Page 1

SENIN, 23 JULI 2012 / 3 RAMADAN 1433 H

Demi Air Nyawa Dipertaruhkan dari hal 1

pencaharian warga. Namun pada gotong royong kemarin (22/7), warga lebih hatihati dan waspada. Didi pun ikut mengawasi pembukaan longsoran itu. Warga dan Didi saat membersihkan longsoran juga takut dan khawatir jadi korban seperti Entis, Tarmo dan Enji. “Tadi pagi (kemarin) sekitar pukul 06.30 kami dari kedusunan Cigaleuh berangkat untuk membuka saluran. Kecuali warga dari Kampung Pasirmalang dan Sindangkasih tidak ikut. Karena mereka trauma dengan ada warganya yang tewas,” ujar Didi saat berada di rumahnya di Kampung Cigaleuh kemarin (22/7). Berkat upaya warga membuka saluran air sepanjang 100 meter —yang selesai sekitar pukul 11 itu— dari Batu Blek melalui Sungai Citiis bisa mengalir. Namun, air tersebut hanya bisa digunakan untuk kebutuhan perkebunan dan pertanian. Karena airnya masih kiruh sehingga tidak bisa dikonsumsi untuk air minum. Untuk perikanan juga masih kurang baik. ”Hanya dari sumber air dari sungai lah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata dia. Sementara itu untuk memenuhi air bersih, kata dia, banyak warganya berjalan kaki menapaki tebing-tebing bukit dan jalan setapak ke tempat sumber air tiap harinya. Misalnya bagi warga di Dusun Cigaleuh yang terdiri dari Kampung Pasirmalang, Sindangkasih, Peundeuysari, Cigaleuh dan Kampung Pasirkadu. Harus mencari sumber air ke tempat lain, kata dia, karena air bersih yang biasa mengaliri pemukiman warga Desa Santanamekar dari Sumber Air Batu Blek sulit didapat sejak Kamis (19/7). ”Apalagi waktu hari Jumat (20/7) ada longsor menimbun Sungai Citiis (yang mengalir ke pemukiman warga Desa Santanamekar),” ungkapnya. Mengapa tidak menggali sumur? Warga harus membuat sumur sedalam 64 meter agar air keluar. Itu juga, airnya tidak begitu banyak dan sulit untuk disedot. Karena wilayah Desa Santamekar ini berada pada ketinggian 900 kilometer dari permukaan laut. ”Persoalan kebutuhan air masih jadi masalah bagi masyarakat Desa Santanamekar” papar dia. Ade Syaripudin (46), warga Kampung Pasirmalang Desa

Santanamekar Kecamatan Cisayong membenarkan sejak Kamis (19/7) air sudah tidak lagi mengalir ke permukiman warga Kampung Pasirmalang yang terdiri dari delapan rumah dan 15 kepala keluarga (KK) sehingga harus mencari sumber mata air bersih untuk minum ke tempat lain yang jarak tempuhnya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Khusus untuk warga Kampung Pasirmalang sumber air bisa didapat dengan jarak sekitar 200 meter dari rumahnya dengan berjalan kaki menapaki jalan setapak diantara tebing bebukitan. ”Begitu juga kebutuhan air untuk perkebunan dan pertanian sangat sulit,” ungkap dia diamini oleh warga Kampung Pasirmalang lainnya. Padahal, biasanya air bersih didapatkan di sekitar rumah Sementara itu untuk menanggulangi kesulitan air, warga sudah mencoba menggali sumur buatan. Namun penggalian itu sia-sia. Sumur yang baru digali sedalam dua meter mudah urug dan air pun tidak muncul. Karena letak Kampung Pasirmalang berada di ketinggian sehingga dijadikan salah satu tempat yang rawan longsor. ”Jadi di sini itu tidak ada cadas. Dalam kedalaman satu meter saja juga suka ditemukan pasir Galunggung. Jadi tertimbun lagi, tertimbun lagi,” jelas Ade. Kesulitan air yang melanda Desa Santanamekar inilah, terang Ade, yang mendorong mertuanya almarhum Enji (63) dengan warga lainnya almarhum Entis (47) dan Tarmo (62) membuka saluran air di Sungai Citiis yang menyempit akibat ada urugan-urugan kecil. Namun, perjuangan mereka terhenti karena tertimbun longsoran tanah dari Bukit Pasirmalang. ”Kami jadi takut untuk ke tempat longsoran. Karena menurut penglihatan saya, tebing-tebing di dekat longsoran itu rawan longsor apalagi kalau hujan deras terus mengguyur,” papar dia. Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari Fraksi PKS asal Dapil III— salah satunya Cisayong, Sukaratu, Sukahening, Rajapolah. Leuwisari dan Padakembang— Hj Ucu Dewi Syaripah mengatakan ada dua solusi yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam menanggulangi kesulitan air warga Desa Santanamekar. ”Solusi yang idealnya karena itu saluran air yang mengaliri 90 hektar areal pesawahan dan

