Issuu on Google+

Edisi 19. Tahun ke-2. November 2012 / Dz.Hijjah 1433 - Muharram 1434

WAKIL MENTERI AGAMA RI KUNJUNGI TAZAKKA

W

akil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA beserta rombongan mengunjungi Pondok Mo­dern­Tazakka, Bandar, pada Jum’at (12/10). Keha­diran Wamenag RI tersebut dalam rangka memberikan ceramah umum tentang Tantangan Pendidikan Islam di Era Modern.­ Kehadiran Wamenag disambut oleh Pimpinan Pondok Modern­Tazakka, Ustadz Anang Rikza Masyhadi didam­ pingi jajaran Pengurus Yayasan Tazakka, tokoh agama dan masyarakat, keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Batang dan pejabat teras Pemda Batang. Ustadz Anang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pondok Modern Tazakka adalah pondok wakaf, milik umat Islam seluruh dunia, bukan milik pribadi kiai, keluarga, atau golongan tertentu. Ustadz juga menegaskan bahwa pendidik­ an di PM Tazakka berorientasi menyiapkan calon pemimpin umat di masa depan yang cakap secara keilmuan dan matang secara ketakwaan serta berakhlakul karimah. Sementara itu Wamenag dalam ceramahnya di Masjid AzZaky Pondok Modern Tazakka menjelaskan tentang metode pendidikan yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu melakukan penyucian jiwa terlebih dahulu sebelum melaksanakan pengajar­ an. “Para guru sebelum mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa, ia harus terlebih dahulu melakukan penyucian jiwa, supaya bernilai transendental” ujarnya. Menurutnya, maraknya kasus tawuran dan kekerasan di kalangan pelajar adalah akibat pengabaian proses penyucian jiwa tersebut. Karena, dalam Al-Quran perintahnya adalah menyucikan jiwa dan mengajarkan ilmu pengetahuan. “Sebelum

mengajar, guru harus menyempatkan diri berdoa kepada Allah melalui shalat dan puasa, agar ilmu yang akan disampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat” tandasnya. “Asupan otak itu penting, karena itu logika. Namun tidak kalah pentingnya adalah asupan batin, maka di Al-Quran ada perintah ‘membaca’ tidak sekedar membaca melainkan disertai dengan ‘bismi-Robbik’, ‘dengan Nama Tuhan’, tukasnya. Nampak hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Batang, H. Soetadi, SH., MM., Wakil Walikota Pekalongan H. Alf Arslan Djunaid selaku keluarga wakif masjid Az-Zaky, Duta Besar KH. Muzammil Basyuni, H. Suroso, M.Pd.I, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah mewaki­li Kakanwil, Kakanmenag Batang, Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag., mantan Sekretaris Dirjen Haji. Drs. H. Abdul Ghafur Djawahir, MM., Wakapolres, Dandim dan tokoh masyarakat Batang, Pekalongan,­serta dihadiri oleh sekitar 600 jamaah. Dalam taushiyahnya yang berdurasi satu jam lebih itu Wamenag kembali menegaskan bahwa masa depan gene­rasi muslim ada di pesantren. “Karena pesantren mendidik selama 24 jam, siang dan malam” tukasnya. Kunjungan Wamenag diakhiri dengan ramah tamah dengan jajaran Pemda dan Kemenag Batang. (@edi)

Para guru sebelum mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa, ia harus terlebih dahulu melakukan penyucian jiwa, supaya bernilai transendental — Prof Dr. Nasarudin Umar, MA www.yayasantazakka.com


2

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

MA’HADUNA

TAZAKKA TERIMA WAKAF SUMBER AIR

P

ondok Modern Tazakka menerima wakaf sumber mata air di Dukuh Kemejing, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, sekitar 2 km dari Pondok. Sumber mata air tersebut me­ rupakan wakaf dari Bapak Sayudi, seorang muallaf keturunan Tionghoa dan H. Khomsin. Wakaf tersebut telah diserahkan pada bulan September 2012 di kediamannya dan diterima oleh Ketua Yayasan H. Anta Masyhadi selaku nadzir. Selain untuk sarana air bersih santri, sumber mata air tersebut direncanakan akan digunakan sebagai­pembangkit tenaga listrik untuk pondok jika debit airnya cukup. “Kami sedang menghitung kemungkinan digunakan sebagai pembangkit listrik, mudah-mudahan bisa menghemat listrik pondok hingga 50%,” terang H. Anta. Sahabat Usman bin Affan ra membeli sebuah sumur di Madinah dari seorang Yahudi kemudian diwakafkan kepada kaum muslimin, sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi membeli air dari orang Yahudi tersebut. — Ustadz Anang Rikza Masyhadi

Ustadz Anang Rikza selaku Pimpinan Pondok Modern Tazakka mengungkapkan rasa terima kasih kepada wakif, Insya Allah sumber air ini akan sangat bermanfaat untuk santri-santri yang me­ nun­tut ilmu di Pondok Pesantren. Ustadz Anang menyitir sebuah kisah pada zaman Rasulullah, dimana Sahabat Usman bin Affan ra membeli sebuah sumur di Madinah dari seorang Yahudi kemudian diwakafkan kepada kaum muslimin, sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi membeli air dari orang Yahudi tersebut. “Lalu, Rasulullah mendoakan Usman agar masuk surga, dan Usman pun menangis terharu” terangnya. Saat ini panitia pembangunan pondok sedang membangun bak-bak penampungan di lokasi sumber air, dan akan dilanjutkan dengan pipanisasi untuk sampai ke pondok. Namun pada tahap pipanisasi ini panitia mem­butuhkan dana yang tidak sedikit. “Kami meng­undang kaum muslimin agar berpartisipasi dalam merealisasikan pro­yek pengadaan air bersih untuk santri ini, mengingat air merupakan unsur lingku­ngan yang vital yang dapat menjamin keberlanjut­an kehidupan” kata H. Teguh Suhardi, Ketua Pa­ni­tia Pembangunan. (@bisri)


3

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

MA’HADUNA

“TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN” Apa isu yang menarik dan teraktual dalam dunia pendidikan Islam saat ini? Tentu saja isu yang menarik salah satunya adalah tantangan pendidikan Islam di era modern. Ini dikarenakan, di era modern atau globalisasi ini telah timbul kecenderungan terjadinya integrasi ekonomi, fragmentasi politik, tekhnologi tinggi, kebebasan dan penjajahan gaya baru dalam bidang budaya. Tentu saja semuanya ini telah membawa perubahan kepada seluruh komponen pendidikan. Bagaimana solusi yang terbaik dalam menghadapi persoalan tersebut, berikut petikan pendapat dari beberapa tokoh:

