan yang sudah tak ada. Tak ada artinya menyesali nasib Karsini,” ucap Sumardi, mencoba menenangkan hati istrinya, “Ora ilok, kalau kita membicarakan orang yang sudah mati. Nanti arwahnya tidak tenteram di alam kubur.” Sukemi diam. Dengan susah payah ia mengatur napas. Benar. Sudah hampir satu tahun Karsini dikubur. Dimakamkan. Tetapi, kematian anak mereka yang semata wayang tak pernah dapat diterima. Karena kematian Karsini dianggap tidak wajar. Betapa tidak, perempuan yang bekerja sebagai TKW itu tak pernah ada kabar berita sebelumnya. Tahu-tahu anak pasangan Sumardi-Sukemi pulang sudah menjadi mayat. Andaikata Karsini mendengar pendapat Lesmono. Perempuan itu tak akan pernah mengalami nasib tragis. Mati di tangan majikan. Bahkan bukan di negeri sendiri. Sebab, Lesmono menentang keinginan istrinya yang akan mengadu nasib ke negeri orang. “Kalau cuma menjadi pembantu kenapa mesti ke luar negeri?” tanya Lesmono, ketika Karsini menyampaikan keinginannya mengadu nasib di negeri orang. “Tapi, di sana gajinya besar Kang daripada pembantu 45


Sang Kepala Desa

di....” “Mungkin benar. Gaji pembantu di sana besar. Tapi masalahnya bekerja itu bukan hanya cari uang. Kamu mesti ingat Kar, kamu punya suami dan anak.” “Jadi, Kang Mono keberatan kalau saya bekerja di luar negeri.” “Iya.” “Saya kerja di luar negeri juga untuk kepentingan keluarga, Kang.” “Apa selama ini uang yang....” “Kalau sekadar untuk hidup memang cukup,” Sukemi memotong kalimat yang belum usai dilontarkan menantunya, “Tapi, kami sebagai orang tua ing in ada perbaikan rumah tangga di sini.” “Sudahlah. Kalau memang saya dianggap tidak mampu memberi nafkah kepada istri lebih baik....” “Mono!” untuk kedua kalinya Sukemi memotong ucapan menantu, “Kamu kalau ngomong itu mbok ya dipikir dulu.” “Apa Karsini mau bekerja di luar negeri juga dipikir. Kalau dipikir pasti ia tidak akan jadi. Sebab, ia punya suami sama anak. Apa gunanya hidup menjadi suami-istri jika tak mau tinggal bersama,” kata Lesmono, tak mau kalah. Karena tidak mau mendengar permintaan suaminya, untuk membatalkan niatnya—bekerja di luar negeri— Lesmono memutuskan pergi dari rumah mertua. Suami Karsini itu pergi bersama Darmo, anaknya yang masih balita. “Ah, kalau saja Karsini tidak....” “Yang saya pikirkan sekarang ini justru kita, Mbok ne,” kata Sumardi, “Saya tidak tahu lagi apa yang akan kita makan besok.” Sukemi diam. Napasnya masih tidak teratur. “Saya tidak tahu apa yang akan saya dapatkan besok. Asal Mbok ne tahu sudah tidak ada lagi pohon pisang yang 46


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

masih berbuah,” tambah Sumardi, dengan nada setengah berbisik. Sebab, ia tidak ingin pembicaraannya terdengar orang yang lewat.

LELAKI yang rambutnya sudah memutih semua itu menghentikan percakapan dengan istrinya, tatkala mendengar pintu rumahnya diketuk orang dari luar. Tubuhnya mendadak menggigil. Panas dingin. Rasa takut menjalari di sekujur badan. Setelah berkali-kali pintu diketuk dan tak juga dibukakan oleh tuan rumah. Lelaki yang berdiri di depan pintu rumah Sumardi meneriakkan nama tuan rumah. “Pak Mardi. Buka pintunya Pak,” sebuah suara yang tidak asing bagi Sumardi terdengar. Ya, suara itu memang tidak asing bagi tuan rumah. Sebab itu suara Maramian—sang kepala desa. Sumardi masih bergeming. Jantungnya berdetak semakin tidak menentu. Ia tak bisa membayangkan jika percakapannya dengan Sukemi beberapa saat sebelumnya terdengar oleh kepala desa. Betapa tidak, sudah beberapa hari ini perut mereka hanya diganjal dengan pisang. Buahbuahan itu dicuri dari kebun milik kepala desa. Lantaran ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sementara itu, Sukemi sudah lama hanya bisa terbaring di ambin. “Pak Mardi sudah tidak kenal siapa saya?” Maramian kembali mengetuk pintu. Hening. Tak ada sahutan dari dalam. Tiba-tiba batuk Sukemi kembali terdengar dari luar. Ambin berderit, tatkala Sumardi bangkit. Menuju pintu. Di depan pintu, Sumardi merasa gamang. Ia ragu untuk mengangkat palang pintu rumahnya. Takut membukakan pintu untuk tamu yang datang malam itu. 47


Sang Kepala Desa

Untuk apa Pak Kades kemari? Apa ia sudah tahu siapa yang mengambil pisang di kebunnya? Lalu kenapa harus malam-malam seperti ini? Dari mana Pak Kades tahu jika saya yang selama ini mencuri pisang di kebunnya? Mungkinkah Pak Kades mendengar apa yang saya .... “Pak Mardi. Buka pintunya Pak,� seru kepala Desa Hidup Fakir, membuyarkan per tanyaan-per tanyaan yang memenuhi pikiran tuan rumah. Tiba-tiba tangan Sumardi terasa gemetar. Tangan itu mendadak lemas, tatkala mengangkat palang pintu rumah. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu palang pintu itu menimpa tubuhnya sendiri. Terpukul kepalanya sendiri. Lalu. Bruk. Sumardi terjatuh. Mendengar suara orang terjatuh, Maramian mendorong pintu yang sudah tidak terhalang oleh balok itu. Dengan susah payah kepala Desa Hidup Fakir akhirnya bisa masuk ke rumah. Karena tubuh Sumardi melintang di depan pintu. Menghalangi terbukanya pintu yang sudah keropos di sanasini tersebut. Antara percaya dan tidak, Maramian mendapati tubuh yang terjatuh itu sudah tak bernyawa. Berkali-kali Pak Kades berusaha membangunkan Sumardi. Namun, Sumardi benarbenar sudah tak bereaksi. Pak Kades bingung setengah mati setelah melihat kondisi Sumardi. Sementara itu, si nenek yang terbaring di ambin. Bahkan semula tampak lemas. Tak bertenaga. Tiba-tiba mampu berteriak sekeras-kerasnya. Ya, Sukemi berteriak, “Tolong ... tolong...� berkali-kali sambil menunjuk kepala desa yang berjongkok. Mematung di depan jasad Sumardi. Belum sempat Maramian berbuat sesuatu, warga sekitar sudah berdatangan ke sana. Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba kepala desa itu dihakimi warganya sendiri. Kepala desa dianggap telah melenyapkan nyawa Sumardi. n 48


Repro: Nicoletta Ceccoli | OpenArt

49


Sang Penyuap

ilustrasi: repro aldrovandi bird of paradise | dreamindonesia.wordpress.com

50


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Sang Penyuap Sam Edy YYuswanto uswanto ( Harian Sumut Pos | Minggu, 22 Juli 2012 )

o Suara cekakak tawa itu kembali membahana di sebuah ruangan khusus buat mengadakan pertemuan. Tepatnya di hunian mewah milik pria baya berkumis, berbibir tipis dan memiliki wajah lumayan tampan, yang baru-baru ini memenangkan pilkada dengan gilang-gemilang di sebuah daerah antah berantah. Daerah tempat asal kelahirannya. Bayangkan! Dua kali putaran selalu menang telak. Menyodok-nyodok rivalnya tanpa ampun.

J

IKA suatu malam kalian kebetulan melewati halaman rumah megah pria baya itu, saya yakin kalian bisa mendengar tawa girang alang kepalang yang nyaringnya melengking-lengking bak lolong para anjing yang tengah berpora meraya-rayakan kemenangan yang sesiapa pun pastilah tahu; kemenangan ambisius yang diperoleh si Bos, julukan pria baya itu, bukan kemenangan sportif. Tidak gentle. Kemenangan semu alias abu-abu. “Tapi Bos, bagaimana cara melawan mereka yang hendak 51


Sang Penyuap

memperkarakan Bos ke meja hijau?” ucap pria muda yang masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas ternama. Pemuda aktivis yang kerap menjadi korlap demo itu memang sengaja diciduk oleh si Bos untuk direkrut jadi bala kurawanya yang selalu diimingi fee besar saat berhasil menggulingkan rival politiknya lewat aksi demo dengan mengatasnamakan nasib rakyat yang tertindas. “Hahaha! Hahahaha!!” si Bos malah terkakak, hingga bebutir ludahnya yang kekuningan muncrat menetesi karpet merah yang menghampar di ruang ber-AC tersebut. Si pemuda langsung mengheran wajah. Kok, si Bos malah tertawa, sih? Apakah pertanyaanku ini mirip leluconnya Andre dan Sule dalam OVJ itu? Batin pemuda itu dirajam tanya sementara kedua alisnya saling bersitaut dengan dahi kerut-merut. Si Bos menatap wajah pemuda aktivis itu dengan seringai dan gurat wajah bermakna; “Ah, kau ini ternyata masih sangat ingusan anak muda!” “Tenang! Jangan bingung menghadapi mereka! Aku masih punya senjata andalan yang bisa membekap mulutmulut sok alim mereka!” ucap si Bos seraya mengeluarkan bungkusan tebal yang ia taruh di belakang kursi kebesarannya. “Apa itu, Bos?” sela si pemuda polos, tak sabar, dengan gurat heran kian melipati wajah sawo matangnya. Si Bos dengan sigap merobek bungkusan kresek hitam yang kini telah berada di atas pangkuannya. Betapa bola mata si pemuda langsung berkilau terpesona saat melihat isi kresek hitam itu ternyata adalah lembaran-lembaran licin berkilat warna merah yang bertumpuk-tumpuk. Saking terpesonanya, ludah pemuda itu sampai menetes, mengaliri dagu hingga berjatuhan di atas karpet merah. Ya, si pemuda langsung bisa memaham. Pasti si Bos akan menyumpal mulut-mulut mereka; para hakim, jaksa, 52


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

aparat penegak hukum, serta para saksi yang secara kasat mata menyaksikannya berlaku culas saat pilkada beberapa waktu silam dengan uang licin berkilat yang masih beraroma pabrik itu. Selama ini, jimat paling ampuh untuk membisukan mulut-mulut mereka memang hanya satu; jimat fulus. Sebagaimana yang telah-telah. Yang biasa dilakukan para bos di manapun mereka berada pada orang-orang yang sok idealis kepingin memberangus korupsi dan menggulingkan kursi para penyuap hingga titik kulminasi. Si Bos yakin, mereka, mulut manusia-manusia idealis sok suci itu pasti bakalan terlongo dengan tubuh menggeloso begitu melihat gepokan uang licin berkilat yang membuat bola mata mereka langsung melotot dan menghijau royo-royo. “Kamu mau? Nih, buat kamu!” tak dinyana, si Bos melempar gepok ratusan ribu ke arah si pemuda yang masih berwajah takjub itu. Dan…hup! Hanya dengan satu kali gerak refleks, si pemuda gesit menangkapnya dengan sempurna. “Bos, saya mau!” “Iya, Bos, saya juga mau!” “Bos, Bos, saya mau! Saya mau!” “Iya, Bos, saya juga mau!” Orang-orang yang berada di sekeliling si Bos melolonglolong seperti anjing kelaparan dengan posisi tangan menadah-nadah bertingkah ala pengemis yang biasa ngetem di pertigaan lampu merah. Lalu, dengan gesture congkaknya, si Bos pun melempar-lemparkan gepokan uang ratusan ribu itu kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Tanpa satu pun yang ketlingsut (terlewat). Semua kebagian sama rata. Dan, acara temu si Bos dengan bala-kurawanya malam 53


Sang Penyuap

itu diakhiri dengan makan-makan enak, sembari meneguk hingga mabuk bercawan-cawan anggur yang telah dirampasnya dari pabrik-pabrik minuman yang menjamur di negeri antah berantah itu. Saat tengah khusyuk berpesta-pora, tiba-tiba, seorang satpam berwajah tegang tergopoh menghadap si Bos. “Bos, gawat, Bos! Gawat!” ucap si satpam seraya mengelap keringat yang membanjiri wajahnya. “Ada apa?” tanya si Bos dengan menautkan jidat heran. “Itu Bos, ada Ibu-ibu ngotot mau ketemu si Bos, sudah coba saya usir tapi tetap saja nggak mau pergi, dia malah nekat menunggu di bawah pohon beringin sebelah pos jaga, sambil menggendong anaknya yang katanya baru kejedoran tabung gas, Bos!” terang si satpam dengan nafas memburu. Di luar duga, si Bos malah mengurai senyum, membuat benak si satpam mendadak langsung mengheran dikerubuti antrian tanda tanya. Lagi-lagi, si Bos mengeluarkan gepok uang yang dirogohnya dari kantong plastik hitam di sebelahnya. Sepertinya, uang si Bos tak ada habisnya. Ah, jangan-jangan si Bos miara tuyul? Begitu yang langsung membersiti batok kepala si satpam yang sedikit botak dan licin. “Nih, berikan pada Ibu-ibu itu. Pasti dia ke sini mau minta ini bukan?” seringai si Bos sembari melempar gepokan uang itu yang langsung ditangkap begitu lincah oleh si satpam. *** SAAT kembali ke pos jaga, si satpam mendadak menjadi selebriti dunia gaib. Ia langsung dikerubuti setan-setan yang langsung menginterogasi sekaligus melancarkan jurus rayuan mautnya. 54


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Hei, bodoh sekali jika uang tersebut kau berikan semuanya pada Ibu-ibu itu,” gumam si setan yang biasa bercokol di dada si satpam sambil melolos beberapa lembar dari gepokan uang yang digenggamnya. “Iya, bodoh nian kau, jika uang itu kau berikan pada Ibu mata duitan itu,” sahut setan-setan yang lain. Celoteh para setan yang lain pun seragam. Hanya satu setan saja yang menurut si satpam ber-ide secerlang purnama. “Gini aja, Boi, biar aman, kau ambil jalan tengahnya saja. Kasih saja Ibu itu dua lembar limapuluhribuan, uang yang lain bisa kau gunakan buat kesenangan kau sendiri, Boi,” “Ya, ya, ya, ide yang cukup brilian dan bijaksana,” gumam si satpam dengan bola mata berbinar ceria. *** NAMUN setiba di pos jaga, si ibu yang barusan menggendong anaknya sudah tak terlihat lagi di bawah pohon beringin itu. “Lho, kemana Ibu itu?” tanya si satpam pada teman seprofesinya. “Sudah kugelandang paksa barusan,” ujarnya dengan seringai tengiknya. Si satpam satunya lantas membalas dengan seringai senada-seirama; seringai-seringai penuh kemenangan. Ah! Tak sia-sia aku punya partner kerja yang baik, loyal dan bisa diajak kompromi, gumamnya. Dia pun langsung teringat uang yang seharusnya diberikan pada ibu bertampang pengemis itu. Lekas ia merogoh dua lembar limapuluh ribuan dan mengangsurkan pada temannya. “Nih, buat kamu, ini dari si Bos,” Teman si Satpam memburaikan senyum dengan wajah 55


Sang Penyuap

sumringah. “Tengkyu, Bro!” ucapnya langsung menyambar uang itu lantas mengecupnya berkali-kali. Sambil terus memasang senyum, ia beranjak ke belakang. “Hei, mau ke mana kau?” teriak si Satpam yang satunya heran. “Pipis, Bro!” katanya sambil meringis seperti menahan pipis yang sudah kronis. Ah, dasar satpam tengik! Mana mungkin ia mau ke toilet sungguhan. Ia hanya berpura pipis padahal sejatinya ia sudah tak sabar ingin menghadap si Bos agar bisa kecipratan suap lebih banyak. Sayang, satpam satunya tak menyadari kalau ia tengah dibodohi. n Puring Kebumen 2010-2011

56


Repro: Mstislav Pavlov | OpenArt

57


Lolongan Tengah Malam

ilustrasi: repro lolongan tengah malam | yuyun nurrachman

g Adi Zamzam, tinggal di Desa Banyuputih, Kalinyamatan, Jepara. 58


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Lolongan Tengah Malam Adi Zamzam ( Koran Tempo | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

J

ADI LAH diriku. Cobalah sesekali waktu kalian membayangkan menjadi diriku. Tiap malam mengayun langkah menuju entah, karena masa depan yang terlukis dalam kepala hanyalah sebentuk kekosongan. Langkah, hanyalah sekedar untuk mencari remah makanan penyambung nafas. Selebihnya adalah kebosanan menunggu maut menjemput. Namun jangan kira bahwa hidupku sesederhana itu. Tidak. Sama sekali tidak. Nasib tak pernah membedabedakan siapapun. Semua diajaknya bermain. Semua mendapatkan jatah. Jadilah diriku. Cobalah masuk ke dalam tubuhku yang sering kalian hina ini. Siang yang memanggang ketika itu. Hidungku menemukan bau yang amat menggoda. Lapar menyeretku untuk terus mengikuti bau itu. Masuk ke sebuah gang sempit, menemukan sebuah pagar, lalu sebuah pintu yang terbuka lebar, dan bau itu semakin kuat menarik langkahku. Kupikir nasib akan berbaik hati. Namun sungguh 59


Lolongan Tengah Malam

tak kusangka bahwa ia akan menghadiahiku sebuah pukulan telak yang tiba-tiba. Rembulan mengapung, rembulan tenggelam. Dan bau sedap yang masih meninggalkan bekasnya dalam hidungku itu pun sampai meresap ke dalam mimpi-mimpi yang kelam. Kuhitung, hingga tujuh kali rembulan melakukan itu, hingga kaki kiri depanku yang patah akhirnya pulih dan nyaman kembali untuk melangkah. Apa ada yang peduli denganku? Tidak. Sebab tidak ada yang sesekali waktu mau menjadi diriku. Sepertinya aku memang sengaja dilahirkan untuk menjadi yang tersingkir dan tak layak untuk diperhatikan. *** STASIUN. Lagi-lagi aku membeku di stasiun ini. Tak tahu kenapa aku begitu menyukai tempat ini. Setiap kali malam datang menyelimuti tempat ini, kalian pasti bisa menemukanku di tempat ini. Lalu ketika malam terusir cahaya pagi, aku akan tertegun seperti embun di sini. Mengamati orang-orang yang saling berebut masuk ke dalam perut kereta. Membayangkan seandainya aku adalah kereta itu, yang setidaknya punya tujuan ke mana harus pergi setiap hari. “Mau pergi ke mana?” Sikapnya ramah sekali ketika itu. “Mencari siapa?” Kupikir dia akan menjadi penolongku untuk tahu ke mana aku harus pergi. “Sudah makan?” Mula-mula dia membuatku betah. Kupikir stasiun itu akan menjadi tempat yang nyaman untukku singgah sebentar dan lalu berpikir ke mana harus 60


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

pergi nanti. Tapi ternyata tak. Dia seperti malam yang membekap terang dengan gelap. Hari diperkosanya paksa hingga semuanya menjadi sepi dan hening sekali. Dan stasiun itu kini telah berumur tiga tahun dalam kepalaku. Namun masih saja membuatku bingung ke mana harus pergi saban hari. “Kampung asalmu di mana?� Mereka pun tahu bahwa aku tak punya tujuan. “Ikut aku saja ya?� Jeli sekali mata mereka. Samar-samar aku masih ingat, bahwa dulu, dulu sekali, aku pernah punya tujuan. Sebuah tempat nyaman dengan kehidupan sebagaimana layaknya para perempuan. Masa gadis yang kemanja-manjaan, menikah, merindukan buah hati, mengurus rumah, mengurus segala. Di tempat itu banyak sekali keinginan yang berjuntaian dalam kepalaku. Namun, entah apa itu yang menimbun hingga semuanya menjadi samar-samar. Bahkan sekarang hampir hilang. Membuatku kadang kebingungan setengah mati hendak melakukan apa saat cahaya membuka hari. Para lelaki yang suka tertawa nakal. Riuh sekali tangan mereka. Seperti gelap yang suka menyelinap ke dalam bilikbilik kumuh. Tanpa memedulikan rasaku. Dan akupun menjadi semakin limbung kemudian. *** AKU sering melihatnya mematung di bangku peron itu. Memandangi kereta yang pergi seolah jiwanya juga ikut terbawa pergi olehnya. Sesiangan ia akan di situ, sejak cahaya memaksaku membuka mata hingga peron semakin padat dan ia kelihatan tak nyaman. Di malam hari, ia sering dijemput oleh ganti-ganti lelaki. 61


Lolongan Tengah Malam

Mungkin kalian sering melihat bibirnya tersenyum dengan balutan merah menyala. Mungkin kalian sering melihatnya tampak bahagia. Tapi tidak di mataku. Entahlah. Apakah karena aku tahu segalanya tentang dia, bahkan sejak pertamakali ia menetap di peron ini? Aku pernah melihatnya tersedu di sudut gelap tempat ini. Aku pernah mencium bau amis darah dari tubuhnya setelah keluar dari kamar mandi stasiun ini. Aku pernah melihatnya menggigil sendirian seperti sekarang. Di sebuah bangku kayu tak jauh dari stasiun, ia tampak menggigil dalam rahim gelap. Aku tak yakin bahwa ia sedang menunggu—lelaki entah—seperti biasanya, sebab sejak beberapa hari lalu aku sudah melihat gelagatnya yang terlihat enggan bersua dengan mereka. Sudah lama aku ing in mendekati dan sekedar menyapanya dengan suara lembut. Ingin sekali kukatakan bahwa ia tak sendiri dalam balutan nasib yang begini. Tanpa kunyana tiba-tiba saja ia melemparkan sepotong roti untukku. Sebenarnya hidungku menolak makanan itu. Namun perutku tak mau berbohong. Liur jadi semakin menetesnetes setelah hasrat yang telah empat hari menyiksaku ia pancing lagi keluar. Aku tahu ia sebenarnya baik. Aku bisa mencium bau hatinya. Tak seperti kebanyakan orang lain yang selalu terlihat nyinyir karena memandang rupaku. Tak cuma sekali dua aku terleceh semacam ini. Terleceh dengan comberan, batu, pentungan, letusan yang memekakkan telinga, bahkan aku juga pernah selamat dari maut setelah mengunyah daging ayam yang sepertinya telah dibubuhi racun. Entah apa salahku. Padahal tak pernah sekalipun aku menyalahi mereka. Pastilah tersebab wajahku ini. Pastilah tersebab tubuh yang membungkusku ini, sehingga mudah bagi mereka 62


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

melempar olok-olok, mudah bagi mereka mengataiku kotor. Maka, betapa bersyukurnya aku kepada perempuan ini, yang tak terkecoh dengan rupaku. Pastilah hatinya dipenuhi cahaya cinta yang begitu hangat. *** MALAM menjumpaiku lagi. Seperti kemarin-kemarin, ia mengajak ser ta sepi yang selalu ingin membuatku tersungkur. Alangkah beruntungnya ia diciptakan dengan memiliki tujuan pasti seperti itu. Tak seperti aku yang kadang linglung tak tahu arah saat sepi berhasil menyekap. Tujuan itu, sebenarnya siapa yang menentukan? Kita sendiri, ataukah sudah ditentukan sejak lahir? Jikalau kita sendiri, kenapa siang dan malam terus saja berputar seperti itu? Jikalau sudah ditentukan semenjak lahir, kenapa aku bisa kehilangan arah seperti ini? Ataukah ini karena ada yang salah denganku? Bahkan semuanya memiliki tujuan. Aku telah memerhatikannya setiap hari. Kereta, orang-orang, pohon mangga di belakang stasiun, kucing betina yang baru saja melahirkan dalam gudang stasiun‌, sepertinya hanya aku yang kehilangan tujuan. Meskipun tiap malam telah kuserahkan segala yang kupunya kepada gelap demi dapat terus bertahan memeluk hidup. Tetap saja hidup tak mau berbaik hati menunjukkan arah kepadaku. Mereka bahkan semakin merendahkanku ketika kotoran semakin tebal memenuhi tubuhku. Maka salahkah jika ingin kuakhiri saja hidupku yang tak memiliki tujuan ini? Toh hidup mati sama saja tak ada guna. ***

63


Lolongan Tengah Malam

AKU melolong panjang ketika kulihat dirinya tiba-tiba menggelosor dan lalu tergolek lemah. Kupanggil siapa saja agar cepat-cepat datang ke sini untuk menolong. Anjing bodoh. Anjing bodoh. Mau apa dia menyeretnyeret tubuhku yang sudah sekarat ini? Seharusnya pergi saja dia setelah mendapatkan roti itu. Jangan urusi urusanku. Sakit dan luka ini adalah milikku sendiri. Takkan pernah ada siapapun yang bisa ikut merasakannya. Juga ketika seorang dokter bilang bahwa aku harus bersabar dengan penyakit kelamin yang mungkin tak akan tersembuhkan lagi. Dia harus hidup. Dia harus hidup. Hanya dia yang ternyata peduli kepadaku, tanpa memandang apa rupaku. Jika dia mati, di mana lagi aku bisa menemukan yang seperti dirinya? Maka akupun semakin melolong panjang memanggil siapa saja. Apakah kalian mendengar lolonganku? Tolong, tolonglah kami! n

64


Repro: Max Gasparini | OpenArt

65


Pulang

ilustrasi: repro harian analisa

66


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Pulang Fatmin Prihatin Malau ( Harian Analisa | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

M

ALAM ini, malam ketujuh Brata tidak berada di rumah. Sebuah bangunan permanen, terpojok di antara gedung-gedung di sekitarnya. Pada gedung permanen itu ada sebuah bilik berukuran empat kali tiga meter. Ruangan itu pengab diterangi lampu neon 20 watt. Tidak ada yang istimewa di ruangan itu. Semua biasa saja dan tidak ada sesuatu yang istimewa, biasa biasa saja. Hampir seluruh usia Brata terbenam di ruangan itu, sehingga bau badannya, bau keringatnya dan bau ketiaknya, menyatu dengan ruangan. Brata ingat benar setiap sudut. Lubang angin dan bahkan lubang-lubang semut yang ada di ruangan itu. Brata ingat, apa lagi ketika Brata ingat akan tubuhnya, malam ini terbaring lemas di sebuah ranjang berganda. Ruangan yang menghuni jiwanya, ruang yang ter tompangi badannya terasa asing dan tidak mengenakkan. Brata merasakan semuanya dan Brata ingat akan lubang-lubang di dinding ruang yang selama ini 67


Pulang

menyatu dengan jiwanya. “Sebaiknya kau pulang saja,” kata Abram datar. Kata itu seakan didengarnya, tetapi sebaliknya seakan tidak terdengar di telinga Brata. Tidak ada kata-kata penegasan dalam kalimat itu, pada hal Brata menginginkan satu kata penegasan dan Brata butuh satu ketegasan dalam jiwanya. Kemudian suara itu tidak muncul lagi dan senyap. Tibatiba Brata ingin lagi mendengarnya. Sia sia. Tidak ada suara. Brata bingung. Ketika Brata berupaya melupakan semuanya. Abram bersuara perlahan,”Kau perlu makan Brata. Hari telah malam, pasti kau belum makan malam.” Brata terkesima. Makan malam? Brata memang belum makan sejak kemarin. Makan masalah perut. Makan untuk hidup, tapi hidup bukan untuk makan. Brata punya prinsip. Perut bagi Brata hanya sumber penyakit, karena perut yang membuatnya hilang langkah, hilang figur dan hilang segalanya. Brata sadar bahwa dia tidak bisa hidup tanpa perut. Dia yakin hanya dengan perut saja dia tidak bisa hidup. Bagi Brata, hidup adalah keseimbangan, imbang berimbang adalah irama kehidupan, kalah dan menang juga irama kehidupan. Tekadnya harus menang, tapi kini Brata merasakan keseimbangan itu hilang pada dirinya, pada jiwanya, sehingga Brata terkadang merasa berada pada posisi menang dan terkadang merasa pada posisi kalah. Brata pun tidak ingin kalah dan tidak pula ingin menang. Brata lebih senang berada pada posisi di antara keduanya. Sayang Brata kini tidak tahu berada pada posisi menang atau posisi kalah. Jelasnya, Brata merasa dirinya tidak berada di antara keduanya. Hampa dan kosong. “Bagaimana perasaanmu, jika hal itu kau alami,” kata Brata pada Tokek yang berbaring pada bagian atas ranjang 68


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

berganda. Tidak ada jawaban pasti, yang jelas sulit. Hanya kata sulit yang keluar dari mulut Tokek. Brata kesal, sama saja dengan Abram yang tadi mengatakan, “Sebaiknya kau pulang saja� Bagi Brata, Tokek, Abram sama saja, tidak dapat memberikan ketegasan, seperti tegasnya Brata memasukkan butiran-butiran nasi ke perutnya, sehingga membuatnya kenyang, tidak bisa bergerak leluasa dan akhirnya tertidur pulas. Malam ini adalah malam ketujuh, seperti malam-malam sesudahnya. Hampa, kosong dan tidak ada arti, tetapi bukan berarti mati. Brata masih merasakan udara dan masih merasakan kepalanya berada di atas ranjang berganda. Perlahan tapi pasti kepalanya terasa berat, pengaruh alkohol yang dituang ke dalam tubuhnya. Bereaksi, membuat Brata menyerah. Tidak bisa bergerak bebas, terasa kaku dan berat. PAGI ini adalah pagi kedelapan Brata tidak berada di rumah. Di ruang yang telah menyatu dengan bau badannya, dengan bau ketiaknya, dengan bau keringatnya dan dengan segala macam bau yang ada di tubuhnya. Seperti pagi-pagi sesudahnya, Brata dengan kekalutan, dengan kemusaman melangkah bersama matahari di atas cakrawala pagi. Melangkah satu, dua, tiga dan seterusnya mencari keseimbangan hidup. “Selamat pagi,� sapa penjaga kantor pada Brata dengan hormat. Brata membalas seperlunya, sebab perlakuan itu telah menyatu dengan jiwanya, dengan raga dan fisiknya. Perlakuan yang terkait dengan norma-norma hidup yang kurang seimbang sebab bukan datang dari lubuk hati yang hakiki. 69


Pulang

Brata tidak mau tahu semuanya itu, baginya hanya satu dimana keseimbangan hidup yang dicarinya itu. Bertumpuk pekerjaan harus diselesaikan segera. Brata harus bisa, jika dia mau hidup, jika dia mau bertahan di antara makhlukmakhluk hidup. “Selamat pagi,â€? sapa seorang gadis manis. Semua dibalas Brata dengan setengah hati, sebab arti yang dicarinya belum juga berarti. Brata hanya mampu menghela nafas berkalikali dan akhirnya, hampa dan alpa. PETANG ini adalah petang ke delapan Brata tidak berada di rumah, di ruang yang telah menyatu dengan bau badannya, dengan bau keringatnya, dengan bau ketiaknya dan dengan segala macam bau di tubuhnya. Petang ini seperti petang-petang sesudahnya. Brata harus berhadapan dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan jika dia mau hidup atau jika dia mau bertahan hidup di antara bermacam corak dan warna warni kehidupan. Brata ingat rumah. Brata ingat wanita yang melahirkannya ke dunia. Brata ingat pelaku penyebab dia lahir ke dunia ini. Brata ingat saudara-saudara satu kelahirannya. Brata ingat penyebab, menyebabkan dia ada di dunia ini. Cinta‌ya. Cinta yang menyebabkan dia ada di dunia ini dan cinta juga yang kini menyebabkan dia tidak berada di rumah. Petang ini adalah petang kedelapan Brata tidak berada di rumah, tapi petang ini tidak seperti petang-petang sesudahnya. Brata sudah tidak peduli lagi dengan tugas yang ada di depannya, dengan tugas-tugas yang bertumpuk menanti diselesaikan. Brata pulang ke sebuah rumah yang sederhana. Brata merasakan ada sesuatu rasa. Ada satu getaran halus menyentuh nyalinya. Ada getaran panggilan panjang untuk 70


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

menatap hari-hari yang panjang. Dalam ruang rumah sederhana itu tidak didengarnya lagi suara seruan sumbang dan ragu-ragu. Tidak ada lagi suara ucapan, “Selamat pagi.� Tidak didengarnya lagi ucapan,� Sebaiknya kau pulang saja,� dan bermacam seruan lainnya. Brata semakin merasakan jiwanya kembali dari pengembaraan panjang. Sayup-sayup suara mobil melintas, suara ban berlaga dengan aspal, suara ayam berkokok dan kemudian senyap. Datang lagi dan kemudian senyap lagi. Brata pun terlelap. MALAM ini tidak seperti malam-malam sesudahnya. Brata tidak lagi kalah dan tidak lagi menang. Brata tidak lagi hilang keseimbangan, Brata tidak lagi bimbang dengan angan-angan panjang yang belum jadi kenyataan. Perut bukan lagi hanya sumber penyakit bagi Brata. Perut kini menjadi bagian terpenting dari tubuhnya. Brata tidak lagi tegas memasukkan bulir-bulir nasi ke dalam perutnya. Nasi dimasukkan dengan rasa dan karsa. Brata kini masuk ke dalam hatinya, membuat hatinya lega. Kakinya melangkah ringan masuk ke dalam rumah tanpa ada upacara adat, upacara resmi, ringan, dingin, sepi, sendu dan hampa. Malam ini bukan lagi malam keberapa, sebab Brata tidak lagi menghitungnya. Brata telah berada di dalam ruang yang menyatu dengan jiwanya. Brata ada disana bersama raga untuk waktu berapa lama. Selamanya mungkin. n Lokal Gaharu, Mei, 1989-2012

71


Perempuan yang Memanggul Duka

ilustrasi: repro burung gereja | artshangkala

72


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Perempuan yang Memanggul Duka N. Mursidi ( Haluan | Minggu, 22 Juli 2012 )

o 1 KU tidak mengenal perempuan itu, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Justine. Sebuah nama yang melankolis. Tetapi, tak pernah kusangka jika pemilik nama itu ternyata seonggok tubuh perempuan yang menyimpan duka lara, juga kabut malam. Mirip jerit parade jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang —yang harus menerima kutukan. Lebih dari itu? Aku merasa tak pernah mengenalnya. Ia serupa hantu. Aku hanya mendengar jeritnya tapi tak pernah melihat wajahnya. Kami —aku dan dia— tidak pernah bertemu. Tak pernah berpapasan di jalan. Apalagi jalan bareng berdua atau kencan. Aku hanya tahu, dia seorang perempuan yang terluka dari serak suaranya saat pertama kali menelponku di siang yang bolong. Setelah satu tahun -sejak- ia menelpolku di siang bolong itu, yang tak pernah kuingat lagi, tiba-tiba kudengar sebuah kabar mengejutkan. Dia bunuh diri menelan sepuluh pil

