Issuu on Google+

SELASA, 7 AGUSTUS 2012 / 18 RAMADAN 1433 H

7

Cinta Kegiatan Sosial Ikin Dimakamkan di Ciamis

ARTIS belia Pevita Pearce tidak hanya cantik dan piawai berakting. Gadis 19 tahun itu juga gemar melakukan kegiatan sosial. Dalam bulan Ramadan kali ini, Pevita pun tak ingin ketinggalan. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam organisasi kepemudaan Gen A, Pevita menggelar acara Dapur Cinta. Menurut Pevita, ada alasan kegiatan sosial tersebut diberi nama Dapur Cinta. “Karena ini kami sendiri yang memasak, mengemas, sampai ikut mengantarkan makanannya ke tempattempat yang sudah kami tentukan. Kami berbagi dengan 1.350 saudara-saudara kami yang kekurangan,” jelas Pevita ditemui di kawasan jalan Tirtayasa 6 No. 5, Blok M, Kebayoran Baru, Sabtu (4/8). Aktris film Dilema tersebut menuturkan, paket-paket tersebut akan dibagikan di sekitar wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Paketpaket itu diperuntukkan sejumlah panti werda dan beberapa sekolah. “Pokoknya, kami bagikan ke tempat-tempat yang bisa kami jangkau,” kata dia. Soal pengumpulan dana, Pevita mengungkapkan dana tersebut dihimpun dari rekan-rekan sesama artis dan beberapa

Pevita Pearce

teman lain. Proses pengumpulan dana tersebut berjalan lancar. Setidaknya, mereka telah berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 10 juta. “Kalau kami punya niat baik, Insya Allah jalannya dimudahkan sama Yang di Atas,” ungkap dia.

Pevita menuturkan dirinya memang gemar melakukan kegiatan sosial. Kegiatan tersebut dilakukan tidak terbatas hanya pada bulan Ramadan. “Aku sendiri sering lakukan kegiatan sosial. Sebab, ada kesempatan bareng-bareng bantu Dapur Cinta. Di sini kami kerja bareng temen-temen yang hebat. Yang jelas, berbagi itu nggak cuma di bulan Ramadan, tapi juga bisa di bulan-bulan lain,” urainya. Ketika ditanya apakah dirinya bisa memasak, Pevita mengatakan dirinya sudah terbiasa hidup mandiri saat masih berada di luar negeri. Karena itu, dia mengaku tidak canggung saat diminta ikut membantu memasak. “Kebetulan kan aku sempat sekolah di luar dan tinggal sendiri, mau nggak mau harus masak sendiri, kalau nggak masak, ya nggak makan,” ujar dia. Dapur Cinta sendiri merupakan salah satu aksi sosial dari organisasi Gen A. Organisasi tersebut diprakarsai kekasih Pevita, Banyu Biru. Ke depan, mereka bakal memperluas area kegiatan sosial Gen A. “Setelah Dapur Cinta ini, kami ingin ikut turun juga membantu saudara-saudara yang terkena musibah di Ambon,” imbuh dia. (ken/c14/any/jpnn)

dari hal 1

sebagai bulan untuk mengakrabkan diri dengan Alquran. Yakni dengan cara meningkatkan kuantitas bacaan, kualitas pemahaman, dan komitmen pengamalannya. Membaca Alquran adalah ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf Alquran, maka baginya satu kebaikan yang digandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Aliif, laam, miim, itu satu huruf. Tetapi aliif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” Rasulullah SAW juga menyebut bahwa Alquran adalah kenikmatan yang boleh di-hasadi. Beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (menginginkan nikmat yang ada pada orang lain), kecuali kepada dua orang. Seseorang yang diberi (pengetahuan tentang) Kitab (Alquran) dan ia melakukan shalat malam dengannya. Juga seseorang yang diberi harta, kemudian menyedekahkannya di sepanjang ma-

