Issuu on Google+

RABU, 29 AGUSTUS 2012 / 11 SYAWAL 1433 H

7

CPNS Pelamar Umum Akan Distop Walhi Tolak Pelabuhan Baru dari hal 1

Seperti diketahui, akhir tahun ini tenaga honorer K I akan diangkat langsung tanpa tes. Sedangkan untuk pengangkatan tenaga honorer K II wajib dilakukan dengan tes tulis. Tasdik mengatakan, tes tulis ini mirip dengan tes CPNS baru pelamar umum yang akan dijalankan 8 September mendatang. Tasdik menjelaskan, dalam tes tulis nanti tidak semua tenaga honorer K II ini diangkat menjadi CPNS. Tetapi jumlah tenaga honorer K II yang diangkat nantinya disesuaikan dengan kekuatan

APBN 2013 yang akan disahkan beberapa bulan lagi. Tasdik belum bisa mengatakan secara pasti jumlah tenaga honorer K II yang akan diangkat menjadi CPNS tahun depan. Secara teknis pembuatan soal untuk seleksi ini, dia mengatakan tetap digarap oleh konsorsium 10 PTN yang diketuai UGM. Standar kesulitan soal masih disembunyikan oleh tim dari konsorsium ini. “Intinya jika belajar dengan sungguh-sungguh, insya Allah bisa mengerjakan soal,” ucap Tasdik. Tasdik menegaskan, tidak adanya kuota CPNS baru dari pe-

lamar umum bukan berarti masa moratorium rekrutmen CPNS baru diperpanjang. Seperti sudah ditetapkan, masa moratorium CPNS baru akan berakhir akhir tahun ini. Sehingga pada 2013 seluruh instansi pusat dan daerah berhak meminta kuota CPNS baru. “Tetapi itu tadi, prioritas kami adalah mengangkat tenaga honorer K II dulu,” ucap dia. Perhitungan dari Kemen PAN-RB, lowongnya kursi PNS yang ditinggal pegawainya pensiun, bisa ditambal dengan rekrutmen CPNS baru dari gelombang tenaga honorer K II itu. (wan/jpnn)

Antara Porto dan Lisbon, Antara... dari hal 1

Itu memang kebiasaan saya bila diundang bicara di sebuah kota yang belum pernah saya kunjungi. Tujuannya, tidak lain ya mempelajari situasi setempat, termasuk local wisdom-nya. Rui Ribeiro, sahabat saya di sana, ada miripnya dengan saya, memulai membangun perusahaan konsultan pemasaran QSP pada lima tahun yang lalu. Ia menemukan nama saya di internet dan tertarik pada konsep marketing yang saya kembangkan. Karena itu, ia lantas mengundang saya. Walaupun hanya dibantu empat staf, ia mampu mengorganisasi sebuah The QSP Summit yang selalu dihadiri 500 orang tiap tahun. Saya bilang kepadanya, sampai lima tahun MarkPlus Inc didirikan dari Surabaya, yang juga kota terbesar kedua di Indonesia, saya juga hanya dibantu empat orang. Sebagai keynote speaker, waktu itu saya di-brief bahwa kesebelasan Porto selalu menjadi musuh bebuyutan Benfica yang bermarkas di ibu kota Lisbon. Karena yang datang waktu itu separo dari Porto dan kira-kira separonya lagi dari Lisbon, saya harus fair. Supaya lancar, saya menghafal skor terakhir hasil pertandingan antara dua kesebelasan itu. Ben-

