Issuu on Google+

SENIN, 24 SEPTEMBER 2012 / 8 DZULQAIDAH 1433 H

Dekat dengan Adly Fairuz dari hal 1

Dia menuturkan bahwa kedekatan itu makin kuat lantaran mereka berada di satu production house dan kerap syuting bareng. Jadi, mereka juga harus menjalani

promo bersama. “Kenalnya sih beberapa tahun lalu,” ujarnya. Nah, terus bersama itulah yang akhirnya menumbuhkan chemistry di antara keduanya. Apalagi, Mikha merasa cocok dan nyaman dengan Adly karena mereka

memiliki pola pemikiran yang sama. Adly dinilai mampu membangkitkan semangatnya yang moody. Menurut dia, Adly juga memberikan banyak masukan dan mengajarkan cara akting. (dim/c12/any/jpnn)

Digagas UN Tanpa Pengawas dari hal 1

tanpa pengawas ruang dan ternyata masih ada siswa yang belum jujur, Nuh yakin potensi curang makin tipis. ’’Jika setiap meja soalnya beda, apa mungkin saling contek,’’ tutur dia. Namun, Nuh menegaskan bahwa adanya 20 varian soal itu tidak berarti Kemendikbud bermaksud mempersulit peserta ujian. DIDUKUNG Gagasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan ujian nasional (UN) tanpa ada guru pengawas di setiap ruang ujian memunculkan tanggapan dari PGRI. Gagasan tadi digunakan untuk menjamin kejujuran UN. Diantara nada dukungan terhadap ga-

gasan UN tanpa menggunakan guru pengawas, keluar dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Induk organisasi profesi guru itu mengakui sampai sekarang publik masih menuding jika guru sendiri terlibat di lingkaran kecurangan UN. “Sudah kita fair saja. Mulai dari siswa, guru, kepala sekolah hingga kepala daerah selama pelaksanaan unas (UN) menginginkan tingkat kelulusan yang setinggi-tingginya,” tutur Ketua Umum PB PGRI Sulistyo saat dihubungi dari Jakarta kemarin (23/9). Namun, untuk mewujudkan tingkat kelulusan yang tinggi itu, kaidah-kaidah kejujuran telah rontok. Selama program UN berjalan, Sulistyo mengatakan ada mata

rantai upaya penekanan yang sistematis. Dimulai dari kepala daerah menekan kepala dinas pendidikan setempat. Kemudian kepala dinas menekan kepala sekolah. Selanjutnya, kepala sekolah menekan jajaran guru. Dan terakhir, tidak jarang muncul laporan dari masyarakat ada guru yang “membantu” siswa mengerjakan UN. Melalui pemutusan keterlibatan guru pengawas dalam pelaksanaan UN ini, otomatis di setiap ruang ujian hanya ada siswa peserta ujian dan soal ujian. Dengan demikian, satu mata rantai potensi kecurangan UN berhasil dihapus. Ditambah dengan variasi soal UN yang berbeda antar siswa dalam satu ruang ujian, potensi kecurangan semakin kecil lagi. (wan/ari)

Semalam Gudang Terbakar... dari hal 1

memastikan apa yang terjadi di gudang dan kandang ayam tersebut. ”Pas dilihat ternyata gudang dan kandang ayam saya terbakar,” ujar dia tadi malam. Aceng menyebutkan kerugian atas kebakaran tersebut belum bisa dipastikan nominalnya. ”Penyebab kebakaran juga belum bisa diketahui,” ungkap dia. Momo mengaku kebakaran gudang dan kandang ayam di lantai dua tersebut membuat panik warga setempat. Mereka

berhamburan keluar dan berjibaku untuk memadamkan api. Karena khawatir merembet ke atap-atap rumah warganya yang lain. Untungnya berkat kesigapan dan kerjasama masyarakat api bisa dipadamkan. Anggota tim pemadam kebakaran Kabupaten Tasikmalaya Dian menjelaskan armada yang dikirim sebanyak tiga mobil pemadam. Saat tiba di lokasi kejadian api sudah mengecil. Namun demikian, air tetap disemprotkan untuk mematikan arang-arang kayu yang masih

