Page 1

22

SELASA, 14 AGUSTUS 2012 / 25 RAMADAN 1433 H

JATI DIRI Nasionalisme di Midnight Sale SELALU ada cara untuk membujuk konsumen agar membelanjakan uangnya. Pengelola pusat perbelanjaan terus berinovasi, termasuk meramu program yang tak terbayangkan sebelumnya, misalnya belanja tengah malam (midnight sale). Melihat terus membesarnya program itu sehingga dilakukan oleh hampir semua pusat perbelanjaan di Indonesia pada hari-hari menjelang Lebaran, bisa disimpulkan midnight sale mengalahkan secara telak jam tidur di Indonesia. Fenomena midnight sale adalah fenomena dahsyatnya daya belanja konsumen kita. Midnight sale selalu berhasil menyulap kondisi pusat perbelanjaan menjadi penuh sesak seperti pasar murah. Banyak yang rela berdesak-desakan sampai saling berebut. Bahkan, tak jarang pula yang rela menunggu antrean di kasir sehingga sambil terkantuk-kantuk duduk di lantai. Kesuksesan program midnight sale tak hanya terlihat dari jumlah pengunjung mal yang membeludak, namun juga tingkat penjualan yang meningkat 3–5 kali lipat jika dibandingkan dengan hari biasa. Fakta menggiurkan itulah yang menjelaskan kenapa mal terus menambah daya tariknya. Misalnya, memberikan hadiah langsung bagi beberapa pembeli pertama dan tambahan diskon bagi yang membayar dengan kartu kredit tertentu. Dalam konteks makro, pemandangan di mal harihari ini adalah pertunjukan tentang betapa powerful-nya daya beli konsumen kita. Fenomena itu terekam dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) pertengahan tahun lalu yang menunjukkan bahwa porsi konsumsi domestik di dalam gross domestic product (GDP) sudah mencapai angka 60 persen. Nilainya sudah mencapai Rp 3.500 triliun, sebuah angka yang luar biasa besar. Tingginya permintaan domestik itulah yang berpotensi menggerakkan industri dan perekonomian kita. Ketika industri kita menggeliat, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli masyarakat akan terdongkrak pula. Juga, ketika daya beli naik, permintaan domestik yang makin besar itu semakin menggairahkan industri kita. Begitu seterusnya sehingga pertumbuhan ekonomi tersebut akan semakin terdongkrak naik. Tapi, itu semua terwujud dengan satu catatan. Yaitu, jika konsumsi domestik itu terserap oleh industri dan produk produk lokal. Kalau konsumsi domestik tersebut diserap barang-barang impor, yang maju dan berkembang bukan industri dan produk-produk kita, melainkan industri dan produkproduk asing. Dalam konteks itu, kecintaan terhadap produk-produk lokal menjadi krusial. Nasionalisme konsumen menjadi harga mati kalau bangsa ini ingin menjadi bangsa besar. Kala konsumerisme mencapai puncaknya saat ini dan terjadi bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan ke 67, nasionalisme konsumen itu penting disuarakan. Memang ada yang meragukan, ketika kota-kota besar tanah air disesaki dengan mal-mal yang menjajakan berjibun merek global, apakah imbauan itu masih relevan? Ketika raksasa fast-food seperti McDonald’s dan KFC agresif melakukan penetrasi ke second city dan bersiap ke third city, apakah pemikiran tersebut masih laku? Sebagai warga negara yang mencintai negeri sendiri, kita harus tegaskan bahwa sampai kiamat pun nasionalisme konsumen akan tetap penting dan justru makin relevan. (*)

