Page 1

JUMAT, 11 MEI 2012 / 19 JUMADIL TSANI 1433 H

23

Pemalsuan Dokumen Ada Konsekuensi Hukum BANJAR – Ketelitian petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjar yang menemukan warga pengguna buku nikah palsu dalam pengajuan permohonan pembuatan kartu keluarga (KK) dan kartu tanda penduduk (KTP) mendapat apresiasi dari anggota Komisi I DPRD Kota Banjar H Muchtar Gozali. Kepada Radar Kamis (10/5), politisi PPP ini mengaku sependapat jika pembuatan KK dan KTP harus selektif. “Saya kira itu langkah positif dengan memeriksa berkas permohonan secara selektif dan saya acungi jempol,” katanya. Menurut Muchtar, sudah selayaknya proses pembuatan KTP dan KK harus selektif sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku berdasarkan ketentuan pemerintah setempat. “Yang tidak boleh itu mengada-ngadakan ketentuan diluar ketentuan normatif yang justru bertentangan dengan ketentuan yang telah dituangkan dalam sebuah peraturan. Kalau urusan selektif itu sudah seharusnya jangan sampai pemohon itu menggunakan data yang tidak valid atau bah-

MUCHTAR GOZALI Yang tidak boleh itu mengadangadakan ketentuan diluar ketentuan normatif yang justru bertentangan dengan ketentuan yang telah dituangkan dalam sebuah peraturan. Kalau urusan selektif itu sudah seharusnya jangan sampai pemohon itu menggunakan data yang tidak valid atau bahkan palsu.” kan palsu,” ujarnya. Meski harus selektif, namun Muchtar berharap penerapan aturan juga jangan terlampau kaku. Artinya harus fleksibel untuk hal-hal tertentu yang sifatnya ringan. “Kalau yang ringanringan bisa lah fleksibel, terkecuali hal yang prinsip. Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, harus apa adanya sesuai dengan peraturan yang berlaku,” tegasnya. Muchtar juga berharap warga

yang memohon pelayanan KK dan KTP untuk melengkapi berkas persyaratan sesuai yang disyaratkan. Jangan menggunakan berkas yang mengundang masalah, apalagi memalsukan data karena hal itu konsekuensinya hukum. “Memalsukan dokumen itu ada konsekuensi hukumnya. Apalagi ini buku nikah. Jadi jangan sekali-kali menggunakan dokumen yang tidak absah,” imbuhnya. (kun)

Penderita Kusta Terus Meningkat CIAMIS – Staf Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Ciamis dr Elsya Siskawati mengatakan, jumlah penderita penyakit kusta setiap tahunnya terus meningkat. Peningkatan ini, jelasnya, terlihat dari data yang dikumpulkan Dinas Kesehatan. “Dari data yang terdapat di kami, jumlah penderita kusta pada 2010 berjumlah 41 orang, sedangkan tahun 2011 berjumlah 43 dan sampai bulan ini telah mencapai 45 orang,” ungkap Elsya saat ditemui Radar di ruangannya, kemarin (10/5). Kusta, kata dia, merupakan penyakit yang disebabkan oleh

bakteri yang masuk ke tubuh. Hal tersebut terjadi karena warga kurang menjaga kebersihan lingkungan. “ Lingkungan kotor menjadi potensi bagi penyebaran penyakit ini,” terangnya. Sedangkan penularannya, kata Elsya, terjadi karena kontak langsung yang lama dengan penderita kusta tipe basah. Untuk gejalanya, dia menambahkan, secara umum biasanya berupa bercak keputihan yang mati rasa. “Oleh karena itu, jika ada warga yang memiliki bercak putih yang mati rasa, segera periksakan ke Puskesmas, karena pengobatan kusta ini gratis” katanya.