memercikan api. ”Hanya sebagai pendingin saja,” ungkap Dian. RUMAH TERBAKAR Di Ciamis rumah semi permanen ukuran 10X 12 meter milik pasangan Idi (65) dan Iin (52) , warga Maniis, Panawangan, Ciamis terbakar kemarin sore. Tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian material mencapai Rp 70 juta. Cece Mulyadi (45) tokoh masyarakat setempat mengatakan warga mencoba memadamkan api, namun tidak bisa sampai padam hingga rumah tersebut hangus. (snd/isr)

Nasi TO 18 Meter dari hal 1

Tasikmalaya itu disajikan sepanjang 18 meter. Sekitar pukul 17.00 seluruh karyawan dan owner Hotel Santika Tasikmalaya menyantap nasi TO itu dalam rangka perayaan ulang tahun ke-1 Hotel Santika Tasikmalaya. ”TO (Tutug Oncom) itu kan asli dari Kota Tasik. Jadi kita ingin mengembangkannya nanti seperti apa. Akhirnya kita kepikiran bikin TO (menyajikan TO) sepanjang delapan belas meter,” ujar Sekretaris GM dan Public

Relations Hotel Santika Tasikmalaya Feranika Ziely Freely, kemarin (23/9). Ajang makan bersama itu diharapkan bisa membangkitkan kebersamaan di antara karyawan dan seluruh managemen hotel hingga lebih giat dan semangat dalam bekerja. HIBURAN BERSAMA KAUM JOMPO Sebelum acara makan bareng, sekitar pukul 11.00 digelar hiburan bersama ibu-ibu dari Panti Jompo Welas Asih, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya di Ballroom Hotel Santika.

Dodo Sebut Dewan Cuci Gudang dari hal 1

dihubungi lewat sambungan teleponnya semalam. Dodo mengatakan belum adanya jadwal agenda rolling ketua komisi, karena menunggu hasil keputusan fraksi-fraksi. “Rolling anggota DPRD yang ada di komisi adalah keputusan masingmasing fraksi mereka. Terserah mereka mau mengadakan rolling atau tidak. Yang pasti jika semua sudah mengusulkan nama baru ada penjadwalan,” tutur pria yang menjadi anggota Komisi I DPRD Kota Tasikmalaya ini. Proses pemilihan alat kelengkapan, kata Dodo, dengan cara musyawarah politik atau voting oleh anggota alat kelengkapan di Komisi, Badan Kehormatan atau Badan Legislasi. ”Tujuan dari rolling itu dapat ada penyegaran untuk bisa meningkatkan kinerja dan semangat anggota di DPRD,” ujarnya. Politisi dari Fraksi PBR Zenzen Zaenudin mengamini akan adanya perombakan alat kelengkapan di DPRD. Dirinya pun selaku ketua komisi III saat ini menyerahkan sepenuhnya kepada para anggota komisi dalam menentukan ketua baru. ”Bisa jadi

saya diganti atau dipertahankan. Itu terserah teman-teman di komisi,” ungkap ketua Koalisi Masyarakat Madani (KMM) ini. Sebelumnya diberitakan Radar, dua pimpinan komisi telah mundur. Keduanya yakni Ade Ruhimat, ketua Komisi II dan Ahmad Dhuwaeni, ketua Komisi IV. Malah, Ade Ruhimat mengaku dalam proses mundur dari keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya. Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya Riko Oktora mengaku setelah Ade Ruhimat mundur, anggota Komisi II belum membahas pengganti Ade. ”Kita belum ada rapat komisi pasca mengunduran Pak Ade. Apalagi untuk kandidat itu masih jauh,” tuturnya Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya dr Wahyu Sumawidjaya MKes mengatakan dua ketua komisi yang mengundurkan diri ini sesuai dengan PP 16 tahun 2012 tentang tatib DPRD yang menyatakan bahwa setiap 2,5 tahun harus dilakukan penggantian alat kelengkapan agar bisa meningkatkan kinerja. ”Ini semua telah diatur dalam PP. Jadi semua ketua komisi dan alat kelengkapan lain akan dilakukan rolling,” tuturnya.