>> Dr. Makrum Kholil, M.Ag ­ — Direktur Program Pascasarjana STAIN Pekalongan Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh Pendi­ dik­an Islam di era modern. Namun, dari yang ba­nyak itu, ada dua hal mendasar yang perlu mendapat perhatian lebih, yaitu: dekadensi moral dan pemikiran primordial. Pada beberapa tahun terakhir, terutama di era pasca orde baru yang disebut dengan orde reformasi, banyak terjadi tawuran antar pelajar, perkelahian antar anggota masyarakat, bahkan bentrok antar mahasiswa, juga tindakan anarkis dari berbagai kalangan. Sementara di pihak lain, polisi, yang mendapat mandat negara sebagai penegak hukum dan keamanan, berada dalam posisi yang serba salah. Apabila melakukan tindakan tegas, oleh pihak tertentu, dituduh melanggar HAM, sedang kalau diam saja dianggap tidak melaksanakan tugas dengan baik. Selain itu, banyaknya terjadi kasus pemaksaan kehendak dari sekelompok orang atas kelompok lain adalah juga merupakan tantangan pendidikan Islam. Masih segar dalam ingatan atas kasus di Sampang, Madura yang terjadi pasca shalat idul fitri 1433 H. Apakah pantas masyarakat muslim yang baru saja digembleng selama bulan Ramadlan agar mengendalikan diri, justru melakukan tindakan anarkhis setelah Ramadlan? Dalam menghadapi tantangan tersebut, maka pendidikan Islam di era modern (bahkan sampai kapan pun), harus mampu mendidik, menyiapkan, dan mewujudkan murid, santri atau perserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia dan memiliki wawasan global. Singkat kata, pendidikan Islam harus mampu mewujudkan manusia yang roh­matan lill’alamiin.

Al-Mahfuzhaat

Pendidikan seperti inilah yang sesuai dengan misi yang diemban oleh baginda Rasulullah SAW. >> Drs. H. Nasikhin — Sekretaris Daerah Kabupaten Batang Tantangan Pendidikan Islam di Era Modern adalah bagaimana membentuk karakter anak didik yang dilandasi tauhid yang kokoh namun tetap eksis dalam kehidupan saat ini yang lebih materialis dan hedonis. Moment saat ini sangat penting untuk merenung tentang pentingnya tauhid sebagai dasar pendidikan. Perayaan idul adha hakekatnya kita mengambil kisah kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarga yang menjadikan tauhid sebagai landasan pokok kehidupan mereka.­ Karakter tauhid akan melahirkan mausia yang ikhlas, istiqomah, ihsan, sabar dan syukur, lima nilai kehidupan yang akan menjadikan seseorang tetap eksis dan mampu berperan positif dalam situasi dan kondisi apapun. Maka Pendidikan Islam harus mampu menjadikan tauhid sebagai landasan utama dalam pengembangan kurikulum, maupun dalam proses belajar mengajarnya. Tentunya tauhid disini tauhid yang shohih sebagaimana dipraktekan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW yang mampu memancarkan pandangan yang moderat sehingga melahirkan Islam yang Roh­ matan Lill’alamiin. Konsep tauhid sebagai landasan pendidikan berarti perlu menyusun penafsiran asma wa sifat Allah sebagai nilai yang dapat dijadikan pedoman praktis dalam sehari-hari sebagai mana perintah Nabi, ber­ akhlaqlah kalian dengan akhlaq Allah.

:‫عن جابر ريض اهلل عنه يقول‬ :‫انليب صىل اهلل عليه وسلم يقول‬ ‫سمعت‬ ْ َ ْ ُ ُ َ ْ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ ُْ َ )‫المس ِلم من س ِلم المس ِلمون ِمن لِسانِ ِه وي ِد ِه (صحيح مسلم‬

Diriwayatkan dari Jabir ra ia berkata, ‘Aku pernah mendengar Nabi saw bersabda, “Orang Islam sejati adalah barangsiapa (diantara) kaum muslimin yang selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.” (shahih Muslim).


4

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

KEPONDOKMODERNAN

Sistem Pendidikan Pondok Modern (Bagian 9)

Manajemen di PM Tazakka Manajemen mencakup segala kegiatan yang terkait dengan pengelolaan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini berarti bahwa manajemen itu merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan suatu proses secara keseluruhan. Sebab tanpa manajemen yang baik, tidak mungkin tujuan suatu organisasi dapat dicapai secara optimal, efektif, dan efisien.

Banyaknya unsur yang ada di sebuah pesantren mengharuskan seorang kiai dapat memenej pesan­ tren yang dipimpinnya dengan baik dan efisien. Secara garis besar memenej pesantren adalah mengajarkan kehidupan. Adapun manajemen di Pondok Modern Tazakka: A. Dilaksanakan secara modern dengan falsafah Ikhlas, Cerdas, dan Tangkas. B. Meliputi manajemen administratif, operasional, personalia dan edukatif. C. Berorientasi pada upaya pelaksanaan tugas, pencapaian hasil, serta pengembangan dan pengamalannya (task and achievement oriented) Agar manajemen berjalan secara optimal, efektif, dan efisien, Pondok Modern Tazakka menerapkan beberapa strategi sebagai berikut: 1. Open Management (Keterbukaan) Dengan penerapan sistem open management, maka lembaga pendidikan pesantren akan mendapatkan keuntungan-keuntungan, antara lain: a. Dipahami oleh orang/pihak lain. b. Mendapat kepercayaan dari fihak lain. c. Terhindar dari fitnah dan salah faham. Keterbukaan di Pondok Modern Tazakka dapat dilihat dari transparansi laporan. 2. Kejujuran Keberhasilan pendidikan pesantren juga ditentukan oleh kejujuran dari personil yang terkait dalam pesantren tersebut. Karena dengan berasaskan pada kejujuran ini, kecurangan, kebohongan, korupsi dan sebagainya dapat dihindari. 3. Kesungguhan Merupakan kewajiban manusia dalam menuju ke­ suk­sesan adalah usaha dengan sekuat tenaga atau kalau perlu sampai tingkat mujahadah. Demikian pula dalam memenej pesantren diperlukan kesungguhan. Pondok Modern Tazakka menanamkan nilai “man jadda wajada” (barang siapa bersungguh-sungguh ia akan sukses) dalam memenej kehidupan santrinya, karena hakekatnya adalah mengajarkan hidup dan arti kehidupan. Namun usaha ini tanpa melupakan usaha batin yaitu berdoa kepada Allah SWT. karena Allah lah sebenarnya yang menentukan hasilnya.

