Page 1

Edisi 04, Maret 2018

Peluncuran dan Diskusi Buku Halaman Rumah/ Yard dalam tiga seri. Pada seri I di Fakultas Seni dan Desain Universitas ­Negeri Makassar Parangtambung (28 November 2017), seri ke-II di Kampung Buku (19 Februari 2018), dan seri ke-III di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (27 Maret 2018). Diskusi buku ini membuka kemungkinan seluas-luasnya bagi setiap kalangan sebagai tawaran wacana dan eksplorasi g­ agasan terkait halaman rumah.


Mencari Ideologi Ruang Bugis Makassar Laporan Tim Publikasi Tanahindie

D

alam pandangan arsitektur modern, halaman sebagai area yang ada ‘di luar rumah’ dalam batas-batas kepemilikan privat, hadir sejak kita hidup dalam situasi urban—cara berpikir yang terkonstruksi dalam batas-batas wilayah privat. Padahal, membicarakan hal-hal di luar rumah dapat memberi peluang untuk bertemu dengan orang lain membicarakan hidup bersama di kota, dalam artian peluang yang memungkinkan orang lain untuk masuk di dalam batas-batas kepemilikan (halaman). Menurut Yoshi Fajar Kresno Murti, rumah menjadi bagian dari pekarangan, pekarangan hadir karena masyarakat mulai menetap dan mulai bertani, dalam konteks kebudayaan agraris—pekarangan membentuk kebudayaan sebagai jembatan antara hutan dan pertanian, keduanya tak terpisahkan. Karena itu pula, begitu penegasan ulang Yoshi seperti yang ditulisnya dalam esai di buku tersebut, halaman rumah dan pekarangan dua hal yang berbeda. “Halaman rumah muncul ketika pikiran kita

menjadi modern, ketika rumah menjadi produk, dan ketika rumah sudah menjadi pusat aktivitas. Padahal, rumah hadir bukan sebagai pusat aktivitas, tetapi rumah hanya menjadi bagian dari pekarangan. Sisa-sisa dari dominasi rumah atas pekarangan, itulah halaman, dengan melacak konsepsi halaman rumah dari konsepsi pekarangan,” jelas Yoshi, di hadapan puluhan hadirin dari berbagai kalangan sore hingga malam. Yoshi membincangkan konsepsi ini saat memantik perbincangan dalam seri II diskusi dan peluncuran buku Halaman Rumah/Yard (Tanahindie Press, Oktober 2017) atas kerjasama Tanahindie – Stichting Doen – Arts Collaboratory – Arkom Makassar di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar. Pada kesempatan ini, hadir pula budayawan Alwy Rachman dan seniman Asia Ramli Prapanca, dengan dimoderatori Anwar Jimpe Rachman. Alwy Rachman dalam gilirannya menanggapi bahwa usai membaca sekilas Halaman Rumah/ Yard mengandaikannya seperti “sedang mencari ideologi

2/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


ruang Bugis dan Makassar”. Dengan mengutip Latoa karya Mattulada, ia mengatakan pekarangan bisa diartikan dengan istilah Rukun Tetangga yang dapat dimaknai bahwa sebenarnya konsep ‘kota’ di Indonesia tidak ada. “Yang ada hanyalah kumpulan kampung,” kata Kak Alwy, yang jadi sapaan akrabnya. Ia lantas menceritakan peng­ alaman hidupnya di Makassar, dari masa kecil sampai sekarang. Dalam ingatan masa kecil di kawasan Lariang Bangngi, ia memiliki pekarangan yang luas di sekitar rumah tinggalnya. Ini jelas berbeda dibanding dengan sekarang—rumah tinggalnya di daerah Sudiang sangat jauh berbeda, ukurannya menjadi kecil. “Membaca buku ini menyadarkan saya, bahwa ternyata saya ‘orang yang kalah’, kalah hidup di kota,” akunya. Bagi Kak Alwy, Halaman Rumah/Yard merupakan sebuah story (cerita) bukan history (sejarah). Karenanya bisa lebih jujur, bersifat egaliter, dan tidak politis (kalaupun politis, ia politik ketetanggaan). “Di bangku kuliah itu yang banyak diajarkan adalah history, bukan story. Karena itulah penting mengumpulkan  story  lain secepatnya, sebelum story itu hilang,” ujar Pak Alwy yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin ini. Dengan kata kunci ‘pengumpulan cerita’ itu Yoshi lalu menambahkan bahwa program atau kegiatan yang telah dikerjakan atau sementara dijalankan oleh Tanahindie, seperti penulisan buku Makassar Nol Kilometer, penelitian Halaman Rumah/Yard, penelitian ‘Anak Muda dan Kota’ merupakan upaya mengumpulkan narasi-narasi kecil menjadi sebuah buku. “Kampung Buku sebagai tempat beraktivitas atau berkegiatan ilmiah merupakan ruang alternatif belajar yang konkret—dengan metode atau cara pandang yang lebih dekat dibandingkan dengan cara

atau pendekatan yang diajarkan di kampus-kampus,” kata arsitek yang mengikutkan esai “Urbanisme Halaman Rumah” dalam Halaman Rumah/Yard. Dengan begitu, apa yang diso­ dorkan dalam buku semacam ini dapat menjadi acuan yang penting. “Buku Halaman Rumah/Yard menyediakan data sebagai abstraksi atau sumbangan perencanaan kota, seperti Kota Makassar—dengan menyediakan sudut pandang dari warga kota sebagai realitas perkembangan kehidupan perkotaan,” lanjutnya. Gayung bersambut. Hanya beberapa minggu setelah terbitnya  Halaman Rumah/Yard, Asia Ramli Prapanca, seniman yang sedang memasuki tahap penyusunan disertasinya tentang teater rakyat “Pertunjukan Teater Rakyat Kondo Buleng, Salah Satu Bentuk Representasi Sosial Kultural Masyarakat Pesisir Bugis-Makassar” di Universitas Negeri Semarang menjadikan buku ini sebagai salah satu rujukan. Itu karena Kampung Paropo menjadi salah satu dari tiga lokasi penelitian perkampungan di Kecamatan Panakkukang, selain Kampung Rama dan kawasan Sukaria. Kampung Paropo sebagai lokasi penelitian Kak Ram, dulunya merupakan daerah rawa-rawa dan hutan yang juga dijelaskan dalam  Halaman Rumah/Yard. “Tulisan yang menceritakan tentang Paropo dalam buku ini ditulis oleh Siswandi berjudul ‘Kesenian, Panggung, dan Halaman yang Tersisa di Paropo’ sangat etnografi dan representatif dengan penelitian saya,” cetus Kak Ram. Untuk itu, kata Kak Ram, melalui seni pertunjukan teater rakyat Kondo Buleng yang merupakan sebuah peristiwa ritual atau simbol sejarah kehidupan masyarakat setempat, dapat kita lacak sejarah Kampung Paropo. “Membaca buku  Halaman Rumah/Yard sangat membantu saya, dengan menghubungkan keadaan

