Issuu on Google+


The activities and games helped each of the kids to get to know each other and to learn to work as a team to find clues, solve riddles, and to win competitions. The first activity had the kids prepare a tent that they would be using during the course of the camp. One of the games had the kids learn each other's voices which would help them in a blindfold game and another game had the teams tied together to learn to work as a group to move around finding clues.

In early July, JKI Miracle Center held a summer camp for the younger children of the church. The kids spent 36 hours in a camp style environment held indoor in the church that included an over-night sleepover, parent-free. During the course of the event, no one was allowed to use any electronics and were given a survival kit that included a notepad, pencil, a piece of rope, and a flashlight. The camp encouraged everyone to become closer together and unified through activities, crafts, games, songs, and lessons. The lessons focused on teaching the kids to forgive and admit to any wrong doings and also to help one another. During the lessons, the kids got to draw out some of the important portions of the stories and also learned sign language for words used throughout the lessons such as God, Jesus, Love and Forgive.

As it got dark, everyone circled around a “camp fire� and sang praise and worship songs together. The kids also became fond of their flashlight and even learned to cope without light to perverse their batteries. To conclude the camp, a talent show was held. This gave the kids an opportunity to show everyone one of the many talents that God has given them by using only materials that they had with them or around them. 1 Corinthians 1:10 I appeal to you, brothers, in the name of our Lord Jesus Christ, that all of you agree with one another so that there may be no divisions among you and that you may be perfectly united in mind and thought. **Timothy Ritiau / foto: Joy Samuel


Profile:

Pdt. Yusak Cipto Saat ini kita banyak melihat anak-anak Tuhan jatuh dalam hal kekudusan. Ini tidak hanya jemaat biasa saja tapi tidak sedikit juga para pelayan Tuhan atau anak anak muda yang sudah ikut ambil bagian dalam pelayanan jatuh dalam masalah tersebut. Dalam wawancara terang bersama Pdt. Yusak Cipto beliau banyak mengemukakan pendapatnya tentang masalah roh perzinahan. Demikianlah wawancara TERANG bersama beliau: Apa pendapat bapak tentang sex pranikah serta pernikahan dini karena kehamilan, dan apakah ini bisa dikatakan tanda akhir jaman. “Iya‌ini bisa dikatan salah satu dari tanda akhir jaman, dan pada tahun 1990-an Tuhan telah meberi pengelihatan pada saya tentang 4 penjuru dan salah satunya adalah roh perzinahan. Memang masalah roh perzinahah (sex pranikah) itu telah ada sejak jaman dahulu tetapi tidak sehebat seperti saat ini. Harusnya sebagai mudamudi kristen yang telah ambil bagian dalam pelayanan atau belum sebaiknya menjaga kekudusan, karena itu merupakan hal yg mutlak dan harus kita pahami sebagi dasar dari segalanya karena Tuhan menginginkan kekudusan kita.â€? Ujar beliau Dan menurut bapak bagaimana muda-mudi kristen menyikapi masalah ini dan apakah masalah ini bisa dihindari? Hal ini tidak bisa dihindari, kecuali jika mudamudi kristen mau atau lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan, Roh Kudus dan yang terpenting segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemulian Nya atau hanya untuk Dia saja. Dan kita bisa minta bantuan Roh Kudus untuk hadir dalam kehidupan kita, karena Roh Kudus itu diutus sebagai penolong yang menuntun kita dalam hal kebenaran. Serta mengingatkan dan menegur kalau kita berjalan tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau terutama dalam hal kekudusan. oleh karena itu minta Roh Kudus hadir dalam hati, pikiran dan hidup kita supaya kita bisa mengatasi masalah-masalah yang akan dilalui atau akan kita hadapi. Kira-kira hal-hal apa saja yang bisa dilakukan mudamudi kristen untuk bisa hidup dalam kekudusan?. Hal yang harus dilakukan untuk hidup dalam kekudusan yaitu, baca firman Tuhan dan lakukan apa seperti yang terulis. Bukan hanya membaca tapi tidak melakukan, serta jadikan Dia sebagai pegangan dan senjata dalam menghadapi setiap persoalan yang dihadapi. Minta Roh Kudus hadir dalam kehidupan kita supaya apapun yang kita lakukan hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Karena bagai manapun Tuhan mau kekudusan kita.