Masalah siapa pengganti para ketua komisi itu, kata Wahyu, diserahkan kepada anggota komisi masing-masing. ”Pemilihan ketua komisi itu menjadi hak para angota di komisi. Jadi bisa tetap dipertahankan atau diganti,” tuturnya. Adanya rencana pergantian di beberapa posisi di DPRD Kota Tasikmalaya mendapatkan tanggapan dari beberapa elemen masyarakat. Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Tasikmalaya Arif Abdul Rahman mengatakan adanya restrukturisasi pada alat kelengkapan di DPRD akan menambah spirit baru dalam kinerja DPRD kedepan. ”Saya harap adanya perombakan tersebut dapat dilihat dari kapasitas potensi personal yang akan mengisi,” ujarnya tadi malam. Ketua KNPI Kota Tasikmalaya Endang Rusyanto mengapresiasi akan adanya rencana perombakan alat kelengkapan di tubuh DPRD Kota Tasikmalaya. ”Semoga dengan nuansa baru dapat meningkatkan semangat untuk memperbaiki kinerja lebih baik lagi dan berharap perombakan ini tidak atas dasar politis,” tandasnya. (kim)

Calhaj Kloter 8 Diberangkatkan dari hal 8

orang jemaah kloter 8, 107 diantaranya dalah jemaah dari Kabupaten Tasikmalaya. Jemaah diantar langsung oleh Dadang dan kepala kemenag

hingga ke embarkasi. Jemaah asal Kota Tasikmalaya kata dia akan menempati maktab didua tempat. Yakni Sarimansur dan Jarwal. Jarak dari penginapan ke mekah hanya paling jauh 700

meter dari Sarimansur. Dan 1,5 kilo dari dari Jarwal. “Sekarang pemberangkatan ke Madinah dulu baru ke Makkah, dari Makkah kurang lebih dua kiloan (ke penginapan),” katanya. (pee)

Mantan Pejabat Kir Bantah Percaloan dari hal 8

2011 tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor telah dipasang di tempat pengujian kir. “Silahkan buktikan ada surat kuasanya dari para pengusaha. Yang mahal itu, kendaraan yang diuji kir ikut numpang pemeriksaan. Misalnya kalau ada plat D (nopol daerah Bandung) harus ada rekomendasi dari wilayah asalnya. Ya, itu memang aturannya,” ungkap dia. Yono menambahkan, pengakuan adanya calo dari kadishub-

kominfo merupakan kesalahan penyampaian penjelasan. Artinya penarikan uang sebesar Rp 15 sampai 20 ribu dari para sopir dan pengusaha merupakan tanda terima kasih kepada biro jasa. Tapi bukan kelebihan pembayaran pengujian kir kendaraan. “Uang itu bukan kelebihan yang harus dibayar konsumen. Tapi hanya keikhlasan dari mereka (sopir) tanpa ada paksaan dan keharusan. Juga tidak semuanya memberikan,” terang dia didampingi Kepala UPTD Pengujian Kendaraan Dishubkominfo