3/ Yard - Edisi 04, Maret 2018

kini dalam konteks perubahan sosial (pengaruh kapitalis), bagaimana ruang mengubah fungsi pekarangan menjadi halaman, dan halaman rumah yang telah ‘dimakan’ oleh kehadiran produk komoditas yang lain, misalnya kehadiran AC dan kehadiran garasi untuk tempat mobil—seperti yang dijelaskan Yoshi (dalam buku),” ungkap Kak Ram. SESI PEMBUKA obrolan yang dibuka pada 17.00 Wita diawali dengan pemutaran video dokumenter penelitian di Kampung Paropo, Kampung Rama, dan kawasan Sukaria. Beberapa penyimak obrolan angkat bicara, termasuk dua peserta peserta lokakarya penelitian dan penulisan “Anak Muda dan Kota” yang memakai pendekatan serupa, membuka bincangan dengan testimoni mereka tentang model pelatihan ini. Rahmawati, mahasiswa PSDN Universitas Negeri Makassar me­ ngatakan, model pelatihan penelitian seperti ini sebuah hal baru baginya. “Salah satunya mungkin karena kedekatan personal di antara teman-teman baru lebih mudah dibangun. Mungkin karena kami merasa seperti di ‘rumah’, tidak sedang berada di suatu institusi formal. Meski frekuensi pertemanan hanya sepekan sekali, rasa akrab itu cepat menjalar,” ungkap Rara. Hal serupa disampaikan Hajra Yansa, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Matematika Universitas Muhammadiyah Makassar, yang berpengalaman bergabung dalam unit kegiatan mahasiswa penelitian di kampusnya. “Pelatihan di Kampung Buku lebih menekankan praktik terlebih dahulu, bukan teori. Selain itu, suasana belajar yang santai tapi muatan materinya berisi, menjadikan kelas ini sangat berbeda dengan ruang-ruang belajar yang sebelumnya saya temui yang cukup kaku,” ujar Hajra. Bincangan ini kemudian jeda magrib. Setelah istirahat, memasuki sesi kedua, Wawan yang sehari-


hari bergiat di LBH Makassar, mengonfirmasi istilah dari Pak Alwy tentang ‘kekalahan hidup di kota’, mengaitkannya dengan realitas sekarang di Kota Makassar dari pengalaman mengadvokasi miskin kota dan merasakan sendiri perubahan-perubahan yang terjadi dari pengalaman hidup di Makassar. “Dulunya, ada kampung bernama Kampung Rappocini, keba­ nyakan warga lokal memiliki pekarangan luas, dan sekarang warga ini menyingkir ke daerah-daerah pinggir kota atau lorong-lorong kecil karena tanahnya dijual kepada kontraktor untuk dibanguni rukoruko dan dibisniskan kepada orang lain, sehingga kebudayaan lokal ini hilang,” cetus Wawan. Lantaran itulah Wawan mengeluhkan, “Masyarakat kita tidak memiliki format untuk bisa mandiri dan mempertahankan tanahnya, akhirnya sebagian masyarakat terpisah dari lingkungan dan keluarganya yang lain, sehingga pekarangan dan halaman hanya menjadi sebuah kenangan dalam bentangan ingatan,” sambungnya. Seorang arsitek dari Yogya, Rere, kemudian angkat suara. Karena sempat disinggung soal reklamasi Teluk Benoa di Bali, Rere memulainya dengan memberikan pandangan dengan berupaya mengartikan kebudayaan secara luas—berangkat dari pertanyaan, “Mengapa Tolak Reklamasi Teluk Benoa secara masif dilakukan bertahun-tahun? Itu karena bukan soal ‘bungkusan’ kebudayaan, masyarakat tidak ‘membungkusnya’. Tetapi kebudayaan itu sudah me­ nubuh dalam hidup mereka,” kata Rere. “Teluk Benoa merupakan tempat seluruh masyarakat Bali bagian selatan melakukan ritus setiap bulan, bahkan setiap hari dan sudah menjadi budaya keseharian, makanya perlawanannya kuat,” tegas Rere. Dari contoh kasus tolak rek­ lamasi Teluk Benoa, kemudian memunculkan pertanyaan de­

ngan hal yang serupa terjadi di Kota Makassar­ soal reklamasi: “Sebe­narnya budaya keseharian di Makassar itu seperti apa? Ini pen­ ting untuk memetakan kebudayaan sehari-hari itu,” kata Rere. Keluhan Wawan perihal peng­ alamannya bersama LBH Makassar mengadvokasi rakyat miskin kota di Makassar dan perubahanperubahan yang terkait tersingkirnya warga lokal—yang berangsur pula menghilangkan kebudayaan lokal—menegaskan bagaimana halaman rumah bisa menjadi ranah bersiasat dalam mengambil peluang dari ‘pertarungan’ antara proses modernisasi dengan berebut ruang demi kepentingan manusia sebagai makhluk sosial. Dalam Halaman Rumah/ Yard di­­s e­b utkan, halaman menjadi ranah penting bagi individu dan komunitas membuka kemungkinan-kemungkinan dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Di situlah pertemuan-pertemuan tatap-muka dapat berlangsung bagi warga kota yang hidupnya terpisah oleh dinding labirin di berbagai tempat, mulai rumah, kantor, ma l, hing ga t ib a di rumah lagi.[1]  Halaman rumah sebagai ruang bebas nilai yang memungkinkan berlangsungya kebebasan berekspresi, sebagai r uang b erkumpul, b ermain, bersenang-senang, menggagas wacana, sekaligus ruang untuk berkegiatan ilmiah. Poin-poin ini ditegaskan ulang oleh Muhammad Cora (Arkom Makassar), Muhammad Ridha (Sosiologi, Universitas Islam Negeri Makassar), dan Zulhair Burhan (Hubungan Internasional, Universitas Bosowa Makassar) dalam dialog dan peluncuran seri I Halaman Rumah/Yard dalam rangkaian Makassar Biennale 2017 di Baruga Colliq Pujie, Fakultas Seni dan Desain, UNM Parangtambung, Tamalate, pada 28 November 2017 lalu. Cora mengungkapkan, halaman rumah penting untuk dihadirkan pada lingkungan sosial, 4/ Yard - Edisi 04, Maret 2018

