Page 1


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau keseluruhan isi buku ini dalam bentuk apapun secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan tehnik perekaman lainnya, tanpa seizin tertulis dari penerbit. Rujukan dari maksud Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan dan memperbanyak ciptaan pencipta atau memberikan izin untuk itu, dapat dipindana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii


Bunga Rampai Cerpen Minggu

Minggu Ke-III Periode: 09 - 15 Juli 2012

iii


Bunga Rampai Cerpen Minggu Minggu Ke-III Periode: 09 - 15 2012 All Rights Reserved

Riset Data: Ilham Q. Moehiddin

Gambar Sampul: Repro OpemArt Desain sampul: IFW ArtDesign Juli, 2012 x + 260 hal; 13,5 x 20 cm

iv


n bunga rampai cerita pendek yang sedang anda baca ini adalah kumpulan yang diriset untuk dokumenasi. tidak ada kepentingan lain, kecuali sebagai data-base semata-mata.

n v


Daftar Isi

g Tinjauan ~ viii Penabur Benih ~ 1 Melepas Bayang-Bayang ~ 13 Musim Maling ~ 23 Biografi Tangan ~ 31 Nurbaya ~ 39 Kiambang ~ 43 Sepotong Malam Sepotong Sajak ~ 53 Tengku Teladan yang Dirindukan ~ 61 Bulan Pergi dari Jembatan ~ 67 Jukung ~ 75 Cinta Terakhir ~ 81 Senyum Senja ~ 91 Aku Menulis dengan Tangan yang Sakit ~ 99 Kain Kafan ~ 105 Tapak-tapak Harapan ~ 113

g vi


g Senja Ditelan Kabut ~ 121 2 Pelangi Indah di Matamu ~ 129 Salju Hitam ~ 137 Jenderal Popop ~ 149 Hening di Ujung Senja ~ 155 Istri Sang Duta ~ 161 Bakso Pak Oles ~ 171 Berkemah ~ 179 Kidung Luka Seorang Penyair ~ 187 Harapan di Ufuk Senja ~ 195 Misteri dalam Diam ~ 205 Iman Yang Terkoyak ~ 211 Di Bawah Hujan ~ 221 Pada Malam Angin Berkelebat ~ 227 Kabut Neraka ~ 235 Firasat Bu Lik Koem ~ 241 Lampiran ~ 255 Data Cerpen di Media Minggu Ke-III, Juli 2012

g vii


u Tinjauan

o

C

ERPEN minggu didonimasi cerpenis muda. Secara umum cerpen-cerpen yang terbit di berbagai koran bercerita secara realis, mengetengahkan kehidupan sehari-hari dan beberapa tentang cinta. Dilihat dari gagasan, para cerpenis mampu mengusung gagasan-gagasan yang fresh dengan beberapa di antaanya tetap berpijak pada lokalitas. Kendati demikian, cerpen surealis juga menarik disimak, yang rata-rata mengambil pendekatan solilokui. Minggu ke-III Juli 2012 ini, penampilan media dan cerpenis agak mengecewakan. Ada satu media yang memasang cerpen lawas Istri Sang Duta, yang sudah pernah (setahun lalu) dimuat di media yang sama. Walau sepenuhnya hak media, ada baiknya media membuka ruang seluas-luasnya pada kebaruan. Toh, banyak cerpen yang dibisa dianggit masuk dalam list cerpen media setiap minggunya. viii


Sementara itu ada dua cerpen yang ditayangkan media namun sebelumnya sudah pernah publish di media lain: satu cerpen berjudul Firasat Bu Liek Koem (termuat di Republika), sebelumnya sudah diterbitkan dalam kumpulan cerpen Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air, karya Muhammad Harya Ramdoni (tidak terkompilasi dalam bunga rampai edisi ini). Cerpen kedua adalah Bakso Pak Oles (termuat di Harian Merapi), sebelumnya sudah dipublish di blog pengarangnya sendiri, Fandrik Ahmad. Pada Bunga Rampai kali ini juga bertaburan beberapa cerpen anak. Selanjutnya, di edisi-edisi berikutnya, cerpen anak akan ditayangkan bersama cerpen umum lainnya. Secara umum, beberapa cerpen tak menunjukkan kualitas yang baik dari segi penulisan. Beberapa cerpenis muda masih belum dapat memanfaatkan tanda baca dengan baik, serta kurasi ejaan. Metode penulisan tentulah adalah aspek yang penting dalam penceritaan, antara lain penggunaan tanda baca dan ejaan. Sayangnya, beberapa cerpenis masih tak paham menggunakannya. Ini cukup mengherankan, sebab akan muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana mekanisme kurasi pada redaksi, sehingga cerpen dengan bentuk “rusak� begitu, diloloskan? Jawabannya tentu hanya redaksi media masing-masing yang tahu. n Salam. Penyusun

ix


Penabur Benih

Ilustrasi: repro mark kostabi / openart

g M. Iksaka Banu, bekerja di bidang desain grafis dan periklanan. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Bermukim di Jakarta. x


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Penabur Benih M. Iksaka Banu (Koran Tempo | Minggu, 15 Juli 2012)

o

S

ESUAI pesan Pater Albrecht van der Gracht, doa arwah kubawakan dalam bahasa Latin sepenuhnya sebelum tubuh kaku yang diberi pemberat itu dengan tergesa diluncurkan ke laut lewat sebilah papan. Tak ada kain linen yang tersisa untuk membungkus jenazah. Si mati tampil apa adanya. Menganga, dengan gusi dan bibir yang hancur dikikis sariawan. Masih terlihat noda kecokelatan, sisa muntah, bercak darah, dan air seni di beberapa bagian baju yang dikenakan almarhum. Sepintas tadi, kami seperti sedang menghukum seorang pemberontak dengan cara membuangnya hidup-hidup ke laut. Orang-orang di kapal ini memang keterlaluan. Tak kujumpai wajah berduka, belas kasih, ataupun penghargaan. Padahal sebelum menjadi mayat, ia adalah Letnan Meeus van Scheveningen, legenda perang Antwerp yang selama ini kami hormati. 1


Penabur Benih

Barangkali kematian cepat dan beruntun akibat penyakit scheurbuik sejak keberangkatan dari pelabuhan Texel tahun lalu, serta wabah zwarte dood pada perhentian di Madagaskar, telah mengubah hati kami menjadi tawar, dingin, dan keras. Beberapa orang yang terbaring di kabin sakit bahkan berharap secepatnya sirna dari muka bumi, karena tahu tak ada yang sanggup merawat mereka lagi. Adapun kami yang masih bisa berdiri ini, tampaknya juga tinggal menunggu giliran sebelum tertular dan mati. “Jangan turun dulu, Jacob. Temani aku melihat pemandangan di belakang,” Pater van der Gracht mendadak mencengkeram tanganku. “Bukankah kemarin Anda demam, Pater? Lagi pula angin sore sangat jahat,” sahutku. “Tak ada angin jahat, Jacob. Setidaknya belum pernah kubaca di kitab suci,” Pater menggeleng. “Sebentar saja.” Dasar keras kepala. Kubimbing ia menuju buritan. Tempat itu sempit dan lantainya miring. Dalam keadaan sehat, Pater van der Gracht mampu mendaki pergi-pulang bukit kecil di sekitar biara kami di Zeeland. Tetapi kini ia tampak begitu ringkih. Luka bernanah yang semakin meluas dan tak kunjung kering di paha nyaris melumpuhkan kaki kanannya. Walau demikian ia tabah menapaki undakan, melewati atap kabin. Sampai di atas, kupastikan ia tak memperoleh kesulitan melangkah di antara centang-perenang tali layar dengan jubah cokelatnya yang panjang. Dan setelah yakin mendapat pegangan kukuh di tiang kapal, kubiarkan pastor berusia lima puluh tahun itu berdiri mematung bersama tongkatnya, mengikuti alunan gelombang laut. Di depan kami, agak terhalang oleh lentera besar yang dipasang di ujung pagar, terlihat tiga kapal raksasa, masing-masing dengan lima tumpuk layar berwarna putih, bergerak lambat mengikuti kapal kecil kami seperti anjing-anjing peliharaan yang setia. 2


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Seandainya ada teropong, tentu bisa kubaca tulisan yang tertera pada setiap haluan kapal: Hollandia, Amsterdam, dan Mauritius. YA, sebagai novis bau kencur berusia enam belas tahun, sekaligus asisten pribadi Pater Albrecht van der Gracht, aku teramat girang saat memperoleh kabar harus menemani beliau dalam pelayaran jarak jauh ini. Semula aku berharap bisa ikut salah satu dari tiga kapal megah berbobot satu-dua ton itu. Ternyata kapal-kapal tersebut sudah memiliki pendoa. Para imam Calvin. Maka aku dan Pater van der Gracht, satu-satunya imam Katolik, harus puas ditempatkan di Duyfken, sebuah kapal pelopor kecil bertiang tiga, yang hanya berisi sekitar 20 orang. “Siapa sangka armada semegah itu berisi gerombolan mayat hidup. Begitukah pikiranmu melihat kapal-kapal itu, Pater?” terdengar suara besar, bersaing dengan debur ombak. Kami memutar tubuh. Kutangkap wajah tirus Tuan Guilliam Elias Goeswijn, salah seorang kepala urusan dagang. Ia tidak mengenakan topi. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Sepasang bibir yang menyembul dari gerumbul kumis dan jenggotnya terlihat rusak akibat sariawan, seperti isi mulut kebanyakan penumpang kapal ini. Tetapi tentu saja masih terlacak jejak kemakmuran di sekujur pakaian yang dikenakannya. “Selamat sore, Heer Goeswijn,” hampir bersamaan, aku dan Pater menggumam. “Jangan terlalu lama di sini. Sebentar lagi tempat ini akan dipenuhi para kelasi yang sibuk dengan urusan tali-temali dan layar,” Elias Goeswijn mendekat. “Tidak lama,” sahutku. Tuan Goeswijn mengangguk, matanya lurus ke arah kapalkapal di belakang kami. “Seandainya para petinggi Compagnie van Verre tahu bahwa ratusan ribu gulden yang mereka tanamkan hanya berakhir seperti 3


Penabur Benih

ini...” Elias Goeswijn tidak melanjutkan kalimatnya. “Belum berakhir, Heer. Cobalah miliki sedikit iman. Tuhan masih bersama kita,” Pater van der Gracht menyentuh pundak Elias Goeswijn. “Aku tidak melihatmu di misa arwah tadi, padahal aku dan Jacob tidak membuat tanda salib, dan doa yang kupilih cukup umum. Seharusnya Anda hadir.” “Sulit mengikuti misa dalam bahasa yang tidak kumengerti, Pater. Lagi pula aku harus menyusun laporan. Permintaan Kapten Simon Lambrecht Mau. Tak bisa ditunda,” Elias Goeswijn mengangkat bahu. “Maafkan aku.” “Ya, ya. Aku bisa melihat. Pelan-pelan Kapten pun mulai murtad. Dan soal laporan itu, mijn God. Sudah berapa lama kita terkatung di sini, Heer? Bukankah Anda punya waktu seumur hidup untuk menulis laporan? Jangan lupa, yang baru saja berangkat ke dasar laut adalah Letnan van Scheveningen, sahabat kita semua.” “Jangan lempar kemarahanmu padaku, Pater. Terlalu lama di atas kapal, terjerang matahari, kelaparan, kena penyakit menjijikkan, perkelahian berdarah, dan tersesat di atas kolam raksasa ini memang membuat semua orang kehilangan akal sehat. Hari ini yang mati genap 70 orang. Sementara pelabuhan Bantam itu, entah di mana letaknya. Seharusnya kita berontak!” Elias Goeswijn mengepalkan tangannya. “Belum cukupkah yang mati berkelahi dan dipenjara itu?” sela Pater. “Aku lelah dengan semua ini,” sambung Goeswijn. “Dari Texel, cuaca sangat bagus. Tetapi lantaran mendengarkan perintah orang bodoh, kita harus berjalan melambung sebelum tiba di Afrika. Dan di Isla de Mayo, tiba-tiba saja angin berhenti. Aku sudah membaca gejala. Kusarankan mengisi logistik dengan buahbuahan sebanyak mungkin, sembari menunda keberangkatan 4


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

sebentar. Anda tahu, menurut catatan Hernando Cortis, suku Indian Aztec tak pernah menderita scheurbuik, karena setiap hari mereka makan buah-buahan. Kapten setuju, tetapi usulku ditolak oleh si bajingan pelagak di sana itu untuk alasan yang tidak jelas,” Elias Goeswijn menunjuk kapal Mauritius. “Tuan Cornelis de Houtman?” tanyaku. “Siapa lagi? Tak sudi aku sekapal dengannya. Lebih baik pindah ke sini,” sepasang mata nyalang Elias Goeswijn mampir sebentar di wajahku, sebelum kembali menatap Pater van der Gracht. “Begitu tinggi kepercayaan para pejabat kepadanya. Padahal orang itu tidak mengerti apa pun tentang navigasi. Betul, ia berhasil mengembangkan peta perjalanan versi Plancius dan van Linschoten dengan temuannya selama menyusup di Lisbon, tetapi soal memimpin ekspedisi seharusnya mereka mendengarkan orang yang lebih tepat: Pieter Dirkszoon Keijzer, jurumudi dengan segudang pengalaman melaut. Bukan begitu, Pater?” “Murka Tuhan,” Pater van der Gracht menarik napas panjang. “Mengapa Ia murka?” “Karena misi ini telah diselewengkan dari tujuan semula, dan karena kapal-kapal ini dijejali orang murtad, pemabuk, pezina, serta pedagang tak bertuhan seperti Anda,” Pater van der Gracht menyandarkan tubuh ke tiang layar. “Kukira keempat kapal ini sarat dengan dominee, predikant, pendoa, apapun sebutan kalian, yang berniat ambil bagian dalam pewartaan iman Kristiani di dunia baru. Ternyata hanya aku, ditambah ketiga imam itu. Bagaimana tanggung jawab Tuan-tuan terhadap Raja dan Gereja? Ini persis tulisan di dalam kitab suci, Messis quidem multa operarii autem pauci. Panen melimpah, tetapi pekerjanya sedikit. Ah, jangankan untuk negeri baru. Tengoklah kapal ini. Hanya enam orang yang ikut misa arwah. Reformasi? Kurasa 5


Penabur Benih

Tuhan akan senang bila aku bisa mengembalikan kalian semua menjadi Katolik. Mereka lebih taat. Dan ketaatan membuahkan keberhasilan. Lihatlah peran gereja mendukung Columbus menemukan dunia baru seabad lalu.” “Jangan bicara agama, Pater. Tak ada satu pun pastor dalam pelayaran pertama Columbus ke Guanahani. Klub para pedagang punya laporan lengkap tentang hal itu. Soal reformasi, apa lagi yang harus kita bicarakan? Semua tahu, penyebabnya adalah pemaksaan doktrin Katolik dalam kehidupan sosial oleh badan Inkuisisi Spanyol untuk menekan rakyat Nederland, terutama para pejuang Oranye yang kebanyakan reformis Protestan. Mereka jugalah yang menutup jalur rempah dari Lisbon sehingga kita terpaksa bertualang seperti ini.” “Aku tahu.” “Baik. Mestinya Anda juga tahu, bahwa yang kita perangi bukan agama, melainkan tindakan brutal Spanyol di bawah komando Felipo II bersama mesin-mesin perang mereka semacam Pangeran Agung Alba, atau Pangeran Parma. Lalu, apa kata Anda tadi? Pedagang tak bertuhan? Negeri Belanda sudah merdeka. Demikian pula warganya. Dan seperti Willem van Oranje, aku memilih sendiri agamaku. Menolak segala sesuatu yang dipaksakan.” “Kalau bukan sesuatu yang dipaksakan, mengapa Dewan Negara berpangku tangan saat para pengikut Calvin menekan penduduk Waloon, Hainault, dan Artois di Selatan seraya menghancurkan lukisan dan patung-patung di dalam gereja mereka? Apakah Anda termasuk barisan yang bersukacita memenggal kepala Kristus, Bunda Maria, dan menganggap kami menyembah patung? O, dimitte nobis debita nostra.” “Pater, Anda orang Zeeland. Mengapa kerap mengutip bahasa Latin? Apakah Tuhan hanya bicara bahasa Latin? 6


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Sejujurnya, yang kusuka dari kaum reformis adalah, mereka memiliki kitab dalam bahasa ibu sendiri. Mudah dipahami hingga ke kalangan bawah. Ah, sangat melelahkan bicara agama. Satu topik belum selesai, berputar ke topik lain,” Elias Goeswijn menepuk dahi. “Yang ingin kusampaikan sederhana saja, Pater. Ini kapal dagang biasa. Misi dagang biasa. Jangan mengutuk. Jangan menyumpahi isi kapal ini. Karena, seperti halnya para imam Calvin di sana, kehadiran Anda di sini sebatas menjadi pendoa kami. Itu saja. Janganlah mengacaukan misi dagang kami dengan pesan agama. Biarkan kami membuka lahannya terlebih dahulu. “ “Anak muda!” Pater memukulkan tongkatnya ke geladak. “Pesan itu ada di dalam surat yang ditandatangani Raja, Dewan Negara, dan Uskup. Dengan atau tanpa bantuan Anda semua, bila aku masih hidup, setiba di sana aku akan tetap melakukannya. Menjadi penabur benih. Mengikuti jejak Franciscus Xaverius di Amboina. Pasti Anda tahu bahwa Portugis sudah tiba lebih dahulu di sana. Dan mereka bukan pengikut reformis.” “Ya, dan Anda pasti tetap tidak akan percaya bila kukatakan bahwa usulan pewartaan iman di dunia baru itu ditambahkan oleh Kamar Dagang semata untuk memperlancar restu dari Raja, yang sedang tergila-gila segala hal berbau agama.” “Oh, aku percaya. Dan semoga dengan perbuatan itu, kalian semua terbakar di neraka!” Pater membuat tanda salib. “Nah, permisi, Heer. Langit sudah mulai gelap. Ayo, Jacob.” Kami tinggalkan Tuan Goeswijn sendirian di buritan. KETIKA menuju perut kapal, baru kusadari betapa keras tadi mereka berbicara. Mengalahkan derak kayu geladak yang saling berimpit diterjang ombak. Bunyi yang biasanya menemani hari-hari sepi kami di atas Duyfken ini. 7


Penabur Benih

Tiba di kabin, Pater mendadak terkulai. Kuangkat ia ke ranjang. Kunyalakan sebatang lilin besar. Wajah Pater jauh lebih pucat dibandingkan tadi siang. Suhu badannya tinggi. Dan bengkak di gusinya kelihatan semakin buruk. Kuambil segelas anggur dan cuka apel, tetapi ia menggeleng. Akhirnya kutuang minuman itu ke atas sehelai kain, lalu kuletakkan di dahinya, berharap bahwa dengan cara itu suhu tubuhnya bisa turun. Kali ini ia menurut saja. “Jacob, setelah semua percakapan tadi, aku merasa diriku seperti Kristus, yang sedang menanti waktu di Taman Zaitun. Berdoalah untukku dan seisi kapal ini.” Aku memejamkan mata mencoba berdoa, tetapi hatiku sungguh hampa. Kalau Pater merasa seperti Kristus, barangkali aku boleh menganggap diriku sebagai Santo Petrus. Orang terdekat Kristus, yang tak sanggup melakukan apapun untuk menyelamatkan gurunya. “Dunia berubah, Nak,” bisik Pater setelah melihatku membuka mata kembali. “Ilmu pengetahuan berlari cepat. Orang menemukan pengukur waktu, pistol, lensa, kacamata, mikroskop, teleskop. Pernah dengar kisah Galileo Galilei, bukan?” Aku mengiyakan, sambil terus menekan kain ke dahinya. “Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei membuka rahasia benda-benda langit, menunjukkan bentuk bumi yang seperti bola. Memberi jalan bagi para petualang untuk berlayar jauh, menemukan dunia baru. Tetapi menuju ke mana semua ini?Apalagi ditambah kehadiran kaum reformis. Apa yang Tuhan inginkan dengan segala perubahan besar, perbedaan, dan perpecahan ini?” “Agar kita semakin setia kepada-Nya?” tanyaku. “Entahlah. Seperti kisah Menara Babel, kurasa Ia muak melihat kesombongan gereja, sehingga akhirnya membagikan berkat8


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Nya kepada bangsa-bangsa lain. Lihatlah orang-orang Moor itu. Dulu aku selalu berpikir bahwa mereka adalah utusan kegelapan. Membuat onar di Tanah Suci, menyulut perang besar, mengajak orang mengakui nabi mereka. Tetapi mungkinkah utusan kegelapan memiliki hati yang peka, mengajarkan kebajikan, dan menguasai peradaban tinggi? Bahkan Spanyol, yang lama berkuasa atas negeri kita, sempat tunduk selama tujuh abad kepada mereka. Sesuatu yang hanya mungkin dilakukan oleh bangsa yang diberi restu oleh surga.” “Istirahatlah, Pater,” kuberanikan diri memotong kalimatnya. “Para reformis, orang-orang Moor, dan kita sendiri. Semua pekerja kebun Tuhan. Biarkan Ia mengambil yang terbaik,” bisik Pater sebelum tertidur. BARANGKALI aku terlalu letih, mungkin juga mulai terjangkit demam kuning, sehingga ikut terlelap di kursi, dan baru melonjak bangun saat mendengar teriakan keras yang diulang beberapa kali: “Daratan! Daratan!” Seketika, aku larut dalam kegemparan itu. Menghambur ke dek atas. Agak sulit, karena banyak penghuni kapal berlomba menaiki anak tangga. Begitu muncul di atas, aroma aneh yang menyegarkan melanda cuping hidungku. Hari belum lama berganti. Di sisi barat, ujung langit masih menyisakan warna biru kemerahan, tetapi di timur sana, kira-kira berjarak kurang dari seperempat hari perjalanan, berlatar langit biru jingga dengan beberapa gumpal awan tipis, kusaksikan siluet sebuah dataran. Semula kukira tiga buah pulau terpisah, tetapi semakin jelas bahwa itu adalah sebuah pulau tunggal berbukit-bukit, dengan mulut teluk yang lebar. Juru isyarat merangkai bendera-bendera kecil lalu mengereknya di antara tiang-tiang layar. Ternyata langsung 9


Penabur Benih

memperoleh jawaban. Mula-mula dari kapal Mauritius, yang selama ini menjadi markas Tuan Cornelis de Houtman, si pemimpin ekspedisi. Disusul kedua kapal lain. Jawaban mereka sama: Lempar jangkar. Sorak-sorai terdengar di segala penjuru. Menurut Kapten, sesuai peta van Linschoten, nama pulau itu adalah Enggano. Dalam bahasa Portugis, engano berarti kecewa. Semoga hal itu tak berlaku di sini, karena cahaya sukacita justru sedang melanda kami saat ini. Kuamati sekeliling kapal. Kapten Simon Lambrecht Mau adalah manusia yang terlihat paling sibuk. Dari mulutnya menyembur banyak perintah. Dan untuk pertama kali setelah hampir dua tahun berlalu, aku melihat lagi sosok tentara kerajaan. Jumlahnya tinggal delapan orang di kapal ini. Mereka berbaris di dek, lengkap dengan ketopong, baju besi, dan senapan yang diminyaki penuh semangat sehingga kembali berkilat. Pendeknya pagi ini, 5 Juni 1596, aku menyaksikan pawai harapan. Garisgaris senyum yang lebar. Hawa riang yang menggairahkan. Lupa bahwa sebagian dari mereka sedang didera demam kuning dan sariawan parah. Demam kuning? Aku tersentak, lalu berlari ke kabin bawah, nyaris tersungkur di ujung anak tangga. Kuhampiri ranjang Pater van der Gracht. Kusaksikan Tuan Elias Goeswijn bersama Tuan Blasius Reijr, tabib kapal, berdiri khidmat di tepi ranjang. Segera aku paham apa yang terjadi. “Ada pesan akhir dari beliau, Heer?� tanyaku sambil menatap wajah Pater. Kedua mata pastor itu tertutup. Mulutnya yang bengkak terdorong ke kanan membentuk sebuah senyum jenaka, membuatku ingin menangis. Tetapi tak ada air mata yang terbit. Mengapa ia kutinggalkan begitu lama tadi? “Kutemukan, tubuhnya sudah dingin,� sahut tabib Reijr. 10


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Aku kembali mengangguk. “Kita segera berlabuh,” Elias Goeswijn menengok jam pasir di meja Kapten. “Akan kuminta seseorang membuat peti mati. Kita bisa menyelenggarakan upacara pemakaman yang layak di darat. Tentunya engkau bisa memimpin doa, Nak?” “Ya, Heer,” jawabku. “Dalam bahasa Latin maupun Belanda. Tetapi sebaiknya Belanda, agar semua ikut berdoa.” Kamar itu sunyi, tetapi dari jendela kabin aku melihat keramaian luar biasa di sekeliling kapal: Sekelompok manusia dengan hiasan meriah di kepala, menghampiri kami dengan kano. Mereka hanya memakai selembar cawat. Tubuh mereka kecil, kekar, dan berwarna cokelat. Berseru dalam bahasa yang tidak kumengerti. Segera terbayang kisah Columbus dan suku asli di Hispaniola pemangsa manusia. Di antara rasa gentar dan gembira, diam-diam aku bertanya kepada diriku sendiri, inikah kebun Tuhan yang harus kugarap? n Jakarta, 23 Juni 2012 Catatan Bantam: Banten. Scheurbuik: Kurang vitamin C. Gusi bengkak, bibir dan rongga mulut terkelupas, luka bernanah, demam kuning, yang berakibat pada kelumpuhan dan kematian. Zwarte dood: Maut Hitam. Wabah pes. Novis: Pembelajar menjadi imam (Katolik). Dominee: Imam Katolik (Belanda). Predikant: Imam Protestan (Belanda). Calvinis: Salah satu aliran gereja reformis (Protestan). Dimitte nobis debita nostra: Ampunilah kesalahan kami (petikan Doa Bapa Kami).

11


Melepas Bayang-bayang

Ilustrasi: repro pablo picasso / openart

12


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Melepas Bayang-bayang Nita Tjindarbumi (Lampung Post | Minggu, 15 Juli 2012)

o KITA tak perlu berbicara apa-apa lagi tentang hubungan yang telah dingin ini. Sejak dulu aku mengenalmu sebagai lelaki yang tak pernah jujur dalam banyak hal, terutama untuk urusan hati. Kebohongan-kebohongan yang kerap kumaafkan kini seperti pekerjaan sia-sia yang tak akan pernah kunikmati hasilnya. Memang sudah saatnya aku mendinginkan pikiranku. Berjalan terus ke depan dan tak perlu lagi menengok ke belakang. Sudah cukup semua usahaku untuk memperjuangkan agar mimpi kita menjadi sebuah kenyataan. tetapi kini faktanya sudah di depan mata. Terbanglah sesukamu. Lupakan semuanya.... ***

13


Melepas Bayang-bayang

A

KU membaca e-mail Hanna dengan mata pedih. Wajah pucat perempuan itu tergambar jelas di antara kalimatkalimat yang terusun dengan bahasa yang halus. Tentu dengan keberanian yang di luar dugaanku. Tak pernah kuduga, perempuan berhati lembut dan baik hati itu berani mengambil keputusan sulit ini. Aku sangat tahu bagaimana hati Hanna. Ia, seperti yang ada dalam pikiranku adalah perempuan Jawa yang santun, lembut hati dan pemaaf. Ya, pemaaf. Itu pula sebabnya hubunganku dengannya masi berjalan sampai sebelum email ini kubaca. Sungguhkah hubungan kami telah berakhir? Aku meraba kening. Lalu memijat kepalaku yang mendadak diserang sakit yang membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Otakku seperti buntu. Aku tak tahu harus membalas e-mail Hanna dengan jawaban seperti apa? Hanna.... Perempuan itu telah menggoda pikiranku sejak awal pertemuan kami. Perempuan Jawa yang terikat kuat dengan aturan budaya. Sedikit kolot meski akhirnya entah mengapa ia seperti tak banyak protes ketika kubeberkan isi buku hidupku. Ia hanya tersenyum ketika bibirku dengan lancang dan bangga bertutur tentang sejumlah perempuan yang datang dan pergi dalam perjalanan hidupku. “Kau laki-laki dan mungkin bagimu sejumlah nama perempuan itu bisa menjadi kebanggaanmu,� ujarnya dengan kalimat teratur dan bernada datar. Aku meringis. Rasa malu bergelayut di dada. Seperti sindiran tajam yang membuatku terjengkang. Tetapi sebagai laki-laki, bagiku pantang mempertontonkan perasaanku yang sebenarnya. “Tidak begitu. Aku tak merasa bangga dengan semua itu. Aku lebih bangga bila bisa mencintai seseorang sepenuh hati,� 14


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

jawabku terasa enggak nyambung. “Mungkin kau tidak merasa bangga. Tetapi dari caramu bercerita, aku bisa merasakan kebanggaanmu. Bisa dimaklumi kok. Laki-laki mungkin akan menjadi lebih hebat bila banyak disukai perempuan.” Lagi-lagi ia menohokku dengan kalimat ajibnya. Aku tahu Hanna pandai memainkan kata-kata. Ia juga pandai memainkan perasaanku. Membuatku ambigu dan kelelahan memaknai kebaikan hatinya. “Kalimatmu bersayap. Sulit aku memaknainya secara tepat,” kataku dengan nada tegas dan memang terdengar seperti protes. Kutatap matanya yang selalu berembun. Belum pernah kutemukan perempuan yang memiliki mata seindah ini. Mata itu juga yang membuat tidurku tak nyenyak karena selalu diganggu mimpi yang hanya sepotong-sepotong. “Kebanggaan itu tak hanya menjadi milikmu, Tuan Baron. Tetapi juga dimiliki oleh sejumlah nama perempuan yang berhasil menggaet dirimu,” katanya lagi tanpa memedulikan tekukan di wajahku yang mulai memanas karena menahan amarah. “Tentu saja mereka bangga. Mereka tak segan-segan melakukan apa saja demi mengejarmu. Meski hanya menjadi bagian dari malammu,” kata Hanna, semakin memojokkanku. Sebagai laki-laki harga diriku terusik. Hanna tidak sedang memujiku tetapi memposisikan diriku di tempat yang menjatuhkan harga diriku. “Kau pikir aku gigolo?” tukasku cepat merasa dipermalukan. “Bukankah kau bisa menjadi siapa saja yang mereka inginkan? Cinta dan nafsu terkadang sulit dibedakan,” katanya lagi, seakan memberi penegasan bahwa aku bisa saja meladeni semua perempuan di ranjang tanpa harus merasa punya cinta pada mereka. 15


Melepas Bayang-bayang

“Sadis kalimatmu,” kataku seperti desisan. Andai saja perempuan yang di depanku bukanlah perempuan yang telah membuat hari-hariku hampa tanpanya, pasti sudah kutinggalkan dia. Tetapi aku tak bisa lakukan itu pada Hanna, perempuan Jawa yang kadang kolot dan membenci kebebasan tanpa tanggung jawab. Meski tidak terang-terangan mengatakannya. *** KUBACA berulang e-mail itu. Isinya masih sama. Kalimat yang mencincang perasaanku. Ah, sungguhkah hatiku tercincang? Kurasa tak sebegitu hebat guncangan yang kurasakan. Apalagi aroma perempuan dari Negeri Kanguru itu seperti masih menempel di sekujur tubuhku. Laki-laki mana yang menolak suguhan istimewa itu? “Aku tahu dari diri perempuan yang kau sebut kanguru merah itu kau bisa mendapatkan semua yang kau mau,” ujar Hanna setelah membaca pesan singkat perempuan itu yang lupa kuhapus. Sialnya, Hanna yang kuminta mencari nomor ponsel seorang teman membuka dan membaca pesan yang berisikan rayuanku dan kalimat gombal yang kukirimkan padanya sebagai ucapan terima kasih karena telah mengobati dahaga berahiku. “Kau akan menjadi laki-laki paling bodoh jika menolak penyerahan diri perempuan itu,” kata Hanna dengan nada santai meski aku tahu ia seperti sedang terpanggang oleh kemarahan yang ditahannya. “Atau... sebetulnya kau ingin bilang bahwa aku laki-laki kotor yang suka mengumbar berahi?” kataku kesal. Hanna tertawa. Nadanya sumbang. Aku tahu, perempuan mana yang tidak sakit hati kekasihnya, lelaki yang dicintainya 16


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

berbagi hati pada perempuan lain. Apalagi sampai bergelut di ranjang yang kian memanas saat dini hari membungkus kamar hotel itu dengan kabut es. Melihat matanya, lalu tawanya aku menjadi ragu. Sungguhkah ia mencintaiku? Pantaskah aku mempertanyakan perasaannya? Sementara aku yang selalu mengatakan sangat mencintainya, tak juga bisa menjaga perasaannya. Aku masih sering tergelincir dalam pesona perempuan-perempuan yang pernah singgah dalam hidupku. Aku tak bisa menahan gejolak berahi setiap kali perempuan kanguru merah itu membiarkan belahan dadanya menganga di balik blus tipis yang dua kancingnya dibiarkan terbuka. Belum lagi elusan tangannya yang nakal dan menjalar kian kemari dengan liar. Kebinalan yang membuat darah laki-lakiku berontak dan tak dapat menahan diri, mencegah diriku agar tak menjadi pengkhianat. “Apakah laki-laki sepertimu memerlukan cinta?” Aku merasa dihunus. Tepat di ulu hati. Kuakui aku laki-laki normal. “Di luar sana banyak laki-laki normal yang mampu menjaga kehormatannya,” kata Hanna semakin mencincangku. Aku diam. Sepi membalut malam. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Memeluk Hanna? Aku tak yakin pelukanku dapat meredakan amarah yang ditahannya. Meminta maaf atas pengkhiantanku itu? Hanna bisa saja semakin marah karena menganggapku terlalu mudah mengumbar kata maaf. “Maaf jika kata-kataku terlalu pedas. Tetapi aku harus berkata apa adanya.” Hanna lalu menyodorkan capucino kaleng yang baru diambilnya dari lemari pendingin. “Lupakan saja. Tak ada gunanya kita memperdebatkan persoalan ini jika kau masih saja merasa paling benar,” lanjutnya 17


Melepas Bayang-bayang

lagi dengan dingin. Suaranya lebih dingin dari kaleng minuman yang kini sedang kupegang. “Tak mudah mengubah karakter. Tak ada yang dapat mengubahnya jika bukan dirimu sendiri. Akan lebih sulit jika kau merasa apa yang kau lakukan itu kau anggap sesuatu yang benar.� Aku seperti laki-laki bodoh yang sedang dicecoki doktrin yang akan mencuci otakku. Ketika di sekolah menengah atas dan pacarku hamil, bapakku marah besar dan membuatku lari dari rumah karena ketakutan. Lain halnya dengan ibuku yang selalu siap menjadi pelindung dan pembela abadiku. Ia memberikan sejumlah uang untuk bekal selama persembunyianku dari amukan bapakku. Aku merasa ibuku tetap bersamaku meski aku tahu berita kehamilan pacarku telah mencoreng wajah bapakku yang ketua adat di kampung. Sebagai laki-laki aku ingin menunjukkan tanggung jawab. Tetapi aku hanya lulusan sekolah menengah atas yang belum memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bertanggung jawab. Ibuku berhasil melunakkan hati orang tua pacarku. Kami tidak menikah. Keluargaku menerima aib itu sebagai anugerah karena janin di perut pacarku semakin membesar dan itu berarti mereka akan mendapat rezeki seorang cucu dari anak laki mereka satusatunya. Aku lega. Aku dan pacarku atas restu kedua belah pihak diizinkan menunda pernikahan sampai aku lulus kuliah dan bekerja. Kami hidup satu atap meski tak menikah. Namun, kehidupan kampus dan kota besar membuatku tak semakin sadar akan tanggung jawab. Aku semakin liar. Meski tak pernah kusembunyikan statusku yang menggantungkan pernikahan, tetap saja banyak perempuan yang tak peduli. Saat mereka menginginkan kehangatanku, maka persetan dengan urusan anak dan lainnya. 18


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Aku seperti disentil ketika menghadapi kenyataan calon isteriku akan menikah dengan lelaki lain. Lelaki yang menurut ibu anakku adalah lelaki yang bisa menerima dirinya apa adanya dan bertanggung jawab atas hidupnya. Aku terpelanting. Tetapi tak bisa mencegah dengan alasan cinta sekali pun. Bagaimana mungkin ibu anakku bisa percaya kata cinta yang kuucapkan jika di belakangnya aku bergumul dengan banyak perempuan? Aku mendendam dengan alasan yang menurut banyak orang sangat tidak masuk akal. Semua orang menganggapku laki-laki pengumbar syahwat. Yang menggantungkan kebahagian dalam persinggahan cinta sesaat. Bahkan sebagian orang mungkin saja menganggapku laki-laki penyedia jasa seks. Menikmati setiap permainan dan rayuan perempuan yang menghambur-hamburkan duitnya untukku sebagai balasan atas kesenangan yang kuberikan padanya. Percintaanku yang terbawa ke kehidupan bebas beberapa kali menyeretku pada posisi yang tak menguntungkan. Meski tak juga bisa dibilang rugi. Setiap perempuan yang menginginkanku hampir semuanya berasal dari keluarga terhormat dan berlimpah harta. Aku ikut merasakan gelimang harta dan kehormatan keluarga mereka. Aku ikut bangga menjadi bagian dari mereka dan diperlakukan sebagaimana mereka memperlakukan orang yang mereka cinta. Tetapi jika mau jujur, aku merasa hidup ini kering. Permainan dari ranjang ke ranjang kupastikan bukanlah cinta yang kucari. Kesenangan sesaat itu kini justru telah menjerumuskanku pada ketidakberdayaanku melawan perasaan dan pertentangan yang kian berkecamuk di gelisahku. “Bantu aku melepaskan diri dari bayang-bayang mereka, Hanna.� Kataku akhirnya. 19


Melepas Bayang-bayang

Perempuan itu menatap persis di manik mataku. Aku merasa ditelanjangi. Aku takut melihat kebencian di matanya. Aku menggigil ketakutan membayangkan betapa jijiknya perempuan itu memandangku. Perempuan yang kuimpikan menjadi perempuan terakhir yang akan mengisi hidupku di lima puluh tahun ke depan. “Aku bisa apa selama dirimu merasa apa yang kau lakukan telah menjadi bagian dari kesenanganmu,� jawab Hanna kalem. Pandangan matanya tak menakutkan, seperti yang kubayangkan. Rasa bersalah dan timbunan dosa yang kulakukan sepanjang hidupku membuatku merasa seperti debu yang hanya akan mengotori hidupnya. Tetapi aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Aku membutuhkannya. Lebih dari apa pun yang kubutuhkan. Aku menginginkannya lebih dari apa yang selama ini menjadi impian-impianku. Aku ingin segera menikahinya tetapi aku takut dengan bayanganku kegelisahanku. Aku takut Hanna menolak karena kukira perempuan mana pun tak akan bisa memasrahkan hidupnya dengan laki-laki macam aku yang hanya mementingkan diri sendiri. Tak ada yang tahu alasanku bertualang cinta tanpa rasa. Trauma masa lalu, perlakuan beberapa perempuan yang lebih memilih mengikuti keinginan orang tuanya dari pada tetap mempertahankanku sebagai laki-laki pilihannya menghancurkan harapanku dan membuatku tak percaya pada cinta. Tetapi mengapa kali ini aku tak bisa mengikuti keinginan Hanna untuk mengakhiri hubungan kami. Inikah yang disebut cinta? Otakku beku. *** HANNA membaca e-mail yang baru dikirimnya ke lelaki itu. 20


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Dibiarkannya air matanya menganak sungai dan jatuh menetes di lembaran buku hariannya. Ia harus tegas meski hati kecilnya berkata lain. Ia tahu ini keputusan yang berat. Tetapi hanya ini jalan terbaik untuk melepaskan diri dari bayang-bayang trauma lelaki yang mengajarinya arti cinta. Hanna menyeka air matanya. Ia tak akan mendebatkan soal cinta. Tetapi ia butuh waktu untuk membuktikan apakah ia sungguh mencintai laki-laki yang menjuntai benang kusut masa lalunya. n

u 21


Musim Maling

Ilustrasi: repro les demoislles d'avognon (1907) by pablo picasso/ openart

g Riki Utomi, Pernah berproses di FLP Riau. Tulisan telah dimuat di berbagai media dan terangkum dalam beberapa antologi bersama. Kini menjadi tenaga guru di sebuah sekolah kejuruan. Bermastautin di Kepulauan Meranti. 22


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Musim Maling Riki Utomi (Riau Pos | Minggu, 15 Juli 2012)

o

S

UNGGUH ia tak mengerti mengapa akhir-akhir ini dadanya begitu bergemuruh. Seperti gemuruh saat mendung yang mengurung terang siang di penghujung bulan. Pada saat-saat seperti itu, kontak pikirannya juga menjadi tak menentu, lebih tepat ia merasa pusing, walau tak begitu menusuk, tapi cukup membuatnya sulit berpikir. Saat-saat seperti itu, tubuhnya terasa panas dan berkeringat. Ah, setahu dirinya, ia tak punya apa-apa, juga tak menaruh beban pada hidup. Tapi benarkah? Dia coba berputar-putar memikirkan lekuk liku hidupnya sendiri sehingga berhasil mapan saat ini. Tapi ia tak mengerti mengapa seolah hal-hal yang rancu seperti singgah padanya. Seperti kemarin tiba-tiba ia takut akan gelap. Saat itu mati lampu dan malam seperti kuburan gelapnya. Hal yang membuat anak-anaknya tertawa karena ia menjerit-jerit ketakutan. Segera istrinya berlari sambil meneranginya dengan 23


Musim Maling

senter. Ia melihat istrinya dengan pucat, sepucat seperti ia melihat hantu. Dan, juga kemarin lagi, hal yang tak dimengerti istrinya, ia tiba-tiba tak mau makan, padahal di meja telah terpenuhi seluruh makanan favoritnya. Kau tahu? Ia berkata yang mencengangkan istrinya, seluruh makanan itu—dalam penglihatan matanya— seolah bagai seonggok bangkai. Dan akhirnya, istrinya pun marah-marah, bahkan menumpahkan semangkuk sayur lodeh kesenangannya sehingga celana dan bajunya basah karena kuah sayur. Dan... ini yang lebih gawat. Ia telah membuat wajah istrinya cemberut dan masam semasam asam jawa. Pada malam-malam yang di mana ia telah berjanji dengan istrinya itu di tempat tidur, tiba-tiba ia menjerit lagi. Ia menggigil dan ketakutan. Ia berteriak keras karena mengaku telah melihat bayangan hitam sambil membawa tombak yang siap menancapkan ke tubuhnya. Ah... ia benar-benar tampak seperti akan gila. Tapi, lain waktu, ia segar bugar, mengawali pagi dengan jalan kaki keliling halaman perumahan elit itu. Berjalan sambil tersenyum mendengarkan dendang burung-burung berkicau. *** SEBENARNYA tak ada yang harus dirisaukannya. Sebab segala bentuk kesenangan telah diraihnya. Ia juga kini telah berhasil meraih prestasi sebagai konglomerat. Saat pulang kantor ia pasti tertawa lebar, ngakak seperti telah menonton ketoprak humor di televisi. Seperti lelucon yang segar telah ia dapati. Seperti angin semilir yang mengelus pipi. Ia makin tampak gembul dan bundar seperti bola kasti. Hidup senang adalah harapan! Gaungnya. Setelah itu, ia kerumuni anak-anaknya yang ramai. Istrinya menuju padanya sambil membawa secangkir teh hangat. 24


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Mengecup pipinya dengan panas. Ia makin tertawa. ‘’Semua telah berada di tanganku. Kita harus menggenggam.’’ Istrinya mengangguk. ‘’Kita harus tak ketinggalan seperti mereka, bukan?’’ Istrinya makin senang, tersenyum lebar. ‘’Tenang saja. Semua yang ada sudah aku kuasai.’’ Hal itulah yang membuatnya makin gencar berada di kantor. Ia lebih sibuk dan (mungkin juga giat) tanpa pernah orang lain menyadarinya. Tapi orang lain tak tahu entah giat bekerja yang seperti apa, karena bisa jadi lain hal yang dijalaninya di kantor dinas itu. Tapi pelan dan pasti ia memang berhasil menggapai bintang cita-citanya: menjadi kepala dinas di sebuah kantor di kota itu. Ia kini pemegang kendali segala hal. Dan ia tertawa makin lebar.... *** TAPI ada sesuatu hal yang lain di tempat ia tinggal. Pemukiman elit itu—entah mengapa— menjadi seperti neraka baginya. Itu tentu sebuah hal yang tak menyenangkan. Meski ia belum merasa apa-apa dari hal-hal yang buruk melandanya, ia seperti sudah merasa dilanda, bahkan yang lebih menyedihkan, ia sudah seperti menjadi orang gila. ‘’Rumah Pak Gimun, pejabat itu habis diobrak-abrik maling,’’ kata istrinya. Ia terdiam sejenak. Seperti ada sengatan listrik menjalar di tengkuknya. Ia memandang istrinya dengan ragu. Tapi berusaha tersenyum, lebih tepat untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia juga merasa tak mengerti mengapa begitu takut akan hal itu. Sebab, baginya, hal itu bukan main-main. Setidaknya semua apa yang dirasakannya juga dirasakan oleh istrinya. Itulah harapannya. Dan 25


