Page 1

RABU, 15 AGUSTUS 2012 / 26 RAMADAN 1433 H

Peredaran Miras Ilegal Marak JAKARTA – Peredaran minuman keras (miras) illegal tak kunjung surut. Bahkan, trennya justru menunjukkan kenaikan. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengatakan pada momen puasa hingga menjelang Lebaran, tren peredaran miras illegal biasanya malah makin marak. “Mereka (produsen miras ilegal) menganggap pada saat puasa pengawasan agak longgar, padahal justru kita perketat,” ujarnya saat pemusnahan barang bukti miras illegal di Kantor Bea dan Cukai kemarin (14/8). Miras yang disebut illegal adalah miras tanpa cukai atau dengan cukai palsu, baik yang diproduksi di dalam negeri, maupun yang diimpor dari luar negeri. Menurut Agung, berdasar tren tahun-tahun sebelumnya, momen puasa hingga Lebaran serta momen Natal dan Tahun Baru, peredaran miras illegal memang meningkat. Karena itu, operasi pun digencarkan. “Operasi, ka-

mi lakukan di pelabuhan, di wilayah perbatasan, maupun di gudang-gudang penyimpanan,” katanya. Agung menyebut, barang bukti miras ilegal yang dimusnahkan kemarin merupakan hasil tangkapan operasi Ditjen Bea dan Cukai bersama Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Produk Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) tanpa cukai tersebut disita dari gudang PT ASA di wilayah Jakarta Barat. “Totalnya sebanyak 40.608 botol miras,” ucapnya. Kasus pelanggaran Pasal 56 Undang-undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan Undangundang No. 39 Tahun 2007 tersebut menyeret tersangka seorang direktur dan seorang karyawan PT ASA, karena berpotensi menyebabkan kerugian negara hingga Rp 529 juta. “Vonisnya pidana penjara 1 tahun dan denda Rp 1,5 miliar,” ujarnya. Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea dan Cukai Rahmat Subagio me-

nambahkan miras tersebut merupakan produk lokal. Pabriknya berada di Semarang, sedangkan gudang penyimpanannya di Jakarta. “Kebanyakan pabriknya memang di daerah, kemudian dikirim ke Jakarta,” katanya. Menurut Rahmat, selain hasil temuan di Jakarta, aparat Bea dan Cukai juga menemukan miras ilegal di berbagai daerah, seperti Bandung, Surabaya, dan beberapa kota lain. “Kalau miras ilegal dari luar negeri, itu banyak ditemukan di wilayah pesisir timur Sumatera, seperti Dumai, Batam,” sebutnya. Agung menambahkan selain untuk mencegah kerugian negara akibat beredarnya miras tanpa cukai, operasi penertiban juga dilakukan untuk mencegah beredarnya miras yang tidak higienis. “Di beberapa kasus, kami temukan minuman beralkohol yang kotor. Itu kalau diminum tidak hanya mabuk, tapi bisa mati juga,” ujarnya. (owi/jpnn)

Rajin Doa Minta Anak dari hal 1

sama Allah. Ya kalau masih diberikan kepercayaan, itu kan bagian dari rejeki, bagian dari usaha dan minta. Yang penting nomor satu kesehatan, rejeki,” ujar Chintya. Baik Chintya dan Surya, kata dia, belum menyerah terus berusaha. Meski rumah tangga mereka sudah berjalan empat tahun. “Kalau menyerah belum dong. Yang jadi inspirasi banyak yang lebih ujian kesabaran. Malu lah kalau menyerah, kan baru menjalani empat tahun pernikahan aku, tapi banyak yang ujian lebih lama tapi tetap sabar,” ujar personil Be3 ini. Pernahkah menyalahkan diri sendiri karena belum juga bisa hamil? “Menyalahkan sih nggak. Aku juga sempat berpikir kenapa ya aku dan Mas Surya berdua belum dapat, padahal memang

