Issuu on Google+

22

SENIN, 23 JULI 2012 / 3 RAMADAN 1433 H

JATI DIRI Sanksi Bukan Solusi SATU per satu orang-orang di ring satu Presiden Syria Bashar al Assad pergi. Ada yang memang sengaja meninggalkan pemimpin yang berkuasa sejak 2000 itu seperti Brigadir Jenderal Munaf Tlass, petinggi pasukan elite Garda Republik. Ada pula, misalnya, Menteri Pertahanan Daud Rajiha, Wakil Menhan (sekaligus ipar Assad) Ashaf Syaukat, serta Komandan Pengendali Krisis Jenderal Hassan Turkmani yang pergi untuk selamanya alias tewas karena bom kaum oposisi. Ditambah dikuasainya empat pintu perbatasan Syria dengan Iraq dan satu pintu perbatasan Syria dengan Turki oleh kaum oposisi, bisa dibilang baru sekaranglah Assad berada di titik terapuh sejak krisis berdarah membelit negara tersebut pada Maret 2011. Tapi, benarkah itu pertanda kekuasaan putra mantan Presiden Syria Hafez al-Assad tersebut tinggal menghitung hari? Masih terlalu dini kalau menganggap demikian. Kaum antirezim berkuasa memang mendapat momentum kebangkitan. Tapi, secara riil di lapangan, kekuatan mereka masih jauh di bawah kekuatan pasukan pro pemerintah, baik dari sisi sumber daya manusia maupun stok persenjataan. Apalagi, dua sekutu terbesar Assad, Rusia dan Tiongkok, masih setia mendukung. Dan, itu adalah kabar buruk bagi Syria. Sebab, dengan konstelasi kekuatan seperti itu, sangat mungkin krisis yang telah berlangsung 16 bulan dan diperkirakan sudah menelan korban 17 ribu nyawa tersebut akan berlangsung dalam waktu lama. Karena itu, perlu upaya lebih keras dari PBB untuk merangkul pihakpihak yang bertikai demi mencari solusi damai. Ancaman sanksi yang, antara lain, didukung Indonesia tapi diveto Rusia dan Tiongkok tersebut, tampaknya, juga bukan jalan tengah yang tepat dan efektif. Masih segar dalam ingatan, beragam sanksi yang dikenakan kepada rezim Saddam Hussein di Iraq dan Muammar Kadhafi di Libya tak mampu menggoyahkan kekuatan mereka. Justru rakyat di kalangan bawahlah yang akhirnya menjadi korban: bahan pokok mahal, obat-obatan langka, dan aktivitas ekonomi jadi terbatasi. Pada akhirnya, serbuan pasukan asinglah yang mengakhiri kekuasaan dua diktator tersebut. Tapi, kita sungguh juga tak berharap opsi itu yang akan diambil. Selain karena jumlah korban sudah terlampau besar, krisis finansial yang menyelimuti Eropa dan kondisi perekonomian Amerika Serikat yang belum pulih bakal membuat opsi tersebut tak masuk akal. Pilihan terbaik adalah pembentukan pemerintahan transisi bersama antara rezim berkuasa dan kaum oposisi seperti yang ditawarkan mediator krisis Syria yang ditunjuk PBB, Kofi Annan. Kabar baiknya, Assad menanggapi positif ide tersebut. Bahkan, dalam pembicaraan terakhir mereka pekan lalu, Annan mengatakan dirinya dan Assad mulai merancang siapa saja yang bakal duduk dalam pemerintahan transisi itu. Tapi, sayangnya atau kabar buruknya, kubu antiAssad sejauh ini tak terlihat tertarik. Mungkin karena mereka merasa perjuangannya telah mencapai banyak kemajuan dan Assad diyakini tak lama lagi jatuh. Walhasil, jalan memang masih panjang untuk mengakhiri krisis Syria. Tapi, dunia tak boleh lelah untuk terus mendukung PBB dan Annan mengegolkan solusi paling realistis tersebut. Ramadan, bulan suci umat Islam, kaum mayoritas di Syria, yang mulai kita masuki hari ini (atau kemarin bagi sebagian kalangan) siapa tahu bisa menjadi awal sebuah perdamaian di sana. (*)

