Page 1

JUMAT, 8 JUNI 2012 / 18 RAJAB 1433 H

Jadi Kabupaten Pariwisata dari hal 1

buku tersebut diulas tuntas sejarah dan mimpi-mimpi besar Pangandaran. “Manusia tidak ada yang abadi. Setelah Pangandaran ini jadi (kabupaten) kita tidak tahu bupatinya siapa, karena belum tentu ketua presidium. Mungkin saja orang baru yang tidak tahu awal perjuangan dan harapanharapan masyarakat. Karena itu, semuanya akan dituangkan di dalam Buku Biru yang sedang disusun dan akan diselesaikan setelah RUU Kabupaten Pangandaran disahkan,” tutur Ketua Presidium Pembentukan Kabupaten Pangandaran H Supratman BSc, kemarin (7/6). Buku Biru itu memuat semuanya tentang Pangandaran. Mulai dari sejarah terbentuknya presidium, proses perjalanan sepanjang perjuangan membentuk kabupaten baru, harapan dan konsep Pangandaran kedepan setelah menjadi Kabupaten sampai menjelaskan secara detail semua potensi yang ada di setiap wilayah. H Supratman mengatakan Buku Biru diharapkan menjadi

panduan bagi yang menjadi bupati dan wakil rakyat yang mengemban amanat rakyat. “Ekesekutif dan legislatif harus mengacu kesana nantinya agar tidak salah arah,” tuturnya. Mengenai gambaran seperti apa Pangandaran kedepan, pria berambut putih itu mengatakan Pangandaran harus menjadi kabupaten pariwisata, dimana semua sektor diberdayakan agar menghasilkan pendapatan dari segi wisata. “Pariwista merupakan primadona. Pangandaran dikenal dengan pariwisatanya. Saya mengharapkan Pangandaran menjadi salah satu kabupaten pariwisata pertama di Indonesia,” ungkapnya. Sektor pariwisata sebagai lokomotif utama pembangunan, menurut Supratman, akan jauh menguntungkan dan memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran, nanti. Nantinya, kata dia, tidak hanya masalah wisata alam dan budaya saja yang menjadi aspek wisata. “Semua aspek harus menjadi wisata. Mulai dari pendidikan, pertanian, perikanan dan lainnya. Semua diarahkan

bernafaskan pariwisata sehingga akan memiliki daya tarik untuk mendatangkan wisatawan,” tuturnya. LEBIH MURAH Membangun pariwisata, kata Supratman, jauh lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pembangunan di sektor lain. Dia mencontohkan, membangun sebuah kota/kabupaten industri akan lebih mahal anggaran yang dikeluarkan. Terlebih lagi dampak negatif terhadap lingkungan sekitar juga akan muncul. “Mengembangkan pariwisata itu tidak butuh modal besar seperti membangun pabrik,” tuturnya. Sumber daya alam Pangandaran yang eksotik, kata dia, Pangandaran hanya butuh penataan yang lebih serius dan mengedepankan pelayanan prima guna kenyamanan pengunjung. “Saya yakin Pangandaran bisa menjadi kabupaten pariwisata. Bahkan Pangandaran disiapkan untuk menjadi kabupaten pariwisata pertama di Indonesia. Tentu saja dengan dukungan semua pihak dan kemauan masyarakat Pangandaran sendiri,” tandasnya. (nay)

Tidak Ada Polisi Syariah dari hal 1

Saat ini Perwalkot masih dalam pembahasan dan kajian di bagian hukum Pemkot Tasikmalaya. Belum ada kepastian kapan turunan dari Perda 12 itu akan disahkan. Syarif pun bertanya-tanya, Perda Tata Nilai telah dibuat sejak tahun 2009 dengan tembusan ke Provinsi Jawa Barat dan dikonsultasikan ke Departemen Hukum dan HAM di Jakarta. Ketika itu tidak ada koreksi apapun dari Depkum HAM. “Ini sudah (sudah selesai) 2009. Saya aneh, kenapa ribut sekarang,” kata dia. Syarif juga telah mendapatkan kontak dari Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Raydonizar Moenek kemarin pagi. Kemendagri menanyakan tentang Perda Syariah yang dikabarkan akan diikuti dengan pembentukan Polisi Syariah di Kota Tasikmalaya. Pertanyaan itu dijawabnya dengan penjelasan bahwa tidak ada Perda Syariah. Yang ada, kata dia, adalah Perda Tata Nilai yang sudah disahkan sejak tahun 2009.