Akumulasi dari kesungguhan ini menumbuhkan pesan: berkerja keras, berpikir keras, bersabar keras dan berdoa keras. Artinya selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja, berfikir, besabar dan berdoa de­ ngan menyerahkan hasil usaha kita seluruhnya kepada Allah­SWT setelah kesungguhan tadi. 4. Dilandasi oleh Panca Jiwa Pesantren, M ­ otto dan Falsafah Hidup Kehidupan dalam pesantren dijiwai oleh Panca Jiwa sebagai berikut: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan. Juga menanamkan motto: Berbudi tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas dan Berpikiran bebas. Serta dalam mengatur kehidupan santri selama 24 jam, Pondok Modern Tazakka­menanamkan falsafahfalsafah hidup, yang dapat dikategorikan dalam falsafah kelembagaan, falsafah kependidikan dan falsafah pembelajaran. 5. Mengutamakan Pendekatan-Pendekatan: Manusiawi, Program dan Idealisme A. Pendekatan Manusiawi Kiai dalam memenej guru dan santri hendaknya menggunakan pendekatan manusiawi. Guru dan santri memiliki kebutuhan-kebutuhan sebagaimana layaknya manusia berupa kebutuhankebutuhan psikologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Hal ini disebut sebagai pendidikan memanusiakan manusia. B. Pendekatan Program Sebagai manager pesantren, kiai hendaknya memiliki program-program yang jelas, baik program jangka panjang, menengah atau jangka pendek. Dengan adanya program ini kiai dapat mendelegasikan tugas kepada pihak lain dengan jelas. Selain itu kiai juga memberikan arahan tentang strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mencapai program-program tersebut. C. Pendekatan Idealisme Dalam memenej personil, kiai hendaknya berdasar pada idealisme sehingga penerima tugas akan mengerjakan tugas berdasarkan idealisme yang dimiliki, tidak bekerja asal-asalan.


5

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

KEPONDOKMODERNAN SARASEHAN BERSAMA WAMENKUMHAM RI

Tim Tazakka mengikuti sarasehan yang bertema ‘Jurus Jitu Perguruan Swasta Menembus Regulasi Yayasan’ bersama narasumber Wakil Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Prof. Dr. Denny Indrayana, MA, pada Jum’at (26/10). Kegiatan tersebut diselenggarakan atas kerja sama Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Pekalongan dan Dinas Pendidikan Pekalongan. Diskusi hangat tentang seluk beluk yayasan yang diselenggarakan di Perguruan Salafiyah Pekalongan tersebut berakhir hingga pukul 22.30 wib.

SILATURAHIM KE MADURA Silaturrahim ke beberapa pesantren semakin intens dilakukan oleh PM Tazakka jelang pembukaan tahun ajaran baru. Pada hari Selasa (2/10) Tim Tazakka berkunjung ke salah satu pondok alumni Gontor yaitu Ponpes Al-Amin, Prenduan, Madura. Dalam kunjungan tersebut, Tim Tazakka terlibat diskusi dengan para pengasuh Al-Amin kaitannya dengan pengelolaan pondok. “Sebagai kiai, pengasuh dan guru di pesan­tren sudah seharusnya kita ‘ngeloni’ santri setiap saat, jadi pantuan selama 24 jam itu benar-benar dilaksanakan dan bukan hanya sekedar slogan,” ungkap wakil ketua dan wakil pengasuh/Pimpinan sekaligus Rek­tor IDIA Prenduan, KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA.

qurban di TAZAKKA Pondok Modern Tazakka pada Hari Raya Idul Adha 1433 H menerima sumbangan 4 ekor sapi dan 4 ekor kambing dari 26 shohibul qurban (27/10). Dari hewan-hewan qurban tersebut panitia berhasil memotong dan membagi menjadi 700 kantong daging qurban, masing-masing sebesar 1 kilogram dan disebarkan ke 24 zona (wilayah) sekitar Tazakka. Distribusi daging qurban langsung diantarkan oleh panitia ke rumah-rumah mustahik. “Tahun ini kita ubah polanya, kita antarkan door to door, meskipun agak merepotkan karena tempatnya terpencar tetapi jauh lebih tertib dan bermartabat” ungkap H. Mutatohirin selaku Ketua Panitia. (@syair)

ُ َ ْ َ َ ْ َ‫َ َ َ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ ْ َ َ م‬ ْ‫ك َما ف َخير‬ ‫بارك اهلل لك و بارك عليك وجع بين‬ ِ‫ي‬ ٍ Selamat atas Pernikahan

Haris Adam Islahi &

Putra Bapak Haryanto - Pagilaran, Blado

Istiqomah

Putri Bapak Muhidin - Sodong, Wonotunggal

Pada Hari Kamis, 15 Nopember 2012 / 01 Muharram 1434

“Semoga Allah memberi barokah kepadamu dan kepada (pernikahan) ini serta mengumpulkan kalian berdua (pengantin) dalam kebaikan”


6

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

IHWAL ANSHOR

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA.

TAZAKKA, AZ-ZAKY DAN TAZKIYAH

Sosoknya dikenal sebagai intelektual-pejabat atau pejabat-intelektual dengan kepribadiannya yang low profile. Gaya bicaranya terlihat teratur, lembut, dan tenang. Pria yang akrab dipanggil Pak Nasar ini mempunyai nama lengkap Nasaruddin Umar. Lahir di Ujung Bone Sulawesi Selatan pada tanggal 23 Juni 1959 buah pernikahan H. Andi Muhammad Umar dan H. Andi Bunga Tungke. Dia tumbuh di tengah keluarga yang menaruh perhatian besar terhadap agama. Karena itu, sebelum menempuh pendidikan formal, pendidikannya pada masa kecil ditangani sendiri oleh orangtuanya. Kini, Pak Nasar mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Agama RI dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, setelah sebelumnya menduduki jabatan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam (2006-2011). Di lingkungan Kementerian Agama, Pak Nasar bukanlah pejabat yang terdengar asing begitu disebut namanya, baik di pusat maupun daerah, karena peran dan kontribusinya selama ini. Dalam kunjungannya di Pondok Modern Tazakka, peraih gelar doktoral di IAIN Syarif Hidayatullah setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Perspektif Jender dalam Al-Qur’an di depan dewan penguji sidang munaqasyah ini mengaku terkesan dengan ide dan cita-cita Tazakka yang visioner. “Sangat penting saya sampaikan di sini bahwa Tazakka dan Az-Zaky memiliki keterkaitan makna dengan Tazkiyah, yaitu penyucian jiwa. Maka saya berharap pesantren ini mampu mendidik santri-santri­ nya secara totalitas, bukan sekedar intelektualitasnya melainkan juga batiniahnya” paparnya. (@ines)

H. Amir Aziz, S.Ag.

“Qurban, Melawan Nafsu Hewani” Kesibukan sebagai Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan Reban Kab. Batang dan mengelola beberapa usaha, tidak menghalangi H. Amir Aziz, S.Ag. untuk aktif diberbagai kegiatan sosial. Menurutnya ada kebahagiaan tersendiri saat mengabdikan diri di masyarakat. Ia berprinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat kepada saudaranya yang lain. Ditemui saat menjadi panitia qurban di Tazakka ia mengungkapkan bahwa salah satu makna mendalam dari perintah menyembelih hewan qurban bisa dimaknai sebagai menyembelih atau melawan nafsu hewani. “Manusia jelas berbeda dengan hewan. Manusia bisa berfikir, tersenyum dan memiliki rasa malu, sedangkan hewan tidak. Maka perilaku yang tidak menggunakan akal pikiran, tidak murah senyum apalagi tidak tahu malu, merupakan perilaku hewani yang harus dibuang jauh-jauh.” Ungkapnya. Bapak dua anak ini juga mengajak kita untuk senantiasa memperingati Idul Adha dengan menengok sejarah nabi Ibrahim AS. Sebab, yang disebut sejarah pasti sesuatu yang bersifat besar dan mengandung makna yang mendalam. “Apalagi sejarah itu ditulis dalam Al-Qur’an,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa ridha Allah adalah hal yang harus dituju dalam hidup ini, “sebagaimana nabi Ibrahim dan keluarganya yang melaksanakan ibadah qurban hanya untuk mencari ridha Allah. Seorang yang mencari ridha Allah maka ia akan mengikuti apa yang diinginkan Allah, ia akan banyak berbuat baik, berhati lembut, tidak suka menyakiti perasaan orang lain, menjaga keamanan sosial, banyak berkorban untuk manusia dan titik akhirnya adalah memanifestasikan kehendak Allah. Sikap-sikap baik yang membiaskan rahmat bagi semesta alam inilah yang menjadi ukurannya.” Tegasnya.(@fauzi)