Alquran sendiri ditandaskan bahwa Alquran itu dapat menjernihkan dan melembutkan hati. Allah SWT berfirman, “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang (bahasannya), gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (Q.S. Az Zumar: 23) Maka, mengingat keutamaankeutamaan Alquran yang seperti itu, sekali lagi, sudah sepantasnya bagi setiap muslim menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan untuk mengakrabkan diri dengan Alquran. Jangan pernah ragu untuk berpegang teguh kepada Alquran sampai kapan pun juga. Karena Alquran adalah kitab suci yang selalu terjaga kemurniannya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9) (*/adv)

Promosi Jadi yang Terakhir dari hal 8

Baperzjakat,” tutur Ketua Fraksi PAN Kota Tasikmalaya ini. Menurutnya tidak ada aturan apapun yang melarang wali kota melakukan rotasi dan mutasi, meskipun jabatanya akan habis pada 14 November 2012. “Beliau (H Syarif) masih memiliki kewenangan mengeluarkan kebijakan karena saat ini masih menjadi pimpinan tertinggi di Kota Tasik,” ujarnya.

Ketika ditanya, siapa yang akan mengganti 4 pejabat eselon II tersebut, Hendro mengaku tidak tahu menahu dan bukan merupakan tupoksi dari DPRD. “Yang pasti, penggantinya pasti itu-itu juga. Tapi itu menjadi kewenangan wali kota secara mutlak,” ungkapnya. Kolega Hendro di Komisi I, Enjang Bilawani memiliki pandangan berbeda. Menurutnya promosi pejabat itu memang hak mutlak kepala daerah atau wali

kota serta menjadi sebuah keharusan demi jalannya roda pemerintahan dalam upaya melayani masyarakat. Akan tetapi di akhir masa jabatan wali kota, saat ini lebih baik tidak melakukan promosi pegawai. Kalaupun tetap dilakukan, dia berharap ada koordinasi terlebih dahulu dengan wali kota selanjutnya. ”Promosi adalah kebijakan strategis, agar tidak terjadi bongkar pasang. Saya harap ada koordinasi,” tagasnya. (kim)

Dua Grup Tagoni Terus Melaju dari hal 8

Paozan Wetan Indihiang serta Attuda dari Sindangkasih Ciamis. Berdasarkan seleksi ketat dari tim juri, hanya dua grup yang berhak melaju ke babak selanjutnya yaitu Nurul Huda dan Mts Mathlaul Khoer. Sedangkan grup Iman Sejatera dan Attuda, terpaksa harus pulang lebih awal karena tereliminasi. Grup Iman Sejatera tampil cukup menghibur penonton. Terutama dengan aksi Mak Momoh sebagai anggota tertua di grup ini. Kendati sudah terhitung nenek-nenek, Mak Momoh

terlihat enerjik menabuh rebana disertai gerakan-gerakannya yang khas. Dia mengaku punya tips agar tubuhnya tetap bugar. “Saya biasa latihan teratur dan rutin. Kemudian banyak makan sayuran dan buah-buahan seperti jeruk supaya badan kita sehat,” tuturnya. Namun tim juri terpaksa mencoret grup ini untuk kembali berlaga di babak selanjutnya. “Semua yang tampil pada penyisihan terlihat tegang namun kita menilai mereka yang gugur itu karena mengalami tingkat kesalahan cukup banyak, diantaranya kurang lepas mainnya” ujar Syaiful Badar salah seorang tim

juri. Santi, anggota grup Iman Sejahtera mengaku kecewa karena timnya tidak lolos. “Sedih iya, kecewa tapi kita lapang dada karena itu keputusan juri. Namun kita tetap semangat,” ungkapnya usai perform. Tika, salah seorang penonton asal Sindangkasih Kabupaten Ciamis menilai sosok Mak Momoh sangat menghibur. “Orangnya pede dan sangat penuh semangat. Meski sudah tua, tapi dia sangat hebat dan mampu membawa kita semua terhibur dengan semangatnya,” ucapnya. (mg4)

