Page 1


JALAN-JALAN TUJUH HARI muter-muter balaraja bareng hitam putih abu-abu


hardia rayya

JALAN-JALAN TUJUH HARI muter-muter balaraja bareng hitam putih abu-abu


JALAN-JALAN TUJUH HARI: MUTER-MUTER BALARAJA BARENG HITAM PUTIH ABU-ABU Hardia Rayya Balaraja: Hitam Putih Abu-Abu Publishing, Febuari 2011 Hal, 13x19 cm Ilustrasi : Tyan Oriza Editor :Bsik Hikari, Angkasa Wirawan Foto Sampul: Khatta Goenawant Diterbitkan Oleh : Hitam Putih Abu-Abu Publishing Balaraja, Banten 15610


PENGANTAR PENULIS Bismillahirahmanirrahim

Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan untuk menulis yang di dalamnya terdapat petualangan dan mengambil setting lokasi di Balaraja. Sebab dari berbagai buku-buku fiksi yang memenuhi rakrak di toko buku, kebanyakan bercerita tentang cinta, cinta dan cinta. Memang, tidak semua buku bertemakan cinta yang sama, tapi juga kemasannya yang berbeda-beda. Bagiku, tulisan yang kutulis ini juga berkisah tentang cinta, tapi cintanya berkisah tentang persahabatan, petualangan dan cinta daerah sendiri. Karena untuk apa mengambil seting lokasi dari daerah lain, sedangkan di daerah sendiri banyak sekali kisahkisah menarik yang mampu menggugah hati. Dalam cerita

yang kutulis

kali

ini,

lebih

detail

kugambarkan berbagai kegelisahan empat orang remaja yang memberontak dari kehidupan remaja seusia mereka. Mereka lebih memilih menghabikan waktu di jalanan daripada sibuk ke salon memenahi diri. Maka, dari tulisanku kali ini, marilah kita bercermin, terutama kepada para remaja. Kita harus senantiasa gelisah, gelisah memikirkan sekitar! Nikmatilah ini, yang kupersembahkan untuk kalian semua


PROLOG SEJARAH NAMA BALARAJA

Balaraja adalah nama sebuah daerah yang terletak di kabupaten Tangerang. Nama Balaraja berasal dari kata Bale dan Raja. Bale artinya tempat peristirahatan, tempat bersantai, atau tempat melepas lelah yang biasanya terbuat dari bambu. Raja adalah orang yang memimpin sebuah kerajaan atau suatu wilayah tertentu. Balaraja, atau biasa disebut Baleraja itu berarti tempat beristirahatnya raja. Zaman dahulu daerah Balaraja adalah daerah khusus tempat singgah raja dari kesultanan Banten menuju Cirebon atau saat ke Batavia. Letaknya di kampung Talagasari di pinggir sungai Cimanceuri yang asri dan dekat jalan raya. Penduduk

Balaraja

hidup

dalam

keramah-tamahan.

Mereka hidup berkecukupan dengan mengandalkan pertanian. Sebagai daerah yang sering dilalui dan disinggahi pendatang (pedagang, tentara, keluarga kerajaan, bahkan perampok) wilayah ini jadi dikenal oleh banyak orang. Pada suatu hari

ketika sang raja yang sedang dalam

perjalanan pulang menuju kesultanannya di Banten, raja merasa lelah dan memerintahkan para prajurit untuk membangun sebuah bale yang terletak tak jauh dari sungai Cimanceuri. Raja itu sangat


senang dengan ketenangan. Ketika raja dan para prajurit sedang beristirahat, lewatlah seorang gadis desa yang sangat cantik di hadapannya. Lalu sang raja memerintahkan salah satu dari prajuritnya untuk membuntuti ke mana dan siapakah gadis desa itu. Tidak lama kemudian, prajurit yang diutus untuk membututi si gadis cantik itu kembali dengan membawa berita yang cukup mengejutkan sang raja. Gadis desa itu ternyata akan dinikahkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki. Raja merasa kecewa, tapi raja sebagai seorang lelaki tidak mau begitu saja mengalah hanya karena gadis itu akan menikah, lalu raja itu membuat strategi untuk mewujudkan niatnya, yaitu menikahi dan menjadikan gadis tersebut selir. Akhirnya raja memilih persaingan sebagai seorang lelaki untuk mendapatkan gadis itu. Ia menetap beberapa waktu di bale dan rela meninggalkan kerajaan demi mendapat gadis yang ia idam-idamkan. Dengan strategi yang pas dan taktik yang cerdas, pemuda desa yang menjadi kekasih gadis desa itu kalah bersaing dengannya. Raja pun menjadi pemenang. Sebagai bukti kemenangannya, raja membawa gadis itu ke kerajaan dan menjadikannya selir. Dari pernikahannya dengan gadis desa itu, raja mendapatkan satu orang anak. Daerah ini dinamakan Balaraja, balenya raja. Setelah itu, cerita selanjutnya sudah tidak ada lagi yang tersisa, tentang anak keturunan gadis desa itu. Makam yang berada di desa Bunar saja


yang dipercaya masyarakat memiliki keterkaitan dengan keluarga kerajaan. Sebagian besar percaya bahwa makam-makan itu adalah makam dari keluarga kerajaan.1

1

Catatan tentang sejarah nama Balaraja ini kudapat dari sebuah blog http://endollempuyang.blogspot.com/2009/07/balaraja.html orang yang memiliki blog ini pun mendapatkannya dari sebuah blog juga http://oncepsajalah.blogspot.com. Tapi sebagian sudah direvisi agar terasa enak dibaca. Karena hal ini menyangkut sejarah nama daerahku, tak ada salahnya jika aku membuat sebuah persembahan untuknya, Balaraja.


HITAM PUTIH ABU-ABU

Hitam putih abu-abu adalah nama sebuah kelompok remaja yang menginginkan adanya perubahan dari sebuah kehidupan, lebih tepatnya kehidupan mereka sebagai remaja. Mereka sangat muak melihat tingkah laku remaja saat ini yang begitu hedonis2, yang hanya gemar hura-hura, pesta dan sangat tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Mereka adalah Hardi, Iwan, Tedi dan Tyan. Lalu dari wanitanya ada Ayu, Bsik dan Vera. Mereka bertujuh melakukan kegiatan yang berbeda dari kebanyakan remaja saat ini, seperti backpacking, hiking, dan diskusi (dalam diskusi ini mereka lebih mengarah kepada seni, sastra, fotografi, kartun dan film). Hitam putih abu-abu ini menolak menjadi remaja yang kebanyakan. Mereka menolak untuk memakai pakaian yang serba baru, bagus dan selalu mengikuti trend mode, menolak untuk melakukan hobi shopping di mall-mall untuk sekedar ngeceng. Kalau ke mall pun mereka lebih memusatkan diri untuk ke toko buku. Hitung-hitung baca gratis.

2

Pengikut aliran hedonisme. Hedonisme sendiri artinya, pandangan hidup yang beranggapan kesenangan dan kenikmatan hidup adalah tujuan paling utama.