fica baru saja mengalahkan Porto 3-2. Walaupun, sebelumnya Porto mengalahkan Benfica dengan 2-0. Dan, benar adanya. Begitu saya bicara soal bola, langsung saja pengunjung bertepuk tangan. Mereka memang men-support masing-masing kesebelasan. Mereka sangat menghargai orang asing seperti saya yang terupdate soal hasil bola mereka. Selanjutnya, menyangkut marketing, saya langsung tekankan pentingnya sebuah negara yang sedang krisis untuk balik ke human spirit. Tapi, saya juga nurut pada pesan Rui sebelumnya. Walaupun mayoritas orang Portugal itu penganut Katolik, jangan bicara terlalu banyak tentang agama. ”They will not buy your message if you talk too much about Christianity,” katanya. Keesokan harinya saya mampir ke Fatima, tempat penampakan Bunda Maria, di tengah perjalanan ke selatan dari Porto ke Lisbon. Sebagai orang Katolik, saya ingin sekali mengunjungi tempat itu guna melengkapi kunjungan rohani saya ke dua tempat penampakan lain. Yaitu, Lourdes di Prancis dan Guadalupe di Mexico City. Ke Fatima, saya diantar seorang staf Rui bersama istrinya yang lagi hamil. Mereka memang ingin ke Fatima untuk mendoakan anak mereka yang akan lahir beberapa bulan kemudian.

Ketika saya bertanya pada pemilik restoran dan toko di Fatima, selama krisis ternyata pengunjung turun drastis dan omzet mereka juga ikut turun tajam. Sampai di Lisbon, saya diantar untuk memasuki Stadion Benfica yang terkenal itu. Ketika beli jersey resmi Benfica, saya juga bertanya tentang pengaruh krisis ke sepakbola. Eh ternyata, jumlah penonton malah naik, apalagi Benfica lagi menang terus. Rupanya nonton sepakbola bisa membuat mereka melupakan krisis Eropa sejenak. Hal yang sama saya dapatkan ketika mampir di Nou Camp, stadionnya Barcelona. Makin banyak orang beli jersey Barca dan nonton pertandingan saat krisis. Padahal, di Asia, waktu krisis terjadi, kecenderungannya orang menjadi makin religius. Makin banyak yang ke masjid, gereja, dan kuil di seluruh Asia. Karena Marketing 3.0 hanya berurusan dengan aspek antara marketer, brand dan customernya, hubungan itu bersifat horizontal. Bukan vertikal. Ekstremnya, I don’t care wether you are a believer or non-believer. The point is please be honest to your customers. Don’t cheat them. Di Marketing 3.0, saya memang hanya bicara aspek minannas atau horizontalnya. Konsep universal di era internet. Bagaimana pendapat Anda? (*)

John Kei Terancam Hukuman Mati dari hal 1

Versi JPU, John Kei pernah meminta saham kosong PT Sanex Steel Indonesia pada Ayung. Namun, Ayung menolak permintaan tersebut dan memicu emosi John Kei. Disebutkan jasa kalau setelah penolakan itu berujung pada munculnya teror. Ayung berulang kali diancam dibunuh oleh John Kei. Dakwaan serupa juga ditujukan kepada dua anak buah John Kei, Mukhlis dan Yoseph Hungan. Selain pasal pembunuhan berencana, ketiganya juga dijerat dakwaan subsidair Pasal 338 KUHP junto Pasal 55 tentang pembunuhan. Ancaman hukumannya tetap berat, pasal tersebut menyebut pelaku bakal dipenjara selama 12-20 tahun. Menanggapi tanggapan JPU, John Kei tidak terlalu banyak

bicara. Secara tegas dia hanya menyampaikan kalau apa yang dituduhkan padanya tidak benar. Oleh sebab itu, dia langsung to the point minta agar segera dibebaskan. “Saya tidak bersalah. Saya harus bebas, titik!,” tegasnya di dalam ruang persidangan. Seperti diberitakan, terseretnya John Kei ke meja hijau karena tewasnya Ayung, pengusaha asal Surabaya. Saat ditemukan di kamar 2701 Swissbel-hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari lalu, terdapat 23 luka tusukan yang membuatnya meregang nyawa. Polisi menduga John Kei meminta anak buahnya untuk mengeksusi Ayung. Dari pemeriksaan polisi muncul informasi pembunuhan itu karena Ayung ingkar janji. Upah Rp 600 juta atas jasa penagihan utang tak kunjung diberikan ke kelompok John Kei. Perkemba-