Absensi Elektronik Pacu Disiplin dari hal 8

kehadiran, nilai siswa dan data siswa secara keseluruhan termasuk prestasi siswa baik akademik maupun non akademik yang disampaikan secara berkala kepada orang tua siswa langsung kepada handphonenya. Cara kerjanya nanti kami akan meminta nomor telepon untuk bisa menerima sms tersebut,” ujar Dadang. Peralatan absensi elektronik tersebut, sambung Dadang, sebanyak empat buah. Penggunaannya dilakukan sebelum belajar mengajar dan berakhirnya jam kegiatan belajar mengajar. “Dilakukannya (pengabsenan elektronik, red) tiap hari yaitu sebelum pukul 07.00 dan diakhir KBM pada pukul 14.00 WIB. Alat

ini kan menggunakan sidik jari jadi tidak akan bisa dipalsukan. Selain itu alat ini mulai diberlakukan minggu ini dengan menyosialisikan dulu. Jumlah alatnya ada empat buah mesin, tiga buah untuk siswa sesuai jenjangnya dan satu buah untuk guru. Sedangkan pengadaan alat ini bersumber dari sumbangan orang tua siswa,” tandasnya Dadang berharap terobosan tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa dan guru. “Dengan alat ini semuanya akan terdata melalui jaringan komputer. Jadi diharapkan motivasi siswa maupun guru akan meningkat terutama motivasi untuk datang lebih awal, tidak bolos, tidak pulang sebelum jadwal,” harapnya. Salah satu guru SMPN 11 Kota

dengan keluarganya. Bahkan korban tidak pernah membawa keluarganya ke sekitar tempat kerjanya, sampai korban stroke. “Kami tidak tahu siapa keluarganya,” sebutnya. TIDUR DI BECAK Ikin, kata Luki biasa berisitirahat di dalam becak yang dipakainya. Sedangkan bangunan yang yang dihuni hingga terjadi insiden kebakaran, baru dihuni Ikin sekitar setahun. “Sebelum tidur di bangunan itu, korban biasa tidur di becaknya,” ungkapnya. Setelah mengalami penyakit stroke, lanjut dia, Ikin menempati bangunan kosong itu. “Mungkin ada setahunan, selama dia

(korban) mengalami stroke. Tapi masih bisa berjalan, tapi kalau ngabecak mah tidak bisa,” lanjutnya. Setelah tidak bekerja, Ikin mengandalkan belas kasihan warga sekitar. “Istilahnya untuk makan menunggu pemberian dari warga,” jelasnya. Kata Luki, bangunan yang dihuni Ikin – yang terbakar Minggu malam— adalah bangunan tak bertuan. Sebab bangunan itu berdiri diatas selokan. “Memang tempat itu dibangun oleh Jamsu pensiunan PU. Tapi sudah sangat lama dan ditinggalkan, Jamsu juga sudah meninggal,” sebutnya. (dem)

Jumlah Pemudik Diprediksi Menurun dari hal 1

tidak turun di terminal. Bukan karena kendaraan yang tidak masuk ke terminal,” ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Tasikmalaya H Aay Zaini Dahlan di kantornya kemarin (6/8).

Sebagian pemudik dari luar kota, kata dia, lebih banyak memilih turun di jalan sebelum terminal, karena alasan akses angkutan penyambung menuju rumah. ”Kalau dalam masa arus mudik, kita tidak mengalami kesulitan. Justru yang akan sibuk itu nanti waktu arus balik,” kata dia. Terkait mudik bersama dari luar Kota

Tasikmalaya, kata Aay, pihaknya belum mendengar sehingga sebagian besar masyarakat diprediksi akan kembali mudik menggunakan kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil rental atau travel. Aay juga memprediksi puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi pada H-3 Lebaran. (pee/snd)

Tentukan Cagub Lewat Survei dari hal 1

Edhi Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Ia sedikit memaparkan untuk tahapan Pilgub Jabar, Demokrat sudah maju (dari partai lain) pada saat penjaringan bakal calon. Sekarang, kata dia, sedang dilakukan sosialisasi bakal calon. ”Silahkan bagi balon yang ingin maju untuk menunjukkan

kualitas dan kuantitas untuk memberikan pengabdian pada masyarakat,” ujarnya. Adapun beberapa nama kader Demokrat yang akan maju di Pilgub Jabar, tiga diantaranya, Dede Yusuf, Dada Rosada dan Iwan R Sulanjana. Tadi malam, kedatangan Anas dan Ibas disambut Wakil Gubenur Jabar Dede Yusuf, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