Hanya kata dia perda itu belum dibuatkan detail teknisnya melalui perwalkot. ”Tadi (kemarin) sudah nelpon dari Puspen Kemendagri, menanyakan bagaimana perda ini (Perda Nomor 12 tentang Tata Nilai, red). Saya bilang sudah ready dan sudah di Perda-kan. Cuma belum ada peraturan wali kotanya. Jadi secara teknis belum mendetail,” tuturnya. Dijelaskan Syarif, Perda Nomor 12 tidak memiliki sanksi apapun dalam pelaksanaannya. Realisasi dari perda tersebut hanya berbentuk imbauan untuk mentaati peraturan tata nilai, diantaranya tentang tata cara berpakaian yang rapi da santun. Isi perda, kata dia, tidak ada poin yang memaksa kepada masyarakat. Apakah untuk orang muslim itu diwajibkan pakai jilbab? “Dianjurkan. Diwajibkan boleh, pokoknya dianjurkan, kalau tidak juga tidak apa-apa. Tidak ada sanksinya sehingga banyak orang yang sinis sama perda ini, mandul katanya. Ya tidak apaapa yang penting ada komitmen,” papar Syarif. Permasalahan menyangkut agama dan keyakinan, kata dia, tidak bisa dipaksakan. Termasuk

dalam tata pelaksanaannya seperti dalam tata cara berpakaian orang muslim. Pemkot hanya bisa melakukan imbauan untuk mantaati tata tertib yang berlaku sesuai ajaran agama masingmasing. Perda 12, kata dia, bukan hanya berlaku untuk orang muslim, tapi termasuk penganut agama lain. “Kita tidak bisa paksa untuk orang menjadi beriman. Anak saya juga tidak bisa dipaksa, apalagi orang lain. Tidak ada pemaksaan, tapi menghimbau, mengajak,” jelasnya. Sebelumnya, Sekda Tio Indra Setiadi pernah menyebutkan dibutuhkannya Polisi Syariah untuk penegakan Perda 12 Tentang Tata Nilai. Namun sebelum itu perlu dikaji terlebih dahulu siap dan tidaknya masyarakat Kota Tasikmalaya mendapatkan peraturan seperti itu juga beberapa faktor lain seperti sumberdaya manusia dan organisasi pendukung untuk penegakan Perda Nomor 12. “Kita juga harus mempunyai pandangan-pandangan yang luas. Apakah kita sudah siap untuk penegakan Perda 12. Kan harus ada Polisi Syariah mungkin yah,” kata Tio waktu itu. (pee)

Young Guns versus Pengalaman dari hal 1

Demi target lolos perempat final, kemenangan atas Yunani pun sangat vital bagi Polandia. “Kemenangan dalam pertandingan pertama bakal memudahkan kami menjalani pertandingan berikutnya,” jelas Smuda. Banyak yang menilai kekuatan utama Polandia terletak pada trio pemain asal klub jawara Bundesliga, Borussia Dortmund. Yakni, striker Robert Lewandowski, winger sekaligus kapten tim Jakub “Kuba” Blaszczykowski dan bek kanan

Lukasz Piszczek. Namun, winger kiri Polandia Maciej Rybus memiliki opini berbeda. Rybus menyebut timnya juga diperkuat beberapa pemain yang punya kualitas karena bermain di klub besar. Di antaranya kiper Arsenal Wojciech Szczesny maupun gelandang serang Ludovic Obraniak yang memborong dua gol kemenangan Polandias atas Yunani dalam uji coba tiga tahun lalu. “Kami akan menunjukkan bahwa kami merupakan tim yang penuh kolektivitas,” tandas pemain 22 tahun tersebut.