Kadang, hal-hal gila mereka lakukan untuk sekedar melepas jenuh di otak karena kegiatan yang begitu menyita waktu. Seperti berangkat malam hari pada sabtu malam dan pulang minggu pagi. Kegiatan gilanya antara lain mereka tidur di mana saja yang mereka sukai. Mereka lebih memilih tidur melihat bintang dan mendengar bunyi jangkrik, daripada berpesta semalam suntuk di diskotik atau pesta seks. Hitam putih abu-abu percaya kepada mimpi. Mereka juga yakin terhadap hal-hal yang mustahil. Seperti melakukan perjalanan jauh yang tak mungkin bisa. Mereka jalani walau dengan uang pas-pasan. Mereka semua punya mimpi dan cita-cita. Tak pernah takut jatuh dan berani mengkritik, juga tak jatuh apabila dikritik. Imajinasi tinggi dan daya khayal yang melebihi remaja-remaja kebanyakan, membuat mereka lebih unggul di bidang apapun. Tapi namanya manusia pasti punya kesalahan dan kekurangan. Berbagai hal yang membuat mereka sakit pun mereka lalui tanpa menyerah. Hitam

putih

abu-abu

adalah

anak

alam

korban

pembangunan yang tambal sulam di negeri ini. Sesepuh desa di kaki gunung Pulosari, Mbah Sugi, menjuluki Hardi, Iwan, Tedi dan Tyan sebagai anak-anak yang terpilih. Anak-anak muda yang selalu berusaha menemukan jati diri mereka sendiri, mampu melindungi diri, kawan dan lingkungan sekitar, menegakkan kebenaran dengan berbagai cara, juga berfikir lebih maju dan


ganas. Mereka bertemu dengan Mbah Sugi ketika perjalanan mendaki di gunung Pulosari.

MENGAPA MEMILIH NAMA HITAM PUTIH ABU-ABU?

Karena

hitam Putih abu-abu adalah sebuah jalan, dan pilihan.

Hitam, putih, abu-abu bukanlah warna, itu semua adalah awal. Landasan atau alas. Hitam, putih, dan abu-abu saling berkaitan. Kuat bila bersama-sama. Jalan yang harus dipilih adalah hitam dan putih. Sedangkan abu-abu adalah saat di mana mereka hendak memilih

jalan

yang

akan

dilalui,

bisa

dibilang

sebuah

persimpangan menuju misteri yang akan terbongkar. Apakah hitam ataukah putih? Lalui dan pilihlah kawan! Hitam putih abu-abu menyebut sepak terjang mereka dengan sebutan petualangan mencari ujung pelangi.

Hardi (Hardia Rayya)

Adalah remaja yang gemar menulis puisi dan fiksi serta bacpacking dengan uang pas-pasan. Juga membaca (memang pada dasarnya hitam putih abu-abu ini adalah sekelompok remaja yang


hobi membaca). Ia lebih memilih tampil urakan daripada mengikuti mode zaman. Tubuhnya tinggi dan kurus, banyak omong. Tokoh favoritnya adalah Sutardji Chalzoum Bachri 3, Seno Gumira Adjidarma 4, dan Pramoedya Ananta Toer 5. Gaya bicaranya lebih mengarah ke kritikan diselingi berbagai lelucon. Mudah bergaul dan tak membeda-bedakan teman. Cita-citanya adalah menjadi penulis dan bisa keliling dunia, juga mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW.

Iwan (Khatta Goenawant)

Remaja yang satu ini memiliki wajah yang cukup tampan bila dibandingkan dengan anggota hitam putih abu-abu yang lain. Gaya berpakaiannya tidak terlalu urakan. Ia hobi membaca dan 3

Penyair Indonesia yang dijuluki sebagai presiden penyair. Ia memperkenalkan puisi bergaya mantra. Karyanya yang fenomenal adalah O Amuk Kapak. 4 Dia adalah seorang penulis essai,cerpen, novel dan roman. Dia adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Salah satu karyanya adalah kumpulan cerpen Manusia Kamar. 5 Seorang pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Ia sudah menghasilkan lebih dari 50 karya, diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Bukunya pernah dilarang beredar pada masa pemerintahan orde baru, karena pandangannya pro-komunis Tiongkoknya. Ia ditan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan di pulau Buru. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah novel semi fiksi sejarah Indonesia, novel tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).


memotret. Apapun ia foto (memiliki obsesi menjadi seorang fotografer). Sifat buruknya adalah pesimis, tapi di balik kepesimisannya itu ia yakin, bahwa setiap hal yang ia lakukan pasti berhasil. Tokoh favoritnya adalah Mohammad Hatta6 dan Goenawan Mohammad7. Entah mengapa apabila ada nama Gunawan atau yang berakhiran –wan, pasti ia sangat bangga kadang mengatakan, “diakan saudara gue!�. Mudah bergaul walau pemalu. Pertama mengenalnya pasti penilaian pertama yang terlintas adalah dia orang yang dingin.

Tedi (Angkasa Wirawan)

Adalah seorang remaja keras kepala. Foto memoto dan menulis puisi adalah hobinya juga memiliki obsesi menjadi seorang filsuf. Gemar beribadah, dan tak mudah goyah dalam mengambil keputusan. Gaya berpakaiannya agak rapi dan sering terlihat memakai celana bahan. Ia termasuk remaja yang tangguh yang tak mudah menyerah. Tapi dia juga punya sifat putus asa yang selalu datang datang apabila itu menyangkut hal-hal yang merugikan 6

Seorang tokoh proklamasi dan seorang wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. 7 Seorang penyair, jurnalis dan penyunting. Dia juga termasuk sastrawan yang terkemuka di Indonesia, termasuk salah seorang pendiri Majalah Tempo.


dirinya. Ia sering mengeluh, tapi di lain waktu ia bisa terlihat lebih optimis dibanding yang lain. Tokoh favoritnya Jalaluddin Rumi 8. Cita-cita terbesarnya ingin bisa berdakwah sampai ke India, Pakistan, Bangladesh sampai keliling dunia. Ia pun memiliki mimpi menjadi Harry Potter9. Tedi adalah satu-satunya orang di hitam putih abu-abu yang memiliki jenggot, walaupun tipis.

Tyan (Tyan Oriza)

Remaja yang satu ini memiliki sifat misterius. Dari penampilannya yang urakan seakan-akan menyatakan bahwa dia adalah seorang remaja tanpa masa depan. Tidak jelas cita-citanya mau jadi apa. Tapi dia adalah yang terhebat di hitam putih abu-abu. Tyan dipanggil Jenderal oleh teman-temannya karena memiliki jiwa pemberani dan kuat. Dia juga sangat berbakat di bidang seni rupa dan yang paling istimewa adalah imajinasinya sangat tinggi melebihi imajinasi orang dewasa. ia selalu mengidolakan Peter Pan10. Pemikirannya begitu fresh dan tinggi, walau dalam pelaksanaannya ada yang kurang berhasil. Cita-citanya ingin menjadi komikus dan bergabung dengan MARVEL COMIC dan 8

Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi. Karya-karyanya sangat berbeda dan memiliki khas dibandingkan dengan penyair sufi lain. 9 Tokoh novel yang memilii kekuatan sihir ciptaan J.K Rowling. 10 Tokoh kartun ciptaan J. M. Barrie.


WARNERBROSS. Dia ingin sekali mengembangkan kegemaran menulis dan menggambar animasinya di Jepang dan Amerika agar bisa bersaing dengan para komikus yang ada di negeri Sakura dan negeri Paman Sam itu. Tidak narsis dibanding Hardi, Iwan dan Tedi. Ia begitu pendiam bagi orang yang belum mengenal dirinya.


