Page 1

CMYK

8

SAMBUNGAN

SABTU, 26 JANUARI 2013

SSSI SMAN 4 Bukittinggi Gelar Tiga Iven Sekaligus Bukittinggi—Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) SMA Negeri 4 Bukittinggi menggelar tiga ivent sekaligus. Ketiga iven itu; lomba musikalisasi puisi, lomba bercerita dalam bahasa asing dan seminar menulis dan membaca. Direncanakan, budayawan Taufik Ismail akan hadir pada rangkaian kegiatan terse-

but. Menurut Lili Asnita, pembina SSSI SMAN 4 Bukittinggi, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan semangat membaca dan menulis di kalangan generasi muda dan guru. Selama ini, disadari atau tidak, generasi muda kurang berminat untuk menekuni mu-

sikalisasi puisi, bercerita serta menulis. Kegiatan ini terbuka bagi pelajar SLTP dan SLTA. Khusus untuk seminar kepenulisan, terbuka bagi guru SLTP dan SLTA se Sumbar. Kegiatan dilaksanakan bersamaan dengan peresmian gedung SSSI SMAN 4 Bukittinggi, dilaksanakan di

Senin (28/1) Ketentuan keikutsertaan, bagi siswa SMP, MTs, SMA, MA, SMK se- Sumbar membayar insert lomba Rp. 50.000, musikalisasi puisi diiringi dengan lagu atau musik. Puisi ditentukan panitia, yang diambil dari kumpulan puisi Taufik Ismail. (*)

Sungai Meluap, Pemukiman Terendam di Padang Cemas, Warga Mengungsi ke Tempat Lebih Aman Padang—Hujan deras disertai angin kencang Jumat (25/1) kemarin sekitar pukul 16.15 hingga 17.20 Wib, membuat debit air di sejumlah sungai dalam Kota Padang meluap. Akibatnya puluhan rumah dan pemukiman warga digenangi air dengan ketinggian sekitar 40 cm atau melebihi mata kaki orang dewasa. Warga pun terpaksa dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Pantauan Koran ini kemarin, hujan mulai mengguyur Padang dari pukul 16.15 hingga pukul 17.20 Wib dengan intensitas tinggi disertai angin kencang. Hujan lebat tersebut datang dari kawasan pebukitan, tepatnya di daerah hulu, seperti kawasan kampus Unand, Batubusuk, Bukit Ubi serta daerah Patamuan, Pebukitan Kampung Guo dan Belimbing. Akibat tingginya curah hujan di kawasan hulu tersebut, membuat debit air di sungaisungai semakin membesar, hingga membuat warga yang tinggal di daerah bantaran sungai jadi cemas. Hal itu terlihat di Sungai Batubusuk, hingga menuju Batang Kuranji, serta Sungai Kampung Guo dan Sungai di daerah Belimbing, Kelurahan Kuranji. Ketua RT 04 Batubusuak Sartami mengatakan, air sungai yang mulai membesar tersebut disebabkan derasnya hujan di kawasan hulu. Warga Batubusuk memang dibuat cemas dan khawatir dengan kejadian tersebut, namun kini warga bisa bernafas sedikit lega, lantaran sungai telah dipasangi batu baronjong.

MELUAP: Sejumlah sungai meluap di Kota Padang, seperti Batang Kuranji. “Air langsung besar datangnya dari kawasan hulu, namun ketinggian air tidak mampu mencapai pemukiman warga,” ujar Sartami. Selain itu disebutkanya, kebanyakan warga yang tinggal di bantaran sungai Batubusuk telah pindah mengungsi jika cuaca sudah mulai berubah. Hal itu dikarenakan warga sudah mulai trauma dan takut jika kejadian yang sama akan terulang. Hal yang sama juga dikatakan Haris M Jambak, warga Belimbing. Ia menyebutkan, hujan lebat yang mengguyur membuat debit air sungai Belimbing semakin membesar, sehingga membuat warga yang tiggal di kawasan bantaran sungai was-was. Sementara itu, tingginya debit air di kawasan hulu membuat luapan sungai di Kecamatan Nanggalo, merendam pemukiman warga di kawasan Perumahan Tabing Bandagadang, sekitar intek PDAM, Kampung Koto, Kelurahan Ta-