Dari kubu Yunani, kapten tim Giorgos Karagounis antusias karena negerinya kembali mendapat kesempatan tampil dalam pertandingan pembuka Euro. Ketika memenangi Euro 2004, Yunani juga tampil dalam laga awal dan sukses mempermalukan tuan rumah Portugal 2-1. ”Selama kami percaya dengan potensi yang dimiliki, kami bisa meraih sesuatu yang signifikan. Delapan tahun lalu, kami mampu membalikkan semua prediksi. Kenapa tidak dengan tahun ini?,” tutur Karagounis di situs resmi UEFA. (dns/jpnn)

Calon Bidan Dilatih Table Manner dari hal 8

konsep-konsep table manner dan melatih hard skill dari mahasiswa Akpar (jurusan, red )Perhotelan,” terangnya. Kegiatan ini mendapat

respon positif dari pihak Poltekes. ”Saya menyambut baik dengan acara ini. Karena ini ada kaitannya dengan mata kuliah di Poltekes dan ada beberapa materi yang harus mereka pahami,” ujar Wiwin,

mahasiswi program studi kebidanan Poltekes. Dia mengaku, pelatihan ini baru pertama kali diikuti. Karenanya mereka mendapat tambahan ilmu, baik teoritis maupun praktik langsung. (mg3)

TNI Sukseskan KB dari hal 8

Danramil 1201 Kota Tasikmalaya, Kapten Inf Handriyono SPd, kepada Radar disela acara. Handriyono menjelaskan, KB bukan hanya berbicara masalah melahirkan. Tetapi ada yang jauh lebih penting, seperti masa depan anak, sebagai salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Kegiatan KB Kes ini, lanjutnya,

merupakan komitmen pemerintah dan TNI dalam menangani masalah kependudukan, yang setiap tahun jumlahnya mengalami peningkatan. ”Saya bukan hanya menghimbau kepada masyarakat saja, tapi juga kepada Prajurit TNI. Saya himbau untuk punya dua anak saja,” tegas perwira yang memiliki dua anak ini. Dia berharap, kegiatan KB Kes ini bisa berdampak positif dan

membuahkan hasil pada tahuntahun berikutnya. Sehingga impian keluarga sejahtera, sehat, dan mandiri di kalangan pegawai, prajurit, dan masyarakat dapat terwujud. Dia juga meminta pemerintah memberikan apresiasi kepada para peserta KB. Misalnya berupa uang dengan jumlah tertentu. Sehingga masyarakat terstimulasi untuk mengikuti KB. (na)

Yaa Bunayya Butuh Dukungan dari hal 8

dalam kegiatan belajar mengajarnya. ”Yang kurang, masalah peningkatan kualitas guru. Dari perintisan sampai sekarang, semua gurunya masih honorer,” keluh Mulyatin, disela kegiatan mengajarnya, kemarin (7/6). Tenaga pengajar itu sudah termasuk Mulyatin sebagai kepala sekolah. Sementara, jumlah anak yang belajar disana mencapai 50 orang. Mereka hanya digaji dari iuran anak-anak yang jumlahnya tidak terlalu besar. Untuk pembangunan sarana kegiatan belajar mengajar, sekolah mengandalkan donatur dari warga sekitar atau orang tua siswa. Di-

tengah segala keterbatasan itu, mereka tetap optimis dan bersemangat mengajar anak-anak. Mulyatin berharap pemerintah daerah bisa turun membantu keterbatasan sekolahnya. Sedangkan, Yayasan TK Yaa Bunayya baru lima tahun berdiri, dan kondisinya masih sama seperti saat perintisannya, lima tahun lalu. ”Harapan kami, pemerintah lebih memperhatikan. Dan juga mungkin peran serta para donatur ada. Dan yang terpenting masyarakat setempat. Ini juga sebagian besar (donatur, red) dari masyarakat sekeliling. Untuk tingkat kota mungkin belum,” paparnya. Siswa TK Yaa Bunayya punya prestasi cukup membanggakan,