Puasa bagi Para Hakim H

ARGA diri hukum kembali terjerembap karena ulah hakim. Sepak terjang lembaga peradilan yang seyogianya memberikan keadilan sebagai kebutuhan pokok rohaniah manusia mengalami reduksi nilai karena praktik transaksi jual beli hukum yang kotor serta menjijikkan. Adalah hakim berinisial PS yang harus mengakhiri karirnya dengan cacat di hadapan Majelis Kehormatan Hakim lantaran berkaraoke dengan pihak berperkara dalam kasus perdata yang ditanganinya. Tak lama berselang, sanksi berat juga dijatuhkan kepada hakim berinisial ABS yang terbukti mempermainkan timbangan keadilan dengan cara meminta uang dari pihak berperkara sebesar Rp 50 juta. Deret perilaku tak terpuji itu menyelingkuhi sifat otentik seorang hakim yang dituntut menjaga budi pekerti luhur dan profesi hakim sebagai kemuliaan (officium nobile). Apalagi, jika merujuk pada jumlah hukuman disiplin MA pada Januari–Juni 2012 yang bertengger di angka 81, kita patut tercengang. Sebab, 36 di antara mereka yang dikenai sanksi disiplin adalah hakim. URGENSI PUASA Momen puasa Ramadan 1433 H merupakan masa pencucian jiwa bagi para hakim agar bersih dari kuasa nafsu serakah, magnet keduniawian dan bentuk perilaku tak terpuji lainnya (ahlaq al mazmumah). Hakim adalah personifikasi keadilan, keluhuran martabat, dan sebaik-baik penjaga amanat. Bahkan, dianggap wakil Tuhan di bumi. Menjadi ironis jika perilaku hakim justru berlawanan dengan sifat otentik yang melekat pada profesi tersebut. Karena itu, pelatihan rohani (puasa) dengan menahan lapar dan nafsu sejak pagi hingga petang merefleksikan persenyawaan kodrati antara

watak hakim sebagai maagar menyampaikan amaOleh: nusia biasa dan sifat-sifat nat kepada yang berhak ACHMAD FAUZI Tuhan Yang Maha-Adil dan menerimanya, menetapBijaksana. kan putusan hukum anPuasa mendidik hakim menyadari harkat tara manusia dengan adil tanpa pandang kemanusiaannya, sehingga tidak pongah bulu, melarang memperturutkan hawa dan sewenang-wenang dalam mengemban nafsu untuk memerkosa keadilan dan mejabatan. Hakim harus memiliki sifat rendah mutar lidah untuk sebuah persekongkolan hati yang berpangkal pada kesadaran ke(An Nisa’: 58 dan 135). terbatasan kemampuan diri serta pengAyat tersebut menyentil para hakim agar akuan terhadap zat Yang Mahasempurna. berhati-hati dan bersikap adil dalam memPengakuan diri sebagai makhluk lemah pertimbangkan putusan. Dalam menjalanbukan dalam tafsir memberikan legitimasi kan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh ruang untuk dikendalikan otoritas lain memberikan kesan bahwa salah satu pihak dalam menangani perkara. berada dalam posisi istimewa, menunjukSekadar menahan lapar saat puasa adakan suka atau tidak suka melalui perkataan lah selemah-lemahnya iman. Teringat maupun perbuatan, karena semua orang ketika Rasulullah menyudahi Perang Bamemiliki kedudukan yang sama di muka dar, para sahabat mengira pertarungan hukum (equality before the law). telah usai. Rasulullah pun mengenalkan Perlakuan yang sama terhadap semua orbentuk perang akbar yang pemenangnya ang itu tecermin dalam ritual puasa ketika kelak mencerminkan kesejatian manusia. orang berbondong-bondong menuju masPerang itu adalah perlawanan atas kebiri jid guna melaksanakan Tarawih berjamaah. nafsu kebinatangan yang menjadi antitesis Di dalam masjid, tidak ada lagi perbedaan atas sifatsifat manusia. Itulah jenis puasa kasta ekonomi dan kelas sosial, pangkat dan khawas al khawas yang relevan bagi pemjabatan, suku maupun golongan. bentukan karakter hakim. Puasa para haKedua, nilai kejujuran. Saat ini, kejujuran kim tidak sekadar menahan lapar dan merupakan barang langka di negeri ini. Ordahaga. ang kerap menggadaikan harga diri dan Lebih dari itu, hakim harus mampu mekejujurannya untuk mengeruk materi. Hangendalikan hawa nafsu yang bersifat rokim juga demikian, menukar mutiara kehaniah. Di dalam ibadah puasa terdapat jujuran dengan gemerlap duniawi yang nilai keluhuran yang bisa diejawantahkan bersifat sesaat. Akibatnya, praktik suap dan dalam praktik penegakan hukum. Pertama, jual beli perkara selalu menghiasi wajah nilai keadilan. Keadilan adalah muara dari hukum kita. semua hukum. Plato (427–347 SM) mengPuasa mendidik kita untuk berbuat jujur anatomi, keadilan layaknya keseimbangan serta menyelaraskan antara kata dan perjiwa manusia yang terdiri atas pikiran (lobuatan. Internalisasi nilai kejujuran bagi gistikon), nafsu (ephitumatikon), dan pepembentukan integritas hakim bermakna rasaan (thumoeindes). Ketiganya merupapenting karena hakim yang jujur akan mekan unsur yang terus diasah dan tak dapat mutus perkara berdasar nurani, bukan pedipisahkan. Islam menyerukan keadilan sanan.