bing Bandagadang. Ketinggian air sekitar 40 cm, warga pun terlihat tegang dan panik, hingga sebagian dari mereka mengurai tangis dan mengemasi barang-barang berharga mencari tempat lebih aman. Sejumlah Personil Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kota Padang kasak-kusuk membantu warga, mereka turut dibantu Forum Kelompok Siaga Bencana (KSB) Kota Padang beserta RT, RW, Lurah dan Camat setempat. Nurcahya, 60, warga yang dulunya pernah menjadi korban banjir bandang mengaku trauma dengan kejadian itu, tangisnya tak kuasa ia tahan ketika air merendam pemukiman sekitarnya. “Saya sudah takut, dulu sudah dua kali kawasan kami ini terendam banjir bandang,” ujarnya. Asirman, 50, warga lainnya mengaku juga sangat cemas, ketika air mulai masuk hingga rumah warga di Tabiang Bandagadang. Begitu air mulai

masuk, ia langsung bergegas menyelamatkan barang berharga miliknya, agar tidak terendam banjir setinggi rumah yang terjadi pada 2012 lalu. “Ketika air mulai masuk ke rumah, saya langsung selamatkan barang berharga bersama keluarga dan mencari tempat yang lebih tinggi,” ujarnya. Sementara itu camat Nanggalo Afrizal yang mengetahui hal tersebut menghimbau masyarakat agar memcari tempat yang lebih tinggi dan jauh dari jangkauan air sungai yang meluap. “Untuk sementara masyarakat kita evekuasi ke kawasan lebih aman, sampai nantinya hujan dan air surut,” ujarnya. Disebutkannya, walau pun air telah mulai menyusut, namun warga tetap perlu meningkatkan kewaspadaannya guna mencegah terjadinya dampak bencana. “Kita menghimbau agar masyarakat tetap waspada,” katanya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kota Padang Budhi Erwanto kepada Koran ini mengatakan, seluruh warga yang rumahnya terendam air di kawasan Tabing Bandagadang sementara waktu telah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi, hingga nantinya air benar-benar surut. Disebutkannya tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut serta kerugian materil. Namun akibat kejadian tersebut warga mengalami trauma dan rasa takut,mengingatkan kejadian lampau. Lebih jauh disampaikannya, semakin membesarnya debit air di sejumlah sungai di Padang disebabkan curah hujan yang tinggi di kawasan pebukitan atau hulu sungai, sehingga air datang dengan intensitas tinggi secara tiba-tiba. [] RPG

Makin Dewasa, Kian Matang Sambungan dari hal. 1 Pada tahun ketiga berdirinya koran Padang Ekspres sudah mampu merajai bisnis surat kabar di Sumatra Barat.”Kita menjadi media referensi dan terbesar di Ranah Minang disebabkan selama ini memberikan informasi dan berita yang bernilai. Selain itu, keberhasilan Padek menjadi barometer koran harian di daerah disebabkan SDM dan manajemen yang baik serta memiliki oreintasi capaian target, baik dari tahap bulanan, tiga bulanan serta tahunan,” sebutnya. Zaili Asril menekankan Perusahaan Pers adalah perseroan yang dikelola dan memerlukan manajemen yang baik dalam pengelolaannya. Pencarian berita

hingga tahap cetak hanya mencakup 25 persen dari rantai usaha, sementara sisanya mencakup penjualan dan iklan yang notabene pemasukan untuk perusahaan. Kondisi ini mempertegas bisnis media merupakan bisnis yang dilakukan perusahaan dengan skala besar dan membutuhkan orang-orang yang profesional dibidang media. “Kedapannya tantangan Padang Ekspres semakin berat, baik persaingan oplah, dan iklan. Pada 2013 seluruh karyawan, wartawan harus disiplin dan bekerja keras serta melakukan efesiesi biaya demi kelangsungan perusahan lebih baik lagi,” tambahnya. Setali tiga uang dengan H. Marah Suryanto Deputi selaku COO RPG Padang yang juga

General Manager Padang Ekspres, menurutnya di tengah semakin dewasanya Padang Ekspres ditandai dengan berhasilnya melalui sederet rintangan dan tantangan bisnis media sehingga menjadi koran harian terbaik dan paling banyak dibaca di Sumbar. Ke depannya komitmen, loyalitas, totalitas dan kerja keras harus semakin ditingkatkan karena menurutnya, persaingan media ke depannya semakin berat dan menuntut kerja keras dan komitmen. Di tempat yang sama H. Maigus Nasir, ketua Bazda Padang di hadapan karyawan, wartawan dan perwakilan anak perusahaan di Sumatra Barat seperti Pos Metro Padang, Harian Umum Rakyat Sumbar, Padang TV, Padang Today dan