seperti menjadi juara dalam beberapa perlombaan. Diantaranya meraih juara I dan II dalam kegiatan lomba mewarnai tingkat kecamatan, serta juara harapan II lomba mewarnai tingkat Kota Tasikmalaya. Prestasi para gurunya juga tak ketinggalan. Mereka tercatat pernah meraih juara harapan II lomba kreatifitas guru tahun 2011 lalu. ”Semua gurunya masih honorer. Jadi belum ada bantuan dari pemerintah,” tuturnya. Pagi hari kemarin (7/6), anakanak terlihat riang berlatih menari, menyanyi, dan bermain drum band. Kegiatan di sekolah itu tampak normal, kendati fasilitas sekolahnya terbatas. (pee)

7

Mimpi Besar Kabupaten Pangandaran dari hal 1

mengalahkannya. Malah, jika tidak ada aral melintang, maka dalam waktu tidak lama lagi Kabupaten Pangandaran akan terbentuk. Terlebih, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ganjar Pranowo mengatakan paling lambat Oktober 2012, Pangandaran bersama 18 daerah lainnya akan menjadi daerah pemekaran. Pergerakan masyarakat Ciamis selatan bukan tanpa alasan ingin memisahkan diri dari kabupaten induk, Ciamis. Pemekaran dianggap memberikan harapan baru menuju kesejahteraan yang lebih baik. Ketua Presidium Pembentukan Kabupaten Pangandaran H Supratman BSc mengatakan hal yang mendasari keinginan masyarakat Ciamis selatan memisahkan diri itu, karena terlalu luas wilayah Kabupaten Ciamis. Akibatnya, pelayanan terhadap masyarakat Ciamis selatan tidak optimal. Banyak infrastruktur jalan rusak sulit terdanai karena terlalu banyak beban yang harus ditanggung Pemkab Ciamis. “Terjadi inefisiensi anggaran, potensi di daerah juga tidak tergali optimal, karena itulah pemekaran menjadi solusi agar warga Ciamis selatan bisa lebih sejahtera, “ ujarnya. “Saya optimis dengan mandiri, wilayah Ciamis selatan bisa lebih maju di segala bidang,” tambahnya. Aspirasi pemekaran diawali dari mimpi sekelompok kecil masyarakat yang haus akan perubahan. Awal Februari 2007 — setelah masyarakat Ciamis selatan berduka usai digempur Tsunami Juli 2006— menjadi titik awal perjuangan masyarakat Ciamis selatan memisahkan diri. Saat itu, sejumlah tokoh di selatan, seperti H Supratman, H Adang Hadari, H Iyos Rosbi, Ino Darsono, Ikin Sodikin, Andis Sose, Tudi Hermanto serta Alm Sony Agustiana berkumpul di rumah H Supratman di Kampung Gembor, Desa Cikemulan, Kecamatan Sidamulih. Pertemuan mereka untuk menyamakan misi. “Saat itu kami membicarakan tentang keluhan masyarakat di Ciamis selatan terutama masalah infrastruktur dan pelayanan yang kurang maksimal sehingga dibutuhkan pemikiran, dari sanalah muncul semangat kebersamaan untuk memperjuangkan pemekaran. Kami kemudian membentuk panitia kecil pada saat itu, yang dengan ketua H Supratman, saat itu belum terbentuk presidium,” tutur Sekjen Presidium Andis Sose, kemarin (7/6). Geliat semangat tim kecil itu kemudian ditindaklanjuti dengan menggelar pertemuan yang lebih besar, 24 Februari 2007. Hotel Mustika Ratu milik H Iyos Rosbi menjadi saksi sejarah terbentuknya presidium pembentukan kabupaten Pangandaran. Bukan hanya panitia kecil yang hadir, ada sekitar 25 tokoh dari berbagai kalangan yang turut serta memantapkan tekad berpisah dari Ciamis.