Jika dilihat dari sisi gereja, bagaimana menurut bapak jika muda-mudi kristen yang telah ambil bagian dalam pelayanan terlanjur jatuh dalam masalah kekudusan, apa kira-kira tindakan gereja menyikapi hal tersebut? Kita atau tepatnya gereja harus mengerti, karena itu bukan 100% kehendak muda/I tersebut tapi itu semua tergantung dari bawaan, sifat dan sikap bawaan, kelemahaan, lingkungan dan memang setan-nya sudah dilepaskan untuk mengganggu anak-anak Tuhan,karena itu sebelum kita menghakimi kita terlebih dulu harus mengerti duduk permasalahannya dan setelah itu kita tuntun muda/I tersebut untuk kembali hidup sesuai kehendak Tuhan. Dalam menyikapi masalah seperti ini kita tidak bisa langsung melarang atau menghakimi, kenapa? Karena itu semua tidak akan membawa hasil yang baik, sebab roh memberontaknya itu lebih kuat hingga kasih dan roh kesadarannya itu telah luntur. Jadi kita sebagai gereja atau gembala harus bijaksana dan mengerti ketika menyikapi hal seperti ini. Setelah semua teratasi kita tuntun kembali muda-mudi tersebut untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Memang hal ini tidak gampang tapi tetap harus dijalani dan terlebih kita harus mengerti keadaan yang kita hadapi. Dan cara mengatasi nya adalah dengan berkata jujur, terus terang, doa , minta bantuan dan kekuatan Tuhan untuk menghadapi segala masalah, dan yang terutama minta hikmat Tuhan dan Roh Kudus untuk hadir dalam setiap keputusan yang akan kita ambil.

Hendaklah wawancara Singkat TERANG bersama Pdt. Yusak Cipto, tentang kukudusan bisa menjadi berkat buat Para pembaca sekalian. [Wawancara:Franky Andries//TERANG Doc]


How good and pleasant it is when brothers (and sisters. too) live together in unity! Ps 133:1 NIV. If we want to have victory in our lives, we must learn to please God by living in harmony with our brothers and sisters at home and also in the community of believers. The Bible says that Christians are “all children of God through faith in Christ Jesus.” Gal 3:26-27 NLT. That means we who call God our Father must live as children of love also. We value our earthly family because it is a gift of God; we have to make every effort and take every precaution to keep it healthy and functioning because it is easily broken by death or divorce or distance. It is only temporary. But our spiritual family will last forever throughout eternity, it will continue beyond this life on earth. God shows a perfect picture of relational harmony through His family relationship, the Trinity of Father, Son and the Holy Spirit. God wants that harmony to be present also in our relationship in the family of God, the church. We know how awfully painful it is for parents to see their children fight or quarrel with one another. It is while we are still here on earth that God wants us to learn to live in harmony with our brothers and sisters. Let us learn from Abraham in his relationship with Lot his nephew. Abraham said, "Let's not have any quarreling between you and me, or between your herdsmen and mine, for we are brothers. Gen 13:8 NIV. God wants us to give special love and attention to our brothers and sisters in Christ, to our fellow believers. (Gal 6:10) Jesus said, “If you have love for one another, then everyone will know that you are my disciples." John 13:35 TEV. While we are here on earth, God is preparing us for our life and relationship in eternity. We have to learn the tough work of practicing love here on earth for the enjoyment of love in eternity. We should make love our highest motivating force, our top priority in everything we do. “Let love be your highest goal.” 1 Cor 14:1a NLT.

Amazingly, God who gave us the command to love one another gave us also the power to love. Rom 8:11 NLT. The Spirit of God, who raised Jesus from the dead, lives in you.” The awesome power of the Holy Spirit that can raise the dead is in us, ready to help us do the things we cannot do through our own power. With our own power we cannot love, but by the power of the Holy Spirit living in us, we can. Next time when you are tempted to say, “I cannot love that person,” say instead, “I can! The power of the Almighty God is in me, I can!” Yes, we can. We have no choice as to who our brothers and sisters in our church family should be, but we need to love them just the same. Loving them is not an option, it is a command. Jesus said, “A new command I give you: Love one another. As I have loved you, so you must love one another " John 13:34 NIV. Many years later John stated it clearly, “Dear friends, let us love one another, for love comes from God. Everyone who loves has been born of God and knows God. Whoever does not love does not know God, because God is love.” 1 John 4:7-8 NIV. HOW DO WE LOVE ONE ANOTHER? 1. Love ourselves. No, it is not self serving to love ourselves. It is a command from God. Jesus said, “YOU SHALL LOVE YOUR NEIGHBOR AS YOURSELF." Matt 19:19 NASU. The standard of our love for one another is how we love ourselves. If we cannot love ourselves, how can we love our neighbor in the measure that God requires? Jesus said, “This is My commandment, that you love one another as I have loved you”. John 15:12 NKJV. We should remind ourselves how much Jesus loves us so that we can love ourselves, then, we can learn how to love one another.