Tri Arga TV berharap dengan bertepatannya ulang tahun Padang Ekpres dengan peringatan Maulud Nabi bisa memberikan berkah bagi kelangsungan perusahaan ini ke depan, menjadi sarana penyampaian informasi yang dapat dipercaya.. “Nabi Muhammad adalah sosok pedagang yang menomorsatukan pembelinya, memberikan yang terbaik dan mengutamakan pelayanan terhadap pembeli. Hubungannya dengan Padang Ekspres hendaknya perusahaan ini mengadopsi cara yang sama, agar memberikan berkah terhadap masyarakat, khususnya Sumatra Barat. Tak lupa terhadap karyawannya juga,” sebut Maigus Nasir dalam Tausiah singkatnya. [] ARIEF KAMIL

Bunyi, Musik, Déjà vu

CMYK

Sambungan dari hal. 1 pucuk pergantian tahun, demi nasionalisme bebunyian juga bergemuruh mengisi bangkubangku stadion sebuah laga bola kaki. Di bulan Ramadan, bebunyian lebih semarak lagi, ketika perut dan nafsu manusia harus senyap. Segala bunyi, belum menjadi musik, sebelum mengalami transformasi secara neurologis dan interpretasi sehingga terbentuk bangunan pitch (nada harmoni), timbre (warna suara) dinamics (keras lembut) dan tempo (cepat-lambat). Tahap transformasi dari bunyi menjadi musik, disebut sebagai etape konstruksi pemikiran. Bahwa musik adalah hasil fikir, olah fikir dan batin manusia. Kemudian oleh bangsabangsa “petutur” (dengan P besar) seperti bangsa Melayu, musik malah ditimpa lagi oleh serangkaian kekuatan tutur dan gerak. Seakan tak rela dengan kekuatan ‘tuturan’ yang dihasilkan oleh sebuah musik, maka kita kemudian menimpali lagi mahkota bunyi itu dengan serangkaian perbuatan merendahkan bunyi dan musikalitas. Bangsa “petutur”memang tak siap menghargai ruangruang ekspresi di luar tradisi ‘tuturan’ mereka sendiri. Sebuah persembahan musik yang dihajatkan tampil groovy, teduh, sanggam dan berwibawa, malah direcoki oleh sejumlah gerak pembawa acara dengan kecenderungan sebagai pela-

wak, bergabung dengan busana pengantin etnikal, sehingga turunlah derajat musikalitas sebagai suatu bentuk ‘wahyu’ tentang kehadiran dan ada di muka Bumi ini. Musik dengan serangkaian majelis penampilannya, memang tak mendapat tempat di atas peterakna yang layak di muka bumi orang Melayu. Sudah jelas penampilan ini dilakukan oleh sebuah wilayah akademik, sejatinya dia hadir dengan pencerdasan akademis pula. Dia menjadi hippocampus atau pun meta campus demi memperkaya hippocampus otak kanan manusia. Ketika bunyi menjilat, kata dan gerak harus senyap. Sehingga bebunyian itu menghasilkan puisi bunyi, puisi musik. Bahwa puisi itu hukan milik sastra saja. Setiap puncak dari karya manusia adalah puisi. Puncak karya arsitektur dia berada pada maqam puisi arsitektur. Pucuk karya seorang koreografer merindukan puisi gerak (tari). Puncak karya ilmiah seorang ilmuan di sebuah labor, menjilat puisi teori atau puisi ilmu. Begitu pula dengan musik, yang berlari di belantara bunyi dan frekuensi, sebenarnya sebuah ikhtiar menuju pada puisi bunyi. Di sinilah orang-orang sastra dan teater harus belajar, makna dari karya puncak itu. Bahwa perjalanan eskatologis seorang sufi pun merindukan puncak maqam ruhani sebagai puisi spiritual. Ketika musik hadir dengan kesanggaman dirinya sendiri, maka