yang terkena dampak langsung itu lebih dari 900 kepala keluarga (KK), belum lagi ke Desa Indrajaya Kecamatan Sukaratu, yaitu solusi darurat dan solusi permanen,” ujar Ucu kepada Radar melalui sambungan telepon kemarin (23/7). Solusi permanen, kata dia, pemerintah bisa membangun bangunan dengan kontruksi beton sepanjang 300 meter di area aliran sungai yang mudah dan tertimbun longsor itu. Namun demikian, pembangunan ini membutuhkan anggaran besar dan harus menunggu pembahasan di APBD atau anggaran murni. Jadi yang paling memungkian untuk mengalirkan air bersih ke permukiman warga, terang dia, yaitu solusi darurat, yaitu dengan membangun pipaniasi. Baik itu dari PDAM atau intansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmaaya, Dinas Tata Ruang dan Permukiman, atau Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tasikmalaya. “Yang penting air harus mengalir ke permukiman warga dan semua bisa dilakukan kalau ada kemauan dari pemerintah daerah,” jelas dia. Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Drs H Abdul Kodir MPd mengatakan pemerintah sudah berkoordinasi dengan masyarakat, RT, RW, pemerintah desa dan kecamatan mengenai pemenuhan kebutuhan air. Sementara ini, masyarakat bisa mengambil sumber air yang tidak jauh tempat tinggal, karena ada beberapa titik air yang bisa dimanfaatkan. ”Kalau dari PDAM sangat tidak memungkinkan karena jaraknya terlalu jauh. Tapi cari mata air yang bisa disedot untuk dialirkan ke masyarakat,” terang dia. PALING RAWAN LONGSOR Sebelumnya Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Barat Dadang Ronda MSi mengatakan Kecamatan Cisayong adalah salah satu dari tujuh kecamatan paling rawan bencana longsor di Kabupaten Tasikmalaya. Longsor adalah bencana susulan yang bisa dipicu oleh gempa bumi atau guyuran hujan yang terus menerus. Kepala Desa Santanamekar Didi Kuswara mengatakan kejadian longsor menelan tiga korban jiwa ini bukan yang pertama kalinya, karena ada empat longsor yang menelan korban jiwa. Belum lagi longsorlongsor lainnya. (snd)

Warga Santanamekar 80% Miskin dari hal 1

Santanamekar untuk akses perekonomian masyarakat juga masih banyak yang rusak dan bolong-bolong. Namun demikan, persoalan jalan dan kesejahteraan masyarakat ini, terang dia, bukannya luput dari perhatian Pemerintah Desa. Pemerintah Desa sudah berupaya melalui program-program pemerintah Kabupaten Tasikmalaya baik itu kelompok tani atau program lainnya. Begitu juga untuk perbaikan infrastruktur sudah dibantu dengan program PNPM mandiri perdesaan. ”Hanya saja sekarang sudah rusak,” ungkapnya. Dalam wawancara terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya Drs H Abdul Kodir MPd membenarkan dengan masih banyaknya petani miskin di Desa Santanamekar.

