Page 1

SENIN, 6 AGUSTUS 2012 / 17 RAMADAN 1433 H

Pemudik Mulai Lewati Ciamis

Polisi Tembak Pemuda dari hal 1

Eka menambahkan tidak ada kesalahan yang dilakukan Agus. Begitu pula para tim kesenian obrog pada malam itu. “Kalau pun ada kesalahan, kesalahannya dimana? Orang lagi ngobrog, tiba-tiba dia (SJ) menembak Agus,” ucapnya. Selanjutnya, kerumunan bubar dan SJ pun membawa korban ke sepeda motor. Karena diketahui warga sekitar yang mendengar keributan di luar rumah, SJ tergesa-gesa membawa korban ke RSUD Waled sekitar pukul 02.00 Minggu. Kemudian, setelah sampai di RSUD Waled —yang jaraknya sekitar 4 kilometer— dengan alasan ingin menyelamatkan nyawa korban. Setelah itu, dia pergi. Kapolres Ciebon AKBP Heru Henrianto Bachtiar SIK, MSi langsung menuju lokasi kejadian sekitar pukul 05.00 bersama istrinya. Dia memerintahkan SJ segera ditangkap. Kapolsek Karangsembung AKP Sukhemi MSH mengiyakan anggotanya melakukan dugaan penembakan terhadap warga bernama Cipta Agus Tirta. Dia berjanji akan mengsut tuntas

kejadian tersebut. “Dari laporan warga, memang dia (Brigadir Satu SJ) menembak warga. Tapi ada beberapa dugaan yang mengakibatkan anggota saya mengeluarkan senjata api. Kita nanti akan cari penyebabnya. Sekarang dia sedang ditangani dan diselidiki oleh Propam Polres Cirebon,” ujarnya. Untuk menindaklanjuti buktibukti penembakan, jasad korban langsung dikirim ke RS Bhayangkara Losarang Indramayu untuk diotopsi. Sementara di lokasi penembakan, tidak dipasang police line karena bertepatan dengan jalan raya yang dilalui kendaraan. Di TKP hanya ditemukan bercak darah segar yang tercecer. Diduga, darah yang tercecer adalah ketika korban diseret oleh tersangka. WARGA MARAH Tewasnya Cipta Agus Tira (18) membuat tetangga dan kerabat pemuda itu marah. Mereka, kemarin pagi mendatangi kantor Polsek Karangsembung. Tujuan kedatangan masyarakat Desa Blender ini untuk menuntut kejelasan dan penerapan sanksi hukuman bagi oknum polisi itu. Sementara itu dalam keterang-

annya, Kapolsek Karangsembung AKP Sukhemi MSH mengaku tidak akan main-main mengusut kasus penembakan anggotanya. Sukhemi juga berjanji akan menanggung semua biaya kematian Agus. Terkait sanksi yang akan diterapkan, Sukhemi menjelaskan, ada dua proses hukum diterapkan kepada Brigadir Satu SJ. Yang pertama adalah proses hukum secara umum (tindak pidana), serta proses hukum korps kepolisian. “Kalau secara umum, sanksi pidana yang diterapkan adalah KUHP 340 dengan ancaman lebih dari 7 tahun penjara. Sementara dari sisi hukum korps kepolisian, ancamannya adalah pemecatan jika diberi hukuman lebih dari lima tahun penjara. Jika kurang dari lima tahun penjara, maka hanya dimutasi,” terangnya. Sukhemi juga mengaku prihatin dan meminta maaf atas nama korps kepolisian atas kejadian tesebut. Terkait adanya kabar kalau Brigadir Satu SJ sedang mabuk saat menembak, Sukhemi dia berdiplomatis. “Nanti kita proses penyelidikannya,” kata dia. (mid/rdl/jpnn)