7

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

IHWAL ANSHOR

OTORITAS SUNNAH NON-TASYRI’IYYAH MENURUT YUSUF AL-QARADHAWI Judul buku: Sejarah Hadis Penulis: Dr. Tarmizi M. Jakfar, MA Penerbit: Ar-Ruzz Media

Ali Ramdhani, S.Pd.I Alumni ISID Gontor

Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang membawa risalah dari Allah SWT. Sebagai Nabi dan Rasulbeliau merupakan uswatun hasanah dan sebagai Rasul, beliau juga wajib untuk di ta’ati sehingga apa yang datang dari beliau hendaklah diterima dengan ketaatan sepenuh hati sebagai bukti seseorang dianggap beriman dan apa yang beliau larang hendaklah dihindari. Namun selain sebagai seorang Nabi dan Rasul beliau juga adalah manusia biasa sebagaimana manusia yang lain sebagaimana banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskannya. Beliau juga memiliki kebutuhan jasmani dan ruhani, memiliki keinginan dan selera dan memiliki kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seharihari beliau. Ketetapan beliau dalam kapasitas beliau sebagai Rasul merupakan sumber syari’at yang tidak diperdebatkan, namun apakah segala yang datang dari beliau sebagai manusia biasa dalam konteks bahwa sebagian perbuatan dan perkataan beliau yang muncul dari sifat kemanusiannya (Jibillatul Basyariyah) juga merupakan sumber syari’at yang mengikat? Pertanyaan diataslah yang memunculkan perdebataan di kalangan ulama sehingga memunculkan istilah Sunnah Ghoiru Tasyri’iyyah. Sikap umum ummat Islam memandang bahwa hadis yang terumuskan dari sunnah yang hidup saat itu mempunyai harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dan sebagian ulama pun kurang memiliki perhatian khusus dalam kajian tentang Sunnah Tasyri’iyyah dan Ghairu Tasyri’iyyah. Sehingga di antara mereka ada yang cenderung memandang semua sunnah sebagai syari’at yang mengikat (Al Sunnah Kulluha Tasyri’iyyah). Artinya mereka memiliki kecenderungan menggeneralisasi sunnah sebagai syari’at atau kebenaran mutlak (taken for granted) atau sebagai produk jadi. Sehingga pada gilirannya sulit membedakan mana hadis yang bersifat mutlak (terutama yang berkaitan dengan akidah dan ibadah) yang terbebas dari ikatan ruang dan waktu, dan mana pula hadis yang bersifat nisbi (menyangkut muamalat, pergaulan hidup, adat kebiasaan, yang lebih

mencerminkan suatu tradisi atau sunnah yang hidup pada suatu fase penggalan sejarah tertentu) yang terikat oleh ruang dan waktu. Diantara penelitian yang mendalam berkenaan dengan terminologi Sunnah Non Tasyri’iyyah adalah apa yang dilakukan oleh Dr. Tarmizi M. Jakfar, MA dalam disertasinya yang berjudul “Otoritas Sunnah Non Tasyri’iyyah Menurut Yusuf Qaradhawi”. Di dalamnya beliau meneliti tentang problematika seputar Sunnah Non Tasyri’iyyah yang meliputi terminologi dan kalim, status dan peran Muhamad SAW, sikap ummat Islam terhadap sunnah dan kritikannya, klasifikasi sunnah, dasar-dasarnya dan kriteria termasuk bantahan terhadap yang menentang adanya Sunnah Non Tasyri’iyyah, termasuk menguji validitas dalil-dalil Sunnah Non Tasyri’iyyah serta beberapa kesimpulan yang secara garis besar Al Qaradhawi tidak ingin terjebak kedalam dua kutub kelompok yang ekstrim dalam memahami sunnah. Sebagian kalangan ummat Islam menganggap semua hadis adalah Tasyri’iyyah sehingga semua hadis bersifat mutlak, sedangkan yang satu lagi bersifat sekulerdimana semua sunnah adalah bersifat nisbi. Nah Yusuf Al Qaradhawi mengambil jalan tengah. Pemikiran Yusuf Al-Qardhawi mengenai Sunnah Non Tasyri’iyyah, sebagaimana telah disinggung sebelumnya yaitu atas landasan ayat Al-Qur’an yang berbunyi: Katakanlah, sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu juga (Qs. Al-Kahfi:18). Dan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Rafi’ bin Khudaij, Nabi besabda: “Aku adalah manusia, apabila aku perintahkan kalian sesuatu mengenai agama maka ambillah, dan bila aku perintahkan kalian sesuatu dari pendapatku maka aku ini hanyalah manusia.” (Shahih Muslim). Namun demikian, walaupun ada beberapa urusan duniawi yang berdasarkan pengalaman, adat istiadat, dan kebiasaan, tetap harus ada jaminan tidak terjadi penyimpangan, berlebihan, atau pengabaian/pengurangan dengan tidak mengenyampingkan ajaran agama sebagai suatu landasan dasar umat islam. Karena buku ini merupakan hasil penelitian disertasi maka keseluruhan isinya sangat menarik dan memberikan informasi yang penting mengenai seluk beluk sunnah nabi. Selamat membaca dan semoga tercerahkan.

KorMin Tazakka edisi ini dicetak atas wakaf dari

P.T. AMRINA ROSYADA & CV. Kholam Printing Jazakumullahu Ahsanal Jazaa’


8

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

PROFIL

H. M. Hanif Hafidz, S.Ag

MENEMUKAN KETENANGAN DI PONDOK H. M. Hanif Hafidz, S.Ag adalah salah seorang kader utama Pondok Modern Gontor yang saat ini diamanahi oleh Pimpinan Pondok untuk menjadi wakil pengasuh di Pondok Modern Gontor Putri 4 Kendari Sulawesi Tenggara, sosok guru yang enerjik dan disiplin ini menemukan kedamaian dan ketenangan didalam pondok. Berikut wawancara redaktur Koran Mini Tazakka Hakim AsShidqie dan Edi Buana dengan beliau ketika berkunjung ke Pondok Modern Tazakka:

Bisa diceritakan kenapa Ustadz memutuskan untuk menjadi kader dan berjuang di Pondok Modern Gontor? Setelah selesai mengabdi di Pondok Modern Gontor, saya berkeinginan untuk mengajukan izin pulang dari pondok dan meneruskan usaha orang tua di rumah. Namun belum sempat izin, pak kiai memang­ gil saya dan memberi instruksi “Hanif kamu bantu Ustadz Hamim di Gontor Putri 2, kamu ga usah izin pulang dulu, disini saja”. Saya sebagai santri beliau hanya bisa sam’an wa tha’atan, patuh dan taat. Setelah satu tahun, saya dipanggil lagi oleh pak kiai Syukri, “kamu saya beri waktu satu tahun untuk berfikir, mau berjuang di pondok atau tidak.” Satu tahun untuk berfikir karena menjadi kader itu berat, dan harus total, hidup dan mati kita di pondok. Dalam satu tahun berfikir tersebut, dan untuk meyakinkan diri saya, kira-kira bulan Mei 2004 saya pergi ke Jakarta mendatangi teman-teman untuk saya mintai pendapat, ini menjadi ukuran saya, apakah saya siap menjadi kader atau tidak. Intisari yang saya dapat dari perjalan­ an tersebut, mereka menyatakan bahwa hidupnya kurang tenang, walaupun menurut pandang­an saya mereka sudah mapan dan berkecukupan secara materi, bahkan salah satu ada yang mengatakan pada saya, “kalau saya boleh kembali ke Gontor jadi guru, insya Allah saya akan kembali dan mengajar”. Dari Jakarta saya mengambil pelajaran bahwa ketenangan hati dan jiwa itu penting, dan saya dapat merasakannya di Pondok. Saya semakin yakin untuk berjuang di pondok, kemudian saya minta izin kepada orang tua, jawaban orang tua “itu masa depan kamu sendiri, apapun yang terjadi itu keputusanmu”, intinya beliau ikhlas saya berjuang di Gontor. Terakhir saya tanya istri saya, dijawab, “saya ikut mas, kalau mas berjuang di pondok, saya siap mendukung dan ikut berjuang”. Saya semakin mantap dengan keputusan untuk berjuang di Pondok. Maka pada akhir tahun 2004, bersama dengan Ustadz Suwarno dan Ustadz Mahbub, kami menyatakan siap menjadi kader Gontor. Mohon doa mudah-mudahan saya bisa istiqomah.

Ada kata-kata Pak Sahal yang terbukti, bahwa Jawa, Sumatera, Sulawesi latarku, Amerika, Eropa dolananku. Itu terbukti sekarang, Gontor ada dimana-mana, ada di Sulawesi, Sumatera bahkan alumni nya tersebar di seluruh dunia. Tantangan apa yang Ustadz hadapi setelah menjadi kader? Dulu, bayangan saya sebelum menjadi kader, kader­ itu sering dipindah-pindah, kesana dan kemari, dan saya takut akan hal tersebut. Tapi setelah saya menjadi kader, saya menjalani dipindah dari Gontor Putri 2, ke Gontor 6 Magelang, dan sekarang di Gontor Putri 4 Sulawesi, enjoy saja, gak ada masalah, karena niat saya untuk berjuang, dan tidak ada yang namanya berjuang itu enak, kita harus ingat perjuangan nabi Muhammad yang ba­nyak ujiannya. Dijalani dengan ikhlas, memiliki misi yang jelas, li’ila’i kalimatillah, insya Allah perjuang­an itu akan menjadi ringan. Pernah suatu ketika saya diamanahi pak Kiai untuk menjadi wakil pengasuh di Gontor Putri 4 Kendari Sulawesi Tenggara. Bagi saya dan istri, hal tersebut bukan masalah. Namun bagi anak saya, perpindahan ini merupakan masalah besar, karena anak saya sudah pu­nya banyak teman di Magelang, dan lain sebagai­ nya. Baru nyampai bandara Kendari yang sepi, anak saya ngajak pulang, “ayo bapak pulang saja, kembali ke Jawa!” Selama satu minggu anak saya tidak mau keluar rumah. Itu bagi saya ujian yang berat. Inilah bagian dari ujian tersebut, dan saya hadapi dengan ikhlas.­Dan ada juga teman-teman kader yang gagal dalam ujian ini. Ternyata yang saya alami belum seberapa, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan yang dialami oleh trimurti pendiri pondok, salah satu bentuk ujian dan perjuangan beliau, trimurti pada zaman itu makannya pakai gaplek, sambalnya sambel plelek, tempatnya pakai lepek. Tiga hal ini


9

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

merupakan simbol kemiskinan pada zaman tersebut. Dan itu dialami oleh trimurti dalam mendirikan pondok, rela mengalami kemiskinan untuk berjuang di pondok dan pada masa itu beliau berani mewakafkan harta­nya untuk pondok. Akhirnya de­ ngan keikhlasan yang demikian itu, Gontor menjadi seperti sekarang ini. Ada kata-kata Pak Sahal yang terbukti, bahwa Jawa, Sumatera, Sulawesi latarku, Amerika, Eropa dolananku. Itu terbukti sekarang, Gontor ada dimana-mana, ada di Sulawesi, Suma­ tera bahkan alumninya tersebar di seluruh dunia. Ini adalah buah dari keikhlasan para pendiri Gontor. Bagaimana Ustadz menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di pondok? Masalah itu pasti ada di mana-mana, tak terkecuali­ di lembaga pendidikan. Di Gontor, kami menghadapi­ masalah; dari santri, wali santri, guru, keluarga, masya­ rakat dan lain sebagainya. Salah satu cara Gontor menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut adalah dengan adanya forum Kemisan, atau pertemuan guru-guru setiap minggu (hari Kamis) yang dipimpin oleh pak Kiai. Forum tersebut untuk mengontrol guru-guru, disiplin guru dalam mengajar, mengelola unit usaha­dan lain sebagainya. Sementara untuk meminimalisir masalah santri di pondok, santri-santri disibukkan dengan banyak aktivitas; ada olah raga, pramuka, ekstra kurikuler, dan kursus-kursus. Dengan banyaknya aktivitas tersebut santri tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan tindak­an-tindakan negatif.

Saya melihat keikhlasan di Ta­ zakka,­terbukti dari dukung­ an masyarakat, kegiatan kema­sya­ rakatannya,meskipun pondok­nya belum dibuka, dan saya mera­ sakan ada berkah di Tazakka ini.

PROFIL

Apa prinsip hidup yang Ustadz pegang teguh? Kita harus ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Asalkan kita ikhlas, insya Allah petunjuk dan petolongan Allah akan datang. Ingat, in tanshurullah yanshurukum wa yutsabbit aqdamakum. (Kalau kau menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu). Selain itu kita harus kerja keras, kerja sekuat tenaga, ada istilah dari pak kiai, berkerja keras, berpikir keras, bersabar keras dan berdoa keras. Perlu diingat, potensi yang kita miliki, kalau tidak kita gunakan akan mati. Tapi kalau digunakan, insya Allah akan berkembang. Contoh latihan angkat barbel, gerakannya kan sama, tapi kalau dilakukan terus menerus, hasilnya kan semakin kuat, demikian pula potensi yang kita miliki. Harapan Ustadz kepada Tazakka? Saya melihat ada ruh keikhlasan di Tazakka, terbukti dari dukungan masyarakat, kegiatan kemasyarakatannya, meskipun pondoknya belum dibuka, dan saya merasakan ada berkah di Tazakka ini. Ini merupakan tanda adanya keikhlasan di Tazakka. Dengan SDM yang ada sekarang, saya yakin Pondok Modern Tazakka­bisa berdiri dan berkembang sebagaimana yang di­cita-­citakan.