2.Think good of one another. We should always desire good things for one another. The Bible tells us to think of the good side in every situation including the conditions and intentions of our brothers and sisters, “Finally, brothers, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable - if anything is excellent or praiseworthy-think about such things.� Phil 4:8 NIV Whenever we think good of each other we love each other. If we do so we will not be tempted to speak evil of each other or even delight in hearing false report about each other. If we love one another we will not gossip. Speak kindly to our brothers and sisters, encourage them, praise them, and speak uplifting, positive words when they feel discouraged. Remember, they are part of us, our family, if they are in pain we all suffer. Think good and speak no evil of one another! 3, Pray for one another. Prayer changes things. No one and no adversity can stand against the power of fervent prayers. Many times we want to correct a bad situation through our own effort and strength, or we do nothing at all. In every situation prayer is the first thing we should do. No matter how bad or hopeless the situation, we pray in faith. It is very tempting to just give up and instead of praying we turn to telling other people about the situation, we turn to gossiping and complaining. We should pour out our feelings and our concerns to God and agree with Him for a resolution and a restoration for our brothers and sisters in Christ. Even the weakest among us can pray bad situations into victory, because it is God who does the change. 4. Forgive one another. Then Peter came to Jesus and asked, "Lord, how many times shall I forgive my brother when he sins against me? Up to seven times?" 22 Jesus answered, "I tell you, not seven times, but seventy-seven times.� Matt 18:21-22 NIV. To forgive someone even one time is a hard thing to do. How much harder it is to forgive seven times or seventy-seven times?! Some translation says 'seventy times seven'. Peter thought he was generous to forgive someone seven times, Jesus said we have to forgive all the time.

Be humble and gentle. Be patient with each other, making allowance for each other's faults because of your love.

Get rid of all bitterness, rage, anger, harsh words, and slander, as well as all types of malicious behavior. 32 Instead, be kind to each other, tenderhearted, forgiving one another, just as God through Christ has forgiven you. Eph 4:31-32 NLT. It is for our own good when God tells us to forgive one another. If we do not forgive, that feeling of unforgiveness stays in our heart. It becomes a poison that controls our whole psychological make-up, and our attitude towards other people. Something incomplete within us limits us and prevents us from growing. Eventually we become bitter and always feel guilty. It is a torture for our body and soul. That is a foretaste of hell. But God has given us the grace to forgive. Yes we can. FINAL WORD Be humble and gentle. Be patient with each other, making allowance for each other's faults because of your love. 3 Always keep yourselves united in the Holy Spirit, and bind yourselves together with peace. Eph 4:2-3 NLT. Let us make our church experience a pleasant experience, so that every time we leave the place of worship we have the assurance that no one will speak evil behind our back, that we can always turn to one another for prayer, and that we have been forgiven as we also have forgiven others. By. Mr. Robert Leman //TERANG Doc


TULANG RUSUK… Ah…. Ini dia salah satu topik yang sering dibicarakan anak muda. Apalagi kalau bukan masalah 'perjodohan atau tulang rusuk'? Yang Pria mencari wanita, yang wanita menanti pria. Bahkan terkadang, jaman sekarang ini, sering juga terjadi yang wanita mencari pria dan yang pria menanti-nanti. Suatu kali kami sedang melayani di sebuah gereja di sebuah kota di West Coast, beberapa anak muda bertanya,” Pak Pendeta, kenalin dong dengan yang bagus-bagus.. Pak Pendeta ada stock enggak?” Hahaha… Dikira kami jualan barangkali yah. Sebenarnya aneh kah bila para kawula muda ini mulai mempermasalahkan soal pacar? Adakah cara yang lebih baik untuk memilih si 'Doi', selain hanya melihat tampang atau penampilan luarnya? Bagaimana Alkitab menguraikan masalah ini dari sisi Tuhan? Mari kita bahas dan kupas topik ini sampai tuntas… tas… tasss!!!! (ada echo…) Gejolak Anak Muda Sebenarnya tidak aneh, bila anak muda sudah mulai memperhatikan atau tertarik kepada lawan jenisnya. Sesudah belasan tahun dia belajar dan explorasi tentang dirinya sendiri, sebetulnya normal bila dia mulai ingin tahu tentang sesuatu diluar dirinya. Dia mulai belajar berinteraksi dengan sesama jenis, membuat group, berteman/ bersahabat dengan sesama jenis, saling tolong dan bertumbuh bersama. Tapi setelah itu, pelan tapi pasti, para pria dan wanita muda ini akan masuk dalam suatu waktu dimana mereka mulai memperhatikan lawan jenisnya. Bagi orang tua, kakak, guru atau para pembimbing rohani, yang penting pada masa ini bukan pembatasan, tapi pengawasan/ mentoring. Bagaimana kita share dengan mereka, hang out dengan mereka dan berkomunikasi dengan mereka. Bagi anak muda, dengarkan apa yang dinasihatkan para orang tua, kakak, guru atau para pembimbing rohani, percayalah, Tuhan sudah pilih mereka bagi mu, karena mereka dulu pernah alami apa yang engkau alami dan Tuhan akan tuntun saudara (para anak muda) lewat mereka. Dating or Pacaran? Apakah prinsip pacaran atau dating yang ada di sekitar kita itu sudah tepat? Kelihatannya sih paling asyik. Tapi apakah benar dimata Tuhan?