ngan penyidikan lantas mengarah ke upaya pembunuhan berencana. Motifnya, perebutan saham PT Sanex Steel Indonesia antara John Kei dan Ayung. Sejalan dengan pernyataan kliennya, kuasa hukum John Kei, Indra Sahnun Lubis mengatakan bakal menyampaikan eksepsi minggu depan. Baginya, dakwaan JPU bermasalah karena tidak jelas dan tak fokus. Dia juga mengelak kliennya meminta saham kosong dan mengancam membunuh Ayung. “Itu tidak benar karena hubungan Bung John dan Ayung sudah layaknya saudara,” jelas Indra. Atas dasar itulah, dia mengatakan kalau dakwaan JPU layak ditandingkan dengan eksepsi. Rencananya, pembacaan eksepsi akan dilakukan di PN Jakpus pada 4 September mendatang. (dim/jpnn)

Pilih Syuting Stripping dari hal 1

Agustus 1983 itu bisa disaksikan mulai Senin lalu (27/8). Sinetron tersebut hadir Senin-Jumat sore di RCTI. Menjalani sinetron stripping

merupakan pengalaman baru bagi Sandra. Tak heran, dia pun mengaku kelelahan dengan jadwal syuting yang sangat padat. “Meski ngantuk seperti sekarang, tapi nggak apa-apa, happy aja. Saya tidur kapan pun ada

kesempatan. Biasanya, kalau sedang di mobil,” ujar dia saat ditemui pada acara Clear Hair Model 2012 di D’Consulate, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, kemarin (28/8). (nar/c14/ayi/ jpnn)

Ratusan Orang Terkena Diare dari hal 8

Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Tasikmalaya, Suroyo. Untuk memastikan keamanan bagi masyarakat, pihaknya telah mempersiapkan sebanyak tiga miliar obat dari berbagai jenis. Obat tersebut didistribusikan ke 20 Puskesmas dan 19 Puskesmas pembantu. ”Tahun depan kita

upayakan enam miliar obat akan didistribusikan, agar memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkapnya. Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPRD, dr Wahyu Sumawidjaya MKes mengatakan, untuk mencegah diare dan ISPA diperlukan penyuluhan yang intensif. Tujuannya agar masyarakat menjaga lingkungan dan menerapkan

pola hidup bersih dan sehat. Pada setiap peralihan musim, kata dia, memang sudah lazim terjadi pancaroba. ”Dari pantauan saya, upaya pemkot sudah cukup maksimal melakukan penyuluhan kepada masyaralat akan bahaya sebuah penyakit. Namun ini perlu ditunjang lewat kesadaran masyarakat itu sendiri,” tandasnya. (kim)

Tiang Telepon Nyaris Roboh dari hal 8

Telkom belum berupaya menggantinya. “Pada hari kami mengirim surat, Telkom langsung datang. (Tetapi) hanya meninjau saja, tidak ada penggantian tiang sampai saat ini,” tambahnya. Tiang Telkom tersebut, kata dia, saat ini hanya diikat pada salah satu bagian ruko agar tidak

runtuh. “Ini padahal sangat bahaya. Keselamatan jiwa siapa saja yang melintas bisa terancam,” jelasnya. Nurdin juga menjelaskan, pengeroposan tiang itu karena ada pedagang yang tidak disiplin. Antara lain karena para pedagang suka buang air limbah dagangannya disitu. Sedangkan Divisi Akses dan Jaringan Telkom Tasikmalaya

belum bisa dikonfirmasi terkait laporan tersebut. Namun Yandi, supervisor Pengelolaam Operasional Jarakses (POJ) Tasikmalaya kepada Radar mengaku telah menerima laporan tersebut. Sebetulnya, kata Yandi, tiang penggantinya sesudah disiapkan namun masih berada di Telkom Kantor Cabang Pembantu Karangnunggal. (mg4)