Namun jauh dari sebelumnya, kesejahteraan petani di Desa Santanamekar saat ini sudah lebih baik. Peningkatan kesejahteraan ini tidak terlepas dari adanya program seperti program kelompok usaha bersama (kube), kelompok tani yang melakukan usaha mina padi, maupun program-program dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Dinas Koperasi, Perindrustrian dan Perdagangan. ”Program-program ini, semuanya mengarah kepada penekanan kemiskinan,” jelas dia. Minimnya kesejahteraan ekonomi di Desa Santanamekar, salah satunya dirasakan Ai (28) warga Kampung Pasirmalang Desa Mandalamekar. Dia adalah anak almarhum Enji (70) yang tewas tertimbun longsor. Ai mengatakan biaya kehidupan sehari-harinya mengandalkan hasil dari pekerjaan ayahnya Enji

dari buruh tani cabai. Lahan cabai yang disewa ayahnya itu setiap panen 5 bulan paling besar mendapatkan Rp 2 juta. Itu pun kalau panennya bagus. Tapi rata-rata tiap panen kebanyakan mendapatkan Rp 1 juta per lima bulan. ”Dari tani cabai saja penghasilan kami. Kadang kalau ada yang nyuruh untuk panen padi. Kalau suami saya kerjanya buruh penggembala kambing. Kalau lagi ada yang nyuruh satu hari menggembala Rp 18.000. Kalau tidak ada yang nyuruh tidak ada pekerjaan,” tutur dia. Sementara, terang dia, siapa pengganti ayahnya yang akan menapkahi ibunya, Ani (73) yang sudah sakit selama dua tahun, belum dibahas di internal keluarga. Karena, keluarga saat ini masih dalam perkabungan. Hanya berusaha tenang dan berdoa saja yang bisa dilakukan oleh keluarga. (snd)

Yance Terus Didukung dari hal 1

Jabar Irianto MS Syafiuddin menjadi Gubernur Jabar. ”Sekarang sudah saatnya bergerak, bukan saatnya berleha-leha,” ajaknya kepada ratusan kader Partai Golkar Depok Minggu (22/7). Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengatakan sekarang para kader Partai Golkar jangan memikirkan apa yang akan didapat, tapi apa yang telah diberikan. ”Anda jangan sekali-kali berpikir apa yang akan didapat, tapi berpikir lah apa yang sudah diberikan oleh anda kepada partai,” tegasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya untuk saat ini, seluruh Partai Golkar, khususnya para kader Golkar yang di Depok tidak usah menunggu komando. ”Untuk saat ini apa yang bisa dilakukan untuk partai lakukanlah. Jangan menunggu komando,” paparnya. Di tempat yang sama, Ketua DPD Partai Golkar Jabar Irianto MS Syafiuddin atau disapa Yance menegaskan bahwa seluruh kader Partai Golkar harus menunjukkan loyalitasnya kepada partai. “Ayo tunjukan loyalitas kalian semua dengan cara memulai mengkampanyekan minimal un-

tuk keluarga sendiri,” pintanya. Dia mengatakan saat terjun ke dunia politik, Yance tidak mengeluarkan uang sedikit pun. ”Tanpa uang juga jika kita mau bisa menang, hanya dengan bermodalkan silaturahmi. Karena dulu saya sewaktu menjadi bupati tidak menguluarkan uang sedikit pun, hanya bermodalkan silaturahmi,” jelasnya. Oleh karena itu, lanjutnya, jika kader Partai Golkar mau menang, maka kita akan menang. ”Kemenangan Golkar ada di tangan kita sendiri. Jika kita mau (menang, rd), maka kita bisa,” pungkasnya. (adv)