Tasikmalaya Drs H Budi Budiman dan Ir H Dede Sudrajat MP, yang juga diusung Demokrat di Pilwalkot Tasikmalaya 2012. Adapun kedatangan Anas dan Ibas ke Priangan Timur dalam rangka Safari Ramadan. Hari ini rombongan Anas akan bersafari ke Ponpes Darussalam Raja Polah Kabupaten Tasikmalaya dan tempat lainnya di Priangan Timur. (kim)

Nilai Jeblok, Guru Dibela

Keutamaan Alquran lam dan siang. (H.R. Bukhari). Alquran akan mengangkat derajat manusia di dunia dan akhirat. Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum dengan Alquran dan menghinakan suatu kaum dengannya pula.” Penghormatan kepada “teman-teman akrab” Alquran dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW pasca perang Uhud. Beliau mendahulukan penguburan para syuhada’ Uhud yang paling banyak menghafal Alquran dibanding syuhada lainnya. Sedangkan tentang ditinggikannya derajat manusia karena keakrabannya dengan Alquran dijelaskan Nabi SAW dalam sabdanya berikut, “Nanti dikatakan kepada manusia mukmin, ‘Bacalah Alquran sambil naik ke surga. Tempat tinggalmu adalah ayat terakhir yang kamu baca’.” Sungguh luar biasa. Karenanya, di bulan Ramadhan ini mari kita tingkatkan interaksi diri dengan Alquran. Selain keutamaan-keutamaan yang tadi disebutkan, di dalam

TASIK – Ikin Sodikin (65), pengayuh becak yang tewas terpanggang di gubuknya di Kampung Kebon Manggu, Yudanegara, Cihideung, Kota Tasikmalaya Minggu (5/8) malam, kemarin dimakamkan keluarganya di Cihaurbeuti Ciamis. “Korban tadi (kemarin) sekitar pukul 07.30 dikirim ke keluargaya yang di Cihaurbeuti, Ciamis,” ungkap Luki Masduki (55), tokoh masyarakat Kebon Manggu kepada wartawan, kemarin (6/8). Jasad Ikin, kata dia, diterima istri dan anakanak korban. “Yang menerima istri kedua dan anaknya,” lanjut Luki. Dia menyebutkan Ikin jarang bertemu

Tasikmalaya, Hj Afi Endah Navilah MPd, mengapresiasi pengadaan teknologi tersebut. “Ini merupakan terobosan bagus dan sangat postif karena tidak semua sekolah menggunakan alat ini. Selain itu bagi guru sebagai pengenalan teknologi canggih juga. Mudahmudahan menjadi motivasi bagi guru dan siswa untuk datang dan pulang sesuai jadwal,” ungkapnya. Deni Riswan Kamil, salah satu siswa SMPN 11 Kota Tasikmalaya dengan adanya teknologi absen itu makin termotivasi untuk belajar. “Saya menyambut baik adanya absensi elektronik. Kami khususnya saya jadi lebih giat belajar,” tuntasnya. (shendy/ xpresi news )

dari hal 1

tidak menargetkan hasil yang maksimal. Karena dalam ujian ini tidak ada kategori lulus atau tidaknya, melainkan hanya sebagai pemetaan mutu pendidikan. Kata Dadang, setelah mereka mengetahui dan mengikuti UKG, minat para guru mengikuti ujian online semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dari banyaknya pengakuan para guru yang merasa penasaran dengan hasil UKG. ”Justru sekarang mereka tertantang agar bisa ikut kembali UKG, supaya hasil yang diraih bisa maksimal, “ tuturnya. Ketua Dewan Pendidikan Kota Tasikmalaya Prof Dr H Dedi Herawan juga mengomentari hasil UKG. Menurutnya secara nasional rata-rata nilai hasil UKG 42. “Saya