1 Lakukanlah! Karena di dunia ini ngga ada yang ngga mungkin. Kecuali satu hal, makan kepala sendiri. – Hardia Rayya

“Heufth...” Tyan menguap. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Tyan terlihat begitu mengantuk, maklumlah, ia kalau tidak kerja, kerjaannya cuma makan, tidur, makan, tidur plus kentut. “Nape lu, ngantuk?” tegurku, sambil mengucek mata. “Lah Har, lu juga kaya lagi nyuci. mata lu tuh masih banyak belek...” Iwan pun nyeletuk dengan mata yang meremmerem melek. Cuma Tedi yang tak terlihat mengantuk. Wajar saja dia sudah biasa bangunin ayam, kalo nggak ada yang bangun tuh para ayam, ia malah berkokok yang menggetarkan dunia. “Ngantuk gue...” ucapku datar. Kami berempat, siap berangkat untuk menghirup udara segar di jantungnya dunia, di punggung bumi, yaitu gunung. Sambut kami gunung! Dengan jalan yang sempoyongan, karena dari semalam susah tidur, kami tetap saja nekad.


“Boi, mending video kol11 sama Mbah Sugi... heuft” ucapku. “Iya, Wan hape lu aja kan yang tri ji? Udeh ngehubungin tuh si Mbah. Pengen liat gue mukanya, masih ngantuk ga yah?” lanjut Tyan mengiyakan. “Kita ke sono, selain ke gunung, mau nagih hutang juga nih ke si Mbah? Hehe” tanya Iwan sambil nyengir12. “Ya iyalah, masa ya iya dong, jangan mentang-mentang dia udah kakek-kakek. Kalah tarohan ga mau n ga usah bayar...” jawabku tak mau kalah. “Sori yeh, jangan mau dirugiin sama kakek tua bangka itu...” kata Tedi sambil mengepalkan tangannya. Pernah dia kalah bertaruh habis-habisan dengan Mbah Sugi, hampir empat ratus ribu. Sekarang dia akan melakukan pembalasan kepada beliau. Kami berempat mengadakan taruhan nonton audisi dangdut, siapa yang bakal keluar, ternyata pilihan kami benar, seorang wanita muda dengan suara jelek, cuma menang seksi aja, tapi berbeda dengan Mbah Sugi, beliau malah menjagokan wanita itu dengan alasan cantik.

11

Fasilitas yang ada di handphone, agar bisa mengobrol sambil bertatapan muka. 12 Senyum lebar dengan kelihatan gigi.


“Udah jangan pada ribut sih, diem nih gue lagi nelepon si Mbah.� Iwan terlihat serius menunggu telepon diangkat oleh Mbah Sugi. Mbah Sugi adalah seorang sesepuh desa di kaki gunung Pulosari13. Perkenalan yang mengejutkan menurutku, pada waktu itu kami sedang tersesat di gunung Pulosari, dan muncullah sesosok lelaki tua yang kukira setan. Iwan saja sampai terkencingkencing karena kaget melihatnya. Kami tak kuat berlari ketika berhadapan dengan mahluk menakutkan itu. Yang membuat seram adalah tawanya, begitu kencang dan menakutkan. Beliau mendekat, semakin dekat dan seorang pria tua renta dengan gigi tinggal beberapa butir saja tersenyum kepada kami. Mulai dari sanalah kami kenal Mbah Sugi. Beliau orang yang menyenangkan. Tak terlihat seperti sesepuh desa. Malah lebih condong sebagai seorang remaja dengan wajah keriput. Ya, gayanya itu, belagu14, seperti remaja kebanyakan, terlebih telepon genggam yang selalu dijinjingnya kemana-mana. Tak tanggung-tanggung, merknya BLACKBERRY. Gila, orang tua yang satu ini. Juga hobi yang mungkin banyak digandrungi oleh semua kalangan, yaitu taruhan. Kami sering bertaruh segala hal, mulai dari sepak bola sampai audisi dangdut. Biasanya Mbah Sugi tak 13

Nama sebuah gunung yang terletak di daerah kabupaten Pandeglang. Berlagak sombong, sambil memamerkan apa yang tidak dipunyai orang lain. Juga merasa lebih hebat dari orang lain. Sebuah bahasa pergaulan dari kata sombong. 14


pernah kalah. Tapi entah mengapa kali ini kami berempat menang telak. Haha, biar tau rasa orang tua itu. Beliau tinggal di desa di kaki gunung dengan empat orang anak yang semuanya telah tumbuh dewasa. Istrinya telah meninggal saat mereka berdua berusaha menaklukkan gunung Jaya Wijaya. Istrinya tergelincir dan meninggal. Sangat disayangkan. Beliau termasuk orang yang sukses karena telah berhasil mendidik semua anaknya agar hidup mandiri dan semua lulus dengan gelar sarjana, bahkan anak terakhirnya ini sedang melanjutkan study S2nya. Mbah Sugi adalah orang yang memberi gelar kepada kami sebagai anak-anak yang terpilih. Beliau biasanya menyebut kami sebagai anak alam korban pembangunan yang tambal sulam di negeri ini . Kami, anak-anak yang selalu berusaha menemukan jati diri sendiri, mampu melindungi diri, kawan dan lingkungan sekitar, menegakkan kebenaran dengan berbagai cara, juga berfikir lebih maju dan ganas di bumi ini. Mbah Sugi pun menanamkan kepada kami tentang betapa hebatnya sebuah mimpi. Makanya beliau

selalu

menyuruh

kami

untuk

bermimpi.

Beliau

menganugerahi kami sebutan anak-anak yang terpilih karena khayalan dan mimpi kami begitu tinggi. Melebihi pemikiran remaja yang seusia. Seperti yang selalu diucapkan beliau, “Masa depanmu ditentukan dari mimpi-mimpimu – Mbah Sugi�.


Setelah Mbah Sugi merasa umurnya sudah cukup tua sebagai pecinta keagungan Tuhan, beliau memilih untuk menghabiskan waktunya di kaki gunung, menghirup udara segar dengan kenikmatan embun ketika pagi dan gemuruh jangkrik di setiap malam harinya yang beliau tidak bisa mendapatkannya di kota besar. “Tuuutttt..tuuuuttt...tuuuuttttt”

BLACKBERRY

Iwan

berdentang dengan keras, kami segera mengerubunginya. “Woy berat-berat!” Iwan marah ketika punggungnya kami dorong, saat berebut ingin melihat Mbah Sugi. “Biar sih, eh lama banget nih ngga diangkat sama Mbah Sugi?” balas Tyan. “Iya yah, jangan-jangan bener, si Mbah masih tidur, atau...” kata Tedi. “Aataauuuu, ga berani ngangkat telepon dari kita-kita, mungkin Mbah Sugi takut kali?” Ucapku menegangkan, sambil teriak histeris. Spontan kami semua tertawa. Tiba-tiba yang muncul wajah Rodi, anak terakhir Mbah Sugi. Terdengar pula lantunan salawat nabi yang mengalun keras sehingga tak jelaslah percakapan kami. “Haaallooo, hallooo...” Rodi panik saat mengangkat BB mbahnya, terlihat jelas sekali dari layar banyak orang di sana. Ada yang hilir mudik, ada yang sibuk bawa kue. Mereka berpakaian


sopan, menggunakan kerudung dan berpeci. Wajah orang-orang di sana sedang muram. “Ya, halo Bang Rodi, iiini kamii, hitam putih abu-abu, inget ga?” Iwan pun berteriak, sepertinya Rodi kurang jelas mendengar karena suasana ramai di rumahnya. “Oohh iya, sebentar dulu saya keluar rumah, di sini ramai!” Lalu ia keluar rumah. Nampak di luar pun suasana begitu ramai. Entah apa yang terjadi, kami semua bingung. Semua orang tergesa-gesa dan sedang berkabung. “Ada apa di sana tuh?” bisikku ke Tyan. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Dengan serius kami mendengarkan percakapan Iwan dan Rodi. “Maaf lama...“ ucap Rodi. “Ga apa-apa kok. Oia bang, rame banget di rumah, emang ada apa sih? Terus kemana Si Mbah?” tanya Iwan tergesa-gesa. Rodi terlihat bersedih, lalu ia melanjutkan pembicaraan, “Mbah Sugi...” air matanya tumpah, “Bapak, meninggal dunia semalam...” Air matanya menetes tak terbendung, kami berempat begitu kaget dengan kejadian ini. Apakah beliau meninggal karena kalah taruhan dengan kami sehingga beliau mengalami jantungan yang mendadak dan langsung mati di tempat? Entahlah. Kami


