Page 1

Edisi 8, November 2018

Perayaan Satu Dekade Kampung Buku dirangkaikan dengan peluncuran animasi kampung-kota Paropo 3S (selancar-salinsusun) dan bincang-bincang bersama Dias Pradadimara, dilanjutkan dengan Soundsphere edisi ke-2.


Yard merupakan terbitan ­dwibulanan yang diterbitkan oleh Tanahindie. Tahun 2017 - 2018 penerbitannya bekerja sama dengan Arts Collaboratory dan Stichting Doen.

Tanahindie Merayakan Halaman Rumah di Kampung Buku, k­ olaboratorium dan ruang dan ranah b ­ ersama berwujud perpustakaan, ­menyebarkan ­gagasan lewat berbagai kanal dan cara sebagai jalan produksi, reproduksi, dan distribusi pe­ngetahuan.

Penanggung Jawab:

Layouter, Grafika & Publikasi:

Alamat Redaksi

Anwar Jimpe Rachman

Fauzan Al Ayyuby

Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar, Indonesia 90231.

Redaktur:

Ilustrator:

Achmad Teguh Saputro, Ade Awaluddin Firman, Aziziah Diah Aprilya, Fauzan Al Ayyuby, ­Rafsanjani, Wilda Yanti Salam

Muhammad Iqbal Burhan

Penulis: Anwar 'Jimpe' Rachman, Fauzan Al Ayyuby, Rafsanjani, Rahmi Chaer, Sri Ramadani Azis

Fanpage Facebook: Tanahindie Twitter: @dewiboelan Instagram: @tanahindie

Redaksi menerima sumbangan materi ­publikasi, seperti esai, karya sastra, karya foto, i­lustrasi, dan komik melalui email:

Youtube: Tanahindie Inc.

tanahindie@gmail.com

www.tanahindie.org

Kolaborator:

DIGITAL PUBLISHING: "YARD" https://issuu.com/tanahindie


Dokumentasi Tanahindie

MERAYAKAN SATU DEKADE KAMPUNG BUKU Fauzan Al Ayyuby

M

enurut Eric Weiner (2011:176) dalam buku The Geography of Bliss, rumah memiliki dua unsur esensial: pemahaman tentang komunitas, dan bahkan lebih penting, tentang sejarah. Tanggal 29 Oktober 2018, satu  perpustakaan di Kota Makassar, Kampung Buku, merayakan  hal esensial itu dalam momen satu dekade perjalanannya. Kampung Buku adalah perpustakaan publik, terletak di sebuah rumah di Jalan Abdullah Daeng Sirua (CV Dewi) No 192E,  Makassar. Kampung Buku dirintis oleh Penerbit Ininnawa pada 29 Oktober 2008, yang pada perkembangannya diasuh-kelola oleh Tanahindie, kemudian menjadi ruang kolabolatorium pengkajian dan penelitian kota oleh beberapa individu dan komunitas.  Selain perpustakaan, Kampung Buku juga membuka toko buku yang menyediakan

terbitan berkaitan dengan  kebudayaan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan  kajian  urban, serta menjual merchandise produksi awak Kampung Buku dan beberapa jaringan penyuplainya. Sebagai sebuah perpustakaan, Kampung Buku menjadi penyuplai referensi—arsip, pada komunitas yang berkantor di sana. Selain itu, ia juga menjadi distributor dari produksi pengetahuan yang diupayakan komunitas. Kampung Buku kini menjadi kantor bersama Penerbit Ininnawa, Tanahindie, The Ribbing Studio, Makassar Biennale, dan Kedai Geraderi. Kampung Buku adalah satu dari beberapa perpustakaan yang muncul menjelang akhir dasawarsa 2000 di Kota Makassar. Perpustakaan menjadi tanda pertama satu komunitas anak muda yang membangun Makassar pertama kali, dilakukan dengan membeli ruang dan 3/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


mengoptimalisasi aset seperti halaman  rumah, sebagaimana yang dila ku kan  Penerbit Ininnawa dan Tanahindie (Jalan Abdullah Daeng Sirua) dan Kedai Pojok Adhyaksa (Jalan Adhyaksa).1

Para ‘tetangga’ yang hadir pada acara satu dekade itu memberikan   impresinya tentang Kampung Buku serta Tanahindie yang menjadi pengasuhnya. M. Hasymi Ibrahim, dari Eikoniv, mengatakan apa yang berlangsung di Kampung Buku pekerjaan yang luar biasa. Dia tidak pernah membayangkan ada satu proses menghimpun pengetahuan yang independen atau otonom, dilakukan nyaris secara personal, kekeluargaan,

Dokumentasi Tanahindie

Halaman menjadi tempat penggodokan pemikiran dan aktivitas sosial di Indonesia. Pergerakan anak muda pasca R e f o r m a s i 1 9 9 8 b a ny a k menciptakan komunitas dan perpustakaan yang digagas di halaman, termasuk di Makassar.”2

sepaham’.”3

Pada perayaan satu dekade, komunitas-komunitas datang dan berkumpul di halaman Kampung Buku—bertemu secara fisik, juga gagasan. Pe r te mu an i n i s e m a c am syukuran yang dihadiri oleh tetangga-tetangga kita di kota. Tetangga seperti yang tulis Anwar Jimpe Rachman: “… a s u m s i s a y a t e n t a n g pertetanggaan di kota bukan semata berkaitan dengan ‘geografis’ dan ‘fisik’, melainkan diikat oleh kumparan ‘gagasan’. Pertetanggaan tidak lagi semata berarti: ‘kita berdekatan rumah’, melainkan bisa pula ‘kita

1 Tanahindie – British Council, Ekonomi Kreatif Makassar 2015, dalam Fauzan Al Ayyuby, http:// makassarnolkm.com/membincangkan-ekonomi-kreatifmakassar/, diakses pada 11 November 2018, 00.11 2Anwar Jimpe Rachman, “Di Kota Kita Meraya, Di Halaman Kita Berjaya”, Halaman Rumah/Yard, (2017:5)

4/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

dan tidak tergantung dengan apapun. Ia mengatakan bahwa Kampung Buku dan Tanahindie tidak masuk dalam sistem kapitalistik dalam proses penciptaan pengetahuan. Wa hy u C a n d r a , d a r i Mongabay, yang juga pada awal-awal Tanahindie didirikan ikut nimbrung dalam mengelola Jurnal Warnatanah—jurnal Tanahindie yang terbit dari tahun 2001 sampai 2003, mengatakan bahwa Kampung Buku adalah tempat di mana ia dan kawanannya banyak mengambil referensi untuk penelitian-penelitian. Kampung B u ku m e m ang m e m i l i k i beberapa koleksi yang lengkap. 3 Ibid.

Tak jarang koleksi di Kampung Buku sudah tidak ditemukan lagi dalam peredaran. Selain itu, ia mengatakan bahwa Kampung Buku juga menjadi tempat diskusi yang ditunjang dengan suasana yang santai, suasana ala rumah karena memang berada di halaman rumah. Selain itu, Abdi Karya, yang juga ikut menyaksikan bagaimana awal-awal berdirinya Kampung Buku, mengatakan bahwa meskipun ia benarbenar tidak pernah menyatakan sesuatu pada Kampung Buku, ia merasakan kenyamanan karena “bisa langsung bisa buka tudung saji, bawa bungkusan, dan lainnya”. Menurutnya, ini adalah sebuah keterbukaan dari Kampung Buku yang tidak bisa muncul begitu s aj a . Yang me nar i k ju g a menurutnya adalah Kampung Bu ku bu k an l ag i te mp at pertemuan fisik orang-orang, tetapi tempat bertemunya pengetahuan dan gagasan karena kota ini sebenarnya semakin tidak ramah dengan pertemuan-pertemuan.  Apa yang berlangsung di Kampung Buku pekerjaan yang luar biasa. Dia tidak pernah membayangkan ada satu proses menghimpun pengetahuan yang independen atau otonom, dilakukan nyaris secara personal, kekeluargaan, dan tidak tergantung dengan apapun. Ia mengatakan bahwa Kampung Buku dan Tanahindie tidak masuk dalam sistem kapitalistik dalam proses penciptaan pengetahuan. - M. Hasymi Ibrahim

Wilda, mahasiswi Universitas Hasanuddin, yang bergabung dengan Tanahindie dalam lokakarya penulisan dan penelitian ‘Anak Muda dan Kota’, mengatakan bahwa Kampung Buku adalah sebuah tempat yang menjadi pelipur laranya. Pelipur lara dari aktivisme kampusnya yang menurutnya

"


sudah tidak relevan pada banyak hal. Kemudian, Kampung Buku menurutnya menjadi satu ruang yang menunjang perkembangan dirinya dalam menulis, juga membantunya mengoreksi pandangannya terhadap sesuatu. Kampung Buku sendiri bagi saya adalah tempat memulaiberproses-terbentur dalam sebuah ruang kolaborasi dan labolatorium. Tempat belajar menekuni dunia penulisan dan penelitian. Juga manajemen tentu saja. Sejak bergabung dari tahun 2016, Kampung buku dan Tanahindie memberikan kesempatan pada saya untuk bermain dan bekerja. Tentu saja kemungkinan yang sama dibuka juga untuk anak-anak muda yang lain.  MOMENTUM perayaan satu dekade Kampung Buku malam itu juga menyediakan dua ‘pintu’, yakni peluncuran video animasi “Paropo 3S” dan “Soundsphere”.“Paropo 3S”karya awak Tanahindie yang dipamerkan dalam Pekan Seni Media 2018 di Palu, Agustus 2018 silam. Sedang Soundsphere merupakan ajang dwibulan yang digelar Ta n a h i n d i e , y a n g p a d a edisi kedua malam  itu memperkenalkan hasil kerja A.Thezar Resandy dan Irwan Setiawan. Soundsphere berusaha mencari perspektif dan model kerja yang lain dalam merespon ‘halaman rumah’ melalui bunyi. Seperti Soundsphere, “Paropo 3S” merangkum penelitian Tanahindie “Halaman Rumah” yang berlangsung sejak 2014, s e k a l i g u s m e nj a d i up ay a Tanahindie dalam berfokus pada soal pustaka dan mengarsipkan kota secara vernakular.

salah satu wilayah di Kota Makassar yang berubah cepat, yang agaknya lantaran  menjadi daerah pusat perekonomian. Paropo merupakan salah satu kawasan bersejarah di Makassar yang dihuni oleh komunitas yang melestarikan beberapa kesenian rakyat, salah satu di antaranya teater rakyat Kondo Buleng.”4 Lantaran sumber-sumber visual terkait Makassar sangat jarang ditemukan, Tanahindie menjadikan karya Paropo 3S ini sebagai tawaran lain sebagai media arsip, pengetahuan, dan pembelajaran  semua kalangan. Anwar Jimpe Rachman, kurator karya ini, berharap agar karya Animasi Paropo 3S menjadi ‘pi ntu’ m e ngobrol k an   ke warga dan banyak kalangan untuk bersama mengobrolkan kota (Makassar) dan segala perkembangannya.  Setelah Animasi Paropo 3S yang ditembak oleh proyektor pada dinding bangunan di depan Kampung Buku ditonton bersama, kemudian diskusi dilanjutkan di halaman Kampung Buku. Dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Dias Pradadimara mengatakan, perkenalannya dengan Kampu ng Parop o te r j a d i sekitar delapan tahun yang 4 Tanahindie, Paropo 3S- Soundsphere #2, 2018

Lantaran sumber-sumber visual terkait Makassar sangat jarang ditemukan, Tanahindie menjadikan karya Paropo 3S ini sebagai tawaran lain sebagai media arsip, pengetahuan, dan pembelajaran  semua kalangan.

