Issuu on Google+

7 Hasil UN Diumumkan Hari Ini SABTU, 26 MEI 2012 / 5 RAJAB 1433 H

Lepas Tidak Berarti Bebas dari hal 1

pengadilan. Apabila masa tadi habis itu sudah tidak dapat diperpanjang lagi,” papar hakim yang menangani kasus Perdi Ari Muladi SH saat ditemui di Pengadilan Negeri Kelas 1 B Tasikmalaya kemarin (25/5). Masa tahanan Perdi dan Jajang telah habis sejak tanggal 23 Mei 2012 pukul 24.00. Berdasarkan Undang-Undang Peradilan Anak Nomor 3 Tahun 1997, masa penahanan untuk anak di bawah umur memang dibatasi hanya 45 hari dan penentuan masa penahanannya berakhir sampai ketua pengadilan negeri tidak sampai berlanjut ke pengadilan tinggi. “Jadi istilahnya bukan dibebaskan. Bahasanya dikeluarkan dari tahanan demi hukum. Itu tidak bisa diubah bahasanya. Kalau dibebaskan itu menurut pengadilan negeri (adalah) tidak terbukti dari dakwaan yang didakwakan,” terangnya. Meski masa penahanan kedua pelaku telah habis dan tidak bisa diperpanjang, proses hukum tetap akan berjalan. Selepas habis masa penahanan, kedua anak tersebut terbebas dari status tahanan apapun. Baik itu tahanan luar maupun tahanan kota, tidak berlaku bagi keduanya. Hanya keduanya tetap diwajibkan mengikuti setiap

proses persidangan hingga putusan perkaranya selesai. “Jadi perkaranya itu besok masih tanggapan jaksa atas pembelaan dari para terdakwa. Jadi nanti tanggal 30 Mei itu ada persidangan. Setelah persidangan itu nanti diberi waktu, ada persidangan lagi tanggal 6 Juni,” jelas Ari. Adapun vonis akan dibacakan sekitar tanggal 13 Juni sehingga kedua terdakwa akan ditahan kembali, apabila pengadilan menyatakan mereka bersalah dengan putusan hukuman melebihi masa tahanan yang telah dijalani selama proses dari kepolisian hingga pengadilan. Namun jika putusan hukuman tidak melebihi masa tahanan yang telah dijalani, maka keduanya lepas dan tidak perlu merasakan kembali jeruji besi. “Kalau bebas itu tidak terbukti. Kalau lepas itu terbukti tapi ada alasan pembenar, alasan pemaaf dan alasan penghapusan pertanggungjawaban pidana sehingga dia meskipun terbukti bisa dilepaskan. Sehingga antara bebas dan lepas itu beda,” katanya. Perdi dan Jajang telah menjalani proses masa penahanan selama kurang lebih 79 hari yakni mulai tanggal 5 Maret 2012 hingga 23 Mei 2012. Sejak dimulainya proses penyidikan di kepolisian hingga penahanan dipengadilan. “Kalau ternyata nanti terdakwa ini diputus bersalah

dan putusannya melebihi masa tahanan yang pernah dijalani. Maka dia harus masuk lagi menjalani sisa kekurangannya (putusan hukuman dikurangi masa penahanan yang pernah dijalani, red),”pungkas Ari. Sebelumnya, Kamis (24/5) kedua terdakwa dijemput orang tuanya dari lapas karena masa penahanannya selama dua bulan telah habis. Sepulang dari lapas kedua terdakwa didampingi keluarga menggelar syujud syukur di Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Keduanya merupakan terdakwa atas kasus terbunuhnya seorang remaja yang ditemukan di Cihideung Balong Balong, Kota Tasikmalaya awal Maret 2012. Keduanya ditangkap kepolisian dengan tuduhan pengeroyokan dan kepemilikan senjata serta dijerat undang-undang darurat. Saat ditangkap, Perdi memegang senjata tajam, berupa golok tanpa ijin. Namun menurut Jaksa Penuntut Umum Eman Sungkawa, Perdi tidak terbukti melakukan pengeroyokan dan hanya dituntut dengan pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 dengan tuntutan 1,5 tahun penjara. Sementara Jajang didakwa dua pasal yakni pasal 170 Tentang Pengeroyokan dan 351 Tentang Penganiayaan dengan tuntutan 12 tahun. (pee)