turut berduka atas meninggalnya Mbah Sugi, sang guru alam kami. Masa-masa indah saat di sana, masa-masa ceria saat tertawa, masamasa gembira saat taruhan walau kalah atapun menang, dan semuanya yang terbaik di mata kami tentang Mbah Sugi telah sirna. Rodi terus saja menangis. Suaranya mulai parau. Lalu ia pun menyuruh kami kalau sempat main ke sana, kami pun mengiyakan. “Emang kenapa Si Mbah meninggal?” tanya Tyan penasaran. “Ngga ada yang tau kenapa bapak meninggal, menurut abang sih, bapak semalam sedang sibuk menonton kontes dangdut, lalu ketika idola bapak menyanyi, bapak tertawa dengan terbahakbahak. Tiba-tiba bapak tersendat kacang yang sedang dimakannya. Dan beginilah jadinya.” tutur Rodi sambil mengelap air matanya. Tedi dan aku cekikikan. Hal lucu yang membuat kami tertawa. Dengan semudah itu orang tua gunung meninggal? Ah sepele. Seorang laki-laki kuat itu, yang sering berdiri di puncak semesta, yang selalu mengutarakan janjinya di samping Sang Pencipta, yang setiap kali menyentuh langit, mati, meninggal tersendat kacang? Atau... terpesona melihat sang idola bernyanyi? Ah misteri. “Masa? Aneh banget Si Mbah matinya?” tanyaku asal ngomong.


“Hus, lu ngomong yang bener, Har...” kritik Iwan. “Oia maaf, Bang...” aku membenarkan ucapanku. “Ya udah sih ngga apa-apa. Gini, bapak nitip pesen buat kalian pas lagi sekarat...” Rodi nampak serius. “Apa?” kami semua mengerubungi BB Iwan yang besar sekali itu. “Begini, bapak berpesan untuk kalian, jadilah orang yang berguna. Jangan pernah sekali pun berfikir untuk menjadi orang hebat. Sebab orang hebat tak hanya menyimpan kesombongan tentang kehebatannya. Tapi orang berguna itu selalu berbagi ilmu, di mata orang yang telah merasakan kebergunaannya maka kita bisa menjadi hebat. Tapi semua itu perlu tantangan. Juga, kalian semua harus menjadi orang yang berani berkata, kalian itu adalah beda. Berani menyuarakan kebenaran. Tak takut dikritik. Dan menjalankan perintah Allah. Oia ada satu lagi, jangan takut bermimpi. Bermimpilah! Karena Allah akan memeluk mimpimimpi kalian!” Kami terharu mendengar pesan Mbah Sugi yang disampaikan Rodi tadi. Aku terdiam, termenung memikirkan apa yang telah dipesankan beliau tadi. Aku terhenyak. Begitu juga dengan Tyan, Tedi dan Iwan. “Woy jangan bengong!” Rodi mengagetkan kami semua. Lamunan kami buyar. “Iiiyyaaa,...” ucap Iwan kaget.


“Ya udah minta doanya buat bapak, Mbah Sugi. Trus kalian mau kemana sekarang?” “Pasti kami doain, uhm rencananya kami mau ke sana. Mau mendaki, tapi karena keadaan di sana seperti itu, ya sudah, mungkin kami mau berpetualang ke tempat lagi deh, Bang...” ucap Iwan bijak. “Ya udah, tapi jangan lupa maen ke sini. Tengok makam bapak yah. Pulsa lu mau gue gantiin ga? Hehe” ledek Rodi. “Jeuh so kaya lu, Bang. Tuh Mbah Sugi yang kalah taruhan juga...” aku kesal. “Minta sono sama bapak gue di alam baka. Hehe...” Kami semua tertawa. Lalu Iwan mematikan BBnya. “Gimana kita sekarang? Udah dengerkan, seorang penghidup salah satu mimpi kita telah berpulang!” jelas Iwan tegas. Kami semua berfikir. “Gimana kalo kita wisata kota!” ide Tedi memecahkan bayang-bayang kami. “Iya, gue sama Tedi belom pernah nih wisata kota. Lu sama Hardi kan udah, Wan. Gimana? Pastinya asyik kalo kita jalan berempat...” Tyan mengiyakan saran Tedi. Lagi-lagi kami berfikir... “Gimana, Har, menurut lo?” Iwan meminta pendapatku, ia mungkin setuju dengan pendapat Tedi.


“Okelah. Tapi kita begini aja nih?” aku setuju dengan saran mereka. Mungkin selain gunung dan alam, kami juga bisa melihat gambaran kehidupan jalan yang begitu rumit. Kehidupan yang hanya dijalankan oleh sebagian orang saja. Kehidupan yang hanya dilalui oleh orang-orang yang terpaksa menikmati debu jalanan dari pada wangi parfum mahal. Ya, kami akan hadapi tantangan suram itu. Kami juga tak mau dibilang sebagai sekumpulan orang manja. Kami juga bisa membandingkan kehidupan kami dengan kehidupan orang-orang yang berada di berbagai daerah. “Jadi mending kita ke kota besar saja, lebih asyik, lebih banyak tontonan. Daripada di kota kecil. Baru jam delapan malem udah kunci pintu. Hehe” lanjutku. “Ya, gue setuju...” ucap Iwan dengan pasti. Tedi dan Tyan tersenyum puas. Nampak oleh kami matahari yang cerah semakin mendekat. Kami menyatukan telapak tangan kami. Tedi berkata, “Demi tujuan dan masa depan” Tyan berkata, “Demi langkah dan kekuatan” Iwan berkata, “Demi hidup dan harapan” Aku berkata, “Demi mimpi dan perjuangan” “Hitam putih abu-abu, Satukan kekuatan!” kami berteriak memecah sunyi.


Mungkin tak pernah seperti ini bila kami tidak bertemu dalam kejadian saat itu. Ketika kami berempat disatukan oleh seorang “Guru, guru yang tak boleh disebut namanya�. Guru itu menyatukan kami dengan menanamkan sebuah jiwa laki-laki yang kuat, yang tak boleh hancur hanya karena diterpa angin malam, yang tak boleh bergetar walau topan di hadapan kami. Terus mengikuti alur hidup dengan semangat tanpa pernah mengeluh dan cintai wanita yang benar-benar kami sayangi. Cukup satu saja. Dengan gencarnya Sang Guru menanamkan semua itu, kami pun semangat mencoba menyusuri jejaknya, tapi entah mengapa suatu kejadian yang tak pernah kami lupakan dan tak boleh kami sebutkan kepada siapapun membuat kami terpisah dengan Guru. Dan kami pun merasa jalan satu-satunya adalah menjadi seorang lelaki yang kuat dengan pilihan hidup kami sendiri. Dengan mengumpulkan filosofi hidup. Dan merangkainya, menjadikannya gambar yang begitu nyata dihadapan semua orang. Kami pun terus memegang ajaran yang telah diajarkan Sang Guru, agar kami menjadi seorang laki-laki. “Jadi selamat tinggal, Guru�, sebuah kata yang kami ucapkan saat mengenangnya dalam setiap perjalanannya. Mulai saat itu, kami terus melakukan perjalanan mencari jati diri. Bahasa kerennya adalah berpetualang mencari ujung


pelangi. Kami tak mau berhenti sebelum mendapatkan ujung pelangi itu. Kami pun menamakan diri kami hitam putih abu-abu. Mengapa hitam putih abu-abu? Karena hitam Putih abu-abu adalah sebuah jalan, dan pilihan. Hitam, putih, abu-abu bukanlah warna, itu semua adalah awal. Sebuah dasar. Hitam, putih, abu-abu saling berkaitan membuatnya kuat bila bersama. Jalan yang kami harus pilih adalah hitam dan putih. Sedangkan abu-abu adalah di mana saat kita hendak memilih jalan yang akan kita lalui, bisa dibilang sebuah persimpangan menuju misteri yang akan terbongkar. Apakah hitam ataukah putih? Lalui dan pilihlah kawan!

