Issuu on Google+

22

RABU, 25 JULI 2012 / 5 RAMADAN 1433 H

JATI DIRI Usut Tuntas Lampu Padam GBT PERTANDINGAN Persebaya melawan Queens Park Rangers (QPR) di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin malam (23/7) memang bukan event besar. Melainkan hanya pertandingan persahabatan. Namun, pertandingan itu jadi menarik dan memiliki nilai promosi yang besar bagi Surabaya dan Indonesia. Sebab, yang dihadapi Persebaya adalah tim Premier League Inggris, QPR. Apalagi, sangat jarang tim berlabel internasional yang mengikuti salah satu kompetisi terbaik di dunia hadir di Surabaya. Klub besar Eropa yang terakhir menjadi lawan Persebaya adalah PSV Eindhoven pada 1996. Saat itu, Persebaya menjamu PSV di Gelora 10 Nopember, Surabaya, saat sore. Karena itu, antusiasme suporter untuk menyambut dan menyaksikan pertandingan Persebaya versus QPR di Stadion Gelora Bung Tomo begitu besar. Stadion megah tersebut penuh sesak dan semarak oleh kehadiran para penonton. Sebagai warga Indonesia, kita tentu saja bangga menyaksikan pertandingan yang dijejali penonton dan berlangsung aman. Itu sesuai dengan kerinduan masyarakat akan pertandingan yang aman serta enak ditonton. Kerinduan tersebut makin terobati setelah melihat penampilan Persebaya yang tidak memalukan. Sebagai runner-up kompetisi Indonesian Premier League (IPL), Erol Iba dan kawan-kawan bisa menampilkan permainan yang rancak dengan mengandalkan satu sentuhan. Menghadapi klub yang lebih berpengalaman dengan skill matang para pemain berkelas di Eropa, Persebaya bisa tampil tenang dan memberikan perlawanan maksimal. Persebaya tidak menjadi bulan-bulanan lawan. Seandainya tidak ada kejadian lampu padam dalam pertandingan tersebut, tentu kesan yang muncul dalam pertandingan itu akan sempurna. Meski Persebaya akhirnya kalah 1-2, kesan yang muncul bukan kekalahan itu, namun permainannya. Yang banyak dipersoalkan masyarakat sekarang adalah lampu stadion yang sampai padam lima kali. Hal itu di luar nalar, meski kejadian lampu padam saat pertandingan berlangsung bukan kali ini saja terjadi. Namun, hal tersebut sangat jarang terjadi. Pihak stadion tentu sudah menyiapkan sebaik mungkin sarana yang dibutuhkan untuk pertandingan tersebut. Apalagi menyangkut lampu untuk pertandingan sepak bola yang tentu membutuhkan aliran listrik yang maksimal agar menyala sepanjang pertandingan. Dalam kejadian Senin malam tersebut, pihak pengelola stadion terkesan tidak menyiapkan genset secara maksimal. Mereka begitu percaya pada kemampuan genset yang digunakan dalam event event sebelumnya yang bisa menyala sepanjang pertandingan berlangsung. Ini tidak hanya ditujukan untuk menghindari upaya sabotase yang bisa saja dilakukan orangorang yang tidak senang. Namun, memang sudah menjadi kewajiban pengelola sarana untuk menyiapkan sarana terbaik agar tidak mengecewakan banyak pihak. Dengan kejadian itu, bukan hanya panitia yang malu, namun juga masyarakat Surabaya dan Indonesia. Apalagi, ada siaran langsung televisi yang bisa disaksikan di belahan dunia lain. Karena itu, Dispora Surabaya yang membawahkan pengelolaan Gelora Bung Tomo harus tanggap dan mengusut tuntas kecerobohan tersebut agar tidak terulang pada event-event berikutnya. Apalagi, Surabaya merupakan salah satu kota yang diajukan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Asian Games pada 2019. Meski masih jauh dan harus bersaing dengan negara lain, penyiapan sarana –salah satunya Gelora Bung Tomo– sangat penting untuk menghadapi persaingan menjadi tuan rumah multievent tersebut. (*)

