Issuu on Google+

Edisi: 9 - Februari 2012


Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X

Penerima HB X Award, Goenawan Moehamad Menyampaikan Pidatonya di Pagelaran Keraton


PELINDUNG: Rektor UGM

tajuk

PENANGGUNGJAWAB: Djoko Moerdiyanto PEMIMPIN REDAKSI: Suryo Baskoro REDAKSI: Gusti Grehenson, Agung Nugroho, Satria Ardhi Nugraha, Kurnia Ekaptiningrum EDITOR BAHASA: Farida Yuliani FOTOGRAFER: Budi Harjana

ebagai perguruan tinggi, Universitas Gadjah Mada adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Karena itu, wajar jika UGM telah dan terus membuat rangkaian kegiatan, sebagai bentuk kepedulian. Berbagai kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun ini terentang dari programprogram pemberdayaan masyarakat, bantuan langsung, hingga program terkait kebencanaan. Seluruh civitas UGM tanpa terkecuali terlibat langsung maupun tidak, sebagai bentuk nyata tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Harapan terbesar dari semua itu adalah adanya saling pengertian antara UGM dan masyarakat, serta pemahaman yang lebih bahwa UGM bukan hanya lembaga yang khusus berkait dengan keilmuan saja, tetapi jauh dari problem nyata masyarakat. Sehingga apa yang sering dikatakan bahwa perguruan tinggi ibarat menara gading yang menjulang tinggi dan tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat, tidak terjadi khususnya bagi UGM. Semua program baik itu pemberdayaan masyarakat maupun bantuan dalam kebencanaan tentu belumlah cukup. Karena itu di masa datang, program-program serupa akan terus ditingkatkan, sebagai wujud nyata komitmen UGM berbakti kepada masyarakat.

S

Salam

PEMASARAN/IKLAN: Diah B. Listianingsih KEUANGAN: Sudarmana SIRKULASI: Suharno, Artha Wahana

ALAMAT REDAKSI: HUMAS UGM Gedung Pusat Lt. 1 Sayap Selatan, Bulaksumur, Sleman Yogyakarta 55281 Telp/fax. (0274) 649 1936 email: humas@ugm.ac.id

kabar ugm - februari - 2012

03


daftar isi

06

16. Liputan 18. Prestasi 20. Esai Foto 22. Civitas 24. Suara 12 26. Prestasi 04

kabar ugm - februari - 2011

28. Feature 34. Peristiwa 36. Gelanggang 37. Mereka 38. Tamu 39. Tempo Doeloe


laporan utama

UGM

DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

ebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada tak pernah lekang dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun 1951, atas inisiatif Koesnadi Hardjasoemantri, Ketua Dewan Mahasiswa UGM saat itu, UGM menggelar program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). Saat itu, kebutuhan akan pendidikan menggelora, tetapi belum tersedia cukup guru. Untuk itulah, mahasiswa UGM peserta PTM dikirim ke daerah untuk mengajar SMA. Program ini berjalan hingga tahun 1962. Sekitar 1.218 mahasiswa UGM telah dikirim dan menjadikan pendidikan daerah berkembang dengan dirintisnya sekolah lanjutan yang sebelumnya belum ada di daerah tersebut. Dari catatan Arsip UGM, melalui PTM, Pemerintah dapat membuka 135 sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di luar Jawa. Selain itu, 25 sekolah di luar Jawa yang sebelumnya sempat akan ditutup, bangkit kembali dengan kehadiran para mahasiswa tersebut. PTM UGM juga menginspirasi mahasiswa dari universitas lain untuk melakukan hal serupa, menjadi pengajar di daerah. Sampai berakhirnya program ini pada 1964, sebanyak 225 mahasiswa dari kampus lain turut berpartisipasi mengembangkan pendidikan di sana. PTM UGM inilah yang kemudian menginspirasi 'Indonesia Mengajar', yang akhir-akhir semakin banyak diminati para fresh graduates dari seluruh Indonesia. Kiprah mahasiswa UGM dalam mengabdi kepada bangsanya tidak

S

berhenti sampai di situ. Pada tahun 1973, UGM menggelar program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pertama kali, KKN bersifat suka rela untuk mahasiswa. Namun, sejak tahun 1979, KKN menjadi program wajib bagi semua mahasiswa UGM dan hal itu tidak pernah berhenti hingga detik ini. Menurut buku “60 Tahun Sumbangsih UGM bagi Bangsa�, fokus utama KKN adalah membangun jiwa mahasiswa untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Untuk mampu menyerap dan memahami aspirasi rakyat, mahasiswa perlu tinggal bersama mereka, di desa. Pada tahun 1990, KKN diperluas hingga ke luar Jawa dan pada tahun 2000-an, krisis moneter yang terjadi di Indonesia ditanggapi UGM dengan mengubah paradigma pembangunan menjadi paradigma pemberdayaan. Sejak itulah, kegiatannya dinamakan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran

Pemberdayaan Masyarakat). Pada tahun 2008, program pemberdayaan masyarakat berbasis mahasiswa telah menjadikan UGM ditetapkan sebagai salah satu Regional Center of Expertise di dunia oleh United Nations University, Tokyo. Tidak hanya sampai di situ. KKN-PPM UGM telah memikat hati ratusan mahasiswa internasional untuk mengikutinya. Program ini bahkan telah menarik minat beberapa universitas luar negeri untuk mengadopsinya, seperti Agder University College (Norwegia), Hanseo University dan Seoul Women University (Korsel), serta Hiroshima Economic University dan Kyushu University (Jepang). Teruslah mengabdi, demi kemajuan bangsa dan negara tercinta, Indonesia. UGM, Januari 2012

kabar ugm - februari - 2012

05


laporan utama

PEMBERDAYAAN OKE, KEBENCANAAN PUN SIAP

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk membangun masyarakat, sebagaimana termaktub dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. UGM berupaya mengimplementasikan semangat itu dalam berbagai program.

06

kabar ugm - februari - 2012

elain penelitian dan pendidikan, perguruan tinggi juga berkewajiban untuk mengabdi kepada masyarakat. Kewajiban itu ditunaikan, antara lain, melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan konsep Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana. Program ini diselenggarakan oleh Disaster Respons Unit (DERU) sebagai salah satu wujud nyata hal yang dapat dilakukan UGM dalam mengabdi untuk masyarakat. Kepala Bidang Pengelolaan KKN dan Pemberdayaan UKM LPPM UGM, Dr. Joko Prastowo, M.Si., mengatakan pelaksanaan KKN dengan konsep Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dalam kurun waktu tahun 2006-2011 mengalami perkembangan yang baik dengan adanya KKN Tematik. KKN ini mengusung tema-tema tertentu dalam pelaksanaan programnya. Paradigma 'empowerment' dan berbasis riset menjadi

S


laporan utama

konsep dasar pelaksanaan KKN-PPM di UGM. Kegiatan-kegiatan dalam KKNPPM pun disinergikan dengan Education for Sustainable Development (EfSD). Dengan perubahan dalam pelaksanaannya, UGM telah berhasil mengangkat KKN-PPM sebagai program internasional. Dalam pertemuan di Universitas PBB (UNU/ United Nation University), UGM telah mempresentasikan KKN-PPM untuk menjadi program yang dapat diakses secara internasional. “Sampai tahun 2011 ini sudah lebih dari 15 perguruan tinggi asing dengan jumlah 362 mahasiswa asing yang ikut serta dalam program KKN-PPM,” katanya. Di samping itu, program KKN-PPM juga sudah menjadi bagian dari jejaring internasional melalui Regional Centre of Expertise (RCE) untuk secara aktif terlibat dalam program-program EfSD di bawah koordinasi UNU. Model pelaksanaan KKN-PPM saat ini ternyata menarik berbagai pihak untuk menjadi mitra dalam pelaksanaannya, baik dari kalangan pemerintah maupun swasta dan pelaku usaha. Melalui Corporate Social Responsibility telah banyak dukungan yang diberikan pihakpihak tersebut dalam pelaksanaan program-program KKN-PPM. “Program KKN-PPM telah dilaksanakan di 20 provinsi, 57 kabupaten, dan 120

kecamatan di seluruh Indonesia,” sebutnya. Ketua DERU UGM, Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc., menuturkan DERU telah menunjukkan peran dalam penanganan bencana yang terjadi di Indonesia, antara lain, gempa bumi Padang, banjir bandang Wasior, gempa bumi Jogja, erupsi Gunung Merapi, dan gempa bumi Tasikmalaya. UGM melalui DERU terbukti mampu memaksimalkan seluruh potensi yang ada. Ribuan mahasiswa siap terjun dalam KKN-PPM, bahkan menjadi potensi positif untuk pengabdian dan dalam melakukan respon terhadap bencana. “Maka akan sangat efektif ketika mahasiswa tersebut diterjunkan untuk melakukan respon terhadap bencana. Dipastikan banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan sehingga program KKN menjadi lebih berguna karena melakukan aktivitas yang real dan berguna bagi masyarakat,” katanya. Kegiatan DERU UGM terbagi dalam tujuh bidang, yakni manajemen, kesehatan (fisik/mental), infrastruktur, pemerintahan dan administrasi publik, livelihood/UMKM, hazard, dan lingkungan, serta pendidikan. Menurut Slamet, penanggulangan bencana

secara lintas sektoral ini dimaksudkan agar mampu merespon dengan baik dampak bencana, yang tidak hanya berakibat pada rusaknya sistem infrastruktur, tetapi juga ekonomi, sosial, dan pemerintahan. Mengingat perannya yang sangat besar dalam upaya penanganan bencana di Indonesia, sudah seharusnya DERU UGM menjadi unit khusus yang selalu siap siaga berada di barisan depan. Hal itu memudahkan DERU dalam melaksanakan upaya-upaya penanganan bencana secara lebih cepat dan terkoordinasi dengan baik sehingga korban yang diakibatkan oleh bencana dapat diminimalisasi. Gusti Grehenson

kabar ugm - februari - 2012

07


laporan utama

PEMERIKSAAN GIGI

GRATIS Selain oleh lembaga, peran nyata UGM juga disumbang oleh fakultasfakultas. Salah satunya ialah program

D

ekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, Prof. Dr. drg. Iwa Sutardjo R.S., S.U., Sp.KGA (K) mengatakan FKG dan RSGM Soedomo telah menggelar pemeriksaan gigi gratis selama dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011. Kegiatan dalam rangka Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) ini dilaksanakan sebagai bentuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum. Kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia memang cukup memprihatinkan. Data riset kesehatan dasar menyebutkan sebanyak 43,4% masyarakat Indonesia yang berusia di atas 12 tahun mempunyai karies gigi aktif (belum tertangani). Sejumlah 67,2% memiliki pengalaman karies dengan lebih dari 1 gigi yang mengalami kerusakan. "Melalui kegiatan ini harapannya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan

08

kabar ugm - februari - 2012

gigi dan mulut. Salah satu caranya adalah dengan menggosok gigi secara teratur dan benar," tutur Iwa Sutardjo. Pelayanan pemeriksaan gigi gratis yang diberikan meliputi penambalan gigi sederhana, cabut gigi tanpa komplikasi gigi sulung atau gigi tetap, perawatan karang gigi, konsultasi medis seputar gigi, dan edukasi pergigian kepada anak-anak serta orang tua. Di samping itu, dalam beberapa pemeriksaan juga dibuka layanan pemeriksaan kesehatan umum. Dalam pemeriksaan gratis tersebut selain diterjunkan dokter gigi, juga ditugaskan dokter umum. Pemeriksaan gigi gratis ini memperoleh apresiasi positif dari masyarakat. Buktinya, dalam pemeriksaan BKGN 2010 setidaknya 2.700 pasien berhasil dilayani dengan

melibatkan 408 dokter gigi. Sementara itu, pada BKGN 2011 sedikitnya terdapat 3.000 pasien umum dan anak-anak yang ikut dalam pemeriksaan. Karena keberhasilan tersebut, program ini diagendakan untuk diadakan setiap tahun sebagai wujud pelayanan sosial bagi masyarakat. Selain dalam rangka BKGN, FKG juga menggelar sejumlah pemeriksaan gigi gratis dalam rangka Dies FKG UGM untuk masyarakat sekitar Yogyakarta, antara lain untuk warga Code dan abdi dalem Keraton. Kurnia Ekaptiningrum


KOMUNITAS PEDULI AIR

T

ri Nugraha, Koordinator Waterplant, mengatakan untuk mewujudkan visi sebagai katalisator pembangunan berkelanjutan, komunitas ini mengembangkan sebuah konsep yang memadukan teknologi tepat guna dan pendekatan pemberdayaan masyarakat. "Syukurlah, dengan adanya dukungan human capital dari berbagai disiplin ilmu, Waterplant mampu memberikan solusi yang komprehensif dan terintegrasi," kata Tri Nugraha. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM tersebut menambahkan salah satu program Waterplant yang telah dilakukan ialah eksploitasi air Gua Plawan di Gunung Kidul dengan energi terbarukan. Program ini telah mendapatkan penghargaan sebagai program KKN pemberdayaan

masyarakat terbaik dan ditetapkan sebagai KKN percontohan tingkat nasional. "Kita melihat ini masih sebagai contoh kecil dalam usaha membangun Indonesia. Harapannya Waterplant dapat menjadi embrio solusi permasalahan pembangunan di Indonesia," ujar Tri. Capaian lain, diantaranya ialah membuat desain dan mengaplikasikan intake sistem pancang pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Selopamioro, Bantul, serta membentuk Perhimpunan Air Minum Masyarakat Yogyakarta

Terobosan lain yang dilakukan civitas UGM adalah membentuk Waterplant Community, sebuah komunitas mahasiswa lintas jurusan yang peduli terhadap permasalahan kekeringan di DIY.