A

73


Perempuan yang Memanggul Duka

penenang yang membuatnya terkapar, tak berdaya. Empat orang satpam yang berjaga malam di sebuah taman rekreasi kemudian membawanya ke rumah sakit. Semua orang mengira malam itu ia meninggal dunia. Tutup usia. Tapi diam-diam aku berharap kehidupan menghampirinya. Doaku tak terhalang langit. Ia masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada mendengar ia bisa bernapas. Sayang, empat satpam yang sempat menolongnya dan seorang dokter yang menyelamatkannya tak pernah tahu alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. 2 TAK kudengar lagi kabar perempuan malang itu, setelah dia bisa menghirup udara segar. Ia hilang bak ditelan bumi. Telepon kantor tak lagi berdering, tidak kudengar lagi suara seraknya di siang bolong seperti biasa. Aku pikir, ia sudah lupa dengan lelaki yang pernah dicintainya. Tapi, sebulan kemudian sebuah kabar mengejutkan segera menempelak telingaku, karena ia membuat geger di kantor. Perempuan itu rupanya meng irim sepucuk surat pada pimpinan kantorku, dan mengadukan kalau dia telah diperkosa oleh lelaki yang dicintainya. Ia mengaku telah dikhianati! Serupa petir di siang bolong, lelaki yang dicintainya -jadi sopir- di kantorku, kemudian diskorsing. Kami semua, tak pernah tahu apa yang dilakukan keduanya karena lelaki itu tak pernah buka mulut. Dalam hati, kami diam-diam menuding lelaki itu serupa bajingan. Dan setelah sopir itu dijatuhi hukuman, tak ada surat lagi yang membuat geger. Tetapi, tak lama kemudian, pekak telepon kantorku kembali berdering. Perempuan itu kembali menelponku di siang yang bolong, mengganggu deadline kerjaku yang tinggal 74


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

hitungan jam terbengkalai. 3 DI SIANG yang bolong itu, ia meneleponku bukan untuk pertama kali. Sebelumnya, aku pernah menerima telepon darinya setelah lelaki yang dicintainya —sebelum ia menjalin cinta dengan sopir di kantor kami—, tak ada di tempat. Tapi jawabanku yang jujur ternyata tak membuatnya percaya. “Pasti kau bohong!� tuduhnya. Jelas, aku gundah. Kalau saja, perempuan itu di depanku, pasti dia sudah kutampar! Gagang telepon pun langsung kututup. Dalam hati, aku membatin. Pantas saja, semua staf menghindar kalau ia menelpon ke kantor meski dengan alasan mau konsultasi. Tapi, entah kenapa esok harinya aku merasa kasihan, aku mau terima teleponnya kembali waktu lelaki yang dicintainya, tak ada di tempat. Selalu, selalu digelayuti kasihan tatkala aku membiarkannya merana. Tetapi rasa kasihanku, kelak ternyata kusadari jika aku justru dibohonginya dengan alasan sekadar mau konsultasi. Padahal, aku sudah terlanjur merelakan nomor hp-ku untuk dicatatnya, sehingga ia akan bisa leluasa menelponku bahkan menggangguku untuk mengungkapkan kekecewaan setelah ia dikhianati kekasihnya. Tapi aku memang tidak mengenalnya, kecuali hanya sepenggal namanya. Bahkan sampai kini, aku tak pernah tahu siapa nama aslinya, bahkan di mana tempat tinggalnya. Ia seperti hantu. Suatu pagi meneleponku dengan nomor kartu mentari, esoknya bisa menelpon dengan kartu simpati. Habis meneleponku, ia membuangnya. Karena setelah itu aku tahu nomor yang kemarin dipakai, ternyata tak aktif lagi. 75


Perempuan yang Memanggul Duka

Ia tak pernah jujur, selalu mengelak saat kutanya tentang lelaki yang dia cintai. Tapi ketika dia dikhianati mantan kekasihnya, ia marah-marah kepadaku, seolah-olah aku merupakan tong sampang dari sebuah kekesalan. Juga, dia tak pernah jujur dalam semua hal. Aku dibuatnya seperti tidak mengenalnya meski hanya sekadar sepotong warna dari karakternya. Pernah suatu hari, ia mengaku padaku memiliki sebuah rumah di komplek perumahan elit. Di hari lain ia mengaku pernah kerja di KJRI, dan akhirnya aku harus membencinya karena ia membuatku linglung setelah ia berjanji akan meminjamiku uang ternyata tak pernah ia tepati. Aku yang saat itu lagi butuh uang untuk biaya operasi ibuku, sudah berusaha menghubung i semua no. hp yang pernah ia berikan padaku. Tetapi semua nomornya tak aktif. Sejak itu, aku mem-bencinya setengah mati karena aku harus mene-rima tuduhan dari ibuku sebagai anak yang tak pernah berbakti pada orangtua. Sekali lagi, aku harus membencinya karena ia tak pernah jujur. 4 IA tidak pernah jujur tatkala bercerita kepadaku tentang siapa laki-laki yang dia cintai. Tetapi, aku sebenarnya tahu siapa lelaki yang ia cintai. Tak sulit bagiku untuk tahu lantaran dia nyaris setiap hari menelepon ke kantor kami, mencari lelaki yang dia cintai, kemudian mengajaknya bercengkrama sampai berjam-jam. Pantas saja dering telepon kantor kami tak pernah sepi dari serak suara perempuan itu. Suara yang membahana kencang kadang menjadi bahan tertawaan antara kami yang sedang sibuk bekerja dikejar deadline. Nyaris semua staff di kantor kami pernah menerima telepon darinya yang awal mulanya memang menanggapi 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

keluhan perempuan itu yang ingin konsultasi. Tapi, lambat laun semua staf tidak mau lagi disibukkan urusan satu orang yang tidak jelas itu. Apalagi, dia sering menelpon hingga merepotkan dan alasan konsultasi. Padahal, dalih itu diketahui semua staf tak lebih sekadar alasan saja atau iseng belaka. Tak heran, hampir semua staf di kantor kami menuduh perempuan itu mengidap gangguan jiwa. Lalu, beredarlah kabar miring bahwa perempuan itu sudah gila lantaran tak kuat menanggung depresi akibat kedua orangtuanya yang bercerai. Dan, karena bicaranya nyaris ngelantur, akhirnya tidak ada yang mau menerima telepon-nya lagi, kecuali seorang office boy yang menginap di kantor kami pada waktu semua staf kantor pulang ke rumah. 5 AKU tak pernah menghukum perempuan malang itu mengidap gangguan jiwa. Meski semua staf di kantor kami menuduhnya gila, tapi aku masih menaruh kasihan. Tapi, sejak dia kerap meneleponku dan aku rupanya telah ceroboh memberikan no hp-ku, kini aku ditikam rasa aneh. Apalagi dari cerita-cerita yang pernah aku dengar dari staf yang pernah jadi pujaan hatinya, aku tahu jika ia kerap menelpon kelewat batas, sampai berjam-jam. Tak peduli, tagihan rekening rumah orangtuanya harus melambung tinggi. Awalnya, orangtua perempuan itu tidak tahu lonjakan tagihan telepon bisa membengkak sampai setinggi langit. Tetapi setelah diselidiki, kedua orangtuanya akhirnya tahu. Tak ada prolog untuk sebuah basa-basi murahan, telepon di rumah perempuan pun ditutup. 6 3


Perempuan yang Memanggul Duka

SETELAH kudengar kabar telepon di rumah orangtuanya ditutup, aku tak lagi mendengar dering telepon di kantor kami. Juga, dering hp-ku di pagi buta atau siang bolong untuk mendengarkan keluh kesahnya yang tidak ada habisnya. Aku kembali hidup tenang. Tidur di balik selimut tebal, lalu bangun siang. Tapi tak lebih dari tiga bulan kemudian aku tiba-tiba mendengar kabar mengejutkan. Perempuan malang itu, kudengar menikah dengan lelaki yang bekerja sebagai office boy di kantor kami. Padahal, office boy di kantor kami itu sudah beristri dan punya tiga anak. Perempuan malang itu dijadikan istri kedua. Semua staf kantor kami, tak henti-henti menggunjing karena perempuan malang itu dianggap tak waras. Aku hanya mengelus dada! “Aneh! Bisa-bisanya, perempuan itu mau dinikahi office boy? Tak jadi soal, jika ia tak jadi istri kedua, tapi ini telah merusak rumah tangga orang!� “Apa yang dicari perempuan gila itu? Dasar perempuan gatel!� Aku menutup telinga. Tak kudengar gunjingan itu, tidak kudengar pula apa alasan perempuan malang itu mau dijadikan istri kedua. Satu minggu gunjingan itu berlangsung. Selang itu, kantor kami kembali tenang. Semua staff sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk dan nyaris tak ada waktu untuk bercanda. Hingga dua bulan kemudian, berita tak sedap kembali kudengar, tatkala seorang pengurus masjid di dekat kantor kami tiba-tiba datang ke kantor dan ingin bertemu dengan Junaedi, office boy di kantor kami. Semua staf kantor saling pandang, juga menebak-nebak tentang kabar apa yang akan dibawa oleh si pengurus masjid itu sampai-sampai ia mencari office boy di kantor kami. 78


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Junaedi, lelaki yang bekerja jadi office boy di kantor kami lalu keluar dari dapur, menyambutnya dengan ragu. “Mohon Anda segera datang ke rumah sakit! Istri Anda sekarang dirawat di rumah sakit setelah pagi tadi mencoba melakukan bunuh diri di masjid!� Deg! Jantungku berdegup, nyaris tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kami hanya saling pandang, terperanjak kaget, tidak percaya jika perempuan itu nekat menelan beberapa butir pil penenang kembali untuk mengakhiri hidup. 7 SIANG itu, semua staf di kantor mengira dia meninggal dunia. Tutup usia di usia muda. Tapi aku berdoa untuk terakhir kalinya. Apalagi di tengah kecemasan itu tersebar desas-desus suaminya yang jadi office boy kantor kami telah menceraikannya, setelah tak kuat menanggung kegilaan perempuan malang itu. Doaku ternyata tak terhalang langit. Setelah aku sampai rumahku, sepulang dari kantor, aku mendapat kabar bahwa perempuan malang itu, ternyata masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada. Semua orang tahu; alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Justine, nama perempuan malang itu. Aku tidak mengenalnya lebih jauh, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Sebuah nama yang melankolis. Tapi tak kusangka jika pemilik nama itu seonggok tubuh perempuan yang memanggul kabut duka diselimuti kegelapan malam. Ia mirip serak jerit jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang yang harus menerima sebuah kutukan hidup. n

79


Haji Sulaiman

ilustrasi: repro mind, brain | bahabanews

80


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Haji Sulaiman Teguh Afandi ( Joglosemar | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

M

ENJELANG Ramadan, bukannya kebutuhan berkurang malah tambah sekian kali lipat. Makan memang hanya dua kali makan sehari, tapi biayanya melebihi makan tiga kali di hari biasa. Biaya camilan dan jajan anak-anak tentu tidak ada, tetapi uang habis untuk membuat aneka panganan manis penggugah selera berbuka puasa. Maka wajar ketika hari-hari bulan Syaban seperti sekarang, istriku mulai melakukan penghematan dan pembatasan pengeluaran sehari-hari. Maklum gaji sebagai Pegawai Dinas Pendidikan kabupaten golongan rendah akan kelabakan mencari utangan, kalau tidak pandai mengatur keuangan. Tapi….. “Pak, tadi ada dua mahasiswa ke sini. Minta sumbangan bakti sosial.” “Ibu kasih?” “Ya dikasih. Nggak tega. Di proposal mereka mau bakti sosial di daerah Gunungkidul. Masak ya nggak dikasih?” 81


Haji Sulaiman

“Berapa?” “Seratus dan dua kantong pakaian bekas, yang sudah tidak terpakai.” “Seratus?” “Emang mau dikasih berapa? Lima ribu? Dua puluh ribu? Di proposal saja ditulis jelas H Sulaiman SPd. Kulihat nama temanmu menjadi pembimbingnya. Kalau tidak salah namanya Mulia Sakti aku lupa gelarnya apa” “Hufffhhhh”, aku mendesah berat. Ya Dr H Mulia Sakti, SPd, MPd adalah kawan waktu kuliah dulu di IKIP. Dia kini menjadi dosen sebuah kampus di Jogja. Kuyakin dua mahasiswa yang beruntung itu pasti mendapat alamat dan namaku dari dia. Mulia memang sangat mengenal dan dekat denganku. Tapi sayang doktor satu itu tidak mengerti bagaimana keadaanku sekarang. “Bayangkan Bu, kalau ada lima proposal dalam satu hari. Apa mau dikasih seratus semuanya? Kalau sebulan sudah habis gaji bapak?” Istriku hanya diam, tangannya masih terampil melipat baju. “Kenapa ya Bu, mereka minta sumbangannya ke kita terus? Kenapa nggak sama Pak Badar yang punya agen wisata sukses, atau Pak Zulkarnaen pengusaha garmen? Kenapa selalu ke kita?” aku mencoba berbicara perlahan, aku tidak ingin malam-malam masih terdengar ribut kecil dari ruang keluarga rumah kami. Anak-anak sudah kelelahan belajar dan menyelesaikan tugas sekolah. “Bukan hanya kita Pak, mereka juga dapat giliran jatah. Apalagi Bapak kan sudah bergelar haji. Wajar mereka minta juga ke bapak” Aku diam, kusaksikan lukisan tangan anakku warna merah dari crayon disinari lampu kuning. Anakku melukis gambar apel merah yang sudah dimakan ulat. Apel itu begitu 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

payah dikoyak ulat-ulat serakah, bahkan aku bisa merasakan apel itu sudah mulai kuyu tidak kuat menerima gigitan demi gigitan ulat yang sudah membuat daging buahnya berubah menjadi cokelat. Aku meraba hatiku, apa sudah ada ulat-ulat yang mencokotnya. Tidak ada yang salah dengan mereka yang meminta sumbangan. Toh tujuannya pun baik. Membantu warga miskin di Gunung Kidul. Pandangan mereka atas keluargakulah yang kadang terlalu berlebihan. Huruf “ha� yang disematkan di depan namaku seolah menjadi legitimasi semuanya. Meski tak sekalipun kusengaja menuliskannya di depan namaku, Sulaiman. Namun di manapun selalu dibubuhkan sehuruf berat itu. Undangan pernikahan, kartu ucapan, undangan rapat wali murid bahkan hanya sekadar daftar nama giliran Siskampling. Selalu saja dituliskan besar H Sulaiman SPd. Orang-orang memang telanjur mengenalku sebagai seorang haji. Sepintar apa juga aku menyembunyikannya, orang-orang akan tetap memanggilnya ‘P ak Haji’. Mengistimewakan dan kadang diperlakukan secara berlebihan. Dan yang paling memuakkan dari perlakuan orang-orang itu terhadap seorang haji adalah sikap mereka yang muncul dari citra yang tertanam secara umum bahwa seorang haji pastilah kaya dan suka bederma. Kaya, karena orang tahu bahwa tidak setiap orang mampu untuk melakukan ibadah ini oleh sebab biayanya yang teramat tinggi. Menembus angka puluhan juta. Orang beruang sekalipun kalau tidak benar-benar kaya, akan kesusahan menjalankan. Belum lagi uang untuk syukuran, pelatihan manasik haji, membeli oleh-oleh kurma, kacang Arab, sajadah dan tentu air zamzam, bahkan sekadar menyewa bus untuk saudara dan handai-taulan yang mengantar. Semua itu membutuhkan uang yang tidak 3


Haji Sulaiman

sedikit. Suka bederma, karena seseorang yang terpanggil untuk ibadah haji pastilah dianggap sebagai seseorang yang memperhatikan agama, sedang bederma adalah sebagian dari sikap yang direkomendasikan oleh agama. Akibatnya apa? Hampir setiap ada acara keagamaan selalu ada sekian rupiah yang seolah wajib disedekahkan. Kalau di masjid diadakan acara peringatan Isra Mikraj atau ketika lantai masjid akan diganti dengan keramik misalnya, orang-orang akan memosisikan keluargaku sebagai penyandang dana dengan nominal yang lebih tingg i dari warga umumnya. Itu karena kami haji. Bahkan, perlakuan semacam ini kemudian juga berlaku untuk bukan saja hal-hal yang sebelas-duabelas dengan persoalan keagamaan. Untuk kegiatan-kegiatan kerja bakti kampung, perbaikan pos ronda, pembikinan gapura, Agustusan, lomba mancing, dan sebagainya, orang-orang pastilah membawa proposalnya pertama kali ke rumah kami. Rumah keluarga Haji Sulaiman. Tentu selama ini aku tidak pernah bertatap langsung dengan mereka. Selalu istriku. Setiap pagi hingga petang, aku selalu ada di kantor. Hati perempuan memang mudah sekali merasa kasihan dan terbawa suasana. Setiap proposal atau permintaan sumbangan, baik yang berteori agama maupun tidak, selalu diberi dengan uang yang pantas dinamakan uang sumbangan dari keluarga haji. Kadang sesekali pernah aku berpikir, ingin mengadakan konferensi pers kepada mereka yang masih saja menganggap kami keluarga kaya. Mungkin sekadar untuk agak kaya pun, kami belum masuk kategori. Meski kami punya rumah, namun sokongan dana terbesar adalah warisan dari mertua dan orangtuaku. Kami punya mobil. Bukankah itu mobil dinas kantor? Kami ada, namun kami 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

bukanlah keluarga kaya yang setiap bulan berjuta uang untuk hanya sekadar dana sumbangan. Kemudian soal berangkat haji. Haji itu sebenarnya adalah sebuah hadiah. Suatu kali kantor mengadakan pemilihan pegawai teladan, dan hadiah tidak tanggung-tanggung, diberangkatkan haji beserta istri. Dan lebih untung akulah yang menang, hanya karena jam kerjaku selalu penuh, tidak pernah terlambat juga tidak pernah bolos tanpa izin. Wajarlah kalau kami berdua bisa berangkat ke Arab, yang sebelumnya pergi ke sana hanya ada dalam doa-doa tahajud kami setiap malam. Kami percaya Allah tidak pernah tidur, dan memang benar Allah mengizinkan kami pergi ke Arab beribadah haji dengan pulang membawa konsekuensi yang tidak pernah kami kira. Hadiah yang dulu membuat kami sujud syukur, kini kami harus menanggung dilema-dilema yang memutar-mutarkan kepala. Dilema ini membuat aku harus berpikir keras, bagaimana Ramadan awal harus mempunyai stok beras sebulan. Karena sesuai pengalaman, aneka rupa proposal sumbangan akan bergiliran datang di bulan Ramadhan. Bulan Ramadan amalan dilipatgandakan. Aku haji yang dinilai mereka banyak uang dan suka menyumbang. Lengkap sudah. “Sudahlah Pak. Pasti diganti yang lebih besar. Bukannya ustaz di tv selalu bilang, akan diganti sepuluh kali lipat kalau kita bersedekah. Apalagi kita bukan orang yang kaya-kaya amat. Pasti jauh lebih besar lipatannya. Allah Maha Pandai memberi balasan.� Istriku menenangkan. Mencoba menjaga agar tidak ada sisa gumpalan kotor di hati. Memaksa agar hati berlatih ikhlas, melindungi dari ulat-ulat yang menggerogoti hati, yang siap menjadikan hati jauh lebih nista dari hati penghuni neraka. Meski aku tahu, istriku sendiri kadang mengeluh karena tidak dapat menikmati baju gamis baru bersama 3


Haji Sulaiman

sahabat arisannya. Tapi istriku tahu kapan harus mengeraskan keluhan atau lirih disimpan, karena dompetku bukan agunan. Ibadah di negeri ini begitu bengis, dipaksa agar tetap keluar uang dengan tanpa menghiraukan bagaimana kondisi hati. Bukankah hati adalah kunci ibadah kepada Ilahi. Aku sendiri pernah berpikir, apa mungkin uang-uangku itu diterima Allah, karena aku selalu mengeluh kurang setelah disedekahkan. Kalau iya bagaimana mungkin Allah lupa mengembalikan atau mengganti dengan harta-harta yang jauh lebih besar ketimbang yang sudah disumbang. Mungkin aku berperilaku picik. Aku merebahkan badanku, bersiap melepas tegangtegang di otakku. Tegang di kantor, tegang saraf memikirkan sikap orang-orang yang berlebihan terhadapku. Esok aku harus segera berangkat pagi ke kantor. Predikat karyawan teladan harus dipertahankan. Seolah sebentar, ternyata aku sudah bangun menjelang subuh. Aku bergegas salat dan tahajud dua rekaat. Kemudian sambil menanti azan subuh, tak henti-henti aku mengucap istig far dan hamdalah. Aku menangis dan tersenyum. Aku seperti orang gila fajar itu, bahkan ketika istriku sudah bangun ingin mengambil air wudu. Dia kagum dan mematung sebentar. “Kenapa, Pak? Mimpi buruk?’ istriku mengambil serampangan jilbab kolong warna hitam yang disampirkan di pinggir meja. Kemudian duduk persis di samping kananku. Aku masih sesenggukan dan masih mengucap hamdalah. “Aku bermimpi bertemu seseorang berwajah tampan dan bergamis putih kafan. Mirip sekali denganku, mungkin itu adalah diriku ketika kelak sudah meninggal.� Aku tidak melihat wajah istriku, namun aku sesenggukan menghadap sajadah. 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Jangan terlalu percaya, mimpi bunga tidur. Meludah ke kiri, kalau itu buruk Pak.” “Bukan! Dia yang sangat mirip denganku itu menasihati. Kalau kita ikhlas maka kita akan menjadi keluarga yang disanjung Allah di langit. Meski kekurangan tapi masih bederma. Sebaliknya, maka kita hanya akan menjadi manusia biasa-biasa saja di hadapan Allah. Dia memperlihatkan rumah dari marmer hijau di surga, itu rumah kita kelak kalau kita ikhlas.” Istriku terdiam, kemudian memelukku. Aku melepaskan pelukannya, kemudian bertanya. “Tabungan buat Ramadan masih berapa?” “Sejuta.” “Ambil sebagian, nanti kita antar ke panti. Mereka juga butuh stok beras buat Ramadan.” Istriku masih terdiam, sedang aku yakin senyumku kali ini adalah senyum yang paling mengembang. n Jogja, 2011-2012

3


Jangan Pernah Menangis, Januari

ilustrasi: repro jurnal nasional

g Soesi Sastro, bernama lengkap Susetiyaningsih Sastroprawiro, lahir di Banjarsari-Bojonegoro, pada 7 Februari 1962. Cerpen-cerpennya dipublikasikan majalah Pertiwi era 80-an. Tulisan perjalanan dan opini tentang kehutanan dimuat di Kompas. Lulusan Magister Science bidang PSAL-IPB. Kompetensinya mengantarnya menembus belantara hutan, perkebunan, dan beragam kegiatan di berbagai negara. 88


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Jangan Pernah Menangis, Januari Soesi Sastro ( Jurnal Nasional | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

N

AMANYA Harry Komodor Steven Rasyeed Mauren RR. Lelaki Kawanua itu minta dipanggil Hans saja. Sebutan kesayangan kakeknya. Aku bertemu Hans di kaki gunung Lokon Tomohon, di rumah seorang pendeta, saat mediaku meliput penghijauan mata air yang sepanjang sejarah selalu kering kerontang. Cengkeh idola dibabat pemiliknya sendiri. Kesal, harga tak menentu, sistem penjualan tidak tunduk hukum ekonomi. Jadilah lahan menggundul dan gersang. Air mulai kurang. Kebun sawit di perbatasan dituduh menelan mata air kaki Lokon. Beritanya menghangat. Demo di mana-mana. Hari ini barisan sawit terus merayap memeluk perbatasan Kotamobagu. *** LIMABELAS tahun pendeta Johanes dibantu anak-anak SD menanam bibit pohon aneka rupa. Biaya swadaya. 89


Jangan Pernah Menangis, Januari

Sampai akhirnya kaki Lokon menghijau, berhutan, mata air mengucur deras. Indah, sejuk, setiap pohon diberi plat nama jenis lokal dan nama Latin. Anak-anak sekolah dari Manado dan kota lain kerap belajar ilmu biologi di situ. *** KABAR dari Kepala Desa mengejutkan Johanes. Kaki Lokon akan diambil perusahaan swasta. Mungkin untuk mal, hotel atau rumah sakit atau untuk kebun sawit yang akhirakhir ini makin menggila.. Dada Johanes sesak napas setiap mendengar perkataan Kepala Desa. Ia selalu dihadapkan pada kalimat: ‘atas nama pembangunan‘, ‘perkembangan ekonomi‘, ‘pendapatan daerah‘, ‘globalisasi‘ dan entah apa lag i. Pendeta itu bosan mendengarnya. Kadang ia merenung. Lereng subur, limpahan debu vulkanik sisa letusan gunung, ramai diserbu pendatang. Mereka bertani, gigih menanam sayuran, beternak, tak kenal pesta dansa, hura-hura dan basa-basi. Asimilasi budaya terjadi. Ekonomi membuat orang bergeser satu satu ke sudut perbatasan kota. Anak-anak Tomohon kini lebih suka musik Chacha atau tayangan film Korea, daripada main Kolintang. Mereka asyik duduk berjejer di depan sekolah sambil tertawa-tiwi sendirian, berbicara dengan masing-masing ponsel di tangan. Pasar tradisional tidak popular bagi ibu-ibu muda. Membeli sekaleng susu rela berkendaraan ke Manado, antri di mal, tempat ajang adu gengsi dan bibir-bibir bergincu. Sampai rumah, para perempuan mengaduh karena sulitnya cari pembantu. Pendeta tua itu menikmati perubahan bak menonton film seri. Tekadnya: mata air Lokon harus tetap mengalir. Hutannya harus kokoh di sana. Begitu pendeta Johannes mengakhiri wawancara denganku sore itu. 90


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

*** HANS adalah salah satu siswa SD yang dulu diajak Johanes menghijauakan kaki Lokon. Ayahnya guru. Ia dididik ekstra keras, sampai lulus dokter. Dua adiknya tak seberuntung dia karena kurang biaya. Di mata keluarga besar, Hans anak manis, penurut, panutan, sukses dan sumber biaya. Setiap libur Natal dan Tahun baru ia selalu menyempatkan mampir ke rumah pendeta Johanes. Sekadar berbincang atau memancing di kolam ikan rumah tua sang pendeta. Melepas kangen dan bercerita. Hans meninggalkan profesinya sebagai dokter. Alasannya klasik, ayahnya tak mampu membayar uang sogok penempatan di rumah sakit. Tentu saja ia frustasi. Ditambah lagi pacarnya, anak Kepala Rumah Sakit, memutuskan cinta. Ia tinggalkan Tomohon, bekerja di perusahaan tambang. Pada awalnya ia mengira perusahaan akan membangun rumah sakit dan ia bisa memimpin di situ. Nyatanya perusahaan hanya membangun klinik. Hans harus puas sebagai manajer kepegawaian yang mayoritas manajemennya orang asing itu. Kadang ia ingin hengkang tapi tak ada keberanian. Kepalang tanggung, umurnya yang mendekati kepala lima susah memulai karier di dunia kesehatan. Teman seangkatan sudah moncer kariernya. Malu hati, rendah diri dan ingin lari saja dari kenyataan bahwa sejatinya ia gagal berkarier. Gaji dolarnya melimpah. Pundi-pundi di kampung yang ditampung istrinya menggelembung. Ia sendiri mengaku tak pernah sepeserpun menikmati hasil keringatnya. Semua disetor ke ibu suri, begitu dia menjuluki istrinya yang kini mengubah penampilan. Istrinya melanjutkan kuliah, operasi hidung dan payudara. Entah untuk apa dan siapa, Hans 91


Jangan Pernah Menangis, Januari

sendiri hanya sekali setahun pulang ke rumah. *** MALAM tahun baru di Seminyak Bali. Aku berada di sebuah kafe bersama Hans, setelah siangnya ia mengundang media termasuk mediaku untuk acara CSR perusahannya. Akhir-akhir ini perusahaannya kerap didemo. Isu perluasan tambang dan pelebaran sayap ke pulau lain. Sebuah isu menarik awal tahun buat media. Jadi kuputuskan memancing berita langsung dari mulut lelaki itu. Salmon panggang dan red wine di kafe termahal di dunia itu rasanya persis ikan seluang dan teh panas di lidahku. Aku ingat di Maruai Kalimantan saat pekerja tambang makan di warung tepi sungai. Rasanya lebih nikmat. Hans duduk di depanku. Cahaya redup lampu kapal di meja kafe membayangi wajahnya. Entahlah tiba-tiba aku malas memburu berita tentang perusahaan multi nasional itu. Bosan dengan janji-janjinya akan menutup tambang atau reklamasi. Niatku berbelok. Ingin kudengar sisi lain Hans, lalu kuselipkan ceritanya dalam alur novelku “Lelaki Tanjungselor‘ yang tertunda. Tokoh seper ti pendeta Johannes, dan Hans mungkin menarik ditulis. Selain sumber berita, Hans adalah teman ngobrol yang baik selama tiga tahun terakhir. Mengirim sebatang cokelat, kadang menaruh dua tangkai mawar merah dan putih di pintu apartemenku. Kebiasaannya setiap ke Jakar ta. Dan aku senang saja menerimanya meski kadang curiga. “Ceritakan tentang Kawanua, Lokon, masa kecilmu atau apa saja...” aku menaruh tape recorder mini di meja tepat di dekat gelas red wine sisa tegukannya. “Kok ke situ pertanyaanmu, Ri?” Hans balik bertanya. “Jawab dululah Hans, nanti kita bicara soal perusahaan.” 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Matanya memandangku. Kulihat tatap mata berbeda dengan yang lalu-lalu. Tawanya terlahap ombak. Kerlip bintang dari kejauhan menjadi irama malam yang menghibur. Petasan-petasan menjelang detik tahun baru dan pendar kembang api raksasa membuyarkan konsentrasiku. “Kenapa, Ri? Kamu gak mood wawancara?” “Waktunya tidak tepat, salah tempat juga,” kataku. “Aku mengundangmu untuk makan malam, bukan press conference.” Hans meneguk red wine. “Iya, tapi janjimu soal info perluasan tambang itu?” “Pasti akan kusampaikan padamu.” Ia menyentikkan jarinya di bibir gelas. “Di mana konsensi tambang baru?” aku mencoba memburu. “Aku dilahirkan di Manokwari Irian, ayahku guru waktu itu,” ia membuka pembicaraan mengalihkan pertanyaanku. “Lalu hubunganmu dengan pendeta Johanes,” tanyaku mengalihkan jawaban. “Aku dititipkan di rumah pendeta Johanes sejak kelas enam SD. Ah..kamu sudah paham cerita itu kan, Ri.” ia meneguk tetes wine. “Iya iya‘... bla bla bla... Kamu menjadi anak yang terluntalunta tapi sukses dan bla bla bla,” kataku menyela. Hans pernah menceritakan kisahnya itu saat jumpa denganku di kafe La Nini di Senayan. Pendeta Johanes menambah namanya ketika ia diangkat anak. Sebenarnya ia kurang suka, tidak membawa hoki, keberatan nama, tapi ia harus terima. Juga ketika ia harus kawin dengan bidan desa anak angkat sang pendeta. Semua tak dapat ditolak. Hans menjadi lelaki pengangguk seumur hidup. Pada sebuah kesempatan, ia ingin namanya Hans Steven Harry saja tanpa embel-embel nama keluarga. Ia ingin bebas tak 3


Jangan Pernah Menangis, Januari

terbelenggu. Ia bosan dielu-elukan keluarga. Ia mengaku bukan tipe lelaki setia, bukan anak manis seperti bayangan ayahnya atau Johanes. Aku menguap berkali-kali. Jam tangan menyentuh angka dua belas kurang seperempat. Aku mengantuk.Kepala berat gara-gara red wine yang bolak-balik ditambah Hans di gelasku. “Perusahaan dapat konsesi di kaki Lokon,” kalimat Hans bak petir, memecah malam akhir tahun. Aku membelalakkan mata. Kantuk lenyap sekejap. “Hutan dan mata air itu?” tanyaku geram, otot leherku mungkin keluar. “Ada bongkah emas di bawahnya, Ri. Sudah tiga tahun perusahaan menunggu untuk eksploitasi, terkendala wibawa ayah angkatku.” Aku gemetaran mendengar perkataannya. “Bukankah kalian yang menjadikan hutan lebat dan mata air indah itu?” kataku memastikan. “Pendeta tua itu meninggal pagi tadi,” kata Hans dingin datar. “Apa? Apa katamu?” aku setengah berteriak tak percaya. Terbayang kaki Lokon porak poranda. Kubangan air bagai telaga saat hujan. Truk-truk beroda raksasa lalu lalang menginjak-injak tubuh bumi. Masa depan macam apa ini. Hans menunjukkan foto-foto kematian dari ponselnya. Mengenaskan. “Seseorang membunuhnya. Ditemukan racun minuman. Tubuhnya mengapung di kolam ikan belakang rumah kemarin malam.” “Siapa di balik semua ini?” aku emosi, berharap aku mabuk dan berita ini salah. “Semua sudah ditangani polisi dan perusahaan,” nadanya datar. 94


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Kalian sungguh jahat, kapitalis!” aku geram dengan caracara model lama itu. “Bukan aku, Ri.” ia lirih meyakinkan Kupandang wajah lelaki yang kutahu hormat pada pendeta itu. Aku mendadak mual. Kutinggalkan Hans di kursinya. Entah apa yang dia pikirkan. Aku berlari ke bibir pantai Seminyak. Telingaku tak lagi mendengar gegap gempita pesta kembang api malam tahun baru. Aku marah, kesal, menang is perih. Hilang kata yang pas untuk menuliskan bobroknya bisnis perusahaan yang membabibuta tak pandang bulu. Tak kuhirau ia berlari mengejar dan menyusulku. “Jangan pernah menangis Januari...” lelaki itu menyebut namaku, memeluk dari belakang. Ia-lah yang kini tersedu. n Jakarta, 02 April 2012.