sangat suka anak kecil,” jawab Chintya. Dia merasa harus selalu mensyukuri setiap karunia yang diberikan Tuhan. “Memang kalau sudah ada keturunan rasanya sempurna. Tapi kita mensyukuri hal-hal yang sudah kita peroleh saja dulu. Mas Surya itu romantisnya cuma aku yang merasakan lho,” tuturnya. Saat Lebaran nanti, dia didatangi kakaknya dari Belanda. Bersama sang kakak, Chintya akan pulang kampung ke Gorontalo, tempat ayahnya. “Idul Fitri tahun ini seru, mudik sama keluarga. Kakak dari Belanda datang dan bisa kumpul. Pulang ke kampung halaman ayah di Gorontalo. Banyak tradisi Ramadan yang memang unik, kayak malam pasang lampu minyak. Kulinernya juga,” tutur Chintya. Sedangkan Surya direncanakan menyusul. Karena dia harus

menjalani sebuah syuting. Lalu, adakah tradisi Lebaran lain yang biasa dilakukan oleh Chintya? “Biasa saja sih. Paling pertama kali ya salat Ied, lalu kumpul keluarga besar. Opa oma sudah almarhum, ya pokoknya sama yang dituakan lah ya, walau sekarang nggak ada, tetap di rumah opa oma kumpul,” jelas pemilik album Sesal ini Sebagai anak tertua, ayah Chintya ternyata tak perlu ke mana-mana saat Lebaran. “Papa sebagai anak pertama ya stand by saja di situ, anak-anak yang akan datang. Di sana ada tradisi, tapi nggak seperti Jawa gitu,” cetusnya. Di sisa hari kemenangan, Chintya masih tetap menikmati puasa di tengah kepadatan jadwal kerjanya. Ia berniat tidak bolong puasa. “Puasa beraktivitas malah bagus banget, nggak kerasa tahutahu udah buka puasa,” katanya. (ins/rm/jpnn)

Kernet Bus Tewas Mendadak

7

Nurul Huda Jawara Baru Lomba Tagoni dari hal 1

Mangkubumi. Semua kontestan tersebut berasal dari Kota Tasikmalaya. Gelar juara yang direbut Nurul Huda dirasa spesial oleh anggota grupnya, karena grup ini baru tahun ini mengikuti lomba tagoni terbesar di Priangan Timur ini. Azka, pemain tagoni Nurul Huda mengaku senang dan bangga bisa menjadi juara dan mendapat hadiah uang Rp 3 juta. “Senang sekali bisa jadi juara pertama dan bangga karena ini pertama kalinya ikutan,” ujar bocah 10 tahun tersebut. Sedangkan Lena dari grup Tis’atun Nujum mengaku berlapang dada menerima hasil lomba. “Sedih pastinya, tapi kita berlapang dada aja dan tetap semangat,” ujarnya. Sementara itu salah Dewan Juri Bode

Riswandi mengatakan Nurul Huda menjadi juara karena mereka terus berkembang sejak awal lomba penyisihan. “Mereka grafiknya terus meningkat sejak dimulainya penyisihan,” ujarnya. Selain itu vokal dan kerjasama masingmasing personelnya baik sekali. Sedangkan bagi yang kalah, Bode menilai mereka seperti ada beban dan kurang kreativitas. “Rijalul Godd juga baik, namun malam ini seperti ada beban dan vokal nya dilampaui Nurul Huda. Sedangkan Tis’atun Nujum mereka paling kreatif dalam musikalitas namun seperti ada beban juga,” pungkasnya. Dalam grand final tadi malam, Gubernur Jabar H Ahmad Heryawan mengatakan acara tahun ini lebih meriah. “Acara tahun ini begitu meriah dibanding tahun lalu,” ujarnya yang tahun lalu juga memberikan

hadiah kepada para pemenang. ”Harapannya semoga acara ini menjadi agenda rutin tahunan,” harapnya. Guna memeriahkan acara tadi malam, Heryawan dan istri, Hj Netty Heryawan bernyanyi bersama grup Tagoni Alfalah dari Setiaratu, Cibeureum Kota Tasikmalaya — yang menjadi grup tagoni terfavorit. Gubernur dan Hj Netty menghibur pemirsa Radar TV dan penonton di studio dengan lagu Bila Kupandang Langit dan Naik Haji. Bintang tamu Almuzarobeat juga memeriahkan acara tadi malam. “Bagi saya pribadi bangga bisa menjadi salah satu pengisi acara di sini,” ujar Deden pentolan Almuzarobeat. Adin, salah seorang penonton juga mengaku kemeriahan tadi malam. “Acara tahun sekarang lebih rame dan meriah daripada tahun kemarin,” ujarnya di sela-sela acara. (mg4)