“Jadi kemana kita?” tanyaku. Semuanya berhenti. “Aduh aduhhhhhhhh, iya yah. Duit kita mepet. Ga bisa jauh-jauh nih...” Iwan pun ragu karena keuangan kami yang hanya pas-pasan saja. “Jakarta, langsung ke Bogor, tapi bisa juga sekalian mampir ke Bekasi” Tyan dengan pedenya memberikan saran. “Tyan, mikir donk lu!” bentak Iwan kesal. Ia tak habis pikir, Tyan mengajukan tempat yang begitu jauh dan sangat banyak rutenya. “Emang duit lu cukup!”


“Nyantai Wan,”Tedi mencoba mengetengahkan masalah, “Gue sama Tyan udah kompromi, kita bakal nyoba yang belom kita coba...” Tyan tersenyum puas. “Apaan Ted?” aku masih penasaran. Apakah mencuri? Atau mencoba berpuasa di atas kenikmatan yang bergelimang di kota besar? Aku belum tahu. Tedi tersenyum melecehkan aku dan Iwan. “Sial lu berdua, Apaan?!” Iwan pun makin penasaran. “Sabar, Kawan! Gini, kita bawa alat masak kan?” Tedi menjelaskan. Aku dan Iwan mengangguk. Lalu Tyan melanjutkan, “Gini, kita bisa makan dengan cara masak dan Cuma beli makanan mentah aja. Jauh lebih murah...” “Masalah transport?” aku masih penasaran. “Oh o-on lu Har, kita tinggal nge-BM (berani mati, dengan cara menghentikan mobil-mobil truk tanpa membayar) gampang, kan? Banyak ko supir-supir yang iba ngeliat pengembara kaya kita, yang bermuka melas kaya lu-lu pada” ucap Tyan sambil menunjuk ke arah aku, Iwan dan Tedi. Aku dan Iwan hanya cengar-cengir. Mereka berdua mulai sombong. “Ya udah kita sekarang mau ke mana?” tanya Iwan sambil melanjutkan langkahnya.


“Kita ke Tangerang aja dulu. Sekarang kita naek Bulan Jaya, gimana?” ajak Tyan. “Ok” kami semua setuju. Tidak beberapa lama kemudian, Bulan Jaya datang, dengan penumpang yang sudah berdesakkan. Tidak biasanya. Oh ya, aku belum menceritakan apakah itu Bulan Jaya. Bulan Jaya adalah sebuah nama bus, tepatnya mini bus yang beroperasi dengan rute Balaraja – Kalideres, Tenjo – Kalideres, Rangkas – Kalideres, dan Cimone – Rangkas15. Yang kami naiki adalah Bulan Jaya rute Balaraja –Kalideres. Tahukah kawan, Bulan Jaya yang memiliki rute Balaraja – Kalideres ini disebut penguasa jalan raya Serang. Raja kebut jalanan, mulai dari Kilometer 10 - 23. Jangan tanya kecepatannya, melebihi kecepatan suara kali yah? Setiap ada ibu-ibu yang menjadi penumpang Bulan Jaya pasti berteriak-teriak minta kurangi kecepatannya, katanya “Hampir copot jantungku!”. Kernet bus dengan supirnya sangat kompak, inilah pasangan supir yang amat dinanti semua supir angkot. Mulai dari mengatur parkir,mengatur kemacetan agar bus ini bisa melaju duluan, membaca jalan dan menghadapi rintangan jalanan, mampu mereka atasi dengan kekompakan yang amat mereka junjung tinggi.

15

Balaraja terletak di kabupaten Tangerang. Kalideres terletak di Jakarta Barat. Rangkas atau Rangkas Bitung terletak di Lebak. Cimone terletak di Kota Tangerang.


Begitulah Bulan Jaya. Mungkin di tol mereka tidak banyak gaya, tapi di km 10-23 jalan raya Serang, jangan ditanya. “Muke gile nih supir” bisikku. Kecepatan tinggi yang terus dipacu membuat debar jantung ini kian mencencekam. Padahal penumpang sudah penuh, bukan penuh lagi, tapi sudah membludak. “Ayo Kokol Deres Cikokol Deres!!!” teriak kernet itu. Wajah semangat tak kenal lelah selalu dikeluarkan oleh sang kernet. Kernet di Bulan Jaya ini ada dua orang, yang pertama berada di pintu belakang dan yang kedua berada di pintu depan. Yang biasa mengatur jalan adalah kernet bagian belakang. Kalau kernet bus bagian depan biasanya meminta ongkos. Tarifnya pun tak terlalu mahal, juga bisa ditawar asalkan kita tidak pelit. Apabila kita pelit bisa-bisa kita sebagai penumpang disuruh turun oleh sang kernet bus. Sambil merokok dan berbagi rokoknya kepada salah seorang temannya, kernet tadi membuka pembicaraan dengan temannya tadi. Aku yang persis berada di sebelahnya mendengar pembicaraan yang menggugah hatiku. Maaf sebelumnya, aku sedikit menguping. “Jo, sial banget gue hari ini...”ucap kernet bus yang tadi memberikan rokok.


“Nape lu? Kayanya muke lu juga akhir-akhir ini kusut banget dah” sambil menghembuskan rokok yang tadi diberikan, kernet kedua menjawab dengan santainya. “Masa pagi-pagi gue udah diusir sama bini16 gue. Ga dikasih sarapan lagi” kernet tadi menunduk lemas. “Emang napa?” “Ga tau” “Mungkin lu pernah ngelakuin salah kali sama bini lu?” “Iya sih, semalem gue pulang jam sebelas. Gue abis maen judi sama bang Tohir, orang Ceper. Nah gue kira gue bakal menang telak. Tapi ternyata gue yang kalah telak. Nah duit gue abis lagi. Bini gue marah, pas gue pulang ga ada duit, dia bilang gini, „ udah lah Bang, kalo lu masih mau tinggal sama gue, mending lu berhenti judi, tobat Bang, tobat. Kalo gini terus gue ga kuat. Mending cerai aja gue sekalian Bang!‟ gitu Jo. Nah pas pagipaginya gue dicuekin. Pas gue ngerayu, gue langsung diusir, Jo. Mana bini gue sambil ngelempar piring lagi. Lah gue takut, langsung aja gue kabur...” Kernet kedua diam berfikir mengasah otaknya. Diam, dengan gaya santai sambil memainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Tak beberapa lama kemudian, keluarlah kalimat yang ditunggu-tunggu kernet pertama, “Lu masih sayang sama bini lu?”

16

Sebutan untuk istri. Tapi masih berasa lebih kasar.