Pria Tua Terpanggang di Gubuk dari hal 1

kesenggol atau apa. Kurang tahu karena masyarakat juga tahunya sudah kejadian,” kata dia tadi malam di lokasi kejadian. Peristiwa itu, kata dia, terjadi saat sebagian warga baru pulang dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya mengikuti peringatan malam Nuzulul Quran. Terbakarnya gubuk Ikin, kata Yaya Ruhiya (51), saksi lainnya baru diketahui setelah seorang anak yang tengah melintas. Anak itu mencium bau asap dan memberitahu warga lainnya. Warga pun berdatangan dan melihat api sudah dalam keadaan membesar. Warga setempat langsung berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Selang beberapa menit, api berhasil dipadamkan. Namun, Ikin sudah dalam keadaan hampir gosong. Beberapa kulit bagian tubuh seperti pada bagian tangan, dan punggung terkelupas. Petugas dari Polsek Cihideung yang sudah tiba di lokasi langsung mengevakuasi jenazah korban dan membawanya ke RSUD Kota Tasikmalaya untuk di visum. TINGGAL SENDIRI Dari keterangan warga, Ikin adalah warga Riung Kuntul, Kelurahan Cilembang. Sejak tahun 60-an dia tinggal di Sukawarni dan bekerja sebagai tukang becak. Namun sudah tiga tahun belakangan ini dia mengalami stroke. Tak ada satu pun anggota keluarga atau saudaranya di Sukawarni, Cihideung, Kota Tasikmalaya. Menurut kabar, Ikin sempat

menikah lagi sehingga keluarganya pergi ke Kalimantan. Selain itu, keluarga istri kedua Ikin pun sudah tidak lagi menemani dan dikabarkan telah pindah ke Cihaurbeuti, Ciamis. “Sejak tahun enam puluhan dia ngebecak di sini. Keluarganya katanya sudah tidak peduli lagi,” tutur Luki. Yaya menambahkan Ikin sudah tinggal di Kebon Manggu sejak dia masih remaja. Warga sekitar pun sudah tidak sungkan lagi untuk memberikan makanan kepada kakek itu. Tiap hari kata dia, warga bergantian memberikan makanan. “Dia hidup sendiri. Makan juga dikasi warga. Kadang-kadang dia makan juga minta minta kedepan (ke warga yang di Jalan Yudanegara),” katanya. (pee)

Bahaya Dosa dari hal 1

Bahaya dosa yang selanjutnya adalah terhalang dari terkabulnya doa. Setelah menjelaskan keutamaan bulan Ramadan, Allah berfirman tentang doa dan syarat terkabulnya doa. Yaitu adanya keimanan dan ketaatan kepada Allah. (Q.S. Al Baqarah : 186). Dosa juga menghalangi dari rezeki. (An Nahl : 112), kegelisahan dan kehidupan yang

sempit. (Q.S. Thaaha : 124). Dan yang paling menyedihkan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah. Sebab kematian datang dengan tiba-tiba. Bisa jadi, ajal datang pada saat ia sedang melakukan dosa, na’udzu billah min dzalik. Bulan suci ini adalah saat tepat untuk bertaubat. Taubat artinya mengevaluasi apa yang telah kita lakukan yang baik atau buruk kemudian bersungguh-sungguh

untuk meningkatkan yang baik dan bertekad menghentikan keburukan. Karena itu, katakan serta tuliskan selamat tinggal kemaksiatan dan bertekadlah untuk memperbaiki diri! Mumpung masih ada waktu. Perlu kita camkan baikbaik mutiara hadits ini, ”Orang kuat bukanlah yang (menang) bergulat. Tetapi orang yang dapat mengendalikan diri ketika marah.” (Muttafaq ‘Alaih) (*/adv)

Stasiun KA Masih Sepi dari hal 8

Bahkan untuk lebih mempermudah pembelian, bagi para pekerja kantoran yang setiap

hari bergelut dengan komputer dan tak sempat datang ke stasiun KA, mereka diberi pelayanan penjualan tiket online melalui website PT KAI. ”Mulai tanggal

komisi sebenarnya bisa objektif menilai kinerja para mitra kerjanya. Tetapi oportunisme selalu ada dimana-mana seperti ingin terlihat loyal namun sesungguhnya mengganggu pencitraan kinerja pimpinan. ”Dan mudahmudahan promosi, rotasi dan mutasi yang sedang direncanakan tersebut bisa lebih baik karena kelemahan terdahulu telah terdeteksi,” tuturnya. Anggota Fraksi PBB Kota Tasikmalaya, Asep Deni Adnan Bumaeri mengatakan rotasi dan mutasi merupakan kewenangan dan hak mutlak kepala daerah atau wali kota atas pertimbang-

an dan kajian Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Kota Tasikmalaya. “Dan kami hormati itu, namun saya sarankan agar promosi yang akan dilakukan nanti harus antre sesuai dengan urut kepangkatan,” tuturnya. Anggota Fraksi PDIP Kota Tasikmalaya Dodo Rosada mengungkapkan idealnya untuk mempromosikan seseorang harus dilihat dari berbagai sudut pandang tidak hanya dari aspek kompetensi maupun skill. Tetapi masih banyak aspek lain yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. ”Dan untuk siapa yang akan mengisi nanti, sepanjang sudah dianggap

