Issuu on Google+

SELASA, 29 MEI 2012 / 8 RAJAB 1433 H

Pesan Kopi Lalu Menjambret dari hal 1

sudah ada kejadian penjambretan, saya masih tetap harus berjualan,” ujar nenek yang menjaga warung milik cucunya itu. Saat dihubungi, kemarin, Kapolsek Banjar Kompol Bambang Riyadi melalui Kanitreskrim Aipda Mamat Abidin mengaku sampai kemarin belum mendapatkan laporan adanya penjambretan dari Bimasri. Ditemui terpisah H Eman tokoh masyarakat Pamongkoran menjelaskan saat ini warganya resah akibat adanya penjambretan. “Saya khawatir kalau ini masih tetap dibiarkan, (penjambretan, red) akan merajalela,” terangnya kemarin. DIBURU Sementara itu tersangka pelaku penjambretan di Kampung Biru Desa Duedeul Kecamatan Taraju pada Sabtu (26/5), hingga kemarin (28/5) masih diburu anggota Polres Tasikmalaya. Perburuan salah satu tersangka dari tiga pelaku penjambretan sudah sampai tempat tinggal As di Bandung. Hal ini diungkapkan oleh Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Iptu Yuliansyah SH kepada Radar melalui sambungan telepon tadi malam (28/5). Kasat menjelaskan anggota Satreskrim Polres Tasikmalaya

saat melakukan perburuan ke rumah As di Bandung, namun As sudah tidak ada di rumahnya. Begitu juga dengan istrinya sehingga hingga kemarin jejak As belum bisa diketahui keberadaannya. ”Menurut informan kami di sana As sudah pindah rumah dengan istrinya,” kata Kasat. Meskipun demikian, jelas Yuliansyah, pihaknya tidak akan terus melakukan perburan tersangka yang menjadi DPO itu. ”Masih dalam penyelidikan dan mengembangkan informasi-informasi,” jelasnya. Sementara, kata dia, mengenai penjambretan yang dilakukan di rumah warga itu, tidak ada pergesaran target penjambretan pelaku kejahatan yang biasanya dilakukan di tempat keramaian ke rumah-rumah warga. Menurut pengakuan dua tersangka yang sudah ditangkap sebelumnya pada Minggu (27/5), tersangka UN (27) dan DIHA (25), mereka melakukan penjambretan tidak pilih-pilih tempat. Tetapi bila ada kesempatan maka mereka menjambret. ”Mereka hunting dulu mencari sasaran. Kalau sudah ditemukan sasaran penjambretan di manapun berada, baru mereka melakukan aksi,” terang dia. Tiga tersangka penjambretan tersebut, paparnya, sudah mela-

kukan aksi kejahatan serupa sebanyak 10 kali di beberapa tempat yang berbeda. Antaralain, tiga kali di Bandung, tiga kali di Cicalengka, tiga kali di Cilawu Garut dan 1 kali di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Aksi mereka sebelumnya belum pernah tertangkap pihak kepolisian kecuali setelah melakukan aksi di Kecamatan Taraju tersebut. “Mereka dijerat pasal 365 dengan ancaman hukum 9 tahun penjara,” jelasnya. Kasat mengimbau kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya penjambretan, diharapkan tidak memakai banyak perhiasan secara mencolok dan harus tetap waspada saat berada di manapun. Baik itu lagi ramai maupun lagi sendirian. “Tetap waspada jangan sampai lengah,” ungkap Kasat. Sebelumnya diberitakan Radar, Kasatreskrim Iptu Yuliansyah SH mengatakan DIHA, UN dan AS menjambret kalung milik Neni, warga setempat, sepulang dari rumah anak As di Sodonghilir. Sebelumnya, mereka menyempatkan berhenti di warung di Kampung Biru, sebelum meneruskan perjalanan ke Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya, tempat tinggal bibi As. (zi/snd)