Naik Tarif Jangan Terburu-buru dari hal 8

kalangan. Masyarakat dengan ekonomi mengah kebawah terkadang masih kekurangan suplai karena penggunaan air oleh kalangan ekonomi menengah keatas yang tidak dibatasi. ”Yang mampu

jelas akan menggunakan lebih banyak. Industri juga. (sehingga) ada pihak-pihak lain yang tidak kebagian air. Karena mungkin digunakan untuk mencuci mobil, pengairan kolam renang. Itu sudah pemborosan,” ujar Enjang kepada Radar, kemarin (28/8). Pengguna

terbesar air PDAM, kata dia, adalah kalangan menengah ekonomi atas, niaga dan perusahaan besar. Kenaikan tarif kata dia bukan semata-mata keputusan PDAM tetapi juga telah melalui rekomendasi dari Badan Pengawas Keuangan (BPK). (pee)

dari hal 1

Menurutnya, seharusnya Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya memikirkan meningkatkan kesejahteraan para nelayan di pesisir pantai selatan. Karena selama ini kesejahteraan mereka masih jauh dari harapan. Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah yaitu menyediakan tempat atau pasar bagi penjualan ikan-ikan para nelayan Kabupaten Tasikmalaya. ”Nelayan itu harus dilindungi,” papar dia. Adanya pelabuhan dan pabrik-pabrik pengolahan pasir besi ini, jelas dia, hanya akan menguntungkan bagi investor asing. Sedangkan masyarakat lokal yang memiliki wilayah tidak akan mendapatkan keuntungan lebih untuk meningkatkan taraf ekonominya sendiri. Selain itu, jelas dia, dengan bebasnya ekspolitasi pasir besi akan mengancam 5.400 hektar kawasan pesisir di Jabar selatan menjadi rusak. Karena dari mulai Sukabumi, Cianjur, Garut, Kabupaten Tasikmalaya hingga Ciamis wilayah pesisirnya memiliki potensi pasir besi yang bisa dieksploitasi besar-besaran. Sementara itu Ketua Komis II DPRD Kabupaten Tasikmalaya Drs H Yamin Yusuf MSi mengatakan dari sisi ekonomi sebenarnya Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya akan beruntung dengan adanya investor-investor

asing yang mau berinvestasi di Kabupaten Tasikmalaya. Karena akan memberikan banyak peluang pekerjaan bagi masyarakat setempat. ”Akan dongkrak ekonomi di Tasela dan akan ada kota baru, ekonomi baru,” ungkap dia saat diminta tanggapan soal rencana pembangunan pelabuhan di Tasela. BELUM ADA LAPORAN Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya Bidang Pembangunan Hj Titin Sugiartini mengaku belum mengetahui adanya rencana investor yang akan membangun pelabuhan senilai Rp 16 triliun di Kecamatan Cipatujah. “Belum, sebagai koordinator (bidang pembangunan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, red) saya belum mengetahuinya dan belum ada laporan dari eksekutif,” terang dia melalui sambungan telepon tadi malam (28/8). Menurut Titin, rencana pembangunan melalui PDUP Kabupaten Tasikmalaya tersebut mesti dikaji secara matang. Mulai dari dampak lingkungan, keselamatan penduduk terhadap abrasi dan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Jangan sampai dibangun (pelabuhan), tapi tidak bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah,” katanya. Titin mengetahui adanya pertemuan antara Bupati Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum dan Dirut Perusahaan Daerah Usaha Pertam-