Tuntutan Budaya Mutu P

RESTASI membanggakan diraih tiga kampus Indonesia di level dunia. ITB, UI, dan UGM berhasil masuk 100 besar universitas ternama di Asia. Bahkan, ITB berhasil masuk peringkat ke-82 dari 200 universitas ternama di dunia. Data ini dapat diakses melalui The 4 International Colleges and Universities (www.4icu.org) atau World Universities Web Ranking. Sebelumnya, pada September 2011, UI dinobatkan sebagai satu-satunya universitas di Indonesia yang berhasil masuk Top 300 Universities in the World. Berdasar penilaian Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking, UI menduduki peringkat ke-217. Indikator yang digunakan dalam pembuatan ranking ini meliputi academic reputation (40 persen), employer reputation (10 persen), student/ faculty ratio (20 persen), citations per faculty (20 persen), international faculty (5 persen), dan international students (5 persen). Pemeringkatan universitas secara berkala ini penting untuk menjamin terwujudnya budaya mutu. Cara ini juga diharapkan dapat meningkatkan kinerja pimpinan perguruan tinggi (PT) untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dalam penjaminan mutu (quality assurance). Pada Juni 2009, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pernah memublikasikan hasil evaluasi Sistem Penjaminan Mutu Internal bagi PT seluruh Indonesia. Pada saat itu, ada 387 PT yang diberi instrumen dan dinilai. Hasilnya, Dikti menetapkan 68 kampus

yang layak disebut berpremutu ini harus dilakukan Oleh: dikat good practices dalam secara berkelanjutan (conBIYANTO melaksanakan penjamintinuous improvement) agar an mutu. Dasar penilaian ada jaminan bahwa lulusyang digunakan meliputi kurikulum, proses an pendidikan tinggi adalah pribadi yang pembelajaran, kompetensi (mahasiswa, cerdas dan kompetitif. Dalam jangka panlulusan, dan dosen), suasana akademik, jang, penerapan penjaminan mutu PT disarana prasarana, keuangan, penelitian dan harapkan dapat meningkatkan indeks perpublikasi, pengabdian masyarakat, makembangan manusia (human development najemen lembaga, sistem informasi, serta index) sehingga memiliki daya saing di level kerja sama dalam dan luar negeri. Peninternasional. jaminan mutu berarti proses penetapan dan BANGUN DARI KENYAMANAN pemenuhan standar pengelolaan secara Karena telah menjadi amanah konstitusi konsisten dan berkelanjutan sehingga stakedan tuntutan global, setiap pendidikan holders memperoleh kepuasan. tinggi harus melakukan penjaminan mutu. Secara konstitusional, penjaminan mutu PT Sebab, di masa mendatang eksistensi PT merupakan kewajiban. Diktum UU Nomor negeri dan swasta tidak bisa hanya ber20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional gantung pada pemerintah. Nasib PT akan (Sisdiknas) menyatakan urgensi kebijakan sangat ditentukan oleh penilaian mutu oleh yang mengatur standar untuk menjamin stakeholders. mutu pendidikan (pasal 50 ayat 2). Hermawan Kartajaya, guru marketing duPP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasionia, pernah menyatakan bahwa stakeholdnal Pendidikan juga mengatur aspek detail ers memiliki positioning yang sangat tinggi. dalam proses penjaminan mutu. Demikian PT yang tidak cerdas merespons kemauan juga rumusan Higher Educational Long pelanggan (customer) pasti akan ditingTerm Strategy (HELTS) yang diluncurkan galkan. Jika situasi sudah demikian, dapat Kemendikbud telah menegaskan urgensi dibayangkan nasib PT tersebut. Karena itu, quality assurance sebagai wujud tanggung salah satu tugas PT adalah menjaga kejawab PT pada publik. percayaan pelanggan dengan cara meTidak bisa tidak, setiap PT diharuskan ningkatkan layanan agar stakeholders teruntuk melakukan kegiatan audit, baik interpuaskan. Substansi pengertian mutu senal maupun eksternal, oleh lembaga- lemsungguhnya berkaitan dengan terpenuhibaga independen seperti Badan Akreditasi nya standar dan janji yang telah diutarakan Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Yang PT pada stakeholders dalam penyeleng perlu ditekankan bahwa sistem penjaminan garaan tridharma.