(PAM-Maskarta). Selain itu, Waterplant juga turut memberikan solusi atas kurangnya akses masyarakat terhadap air bersih dengan mengembangkan beberapa SPAM pedesaan yang melibatkan beberapa stakeholders, baik dari instansi pemerintah, swasta, maupun institusi pendidikan. Melalui kerja sama berbagai pihak dan partisipasi aktif masyarakat diharapkan akan terwujud pembangunan berkelanjutan di sektor air. Satria Ardhi Nugraha

kabar ugm - februari - 2012

09


laporan utama

SEDERHANA

TETAPI PENUH GUNA

B

erperan bagi masyarakat tidak harus dengan menciptakan teknologi canggih. Ada begitu banyak persoalan dan beban yang sebenarnya dapat dibantu dengan teknik sederhana, yang lebih kita kenal sebagai tepat guna. Salah satunya dilakukan oleh Ir. Priyanto Triwitono, M.P., dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, yang menciptakan alat pencetak rengginang. Dengan alat ini, pembuat camilan itu tak perlu repot lagi dan dapat berproduksi dengan lebih efisien. Berikut ini perbincangan reporter 10

kabar ugm - februari - 2012

UKM Rengginang Lestari dari Sleman yang menurut saya cukup menantang. Permasalahan tersebut adalah tuntutan adanya alat pencetak rengginang. Selama ini, proses pencetakan Mengapa tertarik mengembangkan alat rengginang masih dilakukan secara pencetak rengginang ini, Pak? Sebagai dosen tentunya tidak hanya manual, tanpa alat cetak khusus. Untuk mendapatkan rengginang berbentuk mengajar, tetapi juga melakukan lingkaran, perajin UKM menggunakan pengabdian masyarakat. Pada tahun alat sederhana berupa potongan pralon 2003 silam, saya melakukan kegiatan dengan diameter tertentu. Cara pengabdian masyarakat di Dinas Pertanian Provinsi DIY, saya memberikan pencetakan rengginang secara manual penyuluhan bagi kelompok UKM pangan. mempunyai beberapa kelemahan, yakni perlu ketelatenan dan keterampilan Dari kegiatan itu banyak permasalahan tinggi. Selain itu, dibutuhkan waktu lama yang dilontarkan, ada salah satu dan kapasitas produksinya rendah. Untuk permasalahan yang diungkapkan oleh Kabar UGM, Kurnia Ekaptiningrum, dengan Priyanto Triwitono seputar alat ciptaannya.


dapat melakukan pencetakan secara manual, tidak setiap pekerja mampu melakukannya, terutama pekerja yang relatif baru. Bagi pekerja yang sudah terampil, setiap hari mampu mencetak 1.100 biji rengginang, sedangkan pekerja yang masih belajar maksimum hanya 400 biji rengginang per hari. Dengan kata lain, apabila jam kerja per hari sekitar 7 jam, rengginang yang dihasilkan adalah sekitar 157 buah per jam per orang bagi yang sudah ahli atau sekitar 58 buah per jam per orang bagi yang belum ahli. Untuk itu, saya merasa tertantang untuk membuat alat yang bisa membantu mengatasi persoalan tersebut. Dengan mempelajari proses pencetakan rengginang secara manual di UKM Rengginang Lestari, Sleman, saya menerjemahkannya ke dalam bahasa mesin atau tuntutan teknis alat. Kemudian dengan mengadopsi beberapa cara kerja mesin tepat guna, tergambarlah solusi alat pencetak rengginang. Dari pengalaman selama ini, tidaklah mudah untuk mengintroduksi alat teknologi tepat guna yang baru kepada UKM. Biasanya aspek efisiensi menjadi tuntutan utama. Meskipun alat dapat dioperasionalkan, tetapi dengan risiko harus menambah biaya untuk listrik, bahan bakar, atau ada tambahan biaya lain sehingga dapat meningkatkan biaya produksi, maka jangan harap UKM mau menggunakan alat bantuan tersebut. Yang diinginkan UKM umumnya adalah permasalahan yang dihadapi teratasi, alat dapat dioperasionalkan, kalau bisa tidak mengeluarkan biaya lagi, baik untuk listrik atau bahan bakar. Lalu, apa kelebihan alat ini? Alat pencetak rengginang yang dihasilkan ini mudah dioperasikan oleh siapa saja, termasuk pekerja yang belum tergolong ahli. Hal ini berbeda jauh dengan proses pencetakan secara manual yang membutuhkan keahlian. Alat pencetak rengginang ini mampu mencetak rengginang dengan

Yang diinginkan UKM umumnya adalah permasalahan yang dihadapi teratasi, alat dapat dioperasionalkan, kalau bisa tidak mengeluarkan biaya lagi, baik untuk listrik atau bahan bakar.

spesifikasi ukuran maupun tekstur yang sama dengan cara manual, yaitu mempunyai diameter 4,5 cm, berat basah tiap biji 15 gram, dan berat keringnya 6 gram. Dengan alat pencetak rengginang ini, kapasitas pencetakannya bisa meningkat lebih dari dua kali lipat sebab tiap menitnya mampu dihasilkan 4-5 buah rengginang cetak per orang (240-300 rengginang per jam per orang), sedangkan secara manual hanya 2 buah rengginang per menit atau 120 rengginang per jam per orang. Selain itu, alat dioperasikan tanpa listrik sehingga menghemat biaya produksi.

gelas plastik, yaitu terdiri dari kerangka alat, kayu penekan, papan kayu pencetak berisi potongan pralon, handle untuk menurunkan (menekan) rengginang yang dicetak, dan meja dudukan alat. Sejauh mana pengaplikasian alat ini? Saya memperbantukan secara gratis alat pencetak rengginang untuk UKM Rengginang Lestari, Sleman, sejak 2004 lalu. Di samping itu, alat ini juga telah digunakan beberapa UKM lain di Semarang dan Palembang.

Kalau tanpa listrik, lalu bagaimana pengoperasiannya? Bahan rengginang yang telah siap dicetak diisikan ke cetakan dalam papan cetak. Selanjutnya, dilakukan proses penekanan atau pemadatan rengginang. Proses ini dilakukan dengan menarik handle sehingga kayu penekan turun dan menekan atau memadatkan rengginang dalam cetakan. Setelah selesai penekanan, rengginang dikeluarkan dari cetakan lalu dikeringkan. Alatnya sendiri seperti apa? Pada prinsipnya, alat ini mengadopsi mekanisme alat penutup kabar ugm - februari - 2012

11


sosok

Dr. dr. Sugiri Syarief, M.P.A.

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN

PROGRAM KB "Ingin kusunting dirimu. Mau ah aku mau. Tapi jangan buru-buru. Tunggu cukup usia dulu. Agar bahtera kita indah selamanya. Jangan hamil cepat-cepat. Jangan lahir rapat-rapat. Agar bayi lahir sehat dan ibu selamat. Dua anak lebih baik." Jingle lagu iklan BKKBN itu sangat mengena, komunikatif, dan langsung menuju sasaran. Mungkin ini adalah iklan program KB yang paling baik, informatif, tetapi tidak terkesan menggurui dan “memaksa�.

K

ini, meskipun masih banyak slogan seperti itu terpampang di berbagai wilayah, namun semua dapat merasakan bahwa program itu tak lagi memperoleh perhatian utama seperti dulu. Nah, pria kelahiran Pringsewu, Lampung, 2 Agustus 1952 ini justru memegang tanggung jawab puncak di tengah menurunnya perhatian itu. Tentu saja, menarik untuk mengetahui bagaimana ia harus menciptakan dan melaksanakan program-program yang kian tak populer di masyarakat. Sosok kita kali ini adalah Dr. dr. Sugiri Syarief, M.P.A., alumnus Fakultas Kedokteran UGM tahun 1979, yang menjabat Kepala BKKBN sejak tahun 2006. Sesuai dengan tugas yang diembannya, tanggung jawab terbesarnya ialah menekan ledakan jumlah penduduk. Reporter Kabar UGM, Gusti Greheson, menemui di kantornya untuk mendalami apa dan bagaimana ia melaksanakan tugas saat ini. 12

kabar ugm - februari - 2012

maka angka kematian ibu semakin turun. Risiko kematian ibu terjadi pada waktu melahirkan. Pada sisi itu, BKKBN punya peran penting agar angka harapan hidup menjadi lebih baik. Kita berusaha Ini sebuah tantangan bagi Indonesia. Kita pasangan subur menggunakan alat kontrasepsi. Jika ini saja kita garap dan mempunyai target tahun 2015 rankingnya turun di bawah 100, ternyata berhasil, sumbangan pada kenaikan malah naik. Ini harus menjadi terapi kejut harapan hidup cukup besar. Kita juga berkampanye agar anakbuat kita. Kita butuh percepatan dalam anak bersekolah sampai tuntas. Kalau pembangunan sumber daya manusia. Percepatan itu bisa dilakukan jika seluruh ada yang buru-buru menikah, kita sarankan tunda dulu sampai umur 20 komponen masyarakat terlibat. Tidak tahun. Kalau ditanya sampai umur 20 boleh pemerintah saja, akademisi, mau ngapain? Jawabannya, ya, sekolah. swasta saja, tapi seluruhnya bersamaMakin lama dia sekolah, baik laki-laki sama untuk bertekad menurunkan ranking dari 124 sekarang yang nantinya maupun perempuan, maka akan semakin baik. Dengan berkampanye jangan bisa di bawah seratus. menikah buru-buru akan membantu program wajib sekolah. Nah, ini Kontribusi BKKBN? sumbangan program KB. Lebih ke esensi dasarnya. Karena kalau kita ingin punya harapan hidup yang lebih baik, angka kematian ibu dan Tapi, banyak negara kewalahan bayi harus turun dengan drastis. Program mencapai taret MDGs untuk menurunkan BKKBN berkaitan dengan itu. Pada angka angka kematian ibu dan anak? Ya, betul. Jika modelnya masih sama kematian ibu, semakin sedikit anaknya, Ada data yang menyatakan bahwa indeks pembangunan sumber daya manusia Indonesia menurun drastis. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?


Dua Anak Cukup. Siapa tak kenal slogan itu di era Orde Baru? Hampir di setiap kampung di Indonesia, terdapat minimal satu pajangan slogan tersebut. Sebagian besar bahkan dibuat permanen dengan media tugu semen di jalan masuk pedesaan. Semua itu menunjukkan betapa besar perhatian pemerintah pada program pengendalian jumlah penduduk. seperti sekarang, tanpa melibatkan masyarakat secara aktif. Jika kita mengubah pergerakan itu dari kampanye yang bersifat individual akan lama tercapainya, tapi jika menggerakkan seluruh masyarakat untuk upaya menurunkan kematian ibu sebagai sebuah gerakan, maka akan cepat. Setiap kali ada ibu yang melahirkan, semua masyarakat memantau. Kan kita tahu penyebab terbesar kematian ibu saat kelahiran adalah perdarahan. Perdarahan bisa dicegah jika keputusan untuk melakukan tindakan itu cepat. Ini butuh dukungan masyarakat. Misalnya, ibu itu sedang melahirkan di rumah, kemudian terjadi perdarahan, kemudian

terlambat dibawa ke rumah sakit, maka terjadi kematian. Proses ibu melahirkan sehat terbantu sekali jika dia mengikuti program KB. Karena dia bisa mengatur jumah

anaknya, mengatur jarak antara dua anak, berhenti kapan untuk tidak lagi (punya anak). Karena kita tahu kalau terlalu muda menikah dan melahirkan, risiko kematian dua kali lipat. Terlalu tua melahirkan, risiko tiga kali lipat. Makin tua lagi, makin tinggi lagi risiko kematian ibunya. Nah, kalau kita bisa mengatur jumlah anak dari sisi kapan melahirkan, sesuai umur ideal, jarak antara dua anak juga diperhatikan, menyiapkan kelahiran berikutnya lebih sehat, lebih diperhatikan, akan sangat membantu sekali menurunkan angka kematian ibu.

Lebih ke esensi dasarnya. Karena kalau kita ingin punya harapan hidup yang lebih baik, angka kematian ibu dan bayi harus turun dengan drastis. Program BKKBN berkaitan dengan itu. Pada angka kematian ibu, semakin sedikit anaknya, maka angka kematian ibu semakin turun.

kabar ugm - februari - 2012

13


sosok

KB itu sebuah lifestyle, pola hidup. Bukan keharusan tentang anak beranak, tapi sebuah pola hidup. Kalau tidak ber-KB, ah, itu kuno.