Siswa Berniat Kerja Disarankan... dari hal 8

orang tua yang menyekolahkan anaknya ke SMA. Padahal setelah lulus anaknya ingin langsung bekerja. Bagi siswa semacam ini, disarankan lebih baik masuk ke SMK daripada SMA. Sebab, kata Wawan, di SMA tidak diajarkan kejuruan atau keahlian tertentu sebagai bekal siswa untuk bekerja setelah lulus. Lulusan SMAN I, kata dia, nantinya dibimbing untuk belajar cara meraih prestasi sehingga mampu menembus ujian masuk ke perguruan tinggi. Tidak ada skill kejuruan yang diajarkan di SMA sehingga sekolah ini tidak cocok bagi siswa yang berniat bekerja setelah lulus. Wawan melanjutkan, SMAN I juga menerima siswa tidak mampu namun berprestasi untuk masuk ke sekolah favorit ini. Dia akan dibebaskan biaya dari

mulai pendaftaran hingga lulus. Untuk mendapatkan bebas biaya, siswa tidak mampu harus mengikuti sejumlah tes dan wawancara. Tes itu bertujuan agar kompetensi dan prestasin dari sekolah asal bisa benar-benar dipertanggungjawabkan. “Tahun ini ada 2 orang siswa tidak mampu (mendaftar ke SMAN I, red). Mereka tetap ikut seleksi dan tes untuk membuktikan prestasinya,” tandas Wawan. Sampai hari kemarin kurang lebih 628 siswa yang mendaftar ke SMAN I. Sedangkan daya tampung sekolah ini hanya 300 orang. Dikonfirmasi secara terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Oslan Khaerul Falah menyebutkan, tidak ada aturan dalam penerimaan siswa baru (PSB) untuk memilih-milih siswa. Pihak sekolah seharusnya

menerima semua siswa yang mau mendaftar, baik itu yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi maupun tidak. Disdik akan secepatnya mengklarifikasi hal tersebut ke sekolah yang bersangkutan. Menurutnya, mungkin kebijakan SMAN I menolak siswa yang berniat kerja, berkaitan dengan efisiensi bagi orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Namun terlepas benar dan tidaknya, kebijakan SMAN I, Oslan menilai tidak ada regulasi yang mengkhususkan penerimaan siswa khusus jalur perguruan tinggi di dalam PSB. “Kalau mau kerja, ke SMK memang lebih efisien, terutama untuk orang tua tidak mampu. Tapi regulasi yang mengkhususkan ke perguruan tinggi itu tidak ada. Tapi kalau misalnya untuk memberi motivasi kepada orang tua, itu silakan,” pungkasnya. (pee)

Yang Tidak Mampu Tetap Bayar Seleksi dari hal 8

kurang mampu pun, kata Hendrawan harus tetap membayar biaya seleksi. “Untuk yang kurang mampu tetap bayar seleksi. Tetapi kalau sudah lolos seleksi dan masuk, akan dipertimbangkan untuk dapat beasiswa,” katanya. Ditanya besaran dana sumbangan pendidikan tahunan (DSPT), Hendrawan menyatakan belum ada nominal resmi. Pihaknya akan memusyawarahkan dulu dengan orang tua siswa. “Dan setiap tahun (DSPT, red)

tidak sama,” kata Hendrawan. Penerimaan calon siswa baru juga digelar di SMAN 2 Tasikmalaya, sekolah favorit di Jalan RE Martadinata. Kemarin, pihak sekolah sedang melakukan tes wawancara siswa yang didampingi oleh orang tuanya. Edwin, bagian sarana SMAN 2 Tasikmalaya mengungkapkan, dari 820 pendaftar, pihak sekolah akan menyaring 384 siswa untuk 12 kelas. Masing-masing kelas akan diisi 32 siswa. Untuk pendaftaran, calon siswa dipungut biaya formulir Rp 100.000. Menuntut ilmu di sekolah

favorit adalah idaman semua orang. Salah satunya Widy, dia ingin sekali bersekolah di SMAN 2 Tasikmalaya. “Saya ingin mendapatkan pelajaran yang lebih baik,” ujar Widy saat ditemui seusai seleksi wawancara di SMAN 2 Tasikmalaya. Orang tua Widy, Pupu menambahkan biaya tak menjadi masalah untuk pendidikan yang lebih baik. “Biaya bangunan Rp 4.500.000 yang menurut saya nggak jadi masalah. Yang penting kualitas dan fasilitasnya baik,” tandas Pupu. (mg3)

Mendaki Gunung, Kesulitan... dari hal 8

sama kelompok dari sekolah,” tuturnya. Untuk terus menguji mental dan fisiknya, setiap hari Jumat Nisa pergi berlatih mendaki di Dadaha bersama anak-anak pecinta alam lain yang semuanya laki-laki. Setiap tantangan dihadapi tanpa merasa sulit karena ambisinya menaklukan gunung. Namun ada satu kendala yang harus diakuinya saat mendaki gunung. Yakni saat Nisa ingin membuang air kecil. Maklum, di gunung tidak ada tempat buang air kecil layaknya toilet.