"

- Anwar 'Jimpe' Rachman

lalu, ketika seorang  mahasiswa bimbingannya menulis soal Kampung Rama. Dari situ, ia mengetahui bahwa kampung tersebut adalah pecahan dari Kampung Paropo. Animasi Paropo 3S, seperti pengakuannya pada diskusi itu, membantunya membayangkan tentang satu perubahan Kampung Paropo per dekade. Hanya saja, kritiknya terhadap kar ya yang menggunakan teknologi animasi yang terdiri dari perca dan serakan gambar di media daring dengan metode 3S (selancar-salin-susun) yang ‘dijahit’ menggunakan seni grafis, seni bunyi, dll, terlatak pada satu unsur penting yang kurang terlihat: manusia. Menurutnya akan semakin menarik jika manusia ditampilkan pada karya animasi itu.  Masih menanggapi karya animasi, Dias Pradadimara bercerita juga soal Kampung Paropo yang mengalami gentrifikasi, proses pengambilalihan ruang kota oleh investor, menyebabkan penduduknya tersingkir ke

Animasi Paropo 3S merupakan karya visualisasi perkembangan enam puluh tahun Paropo, perkampungan di kawasan Panakkukang, Dokumentasi Tanahindie

5/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


samping, depan, belakang, dan seterusnya. Menurutnya, yang dilakukan oleh Tanahindie adalah hal yang menarik lantaran memotret Makassar dari sisi-sisi yang tidak tampak, dan dalam waktu yang tidak lama, akan menghilang juga. Sisi-sisi yang kemudian akan digilas perubahan akibat pengaruh gentrifikasi tadi. Anwar Jimpe Rachman, menjelaskan bagaimana karya ini dilengkapi data-datanya oleh penelitian lain. Ketika ia bertemu dengan orang Bumi Karsa, diketahui bahwa aliran air yang membelah Kampung Paropo dan Kampung Rama ternyata bukan sungai, melainkan kanal yang digali dari Maros hingga ke Panakkukang pada tahun 1975. Karena pada saat yang bersamaan, Makassar sedang diperlebar. “Daerah ini (Panakkukang) dulu wilayah Gowa. Kemudian DPRD Makassar memutuskan, Panakkukang menjadi pusat ekonomi. Tahun 1975 digalih dari Maros sampai ke kanal, makanya namanya Penjernihan di sini. Data-data itu kemudian melengkapi animasi,” kata Jimpe.

Kar ya ini, kata Jimpe, adalah pekerjaan yang cepat; hanya dua minggu karena keperluan pameran Pekan Seni Media 2018 di Palu. Forum Lenteng, pelaksana Pekan Seni Media,pada saat itu mengundang Tanahindie sebagai seniman. S e b a g ai re f l e k s i s atu dekade, Jimpe mengatakan bahwa Kampung Buku dan lembaga yang b eker ja di dalamnya sedang mempelajari manajemen. Animasi Paropo 3S adalah karya yang berawal dari penelitian ‘Halaman Rumah/Yard’, yang dikerjakan oleh empat orang mahasiswa dengan melakukan penelitian. Menurutnya, ada lompatanlompatan di kampus. Mahasiswa biasanya langsung berpikir teori. “Dalam artian, di kampus materinya sudah ada lalu dibawa masuk. Sementara mahasiswa tidak tahu riwayat materi ini. Penekanan Tanahindie terlatak di titik ini, yang kajian urbannya menekankan bagaimana caranya dapatkan data dan bagaimana cara mengalaminya,” jelas Jimpe.

Zainal Ziko, dari ACSI, merespon diskusi dan obrolan yang disampaikan oleh Pak Dias dan Jimpe dengan mengatakan bahwa pengrajin ketupat, yang dilekatkan pada masyarakat Paropo, sebenarnya adalah hal yang baru. Menurutnya, secara ekonomi, masyarakat Parop o memiliki budaya seperti kara’ba’—lubang yang dibuat menggunakan rumpun bambu b erb entuk sumur untuk ikan gabus,  cambangcambang,dan bale balang. Selain itu, ia sebagai orang Makassar, mempertanyakan hilangnya nama - nama k ampu ng d i Makassar. Ahmad Shadiq, mempertanyakan pemilihan Kampung Paropo yang dijadikan bahan animasi dan proyek penelitian Tanahindie. Jimpe menjelaskan bahwa tahun 2017, yang dipilih sebenarnya ada tiga kampung: Sukaria, Paropo, dan Rama. Jarak dan jangkauan menjadi alasan mengapa tiga kampung ini dipilih.Semata-mata karena paling dekat dari Kampung Buku, kata Jimpe. Hal yang sama ia contohkan ketika Quiqui dan Tanahindie menggelar Bom Benang.

Dokumentasi Tanahindie

6/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


Yang dilakukan oleh Tanahindie adalah hal yang menarik lantaran memotret Makassar dari sisi-sisi yang tidak tampak, dan dalam waktu yang tidak lama, akan menghilang juga. Sisi-sisi yang kemudian akan digilas perubahan akibat pengaruh gentrifikasi. - Dias Pradadimara

Indikator Bom Benang menurutnya, cuma satu: ketika Sinre’jala sudah menjadi ‘sungai’. Ketika dalam pembukaan Bom Benang, Pak Lurah Pandang menyebut Sinre’jala sebagai sungai, Bom Benang dianggap berhasil karena menjawab perdebatan Sinre’jala sebagai sungai atau kanal. Menurut hasil penelitian tim Bom Benang, Sinre’jala memang sungai. Kesimpulan ini dihimpun dari wawancara pada warga, arsip, dan konfirmasi-konfirmasi soal, misalnya, data tahun 1980-an akhir dilaksanakan program bernama normalisasi sungai— sungai yang berkelok-kelok diluruskan. Sungai Sinre’jala dicurigai sebagai salah satu korban dari normalisasi sungai itu, sehingga ia beralihfungsi menjadi kanal. Tanahindie beranggapan bahwa persoalan-persoalan di kota itu bermula dari persoalan rumah. Di mana kota hanya panggung, akumulasi dari persoalan yang berawal dari rumah. Ini juga menjadikan ‘halaman rumah’ sebagai proyek penelitian ‘abadi’ yang dilakukan oleh Tanahindie. Ini juga menjawab mengapa perayaan satu dekade Kampung Buku dilakukan di halaman rumah, karena penting dialami oleh banyak orang.

Dokumentasi Tanahindie

“Waktu itu kita bikin juga Bom Benang, yang diarahkan untuk mengangkat isu sungai Sinre’jala. Kita sebenarnya sederhana. Perdebatan orang selalu: ini kanal atau sungai?” lanjut Jimpe mencontohkan

Perayaan satu dekade ini dihadiri oleh beberapa orang dari komunitas berbeda; Katakerja, Platform Baja, Eikoniv, Baraka Institute, Institute Seni Budaya Sulawesi Selatan, Light Of The Underground, Payo-Payo, Rumata’ Art Space, Prolog Art Building, Stupa 14, Sokola Kaki Langit, UKPM, Baruga Kita, ACSI, UKM Seni UNM, dan Mongabay. Sembari menikmati kopi yang bisa dipesan pada Kedai Geraderi, obrolan-obrolan di halaman rumah seperti menjahit kembali apa yang jauh. Hadirnya Kedai Geraderi di Kampung Buku, yang dikelola oleh Zulkifli, menyatakan kembali penggodokan gagasan di halaman, yang kebanyakan kini beralih ke ruang-ruang seperti kedai kopi, dan lain-lain. Sejak bergabung pada tanggal 26 April 2018, Ippi, sapaan akrab barista Kedai Geraderi, menyatakan bahwa ia melihat Kampung Buku sebagai sebuah ekosistem. Ia melihat cara kerja yang lentur. Tidak kaku, seperti yang pernah ia lihat di kampus.  “ Ta m u n y a K a m p u n g Buku, bisa jadi t amunya Kedai Geraderi, begitupun s e b a l i k n y a ,” k a t a Ip p i , menjelaskan sedikit tentang ekosistem yang ia maksud. 

Sebelum membuka kedai di Kampung Buku, Ippi punya keinginan untuk membuat gerobak perlengkapan kopi, kemudian digandeng dengan motor, lalu berkeliling sambil melapak buku, dan tentu saja membuat kopi. Ia mengaku, tertarik dengan Kampung Buku karena kesukaanya pada buku. Semua orang butuh profit. Tetapi itu bukan tujuan utamanya. Ia memang suka membuat kopi dan melihat orang meminum kopi. Terlebih lagi, kesukaannya pada buku dan memperkenalkan orang pada buku, menjadi lebih mudah dengan koleksi buku yang tersedia pada halaman Kampung Buku.[] Kampung Bu ku ad al ah s ebu ah ekosistem. Ada cara kerja yang lentur, tidak kaku, seperti yang pernah saya lihat di kampus. - Zulkifli

"


Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat Penulis: Kees Buijs Cetakan Pertama, Juli 2017 Penerbit Ininnawa vii, 199 hlm ISBN 978-602-61769-0-5 IDR: 67.500 Pakkurru Sumange’Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan Penulis: R. Anderson Sutton Cetakan Pertama, September 2013 Penerbit Ininnawa xx + 338 hlm, 15 x 21 cm ISBN 978-602-19636-6-1 IDR: 75.00 KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT Penulis: Kees Buijs Cetakan Pertama, November 2009 Penerbit Ininnawa 337 hlm + vi ISBN 978-602-95231-2-6 IDR: 67.000 KONTAK PEMESANAN BUKU WA/ Telepon: 0856 5668 1100/ 0411 433775 Email: distribusiininnawa@gmail.com Twitter: @kampung_buku Instagram: @kampungbuku Website: www.ininnawa.com Books, Merchandise, and Art Stuffs

LOKASI KAMPUNG BUKU

Bukalapak: bukalapak.com/u/jualind Tokopedia: tokopedia.com/kampungbuku

Jalan Abdullah Daeng Sirua, No. 192 E

Shopee: shopee.co.id/kampung_buku

(Kompleks CV Dewi, Samping Kantor Lurah Pandang, Panakkukang, Makassar)

KOLEKSI BUKU PENERBIT ININNAWA Selengkapnya di: www.ininnawa.com/terbitan

BUKA SETIAP HARI Jam 11:00 s/d 22:00 WITA, Minggu, jam 12:00 s/d 23:00 WITA

KEDAI GERADERI KAMPUNG BUKU Take Your Coffee,☕ Find Your Books

Instagram: @kedaigeraderi


Di Tengah Kolonialisme, Pertumbuhan Pers, dan Pembentukan Elite Baru (Periode 1876-1942) Penulis: Sarkawi B. Husain Cetakan Pertama, April 2015 Penerbit Ininnawa bekerja sama dengan Tanahindie 13 x 20 cm, viii + 195 hlm ISBN 978-602-71651-2-0

Studi ini mengurai signifikansi kehadiran pendidikan pertama di Kota Makassar yang diupayakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 serta perkembangannya hingga era Penjajahan Jepang pada awal dasawarsa 1940-an. Pengkajian Sarkawi B Husain terhadap kehadiran dan aktivitas di gedung-gedung sekolah pertama itu berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat Makassar dan sekitarnya. Pengaruh kemunculan sekolah-sekolah pertama itu, setidaknya, tampak dalam tiga hal: munculnya organisasi pergerakan dan sosial-keagamaan, perkembangan pertama dunia pers di Sulawesi Selatan dan sekitarnya, dan terjadinya mobilitas sosial yang ditandai dengan munculnya elite baru.