Lagi, Praja IPDN Meninggal Dunia dari hal 1

Wendi mengatakan, saat sampai di RS, Yudi mengalami deman selama tiga hari disertai penurunan kesadaran. Saat datang Yudi langsung dimasukkan ke High Care Unit (HCU). Praja tersebut lanjut Wendi diduga kuat tewas lantataran terserang virus di otak. “Berdasar hasil pemeriksaan korban tewas karena virus,” ujarnya. Dia mengatakan Yudi masuk rumah sakit mengantongi surat rujukan dari poliknik IPDN dan RS AMC Cileunyi Bandung. “Berdasar hasil pemeriksaan, korban meninggal karena sakit, selain itu ada infeksi di selaput otak itu biasanya karena virus atau bakteri. Bukan karena pukulan atau sejenisnya. Dan saat pemeriksaan pun, sama sekali tidak ada luka-luka seperti pukulan,” tambahnya. Sementara itu keluarga dan kerabat Yudi Wardhana Siregar (22) mengetahui praja IPDN semester akhir itu meninggal dunia sekitar pukul 03.00 dini hari tadi, kemarin. “Kami dini hari tadi tahu, dari telepon pihak IPDN,” ujar Ardon Suaharsono, paman Yudi di Rumah Sakit Al Islam. Menurut keterangan keluarga lain bernama Cici, Yudi sudah mengalami sakit kepala selama dua minggu. Oleh karena itu saat masuk RS kondisinya sudah sangat kritis. “Kemungkinan infeksi berat di daerah selaput otak itu dikarenakan bakteri,” bebernya. Cici mengungkapkan, sebelum dibawa ke RS Al Islam, Yudi pernah berobat ke beberapa tempat, seperti di RS Grogol Jakarta dan juga sempat ditangani di klinik IPDN. Humas IPDN, Sudaryana mengatakan, praja itu meninggal karena sakit. “Yang jelas, Yudi

meninggal karena sakit setelah dirawat di RS Al Islam,” ujar Sudaryana. IPDN belum mengetahui Yudi Wardhana memiliki riwayat penyakit infeksi selaput otak. “Kalau itu kami tidak tahu. Yang jelas selama ia menempuh pendidikan di sini hingga semester delapan tidak ada keluhan penyakit tersebut. Keluhannya sejak dua minggu lalu,” terangnya. Sesuai prosedur, lanjut Sudaryana , jika ada keluhan sakit, setiap praja di IPDN lebih dulu dirawat di klinik IPDN. “Jika penyakitnya cukup berat, kami merujuknya ke RS,” terangnya. Sementara itu, Kapolsek Jatinangor Kompol Nana Sumarna mengatakan pihaknya ikut

ARIZAL SADAD (2004) Praja Madya Arizal Sadad, kontingen Jawa Tengah, meninggal pada 8 Januari 2004. Namun, STPDN menyatakan korban tewas karena kecelakaan. IRFAN ALBERTH HIBO (2005) Setahun berikutnya, Madya Praja Irfan Alberth Hibo, kontingen Papua. Pihak STPDN menyatakan bunuh diri karena minum Baygon. MANFRED HABI (2006) Wasana Praja Manfred Habi, kontingen Papua, meninggal dunia karena penyakit liver, tapi tidak dilakukan otopsi. FITRIA WAHYUDIN (2006) Pada tahun yang sama pula praja Fitria Wahyudin juga meninggal. Tidak diketahui penyebab kematiannya. CLIFF MUNTU (2007) Cliff Muntu, praja tingkat II asal Manado, Sulawesi Utara meninggal dengan nahas. Untuk kasus ini seluruh pejabat IPDN mengekspos penyebab kematian Cliff karena liver. Padahal, diketahui terdapat bekas lebam di beberapa bagian

memantau meninggalnya Yudi, kontingen praja asal DKI Jakarta. Jika pihak keluarga berkenan, pihak kepolisian akan meminta rekam mediknya. “Kami hanya memantau dan mengumpulkan data saja. Jika berkenan, bisa saja kami meminta rekam medik pada pihak RS. Kalau visum et repertum, itu harus melalui laporan keluarga. Terlebih yang meninggal praja IPDN,” terang Nana. Kemarin jenazah Yudi dibawa mobil jenazah RS Al Islam didampingi sebuah mobil Avanza hitam —yang diisi oleh beberapa orang menggunakan seragam IPDN. Jenazah Yudi dibawa ke Cibubur RT 2 RW 4 Jakarta Timur. (dnd/apt/jpnn)