Semua ini bisa dipantau dengan menggunakan alat kontrasepsi. Terkait dengan ledakan penduduk, apa yang dilakukan BKKBN? Secara teoretis, upaya peledakan penduduk bisa kita cegah lewat program keluarga berencana. Karena program KB menganut teori 11 variabel, ada tiga yang dominan, tapi BKKBN pakai dua yang dominan, yakni pemakaian alat kontrasepsi dan penundaan usia kawin. Jika kita mengintervesi di dua dominan ini saja, kita sudah memberi kontribusi besar dalam pengendalian ledakan pertumbuhan penduduk. Tentu saja faktor ini dipengaruhi alat kontrasepsi, tapi juga masalah pendidikan. Makin tinggi pendidikan, maka masyarakat makin sadar dan jumlah keluarga semakin kecil. Demikian juga tingkat kesejahteraan berpengaruh terhadap itu, misalnya orang kaya, sedikit yang punya anak banyak, tapi kalau orang miskin, anaknya banyak. Kalau ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam peningkatan ekonomi mereka, maka akan membantu sekali program pengendalian penduduk itu. Sebenarnya langkah besar apa yang sudah dilakukan untuk menekan jumlah penduduk? Langkah besar adalah memberikan 14

kabar ugm - februari - 2012

pengetahuan dan mengubah sikap generasi muda tentang kesehatan reproduksi. Kalau generasi muda paham tentang kesehatan reproduksi dan kemudian mempraktikkannya, itu akan menopang pola generasi muda itu. Ke depannya, yang harus dilakukan adalah kampanye bahwa KB itu sebuah lifestyle, pola hidup. Bukan keharusan tentang anak beranak, tapi sebuah pola hidup. Kalau tidak ber-KB, ah, itu kuno. Sekarang, campaign kita sudah mengarah ke sana. Bagaimana mengubah masyarakat, perilaku masyarakat, bahwa KB itu sebuah lifestyle. Sebelum bertugas sebagai Kepala BKKBN, Sugiri Syarief mengawali karier sebagai kepala puskesmas di Kurotidur, Bengkulu (1979-1981). Kemudian, ia menjadi Kepala Bagian Tata Usaha BKKBN Bengkulu (1981-1984). Setelah itu, 15 tahun ia meniti karier di BKKBN pusat, hingga akhirnya berhasil menjabat Direktur Peningkatan Partisipasi Pria BKKBN (2002-2004). Pria yang sejak kecil hobi bermain sepakbola ini selanjutnya dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama kurang lebih dua tahun (2004-2006). Konsisten dengan yang dikampanyekan, Sugiri Syarief pun hanya memiliki dua putri, Befridesiu Upastri dan Elvena Prihastri. Bagaimana kisahnya Anda bisa menjadi

Kepala BKKBN? Perjalanan sejarah cukup panjang. Saya tidak berpikir untuk menjadi Kepala BKKBN. Ketika menjadi pegawai, tidak ada cita-cita. Setelah lulus FK UGM tahun 1979, saya ikut dokter Inpres. Saya berpikir setelah Inpres, saya bisa sekolah lagi (pendidikan spesialis), tapi tenyata tidak bisa sekolah lagi karena keburu sekolah ke Amerika, dibayar BKKBN, (mengambil pendidikan Master of Public Administration) di University of Southern California Los Angeles, Amerika Serikat. Singkat cerita, saya tidak sempat sekolah lagi dan mengabdi di BKKBN. Karena tidak sekolah lagi, saya hanya berpikir sampai pensiun saya akan bekerja di BKKBN. Tidak berpikir apa-apa, bekerja dan bagaimana amanah yang diberikan kepada saya bisa saya jalankan dengan baik. Tapi, sempat berpikir akan duduk di eselon satu saat menjadi Kepala BKKBN di Sulawesi Utara. Biasanya, kalau seseorang untuk duduk di eselon satu harus masuk di provinsi besar. Saya jadi kakanwil dari provinsi kecil ke provinsi besar. Dalam bayangan teman-teman, saya ini calon eselon satu karena masuk provinsi besar dan saya termasuk yang masih muda menjadi Kepala BKKBN di provinsi besar, Jawa Timur, dalam usia 44 tahun. Bayangan saya saat itu hanya jadi eselon satu waktu itu, kemudian selesai,


tidak berpikir akan jadi Kepala BKKBN. Apalagi kemudian pemerintahan berganti. Karena sistem itu tidak dipakai lagi, jadi sudah, bubarlah harapan saya. Saya cuma bekerja saja. Setelah dari Jawa Timur, saya tidak menjadi eselon satu, tapi jadi Direktur Peningkatan Partisipasi Pria. Setelah itu, menyimpang jauh sekali karena saya diangkat jadi Sekjen KPK. Setelah itu, saya berpikir selesai sudah karier saya di BKKBN. Pensiun nanti selesai hanya jadi Sekjen KPK. Tapi presiden menghendaki lain, menunjuk saya sebagai Kepala BKKBN ketika Kepala BKKBN sebelumnya pensiun. Jadi, Pak SBY menawarkan saya, "Mau nggak jadi Kepala BKKBN?" Saya sebagai pegawai negeri mengaku siap. Setelah jadi Kepala BKKBN, terbuka peluang untuk berkarya, tantangan juga lebih besar.

nanti. Prinsip itu saya pegang. Setelah menjadi Kepala BKKBN, ada yang berubah rutinitas sehari-hari Anda? Tetap seperti dulu, biasa. Saya tidak senang dengan acara-acara protokoler. Saya dikasih ajudan juga tidak senang karena membatasi kebebasan saya. Sekarang saya tidak punya ajudan. Misalnya, kalau saya mau nangkring di pinggir jalan, nanti dikatakan itu tidak pantas, Pak. Kalau tidak ada ajudan, peduli amat, kan gitu? Mungkin saya tidak layak jadi presiden, ya? ha..ha..ha....

Sejauh mana peran keluarga dalam mendukung karier Bapak? Kalau saya mendapat tugas dan kemudian menjalankan tugas hingga meninggalkan keluarga, istri saya sudah terbiasa dan terlatih. Sampai sekarang pun saya sering pergi, dia maklum, menyadari bahwa ini sudah tugas-tugas saya. Jadi, dia men-support penuh dalam Apa prinsip yang selalu dipegang kaitan kepentingan agar kinerja saya selama bekerja? menjadi lebih baik. Dia tidak pernah Kerja keras. Diberi amanah, dijalankan. Kalau itu harus menjadi tugas mengeluh dan mungkin di rumah juga dan kewajibannya, mengapa tidak? Saya mereka memberikan support terus. Kita pun sering diskusi waktu makan. Hal itu tidak pernah memikirkan saya bekerja memberikan dukungan moral bagi saya. akan mendapat apa. Saya tidak peduli. Di BKKBN, mengampanyekan memiliki Diberi tugas, saya kerjakan dengan dua anak lebih baik. Ada yang tanya, semaksimal mungkin dengan hasil yang Bapak mempraktikkan hal itu? Oh, iya. bisa saya raih. Sebuah dedikasi. Tidak Anak saya dua, perempuan semua. Saya pernah memikirkan hasil. Karena dalam pemikiran saya, rezeki diberi oleh Tuhan, menikah setelah kerja di BKKBN. Waktu (bekerja) di puskesmas, saya belum tetapi dedikasi itu harus usaha. Kalau menikah. Waktu itu program BKKBN sekarang saya berusaha dan bekerja punya dua anak cukup, laki atau keras mengerjakan tugas yang diberi pimpinan, mengerjakan konsep A, maka perempuan semua sama saja. saya mengerjakan konsep itu. Saya tidak Saya tidak berpikir saya akan punya anak berapa. Saya telah diberi anak, berpikir saya dibayar berapa. Mungkin Alhamdulillah, itu amanah. bayarannya akan di tempat yang lain

Setelah lulus dari FK UGM, sempat buka praktik dokter? Sempat. Waktu itu, saya selesai, tapi belum diwisuda (dilantik). Saya selesai (koasistensi) tahun 1978, menunggu wisuda (pelantikan) bulan April 1979. Selama menunggu, saya kerja outsourcing, dokter kontrak di Pertamina. Saya kerja di ARCO dan juga di TOTAL. Kalau ARCO di luar Jawa. Dua minggu di laut dan dua minggu off. Sampai akhirnya dapat SK penempatan saya sebagai dokter puskesmas di daerah transmigrasi, Kurotidur, Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Karena dulu jadi dokter harus ikut Inpres di sana. Di sana, saya selama satu tahun satu bulan. Waktu itu, hutan baru dibuka daerah transmigrasi bedol desa dari Wonogiri. Saya masuk, saat itu baru 50 KK. Setahun kemudian bertambah 4.500 KK. Karena prinsip saya selalu kerja keras, walaupun dipanggil tengah malam, saya datang. Saya dicintai oleh masyarakat sana. Saat saya mau pindah pun, mereka sampai nanggap wayang untuk perpisahan. Sampai sekarang pun mereka membuat stadion olahraga dengan dinamai nama saya.

Kerja keras. Diberi amanah, dijalankan. Kalau itu harus menjadi tugas dan kewajibannya, mengapa tidak? Saya tidak pernah memikirkan saya bekerja akan mendapat apa.

kabar ugm - februari - 2012

15


liputan

RUMAH BAMBU SUDIMORO KARYA TERBAIK KONSTRUKSI INDONESIA

A

rsitek rumah bambu itu adalah Dr. Ir. Eugenius Pradipto, dosen Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik UGM. Ia berhasil menyabet penghargaan untuk kategori konstruksi teknologi tepat guna. Selain Pradipto, dewan juri juga memilih peraih penghargaan untuk tiga kategori lain, yakni terowongan besar pada pembangunan Waduk Jatigede milik Waskita Karya sebagai peraih kategori metode konstruksi, dan dua lainnya ialah kategori teknologi industri dan kategori arsitektur. Penghargaan KKI yang diselenggarakan oleh Kementerian PU ini

16

kabar ugm - februari - 2012

merupakan ajang paling bergengsi dan prestisius dalam bidang inovasi konstruksi. Menurut pengakuan Pradipto, untuk meraih penghargaan ini, setiap usulan karya diseleksi dengan cukup ketat oleh para pakar dari berbagai bidang, seperti teknik sipil, arsitektur, dan lingkungan. Tidak hanya itu, setiap usulan yang didaftarkan dalam KKI disyaratkan memiliki unsur kebaruan serta kemampuan karya tersebut menginspirasi penerapan di tempat lain. Karya juga diharuskan memiliki aspek daya saing yang mengedepankan keunggulan, keunikan, kearifan lokal, dan manfaat. Pria kelahiran Wonosari, Yogyakarta,

Dua belas rumah bambu hunian sementara yang ditempati oleh keluarga korban banjir lahar dingin Sungai Pabelan di Sudimoro, Muntilan, Magelang, telah mengantarkan arsiteknya meraih penghargaan Karya Konstruksi Indonesia (KKI) 2011 dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).


54 tahun lalu ini mengatakan keunggulan karya konstruksi milknya mengusung konsep pembangunan bekelanjutan dengan pemilihan bambu sebagai material bangunan. “Bukan hanya ramah lingkungan, material bambu yang didesain dengan konstruksi yang baik akan mampu bertahan lebih dari 5 tahun tanpa harus diawetkan, “ kata Pradipto yang ditemui di sela-sela acara peringatan satu tahun bencana banjir lahar dingin Sungai Pabelan di Dusun Sudimoro, Desa Adikarto, Muntilan, Magelang, Selasa malam (10/1). Meskipun sederhana, huntara ini sengaja dibuat untuk memberi kenyamanan bagi penghuninya sehingga Pradipto membuat dengan sebaik dan sebagus mungkin. “Dengan harapan, penghuni yang merupakan korban banjir lahar dingin tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya karena telah menempati sebuah hunian yang layak,” imbuhnya. Yang menarik, bangunan yang sengaja dibuat panggung ini didirikan di atas area persawahan yang masih produktif. Sang arsitek tidak khawatir bambu sebagai bahan material utamanya lekas rusak jika terkena air atau hujan. Untuk menjaga kelembaban atau basah terkena air, Pradipto membuat fondasi bangunan dari umpak berpori guna menjaga material bambu tetap kering dan cepat kering apabila terkena air. ”Umpak digunakan jenis umpak berpori dari buis beton yang diiisi dengan kerikil tanpa semen sehingga air cepat meresap dengan mudah dan cepat kering,” katanya. Selain untuk menjaga struktur bambu dapat bertumpu di atasnya, umpak juga mampu meminimalkan dampak kerusakan lahan sawah yang produktif. “Jika dibongkar, sisa material bangunannya, termasuk umpak, mudah dibersihkan dari lahan,” ujarnya. Huntara ini didirikan atas kerja sama mahasiswa KKN PPM UGM, masyarakat, dan GP Anshor mulai dari

persiapan hingga penghunian. Pembangunan huntara berlangsung selama empat bulan, dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat dengan menggunakan material bangunan yang diperoleh dari sumbangan masyarakat. Ketua Posko Bersama GP Anshor, Ahmad Majidun, mengatakan pembangunan huntara ini bertujuan untuk memberikan hunian sementara bari korban banjir Sungai Pabelan. Saat itu, GP Anshor menggandeng Pradipto untuk mendesain pembangunan rumah tersebut. “Tinggal di huntara tetaplah tidak mengenakkan, tapi secara konstruksi, rumah bambu ini dianggap huntara yang paling sehat dan paling baik. Terbukti, dari PU dianggap secara konstruksi termasuk paling baik,” katanya. Ia mengaku bangga huntara Sudimoro akhirnya mendapat apresiasi dan penilaian dari Kementerian PU sebagai hunian bagi korban erupsi Merapi yang paling layak dan paling baik untuk konstruksinya. Gusti Grehenson

kabar ugm - februari - 2012

17


prestasi

Tim robot Universitas Gadjah Mada (UGM) menorehkan prestasi dunia. Uniknya, robot yang diluncurkan dirakit dari barang bekas yang diperoleh di Pasar Klitikan.