sebagai ruang untuk mewadahi dialog antar warga. Namun, lelaki yang menyelesaikan pendidikan master arsiteknya di Unhas ini menyayangkan, pada sisi lain, banyak arsitek yang kebingungan membuat sebuah desain rumah, sehingga hanya menghasilkan konsumtivisme ruang saja. Mi­salnya, banyak orang yang kemudian membuat ruang tanpa menyadari fungsi ruang itu sendiri. “Keperluan menghadirkan halaman rumah baik secara makro maupun mikro untuk kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang menjadi bagian dari orang lain. Kita mestinya jujur untuk membuka atau bahkan menyiasati ruang-ruang tertutup menjadi ruang-ruang yang solider, ruang yang di dalamnya kita dapat saling berinteraksi,” ujarnya. Penegasan serupa ditekankan oleh Zulhair Burhan aka Bobhy, khususnya dua fungsi halaman rumah, baik sebagai ruang fisik maupun ruang gagasan. Mengapa penting memperhatikan halaman rumah? Bobhy mengatakan, dari fungsi itulah diproduksi gagasangagasan penting, gagasan nilai atau apa saja. “Bagi saya, ini penting menjadi semacam bahan untuk membangun kohesivitas atau keeratan sosial kemudian di halaman rumah orang bisa berbicara apa saja. Halaman rumahlah yang memungkinkan bagaimana gagasan bisa dipertautkan kemudian menjadi sumbu untuk menjadi modal kohevisitas sosial,” kata lelaki yang sehari-hari mengasuh Kedai Buku Jenny. Apresiasi dan harapan Muhammad Ridha juga mengemuka dalam dialog tersebut. Ia sebutkan kalau isu halaman rumah sebagai isu menarik. “Karena di sini kita lihat bagaimana sosiologi mesti hadir dalam penjelasan-penjelasan mikro tentang bagaimana masyarakat mengalami hidupnya di kota atau di desa dengan perspektif yang kecil, misalnya bagaimana melihat kota­nya dari halaman rumah. Bagaimana desa di kota di bayang-


kan lewat ruang di rumah dan di halaman rumah kita,” kata lelaki yang sehari-hari sebagai dosen Sosiologi di UIN. Ibrahim, seorang pengacara publik yang juga menulis esai “Mata Air Hukum atau Air Mata Hukum?” dalam Halaman Rumah/ Yard juga memaparkan bagaimana relasi sosial, manusia dan alamnya kemudian menjadi norma hukum yang rupanya berkonflik dengan norma hukum yang dibuat oleh negara. “Kita berharap kemudian hukum lahir dari halaman yang sesungguhnya menjadi ruh dari hukum. Hukum yang baik adalah hukum yang lahir dari jiwa dan bangsa. Kita bisa lihat bagaimana di buku itu, Paropo menjadi contoh bagaimana hilangnya tradisi dan praktik sehari-hari berawal dari halaman rumah, saya kira, juga ikut mempengaruhi banyak hal, misalnya lanskap geografis dan lanskap kesenian,” jelasnya. Pada sesi akhir diskusi seri II yang berlangsung kurang lebih empat jam di Kampung Buku, Anwar Jimpe Rachman sebagai moderator menceritakan ulang beberapa poinpoin penting dari para pembicara, dengan mengajukan pemikiranpemikiran baru atau hal-hal yang perlu dieksplorasi atau diisi untuk dijadikan sebagai pekerjaan rumah kita masing-masing. “Secara praktik sebenarnya ada banyak hal yang masih kita harus isi, terutama story atau cerita-cerita kita harus kumpulkan dengan

maksud membuat perbandingan (budaya tanding) antara sejarah dan cerita. Narasi atau cerita yang sekarang sangat diperlukan diban­ dingkan dengan sejarah, karena sejarah sekarang sudah banyak disebar. Kita masih punya potensi untuk menciptakan narasi, kita harus membuat cerita-cerita atau persandingan-persandingan, meski kita tersingkir secara geografis, akan tetapi pertetanggaanlah yang membuat kita berkumpul, pertetanggaan ideologis atau dekatnya pikiran kita masing-masing.” Selain itu, “Halaman rumah bisa menjadi sebuah ruang yang menyodorkan cara berpikir dan bekerja yang setara (equal), ketimbang cara berpikir dan cara kerja yang selama ini banyak dipakai di Makassar: patron-klien. Halaman rumah bisa menunjang hal itu, sebab memungkinkan pertukaran ide dan gagasan yang lebih cair. Ini dibuktikan dengan awal pembuatan buku ini yang berawal dari obrolan-obrolan di halaman rumah Kampung Buku,” kata Jimpe. Sejak tahun 2013, isu mengenai halaman rumah sudah mulai diwacanakan oleh Tanahindie dengan lingkaran yang masih terbatas. Berangkat dari obrolan bersama teman-teman terdekat di halaman rumah Kampung Buku—dengan melihat perkembangan kota yang semakin terjepit pembangunan, kemudian muncul kebingungan soal bagaimana cara merespon persoalan kota. Akhirnya menyadari bahwa persoalan kota merupakan

cerminan dari persoalan di rumah, kota sebagai representasi kumpul­ an persoalan yang ada di rumah. Hingga kemudian buku itu lahir. B u ku Ha l am an Rum a h / Yard melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, pekerja sosial dan seni, dan mahasiswa ini terbit atas kerjasama Tanahindie dengan Arts Collaboratory, Stichting Doen, dan Penerbit Ininnawa. Sebagaimana buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya. Dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini, dikerjakan selama sebelas bulan, mulai Januari hingga November 2017. Sebelum diskusi ditutup, Wawan memberikan sebuah tawaran atau saran—dengan mengajukan isu halaman rumah agar bisa diwacanakan oleh pihak pemerintah, terutama kepada para calon gubernur yang akan memimpin Sulawesi Selatan ke depannya. Wawan, mengatakan bahwa “Lembaga Bantuan Hukum Makassar berani memberikan sumbangsih untuk keperluan konsumsi acara diskusi, agar wacana Halaman Rumah bisa terus dikembangkan,” tutup Wawan pada sesi akhir diskusi. Panjang Umur Semangat Halaman Rumah! [1] Anwar Jimpe Rachman, et al.  Halaman Rumah/ Yard, Tanahindie Press. 2017, hal. 5.

DIGITAL PUBLISHING: BULETIN YARD https://issuu.com/tanahindie Fanpage Facebook: Tanahindie Twitter: @dewiboelan Instagram: @tanahindie

5/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


Oleh: Fauzan Al Ayyuby

Membincangkan Kota ­sebagai Hilir dan Panggung Review oleh Rafsanjani

K

ecenderungan masyarakat kontemporer melihat halaman rumah sebagai bentuk alienasi dalam aktivitas sehari-hari, dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja (tidak begitu penting), sehingga membuka kemungkinan terjadinya proses kapitalisme—perubahan gaya hidup dengan meng­ ubah halaman sebagai ruang komoditas yang dapat dipertukarkan dan diperjualbelikan. Awalnya, menurut peneliti budaya, Andi Faisal, halaman rumah merupakan ruang yang bersifat kultural dalam kehidupan sehari-hari, sebagai ruang untuk bertemu dengan orang lain dalam membicarakan hidup bersama, berbagi cerita, serta ruang bermain bagi anak-anak. Perubahan kemudian terjadi dari ruang kultural menjelma sebagai ruang komoditas. Halaman yang kemudian tergerus karena dorongan untuk ‘hidup’ (tidak melihat ruang sebagai sesuatu yang ideologis) memicu perkembangan kapitalisme.