Dokumentasi Tanahindie

EFEK KLAKSON DAN GELOMBANG BUNYI DALAM SOUNDSPHERE Rafsanjani ghjkjhkhj i

D

i jalanan, bunyi klakson kendaraan sudah tak asing lagi bagi telinga kita. Apalagi di jalan-jalan perkotaan, seperti Makassar. Di beberapa titik rawan kemacetan, kelakuan membunyikan klakson secara terusmenerus masih sering saya temui dan rasakan. Iklim semacam ini, saking menyebalkannya menimbulkan kejengkelan, dan bahkan berujung kegaduhan. Tak sedikit beberapa pengendara berbalas umpatan kata-kata kasar. Di saat lampu lalu lintas perempatan masih merah, beberapa pengendara motor maupun mobil mulai bersahut-sahutan membunyikan klaksonnya, dipencet bertubi-tubi, saat jelas-jelas jalanan lagi macet. Pengendara yang berada di belakang seakan memaksa pengendara yang di depan untuk bergerak maju, tanpa berpikir kalau lampu lalu lintas masih dalam transisi dari merah, 10/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

kuning ke hijau, dan kadang kembali ke merah lagi sebelum kendaraan melewati perempatan. Hasilnya deadlock di tengah. Di momen-momen seperti ini, klakson mulai ‘menjerit’ kiri kanan, depan belakang. ‘Jeritan’ bunyi klakson kendaraan yang memekakkan, berulang-ulang, menyiratkan bunyi-bunyi tak sabar diikuti lampu rem kelapkelip menyala merah, memancing luapan perasaan jengkel dan menyebalkan. Lantas, bagaimana membuat bunyi klakson tidak menyebalkan? Salah satu teman mencoba menjawab pertanyaan ini melalui sebuah karya audio visualnya yang dikerjakan saat melakukan residensi di Tanahindie selama tiga bulan. Namanya A.Thezar Resandy, biasa dipanggil


Thezar, salah satu seniman bunyi dari Makassar Noise Teror. Ia mencoba membuat karya instalasi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dituangkan dalam karyanya berjudul “Main Klakson”.

Dalam prosesnya, Thezar tidak hanya diajarkan cara merangkai sebuah klakson di luar kendaraan oleh Zul, tetapi ia juga belajar soal mekanisme dan

sebagai rangkanya, dilengkapi dengan komponen-komponen sederhana, seperti pipa PVC, kaleng cat, dan kaleng biskuit yang berfungsi sebagai

fungsi dari setiap komponenkomponen tersebut hingga dapat menghasilkan bunyi.

ruang untuk memerangkap bunyi klakson agar frekuensi suaranya tidak terdengar terlalu menyalak.

Menur ut Thezar, jika klakson dimainkan dengan pola-pola bunyi tertentu, kemungkinan bunyi yang dihasilkan tidak menyebalkan. Dari pengalamannya, ia pernah mencoba membunyi—mainkan klakson saat berkendara di jalanan kemudian direspons oleh pengendara lain dengan pola bunyi seirama. Menurutnya, ternyata hal itu lucu dan menyenangkan. D a r i p e n g a l a m a n ny a dan obrolan-obrolan yang dilakukan selama beresidensi di Tanahindie di Kampung Buku, pelan-pelan Thezar mencoba membuat ‘mainannya’ sendiri. Ia berinisiatif untuk mempelajari mekanisme atau cara kerja sebuah klakson, dengan berkeliling mencari sebuah tempat perajin klakson di Makassar, namun tak satupun tempat pembuat  klakson yang ditemuinya. Ia lantas memilih alternatif l ai n d e ng an me nd at ang i bengkel motor bernama ZRT (Zul Racing Team), berlokasi di Jalan Hertasning Baru. Di sana, ia bertemu dengan M. Zul Andi, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang membantunya dalam proses perangkaian klakson di luar kendaraan. Thezar diberi semacam rekomendasi komp onenkomponen yang diperlukan, di antaranya: aki motor, klakson motor jenis standar, kabel sebagai konektor antara aki dengan klakson, saklar on/ off,  pipa PVC, kaleng biskuit, kaleng cat, tripleks, dan balok berukuran  50x55cm.

Dokumentasi Tanahindie

Presentasi dan Dialog Bunyi

Soundsphere edisi kedua menjadi salah satu rangkaian Satu Dekade Kampung Buku. D a l a m P re s e nt a s i k a r y a bunyi, visual, dan dialog ini menampilkan A.Thezar Resandy dan Irwan Setiawan.

D a l am p e ny aj i an ny a , instalasi ini kemudian disambungkan dengan perangkat elektronik lainnya, seperti sound card dan stompbox yang merupakan perangkat terpenting dalam menghasilkan musik noise. Perangkat inilah yang memunculkan beberapa efek-efek tertentu, di antaranya: delay yang menghasilkan penundaan yang berulangulang dari suara atau bunyi aslinya, flanger digunakan untuk mencampur bunyi asli dengan bunyi hasil delay, dan reverb digunakan untuk menambah gema pada sebuah sumber bunyi.

Karya instalasi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dibuat Thezar berbentuk segi empat, berbahan dasar tripleks dengan balok kayu berukuran kecil

Thezar mengawali presentasinya dengan memadukan bunyi klakson dengan elemen noise yang pelan dan tampak halus,

Thezar membuka gelaran Soundsphere edisi kedua dengan secara tiba-tiba memainkan karya audio visualnya, bunyi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dipadukan dengan sorotan gerak-gerik visual ikon-ikon pop berupa petak warna sebagai latar pertunjukannya di halaman depan Kampung Buku.

11/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


seakan menghasilkan ‘rantai e f e k’ g e l o m b a n g b u ny i dengan komposisi beraturan. S eb agai p embu ka, buny i y ang d i h a d i r k an T h e z ar membangkitkan rasa penasaran akan ritme-ritme selanjutnya. Tr a n s i s i t i a p r i t m e n y a menghadirkan suasana yang berbeda meski bunyi yang dihasilkan bising repetitif, namun ia membuat eksplorasi yang kontemplatif.

dan kombinasi, ia berhasil memvisualisasikan sebuah kompleksitas bunyi hingga menjadi musik yang tidak hanya rapat, namun lembut. Bagi saya, trek “Main Klakson” menjadi perkenalan yang baik, rasanya pas untuk dinikmati jika ingin menjelajahi dunia bebunyian baru.

Di ritme-ritme tertentu, Thezar menampilkan sebuah sample mo dif ikasi bunyi k l a k s o n y a n g m e n g a l i r, efek dari bunyinya seakan menempatkan imajinasi ruang tentang penjelajahan waktu. Sebuah lorong waktu. Transisi bunyi klakson minim di tengah treknya mulai membaur dengan bunyi-bunyi efek klakson yang berulang-ulang, seakan mengajak saya mengalami bebunyian dengan nuansa av ant - g ard e , d an s e c ar a bersamaan membawa saya bepergian menggunakan mesin waktu menuju “pintu-pintu dunia lain”.

Thezar dalam percobaannya memp erlihatkan bahwa suara-suara atau bebunyian y ang ke r ap h a d i r d a l am keseharian kita sebenarnya bisa diaplikasikan dalam bentuk lain. Dari eksplorasinya dengan klakson, Thezar membuktikan bahwa bunyi klakson kendaraan di jalanan yang bersahuts a hu t a n , m e ny a l a k r iu h di tengah deru kemacetan menimbulkan kejengkelan dan terasa menyebalkan, ia berhasil mengubah bunyi klakson dan mengimprovisasikannya dengan mengombinasikan beragaman elemen noise dengan efek-efek tertentu, sehingga terdengar lebih tenang, santai, dan terasa lebih tenteram.

Rekaman ‘Main Klakson’ berdurasi 13 menit 41 detik ini, di detik-detik akhir, Thezar menghadirkan ritme-ritme chaotic diikuti dengan visual gemerlap kota metropolitan di latar p er tunjukannya. Gambaran gedung-gedung tinggi dengan lampu berkelapan dari bangunan toko-toko dan kendaraan seakan melukiskan sebuah ‘kota modern’ dengan kesibukan kendaraan yang lalu-lalang. Thezar menutupnya dengan membentuk harmonisasi antara audio dan visual yang membaur dengan apik.

Tiba giliran Ir wan Setiawan, akrab disapa Iwan, seorang seniman audio visual asal Makassar. Ia berbagi p e n g a l a m a n ny a t e nt a n g bagaimana ‘melihat bunyi’, lebih spesifik mengenai osiloskop musik. Osiloskop (oscilloscope) ad a l a h s ebu a h a l at u kur elektronik untuk mengukur gelombang suara. Dengan menggunakan osiloskop, kita bisa mendegar suara sekaligus melihat bentuk suaranya (gelombang sinyal audio) dan secara bersamaan pula kita bisa mengalami rangsangan antara visual dan audio.

Perjalanan eksperimentasi Thezar dalam memainkan klakson ‘di luar kendaraan’, mungkin tidak berlebihan jika dari segi improvisasi

Dalam presentasinya, Iwan Setiawan mengombinasikan osiloskop dengan sebuah alat elektronik lainnya bernama synthesizer, bentuknya mirip

12/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

dengan piano. Synthesizer atau biasa juga disebut dengan synth merupakan sebuah perangkat elektronik yang memproduksi suara dalam bentuk gelombang suara atau sinyal suara yang dikirim ke pembangkit suara. Dalam pengertian lain, cara kerja dari synth ini yaitu memproduksi gelombang suara elektrik, lalu dikonversi menjadi suara melalui pengeras suara atau media output lainnya. Sumber suara dari alat ini, kata Iwan, biasa dikenal dengan istilah Voltage Control Oscillator (VCO) yang mengeluarkan suara ketika disambungkan dengan osiloskop. M e n u r u t Iw a n , c a r a membuat nada dalam osiloskop musik, ada tiga. Pertama, yaitu kita bikin suaranya, kemudian lihat gambarnya. Kedua, kita bi k in gamb ar nya s e dang suaranya kita manipulasi. Ketiga, berkaitan dengan rumus matematika. Dalam kesempatannya, Iwan hanya mendemonstrasikan cara pertama dan kedua. Ia memulai dengan menampilkan gelombang synth dalam sebuah perangkat elektroniknya dan memperkenalkan sebuah tools yang disebut dengan osilator. Osilator tersebut tampak me nye r up ai speedomete r regulator kompor gas versi mini. Dari perangkatnya, ia mulai mengoprasikan osilator tersebut dengan menggeser jarumnya ke kiri, kemudian menekan salah satu tuts pada sy nth, s e c ara b ers amaan memunculkan bentuk garis horizontal. Kemudian, ia lantas menambah satu osilator baru menjadi dua osilator. Dengan cara yang sama dilakukan sebelumnya, osilator baru yang ia tambahkan dengan menggeser jarumnya ke kanan, memunculkan garis vertikal. Dalam percobaan lainnya,


Iwan memperlihatkan bentuk dari gelombang synth dengan menekan tuts pada sebuah perangkat yang menyerupai piano mini itu, yang sebelumnya sudah dihubungkan dengan laptop dan proyektor untuk menampilkan bentuk dari sebuah gelombang suara. Suatu proses audio visual ia tampilkan. Sambil menekan satu per satu tuts dari synthesizer, Iwan menjelaskan bahwa semakin rendah sebuah nada, maka gelombangnya semakin sedikit, dan sebaliknya. Untuk mengukur sebuah gelombang, ada istilah yang dikenal dengan Hertz (Hz), yaitu panjang gelombang per detik. Kata Iwan, “manusia cuma bisa mendengar 20 gelombang per detik hingga 20.000 gelombang per detik, di atas itu manusia tidak dapat lagi mendengarnya.” Dalam pengertian lain, ambang frekuensi bunyi yang  dapat didengar oleh telinga manusia berkisar getaran frekuensi 20 Hz sampai 20.000 Hz. Suara di atas 20.000 Hz disebut dengan ultrasonik , sedangkan di bawah 20 Hz disebut infrasonik. Pada prinsipnya, percobaan yang dilakukan Iwan adalah menampilkan sebuah musik osiloskop dengan menghubungkan antara audio dan visual. Di mana, bunyi (audio) yang bermacam-macam yang dihasilkan oleh sebuah perangkat synthesizer, secara bersamaan memunculkan sebuah visual dalam bentuk gelombang. Atau dengan kata lain, melihat bentuk bunyi itu sendiri. Di penghujung acara, sebelum sesi dialog dibuka, Iwan memp ers embahkan karya audio visualnya yang diberi judul “Soundsphere an O s c i l l o s c op e Mu s i c”.

