Page 1

telepon penting Call Centre Polsek Karang Tinggi (Perwira Penghubung) :

081278617339

RSUD Benteng

081368965552

:

Suara Guru

bengkulu tengah

BENTENG

Rakyat Bengkulu l Minggu, 24 Februari 2013

Dana Operasional Kades Naik Jadi Rp 2,6 Miliar

Ilmu Kedisiplinan GURU Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ibu Pertiwi Jaya Karta Kecamatan Talang Empat, Ria Avita mengatakan kedisiplinan terhadap anak-anak sudah diterapkan sebelum anak RIA AVITA masuk dalam kelas. Salah satunya dengan sambutan salam kepada guru yang menunggu di gerbang setiap pagi. Masuk dalam kelas anak-anak akan mengikuti kegiatan belajar mengajar. Anak terbagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok bermain belajar, dan kelompok anak-anak yang dipersiapkan untuk masuk sekolah dasar (SD). “Banyak pembelajaran yang diajarkan kepada anak-anak, seperti ilmu agama, menyanyi, membaca dan menulis dibimbing guru kelas,” ungkap Ria. Kedisiplinan menjadi tujuan utama di PAUD yang dikelola Ria Avita, sebab melayani, membimbing, mendidik dan membina anak-anak rata-rata berusia 4-7 tahun.(rif)

Membangun Benteng

Bangun 29 Kantor Desa PRO G RAM pembangunan tidak hanya dirancang untuk infrastruktur saja, tetapi fasilitas perkantoran dari p e m e r i nt a h daerah hingga p e m e r i nt a h desa. SebaEdi Ermansyah gaimana telah dianggarkan miliaran rupiah untuk membangun 29 kantor desa, terdiri dari 20 proyek gedung kantor desa dari APBD 2013, sementara 9 kantor desa berasal dari bantuan Kementerian Dalam Negeri. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Bengkulu Tengah (Benteng), Edi Ermansyah Ph.d mengatakan, pembangunan kantor desa yang anggarannya dari APBD langsung dimasukkan ke DIPA tiap-tiap kecamatan. “Terbagi menjadi 2 sumber anggaran, kalau APBD masuk ke DIPA kecamatan sebanyak 20 kantor desa, dan 9 langsung dari BPMPD Benteng,” kata Edi.(rif)

27

HARMOKO/RB

REHAB JALAN: Jalan lintas utama milik provinsi direhab lagi. Tampak pembongkaran jalan di Desa Kancing Karang Tinggi yang didanai APBN 2013.

10 Depot Isi Ulang Bakal Dievaluasi Termasuk Mitaki

TALANG EMPAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkulu Tengah dalam waktu dekat akan mengevaluasi kualitas mutu dari air yang dijual kepada konsumen. Sesuai data sementara Dinkes, sekitar 10 depot yang bakal dievaluasi, termasuk pabrik air minum Mitaki. Demikian disampaikan Kepala Dinkes Benteng, I Putu Sura Artika MM. “Tidak hanya pemilik depot air minum isi ulang saja yang akan dilakukan pengambilan samplenya. Akan tetapi, pabrik air minum isi ulang, seperti Mitaki yang berada di Desa Bukit Kecamatan

Talang Empat, juga akan dilakukan evaluasi sumber bakunya. Sebab produk mitaki sudah mulai masuk pasaran, jadi perlu kehati-hatian distribusinya,” terang Putu. Putu mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya membentuk tim evaluasi dan melakukan pengecekan terhadap air baku yang digunakan para pemilik depot air minum isi ulang. Hal itu, dilakukan untuk mengantisipasi terhadap bakteri e coli yang terdapat di dalam air minum yang dijual bebas terhadap masyarakat. “Tinggal buat surat tugas dan mendata seluruh depot di Benteng,” katanya. Menurut Putu, bakteri e coli itu

tidak dapat dikonsumsi manusia, karena akan berdampak buruk dalam segi kesehatan. Nantinya, seluruh usaha penjual air minum isi ulang yang mengambil air dari sumber pegunungan, akan dilakukan pengambilan sample. Lebih lanjut, Putu menjelaskan uji kualitas air digunakan oleh pemilik depot air minum isi ulang, memang merupakan program bulan yang dilakukan secara periodik selama 3 kali dalam satu bulan. Jika pengecekan itu terdapat ada bakteri yang dimaksud, maka akan dianjurkan untuk tidak diperjualbelikan secara bebas karena dapat berdampak bahaya ke manusia.(rif)

