Page 1


Tabik

2

Penulis dan Perkembangan Literatur Indonesia ILHAM Q. MOEHIDDIN

Penulis Indonesia belum banyak. Penulis Indonesia yang bisa menghasilkan buku pun masih sedikit. Pertumbuhan buku-buku dari penulis Indonesia masih kecil ketimbang negara berkembang lainnya. Pertumbuhan penulis yang dapat menghasilkan karya buku berkualitas, akan mendorong pertumbuhan “minat baca”.

O

RANG Indonesia, sudah bukan jamannya lagi, merepotkan isu “minat baca”. Saat ini, isu itu sudah harus diganti dengan isu “pertumbuhan bahan bacaan”. Ketika kita sudah tiba di isu ini, maka para pembaca, penikmat buku sudah waktunya merepotkan masalah kelangkaan bahan bacaan, kualitas bahan bacaan, atau pertumbuhan lembaga penerbit. Di negara-negara maju, setiap bulannya, mereka bisa menerbitkan ratusan judul buku baru. Manuskrip dari para penulis diburu penerbit, buku-buku terbitan para penerbit itu diburu sineas film dan kalangan intelektual lainnya, termasuk kalangan pengambil kebijakan. Kemudian, dalam posisi saling membutuhkan seperti itu, terciptalah industri ilmu pengetahuan, industri intelektualisme. Pertanyaannya; apa musabab terbentuknya industri ini? Jawabannya adalah, perkembangan para penulis. Para penulis mampu memotret lingkungannya dengan baik, mampu menangkap gejala zaman, mampu menerjemahkan keinginan manusia, dalam bahasa politik-sosial-ekonomi untuk diasup para pengambil kebijakan. Indonesia pun harus mengembangkan industri intelektualisme macam ini. Tuntutan domestik, dan global, menghendaki penguasaan ilmu pengetahuan. Ini tentu saja tak akan terpenuhi sekadar melalui pendidikan formal, tetapi harus pula mengasup berbagai literatur penting. Dan, hanya penulis-penulis handal yang mampu memproduksinya. Literatur yang dihasilkan oleh para penulis Indonesia sesungguhnya tidak sedikit. Sayangnya, penetrasi para penulis ini, sangat kurang di bidang perbukuan untuk kepentingan pendidikan. Barangkali kelak, ada buku berbasis pendidikan menengah atas, dan perguruan tinggi yang ditulis dengan gaya populer dengan tetap berpijak pada inti pengajaran. Tetapi, kehadiran para penulis memang penting untuk mengukur sejauh mana perkembangan literatur di Indonesia. Secara mendasar, semua orang harus bisa mengekspresikan fikirnya dalam bentuk yang lebih kongkrit, mengemukakan ide dan gagasannya secara lebih rinci, membagi pengalamannya secara lebih terbuka. Sekat pragmatis, dan hambatan teknis, jelas membangun tembok imajiner dalam fikiran penulis dan menghambat mereka mengekspresikan ide dan gagasannya. Sekat pragmatis dan hambatan teknis itu harus disingkirkan. Mulailah menulis hal-hal kecil. Mulailah membangun dasar-dasar pemikiran. Berani mengungkapkan ide dan gagasan, sebelum beranjak kepada hal-hal besar. Tidak soal, apakah tulisan Anda tak menarik perhatian orang. Intinya bukan apakah tulisan Anda bisa dibaca orang atau tidak, tetapi apakah Anda mampu mengapresiasi ide dan gagasan Anda ke dalam tulisan. Awalnya, memang selalu seperti itu. []


ITER'S DIGES T | Juli 2012 WRITER'S DIGEST IFW | WR

>>

SPEKTA

Pada 18 Juli 2010 ditetapkan sebagai Hari Nelson Mendela I. Panitianya mengajak warga dunia untuk 67 menit saja minimal, berbuat bagi mereka tertindas, bagi mereka miskin, bagi mereka papa.

Gazaku Menangis

Suara tangisnya mengalahkan dentuman ledakan senjata yang bengis. Pipiku telah basah. Kedua mataku mengalirkan airmata.

>> CERPEN

lGubrak, Nyoh, dan Din-din-din lWith Mith

OPINI

MINI-STORY

CAIRKAN BEKU HATI DI HARI MANDELA

>>

lRumah | lKurung Kurawal

○ ○

PUISI

>>

PERTALAN

lAdhy Rical lHyde Asmarasastra

>>

Surat kepada Tuhan

Wabah belalang masih menyisakan lebih banyak daripada ini. Hujan es sama sekali tak menyisakan apapun. Tahun ini kita tidak punya jagung atau kacang.

KAJI PUISI

>>

lBelajar dari Kelingking Adhy

INSPIRASI

>>

NOTULA

lPersahabatan Bagai Kepompong

>>

lKampung adalah Basis Peradaban

lHarare City

SAGA

>>

PAKANSI

>>

lTernyata Aku Masih Cinta

ilustrasi sampul: repro eylence.az w w w. t h e i n d o n e s i a n w r i t e r s . w o r d p r e s s . c o m

PANEL PENULIS TETAP Iwan Piliang iwan.piliang@yahoo.com Mappanjarungi Manan mappajarungi@gmail.com Rena Renata renata.marhamah@yahoo.co.id ○

DEWAN REDAKSI

Adhy Rical adhyricalar@gmail.com Dwi Klik Santosa dwikliksantosa@gmail.com Afrilia Utami utamiafrilia@yahoo.co.id

Syaiful Alim guss_alim@yahoo.com Ilham Q. Moehiddin indep_ilham@yahoo.co.uk Hyde Asmarasastra haydeasmarasastra@gmail.com

IFW Writer’s Digest Magazine adalah publikasi resmi The Indonesian Freedom Writers. Pandangan penulis yang dinyatakan dalam artikelnya, sama sekali tidak mewakili kebijakan The Indonesian Fredom Writers. ○

Mappanjarungi M. ○

Rena Renata

Ilham Q. M.

CHIEF EXECUTIVE OFFICER

ISBN: 123-456-789-X Copyright IFW Writer’s Digest, 2012 Edisi 001 | Juni 2012 ○

Adhy Rical

EDITOR COORDINATOR

CHIEF OF EDITOR

EXECUTIVE OFFICER ○

EDISI CONTOH ○

Pada tahap uji coba ini, redaksi hanya akan menerbitkan artikel-artikel yang selama ini masuk dalam webblog IFW. Hak Cipta atas artikel sepenuhnya milik penulis bersangkutan. Saran dan kritik silakan kirim ke email: petugasifw@gmail.com, atau ke THE INDONESIAN FREEDOM WRITERS.


opini

4

ilustrasi | www.facebook.com/pages/Open-Art/

Cairkan Hati Beku di Hari Mandela PADA 18 JULI 2010 DITETAPKAN SEBAGAI HARI NELSON MENDELA I. PANITIANYA MENGAJAK WARGA DUNIA UNTUK 67 MENIT SAJA MINIMAL, BERBUAT BAGI MEREKA TERTINDAS, BAGI MEREKA MISKIN, BAGI MEREKA PAPA. IWAN PILIANG

A

NAK saya yang kedua, ketika masih di usia 3 tahun–kini delapan tahun—suka menyanyikan lagu yang acap didendangkan Ustad Aa Gym, “Jagalah hati jangan kau nodai, dan seterusnya.” Sayangnya sang ustad itu kini seakan tenggelam karena menikah lagi. Kini Aa lebih banyak ditanggap berceramah di Singapura, Malaysia, Filipina. Kita di Indonesia, belum “sehebat” Argentina, membuka diri mampu bijak bestari. Masyarakat Argentina memisahkan urusan ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


opini pribadi dengan kodrat hati memimpin kehidupan. Kita belum semenerima bagaikan Argentina menghargai Carlos Menem, membungkus ranah pribadi, lalu mengedepankan prestasi diri. Sebaliknya justru prestasi kita di tahun ini paling sakti. Tak ada duanya di muka jagad kini. Prestasi itu menularkan penyakit latah ke media besar dunia mengabarkan aib pribadi. Di negara besar—AS dan Inggris—nan terlanjur latah memberitakan aib video porno Ariel, film porno bahkan dibuat dengan tata pencahayaan prima; artis bohai, bahkan lengkap adegan, maaf, hingga burung terkulai. Negaranya santai-santai. Kita, media di Indonesia, tak peduli lagi berapa devisa yang telah dicetak Ariel, Peterpan, dari segenap albumnya nan laris manis di Malaysia, Singapura, hingga Suriname, Belanda. Semua seakan tiada, sama seakan lenyapnya segenap kebaikan yang pernah disiarkan Ustad Aa Gym. Dalam kerangka inilah saya melihat bahwa bangsa Indonesia kini berpenyakit hati: dari kena virus busuk, memang sudah busuk, hingga membeku hati. Apatah pula, macam kalimat saya menganjurkan negara mengirim NELSON MANDELA grup band potensial pergi sembilan bulan belajar bahasa Inggris Bapak Afrika Selatan ke Inggris. Agar mereka bertutur bercengkok native Inggris, lalu membuat album barat, berpeluang besar meraih devisa. Sebuah ide yang akan ditertawakan saja. Bisa saja dianggap gila. Tak banyak pihak mafhum, bahwa Argentina, devisa keduanya datang dari Polo; mulai dari ekspor kuda Polo, piranti olah raga Polo, hingga mengekspor tenaga pengajar pelatih Polo. Pelatih Nusantara Polo-nya Prabowo Subianto, di Jagorawi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, juga berasal dari Argentina. Hal ini saya tuliskan, sebagai contoh tabiat pikir, jika kita ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

nelson-mandela | flick.com

5


opini

6 membuka hati, tidak macam kodok dalam batok, kunci otak mengalirkan isi cemerlang bahwa banyak sisi lain, khususnya ranah positif, membawa kehidupan terang benderang.

ilustrasi: paint by sacha baraz | www.facebook.com/pages/Open-Art/

Data BPS menyebutkan 32 juta orang Indonesia miskin. PBB bilang masih lebih 50% penduduk kita miskin–jika acuan pendapatan minimal US$ 2 per hari. Saya berusaha belajar rendah hati dan, siapa tahu Anda, mencoba pula berkaca membeningkan hati: jernih bertutur jujur, demi berbuat bagi meningkatnya mutu peradaban.

KETIKA pertama menjadi jurnalis yunior pada medio 1980-an, lagak saya luar biasa. Luar biasa angkuhnya. Jika saya ingat kini, bah, sok kali! Bayangkan sebagai reporter di kelompok media Tempo, saya dengan mudah berjumpa pejabat, bertemu direksi papan atas perusahaan besar. Alamnya kala itu, acap ketemu pula sumber berita nan ongeh—setingkat di atas congkak—ikut pula mewarnai ketinggi-hatian diri sebagai reporter. Kala itu acap saya bertemu pejabat didampingi ajudan, map, buku, data, dan tas lain lagi ajudan yang membawakan. Kini setelah tak menjadi wartawan di media mainstream, corak langgam demikain tidak kian punah. Bahkan ketika ke Papua, ada oknum Bupati di sana yang lakunya bak raja di raja. Laku pasukan pengawal presiden, yang menggebrak kap mobil, mengancam, bukan terjadi kali ini. Sejak di era Soeharto juga acap nian. Tapi dulu mana ada yang berani memuat menuliskan? Poin saya, kejadian demikian, sesungguhnya, titik utamanya di urusan permasalahan hati. Hati yang tak kunjung rendah. Hati yang kotor. Hati yang kian meninggi bahkan masih ingin tinggi lagi menggapai langit tinggi-tinggi. Padahal jazirah alam dari sananya di ketinggian langit berhawa minus derajat. Maka tak heran, bila Anda di sana pasti bekulah hatinya. Bila hati sudah beku, maka data kemiskinan pun bisa dibulakbalikkan. Membuat UU pun bisa-bisa tertega di dunia, misal dalam penggelapan pajak, UU yang dibuat DPR, bunyinya boleh diselesaikan dengan cara di luar pengadilan dengan membayar denda maksimum 400% dari pajak yang dihasilkan. Ini salah sastu contoh saja produk yang dihasilkan dari kebekuan hati. Urusan tertega di jagad ini, juga tampak misalnya di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Sudah jelas indikasi bobol Rp 1.300 triliun di transfer pricing, maka seksi yang menangani lima orang saja dari 32.000 jumlah karyawan. Dan lantas jika uang pembangunan kurang, karena hati beku, yang kemudian tampaknya hanya menaikkan harga gas, BBM, listrik dan kemudian semua harga melambung. Jalan tol, tanpa pengembangan jalan alternatif pun, ikut-ikutan naik. Kita seakan hidup di negara berbekuan hati. Begitulah bila segala kebijakan diambil oleh insan berhati beku. Hati beku tidak menggerakkan otak mengalirkan pikiran kreatif, apalagi terobosan jitu. Maka tantangan ke depan carilah pemimpin yang tidak beku hatinya. Sebab yang kemudian kental ada di pasaran adalah gaya pemimpin bak kodok di dalam batok. MAKA ketika saya di awal 2000-an berjumpa dengan sosok ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


opini

7

jurnalis senior AS di Jakarta, Bill Kovach, yang menuliskan buku The Element of Journalism, secara nyata ia tegaskan, bahwa kunci utama verifikasi, adalah kerendahan hati. Dan setelah aktif terus menulis, mencoba mengedepankan hati, termasuk membasuh kisi-kisi hati yang kotor karena congkak dulu, saya menemukan jawaban bahwa: memang tak perlu tinggi hati, apalagi kian meninggi, toh di cakrawala sana, di ketinggian 10.000 kaki, misalnya, beku nyatalah hati Anda. Dan, jika kehidupan di Indonesia kita bukan kian enak rasanya, tak perlu lagi saya jabarkan karena ulah apa? Sehingga jika di teve Anda menyimak berita rakyat miskin dibagikan beras dan mie instan, itulah fakta nyata, betapa bekunya hati yang membuat program. Beras karbohidrat. Mie instan isinya? Dua bungkus saja dimakan, tanpa asupan makanan bergizi lain, saya jamin yang memakan pada sulit buang air besar. Bahkan kakek-nenek, bisa-bisa mengeluarkan darah duburnya. Tak ada bantuan ke orang miskin membagikan pisang, buah segar, apalagi susu segar. Semuanya sudah terjangkit beku hati, otak dan nalar menjadi seragam: bantuan, ya, beras, ya, mie instan. | sumber: araucaria.com Itulah hasil kebekuan hati yang terkadang datang menyerang secara instan! NELSON MANDELA Karenanya di hari ini, di mana panitia Hari Nelson Mandela Mengenakan Pakaian Sukunya. yang jatuh hari ini, saya meneruskan ajakan, 67 menit saja Anda berbuat bagi kemiskinan. Dan jika Anda enggan mengeluarkan uang bantuan—dalam pengalaman saya di lapangan kini, kuat dugaan makin kaya seseorang makin pelit dan kian berhitung mengeluarkan uang—cukup 6,7 detik saja tafakur. Bertanyalah ke lubuk hati yang dalam: apakah hati saya sudah latah kena penyakit beku hati? Anda sendirilah menjawabnya! Siapa tahu hari ini Anda mampu mencairkan kebekuan hati. Dan jika berhasil, saya yakin besok, jika Anda pejabat, akan lain lagak-langgamnya, juga kebijakannya. Dan jika tetap sama, maka, bukan saja beku, tapi Anda telah mati hati! [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Cerpen