katakan ini hasil yang lumayan untuk UKG awal secara online,” tuturnya kemarin. Terlebih berdasarkan informasi yang ia terima di lapangan, para guru asal menebak jawaban karena ada soal gambar dan grafik tidak muncul kala ujian. ”Saya sudah prediksi hasilnya (jeblok, red) karena sebagaian besar guru jangankan berpikir menjawab soal, mengoperasionalkan internet saja juga masih gaptek,” ujarnya. Dedi menyarankan peraih nilai di bawah 50 itu secepatnya guru harus dibina, karena mutu guru akan berkorelasi positif dengan mutu mengajar. Menanggapi hasil UKG, anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Dede Muharam mengatakan hasil UKG harus dijadikan evaluasi bagi para guru dan Dinas Pendidikan

Kota Tasikmalaya jangan merasa panik saat menghadapi ujian. ”UKG itu meningkatkan mutu dan kualitas guru sehingga mulai sekarang guru harus bisa menguasai segala bidang, termasuk teknologi,” ujarnya. Dia pun menyarankan agar di setiap sekolah diadakan workshop bagi guru hingga terbiasa menggunakan internet. Terlebih penggunaan internet menjadi salah satu kekhawatiran para guru sebelum ujian. ”Dengan perkembangan tekonologi yang semakin maju, saya harap para guru bisa mengikuti hal tersebut agar tidak terkesan gaptek,” tandasnya. Sebelumnya diberitakan Radar sebanyak 30 persen dari 3.161 masih gaptek menggunakan komputer. (kim)

Perahu Terbalik, Nelayan Tenggelam dari hal 1

terpental dari perahu, tak jauh dari mulut pelabuhan tersebut. Hingga berita ini ditulis tadi malam, Rauf belum ditemukan, diduga tubuhnya ditelan ombak lautan. Sedangkan Dirman berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang ke tepian pelabuhan. Salah seorang saksi mata, Gunawan menceritakan peristiwa ini terjadi sekitar pukul 17.00. Saat kejadian dia mengaku melihat perahu kedua nelayan tersebut seperti biasanya berangkat menangkap ikan. Kebetulan, kata dia, di bulan Agustus ini nelayan setempat lagi usum nyore atau musim melaut di sore hari. Seperti dituturkan Dirman (nelayan yang selamat) kepada Gunawan, mesin perahunya mati mendadak. “Pada saat mesinnya mati, tiba-tiba datang gelombang besar dan menghantam perahu. Akibatnya perahu terbalik dan keduanya terpental,” ungkap Ketua BPD Cikawungading ini melalui telepon, tadi malam.

Selanjutnya, Dirman berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang. Kebetulan Dirman selain bisa berenang juga mengenakan jaket pelampung. “Sekarang Dirman sudah pulang ke rumahnya, alhamdulillah dia selamat,” tandasnya. Ketua HNSI DPC Tasikmalaya Dedi Mulyadi juga mengaku sempat menyaksikan peristiwa nahas itu. Kebetulan perahu Dedi lebih dahulu meninggalkan mulut pelabuhan, hanya berjarak beberapa puluh dari perahu korban. “Saya juga sempat melihatnya. Cuma kami tidak bisa berbuat banyak, soalnya perahu saya telanjur di tengah. Kalau menurut informasi kawan-kawan di darat, mereka juga tak bisa berbuat banyak karena kejadiannya sangat cepat,” terang Dedi melalui telepon saat dia masih menangkap ikan di tengah Samudera Indonesia tadi malam. Diakuinya, musibah serupa kerap terjadi di sekitar mulut pelabuhan itu. Rata-rata korban tertelan gelombang lalu diseret arus laut yang mengarah ke Timur. “Saya belum bisa