KARANG TINGGI – Makin banyaknya jumlah honorer yang bertugas di Bengkulu Tengah (Benteng), menimbulkan banyak spekulasi dari beberapa pihak. Terutama banyak dugaan bahwa honorer tersebut tak memiliki Surat Kuasa Pengguna Anggaran (SKPA), sebagai syarat untuk menerima gaji atau honor bulanan karena masuk bekerja tidak memenuhi prosedur yang sah. Wakil Bupati Benteng, Muhammad Sabri S.Sos MM membenarkan banyak honorer yang baru masuk, sementara

yang lama masih bertahan. Sesuai data terbaru, honorer baru sudah capai sekitar 2.500 orang yang masuk melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). “Tidak jelas lagi jumlah honorer. Sudah hampir menyamai jumlah PNS yang di Benteng. Hal ini sudah pasti SKPA tidak jelas juga,” kritik M Sabri. M Sabri menegaskan, agar setiap SKPD tidak perlu membayar gaji bulanan honorer yang tidak memiliki SKPA. Mengingat gaji honorer berasal dari APBD, dalam rangka tertib administrasi

SKPA digunakan untuk audit. “Harus ada ketegasan untuk menyikapi pelanggaran, honorer yang tidak ada SKPA, memang belum bisa dibayar demi ketertiban administrasi,” imbuhnya. Tuntutan kedisiplinan tidak hanya diberlakukan kepada PNS saja, tetapi kedisiplinan juga diharapkan dari para honorer. M Sabri mengungkapkan, untuk memastikan jumlah berapa honorer yang tidak memiliki SKPA, Pemda akan menurunkan tim. Sehingga diperoleh data yang akurat. (rif)

Banyak Honorer Tak Punya SKPA

KARANG TINGGI – Tidak hanya gaji dan insentif perangkat desa yang meningkat, tetapi tahun 2013 operasional kepala desa juga naik hingga Rp 2,6 miliar atau tiap kepala desa akan menerima dana operasional Rp 18,6 juta per tahun. Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya Rp 2,4 miliar, atau Rp 17 juta untuk tiap kades. Realisasi dana operasional kepala desa serentak dengan Alokasi Dana Desa (ADD) yang disiapkan per tahunnya sekitar Rp 13,9 miliar. Khusus dana operasional kepala desa, secara terpisah akan dicairkan dengan rekening tersendiri dan langsung diterima setiap kepala desa. Pencairannya setiap tiga bulan sekali (triwulan), untuk kepentingan operasional kepala desa. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Benteng, Agussalim Hasan S.Sos menjelaskan, terjadinya peningkatan pada dana operasional kepala desa, setelah ada kenaikan ADD dari Rp 9 miliar tahun 2012 menjadi Rp 13,9 miliar di tahun 2013 dan

telah disosialisasikan. “Dana operasional pembagian dari ADD yang jumlahnya memang meningkat,” ujarnya. Menurut Agussalim, kegunaan dana operasional berbeda dengan kegunaan ADD. Khusus dana operasional untuk dana perjalanan kepala desa serta biaya komunikasi, bilamana harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). “Kades sering ikut diklat dan pelatihan, jadi untuk memudahkan perjalanan kepala desa, ya kita siapkan anggarannya,” terangnya. Agussalim mengungkapkan, untuk pencairan dana ops kepala desa langsung berurusan dengan pihak dinas Pendapatan Pengeluaran Keuangan dan Aset Daerah (DP2KAD), jutlak dan juknis pencairan mengikuti aturan DP2KAD. Tambah Agussalim, Bupati H Ferry Ramli SH, MH berharap dengan adanya pemberian dana operasional kepala desa, dapat meningkatkan kerja kepala desa, dan memberikan prestasi yang baik untuk pemerintah daerah Benteng.(rif)

Tidak Melaut, Nelayan Pilih Kerja Sampingan PONDOK KELAPA – Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari belakangan, membuat nelayan sepanjang pesisir pantai Pondok Kelapa waswas. Banyak nelayan memutuskan tidak melaut mencari ikan menunggu hingga cuaca stabil. Agar periuk nasi tetap ngebul, sebagian nelayan memilih kerja sampingan. Hasan (46) warga Dusun Tanjung Sakti, Desa Pondok Kelapa menjelaskan belum berani ke laut, karena tinggi air pasang disertai badai serta ombak bisa mengacam nyawa dan menenggelamkan kapal yang digunakan untuk melaut. “Cuaca belum stabil, jadi beberapa kelompok nelayan di pesisir Pantai Pondok Kelapa hingga Padang Betuah memang tidak berani melaut,” katanya. Mengenai kegiatan yang di-

laksanakan selama cuaca belum stabil, nelayan membersihkan jaring, membenarkan kapal serta alih profesi sebagai buruh. Namun dia berharap cuaca membaik dan nelayan kembali mencari ikan. “Tidak tetap kegiatan sementara waktu, sebab hobinya memancari ikan. Ada kerjaan sampingan, ada juga mencari ikan pinggiran pantai,” ujar Hasan. Ditambah Sugiono kondisi cuaca tidak bisa dibaca dalam beberapa hari ke depan. Dia lebih memilih ikut mencari batubara di sungai dan pinggiran pantai, serta bergabung dengan pencari pasir di aliran Sungai Lemau. “Jelasnya belum berani melaut, karena baik malam maupun siang hujan dan badai selalu mengancam, cuaca ekstrem berbahaya,” demikian Sugiono.(rif)

hal 27 benteng  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you