Di dalam Alkitab, sebenarnya tidak ada istilah pacaran atau dating. Paling jauh disebutkan adalah tunangan/ persiapan pra nikah, seperti Jusuf dan Maria sebelum menikah. Mengapa? Karena memang tidak ada. Istilah pacaran atau penjajakan atau dating, itu adalah istilah dunia. Istilah Alkitab yang tepat adalah persiapan pernikahan/ tunangan. Itu sebabnya, mari berteman dulu yang banyak bila belum siap masuk dalam pernikahan. Nanti bila waktunya matang atau siap, barulah boleh memasuki persiapan pernikahan atau pertunangan. Calon Pendampingku Yang paling benar, mulailah dengan Tuhan bersamasama. Banyak doa dan tanya Dia, karena Tuhanlah yang sebenarnya tahu siapa yang terbaik buat kita, siapa yang baik, siapa yang agak baik atau yang kurang baik buat kita. Banyak DOA! Berlawanan Jenis. Haaa…. Sepertinya aneh yah? Tapi pada jaman seperti sekarang ini, apalagi di state of California, yang satu ini harus diingat baik-baik. Pria dengan wanita, wanita dengan pria. Menurut kitab Kejadian, keluarga/ pernikahan adalah lembaga pertama didunia yang diciptakan Allah. Dan pada waktu itu, Tuhan menciptakan Adam dan Eve, bukan Adam dan Steve. Got it? Anak Terang. II Korintus 6: 14 mengatakan bahwa terang dan gelap tidak dapat bersatu. Apanya yang sama antara terang dan gelap sehingga kita pikir bisa bersatu? Tidak ada. Didalam Kristus, kita sudah menjadi anak-anak terang. Surat I Yohanes 1: 7 berkata kalau kita mau berjalan dalam terang, maka kita akan mendapat persekutuan/ bersatu antara satu dengan yang lainnya. Pernah ada yang bertanya pada kami,” Bagaimana kalau si doi tidak seiman, tapi sudah kita injili dan katanya mau untuk jadi Kristen? Boleh tidak hubungannya diteruskan?” Jawaban kami adalah selama belum jadi anak terang, anda akan mengalami masalah besar bila nekat meneruskan hubungan sampai pernikahan (Konsekuensi yang sama dengan pelanggaran Firman Tuhan yang lain).Dan pengalaman membuktikan, pertobatan karena perjodohan tidak baik, hanya kasus-kasus khusus saja, ada yang kemudian bertobat sungguh-sungguh. Ajak dulu dia bertobat, seperti kita ajak teman-teman kita yang lain untuk bertobat.


Seimbang dalam iman. Meneruskan kriteria diatas, Surat Korintus mengatakan agar janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang. Mari perhatikan tingkat rohani masing-masing dan juga latar belakang kehidupan masing-masing. Kalau kita, anak muda yang sudah melayani Tuhan sudah biasa beri perpuluhan, menabur, bayar harga, hidup benar dan sebagainya, maka akan kesulitan untuk menikah dengan mereka yang baru bertobat. Kalaupun memang yakin bahwa si doi adalah pasangan dari Tuhan, tunggulah si doi siap, baru masuk dalam pernikahan. Termasuk juga tingkat pendidikan dan lainnya. Contoh kasus, kita lulusan Graduate Program dari USA, pulang ke Indonesia dan bertemu dengan dia yang ….. pokoknya OK punya deh….. tapi latar belakangnya adalah lulusan SMU/ High School saja. Ini sebenarnya perlu diwaspadai. Ingat, bahwa bila nanti menikah, ada banyak hal yang harus kalian putuskan bersama dan hadapi bersama. Bila cara berpikirnya terlalu berbeda, akan berat di kemudian hari. Betul, ada contoh-contoh khusus yang menunjukkan bahwa hubungan ini tetap bisa baik, tapi tidak umum. Untuk hal ini, doakanlah baik-baik, banyak tanya Roh Kudus, Tuhan pasti beri yang terbaik. Ada amin? Visi yang saling mendukung. Target atau arah atau purpose wajib dimiliki oleh setiap orang Kristen yang mau berlari-lari menggenapi kehendak Tuhan. Pasti ada beban atau kerinduan yang diletakkan Tuhan di hati setiap kita untuk kita lakukan bagi Tuhan Yesus. Berhubung pacaran itu sebenarnya tidak Alkitabiah, dan yang benar adalah persiapan pernikahan, maka memiliki target kehidupan atau visi yang saling mendukung menjadi syarat penting. Dalam pelayanan misalnya, si pria punya visi untuk menjangkau anakanak muda di kota-kota Indonesia, si wanita punya hati untuk desa-desa di Nusa tenggara saja, ini tidak sesuai. Si pria ingin menjadi businessman keliling Indonesia, Si wanita ingin menjadi penginjil keliling di Indonesia, nah, masih bisa saling mendukung. Seorang pengkotbah pernah bertanya kepada Mrs. King (Istri Rev. Martin Lither King Jr),” Apakah tidak capek mengikuti Rev. King berkeliling dan mengabarkan injil? Pindah-pindah kota dan hotel?”Dengan bijak Mrs. Menjawab,” Waktu kami menikah, Tuhan sudah beritahu, bahwa aku menikahi bukan hanya Mr. King,