Cerpen

9

Gubrak, Nyoh, dan Din-din-din

G

paint by robert hefferan | www.facebook.com/pages/Open-Art/

UBRAK! Aku melemparkan tubuhku begitu saja ke atas sofa seperti layang-layang putus. Hasilnya: gubrak yang sangat keras. Sofa hijau pupus ini berderak, sepertinya ada yang patah. Aduh, aku harus memperbaikinya. Tapi, hijau pupus? Sofa ini seharusnya merah menyala. Seingatku, aku tidak pernah membeli sofa berwarna hijau pupus. Terlalu teduh. Orang-orang akan betah duduk berlama-lama di sini. Bukan itu mauku. Aku punya ruang tamu untuk menerima tamu, bukan untuk melayani tamu yang betah berlama-lama. Merah. Sofa harus berwarna merah. Dan menyala. Aku tidak tahu mana yang harus kurisaukan dari sofa ini, sesuatu yang patah di dalamnya atau warnanya yang hijau pupus. Istriku pasti menggantinya diam-diam ketika aku tidak di rumah. Ini pemberontakan, tidak bisa tidak. Istriku yang jarang bicara itu sudah berani mengganti sofaku tanpa bertanya padaku. Hei, aku arsiteknya di sini. Aku memang arsitek. Soal warna, soal interior, aku lebih tahu dari siapapun. Tapi lebih dari itu semua, aku seorang suami. Laki-laki. Perasaan bahwa kekuasaanku sebagai suami dikangkangi mulai menjalari tubuhku. Telingaku mulai terasa panas. Gubrak! Aku marah. Istriku harus tahu bahwa aku yang punya kuasa di sini. Tapi aku terlalu lelah untuk memulai sebuah pertengkaran. Tiga hari aku tidak pulang ke rumah. Pekerjaan di proyek mulai memasuki masa kritis. Aku terjepit di antara tenggat waktu dan klien yang cerewet. Atasanku mengerahkan semua pekerja untuk bekerja siang dan malam. Itu juga termasuk aku. Aku juga pekerja, walaupun arsitek. Kuputuskan untuk menginap di proyek. Terlalu merepotkan kalau aku harus pulang ke rumah. Tiga hari. Hari ini barulah aku bisa pulang ke rumah. Setelah tiga hari. Aku lelah luar biasa, tentu saja. Salah satu supir di proyek kuminta untuk mengantarku pulang. Aku terlalu lelah untuk bisa mengendarai mobilku sendiri. Dan benar-benar seperti layanglayang putus, setelah melewati beberapa lapangan dan beberapa sawah, tubuhku akhirnya terhempas di sofa hijau pupus ini. Ah, sofa hijau pupus. Kenapa harus hijau pupus? Supir yang mengantarku masih berteriak-teriak dari dalam mobil. Sepertinya dia masih ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi aku sudah tidak peduli. Pintu kututup dengan keras. Gubrak! Setelah tiga kali gubrak, seorang perempuan akhirnya di proyek ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

CEPI SABRE

Kami berdua hampir meledak. Tiga hari, gubrak, sofa hijau pupus, dan kopi setengah jam. Tiga hari, leher yang jenjang, dan bibir-bibir yang nyoh.


Cerpen

Terbakar. Tidak ada lagi laut, tidak ada lagi pasir, tidak ada lagi badai. Kering. Cepat aku berlari ke ruang tamu. Sofa hijau pupus itu lagi.

ilustrasi: salvador dali | www.facebook.com/pages/Open-Art/

10 ketika matahari begitu garang. Betapa segar meminumnya dalam beberapa tenggak. O, tiga hari yang sungguh melelahkan. O, tiga hari. O, tiga hari. Dan aku bersyukur bibir istriku tidak berwarna hijau pupus. Baru setahun kami menikah. Sudah tiga hari istriku kutinggalkan. Aku tidak pernah menyadari betapa hebat ciuman istriku. Sama seperti aku tidak menyadari betapa indah lehernya. Tangan istriku tidak lagi mencari-cari pegangan, tangannya menggapai-gapai. Melihatnya seperti melihat orang yang sedang tenggelam dan berusaha minta tolong. Sepertinya, bibirku menenggelamkan bibirnya, seperti laut menenggelamkan butir-butir pasir. Aku percaya, kalau saat itu ada penjaga pantai, mereka pasti akan bergegas berlari menolongnya. Aku percaya, celana mereka pasti merah. Bukan hijau pupus. Nyoh. Nyoh. Nyoh. Din, din, din. Kami berdua hampir meledak. Tiga hari, gubrak, sofa hijau pupus, dan kopi setengah jam. Tiga hari, leher yang jenjang, dan bibirbibir yang nyoh. Istriku pasti tidak berharap laut segera membawa butir-butir pasir terdampar di pantai. Hampir empat paragraf lamanya kami berciuman. Seorang penulis mungkin menghabiskan hanya beberapa menit saja untuk menulis empat paragraf, tapi seorang arsitek yang sedang terbakar nafsu butuh tidak kurang dari satu jam. Dan aku bersyukur bahwa aku adalah arsitek, bukan penulis. Tapi din-din-din itu sekarang mulai menggangguku. Sebuah ingatan akan sofa hijau pupus berkelebat cepat di kepalaku. Aku tidak berharap din-din-din itu adalah tamu yang menikmati teduhnya ruang tamuku dengan sofa hijau pupusnya. Tapi ingatan itu mulai mengendurkan cengkeramanku. Begitu juga istriku. Dia pasti lebih terganggu pada din-din-din itu daripada memikirkan sofa yang dibelinya diam-diam ketika aku tidak di rumah. Tangannya mulai pindah ke dadaku, mendorong pelan, memberi isyarat untuk menjauh. Laut masih harus bersabar menunggu datangnya badai. Din, din, din. Ada alasannya kalau aku memilih warna merah untuk sofa. Di saat kami hampir meledak seperti ini, alasan itu dan naluri arsitekku ternyata benar. Ini saatnya menepuk dada kukira. Tapi dada yang hampir meledak ini tidak bisa ditepuk sembarang waktu. Istriku memandangiku dengan bingung. Wajahnya pias. Aku lebih bingung melihatnya bingung. Dari dapur, istriku berusaha mengintip asal suara yang membatalkan badai yang kami buat selama empat paragraf. Din, din, din. Aku tidak meninggalkan bekas apa-apa di bibirnya, tapi istriku berusaha membersihkan bibirnya. Aku tidak tahu harus berkata ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Cerpen

11

apa. Sofa hijau pupus itu saja sudah menyinggung kelakilakianku. Cukup untuk menghasilkan sebuah gubrak. Lalu sebuah bekas ciuman yang dihapus bisa menghasilkan berapa gubrak? Hanya kebingunganlah yang sekarang memisahkan aku dengan beberapa gubrak itu. Istriku benar-benar sedang ketakutan. Dia seperti didatangi oleh hantu laut. Istriku memang jarang bicara, tapi aku tidak pernah melihat wajahnya sepucat ini. “Suamiku,” katanya. “Hah!” Din, din, din. “Suamiku pulang,” katanya lagi. Din, din, din. Apa-apaan ini? Tiga hari kutinggalkan istriku dan dia sudah bisa menyebut din-din-din itu sebagai suaminya. Dua juta gubrak tidak akan cukup untuk meredakan amarahku. Terbakar. Tidak ada lagi laut, tidak ada lagi pasir, tidak ada lagi badai. Kering. Cepat aku berlari ke ruang tamu. Sofa hijau pupus itu lagi. Dari balik jendela aku melihat sebuah mobil dengan seorang laki-laki di dalamnya. Kepalanya mulai terjulur keluar. Din-din-din yang tidak mendapat tanggapan memaksanya menurunkan kaca mobil dan menjulurkan kepala. Dari wajahnya yang merah aku tahu bahwa din-din-din itu akan segera berubah menjadi gubrak. Tapi bukan laki-laki dengan wajah merah di dalam mobil itu yang menggangguku. Juga bukan din-din-din-nya. Di belakang mobil itu aku melihat sebuah rumah kecil. Dari jendela rumah itu aku bisa melihat sofa merah menyala di ruang tamunya. Sofa merah menyalaku. Di depan pintunya, seorang perempuan sedang menyapu teras kecilnya. Istriku. Bibirnya memang tidak merah, tidak basah, tapi dia istriku. Lalu siapa laki-laki yang din-din-din ini? Dan yang lebih penting lagi, siapa perempuan yang nyoh- nyohnyoh selama empat paragraf tadi? Gubrak! [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

harmonia | www.facebook.com/pages/Open-Art/


Mini-Story

12

“Rumah”

A

LASAN Aka kembali adalah karena tempat itu menaruh kenangan, sebuah jembatan yang diam dalam ingatan, sepetak rumah di kapling berpagar kayu dengan cat retak pudar. Tak ada yang pantas diceritakan selain semua itu pernah berkisah, bersaksi, lalu menyimpannya. “Maukah kau menghabiskan sisa hidupmu untuk berada di sampingku, tidur, sarapan, makan malam, liburan, kehujanan, kepanasan?” Dengan senyuman perempuan itu berseri... “Maukah kau menjadi paint by max gasparini | www.facebook.com/pages/Open-Art/ sahabat yang setia bersama saat kita senang, susah, sakit, sehat, menjalani hari-hari yang buram, cerah, gelap, terang sampai kita DEASY TIRAYOH tak lagi bisa melihat warna?” Dengan senyuman perempuan itu berseri... “Aku mau kau melahirkan anak-anak kita, mereka akan memiliki senyumanmu, kelembutanmu, keceriaanmu, dan aku akan ajari mereka berburu, balapan, dan main bola.” Perempuan masih tersenyum... “Aku mau kau jadi istriku sekarang, esok, dan selamanya” Perempuan itu tersenyum dalam foto yang terus dibawa Aka kemana-mana. Rumah di tepi jembatan dihuni pasangan muda yang baru memulai indahnya cinta. Lima tahun yang lalu anak bungsu Aka mengontrakkan rumah Aku mau kau melahirkan anak-anak itu setelah lama tak berpenghuni semenjak mereka pindah ke kota lain. kita, mereka akan memiliki “Aku akan terus mencintaimu, istriku. Damailah senyumanmu, kelembutanmu, di sisi-Nya” keceriaanmu, dan aku akan ajari Langkah renta Aka menjauh, menapaki jembatan dan sebuah sedan telah menunggu. [] mereka berburu, balapan, dan main

bola.