Otong Mengaku Tak Akan Lari dari hal 1

dengan PPP di pengadilan soal pemecatannya. ”Sekali lagi saya tegaskan bukan ingin mempertahankan jabatan. Tapi mestinya sebagai lembaga perwakilan rakyat harus bisa taat pada hukum,” ujarnya kemarin. Apalagi sebelumnya, kata Otong, Kementerian Dalam Negeri dan Pemprov Jabar menganjurkan agar DPRD tidak terlebih dahulu mengambil keputusan soal Otong sebelum adanya putusan peradilan. ”Mau dikudeta atau tidak, itu terserah. Saya tidak peduli. Namun saya tidak akan lari dari masalah ini dan berharap penyelesaiannya tidak secara politis,” ungkapnya. Sebelumnya, istilah “kudeta” muncul dari

Kota Tasikmalaya Pepen Efendi. Diberitakan sebelumnya, Kepala Dishubkominfo Kota Tasikmalaya H Aay Zaini Dahlan Atd, mengaku pihaknya siap membenahi internal dinas untuk mencegah praktik calo uji kir. “Sebetulnya kita sudah melakukan pembenahan. Kita sudah pasang spanduk (bertuliskan) Silakan Bayar di Loket. Kalaupun ada perantara kalau bisa jangan pakai perantara. Kalaupun ada orang kepercayaan tolong beritahu orang kepercayaannya,” ungkapnya. (kim)

Wakil Ketua DPRD Ade Lukman. Ade menolak wacana ketua sementara menggantikan Otong sebelum surat keputusan dari Gubernur Jabar tentang pencabutan SK-pengangkatan Otong turun. Terlebih kalau sekarang pimpinan DPRD menunjuk salah seorang sebagai ketua sementara, hal itu seolah mengkudeta Otong. ”Jadi tidak bisa saat ini ada pimpinan sementara. Nanti dikhawatirkan DPRD diangap telah mengkudeta Otong. Padahal secara aturan beliau masih berhak memimpin,” ungkapnya (21/9). Praktisi hukum Asep Rohendi mengatakan tidak yakin Gubernur Jabar akan mengeluarkan SK pemberhentian Otong dalam waktu dekat. Karena tidak mungkin gubernur memberikan keputusan tanpa menunggu hasil proses hukum yang sedang dilaksanakan.

”Artinya proses hukum yang masih berjalan tersebut akan dijadikan sebuah pertimbangan dalam menurunkan SK tersebut,” tuturnya. Pengamat Politik Tasikmalaya Asep M Tamam mengatakan masyarakat saat ini menunggu hasil kepastian yang cepat, efektif dan efisien dari segala permasalahan yang ada di DPRD. Dia berharap Otong Koswara bisa legowo. ”Masyarakat ingin kondusifitas menuju 14 November 2012 (pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya periode 20122017, red) tanpa masalah,” ujarnya kemarin. “Kinerja pemerintah tak akan terganggu dengan gonjang-ganjing DPRD, fokus menuju pergantian pucuk pimpinan harus bisa mencetak banyak prestasi di dinas masingmasing,” tambahnya. (kim)

Awas! Jangan Salah dalam Memandang Pasar dari hal 1

Kenapa? Karena orang sudah begitu mudah berada dan menyebar ke pulau-pulau yang ada di Indonesia ini. Itulah yang menyebabkan segmen Jawa tidak sama dengan segmen orang Jawa. Padahal, yang penting untuk disegmenkan memang orangnya, bukan tempat tinggalnya. Segmentasi secara demografis, segmen laki-laki dan segmen perempuan, dulu bisa efektif karena punya need and want yang jelas perbedaannya. Setelah ada gerakan emansipasi, perempuan tak mau kalah dengan laki-laki. Soal kerja, urusan di kantor, cara berpikir, soal kepraktisan, dan seterusnya. Maka, mereka bisa punya need and want yang sama. Bahkan, sampai pada ekspektasi dan persepsi yang sama pula. Perempuan perlu baju kantor yang mirip dengan baju laki-laki. Juga harus bisa rapat yang sistematis. Padahal, aslinya, perempuan perlu rok yang feminin serta suka ngobrol dan ngerumpi. Begitu juga kaum laki-laki, banyak yang ingin jadi metroseksual. Hobi shopping, pakaian modis. Karena sudah capek di