memenuhi syarat serta tidak pernah terjerat hukum. Maka itulah keputusan yang paling objektif,” tegasnya. Di tempat terpisah, Ketua Baperjakat Kota Tasikmalaya Drs H Tio Indra Setiadi mengaku belum bisa menyebutkan siapa saja pengganti empat pejabat yang pensiun itu. Pihaknya masih menunggu persetujuan Gubernur Jawa Barat. Yang pasti, kata Tio, nama-nama rekomendasi dari baperejakat telah diberikan pada Wali Kota Tasikmalaya. ”Intinya efek domino dari promosi nanti, hampir 100 pegawai yang bergeser jabatan rotasi, mutasi maupun promosi,” singkatnya. (kim)

Jalan HZ Macet Selama Satu Jam dari hal 8

memang dipenuhi lalu lalang kendaraan orang-orang yang tengah berburu pakaian dan perlengkapan Idul Fitri. Ditambah lagi overstay (parkir kendaraan, red) kendaraan pengunjung di tempat parkir juga kadang lebih lama saat musim seperti ini sehingga makin menyulitkan pengunjung lain yang

baru datang mencari lahan parkir. Akibatnya jumlah barisan parkir terus bertambah hingga mempersempit badan jalan. Meski demikian, kata dia, pihaknya telah menempatkan petugas disana untuk mengatur parkir dan kendaraan yang melintas. Kondisi itu diperparah dengan menjamurnya pedagang yang menggunakan trotoar untuk berjualan. Akibatnya pejalan

kaki juga menjadi terganggu. Pihaknya mengaku tidak berani menegur para pedagang ataupun tukang becak yang hilir mudik melawan arus karena ini menjadi masalah kebutuhan ekonomi pedagang dan tukang becak. Salah langkah, kata dia, bisa terjadi permasalahan baru di lapangan. ”Ya tau sendiri kalau bulan puasa seperti ini (padat, red),” pungkasnya. (pee)

Tak Ada THR buat PNS dari hal 8

Surat KPK No B-2087/01-13/08/ 2012 tanggal 20 Agustus 2010 yang melarang pejabat di lingkungan pemerintah menerima hadiah berupa uang, bingkisana atau parsel maupun pemberian lainnya baik dari bawahan, rekan kerja maupun rekanan atau pengusaha. Karenanya Tio mengimbau para pejabat pemkot untuk tidak menerima bingkisan

atau pemberian parsel dari siapapun. ”Saya sarankan PNS tidak saling tukar bingkisan dan lebih baik diberikan kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya. Senada dengan Tio, Enjang Bilawani, anggota Komisi I DPRD Kota Tasikmalaya mengatakan THR bagi PNS sama sekali tidak ada dasarnya sehingga pemkot selayaknya tidak mengeluarkan anggaran tersebut. ”Bukan hanya PNS saja, kita pun

dari hal 1

umumnya berboncengan dan menggendong tas dan membawa kardus. Kabagops Polres Ciamis Kompol Sutisna mengatakan pemudik sepeda motor memang mulai melewati jalur Ciamis. Namun jumlahnya tidak banyak, baik Nopol B, D, F dan R. Mereka rata-rata berboncengan. “Meski pemudik yang lewat Jalan Ciamis belum begitu banyak dan membeludak, tetap kami pantau situasinya,” terang Sutisna kemmarin (5/8). Menurutnya, untuk mengamankan mudik Lebaran kali ini, pihaknya menurunkan 600 personel. Saat nanti, pihaknya akan ekstra ketat mengamankan pemudik yang meng-

