Page 1

22

SENIN, 17 SEPTEMBER 2012 / 1 DZULQAIDAH 1433 H

JATI DIRI Jangan Biarkan Bigot Itu Menang SESUDAH menonton trailer film Innocence of Muslims di YouTube, seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai Alan Tube menulis, ”Saya nonmuslim dan menurut saya ini film terbodoh yang pernah saya lihat. Sayang sekali uang dihabiskan untuk membuat sampah seperti ini.” Ada ribuan komentar senada, dari muslim maupun nonmuslim, yang telah menyaksikan trailer film yang diproduksi di California, Amerika Serikat (AS), tersebut. Tidak heran pula, kemudian Pemerintah AS buru-buru menegaskan mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan apa pun dengan pembuatan film yang para pemerannya pun mengaku dibohongi itu. Menlu Hillary Clinton bahkan menyebutnya sebagai film yang ”menjijikkan”. Dari trailer sepanjang sekitar 13 menit itu, kita memang bakal segera tahu bahwa Innocence of Muslims dibuat bukan untuk mengajak berdialektika, tetapi semata untuk memancing kemarahan. Karena itu, meresponsnya dengan tindak kekerasan seperti yang kita lihat di Libya, Mesir, dan Yaman justru yang diinginkan pembuat film tersebut. Mereka bakal merasa ”menang” karena yang dicita-citakan tercapai: menjustifikasi bahwa Islam adalah agama yang dekat dengan kekerasan. Jadi, tepat kiranya sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang mengecam keras film tersebut sembari mengingatkan umat muslim agar tidak menyikapinya secara berlebihan. Janganlah menghabiskan energi untuk sebuah produk yang sangat menghina kecerdasan dan cuma punya satu tempat yang layak: tong sampah. Seperti disampaikan Ketua Umum PB NU, Said Aqil Siraj, akan selalu ada pihak yang berusaha mendiskreditkan Nabi Muhammad. Di sepanjang zaman, bigot memang bisa gampang ditemukan di mana saja, dalam beragam bentuk, untuk berbagai kepentingan. Tidak cuma kepada Islam, tetapi juga agama lain. Karena itu, kepala dingin sangat dibutuhkan agar tidak gampang terpancing provokasi murahan. Menyikapinya dengan berdemonstrasi tentu dipersilakan. Tetapi, lakukankah dengan cerdas, tanpa kekerasan. Presiden Mesir Mohammad Morsy yang warganya selama berhari-hari mengurung Kedubes AS di Kairo gara-gara film tersebut pun sudah menegaskan, dirinya mendukung penuh demonstrasi damai. Tetapi, tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi. Sebab, kata Morsy, ”bukankah Nabi mengajarkan kepada kita agar mengasihi sesama?” Tetapi, tentu tidak adil kalau hanya mengharapkan warga muslim yang belajar mengontrol emosi. Para pemegang kekuasaan di negara-negara yang warganya bisa seenak udel mengobral syahwat untuk menghina agama lain juga harus introspeksi. AS, misalnya. Kalau mereka bisa punya undangundang yang dapat memaksa seorang jurnalis membuka identitas narasumber yang dilindungi atas nama keamanan nasional. Mengapa Negeri Paman Sam itu tidak memiliki produk hukum yang bisa memastikan seorang bigot yang ulahnya telah memicu jatuhnya korban jiwa bakal dihukum? Ingat, kebebasan berpendapat tanpa disertai pertimbangan keadilan akan selalu terasa konyol. Sama konyolnya seperti kalau kita membiarkan para bigot yang menjual provokasi murahan menang dengan bertindak di luar kontrol. (*)