Sementara Nisa adalah satusatunya pendaki perempuan. Jadi gadis kelahiran Cibalong 17 tahun lalu itu tidak bisa seenaknya buang air kecil sebagaimana yang biasa dilakukan pria. “Tidak seperti anggota lainnya yang kebanyakan adalah pria, yang bisa kencing berdiri di mana saja. Wanita susah untuk mencari tempat tersebut,” katanya, tersenyum. Selain itu, dia juga mengaku stamina dan fisiknya mudah terkuras terutama saat harus mendaki tebing menggunakan bantuan tali tambang. Meski demikian dia tetap bersyukur,

karena dari hobinya itu dia mendapatkan banyak pelajaran yang bisa diambil dari alam. Hobi mendaki gunung tidak membuat belajar di sekolah terganggu. Sebab, kata Nisa, kegiatan itu hanya dilakukan ketika libur sekolah. Tentang pengalaman mendaki, Nisa mengaku ada satu kenangan yang sulit dilupakan. Yakni saat dia mendaki Gunung Pangrango. Dia memasuki kawasan seluas 7 hektar yang dipenuhi bunga Edelweis, bunga yang dianggap sebagian orang melambangkan keabadian cinta. (*)

Dilarang Seksi, Model Bingung dari hal 8

hanya mengakomodir suara dari para ulama saja untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Para model dan agensi serta para pelaku seni lain perlu diberikan ruang untuk bersuara dan mengeluarkan pendapatnya. Itu agar keputusan yang diambil tidak hanya mengacu pada saran dari satu pihak. “Sebenarnya saya setuju konsep masalah kesopanan segala macam. Tapi dalam pembuatan suatu perda di dewan, jangan satu aspek, ulama saja. Kan kalau hanya ulama pasti dia punya opini semua orang harus tertutup. Sementara dari sisi kami dari aspek praktisi seni harus tahu batas kewajarannya sampai mana,” paparnya. Pendapat serupa disampaikan Osa Naris Haryadi dan Roby, pemilik agensi model, Osp Production dan Roby Management. Osa mempertanyakan aturan baku pakaian sopan dalam perda tersebut. Terutama untuk diterapkan di dunia modeling.

Sebab, pakaian model berbeda dengan yang biasa dipakai sehari-hari. “Aturan baku untuk fashion-nya bagaimana. Ini untuk fashion dan modeling, bagaimana?” katanya saat ditemui di gedung Galih Prawesti usai mengadakan sebuah acara. Pakaian untuk fashion, lanjut Osa, tergantung dari tema yang diusung. Ketika model mengenakan pakaian terbuka pun, acara tidak digelar di tempat umum dan terbuka, melainkan hanya pada event-event tertentu dengan mempertimbangkan lokasi. Para agensi sendiri, kata dia, tidak selamanya menggelar lomba model dengan tema kostum yang seksi. Adakalanya mereka juga menggelar lomba busana muslim. Hanya saja diakui atau tidak, lomba busana muslim kadangkala tidak kurang diminati peserta dibanding busana biasa atau seksi. “Kalau menurut kita, perda itu memang harus ada. Cuma ini harus ada pembakuan, ketentuannya bagaimana. Jadi acuan yang seksi itu yang mana.