kantor. Karena itu, ada juga aspek maskulin di segmen perempuan. Juga, ada aspek feminin di segmen laki-laki. Kini segmentasi harus menggunakan pendekatan kekinian yang lebih canggih, yaitu yang bersifat psikografis dan behavioural. Misalnya, segmen quality, price, dan value tidak peduli orang-orangnya tinggal di mana dan demografisnya apa. Tapi, segmen quality memang terdiri atas orang-orang yang cenderung mencari kualitas ketimbang harga. Sedangkan segmen price sebaliknya. Segmen value mempertimbangkan keduanya secara seimbang. Dengan demikian, tiap-tiap segmen psikografis lebih homogen? Begitu juga segmen behavioural. Segmen heavy user pasti terdiri atas orang-orang yang sudah pakai sebuah produk dengan frekuensi tinggi. Segmen medium user tidak begitu tinggi. Sedangkan yang light user, frekuensinya rendah. Segmentasi jelas semakin dibutuhkan ketika kompetisi terus meningkat. Dengan demikian, tiap company nanti bisa memilih segmen mana yang dianggap cocok. Nah, kalau segmen itu sendiri sudah tidak homogen, percuma ada segmentasi.

Buat apa? Segmentasi geografis-demografis sering dipakai karena identifikasi orang-orangnya mudah walaupun kurang homogen. Sedangkan segmentasi psikografis-perilaku, walaupun lebih efektif, sulit pelacakan di mana dan siapa orangorangnya. Di era internet, orang bersikap inklusif, horizontal, dan sosial. Artinya? Orang mau saja berinteraksi walaupun berbeda secara demografis, apalagi geografis. Mereka tidak mempersoalkan jenis kelamin, bangsa, etnis, agama, usia, warna kulit dan pendapatan serta berada di borderless world. Pada segmen psikografis-behavioural yang berbeda pun sangat bisa terjadi interaksi. Karena itu, bisa saja terjadi pergeseran pada dua variabel tersebut. Yang quality jadi value, sedangkan yang value juga bisa jadi price. Begitu juga yang light user, bisa menjadi medium dan heavy setelah berinteraksi karena demonstration effect. Itulah rahasia makin tidak relevannya segmentasi karena makin gampangnya terbentuk community yang terdiri atas orangorang yang berinteraksi secara intensif. Inilah titik awal kelahiran era New Wave Marketing. Bagaimana pendapat Anda? (*)

Problem Susu Etawa di Bukit Menoreh dari hal 1

”Konsepnya jadi kita berbagi dengan panti jompo dengan tempat yang jarang tersentuh. Kalau perayaan itu kan biasanya di panti jompo, kita pilih diundang ke hotel,” tambah Ketua Panitia Acara Joko Prayitno Prawiro Putro. Kaum jompo sengaja diajak ke hotel, karena selama ini para donatur datang ke panti, namun untuk memberikan suasana lain, ibu-ibu yang usianya rata-rata diatas 60 tahun itu diajak menikmati suasana hiburan di dalam hotel. “Karena yang mereka butuhkan bukan cuma materi, tapi perhatian juga,” paparnya. (pee)