Sebuah musik instrumental i a main kan. Musi k yang dihasilkan dari sebuah proses modulasi, peralihan dari satu dasar nada ke nada yang lain, diikuti dengan pengubahan gelombang pendukung untuk menyampaikan bunyi dalam visualnya. Musiknya mempunyai esensi bersifat hibrid, yang mencoba menafsirkan makna dari sebuah hasil persilangan beberapa elemen musik yang saling berbaur. Tiap transisinya tampak pelan dengan sedikit entakan di ujung penggalannya, diikuti dengan tampilan visual gelombang suara manipulasi. Alunan gebukan drum minim di tengah treknya, seakan mengantarkan saya ke satu pertunjukan Tari Hip Hop Kontemporer: Paralleles karya Abderzak, seorang koreografer kelompok tari asal Prancis, saat melakukan tur di Makassar beberapa bulan yang lalu. B aik Iwan maupun Thezar telah berhasil memp erlihatkan bahwa kemungkinan-kemungkinan lain bisa dimunculkan dalam berbagai ranah, di mana bunyi adalah sebuah medium untuk membuka segala kemungkinan-kemungkinan untuk dieksplorasi. Setelah sesi dialog dibuka, beberapa pengunjung membuka obrolan dengan mulai berbagi cerita tentang pengalamannya dengan jalanan yang dianggap sebagai “ruang yang pas untuk melatih kesabaran, apalagi di perempatan lampu merah. Soal modifikasi klakson mobil truk yang menyerupai terompet juga dianggap penting untuk dieksplorasi. Di lain sisi, sopir truk yang memodifikasi klakson mobilnya menunjukkan bahwa mereka punya cita rasa estetika

yang cukup tinggi dan hal ini menarik untuk dilacak, atau minimal kita pertanyakan sebagai seniman.” Adapun respons pengunjung lainnya muncul, dengan melihat klakson bukan lagi dari bendanya, tetapi dari perspektif manusianya (pemilik at au p enekannya). Sa la h satu pengunjung malam itu mengatakan bahwa di jalanan seperti di Kota Makassar kebi as aan membuny i kan klakson bisa ditandai bagaimana kekuasaan bisa dilihat dari bunyinya, makin besar bunyi komponen suatu kendaraan makin punya kuasa di jalanan. Misalnya, kendaraan yang punya klakson dengan bunyi yang menyalak atau kendaraan yang menggunakan sirene yang bunyinya mendengung keras. “Dari obrolan tentang klakson banyak sekali yang tibatiba bisa muncul. Prototipe yang dibikin Thezar yang terbilang sangat sederhana bisa memicu obrolan-obrolan, ada fenomena yang memicu obrolan, dengan banyak pengembangan yang ditawarkan sebagai referensi. Mulai dari filosofi politik di jalanan soal kekuasaan sampai ke pengembangan metode penelitian lapangan. Hal ini menunjukkan dari hal sederhana, kemudian bercabang ke mana-mana,” tutup Kurator Soundsphere, Anwar ‘Jimpe’ Rachman. Soundsphere edisi berikutnya akan membuka pintu seluas-luasnya bagi para pemusik atau perajin bunyibunyian untuk berkontribusi, berbagi pengalaman, menampilkan sesuatu, dan tentunya berkolaborasi dengan berbagai kalangan.

13/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


PUISI Rahmi Chaerhjkjhkhj

YANG BELUM SELESAI DALAM DIRI Ilustrasi Muhammad Iqbal Burhan

Ada banyak hal di dunia ini yang menciptakan kecemasannya sendiri-sendiri

Kita akan membesarkan 4 anak yang fasih berdebat tentang filsafat

Seperti seonggok perkara di kepalaku

Kau akan mengurusi 3 anak lelaki yang gemar membaca Socrates, mengutuk Aristoteles.

Ketika mengulang-ulang janji laki-laki terakhir yang menangis karena ketidaksetiaanku. Rotasi matahari memendekkan dirinya sendiri Dan tidak bersedia menemani tubuhku berjalan lebih jauh lagi Mereka paham betul, 24 jam tidak bisa menjelaskan arah dari ketersesatanku Segelas wine, juga rokok melahap malam terasa 7 jam saja.

Dari laboratorium dibawah pusarku tempatmu menanam diri menghidupkan diri yang lain. Tersisa 1 anak perempuan dan bungsu, Hasil perselisihanku dengan Tuhan agar kali terakhir sebelum kugulung umur yang renta, kumiliki sosok perempuan lain yang bisa kamu dapati cintaku akan tumbuh sekali lagi dihari tuamu.

Tak henti kutuduh diriku menjadi pelarian

Tapi waktu menjepitku dan tidak menawarkan apapun kecuali kesepian.

Di dalam tubuhku huruf tumbuh berdesakan mencari kebenaran

Aku bangun dengan selangkangan yang tidak saling tatap

Dan berputar mencari yang tidak ada dalam diriku.

Kusesali, onani memelukku kalut terjadi malam tadi

Pernah suatu waktu di persimpangan garis sadar

Marah yang semakin memar menjadi tato di leher hingga ubun-ubunku.

Aku belajar melahirkan kebahagiaan dengan hinggap dilenganmu menuju pagi

Mereka melumat satu sama lain

Berkompromi tanpa ragu tentang masa depan

Dan kusadari hanya pada dendam kupertaruhkan kebebasan diri dan bisa mencintaimu tanpa tapi.

14/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

Saling menaruh janji


15/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

DUA HALAMAN RUMAH YANG MENGHADAP KE SUNGAI Anwar 'Jimpe' Rachman

B

EBERAPA rumah sudah kosong di Neiwan, satu dari delapan desa di Sanwan Township, sekisar seratus kilometer di selatan Kota Taipei, Taiwan. Bangunannya yang bertembok bata ekspos masih kokoh. Hanya kayu dan pintu kusam dan beberapa bagian termakan rayap sebagai penanda kalau sudah beberapa tahun tidak terurus. Sekisar lima belas rumah di desa ini melompong. Penghuninya pindah ke kota, seperti Kota Toufen dan kota lainnya di Taiwan. Hampi r s elu r u h r u m a h d i Ne iw an berarsitektur gaya Jepang. Saya terang bisa kenali dari daun pintu dan daun jendela geser dengan rangka berkotak bujur sangkar. Menurut kawan saya, Lin Chen-wei, model bangunan seperti itu merupakan paparan kebudayaan Negeri Matahari Terbit terhadap Taiwan akibat penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia Kedua (1937-1945). 

Saya dan Laurent bersama dua kawan lainnya, Jili Wun dan Shen Yu-lin, masuk desa itu pada satu sore menjelang senja. Neiwan, sesuai namanya yang konon bermakna ‘lingkaran dalam aliran sungai’, adalah desa yang berada di lembah perbukitan kawasan Sanwan, dengan pertanian subsisten, mulai dari padi basah sampai sayursayuran (sawi, lobak, dan kol). Tak banyak orang bisa kami temui, selain seorang bocah delapan tahun, yang belakangan saya tahu bernama Kai, dan perempuan sepuh yang bercaping sedang sibuk menjemur lobak putih untuk jadi bahan asinan—sejenis kimchi. Kai kemudian dengan gesit mengantar kami berkeliling permukiman desa.  Kai adalah salah satu bocah dari sepuluhan anak-anak setempat yang pernah mengikuti satu program yang dibuat oleh Sanwan Cultural


Collective (SCC), kolektif yang dibentuk Laurent, Jili, dan Shen. SCC menggelar lokakarya untuk anak-anak itu pada Agustus 2018. Mereka menggambar-melukis dan terlibat kegiatan lain. “Begitu cara kami membuat mereka lekat satu sama lain karena mereka tidak satu sekolah,” terang Laurent. Persoalan jarangnya anakanak di Neiwan (angka kelahiran di Taiwan merupakan terendah ketiga di dunia,1mengakibatkan fasilitas sekolah hanya tersedia di kecamatan dan kota. Kai dan kawan-kawannya bersekolah di tempat yang berbeda; Kai di Toufen, berjarak 11 kilometer dari Sanwan, lantaran ayahnya bekerja di sana, dan teman s eb ayanya b ers ekol a h di Sekolah Dasar Sanwan.

yang jatuh ke air. Titik kedua adalah tempat para perempuan di desa mencuci pakaian. Namun papan rambu yang mereka pasang adalah bukan gambar dan tulisan peringatan, melainkan pujian bahwa tempat itu sangat bagus. Ya, mereka benar. Tempat pencucian itu beratap rangka kayu dengan bagian tembok bawahnya menyentuh air.

keasyikan bocah-bocah setempat beraktivitas.

Kami menuju satu persimpangan tiga, tempat mereka memasang satu rambu. Peringatan di bawah cermin cembung belokan jalan itu bergambar truk beserta seruan agar “truk berhati-hati pada kami (anakanak)”. Berbagai alat berat lalu lalang di Neiwan sekitar tiga tahun terakhir.2Truk-truk mengangkut pasir dan kerikil dari sungai yang mengalir di Neiwan untuk bahan baku pembangunan jalan jalur cepat roda empat. Namun selama SCC menggelar lokakarya bersama anak-anak, kata L aurent, para supir tr uk terpaksa mengalihkan jalur mereka lantaran melihat

untuk tidak membahayakan kunang-kunang, sedang lainnya, memperingatkan kunang-kunang menjauh dari alat-alat berat tersebut. Namun pelang yang ini tampak lebih seperti kunang-kunang mengepung truk ini.

Kehadiran alat-alat berat itu bukan cuma membahayakan anak-anak. Kunang-kunang pun pergi. Karena itu, mereka memasang pelang protes di samping kuil desa, kawasan di desa yang menjadi parkiran alat berat. Para bocah memasang dua pelang: yang satu memperingatkan supir truk

Kami lalu berkeliling. Kai memandu kami. Ia menunjukkan sejumlah karyanya dan teman-teman sebayanya berupa lukisan dan gambar berwarna di matra bulat seukuran dengan rambu lalu lintas. Mereka memasangnya di banyak tempat. Pada bagian depan desa (dengan berpatokan dari jalan raya), beberapa kursi diletakkan di bawah rindang pohon. Agaknya jadi tempat para orang sepuh dan dewasa beristirahat usai bekerja di sawah dan ladang. Anakanak itu menempelkan rambu peringatan yang bergambar semut dan sarangnya bahwa orang-orang yang mau duduk mesti waspada gigitan serangga itu.  Beberapa meter dari situ, mereka memasang dua rambu di sepanjang saluran pengairan pertanian utama yang membelah desa. Titik pertama adalah titik terdalam saluran. Mereka menggambarkan orang 1 https//www.taiwannews.com.tw/en/news/3312276

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

2 https://eyesonplace.net/2018/09/21/8823/

Sampai di tempat ini, usai bercakap dengan Jili dan Shen, Kai tertunduk dan menggerutu. Rupanya, “Dia (Kia) merasa bingung mau mengantar kamu ke mana lagi,” kata Laurent, ter tawa, mener jemahkan keluhan Kai. Kami semua tertawa. Saya segera merasa disambut begitu hangat. Kami lanjutkan perjalanan. B eberapa peringatan lagi kami dapati di b eb erapa 17/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


titik, antara lain di sekitar instalasi pembangkit listrik me mp e r i ng at k an b a hay a kebakaran/api, pengingat agar waspada akan jatuhan bata dari dinding pagar satu rumah tua, juga permintaan berhatihati bila mengunjungi dan menjaga rumah tua (lainnya) yang berumur sejuta tahun.Â

dengan alam sekitar, tempat tu mbu h me rek a , de ng an memperingatkan kunangkunang untuk menjauh dari alat berat. Dengan polos pula mereka menyatakan pendapat dan konsep mereka tentang artefak dan warisan kebudayaan. MODEL kerja seperti ini sedang menjadi konsentrasi SCC, kelompok yang digawangi tiga orang: Laurent, Shen, dan Jili. Mereka menggunakan seni sebagai metode pendekatan mereka untuk melihat dan mengupas fenomena yang mereka temui dan alami sendiri di wilayah Sanwan.Â

Pada jendela salah satu rumah kosong dan beratap genteng yang bocor serta ditumbuhi tanaman rambat itu terpasang gambar berwarna k has gamb ar ana k-ana k. Gambar beberapa boneka dan aksara Mandarin yang bertuliskan kira-kira berbunyi, b e rd a s ar k an te r j e m a h an Laurent, panggilan akrab Lin Chen-wei, bahwa rumah tersebut sebaiknya jadi toko mainan saja (daripada tak terpakai).