Kalau ada acuannya baru kita perbaiki. Misalnya apakah dari lutut sampai mana batasannya,” tuturnya. Roby menambahkan, selain model, para praktisi seperti pemilik salon dan entertainmen juga harus dilibatkan dalam pembuatan perda itu. Sebab, mereka juga para pelaku seni yang memiliki gaya berbeda dalam menerapkan mode. Di bagian lain, Ketua DPRD Otong Koswara menyatakan siap memfasilitasi para agensi model dan pelaku seni untuk membahas Perda Nomor 12. Dewan, kata Otong, memberikan ruang bagi aspirasi mereka. “Silakan saja audiens ke dewan atau MUI (Majelis Ulama Indonesia, red). Dewan hanya membuat perdanya, kalau MUI dan eksekutif bertugas sosialisasinya,” kata Otong, tadi malam. Suara para pelaku seni fashion, menurut Otong, perlu didengar untuk bahan pertimbangan dalam penyusunan rancangan perwalkot sebelum aturan itu disahkan. (pee)

7

Bobotoh Jakarta Lelah Berseteru dari hal 1

Menurut Janu, banyak nyawa terbuang siasia adalah hal yang miris. Terlebih, jika kedua korban yang belum teridentifikasi itu adalah bobotoh. “Sebenarnya saya sudah memperingatkan agar tak datang ke stadion,

tapi ya mungkin karena kecintaan terhadap Persib begitu besar akhirnya membuat mereka nekat datang,” katanya. Janu mengaku lelah dengan perseteruan antara Bobotoh dan Jakc Mania. “Kalau boleh dibilang jenuh, ya jenuh juga, tapi mau gimana lagi,” jelasnya. Hal serupa Eri Epiet, salah satu dedengkot

yang mendirikan Viking Jakarta. Dia mengatakan saat ini anggotanya mengaku telah lelah terus bersiteru dengan Jack Mania, namun dirinya pun mengaku tak bisa menghentikan perseteruan ini. “Bodo amatlah. Ini resiko kita. Mau damai bagus, gak damai juga dibawa enjoy aja,” cetus Eri. (wam)

Aburizal Puji Potensi Tasik dari hal 1

Saat ditanya, apakah tempat tersebut nanti lokasinya berada di Jalan Tamrin? Dia menjawab lokasinya tidak di sana. Kalau untuk berpameran dalam waktu tertentu, kata dia bisa saja di Tamrin. Ical pun menjelaskan perjalannya ke beberapa daerah, karena memantau langsung kondisi di masyarakat sehingga partainya

bisa mengaplikasikan solusi kesulitan dan problema yang dirasakan warga selama ini. Rombongan Ical tiba di Graha Pena menggunakan bus dan mobil. Mereka, sebelumnya berkunjung ke Surat Kabar Priangan. Saat tiba di Graha Pena, Ical disambut kader dan simpatisan partainya. Selama berkunjung, Ical menyempatkan diri berbincang dengan para pimpinan Radar Tasikmalaya dan Radar TV. Ical datang ke

Graha Pena didampingi Ketua Pemenangan Pemilu (PP) Jawa 1 Ade Komarudin, Ketua Bidang Organisasi dan Daerah Mahyudin, anggota Komisi X DPR Fraksi Golkar Ferdiansyah, Ketua Komisi II Agun Gunanjar Sudarsa, Ketua DPD Golkar Jawa Barat Irianto Syafiudin (Kang Yance), Ketua DPD Golkar Kota Tasikmalaya H Noves Narayana dan Ketua DPD Golkar Kabupaten Tasikmalaya Hj Dede T Widarsih. (irw)

Rebut Kembali Kejayaan Golkar dari hal 1

Ponpes Suryalaya dan ziarah ke makam Almarhum Abah Anom, sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya. Di hadapan ribuan pelajar, Ical memberikan motivasi tentang mencapai sukses kehidupan. Ical mengatakan ketika seseorang ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya tidak jarang menemui kegagalan. Ketika menemui kegagalan jangan putus asa. Tetapi harus kembali membangun citacita yang ingin dicapai. Tentu saja tidak bisa dilakukan dengan mudah. ”Ketika kita menemui kegagalan jangan salahkan orang lain. Tapi kita sendiri harus berintropeksi dan serahkan semuanya kepada Tuhan,” sarannya kepada ribuan pelajar dari MTs, SMA, dan perguruan tinggi. Ical menyontohkan perjalanan kesuksesan seperti halnya seorang balita yang belajar berjalan. Untuk belajar berjalan tentu saja banyak prosesnya. Dari mulai merangkak hingga dia beruasaha beridiri. Ketika belajar berjalan