Musim Maling

mengingatkannya mengucapkan pada istrinya, ‘’kita harus hatihati...’’ Istrinya tersenyum, seperti menganggapnya tak ada kejadian. Dan itu memang benar, belum ada kejadian. Tapi dia—entah mengapa— sejak saat diangkat sebagai kepala dinas di lingkungan kantor itu, cukup membuatnya resah. Resah? Bukankah itu sebuah harapan dan anugerah? Sebagai hasil prestasi? Ya. Ia telah menganggap dirinya pantas untuk memegang pucuk pimpinan di lingkungan kantor itu. Ia merasa giat dan pantas mendulang prestasi. Tentu semua itu harapan yang gemilang. Tapi... setelah lingkungan tempat tinggalnya ini kini cukup merisaukan karena maling, itu membuat perasaannya tak enak. Seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk pikirannya, menggoyahkan hatinya, dan entah mengapa ia seakan ditertawakan oleh maling itu sendiri. Saat-saat seperti itu ia akan memijit kening dengan lebih dulu mengoles balsem. Sesuatu hal yang tak terduga begitu menyentak menyerang pikirannya. Menerornya dengan tatapan tajam, dan ia memejam. Menggeleng. Hatinya bergemuruh lagi, sulit untuk ia redakan. Apalagi setelah istrinya mengatakan hal yang lebih menusuk. ‘’Semalam Bu RT cerita padaku. Bahwa orang-orang di pos ronda berhasil menangkap seorang maling. Maling itu memar dipukul saat diintrogasi karena ia tak mau mengaku. Setelah babak belur, baru ia mengaku telah mencuri uang dari rumah Pak Haji Dingklik sebanyak ratusan juta. Pipinya biru, bibirnya pecah, dan matanya lebam. Ya, salah sendiri ia maling...’’ Ia merinding mendengar istrinya bercerita. Baginya cerita itu begitu menusuk. Mampu mengoyak perasaannya. Betapa beratnya yang diterima maling itu. Tapi bukankah maling tik perlu dikasihani? Dan untuk apa pula merampas hak orang lain? Apakah maling itu tak memiliki pekerjaan sehingga berani berbuat hal 26


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

yang merugikan dirinya sendiri? Ia tak habis pikir. Dan keningnya terasa kian berdenyut. Ia menambah lagi olesan balsem. Memijitnya dengan keras-keras... *** MALAM mendung. Angin begitu simpang siur bertiup, menabrak pepohonan dengan sembrono. Beberapa pohon tampak miring kanan-kiri. Sesekali terlihat kilat menyalip malam dan terdengar gemuruh yang beruntun. Dalam pusaran angin yang menabrak-nabrak itu terdengar ranting-ranting dan dahan-dahan pepohonan yang jatuh. Terdengar juga buah kelapa yang ikut jatuh menimpa atap seng kamar mandi. Dan yang lebih menjengkelkan... keadaan itu membuat listrik padam. Istrinya telah tertidur lelap. Entah mengapa ia makin merasa ketakutan. Dan yang membuatnya jengkel sejak satu jam yang lewat matanya tak dapat terkatup untuk segera pulas tertidur. Ia membayangkan kepulasan dalam tidur yang nikmat di setiap malam. Tapi akhir-akhir ini ia tak tahu mengapa begitu sulit untuk mendambakan tidur yang pulas dan nikmat. Malam-malam ibarat siksaan baginya saat ini. Dan kegelapan malam yang hanya diterangi lampu minyak tanah itu membuatnya terasa mencekam. Ia memasang selimut lebih tebal. Rintik-rintik gerimis telah turun menderu di atas genteng. Sayup-sayup suara kentungan terdengar dari pos ronda yang berada di simpang jalan. Ia tak dapat menyangka apakah rumahnya juga akan disinggahi maling seperti rumah-rumah elit yang akhir-akhir ini ia dengar dari istrinya. Apalagi cerita maling yang tertangkap di rumah Pak Joki, seorang pejabat teras di kota itu. Maling itu menertawakan tuan rumah, padahal ia telah dipukul habis-habisan oleh para tetangga. Tapi maling itu, yang anehnya tak seperti merasakan sakit oleh 27


Musim Maling

tamparan, tinju dan tendangan. Ia tetap menertawakan Pak Joki sambil juga meneriaki maling pada Pak Joki, yang membuat lelaki paroh baya itu murka dan turut juga menendangnya. Hujan akhirnya turun dengan deras. Malam masih gelap. Hatinya terus bergejolak dan gemuruh. Ia teringat pekerjaan di kantor. Tentang berbagai macam proyek dan kerja sama yang menggiurkan. Negosiasi yang menjanjikan. Juga uang-uang sampingan dan pesangon yang membuat hatinya makin melambung. Dan... dari segala bentuk proposal yang telah ditandatanganinya, menjadikannya seperti orang terkaya yang mampu memiliki harta apa saja. Gaung mulut manis istrinya yang ingin mobil merek terbaru, sepeda motor untuk anaknya, beli rumah di Perumnas, usaha kapal, perabotan dan tabungan untuk pembiayaan dana kampanye karena sebentar lagi ia juga akan mencalonkan diri sebagai legislatif. Ah... sungguh hal yang besar dan banyak sekali. Ia memejamkan mata dengan berat tapi tetap kantuk tak juga singgah. Ia masih berpikir mengapa maling itu menertawakan Pak Joki? Dan juga orang-orang elit di perumahan itu. Apakah maling itu juga suatu saat akan singgah ke rumahnya? Menjarah segala apa yang ada di rumahnya. Dan ia juga akan ditertawakan oleh maling itu. Ia tak habis pikir. Ah... sungguh kasihan maling-maling itu, ia mencuri karena terpaksa. Karena suatu tuntutan hidup yang mendesak untuk sekadar mengisi perut yang perih karena lapar. Sedang orang-orang yang menjadi targetnya adalah orang-orang kaya yang bergelimang harta karena... ia berpikir ragu. Mengapa ia harus berhenti untuk mengatakan hal-hal jujur? Ia menggeleng dalam diam dan napasnya naik turun tak tentu arah. Ia kembali teringat segala urusan kantor. Tentang royaltiroyalti yang telah didapatkannya selama ini. Ya, tentang segala macam proyek yang diurusnya dan tentang simpang siur dana 28


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

yang dicairkan, juga uang pelicin dari seluruh bentuk ketidakseimbangan dalam proses kerja dan... segala tetek-bengek yang tak lazim diikutsertakan dalam bentuk kerja yang dilakukannya. Tiba-tiba ia ingin menjerit dalam keremangan lampu minyak itu. Segala bentuk ketimpangan dari segala yang telah dilakukannya membuat hatinya tak merasa nyaman. Dan akhirakhir ini musim maling membuatnya makin mencekam.... Dan... mendadak ia dikejutkan bunyi kaca yang pecah. Ia sempat meneliti dengan menajamkan telinga arah itu dari belakang, apakah dari kamar mandi? Dadanya bergemuruh hebat. Darahnya berdesir kuat. Ia coba membangunkan istrinya, tapi sial, istrinya tak bergeming sedikitpun, tapi tambah makin mendengkur pulas. Ia makin cemas. n Telukbelitung, 8 Juni 2012

u 29


Biografi Tangan

Ilustrasi: repro boris indrikov / openart

30


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Biografi Tangan Muhammad Pical Nasution (Sumut Pos | Minggu, 15 Juli 2012)

o I/

A

KU melihat gerakan sepasang tangan di antara tumpukan minuman kaleng berwarna merah-hijau dalam rak sebuah mall mewah. Tangan itu pelan-pelan beranjak dari kaleng minuman yang satu ke kaleng minuman berikutnya. Aku memerhatikannya dengan sangat hati-hati. Aku tak akan mengerdipkan mataku sedetik pun untuk tidak melihat peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, peristiwa yang akan dilakukan oleh tangan itu. Apalagi untuk melepas pandang. Aku mengikuti ke mana maunya jalan tangan itu. Langkahku pelanpelan menyusuri. Sampai akhirnya, aku menghalau semua penasaranku terhadap tangan bejat itu ketika aku tak lagi melihatnya dalam rak sebuah mall mewah. Seonggok tubuh besar tiba-tiba menguntit di belakang. Seorang 31


Biografi Tangan

lelaki ceking secara tiba-tiba melintas di depan. Langkah Lelaki ceking itu begitu mencurigakan. Aku memandangnya begitu serius sampai-sampai tak menghiraukan seonggok tubuh besar yang masih menguntit di belakang tadi. Aku tak lagi berpikir tentang tangan bejat yang bergerak di antara kaleng-kaleng minuman berwarna merah-hijau itu. Lalu, suara gaduh terdengar beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku melihatnya. Wanita-wanita cantik berdiri mengelilingi sesuatu yang rubuh. Tubuh besar di belakangku tadi telah hilang. Ternyata tubuh besar itu sudah berada di sekeliling wanita-wanita cantik yang begitu menggoda. Lelaki ceking itu berlumuran darah. Dari dalam bajunya, terdapat beberapa kaleng minuman berwarna merah-hijau. Lelaki ceking itu tertangkap basah. Kemudian aku bergerak menuju tumpukan kaleng minuman yang berjajar di dalam rak sebuah mall mewah. Di kaleng minuman itu, tertera banrol dua ribu tiga ratus rupiah. Lelaki ceking itu lalu dibawa entah ke mana. Aku sudah bisa membayangkan kalau dia akan dibawa ke dalam sel, dihajar sampai lebam, lalu diadili, atau mungkin dimatikan. II/ TELEPON genggamku bergetar. Sebuah pesan dari istriku ternyata. �Bang, Adik sudah di rumah. Cepat pulang ya!� Begitu isinya. Tiba-tiba saja tanganku gemetar. Aku masih mencengkeram geram telepon genggamku seolah-olah tak mau melepasnya atau kembali memasukkannya ke dalam saku. Aku keluar dari mall mewah tempatku membeli pewarna kuku untuk istriku. Harganya lumayan mahal. Aku sempat berpikir, “Apakah semua perempuan akan terlihat elegan jikalau kukunya diberi cat warna-warni?� Aku tiba di rumah yang baru kutempati selama empat bulan setelah kami menikah. Istriku menyambutku dengan menjulurkan 32


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kedua tangannya untuk memelukku. Kami pun saling berpelukan mesra. “Ada Bang pesananku?” tanyanya. Aku membuka kantong plastik yang di dalamnya terdapat pewarna kuku yang baru kubeli dari sebuah mall mewah di kotaku. Aku berikan kepada istriku sambil melontar senyuman ke ingsut matanya. Ia terlihat begitu gembira. Aku puas sudah membelikan istriku benda kesukaannya. Dulu, sewaktu istriku masih kanak-kanak, mertua perempuanku berkata kalau istriku paling suka menghiasi kukunya. Saban hari, di dalam kamar, ia mewarnai kukunya dengan pewarna yang sering dibawakan almarhum ayahnya sewaktu masih bekerja sebagai satpam di sebuah mall. “Coba lihat Bang!” katanya padaku. “Cantik. Bagus kok.” “Sebulan sekali, kalau bisa sih Bang, Adik minta ganti warnanya lagi ya!” Aku menelan ludahku. Penghasilanku sebagai seorang penjaga pintu perlintasan kereta tidaklah begitu besar. Aku tak mau menolak permintaannya. Aku tak ingin jika istriku memotong kedua tangannya hanya karena tak dibelikan pewarna kuku seperti kejadian istri tetanggaku. Dengan terpaksa aku melontarkan lagi senyuman. Kali ini dengan senyuman kecil, dan langsung menembak ke lesung pipinya yang memukau sekaligus memilukan. III/ PINTU perlintasan kereta segera kuturunkan. Kereta jurusan Tanjung Balai—Medan akan tiba. Orang-orang memberhentikan laju kenderaannya. Dari kejauhan aku melihat seorang tua meletakkan kedua tangannya di rel. Aku tak sempat 33


Biografi Tangan

menghalaunya untuk tidak melakukan hal bodoh itu. Aku gagal. Kereta melaju tanpa rem. Orang-orang berkumpul melihat kejadian itu. Aku melihat darah bercucuran. Kedua tangannya putus. Seorang perempuan menjerit di tubuh lelaki tua itu. Aku rasa dia adalah istrinya. Aku tak tega melihatnya. Aku bisa membayangkan bagaimana anak-anaknya hidup tanpa seorang ayah. Ternyata benar. Lima anaknya yang masih kecil datang menghampiri mayat ayahnya. Mereka mengulurkan isak tangis yang begitu dalam. Tapi, di antara kelimanya, adalah seorang perempuan kecil; cantik parasnya. Perempuan kecil itu tak menangis. Lalu aku tanyakan kepadanya kenapa ia tak menangis. Ia hanya melontarkan senyuman ke wajahku yang kalut. Istrinya tiba-tiba saja melotot. Ia bangkit dari rintihannya yang jauh. Ia mendekati tubuhku. Ia memukul-mukul badanku. “Kenapa tidak kau halau suamikuuu?� Pengadilan memutuskan bahwa aku dihukum sepuluh tahun penjara. Putusan itu membuatku hancur berkeping-keping. Aku tak mengira kalau kejadiannya harus berakhir seperti ini. Dua polisi dan tiga sipir menggiringku ke dalam penjara. Tanganku digari. Aku menangis. Aku berteriak. Orang-orang dalam penjara tercuri perhatiannya. Ternyata aku tidak sendirian di dalam. Mereka merasa terganggu dengan teriakan yang kukeluarkan. Kuperhatikan satu-persatu wajah mereka. Aku seperti mengenal seorangnya. Dialah Lelaki ceking yang duduk menyudut sambil menengadahkan kepalanya ke atas sel. Ia seperti orang yang akan berencana meloloskan diri lewat atap. Ternyata ia juga terganggu dengan teriakanku. Lalu ia mendekatiku dengan perlahan. Aku melihat tangannya yang puntung. Tangan puntung itu seperti ingin mencekik batang leherku. Aku bukan kepalang takutnya. Aku menjerit. Sampai akhirnya, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. 34


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

IV/ AKU digiring ke sebuah ruangan lain yang di dalamnya tersimpan banyak misteri. Sepertinya ruangan itu tak pernah dimasuki oleh siapa pun. Aku dan dua orang sipir melewati loronglorong yang gelap. Aku dimasukkan dengan cara yang tidak manusiawi. Tak ada penghuni selain aku di dalamnya. Di dalam ruangan itu aku melihat banyak tulisan. Salah satunya tulisan “SELAMAT DATANG DI KOTA ROUGENVILE�. Tulisan itu membawaku ke sebuah tempat, tempat di mana tangan adalah sesuatu yang begitu sangat dihargai dan dihormati. Kota itu dipenuhi toko-toko yang berlambangkan tangan. Misalnya untuk mencari sebuah toko buku, kita tak perlu repot. Kita tinggal melihat lambang yang terpajang di tiap toko. Untuk sebuah toko buku, dilambangkan dengan sepasang tangan yang berpose seperti orang berdoa. Atau toko cincin yang dilambangkan dengan acungan jari tengah yang dililit cincin. Orang-orang di sana begitu menghargai tangan. Para koruptor, maling, pelaku tindak kekerasan rumah tangga, bisa hidup dengan tenang. Di mall-mall juga dijual tangan-tangan. Jadi, tak perlu susah-susah. Jika tangan kita terluka, korengan, atau apalah, tersedia penggantinya di toko-toko. Aku menamainya negeri tangan. Aku menikmati hidupku di kota itu. Seandainya lelaki tua yang meletakkan tangannya di rel perlintasan kereta hingga putus itu tak mati, mungkin aku bisa membelikan tangan pengganti untuknya. Begitu juga untuk istriku, untuk istri tetanggaku, dan untuk tanganku sendiri yang masih diborgol. Aku terbangun dari tidur yang panjang. Seorang sipir datang menjemputku dari ruangan lima kali lima meter yang di dalamnya banyak narapidana tanpa tangan. Katanya aku bebas. Aku senang mendengar kabar baik itu. Aku bebas. Ya, aku sudah bebas. Aku melewatkan waktu 35


Biografi Tangan

sepuluh tahun di dalam penjara. V/ TIBA-TIBA saja telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan dari istriku. Aku membacanya begitu khidmat. Aku membacanya sambil tersenyum. “Bang, Adik ada jam tangan baru. Cantik lho Bang jam tangannya. Abang cepat pulang ya. Adik ingin Abang beri komentar.” Maka, bergegas aku pulang menuju rumahku. Pasti istriku sudah tak sabar ingin menunjukkan jam tangan barunya. “Ini Bang,” sambil mengarahkan tangannya ke hadapanku. Aku melihat jam baru menghiasi tangan istriku. Begitu indah tangan itu. ditambah lagi pewarna yang menghiasi kuku-kukunya. Dia terlihat cantik, sama seperti ketika aku pertama kali melihatnya sepuluh tahun yang lalu. “Di mana Adik beli?” Tanyaku. “Tadi ibu datang Bang. Ini hadiah dari ayah sebelum ia meninggal.” Istriku mengeluarkan air matanya. Jatuh menempel di jam tangan barunya. Aku memeluknya dengan kedua tanganku. Kami saling mendekap. Aku tak ingin dia bersedih. Apalagi sampai mengeluarkan airmata. Aku sudah melarangnya untuk tidak berduka atas apa yang menimpa keluarganya, dahulu. “Tak usah Adik bersedih. Coba lihat Abang!” Aku menampakkan senyuman penghibur. “Ia Bang.Tapi ini pemberian terakhir ayah sebelum meninggal.” Aku mendekap tubuhnya lebih erat lagi. Aku kibas kepalanya dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang pinggulnya. Aku menciumi keningnya. Air mata itu menempel di bibirku. Istriku sedang hamil dua bulan. Aku takut kalau 36


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kandungannya terganggu hanya karena masa lalu itu. Sepengetahuanku, istriku adalah orang yang tak mudah menangis. Apa mungkin ini bawaan anak yang ada di dalam kandungannya? Sebulan lagi, akan ada kenduri di rumahku. Kenduri selamatan atas anak yang sedang dikandung istriku. Aku harus menyiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan nantinya. Aku menelan ludahku lagi. Penghasilanku sebagai seorang maling pasar tidak menentu. Apalagi untuk acara kenduri. Tapi tak apalah, pikirku. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Empat adik iparku datang ke rumah. Mereka begitu senang kelihatannya. Mertua perempuanku juga datang. Ia membawakan kami hadiah. Aku membukanya. Ada boneka tanpa tangan. Aku tersenyum sambil menelan ludahku sendiri. Dan kini, boneka itu kupajang di dinding. Tiap malam, mimpi itu datang tanpa diundang. Semua orang berjalan tanpa tangan. n Desember 2011

u 37


Nurbaya

Ilustrasi: repro openart

g Bustami Bin Arbi, peminat sastra, tinggal di Nagan Raya 38


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Nurbaya Bustami Bin Arbi (Serambi Indonesia | Minggu, 15 Juli 2012)

o

T

IGA hari sudah anak muda itu bermurung muka. Tak lazim, binar matanya yang selalu terang itu kini redup tak menyala. Lesu, tak bergairah. Perubahan itu menjadi tanda tanya besar sahabat-sahabatnya, sebab selama ini dialah yang selalu menjadi mortir penyemangat di antara sepuluh mahasiswa yang ditugaskan di gampoeng terpencil itu. “Jamal, jangan khawatir. Si Nur nampaknya juga suka sama kau. Apalagi Teungku Din, ayahnya sangat dekat kan sama kau�. Selidik Usman sebelum meloncat indah ke sungai yang airnya tak terlalu dalam. Dugaan sahabatnya itu memang punya alasan kuat. Selama ini mahasiswa yang sedang mengikuti program pengabdian masyarakat di gampoeng itu tinggal di rumah Teungku Din, salah satu petua kampung. Di antara mereka, Jamal lah yang akrab dengan Nurbaya, anak bungsu Teungku Din. Kedekatan mereka 39


Nurbaya

pun menjadi buah bibir semua teman mahasiswa di sana. Bahkan mulai menjadi isu hangat sekampung. Sahabatnya mendukung penuh kedekatan Jamal dan Nur untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Semua kriteria calon pendamping hidup yang diidamkan Jamal ada dalam diri Nurbaya. Tinggi semampai, hitam manis, dan tutur katanya lembut tak dibuat-buat. Spesial di mata Jamal, tidak seperti kebanyakan kawan-kawan perempuan di kampusnya. Kulit mereka sudah dipermak dengan kosmetik kimiawi. Gaya hidup mulai bergeser dari nilai gampoeng. Ikut-ikutan budaya asing yang tak jelas. “Jamal, maafkan Cek yang tidak memberitahukan padamu. Nurbaya sudah dipinang lelaki tetangga kampung dua bulan lalu, dalam waktu dekat Insya Allah akad nikahnya akan dilaksanakan.” Kata-kata itulah yang membuyarkan semua mimpinya saat Teungku Din memanggilnya ke ruang tamu suatu malam. Seketika jantungnya berdetak gencang. Seakan mau roboh tubuhnya yang kekar. Kecewa. Perasaan itu berkecamuk hebat dalam batin Jamal. Bukan karena ia harus rela mengubur mimpi masa depannya dengan Nurbaya. Namun pernikahan itu sangat tak normal menurut pikiran warasnya ketika Teungku Din melanjutkan pembicaraan. “Kamu tahu kan Mal, kondisi Cek yang begini rupa. Tanggung jawab tak lagi berat kalau udah menikahkan Nur. Lagi pula tak elok menolak lamaran yang sudah datang”. “Pungo. Ini benar-benar gila.” Jamal membatin. Dia menatap wajah lelaki yang ditaksirnya sudah memasuki usia lima puluhan tahun itu, yang terus berbicara dengan wajah serius. Raut sedih di wajah yang mulai keriput itu pun tak dapat disembunyikan. Titik- titik air mata Teungku Din mengalir juga ke pipinya. Dia sadar anaknya juga menaruh hati pada Jamal. Bahkan Jamal sudah dianggap seperti anaknya sendiri. 40


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Apa boleh buat, mungkin saya tak berjodoh dengan Deknur. Semua sudah diatur Allah.” Hanya itu yang bisa diucapkan Jamal sebagai penghibur diri setelah dari tadi hanya menyimak Teungku Din berbicara. Di bawah temaram lampu teplok, hawa dingin malam itu seakan menjadi pelengkap suasana haru dua insan beda generasi itu. Pun dalam hati, Jamal memberontak. Ingin berteriak sekuatkuatnya. Mengapa tak dari awal Teungku Din mengatakan, sebelum benih-benih cinta itu mekar. Dilematis. Jamal dipaksa ikhlas dengan kondisi. Kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik pada sebagian besar masyarakat di pedalaman Aceh itu telah membentuk pola pikir yang kaku. Tamat SMP langsung nikah bagi sang gadis dan tak jarang pula lelaki belia sudah berkeluarga. Tak ada cita-cita yang tinggi untuk sekolah, untuk sekadar mengubah nasib. Dan, Nurbaya merupakan salah satu gadis yang juga harus menjalani siklus temurun yang tidak adil itu. Tak ada kata-kata sakti atau jampi-jampi untuk mengubah keputusan Teungku Din yang biasa dipanggil Jamal dengan sebutan Cek itu, sebab lamaran orang telah diterima. Tradisi kampung di bibir bukit yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota itu pantang diingkari. Akan berakibat fatal dan menjadi aib besar bila lamaran dibatalkan. “Man, menurut kau berapa generasi lagi kisah ini akan berulang di gampoeng yang nan indah ini?” tanya Jamal pada Usman yang baru saja bangkit dari merendam di sungai, tempat biasa mereka mandi. “Tak lama, nanti tamat kuliah kita buat saja partai politik lokal baru. Namanya Partai Nurbaya. Sepakat? Ha ha.” Dengan nada tak serius si mahasiswa jurusan ilmu sosial politik itu menjawab sekenanya sembari meloncat indah kembali ke sungai. n 41


Kiambang

Ilustrasi: repro openart

g BENI SETIA, tulisannya dimuat di berbagai media massa. email: benisetia54@yahoo.com 42


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kiambang Beni Setia (Seputar Indonesia | Minggu, 15 Juli 2012)

o

P

ARUNG gampang dicapai dengan bus atau elf. Cukup bilang pada kernet atau kondektur, “Parung, Kang,” dan angkutan itu akan berhenti di Parung. Tinggal apa milih di jembatan Cijanari yang paling ujung kalau dari Kanyere dan paling awal bila dari Natrat, atau di pertigaan bila dari Natrat dan di bawah beringin tepi Cijanari— yang menekuk sejajar jalan— bila dari Kanyere. Loncat dan tinggal pilih: mampir ke kios es, bakso, mi kocok, soto, sate, nasi goreng, bercukur, naik ojek, dan lainnya di sisi timur tepi Cijanari, atau menyeberang ke perumahan dan pertokoan kiri-kanan alur lurus ke Bayeungyang–di perbukitan Kalepatan. Perbukitan angker, dan dianggap bekas Kerajaan Kawisesan– menurut dongeng orang tua, dikutuk jadi siluman. Kutukan itu sendiri tak begitu jelas. Ada yang bilang karena Raja Wiguna marah anjingnya diusir dari masjid oleh sufi pengembara, lalu si 43


Kiambang

pengembara itu diundang makan dan dijamu menu sate anjing, tapi karena si sufi itu mengerti maka ia mengutuk semua orang jadi kera. Kata yang lainnya lagi, ada sufi pengembara minta izin mendirikan masjid, tapi sang Raja Wiguna lancang mengujinya dengan menyuruh anaknya pura-pura hamil, dan si sufi diusir ketika mengatakan putri raja hamil. Dan memang hamil, sehingga raja menangis dan ditinggalkan rakyatnya. “Masjid itu, lebih tepatnya: tajug itu yang saya maksudkan sebagai al-Mauunah, yang muncul dalam mimpi dan berulang kali muncul dalam mimpi,yang mihrab-nya sangat dekat dan nyaris berdempet dengan Kakbah–meski faktanya terletak jauh dari Mekkah, terletak di Sunda sini. Dalam salat istikharah tempat itu akan dicapai dari Parung, dari beringin yang tumbuh di tepi Cijanari. Ini kan?” “Ini emang Parung, ini Cijanari dan beringin itu telah ada sejak buyut saya, Pak. Kisah Kerajaan Kawisesan di perbukitan Kalepatan sana itu memang ada diceritakan oleh neneknya nenek saya. Tapi benar-tidaknya, tidak ada yang percaya. Itu dongeng. Tak ada bekas kerajaan di sana–terlebih masjid al-Mauunah. Itu cuma dongeng.” “Tapi saya yakin …” “Nah! Itu jalan ke arah perbukitan Kalepatan. Tinggal jalan, tinggal cari …” “Terima kasih!” *** AJA Maning terbahak-bahak, bilang kepada semua tukang ojek dan calo yang mangkal di bawah beringin itu, bahwa ada yang gila yang percaya akan keberadaannya Kerajaan 44


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kawisesan. “Dan bahkan kini mau ke sana mencari masjid, eee… hanya tajug, katanya al-Mauunah di sana. Seumur-umur aku baru dengar tuh!” teriaknya sembari menunjuk- nunjuk ke latar perbukitan yang samar 15 kilometer lebih ke timur, yang berangkai dengan perbukitan lain dan naik membentuk gugus sulur pegunungan dan memuncak di julangan Gunung Parongpong. Yang lainnya tersenyum. Dan, Emen menyayangkan karena tak menyuruh si lelaki asing itu mencarter ojeknya. “Ada fee sepuluh persen, Ja!” katanya, mengklem. Aja Maning cuma menggaruk kuduk. “Tak terpikir, Men. Rada gelo!” “Ada apa, barudak?” “Aki Sahwi! Ada yang mencari al-Mauunah di Kawisesan, Ki!” “Euh … geus mimiti deui nya?” “Apa itu, ki?” Aki Sahwi tersenyum. Bilang, dulu–sekitar tiga puluh tahun lalu–ada banyak orang yang datang dari Waraas di utara, malah lebih jauh lagi–Jamblang, Paseh, dan bahkan Solo dan Jawa– atau dari Kayakas di selatan, malah lebih jauh lagi–Sadang, Purwakarta, Rangkas, dan Lampung, berkumpul di Parung dan samasama bergerak ke perbukitan Kalepatan, mencari sisa Kerajaan Kawisesan. Ada yang mencari harta, ada yang mencari pusaka, dan ada yang khusus yang mencari sisa atau mungkin cuma pondasi awal dari rencana pembangunan tajug— yang dengan yakin mereka sebut al-Mauunah. Dahulu. Sehingga tentara turun tangan, menangkap mereka, mencatat serta mengembalikan ke kampung asalnya. “Tak ada yang menemukan Kerajaan Kawisesan, Ki?” 45


Kiambang

“Tentara dan pemerintah bilang,tak ada Kerajaan Kawisesan– tak ada prasasti atau kronik sejarah yang menunjukkan kerajaan itu pernah ada.Semua catatan lisan di pesantren manapun tak ada yang menyatakan pernah ada santri atau kiai mereka yang berdakwah di perbukitan Kalepatan– di Kerajaan Kawisesan.” “Jadi,tak ada ya, Ki?” “Fisik konkret alam wadag tak pernah ada, bahkan tak mungkin ada. Tetapi di alam halus rohaniah siapa yang tahu. Banyak orang Bayeungyang, dulu, yang tinggal di udik Lembah Cawene dan di dekat mata air Sungai Cijanari, yang sesekali di awal bulan Sura sering mendengar bunyi gamelan dimainkan malam hari. Sumber suaranya berpindah-pindah, tapi katanya itu dari mata air di bawah pohon beringin tua itu–yang dulu banyak keranya itu.Karena di situlah letak gerbang kerajaan siluman Kawisesan berada. Di sana …” “Aku nggak percaya, Ki!” “Aki juga, Aja! Tapi banyak teman aki yang mendengar dan menelusurinya.” *** PARUNG hanya gugusan warung dan rumah di pertigaan, di mana jalur provinsi merentang utara-selatan, melintasi Cijanari– menghubungkan Kecamatan Natrat serta Kabupaten Waraas di utara dan Kecamatan Kanyere dan Kabupaten Kayakas di selatan. Di mana, dari jembatan ke selatan, di bibir sungai, terletak warung dan kios makanan, bengkel, tukang cukur, serta pangkalan ojek merangkap terminal bayangan di bawah naungan beringin tua. Di timur, di seberang,dalam pola dua “L” yang dibangun alur jalan ke Kecamatan Bayeungyang terletak gugus perumahan dan 46


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

toko. Wilayah yang hidup dua puluh empat jam oleh lintasan bus antarprovinsi. Terutama siang hari ketika anak sekolah pergi ke atau pulang dari Natrat atau Waraas dan Kanyere atau Kayakas. Di hari kedelapan, ketika lelaki itu menyeberang dari pertigaan dan mendekati rimbun beringin, cerita kegilaannya setengah dilupakan orang. Aja Maning juga agak pangling ketika lelaki itu muncul di hadapan. Tersenyum. “Saya cape ngubek-ngubek perbukitan. Harus ada orang yang mau menunjukkan di mana kirakira letak Kerajaan Kawisesan itu,” katanya. Aja Maning yang merokok setengah melamun di atas sadel ojek Karwita itu tersentak. Mengerutkan kening, dan terbahakbahak. “Ieu yeuh! Ieu yeuh!” teriaknya pada semua orang. Dan serentak semua orang merubung. Bertanya ini-itu. Memaksa lelaki itu bercerita. Manggut-manggut, dan bilang kalau tiga puluh tahun yang lalu, dulu, pernah banyak orang yang datang ke Parung, ke Bayeungyang dan perbukitan Kalepatan untuk mencari Kerajaan Kawisesan. “Bapak mencari apa?” “Tajug Al-Mauunah!” “Untuk apa?” “Salat di sana sama dengan salat di Kakbah. Seratus delapan puluh kali salat wajib dan sunah puasa sambil beritikaf selama bulan Ramadan sama dengan kita umrah. Saya hanya mendapat ilapat meski kiai saya pernah cerita dulu.” “Bener?” “Hanya untuk yang percaya, Jang.” “Saya tak percaya ….” “Silakan. Insya Allah itu benar!” “Tapi, saya akan menolong, Bapak. Gerbang ke kerajaan 47


Kiambang

lelembut Kawisesan itu terletak di sekitar pohon beringin tua yang jadi sumber mata air Cijanari ini, tepat di Lembah CaweneBayeungyang. Tapi, kita tak bisa langsung ke sana. Kita harus minta izin ketuk pintu dulu, dengan bersembahyang dan berdoa tiga hari tiga malam di atas batu datar di tengah Cijanari itu. Salatlah– yang wajib dan sunah. Itikaf– nanti ada petunjuk dan siapa tahu malah jemputan. Serius! Tapi,ini hanya untuk yang percaya, bukan yang tak percaya seperti saya ini. Insya Allah itu benar!” “Aja! Jangan ngaco, Maneh. Kasihan!” “Diam! Gimana?” Lelaki itu tersenyum. Menganggukanggukkan kepalanya. Berterima kasih dan menyalami Aja Maning. Menuruni sempadan Cijanari, melepas baju dan celananya, dan berenang hanya dengan bercelana dalam. Naik ke batu besar yang datar di tengah Cijanari–tidak peduli pada pandangan banyak orang. Dan, Aja Maning hanya tertawa ketika ditegur, bagaimana bila Cijanari mendadak banjir. Dengan kurang ajar ia bilang, itu mah petunjuk dari Kerajaan Kawisesan–vonis ditolak masuk. Orang-orang mengangkat bahu. Bungkam, tidak peduli. Terpikir: siapa orang itu? Dari mana asalnya? Macam mana tingkat kewarasannya? Meski mereka terkadang cemas kalau lelaki itu tak kuat berpantang tak makan dan tak minum, lantas pusing karena terpanggang matahari, dan terguling ke sungai. Mati. Karenanya, mereka lega kalau masih melihat lelaki itu bersuci. Lalu naik ke atas batu dan mengenakan pakaiannya. Melantunkan qamat, dan salat. Bersila melafalkan doa. Mungkin melafalkan Al-Quran secara hafalan di luar kepala. Lega dengan gerak salat. Cemas saat bersila itikaf. Lega lagi saat salat. Cemas saat khusyuk berdoa dan itikaf. Lega saat 48


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

bersalat. Cemas saat bersila, berdoa serta membungkuk Itikaf. Dan, jadi tontonan banyak orang. Polisi datang. Aja Maning bilang, orang itu sedang menjalankan lelaku ilmu, jadi tak perlu diganggu. “Bilangnya, cuma tiga hari tiga malaman, Pak,” katanya, “Kami semua mengawasinya, dan kalau telah pas tiga hari tiga malam kami semua akan meringkusnya dan menyeretnya ke RS. Kami semua mengawasinya, Pak, dua puluh empat jam. Full.” *** SORE itu Parung gempar. Semua orang menengok ke Cijanari, ke arah batu di mana lelaki itu tiga hari tiga malam mengasingkan diri, dan di senja itu mendadak ia bangkit dari bersila: berdoa dan beritikaf. Menyerukan “Allahu Akbar” yang lantang berulang-ulang. Aja Maning tertawa. Tapi, ia tak sempat berkomentar ketika si lelaki itu meluncur dari batu ke Cijanari, dan ajaibnya kakinya kukuh menjejak pada arus air Cijanari seakan sulur itu benda padat dan bukan benda cair yang menghilir cenderung menenggelamkan barang berbobot. Jalan pelan– tangan diulurkan terbuka depan dada dan mulutnya mengucapkan kalimat tauhid– jalan melawan arus ke hulu. Orang-orang berlari ke jembatan dan menonton lelaki itu melangkah di atas arus dan terus ke hulu. Orang-orang mengikutinya dari tepi sungai. Orang-orang bergegas ke Bayeungyang, ke Lembah Cawene, ke arah pohon beringin di mana Cijanari itu bermula. Polisi dan tentara, orang pemerintah dan banyak orang lagi berdatangan. Mereka ingin mencegat langkah lelaki itu tapi tak bisa bilang apa-apa saat melihat si lelaki itu berjalan di arus Cijanari. Berzikir 49


Kiambang

dengan kalimat tauhid saja. Semalaman, diselingi salat. Hampir usai fajar lelaki itu sampai di telau mata air Cijanari di bawah beringin. Menarik nafas. Mengusap wajah, istigfar. Menyerukan, “Subhanallah!” yang keras, ia tiba-tiba melantangkan qamat ke arah kiblat. Mengambil posisi saalat dan melakukan salat sunah dua rakaat. Disambung salat subuh. Lalu, setelah salam, bersila dan mulai berdoa. Sementara, di keremangan awan-awan berdatangan. Bergumpal jadi mendung. Dan setelah bunyi halilintar besar dan satu kilasan yang menyambar pohon beringin, hujan turun dengan derasnya. Orang lari serabutan. Empat puluh tujuh menit kemudian– bersamaan dengan terang pagi–hujan reda dan dari telau mata air Cijanari lelaki itu bangkit dengan senyum tersungging. Pohon beringin hangus. Lelaki itu bilang, “Kawisesan dilaknat Allah.” Mengangkat tangan, mengucap salam, dan meloncat ke dahan kiara, dan terbang ke pucuk pohon kawung. Hilang. Meski kemudian ada yang bilang lelaki itu punya pesantren di Banten, yang lain bilang di Patani, dan banyak yang bilang setiap tahun ia menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dan, cerita terus dituturkan dan terus ditambahkan orang, meski tidak satu orang pun dari para penirunya bisa menemukan berkah yang sama. Tak satu pun. n Catatan: Elf: tipe satu merek mobil Jepang, istilah untuk angkutan umum | Tajug: musala yang berangka kayu berdinding anyaman bambu | Rada gelo: agak gila | Barudak: anak-anak | Geus mimiti deui nya: sudah mulai lagi ya | Wadag: kasatmata, ragawi | Lelembut: halus, ruhaniah | Cawene: wanita, lebih pasnya perawan | Ieu yeuh: ini dia | Ilapat: petunjuk | Maneh: kamu | Jang, ujang: buyung, panggilan untuk yang setaraf anak | Lelaku: upaya, prosesi meraih ilmu spiritual/kebatinan.

50


Eduardo Naranjo ~ OpenArt

51


Sepotong Malam, Sepotong Sajak

Ilustrasi: analisa medan

52


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Sepotong Malam, Sepotong Sajak Aris Kurniawan (Analisa Medan | Minggu, 15 Juli 2012)

o

D

IA menarik napas dalam-dalam. Ini malam suasananya sungguh indah, gumamnya. Dibukanya jendela kamar menghadap jalan. Gelap. Senyap. Tak ada seorang pun lalu. Ditengoknya langit, kesenyapan tampak lebih gawat lagi. Tidak ada bintang atau bulan yang konon ampuh menyodorkan ilham kepada para pengarang. Di atas sana melulu berisi gumpalan awan hitam yang mencemaskan.Angin sesekali terdengar menderu merontokkan daun-daun pohon mangga di halaman. Ini malam benar-benar indah, gumamnya lagi, seperti kurang yakin. Dia merasakan hatinya begitu penuh dan gembira. Ini memang hari libur. Ternyata benar, pikirnya, betapa istimewa hari libur bagi seorang pekerja. Ia bangun pukul sebelas siang. Usai makan dengan menu hasil masakan sendiri, ia membaca novel, kemudian kembali tidur. Baru terbangun pukul empat sore tadi. Alangkah nikmat... 53


Sepotong Malam, Sepotong Sajak

Dia merasa jantungnya berdegup dengan baik, memompa sirkulasi darahnya mengalir lancar. Paru-parunya mengembang, menyerap oksigen secara optimal. Seluruh syaraf dan organ tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Membuat dia merasa betul-betul hidup secara utuh dan berancang-ancang menangkap kerumunan gagasan yang melintas di kepala untuk segera diwujudkan menjadi sajak cinta untuk kekasih. Sejak dulu dia percaya, cuaca dan kondisi alam tidak mempengaruhi suasana hati. Pengalaman berkali-kali membuktikan. Kini dia duduk di depan laptop, menghadap jendela. Dia sudah menyiram pot-pot bunga kesayangannya di teras. Dia juga telah mencuci lantai dan menyemprotkan pewangi ruangan serta menghabiskan segelas besar susu segar. Semua kulakukan dengan sempurna dan memuaskan, desahnya. Dia merasa rileks dan bugar. Keadaan yang amat ditunggu-tunggu untuk keperluan menulis sajak cinta. Situasi yang tidak mungkin dia dapatkan pada hari-hari kerja. Pada hari-hari kerja waktu dua puluh empat jam seakan tak pernah cukup. Dia selalu mendapati tubuhnya tinggal ampas pada pukul sebelas malam saat tiba di rumah. Dia membayangkan otaknya mirip karet yang tidak dapat digunakan untuk berpikir apa pun. Tak ada yang mampu dilakukannya selain mandi air hangat, nonton tivi, lantas terjungkal tidur tanpa sempat lebih dulu menekan tombol off pada remote control. Penat mengeram di sekujur tubuhnya masih menggelayut saat harus terbangun pukul tujuh. Dengan kantuk yang belum lunas ia terhuyung ke kamar mandi. Sambil mengguyur tubuh, kepalanya sudah dipenuhi jadwal pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Tiba di kantor dalam keadaan lecek tak keruan lantaran digasak kemacetan yang berlarat-larat sepanjang perjalanan. Lebih buruk dari nasib sebuah manekin, bisiknya. 54


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Dia kerap ingin keluar dari pekerjaannya, tapi aia tahu itu gagasan bodoh dan nekad yang akan memperburuk keadaan. “Hari gini merayu pacar dengan sepotong sajak? Wah romantis sekali,� sindir seorang kawan. Dia tak perlu peduli pada sindiran sesinis apa pun. Inilah saat yang tepat untuk menulis sajak cinta. Dia bertekad untuk tidak menyia-nyiakannya. Tak ada waktu lagi, besok kekasihnya akan menagih sajak pesanannya. Harus jadi sebuah sajak cinta paling romantis, begitu janjinya pada diri sendiri. Dihirupnya anggur dari cangkir khusus untuk sedikit menghangatkan tubuh, dan mulai berkonsentrasi. Tak ada rokok di sela jarinya. Dia tak memerlukan asap tembakau untuk melancarkan imajinasi. Jarijarinya yang tirus telah melekat di atas keyboard. Kekasihnya tak menginginkan apa pun selain sepotong sajak. Permintaan kekasihnya dibuatkan sepotong sajak bukan hanya terlalu melankolis, tapi juga mungkin terdengar agak konyol. Dia sungguh menyukai permintaan kekasihnya. Dialah perempuan yang dikirimkan Tuhan untukku, bisiknya. Dia mulai membayangkan kekasihnya. Dia seorang perempuan bertubuh ramping bergaun tipis melambai-lambai dihembus angin. Dia pertama melihatnya di sebuah kafe. Duduk begitu anggun menopang dagu. Mengenakan gaun berkain lembut dan jatuh pas di lekuk tubuh. Sorot matanya sayu menatap kemacetan jalan. Dia begitu tergetar melihat caranya menyedot minuman dari gelas langsing berkaki panjang di hadapanya. Bukan hanya itu. Cara matanya berkedip sungguh menebar pesona yang hanya bisa ditandingi oleh Angelina Jolie dalam film The Tourist. Dia begitu gelagapan saat mata si Angelina Jolie memergoki tatapan matanya yang penuh gelora hasrat. Lantai yang dipijaknya laksana goyah, saat dilihatnya si Angelina Jolie melempar senyum, bangkit berdiri, dan melangkah... 55


Sepotong Malam, Sepotong Sajak

Sesungguhnya dia ingin membayangkan dirinya sebagai Johnny Deep yang berjuang mempertaruhkan nyawa demi si pacar. Dia menundukkan kepalanya, dipejamkan matanya. Ingin ditulikan pendengarnya supaya tak didengarnya ketukan langkah sepatu hak tinggi Angelina Jolie. Tentu tak mungkin. Dia mendengar langkah mendekat. Oh, apa yang akan dilakukannya? Oh bagaimana menghadapi si Angelina Jolie ini? Dia berdoa entah apa. Dia berharap si Angelina Jolie mendekat dan duduk menemaninya ngobrol, tapi pada saat bersamaan dia dihinggapi perasaan gugup yang parah. Dia memang memiliki masalah besar kalau berhadapan dengan perempuan. Tak tahu bagaimana semuanya bermula. Seakan begitu saja dia mendapati dirinya menjadi seseorang yang kuper, interovert, selalu kehilangan kepercayaan diri. Si pecinta kesendirian akut, begitu dia dijuluki teman-teman kantornya. Kali kedua melihatnya di kafe yang sama. Di kursi yang sama dengan model gaun yang dikenakan juga sama. Hanya motifnya berbeda, motif tumbuhan dasar laut. Dia memang segaja datang ke sana dengan harapan melihat lagi tarikan bibirnya saat tersenyum, kedipan matanya dan caranya menopang dagu. “Anda sendirian?” tiba-tiba si Angelina Jolie berada di depannya. Bulu matanya yang melengkung indah bagai menggerayangi hatinya. “I .. iyaa,” dia menyahut gagap. “Boleh duduk di sini?” “Si..silakan” Mungkin inilah hari paling bersejarah dalam hidupnya ketika dia mendengar si Angelina Jolie memikat hatinya berupaya menenangkannya seperti seorang ibu menenangkan anaknya yang ketakutan lantaran harus maju ke depan kelas. “Tidak perlu gugup. Karena saya juga mengagumi Anda,” 56


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kalimat itu seperti dentuman suka cita yang hampir meledakkan dadanya. Entalah dia lupa percakapan apa yang berlangsung menit menit berikutnya. Tahu-tahu si Angelina Jolie berucap kalimat permohonan “buatkanlah saya sepotong sajak cinta, maka aku akan jadi kekasihmu.� Dia ternganga beberapa lama. Lantas memperbaiki sikap duduk, merapikan kemeja. Sampai di rumah dia tak juga percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Menatap muka bulat, bola mata yang seperti hendak melesat keluar dari kelopaknya. Lantas mulai berpikir untuk menulis sajak. Permintaan sederhana yang mengganggu tidurnya. Mengganggu konsentrasinya bekerja. *** DIA kini bersama si Angelina Jolie berada di dalam taksi, meluncur membelah malam menuju sebuah hotel untuk sebuah kencan. Gemerlap lampu-lampu jalanan bagai turut bersorak sorai. Telapak tangan Angelina Jolie, selembut bulu angsa Persia tak lepas digenggamannya. Tak bosan dia menatap kening, hidung, bibir, dagu, geraian rambut kekasihnya yang tampak begitu sempurna. Mengkilap tanpa cacat seperti porselin Cina. Dan matanya, sungguh dia tak mau tenggelam di sana sekarang. Seperti kata si Angelina Jolie, butuh tempat yang tepat. Sajak cinta yang diminta kekasihnya ada di balik kemeja. Dia telah menuliskannya sepenuh jiwa dan raga. Dia merogohnya perlahan-lahan. “Nanti saja kau tunjukkan dan bacakan di tempat yang tepat,� kata si Angelina Jolie saat dia hendak mengeluarkan sajak cinta pesanannya di kafe. 57