Penduduk Neiwan kini didominasi orang tua dan anak-anak. Para anak muda pergi ke kota. Dalam sesorean saya berjalan berkeliling desa, saya hanya dapati satu orang anak muda. Itu pun bukan orang asli setempat, yang juga menjadi salah seorang yang ikut membantu SCC ketika menggelar lokakarya bersama anak-anak dan orang tua

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

bisa merasakan solidaritas dan komunikasi yang mereka jalin ke orang-orang dewasa dan sesama mereka. Anak-anak itu menanggapi perubahan yang terjadi di desa mereka, fenomena yang muncul tiga tahun terakhir ditandai kehadiran alat-alat berat. Mereka pun berdialog

Saya sempat ikut membantu membersihkan halaman belakang rumah itu. Lokasinya ternyata tepat di bibir tebing bukit, tempat saya bisa menyaksikan lembah yang menghamparkan tanaman pertanian dan perkebunan, gema kicau burung, dan kelok sebatang Sungai Chung Kang yang membelah Sanwan. Wajar kalau Sanwan sering didatangi pelancong yang menikmati pemandangan lembah Sanwan atau ziarah ke Kuil Dewa Padi dan Gandum yang dibangun pada 1851 silam. Namun karena halaman itu masih gundul, Laurent

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

Banyak hal menarik yang saya peroleh dari perjalanan berkeliling permukiman ini. Dari gambar-gambar itu saya

Direktur SCC. Di Sanwan, mema kai r uma h kerab at yang melomp ong ad a l a h hal yang biasa. Begitu pula dengan rumah berlantai tiga itu. Dari pada kosong, rumah itu sedang diubah fungsinya menjadi perpustakaan, bioskop komunitas, dan, tentu saja, sekaligus sebagai kantor SCC. Tugas mengubah tempat itu jatuh ke pundak Shen.Â

yang kemudian menghasilkan gambar-gambar yang kami datangi. SCC sedang membangun markas di rumah kerabat Jili yang kosong. Rumah itu terletak di seberang jalan kediaman Jili, perempuan semampai yang bertanggung jawab sebagai

meminta saran, tanaman apa yang cocok ditumbuhkan di halaman itu. Saya bilang, bambu dan sirsak—dua tanaman yang juga tumbuh subur di halaman belakang Kampung Buku. Saya katakan itu sebab halaman SCC berada di ketinggian. Bambu adalah tanaman penahan tanah


dan penyimpan air yang baik, sedang sirsak demi panen buah dan kepraktisan: tinggal lempar biji (dan banyak dijajakan di pasar-pasar malam Taipei). Ditambah lagi, berdasarkan amatan saya, tanaman pertanian yang dikembangkan petani Sanwan tak berbeda dengan yang dibudidayakan petani sekitar Makassar (terutama di Malino, Gowa), mulai dari kol, seledri, tomat, dan sayuran lain yang bisa tumbuh subur di udara sejuk. “Nantilah saya kirim fotonya,” kata saya.

37 tahun yang pindah bersama keluarganya sejak usia tujuh tahun ke Taiwan. Ling Ling menjual makanan Indonesia di Kota Toufen, Taiwan, kota terdekat dari Sanwan. Di toko ini, mereka sedang menunggu masakan Indonesia yang mereka pesan. Ketiga pekerja perempuan itu b eras al dar i Cilacap,

orang Taiwan sekisar tiga atau empat tahun belakangan. Tentu, sambung Laurent, awalnya orang Taiwan heran melihat kebiasaan itu karena terbiasa berdiri saja atau duduk bukan di lantai. “Tapi pelan-pelan orang Taiwan mungkin berpikir, mengapa tidak duduk saja sama-sama.” Kumpulan yang saya temui

D a l am c at at an re s m i Pemerintah Indonesia, sekisar 250 r ibu orang. 3 Mereka bekerja di industri sampai rumah tangga. Selama 10 hari di Taiwan, saya banyak melihat para p eker ja ini menjaga orang tua dan difabel. Menurut Laurent, fenomena ini sebenarnya kebijakan pemerintah Taiwan yang ramah terhadap orang tua. Namun, sayangnya kebijakan itu bukan tanpa celah. Justru yang menjaga orang-orang sepuh ini sering luput dari perhatian. Waktu-waktu pribadi mereka tersita lantaran harus menjaga nyaris 24 jam sehari. Bisa jadi Laurent benar. Kami bersua dengan tiga perempuan pekerja migran Indonesia yang sedang menikmati waktu senggang di Toko Indo A-Jun, toko milik Ling Ling, perempuan Tionghoa dari Kalimantan Barat, berusia

3 https://finance.detik.com/berita-ekonomibisnis/d-3992995/mau-tahu-kerja-di-taiwan-dapatgaji-berapa-cek-di-sini, diakses pada 9 Desember 2018

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

Dari obrolan kami semalaman, baik di meja rumah makan setempat sampai di sebuah rumah orang Hakka di perbukitan sebelah Sanwan, rupanya SCC sedang merancang serangkaian inisiatif untuk merespons fenomena di sekitar mereka. Salah satunya berkaitan dengan pekerja migran dari Indonesia. Kendal, dan Yogyakarta. Ketiga perempuan itu makan dan pulang terburu-buru. Mereka mengambil jeda sejenak dari menjaga anggota sepuh keluarga yang mempekerjakan mereka. Hari itu adalah hari Minggu dan rehat mereka memang sebentar karena terburu-buru pulang untuk kembali menjaga.  Hal yang sama juga temui pada pagi menjelang siang Minggu itu. Laurent mengajak saya ke Taipei Main Station. Benar saja, para pekerja migran ini berkumpul di stasiun utama ini dengan duduk bersila membentuk lingkaran. Cukup mudah mengenali mereka, salah satunya, melalui pakaian mereka. Nyaris bisa dipastikan kalau mereka perempuan, biasanya mengenakan jilbab. Mereka berkumpul, membentuk lingkaran, dan duduk bersila. Laurent mengatakan, kebiasaan itu juga kemudian ditiru oleh

hari itu adalah sekelompok pekerja di bawah tiga puluh tahun. Mereka sibuk mematut mata mereka ke berlembar kisi-kisi ujian Bahasa Inggris. Salah seorangnya bernama Heru mengaku kalau mereka adalah mahasiswa Universitas Terbuka. Menjadi mahasiswa UT adalah jalan yang ditempuh demi mengisi waktu seraya menunggu kontrak ker ja berikutnya. Her u adalah tenaga kerja yang berangkat gratis tanpa membayar dalam seleksi BP2TKI. Keadaan ini b erkeb a li kan dengan kebanyakan TKI yang harus membayar 50-60 juta rupiah. Dari obrolan saya dengan Nur dan Lina, dua perempuan yang saya temui di Toko Indo A-Jun, mereka belajar bahasa Mandarin sekaligus diberangkatkan oleh perusahaan yang mereka sebut sebagai “PT”. Mereka hanya 19/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


akan menerima setengah dari gaji yang berkisar 17 ribu Dollar Taiwan selama enam bulan (untuk pekerja industri) sampai sembilan bulan (pekerja rumah tangga) pertama masa kerja mereka.

Pada hari Minggu, ketika mereka bersua dengan sesama pekerja migran di Taipei Main Station, mereka membawa serta orang yang mereka jaga. Mereka menuntun kursi roda para orang sepuh dan difabel. Bahkan ada yang memakaikan jilbab pada orang sepuh yang mereka jaga agar tidak kedinginan. JILI sendiri punya pengalaman terkait pekerja migran Indonesia. Penjaga mendiang neneknya adalah orang Indonesia. Ia mengakui, ikatan antara pekerja dan nenek serta keluarga yang mempekerjakan bukan lagi sekadar hubungan tuan-pekerja, tetapi terjalin pula ikatan emosional. Jili menyaksikan sendiri bagaimana sang pekerja begitu sedih ketika neneknya meninggal. Kini si pekerja mencari naf kah di usaha pamannya berkat bantuan keluarga Jili. 

20/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

Siti Inayati, yang minta dipanggil ‘Atik’ saja, baru empat bulan dan belum tahu bahasa setempat. Mbak Atik bekerja menjaga seorang tua di rumah kerabat Jili yang bersampingan Kantor SCC. Kami berbincang sebentar ketika kami membersihkan halaman belakang SCC. Sedang Pak Shen Hao Hui, seorang pensiunan guru SMP di Sanwan, tinggal di sana sejak 1965. Pada masa pemerintahan Soekarno, ia pelajar SMP yang menerima beasiswa dan belajar ke Taiwan. Perubahan politik kemudian menahan nasibnya tak bisa kembali ke Indonesia pada masa itu. Kini masa purna baktinya diisi dengan membantu istri dan keluarganya mengelola usaha mi daging sapi di Sanwan. Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

Penjelasan Jili itu membuyarkan perkiraan awal saya bahwa konsentrasi orang migran Indonesia hanya di Kota Taipei. Saya bertemu dengan dua orang Indonesia di Sanwan, seratusan kilometer di selatan Taipei, yang sejauh ini,

mereka adalah yang terbaru dan terlama. Yang terbaru tinggal di Taiwan adalah Siti Inayati, perempuan 38 tahun dari Lampung; dan terlama Shen Hao Hui, lelaki sepuh berusia tujuh puluhan tahun, berasal dari Tanjung Karang, Lampung.