seni lain menepi lah! Biarlah dia berlari vertikal menuju pucuk puisi bunyi. Dia dijelaskan dengan serangkaian teori dan pakem bunyi di atas Bumi. Persembahan model begini, bukan sebuah festival yang harus disoraki dan ditepuk-tangani. Mereka tengah menyalin serangkaian “kemiripan misteri” di alam bebunyian, baik yang tersadai di masa lalu maupun yang tersangkut di masa depan. Mereka tengah bersemenda dengan peristiwa déjà vu dalam istana bebunyian, dalam kerajaan bunyi, di pucuk emporium bebunyian. ‘Kemiripan misteri’ itulah yang hendak dilayani dan dilayang oleh sebuah pementasan musik yang bukan festival itu. Jika tidak mengindahkan kaidah ini, maka pementasan musik itu, tak lebih dari peristiwa musik tenda belaka. Lalu bagaimana déjà vu? Psikologi menjelaskan ini sebagai suatu peristiwa pernah dialami, sejatinya tidak pernah. Plato, yang hidup 5 abad sebelum Masehi menjinjing tentang dualitas alam; alam idea yang sempurna dan alam materi sebagai bayang-bayang. Kita bergaul sehari-hari di alam bayang-bayang. Bagi Derrida dalam setiap déjà vu, terhidang sebuah ketegangan kecil antara kebaruan dan masa lalu, antara kejutan dan ingatan, antara perbedaan dan repetisi, antara masa kini dan masa lalu yang pernah hadir. Psikologi déjà vu (paramnesia, Yunani), terjadi ketika sensasi optik yang diterima

sebelah mata sampai ke otak dipersepsikan lebih dulu dari pada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat (optical pathway delay), tapi aliran optical ini dipatahkan, sebab orang buta bisa mengalami déjà vu, bahkan orang pekak pun mengalami déjà vu. Beethoven yang menggubah Für Elise sebagai surat cinta kepada seorang gadis, adalah sebuah persuaan seorang tuli dalam lorong déjà vu. Memberi ruang dan laluan kepada musik di tanah yang hendak mentabalkan diri sebagai pusat kebudayaan ini, adalah sebuah kerja besar. Kita harus membentuk penonton musik, bukan penonton opera, bukan penonton teater. Kita baru mengajak para penonton teater menjadi penonton musik. Bahwa musik dalam kerimbunan bunyi, adalah sebuah kiat kita melayani lorong déjà vu pada diri sendiri, menangkap dan menerkam segala bunyi dan ritmis yang seakan-akan pernah kita dengar, padahal sama sekali tak pernah didengar. Itulah ‘kemiripan misteri’ yang berada di alam idea, di alam penciptaan atas sana. Dan kita sebagai coCreator (sabahat) Tuhan dalam penciptaan ini, menangkap sinyal-sinyal ‘perjanjian primordial’ di awal penciptaan yang tersangkut di alam idea, termasuk alam bebunyian. Lalu, semua orang mengalami ekstase déjà vu. (***)

Longsor Terus Mengintai Pessel rakat yang kurang menyadari pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pessel, Doni Gusrizal kepada Koran ini Jumat (25/1) kemarin. Painan—Kawasan perbukitan Menurutnya, beberapa waryang memanjang di Kabupaten ga masyarakat yang sengaja Pesisir Selatan (Pessel) sudah membakar kawasan perbukitan mulai gundul, karena warga untuk dijadikan lahan pertasudah mulai menebang kawas- nian, adalah tindakan berbaan perbukitan dan dijadikan haya dan menimbulkan damladang pertanian, sehingga pak besar seperti kebakaran ancaman longsor dan banjir hutan dan bahaya longsor atau mengintai setiap saat. galodo. Warga membuka Seperti longsor lahan dengan cara di beberapa titik di Laporan: RPG menebang dan memPessel separti peJPNN bakar lahan. Akibatkan lalu di kawasnya kawasan perbu- rakyatsumbarpers@yahoo.com an Tambang, Kekitan menjadi guncamatan IV Jurai, dul, dan perbukitan yang dija- Limaugadang, Kecamatan IV dikan lahan perladangan dapat Nagari Bayang Utara dan besaja dilihat di sepanjang per- berapa lokasi lainnya, semua itu bukitan Pessel. diyakini disebabkan kawasan “Pessel sepanjang jalannya perbukitan tidak lagi memiliki merupakan kawasan perbu- tumbuhan besar yang mampu kitan. Namun sering terjadi menahan debit air. longsor akibat perilaku masyaAkibat tingginya curah hu-