B I O D ATA Nama : M. Hanif Hafidz, S.Ag TTL : Lamongan, 05 Mei 1974 Istri : Iif Atikah Anak : M. Zaki Azra M. Anas Muzakky Hobi : Olah Raga Motto : “Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti” Pendidikan : KMI Pondok Modern Darussalam Gontor S1 Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor


10

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

TAUSHIYAH

Masalah Khilafiyah KH. Imam Zarkasy

Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor

ُ ْ ُ َْ ُ ‫أع َد‬ ‫اء َما َج َهلوا‬ ‫اإلنسان‬ ِ Manusia itu menjadi musuh apa yang belum diketahuinya. Orang yang belum pernah melihat kucing, ketika pertama kalinya melihat tentu akan takut dan menganggap kucing itu musuhnya. Orang yang tingginya hanya 1,5 meter (seperti umumnya orang Indonesia) waktu pertama kali melihat orang yang tingginya 2 meter, berkulit putih (bule), atau merah dan sebagainya, tentu akan terkejut, takut mendekati, dan mengira itu bukan bangsa manusia. Apabila ada benda jatuh bersuara keras, orang yang belum mengenal suara itu akan takut, dan timbul perasaan takut kalau itu bom,kalau-kalau ada orang yang melempari, dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah mengerti dan mengenal suara itu tentu akan segera mendekati dan mengambilnya, karena dia tahu yang jatuh ituadalah durian yang sudah masak. Orang yang sudah biasa mengenakan kopiah hitam, ketika melihat ada orang yang mengenakan kopiah selain hitam merasa heran, lalu menanggap aneh, jelek, dan sebagainya. Maka dari itu kita harus memiliki ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, supaya tidak terlalu mudah heran dan memusuhi yang tidak semestinya. Itu artinya kita harus berpengetahuan luas. Masalah Khilafiyah itu apa? Dalam kehidupan sosial keagamaan, kita sering menghadapi masalah-masalah yang sangat sensitif sekali, yakni masalah khilafiyah. Kita melihat ada orang yang shalat de­ ngan mengucapkan ushalli (saya niat shalat) dan ada juga yang tidak, ada yang membaca doa qunut pada setiap sembahyang subuh, dan ada yang tidak. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan paham tentang hukumnya, menurut ajaran atau kajian yang sampai kepada mereka. Masalah-masalh seperti itu dinamakan masalah khilafiyah. Masalah-masalah khilafiyah itu hanya terjadi didalam furu’ artinya cabang atau ranting-ranting perintah agama, dan bukan mengenai pokok-pokoknya (ushuli). Namun, banyak orang yang kurang dapat membedakan anatara yang pokok dan yang bukan pokok, sehingga banyak yang mengira masalah furu’ itu masalah pokok. Atau banyak yang fanatik kepada furu’ yang telah dibiasakan, sehingga mengira dan menjadikan bahwa yang telah dibiasakan itu adalah pokok. Misalnya masalah ushalli sebelum takbirotul Ihram dan doa qunut pada shalat subuh, padahal keduanya bukan pokok. Jelasnya, tidak ada seorang pun ulama’ didunia ini yang mengatakan sembahyang tanpa ushalli atau doa qunut pada shalat subuh itu batal. Begitu pula tidak ada seorang pun ulama’ yang mengatakan bahwa orang yang sembahyang

dengan mengucapkan ushalli dan doa qunut itu batal sembahyangnya. Dengan contoh dan keterangan diatas, jelaslah perbedaan antara furu’ dan pokok atau cabang dengan pokoknya. Macam-macam Khilafiyah Masalah-masalah khilafiyah dalam islam itu banyak sekali. Maklumlah furu’ al-masail (cabang-cabang permasalahan) tidak pernah berhenti, tetapi terus timbul dan timbul secara bersamaan dengan perkembangan kehidupan. Orang yang mengikuti salah satu mazhab saja, masih menemui masalahmasalah khilafiyah dalam satu mazhab itu. Kapan mulai ada? Masalah khilafiyah itu sudah ada sejak zaman sahabat. Maklumlah bagaimana orang banyak memahami suatu peraturan. Ini sudah lazim, selalu terjadi pada segala peraturan. Sebenarnya pada zaman Rasulullah pun ada perbedaan pendapat, hanya saja karena Rasulullah ada, maka segala perbedaan itu segera ditanyakan kepada Rasulullah. Jawab­ an itu­lah yang menyelesaikan perbedaan paham tadi, baik itu dari Wahyu (Al-Qur’an) maupun dari Rasulullah sendiri (Hadis).­ Mungkinkah dihabiskan? Ada yang mengira masalah khilafiyah bisa dihabiskan sehingga semua umat islam nanti hanya memiliki satu paham, sampai kepada masalah furu’. Pikiran seperti itu salah besar. Tidak akan mungkin masalah-masalah khilafiyah itu ditiadakan. Dalam tiap-tiap mazhab saja terdapat masalah-masalah khilafiyah lagi, arti­ nya ulama-ulama syafi’i sendiri, misalnya banyak yang berlainan pendapat (khilaf) antara satu sama lain. Bahkan , Imam Syafi’i sendiri pernah mengeluarkan fatwa yang berbeda-beda. Perkataan Imam Syafi’i yang dahulu disebut “Qoul Qodim” dan perkataan yang kemudia disebut “Qaul Jadid”. Fatwa Imam Syafi’i ketika di Bagdad berbeda dari fatwanya ketika di Mesir. Hanya dalam furu’ Karena masalah khilafiyah itu hanya dalam furu’ maka tidak perlu ada permusuhan atau perpecahan. Kalau ada orang yang membesar-besarkan atau mempertajam masalah khilafiyah, maka ada dua kemungkinan bahwa orang itu: terlalu bodoh atau alat musuh islam yang hendak memecah belah umat islam.

Masalah-masalah khilafiyah itu hanya terjadi didalam furu’ artinya cabang atau ranting-ranting perintah agama, dan bukan mengenai pokok-pokoknya (ushuli).