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman

Dokumentasi Anwar 'Jimpe' Rachman


Nuansa pekerjaan rumah itu menampak juga di beberapa buku yang saya dapati di perpustakaan Kota Sanwan, s e p e r t i O rang Ind onesi a Belajar Bahasa Taiwanyang menekankan pengenalan kosa katanya pada jenis penyakit, yang bisa kita duga sebagai bekal dasar untuk bekerja di lingkup rumah tangga. Pengalaman Jili dan waktu pendek bagi pekerja migran itu kemudian mendorong SCC merancang kegiatan yang rencananya segera berlangsung di Sanwan dan sekitarnya secara rutin bernama “Hari Cinta Kakak”. Mereka berpikir, dengan berkumpul sebagaimana lazimnya kebiasaan mereka

kala di Indonesia—seperti menyantap hidangan dan menyesap minuman sambil menggelar arisan di halaman belakang SCC; nonton layar tancap di alun-alun depan Kuil, atau membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan SCC kelak—bisa mengobati suntuk dan lelahnya para pekerja migran. Mereka butuh pula menjadi diri sendiri selama rentang waktu jeda itu. SUAT U p a g i , s e t e l a h sepekan sepulang saya dari Taiwan, saya tunaikan janji mengirimi Laurent empat foto tanaman yang tumbuh di halaman belakang Kampung Buku: sirsak, nenas, jeruk nipis, dan bambu. Halaman

belakang Kampung Buku juga menghadap ke Sungai Sinrejala. R u p a ny a S C C s u d a h menemukan bibit sirsak. “Shen dapat dari internet. Ada orang yang jual,” kata Laurent, tertawa, seraya menambahkan sebenarnya gampang dapatkan bibitnya di kampung Shen di bagian tengah Taiwan.  Kami saling mengirim tawa. Rasa senang merebak bahwa rencana mereka akan pelan-pelan terwujud. Mungkin juga karena kami sama-sama yakin: banyak yang bisa tumbuh dari halaman rumah, termasuk kemanusiaan.[]

Link youtube video Satu Dekade Kampung Buku: https://goo.gl/j5yBqf Atau kunjungi saluran video Tanahindie.Inc

SUBSCRIBE Saluran video Tanahinndie Inc. Cek lebih lengkap di www.tanahindie.org

21/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


22/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


MA' BINTA' Sri Ramadani Azis

L

ompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 90-an. Saat hari libur, biasanya anakanak memainkannya di halaman rumah atau saat “keluar main” di sekolah. Permainan ini dimainkan secara bersama-sama, memerlukan 3 hingga 10 pemain. Peralatan yang digunakan dalam permainan lompat tali juga terbilang sederhana, hanya memerlukan karet gelang yang dijalin atau dirangkai hingga panjangnya mencapai ukuran yang dibutuhkan, biasanya sekitar tiga hingga empat meter. Permainan ini banyak ditemui di setiap daerah di Indonesia, dengan nama atau istilah yang berbeda. Ada yang menyebutnya dengan istilah Yeye, Tali Merdeka (Riau), dan di Sulawesi Selatan dikenal dengan istilah Ma’ Binta’. Ketertarikan saya dengan permainan lompat tali (Ma’ Binta’) sejak masa sekolah dasar menjadi salah satu alasan saya mengangkat permainan tradisional ini dalam bentuk tarian, yang berjudul TARI MA’ BINTA’. Gerakan Tari Ma’ Binta’ tidak berbeda jauh dengan gerak asli permainan lompat tali itu sendiri, yang pada dasarnya menggunakan gerakan melompat yang dimodifikasi dalam bentuk tarian Karya Tari Ma’ Binta’ merupakan tugas final dari mata kuliah Tari Pendidikan bagi mahasiswa semester lima Pendidikan Sendratasik (mayor tari) Universitas Negeri Makassar. Dalam prosesnya, penggarapan tarian ini cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran dengan melatih anak-anak SD sebagai penarinya selama 1 bulan Pemilihan penarinya pun melalui proses penelitian. Belum lagi, konsultasi yang dilakukan berulang kali dengan dosen bersangkutan. Mulai dari konsultasi motif gerak, rangkaian gerak, kostum, properti, dan musik tari. Tarian ini telah dipentaskan tanggal 16 Desember 2018 di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.


OPTIMISME SENI RUPA DI MAKASSAR

Dokumentasi Rafsanjani

Rafsanjani ghjkjhkhj

P

ameran karya Celebes ArtLink menyodorkan tema sentral “Makassar Sebagai Medan Seni Rupa dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia Timur” dalam sesi Art Talk dengan menampilkan puluhan lukisan para seniman dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua. Art Talk menjadi salah satu visi Celebes ArtLink dengan menyelipkan diskusi dalam merespons ruang hotel bukan hanya sebagai ruang untuk berdiskusi, tetapi juga tentang bagaimana karya para seniman berkomunikasi dengan ruangnya dalam membangun atmosfir baru. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta yang kebanyakan mahasiswa ini, berlangsung atas kerja sama Harper Perintis Makassar - Gurat Institute - Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar di Hotel Harper Perintis, Sabtu 24 November 2018. Dengan menghadirkan

Kepala Galeri Nasional Indonesia Drs. Pustanto, kurator dan akademisi Wayan Seriyoga Parta, dan Anwar ‘Jimpe’ Rachman Direktur Makassar Biennale sebagai pembicara. Posisi Makassar yang strategis sebagai hub Indonesia bagian tengah-timur; bagi jalur transportasi laut dan udara sekaligus sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, hotel-hotel terus bertumbuh memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat transit menjadi salah satu alasan Celebes ArtLink diselenggarakan di kota ini. Celebes ArtLink merupakan sebuah proyek apresiasi kawasan sebagai upaya untuk membagun model destinasi dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di wilayah Indonesia TengahTimur melalui seni rupa dengan model mini festival, demikian kata Wayan Seriyoga Parta, inisiator kegiatan ini.


Selain itu, kata Wayan Seriyoga, Celebes ArtLink dapat dilihat sebagai pendulum masa depan Makassar sebagai medan seni rupa Indonesia Timur. Dengan kata lain, “kami hanya mencoba menempatkan atau merespons hotel, bagaimana ruang hotel dikomunikasikan dengan karya yang kedepannya dapat melahirkan sebuah market. Ada aktivitas jual beli di dalamnya,” cetusnya. “Harper sendiri sebagai sponsor utama kegiatan ini merupakan sebuah perusahaan swasta yang memiliki jaringan luas, tidak hanya sesama perusahaan swasta lainnya, tetapi juga sangat berkaitan dengan pemerintah daerah sehingga dapat dilihat sebagai p e lu ang y ang lu ar bi a s a untuk bisa didorong dan dikembangkan dalam pemajuan kebudayaan,” sambung Wayan Seriyoga yang juga sebagai dosen di Universitas Negeri Gorontalo. Seturut dengan hal tersebut, P u s t ant o, Ke p a l a G a l e r i Nasional Indonesia, dalam kesempatannya mengatakan bahwa ide dari Celebes ArtLink ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, di mana dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan kita punya setidaknya empat hal dalam mewujudkannya yaitu: perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Pustanto kemudian menceritakan model serupa yang dilakukan di Jakarta sebagai mediator dalam mewujudkan proses-proses kebudayaan. Beliau mengungkapkan, selain kewajiban Galeri Nasional dalam menyediakan tempat terjadinya apresiasi, bertemunya kreator dengan apresiator, juga memiliki beragam koleksi yang dapat dijadikan sebagai bahan riset dari beragam sisi atau

disiplin ilmu. “Mediator dalam hal ini termasuk panitia, kurator, dan akademisi. Sedangkan apresiator yaitu masyarakat umum terutama mahasiswa yang datang dengan mengapresiasi kar ya para seniman (kreator). Misalnya mempertanyakan soal konsep, tema, dan banyak hal yang dapat digali dari setiap karya, meskipun multitafsir pasti akan terjadi,” jelas Pustanto. Di sisi lain, Pustanto menegaskan bahwa tugas kita mesti saling merangkul dalam mengerjakan suatu kegiatan bersama. Banyaknya rincian dalam pembagian-pembagian profesi di era sekarang harus kita terima dan wujudkan bersama untuk membangun Indonesia yang makmur, sejahtera, lahir dan batin. Peran Manajemen Peran manajemen menjadi hal penting dan sangat krusial dalam berbagai aktivitas, termasuk aktivitas kebudayaan, khususnya seni rupa, pola manajemen sehari-hari mesti kita perhatikan. Sebagai contoh, kata Pustanto, banyak pelukispelukis yang dengan asyik melukis di dalam ruangan dengan media cat minyak, yang akhirnya merusak paruparunya. Makanya, kesadarankesadaran semacam itu perlu dibangun dengan manajemen. “Kita telah kehilangan manajemen dari hal-hal kecil, kita kehilangan suri teladan, hal semacam ini harusnya diajarkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,” lanjutnya. Di kesempatan lain, Yoga menanggapi persoalan tentang manajemen dengan melihat Kota Makassar sebagai kota besar dengan pertumbuhan

yang begitu pesat sehingga me me rlu kan manaj e me n sebagai hal yang esensial. “Sebenarnya bukan hanya Makassar yang mengalami persoalan manajemen, tetapi di berbagai tempat seperti Gorontalo dan Bali,” ungkapnya. Penjelasan yang sama m e ny ang kut m an aj e m e n juga dikatakan Anwar ‘Jimpe’ Rachman, Direktur Makassar Biennale. Ia mengatakan bahwa manajemen menjadi hal yang sangat penting. Sesuatu yang kerap kali ia tegaskan dalam berbagai aktivitas, terutama dalam lingkungan komunitas serta hubungannya dengan aktivitas-aktivitas artistik para seniman. Lebih jauh, manajeman dalam menyajikan dan merawat sebuah karya, bukan hanya sekadar karya (fisik). “Hal yang penting terjadi dalam satu pameran adalah pra, pameran, dan pasca. Pra berarti pertemuan dan konsolidasi s e d ang kan p as c a b erar t i obrolan yang berkembang setelah pameran,” sambungnya. Menurut Anwar ‘Jimpe’ Rachman, tantangan besar yang dihadapi di Makassar adalah soal kolaborasi atau saling merangkul seperti yang dikatakan Pak Pustanto sebelumnya. Jadi, lebih ke bagaimana mengakumulasi modal-modal yang sebelumnya sudah tersedia. “Kalau kolaborasi atau s a l i ng m e r ang ku l s u d a h dibiasakan di Makassar maka akan terlihat menarik karena secara teknis teman-teman seniman di Makassar maupun mahasiswa sudah beres. Saya angkat topi,” imbuhnya. Dengan kata kunci ‘saling merangkul’, Faisal Syarif, seniman asal Makassar kemudian angkat suara. Ia menanggapi bahwa kami sudah


saling merangkul. Diskusi intens bersama teman-teman seniman sering kali dilakukan. Gagasan dari teman-teman itu yang menarik adalah kita tidak perlu lagi melihat keluar, justru kita mulai membangun di rumah kita sendiri. “Sekarang waktunya untuk membulatkan tekad bersamas ama untu k memb angun seni rupa di Makassar dan saya semakin yakin bahwa seni rupa di Makassar akan semakin berkembang, apalagi era sekarang sebagai era kebaruan menjadi sebuah momentum. Kita hanya perlu berkontemplasi kembali untuk melakukan pembacaan ulang dalam membangun Makassar sebagai medan seni rupa Indonesia Timur, jelas Faisal Syarif. Menurut Yoga, saat ini setidaknya ada dua kanon besar dalam melihat masa d e p an Ma k ass ar s eb ag ai medan seni rupa Indonesia Timur. “Makassar Biennale yang sudah extend dua kali dengan formatnya tersendiri sudah luar biasa, terlepas dari apapun yang terjadi dalam prosesnya. Gerakan seni rupa yang dengan cepat bergerak menjadikan saya semakin optimis sehingga saya cukup nekad menghadirkan Celebes ArtLink dengan gagasan yang lebih sederhana.” Berkenan dengan Biennale, Anwar ‘Jimpe’ Rachman selaku

Direktur Makassar Biennale menyampaikan informasi terkait rencana Makassar Biennale 2019. Ia menegaskan bahwa Makassar Biennale 2019 temanya tetap ‘Maritim’, hanya dengan sub judul yang berganti. Ada tiga hal yang akan dibahas: pertama, tentang Migrasi (perpindahan orang dalam dunia maritim), kedua, tentang Sungai sebagai salah satu wadah dalam dunia maritim, dan ketiga, tentang Kuliner. “Tiga sub tema ini akan d i o bro l k a n d i Ma k a s s a r Biennale tahun depan, yang rencananya akan berlangsung selama 3 bulan (AgustusOktober) di banyak tempat. Lokasinya untuk sementara yaitu Makassar, Pare-Pare, Sulawesi Barat, dan saat ini sedang menjajaki Kabupaten Bantaeng,” ungkap ‘Jimpe’, demikian sapaan akrabnya. Dalam kesempatan sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan tentang karya seni rupa yang baik itu seperti apa? Pustanto kemudian menanggapi pertanyaan ini, dengan menjelaskan bahwa tidak ada secara khusus teori yang menyebutkan kar ya yang bagus dari segi bentuk, komposisi, dan sebagainya itu seperti ini, misalnya. Namun, ketika panca indera dan hati dapat menikmati sebuah karya berarti kreator atau senimannya telah berhasil. Jadi, kuncinya adalah

membangun komunikasi. Karya dikomunikasikan dan dipublikasikan melalui tulisan, foto, video, dan bentuk lainnya. Tanggapan serupa juga d i s a m p a i k a n ‘ Ji m p e’. Ia mengatakan bahwa kar ya yang baik adalah karya yang membuat orang terhubung. D a l a m a r t i a n , ap a y a n g dibicarakan dalam kar ya tersebut dan bagaimana orang terlibat di dalam karya itu. ‘Jimpe’ melanjutkan dengan menceritakan pengalamannya sebagai kurator di Jakarta Biennale 2015, dengan mengutip catatan kuratorialnya. “Ada masa ketika saya semester tiga atau empat dan tiba-tiba ke pameran kemudian bertanya kepada diri saya sendiri bahwa bagaimana orang yang seperti saya yang menyukai seni tetapi tidak tahu secara teknis, bisa terlibat di dalamnya. Saat itu tidak ada penjelasan sama sekali. Dua puluh tahun baru terjawab di Jakarta Biennale 2015.” “Dalam skala kecil, Jakarta Biennale kemudian mengonfirmasi apa yang saya lakukan di Kampung Buku bersama teman-teman bahwa literasi tidak melulu tentang membaca dan menulis, literasi adalah juga tentang bentuk, tentang seni rupa, tentang jaringan, tentang apapun, dan sebagainya, jelasnya.”