95


Tunggu Aku

ilustrasi: repro flickr.com

96


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Tunggu Aku Richa Miskiyya ( Medan Bisnis/Belia | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

A

NGIN bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun pinus yang menaungi tempatku, tempat dimana aku selalu menunggumu. Dari tempat ini pula, aku bisa leluasa melihatmu. Lima pohon pinus berdiri kokoh menjulang selalu menyambut murid-murid SMP Khatulistiwa saat memasuki gerbang sekolah, karena keteduhannya pula tempat ini banyak dipakai murid-murid SMP yang terletak di Sabang Merdeka dan bersebelahan dengan STM Nusantara ini untuk melepas lelah setelah olahraga ataupun saat jam istirahat untuk duduk-duduk sambil mengobrol. Sudah hampir satu jam aku menunggumu, tapi kamu tetap asyik berlatih basket dengan timmu yang memang seminggu lagi akan bertanding. Aku suka menunggumu, tapi tidak untuk saat-saat seperti ini, saat dimana kamu selalu bersamanya, seorang cewek baru pindahan dari Jakarta. Baru enam bulan cewek bernama Lani itu masuk ke 97


Tunggu Aku

sekolah ini, tapi ia sudah sukses menarik perhatian muridmurid cowok di sekolah ini, termasuk kamu. Apalagi saat ia terpilih sebagai supervisor tim basketmu, sebagai asisten Pak Bakri yang bertugas menyediakan segala logistik untuk tim selama latihan dan pertandingan. Kamu sedang beristirahat di lapangan basket bersama teman-temanmu yang lain, dan aku hanya bisa memandangmu dari sini, di bawah jajaran pohon pinus yang berjarak sepuluh meter dari lapangan basket. Aku ingin memberikan air minum botol yang ada di tanganku, tapi aku urungkan niatku setelah melihat Lani membawa air minum untukmu, dan mengelap keringat di wajahmu dengan tisu. Entah apa yang kurasakan sekarang, apakah aku cemburu? Sebenarnya aku tak berhak untuk cemburu, karena aku bukan kekasihmu, aku hanya sahabatmu. Kita bertemu saat MOS, dan akhirnya kita semakin akrab saat kita sekelas, dan keakraban kita pun berlanjut sampai kelas IX sekarang ini. Kita sering pulang dan berangkat bersama karena rumah kita searah, tapi sejak kita memilih ekskul berbeda, kita jarang pulang bersama karena jadwal latihan yang berbeda. Kamu memilih ekskul basket yang latihan hari senin dan kamis. Sedangkan aku lebih memilih ekskul marching band yang latihan hari selasa dan rabu. “Sa, kamu nggak pulang?” tanya Lusy yang mau pulang setelah ekskul jurnalistik. “Nanti Lus, aku masih nunggu Radit,” jawabku sambil menunjuk ke arah lapangan basket dengan daguku. “O…tumben nungguin Radit, bukannya Radit biasanya kalau habis latihan basket seringnya pulang sendiri?” “Nggak tahu tuh, tadi pas istirahat dia bilang suruh nunggu dia pulang ekskul basket, katanya ada yang mau 98


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

diomongin,” jawabku. “Jangan-jangan dia mau nembak kamu kali, Sa,” ucap Lusy setengah berbisik. Mendengar perkataan Lusy wajahku jadi terasa panas dan mungkin berubah sedikit merah, aku pun segera mengalihkan pembicaraan agar Lusy tak melihat rasa gugupku karena mendengar ucapannya barusan. “Aneh-aneh aja kamu, paling dia mau minta tolong buat bantuin dia ngerjain PR Matematikanya Bu Anna,” ujarku dengan sikap sebiasa mungkin. “Ya…siapa tahu kan, Sa. Ya udah, aku pulang dulu ya, udah sore, daaaah….,” aku membalas lambaian Lusy sebelum ia hilang melewati gerbang. Aku memikirkan lagi ucapan Lusy, juga ucapanmu saat istirahat tadi di kelas. “Sa…ntar tungguin aku pulang basket, ya.” “Ngapain ditungguin, kayak anak TK aja.” “Ada yang mau aku omongin” “Apaan?” “Ada deh….” Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, kamu sudah beranjak menuju bangkumu karena Pak Darno sudah masuk kelas dan memulai pelajaran Bahasa Indonesia. Pandanganku kembali tertuju ke lapangan, melihat sosok kapten basket yang sedang mendribbel bola dan kemudian menshoot nya ke arah ring, siapa lagi kalau bukan sosokmu. Dengan modal badan yang tinggi, kulit putih, dan wajah tampan, ditambah lagi jago basket, menjadikanmu banyak digilai cewek-cewek sekolah ini, bahkan cewek-cewek sekolah lain. “Sa….” Terdengar suaramu di telingaku, karena melamun, aku sampai tak sadar kamu sudah ada di sampingku. “Aku mau nganter Lani pulang ke rumah dulu ya, dia 99


Tunggu Aku

tadi jatuh pas bawa bola ke ruang olahraga, mungkin terkilir. Kamu tunggu di sini bentar, rumah Lani deket kok, ntar aku balik lagi, tunggu aku….” Ucapmu yang kemudian melaju dengan motor dengan Lani duduk dibelakang. Bisa kulihat jelas tadi, Lani tersenyum sinis padaku, dan kemudian melingkarkan tangannya ke perutmu, mesra, membuat hatiku semakin tak menentu. *** “BRAKKK!!!” terdengar suara keras dari arah jalan raya depan sekolah. Aku dan Pak Bakri, juga anak-anak ekskul basket yang masih ada di dalam sekolah pun langsung keluar sekolah untuk melihat apa yang terjadi. Orang-orang sekitar sudah banyak yang berkerumun di jalan, ternyata ada kecelakaan. Dan kini tampak jelas di hadapanku, tubuhmu sudah bersimbah darah, kaos olahragamu yang putih sudah berubah merah. Aku segera memecah kerumunan dan mendekat ke arahmu. Dan dapat kudengar dengan jelas saat kamu berbisik ke telingaku, “Sa, aku mencintaimu,” ucapmu lirih diiringi dengan seulas senyuman, senyuman terakhir yang aku lihat dari bibirmu. n

100


Repro: Nathalie Mulero, Fougeras, 1970, Lyon, France | OpenArt

101


Berhala

ilustrasi: repro tribun jabar

g Asmadji AS Muchtar, menulis prosa, puisi, esai dan menerjemahkan kitab-kitab kuning, juga menjadi dosen pascasarjana di UII Yogyakarta dan UNSIQ Wonosobo. 102


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Berhala Asmadji AS. Muchtar ( Tribun Jabar | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

S

EJAK Kiai Jaliljatuh sakit, para santrinya dan sejumlah tokoh politik diam-diam mengincar sorban-sorbannya. Mereka percaya sorban Kiai Jalil bukan sembarang sorban, melainkan sorban yang bertuah. Kepercayaan mereka didasari pada pengalamanpengalaman Kiai Jalil yang nyalawadi. Seperti pengalaman berkali-kali lolos dari kematian ketika pada tahun 1965 orang-orang P KI menyerbu pondoknya dan hendak membantainya. Malam itu, Kiai Jalil sedang salat tahajjud sendirian di dalam surau ketika tiba-tiba diserbu dan dibacok-bacok dengan celuritoleh orang-orang PKI. Kiai Jalil terkapar di atas sajadah dengan baju dan sarung yang robek-robek terkena bacokan celurit dan pedang. Orang-orang PKI menduga Kiai Jalil benar-benar telah mati, lalu mereka kabur. Tapi ternyata Kiai Jalil masih hidup segar bugar dan tidak ada luka di tubuhnya. Sedangkan kepalanya masih terbalut sorban. 103


Berhala

Pada malam lainnya, orang-orang PKI kembali menyerbu pondok Kiai Jalil. Mereka meringkus Kiai Jalil dan menyeretnya ke tengah persawahan di belakang pondoknya. Di tengah persawahan itu, mereka kembali ingin membantai Kiai Jalil. Bacokan celurit berkali-kali mencabikcabik sarung dan baju Kiai Jalil. Mereka juga menendang dan menginjak-injak kepala Kiai Jalil yang terbalut sorban. Setelah menganggap Kiai Jalil sudah tewas, mereka kemudian kabur. Tapi ternyata Kiai Jalil tetap hidup dan segar bugar. Pada malam lainnya lagi, pondok Kiai Jalil kembali diserbu orang-orang PKI yang hendak membantainya. Kali ini Kiai Jalil tidak tinggal diam, tapi melakukan perlawanan seorang diri. Dengan gesit Kiai Jalil sengaja berlari-lari ke tengah persawahan. Mereka mengejarnya. Dan di tengah persawahan, Kiai Jalil mengajak mereka berkelahi satu lawan satu. Mereka boleh menggunakan senjata apa saja. Dan Kiai Jalil hanya menggunakan sorbannya yang dilepaskan dari kepalanya untuk mencambuk musuh-musuhnya. Pertarungan antara Kiai Jalil yang bersenjatakan sorban dengan musuh-musuh yang bersenjatakan celurit dan pedang berlangsung sangat sengit. Dan akhirnya Kiai Jalil sanggup merobohkan semua musuhnya. Setelah itu, semua musuhnya bertobat. Pengalaman-pengalaman Kiai Jalil itu sering diceritakannya pada santri-santrinya dalam forum-forum pengajian sebagai selingan. Para santri sangat takjub mendengarnya. Mereka bangga memiliki guru yang bukan sembarang guru. Lalu mereka menduga-duga, Kiai Jalil berkali-kali lolos dari kematian karena selalu mengenakan sorban. Padahal, Kiai Jalil selalu berpesan kepada mereka agar jangan menganggap benda apa saja memiliki tuah, karena bisa menjerumuskan mereka pada kemusyrikan. 104


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Banyak benda dianggap bertuah, kemudian menjadi berhala yang dipuja-puja dan disembah-sembah. Naudzubillah!” tegas Kiai Jalil. *** MENURUT Dokter pribadinya, yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan laboratorium secara intensif, Kiai Jalil diperkirakan tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Komplikasi ganggungan jantung, ginjal, darah tinggi, dan maag sudah parah. Kiai Jalil terbujur lemas di kamarnya. Istri dan anak-anak serta para santri bergantian membacakan surat Yasin. Dan pada tengah malam, Kiai Jalil mengembuskan napas terakhir. Istri dan anak-anak serta semua santrinya berduka atas wafatnya Kiai Jalil yang sekian lama menjadi tokoh ulama yang berwibawa. Selama ini, banyak tokoh politik datang meminta doa restu kepada Kiai Jalil. Banyak pengusaha juga datang meminta berkah doa-doa untuk kemajuan usahanya. Banyak orang tua juga datang minta doa-doa untuk anak-anak gadisnya agar cepat laku. Banyak juga orang-orang datang meminta doa-doa untuk kesembuhan penyakit yang dideritanya. Semua tamunya selalu dihormati, dan permintaan mereka selalu dipenuhi. “Tamu harus dihormati. Dan apa sih susahnya berdoa sesuai permintaan tamu?” Demikian Kiai Jalil sering berkata kepada santri-santrinya dalam forum-forum pengajian. Maksudnya agar para santri pada suatu saat nanti jika sudah menjadi kiai bisa selalu menghormati tamu-tamu yang datang meminta didoakan. “Jangan sia-siakan niat baik orang lain. Jika ada yang menganggap kita sebagai kekasih Allah, anggapan itu 105


Berhala

sebenarnya adalah doa. Bisa jadi akan dikabulkan Allah jika kita mengamininya,� tutur Kiai Jalil. Semua ucapan Kiai Jalil selalu ditafsirkan santri-santrinya sebagai petuah. Mereka menduga di balik kata-kata Kiai Jalil tersimpan makna-makna tertentu yang menyiratkan kehebatannya. Mereka memandang Kiai Jalil sebagai ulama yang santun kerena memiliki berbagai ilmu kewalian. Dan pada suatu malam, ada santrinya yang sakit kepala berat. Santri itu mengeluh kepalanya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum yang membara. Lalu santri lain segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Dokter menduga santri yang sakit itu menderita tumor atau kanker otak ganas. Kiai Jalil membesuk santrinya yang dirawat di rumah sakit itu, Melihat santrinya mengeluh sakit di bagian kepala yang sangat berat, tiba-tiba Kiai Jalil melepaskan sorbannya untuk dibalutkan di kepala santri itu. Dan tiba-tiba santri itu tersenyum ceria karena kepalanya tidak terasa sakit lagi. Lalu santri itu segera kembali ke pondok. Kejadian itu kembali menjadi perbincangan hangat di antara para santri. Mereka makin percaya bahwa sorbansorban Kiai Jalil bukan sembarang sorban. Dan setelah Kiai Jalil wafat, kepercayaan bahwa sorban-sorban almarhum bukan sembarang sorban semakin membuat banyak santri berusaha untuk memilikinya. Dan pada malam ketiga sejak wafatnya Kiai Jalil, sehabis acara tahlilan bersama untuk mendoakan arwahnya, ada seorang santri diam-diam memasuki kamar tempat penyimpanan sorban-sorban dan pakaian almarhum. Santri bernama Sudrun itu ingin mencuri sorban berwarna putih yang tersimpan di lemari. Keinginannya terpenuhi. Lalu Sudrun pulang ke desanya tanpa berpamitan dengan rekan-rekannya dan kepada Bu Nyai, janda Kiai 106


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Jalil. Setibanya di desa, Sudrun ingin mencoba kesaktian sorban yang telah dicurinya. Sengaja sorban itu dililitkan di kepalanya, persis separti yang dilakukan Kiai Jalil semasa hidupnya. Lalu Sudrun pergi ke desa lain untuk mencuri sapi milik seorang warga. Ketika sedang menggiring sapi curiannya, Sudrun tibatiba disergap sejumlah warga yang telah mengawasinya dari berbagai arah. Mereka segera menghajar Sudrun dengan berbagai senjata tajam dan pentungan. Sudrun babak belur, sebelum kemudian pingsan. Beruntung Sudrun tidak tewas karena ditolong Lurah desa itu. Lalu Sudrun dilarikan ke rumah sakit. Banyak santri mendengar Sudrun dikeroyok warga desa dan kini sedang terkapar di rumah sakit. Mereka lalu membesuknya. Mereka iba melihat Sudrun menderita lukaluka cukup parah. Dan mereka terkejut karena Sudrun memakai sorban seperti sorban yang dulu sering dipakai Kiai Jalil. “Sepertinya sorban yang kamu pakai itu milik almarhum guru kita,� komentar seorang santri. Sudrun mengangguk lesu. Para santri kemudian sadar betapa sorban-sorban Kiai Jalil bukan benda yang bertuah. Tapi di banyak kota-kota besar, banyak tokoh politik yang terlanjur menyimpan sorban-sorban warian almarhum Kiai Jalil sebagai jimat. Setelah mendengar kabar kematian Kiai Jalil, sejumlah tokoh politik memang datang menyampaikan ucapan turut berbela sungkawa kepada keluarga duka, lalu masingmasing meminta selembar sorban Kiai Jalil dan menggantinya dengan uang jutaan rupiah. Mereka percaya, dengan menyimpan sorban warisan almarhum Kiai Jalil maka suatu ketika akan bisa menjadi presiden, wakil 107


Berhala

presiden, menteri, gubernur, wali kota, bupati, atau sekadar wakil rakyat. Bahkan ada yang percaya, dengan menyimpan sorban Kiai Jalil, jika suatu ketika menjadi pejabat dan melakukan korupsi, mereka akan lolos dari jeratan hukum yang berlaku di negara ini. n


Repro: Max Gasparini | OpenArt


Ulang Tahun

ilustrasi: repro kompas.com

110


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Ulang Tahun Holy Adib ( Kompas.com | Kamis, 19 Juli 2012 )

o

S

IANG ini biasanya aku menunggu anakku pulang sekolah. Ia akan mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah seperti yang aku ajarkan kepadanya sejak kecil. Lalu aku akan menyiapkan segelas teh dingin dan sepiring nasi sambal ikan pedas kesukaannya. Ia akan memakannya dengan lahap, sejenak kemudian ia akan sembahyang zuhur lalu tidur siang. Ya, ia anak yang patuh. Ia jarang sekali membantah hal-hal baik yang aku perintahkan kepadanya untuk ia kerjakan. Aku dan istriku sebagai orang tuanya sangat senang melihat hal itu. Sehingga meski keluarga kami tergolong sangat sederhana, kami merasa terhibur dengan sifat anak kami yang penurut. Siang ini, biasanya aku menangis di rumah ketika istriku pergi bekerja dan anakku belum pulang sekolah. Aku tidak menangisi nasibku, karna semua yang menimpa hidupku hari ini adalah risiko dari pilihan-pilihan yang kupilih di masa lalu. Aku menangis karna teringat anakku. Aku tidak bisa memberinya uang jajan ke sekolah. Istriku memberinya 111


Ulang Tahun

uang jajan tiga ribu rupiah. Dua ribu untuk ongkos naik angkot pulang pergi dan seribu lagi untuk belanja di sekolah. Aku membayangkan apa yang akan ia beli dengan uang seribu perak itu di sekolahnya. Paling uang seribu hanya cukup untuk membeli lima biji permen. Harga makanan di sana rata-rata lebih dari dua ribu rupiah, seperti nasi goreng, mi ayam, nasi uduk dan lain-lainnya. Tentu anakku tak bisa membeli itu semua. Ketika teman-teman sekelasnya sewaktu jam istirahat berlari menuju kantin untuk belanja mengisi perut, aku membayangkan, kemana anakku akan pergi saat itu. Barangkali ia akan ke perpustakaan membaca buku atau mungkin ia akan mencari tempat yang sepi untuk menangis karna tidak bisa membeli makanan seperti yang teman-temannya lakukan. Ingin sekali rasanya aku mencari pekerjaan agar bisa memberi anakku uang jajan saat berangkat ke sekolah. Tapi pekerjaan apa yang cocok untuk laki-laki berumur lima puluh tahun yang penyakitan ini. Di kamar anakku ada sebuah celengan ayam. Aku sering melihat anakku mengisikan uang seribu rupiah kedalam celengan itu. Aku jadi berfikir, dari mana ia mendapatkan uang tersebut, apa ia tidak jajan. Ya tuhan, pasti dia tidak belanja di sekolah. Suatu ketika aku menanyakan soal tabungan itu kepadanya. Ia menjawab, ternyata benar, bahwa ia tidak belanja di sekolah. Aku ber tanya lagi, mengapa ia tidak membelanjakan uang itu, dan ia menjawab dengan polos, katanya, ia tahu aku punya penyakit jantung dan itu butuh uang yang banyak untuk mengobatinya, karna itu lebih baik uang jajannya ia simpan kalau-kalau suatu saat sakit jantungku kambuh dan aku tidak punya uang mengobatinya. Begitulah setiap siang aku menangis. Anakku yang masih duduk di kelas 2 SMP, sudah memikirkan nasibku. Ia rela menahan selerannya belanja di sekolah agar bisa 112


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

menabung untuk biaya sakit jantungku. Begitu polos anak itu. Ia tidak tahu bahwa uang jajannya meski ditabung setahun tidak akan cukup untuk membiayai penyakitku. Tapi aku menghargai niat baiknya. Siang ini, tidak seperti siang-siang biasanya, aku tidak menunggu anakku pulang sekolah, aku juga tidak menangis. Siang ini aku hanya menuggu istriku pulang ke rumah untuk memperingati sebuah hari yang bersejarah dalam keluarga kami. Sebentar lagi mungkin ia akan pulang. Barangkali toko sedang ramai pembeli. Ya, istriku adalah seorang penjaga toko. Ia menjadi penjaga toko sebelum aku menikahiya. Dulu toko itu milik ayahnya, namun setelah ayahnya bangkrut dan meninggal dunia, toko sembako itu dibeli oleh orang lain dan istriku masih tetap menjadi pegawai di sana. Gaji istriku sebagai penjaga toko entah berapa, aku tidak pernah mengetahuinya. Karna ia sendiri yang memegang keuangan keluarga. Ia berhak atas itu karna ia adalah kepala di keluarga kami. Karna aku hanya seorang pengangguran yang sehari-hari bekerja menggantikan tugas istriku di rumah seperti mencuci pakaian, memasak makanan, membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. Sebenarnya aku malu mengakui hal ini, karna lazimnya laki-laki harus punya gaji dan pekerjaan tetap. Siang ini, aku ingat 15 tahun yang lalu, ketika istriku mengandung dan aku masih bekerja di luar kota sebagai guru di sebuah sekolah swasta. Istriku berkali-kali menelfon menyuruhku pulang karna perutnya sudah mulai sakit dan hendak melahirkan. Istriku bilang aku tidak perlu kerja lagi karna ayahnya akan membiayai semua kebutuhan kami mulai dari hari itu sampai tua nanti. Itulah sejarahnya mengapa aku berhenti bekerja. Kata mertuaku, aku cukup di rumah saja menjaga anak dan istriku. Sebenarnya aku 113


Ulang Tahun

tidak mau berhenti dari pekerjaanku, karna meski gajiku tidak besar, hanya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, tapi setidaknya aku punya penghasilan dan tidak bergantung pada mer tua. Tapi waktu itu aku memilih mengikuti perkataan istriku untuk segera pulang dan berhenti saja dari pekerjaanku, karna kutahu ia sedang mengandung anakku dan aku takut membuatnya kecewa. Ya, siang ini bertepatan dengan hari kelahiran anakku satu-satunya. Sudah hampir jam setengah satu, istriku belum pulang juga, apa ia tidak ingat kalau hari ini anaknya berulang tahun. Tadi sebelum berangkat kerja, ia bilang akan minta izin pada tuannya untuk pulang agak cepat karna ada acara penting di rumah. Ya sudahlah, aku tunggu saja, paling sebentar lagi ia datang. Sementara itu aku akan menyiapkan kue ulang tahun di meja dan membersihkan kamar anakku. Dalam keadaan sepi seperti ini, aku ingat kejadiankejadian yang pernah terjadi di masa lampau. Dua tahun yang lalu, sakit jantungku kambuh. Dadaku sakit, napasku sesak. Aku pingsan, terjatuh di kamar mandi. Aku dibawa ke rumah sakit. Kata dokter, hidupku tak akan lama, kalau jantungku tidak cepat dioperasi dan itu butuh uang yang banyak. Anakku mendengar itu semua, ia menangis dan lari ke luar ruangan tempat aku dirawat. Dokter salah, harusnya ia tidak mengatakan itu di depan anakku. Sejak saat itu, anakku jadi pemurung. Ia tidak ceria lagi. Kata guru dan teman-temannya, di sekolah ia sering bermenung, sehingga ia tidak menangkap pelajaran yang diberikan oleh guru. Ketika ditanya oleh guru, mengapa akhir-akhir ini ia sering bermenung, ia tidak mau menjawab. Sejak mendengar ramalan dokter tentang penyakitku, anakku sering terlambat pulang sekolah. Kata temantemannya, sepulang sekolah, anakku sering datang ke 114


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

sebuah klinik kesehatan di belakang pasar kotaku. Kudengar kabar, itu tempat perdagangan organ tubuh. Entah apa yang ia cari di sana, tak ada yang tahu. Ia jadi aneh, setiap kali kutanya, tak mau menjawab. Ia langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Memang siang ini, tanggal ini, banyak hal penting yang terjadi dalam hidupku. Ketika membersihkan kamar anakku, aku melihat sebuah celengan ayam. Kuambil celengan itu lalu kubershkan. Celengan itu dulunya sudah pecah, tapi kurekaktkan kembali. Dulu anakku memecahkan celengan itu dan memberikan semua isinya kepadaku. Katanya, uang itu untuk operasi penyakit jantungku. Aku menahan tangis sambil tersenyum kecil kepadanya. Kuusap kepalanya dengan lembut. Aku berusaha memberi beberapa pengertian kepadanya. Bahwa ia tidak usah memikirkan penyakitku. Cukup saja ia rajin sekolah. Tidak ada yang bisa dijual dari rumah ini untuk mengobati penyakitku. Mendengarkan penuturanku, anakku tertunduk dan sedih. Terdengar pintu diketuk oleh sesorang di depan sana. Pasti itu istriku. Kubuka pintu dan kulihat siapa yang datang. Ternyata tebakanku salah.Yang datang adalah guru-guru dan teman-teman dari sekolah anakku. Mereka membawa karangan bunga dan beberapa kotak hadiah ulangtahun. Kupersilakan mereka masuk ke dalam rumah. Kubilang pada mereka, rumahku sedikit berantakan dan istriku belum pulang dari pasar. Mereka hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada anakku, sejenak kemudian pergi. Aku mengucapkan terimakasih banyak atas kedatangan mereka dan mengantarnya sampai halaman depan. Tak lama kemudian, istriku datang. Kukatakan padanya, bahwa tadi guru dan teman-teman almarhum anak kami datang ke rumah ini mengucapkan selamat ulangtahun dan kutunjukkan beberapa karangan bunga dan kotak 115


Ulang Tahun

hadiah kepadanya. Istriku menangis. Ia memelukku. Aku juga ikut menangis. Kami menangis bersama. Ya, siang ini, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, anakku satu-satunya meninggal dunia. Ia menjual organ tubuhnya untuk membiayai operasi jantungku. Setiap tahun, kami membuat kue ulang tahun dan menghiasi rumah kami dengan hiasan yang meriah layaknya rumah tempat pesta ulang tahun, untuk mengingat anak kami satu-satunya. n Padang, 10 Mei 2012

116


Repro: Liu Yuanshou | OpenArt

117


Pagi Menganga

ilustrasi: repro kompas.com

g Nila Rahma lahir di Bojonegoro pada 29 Juli 1989. Ia berkuliah di jurusan Sastra Indonesia UI dan aktif di Komunitas Langit Sastra. Saat ini penulis tinggal di Depok. 118


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Pagi Menganga Nila Rahma ( Kompas.com | Jumat, 20 Juli 2012 )

o

N

AMANYA Pagi. Sejak semalam, ia tak kunjung tidur sebab ada yang mengganjal dalam jiwanya. Ia sudah tak mampu lagi berbicara, bahkan mengeja. Mulutnya telah tercabik panas kemarin sore. Panasnya terlalu panas hingga ia tak lagi bisa mengecap. Lidahnya telah melepuh tergores saat panas itu datang. Jika ditanya sudah makan atau belum, ia menulis di selembar kertas, “Aku telah kenyang dengan panas itu.� Kala malam tiba, panas itu pun tak henyak dari mulutnya. Panas itu masih betah menetap di balik gigi-giginya hingga jika mulut Pagi tertutup maka mulutnya serasa hampir meledak. Terpaksa ia terus membuka mulutnya meski tak dapat berkata. # SASTRA namanya. Ia teman Pagi. Ke mana-mana mereka selalu berdua. Tak pernah sekali pun aku lihat mereka berdua 119


Pagi Menganga

tak bersama. Aku tidak mengenal mereka berdua, tapi aku telah sering melihatnya. Yang terjadi antara aku dan mereka hanyalah sekadar sapa-sapa senyum. Ia tinggal di ujung blok perumahan dekat gerbang utama. Pertama aku tahu mereka, bukan mengenal, saat mereka jalan berdua di taman kota. Setiap kali kemalaman dari pulang kerja di akhir pekan kedua, aku melihat mereka duduk berdua di bangku panjang taman kota. Entah apa yang mereka lakukan. Aku hanya tahu, tak mengenal mereka. # DI suatu malam saat pulang kerja, tak sengaja aku seangkot dengan Sastra. Bukan berniat menguping, tapi Sastra berbicara dengan kadar yang bisa didengar oleh seluruh penumpang angkot kali ini. “Kamu sudah di sana?� Hening. “Mungkin lima belas menit lagi aku sampai.� Hening. Telepon genggam itu ditutupnya. Sebab aku tak mengenal Sastra, aku hanya sapa-sapa senyum saja dengan dia. Itupun sekali dua kali saja selama di angkot hingga ia minta turun pada sopir angkot saat tiba di taman kota. # TAK sengaja aku telah menghitungnya, tak pernah kujumpai mereka yang sedang berdua di taman kota saat pekan kedua. Ini sudah yang kedua kalinya. Ini bukan urusanku, tapi aku telah tahu. 120


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

# “SEPULANG kantor tadi, aku melihat seorang bapak tua yang menjual cerita di pinggir jalan tentang rasa” “Dengan angka limaratus, Pak Tua telah sepakat memberikan cerita itu padaku dan berjanji tak akan memberikannya pada siapapun sebab ia telah menjualnya padaku.” “Bagaimana dengan Pak Tua itu sekarang?” “Pak Tua itu langsung pergi dengan gerobaknya sebab cerita yang djualnya padaku itu adalah jualan terakhirnya.” “Boleh aku membuka bungkusan cerita itu?” “Boleh saja.” Sastra menyodorkan bungkusan itu pada Pagi yang sedari tadi penasaran dengan isinya. Pagi tak langsung membuka meski ia begitu penasaran pada bungkusan itu. Ia lebih memilih untuk berbincang dengan Sastra sebab ini sudah hampir tengah malam yang artinya mereka berdua sudah harus pulang sebentar lagi. # 15.15 Diambilnya cangkir yang tergantung di rak putih itu dan ditaruhnya satu kantong teh beraroma bunga. Ia memencet tombol merah sehingga keluarlah air panas dari mulut dispenser dekat meja kerjanya. Sengaja tidak ia tuangkan gula. Ditemani teh beraroma bunga, Pagi mengambil bungkusan Sastra yang diberikannya semalam. Lambat-lambat ia mengeja isi bungkusan itu. Tak ada suara ataupun kata yang keluar sejak matanya menyapu kata pertama. Selama ini tak pernah sekalipun Pagi tak menggubris saat, Siti, bibi di rumahnya memintanya untuk 121


Pagi Menganga

me-SMS suaminya bahwa Siti harus pulang terlambat sebab cucian di rumah Neng masih banyak yang belum digosok. Sudah lima kali Siti menepuk pundak Pagi, namun ia tak bergerak. Kepalanya tertunduk, tampak ia sedang mengeja kertas di depannya. Siti nampak semakin takut dan bingung sebab Pagi tak juga menyahut bicaranya. Siti sudah tak lagi memikirkan tentang kepulangannya yang terlambat. Ia berkata, “Neng ini kenapa?�. Siti semakin terkaget saat Pagi menoleh ke arahnya. Dilihatnya mata dan mulut Pagi yang berkobaran. Persis api, tapi bukan api. Tak berasap. Sejak sore itu, Pagi menganga. n Depok, 12 Juli 2012

122


Repro: Leonid Afremov | OpenArt

123


Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri

ilustrasi: repro radar surabaya

124


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri Adi Zamzam ( Radar Surabaya | Minggu, 22 Juli 2012 )

o Malam. Hening baru saja mengendap dalam kepala tokoh kita. Namun lamat-lamat suara tiba-tiba saja menyelinap masuk ke jendela telinganya. Serupa tangis. Tangis lakilaki. Ia merasa kenal dengan tangis itu. Tapi entah di mana berjumpa, ia lupa.

L

ELAKI itu pun bangkit, menegakkan punggung. Tak nyaman saja memejamkan mata sementara ada tangis yang kelihatannya amat menderita. Sungguh tak tenang hatinya jika membiarkan hal itu terjadi. Apalagi tangis itu berada tak jauh darinya. Namun, tak ada siapa-siapa di teras rumahnya. Hanya ada gelap mengakap. Meski ia telah mengelilingi rumahnya. Tapi tak juga tampak sosok tangis itu. Tangis itu‌ apakah berasal dari dalam kepalanya sendiri? Ia menjadi ragu dengan pendengarannya. *** 125


Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri

BEBERAPA hari kemudian, akhirnya tokoh kita pun menemukan sosok tangis itu. Seperti lintasan-lintasan mimpi kejadiannya. Terlihat tak masuk akal, tapi ia benarbenar mengalaminya. Suara tangis yang hampir tiap malam menerornya itu ternyata berasal dari dalam bukunya. Buku yang ia tulis tiga tahun silam, dan kini telah dikenal oleh banyak kalangan. Adalah sejarah panjang yang menjadi darah buku itu. Sejak belia, tokoh kita ini sudah dikenal sebagai pemuda yang amat mencintai ilmu pengetahuan. Pemuda cerdas yang berwawasan luas. Waktunya selalu habis untuk mendalami apa yang ia peroleh dari guru-gurunya. Beranjak dewasa, kematangannya sebagai cendekiawan semakin terlihat. Pemikiran-pemikirannya terkenal di berbagai lembaga diskusi dan kerap menjadi tema hangat yang diperbincangkan dan diperdebatkan oleh rekan-rekan sekalangannya. Ia juga kerap terjun langsung ke masyarakat menjadi penengah konflik atau juga mencarikan jalan keluar atas permasalahan yang membelit mereka. Lambat laun ia menjadi seorang tokoh yang disegani dan dihormati. Ia termasuk salah satu dari orang-orang yang paling didengar suaranya. Oleh kalangan penguasa ia juga kerap dimintai pertimbangan kebijakan. Dan ia pun memiliki banyak pengikut fanatik. Seiring umur yang beranjak senja, sebagian teman sejawat yang masih berumur menyuruhnya mengumpulkan semua pemikirannya dalam sebuah buku. Banyak perusahaan penerbit meski tanpa diminta tapi malah berlomba menawarkan diri menjadi mitranya. Mereka bersaing menawarkan harga tinggi untuk mendapatkan hak cetak dari pemikiran tokoh kita. Awal mulanya, tokoh kita ditimang bimbang oleh 126


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

tawaran-tawaran itu. Sebab, ia tahu bahwa motif mereka pastilah keuntungan semata. Amat bertolak belakang dengan keinginan murni yang terbersit dalam hatinya, bahwa siapa tahu buah pemikirannya bisa ditemukan oleh mereka yang membutuhkannya kelak di kemudian hari. Dapatkah motif cari untung bersatu dengan niat ikhlas menyebarkan kebaikan? Selama beberapa hari ia diam dalam kebimbangan itu. Gelisah menyimpan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang ia pastikan bakal muncul setelah ia benar-benar membukukan pemikirannya. Sementara desakan dari teman-temannya semakin memenuhi telinga saja. “Bayangkan jika kau sudah tiada kelak. Kau akan masih tetap dikenang sepanjang sejarah lewat jejak-jejakmu di buku itu,” gagah nian ujaran salah seorang temannya. “Pemikiranmu akan mudah tersebar luas. Selain itu juga akan meringankan kinerjamu. Biarlah bukumu yang melanglang dunia, sementara dirimu masih tetap bisa meneruskan berpikir sambil duduk di rumah atau mengajar di dalam kelasmu,” ujar seorang teman sejawat lagi, yang juga mendorongnya untuk menerima tawaran itu. “Pernahkah kau membayangkan ketika zaman peradaban buku naik ke panggung dunia? Jika tak menulis buku, kau akan tenggelam saat masa itu tiba,” nasihat teman lainnya lagi yang sudah lebih dulu memindahkan semua pemikirannya ke dalam buku. Namun, mereka tak pernah paham apa yang sebenarnya ditakuti oleh tokoh kita. Ketika ia mengutarakan alasan keengganannya mematerikan pemikirannya, hujan olokolok justru langsung membasahi telinga. Ia disandangi sebagai cendekiawan zaman batu. Dan ketika kejadian ini akhirnya benar-benar ia alami, ketakutannya itu pun benarbenar telah mencuri kenyenyakan malam-malamnya. 127


Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri

“Kenapa kau menangis?â€? tanya tokoh kita pada lelaki yang berhasil ia temukan di ruang tamunya. Lelaki itu tak mau menatap wajah tokoh kita. Menunduk dalam-dalam, menahan isak entah tersebab apa. Entah bagaimana pula cara lelaki ini masuk, sebab pintu rumahnya tiba-tiba saja telah terbuka tanpa ia tahu siapa yang membuka sebelumnya. “Aku telah membuat banyak orang jadi salah paham,â€? suaranya terdengar begitu mengiris hati tokoh kita. Entah mengapa tokoh kita merasa memiliki hubungan yang erat dengan orang ini. “Salah paham tentang apa?â€? “Awal mulanya merekalah yang meminta pendapatku. Namun setelah aku mengutarakan pandanganku, mereka justru malah saling berselisih pendapat ketika mendapatkan sebuah masalah yang tak ada dalam wawasanku‌,â€? lelaki misterius itu bercerita dengan nada sedih yang mendalam. “Hei, bukankah yang kau ucapkan itu sebenarnya adalah pemikiran-pemikiranku?â€? tukas tokoh kita beg itu mendengar tuntas cerita itu. Namun kejadian itu berakhir begitu saja ketika cahaya fajar menerobos masuk melalui sesela jendela kamar itu. Seperti mimpi, tapi tokoh kita yakin bahwa kejadian itu benar-benar terjadi. Meski istrinya mengaku tak pernah membukakan pintu untuk siapapun dan melihat kelebat siapapun yang menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Ajaibnya, kejadian itu berulang lagi di malam berikutnya. “Di tempat manakah perselisihan yang kau ceritakan itu terjadi?â€? tanya tokoh kita. Lelaki misterius itu pun menyebutkan beberapa tempat yang pernah dikunjung inya. Detail sekali rinciannya. Sehingga mudah saja buat tokoh kita untuk menemukan di esok harinya. 128


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Pertikaian itu terjadi ketika salah satu pihak bersikukuh bahwa pemikiran tokoh kitalah yang paling benar. Tokoh kita pun akhirnya terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan konflik tersebut. Banyak betul tempat yang diceritakan lelaki misterius itu kepada tokoh kita, sehingga banyak pulalah tempat yang dirasa tokoh kita harus dikunjunginya. Adakalanya tokoh kita membenarkan ucapan-ucapan lelaki misterius itu di hadapan orang-orang. Namun tak jarang juga tokoh kita kalang kabut turut mencari penyelesaian akibat ajaran lelaki misterius yang tak tepat adanya. Yang membuat tokoh kita tak habis pikir, lelaki misterius itu benar-benar hafal betul semua lekuk pemikiran tokoh kita yang tercatat dalam buku perdananya, dan asal comot saja ketika dimintai pendapat, tanpa memahami situasi kondisi yang ada, tanpa memahami mana yang masih bisa digunakan mana yang tak lagi bagus digunakan. Karena terdera penasaran, tokoh kita pun kemudian berinisiatif membuntuti lelaki misterius itu. Jauh sebelum malam merangkak ke puncak, ia bersembunyi di samping rumahnya. Menunggu. Sabar menunggu. Hingga sosok yang ditunggunya tiba-tiba saja telah muncul dari dalam rumahnya dan langsung gegas ke rahim gelap. Tokoh kita pun segera gegas pula mengikutinya. Satu hal yang telah dicatat tokoh kita adalah bahwa ternyata lelaki misterius itu bersarang di rumahnya—meski ia tak tahu di tempat mana persisnya lelaki itu meringkuk(belakangan, tokoh kita akhirnya tahu asalmuasal lelaki misterius itu). Maka atas nama penasaran, diam-diam ia pun terus mengikuti langkah sosok yang tak begitu jauh di depannya. Tokoh kita mengekang kuat amarahnya ketika akhirnya tahu apa persisnya yang dilakukan lelaki misterius itu. Di 129


Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri

sebuah pertemuan yang dihadiri banyak kaum muda, lelaki misterius itu rupanya menjadi seorang pembicara yang amat ditunggu-tunggu. Celakanya lelaki misterius itu menyitir penuh kalimat-kalimat yang pernah dituliskan oleh tokoh kita dalam bukunya. Jadi kini jelaslah sudah semuanya. Dengan sabar tokoh kita harus menunggu lagi hingga pertemuan itu usai. Diam-diam dikuntitnya lagi hendak ke mana si pencuri kalimat-kalimatnya itu pulang. Ketika telah jelas tujuan kepulangan sosok itu, tak terbendung lagi amarah yang mengombak dalam dada tokoh kita. Segera dihadangnya langkah sosok lelaki misterius itu persis di depan pintu rumahnya. “Mau ke mana kau?” dengan geram yang telah beranakpinak. Ternyata lelaki misterius itu sendirilah sebenarnya yang menjadi biang keladinya. “Tentu saja mau pulang. Rumah ini juga rumahku. Bukankah seharusnya kau juga tahu itu?” entah mengapa lelaki misterius itu kini terlihat begitu tenang. “Sejak kapan itu ha?! Aku bahkan tak pernah mempersilakanmu masuk ke rumahku.” “Kau lupa ya? Buku itu adalah rumahku. Kaulah yang membangunnya untuk tempat tinggalku.” Deg! Seberkas cahaya pagi langsung membangunkan tokoh kita. *** BERHARI-HARI kemudian tokoh kita ditimang gelisah. Ia pikir dengan membakar buku pertamanya yang ada di dalam rumahnya, suara tangis yang amat dikenalnya itu akan ikut menghilang dari jendela telinganya. Namun ternyata tak. Malam-malamnya masih saja terusik. Ternyata si parasit malam itu masih hidup, entah di mana sarangnya 130


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

kini berada. Pasti tersebab semua bukunya belum termusnahkan. Tokoh kita pun bahkan sampai meminta semua buku karyanya yang dimiliki oleh orang lain untuk ia musnahkan dengan ganti rugi dan penjelasan yang masuk akal. Apalagi semua pemikirannya dalam buku itu juga telah memiliki pengikut sendiri, sehingga bisa saja lelaki misterius itu bersarang dalam kepala mereka. Di satu hari yang cerah, akhirnya tokoh kita pun memasakkan sebuah keputusan. Ia menyebarkan pesan kepada semua kenalannya. “Aku akan menulis lagi. Aku akan menuliskan semua kelemahan dan kekurangan tentang pemikiran-pemikiranku terdahulu.� Tokoh kita berpikir, dengan ia melakukan itu, setidaknya dapat mengurangi sarang lelaki misterius yang masih saja mengganggu malam-malamnya. Keputusan itu disambut gembira oleh khalayak. Namun sebenarnya keputusan itu tak sepenuhnya menyenyakkan malam-malam tokoh kita. Sebab, kini hening malammalamnya jadi penuh riuh adu mulut dua sosok yang sebenarnya amat dibencinya. Dua sosok yang telah mencuri wajahnya! n Kalinyamatan – Jepara, 2012

131


Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus...

ilustrasi: repro serayu sepanjang angin akan berembus | nasirun

132


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus... Sungg ing Raga Sungging ( Kompas | Minggu, 22 Juli 2012 )

o “Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.�

S

ER AYU, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen? Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya gemuruh kereta ketika melintasi jembatan itu bisa terdengar hingga ke batas langit, atau ke dasar sungai. 133


Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus...