11

Edisi 20. Desember 2012. Muharram 1434 - Shofar 1434

TAUSHIYAH

DESAKRALISASI KEHIDUPAN ­— Tulisan kedua dari dua tulisan Ustadz Anang Rikza Masyhadi

Pimpinan Pondok Modern Tazakka

Dalam suatu kunjungan saya ke almamater tercinta, Pondok Modern Gontor Ponorogo, saya selalu menyempatkan sowan kepada para Pimpinan Pondok, pengasuh, dan guru-guru senior yang telah sangat berjasa dalam menorehkan bekal ilmu pengetahuan dan akhlak. Tradisi ini lazim dan merupakan keharus­an atas setiap santri kepada kiainya. Para Pimpinan Pondok selalu memberikan pesan dan nasehat setiap kali ditemui, dan —selalu— semuanya terekam dengan baik. Tidak jarang kemudian terjadi dialog dan diskusi hangat namun tetap dalam suasana yang rileks, santun dan sarat makna. KH. Hasan Abdullah Sahal, salah seorang Pimpin­ an Pondok, suatu ketika memberikan pandangannya tentang fenomena kehidupan saat ini. Menurut Beliau sekarang ini telah terjadi desakralisasi kehidupan. Padahal, dalam Islam semua aspek kehidupan bernilai sakral (suci). Masuk kamar mandi, bagi seorang muslim adalah sakral karena ada doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca, supaya tidak diganggu setan sehingga tidak melakukan hal-hal yang terlarang selama berada di dalam kamar mandi. Bahkan bercermin pun termasuk perbuatan sakral karena ada doa yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, agar niat bercerminnya tidak memunculkan sifat sombong dan tabdzir (memubadzirkan sesuatu) melainkan untuk mensyukuri ni’mat Allah. Termasuk­hubungan intim suami-istri agar hubungannya bernilai ibadah dan diberkahi, juga agar jika kelak terjadi pembuahan keduanya sadar sepenuhnya hal itu merupakan rahmat Allah SWT. Sakralnya kehidupan juga berlaku dalam hal mencari nafkah, pergaulan sosial, dan lain sebagainya; semuanya sakral karena diatur dengan jelas dan telah ada petunjuknya langsung dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Pernikahan, sebagai contoh, sekarang mulai bergeser dari sesuatu yang sangat sakral lambat-laun menjadi kurang sakral. Akad nikah yang disunahkan Rasul SAW dilakukan di masjid, banyak yang tidak sakral lagi. Pertama, proses akad nikahnya telah didahului dengan hubungan haram sebelumnya. Kedua, ketika akad nikah berlangsung, banyak pengunjung –terutama kaum wanita —yang berpakain tidak sopan, karena masuk masjid dengan pakaian pesta yang serba terbuka dan mempertontonkan auratnya. Mesti-nya, seorang muslimah masuk masjid dengan pakaian yang pantas dan tertutup sebagaimana dianjurkan dalam syariat Islam. Pre-wedding photo, yaitu sesi perfotoan pra nikah yang akhir-akhir ini digandrungi para pemuda adalah tindakan yang jelas-jelas salah dalam perspektif ajaran Islam, apalagi foto-foto mesra dan tak senonoh kedua calon mempelai dilampirkan dalam undangan resepsi pernikahan. Lebih mengherankan lagi apabila dilakukan

dan direstui oleh tokoh panutan masyarakat dan agama. Sungguh ini tindakan bodoh dan memalukan! Para guru dan ustadz yang akan mengajar siswanya di kelas sesungguhnya merupakan kegiatan yang sakral. Rasulullah SAW menegaskan bahwa dirinya adalah seorang guru; “sesungguhnya aku diutus menjadi seorang guru”, “sesungguhnya aku tidak diutus melainkan untuk memperbaiki akhlak manusia” dan hadis-hadis lainnya. Maka, guru atau ustadz harus meluruskan niatnya sebelum mengajar yaitu semata-mata untuk ibadah. Maka, sebelum mengajar ia mesti menyucikan jiwanya terlebih dahulu kemudian berdoa kepada Allah agar dirinya diberi kemudahan dalam mengajar dan siswa diberi hidayah dapat menerima pelajaran yang disampaikannya. Hakekatnya hidayah mutlak dari Allah SWT saja dan Allah-lah yang memasukkan pemahaman kepada siswa, bukan guru. Metode, materi, dan alat peraga hanyalah penunjang yang bisa benar juga bisa keliru. Tetapi hidayah tidak akan pernah keliru. Seringkali terjadi gurunya baik siswanya tidak bisa menjadi baik. Tidak sedikit pula gurunya yang tidak baik, tetapi siswanya menjadi baik. Ba­nyak pula yang guru dan siswanya sama-sama baik. Itulah hidayah. Maka, dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa harus sama-sama memohon hidayah dari Allah;­sama-sama berdoa dan ikhlas, ikhlas mengajar dan ikhlas diajar, ikhlas mendidik dan ikhlas dididik. Setiap guru agar tidak lupa mendoakan siswa-siswanya kapan dan dimana pun, demikian pula para siswa agar senantiasa mendoakan guru-gurunya kapan dan dimana pun. Jangan sampai terjadi seorang guru pikirannya hanya­ terfokus pada gaji, karier dan sertifikasi. Pikirkan bagaimana caranya ilmu yang disampaikannya bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi siswa-siswanya untuk kehidupan masa depan di masyarakat. Demikian pula siswa, jangan hanya berpikir belajar untuk ujian, yang penting lulus, dapat ijazah, lalu dapat kerjaan, dan lain sebagainya. Melainkan pikirkan bagaimana ilmu yang telah diperolehnya bisa bermanfaat untuk orang banyak, berdaya guna dan bisa dikembangkan lagi untuk kehidupan yang lebih baik. Inilah bentuk sakralisasi dalam pendidikan. “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]:162)

Sekarang ini telah terjadi de­sa­ krali­sasi kehidupan. Padahal, da­ lam Islam semua aspek kehidupan bernilai sakral (suci).


َّ َ ْ ُ َ ْ َ‫َ َّ ي‬ ‫اجعون‬ ِ ‫ِإنا لهلِ ِ وإِنا ِإل ِه ر‬

Telah berpulang ke rahmatullah Ayahanda PUREK I ISID Gontor Ponorogo

KH. Imam Subakir Ahmad, MA. pada hari Rabu, 7 November 2012 di RSUD Madiun Semoga Amal ibadah beliau diterima dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT

َّ َ ْ ُ َ ْ َ‫َ َّ ي‬ ‫اجعون‬ ِ ‫ِإنا لهلِ ِ وإِنا ِإل ِه ر‬

Telah berpulang ke rahmatullah Redaktur Senior Koran Mini Tazakka

Ustadz H.M. Nur Said Ali Ridho, Lc, MA. pada hari Rabu, 7 November 2012 di RS. JIH, Yogyakarta Semoga Amal ibadah beliau diterima dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT

Selamat atas Kelahiran Ananda:

Yasin Muhammad Al-Fath

Putra Kedua dari Sunarto dan Cika Piliang (PT. Amrina Rosyada) Pada Hari Jumat, 19 Oktober 2012 / 13 Dzulhijjah 1433 H