BPJS dan Upah Dokter H

ATI-hati memilih istilah. Saya yakin judul di atas membuat banyak dokter marah besar. Benar, ”bayaran” dapat disebut dengan berbagai istilah. Apa pun istilahnya, hakikatnya adalah sebutan untuk imbalan jasa. Saya ingat 25 tahun lalu saya pernah diskusi dengan seorang senior. Saya bertanya, mengapa bayaran dokter disebut honorarium? Bagaimana kita menentukan jumlah yang pantas untuk jasa dokter? Jawabannya ternyata tidak sederhana: Honorarium berasal dari kata honor. Artinya, rasa hormat dan penghargaan atas prestasi seseorang. Jadi, honorarium adalah bagian dari ekspresi rasa hormat atas reputasi dokter. Honorarium adalah satu kesepakatan atas nilai penghargaan yang kita terima atas prestasi yang kita berikan pada pasien. Saat datang, seharusnya pasien tahu reputasi dokter itu dan otomatis sepakat atas honornya. Kitalah yang menentukan nilai penghargaan itu. Tidak bisa itu ditentukan oleh orang lain karena itu adalah prestasi kita. Camkan, jumlah honorarium tidak etis dibicarakan. Mengapa? Itu soal penghargaan terhadap prestasi orang yang dihormati, sangat personal. Wuih, sulit banget bicara dengan orang pintar; panjang lebar dan mbulet. Yang jelas, saya amat tidak sepakat. Mengapa? Semua remang-remang, ada arogansi, dan aroma otoriter di sana. Tidak bisa alasan etik dan rasa hormat membuat semua jadi remang-remang. Dan, remang-remang sering dekat dengan kejahatan. BAHASA PASAR Menurut kamus Webster’s, upah (wages) adalah jumlah bayaran tertentu yang di-

terima oleh pekerja sesuai langkaan, kemendesakan Oleh: dengan kontrak kerja damenentukan harga. HuARIO DJATMIKO lam hitungan jam, hari atas kum supply-demand bersatu bentuk pekerjaan. laku. Pasar menghormati Gaji (salary) adalah bayaran tertentu yang hak setiap orang untuk memilih, membeli diterima reguler atas bekerja seseorang di atau tidak membeli. Semua itu sesuai dengan satu institusi. Honorarium adalah imbalan nilai dan persepsi yang ditetapkan si calon atas prestasi dan penghargaan yang dipembeli. berikan atas suatu jasa tanpa ada ketentuan Juga si penjual di pasar, dia bebas mejumlah. Jadi, apa dan berapa imbalan yang nentukan tarif, berusaha sekuatnya memditerima sepenuhnya tergantung dari berapa bangun persepsi untuk merebut pasar. Semua nilai yang dipersepsikan si penerima jasa atas sah-sah saja. Itulah ideologi kapitalis yang jasa yang diterima. Tidak ada unsur paksaan telah menjadi roh di semua bidang usaha di sini. Bahkan, justru penerima jasalah yang negeri ini. Di praktik dokter, hukum pasar jelas menjadi sang penentu nilai prestasi itu. terlihat. Seorang dokter yang terkenal diantre Contoh, tidak ada satu ketentuan berapa pasien berjejer, tarifnya aduhai. Namun, jumlah honorarium seorang penceramah. banyak dokter yang juga tersingkir. Berita Bila pengundang puas, dia memberikan nilai muram di Kongres IDI Palembang 2008, balebih dan jumlah imbalannya pun tentu tinggi. nyak dokter yang penghasilannya begitu Lantas, apakah dia yang menyebut imbalan kecil, di bawah tukang cukur. Benar, sistem jasanya sebagai honorarium harus bersikap pasar adalah elimination process; ada si pasif, tidak boleh mematok harga? Benar. pemenang dan ada yang tersingkir. Mengapa? Sebab, dia telah memilih hidup atas RS DAN DOKTER ASING dasar nilai rasa hormat. Orang lainlah yang Pada Januari 2015, rumah sakit dan dokter menentukan ukuran rasa hormat itu. asing hadir. Era berubah, dengan perangai Bagaimana kalau dia, si pemberi jasa, akan korporasi yang tangguh dan kompetitif, menentukan imbalannya sendiri? Bolehrumah sakit dan dokter asing hadir siap boleh saja, tetapi saat itu dia tidak memilih tempur. Bayangkan, betapa dahsyatnya nilai rasa hormat sebagai yang utama. Yang perang dagang nanti. Siapakah yang akan terjadi adalah selling and buying process. tersingkir? Dan ironis, semua itu terjadi di Jual beli biasa. Tarifnya identik dengan tarif atas penderitaan manusia Indonesia di neusaha jasa biasa pula. Pembeli membeli geri sendiri. Ini adalah kesalahan sejarah sepenuhnya didasari selera dan kebutuhan, yang dibuat oleh elite negeri ini! bukan rasa hormat! Hukum yang berlaku: Gagal beli dan gagal jual dalam jumlah ”ada uang, ada barang”. besar berakibat hebat: kebakaran sosial. Dengan logika tadi, penceramah, dokter, Itulah market failure, komplikasi serius dari atau profesi lain boleh saja menentukan tarif sistem kapitalis, instability. Kehadiran kasemaunya. Siapa yang mau-mampu mempitalisme membuat negeri ini terpisah menbeli, pasarlah yang bicara. Keterkenalan, kejadi dua ruang. Ruang terhormat untuk yang