tubuhnya. Namun, berhasil disamarkan karena ditaburi formalin. CHRIS BERNARD (2008) Praja IPDN asal Kalimantan Tengah Chris Bernard meninggal secara misterius pada 2008. Tidak diketahui penyebab pastinya. Melvy Yulian Frizca (2009) Melvy Yulian Frizca (21), meninggal dunia setahun berikutnya. Diduga, praja asal Sumatera Barat ini meninggal karena mengidap penyakit tifus. RINRA SUJIWA SYAHRUL PUTRA (2011) Rinra Sujiwa Syahrul Putra, putra Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, meninggal dunia di penghujung Januari 2011. Penyebab meninggalnya praja yang berusia 19 tahun itu diduga karena sakit lambung yang dideritanya. YUDI WARDANA (2012) Yudi Wardana (22) mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor meninggal di Rumah Sakit Al Islam, kemarin (25/ 5) sekitar pukul 01.40. Penyebabnya infeksi selaput otak.

TFH: Harus Dipertimbangkan Lagi dari hal 8

bisa menerima aturan itu. Itu artinya, kata dia, harus ada upaya pemberian pemahaman terlebih dahulu masalah larangan itu kepada masyarakat. Daripada membakukan larangan berpakaian seksi dalam aturan, kata Tatang, lebih baik para perempuan muslim dididik dulu bahwa menutup aurat itu adalah kewajiban. Pemberian pemahaman tadi bisa dilakukan dengan memanfaatkan pondok pesantren ataupun pendidikan formal. Cara itu, kata dia, akan lebih persuasif dan diterima oleh masyarakat. Tatang juga khawatir usulan penegakkan syariat Islam dalam berpakaian itu bersifat latah pasca-kontroversi seputar rencana konser Lady Gaga di

Jakarta. Sementara itu salah seorang anggota Presidium Perda Bernafaskan Islam, Ustadz Miftah Fauzi menjelaskan bahwa usulan para ulama agar beri sanksi kepada wanita seksi itu disebabkan dua hal. Pertama, kata Miftah, itu berangkat dari kegelisahan atas tidak diterapkannya Perda Nomor 12 Tahun 2009 tentang Tata Nilai. Padahal perda itu sudah disahkan sejak tiga tahun yang lalu. Penyebab kedua, kata Miftah, pengawalan perda itu dirasakan para ulama seperti ada sesuatu yang tidak kooperatif dari pemerintah dan legislatif. Dari sisi sosialisasi, belum massif dan dilakukan secara komprehensif. ”Akang (sebutan untuk Miftah Fauzi, red) mengetahui hal itu karena kemarin (sebelum au-

diensi dengan DPRD) beberapa ulama berunding di rumah Akang soal minta sanksi pakaian seronok,” katanya. Lanjut Miftah, seharusnya DPRD jangan asal setuju hanya demi menghibur saja. ”Kerja DPRD itu seperti ngahaminan saja. Itu memang usulan ulama, tapi mestinya DPRD juga harus bisa memberikan pemahaman kepada mereka tentang usulan itu. Jangan seolah-olah DPRD tidak mengerti konstitusi,” tandasnya. Miftah khawatir, jika kerja DPRD cuma bisa menghibur saja, lalu ajuan ulama itu malah memicu kontroversi di masyarakat. ”Saya tidak mau produk ulama itu dibenturkan dengan masyarakat akibat kerja DPRD hanya ngahaminan,” tandasnya. (dir)

Penarikan Sampah Dikebut dari hal 8

Kencana mengeluhkan sampah di tiap rumah belum juga diangkut. Itu terjadi sejak penutupan TPA Ciangir hingga kemarin (25/ 6). “Kapan ya petugas narik

sampah ke sini. Sampah sudah menumpuk dan menebarkan bau,” kata Pitria, salah seorang warga Perum Sirnagalih. Sebelumnya, pelayanan sampah di Kota Tasikmalaya sempat terhenti selama 6 hari karena

adanya penutupan jalan menuju TPA Ciangir. Hal tersebut menyebabkan menumpuknya sampah di berbagai sudut kota dan di beberapa daerah. Total yang belum terangkut kurang lebih 3.000 kubik. (pee)