“Perkembangan ruang (halaman) sejalan de­ ngan perkembangan kapitalisme. Untuk melihat atau menginterogasi perkembangan kapitalisme, kita bisa lacak dari perkembangan ruang itu sendiri. Halaman yang perlahan-lahan tidak tampak lagi wujud aslinya menjadi ruang komoditas. Sebagai contoh kehadiran warung-warung kopi, kafe, dan sejenisnya yang tersebar di berbagai tempat telah mengubah fungsi halaman rumah yang awalnya bersifat kultural,” jelas Andi Faisal, yang sedang meneliti untuk disertasinya tentang Kajian Budaya di Universitas Indonesia. Bagi Andi Faisal, ruang atau halaman rumah merupakan sesuatu yang tidak bebas nilai. Karena itu ruang menjadi suatu produk sosial yang berisi berbagai macam kepentingan atau muatan yang saling tumpang tindih di dalamnya, sehingga memungkinkan terjadinya suatu proses dominasi atau sebaliknya sebagai proses resistensi dan negosiasi.

6/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


Secara teoretik, dengan meng­ utip Production of Space karya Henri Levebre, Andi Faisal mengatakan bahwa ruang sebagai produk—diproduksi sebagai alat berpikir, bertindak, mengontrol, sekaligus alat untuk mendominasi atau me­legitimasi kekuasaan. “Semisal, elite-elite politik memanfaatkan warung-warung kopi sebagai ruang untuk memproduksi atau mereproduksi kepentingankepentingannya,” ungkap dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin ini. Andi Faisal membincangkan secara teoretik hubungan ruang atau halaman dengan perkembang­ an kapitalisme itu saat memantik diskusi seri III buku Halaman Rumah/ Yard (Tanahindie Press, Oktober 2017) atas kerja sama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin - Forum kajian Ilmu Ilmu Budaya - Jurnal Lensa Budaya - Komunitas Lingkar - Tanahindie Stichting Doen - Arts Collaboratory di Ruang Dosen FIB Universitas Hasanuddin. Pada kesempatan ini, hadir juga Anwar ‘Jimpe’ Rachman (Tanahindie) dan Dias Pradadimara (dosen Jurusan Sejarah Unhas) yang berperan sebagai moderator, serta sejumlah dosen dan mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar. Diskusi ini menjadi acara pertama dari rangkaian bincang kajian kebudayaan yang digelar oleh Forum Kajian Ilmu-ilmu Budaya yang

akan diselenggarakan rutin setiap bulan untuk sivitas akademika Ilmu Budaya maupun kalangan pecinta ilmu pengetahuan. “Berawal dari keresahan para dosen dengan iklim akademik; kuliah, mengajar, dan hal administratif lainnya kemudian melahirkan gagasan untuk mengadakan diskusi buku dengan tema kajian-kajian budaya,” jelas Pak Andi Akhmar, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya Unhas, saat membuka diskusi. Dias Pradadimara dalam ke­ sempatannya memaparkan bahwa semakin besarnya tuntutan akan tanah, semakin banyaknya keturunan yang harus diberi rumah maka pekarangan atau halaman segera dikavling-kavling untuk mendirikan rumah, akibatnya pekarangan hilang, halaman rumah hilang. Padahal, jelas Pak Dias, pekarangan atau halaman merupakan ruang bagi anak laki-laki untuk tumbuh dan bermain di halaman rumah. “Ketika halaman rumah sebagai arena bermain bagi anak laki-laki telah hilang, maka mereka akan ‘tumpah’ ke jalanan atau di ruang publik untuk mencari bentuk yang lain, kemudian menjadi sekumpulan anak muda ‘yang tidak jelas’, biasanya kita beri label begal atau sejenisnya.” Hal lain misalnya, kata Pak Dias, bahwa orang-orang di Makassar seperti ‘bermusuhan’ dengan

7/ Yard - Edisi 04, Maret 2018

pekarangan atau halamannya. Katakanlah ketika mendapat sedikit rezeki, yang ‘dibabat’ duluan adalah halamannya. “Misalnya, pohon yang tumbuh di halaman kemudian ditebang dan tanahnya disemen sehingga halaman ini hilang diganti dengan garasi untuk tempat mobil atau produk komoditas lain.” “Hilangnya halaman rumah sebagai realitas yang diterima dengan begitu cepat. Melalui diskusi buku Halaman Rumah/ Yard menunjukkan begitu banyak kita kehilangan dari hilangnya halaman rumah, seperti hilangnya ruang sosial, kultural, bahkan ruang-ruang dengan fungsi yang beragam telah hilang tanpa kita sadari, sampai kita diingatkan dengan hadirnya buku Halaman Rumah/ Yard,” ungkap lelaki langsing ini. Pak Dias juga menambahkan, Halaman Rumah / Yard merupakan buku ketiga yang dijadikannya sebagai referensi dalam tugasnya sebagai dosen di Jurusan Sejarah Unhas. Sebelumnya buku Makassar Nol Kilometer (Ininnawa, 2005) dan Jurnalisme Plat Kuning (Tanahindie Press, Oktober 2014). “Terbitnya buku Halaman Rumah/ Yard saya manfaatkan sebagai sumber rujukan dalam beberapa mata kuliah untuk melihat lebih dekat kehidupan perkotaan dan mengenal wajah Makassar yang lain,” akunya. Menurut Pak Dias, sebagian besar yang dipotret dalam ketiga buku terbitan Tanahindie dan Ininnawa ini merupakan potret dunia-dunia yang nyaris hilang. “Misalnya keberadaan pete-pete sekarang ini mulai berkurang. Di sisi lain, buku Halaman Rumah/ Yard merupakan buku yang penting dengan menceritakan kampungkampung di perkotaan yang akan berubah wajah beberapa tahun ke depan,” terangnya. Pak Dias menuturkan, usai membaca Halaman Rumah/ Yard, ia teringat dengan tulisan antropolog Saya Shiraishi berjudul “­ Silakan