Bela Nabi Cara Nabi P

ENAYANGAN film Innocence of Muslims yang dikabarkan berisi penistaan Nabi menyulut gelombang protes di berbagai negara di dunia Islam. Sejauh pengamatan penulis, terutama melalui siaran sejumlah televisi di Timur Tengah, protes yang telah memakan korban meninggal (termasuk Dubes AS di Libya) dan luka berat di Libya, Mesir, Yaman, Sudan, dan beberapa negara lain itu masih berpotensi mengalami eskalasi, baik kualitas, kuantitas, maupun spektrumnya. Tidak sedikit pemimpin politik, tokoh agama, dan kelompok-kelompok gerakan di dunia Islam menyerukan umat Islam agar turun ke jalan sebagai respons terhadap penayangan film tersebut. Celakanya, sebagian aksi dengan sasaran utama situs-situs kepentingan AS itu diwarnai berbagai tindakan kekerasan dan perusakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa, luka, dan berbagai kerusakan. EGOISME V ”REAKSIONER” Di dunia Barat (baca Eropa Barat dan AS), pembuatan dan penayangan film itu bukanlah suatu persoalan yang berarti. Sebab, mereka berpandangan bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengekspresikan pikiran, sikap, dan pandangannya, termasuk melalui media film. Mereka ’’memuja” kebebasan individu itu sebagai bagian dari ketinggian peradaban Barat. Karena itu, hampir bisa dipastikan nalar sebagian besar orang Barat mengatakan bahwa pembuatan film semacam itu sepenuhnya adalah hak siapa pun untuk melakukannya. Intinya, mereka menginginkan kebebasan individu tersebut dengan sebebas-bebasnya. Sebagian orang Barat seolah tidak mau tahu bahwa di bagian lain di dunia ini ada

Oleh: kelompok lain yang juga mencintai umatnya. Nabi manusia, bukan subhuadalah sosok ideal yang IBNU BURDAH man, memiliki nilai-nilai menjadi teladan kehidupyang sama sekali berbeda an umat Islam. Nabi adalah dari nilai yang mereka yakini. Orang lain itu manusia pilihan yang dirindukan syafaatnya memiliki keyakinan dan simbol-simbol yang di hari akhir. Isi film ini, sebagaimana disangat dihormati. Menyinggung sedikit saja kabarkan, jelas terlalu brutal untuk takaran mengenai simbol tersebut akan berpotensi nalar muslim yang sangat mengagungkan melahirkan respons balik yang serius, apadan memuliakan beliau. lagi menistakannya dengan gambaran-gamKarena itu, umat Islam di berbagai negara, baran ”brutal”dan “keji”. terutama di Timur Tengah, secara spontan Orang Barat jelas sudah mengetahui benar mereaksi sangat keras penayangan film mengenai garis merah di dunia Islam itu. tersebut. Sikap itu mereka pandang sebagai Sebab, kejadian tersebut sudah berkali-kali tindakan membela agama, membela Nabi terjadi dan menimbulkan reaksi serupa yang sangat berjasa bagi hidup mereka, dan meski tidak ”sedestruktif” ini. Namun, egoismembela seluruh umat Islam. me dan perasaan sebagai superior telah AWAS KONTRAPRODUKTIF menghilangkan tenggang rasa mereka seReaksi keras, apalagi melibatkan hilangnya bagai sesama warga dunia. Padahal, di Barat nyawa, luka, dan kerusakan, jelas bukan cara pun kebebasan itu sesungguhnya juga Nabi dalam menyikapi penistaan orang termemiliki batasan-batasan sehingga kita hadap beliau. Jelas tidak bisa dinalar bahwa tidak bisa memandang secara berlebihan kita membela Nabi dengan cara melanggar jaminan Barat terhadap hak individu itu. ajaran-ajaran Nabi yang paling fundamenPada praktiknya, tetap ada garis merah tal. Pembelaan melalui cara itu justru bisa yang tidak bisa dilampaui di sana. Pelarangkontraproduktif bagi citra umat Islam yang an pemakaian burqa di sebagian negara saat ini diidentikkan sebagai reaktif dan tidak Eropa menjadi contoh sederhana, padahal mampu beradaptasi dengan nilainilai moitu, menurut nalar awam saya, sama sekali dernitas. Cara pembelaan Nabi seperti itu tidak menghina atau merugikan orang lain. juga justru melanggar ajaran Nabi SAW yang Di AS, kejanggalan juga terjadi. Misalnya, sangat menekankan hikmah, kelembutan, pembatasan ekspresi agama apa pun di dan kesadaran ketika beliau sendiri mengruang publik, kecuali terkait nilai-nilai Judeohadapi pelecehan atau penistaan. Christianity dan Greeko- Roman yang hingPenghinaan Nabi (isaatun Nabi) sesungga saat ini penulis belum memahami isi nilaiguhnya bukan merupakan isu baru di dunia nilai itu. Islam. Ketika tinggal di Kairo pada 2005–2006, Sementara itu, di dunia Islam, isi film penulis beberapa kali berkunjung kepada tersebut dipandang sebagai bagian dari Muhammad Dawud, salah seorang ulama pelecehan dan penghinaan terhadap umat dan akademisi terpandang, untuk belajar dan Islam. Sebab, Nabi Muhammad itu bergelar berdiskusi. Salah satunya adalah mengenai al Habiib, Nabi yang sangat dicintai dan rencana beliau menulis mu’jam isaatun Nabi