Persoalan pemenuhan standar dan janji sebagai salah satu indikator PT bermutu ini penting dikemukakan. Sebab, banyak PT yang telah menentukan standar dan janji pada pelanggan, tetapi dalam perjalanannya tidak pernah diukur pemenuhannya. Kondisi yang barangkali masih menguntungkan bagi PT yang belum mewujudkan budaya mutu adalah kondisi masyarakat yang tidak banyak menuntut dan tidak tahu mutu layanan PT. Akibatnya, PT merasa nyaman dengan apa yang dilakukan. Tetapi, harus disadari, perkembangan masyarakat telah menunjukkan sikap yang semakin kritis. Fenomena masyarakat yang tidak mau tahu dengan mutu layanan pendidikan sesungguhnya tidak hanya dijumpai di level pendidikan tinggi. Pendidikan tingkat dasar dan menengah juga menjumpai kondisi yang sama. Padahal, masyarakat sebagai pengguna sejatinya memiliki hak untuk memperoleh layanan yang terbaik. Menguatnya kesadaran mutu dari masyarakat akan mendorong sistem pendidikan nasional menuju banyak prestasi di level nasional dan internasional. Untuk itu, pimpinan lembaga pendidikan tidak bisa tidak harus melaksanakan penjaminan mutu sebagai wujud akuntabilitas pada masyarakat. Penjaminan mutu harus menjadi budaya seluruh komponen dalam satuan pendidikan. (*) Dosen IAIN Sunan Ampel dan asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT)

Mensyukuri Rahmat Perbedaan H

ISAB-rukyat dalam kaitan dengan penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal (Idul Fitri), sepertinya dua kutub yang bertolak belakang. Hisab dikonotasikan bagi kelompok orang intelek dan ilmiah, sementara rukyat diidentikkan dengan tradisional dan menggunakan metode pengamatan langsung. Kalau sudah bisa dihitung dengan ilmu matematika dan fisika, mengapa awal Ramadan dan 1 Syawal masih harus dibuktikan dan dinyatakan dengan rukyatul hilal? Aduh, itu pertanyaan yang sudah sangat usang dan kuno sekali. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sudah sejak sebelum Indonesia merdeka memperdebatkan masalah itu. Kedua ormas ini sudah sama-sama bisa memahami perbedaan tersebut dan saling menghargai atau sepakat tetap dalam perbedaan. Baru awal Ramadan ini, perbedaan tersebut agak mencuat lantaran Muhammadiyah tidak ikut hadir dalam sidang isbat Kementerian Agama. Lalu, muncul tiga tulisan dalam rubrik Tafakur di Jawa Pos (21– 23 Juli 2012). Tulisan Agus Mustofa ini sedikit banyak telah menyinggung umat yang satu dan mengagungkan kelompok yang lain. Seharusnya, era perbedaan dan pertentangan hilal-rukyat (sengaja ini yang coba saya tanggapi) memang sudah berakhir dan harus diakhiri. Tiga hari terakhir, Tafakur JP sempat mengusik. Saya sih tak begitu memedulikannya. Itu tulisan dan pemikiran yang biasa. Tidak ada hal-hal baru. Tapi,