29 Maret 2012

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Mini-Story

13

Kurung Kurawal

S

ETIAP kali menggawang ingatan pada masa kemarin, Lud DEASY TIRAYOH merasa bodoh. Merasa dikorbankan. Dengan alasan keagungan cinta mensublimasi kepalsuan menjadi rentetan janji. Di mana alam bawah sadar sedianya tergerak mundur untuk tak ingin memberi sakit pada dia yang terkasih. Juga pada diri. Tetapi segala telah salah dan keliru mengarah. Janji teringkari dan Lud telat menyadari serta tak punya pleidoi atas kelaki-lakiannya yang pernah sangat mendominasi. Termaafkan tapi kadang perempuan mendewakan rasa kecewa. Mengapa Lud masih memikirkan perempuan yang tak berhak dimilikinya? Manusia mengelu-elukan kompleksitas daripada kesederhanaan. Menantang kepedihan, ketidakpastian, keraguan, di atas nama keyakinan cinta. Bahwasanya Lud adalah pejuang cinta? Ia terkekeh di muka cermin. Aku pecundang yang sembunyi di balik kata-kata. Aku lelaki hampa disergapi ketidakpuasan, kesepian, dan ketidakberdayaan. Semua tiba di titiknya. Saat konsep nyali yang Lud kreasikan melalui kecermatan, kecerdasan, strategi, kelihaian tak bersejajar dengan nasib yang direngkuhnya. Sebab perempuan itu nihil digapainya. Maka ia menyerah. Membiarkan waktu mengalir dan memuara suatu saat. “Dunia edan, isinya cuma semu,� sergahnya. Menatap kecut pada kertas biru megah. Mendongak ke langit dari kaca mobil yang menganga. Seorang kakek mengais di seberang jalan. Lud tertawa, melihat keriput kusam. Betapa beruntungnya Lud atas harta melimpah. Namun Lud kembali henyak dalam tanya, “apakah aku lebih berbahagia dari pemulung tua itu?� Lud mendengus, karena merasa konyol. Bisa saja si kakek penuh lara dalam miskinnya. Saat konsep nyali yang Lud kreasikan melalui Tapi dia menua dengan kecermatan, kecerdasan, strategi, kelihaian tak perempuan yang dicintainya. Sedang aku? bersejajar dengan nasib yang direngkuhnya. Mata Lud melirik spion. Bergegas menginjak gas. Waktu berjalan maju dan undangan pernikahan Lud sudah tersebar. []

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Cerpen


Cerpen Pakansi

15

With Mith F

www.facebook.com/pages/Open-Art/

RIL, besok lusa bisakah datang, mengunjungiku?” Permintaan Mith pagi hari itu, lewat telepon celular. “Insya Allah, kau jangan menungguku, ya. Pasti aku akan berusaha tuk datang.” Lekas jawabku. Seminggu sebelum menjelang Ramadhan. Ada beberapa undangan, belum segelintir rapat yang menjenuhkan. Ya, sudah tanggung jawab. Bukan lagi untuk didasari dengan keluh. Mengingat posisiku yang sebentar lagi akan pensiun, rupanya. Hahaha. Ternyata aku ini sudah tua. Sebelumnya aku bukan seorang yang gemar banyak berbicara perihal basa-basi, hingga cukup sulit untuk akrab dengan orang yang baru dikenal. Harap maklum. Dalam perjalanan untuk mengunjungi Mith, entahlah...aku hanya takut akan menangis dihadapnya. Sebelum saat pertama kumengenalnya, dan sebentar lagi ia akan berangkat ke Jerman untuk menjalani pengobatan—Mith, kau tahu? Seberapa lama aku akan menangis, meski bukan ku-ungkap jelas dalam isyarat tubuh, tapi hatiku ya, menangis. Setelah aku memarkirkan mobil di depan rumahnya, aku sudah melihat Mith terduduk di kursi roda, seperti biasanya, bersama selendang berwarna coklat dan sweeter abu-abu yang membungkus hangat tubuhnya. Kacamatanya yang masih setia menggantung di lehernya. Dan aku melihat tubuhnya semakin kurus dan keriput. Aku berharap tentang ingatan saat aku dan Mith bersama, akan mudah terlupa begitu saja. “Assalamualaikum...” Sapa datangku dengan senyum yang sumringah. Mith langsung tersenyum, meski bibirnya seperti terus bergetar. “Waalaikumsalam... Afril, aku sudah cukup lama menunggumu. Sini aku ingin memelukmu.” Dan aku mulai mendekatkan diriku, bersiap menerima pelukan yang rasanya benar hangat dan tulus ada dalam aliran yang mengaliri rongga jiwaku. “Kau tahu Mith, suatu saat semua ini akan menjadi suatu yang akan terus kutagih...” bisikku dalam batin. “Bagaimana kabarmu saat ini, Mith?” Beberapa kali aku mencoba memalingkan tatapan, menahan gerimis yang sebentar lagi akan menghujan. “Afril, kabarku seperti yang kau lihat, aku masih bisa berbisik denganmu, aku masih bisa duduk di kursi roda ini, aku masih bisa memelukmu, yang terpenting aku masih diizinkan untuk berada di dekatmu saat ini...” ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

AFRILIA UTAMI

Mati, Mith? Bukankah kita setiang dengan kematian. Perihal kematian, Tuhan sudah mengatur, bayi, belia, muda, tua. Jika sudah waktunya, ya matilah.


Cerpen

Tanpa menunggu lama langsung ia mencari wanita yang ia cintai, tak menuntut lebih. Wanita itu telah menjanda dengan tiga anak yang masih balita.

ilustrasi: girasoles by vincent willem van gogh | www.facebook.com/pages/Open-Art/

16 Kali ini ucapnya sungguh semakin serak. Aku tersenyum. “Mith, yang terpenting untukmu. Kau masih bisa merasakan kebahagian, ketenangan, dan perhatian dari cinta dan kasih sayang dari anak-anakmu. Suatu saat kita akan pergi bersama, bukan? Tiada yang saling menyusul. Dan kita telah berjanji, kan?” Dan luruhlah, air mataku jatuh dari mata kanan. Bergegas aku menghapusnya. “Aku tak ingin melihat air matamu jatuh berlinang hanya karena aku. Kau tahu, Afril? Setiap hari dan detik, aku selalu memikirkan keadaanmu. Keadaanku biarlah, aku hanya menunda kematian. Tapi kau, Afril. Jalanmu masih panjang, dan kesembuhan itu nyata untuk kau nikmati, dan percayalah. Aku tahu, aku tahu apa yang selalu kau rasakan. Karena aku pernah berada di posisimu. Menahan rasa sakit dan nyeri, membohongi diri bahwa kabar diri sedang bertahan dari serangan yang sangat sakit dan nyeri. Lihatlah... “ semakin fokus Mith memandang kedua mataku, “di kedua tatapmu aku masih melihat seberkas sinar yang menyilau, dan itu adalah dirimu, Afril. Kau takkan mati, secepatnya.” Mith langsung menundukan kepala. “Mati, Mith? Bukankah kita setiang dengan kematian. Perihal kematian, Tuhan sudah mengatur, bayi, belia, muda, tua. Jika sudah waktunya, ya matilah. Aku bukan berputus asa, tapi ada inginku yang sangat dan besar. Jika Tuhan izinkan aku ingin sisa umurku diberi untukmu. Aku sudah merasa cukup dengan semua ini. Tapi kau, masih banyak yang membutuhkan. Mith, sudahlah Mith, aku sudah cukup bosan membicarakan perihal tentang kematian,” aku menghela nafas. “Sampai kapan aku menjadi robot? Aku ingin normal seperti wanita lainnya.” “Hmm...hidup dan mati tetaplah bersyukur. Takdirmu masih beruntung di antara lainnya.” “Ah, Mith kau ini. Jika aku diperbolehkan untuk memilih jalan hidupku. Aku tak perlu menerima seberapa banyak materi yang cukupiku. Tapi sehat dan bahagia menikmati kesederharnaan bersama mereka yang kucinta dan kusayang, itu sudah cukup. Aku tak perlu penghormatan karena status keluarga, aku ya aku. Astag’firrullah ya, aku khilaf. Ya, harus bersyukur.” “Ya, itulah adilnya Tuhan.” Sebenarnya di pertemuan kami ini, aku ingin membicarakan tentang ‘keluarga’. Namun, aku melihat Mith yang sedang berduka, karena cucunya, Fander, yang baru berpulang karena tabrak lari. Aku tahu Mith sangat dekat dengan para cucunya. Saban hari jika ada pertambahan anggota keluarga baru, ia mencatat lengkap nama, tanggal, jam, tempat, dan harapan. Dan tulisan itu hanya bisa dibaca Mith, tulisannya yang semakin hari seperti kode yang sulit diterjemahkan. “Fril... “ Sapanya. “Ya?” “Aku berharap kau dapat bahagia, dan itu selalu...” ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Cerpen

17

Aku tersenyum. Perlahan tanganku mendekat pada jemari kanan Mith, dan perlahan mulai menggenggamnya, erat. “Aku sudah merasa bahagia bersamamu, dan melihat sehatnya kabarmu. Itu sudah cukup.” “Hahaha...” Lepas tawanya. “Andai saja ya, jarak kelahiran kita hanya berbeda beberapa tahun, bukan seabad. Aku... “ “Aku apa?” Potongnya. “Hahaha, kau sudah tahu, bukan? Aku akan memilihmu...hahaha.” Di sinilah mulai terasa kembali, lahirnya hangat sebuah keluarga, dengan canda dan tawa. “Nah, jika begitu. Hari diusiaku ini, aku sudah mempunyai banyak cucu. Bukan begitu, Mith? Hahaha. Aku memang sudah seperti nenek-nenek.” “Tidak, kau sangat manis, pula cantik. Yang terlebih, aku mengagumi kemuslimanmu. Dan baiknya hati dan tingkahmu itu... ha ha ha, andai saja, ya?” Dalam candanya, sebenarnya ada yang serius. Aku tahu ia masih merasakan sedih dan luka yang teramat. Ya, sedikit aku mengetahui tentang perjalanan cintanya. Dulu saat ia menjalani studi S1-nya, ia sangat mencintai seorang wanita. Ia bilang, jatuh cinta pada tatapan pertama. Hingga menunggu kelulusannya, iapun menunggu wanita yang dicintainya juga menyelesaikan kuliah. Setelah Mith lebih dulu wisuda, ia sangat berambisi, mencari uang sebanyaknya, untuk bekal keluarganya kelak. Namun setelah empat tahun, Mith tinggal di negara seberang, ternyata wanita yang ia sangat cintai itu, telah menikah dengan seorang pria yang umurnya tak jauh berbeda dengannya. Di sinilah Mith merasakan putusnya gairah hidup, ia tak pernah melirik wanita lain, selain satu yang sudah menikah itu. Mith masih menyimpan rapi surat-surat cintanya yang sempat ia terima dari wanita yang sangat ia cintai. Sampai ia memutuskan untuk menunggunya sampai kapanpun. Iapun melanjutkan studinya dari S1, S2, dan S3 dan beberapa gelar lain yang memperpanjang gelar pada namanya. Sempat menjadi dosen selama 24 tahun. Hingga pada suatu saat ia mendapat kabar bahwa suami dari wanita yang ia cintai itu mati, terbunuh. Tanpa menunggu lama langsung ia mencari wanita yang ia cintai, tak menuntut lebih. Wanita itu telah menjanda dengan tiga anak yang masih balita. Karena kesungguhan Mith yang besar akan cintanya, ia menikahi wanita itu, tanpa butuh waktu lama. Karena nyatanya masih ada cinta yang bersarang di antara keduanya. Baru ia nikmati masa kebahagiaannya, setelah dua tahun, istri yang ia cintai meninggal karena kanker rahimnya. Mith sangatlah terpukul, terlebih sebelumnya ia tahu bahwa ia hanyalah seorang lelaki yang mandul. Sekali lagi, ia membuktikan diri sebagai seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

ilustrasi: santiago carbonell | www.facebook.com/pages/Open-Art/

Aku tak’kan sembuh, ini hanya sekadar menunda kematianku saja! Dan jika aku harus kembali ke sana, itu hanya memperburuk keadaanku.


Cerpen

The Traveller by Michael Shapcott (oil on canvas) | www.facebook.com/pages/Open-Art/

18 Diasuhnya tiga anak yang bukan darah dagingnya. Mith membesarkan ketiga “anaknya” menjadi orang-orang yang sukses. Ia memilih tak menikah lagi. “Pilihan cintaku hanya satu, pada seorang yang benar kuanggap istri. Takkan ada istri lainnya,” lugasnya ia berkata, saat semua rekan bahkan keluarga membujuknya untuk lekas menikah kembali. Ya, Mith. Kesetiaanmu pada satu pilihan itu yang aku kagumi, dan pengorbanan tanpa menuntut itu yang kusuka darimu. Selebihnya kau tetap Profesor Tua-ku yang hebat. “Fril...” bisiknya, “kau tersenyum sendiri, ada apa?” “Ada senyum yang ingin kubagi untukmu, Mith.” “Afril, cegahlah aku! Sebelum aku pergi ke negeri sana...” Rontanya yang keras, bersungguh. “Aku tak ada hak untuk mencegahmu, Mith. Jika memang itu sulit ‘tuk kuterima, tapi itu demi kesehatanmu.” “Percayalah, percuma semua negara itu mengobatiku. Aku tak’kan sembuh, ini hanya sekadar menunda kematianku saja! Dan jika aku harus kembali ke sana, itu hanya memperburuk keadaanku. Aku bisa cepat mati, dari waktu yang ditentukan.” “Jangan pesimis, optimislah. Sedikit aku simak tentang ‘pantang menyerahmu’ itu yang hanya ada dalam dirimu, Mith. Berjuang dan semangatlah. Aku di sini menantimu, berjanjilah esok dan esok kita akan bertemu.” Beberapa kali Mith ingin mengatakan sesuatu yang akhirnya tak jadi ia katakan. Mith, walaupun di seperempat rambu-rambu muara, kita tak juga lekas menyapa bahkan bersua. Maka ingatlah tentang ‘kita’. Saat bertemu, kita tak berakhir dalam harap. Kita terlanjur menyayangi. Berada pada satu lajur dan saling mengikuti. [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Menara Masjidil Haram h y d e ‘s p h o t o w o r k

Make : Nikon Coolpix 3700 Take : 23 April 2008 Software : Adobe Photoshop ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


inspirasi

20

kepompong emas chrysallis | sumber: cagelessthinking.com

Persahabatan Bagai Kepompong KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TIAP PRIBADI MENJADI INSPIRASI DAN BAHAN PEMBELAJARAN BAGI YANG LAINNYA, SEHINGGA KELAK AKAN MEMBUAT SEMUA MENJELMA MENJADI KUPU-KUPU YANG CANTIK DAN MENGGEMASKAN. RENA RENATA