Lingkar Gentong Masih Belum Bisa Digunakan dari hal 1

“Memang adanya jalur Lingkar GS tujuannya baik (mengurai kemacetan), tapi kalau tidak layak, nanti hasilnya malah tidak baik (menyebabkan kecelakaan),” ujar dia. Selain itu, kata dia, pihak PPTK juga harus memberikan surat tembusan atau pemberitahuan Kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) karena jembatan lingkar GS itu ada di atas rel kereta api. Jadi kelayakan jembatan itu harus diketahui oleh pihak-pihak terkait, disamping pihak kepolisian. Jangan sampai ketika kereta api ada di bawah jembatan GS, jembatan itu roboh. “Harus benar-benar layak,” kata dia. Selain itu, kata dia, perlengkapan ramburambu juga masih belum lengkap. Jadi, kata dia, diharapkan pengguna jalan untuk tidak menggunakan jalan lingkar GS sebelum ada keputusan dari pihak-pihak yang berwenang agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. “Kami tiap hari akan mengecek jalur GS,” jelas dia. Diberitakan Radar sebelumnya Dilarang, Bus Tetap Masuk, Jalan Lingkar GS masih belum bisa digunakan. Karena hasil dari survei Lingkar GS masih belum layak dilalui, diantaranya masih kurangnya rambu-rambu, lampu PJU. Seharusnya di sepanjang 1,2 kilo meter jalur GS harus terpasang PJU dengan jarak masing-masing 50 meter. Sedangkan yang sudah terpasang baru 6 PJU (solar cell),” papar dia. Jadi, kata dia, kendaraan umum maupun pribadi tidak boleh melewati jalur tersebut. Rudi (27), warga Kampung Gekprong Desa Dirgahayu Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya mengatakan sudah mencoba jalur baru Lingkar GS kemarin. Namun, jelas dia, jalan lingkar GS ini masih banyak kekurangannya. Terutama ramburambunya tidak lengkap. Selain itu, dia khawatir kalau melewati tebing-tebing pinggir

Jalan Lingkar GS masih merasa khawatir. Terutama kalau terjadi longsor akibat hujan. “Kalau jalan sudah lumayan bagus, tapi masih ada kekhawatiran,” kata Rano. ANGKUTAN NON SEMBAKO Mengenai angkutan non sembako, jelas Kasatlantas Polres Tasikmalaya Kota AKP M Rano mengatakan sesuai surat dari pemerintah pusat, angkutan non sembako dilarang beroperasi pada H - 4 tepatnya pada Rabu (15/8). Tidak beroperasi karena diprediksi pada H - 4 volume kendaraan lebih meningkat dibanding hari-hari sebelumnya sehingga kendaraan-kendaraan besar itu akan menyebabkan kemacetan. Teruma di titik tanjakan atau di tikungan. “Kalau di tanjakan kan kendaraan besar laju lambat, jadi bisa sebabkan macet,” papar perwira kelahiran Madura Jawa Timur ini. Sementara, jelas dia, berdasarkan hasil perhitungan posko kepolisian tidak terjadi kemacetan di jalur utama mudik Lebaran. Dalam hitungan per menit rata-rata kendaraan sekitar 5 - 10 kendaraan. Kemungkinan volume kendaraan akan semakin banyak dan rawan menyebabkan kemacetan dimulai pada H - 2 atau Jumat (17/8). Karena hampir seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) mulai libur setelah melaksanakan upacara bendera 17 Agustus. Demikian juga buruh akan mulai libur pada H - 2. “Untuk hari ini (kemarin, red) masih lancar,” ungkapnya. Demikian juga diungkapkan Kepala Jembatan Timbang (KJT) Gentong Asep Mustofa. Asep menjelaskan kendaraan di jalur mudik dari arah Bandung menuju Tasik relatif lancar kemarin. Tidak terjadi kemacetan. Hasil dari perhitungan di Posko Angkutan Lebaran Dishub Provinsi Jawa Barat di Jembatan Timbang dari arah timur ke barat pada Selasa (14/8) dari pukul 08.00 sampai 20.00 yaitu dari timur (Tasik) ke barat (Bandung) jumlah kendaraan seluruhnya sebanyak 5.779. Sedangkan dari barat (Bnadung) ke timur (Ta-