PAN Siap Beroposisi dari hal 8

KMM (Koalisi Masyarakat Madani, pengusung Budi-Dede, red) tersebut,” ungkapnya. Ade menambahkan, untuk bisa membangun sebuah kepemimpinan yang sinergis serta didukung semua elemen masyarakat perlu sebuah prioritas program yang sesuai dengan janji saat kampanye kemarin. Agar harapan dan keinginan masyarakat -supaya Kota Tasik menjadi lebih baik- bisa secepatnya tercapai. ”Agar bisa terus dipercaya

masyarakat, pasangan BudiDede harus bisa merealisasikan janji kampanye, termasuk masalah mau membiayai APBD dari uang sendiri,” tantangnya. Ketua DPD PAN Kota Tasikmalaya, Heri Hendriyana menyampaikan, pihaknya sudah menerima dengan lapang dada atas kegagalannya mengusung pasangan Syarif-Cecep di Pilwalkot 2012. Karena mereka telah berjuang sangat maksimal dengan menggerakkan seluruh kader, pendukung serta simpatisan PAN. “Sebagai orang yang

beriman, kita menerimannya (kekalahan, red). Sebab ini semua merupakan kehendak Allah yang terbaik bagi PAN,’ tuturnya. Langkah selanjutnya, kata Heri, PAN akan fokus pada perhelatan Pilgub, Pileg dan Pilpres yang bisa membuat partainya kembali besar dan bersinar, khususnya di Kota Tasik. ”Jadi hasil Pilwalkot ini tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa PAN kini kecil tetapi ini sebagai pelecut agar PAN lebih besar lagi di masa berikutnya,” tandas Heri. (kim)

7

Cinta Heels daripada Boots dari hal 1

karena tidak pernah pakai bot, aku pengin pakai,” ujarnya. Dia bingung karena tidak tahu bot yang cocok dengan bentuk tubuhnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari sepatu yang cantik sekaligus berkesan menguruskan.

Setelah mencoba beberapa pasang sepatu, penyanyi 21 tahun, jebolan Indonesian Idol, tersebut menjatuhkan pilihannya pada bot yang tidak terlalu panjang dengan bagian bawah yang tidak rata, yakni hak yang tidak terlalu tinggi. “Lebih suka pakai sepatu heels sebenarnya. Karena itu, aku pilih yang ada heels-nya juga,” terang Gisel.

Meski demikian, Gisel menuturkan bahwa dirinya bukanlah kolektor sepatu. Kalaupun jumlah sepatu hak tingginya banyak, artis kelahiran 16 November 1990 tersebut menyatakan bahwa itu merupakan tuntutan profesi. Dia tidak pernah mengingat-ingat berapa pasang sepatu yang menyesaki lemarinya. (dim/c12/any/jpnn)