Peningkatan angka pengindap kusta ini, terang Elysa, paling banyak di Kecamatan Padaherang, yaitu sekitar 27 orang, Kecamatan Lakbok 9 orang dan sisanya tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis. “Paling banyak di daerah yang lingkungannya tidak bersih,” ujarnya. Untuk saat ini, dia mengungkapkan, lembaganya sudah melakukan berbagai upaya untuk menangai jenis penyakit ini, seperti sosialisasi terhadap masyarakat dan pengobatan gratsi untuk pengidapnya. “Di setiap Puskesmas sudah dianjurkan pengobatan kusta gratis,” ujarnya. (yna)

Latih Disiplin sejak Dini dari hal 17

Acara ini dihadiri kabagren AKP Jimmy Ronaz, KBO Lantas Ipda Kasan Bisri, Dirut BWP Gunawan SE Ak MKom CCNA dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Dahlan SH MSi. Ratusan anak TK dari berbagai taman kanakkanak di Kota Banjar mengikuti acara ini. Peserta yang didampingi gurunya itu mendapat bimbingan langsung dari sejumlah petugas Satlantas. Mereka dikenalkan sejumlah hal, seperti ramburambu lalu lintas. Bocah-bocah itu diberitahu secara gamblang tentang fungsi rambu-rambu lalu lintas.

“Para siswa langsung kita ajak berinteraksi dengan para petugas saat menjelaskan ramburambu lalu lintas supaya bisa benar-benar jelas dan paham,” kata Ipda Kasan Bisri. Tak hanya itu, anak-anak juga dikenalkan berbagai hal di dunia kepolisian. Penjelasan yang diberikan petugas tidak seperti yang diterima anak saat mendapatkan pelajaran di sekolah. Sistemnya dibuat senyaman dan seasyik mungkin, supaya mereka bisa mudah memahami. Salah satunya anak-anak diajak berkeliling dengan menggunakan kendaraan patrol polisi. “Dengan program ini, kita berharap anak sudah paham tentang berlalulintas yang baik sejak

dini yang tentunya bakal diterapkan saat dewasa nanti. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memahamkan kepada mereka bahwa institusi kepolisian adalah sahabat masyarakat. Bukan institusi yang menakutkan seperti yang banyak disampaikan orang dulu,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjar Dahlan SH MSi. Dahlan mengatakan, program ini memang sangat bermanfaat bagi anak-anak. Bahkan, katanya, ada baiknya program semacam ini dijadikan sebagai agenda rutin sekolah. “Dengan program ini, anakanak sudah bisa paham terhadap tugas dan peran Polisi sejak usia dini,” tukasnya. (kun)

KUKUN AS / RADAR TASIKMALAYA

SIMAK. Para peserta sosialisasi P2TP2A yang didominasi ibu-ibu mendengarkan pemaparan materi hukum dari dosen ilmu hukum H Ridwan Hardjaly di Aula Pertemuan Kelurahan Pataruman, Kamis (10/5).

KDRT dan Trafficking Langgar HAM dari hal 17

rumah tangga, trafficking dan korban pelecehan seks untuk mendapatkan perlindungan. “Dan yang paling penting, menurunkan jumlah korban KDRT, trafficking, dan pelecehan seks terhadap perempuan dan anak,”

tegasnya. Sementara dosen ilmu hukum H Ridwan Hardjaly di hadapan peserta yang terdiri dari lurah, kepala desa, tim penggerak PKK, pos KB, tutor PAUD dan karang taruna memaparkan beberapa ketentuan perundang-undangan yang berkaitan dengan P2TP2A. Se-

perti UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (trafficking). Menurut pandangan Ridwan, tindakan kekerasan terhadap

perempuan dan anak termasuk dalam pelanggaran HAM dan norma agama. Oleh karena itu, P2TP2A dan pemerintah serta seluruh komponen masyarakat harus sepakat dan bertekad menghapuskan pelanggaranpelanggaran terhadap kaum perempuan dan anak. (kun)

Penahanan CP Dibantarkan dari hal 17

Pantauan Radar, benjolan di muka pelaku terlihat jelas. Selain itu, ada memar di kelopak mata. Benjolan ini diduga akibat amuk massa ketika dia kepergok mencuri oleh warga. Wakil Kepala Ruang Raflesia

Agus Supriadi menjelaskan, saat ini kondisi kesehatan CP sudah berangsur membaik meskipun masih ada benjolan di muka. Awalnya, kata Agus, diduga tulang hidung CP mengalami retak. Namun setelah diperiksa, tulang hidung CP tidak retak.