“Dalam pertemuan itu kami menyamakan persepsi dan menyatukan misi mewujudkan pemekaran. Lalu nama presidium dilegalkan menjadi wadah aspirasi memperjuangkan keinginan memisahkan diri dari Ciamis,” tutur Andis. Perjuangan semakin menggelora. Presidium terus menggalang persatuan warga Ciamis selatan. Saat itu, disepakati 11 Kecamatan yang diusulkan bergabung membentuk daerah Otonom Baru (DOB), diantaranya Banjarsari, Padaherang, Mangunjaya, Kalipucang, Pangandaran, Sidamulih, Parigi, Cigugur, Cijulang, Cimerak dan Langkap Lancar. Namun dalam perjalanannya, Kecamatan Banjarsari mengundurkan diri karena tidak tercapai kesepahaman dengan warga di kecamatan yang lain. “Warga Banjarsari menginginkan pusat pemerintahannya berada di sana dengan nama Kabupaten Kawasen, karena menurut sejarah di sana pernah berdiri kerajaan Kawasen. Namun hal ini ditolak masyarakat dari kecamatan yang lain. Akhirnya mereka lepas,” cerita Andis. Presidium kemudian menindaklanjuti pertemuan yang lebih besar lagi pada Juni 2007. Saat itu sekitar 250 orang perwakilan warga dari setiap kecamatan berkumpul di Balai Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran. “Kita semakin membulatkan tekad di sana. Semua sepakat untuk memisahkan diri dari Ciamis,” ungkapnya. Setelah mendapatkan dukungan besar dari masyarakat. Presidium semakin percaya diri melangkah. Kemudian, muncul ide mendeklarasikan perjuangan presidium itu pada tanggal 17 Juli 2007, waktu peringatan setahun usai tsunami yang meluluhlantahkan pesisir pantai selatan. “Tanggal 17 Juli menjadi sejarah bangkitnya warga Ciamis selatan. Ada sekitar 20 ribu warga yang hadir saat itu. Presidium dideklarasikan dengan doa yang dipimpin langsung oleh UJ (Ustadz Jefry). Warga sepakat Pangandaran menjadi kabupaten,” Kata Andis. Setelah dilakukan deklarasi, presidium mulai bergerak melakukan upaya mengajukan keinginan membentuk daerah otonom baru. Awalnya, Pemerintah Kabupaten Ciamis menanggapi dingin. Namun, perjuangan presidium tak terputus sampai di tingkat pemda, mereka kemudian melangkah melakukan lobi politik melalui elite politik di tingkat pusat. “Semangat kami mendapat dukungan yang luar biasa dari Ketua Panja Pemekaran Bapak Eka Santosa yang saat itu menjabat Ketua Komisi II DPR RI. Beliau lah yang pertama memperjuangkan kami di tingkat pusat sehingga muncul hak inisiatif pemekaran Kabupaten Pangandaran,” tutur Andis. Presidium terus bergerak. Study banding ke Kota Banjar pun dilakukan dengan harapan perjuangan Kabupaten Pangandaran bisa terwujud seperti Kota Banjar yang lebih dulu memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Sebagai salah satu syarat dimekarkan,