“Aku melihat senja, lalu memikirkanmu.” Ucap seorang wanita pada kekasihnya. Di sore yang cerah, di tepi jembatan kereta. Keduanya duduk menjuntaikan kaki ke bawah, menikmati embusan angin dan melihat kendaraan berlalulalang di jalan berkelok ke arah kota Purwokerto. Di Serayu, panggung seperti disiapkan. Lelaki itu masih menunggu senja yang dimaksud si wanita. Seakan ia tak pernah melihat bagaimana bentuk senja semenjak ia lahir, meski tentu senja pernah melihat lelaki itu, entah di mana. “Kamu tahu kenapa aku memikirkanmu setiap kali melihat senja?” tanya wanita itu. Si lelaki tak menjawab, toh sebentar lagi pasti wanita itu menjawab pertanyaannya sendiri. “Karena senja seper ti dirimu, pendiam, tapi menyenangkan.” Nah. Serayu, serupa apakah kenangan dalam bungkusan senja yang konon lebih luas dari aliran sungai Gunung Slamet menuju pantai selatan itu? “Aku tetap suka berada di sini meski kau diam saja.” Begitukah? Lelaki itu memang masih diam. “Kalau tidak ada kamu, pasti senja membuatku merasa ditimbun kenangan.” Sepanjang angin berembus, wanita itu terus berbicara. Tapi hari masih terang, burung-burung terbang rendah di atas mereka, tak beraturan. Belum waktunya pulang, beberapa burung kecil duduk di besi jembatan, kemudian terbang lagi. Senja belum datang, dan kereta juga belum datang. “Benarkah ada kereta yang selalu datang ketika senja?” tanya lelaki itu. Mungkin ia gusar dengan keheningannya sendiri. 134


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Tentu saja.” “Kereta apa? Kereta senja?” “Ah, bukan. Jangan terlalu klise, Sayang.” “Lalu?” “Hanya kereta, dengan gerbong-gerbong penumpang seperti biasa. Itu saja.” “Pasti ada namanya. Bahkan kereta barang yang mengangkut minyak pun ada namanya.” “Ketel maksudnya?” “Ya.” “Kalau begitu, anggap saja ini kereta kenangan.” Kenangan lagi. Seperti diksi yang luar biasa picisan, namun kadang sepasang kekasih bisa mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang picisan, bahkan pembicaraan selanjutnya seperti tak akan menyelamatkan mereka. Kecuali waktu yang terus susut, jam terpojok ke angka lima. Tapi senja belum turun, belum ada kereta yang melintas di belakang mereka. Alangkah dekatnya mereka dengan rel kereta. Sehingga bisa terbayang jika kereta melintas pasti tubuh keduanya ikut bergetar karena roda besi yang bersinggungan dengan rel baja itu. “Mungkin kita harus pindah tempat, sedikit menjauh.” Ucap lelaki itu “Tidak. Dari sini kita bisa melihat senja.” “Tapi ini terlalu dekat.” “Tapi kalau kau pindah, nanti aku susah memikirkanmu dalam bentuk yang seperti ini.” Tentu saja. Serayu. Sungai besar yang teramat sabar, aliran air memanjang sampai ke penjuru ingatan, ke palung kehilangan, ke laut kasmaran. Sesungguhnya, ada banyak cerita di Serayu. Bukan hanya sepasang kekasih yang duduk di besi jembatan untuk menunggu senja, tapi juga kisah135


Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus...

kisah lain manusia, seorang lelaki yang mendayung perahu ke tengah demi mencari ikan, atau awah-sawah di kejauhan yang tampak menghampar dan hanya terlihat topi-topi petani. Semua itu adalah cerita. Tapi pemandangan Serayu, senja, dan sepasang kekasih mungkin akan menjadi cerita yang paling dramatis. Bisa saja sepasang kekasih itu pada akhirnya akan berpisah, tapi masing-masing dari mereka tak bisa menghilangkan kenangan ketika duduk berdua di jembatan Serayu untuk melihat sesuatu yang setengah tak masuk akal. Seakan-akan mereka sedang mengabadikan cinta dalam hitungan detik terbenamnya matahari. Lalu pada suatu waktu si lelaki akan sengaja kembali ke tempat itu, duduk di sana, demi mengenang wanita itu. Meski mungkin si wanita tak kembali, sebab ia merasa tersakiti jika harus melihat senja di sungai itu lagi. Tetapi, kereta akan tetap melintas, tepat ketika senja, ketika matahari bundar di ujung sungai yang luasnya sekitar 300 meter. Ya, sebentar lagi, sebuah kereta penumpang akan melintasi sungai itu. Serayu. Sungguh nama yang romantis, seorang masinis yang bertugas di kereta itu sedang membayangkan kereta yang dikemudikannya sebentar lagi melintasi jembatan, lalu ia akan membunyikan peluit lokomotif keras-keras, nguooongngng, hingga ia pun teringat dengan kekasihnya di masa lau; seorang wanita penggemar kereta dan senja. “Aku ingin kelak kau menjadi masinis, dan membawa kereta yang melintasi Sungai Serayu tepat ketika senja.” “Kau ingin aku jadi masinis?” “Ya.” “Artinya aku akan selalu pergi.” “Aku masih bisa memikirkanmu.” “Jadi, cinta sudah cukup sempurna jika kita masih bebas 136


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

memikirkan orang lain?� Sepanjang angin akan berembus, pertanyaan seperti itu seolah tak ada gunanya. Kereta terus melaju, sudah jauh meninggalkan stasiun Notog, memasuki terowongan, lalu menebas hutan yang penuh dengan pepohonan pinus. Baru saja kereta melintasi jalan raya, yang artinya semakin dekat dengan Serayu. Masinis itu tak mengurangi kecepatan, sesaat ia menoleh lewat jendela, melihat ke gerbong-gerbong di belakangnya. Bukan gerbong senja, tentu saja, bukan pula kereta kenangan seperti yang dinamai kekasihnya di masa lalu. Ini hanya kereta biasa. Jembatan sudah terlihat di kejauhan. Masinis itu perlahan menarik rem, sedikit mengurangi kecepatan di tikungan terakhir sebelum melintasi sungai Serayu. Dan beberapa saat kemudian, tampaklah hamparan hijau itu, juga perasaan yang tak ada maknanya lagi. “Sepanjang angin berembus, akankah kau merindukanku?� Ah, rindu memang seperti paksaan. Ketika kereta semakin dekat ke jembatan Serayu, si masinis melihat sepasang kerkasih yang sedang duduk di salah satu sudut jembatan itu, mereka melambai ke arah kereta, seakan tak pedulidengan kebisingan mesin lokomotif dan suara roda yang bergesekan dengan rel serta besi jembatan. Masinis itu membalas lambaian mereka. Sementara di bagian bagian kanan, warna merah pada langit dengan lapisan awan tipis membentuk garis-garis menggumpal yang artistik dengan warna merah saling tindih. Masinis itu tertegun, seperti itukah senja yang dahulu pernah didambakan kekasihnya? Namun belum selesai kekagumannya, tiba-tiba kejadian aneh terjadi, mesin lokomotif kereta itu mendadak mati, 137


Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus...

tenaga menurun drastis, kereta pun berangsur-angsur mengurangi kecepatan dan akhirnya berhenti tepat di tengah jembatan, tampak dari barisan jendela, para penumpang di dalam gerbong terkejut, penasaran ada apa, mengapa berhenti di tengah jembatan. Apakah kereta tertahan sinyal masuk sebuah stasiun? Atau ada kejadian luar biasa di depan? Tapi kadang kita tak butuh jawaban untuk sebuah kenangan yang magis, bukan? Kereta itu, barangkali pernah memiliki kekasih pula, yaitu kereta lain yang selalu mengingatkannya tentang senja di mana pun ia melaju, agar berhenti sebentar untuk mengingat ucapan kekasihnya: “Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.� n Notog - Kebasen, 2012

138


Repro: Jia Lu | OpenArt

139


Mbah Kardoen

ilustrasi: repro republika

g N. Mursidi, cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya dimuat di Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Republika, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Suara Karya, Tabloit Nova, Majalah Anggun, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Surya, Surabaya Post, Batam Pos, Lampung Post, Solo Post, Tabloid Cempaka, dan Inilah Koran. Ia kerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. 140


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Mbah Kardoen Nur Mursidi ( Republika | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

M

USHOLLA itu terselip di sebuah gang kecil. Tak ada peziarah yang sempat singgah. Tak ada pengelana yang menumpang shalat, kecuali hanya beberapa orang yang tinggal di sekitar musholla. Bertahun-tahun sejak musholla itu berdiri, nyaris sepi dan hening. Tak ada shalat berjamaah di siang hari. Bangunan untuk tempat sembayang itu baru mulai hidup dan bernapas tatkala petang menjelang, tepat azan Maghrib berkumandang. Tujuh sampai sepuluh orang kampung mulai berdatangan untuk shalat Maghrib berjamaah. Tapi, saat Isya tiba, jumlah itu mulai berkurang. Tidak lebih lima orang. Waktu Subuh, tinggal tiga atau empat orang. Demikianlah musholla itu menghembuskan irama. Setiap hari seperti itu, tak pernah ramai. Dulu selepas shalat Maghrib, ketika ustadz Mahmudi belum menikah dan masih tinggal bersama ibunya di dekat musholla itu, anak-anak masih mau bertandang ke musholla untuk belajar mengaji. Tetapi, itu pun tak banyak. Sebab, 141


Mbah Kardoen

ustadz Mahmudi dikenal galak. Anak-anak yang salah membaca al-Quran atau mengeja huruf hijaiyah kerap dipukul dengan sebilah kayu. Akhirnya anak-anak jadi takut mengaji. Hanya tiga atau empat anak yang mampu bertahan. Namun, setelah ustadz Mahmudi menikah dengan gadis dari desa lain, dan hidup di desa sebelah, musholla itu tak lagi jadi tempat mengaji bagi anak-anak. Selepas kepergian ustadz Mahmudi, musholla itu seperti tanpa imam. Kadang Dulloh yang hanya lulusan SMA jadi imam shalat Maghrib, lantaran orang-orang tua tak fasih melafal bacaan shalat. Lalu, pada shalat Isya, kadang Mukri menggantikan Dulloh jadi imam—begitu juga ketika Dulloh berhalangan, atau sedang pergi. Selama setahun, musholla itu seperti bus yang bisa ganti sopir kapan pun. Hingga kemudian, Rohman, salah satu pemuda kampung yang belajar di sebuah pesantren di Jawa Timur pulang kampung untuk selamanya. Dia —akhirnya- didaulat jadi imam, dan ketua musholla. Tetapi, kedatangan Rohman itu tidak mengubah keadaan. Musholla itu tetap sepi dan hening terutama pada siang hari. Tidak ada jamaah shalat. Kadang, Rohman datang ke musholla mengumandangkan adzan ketika Dhuhur tiba, tetapi kerap tidak ada yang datang. Akhirnya, dia shalat sendirian. Bagi Rohman, sepi yang melingkupi musholla itu cukup merisaukannya. Rohman kemudian mengajak anakanak untuk kembali mengaji di musholla. Sayangnya, anakanak sudah keranjingan main game atau nonton televisi. Akhirnya, dia hanya mampu mengajak dua anak yang mau belajar mengaji. Tapi, itu tak berlangsung lama. Godaan game dan televisi rupanya membuat dua anak itu memilih hengkang. Musholla yang terselip di gang sempat itu pun kembali sepi. Bahkan, ketika bulan mulai bertambah, sepi kian merayap. 142


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

*** SUATU hari, tepat tengah malam yang gulita, tatkala orang-orang sudah terlelap, tiba-tiba terdengar suara mengalun orang sedang ngaji al-Qur‘an. Suara orang itu kencang sekali, serak, bahkan lebih menyerupai jeritan. Suara parau orang itu serasa membelah lembaran malam. Suara orang mengaji di musholla itu membuat penduduk merasa terganggu. Sebab orang itu mengaji dengan suara menyanyat dan merobek hati. Penduduk kampung pun terbangun, dan keluar dari rumah. “Siapakah yang mengaji tak tahu waktu?” “Apa orang itu sudah gila?” Mungkin, orang-orang kampung tidak merasa terganggu jika suara orang asing yang mengaji al-Qur‘an itu mengalun sahdu. Tapi suara yang dilantunkan itu parau, serak bahkan mengoyak hati. Orang-orang itu berdatangan ke musholla ingin tahu siapa orang yang mengaji di tengah malam itu. Betapa penduduk kampung itu hanya bisa mengelus ketika menjumpai orang yang mengaji itu ternyata Mbah Kardoen, lelaki sepuh yang sudah berumur enam puluhan. Mereka hanya saling pandang. Tak ada yang mengusik, apalagi menegur. Orang-orang hanya geleng-geleng kepala. Pasalnya, Mbah Kardoen —selama ini- dikenal kurang waras. Dia itu seorang kakek tua yang sudah hampir uzur, tinggal di dekat kuburan kampung. Sehari-hari, Mbah Kardoen hanya mengandalkan hidup dari mengembala kambing dan menghabiskan waktu di sekitar kuburan. Warga tak pernah melihat Mbah Kardoen ke musholla. Tapi Mbah Kardoen itu tidak pernah merisaukan mereka. Apalagi, kakek tua itu tergolong pendiam. Tak banyak kata. Tak banyak bicara. 143


Mbah Kardoen

Hanya saja, ia kadang suka meracau sendiri ketika berjalan melewati kampung. Warga kampung kembali pulang, menarik selimut tetapi memandam kegelisahan karena Mbah Kardoen dianggap kurang waras. Tetapi, malam berikutnya, di luar dugaan, Mbah Kardoen kembali ke musholla, mengaji dengan serak dan parau hingga warga tak dapat tidur nyenyak. Demikian dengan malam berikutnya, berikutnya dan berikutnya. Hingga akhirnya, selepas shalat Maghrib, digelar rapat dadakan di musholla. “Saya pikir, sebaiknya kakek tua itu diberi pelajaran. Kita bisa menghajarnya ramai-ramai nanti malam,� ucap Mukri yang memiliki jiwa muda dan gampang marah. Semua saling pandang. Usulan Mukri itu saakan memberikan pengakuan. “Kita tidak bisa menghajarnya. Apalagi, dia itu seorang kakek yang sudah tua. Kita yang muda ini seharusnya menghormatinya. Terlebih, jika kita ini arif, seharusnya kita ini senang karena melihat Mbah Kardoen itu mendapatkan hidayah. Jarang ada orang setua Mbak Kardoen itu mau mengaji. Dia itu bisa sedang bertobat. Apalagi, dia itu...� ungkap Rohman, ketua musholla. Orang-orang yang berkumpul di musholla tahu jika Mbah Kardoen memang selama ini dianggap tidak waras. Dan, penjelasan Rohman itu dianggap masuk akal. Akhirnya, kakek tua itu pun dibiarkan. Apalagi, usai mengaji, Mbah Kardoen selalu mengisi kolah, menyapu musholla dan merapikan karpet. Warga kampung merasa kerja tanpa pamrih Mbah Kardoen itu telah menutupi kekesalan mereka. Meski sepanjang malam, kakek itu terus mengaji dengan parau dan serak. Tetapi penduduk kampung lama-lama terbiasa, tak lagi merasa terganggu. Apalagi, ketika hari 144


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

bertambah hari, Mbah Kardoen bisa mengaji dengan lancar dan tak lagi grotal-gratul. Hingga, akhirnya kebiasaan kakek tua itu pun dianggap sebagai hal yang biasa. Tidak ada yang aneh lagi. *** SETELAH berlangsung hampir tiga bulan, tiba-tiba ada yang aneh dengan anggapan orang-orang tentang Mbah Kardoen. Dia tidak pernah membakar dupa. Dia tak pernah merapal mantra, justru setiap tengah malam tiba dia selalu mengaji, tapi dalam obrolan dan rerasan warga kampung, dia dianggap dukun. Bagi orang-orang yang rajin ke musholla, Mbah Kardoen dianggap telah mendapat hidayah. Dia menempuh jalan yang benar; bertobat. Rupanya, bagi sebagian yang lain, kakek itu dianggap memiliki kekuatan gaib; bisa mengetahui hal-hal yang tidak bisa ditangkap dengan mata biasa dan akal sehat. Mbah Kardoen dianggap orang sakti... Seluruh kampung geger. Semua itu bermula dari cerita Agung, pemuda yang sehari-hari kerja sebagai tukang ojek yang dikabarkan dapat keberuntungan dari togel. Ia dikabarkan dapat uang dua ratus juta karena nomor yang ia pasang. Di warung kopi, dengan wajah berbinar-binar dia bercerita jika nomor yang dia pasang itu, ia dapatkan dari Mbah Kardoen. “Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor togel itu? Bukankah Mbah Kardoen nyaris tak pernah berbicara?� “Kamu harus sabar! Tungguin terus kakek itu sampai dia mengeluarkan kata-kata. Dan apa yang keluar dari mulurnya itu adalah angka keberuntungan.� Dalam waktu sekejab, berita itu cepat menyebar. Orang145


Mbah Kardoen

orang kampung berdatangan ke musholla, mencari Mbah Kardoen. Bahkan, ada juga orang dari kampung sebelah yang ikut mencari Mbah Kardoen. Mereka datang mengerumuni Mbah Kardoen yang ada di musholla. Tapi, Mbah Kardoen tetap membisu. Walau begitu, tetap saja setiap hari banyak orang berkumpul di musholla. Mereka datang tak untuk shalat, tetapi mencari Mbah Kardoen untuk meminta keberuntungan. Sebab dia dianggap bisa meramal. Bukan hanya itu, ia pun dianggap bisa menyembuh segala penyakit. Orangorang berdatangan dengan beraneka pertanyaan. Ada yang datang minta anaknya agar bisa mendapat nilai bagus, ada yang datang menanyakan jodoh, ada yang datang minta nomor togel, hingga ada yang datang minta disembuhkan. Tapi, Mbah Kardoen tetap tak menjawab pertanyaanpertanyaan orang-orang yang aneh itu. Tentu, orang-orang merasa kesal dengan Mbah Kardoen karena tetap membisu. Tetapi, orang-orang itu tak kehilangan akal. Ketika Mbah Kardoen meludah, maka buruburu orang-orang itu mengambil air ludah yang sudah jatuh di tanah itu. Orang-orang yang suka togel, lalu memilih menelisik bekas ludah Mbah Kardoen untuk diotak-atik jadi angkat togel. Entah cobaan atau ujian, setelah air ludah Mbah Kardoen dibawa pulang, ternyata dikabarkan bisa menyembuhkan penyakit. Dan angka dari hasil otak-atik air ludah pun bisa menembus keberuntungan; karena tak sedikit yang dapat uang dari beli togel dengan merekareka ludah Mbah Kardoen. Musholla di gang sempit itu, kini menjadi ramai. Tetapi, bagi Rohman, hal itu cukup merisaukan. Karena, orangorang sudah cenderung syirik dan telah banyak yang terjangkit judi togel. Sejak itu, dia memutuskan untuk mengunci musholla, dan hanya dibuka kecuali kalau 146


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

digunakan shalat berjamaah. Dan setelah musholla itu dikunci, Mbah Kardoen tidak lagi menginjakkan kaki di musholla. Bahkan ia hilang seperti ditelan bumi. Tapi, ada setumpuk cerita tentang Mbah Kardoen yang simpang siur. Ada yang bercerita Mbah Kardoen mengembara dari satu kampung ke kampung lain untuk mencari musholla sebagai tempat bermukim. Sayangnya, tidak ada satu pun orang kampung yang pernah bertemu dengan Mbah Kardoen. Ada juga yang cerita kalau kakek tua itu sudah meninggal. Tapi ia meninggal di kota yang jauh dari kampung itu. Kendati demikian, tak ada satu orang yang berhasil menemukan makam Mbah Kardoen. Ada juga yang cerita kalau Mbah Kardoen jadi dukun di seberang pulau. Tapi, lagi-lagi, tak ada satu orang pun yang berani menjamin kebenaran cerita ini. Musholla di gang kecil itu, kembali sepi seperti sedia kala. n Jakarta, 2012

147


Tukang Ceramah

ilustrasi: repro blade | flickr.com

g Fatih Muftih, lahir di Banyuwangi 07 Januari 1992. Mahasiswa FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Kepulauan Riau. 148


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Tukang Ceramah Fatih Muftih ( Haluan Kepri | Minggu, 22 Juli 2012 )

o Tak ada yang boleh mengganggu Bardi hari ini. Sekalipun anak bungsunya merengek minta dibelikan rem baru buat sepedanya. Ada urusan lebih penting dari sekadar rem sepeda.

R

EM lagi, rem lagi. kalau turunan ya dituntun aja, biar nggak nyungsep!” bentak Bardi. Jelas saja si bungsu menangis. Istrinya buru-buru mendiamkan anaknya. “Kenapa tho, Pak’e?” tanya istrinya lembut. “Aku ini lagi pusing, Dek! Kamu tahu kan, pengajian menyambut datangnya bulan Ramadhan di masjid kita tinggal seminggu lagi, aku disuruh cari tukang ceramah.” “Yo gampang tho, Pak’e. Di kampung sebelah kan banyak tukang ceramah yang andal. Lha terus apa yang dipusingkan tho, Pak? Sampai-sampai tole dibentak seperti itu.” Istrinya memang orang paling lembut sedunia. “Kamu nggak ngerti, Dek! Aku pamit dulu! mau ketemu Paijo. Siapa tahu dia punya banyak kenalan.” 149


Tukang Ceramah

“Kopinya, Pak?” “Biarin aja di situ. Nanti diminum lagi.” Bardi dan Paijo teman sepermainan sejak kecil. Sehingga jika ada masalah salah satu di antara mereka, teman sepermainan dianggap orang paling sakti untuk memecahkan masalah tersebut. “Assalamu ‘alaikum, Jo!” Bardi mengucapkan salam tepat di depan pintu rumah Paijo. Siang-siang bolong begini biasanya Paijo sedang kelon, dengan guling. “Pasti lagi kelon?” todong Bardi. “Ooh… kamu tho, Bar? Tumben?” jawabnya sambil membenarkan sarungnya yang melorot. “Jo, aku kedapatan jatah nyari tukang ceramah untuk pengajian menyambut Ramadhan di masjid.” “Terus apa hubungannya denganku? Kamu mau nyuruh aku ceramah di masjid?” “Nggaklah. Mana mungkin tukang kelon kayak kamu ngisi ceramah. Tapi kamu punya kenalan tukang ceramah kan?” ujar Bardi langsung pada pokok permasalahan. “Spesifikasinya?” “Apa maksudmu, Jo? Bahasamu itu?” “Bar, Bar. Sudahlah miskin, wawasannya cetek. Makanya banyak baca biar nggak ketinggalan sepur. Maksudku itu, cari tukang ceramah yang seperti apa?” ledek Paijo. Meski ia duda miskin tanpa anak, pengetahuannya luas. “Mulai ngeledek… memang tukang ceramah yang kamu kenal bagaimana saja, spesekasinya?” “Hidungmu itu yang pesek! Spesifikasi!” Paijo membenarkan. “Iya, terserah kamu!” “Macam-macam sih, Bar. Tergantung selera!” “Ya sudah, antarkan aku ke sana, siapa tahu ada yang cocok! Gawat kalau sampai nggak dapet tukang ceramah. 150


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Bisa digebukin warga sekampung.” “Ayo!” “Ke mana?” “Katanya minta diantarin?” “Ya, kamu itu pake celana dulu! Masa mau pake sarung gitu!” “Hehe…” Paijo meringis. Dua orang sahabat yang telah berteman puluhan tahun itu pergi mengendarai motor. Bardi, sebagai orang yang minta tolong duduk di posisi depan. Dan Paijo, duduk di belakang seolah navigator dalam balapan Rally. “Setelah ini belok kanan,” komando Paijo dari belakang. Hampir saja Bardi kelewatan jika tidak dicubit pinggangnya. “Rumahnya bagus, Jo?” Bardi menatap heran sambil menjagang motornya. Sedangkan asap knalpot motornya masih mengepul. Maklum, motor tua, warisan keluarga. “Iya, Bar. Tukang ceramah kondang. Langganannya Pak Bupati.” Paijo menjelaskan dengan sumringah. Seakan-akan ia kenal dekat dengan si pemilik rumah. Sopir pribadi pemilik rumah mempersilakan mereka masuk. “Tunggu sebentar, ya! Biar saya panggilkan Pak Kyai.” Ujar si sopir. “Jo, coba lihat foto-fotonya,” kata Bardi seraya menunjuki foto-foto yang digantung di ruang tamu. “Yang itu dengan Pak Bupati. Eeh… yang di sebelah situ, yang dibingkai emas itu, malah lagi bersama Wakil Presiden.” “Hust… biasa aja, Bar. Nanti kualat! Sudah aku bilang kan tadi, ini tukang ceramah kondang! Pasti masjidmu belum pernah mengundangnya kan?” “Iya sih,” “Jaga tingkah-lakumu, Bar.” 151


Tukang Ceramah

“Beres.” Tak lama berselang, tukang ceramah yang dimaksud datang menemui Barjo dan Paijo. Buru-buru dua sahabat itu berebut bersalaman, cium tangan pula - ngalap barokah. Walau sebenarnya tukang ceramah itu usianya lebih muda dari mereka. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” sapa tukang ceramah itu basa-basi. “Begini, Pak,” Paijo buru-buru menyodok perut Bardi, agar temannya itu membiarkan ia saja yang bicara. “Perkenalkan dulu, nama saya Paijo, dan ini teman saya, Bardi.” Lanjut Paijo. Sedangkan Bardi hanya bisa meringis kecil ketika namanya disebut. “Saya, Anas.” Tukang ceramah itu juga memperkenalkan namanya. “Begini, Pak Anas, kami ini dari pengurus masjid desa sebelah. Kebetulan, dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, kami mengadakan pengajian kecilkecilan. Kami berencana mengundang Pak Anas guna meng isi ceramah di tempat kami.” Paijo menjelaskan maksud kedatangannya. Tukang ceramah itu mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Desa sebelah?” “Ya, Pak! Desa Kerat Demo, yang terletak di ujung jalan itu.” Kini Bardi ikut bersuara. Ia pun ingin akrab dengan seorang tukang ceramah kondang. “Hem… sebentar ya, coba saya lihat dulu agenda saya.” Tukang ceramah itu lantas mengambil buku agendanya. Dibolak-balik buku sebesar buku kas yang ada di koperasi desa. Matanya memicing, sambil kadang-kadang mendongakkan kepalanya ke atas. Bardi dan Paijo menanti dengan cemas. Tiba-tiba tukang ceramah itu menutup buku besarnya, 152


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“begini, Pak Paijo dan Pak Bardi, sebenarnya saya ingin sekali mengisi pengajian di Desa Kerat Demo, tapi pada tanggal yang sama, saya juga sudah undangan tuh. Waduh, bagaimana ya?” Di saat itu juga, istri si tukang ceramah memanggil suaminya, ada telepon untuknya, “Permisi ya, Pak. Saya angkat telepon dulu di dalam.” Bardi dan Paijo menarik kesimpulan, Pak Anas tidak bisa memenuhi permintaan mereka. “Bagaimana, Bar?” tanya Paijo. “Sebentar, Jo. Aku penasaran, siapa yang mengundangnya di tanggal yang sama?” Lalu, dengan cekatan dan hati-hati, Bardi meraih buku besar milik tukang ceramah itu. Ia mencari halaman agenda bulan ini. Tidak lama. Hanya beberapa detik saja. Lantas ia menutup kembali buku itu dan menggelengkan kepalanya. Ditambah lagi dengan helaan napas berat. “Kenapa, Bar? Kok aneh gitu.” Tanya Paijo penasaran. “Wis, mari kita pulang secepatnya.” Ajak Bardi. Ada nada kesal dari suaranya. “Pamit dulu, Bar. Nggak enak kalau tiba-tiba nyelonong pulang. Ingat, pemilik rumah ini bukan orang sembarangan, tukang ceramah kondang.” Bujuk Paijo. “Sudahlah, kamu saja yang pamit. Aku tunggu di luar.” Bardi pun pergi keluar dan menunggu temanya di atas motor. Ia menyulut rokoknya. Mulutnya sudah kecut. Lebih kecut setelah membaca buku besar itu! “Kampret!” rutuknya dalam hati. Lantaran kesal, Bardi kepingin buru-buru ngacir dari tempat tukang ceramah kondang itu. Digebernya gas motornya. Pol. “Kenapa tho, Bar?” tanya Paijo keheranan. “Tukang ceramah sontoloyo! Nggak akan pernah lagi aku 153


Tukang Ceramah

ke rumahnya.” Ketus Bardi. “Apanya yang sontoloyo?” Bardi menghentikan motornya tepat di simpang jalan. Di sebuah warung es degan. Setelah memesan masingmasing segelas, Bardi baru angkat bicara. “Sebenarnya dia tidak ada jadwal ceramah, Jo.” Kata Bardi setengah bersungut. “Husss… tau dari mana kamu, Bar?” “Lha tadi aku ngelihat sendiri kok di buku agendanya. Agaknya, karena dia tahu yang mengundang dari Kerat Demo, desa miskin. Coba kamu tadi ikut lihat buku itu, Jo. Kamu pasti kaget.” “Maksudmu?” “Bayarannya tinggi, Jo. Pantas dia bisa beli mobil, pake sopir lagi. Nggak akan sanggup kita bayar ongkos ceramah dia.” “Terus sekarang kita bagaimana?” “Kita cari tukang ceramah lagi. Tapi ingat, Jo, yang sepadan dengan kas masjid kita! Kamu masih ada kenalan lagi nggak?” Paijo termenung sejenak. Diurut keningnya sambil mengedarkan pandangan. “Ada, Bar. Kalau yang satu ini pasti cocok dengan kas masjid.” “Bener?” “Sudahlah. Yuk kita berangkat! Bayar dulu es degannya. Sekalian punyaku!” Usai membayar dua gelas es degan, Bardi langsung menggeber motornya, asap knalpotnya langsung menutupi jalan, hingga membuat penjual es degan itu terbatuk. “Ini rumahnya, Bar.” Kata Paijo menepuk pundak Bardi yang duduk di depan. “Tidak sebesar tukang cermah yang tadi, Jo. Kas masjid 154