(ensiklopedia penistaan Nabi) yang melibatkan ulama dari berbagai negara di dunia Islam. Kami, saat itu, merekomendasikan nama Prof Quraisy Shihab sebagai wakil ulama Indonesia untuk dilibatkan dalam usaha tersebut. Usaha itu mencerminkan bahwa penistaan Nabi adalah isu yang ada sejak lama dan telah terjadi berulang-ulang dalam berbagai episode dan zaman. Yang lebih penting adalah umat Islam seharusnya menggali dan mempelajari kembali bagaimana Nabi merespons berbagai tindakan pelecehan dan penghinaan terhadap beliau sehingga umat Islam tidak terjerumus dalam sikap membela Nabi, namun sesungguhnya melawan ajaran ajaran Nabi. Banyak riwayat yang menunjukkan Nabi tidak pernah reaktif dalam menghadapi segala bentuk penistaan dan pelecehan terhadap beliau. Bukan hanya pelecehan yang dilakukan pemuka-pemuka masyarakat seperti Abu Jahal dan istrinya, namun juga seorang yang sangat lemah dan ”hina” dalam pandangan masyarakatnya. Yang dilakukan Nabi adalah memberikan pengertian, penyadaran, dan sikap dasar yang jelas dengan cara-cara yang sangat elegan. Dan, upaya itu tidak dilakukan dengan cara berteriak-teriak, merusak, melukai, apalagi menghilangkan nyawa. Nabi melakukannya dengan penuh kesabaran dan kelembutan yang sekaligus memperlihatkan tingginya kelas dan kualitas kemanusiaan beliau. Mana bisa Islam diterima jadi agama mondial bila Rasul suka marah marah? Wallahu a’lam. (*) Analis Timur Tengah dan dunia Islam asal Trenggalek, dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Sindiran dari ”Miss Prostitusi 2012” M

ETROPOLIS Surabaya kembali mencuat setelah ”Ratu Prostitusi”, Keyko, tertangkap pekan lalu. Tidak tanggung-tanggung, Keyko memiliki anak buah –”barang jualan”– sekitar 1.600 perempuan muda yang tersebar di seluruh kota besar di Indonesia. Omzet setiap bulan pun lebih dari Rp 3 miliar. Memang pantas Keyko menyandang gelar Miss Prostitusi 2012. Sebagai kota besar kedua setelah Jakarta, Kota Pahlawan ini sudah amat dikenal memiliki lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, yakni Dolly. Nama Dolly pun melambung hingga dikenal di mancanegara, seperti Vietnam, Thailand, India, bahkan Belanda. Kini, keterkenalan Kota Surabaya kembali melonjak dengan ditangkapnya Keyko, sang germo yang memiliki anak buah di seluruh Indonesia. Pelanggannya pun rata-rata para pejabat, politisi, dan pengusaha karena jaringan Keyko menawarkan perempuanperempuan pilihan yang sebagian ABG dan mahasiswi. Pelacuran memang ”penyakit” yang ada sejak manusia muncul di muka bumi dan terus berkembang seiring perkembangan demografis dan sosiologis masyarakat. Yang menarik dicermati atas tertangkapnya Keyko adalah sistem kerja dan pola bisnisnya yang rapi serta memanfaatkan perkembangan teknologi. Sang germo ini mampu me-