Masuk, Silakan Duduk”, yang memotret fenomena orang-orang yang awalnya berstatus sebagai orang ‘asing’ setelah diberi kode ‘silakan masuk, silakan duduk!’ maka statusnya berubah menjadi orang yang sudah dikenal. Dalam hal ini, paparnya, terjadi suatu proses transisi di halaman rumah dari space, ruang yang sifatnya netral menjadi place, penempatan secara sosial dalam posisi tertentu, dan ini terjadi di ruang antara yang privat dan publik, yaitu halaman rumah. Pak Faisal memberi penegasan dalam pengertian secara luas bahwa halaman atau ruang yang bersifat publik kadang-kadang juga bersifat privat (ruang heterotopis) dalam konteks tertentu untuk mengaksesnya diperlukan ‘perlakuanperlakuan khusus’. “Seperti halnya restoran atau tempat-tempat wisata sebagai ruang publik di waktuwaktu tertentu hanya dapat ‘diakses’ oleh orang-orang tertentu pula,” cetusnya. Bicara tentang halaman rumah, Anwar Jimpe Rachman dalam gilirannya menambahkan, halaman rumah telah menjadi sebuah simbol kemewahan tersendiri, hanya berperan sebagai fungsi sosial atau fungsi kepemilikan, tidak difungsikan sebagai ruang ekologis. “Misalnya ketika pejabatpejabat berdesakan membuat kebijakan untuk membangun dengan cara menimbun rawa-rawa (baca: perairan), dilakukan dengan cara pandang ‘orang darat’, yang tidak sadar bahwa rawa-rawa ini berdampak ketika ditimbun. Pola

dari sudut pandang ini kelihatannya bagi kami ada hubungannya dari rumah sebagai arena berpraktik. Ketika cara berpraktik tidak beres di rumah maka ‘tumpahnya’ ke hal-hal yang lebih besar di kota,” lanjutnya. “Maka dari hal ini, kami me­ nyadari bahwa rumah atau halaman rumah merupakan hulu dari segala macam persoalan kota yang muncul, sedangkan kota adalah hilirnya. Dalam artian kota merupakan sebuah panggung tempat menampilkan persoalan yang ada di rumah,” terang Kak Jimpe. Kak Jimpe dalam diskusi ini kemudian menyampaikan keheranannya, ketika pemerintah membangun taman di kota menjadi sangat formal. “Kita dilarang menginjakkan kaki di rumput, padahal taman atau halaman sebagai representasi miniatur alam semesta, mestinya kita nikmati bersama tanpa ada larangan untuk berpijak di atas rumput,” cetusnya. Seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Pak Bahar A. Teng, yang menjadi salah satu peserta diskusi kemudian menambahkan bahwa orang-orang dulunya, katakanlah seorang pengusaha atau di­ plomat, memanfaatkan pekarangan atau halaman sebagai ruang untuk menghilangkan stres. Akan tetapi fungsi halaman sebagai penghilang stres itu sudah hilang. Menurut Pak Faisal, semakin lama ruang-ruang ini menjadi semakin abstrak oleh para pemegang kekuasaan, pemerintah, bahkan arsitek karena ruang masih dilihat dalam bentuk komoditas atau untuk

dikonsumsi, seperti halnya di Tana Toraja, fungsi ruang sudah meng­ arah sebagai ruang pertunjukan untuk dikonsumsi. Dari sini kemudian pentingnya untuk merebut ruang itu kembali dengan tindakan seperti praktik-praktik graffiti atau menjadikan halaman rumah sebagai basis gerakan dengan mendirikan komunitas. Terbitnya buku Halaman Rumah/ Yard, tambah Andi Faisal, dapat memberikan sumbangsih pen­ ting bagi para pengambil kebijakan dalam merespon perkembangan-­ perkembangan kota, khususnya Kota makassar. “Dari halaman rumah bisa kita lihat bahwa ada ruang-ruang yang sebenaranya dapat menjadi ruang alternatif dalam kehidupan kita, ketika ruang-ruang publik kita semakin lama semakin ‘kejam’ maka kita kembali saja ke halaman rumah,” sambungnya. Namun, suatu hal yang penting dalam konteks masa kini, menurut Andi Faisal, adalah ruang sebagai sebuah produk, sesuatu yang hidup, subjektif, bahkan sesuatu yang ideologis. “Maka dari itu, ruang halaman sebagai basis gerakan dalam memperjuangkan berbagai macam belenggu yang membebaskan kita dari berbagai macam yang sifatnya material maupun politis,” tutupnya.

SUBSCRIBE Saluran video Tanahinndie Inc. Cek lebih lengkap di www.tanahindie.org

8/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


Ilustrasi oleh Muhammad Iqbal Burhan

Kota Berawal dari Halaman Rumah Oleh Manda'

S

ejak Januari 2017 hingga September 2018, ­Tanahindie melaksanakan tiga program yang diselenggarakan dalam rangkaian program besar “Halaman Rumah�. Saya berkesempatan berbincang khusus dengan Anwar Jimpe Rachman, penanggungjawab Tanahindie, yang mengungkap gagasan tentang Halaman Rumah. Bagaimana program tersebut berjalan? Berikut petikan wawancara saya bersama Jimpe yang terbit di Sulselekspres.com (Jumat, 10/3/2018). Kenapa memilih tajuk Halaman Rumah? Sebenarnya ini obrolan tahun 2013. Awalnya kami bingung mulai dari mana bila melihat dan membahas soal kota. Teman-teman di Tanahindie itu memang membahas soal kota, tapi setelah belajar selama dua tahun, kok begitu terus persoalan kota. Bahkan kami

nilai kebijakan pemerintah pun hanya berulang-ulang dan tidak mengubah hal apapun. Pemerintah hanya meladeni dirinya sendiri, hanya kebutuhan ingin diakui bahwa mereka tengah membangun, tapi membangunnya hanya fisik. Kalau membangun fisik, ada batas ruangnya. Makassar ‘kan punya batas geografis tertentu. Waktu itu, akhirnya kita lihat bahwa jangan-jangan persoalan kota memang tidak beres dari rumah. Kenapa orang berkoar-koar di kota mungkin karena tidak beres sejak dari rumah. Marah di rumah belum selesai persoalannya, langsung keluar keluyuran. Misalnya, ketidaktaatan orang berkendara, juga karena tidak beres dari rumah. Menurut kami persoalan yang terjadi di kota, berangkat dari halaman rumah dan rumah itu sendiri. Kota hanya panggung, sedang halaman rumah tempat kita berlatih. Singkatnya, halaman rumah merupakan