Sepotong Malam, Sepotong Sajak

“Kafe ini terlalu riuh,” Taksi terus melesat meninggalkan gemerlap pusat kota. “Kita akan ke mana?” “Tenang, Sayang. Kita sedang menuju tempat yang tepat untuk kamu membacakan sajak cinta untukku,” kata kekasihnya. Dia berdoa ini bukan dialog norak dalam sebuah drama cinta sinetron remaja. Dia makin berdebar. Si Angelina Jolie menyandarkan kepala ke dadanya. “Aku mau tempat yang sepi,” *** DIA merasakan kesadarannya masih mengambang di antara gemerlap lampu-lampu jalan, saat mendapati tubuhnya terkapar di antara semak belukar pinggir tikungan jalan yang sepi. Ketika kesadarannya genap, dia merasa perutnya bergolak, cairan pahit merayap naik ke kerongkongan. Dia mencoba bangkit dan duduk. Isi perutnya seakan ditarik keluar secara paksa. Hoek... lendir berbau busuk tumpah menodai celananya, membasahi lembar kertas yang berisi sepotong sajak yang ditulisnya sepenuh jiwa dan raga. Dia kembali terjungkal, lemas. Kesadarannya kembali menguap seperti semua barang berharga miliknya yang lenyap digasak si Angelina Jolie yang kini tertawa-tawa bersama sopir taksi. n Pondok Pinang, Juni 2012.

u 58


Ira Tsantekidou ~ OpenArt

59


Tengku Teladan yang Dirindukan

Ilustrasi: the atjeh post

g Muhammad Ikhsan Efendi, Alumni M.A Ruhul Islam Anak Bangsa, Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta 60


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Tengku Teladan yang Dirindukan Muhammad Ikhsan Efendi (The Atjeh Post | Kamis, 12 Juli 2012)

o

A

YUNAN dua kaki itu sangat bersemangat mendayung sepeda ontel berwarna coklat mengkilap, terik matahari siang membuat pantulan warna coklat itu kian terlihat dari jarak kejauhan. Tanpa perlu memandang pun, semua orang di seantaro desa sudah tahu bahwa itu bukanlah sepeda ontel biasa. Lebih dari semua itu, menandakan betapa bersahaja sipemilik tunggangan tersebut. Putaran roda jari yang lembut seolah terdengar bak mobil Ferrari sport keluaran Italy. Golok yang biasa disebut parang selalu terikat ketat di belakang tempat duduk penumpang lengkap dengan casingnya. Tanpa terlupakan sesekali menebar senyuman kepada orang yang ia dilewati, edisi khusus untuk orang dewasa, salam merupakan sapaan keakrabannya. “Tengku, ho neujak nyan? (Tengku mau kemana itu?),� tanya seorang anak yang berada di pertigaan simpang yang mau 61


Tengku Teladan yang Dirindukan

dilaluinnya. “Lonjak ek u hai nyak (mau memanjat pohon kelapa nak),” sahutnya sambil terus berlalu. Memanjat pohon kelapa bukanlah dinas utamanya. Namun, waktu luang yang dimiliki selalu dihabiskan untuk membantu orang di seluruh desa. Semua pekerjaan yang halal menurut syariah, apa pun itu pasti mau dikerjakan. Ia selalu standby jikalau ada pangilan mendadak yang menghampirinya. Jangan terlalu berfikir jauh karna makhluk yang bernama Handphone tidak pernah ia kenal, juga ‘gengsi’ satu-satunya kata yang terhapus di dalam kamus harian. Lelaki paruh baya itu berbadan tegap, namun pekerjaan super keras yang ia jalani membuat badannya terlihat kurus. Bayangkan saja, pagi-pagi sekali ia sudah harus ke sawah untuk bercocok tanam, sesudahnya ia pergi ke empang untuk mencari ikan. Pulang ketika azan zhuhur berkumandang. Ya, dia merupakan seorang pengusaha swasta dalam bidang pertanian. Belum lagi dinas-dinas sampingan termasuk ‘jak perabe lemoe’ (mengembala sapi_red) yang ia tuntaskan hingga matahari berpamitan. Jerih payah memeras keringat itu seolah tak seberapa ketika harus berhadapan dengan tujuh orang anak ditambah seorang bidadari di dalam keluarga yang telah ia bangun 26 tahun lamanya. Kesehariannya terlihat sangat-sangat sederhana. Namun, kesyukuran kepada Tuhan membuatnya terlihat sangat menikmati kehidupan ini. Melihat schedule kegiatannya, membuat kita berasumsi bahwa ia sangat sibuk dengan kegiatan dunia. Tidak! Dia tidak pernah benar-benar sibuk dengan duniawinya, bahkan akhiratnya lebih ia prioritaskan ketimbang dunia. Terdepan dalam urusan agama. Salat lima waktu berjamaah tidak pernah ia tinggalkan, kecuali 62


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

sakit yang mencegahnya, bilal sebut saja tidak akan iqamah sebelum ia mucul, dan selalu berada di shaf terdepan dalam shalatnya. Benar, ‘dia adalah tengku imum menasah atawa gampong’ (imam mesjid di kampunya_red). Dia, Tgk. Muslim dengan segala kesederhanaannya, kebaikannya, kesehajaannya dalam memimpin dan membimbing ummah, selalu menjadi tumpuan harapan masyarakat tempat ia menetap, tapi masih saja ada orang-orang/pemuda-pemudi yang tidak senang terhadapnya. Satu ketika di dalam rapat gampông ia dengan tegas berkata, “Nyan aneuk muda, maen volly ngon bola jeut, tapi beuk sagai-sagai neumaen peng. Harem! (bagi kaum muda, main voli dan bola boleh, tapi jangan pernah taruhan dengan unang. Haram!)” “Menyo hana kadengoe cit, lon tren dari imum gampông nyoe. Kepeu kamoe sembahyang cula caloe lam menasah nyoe awak gata pebuet maksit di lapangan. (kalau tidak di didengarkan, saya akan mengurdurkan diri imam di kampung ini, untuk apa kami salat dan berdoa di mesjid ini, sedangkan kalian bermaksiat di lapangan).” Kenyataannya, seruan sang iman tidak diindahkan oleh kaum muda. Sore itu, sesudah mengembala sapinya, ia pulang melintasi lapangan tempat para pemuda bermain voli, pandangannya terfokus pada tiang net. Di tali net, terikat uang ribuan yang jumlahnya belasan ribu rupiah. Seketika mukanya merah padam. Ayunan langkahnya semakin kencang hingga berhenti tepat di samping lapangan. “Entreuk megreb, imum, doa, ngoen samadiah kapedoeng le awak droekeuh. Lon kon le Tgk. imum! (Nanti magrib imam, doa dan samadiah kalian yang pimpin, saya bukan lagi imam).” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia langsung bergegas pulang ke rumah. Tak satu pun pemuda yang ada di TKP yang 63


Tengku Teladan yang Dirindukan

bersuara. Semua terdiam dengan muka kebingungan. Apa yang telah terjadi merupakan bencana bagi kampungnya. Salah seorang di antara mereka angkat bicara. “Awakkah wate lon peugah buno hana kadengoe. Bek meu-en peng le, nyoe ka paloe tanyoe mandum. Tgk. Imum ka geutron. (Kalian sih, gak denger apa yang saya katakan tadi, jangan taruhan, kita dalam bahaya, Tgk Iman sudah mengundurkan diri).” Beberapa orang dari mereka langsung mengambil inisiatif untuk melaporkan kejadian tersebuk kepada kepala desa dan ketua pemuda kampung. Kabar tersebut menyebar cepat melalui ‘radio meingoe’ (dari mulut ke mulut) sampai ke seluruh kampung. Sempat terjadi ketegangan hingga puluhan hari, sampai akhirnya pihak kepala desa beserta perangkatnya mengadakan rapat khusus menyelesaikan masalah ini. Kepala desa memohon kembali sang tengku untuk menjadi imam. Ia berjanji akan menaati persyaratan yang akan diajukan oleh Tengku Muslim. Awalnya teungku menolak, namun akhirnya beliau mengajukan persyaratan yang wajib dipenuhi masyarakat untuk menjadi tengku imam, Dia, merupakan pribadi yang santun, menegur tapi tidak menyakiti, menasehati namun tidak menggurui, tegas dalam menolak keburukan, lantang dalam menyeru kebaikan. Sosok seperti ini yang sudah jarang kita temui dalam keseharian kita bermasyarakat, yang banyak kita jumpai malah pemimpinpemimpin yang hidup penuh kemewahan, mempergunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, Na’uzubillah, semoga Allah mengampuni. Suatu saat ketika awal-awal Abdullah memimpin salat jamaah di menasah, entah karena gugup, Abdullah terlupa membaca doa kedua orang tua pada waktu berdoa. Tgk. Muslim tau saya 64


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kecolongan. Sesudah jamaah pulang, ia langsung menghampiri saya seraya menasehati dengan berbisik. “Aneuk, nyan doa keu ureung syik, bek sagai tuwoe. Adak yang laen meuputa-puta, atra nyan beuk sagai tinggai, Ridha Po na di Ridha ureng syik aneuk meutuah! (Nak, doa kedua orang tua jangan sampai lupa, meskipun yang lain bercampur aduk, namun itu jangan sampai tinggal, Ridha Allah ada di ridha kedua orang tua).� Dua tahun sudah berlalu, sosok itu telah lebih dulu Allah panggil. Terasa begitu cepat, di saat masyarakat masih sangat membutuhkannya. Kini hanya kerinduan yang tersisa disaat teringat teladan yang ringan tangan, selalu berusaha mencari ilmu walau umur muda telah meninggalkannya. n Jakarta 2012 The Atjeh Post menerima kiriman cerpen, puisi, syair/hikayat, esai, resensi, yang akan dimuat pada rubrik Budaya. Kirimkan karya Anda ke email redaksi@atjehpost.com atau man_tulis@yahoo.co.id Tulisan tersebut akan tayang seminggu dua kali (Kamis dan Minggu).

u 65


Bulan Pergi dari Jembatan

Ilustrasi: repro lee bogle / openart

66


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Bulan Pergi dari Jembatan Sihar Ramses Simatupang (Suara Karya | Sabtu, 14 Juli 2012)

o

M

ALAM yang dingin masih menggerayang dan mengacak-acak tubuhnya serupa lelaki asing. Dia siaga. Dipeluknya sang anak, sambil meyakinkan bahwa kejadian kemarin malam bukan kejadian yang nyata dan menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Tapi lelaki itu sungguh Yanuar, yang dikiranya setia dan tak akan pernah menjadi binatang jalang serupa lelaki yang lain. Tapi hidung Yanuar telah berair, air di hidungnya serupa dengan anjing yang lain. Yang tak dia sangka adalah anjing betinanya, Lusi, sahabat muda yang diajak oleh dirinya datang ke Jakarta dan tinggal di bawah jembatan ini. Hanya anaknya kini makhluk manusia di kota Jakarta yang masih dia kenal sebagai lelaki kecil, sekaligus beradab, tempat Ratna dapat berkeluh kesah tentang kejadian yang membuatnya menggigil tadi malam. Dia mendengar suara paling purba itu 67


Bulan Pergi dari Jembatan

kemarin malam. Dibongkarnya beberapa sekat di tengah kegelapan. Suara Lusi dan Yanuar, suara purba paling intim dan teramat dikenalnya ketika sedang bercengkerama bersama suaminya. Mereka terkapar seperti bayi yang tanpa gurita. Gerimis menebar di langit malam itu, seakan bulan kencing dari atas langit. Kencing hina yang membuatnya tertumbuk tak berdaya melihat pemandangan organik di depannya. Mereka terkaget ketika kardus itu tersibak. Kencing bulan jadi terasa beracun, hawanya meruap dan terasa amis di bibir Ratna. “Anjing, puih, anjing!� Teriaknya. Dilemparinya bebatuan sisa puing jembatan yang barusan direnovasi. Pasangan semalam itu cuma bisa mundur dan terseok dengan begitu tenangnya, pergi setelah melihat Ratna hanya melempari batu sekenanya tanpa tertuju ke tubuh mereka. Di jembatan, Ratna menunggu matahari. Di jembatan, dia kembali memangku dan memeluk anaknya, si bocah lelaki. Anakku tak mirip bapaknya sama sekali, anakku malaikat, bapaknya anjing! Dia berteriak, seakan ingin rahasia ini dikabarkan ke semua penghuni jembatan yang tak perduli dan tak mau mencampuri urusan laki-bini. “Ratna calon janda, janda muda anak satu,� bisikan itu terdengar di telinganya. Tapi siapa perduli celotehan anjing liar yang tak berani menampakkan diri. Dia sudah meniati, esok akan pergi dari jembatan ini. Ditutupnya kain yang menyelubungi kepalanya. Orang di jembatan tak pernah tahu wajahnya, tak pernah tahu kecantikannya. Jangan sampai wajahku terbongkar bulan dan matahari. Yanuar telah pergi, semua boleh pergi asal jangan anakku ini, 68


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

bathinnya. Yanuar cuma ingin menikahinya, mendapatkan anak, maka aku harus membawanya dan pergi dari lelaki sekaligus manusia yang pertamakali memperkenalkannya pada kota Jakarta. Dia mulanya hanyalah seorang gadis desa. Ya, di desa, bapak dan ibunya petani, yang mempunyai sawah, ladang dan petak empang ikan, lele dan mujair. Kerja dia hanyalah membantu masak di pagi hari, mengantar makanan di tengah terik fajar dari timur dan sesekali membantu panen padi, singkong atau pun ikan. “Yanuar pulang, dari kota, dia sudah jadi orang hebat sekarang. Dia bilang ke bapak, dia suka padamu, Nduk,� kata bapak. Dia tak menyangka dia mengangguk senang ketika itu. Yanuar tak dikenalnya, semasa kecil, ingatannya pada sosok lelaki itu hanyalah seorang pemuda pengangguran, tak suka bekerja di sawah dan ladang, lalu sesekali pergi ke kota besar dan pulang lagi ke kampung. Anggukan membawa petaka di masa depan. Setelah anggukan, kereta ekonomi termurah telah membawanya pergi dari sebuah desa di Jawa Tengah ke kota Jakarta setelah beberapa puluh menit berucap di depan penghulu. Dia tahu orangtuanya ingin Ratna menikah, dia tahu hidupnya akan banyak teka-teki namun setidaknya lebih baik ketimbang merepotkan orangtua. “Inilah tempat tinggalku, Ratna. Inilah gubukku,� ujar Yanuar. Ratna termangu. Bagi Ratna ini bukan lagi gubuk, yang terhampar di depannya adalah susunan acak kardus di bawah jembatan yang sudah kumal dan basah. Ingatannya terbayang pada mainan boneka dan rumah-rumahan kertas di waktu dia masih bocah. Impiannya hancur seiring pernikahan dan bayangan rumah 69


Bulan Pergi dari Jembatan

tangga yang lama dia idamkan. Terbayang, masa depan yang lebih mengerikan ketimbang ibunya yang meniup api di kayu bakar dengan selongsong bambu, lebih mengenaskah dari pemandangan ketika ibunya mencari kayu bakar dan membetulkan batu bata di atas tungku. Aku masak pakai apa? Aku makan apa? Aku tidur dimana? Ini rumah? Inikah Jakarta? Seekor burung pun lambat laun dapat hidup di dalam sangkar setelah terkurung selama berbulan-bulan. Seekor rusa dapat hidup di sungai penuh buaya dan hutan dipenuhi serigala dan macan. Maka Ratna pun dapat menelan teh manis dan memakan nasi bungkus di bawah jembatan yang bau air kencing, tahi anjing dan buangan sampah dari jalan raya di atas jembatan. Maka dia menghindari pandangan lelaki lain dengan menyembunyikan dirinya di balik kerudung dan baju panjang dan berjaket. Kegemulaiannya memudar, kecantikannya tersembunyi, mengelak dari keganasan jalanan. Lalu menahan suara ketika dia bergelut dengan Yanuar, itu pun karena diajak oleh suaminya sendiri. Berdosa menolak permintaan suami! Tapi apa yang dibalas oleh lelaki berwajah bulan, berhati badai, bertingkah binatang? Entah Yanuar masih tidur bersama Lusi, atau kabur, atau menyingkir sesaat, Ratna sudah tidak perduli. Cahaya matahari meniti dari bibir jembatan dan terseok menyorot gubuk-gubuk kardus, ketika Ratna telah mengejar bayangan bersama anak di gendongannya. Pergi! Pergi! Jatinegara, Klender, Bekasi, Krawang, tubuhnya yang kurus, 70


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

rambutnya yang menyeruak di antara ujung kerudung, terus naik turun di pinggir jalanan bersama kaki yang terseok dan tangan yang gemetar karena terlalu lama menahan berat tubuh anak di gendongannya. Di Bekasi, dia meminta bakwan, kepada seorang penjual gorengan. Si penjual kasihan padanya, memberi sepotong bakwan, dua pisang goreng dan dua singkong goreng. Di Lemah Abang, dia mendapati sungai di bawah jembatan rel kereta. Turun di alur jalan tanah berkelok ke lembah pinggiran sungai, lalu meletakkan anaknya di batu di pinggir sungai, membasuh dan menceburkan diri. Kaki si kecil bergerak mempermainkan air sungai, tangannya masih sibuk menggerogot sisa singkong goreng, jajanan terakhir yang mereka peroleh dari rasa belas kasihan. Panas matahari seperti ditebus oleh kesejukan air sungai dan buaian angin di daun-daun pohon Asam Belanda dan Beringin liar. Waktu seakan berhenti di sungai pinggiran kota ini. Dia biarkan bajunya basah, celana anaknya pun basah. Bocah usia dua tahun yang kurus itu telah menahan beban hidup lebih dari kekuatannya. Tapi, menghadapi ibunya, dia tetap tersenyum. “Mama, mama...” ujarnya. Air asin dari kelopak matanya bercampur air sungai. Tatapan kecil itu tetap jernih, seakan menjelma lelaki masa depan yang mengerti tentang ketabahan dan keberanian seorang ibu untuk mengambil semua keputusan. Tubuhnya keluar dari air. Tangannya menjangkau anaknya. Matahari sudah di ujung barat. Senja sudah siap menyergap Lemah Abang. “Mam, mama,” ujarnya lagi. Inilah suara pintamu yang sudah terdengar seperti mengiris hatiku dengan bilah bambu, anakku... “Kau mau makan? Kau lapar Nak? Kita cari makan lagi Nak,” katanya. 71


Bulan Pergi dari Jembatan

Dia membawa anaknya ke gerobak tukang bakso. Si tukang bakso mulanya menolak, tapi Ratna tak mau beranjak darinya, sampai lelaki itu menusuk dua bakso dengan bambu dan memberikan padanya. Ratna memberikan ke mulut anaknya yang lapar karena kelelahan. Dia juga minta air putih ke tukang bubur kacang hijau. “Ibu mau bubur?” Ratna mengangguk, tak menyangka pemberian yang ditawarkan padanya lebih dari keinginan. Jalanan tak selalu berwajah anjing dan serigala tapi juga dapat berwajah domba, semoga bukan domba yang berbulu serigala. Dia bahkan mendapatkan sarung bekas, tiga potong baju dan celana anak bekas dari seorang ibu. Dia masukkan ke dalam kantong kresek, dan menukar pakaian anaknya yang separuh basah dari sungai tadi. Mereka kembali melangkah, berjalan terus mengikuti rel kereta. Dia hanya tahu inilah jalur rel yang menuju Cirebon dan Jawa Tengah. Entah berapa hari perjalanan, atau berapa bulan, atau berapa tahun pun, dia tak perduli. Ratna rindu bapak dan ibunya. “Kamu mau ketemu Mbah, Nak?” “Mbahhh...” Balas si anak, entah mengerti atau tidak pada ucapan ibunya. “Ya, ya, kita pulang ke rumah Mbah...” “Mbahhh...” Ratna terus mengangguk, tersenyum dan menciumi pipi, kening dan bibir anaknya. Air asin itu kembali menelusuri lekuk pipinya yang bergerak menahan tangis. Dia kemudian merapat di tonggak semen menjelang jembatan, entah dimana kini dia berada, dia tak perduli. Yang diketahui Ratna hanyalah dia akan tetap merapat dan mendampingi jembatan. Inilah jalur menuju kampung halaman. Diselimutinya 72


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

tubuh si anak dengan sarung, menjaganya agar tetap hangat. Di Jatinegara, beberapa stasiun dari Lemah Abang, di kardus busuk di bawah Jembatan, Yanuar masih tergolek bersama Lusi. “Lusi, apakah kau mencintaiku?” Lusi terdiam. Dia masih letih, ketika malam tadi diajak Yanuar pergi dari jembatan ini dan merapat di antara lorong-lorong rumah toko, dekat taman Jatinegara. “Kemana mereka ya Mas?” “Akh sudahlah, bukankah itu yang kau inginkan? Kamu masih mencintaiku, kan?” Kali ini, walau dengan berat hati, Lusi pun mengangguk. Airmatanya berlinang, menatap ke arah pinggiran jembatan. Dari jembatan ini, dia dapat melihat sisa langit yang tak seperti kemarin. Tak ada bulan di kaki horison langit. Tak ada cahaya di jembatan ini, kecuali kegelapan yang menjawil-jawil tubuh setiap penghuninya. Lusi teringat Ratna. Kepergiannya kemudian terasa menyergap kepiluan di hati Lusi. Bathinnya bertanya di dalam hati, “Setelah Mbak Ratna, apakah nanti aku yang akan bernasib sama dengannya?” Pikiran itu tetap menderanya bahkan ketika Yanuar telah berada di atas tubuhnya. Bahkan ketika tubuh Yanuar turun dan tergolek pulas di sampingnya. “Apakah aku besok harus ikut minggat dan kembali ke kampung halaman sebelum dibuang Mas Yanuar?” “Apakah...” n

u 73


Jukung

Ilustrasi: sinar harapan

74


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Jukung Tjak S. Parlan (Sinar Harapan | Sabtu, 14 Juli 2012)

o

L

ARUNGLAH aku. Oleh hujan yang mengepung seluruh kota. Hari ini, hujan yang melarungkanku berhenti, pada sebuah senja di tikungan jalan. Sepertinya sebuah pertigaan. Tetapi di kota mana, tak perlu bertanya, kukira. Sebab aku tak diajari untuk mengeja, membaca tanda-tanda, lalu kumaknakan melalui gejala, firasat, atau sekadar teka-teki yang membuatku bertanya-tanya. Tak. Tak seperti itu aku diciptakan. Melainkan hanya untuk hanyut. Dilarungkan oleh entah. Siapa saja yang dengan tangantangannya akan menjelmakanku sebagai perahu tanpa awak. Dan lautan, apakah aku punya lautan?. Mungkin bengawan, danau, telaga, selokan. Atau sekadar sesuatu? ***

75


Jukung

AKU mendengar seorang ibu menuturkan satu kisah pada anaknya. Nuh pergi berlayar. Seperti juga laki-laki lain yang meninggalkan ibu, anakku. Ia juga meninggalkan anaknya. Aku ingat sesuatu. Yang berpalka itu. Yang ditancapkan tiang pada perutnya. Suatu hari nanti, palka itu akan melebar. Dan tiang itu akan menjulang tinggi. Hampir menyamai tingginya pohon kelapa. Dari sana kamu bisa berteriak, mengabarkan pada semua yang di darat; aku sudah datang. Bocah itu pun berlari-lari. Membawaku menuju sebuah samodra kecil. Tapi di sini tak ada ombak. Tak juga kulihat buih yang putih, yang pecah-pecah lalu berantakan di gigir pantai. Aku tak sanggup memilih. Sebab lelaki kecil itu sudah kepalang melarungkanku di tempat ini. Senja memanggang bukit-bukit di sebelah barat. Dari sini masih bisa kulihat lelaki kecil itu menatapku sedih. Apa dia juga merasa kehilangan?Harusnya ia masih di sini. Memandangiku sambil bersorak. Berteriak; hoiii! Seperti laki-laki lainnya memberi sapaan hangat. Mengabarkan pada siapa pun yang dijumpainya; aku telah berhasil mengarungi selat dan membawa rezeki untuk para perempuan dan anak-anak yang menunggu di rumah. Ah, aku kira ia memang hanya laki-laki kecil. Ia hanya ingat, Nuh pergi berlayar. Seperti juga laki-laki lain yang meninggalkan ibu. Ia juga meninggalkan anaknya. *** WAKTU benar-benar berlalu sangat cepat. Aku segera saja rapuh. Masih kuingat kenangan kanak-kanak sewaktu tangantangan kecilnya terkadang usil melukaiku. Mengambilnya dari sembarang tempat. Merenggutnya dari akar tempat aku kokoh 76


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

berdiri. Lalu melubangi perutku. Menggores-gores tubuhku. Menancapkan tiang, mengembangkan layar. Melebarkan palka. Pada senja yang dingin mereka menggiringku ke sebuah selat. Terkadang hanya sebuah bengawan. Kali kecil, selokan atau sungai-sungai bercampur sampah, bermacam kotoran, bau amis, anyir dan berlendir-lendir buangan limbah. Aku terdampar di mana? Terkatung-katung semalaman tanpa nakhoda. Layarku sebentar kembang, sebentar diterbangkan angin yang tak mampu kulawan. Terkadang putus harap; aku larat bersama samudra luas nun jauh di sana. Pernah juga aku kandas. Pantatku penuh luka-luka yang menganga. Sekujur tubuhku kaku. Aku bahkan bergeming. Mereka mulai ramai-ramai menyeretku ke tepian. Tapi sebenarnya aku lebih sering diabaikan. Teronggok begitu saja tanpa kenangan. Tanpa sejarah layaknya barang-barang antik yang dipelototi di museum. Pada saatnya usia uzur akan menjemputku. Sebongkah benda belaka. Mula-mula segerombolan rayap yang menggerogoti tubuh sebongkah kayu ini dari hari ke hari. Pada musim panas, kulitku melepuh. Rontok satu per satu. Musim dingin, tubuhku lebur bersama tanah. Menyatu, bersenyawa. Lalu mereka menguraikanya. Lewat humus—mereka sering menyebutnya begitu—ditumbuhkanlah kuncup dari pokok kecil yang terselamatkan sebelum ajal. Hingga waktu melewati berkalikali musim. Berkali-kali purnama. Beribu-ribu pasang dan surut. Ombak menjilat-jilat dengan lidahnya. Sekali waktu menyentuh pohonku. Aku pokok yang kecil; kemudian membesar, tumbuh dan terus tumbuh. Aku rindang. Berdahan-dahan. Beranting-ranting. Kadang berbuah. Tubuhku kekar, kokoh menancap di gigir pantai, kadang di tengah belantara. 77


Jukung

Lalu mereka datang. Merambat pada tubuhku. Memilih bagian dahan yang paling kuat. Menggoyang-goyangkannya sambil berteriak, melambai-lambai. Aku tahu, mereka telah menemukan layar-layar yang terkembang nun jauh di sana. Apakah laki-laki itu sudah pulang? Laki-laki yang meninggalkan perempuan dan anak-anaknya. Sekali waktu—sebenarnya ini pasti akan terjadi—mereka datang kembali. Orang-orang yang melukai tubuhku. Dengan raung gergaji, dengan kampak, dengan parang. Patah dahandahanku. Remuk ranting-rantingku. Luruh seluruh daun. Lepas semua kulitku. Aku telanjang seperti babi guling dalam pesta beraroma tuak. Tangan-tangan kekar bersenjata merayakan tubuhku. Mereka mulai lagi. Membikin lubang. Menggali tubuhku dengan kapak. Lantas menyerutku. Nah! sekarang saatnya menancapkan tiang. Mengendalikannya dengan layar. Melebarkan palka. Memoles-moles dengan sedikit ukiran, atau sekadar coretan. Sedikit yang lebih perhatian, akan memberiku sebuah nama. Sekadar sebuah sebutan untuk menandaiku. Lalu tibalah hari itu ketika angin membawa apa pun menuju laut lepas. Inilah saatnya, seorang laki-laki akan menunggangiku. Wajahnya berkali-kali tengadah ke langit. Ia membaca arah bintang, nasib baik, maut, juga keberuntungan. *** AKU ingat seorang laki-laki di bibir selat. Waktu itu, kamu masih kecil anakku. Belum pernah merasakan bagaimana nyamannya pulang berlayar. Belum mampu menahan gemeretak gigil pada gigimu. Bahkan jiwamu masih terlampau rapuh menari78


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

nari dalam jilatan ombak. Sementara, pada langit yang menyembunyikan bintang-bintang terbayang sebuah daratan. Tempat aku dan kamu tengah menunggu. Kau tahu, Nak? Di tempat ini setiap laki-laki harus berlayar. Tidak. Tidak akan seperti Nuh. Karena laki-laki itu tak pernah kembali. Banjir bandang, telah memaksanya untuk menyelamatkan diri dari sebuah kedurhakaan. Nuh pergi berlayar. Seperti juga laki-laki lain yang meninggalkan ibu, anakku. Ia juga meninggalkan anaknya. Kau pasti tahu. Dari sorot matamu jelas kutangkap; kita tak pernah durhaka pada siapa pun. Jadi berharaplah terus pada selat; bahwa suatu saat lakilaki itu akan berdiri pada tiang menjulang. Lalu dengan gagahnya akan memberikan kabar kepada kita; aku telah kembali. Aku ingat seorang laki-laki di bibir selat. Kamu sudah tumbuh besar anakku. Bagaimana? Apa kau juga merasa letih menghitung berapa kali pasang, berapa kali surut? Berapa lama lagi kau akan menunggu? Tentang laki-laki di bibir selat itu. Tentang sebongkah jukung yang rapuh. Yang telah lama digerus ombak. Disingkirkan dari takdirnya. Dilepaskan dari layarnya. Dipisahkan dari palkanya. Dipatahkan dari tiangnya. Setelah itu, ibu menutup ceritanya. Aku menjelma. Jadi sebuah pinisi kecil. Laki-laki kecil itu menyebutku jukung. Senja tadi ketika matahari menyetubuhi bukit-bukit di sebelah barat, ia meninggalkanku di tengah hujan yang mengepung seluruh kota. Melarungkanku. Aku kira ini sebuah selat. Atau mungkin bengawan. Danaukah? Atau sungai? Bukan, ternyata bukan itu. Ini hanya sebuah saluran kecil di tengah-tengah kota yang kumuh. Aku karam bersama air limbah. Laki-laki kecil itu terus menatapku. Matanya berharap pada birunya laut. n 79


Cinta Terakhir

Ilustrasi: repro nathalie mulero-fougeras / openart

80


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Cinta Terakhir Dessy Wahyuni (Haluan | Minggu, 15 Juli 2012)

o

G

ALAU, katamu. Keluarga lelaki itu sedang berkunjung menemui abah dan emak. Mereka datang untuk merisik dirimu, memastikan apakah kamu sudah dipinang orang atau belum. Lelaki itu menaruh minat padamu. Setelah pihak keluarganya lega mendengar jawaban abah, mereka pun meninjau dirimu, guna mengetahui lebih lanjut sifat dan karakter dirimu. Dan aku terbakar cemburu. Kamu hanya bisa geram dalam diam. “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana,� tulismu. Di usiamu yang sudah tidak muda lagi, kamu sering diteror abah dan emak tentang pasangan hidupmu yang tak kunjung tampak. Saat ini yang bisa kamu lakukan hanya membiarkan nyala bara bahagia abah dan emak, dan kamu berjanji tak akan membiarkan bara itu padam begitu saja. Tugasmu kini hanya memantapkan niat mengayuh biduk rumah tangga bersama lelaki 81


Cinta Terakhir

yang telah berani merisik dan meninjaumu itu. “Demi kebahagiaan abah dan emak,� tuturmu menutup catatanmu hari itu. Aku hanya bisa menarik napas yang terbakar haru, sekaligus rindu yang merona biru. Kenangan aku dan kamu selalu menarinari di situ, melingkar-meliuk di rongga memoriku. Kututup perlahan buku harianmu itu. *** ROMBONGAN itu pergi meninggalkan aku yang hanya bisa menganga. Kepergian mereka membekaskan geliat di dada. Abah dan emak terlihat sumringah. Segala gundah di wajah mereka seketika menguap. Terbayang anak gadis mereka yang tak lagi muda duduk di pelaminan. Lelaki itu bernama Mahardika. Wajahnya tampan dan memesonakan banyak perempuan. Termasuk aku, sebenarnya. Dia sudah lama memintaku untuk menjadi kekasihnya, tapi entah kenapa aku hanya tertarik melihat rupanya, tidak seluruhnya. Pesonanya tak dapat taklukkan hatiku. Namun kini, dia telah menjadi calon suamiku. Tak ingin memperlama lagi, dua pekan kemudian rombongan itu datang kembali. Kali ini lebih ramai. Karena merasa cocok dengan aku dan segala kondisiku, orangtua Mahardika melamarku. Mengingat wajah abah dan emak yang berbinarbinar, aku tak kuasa menggelengkan kepala. Dengan segala sukarela aku mengiyakan lamaran itu. Berbekal buah pinang, daun sirih, dan berbagai bahan lainnya mereka meminangku. Dalam tradisi Melayu, buah pinang adalah lambang untuk laki-laki dan sirih untuk perempuan. Makan sirih tidak akan lengkap tanpa ada pinang dan makan pinang tidak akan enak jika tidak ada sirih. Artinya, buah pinang tak ada artinya 82


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

tanpa sirih itu, begitu juga seba-liknya. Hal ini mem-perlihatkan bahwa laki-laki dan perempuan yang dipersatukan itu tidak terpisahkan, membutuhkan satu sama lain, serta saling melengkapi. Tentu saja abah dan emak sangat bahagia. Terpancar kemilau suka cita di wajah mereka. Aku tak tega memburamkan semua. Kegembiraan mereka selaksa melimpah ruah kini tatkala terlihat sepasang cincin perak di hadapan. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah cincin yang berukuran lebih kecil dan memasangkannya di jari manis kiriku. Tak ada riak maupun debar di dada. Datar saja. Resmilah kini aku menjadi tunangannya. Malam telah datang membawa gulita yang merayap perlahan. Kelam berusaha membawaku hanyut dalam diam. Diam yang seolah beku. Membekukan segala rasa. Rasa rinduku mencari sosokmu yang tak mungkin tergapai. Hari perkawinan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua keluarga, terutama abah dan emak yang terlihat sumringah. Dari wajah mereka seolah-olah terpampang papan pengumuman yang ingin mengatakan kepada semua orang bahwa anaknya bukan lagi perawan tua yang selalu setia melajang. Bahkan anak gadisnya ini telah berhasil menggaet hati lelaki idaman semua orang. Rumah terasa sesak malam itu. Semua keluarga, sanak saudara, termasuk tetangga ber-kum-pul untuk memusyawarahkan jalannya acara yang akan dihelat. Memang sudah menjadi tradisi di kampung kami apabila akan ada acara pernikahan. Semua orang berkumpul dan bergotong-royong untuk mem-persiapkan perhelatan, sebab menurut mereka pernikahan merupakan sebuah acara yang sakral dan akan selalu diingat oleh kedua mempelai. Malam pekat menggeliat. Aku hanya tercekat melihat 83


Cinta Terakhir

bayangmu berkelabat. Kecamuk yang hebat mengguncang dadaku yang kian memberat. Entah apa yang harus kuperbuat, menerima semua dengan penuh minat ataukah menjadi anak yang laknat. *** SORE itu, ketika membuka pintu rumah kontrakan, sepulang dari kantor aku dikejutkan oleh nada dering yang berasal dari handphone-ku. Dan yang lebih mengejutkan lagi, lagu “Tanjung Katung” yang terdengar menandakan bahwa itu adalah panggilan dari abah di kampung sana. Deg. Dadaku berdegup. Aku khawatir telah terjadi sesuatu, sebab abah ataupun emak sangat jarang menelponku di waktu pagi hingga sore hari. Mereka paham bahwa itu adalah jam sibukku melayani pelanggan. Aku telah menceritakan kepada kedua orang yang kucintai itu bahwa aku bekerja sebagai customer service di sebuah bank swasta di Pekanbaru ini. “Assalamu’alaikum, Abah,” sapaku sambil melemparkan tas ke atas kasur. “Wa’alaikumsalam, Rina. Bagaimana kabar engkau di sana, Nak?” suara abah terdengar gusar di telingaku. “Baik, Abah. Na selalu sehat. Abah dan Emak sehat?” “Alhamdulillah, sehat. Kapan engkau bisa pulang, Nak?” “Hmmm, memangnya ada apa, Bah?” aku mulai gundah dan bertanya-tanya ada apa gerangan. “Emak sehat-sehat saja kan, Bah?” tanyaku lagi. “Emak sehat. Hanya saja ia selalu memikirkan kau. Makanya Abah minta engkau pulang. Temuilah Emak, banyak yang hendak ia tanyakan.” “Sebenarnya apa yang terjadi, Bah?” aku makin penasaran. 84


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Sudahlah. Pulang sajalah engkau, Nak,” abah terdengar memaksa. “Baiklah, Bah. Besok Na coba mengajukan cuti. Secepatnya Na pulang.” Dadaku berkecamuk. Beribu tanda tanya memenuhi rongga kepalaku. Rasa penasaran membaluti seluruh pemikiranku kini. Segera aku persiapkan surat cuti setibanya aku di kantor. Kemudian dengan bergegas kuajukan surat itu ke kepala cabang. Tentu saja segera disetujui, sebab sudah 6 tahun aku bekerja dan belum pernah kuambil jatah cutiku tersebut. Sudah terbayang di benakku indahnya Selatpanjang dan sebulan penuh aku akan melepas rindu masa kanak-kanakku di sana. *** “AKU pulang ya, San.” Aku pamit padanya. Ia hanya membisu. Matanya yang tajam mengiris ngilu hatiku. “Hanya sebulan,” lanjutku. Sembilu matanya masih setia memorakporandakan dadaku. Dan tiba-tiba ia memelukku erat. Dengan berat akhirnya ia melepas kepergianku. Tatapannya yang dalam mengantar langkahku memasuki kapal Meranti Ekspres yang akan mengantarkanku ke kampung halaman. Selatpanjang, masa kanak-kanakku berebutan dalam benakku kini. Pelabuhan Tanjung Harapan sudah di depan mata. Aku segera melompat keluar kapal dan mencari becak yang akan mengantarku ke kenangan masa lalu. Hanya sekitar lima menitan aku bisa celi-ngukan sambil mengem-balikan ingatan-ingatan masa silam. Kicauan burung walet terdengar sangat nyaring. Becak berhenti. Abah dan emak telah menanti. Aku berlari meng-hampiri kedua orang yang kuhormati itu. Kupeluk dan kuciumi kedua tangan mereka. Abah dan emak 85


Cinta Terakhir

terlihat menua, dengan tubuh yang mulai ringkih dan membungkuk. Air mataku menitik. Terasa tangis menghujam dalam perih. Aku tersedu dalam hati menumpahkan segala rasa pahit dan galau yang menikam. Telingaku telah mengantar kabar yang tak bisa diterima hati yang telah kau kuasai. Permintaan kedua orang yang mempunyai andil akan kemunculanku di dunia nyata ini, telah membuat tiap rongga di kepalaku sesak seketika. Mereka menginginkan aku segera bersanding di pelaminan. Bahkan mereka telah mencarikan sosok yang akan menjadi pendampingku. Aku terjebak dalam suasana yang terasa mendesak. Abah dan emak memiliki harapan yang menjulang. Aku tak punya pilihan. Dirimu melayang-layang dalam alam pikirku. Aku galau. Bahkan upacara perkawinan itu telah di depan mata kini. Setelah melalui proses yang seharusnya panjang—sebab terasa sangat singkat bagiku—upacara helat jamu penikahan harus kuhadapi. Setiap calon pengantin semestinya sangat menantikan peristiwa ini, tapi tidak bagiku. Dengan seketika aku merasa gugup. Aku takut menjadi anak yang durhaka karena tidak memenuhi harapan orangtua, namun aku juga tidak sanggup mengkhianati cinta yang telah kita bangun selama ini. Abah, emak, dan dirimu silih berganti menghiasi benakku. Dalam adat di kampung halamanku ini biasanya upacara perkawinan dilakukan secara terperinci. Aku hanya bisa menyaksikan dengan perih upacara menggantung-gantung. Sanak keluarga dan para tetangga bergotong-royong menyambut hari yang seharusnya bahagia ini, mulai dari membuat tenda dan dekorasi seperlunya, menggantung tabir, menghiasi pentas, kamar tidur pengantin, dan pelaminan. Rumah telah semarak seketika. Rombongan keluarga laki86


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

laki itu mendatangi rumah kami dengan membawa perlengkapanperlengkapan seperti seperangkat isi kamar, seperangkat pakaian dan perlengkapan pakaian calon pengantin wanita, dan sejumlah uang pengantar yang perlu diserahkan sesuai dengan jumlah yang sudah dise-pakati bersama. Upacara menerima hantaran ini semakin membuat hatiku kacau. Senyum yang kuciptakan sesungguhnya telah menikam diriku sendiri. Hari itu sudah tidak bisa kutawar lagi. Telah harga mati kini. *** AKU menerima pesan singkat di ponselku darimu. Kamu menceritakan bahwa hari pernikahan telah menantimu. Aku terkejut setengah mati. Segera aku berlari ke Sungai Duku. Mencari kapal yang bisa segera mengangkutku ke Selatpanjang sana. Aku harus manyusulmu. Aku harus menyaksikan dirimu bersanding dengan lelaki itu, meski aku tak kuasa untuk mencegah. Dengan mudah aku segera menemukan rumahmu. Ramai. Semua orang terlihat bahagia. Aku melihat laki-laki yang kamu ceritakan. Tampan. Rona bahagia terpancar dari sinar matanya. Sungguh dia lelaki yang beruntung. Aku cemburu. Tetapi, di mana dirimu? Aku mencoba mendengar bisik-bisik tamu yang hadir. Kusimak dengan seksama. “Pengantin wanita tidak ada di kamarnya,” bisik perempuan berkebaya merah jambu kepada teman di sebelahnya. “Iya, sudah dicari ke manapun juga tidak terlihat,” jawab temannya itu. Aku hanya bisa terkesima. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Di mana kamu, Sayang? Ponselku bergetar. Ternyata pesan singkat darimu. “Temui aku segera di Hotel Furama kamar 610.” 87


Cinta Terakhir

Secepat kilat aku melompat ke sana. Becak yang mengantarku pun melesat seperti angin. Kugedor pintu kamar 610 itu. Tak ada jawaban. Kugedor berulang. Pintu terbuka perlahan. Tapi aku sangat dikejutkan dengan pemandangan yang kusaksikan. Wajahmu pasi dan mulutmu berbuih. Tiba-tiba tubuhmu ambruk. Dengan seketika kamu berada dalam dekapanku. Kamu memeluk erat sebuah buku. Matamu terpejam. *** “CINTA ini bukanlah cinta biasa. Cerita cinta yang kita ciptakan bersama ini penuh misteri. Rahasia yang terbangun hanya milik kita berdua, Sandy. Meskipun ini adalah cinta terlarang, aku akan selalu menjaganya. Akan kututup tiap lubang yang memungkinkan sesiapa mengintip ke dalamnya. Tak akan kuciptakan peluang bagi makhluk usil untuk mengusiknya. Hanya ada dirimu dalam hatiku, Sandy Aurani. Wanitaku, dan juga lelakiku.� Kalimat terakhir di buku harianmu itu mengguncangku. Kututup perlahan buku harian Rina, kekasih yang telah mengisi seluruh relungku. Tak dapat kubendung air bening yang mengalir dari tiap sudut mataku. Kini hanya buku ini yang bisa menemani hariku. Kudekap erat di dada. Kukecup keningmu untuk terakhir kalinya. Semoga kamu tenang di sana, Kasih. Bawa sertalah kisah kita, dan jangan pernah kamu ragu, aku pun akan selalu meniupkan kisah indah kita dalam keseharianku tanpa dirimu kelak. n

u 88


Mark Kostabi ~ OpenArt

89


Senyum Senja

Ilustrasi: repro ira tsantekidou / openart

90


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Senyum Senja rahma179@yahoo.com (Joglosemar | Sabtu, 14 Juli 2012)

o

L

ELAKI itu memandang lembut pada wajah yang masih menyisakan kecantikan itu. Pujaan jiwa, bisiknya dalam hati. Mata cantik itu, yang sekarang hanya mampu terpejam, ia selalu memujanya. Mata yang membuat hatinya terkapar tak berdaya, jiwanya. Wanita itu, yang memberinya enam anak yang disayanginya sepenuh hati, wanita yang membuat hidupnya terasa sempurna, wanita yang selalu membuatnya tertawa, wanita itu kini tak berdaya. Diusapnya rambut panjang, yang entah sejak kapan memutih, dengan rasa sayang yang tibatiba meluap. Rela, ia sudah rela jika memang saat ini adalah akhirnya. Ia sudah pernah berjanji, ia tak akan menangis saat pujaan hati itu harus pergi. Maka ia akan menepatinya, ia akan setegar karang. Ya, setegar karang. Wanita itu perlahan membuka matanya, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Ia membalas genggaman 91


Senyum Senja

tangan lelaki itu. Laokong (laokong = suamiku) ucapnya lirih, lalu terpejam. Lelaki itu tua, saat ini mata wanita itu akan selalu terpejam, untuk selamanya. Lelaki itu terdiam. Dan ia tak menangis. Dan kini sudah lima belas tahun berlalu. Ia mungkin pikun dan lupa tentang hal-hal kecil, namun mata cantik itu, takkan pernah beranjak dari jiwanya. Ia sendiri sudah delapan puluh enam tahun sekarang. Atau mungkin lebih, ia sudah lama berhenti menghitung usianya. Sudah tua, pikirnya dalam hati. Enam anaknya pun sudah berkeluarga semua. Lima anak perempuannya sudah jauh dibawa suaminya masing-masing. Hanya tinggal anak kelimanya, anak lelaki satu satunya, bersama istri dan tiga anaknya, yang sekarang tinggal bersamanya. Jika kelima anak perempuannya sekarang jauh dalam arti sebenarnya, maka keluarga anak lelakinya ini jauh, dalam arti yang entahlah, ia sendiri tak memahaminya. Akhir Januari ini beku, matahari pun tak pernah nampak, dan ia bisa merasakan gigilnya hingga ke tulang tuanya. Jaket tua lusuh yang dikenakannya itu pun tak lagi mampu hangatkannya. Ia pandang ujung lengan jaketnya yang kotor karena tak tercuci. Dan warna jaket itu pun sekarang sudah tak jelas, entah biru atau cokelat. Atau warna cokelat itu tercipta karena segala kotoran yang menempel, ia juga tak yakin. Bagaimana lagi, ia tak punya jaket lain yang bisa melindungi tubuhnya dari bekunya musim dingin di utara ini. Dan ia tak mau meminta pada anaknya. Ia tak ingin merepotkan buah hati tercintanya. Perlahan ia bangkit dari duduknya di beranda rumahnya itu. Ah, tulang tuanya benarbenar tak bersahabat lagi. Nyaris bisa ia dengar tulangnya sendiri saat ia berdiri. Mungkin minum banyak air hangat bisa membuatnya lebih baik, pikirnya. Dan tiba-tiba ia teringat air yang dimasaknya di dapur tadi. Dihampirinya tungku arang tempatnya merebus air, sudah 92