bangan (PDUP) Rino Rilantino dengan perwakilan investor dari Taiwan dan Singapura Senin (27/8) dari media massa. Selama ini, dirinya tidak pernah dilibatkan terkait adanya rencana tersebut. “Saya baru tahu dari koran ada pertemuan eksekutif dengan calon investor,” ujarnya. Sebagai koordinator pembangunan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, dia meminta kepada pihak eksekutif untuk lebih selektif lagi menerima investor yang masuk. Terlebih mengenai penambangan pasir besi. Berkaca pengalaman sebelumnya, reklamasi pasir besi di pesisir pantai Tasikmalaya selatan belum seluruhnya terealisasi sehingga berdampak kepada kerusakan lingkungan. “Kalau lingkungan pantai itu sudah rusak siapa yang bahaya? Ya, warga setempat kan. Intinya jangan sampai penduduk jadi korban dan alam semakin rusak,” tandasnya. Pihaknya akan segera meminta keterangan dari Komisi III Bidang Pembangunan DPRD dan pihak eksekutif. Tujuannya untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari rencana pembangunan pelabuhan tersebut. “Ya, kalau hanya merugikan masyarakat sekitar dan yang diuntungkan perseorangan saja buat apa? Yang jelas pelabuhan untuk pasir besi dibangun di sana (Cipatujah), pasti akan merusak alam lagi,” pungkasnya. (snd/irw)

PDAM Bagikan Air Bersih Gratis dari hal 1

Adapun, munculnya puluhan usulan itu, kata dia, karena daerah-daerah itu betulbetul kekeringan parah dan bisa terjangkau armada tangki PDAM Tirta Sukapura. “Tiap satu tempat kami kirim 4000 liter air gratis,” jelas dia kepada Radar dihubungi Radar kemarin (28/8). Pembagian air gratis di musim kemarau ini, jelas dia, sudah merupakan agenda tahunan. Karena masyarakat tidak mendapatkan air bersih setelah sumber-sumber mata airnya kekeringan sehingga harus pergi ke sungai yang jaraknya berkilo-kilo. Sama halnya dengan warga di Kampung Sagobog. ”Setiap musim kemarau kami suka menyiapkan air,” terang dia. Menurut dia, sebenarnya usulan permohonan bantuan air bersih ke PDAM lebih dari 38 usulan. Namun PDAM tidak bisa memenuhi usulan tersebut karena keterbatasan armada atau mobil tangki untuk menjangkau lokasi. Selain itu sebagian usulan ada yang melalui lisan. ”Seharusnya kan usulan secara tertulis. Lalu kami survei. Kalau menentukan untuk dikirim, kami akan kirim,” papar dia. Saat ini, pihakanya menyiapkan dua tangki untuk melayani masyarakat di Tasikmalaya bagian barat dan selatan. Tiap tangki atau 4000 liter air bersih, kata dia, jika dirupiahkan senilai Rp 150 ribu. ”Kalau ini gratis untuk membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” kata dia. KHAWATIR DIARE MASAL Sementara itu warga Cileungsing, Cibalanarik, Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya dilanda was-was terserang diare, karena

masih banyak yang menggunakan air keruh, yang kebersihannya diragukan. Terlebih, mereka memiliki pengalaman buruk, tiga tahun lalu, sebanyak 20 orang terserang penyakit diare. Tokoh Cileungsing, yang juga RT 18, Eman Sulaeman, kemarin (28/8) mengatakan tiga bulan terakhir, 70 persen —dari RT 18, RT 19, dan RT 20 sebanyak 258 kepala keluarga— memanfaatkan air minum dari sumber mata air yang sudah keruh. Warga pun harus mengambil air sejauh ratusan meter dari permukiman mereka. “Karena tidak ada lagi sumber (air), jadi hanya itu saja yang dimanfaatkan untuk minum. Warga pun harus ngantre tiap pagi kalau mau ngambil air,” jelas dia. Sementara untuk mencuci baju, alat rumah tangga atau mandi, warga menggunakan air di Ciwulan. Jarak rumah warga ke Ciwulan sekitar 300 meter hingga 1 kilometer. Itu juga hanya orang-orang yang masih kuat saja jalan ke Ciwulan. Kalau lansia ingin mandi jarang turun ke Ciwulan. Paling diambilkan airnya oleh sanak saudarnya. “Kami berharap bantuan dari air bersih dari pemerintah,” harap dia. Hingga kemarin, jelas dia, warga Cileungsing belum pernah menerima bantuan air bersih dari pemerintah. Padahal penduduk Cileungsing paling banyak dibandingkan empat kampung lainnya (Sagobog, Rengrang, Warung Bandung dan Kebon Kalapa) yang tergolong kekeringan parah. Menurut informasi yang diterimanya, pembagian air bersih ada dari PDAM kepada warga Sagobog kemarin. “Katanya kalau bantuan ke sini akan ada besok (hari ini, red),” papar dia. Dia berharap pemerintah segera memberikan bantuan air bersih kepada warga.