Oleh: ngendalikan bisnisnya di Dengan kata lain, penberbagai kota hanya dari didikan di rumah oleh orCUCUK ESPE Surabaya. Tentu dia meang tua menjadi kunci kemanfaatkan jejaring sosial berhasilan pendidian hodan transaksi lewat BlackBerry Messenger listik. Pembekalan nilai-nilai moral tidak (BBM), serta pembayaran via bank. Kondimulai dari sekolah, tetapi dari rumah. sumen memesan melalui BBM setelah meSebab, harus diakui, dunia pendidikan forlihat ”perempuan” yang diinginkan di jemal kita tidak menjamin transformasi nilai jaring sosial, lantas nego melalui BBM. Pemmoralitas, melainkan hanya ”nilai ujian” bayaran dilakukan dengan mentransfer ketika materi tuntas. Patut disadari bahwa sejumlah uang yang telah disepakati. Hanya sebagian besar remaja yang terjerumus dari Surabaya! Ini karena Keyko telah medalam liang pelacuran, sejatinya bukan miliki ”gerai cabang” di Jakarta, Bandung, terdorong oleh keinginan nurani, tetapi Jogjakarta, Semarang, Bali, Medan, dan karena ketidaberesan komunikasi dalam sejumlah kota lain. Sungguh sistem binis keluarga. yang sangat technocable dan sangat rapi. Kedua, fenomena Keyko seolah menyinBELAJAR DARI KEYKO dir kita agar mampu mengoptimalkan tekAda beberapa realitas kekinian yang patut nologi dengan baik. Dunia maya menyajikita cermati terkait dengan tertangkapnya kan beragam informasi dan sensasi seratu prostitusi di Surabaya ini. Sebuah reakaligus mampu membuat lupa diri. Proslitas yang luput dari jangkau-pandang kita titusi alias bisnis perzinaan melalui dunia karena sibuk terbelit persoalan pragmatis maya bukanlah hal baru. Pangsa pasar dan politis. Pertama, fenomena Keyko merupakomoditas yang diperjualbelikan telah kan indikasi kegagalan pendidikan secara menyentuh konsumen yang luas. Yakni holistik. Jujur saja, kita selama ini telah perempuan di bawah umur serta pejabat mempersempit makna pendidikan hanya publik yang ternyata menjadi pelanggan pada dunia persekolahan. Kita pun merasa tetap. Kemajuan teknologi membuat prosnyaman apabila anak-anak kita pamit pergi tituti tidak kentara dan bisa dilakukan ke sekolah atau izin ada jam pelajaran tamtanpa harus keluar ke jalanan atau lobahan. Namun, sadarkah kita bahwa pamit kalisasi. Cukup koneksi internet dari kamar pergi ke sekolah pun mampu menjadi hotel, pilih-pilih, lalu telepon dan dibayar modus untuk lepas dari rumah? via online banking.

Sederhana, cepat, dan rapi. Tidak heran peluang ini mengundang para pejabat publik dan mereka yang ”malu-malu” tergiur menyambutnya. Pada titik inilah teknologi harus digunakan dengan cerdas karena manfaat optimal perkembangan teknologi tidak akan diperoleh penggunanya jika hanya mengandalkan kepintaran (keahlian) tanpa ada kecerdasan. Ketiga, fenomena Keyko seolah menyentak kita-terutama warga Surabaya–bahwa di Kota Pahlawan ini makin rentan (baca: longgar) terjadinya bisnis haram. Jika Kramat Tunggak, Jakarta, telah hilang, mengapa Dolly dan sejumlah lokalisasi lain masih tarik ulur? Jujur saja, ini problem politis. Di sisi lain, sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta, aparatur di Surabaya juga harus menyiapkan kompetensi untuk mencegah tindak kejahatan jalanan maupun moral. Tentu saja upaya ini harus dibarengi kemampuan masuk dalam wilayah kejahatan yang menggunakan teknologi tinggi (cybercrime). Tetapi, terbongkarnya jaringan protitusi online di Surabaya ini mengundang ”senyum” sambil berkata; Surabaya memang nggak ada matinya. (Un)welcome Miss Protitusi 2012! (*) Alumnus Universitas Negeri Malang dan peneliti pada Lembaga Baca-Tulis Indonesia