S

IANG itu Kamis, 15 April 2010 matahari bersinar garang. Tapi, udara di rumah Niniel (salah satu dari 10 perempuan yang tergabung dalam kelompok Mini’s), yang terletak di kawasan Pratama Hills Lebak Bulus, Jakarta Selatan terasa sejuk. Tetumbuhan yang menyemak di sekitar kolam renang belakang rumah bagus itu mengirim angin sepoi-sepoi dan membelai semua perempuan yang tengah saling berebut bicara. Anehnya, semua punya topik seru untuk diperdebatkan. Maklum, ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


inspirasi

21

karena kesibukan masing-masing, kami hanya bisa berkumpul sebulan sekali. Saking serunya, ternyata, meski saat itu semua mengeluh lapar tapi tak ada satu pun yang beranjak menuju meja makan yang telah penuh dengan makanan lezat. Semua mencoba menahan lapar karena masih menunggu Intan, teman paling gaduh di antara kami.Intan yang ditunggu-tunggu masih 10 menit lagi baru akan tiba. Ia harus singgah membeli empek-empek di kawasan Kebayoran Baru. Ya, kesepakatan kami memang masing-masing membawa makanan. Tentu saja setelah “conference� lewat BlackBerry Messanger dua hari sebelumnya, untuk mengklopkan menu. Aku sendiri kebagian membawa Bandeng Pesmol, Noni dan Mila membawa Ikan Cakalang Asap Bumbu Rica dan Ayam Woku, Ina dengan Kangkung Plecing khas Lombok, Santi dengan Ayam Bakar Bumbu Rujak, Dewi membawa Rujak Buah, Niniel si nyonya rumah menyiapkan nasi dan bakso super lezat dan sehat karena dijamin tanpa borax dan bahan pengawet (katanya), dan Janti yang berbaik hati membawakan dua tart cantik untuk merayakan ulang tahun Ina dan Noni yang baru lewat beberapa hari lalu. Sembari menunggu Intan semua berusaha “menipu� cacingcacing di perut dengan memakan rujak buatan Dewi sembari berharap Intan segera datang. Tapi, karena setelah lewat 10 menit ditunggu Intan tak juga datang, akhirnya semua menyerah! Satu demi satu berjalan menghampiri meja makan dan segera memilih makanan kesukaan masing-masing. Niniel tiba-tiba punya ide memotret kerumunan kami di sekitar makanan dan segera mengirimnya ke BB Intan disertai permohonan maaf karena kami mendahului makan. Hal itu bukan bermaksud menghormati Intan yang memang lebih tua dua tahun dari kami, tapi justru mengompori agar ia segera datang sebelum makanan tandas. Syukurlah, tak lama kemudian wanita cantik satu itu akhirnya muncul juga di tengah-tengah kami. Kebersamaan kami memang seru. Meski tak selalu bisa lengkap 10 orang hadir dalam setiap pertemuan, tapi hal itu tidak mengurangi ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

ilustrasi | sumber: flickr.com


inspirasi

Keanehan siapapun di antara kami bahkan kerap menjadi bahan guyonan yang tak habis-habisnya. Tidak ada saling marah apalagi sakit hati. Semua hal kami maknai lucu dan menyenangkan.

22 hangatnya perjumpaan kami. Usia persahabatan kami yang telah puluhan tahun telah sampai pada titik saling menerima dan saling memahami karakter masing-masing. Maka, kalaupun ada salah satu di antara kami yang tengah bad mood ketika berkumpul dan bersikap sangat menyebalkan sekalipun justru menjadi bahan tertawaan bagi kami semua. Keanehan siapa pun di antara kami bahkan kerap menjadi bahan guyonan yang tak habis-habisnya. Tidak ada saling marah apalagi sakit hati. Semua hal kami maknai lucu dan menyenangkan. Biasanya kami berkumpul di cafe atau restoran, tapi kali ini kami memilih di rumah Niniel karena suatu alasan. Kondisi kesehatan Niniel yang agak menurun membuat kami mengubah kebiasaan kumpul-kumpul di luar. Kesediaan masing-masing kami membawa makanan juga bermaksud tidak mau merepotkan nyonya rumah, karena niatan kami yang utama adalah menjenguk Niniel. Namun, pada prakteknya Niniel justru sibuk menggiling daging untuk bakso sejak hari masih gelap, dan kegaduhan kami juga membuat tensi teman ayu kami itu menjadi drop saking kelelahan ngobrol dan bersenda gurau selama hampir enam jam! (semoga Mas Wawiek yang suami Niniel tidak menjadi gusar pada kami). Dan semoga sjuga kehadiran kami bisa menjadi energi yang membuat Niniel kembali sehat dan bugar. Kebersamaan kami memang harus disyukuri. Kesediaan masingmasing pribadi untuk tetap peduli satu sama lain pada saat-saat penting seperti misalnya ketika salah seorang di antara kami ada yang sakit, adalah bukti bahwa jalinan hati kami semua sudah sangat erat. Jakarta yang gaduh tidak membuat kami tenggelam dan tidak punya waktu lagi untuk saling berbagi dan saling peduli. Persahabatan memang bagai kepompong. Ia membuat kami bersama-sama tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kian matang dan bijak. Kelebihan dan kekurangan tiap pribadi menjadi inspirasi dan bahan pembelajaran bagi yang lainnya, sehingga kelak akan membuat semua menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik dan menggemaskan. []

https://www.facebook.com/groups/cerpenkucerpenmu/

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Kaji puisi

23

BERTUHAN MELALUI PUISI ”Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah tuhan”

cryptography egypt 1742 | sumber: flickr.com

Belajar dari Kelingking Adhy MENJUMPAI TUHAN MELALUI PEREMPUAN ATAU BERTUHAN MELALUI PEREMPUAN ADALAH KONSEP YANG DITAWARKAN IBNU ARABI. KONSEP INI ADALAH GERAK PENGHARGAAN TERTINGGI KEPADA MAKHLUK YANG BERNAMA PEREMPUAN.

I

NILAH hujjah atau dalil universal tentang keberadan Tuhan dan perwujudanNya. Kemisteriusan Tuhan adalah sebuah kabar baik dan buruk dari langit. Di mana manusia sebagai hambaNya berusaha menemukan Tuhan untuk diajak dialog dan menumpahkan ratap juga harap. Namun di sisi yang lain, manusia ada yang acuh dan menjauhi Tuhan karena adanya proses pencarian yang melelahkan itu. Inilah dampak positif dan negatif dari kemisteriusan Tuhan itu. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

H. SYAIFUL ALIM, Lc.


Kaji puisi

Ketika Nitszche berkata “tuhan telah mati”, bagiku dia itu sedang gelisah dan ingin bertemu dengan Tuhan.

ilustrasi: viejo con guitarra by pablo picasso (1903) | www.facebook.com/pages/Open-Art/

24 Tuhan tidak membiarkan sang pencari itu tanpa arah dan hidayah. Tuhan memberikan kemudahan proses pencarian dengan bertajali (penampakan, cerminan, perwujudan, atau manifestasi) ke dalam diri makhlukNya. Tuhan bisa bersemayam di alam, benda dan manusia. Adalah Ibnu Arabi (560-638 H/1164-1240 M) yang mengenalkan konsep ‘tajali tuhan’ itu. Di dalam kitab Fushulul Hikam (mutiaramutiara hikmah), Ibnu Arabi berkesimpulan bahwa perempuan adalah tajali Tuhan paling sempurna. Karena di diri perempuan ada dua energi, yaitu energi reseptive (munfa’il) dan energi creatif (fa’il). Jika kita mengarungi kedua energi ini, maka kita akan mendapatkan keyakinan (al-ma’rifah al-yaqiniyyah) dan ilmu rasa (al-ma’rifah al-dzauqiyah). Menjumpai Tuhan melalui perempuan atau bertuhan melalui perempuan adalah konsep yang ditawarkan Ibnu Arabi. Konsep ini adalah gerak penghargaan tertinggi kepada makhluk yang bernama perempuan. Perempuan dengan segala pesona keindahannya memancarkan kemilau cahaya penerang jagad raya. Seolah-olah Tuhan berfirman, kejarlah Aku seperti kau mengejar perempuanmu. Bertolak dari gerak konsep Ibnu Arabi itu, maka saya berani menawarkan bertuhan melalui Puisi. Puisi itu mahkluk Tuhan. Dan Tuhan bermanifestasi ke diri dan duri Puisi. Sebuah kebetulan atau kemurahan Tuhan kepadaku, Tuhan menurunkan firman selain kitab suci kepada jemari penyair Adhy Rical. Firman itu mewujud puisi dengan judul Kelingking. Dari puisi Kelingking lah konsep bertuhan yang saya tawarkan itu mendapatkan pijakannya yang kokoh. Dunia ini terbentuk dari kata-kata. Apa-apa yang difirmankan Tuhan adalah puisi. Dan kini puisi mencari Tuhannya. Tuhan yang remang dalam bayang-bayang wajah kehidupan manusia maupun Tuhan yang terang dan sembunyi di kitab suci. Penyair selalu bimbang dan terus gamang jika dihadapkan dengan ‘Tuhan’ atau ‘atas nama Tuhan’. Maka ia berusaha berlari dan sembunyi di gua puisi, dengan harapan semoga Tuhan menghampiri. Tapi itulah Tuhan, semakin kita menjebak, semakin dia mengelak untuk hadir. Kebanyakan manusia mencari Tuhan di kitab suci. Dan itu syahsyah saja. Tapi bagi saya, sulit menemukan Tuhan di kitab suci, meski itu adalah tanda keberedaanNya. Kitab suci itu telah terkunci. Sementara para penafsir dan kitab-kitab tafsir mereka hanya berbicara tentang apa-apa yang diinginkan dan subjektif sifatnya. Kita malah semakin tidak menemukan Tuhan. Karena Tuhan sudah dibonsai oleh para penafsir itu. Pemikir muslim Muhammad Abduh mewanti-wanti supaya berhati-hati membaca buku-buku tafsir, karena buku-buku tafsir itu ditulis dengan maksud tertentu. Maka beliau menganjurkan kepada ummat untuk membentuk tafsir sendiri yang sesuai dengan konteks zaman yang terus tumbuh dan berkembang. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Kaji puisi

25

Jalan bertuhan melalui Puisi adalah kegelisahan. Maka sang pencari Tuhan melalui jalan ini senantiasa berdoa, “ya tuhan, tambahkanlah aku kegelisahan” bukan ‘’ya tuhan, tambahkanlah aku keyakinan”. Pencarian tak kan berhenti jika dirundung kegelisahan. Dan sebaliknya keyakinan itu justru semakin membikin lemahnya ranah rasa sang pencari Tuhan. Karena menganggap telah finish dan sudah menggapai puncak gunung tertinggi. Dengan puisi, manusia dibikin terus resah, menanyakan apa yang tersembunyi di balik kejadian semesta. Dengan puisi, penyair dibikin terus berdesir rasanya, menikmati, mengamati dan mengendapkan gejala alam, juga gejolak dalam dirinya sendiri.

www.facebook.com/pages/Open-Art/

: siapa aku? Bayi-bayi puisi berlahiran dari jemari penyair dan mengalir di muka bumi, tapi Tuhan yang diselimuti kebenaran juga tak kunjung ditemui. Puisi menjadi misteri. Ia tak terdefinisi, seperti tuhan itu sendiri. Ketika Nitszche berkata “tuhan telah mati”, bagiku dia itu sedang gelisah dan ingin bertemu dengan Tuhan. Kesimpulan bahwa Tuhan telah mati adalah sebuah proses pencarian yang akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan baru. Kesimpulan yang bisa jadi bertolak belakang dari kesimpulan sebelumnya. Puisi dengan segala misteri dan kekompleksannya menghamparkan jalan setapak berduri. Duri-duri itu selalu mengincar diri kita, dan jika kita tidak siap dan sigap, kita akan tertusuk dan membusuk di perjalanan menujunya. Itulah jalan pencari Tuhan melalui puisi. Justru di sinilah letak keasyikan pencarian itu. Pencarian yang berdarah-darah, terseokseok, menahan luka di sekujur tubuh. Kalaupun pada akhirnya tak menemukan Tuhan, kita sudah merasakan manifestasi-manifestasi Tuhan. Manifestasi yang mewujud dalam puisi. Oh Tuhan, oh puisi di mana kalian berdua berada? Bibirku ingin bersujud di bibir kalian berdua.

Teks Puisi: KELINGKING doaku kecil saja lima belas ayat lima jari bukan empu jari memuji atau telunjuk kau tunduk bukan tengah pemenang laga atau pemanis lemari harta aku kelingking saja berdenyut di hidungmu

II KINI tiba waktunya mencari dan bertuhan melalui Puisi. “doaku kecil saja” Doa yang bermakna meminta adalah laku makhluk yang butuh sesuatu. Ditilik dari relasi peminta dan pemberi ini maka posisi peminta itu lemah. Ibarat juragan dengan buruh atau majikan dengan pembantu atau juga pemimpin dengan pegawai. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

Adhy Rical Konawe, 2009


Kaji puisi Pustakaloka

Sudah menjadi kebiasaan orang berdzikir bahwa hanya jari tangan kanan yang digunakan untuk menghitung jumlah dzikir yang dilafadzkan.