Sebelum tragedi diare masal menimpa kembali warga Kampung Cileungsing. “Kami akan mempersiapkan tempat untuk penampungan bantuan air bersih besok (hari ini, red),” ungkapnya. Dede Yanti (22) warga Kampung Cileungsing sudah rutin pergi ke Ciwulan untuk mandi maupun mencuci baju. Karena sumber air yang biasa dimanfaatkan olehnya sudah berkurang. “Saya suka bareng sama warga lainnya ke Ciwulan,” jelas dia usai mandi dan mencuci baju dari Ciwulan kemarin. MANDI DI POM BENSIN Kesulitan air bersih juga terjadi di Kecamatan Baregbeg Kabupaten Ciamis. Malah untuk mendapatkan air, warga desa-desa tersebut terpaksa menyedot sumber mata air, sebagian lainnya berburu air ke SPBU. Dede (54), warga Dusun Ciwalung mengambil air bersih dari dua masjid. “Disedot oleh pompa air juga keluarnya angin,” paparnya. Ecay (50), warga Dusun Ciaren setiap hari mandi, cuci baju dan mengambil air minum selalu ke SPBU dekat rumahnya. Karena saat musim kemarau air sumur di rumahnya kering. “Saya tiap mau mandi sehari tiga kali, pulang anting dari rumah sekitar 100 meter ke SPBU, habis bagaimana lagi perlu air,” papar Ecay. Pengurus SPBU di Jalan Baregbeg, Endang warga sekitar —dari beberapa kampung datang ke-SPBU untuk mengambil air bersih. Warga menggunakan jeriken mandi hingga mencuci baju dan sebagainya di SPBU. “Saya tanya warga, karena di kampungnya sudah tidak air, “ pungkasnya kemarin.(snd/isr).

Nenek Lee Kuan Yew Orang Hakka dari... dari hal 1

Fang berada, menolak untuk dikuasai Belanda. Akibatnya, wilayah yang saat ini dijuluki Kota Seribu Kelenteng itu diserang. Warga setempat pun kocar-kacir setelah sempat bertahan selama empat atau lima tahun bertempur. Mereka melarikan diri ke Sumatera lantas ke Medan. Beberapa kemudian melanjutkan pelarian hingga ke Singapura dan melanjutkan pembangunan. Dan, tentu beranak pinak. Salah satunya mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew (LKY), sosok yang membuat negeri jiran Indonesia itu maju dan makmur seperti saat ini. “Chua Kim Teng (kakek LKY) lahir di Singapura pada 1865. Setelah istri pertama dan kedua meninggal, dia menikah dengan Neo Ah Soon, nenek saya, seorang Hakka dari Pontianak yang saat itu dikuasai Belanda. Dia berbicara dengan dialek Hakka dan bahasa Indonesia melayu,” ujar LKY. Ucapan itu disampaikan “Bapak Pembangunan Singapura” itu pada bukunya yang berjudul: From Lee Kuan Yew, The Singapore Story: Memoirs of Lee Kuan Yew. Adapun menurut Kao Chung Xi dalam bukunya tentang orang Hakka, Jews of the Orient, orang Hakka minoritas di Singapura. Tapi, memainkan peran penting dalam mendirikan Kongsi Lan Fang yang kedua di Singapura. Seperti pernah diturunkan secara bersambung di harian ini pada 15-17 Agustus lalu, Lan Fang yang berawal dari sebuah kongsi tambang orang Tionghoa dari etnis Hakka tumbuh menjadi semacam “negara di dalam negara.” Lan Fang yang berdiri pada 1777 itu memang masih membayar upeti tanda tunduk kepada Kesultanan Sambas dan Mempawah di Kalbar, tapi sehari-hari mereka sangat otonom. Karena tata pemerintahannya sangat demokratis dibandingkan kongsi-kongsi lain yang umumnya bergaya feodal, secara tak langsung Lan Fang pun mendapat julukan “republik.” Diberi tanda kutip karena secara de facto, tidak ada pengakuan internasional kepada republik yang dipimpin Lo Fang Pak tersebut. Meski, kenyataannya, syarat untuk terbentuknya sebuah republik telah terpenuhi. Tak cuma punya rakyat dan wilayah, Lan Fang rutin menghelat pemilu untuk memilih “presiden.” Lan Fang juga memiliki sistem perekonomian, perbankan dan Hukum sendiri. Republik ini mampu bertahan hidup selama 107 tahun. Kisah sejarah Republik Lan Fang sejatinya mulai direstorasi oleh berbagai pihak. Salah satunya, adalah situs lanfangchronicles.wordpress.com yang tiga tahun ini sudah membuat pameran tentang Lan Fang di Singapura. Berbagai peninggalan Lan Fang telah pula direstorasi. Mulai dari miniatur bentuk uang, menara perlindungan, lukisan-lukisan dan foto zaman dahulu hingga membuat pagelaran puisi tentang perang kongsi. Pagelaran tersebut bahkan masuk menjadi agenda rutin Singapore Art Fest. Ironis memang,