Mogok di Hari Pertama, 100 Km/Jam... dari hal 1

SMK, D-3, dan madrasah aliyah) masih mencari-cari di mana kabel yang tidak nyambung. Dasep Ahmadi, pencipta mobnas listrik itu, terlihat batuk-batuk kecil. Wajahnya kusut dan rambutnya berantakan. Kelihatan sekali Dasep kurang tidur. Sudah seminggu memang Dasep dan anak buahnya begadang siang-malam. Mereka terus mencari penyebab “mogoknya” mobil listrik itu di uji coba hari pertama. Sungguh penasaran: Mengapa mobnas listrik Ahmadi itu tiba-tiba kehilangan power justru ketika perjalanan sejauh 50 km tersebut kurang 1 km lagi. Memang perjalanan itu akhirnya tiba juga di pintu masuk gedung BPPT, tujuan akhir perjalanan. Namun, 1 km terakhir itu (antara Bundaran Hotel Indonesia ke BPPT) dilakukan dengan sangat pelan dan beberapa kali terhenti. Syukurlah, pengecekan satu per satu kabel yang banyak itu akhirnya menemukan penyakit yang dicari: Ada sambungan kabel menuju accu yang ternyata tidak nyambung. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Tidak nyambungnya itu tidak gampang dilihat karena connecting-nya di dalam boks kecil. Pantas listrik untuk uji coba hari pertama itu hanya cukup untuk dari Depok ke Bundaran Hotel Indonesia. Pantas untuk bisa menyelesaikan sisa 1 km terakhir itu harus berhenti dulu beberapa saat. Ternyata, charging malam menjelang uji coba pertama tersebut tidak bekerja. Berarti uji coba hari pertama itu hanya menggunakan sisa setrum yang lama. Tentu itu bukan masalah yang besar. Bahkan, amat sepele. Begitu konektornya diberesin, charging bisa dilakukan lagi. Jreng! Charging berjalan lancar. Aliran listrik masuk ke dalam accu dengan derasnya. Sambil menunggu pengisian listrik itulah, kami menuju restoran dengan perasaan lega. Bahwa di Twitter sudah beredar mobnas mogok lagi, saya anggap sebagai lauk santap sore. Lantaran charging baru dimulai pukul 16.00, berarti uji coba kedua itu baru bisa dilakukan paling cepat pukul 19.00. Hari sudah malam. Tapi, kami mensyukurinya. Sekalian bisa diuji apakah lampunya berfungsi. Ternyata, tidak masalah. Masalah baru justru ketika menapaki tanjakan terjal yang ternyata gagal. Dasep Ahmadi, yang berada di sebelah saya, langsung mengambil kesimpulan: Pengaturan gear-nya kurang tepat. RPM-nya terlalu besar. Ibarat mobil biasa yang menanjak dengan gigi 5. Persoalan tanjakan itu tentu lebih serius daripada persoalan mogok di hari pertama. Tapi, saya yakin bahwa Dasep akan bisa mengatasinya. Lulusan Teknik Mesin ITB yang memperdalam ilmunya di Jerman dan Jepang tersebut sangat mampu di bidang itu. Bukankah Dasep sudah mampu membuat, memproduksi, dan mengekspor mesin NCR? Mesin yang fungsinya untuk membuat mesin itu? Itu jauh lebih sulit daripada membuat

mobnas listrik. Dia sudah terbukti bisa membuat “ibunya” mesin. Tentu persoalan pindah gear bisa dia atasi. Malam itu, untuk mencapai puncak tanjakan, mobil terpaksa harus didorong. Setelah melewati tanjakan tersebut, mobil kembali meluncur dengan gesitnya. Apalagi ketika memasuki jalan tol Jagorawi. Sangat mulus dan cepat. Satu-satunya “hantu” di otak adalah bayangan kehabisan setrum. Karena itu, teman-teman Jasa Marga menyiapkan fasilitas charging di pintu-pintu tol. Ternyata, hantunya tidak muncul. Staf Jasa Marga yang telanjur siap di pintu tol tidak perlu turun tangan. Mereka melambai-lambaikan tangan saat mobnas listrik hijau ngejreng itu melewati pintu tol tanpa persoalan. Di jalan tol itulah kesempatan uji kecepatan dilakukan: 60, 70, 80, 90, dan akhirnya 100 km/jam. Stabil dan cepat. “?... alangkah senang hatiku, hidup bersama denganmu ... “?. Baru di dekat Taman Mini Indonesia Indah kecepatan harus diturunkan: Hujan turun meski tidak deras. Wah, sekalian dapat “bonus” bisa uji coba kestabilan dan penyapu kaca. Nema problema! Bahkan, saat melewati Cawang yang agak menanjak itu, mobil meluncur dengan kecepatan 60 km/jam. Di sepanjang tol kawasan Gatot Subroto juga sing-sing-so. Maka, kami tiba di Pacific Place dengan horeee...! Saya berhenti sejenak di sini karena harus memenuhi undangan menteri BUMN yang sebenarnya, Tanri Abeng. Setelah itu, kami memacu lagi mobnas listrik tersebut ke acara lain di Wisma Antara di dekat Monas. Menjelang tengah malam, mobil saya bawa pulang. Sekalian sudah saatnya di-charge lagi. Saya menggunakan colokan listrik Pacific Place karena rumah saya dekat-dekat situ. Besok paginya akan saya gunakan ke Monas: olahraga di sana. Tentu saya masih penasaran pada kegagalan melewati tanjakan malam itu. Di hari ketiga ini saya coba menaiki tanjakan di halaman gedung Kementerian BUMN yang juga terjal. Ternyata, sama sekali tidak masalah. Saya muter sekali lagi untuk mengulanginya. Juga tidak masalah. Saya ulangi untuk kali ketiga: juga laa musykilah! Kabar baik itu segera saya sampaikan ke Dasep Ahmadi. Untuk tambahan bahan analisis. Siangnya, uji coba dilanjutkan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Saya memang harus ke Solo-Magetan-Jogja. Menjelang Semanggi, timbullah waswas: Bagaimana kalau tidak kuat menanjaki jembatan Semanggi yang selalu macet itu? Kalau sampai mogok, alangkah macetnya! Tapi, tidak boleh mundur. Tidak boleh raguragu. La tahzan! Hanya, saya siapkan juga langkah darurat: Mobil khusus mengikutinya di belakang. Kalau tidak kuat menanjak, dorong saja dengan mobil itu. Paling rusak sedikit. Ternyata, mobnas listrik tersebut bisa merambati tanjakan itu dengan mulus. Segera pula kami kabarkan ke Dasep Ahmadi. Lolos tanjakan Semanggi, tentu tidak ada lagi tantangan berikutnya. Rasanya, tidak akan ada faktor yang menyebabkan saya