26 Lalu siapa si peminta dan si pemberi dalam larik “doaku kecil saja”? Kedekatan apakah yang mengikat hubungan keduanya? Saya yakin bahwa si peminta yang berdoa adalah kelingking. Sang penyair telah membuka pintu sajaknya dengan judul Kelingking. Dan saya sebagai pembaca dengan mudah menangkap ke arah mana ayunan judul ini melangkah. Kenapa kelingking? Kenapa tidak ibu jari, telunjuk, tengah atau jari manis? Kelingking yang merupakan bagian dari jari tangan memiliki filosofi tersendiri yang berbeda dengan keempat jari lainnya. Kelingking adalah simbol atau lambang kelemahan dan ketidakberdayaan. Sungguh tepat letak kelingking di pinggiran jari tangan. Betapa gemilangnya larik penyair Adhy Rical ini. Sang penyair telah meletakkan hakekat sesuatu pada tempatnya yang tepat. Kelingking yang di pinggir dan lemah disepadankan dengan peminta atau pendoa. “doaku kecil saja” Doa (pinta) ku (si aku lirik atau kelingking) kecil (sederhana, biasa, remeh) saja (sungguh, sebagai kata penegas permintaan). Kepada siapa si aku lirik atau kelingking meminta? Tentu bukan kepada juragan atau pemimpin perusahaan. Dari pertanyaan ini mulai terkuak siapa yang dituju oleh si aku lirik, yakni Dia yang transenden. Dia yang maha mencipta. Tuhan telah menjadi pemberi dan pengabul doa atau permohonan “lima belas ayat lima jari”

ilustrasi: ademaro bardelli paint | www.facebook.com/pages/Open-Art/

Pada larik cantik ini saya diam. Merenung dalam-dalam. Menghirup udara alam malam. Dada terasa digedor-gedor kekuatan aneh. Saya kagum dan sujud kepada penyair Adhy Rical. Betapa dia telah membawaku pada danau bening filsafat angka-angka. Lalu saya mengamati jari-jari tangan pemberian Tuhan ini. Puji syukur sempurna. Angka lima belas menggores kesadaranku yang telah lama rusuh dan lusuh oleh debu-debu khianat. Dari manakah sang penyair mengambil angka lima belas dari jari-jari tangan? Saya posisikan jari-jari tangan kanan tepat di mata. Aha, saya mendapat jawab: 5 jari 15 ruas…? Setiap jari memiliki 3 ruas dikali 5 hasilnya 15. Kenapa tidak 10 jari? Dan 30 ruas?

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Kaji puisi

27

Saya menduga penyair Adhy Rical menjelma filsuf ketika menulis sajak ini. Saya dibuatnya pusing menyingkap isyarat angka-angka itu. Kenapa tidak 10 jari? Dan 30 ruas? Untuk menjawab soal musykil ini saya menariknya ke dalam ragam berdzikir seorang hamba kepada Tuhannya: 1. Menggunakan bantuan alat berupa tasbih. 2. Tanpa bantuan alat buatan manusia, yakni menggunakan fasilitas jari. Sudah menjadi kebiasaan orang berdzikir bahwa hanya jari tangan kanan yang digunakan untuk menghitung jumlah dzikir yang dilafadzkan. Ibu jari bergerak rancak ke ruas-ruas jari. Setiap jari memiliki tiga ruas.

ilustrasi: ademaro bardelli paint | www.facebook.com/pages/Open-Art/

Doa apakah yang dilantunkan kepada setiap ruas jemari itu? Ruas satu : Subhanalloh (maha suci tuhan) Ruas dua : Alhamdulillah (segala puji hanya kepada tuhan) Ruas tiga : Allohu Akbar (tuhan maha besar) Detak jantungku berdegup kencang. Seolah darah mengalir deras sampai kepala. Alangkah hebat dan kontlempatif larik sajak penyair Adhy Rical ini. “doaku kecil saja lima belas ayat lima jari” Sebenarnya saya ingin membahas panjang lebar doa dalam tiga ruas itu di sini, tapi saya kira bukan pada tempatnya, saya tidak ingin jadi kiai di esai sederhana ini, nanti saja jika sudah pulang kampung jadi kiai he he. Ibu, aku merindumu. Aku menggigil memanggil-manggil namamu. Anakmu yang merantau jauh ini melepuh tersengat api rindu. Kukenang jemarimu mengayunngayunkan dzikir berdoa buat keselamatan dan kesuksesanku. “aku kelingking saja berdenyut di hidungmu” Inilah ending sajak yang membuat bulu kudukku merinding. Si aku lirik yang pada larik pembuka begitu santun dan kalem, tibatiba menetak kesadaran manusia, yang diwakili oleh si hidung itu. “aku kelingking saja berdenyut di hidungmu” Denyut adalah pertanda kehidupan. Sebuah doa sederhana yang ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

Kenapa para penyair mencintai keheningan dan menyetubuhi alam? Karena dalam hening alam itu urat, indra dan syaraf dapat mencecap, menyerap dan menyergap dengan cepat sabda alam


Kaji puisi

28 melebur jadi pengkudusan itu melahirkan nafas-nafas keberlangsungan. Denyut itu simbolik makna. Si aku lirik merasa hidup di pegunungan, dengan hawa sejuk dan kicau beburung di reranting pohon. III

BAGIKU penyair itu layak seorang nabi. Dia menjadi jembatan manusia menuju muara hakekat. Dia menjadi tangga menggapai bintang rembulan di langit. Dia menjadi lentera penerang ruang gelap gulita. Penyair begitu sabar menanti atau mencari ilham. Termenung berpeluk kesunyian. Seorang penyair membutuhkan suasana yang steril dan higienis dari kuman-kuman, polusi-polusi, tumpukan sampah busuk dan hiruk pikuk kebisingan kota. Penyair Kesemua itu dapat mencemari, meracuni bayibayi karya yang akan ditetaskan-dilahirkan. Dia adalah rantai penghubung Bahkan dapat mudahnya terjangkiti penyakit Antara dunia ini dan dunia akan datang hingga menjemput kematian. Kenapa para Kolam air manis buat jiwa-jiwa penyair mencintai keheningan dan menyetubuhi alam? Karena dalam hening alam itu urat, indra kerontang dan syaraf dapat mencecap, menyerap dan Dia adalah sebatang pohon menyergap dengan cepat sabda alam; desau Di lembah sungai kehidupan angin, luruh daun jatuh, ranting patah, kicau burung, gemericik air, kecipak ikan, cahaya yang Memikul bebuah ranum berenang di pori-pori daun, dentuman ombak, Bagi hati lapar yang mencari. geliat ulat tersengat matahari. Mungkin tersebab itu para nabi dan rasul berkholwah (menjauh) dari manusia dalam proses semedi dan penyucian KAHLIL GIBRAN ~ Dam’ah wa diri serta menerima ilham atau wahyu ilahi. Ibtisamah. Misalnya saja Nabi Muhammad SAW. Beliau diasuh dan dibesarkan di daerah jauh dari hiruk pikuk kota, kampung Baduy. Wahai Pembaca, sengaja saya tidak memberi kesimpulan pada esai sederhana ini tentang konsep bertuhan melalui puisi, tapi saya yakin Pembaca sudah tahu ke arah mana bandul kata saya mengayun. Karena semua harus ada ujung, maka saya ucapkan selamat dan salut kepada penyair Adhy Rical, jangan berhenti merangkai butir-butir kegelisahan, menjadi tasbih-tasbih penghambaan kepada Dia yang Maha Desir. Mungkin sebait syair Dam’ah wa Ibtisamah— Setetes Airmata dan Seulas Senyuman, yang saya terjemahkan dari kumpulan sajak Kahlil Gibran ini menjadi semacam pengukuh jalanmu dan jalanku meniti lekak lekuk Tuhan melalui puisi. [] (Khartoum, Sudan)

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Puisi-puisi Adhy Rical

29

Liang tanah ini masih merah ketika kali pertama tanganmu memeluk liang. kita berloncatan sambil menghitung kunang-kunang keluar dari celah batu. mari berimaji karena kita hanya bisa memotong kuku dan rambut tapi tak bisa melarangnya tumbuh. kau menahannya ketika lembar-lembar mimpi belum juga tandas sebagaimana cahaya kunang-kunang lelap di rambutmu. barangkali kita tak perlu duduk untuk mengubah rencana yang kesekian. bukan pula kekarnaan yang kian rumit diterjemahkan. yang pasti, mimpimu hanyalah hammurabi padahal dinding batu ini tak lebih dari jejak sultan butuni. aku tak pernah tahu kalau ribuan serapah telah tertinggal. seperti keringat yang kau bekukan dalam bakul tak pernah kau rangkul. jangan tentang dengan tangismu karena aku tak akan berhenti memelukmu. doa dan restumu menjadi gerhana di mataku, ibu. begitulah katamu kalau sepagian menumbuk batu dalam liang. jadilah nabi bagimu! Kendari, 2010

Kutang Pancara

Kelingking

kutunggu engkau di pancara melewati sungai konaweha perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya jangan takut tenggelam kita buka dengan kancing baju agar keringatmu menderas

doaku kecil saja lima belas ayat lima jari

sudah lama mengail dakimu apung tapi tak pernah tenggelam lelah belum bisa mengeja titahmu tatih padahal kau memanggilku lelaki air setelah menyelam dalam tangis anakmu apakah aku mirip perempuan batu menangis?

bukan empu jari memuji atau telunjuk kau tunduk bukan tengah pemenang laga atau pemanis lemari harta aku kelingking saja berdenyut di hidungmu Konawe, 2009

kutunggu engkau di pancara menjadi bilalmu dan dayung masa tuamu apakah engkau akan datang kutangku? kutang yang engkau titipkan padaku sudah kupenuhi beras kau tak perlu memelas dua tiga lelaki mendayung tubuhmu Laosu, 2010 ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

dok. adhy rical


Spekta

30

ppaberlin.org

Gazaku Menangis BULAN INI BULAN JANUARI. BULANNYA JARANG MANDI. PERKIRAAN CUACA DARI BADAN METEREOLOGI DAN GEOFISIKA SUDAN MENYATAKAN BAHWA SUHU UDARA SUDAN BULAN INI SEMAKIN MELOROT; DARI 47 DERAJAT CELCIUS MENDEKATI 17 DERAJAT CELCIUS. TUBUH TROPIS SAYA MENGGIGIL SETIAP DISENTUH ANGIN DINGIN. H. SYAIFUL ALIM, Lc.

REMBULAN merambati malam. Angin malam menerkam kesunyian. Dedaunan gaduh. Reranting tua rapuh jatuh menjemput takdir akhir, kematian. Kunang-kunang bermain kejar-kejaran dengan serpihan cahaya rembulan yang sembunyi di punggung dedaunan. Malu kepada kunang-kunang yang telah membuatnya jatuh cinta. Deg-degan jika berpandang mata. Keringatan jika disapa. Gelingsatan ketika dipuja. Itulah mula cinta--hati-hati jangan sampai demam. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Spekta

31

Binatang malam melirihkan suara. Seperti bisik. Lama-lama beribu risik. Mengusik ketenangan bintang-gumintang. Bintanggumintang yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Cahaya kerlipnya menambah indah cahaya rembulan. Malam ini aku ingin keluar. Aku ingin membeli odol dan sabun. Besok pagi aku ingin mandi. Sudah dua hari aku tidak mandi. Bukan karena takut air dingin dan malas mandi, tetapi karena persediaan odol dan sabunku habis. Hendak beli odol dan sabun baru, namun selembar Dinar pun tak ada di lemari kamar, di dompet tua hanya ada foto keluarga dan kartu mahasiswa. Untung ada teman yang pulang dari haji plus. Aku dapat bonus surban dan selembar Dinar: sepuluh Pound Sudan. Aku kenakan jaket tebal yang telah menua warnanya. Keluar dari kamar asrama. Berjalan menapaki setiap inci bumi. Wuss. Angin mendengus. Angin dingin mendekap tubuhku. Kuku-kuku runcing angin dingin mencakar-cakar tubuhku. Jaket tebal tak sanggup menahan koyakan runcing angin dingin. Darahku membeku. Aku menggigil. Tidak, aku tetap melangkah, aku ingin mandi esok pagi, gumamku penuh tenaga, sepenuh langit dan bumi. Rembulan semakin menjalangi bentangan langit malam. Cahaya berenang di lautan malam. Warna pekat hitam, bintang gumintang terdesak cahaya rembulan. Warna putih menguasai malam. Langit menyangga rembulan. Lampu-lampu jalan raya dan lampu berskala sepuluh watt dari pedagang kaki lima menambah semarak pagelaran rembulan. Seakan-akan telah janjian untuk membahagiakan malam. Di mana-mana pemandangan kampus selalu sama. Toko, warung internet, rumah makan, pedagang kaki lima. Semuanya itu menggambarkan sebuah jodoh yang tidak terpisahkan. Seperti air sungai Nil biru dan putih yang menyatu. Begitu juga di Sudan. Di depan kampus Intrernational University Of Africa. Saya menyebrang jalan diiringi senyum rembulan dan suara klakson mobil yang bersahut-sahutan tidak sabaran. Bau asap knalpot menohok hidung menyesak paru-paru. Setelah sampai menyeberang jalan. Aroma khas teh dan rasa sedap makanan dari rumah-rumah makan bertebaran. Menggugah syaraf-syaraf hidung untuk mengidentifikasi. Ayam panggang bakar, daging kambing sapi bakar, ikan nil goreng, Basim, Kaware, Sawarma. Membuat lambung bergelombang lirih terdengar. Aku tidak boleh terbujuk rayuan aroma masakan itu. Aku sudah bersyukur bisa makan di Qoah Jamiah walau hanya dengan dua kepal nasi dan sepotong daging. Aku berhenti di supermarket: menggaet odol dan sabun. Selepas dari supermarket, aku langsung nyelonong keluar dan berjalan. Tubuhku semakin menggigil. Jari-jemari tangan aku masukkan ke dalam saku jaket. Kepalaku menunduk. Tiba-tiba ujung sandalku menginjak seberkas koran bekas. Aku lekas memungutnya. Mataku memagut sebuah berita, berita luka: Gaza Menangis. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

Darah dan nanah menggenang di tanah berlubang. Hanya airmata dan raung ibu-ibu menggaung. Jerit histeris mengiris-ngiris ketenangan pemukiman pasir.


Spekta

flickr.com

KORBAN ANAK Setelah serangan udara Zionis

Tiada lagi yang tersisa, kau lihat jari-jariku, layu kaku, diserap beban duka, kau lihat wajahku, seperti kembang hampir mati, kau lihat mataku, hanya airmata yang ada, kau lihat tubuhku, yang tak lagi utuh.