Tapi juga menikah rancangan Tuhan yang ada padanya (His Destiny)”. Mari jangan egois dan paksa seseorang untuk meninggalkan panggilannya dan mengikuti visi kita. Kalau memang berbeda visi, berbesar hatilah untuk mempertimbangkan lagi hubungan anda. Bila memang mengasihi si dia dengan tulus, lepaskan dan biarkan dia berbahagia melakukan apa yang Tuhan taruh di dalam hati orang itu. Berdoa lagi dan pasti Tuhan beri yang terbaik. Amiiinn? Kemampuan menggenapi Firman Tuhan. Sekali lagi, sudah ditegaskan diatas, bahwa hubungan kasih yang benar adalah persiapan sebelum pernikahan. Untuk itu persiapkanlah diri berdua untuk menggenapi semua ayat-ayat Firman Tuhan tentang pernikahan. Istri harus tunduk pada suami, Suami harus mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat dan rela mati bagi jemaat, komunikasi yang terbuka, kepercayaan untuk melakukan banyak hal bersama dan lain sebagainya. Para pria carilah calon istri yang bisa tunduk pada mu dan bisa kau kasihi segenap hatimu. Para wanita carilah pria yang mengasihimu sungguh-sungguh dan memiliki kualitas yang bisa menundukkan mu. Mari ingat untuk tidak membawa si doi jatuh dalam pencobaan dan melanggar firman Tuhan yang seharusnya nanti dipenuhi oleh seorang istri atau suami. Fellowship dengan keluarga besar. Banyak orang amerika di perkotaan sudah meninggalkan nilai ini, apalagi Hollywood. Tapi mereka yang memperhatikan Firman Tuhan dengan baik, pasti juga memperhatikan hubungan dengan keluarga besarnya. Apakah si doi cocok dengan Papa dan Mama? Bagaimana kakak atau adik? Kalau memang bisa 'get along' dengan keluarga kita, sekarang, bagaimana dengan kita dengan keluarga si dia? Jangan pandang enteng hubungan ini, apalagi bila kita masih ingat bahwa kita juga orang Asia. Memenuhi selera fisik. Bila semua syarat diatas sudah ok, tapi masih ragu juga. Pandanglah dia baik-baik, dan lihat dengan benar. Pasti anda bisa memutuskan sendiri. Apakah dia terlalu gendut/ kurus untukmu? Apakah dia terlalu pendek/ tinggi? Apakah dia kurang ganteng/ cantik/ manis? Apa yang kamu suka? Tapi mari jadikan ini option yang terakhir. Masih kurang yakin juga? Minta konfirmasi dari hamba Tuhan, teman-teman dan keluarga dalam Tuhan. Tuhan pasti bicara lewat mereka. kalau sudah ketemu, hiduplah kudus. Oleh: Rev. Johannes & Olga Rajagukguk // TERANG Doc


Artikel Bersambung:

Hidup Tanpa Kekurangan Bagian I

Pdt. Rudy Gunawa TH.B Mengenal Diri Sendiri Seorang wanita yang sedang manghadapi ajalnya tiba-tiba merasa bahwa ia dibawa ke surga dan berdiri di hadapan Takhta pengadilan. “Siapa engkau ini?” kata suara kepadanya. “aku ini istri lurah,” jawabnya. “Aku tidak bertanya kepadamu, engkau itu istri siapa, tetapi engkau itu siapa? “Aku ini ibu dari empat orang anak.” “Aku tidak bertanya, engkau ibunya siapa, tetapi siapa engkau itu?” “Aku ini guru disekolah.” “Aku tidak menanyakan pekerjaanmu , tetapi engkau itu siapa?” Demikianlah seterusnya. Tidak perduli jawabannya, rupanya itu bukan jawaban yang memuasakan terhadap pertanyaan: “Engkau itu siapa?” “Aku ini seorang kristen.” Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engaku itu siapa?” “Aku ini seorang yang setiap hari pergi kegereja dan selalu membantu orang miskin dan orang dalam kesulitan.” “Aku tidak menanyakan perbuatan mu, tetapi siapa engkau itu?”. Ia jelas gagal dalam ujian. Karena itu, ia dikirim kembali kedunia. Ketika sembuh dari sakitnya, ia berniat menemukan siapa dia. Dan itulah yang membuatnya berbeda sama sekali. Untuk bisa mengenali berkat-berkat Tuhan, kita harus terlebih dahulu mengenali diri kita. Selama kita belum mengenali diri kita sendiri, kita tidak akan bisa merasakan berkat Tuhan. Ketidak mengenalan kita atas diri kita sendiri inilah yang menghalangi kita untuk meraih berkat-berkat Allah. Saat kita ditanya mengenai diri kita, kita sering menjawab dengan diplomatis untuk membungkus ketidak mengertian kita: “saya adalah saya.” Sesungguhnya, kita adalah Roh. Saat ini, anda mungkin mengerti. Ya, kita adalah Roh. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah manusia dan memang benar demikian. Namun kita harus mengerti bahwa ada yang menyebabkan manusia itu ada. Siapakah yang menyebabkan manusia itu ada? Kejadian 2:27 mengatakan, “ketika itulah Tuhan membentuk manusia itu dari debu dan tanah.”

Jika pemberitaan firman hanya berhenti di kalimat ini, berarti manusia mati karenaTuhan belum menghembuskan kehidupan.” Ayat berikutnya menyebutkan, “Dia menghembuskan nafas hidup kedalam hidupnya.” Demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup. Nafas kehidupan yang dihembuskan Tuhan itu adalah roh. Karena itu, Tuhan mengatakan dalam firman-Nya bahwa tubuh kita semakin hari semakin merosot, tetapi roh kita semakin hari semakin kuat, seperti tertulis dalam 2 Korintus 4:16, “sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari kehari.” Jadi hakikat manusia yang sejati adalah roh. Kejadian 1:31 menuliskan: maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.” Segala yang diciptakan-Nya adalah baik, termasuk roh yang diberikan Allah kepada kita. Apalagi, sebenarnya Dia menaruh Roh-Nya sendiri ke dalam kita. Jika kita telah mengerti akan kebenaran ini, pikiran kita akan terbuka bahwa kita adalah manusia roh. Karena kita adalah manusia roh, cara berfikir kita pun harusnya “menurut roh”, bukan menurut daging. Untuk bisa berfikir menurut roh, kita harus mengarahkan pikiran-pikiran kita pada perkaraperkara yang diatas, bukan yang dibumi (tidak menuruti keinginan daging kita). Ada satu contoh alkitab, seorang yang hidup menurut daging, sehingga tidak bisa menanggapi berkat-berkat Allah. Seperti dikisahkan dalam Yohanes 4:11-14, “kata perempuan itu kepadaNya, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini sangat dalam. Darimanakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah engkau lebih besar dari bapak kami Yakub yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah meminum sendiri dari dalamnya? Ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” jawab Yesus kepadanya,'barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi.


Tetapi, barang siapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamalamanya. Sebaliknya air yang akan kuberikan kepadanya akan menjadi mata air didalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Dalam pembicaraan antara wanita Samaria dan Yesus ini, kita melihat bahwa wanita itu tidak mengerti perkataan Yesus. Wanita itu berbicara mengenai air dari sumur yang dibuat oleh Yakub, sedangkan Yesus menjawabnya denga Roh-Nya. Wanita itu berbicara dengan pikirannya, sedangkan Yesus berbicara dengan kekuatan Roh yang supernatural. Mengapa bisa demikian? Karena wanita itu hidup dalam kedagingan. Bagaimana kita bisa tahu bahwa ia hidup dalam kedagingan? Yohanes 4:15-18 menceritakan tenatang kehidupan wanita tersebut.“ kata perempuan tiu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu,supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi kesini untuk menimba air.”