ketinggalan pesawat. Bahkan, di tol menuju bandara itu saya sempat memacu 70, 80, 90, dan akhirnya 100 km/jam. Terlihat beberapa mobil mengejar kami, membuka kaca dan melambaikan tangan mereka. Praktis, uji coba di hari ketiga itu tidak mendapatkan pelajaran baru: Semuanya lancar dan mulus. Hari berikutnya, tidak banyak kesempatan uji coba. Saya baru tiba dari Jogja tengah hari. Dari bandara, langsung mengikuti sidang kabinet di istana. Maka, mobnas listrik Ahmadi saya minta menjemput di Istana Merdeka. Setelah sidang kabinet usai, saya meninggalkan istana dengan mengendarai mobnas listrik tersebut. Dalam hati, saya berjanji untuk tidak mengecewakan istana. Saya bangga dengan dukungan yang begitu kuat dari Bapak Presiden SBY untuk kelahiran mobil listrik itu. Saya juga bertekad untuk tidak mengecewakan para rektor yang telah membeberkan hasil riset mereka yang mendalam mengenai mobil listrik tersebut. Sepanjang perjalanan pulang dari istana, saya banyak tersenyum. Di samping karena mobnas listrik sudah masuk istana, dalam sidang kabinet sore itu Presiden SBY juga menggunakan bahasa terang: Seluruh menteri dan anak buahnya, termasuk seluruh jajaran BUMN, tidak boleh main kongkalikong dengan DPR soal anggaran negara! Saya akan kian tegas menerapkan penegasan Presiden SBY itu ke dalam jajaran BUMN! Hari kelima, Jumat, 13 Juli 2012, uji coba dimulai pukul 05.00: menuju Monas. Setelah berolahraga, saya mencoba lagi tanjakan di halaman Kementerian BUMN beberapa kali. Tidak ada masalah. Lantas, saya bawa mobnas listrik itu ke PLN pusat dan saya tinggal di situ. Begitu banyak teman PLN yang mencobanya: Dirut Nur Pamudji, Direktur Murtaqi Syamsudin, Direktur Harry Jaya Pahlawan, dan seterusnya. Selama lima hari uji coba, rasanya persoalan tanjakanlah yang terberat. Kalau persoalan itu terpecahkan, kita benar-benar menaruh harapan akan proyek tersebut. Benar kesimpulan penelitian UI, UGM, ITB, ITS, dan UNS yang disampaikan di sidang kabinet di Jogjakarta dua bulan lalu: sudah saatnya mobil listrik harus diproduksi. Sekarang juga. Setelah lima hari uji coba itu, saya selalu membayangkan: alangkah sehatnya hidup ini kalau tidak harus menghirup asap knalpot yang begitu tebal setiap hari. Alangkah leganya napas kita kalau semua kendaraan beralih ke listrik. Langit Jakarta akan cerah lagi. Paru-paru akan bernapas lega. Dan, tidak akan ada lagi demo BBM yang begitu masif dan begitu ributnya! Bus listrik LIPI sudah lahir dengan sempurna. Saya sudah mencobanya dengan kesimpulan yang meyakinkan: sudah andal di tanjakan. Mobil listrik Ahmadi sudah lima hari diuji coba. Tiga minggu lagi lahir pula tiga mobil listrik berikutnya. Era mobil listrik Indonesia segera tiba! (*)