32 â€œâ€ŚIsrael mengerahkan ribuan tentaranya. Langit Gaza dikepung helikopter dan pesawat jet tempur. Tank-tank berlapis baja menghias jalan raya. Israel menggempur bumi Gaza. Pesawat jet tempur Israel berakrobat menembakkan roketroket. Langit Gaza menggelegar bagai kilat halilintar. Tank-tank berlapis baja memuntahkan bola api ke bumi Gaza. Bumi Gaza hangus terbakar. Bumi Gaza bergetar. Berguncang. Mengguncangkan gedung-gedung, rumah penduduk, masjid dan mushola. Seisi bumi Gaza berhamburan. Berlarian menahan darah yang pecah dari tubuh. Ratusan hilang nyawa. Ribuan luka-luka. Serpihan paha dan kepala berserakan dimana-mana. Darah dan nanah menggenang di tanah berlubang. Hanya airmata dan raung ibu-ibu menggaung. Jerit histeris mengirisngiris ketenangan pemukiman pasir.â€? Sukmaku mengembara di Gaza. Aku melihat seraut wajah gadis manis cilik duduk di tengah puing-puing di bawah pergumulan api. Ia menangis meratapi ayah bundanya yang hangus dilahap bola api. Abi, ummi, ia memanggilmanggil ayah-bundanya seraya menggoyang-goyang tubuh kedua jasad tak bernyawa itu. Kedua jasad itu tak menjawab. Ia masih menggoyang-goyang kedua tubuh lepuh itu. Ia memeluk kedua mayat itu dan menempelkan telinga di dada: tak ada detak jantung. Ia pun memekik tangis. Suara tangisnya mengalahkan dentuman ledakan senjata yang bengis. Pipiku telah basah. Kedua mataku mengalirkan airmata. Airmataku tak mampu kubendung. Dengan gemeter tubuh, aku hampiri gadis manis cilik itu. Ia sontak berhenti menangis dan curiga dengan kedatanganku. Aku berhenti sejenak dan mengamati lamat-lamat maklumat wajahnya; pipinya hijau daun, dagunya seruncing lembing, bibirnya merah kirmizi, matanya danau yang menyimpan kecipak ikan dan lembut ombak, bulumatanya yang hitam terbalik tajam bagai cadik: sebuah paras yang kontras dengan kerasnya perang, sebuah wajah keteduhan di tengah terik peperangan, seraut wajah lembut di persimpangan carut-marutnya maut bergelut. Seandainya aku Leonardo Da Vinci, akan aku kanvas wajahnya dalam kertas, dengan tinta darah dan airmata yang mancur dari sumur matanya. Aku mengulurkan tangan dan berkata: ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Spekta

33

“Jangan lagi menangis aku takut airmatamu akan habis jangan lagi menangis apalagi airmatamu telah terkikis Jangan membuatku ikut menangis kemarilah biar kuceritakan kisah tanah retak yang diguyur hujan jangan membuatku ikut menangis merebahlah agar kering luka, tertutup serabut benang pemakaman

Gadis manis cilik itu tetap di gua jiwaku. Aku balut sekujur tubuhku dengan selimut. Kelopak mata yang mekar perlahanlahan menguncup. Redup.

Sudah lama aku menderita, tak ada yang tersisa, kecuali airmata. Tiada lagi pundak sandaran kecuali tangisan. Tiada lagi yang tersisa, kau lihat jari-jariku, layu kaku, diserap beban duka, kau lihat wajahku, seperti kembang hampir mati, kau lihat mataku, hanya airmata yang ada, kau lihat tubuhku, yang tak lagi utuh. Kau ingin rasakan cucuran airmata, luka, duka aku saya punya? Jangan, aku takut engkau akan tenggelam dalam airmataku. Jangan, aku khawatir patahan reranting luka dukaku menghalangi peta jejakmu. Aku menjadi saksi kebiadaban. Aku menjadi saksi pembantaian. Aku menjadi bukti ketidakberdayaan. Aku dibesarkan dengan dendam dan darah. Aku diasuh tangan keras senjata dan peluru. Entah berapa abad lagi aku tamatkan kebiadaban ini. Entah berapa senja lagi akan aku isyaratkan ketakutan dan kecemasan ini. Aku inginkan waktu berpintu dan berjendela. Biar kutinggalkan dan kutanggalkan kenangan hitam ini. Kenangan penuh debu dan mesiu. Sudah lama aku tak punya cinta, tak ada yang tersisa, kecuali benci. Kau ingin mengembalikan cintaku yang hilang? Jangan, nanti kau kehilangan cinta, karena aku diterpa kehausan akan cinta. Biarkan sawah ladangku tetap gersang, biarkan kemarau selalu meranjau. Aku sudah terbiasa kekeringan tanpa hujan. Aku sudah terbiasa meminum seduhan keringat hangat, yang keluar dari jari-jari tangan dan kaki. Aku sudah terbiasa memandang taman tanpa bunga, karena bunga itu duri. Dan duri sudah menjadi pakaianku SOLAT DI LUAR AL-AQSA sehari-hari. Aku takut kau tersusuk duriku dan berdarah. Aku hanya Beribadah pun dilarang ingin kau menjadi bunga, yang menebarkan semerbak mewangi kepada bumi.� ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

flickr.com


Spekta

34 Aku ingin mengambil durimu, untuk melindungi bungaku. Aku ingin memberikan semerbak bungaku, untuk membasuh lukamu.

save-palestin.com

ANAK-ANAK PALESTINA Hilangnya harapan hidup

Lalu aku gamit tangannya. Aku balut tubuhnya dengan jaket tebalku. Aku masukkan ia ke dalam gua jiwaku. Aku ingin menjadi tameng hantaman peluru baginya. Cinta. Aku mencintainya. Di sinilah cintaku dicoba. Aku ingin berkorban apa saja demi cinta. Cinta adalah perjuangan. Cinta harus diperjuangkan. Cinta adalah pengorbanan. Gigil tubuhku lumayan mereda. Aku merasakan kehangatan airmata yang mengalir deras dari kedua matanya. Aku berjalan pelanpelan dengan menyisihkan serakan tulang-belulang. Sementara suara gelegar halilintar dari jet-jet tempur serdadu Israel masih terdengar. Aku percepat langkah kaki menuju kamar. Sampai kamar, aku langsung merebahkan tubuh: aku ingin tidur. Gadis manis cilik itu tetap di gua jiwaku. Aku balut sekujur tubuhku dengan selimut. Kelopak mata yang mekar perlahan-lahan menguncup. Redup. Betapa terkagetnya aku ketika bangun tidur pagi hari: gadis manis cilik itu tidak ada dalam gua jiwaku. Ia telah menghilang. Aku bergegas bangkit dari ranjang. Keluar kamar. Berlari mencari gadis manis cilik itu. Tak ada tapak jejak. Aku berlari di bawah cahaya matahari pagi yang menari-nari. Tiba-tiba sayup-sayup telingaku mendengar suara: suara gadis manis cilik itu: “Thank You. Make love. Make peace. Make poems not bombs�. Gemuruh guruh suara gadis manis cilik itu menjelma sajak: make love make peace make poems not bombs Aku jejakkan sajak itu di tapak bumi. Aku menginjak bumi bermandikan cahaya matahari. [] Asrama Asmara, Darus Salam, 06/01/09 [12:15:12] Malam.

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Puisi-puisi Hyde Asmarasastra

35

Celaru dalam adzan yang mengiringi aku menungguMu dalam denting air yang sunyi lesap di antara senja dan pematang rasa tuaku di sini tuah yang tertepi tengadah tak terdahaga oleh debu celaru dalam hatiku [Juni 25, 2009 08:28 PM]

Hutan Lambang

Lepus Hening

terpuji dalam sebutan menggelapkan pandangku ke rumahMu tersesat di hutan lambang pada sebidang kanvas dalam sapuan biru gelap status palsu tak dapat menangkap makna maut yang senyap bersambung dalam lenyap

pada muku taut sisa ini harap lekat sudahnya ingin sebab di dadaku berdesakan kisah-kisah lampau kecimpung serupa angin jadi marilah beringsut lepus hening dan bicaralah tenang dalam gelap lengang biar kau tahu di situ tersebut namamu diam-diam hidup, kubawa kesiap liang.

[Juli 03, 2009 08:54 AM]

Terbis

[Agustus 31, 2009 09:36 AM] dalam impi kuingat tubuhku pampat setiap inci mengheksa geliat duh Gusti...! serak pagiku cucur keringat menebuk tengkuk sebab di malam paling lubuk aku memeluk ketat ceruk tersuruk pun jika waktu menundung tersaruk-saruk aku di tipis titian rambut belah tujuh terbis! [Oktober 01, 2009 10:42 AM] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Notula

36

Kampung adalah Basis Peradaban

indonesiaberprestasi.web.id

DI ATAS KETINGGIAN RUMAH BAPAK SAYA YANG BERCORAK ARSITEKTUR POSTJAWAISME ITU. SAYA PANDANGI WALET-WALET BERAKROBAT JUMPALITAN. TERBANG-TERBANG ASYIK. DWI KLIK SANTOSA

S

AYA bayangkan jika itu gerak manusia, apalagi yang kekinian suka berperilaku mokal-mokal yang penting dapat atensi dan syukur-syukur dikeploki, wuih‌ditanggung pasti rumah sakit cepat penuh. Tidak usahlah ribet pasang iklan. Dokter pun ngapain pula bermal-praktek. Berspekulasi dengan politisasi teori-teori gathuk entuk. Sudah sangat jelas kok nama sakitnya: babak bundas! Kampung! Kampung! Kampung! ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Notula

37

Inilah tajuk yang suka saya renung-renungkan lima-enam tahun lalu, saat entahlah saya kok digerakkan perasaan yang aneh-aneh. Aneh yang sungguhlah sangat-sangat aneh. Seorang diri pada saat matahari akan terbit dan menjelang tenggelam di atas ketinggian Borobudur, di puncaknya Arupadatu. Bagaimana menjelaskan ini? Sangat saya maklumi jika cerita saya yang apa adanya ini lalu berpotensi untuk di-eyeli, bahkan di-celathu yang tidak bermutu: Halah, ngoyo-woro. “Memandang khidmat menjelang fajar dan selepas lingsir, ke arah pojok itu, sedataran bukit Borobudur seperti melukiskan Gunadarma, sang filsuf tidur telentang menyangga kepala, seperti sang Sakyamuni memandangi arah peradaban,” kata-kata seorang guide pada suatu ketika, betapa sangat memanas hati. Dan, begitulah. Provokasi ini betapa amat sangat menarik perhatian saya. Gunadarma sang arsitek yang telanjang memandangi peradaban. Peduli apa kita dengan Dan, begitulah pada kali yang pertama, semenjak kebudayaan? Jangankan terhadap agitasi itu—ha ha ha—bekerja dengan baik di kemiskinan dan ketimpangan. benak. Ibukota—Jogja pun saya jangkau juga naik bus Siapa yang lalu kaya? Siapa yang bumel. Dan kiranya serba aneh saja, kejadianlantas miskin? Siapa yang kejadian menggiring menuju ke Borobudur. kemudian suka ber-happy dan Hingga pada akhirnya, kesenyapan wastu agung saya jamah, dari sejak pukul setengahan lima, tertawa-tawa? Dan siapa pula kira-kira. selanjutnya suka manyun dan Busyet, atis benar udara di atas bukit Magelang merengut? Inikah cita-cita yang magis ini. Sulit untuk saya ceritakan perasaan saya menghadapi ketidak mengertian yang saya memajukan peradaban? alami dalam proses petualangan kali ini. Intinya, sebelum benar-benar saya mencapai puncak Arupadatu yang tiada satu pun manusia ada di situ, terengah-engah dan terbirit-birit saya turun menapaki tangga-tangga batu yang cadas itu. Dan lalu pertemuan yang tidak sengaja dengan gadis India di pelataran bawah candi agung dan juga profesor antropologi dari Portugal itu. Betapa aneh, betapa rumit diceritakan! Namun, pada waktu lainnya. Datang lagi dari siang. Dan lalu menunggu matahari akan lingsir. Wah, sangat mendebarkan. Untungnya ada beberapa bule di situ yang membandel, karena jam kunjung wisata semestinya habis. Para bule itu ternyata menunggu momen untuk dapat memfoto lingsirnya matahari yang akan berpulang di atas ketinggian Arupadatu. Sedangkan saya. Seorang diri menghadap utara, arah 45 derajat dari matahari nyungsep. Hmm...begitu rupanya, entahlah, ini benar atau tidak. KUAT saya meyakini, sungguhlah kita harus kembali ke peradaban kampung! Gotong-royong harus dihidupkan. Segi-segi periITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Notula

38 kehidupan yang nyaman dan mendasari lahirnya nafkah bagi kelanjutan hidup rakyat sangatsangat mungkin berkembang berbiak dari cara berkehidupan di kampung. Sawah-sawah, ladang-ladang, bahkan bukit-bukit kalau perlu dirambah, dijamah untuk dihidupkan jadi lahan-lahan produktif. Anak negeri harus dibangkitkan semangatnya untuk mencintai kampung halamannya sendiri. Janganlah membesarbesarkan mimpi tentang rezeki di negeri orang. Apalagi harus terus bergantung pada uluranuluran tangan mereka. Bah! Harga diri bukan pertaruhan mimpi-mimpi. Kamuflase yang lalu menahbiskan ranah yang tak

dok.dwi klik santosa

terbeli. Kampung adalah basis peradaban. Tidaklah berlebihan kiranya. Betapa peri-kehidupan kita yang majemuk kini terus saja bergerak materialistis dan individualistis. Siapa yang paling diuntungkan? Dan, lalu siapa yang merugi? Semangat berindividualistis adalah identik kiranya dengan harkat bermaterialistis. Lalu lihatlah semakin banyak saja orang-orang yang egois dan acuh saja terhadap nasib sekitarnya. Simak dengan baik perilaku-perilaku dan lifestyle itu. Corak-corak yang “bukan milik� kita betapa marak dan kosmopolit, sedang yang sejatinya milik kita dan dikagumi benar—di ranah universal—malah diabaikan. + Ah, dikau ini suka Saat diklaim-klaim orang lain, memang benar banyak dari kita ngomong kompang keras dan tandas teriak-teriak, tapi toh setelah itu sikap kita: abai kampung, berolok-olok saja. saja. Berbual-bual saja. Hipokrit! Peduli apa kita dengan kebudayaan? Jangankan terhadap Lha, sekarang nyatanya kemiskinan dan ketimpangan. Siapa yang lalu kaya? Siapa yang malah senang hidup di kota. lantas miskin? Siapa yang kemudian suka ber-happy dan tertawa- Waduh. Iya, ya. Lha, tapi tawa? Dan siapa pula selanjutnya suka manyun dan merengut? Inikah cita-cita memajukan peradaban? setidaknya kita ini masih Kampung, marilah berdaya kembali ke peradaban kampung jenis orang sok kota yang sendiri. Gotong-royong antar kampung betapa guyub-nya. masih suka juga Keanekaan dan perbedaan betapa warna-warninya, betapa eloknya. blangkonan...ha ha ha. Hei, kampung Indonesia kita betapa uniknya. Betapa hebatnya. Ayo meyakini ini. Ayo rajin-rajin berteriak : Bravo kampung Indonesia! []

Dwi Klik Santosa (penulis) bersama sahabatnya, Inung.