mampu berkompetisi dan ruang kumuh untuk yang tersingkir. Nah, di ruang mana BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dan dokter lokal nanti berada? Prof Laksono Trisantono menegaskan, konsep JPS (Jaring Pengaman Sosial) dari negara berbasis pasar hanyalah merupakan sistem reaktif yang dibentuk karena krisis. Jelas itulah alasan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional)- BPJS dipaksa harus hadir Januari 2014, sebelum pintu asing dibuka. Bukan untuk membangun bangsa, hanya sebagai pemadam kebakaran. Menurut guru besar UGM itu, JPS adalah konsep baru yang belum mengakar, akan sulit diterapkan. Tanpa persiapan cermat, apalagi amburadul, SJSN-BPJS hanyalah sebuah fatamorgana. Hanya membangun citra, seolaholah negara bertanggung jawab atas rakyatnya di saat perang pasar hadir. Dan, kata-kata ”jaminan semesta” kelak bisa menjadi janji yang kejam. Bila Anda jeli membaca UU Nomor 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan, dan UU Nomor 44/2009 tentang Rumah Sakit serta permenkes yang menjadi aturan detailnya, jelas rumah sakitlah penentu kualitas dan harga. Si pembayar, asuransi swasta atau BPJS, hanya berurusan dengan rumah sakit, bukan dengan dokter. Suka atau tidak suka, dokter adalah milik RS. Hubungan dokter dan RS identik dengan hubungan tenaga kerja pada umumnya. Saat dokter tidak boleh membuka kuitansi sendiri lagi, apakah istilah yang tepat untuk imbalan dokter: upah, gaji, atau honorarium? (*) Pengajar FK Unair dan ketua Litbang IDI wilayah Jatim.

Zakat Adalah Kemenangan H

HARI-hari ini, sebelum Ramadan berakhir, kaum muslimin yang berpunya mulai menghitung berapa zakat yang wajib dikeluarkan. Dikeluarkan artinya menyisihkan milik orang lain, yakni kaum mustahik, yang tercampur dalam harta kita. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan hal yang tak terpisahkan dari sempurnanya Islam. Di seantero kota dan desa, di masjidmasjid dan musala, terlihat spanduk dan papan pengumuman seruan membayar zakat. Bando-bando jalan dan spanduk besar berseru layaknya penceramah, ustad, dan kiai yang berdakwah dan menyeru bahwa ketika orang membayar zakat berarti dia menuju kemenangan. Mungkin, secara umum orang mengartikan kemenangan itu seperti menang dalam pertandingan sepak bola, memenangi pilkada, atau mengalahkan orang lain. Kita sering mengira, kalau ada orang lain kalah, kita sebut diri kita sedang menang. Rasanya itu keliru. Sudah kuno. Rasanya kalau kita senang dan bangga ketika orang lain sengsara adalah sebuah salah paham atau paham primitif soal arti kemenangan. Bagi saya, kemenangan dari hasil puasa bukanlah kemenangan biasa, tapi kemenangan hakiki. Membayar zakat tidak mengandung arti kemenangan dalam pengertian konven-