7

itu membuat saya ingin masuk Kota Purworejo. Akhirnya, saya baru masuk desa itu pukul 20.30. Sepi. Gelap. Pak Lurah Maryono pun tidak ada di rumah. Untung bisa dicari untuk segera pulang. Sudah lama saya ingin ke desa tersebut karena keistimewaan kambingnya. Tapi, tidak mungkin di kegelapan seperti itu saya bisa melihat di mana letak kecantikan kambing-kambing Sumowono. Maka, saya putuskan saja bermalam di desa itu. Baru pagi-pagi keesokan harinya keinginan melihat kambing istimewa tersebut terlaksana. Sambil menikmati hawa sejuk pagi hari di Bukit Menoreh. Malam itu, di rumah Pak Maryono yang belum sepenuhnya jadi, kami bisa ngobrol lesehan dengan beberapa penduduk yang memelihara kambing bantuan BUMN. Saya ingin melihat sendiri kenyataan di lapangan apakah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN itu benar-benar sebaik yang dilaporkan. Kian malam, obrolan kian menarik. Suguhan singkong goreng dan pisang rebusnya enak sekali. Apalagi, Bu Lurah Maryono juga menyuguhkan susu hangat dari kambing etawa, yang manisnya berasal dari gula aren produksi desa sendiri. Obrolan di lantai malam itu kian lengkap karena Pak Bupati Purworejo Drs Mahsun Zain tiba-tiba muncul ikut lesehan. Inilah obrolan yang penuh canda karena banyak juga membicarakan masalah seks! Terutama hubungan seks antarkambing. “Kalau terjadi hubungan seks di sini, pihak wanitanya yang harus bayar,” ujar Warman, seorang penerima bantuan kambing etawa BUMN PT Jasa Raharja (Persero). “Sekali hubungan Rp 50.000,” tambahnya. Waktu itu, 1,5 tahun lalu, Warman bersama 23 penduduk Sumowono menerima pinjaman dari Jasa Raharja Rp 15 juta masingmasing. Bunganya hanya 6 persen setahun. Tiap orang bebas menentukan strateginya sendiri. Boleh membeli lima kambing kecilkecil, boleh juga membeli tiga kambing yang sudah besar. Warman membeli tiga kambing etawa: dua induk dan satu calon induk. Sabtu kemarin, ketika saya di sana, kambing Warman sudah 14 ekor! Hanya dalam waktu 1,5 tahun. Warman termasuk warga yang cerdas dalam menentukan strategi mengenai jenis kambing yang harus dibeli dengan uang Rp 15 juta itu. Sama-sama dapat pinjaman Rp 15 juta, ada yang saat ini baru memiliki 10 kambing. Program tersebut memang sangat berhasil. Di antara 23 orang yang tergabung dalam kelompok Ngudi Luwih, tidak satu pun yang gagal. Semua kambing mereka berkembang. Semuanya mampu membayar cicilan pertama sebesar Rp 5 juta. Kalau toh ada yang belum memuaskan, program itu belum menyentuh penduduk termiskin di desa tersebut. Soal itulah yang kala itu kami obrolkan sampai malam: bagaimana penduduk termiskin bisa dientas lewat program yang sama. Menurut Pak Lurah, masih ada 100 KK (di antara 350) yang sangat miskin. Seratus KK tersebut kami kelompokkan: mana yang bisa segera ditangani dan mana yang harus tahap berikutnya. Ternyata, ada 40 KK yang bisa segera dibikinkan program yang sama. Pak Lurah bersama penduduk yang sudah terbukti mampu mengembangkan kambing sepakat untuk bersama-sama menuntun 40 orang itu. “Baik, Pak. Kami akan ikut membina mereka,” ujar Pak Lurah. Awalnya, bantuan tersebut ditawarkan kepada siapa saja di desa itu. Tentu harus untuk membeli kambing etawa. Sebab, memelihara etawa sudah mendarah daging di pegunungan itu. Sudah sejak zaman Belanda. Tapi, ternyata, mereka yang tergolong termiskin tersebut tidak mau mendaftar.