Sukoharjo, 23 September 2009 - 18.07 ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Pustakaloka

39

Perempuan yang T ak Tak Memilih Jalan P ulang Pulang

Ada getar rindu dalam gelegar perang yang samasama dahsyat. Saat getar cinta si gadis Portugis tumbuh pada ADA abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak Daeng Palangga, genderang kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan perang terdengar keras dan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar mengerikan. menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku

P

GADIS PORTUGIS Penulis: Mappajarungi Manan Tebal: 440 halaman; 14x20 cm Tahun Terbit: Juli 2011 Harga: Rp.50.000 Penerbit: Penerbit Najah ISBN: 978-602-978-800-6

bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Ekonomi Gowa demikian makmur. Dan, tahukah Anda bahwa salah satu pahlawan yang berdiri di balik kejayaan tersebut adalah peran penting Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa. Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar dari Portugis yang bernama Elis Pareira. Benihbenih cinta pun muncul di antara mereka. Kuatnya debarandebaran perasaan tersebut, Karaeng Ceddi melanggar batas-batas adat yang dipegangnya: melabuh asmara sembunyi-sembunyi. Lantas, apa yang terjadi? Pada saat perang besar meletus antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon? Penulis novel ini memiliki pengalaman panjang sebagai jurnalis, di dalam negeri maupun mancanegara. Meramu kisah dalam novel ini dengan penuh kesabaran. Anda akan terbawa suasana dan konflik yang terjadi di abad ke-16 tersebut. Inilah novel yang berhasil meramu heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik! []

Perempuan di Balik K abut Kabut Kumpulan Cerita Karya Susy Ayu

Menyingkap Rahasia Umrah dan Haji Mabrur

Kata Pengantar: Seno Gumira Adjidarma. Tebal: 122 halaman. Harga: Rp.40.000,(belum termasuk ongkir).

Penulis: H. Syaiful Alim, Lc. Penerbit: Safirah-Diva Press Jogjakarta Tebal: 318 Hal Harga: Rp 40.000

Hubungi : akun Facebook Susy Ayu. Tersedia di TB Gramedia terdekat.

Dapatkan secara online di http://www.divapressonline.com/

ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Pakansi

40

foto: pohon jacaranda mimosaefolia (bigoniaceae), cantik dengan bunga ungunya | sumber: flikr.com

Harare City TIBA DI KOTA HARARE LEGA JUGA. KOTA INI LUMAYAN. KENDATI PUN KECIL, TETAPI CUKUP ASRI DAN RAPI. DARI BANDARA INTERNATIONAL HARARE, SEBELUM KE TEMPAT NGINAP DI EDEN VILLA BERALAMAT DI EIGHT STREET GREENWOOD, SEMPAT MELEWATI TENGAH KOTA. LALU-LINTASNYA TERATUR, ADA PEDESTRIAN BUAT PEJALAN KAKI DAN JALUR KHUSUS UNTUK ORANG YANG BERSEPEDA. MAPPAJARUNGI MANAN

G

EDUNG-GEDUNG tua eks koloni Inggris masih nampak, kendatipun banyak pula gedung baru yang menjulang tinggi. Dulu, sebelum meraih kemerdekaan dari Inggris, kota Harare masih bernama Salisbury, yang merupakan ibukota Provinsi Rhodesia. Setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 18 April 1980 maka Rhodesia diubah menjadi Republic of Zimbabwe, dengan ibukotanya Harare. Kota ini memiliki empat musim pula, karena berada pada 20 ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Pakansi

41

derajat garis Lintang Selatan. Pada musim dingin, udaranya mencapai 0 derajat Celcius, kendati pun tidak ada salju. Musim dingin, antara bulan Juni hingga Agustus, kemudian musim gugur. Memasuki bulan Oktober pemandangan sepanjang jalan, sangat mempesona, pohon Jacaranda yang kekar itu, setelah daunnya gugur maka akan mengeluarkan bunga berwarna ungu. Sepanjang jalan di Harare banyak terdapat pohon Jacaranda itu. Bunga berwarna-warni pun terlihat mekar. Sebagai eks koloni Inggris, tentu saja bahasa nasional mereka adalah Inggris. Dengan demikian sangat mudah untuk berkomunikasi sampai anak kecil pun. Bahasa mereka sangat halus ketimbang English American (American Grip). Jadi, jangan heran kalau Anda akan sering disapa; good morning, good afternoon, how are you? Budaya mereka mengikuti culture Inggris pula. Misalnya, mereka gemar minum teh pada pukul 10.00 pagi dan pukul 15.00 sore. Karena budaya Inggris yang melekat, maka tata-cara kehidupan Inggris teradopsi, hidup serumah tanpa ikatan pernikahan menjadi lumrah. Adalah hal biasa memiliki anak dari suami kumpul kebo mereka. Dibanding dengan orang-orang Indonesia, orang-orang Zimbabwe boleh dikatakan lebih rapi. Misalkan, lelaki besar-kecil, tuamuda, terbiasa memakai sepatu saat berada di luar rumah. Yang bekerja di kantoran memakai jas lengkap dengan dasi. Di kota Harare, sangat beda nuansa dengan kota-kota di Indonesia, misalnya; untuk membeli rokok, kita tidak bisa menemukan warung-warung yang ada di pinggir jalan. Sangat tidak mungkin. Apalagi mau membeli kebutuhan pokok, seperti gula pasir, sayurmayur, pembeli harus menuju ke supermarket. Sangat disiplin! Tempat berbelanja yang nyaman ada di beberapa tempat, seperti Avondale, di sini terdapat Flea Market, ada restoran a la Italy, Westgate yang hala-man parkirnya cukup luas, serta Borrowdale dan Borrodalebrook. Kalau mau berbelaja suvenir, di kota mudah ditemukan, juga tersedia di Flea Market Avondale. Untuk menikmati kota Harare bisa juga ke taman-taman menyaksikan alam bebas, seperti di pusat kota ada taman Africa Unity Square, Harare Park, Greenwood Park, serta berbagai taman yang dekat dengan kota, yakni Mukuvisi Land. Makanan khas orang-orang Zimbabwe adalah Sadza yakni tepung jagung yang direbus hingga mendidih dengan lauk daun Rap serta daging sapi atau ayam goreng. Sadza banyak tersedia di restoran, tapi hidangan itu disediakan tepat pukul 13.00 hingga pukul 14.00, kecuali di Flea Market dari pukul 10.00 pagi hingga sore hari. Makanan, umumnya hanya dijual di restoran. Di Harare terdapat beragam restoran, seperti restoran makanan China di Great Wall, Shangrilla, Millionare. Restoran makanan Korea, seperti Arirang, atau Shilla juga ada di Actor Cafe yang di bangun oleh George Huh, seorang aktor asal Korea yang menetap di Harare. [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

Makanan khas orangorang Zimbabwe adalah Sadza yakni tepung jagung yang direbus hingga mendidih dengan lauk daun Rap serta daging sapi atau ayam goreng. Sadza banyak tersedia di restoran, tapi hidangan itu disediakan tepat pukul 13.00 hingga pukul 14.00, kecuali di Flea Market dari pukul 10.00 pagi hingga sore hari. Makanan, umumnya hanya dijual di restoran.


Pertalan

42 Una Carta a Dios adalah judul asli dari cerita pendek Gregorio Lope uentes Lopezz YY.. FFuentes (disadur dalam bahasa Inggris: A Letter to God God). Fuentes lahir tahun 1895, dan besar di kalangan Indian Mexico. Selain mengarang fiksi, ia adalah penyair dan wartawan. Pada tahun 1935 ia memenangkan The National Prize of Mexico untuk novel El Indio Indio. Dalam bahasa Indonesia, cerpen ini dialih-bahasakan, selain oleh Syafruddin Hasani, juga oleh Saut Situmorang, bersumber dari Reader’s Digest Great Short Stories of the World World.

ilustrasi: una carta a dios by great short stories of the world

Surat kepada Tuhan GREGORIO LOPEZ Y. FUENTES

S

ATU-SATUNYA rumah yang ada di lembah itu berada di atas puncak sebuah bukit kecil. Dari atas ketinggian seperti itu seseorang bisa melihat sungai dan, di sebelah pekarangan untuk memelihara ternak, ladang tanaman jagung yang sudah masak yang di sela-selanya bertaburan bunga-bunga kacang merah yang selalu menjanjikan panen yang baik. Satu-satunya yang dibutuhkan bumi adalah curah hujan atau setidaknya hujan sedikit saja. Sepanjang pagi itu Lencho, yang ITER'S DIGES T Juli 2012 | WRITER'S DIGEST | WR


Pertalan

43

sangat mengenal ladangnya, tidak melakukan apapun selain mengawasi langit ke arah timur laut. “Sekarang kita benar-benar akan mendapat air, Bu.” Istrinya yang sedang menyiapkan makan menjawab: “Ya, semoga Tuhan mengizinkan.” Anak-anak lelaki yang sudah besar sedang bekerja di ladang sementara yang masih kecil bermain-main di dekat rumah, sampai akhirnya si istri memanggil mereka semua: “Sini makan dulu!” Saat mereka sedang makan, seperti yang telah diperkirakan Lencho, tetes-tetes air hujan yang besar-besar mulai berjatuhan. Di sebelah timur laut mendung tebal berukuran raksasa bisa dilihat sedang mendekat. Udara terasa segar dan nyaman. Pria itu pergi ke luar untuk melihat pekarangan tempat memelihara ternaknya, semata-mata sekedar ingin menikmati hujan yang mengguyur tubuhnya, dan ketika kembali ia berseru: “Yang jatuh dari langit itu bukan tetesan-tetesan air hujan tapi kepingan-kepingan uang logam baru. Yang besar-besar sepuluh centavo dan yang kecil-kecil lima cinco.” Dengan ekspresi yang menunjukkan kepuasan ia memandang ladang jagung yang masak dengan bunga-bunga kacang merahnya yang dihiasi tirai hujan. Tapi tiba-tiba angin kencang mulai berhembus dan bersamaan dengan air hujan bongkahan-bongkahan es yang sangat besar mulai berjatuhan. Bentuknya memang benarbenar seperti kepingan-kepingan uang logam perak yang masih baru. Anak-anak lelaki yang sedang membiarkan tubuh mereka diguyur hujan berlari-larian untuk mengumpulkan mutiara-mutiara beku itu. “Sekarang benar-benar semakin buruk!” Seru pria itu, gelisah. “Kuharap semoga cepat berlalu.” Ternyata tidak cepat berlalu. Selama satu jam hujan es itu menimpa rumah, kebun, lereng bukit, ladang jagung, di seluruh lembah. Ladang itu menjadi putih seperti tertimbun garam. Tak selembar daun pun masih tertinggal di pepohonan. Tanaman jagung itu sama sekali musnah. Bunga-bunga pun rontok dari tanaman kacang merah. Jiwa Lencho dipenuhi kesedihan. Ketika badai itu telah berlalu ia berdiri di tengah-tengah ladangnya dan berkata kepada anak-anaknya: “Wabah belalang masih menyisakan lebih banyak daripada ini. Hujan es sama sekali tak menyisakan apapun. Tahun ini kita tidak punya jagung atau kacang ….” Malam itu penuh kesedihan. “Semua kerja kita sia-sia!” “Tak ada seorangpun yang dapat menolong kita!” “Kita akan kelaparan tahun ini ….” Tapi di hati semua orang yang tinggal di rumah yang terpencil di tengah lembah itu masih tersisa satu harapan: pertolongan dari Tuhan. “Jangan terlalu sedih meskipun kelihatannya seperti kerugian ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

“Tuhan,” tulisnya, “kalau Kau tidak menolongku, aku dan keluargaku akan kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan seratus Peso untuk menanami kembali ladangku dan untuk kebutuhan hidup sampai saatnya panen nanti, karena badai es.”