Pangandaran harus dikaji terlebih dahulu. Sekitar tahun 2008, presidium meminta bantuan para akademisi dari Unpad dan Unigal melakukan pengkajian akademis pemisahan Pangandaran dari Ciamis. “Waktu itu tim dari Unpad dipimpin langsung Profesor Dede Maryadi. Hasilnya kami tercengang karena Pangandaran dinyatakan tidak layak (dimekarkan, red),” tutur Andis. Merasa penasaran dengan hasil kajian itu, presidium kemudian mengecek kepada tim pengkaji. “Kami datang ke Bandung dan menanyakan apa yang menyebabkan Pangandaran tidak layak dimekarkan. Mereka kemudian menjelaskan ada 11 sektor yang mereka kaji. Salah satunya segi ekonomi yang menurut mereka tidak layak. Ternyata setelah kami selidiki mereka melakukan kajian dengan data di tahun 2006 yang pada saat itu ekonomi masyarakat Ciamis selatan terpuruk paska tsunami,” tutur Andis. Andis mengatakan, presidium kemudian meminta dilakukan kajian akademis kembali dengan data terbaru. Hasilnya Pangandaran dinyatakan layak untuk membentuk Daerah Otonom Baru (DOB). Langkah perjuangan semakin terbuka lebar, lambat laun, Kabupaten Ciamis dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ciamis terbuka. Mereka pun menyatakan dukungannya terhadap usulan pembentukan Kabupaten Pangandaran. Dukungan juga datang dari pemerintah Provinsi Jawa Barat dan DPRD dan fraksifraksi di DPR RI. Keberhasilan usulan pembentukan Kabupaten Pangandaran merupakan perjuangan penuh pengorbanan para tokoh presidium. Mereka bahkan rela merogok uang saku sendiri bernilai ratusan juta demi memperjuangkan aspirasi masyarakat Ciamis selatan. Ketua Komisi II DPR RI Agun Gunandjar Sudarsa mengaku membentuk daerah otonom baru tidak semudah membalikan telapan tangan. Oleh karenanya, kata dia, kerjasama dari semua pihak terkait untuk mempercepat lahirnya kabupaten baru. Agun sangat memberikan apresiasi terhadap perjuangan presidium yang dengan sabar menempuh semua persyaratan administratif. “Semua persyaratan sudah ditempuh dengan baik oleh presidium. Tidak ada yang kurang,” tuturnya beberapa waktu lalu. Diberitakan Radar sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ganjar Pranowo Komisi II mengatakan, “Kalau saya hitunghitung Oktober paling telat (disyahkan, red),” ujar politisi PDIP itu. Ganjar mengaku optimis UU 19 DOB dapat ketuk palu sebelum 2012 berakhir. “Jaminan atau tidak hanya Tuhan yang tahu. Tapi kalau bicara pengalaman pemekaran dulu, kalau sudah keluar begini, ya jaminan. Kita tidak tahu bagaimana DPR yang sekarang karena semua belum punya pengalaman pemekaran,” urainya. (nay)

Membacok karena Jengkel dari hal 1

dia satu hari sebelumnya, sekitar pukul 08.00 sempat mendatangi rumah Iin yang dipakai Teti menetap dalam 40 hari terakhir. Dia saat itu sempat membujuk Teti pulang. Namun, perempuan yang sudah dinikahinya 20 tahun itu menolak pulang. Teti malah tetap ingin diceraikannya. NS pun pulang. Sekitar pukul 20.00, masih di hari Selasa, dia kembali lagi ke rumah kakak iparnya yang didiami istrinya. Namun, dia tidak masuk. NS hanya mengintip dari balik bilik. Biasanya, jam 20.00, istrinya berangkat ke pengajian. Namun saat itu, kata dia, Teti malah sedang memainkan hape di ruang tengah sambil nonton TV. “Saya curiga SMS tersebut dengan lelaki lain. Walau memang belum melihatnya (pria itu, red),” paparnya yang mengaku menendang bilik rumah kakak iparnya itu. Diberitakan sebelumnya, Iin menceritakan bahwa NS menendang bilik rumahnya sebelum tragedi pembacokan. NS mengaku masih kesal dengan istrinya yang kerap meminta cerai. Permintaan cerai itu, duganya karena istrinya memiliki pria idaman. Terlebih banyak yang mengabari NS bahwa pacar istrinya itu tukang ojek. Meski begitu, dia belum pernah melihatnya. Rasa jengkelnya memuncak. Rabu (6/6) sekitar pukul 05.00, dia pun membawa arit dari rumahnya—yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah Iin. Dia berniat membacok istrinya. Dia berpikir, karena dia menganggur, istrinya meminta cerai akibat