Pemkot Bentuk Polisi Syariat dari hal 8

“Kita sebetulnya bukan berlama-lama dalam menyusun perwalkot. Tetapi kita harus me-

miliki pandangan yang luas, apakah kita sudah siap untuk penegakan. Nah, ini perangkatnya juga kan sebenarnya belum siap. Banyak kendala dengan bagaimana

sanksinya untuk mereka yang dikatakan seksi. Katanya orang berpakaian seksi itu yang tidak menutup aurat. Ya menutup aurat itu seperti apa,” pungkasnya. (pee)

Disdik Kota Tasikmalaya Yakin Lulus 100 Persen TASIK – Hari ini Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (BKHUN) tingkat SMA sederajat mulai diserahkan kepada dewan guru di tiaptiap sekolah. Namun nilai itu tidak mutlak menentukan kelulusan, karena hasil DKHUN akan dirapatkan untuk diolah sehingga keluar keputusan lulus dan tidaknya. “Mekanisme kelulusan diserahkan kepada kepala sekolah sepenuhnya. Tadi siang (kemarin) kami sudah rapat untuk kelulusan diserahkan kepada dewan guru. Nilai UN

hanya sebagai bahan bagi dewan guru untuk mengambil keputusan,” kata Drs H Endang Suherman MPd, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya saat dihubungi tadi malam (25/5). Endang optimis seluruh siswa tingkat SMA sederajat lulus 100 persen. Hal itu dilihat dari DKHUN yang diterima dari pusat. Meski demikian tekni penentuan kelulusan tetap diserahkan kepada dewan guru. Untuk teknis pengumuman kepada siswa juga diserahkan kepada sekolah. Namun secara umum tidak akan berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni ada yang diumumkan melalui kantor pos. Namun ada juga yang memanggil siswanya beserta orang tuanya ke

sekolah. “Kalau melihat hasil dari DKHUN perolehan nilai DKHUN 100 persen yakin pasti lulus. Tapi itu kembali tergantung hasil rapat dewan guru. Itu (siswa datang bersama orang tua, red) salah satu upaya untuk mencegah adanya siswa yang kemudian lari kemana, atau corat-coret,” tuturnya. DKHUN telah ada yang diserahkan sejak Jumat (25/5) ke beberapa sekolah, sisanya akan didistribusikan hari ini. Rapat dewan guru, kata dia, serentak akan dilakukan hari ini untuk menentukan lulus dan tidaknya siswa. “Ya tadi juga sudah ada beberapa yang mengambil DKHUN sisanya mungkin besok (hari ini) sambil langsung rapat dewan guru,” pungkasnya. (pee)

Menolak Jadi Pasangan dari hal 1

rasanya gimana gitu. Yang nonton pasti akan merasa biasa saja. Kalau perannya beda justru lebih seru,” kata Kenes saat ditemui di Imagerie, SCBD, Jakarta, kemarin (25/5). Seperti di film Dilema, mereka main bareng

dan berperan sebagai musuh. Kenes jadi penyanyi dangdut jalanan, sementara suaminya jadi anggota ormas Islam. Dalam film itu mereka diharuskan melakoni adegan berantem. Menurut dia, itu justru menjadi tantangan. “Di lokasi syuting kami berantem dan harus pulang ke rumah

bareng, satu mobil. Kami sampai diledekkin sama kru. ‘Berantemnya jangan keterusan di rumah ya’,” papar Kenes. Karena itu, dia tidak main banyak film. Yang terbaru, dia terlibat di film Hello Good Bye bersama Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto. Namun, film tersebut belum tayang. (jan/c12/tia/jpnn)