Doni Gusrizal: Akibat Bukit Digundul jadi Ladang

jan, mengkikis tanah perbukitan dan terjadilah longsor. ”Untuk itu masyarakat hendaknya bisa meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan, karena kita tidak ingin bencana banjir dan longsor selalu mengintai warga yang berada di pinggiran bukit,” ujarnya. Dijelaskannya, kawasan bukit itu mesti dijaga dan dilestarikan, karena keberadaannya amat penting.Terutama mengantisipasi resiko tanah longsor. Apalagi perbukitan itu memiliki multi fungsi, salah satunya sebagai tempat penyelamatan bagi warga apabila terjadi bencana gempa diikuti gelombang tsunami. “Kita akan coba melakukan pendekatan dengan semua elemen masyarakat untuk secara bersama-sama memelihara hutan di lereng perbukitan. Jangan sampai hutan itu ditebang untuk perladangan, karena dapat menimbulkan bencana seperti tanah longsor,” ujarnya. (***)

Pemko Padangpanjang Didesak Bangun Pasar Ampera S: Tahap Awal, Penampungan Dibangun Investor Padangpanjang—Masyarakat mendesak Pemerintah Kota Padangpanjang segera merealisir pembangunan pasar yang telah mengalami penundaan bertahun-tahun. “Sudah saatnya kita memiliki pasar tradisional yang representatif pasca dua kali kebakaran tahun 2011,” kata Benny, salah seorang warga Kelurahan Balai-balai Padangpanjang, Jumat (25/1) kemarin. Menurutnya di bilangan pasar setempat,adanya pasar tradisional yang representatif dengan sendirinya akan meningkatkan kunjungan berorientasi meningkatnya pereko-

nomian masyarakat. “Pasar representatif, merupakan kebutuhan yang sudah mendesak bagi masyarakat Padangpanjang saat ini, sehingga pergerakan ekonomi akan terlihat,” jelasnya. Permintaan yang sama juga dilontarkan warga masyarakat lainnya,seperti Harry. Dia mengharapkan Pemko Padangpanjang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding golongan. Tidak hanya masyarakat Padangpanjang, para pengunjung ke daerah perlintasan ini juga mengharapkan kondisi pasar yang semakin hari semakin semrawut itu bisa ditata lebih baik. “Seharusnya kota ini memiliki pasar yang lebih nyaman dikunjungi, mengingat lokasinya di perlintasan Sumatera Barat, sehingga pengunjung

dari luar daerah bisa berbelanja dengan nyaman,” katanya. Pascakebakaran dua kali di tahun 2011, pasar tradisional Padangpanjang tidak lagi melihatkan wajah cerah. Bahkan ironisnya, transaksi jual beli pun semakin hari kian berkurang. “Kita tidak ingin kondisi yang saat ini semakin parah, karena adanya pergerakan ekonomi di suatu daerah tergantung dari kondisi pasarnya,” kata Yaldi Yarman,salah seorang pedagang. Pemerintah Kota Padangpanjang melalui Kepala Bagian Humas Ampera Salim mengatakan, keinginan masyarakat tersebut akan segera terealisasi. “Pemko saat ini sudah mulai merealisasikan keinginan masyarakat itu dengan tahapan membangun pasar penampungan melalui investor,” katanya. [] JON KENEDI

Ketua DPRD Pessel Tersangka Sambungan dari hal. 1 Menurut Hariyanto, keterlibatan politisi asal Partai Demokrat ini berdasar hasil keterangan dari sejumlah saksi. Dan dari hasil penyidikan pihak Reskrim, menyatakan adanya keterlibatan Mardinas dalam penggunaan dana perjalanan dinas fiktif DPRD Pessel tersebut ke berbagai daerah sebagai kunjungan kerja (kunker). Saat ini lanjut Hariyanto, Polres Pessel belum melakukan penahanan terhadap Mardinas selagi tersangka masih berlaku kooperatif kepada penyidik. Namun, bila berlaku sebaliknya, bukan tak mungkin penahanan akan dilakukan.