Pendiri: H Mahtum Mastoem (Alm). General Manager: Dadan Alisundana. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Ruslan Caxra. Redaktur Pelaksana: Usep Saeffulloh. Asisten Redaktur Pelaksana Pracetak: Midi Tawang. Koordinator Liputan: M Ruslan Hakim. Redaktur: Tina Agustina, Nancy AQ Mangkoe. Asisten Redaktur: Candra Nugraha, Asep Sufian Sya’roni, Irwan Nugraha, Ujang Yusuf Maulana. Penanggung Jawab Web: Husni Mubarok. Reporter: Dede Mulyadi, Permana, Lisna Wati, Referensi Semua Generasi Lisan Kyrana. Singaparna: Sandy Abdul Wahab. Ciamis: Iman S Rahman, Yana Taryana. Pangandaran: Nana Suryana. Banjar: Kukun Abdul Syakur (Kepala Biro), Deni Fauzi Ramdani. Wartawan Luar Negeri Melalui Jawa Pos News Network (JPNN): Dany Suyanto (Hongkong). Sekretaris Redaksi: Lilis Lismayati. Pracetak: Achmad Faisal (Koordinator), Sona Sonjaya, Husni Mubarok, H Yunis Nugraha. IT: Harry Hidayat. Iklan: Agustiana (Manager), Nunung, Devi Fitri Rahmawati, Jamal Afandy. Iklan Perwakilan Jakarta: Yudi Haryono, Azwir, Eko Supriyanto, Mukmin Rolle, Arief BK, Asih. Pemasaran dan Pengembangan Koran: Dede Supriyadi (Manager), Asep H Gondrong, Yadi Haryadi, Toni, Dani Wardani. Promosi dan Event: M. Fahrur, Sarabunis Mubarok. Keuangan: Nina Herlina (Manager), Novi Nirmalasari (Accounting), Rina Kurniasih (Inkaso), Tatang, Dian Herdiansyah (Kolektor). Diterbitkan: PT. Wahana Semesta Tasikmalaya. Percetakan: PT Wahana Semesta Java Intermedia. Komisaris Utama: H. M. Alwi Hamu, Komisaris: Lukman Setiawan, Dwi Nurmawan. Direktur Utama: H. Suparno Wonokromo. Direktur: Yanto S Utomo. Alamat Redaksi/Pemasaran/Iklan/Tata Usaha/Percetakan: Jl. SL Tobing No. 99 Tasikmalaya 46126, Telp. 0265-348356-57, Fax. 0265- 322022, email: radar.tasikmalaya@gmail.com. Perwakilan Cirebon: Jl. Perjuangan No. 9 Cirebon Tlp: (0231) 483531, 483532, 483533. Perwakilan Bandung: Jl. Margahayu Raya Barat Blok SII No.106 Bandung Telp. 022-7564848, 08182398875 (Sofyan). Perwakilan Jakarta: Komplek Widuri Indah Blok A-3, Jl. Palmerah Barat No. 353, Jakarta 12210, Telp. 021-5330976, HP: 081320279893. Tarif Iklan: hitam putih (BW) Rp 28.000/mm kolom, warna (FC) Rp 38.000/mm kolom, iklan baris Rp 15.000, iklan halaman 1 (FC) Rp 76.000/mm, iklan halaman 1 (BW) Rp 56.000/mm , No. Rekening: 0520110944 - BANK SYARIAH MANDIRI Cabang Tasikmalaya, 0007245361001 - BANK JABAR BANTEN Cabang Tasikmalaya, an. PT Wahana Semesta Tasikmalaya.

Isi diluar tanggung jawab percetakan

SEMUA WARTAWAN RADAR TASIKMALAYA SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL ATAU SURAT TUGAS, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APAPUN DARI NARASUMBER.


22 WACANA 17 sept  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you