Yakin Persib hajar Persija dari hal 1

Kabupaten Bandung, Miljan menjadi pencetak gol tunggal sekaligus penentu kemenangan Maung Bandung. “Saya suka big match. Jadi saya ingin bermain maksimal,” ucapnya kemarin (25/5). “Saya pun optimis bahwa tim mampu meraih hasil maksimal dan pulang bawa poin untuk bobotoh,” sambungnya. Kendati demikian, pemain bernomor punggung 50 di Persib Bandung ini tidak menjanjikan bisa mencetak gol lagi ke gawang Persija Jakarta. Menurutnya, yang terpenting bisa meraih kemenangan karena hal tersebut merupakan faktor yang paling utama daripada sekadar menambah pundi-pundi golnya. “Yang penting Persib bisa menang. Untuk kembali cetak gol seperti putaran pertama,

itu urusan kedua,” terangnya. Meski begitu, Miljan pun mengatakan kepada tim nya selalu mewaspadai beberapa pemain tim Persija. “Persija punya pemain bagus seperti Bambang, Robertino dan Ismed. Kita harus waspada itu,” pungkasnya. MENINGKAT Pelatih fisik Persib Dino Sefryanto mengatakan, kondisi fisik para penggawa Persib semakin membaik. “Kondisi fisik pemain tengah stabil. Kemarin lawan PSPS kita sukses dapat poin satu. Jika dibandingkan laga sebelumnya lawan Persiwa Wamena, dan Pelita Jaya, kita sudah lebih baik,” kata, saat dihubungi kemarin (25/5). Kegagalan skuadnya, dalam meraih poin penuh dari tim berjulukAsykar Bertuah, dikatakannya, bukanlah karena fator strategi, tetapi lebih kepada faktor nonteknis. Mantan pelatih fisik Semen Padang itu menilai kurang baiknya

kondisi lapangan dan cuaca sangat berpengaruh terhadap performa tim. “Permukaan lapangan di sana kurang baik,” sambungnya. Disinggung kembalinya Noh Alam Shah, pelatih fisik asal Lampung itu mengharapkan, kekuatan Persib bisa lebih bertambah. Sebab, ia berharap di laga nanti, Persib bisa kembali memetik hasil positif dalam laga yang di sebutsebut sebagai el clasico-nya, Indonesia. WASPADI Kiper nomor satu Persib Jendry C Pitoy mengatakan tuan rumah Persija Jakarta dipastikan akan bermain maksimal untuk meraih poin penuh dalam laga kandangnya tersebut. “Saya melihat Persija sekarang lebih greget dari putaran pertama lalu, apalagi mereka main di Jakarta yang pasti didukung langsung The Jack Mania sehingga motivasi mereka pasti tinggi untuk mengalahkan kita,” terang Jendry. (asp/cr8/jpnn)

Menang Harga Mati dari hal 1

Viking Galunggung, Tasikmalaya, Abah Yana kepada Radar tadi malam. Abah Yana menjelaskan kemenangan harga mati itu karena Persib akan bertanding dengan musuh bubuyutan. ”Pelatih maupun pemain harus memberikan yang terbaik bagi bobotoh Persib,” pintanya.

Dia berharap pelatih Robby Darwis bisa menempatkan penyerang barunya, Along yang ditandemkan dengan Marcio Souza. Karena kedua penyerang ini agresip sehingga peluang besar bisa mendobrak pertahanan Persija. ”Abah ingin Persib menang. Persib tidak boleh kalah. Paling tidak seri juga bisa dipertahankan,” pintanya.

Namun demikian, pertandingan tidak sepenuhnya dimiliki oleh Along dan juga Marcio. Tetapi milik semua pemain Persib. Jadi semua tim harus menjaga kekompakan dan spirit tim harus tetap dibangun. Persib harus terus mampu menggedor jala lawan. ”Nanti pertandingannya pasti ketat dan keras,” analisanya. (snd)

Politisi Kota Tasik Bersatu dari hal 1

Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, besok (27/5). Ketua DPD Partai Golkar Kota Tasikmalaya H Noves Narayana MSI memprediksi Maung Bandung akan unggul 2-1, karena semangat Persib akan berlipat ganda saat melawan Persija. ”Para pemain (Persib) all out untuk memenangkan,” ujar politisi yang masuk ke gerbong Koalisi Peduli Nasib Umat (KPNU) yang mengusung Syarif Hidayat-Cecep Bagja Gunawan (Syabagja) ini tadi malam. Teguh salah seorang anggota KPNU