“Mardinas bukan saja pemain tunggal, sebelumnya pada tahun 2012, dua tersangka juga telah ditetapkan, yakni Sekretaris Dewan (Sekwan) Rahmad Realson dan Bendahara DPRD Afriyanti Belinda,” katanya. Namun, tersangka bisa saja akan bertambah kalau dari hasil penyidikan kemudian menemukan tersangka baru, karena disinyalir masih ada tersangka lain dari kasus ini. Karena menurut kepolisian, bisa saja para anggota DPRD Pessel lainnya terlibat. “Dari hasil penyidikan sementara, penyidik menghitung kerugian negara mencapai Rp1,4 miliar lebih. Namun, untuk pastinya menunggu hasil audit BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan),”

katanya. Berdasarkan UU 31/ 1999 Tentang Pemberantasan Korupsi, pasal 2, pasal 3, pasal 9 jo pasal 55 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. “Kemungkinan besar Ketua DPRD Pessel ini dikenakan pasal berlapis tersebut,” tambahnya. Sebelumnya, ketika dikonfirmasi Padang Ekspres (grup Rakyat Sumbar), Mardinas mengaku sudah tiga kali diperiksa penyidik tipikor sejak kasus itu bergulir ke ranah hukum setahun lalu. Terakhir, katanya, dia diperiksa penyidik pada 2 Januari lalu. “Tapi pemeriksaan itu hanya untuk mengkonfrontir sejumlah keterangan saksi yang diperiksa sebelumnya,” ungkap Mardinas. [] DIKY LESMANA

Kawasan Muko-muko Longsor Sambungan dari hal. 1 “Ketika shalat jumat tengah berlangsung, hujan turun cukup deras. Hanya berselang satu jam, tiba -tiba terjadi longsor,” ujar Walinagari Kotomalintang, M DT Palimo Tuo. Dugaan sementara, penyebab longsor itu karena di per-

bukitan terdapat kolam tumpukan air beserta material, seperti kayu- kayuan dan bebatuan. Sehingga ketika hujan lebat, kolam tersebut penuh dan airnya melimpah. “Kita memang menduga ada tumpukan air dan kayu- kayuan di atas bukit ini,” ujarnya lagi. Sampai berita ini diturunkan, para petugas dari BPBD

Agam dibantu personel Polres Agam dan warga masyarakat setempat terus berusaha membersihkan badan jalan dari material longsor yang menimbun. Sore kemarin, alat berat telah sampai di lokasi kejadian. Dan terlihat, Kapolres Agam AKBP Asep Ruswanda beserta unsur Muspika dan anggota meninjau lokasi musibah. (***)

Kayu TNKS Kembali Dijarah Sambungan dari hal. 1 Kapolres Solok Selatan, AKBP Djoko Trisulo melalui Kapolsek KPGD,AKP Adang Saputra kepada Rakyar Sumbar mengatakan, hasil temuan

kayu sebanyak 8 kubik itu akan diselidiki terus untuk mengetahui siapa pemiliknya. Adang menargetkan, patroli rutin yang dilaksanakan belakangan, bertujuan agar Kecamatan KPGD bersih dari praktik-praktik pembalakan liar.

Karena menurutnya, dengan bersihnya KPGD dari praktik pembalakan liar itu, akan mengurangi Kecamatan KPGD dari ancaman bencana banjir dan galodo kemudian hari. [] MAR AFRILIA

Restoran Harus Berbagi dengan Tamu... Sambungan dari hal. 1 “Jadi apa yang kami sediakan setiap harinya berdasarkan permintaan mereka. Dan biasanya berganti setiap harinya. Kami selalu berusaha penuhi dan sejauh ini tidak ada masalah,” katanya. Namun biasanya hotel selalu punya menu andalan. Kesempatan ini harusnya cukup baik untuk mempromosikannya.

“Kalau menu makanan dari kita ada juga. Tapi tetap juga kami koordinasikan. Misalnya ada yang tingkat kepedasannya melebihi dan tidak dibolehkan,” tambahnya. Sayangnya hotel ini tidak dilengkapi fasilitas kolam renang. Padahal sejatinya fasilitas ini dibutuhkan pemain untuk relaksasi. Begitu juga latihan fisik di kolam renang biasanya kerap dilakukan jika latihan libur. Akbar Bukhari mengakui

hotelnya saat ini belum dilengkapi fasilitas kolam renang karena memang pembangunan baru dilakukan untuk bulan Mei. “Awalnya saya memang tanyakan apakah timnas membutuhkan kolam renang” Karena memang kolam renang itu baru kami bangun untuk bulan Mei. Tapi mereka bilang hal itu tidak menjadi masalah dan saat ini belum membutuhkan itu,” kata Akbar. (***)


Rakyat Sumbar  

Rakyat Sumbar

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you