(DPRD, red) tidak ada jatah THR dan siap menolak pemberian parsel,” sahutnya. Larangan PNS menerima THR, kata Enjang, harus disikapi dengan bijak dan lega hati. Tujuannya agar mereka tetap menjalankan tugas dengan semangat dalam melayani publik. ”PNS harus tetap bekerja melayani publik dengan baik dan bisa kembali masuk kerja sesuai yang telah diberlakukan,” pintanya. (kim)

gunakan motor. Dari mulai perbatasan Rajapolah (Ciamis-Kabupaten Tasikmalaya) masuk ke Cihaurbeuti, kata dia, akan dikawal sampai perbatasan Kota Banjar. ”Kami lakukan itu, agar pemudik sepeda motor yang rombongan bisa teratur dan tidak asal kebutkebutan ,” jelas Sutisna. Ditambahkannya, pengawalan penting, karena pemudik roda dua bila tidak dikawal rata-rata suka menghabiskan jalan dan saling salip. Hal itu yang menjadi kehawatiranya. Terlebih, saling salip berbahaya karena berujung akan terjadi kecelakaan lalu lintas. “Saya (juga) sarankan istri dan anak dinaikkan ke angkutan umum. Jangan sampai berdesakan di sepeda motor karena itu berbahaya,” saran Sutisna.

Mengamankan pemudik, pihaknya menyediakan tempat istirahat bagi pemudik di enam Pos PAM, antara lain di Kecamatan Sindangkasih, Alun-Alun Ciamis, Winduraja, Banjarsari, Kalipucang dan Pos Pam Pangandaran. “Kita tentunya akan layani pemudik, “ jelas Sutisna. Bila ada pemudik yang kemalaman, pihaknya menyarankan mereka menginap di masjid-masjid atau di 26 SPBU dari mulai Kecamatan Cihaurbeuti hingga Kecamatan Cijulang. Selain itu lokasi pengnapan dan hotel-hotel di Ciamis juga banyak bisa dijadikan tempat istirahat. “SPBU dan lokasi masjid untuk istirahat juga aman bagi para pemudik,” pungkas Sutisna. (isr)

Waspadai saat Hujan Nanggung dari hal 1

hujan deras sekali malah tidak longsor. Karena lumpur menyatu dengan air dan masuk ke dalam kanalnya, lumpur bisa masuk ke kanal,” lanjutnya. Meski menyebutkan Gentong menjadi daerah yang masuk kategori rawan longsor, namun jumlah titik bahayanya hanya satu. “Tempat rawan longsor terdapat di KM 3,” sebutnya. “Kita koordinasi dengan DLLAJ untuk memasang rambu-rambu tentang rawan longsor,” akunya menjelaskan upaya yang dilakukannya mengatasi bahaya longsor. Strategi lainnya yaitu mengalihkan arus kendaraan. “Kalau kondisi longsoran dianggap parah, dibuatkan pengalihan arus. Kalau terjadi macet di Gentong akan dialihkan mulai dari Cikoneng ke Karangresik, Simpang Lima, Jati, Linggajaya untuk diarahkan ke menuju Garut (via Singaparna, red),” tandasnya. Selain mengalihkan arus kendaraan, pihaknya berjaga-jaga dengan menempatkan alat berat. Agar ketika terjadi longsoran, alat berat, itu bisa langsung digunakan hingga tidak terjadi kemacetan yang berkepanjangan. “Kita akan siapkan alat berat,” pungkasnya. Di Kabupaten Tasikmalaya, jalur Tenjowaringin (Salawu) hingga Cikunir (Singaparna) sepanjang 31 kilometer juga merupakan jalur rawan longsor, kecelakaan lalu lintas dan rawan macet yang ada di wilayah hukum Polres Tasikmalaya. Hal ini diungkapkan oleh Kapolres Tasikmalaya AKBP Irman Sugema SH SIK kepada Radar melalui sambungan telepon Minggu (6/8). Irman mengatakan wilayah rawan longsor dan kecelakaan lalu lintas berada di sepanjang jalur Kecamatan Salawu. Rawan

