Issuu on Google+

22

SABTU, 1 SEPTEMBER 2012 / 14 SYAWAL 1433 H

JATI DIRI UUK Jogja untuk Siapa? MASA penantian 11 tahun warga Jogjakarta tidak sia-sia. Pemerintah dan DPR akhirnya mengesahkan rancangan undang-undang keistimewaan (RUUK) Jogjakarta menjadi undang-undang (UU) kemarin. Hebatnya lagi, pada hari pengesahan, UU tersebut langsung diberi nomor, yakni UU Nomor 11 Tahun 2012. Dengan begitu, UUK Jogja bisa langsung diberlakukan. Pemberlakuan UUK Jogja memang perlu dipercepat. Sebab, hal itu terkait dengan masa jabatan Sultan Hamengku Buwono (HB) X sebagai gubernur Daerah Istimewa (DI) Jogja yang berakhir pada 9 Oktober mendatang. Pengesahan UUK Jogja merupakan akhir dari pergumulan antara propemilihan dan propenetapan jabatan gubernur Wagub DI Jogja. Tahun lalu warga Jogja bergejolak ketika pusat memaksakan pemilihan gubernur-Wagub. Meski demikian, UUK Jogja tidak bisa dianggap menjadi kemenangan bagi propenetapan. Sebab, pemerintah pusat memberikan pesyaratan ketat kepada Sultan HB untuk menjadi gubernur-Wagub tanpa proses pemilihan. Diantaranya, membatasi hak-hak politik, sosial, dan ekonomi HB selama memimpin Jogja agar fokus mengendalikan roda pemerintahan. Selain itu, internal kesultanan harus mereformasi diri dengan melaksanakan secara kafah tata pemerintahan modern. Misalnya, kaderisasi calon pemimpin untuk generasi berikutnya. Seorang HB yang akan menjadi gubernur harus memenuhi seluruh pesyaratan gubernur yang ada ( Jawa Pos / grup Radar Tasikmalaya 29/8). Misalnya, syarat kesehatan, usia minimal, dan lulus pada jenjang pendidikan tertentu. Pengakuan pusat lainnya terhadap kekhususan Jogja adalah penggelontoran dana keistimewaan. Nilainya lebih besar daripada DAU dan DAK yang setiap tahun diterima Jogja. Namun, relatif lebih kecil dibanding dana kekhususan Papua (3 persen dari APBN) dan Aceh (2 persen dari APBN). Yang terpenting adalah adanya komitmen pusat untuk mencairkan dana keistimewaan tersebut. Meski segudang keistimewaan disandang Jogja, kini tinggal menunggu pelaksanaannya. UUK harus maslahat untuk rakyat juga. HB X juga harus bisa menerjemahkan makna keistimewaan kepada rakyat Jogja. Sebab, tanpa perubahan signifikan terhadap kesejahteraan rakyat Jogja, UUK tersebut tidak ada artinya. Dari data Bappeda DI Jogja, angka kemiskinan di Jogja saat ini masih tinggi, yakni di urutan ke-24 yaitu 16,08 persen (560.008 jiwa). Padahal, indeks kesejahteraan DIJ nomor satu di Indonesia dan IPM (indeks pembangunan manusia) di urutan keempat. Selain soal kemiskinan, Jogja kini dihadapkan pada permasalahan stabilitas ekonomi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ, pertumbuhan ekonomi DIJ pada triwulan II 2012 turun 4,27 persen dibanding triwulan I yang kala itu naik 1,53 persen. Bank Indonesia (BI) DIJ memprediksi, tren penurunan ekonomi Jogja bakal berlanjut hingga akhir tahun atau setidaknya stagnan. Angka pertumbungan ekonomi DIJ sendiri selama ini hanya 5-6 persen atau di bawah ratarata angka pertumbuhan ekonomi nasional. Dua permasalahan tersebut kini menjadi agenda prioritas untuk ditangani HB X yang bakal menjadi gubernur pertama saat pemberlakuan UUK Jogja. Pimpinan Jogja harus mampu membuktikan bahwa UUK tidak dirasakan elitenya, tetapi harus menetes hingga ke tingkat masyarakat bawah. Semoga. (*)