tidak bisa menafkahinya. “Memang saya akui sering menganiaya, namun dilakukan karena kesal. Dia sering terus minta cerai. Apa mungkin karena saya sudah jadi pengangguran,” ceritanya. NS mengaku sudah enam tahun berhenti bekerja menjadi tukang rongsok di Jatayu Bandung. ”Bila memang kenyataannya seperti itu (Teti minta cerai, red). (Walau) saya sudah di penjara, akan saya kabulkan dan menyeraikannya,” terangnya yang menyesal telah membacok istrinya. Meski demikian, dia akan menerima apapun hukuman kepadanya. Dia mengatakan setelah nanti melewati masa hukuman, dia akan pulang kampung ke Sukamantri Kabupaten Ciamis. “Saya akan menjadi petani saja,” pungkasnya. Akibat perbuatannya terhadap istrinya itu, NS terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Kami kenakan kepada tersangka itu Pasal 44 UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ancaman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun penjara,” ujar Kapolsek Panjalu AKP Deny Syarif Rabu (6/6). Sebelumnya diberitakan Radar (7/6), menjelang pukul 05.00, Rabu (6/6), NS datang ke rumahnya. Saat itu, Iin dan Teti berada di dapur sedang memasak. NS yang telah berada di dalam rumah Iin kemudian mengajak Teti ke kamar tengah. NS ingin membicangkan sesuatu. Lima menit berada di kamar tengah, tibatiba Iin mendengar adiknya berteriak minta tolong. Mendengar terikan, Iin pun langsung

menuju kamar tengah. Namun pintu kamar dikunci dari dalam. Khawatir adiknya menjadi korban penganiayaan NS, Iin kemudian mendobrak pintu kamar hingga terbuka. Saat itu kamar gelap, karena lampunya dimatikan. Karena menjelang pagi, meski gelap, Iin mampu melihat tubuh adiknya di atas kasur sambil memegang kepala. Dia kesakitan. Meski begitu, Iin belum mengetahui bahwa adiknya itu menjadi korban pembacokan. EKONOMI Dalam kesempatan berbeda, Wakapolri Komjen (Pol) Drs Nanan Soekarna mengatakan pelaku kejahatan konvensional hampir 50 persen disebabkan oleh pengangguran. Untuk itu Polri memiliki program Polisi Peduli Pengangguran (Poligur) yang pertama kali dirintis Polda Jabar melalui Polres Ciamis. Diharapkan Poligur mampu menekan angka kejahatan konvensional yang motifnya dilatarbelakangi masalah ekonomi. ”Polisi ingin tampil sebagai pengayom bagi rakyat dan inspirator menghilangkan gangguan, terutama bagi pengangguran,” ujar Komjen Nanan Soekarna saat melaunching program Poligur di PT Tanjung Mulya Perkasa (TMP) Milik H Enceng di Dusun Cikuda Desa Tengger Kecamatan Sukamantri, Ciamis kemarin (7/6). “Salah satu akar masalah terjadinya gangguan kamtibmas adalah pengangguran. Dengan program ini diharapkan angka pengangguran bisa ditekan dan angka kejahatan menurun,” ujar mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini. (isr/yna)

Penjala Ikan Tewas Tenggelam di Ciwulan dari hal 1

sehingga tercebur ke sungai. ”Karena dia (Hendra, red) tidak bisa berenang akhirnya tenggelam,” ujarnya kepada Radar tadi malam. Saat menjala ikan, Hendra bersama rekan sekampungnya, Ohid. Kemudian polisi dan tim SAR dari Forum Relawan Bencana Tasikmalaya mencari