Mengapa? “Mereka pada takut. Takut punya utang dan takut tidak bisa mengembalikan,” ujar Pak Lurah. Tapi, setelah melihat banyak penduduk yang berhasil, sebagian dari 100 orang tersebut kini mulai berani. Misalnya Pak Habib Abdul Rosyid. Habib adalah imam masjid kecil di desa itu. Bacaan ayat-ayat Alquran-nya sangat baik. Habib hanyalah tamatan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), yang karena kemiskinannya tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih atas. Sehari-hari Habib (42 tahun) menjadi buruh tani, mencangkul atau mencari rumput. Habib juga memelihara enam kambing, tapi milik orang lain. Habib hanya menggaduh. Setelah salat Subuh yang dia imamnya, saya ngobrol lesehan dengan seluruh jamaah di teras masjid. Tentu obrolan mengenai kambing etawa. Habib tiba-tiba mengajukan diri untuk mendapatkan bantuan Jasa Raharja. “Mengapa tidak ikut kelompok yang pertama dulu?” tanya saya. “Waktu itu saya takut, Pak. Ternyata BapakBapak ini berhasil semua,” ujarnya. “Sekarang sudah berani?” tanya saya. “Berani, Pak. Saya harus berhasil. Saya harus maju. Dan lagi anak saya tiga. Sudah mulai ada yang masuk SMP. Sudah mulai memerlukan banyak biaya,” tambahnya. Habib juga segera ingin berubah. Dari memelihara kambing biasa milik orang lain menjadi memelihara kambing etawa milik sendiri. Kambing biasa, papar Habib, memerlukan makan sangat banyak. “Dua kali lipat dari kambing etawa,” tambahnya. “Kambing etawa hanya sekali makan. Kambing biasa tidak henti-henti makan. Menjelang tidur pun masih makan,” kata Habib. “Di musim kemarau seperti ini saya harus cari rumput sampai lima kilometer jauhnya,” tutur dia. SALON KAMBING Kambing etawa adalah kambing yang dipelihara bukan karena dagingnya, tapi karena kecantikannya. Tubuhnya tinggi (90 cm), besar, dan indah serta bulunya (khususnya bulu panjang yang tumbuh di bagian pantatnya) sangat seksi. Bentuk wajahnya manis seperti ikan lohan. Telinganya panjang menjuntai dengan bentuk yang mirip hiasan di leher. Memang orang memelihara kambing etawa karena harga jualnya yang tinggi. Satu ekor bisa mencapai Rp 10 juta. Mengalahkan harga kerbau sekalipun. Memang memelihara kambing etawa seperti memelihara ikan lohan atau burung cucakrawa: untuk hobi. Karena itu, peternak etawa harus amat rajin merawat kambingnya. Agar terlihat selalu cantik. Kalau perlu sesekali membawa kambingnya ke salon kambing. Pagi itu kebetulan lagi hari pasaran kambing etawa di Kaligesing. Pak Bupati, yang pagipagi kembali ke Sumowono, mengajak saya ke pasar hewan. Seru! Inilah satu-satunya bursa kambing etawa di republik ini. Pemilik etawa datang dari berbagai kabupaten. Menurut catatan pintu retribusi, lebih dari 700 ekor etawa yang ditransaksikan hari itu. Di tengah-tengah bursa itulah salon kambing dibuka. Pagi itu saya lihat banyak pemilik kambing yang antre: Ada yang ingin mempercantik tanduk kambingnya, ada pula yang ingin memotongkan kuku kambing mereka. Dari segi penyakit pun, hanya satu yang ditakutkan: kanker payudara. Karena itu, peternak harus rajin meraba-raba payudara kambing mereka. Begitu payudara itu terasa lebih panas dari suhu tangan yang meraba, haruslah segera disuntik. Kalau tidak, payudara itu akan mengeras, membiru, dan tidak sampai seminggu kambing akan mati. Apalagi, dalam setiap lomba, keindahan payudara termasuk yang dinilai. Kian indah payudaranya, kian mahal harga jualnya. Tapi, yang paling menentukan adalah kemampuannya memproduksi anak. Untuk itu, peternak harus hafal kapan kambingnya mulai berahi. Itu bisa dilihat dari kemaluan-