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

padam, dan air yang dimasaknya pun tinggal separuh panci, itu pun sudah mendingin. Ia tersenyum, ia teringat nasi yang menjadi arang minggu lalu. mungkin benar apa kata cucunya, ia pikun. Tapi ia tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak pikun, ia hanya terlalu banyak mengenang masa lalu hingga ia sering lupa dengan apa yang ia kerjakan. Ia lalu menuang air dalam panci itu pada sebuah cangkir. Gemetar, ah memang aku sudah tua, pikirnya. Lalu ia kembali tersenyum. Kembali angin beku menerpa tubuh tuanya, ah rupanya jendela masih terbuka. Ia melangkah perlahan mendekati jendela yang terbuka itu, dan meraih daun jendela untuk menutupnya ketika tercium harum bunga Osmanthus musim dingin yang terbawa angin. Kelopak putih sebesar ujung pensil itu bergerombol pada tangkainya di pangkal- pangkal daun, menguarkan bau harum yang manis, semanis kenangannya akan istrinya. Dulu istrinya selalu merawat pohon-pohon Osmanthus itu, memotong ujungujung atasnya agar tetap pendek, setinggi pinggang orang dewasa. “Agar nanti cucu cucuku mudah memetik bunga bunganya� kata istrinya pada saat itu. Ah, cucu-cucu itu, tak sempat wanita itu melihat mereka dilahirkan. Tiga belas cucu yang manis, meski tak pernah mengenal neneknya yang sudah tiada. Jangankan neneknya yang sudah menjadi abu, kakeknya ini pun tak pernah ditengok. Hanya tiga cucu dari anak laki lakinya yang sekarang tinggal serumah dengannya. Itu pun seperti orang lain. Tak pernah sekalipun memeluk tubuh renta itu. Namun masih ada Chindy anak keempatnya yang begitu menyayanginya, meski tinggal jauh di selatan sana, dan meski hanya tiga kali dalam setahun mengunjunginya. Anak itu, nama aslinya Lee Chu Chin, anak yang jarang bicara dan tertawa, juga tak lebih cantik dari kakak dan adiknya, namun anak yang paling halus hatinya. Dan matanya, mata Chindy adalah mata istrinya. 93


Senyum Senja

Ah, segala angannya selalu kembali pada satu titik, istri tercintanya. Kembali mata sipitnya menyapu pemandangan halaman belakang itu. Pada Jajaran Osmanthus yang mekar harum, dan tersenyum. Laobo (laobo = istriku) bisiknya disela senyum. Senyum yang penuh kenangan indah. Lalu ia menutup jendela. Dan besok, mungkin Chindy datang, karena lusa adalah Guo Nian (Tahun baru Chinese/Imlek) saat di mana ia merasa bahagia karena mungkin anaknya akan datang. Esok paginya ia terbangun karena suara nyaring yang dinantikannya, Chindy.Anak itu mengguncang perlahan bahunya, lalu memeluknya. Chindy menangisi lelaki itu, menangisi jaket kotor yang ia pakai, menangisi tungku arang yang dipakainya memasak, menangisi jarak rumahnya yang sangat jauh dari tempat ayahnya tinggal. Dan menangisi sikap Ayahnya yang tak mau tinggal bersamanya. Lelaki tua itu tersenyum, dan dengan tangan keriputnya ia mengusap air mata anaknya itu. Lelaki itu senang Chindy datang, yang berarti ia bisa menenggelamkan angan pada mata teduh yang serupa mata istrinya itu, juga berarti ia tak harus memasak sendiri. Sehari harinya ia memang selalu memasak sendiri karena menantunya tak pernah mengajaknya makan bersama. Pun tak pernah memasak untuknya. Entahlah, mungkin tubuh tua itu dianggap tak enak dilihat saat makan bersama atau apa. Sedang anak lelakinya pun tak berani menentang istrinya. Ah, anak kelakinya itu, benar-benar seperti dirinya, tunduk pada wanita. Namun tak bisa ditemukan satu persamaan pun antara menantunya yang culas itu dengan mendiang istrinya. Kecuali, mereka sama-sama wanita. Siang hari suami Chindy datang membawa sehelai jaket tebal bagus berisi bulu angsa yang hangat dan ringan untuk lelaki tua itu, bersama seperangkat kompor gas baru dan sekaleng besar 94


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

susu bubuk. Suami Chindy itu tau, ayah mertuanya sering lapar di malam hari. Dengan adanya kompor gas, lelaki tua itu tak akan bersusah-payah menyalakan arang di tungku saat merebus air, dan susu itu bisa diseduh sewaktu waktu. Suami Chindy itu, lelaki bermarga Chung, adalah seorang lelaki tampan tinggi besar dengan senyum ramah tetapi mempunyai mata genit, mata yang suka menggoda wanita. Namun lelaki tua itu sangat menyukainya. Seperti Chindy, suaminya itu adalah menantu yang paling pengertian. Lelaki itu sebenarnya tidak suka membandingkan anak anaknya. Tetapi pada kenyataannya anak anaknya itu memang tak perhatian. Kadang ia berpikir, jika ia adalah seorang ayah yang kejam dan suka memukul, bisa dimaklumi jika anak anaknya tak peduli padanya. Tapi ia selalu memberikan apa yang dibutuhkan anaknya, berusaha menyekolahkan mereka lebih tinggi daripada teman temannya hingga mereka sekarang mempunyai pekerjaan yang bagus. Lelaki tua itu menghela napas. Ah, Mungkin anaknya sedang sibuk. Hanya itu satu satunya jawaban yang bisa meredam rasa kecewanya. Dua bulan berlalu setelah perayaan tahun baru yang sepi itu. Musim dingin sudah pergi menyisakan pohon-pohon tanpa daun, pun bunga Osmanthus di belakang rumah telah berguguran. Dan pohon Shuan Mei (Plum Asam) di samping rumah mulai memekarkan bunganya yang merah muda. Seperti bunga-bunga sakura Jepang yang sering ia lihat ada di gambar kalender, hanya saja beda warna. Lelaki tua itu mulai menyimpan baju-baju musim dinginnya dan mengeluarkan baju yang lebih tipis, meski udara masih terasa dingin, tapi tak lagi menggigilkan tubuh rentanya. Dan ia selalu menyukai udara bulan Maret. Saat menarik salah satu laci pakaian, ada sebentuk gelang bayi jatuh. Gelang dari benang 95


Senyum Senja

merah yang dijalin dengan anyaman rumit itu sudah usang. Terdapat sebentuk lempengan tipis emas yang berukirkan bunga plum disematkan di tengah gelang selebar jari orang dewasa itu. Ia sudah lupa, milik siapa gelang itu, entah anaknya yang keberapa yang pernah memakainya. Ia lalu keluar kamar, dan melihat menantunya sedang menggendong anak ketiganya yang masih bayi. Lelaki tua itu menghampirinya, dan dengan tersenyum dipasangnya gelang merah itu di tangan cucu terkecilnya itu. Lalu ia duduk dan meminta izin menantunya itu untuk memangku bayi itu sebentar. Dengan enggan sang menantu menyerahkan bayinya pada lelaki tua itu. Bayi perempuan itu mengeliat sebentar lalu melanjutkan tidurnya. Lelaki tua itu mengamati bayi cantik di pangkuannya, tangan yang mungil, bibir yang merah, alis yang nyaris tak tampak, juga rambut yang hitam jarang. Ia berpikir, mungkin saat besar nanti, cucunya itu akan mewarnai rambutnya menjadi cokelat atau merah, seperti yang dilakukan hampir semua cucu wanitanya yang beranjak remaja. Pada menantunya lelaki tua itu berkata bahwa diperbolehkan memangku bayi itu adalah kebahagiaan yang tak terkira baginya. Dan betapa inginnya dia berkumpul dengan seluruh anak dan cucunya, meski hanya sekali saja. “Akan kuberikan apapun yang ku punya, hanya untuk bisa berkumpul dengan kalian, anak dan cucuku� bisiknya disela senyum yang selalu menghias bibirnya. Menantunya terdiam lama sebelum berkata, “Lau pa, maafkan aku� (lau pa = ayah). Lelaki itu hanya tersenyum, namun kali ini dengan kebahagiaan yang meluap. Menantunya itu, untuk pertama kalinya memanggilnya lau pa. Ia lalu memberikan bayi itu pada ibunya, sambil berdiri ia berkata “Katakan pada Tian Lung, aku sangat mencintainya. Dia 96


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

anak laki lakiku satu satunya. Aku bangga padanya. Semoga besok kalian semua, anak-anak dan cucuku bisa berkumpul, meski sekali saja.” lelaki tua itu tersenyum, dan memandang lembut menantunya itu. “Dan aku juga menyukaimu, karena kau telah merawat anak lelakiku dengan baik.” lalu ia berlalu, meninggalkan sang menantu yang tak mampu berkata apapun. Di dalam kamarnya, lelaki tua itu membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang penuh bekas rembesan air hujan. Kembali ia hadirkan bayang istrinya, wanita dengan mata indah dan senyum simpul. Betapa ia merindukannya. “Laobo.....” bisiknya, kali ini dengan tetesan air mata, air mata kerinduan yang dipendamnya selama lima belas tahun terakhir. Ia merasa lega, bisa mengalirkan kepedihan jiwanya itu. Lalu ia tersenyum. Esok harinya, seluruh anak dan cucunya benar-benar berkumpul. Tak hanya anak dan cucunya, juga semua teman dan tetangganya, untuk penghormatan terakhir, sebelum akhirnya lelaki tua itu dijadikan abu, yang guci abunya akan disandingkan dengan guci abu istrinya. n

u 97


Aku Menulis dengan Tangan yang Sakit

Ilustrasi: jurnal nasional

g Alex R Nainggolan, dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat menyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Majalah eSquire, Majalah Femina. 98


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Aku Menulis dengan Tangan yang Sakit Alex R. Nainggolan (Jurnal Nasional | Minggu, 15 Juli 2012)

o

A

KU menulis dengan tangan yang sakit. Meskipun sebelumnya aku tak kerja berat, tidak meninju atau memukuli seseorang. Juga tak menggebrak bendabenda keras. Pula, tangan itu tidak sedang ditato, atau habis disuntikkan sebuah jarum infus. Namun tanganku tetap saja sakit. Entah kenapa. Dan keadaan ini sudah berlangsung agak lama. Hampir setahun. Seperti jemari ini kaku untuk sekadar menekan tuts keyboard komputer. Atau barangkali pula tak ada yang mesti dituliskan. Sementara hari masih saja nyalang, guliran waktu terus menerawang. Tanganku sakit, tapi tetap saja aku paksakan untuk menuliskannya. Barangkali akan menulis surat cinta buat dirimu, yang acap tak pernah kulakukan bertahun-tahun. Atau bisa saja kemungkinannya jika ini disebabkan dari diriku sendiri. Aku yang terlampau asyik pada pukau berita, sehingga merasa tak ada 99


Aku Menulis dengan Tangan yang Sakit

yang layak ditulis. Semuanya telah menjadi berita yang dipenuhi tragedi. Semuanya terasa memuakkan sekaligus menjemukan. Berita demi berita yang berjejalan tiba, seakan ingin mengeluarkan auran luka. Berita-berita yang miris dan membuat bergidik setiap kali membacanya. Berita-berita yang cuma mengabarkan amis darah dan ketakutan. “Lalu mengapa kau paksakan juga untuk menulis?,” kata seorang kawan. “Sebab mesti ada yang dikabarkan. Mesti ada yang dikisahkan. Seseorang, bagaimanapun harus menjadi penyaksi.” “Tapi tanganmu sedang sakit. Kau gila, kawan! Bukankah lebih baik ke Rumah Sakit, menemui dokter saja?” Akhirnya memang kuikuti saran kawanku. Lagi-lagi yang kutemui hanyalah seberkas kejemuan yang memuakkan. Dokter banyak bertanya. Layaknya detektif. Ia memakai kaca mata, dengan kepala yang agak botak. “Mengapa bisa begini, bung?” “Entahlah, dok. Segalanya terjadi tiba-tiba saja.” “Punya riwayat darah tinggi atau rendah?” “Ada. Darah tinggi.” Dokter pun mendiagnosa. Menurut dugaannya, aku menderita stroke ringan. “Hindari makan kolesterol, terlebih lagi daging kambing. Perbanyak sayuran dan buah-buahan. Anda suka menulis?” “Kadang-kadang, dok.” “Nah, ini yang menjadi pangkal penyebabnya. Hentikan kebiasaan anda menulis. Setidaknya sampai jemari Anda pulih, bung.” Ia menuliskan resep obat. Dan aku merasakan tanganku makin kesemutan. Seperti dirayapi oleh ratusan semut. Terutama di sela jemari. Aku berlalu. 100


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

*** TAPI suatu malam, keadaan itu berulang lagi. Hasrat menulis hinggap tiba-tiba. Entah kenapa. Yang jelas di rongga kepalaku berhamburan pelbagai ide yang mesti diketikkan. Anehnya, saat menghidupkan layar komputer, dan aku mulai menekan tuts keyboard, tanganku kembali sakit. Jari-jari terasa sulit digerakkan. Ide yang ada seperti berdiam saja di kepalaku. Ada keinginan menekan tuts keyboard, tapi sakitnya bukan main. “Sialan,� gumamku. Ide itu mencair lagi. Tak menggumpal. Aku coba mengalihkannya dengan membuat secangkir kopi.Aneh, sakit tangan itu menghilang tiba-tiba. Lalu aku duduk lagi menghadap layar komputer. Jejalan ide berkerumun. Seperti kudengar dengung suara. Ada puluhan suara. Suara itu mendadak bergabung menjadi satu. Ada anak yang menangis karena dipukuli Ayahnya. Ada seorang istri muda cantik yang menangis ditempeleng suaminya. Ada suara bayi menangis yang lapar karena belum diberi susu. Ada suara percakapan telepon tentang pejabat yang selingkuh. Ada anak muda yang membunuh seorang nenek. Ada suara yelyel teriakan para demonstran untuk menggantung para koruptor. Ada suara terakhir dari seseorang sebelum sebutir peluru dari sepucuk pistol menembus kepalanya. Ada suara penyanyi perempuan yang renyah dalam musik jazz yang sedap mengalun, yang kutebak perempuan itu pasti cantik dan wangi. Suara-suara itu terus menggaung. Tertimbun satu demi satu, menjelma jadi gunung. Menembusku dan berkelindan di dalam labirin kepalaku. Lalu beberapa tokoh hadir, berbisik dan berkumpul di sana. Salah seorang di antaranya ada yang berteriak. Ada pula yang sedang menangis tersedu, sendirian di 101


Aku Menulis dengan Tangan yang Sakit

sebuah sudut. Tokoh-tokoh yang terus kuingat, seakan tak akan bisa kulupakan, seperti menanti untuk keluar sebagai kalimat. Seperti minta untuk diberikan nama. Pun pada percakapan antara mereka. Namun tetap saja ketika aku mencoba untuk menuliskannya. Tangan itu kembali sakit. Seperti dikomando demikian. Bahkan saat aku alihkan dengan membakar sebatang rokok sembari menulis—tetap saja tangan itu sakit. Malah semakin menjadi. Sehingga jemariku tak bisa menjepit puntung rokok itu. Mendadak aku geram sendiri. Aku merasa tanganku tak bisa lagi diperintah oleh kerja otak. Tangan yang sakit itu membuatku lelah. Sampai aku mematikan layar komputer dan bergerak untuk tidur. Mungkin dengan tidur ia akan mendingan. Esoknya aku mencoba lagi, namun tetap sama. Tanganku masih saja sakit. Hingga aku memeriksa kedua tanganku. Mungkin ada lebam, barangkali pula terkilir. Sehingga memaksaku minta kepada istri agar dipanggilkan tukang urut. Selesai mengurut, tiba-tiba ada lintasan kisah berjejalan di kepala. Semacam ingin segera keluar. Kembali aku menghidupkan komputer, dan mulai menekan huruf demi huruf. Tapi, ah sakit itu terus saja berlanjut. Membuatku keringat dingin, setiap kali coba menggabungkan huruf demi huruf, sampai merangkaikannya dalam kata, kalimat, paragraf. Membuatku dilanda kecemasan yang panjang. Setiap kali aku mencoba menulis, sakit di tangan itu makin berkepanjangan. Seperti menguras seluruh energi. Kejadian itu terus saja berulang. Berkepanjangan, mendadak aku merasa tersia-sia. Jalinan ide itu terbuka, hanya sebagai jendela. Untuk kemudian lepas ke luar tanpa bisa dikejar.

102


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

*** MAU tidak mau, aku mesti memaksakannya. Kelak aku akan membuat sebuah cerita. Jika aku berupaya dengan sesungguh hati untuk menulis. Meskipun perlahan. Walaupun tanganku benar-benar sakit. Dan aku akan terus menulis dengan tangan yang sakit. n Poris Plawad, 2012 Catatan: *Cerita ini terinspirasi dari sajak Ahda Imran “Aku Menulis� (Penunggang Kuda Negeri Malam, hal. 85), judul cerita ini diambil dari salah satu larik di sajak tersebut.

u 103


Kain Kafan

Ilustrasi: repro openart

104


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kain Kafan Iben Nuriska (Arah Riau | Minggu, 15 Juli 2012)

o

S

UDIN sadar umurnya tak lagi muda. Sudah bau tanah. Tenaganya habis dimakan usia. Tapi akalnya tetaplah panjang. Apa lagi untuk tipu-tipu. Di akhir hayatnya, dia masih merencanakan sebuah penipuan. “Tak ada orang di kampung ini, dulu, yang tidak terkena muslihatnya. Pasca tumbangnya orde lama, Sudin mengaku sebagai kaki tangan pemerintah. Dikumpulkannya mantan pejuang kemerdakaan, tentara rakyat yang ikut dalam perang menumpas PRRI Permesta dan pejuang revolusi. Setiap orang dimintainya biaya seribu rupiah. Bagi yang tidak bersedia membayar diancam tidak didata sebagai tentara veteran perang. Itu artinya, mereka tidak akan pernah dihargai jasanya oleh negara dalam bentuk tunjangan hari tua. “Di kampung kita, sekitar lima ratus orang mantan pejuang yang tidak tahu apa-apa dan memang membutuhkan tunjangan 105


Kain Kafan

hari tua karena tidak punya sumber pendapatan bersedia membayar. Lima ratus ribu menjadi milik Sudin. Bayangkan saja, di tahun itu, emas satu gram harganya masih lima ratus rupiah. Padahal pemerintah pusat melalui pemerintah daerah telah mengumumkan tidak ada pungutan bagi siapa saja yang mengajukan diri mendapat tunjangan veteran perang. Dan data yang dikumpulkannya tak pernah diserahkan kepada pemerintah karena para veteran itu sendiri yang harus mendaftar di kantor kabupaten. “Perlahan dan pasti, Sudin jadi orang terkaya di kampung kita. Berkat kecerdikannya berunding, para ninik mamak terbujuk rayuan untuk mau menyerahkan pengelolaan tanah ulayat kepadanya. Ribuan hektar tanah ulayat lalu dijualnya kepada perusahaan-perusahaan perkebunan. Kayu-kayu ditebangi. Lahan kering dibakar kemudian ditanami akasia, pohon karet dan kelapa sawit. Tidak ada anak kemenakan di kampung ini yang bisa menikmati hasilnya. Lahan-lahan itu telah berpindah tangan dan bersertifikat atas nama orang-orang jauh. Dan pewaris sah tanah adat hanya menjadi kuli penjaga dan pemanen hasil kebun.” “O, tahulah aku sekarang, Tuok, kenapa perusaah-perusaahan itu selalu memenangkan sengketa lahan di pengadilan. Orang kampung kita yang bodoh kalau begitu,” sela Riman memotong cerita Tuok Alim. “Ya, secara legal formal, tanah yang selayaknya menjadi warisan anak kemenakan kampung ini telah dibeli perusahaanperusahaan itu dengan sah,” sambung Komar. “Berarti perjuangan masyarakat adat untuk mendapatkan kembali tanah ulayat itu akan sia-sia,” lanjut Limin membuat kesimpulan. “Kalian mau mendengarkan cerita Sudin atau diskusi tanah 106


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

ulayat?” tanya Tuok Alim memandangi kami satu-satu, mahasiswa yang sedang menghabiskan akhir pekan di kampung halaman. Di sini, di lepau bambu di muka rumah lontiok[1] kediaman Tuok Alim, aku, Riman, Komar dan Limin sering menghabiskan waktu mendengar Tuok Alim bakobou[2]. “Lanjut saja ceritanya, Tuok,” kataku. “Lanjut atau diskusi?” “Lanjut!” jawab kami serempak. TuokAlim terbahak. Lepau bambu bergoyang mengikuti gerak tubuhnya. Tawanya berhenti ketika batuk menyerang dan matanya basah menahan sakit di dada. “Kasihan sekali bangsaku,” lirih Tuok Alim sejurus kemudian. “Mahasiswanya lebih senang mendengar orang tua nganguik[3] ini daripada mendiskusikan cara merebut haknya kembali.” “Kita sudah sama-sama tahu pangkal masalahnya, Tuok. Surat jual beli tanah itu tak bisa disangkal. Kemana pun berjuang, kita pasti kalah,” ujar Limin. “Masalah bangsa kita bukan hanya itu, anakku. Belum sekali pun selama kita bakobou kalian membicarakan persoalan bangsa. Kalian lebih senang mendengar Hikayat Burung Pogam, Si Malancau, Si Biluo, Naga Beralih, dan dongeng lain daripada mendiskusikan persoalan korupsi yang kian hari makin mengeroposkan sendi bangsa kita. Kalian tidak peduli pada kasus freeport di tanah Papua. Bank Century. Penyalah gunaan wewenang anggota DPR. Dan banyak lagi persoalan bangsa yang tumpang tindih datang silih berganti. Kalian itu sama saja dengan Sudin.” “Sudin itu penipu, Tuok. Sedang kami belum sekali pun merugikan orang lain untuk kepentingan kami sendiri,” bantah Riman. “Sama saja.” 107


Kain Kafan

“Beda,” seru Komar. “Sama!” “Beda,” kompak kami berempat. “Anakku. Sudin itu orang baik. Sama seperti kalian. Sudin itu baik pada dirinya dan keluarganya. Apa bedanya sama kalian?” “Baik tapi culas, Tuok,” kesalku tak bisa terima disamakan dengan orang seperti Sudin. “Kalian itu juga culas anakku. Culas pada bangsa kalian sendiri. Kalian hanya sibuk memikirkan masa depan kalian sendiri. Pernahkah kalian memikirkan masa depan bangsa kita?” “Kami kuliah untuk melanjutkan masa depan bangsa ini, Tuok,” sengit Limin. “Dengan menampung hasil titik peluh mak bapak kalian.” “Sudah kewajiban orang tua membiayai kehidupan kami. Dari pada kami luntang lantung jadi pengangguran,” kata Komar. “Dan sebagai balasannya, uang dari orang tua kalian habiskan untuk belanja di mall, di cafe, nonton di bioskop dan jalan-jalan sambil menyegarkan otak bersama pacar kalian. Sudin juga punya pembenaran atas sikapnya sebagaimana kalian. Dia merasa telah menjalankan kewajibannya membantu orang lain. Sama seperti kalian menjalankan kewajiban kuliah untuk menyenangkan orang tua. Sebagai imbalannya, kewajiban yang sudah kalian jalankan harus diikuti dengan pemenuhan hak atas biaya kuliah dan belanja hiburan. Sudin pun begitu. Dia telah mematok standar hak yang harus dia terima atas bantuannya pada orang lain. “Kerbau-kerbau dan tanah yang luas yang sekarang diwarisi anak-cucunya merupakan tanda terima kasih yang dia terima. Dulu, sebelum tahun sembilan puluhan, pemerintah daerah sangat membutuhkan orang untuk diangkat jadi pegawai negeri. Hal itu dimanfaatkan Sudin dengan mengaku dekat sama orang dalam. Maka, setiap orang yang berhasil dia jadikan pegawai akan 108


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

memberikan seekor kerbau atau sehektar tanah kepada Sudin. “Imbalan yang dia terima setimpal dengan harapan yang orang lain dapatkan. Bukankah kalian juga sedang memberikan harapan pada orang tua kalian? Menghabiskan masa muda dengan belajar. Kelak kalian akan jadi sarjana dan bekerja. Dan orang tua kalian bangga. Dan untuk itu, kalian merasa telah melakukan pengorbanan menghadapi jadwal kuliah yang padat dan stres menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk. Sebagai imbalannya, kalian mengharuskan diri mendapat hiburan. Orang tua kalian jadi korban. Saya yakin, kalian pasti sering melebihkan uang kuliah yang kalian minta dengan alasan bayar uang praktikum atau uang ujian yang sebenarnya tidak ada. Masih mahasiswa sudah bermental korup. Bagaimana kalau sudah berkuasa. Kasihan sekali bangsaku.� Tak ada yang berani membantah Tuok Alim. Jangankan memandang mukanya, sesama kami pun tak ingin beradu mata. Kami menunduk saat tahu ia memandangi kami satu-satu. “Anakku. Sudah menjadi watak orang kampung kita menghormati orang kaya. Bila yang bicara itu orang berpunya, salah pun yang dia kata, orang-orang tetap mengangguk membenarkan. Dan bila yang berkata itu orang tak berada, kebenaran sekali pun yang ia sampaikan, kata-katanya akan dilempar kembali ke mukanya, orang-orang akan menyuruhnya berkaca dulu sebelum bicara. “Sudin paham benar akan hal itu. Sebagaimana kalian sangat menyadari penampilan itu lebih utama dari pada kecerdasan agar kalian dihormati dan punya banyak kawan di kampus. Bagaimana pun caranya, kalian akan berusaha agar tidak ketinggalan gaya. Seperti Sudin yang tidak peduli harus menipu siapa saja untuk mengumpulkan harta. Dia takut miskin. Dia juga tidak mau anak keturunannya miskin.� 109


Kain Kafan

“Kami tak pernah menipu orang, Tuok,” protesku masih belum terima Tuok Alim selalu menyamakan kami dengan Sudin. “Mak bapakmu bukan orang, Wan?” tanyanya disambung tawa bersama ketiga kawanku. “Pada saatnya nanti, kalian akan menyadari semua kekeliruan yang telah kalian lakukan, anakku. “Lanjut ke cerita Sudin. Sebulan sebelum meninggal, Sudin mendatangiku. Dia mengakui semua kesalahannya selama ini. Dan semuanya sudah terlambat. Dia tak punya kesempatan lagi untuk meminta maaf pada orang-orang yang pernah ditipunya. Kebanyakan orang itu telah meninggal. “Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk menghindari azab kubur, katanya padaku waktu itu. Dia menunjukkan beberapa helai kain lampin yang sudah kumal dan compang camping. Dia bilang, dia sudah berpesan pada istrinya agar lampin itu dijadikan kain kafannya.” “Lampin itu benar, Tuok, dipakaikan untuk kafan?” tanya Komar. “Pantang melanggar amanah orang mati.” “Untuk apa, Tuok?” tanya Limin penasaran. “Tidak ada yang tahu tujuannya. Sudin hanya menceritakan padaku kalau kain kafannya itu untuk menghindari siksa kubur.” “Bagaimana bisa?” tanya Riman. “Saya hanya menduga. Otaknya yang setiap hari berpikir untuk menipu, terbawa sampai jelang kematiannya. Saya membayangkan kalau kain kafan yang sudah kumal itu digunakannya untuk menipu malaikat Munkar dan Nakir, yang akan menanyai si mati di dalam kubur tepat pada langkah ke tujuh para pengantar jenazah meninggalkan tanah kuburan.” “Memangnya malaikat bisa ditipu, Tuok?” ledekku. “Itulah yang dipikirkan Sudin. Saya membayangkan rencana 110


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

yang telah disiapkannya itu begini: begitu kedua malaikat itu mendatanginya, Sudin berkata, saya sudah lama mati. Lihatlah kain kafan saya. Sudah sangat buruk. Compang camping. Orang yang baru mati pastilah kain kafannya putih bersih. Saya sudah pernah ditanya, tidakkah kalian ingat?� “Dasar penipu,� seru kami bersorak. n Rumahkata Batubelah, 121111

Catatan: [1] Rumah Lontiok = Rumah Panggung [2] Bakobou = Berkabar atau berbagi cerita [3] Nganguik = Renta

u 111


Tapak-tapak Harapan

Ilustrasi: kompas online

g Aftar Ryan, seorang graphic designer, penikmat sastra & kopi yang berkediaman di Bandung. 112


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Tapak-tapak Harapan Aftar Ryan (Kompas.com | Rabu, 11 Juli 2012)

o

A

KU masih tertegun dalam laut lamunan ketika kapal yang kutumpangi perlahan merapat di sebuah dermaga yang asing. Memang, aku belum pernah sekalipun mengunjungi tempat ini. Bahkan aku tak tahu hendak berjalan ke arah mana saat lambat laun kakiku menapaki satu-satu anak tangga yang mengarah keluar dari kapal. Aku masih saja mengingatmu dengan jelas, meskipun waktu yang kulalui sejak kepergianmu tidaklah sebentar.Aku juga masih bisa mengingat jelas ketika pada suatu saat kita bertemu untuk kali pertama. Kau begitu canggung. Begitu pemalu. Dan aku, aku mulai merasa senang dengan keberadaanmu sejak saat itu. Aku mulai terbiasa mencari-cari keberadaanmu. Dan yang paling penting, aku juga mulai merasa membutuhkanmu. “Aku berharap bisa masuk PNS setelah lulus nanti� ujarmu pada suatu siang saat kita sama-sama berteduh di bawah pohon 113


Tapak-tapak Harapan

di depan ruang kelas kampus kita. Aku hanya tersenyum sambil mengguratkan batang ranting pada tanah dan membentuk sebuah gambar perahu. “Mengapa kau menggambar perahu?” tanyamu melirik gambar yang kubuat sambil terkekeh. “Entahlah, aku ingin berlayar mengarungi samudra” ucapku ringan. “Suatu saat datanglah ke tempatku dengan menumpang kapal, kau akan merasakan keindahan samudra yang sebenarnya...” Sejenak pikirku melayang jauh. Kita memang berbeda dalam segala hal. Kau lebih suka menjadi PNS atau dosen setelah kuliahmu selesai. Sedangkan aku terus terobsesi dengan perjalananku menemukan hal-hal baru dipedalaman hutan, gunung dan pantai. Tapi dari perbedaan itu kita bisa saling menghargai dan saling mendukung. Kaulah yang sering mengingatkanku untuk selalu sarapan pagi sebelum aku hanyut terbuai dengan secangkir kopi kesukaanku, katamu biar aku tidak sakit maag. Dan tentu kau ingat ketika banyak orang yang mulai ramai membicarakan tentang hubungan kita yang mungkin sering terlihat bersama. Tapi sesungguhnya, aku tak tahu persis seperti apa hubungan kita. Kita memang dekat. Tapi kita tak pernah menyatakan bahwa kita adalah sepasang kekasih. Atau kita memang terlalu naif untuk bisa mengakui sebentuk rasa yang mulai tumbuh saat tak sengaja mata kita saling terpaut. Saat ada sesuatu yang hinggap menghiasi setiap sikap dan isyarat. Satu hal memang yang kutahu, kita mempunyai banyak persamaan meskipun kita mempunyai banyak perbedaan. “Kau tahu...aku suka sekali melihat laki-laki dengan kemeja dan jas, berwibawa dan cakap hehehe” ucapmu saat kita menikmati secangkir kopi di cafe samping kampus. Dan aku hanya tergelak kecil mendengar apa yang kau ucapkan. 114


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Gimana kalo kamu sekali-kali berbusana kaya gitu heh? sepertinya keren, hm jangan cuma bisa pake jeans & jaket lusuh kaya gini aja� lanjutmu sambil menujuk onggokan jaket yang kusimpan di sandaran kursi. Dan kopikupun tumpah karena aku tersedak mendengar ucapanmu itu. “Huh...kau tahu, cewek yang keren buatku itu adalah yang bercelana cargo dan kemeja PDL, bukan yang memakai rok kaya kamu tuh� timpalku sambil membersihkan tumpahan kopi dicelanaku. Terus terang aku memang tak pernah berfikir untuk menyukaimu dan coba menaruh hati padamu. Aku tak pernah menanam isyarat apapun padamu. Sampai disuatu saat aku sadar ketika kau memutuskan untuk pulang ke kotamu saat lulus kuliah. Di dermaga itu. Pertama kalinya aku merasa kehilangan. Dan tatap mataku jauh menerawang setelah pandanganku tak bisa lagi menangkap bayangan kapal yang kau tumpangi perlahan merambat jauh ke tengah samudra. *** KAU tahu? aku sempat berusaha melupakanmu. Saat itu, saat aku merasa terpukul atas kepergianmu, lalu kulabuhkan sejengkal harapan yang ada pada perempuan yang kukenal beberapa bulan setelah kepergianmu. Semua begitu cepat. Dan aku coba mengambil keputusan untuk segera menikahinya. Semua memang berjalan sesuai harapan. Nyatanya aku bisa mengubur semua kenangan indah bersamamu. Kucoba mereguk kebahagiaan dengan perempuan yang kunikahi dengan proses pacaran yang tak terlalu lama. Semua mengalir, hingga sesuatu kembali terjadi. Hampir enam bulan semenjak kami menikah, takdir berkata lain. Kembali aku harus merasakan kehilangan. Nyatanya Dia telah lebih dulu memanggil untuk menghadap-Nya. Dia meninggal 115


Tapak-tapak Harapan

saat usia kandungannya menginjak usia empat bulan. Dia mengalami musibah kecelakaan yang merenggut nyawa dan janinnya ketika hendak pergi untuk pemeriksaan rutin kandungannya ke sebuah klinik bersalin. Aku memang tak menyertainya, karena waktu itu aku sedang berada di luar kota untuk suatu pekerjaan. Setelah itu, semua menjadi suram dan begitu gelap. Aku kembali kehilangan sebuah harapan yang lambat laun kubangun demi sebuah nama kebahagiaan. Semenjak kepergiannya aku lebih banyak menghabiskan hari-hariku di rumah. Di sebuah kamar dengan onggokan buku-buku serta perangkat komputer. Di situlah, di depan komputer itu aku sering termenung dan sekalikali jariku menari di atas keyboard, mencoba menuliskan rangkaian kalimat yang membentuk alur cerita. Di situ pulalah secara tidak sengaja aku teringat pada sebuah nama yang dulu, kurasa begitu lekat dan akrab. Secara refleks, mengalir, dan tak terduga, akupun menuliskan namamu dalam ribuan kata yang terangkai itu. Sungguh, sebuah nama yang tertulis begitu saja, tepat ketika bayanganmu seperti menjelma dalam alur imajinasi yang tertuang pada paragraf-paragraf keheningan. *** AKU mencoba mengingat kembali, seperti dibawa oleh mesin waktu. Menjelajahi semua hal yang pernah dilalui. Tak bisa kupungkiri, di saat seperti ini, hanya kaulah yang aku harapkan untuk berada di sisiku. Sekedar ingin kubagi beban yang bergelayut dalam benak pikiran. Dan jika kesempatan itu ada. Sungguh aku tak akan membungkam mulutku untuk mengatakan bahwa ’aku membutuhkanmu’. Setelah itu, aku jadi sering menuliskan namamu di berbagai 116


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

tempat yang sering kulihat. Di atap kamar, hingga aku bisa melihatnya saat hendak tidur dan saat pertama kali aku membuka mata bila terjaga dan terbangun. Aku juga menuliskannya di cermin, ruang tamu, dapur, bahkan pernah kutulis di meja sebuah cafe. “Dimanakah kau kini... apa kabarmu sekarang?� Tentu waktu telah mengubah semuanya. Ada banyak kemungkinan yang terjadi padamu kini. Namun semenjak rasa itu kembali. Ada setangkup harapan untuk menemuimu. Ada seuntai janji yang hendak kutunaikan kini. Ketika kau berujar “Suatu saat datanglah ke tempatku dengan menumpang kapal, kau akan merasakan keindahan samudra yang sebenarnya.� Sejak itu aku mulai menata kehidupanku lagi. Aku mulai membiasakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Menyongsong sebuah realita kehidupan baru dengan satu harap dan tekad. Hampir enam bulan kupersiapkan semuanya. Setelah semua kurasa cukup. Akupun berkemas untuk segera memulai sebuah perjalanan. Secarik kertas bertuliskan alamatmu yang kutemukan ditumpukan catatan-catatanku tempo hari menjadi satu-satunya petunjuk yang aku punya. Akupun segera berangkat dengan berjuta perasaan yang berkecamuk. Kembali, bayangan masa lalu sempat menyergapku saat aku berdiri di dermaga keberangkatan menuju kotamu. Dermaga yang dulu sempat menjadi saksi bisu ketika kuterdiam, terpaku, dan mematung menyaksikan kapal yang kau tumpangi menghilang dari pandangan. *** HAMPIR dua hari perjalanan aku lalui. Akhirnya sampailah aku di penghujung sebuah penantian itu. Disekitarku, orang-or117


Tapak-tapak Harapan

ang masih ramai dan sibuk bercengkrama. Ada yang saling berpelukan. Tak sedikit juga yang saling meneteskan air mata kerinduannya. Dan aku, masih mematut memandangi secarik kertas bertuliskan alamatmu yang tak tahu pasti dimana tempatnya. Hanya satu yang kupunya, segudang rasa optimis untuk bisa bertemu denganmu. Tak peduli dengan rasa lelah yang menjalari sekujur tubuhku. Lingkar waktu telah membawaku pada sebuah perjalanan yang panjang ini. Terperangkap pada sebuah pengharapan. Tak terasa, akupun segera tersadar jika kini. Sebuah alamat itu telah membawaku ke tempat ini. Senja mulai luruh saat aku tiba di muka rumah sederhana yang terlihat begitu menyejukkan. Langkahku terhenti. Detak jantungku memburu. Sekilas terdengar suara tawa dari dalam rumah. Dan, aku tak bisa menyangkal jika di antara suara tawa itu, terdapat suara yang begitu sangat akrab bagiku. Suara tawa yang dulu sempat mengisi hari-hariku. Suara tawa yang hampir setahun belakangan ini menghiasi rasa rinduku. Ada satu perasaan yang menjalari nadiku kala kudengar suara tawa itu. Tak kuduga, jika perjalanan panjang dan tapak-tapak harapan itu kini mulai tersibak. *** AKU kemudian menata perasaan. Mencoba menyusun keberanian untuk melangkah lebih dekat lagi ke arah pintu rumah itu. Menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin kuatur degup jantungku. Dan, ketika tanganku perlahan mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kudapati pintupun terbuka. Di depanku, kudapati perempuan berkulit bersih, dengan tatapan mata yang masih memperlihatkan khasnya, dengan 118


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

balutan kerudung, nampak terlihat begitu beda, begitu anggun. Terlihat dari sorot matanya, rasa heran bercampur kaget, ternganga, dan sekilas kulihat mata sayunya berkaca-kaca. Tangannya mengepal, mengarah untuk menutup lingkar mulutnya. Dan kini, tangisku pun pecah di teras rumahmu, berbaur dengan tangismu. n Cianjur, Mei 2012

u 119


Senja Ditelan Kabut

Ilustrasi: waspada

g Terimakasih atas atensi para penulis yang telah mengirimkan karya cerpen dan puisi ke Redaksi Harian Waspada Jalan Letjen Suprapto No.1 Medan maupun email sunanlangkat@yahoo.com 120


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Senja Ditelan Kabut Sulaiman Rambe (Waspada | Minggu, 15 Juli 2012)

o Berlari mengikuti arus angin yang bertiup, membuat napasku tersengal tak beraturan. Kuatur perlahan sebisanya sampai napasku kembali berirama. Ah, lelah tubuhku semakin terasa sebab sedari pagi aku tidak pernah berhenti berjalan menelusuri padang cahaya di antara semak belukar bumi pertiwi, mengejar separuh impian yang sempat tertunda.