Kata Yesus kepadanya: “pergilah, panggilah suamimu dan datang kesini, 'kata perempuan itu: 'aku tidak mempunyai suami. 'kata Yesus kepadanya: “ Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu'. “Wanita itu berbuat dosa dengan mempunyai lima suami”. Hidup kedagingan kita menghalangi berkat-berkat Allah untuk bisa menjangkau kita. Terang dan gelap tidak bisa menjadi satu. Banyak anak Tuhan yang tidak mengerti kehendak Allah. Kita bisa satu pemikiran dengan Allah jika kita meninggalkan hidup kedagingan kita dan meninggalkan manusia lama kita. Sering kali kita bertobat, tetapi masih mengenakan manusia lama kita. Mengenakan manusia lama kita, berarti masih menyimpang dosa yang kita sukai. Bersambung ke edisi 3

-------------------------------------------------------------------


Mujizat kesembuhan bagi keluarga Rumenser Saya dan suami saya lahir dengan latar belakang keluarga Kristen. Dalam pernikahan, kami di karuniai 4 anak laki-laki, bahkan telah memiliki 5 cucu perempuan. Walaupun berlatar belakang seorang Kristen, bahkan suami saya adalah anak seorang majelis gereja, tetapi dia bukan seorang jemaat gereja yang taat. Sehingga pada saat kami menikah, saat saya mempunyai kerinduan untuk bergereja, suami saya selalu mempunyai alasan supaya kami tidak pergi ke gereja. Bahkan terkadang dia menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk tidak kegereja sehingga saya harus pergi sendiri. Sejak kami tinggal di Amerika, kami selalu berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain. Tetapi, dalam hati, saya mempunyai kerinduan untuk mempunyai satu gereja. Dalam arti menjadi jemaat tetep dalam satu gereja. Saya telah mengunjungi banyak gereja disini, bahkan gerejagereja yang mempunyai pendeta ternama, tetapi dalam hati saya merasa kosongan. Tak lama kemudian satu persatu masalah pun menghinggapi keluarga kami. Mungkin semua itu adalah pertanda dari Tuhan, supaya kami sekeluarga sadar dan mau membuka mata kami terhadap uluran tangan Tuhan dalam hidup kami.

Masalah itu dimulai sejak suami saya mengalami serangan jantung pada tahun 2003. Sejak dulu suami saya adalah seorang pekerja keras. Dia bisa dikatakan sebagai seorang workaholic. Dia sanggup bekerja terus-menerus tanpa jatuh sakit. Tetapi tanpa diduga suami saya mengalami serangan jantung dah harus menjalani oprasi full bypass. Suami saya yang sebelumnya tidak pernah sakit keras, tidak pernah minum obat dan selalu mengandalkan kekuatan fisiknya, harus menyerah terhadap penyakitnya dan mulai minum obat [obat untuk membantu memperlambat detak jantung, obat untuk menurunkan tekanan darah dan juga obat kolesterol]. Sejak saat itu, dia harus rutin meminum seluruh obatnya untuk bertahan hidup. Tetapi semua kejadian ini tidak merubah pandangan hidupnya. Dia tetep mengandalkan kekuatan dirinya sendiri dari pada kekuatan dan kuasa Tuhan. Pada tahun yang sama, pada bulan April, saya didiagnosa positif mengindap kanker payudara. Dan peyakit ini sudah masuk stadium 3.5 dan dikatagorikan kanker ganas. Kejadian beruntun ini sangat membebani hidup kami. Suami saya pun ahirnya kembali ke gereja bersama dengan saya, walaupun kami masih tetap berpindah-pindah gereja.