9/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


representasi bagaimana kita bersikap terhadap kota. Tapi halaman rumah sebagai ruang ataupun ranah, itu juga dapat memudahkan kita membedah persoalan yang terjadi. Kita sering melupakan hal-hal yang paling dekat yang berhubungan dengan kota, yaitu halaman rumah. Apakah ini juga termasuk penye­ bab maraknya aksi begal atau geng motor? Kalau hasil FGD (Focus Group Disscusion) teman-teman begitu. Mereka lappo (meledak) di jalan karena mereka tidak memiliki ruang ekspresi di rumahnya. Pa­ rahnya mereka tidak diakui, tidak didengar suaranya, tidak didengar pendapatnya, akibatnya mereka ‘lappo’ di jalan. Sebab mereka ndak punya tempat di rumah. Mereka misalnya lagi main gitar di tanggul, tiba-tiba diusir ‘wee ribut sekali’. Akhirnya mereka pergi dan melampiaskannya di jalan, siapa yang akan melarang mereka di jalanan?, Polisi?, itupun, polisi hanya di siang hari, dan hanya menindak kita kalau ndak memakai helm, sedangkan mereka tumpahnya saat malam. Jadi secara fisik, contoh Halaman Rumah yang Kak Jimpe’ maksud seperti apa? Kami latihan di sini, misalnya halaman rumah saya sengaja tidak disemen. Yang saya lakukan hanya memasang paving block, dengan begitu saya berharap air bisa meresap ke tanah dan tidak lari ke tempatnya orang, dan bagi saya tanah yang ditempati akan jauh lebih sehat. Itu salah satu model. Misalnya lagi, di taman belakang, saya tanami pohon, karena dia ada di pinggir sungai, supaya tanahnya tidak tergerus arus sungai. Apakah hanya di Kota Makassar saja yang mengalaminya? Sebenarnya ini bukan cuma persoalan Makassar saja. Hanya memang kita merefleksikan apa yang dialami

di Tanahindie. Tapi persoalan ini sebenarnya sama yang terjadi di kota lain di Indonesia. Sebenarnya gagasan ini memungkinkan untuk diterapkan di seluruh indonesia. Karena persoalan membangun di Indonesia saya kira sama, masih orientasinya fisik. Ada contoh lain pemanfaatan Halaman Rumah? Di Flores, halaman rumah itu berfungsi secara adat, dari dulu diawetkan oleh adat istiadat, budayabudaya. Terus dari Solo, Mas Halim HD menulis bagaimana dia melihat halaman rumah sebagai panggung kesenian. Dari dulu, ternyata, tahun 1950-an yang dia alami bahwa wayang orang, wayang kulit, orkes keroncong, orkes dangdut, dulu semua mainnya di halaman rumah. Nah contoh terdekat Kelompok Seni Sanggar Remaja Paropo, panggungnya di halaman rumah. Jadi kita sudah lama melupakan hal yang paling dekat, yaitu halaman rumah. Di Tanahindie, orang sudah banyak ketahui Kampung Buku letaknya memang di halaman rumah, tapi masih ada contoh praktik yang lainnya? Praktek kecil misalnya, penelitian Halaman Rumah sendiri itukan sebenarnya dilakukan di halaman rumah, mulai dari menggagas konsep, mengeksekusi konsep sampai mengedit, pokoknya bekerja itu di halaman rumah. Merancang bukunya juga di halaman rumah semua. Untuk selanjutnya, selain diskusi, kelas menulis, hingga nonton film, adakah hal lain yang akan dilaku­ kan di Halaman Rumah? Ada, rencana bulan April ini, kemungkinan kita mau hubungi beberapa teman-teman yang giat musik, untuk presentasi mengenai bagaimana pengalaman mereka mengalami bunyi-bunyi di halaman, kita bikin reguler mungkin dua tiga bulan sekali. Apakah sudah ada yang merespon ide Halaman Rumah? 10/ Yard - Edisi 04, Maret 2018

Waktu Bom Benang 2017, kita gelarnya di halaman belakang Kampung Buku. Semua teman-teman seniman misalnya dari Ternate dia tiba-tiba berubah pikiran setelah melihat pameran di halaman rumah tetangga. Dia bilang, “Ternyata kita bisa pameran di halaman rumah”, karena menurutnya lebih nyaman. Seperti yang marak terjadi, soal penggusuran di Kampung Kota, memungkinkah bila gagasan ­Halaman Rumah diterapkan di lokasi sengkata tersebut? Orang kan ketika bicara halaman rumah, yang teringat ruang secara fisik. Sedang ruang fisik di Kota sangat politis. Orang bisa tibatiba mau membeli rumah lengkap dengan halamannya dengan uang segepok, dan mereka pasti tidak bisa berdaya. Nah di Bara-Barayya, saya kira, kasus itu terjadi bahwa perebutan-perebutan itu terjadi. Kata teman di Bara-barayya, ada celah untuk gagasan ini masuk. Warga bisa terikat kembali, akhirnya dia sadar bahwa memang hunian itu penting, memang halhal yang kecil itu penting, ruang interaksi, begitu katanya. Dalam Perda Nomor 4 tentang RTRW Kota Makassar, ­Ruang ­­Terbuka Hijau Privat juga ­termasuk Halaman Rumah, apa­ kah ini salah satu tujuannya? Kebanyakan cara kita (di Sulawesi Selatan) menghormati orang, pertama, kita lihat dulu apa yang dia punya, dari mobil, berapa motornya, besar rumahnya atau kecil. Misalnya, saat membesarkan rumahnya, dengan luas tanah yang sempit, pasti dia harus membabat halaman kemudian temboki untuk terlihat besar. Seandainya caranya kita enak memperlakukan halaman, dan memanfaatkan secara ekologis, kita akhirnya bisa hitung berapa Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Makassar. Tapi soal itu, pemerintah saya kira perlu intervensi. Kita tahu kalau rumah itu privat, tapi menurut saya pemerintah penting juga menegas-


kan ‘oke kalau kau punya halaman minimal ada pohon kau tanam, pohon besar supaya sehat,’ Kota jadi sehat jika diterapkan seperti itu. Tapi saya kira tanpa intervensi pemerintah pun, penting setiap kita untuk sadar atas persoalan ini. Banyak manfaatnya, di buku “Halaman Rumah” (Tanahindie Press, 2017) itu ada kajian tersendiri soal lingkungan, seperti satu pohon berapa suhu bisa dia turunkan, itu yang bisa mempersejuk kota. Dan semestinya pemerintah juga harus

memberikan contohnya saya kira. Pemerintah kerap dalam praktiknya saat membangun, awalnya ia membabat pohon dulu, terus dia lupa untuk ganti. Yang saya tahu soal itu aturan, kalau mau menebang untuk pembangunan infrastruktur terlebih dahulu ditanami pohon pengganti baru menebang.

yang bisa kita lakukan sebenarnya, ‘kembali saja ke rumahmu deh’, pelukan yang paling hangat itu di rumah. Tidak terdapat di lain tempat, dan sebenarnya teman-teman di sini berharap nantinya direspon dari semua pihak.