A

KU terengah dalam pelarian panjang berpacu dengan nyali. Kusandarkan punggungku pada tiang keresahan, resah dalam menjalani hidup yang tak kunjung berkesudahan. Kuistirahatkan raga ini sejenak sambil meneguk air kegundahan yang kusemai di kala angin bertiup ke barat. Di kala itu mentari memancarkan panasnya melalui pori-pori bumi hingga menyilaukan mata. 121


Senja Ditelan Kabut

Cahaya itu semakin panas seakan berhasrat menjilat darahku. Ketika bersandar, sepasang mataku tiba-tiba tertuju pada satu noktah. Ya, dialah wanita yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Meskipun bukan ia yang melahirkanku, setidaknya ia telah turut berpartisipasi dalam menyumbangkan kasihnya berupa sepercik perhatian padaku laiknya kasih ibu di rumah. Wanita itu kini telah berumur sekitar lima puluhan, namun masih perawan. Wanita seusia itu namun belum menikah bukanlah hal yang asing bagiku, sebab sejak kecil aku sudah banyak menyaksikan wanita seperti itu tumbuh subur di kampung halamanku, Desa Mandalasena. Ia adalah wanita solehah dan mempunyai sikap yang ramah. Ia selalu menebarkan senyumnya pada siapa saja baik pada kaum muda maupun pada teman sebayanya. Tidak pernah sedikitpun terbersit di benaknya untuk melukai hati orang lain tidak terkecuali padaku yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kursi roda. Ya, kursi itu kini menjadi saksi bisu yang mengharu biru menjelma menjadi sahabat sejatinya. Kemanapun ia melangkah, kursi roda pasti berada di sisinya. Di atas kursi roda itulah ia mejalani hidupnya hingga ajal menjemput. Lima tahun yang lalu, ia mengalami sakit yang luar biasa pada bagian kepala. Sakit itu bagaikan seribu jarum, lurus menghunus tajam tertancap di kepalanya yang tak kenal ampun, menyebabkan ia terjungkal ke lantai. Ia merasa bumi bergoncang seperti baru saja terjadi gempa. “Awas! ada gempa, semua keluar!� Ia menjerit sekuat tenaga hingga membuat orang di sekitarnya panik dan gempar. Namun ada keganjilan yang terjadi. Tak seorangpun merasakan gempa seperti apa yang baru saja ia teriakkan. “Kenapa Nek?� Sahut Tuginem dengan suara setengah menjerit dari dapur yang tengah asik memasak. Tuginem adalah 122


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

salah satu tetangga yang daun pintu rumahnya berhadapan dengan pintu dapur wanita itu. “Tolong…!” Tanpa berpikir panjang, Tuginem langsung menuju rumah wanita itu tanpa menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Tuginem tersontak kaget. Ia menemukan wanita itu tengah dalam keadaan tersungkur di lantai dan meraung kesakitan. Ia mencoba membantu untuk berdiri, namun tidak bisa. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkan tubuh wanita itu, mengulangnya berkali-kali namun hasilnya tetap saja nihil. Wanita itu meminta Tuginem agar memanggilkan dokter yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tidak berapa lama dokter tersebut datang dengan membawa seperangkat alat medis. Ia mengeluarkan stetoskop dari kantung tasnya, lalu menyodorkan alat itu ke bagian dada wanita itu, untuk memastikan apakah denyut jantungnya masih dalam keadaan normal. Setelah diperiksa, dokter tersebut menyatakan ia mengidap hipertensi yang memicu rasa sakit luar biasa di kepala yang mengakibatkan ia terjatuh. “Jadi bagaimana sekarang dok, apakah saya baik-baik saja”? Tanya wanita itu ingin tahu lebih lanjut. Hening sejenak. “Maaf bu, setelah saya periksa, ibu mengalami kelumpuhan pada kaki kanan,” kata dokter tersebut. “Apa, Aku lumpuh?” Isak tangis mengisi ruangan yang tadinya hening kini menjadi buyar. Bagaikan petir di siang bolong yang menyambar ulu hatinya. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia akan mengalami kejadian seperti ini. “Ya Allah, salah apa hamba terhadap-Mu, dosa apa yang telah aku perbuat hingga Engkau memberiku musibah yang tak kuinginkan. Oh Tuhan, jangan Kau hukum aku seperti ini. Engkau maha adil tapi di mana rasa adil itu? Engkau pengasih tapi kau 123


Senja Ditelan Kabut

malah memberiku musibah ini. Apalah gunanya aku hidup kalau hanya untuk menunaikan panggilan-Mu saja aku sudah tidak bisa, lebih baik Kau ambil saja nyawa ini,” ucapnya dalam tangis tanpa henti. Siang itu, tepatnya hari Senin. Hari dimana orang-orang kembali memulai aktifitasnya setelah istirahat seharian atau mengisinya dengan liburan sehari sebelumnya. Aku pun memulai aktifitasku seperti biasanya. Sebagai seorang musafir yang rela meninggalkan kampung halaman demi seteguk air ilmu pengetahuan di perantauan. Kupacu sepeda motorku menuju kampus, tempat aku mengadu nasib masa depanku. Dalam perjalanan, tiba-tiba aku teringat pada pembicaraan singkat antara aku dan wanita itu pagi tadi. Di saat itu aku berjalan melewati koridor kecil menuju kamar mandi. Perutku berbelit sakitnya bukan main seakan umbai cacing yang ada di perut mengulum ususku. Aku berlari kencang menuju tempat pembuangan sampah. Bukan sampah organik maupun non organik, tapi sampah yang ada di dalam perutku yang tertahan sejak dua hari yang lalu. Namun di tengah perjalanan menuju kamar mandi, wanita itu mencegatku bahkan ia bersikeras untuk tetap menahanku. Seperti ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan. Aku tersentak kaget sekaligus heran mengapa ia tetap bersiteguh menahanku. Padahal, biasanya aku sering melewati koridor itu tapi ia tidak pernah mencegatku bahkan acapkali ia mengacuhkanku. “Aneh, tidak seperti biasanya,” gumamku dalam hati. “Saiful, minggu depan ibu mau dironsen, sambil mengeluselus kaki kanannya yang lumpuh. Tapi sebelum itu ibu akan tes kadar gula, bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Bagus itu bu, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, namun yang menentukan berhasil atau tidaknya tergantung 124


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kepada-Nya,” jawabku dengan gaya ustadz. Tiba-tiba wanita itu menangis, memecah keharuan langit mendengar sederetan kalimat yang baru saja ku ucapkan. Apakah ada kalimatku yang salah, pikirku. Akupun merasa sungkan sekaligus merasa bersalah karena telah membuat ia bersedih. “Aduh... mampus aku, ini semua salahku. Seandainya aku tidak berkata seperti itu pasti ia tidak sesedih ini,” ucapku dalam hati sembari menyalahkan kebodohanku. “Ibu sudah tidak tahan lagi menanggung beban ini. Ibu hanya menjadi benalu bagi orang lain saja. Aku hanya bisa menyusahkan orang lain. Lebih baik aku mati saja sebab aku sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini terus. Tuhan… lebih baik kau ambil saja nyawa ini,” ujarnya. “Istighfar bu, kita tidak boleh berkata seperti itu. Kita harus menyerahkan segalanya pada Allah, apapun yang terjadi pada diri kita, itulah yang terbaik bagi-Nya.” Kucoba menyetir sedikit ayat Alquran. “Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya, apapun yang terjadi pasrahkan semua pada-Nya,” tambahku. “Terimakasih ya nak, kamu memang anak yang baik dan mengerti keadaanku,” ucapnya sembari menyeka bulir air matanya yang mengalir deras dengan punggung tangannya. “Ia bu, sesama muslim sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk saling mengingatkan.” Aku menutup perbincangan singkat itu dengan pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke kamar mandi, sambil mencoba melupakan kejadian yang menurutku tidak biasanya ia seperti itu. Ah, kutepis semua pikiran negatif yang ada dalam pikiranku. Sepulang dari kampus, jam telah menunjukkan pukul 19:00 WIB. Hari ini malam menjelang lebih cepat dari biasanya. Kubuka 125


Senja Ditelan Kabut

laptopku dan mencoba merangkai kata demi kata, Entah mengapa di malam ini aku ingin sekali buat puisi yang berhubungan dengan ibu. Mungkin karena aku sudah lama tidak pulang kampung halaman walau hanya sekadar melepas rindu yang amat sangat pada Ibuku. “Saiful, saiful….” Suara itu menyontakkanku yang tengah tenggelam dibuai indahnya sentuhan rangkaian kata-kata. Puisi yang kurangkai tadi belum selesai, masih dalam keadaan separuh. Kuurungkan niatku untuk menyelesaikan puisi itu. Aku langsung berdiri menuju daun pintu kosku. Ternyata ibu Legini, adiknya wanita itu. “Ada apa bu?” Tanyaku. “Anu pul, anu… “ Ucapnya dengan nada terputus-putus sambil menahan tangis. “Anu apa bu, Ibu kenapa?” Tanyaku heran. “Anu pul, Ibu Rumini sudah tidak ada lagi. Dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya,” ucapnya diiringi tangis yang semakin menjadi. “Apa? Wanita itu? Kini sudah tidak ada? Inna lillahi wainna ilaihi rojiun! Mengapa ia pergi secepat itu?” Tanyaku dalam hati. Tak terasa bulir-bulir kesedihan menetes satu persatu membasahi pipiku. Aku seakan tidak percaya dengan kabar duka yang baru saja singgah di telingakku. Sebab siang tadi aku masih berbincang dengannya. Aku tidak menyangka bahwa pertemuan tadi siang adalah pertemuan terakhirku dengan dia. Keganjilan yang kurasa sedari siang tadi ternyata telah menjelma menjadi sebuah kenyataan yang tiada pernah terpikir dalam benakku sebelumnya. Kematian telah merenggut nyawanya dan kini ia tengah berbaring kaku berselimutkan kain putih beralaskan kain kafan, beku membatu di hadapan Sang Kuasa. Burung mayat berkulin 126


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

dalam pucat kehidupan. Bumi dan langitpun turut berduka atas kepergiannya. Kulihat orang-orang di sekitarnya menangis sambil melantunkan ayat-ayat suci Alquran sebagai pertolongan terakhir. Selamat jalan bu, nasihatmu bagaikan cahaya mutiara yang menembus lautan samudera yang tidak akan pernah kulupa sepanjang hidupku. Doaku akan selalu menyertai kepergianmu. Di sini aku hanya bisa mendoakan semoga engkau diberikan tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Kematian akan menjemput kita tanpa pamit terlebih dahulu. Oleh sebab itu, persiapkan sejuta bekal menuju gerbang kematian. Karena kematian merupakan suatu hal yang tiada seorangpun bisa meramalkan sebab ia adalah sebuah ilusi tapi nyata yang takkan dapat dipungkiri.n

u 127


2 Pelangi Indah di Matamu

Ilustrasi: radar lampung

g X-presi menerima karya cerpen dan puisi Anda. Karya terbaik akan kami terbitkan pada hari Minggu. Kirim cerpen dan puisi Anda dilengkapi dengan foto dan biodata lengkap ke irbairfa@yahoo.com. Info lebih lanjut dapat menghubungi Irfason (085769156773) 128


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

2 Pelangi Indah di Matamu Rizki Novianti (Radar Lampung | Minggu, 15 Juli 2012)

o

T

ITIK demi titik air hujan menetes di jendela kamar ku.. menatap langit yangkusam tak ada bedanya dengan perasaanku kini. Tak ada senyum, tawa, dan bahagia seperti alam yang menangis hati ku pun menangis. ku tunggu hingga hujan mereda sampai tak sadarkan diri aku pun terlelap di kaca jendela. Aku berjalan menuju lorong kelas, di ujung lorong ku lihat si pujaan hati. tersunggingkan sedikit senyum di raut wajahku tapi sayang ia tak melihatku menatapnya. kadang aku selalu beranganangan dapat menyentuh wajahnya, melihat senyumnya, dan tertawa bersamanya tapi ku tahu itu hanyalah khayalan mimpi yang tak akan pernah jadi nyata karena aku mungkin bukan orang yang pantas dengannya ia pintar dan menarik perhatian sehingga banyak orang yang menyukainya. tapi kadang kulihat ia berbeda penyendiri dan kadang bersikap dingin. 129


2 Pelangi Indah di Matamu

kesedihan yang tak pernah berakhir hanya dapat melihatnya dari jauh dan selalu berangan-angan berharap dirinya dapat menyambut tapi nikmati saja aku yakin suatu saat keajaiban akan datang. Pikirku. Kulanjutkan langkah menuju kelas tempatku belajar dan bercanda ria bersama temanteman. Ku lihat dari kejauhan sesosok berperawakan tinggi, rambut model cepak, dan berkaca mata sedang bersandar di depan pintu kelas. sesekali matanya celingukan seperti mengawasi sesuatu dan ternyata GUBRAAAKKKK!!!!!! !!!!! !!!!!!!!!!!!! Sosok itu Boim, sahabat se jak aku masih sekolah dasar. Ku datang menghampiri dan mengaget kan nya. ’’Hayyooo... lohh Boim.. !!!!!!!!!!!!!’’ Boim terkejut menepuk dadanya beberapa kali dan menelan ludah. ’’Ahhh.... Ello zye, gue kirain si mona’’. ’’Ciiiieeee.. nunggu mo na nii yee.. pritikiw.. !!’’ kata ku meledek. ’’Pritikiw.. pritikiw yang bener tuu prikitiw tau..’’ jelas boim membenarkan. ’’Iya. . iya ter serah, gue kan gak bisa bilang prikitiw.’’ ’’Nahh.. itu loe bisa??’’ tanya boim heran. ’’Itu kan Cuma contoh.. im.’’ Jawabku tak mau kalah. ’’Sumpah daaah dasar loe ratu GJ.” Cela Boim. Dasar Boim-Boim. Aku masuk ke dalam kelas, Boim mengikuti ku dari belakang kayak kebo ngikutin emaknya, kemudian Boim duduk di sebelah. Ku simpan tas punggung ku di atas meja dan menyang gahkan lengan untuk sandaran kepala yang menghadap ke arah Boim. dengan spontan aku bertanya pada Boim. ’’Ehh.. Im kalo menurut loe nii yaa gue kayak gimana sii??” ’’Dibilang kayak monyet loe udah turunannya kali, dibilang kaya kebo mungkin, bisa juga hheheheh’’. Jawab Boim 130


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

cengengesan. ’’Ahh itu sii elo monyet, keluarga loe ajja di ragunan. Serius Im, menurut loe gue kayak gimana terus gue cantik apa enggak??” tanya ku pede. Boim tersenyum kecil dan menjawab. ’’Loe perfect kali, loe sahabat gue yang paling baik, pinter, dan loe juga cantik. Tapi hati-hati...” Belum sempat Boim melanjutkan pem bicaraannya aku langsung memotong. ’’Hati-hati apa Im??” tanyaku penasaran. ’’tapi hati-hati idung loe kembang kempis. Mentang-mentang udah gue puji kayak gitu.. hhahahahahaha’’. Boim tertawa puas di depan ku. ’’Dasar loe GJ’’. Celaku. ’’mungkin gak siih im dia suka sama gue??” sambung tanyaku pada Boim. ’’Ooh.. jadi si mr. Cool itu?? Ehmm gue gak tahu lain kali aja bahasnya’’. Sambil membalikan badan ke arah lain. ’’Lho.. xo gitu sii Im??” Aku heran kenapa setiap kali aku menanyakan si mr. Cool itu padanya Boim seperti menghindar tak ingin dengar. Apa yang ada di pikirannya tak pernah mengerti. huuuph hari ini hujan lagi aku berharap pada akhirnya akan ada pelangi yang senantiasa memberi warna pada alam yang selama ini terlihat kusam. Bel pulang berbunyi ’’treng..treng..treng” semua murid dan teman-teman ku bersiap-siap dan bergegas untuk pulang termasuk aku. kali ini aku disuruh untuk membawakan setumpuk buku IPS ke ruang guru, sambil berjalan aku tidak melihat ke depan akhirnya aku menabrak seseorang dan semua buku berjatuhan.. ’’Sorry.. gue gak sengaja,” kataku Sambil membereskan semua buku. ’’Gak apa-apa xo zye.. gue bantu yaa.” Terdengar suara tapi tak kutahui siapa dia. 131


2 Pelangi Indah di Matamu

Sepertinya aku kenal suara itu perlahan ku lihat wajahnya. ’’Sammy..” Tak di sanggka orang yang ku tabrak Mr. Cool.’’ thankz yaa..” ’’iya sama-sama.” jawab sammy sambil tersenyum.. halllaaaaah... mimpi apa ini?? Sekarang dia senyum.. batin ku kegirangan. Bibir ku tak dapat berucap dan aku juga tak tahu apa yang ingin aku katakan. Hari yang membuat ku senang, tapi bagaimana dengan boim sejak tadi aku tak melihat nya lagi. Dag.. dig..dug.. jantung ku berdegup kencang aku merasa ini hanya mimpi atau khayalan tapi semakin aku menatapnya semakin aku percaya ini adalah kenyataan. ’’gue su ka merhatiin loe dari dulu, tingkah kocak loe sama boim, liat loe ketawa-ketiwi.. boim pasti seneng punya sahabat kaya loe..” kata sammy. Wajah ku memerah tersipu malu. ’’hhehehehe.. serius loe?? Boim emang sahabat gue dari jaman gue masih ingusan ampe sekarang udah mau jenggotan... hhehehe” tembalku sambil cengengesan. Aku dan sammy tertawa puas menceritakan tingkah konyol boim.. Tak terasa waktu berlalu. semakin lama semakin dekat dengan sammy. disatu sisi aku senang tapi disisi lain aku merasa kehilangan. Kehilangan sahabatku yang selama ini selalu menemani kemanapun aku pergi, memberikan aku semangat, dan lelucon. Boim sekarang menjauh, setiap kali sms tak pernah di balas, kalau pun bertemu kadang selalu membalikan badan, menundukan kepala, memalingkan wajah, pura-pura tak melihat.. apa yang ada di fikirannya???. Aku benar-benar marah, kenapa seperti ini?? Aku menarik tangan Boim dan berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi 132


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

padanya. ’’im.. gue mohon loe jangan kayak gitu, sekarang loe udah beda.. mana boim yang dulu waktu loe senyum.. mana boim yang yang selalu bikin gue semangat?? Dulu kita suka barengbareng tapi sekarang gue kehilangan loe..” ’’kehilangan?? Bukannya loe baru dapet kebahagiaan sama pujaan hati loe itu???” jawab boim dengan cetus. ’’jadi hanya karna itu?? Loe berusaha menjauh dan menghindar?? Tapi kenapa sii im??” tanya ku sambil memegang erat tangan boim. ’’sorry zye.. gue gak mau ganggu hubungan loe sama sammy. gue gak mau jadi orang ketiga diantara loe berdua. Jadi gue harap loe bisa bahagia sama pujaan hati loe..” boim melepaskan tangan ku dari tangan nya dan kemudian pergi meninggalkan aku. Boim selalu ada di dalam fikiran ku setiap detik, setiap menit, setiap waktu. aku baru menyadarinya sekarang ternyata boim sangat berarti untuk ku tanpanya terasa sepi. aku merasa hampa dalam kesendirian ku. aku menangis berharap akan ada malaikat datang mengibur. tapi malaikat tak bersayap itu pergi menjauh dari ku dan membuat ku semakin sedih. Setiap hari tak ada semangat, tak ada senyum di wajah ku, wajah murung tak ada gairah yang terlihat. setiap hari ku menyendiri di mushola sebari menenangkan hati dan fikiran. Tanpa di sadari boim selalu memperhatikan ku dari jauh mungkin dia dapat merasakan perasaan ku saat ini tapi dia selalu diam seolah dia memang tak peduli tapi aku percaya boim akan kembali lagi meskipun harus menunggu. *** AKU datang ke tempat yang selalu membuat ku merasa damai . Suatu saat nanti aku ingin mengajak seseorang ke sini, seseorang 133


2 Pelangi Indah di Matamu

yang ku sayang, seseorang yang istimewa untukku. Di sekolah. teman–teman ku terus saja mengeluh karena wajah ku selalu kusut hoalllaaaah. Aku berfikir sejenak “bener ju ga yaa... aku jangan sedih-sedih terus aku yakin dan percaya waktu aku sedih di ujung bahagia pasti akan menanti.” Hari ini ku awali pagi dengan senyum melebar dengan semangat Rezye. Aku berdiri di atas batu yang sangat besar ku teriakan keinginanku “Aku ingin dia kembali, aku ingin seperti dulu, tuhan tolong aku kabulkan keinginanku saat ini juga dan ubah ini hanya sebuah mimpi.” Saat ku pejamkan mata, meresapi, menghayati, merasakan yang ku rasa dan ku lihat kosong yang ku dengar hanya suara air hujan semakin terasa perlahanlahan kubuka mata dan yang terjadi... “selama ini aku ketiduran... Ohh My” Aku segera bergegas pergi menuju rumah Boim dengan mengendarai sepeda motor. “Boim...Boim...Boiiimmmm.” teriak ku di depan rumahnya. “Wooiii... gak usah teriak-teriak kali gue juga denger.” Sambil menggesekan mata. “Im... ikut yuu.” ajak ku pada boim “ke mana zye??” tanya boim heran “udah lah.. ikut aja gue juga gak bakalan ngapa-ngapain loe xo.” jawab ku memastikan “serius nii.. ikut gak yaa?? Awas loo kalo macem-macem.” boim meledek “ce pe dakh... siapa juga yang mau ngapangapain loe gak nafsu juga kali...” kata ku. Aku mengajak Boim ke tempat itu. aku ingin memperlihatkan sesuatu yang indah. Dengan semangat, ku tancap gas sepeda motor ku sampai melaju dengan kencang. Boim yang ketakutan memeluk erat pinggang ku dan bersandar di punggungku, 134


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

sampainya di tempat tujuan aku menggandeng tangan Boim. “Im ... loe tau gak?? Kalo gue sedih, gue punya banyak masalah gue dateng ke sini. Di sini gue tenang, disini banyak inspirasi hidup dan motivasi untuk tetap tegar. Gue tau setiap kesedihan pasti akan ada bahagia, di balik gue gagal pasti akan ada keberhasilan.” Boim tersenyum kecil. “semua itu pernah gue alami im. Waktu gue seneng, sedih, gue pernah merasakannya.” Timpal ku lagi. “ ehh.. .zye liat dehh” kata boim sambil menunjukan telunjuk ke depan. Pelangi perlahan-lahan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu muncul dari bawah hingga puncaknya terlihat jelas. pelangi yang senantiasa memberi warna saat alam sedang terlihat kusam, memberikan keindahan dan ketentraman bagi mahluk sekitarnya begitu pun aku dan Boim. “im... ada pelangi... tapi kali ini gue liat 2 pe langi. pelangi yang akan selalu abadi dan tersimpan utuh di dalam hati. Gue yakin pelangi itu gak akan pernah pudar untuk selamanya...” Sekarang dan untuk selamanya untuk selamanya aku tak ingin lagi kehilangan Boim sahabat yang aku sayang sampai kapanpun kita akan selalu bersama karena Tuhan selalu ada untuk kita.. You and me friendship 4ever. n

u 135


Salju Hitam

Ilustrasi: repro openart

136


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Salju Hitam Dafriansyah Putra (Singgalang | Minggu, 15 Juli 2012)

o

S

UNGGUH, pagi ini, aku merasakan dingin yang berlebihan. Mantel tebal dan kupluk berbulu domba agaknya tak mampu menghangatkan udara kota Milan yang kian menuju titik terendah. Aku merasa semakin damai saat berdiam diri di dalam kamar, sembari mendengarkan alunan Fur Elise-nya Beethoven dari pemutar kaset. Ah, pagi yang aneh. Kamarku berada di lantai dua dengan dinding bercorak hijau maya-maya dan pintu yang bercat kuning persis si kembang harum Michelia Figo. Aku akan menyingkap jendela bila akan merasakan udara sejuk saat panas sedang menggarang. Akan tetapi tidak untuk hari ini, aku bisa mati bila melakukan itu. Sungguh! Semenjak tadi, Bu Numi, orang tua angkatku di negara ini, terpaku di sudut ruangan. Matanya menatap, tapi kosong. Wajahnya beku. Tak ada senyum. Kedua alis mata yang menaungi 137


Salju Hitam

atas kelopak mata sayunya pun turun tak bersemangat. Aku menaruh kecurigaan. Apa udara dingin membawa suasana hatinya ikut mendingin? Bagiku, udara seperti ini adalah indah. Bagaimana tidak, di tanah kelahiranku, tidak pernah dan tidak akan pernah didapati suasana seperti ini. Di sana, nun di seberang benua, setiap hari tubuh selalu membutirkan peluh. Matahari enggan diajak kompromi. Hingga, salah satu harus mengalah. Tentunya kami menjadi si malangnya. Sedangkan udara di kota ini memang benar-benar mengurung diri. Pantas saja orang di sini cerdas dan berwawasan luas. Mereka menghabiskan waktu pada musim dingin dengan membaca, membaca, kemudian membaca. *** KALI ini aku melihat rembesan di kantung mata Bu Numi. Ia duduk di teras, di atas kursi rotan beralas bantalan empuk. Tangannya merajut sebentuk sulaman wol menjadi beraneka rupa. Setiap hari, Bu Numi memang gemar merajut. Jika selesai memasak atau mengantar anak-anaknya ke sekolah, ia melakukan hal itu. Sendirian. Di mana saja. Aku selalu memuji hasil sulamannya. Terlebih, sebuah yang usai kemudian dibingkai kaca dan dipajang di ruang keluarga: sebentuk hamparan pemandangan nan begitu indah; gunung, sawah, dan sepasang pipit yang sedang bertengger di atas dahan. Ia dulu mengaku mendapatkan inspirasi dari sebuah potret yang pernah kuberikan kepadanya; gambaran hamparan sawah di sudut Batusangkar, Sumatera Barat, negeri asalku. Bu Numi mendapati aku tengah memperhatikannya. Lantas ia segera menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia 138


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

melempar senyum. Senyum yang hambar. Senyum yang tidak segembira hari-hari lampau. “Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Udara seperti ini akan membuat kulitmu memerah. Kamu belum terbiasa,” “Aku perhatikan, Ibu sedikit muram. Apa Ibu sakit?” “Oh, tentu tidak. Aku terlampau menimati udara seperti ini,” “Maksudmu?” Ia tidak membalas. Lama. “Aku mencintai salju yang lembut,” ucapnya. Air mata meluncur di lereng pipinya. *** TELAH laki-laki itu reguk berbotol-botol anggur semenjak rembulan benar-benar gagah di singasananya. Jikalau aku datang tidak tepat pada waktunya, niscaya ia tidak akan kembali lagi kepada tempat tinggalnya. Sebab, orang-orang akan menghajarnya habis-habisan. Dan, tentunya ia tak akan diketemukan oleh keluarganya. Kalaupun diketemukan, pasti tubuhnya sudah menjadi jasad dan dikerubungi banyak lalat. Demikian pikiranku. Bagaimana mungkin orang yang tengah hilang akal akan mampu mengendalikan kendaraan. Akibat ulahnya, empat mobil hancur, tujuh belas orang tewas: penumpang dan pejalan kaki. Tubuh-tubuh hancur tak tentu bentuk, memuncratkan segala organ badan. Di permukaan jalan, darah bersimbah menimbulkan aroma yang sangat busuk. Malam yang gelap ditemani sayup nyanyian bar dan hujatan dari segala arah. Ia berlari ke balik Aruda. Daunnya yang mengeluarkan aroma tak sedap itu tidak sedikit pun ia tanggapi. Akan tetapi aku lebih sigap. Ia tak mampu mengelak. 139


Salju Hitam

Kudesak ia untuk segera menyerahkan diri ke pihak yang berwajib. Namun, sia-sia saja daya-upayaku. Seulah dengan menyuruh orang gila berhitung dengan urut, adalah hal yang paling mustahil dilakukan di muka bumi ini, bukan? Kuseret saja tubuhnya yang sedikit tambun itu. Toh, ia tak mampu melawan. Keseimbangan badannya telah takluk oleh anggur yang kutaksir lebih sepuluh botol telah menginap di lambungnya. Bagaimana tidak, bau mulutnya itu sungguh membikin enek. Di antara gang-gang sempit. Aku melihat, orang-orang memegang beraneka senjata, pastinya telah siap untuk menghantam lelaki ini. Badannya yang sempoyongan semakin memberatkan topangannya di lenganku. Akan tetapi, membiarkannya sama saja dengan mengundang keramaian di tengah kota. Tak terbayang bagaimana amarah orang-orang itu kepadanya. Pastilah lelaki ini akan dipukuli. Bisa saja ia mati. Ini kasus besar. Kebetulan, pos polisi tak jauh dari sini. Padahal, malam ini masih banyak yang harus kukerjakan. Sungguh, deadline berita sedang menumpuk. Ah, bagaimana kalau kujadikan saja orang ini bahan tulisanku. Kupikir itu ide yang lebih baik. *** AKU masih menyimpan harapan supaya salju tidak beranjak hingga batas waktu tak terhingga; sampai aku benar-benar bosan melihat gumpalan putih itu tumbuh di atas atap, di permukaan tanah, di jalan, di mana saja. Sebagai pengabdianku kepada orang tua angkat yang telah berkenan memberikan tempat tinggal yang segar dan lapang ini, 140


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

aku sering memberikan sela-sela waktu luangku untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah. Salah satu yang kutunggu adalah membersihkan pekarangan dari tumpukan salju. Aku belum pernah melakukannya. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan yang sedikit luang. Bersama kedua anak lelakinya, Thom dan Rich, aku semakin bersemangat megayunkan sekop. Sesekali mereka menimpuki tubuhku dengan gumpalan yang menyerupai bola. Tidak mau kalah, kubalas dengan bentuk yang lebih besar. Ia tersenyum. Kami bahagia. Kulihat Bu Numi masih khusuk dengan rajutannya. Kali ini ia membuat sebentuk tulip didominasi wol berwarna oranye. Berkali-kali Thom, si gembul, mengajak ibunya untuk ikut bermain bersama kami. Akan tetapi perempuan itu hanya mengulum senyum, mimik menolak. Tidak dengan Rich, ia teramat sibuk memadat-madatkan salju membentuk boneka panda yang gembul, persis adiknya. Aku tertawa. *** REKAN-rekan pewarta memberikanku pujian. Aku tak pernah membayangkan sedikitpun kejadiannya akan seperti ini. Terlebih pemimpinku. Berkali-kali beliau menepuk-nepuk pundakku dan mengoncang-goncang telapak tanganku tanpa bosan. Hari ini aku merasa menjadi pahlawan sekaligus orang yang paling beruntung. Hari yang penuh dengan warna-warna yang indah. Orang-orang memujiku layaknya seorang gladiator yang memenangi pertarungan. Uang saku yang berkali-kali lipat dari gaji bulanan kali ini kuterima langsung dari atasanku. Tak tanggung-tanggung, ia menaikkan jabatanku menjadi redaksi bidang kriminal. 141


Salju Hitam

Kedudukan yang selama ini hanya menjadi bayanganku saja. Warga pendatang yang baru bekerja tiga bulan mendadak memegang salah satu jabatan. Tentunya ini menjadi kebanggan tersendiri bagiku. Lelaki malam itu telah membuat namaku tercatat dalam buku harian dewi fortuna. Tak pernah terpikir olehku dia sebegitu liar sampai-sampai menjadi penjudi besar yang paling dicari atas segala kasus yang dilakukannya akhir-akhir ini. Demi pertaruhan yang lebih besar lagi, ia nekat melakukan pembobolan salah satu kediaman pejabat negara. Semenjak itu ia menjadi orang paling dicari di seluruh ranah Italia. Namun, kekalahan yang begitu menyakitkan telah membuatnya takluk bersama berbotol-botol anggur yang membuatnya hilang kesadaran. Kemudian ia nekat berkendara. Dan, malam itu, ia melakukan semuanya, yang sama sekali tak ada jeritan ia rasakan, tak ada darah yang ia lihat. Pengaruh minuman itu membuat jiwanya berada pada kondisi lain. *** DARI sudut mataku, aku melihat Bu Numi acap kali menatapku tajam. Jika aku menoleh ke arahnya, sekejab ia rubah romannya seperti sediakala. Tentu, sembari kembali memainkan tangannya naik-turun meliuk-liukan wol oranye di hamparan kain putih berlubang banyak itu. Ah, barangkali hanya firasat saja, pikirku menenangkan diri. Akan tetapi tidak sekali atau dua kali saja, kali ini aku benarbenar mendapati matanya seolah-olah ingin menerobos kedua bola mataku. Kami bersitatap sekian detik, sebelum Thom merengek meminta ibunya mengajarinya membentuk benteng dari gumpalan salju. 142


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Ada apa dengan Bu Numi? Lumayan. Setapak menuju arah pagar sudah tidak begitu tertimbun gumpalan salju lagi. Susunan pavin block mulai terlihat jelas. Tentu, Bu Numi tidak akan kesulitan lagi mengeluarkan kendaraannya. Begitupun denganku. Sepeda yang dihadiahi Bu Numi kepadaku benar-benar membantu pekerjaanku. Sepeda itu senantiasa kukayuh ke pendakian kantor begitupun sewaktu pergi meliput, ke mana saja. Keluarga ini benar-benar menganggap aku sebagai salah satu anggota mereka. Aku merasakan kedekatan yang luar biasa. Kehangatan yang tak kalah kudapat saat bersama keluarga di kampung halaman. Padahal, aku baru beberapa waktu berada di sini. Media lama tempatku bekerja memberiku kesempatan untuk tugas ke negara ini lantaran kerjaku dianggap bagus, dan lagi penguasaan bahasa Italiku cukup fasih. “Anda kami berhentikan!” Ujar atasanku saat itu. Darahku berdesir, laju nafasku seketika terhenti. Tanpa angin apa tibatiba beliau memanggilku ke ruangannya lalu berkata demikian. Apa salahku? Pikiranku kalut. “Akan tetapi Anda kami rekomendasikan bekerja di sini,” lanjutnya lagi sembari mengeluarkan sebuah amplop segiempat cokelat yang di mukanya tertulis “La Grade”. Kuhela nafas panjang, lalu membuangnya boros. Peluhku menitik mengalahkan dinginnya ruangan yang ber-AC saat itu. Kerjasama kedua perusahaan itu telah membawaku menapaki negeri yang biasa kusaksikan dari layar kaca. Terlebih Giuseppe Meazza, stadion milik klub sepakbola ternama AC Milan dan Inter Milan itu kini benarbenar nyata membentang di hadapanku. Thom dan Rich meneriakanku untuk secepatnya melepaskan sekop dan segera beranjak ke ruang makan. Saatnya makan 143


Salju Hitam

siang. “Ayo kemari, aroma lhandang sudah mengeruak,” ujar mereka meneriakiku dari pintu. Lucu kedengarannya, ketika anak itu menyebut makanan khas daerahku, Rendang, dengan lidah baratnya. Beberapa hari yang lalu, Bu Numi begitu penasaran tentang bumbu-bumbu apa saja yang dipakai untuk membuat rendang. Ia mengaku pernah merasakannya di sebuah restoran Indonesia di pusat kota. Sayangnya ia mencicipi hanya sekali saja, sebab harga yang dijual terhadap makanan itu sungguh mahal, bahkan yang paling mahal dari deretan menu. Awalnya aku terperanga mendengarnya, ah, pandai benar orang kita mematok harga di sini. Akan tetapi Bu Numi paham, harga makanan itu wajar saja sedemikian tinggi. “Adalah yang terenak di dunia, nomor satu terlezat. Delizioso!” serunya sembari menyapukan sekitaran bibir tebalnya dengan lidah yang ia keluarkan. Matanya mengerjapngerjap seolah-olah daging itu memang telah ia kunyah di dalam mulut. Seketika ia tahu makanan itu berasal dari daerah asalku, serta merta ia merengek ingin segera tahu “rahasia” terhadap bumbubumbu rendang. Tentu dengan senang hati kubeberkan apa yang kuketahui—kebetulan sewaktu kecil dulu, Amak sering menyuruhku ke pasar tatkala beliau akan merendang. Barang tentu aku tahu semua rempah yang dibutuhkan, pun sedikit banyak cara meramunya. Bu Numi sangat senang, ligat ia catat segera apa yang kusebutkan. Tak kusangka, hari ini bule itu telah mempraktikkannya. “Bagaimana?” tanya Bu Numi sesaat setelah kucicipi segigit daging yang masih dalam kunyahanku. “Sedikit asin, akan tetapi cukup lezat,” 144


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Aku perhatikan ia tak menyentuh daging itu sedikipun. Padahal semua tentang makanan ini ia yang mengidam-idamkannya. “Kenapa tidak di makan?” ujarku lagi. Dia diam. Lama. “Kau tahu mengapa aku mencintai salju?” tanyanya kemudian. Loh, apa hubungannya salju dengan daging yang kutanyai barusan. “Tidak,” jawabku terperanga mendapati sesuatu yang terasa janggal, sambil terus menggigit daging yang lain. Ia hadapkan mukanya ke luar jendela. Dengan cermat ditatapnya butir demi butir gumpalan salju yang jatuh dari angkasa. “Salju membimbingku menelusuri hati. Salju mengajarkanku mencintai ketulusan. Salju adalah kenangan. Salju adalah mozaik memoria cinta.” “Maksudmu?” “Salju pernah mengirimkan seseorang pada kehidupanku. Kami hidup bahagia membina keluarga yang begitu indah. Sayangnya, mentari membuatnya hilang, menguap menjelma awan yang kadangkala hitam, gelap,” sekejab ia arahkan bulatan matanya yang besar itu tepat ke arahku. “Malam telah menelannya! Melumatnya dalam kebekuan kisah. Pertaruhan itu. Ya, pertaruhan yang membuatnya semakin gila. Aku paham ia telah gila, gila pada angka-angka yang tak mampu diterka. Dulu aku sempat mengeluh, kemudian mengusirnya keluar dari kehidupanku. Akan tetapi kemudian aku percaya, kelopak matanya pasti akan kembali terbuka, jika kekuatan cinta yang membukanya. Namun… kau telah memenjarakannya sebelum aku kembali menemukannya.” “Apa yang Bu Numi maksud?” “Tentang lelaki yang ada di surat kabar beberapa hari lalu!” Ucapnya. Selembar surat kabar ia keluarkan dari balik meja. 145


Salju Hitam

Ah! Foto itu. Tulisan itu. Aku paham benar, itu foto dan tulisan yang membawaku ke posisi saat ini. “Akhh‌,â€? aku tercekat. Aku merasakan sesuatu tekanan yang begitu kuat dari sekitaran ulu hati. Mulutku tiba-tiba mengeluarkan darah. Ada apa dengan daging yang kumakan. Lamat-lamat kudengar suara Thom dan Rich memanggilmanggil namaku. Perih kurasakan ke segala rusuk belulang. Poripori kulit mendadak mati rasa. Aku melihat semua benda yang ada di sekitarku tiba-tiba melayang, membayang. Nafasku sesak. Tubuhku serasa di awang-awang. Dalam samar aku melihat Bu Numi menyeret kasar tubuhku keluar rumah, menuju halaman belakang. Kedua anaknya masih terus memanggil-manggil namaku, mengguncang-guncang tubuhku. Butiran-butiran salju yang jatuh tak dapat lagi kurasakan. Tubuhku mati rasa. Bu Numi meninggalkanku sendirian. Thom dan Rich masih setia disisiku sebelum ibunya menendang paksa mereka agar masuk ke dalam rumah. Semakin lama suara mereka terdengar kian mengecil, lama-lama senyap. Kini, aku merasa berada di tengah padang salju yang begitu luas. Segala yang kulihat adalah putih. Sebelum nafasku mengap, dan mataku kian menutup. Kelam. Hitam. n

u 146


Pablo Picasso ~ OpenArt

147


Jenderal Popop

Ilustrasi: foto swistien kustantyana

148


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Jenderal Popop Swistien Kustantyana (Kompas Anak | Minggu, 15 Juli 2012)

o

N

AMANYA Popop Markopop. Nama sebenarnya Popo Sujiwo. Popo berasal dari Bahasa Afrika yang berarti kelelawar, sedang Sujiwo nama ayahnya. Akan tetapi, Popop lebih suka menyebut dirinya Popop Markopop. Lebih keren katanya. Aku tertawa saat Popop bilang begitu. Popop memang teman laki-laki yang paling lucu di kelasku. “Yani jika sudah besar nanti, kau ingin jadi apa?” kata Popop yang duduk di sebelahku. Dia membuka kotak bekal makan siangnya. “Cieee… Pacaran nih yeee…,” teriak Hendra, anak yang paling nakal di kelas. Ia mencibir saat melihat aku dan Popop. Aku meleletkan lidah ke arah Hendra. “Tidak usah didengarkan, kau bawa bekal apa Yan?” Popop melongok ke kotak makan siangku. “Seperti biasa, sandwich. Mau?” aku menyodorkan kotak 149


Jenderal Popop

makan siang. “Maaauuu!” mata Popop berbinar memandangi dua potong sandwich di dalam kotak. Diambilnya satu potong sandwich. Popop memakannya dengan lahap. “Hei, ambil saja nugget di kotakku. Kau suka nugget kan, Yan?” ucap Popop. Aku mengangguk. Kuambil nugget dari kotak makan Popop. Hari ini nugget Popop berbentuk angka. “Yani, kamu ingin jadi apa kalau sudah besar nanti?” “Aku ingin jadi perancang busana,” jawabku mantap. Aku teringat koleksi Barbie-ku di rumah. Aku suka sekali mengganti baju-baju mereka. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi perancang busana. “Kalau kamu, cita-citamu apa?” aku balik bertanya. Popop terdiam. “Aku ingin jadi Superman, biar kuat dan enggak pernah sakit, biar hidup selamanya juga. Eh, Superman hidup selamanya enggak sih?” Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Popop. “Kenapa enggak jadi Batman saja? Kan katamu, Popo itu berarti kelelawar?” *** POPOP berlari menghampiriku. Napasnya tersengal-sengal. “Yani!” Aku berhenti berjalan. Hari ini, Mama tidak membawakan bekal makan siang. Jadi aku mengikuti beberapa teman pergi ke kantin. “Ya?” aku memandangi Popop yang berdiri di depanku. “Aku sekarang tahu cita-citaku!” Popop tersenyum lebar sekali. “Aku ingin menjadi Jenderal!” 150


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Aku menatapnya heran. “Iya, Yani. Aku enggak mau jadi Superman. Aku juga enggak mau jadi Batman, aku mau jadi jenderal saja.” Aku heran sekali. Baru kali ini aku mendengar ada yang bercita-cita menjadi jenderal. “Aku ingin seperti dia,” Popop menunjukkan miniatur model Jenderal Sudirman. “Jenderal Sudirman?” keningku berkerut. “Iya Yaniiii… Aku ingin menjadi jenderal seperti Jenderal Sudirman!” mata Popop berbinar-binar. “Kenapa?” aku masih saja bingung kenapa Popop ingin menjadi jenderal. “Nah itu pe-er buat kamu, Yani. Coba pikirkan kenapa aku ingin jadi jenderal seperti Jenderal Sudirman,” Popop menyeringai. Aku mengerucutkan bibirku. Popop ada-ada saja. *** “MINIATUR model ini buat kamu, Yani. Kemarin aku minta dibelikan dua sama Ayah,” Popop mengangsurkan miniatur model Jenderal Sudirman ke tanganku. Aku menerima miniatur itu dengan heran. “Besok, kutunggu jawabanmu ya kenapa aku ingin menjadi jenderal!” seru Popop sambil berlari menjauh. Di rumah, aku bertanya kepada Papa tentang Jenderal Sudirman. Papa memberiku sebuah buku yang berisi biografi singkat pahlawan nasional. Aku membaca biografi Jenderal Sudirman. Sekarang aku tahu kenapa Popop ingin menjadi jenderal seperti Jenderal Sudirman. Sosok Jenderal Sudirman adalah 151


Jenderal Popop

sosok yang hebat. Beliau terkenal dengan keteguhannya memimpin pasukan gerilya melawan Belanda walaupun dalam keadaan sakit. *** SUDAH seminggu Popop tidak masuk sekolah sejak ia memberiku miniatur model Jenderal Sudirman. “Besok kita akan menjenguk teman kalian Popop,” Bu Yudha, guru kelas kami berdiri di depan kelas. “Sudah seminggu Popop dirawat di rumah sakit.” Pagi ini Bu Yudha masuk ke kelas dengan wajah murung. Dipandanginya kami satu per satu. “Kita tidak jadi menjenguk Popop,” kata Bu Yudha. “Kenapa Bu?” Hendra bertanya dari tempat duduknya di bagian belakang kelas. Bu Yudha menarik napas dan memandangi kami semua. “Popop meninggal tadi malam karena penyakit leukimia, siang nanti dimakamkan. Kita akan melayat bersama-sama.” Ruang kelas menjadi gaduh. Teman-teman riuh membicarakan Popop. Tiba-tiba aku teringat kata-kata Popop. Sekarang aku mengerti mengapa Popop ingin menjadi Superman yang kuat, tidak pernah sakit dan ingin menjadi jenderal seperti Jenderal Sudirman. Tak terasa air mataku mengalir turun ke pipi…. n

u 152


Raff Boyadjian ~ OpenArt

153


Hening di Ujung Senja

Ilustrasi: kompas / i putu sudiana

154


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Hening di Ujung Senja Wilson Nadeak (Kompas | Minggu, 15 Juli 2012)

o

I

A tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua? “Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu. Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. “Wajahmu masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau peduli kampung halaman?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya membuat aku agak risih. 155


Hening di Ujung Senja

Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku. “Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?” kataku. Ia mengangguk. “Kalau begitu, kau si Tunggul?” “Ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah. Lalu ia mengatakan perlunya tanah leluhur dipertahankan. “Jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu. “Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri leluhur mereka,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau kau perlu bantuan, aku akan menolongmu.” “Akan kupikirkan,” kataku. “Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak,” jawabku. Pertemuan singkat itu berlalu dalam tahun. Pembicaraan sesama kakak-beradik tidak tiba pada kesimpulan. Masingmasing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika aku berkunjung ke kampung halaman, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua meter. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai tanah itu. Kuserahkan persoalannya kepada keluarga dekat. Dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Jakarta, berbisik padaku, “Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67.” “Oh, Tuhan,” kataku kepada diriku sendiri. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia 156


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

telah ditelan waktu! Giliranku? bisikku pada diriku. Rendi selalu datang dalam mimpi. Diam-diam, lalu menghilang. Dahulu ia teman sekantor. Tetapi, karena mungkin ingin memperbaiki nasib, ia mengirim istrinya ke Amerika, justru ingin mengadu nasib. Ia menyusul kemudian, dengan meninggalkan pekerjaan tanpa pemberitahuan. Lewat Bali, Hawaii, ia sampai ke California. Di negeri penuh harapan ini ia memulai kariernya yang baru, bangun subuh dan mengidari bagian kota, melemparlemparkan koran ke rumah-rumah. Entah apalagi yang dilakukannya, demi kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan. Setahun berada di sana, ia kehilangan istrinya, derita yang membawa duka karena kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. Dari agen koran subuh, sampai rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan. Dari kesunyian hati itu, ia cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja. Tetapi, dalam kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api. Seperti seorang turis, suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya, barangkali asmanya kumat. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah stasiun kereta, petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan kawan itu dalam keadaan tidak bernyawa. Identitas diketahui dengan alamat di Los Angeles. Petugas stasiun menghubungi nama yang tertera di Los Angeles. Dari Los Angeles datang telepon ke alamat di 157


Hening di Ujung Senja

Bandung. Dari Bandung berita disampaikan kepada anaknya, tetapi kebetulan sedang ke Paris. Jenazah dibawa ke rumah anaknya, dan dimakamkan kerabat dekat yang ada di kota “Y�. Tragis, pada usia ke-64 itu, ia mengembara jauh merajut hidup, tapi ia berhenti dalam kesepian, jauh dari kenalan dan kerabat. Beberapa kenalan saja yang menghantarnya ke tempat istirah. Terlalu sering ia datang di dalam mimpi yang membuatku galau. Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca berita yang masuk. Lusiana baru saja meninggal dunia. Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61. Besok akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah. Lusiana seorang sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawankawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian hati. Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya. Tidak biasa aku berlibur dengan keluarga. Kepergian ini hanyalah karena anak yang hidup di tengah keramaian Jakarta, yang berangkat subuh dan pulang menjelang tengah malam dari kantornya. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat ia mengambil keputusan libur ke Bali bersama orang tua. Aku yang terbiasa masuk kantor dan pulang kantor selama puluhan tahun, kerapkali lupa cuti karena tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu cuti. Dan kini, aku duduk di tepi laut Hindia, menyaksikan ombak memukul-mukul pantai, dan sebelum senja 158


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari pelbagai bangsa terpaku di atas batu-batu. Tiba-tiba ada dering di HP istriku, sebuah SMS dengan tulisan: Tan, Ibu Maria baru saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang asing. Ibu Maria menyusul suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72. Ia pekerja keras sepeninggal suaminya yang dipensiunkan sebelum waktunya. Suaminya meninggal dalam usia ke-67 saat anaknya berpergian ke luar negeri dan tidak hadir ketika penguburannya. Ibu Maria meninggal mendadak. Aku baru saja menerima telepon dari kakakku yang sulung, dalam usianya yang ke-78. Kudengar suaranya gembira, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Kalimat terakhirnya dalam telepon itu berbunyi: Tetaplah tabah, Dik. Kamu dan anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyut, supaya mereka tetap sehat‌. Dan tadi pagi, aku teringat. Usia menjelang ke-70, walaupun sebenarnya belum sampai ke situ, aku bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini, dan jejakjejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku? Aku tepekur. Hening di ujung senja. n

u 159


Istri Sang Duta

Ilustrasi: repro zhao chun / openart

160


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Istri Sang Duta Purhendi (Berita Pagi | Minggu, 15 Juli 2012)

o

M

INGGU lalu, suamiku menelepon melalui tetangga bahwa ia akan pulang dalam minggu ini, kalau tidak ada halangan, katanya. Singkatnya, suami ku dan dua temannya berhasil saat mintar di Brunei. Mendengar kabar ini harusnya aku bahagia, bersyukur. Tapi entahlah. Tiba-tiba perasaanku kalut. Dengan cara apa suamiku mendapat uang? Ada bisnis khusus di Brunei atau memang keberhasilannya sebagai duta setelah keberangkatannya sebulan yang lalu? Ya,sebulan yang lalu suamiku berangkat bersama Mang Kiyay dan Mang Jero.keduanya sudah dikenal masyarakat sebagai seorang duta, setidaknya sudah dua kali ini mereka berangkat ke luar negeri. Sedangkan suamiku baru pertama. Mereka bertiga berangkat setelah diberitahu oleh orang meta di sana. Meskipun mereka memberitahu kepada orang lain perihal keberangkatanya untuk berbisnis atau menjadi TKI, bukan rahasia lagi alasan 161


Istri Sang Duta

seperti itu di masyarakat kami. Sudah pasti, mereka pergi menjadi duta. Aku ingat, sebagaimana para duta lainnya, sebelum berangkat kami mengadakan sedekah lepas terlebih dahulu. Kemudian, kami sekeluarga makan dan minum menggunakan piring dan minum menggunakan piring dan gelas polos berwarna putih/ bening sebagaimana petunjuk dukun, hanya nasi putih dan air putih. Dan ketika suamiku berangkat dari rumah, kami tidak mengantarkannya. Demikian juga suamiku, ia dilarang berpamitan atau menoleh ke belakang, melihat kami, jika sudah keluar dari rumah. Sehingga satu sama lain, kami pura-pura tidak tahu. Ah, kini, bukan karena pertanyaan dalam hatiku saja yang membuatku tiba-tiba gundah. Ini terutama karena dalam tiga malam berturut-turut aku bermimpi bertemu suamiku. Mimpinya memang berbeda-beda, tetapi ada perasaan sama manakala aku terjaga. Aku seolah-olah merasa yakin tidak akan lagi berjumpa dengan nya. Pikiranku jadi ngelantur entah kemana. Mungkinkah suamiku dipenjara, ditangkap aparat berwenang disana? Atau lebih buruk dari itu, mungkin di tembak aparat? Atau mungkin juga suamiku ditangkap lantas di eksekusi, digantung misalnya? Soalnya dulu pun pernah terjadi ketika seorang duta dari kampungku ditangkap di Malaysia. Konon ia dipenjara. Entah untuk masa berapa tahun. Yang pasti sudah sepuluh tahun berlalu, sampai kini orang itu malah tidak jelas kabarnya. Keluarganya sendiri sudah menganggapnya mati di sana. Waktu pun terus berlalu, dengan penuh kecemasan kutunggu. Setiap hari, rasanya waktu berjalan demikian lambat, terasa berbulan atau bertahun. Semua ini mungkin karena aku begitu merindukan kedatangan suamiku. Aku jadi teringat ketika kami pertama kali bertemu dulu. Saat itu, secara kebetulan kami 162