“Kami memeriksakan ke dokter spesialis syaraf dan dokter THT untuk memastikan tidak adanya luka-luka yang serius untuk perawatan intensif,” ungkapnya kepada Radar. Ditanya perawatan akan berakhir dan CP dinyatakan sembuh, Agus mengatakan dirinya

tidak bisa memastikannya. Menurut dia, dokter jaga yang menentukan CP sudah sembuh total. ”Saat ini kami masih melakukan perawatan agar dia berangsur membaik. Kami harap pasien bisa cepat sembuh,” harapnya. (zi/cdr)

DENI FR / RADAR TASIKMALAYA

DIRAWAT. Pelajar pembobol warung di Kecamatan Pataruman Kota Banjar (kanan) masih dirawat di RSUD Banjar, Kamis (10/5).

Pembentukan Moral dan Budi Pekerti Minim dari hal 17 kurangnya bimbingan orang tua menyebabkan anak lebih terpengaruh oleh teman-temannya. “Bisa jadi mereka dari broken home . Jadi anak memandang keluarga bukan tumpuan untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Pemerintah harus respek dengan setiap kasus yang terjadi pada anak-anak,” ungkapnya.

Nana menegaskan, pelajar adalah generasi penerus. Oleh karena itu yang harus diberikan kepada mereka adalah pendidikan untuk bekal pengetahuan dan akhlak untuk bekal kebaikan. Menurut dia, harus ada keseimbangan antara pendidikan ilmu pengetahuan dan pendidikan akhlak. Selain itu juga harus ada kebersamaan dalam membangun pendidikan yang terintegrasi di sekolah, di rumah maupun di

lingkungan anak tersebut. Cara membangun kebersamaan ini dengan menjalin hubungan baik antara sekolah dengan orang tua siswa. “Dengan hal itu mereka bisa terpantau bagaimana pola pergaulannya. Kami harap ada pola kerja sama yang baik antara guru di sekolah dengan orang tua di rumah,” ungkapnya. Menurut Nana, aturan yang mengimbau setiap sekolah me-

nyediakan tenaga pengajar agama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberikan pengetahuan agama, belum berjalan optimal. Padahal harapan dengan dibentuknya pengajar khusus dari MUI ini, siswa bisa menata akhlaknya dengan baik dan lebih memahami Islam. “Kami harap ini bisa menjadi evaluasi pendidikan yang diterapkan di Banjar,” ungkapnya. (zi)

Ayah Angkat Cabuli Anaknya hingga... dari hal 24

KUKUN AS / RADAR TASIKMALAYA

RAMBU. Seorang murid TK menjawab pertanyaan anggota polwan seputar pengetahuan rambu lalu lintas.

angkat ini bukan sekali saja, melainkan sering dilakukan setiap istrinya tidak ada di rumah. “Dengan perilaku ayah angkatnya yang sering menggagahi korban, sehingga sekarang ini korban hamil delapan bulan,” ujarnya. Setiap meminta dilayani, terang Shohet, korban dipaksa di

bawah ancaman akan dicekik. Ancaman akan dibuhun juga diterimanya, jika korban melaporkan perilaku bejatnya ini kepada istrinya. Tidak kuat menahan beban mental yang selama ini dipendam, terang kasat, akhirnya perbuatan pelaku ini dilaporkan korban kepada bibi korban yang bernama Eti, (40). “Mendengar cerita

ini saudaranya langsung melaporkan pelaku ke Polsek Cipaku dan sekarang kasus ini dilimpahkan kepada kami,” ujarnya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka sudah diamankan di sel Polsek Cipaku dan dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak No 82 Tahun 2002 jo Pasal 294 KUHP dengan ancaman hukumnya 15

tahun penjara. Sementara itu, kabar terakhir dari Kasat Reskrim sekitar pukul 21.00, korban pencabulan sudah melahirkan di RSUD Ciamis. Anaknya, terang Shohet, dalam keadaan sehat. “Kita periksa tersangka dan akan kami dalami mengenai motifnya dan atas dasar kenapa melakukan perbutan itu,” pungkasnya. (yna/isr)

23  

perempuan dan anak termasuk dalam pelanggaran HAM dan norma agama. Oleh karena itu, P2TP2A dan pemerintah serta seluruh komponen masyarakat...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you