sik) jumlah kendaraan seluruhnya 12.654. TERSEREMPET Sementara itu di jalur mudik kemarin Neli (15) terserempet mobil L 300 di Jalan Jamanis, Kampung Lawang Tonjong Desa Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. Akibatnya warga asal Cilengkong Kecamatan Jamanis ini harus mengalami dislokasi pada jari manis sebelah kiri dan dibawa ke Rumah Sakit Jasa Kartini (RSJK) Kota Tasikmalaya. Kapolsek Jamanis Kompol Saryo Heryanto mengatakan saat itu Neli hendak menyebrang jalan tanpa mengantisipasi mobil L300 yang dikemudikan Kodar Abdul Gani (34), warga Kampung Pagerageung Tengah Desa/Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Mobil yang dikemudikan Kodar melaju dari arah Tasik menuju Bandung. “Neli diberikan pertolongan pertama ke Pos Pertololongan Pertama (PMI Kabupaten Tasikmalaya),” ujar dia kemarin. Petugas Pos Pertolongan Pertama PMI Kabupaten Tasikmalaya Momy Damayanti mengatakan Neli saat tiba di pos mengalami luka di lutut sebelah kiri yang memar dan bengkak. Kemudian di jari manis sebelah kiri dan dari mulut keluar darah. Pertolongan pertama sudah diberikan dengan memberikan anti nyeri dan membersihkan darah. “Terus di rujuk ke Puskesmas Jamanis untuk ditindaklanjuti,” kata relawan yang tercatat sebagai Mahasiswa Unsil ditemani rekannya Toni Regal di Pos Pertolongan Pertama PMI Kabupaten Tasikmalaya yang ada di Jamanis. Perawat Puskesmas Jamanis Yusup Mulyana mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan Neli menglami dislokasi di Jari Manis sebelah kiri sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Jasa Kartini. Selain mengalami luka pada jari manis, perempuan berusia 15 tahun ini juga mengalami luka bengkak pada lutut sebelah kiri. “Memar-memar mungkin akibat benturan,” ungkapnya. (snd)

dari hal 1

bapak,” akunya. Tapi baru saja, dia berdiri untuk menuju pintu belakang, dari arah belakang ada suara yang terjatuh. “Awalnya disangka yang jatu itu karung, ternyata si Bapak,” lanjutnya. Beberapa orang yang melihat, korban jatuh dari mobil yang sedang berhenti. Mereka langsung memberikan pertolongan dan membawa korban ke pinggir jalan. Sebagian yang lain melaporkan kejadiannya ke pihak kepolisian. Korban kemudian dibawa petugas polisi menggunakan mobil patorli ke RSUD Tasikmalaya. PENYUKA KOPI HITAM Ganda mengatakan ayahnya sakit dada (jantung) sekitar dua tahun lalu. “Bapak sering mengeluh sakit dada. Kalau penyakitnya kambuh, sering mengelus-ngelus dadanya,” kata dia. Ganda menyebutkan penyakit yang diidap bapaknya, karena terlalu banyak mengonsumsi kopi hitam. “Kalau lagi tidak kerja atau di rumah, sehari habis sarantui kopi hitam (10 bungkus saset, red), rokok Samsu dua bungkus,” sebutnya. Setelah bapaknya sering mengeluh sakit dada, Ganda sering melarang bapaknya mengonsumsi kopi hitam. “Kalau saya melihat bapak sedang minum kopi, kadang saya tendang tuh mejanya supaya tidak ngopi hitam lagi,” tegasnya. Dia pun menduga kematian ayahanya lantaran mengidap penyakit. “Meski beberapa hari terakhir bapak sehat, tapi kadang penyakitnya kambuh datang-datangan,” terangnya. Sopir bus, sekaligus teman kor-