semua itu dilakukan oleh warga Singapura, bukan Indonesia sebagai pemilik sejarah. Soedarto, sejarawan Kalbar saat ditemui Jawa Pos di Pontianak pertengahan bulan ini memaklumi hal itu. Sebab, arsip-arsip tentang Lan Fang sudah tidak ada lagi di tanah air. Termasuk juga arsip-arsip sejarah lainnya. “Semuanya ada di luar, dibawa Raffles ke Inggris (Thomas Stamford Bingley Raffles, mantan Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia dan pendiri Singapura, red),” katanya. Dia menyebutkan kalau arsip negara yang dibawa menuju Inggris mencapai 30 ton. Kalau Indonesia mau menelusuri perjalanan sejarah bangsa secara utuh, arsip-arsip itu harus dikembalikan. Jika masih berada di museum Royal London, penelusuran itu sangat sulit dilakukan. Bercerita tentang ketidakpedulian akan sejarah bisa jadi sudah membosankan. Itulah kenapa, Soedarti hanya bisa diam saat mengingat beberapa arsip tentang masa lalu Kalbar sudah menghilang. “Termasuk syair Perang Kenceng, bagian dari perang antar kongsi, itu kini ada di Malaysia,” gumamnya. Dia ingat, hilangnya arsip dari tanah air bukan hanya terjadi saat era penjajahan saja. Pasca kemerdekaan juga ada, prasasti dan arsip tersebut dijual dengan satu alasan: ekonomi. Soedarto menyebut barang berharga itu rela ditukar dengan rupiah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atas dasar itulah, Soedarto mengaku tak tahu banyak tentang keturunan Lo Fang Pak. Yang bisa dia pastikan adalah, para pemimpin Lan Fang harus murni orang Hakka. Benar-benar pure orang Tionghoa dari tanah Tiongkok. Mereka yang lahir di tanah Borneo dapat dipastikan tak bisa duduk di puncak pimpinan. Terkait keabsahan keturunan orang-orang Lan Fang di Singapura, Soedarto yang mantan guru sejarah itu menjawab bisa jadi seperti itu. Kuatnya Lan Fang menjadi daya tarik bagi perantauan Tiongkok untuk terus datang. Bahkan Pontianak dulunya menjadi tempat transit bagi mereka yang ingin ke Mandor, ibu kota Lan Fang. “Sampai sekarang, semuanya tersebar sampai kemana-mana,” terangnya. Bagaimana dengan peninggalan budaya? Soedarto mengatakan ada. Namun, dia tidak sepakat kalau itu kebudayaan yang dibuat khusus oleh Lo Fang Pak dan pemimpin Lan Fang lainnya. Sebab, mereka hanya “menularkan” kebiasaan itu ke Kalbar. Seperti halnya konsep tea house atau rumah minum teh. Warga keturunan dulu pasti punya tempat khusus untuk minum teh. Entah di rumah mereka atau di sekitar perkampungannya. Meski sekarang tea house mungkin sudah tak ada, bentuk lain dari kebudayaan itu masih bisa ditemui. “Budaya warung kopi itu sebenarnya berasal dari orang-orang Tionghoa. Mereka biasanya minum bersama banyak orang sambil membicarakan banyak hal,” tandasnya. Efek lainnya ada pada orang-orang Tionghoa saat ini, versi Soedarto, mereka