menyatakan, meski bermain tandang, Persib Bandung akan mampu memenangi pertandingan. ”Saya yakin skor 2-1 untuk kemenangan Persib. Meski pun bermain di kandang lawan. Persib akan bermain lebih baik jika melawan Persija,” tuturnya. Bendahara Koalisi Masyarakat Madani (KMM), pengusung pasangan Budi Budiman-Dede Sudrajat (Budi-Dede) Asep Deni Adnan Bumaeri memprediksi Si Biru Persib akan menang dari Si Orange Persija dengan skor 1-0. Anggota Tim KMM dari PKB, Wahid Wahyudin berharap Persib bisa menang. ”Tapi

untuk kali ini saya prediksi akan berakhir dengan hasil imbang tanpa skor,” ungkapnya. Koordinator Divisi Relawan KMM, Asep Khusaeri memprediksi yakin Persib akan menang. ”Pokoknya apapun yang terjadi Persib harus menang, ” tandasnya. Meski, sejatinya Ketua DPD Gerindra Kota Tasikmalaya H Nandang Suryana adalah pendukung Persib, dia memprediksi justru kemenangan akan diraih Persija 1-0, karena Persija memiliki semangat lebih, terlebih mereka bermain di hadapan pendukungnya. ”Saya rasa Persija akan menumbangkan Persib,” ujarnya. (kim)

Pasokan Gas 3 Kg Berkurang dari hal 1

tanah, meskipun harganya lumayan mahal. “Pelanggan saya banyak yang mengeluh terutama pedagang, dengan berkurangnya pasokan gas ini. Karena para pedagang sebagian ada yang beralih ke minyak tanah, sementara minyak tanah mahal,” ujarnya. Kelangkaan gas elpiji, kata Yayah, belum bisa diperkirakan batas waktunya. Terlebih belum ada tembusan dari agen. “Kelangkaan ini juga belum jelas penyebabnya,” ujarnya. Usman (45), pedagang gas mengaku belum mengetahui penyebabnya berkurangnya pasokan gas. “Kelangkaan ini menurunkan penghasilan hingga 50 persen, karena dari pengiriman per harinya biasa 500 tabung, sekarang dibatasi 250 tabung sehingga langganan saya banyak

yang complain, terutama pedagang yang selalu membeli dua hari sekali,” ungkapnya. BERALIH KE MINYAK TANAH Berkurangnya pasokan gas 3 kilogram membuat para pedagang gorengan dan rumah makan di Ciamis sebagian beralih menggunakan minyak tanah. “Saya terpaksa menggunakan minyak tanah untuk cadangannya, meski harganya mencapai Rp 10.000 per liternya,” ujar Engkar (48) pedagang gorengan. Daripada tidak dagang, Engkar lebih baik mengeluarkan anggaran lebih besar. “Ya lebih baik gunakan minyak tanah dulu sebelum gas stabil lagi,” ujar Engkar. Menurut dia, kelangkaan gas dan beralihnya ke minyak tanah membuat keuntungannya berkurang. “Kalau gas itu, Rp 15.000 bisa terpakai tiga hari, kalau minyak tanah itu, satu

liter paling satu hari,” ujarnya. Engkar berharap pasokan elpiji bisa normal lagi, karena efeknya dirasakan pedagang kecil. “Kalau bisa secepatnya lah kembali lagi stabil,” harapnya. Yani (34), pemilik rumah makan di Jalan Jenderal Sudirman Ciamis menuturkan berkurangnya pasokan gas elpiji 3 kilogram tidak berpengaruh kepada usahanya, karena dia menggunakan elpiji 12 kilogram. “Tidak tahu ke depannya, kalau terus langka. Mudah-mudahan tidak lama lah bisa stabil lagi,” tuturnya. Saat dikonfirmasi via telepon tadi malam, Rusmana, ketua Hiswana Migas Priangan Timur belum memberikan keterangan terkait kabar berkurangnya pasokan gas 3 kilogram ini. (mg3/yna/pee)