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

bertemu dalam acara midang. Para gadis yang ikut midang menggunakan baju kurung. Demikian juga aku. Sedangkan para bujang menggunakan jas, termasuk dia, yang kemudian menjadi suamiku. Entah bagaimana mulanya, kami saling melirik, saling tersenyum, dan begitu acara midang bubar kami pun lantas berkenalan. Aha, ada perasaan yang tiba-tiba lain di dada ku saat itu. Mungkin dia pun begitu. Buktinya, kami dapat cepat akrab. Hari-hari selanjutnya, katakanlah, kami pun berpacaran dan mengikat janji untuk sampai ke jenjang pernikahan. Ya, akhirnya kami pun menikah. Namun sebagai mana lazimnya adat dikampungku, setiap calon mempelai pria harus mampu membawa pintaan yang diminta keluarga mempelai wanita. Kalau tidak bisa di penuhi, perkawinan mungkin bisa gagal. Atau kalau berani, kami bisa saja melakukan setakatan. Namun pada akhirnya toh kami juga yang malu, terutama keluarga suamiku. Karena mungkin ia akan dianggap tidak mampu dan tidak menghormati keluarga mempelai wanita. Sebab toh pada akhirnya, dalam setakatan itu pun masih ada ritual khusus yang harus dilakukan jika kami pulang ke rumah. Setidaknya, masih harus ada bawaan yang disertakan. Teriring rasa cinta dan gengsi, kurasa, akhirnya keluarga suamiku pun memenuhi segala pintaan keluarga ku. Aku cukup mengenal kondisi keluarga calon suamiku kala itu. Karenanya aku yakin, suamiku itu meminjam uang yang tidak sedikit kepada orang lain, atau menjual sawah atau tanah milik keluarga, atau mungkin juga menjual barang berharga lain nya. Namun aku tak mau menanyakan hal itu padanya. Aku takut nanti dia malah tersinggung. Lagi pula, hal seperi itu memang sudah biasa terjadi di kampungku. Bahkan, pesta pernikahan biasanya diramaikan juga dengan orkes dangdut, atau minimal organ tunggal. Dalam pernikahan kami pun, dulu, organ tunggal menggema sampai lewat 163


Istri Sang Duta

tengah malam. Itupun tentu saja atas izin aparat berwenang. Sehingga segalanya tampak wah di mata masyarakat. Tak peduli setelah itu membayar utang kesana kemari, atau hidup dalam keadaan pas-pasan, bahkan mungkin morat marit. Hal seperti itu sudah jadi pemandangan umum di kampungku. Dan pada akhirnya tidak sedikit juga yang menjadi duta, seperti juga suamiku sekarang ini. Hari-hari yang kunanti akhirnya tiba juga. Ku dengar Mang Kiyay datang. Suamiku dan Mang Jero mungkin akan tiba pula dalam dua atau tiga hari lagi atau paling lama seminggu kemudian. Biasanya para duta yang berkelompok jarang pulang bersamasama. Gunanya untuk menghindari kalau-kalau ada sesuatu hal yang mencurigakan terutama saat mereka pulang menuju tanah air. “Lewat isya nanti malam Abah akan ke sini,” ucap santi, anak satu-satunya mang Kiyay ayng kini sudah duduk di bangku SMA kelas III. “Abah hanya pesan begitu. Bibi disuruh tenang saja nunggu.” Lanjut si gadis dengan wajah ceria. Mungkin ia senang karena dugaanku bapaknya berhasil membawa uang ratusan juta rupiah. Aku hanya mengagguk dan tidak sabar untuk menunggu waktu isya yang kurasakan begitu lama. Ah, mungkin aku yang terlalu gelisah. Jauh lewat isya, hampir jam sembilan, Mang Kiyay datang. Sedirian. Dirumahku sepi. Kedua anakku yang duduk di bangku SMP kelas I dan III sudah tiduran di kamarnya. Aku pun sengaja tidak memberitahukan perihal kedatangan Mang Kiyay kepada adikku satu-satunya yang ada di lain kampung. Soalnya aku belum tahu kabar jelasnya tentang keadaan suamiku. “Kami tertangkap di kantor imigrasi saat akan pulang. Mang Jero sediri ditembak petugas saat kami melarikan diri dari penyergapan.” Mang Kiyay berujar gak pelan namun jelas setelah 164


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

sebelumnya berbasa-basi menanyakan kabarku dan anakanakku. Telah kuhidangkan juga segelas kopi kental seleranya. Aku hafal bagaimana pahit atau manis kopi yang ia mau. Maklum, ia sahabat suamiku dan juga kami sudah saling berkunjung seperti saudara. Dengan nada penuh prihatin, Mang Kiyay meletakkan koper kecil yang tampak masih baru, yang ia keluarkan dari tas butut yang di bawanya, lalu diletakkannya di atas meja. “Ini hasil usaha kami rata di bagi tiga.” Ucapnya sambil menatapku. Ku tarik nafas yang terasa kian sesak. Kuusahakan membendung air mata yang siap meledak. “Suamimu titip ini, sebagai kenangan terakhir katanya.” Lanjut Mang Kiyay sambil merogoh saku jas lusuhnya, mengeluarkan sapu tangan warna merah jambu, terus meletakkannya di atas koper, perlahan. Aku tersentak sesaat meski kucoba untuk menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba meledak-ledak di dalam dadaku. “Dia tidak menitip apa-apa lagi?” tanyaku sambil mengusap pipi yang kian di banjiri air mata karena aku sudah tidak kuat lagi menahannya. “Tidak.” Akhirnya isakkanku mengeras meski kutahan-tahan. Dada kian terasa sesak. Punggungku melompat-lompat. Kurengkuh saputangan merah jambu itu ke mukaku. Mang Kiyay hanya menatapku penuh haru. “Aku ke belakang dulu sebentar Mang, cuci muka. Mang Kiyay silahkan minum kopi dulu.” Aku terus ngelonyor ke dapur. Kurasakan mata mang Kiyay mengikutiku. Kaki terus kulangkahkan ke kamar mandi. Kubasuh muka perlahan. Dingin terasa. Tapi jantungku terasa kian membara. Dalam muka yang masih basah, ku yakin mataku pun 165


Istri Sang Duta

tetap memerah. Aku terus kekamar. Kubuka lemari. Kuambil kecepek yang terselip di antara lipatan baju. Terus kuselipkan di punggung, di balik kebaya. Kutatap sejenak wajahku di cermin yang sudah buram. Kulihat mataku menyala, seperti bara api. Kucoba untuk menenangkan pikiran. Aku kembali ke ruangan tamu menemui Mang Kiyay yang tengah menyeruput kopi sambil menghisap rokok dalam-dalam. Dari lubang hidungnya asap putih begitu kental. “Terima kasih, mang. Saya terima uang ini.� Ucapku. Setelah duduk kembali di kursi. Mang Kiyay hanya mengangguk-angguk. Begitu kugeser koper ke hadapanku, secepat kilat tangan kananku merogoh kecepek yang terselip di punggungku. Secepat kilat pula langsung kutarik picunya, kuledakkan tepat didepan kening Mang kiyay. Mang Kiyay tersentak begitu saja, matanya melotot ke arahku bagai tak percaya dengan apa yang kulakukan. Namun mulutnya terlambat untuk bersuara meskipun hanya sebuah jeritan. Kening yang tadinya agak berkeringat itu kini telah bersimbah warna merah segar dengan hamburan putih isi otaknya. Sebagian darah itu menyembur ke wajahku, ke kursi dan tentu saja menutupi wajah dan bagian dadanya. Aku mencoba berdiri walau agak gemetar. Ditelapak tangan kanan Mang Kiyay tampak sebuah pistol kecil masih tergenggam. Ia pun sebenarnya tadi refleks, mungkin juga karena kaget, mengambil sesuatu dari pinggangnya. Namun ternyata gerakanku lebih cepat darinya. Yang teringat dalam pikiranku kini, suamiku dulu pernah berpesan bahwa kalau ia tewas saat mintar karena kelalaiannya berarti tak ada apapun yang bisa di bawa. Tetapi jika ia tewas karena dikhianati kawan, setidaknya ia akan menitipkan sapu tangan merah jambu yang dulu ia bawa dari rumah. 166


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kulihat, kedua anakku sudah berdiri di pintu kamarnya, menatap tak percaya kearah ku. Aku terhempas lunglai di kursi dengan badan gemetar. n Kayuagung, Feb-Juni 2004.

Catatan: Bawaan/gawaan: segala sesuatu yang dibawa keluarga mempelai pria saat pernikahan sesuai yang diminta (pintaan) keluarga mempelai wanita. Duta: istilah populer di masyarakat Kayuagung Ogan Komering ilir “penafkahaan secara khusus� di luar negeri. Konon di Singapura dan Malaysia sediri dikenal dengan istilah Duta Kayuagung. Oleh masyarakat Kayuagung sendiri di kenal dengan istilah keratak. Konon cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan uang puluhan juta sampai milyaran rupiah di antaranya dengan menukar tas korban di bank atau mencegat korban di perjalanan. Para duta biasanya mampu dengan tepat menebak berapa juta uang yang ada didalam tas/ koper calon korbannya. Para duta kebanyakan bekerja berkelompok, jarang yang beroperasi sendiri. Menurut cerita dimasyarakat, mereka pantang beroperasi di negeri sendiri dan pantang menyakiti korban secara fisik. Pada masa lalu mereka diidentikan dengan Robin hood. Namun di masa kini sudah banyak terjadi pergeseran nilai. Bahkan konon pernah juga terjadi saling bunuh di kampung sendiri karena memperebutkan uang hasil keratak. Kecepek: senapan tradisional yang banyak di pakai masyarakat sumatera selatan yang di buat secara sederhana (dirakit sendiri). Ada yang berupa senapan laras panjang dan ada juga yang berupa senapan laras pendek/ seperti pistol. Biasanya di gunakan untuk berburu babi di ladang. Namun belakangan ini banyak disalah gukan kalangan tertentu untuk tindak kejahatan/ kriminal sehingga pemerintah setempat melarang pembuatan/ pemilikan kecepek tanpa izin. Meta: (pemeta): yaitu seseorang duta yang pekerjaannya khusus menyelidiki segala sesuatunya tentang calon korban. Semacam intelijennya duta. Biasanya mereka berangkat terlebih dahulu ke negeri tujuan. Setelah dipastikan ada calon korban, barulah ia menghubungi

167


Istri Sang Duta

temannya untuk menjalankan operasi. Midang: pada masa lalu midang merupakan bagian dari ritual perkawinan di kayuagung, yaitu dengan mengarak pengantin keliling kampung beserta rombongan keluarganya. Biasanya juga diiringi segala bawaan dari keluarga mempelai pria. Hal ini memberitahukan kepada masyarakat bahwa kedua mempelai sudah resmi menjadi suami istri. Bahkan jika bawaannya banyak dan berharga,tanda gengsi dan kehormatan tersendiri di mata masyarakat. Pada masyarakat sekarang midang hampir tidak pernah dilaksanakan lagi di masyarakat. Kegiatan midang sudah bergeser bentuknya, yakni arak-arakan bujang dan gadis (para remaja yang masih lajang) untuk menunjukan bahwa mereka belum memiliki pasangan/ pacar. Bahkan sering juga anak pelajar SMP/SMA diikutkan didalam midang jika ada lomba busana selama arak-arakan midang. Kegiatan midang pada masa kini biasanya dilakukan pada hari ketiga idul fitri, yang biasanya di koordinir oleh Dinas Kebudayaan da pariwisata atau ketua adat di Kayuagung (Ogan komering ilir, Sumatera selatan). Mintar: proses waktu berusaha/ beroperasi seorang duta. Sedekah lepas: ritual khusus yang dilakukan para duta yang akan berangkat mintar. Biasanya mereka membawa beras putih (antara 1 sampai 5 canting0 dan sebutir telur ayam kepada seorang dukun/ kiai untuk minta doa selamat atau yaasin serta memberi wejangan lainnya. Misalnya hari apa mereka harus berangkat, jam berapa, serta persyarata lain yang harus dilakukan atau pantangan yang harus dihidari. Setakatan: kawin lari. Bebiasaan ini muncul karena berbagai faktor. Diantaranya: 1) Calon mempelai laki-laki tidak bisa memenuhi pintaan keluarga mempelai wanita, sementara kedua calon mempelai saling mencintai. 2) Calon mempelai wanita sudah hamil.

u 168


Raff Boyadjian ~ OpenArt

169


Bakso PakOles

Ilustrasi: repro jacek rudnicki, poland / openart

170


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Bakso Pak Oles Fandrik Ahmad (Merapi | Minggu, 15 Juli 2012)

o

M

AKAN sama lauk tempe saja, sudah makan seperti di istana kaisar Paus. Apalagi makan sama makanan seperti daging-daging hewan¬¬—pastinya, daging yang halal untuk dimakan. Seperti daging ikan, sapi, gulai kambing, opor ayam, dan yang lain. Mengimpikan harapan seperti itu, butuh kesabaran sangat besar agar bisa terwujud. Hanya bisa berharap pada orang yang bertamu dan membawa makanan lezat. Beli sendiri? Harus berpikir dua kali, bahkan berpikir berkali-kali mengubah selara makan sehari-hari; sambal terasi. Namanya juga masyarakat sampah. Ya! Sampah memang harus dibuang. Saya lalu teringat kalimat dalam sebuah Novel Marabunta “Aku dilahirkan dari golongan sampah, tapi bukan orang yang berhati sampah”. Terbuang di keramaian mobil yang bunyi klaksonnya bertalu-talu. Tut…tut…tut… Malam itu, Ada seorang bertannya pada Saya. 171


Bakso PakOles

“Apakah mas tahu dimana diskotik di kota ini?” Saya menjawab. “Tahu.” “Yang mana tempat paling menyenangkan, Mas?” Pertanyaan orang kekar bertato itu kali ini saya tak bisa menjawab. Meski saya banyak kenal beberapa tempat yang ia tanyakan, tak satupun yang pernah saya masuki. Saya hanya sering duduk di depan bar, menunggu orderan, itu saja. Mana mungkin bisa berjejel dengan para Pejabat, Birokrat, Saudagar, Bisnismen, atau yang lain, wong saya cuma orang rendahan. Orang yang mencari kenikmatan, duduk santai, diiringi alunan melodi-melodi neraka dan para bidadari yang selalu mengepakkan sayap indahnya. Jika bersama, mereka di atas, sedang aku di bawah memegang semir sepatu, mengelap sepatunya berulangkali sampai mengkilap. Itu pekerjaanku. Dulu, dengan pekerjaan seperti itu, penghasilan yang saya peroleh sudah lebih dari cukup. Sudah bisa makan yang dirasa enak bagi orang-orang sampah, seperti saya. Kali ini, hukum yang demikian tak berlaku lagi. Seiring harga sembako yang semakin tinggi, ditambah menjadi seorang kepala keluarga, penghasilan yang hanya segelintir itu, tak cukup. Apalagi persaingan semakin ketat. Banyak para penyemir sepatu bermunculan, seperti jamur dimusim hujan. Bocah-bocah yang seharusnya masih duduk di kelas, mendegar penyampaian guru. Kini, harus mondar-mandir menenteng kotak kecil, menawarkan pekerjaan pada mereka yang bersepatu kulit. Tas sekolah berganti kotak kayu. Dengan semangat, mereka mondarmandir disekitar orang yang tak punya mata. Saya jadi tak tega melihat mereka. Saya putuskan untuk gantung semir dan mencari pekerjaan lain. Agak berat sih, mengganti profesi yang telah dijalani sekian tahun. Apabila ada yang berkenan berkunjung ke rumah saya, 172


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

caranya mudah sekali. Anda cukup turun di terminal kota. Selanjutnya, berjalan ke arah utara, sekitar 500 meter. Anda akan mendapatkan perumahan kumuh bercampur dengan limbah sampah. Di sudut barat daya, ada rumah berdempetan dengan pabrik tahu. Itu rumah saya. Setelah sampai di sana. Saya sarankan pada anda, pakailah tissue. Sebab, yang akan anda dapatkan bukan orang-orang yang memakai dasi dan sepatu kulit, melainkan disambut oleh binantang-binatang kotor, menjijikkan; Kucing, Tikus, Kecoa, Lalat, dan Nyamuk. Datang tanpa mengetuk pintu. Rumahku menjadi pertunjukan circus mereka. Unjuk kebolehan. Seisi rumah bakal meriah jika mereka beratraksi. Apalagi, ketika musuh abadi itu (Kucing dan Tikus) bertemu. Piring, Panci, Wajan, dan perabotan lain akan amburadul. Ditambah sorak sorai istriku yang menyumpah serapahi binatang menjijikkan itu. Jangan Anda memberi kesimpulan, saya tak pernah berusaha mencegah. Memberi aturan bagaimana cara bertamu yang baik. Tamu-tamu tak diundang itu berseliweran seenaknya saja. Sulitnya, saya harus membongkar istana—karena rumah itu harta yang sangat berarti—agar binatang menjijikkan itu tak lagi bertamu, setiap waktu. Hampir setiap senti gedung rumahku ada pintu untuk mereka. Bahkan, bagi binatang itu bukan pintu, melainkan gerbang besar. Begitulah, kondisi rumahku, sangat memperihatinkan. Semua dinding dari kayu lapis, peninggalan satu-satunya Almarhum keluarga kami. Apabila musim kemarau, rumah itu tak bisa melindungi penghuninya dari terik matahari dan polusi. Selalu ada celah bagi sinar matahari untuk menerobos dan menggeledah isinya. Begitu pula dengan musin hujan, sama saja, hampir tak ada hambatan sama sekali menahan air masuk ke rumah. Atap terus menangis. 173


Bakso PakOles

“Pak, kapan kita bisa memperbaiki rumah kita? Ya! Paling tidak, nyaman untuk dihuni,” ungkap istriku. Ada impian besar di matanya yang bening. “Ayah, kapan kita kita punya rumah mewah? aku bosan di rumah yang seperti ini,” kata anakku. Tak dapat saya pungkiri, kata itu menyinggung perasaanku. Namun, melihat kepolosannya dalam bertutur. Saya tahu, dalam benaknya tak ada maksud untuk melecehkan saya sebagai ayahnya. Saya tahu, memang semua ini adalah tanggungjawab seorang kepala keluarga. Mereka tidak salah. Bahkan mereka berhak untuk menuntut kenyamanan padaku. Semua salahku. Malam ini, malam minggu. Saya mengajak anak dan istri saya berjalan-jalan di taman kota. Hanya berjalan-jalan. Itu saja. Tidak lebih. Lama tidak jalan-jalan seperti yang biasa saya lakukan, ketika anakku dalam dekapan. Sekitar tujuh tahun lalu, saat si buah hati belum dalam pangkuan. Masih ingat di benak, ketika menikmati hangatnya sajian bakso Pak Oles. Pada saat itu, musim dingin. jadi, sangat terasa betapa nikmat makan bakso panas pak Oles. Saya dan istri saya membanyangkan, bunga indah di masa lalu. Saat aku bertemu dengannya di sini, di warung bakso Pak Oles. Kala itu, ada orang kaya makan bakso dengan istrinya. Istrinya bunting—kira-kira hamil lebih dari hamil tujuh bulan. Menurut pengakuannya, sang istri ngidam makan bakso. Sebenarnya, ia tidak begitu suka dengan tempat itu. Demi si buah hati pertama yang masih dalam jabang bayi, ia rela berada di tempat yang tidak disukainya. Saya mendapat orderan di malam yang dingin itu. Ia meminta saya untuk membersihkan sepatunya yang tak sengaja menginjak genangan air kotor. Saya tak menyiakan kesempatan. Meski 174


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

malam sudah larut, kira-kira sudah jam sebelas lebih, saya mau pulang—saya tidak ingin membuang rezeki pemberian dari Tuhan. Aku layani permintaannya. Dia bertanya banyak tentang saya. Mulai pekerjaan, profesi, keluarga, sampai pada lika-liku kehidupan saya. Sebaliknya, ia juga berbicara banyak tentang kehidupnnya. Pembicaraan kami semakin mencair dan mengalir tanpa bendungan. Ia bercerita, mengapa ia bisa sampai berada di tempat ini. Berat rasanya menceritakan pada saya. Ada sedikit keraguan pada dirinya, pad diri saya. Mata itu berkaca-kaca. Seolah, akan menceritakan beberapa hal yang belum pernah dimuntahkan dari mulutnya. “Istriku sedang hamil lebih tujuh bulan. Aku menunggu kehadiran buah hati pertamaku,” katanya dengan nada lirih. Mengapa seakan tak ada kebahagiaan dari cara bicaranya? Apa ia tidak suka? “Bapak bahagia?” Entah kenapa, setelah saya memandang kacamata minus yang melekat di atas hidung mancungnya, pertanyaan itu muncul sendiri. “Jelas, bahagia sekali.” “Kalau begitu mengapa murung?” “Ah masak.” “Ya!” “Mungkin, aku kelelahan menuruti segala permintaannya. Akhir-akhir ini, ia selalu minta yang aneh-aneh. Katanya, bukan dia yang minta, tapi bayi yang ada dalam kandungannya.” Ia mengatur nafas sebelum melanjutkan. “Yang paling aku heran lagi……” beberapa saat, ia memotong pembicaraan. Beberapa detik, jadi menit. “Ia minta tambahan belanja. Tahukah kau berapa yang dia 175


Bakso PakOles

minta? Sepuluh juta perminggu.” Gila! Saya belum pernah melihat orang hamil ngidam sampai segila itu. Sepuluh juta? Bagi saya, sudah bisa tidur dengan nyenyak. Buat perbaikan rumah yang hampir condong ke barat. “Lagi-lagi, katanya bukan permintaannya,” Ia menambahkan lagi. “Tapi bayi dikandungnya.” Saya membayangkan, belum lahir saja sudah minta sepuluh juta. Apalagi sudah lahir, pasti banyak korupsinya, atau jadi perampok. “Bapak menuruti?” Ada rasa takut diwajahnya. “Demi keselamatan anak pertama. Aku rela menuruti semua yang diminta,” katanya mantap. Katanya, ia sudah lama berkeluarga, Lima tahun, baru kali ini, Tuhan mengkaruniai anak. “Bapak kerja dimana?” Aku tak harus bertanya seperti itu. Aku sudah menduga kalau pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Pakai jas, dasi, dan sepatu yang masih aku semir. Pasti ia baru pulang dari kantor. “Kamu punya istri?” ia mengalihkan perhatian. Saya tak menduga orang itu bertanya demikian. Memang, orang seusia saya mestinya sudah menikah dan punya anak “Belum.” “Mengapa?” “Saya takut akan seperti istri bapak. Nanti istri saya meminta macam-macam,” aku sengaja menghiasi ucapan saya dengan tawa, agar terlihat seperti guyonan. Saya takut jika tidak demikian, ia akan tersinggung oleh ucapan saya. Ia tertawa. Sunyi. Kemudian, istrinya memanggil penjual mainan. Yang dipanggil datang. Istrinya subuk memilih-milih boneka Barbie. Untuk anaknya saat lahir nanti, begitulah pengakuan istrinya. Ia pasti 176


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

menginginkan anak perempuan. Boneka identik dengan anak perempuan. Orang itu berbisik pada saya, “penjual itu cantik, cocok untukmu. Pasti ia belum menikah.” Lalu, ia menyuruh saya untuk berhenti menyemir sepatu dan menyilakan saya makan bersama. Saya menolak meski mau di traktir. Tapi, melihat kemauannya yang sangat besar, tak kuasa juga saya menolak. Benar kata dia. Penjual mainan itu memang cantik. Entah apa maunya lelaki ini. Ia juga menyuruh penjual mainan itu duduk, lalu makan bersama kami, ia ditraktir juga. Ada senyum yang mengembang di bibir laki-laki itu ketika saya dan penjual mainan saling tatap. Kemudian ia pamit. Sebelum lelaki itu pergi. Ia mengatakan bahwa bakso kami sudah dibayar. Ia juga sempat bilang, “ Saya merasa rugi mentraktir kalian, jika kalian tidak sampai jadian.” Begitulah katanya. “Ongkos semirnya, saya masih akan hutang. Kalau mendapatkan penjual mainan itu, saya akan bayar dua kali lipat. Ini kartu nama saya,” ia berlalu begitu saja setelah memberi tanda pengenalnya. Mereka tersenyum sipu. Berlalu begitu saja setelah mengeluarkan selembar seratus ribu untuk membayar bakso kami. “Sisanya untuk kalian berdua,” begitu katanya. Tinggallah hanya saya dan wanita penjual mainan itu. Saya agak gugup pertamanya. Namun, lama-lama rasa gugup itu hilang. Dan, dari bakso pak Oles, mengantarkan saya dan wanita penjual mainan ke pelaminan. n Bumi Al-Sael, 2008

177


Berkemah

Ilustrasi: pontianak post

g Redaksi menerima tulisan berupa cerpen, puisi, ulasan sastra, budaya dan seni lainnya. Tulisan dikirim ke e-mail apresiasi@pontianakpost.com. Tulisan adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media lain. Sertakan juga identitas diri Anda. 178


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Berkemah Asmi Ri Zani (Pontianak Post | Minggu, 15 Juli 2012)

o

R

EGUKU telah usai mendirikan tenda. Aku duduk santai melepas lelah sambil menghirup udara hutan. Udara segar tumbuhan hutan silih berganti masuk ke paruparuku. Hutan yang belum banyak terjamah tangan manusia karena jauh dari permukiman warga. Aku duduk melihat regu lain, sekadar mengoda. Apalagi yang kugoda itu regu mawar. Regu yang berada di depan tendaku. Regu yang terdapat seorang perempuan cantik berkulit cokelat. Perempuan yang sangat kreatif dalam bekerja. Mataku tak lepas mengawasi perempuan itu. Begitu cantik. Sesekali ia memandang ke arah reguku. Entah memandang aku atau yang lain. Aku tersenyum menggoda. Aku melontar pandang ke arah lain. Menahan malu. “Kamu naksir ya Ton sama Nira?� Kata Aldo di sampingku. Wajahku linglung tak bisa disembunyikan. Pipiku terasa 179


Berkemah

mengelembung semu. “Ah, apa-apaan kamu ini Do,” jawabku. “Kalau naksir bilang saja.” Aku diam dan tersenyum pada Aldo. Ia tertawa. Aku pun ikut tertawa memaksa. “Hei, kalian santai-santai. Coba bantu teman kalian yang lain.” Kak Galih seniorku mengejutkan kami dari arah belakang. Ia membentak aku dan Aldo dengan suara keras. Matanya tajam. Kulihat yang lain berpura-pura mengerjakan sesuatu. Kami berdua tak mengetahui keberadaan Kak Galih di tenda kami. Aku dan Aldo pun menunduk dan berpura-pura mengerjakan sesuatu. Setelah langkah kak Galih meninggalkan tenda. Kupastikan ia sudah jauh. Aku berdiri menirukan tingkahnya. Tangan berlagak di pinggang. Berkata-kata lagak tak berbunyi. Tanganku menunjuk-nunjuk ke arah teman-temanku. Mereka tertawa dan aku ikut tertawa. Kami tertawa terkekehkekeh. Tak kusadari perempuan di seberang sana memandangiku. Aku mengalihkan muka dan merasa pipiku mengelembung semu. *** KOBARAN api memecah larut malam. Tak ada bintang dan tak ada bulan. Bunyi-bunyian binatang hutan menaikkan bulu leherku. “Jaga pikiran kalian jangan sampai kosong.” Berulang kali kalimat itu diucapkan kak Galih. Kakak yang terkenal galak dan sok. Kami menurut saja. Kami menunduk mengelilingi api yang berkobar besar. Cahaya api memantulkan 180


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

wajah seseorang yang berada di tengah kumpulan itu. la berteriak-teriak memberikan renungan. Terdengar isakan tangis yang membuat bulu tubuhku semakin berdiri. Suasana menghanyutkan hatiku. Aku pun tak bisa mengendalikan hati. Akhirnya aku ikut menangis. Semakin lama semua terhanyut dalam renungan. Cerita yang menimbulkan rasa sedih. Cerita tentang orangtua, tentang kehidupan, dan tentang kematian. Renungan yang sangat kutakutkan. Tumpah ruah tangis menggema di tengah hutan. Tiba-tiba saja seorang peserta berdiri dan berteriak. “Hei, kamu. Mengganggu ketenanganku di sini.” Tangannya sambil menunjuk ke arah kak Galih yang berada di tengah kami. Wajahku menengadah. Mataku mengarah pada lelaki yang berdiri di sampingku. “Berani sekali Aldo berteriak menantang,” pikirku. Matanya melotot memperhatikan tajam sekitar. Bola matanya seperti hendak keluar dari tempat mata. Matanya tertuju pada kak Galih yang berdiri dengan gaya sok. “Cepat kalian pergi dari sini. Dan kamu, jangan sok.” Semua mata mengarah pandang pada Aldo. Tangannya menunjuk pada kak Galih yang berada di tengah kami. Kak Galih terdiam. Matanya menyorot tajam pula pada Aldo. Gerak Aldo semakin aneh. Terus berteriak-teriak. Sontak muka cemas menghinggap pada peserta lain dari balik sinar api. Beberapa kakak yang lain menenangkan Aldo. Aku dan beberapa kakak senior memapah Aldo ke dalam tenda panitia. Acara renungan berlangsung hikmat. Walau ada kekhawatiran anggota lain mengenai kejadian yang barusan. Aku takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. *** 181


Berkemah

DI dalam tenda, seorang panitia lelaki memegang kepala Aldo. Bogar menggerakkan-gerakkan ujung bibimya. Mengucapkan mantra. “Siapa kamu?” “Aku Raja Ruwo penguasa hutan ini. Kalian mengganggu ketenanganku.” Matanya melebar. Hendak lepas. Tubuhnya gelisah. Bergerakgerak. Panitia yang lain kewalahan menahan. Panitia perempuan ketakutan melihat mata dan geraknya. Bogar menyemburkan sedikit ludah pada kening Aldo. “Cepat kamu keluar dari tubuh anak ini. Kalau tidak kau kubunuh.” “Hahaha... ilmumu belum tandinganku anak muda. Aku tak akan keluar.” “Cepat kamu keluar.” “Tidak. Aku tak akan keluar.” Wajah panitia yang lain gusar. Raut ketakutan dan kekhawatiran merayap pada wajah mereka. Terkecuali satu lelaki kriting yang berdiri di ambang pintu tenda. Raut wajahnya tenang. “Hahahaha...” Tawa itu menggema dan memecah tenda. Bogar terus mengucapkan kata yang bisu dari bibirnya. Semakin melaju dan sedikit keluar percikan air liur. Bogar menggeleng. Wajah mereka menegang cemas. *** SEORANG perempuan berlari kecil menuju api unggun. la menghampiri tiga lelaki yang mengawasi peserta yang melakukan renungan. Mata mereka tajam. Menakutkan. Sehingga peserta menunduk. 182


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Galih, anak yang kesurupan itu belum sembuh juga.” “Kan ada Bogar.” “Bogar tak mampu mengatasinya.” “Ah, Bogar. Hal sepele begitu tak bisa.” Mereka melangkah menuju tenda. Panitia yang lain telah menunggu. Wajah kegusaran masih menghantui panitia. Kecuali lelaki yang berambut keriting itu. Dengan mata tajam mereka bertiga mengawasi tubuh Aldo yang terbaring. “Minggir, kalian minggir.” Peserta yang lain menepi memberi ruang untuk mereka bertiga. Bogar masih memegang kepala lelaki itu dan terus mengomatngamitkan ujung mulutnya. Setelah melihat mereka bertiga datang, Bogar berdiri dan menepi. Galih mendekat. Duduk di dekat kepala Aldo. la memegang kepala Aldo dan mulai menggerakkan bibirnya. “Kamu siapa?” “Aku Raja Ruwo, penguasa tempat ini.” “Kamu harus keluar dari tubuh orang ini.” “Tidak. Aku tidak akan keluar sebelum kalian pergi.” Lelaki itu melototkan matanya. Galih juga melototkan pandang pada wajah yang terbaring. Mata keduanya melotot di keremangan lilin. Tiba-tiba lelaki itu meludahi wajah Galih yang berada tepat di atas wajahnya. “Hahahaha...” Galih marah. la tak dapat menahan emosi. la memegang kepala lelaki itu dengan keras. Tubuh lelaki itu menggelepar. Galih dibantu kedua temannya. Mereka bertiga berkomat-kamit. Mereka melakukan gerakan yang aneh untuk mengusir raja Ruwo di dalam lelaki itu. Lagi-lagi lelaki itu meludah wajah mereka bertiga. Dan tawanya 183


Berkemah

menggema. “Sudahlah. Sudah. Ilmu kalian masih rendah. Kalian sok. Aku akan pergi.” Seketika tubuh itu tenang. Aldo membuka mata dan bangun dari pembaringan. Wajah panitia lain mengendor. Tampak ketenangan. “Ilmu kamu masih manjur Lih.” Tepuk seseorang pada pundaknya. Galih memandang dan berlalu. la malu, baru kali ini ia diludahi juniornya. Setelah beberapa lama, mereka rneninggalkan tenda. Kecuali satu orang yang masih berdiri melihat lelaki itu sendiri. Wajahnya tenang dan rambutnya keriting. “Hebat sekali aktingmu.” Aldo tersenyum. “Memang mereka perlu diberi pelajaran supaya tidak berlaku sewenang dan sok.” “Terima kasih kakak tidak membongkar kebohonganku.” Aldo berlalu. la tersenyum mengharnpiriku di luar tenda. n Pontianak, 2012.

u 184


Salavador DalĂ­ ~ OpenArt

185


Kidung Luka Seorang Penyair

Ilustrasi: repro santiago carbonell / openart

g Mawaidi D. Mas, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS-UNY. Sekarang giat sebagai penulis Aksara dan gabung dalam Komunitas Rabo Sore Yogyakarta. 186


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kidung Luka Seorang Penyair Mawaidi D. Mas (Metro Riau | Minggu, 15 Juli 2012)

o “Percaya kamu sama dia, Bro?” “Sudah lama aku berhubungan baik dengan dia.” “Tiap kali pentas dia berangkat sama siapa?” tanya Jie. “Bareng sama teman-temannya. Aku cuma waktu siang bersamanya.” “Eh, Bro, cewek sekarang sudah nggak jaman lagi suka sama cowok yang pintar, cerdas, intelek, penyair kere kayak kamu. Kamu tahu apa kejutanku untukmu pagi ini?”

A

KU hanya menggeleng dan kulihat wajah Jie tampak serius. “Ternyata kamu lebih bodoh dari dosenmu. Perempuan yang kamu maksud setia itu berkhianat di belakangmu. Ia jadi kekasih gelap dosenmu.” “Pak Rio maksudmu?” *** 187


Kidung Luka Seorang Penyair

PEREMPUAN itu menyukai yang namanya malam. Malam yang tidak terlalu gerimis. Ia memintaku untuk memenuhi keinginannya, menyukai malam, makin rajin ia latihan menari. Hampir kutengarai tiap malam ia hanya sibuk ingin menjadi penari. Aih, Ay, katanya ia kangen pada masa remajanya (sewaktu sekolah SLTA) yang kerap kali diundang untuk menari di beberapa pementasan. “Kapan kamu punya waktu dengan aku?” “Untuk apa?” “Menari dengan aku.” “Kamu itu harus fokus pada kerjanya. Penyair kok mau menari, hahaha…. Kapan-kapan ya, aku lagi sibuk. Lagian waktuku untuk bersantai terjatah penuh untuk latihan.” “Izin kan boleh?” aku berkomentar. “Nggak boleh. Kecuali ada kegiatan sangat penting di luar.” Alis perempuan di depanku itu diangkat. Matanya bulan bundar. Sesekali mataku bercerita; pinjamkan cahaya matamu. Agar aku semakin tahu rahasia jalan yang berkelok itu terang menuju rumahmu. “Tidak penting aku buat kamu?” “Jangan berkata begitu. Belajarlah untuk tidak bertindak gegabah untuk dirimu sendiri.” Lalu aku diam. Memutuskan untuk tidak berkomentar lagi. Sampai kapan semua itu akan berlangsung jika pada akhirnya kamu harus pergi, suara batinku berkata. Sangat lirih. Ini bukan soal gegabah atau tidak. Usaha untuk menikmati suasana malam dengannya tak lain untuk merencanakan sesuatu yang tak pernah ia dengar dari orang lain. Ya. Aku yakin mantan pacarnya itu tak pernah mengatakannya. Apalagi mantan pacarnya yang kemarin lusa baru diputus itu, jelas-jelas bermata keranjang. Mana pula ia akan berpikir bahwa perempuan itu, Ay sesungguhnya cantik. 188


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Bulan anggun” aku hanya ingin mengatakan itu kepadanya di bawah langit yang dibintiki bintang. Lalu, aku akan melanjutkan perkataan itu, “Bila kau mau, silakan tersenyum. Dan, bulan akan anggun di bibirmu.” Ah, lebay. Itu saja. Dan, kusimpan katakata itu dalam hatiku. Aku menaruhnya amat dalam. Bukan karena iseng aku merangkum kata-kata itu. Aku sudah mengatakan dari awal, hanya aku lelaki yang bisa mengungkapkannya. Tidak juga mantan pacarnya. Beginilah kalau jadi orang seperti aku. Meski tidak punya mobil dan seorang ayah pejabat, seperti mantan-mantannya itu, aku kaya bahasa, kata-kata, cerita, sajak dan metafora. Malam seperti apakah yang bisa membawa ia berada di sisiku? Ia amat sering mengatakannya, “waktu kita adalah malam.” “Kamu mau aku beri tahu sekarang atau, nanti malam?” Dia bertanya sehabis menutup laptop milikku. “Terserah kamu,” sanggahku, sambil meraih laptop dari tangannya. “Nanti malam saja ya?” katanya. Lalu tersenyum disertai tawa kecil. Mengikik. Aku tahu itu. Kami duduk sehadapan dengan mata saling menerka-nerka kejantanan. Aku menyerah sore itu. Betina lebih kuat soal tataptatapan. *** SAMPAI di rumah kecil yang kusewa kepada seorang ibu separuh baya. Telunjukku mencari-cari jadwal kuliah besok yang kupaku di dinding. Pukul 13. 30. Gedung Kuliah 1 ruang 306. “Masuk siang,” desahku. Malam masih agak lama. Kutindih kasur tipis dengan sisa-sisa bau badanku sepulang bertemu Ay. Aku mereka-reka, “Baiknya aku tidur sekarang, biar malam nanti tidak 189


Kidung Luka Seorang Penyair

mengantuk.� Aku terbangun. Mengucek mataku yang masih didera capek. “Ay?� teriak batinku. Buru-buru aku bangkit menuju pintu yang tertutup rapat. Di ambang pintu aku disambut hujan yang berlesatan ke sanakemari. Tidak sederas amat hujan ini. Tapi cukup untuk membasahi bajuku jika aku keluar untuk sekadar membeli pulsa ke konter pertigaan depan. Aku tidak ingin mengecewakannya malam ini. Dengan sisa kuota pulsa kurang dari 1500, itu berarti nyawa dering hand phone-ku tamat malam ini. Aku tidak bisa menghubunginya. Demi perempuan itu, demi malam yang dia janjikan ingin mengatakan sebuah hal kepadaku, aku melindas hujan dengan segila kangenku kepadanya. Bagiku hujan adalah tubuhnya, pukulan hujan adalah dekapan erat tangannya. Bajuku basah. Tubuhku kuyup hujan. Cintanya makin kental di tubuhku. Syukurlah, pulangnya aku berhasil mengisi pulsa hand phone-ku dua kali lipat dari pengisian biasanya. Aku menyesali perbuatanku tidur sejak sore tadi. Kalau hanya itu menggadaikan pertemuanku dengan Ay, kupilih saja membaca buku karangan Pak Rio, dosen Ay. Bila sudah kubaca, aku melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya. Aku melakukan itu demi perempuan itu, demi malam yang dia sebut-sebut ingin berdua dengan aku. *** WAKTU kita adalah malam, saat bulan terlihat anggun, katanya. Namun, tak diduga hujan turun. Bulan tak ada. Ya, bulan mengintip dibalik ibu awan yang mengandung mendung. Bulan khawatir dingin. Matahari yang ingin mengompori tubuhnya masih 190


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

besok waktunya. Dan, bintang yang biasanya ia tunjukkan kepadaku juga tak ada. Bintang jatuh mencipta pijar cahaya yang berceceran di tanah. Berkilauan ketika satu per satu kaki hujan lepas. Nyala kehidupan hanya harapan, begitu aku mengira-ngira. Bulan konyol, aku menggerutu pada diriku sendiri. Aku semakin menangis sejadijadinya. Jika saja bulan datang sehabis hujan, bayangkan, bulan sehabis hujan itu akan anggun karena malam itu adalah buat Ay. Kuputuskan untuk menunggunya. Segelas kopi dan sebatang pulpen berada di sampingku. Di bibir pintu aku menerka-nerka wajah langit, seperti menerka-nerka matanya. Tapi aku selalu menang dan mengalahkan langit. Dengan kejantananku, langit sesekali menyerah, dan air jatuh. Begini caranya aku melampiaskan penyesalanku, membikin kopi dengan kadar gula nol persen. Lalu, aku melampiaskan kesendirianku dengan duduk-duduk di bibir pintu. Biasanya ia sering bertanya, untuk sekadar iseng-iseng, “Kamu sedang apa?� begitu bunyi pesan pendeknya. “Lagi duduk-duduk,� jawabku. Ya. Hanya bisa kukenang perhatian itu malam ini. Seterusnya sepi mendaki-daki. Sementara, ia tak akan tahu betapa kangenku mengembung sebesar balon udara. Aku mengirim pesan pendek ke nomornya. Berkali-kali dengan kata-kata yang berbeda. Mungkin ceruk malam sudah menghimpit lelap kantuknya. Lama tak ada respon yang mengantarkan aku ke lubang sepi. Entah, perempuan itu masih ingat atau tidak. Bulan yang lalu, di Kaliurang persahabatan yang mengakrabkan aku dengannya. Aku ingat, ketika ia mampir ke dekatmu. Ia menunjuk langit dan memilih satu bintang yang dinamai persahabatan. Perempuan itu rebah di pangkuanku. Lalu wajahnya menerkaku, berkali-kali, dan kuperlihatkan olehnya Gunung Merapi yang dingin malam hari. Aih, rindu Kaliurang. Sebagaimana kangenku, aku 191


Kidung Luka Seorang Penyair

menyempatkan untuk menulis puisi di tengah-tengah ingat Ay, “pada jagung yang dititipkannya untukku/ kami kawin di depan api dengan pembakaran seadanya/ juga jagung dari gunung telah kuberikan kepada perempuan itu/kami terbakar dalam cinta/ tubuh kami gosong dengan gigil/sekali waktu tubuh kami berbisik ingin bercumbu�. Ya. Begitulah rinduku, makin jadi bila mengurai hari-hari yang sudah kulewati dengannya. Malam ini, bintang yang kerap kali ia namai, yang bertengger di atas timur sana, juga tak ada tandatanda ia datang. Nyala kehidupan hanya harapan. Dari awal aku mulai mengira-ngira, perempuan itu tak akan datang malam ini untuk memenuhi janjinya. Aku tiba-tiba berburuk sangka kepadanya. Aku menengok keluar jendela dengan kepala keluar. Lalu aku menoleh ke samping kiri, di sebelah kursi panjang yang terbuat dari bambu, ontelku basah dengan hujan. Genting kosanku bocor. Roda bagian depan dan belakang separuh tenggelam. Hendak aku ingin pergi menemuinya. Barangkali perempuan itu ada masalah dengan hand phone-nya. Selarut ini ia tidak mengabariku. Aku mendengar kabar, minggu lalu dia rutin ada di stage tari, semenjak diangkat jadi guru tari di sebuah lembaga sekolah. Malam kian larut. Pohon-pohon basah dan meneteskan air berkali-kali. Kang Aji, penjual angkringan yang tak jauh dari kosku mulai mengemasi barang-barangnya. Pertanda malam larut. Akhirnya aku memberanikan diri mengirim pesan pendek yang kesekian kalinya ke nomornya. Siapa tahu kali ini, jika ia tertidur akan bangun dengan bunyi nada pesannya. Sekali kirim aku menulisnya dengan sebuah puisi. Tak banyak, cukup aku menumpahkan segala emosi kedinginanku malam ini. Hujan reda perlahan. Sangat pelan. Seolah ada yang ditunggu 192


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

dari atas sana untuk sekadar turun bersama ke bumi. Hujan yang runcing tadi sekarang berubah gerimis yang bergarisgaris. Aku mengambil hand phone-ku kembali. Layar itu masih seperti semula dengan screen sever “1 Pesan dicuekin�. Bulan mengintip sedikit dengan reremang gerimis. Ya, bulan kali ini datang. Seandainya perempuan itu ada di sini, aku akan memperlihatkan kepadanya. Bulan itu separuh menyala dan pendar sinarnya mencipta gelembung balon-balon kecil. Bulan anggun, Ay, gumamku. Namun, bak perempuan yang mengunci sepi di kedalaman jantungku, aku makin kehilangan. “Bulan anggun, Ay.� Aku terus mengigau. Terus. n Jogja, Karmal, Februari 2012

u 193


Harapan di Ufuk Senja

Ilustrasi: haluan kepri

g Kadarito Rifarto, Mahasiswa STAI Natuna. Lahir di Ceruk 20 Januari 1991. Naskah cerpen ini merupakan satu dari 20 cerpen terbaik sayembara penulisan cerpen Fokusmaker Natuna 2011. 194


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Harapan di Ufuk Senja Kadarito Rifarto (Haluan Kepri | Minggu, 15 Juli 2012)

o Lelah. Ya, sungguh melelahkan hari ini. Seluruh badanku terasa sehabis dipukul dengan benda keras, dan kakiku terasa kaku seperti terikat oleh tali yang sangat kuat. Ditambah lagi cuaca yang panas membuat seluruh tubuhku serasa terbakar api. Ya, walaupun aku belum pernah dibakar, tapi aku bisa membayangkan bagaimana rasanya terbakar api. Kuhidupkan kipas angin dengan kecepatan tiga.