MENDUNIA

BERBEKAL RANGKA JEMURAN

P

asti tak pernah ada yang menyangka jika kumpulan barang bekas, misalnya rangka jemuran dan teralis, mampu mengantarkan tim UGM menjadi juara dunia. Namun, itu benar-benar terjadi pada robot terbang buatan Tim Boyo Instrument, yang menyabet juara I dalam ajang kompetisi robot dunia The 13th International Robot Olympiad 2011 pada 15-17 Desember lalu di Universitas Tarumanegara. Olimpiade diikuti sekitar 100 tim dari 13 negara, antara lain Korea Selatan, Filipina, Singapura, Jepang, China, Kanada, Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan New Zealand. 18

kabar ugm - februari - 2012

Robot buatan Andika Pramanta Yudha, mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi, dan delapan mahasiswa Jurusan Elektronika dan Instrumentasi Fakultas MIPA, yakni Rossena Karisma Rasul, Christian Antonia L.P., Rangga Kurniawan, M. Zaim Abdilah, Eviyan Fajar Anggara, Firdhaus Azhar, Anggoro Wibisono, dan Latifah Noor, memang berbeda dengan robot lainnya. Membuat robot selama ini selalu saja diidentikkan dengan biaya yang besar karena menggunakan komponen yang harganya tidak murah. Namun, tidak demikian dengan robot terbang ini. Dua robot, yakni Quadcopter, yang diberi nama Sipitung, dan Explorer Bot,


yang diberi nama Paijo, dibuat hanya dengan dana sebesar 8,8 juta rupiah. Rinciannya adalah 3,8 juta rupiah untuk Sipitung, 2 juta rupiah untuk robot mobil Paijo, ditambah dengan ground station seharga 3 juta rupiah. “Sebagian komponen material robot memanfaatkan barang bekas. Untuk membuat rangka pesawat, kami menggunakan aluminium jemuran. Begitu pula untuk kerangka robot, digunakan teralis bekas milik teman kos dan sebagian lainnya hasil buruan di Pasar Klitikan,” ucap Ketua Tim Boyo Instrument, Christian Antonia L.P., saat ditemui KU beberapa waktu lalu. Christian menjelaskan Quadcopter merupakan robot terbang yang dapat membawa muatan berupa robot mobil. Robot dapat terbang ke lokasi bencana dan memantau kondisi dari atas. Pada titik bencana, Quadcopter akan menerjunkan robot mobil yang dapat menyelusup ke reruntuhan dan mendeteksi keberadaan korban kemudian mengirimkan data lingkungan sekitar berupa suhu, konsentrasi gas beracun, dan lain-lain ke pusat pengendali yang berada jauh dari lokasi bencana. Dengan demikian, tim SAR dapat mengetahui lokasi korban dan kondisi lingkungan sekitar. Quadcopter memiliki daya jelajah sejauh 1 kilometer dengan lama terbang terbang 15 menit,

tergantung daya baterai. Begitu pula dengan robot mobil yang memiliki daya jelajah 1 kilometer dengan kemampuan sensor sejauh 6 meter. Christian mengatakan karya timnya dipilih menjadi yang terbaik karena beberapa kelebihan, di antaranya ialah pembuatan robot yang murah karena menggunakan barang bekas. “Kelebihan yang lain karena negara lain tidak ada yang memiliki inovasi seperti yang kami lakukan, yaitu membuat robot terbang yang dikombinasikan dengan robot darat, model kapal induk,” terangnya. Salah satu anggota tim, Andika, menjelaskan Quadcopter terdiri atas empat baling-baling yang pada bagian bawahnya terdapat rangka untuk menempatkan robot mobil. Mereka memasang sejumlah sensor penstabil, seperti sensor gyro untuk mendeteksi percepatan sudut, sensor akselerometer yang berguna untuk mengontrol kemiringan, dan GPS untuk mengirimkan posisi koordinat lokasi Quadcopter. Sementara itu, Explorer Bot atau robot mobil dilengkapi dengan kamera untuk melihat kondisi di lokasi bencana. Pada robot ini juga ditanamkan sensor inframerah untuk mendeteksi keberadaan korban yang masih hidup. Selain itu, juga disiapkan sensor suhu. Ke depan, robot akan dikembangkan dengan menambahkan sensor tambahan, antara lain sensor gas atau sensor vulkanik. “Nanti bisa disesuaikan dengan kebutuhan bencana,” ujarnya. Rossena, anggota tim lainnya, menyebutkan dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan tim SAR Merapi untuk menggunakan robot tersebut dalam memantau Merapi. Pembuatan robot untuk bencana ini disebabkan Jogja merupakan daerah rawan bencana. “Selain untuk menemukan dan mengevakuasi korban bencana, ke depan prototype robot ini diharapkan bisa melakukan dropping obat yang dibutuhkan korban di lokasi sulit,” imbuh Rossena. Kurnia Ekaptiningrum

kabar ugm - februari - 2012

19


esai foto

20

kabar ugm - februari - 2012


PAGELARAN WAYANG KULIT

DIES NATALIS UGM KE 62

U

niversitas Gadjah Mada adalah institusi perguruan tinggi yang sangat peduli dengan pelestarian budaya bangsa. Karena itu, sudah menjadi tradisi setiap acara ulang tahunnya, selalu diselenggarakan pagelaran wayang kulit di halaman Gedung Pusat UGM. Pada Dies Natalis UGM ke 62 Desember 2011 lalu, pagelaran wayang kulit menyuguhkan lakon Wahyu Makhutharama dengan Dalang Ki Purba Asmoro, S. Kar, M.Hum.

kabar ugm - februari - 2012

21


civitas

MEMAKSIMALKAN

TUGAS ILMUWAN Ia lahir ketika nilai uang di Indonesia dipotong oleh pemerintah. Untuk mengingat peristiwa itu, sang ayah memberinya nama Djagal.

D

r. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M. Agr., demikian nama lengkap pria ini. Kini, ia memangku tugas sebagai Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Jabatan itu memberinya mandat untuk mengelola dan terus memperbaiki manajemen fakultas. Bagi pria yang akrab dipanggil Djagal ini, tanpa manajemen yang bagus, potensi dan aset yang ada tidak akan mampu diubah menjadi modal. Karena itu, 22

kabar ugm - februari - 2012

pelayanan akademik dan penelitian di FTP kini menerapkan standar sistem manajemen mutu. “Unit manajemen mutu yang kita bangun sudah menjadi center of excellent untuk manajemen mutu perguruan tinggi. Lebih dari 27 perguruan tinggi sudah ikut training di sini,� kata Djagal. Dalam mengelola fakultas, Djagal berfokus pada pembangunan pengelolaan akademik. Hal itu dilakukan untuk mendukung pencapaian visi FTP sebagai fakultas yang unggul dalam

bidang agroindustri. Dalam pelaksanaannya, ia menggunakan konsep trilogi pembangunan akademik, yakni menyiapkan organisasi, profesionalisme sumber daya manusia, dan internasionalisasi melalui networking. Djagal pun tidak menampik bahwa konsep yang dibawanya mirip dengan konsep pembangunan di era Orde Baru. “Karena logikanya, untuk membangun harus stabil dulu. Tidak ada pembangunan tanpa stabilitas. Setelah stabil lalu ada pertumbuhan. Setelah itu,


pemerataan,” ujarnya. Di bidang akademik, seluruh jenjang prodi S-1, S-2, dan S-3 sudah terakreditasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008. Setelah layanan akademik, dua laboratorium, yakni laboratorium uji alat pengering dan laboratorium uji micotoksin untuk produk kacang-kacangan juga tidak luput dari akreditasi standar manajemen mutu. “Ada 16 lab. Namun, baru disertifikasikan dua lab,” katanya. Laboratorium alat pengering telah menjadi rujukan Kementerian Pertanian untuk menguji alat pengering impor. Sementara itu, untuk aktivitas uji laboratoium produk kacang-kacangan sudah bekerja sama dengan perusahaan multinasional. “Misalnya dengan PT Unilever, kita kembangkan kedelai hitam untuk industri kecap dengan melibatkan ribuan petani,” tuturnya. Diakui Djagal bahwa dengan penerapan

FTP pada setiap kesempatan bertemu dengan mitra. Hal itu dilakukannya untuk mengantisipasi hasil karya teknologi peneliti yang lebih banyak tersimpan di rak perpustakaan atau cukup sekadar dipublikasikan. “Seorang scientist harus mebuahkan teknologi. Ilmu tanpa teknologi ibarat tanaman tanpa buah. Sama juga dengan scientist, penguasaan ilmu harus tuntas hasilkan temuan teknologi yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya. Djagal mencontohkan hasil penelitian dosen FTP yang berhasil menemukan strain baru mikroba yang mampu memperpendek fermentasi kecap, dari enam bulan menjadi tiga bulan. “Itu sudah dibangun lama oleh penemunya. Kita menghubungkannya dengan pihak industri,” katanya. Diberi nama 'Djagal' Djagal dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Di kota itu pula ia dibesarkan. Ayahnya berasal dari Puwokerto, sedangkan ibunya dari Kutoarjo, Purworejo. Saat ia lahir, terjadi pemotongan nilai rupiah dari Rp1.000,00 menjadi Rp1,00. Akibat kebijakan itu, usaha koperasi milik ayahnya bangkrut. “Untuk mengenang peristiwa itu, orang tua saya memberi nama saya Djagal,” kisahnya. Pemotongan nilai uang rupiah tidak menjadikan Djagal dan saudaranya menjadi putus sekolah. Pendidikan dasar hingga menengah ia tamatkan di Jakarta. Setelah lulus dari FTP UGM, ia sempat bekerja di industri makanan kaleng. Hingga akhirnya, Djagal melamar menjadi dosen dan berkesempatan menempuh pendidikan master dan doktor di Jepang selama 6 tahun, 1987-1993. “Di Jepang tidak hanya dapat ilmu, tapi juga membentuk karakter dan kebiasan, belajar disiplin, jujur, dan bertanggung jawab,” pungkasnya. Gusti Grehenson

sistem manajemen mutu, pengelolaan dan pelayanan akademik di FTP menjadi lebih baik dan tertata rapi. “Perkuliahan lebih teratur dan layanan akademik menjadi lebih baik. SDM bisa diatur, selektif, dan makin baik pembinaannya. Pengakuan dari mitra lebih tinggi,” katanya. Promosikan Hasil Karya FTP Sebagai dekan, Djagal mengaku dirinya tidak segan-segan untuk memperkenalkan hasil karya para dosen kabar ugm - februari - 2012

23


suara

LEBIH GAMPANG DENGAN

eLisa

UGM telah menyediakan kemudahan belajar, baik bagi mahasiswanya maupun mahasiswa perguruan tinggi lain, dengan E-learning System for Academic Community (eLisa ). Dengan eLisa, semua orang, baik dosen, mahasiswa maupun masyarakat umum, dapat melihat apa yang ada di UGM, mulai dari informasi mengenai fakultas hingga materi perkuliahan. Ini adalah bentuk lain dari peran UGM dalam upaya mencerdaskan bangsa.

L

earning management system (LMS) ini akan membantu civitas academica menyelenggarakan pembelajaran melalui internet. Dengan sistem ini, dosen dapat mengunggah bahan kuliah, melakukan diskusi, dan memberikan penugasan untuk mahasiswa. Di pihak lain, mahasiswa dapat mengunduh bahan perkuliahan, berdiskusi, dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Nah, berkat pengembangan eLisa ini, UGM menjadi satu-satunya universitas di ASEAN penerima HP Technology for Teaching Grant 2007. UGM terpilih setelah menyisihkan 300 universitas di Asia Pasifik. Semoga keberhasilan UGM ini dapat memacu perguruan tinggi lain untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadikan Indonesia lebih maju di bidang pendidikan. Lalu, bagaimana tanggapan atas pengembangan eLisa di UGM, baik oleh dosen maupun mahasiswa? Berikut pandangan sejumlah pihak mengenai hal ini.

Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Dosen Jurusan Kimia FMIPA UGM

S

aya menggunakan eLisa terutama untuk mempermudah sharing materi kuliah, memberikan tugas, dan membuka diskusi matakuliah yang saya ajarkan, khususnya di fakultas selain MIPA karena di MIPA juga ada eLisa (Kuantum Gama) yang sistem login sudah terintegrasi (SSO/Single Sign On) dengan email UGM. Selain itu, Kuantum Gama telah dilengkapi software untuk koreksi tugas, baik untuk soal pilihan ganda maupun essay. Alasan memakai eLisa karena akses dari kampus sangat mudah dan cepat karena memudahkan untuk upload file besar. eLisa sangat membantu mahasiswa untuk bisa lebih memahami tentang materi atau kuliah yang diajarkan karena mereka dapat dengan mudah untuk memperoleh materi serta diskusi dengan komunitas maupun dengan dosen pengampunya. Tetapi, masih sangat sedikit mahasiswa yang mau berdiskusi tentang materi kuliah melalui fasilitas ini. Mungkin salah satu alasannya kalau mahasiswa itu banyak bertanya akan dianggap “bodoh� oleh teman-temannya sehingga sungkan. Padahal, yang lain juga tidak paham. Akhirnya, ketidakpahaman mereka hanya dipendam dan ketika ditanyakan dalam ujian semuanya tidak bisa. Satu sisi negatif yang saya lihat dari kacamata dosen, mahasiswa yang sudah memiliki materi dari dosen berbentuk power point menjadi enggan untuk mencatat, padahal dengan mencatat akan membantu mereka mengingat dan memahami materi yang diberikan. Pemanfaatan di kalangan kolega dosen masih sangat minim karena banyak yang tidak tahu tentang fasilitas yang ada di eLisa. Meskipun demikian, saya mendukung dan berusaha untuk menggunakan eLisa untuk lebih membuka peluang diskusi dengan mahasiswa karena keterbatasan waktu diskusi pada jam kuliah serta akan menggunakan fasilitas tugas dan kuis yang ada untuk mempermudah pekerjaan saya memberikan penilaian kepada mahasiswa. Satria Ardhi Nugraha

24

kabar ugm - februari 2011


Fahmi Najmi Nurisma Mahasiswa Program Studi Elektronika dan Instrumentasi FMIPA, Angkatan 2008

S

Danik Rahmawati Mahasiswa Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Angkatan 2008