Harus Ulangi Lagi, Jangan Sampai Bobot Bertambah dari hal 1

Tour de France 2012. Jumat itu kami sebenarnya juga “menjauh” sebentar dari sirkus “Le Tour”. Ketika para pembalap menjalani rute flat 222,5 km dari Blagnac (dekat Toulouse) menuju Brive-laGaillarde, kami naik kereta dari Pau menuju Nogent le Rotrou (semakin dekat ke Paris). Diberi waktu istirahat dan bangun lebih siang, Jumat itu kami baru check out dan meninggalkan hotel di Pau sekitar pukul 11.00. Satu jam kemudian, kami naik TGV yang bisa melaju lebih dari 200 km/jam. Total perjalanan yang harus kami tempuh lebih dari enam jam. Dua setengah jam dari Pau ke Bordeaux, lalu hampir tiga jam ke Stasiun Saint Pierre des Corps, kemudian sekitar 20 menit naik kereta komuter ke Vendome. Di sana makan malam dulu, lantas naik bus lagi sekitar sejam menuju penginapan di Nogent le Rotrou. Mengapa ke sana” Sebab, kami akan mengejar dua etape terakhir yang sangat menentukan. Letak Nogent le Rotrou dekat sekali dengan Chartres, tempat etape 19 berakhir pada Sabtu (21/7). Hari itu (kemarin, Red) kami akan mengunjungi beberapa kawasan wisata, lalu menonton ending etape di kawasan khusus VIP. Itu akan jadi pengalaman unik. Sebab, pembalap tidaklah “balapan”. Melainkan menjalani individual time trial (ITT), satu per satu berlomba melawan waktu dengan menggunakan sepeda-sepeda TT yang eksotis dan aerodinamis. Panjang etape itu 53,5 km. Tanda-tandanya, juara Tour de France 2012 akan dikunci di etape itu. Bradley Wiggins, andalan Team Sky, adalah unggulannya. Setelah etape TT usai, kami langsung diangkut menuju Paris. Minggu pagi (22/7) kami akan diberi kesempatan merasakan bersepeda di Champ-Elysees, salah satu jalan paling kondang di dunia. Di jalur itulah Tour de France 2012 berakhir dan kami akan melintasi garis finis beberapa jam sebelum para pembalap datang. Siangnya, kami dapat area nonton khusus

lagi, menyaksikan finis terakhir Tour de France 2012. Sekaligus menonton penobatan juara di atas podium. Bahwa pada hari perjalanan itu tidak ada acara bersepeda, bukan berarti tidak ada cerita. Pertama-tama, kami bersemangat naik TGV. Lama-lama bosan juga. “Pilih mana, lima jam naik kereta atau bersepeda?” tanya Bambang Poerniawan. “Ya jelas pilih naik sepeda,” timpal Djoko Andono, salah satu penghobi sepeda paling top di Surabaya. Kami pun bicara betapa serunya “siksaan” tanjakan-tanjakan yang telah kami lalui. Col d’Aubisque, tanjakan hors categorie setinggi 1.709 meter, dipelesetkan oleh teman-teman jadi “Engkol Abis”. Sony Hendarto mengatakan bahwa kami harus ikut tur itu lagi tahun-tahun ke depan. Sebab, masih banyak tanjakan kondang Tour de France yang bisa dijajal. Toh, sekarang kami semua sudah tahu seperti apa kira-kira beratnya dan lain kali bisa menyiapkan setelan sepeda yang lebih pas lagi. “Masih ada Tourmalet, Galibier, Alp d’Huez, dan Ventu,” ujarnya menyebut empat tanjakan “paling menyeramkan” dalam sejarah lomba. Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu lagi dengan kelompok peserta dari negaranegara lain. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Brasil, dan Kanada. Karena ada banyak waktu longgar dan kami tidak bertemu dalam kondisi ngos-ngosan, percakapan jadi lebih panjang. Beberapa di antara mereka ternyata sebelumnya pernah ikut program tersebut. Misalnya pasangan dari Vancouver, Kanada, Eric dan Elaine Edwards. Ini adalah kali kedua mereka ikut tur sepeda di Prancis. Tiga tahun lalu mereka menjajal yang lebih “seram”, termasuk di antaranya mendaki dua puncak tinggi dalam hari yang sama. “Butuh waktu seharian,” ungkap Eric Edwards. Kepada kami, mereka menyarankan kami kelak kembali lagi. Sama dengan yang disebut Sony Hendarto sebelumnya, masih banyak tempat yang belum kami rasakan “siksaan-