Hal-hal yang Dapat Membersihkan Hati dari hal 1

adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim) Agar hati senantiasa bersih, maka kita perlu mengisi hati dengan hal-hal berikut. Pertama, mengakui kelemahan diri dan merasa sangat butuh kepada Allah SWT. Dia menegaskan hal ini dengan firman-Nya,“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”(Q.S. Fathir: 15) Kedua, membaca Alquran, memahami maknanya, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya. Allah SWT menyeru manusia agar menyambut Alqur’an, firman-Nya yang banyak mengandung kebaikan, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang

DEDE MULYADI / RADAR TASIKMALAYA

BAWA. Keluarga dan petugas kamar mayat membawa jenazah dibawa ke ambulans kemarin.

ban, Endang (49) mengatakan saat bareng kerja, dia sering mendapati Agus mengalami sesak napas. “Tapi emang kadangkadang, tidak setiap hari. Kalau lagi kambuh sering ngelus-ngelus dadanya,” katanya. Dihubungi terpisah, Ketua Organda Tasikmalaya Hj Dede T Widarsih mengaku belum mendapatkan informasi terkait dengan adanya awak angkutan yang tewas karena faktor kesehatan. Dia mengatakan seharusnya fisik awak angkutan pada kesempatan arus mudik dan balik Lebaran harus lebih fit dibanding hari-hari biasa. Karena rutinitasnya akan lebih tinggi. “Jangan dipaksakan kalau tidak sehat,” ujar dia kepada Radar melalui

sambungan telepon tadi malam. Dede meminta pengusaha angkutan umum harus mempertimbangkan kesehatan karyawannya atau awak angkutan. Kalau dalam kondisi tidak sehat jangan terlalu diporsir, karena dikhawatirkan awak angkutan tidak fit atau tidak sehat terjadi kecelakaan lalu lintas sehingga mengancam keselamatan jiwa orang lain. “Kalau pemeriksaan di terminal itu tanggung jawab pemerintah dan dinas terkait,” papar dia. Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dr H Oki Zulkipli Duski M Epid saat dikonfirmasi Radar melalui sambungan telepon tadi malam tidak memberikan jawaban. (dem/snd)

Lebaran, Pasien Memaksa Pulang dari hal 8

pasien penyakit dalam tidak mengizinkannya pulang. Sebab mereka harus menjalani perawatan hingga beberapa hari lagi. “Tapi kalau sudah ngotot seperti itu, akhirnya diperbolehkan dengan syarat bersedia menandatangani surat perjanjian. Itu penting, karena kalau tidak ada hitam diatas putih dan terjadi sesuatu, pihak rumah sakit yang disalahkan,” tuturnya. Meskipun pulang paksa, jelasnya, pihak RS masih menganjurkan agar pasien tetap melakukan kontrol sesuai jadwal dan segera pesan obat jika sewaktu-waktu habis. “Anjuran itu harus dipahami dan dijalani pasien agar penyakitnya segera sembuh total. Jangan sampai pasca le-

baran, penyakit pasien bertambah parah,” ungkapnya. Saat ini di RSUD Kota Tasik tercatat ada sekitar 289 pasien rawat inap. Ia juga menuturkan, pulang paksa memang sangat membahayakan kesehatan pasien sendiri. Karena mereka tak lagi mendapat perawatan dari tim medis. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, salah satu pasien yang pulang paksa akhirnya kembali menjalani perawatan di rumah sakit, ”Kita menganjurkan agar mereka yang belum diperbolehkan pulang, tidak usah pulang paksa, meski dalam momentum lebaran. Sebisa mungkin harus mematuhi petunjuk dokter. Jadi jangan pulang paksa,” tuturnya. Pada lebaran tahun ini, pihaknya mempersipakan dua orang

dokter jaga dan 22 orang perawat dengan memberlakukan sistem shift yang akan standby selama 24 jam di RSUD. Pihaknya juga menyediakan IGD untuk mengantisipasi membludaknya pasien yang berada di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). ”Kita juga menyiapkan poliklinik IGD, untuk menampung pasien yang tidak tertangani di UGD,” ungkapnya. Salah seorang keluarga pasien RSUD, Abdul Azis (39) warga Parakan Honje, Indihiang mengaku belum memutuskan, apakah saudaranya yang dirawat inap akibat sakit gula tersebut akan dibawa pulang atau tidak. ”Mudah-mudahan saja dengan adanya waktu ke Lebaran, saudara saya bisa lekas sembuh. Agar bisa mengikuti Lebaran bersama keluarga,” tandasnya. (kim)

kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57) Ketiga, bersungguh-sungguh melakukan berbagai ibadah, diantaranya adalah mengerjakan shalat. Allah SWT berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Ankabut: 45) Keempat, membaca istighfar dan ber-

taubat. Ini adalah pembersih hati dari noda dosa. Hati akan kembali jernih jika kita bersungguh-sungguh beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka di dalam hatinya muncul satu titik hitam. Semakin banyak dosa, semakin banyak pula titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, maka hatinya putih kembali.” (Al Hadits) Kelima, banyak membaca doa. Ucapkanlah, “Ya Allah berikanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia, karena Engkau sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau pemilik dan penolongnya.” Insya Allah hati akan semakin lembut dan bersih, karena selalu mendapat cahaya bimbinganNya. (*/adv)

Penyiar Rela Tak Dibayar, Jadi Tempat Curhat... dari hal 1

Bukan hanya AC yang membuatnya adem. Wallpaper bergambar pemandangan bawah laut yang didominasi warna biru juga membuat suasana ruang itu semakin nyaman. Itulah studio Marsinah FM, radio komunitas kaum buruh perempuan di kawasan Cakung, Jakarta Utara. ”Kami memang ingin mengudara dari dalam laut,” seloroh Oliv, salah seorang penyiar Marsinah FM saat ditemui Jawa Pos (Grup Radar Tasikmalaya) Jumat (10/8). Dia mengaku tidak begitu tahu alasan hiasan dinding studionya bergambar alam bawah laut. Tapi, dia sangat menyukai tampilan tempat kerjanya tersebut. Meski mungil, studio itu sudah dilengkapi dengan peralatan radio yang memadai. Yakni, komputer, internet, mixer, dua buah mik, dan perlengkapan lain. Sementara itu, di luar, pemancar yang cukup tinggi siap mengudarakan suara para penyiar radio tersebut ke wilayah jangkauannya. Oliv sebenarnya bukan nama asli. Itu nama ”udara”. Nama aslinya Atly Serita. Dia mantan buruh pabrik di sekitar Cakung. Menurut Oliv, hampir semua penyiar Marsinah FM memiliki nama udara agar lebih mudah diingat para pendengar. Meski tak punya pengalaman dan tak pernah mendapat pelatihan khusus menjadi penyiar, Oliv dengan luwes menyapa dan menghibur pendengar setianya. ”Assalamualaikum pendengar, jumpa lagi di Marsinah FM bersama saya, Oliv, yang akan menemani Anda sampai pukul 18.30. Silakan yang pengin request dan kirim-kirim salam, saya tunggu di nomor…,” sapa Oliv kepada pendengar. Saat bibirnya asyik menyapa pendengar di depan mik, tangan Oliv sibuk memencet kibor komputer dan menaikturunkan tombol mixer untuk memutar sebuah lagu lawas milik Broery Marantika. Gaya Oliv mengudara memang tampak profesional dengan gaya bahasa yang santun dan tertata. Dia bukan tipe penyiar ”gaul” yang cenderung ceplas-ceplos di depan mik. ”Lha wong tugas saya membawakan acara tembang kenangan kok, masak gayanya ceplas-ceplos,” ujarnya, lantas