kerapkali terjatuh. Tapi anak itu tidak hentihentinya berusaha hingga dirinya benar-benar berjalan. ”Begitupun kita kalau ingin meraih kesuksesan jangan menyerah. Saya juga sempat mengalami kegagalan dan menjadi miskin. Hadapi persoalan itu dengan tenang dan cari solusi-solusinya dengan baik,” katanya. Selesai memberikan motivasi meraih kesuksesan, Ical pun langsung melanjutkan perjalanannya ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk berziarah ke Makam Abah Anom. Pada kesempatan berziarah juga digunakan untuk beristirahat dan makan siang bersama ribuan kader. Setelah itu, Aburizal Bakrie melanjutkan perjalan ke Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya ke pusat pasar Kerajinan Rajapolah. Pada kesempatan itu, dia menemui pengusaha dan perajin Rajapolah. Ical sempat menanyakan tentang masalahmasalah yang dihadapi pengusaha dan pengrajin kerajianan Tasikmalaya. Beberapa pengusaha dan pengerajin sempat mengatakan beberapa permasalahan yang mereka hadapi, diantaranya mengenai

persaingan tidak sehat karena menurunkan harga pasar, menanggulangi persaingan pasar bebas, permodalan dan juga penjualan kerajinan rajapolah yang mulai menurun. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari pengusaha maupun pengrajin itu, Ical menjawab menurunkan harga jual tidak termasuk ke persaingain tidak sehat. Itu sudah lumrah di dunia bisnis. Kalau produknya tidak laku bisa saja dijual murah. ”Karena tidak rugi,” kata dia. Sementara itu untuk mengimbangi persaingan bisnis di pasar bebas, para pengusaha dan perajin di Rajapolah harus selalu membuat inovasi-inovasi terhadap karyanya dan melihat kebutuhan atau kemauan pasar. Tentu saja dengan memberikan kualitas produk yang bagus. ”Jangan karya yang menarik dan bagus itu menurut kita, tetapi harus menurut pasar,” sarannya. Ical menjelaskan semoga saja, kalau pada Pilpres nanti dirinya bisa terpilih, dia akan membantu memecahkan persoalan tentang kerajianan Rajapolah maupun kebutuhan masyarakat lainnya. (snd)

Suporter Tewas, Polda Tak Mau Disalahkan dari hal 1

pengamanan kami itu ada sweeping dan sudah dilakukan sesuai prosedur. Tapi karena ini di luar, jadi tidak ada,” katanya. Rikwanto menambahkan pada laga Persija melawan Persib Minggu malam, aparat kepolisian mengerahkan 1.524 personel gabungan yang terdiri dari 1.257 personel Polda Metro Jaya dan 267 personel dari Polres Jakarta Pusat dan Polsek Tanah Abang. Seluruh petugas disebar berjaga di pintu masuk di dalam stadion dan di luar stadion. Sementara di area terluar stadion tidak ada aparat kepolisian yang berjaga. “Ini memang jadi evaluasi. Kita akan perbaiki agar pengamanan ke depan lebih baik,” kata alumnus Akpol 1988 ini. Total ada tiga suporter yang tewas dalam peristiwa mengenaskan itu.

Korban tewas yakni Lazuardi (29), warga Menteng, Jakarta Pusat yang ditemukan tewas pukul 17.15 di dekat kolam renang Parkir Timur Senayan. Setelah itu, pada pukul 20.45, polisi kembali menemukan tiga orang yang terkapar di dekat hall basket komplek olahraga Gelora Bung Karno. Ketiganya langsung dibawa ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Namun, dua orang akhirnya meninggal dunia dalam perawatan. Dua korban tewas itu masih belum diketahui identitasnya karena tidak ditemukan tanda pengenal di tubuh korban. Polda memberi identitas Mr X-1 diduga berumur 35 tahun, memiliki tinggi 165 cm dengan badan sedang. Sementara Mr X2 diperkirakan berumur 33 tahun MR. X1 mengalami luka di bagian kepala, mata kanan dan kiri memar, dada kanan dan kiri

memar, lutut kanan lecet, pergelangan kaki kiri lecet, pinggang kanan memar dan meninggal dalam perawatan. Sementara Mr X2 juga meninggal dalam perawatan akibat hantaman benda tumpul. Secara terpisah, Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta Sanusi Pane menilai Polda Metro Jaya lengah dalam pengamanan pertandingan. “Seharusnya seluruh area ter-cover. Bagaimana mungkin bias lolos dari pengamatan petugas,” katanya. Polda, kata Neta, harus memanggil petugas atau panitia penyelenggara. “Mereka harus diperiksa sebagai saksi karena pertandingan ini resmi,” katanya. Selain itu Polda haruis menangkap dan mengusut seluruh pelaku yang melakukan penganiayaan hingga tuntas. “Ini delik pidana pembunuhan, tersangkanya harus ditangkap dan dihukum berat,” katanya. (rdl/jpnn)