pada tulisan ketiga (23 Jurukyatul hilal ternyata buOleh: li), banyak teman yang berlan tidak tampak atau beSHOLIHIN HIDAYAT tanyatanya Tafakur denglum memenuhi syarat an model seperti itu sudah tanggal 1 Ramadan, NU tidak zamannya. Satu pihak yang mengmenjadikan hasil rukyat sebagai dasar pegunakan metode hisab dianggap ilmiah dan nentuan awal Ramadan. saintifik, sementara yang menggunakan Salah satu dasar hukum hadis yang diempirik dengan rukyatul hilal dianggap gunakan NU adalah ”Berpuasalah kalian tradisional dan tidak ilmiah. karena melihat bulan dan berbukalah (berMeski tulisan itu tidak secara langsung lebaran) kalian setelah melihat bulan.” Umat menyebut NU atau Muhammadiyah, yang Islam diwajibkan puasa ketika melihat hilal. dimaksud dua kutub itu adalah dua ormas Begitu juga saat mengakhiri puasa (jatuhnya terbesar di Indonesia yang jamaahnya pal1 Syawal), ketika sudah melihat hilal. Dalam ing banyak dan mainstream. Dari sudut sebuah riwayat hadis disebutkan, Rib’i bin pandang hisab, penentuan awal Ramadan Hirasy, sahabat Rasulullah SAW mengatakan dan jatuhnya Idul Fitri sama sekali tidak ada bahwa para sahabat berbeda pendapat persoalan. Sepuluh atau bahkan 100 tahun tentang akhir Ramadan. Nah, di tengahmendatang, awal Ramadan dan 1 Syawal tengah perbedaan itu datanglah dua orang sudah bisa dihitung. A’robi (orang udik) melaporkan kepada Ilmu falak/astronomi punya otoritas untuk Rasulullah SAW dan bersumpah: Demi Allah menentukan itu semua. Lantas mengapa sejatinya hilal telah tampak kemarin sore. masih diperlukan kesaksian mata telanjang Atas dasar laporan dan sumpah (rukyat dengan senyata-nyatanya atau rukyatul berkualitas) tersebut, Rasulullah menghilal? NU juga punya ahli ahli falak yang isbatkan hari itu sebagai hari Idul Fitri. tersohor (di Jatim ada almarhum KH MahKemudian, Nabi memerintahkan para safudh Jombang dan KH Mu’thi Bangil). NU habat untuk salat Id keesokan harinya sudah paham hitungan dan hisab. (karena waktu itu sudah zuhur) (HR Ahmad Tapi, untuk membutktikan hisabnya, NU dan Abu Daud). Nah, perbedaan tersebut masih memerlukan satu metode lagi, yakni dianggap selesai. rukyatul hilal. Jika hasil rukyatul hilal berbeda Dari riwayat tersebut bisa disimpulkan dengan hisab (hitungan), NU akan memakai bahwa siapa pun dan dari mana pun asalnya, hasil rukyatul hilal sebagai dasar penentuan siapa saja yang melihat hilal dan berani awal Ramadan atau Idul Fitri. Bisa saja hasil disumpah, maka kesaksian tersebut dihisab menyebutkan awal Ramadan jatuh anggap sah. pada Jumat (20 Juli), tapi setelah dilakukan Penetapan Idul Fitri dengan metode ruk-

yatul hilal, sama sekali tidak bisa dianggap tradisional, tidak saintifik, tidak ilmiah, dan kuno. Bukan. Sebaliknya, yang menggunakan metode hisab itu ilmiah dan modern. Terbitnya hilal selalu tepat waktunya dan tidak akan pernah salah, karena yang menerbitkan Allah. Sementara hitungan manusia bisa dua kemungkinan; salah dan benar. Adanya perbedaan tentang kriteria awal bulan, yaitu perbedaan antara kriteria wujudul hilal dan kriteria imkanur rukyat. Perbedaan dalam hitungan menit masih dapat ditoleransi, tetapi ketika perbedaan dalam hitungan derajat dan hari, akan timbul persoalan serius, seperti adanya perbedaan hitungan hisab taqribi dengan hitungan hisab tahqiqi/tadqiqi/’ashry tentang Idul Fitri 2011 M yang lalu. Perbedaan hitungan hisab yang menimbulkan persoalan serius ini mengundang adanya perselisihan mengenai kedudukan hisab di samping rukyat. Apakah hisab berfungsi sebagai instrumen pendukung dan pemandu rukyat ataukah hisab dapat menggantikan rukyat. NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi keagamaan tertua dan terbesar di Indonesia. Keduanya sudah sangat berpengalaman dalam mengarungi perbedaan dan perselisihan pendapat. Kita yakin bahwa perbedaan adalah rahmat yang patut disyukuri! (*) Wartawan, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos

Pendiri: H Mahtum Mastoem (Alm). General Manager: Dadan Alisundana. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Ruslan Caxra. Redaktur Pelaksana: Usep Saeffulloh. Asisten Redaktur Pelaksana Pracetak: Midi Tawang. Koordinator Liputan: M Ruslan Hakim. Redaktur: Tina Agustina, Nancy AQ Mangkoe. Asisten Redaktur: Candra Nugraha, Asep Sufian Sya’roni, Irwan Nugraha, Ujang Yusuf Maulana. Penanggung Jawab Web: Husni Mubarok. Reporter: Dede Mulyadi, Permana, Lisna Wati, Rina Suliestyana, Lisan Kyrana. Singaparna: Sandy Abdul Wahab. Ciamis: Iman S Rahman, Yana Taryana. Pangandaran: Nana Suryana. Banjar: Kukun Abdul Syakur (Kepala Biro), Deni Fauzi Ramdani. Wartawan Luar Negeri Melalui Jawa Pos News Network (JPNN): Dany Suyanto (Hongkong). Sekretaris Redaksi: Lilis Lismayati. Pracetak: Achmad Faisal (Koordinator), Sona Sonjaya, Husni Mubarok, H Yunis Nugraha. IT: Harry Hidayat. Iklan: Agustiana (Manager), Nunung, Devi Fitri Rahmawati, Jamal Afandy. Iklan Perwakilan Jakarta: Yudi Haryono, Azwir, Eko Supriyanto, Mukmin Rolle, Arief BK, Asih. Pemasaran dan Pengembangan Koran: Dede Supriyadi (Manager), Asep H Gondrong, Yadi Haryadi, Toni, Dani Wardani. Promosi dan Event: M. Fahrur, Sarabunis Mubarok. Keuangan: Nina Herlina (Manager), Novi Nirmalasari (Accounting), Rina Kurniasih (Inkaso), Tatang (Kolektor). Diterbitkan: PT. Wahana Semesta Tasikmalaya. Percetakan: PT Wahana Semesta Java Intermedia. Komisaris Utama: H. M. Alwi Hamu, Komisaris: Lukman Setiawan, Dwi Nurmawan. Direktur Utama: H. Suparno Wonokromo. Direktur: Yanto S Utomo. Alamat Redaksi/Pemasaran/Iklan/Tata Usaha/Percetakan: Jl. SL Tobing No. 99 Tasikmalaya 46126, Telp. 0265-348356-57, Fax. 0265- 322022, email: radar.tasikmalaya@gmail.com. Perwakilan Cirebon: Jl. Perjuangan No. 9 Cirebon Tlp: (0231) 483531, 483532, 483533. Perwakilan Bandung: Jl. Margahayu Raya Barat Blok SII No.106 Bandung Telp. 022-7564848, 08182398875 (Sofyan). Perwakilan Jakarta: Komplek Widuri Indah Blok A-3, Jl. Palmerah Barat No. 353, Jakarta 12210, Telp. 021-5330976, HP: 081320279893. Tarif Iklan: hitam putih (BW) Rp 28.000/mm kolom, warna (FC) Rp 38.000/mm kolom, iklan baris Rp 15.000, iklan halaman 1 (FC) Rp 76.000/mm, iklan halaman 1 (BW) Rp 56.000/mm , No. Rekening: 0520110944 - BANK SYARIAH MANDIRI Cabang Tasikmalaya, 0007245361001 - BANK JABAR BANTEN Cabang Tasikmalaya, an. PT Wahana Semesta Tasikmalaya. Referensi Semua Generasi

Isi diluar tanggung jawab percetakan

SEMUA WARTAWAN RADAR TASIKMALAYA SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL ATAU SURAT TUGAS, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APAPUN DARI NARASUMBER.


22 WACANA 26 jul