“ARISAN: South East Asia Art Collective Forum”

Tanahindie diwakili @aziziahprilya menjadi peserta residensi ARISAN.

27/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


PUISI Rahmi Chaerhjkjhkhj

YANG TAK KEMBALI SETELAH PENANTIAN Ilustrasi Muhammad Iqbal Burhan

Atas nama kemarahan yang bersandar di bahuku

Kemarahan adalah keinginanku selamanya

Dan mata yang urung terbuka

Sejak mengajakmu tersesat bersama

Sebab terpejam melonggarkan dada yang sesak, dan membuat kita saling mencari banyak hal diruangan yang sempit oleh kenangan

Yang sebenarnya itu adalah kamuflase searah dan kupikir itu lebih baik daripada bermimpi waktu menghisap kebaikan yang tersisa di diriku

Bungkam adalah cara berbicara yang takut memecah air mata

melepaskan satu persatu huruf yang menempeli buah dadaku tentang menyusui kekosongan

Sebab sekali berlinang, maka berjatuhanlah ingatan tentang wajahmu

manusia memang gemar berani menanam tubuhnya diikatan kata-kata

Disanalah kata-kata lebih cerewet dari biasanya

dengan begitu mereka bisa memastikan kerelaan sepenuhnya tinggal setelah kepergian

Mengeluhkan banyak hal, termasuk kepengecutan

28/ Yard - Edisi 05, Mei 2018

juga kutukan pertemuan antara keberanian untuk menanti atau sekalian mati


Dokumentasi Tanahindie

MEMBINCANGKAN EKONOMI KREATIF MAKASSAR Fauzan Al Ayyuby

etika Unesco membuka jaringan kota kreatif dengan tujuan meningkatkan kerja sama antar kota-kota kreatif, dan di antara kota-kota yang mengidentifikasi kreativitas sebagai strategi pembangunan kota yang berkelanjutan pada tahun 2004, sudah ada 180 kota yang bergabung. Kota-kota yang berjejaring ini, membentuk kerja sama dengan tujuan menempatkan kreativitas dan industri budaya pada tingkat pembangunan lokal, dan bekerja sama sebagai jaringan internasional.1

K

Di Indonesia, sudah ada dua kota yang bergabung dengan Unesco Creative Cities Network (UCCN): Pekalongan dan Bandung. Peka longan b ergabung dengan UC CN sebagai Creative City Of Craft and Folk Arts pada tahun 2014 dan Bandung sebagai Creative City 1 https://en.unesco.org/creative-cities/content/about-us, diakses pada 11 Agustus 2018, pukul 20.14 Wita

of Design pada 2015. Untuk mengakomodir branding kota kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf ) membuat sebuah platform jejaring kota kreatif di Indonesia bernama Indonesia Creative City Network (ICCN) pada 21 Desember 2015 di Jakarta. Fiki C Satari, ketua ICCN, mengatakan bahwa untuk menjadi bagian dari UCCN, bukan soal menjadikan kotanya sebagai kota dunia. Tetapi tujuan akhirnya adalah menyelesaikan permasalahan dari warga kotanya itu sendiri. ICCN memiliki program melakukan pembangunan kabupaten. Di mana, bukan ICCN yang menciptakan itu, tapi teman-teman di kota dan kabupaten itu sendiri. Dari keterangan Fiki, pembangunan ini menyinergikan antara akademisi, pemerintah, pengusaha, dan komunitas. Dengan sinergi ini diharapkan identitas lokal, tradisi-budaya, diterjemahkan dengan konteks kekinian. Hal ini


bermakna mendorong kearifan lokal dengan budaya-tradisi ini menjadi arah pembangunan kotanya. Selain Pekalongan dan Bandung, Fiki mengatakan bahwa pada tahun 2019, Ambon akan mengajukan diri sebagai kota musik. Namun bagaimana dengan Makassar? Ekonomi Kreatif di Makassar

Dinas Par iwis at a dan E k o n o m i K r e at i f d a l a m rencana dan strateginya (20142019), telah menetapkan 45 pro g r a m p e n g e mb a n g a n ekonomi kreatif, 2 termasuk pengusulan kota kreatif ke Unesco. Sebelum mengajukan ini, dinas terkait mengadakan beberapa kali seminar sampai Focus Group Discussion. Selain itu, menetapkan sepuluh ikon kuliner Kota Makassar, Workshop meningkatkan SDM UKM, Makassar menuju jejaring kota kreatif Unesco, yang paling baru FGD “Kontribusi Jejaring Kreatif Indonesia Terhadap Pengamb angan E konomi Kreatif Nasional”. Rusmayani Madjid menekankan untuk mewujudkan Makassar sebagai wisata gastronomi.3 Ia menekankan aspek infrastruktur dan kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkan itu. Pihak yang diajak bekerjasama itu, dikumpulkan dalam satu FGD yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar, 8 Agustus 2018. Dalam kesempatan itu, Anw ar Ji mp e R a ch man memaparkan hasil penelitian Tanahindie-British Council pada 2015 lalu. Menurut hasil penelitian itu, kondisi ekonomi

2 http://www.tourism-makassar.id/dokumenrenstra-dinas-pariwisata-dan-ekonomi-kreatif-kotamakassar-2014-2019.html 3 Sal, https://vechannel.com/berita/2515/makassarmenuju-kota-gastronomi/, diakses pada 18 Agustus 2018, pukul 00.50 Wita.

kreatif Kota Makassar sangat dipengaruhi oleh komunitaskomunitas yang bermunculan pasca reformasi 1998. Fenomena ini dibagi pada dua waktu: sebelum 2010 dan pasca 2010. Dua waktu ini, menurut Jimpe, didasari pada satu hal: Twitter, yang pada  booming  pada masa 2009-2010. Di era ini, dinamika dalam negeri, dalam hal ini Reformasi 1998, dan perkembangan teknologi dan informasi, menjadi hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi kreatif. Kemudian, menurut hasil penelitian itu, momentum Reformasi 1998 kemudian membuka alam sadar kalangan muda pada akses yang selama ini dimoderasi oleh sekian titik kota: Jakarta, Bandung, dan Jawa pada umumnya. Dari pengaruh sosial media, yang ditandai dengan boomingny a   t w i t t e r   p a d a m e d i a 2009-2010, pertemuan via  off line  dipertemukan gagasan melalui pertemuan via online. Dari riset Tanahindie dan British Council, Makassar Berkebun menjadi salah satu contoh yang mencuatkan pola tersebut. Mencuatnya komunitas ke permukaan dimanfaatkan sebagai strategi oleh beberapa pelaku usaha untuk menjalin perkawanan, agar usahanya dapat menjangkau orang banyak, karena dibicarakan di sosial media. Strategi ini kemudian menjadi bentuk promosi ekonomi kreatif paling mutakhir pada masa itu, dengan menggandeng komunitas untuk membicarakan produk ekonomi kreatif di sosial media. Penelitian itu juga mengambil sampel Sushibizkid, yang dikembangkan oleh Ashari Ramadhan. Fakta lain yang ditemukan Tanahindie dan British Council adalah pertumbuhan komunitas

yang terpicu oleh tersedianya beberapa literatur tentang kota tempat mereka bertumbuh, setelah Reformasi 1998 yang ditandai dengan pesatnya dunia literatur di Makassar. Dimulai dengan Komunitas Ininnawa (1999-2000), yang kemudian m e n g i n i s i a s i b e rd i r i ny a Biblioholic tiga tahun setelahnya, hingga munculnya beberapa perpustakaan menjelang akhir dasawarsa 2000: Kampung Buku (2008), Rumah Baca Philosopia (2009), Kedai Buku Jenny (2011), dan Kata Kerja (2014). Dari sekadar nongkrong, menjadi sentrum penggondokan gagasan, dinamika anak muda c u kup d ip e ng ar u h i ol e h dunia literatur. Pada tahun 2004, Komunitas Ininnawa membangun lini publikasinya lewat Penerbit Ininnawa. Penerbit yang mengkhususkan kerja publikasinya dengan membedah, menerjemahkan, meneliti, dan menerbitkan seputar sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat ini. Hasil p enelitian itu melahirkan beberapa rekomendasi, Di antaranya: bangun daya hidup dan daya tahan, membantu promosi, turunkan pajak, permudah izin, dan jamin jaga suplai (terutama hubungan antara desa dan kota). Daya tahan dan daya hidup di bidang ekonomi kreatif ini, sayangnya, hanya dilihat oleh Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi hanya sebagai objek. Ini menyebabkan satu kegiatan dipandang sebagai “p ang g ung” s e mat a ol eh pihak kedua. Pada kegiatan komunitas-komunitas, s ep er t i Pest a Komunit as 2014, keduanya mengambil kesempatan memberi kata sambutan.


Kepentingan dunia politik atas kelompok anak-anak muda Makassar, hanya membuat mereka dipandang sebagai massa yang mengambang. Hal ini, dari penelitian itu, menyeb abk an ter j a d i ny a pendekatan politis terhadap komunitas. Sementara pada ranah kebijakan ekonomi kreatif, penelitian itu menemukan belum digodoknya kebijakan ekonomi kreatif. Rekomendasi yang ditawarkan penelitian ini juga berasal dari beberapa keluhan teman-teman pekerja kreatif. Pemerintah seringkali absen dalam mempromosikan kegiatan-kegiatan mereka. Rekomendasi dari penelitian Ta n a h i n d i e d a n B r i t i s h Council yang disampaikan Ji m p e , d i t a n g g a p i o l e h Sunarti Sain, seorang jurnalis, yang mengat a kan b a hwa rekomendasi oleh Jimpe pada pemerintah, juga menjadi kegelisahan pelaku-pelaku ekonomi kreatif. Menurutnya, di Makassar orang-orangnya sudah sangat kreatif. Apapun di sini bisa dilakukan. Film misalnya, yang mati suri bertahun-tahun, akhirnya bisa bangkit lagi. Dan itu dibangkitkan oleh anak-anak muda yang selama ini mungkin tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengatakan seperti itu karena pada saat tahun 2015, ketika industri film mulai naik kembali, pemerintah tidak peka. Tidak dilihat sebagai potensi yang sangat besar dan tidak dilihat sebagai potensi untuk menjadi industri yang besar di Makassar. Ia mengingat ketika Bombe’  diputar, ini adalah satu-satunya film yang didatangi dan disokong dana oleh pariwisata. Tapi setelah itu, tidak ada lagi film-film yang mendapat dukungan anggaran, kecuali PH (production house)