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

bisa menjangkaunya.” Ada binar sumringah di wajah Bardi ketika berdiri di depan rumah tukang ceramah yang kedua ini. Ia optimis bisa mengundangnya. “Waalaikum salam wa rahmatullohi wa barakatuh,” seorang bapak-bapak dengan jenggot yang menjuntai bebas, yang agaknya bisa dikepang, dan memakai pakaian serba putih, kumisnya gundul dan tandus membukakan pintu. “Ya Allah, ada tamu. Silakan, Pak, duduk.” Pak Paijo, selaku juru bicara, langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Jadi bagaimana, Pak?” “Silakan, dicicip dulu makanan dan minuman seadanya ini, Pak.” Bapak berjenggot itu tidak langsung menjawab pertanyaan Paijo. Anak perempuannya baru saja menghidangkan satu piring pisang goreng dan dua gelas sirup dingin. Perut Bardi yang belum sempat terisi apa pun, hanya secangkir kopi dan es degan, langsung menyambar pisang goreng yang masih kemebul. Saking buru-burunya, Bardi menyambar pisang goreng itu dengan tangan kiri. “Eling, Pak,” kata tukang ceramah itu, menegur Bardi. “Bagaimana Bapak akan mendidik anak kalau makan masih dengan tangan kiri. Neraka lho, Pak, kalau sampai gagal mendidik anak.” Dan masih beberapa kalimat ceramah mengalir dari mulut tukang ceramah itu. Sontak saja, hal ini membuat Bardi salah tingkah. Pisang goreng yang sudah di tangan, ingin rasanya ia kembalikan lagi ke tempat semula. Perutnya pun langsung terasa kenyang. Kenyang dengan kata-kata tukang ceramah itu yang langsung menohok pertahanan terakhirnya. Dengan menahan semua perasaan risihnya, Bardi menelan pisang goreng itu bulat-bulat. Tanpa dikunyah. Paijo jadi heran melihat tingkah laku temannya. Ia menyodok perut Bardi, “Kenapa lagi, Bar?” 155


Tukang Ceramah

“Perut aku sakit, Jo. Ayo kita pulang. Cepaat! Udah nggak nahan lagi nih!” Paijo menjadi lebih heran. Dengan sedikit menahan rasa malu, ia undur diri. Meski negosiasi dengan tukang ceramah itu belum disepakati. “Sekali lagi ingat, Pak, Neraka adalah tempat bagi orang tua yang….” Kata tukang ceramah itu. Bardi hanya bisa mengangguk pelan dan bergegas pamit, walau sebenarnya kata-kata tukang ceramah itu belum tuntas. Di persimpangan jalan, dua orang sahabat ini beristirahat sejenak, duduk santai di pos kamling. Paijo menggerutu melihat tingkah laku temannya. “Apa sih maksudmu, Bar? Ke sana salah, ke sini pakai acara pura-pura sakit perut? Tukang ceramah yang barusan itu tidak seperti yang pertama. Harganya juga tidak selangit kok!” sungut Paijo. “Maaf, Jo. Bukan itu sebabnya,” “Lalu?” “Aku takut aja, Jo, dengan tukang ceramah yang barusan. Aku tahu aku salah ngambil pisang goreng dengan tangan kiri, tapi ia sudah langsung ‘mengutukku’ dengan begini, dengan begitu. Aku cuma takut warga kita akan berpikir jika mereka semua adalah calon penghuni neraka. Warga di desa kita itu masih kolot dan ilmu agamanya rendah. Kalau diceramahin dengan keras gitu, bisa-bisa menambah angka kegilaan di catatan desa, Jo. Itu yang aku khawatirkan.” Terang Bardi. Paijo menghela napas. “Bar, aku punya satu kenalan tukang ceramah lagi. Kalau yang satu ini, sudah sering keluar-masuk desa. Orang-orang juga sudah banyak mengenalnya.” “Maksudmu tukang ceramah yang suka pake sorban hijau itu?” 156


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Ya, bagaiamana?” “Nggak, ah,” “Kenapa? Semua orang desa suka ceramahnya lho, Bar.” “Guyonannya sering saru. Paling suka bercanda dengan yang ‘gitu-gituan’. Risih telingaku kalau dengar dia ceramah. Anakku di rumah jadi sering tanya anu-anu gitu.” “Sudah habis stok kenalan tukang ceramahku.” Ujar Paijo pasrah. “Susah juga ya, Jo, cari tukang ceramah yang benar-benar baik!” keluh Bardi. Sedang Paijo sudah tidak lagi bisa memberikan solusi. “Itu salah pemerintah, Bar. Kenapa nggak ada sekolah kejuruan tukang ceramah.” Waktu ashar sudah di pucuk ambang. Mereka berdua memutuskan pulang. Tentunya dengan tangan hampa, tanpa satupun kesepakatan dengan tukang ceramah manapun. Dan jelas saja, yang paling risau adalah Bardi. Mau jawab apa ketika ditanya oleh ketua panitia. Benarbenar membuat Bardi tidak bisa tidur lelap. Suasana malam di masjid desa Kerat Demo usai isya’ dipenuhi pengunjung. Ada bapak-bapak, ibuibu, anak kecil dan tentu saja penjual kacang rebus dan balon gas. Malam itu, digelar pengajian menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Lampu-lampu cabai berwarna merah-kuning-hijau sama berkerlip dengan bintang di langit. Malam itu semakin bergemuruh ketika tabuh marawis bertalu-talu. Sebenarnya bukan tim penabuh marawis yang menjadi bintang paling ditunggu. Melainkan si tukang ceramah. Siapa tukang ceramah malam ini? Begitulah pertanyaan yang berbisik bersama dingin angin malam. Siapa lagi kalau bukan Subardi. Kawan karib Paijo. Cerita punya cerita, Bardi mengambil keputusan paling 157


Tukang Ceramah

frontal dalam hidupnya. Ia memutuskan dirinya sendiri yang akan menjadi tukang ceramah dengan pelbagai alasannya yang telah dikemukakan pada Paijo. “Begini-begini aku kan pernah nyantri, Jo. Aku juga sudah mengkhatamkan buku-buku ceramah yang kupinjam dari imam masjid. Satu yang perlu kamu tahu, Jo, aku nggak minta bayaran besar seperti Anas. Bagiku, bisa beli rokok dan kopi, jadilah. Terus, karena aku juga nggak begitu paham soal agama, maka aku nggak nakutin pendengar dengan neraka seperti orang berjenggot itu. Dan pastinya, guyonan ‘g itu-gituan’ aku tinggalkan. Aku nggak mau anakku jadi banyak tanya.” “Yakin, Bar?” Paijo masih meragukan keputusan temannya. “Yakin seyakin-yakinnya.” “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Bardi sudah mengucapkan salam di atas mimbar. n Tanjungpinang, 29 Juli 2011

REDAKSI menerima naskah cerpen, puisi, pantun, resensi buku dan karya tulis budaya lainnya, serta poto lukisan kirim ke alamat email:tarmiziasultan@gmail.com, cc email:sijorimedia@yahoo.com. Khusus karya tulis selain cerpen, pantun dan puisi, Redaksi berhak melakukan editing tanpa menghilangkan substansi tulisan. Setiap pengirim, harus mencantumkan biodata dan alamat lengkap, serta nomor kontak. 158


Repro: Chiquita Piconera by Julio Romero Torres | OpenArt

159


Seindah Telaga Kautsar

ilustrasi: repro banjarmasin post

g Banjarmasin Post menerima tulisan berupa puisi atau cerpen. Harap delengkapi dengan data diri/copy kartu identitasi dan nomor rekening bank Anda. Honor tulisan akan kami transfer. Tulisan bisa dikirim lewat pos ke alamat Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa Nomor 16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop ditulis Seni dan Budaya. Atau via email ke hamsibpost@yahoo.co.id 160


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Seindah Telaga Kautsar Edwin YYulisar ulisar ( Banjarmasin Post | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

C

UACA sangat cerah hari ini. Semoga apa yang kuharapkan hari ini bisa menjadi kenyataan. Mudahmudahan daganganku laris dan membawa berkah. Itu adalah harapanku ketika berjalan di depan truk-truk yang ada di kawasan Trisakti. Banjarmasin sangat panas hari ini. Mungkin telur yang kau letakkan di batu saja, bisa matang mengalahkan kecepatan minyak goreng. Tak ada yang tahan dengan panasnya, jadi aku putuskan untuk beristirahat dan berteduh di sebuah pohon kecil dan masih hijau. Aku lihat daganganku. Kue yang terjual hanya 10 buah. Masih ada 20 buah kue lagi yang harus kujual. Waktu istirahatku pun hanya sebentar. Aku mulai berjalan dengan kaki yang lemah, tapi dipaksa untuk berjalan. Motor dan juga mobil berlalu-lalang seperti mengacuhkan diriku. Aku harus tetap berjalan dengan semangat bahwa besok adalah hari yang lebih baik dari hari ini. 161


Seindah Telaga Kautsar

“Lana,wadai (kue)nya dong?” seseorang memanggil dari kejauhan. Sepertinya aku kenal dengan sosok itu. Acil Miah. “Beli wadai, lima ya.” Acil Miah tersenyum. “Dicampur aja ya?” Aku memang menjual bermacam kue. Jadi Acil Miah ingin aku memberikan segala macam kue itu. Aku menjual dari untuk-untuk, bingka, pisang goreng dan kue Banjar lainnya. Acil Miah adalah pedagang nasi kuning, tepat di Jalan Sutoyo S. Dagangannya sangat laris. Pukul tujuh adalah waktu yang paling lambat untuknya bersantai. Dagangannya sudah habis pada pukul itu. Tidak sia-sia aku melewati rumah beliau. Malah, uang kembalian yang kuterima diberikannya untuk sedekah katanya. Dia yakin semakin sering kita memberi sesama, maka semakin banyak pula dilipatgandakan oleh Allah. “Bu, ulun (saya) minta kue bingka aja ya.” Itu suara Nita. Nita adalah putri beliau. Sosok yang cantik dan salehah. Aku selalu tersipu malu ketika melihatnya. Dia sungguh cantik. “Lan, apa kabarnya?” Nita kemudian memakan kuenya. “Kue kamu enak sekali ya?” “Alhamdulilah, baik, Nit.” Aku mencoba menjawab meskipun masih tertunduk malu. “Kamugak kuliah hari ini?” “Hari ini kelas diliburkan. Dosenku sakit.” Nita tersenyum. Dia sosok yang ramah. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Aku merasa di dalam dada ini terdapat semacam bongkahan batu yang masuk. Aku hampir tak bisa bernapas ketika mendengarkan Nita berbicara. Rasa apakah itu? Aku pamit dengan Acil Miah dan juga Nita. Mereka membalas salamku. Nita masih tersenyum. dia benar-benar wanita yang ramah dan benar-benar rendah hati.

162


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

NITA memang wanita idaman. Banyak lelaki yang sudah melamarnya, tapi mereka semua ditolaknya. Dia hanya ingin fokus dengan kuliahnya sekarang. Dia tidak ingin menikah terlalu muda. Dia berkeinginan untuk membahagiakan orang tuanya. Ya Allah, apakah ini rasa yang engkau beri hari ini? Rasa ini bertambah kian hari dan membuatku kuat bagaikan angin topan yang siap menghancurkan apa saja yang ada di depan dan menghalangiku. Apa yang telah aku pikirkan? Mana mungkin seorang Nita yang akan menjadi seorang perawat akan memilih aku yang hanya berdagang kue. Aku memang kecil, tapi masih ada tangan yang Maha Kokoh dan selalu membantu apa yang diinginkan hamba-Nya. Aku memang pedagang kue. Hanya bermodalkan ijazah SMA mana mungkin aku bisa melamar Nita. Namun aku tak akan menyerah. Aku harus bekerja keras merubah nasib. Semua ini memang ditakdirkan oleh Allah, tapi Allah sudah befiraman kalau kita bisa mengubah nasib kita. “Ya Allah, apakah dengan bayangan dirinya ini di dalam hidupku akan mengubahku. Jika dia yang akan kau berikan aku terima. Jika kau ingin mendekatkannya padaku, dekatkanlah. Jika kau ingin menjauhkannya dariku maka jauhkanlah.� Itulah doaku ketika salat di tengah malam. AKU terus bermunajat kepada-Nya. Tak terasa, beberapa tahun kemudian kue yang kujual tak lagi harus kubawa ke mana-mana. Kini aku bisa berjualan di depan rumah. Bukan aku pula yang menawarkan kue itu, tapi oranglah yang datang kepada kami untuk membeli kue. Inilah berkah doa dan kerja kerasku. Aku dan ibu hampir kewalahan menjual kue dengan orang yang selalu berdatangan. Bahkan, ada yang pernah memesan kue kami 163


Seindah Telaga Kautsar

hingga seribu buah untuk acara resepsi pernikahan dan juga acara di kantor-kantor. Dengan keuntungan yang ada akhirnya aku bisa menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari. Ibu setuju ingin melihatku kuliah. Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang guru, tepatnya guru Bahasa Inggris. Sedari kecil, aku sudah menyenangi pelajaran bahasa Inggris. Aku berhasil menyelesaikan kuliahku dalam waktu empat tahun. Dengan rahmat-Nya, aku mendapatkan amanah menjadi pengajar honor di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Banjarmasin. Sedangkan Nita, dia sudah terlebih dahulu bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di Banjarmasin. Umurku jauh lebih tua darinya. Seringkali aku berkunjung ke rumahnya. Bersilaturahmi pada ibu dan juga Nita. Pikiranku semakin dewasa. Aku sekarang seorang pendidik. Apakah ini saat yang tepat mengungkapkan perasaanku? Apapun yang terjadi aku akan menerima apa hasil dan keputusannya. Ibu juga menyetujuinya. Seminggu setelah berdiskusi dengan ibu, aku langsung meluncur ke rumah Nita. Aku ingin memberikannya kejutan. Aku ingin ibu juga menjadi saksinya. “ASSALAMUALAIKUM.” Aku memberikan salam sembari mengetuk pintu rumah Acil Miah. Aku melirik jam tangan, waktu baru menunjukkan pukul 3 sore. Anehnya, tidak ada yang menjawab salam apalagi membukakan pintu. “Acil Miah sudah seminggu di rumah sakit, nak.” Tetangga di sebelah rumahnya angkat bicara. “Nita, dia sakit.” “Rumah sakit mana, bu?” tanyaku dengan nada patahpatah. 164


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

“Rumah sakit Ulin.� Tetangga itu kemudian langsung menyebutkan ruangan yang di tempati oleh Nita. Aku sampai lupa menanyakan sakit apa Nita pada tetangga itu. “Ya, sudah. Ayo kita menuju rumah sakit. Ibu khawatir dengan Nita.� Ibu juga tampak cemas. Aku hanya mengangguk dan langsung meloncat ke sepeda Motor. Dengan perasaan yang cemas, aku mengendarai motor dengan jantung yang berdebar-debar. Sesampainya di sana, aku langsung masuk ke ruangan Nita berada dan memberi salam. Ibunya, Acil Miah, menangis tersedu-sedu. Nita tersenyum padaku dan ingin menjawab salamku. Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Kemudian meletakkannya di dada. Maksudku, jawab saja dalam hati. Nita membalasku dengan senyuman lagi. Dia tetap tampak cantik bagiku. Acil Miah pun bercerita. Katanya, Nita mengidap kanker otak. Aku tak peduli. Cintaku tak sedikitpun berkurang padanya. Aku pun langsung bilang kalau aku ing in menikahinya apapun keadaannya. Ibunya menangis tersedu-sedu. Esoknya kami menikah di rumah sakit. Penghulu dan saksi datang. Begitu dinyatakan sah sebagai suami Nita, aku langsung mencium keningnya. Dia juga mencium tanganku. Aku yakin jika dia sembuh nanti, dia akan menjadi istri yang salehah. Sekarang aku adalah suami Nita. SETELAH mengajar, akulah yang merawatnya. Makan, mandi, minum obat, semuanya menjadi tanggung jawabku. Semakin hari, Nita semakin lemas dan rambutnya berjatuhan akibat beberapa kali melakukan kemotherapy. Hingga tepat tanggal 10 September 2008, dia koma, itu setelah salat subuh berjemaah denganku. Meskipun Nita 165


Seindah Telaga Kautsar

salat berbaring, dia masih bisa mengaminkan surah Al Fatihah pada rakaat pertama. Rakaat kedua, tak ada kata “amin� yang terucap di bibirnya setelah aku membacakannya surah Al Fatihah. Hingga aku menyelesaikan wirid dan doa Nita hanya memejamkan matanya. Karena curiga dengan keadaan Nita, aku memanggil perawat. Ketika perawat masuk untuk mengecek keadaannya, aku baru tahu kalau ternyata Nita koma. Dokter yang datang pun hanya berkata, bahwa mungkin dengan berdoa akan meringankan beban Nita. aku membaca surah Al Qashash. Syahadat berkali-kali kubacakan di telinganya. Aku mengucapkannya dengan tangisan yang tertahan. Aku tak ingin Nita mendengar tangisku. “Allah, Allah,� ucapnya. Nita sepertinya mengikuti apa yang aku katakan. Mesin yang ada di dekatnya pun berbunyi dan menunjukkan garis lurus. Tuuuuuttt!!!!! Nita mendahuluiku. Dia sudah bertemu dengan sang Khalik yang Maha Besar. Dia kini tersenyum di sana. Dia kini menikmati kehidupan yang abadi dan kekal. Nita, aku tahu kau sudah meninggalkanku dengan tenang di sana. Cintaku, kasih sayangku tak akan pernah padam hingga akhir masa. Kasih sayangmu di hatiku bagai telaga Al Kautsar yang abadi, tak akan pernah kering dan akan selalu terasa manis. Selamat jalan istriku. Kasih sayangku hanya untukmu. n

166


Repro: Istvan SĂ ndorfi | OpenArt

167


Memburai Kaki yang Ajaib

ilustrasi: repro medan bisnis

g Syafrizal Sahrun, lahir di Desa Percut 04 November1986. Menulis puisi dan esai sastra di Analisa, Medan Bisnis, Mimbar Umum, dan Wapada. Puisinya dimuat dalam Antologi Suara Peri dan Mimpi serta Atologi Cahaya. Alumni FKIP UISU, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan sedang menjalani Program Pascasarjana di Universitas Muslim Nusantara Medan. Bergiat di Komunitas Insan Sastra Indonesia (Komisi) dan Komunitas Home Poetry. 168


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Memburai Kaki yang Ajaib Syafrizal Sahrun ( Medan Bisnis | Minggu, 22 Juli 2012 )

o Gadis-gadis di negeri kami hanya terdiri dari sepasang kaki? Pernyataan yang mengejutkan. Lantas siapa perempuan yang doktrinnya diagungkan dan dijadikan monumen? Inilah pernyataan yang akan menghuni benak kita setelah mencicipi cerpen “Kaki Yang Ajaib� milik Hasan Al Banna yang terbit di Koran Tempo edisi Minggu, 20 Mei 2012.

K

AKI adalah organ penting bagi manusia. Tapi cakapcakap tentang kata penting, apa yang tak penting dari tubuh manusia? Mungkin tak ada kalau kita piawai memahaminya. Kali ini saya terinspirasi membicarakan maksud dari kaki yang ajaib itu dengan ketajaman pisau saya. Saya turunkan paragraf pembuka pada cerpen tersebut: “Di mana-mana negeri, hampir dipastikan, tak akan kalian temukan gadis-gadis yang hanya terdiri dari sepasang kaki. Namun, negeri kami adalah pengecualian! Tepat sekali, 169


Memburai Kaki yang Ajaib

gadis-gadis di negeri kami cuma terdiri dari sepasang kaki. Ou, tentu, silakan kerat julur lidah kami kalau-kalau kisah ini semata bualan.” Di dalam kaki yang ajaib ini, cerpenisnya memastikan selain “di negeri kami” tak ada negeri lain yang memiliki gadis-gadis yang hanya terdiri dari sepasang kaki. Kalau tidak percaya, si pencerita mempertaruhkan lidahnya untuk dikerat—amat berani. Apa yang melatarbelakang i keberaniannya? Ternyata setelah diselidiki jalan pikiran sebab latar belakang sosialnya, benarlah agaknya apa yang dia cakapkan. Beberapa tahun belakangan ini, memang terlampau sering kita lihat kaki gadis-gadis kita dipamerkan di segala tempat. Dipamerkan dengan kesengajaan pemiliknya agar gelar seksi di anugerahkan kepadanya. Siang maupun malam, panas maupun hujan kelihatannya tak menyurutkan gadis-gadis kita untuk mengenakan pakaian yang ‘super’ mini—khususnya celana pendek. Yang dikatakan pendek di sini hanya setengah jengkal di bawah pangkal paha. Ou, sungguh menggairahkan. Seiring perkembang zaman, gadis-gadis kita juga termotivasi lepas dari belenggu adat istiadatnya. Lebih menyukai keterbukaan—keterbukaan dada dan paha. Haha, lucu memang jika kita kaji kultur kita. Sebagian dari kita, begitu menggilai gaya hidup barat, bahkan ada juga yang menuhankannya. Apa yang diporomosikan oleh orang-orang barat melalui media-media informasi yang ada di negeri ini, langsung saja ditelan bulat-bulat, dengan sedikit sekali pertimbangan. Termasuk gaya berpakaian. Bukan menyalahkan media informasi, tapi pembinaan kepada generasi kita begitu sangat menyedihkan. Di sekolah khususnya, pembelajaran tentang etika hampir tidak ada. Pembelajaran agama, jamnya semakin menyempit. 170


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Bukankah pembelajaran itu sangat mendukung dalam menumbuhkan kesadaran akan siapa kita sebenarnya. Sudah bukan rahasia lagi memang ketika kita bicara tentang sepasang kaki. Ya sepasang kaki. Sekarang ini gadisgadis kita lebih suka memamerkan kakinya di mana tempat. Sudah tidak mempedulikan nilai-nilai adat dan budaya ketimuran yang semakin dianggap kolot. Gadis-gadis kita lebih suka memakai celana yang sampai memperlihatkan pangkal pahanya ketika duduk, bahkan terkadang celana mereka hanya sebatas pangkal paha, lantas bagaimana jika mereka duduk? Waw, hanya demi dibilang seksi. Wah, apa benar demikian? Padahal ketika kaum Adam melihat yang demikian akan menambah kesukaannya kepada gadis-gadis kita, tapi bukan menghargainya melainkan berpikiran kotor—bagaimana bisa mencicipi setiap lekuk gadis-gadis kita. Ya, demikianlah nasib sebagian gadis-gadis kita sekarang. Selalu menganggap dengan mempertontonkan bagian tubuhnya yang semestinya disembunyikan, itulah modernisasi. Jika demikian, apakah gadis-gadis kita dahulu, yang menutupi auratnya tidak seksi? Apa pengakuan seksi hanya dipandang dari tubuh yang ternganga? Entahlah, jika itu kita perdebatkan, pastilah berjibun juga alasan yang membenarkan. Diceritakan juga bahwa gadis-gadis yang dimaksudkan, kecantikannya jauh api dari panggang. Tubuh gadis-gadis itu juga tidak begitu semampai atau lekuknya tidak seperti gitar Spanyol. Haha, geli mendengarnya. Hanya mengandalkan sepasang kaki yang terburai untuk mengundang nafsu jalang. Betapa sedihnya kita harus merelakan harga diri yang sudah terinjak makin diinjak.

171


Memburai Kaki yang Ajaib

Dari Sudut Lain Setelah membaca cerpen milik Hasan ini, saya teringat gadis-gadis di kampung yang sering saya lewati. Seperti yang diceritakan itulah—mereka teramat gemar memakai celana yang hampir memperlihatkan seluruh kakinya. Malah mungkin gadis-gadis itu mulai sungkan dan malu bila menutupi kakinya—tak peduli siang atau malam, panas atau dingin. Lahirlah istilah Bondon Cilik (Boncil) untuk menggelari gadis-gadis seperti itu. Wah, malah jadi anggapan miring tentang gadis-gadis kita ini. Hei, jika kita kaitkan dengan istilah Boncil, mungkin saja cerpen ini arahnya menceritakan tentang pelacur. Perempuan separuh baya yang di maksud adalah germo. Banyak kita lihat bahwa germo adalah memang tak secantik gadis-gadis jajaannya. Itu diistilahkan perempuan yang kakinya selalu tertutup, doktrinnya diagungkan dan dijadikan monumen oleh gadis-gadis itu. Tidak itu saja, istilah lain untuk menggambarkan germo itu juga banyak kita jumpai jika kita jeli. Dengan demikian, jagalah gadis-gadis kita. Sebab gadisgadis kita adalah cerminan budaya bangsa. n

2


Repro: Felix Revello de Toro | OpenArt

3


Zam-zam Buat Ibu

ilustrasi: repro metro riau

g Rian Harahap, penulis adalah Guru SD Islam Global Riau. Bergiat di teater Selembayung. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UMSU. Cerpen-cerpennya dimuat di Harian Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Riau Pos, Analisa, Waspada dan Medan Bisnis. 174


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Zam-zam Buat Ibu Rian Harahap ( Metro Riau | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

S

EMAK belukar masih tinggi semampai. Hampir sama tingginya denganku. Hari ini masih sama seperti yang lalu. Kuambil pakan ayam di dapur lalu masuk ke halaman belakang rumah. Ribuan kotek ayam telah menunggu hajatku untuk memberi pakan. Setiap pagi aku menenggelamkan kesibukan pria-pria lain yang harus pergi ke kantor atau pergi ke gedung-gedung pencakar langit. Sejak dahulu inilah usaha yang ditekuni hingga akhirnya aku masih hidup di usia ke dua puluh delapan ini.Selain ayam-ayam itu ada yang selalu menemaninya lebih dahulu. Ayam-ayam itu sangat kenal dengan Ibu. Usaha ini Ibu geluti sejak kepergian ayah. Ibu tak pernah lelah mengusap keringat yang jatuh di daster tuanya. Elusan tangannya membuat ayam-ayam ini semakin bersegera untuk bertelur. Makanya ternak ayam kami menjadi salah satu yang terbaik di desa ini. Kotoran ayam lengket di kakiku. Sendalku entah kemana. Aku melangkahkan kaki satu persatu ke arah ayam-ayam 175


Zam-zam Buat Ibu

itu. Mereka sangat antusias dengan lompatan-lompatannya. Satu per satu meloncat mendekatiku hingga belum hitungan menit aku pun sudah dikerumuni oleh semuanya. Konon lagi Ibu jika di masa lalu, betapa menurutnya ayam-ayam ini kepadanya. Sempat pada suatu hari aku melihat Ibu berbasah-basahan dengan ayam itu. Ia memasukkan ayam itu ke kandang meski hujan lebat tak lagi membuat badannya kering. Ia tak pernah tahu akan ada sakit jika kelak terus seperti itu. Tapi itulah Ibu, ia selalu membuat kejutan dan hasilnya kejutan itulah yang membuatnya disayangi oleh semua ayam-ayamnya. Terkadang aku ingin menjadi peternak seperti Ibu dan lebih pintar darinya. Kondisi pendanaan dapur yang tak mencukupi hingga akhirnya aku harus berkutat di jenjang sekolah menengah pertama. Aku lalu membantu Ibu dan cukuplah sampai di generasiku sebuah pendidikan itu hilang. Aku tak ingin dua adik di bawahku yang juga kena musibah kecerdasan ini. Bagiku cerdas membuat seseorang tampak lebih bermakna di hadapan orang lain dan juga membuat orang lain mengerti arti dari sebuah ilmu. Hingga dahulu aku pernah bercita-cita akan masuk sekolah peternakan yang paling top di negeri ini. Cita-cita, mimpi dan harapan tinggallah sebuah cerita di masa lalu. Lubuk linggau masih saja tetap seperti sedia kala. Matahari yang memerah di ujung senja lalu bulan yang redupnya sepertiga dari bintang. Mereka pergi ke kantor dan aku ke belakang rumah. Bergelut dengan tahi-tahi ayam. Encer, busuk dan busuk. Tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa busuknya jika seorang pemula masuk ke kandang ayam ini. Mungkin dia bisa muntah hingga rIbuan kali dan minta langsung disuguhi parfum jika sudah sadar. Dari kandang ayam inilah aku bisa hidup bersama 176


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

keluarga kecil tercintaku. Bagi kami dinding bukanlah semen yang dibalut cat serta pajangan foto-foto, tapi tepas yang diisi tawa sudahlah cukup. Di atas dipan Ibu selalu duduk melihatku, memastikan apakah aku tetap menjaga warisan melayani ayam-ayam petelurnya. Bukan main banyak jika ayam-ayam ini sudah mulai sadar dan ingin bertelur. Hampir seratus telur yang ditetaskan oleh mereka. Namun tetap saja semua seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Melihat hal itu aku ingin membuat keluargaku bahag ia. Aku menabung setiap panen. Tabungannya tak mesti ke ka kota. Karena aku bukan orang yang percaya dengan bank. Aku menaruh uang panen tepat di bawah kasurku. Tak ada satupun yang tahu kecuali Ibu. Aku ingin Ibu kelak akan naik haji. Betapa tidak teririsnya hatiku. Ketika salah seorang tetangga membawakan Ibu secangkir air zam-zam. Ia hanya duduk di meja makan dan menatap gelas bening itu. “Ibu, kenapa?” “Ibu dari mana?” Ia hanya diam, bertahan hingga adzan mengumandang. Tapi gelas itu tetap saja disitu tak disentuh dan tak berkurang sedikitpun. “Ibu, kenapa tak diminum airnya?” “Ibu tak ingin nak. Ibu mau meminumnya langsung disana. Di Mekkah.” Aku terhenyak mendengar kesungguhan dan niatnya. Tapi ada berjuta alasan yang menggedor pintu-pintu otakku dan membuat mengapa Ibu belum juga berangkat haji. Adik-adikku masih sekolah dan belum lulus lalu jika semua tabungan di investasikan ke ongkos naik haji maka mereka tak akan sekolah. Aku pernah membicarakan ini dengan Ibu. Ia yang mengalah bukan kami yang harus berhenti sekolah. 177


Zam-zam Buat Ibu

“Ibu mau kalian sekolah yang pintar ya. Masalah naik haji, itu nanti saja urusan Ibu sama Tuhan.� Entahlah, aku meranum mimpi apa kemarin-kemarin. Sehingga memiliki Ibu yang begitu mulia sepertinya. Usianya yang tua tak mengendurkan hatinya untuk memberi sebuah keabadian cinta buat buah hati. Aku pun tak lekas patah arang, masih banyak tanah yang harus digali dan langit yang harus dipanjat. Aku tak ingin letih hanya pada masalah ini dan itu. Menabung adalah solusi yang juga pernah Ibu katakan. Aku yakin suatu saat kelak, panenku akan bisa membuat Ibu minum air zam-zam di Mekkah. *** TERINGAT akan Lubuk Linggau di masa kecil dulu. Ibu bercerita di sampingku. Ditemani segelas teh manis hangat. Bibir tipisnya yang mulai berkerut masih fasih bercerita tentang keganasan belanda. Jika dilihat mungkin ia menjadi saksi sejarah itu ketika berumur tujuh atau delapan tahunan. Ingatannya memang kuat. Tak ada yang mampu menandinginya. Sambil menyerup teh manis, ia bercerita sambil melakoni bak seorang penjajah yang sadis. Ia tak jarang meloncat bahkan berteriak mesti teriaknya tak lagi kuat. Semangat Ibu membuat aku semakin yakin jika nanti ia akan berangkat naik haji dengan uang yang telah kutabung. Aku tertidur di lantai. Begitu indahnya alunan suaranya membuatku kembali pula ke masa kecil. Pagi sudah hadir esoknya. Aku melihat rumah tak seperti biasa. Semua berterbangan entah kemana. Baju-bajuku sampai keluar dari kamar, seperti ada yang mengacak-acak kamarku. Segera aku menuju kamar, langkah kakiku gontai lemas. Wajahku menyurut dengan pelan. Melihat Ibu terduduk di bawah tempat tidur dengan tangan dan mulut 178


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

terikat. Hening, tak ada teriakan hanya amukan dalam dada. Aku masih risau dengan semua ini. Kubuka ikatan Ibu dan ia hanya menangis kemudian. Aku tak ingin bertanya apaapa, sebab ini sudah jelas adanya. Kusingkap kasur dan benar saja, semua tabunganku raib digondol maling. Seluruh harapan buat Ibu kusimpan disana. Tak pernah aku berpikir akan serumit ini jadinya. Jangankan Ibu naik haji, untuk pakan ayam esok pun aku harus menjungkir balik memikirkannya. Hanya teriakan-teriakan ayam yang menemani derap kesunyian. Mereka tak tahu jika tuannya sedang dilanda badai. Aku maklum sebab mereka hanya hidup untuk makan. Namun kegundahanku semakin puncak sore ini, saat hujan membasahi bilik-bilik rumah kami. Kami hanya saling berpandang tak berani bicara. Bunyi jangkrik yang membisik disela-sela tatapan kosong itu. Ibu tak lagi dapat sebuah keinginannya. Jika aku harus menunggu panen lagi. Ibu mungkin sudah tak kujumpai lagi. Musababnya tua sudah menyambangi rambutnya yang hitam. Otot-otot sudah malu dan berkilah menjadi daging. Dalam tatapan kosong kami, hanya ada bisikan hujan setelah itu bebatuan yang terhimpit oleh air-air. Ada yang mengetuk pintu istana kami. “Siapa?” , pasti polisi pikirku. “Assalamualaikum, Pak.” Seorang asing berseragam hadir di hadapanku. Ia sedikit takut melihatku. Aku tak memikirkan jika ia takut akan merah mataku setelah menangisi sebuah hajatan Ibu. “Ada apa, ya?” “Betul ini rumah Noni?” “Iya” “Kita dari Bank di kota Pak. Kesini mau memberitahu bahwa Noni memenangkan undian pergi haji ONH Plus 179


Zam-zam Buat Ibu

untuk tahun ini” Aku hanya tertawa dan mencibir petugas itu. “Kalau mau main-main jangan disini pak?” “Saya bukan main-main, ini serius. Noni adalah salah satu nasabah kami dan dia memenangkan undian. Ini voucher hadiahnya” Aku pilu. Mati rasa dan ingin cepat ke mati. Tak ingin rasanya melihat ayam-ayamku. Hanya ingin melihat Ibu tersenyum dengan meminum zam-zam di Mekkah. Antara citacita, harapan dan mimpi. n

180


Repro: Ernst Ludwig Kirchner | OpenArt

181


Senyum Terakhir

ilustrasi: repro pontianak post

182


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Senyum Terakhir Sabransyah ( Pontianak Post | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

K

ALI pertama kami pertemu tidak ada niat untuk kenal satu sama lain. Dia dengan kesibukannya, aku dengan kesibukanku. Namun karena statusku sebagai seniornya terpaksa juga aku mengenali dirinya. Mairah, itulah panggilanku kepadanya dan nama itu juga yang terpahat di hati selama hampir dua tahun usia perkenalan kami, Mairah seorang perempuan yang simple, sejuk mata memandang dan paling aku suka, dia tidak pernah hilang dengan senyum manisnya. Mungkin keramahannya yang membuatkan kami semangkin rapat, ya antara kami sudah tidak ada rahasia. Briands dan Mairah. Hari ini kuliahnya selesai memang agak awal jadi aku mengambil keputusan untuk bertemu Mairah di kafe, ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadanya. Assalamualaikum, sorry ya agak terlambat. Saya masih ada tugas dari pak Andi dosen IBD tadi.� Aku mengambil tempat disebelahnya, perlahan dia menjawab salamku. 183