Ekstasi 1,5 Juta Butir Disita dari hal 1

pengurusan administrasinya selesai. Pengurusan administrasi tersebut dilakukan oleh oknum anggota Primer Koperasi Kalta berinisial S dengan memalsukan tandatangan kepala koperasi Primkop Kalta dan menambahkan tulisan institusi Bais TNI pada nama koperasi tanpa sepengetahuan dan seizin dari pimpinan Bais. S juga mengubah data packing list untuk menurunkan bea masuk dan selanjutnya selisih pembayaran bea masuk diambil dan dinikmati oleh S. Pada tanggal 25 Mei 2012, pukul 11.00 petugas BNN telah menangkap RS yang diduga sebagai pengendali pengiriman kontainer. RS ditangkap di pintu masuk tol, Jembatan Tiga Penjaringan, Jakarta Utara. Sore hari pada pukul 18.00, kontainer tersebut dikeluarkan dari Pelabuhan JITC Tanjung Priok untuk dikirim ke gudang penimbunan di Jalan Kayu Besar Dalam 99 No 22 RT 11/ RW01, Cengkareng, Jakarta Barat. Saat dalam perjalanan ke tempat tujuan kontainer, petugas menangkap sopir kontainer berinisial R dan kernetnya A di jalan

pintu masuk Tol Bintang Mas, Ancol Pademangan, Jakarta Utara pukul 18.45. Pada 25 Mei 2012 Pukul 20.15, petugas mengecek pengiriman dan berhasil menangkap M di pintu keluar Tol Kamal Raya. M berperan sebagai petunjuk jalan kontainer menuju gudang penimbunan di jalan Kamal Raya No 12 A Blok I 7, Jakarta Utara. Petugas kemudian melakukan pengembangan. Dari hasil pemeriksaan kontainer dengan disaksikan tersangka, petugas menemukan 12 kardus warna coklat polos tanpa identitas. Setelah diperiksa, 11 kardus berisi 12 bungkus kemasan warna kuning emas polos dan 1 kardus lainnya berisi 14 kemasan warna kuning emas polos. Setelah dilakukan penghitungan, jumlah barang bukti narkotika yang berhasil disita sebanyak 1.412.476 butir ekstasi dengan berat total 3.784.358 gram. Malam hari 25 Mei 2012 pukul 20.00 petugas melakukan penangkapan tersangka lainnya berinisial S, oknum anggota koperasi Primkop Kalta dan karyawannya AR di Jl Tongkol, Jakarta Utara. Operasi berlanjut pada dua hari berikutnya sehingga total tersangka yang berhasil diamankan oleh

BNN berjumlah delapan orang dengan inisial S, RS, R, A, M, AR, MM dan J. “Ini modus baru. Karena ada anggota TNI (inisial S) yang terlibat. Nanti kami akan koordinasi dengan pihak TNI, karena dia menyalahgunakan jabatan,” kata Beni. AYAH JUPE NYABU Dalam kesempatan berbeda, penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba menangkap AJ, ayah artis berdada seksi Julia Perez. Bapak Jupe itu diketahui menggunakan sabu. “AJ ayah dari Jupe ditangkap bersama rekannya berinisial YL di sebuah rumah di kawasan Cijantung,” ujar Direktur Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Arman Depari melalui pesan singkat tadi malam. “Penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang merasa terganggu. Rupanya mereka selalu berpindah-pindah tempat saat menikmati sabu. “Dari tangan kedua pemakai sabu tersebut, polisi menyita 0,70 gram sabu yang belum sempat digunakan beserta alat hisapnya. “Saat ini masih dilakukan pemeriksaan dan hasil tes urinnya postif,” ujar Arman. Keduanya diperiksa di Direktorat Narkoba, Cawang, Jakarta Timur. (rdl/aga/jpnn)