HAKIM ULAT Tapi, tahukah Anda jika belakangan ini orang jujur justru tersisih karena diusir dari kampung? Ironi itu mungkin juga berlaku Di berbagai lembaga birokrasi, tak terkecuali ranah penegak hukum. Kejujuran seorang penegak hukum di lingkungan sistem yang bobrok kadangkala menjadi cibiran karena dianggap menghambat keberlangsungan tradisi praktik kotor. Tak pelak, kesalehan individual harus kalah perang oleh kebatilan yang terorganisasi. Padahal, kejujuran menjadi miniatur dalam mengukur integritas dan tingkat kepercayaan seseorang. Hakim yang suka menerima suap dan memperdagangkan putusan adalah hakim perusak dan bermental ulat. Di mana-mana ulat dideskripsikan sebagai binatang yang menjijikkan dan menggerogoti daun yang ditumpangi. Tapi, ulat punya nilai filosofis bisa melakukan metamorfosis mencari hakikat diri dalam proteksi kepompong. Ulat berpuasa dengan menanggalkan jiwa perusaknya tanpa tergoda urusan perut. Setelah berhasil mengalienasi diri dari jerat duniawi, ulat dalam kepompong bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Binatang yang semula menjijikkan itu kini berubah lembut, indah, dan menyenangkan. Filosofi ulat menjadi cambuk bagi hakim bermental perusak untuk melakukan metamorfosis melalui puasa, sehingga mentransformasi sifat pembangun. Tentu sangat berat karena pada mulanya penuh cibiran dan pengasingan. Tapi, jika konsisten, di ujung lorong akan terbit cahaya terang menyinari gelapnya belantara penegakan hukum kita. (*) . Hakim Pengadilan Agama Kotabaru, Kalimantan Selatan

Dramatisasi Agama saat Ramadan W

AJAH televisi di Indonesia menyajikan drama religius dalam setiap tayangannya sejak menjelang Ramadan sampai hari raya nanti. Drama religius itu tampak dalam sinetron, iklan, film, dan sebagainya. Mulai sahur sampai menjelang sahur kembali, tayangan mendadak menjadi religius. Yang sebelumnya tak berjilbab dan tak bersongkok tiba-tiba penuh dengan jilbab dan songkok. Drama religius tersebut selalu hadir setiap Ramadan tiba. Sampai sampai, sebagian umat Islam menghabiskan waktunya di depan televisi, meninggalkan majelis taklim untuk belajar agama. Ulama dan kiai ditinggalkan, lebih memilih selebriti yang mendadak menjadi ustad. Drama religius itulah yang oleh Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1982) dinamakan dramaturgi. Para artis memainkan drama sinetron religius sesuai dengan pesan dan arahan sutradara, bukan atas dasar ajaran agama. Semua babak kisah telah didesain secara dramatis, sehingga terjadi berbagai akting yang memukau dan penuh sensasi. Dalam dramaturgi, identitas manusia bisa saja berubah-ubah, bergantung interaksi dalam sebuah peran. Cara artis menguasai interaksi tersebut dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Artis adalah pemain yang menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui

”pertunjukan dramanya aktor dalam kehidupan Oleh: sendiri”. masing-masing. Umat IsMUHAMMADUN Goffman memperkenallam sedang memainkan kan istilah ”impression madrama hidupnya dalam nagement’’ bahwa manusia merupakan berpuasa pada Ramadan. Sementara itu, pemain drama yang sangat lihai. Manusia televisi dan industri perfilman juga memembangun konsep dan manajemen drama mainkan drama sendiri. untuk mencapai tujuan. Agar pertunjukan ”Seluruh elemen memainkan drama sendrama religius semakin cerdas, sang aktor diri-sendiri, asalkan jangan merusak keinakan memperhitungkan setting, kostum, dahan kehidupan yang telah dititahkan,” lanpenggunaan kata (dialog), serta tindakan jut Burke. Sayangnya, drama religius yang nonverbal lain. Tentu, itu bertujuan untuk dipertontonkan dalam televisi menimbulmeninggalkan kesan yang baik dan mekan dramaturgi beragama. Agama dijadikan muluskan ke tujuan. drama dalam komoditas industri, sehingga Karena mencari tujuan tertentu, yang dimenghadirkan banyak keuntungan. lakukan sang aktor drama religius ketika Yang mereka perankan ketika memainkan berada di atas panggung (front stage) dan drama dalam film atau yang lain sama sekali di belakang panggung (backstage) sungtak berkaitan dengan kehidupan mereka di guh berbeda. Ketika berada di atas pangluar drama tersebut. Karena itu, ajaran agagung, drama religius benar-benar dimainma yang dipetuahkan, ketika dalam pangkan sesuai dengan peran dan sebaikgung televisi, sama sekali tak berkaitan debaiknya agar penonton (rakyat) memangan kehidupan sehari-hari yang dijalani. hami tujuan perilaku kita. Yang terungkap ketika berada di atas pangPerilaku kita dibatasi konsep-konsep dragung tak berkaitan ketika berada di belakang ma yang bertujuan membuat drama yang panggung. Jangan salahkan mereka ketika berhasil. Tapi, ketika berada di belakang berada di belakang panggung tak mau dipanggung, sang aktor akan bermain sesuka lekatkan dengan persoalan ajaran agama hatinya. yang telah diujarkan dan diajarkan. Itu jelas DRAMATURGI BERAGAMA ’’Merusak keindahan kehidupan yang telah Seorang filosof bernama Kenneth Duva dititahkan,’’ kata Burke. Dalam dramaturgi Burke menyatakan bahwa hidup bukan beragama, puasa hanya menjadi komoditas sekadar seperti drama, tapi hidup itu sendiri industri, bukan sebuah momentum untuk adalah drama. Setiap manusia merupakan meningkatkan keimanan.

Jangan kecewa kalau petuah yang diajarkan tak sesuai dengan kenyataan. Di sinilah, umat Islam semestinya sadar dengan drama yang sedang terjadi. Jangan sampai terjebak dan larut dalam dramatisasi agama yang diperankan dalam media. Ramadan adalah momentum mengasah hati nurani dalam meningkatkan keimanan, bukan momentum menonton drama religi yang hanya meningkatkan rating siaran. Karena itu, sudah saatnya umat Islam melakukan respiritualisasi terhadap puasa yang dijalankan di tengah gemuruh teknologi informasi yang berkembang cepat ini. Respiritualisasi dalam puasa Ramadan tak lain adalah dengan memantapkan hati dalam merengkuh surga kebajikan serta kebaikan yang ditebarkan Allah sepanjang siang dan malam. Jangan sampai puasa sekadar menahan lapar dan dahaga karena itu merugikan diri sendiri. Dalam Ramadan, umat Islam diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan olehNya. Dalam bulan ini, napas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal ibadah diterima, dan doa dikabulkan. Akan semakin lengkap kalau drama puasa dibarengi sedekah kepada sesama. Berbagi juga membebaskan kita dari menjadi budak kekikiran serta keserakahan. (*) Analis kemasyarakatan di Program Pascasarjana UIN Jogjakarta