Suatu saat, salah satu anak kami yang kebetulan melayani di Gereja JKI Miracle Center mengajak kami untuk datang. Dia berkata, “kalau papa dan mama sudah capek pindah-pindah gereja, kenapa tidak coba untuk datang ke gereja Donny? Kalau masih tetap tidak mau datang sebagai jemaat, anggap saja papa mama datang untuk melihat Donny main drum.� Ahirnya kami pun memutuskan untuk datang dan mengikuti khotbah. Pada kebaktian saat itu, sebelum kebaktian selesai, pendeta setempat mengatakan bahwa pada minggu yang akan datang akan ada doa untuk pemulihan financial. Seminggu kemudian, kami sepakat untuk datang kembali. Selesai kebaktian kami lalu ke depan untuk di doakan. Yang membuat kami terheran-heran, bukannya financial kami yang didoakan, melainkan Pdt Rudi Gunawan menggenggam tangan saya dan suami saya dan mengatakan, “Bapak dan Ibu sedang mengalami masalah yang besar dalam hidup anda. Tetapi apabila anda tetap setia dan bergereja, dan selalu setia untuk datang ketempat ini, masalah sudah tidak ada lagi. Serahkanlah seluruh hidupmu kepada Tuhan dan setialah senantiasa�. Pernyataan itu membuat saya terkejut. Kerinduan saya untuk bergereja selama ini telah dijawab. Ahirnya kami memutuskan untuk menjadi jemaat digereja tersebut. Sampai pada november 2005, kaki kanan tepatnya lutut suami saya bengkak dan membuat dia sulit berjalan. Tetapi kerinduan suami saya untuk datang kegereja pada saat itu sangat besar dan dia bersikeras untuk tetap datang kegereja. Pada hari itu, diadakan altar call untuk orang-orang yang mempunyai sakit penyakit. Suami saya ingin maju kedepan, tetapi karena rasa sakit yang luar biasa pada lututnya membuatnya mengurungkan diri untuk maju kedepan dan duduk kembali. Sampai akhirnya Pdt Rudi Gunawan mengatakan bahwa di dalam ruangan ini masih ada orang yang sakit, dan beliau ingin orang tersebut untuk maju kedepan.Suami saya tetap diam dan duduk di tempatnya. Sampai saat seorang ibu maju kedepan, suami saya pun memaksakan diri untuk berdiri dan berdoa, kemudian lagu haleluya pun dinyanyikan. Sekujur badan suami saya pun terasa panas seketika dan hadirat Tuhan pun dia rasakan. Pada saat lagu selesai dinyanyikan, Pdt Rudi Gunawan kembali berkata bahwa masih ada orang lain yang sakit, lebih jelas lagi orang, orang tersebut sakit pada bagian kaki. Dan lebih sepesifik lagi, kaki sebelah kanan yang sakit. Suami saya pun tersentak dan saat itu juga kakinya sembuh seketika. Semua sakit sakit pada lututnya sudah tidak terasa lagi, walaupun masih bengkak. Dan yang lebih ajaib lagi, seluruh penyakit suami saya pun sembuh. Suami saya dilawat secara luar biasa oleh Tuhan.

Setelah suami saya disembuhkan, saya pun mulai mempunyai kerinduan untuk disembuhkan. Sampai akhirnya pada bulan Desember 2005, kami diajak untuk turut merayakan natal bersama denga gereja JKI Miracle Center, dan gembala setempat berjanji untk berpuasa dan berdoa untuk kesembuhan saya. Pada acara perayaan natal itu. Saya maju untuk didoakan. Yang herannya, saya tidak merasa apa-apa pada saat Pdt. Rudi Gunawan menjamah saya untuk didoakan. Yang saya rasakan hanyalah rasa panas dan lemas pada sekujur tubuh saya. Pdt. Rudi Gunawan pun berkata bahwa imanku telah menyembuhkan penyakit saya. Dan dalam perjalanan pulang kerumah, suami saya menyuruh saya untuk mengaminkan semua itu. Seminggu kemudian, saya kembali ke dokter untuk mengalami pemeriksaan selanjutnya. Berkat kasih Tuhan yang luar biasa, sel kanker itu telah hilang. Walaupun pada ahirnya saya tetap harus menjalani operasi, dalam operasi itu, dokter tidak menemukan sel kanker apapun dalam diri saya. Proses operasi yang tadinya diperkirakan akan berjalan selam 3 jam, hanya berlangsung 45 menit, dan saya tak harus tinggal di rumah sakit dan dapat langsung pulang kerumah. Saya percaya saya telah sembuh sejak awal Januari, dan semua itu telah nyata dalam hidup saya pada saat operasi saya berlangsung, saya telah sembuh!. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk hidup lebih dalam lagi bersama Yesus Kristus. Kami memutuskan untuk lahir baru dan hidup senantiasa di dalam jalan Tuhan. Kami berusaha semampu kami untuk menjalankan semua perintah-perintah Tuhan dan selalu setia kepadanya. Kami ingin menyampaikan pesan kepada seluruh kepala rumah tangga supaya janganlah pernah takut dan bimbang dalam menjalani kehidupan ini. Ingatlah kepada janji Tuhan, carilah dulu kerajaan surga maka semua akan dicukupkan, burung-burung diudara saja dipelihara dan diberi makan, terlebih lagi kita anak-anak-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah maukan kita terlebih dahulu menyerahkan seluruh hidup kita ketangan Tuhan? Dan juga kepada orang-orang yang sakit, janganlah khawatir Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Dia selau mendengar doa kita asalkan kita berserah penuh kepada-Nya. Kita harus setia menjalankan semua perintah Tuhan. Jangan pernah menyerah. [CS/FB/MW-TERANG Doc]



Edisi 2 - Terang Magazine