Jadi apa tujuan Halaman Rumah? Jadi, gagasan ini sebenarnya meng­ ajak kembali orang untuk perhatikan kembali rumah, banyak hal-hal

Yuk! Baca Buku, Minum Kopi, dan Bersantai di Kedai Kopi Geraderi, Kampung Buku! Segera hadir "Geraderi", kedai kopi di beranda Kampung Buku. Bila berkunjung, ajaklah teman, pacar, adik, kakak, dan sahabat berkomunitas kamu untuk menikmati sajian kopi sambil membaca buku atau sekadar bersantai dengan segelas kopi Geraderi. Perpustakaan Kampung Buku didirikan oleh Penerbit Ininnawa tahun 2008 dan kini diasuh Tanahindie, ruang mandiri yang berdiri tahun 1999 di Makassar, dengan menitikberatkan kajian, pameran, dan penerbit­ an bertopik ragam ekspresi mutakhir, mulai fenomena visual-audio masyarakat urban, ragam subkultur, juga

Rancang gambar oleh Cahyadi Narto Mei Sandi

gaya hidup. Kampung Buku juga menyediakan koleksi berbagai majalah, komik, bahan bacaan dan terbitan buku-buku kebudayaan Sulsel, Sulbar dan Kota Makassar, juga koleksi buku-buku kawasan timur Indonesia. Selain itu kalian dapat meminjam koleksi buku dengan cara menjadi "warga" Kampung Buku, dapat meminjam buku setelah terdaftar menjadi anggota perpustakaan, narahubung keanggotaan: 0821 8811 4481 (Iqbal) atau 0411 433775 (kantor). KONTAK PEMESANAN BUKU WA/ Telepon: 0856 5668 1100/ 0411 433775 Email: distribusiininnawa@gmail.com Twitter: @kampung_buku Instagram: @kampungbuku Website: ininnawa.com Bukalapak: bukalapak.com/u/jualind Tokopedia: tokopedia.com/kampungbuku Shopee: shopee.co.id/kampung_buku

Books, Merchandise, and Art Stuffs

Jalan Abdullah Daeng Sirua, No. 192 E (Kompleks CV Dewi, Samping Kantor Lurah Pandang, Panakkukang, Makassar)

KOLEKSI BUKU PENERBIT ININNAWA Selengkapnya di: www.ininnawa.com/terbitan

BUKA SETIAP HARI Jam 11:00 s/d 22:00 WITA, Minggu, jam 12:00 s/d 23:00 WITA 11/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


Buku dan Pesisir A. Noer Chalifah Ramadhany

L

apak Baca Pesisir Pantai Marbo bertempat di Kampung Manggarabombang, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar. Lapak Baca pesisir ini didirikan pada tanggal 23 Desember 2016 oleh sebuah komunitas bernama Ruang Abstrak Literasi. Lapak Baca Pesisir Pantai Marbo (begitu kami menyebutnya) hadir setiap akhir pekan, yaitu setiap Sabtu dan Ahad pukul 15.00-18.00 WITA. Pendirian lapak baca pesisir ini didasari oleh niat ingin memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, khususnya masyarakat kelas kecil (marginal) dalam aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya sesuai dengan visi Ruang Abstrak Literasi itu sendiri. Terkhusus pada Kampung Manggarabombang, para pustakawan dan relawan ingin meningkatkan minat membaca masyarakat mulai dari orang tua sampai kepada anak-anak usia dini. Perpustakaan-perpustakaan alternatif seperti lapak baca yang sering digelar oleh komunitas-komunitas

literasi secara swadaya dan mandiri, hadir di setiap sudut kota sebagai solusi untuk menggantikan peran perpustakaan umum yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan dengan merekonstruksi gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai perpustakaan pada umumnya. Buku-buku yang tersedia pun, buku yang sesuai dengan selera masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, serta semuanya dapat diakses oleh siapa saja dengan gratis. Salah satu perpustakaan alternatif tersebut adalah lapak baca pesisir yang digelar di Pantai Marbo tiap akhir pekan. Lapak baca pesisir ini merupakan salah satu sarana pendidikan (alternatif) dengan menggalakkan literasi dan pengembangan minat dan bakat mulai dari usia anak-anak sampai usia remaja. Kegiatan pada lapak baca pesisir Pantai Marbo ini difokuskan untuk anak-anak, karena salah satu tujuan diadakannya kegiatan ini, agar anak usia dini dapat belajar banyak hal, mendengar, dan

12/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


mengamati banyak hal. Maka dari itu, kegiatan yang dilakukan de­ ngan metode belajar dan bermain, meskipun unsur bermain adalah yang paling utama namun tidak dapat terelakkan ketika anak-anak dapat mengembangkan kemam­ puan imajinasi dan menumbuhkan kreativitas pada anak, meski secara perlahan. Pembaca mungkin pernah mendengar penggalan lirik soundtrack lagu film kartun Sinchan yang bagian ini “Seluruh kota... merupakan tempat bermain yang asyik...”. Bagaimana jika liriknya diubah menjadi “Seluruh kota... harus jadi tempat membaca yang

asyik...”. Metode tersebut dilakukan karena tempat belajar mereka yang bersentuhan langsung dengan alam, kehidupan sosial dan ekologi harus berjalan selaras dan harmoni, kita harus menjaga keserasian antara bumi dan manusia. Koleksi buku pada lapak baca pesisir Pantai Marbo cukup banyak, seperti komik, cerita anak atau do­ ngeng, novel, pengembangan diri, buku pelajaran sekolah, dan bacaan untuk orang tua. Koleksi buku pada lapak baca pesisir Pantai Marbo Tallo kami dapatkan dari hibah dan sumbangan perseorangan. Selain menyediakan bahan bacaan, juga

memiliki kegiatan edukatif lainnya. Diantaranya, belajar membaca, berhitung, mengenal warna, menggambar, mewarnai, dongeng, puisi, pemutaran film dokumenter, dan kegiatan edukatif lainnya. Animo belajar masyarakat Pantai Marbo Tallo utamanya anakanak membuat penulis mengatakan “Kelak kalian akan menjadi orang hebat dengan cara kalian sendiri”. Bahwa proses belajar bukan dari sekolah saja. Dunia di sekitarmu juga dapat memberimu pelajaran yang sangat berarti. Seperti kata seorang filsuf, bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang

adalah guru. Selain kegiatan tersebut di atas dilakukan di Pantai Marbo Tallo, pustakawan dan relawan juga menambah beberapa lokasi baru untuk kegiatan literasi, salah satunya yaitu di Kampung Gampancayya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo. Lokasi ini berada di pinggiran sungai Tallo dan berdekatan dengan situs sejarah Makam Raja Tallo.

Walaupun perpustakaan-per­ pus­­takaan alternatif ada dan dirasa cukup memenuhi kebutuhan masyarakat, namun hal tersebut butuh perhatian dari setiap lapisan masyarakat untuk mengatasi rendahnya budaya membaca di Indonesia, utamanya dukungan dari pemerintah sangat dibutuh­kan sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan, seperti bantuan dan

akses buku bacaan dan pemba­ ngunan perpustakaan di pelosokpelosok daerah untuk membantu pengenalan budaya literasi kepada masyarakat agar angka buta huruf pun berkurang. Sampai jumpa di akhir pekan, salam literasi!