Pendiri: H Mahtum Mastoem (Alm). General Manager: Dadan Alisundana. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Ruslan Caxra. Redaktur Pelaksana: Usep Saeffulloh. Asisten Redaktur Pelaksana Pracetak: Midi Tawang. Koordinator Liputan: M Ruslan Hakim. Redaktur: Tina Agustina, Nancy AQ Mangkoe. Asisten Redaktur: Candra Nugraha, Asep Sufian Sya’roni, Irwan Nugraha, Ujang Yusuf Maulana. Penanggung Jawab Web: Husni Mubarok. Reporter: Dede Mulyadi, Permana, Lisna Wati, Rina Suliestyana, Lisan Kyrana. Singaparna: Sandy Abdul Wahab. Ciamis: Iman S Rahman, Yana Taryana. Pangandaran: Nana Suryana. Banjar: Kukun Abdul Syakur (Kepala Biro), Deni Fauzi Ramdani. Wartawan Luar Negeri Melalui Jawa Pos News Network (JPNN): Dany Suyanto (Hongkong). Sekretaris Redaksi: Lilis Lismayati. Pracetak: Achmad Faisal (Koordinator), Sona Sonjaya, Husni Mubarok, H Yunis Nugraha. IT: Harry Hidayat. Iklan: Agustiana (Manager), Nunung, Devi Fitri Rahmawati, Jamal Afandy. Iklan Perwakilan Jakarta: Yudi Haryono, Azwir, Eko Supriyanto, Mukmin Rolle, Arief BK, Asih. Pemasaran dan Pengembangan Koran: Dede Supriyadi (Manager), Asep H Gondrong, Yadi Haryadi, Toni, Dani Wardani. Promosi dan Event: M. Fahrur, Sarabunis Mubarok. Keuangan: Nina Herlina (Manager), Novi Nirmalasari (Accounting), Rina Kurniasih (Inkaso), Tatang (Kolektor). Diterbitkan: PT. Wahana Semesta Tasikmalaya. Percetakan: PT Wahana Semesta Java Intermedia. Komisaris Utama: H. M. Alwi Hamu, Komisaris: Lukman Setiawan, Dwi Nurmawan. Direktur Utama: H. Suparno Wonokromo. Direktur: Yanto S Utomo. Alamat Redaksi/Pemasaran/Iklan/Tata Usaha/Percetakan: Jl. SL Tobing No. 99 Tasikmalaya 46126, Telp. 0265-348356-57, Fax. 0265- 322022, email: radar.tasikmalaya@gmail.com. Perwakilan Cirebon: Jl. Perjuangan No. 9 Cirebon Tlp: (0231) 483531, 483532, 483533. Perwakilan Bandung: Jl. Margahayu Raya Barat Blok SII No.106 Bandung Telp. 022-7564848, 08182398875 (Sofyan). Perwakilan Jakarta: Komplek Widuri Indah Blok A-3, Jl. Palmerah Barat No. 353, Jakarta 12210, Telp. 021-5330976, HP: 081320279893. Tarif Iklan: hitam putih (BW) Rp 28.000/mm kolom, warna (FC) Rp 38.000/mm kolom, iklan baris Rp 15.000, iklan halaman 1 (FC) Rp 76.000/mm, iklan halaman 1 (BW) Rp 56.000/mm , No. Rekening: 0520110944 - BANK SYARIAH MANDIRI Cabang Tasikmalaya, 0007245361001 - BANK JABAR BANTEN Cabang Tasikmalaya, an. PT Wahana Semesta Tasikmalaya. Referensi Semua Generasi

Isi diluar tanggung jawab percetakan

SEMUA WARTAWAN RADAR TASIKMALAYA SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL ATAU SURAT TUGAS, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APAPUN DARI NARASUMBER.


22 WACANA 23 jul