Senyum Terakhir

Aku mengambil bungkusan di dalam tas lalu kuserahkan kepadanya. Raut wajah Mairah berubah dan agak panik, digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Emmmm, Briands apa ini?” Untuk kamu Mairah, kamu tidak suka?” kening Mairah mengkerut namun jarinya merobek pelan tapi pasti bungkusan hadiah itu. Kemudian dibukanya kotak kecil yang berbentuk hati. Matanya bersinar cerah, kemudian dikeluarkannya jam tangan hadiah pemberianku itu. “Ya Allah, Briands ! ini jam yang itu kan? Briands jam ini kan mahal. Kalau uangmu untuk keperluan lain itu lebih bagus, suka nggak?” Jam ini yang memang diidam-idamkan oleh Mairah, namun dikarenakan uangnya kurang saat itu dia tidak jadi membelinya. Pada saat itu kami keluar untuk membeli barang-barang keperluan sehari-hari dirumah. Aku dan Mairah orang pendatang tidak ada tempat tinggal, jadi kami masing-masing menyewa rumah (indekos) dekat dengan kampus, jadi pada saat kami kehabisan stok makanan di rumah, kesempatan ini kami gunakan untuk keluar bersama-sama. Mairah mengangguk kecil. “Suka, tapi saya tidak suka kamu mubazir uang untuk belikan jam mahal ini untuk saya. Ohh, ya jam ini hadiah dalam rangka apa? “Kan ulang tahunku bukan sekarang. Bulan depan.” Aku tersenyum melihat kebingungan yang terpancar dari wajah Mairah. Dia memang begitu kalau masalah keuangan, selalu berpesan kepadaku agar aku berhemat. Katanya, dia sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang, keluarganya memang hidup sederhana namun kaya hati. Bag iku, bukankah itu yang lebih berharga dan mahal? “Mai… pangilan kecil Mairah, Salahkah hadiah ini kuberikan untukmu? lag ipun sepanjang kita berteman, 184


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

jarang sekali aku memberi hadiah, maupun pada saat di hari ulang tahunmu bukan?� “Gak papa nati di ulang tahunmu aku beri lagi, oke!� “Pernahkah aku memberimu hadiah? Oke, anggaplah hadiah ini sebagai hadiah ualang tahunku, dan tidak perlu lagi memberi hadiah di hari ulang tahunku bulan depan. Sebab ini sudah lebih dari cukup dan sangat berharga bagiku.� Mata Mairah memandangku penuh makna. Akhirnya aku mengalah di hadapannya. Dalam hati aku tetap akan memberikan sesuatu untuk Mairah. Sejak kebelakangan ini kami jarang bertemu dikarenakan aku lagi tugas akhir, banyak tugas yang harus aku kerjakan jadi aku tidak mahu hubungan kami menjadi hambar, inginnya hubungan kami senantiasa gembira. Jam tanganku menunjukan pukul 20.30. Hari ini, tanggal 29 Juni, usia Mairah genap 21 tahun. Hari lahirnya untuk yang kedua kalinya selama pertemanan kami. Awal-awal lag aku sudah siap tidak sabar untuk menjemput Mairah di rumahnya. Kami berjanji untuk merayakannya di sebuah restoran seafood. Itu semuanya ideku, aku mau Mairah senantiasa gembira karena setiap dia tersenyum, senyumannya itu sangat menenangkan. Aku tiba tepat waktu. Kami bagai pinang dibelah dua, soalnya kami mengenakan baju dengan warna biru yang tidak direncanakan. Atau memang sudah jodoh? dia tertawa. Mobil yang aku kendarai melaju menuju tempat tujuan. Kami tidak banyak bicara soalnya aku lagi fokus memperhatikan keadaan di depan. Malam ini mobil banyak berlalu-lalang, mungkin malam minggu jadi orang ramai mengambil kesempatan untuk bersantai di depan pertokohan makanan yang disedikan oleh pihak pengelola toko yang diberikan payung dan meja 185


Senyum Terakhir

serta lampu yang redup, pemandangan yang bias dilihat pada malam-malam minggu dan hari libur. Sesekali aku mamandanginya, kemudian fokus lagi, sempat aku melihat dia tersenyum manis. Ah… senyum itu lagi…. Mai sudah sampai, kamu turun dulu nanti aku nyusul, susah juga cari tempat parkir, tidak apa-apa aku parkir agak jauh sedikit. Dia menggeleng. “Aku ikutttt, kita jalan sama-sama aja. Memang dia sudah pesan meja, jadi jagan risau oke? Sekarang, kita parkir aja mabil ini di depan situ.” Aku ketawa saat dia menunjukan dengan memanyunkan bibir menunjukan tempat parkir yang kosong di depan. Setelah parkir kami jalan bersama menuju restoran itu. Dia memang sudah memesan meja yang terletak paling ujung di sudut yang menghadap ke arah pantai agak romantis sesuai untuk kami berdua. “Selamat ulangtahun Mai. Ini untukmu, ikhlas dariku.” Sebuah bungkusan berbalut rapi, aku serahkan kepada Mairah. Mairah melihatku agal serius. Aku tahu dia marah karena aku melanggar permintaannya agar tidak memberikan hadiah lagi. Entah mengapa aku ingin sekali memberikan sesuatu kepada Mairah dan kali ini aku memberikan kalung liontin perak untuknya berbentuk hati yang didalamnya ada foto kami berdua. Mairah seperti tadi tidak ada tanda-tanda untuk memberikan hadiah senyumannya kepadaku seperti biasanya. “Mai, ini saya ikhlas. Hari ini benar-benar hari ulang tahun kamu, kemarin anggap sebagai hadiah kasih sayang aku ke kamu. Ambilah Mai.” Aku merayu. Nampaknya rayuanku berhasil apabila Mairah sedikit tersenyum. “Sebenarnya ini semua tidak perlu. selama ini apa yang kamu berikan ke aku itu semua sudah cukup kasih sayang, 186


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

perhatian. Hurm, memang keras kepala. Kamu ingat kamu aja yang biasa ngasih hadiah? Ini, untuk kamu bukalah.” Sebuah bungkusan dengan warna biru diulurkan kepadaku. Aku kaget, namun setelah didesak oleh Mairah, bungkusan itu berpindah tangan. Kemudian dengan perlahan aku membuka balutan pitanya. Sebuah kotak berbentuk hati sama seperti yang aku berikan kepada Mairah cuma ukuranny lebih kecil. Kubuka kotak itu, dan kali ini aku terharu. Sebuah cincin perak. Cantik! “Kamu pakailah. Saya senang melihat kamu gembira. Kalau bisa saya mau melihat kamu setiap hari. Setiap detik setiap waktu. Kalau kamu rindukan aku, lihat fotoku itu. Kalau saya rindukan kamu. Huem, lihat apa yaa? Aku ketawa.” Katanya aku benar-benar pandai mengambil hati “Kalau rindukan saya kamu tersenyumlah.” “Senyum? Kenapa senyum?” aku bertanya heran. Ia menarik nafas dalam-dalam. Sebab senyuman kamu itu bisa saya rasakan. Setiap kali kamu tersenyum, saya tahu kamu rindukan saya. “Huem….Gini ya? Aku mencontohkan kepadanya senyumanku, dan diapun tersenyum melihat tingkahku, baru kali ini aku melihat senyum yang paling manis dari wajah Mairah. Damai sekali setiap aku melihatnya tersenyum. Tiba-tiba Mairah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. “Jam tangan saya ketinggalan di mobil, saya ambil sebentar ya. Sayang enggak dipakai, hadiah sepesial tu.” “Ikhs, gak papa. Kita makan dulu, setelah itu kita jalanjalan sebentar, soalnya masih awal? “Sebentar lagi yaa.” Aku coba menghalangnya. Sayang waktu-waktu begini dibiarkan berlalu. Mairah masih berkeras untuk mengambil 187


Senyum Terakhir

jam tangan pemberianku. “Aku temanin ya?� “Gak papa sebentar aja.� Aku hanya mampu mengalah, terlalu sulit untuk ditegahkan, aku melihat dengan pandanganku dari jauh kulihat Mairah hilang dalam kendaraan yang berlalu-lalang. Aku melihat cincin yang melekat dijariku ini sekali lagi, ada yang spesial dicincin ini ada nama kami berdua. Kami memang cocok kata kawan-kawanku. Buktinya kami nampak serasi, cocok dengan pakaian biru-biru yang tidak direncanakan. Aku melihat jam tanganku sudah menujukan jam sembilan malam. Beberapa buah mobil baru saja tiba dan parkir di halaman parkir restoran dan ditepi trotoar. Aku menoleh ke arah jalan yang semakin sesak. Mairah ada di seberang jalan dan sempat melambaikan tangannya kearahku. Dengan tersenyum kepadaku dengan senyuman yang lebih manis. Aku membalas lambaiannya. Mairah berlarilari kecil untuk menyeberangi jalan, tapi sayang ada sebuah mobil yang tidak terlihat oleh Mairah. Dumzzz.. suara keras benturan. Saat itu segala-galanya berlalu terlalu cepat. Aku melihat tubuh Mairah melayang-layang sebelum jatuh ke atas mobil yang berlawanan arah. Kemudian tubuh yang sudah lemas itu tergeletak jatuh di atas jalan. Mairah mencoba untuk bangun, sedaya upaya sekuat tenaga, dan ketika itu arah berlawanan ada mobil yang sekali lagi menabrak tubuh Mairah dan kemudaian jatuh tidak bergerak lagi. Dan aku kaku. Tergamam apa yang baru saja terjadi di depan mataku apa yang berlaku. Setelah orang ramai mengelilingi tubuh yang sudah tidak sadarkan diri itu barulah aku tersadar. Akupun berlari dengan cepat ke arah Mairah. 188


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Keadaannya sangat parah. Aku berteriak-teriak ketika aku memangku kepalanya. Mairah sudah tidak berdaya lagi, aku ber teriak membangunkannya Mairah kini meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku menatapnya. Berteriak sekencang-kencangnya‌ Mairah‌! Dan ditangannya, sebuah jam tangan yang berlumuran darah masih di genggamnya dengan erat. Aku menatap wajah Mairah yang kaku dan pucat. Senyuman itu‌senyuman terakhir itu juga pergi untuk selamalamanya. n

189


Kau, Aku, dan Pendampingmu

ilustrasi: repro radar lampung

190


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Kau, Aku, dan Pendampingmu Melisa Ariani Asikin ( Radar Lampung | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

S

URGA yang ingin ku telusuri tidaklah yang paling indah. Surga yang selama ini ingin ku reguk hanya bersama dirinya. Tak tahu dari mana awalnya cinta. Ketika madunya ku kecap terasa manis dan lembut menyentuh bibir. Yang selalu terpancar hanya kilaunya saja. Tak pernah terlintas di mimpiku akan hal yang menyeramkan. Membayangkan kelabu berselimut menutupi tubuhku serta memburamkan penglihatanku. Aku takut bersanding lagi karena cerminku dari mama. Segar dan basah di otakku mama yang sering menahan sakit. Sakitnya tercipta saat umurku beranjak naik. Setiap hari dalam per detiknya, nafasnya berdehem berat. Seolah memikul kubikkan kayu berjejal di relungnya. Sempat aku utarakan pada mama apakah aku deritanya? Tentu saja beliau menjawab aku adalah napasnya. Karena aku lahir mama bertahan hidup. Aku masih muda. Belum terbiasa mendengar kisah cinta durjana. Yang selalu diajarkan padaku, yang ditanam dalam ingatan itu,tentang cinta 191


Kau, Aku, dan Pendampingmu

adalah hal yang paling indah dan patut dibanggakan. Tapi apa jadinya bila setiap pelajaran cinta yang aku dapat selalu berakhir lebam di pipi. Jujur ku akui, aku takut mama mati. Aku takut saat tidur mama sudah tercabut pergi. Aku takut saat ku lelap sedikit saja mama lepaskan genggamannya padaku. Mama bilang akulah nafasnya, namun kalau mama mati nafasku juga bisa berhenti. Mama bilang menikahlah pada lelaki yang mencintaimu. Mama menikah ku pikir juga karena cinta. “Kalau memang ada ganjalan kenapa bersatu?� Pagi itu suasananya mendung. Aku pernah bilang pada mama aku menyukai cuaca seperti ini. Dimana langit yang menahan tangisnya. Kau bilang padaku, kau suka saat awan cerah bergerombol karena seolah membawa cinta. Saat kau direnggut dariku awannya berarak menangis. Orang pelayat sudah pergi kini tinggal kita berdua. Kau di tanah aku berdiri di atasnya. Sudut mataku tak lembab. Hidung ku tak mempat. Aku masih hidup dan bernafas. Saat kau bilang akulah nafasmu itu, bohongkan? Kau tidur cantik beralaskan tikar bambu coklat. Berselimut putihnya kain panjang. Menghadap kiblat berharap kau dapat tempat di sisi Tuhan. Mama bilang padaku waktu itu kalau ajalmu datang secepatnya kubur aku di sampingmu. “Tapi aku belum mati, Ma! Kenapa harus aku yang mengu burkan jasadmu? Kenapa kau tak mengajakku ikut serta hari itu?� Sepulangnya menebar bunga di tempatmu, rumah kita kembali sepi. Kemarin kau janji padaku untuk menemaniku memotong rambut bersama. Mungkin kalau kau tak mati kita berdua tengah asyik duduk berdampingan di kursi salon memakai tutup besar yang kau sebut dandang uap di kepala. Mungkin sempat juga aku bermanja padamu minta dibelikan sepatu centil tinggi 5 cm. “Kalau kau sudah tak 192


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

ada seperti saat ini, aku pergi berkunjung ke salon itu dengan siapa? Banyak juga sepatu warna-warni yang ingin aku beli oleh uang yang ada di dompetmu.� Waktu itu, setiap malam menjelang saat mata ingin terlelap kau ceritakan kisah cinta yang agung. Mengenaimu dan pendamping hidupmu. Kau tuturkan hal yang indah seperti mengajariku sesuatu. Tawamu mengisi tiap relung jeda kalimat yang tak lucu bagiku namun akhirnya aku ikut tersenyum juga karena kau tetap memaksanya dengan katakata, “Lucu bukan, si Papamu dulu?�. Begitu mesranya dan tercetak hangat masa lampau itu di benakmu yang kau sampaikan padaku. Aku si muda hanya bisa tersenyum. Tak juga jemu kau ajarkan aku cinta yang baik. Bangun pagi, saat tidur, ingin makan, mau mandi, berganti pakaian, serta mengerjakan PR, kau selalu ada di sisiku. Kini kau di sisi Tuhan. Tak bisa ku rengkuh dan ku ciumi. Yang ku dekap hanya tanah coklatmu. Yang aku tengoki hanya seonggok batu. Tahun demi tahun usiaku bertambah tua. Kau bilang jadi dokter adalah pengabdian terbaik pada masyarakat apalagi tanpa pamrih. Aku ikuti mau mu. Kini peraihan dokter dalam genggamanku. Lalu setelah ini, aku bagaimana? Tanpa kau yang nyata, tanpa hadirnya jasadmu mendampingiku semuanya tak terasa. Pendampingmu selalu mencerca aku yang tak menurut padanya. Memaki diriku karena darahku terkontaminasi dari suku asalmu. Dia bilang aku jelek adat. Melawan dan menjawab semua perkataannya. Dia juga bilang menyesal telah menikah bersamamu tahun dulu. Menyalahkan jenis kelaminku karena aku bukan laki-laki. Menangisi nasib perusa haannya karena tidak memiliki penerus yang kuat sesuai adat istiadat yang dianutnya. Saat ku jengguk kali ini rumputmu sudah meninggi. Kau 193


Kau, Aku, dan Pendampingmu

tahu tanganku sering memegang pisau bedah tapi aku tidak pernah memegang golok untuk memotong rumput kuburmu. Aku sering melihat banyak genangan darah pasien namun aku tak pernah membantu menutupi lukamu. Aku ini anak durhaka yang kau banggakan. Ku panggil beberapa orang penjaga makam untuk mendam pingimu saat aku tak ada. Dengan se tumpuk kertas berharga yang aku punya, aku membayarkan tiap bacaan doa yang dikirimkan untukmu menggan tikanku sementara waktu. Mama, apakah kau rindu pendampingmu? Kini dia mengadakan sayembara. Sayembara untuk penggantimu yang telah melahirkan bayi cantik bukannya tampan yang seperti dia mau. Aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan apa yang dia lakukan untukku sekalipun. Rumah itu bukan rumah kita lagi. Aku terusir bagai anak babi terpinggirkan ke hutan beton. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan mengecap pendidikan setinggi yang aku mau sebelumnya. Mungkin bila terusir saat tanah kau masih basah, aku tidak bisa hidup lama karena kelaparan. Kini, rumah yang aku bangun sangatlah luas. Mampu memberi makan orang lain, mengobati mereka yang sakit secara gratis, memberikan tumpangan bantal jika tak ada tempat berteduh, dan di sini juga banyak anak kecil seperti citacitamu dahulu. Tentang mbok Nah dan pak Duki, kini berada di bawah kuasaku. Mereka aku boyong ikut serta dalam ekspedisi perjalanan cita-citaku. Kami hidup tenang dalam satu atap. Makan di meja makan besar, pergi ke supermarket besar, serta memakai baju yang harganya besar. Orang yang menggandeng tanganku ada banyak. Para suster, perawat laki-laki, dokter jaga, serta orang birokrasi dalam rumah sakitku sampai satpamnya adalah keluargaku. Tak akan ku izinkan mereka pergi dari hidupku lagi seperti melepasmu 194


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

mati. Pendampingmu marahnya bukan main mendengar kesuksesanku datangnya dari ilmu kedokteran. Menurutnya bisnis adalah hal utama melebihi nyawamu. Tidak jemunya waktu itu berkunjung mendatangiku untuk memegang kendali sahamnya. Terus menerus kupingku sakit dihina olehnya karena menyebut namamu. Salahkah bila aku menjawab, “Teruskan bisnismu pada anak pengganti mamaku. Lepaskan aku dari hidupmu dan anggap aku bukan darahmu. Aku pusing mendengar nyanyianmu yang memaki mamaku. Kau tahu penyesalan dalam hatiku yang paling buruk adalah ketika sampai akhir hayatnya yang disebut hanya namamu!â€?. Aku tak lihat ada duka di wajahnya saat dia pergi meninggalkanku untuk memutuskan hubungan ayah dan anak. Mama‌aku di dekati oleh lelaki. Menurutnya aku ranum dan siap dipetik. Aku belum yakin dan takut terlalu sakit akhirnya sepertimu, oleh pendampingmu. Luka yang aku terima sudah terlalu banyak. Dari contoh hidupmu yang lakonnya ada aku. Ribuan kali disakiti, kau berjuta kali ber tahan. Mempertahankan hal yang sia-sia dalam hidupmu. Bidukmu layarnya memang sempat terkembang tapi ombak tak selalu tenang. Kadang beriak kecil atau gemuruh topan menghadang. Kau selalu tenangkan aku yang bimbang akan kesetiaan pendampingmu. Saat itu aku sudah SMA. Sedikit banyak aku telah mengerti dunia cinta rumit sepertimu. Kau kalut pun masih menyediakan senyum renyah untuk menyambut kepulanganku dari sekolah. Dari mbok Nah dan pak Dukilah kisah yang sebenarnya kuperoleh. Menggambarkan tentang versimu yang sakit dan berdurja. Tak pernah aku temui mahluk yang miliki kekerasan hati mempertahankan biduk cintamu agar tak terdampar di laut 195


Kau, Aku, dan Pendampingmu

hitam. Agar terus berlayar walau biduknya berat sebelah. Bila sudah letih memuncak, bila pedih menggema, segera kau lantunkan ayat merdu untukku. Walau musiknya kentara sumbang tapi kau berwajah teduh saat matamu beradu melihatku. Aku tahu duka mu bertumpuk. Namun kau tak pernah memberi kesempatan membag inya agar ku tampung setengah dari air matamu. Semester 4 perkuliahanku sering ku lihat kau mengaduh. Di gelapnya malam di pertengahan lelapku. Kau menangisi hatiku. Memohon pada Tuhan tentang keselamatan dan perlindungan ragaku. Seusai kau bercerita pada Tuhan aku memang meminta pencabutan nyawamu agar kau tak merasakan sakit yang terlalu lama. Maaf, aku sungguh tak baik. Meski sudah aku habiskan perasaan dendamku seolah ku ikhlaskan tapi bayangan buruk selalu berdatangan. Mengejarku sampai hilang akal. Banyak sekali niat setan yang aku rangkai untuk pendampingmu. Aku hanya ingin mempertahankan agar tetap bertiga. Seperti gambarku lirih, di dalam bangunan persegi empat tertimpa trapesium ada kau, pendampingmu dan aku yang berpegangan tangan. Baru aku ketahui, tempat awal kita bernaung sudah dijual oleh rayuan penggantimu. Aku yang tanggap segera membeli tanpa aku tawar maharnya. Rumah karamel itu masih sama. Peletakkan furniture kesukaanmu pun tak ada yang berubah. Hanya butuh pemugaran warna dan pertugas ke bersihan yang datang. Kolam koi kecil di samping gajebo bergaya Cina itu pun tetap terawat. Tempat kaki ku dan kau mengganggu ikan. Ayunan rantai tua yang terlihat dari dalam rumah, yang kau selalu menjerit ketika ku berayun tinggi dengan tangan sebelah kuhendak mengapai pohon apel merah di depannya membuatku menangis. Di apel itu kita berjanji 1 tahun 196


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

kelulusan dokterku kau yang akan memotong pita peresmian rumah sakit. Tapi…kau terlanjur perg i. Mendahului aku. Meninggalkan aku. Rumah sakit yang aku jalani mendapat donor dana dari perusahaan besar yang baru. Untuk mengkampanyekan bahwa merk dagangnya berkuasa di kancah internasional mereka membutuhkan sosialisasi berupa pengeluaran zakat agar dilabel baik. Tanda tangan kontrak diselesaikan tanpa bertemu direkturnya. Hanya pimpinan rumah sakit yaitu aku dan istri direktur perusahaan tersebut. Acara puncak digelar di sebuah hotel yang juga kuasaku. Pendampingmu tengah asyik bercengkrama dengan tamu bersama penggantimu. Mama…aku bersyukur kau telah tiada. Setidaknya kau tak mampu melihat kekisruhan hatiku. Setidaknya kau tak mampu melihat genangan ujung-ujung mataku. Bibirku menahan kedut gaduh. Seumpamanya aku hancurkan reputasinya sekarang pun pastilah tidak ada guna. Maka ku pilih diam dan tak berkontak mata dengannya. Mama…lucu juga melihat adegan ini. Aku dan pendampingmu satu darah namun seperti mangsa. Aku pernah memanggilnya papa tapi dia tak memanggilku nama. Bertegur sapa saja tidak. “Sedalam itukah papa benci padaku yang perempuan ini?”. Mama…aku datang lagi. Kali ini aku bawakan calon suami untukku. Dia baik dan aku menyayanginya. Aku tak tahu apakah kau setuju dengan pilihanku atau tidak, tapi yang jelas selama perjalanan cinta dengannya dia mencintai aku. Sikapnya sopan dan rajin ibadah. Dia dari kalangan biasa, merintis karier yang juga dari bawah. Dan yang paling penting dia dari kedokteran pula. Lucu memang, karena kami bertemu di Australia. Jangan tanya apakah aku sudah meminta persetujuan dari papa. Pendampingmu mungkin akan sama denganmu bila kau juga masih hidup, sudah 197


Kau, Aku, dan Pendampingmu

renta. Aku menemukannya mengenaskan di panti jompo sendirian. Kekasihnya tak sejati. Perg i seper ti yang pendampingmu lakukan pada mu saat beranjak meninggalkanmu dulu. “Mama‌ sempatkanlah dirimu untuk datang pada resepsi pernikahanku.â€? Hari sabtu ceria tapi aku agak kelabu. Aku masih menunggumu hadir agar wajahku tak lagi tersungut. Ini kebahagianku yang aku buka sebelum penutupan umurku. Besar harapku agar kau datang meski melihatmu berterbangan tak menapak tanah. Kau bisa lihat di sisi kananku adalah pendampingmu yang kupangg il papa. Duduk lemah sendiri. Bandingkan dengan mertuaku walau renta dan rambut memutih tetap berseri karena berpasangan seperti merpati. Aku lihat papa bangkit dari duduknya berjalan menuju taman belakang. Aku mengikuti lambaian tanganmu yang juga mengajakku. Ternyata kau datang di pernikahanku. Kau peluk pendampingmu karena dialah yang terlalu merindu. Aku terharu saat pendampingmu bersujud bermandikan air mata menyesal menyakitimu. Di pohon apel itu kita bertiga lagi. Di ayunan rantai tua itu kita bertiga berfoto layaknya keluarga yang aku mau. Tapi aku sadar dalam cetak foto itu kau menghilang dalam kamar gelap bertemu pendampingmu bersatu menjalin lagi yang baru. Nisanmu telahku ganti. Warna biru kesukaanmu. Pendampingmu pun warna serupa tentu saja dengan ukir Dandelion disekitarnya. Kini aku datang bersama suami dan Rakadityaji Virriant, nama anakku adalah namaku saat aku terlahir sebagai laki-laki dari orang yang kupanggil papa dalam hidupku. n

198


Repro: Edgar Degas | OpenArt

199


Elegi Tepian Ogan

ilustrasi: repro sumatera ekspres

200


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Elegi Tepian Ogan Iin YYaqub aqub ( Sumatera Ekspres | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

K

ABUT asap di musim kemarau masih mengambang di atas perairan Sungai Ogan. Dingin suhu udara pagi hanya akan bertahan hingga pukul enam saja, selanjutnya perlahan-lahan akan terasa garang, seperti halnya karakter suhu di awal musim kemarau. Mentari di ufuk memancarkan cahaya kemerahan karena tertutup kabut asap hingga ke pangkal-pangkal cakrawala. Badriah mendayung perahu jukungnya. Perlahan ia kendalikan laju perahu tua itu menuju patok-patok di pingir sungai. Setelah mendekat, ia letakkan dayung di geladak perahu dan mulai menarik jaring yang telah dipasangnya sejak sore kemarin. Beberapa ikan betok, sepat siam, patin, dan dua ekor ikan gabus yang besar tersangkut di jaringnya. Ia tersenyum girang melihat hasil tangkapannya pagi ini. Ikan-ikan itu diambilnya dan diletakkan di dalam sebuah ember yang telah disiapkannya. Reranting dan rumput yang turut tersangkut di jaring itu dibuangnya dengan telaten. Kemudian, ia mengatur letak jaring itu kembali. Ia kembali 201


Elegi Tepian Ogan

mendayung menuju jaring ikannya di tepian sungai yang lain. Beberapa kali ia lakukan hal serupa tadi, menarik jaring, mengumpulkan ikan-ikan, membuang sampah dan reranting, lalu memasang kembali jaring itu di tepi sungai. Air sungai yang kuning itu beriak pelan saat perahu jukungnya bergerak di permukaan sungai itu. “Tuhan… Kau dimani? Trime kaseh, ari ini banyak nia ikan kudapat…” ia bersyukur memantulkan sepenggal doa dari permukaan sungai sambil menengadah menatap langit yang berselimut kabut asap. Matahari makin tinggi. Angkutan desa, mobil-mobil pribadi, motor, bentor, dan sepeda mulai lalu lalang menyemut di atas jembatan Sakatiga. Badriah melintas di bawah jembatan sambil mendongakkan kepala. Tangannya teratur memecah arus sungai dengan dayungnya. Ia dapat merasakan getaran roda kendaraan dari atas jembatan itu. Dulu, kakeknya sering bercerita tentang jembatan tua itu. Saat jembatan itu belum di bangun, para tukang perahu sangat dibutuhkan untuk membantu menyeberang. Begitu pun mendiang kakeknya, beliau adalah salah seorang tukang perahu andalan di Desa Sakatiga. Kini hanya beberapa saja penduduk yang menggantungkan hidup dari mendayung perahu untuk menyebarangkan orang menuju Pasar Inderalaya. Lagi pula, tak banyak lagi orang mau bersusahsusah pergi ke pasar melalui sungai. Becak, bentor, motor, dan angkutan desa kini telah banyak dan menggantikan peran perahu-perahu tua itu. Jumlah mereka semakin melesat seiring tingginya minat masyarakat untuk berganti ke gaya hidup modern dan berkelas. Perahu-perahu itu akhirnya tenggelam di tengah Sungai Sakatiga yang kian dangkal. Romantisme antara perahu jukung dengan Desa Sakatiga yang bersahaja akhirnya tertelan zaman. “Badriaaaaaaaah…. Dapat ikannya????” Romlah berteriak 202


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

dari atas jembatan. Badriah mendongakkan kepala mencari pemilik suara yang sangat dikenalnya. Ia menjawab pertanyaan Romlah dengan senyuman dan lambaian tangan. Giginya yang rapi dan putih membuat senyumnya makin memesona. “Jangan lupaaa…. Tahun depan sekolah ya…..!!!” Teriak Romlah sambil melambaikan tangan. Gadis itu memakai seragam putih biru dan tas hitam yang disandang di punggungnya, “aku pergi, ya…” teriaknya lagi sambil berlalu. Badriah kembali melambaikan tangan dan melepaskan senyumnya. “Ye!!. Hati-hati, Romlah. Petang gi bagi cerite lagi ngan aku. Yeee.” Romlah menganggukkan kepala dan melangkah sambil berpegangan pada pagar pembatas jembatan yang dicat kuning dengan strip hitam sebagai variasinya. Badriah melukis bayangannya di riak air Sungai Ogan. Lukisan sosoknya yang ringkih dengan seragam sekolah. Ya… hanya dengan seragam sekolah, lukisan dirinya itu hanya memakai seragam sekolah tanpa ada tas yang disandang di bahu atau di punggunnya, tidak juga sebuah buku yang didekap di dada. Umaknya hanya berjanji membayar uang sekolahnya bila tabungannya cukup, tanpa diembel-embeli janji membelikan buku dan tas sekolah. Ia sudah sangat bersyukur mamaknya yang telah renta menjalani hidup itu masih mau berjanji menyekolahkannya. Badriah menepikan perahunya di tangga batu menuju Pasar Indralaya. Ini hari pertama kalangan di pekan ini. Dalam sepekan Pasar Inderalaya menggelar dua kali hari kalangan, Selasa dan Kamis. Walaupun setiap hari kegiatan di pasar itu berlangsung seperti halnya pasar-pasar lain, pada hari Selasa dan Kamis jumlah pedagang akan jauh lebih banyak dan pembeli juga lebih berlipat ganda. Mereka biasanya datang dari berbagai daerah di sekitar Palembang, 203


Elegi Tepian Ogan

Kabupaten Ogan Ilir, dan Kayu Agung. Hari ini Badriah dengan semangat memulai harinya berjualan di pasar. Ia menurunkan ember dari atas perahu dan mengambil sebuah terpal plastik yang sudah disiapkannya dari rumah. Ikan-ikan hasil jaringnya akan dijual, kemudian dikumpulkan uangnya sebagai modal mendaftar sekolah. “Aku nag masuk madrasah je, Romlah. Biar aku tahu pasti Tuhan kite dimani?” Badriah mengeluarkan ikan-ikannya yang segar dan menyusunnya dalam kelompok-kelompok ikan yang sejenis. “Sekolah SMP lebih enak, Badriah. Nanti kupinjamkan buku-bukuku.” Badriah tersenyum. Dirapikannya dua puluh ekor ikan gabus segar dalam satu kelompok khusus. “Idak, terime kaseh. Aku cuma nak tahu Tuhan ade dimani? Kate Nyai, Tuhan ade di ayek, di darat, di langit, juge di kepalak segale urang di dunie ni… Aku nak sekolah untuk belajar tentang Tuhan, Romlah.” Badriah membentang terpal plastik yang dibawanya sebagai alas duduk untuk berjualan. Wow, Badriah dibakar kerinduan pada bangku madrasah yang makin tua karena terlalu lama menunggun kehadirannya. “Badriah! Umakmu nitipke duit cicilan utang dio dak?” Badriah mendongakkan kepala mendengar sebuah suara berat dengan logat Palembang yang sangat kental menyebut namanya. Ia menatap sosok laki-laki yang berdiri di atas gelaran jualanannya. Tubuhnya bergetar saat memantang sosok tinggi besar di hadapannya. Ini adalah kali ke sekian laki-laki itu menagih utang umak pada dirinya. Untuk ke sekian kalinya pula ia hanya menggeleng dan menatap ketakutan pada laki-laki itu untuk menjawab pertanyaannya. Demi memenuhi kebutuhan 204


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

hidup sehari-hari, umaknya mememang kerap harus berutang. Bahkan dengan laki-laki di hadapannya kini, umaknya pun harus menebalkan muka untuk berutang demi mempertahankan periuk nasi mereka tetap berisi. “Idak, Wak. Mamak belum ade duit…” jawabnya dengan suara bergetar. Mata laki-laki itu berkilat mendengar jawaban Badriah. Ia melumat tubuh ringkih Badriah dengan matanya. Badriah gemetar merasakan pandangan lelaki kekar itu. Ia melantunkan segenggam doa. Lidahnya kelu dan tulangbelulangnya melemah, tak sanggup menopang tubuhnya yang berat dibebani ketakutan menatap laki-laki itu. Seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat mendekat padanya. Ia bersyukur mendapati kedatangan wanita itu. Lelaki berkulit gelap di hadapannya menyingkir saat wanita itu berjongkok di hadapannya untuk memilih ikan yang ditawarkan Badriah. “Banyak, i… ikanmu ari, ni. Aku ambek gabus due kilo.” “Ayek lagi besak, Bik. Alhamdulillah banyak juge aku dapat pagi, ni.” Jauh sebelum azan Zuhur, ikan yang dimiliki Badriah telah habis terjual. Ia menghitung uang hasil dagangannya, menyusunnya dengan rapi secara berkelompok, dan memasukkan lembaran-lembaran uang itu ke dalam kantong plastik sambil menggumamkan hamdalah. Ia melipat terpal plastik yang digunakannya sebagai alas untuk memajang ikan-ikannya dan alas duduknya. Ia masukkan terpal plastik tadi ke dalam ember. Pasar semakin ramai, tetapi terasa amat sepi dan menakutkan bagi Badriah. Ia bergegas hendak kembali ke perahunya yang tua. Namun, ada perasaan berat bergantung di rongga dadanya, ditatapnya pasar itu lekat-lekat. Dengan matanya, ia menikmati semua keramaian yang selama dua 205


Elegi Tepian Ogan

tahun ini telah sangat akrab dengan dirinya. Ia membalikkan badan lalu menatap hamparan Sungai Sakatiga yang tenang di tengah hari. Beberapa perahu bersandar di tepiannya, jukung Badriah terlihat amat kecil di antara perahu-perahu nelayan yang bersandar di sana. Di tatapnya perahu tua peninggalan almarhum ayahnya itu. Dihirupnya udara puaspuas mencari aroma keringat bapaknya yang memeras keringat hanya untuk sebuah perahu kecil itu. Ia melangkah tergesa saat menuruni tangga menuju sungai tempat perahunya terikat. Namun, tiba-tiba tubuhnya terhuyung saat sebuah tangan kukuh menarik lengannya. Badriah tersentak. Tenaganya kalah kuat untuk menarik tangannya dan melepaskan cengkraman di tangannya. Bola matanya membulat besar saat menatap sosok gelap itu. Nafasnya tersengal, dadanya tiba-tiba terasa sesak dipenuhi aroma tubuh pemilik tangan itu. Pemilik tangan itu menyergapnya dan menyeretnya menuju jajaran WC umum yang terletak tak jauh dari tangga di tepian sungai. “Umak kau la lamo nian berutang dengan aku!! Ari ini aku nak nagih bayarannyo. Idak dengan duit kutageh dengan kau…!!!” Laki-laki itu menarik tubuhnya. Badriah merasakan dunianya gelap. Ia mencari bumi untuk menapakkan kaki. Ia mencari langit untuk bertemu matahari. Ia mencari sungai untuk mewujudkan mimpi. Nihil. Ia tak menemukan apaapa. Tiba-tiba semua terasa gelap dan menyesakkan. Udara tak bersisa untuknya, laki-laki itu menyesap semuanya. Diantara musholla yang sepi dan ditepian sungai yang membisu dan dingin. Laki-laki itu menyedot semua energi dan mimpi yang pernah ia miliki. Badriah tergagap mencari dirinya. “Jangan lupaaa….Tahun depan sekolah ya…..!!!” Romlah… tunggu aku. Angin terasa panas. Badriah 206