“Iiyalah Jo. Gue sayang. Tapi... gue ngerasa salah juga” jawab kernet pertama dengan lugu. “Bener?” tanyanya sekali lagi sambil melotot kearah kernet pertama. Lalu asap rokok ia hembuskan lagi. “Gini, cara paling tepatnya menurut gue, lu ga usah judi lagi...” “Ttaapii...” “Ga pake tapi! Katanya lu masih sayang. Dan lu harus solat. Kaya gue nih udah tobat.” Kernet kedua mulai terlihat serius dalam pembicaraan yang selanjutnya. “Jo, gue udah lupa cara solat...”kernet pertama tadi berkata sambil menunduk malu. “Nah itulah kesalahan lu! Lu masih sayang kan sama bini lu?” “Iya jo. Gue bakal lakuin apa aja biar bini gue ga marah lagi sama gue. Soalnya udah parah banget nih...” “Entar pas kita istirahat, mending lu belajar solat sama gue, itung-itung inget-inget lagi. Dan sampe di rumah lu ga usah minta maaf lagi...” “Kalo gue pulang bini gue masih marah gimana?” “Gue belon selesai ngomong, Nyet !” kernet kedua marah, ketika ucapannya dipotong. Ia melanjutkan, “Lu sampe rumah ngucapin salam. Bisa kaga lu ngucapin salamnya orang islam?”


“Iye bissa...” “Kalo udah, tapi masih ga ditanggepin lu langsung ngomong ke bini lu, bahwa lu pulang bawa duit. Kasih semua ke bini lu. Jangan dipake maen judi. Dan mita ajarin solat sama bini lu. Dijamin bini lu kaget mendengar ucapan lu...” “Bener?” “Ya sudah kalo ga mau nyoba...” “Iye gue coba...” Percakapan berakhir di sini, karena ada penumpang yang masih memaksa ingin naik ke dalam bus. Tanpa ragu sang kernet pun berkata, “Ayo masih kosong, masih kosong!” Inilah Bulan Jaya, mini bus yang tangguh di kelasnya.

Kami naik Bulan Jaya sampai daerah Kalideres. Keadaan yang begitu sumpek. Dengan polusi yang bertebaran di mana-mana. Inilah terminal Kalideres. Kami berempat telah turun dari Bulan Jaya. Siap menanti truk-truk yang mau mengangkut kami. Tedi dan Tyan mengulurkan tangannya kepada truk yang lewat. Tapi tak ada yang mau berhenti. Hanya diberikan knalpot dengan asap hitam mengepul. “Huh sial, mana nih truknya. Ngga ada yang mau berhenti!” Gerutu tedi.


“Truk bangsat!” teriak Tyan sembil melempar kerikil mengarah ke truk yang telah meninggalkan kami dengan cepat. Aku dan Iwan hanya menertawai mereka berdua. “Ya udah sekarang giliran gue berdua. Huh ide kalian berdua ga ampuh...” Iwan mencoba menegaskan keberhasilan kami, sambil meremehkan mereka berdua. Tedi cemberut saja. Tyan malah mengambil posisi duduk dengan sleepingbednya17. Aku dan Iwan merapat ke jalan. Baru saja kami selesai berdebat, aku dan Iwan merapat ke bibir jalan, sebuah truk dengan dua orang pengendara berkacamata hitam berhenti dihadapan kami. Kami berdua kaget. “Heh, lu semua yang waktu itu naek bis Sahabat yang turun di Serang itu kan?” ucap salah seorang pengemudi truk. “Kapan, Bang?” aku bertanya keheranan. Sebab sering sekali kami ke Serang untuk bermain dan malah selalu naik bus antar kota Sahabat, jurusan Kuningan – Merak. “Yang dua bulan lalu, malem-malem. Lu berlima, sama cewenya satu itu. Kita ketemu pas lu semua berpakean kaya gini. Kan gue sapa, lu bilang mau hiking...” jelas pengemudi tadi, “ Alah lupa lagi. Gue pengamen yang ngasih tau lu kalo gue orang Semarang. Lu yang pake baju biru,” menunjuk kearahku, “ Lu yang ngasih gue seribu itu...” 17

Kasur lipat yang bisa dibungkus dan berbentuk tas. Biasa dipakai oleh para pendaki, backpackers, dan para orang-orang yang keluar di jalan Allah SWT.


“Oohhhh” kata kami bersamaan. Baru ingat kami. Pada waktu, dua bulan yang lalu kami memang ingin hiking ke gunung Karang, tapi tidak jadi, malah mengambil jalur Cilegon dan ke pantai Marbella. Ya benar, kami menaiki bus Sahabat, dan ketika hendak turun di Serang , ada seorang pengamen yang menyapa kami. Orangnya ramah. Ternyata orang itu bertemu dengan kami lagi. Ia memang benar-benar baik. “Ya udah, ngapain lu semua bengong-bengong aja, mau ikut ga nih?” lagi-lagi pengemudi yang berprofesi pengamen ini menawarkan keramahannya kepada kami.

Di truk. Aku, Tedi dan Tyan berada di bak belakang truk, sedangkan Iwan ada di depan bersama orang tadi. Iwan mengobrol panjang lebar, ia pun berkenalan dengan para pengemudi. Yang memegang stir

bernama

Tyo,

Prastyo nama

panjangnya.

Sedangkan yang tadi mengamen dan menyapa kami tadi bernama Jodi. “Jodi, lu kok dari Semarang bisa nyampe di sini. Jauh banget lu maen...” tanya Iwan, menghilangkan keheningan.


“Ya sama aja kaya lu semua, Wan, lu ngapain coba maen jauh-jauh, gembel lagi. Mana bawa kaya beginian semua, kaya mau perang aja lu semua” ledek Jodi. Kami semua tertawa. “Kalo gue sih cuma mau mencari siapa sih gue? Gitu. Terus kita berdua tuh cuma mau menantang hidup yang kata orang sulit...” lanjut

Jodi,

terlihat

dari gambaran wajahnya

ia

bersungguh-sungguh. “Kalo gue dan hitam putih abu-abu cuma mau mengejar impian, cita-cita dan harapan...” ucap Iwan yang mengopi katakataku. “Juga hidup dan perjuangan” lanjut Tyan. “Ya ya ya...” aku juga tak mau ketinggalan. Pembicaraan yang nikmat itu terhenti, karena kami memutuskan untuk berhenti di sebuah daerah Jakarta yang pas untuk menyambung truk lagi. “Jodi, Tyo, makasih ya! Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi!” teriakku. Kami semua melambaikan tangan ke arah truk yang dibawa mereka. Mereka pun berlalu dengan begitu cepatnya. Jodi dan Tyo, dua orang yang menjadi cerita dalam perjalanan kami. Dengan gaya

yang begitu asal-asalan, kami melanjutkan

perjalanan. Mencari tumpangan lagi deh.