S

aya bergabung dengan komunitas eLisa sejak semester tiga, sekitar tahun 2009 lalu. Melalui eLisa inilah saya men-download bahan-bahan kuliah dari dosen. Biasanya kalau sudah dekat dengan waktu ujian semester butuh bahanbahan kuliah yang lengkap. Melalui eLisa ini saya bisa mendapatkan bahan-bahan tersebut. Selain mendapat bahan kuliah dari dosen yang saya ambil mata kuliahnya, dengan eLisa ini saya bisa mendapatkan bahan kuliah dari dosen lainnya yang bergabung di komunitas eLisa. Kalau saya lihat, saat ini memang belum semua dosen dan mahasiswa memanfaatkan sistem ini. Ke depannya, semoga bisa lebih banyak yang menggunakan pembelajaran eLisa ini karena banyak manfaatnya untuk mendukung kegiatan perkuliahan. Dengan eLisa, dosen bisa mengunggah bahan kuliah, berdisuksi, dan memberikan tugas atau kuis ke mahasiswa. Sementara mahasiswa bisa men-download bahan kuliah, diskusi, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Namun, perlu diperhatikan pula untuk pemeliharaan dari sistem eLisa ini. Beberapa waktu lalu sempat ada kejadian teman-teman saya mengirimkan tugas melalui eLisa, tetapi ternyata tidak terkirim ke dosen padahal sudah terkirim.

aya melihat adanya eLisa ini cukup bermanfaat, ada satu sumber pembelajaran dari semua dosen di UGM. Selain itu, dengan eLisa bisa untuk diskusi dan share dokumen kuliah. Hanya saja, eLisa ini belum secara maksimal digunakan oleh dosen, biasanya hanya dipakai satu bulanan saja untuk mengunggah bahan. Setelah itu, ratarata tidak ada update lagi. Namun, bagi saya yang terpenting dari eLisa ini adalah sebagai sarana untuk berdiskusi, sementara kalau bahan bisa didapat kapan saja. eLisa ini sebenarnya cukup membantu bagi mahasiswa. Jadi, kalau bisa, sistemnya di-update terus karena dengan tipe saat ini, 3.7.5., cakupannya masih sempit dan terbatas. Rata-rata cuma bisa akses per mata kuliah saja, kecuali ada kuliah umum bersama. Kalau di update kan bisa global seUGM sehingga bisa share ilmu. Siapa tahu ketika ada tugas atau proyek kampus yang masih saling berhubungan bisa didiskusikan antarmahasiswa melalui eLisa secara online. Di samping itu, dengan sistem yang sekarang dari segi tampilan juga kurang begitu menarik. Ya, kalau bisa diupdate terus sistemnya biar keberadaan eLisa lebih dikenal di kalangan mahasiswa UGM. Jadi, tidak kalah eksis dengan FB dan Twitter. Kurnia Ekaptiningrum

Kurnia Ekaptiningrum

kabar ugm - februari- 2011

25


Prestasi

U

PAKAN

IKAN OLAHAN LIMBAH

ntuk kesekian kalinya, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM berinovasi dengan limbah ikan. Di tangan sejumlah mahasiswa ini, limbah yang semula tidak bernilai guna berhasil disulap menjadi pakan unggas berprotein tinggi. Mereka adalah Dimas Yuniardi dan Hario Premono dari Prodi Teknologi Hasil Perikanan angkatan 2008, Cahya Adi dan Meezan Ardhanu dari Prodi Budidaya Perikanan angkatan 2008, serta Vikky Putri Purdiantari dari angkatan 2010. Kelimanya mengembangkan pakan ternak hasil olahan limbah ikan yang dilabeli C&D (Chicken and Duck) Cereals. Kreasi pakan ini pula yang sukses mengantarkan mereka meraih juara dalam Management E(x)posed National Business Plan Competition 2011 yang diselenggarakan Universitas Indonesia. Kompetisi berlangsung pada 27-28 November 2011 di Jakarta. Tim UGM menjadi juara I mengungguli 9 finalis

Tak selamanya limbah itu kotor dan pantas dibuang. Kalau diolah dengan benar, unggas pun doyan.

26

kabar ugm - februari - 2012

lainnya di tingkat nasional. Dalam tahapan seleksi sebelumnya, tim UGM harus bersaing dengan 98 tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Produk pakan unggas ini sekilas memang terlihat sama seperti pakan unggas pada umumnya. Namun, ada yang istimewa dari C&D Cereals. Karena terbuat dari limbah ikan laut, menjadikan C&D Cereals kaya akan protein. “Pada umumnya, pakan unggas terbuat dari jagung atau bekatul yang hanya mengandung karbohidrat, sedangkan dalam produk kami ini menawarkan protein yang bagus untuk pertumbuhan ternak, kurang lebih mengandung protein sekitar 16-34 %,� kata Hario kepada KU baru-baru ini. Selain kaya protein, pakan olahan limbah ikan ini juga lebih murah dibandingkan dengan pakan unggas di pasaran. C&D Cereals dijual Rp5.500,00/kilogram, sedangkan produk sejenis di pasaran mencapai Rp7.000,00-Rp8.000,00/kilogram.


“Menurut juri, produk ini merupakan inovasi yang sangat besar terhadap industri pakan ternak dunia karena memanfaatkan limbah ikan laut sebagai pakan unggas,” imbuh Hario. Keunggulan lainnya, pemanfaatan limbah ikan ini mampu menawarkan solusi dalam pengurangan limbah ikan dan memberikan dampak ekonomis bagi masyarakat di sepanjang pesisir. Untuk membuat C&D Cereals, limbah ikan diolah dengan proses pengasaman terlebih dahulu. Limbah ikan yang diperoleh dari pantai di Gunung Kidul itu selanjutnya difermentasi secara kimiawi selama kurang lebih delapan hari setelah sebelumnya diberi penambahan media untuk pertumbuhan bakteri/molase sebanyak 34 persen dan bakteri asam laktat. Hasil fermentasi berupa silase kemudian dicampur dengan bahan tambahan lain, seperti bekatul. Hasil campuran kedua bahan tersebut diolah menjadi tepung yang siap untuk dijadikan sebagai pakan unggas. “Untuk komposisi bahan silase berbanding bahan tambahan adalah 1:2,” jelasnya. Hario menyebutkan dari 10 kilogram limbah ikan yang telah diberi penambahan molase akan didapat sekitar 3 ons atau 3 persen dari total bahan. Biasanya dari 10 kilogram, setelah difermentasi akan didapat sekitar 3 ons silase. Cahya Adi menambahkan pakan unggas olahan mereka dibuat dalam tiga varian. Starter, untuk unggas yang masih kecil. Grower, untuk unggas yang dalam masa pertumbuhan. Finisher, untuk unggas dewasa/indukan. “Masing-masing varian memang berbeda. Perbedaannya pada kandungan silasenya, semisal untuk yang starter silasenya lebih banyak dibanding grower. Begitu juga grower, silasenya lebih banyak dibanding finisher,” terang Cahya Adi. Cahya Adi menjelaskan produk ini sangat mudah untuk dikembangkan. Meskipun demikian, untuk sementara pakan unggas ini belum dijual secara massal. Saat ini, mereka tengah berkonsentrasi melakukan uji produk ke unggas untuk mengetahui efektivitas pakan terhadap pertumbuhan unggas dan meminta rekomendasi ke Dinas Peternakan setempat yang menyatakan produk aman untuk dikonsumsi. Kurnia Ekaptiningrum

kabar ugm - februari - 2012

27


feature

MENGEMBANGKAN

PERAN DI PEDESAAN

M

asyarakat Desa Beji, Kecamatan Ngawen, mengaku masih membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan untuk meningkatkan usaha mereka di sektor pertanian, peternakan, kerajinan, dan UMKM yang selama ini telah dirintis bersama UGM. Hal ini mengemuka dalam Sarasehan Pengembangan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Desa Binaan Fakultas Biologi, yang bertempat di Balai Desa Beji pada akhir Januari lalu. Acara yang merupakan rangkaian dari program I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevancy & Efficiency) tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan, dan Umum, Dra. Mulyati Sarto, M.Si., PIC I-MHERE Aktifitas 28

kabar ugm - februari - 2012

3.1., Slamet Widiyanto, S.Si., M.Si., staf pengajar Fakultas Biologi, Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si., M.Kes., Kepala Desa Beji, Sularti, serta warga setempat. Menurut penuturan Supardi, warga Daguran Lor, Beji, dengan adanya pendampingan dari UGM, diharapkan usaha yang dilakukan warga, antara lain di sektor pertanian, tidak stagnan. Selain itu, dalam pengamatan Supardi, warga setempat masih rendah dalam penguasaan di sektor teknologi. “Akan berkembang jika ada pendampingan. Apalagi penguasaan warga pada teknologi juga masih rendah,” kata Supardi. Sementara itu, Slamet, selaku pengelola desa wisata Wonosadi, menuturkan beberapa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan hutan adat dan konservasi. Selain persoalan

kelembagaan, kualitas SDM yang dimiliki masih rendah. “Seharusnya dengan struktur kelembagaan yang kuat, hutan adat dan konservasi Wonosadi akan semakin maju dan menjadi ikon Desa Beji ini,” kata Slamet. Lain lagi dengan penuturan Sukiyo, warga Sidorejo. Sukiyo berharap pihak UGM dapat melatih warga membuat makanan pengganti pelet untuk pakan lele. Hal itu penting karena budidaya lele yang dirintis bersama UGM telah berkembang dengan hasil yang menjanjikan. Sayang, warga terkendala dengan mahalnya harga pelet di pasaran. “Kalau bisa, pihak UGM membuat pakan alternatif selain pelet yang murah sehingga akan sangat membantu kami,” harap Sukiyo. Kepala Desa Beji, Sularti, menambahkan peran UGM bagi warga


Peran perguruan tinggi ternyata ditunggu oleh seluruh lapisan masyarakat. Warga Beji dan Kemadang adalah sebagian yang berharap sentuhan tangan akademis itu.

Beji sangat penting. Banyak program yang telah dilakukan dan cukup berhasil sehingga ikut memajukan usaha masyarakat di desanya. Ia mencontohkan belum lama lalu Fakultas Biologi melalui I-MHERE telah mengucurkan dana stimulan sebesar 50 juta rupiah untuk sepuluh kelompok masyarakat di Beji. “Dari dana yang digulirkan itu sudah memberikan bukti dan manfaat yang nyata, baik itu dipergunakan warga untuk usaha kerajinan, peternakan, pupuk organik hingga budidaya ikan lele dan jamur tiram,� terang Sularti. Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc., mengatakan UGM siap membantu pengembangan usaha warga Beji. Di hadapan warga, Peni berpesan agar dalam setiap usaha yang dilakukan warga tetap harus menjaga

kelestarian alam dan lingkungan. Usaha yang dilakukan diharapkan tetap memperhatikan beberapa aspek, seperti ekonomi, ekologi, dan sosiopolitik. “Pada dasarnya semua akan kembali ke alam sehingga kita harus punya tanggung jawab individu dan menghormati lingkungan sekitar. Alamlah yang selama ini telah mendidik manusia,� tutur Peni. Senada dengan Peni, Mulyari Sarto juga mengingatkan beberapa faktor yang harus diperhatikan warga setempat dalam pengembangan usaha. Beberapa faktor yang dimaksud di antaranya persoalan kualitas SDM, keuangan, dan aset. Warga Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul, yang berjumlah lebih dari lima ribu orang kebanyakan bekerja di sektor pertanian, peternakan, dan wirausaha tradisional, seperti

kerupuk rambak. Namun sayang, warga setempat belum dapat mengoptimalkan hasil pertaniannya, seperti padi, kedelai, dan jagung, sehingga perlu pendampingan. Akibatnya, hasil pertanian dan wirausaha yang digeluti menjadi tidak maksimal. PIC I-MHERE Aktifitas 3.1., Slamet Widiyanto, S.Si., M.Si., mengatakan hal itulah yang menjadi alasan Desa Beji dan Kemadang dijadikan sebagai desa binaan Fakultas Biologi melalui Education for Sustainable Development (EfSD) program I-MHERE. Pembinaan dua desa tersebut selain dilakukan oleh Fakultas Biologi juga melibatkan LPPM UGM dan KKN mahasiswa. Satria Ardhi Nugraha

kabar ugm - februari - 2012

29


feature

PENGHARGAAN ATAS KARYA MASA LALU

P

Jawa. Pak Koesnadi kala itu menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UGM. Beliau bercita-cita untuk mewujudkan terlaksananya pendidikan tingkat SMA di luar Jawa. Untuk itulah, UGM mulai menerjunkan para mahasiswanya untuk mengajar dan mendirikan SMA di beberapa daerah di luar pulau ini. Pelaksanaan program PTM diawali dengan menerjunkan 8 mahasiswa dari sejumlah fakultas, salah satunya Pak Koesnadi. PTM merupakan program yang ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya ribuan SMA serta berdirinya perguruan tinggi negeri di Meski tak lagi muda, gelora Indonesia. Program ini juga menginspirasi pelaksanaan semangat masih terpancar dari program Kuliah Kerja Nyata raut wajah para pria ini. Sugeng (KKN) yang diterapkan Karseno, B.Sc. (76), dr. Muh Djoedi, sejumlah kampus saat ini. Ir. Sugondo Mulyobongsoyudo, Cerita menegangkan Drs. Sutjipto, Sihono, S.H., dan Drs. dialami oleh Sugeng. Ketika mengajar di Palopo, di Wazir Noeri menerima wilayah tersebut tengah penghargaan Insan Berprestasi berlangsung konflik yang UGM atas peran mereka pada melibatkan suku Bugis dan tahun 1950-an. Toraja. “Waktu itu tengah ada konflik DI-TII. Perasaan khawatir pasti ada. Jadi, program PTM pada tahun 1961 hingga kalau malam saya tidurnya di bawah 1963 dan merupakan angkatan ke-11. kolong tempat tidur agar aman saja,” Tercatat sebagai mahasiswa Jurusan kata pria yang pernah Teknik Sipil angkatan 1954, kala itu ia menjabat sebagai Kepala ditugaskan untuk mengajar anak-anak Kantor Fakultas Teknik tingkat SMA di daerah Palopo, Sulawesi UGM ini. Selatan. “Waktu itu kondisinya masih Bagi Sugeng, menjadi sangat kekurangan tenaga pengajar. tenaga PTM merupakan hal Saya sangat prihatin,” ujarnya yang cukup mengenang situasi saat itu. membanggakan karena PTM merupakan program yang dapat membantu diinisiasi oleh mantan Rektor UGM, memajukan pendidikan di almarhum Prof. Koesnadi luar pulau. Sebagai bentuk Hardjasoemantri, dan berjalan selama 11 penghargaan, pemerintah tahun, mulai 1951-1962. Program ini mengangkat para tenaga diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan PTM menjadi CPNS. Saat guru yang saat itu, pasca penyerahan itu, Sugeng tercatat kedaulatan oleh Belanda, jumlahnya sebagai pegawai golongan sangat terbatas, terutama di luar Pulau II/b dengan gaji sebesar ertengahan Januari lalu, kelimanya menerima penghargaan sebagai alumni berprestasi karena dinilai telah berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan dengan menjadi pengajar dalam Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) kala itu. Mereka memperoleh penghargaan bersama dengan 8 alumni dan 46 civitas academica UGM yang juga dinilai berprestasi di sejumlah bidang. Sugeng berkisah dirinya mengikuti