memastikan, apakah tubuh korban (Rauf, red) terjerat jaring atau tidak. Tapi setahu kami, Rauf memang tidak bisa berenang,” jelasnya. Atas nama HNSI, Dedi mengaku sangat kehilangan sesama rekan seperjuangannya itu. “Profesi kami memang penuh risiko, setiap hari kami mempertaruhkan nyawa dalam mencari nafkah,” ungkapnya. Dihubungi terpisah, Kasatpolair Polres Tasikmalaya AKP Qomarudin mengaku sudah berkoordinasi dengan anak buahnya dalam pencarian korban. Pihaknya juga bahumembahu dengan tim SAR nelayan Pamayangsari. “Mohon maaf saya baru saja pulang pelatihan (di Tanjungpriok, Jakarta, red) hari ini. Tetapi kami sudah berkoordinasi,” terangnya melalui ponselnya tadi malam. Camat Cipatujah Bambang didampingi Kades Cikawungading Mustarom mengaku langsung terjun ke lokasi. Mereka sejak sore hingga malam tadi menyisir bibir pantai untuk menemukan Rauf yang diduga telah tewas akibat tergulung ombak. (uym)

Puluhan Kali Terjangkit Malaria, Kini Jadi Kebal dari hal 1

pemutaran film dokumenter tentang suku Kamoro. Setelah itu, dia bergegas turun lagi untuk mengecek personel dan karya-karya ukiran yang dipamerkan. Sosok berbadan tegap tersebut adalah Kal Muller. Pria yang bernama asli Kalmann Muller itu adalah warga Hungaria kelahiran 3 Mei 1939. Kal, begitu dia akrab disapa, terlihat lengket sekali dengan penduduk suku Kamoro. “Mungkin, karena 17 tahun tinggal bersama mereka, saya jadi terlihat sangat lengket. Mereka itu saudara saya. Kami bersaudara,” urai pria yang cukup fasih berbahasa Indonesia tersebut. Saking lamanya tinggal bersama suku Kamoro, dia bahkan disebut sebagai ahli sejarah dan antropolog spesialis suku yang tinggal di pesisir Timika, Papua, itu. Sebutan tersebut muncul setelah Kal menerbitkan sejumlah buku tentang suku Kamoro dan suku-suku lainnya di Papua. Di antaranya berjudul Mengenal Papua, Pesisir Selatan Papua, dan Daratan Tinggi Papua. Buku lain yang akan segera terbit berjudul Pesisir Utara Papua. Buku yang berisi sejarah dan potret suku-suku di Papua tersebut didedikasikan kepada siswa Papua tingkat SMP hingga perguruan tinggi yang akses informasinya masih terbatas. Setelah kesibukannya mereda, dengan ramah, Kal mulai bertutur tentang kisah hidupnya hingga sampai di bumi Papua. Perjalanannya sebagai pemerhati budaya dan seni dimulai ketika dia lulus dari Universitas Arizona, AS, pada 1973. setelah menyandang gelar doktor sastra Prancis, dia menjelajah Indonesia untuk mengamalkan ilmunya pada 1976. Dia pernah mengajar sebagai dosen sastra Prancis di sejumlah kampus di Indonesia. “Saya juga berkeliling ke pulau-pulau di Indonesia untuk menelusuri kebudayaan suku-suku setempat,” ujar pria yang juga hobi memotret dan menulis artikel di koran tersebut. Petualangannya menyusuri pulaupulau di Indonesia terhenti di daratan Papua. Tepatnya di tempat tinggal suku Kamoro di pedalaman Timika. Dia masih ingat betul