Tak Pernah Juara Kelas, Prestasi Tertinggi... dari hal 1

sebagai PNS di DKI Jakarta. Di kamar depan rumahnya dijadikan tempat praktik sang ibu sebagai bidan. Sedangkan sang ayah, Syahrul, adalah pegawai Kecamatan Darma. Tria yang kemarin diantar pulang oleh beberapa guru dan wali kelasnya langsung dipeluk sang ibunda, Uhintawati. Perempuan berjilbab itu terlihat bangga atas hasil spektakuler yang dicatatkan anak ketiganya itu. Sepuluh menit kemudian Syahrul datang dan langsung memeluk putri kesayangannya tersebut. Suasana haru terjadi dalam sekejap. ’’Saya sama sekali tak menyangka putri saya bisa meraih hasil yang sangat membanggakan. Apalagi, selama ini prestasi di sekolahnya biasa-biasa saja. Saya awalnya hanya mengharapkan Tria lulus sekolah dengan hasil memuaskan dan tak pernah terbayangkan bisa meraih nilai UN tertinggi se-Indonesia. Saya dan juga ibunya Tria benar-benar kaget begitu membaca koran Radar Cirebon (Grup Radar Tasikmalaya) yang memuat nama anak saya sebagai peraih nilai unas (UN, red) tertinggi se-Indonesia,’’ papar Syahrul dengan suara terbata-bata. ’’Pagi-pagi saat berada di kantor, temanteman bilang bahwa anak saya meraih nilai tertinggi unas. Saya lalu nyari beritanya. Ternyata benar, nama anak saya tercantum. Saya masih tak percaya. Kemudian, dari SMAN 2 Kuningan ngasih kabar bahwa anak saya memang meraih nilai unas tertinggi. Itu baru saya percaya. Ini semua karunia dari Allah SWT,’’ sambung Syahrul. Dia menceritakan keseharian keluarganya.

Kepada anaknya, Syahrul dan Uhintawati bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main Facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benarbenar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, membuahkan hasil. Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya salat Duha dan salat malam. Sikap tegas dua orang tuanya itu diakui Tria. Remaja cantik tersebut mengatakan, dua orang tuanya sangat tegas. ’’Papah dan Mamah sangat tegas. Tapi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,’’ tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter itu. Dari sisi ekonomi, Tria termasuk beruntung. Keluarganya tergolong mapan. Dua orang tuanya adalah PNS. Syahrul menjabat Kasikesra di Kantor Kecamatan Darma dan ibunya bekerja di Puskesmas Darma. Satu unit mobil Kijang terparkir di garasi rumahnya. Meski ekonominya mapan, Syahrul dan Uhintawati memilih hidup sederhana. Tak ada barang mewah di dalam rumahnya. Kursi di ruang tamu pun seperti kebanyakan milik warga di desanya. Bahkan, satu set kursi model lama tertata di ruang tengah keluarga harmonis tersebut. Wali kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan Drs Raindra menyebutkan, prestasi Tria di kelas biasa-biasa saja. Di kelasnya tidak begitu menonjol dan bukan juara kelas. Dia hanya pernah masuk 15 besar di kelas.

Namun, Raindra mengungkapkan bahwa Tria memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas besarnya motivasi dua orang tua Tria. ’’Sewaktu unas, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama unas dilangsungkan,” ujarnya. Indra, sapaan akrab Raindra, menilai suasana keluarga Tria cukup kondusif dalam mendidik putrinya. Suasana tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar Triawati. Beban psikologis yang ditanggung seluruh peserta UN mampu diempaskan berkat dukungan orang tuanya. Data yang diperoleh Radar Cirebon menyebutkan, nilai enam mata pelajaran unas yang didapat Tria di atas 9. Bahkan, khusus mata pelajaran kimia, gadis yang berjilbab itu mendapat nilai 10. Rata-rata nilai unas murni untuk enam mata pelajaran adalah 9,77. Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, Tria memperoleh nilai 9,8. Nilai itu sama dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Sedangkan untuk matematika, dia berhasil mendapat nilai 9,75, sama dengan pelajaran fisika. Paling kecil nilai Tria adalah mata pelajaran biologi, yakni 9,5. Jika ditotal, nilainya 58,60. (*/jpnn/c4/nw)


7 sam 29