Khotbah di Atas Bukit J

UDUL tersebut dipinjam dari karya budayawan Jogja ternama, Kuntowijoyo. Namun, tulisan ini tidak akan mengulas karya tentang pencarian spiritual tersebut, melainkan hendak mengurai surat pembaca Jawa Pos (grup Radar Tasikmalaya) yang dicetuskan Sihabuddin, mahasiswa Komunikasi IAIN Sunan Ampel, (17/8/2012) . Dia mengusulkan khotbah Jumat berkisar 10–15 menit saja. Saya hanya mengambil semangat Pak Kunto yang berhasil menorehkan khotbah lelaki tua di atas bukit dengan memikat. Ya, hakikatnya, khotbah bisa disampaikan secara menarik. Sebagai mahasiswa komunikasi, Sihabuddin menyadari bahwa khotbah Jumat yang begitu panjang membosankan. Ditambah, khotib tidak menguasai retorika sehingga jamaah terkantuk-kantuk, bahkan tertidur. Fenomena tersebut sering ditemui di banyak masjid. Dia pun khawatir khotbah tersebut sia-sia. Padahal, Rasulullah memperpendek khotbah dan memanjangkan ayat dalam salat. Karena itu, dia menyarankan agar khotib mempersingkat ceramah dengan retorika yang memesona. Atas dasar kenyataan itu, kewajiban mingguan tersebut perlu diperiksa kembali. Sebagai ibadah yang melibatkan orang banyak, tentu khotbah adalah peluang untuk menciptakan kesadaran umat tentang kehidupan, kesejahteraan dan kesentosaan. Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah durasi khotbah itu mesti singkat agar memikat, lalu memaksa khotib untuk menyampaikannya dengan retorika berbunga-bunga. Bukankah yang terakhir itu telah dilakukan ustad dadakan yang pandai berkata-kata dan

Oleh: memantik tawa? terkantuk-kantuk, malah TAK ADA YANG tertidur. Selain itu, boleh AHMAD SAHIDAH MENCATAT dikatakan, kita tidak perRetorika adalah gaya agar nah menemukan jamaah pidato memikat. Negeri ini menyediakan mencatat uraian yang disampaikan khotib. pemidato yang baik. Misalnya, dai sejuta Demikian juga, tidak ada masjid yang menumat Zainuddin M.Z. Bukan hanya gayanya cetak isi khotbah. Yang kita temukan adalah yang menarik, dia juga membekali diri deselebaran yang mengandung khotbah kengan ilmu keagamaan yang mumpuni serta agamaan secara umum yang dikeluarkan khazanah klasik. Malahan, pengetahuan organisasi atau kelompok kajian tertentu umum dan wawasannya turut memperkaya seperti LKiS dan Hizbut Tahrir yang di dacerita serta kiasan dalam ceramah. Tak ayal, lamnya terdapat pesan jangan dibaca ketika banyak orang yang betah berlama-lama khotbah sedang dilangsungkan. menyimak uraian almarhum. Tentu, kita tak BERKHOTBAH, LALU BERTINDAK melupakan bagaimana Zainuddin memeSebenarnya gagasan untuk mendayagu cah kebekuan perayaan Isra Mikraj di Masjid nakan khotbah Jumat pernah dilontarkan Istiqlal di hadapan Presiden Soeharto yang Cacuk Sudariyanto, mantan orang nomor sebelumnya disampaikan penceramah desatu Telkom. Dengan teknologi informasi, ngan nada datar. khotbah Jumat bisa diselaraskan di seluruh Masalahnya, apakah retorika dengan sennegeri dengan bertumpu pada masalahdirinya mampu menyampaikan pesan sang masalah bersama di tingkat nasional. pengkhotbah dan mampu mengulas maMeski bertujuan baik, aroma Orde Baru salah dengan baik? Tidak dengan sendirinya kuat menyengat. Yaitu, penyeragaman gagaya yang baik akan menancap di benak gasan. Kita tentu mafhum bahwa kemajuan penerima. Meski, sesuai teori komunikasi itu adalah kehendak bersama. Namun, ia jarum hipodermik, keberterimaan pesan dengan sendirinya tidak meniadakan kelayaknya jarum yang ditancapkan di tubuh anekaragaman. Bagaimanapun, masjidpasien, sehingga tak lama kemudian reaksi masjid Indonesia terbelah pada kecenobat akan menyembuhkan si sakit. Dengan derungan yang berbeda. Selain organisasi rumus S-R (Stimulus- Response), sepatutnya keagamaan, sebagian di antara mereka dalam keadaan seperti Jumatan, yakni khoterpaku pada tradisi lama, pembacaan khottib berdiri kukuh di mimbar dan jamaah bah dalam bahasa Arab saja. Bahkan, di diam, tak ada seorang pun yang bermain kampung saya, salah seorang khotib memtelepon genggam, sehingga pesan-pesan bawakan teks khotbah yang sama selama khotbah tentu akan mudah berkesan di hati puluhan tahun. Jamaah tetap meluber, mereka. memenuhi hingga emperan masjid. Namun, Namun, kenyataannya, banyak jamaah praktis mereka hanya bersembahyang tanyang tampak khusyuk namun sebenarnya pa membawa pesan khotbah.