sional, yaitu keadaan giorang lain, bukan atas keOleh: rang saat kita mengalahringat sendiri dan keluarkan orang lain atau keganya. M. MAS’UD SAID senangan kala kita mengeDalam filosofi zakat tercilkan kelompok lain. kandung perbuatan meKemenangan sejati ialah suatu keadaan menangkan orang lain yang hidupnya setelah kita ngalah. Kemenangan itu ialah sedang kalah. Zakat mengurangi egoisme ketika kita bisa mentas dari egoisme. Kita yang memenangkan diri sendiri. mematikan keserakahan yang barangkali Sebagaimana puasa, arti kemenangan yang dalam setahun telah kita hidup-hidupkan. sejati justru kalau kita mampu ”mengaDengan harapan ”puasa keserakahan” itu lahkan diri sendiri”, khususnya mengalahkan akan berlanjut ke dalam kinerja hidup kita nafsu kita. Misalnya, mengurangi baju baru, sehari-hari. Dalam ajaran Islam, kemenanglalu diberikan kepada orang lain. Arti mean yang sejati, kemenangan yang hakiki, nang ialah ketika kita berani membantu si kemenangan yang asli, justru kalau kita miskin sehingga mereka menjadi menang. ”memenangkan orang lain” atau membuat Atau membela orang-orang yang kalah, orang lain menang. Tak peduli kita laba atau sehingga mereka tidak tertindas. kita rugi. Bagi para ahli sufi, kemenangan itu Dalam pengertian hakiki, kemenangan itu ketika bisa mengentaskan penderitaan ordiartikan memberi (tangan di atas), bukan ang lain. Karena bertujuan memenangkan menerima. Ajaran zakat dan ajaran puasa, orang lain yang miskin papa, mengentaskan misalnya, intinya seperti itu. Mengendalikan kekurangan orang lain yang memang kudiri, mengurangi kesenangan. Memberi dan rang, zakat disebut sebagai kemenangan. memberi: dalam bahasa Perserikatan BangMengapa disebut sebagai kemenangan? sa Bangsa (PBB) biasa disebut giving, loving, Bukankah zakat malah mengurangi harta and caring. Memberi, menyayangi, dan kita? Sebab, di dalam ajaran Islam, dalam peduli. Memenangkan orang lain yang sikap membayar zakat itu terkandung arti sedang kalah atau dikalahkan situasi adalah mengakui bahwa rezeki bukanlah seratus kemenangan yang lebih sejati. persen atas keringat sendiri. Seorang pePada saat banyak rakyat berjuang hidup ngusaha besar meraih laba pasti dibantu dalam kesengsaraan, saat banyak pe-

ngemis tak tertolong, tunawisma belum mendapatkan tempat berteduh; jangan bicara kemenangan. Menurut ajaran Islam yang hakiki, adalah aneh kalau orang-orang kaya berpesta, dalam keadaan orang papa menderita. Itu bukan kemenangan, itu kebodohan sejati atau kezaliman. Itulah arti zakat. Pada saat sebelum Idul Fitri tiba, kita diminta menebarkan kebaikan, keikhsanan kepada semua orang, kasih kepada lingkungan. Ini bukti bahwa untuk mencapai kemenangan kita memperhatikan orang lain. Untuk para pribadi yang menang, zakat adalah alat kemenangan di hadapan Allah. Tidak ada kemenangan tanpa kasih sayang kepada orang lain yang membutuhkan. Bayangkan saja, kalau orang-orang miskin, pengemis, orang yang mengais zakat yang tidur di trotoar sekitar masjid-masjid besar dan gelandangan atau orang-orang teraniaya oleh bosnya, kita bisikkan bahwa mereka juga bisa menang di hari raya ini. Mungkin mereka tersenyum bangga, karena rahmat Islam merengkuh mereka. Itulah sebabnya, zakat adalah suatu kemenangan. Kemenangan besar. (*) Guru besar UMM dan ketua Lazis Sabilillah, Malang