masih disebut peranakan karena tetap konsisten dengan budayanya. Padahal, warga Tionghoa asli Kalbar saat ini bisa dipastikan sudah melakukan akulturasi, terutama dengan orang Dayak. Itu bisa dipastikan karena saat datang ke Kalbar pada 1770an mereka datang sebagai bujangan. Kolonial dan Kesultanan tidak memperbolehkan mereka membawa istri. Kalaupun mereka kemudian mencoba mempertahankan kemurnian dengan menikah sesama Tionghoa, tetap saja nenek mereka adalah orang Dayak. Karena itu, Soedarto agak kurang sreg menyebut warga Tionghoa di Kalbar yang mencapai 12 persen sebagai “peranakan.” “Banyak yang sudah campuran, apalagi generasi sekarang juga makin membuka diri,” tuturnya. Budayawan lain, Xaverius Fuad Asali, juga menyebut kalau peninggalan budaya Lo Fang Pak sama dengan kebudayaan Tiongkok sendiri. Itulah kenapa, dia menyebut tak ada budaya dengan ciri khas khusus yang dibawa Lo Fang Pak. Dia lantas menjelaskan ciri khas orang Hakka yang menginjakkan kaki di Kalbar. Semuanya datang seorang diri alias bujangan, tanpa membawa istri. Mereka tidak mempermasalahkan hal itu karena orangorang Hakka dikenal rajin dan hemat. “Kalau buyut saya masuk tahun 1850-an,” ingatnya. Kedatangan orang-orang Hakka semacam Lo Fang Pak dan teman-temannya relatif tidak menimbulkan gesekan sosial. Sebab, orang Hakka dikenal mampu membawa diri, ibarat pepatah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. X.F Asali menyebut keterampilan itu adalah bertani. Ada juga yang datang sebagai guru seperti Lo Fang Pak, tukang besi, emas, kayu, hingga kerajinan tangan. Kemampuan melebur itu terbukti hingga sekarang, tak pernah ada konflik besar. “Buyut perempuan saya juga orang Dayak,” akunya. Itu sebabnya, kalau dikaitkan dengan pelarian orang-orang Hakka Kalbar ke Singapura dan melakukan pembangunan bisa jadi benar. Apalagi, Any Rahmayani, peneliti dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak, menyebut orang-orang Lan Fang mampu berdagang ke beberapa daerah dan negara. Berbagai referensi juga menyebut kalau Lan Fang memiliki hubungan perdagangan yang disebut dengan segitiga emas. Yakni, menghubungkan antara Lan Fang, Tiongkok, dan Malaysia, hingga Vietnam. Embrio tersebarnya orang-orang Hakka yang menjadi penduduk Lan Fang terlihat jelas dari pola perdagangan itu. Memang masih perlu banyak pembuktian akan keterkaitan antara Singapura dan Lan Fang. Namun, itu bisa menjadi awal yang tepat bagi pemerintah untuk menggali lebih dalam tentang Lan Fang. Supaya kisah tesebut tetap besar di Indonesia, tidak hanya di negara tetangga. (*/ttg)


7 sam 29 ag