Lokakarya Penelitian dan ­Penulisan "Anak Muda dan Kota" setiap akhir pekan sejak Januari- April 2018 di Kampung Buku. (Foto: Ibe M Palogai)

13/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


Rumah Seni Kasumba Oleh Suherman

M

akassar sebagai ibu kota provinsi SulawesiSelatan, dan Kabupaten Gowa yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar, berbagai macam komunitas seni menyebar dan eksis di wilayah ini. Dalam hal ini, bukan berarti di daerah lain komunitas seni tidak eksis, hanya saja mereka belum muncul ke permukaan. Makassar dan Kabupaten Gowa merupakan sentral tumbuh-kembangnya berbagai macam komunitas, mengingat Makassar dan Gowa menjadi tempat bertemunya berbagai suku dan budaya di Sulawesi Selatan. Salah satu komunitas seni yang terbilang eksis di Makassar-Gowa adalah Komunitas Rumah Seni Kasumba. Komunitas seni ini berada “di atas got,” di perbatasan Makassar-Gowa, memasuki wilayah Gowa, Jalan Mangasa, Daeng Tata Lama. Model kesenian yang digeluti oleh komunitas ini adalah Seni Rupa: lukis, grafis dan patung, termasuk kerajinan tangan. Rumah Seni Kasumba berdiri sejak 2007, didirikan

oleh salah satu seniman (perupa) Makassar Amir Hafid Rimba, sapaan akrabnya Rimba. Menurut Rimba, komunitas seni ini didirikan dengan salah satu tujuannya untuk mengembangkan kreatifitas (siapa pun) yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk berkesenian, terutama dalam dunia seni rupa. Oleh karena itu, Rumah Seni Kasumba tidak menutup diri untuk menerima siapapun yang ingin bergabung, belajar, dan mengembangkan bakat dan kreatifitasnya di komunitas tersebut. Yang jelas, sebagaimana menurut pendiri sekaligus pembina Rumah Seni Kasumba, Rimba. Menurutnya, siapapun yang tergabung dalam Rumah Seni Kasumba penting untuk memiliki “kesadaran” akan tanggung jawabnya sebagai anggota komunitas, baik dalam hal kesadaran berkesenian, maupun dalam hal kesadaran menjaga dan merawat Rumah Seni Kasumba layaknya rumah sendiri. Itulah sebabnya, “kesadaran” sering dikumandangkan oleh Rimba dan rekan-rekannya di komunitas tersebut, karena “kesadaran” dalam hal ini

14/ Yard - Edisi 04, Maret 2018


menjadi kata kunci eksistensi dan lestarinya Rumah Seni Kasumba. Selain itu, Rumah Seni Kasumba juga memiliki tujuan lain, yang menurut hemat kami, sangatlah esensial karena memiliki dedikasi tinggi bagi kesenian (seni rupa) itu sendiri, maupun bagi masyarakat setempat. Tujuan tersebut se­ ring disampaikan Rimba, bahwa “Rumah Seni Kasumba didirikan dengan tujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesenian yang ada di Sulawesi-Selatan, dan sekaligus untuk memancing masyarakat agar sadar akan makna dan fungsi seni dan kesenian itu sendiri.” Artinya, jika konsep tersebut ditelaah dari segi nilai edukasi, Rumah Seni Kasumba telah dan menjadi media atau sarana pendidikan (dalam hal ini pendidikan seni) yang representatif untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai kesenian (budaya) Sulawesi Selatan. Dengan demikian, dapatlah kiranya kita sebut Rumah Seni Kasumba sebagai pendidikan “Melek Seni” karena ia mengajak masyarakat untuk mengerti dan memahami seni dan kesenian itu sendiri sebagai bagian dari kebudayaan. Hal di atas dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang pernah dise­

lenggarakan Rumah Seni Kasumba itu sendiri, baik kegiatan seharihari di POS Kasumba, Pameran Seni Rupa, Festival Seni, maupun kegiatan yang sifatnya kerja sama dengan lembaga atau komunitas lain. Semisal pada 2014 lalu, Rumah Seni Kasumba bekerja sama dengan Anti Corruption Committee Sulawesi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, yaitu mela­ kukan demo melukis bersama di bawah kolom Fly-Over Jalan Urip Sumohardjo, Makassar. Tahun 2015, Rumah Seni Kasumba menyelenggarakan Art on Street Festival bertajuk “Kasumba Masih Berwarna” (rangkaian kegi­ atan hari jadi POS Kasumba yang ke-VIII). Kemudian, tahun 2016, tepatnya 9-11 September, diselenggarakan Festival Seni yang bertajuk “Rampea’ Golla Nakurampeki Kaluku.” Terakhir, kemarin, pada 22-26 November 2017, Rumah Seni Kasumba menyelenggarakan Festival Seni yang bertajuk “Juluatiari Mangasa.” Menurut Rimba sendiri, kegiatan kesenian semacam ini merupakan program tahunan Rumah Seni Kasumba. Menarik dalam kegiatan-ke­ giatan seni yang diselenggarakan Rumah Seni Kasumba, di mana

15/ Yard - Edisi 04, Maret 2018

berbagai macam kesenian tampil mewarnai kegiatan yang berlangsung, mulai dari Pameran Seni Rupa dan Kerajinan, Pentas Seni Rakyat, Pasar Seni, Pertunjukan Tari Tradisional, Pertunjukan Musik, Orkes Daerah, Drama/ Teater, hingga kegiatan Melukis Bersama, disertai sajian-sajian Kuliner Tradisional. Di samping itu, berbagai kalang­ an pun ikut terlibat, mulai dari masyarakat setempat, pedagang kaki lima, pelajar, mahasiswa, seniman-seniman Makassar, dan komunitas-komunitas seni. Terakhir, dalam diskusi singkat sambil ngopi dengan pendiri Rumah Seni Kasumba beberapa hari lalu, A. H. Rimba sempat mengatakan bahwa “untuk selanjutnya, Rumah Seni Kasumba akan menyelenggarakan dua macam kegiatan besar tiap tahun, yaitu Milad Rumah Seni Kasumba dan Festival Seni Kampung Mangasa”. Salam Budaya.


Segera Hadir! Segera Hadir!

[ Pustaka Bunyi, Dialog Antar-Kalangan, Kolaborasi, dan [ Pustaka Bunyi, Halaman Rumah ] Dialog Antar-Kalangan, Kolaborasi, dan Halaman Rumah ]

YARD diterbitkan oleh Tanahindie bekerja sama dengan Arts Collaboratory dan Stichting Doen. PENANGGUNG JAWAB Anwar Jimpe Rachman; REDAKTUR Ade Awaluddin Firman, Manda', Muhammad Iqbal Burhan, Ibe M Palogai, Ikhsanul Tajuddin, Rafsanjani, Sulaeman M. Nur. ALAMAT REDAKSI Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar, Indonesia 90231. REDAKSI MENERIMA SUMBANGAN MATERI publikasi, seperti esai, karya sastra, karya foto, ilustrasi, dan komik melalui tanahindie@gmail.com www.tanahindie.org

Yard - Edisi 4, Maret 2018/Fourth Edition, March 2018  
New
Advertisement
Advertisement