saat kali pertama menginjakkan kaki di Timika pada 1985. Menurut Kal, awal masuk komunitas suku Kamoro, dirinya tidak mengalami pertentangan. “Urusan ketemu bule, mereka sudah tidak asing. Sebab, sejak zaman penjajahan Belanda, ada misionaris dari Belanda yang datang ke sana,” katanya. Awalnya, Kal belum terlalu intensif bercengkerama dengan penduduk suku Kamoro. Setelah direkrut menjadi konsultan PT Freeport Indonesia pada pertengahan 1994, hubungannya dengan suku Kamoro mulai erat. Kal diberi mandat untuk menggali budayabudaya dan kehidupan sosial suku Kamoro. Saat itu, kehidupan adat suku Kamoro hampir punah. Kehidupan adat mereka hampir kehilangan jejak karena tergerus kegiatan keagamaan yang dijalankan para misionaris peninggalan penjajah Belanda. Secara resmi, rumah Kal berada di jantung Kota Timika. Tetapi, dia jarang tinggal di rumah. “Saya lebih banyak tinggal bersama suku Kamoro,” ujar pria yang pernah tinggal di Meksiko itu. Dalam sebulan dia bisa tinggal bersama suku Kamoro sampai lebih dari tiga minggu. Perjalanan Kal dari rumah menuju pusat kehidupan suku Kamoro tidak mudah. Dia harus menyusuri sungai dan laut hingga 12 jam. Catatan waktu itu dicapai jika perahu yang ditumpangi Kal digerakkan dua mesin tempel. Tetapi, jika perahu yang ditumpangi hanya berpenggerak satu mesin tempel, waktu tempuh bisa molor hingga berjam-jam. “Apalagi jika air laut tiba-tiba pasang. Saya harus tinggal dulu di suku tetangga,” kata suami Jina Muller tersebut. Dia menikah dengan Jina sekitar sepuluh tahun lalu. Kini Jina lebih sering tinggal di Timika. Dia mendapatkan tugas untuk membantu setiap proses persiapan pameran budaya suku Komoro. Kal menuturkan bahwa tugasnya saat kali pertama tinggal bersama suku Kamoro adalah memetakan kondisi sosial budaya mereka. Menurut dia, kehidupan suku Kamoro sangat bergantung pada alam. Rata-rata mendapat penghasilan dari melaut. Di antara hasil laut yang bisa diandalkan orang-orang Kamoro adalah ikan kapan dan

aneka jenis udang. “Ada beberapa kelompok suku Kamoro yang hanya menangkap udang. Jika ada ikan yang tersangkut di jaring, mereka kembalikan lagi ke laut,” terang pria yang juga mengantongi paspor Amerika tersebut. Setelah lama tinggal atau tepatnya tidur bersama penduduk Kamoro, Kal mulai merasa bahwa persaudaraan suku Kamoro cukup kuat. Suku Kamoro tidak suka perang adat seperti suku lain, sebagaimana yang sering diberitakan banyak media. Menurut analisis Kal, suku-suku di Papua yang tinggal di area pesisir lebih kalem daripada suku-suku yang menetap di pegunungan. “Yang sering bentrok itu ya sukusuku pegunungan. Mereka masih menganut perang adat,” jelasnya. Kal menjelaskan pengalamannya waktu kali pertama tinggal bersama warga Kamoro. Dia mengungkapkan awalnya tidak suka makan makanan dari olahan sagu. Tetapi, karena bahan utama makanan warga Kamoro adalah sagu, lambat laun dia terbiasa. Setiap kali dihidangkan makanan yang berbahan dasar sagu, Kal menyantapnya dengan lahap. Terlebih jika hidangan tersebut diselingi ikan bakar. “Mereka jago masak,” katanya, lantas tertawa. Seperti kebanyakan orang lain, Kal pernah takut ketika akan tinggal dan menetap bersama suku Kamoro. Penyebabnya adalah serangan malaria. Dia puluhan kali terserang malaria. Untung, dia memiliki obat mujarab sehingga malaria yang menyerang tubuhnya tidak sampai parah. “Setelah lama di sana, sekarang saya terbiasa,” ujarnya. Sebelum blusukan ke hutan untuk tinggal bersama suku Kamoro, Kal tidak lupa meminum obat penangkal malaria. Dengan cara tersebut, malaria bisa dicegah. Setelah lama tinggal bersama suku Kamoro, dia merasa bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi dari mereka. Yang paling utama adalah masalah kesehatan dan pendidikan. Menurut dia, di lokasi tempat tinggal suku Kamoro kini ada banyak klinik kesehatan. “Tetapi, mantrinya jarang berada di klinik,” terangnya. Dia berharap, pemerintah lebih memperhatikan suku Kamoro. (*/c12/nw)


7 sam 7 ag