Nah, mengingat potensi khotbah untuk perubahan sosial, yakni orang datang tanpa harus diundang, kita tentu tidak hanya menjadikan khotbah itu memikat semata-mata, tapi juga mendorong pengkhotbah mengangkat persoalan bersama jamaah. Tentu, peran intelektual sangat penting, dalam pengertian Ali Syariati adalah mereka yang berbicara dengan bahasa masyarakatnya, untuk memasok gagasan. Pendek kata, setelah Jumatan usai, mereka bisa duduk bersama untuk merumuskan tindakan. Dalam tradisi Rasulullah, seperti disusun Athar Hussein dalam The Message of Muhammad (1983), masjid bukan hanya ruang untuk membicarakan ibadah, tetapi juga muamalah (sosial). Setelah menyampaikan yang pertama, Rasulullah menanyakan kesejahteraan umatnya. Malahan, dalam majelis pengajian di masjid setelah subuh, kelakar juga tidak dilarang. Karena itu, mungkin saja kandungan khotbah mempersoalkan masalah setempat. Misalnya, harga tebu atau beras yang tidak menguntungkan petani karena impor gula dibuka pemerintah tanpa pertimbangan matang. Jadi, selain mengandaikan retorika yang memukau, khotbah menyentil masalahmasalah konkret umat. Sayangnya, dalam banyak khotbah, kita sering menemukan ajakan menggelorakan permusuhan kepada orang lain, tidak menekankan pada musuh yang sesungguhnya, yaitu kemiskinan, kebodohan serta penyakit masyarakat. (*) Dosen filsafat dan etika di Universitas Utara Malaysia

Mengubah Kebengisan Lalu Lintas B

ERAPA prajurit AS yang tewas selama menjalankan operasi militer di Iraq selama satu dekade (2003-2012)? Jumlahnya 4.486 jiwa. Kalau dirata-rata, setiap hari ada seorang serdadu Paman Sam yang anumerta. Tak sampai dua nyawa per hari. Jumlah kematian tertinggi terjadi pada 2007, yakni 904 prajurit tewas. Itu artinya 23 tentara melepas nyawa tiap hari. Lalu, berapa nyawa melayang di kubu AS selama perang di Afghanistan pada 20012012? Ternyata lebih sedikit. Yakni, 2.106 prajurit selama 12 tahun atau rata-rata dua hari sekali baru ada satu nyawa tentara yang hilang. Angka-angka tersebut memang jauh lebih kecil ketimbang korban dari kalangan sipil. Banyak yang menyebut bahwa selama operasi militer AS dan para sekutunya di Iraq dan Afghanistan, tak kurang dari 130 ribu warga sipil tewas. Namun, sedikit banyak, data prajurit tewas yang dirilis (dan terus diupdate) oleh situs http://icasualties. org tersebut memang menggambarkan situasi perang yang bengis. Namun, data arus lalu lintas selama momen Lebaran di Indonesia tak kalah mencekamnya... Mabes Polri mencatat, dalam kurun H-7 hingga H+6 Lebaran, terjadi 5.233 kecelakaan (Jawa Pos, 28/8). Selama 15 hari itu, 908 nyawa hilang. Itu rata-rata 60,5 orang meninggal di jalanan tiap hari. Ya ampun... Logika sederhana, jalanan negeri kita di masa