K

ECEPATAN yang kuanggap pas saat gerah seperti saat ini. Kuambil sapu tangan dari kantong celanaku— aku selalu menyediakan sapu tangan dalam kantongku saat bekerja. Sapu tanganku yang tadinya berwarna kuning terlihat sedikit berubah warna menjadi kuning kecokelatan karena jatuh ke dalam adonan semen saat mengaduk semen tadi pagi. Kusapu 195


Harapan di Ufuk Senja

keringat yang masih menempel di keningku. Kulihat jam di handphone-ku menunjukkan pukul dua tepat. Jika dibanding dengan handphone teman-teman, handphone-ku adalah satu-satunya handphone yang paling kuno dan murah. Namun, aku tidak pernah malu menggunakannya di depan temanteman. Aku bangkit dari tempat duduk menuju kamar mandi, karena jam setengah tiga aku ada jadwal kuliah metodologi penelitian. Aku tak ingin telat untuk mata kuliah yang satu ini, karena jika nilai metodologi di bawah nilai B, maka aku harus mengulanginya lagi tahun depan. Aku tidak ingin mengulang mata kuliah apa pun. Apalagi mata kuliah yang satu ini, dan targetku untuk mata kuliah ini adalah nilai A. Walaupun pelajaran ini tergolong sulit, aku harus menguasainya semaksimal mungkin. Kubersihkan seluruh badanku yang sangat kotor oleh debu semen. Setelah mandi kini penat yang kurasakan sedikit menghilang. Teman-temanku dan orang-orang sekitarku memanggilku Mat. Walaupun namaku Ahmad, jarang sekali mereka memanggilku Ahmad. Begitu juga dengan ibu dan saudara-saudaraku, mereka semua lebih senang memanggilku Mat. Jadwal kuliahku hanya siang, sore dan malam hari, jadi aku bisa bekerja pada pagi hari hingga siang sebelum ke kampus. Karena bagaimanapun sibuknya kuliahku, aku harus tetap menghasilkan uang untuk membiayai kuliahku sendiri dan ditambah lagi dengan kebutuhanku seharihari. Tidak ada yang bisa kuharapkan selain diri sendiri. Saudara? Semua saudaraku hanya memikirkan hidupnya masing-masing. Firman, abangku yang sulung telah menikah dan memiliki dua anak. Hidupnya pun hanya pas-pasan, jadi tidak mungkin aku mengharapkan bantuan darinya. Rahman, kakakku yang kedua sangat tidak menginginkanku kuliah. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas ia pernah berkata, “Kuliahlah jika engkau merasa mampu, Mat. 196


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Yang jelas, kami tidak mampu membiayai kuliahmu. Dan jika engkau dalam kesulitan, jangan pernah engkau kembali dan meninggalkan kuliahmu.� Kata-kata itu selalu muncul dalam benakku saat aku tidak punya uang dan ujian telah dekat, atau saat aku kelaparan dan persediaan uang dan beras telah habis. Walaupun sekarang ia sudah bekerja dan sudah berpenghasilan, namun aku belum pernah menerima kiriman hadiah ataupun uang darinya. Jadi semua biaya kuliah dan kehidupanku sehari-hari kubiayai sendiri dengan bekerja keras. Demi kelangsungan hidup dan demi kuliahku, apa pun kulakukan. Dari kerja bangunan hingga membuat tugas makalah teman-teman sekampus kelakukan. Aku tidak ingin ibuku kecewa, karena melihatku gagal. Ibuku adalah satu-satunya orang yang mendukung kuliahku sekaligus penyemangat dalam hidupku. Walaupun beliau tak bisa membantu dari segi ekonomi, namun beliau membantuku dengan kata-kata, motivasi, dan semangatnya dalam mendukungku. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Satu pesan ibu yang masih kuingat hingga saat ini, “Sungguhsungguhlah kuliah, Mat. Jangan putus di tengah jalan, malu dilihat orang. Sudah jauh-jauh kuliah, balik ke kampung tidak membawa hasil apaapa.� Kata-kata inilah yang membuat aku bertahan kuliah hingga hari ini. Ayahku meninggal enam tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku SMA kelas tiga. Sehingga setelah lulus SMA, aku harus menganggur selama kurang lebih dua tahun. Karena keluargaku tidak mampu dan tidak ada yang mendukungku untuk kuliah, sepeninggal ayah, kehidupan dan ekonomi keluarga kami terus menurun. Ditambah lagi ibuku yang semakin tua dan sering sakitsakitan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga, aku ikut abangku Rahman memancing, yang hasilnya dijual atau 197


Harapan di Ufuk Senja

ditukar dengan beberapa kilogram beras. Pernah suatu hari, kami diterpa hujan dan angin kencang di tengah laut. Abangku terlihat gelisah, begitu juga aku sangat ketakutan. Bagaimana tidak, kami hanya menggunakan sampan kecil untuk dua orang yang oleh masyarakat kami dinamai kolek. Untung ketika itu, kami tidak terlalu jauh dari pantai dan kami menemukan sebuah tiang dan berhasil menggapainya. Hampir setengah jam kami berpegang ditiang tersebut. Ibu sangat khawatir dengan keadaan kami, tampak dari raut wajahnya saat menyambut kami sore itu. Kejadian tersebut, membuatku trauma dan tidak lagi memancing beberapa minggu lamanya. Selama itu juga abangku terpaksa memancing sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Bahkan ia sempat juga memarahiku. “Bodoh sekali kau ni, Mat. Baru diuji begitu saja kau sudah tidak lagi mau bekerja. Emang kita bisa makan dengan takut, dan bisa kenyang dengan melamun.� Entah ia sedang marah atau sedang menasehatiku, yang jelas aku merasa bersalah saat itu. Jadi kuanggap ia sedang memarahiku. Kejadian itu memang sering membuatku melamun, aku sering bertanya pada diriku sendiri, “Bagaimana masa depanku kelak jika kau terus seperti ini? Haruskah hidupku seperti ini sampai tua? Bagaimana aku menghidupi istriku kelak? Bagaimana dengan anakku kelak, dan haruskah ia juga menderita sepertiku?� Aku terus bertanya dan bertanya pada diriku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Aku harus kuliah, aku tidak boleh tenggelam dalam keadaan seperti ini. Ya, aku harus kuliah bagaimanapun caranya. Hanya kuliah yang kupikirkan saat itu, dan aku mulai menyisihkan setiap hasil pancinganku untuk menabung. Dari tabungan itulah aku mendaftar ke kampus STAINatuna dan sekali lagi aku bersyukur 198


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kepada Allah SWT, aku diterima di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna. Karena di STAI Natuna hanya terdapat dua jurusan, yaitu Pendidikan Agama Islam dan Ekonomi Islam, jadi aku memilih Pendidikan Agama Islam. Karena aku berharap, kelak aku bisa menjadi seorang guru. Ya, walaupun bukan guru matematika seperti yang kucita-citakan sejak SMA, menjadi guru agama pun tidak masalah bagiku, yang penting sama-sama guru dan punya penghasilan tetap. Walaupun tidak sedikit orang-orang mengatakan STAI Natuna tidak berkualitas dan jurusannya sudah tidak lagi dibutuhkan, namun aku tetap yakin pada pendirianku. Aku yakin jika kita bersungguh-sungguh dalam belajar, maka tidak ada sekolah yang tidak berkualitas. Dan sebaliknya, jika kita tidak serius kuliah dan tidak sungguh-sungguh dalam belajar, maka bagaimanapun berkualitasnya suatu sekolah tak akan berarti apa-apa. Kita tidak akan mendapatkan ilmu atau keahlian apa pun. Dan aku juga yakin bahwa jodoh, rezeki, dan ajal di tangan yang Mahakuasa. Jadi, jika kita memiliki keahlian dan kemampuan, maka mustahil kita tidak dibutuhkan. Jika kita sudah berikhtiar dan berdoa, maka tidak mungkin yang Mahakuasa membiarkan kita dalam kesulitan. Dan aku yakin pasti ada harapan di balik sebuah keyakinan dan kesungguhan. Setibanya di kampus, aku dikagetkan oleh Andi yang menepuk bahuku dari belakang. “Hai, gimana tugas yang kemarin, sudah siap belum?� Aku terdiam sejenak, berusaha mengingat tugas yang mana yang dimaksud Andi. Rupanya tugas yang dimaksudAndi adalah tugas psikologi pendidikan yang akan dikumpulkan dua hari lagi. “Oh iya, maaf kawan, tugasnya belum siap. Insya Allah besok saya siapkan. Oke!� Andi adalah temanku yang sangat sering, bahkan hampir setiap 199


Harapan di Ufuk Senja

tugas makalahnya, diserahkan kepadaku. Walaupun ia cukup sering membuatku pusing tujuh keliling, namun aku tetap senang bersahabat dengannya. Andi sangat baik dan ramah, ia juga tidak perhitungan dan setia kawan. Selain itu, ia termasuk salah satu tipe manusia yang mudah akrab dengan siapa saja. Tak terasa jam mata kuliah psikologi pendidikan telah usai, aku menghampiri Andi. “Hai, dengan siapa balik?” “Sendirian. Emang kenapa?” Ia kembali bertanya seolah-olah ingin mengujiku padahal ia sudah paham maksudku. “Nebeng ya,” kujelaskan kembali maksud dari pertanyaanku. “Boleh, yuk!” Andi mengiyakan. Aku mengikuti langkah Andi dari belakang dan segera menaiki motor bebeknya. Maklum, hidup di kota dan jauh dari orangtua, harus pandai-pandai berhemat kalau ingin berhasil dan tidak ingin hidup sengsara. Ini adalah prinsip hidupku, dan aku selalu berusaha dengan semaksimal mungkin dalam menghemat uang dan makanan yang ada. Mungkin orang-orang mengatakan aku pelit, atau apalah namanya, aku tak peduli. Yang jelas, aku bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Aku yakin mereka yang berkata demikian adalah mereka yang tidak tahu bagaimana beratnya beban hidup anak yatim yang jauh dari keluarga, dan harus membiayai hidupnya sendiri. Ditambah lagi, biaya kuliah dan biaya-biaya lainnya. Kini kami telah tiba di sekretariat HMI tempat tinggalku sejak dua tahun yang lalu. Aku merasa sedikit betah sekaligus lega tinggal di sini. Karena rumah, listrik, dan air, telah diitanggung organisasi. Jadi tugasku hanya membiayai kuliahku. Andi kemudian memutar motornya sambil menoleh ke arahku. “Tugasku jangan sampai lupa ya, kosong nilai psikologi saya kalau tidak selesai,” Andi kembali mengingatkanku. 200


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Tidak usah khawatir, aku pasti selesaikan tepat waktu.” Kulihat Andi pergi sambil sedikit menarik gas motornya. “Huuuuhhhh...” aku sedikit mengeluh. “Tugasku sendiri belum siap, sepertinya harus lembur lagi malam ini,” gumamku. Kubuka kemeja cokelatku dan kugantung di atas gantungan pintu. Kulihat handphone-ku, ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Sengaja handphone aku silent sejak di kampus tadi siang, karena takut mengganggu proses belajar, dan aku tak ingin mengganggu konsentrasi dosen ketika mengajar. Kulihat jam telah menunjukkan pukul empat kurang lima belas menit, jadi kuabaikan saja pesan dan panggilan yang tak terjawab itu. Segera aku menuju kamar mandi untuk berwudu. Setelah selesai wudu, aku kembali ke kamarku untuk melaksanakan salat. Kuhidupkan kipas angin, kurasakan kesegaran yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Sekarang kau tahu mengapa Tuhan menciptakan panas, karena Tuhan ingin agar kita menyadari bahwa dingin adalah nikmat yang harus disyukuri. Selesai salat langsung kubuka handphone-ku, semua daftar panggilan ternyata dari abangku, Rahman. Kubuka pesan yang juga dari abangku. Isinya cukup singkat namun sangat mengejutkan: “Cepat pulang jika ingin melihat ibu untuk terakhir kalinya.” Aku tersentak membaca pesan tersebut. Segera kutelepon abangku untuk memastikan apa yang terjadi. Kudengar suara abangku agak serak, sepertinya habis menangis. Dengan cukup pelan ia menjelaskan, “Ibu telah tiada, besok pagi akan dimakamkan. Pulanglah, jika ingin melihat ibu untuk yang terakhir kalinya.” Tak terasa air mataku menetes saat mendengar suara abangku. Kutahu abangku juga sangat terpukul atas meninggalnya ibu. 201


Harapan di Ufuk Senja

Kututup teleponku, dan tanpa berpikir panjang segera kumasukan beberapa helai baju dan celana ke dalam tasku. Kutelepon Andi agar mengantarku ke Binjai, sekalian minta maaf tak bisa menyelesaikan tugasnya. Andi memaklumi dan bersedia mengantarku. Hanya butuh waktu kurang setengah jam, kami akhirnya sampai di Binjai. Kuucapkan terima kasih kepada Andi yang bersedia mengantarkanku. Kebetulan perahu tujuan Sedanau sudah bersiap-siap akan berangkat. Segera aku menuju perahu. Aku berusaha tegar seolah tak terjadi apaapa, namun ternyata aku tak mampu menahan air mataku. Tangisnya saat memarahiku, senyumnya saat melihat nilai raportku, nasehat dan pesanpesannya bergantian datang menghampiri pikiranku. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah. Tiba-tiba rinduku pada ibu kian tak tertahankan. Setelah beberapa jam di dalam perahu, akhirnya aku tiba juga di desa Sedanau. Dari jauh kulihat abangku Rahman datang dengan menggunakan motor abang sulungku Firman untuk menjemputku. Aku menghampirinya, dan ia kemudian turun dari motor dan langsung memelukku dengan sangat erat. Seingatku ini adalah yang pertama kali ia memelukku. Kembali air mataku menetes setelah mendengar penjelasan abangku, bahwa ibu sebelum menghembuskan napas terakhirnya, sangat ingin bertemu denganku. Setelah kurang lebih 15 menit di atas motor, akhirnya kami tiba juga di rumah. Kulihat orang-orang telah ramai memadati rumahku. Rumah papan yang sangat sederhana dengan halaman yang tidak terlalu luas terasa kian sempit. Aku menyesal, kenapa dulu ketika ibu sakit aku langsung berangkat lagi ke Ranai untuk kuliah. Harusnya aku tetap di rumah menunggui ibu hingga pulih. Perlahan kudekati ibu yang terbaring kaku. Aku berlutut di 202


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

sisinya. Kubuka sedikit kain yang menutup kepalanya dengan perlahan. Kulihat wajah ibu tidak seperti biasanya, kali ini wajah ibu sangat pucat. Ibu tidak lagi tersenyum melihatku dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kuraih pergelangan tangan ibu. Kucium perlahan. “Ahmad pulang, Bu... Jangan tinggalkan Ahmad, Bu... Bangun Bu... Ibu...!� Bulir air mataku membasahi tangannya. Tak mampu aku menahan air mataku. Kedua abangku menghamipiri. “Sudah Mat. Biarkan ibu pergi dengan tenang. Jangan buat ibu menderita oleh tangisanmu,� abangku Firman berusaha menenangkanku. Seminggu setelah pemakaman ibu, aku pamit kepada kedua abangku untuk kembali ke Ranai, melanjutkan kuliahku. Kini harapanku telah senja, tak lagi secerah saat ibu masih ada. Ibuku satu-satunya penyemangat hidupku kini telah pergi untuk selamanya. Namun aku harus tetap melanjutkan kuliahku. Ibuku sangat ingin melihatku menjadi seorang guru. Jadi, aku tak ingin mengecewakan harapannya meskipun beliau telah lebih dulu menghadap-Nya. n

u 203


Misteri dalam Diam

Ilustrasi: banjarmasin post

g Kirimkan puisi atau cerpen, dan lengkapi dengan data diri/ copy kartu identitasi dan nomor rekening bank Anda. Honor tulisan yang dimuat akan kami transfer. Tulisan bisa dikirim lewat pos ke alamat Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa Nomor 16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop ditulis Seni dan Budaya. Bisa juga kirim via email ke hamsibpost@yahoo.co.id 204


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Misteri dalam Diam Ferry IK (Banjarmasin Post | Minggu, 15 Juli 2012)

o

K

EMARIN aku berpikir, aku harus mengartikan dulu apa bentuk rasa ini. Rasanya unik, melihatnya aku bahagia, tak bertemu dengannya seperti selalu dahaga. Kemarin siang aku melihat senyumnya. Indah sekali. Namun aku merasa tak pernah cukup. Entah mengapa aku tak pernah serakus ini sebelumnya. Aku bingung mengartikan ini semua, sepertinya tiga perempat jiwaku menginginkan dia. Seperempatnya lagi masih memikirkan logika, karena Beauty and The Beast hanya ada di film drama. Hari ini aku kembali bertemu dengannya. Kau duduk di depanku mendengarkan penjelasan dosen dengan seksama. Sedangkan pikiranku merayap dibalik kursi-kursi kampus untuk mendekatimu dan mencoba untuk bertanya, apa kabarmu hari ini? Atau, apakah kamu sudah makan pagi ini. “Hey Don, kita main game yuk pulang kuliah ini, aku baru 205


Misteri dalam Diam

beli cash lho. Senjata sama karakterku dewa semua.” “Don, Dony.” Ada kicauan yang mengganggu khayalanku yang hampir menemukan ujung pelangi. “Don, kamu lagi ngelamun ya? Sudah ga ngehargain penjelasan dosen, ga ngehargain aku ngomong lagi,” sungut Rizal yang baru aku sadari kalau dia sedang berbicara dibalik punggung kursiku tadi. “Sorry Zal, aku lagi fokus dengerin penjelasan dosen nih. Oh ya kamu tadi ngomong apa sih, Zal?” “Pinter ngeles kamu ya, mulai tadi matamu fokus sama Siska kok mana ada dengerin dosen. Ini, aku ngajakin main game, mau kan?” Aku mengangguk dan kuakhiri semua pembicaraan seenaknya. Aku malas bercanda kali ini. Sepertinya lebih nyaman memandang Siska daripada menghadirkan keributan diselingi tawa angkuh masa muda. Ya, Siska telah mengalihkan semua konsetrasiku. Bahkan untuk makan dan tidur yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Dia mungkin tak terlalu cantik bila dibandingkan gadis primadona kampus ini. Namun entah mengapa, aku melihatnya seperti sosok bidadari yang dijanjikan Tuhan bagi hamba yang bertakwa. Walaupun sebelumnya aku tak pernah melihat bidadari, tapi aku boleh kan mengambil kesimpulan bahwa makhluk tercantik di dunia ini kuberi nama bidadari. *** PULANG kuliah kucoba menyimpulkan kalau rasa ini adalah cinta. Sebuah rasa yang membuat orang waras jadi gila, dan gila 206


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

menjadi bijak. Sebuah rasa yang membuat manusia berjuang bertahan hidup dan berkorban menyerahkan apa saja. Akan tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan cintanya, jika selama ini aku hanya dianggap sebuah arca. Selama ini aku memang menjadi biang onar keributan di dalam kelas. Segala yang aku ucapkan bisa menjadi ledakan tawa yang terkadang membuat dosen teruji kesabarannya. Kata teman-temanku jika aku tak ada, kelas seperti berada di surga penuh dengan ketenangan. Aku tak mempedulikan kata temanku yang entah serius atau bercanda. Semua itu berbanding terbalik jika aku berhadapan dengannya, aku seperti siput yang kehilangan rumahnya. Tak percaya diri dan tak ada pelindung jika wajah memerah karena malu. Rekor perbincangan kami hanya sekali yaitu pada saat awal kuliah. Aku memberanikan diri melawan segala bentuk rasa malu untuk menanyakan nomor ponselmu berapa? Setelah memilikinya aku tak pernah menggunakan nomor itu sama sekali. Aku terlampau malu untuk menuliskan kata hi atau berucap hallo. Daripada aku larut memikirkan ini semua, lebih baik aku bermain game. Setidaknya aku bisa melupakan sebentar semua tentang dia. Game memang mampu menjadi senjata ampuhku menelan apapun untuk sementara, bermain hingga larut pagi bisa memberikan sedikit waktu agar pikiranku tak dipenuhi oleh senyum dan wajahnya. *** HARI ini aku kembali melihat dia di tempat makan. Dia tersenyum kepadaku, kubalas senyumnya. Tapi aku masih tetap saja diam. Aku hanya bisa memandangnya dengan penuh rasa. Itupun hanya dibalik punggungnya. Jika berhadapan langsung, 207


Misteri dalam Diam

aku lebih suka menunduk. (Kali aja ada uang yang jatuh di bawah...). Aku sudah mencoba memberanikan diri untuk berbincang dengannya, tapi tetap tak bisa. Entah mengapa lidah ini menjadi kaku dan kelu. Akupun mencoba menyenangi apa yang dia suka. Dia amat menyukai hamster, aku mengetahuinya karena dia suka bercerita dengan sahabatnya tentang hamsternya yang beranak empat. Dia bercerita heboh sekali. Bagiku hamster beranak empat itu hal yang biasa, kalau sapi beranak empat itu baru luar biasa. Akupun mencoba memelihara hamster juga. Aku kira hamster itu sejenis ikan hias yang berwarnawarni. Namun ternyata itu keluarga jauh dari tikus got yang paling aku benci. Aku bersikeras mencari hamster yang tidak mirip tikus. “Ada ga yang bentuknya ga seperti ini? Yang mirip kadal atau ular ga papa deh, asal namanya hamster,� aku bertanya sama karyawan pet shop. “Wah yang namanya hamster itu ya seperti ini, kecil imutimut.� Aku memutuskan untuk membeli sepasang hamster dan berdoa mudahan besok bisa beranak-pinak. Sayang sekali, keesokan harinya hamsterku mati, kematiannya tragis dimakan kucingku yang bernama Mikail. Benar-benar malaikat pencabut nyawa bagi kaum hamster. Aku melakukan ini semua agar aku bisa memiliki obrolan menarik jika sewaktu-waktu kami tak sengaja untuk duduk bersebelahan. Bisa bercerita banyak dengan kau, tentang hamster dan berbagai kesukaanmu yang aku tak suka tapi pura-pura aku suka. Aku telah mencoba memberanikan diri untuk berbincang dan bercerita banyak, syukur-syukur aku bisa mengutarakan banyak. 208


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Tapi hasilnya sama saja seperti sebelumnya. “Don, aku boleh duduk di sini ga? Ga ada temen ngobrol nih,� tanya Siska yang bersiap untuk duduk di sebelahku sambil melirik makananku yang hampir habis. Aku mengangguk sambil menatapnya, ini rekor kedua aku berhasil beradu pandang dengannya. Maka saat-saat ini aku hanya bisa memandangmu lewat mata dan berbicara denganmu lewat mata pula. Aku memohon dan berdoa jika aku memandang wajah dan matamu, janganlah kau membalasnya tapi cobalah dengar dengan hatimu. Karena pada saat itu aku tidak sedang melihatmu, tapi sedang berbincang mesra denganmu. Tak lama aku memutuskan untuk meninggalkan dia, untuk apa juga berlama-lama dekat dengan dia jika aku hanya diam saja. Aku merutuki kebodohanku sendiri sambil berjalan jauh meninggalkannya. *** “KENAPA kamu cuma diam jika berhadapan denganku? Aku sangat menunggu kata-kata apa saja yang keluar dari mulutmu untukku. Karena di dalam diam aku mencintaimu,� gumam Siska melihat Dony menjauh pergi. n Pelaihari, 24 Juni 2012

u 209


Iman yang Terkoyak

Ilustrasi: radar surabaya

210


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Iman yang Terkoyak Nimas Kinanthi (Radar Surabaya | Minggu, 15 Juli 2012)

o

E

NTAH mengapa, Tuan menempatkan dia di sini bersamaku. Padahal, aku sendiripun mampu membersihkan kamar ini hingga selalu tampak rapi dan bersih. Dulu, Tuan selalu mengenakan sarung, baju koko, dan peci. Tapi sejak kedatangan tamu-tamu berpakaian parlente itu Tuan mulai berubah. Tuan sering sekali keluar untuk kampanye, begitu yang aku dengar dari percakapan mereka. Beberapa bulan kemudian, banyak orang datang ke rumah Tuan. Mereka menyalami Tuan dan mengucapkan selamat karena Tuan terpilih. Sejak saat itu Tuan menjadi sangat sibuk. Acara yang harus dihadirinya tak ada habisnya. Tuan menjadi jarang ke masjid untuk ngimami, apalagi mengisi khutbah Jum’at. Suara merdu Tuan kala melafadzkan ayat-ayat Al Qur’an seperti lenyap ditelan bumi, tak pernah ku dengar lagi. Aku sedih karenanya. Aku menatapnya. Ternyata diapun tengah menatapku. Aku 211


Iman yang Terkoyak

tidak menyukainya sejak pertama kali Tuan membawanya ke kamar ini. Wajahnya menyeramkan penuh gurat kesombongan. Kulitnya hitam dan kusam seperti tak pernah menyentuh air. Bau badannya menyengat, menjijikkan. Aku tidak mau berdiri terlalu dekat dengannya. Perutku terasa mual. Matanya besar dan merah berkilat-kilat. Nanar. Jahat. Aku yakin, sikap sinisnya kepadaku menunjukkan diapun sama sekali tidak menyukai aku. Aku segera mengalihkan pandangan. Ingin rasanya kuusir dia dari kamar ini, tapi aku tidak berani. Aku takut Tuan marah sebab dia adalah tamu Tuan. Semakin hari, tingkah polahnya semakin membuatku tidak suka. Dia mulai menguasai kamar ini. Dia tidur disembarang tempat tanpa peduli itu tempatnya ataukah bukan. Beberapa kali aku terpaksa tidur di lantai karena dia dengan sengaja menempari ranjangku. Tentu saja aku kesal, tapi dia tak berhati. Sama sekali tak peduli. Pun hari Jum’at yang lalu, saat tiba waktu sholat Jum’at aku ingatkan Tuan untuk segera menuju masjid. Tapi apa yang dia katakan? Dengan wajah seramnya yang dibuat berseri-seri, dan suara seraknya yang membuat telingaku sakit, dia berbisik pada Tuan, “Tuan baru saja pulang rapat. Lelah, bukan? Waktu Jum’atan masih setengah jam lagi, lebih baik Tuan berbaring sebentar untuk istirahat.” Aku terperangah mendengarnya. “Jangan Tuan, pergilah ke masjid dulu. Waktu sholat Jum’at tidak lama lagi. Tuan bisa melewatkannya jika ketiduran.” Aku berusaha mengingatkan Tuan. Tuan tampak diam sejenak. Mungkin dia sedang berpikir. Sesudah itu Tuan menuju sofa di ruang tamu dan merebahkan diri di sana. Ternyata Tuan lebih menuruti kata-katanya daripada ucapanku. Aku sedih. Pilu. Padahal dulu Tuan sangat peduli dengan apa yang kukatakan. 212


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Tuanpun akhirnya tertidur di sofa itu dan bangun ketika matahari hampir tenggelam. Dan dia, menatapku dengan sinis penuh kemenangan. Lalu dia bertingkah lagi. Dia menurunkan lukisan Ka’bah berukuran besar yang tergantung di dinding kamar. Juga beberapa lukisan kaligrafi kesukaan Tuan. Aku protes. Aku tidak terima. “Hai, apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Menggantinya dengan gambar-gambar ini. Lebih bagus.” Jawabnya singkat. Sekejap kemudian dia menggantungkan kertas berbingkai bergambar wanita-wanita telanjang yang menggoda. “Turunkan gambar-gambar itu dan pasang kembali lukisan Tuan.” Kataku. “Tidak mau!” jawabnya membentakku. “Tuan tidak akan menyukai gambargambarmu itu!” suaraku tak kalah keras. Dia lantas tertawa keras. Mengejekku. “Dasar bodoh. Tuan pasti menyukainya.” Jawabnya acuh. Aku geram. Segera aku raih lukisan maksiat itu lalu aku turunkan dengan paksa. Dia menahanku dan berusaha merebut lukisan itu dari tanganku. Dan.. pranggg! Kacapun pecah berantakan dilantai kamar. Lukisan itu akhirnya terjatuh. Rupanya Tuan mendengar kegaduhan itu dan segera mendatangi kamar ini. “Sudahlah, aku pusing. Kalian jangan berisik!” bentak Tuan. Marah. “Tuan, dia mengganti lukisan Ka’bah dan kaligrafi Tuan dengan gambar ini.” Kataku seraya menunjukkan lukisan maksiat itu. “Tuan...aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin memberi sedikit variasi di dinding kamar ini. Lukisan lama Tuan sudah buram. Dinding kamar ini akan terlihat lebih segar dengan lukisan baru.” Rayunya dengan muka manis penuh kepalsuan. “Tidak,” jawab Tuan. Aku lega mendengarnya. Aku tahu, Tuan pasti takut berdosa memandang gambar-gambar seronok seperti 213


Iman yang Terkoyak

itu. Segera aku pasang kembali lukisan-lukisan lama Tuan. “Tuan...bagaimana jika gambar-gambarku bersanding dengan lukisan lama Tuan? “ rupanya dia belum putus asa merayu Tuan. “Tidak.” Jawab Tuan. “Sebentar saja Tuan..hanya melihat bukanlah maksiat.”lanjutnya. Kali ini Tuan tampak ragu. “Ya sudah, pasang saja lukisanmu. Tapi sebentar saja ya.” Jawab Tuan akhirnya. Kembali aku bersedih. Lagi-lagi Tuan memenangkan dia. Lagi-lagi pula, dia sinis tersenyum penuh kemenangan kepadaku. Lukisan Ka’bahpun bersanding dengan lukisan wanita telanjang. Janji sebentar memasang tinggallah janji. Dengan rayuan manisnya setiap saat, dia menggoda Tuan untuk tetap memasang lukisan itu ketika Tuan ingin melepasnya. Bahkan akhirnya, Tuan lebih suka berlama-lama menatap lukisan maksiat itu daripada mengelus kaligrafi hasil goresan tintanya seperti dulu. Aku menangis. Tersedu. Aku semakin tidak menyukainya. Aku benci. Dia selalu berbisik pada Tuan dengan bujuk rayu tak bertepi. Rasanya ingin aku mengusir dia jauh-jauh dari kamar ini. Suatu malam, saat dia lelap tertidur, aku mendatangi Tuan. Kali ini, aku harus mengingatkan Tuan untuk mengusir dia jauhjauh. “Tuan, usirlah dia dari kamar itu. Dia membuatmu jauh dari Tuhan.” Kataku sesopan mungkin. Seperti biasanya. “Ah..siapa bilang? Aku baik-baik saja. Aku memang banyak urusan sekarang, wajarlah tidak bisa sering-sering ke masjid seperti dulu.” Jawab Tuan. “Tapi dia membuat Tuan jauh dariku juga. Tuan tidak lagi mendengar ucapanku dan selalu menuruti kata-katanya.” Protesku. 214


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

“Karena dia mengerti aku. Dia memberiku hiburan saat aku lelah. Dia selalu mendukungku. Tidak seperti kau yang selalu saja menyuruhku sholat, ngaji, ke masjid, juga mengingatkan aku begini dosa begitu dosa. Aku bosan! Kau melarangku bersenangsenang sementara semua orang diluar sana juga melakukannya!� jawab Tuan kembali. Tuan marah padaku. Satu hal yang dulu tak pernah Tuan lakukan sebelum dia datang. Aku kembali ke kamarku. Lagi, aku menangis. Pilu. Mendadak dia bangun lalu tertawa keras mengejekku. “Kamu pikir Tuan mau mengusirku? Aku yang membantunya mendapatkan semua ini. Jabatan, uang, kehormatan, dan kesenangan. Kau? Kesenangan apa yang kau tawarkan padanya? Dasar dungu!� Aku diam. Aku malas meladeni ocehannya. Hari-hari berikutnya terasa semakin menyedihkan. Tuan lebih banyak bercakap dengannya daripada denganku. Saat datang ke kamar ini, selalu dia yang Tuan kunjungi, bukannya aku. Tuan tidak lagi bertanya aku berada di mana saat aku tidak ada. Aku memang mulai sering keluar kamar sebab aku tidak betah berlama-lama di dalamnya. Nafasku sesak karena kamar ini menjadi pengap oleh aroma tubuhnya yang busuk. Mataku sakit melihat gambar-gambar maksiat yang makin banyak menempel di dinding kamar. Telingaku sakit mendengar alunan musik dan tari-tarian wanitawanita itu merayu Tuan. Aku lemah. Tapi Tuan sama sekali tidak menengokku. Tuan kaya raya sekarang. Tetangga-tetangga tidak ada lagi yang berani bertamu. Berbeda dengan dulu saat Tuan masih bersarung dan berbaju koko. Bu Narsih, Bu Ida, juga Pak Sukro acapkali datang untuk meminta petuah Tuan atau sekedar memberi Tuan sepiring ubi rebus. Tuan adalah sosok bersahaja 215


Iman yang Terkoyak

yang disukai dan disegani orang. Dia yang mengajak Tuan tenggelam dalam dunia barunya yang kelam. Dia menutup mata Tuan dengan lembaran-lembaran rupiah yang menggiurkan, juga memenuhi pikiran Tuan dengan kursi besar yang empuk dengan sandaran menjulang tinggi tanpa aku bisa melihat dimana ujungnya. Tuan ingin sekali duduk di kursi itu. Setiap saat hanya itu yang Tuan pikirkan. Seperti biasa, malam itu Tuan berpesta di rumah salah seorang temannya. Usai pesta, Tuan tampak kelelahan. Seorang wanita yang ikut berpesta datang mendekati Tuan. Dia berwajah cantik, berkulit putih seperti pualam. Pakaiannya gemerlap dengan belahan dada rendah yang mengundang syahwat. Sementara kaki jenjangnya dia biarkan terbuka tanpa sehelai benangpun hingga hampir mencapai paha. “Tuan Mahmud, Anda tampak sangat lelah. Bagaimana jika saya pijat kaki Anda?” tanya tamu itu setengah berbisik. “Tidak tidak, terima kasih”. Jawab Tuan tergeragap. “Tuan jangan kuatir. Saya pintar lho memijat. Mari, kita ke kamar, Tuan.” Rayu wanita itu dengan senyum sangat menggoda. Dada Tuan berdegup kencang. Wajah wanita itu memang jauh lebih menarik dari Bu Halimah, istri Tuan yang mulai keriput disana-sini. “Bagus Tuan, jangan diterima tawaran itu. Tuan harus segera megusir wanita itu.” bisikku pada Tuan. “Terima saja Tuan. Tuan sedang lelah, butuh seseorang untuk melepas penat. Ayolah Tuan...apa salahnya menerima kebaikan teman?” tiba-tiba dia kembali muncul di hadapan Tuan. “Jangan dengarkan dia Tuan. Kali ini dengarkan saya! Ingatlah istri Tuan!” kataku pada dengan suara serak menahan sakit yang juga tidak kunjung sembuh. “Istri Tuan tidak tahu, terima saja Tuan. Sekali-sekali 216


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

bersenang-senang, tidak ada salahnya bukan?” segera dia menimpali. “Dia salah Tuan. Tuhan tahu apapun yang Tuan lakukan. Tuan berdosa jika bermaksiat.” Balasku tak mau kalah. “Halah....jangan terlalu dibikin berat Tuan...Tuhan Maha Pengampun, besok Tuan bisa bertaubat.” Rayunya sekali lagi. Tuan tampak bingung. Sementara tangan wanita itu mulai bergerak pelan menyentuh jemari Tuan. “Tuan, segera pergilah. Tuan seorang Kyai bukan? Tidakkah Tuan malu bermaksiat seperti ini?!” Aku terpaksa membentak Tuan. “Tuan, Kyai juga manusia. Wajar jika bersalah. Mana ada manusia yang sempurna? Bahkan Nabipun pernah berbuat salah. Iya, kan?” Dia kembali menimpali. Tiba-tiba Tuan berdiri dari tempatnya duduk. Wanita itu tersenyum puas. Dia lingkarkan tangannya di punggung Tuan dan menuntun Tuan menuju sebuah kamar di lantai atas. Tuan tidak menolak. “Tuan, ingatlah Tuhan, ingatlah istri Tuan. Ingat dosa, istighfar Tuan!” Setengah berteriak aku berusaha menahan Tuan. “Tuan sudah sholat beribu kali, tak ada salahnya berenagsenang sekali saja.” Bisiknya sembari turut serta mengantar Tuan ke lantai atas. Tuan, wanita cantik, dan dia masuk ke kamar itu. Aku tidak turut. Pantang bagiku melihat maksiat di depan mata. Aku berada di luar kamar. Aku gedorgedor pintu dan memanggil Tuan agar keluar. Sakit disekujur tubuhku tak lagi kurasa. Aku hanya memikirkan Tuan. Aku tidak ingin Tuan terjerumus dalam jurang lebih dalam. “Tuan..keluarlah! Tuan... keluarlah!” Aku terus berteriak. Tuan tidak menjawab panggilanku. Aku hanya mendengar dengus 217


Iman yang Terkoyak

nafas memburu penuh nafsu. Juga tawa kerasnya yang menggema merayakan kemenangannya sekali lagi. Peluh membanjiri tubuhku. Darah mulai mengalir dari pori-poriku. Aku semakin lemah. Suaraku semakin tak terdengar. Aku terjatuh. Lumpuh. n

u 218


The Traveller' by Michael Shapcott ~ OpenArt

219


Di Bawah Hujan

Ilustrasi: bisnis medan

220


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Di Bawah Hujan Cha Canlierz (Medan Bisnis | Minggu, 15 Juli 2012)

o

Q

IANNA selalu menyediakan satu kursi kosong disebelahnya. Tak ada satu orangpun yang boleh duduk disana. Kursi itu hanya untuk satu orang, Dinda, teman sekelasnya. Qianna selalu berharap, Dinda akan datang lagi kekampus, menaburkan keceriaan untuk seluruh kelas. Tak adalagi celoteh khas asal dari bibirnya. Qianna merasa sangat bersalah, hari terakhir Dinda ngampus, ia malah membocorkan keseisi kelas, Dinda seorang penjaja koran dilampu merah. Sungguh ia telah mendzolimi orang yang lembut hatinya. *** DINDA memejamkan matanya. Koran yang masih tersisa ia dekapkan kedada. Untung ada plastik bekas pengiriman barang 221


Di Bawah Hujan

yang ia temukan tadi siang. Jika koran-koran ini basah, bisabisa bang Jogar akan menceramahinya lagi. Derai air menusuk-nusuk atap halte dijalan Sudirman. Beberapa orang sama sepertinya. Mencari perlindungan dari air yang turun keroyokan. Tapi, hujan kali ini mungkin lebih lama. Jadi ia memilih merenung disana lama-lama. Tetes air dari atap yang bocor menyapa ubun-ubunnya, lalu turun melewati tulang pipi. Dinda menyeka air yang menyentuh wajahnya. Beranjak ketempat sebelahnya. Lantas, ia memejamkan matanya, meneguk sedikit kenangan yang tertinggal dikampus. Ia teringat kampusnya. Ia rindu kuliah lagi, tak peduli tempo hari ia dipermalukan habis-habisan oleh Qianna. “Goreng panas.... Goreng panas... Goreng panas....” Teriakan lantang seorang bocah membuyarkan lamunannya. Dinda menoleh. Mencari sipemilik suara. Didekatnya berdiri seorang bocah laki-laki tanpa mengenakan baju. Bertelanjang dada. Dengan satu talam besar diatas kepalanya. Talam itu tertutup plastik tebal transparan yang cukup besar. Begitu menyadari Dinda sedang menengoknya, anak itu tersenyum. Memamerkan giginya yang kecil-kecil dengan gigi kelinci dibarisan terdepan. Dinda balas senyum. “Gorengan kak?” tanyanya ramah. Matanya bersorot harap. Manatahu Dinda membeli barang satu atau dua. Itu telah lebih dari cukup. Dinda mengangguk. “Empat bakwan pake kuah kacang ya!” anak itu mengangguk lagi. Tangan mungilnya menurunkan talam besar diatas kepalanya. Meletakkan disebuah bangku kosong yang ada dihalte. Tangannya sigap menyendokkan bakwan kedalam kertas nasi yang membentuk corong, lalu menambahkan kuah kacang, terakhir menaburkan bawang goreng. Dengan tangan kanan, Si Bocah menyerahkan satu porsi bakwan basah ke arah Dinda. Dinda tersenyum dan menerimanya 222


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

dengan kedua tangan. “Kak Dinda nggak kuliah?” Mata Dinda membulat, heran mengapa anak itu mengenal dirinya. “Kakak mah terkenal disepanjang lampu merah. Kata Bang Jogar, kakak calon anak jalanan yang akan sukses nantinya.” Jawabnya seolah membaca pikiran Dinda. Senyum mengapung diujung bibir Dinda. Mendengar nama Bang Jogar membuatnya berharap hujan cepat reda. Jatah setoran untuk Bang Jogar hari ini belum tercapai. Bang Jogar seorang pengelola anak jalanan. Ia yang membiayai dan memberikan modal untuk anak-anak yang dibuang oleh orang tua. Dinda sendiri, tak tahu persis siapa orangtuanya. Bang Jogar menemukan Dinda ditempat sampah. Tak jauh beda dengan anak-anak lainnya. Tiap sore mereka selalu menyetorkan hasil penjualan sepenuhnya pada Bang Jogar. Paling-paling Bang Jogar akan membekali mereka uang sepuluh atau lima ribu untuk pegangan. Jika umur mereka telah sampai, Bang Jogar akan mengurusi biaya untuk masuk sekolah dari pendapatan yang dikumpulkan tiap hari, jika kurang Bang Jogar yang menambahkannya dari hasil kerja di pasar sebagai kuli angkut. “Kamu dibantu Bang Jogar juga?” “Enggak. Aku tinggal sama mamak.” “Nggak sekolah?” “Nggak. Mamak tak punya duit. Udah bisa makan aja udah sukur kak.” Dinda melipat-lipat corong tempatnya makan bakwan tadi. Melemparkan ketempat sampah disisi bangku paling ujung. Lemparan itu langsung masuk tanpa meleset. Hujan kian mereda. Dinda mengeluarkan selembar uang. Memberinya pada anak itu, bocah itu merogoh-rogoh sakunya. Mencari kembalian. “Udah baliknya ambil aja.” 223


Di Bawah Hujan

Anak itu nampak senang. Ia mengangkat talam yang masih penuh keatas kepalanya. Berjalan menyusuri langit-langit kota Pekanbaru. “Anak sekecil itu, berkelahi dengan waktu... Goreng... goreng... Demi satu impian yang sempat ganggu tidurmu... goreng... goreng...” Dinda menyeka air matanya, matanya masih mengamati bocah kecil penjaja goreng. Suara nyanyian lembut bocah itu masih ia dengar hingga tubuh bocah hilang dibelokan ujung jalan. Aku tak boleh cengeng. Tak boleh lemah... Masih banyak orang yang kurang beruntung dariku. Semester depan, aku harus kembali kuliah. Batin Dinda. “Din?’ Dinda terkesiap lalu mengangkat wajahnya. Didepannya berdiri sosok Qianna dengan wajah lesu. “Hai, apa kabar?” ucap Dinda canggung. “Aku minta maaf, Dind. Buat semuanya.” Dinda mengamit tangan Qianna lalu tersenyum. “Aku nggak marah kok, kamu masih sahabat aku.” Bisik Dinda pelan. Dibawah rintik hujan mereka bersalaman dan berpelukan. n Pekanbaru, 2012

224


El trovador by Rufino Tamayo ~ OpenArt

225


Pada Malam Angin Berkelebat

Ilustrasi: bisnis medan

226


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Pada Malam Angin Berkelebat Intan Hs (Bisnis Medan | Minggu, 15 Juli 2012)

o

I

A, lelaki yang memanggul bambu sepanjang lebih dari tiga meter dibahunya. Masih terlalu pagi saat ia mencoba peruntungannya hari ini. Ia tahu hanya inilah satu-satunya yang dapat dilakukan untuk kedua adiknya. Sepanjang jalan, matanya tajam menatap pepohonan. Tak boleh ada yang terlewat. Saat pandangannya tepat melihat benda putih, bulat, berkilauan dimatanya itulah kroto si pembawa isyarat peruntungan. Tak disia-siakan, bambu segera dijulurkan untuk mencapai kroto. Terkadang dengan bambu itupun sudah bisa mencapai sarang kroto, tetapi jika tidak terpaksa juga harus memanjat pohon seperti saat ini. Udara pagi beraroma basah, sehabis hujan tadi malam. Entah mengapa angin seperti meruapkan getir saat berdesir di tubuhnya, membuat konsentrasinya buyar. Ia pun terpeleset dari pohon dan terjerambab ke tanah. 227


Pada Malam Angin Berkelebat

“Aduh sakit, Bu,” rintihnya pedih. Tak ada siapa-siapa disana, selain dirinya. Sosok ibu yang disebutkan tak nampak keberadaannya. Ia masih terbaring di tanah, menahankan sakit dipunggungnya karena terhempas tadi. Seringkali terbersit dihatinya untuk memanjat pohon setinggitingginya dan menghempaskan diri begitu saja ke bawah. Bukankah semua selesai. Hanya saja bayangan adiknya melarang jiwanya untuk berbuat keji pada diri sendiri. “Jangan menyerah, coba lagi!” Suara itu terdengar begitu jelas baginya. Segera saja ia membuka mata mencari sumber suara itu di sela-sela dedaunan. Dan ketemu. Wajah itu sedang tersenyum, dengan mata berbinarbinar. Wajah itu menghangatkan jiwanya. “Kau harus bisa, Gus.” “Tak usah cemas, Bu. Aku pasti bisa.” Pagi perawan menjadi saksi setiap kali ia berjuang untuk mengambil kroto di pucuk ranting pepohonan. Sekitar sepuluh menit ia meliuk-goyangkan ujung bambu yang berjaring, menjaga detakan jantung yang berpacu di ketinggian. Bila telah dapat, ia harus berusaha keras untuk turun dengan bambu yang tak boleh lepas dari tangan, atau semua usahanya akan sia-sia belaka. Kroto pecah tak berharga sedikit pun. *** MATAHARI tepat berada di atas kepala. Cahayanya menyirami pepohonan. Jaringnya belum penuh, bahkan belum pun separuhnya. Saat begini, ia tahu kedua adiknya sudah pulang sekolah. Suara adiknya yang merintih lapar terdengar ditelinganya.. ia merasa harus pulang. Pulang. Hasil pencarian kroto segera diserahkan ke pengepul untuk 228