longsor ada di titik Desa Tenjowaringin dan Desa Kutawaringin. Sedangkan rawan Kecelakaan ada di titik Jalan Tapal Kuda di Desa Kutawaringin. Untuk wilayah rawan macet ada di Kecamatan Salawu dan Kecamatan Singaparna. Di Kecamatan Salawu rawan macet hanya di titik Jalan Tapal Kuda sedangkan di Kecamatan Singaparna ada di titik Alun-alun Singaparna dan sepanjang Jalan Kudang hingga Perempatan Jalan Ciawi-Singaparna (Cising) atau Perempatan Jalan Muktamar. ”Kerawanan di jalan utama ini juga karena kondisi jalan yang berbelok-belok, penerangan kurang dan rambu-rambu kurang,” jelas dia Kamis (2/8). Untuk menanggulangi kemacetan dan kecelakaan arus mudik dan balik Lebaran ini, kata dia, Polres Tasikmalaya akan menggelar Operasi Ketupat Lodaya 2012. Operasi itu akan dimulai pada Sabtu (11/8) yang bekerjasama dengan TNI, Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dan Potmas (potensi masyarakat). Seluruh personel yang akan diterjunkan dalam pelakasanaan Operasi Ketupat Lodaya 2012 ini sebanyak 613 personel. Diantaranya terdiri dari 310 personel kepolisian, Kodim 0612 sebanyak 30 personil, Auri 30 sebanyak personel, Brigif 13 sebanyak 30 personil, dan Sub Denpom Tasikmalaya sebanyak 12 personel. Sisnya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dan Potmas. ”Untuk pos terdiri dari Pos Utama, Pos Aju, Pos Pelayanan dan Pos Pengamanan,” jelas dia. Pos utama, lanjut dia, yaitu Makopolres Tasikmalaya, Pos Aju ada di Alun-alun Singaparna, Pos pelayanan ada tiga pos yaitu di Kudang, Tenjowaringin dan Cipatujah. Sedangkan untuk pos pengamanan ada 33 pos yang tersebar di beberapa titik di wilayah

Hukum Polres Tasikmalaya. Misalnya untuk Pos Pengamanan di wilayah Kecamatan Salawu ada Pos Tapal Kuda, Pos SPBU Salawu, Pos Kampung Naga, Pos Warugn Peuteuy, Pos SPBU Eor dan Pos Warung Legok. ”Diperkirakan H-3 Lebaran volume kendaraan akan meningkat,” ujar Irman. Sementara, jelas dia, untuk antisipasi kemacetan di jalur utama, akan dibuka jalur alternatif. Kendaraan dari arah Garut menuju Tasikmalaya bisa menggunakan jalur alternatif melalui Jalan Rancamaya ke Jalan Bojongkonen ke Jalan Ciseda dan keluar ke Jalan Kudang atau dari Jalan Ciseda ke Jalan Dozer, Cipasung dan keluar dari Jalan Muktamar (perempatan Cising). Begitu juga sebaliknya dari arah Tasik menuju Garut bisa menggunakan jalur alternatif masuk dari Jalan Muktamar (perempatan Cising) atau Jalan Kudang yang akan ke luar dari Jalan Rancamaya. ”Jalur alternatif ini digunakan jika terjadi kemacetan di Alun-alun Singaparna dan Jalan Kudang menuju Perempatan Cising,” papar dia. Kemacetan di Alun-alun Singaparna, terang dia, diantaranya bisa disebabkan oleh pasar tumpah, maraknya pedagang kaki lima, mangkal angkutan umum, parkir sembarangan dan naik turun penumpang. Sedangkan pemicu kemacetan di sepanjang Jalan Kudang menuju perempatan Cising (Muktamar) diantaranya penyempitan jalan, pertigaan jalan, titik persinggungan anak sekolah atau karyawan, tidak ada rambu dan naik turun penumpang. Penanggulangannya, untuk di Alun-alun Singaparna bisa dilakukan penataan parkir dan pembentukan tim pengurai kemacetan. Sedangkan untuk di jalur Kudang hingga Perempatan Cising (Muktamar) bisa dilakukan dengan sistem buka tutup jalan. (dem/snd)

Pemimpin Harus Sehati dengan Rakyat dari hal 1

Garut, Minggu (5/8). Pun saat membangun Jawa Barat, kata dia, pimpinan dan rakyat harus sehati. “Memang masyarakat tidak sama semuanya, tapi ketika ada persamaan persepsi antara masyarakat dengan pemimpin, maka akan sangat mudah membangun Jawa Barat,” ungkapnya. Dia menjelaskan, ketika ada kesamaan

persepsi antara rakyat dan pemimpinnya, maka mereka akan saling bahu membahu dan saling mengisi setiap kekurangannya. ”Semua manusia tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu kita harus tahu bagaimana cara saling mengisi kekurangan tersebut,” jelasnya. Lanjutnya perbedaan antara pemimpin dan rakyatnya jangan dijadikan masalah, karena memang perbedaan adalah sebuah rahmat. Saat ditanya kunci yang paling penting

mengenai konsep satu hati antara pimpinan dan rakyatnya, Yance menjawab, kuncinya yaitu silaturahmi. ”Kunci yang utama agar masyarakat dan pemimpinnya sehati, pemimpin tersebut harus sering silaturahmi. Karena dengan silaturahmi para pemimpin akan mendengar curhatan masyarakat, sedangkan para pemimpin juga bisa mengkomunikasikan secara langsung tentang program-programnya,” pungkasnya. (*/adv)