30

kabar ugm - februari - 2012

Rp675,00. Hanya saja, ia tidak dapat menikmati uang hasil jerih payahnya itu setiap bulan. “Saat itu, saya digaji Rp675,00. Namun, gaji diberikan setiap enam bulan sekali karena transportasi kala itu cukup sulit,” kenang ayah 6 anak dan kakek 10 cucu ini. Kisah yang hampir serupa juga dilakoni oleh dr. Muh Djoedi (79), yang menjadi tenaga PTM angkatan terakhir pada 1962-1965. Ia ditugaskan menjadi pengajar di Provinsi Jambi, tepatnya di kaki Gunung Kerinci. Di kawasan tersebut, jumlah guru masih bisa dihitung dengan jari. Bahkan, tidak sedikit sekolah tingkat SMA yang belum ada guru. “Di sana guru-gurunya itu merupakan tamatan ST. Jadi, pengajarnya itu lulusan SD yang sekolah lagi selama 2 tahun. Bisa dibayangkan kondisinya seperti apa,” kisah pensiunan dosen Fakultas Kedokteran UGM ini. Senada dengan Sugeng, ia juga menyatakan kesediaan untuk diterjunkan kembali menjadi tenaga PTM guna membantu memajukan pendidikan di daerah pelosok yang memang kurang tersentuh. Meskipun raga sudah mulai merapuh, keinginan mereka untuk terus berkarya memeratakan pendidikan di Indonesia begitu besar. Sungguh luar biasa! Kurnia Ekaptiningrum


P

residen Amerika Serikat, Barack Obama, dalam pidato ilmiah di depan civitas academica Universitas Indonesia menyampaikan topik tentang Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Mungkin, kalangan muda yang hadir di forum itu menganggap topik tersebut biasa dan bahkan terkesan 'jadul' (sudah basi, zaman dulu). Namun, ternyata Obama (yang pernah tinggal di Indonesia) cukup piawai dalam memaparkan kekuatan unik dari Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan, beberapa kali Obama dengan gaya pidatonya yang transformatif mendapatkan applause dari para hadirin. Topik pidato yang sederhana dan terkesan 'jadul' tadi dipaparkan dengan penuh kearifan dan mampu menyentuh otak tengah serta hati nurani hadirin yang mendengarkan. Sesuatu yang dianggap remeh dan basi oleh banyak kalangan ternyata memiliki nilai keberadaban luar biasa yang sangat diperlukan oleh generasi penerus bangsa. Sangat jarang kita mendengar para 'pemimpin' (penguasa) di negeri ini menyampaikan pidato yang mampu memberikan 'knowledge value-added' yang nyata bagi generasi muda Indonesia. Justru dalam banyak kesempatan di era reformasi ini, para pejabat (melalui pidato politik maupun kampanye pilpres/pilkada) dalam menyampaikan orasinya tidak mengandung knowledge sharing dalam bingkai proses pembelajaran masyarakat yang berkelanjutan, tetapi hanya sekadar menyalurkan syahwat politiknya. Berkaca dari pidato Obama yang simple but smart and beautiful tersebut, civitas academica Universitas Gadjah Mada (UGM) dapat belajar untuk melakukan proses transformasi ulang dari berbagai warisan budaya yang bernilai tinggi di bumi nusantara ini. Niat dan upaya luhur ini tentunya untuk 'nguri-uri' budaya Indonesia (dari Sabang hingga Merauke). Salah satu warisan luhur bangsa ini ialah kepemimpinan 'IngIng-Tut', yang dapat dikaitkan dengan Indonesia dan UGM. Ada dua pertanyaan mendasar terkait dengan relevansi kepemimpinan 'Ing-IngTut' bagi Indonesia dan UGM, yakni (1) apakah kepemimpinan 'Ing-IngTut' masih relevan bagi Indonesia dalam era global high-tech saat ini? dan (2) apakah kepemimpinan 'Ing-Ing-Tut' ini sejiwa dan selaras dengan ke-UGM-an? Profesor Srikant M. Datar dari Harvard Business School memaparkan ide mengenai leadership melalui Redesigning the MBA Curriculum Development. Intisari ide Prof. Datar adalah kurikulum program MBA saat ini dirancang ulang untuk menghasilkan lulusan MBA (outcome) yang mampu menjadi leader (bukan sekadar manager, apalagi boss). Prof. Datar mengatakan demikian pentingnya kompetensi kepemimpinan bagi lulusan program MBA. Untuk itu, kurikulum MBA dirancang ulang guna menyeimbangkan antara knowing, doing, being (cipta, rasa, karsa). Dari pemikiran Prof. Datar tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek kepemimpinan (baca: kekhalifahan manusia di muka bumi) masih tetap relevan hingga akhir zaman. Termasuk kepemimpinan 'Ing-Ing-Tut' yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantoro merupakan warisan budaya yang mampu memberikan warna unik bagi aksi nyata kepemimpinan Indonesia (high-touch perspective). Mempertimbangkan kearifan lokal dan nasional, kepemimpinan 'Ing-Ing-Tut' perlu diangkat sebagai topik pelajaran (kuliah) kepemimpinan yang khas Indonesia, mulai dari level sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, melalui student exchange program yang menghadirkan siswa/mahasiswa dari luar negeri, dalam penyampaian mata pelajaran (kuliah) dapat diberikan pemahaman tentang kepemimpinan berbasis budaya Indonesia. Ki Hadjar Dewantoro, guru kepemimpinan 'Ing-Ing-Tut',

memaparkan tiga pilar kepemimpinan Indonesia: Ing Ngarso Sung Tulodho (di depan menjadi teladan, uswatun hasanah), Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun inspirasi dan rasa nyaman dalam kehidupan nyata organisasi), Tut Wuri Handayani (di belakang memberdayakan dan mengembangkan orang lain untuk mencapai kebutuhan aktualisasi diri). Karakter pemimpin Ing-Ing-Tut adalah pemimpin yang mampu mengintegrasikan naluri, nalar, dan nurani dalam memimpin, mengelola, dan menggagas inovasi organisasi, dengan selalu berupaya membangun budaya organisasi yang beretika dengan kredo asah, asih, asuh (3A) dan kearifan. Budaya 3A ini sangat cocok diterapkan di UGM dengan mempertimbangkan keanekaragaman mahasiswa, dosen, dan seluruh komponen pemangku kepentingannya. UGM sebagai Universitas Kerakyatan di Indonesia, yang berupaya mencapai visinya sebagai salah satu World-Class Research University, perlu memadukan antara think globally, plan regionally and nationally, and act locally. Ke depan, UGM perlu lebih proaktif dan interaktif (fast response) dalam upaya membangun kembali budaya ke-UGM-an yang bertumpu kepada warisan budaya para pendiri UGM. Pemimpin UGM masa depan adalah pemimpin Ing-Ing-Tut yang dengan kearifannya mampu memberikan pelayanan optimal bagi para stakeholder (pemangku kepentingan dalam arti luas: seluruh rakyat). Pemimpin yang arif akan selalu mikul dhuwur, mendhem jero dan sekaligus mampu memberdayakan civitas academica UGM dalam mencari solusi nyata terhadap berbagai permasalahan bangsa. Dengan demikian, bendera UGM dapat terus berkibar dalam jaringan komunitas akademik dan penelitian global, tetapi tetap mampu mengembangkan jati dirinya dalam proses pengabdian masyarakat lokal dan nasional. Pemimpin UGM yang Ing-Ing-Tut memiliki kapabilitas diri dan uswatun hasanah untuk merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam kancah internasional (global), regional (ASEAN), nasional (NKRI), dan lokal (DIY) secara seimbang dan berkelanjutan. Relevansi kepemimpinan Ing-Ing-Tut bagi Indonesia (Era Reformasi) dan UGM (upaya mencapai visi: World-Class Research University) sangatlah signifikan. Untuk memberdayakan dan mengembangkan kekayaan budaya (intangible asset) Indonesia yang begitu beragam diperlukan sosok pemimpin Ing-Ing-Tut. Pemimpin dengan karakter IngIng-Tut akan mampu membangun kekuatan sinergi bangsa bagi terwujudnya bangsa dan masyarakat Indonesia yang beradab dan bermartabat. Demikian pula UGM, dengan hadirnya pemimpin Ing-IngTut mampu mengibarkan bendera UGM di kancah global, dengan tetap menjunjung kearifan lokal dan nasional; seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Mahapatih Gadjah Mada di era keemasan Kerajaan Majapahit. Relevansi kepemimpinan Ing-Ing-Tut di samping memberikan keunikan gaya kepemimpinan Indonesia, juga berlaku sepanjang masatidak lapuk oleh perubahan zaman. Kepemimpinan Ing-Ing-Tut sangat sesuai dengan peran dan kontribusi manusia sebagai khalifah (Wakil Tuhan) di muka planet bumi. Pemimpin yang menerapkan Ing-IngTut selalu berupaya menjadi pemimpin perubahan atau hijrah (transformational leaders) yang berpikir positif, berani-suci (nothing to loose), dan sekaligus selalu berupaya untuk melayani (servant leaders) guna merealisasikan promote the good & prevent the bad (the quality of life). “If your real actions inspire others to dream more, learn more, do (act) more, and become more, you are the real leader.�


feature

PERAN TAK TERLIHAT

PETUGAS PROTOKOL

P

eran petugas protokol memang acap tak terlihat. Orang hanya tahu bahwa suatu acara sukses diselenggarakan. Padahal, untuk sebuah kesuksesan, tidak jarang persiapan yang dilakukan sampai berminggu-minggu. Bagian Protokol UGM pun tidak terlepas dari fenomena itu. Namun yang menggembirakan, kini ada sejumlah mahasiswa yang menyampaikan ketertarikan untuk mencoba bidang pekerjaan 'tak terlihat' ini. Gebrakan telah dimulai pada tahun 2009 dengan melibatkan mahasiswa-mahasiswa UGM sebagai petugas protokol. Tentu saja, mereka yang terlibat adalah para mahasiswa UGM yang memiliki kriteria tertentu, terutama penampilan. “Pimpinan Universitas memang menghendaki setiap kegiatan seremonial perlu melibatkan mahasiswa.

Di sisi lain, jumlah mahasiswa UGM besar, sementara jumlah tenaga kependidikan untuk tugas protokol sangat terbatas dan boleh dibilang kurang,” ujar Haryanto, S.E., M.M. selaku Koordinator Protokol UGM. Melibatkan mahasiswa sebagai petugas protokol boleh dibilang gampang-gampang susah sebab ratarata mereka belum memiliki pengalaman untuk tugas-tugas keprotokolan. Oleh karena itu, bimbingan secara bertahap terus dilakukan untuk para mahasiswa. Haryanto mengakui mahasiswamahasiswa yang terlibat dalam Tim Protokol UGM memang berangkat dari 'nol' pengalaman. Namun, berkat pelatihan secara informal, mereka mampu mengikuti dan menjalankan tugas dengan baik. “Dengan terus melakukan pendampingan di setiap event, seiring berjalannya waktu, para mahasiswa memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak sulit untuk bisa menyesuaikan diri, bahkan dengan kepercayaan yang timbul, para mahasiswa mulai melakukan tugas

Kalau sukses jarang dipuji, tapi sekali gagal banyak yang mencaci. Tugas bagian protokol memang unik dan istimewa. Sebagian mahasiswa yang tertarik pun kini ikut bergabung.Peran Tak Terlihat Petugas Protokol