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

mencari awan-awan. “Aku mau masuk madrasah saja, Romlah. Biar aku tahu pasti Tuhan kite dimani?” Matahari? Matahari? Matahari mengapa berhenti bersinar? “Sekolah SMP lebih enak, Badriah. Nanti kupinjamkan buku-bukuku.” Tidak! Aku tak perlu buku. Aku…. “Tidak, terime kaseh. Aku cuma nak tahu Tuhan ade dimani?” Sungai kemana? Kering? Tuhan… ada dimana? Tolong… tolong aku. “Ria… Tuhan kite ade dimani-mani. Tuhan ade di ayek, di darat, juge di pucuk kepale segale urang di dunie ni…” Nyai…. Katakan pada Tuhan aku mencari-Nya. Tuhan… mana tangan-Mu??? Tuhan…ayo tolong aku… Tuhan, k emana sungaiku, tolong basahi aku. “Agek, kite beli baju seragam. Kau kumpulkelah duit dari bejualan. Kite sekolah taun depan.” Umak… di mani madrasah kite? Badriah diam. Mencoba merapikan pakaiannya dan hatinya yang tercabik. Ada sakit luar biasa di tubuhnya. Ia mencari-cari mimpinya. Tiba-tiba semua hal retak. Porak poranda di tangga tepian Sungai Ogan, Pasar Inderalaya. Menyakitkan… Ia tersedu tanpa air mata. Didayungnya perahu ke persimpangan. Dayungnya beku. Air sungai itu segar menyambut tangan dan kakinya yang dahaga. Sungai itu merangkulnya, ia merasakan kenyamanan mistik di dalamnya. Damai air sungai itu sungguh bening dan menerimanya tanpa sepatah kata. “BADRIAHHH!!!!!” teriak beberapa orang ditepian sungai yang melihat tubuh gadis itu berkecipakan di air sungai. Beberapa laki-laki langsung melompat dan menceburkan 207


Elegi Tepian Ogan

diri untuk menolongnya. Sungai itu beriak pelan. “BADRIAHHH!!!!� Suara teriakan makin ramai. Namun, Badriah tak peduli. Aku nyari Tuhan ade dimani? n

208


Repro: Christine Comyn ~ Tielt, Belgica, 1957 | OpenArt

209


Nua Ora Meringkih

ilustrasi: repro bewoner uit ende op flores staat klaar voor de jacht of de strijd tmnr60028899 | collectie tropenmuseum

g Somerpes F., peminat sastra, mahasiswa semester V PBSI UNIFLOR. 210


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Nua Ora Meringkih Somerpes FF.. ( Pos Kupang | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

L

ANGIT hitam kelabu. Mendung menyelumuti Nua Ora, sebuah kampung tua yang kental dengan tradisi adat. Seketika suasana menjadi kelam, sepih tanpa suara. Tak terdengar kiau burungdi pucuk beringin tua, atau cicauan anak ayam mengais tanah mencari cacing untuk dicotok ramai-ramai. Nua Ora sungguh kelam, sekelam peristiwa yang menyelimuti kampung hari ini. Ternyata jagad pun memahami situasi yang melanda warga sekampung. Jagad yang santun dan ramah berubah jadi kelam. Jagad pun turut bersedih menyaksikan perempuan muda diarak paksa menuju pendopo rumah Arne Mbawo kepala kampung Nua Ora. Perempuan berumur separuh baya, mengenakan dukawo’i, dambu bhala, diikat tangannya dengan sebuah tali rotan. Warga kampung berdesakan menyaksikan perempuan muda berjalan dengan langkah tenang. Seluruh tubunya belepotan darah, darah yang terus mengalir, merembes di duka wo’i, dambu bhala dan membekas di 211


Nua Ora Meringkih

sepanjang jalan yang ia lewati. Rupanya ia baru saja dirotani. “Apa yang telah dilakukannya?” terdengar teriakan warga sekampung. “Dia harus diusir. Ya! Dia harus diusir. Sekarang juga!” Mereka menghempaskan perempuan malang ke tengah ruangan hingga ia jatuh tersungkur. Dan tak ada seorang pun yang membantunya. Semua mata memandang penuh kebencian kepadanya. Terdengar lagi teriakan yang penuh amarah, datangnya dari pria-pria bercambuk. “Kami dia lekas pergi!” Kepala kampung Arne Mbawo dengan sorot mata tajam memandang perempuan muda itu kemudian berpindah ke seluruh warga. Lalu keluarlah kata-kata dari mulutnya, “Apa yang sudah ia perbuat?” Serentak semua menjawab, “Dia pelacur, kami melihat dia sedang berbuat mesum.” Spontan kepala kampung menanggapi teriakan warga lalu katanya tegas, “Sesuai adat budaya kita yang sudah berlaku turun temurun bahwa seorang pelacur harus diusir dari kampung. Seret dia! dan usirlah dia untuk tidak kembali lagi ke kampung ini!” Langit makin hitam. Suasana bertambah kelam. Hanya desauan angin bertiup perlahan terhempas pelan bersama jatuhnya gerimis. Di antara kelamnya suasana, perempuan muda, pelacur yang siap diusir dari kampung, memberanikan diri melangkah perlahan lalu bersimpuh di depan kepala kampung. Deraian ari mata, peluh yang mengalir, darah yang mengental, menggumpal dalam rasa yang menyayat. Di bawah langit hitam disaput kelamnya suasana, ia bersimpuh memohon ampun, ampun pada seluruh warga kampung, pada Arne Mbawo kepala kampung, pada para mosa laki. Ternyata, ringkihan permohonan ampun perempuan malang, berlalu begitu saja seperti sapuan angin yang pergi 212


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

dan datang tanpa jejak. Tak ada seorangpun yang menghiraukan permohonannya. Malahan ia diludahi, duumpat, dicaci maki. Arne Mbawo sang kepala kampung belum juga mau beranjak seakan-akan menunggu tindakan perempuan muda untuk segera angkat kaki dari kampung itu dan tidak boleh kembali lagi. Tetapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba dari kerumunan warga terdengar suara yang menggelegar. Seorang anak muda bertelanjang dada, mendekati perempuan malang. Matanya merah menyala dan ia berbicara penuh kemarahan kepada semua warga, “Ini budaya jahanam, budaya yang menindas kaum lemah, kaum tidak bersuara, kaum yang selalu berada pada posisi kalah, kaum yang selalu tidak mampu membela diri. Lihat sekarang, mengapa ia melacur?” Dengan suara yang sedikit meredah, ia melanjutkan, “Ia miskin dan kamu semua tidak pernah mempedulikan dia. Tak ada pilihan lain untuk dia bekerja karena semua tanah garapan peninggalan suaminya kamu ambil. Di depan pengadilan kamu menang karena kamu jago kongkalikong dengan penguasa. Sementara dia, kini dia menjadi perempuan malang, tak punya harga diri. Selain itu, dia jadi korban lelaki hidung belang.” Sejenak ia berhenti, lalu menarik napas dan terasa berat untuk menghembuskan kembali sehingga suasana terasa mencekam. Dengan sekuat tenaga ia melanjutkan amarahnya, “Mengapa kamu tidak menghukum lelaki hidung belang itu,” sambil menunjuk kepala kampung. Gemuruh amarahnya semakin menjadi, “Justru dia yang telah melanggar adat, melanggar sumpah di depan peo dan enda.” “Hukumlah dia!, hukumlah dia! teriaknya semakin keras!” 213


Nua Ora Meringkih

Sekejap, merah muka kepala kampung.Kata-kata pemuda bertelanjang dada, menusuk tembus ke telinga, hati dan seluruh dirinya. Seperti bumi runtuh, semua tak bernyawa. Hening menggugat. Suasana mencekam. Semua warga terkejut. Arne Mbawo, kepala kampung yang tadi berkobar-kobar mengusir perempuan muda itu kini menunduk. Terlintas kembali perbuatannya, kemarin ia baru saja meniduri perempuan malang itu dengan hanya membayar dua buah kelapa. Tiba-tiba, ia mengangkat muka. Sorot matanya makin tajam memandang kalap pada anak muda tadi. Amarahnya makin memuncak. Suaranya tiba-tiba menggelegar, “Kamu suko, ikat dia. Bawa dia juga ke tempat hukuman. Gantung dia dan biarkan dia mati bersama perempuan itu. Ia telah memperkosa adat budaya kita, melanggar sumpah nenek moyang bahwa kalau ada warga yang menjadi perempuan pelacur harus diusir dari kampung ini!� Para mosa laki dan para suko segera menuruti perintah kepala kampung Arne Mbawo. Pria muda yang malang karena dianggap membangkang diarak pergi bersama perempuan malang. Mereka segera di bawa ke tiang gantungan. Bunyi gong gendang memecahkan kesunyian kampung. Suasana merinding. Kematian sudah diambang penantian. Para pecambuk sudah siap dengan rotan dan cemeti. Sepuluh menit berlalu dan hukuman berakhir. Dua manusia malang telah berubah menjadi mayat, bergantung pasrah tak berdaya. Seketika hujan turun dengan derasnya mengguyur Kampung Nua Ora. Warga kampung perlahan meninggalkan tempat hukuman. Tak ada tang is dan air mata. Sepi semakin mencekam Nua Ora membisu. Nua Ora menguburkan benci, dendam, sesal, ampun di tiang gantungan. 214


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Nua Ora telah berubah menjadi hakim yang sadir dan Arne Mbawo menjadi lalim oleh tingkah perbuatannya. Nua Ora, kampung tua menyimpan luka dan duka. Sepi menyayat. Dan kini hanya tangisan jagad meraung gelisah melengking ringkih di atap-atap rumah perkampungan Nua Ora. n

Keterangan: * Dukawo’i, Dambu Bhala: baju adat Maunori (Kiagekeo) * Peo: monumen adat * Enda: rumah adat * Suko: panggilan untuk anak muda (laki-laki)

215


Lelaki dan Dongeng Pembunuh

ilustrasi: repro punhalada nas costas | erpostes.r7.com

g YOGI S. MEMETH, nama pena Muh. Yudi Sofyan, S.Pd. Lahir 1981 di Pancor Lombok Timur. Tulisannya dimuat diberbagai media cetak dan online. Penulis aktif dan Pimpinan Redaksi Majalah Sastra Kapass, membangun halte sastra (taman baca), Pendiri Komunitas Rabu Langit Lombok Timur, pendiri Komunitas Teater Pelajar Lombok Timur. 216


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Lelaki dan Dongeng Pembunuh Yog ogii S. Memeth ( Koran Cyber.com | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

D

INGIN malam itu tidak juga menghentikan mulut lelaki bermata sayu menghabiskan tawa di tepi jalan sebuah taman kota. Bulan sabit yang memancar setengahnya tenggelam di dalam kabut hitam menjadikan bias cahaya berkilau seperti tembaga. Semakin indah malam itu untuk mengulang kisah-kisah lama yang masih hangat di benaknya. Ia baru saja selesai menelponku selepas seorang lelaki datang ke rumahnya sembari membawa kamera kesayangannya. “Tunggu aku, sebentar lagi kita akan segera ke sana. Kemudian kita akan membelah malam dengan seikat puisi, di sini ada seorang berilmu sakti,� ucapnya dari balik gagang telepon miliknya. Demikianlah kabar yang aku dengar malam itu, segala peristiwa terkunci dan berkumpul dalam dada kembali bersemi ingin meledakkan putik-putik yang terlalu lama mengatup dalam sebuah kuncup. Dua puluh menit sudah, setelah telepon terputus. Suara 217


Lelaki dan Dongeng Pembunuh

deru sepeda motor terdengar dari depan rumah, tidak kuhiraukan suara itu. Sampai tepat berhenti di sampingku, “Ayo Bung, kita pergi,” ucap seorang lelaki selepas mematikan mesin. Aku menoleh. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan senyum yang belum aku mengerti, menegurku. “Bagaimana kabarmu Bung? Apa kau sehat saja?” tanyanya sambil menyodorkan tangan kanan untuk memberikan salam. Malam yang sungguh tak pernah aku duga, seorang lelaki kelas elit datang mengunjungi rumah sederhanaku yang penuh dengan bising kenyataan. Di mana aku menikmatinya sebagai sebuah kesunyian. Aku diam malam itu, nikmat dingin dalam perjalanan yang menusuk tulang tubuh kurusku tanpa baju penghangat tak menghentikan rasa dahaga untuk bertemu dengan lelaki itu. Sungguh sebuah rasa seperti kemarau yang tiba-tiba hujan tak terduga datang. *** INI adalah kali keduanya kami bertemu setelah beberapa bulan terlewat selepas acara sebuah lomba di kampus. Tak banyak hal yang bisa kami bicarakan, mungkin baginya aku adalah makhluk aneh yang belum bernama. Setelah beberapa waktu, pada akun yang kubuka waktu itu. Seorang teman memberikan saran kepadaku untuk menulis sebuah nama. Nama yang kemudian akan mengantarkanku pada sebuah pertemuan rutin dengan lelaki itu, lelaki yang sempat kukenal waktu itu. “Hei, apa kabarmu, kau masih mengingatku? Kita sempat bertemu. Dulu, waktu acara festival itu. Kau ingat?” ucapku meyakinkan. “Ooh, iya… bagaimana kabarmu?” jawabnya entah 218


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

bingung, atau pura-pura mengingat untuk memberi sedikit ruang bagi perbincanganku. “Aku teman si Febrian.” “Astaga… bagaimana, bagaimana…” kali ini jawabnya sangat tegas, seolah nama Febrian bag inya adalah sebuah nama yang mengingatkannya pada sebuah kenangan. Entah kenangan apa itu. Jelas, nama Febrian menjadi sebuah tiket untuk perkenalan dengan lelaki itu. Setelah waktu itu, pertemuan pun menjadi sering terjadi. Walaupun kami jarang melakukan pembicaraan yang panjang, karena bagiku, tak ada satu kata pun bisa terucap untuk seorang lelaki yang memiliki kelas jauh lebih tinggi, lelaki terkenal dengan nama mentereng. Sebuah nama pembawa kenangan. Keadaan itu tentu sangat mengganggu, aku sangat ingin ketika orang lain menyebut namaku. Mereka akan teringat satu hal, tentang seorang lelaki yang berdiri di atas langit dengan segala bintang-bintang, air dan ikan-ikan itu sangat ribut menyebut sebuah nama. Adalah aku. *** FEBRIAN lelaki yang sangat suka menulis segala peristiwa, orang lebih mengenalnya sebagai seniman. Seorang berwajah mulus dan tampan, menjadi idaman perempuan. Hari itu adalah sabtu, pertemuan pertama setelah beberapa tahun tidak bertemu dengan seorang bernama Randu. Ia pun kemudian mengajakku pergi ke taman kota Selong untuk mengikuti sebuah acara, pertemuan para seniman muda Lombok Timur. Sungguh peristiwa yang sangat luar biasa bagiku, setelah beberapa lama aku tidak pernah bertemu dengan tokoh seniman. Hari itu, menjadi sangat istimewa. Hari yang telah lama aku nanti-nantikan. 219


Lelaki dan Dongeng Pembunuh

Selepas turun dari kendaraan, aku menuju lingkaran paling tengah taman itu, wajah-wajah menatapku. Ada yang penuh tanya, ada pula yang biasa saja. “Selamat sore Bung, apa kabarmu hari ini? Silakan duduk,� ucap lelaki bernama Paranggi. Wajah-wajah penuh tanya itu pun berubah menjadi senyum. Sebab, tentu siapa saja yang disebut oleh si Paranggi adalah seniman juga. Yah, begitulah anggapan mereka. Aku pun diperkenalkan kemudian kepada orang-orang yang hadir hari itu dan dipersilakan untuk menyebutkan identitas secara pribadi. Tanpa mengulur waktu, akupun mulai perkenalan itu. Dan setelah itu, pertemuan kami pun menjadi rutin satukali seminggu. Satu bulan sudah setelah pertemuanku, banyak peristiwa yang telah terjadi setelahnya. Dari peristiwa latihan biasa, workshop sampai dengan pertemuan hatiku bersama seorang perempuan yang berhasil membuat jantungku berdegub kencang. *** AKU merasa sangat sakit hati, setiap ingin berkenalan dengan seseorang. Mereka selalu menyebut nama Febrian atau Randu, seolah mereka adalah dewa penguasa. Di taman kota itulah, aku berencana membuktikan kepada semua yang hadir bahwa aku juga memiliki kemampuan yang sama dengan Febrian dan Randu, bahkan untuk si Randu, dia adalah muridku sedangkan si Febrian, jelas, aku lebih dahulu suka menulis. Hari itu adalah sabtu, pertemuan ke lima kami di taman kota. Febrian dan Randu mempersilakan aku untuk membaca hasil karyaku. Tanpa menunda aku pun mengeluarkan buku kumpulan karyaku kemudian aku baca.


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Febrian tidak puas dengan itu, ia meminta padaku untuk membaca sebuah tulisan yang telah membuat banyak orang menangis karena larut dalam emosi. Setelah selesai memenuhi permintan Febrian, Randu kemudian membagikan selembar kertas putih bergulung. Aku belum tahu apa isinya, sampai Randu meminta untuk membuka gulungan tersebut. Setelah membuka, aku membaca lembaran itu dengan teliti. Lembaran yang ternyata berisi sebuah puisi, lengkap dengan biodata penulis. Sangat jelas terbaca olehku, jika Randu adalah seorang penulis yang mempunyai tulisan telah terbit di berbagai macam media, bahkan. Dia bersama Febrian dan Sanggita pernah mengikuti sebuah pertemuan yang membuat nama mereka sangat mahal, hampir mengalahkan nama dewa. “Hmm, mungkin karena ini yang menyebabkan mereka disebut-sebut,� gumamku dalam hati. Sejak saat itu, aku pun diam-diam berencana untuk membuktikan kepada mereka bahwa aku juga bisa lebih. Sejak saat itu, aku jadi tergila-gila dengan membaca dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengalaman menulis dengan memendam hasrat untuk membunuh mereka dengan dongeng yang aku buat suatu hari di media. n


Kecewa

ilustrasi: repro titouan lamazou

g Sherly Adra Pratiwi, lahir di Solok 18 September 1990. Berdomisili di Jalan Telaga Biruhun 3, Simpang Rumbio, Solok, Sumatera Barat. Saat ini mahasiswi Universitas Negeri Padang-Universiti Utara Malaysia. Hobi menulis dan fotografi. 222


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Kecewa Sherly Adra Pratiwi ( Koran Cyber.com | Rabu, 25 Juli 2012 )

o

D

ISAAT hubungan kita retak, dia datang mengisi hidupmu. Disaat timbul kejenuhan di antara kita, dia coba menyemangatimu. Disaat aku masih mencintaimu dengan teramat sangat, kau pun perlahan belajar untuk mencintainya dan mencoba melupakanku. Kau tahu betapa sakitnya aku saat kusadari ternyata kau mulai bimbang memilih antara aku atau dia. Dan apakah kau pernah memikirkan bagaimana tertekannya aku saat menunggu panggilan teleponku bisa tersambung ketika kau tengah asyik berkomunikasi dengannya? Sakit yang teramat sakit. Seandainya kau tahu bagaimana besarnya rasa cintaku padamu, mungkin kau tak akan pernah berpaling dan membuka hati untuk cinta yang lain. Rasa cinta yang tak pernah berkurang sedikitpun. Tak pernah pudar ataupun luntur barang sekecil apapun. Aku masih mencintaimu seperti dulu, seperti awal jumpa kita saat pandangan pertama. 223


Kecewa

Hanya jarak yang memisahkan kita, bukan rasa benci ataupun karena kehilangan rasa untuk saling mencintai dan menyayangi yang membuat semua ini berakhir. Kalaupun kita berjauhan, aku tetap selalu menyimpan semua hal tentang dirimu dalam hati dan pikiranku. Tak akan berpaling dan tak akan ada yang bisa menggantikannya. Aku mencoba untuk selalu bertahan dengan kondisi seperti ini sampai nanti kau pulang dan kita akan bertemu lagi. Lama aku menantikan saat-saat indah itu. Saat di mana aku dapati kau berada di depan mataku dan kita saling bertatapan lama. Aku ingin sekali memelukmu, mengecup keningmu dan memegang erat tanganmu agar tak ada lagi yang bisa memisahkan kita walau waktu berjalan terus. Aku berusaha melewati hari-hari yang berat ini tanpa keberadaanmu di sisiku. Di saat detik-detik kepulanganmu dari tanah rantau tempat kau menuntut ilmu, aku telah bersiap-siap untuk menjadikan hari itu sebagai hari terindah dan paling spesial dalam hidupku. Karena memang rasa rinduku padamu sudah lebih dari segala-galanya. Aku benar-benar sangat merindukanmu. Aku sudah mempersiapkan sebentuk hati dan cinta untukmu dan sebuah momen pertemuan yang akan membuatmu merasa istimewa. Ku dapati kabar lewat pesan singkat yang kau kirimkan kepadaku saat waktu mengantarkanmu untuk semakin dekat tiba di kampung halaman. Pesan singkatmu itu telah lama aku nantikan dan aku inginkan. Pesanmu itu juga selayaknya hembusan angin sejuk yang menyegarkan separuh jiwaku. Betapa senang dan bahagianya aku saat membacanya dan mendapati kabar bahwa kau tengah ‘on the way’ menuju tempat di mana aku sedang sibuk menunggumu. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Tak 224


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

mampu kutahan hasrat untuk secepatnya bertemu denganmu dan berada dalam hangatnya pelukanmu. Oh Tuhan, aku seperti orang yang baru merasakan apa itu cinta dan merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ada rasa grogi dan harap-harap cemas yang mengguncang seluruh ragaku. Tak tertahankan lagi. Rinduku sudah melampaui batas. Dua puluh menit lagi kau akan mendarat di sebuah bandara yang dahulu pernah menampung air matamu dan air mataku saat perpisahan menjelma dalam hangatnya kebersamaan kita. Tapi hari ini aku akan membayar semua air mata itu dengan tawa dan kebahagiaan untuk merajut kembali hangatnya sebuah pertemuan. Kau akan kusambut dengan tawaku yang begitu lepas dan aku juga akan siap melihatmu berjalan ke arahku dengan senyuman yang beg itu manis. Oh Tuhan, tak ada yang mampu menghentikan debar jantungku ini kalau bukan Kau yang menghendakinya. Pengumuman pendaratan pesawat yang kau tumpangi telah berkali-kali keluar dari corong pengeras suara bandara ini. Pesawatmu tengah landing dan derak roda yang menghempas bumi terasa bergetar sampai kesekujur tubuhku. Oh My God, kekasih hatiku akan datang dan akan kupandangi langsung dengan mata kepalaku sendiri. Terima kasih Tuhan, momen yang telah lama aku nantikan ini akhirnya datang juga. Sambil menyembunyikan setangkai bunga mawar putih dan sekaleng permen mint favoritmu, aku pun siap menyambutmu di depan pintu kedatangan antar bangsa. Aku sengaja berdiri agak jauh dari gerombolan orang-orang yang juga tengah menantikan penumpang lainnya agar kau tak terlalu mendengar betapa kerasnya degup jantungku. Satu persatu kulihat penumpang lainnya keluar 225


Kecewa

sambil menyeret dan menentang barang bawaannya. Tapi dirimu? Hm, mungkin kau juga sengaja mengulur-ngulur waktu agar kau bisa menenangkan diri dan menyembunyikan sedikit rasa grogimu. Sepertinya kita sama-sama saling malu dan segan. Seperti sepasang kekasih yang baru saja merajut cinta. Kau keluar dengan senyuman yang begitu mengembang dan sangat indah. Kau makin cantik dan menawan. Membuatku benar-benar tak bisa menembunyikan semua rasa yang tengah bergelut dalam hati dan pikiranku. Aku sungguh terpesona saat mendapatimu melangkah begitu tergesa-gesa menuju arah pintu keluar bandara. Ing in rasanya aku berlari dan menerobos tiap tubuh orang yang tanpa sengaja menutupimu dari pandangan mataku, tapi semua tak akan kulakukan, karena memang aku juga sedang berusaha menata hati yang semakin bergejolak hebat. Kukeluarkan setangkai mawar putih dan sekaleng permen mint rasa cokelat dari balik jaket kulit yang tengah kukenakan. Namun tiba-tiba aku tersentak kaget dan seketika itu juga benda-benda tersebut berjatuhan dari genggaman tanganku. Bunyi kaleng permen yang sangat bising itu terasa seper ti gemuruh yang tiba-tiba saja membahana di langit cerah siang ini. Kau datang bukan untukku, tapi untuk laki-laki lain yang ternyata telah berdiri di depanku beberapa meter dengan setangkai mawar putih dan sekaleng permen mint yang sama dengan yang aku punya. Oh Tuhan, siapa laki-laki itu? Diakah yang selama ini tengah mengisi hati kekasihku karena rentangan jarak dan waktu yang tercipta di antara kami? Shok, kaget, kecewa dan sakit. Kau memeluk laki-laki itu di depan mataku tanpa kau sadari aku tengah memerhatikan kalian berdua. Dia mengecup keningmu dan kalian pun saling berpegangan tangan meninggalkan aku 226


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

yang terhanyut dalam pusaran kekecewaan dan disudutkan oleh rasa sakit. Begitu kejam caramu memutuskan hubungan ini sayang. Kau bilang hubungan jarak jauh membuatmu tersiksa karena rindu, tapi ternyata kau merajut hubungan jarak jauh lainnya bersama laki-laki itu. n

227


Kau Berkata Tentang Senja

ilustrasi: repro rain | kumpulanfiksi

g Muhammad Subhan, jurnalis dan penulis. Sedang mengembangkan wadah kepenulisan nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur, bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Aktivitas FAM Indonesia dapat dilihat di www.famindonesia.blogspot.com. Saat ini berdomisili di Padangpanjang, Sumatera Barat. 228


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Kau Berkata Tentang Senja Muhammad Subhan ( Koran Cyber.com | Rabu, 25 Juli 2012 )

o

M

ENGAPA senja yang selalu kau tuliskan dalam cerpen-cerpenmu, Rey. Seolah ada memori yang kau sembunyikan tentang sepotong senja dan tak pernah mau kau ungkapkan padaku. Begitu berartikah senja bagimu? Sehingga hampir setiap sore kutemui kau berdiri di tepi pantai ini sekedar menunggu kedatangan senja. Walau kutahu, kadangkala kau harus kecewa karena senja yang kau rindukan tak menampakkan rupa. Sebab, bukankah beberapa hari ini hujan dan mendung menutupi kedatangan senja? Kau selalu diam ketika kutanya semua alasan itu. Kau tak pernah mau bicara jika topik yang kuutarakan adalah tentang senja. Kau diam membisu dan selalu mengalihkan pembicaraan, asalkan aku tak membicarakan senja. Dan ada-ada saja yang kau katakan jika aku telah berada bersamamu di pantai ini. Tentang sekolahku, tentang ibu, dan tentang pacarku. Padahal aku tak pernah suka dengan semua perkataanmu itu. Karena yang kuharap kau mau 229


Kau Berkata Tentang Senja

bercerita tentang senja. Ya, senja yang selalu membuat aku penasaran. Sehingga aku mau menunggu dan berdiri di sisimu di pantai ini. Berjam-jam lamanya, sembari menanti senyum yang terukir indah di bibirmu, ketika senja datang perlahan membawa kabar yang entah apa isinya. Rey. Tahukah kau kalau aku menyukai senyumanmu itu? Seperti aku menyukai sikapmu yang lembut dan penyabar. Tapi sayang, kau terlalu dingin buatku. Sedingin es di puncak Himalaya yang enggan mencair walau panas menerpanya. Sehingga kadang aku merasa risih berada di sisimu ketika sikapmu itu mulai kau tampakkan. Ingin aku menangis dan menumpahkan semua kekesalanku padamu ketika kau mulai egois. Ya, kau egois ketika bersikap dingin, Rey. Aku benci padamu. Walau benci itu tak mampu kuungkapkan, sebab aku‌ Ah, haruskah ku berterus terang kalau aku mulai mencintaimu, Rey. Dan, seperti minggu-minggu kemarin, kutemui lagi senja dalam cerpenmu yang dimuat koran pagi ini. Kau menulis: Senja melukai batinku untuk kesekian kali. Luka yang teramat dalam, sementara luka-luka kemarin yang ia torehkan belum mengering. Ada pilu, nyeri, juga sakit yang tak ter tahankan. Sementara senja selalu tersenyum menatap semuanya. Tanpa berdosa‌ Ah, Rey. Apa maksud kau menuliskan kata-kata itu? Apakah kau selalu bermain dengan majas dan kias pada setiap kata dalam cerpen yang kau tuliskan? Kata yang membuatku semakin penasaran. Karena senja yang kau ciptakan adalah senja yang berjiwa. Hidup dan bercerita. Hingga jujur kukatakan kalau aku cemburu pada senja yang kau tulis itu. Cemburu yang melebihi cemburuku ketika adik-adik kelas perempuan di kampus menggodamu. Rey. Tak adakah topik yang lebih indah dari sepotong senja dalam cerpenmu itu? 230


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Di kalimat lain kau menulis: Maafkan aku. Kusadari, semua kulakukan semata untuk membahagiakanmu, senja. Aku selalu merasa bersalah jika melihat rupamu tak lagi bersinar seperti dulu. Aku rindu senyummu, aku rindu canda dan tawamu. Bukankah sudah kukatakan, aku tak sekedar ingin menjadi sahabat yang mau kau ajak tertawa. Tapi aku juga ingin menjadi sahabat yang mau menangis ketika kau dirundung duka. Bahagiamu adalah bahagiaku, senja. Deritamu deritaku juga… Semakin yakinlah aku, bahwa senja yang kau maksudkan bukan sekedar senja, Rey. Kau telah mendustai aku. Kau pernah berkata bahwa kau tidak punya wanita yang dekat di hatimu selain aku. Buktinya, semua tulisanmu melukiskan kerinduan seorang lelaki pada kekasih yang dicintainya. Dan aku yakin, lelaki itu adalah dirimu. “Aku menyayangimu, Dee. Seperti aku menyayangi adikadikku sendiri.” Katamu suatu hari di pantai ini. “Sekedar itukah?” tanyaku karena kau menganggapku tak lebih dari seorang adik. “Ya.” Aku kecewa dengan kata-katamu ketika itu, Rey. Kau selalu menganggapku sebagai seorang adik. Tak lebih. Padahal kau tahu aku telah dewasa. Sama sepertimu, walau kau dua tahun lebih tua dariku. Dan, telah lama aku memendam perasaan kepadamu, Rey. Cinta. Ya, aku mulai mencintaimu ketika kau tak merasakan apa-apa terhadapku. Kau kejam, Rey. Kau jahat! Satu kelemahanku, Rey. Aku tak pernah mampu menumpahkan semua amarah dan kecewaku di hadapanmu. Semuanya aku pendam. Sebab aku takut kau akan membenciku jika aku melukai perasaanmu. Aku takut kehilanganmu, Rey. Takut sekali. Aku tak ingin berpisah darimu, walau kau selalu membuatku cemburu. Cemburu 231


Kau Berkata Tentang Senja

dengan senja yang selalu kau puja. Dalam cerpen-cerpenmu yang hampir tiap minggu kubaca. *** MINGGU kedua setelah hujan berhenti. Rey, aku pulang. Mungkin untuk beberapa waktu aku tak berada di sisimu di tepi pantai, tempat biasa kau menanti senja. Ibu sakit. Tapi aku tak ingin lama tinggal di kampung. Aku akan segera kembali bersamamu. Doakan semoga ibu cepat sembuh. Dari Dee. Surat pertama kukirimkan untukmu, Rey. Surat biasa, dan bukan surat cinta. Aku hanya hendak mengabarkan padamu bahwa ibu sakit. Dan aku harus segera pulang. Walau berat berpisah darimu, tapi aku yakin kau tak merasa kehilanganku. Bukankah beg itu, Rey. Ya. Sebab kau menganggapku tak lebih dari seorang adik. Adik yang manja, ingin selalu diperhatikan olehmu. Semanja kedua adikmu yang masih kecil di rumah. Tapi, dua hari setelah surat itu kukirim padamu, kau malah meng irim balasannya ke kampung. Aku tak menyangka kalau suratku itu kau balas. Kau menulis: Kesunyian semakin menerpaku ketika senja tak datang menemani hari-hariku. Senja pergi. Pergi begitu saja tanpa secarik pesan yang biasa ia kabarkan lewat angin. Aku merindukannya. Dan kuharap ia segera kembali kepadaku‌. Rey, aku tersenyum membaca surat ringkasmu itu. Ternyata, tak hanya dalam cerpen kau menuliskan katakata puitis tentang senja. Tapi, dalam surat buatku pun kau menuliskannya. Aku semakin bingung dan penasaran, Rey. Kau selalu misterius buatku. 232


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Surat itu tak kubalas, karena kuyakin kau tak mengharap balasannya. Karena suratmu tak sedikit pun menyinggung tentang diriku, atau tentang ibu yang sedang terbaring sakit. Kau hanya menulis tentang senja. Ya, senja yang tak pernah kumengerti tabir apa dibaliknya. Sehari, dua hari berlalu. Surat ringkasmu itu masih tergeletak di atas lemari kain ibu. Entah mengapa, tak sedikit pun tergerak di hatiku untuk membalasnya. Namun begitu, ada kekuatan gaib yang mendorongku untuk mengambilnya, kemudian membacanya kembali. Berkalikali. Dan aku selalu tersenyum sendiri. Esoknya. Lagi, setelah hujan berhenti. Aku menerima suratmu untuk kedua kali. Di kampung ini. Ketika ibu belum juga sembuh dari sakitnya. Dalam surat kedua itu kau menulis: Haruskah aku menunggu berabad-abad lamanya hanya untuk menanti kedatanganmu, senja? Tiadakah kau berperasaan sehingga tega meninggalkan aku sendirian di sini, di kota sepi ini?. Kembalilah senja. Aku rindu menatap bening matamu. Canda dan gelak tawamu. Di pantai ini. Seperti hari-hari kemarin yang pernah kita jalani. Bersama‌. Lama aku termenung setelah membaca suratmu, Rey. Berulang kali aku mencoba memahami makna kata demi kata yang tersirat dibaliknya. Kau menyebutku senja. Senja yang selalu kau tulis dalam cerpen-cerpenmu yang dimuat koran hampir setiap minggu. Benarkah kerinduan itu kau tujukan kepadaku, Rey? Kau rindu padaku karena aku tak ada di sisimu? Aku semakin bingung. Malamnya aku tak bisa tidur hanya memikirkan kata-kata yang kau tulis dalam suratmu itu. Kau memang misterius, Rey. Aku tak pernah mampu memahami sikap dan hatimu kepadaku.