REDAKSI

“Semoga menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orang tua, agama dan negara” Koran Mini Tazakka terbit atas ide, prakarsa dan kreatifitas para kader utama Pondok Modern Tazakka. Pelindung: Yayasan Tazakka. Penasehat: Anang Rikza Masyhadi. Pemimpin Umum: Anizar Masyhadi. Pemimpin Redaksi: M. Bisri Musthofa. Wakil Pemimpin Redaksi: Edi Buana. Redaktur Senior: Nur Said Ali Ridho, Yodi Indrayadi. Redaktur: Oyong Shofyan Bahar, Mukhtar Luthfi, Eva Maria Ulfah, Anisia Kumala Masyhadi, Maftuhah Nurbeti, Hakim As-Shidqi. Sekretaris Redaksi: Muhammad Syair. Redaktur Pelaksana: Zulfikar G. Priyangga, Ariawan Suputro, Richi Yuni F., M. Subhi Mahmassani, M Zainudin Akil, Ali Ramdhani, Henry Nur Rahmad, Bagus Setiawan, Rudi Nur Salam, Wahyu Nugroho,Ines Nur Afdhullah, Fauzi. Tata Usaha: Haris Adam Ishlahi. Distribusi: Eko Prapdiyanto, Afrudin. Desain Grafis: Eko Wahyu, Salman B. Setiawan, Inna Nur Mukhsinin. Alamat Redaksi: Pondok Modern Tazakka, Jln. Tazakka No.4, Desa Sidayu, Kec. Bandar, Kab. Batang, 51254. Telp. (0285) 689413, HP. 085743433232 (sms). Email redaksi: yayasantazakka@yahoo.com. Website: www.yayasantazakka.com.

Rekening Koran Mini Tazakka: Bank Muamalat 0109916033; Kospin Jasa 201120003434, a.n Yayasan Tazakka


daftar shohibul qurban di tazakka Sapi I • Kel. Kombespol. Drs. Ermayudi S. Banjarmasin Sapi II • Hj. Shinta Dewi Arini • dr. H. Prio Pratomo • H. Agung Wishnu Bharata, MM. • Hj. Gitta Maharti Endyartiwi • H. Hanafi Usman bin Rahmat • Icha Puspitaning Dewanti • H. Mukhlis Ariston

Jakarta Batang Batang Jakarta Jakarta Blado Pekalongan

Sapi III • dr. Hj. Ida Susilaksmi Batang • Williem Kristofer Bandar • H. Asyari Bandar • Hj. Mardiyah Bandar • Hj. Susmiati Masyhadi Bandar • dr. Hj. Maftuhah Nurbeti, MPH. Bandar • Hj. Anisia Kumala, Lc. M.Psi. Bandar

Sapi IV • H. Nadirin Tulis • Hj. Eva Hanifah Bandar • Hj. Nur Rahmah Bandar • Eni Sugihastuti Bandar • Hj. Eva Maria Ulfa, S.Ag., M.Si. Bandar • Ir. Budi Waluyo bin Sutoro Batang • H. Teguh Suhardi, BA. Weleri Kambing I • dr. Hj. Eny Susilowati, Sp.KK

Batam

Kambing II • BNI Syariah Pekalongan Kambing III • BNI Syariah Pekalongan Kambing IV • PT. Anneva Mulya Wisata

Jakarta

Terima Kasih atas Kepercayaan Bapak/Ibu dalam Menyalurkan Hewan Qurban kepada kami

“Semoga ibadah qurban Bapak/Ibu diterima Allah SWT, dan mendapat balasan dari Allah SWT, serta senantiasa dirahmati-Nya, dilapangkan rezekinya, dan dimudahkan segala urusannya.” Amin.


4

1

5

2

6

7

3

1. Kunjungan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA ke Pondok Modern Tazakka. (12/10) 2. Kunjungan Tim Tazakka ke Pondok Modern Darul Ma’rifat Gontor 3 Kediri dalam rangka studi banding. (1/10) 3. Ustadz Anang Rikza Masyhadi dan Ustadzah Anisia Kumala Masyhadi sedang mendampingi Prof. Dr. Miriam Ait Ahmed (President Association Morrocan Indonesia Brotherhood) dari Maroko dalam kunjungannya ke Indonesia.( 18/10) 4. Wakil Bupati Batang H. Soetadi, SH, MM memberikan sambutan pada kunjungan Wakil Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA ke Pondok Modern Tazakka. (12/10) 5. Kakanmenag Batang Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag. memberikan sambutan pada kunjungan Wamenag ke Pondok Modern Tazakka. (12/10) 6. Tim Tazakka bersilaturrahim kepada Pengasuh Pondok Modern Gontor Putri Mantingan, KH. Dr. Hidayatullah Zarkasyi, MA. (3/10). 7. Jamaah Haji yang tergabung dalam bimbingan Majelis Manasik Muzdalifah berfoto bersama di depan masjidil Haram Makkah usai menunaikan umroh. (18/10) www.yayasantazakka.com


PEMBANGUNAN ASRAMA II BUTUH rP. 2 M Pembangunan asrama II telah dimulai sejak awal November dan diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rp. 2 M. Saat ini sedang dalam tahap pondasi. Sedangkan pembangunan asrama I telah memasuki bulan ke-5 dan pengerjaannya pada tahap pengecoran dak lantai 2. Untuk asrama II rencananya terdiri dari 16 lokal dan ditargetkan selesai sebelum Mei 2013. Ketua­ Panitia Pembangunan H. Teguh Suhardi menargetkan pembangunan asrama dapat selesai dalam waktu­6 bulan, sehingga target pembukaan pondok pada tahun 2013 dapat tercapai. Menurut Teguh, dana untuk asrama II saat ini baru 10%, maka panitia terus-menerus mengajak kaum muslimin untuk berpartisipasi dan donasi. “Panitia optimis dana akan tercapai asal kerja keras dan ikhlas” tukas Teguh. Untuk asrama II Teguh mengaku pengerjaannya dilakukan swadaya dan swakelola, tidak lewat pemborong luar. “Ini semata-mata untuk efesiensi, dan kami sudah melakukannya di banyak tempat ternyata­bisa, mulai bangunan ponpes, rumah sakit, sekolah, dan lain sebagainya” ujar Teguh. Ariston selaku arsitek mengungkapkan bahwa secara desain tidak ada perbedaan dengan asrama I,­­sama persis. “Hanya ada sedikit pelebaran pada teras sesuai dengan arahan langsung dari Ustadz Anang” terangnya ketika ditemui di sela-sela rapat panitia. Ustadz Anang sangat berharap agar kaum muslimin semakin banyak yang berwakaf ke Tazakka. “Jika semakin banyak dana terkumpul, insya Allah Mei selesai semua.” Ungkapnya. (@ali)

TAZAKKA

REKENING WAKAF UNTUK PEMBANGUNAN PONDOK MODERN TAZAKKA

Bank Syariah Mandiri Batang 3970001111

Bank Syariah Mandiri Pekalongan (US Dollar) 0110106707

Kospin Jasa Syariah Pekalongan 101901000426

Kospin JASA Cab. Batang 203120000777


Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walau sebesar sangkar burung atau yang lebih kecil dari itu, maka Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.� (HR Ibnu Majah)

Masjid pada zaman Rasulullah SAW selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat menuntut ilmu. Maka, pada zaman sekarang ini, membangun sekolah, ponpes, laboratorium, perpustakaan atau yang lainnya, maka keutamaannya seperti membangun masjid sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW itu.


KMT 19 GAAN