Pertalan

44

ilustrasi: www.facebook.com/pages/Open-Art/

Keimanan yang hebat! Seandainya imanku seperti imannya orang yang menulis surat ini.

total. Ingatlah, tak ada orang yang mati karena kelaparan!” “Itulah yang mereka katakan: tak seorangpun mati karena kelaparan.” Sepanjang malam itu Lencho hanya memikirkan harapan satusatunya: pertolongan dari Tuhan, yang mataNya (sebagaimana diajarkan kepadanya) melihat segala sesuatu, bahkan sampai ke dalam lubuk hati seseorang yang paling dalam sekalipun. Lencho adalah seorang pekerja keras yang bekerja seperti binatang di ladang, tapi dia masih bisa menulis. Pada hari ahad berikutnya, ketika dini-hari, setelah meyakinkan dirinya bahwa masih ada zat yang melindungi, ia mulai menulis sepucuk surat yang akan dibawanya sendiri ke kota dan dimasukkan ke pos. Itu tidak lain adalah surat kepada Tuhan. “Tuhan,” tulisnya, “kalau Kau tidak menolongku, aku dan keluargaku akan kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan seratus Peso untuk menanami kembali ladangku dan untuk kebutuhan hidup sampai saatnya panen nanti, karena badai es.” Dituliskannya “Kepada Tuhan” di atas amplop lalu dimasukkannya surat itu kedalamnya, dan masih dengan pikiran dan perasaan yang galau ia pergi ke kota. Di kantor pos diberinya surat itu perangko kemudian dimasukkannya ke dalam kotak pos. Salah seorang pegawai di sana, seorang tukang pos yang juga ikut membantu di kantor pos itu, mendatangi atasannya sambil ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Pertalan

45

tertawa terpingkal-pingkal dan memperlihatkan kepadanya surat kepada Tuhan tadi. Selama karirnya sebagai tukang pos, ia tidak pernah tahu di mana alamat itu. Sedangkan sang kepala pos, seorang yang gemuk dan periang, juga tertawa terbahak-bahak. Namun hampir tiba-tiba saja ia berubah menjadi serius, dan sambil mengetuk-ngetukkan surat itu di mejanya iapun berkomentar: “Keimanan yang hebat! Seandainya imanku seperti imannya orang yang menulis surat ini. Punya kepercayaan seperti kepercayaannya. Berharap dengan keyakinan yang ia tahu bagaimana caranya. Melakukan surat-menyurat dengan Tuhan!” Dengan demikian untuk tidak mengecewakan keajaiban iman itu, yang disebabkan oleh surat yang tak dapat disampaikan, sang kepala pos mengajukan sebuah gagasan: menjawab surat tadi. Namun ketika ia memulainya ternyata untuk menjawabnya ia membutuhkan tidak hanya sekedar kemauan, tinta dan kertas. Tapi tekadnya sudah bulat: ia memungut iuran dari para anak buahnya, ia sendiripun ikut menyisihkan sebagian gajinya dan beberapa orang temannya juga diwajibkan untuk ikut memberikan “sumbangan”. Akan tetapi tidak mungkin baginya untuk mengumpulkan uang sebanyak seratus Peso, ia hanya bisa mengirim kepada si petani sebanyak setengahnya lebih sedikit saja. Dimasukkannya lembaranlembaran uang itu ke dalam amplop yang dialamatkan kepada Lencho dan bersamanya hanya ada selembar kertas yang bertuliskan satu kata sebagai tandatangan: TUHAN. Pada hari ahad berikutnya Lencho datang sedikit lebih awal daripada bia-sanya untuk menanyakan apakah ada surat untuknya. Si tukang pos sendiri yang menyerahkan surat itu kepadanya. Sementara sang kepala pos, dengan perasaan puas sebagai orang yang baru saja berbuat kebajikan, menyaksikan lewat pintu keluarmasuk ruang kerjanya. Lencho sedikitpun tidak terkejut menyaksikan lembaranlembaran uang tadi, sesuai keyakinannya, namun ia jadi marah setelah menghitung jumlahnya. Tuhan tidak akan keliru atau menyalahi apa yang diminta Lencho! Segera saja Lencho pergi ke loket untuk meminta kertas dan tinta. Di atas meja tulis untuk umum iapun mulai menulis sampaisampai keningnya sangat berkerut saking bersemangatnya dalam menuangkan gagasannya. Setelah selesai ia pergi lagi ke loket untuk membeli perangko yang dijilat dan kemudian ditempelkannya di atas amplop dengan pukulan kepalan tangannya. Setelah surat itu dimasukkan ke dalam kotak pos, sang kepala pos membukanya. Bunyinya: “Tuhan, uang yang kuminta itu, hanya tujuh puluh Peso saja yang sampai ke tanganku. Kirimkanlah sisanya karena aku sangat membutuhkannya. Tapi jangan dikirim kepadaku lewat pos karena para pegawai kantor pos itu adalah orang-orang brengsek. Lencho.” [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST

“Tuhan, uang yang kuminta itu, hanya tujuh puluh Peso saja yang sampai ke tanganku. Kirimkanlah sisanya karena aku sangat membutuhkannya. Tapi jangan dikirim kepadaku lewat pos karena para pegawai kantor pos itu adalah orang-orang brengsek. Lencho.”


Saga

46

www.djarumfoundation.org

Ternyata Aku Tetap Cinta “...INGATLAH NAK, SEMUA YANG DIDAPAT TIDAK DENGAN KEJUJURAN, HANYA AKAN MELAHIRKAN SEBUAH BENCANA BARU. MUNGKIN DIA SUKSES, KAYA, TAPI KESUKSESAN DAN KEKAYAANNYA ITU TIDAK AKAN MEMBUAT DIA BAHAGIA.” ADE ANITA

S

UATU hari, malam hari tepatnya, ada tamu datang ke rumah. Dia mahasiswa ayah di Universitas Muhammadiyah. Ayahku memang seorang dosen di UM, mengajar Pancasila dan Ketahanan Negara. Dia datang memberi ayah hadiah dan sebuah amplop. Isinya bukan surat cinta tapi uang. Ayah marahmarah ke mahasiswa itu, tapi lalu menasehatinya baik-baik hingga mahasiswa itu pulang dengan air mata di pipinya. Begitu mahasiswa itu pulang, ayah datang padaku. ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Saga

47

“Nak, jangan pernah mengikuti jejak mahasiswa itu. Dia orang bodoh yang ingin membeli kelulusan sarjananya dengan uang. Ingatlah Nak, semua yang didapat tidak dengan kejujuran, hanya akan melahirkan sebuah bencana baru. Mungkin dia sukses, kaya, Satu demi satu tapi kesuksesan dan kekayaannya itu tidak akan membuat dia bahagia.� bencana terjadi: tsunami, Sebenarnya, selama Ramadhan 2010 aku ingin mengurangi gempa bumi, tanah frekuensi keaktifan di Facebook. Masih aktif, sekedar untuk longsor, ledakan gas, memeriksa apakah ada ajakan menulis, apakah ada pengumuman penting, ataukah ada sesuatu yang harus dikerjakan (manen kebon penjarahan massal, di game Facebook, termasuk di sini). Tapi, hari ini, rasanya jadi kejahatan cyber, pingin nulis notes. perampokan, penggunBukan. Bukan karena ini hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 tahun. Juga bukan karena lagi nggak ada kerjaan.Tapi karena dulan hutan, banjir, sebal saja baca status teman-teman yang kebanyakan skeptis, kejahatan seksual. pesimis dan sinis terhadap negeri tempat aku dilahirkan dan Banyak sekali. dibesarkan ini. Dahulu, aku juga pernah menyimpan rasa sebal terhadap negeri ini. Sebal sekali. Mungkin karena mataku yang sipit dan dibesarkan di masa Orde Baru yang rasialis. Aku merasa benci dengan negeri ini karena merasa diri ini sama sekali tidak merdeka. Tapi, ayah selalu menghiburku dan membesarkan hatiku dengan mengatakan bahwa bukan fisik yang dijadikan ukuran untuk berguna atau tidaknya seseorang di negeri ini. Merdeka itu adalah, berani berkarya, berani berbuat, lalu berani TARI KREASI BARU bertanggung jawab. Berani berbeda, berani mempertahankan Promosi budaya di mancanegara www.indonesiaberprestasi.web.id kebenaran, dan berani mempersembahkan sesuatu yang indah dan bermanfaat. Itulah merdeka yang benar di negeri ini. Ya, merdeka itu hanya istilah. Ada banyak orang yang merasa merdeka berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tapi mereka kemudian lupa tentang pengawasan dari Tuhan mereka yang telah menganugerahi mereka kemerdekaan yang sesungguhnya. Ilustrasi cerita di atas adalah salah satunya. Jika ingin disebutkan satu persatu, pasti penuhlah seluruh kapasitas notes yang tersedia. Sekedar kilas balik. Tahun 2004, saya mulai mengelola rubrik Muslimah dan Media di ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Saga

VETERAN KEMERDEKAAN Tetap tegap dan gagah. foto: adrian photography | flickr.org

48 kafemuslimah.com. Saya mengamati semua perkembangan berita di media massa dan menulis sebuah ulasan dari sudut pandang seorang muslimah, yaitu saya. Hasilnya, kian hari saya merasa kian prihatin terhadap negeri ini. Masya Allah, ternyata Indonesia jadi terlihat begitu menyeramkan. Penjarahan di mana-mana, kesusahan merajalela, belum lagi ancaman dari negara tetangga, pokoknya mengerikan sekali. Begitu mengerikan hingga saya sering merasa stress dan ketakutan sendiri. Saya benar-benar takut, karena teringat peringatan dari Allah dalam Al Quran yang meminta kita untuk waspada agar tidak tertimpa bencana yang akan menimpa orang-orang akibat kezaliman yang terjadi di sekitar mereka. Duh! Kurang zalim apa negeri ini? Bencana apa yang kira-kira bisa menimpa? Bisa apa saja. Satu demi satu bencana terjadi: tsunami, gempa bumi, tanah longsor, ledakan gas, penjarahan massal, kejahatan cyber, perampokan, penggundulan hutan, banjir, kejahatan seksual. Banyak sekali. Akhirnya saya menyerah. Enggan lagi menulis ulasan. Suami saya memberi semangat. “Ayo, kita perbaiki saja negeri ini sedikit demi sedikit,” kata suami. “Tapi ada terlalu banyak yang harus dikerjakan untuk memberi rasa nyaman,” imbuhku. “Itu pentingnya kita diberi anugerah kemerdekaan. Kita merdeka untuk melakukannya kapan saja dan di mana pun. Insya Allah pertolongan Allah akan datang pada kita.” Lalu mulailah kerja keras itu. Tidak banyak membawa hasil yang signifikan memang. Kejahatan tetap terjadi, kebrutalan tetap ada, penggundulan hutan semakin menjadi-jadi, banjir tetap terjadi di mana-mana, dan seterusnya. Tapi, setidaknya kami kini ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Saga

49

lebih bahagia mencintai negeri ini. Terbebas dari belenggu rasa curiga akibat pembentukan opini di media massa yang selalu provokatif, pesimis, sinis. Bebas juga dari rasa ingin diberi lebih. Karena merdeka itu memang saudara kembar dengan berbuat ikhlas. Tidak meng-harapkan imbalan apapun selain dari Ridha Allah. Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan saya pun ternyata masih mencintai negeri ini. Aku cinta Indonesiaku. Hingga suatu pagi, ketika ada dua orang renta berpakaian seragam veteran menawarkan flickr.com selembar kalender, aku sempat menaruh curiga: “Ini pasti salah satu penipu yang ingin mengemis dengan cara ALAT MUSIK SASANDO berdagang benda-benda yang tidak berguna.” Keberagaman Indonesia yang kaya. Aku hampir saja menolak mereka dengan bilang, “lain kali saja pak.” Tapi, demi melihat bendera kecil yang lusuh yang dijahitkan di atas saku kemeja seragam coklat susu tanda korps veteran mereka, aku terenyuh. Merah Putih itu. Entah apa yang terjadi dahulu, ketika mereka terpaksa harus berjuang agar Merah Putih itu berkibar. Bisa jadi karena harus berpeluh keringat dan menahan duka, serta berdarah-darah. Mereka tidak lagi berpikir untuk sekolah. Pun tidak sempat berpikir akan seperti apa kehidupan mereka setelah negeri ini merdeka kelak. Lalu, tiba-tiba rasa haru itu hadir tanpa diundang. Dan aku merasa, amat cinta pada para pahlawan yang telah bertaruh nyawa mempertahankan negeri ini. Dua bapak renta di hadapanku itu Inilah kemerdekaan yang adalah pahlawan yang kumaksud. Maka segeralah aku singkirkan rasa curiga, meraih dua lembar kalender yang ada di tangan sesungguhnya. Dan saya gemetarnya. pun ternyata masih “Mari Pak, saya beli kalendernya. Terima kasih ya Pak, untuk mencintai negeri ini. Aku perjuangannya tempo dulu.” cinta Indonesiaku. Dua bulir air mata menggelinding dari dua bola mata kedua bapak renta itu. Ya. Mari singkirkan sejenak rasa pesimis dan sinis. Mungkin ini saatnya untuk bisa mengikuti jejak para pahlawan yang telah memberi kita kehidupan yang lebih baik ketimbang mereka dahulu. Apalagi ini bulan Ramadhan, di mana semua perbuatan baik akan diganjar pahala berlipat ganda. [] ITER'S DIGES T Juli 2012 | | WR WRITER'S DIGEST


Vintage

Asrul Sani, Chairil Anwar Anwar,, Cs. Bijeenkomst van de kunstenaarsg roep Gelanggangsignatuur kunstenaarsgroep Source: COLLECTIE TROPENMUSEUM_TMnr 10014858

DIPERSEMBAHKAN

t h e i n d o n e s i a n freedom w r i t e r s

IFW Writer's Digest e-Magz / Juli 2012 #1  

Ini adalah e-Magazine (majalah elektronik) gratis yang diterbitkan oleh IFW. Barangsiapa mengutip seluruh, atau sebagian isi majalah ini, ha...