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

berganti uang. Pendapatannya hari ini tak banyak, tetapi tetap disyukurinya. Uang penjualan kroto segera dibelikan ubi, sekedar pengganjal perut. Hanya Risza, si adik bungsu yang riang menyambutnya ketika ia membuka pintu. “Syukurlah Abang sudah pulang, kalau tidak mungkin aku akan mati kelaparan. Apa itu yang abang bawa?” “Ini ada ubi, rebuslah untuk makan kita.” “Ya Bang.” Risza bergegas ke belakang. Ia merebahkan diri ke lantai. Lenguh napasnya panjang, dan matanya menerawang ke langit-langit. Sejumlah kenangan terbersit dipikirannya saat ini. Sejak kepergian ibu, banyak perubahan yang terjadi. Tanggung jawab ini dipikulnya karena takdir. Hanya ada sedih dan kecewa mendalam di hati sepeninggal ayah. Ayah telah sepuluh tahun pergi meninggalkan ibu begitu saja. Saat itu ia masih berusia sepuluh tahun, sedangkan kedua adiknya masih berusia tujuh dan satu tahun. Ibu masih terlihat cantik, dan belum terlalu tua tetapi entah mengapa ayah pergi. Tak terhitung berapa kali ia membujuk ayah untuk pulang, tidak tinggal dengan dengan biduan kampung, tetapi ayah tak pernah mau di bujuk untuk pulang. Kemudian ayah dan biduan itu pergi. Entah kemana. Ibu menyimpan sesuatu yang berat. Tiga orang anak yang masih kecil, belum lagi derita karena cibiran orang kampung yang kerap menyalahkan ibu yang tak pandai mengurus suami sehingga lari kepada wanita lain. Sesaat ia menolehkan kepala. Di sudut rumah ia memperhatikan adiknya yang murung. “Kau kenapa?” Ia tetap diam. “Kalau lapar, sebentar lagi ubinya pasti matang. Dan kau bisa memakannya.” 229


Pada Malam Angin Berkelebat

“Aku lihat ayah, Bang.” “Ah…dia, biarka saja dia dengan urusannya sendiri.Aku sudah tak lagi menganggapnya sebagai ayah.” “Ibu sakit dan meninggal karena ayah!” Ujarnya marah. Ia tersentak. Selama ini adiknya itu memang pendiam dan tak pernah meluapkan amarah seperti ini.. Suasana seketika mencekam. Tiba–tiba ia merasa tak mengenal sosok yang berada didepannya. Teguh adiknya, terlihat dengan wajah datar tetapi sorot matanya terlihat berat, terlalu berat. “Ubinya sudah matang. Ayo makan!” Teriak Risza dari belakang. Segera ia merangkul Teguh. Mereka beranjak ke belakang. *** LAGU dangdut mengalun keras menghentak malam. Sebagian orang kampung tampak mulai melenggak-lenggokkan tubuh mengikuti irama. Malam ini adalah pesta pernikahan putri kepala desa dengan putra Pak Arga, pedagang kaya lagi terpandang di kampung. Semua orang kampung diundang untuk merayakan pesta pernikahan yang digelar sampai malam. Sengaja bapak kepala desa mendatangkan Ayu Anggraini dari kota, untuk menghibur masyarakat pada pesta pernikahan anaknya, dahulu ia adalah biduan yang sangat terkenal di kampung. Inilah hari pertemuan. Begitu banyak kebahagiaan, tetapi tidak di sudut hati dua orang abang beradik. “Bang, lihatlah lelaki itu.” “Ya… wajahnya tak berubah sama sekali.” Risza membisu. Ia melihat ke arah lelaki yang diperbincangkan kedua abangnya. Hanya saja ia memang tak mengetahui siapa lelaki itu sebenarnya. 230


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Ibu sakit dan meninggal karena ayah. Ucapan Teguh kembali terlintas dipikirannya. Jika ayah tak pernah meninggalkan ibu demi biduan itu, mungkin ibu tak akan pernah sakit-sakitan dan meninggal dalam kesedihan. “Dia terlihat seperti anjing yang setia kepada majikannya.” Ucapnya lemah seraya berbisik ke telinga Teguh. “Suatu hari, aku akan membalasnya.” Suara Teguh bergetar. Mata mudanya menyala. “Bang, kalian bicara apa? Aku tak mengerti sama sekali. Lebih baik kita pulang, besok aku harus sekolah.” Pinta Risza. Ia memperhatikan Risza. Beberapa hari ini, Risza mengeluhkan tunggakan uang buku dan uang sekolah yang harus dibayar. Tetapi tidak dengan Teguh, sepertinya tak pernah ada keluhan apapun dari sekolahnya. Entah kapan terakhir kali, ia membayar uang sekolah dan juga uang buku untuk Teguh. Berdosa jika merasa bersyukur karena hal itu, tetapi seandainya Teguh meminta, belum tentu ada. “Ya, lebih baik kita pulang saja.” Terkutuklah kau, ayah, Teguh membatin. Tiga orang abang beradik itu perlahan melangkah pergi meninggalkan irama dan aura kebahagiaan empunya pesta. Esok hari sudah menanti, semoga peruntungan lebih baik agar Risza tetap bisa bersekolah. Tidak seperti dirinya yang putus sekolah sebelum tamat sekolah dasar. Suara hatinya yang berbicara bahwa ia harus memperjuangkan Risza, untuk terus bersekolah agar memiliki masa depan yang baik daripada dirinya saaat ini, sedangkan Teguh, hatinya seakan membisu untuk adik lelakinya tersebut. Beban ini terlalu berat sepeninggal ibu. Bila ayah tak pernah meninggalkan ibu, semuanya akan berbeda saat ini. Keluhnya sendiri di antara pejam dan sadar. 231


Pada Malam Angin Berkelebat

Ibu sakit dan meninggal karena ayah. Terkutuklah kau ayah! Ucapan Teguh tiba-tiba membahana ditelinganya. Menyentakkan dirinya dari tidur yang sebentar. Risza masih lelap di sampingnnya, tetapi Teguh tak ada lagi didekatnya. Ia mencari Teguh di dalam rumah, juga di luar rumah. Teguh tak ada. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Pandangannya samar karena sesuatu yang aneh dihatinya. Baru sekali ini ia merasa kehilangan Teguh. Tak tega ia membangunkan Risza untuk menampung gundah gelisahnya. Entah mengapa ia merasa tubuhnya bergetar hebat, napasnya seperti tercekik di tenggorokan. Ada kekuatan gaib yang seakan membunuhnya, ia hanya terdiam tak bisa melawan. *** KELEBAT angin di malam pesta pernikahan itu tak menyurutkan langkahnya untuk pulang. Biduan dan lelaki pengikutnya akan segera berangkat meninggalkan kampung. Jika tidak sekarang, entah kapan akan bertemu lagi. Obornya sudah lama padam di setengah perjalanan tadi, tetapi tidak dengan kesumatnya yang membara dijiwanya. Perjalanannya sudah sampai di tujuan. Jantungnya berdesir saat meraba sesuatu yang dingin dipinggangnya. Sepintas dikeluarkannya, lantas diusapnya benda itu, terasa ketajamannya menyeruak ke permukaan. Lekas diselipkannya benda itu dipingganganya, ia kini tak tahu harus berbuat apalagi selain hanya menunggu di balik rimbun pepohonan. Matanya tak lepas dari tubuh seorang lelaki. Mujurkah ini? Lelaki itu datang sendiri ke arahnya. Ia menunggu lelaki itu menyelesaikan hajatnya buang air kecil. Sebelum lelaki itu berbalik, ia segera menyerang. Lelaki itu hanya 232


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

berkelit lincah untuk menghindar, Tangan penggenggam pisau menyerang tak karuan, membabi buta tanpa arah sebab amarah menyesak dadanya. Secara mengejutkan pisau diperoleh lelaki itu, dengan sekali serangan saja tubuh lawannya terkapar tak berdaya. Wajah lelaki itu tampak tersenyum. Napasnya yang tersengalsengal mulai diaturnya lamat-lamat. “Hebat juga kau, anak muda. Tetapi amarah mengalahkan dirimu sendiri.” Ucapnya angkuh. Tubuh itu tampak bergelinjang, melenguh kesakitan. Dari lehernya yang terpotong terlihat pembuluh nadi mulai memuncratkan darah. Perlahan lelaki itu mencium aroma darah yang meruap dari ujung pisau milik korbannya. Sebilah pisau tajam, berbahan baja asli dengan gagang dari galih kayu jati. Seketika lelaki itu tergeragap, pisau ini seperti telah lama dikenalnya. “Siapa kau sebenarnya. Kenapa mau membunuhku. Apa salahku padamu?” Lelaki itu panik, darahnya mendidih. “Terkutuklah kau, Ayah.” Suaranya melemah. Hilang. Tubuh lelaki itu bergetar. Ia ingat pisau ditangannya. Pisau yang pernah dibelinya untuk membantu pekerjaan dapur istrinya. Tapi itu dulu, sudah lama sekali. Ditatapnya lekat-lekat pisau itu, ditimang-timangnya. Lelaki itu tersentak, ia terjatuh lemas. “Jadi kaukah Agus? Atau kau adalah Teguh? Dan Risza, dimana Risza,” ucapnya pelan seraya mendekatkan mulutnya ke telinga tubuh yang mulai membeku, kaku. Lelaki itu menunggu jawaban. n Medan, 312 Aluminium

233


Kabut Neraka

Ilustrasi: Jawa Pos

234


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Kabut Neraka Danarto (Sumatera Ekspres | Minggu, 15 Juli 2012)

o

T

UBUH-TUBUH dilumatkan, rumah-rumah dikunyahkunyah. Pasar-pasar dihancurkan, masjid yang indah diledakkan. Apa saja yang tegak di atas tanah harus dilumatkan dari penciuman bumi, dari arang kehidupan, demi wajah dan kemenangan. Permusuhan antara Sunni lawan Syiah semakin membara ketika tiba-tiba di Baghdad, Irak, muncul kabut hitam pekat yang besar sekali, diam tak bergerak, mengambang di udara. Golongan Sunni menganggap kabut hitam itu rekayasa Syiah untuk mengacaukan situasi, sedang golongan Syiah menuduh Sunni menciptakan kabut hitam untuk menggagalkan upaya perdamaian. Sementara itu tentara-tentara Amerika menyebut kabut hitam raksasa itu sebagai “Kabut Neraka�. Mereka, serdadu-serdadu Amerika, menjadikan Kabut Neraka sebagai hiburan. Hiburan baru yang mengasyikkan. 235


Kabut Neraka

Mereka berjingkrak-jingkrak sambil mengacung-acungkan lembaran uang, mendendangkan lagu-lagu rock favoritnya sambil berteriak-teriak, “Poverty is their kitchens. Held hostage by oilfor-foodâ€?, serta menembak-nembakkan senapan ke arah kabut uring-uringan. Dalam situasi kesetanan yang penuh tanda tanya, miris, keheranan, juga ketegangan karena pernah seorang tentara Amerika memasuki kabut itu dan tak pernah keluar lagi. Dalam keadaan ketakutan dan penasaran, tentara yang lain berlari kencang menerobos ke dalam kabut itu‌ ditelan‌ juga tak pernah keluar lagi. TENTARA-TENTARA yang lain dengan humpee yang dikebut menerabas ke dalam kabut itu. Lagi-lagi kendaraan roda empat dengan empat orang tentara penumpangnya tak pernah nongol kembali untuk selama-lamanya. Hanya dalam waktu beberapa hari, Kabut Neraka, nama yang sexy, yang diberikan tentara paling muda dari Ohio, Long John Potomosth namanya, yang suka membanyol, menjadi gelanggang taruhan yang spektakuler. Para prajurit bertaruh dengan uang untuk siapa saja yang berani memasuki kabut itu dan keluar kembali dengan selamat. Sudah sebelas orang tentara menghambur ke dalamnya dan lenyap. Sebuah arena pertempuran baru yang sangat menantang, yang sangat mengasyikkan, dan sangat menakutkan. Akhirnya hari-hari peperangan yang sebenarnya sudah tidak menarik lagi. Bom-bom bunuh diri menjadi berita yang dilupakan. Wartawan-wartawan dari dalam dan luar negeri tumplek-blek di kawasan kabut itu. Mereka membangun tenda-tenda mengelilingi kabut itu. Para jurnalis dengan bersemangat melaporkannya ke surat kabar, majalah, dan kantor-kantor berita yang menugasinya. Termasuk berita-berita tentang kegilaan tentara-tentara Amerika yang kesetanan bagai kena sihir kabut 236


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

itu. Rupanya tentara-tentara Amerika malah berjumpalitan dibilang kesurupan oleh kabut itu, bahkan ada yang minta dituliskan dengan kata-kata yang lebih kejam lagi. Para redaktur akhirnya menuduh para wartawannya tidak lebih waras. Sejumlah ulama Sunni dan Syiah dari berbagai negeri berdatangan menyaksikan betapa kabut itu mengerikan bagai dikirim dari neraka jahanam. Para ulama menyatakan bahwa kabut itu merupakan akumulasi penderitaan rakyat Irak yang lebih menyedihkan dari peperangan maupun pembantaian. Betapa kabut itu memiliki kekuatan yang besar untuk menggagalkan upaya-upaya perdamaian. Lalu kedua golongan ulama mengirim rekomendasi kepada PBB agar menaruh perhatian yang lebih besar lagi kepada keselamatan dan kesejahteraan rakyat Irak. Juga negara-negara Barat diminta dengan sungguh-sungguh menyelamatkan Irak supaya tidak menjadi negara gagal. Ketika komandan menyaksikan pertandingan itu, komandan yang bertanggung jawab atas keselamatan bala tentaranya akhirnya melarang permainan judi dan menutup gelanggang tersebut. Komandan mengisolasi kabut hitam pekat itu dengan memagarinya dengan kawat listrik dan dijaga ketat tiap sisi-sisinya agar tentara-tentara tidak nekat lagi terjun ke dalam Kabut Neraka. Sudah sebanyak 150 batang lebih kendaraan rongsokan, tank, helikopter, jip, panser, mobil, humpee, didorong masuk ke dalamnya dan dicoba dikait kembali dengan pengungkit, namun sia-sia, semuanya lenyap. Para ulama kedua golongan kemudian menggelar doa bersama memohon dibukakan pintu gerbang pengetahuan tentang benda yang musykil itu. Begitu juga para pakar dari Pentagon dan badan-badan riset nasional tentara koalisi dari berbagai negara turun tangan melakukan investigasi terhadap gejala yang aneh dan menarik itu. Foto-foto Kabut Neraka kemudian beredar di 237


Kabut Neraka

seluruh dunia dan menjadi topik perbincangan di acara-acara televisi, radio, maupun diskusi-diskusi terbuka oleh para ahli maupun anak-anak muda yang selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Berminggu-minggu sampai berbulan-bulan para ulama dan para ahli yang menetap di Baghdad menyelidikinya tetapi tidak mendapatkan jawaban. KAWASAN Kabut Neraka di kemudian hari menjadi kawasan wisata bagi para wisdom (wisatawan domestik) dan wisman (wisatawan mancanegara) yang cukup memiliki keberanian untuk tidak ambil peduli terhadap kancah peperangan yang setiap saat bergolak. Di kemudian hari tidak ada yang bisa dilihat di kawasan itu kecuali pagar yang menjulang tinggi untuk menutup kabut hitam pekat itu. Termasuk anak-anak yang mencoba mengintip-intip yang tentu saja diusir oleh para penjaga karena kawat yang memagari itu dialiri listrik. Mengingat kawasan itu berbahaya, lalu komandan kawasan itu meneutupnya untuk umum. Namun demikian, tangan-tangan jail yang ingin hiburan, meledakkan pagar kawat listrik yang mengelilingi kabut itu sehingga hancur berantakan dan tampaklah lagi kabut dengan perkasa mengambang di udara. Para prajurit Amerika bersorak kegirangan sambil menembak-nembakkan senapannya. Acara perjudian pun dimulai lagi dan komandan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenyataannya, suasana menjadi meriah kembali. Kabut Neraka memang menakutkan tapi juga menyenangkan. Dua sisi karakter kabut itu begitu memesona yang tak berbanding oleh keajaiban apa pun yang tergelar di dunia dewasa ini. BERMULA dari anak-anak kecil yang bermain bola terkesiap menatap kabut kental yang tiba-tiba saja muncul di atas kepala 238


Bunga Rampai Cerpen Lampiran Minggu ke-III Juli 2012

mereka. Seorang anak Irak yang punya sahabat seorang tentara Amerika memberi tahu tentang kabut aneh itu. Si tentara Amerika mendatangi dan menatap dengan terbengong-bengong kabut hitam itu. Ia mendekati kabut tetapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba sebatang tank meloncat menabrak kabut dan ditelan ke dalamnya. Serta-merta tentara itu menghardik anak-anak supaya menjauh dari kabut. Sebatang helikopter yang lain meloncat menabrak kabut dan lenyap pula ke dalamnya. Semua ternganga-nganga. Beberapa anak menangis sambil berlari menjauh. Tak lama kemudian beberapa orang tua, laki-laki dan perempuan, gadisgadis, berdatangan ke tempat kabut itu. Seorang ibu menangis meneriakkan, “Allahu Akbar!� lalu terduduk seperti tersihir menatap kabut itu dengan tajam. Ketika terjadi revolusi sosial di Yaman, Mesir, Libya, Tunisia, Siria, kabut itu masih dengan tenang mengambang di udara Irak yang kemudian menarik kedatangan Raja Abdullah dari Yordania dan Presiden Ahmadinejad dari Iran. Lalu disusul kedatangan Alwi Shihab, penasihat Presiden Yudhoyono; dan Muhammad Said Agil Shiradj, ketua umum PB NU; Gus Mus, seorang sufi seniman; Yenny Wahid dari Wahid Institute; Nurul Arifin dari Golkar; Siti Musdah Mulia, seorang sufi perempuan reformis; Ahmad Syafii Maarif yang disanjung sebagai Bapak Bangsa; serta Habib Lutfi, seorang ulama sufi Indonesia yang memiliki pengikut sekian juta; juga sejumlah ulama sufi dari berbagai negeri. n Kota Tangerang Selatan, 29 Juni 2012

239


Firasat Bu Lik Koem

Ilustrasi: Repro Sampul Orang-orang yang Berjalan di Atas Air

g M. Harya Ramdhoni Julizarsyah, lahir di Surakarta, 15 Juli 1981. Staf Pengajar Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP-Unila dan Mahasiswa Program Ph.D Ilmu Politik, Universitas Kebangsaan Malaysia. Sajak dan cerpennya dimuat di Harian Umum Lampung Post Minggu. 240


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Firasat Bu Lik Koem Muhammad Harya Ramdhoni (Republika | Minggu, 15 Juli 2012)

o “Mengenang Almh. Bude Hastuti Soekirno�

U

NTUNG. Nama lelaki itu tak pernah benar-benar lenyap dari ingatannya. Lebih dari empat puluh tahun peristiwa itu telah berlalu. Namun kenangan bersamanya seringkali menyapa dari balik lemari masa silam. Kisah percintaan mereka menyeruak di antara heningnya pagi. Berlompatan di antara pikuknya siang. Berkejaran di antara peralihan senja yang ngambang. Kadang merayunya menuju relung-relung mimpi di malam hari. Percintaan abadi yang melampaui waktu namun hanya singgah sesaat. Orang Jawa percaya sebuah pepatah : witing tresno jalaran soko kulino[2]. Cinta bermula dari kebiasaan. Begitulah percintaan mereka. Tuti selalu melewati markas lelaki itu jika hendak pergi kuliah. Dan Untung, entah sengaja atau tidak, sering 241


Firasat Bu Lik Koem

berpapasan dengan Tuti. Di awali kebiasaan bertukar sapa berlanjut dengan keinginan untuk saling mengenal. Kemudian cinta pun tumbuh subur di antara mereka. Cinta sederhana. Cinta orang-orang biasa. Ketika itu Tuti adalah gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Sementara Untung berusia pertengahan tiga puluhan. Seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Namun cinta tak mengenal asal usul, umur dan kekayaan. Cinta merubuhkan batas-batas itu. “Aku mencintaimu, Ti”, suara Untung yang serak menggantung di langit basah bulan Desember. Saat itu ia baru pulang dari Irian Barat. Kampanye presiden Soekarno untuk merebut wilayah republik di ujung timur meminta kerelaan hati ribuan pemuda pergi bertempur. Lelaki kekasih hatinya adalah seorang di antaranya. Berperang demi sejengkal tanah yang entah milik siapa. “Aku sungguh mencintaimu,Ti.Aku ingin melamarmu”, Untung mengutarakan maksudnya. Pagi baru beranjak ketika Untung mengajak Tuti berbicara dari hati ke hati di markasnya di pinggiran kota Solo. Tuti menunduk. Senyumnya tersembunyi tanpa jejak. Senyum yang gamang. Ia tak tahu badai apa yang tengah berkecamuk di dadanya. Ia senang mendengar ketulusan hati kekasihnya. Ia tersanjung pada kesungguhan lelaki yang mulai beranjak baya itu. Namun ia juga risau kepada larangan bu liknya[3] yang melarang dirinya meneruskan hubungannya dengan Untung. “Untung terlalu tua untukmu, nduk. Kalian berdua lebih pantas sebagai paman dan keponakan”, pungkas bu lik Koem beberapa hari setelah keberangkatan Untung ke Irian Barat. Tuti tahu perkataan bu liknya hanyalah alasan yang dibuatbuat. Sang bu lik tengah menyembunyikan sesuatu tapi ia tak 242


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

berdaya untuk bertanya gerangan apa itu. Tuti berpikir keras untuk mencari sebab perihal ketidaksetujuan bu liknya. Tapi dia selalu gagal mencari tahu. Tuti sadar betapa alasan bulik tak terjamah pola pikir modern. Ada sesuatu yang buruk berkaitan dengan Untung tapi entah bila hal itu akan terjadi. Bu lik Koem juga mungkin tak tahu mengapa firasatnya mengatakan bahwa seorang perwira santun dan bermasa depan cerah seperti Untung menyimpan keganjilan. Itulah rerasan seorang perempuan Jawa yang rajin laku prihatin dan berhubungan dengan Tuhan secara amat pribadi. Alam pikir yang tak sejalan dengan logika manusia modern. Tapi begitulah adanya. “Jangan samakan gaya berpikirku dengan cara berpikir kalian di kampus”, bu lik Koem pernah mengingatkan Tuti. “Jawablah, Ti”, suara lembut Untung membangunkan lamunan Tuti. Tuti sesaat bisu. Ia tak menyangka Untung hendak melamarnya secepat ini. Ia belum siap. Sekolah kebidanannya harus ditamatkannya setahun lagi. Belum lagi larangan bu likKoem. Duh, betapa nelangsa hati Tuti memikirkan itu. “Tak ada yang ku pikirkan selama berbulan-bulan di belantara Irian selain engkau, Ti. Ketika payung parasutku mengembang di atas langit Manokwari wajahmu muncul di pelupuk mata. Aku berdoa agar Allah memanjangkan umurku. Mimpiku menggandengmu ke depan penghulu tak pernah pupus. Aku ingin perang celaka ini segera berakhir. Aku rindu engkau, Ti. Aku ingin menikahimu”, suara Untung nyaris berbisik. Tuti mendongak. Matanya basah. Haru dan bahagia mengguncang jasad dan jiwanya. Sontak Untung menghapus linangan air mata itu dengan cinta yang terlalu. 243


Firasat Bu Lik Koem

Tuti makin terharu. Kata-kata lindap dari bibirnya. Langit yang mendung seketika membuat suasana syahdu. “Bicaralah, Ti. Jangan biarkan lidahmu kelu”, Untung menguatkan hati kekasihnya. “Mas…….”, kalimat Tuti terpotong. Tiba-tiba tangisnya sesenggukan. “Mas…….”, kalimat itu terulang lagi. Air mata berhamburan semakin deras berebut tempat di pipi Tuti. Kali ini Tuti benar-benar tak sanggup menahan badai yang meronta-ronta dalam dadanya. Kepalanya pun rebah dalam pelukan Untung. “Kenapa, Ti? Perihal apa yang membuatmu risau?”, Untung berkata lembut dan datar. “Apakah selama ku tinggalkan beberapa bulan ini ada lelaki lain yang menghampiri hatimu?”, Untung bertanya menguji. Yang didapatnya hanyalah gelengan kepala dan tangis yang semakin isak. Ia tunggu air mata tumpas dan emosi kekasihnya mereda. Untuk urusan seperti ini Untung adalah lelaki penyabar. “Mas….”, suara Tuti masih tercekat. Untung sabar menunggu. “Sepertinya percintaan kita takkan berakhir dalam perkawinan, mas”, Tuti berkata dengan terbata-bata. Untung bisu. Tiba-tiba hatinya dirusuhi perasaan misterius. “Engkau telah dijodohkan, Ti?”, suara Untung gemetar. Tuti menggeleng lemah. “Lalu kenapa?”, kesabaran Untung perlahan pupus. “Bu lik Koem melarangku menikah denganmu, mas”, jawab Tuti. Untung menatap lekat kekasihnya. Ada gulana dan 244


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

kebingungan yang tiba-tiba menyerbu hatinya. Apakah gerangan itu Untung tak tahu. “Apa yang menyebabkan bu likmu melarang kita menikah?” “Apakah karena weton[4] kelahiran kita yang bertentangan”, “Dan kenapa harus bu likmu yang memiliki kekuasaan untuk melarang pernikahan kita? Kenapa bukan kedua orang tuamu?”, Untung bertanya galau. “Kekuasaan bu lik Koem melampaui pengaruh ibuku sendiri. Itu telah terjadi sejak bertahun-tahun lalu tatkala kedua orang tuaku mengalihkan hak asuhku kepada bu lik Koem. Juga termasuk memilah siapa calon suami yang pantas untukku” “Namun larangan ini bukan karena weton atau alasan kepercayaan Jawa, mas”, jawab Tuti. “Lalu kenapa bu likmu melarangku menikahimu?”, tantang Untung. “Bu lik Koem sendiri tak mampu menjelaskan mengapa beliau melarang perkawinan kita. Yang jelas menurut firasatnya perkawinan kita akan berakibat buruk bagi kehidupan keluarga kami”, Tuti berusaha mengatur kata-kata sebaik mungkin. Ia takut kekasihnya tersinggung. “Akibat buruk seperti apa? Aku bekerja sebagai tentara dengan penghasilan layak dan tidak akan memberatkan keluargamu. Akibat buruk apa yang ditakutkan bu likmu? Aku akan membahagiakanmu seumur hidup, Ti”, tegas Untung. “Entahlah mas. Aku pun tak mengerti maksud bulik Koem”, Tuti menunduk. Sementara Untung terdiam. Hatinya geram. “Aku tak bisa menerima alasan bu likmu. Aku akan datang melamarmu ke rumah beliau di Manahan besok malam. Aku ingin mengawinimu dengan niat tulis, Ti”, perkataan Untung mengagetkan Tuti. 245


Firasat Bu Lik Koem

“Jangan mas. Jika mas Untung bersikeras datang, beliau akan murka”, Tuti berusaha mencegah. “Aku tak perduli. Aku akan datang”, pungkas Untung. Tuti tak berdaya menghalangi niat kekasihnya. Ia berharapharap cemas menunggu hari esok tiba. Pertengkaran mungkin akan terjadi antara bu liknya dengan kekasihnya. Memikirkan itu hatinya semakin kalut. *** MALAM hari yang ditunggu dengan kalut dan takut akhirnya tiba. Untung datang ke Manahan dengan dikawal seorang bawahannya dengan mengendarai jip militer. Di ruang tamu perempuan separuh baya yang biasa dipanggil bu lik Koem menerima Untung dengan ramah dan santun. Tuti entah sembunyi dimana. Bu lik Koem ditemani suaminya pak lik[5] Tanto. Akan tetapi sang suami lebih bertindak sebagai pendengar yang bijak dibanding sebagai juru bicara keluarga. Bu lik Koem yang mengambil-alih tugas suaminya. Ia bicara dalam tata krama Jawa yang teratur dan lugas. Ciri khas perempuan Jawa terpelajar. Sisa terakhir pendidikan kolonial Belanda di tanah Mataram. “Apa yang bisa kami bantu sehingga ananda repot-repot datang ke kediaman kami?”, bu lik Koem membuka pembicaraan. “Saya mencintai Tuti, bu lik. Saya datang kemari hendak melamar keponakan bu liksebagai istri”, Untung mengungkapkan niatnya tanpa basa-basi. Tata kramanya sebagai lelaki Jawa tiba-tiba hilang. Suasana bisu sesaat. Bu lik Koem dan Untung saling menakar perasaan masing-masing. “Ananda Untung, suatu kehormatan bagi kami sekeluarga 246


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

apabila putri kami dilamar seorang perwira seperti ananda. Kami berterima kasih atas perhatian ananda Untung selama ini kepada putri kami. Akan tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada ananda, lamaran tersebut belum bisa kami terima karena Tuti masih harus menyelesaikan pendidikannya”, jawaban bu lik Koem amat spontan dan juga tanpa basa-basi. Suasana kembali hening. “Saya datang dengan niat baik bu lik….”, kalimat Untung tersendat. “Ya, saya percaya ketulusan niat ananda”, potong bu lik Koem. “Apakah masih mungkin bagi saya menunggu Tuti hingga lulus kuliah?”, tanya Untung. “Saya tak berani menjamin”, bu lik Koem menjawab dengan tegas namun tak mengurangi kesopanannya sebagai perempuan Jawa. “Kalau saya boleh tahu mengapa bu lik tidak bisa menjamin?”, kejar Untung. “Karena Tuti mesti menyelesaikan kuliahnya dan terikat ikatan dinas sebagai bidan”, jawab bulik Koem. Untung yakin jawaban bu lik Koem merupakan pernyataan yang mengada-ada. Tapi bukan Untung jika menyerah. “Saya tetap akan menunggu Tuti. Cinta saya untuknya tak pernah berakhir”, Untung tak gentar dengan jawaban bu lik Koem. “Silahkan saja. Tapi siapa yang bisa menjamin jerih payah ananda akan berhasil. Jodoh adalah urusan Gusti Allah, nak”, bu lik Koem tak mau kalah. “Apa pun alasan yang bu lik kemukakan, saya tetap akan menunggu Tuti”, suara Untung bergetar. “Nak Untung, saya dan suami adalah pengasuh Tuti sejak 247


Firasat Bu Lik Koem

kecil. Ibunya yang merupakan mbakyu saya telah menyerahkan anak ini buat-bulat kepada saya termasuk dalam hal perjodohan. Tuti memiliki hak menentukan siapa pun lelaki yang disukainya. Akan tetapi haknya dibatasi oleh wewenang saya sebagai wakil ayah dan ibunya. Jadi silahkan saja jika nak Untung bersikeras menunggu Tuti. Namun seperti yang telah saya katakan tidak ada jaminan kesabaran ananda akan membuahkan hasil”, pernyataan bu lik Koem menyodok ulu hati Untung. Lamarannya ditolak secara telak. Sementara di depannya pak lik Tanto mengangguk-angguk entah sebagai isyarat setuju atau malah mengantuk. “Sampai detik ini saya belum bisa menerima alasan bu lik menolak lamaran saya”, Untung gigih mengejar mimpinya. Bu lik Koem tersenyum sambil mengangguk penuh pengertian mendengar ketidakpuasan Untung. “Saya mengerti perasaanmu begitu rusuh, nak. Saya pun menyesal tidak bisa memenuhi permintaan dan niat tulusmu”, bulik Koem mencoba menyabarkan Untung. Bu lik Koem menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu yang mengganjal hendak ia ungkapkan kepada Untung. Sesuatu yang teramat berat untuk diceritakan. Keduanya lama membisu. Bu lik Koem sempat berbasa-basi mempersilahkan tamunya menyeruput teh hangat. Untung menyesap secangkir teh itu dengan enggan. “Nak….”, kalimat bu lik Koem terpotong sebentar. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam. “Saya bu lik”, jawab Untung sopan. “Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya memutuskan menolak lamaran ananda”,bu lik Koem mengutarakan alasan sebenarnya dengan berat hati. “Alasan apa lagi bu lik?”, kejar Untung tak sabar. 248


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Pandangan mata bu lik Koem pilu menatap Untung. “Sebagai orang Jawa, ananda tentu tahu amat berartinya sebuah firasat bagi seorang Jawa yang masih menjunjung tinggi keyakinan lama nenek moyang”, bu lik Koem mulai menjelaskan. Untung mengangguk lemah. “Saya memiliki firasat yang kurang baik berkenaan dengan hubungan ananda Untung dengan putri kami. Jika kalian sampai menikah maka, saya meyakini kelak keluarga besar kami akan menerima dampak buruknya.” Jawaban bu lik Koem pelan-pelan membenarkan ucapan kekasihnya. “Dampak buruk apa yang akan ditanggung keluarga besar bu lik?”, Untung bertanya tak sabar. “Saya bekerja sebagai perwira tentara dan tidak akan menyusahkan kehidupan keluarga bu lik”, lanjut Untung. Bu lik Koem tersenyum kecut sambil mengangkat bahu. “Perasaan saya tidak ada hubungannya dengan masalah kesulitan keuangan. Saya yakin ananda mampu menghidupi anak kami dengan layak. Tapi saya juga yakin bahwa nasib buruk itu akan menimpa kami sekeluarga apabila membiarkan kalian berdua menikah.” “Saya bukan dukun, nak. Tapi perkawinan kalian harus dicegah”, lanjut bu lik Koem. Pernyataan bu lik Koem bagaikan penyakit langka tanpa obat penawar. Sepersekian detik Untung masih termangu. Ia ragu untuk melangkah maju tapi mundur dari arena pertempuran akan mencoreng mukanya sebagai pengecut. Ia prajurit elite. Ia taklukkan rimba raya Irian Barat dan melumpuhkan prajurit angkatan darat Belanda semasa operasi Trikora. Semua itu ia arungi dengan gagah berani. Haruskah percintaan seorang prajurit 249


Firasat Bu Lik Koem

dari kesatuan elite TNI Angkatan Darat berakhir di depan wanita setengah baya yang berperangai lembut dan terlihat tak berdaya? “Nak Untung, ini bukan permasalahan menang atau kalah; jantan atau pecundang; pemberani atau penakut. Ini berkaitan dengan masalah keyakinan yang mustahil diruntuhkan. Apabila ananda Untung melepaskan Tuti dengan ikhlas, hal itu bukan berarti ananda kalah atau menyerah. Sebaliknya kalau pun ananda berhasil menikahi anak kami, tidak bermakna ananda adalah petarung ulung�, bu lik Koem seolah memahami jalan pikiran Mayor Untung. “Pergilah nak. Lupakan Tuti untuk selamanya. Semua ini untuk kebaikan kita bersama. Saya doakan dengan tulus ananda akan segera mendapatkan yang lebih baik sebagai pengganti Tuti�, bu lik Koem menepuk bahu Untung seraya menguatkan hati lelaki itu. Malam itu berakhir damai. Tiada pertengkaran sepertimana dikhawatirkan Tuti. Untung mencoba menerima walaupun hatinya menyerupa serpihan kaca. Ia pulang dengan langkah gontai. Tiada kata perpisahan terucap untuk Tuti. Hanya senyuman dan anggukan keibuan daribu lik Koem sebagai penawar. Sementara Tuti disibuki sedu sedannya yang berubah menjadi tangisan histeris. Malam itu menjadi neraka baginya. Mengapa percintaan yang tulus mesti digagalkan oleh cara berpikir tradisional dan animistik? Tuti, juga Untung, tak pernah menerima perlakuan ini dengan ikhlas. Malam menggantung tanpa bulan dan bintang. Esok pagi percintaan mereka akan menjadi pelipur lara di saat duka tiba-tiba meraja. *** TIGA tahun telah pun berlalu sejak peristiwa itu. Melampaui 250


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

hari, minggu dan tahun Tuti bertempur menindas perasaan yang membuat hatinya lebam. Kadangkala ia memenangkan pertempuran itu namun seringkali ia dicundangi kerinduannya terhadap Untung. Ia simpan rapat-rapat berjuta kenangannya bersama Untung. Bila ia merindukan lelakinya, remah-remah kenangan manis dan pahit dikumpulkannya sebagai penyambung hati yang patah. Gadis ranum sebelia itu mesti merelakan cintanya yang sedang tumbuh dipangkas tanpa welas asih. Dan yang mencampakkan cinta sucinya bukanlah perjodohan atau sebabsebab lain. Akan tetapi tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah nujum yang aneh dan ganjil. Sesuatu tak berdasar yang berasal dari keyakinan lama nenek moyangnya. Apa pun itu Tuti mestilah patuh. Ia gadis Jawa yang baik. Anak kandung Tamadun Jawa yang dilahirkan dari rahim pusat spritualisme Mataram nan purba. “Bangun, Ti. Ada suara Untung di radio nasional”, sepagi itu bu lik Koem telah membangunkannya dari tidur. “Mas Untung?”, Tuti bertanya kaget sambil menguap menahan kantuk. “Ya, mantan pacarmu yang lamarannya bu lik tolak”, Bu lik Koem tersenyum masam. Tuti termangu di atas ranjang. “Apa yang telah terjadi sehingga mas Untung bisa berbicara di depan radio nasional seperti seorang pejabat negara?”, Tuti berpikir keras. Tak mau larut dalam seribu duga Tuti segera menuju ruang tengah tempat radio berada. Pagi itu 1 Oktober 1965 melalui RRI Pusat Jakarta Letkol Untung Syamsuri, Komandan Cakrabirawa atau lebih dikenal sebagai Pasukan Pengawal Pribadi Paduka Yang Mulia (PYM) Presiden Soekarno merangkap Perdana Menteri Republik Indonesia dan Panglima Tertinggi ABRI, mengumumkan keberhasilannya menyelamatkan nyawa PYM Presiden Soekarno dari ancaman kudeta Dewan Jenderal yang kontra revolusioner. 251


Firasat Bu Lik Koem

Ia juga mengumukan terbentuknya Dewan Revolusi yang mendemisioner kabinet pemerintahan sebelumnya. Kekuasaan negara pun praktis berada di tangan Untung. Tuti semakin tidak mengerti apa yang diperbuat oleh mantan kekasihnya. Ia hanyalah gadis lugu yang tak paham politik. Namun detik ini ketika suara Untung membahana dari pulau We hingga Biak, ia mulai meyakini firasat bu lik Koem benar adanya. Nujum sang bu likmenampakkan dirinya dalam wujud yang nyata dan banal. Empat puluh tahun kemudian Tuti menyadari bahwa ramalam bu lik Koem telah menyelamatkan jiwa dan kehidupannya. Andai ketika itu ia berkepala batu menikahi Untung, mungkin nasibnya tak semanis menjadi istri petinggi salah satu bank pemerintah ternama. Lelaki yang dulu mencintainya dengan lembut dan kebapakan menjadi buruan nomor satu di negeri ini. Dialah yang terbukti memimpin percobaan perampasan kuasa di seputar Jakarta. Dia pula sebagai muasal pembunuhan enam jenderal angkatan darat dan seorang perwira pertama. Yang lebih mengagetkannya lelaki pujaannya ternyata membangun persekutuan keji dengan Partai Komunis. Ia insyaf pernah khilaf memilih Untung sebagai pelabuhan terakhir. Jika mengingat gula-gula percintaan mereka, Tuti sering menangis. “Kemana perginya sikap santun dan penyayangmu, mas? Mengapa bertukar wajah menjadi pembunuh tak bermoral?�, gumam Tuti lirih di hari ketika putusan hukuman mati terhadap Untung diumumkan secara nasional. Rasa sesalnya ialah cintanya yang tersisa terhadap Untung. Namun lelaki itu bukan Untung yang dulu. Lelaki itu serupa iblis penghuni neraka. Tuti bersyukur Gusti Allah telah menjauhkan keluarganya dari nasib buruk yang mungkin menimpa. Tak terbayangkan olehnya apabila dulu dia yang dipilih Gusti Allah sebagai istri Letkol Untung 252


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

bin Syamsuri, Komandan Cakrabirawa, Detastemen Kawal Pribadi Presiden Republik Indonesia; tentu seluruh keluarga besarnya akan terseret ke dalam nasib buruk yang dialami jutaan pengikut Partai Komunis. Bagaimana mungkin ayah dan ibunya mesti turut menanggung hinaan ini?Aib bermenantukan lelaki bejat penghisap darah para jenderal. Duka cita terdalam juga akan dialami bu lik Koem yang sejak kecil mengasuhnya tanpa pamrih. Atau pak lik Tanto yang sabar meladeninya bermanja-manja sejak dirinya masih kanak-kanak. Kini Tuti baru mengerti makna olok-olok bu lik Koem bahwa nama Untung ternyata buntung. Nama yang tak seberuntung nasib dan kisah hidupnya yang tragis. n Hentian Kajang, Malaysia, 7-8 Sept 2009

Catatan: [2] Cinta lahir dari kebiasaan [3] Bu lik (ibu cilik), Panggilan untuk adik perempuan ayah atau ibu. [4] Prediksi Perwatakan seseorang menurut Hari dan Pasaran tanggal kelahiran menurut hitungan Jawa. [5] Pak lik (bapak cilik), Panggilan untuk adik lelaki ayah atau ibu.

253


Illustrasi: OpenArt

254


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

Data Cerpen di Media Minggu ke-III Periode: 09 – 15 Juli 2012

PENABUR BENIH Koran Tempo | Iksaka Banu MELEPAS BAYANG-BAYANG Lampung Post | Nita Tjindarbumi MUSIM MALING Riau Pos | Riki Utomo BIOGRAFI TANGAN Sumut Pos | Muhammad Pical Nasution NURBAYA Serambi Indonesia | Bustami Bin Arbi KIAMBANG Seputar Indonesia | Beni Setia SEPOTONG MALAM, SEPOTONG SAJAK Analisa Medan | Aris Kurniawan

255


Lampiran: Data Cerpen di Media

TENGKU TELADAN YANG DIRINDUKAN The Atjeh Post | Muhammad Ikhsan Efendi BULAN PERGI DARI JEMBATAN Suara Karya | Sihar Ramses Simatupang JUKUNG Sinar Harapan | Parlan Tjak CINTA TERAKHIR Haluan | Dessy Wahyuni AKU MENULIS DENGAN TANGAN YANG SAKIT Jurnal Nasional | Alex R. Nainggolan IMAN YANG TERKOYAK Radar Surabaya | Nimas Kinanthi CERITA BERSAMA SANG BUNDA Kupang Pos | Ronny Manas DI BAWAH HUJAN Medan Bisnis Anak | Cha Canlierz PADA MALAM ANGIN BERKELEBAT Medan Bisnis | Intan Hs KAIN KAFAN Arah Riau | Iben Nuriska SENYUM SENJA Joglosemar | rahma179[at]yahoo.com POHON KESUNYIAN Kedaulatan Rakyat | Mashdar Zainal TAPAK-TAPAK HARAPAN Kompas.Com | Aftar Ryan SENJA DITELAN KABUT Waspada | Sulaiman Rambe KABUT NERAKA Sumatera Ekspres | Danarto (termuat minggu sebelumnya di Jawa Pos) 256


Bunga Rampai Cerpen Minggu ke-III Juli 2012

2 PELANGI INDAH DI MATAMU Radar Lampung | Rizki Novianti BERKEMAH Pontianak Post | Asmi Ri Zani KIDUNG LUKA SEORANG PENYAIR Metro Riau | Mawaidi D. Mas HARAPAN DI UFUK SENJA Haluan Kepri | Kadarito Rifarto MISTERI DALAM DIAM Banjarmasin Post | Fenny Ik SALJU HITAM Singgalang | Dafriansyah Putra JENDERAL POPOP Kompas Anak | Swistien Kustantyana HENING DI UJUNG SENJA Kompas | Wilson Nadeak ISTRI SANG DUTA Berita Pagi | Purhendi (termuat setahun lalu di koran yang sama). BAKSO PAK OLES Merapi | Fandrik Ahmad (termuat sebelumnya di blog si pengarang) FIRASAT BU LIK KOEM Republika | Muhammad Harya Ramdhoni (termuat sebelumnya di Kumcer “Kitab Hikayat Orangorang yang Berjalan di Atas Air.) SELANG SAWATARA REGOT TINA SIROP ROVOLUSI Pikiran Rakyat | Deri Hudaya (HIDUP) MATINYA SEBUAH KOTA Jawa Pos | Raudal Tanjung Banua 257


Lampiran: Data Cerpen di Media

LOEMPOER Tribun Jabar | Absurditas Malka SAYAP Bali Post | Melinda Prabamitha DEAR TUHAN Majalah Femina | Laura Paais DILEMA NADIA Majalah Sekar | Hendry S Batubara SESUATU YANG SEDERHANA Majalah Kartini | Muliadi Gf KUTUTUPKAN HATIKU PADA TUHAN Satelit Post | Nick Rahma BERSAMAMU MENUJU KEABADIAN Kendari Ekspres | Hasbullah Said SANG JAGA Fajar Makassar | Dasmawani PATI PEJURIT Suara Merdeka | Isbedy Stiawan Zs MENGEJAR MATAHARI Suara Merdeka (Yunior) | Hafidzatin Juman BELLA YANG ANGKUH Pikiran Rakyat (Kecil) | Agniya Dwiputri Aminah TELUR AYAM BU INEM Kedaulatan Rakyat (Anak) | Pawit Mulyadi

258


The Sapphire Queen (2011) by A. Andrew Gonzalez ~ OpenArt

259


Bunga Rampai Cerpen_Minggu III_Juli 2012  

E-Book berisi himpunan cerpen yang publish di media-media pada minggu ke-III, bulan Juli 2012.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you