Sambil Nyetir, Hafalkan Pasal-Pasal KUHP dari hal 1

kalangan berada. Karena itu, begitu lulus, dia tak ingin lagi membebani orang tuanya. “Saat itu, saya tidak berpikir apa-apa. Yang penting cepat dapat pekerjaan dan bisa mandiri,” ujarnya. Nugraha menggeluti profesi di jalanan itu selama lima tahun. Meski berat, dia harus menjalani pekerjaan tersebut. “Antara bekerja dan beristirahat tidak ada bedanya,” kenangnya. Kapan saja ditugaskan, dia harus siap berangkat mengantar barang atau mengambil pesanan klien. Tak peduli malam atau siang. Dia sampai hafal rute jalan-jalan di berbagai kota di Jawa. Sebab, wilayah kerja ekspedisinya mencakup antarkota. Demikian pula dengan kerasnya kehidupan di jalan, hampir semua pernah dia rasakan. Nugraha sampai lupa bahwa dirinya adalah seorang sarjana hukum. “Banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan dari profesi sebagai sopir truk. Saya jadi terbiasa menghadapi tekanan,” terangnya. Lima tahun bergelut dengan curahan keringat dan kerasnya kehidupan jalanan membuat Nugraha mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Dia pun akhirnya tersadar akan latar belakang pendidikannya yang cukup bergengsi. “Kalau ingat itu, saya sering tercenung. Meski begitu, saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjalani profesi yang keras sebagai sopir,” tuturnya.

Pekerjaan lain yang terbayang dalam benak Nugraha kala itu terkait dengan ilmu yang pernah dipelajarinya di kampus. Apalagi, prestasi akademisnya lumayan bagus. Dia juga mampu menyelesaikan gelar sarjananya tepat waktu. “Saya merampungkan kuliah dalam empat tahun persis,” kata jaksa yang pernah berdinas di Kalimantan Tengah itu. Saat kuliah, Nugraha juga sudah hafal pasalpasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) beserta ancaman hukuman bagi pelanggarnya. Dia pun masih sering menghafal pasal-pasal untuk menjerat terpidana tersebut ketika menjadi sopir. “Sambil nyetir, saya hafalkan pasal-pasal itu. Sampai saya bisa hafal pasal satu hingga pasal terakhir,” ungkapnya bangga. Kelebihan itulah yang membuat dirinya terlecut mencoba terjun menekuni pekerjaan di bidang hukum. Gayung pun bersambut, ketika mendaftar menjadi calon jaksa pada 1997, dirinya dinyatakan lolos. Nugraha mengaku sangat beruntung karena soal-soal yang diujikan berisi pasal-pasal KUHP. “Mungkin sekarang saya tidak di sini jika soalnya bukan pasal-pasal KUHP,” ujar Nugraha yang kini menjabat Kasi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri Kota Kediri. Bagai sulapan, sejak itu kehidupan Nugraha berubah total. Dari jalanan yang panas dan keras ke kantor penegak hukum yang disegani. Karena itu, dia pun berikrar untuk total menjalani profesi barunya tersebut. “Saya baru sadar bahwa ilmu yang saya

dapatkan di bangku kuliah banyak manfaatnya. Saya ingin mengamalkan semaksimal mungkin.” Profesi jaksa jualah yang mempertemukan Nugraha dengan sang istri. Saat itu, dia menjalani dinas pertamanya di Rembang, Jawa Tengah. “Istri saya kebetulan dokter yang bertugas di Rembang,” ungkap Nugraha yang enggan menyebutkan nama istrinya itu. Nugraha baru setahun ini bertugas di Kejari Kediri. Selama berdinas di Kota Keretek tersebut, dia sudah menangani kasus-kasus tak biasa. Di antaranya, kasus perempuan yang melempari kios milik orang yang menyewa lahannya dengan bungkusan air kencing. Perempuan itu pun ditahan dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Dengan kehidupannya sekarang, Nugraha mengaku tak henti berucap syukur kepada Tuhan. Dia juga bersungguh-sungguh mengabdikan tenaga serta pikirannya sebagai penegak hukum yang jujur dan adil. Kesungguhan itu dia buktikan dengan berangkat sepagi mungkin ke kantor. Dengan berangkat lebih pagi, sambil berolahraga, dirinya mengaku jadi lebih rileks. Selain itu, menumbuhkan sikap disiplin. Dengan begitu, dirinya jadi sangat siap dengan agenda sidang sepadat apa pun. “Saya biasa ke kantor pukul 05.00 dan pulang malam. Itu kebiasaan saya saat menjadi sopir yang masih terbawa,” ujar jaksa yang memilih tinggal di kos-kosan dan pulang setiap Sabtu-Minggu ke rumahnya di Rembang tersebut. (*/c5/ari)


7 sam 26