Page 1

2

JUMAT, 4 MEI 2012 / 12 JUMADIL TSANI 1433 H

TASIKMALAYA

Lima Aset Pemkab Segera Dijual Singaparna Prioritas Utama Kota Hijau TASIK – Wilayah Kecamatan Singaparna akan menjadi prioritas utama untuk dijadikan kota hijau pada tahun 2012 ini. Selain itu, ada 4 daerah lain yang masuk pengembangan perkotaan lainnya yaitu Kecamatan Ciawi, Karangnunggal, Manonjaya, dan Cikatomas. Kota Singaparna menjadi prioritas utama, karena merupakan daerah Ibukota Kabupaten Tasikmalaya. Demikian diungkapkan Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum usai menghadiri acara sosialisasi program pengembangan kota hijau (P2KH) di Hotel Santika Kota Tasikmalaya, kemarin (3/5). Uu menjelaskan, langkah ini baru diambil karena selama ini pihaknya belum bisa memenuhi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Salah satunya tentang penghijauan wilayah perkotaan. Yang menjadi alasannya kata dia, karena keterbatasan anggaran. Disisi lain, pihaknya masih memfokuskan diri pada kebutuhan pelayanan masyarakat yang semakin meningkat. Katanya, ada lima wilayah yang menjadi field project sebagai daerah pengembangan perkotaan yaitu Kecamatan Ciawi, Karangnunggal, Manonjaya, Cikatomas dan Singaparna. Selain menjadi pengembangan perkotaan, kelima kecamatan tersebut juga akan jadi pengembangan kota hijau. Yakni, daerah ini nantinya akan ditanami bermacammacam jenis pohon untuk penghijauan lingkungan. Penanaman pohon akan ditanam di tempat-tempat tertentu yang strategis, disetiap pusat kota masingmasing. Selain akan ditanami banyak pohonan, lima kecamatan itu juga akan ditata. Salah satu lokasi yang akan ditata adalah alun-alun Singaparna dengan sekarang dipadati parkir delman, ojeg dan kendaraan lainnya. Itu katanya sesuai Undang Undang itu (UU RI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang). Sementara, Ketua Pelaksana Sosialisasi P2KH Gus Latif menjelaskan, tujuan sosialisasi itu adalah untuk menumbuh kembangkan kepedulian masyarakat akan arti pentingnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Sehingga terbentuk komunitas kota hijau (Green Community) yang akan menjadi motor penggerak utama gerakan hijau di kawasan perkotaan. “Serta menjamin keberlangsungan program kota hijau di masa yang akan datang,” jelas dia. (snd)

SANDY AW/ RADAR TASIKMALAYA

MANGKAL. Delman yang mangkal di sekitar alun-alun Singaparna. Foto diambil beberapa waktu lalu.

Delman dan Ojeg Takut Dipindah SINGAPARNA – Rencana Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang akan melakukan penghijauan ibukota dan penataan alun-alun Singaparna, dikhawatirkan para kusir delman dan tukang ojeg yang biasa mangkal di sekitar lokasi itu. Mereka memandang, langkah tersebut akan mengancam mata pencaharian mereka, terutama dalam sektor pelayanan jasa angkutan tradisional kepada masyarakat. Hal ini diakui kusir delman, Maman Opo dan tukang ojeg, Jajang dan Awai saat mereka mangkal di alun-alun Singaparna kepada Radar, kemarin (3/5). Maman Opa mengaku, sangat keberatan kalau tempat mangkal mereka di alun-alun Singaparna harus dipindah. Lokasi itu menurutnya sangat strategis karena ramai oleh pengunjung pasar.