nya”. Padahal, dia melihat kami benar-benar kesulitan menaklukkan tanjakan Col d’Aubisque! “Kalau ingin mengulangi, saran saya satu: Jangan sampai berat badan Anda bertambah,” ucapnya. Paula Braden dari Atlanta, Georgia, datang sendirian untuk ikut program itu. Penggemar berat balap sepeda tersebut tidak punya alasan khusus. “Saya suka bersepeda dan saya suka sekali Tour de France,” katanya. Braden termasuk yang sangat senang melihat kehebohan grup Indonesia, yang tak pernah berhenti bercanda. Dia juga suka melihat kami selalu kompak berseragam saat bersepeda dan setiap hari ada seragam yang berbeda. Kepada kelompok kami, dia pernah minta salah satu jersey untuk kenang-kenangan. Dia minta khusus yang hitam-biru bertulisan “Jawa Pos Cycling”. Kebetulan, Djoko Andono punya ekstra dan tentu kami semua dengan senang hati memberikan jersey itu kepadanya. Hengky Kantono menyerahkan jersey itu kepada Braden dalam salah satu acara makan malam di Pau. Selama di kereta, kami juga mulai menyiapkan rencana akan ngapain saja di Paris beberapa hari kemudian, setelah Tour de France berakhir. Karena sudah jauh-jauh di Prancis, kami akan mencoba keliling Paris naik sepeda sendiri, mengunjungi tempattempat paling terkenal dan foto-foto. Saya bicara kepada beberapa teman, perjalanan ini harus selengkap mungkin. Harus bisa membawa pulang cerita (karena saya juga menulis tentang ini setiap hari!). Prajna Murdaya sepakat. “Hidup ini seperti momen yang berseri. Bukan sesuatu yang dirangkum di bagian akhir,” ujarnya. Tapi, jangan sampai lupa mengunjungi butik-butik fashion kondang. Bukan untuk diri sendiri “karena kami semua lebih suka mengunjungi toko-toko sepeda. Melainkan belanja untuk yang di rumah. Khususnya bagi mereka yang butuh “visa khusus” dari istri, supaya kelak (mungkin tahun depan) diizinkan pergi lagi? (bersambung)

Lima Titik Diduga Rawan Narkoba dari hal 8

mengatakan dirinya tidak bisa menjawab secara pasti jika Cilembang dianggap menjadi sebuah daerah rawan narkoba. Karena bisa saja, jelas dia, orang di luar Cilembang

mengaku berasal dari wilayah tersebut. ”Memang sering banyak yang tertangkap mengaku berasal dari Cilembang tapi harus didasarkan dengan bukti dan data,” jelasnya. Untuk membersihkan wilayah tersebut dari narkoba, kata Yono, tidak cukup mengandal-

kan pemerintah maupun kepolisian. Akan tetapi diperlukan dukungan dan pengawasan dari warga sekitar dalam memerangi narkoba. “Saya harap masyarakat sekitar bisa proaktif melaporkan setiap kegiatan yang mencurigakan kepada pihak berwajib,” pintanya. (kim)


7 sam 23 jul  
Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you