tersenyum. Oliv mengakui bahwa dirinya masih harus belajar dan memperbanyak jam mengudara. Dia baru tiga bulan ini menjadi penyiar di radio komunitas para buruh itu. Meski begitu, dari hari ke hari dia merasakan perkembangan yang pesat saat berada di depan mik. ”Dulu, awalnya, sering grogi sehingga katakata yang keluar dari mulut jadi tidak keruan. Sekarang alhamdulillah, sudah lumayan lancar. Ya kalau sekali-kali keseleo lidah mungkin biasa,” paparnya. ”Sekarang cari lagu, mutar lagu, buka YouTube sudah biasa,” katanya, lalu ngakak lagi. Lain lagi dengan Dona. Penyiar bernama asli Thien Kusna itu memiliki suara yang lebih tegas. Perempuan dari Kuningan, Jabar, yang kini masih bekerja di salah satu pabrik garmen di Cakung tersebut dipercaya untuk mengasuh rubrik hak dan hukum. ”Mungkin karena suara saya menggelegar, saya dinilai cocok membawakan acara berat itu,” ujar dia. Dona mengaku tidak pernah mengira bakal menjadi penyiar radio, apalagi membawakan program acara yang tidak ringan. Perempuan kelahiran 30 April 1973 itu sebenarnya tidak punya waktu lagi. Pekerjaannya sebagai penjahit di pabrik cukup menyita waktu. Namun, entah kenapa, sekitar Januari lalu dia tertarik dengan rencana Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP) mendirikan radio komunitas untuk buruh. Begitu lowongan penyiar dibuka, Dona mendaftarkan diri. Dia beralasan ingin mencari pengalaman, mengekspresikan diri, dan menambah wawasan. ”Meski tak dibayar, tidak masalah. Yang penting, saya bisa terlibat di radio itu,” tuturnya dengan bangga. Karena suaranya yang khas dan kemauan belajarnya yang tinggi, Dona akhirnya lolos seleksi. Dia langsung dipercaya untuk membawakan rubrik hak dan hukum. ”Saya sempat ragu karena sama sekali tidak punya (dasar) pendidikan hukum. Tapi, temanteman selalu mendukung,” imbuhnya. Tak dikira, rubrik hak dan hukum memberikan banyak manfaat bagi Dona maupun para buruh yang menjadi pendengar setianya. Dona menjadi lebih tahu dan paham tentang berbagai permasalahan yang dihadapi kawan-kawannya.

”Di acara saya itu teman-teman buruh biasa curhat tentang kasus-kasus yang dihadapi di pabrik. Kemudian, ditanggapi narasumber yang memang ahli di bidang hukum dan perburuhan,” jelas Dona. Studio Marsinah FM terletak di sebuah rumah kontrakan di Jalan Tipar Selatan XII, Semper Barat, Jakarta Utara. Rumah dua lantai tersebut sebenarnya Kantor FBLP. Radio itu memang dimaksudkan sebagai salah satu media FBLP untuk menyuarakan dan memberikan wawasan kepada pendengarnya tentang hak-hak buruh. Khususnya buruh perempuan. Penanggung Jawab Radio Marsinah FM Dian Septi Trisnanti mengatakan, sesuai dengan misi perjuangan Marsinah yang memperjuangkan hak-hak buruh, radio itu juga ingin menyebarkan wawasan perburuhan kepada para buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (BKN), Cakung. Di BKN terdapat ratusan pabrik garmen yang kebanyakan pekerjanya perempuan. ”Jumlah buruh di kawasan ini sekitar 80 ribu, sebagian besar perempuan,” kata Dian. Jadi, papar dia, sasaran radio itu adalah para buruh perempuan yang tinggal di rumah-rumah kos dan kontrakan sekitar pabrik. Selain soal perburuhan, Marsinah FM juga membahas isu-isu perempuan pada umumnya. ”Misalnya pengetahuan soal KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), pelecehan seksual oleh majikan dan teman kerja, hakhak perempuan di pabrik, kesetaraan gender, dan bagaimana mengatasi masalahmasalah tersebut. Itu yang kami suarakan lewat radio ini,” terang Dian. Dengan kata lain, sebenarnya pendekatan yang dilakukan Marsinah FM tidak melulu tentang masalah perburuhan yang berkutat pada upah dan lainnya. Melainkan, Marsinah FM lebih banyak membahas perempuan. ”Masalah dalam rumah tangga juga banyak dibahas di sini. Sebab, banyak perempuan yang latar belakang pendidikannya tidak terlalu tinggi kurang paham soal hakhaknya dan tidak sadar jika sebenarnya mengalami penindasan. Baik di tempat kerja maupun di rumah,” jelas dia. (*/c11/ ari/jpnn)

7 sam 15 agus  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you