Sehingga banyak memberi rezeki bagi kehidupan keluarga mereka. “Saya akan tetap mangkal di sini begitu juga dengan teman-teman saya. Kami mau pindah, asalkan ada tempat yang lebih ramai dari ini. Tapi yang ramai itu kan di pasar. Ya, disinilah tempatnya,” kata dia. Delman yang mangkal di alun-alun Singaparna jelasnya, seluruhnya 40 buah. Semua kusir (penarik delman, red) hanya menggantungkan pencaharian hidup mereka dari pelayanan jasa angkutan itu, tidak ada penghasilan sampingan lainnya. Padahal, saat ini delman juga musti bersaing dengan pengusaha jasa angkutan lainnya, seperti angkutan umum (angkum) yang mulai memasuki pelosok desa. “Paling penghasilan rata-rata hanya Rp 35.000 per hari. Dipotong untuk beli

ongok (ampas singkong, red) Rp 5.000, beli rumput Rp 10.000. Yah paling bersihnya Rp 20.000,” akunya. Kalau saja tempat mangkalnya dipindah, tentu para kusir di alun-alun Singaparna akan menjerit. Kekhawatiran tukang delman juga dirasakan para tukang ojeg alun-alun Singaparna. Seperti diakui Jajang dan Awai. Mereka mengaku sangat keberatan kalau pangkalan mereka dipindahkan. Yang menjadi alasan utamanya, karena tempat mangkal mereka di sekitar pasar, yang rata-rata pengunjungnya memanfaatkan jasa tukang ojeg. “Ada sekitar 300 ojeg yang mangkal di sini. Yah pasti tidak akan jauh berbeda mereka juga enggak mau kalau dipindah,” ujar lelaki yang menekuni profesi itu sejak tahun 1990an itu. (snd)

Jasad Olih Membusuk di Warung ramah tamah dan humoris. Ditemui di TKP, Kapolsek Leuwisari AKP Sukardi mengatakan, berdasarkan hasil identifikasi dan pemeriksaan medis, tidak ditemukan bekas penganiayaan pada jasad korban. Kemngkinan korban meninggal akibat dari penyakit Yaitu penyakit darah tinggi dan

Warga Geger PADAKEMBANG – Warga Kampung/Desa Cilampung Hilir Kecamatan Padakembang digegerkan oleh penemuan jasad Olih Suhaemi (69) yang membusuk di warungnya, kemarin (03/5). Kematian pedagang itu, diduga akibat penyakit lamanya yaitu darah tinggi (hipertensi) dan turun berok (hernia). Asep (39) anak ketiga Olih dari 7 bersaudara mengatakan, ayahnya ditemukan sudah meninggal didalam warungnya, setelah ada informasi dari masyarakat setempat yang mencium bau menyengat dari warung milik ayahnya itu sekitar pukul 11.00 WIB. Kemudian jelas Asep, diapun mendatangi warung di pinggir jalan tersebut untuk memastikan apa penyebabnya. “Saya langsung lihat warung. Warung bapak saya masih terkunci. Tapi terlihat ada darah yang mengalir dari dalam ke luar warung. Saya langsung naik ke atas genting. Setelah dilihat dari atas ternyata Bapak. Saya kira awalnya banyak tikus yang mati di dalam,” terang dia kepada wartawan di sela-sela

SANDY AW / RADAR TASIKMALAYA

TUTUP HIDUNG. Warga Kampung/Desa Cilampung Hilir Kecamatan Padakembang berkerumun di sekitar warung Olih, kemarin (3/5).

pelaksanaan identifikasi pihak kepolisian terhadap Duda beranak 7 itu, kemarin. Awalnya, Asep mengira ayahnya pergi ke Jakarta. Karena memang sebelumnya sudah sudah direncanakan akan pergi untuk berdagang ke Jakarta pada Senin lalu (30/4). Bahkan pada Minggu sore (29/4) sempat berpamitan dan menyuruhnya membersihkan sampah kalau banyak sampah di halaman warungnya. Asep mengakui, ayahnya me-

ngidap penyakit darah tinggi dan turun berok. Kemungkinan penyakit yang menahun tersebut yang menyebabkan dirinya meninggal. Sementara, Rohimah (25) istri Asep menjelaskan, warung itu sering ditinggali almarhum supaya tidak kebobolan maling. Yeni (21) dan Mila (20) keponakan Olih mengaku sosok Olih bukan sosok pemarah dan mudah jengkel terhadap orang lain. Olih adalah sosok yang

hernia. Hal serupa diungkapkan ahli medis Puskesmas Kecamatan Padakembang, dr N Suryana Bachtiar. Suryana mengatakan tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuh Olih. “Jasadnya diperkirakan sudah meninggal sekitar 2 sampai 3 hari,” paparnya. (snd)