Pendiri: H Mahtum Mastoem (Alm). General Manager: Dadan Alisundana. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Ruslan Caxra. Redaktur Pelaksana: Usep Saeffulloh. Asisten Redaktur Pelaksana Pracetak: Midi Tawang. Koordinator Liputan: M Ruslan Hakim. Redaktur: Tina Agustina, Nancy AQ Mangkoe. Asisten Redaktur: Candra Nugraha, Asep Sufian Sya’roni, Irwan Nugraha, Ujang Yusuf Maulana. Penanggung Jawab Web: Husni Mubarok. Reporter: Dede Mulyadi, Permana, Lisna Wati, Referensi Semua Generasi Rina Suliestyana, Lisan Kyrana. Singaparna: Sandy Abdul Wahab. Ciamis: Iman S Rahman, Yana Taryana. Pangandaran: Nana Suryana. Banjar: Kukun Abdul Syakur (Kepala Biro), Deni Fauzi Ramdani. Wartawan Luar Negeri Melalui Jawa Pos News Network (JPNN): Dany Suyanto (Hongkong). Sekretaris Redaksi: Lilis Lismayati. Pracetak: Achmad Faisal (Koordinator), Sona Sonjaya, Husni Mubarok, H Yunis Nugraha. IT: Harry Hidayat. Iklan: Agustiana (Manager), Nunung, Devi Fitri Rahmawati, Jamal Afandy. Iklan Perwakilan Jakarta: Yudi Haryono, Azwir, Eko Supriyanto, Mukmin Rolle, Arief BK, Asih. Pemasaran dan Pengembangan Koran: Dede Supriyadi (Manager), Asep H Gondrong, Yadi Haryadi, Toni, Dani Wardani. Promosi dan Event: M. Fahrur, Sarabunis Mubarok. Keuangan: Nina Herlina (Manager), Novi Nirmalasari (Accounting), Rina Kurniasih (Inkaso), Tatang (Kolektor). Diterbitkan: PT. Wahana Semesta Tasikmalaya. Percetakan: PT Wahana Semesta Java Intermedia. Komisaris Utama: H. M. Alwi Hamu, Komisaris: Lukman Setiawan, Dwi Nurmawan. Direktur Utama: H. Suparno Wonokromo. Direktur: Yanto S Utomo. Alamat Redaksi/Pemasaran/Iklan/Tata Usaha/Percetakan: Jl. SL Tobing No. 99 Tasikmalaya 46126, Telp. 0265-348356-57, Fax. 0265- 322022, email: radar.tasikmalaya@gmail.com. Perwakilan Cirebon: Jl. Perjuangan No. 9 Cirebon Tlp: (0231) 483531, 483532, 483533. Perwakilan Bandung: Jl. Margahayu Raya Barat Blok SII No.106 Bandung Telp. 022-7564848, 08182398875 (Sofyan). Perwakilan Jakarta: Komplek Widuri Indah Blok A-3, Jl. Palmerah Barat No. 353, Jakarta 12210, Telp. 021-5330976, HP: 081320279893. Tarif Iklan: hitam putih (BW) Rp 28.000/mm kolom, warna (FC) Rp 38.000/mm kolom, iklan baris Rp 15.000, iklan halaman 1 (FC) Rp 76.000/mm, iklan halaman 1 (BW) Rp 56.000/mm , No. Rekening: 0520110944 - BANK SYARIAH MANDIRI Cabang Tasikmalaya, 0007245361001 - BANK JABAR BANTEN Cabang Tasikmalaya, an. PT Wahana Semesta Tasikmalaya.

Isi diluar tanggung jawab percetakan

SEMUA WARTAWAN RADAR TASIKMALAYA SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL ATAU SURAT TUGAS, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APAPUN DARI NARASUMBER.

22 WACANA 14 agus  
Advertisement