Setelah Hidup Diperpanjang Lima Tahun dari hal 1

enam Agustus, tiket ekonomi pun sudah mulai dilayani di tempat-tempat tersebut (minimarket, kantor pos dan SMS Banking, red),” jelas Agus. (pee)

Wajib Fit and Proper Test dari hal 8

7

limpa saya sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa normal. Itu berarti limpa tersebut sudah siap meledak yang menjadi penyebab kematian kapan saja. Apalagi status hati saya yang terkena virus hepatitis B pun sudah meningkat menjadi sirosis, mengeras dan tidak berbentuk hati lagi. Vonis bahwa umur saya maksimal tinggal enam bulan lagi harus saya terima setelah dipastikan bahwa hati saya sudah penuh dengan kanker. Ukuran kankernya pun sudah besar-besar. Sudah ada yang 2 cm, 4 cm, dan 6 cm. Bibit-bibit kanker lain masih puluhan jumlahnya. Saya tidak akan lupa ucapan seorang dokter ahli di Singapura, yang sudah begitu pasrahnya. Terutama ketika saya mengeluh kesakitan setiap kali mengenakan sepatu. Kaki saya sudah bengkak begitu besarnya. Sepatu saya tidak muat lagi. “Ya ganti sepatu saja!” ujar dokter yang pasiennya 80 persen orang dari Indonesia itu. Padahal, waktu itu saya mengharapkan jalan keluar bagaimana agar bengkak kaki saya itu bisa diatasi. “Tidak ada jalan lain. Ganti sepatu. Kalau bengkaknya sudah lebih besar lagi, ganti sepatu lagi!” Saya tidak jengkel dengan ucapannya itu. Bahkan, saya tersenyum karena terasa ada lucunya. Itulah cara dokter memaksa saya untuk menjalani transplantasi. Tidak ada jalan lain lagi. Hanya transplant yang bisa menyelamatkan. Itu pun tidak bisa transplant separo hati (diambilkan dari hati istri atau anak atau pendonor) karena seluruh hati saya sudah hancur. Harus hati sepenuh hati yang berarti hanya bisa didapat dari orang yang meninggal. “Kalaupun itu bisa didapat dan kalaupun itu nanti sukses,” kata dokter tersebut, “paling hanya bisa menambah umur lima tahun.” Saya juga tidak akan lupa ucapan dokter itu berikutnya: “Tapi, tambah umur lima tahun kan lumayan. Waktu itu nanti umur Anda kan sudah 61 tahun. Sudah lebih pantas meninggal.” Saya memang akrab dengan dokter itu sehingga sekeras apa pun ucapannya tidak membuat saya kecewa. Sang dokter juga tahu bahwa saya cukup intelek untuk menerima kata-kata yang meskipun bernada keras, tapi sangat ilmiah. Mengapa hasil transplant itu hanya bisa memperpanjang umur lima tahun? Secara ilmiah, bisa diterangkan begini: virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu, logikanya, sudah ikut beredar di darah. Artinya, virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu sudah berada di mana-mana. Ketika saya mendapatkan hati baru dan hati baru ter-