datang untuk meminta bantuan promosi. Lalu soal pajak, rekomendasi yang ditawarkan juga berawal dari diskusi dengan pekerja kreatif yang, event organizer misalnya, soal pajak, pada tahun 2013, saat pemilihan gubernur tibatiba pajak naik. Dari yang awalnya 10%, tiba-tiba naik menjadi 30%. Ini sepihak. Seperti tiba-tiba dijatuhi talak oleh pemerintah. Padahal pendapatan  eventorganizer berdasarkan penonton. S o a l p e r mu d a h i z i n , bekerja dengan semangat baru, rekomendasi ini berasal dari penemuan pada ranah non komunitas. Penelitian Ta n a h i n d i e d a n B r i t i s h Council menemukan bahwa aktivitas  offline  merupakan sarana utama ekonomi kreatif yang dilakukan oleh individu untuk menjalankan usahanya, seperti pelaku advertising, warung kopi, juga yang berbasis kerajinan. Ditemukan bahwa kurangnya modal dan pasar ketika, pengrajin misalnya, mengusahakan semuanya menjadi relasi ini dari sudut pandang pengrajin menjadi mutualisme. Penelitian itu menemukan hal serupa yang dilakukan para pelaku ekonomi kreatif yang muncul pasca 2010. Selain membeli ruang, optimalisasi aset seperti halaman rumah, sebagaimana yang dilakukan Penerbit Ininnawa (Jalan Abdullah Daeng Sirua) dan Kedai Pojok Adhyaksa (Jalan Adhyaksa). Dari penelitian ini ditemukan ciri generasi dan pegiat ekonomi kreatif berpengaruh pada model pergaulan. Anak muda Makassar ini mencari dan membuat tempat berkumpul mereka sendiri. Halaman rumah kemudian berfungsi sebagai ruang produksi, ranah

sosial, dan budaya; yang dari kecenderungan ini dibaca sebagai kecenderungan yang mudah ditemui pada generasi sebelum mereka—Generasi Reformasi 1998. Mengajukan gastronomi tanpa melihat kemungkinan lain, agaknya terlalu prematur. Padahal, kemungkinan lain yang diajukan bisa lebih berdasar ketimbang gastronomi. Literatur, misalnya. Menurut penelitian itu, komunitas kreatif yang membangun kota ini pertama adalah komunitas anak muda yang menandai dirinya pertama dengan perpustakaan. Selain itu, dari sejarah, sejak abad 14, Makassar punya tradisi yang dikenal dengan aksara  lontara’. Jimpe juga mengacu pada Cristian Pelras, yang mengatakan bahwa sejak abad 14, lontara’ sudah dipakai, bahkan ada di setiap rumah tangga. Bukan dalam kerajaan, tapi kerajaan punya kronik. Menurutnya,  lontara’  yang biasa kita lihat adalah catatancatatan yang ada dalam rumah tangga.  Lontara’, menurut Jimp e, b a h kan bis a j au h sebelum abad 14, karena sejarah Sulawesi Selatan hilang dari abad 9 sampai abad 14. Branding  ekonomi kreatif kota Makassar lewat ruang-ruang seperti FGD, workshop, dll, ditanggapi Yunus, dari Makassar Terkini, dengan mengapresiasi keinginan pemerintah untuk mengembangkan Makassar sebagai kota kreatif. Sayang, me nu r ut ny a k a d ang a d a kebijakan pemerintah yang justru cenderung menghancurkan usaha kreatif masayrakat. Ia memberi contoh, masifnya pembangunan pasar modern: alfamart, indomart, dan alfamidi. Menurutnya, pasar modern seperti itu tidak kreatif karena konsep dan barangnya sama. Lebih


lanjut, ia sepakat bahwa perlu dipikirkan bagaimana kebijakan pemerintah tidak tumpang tindih. Terakhir, rekomendasi untuk menjamin dan menjaga suplai. Dalam konteks Makassar ingin mengajukan diri sebagai kota gastronomi, misalnya, Jimpe menyarankan agar jangan sampai kita hanya memikirkan jika kota sebagai pasar, kita melupakan yang lain. Jika memang ingin mengangkat gastronomi, penting untuk juga menjaga suplai. Selain suplai, menjaga petani juga penting, termasuk menjaga regulasi untuk mereka. Ia memberi contoh tengkulak. Ia mempertanyakan keberadaan mereka yang seringkali

mereduksi keuntungan petani. Kemudian, katanya, kita yang di kota ini, kerap menjadi penghisap saudara kita sendiri di desa. Rekomendasi soal menjaga suplai, petani, dan regulasi ini, begitu ditekankan, dan harus dipikirkan matangmatang, jika memang ku l i n e r b e n ar- b e n ar d i branding sebagai ekonomi kreatif unggulan Kota Makassar. Menanggapi itu, Kwandie Salim Sinaga, ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia ( P H R I ) k o t a M a k a s s a r, mengatakan bahwa Sara’ba sudah dipakai di hotel. Tidak lagi memakai cake dari luar. Ia juga mengatakan bahwa pelaku UKM, pernah menandatangani kontrak bersama hotel, agar

Tersedia di Kampung Buku MADU HUTAN BULU' SARAUNG DIAMBIL DARI LEBAH APIS DORSATA

Madu ini diproduksi oleh lebah hutan Bulu' Saraung diambil dan dikemas oleh warga desa Tompo' Bulu' yang tergabung dalam kelompok Sekolah Rakyat Petani (SRP) Tompo' Bulu'

kue-kue tradisional dipakai sebagai menu makanan dan minumannya. Pemerintah pada akhirnya harus melihat kemungkinan yang lain. Kemung kinan yang lebih masuk akal dan berdasar, serta tidak terburuburu. Hasil riset Tanahindie dan British Council, justru m e m b u k a k e mu n g k i n a n untuk menjadikan Makassar sebagai kota kreatif yang m e m - b r a n d i n g l i t e r at u r sebagai aktivitas ekonomi kreatifnya. Literatur kemudian bisa menjadi lokomotif yang menggandeng gastronomi dan subsektor ekonomi kreatif lainnya.[]


Aktivitas 2018 Oktober - Desember

- @Kampungbuku Bersabtu malam di Kampung Buku sambil bakar-bakar ikan bersama anak Kreasi UMI - @kampungbuku Dari siang hingga malam tadi, Pak Douglas berada di Kampung Buku untuk berbincang-bincang soal perkembangan Makassar sebagai ibu kota provinsi, dan membahas gagasan-gagasan yang ada di Sulawesi Selatan 30 November 2018

27 Oktober 2018

- @komunitasquiqui Komunitas Quiqui mendaptakan rezeki yang tak terduga dari @ makerfest.id dan @tokopedia. Kami terpilih untuk mendapatkan bantuan berupa alat produksi, sebagai bagian dari progran CSR Makerfest, yang bertujuan untuk mendukung UMKM dan produk-produk lokal agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 19 oktober 2018

- @kampungbuku Pak Kess Buijs hadir lagi membahas buku keduanya “Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat” di Kampung Buku, malam ini. Terima kasih Kak wahyu Chandra menjadi moderator dan Kak Aslan Abidin ikut membahasnya.

- @Kampungbuku Obrolan di perpustakaan Kampung Buku membicarakan iklan dan produk— mulai awal abad ke-20 bersama Dias Pradadimara dan Maharani Budi

- @rafsanman

- @thejimpe

25 November 2018 - @thejimpe

Tugas dari badan bahasa sulsel tentang literasi dan teknologi tadi sore lebih banyak diisi oleh sesi curhat para ibu soal anak mereka. Sekalian titip buku #halaman rumah ke pengelola sekolah. semoga berguna! Lokasi: rumah impian, sekolah anak pemulung di perbatasan Makassar-Gowa. 9 November 2018 - @thejimpe

5 November 2018

29 September 2018

6 November 2018

Sisa bincang-bincang kemarin bersama Pustanto dan Mas Yoga, sekalian bocoran halus rencan Makassar Biennale 2019 cc @arsuka1 @makassarbiennale

- @komunitasquiqui Bersama teman-teman untuk ­persiapan ­pameran rajut bersama #KYF2018, 9-11 November di Mall Nipah lantai dasar.

Kumpul dan ngobrol sembarang sama @louibuana @ijecess @ulilahsan @achmad_nirwan @ar.daengrate dari makanan sagu sampai i lagaligo! 22 November 2018 Terima kasih BEM Farmasi UMI atas penyegaran kembali pengetahuan dari disiplin ilmu Sistem Informasi yang saya kuliahi hampir enam tahun. Membahas hoax, setidaknya memperbaharui janji saya kepada diri sendiri untuk selalu berusaha berbicara jujur sepengetahuan saya. Agaknya saya ingin protes karena iri pada @rahmichaer dan @ padri_padriana yang keduanya punya foto sedang memegang mic. Sedangkan saya hanya memegang janji dari sesuatu yang tidak pasti. Jodoh, misalnya. 17 Oktober 2018

Sore tadi, bersama teman-teman ­HUMANIS FISIP UNHAS berbagi pengalaman praktik ­literasi. ­Kesempatan belajar dengan suasana yang sedikit berbeda, beradaptasi dengan ruangnya fasilitas di dalamnya, dan tentunya berhadapan dengan orang-orang baru. Difoto @wildanmaulanaaa. Terima kasih, ces! 15 Oktober 2018


- @tanahindie

- @tanahindie - @komunitasquiqui Hari ini finishing karya sambil tebak-tebakan dari teman-teman tim kerja pameran Mulyana X Quiqui 7 November 2018

ARISAN: South East Asia Art Collective Forum” 17 Oktober 2018 - @komunitasquiqui Bapak Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah beserta rombongan singgah ke tempat kami melihat mesin rajut raksasa dan proyek instalasi yang kami kerjakan

Kunjungan hari ketiga peserta residensi “ARISAN: South East Asia Art Collective Forum”. Hari ini dimulai dengan kunjungan ke Krack Gallery and Studio, lalu Ruang MES 56, dan ke SURVIVE! Garage. Untuk minggu pertama peserta residensi ARISAN diajak berkunjung dan berkenalan dengan ruang-ruang kolektif seni di Yogyakarta. Tanahindie diwakili @aziziahprilya sebagai peserta residensi selama dua bulan mendatang. 19 Oktober 2018

- @tanahindie Tanahindie diwakili @aziziahprilya menjadi peserta residensi ARISAN. Agenda kemarin bersama peserta lainnya, @aziziahprilya ikut dalam sesi curhat pendapat, “What’s the aim of ARISAN: South East Asian Art Collective Forum di Lifepatch. 23 Oktober 2018

10 November 2018

- @Kampungbuku kopi, buku, dan cerita bareng teman-teman @ komunitasmks 23 Oktober 2018

- @thejimpe Bersua seorang lelaki sepuh dari Tanjung Karang, Lampung yang bermigrasi ke Taiwan sejak 1960-an, ketika dapat beasiswa belajar masa Soekarno. Beliau sekarang pensiun dari guru SMP di Sanwan, 100-an kilometer dari Taipei. Masa pensiunnya dihabiskan bersama keluarganya yang berdagang mi daging sapi. “Bagaimana masakannya? Sedap?” tanyanya. #SanwanCulturalCollective @makassarbiennale

Bincang Bersama Pak Dias & Pemutaran animasi Paropo 3S Satu Dekade Kampung Buku

29 Oktober 2018

Soundsphere 2 29 Oktober 2018

29 Oktober 2018

35/ Yard - Edisi 05, Mei 2018


Kedai Geraderi Kampung Buku Coffee, Books, Friends

Beberapa ulasan di Google tentang Kedai Geraderi

Senin - Kamis 12.00 - 22.00 WITA

Sabtu 12.00 - 22.00 WITA

Jumat 14.00 - 22.00 WITA

Minggu Libur

Yard - Edisi 8, November 2018/Eighth Edition, November 2018  
Yard - Edisi 8, November 2018/Eighth Edition, November 2018  
Advertisement