“Kita kemana lagi nih?” tanya Iwan cemas. Dia selalu begitu, pesimis dengan apa yang kita lakukan. Tapi anehnya dia selalu yakin kalau kita bisa melakukan itu semua. Di balik kepesimisannya, ia bisa optimis dalam berbagai hal. “Kemana ya? Gampang...” ucap Tyan santai. “Huh slalu begitu,” balas Iwan dengan senyum kecut. Perjalanan kali ini diteruskan dengan naik mobil angkutan sayur dari desa. Entah, tujuan yang tak jelas. Kami hanya merasa berputar-putar saja di sini. Jakarta, kota besar dengan beragam cerita di dalamnya. Orang-orang yang sibuk berjalan dengan tergesa-gesa. Ada juga sekumpulan anak remaja yang sangat mengikuti trend zaman, menatap kami dengan keheranan, kami tak fokus ke mereka. Mungkin pikiran mereka, kami ini adalah orang gunung yang sedang menuju ke kota. Ah biarkan saja. Lalu di setiap persimpangan lampu merah, masih banyak anak jalanan dan pengemis yang menghiasi kota besar seperti Jakarta ini. Mereka sibuk meminta. Ada ibu dekil menggendong bayinya dengan wajah mengiba menadahkan tangan dan berharap akan ada orang yang mau memberikan sedikit rezeki kepadanya. Ada pula remaja seusia kami yang sibuk mengamen. Tragis. Sebuah penderitaan terjadi di tengah gemerlap keglamouran dunia. Mari berkaca, wajah negara ini yang sesungguhnya tercemin di kota-kota besar. Mulai dari para bangsawan hingga orang-orang pinggiran, sekumpulan ustadz sampai organisasi


pencopet, penjual asongan sampai penjual diri, ada lelaki sejati ada juga lelaki setengah dewa (ngerti kali, alias waria), dari keadilan sampai kecurangan, dari pelacur jalanan sampai pelacur berkerah, dari kenikmatan sampai kesengsaraan, gedung kokoh pencakar langit sampai gubuk reyot yang terkena teriakan saja langsung roboh. Ya, mungkin setiap keberhasilan sesuatu membutuhkan pengorbanan. Apakah, Indonesia ini berhasil di berbagai bidang, yang menjadi korbannya adalah para kaum pinggiran? Aku tak tahu. Kami terus menatap keterasingan berbagai orang yang tersesat di kota ini dari atas mobil angkutan sayur. Aku menikmatinya, juga kawanku yang lain. Hitam putih abu-abu merenunginya. “Boi, inilah hidup, penuh perjuangan. Ga ada yang sempurna di dunia ini...� ucapku datar, aku memperhatikan semua ini yang lain pun hanya termenung, diam tanpa kata. Keheningan menyelimuti kami. Tiba di sebuah lampu merah, lalu beberapa anak jalanan berumur sekitar sepuluh tahunan berlari menyerbu jalan, bak ombak menerjang karang. Mereka bernyanyi dengan suara fals. Hanya berbekal sebuah botol yang diisi pasir, berbagai kendaraan mereka datangi, hanya untuk mendapat recehan sisa kembalian orang-orang kaya.


“Gila tuh orang, tega amat ga ngasih tu pengamen. Sadizzz!” ucap Tyan kesal. Melihat seorang pengemudi mobil yang hanya terdiam dan menjalankan mobilnya ketika ada seorang bocah menyanyi di jendela mobilnya. “Pelit banget tuh orang kaya!” Iwan ikut-ikutan mengutuk. “Ya jangan gitu lah boi, mereka mungkin punya alesan ga ngasih...” aku mencoba menenangkan teman-teman. “Ah, alesan sampah!” Iwan langsung melanjutkan, wajahnya kurang puas mendengar jawabanku. “Kan gue belum selesai ngomong,” aku mencoba menjelaskan lebih detail, “Alesannya cuma buat ngegedein perut tuh. Beli sampah di mall yang cuma berisi kotoran dan keringat mereka sendiri!” aku pun tersulut emosi. “Ya sudahlah...” Tedi merasa sudah bosan melihat kehidupan seperti ini. Aku merasa salah juga, mencekal para orang kaya yang terlihat angkuh ketika tak peduli kepada anak jalanan dan orangorang sebangsanya. Tapi, yang bisa kami katakan hanyalah pengelihatan dua bola mata. Jangan salahkan mata kami. Perjalanan terus kami lanjutkan, setelah selesai salat isya di masjid Istiqlal18 dan setelah menyantap nasi goreng khas Tyan.

18

Sebuah masjid terkenal yang terletak di kota Jakarta.


Kami mencari tumpangan lagi. Sudah malam, kukira tak ada truk yang mau mengangkut kami. “Bang ikut ya!” teriakku, setelah memberhentikan sebuah truk yang dikemudikan oleh seseorang berbadan besar. “Oke, semuanya naek...” ucap supir itu dengan ramah. Di atas truk. “Emang kalian semua mau kemana?” tanya supir itu tanpa berkenalan dulu. “Uhm, ga tau” jawab Tyan. Kami semua hanya senyumsenyum tidak jelas. “Hah, dasar anak muda jaman sekarang...” supir itu agak kaget mendengar jawaban dan ekspresi kami. “Bang, kami ikut ya, sampe pagi nanti...” Tyan berharap supir itu mengizinkannya. “Uhm, okelah. Tapi sampe mana aja ga apa-apa ya?” “Iya, sampe Bali juga ga apa-apa. Hehe” aku mencoba membuat lelucon kecil. Semua tertawa, begitu juga abang supir. Setelah malam menunjukkan wujudnya sebagai gelap yang pekat tanpa bintang, juga diselimuti angin yang menusuk tulang, kami semua mulai terkantuk. Lalu kami pun tidur di atas truk. Terlelap, karena perjalanan panjang esok masih menanti kami.


“Heufffttt ahhhhhhhh....” Tedi menguap dari tidurnya. Alarm telepon genggamnya yang sudah tua menggetarkan telinga kami semua. Tanda sudah pukul setengah lima pagi. “Ted, berisik. Matiin geh...” Iwan merasa terusik. Lalu ia menutupi telinganya dengan tasnya. Telepon genggam Tedi masih berdering kencang. Truk yang kami tumpangi pun telah berhenti. Entah terdampar di kehidupan mana lagi kami semua. Yang pasti aku kali ini sedang menikmati mimpiku. “Woy bangun! Subuh subuh...” ucap Tedi sambil mengucek matanya. Ia pun terlihat masih ngantuk. Matanya belum bisa terbuka. Di antara kami belum ada yang bangkit selain dia. Perlahan-lahan suasana pagi memperingati matanya. Ia pun perlahan-lahan membuka mata. Tiba-tiba, ia langsung merasa terkejut, nyawanya langsung menyatu seketika. Perasaan apa yang menyelimutinya ini? Sungguh, berkali-kali ia mengucek matanya sampai merah. Lalu ia mencubit Tyan, yang persis ada disebelahnya. “Awwww, sakittt!” ucap Tyan yang langsung terlelap kembali. Ia merasa sedang berada di sebuah tempat yang ia kenal, kenal sekali. Apakah ini tempat yang ia lihat di dalam mimpi semalam? Ia bingung. Tapi bukan, apakah ia sedang bermimpi? Tidak, buktinya Tyan merasakan sakit ketika ia cubit tadi. Apakah ini?


“Goooooooobbbbbbbbbbbblllllllllooooooooooookkkkkkkk kkkkkkkkkkkkkkk!”

Tedi

teriak

histeris.

Teriakannya

membangunkan kami semua. Aku langsung bangun walau sebagian rohku masih melayang-layang di angkasa. Tyan pun segera bangun dan membuka matanya lebar-lebar. Iwan melihat sekeliling dengan mata masih terpejam. Kami pun menyadari semua ini. Keberadaan kami saat ini. Keadaan kami di sini. “Aarrrrrggggghhhhhhhhhhhhh!” teriak kami bersamasama. Sang supir yang sudah bangun dari tadi tersenyum menatap

kami

sambil

memegang

segelas

kopi

dan

menawarkannya. Lalu ia berkata tanpa merasa memiliki dosa, “selamat datang di Balaraja...”