233


Kau Berkata Tentang Senja

*** SAKIT ibu telah sembuh. Ibu sudah dapat melakukan aktivitasnya kembali di rumah. Dan aku akan kembali ke kota. Menemuimu, Rey. Menanyakan tentang maksud suratsurat yang kau kirimkan buatku. Dan aku harus menemukan jawabannya darimu. Tapi, di sore ini, ketika aku mencari-cari sosokmu di pantai ini. Tempat biasa kau berdiri bermenung menanti kedatangan senja. Aku tak menemui tubuhmu di sana. Kemanakah engkau pergi, Rey? Padahal hujan tak turun sore ini. Dan, sebentar lagi, senja yang kau rindukan akan segera hadir bersama ronanya yang indah. Hampir seharian aku mencarimu di pantai ini. Tapi kau tak juga menampakkan rupa. Senja pun telah kembali ke peraduannya. Seiring malam yang datang bersama angin dingin yang menusuk tulang. Purnama juga tak tahu di mana kini kau berada, Rey. Malam itu, untuk pertama kali aku berkunjung ke bilik kostmu, Rey. Mencari tahu, apakah kau sakit sehingga tidak bisa keluar sore tadi menunggu kedatangan senja. Atau kau sedang ada tugas kuliah yang menumpuk hingga tak menyempatkan dirimu keluar rumah. Semuanya ing in kutahu, Rey. Karena aku rindu padamu. Tapi, di tempat kostmu itu, aku hanya mendapatkan sepucuk surat yang kau titipkan pada seorang kawanmu. Dalam surat itu kau menulis: Dee‌ Kini giliranku pulang kampung. Sebab, ibuku juga sakit. Aku juga tak ingin berlama-lama di kampung. Aku segera kembali ke kota. Menemuimu. Menikmati hari-hari yang pernah kita jalani. Di tepi pantai, ketika senja hadir bersama rindu dan cinta yang dibawanya. 234


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Dee‌ Kau bertanya tentang senja? Kurasa kau telah cukup dewasa untuk memahami kata-kata yang kutulis dalam cerpen-cerpenku. Senja tak lain adalah dirimu, Dee. Senja yang kucintai. Karena kaulah yang selalu menemani harihariku. Dee, maafkan aku. Rey. Ah, Rey. Hampir tak percaya aku membaca suratmu itu. Tanganku gemetar dan dadaku bergemuruh ketika kata demi kata dalam suratmu kuresapi satu persatu. Kau berkata bahwa senja yang kau tulis dalam cerpen-cerpenmu adalah aku. Sungguhkah, Rey? Bersungguh-sungguhkah kau mencintai aku? Rey. Aku tak ingin misteri yang kau suguhkan selalu menjadi tanda tanya buatku. Lekaskah kembali. Aku ingin kau berkata jujur. Aku ingin kata-kata itu keluar dari mulutmu. Ya, sejujur hatiku kalau aku mencintaimu. Ah, Rey. Lihatlah, pipiku basah oleh air mata bahagia. n

Redaksi Koran-Cyber.com menerima sumbangan tulisan dari citizen reporter (pewarta warga) baik berupa hasil reportase, foto, artikel, cerpen, dan puisi. Panjang tulisan maksimal 2 halaman, dan diser tai identitas diri. Email redaksi: koran_cyber@yahoo.com. 235


Gulistan

ilustrasi: repro gulistan | budiono

g Benny Arnas, lebih banyak mengarang cerpen. Mengelola BENNY ISTITUTE, lembaga sosial-kebudayaan di Lubuklinggau. Email: benny.arnas@gmail.com 236


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Gulistan Benny Arnas ( Jawa Pos | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

K

ALIAN masih ingat, ingat sekali, kalau kalian bepergian ke kampung tetangga di pengujung Syakban. Bakda zuhur, kalian menumpang sebuah bus yang semua bangkunya sudah terisi. Kalian berdiri dengan sebelah tangan berpegangan pada besi terentang di atas lorong yang membagi barisan tempat duduk. Kalian harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Di sekitar kalian; sepasang muda-mudi duduk berdempetan, mulut empat lelaki pecandu kretek yang menjelma pabrik asap, beberapa lelaki tua mengutuk pemerintah yang batal menaikkan harga BBM padahal sudah berderum-derum bensin ditumpuk di halaman belakang rumah, tiga pemuda sibuk memamerkan kelebihan fisik pacar masing-masing, ibu-ibu muda asyik dengan gadget (sesekali mereka merutuki Innova pribadi yang mogok—sepertinya mereka adalah anggota DPRD yang baru saja mengunjungi daerah pemilihan yang terpencil)‌. Dan kalian berdua hanya 237


Gulistan

bersipandang, sesekali memejamkan mata demi mencegah diri dari mengumpat dan membicarakan dosa-dosa orang lain. Ah, kalian juga masih ingat. Baru setengah perjalanan, bus tiba-tiba berguncang, lalu berguling menurun, seperti tersungkur ke lembah yang sesak oleh pohon-pohon besar, semak-semak berduri, dan rumput-rumput tinggi tak bernama. Kalian tak menyangka, di balik belantara, ada sebuah taman yang indah. Bagaimana kami dapat terdampar atau terlempar atau tersuruk di tempat ini, bisik hati kalian masing-masing. Lalu, lalu kalian seolah terpisah, dan masing-masing berjumpa dengan seseorang yang berasal dari seberkas cahaya. *** KAU melihat lesatan cahaya putih kemerah-merahan. Lalu cahaya itu meliuk, sebelum menjelma seorang gadis. Sebelum terpikat pada kecantikannya, kau sudah takjub pada apa-apa yang kautemui di taman. Mana langit mana laut. Begitu kebingunganmu bermula. Ya, sama-sama biru bentangan alam itu. Selendang samudera yang beriak menjadi tudung nan indah, dan kibaran horison menjelma ambal bagi daratan yang penuh lekuk dan celah. Kau memandang riakan lang it dan ketenangan samudera dengan degup jantung yang melampaui kecepatan kayuh kaki kuda kala berlari. Berulang kali kaukucek mata demi memastikan apa yang kaupijak dan apa yang memayungimu bukan sekadar ketakwajaran yang mengundang decakan ganjil, bukan pula ilusi yang iseng menyambangi. Mana puisi mana sabda, telingamu pun kehilangan kepekaan. O, tidak! Mungkin tidak begitu tepatnya, tapi 238


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

pendengaranmu tiba-tiba kehilangan gendang yang tabuhannya selalu memberitahu nama setiap suara dan perbincangan. Pandanganmu menyapu sekeliling, bagai meminta penjelasan perihal telinga yang bantut bekerja. Tapi, untuk apa risau dengan karunia bila pikiran pun kehilangan pelabuhan untuk menambatkan nalar dan logika. Maka, gemiricik aliran sungai yang menabrak bebatuan pun tak ubahnya tetesan air gua yang tak ingin menjadi stalagtit-stalagmit. Maka, cericit beburung adalah denting musik paling merdu yang pernah menggema di mayapada. Mana angin mana udara, kau juga hampir tak memikirkan. Selayang pandang, dua zat itu tak ada bedanya. Ya, angin mungkin lahir dari rahim udara, anak yang ketika remaja dibiarkan berkeliaran; kadang membuat sesiapa terlelap karena kesiurnya, kadang membuat rumah-rumah poranda karena kumparannya, kadang membekukan aliran darah sebab kedatangannya yang tiba-tiba. Namun ternyata angin ini tidak seperti itu. Ia adalah udara bersih nan jernih, yang lesap ke dalam tubuh hingga darahmu suci dengan merahnya, hingga air matamu manis dengan beningnya. Lalu, mana rindu, mana tak tahu? Ya, kau seolah mengenal gadis itu. Di salah satu sudut taman yang penuh dengan bunga tanpa ranting itu, hanya ada kau dan dia. Sungguh, kau tak kuasa menamakan perasaan yang tengah menguncup. Kau memandang gadis itu dengan saksama. Dari kepala hingga ujung jari. Kau seolah mengenal dia dengan baik. Bahkan kau bisa bayangkan apa-apa yang ada dalam hatinya (entah bagaimana, kau bagai lupa ajaran agama; kau merasa tak perlu beristighfar sebab memikirkan sesuatu yang—mungkin seharusnya—haram bagimu). Wajah gadis itu bening. Bening sekali. Matanya berbinar— 239


Gulistan

titik hitam di dalamnya seperti pusaran yang menyimpan godaan tak tetanggungkan. Namun begitu, sedikit pun kau tak khawatir. Kau merasa nyaman sekali, padahal kau sangat yakin kalau gadis itu bukan muhrimmu. Kalian bahkan terlibat pembicaraan basa-basi berkepanjangan. Kalian saling menanyakan kabar, alamat rumah, hal-hal yang gemar dilakukan, warna kesukaan, dan tentu saja nama masing-masing. Kau melakukan semuanya tanpa merasa risih, tanpa merasa canggung, apalagi malu dengan kesalehan yang kaupelihara selama ini. Ah, bagaimana kalau banyak orang yang melihat kami berdua, pikirmu sedikit cemas. Tapi setelah memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa, perasaanmu pun sedikit lega. Kau sesungguhnya tahu kalau Tuhan maha melihat. Bahkan hati kecilmu sempat nyeletuk; apakah Dia juga ada di taman yang menakjubkan ini? O tidak, gumammu seolah sadar dari kekurang-ajaran dugaanmu. Tuhan pasti ada. Di mana-mana. Tapi entah aku yang salah karena kalap dengan gadis yang menjelma bidadari atau apa, aku merasa Tuhan meridhoi apa yang kulakukan ini. Ah, jangan-jangan gadis ini adalah jodoh sejatiku. “Lalu, lalu, bagaimana dengan perempuan yang kaupinang sepuluh tahun lalu?” tanya gadis itu, seolah menangkap kegelisahanmu. “Apakah kau tidak bahagia dengannya? Apa yang kurang darinya?” Kau terdiam. Menekuk dagu. Bukan, bukan karena takut pada pandangannya, tapi bingung bagaimana dapat kauingkari pertautanmu dengan istri selama ini. “Maksudku begini….” Nada suaramu ragu-ragu. “Hmm,” kau masih ragu-ragu seper ti hendak menceritakan kekurangan. “Istriku,” lanjutmu tertahan. “Istriku tidak dapat memberikan keturunan, bahkan di usia pernikahan yang 240


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

mendaki tahun kesepuluh.” Gadis itu senyam-senyum. “Mengapa kau tersenyum begitu? Apa ada yang aneh dengan kata-kataku?” tanyamu penasaran. “Tidak,” jawabnya. “Aku hanya ingin tahu. Apakah kaupikir istrimu mandul, atau jangan-jangan….” Belum selesai kalimat gadis itu, kau menyela, “Ya, aku tahu maksudmu. Kau memang benar. Bisa saja aku yang mandul. Bisa saja aku yang salah. Tapi, tapi, tapi, kami sudah sama-sama memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya sungguh melegakan. Kami berdua tidak memiliki kekurangan untuk berketurunan. Tapi, ya, kenyataannya begini. Entah dokter itu yang salah, kami yang salah, atau Tuhan menganggap kami belum cukup amanah.” Gadis itu tersenyum lagi. “Aku bahagia sekaligus bangga dapat mengenal laki-laki sepertimu.” Wajahmu merah kembang sepatu. “Kau tidak egois. Aku yakin istrimu adalah wanita yang beruntung. Kau jangan terpedaya oleh penampilanku. Pasti kau mengira aku berusia tujuh belas tahun, ‘kan?” Warna kembang sepatu di wajah laki-laki itu berubah menjadi ungu. “Tak usah malu.” Wajah gadis itu semringah. “Aku tahu semua tentangmu. Tentang anak-anak asuhmu. Tentang hasil ladang yang kalian sumbangkan untuk masjid dan para manula yang kehilangan daya untuk bekerja. Termasuk hal-hal yang kaulakukan saban Ramadhan.” Kau mengernyitkan dahi. “Setiap Ramdahan, kau dan istrimu beribadah sebulan penuh, bukan? Bahkan kalian sengaja ke ladang setengah hari karena tak ingin waktu shalat sunnah, membaca Quran, dan menghadiri majelis hikmah, banyak tersita.” Kau takjub, benar-benar takjub; bagaimana ia 241


Gulistan

mengetahui semuanya. “Lalu, sebenarnya siapa kau, wahai Gadis yang Mengetahui Segalanya?� Gadis itu mendekatimu. Kau mematung, seakan-akan aliran darahmu ditotok serta-merta. Ia membisikkan sesuatu di telingamu, sesuatu yang lembut, yang bertiup, berselancar di sepanjang nadi, dan menancap di katup jantungmu. Sungguh, seper tinya kau mengakrabi suaranya. Kau tersenyum, tersenyum malu, ketika mengetahui sekaligus menyadari: gadis itu mengetahui kepura-puraanmu, kepurapuraan kalian. Ah, memang drama yang indah, batinmu gembira. *** TAK kalah dengan suamimu, kau juga takjub tak kepalang. Kau berjumpa dengan seorang pemuda yang tampan perkasa. Seperti inikah Nabi Yusuf, dugamu tak percaya. Namun cepat-cepat kau beristighfar ketika ingat suamimu. Tapi di mana imammu itu, kau pun tak tahu. Kepalamu sudah cukup bergasing dengan apa-apa yang ada di hadapanmu. Kau tak kuasa membedakan, mana pinang mana kelapa. Setiap pohon menjulang bagai tiang cahaya tanpa bohlam. Pelepahnya adalah sayap merak yang riap dengan wewarna yang belum pernah kaulihat. Daun-daunnya seper ti mutumanikam yang membentang dalam warna hijau kulit nangka. Lalu, bunga-bunga putih susu yang merimbuni tetangkai yang menyeruak di pucuk-pucuknya memancar cerlang; sinarnya menerangi hingga radius dua ratus mil di sekitarnya (ah, betapa!). Buahnya? Buahnya adalah bolabola air yang menggelantung di udara yang kapan saja dapat berubah bentuk, warna, dan aroma. 242


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Mana padi mana ilalang, kau jua tak kuasa mencuatkan jawab. Rerumputan, begitu akhirnya pikiranmu memberi nama. Rerumputan yang senantiasa bersujud; tak peduli siang atau malam, tak peduli pagi atau petang, tak peduli ke mana jarum jam bergasing seharian. Memang, sebagaimana rerumputan, kerimbunannya menyerupai batalion hobit berbaju hijau yang bertiarap. Saban pucuknya melambai, wangi gurun menguar dan sejuknya air terjun merayapi. Setiap itu pula, langit akan menjadi biru terang— bukan biru yang sendu. Resapilah; cericit dan koak burungburung pun tidak lagi membuat telinga makin berdenyar, namun membuat dadamu makin lapang dan perasaanmu makin bungah, seolah ada kebahagiaan yang serta-merta menyerlah! Lalu, lalu bebunga yang menghampar itu, membuatmu tak berdaya melukiskan, seperti apa nian dadamu bergemerincah: mana mawar, mana raya? Ya, kau memang sangat menyukai kedua bunga itu. Selintas, raya adalah kembang sepatu dengan kelopak berlapis-lapis. Dari jauh, raya tampak seperti bunga mawar raksasa. Namun, kau begitu terkejut ketika mendapati; bunga yang awalnya kauniatkan untuk dihadiahkan kepada suamimu itu, ternyata bukan raya, bukan juga mawar raksasa! Kau kehabisan kata untuk menamakan bunga yang tangkainya berada dalam genggamanmu kini. Apalagi, aromanya… ya aromanya seperti campuran dari puluhan atau ratusan atau ribuan atau jutaaan wewangian yang selama ini belum pernah kaubaui! Lalu, mana mawar, mana raya? Lalu, mana taman, mana surga, Abang? “Abang?” tanya pemuda itu. “Kenapa kau memanggilku seolah kita sudah saling mengenal, seolah aku kekasihmu?” Ia nyengir kuda. 243


Gulistan

Kauseri-serikan wajah. Kau kikuk, ke mana harus membuang muka. Kau menyesal sudah memangg il pemuda itu “Abang”. Oh, bagaimanapun, pemuda itu telah menyadarkanmu agar tidak meluruhkan kesalihaan, yang telah kautumbuhkan ber tahun-tahun, dalam sekali perbincangan. Tiba-tiba kau merasa sangat kesal kenapa bisa terseret ke taman ini. “Tenanglah. Suamimu tak ada di sini.” Pemuda itu seolah mencoba menenangkan. “Ini bukan tentang ada-tidaknya suamiku, tapi layaktidaknya seorang perempuan bersuami berduaan denganmu di sini, di taman ini. Oh, kita seperti sepasang kekasih yang sedang memakan buah khuldi!” “Apakah kau yakin Tuhan juga ada di tempat ini? Bukankah Dia memiliki taman-Nya sendiri?” “Surga?” tebakmu. “Kau tahu itu,” tukas pemuda itu. “Lalu taman ini?” Nada pertanyaanmu seperti kecewa. “Kenapa?” Pemuda itu memicingkan sebelah mata seperti mengejek. “Kau menganggap taman ini sebagai surga?” Kau terdiam, malu. Wajahmu seperti ubi jalar goreng. “Memangnya siapa kau?” Pemuda itu meremehkanmu. “Lalu di mana suamiku?” Perasaanmu tak tentu. Cemas, takut, dan bingung, bersigesek dalam dadamu. “Jangan-jangan dia yang ke surga!” Ia lipat kedua tangan di dada. “Lalu inikah neraka?” Kau mulai sedikit panik. “Aku tidak bilang begitu.” Nada suaranya seperti mengejek. “O, tidak!” Kau memegangi kepala, meremas-remas rambut, kebingungan. “Apakah niat kami hijrah ke kota tetangga itu salah lantaran kami meninggalkan anak-anak 244


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

itu?” “Maksudmu?” tanyanya pura-pura tak tahu. “Akulah yang mengajak suamiku meninggalkan kota kami. Tapi, kami sudah meminta seorang yang kami percayai untuk mengurus anak-anak asuh kami. Lengkap dengan sejumlah uang dan bekal makanan. “ “Dan suamimu menurut saja karena ia juga ingin punya anak sepertimu, ‘kan?” “Bukan!” Kau mengelak. “Eh, iya.” Kau segera meralat sanggahanmu. “Kami mengasuh banyak anak seharusnya memang bukan untuk memancing Tuhan untuk mengasihani kami. Seharusnya pula, hijrah kami semata demi ibadah yang lebih khusyuk selama Ramadhan.” Kau merasa sangat malu, malu sekali. “Tidakkah kalian malu?” Telunjuknya menuding wajahmu. “Kalian seolah tak mampu mengasinkan lautan sendiri, lalu ingin pindah ke pulau garam yang berada tak jauh dari samudera.” Wajahmu mendongak. Bahumu berguncang meredam buncah. “Mungkin kami memang salah. Tapi kami hanya ing in mencoba-coba. Sudah sepuluh tahun kami berkeluarga, tapi belum juga dipercaya-Nya untuk mengurus buah hati. Kemarin seharusnya menjadi Ramadhan kami yang kesepuluh sebagai suami-istri. Ramadhan adalah bulan yang mustajab untuk terus mengecambahkan harapan dengan doa-doa, bukan? Termasuk berharap beroleh keturunan. Ah, sepertinya kami memang salah, ya. Pikiran kami terlalu singkat.” Wajahmu seperti kembang sepatu yang tergeletak di dekat api yang membara. “Kami hanya berpikir, siapa tahu beribadah, termasuk beri’tikaf, di kota yang terkenal dengan kemakmuran masjidnya, dapat membuat Tuhan mempercayai kami tahun ini.” Pemuda itu menatapmu dalam, tajam, dan runcing 245


Gulistan

sekali. Lalu dari kedua bahunya, menyembul sepasang sayap. Sayap itu berbulu cahaya. Lalu, lalu ia terbang. O tidak, bukan terbang, tapi lesap ke dalam cahaya. Cahaya yang tidak menyilaukan, tapi menenangkan, menenteramkan, menyejukkan, dan melindungi. Kau mendekati cahaya itu. Cahaya yang berbentuk seperti manusia. Kau tak tahu, dari mana keberanian menyusup dalam dirimu. Kau menghampiri telinga kanan pemuda cahaya itu, dan membisikkan kalimat yang kau sendiri tak menger ti darimana kau mendapatkan kata-kata itu, bagaimana hingga lidahmu begitu lancar melafalkannya: “Jangan saling menipu, Sayang. Kita sama-sama tahu kalau kecelakaan bus itu tidak terjadi kemarin, tapi dua ribu empat ratus tiga puluh satu tahun yang lalu. Kita juga sama-sama tahu kalau kita sudah saling mengenal sedari tadi, sedari dulu. Kau sudah meminangku sepuluh tahun yang lalu, oh atau tujuh ribu tiga ratus tahun yang lalu. Benar ‘kan? Hmm, apakah kita akan bercinta lagi di taman ini, untuk yang kesekian kali? Kupikir, Tuhan akan mengembuskan ruh baru ke rahimku. Bukan saja karena kita berdoa di tempat yang indah, tapi juga karena kita memanjatkkannya di bulan yang berkah, di awal Ramadhan ini.â€? Kalian sama-sama mengaminkan, lalu berpelukan, berciuman, bermesraan. Selanjutnya‌ ah sebaiknya memang tidak diceritakan. Yang terang, kalian juga seolah tak peduli, lupa, atau tak hendak bertanya: Taman apa tempat kalian kini berada? n Lubuklinggau, Mei s.d. Juli 2012

246


Repro: Audrey Kawasaki | OpenArt

247


Seekor Unta pada Hari Jumat

ilustrasi: repro seekor unta pada hari jumat | putut wahyu widodo

g Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984. Kini tinggal di Malang, Jatim. 248


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Seekor Unta pada Hari Jumat Mashdar Zainal ( Suara Merdeka | Minggu, 22 Juli 2012 )

o

P

ERKARA mengapa Mahisa selalu tertidur ketika mendengarkan khutbah di hari Jumat, semua bermula dari sebuah cerita di masa kecil. Cerita dari Wak Jamal. Cerita tentang seekor unta, di hari Jumat. Mahisa ingat betul, bagaimana Wak Jamal bercerita tentang keistimewaan unta dan hari Jumat, di surau redup di sudut kampungnya. Wak Jamal memang guru ngaji yang sangat pandai, khususnya dalam hal bercerita. Kata Wak Jamal sendiri, semua cerita yang ia ceritakan bukanlah busa mulut semata, semuanya ia kutip dari kitab kuning dengan huruf arab tanpa harakat yang ia pelajari di pesantren, semasa ia remaja. Terlampau lekatnya cerita itu, Mahisa sampai terkenangkenang akan logat mendongeng Wak Jamal (yang memiring-miringkan leher ke kanan sambil berkedip-kedip). Kalaupun disuruh mempraktikkan cara Wak Jamal bercerita, Mahisa sangat yakin bisa melakukannya dengan sempurna. 249


Seekor Unta pada Hari Jumat

Apalagi menceritakan kembali cerita tentang unta. Seekor unta di hari Jumat. *** BEGINILAH Wak Jamal memulai ceritanya, tentang seekor unta di hari Jumat. Sebelum ke inti cerita, Wak Jamal memancing anak ngajinya dengan pertanyaan-pertanyaan runtun serupa pantun. “Nah, Nak, tahukah kau, bahwa di antara tujuh hari yang ada terdapat satu hari yang sangat istimewa, seistimewa lebaran yang hanya setahun sekali itu. Dan hari itu adalah hari Jumat. Perihal mengapa, karena Tuhan mengampuni banyak dosa dari hamba-Nya yang mau beramal baik pada hari itu. Pada hari itu pula Tuhan meciptakan manusia pertama, memasukkannya dalam surga dan kemudian mengeluarkannya. “Masih banyak lagi sebenarnya keistimewaan hari Jumat yang tak cukup saya paparkan satu persatu. “Nah, Nak, selepas membicarakan hari yang paling istimewa, sekarang kita akan main tebak-tebakan mengenai binatang yang paling istimewa. “Nah, Nak, tahukah kau binatang apa yang sanggup bertahan hidup berhari-hari tanpa makan dan minum. “Tahukah kau tentang seekor mamalia yang memiliki bulu mata sangat sempurna, yang memiliki bibir bangir tapi tak nyinyir, yang memiliki dengkul sekeras batang cangkul. “Oh, tentu saja kalian belum tahu, mendengarnya mungkin, tapi tahu, pasti belum.” Kemudian Wak Jamal akan tersenyum simpul (sambil memiring-miringkan kepalanya ke kanan) dan mulai memaparkan keistimewaan sang unta serupa pujian. Wak 250


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Jamal tampak bersemangat sekali menjelentrehkan kelebihan-kelebihan binatang itu, seolah ia tengah terlibat asmara dengan binatang itu. “Nah, Nak, jikalau ada binatang yang sanggup bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum, untalah beliaunya (sangking terpesonanya pada unta ia menggunakan kata ‘beliau’). “Jikalau ada binatang yang lentik bulu matanya melebihi Cleopatra, dan memiliki dua lapisan yang saling berkait seperti perangkap yang melindungi dari badai pasir sehingga butir pasir tak mungkin mampir, binatang istimewa itu adalah si unta. “Jikalau ada binatang yang memiliki bibir yang sangat kuat dan mirip karet, yang memungkinkan mengunyah kaktus ataupun duri yang cukup tajam, unta pulalah binatang satu-satunya. “Jikalau ada binatang yang lututnya tertutup kepalan yang terbentuk dari kulit sekeras tanduk, sehingga hewan ini betah berlutut di pasir yang panas tanpa khawatir melepuh, si untalah binatangnya.” Setelah tunai menyampaikan mukadimahnya, Wak Jamal memulai cerita yang sesungguhnya. Cerita tentang seekor unta di hari Jumat. Dari sebuah kitab yang pernah ia kaji, Wak Jamal meng isahkan. Bahwa Tuhan punya alasan mengapa Ia memilih unta sebagai binatang utama, untuk dianugerahkan kepada hamba-Nya yang datang paling pertama di hari Jumat, pada shalat Jumat. Jadi, setiap hari Jumat, beberapa manusia akan berternak unta, dan kemudian memanen hasilnya di surga kelak. “Mengapa unta? Mengapa bukan macan atau singa? Atau gajah yang besar?” Hatta, Wak Jamal bertanya sendiri, dan kemudian pula menjawabnya sendiri, “karena unta adalah binatang paling mahal di antara yang mahal, binatang pal251


Seekor Unta pada Hari Jumat

ing istimewa di antara yang istimewa. Seolah-olah, Tuhan menciptakan unta dengan istimewa karena memang diperuntukkan khusus untuk orang-orang yang istimewa. “Tuhan memang Maha Pemurah. Terlampau pemurahnya Ia, setelah memberikan unta, Ia akan memberikan lembu untuk yang datang setelah unta, ia juga masih menyimpan kambing untuk yang datang berikutnya, setelah lembu. Setelah kambing pun, Ia masih bermurah hati memberikan ayam untuk yang datang setelah kambing. Di bawah ayam pun, ia masih menyisakan telur untuk yang datang berikutnya…. “Jadi, urutannya yang pertama unta, kemudian lembu, kemudian kambing, kemudian ayam, dan yang paling buntut telur ayam. Dan setelah telur, tidak disebutkan lagi. Jadi, kesimpulannya, kalian sendiri yang akan memutuskan, memilih mana, unta, lembu, kambing, ayam, telur ayam, atau mungkin yang keluar dari tempatnya telur ayam tapi bukan telur ayam….” Wak Jamal memang selalu seperti itu, menyuruh anak ngajinya untuk beramal shalih dengan sindiran-sindiran yang cukup sulit dipahami anak kecil. *** SEMENJAK mendengar cerita itu, Mahisa benar-benar ketularan Wak Jamal, terobsesi dengan binatang bernama unta. Mahisa tak pernah melihat unta secara langsung, tapi dari cara Wak Jamal bercerita, unta memang binatang yang luar biasa. Kini Mahisa tahu, mengapa Wak Jamal sudi bersusah-susah membersihkan surau pada Jumat pagi dan kemudian menjadi bilal dan muadzin pada Jumat siang. Ya, tak lain dan tak bukan, pasti karena binatang istimewa itu. Dalam kepalanya, Mahisa membayangkan, Wak Jamal 252


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

sudah menernakkan unta yang jumlahnya ratusan, bahkan mungkin sudah beranak pinak. Mengingat rambut Wak Jamal yang kian rata ditunasi uban, Mahisa mulai berpikir, bahwa kini, tiba saatnya ia mewarisi peternakkan unta Wak Jamal, guru ngajinya. “Wak, untuk mendapatkan unta, apakah seseorang mesti membersihkan surau dan menjadi muazin pada shalat Jumat?” Suatu ketika Mahisa bertanya. “Tidak, tidak harus, yang penting kau datang paling awal. Lalu duduklah dengan tenang di shaf paling depan, di belakang khatib, sambil berzikir, itu saja….” Mudah sekali, pikir Mahisa. Berarti, Wak Jamal capekcapek membersihkan surau dan menjadi muazin bukan karena unta, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tampaknya lebih besar dan lebih istimewa dari pada unta. Tapi, apakah itu? Mengapa Wak Jamal tidak menceritakannya. Atau jangan-jangan, sesuatu yang mungkin lebih besar daripada unta itu adalah sebuah rahasia yang ia simpan sendiri. Supaya ia bisa memilikinya sendiri. Mahisa menepiskan pikiran itu jauh-jauh. Wak Jamal pernah mewanti-wanti, berburuk sangka bukanlah alamat bagus. Sudahlah, yang penting, mulai pekan depan, Mahisa bertekad hendak berangkat pagi-pagi ke surau pada hari Jumat. Selepas pulang dari sekolah, ia akan bersegera mandi dan berangkat. Kalau perlu ia akan menyelidiki terlebih dahulu, jam berapa biasanya Wak Jamal datang, supaya ia bisa mendapatkan unta dan Wak Jamal mendapatkan lembu. Pada Jumat pertama, Mahisa kalah cepat dari Wak Jamal. Ketika sampai di surau, Mahisa telah mendapati Wak Jamal tengah membaca mushaf di saf paling depan. Wak Jamal tersenyum penuh kemenangan, aku dapat unta dan kau dapat lembu, begitu arti senyumnya. Dalam hati, Mahisa 253


Seekor Unta pada Hari Jumat

berjanji, Jumat pekan depan, ia akan datang lebih awal lagi. Jumat itu, Mahisa rela menerima nasib jika ia harus mendapatkan lembu. Lembu tidak terlalu buruk, buktinya, untuk berangkat haji dua tahun silam, bapak dan emak cukup menjual tiga lembu piaraannya. Artinya, lembu adalah binatang istimewa kedua setelah unta. *** PADA Jumat berikutnya, Mahisa tersenyum bangga ketika sampai di surau, ia tak mendapati siapa pun. Serta merta ia duduk di saf paling depan, tepat posisi belakang imam. Beberapa menit berikutnya, Wak Jamal datang dengan senyum sumeringah. Wak Jamal menepuk pundaknya, “Wah, luar biasa,â€? serunya. Mahisa terduduk tegap. Bersenyum penuh kemenangan. Saksama ia memerhatikan Wak jamal yang mulai menyalakan speaker, mengecek micropon, dan menggelar sajadah untuk imam. Satu persatu Mahisa melirik setiap orang yang datang. Aku dapat unta, batinnya. Wak Jamal dapat lembu. Bang Ajrul dapat kambing. Ki Hanan dapat ayam. Wak Sayid dapat telur ayam. Mas Toha dapat entah‌. Sambil terus menghitung setiap jamaah yang datang sesuai dengan urutannya, tiba-tiba kepala Mahisa terasa sangat berat. Matanya juga sangat berat. Bahkan, ketika Wak Jamal mengumandangkan azan dan khatib mulai naik ke mimbar, Mahisa masih berjibaku dengan matanya yang berat. Mahisa terantuk dan hampir ambruk ketika Wak Jamal menepuk pundaknya selepas iqomah, menyadarkannya dari kantuk. Celaka, ada yang tertidur ketika khatib menyampaikan khotbah. *** 254


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

PADA Jumat-Jumat berikutnya, Mahisa rutin datang paling awal. Ia duduk di saf paling depan, belakang khatib. Namun, selalu saja, Mahisa tak kuasa menahan kantuk ketika khatib mulai naik ke mimbar. Kejadian itu berlangsung terus menerus, selama bertahun-tahun, sampai sekarang. Ketika ia mengikuti shalat Jumat dan khatib mulai naik ke mimbar, seolah ada hal gaib yang menyirepnya, membuatnya terkantuk-kantuk hingga tertidur. Cerita itu sudah berlalu puluhan tahun silam. Wak Jamal pun sudah lama sekali almarhum. Surau kecil tempat ia mengaji dulu, kini sudah diperlebar dan dibangun masjid. Sudah bertahun-tahun Mahisa merantau ke luar kota, meninggalkan kampung halaman. Tapi tetap saja, di mana pun ia meng ikuti shalat Jumat, ketika khatib mulai menyampaikan khotbahnya, kepalanya pun mulai tertunduk, terkantuk-kantuk. Satu hal pula yang masih lekat dalam ingatannya dari cerita Wak Jamal. Bahwasannya, mendapatkan unta di hari Jumat bukanlah perkara mudah. Karena, selepas shalat Jumat, akan selalu ada orang-orang (yang datang paling awal) yang kemudian mengutuki dirinya sendiri, menyesalkan unta mereka yang selalu lepas ketika mereka tertidur mendengarkan khotbah. n Malang, 2012

255


Repro: OpenArt

256


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

Lampiran o THE ATJEH POST Herman RN | Hikayat Titibang OKEZONE.COM Nurasiyah Jamil | Gara-Gara Cilok SUARA KARYA Adek Alwi | Buka Puasa Bersama Ibu SERAMBI INDONESIA Nazar Djeumpa | Dukun Buang Jin RIAU POS Hermawan Aksan | Kampung Surga LAMPUNG POST Humam S. Chudori | Sang Kepala Desa SUMUT POS Sam Edy Yuswanto | Sang Penyuap KORAN TEMPO Adi Zamzam | Lolongan Tengah Malam

257


Lampiran

HARIAN ANALISA Fatmin Prihatin Malau | Pulang HALUAN N. Mursidi | Perempuan yang Memanggul Duka JOGLOSEMAR Teguh Afandi | Haji Sulaiman JURNAL NASIONAL Soesi Sastro | Jangan Pernah Menangis, Januari MEDAN BISNIS (Belia) Richa Miskiyya | Tunggu Aku TRIBUN JABAR Asmadji AS Muchtar | Berhala KOMPAS.COM Holy Adib | Ulang Tahun KOMPAS.COM Nila Rahma | Pagi Menganga RADAR SURABAYA Adi Zamzam | Lelaki yang Membenci Tulisannya Sendiri KOMPAS Sungging Raga | Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus... REPUBLIKA Nur Mursidi | Mbah Kardoen HALUAN KEPRI Fatih Muftih | Tukang Ceramah METRO RIAU Rian Harahap | Zam-zam Buat Ibu PONTIANAK POST Sabransyah | Senyum Terakhir RADAR LAMPUNG Melisa Ariani Asikin | Kau, Aku, dan Pendampingmu

258


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-IV Juli 2012

SUMATERA EKSPRES Iin Yaqub | Elegi Tepian Ogan POS KUPANG Somerpes F. | Nua Ora Meringkih BANJARMASIN POST Edwin Yulisar | Seindah Telaga Kautsar KENDARI POS Riki Utomi | Musim Maling SUARA MERDEKA Mashdar Zainal | Seekor Unta di Hari Jumat SUARA MERDEKA (Yunior) Yulinda Rohedy Yoshoawini | Koperasi Kejujuran PIKIRAN RAKYAT Jasmine Hasna Nafila | Sajadah Terbangku KEDAULATAN RAKYAT Mahwi Air Tawar | Ia yang Menembang JAWA POS Benny Arnas | Gulistan SUARA MERDEKA Mashdar Zainal | Seekor Unta pada Hari Jumat

u 259


Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV Juli 2012  

Ini adalah ebook himpunan cerpen yang dimuat media pada minggu ke-IV Juli 2012. Boleh untuk diunduh sebagai database, atau diambil sebagian...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you