32

kabar ugm - februari - 2012

dengan inovasi-inovasi baru,” tutur Haryanto. Ditambahkannya bahwa prinsip yang terpenting bukan terletak pada pemberian teori-teori, melainkan membuka ruang praktik yang luas bagi mahasiswa. Untuk itu, mereka banyak dilibatkan untuk tugas-tugas protokoler besar, seperti wisuda dan upacara penerimaan mahasiswa baru. Jumlah anggota tim inti protokol mahasiswa saat ini sekitar 15 orang. Namun, untuk kegiatan besar seperti wisuda, jumlahnya dapat mencapai 60 orang. Tingginya minat mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman sebagai petugas protokol menjadikan jumlah pendaftar kini mencapai sekitar 50 orang. “Di luar kegiatan-kegiatan besar, yang dibutuhkan hanya sekitar 15 orang, maka mereka pun lantas bertugas secara bergiliran,” kata Haryanto. Dengan menjadi petugas protokol tentu banyak manfaat yang dapat diperoleh. Di samping memperoleh pengalaman-pengalaman yang berharga,


manfaat pendampingan informal oleh Tim Protokol UGM. “Bermula dari melihat-lihat dulu prosesi acara, terutama wisuda. Setelah itu baru paham betul akan tugas protokol wisuda,” terangnya. Tidak hanya itu, Sena pun akhirnya hafal tentang karakter dan tipe orang. Banyak tokoh dan artis telah dijumpainya saat bertugas sebagai Tim Protokol UGM. “Seperti pengalaman bertemu Marissa Haque saat wisuda master kemarin. Ternyata, apa yang saya bayangkan di televisi tidak sama ketika berada di UGM. Kesan yang saya tangkap, Marissa tampaknya tak ingin diistimewakan. Ia bahkan ingin menjadi yang biasa seperti yang lain,” kata Sena. mereka juga memiliki keterampilan. Pengalaman dan keterampilan inilah yang kelak berguna ketika memasuki dunia kerja. “Tentu sangat bermanfaat, bahkan beberapa mahasiswa yang pernah menjadi petugas protokol dan sudah lulus biasanya memiliki kinerja bagus saat berada di tempat kerja. Ya, bagaimanapun mereka telah terbiasa dengan berbagai kegiatan seremonial,” ujar Jack, panggilan akrab Haryanto. Saat menjadi petugas protokol, mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas menerima tamu. Mereka terkadang dituntut untuk menyusun rangkaian acara hingga bertugas sebagai Master of Ceremony (MC). Tidak hanya di tingkat universitas, para mahasiswa tersebut juga terlibat dalam tugastugas protokol di tingkat fakultas. Tak jarang, mereka dipercaya untuk menangani berbagai kegiatan di fakultas. “Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka diharapkan bisa membantu keberhasilan acara-acara seremonial di fakultas. Mereka jelas terlihat lebih menonjol dibanding teman-teman yang lain,” imbuh Jack. Melihat banyak manfaat yang didapat dengan pelibatan mahasiswa sebagai petugas protokol, Direktorat Kemahasiswaan UGM ke depan merancang pembentukan UKM Protokol. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, tim protokol mahasiswa UGM diharapkan mampu bermetamorfosis menjadi UKM Protokol, tentu saja dengan memenuhi persyaratan yang diatur oleh Direktorat Kemahasiswaan. Tak sedikit dari para mahasiswa yang terlibat dalam tim protokol dengan cepat dapat mengetahui prosedur tetap (protap) untuk berlangsungnya sebuah acara. Mereka pun tak canggung untuk melakukan penjemputan menteri karena

telah memiliki unggah-ungguh dan dapat dengan cepat menempatkan diri. “Bagaimanapun banyak keuntungan yang diperoleh. Mereka tentu lebih disiplin dan berkarakter. Beberapa di antaranya diterima menjadi presenter televisi karena telah terbiasa bertemu dengan banyak orang berbeda dan berkesempatan melayani pejabat tinggi,” kata Jack Haryanto. Sena Eka Hanafi, mahasiswa Teknik Perencanaan Kota, Fakultas Teknik UGM angkatan 2008, mengaku senang bergabung dengan tim protokol karena menjadi tahu tentang prosesi wisuda, tentang 'kerepotan-kerepotan' dan segala keribetan untuk mengatur berlangsungnya sebuah acara. Sena bergabung dengan Tim Protokol UGM pada awal tahun 2009. Saat itu, ia mendapat informasi dari Rektorat tentang lowongan untuk menjadi petugas protokol. Ia pun langsung mendaftar. “Saya menjadi angkatan pertama protokoler mahasiswa yang dilibatkan untuk tugas-tugas protokol universitas,” akunya. Sena tak menyangka jika pada akhirnya ditunjuk sebagai Koordinator Lapangan Protokol Mahasiswa saat upacara wisuda. Ia merasa senang saat dipercaya untuk mengatur beberapa pos protokol wisuda. Pos-pos yang menjadi tanggung jawabnya, antara lain, ialah penerimaan tamu, pembagian ijazah, dan pengaturan barisan. “Awalnya saya rikuh untuk mengatur karena mereka adalah teman-teman saya juga. Namun karena dituntut profesional, saya menjadi terbiasa,” kisahnya. Mengaku bergabung di Tim Protokol UGM tanpa memiliki pengalaman, Sena kini hafal betul seluk-beluk rangkaian prosesi wisuda. Ia sangat merasakan

Destri Widiastuti, mahasiswi Diploma Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM angkatan 2009, memiliki pendapat senada. Ia merasa senang dapat bergabung dengan Tim Protokol UGM. Destri mengaku bermula dari coba-coba, namun akhirnya menjadi keterusan. “Memang minat. Namun, yang pasti aku ingin nambah pengalaman, teman, dan ingin tahu gimana sih tentang prosesi wisuda,” ujarnya. Yang sedikit berbeda, Destri memiliki pengalaman lebih berwarna dibandingkan dengan teman-temannya. Di luar upacara wisuda, ia banyak terlibat dalam acara-acara kerja sama dan pelantikan pejabat. “Pertama kali gugup, namun berkat bimbingan HMK (Bidang Humas dan Keprotokolan-red), hal itu menjadi terbiasa dan akhirnya tidak gugup lagi,” akunya. Saat menjalankan tugas-tugas protokol, Destri mengaku terkendala oleh masalah izin, sementara presensi kehadiran kuliah mensyaratkan 75%. Untuk itu, ia berusaha sebaik-baiknya untuk mengatur jadwal. “Untung saja, dosen kadang bisa memaklumi sehingga bisa menyusul kalau ada tes yang tidak bisa dikerjakan saat bertugas sebagai protokol,” sambungnya. Destri merasa bersyukur sebab meskipun tidak banyak, ia memperoleh tambahan finansial dari kegiatankegiatan sebagai petugas protokol mahasiswa. Dari berbagai acara yang ia ikuti, Destri akhirnya memiliki kemampuan untuk mengenal situasi, beberapa hal baru, dan beragam bentuk acara. Agung Nugroho

kabar ugm - februari - 2012

33


peristiwa

Peradilan Semu Internasional

T

im peradilan semu Fakultas Hukum (FH) UGM berhasil meraih gelar sebagai The Champion dan 3rd Best Memorial dalam kompetisi peradilan semu internasional The 2012 Indonesian National Rounds of the Phillip C. Jessup International Law Moot Court Competition, yang digelar di Universitas Padjadjaran Bandung, 3-5 Februari 2012. Dengan prestasi tersebut, tim FH UGM akan mewakili Indonesia di tingkat internasional, yang akan diadakan pada bulan Maret 2012 di Washington D.C., Amerika Serikat. Kompetisi tingkat internasional ini akan diikuti sekitar 120 sekolah hukum terbaik dari 80 negara.

Career Days X

S

ebanyak 20 ribu pencari kerja memadati Career Days X di Grha Sabha Pramana, 4-5 Februari 2012. Mereka memperebutkan 636 posisi yang ditawarkan oleh 75 perusahaan. Ketua panitia pelaksana kegiatan, Nurhadi, mengatakan dari 20 ribuan pencari kerja, sekitar 80 persen merupakan lulusan perguruan tinggi di Yogyakarta, sedangkan sisanya berasal dari luar Yogyakarta, seperti ITB, UI, ITS, dan Universitas Hasanuddin.

Pisah Sambut MWA

U

niversitas Gadjah Mada mengadakan acara pisah-sambut pergantian pengurus Majelis Wali Amanat (MWA), Sabtu (4/2), di Balairung. Tampak hadir mantan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Malik Fadjar selaku anggota MWA tahun 20022007 dan penyair Taufiq Ismail selaku anggota MWA tahun 20072012. Prof. Dr. Amien Rais sebagai Ketua MWA masa bakti 20072012 menyerahkan kepengurusan kepada MWA masa transisi yang diketuai Prof. Dr. Sofian Effendi.

Praktik Pengenalan Kehutanan

F

akultas Kehutanan UGM menyelenggarakan Praktik Pengenalan Kehutanan (PPK) 2012 untuk mahasiswa angkatan 2011. Acara yang dilaksanakan pada 25-28 Januari 2012 ini diikuti oleh 283 mahasiswa dengan 28 dosen pembimbing lapangan (DPL). Kegiatan dilaksanakan di Hutan Pendidikan Wanagama I Gunung Kidul serta unit-unit kerja hutan di bawah BKSDH dan Dishutbun DIY. Selain itu juga hutan rakyat yang berkembang di sekitar Wanagama dan hutan mangrove di muara Sungai Oya dan Opak, Dusun Baros, Bantul.

34

kabar ugm - februari - 2012


Pengukuhan Guru Besar

P

rof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D. dikukuhkan sebagai guru besar di Balai Senat UGM, Senin (6/2). Wapres RI yang didampingi oleh Ibu Herawati Boediono hadir bersama Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, beserta GKR Hemas, juga para pejabat negara, antara lain Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud M.D., serta Ketua KPK, Abraham Samad. Selain itu, tampak pula beberapa menteri, wakil menteri, anggota DPR dan DPD RI. Pada upacara pengukuhan sebagai guru besar pada Fakultas Hukum UGM, Denny Indrayana mengangkat pidato yang berjudul Sistem Presidensial yang Adil dan Demokratis. Berikutnya, Prof. Drs. Heru Nugroho, S.U., Ph.D. juga dikukuhkan sebagai guru besar pada Fakultas Isipol, Selasa (14/2), di Balai Senat UGM. Heru Nugroho menyampaikan pidato berjudul Negara, Universitas, dan Banalitas Intelektual: Sebuah Refleksi Kritis dari Dalam�.

Wisuda Pascasarjana

U

niversitas Gadjah Mada mewisuda 1.211 lulusan Pascasarjana, terdiri atas 1.120 master, 60 spesialis, dan 31 doktor. Lulusan S-2 termuda kali ini ialah Ilma Sarimustaqiyma Rianse dari Prodi Ekonomi Pertanian, yang berhasil menjadi master pada usia 22 tahun 6 bulan. Wisudawan yang bepredikat cumlaude dalam wisuda kali ini berjumlah 181 orang atau 16,16% dari semua lulusan S-2 dan 7 orang dari lulusan S-3 atau sejumlah 22,58%.


gelanggang sekaligus berprestasi,� ajak Yogi, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2008. Respon yang didapat ternyata cukup bagus. Pada open recruitment belum lama ini, tercatat sekitar 300 mahasiswa yang mendaftar. Setelah beberapa kali pertemuan, ada sekitar 70-an mahasiswa yang aktif berlatih. Latihan untuk anggota umum digelar pada hari Minggu di Hall Gelanggang Mahasiswa Pemain basket memang sebaiknya tinggi agar UGM, mulai pukul 13.00-15.00 (putri) dan berprestasi. Namun, yang pas-pasan juga 15.00-17.00 (putra). Latihan pun berbeda boleh, sekadar buat hobi. dengan yang dilakukan oleh tim inti. Untuk anggota umum diberikan pelatihan dasar basket, seperti cara men-dribble, penyesuaian tangan, dan gerakan dasar dalam basket. Saat ini, dalam tubuh UKM Basket ulu, UKM Bola Basket UGM merupakan atlet-atlet yang telah dijaring UGM telah dibentuk divisi kepelatihan. sering dianggap eksklusif. melalui seleksi penerimaan mahasiswa Divisi ini berperan dalam mencetak atlet Pasalnya, yang menjadi jalur Penjaringan Bibit Olahraga dan Seni -atlet nasional dan melahirkan pelatih anggota kebanyakan sudah (POBS) di Universitas. Di samping melalui profesional. Unit basket sedikit banyak pintar bermain basket dan tinggi jalur seleksi yang diadakan Universitas, turut berkontribusi ke daerah-daerah. badannya cukup. Padahal, kesan itu tidak Unit Basket juga merekrut atlet dengan Tidak sedikit atlet basket UGM yang sepenuhnya benar. Barangkali memang sistem jemput bola ke sekolah-sekolah. ditarik untuk mendukung daerah dalam karena berbagai tuntutan, yang dapat Syarat yang ketat itu membuahkan sejumlah kompetisi, antara lain POR diterima di UKM ini hanya mahasiswa hasil maksimal. Terakhir, UKM Bola Prov dan Pra-PON. Beberapa anggota yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Basket menjadi juara I putra dan putri bahkan ada yang ditarik ke National Syarat itu memang ditetapkan untuk pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah Basketball League (NBL) Indonesia. mengejar prestasi. (Pomda) DIY 2011, juara I putra dan putri Kesuksesan tim basket UGM tak R.M. Yogie Ramadian Permadi, Ketua pertandingan 3 on 3 pada kompetisi lepas dari kerja keras para anggotanya. Umum UKM Bola Basket UGM, yang digelar Kemenpora (2011), juara II Selain rutin berlatih, ditanamkan pula mengatakan pihaknya tidak pernah putra 3 X 3 dalam kompetisi yang nilai-nilai kedisiplinan yang turut memberi batasan bagi siapa saja yang diselenggarakan oleh FIBA, serta juara I membentuk karakter positif bagi para ingin bergabung di UKM ini. Kesan putra dan putri dalam seleksi eksklusif terasa kental karena memang Libama Daerah Putaran I-2011. sebelumnya Unit Basket UGM berfokus Berbenah Diri dalam upaya mengejar prestasi di Tentu saja, pengurus UKM tingkat nasional. “Dulu, kami fokus Bola Basket juga ingin mencetak prestasi. Jadi, untuk menghapus kesan eksklusif penerimaan keanggotaan memang yang terkesan selama ini. terbatas hanya untuk tim yang Karena itu, belakangan ini dipersiapkan mengikuti Liga Basket mereka mulai berbenah. Mahasiswa Nasional (Libamanas). Keanggotaannya kini lebih Mungkin hal itu yang menjadikan kesan terbuka karena UKM ini tidak Basket UGM eksklusif,� jelasnya. lagi hanya mengejar prestasi, Keanggotaan UKM ini pun cukup tetapi juga mengajak siapa ramping, hanya bagian manajerial, 15 saja untuk menggemari bola orang pemain putra dan 15 pemain putri basket. “Jadi, bagi siapa saja yang ditempa untuk mengikuti yang tertarik dengan basket, kompetisi Libamanas dan kejuaraansilakan untuk bergabung. Kita kejuaraan lainnya. Para pemain tersebut berlatih dan bermain bareng,