Hendra. Akhirnya jasad Hendra dapat ditemukan sekitar pukul 21.45. ”Mayat ditemukan di lokasi pertama tempat menjala di kedalaman sekitar 6 meter,” kata dia. Koordinator lapangan pencarian Hendra dari Forum Relawan Bencana Tasikmalaya Septian Hadinata mengatakan pencarian jenazah berlangsung selama tiga jam. ”Jumlah relawan yang diterjunkan sebanyak 15

orang,” kata dia tadi malam. Akhirnya, kata dia, jasa korban bisa ditemukan oleh masyarakat yang melakukan penyelaman di sungai. Jasad korban pun langsung diangkat dan dibawa ke mobil SAR. Tim SAR dari Forum Relawan Bencana Tasikmalaya kemudian membawa jasad Hendra ke tempat tinggal Hendra di Kampung Samende. (snd)

Pasien Nyaman Ditangani Dokter Ahli 24 Jam dari hal 1

kembali sempurna. Menurut dokter, tangan Brian harus dioperasi lagi setelah dia berumur 10 tahun. Namun, saran itu tak dilakukan keluarga Brian lantaran ketiadaan biaya. Hingga akhirnya pertengahan April lalu, Yenni mendapat kabar dari kerabatnya di Jakarta tentang rencana kedatangan USNS Mercy ke Manado. Kabar itu lalu dipastikan ke Dinas Kesehatan Kota Manado. Hasilnya, Brian bisa didaftarkan menjadi pasien di kapal buatan 1975 tersebut. USNS Mercy tiba di Teluk Manado pada Kamis (31/5). Kapal yang didesain sebagai rumah sakit terapung itu mengangkut 1.215 penumpang, termasuk awak kapal. Mereka adalah personel Angkatan Laut Amerika (US Navy) beserta tim medis dari sejumlah negara. Di antaranya, AS, Australia dan beberapa negara yang berpartisipasi dalam Pacific Partnership itu.

USNS Mercy memiliki panjang 272 meter. Ukuran tersebut lebih panjang jika dibanding lapangan sepak bola, sedangkan lebarnya mencapai 32 meter. Kapal berwarna putih dengan simbol palang merah di lambungnya itu dulu merupakan kapal tanker atau pengangkut bahan bakar minyak. Pada 1986, kapal tersebut diserahkan ke pihak militer AS dan selanjutnya difungsikan sebagai rumah sakit terapung. Dari luar, kapal sembilan lantai itu tampak seperti kapal laut biasa. Namun, ketika masuk di dalamnya, kondisinya sangat berbeda. Gambaran atau suasana kapal berubah menjadi rumah sakit lengkap dengan ruang observasi, ruang operasi, hingga ruang perawatan. Untuk masuk ke dalam kapal, ada prosedur yang harus dilalui tamu dari luar maupun awak kapal. Yakni, screening kesehatan lebih dulu. Bahkan, jika ditemukan kejanggalan seperti batuk-batuk atau pucat, petugas medis akan memeriksa lebih detail dengan

menggunakan X-ray. Semua itu ditujukan untuk menjaga kondisi di dalam kapal tetap steril dari wabah penyakit. Setelah dinyatakan steril, pengunjung atau pasien diizinkan masuk melalui lorong di sisi kapal. Dari lorong itu, pengunjung diarahkan menuju ruang pelayanan. Di ruang tersebut, tim medis sudah siap. Mereka langsung menyambut pengunjung dan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan. Hebatnya, USNS Mercy termasuk rumah sakit yang superlengkap. Bahkan, rumah sakit itu tidak kalah lengkap oleh rumah sakit di Indonesia. Setidaknya, ada 12 ruang bedah dengan 14 dokter ahli yang siaga 24 jam. Jumlah itu belum termasuk dokter-dokter muda yang ikut dalam proyek kemanusiaan dari sejumlah negara, termasuk dari Indonesia. “Kami mengirimkan beberapa dokter untuk berbagi pengalaman dengan dokterdokter AS maupun negara lain,” kata Jamerson, komandan USNS Mercy. (*/c5/ari)

7 sam 8  

Lukasz Piszczek. Namun, winger kiri Polandia Maciej Rybus memiliki opini ber- beda. Rybus menyebut timnya juga diperkuat beberapa pe- main y...