TASIK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya akan menjual lima asetnya yang ada di wilayah Kota Tasikmalaya. Kelima aset tersebut antara lain ex gedung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tasikmalaya, ex terminal Indihiang, ex gudang di sekitar Pabrik Es, sebidang tanah di jalan RE Martadinata yang digunakan SPBU, dan Gedung PGRI di belakang RS Jasa Kartini. Hal ini diungkapkan Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum kepada Radar melalui ponselnya, tadi malam (3/5). Bupati menjelaskan, kelima aset tersebut adalah milik Kabupaten Tasikmalaya dengan bukti kepemilikan sertifikat. Jadi tidak ada persoalan sengketa aset dengan pemerintah Kota Tasikmalaya. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sudah menawarkan ke Pemkot untuk dibeli. Namun, hingga kemarin (3/5) pihak Pemkot tidak meresponnya. Karenanya, pihaknya akan membuka kesempatan kepada pihak swasta yang ingin membelinya. “Sudah tidak diragukan lagi tentang kepemilikan tersebut,” jelasnya.Bupati menjelaskan, alasan pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menjual aset tersebut karena banyaknya permintaan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya terhadap kebutuhan pembangunan. Seperti pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, pemenuhan kebutuhan listrik dan irigasi untuk pertanian. “Saat ini saja baru 55 persen warga Kabupaten Tasikmalaya yang menikmati listrik secara resmi. Berarti 45 persen lagi belum dipenuhi,” jelas dia. Soalnya, kalau pembangunan hanya mengandalkan dana dari APBD Kabupaten Tasikmalaya yang bersumber dari PAD, DAU dan DAK tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan itu. Sehingga, penjualan aset tersebut adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakan akan pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya. “Karena kami butuh duit untuk membangun, maka kami menawarkan kepada pihak swasta. Siapa yang butuh terhadap aset kami, kami akan jual,” katanya. Padahal kata dia, kondisi keuangan di Kabupaten Tasikmalaya sedang mengalami defisit anggaran. Pembangunan kantor instansi atau dinas pun belum sepenuhnya rampung. Yakni, kantor dinas yang sudah berada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya baru kelar sekitar 60 persen. Sisanya, sebagian dinas masih berada di Kota Tasikmalaya. “Untuk membangun hal itu (kantor), maka kami menjual itu (aset di kota),” paparnya. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, jelas dia, sudah mengantongi harga-harga kelima aset tersebut, sesuai dengan perhitungan tim konsultan independen. Namun, dia mengaku, belum bisa memberitahukan berapa harga per asetnya. Pihak swasta yang ingin membeli aset Pemkab tesebut, bisa melalui Pemerintah Daerah atau melalui Bappeda Kabupaten Tasikmalaya. “Sudah ada salah satu peminat aset yaitu dari Jasa Kartini. Tapi masih belum fixed,” ungkap Bupati. Dihubungi terpisah, Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya H Ruhimat mengatakan, pihaknya mendukung rencana tersebut. Soalnya, rencana itu untuk memenuhi kepentingan pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya. Karenanya, penjualan aset di kota tasikmalaya itu tidak perlu dimasalahkan. Karena sudah jelas kepemilikan aset tersebut adalah pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. “Kalau memang itu bisa dijual, semuanya (aset dijual) saya setuju. Karena itu milik kabupaten,” pungkasnya. (snd)

2 tasik  

hernia. Hal serupa diungkapkan ahli medis Puskesmas Kecamatan Pada- kembang, dr N Suryana Bachtiar. Suryana mengatakan tidak ada luka bekas...