UKM BOLA BASKET UGM

MENGHAPUS KESAN EKSKLUSIF

D

36

kabar ugm - februari - 2012


mereka atlet. “Kalau bolos latihan sampai tiga kali dengan alasan yang tidak jelas, maka orang itu akan langsung dicoret dari daftar tim inti. Jadi, walaupun menjadi tim inti kalau tidak berlaku profesional, ya tetap akan dikenakan sanksi,” imbuh Manajer Basket UGM, Cornelius Dennis Dennis menjelaskan Libamanas tahun ini diarahkan untuk kompetisi berbasis sekolah. Pemain basket juga dituntut untuk berprestasi di bidang akademik. Untuk itu, setiap pemain dikenakan syarat IPK minimal 2,00. Apabila IPK mahasiswa di bawah angka tersebut, yang bersangkutan tidak diperbolehkan lagi mengikuti Libamanas. "Kalau mau masuk Libamanas, IPK tidak boleh jelek, minimal di atas 2,00. Itu aturan yang dikeluarkan oleh Perbasi belum lama ini,” sebutnya. Meskipun banyak prestasi, masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi UKM Basket UGM, seperti minimnya anggaran dan penggunaan lapangan yang harus bergantian dengan UKM lainnya. “Menghadapi Libamanas ini kami kan harus secara intensif berlatih, tetapi karena lapangan yang disediakan pihak Universitas merupakan lapangan bersama, jadi tidak bisa latihan setiap saat. Akhirnya, kita mencari lapangan di luar. Selain itu, lapangan di Hall Gelanggang itu sebenarnya tidak memenuhi standar, kurang 5 meter,” ujar Dennis. Dennis juga berharap agar Universitas menunjukkan kepedulian pada UKM, semisal dengan memberikan beasiswa bagi para atletnya. Selama ini, beasiswa hanya diberikan kepada mahasiswa dengan capaian prestasi di bidang akademik. Ia berharap UGM juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi di bidang olahraga dan seni. “Harapannya sih, ada beasiswa untuk para atlet, seperti yang telah dilakukan Universitas Brawijaya. Dengan pemberian beasiswa tersebut diharapkan mampu memotivasi atletatlet UGM untuk lebih berprestasi,” tambah Dennis. Kurnia Ekaptiningrum

DISERUDUK

RUSA BERAHI

Di UGM, ada pegawai yang tidak mengurus mahasiswa, tapi bertugas merawat binatang. Ngadino salah satunya.

N

gadino (38) adalah pegawai di Unit Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Hewan (UP2KH) Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Aktivitasnya setiap hari ialah memberi makan dan minum serta merawat 28 rusa yang berada di wilayah lembah UGM sejak satu setengah tahun terakhir. Ngadino memberi makan rusa-rusa itu pada setiap pagi dan sore hari dengan berbagai jenis rumput, konsentrat, wortel, jagung, juga ketela. Tidak terlalu sulit untuk memberi makan dan merawat rusarusa itu, hanya butuh ketelitian dan kesabaran. Saat ini, terdapat 28 rusa yang berada di taman tersebut, terdiri atas 12 ekor rusa jawa dan 16 rusa totol. Kedua rusa itu pun memiliki karakter masing-masing. Ia mencontohkan ketika rusa jawa tengah berahi, mereka akan menjadi lebih galak. Otomatis Ngadino tidak berani untuk memberi makan di dalam kandang karena akan dikejar atau bahkan diseruduk rusa jantan. “Pernah sesekali

saya dikejar dan diseruduk rusa pejantan pada masa berahi. Ini berbeda dengan rusa totol yang tidak galak kalau sedang berahi,” kata bapak berputra satu tersebut. Tidak banyak peralatan yang dibutuhkan Ngadino dalam bekerja, cukup sapu, sepatu boot, sabit, cangkul, dan kaos tangan. Ia pun tidak lagi khawatir jika suatu saat rusa-rusa tersebut sakit karena sudah ada dokter dari Fakultas Kedokteran Hewan yang selalu siap menangani. Memberi makan dan merawat rusa tidak mengenal hari libur. Hari Minggu dan hari raya sekalipun, Ngadino tetap harus ke kandang. Meskipun demikian, ia merasa puas dan bahagia menjalani aktivitas rutin ini, apalagi tidak sedikit keluarga yang membawa putra-putrinya untuk melihat rusa-rusa di kandang. “Rasanya senang kalau banyak keluarga beserta anak-anaknya yang bermain dan melihat rusa di kandang sehingga ramai,” katanya. Pemerintah, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang sudah pernah melihat langsung taman rusa UGM, menilai dari segi makanan dan kondisi rusa sejauh ini cukup baik dan tidak ada masalah. Hanya saja, dari segi kandang masih diperlukan perawatan dan perbaikan lebih lanjut. Ngadino juga mengatakan perhatian Universitas, khususnya terkait dengan anggaran/dana untuk membeli pakan ternak, selama ini masih mencukupi. Satria Ardhi Nugraha

kabar ugm - februari - 2012

37


tamu

Dr. drh. Wiwiek Bagja

Merawat Profesi Mulia

M

enurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Dr. drh. Wiwiek Bagja, persaingan kerja dokter hewan kini semakin ketat. Pasalnya, pemerintah telah menandatangani perjanjian regional ASEAN 2015 tentang kerangka kualifikasi nasional untuk kompetensi lulusan perguruan tinggi. Oleh karena itu, Indonesia tidak lagi dapat menutup pintu terhadap tenaga lulusan perguruan tinggi dari luar negeri untuk bekerja di sini. “PDHI jadi penyaring utama bagi dokter hewan asing, memberikan izin, uji kompetensi, uji standar pengajuan kepakaran dalam jumlah yang diinginkan,” katanya. Wiwiek juga menyebutkan tugas dokter hewan ialah 2S2A, yakni Safety, Security, Assurance, dan Animal Welfare, antara lain menjaga kualitas masuknya produk perdagangan hewan hidup dan produknya. "Semua orang perlu pangan dan pangan tidak cukup hanya beras, tapi daging, susu, dan telur. Jika tidak mampu menyediakan pangan asal hewan secara sukses dan tingkatkan sumber daya hewani, maka akan mengancam kedaulatan nasional,” tambahnya. Profesi dokter hewan, menurut Bagja, adalah tugas yang mulia, karena bertugas menjaga kesehatan hewan. Hewan itu sendiri memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Ia mencontohkan hewan pangan bermanfaat sebagai penghasil produk daging, susu, dan telur. Hewan kesayangan, misalnya anjing, digunakan untuk menjadi pelacak bom, narkotika, dan mencari jenazah korban gempa. “Belum lagi kita menemukan dokter hewan yang melakukan konservasi satwa liar dan kebun binatang, juga hewan air yang dilestarikan,” katanya. Karena itu, Bagja berpesan agar para lulusan dokter hewan tidak mencari pekerjaan atau bekerja di luar profesinya. “Susah ya untuk mendidik para dokter hewan itu,” ujarnya.

Gusti Grehenson

Marwoto

Promosikan Gudeg

P

elawak Sri Slamet Sumarwoto atau biasa disapa Marwoto, mengaku siap mempromosikan gudeg sebagai salah satu makanan khas Yogyakarta. Ia tidak akan berpromosi lewat iklan, tetapi melalui pentas lawakan. Namun sayang, pria kelahiran Yogyakarta, 59 tahun lalu ini tidak tahu banyak tentang kandungan gizi makanan yang terasa manis ini. Karena itu, ia pun sangat antusias kala diajak untuk berdiskusi tentang gudeg oleh pakar dari UGM. “Siapa tahu saat mentas di Jakarta atau di Sumatera, saya ditanya gudeg itu apa? Saya bisa jawab kelebihannya. Apa berdampak bagi penderita diabetes?” tutur Marwoto. Diakuinya bahwa seorang pelawak harus menguasai banyak hal. Tidak jarang, Marwoto diundang pada acara mutasi jabatan hingga acara kuliner. “Paling tidak, sedikit tahu tentang kuliner juga,” katanya. Saat disinggung tentang rencana UGM untuk mengembangkan budidaya nangka, Marwoto sangat mendukung. Ia berpendapat bahwa selain dapat memenuhi kebutuhan bahan baku gudeg, hal itu juga dapat meggalakkan produk kayu nangka. “Kita tahu sekarang ini produk kayu jati lebih banyak dibandingkan produk kayu nangka,” pungkasnya. Gusti Grehenson

38

kabar ugm - februari- 2012


RUMAH NYAMAN BERSAMA BANK MANDIRI emiliki rumah yang nyaman, berlokasi strategis, dan jauh dari kebisingan tentu menjadi idaman setiap orang. Dimulai dari rumah yang nyaman tersebut maka inspirasi dan ide-ide kreatif kita akan muncul. Kehidupan keluarga pun akan selalu ceria dengan kenyamanan itu. Mempunyai rumah idaman apakah hanya akan menjadi impian? Tentu tidak. Kini sudah hadir program Mandiri KPR dari Bank Mandiri. Manager CLBC PT. Bank Mandiri, Tbk. Yogyakarta Prasetyo Mahanani mengatakan bahwa Mandiri KPR adalah kredit dari Bank Mandiri yang diberikan kepada perorangan untuk pembelian

M

Nah, melalui program Mandiri KPR ini Anda bisa memilih lokasi hunian yang sesuai selera baik itu di Yogyakarta atau Solo. Di Yogya, Anda bisa memilih lokasi rumah dengan tipe 45 ke atas baik di Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Dengan persyaratan mudah Anda sudah bisa mendapatkan rumah idaman. Prasetyo menyebutkan bahwa untuk menjamin keamanan konsumen perumahan, pihak PT Bank Mandiri Tbk tidak main-main dan selektif dalam menjalin kerjasama dengan developer. Developer yang telah menjalin kerjasama dengan PT Bank Mandiri Tbk adalah developer yang selama ini

rumah baru maupun rumah lama berupa rumah tinggal/apartemen/ruko/rukan yang dijual melalui developer dan non developer. Ada beberapa fitur dan produk Mandiri KPR; 1. KPR Take Over, yaitu pemindahan fasilitas KPR dari bank lain ke Bank Mandiri. Nasabah nantinya akan mendapatkan dana tambahan untuk berbagai keperluan serta fitur-fitur menarik lainnya. 2. KPR Top Up, yaitu penambahan limit atas fasilitas Mandiri KPR yang telah berjalan (existing) dan nasabah bisa mendapatkan dana tambahan guna keperluan tambahan lainnya. 3. KPR Flexibel adalah Mandiri KPR dengan sistem pembayaran angsuran yang fleksibel karena tersedianya rekening fleksibel selama jangka waktu tertentu. 4. KPR Angsuran Berjenjang adalah Mandiri KPR yang member keringanan pembayaran cicilan pokok s/d tahun ke-3.

memiliki tingkat penjualan yang Untuk menjamin keamanan konsumen bagus, telah memiliki nama dan bukan perumahan, pihak PT Bank Mandiri Tbk hanya sebagai tidak main-main dan selektif dalam menjalin pemain baru sebagai pengembang kerjasama dengan developer. perumahan, serta jelas lokasi, ijin p e n d i r i a n p e r u s a h a a n m a u p u n hubungi saja Bank Mandiri terdekat atau pengurusnya. Mandiri Call 14000. (advetorial) “Jadi bagi masyarakat tidak perlu was-was dengan kemungkinan munculnya kasus-kasus ditipu oleh developer dll. Kita selektif melakukan kerjasama,�ujar Prasteyo. Bank Mandiri, kata Prasetyo, memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan Mandiri KPR ini. Dibandingkan program sejenis dari bank lain, Bank Mandiri mengaku memiliki keunggulan lebih. Selain suku bunganya yang hanya 8,8% fixed 1 tahun, serta 7,5% fixed 2 tahun untuk program take over (terutama bagi pegawai dan dosen UGM). Disamping

itu prosesnya pun dijamin lebih cepat. “Hanya dalam waktu 5 hari kerja kita sudah bisa buat keputusan. Disamping itu service kita jemput bola sehingga konsumen tinggal menyiapkan dokumen yang dibutuhkan nanti kita ambil,�katanya. K h u s u s Yo g y a k a r t a d a l a m pandangan Prasetyo memiliki prospek yang menjanjikan dan potensial bisnis di bidang properti. Apalagi banyak masyarakat di Indonesia ini memiliki kenangan dan sejarah tersendiri t e r h a d a p Yo g y a k a r t a s e h i n g g a berinvestasi rumah. Nah, kalau Anda tertarik memiliki rumah idaman dengan syarat yang mudah dan cepat segera


tempo doeloe

SUASANA UPACARA PENERIMAAN MAHASISWA BARU TAHUN 1969

Pembukaan secara resmi, tampak rektor UGM Drs. Soeroso H. Prawirohardjo, M.A. menyematkan topi kepada mahasiswa baru. Foto lainnya Suasana upacara penerimaan mahasiswa baru tahun 1969 dan kegiatan pentas seni.

40

kabar ugm - februari - 2012


Kabar UGM Edisi Februari 2012