sebut dilewati darah yang sudah membawa virus hepatitis B dan sel-sel kanker, virus dan sel-sel tersebut otomatis hinggap lagi di hati yang baru. Lalu, virus hepatitisnya berkembang lagi, hati menjadi sirosis lagi, muntah darah lagi, bengkak lagi, dan kanker merajalela lagi. Teori seperti itulah yang membuat tekad untuk melakukan transplant kadang mengendur. Untuk apa transplant. Mahal sekali dan belum tentu berhasil. Berhasil pun hanya untuk lima tahun. Pun, tambahan hidup lima tahun itu belum tentu bisa dinikmati. Bisa jadi, kualitas hidup pasca transplant tersebut adalah kualitas hidup yang sangat rendah: harus minum banyak obat, sering masuk rumah sakit, menyusahkan keluarga, dan menghabiskan banyak uang. Tapi, orang hidup itu tidak boleh pesimistis. Tidak boleh putus asa. La taiasu! La tahzan! Ingat ajaran agama: Berikhtiar itu bukan mubah, bukan sunnah, tetapi wajib! Jadilah saya memutuskan transplantasi hati. Tapi, saya juga tidak terlalu berharap banyak. Takut kecewa. Orang yang tidak berharap banyak bisa lebih bahagia. Termasuk, saya tidak membayangkan bahwa setelah transplant nanti saya bisa jalanjalan jauh. Saya pikir, saya nanti bisa hidup, tapi dengan aktivitas yang terbatas. Kalau sebelum transplant saya putuskan membeli helikopter, antara lain untuk persiapan siapa tahu bisa membantu mobilitas saya. Allahu Akbar! Transplantasi hati saya berhasil. Kualitas hidup saya setelah transplant ternyata tidak selemah seperti yang saya bayangkan. Ternyata, saya bisa bekerja, bisa ke mana-mana dan bisa di mana-mana. Saya bisa berolahraga setiap hari selama 1,5 jam! Bahkan, kalau Monas lagi hujan, saya bisa berolahraga dengan cara menaiki tangga darurat gedung-gedung pencakar langit milik BUMN di Jakarta: gedung Kementerian BUMN di dekat Monas, gedung Pertamina di dekat Masjid Istiqlal, gedung BTN di Harmoni, gedung Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto, gedung Bank Rakyat Indonesia di dekat Jembatan Semanggi, dan terakhir gedung Bank BNI di dekat patung Jenderal Sudirman. Tidak ada lagi gedung tinggi milik BUMN yang belum saya naik-turuni. Rekor amatir saya: 16 menit naik, 12 menit turun! Pada ulang tahun kelima Senin hari ini, tidak ada acara khusus karena ada dua kali sidang kabinet. Tapi, kemarin, sehari penuh, 1.000 penghafal Alquran (hufadz) berkumpul di Jakarta untuk khataman. Nanti sore istri saya yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang, hehe..., semuanya bernama Nafsiah Sabri, mengundang kelompok

pengajian ibu-ibu untuk berbuka bersama. Selama empat tahun hidup baru, saya selalu berada di lokasi yang berbeda. Ketika baru setahun “hidup baru”, saya berada di Kashmir yang saat itu lagi amat tegang oleh perang saudara. Tahun kedua saya sudah diajak Bapak Presiden SBY ke USA, Meksiko, Peru, dan Brasil. Saya agak waswas menempuh perjalanan begitu jauh dan berat saat itu. Tapi, ternyata tidak ada masalah yang besar. Tahun ketiga saya ke Tiongkok untuk checkup total. Tahun keempat, tanpa disangkasangka, saya menjadi CEO PLN dan mengundang 1.000 hufadz untuk khataman Alquran. Allahu Akbar! Hari ini, lima tahun terlewati dengan penuh berkah. Allah memberikan nikmat jauh melebihi dari yang saya gambarkan. Jauh sekali. Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anestesi selama 13 jam, setelah saya menyadari bahwa operasi saya berhasil (meski masih untuk sementara), setelah saya mengucapkan rasa syukur, saya pun bertekad untuk tidak lagi mau mengurus perusahaan. Terutama karena selama dua tahun saya sakit toh perusahaan tetap berkembang. Lalu, saya hanya ingin mau mengerjakan tiga hal saja: menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan kembali mengurus pesantren keluarga. Kebetulan, keluarga kami memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang tergabung dalam Pesantren Sabilil Muttaqien, yang didirikan oleh seorang mursyid tarekat Syathariyah. Saya merasa bersalah karena selama itu saya terlalu sibuk “mencari duit” sehingga kurang ikut mengurus pesantren ini. Sama sekali tidak membayangkan kalau suatu saat saya diminta oleh Bapak Presiden SBY untuk menjadi CEO PLN. Saya sudah merasa sangat bahagia kalau bisa menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren. Tidak ada bayangan sama sekali menjadi pejabat. Saya pun sudah mencoba menolak matimatian jabatan CEO PLN itu, tapi pada akhirnya ini: dengan memperpanjang umur saya, mungkin Allah punya kehendak lain yang harus saya kerjakan. Saya pun menerima takdir itu. Pun ketika kemudian harus menjadi menteri negara BUMN. Toh saya masih tetap bisa mengajar jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren keluarga. Pekerjaan penting menjelang lima tahun “hidup baru” ini tentu harus saya lakukan: memeriksa apakah ada sel-sel kanker di badan saya, sisa-sisa kanker yang dulu. Allahu Akbar! Tidak ada. (*)

7 sam 6 ag  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you