Oleh: arus mudik dan arus balik kurang diminati karena tak kemarin 60 kali lebih maut nyaman. Sudahlah, anggap DOAN WIDHIANDONO ketimbang kancah perang saja pemerintah memang di Iraq dan 120 kali lebih belum mampu menyediamematikan daripada perang satu dekade di kan prasarana jalan yang memadai. Afghanistan! Tapi, faktor yang berpengaruh memang Data Mabes Polri itu masih dilengkapi info bukan sarana prasarana belaka. Perilaku penunjang yang juga tak kalah mengerikan. berkendara justru kerap menjadi faktor Sebanyak 1.505 orang luka berat dan 5.139 utama keselamatan berlalu lintas. Terus lainnya luka ringan. Kerugian yang tercatat terang, perilaku pengendara kita jauh dari ditaksir mencapai Rp 11,8 miliar. Itu kerugian disiplin. Bahkan, Kementerian Luar Negeri materiil. Kerugian immaterial tentu tak AS lewat situs http://travel.state.gov meterhitung. Tahun ini, terdata 5.634 sepeda nuliskan hal tersebut. Lewat laman itu, Kemotor terlibat dalam kecelakaan. Mereka menlu AS memang merangkum karakteristik bertumbangan di antara 2,5 juta unit sepeda setiap negara di dunia dari berbagai aspek. motor lain yang juga ikut dalam hiruk pikuk Mulai geografis, kultur, kriminalitas hingga mudik. lalu lintas. Memang tak mudah untuk langsung tuInfo itu berguna untuk informasi awal bagi ding hidung kepada siapa yang bersalah warga AS yang ingin melancong ke luar dalam ’’kecelakaan masal’’ selama dua pekan negeri. Nah, soal lalu lintas di Indonesia, sitersebut. Sebab, setiap kecelakaan pasti tus tersebut menulis bahwa traffic in Indopunya karakteristik kejadian tersendiri. nesia is highly dangerous, congested, and Meski begitu, tetap ada benang merah yang undisciplined (lalu lintas di Indonesia sangat bisa ditarik dalam ribuan road accidents berbahaya, hiruk pikuk, dan tidak disiplin). tersebut. Yakni, kata polisi, setiap keceLebih lanjut, dituliskan pula bahwa traffic lakaan pasti diawali dengan pelanggaran. signals are frequently ignored and often in Problemnya, pelanggaran-pelanggaran itu disrepair. Artinya, orang luar negeri pun tahu tetap saja terjadi dan kian lama kian masif. bahwa rambu-ram bu lalu lintas di IndoneRasanya terlalu melelahkan kalau kita sia kerap di abaikan dan kadang kondisinya terus-menerus mengutuki pemerintah lanmem prihatinkan. Gambaran lain dalam sitaran ketidakmampuannya menyediakan tus tersebut seharusnya membuat kita malu. keamanan dan kenyamanan di jalan. Atau Yakni, bus dan truk kerap kelebihan muatan karena angkutan umum kita yang masih saja dan berkecepatan tinggi. Lalu lintas di Indo-

nesia juga digambarkan kerap bercampur antara mobil, sepeda motor, becak, delman, cikar (kereta yang ditarik sapi), gerobak dorong, hingga hewan ternak yang berseliweran. Soal sepeda motor, dituliskan bahwa jumlah roda dua di jalanan begitu banyak dan mereka selalu merebut hak pengendara lain di jalanan. Pasti yang dimaksud adalah saling serobot dan main potong seenaknya. Pengendara motor juga dituding paling rendah kepatuhannya terhadap aturan lalu lintas dan tata keselamatan. Generally, road safety awareness is very low in Indonesia (Secara umum, kesadaran soal keselamatan berkendara di Indonesia masih sangat rendah). Itu tak usah dibantah. Anggap saja ini untuk introspeksi. Setiap hari kita bisa menyaksikan buktinya. Mulai pengendara motor yang memotong jalur pengendara lain, motor yang disesaki penumpang lebih dari dua orang, atau pengendara motor yang sibuk ber-SMS. Seolah-olah begitu penting kabar SMS itu sehingga harus dikirim dengan bertaruh nyawa. Menunggu pemerintah mengubah jalanan menjadi nyaman dan longgar mungkin makan waktu. Menanti moda transportasi yang murah, nyaman, dan aman tak bisa sekejap. Tapi, mengubah perilaku berkendara adalah hal yang paling memungkinkan saat ini. Mari. (*) Wartawan Jawa Pos