nya yang memerah atau kondisinya yang sepanjang malam gelisah, tidak mau tidur, dan terus mengembik. Kalau sudah begitu, peternak harus segera membawanya ke pejantan untuk dikawinkan. Betina yang lagi berahi tersebut dimasukkan ke kandang pejantan. Pemiliknya harus selalu mengintip. Itu untuk memastikan apakah perkawinan sudah terjadi. Biasanya tidak lama. Dalam waktu setengah jam, perkawinan sudah terjadi dua kali. Cukup. Betinanya segera dikeluarkan dan dibawa pulang. Tentu setelah membayar Rp 50.000. Setengah bulan kemudian, kalau belum terjadi tanda-tanda kehamilan, sang betina dikawinkan lagi. Kali ini gratis. Di satu desa Sumowono itu hanya ada tiga pejantan andal. Satu milik bersama di kelompok Ngudi Luwih. Yang dua ekor lagi milik perorangan. “Satu pejantan bisa melayani 40 betina dalam sebulan,” ujar Warman. Berarti satu pejantan menghasilkan uang Rp 2 juta sebulan. “Tidak boleh terlalu sering mengawini. Kualitas keturunannya bisa kurang baik,” tambahnya. Semua peternak mengharapkan kualitas kambing mereka baik agar harga jualnya kelak bisa tinggi. Tidak boleh juga habis mengawini satu betina langsung mengawini betina lain. “Pernah terjadi, yang diharapkan lahir kambing dengan kepala hitam, ternyata yang lahir merah,” kata Warman. Padahal, jantannya berkepala hitam dan betinanya juga berkepala hitam. “Ini karena jantannya baru saja mengawini betina yang berkepala merah,” ucap dia. ENTAHLAH Yang jelas, mayoritas peternak menginginkan bagian kepala sampai leher dan dada berwarna hitam. Batas warna hitam dengan warna putih di bagian tubuh kambing juga harus rapi. Telinganya juga harus hitam, yang panjangnya mencapai 30 cm. Untung-untungan seperti itulah yang membuat tidak semua peternak bernasib baik. “Ada peternak yang waris dan ada yang tidak waris,” katanya. Tentu saya akan meminta Jasa Marga untuk meneruskan program itu. Sampai yang 100 orang termiskin tersebut bisa tertangani. Desa itu memang sudah berhasil keluar dari status desa tertinggal, tapi 100 KK termiskin tersebut masih mengganjal. Apalagi, BUMN Hutama Karya juga sedang membangun jembatan yang roboh di desa itu dan sudah mengaspal jalan sepanjang 500 meter yang menanjak ke gunung. Tentu masih ada lagi yang belum memuaskan: susunya! Belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengoordinasikan susu kambing etawa itu. Penduduk memang sudah mulai biasa minum susunya, tapi belum sampai tingkat melakukan pemerahan tiap hari. Itu karena belum ada perusahaan yang bisa sepenuhnya menampung seluruh susu kambing etawa di Kaligesing. Padahal, di kecamatan itu terdapat 70.000 kambing etawa. Padahal, keistimewaan kambing tersebut sebenarnya karena kualitas air susunya itu! “Satu liter susu sapi hanya berharga Rp 6.000. Satu liter susu kambing etawa Rp 15.000!” ujar Agus Suherman, kepala bidang di Kementerian BUMN yang mengurus PKBL. Apalagi, minat ber-etawa terus meningkat. Pak Solikun, misalnya. Tahun lalu Pak Solikun memiliki enam ekor kerbau. Kini kerbau itu dia jual semua. Dia belikan etawa. Memelihara kerbau, kata dia, bukan main susahnya (ini saya benarkan karena waktu kecil saya juga sering memandikan kerbau). Padahal, harga seekor kerbau kalah dengan seekor etawa yang baik. Tak ayal bila di seluruh desa itu kini hanya tinggal lima ekor kerbau. Itu pun rasanya tidak akan lama. Kerbau akan segera hilang dari desa etawa tersebut. (*)


7 sam 24 sept