Pendiri: H Mahtum Mastoem (Alm). General Manager: Dadan Alisundana. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Ruslan Caxra. Redaktur Pelaksana: Usep Saeffulloh. Asisten Redaktur Pelaksana Pracetak: Midi Tawang. Koordinator Liputan: M Ruslan Hakim. Redaktur: Tina Agustina, Nancy AQ Mangkoe. Asisten Redaktur: Candra Nugraha, Asep Sufian Sya’roni, Irwan Nugraha, Ujang Yusuf Maulana. Penanggung Jawab Web: Husni Mubarok. Reporter: Dede Mulyadi, Permana, Lisna Wati, Referensi Semua Generasi Lisan Kyrana. Singaparna: Sandy Abdul Wahab. Ciamis: Iman S Rahman, Yana Taryana. Pangandaran: Nana Suryana. Banjar: Kukun Abdul Syakur (Kepala Biro), Deni Fauzi Ramdani. Wartawan Luar Negeri Melalui Jawa Pos News Network (JPNN): Dany Suyanto (Hongkong). Sekretaris Redaksi: Lilis Lismayati. Pracetak: Achmad Faisal (Koordinator), Sona Sonjaya, Husni Mubarok, H Yunis Nugraha. IT: Harry Hidayat. Iklan: Agustiana (Manager), Nunung, Devi Fitri Rahmawati, Jamal Afandy. Iklan Perwakilan Jakarta: Yudi Haryono, Azwir, Eko Supriyanto, Mukmin Rolle, Arief BK, Asih. Pemasaran dan Pengembangan Koran: Dede Supriyadi (Manager), Asep H Gondrong, Yadi Haryadi, Toni, Dani Wardani. Promosi dan Event: M. Fahrur, Sarabunis Mubarok. Keuangan: Nina Herlina (Manager), Novi Nirmalasari (Accounting), Rina Kurniasih (Inkaso), Tatang, Dian Herdiansyah (Kolektor). Diterbitkan: PT. Wahana Semesta Tasikmalaya. Percetakan: PT Wahana Semesta Java Intermedia. Komisaris Utama: H. M. Alwi Hamu, Komisaris: Lukman Setiawan, Dwi Nurmawan. Direktur Utama: H. Suparno Wonokromo. Direktur: Yanto S Utomo. Alamat Redaksi/Pemasaran/Iklan/Tata Usaha/Percetakan: Jl. SL Tobing No. 99 Tasikmalaya 46126, Telp. 0265-348356-57, Fax. 0265- 322022, email: radar.tasikmalaya@gmail.com. Perwakilan Cirebon: Jl. Perjuangan No. 9 Cirebon Tlp: (0231) 483531, 483532, 483533. Perwakilan Bandung: Jl. Margahayu Raya Barat Blok SII No.106 Bandung Telp. 022-7564848, 08182398875 (Sofyan). Perwakilan Jakarta: Komplek Widuri Indah Blok A-3, Jl. Palmerah Barat No. 353, Jakarta 12210, Telp. 021-5330976, HP: 081320279893. Tarif Iklan: hitam putih (BW) Rp 28.000/mm kolom, warna (FC) Rp 38.000/mm kolom, iklan baris Rp 15.000, iklan halaman 1 (FC) Rp 76.000/mm, iklan halaman 1 (BW) Rp 56.000/mm , No. Rekening: 0520110944 - BANK SYARIAH MANDIRI Cabang Tasikmalaya, 0007245361001 - BANK JABAR BANTEN Cabang Tasikmalaya, an. PT Wahana Semesta Tasikmalaya.

Isi diluar tanggung jawab percetakan

SEMUA WARTAWAN RADAR TASIKMALAYA SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL ATAU SURAT TUGAS, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APAPUN DARI NARASUMBER.


22 WACANA 1 sep