2 Aku adalah aku. Kamu adalah kamu. Aku bukanlah kamu. Kamu bukanlah aku. Sebaik-baiknya orang adalah jika mereka menjadi diri mereka sendiri, bukan orang lain. – Khatta Goenawant

“Bodoh! Kenapa lagi-lagi pulang? Huh, boseennn.” gerutu Tedi yang dari tadi cemberut seusai solat Subuh. “Mungkin kita ditakdirin muterin Balaraja kali...” ucap tyan yang lagi sibuk membuat mie instan di terminal Sentiong. “Emang kalian bener-bener dari Balaraja?” tanya supir yang masih berada diantara kami. “Ya iyalah, buktinya kami begitu kesel ngeliat ni terminal. Bang, kenapa ga bilang sih mau ke Balaraja?” jawab Tedi dengan emosi. “Udah sih, Ted, biarin. Lagian juga salah kita ga nanya ni truk mau ke mana.” Aku mencoba meredam emosinya. Ia terdiam tapi masih cemberut. Iwan dan Tyan masih sibuk memasak mie instan dengan peralatan yang telah kami siapkan sebelumnya. “Iya, kalian tadi kan bilang mau kemana aja, ngikutin truk...” supir tadi mencoba membela diri agar ia tak disalahkan. Memang, kami yang salah, tapi aku mungkin berusaha


menikmatinya. Apa yang akan kami kerjakan mungkin akan dibahas nanti setelah menyantap mie instant. “Okelah, gue ngalah. Tapi gimana nih nasib kita sekarang?” Tedi masih saja mengeluh sambil mempertanyakan nasib. “Woy, makan-makan!” teriak Iwan sambil mengangkat mie yang masih ada di dalam panci. Tedi dihiraukan saja oleh kami semua. Lima mangkuk mie panas tersaji dihadapan kami. Aroma yang begitu sedap menusuk perut lapar begitu menggoda. Supir yang terlihat lapar, semakin bernafsu untuk menyantap mie. Aku tersenyum melihat orang itu. Ya, kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Sambil memakan mie yang masih panas, aku memikirkan tentang perkataan Tyan tadi, “mungkin kita ditakdirin muterin Balaraja aja kali...,” ada benarnya juga, berkeliling daerah sendiri, mengenal lebih dekat daerah sendiri, kalau ditanya, emang udah semua daerah Balaraja yang dirasain? Pasti jawabannya belum. Ya, bagus juga muter-muter Balaraja nih. Semoga saja yang lain setuju. Supir tadi memakan mie dengan lahapnya, upz, hampir saja lupa, kami tak berkenalan dengan supir ini. “Oia Bang,” ucapku memecah keseriusannya yang sedang menyantap mie, “Saya lupa nanya, nama Abang siapa?”


Iwan terlihat kaget, Tyan sepertinya ingin memuntahkan mie yang sedang ia makan, Tedi tercengang tak mengunyah. Seakan mereka tak percaya hal yang telah kami lakukan, melupakan hal penting yang begitu sepele, berkenalan. Dengan sangat angkuh kami menaiki mobil si abang supir dan mengobrol panjang lebar tanpa mengetahui namanya. “Oia ya, sampe lupa, abis keenakan ngobrol sih, nama Abang Jo, panggil aja Jo!” ucapnya dengan tegas sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Aku pun menyambut tangannya, kami bersalaman, terasa sekali kasar tangannya. Seperti menunjukkan bahwa ia telah melewati perjuangan yang begitu keras melawan keganasan alam, “Saya Hardi...” Yang lain melanjutkan, “Saya Tyan..” “Saya Iwan...” “Saya Tedi...” “Kami ini hitam putih abu abu, pembeda antara remaja masa kini. Gaulnya kami begitu menantang, Bang...” aku melanjutkan. “Wou, gimana nasib kita sekarang?” Tedi bertanya hal yang tadi lagi, “Apa kita udahan aja nih...”. “Huh masa pulang? Manja amat lu!” Iwan terlihat kesal. “Iya masa pulang, baru semalem, cemen lu, Ted!” Tyan pun terlihat merendahkan Tedi.


“Ya, jadi terserah lu, lu pada dah. Tapi abis gini ngapain lagi?” Tedi mencoba mengalah. Sebab, dari tadi ia sendiri saja yang bingung memikirkan kita selanjutnya bagaimana dan mau kemana. “Jah, Ted, lu mah gitu. Kan tadi Tyan udah ngomong, „mungkin kita ditakdirin muterin Balaraja kali‟ iya kan?” aku mencoba menenangkan suasana. “Iya, kita muter-muter Balaraja. Lu semua pasti belum pernah, kan? Lah orang Balaraja sih belom pernah tidur di jalanan Balaraja, gimana sih, Lu!” kata Iwan mencoba menguatkan argumenku. Tedi masih diam saja tak berkomentar. “Emang lu udah pernah, Wan?” tanya Tyan. Iwan kebingungan menjawab apa. Ia tersenyum malu, “Gila aja lu, masa gue tidur di Balaraja sendirian? Ntar kalo gue diculik gimana?” “Hah sampah lu!” Tyan kesal. “Kita jadi nih muter-muter di Balaraja?” aku bertanya. “Ya iyalah, masa ya iya deh. Cape dehhh” ledek Iwan dengan lebay. Semuanya tertawa, termasuk bang Jo. Hanya Tedi yang masih terdiam. Tak sedikitpun ia keluarkan ekspresi senang dari dalam dirinya. Hanya diam, membatu, membisu, menjadi patung. Sunyi lalu menyergapi hatinya, entah apa yang dipikirkannya. Aku membaca dari wajahnya, yaitu kebimbangan dalam mengambil


keputusan kali ini yang begitu berbeda dari sekian pilihan dalam hidupnya. “Kenapa lu, Ted? Kayanya ga seneng banget?” tanya Tyan. “Uhm...” “Tau lu. Ga suka ya kita muterin Balaraja?” aku menyambung. “Bukan gitu, gue malu. Masa kita ngelilingin Balaraja? Ntar kalo temen-temen gue ngeliat gimana? Kan gue malu...” ucap Tedi dengan polos sambil tersenyum. “Huuuuuu” serempak kami menyorakinya. Akhirnya kami semua sepakat, bahwa Balaraja, tanah air tercinta kami, akan kami kelilingi. Walaupun tak sempat semuanya, yang penting kami masih bisa merasakan udaranya bersama-sama. Tanah yang kami bisa bilang memiliki dua sisi. Lihat saja nanti, kawan. Setelah selesai makan dan merapikan peralatan masak, kami melanjutkan perjalanan mengitari jalan panjang nan sepi, tidak begitu ramai, orang-orang menyebutnya Jalan Baru. Jalan ini cukup bagus, tapi tak pernah dilewati angkot, kalau pun pernah, itu dulu selagi pembangunan jalan. Para supir angkot mengeluh karena melewati jalan itu pendapatannya jadi minim. Jelas saja pendapatannya minim, karena sepanjang jalan itu hanyalah semak belukar. Awalnya adalah memasuki kawasan berikat, yang kanan


kirinya pabrik, tapi tidak terlalu banyak dan diakhiri dengan pasar Sentiong. “Duh mobil pada kenceng-kenceng aja nih, kita lewat desa Tobat aja yu...� ajakku. Yang lain pun menyetujui. Mentang-mentang kendaraan sepi, orang-orang langsung memakai jalan dengan seenak diri mereka saja. Dipakai kebut-kebutanlah, pernah beberapa kali di jalan ini terjadi kecelakaan dan orangnya pun menurut kabar burung langsung meninggal di tempat. Itu karena mereka semua kebut-kebutan. Lalu kami pun mengambil rute yang berbeda, kami telusuri saja jalan setapak dari arah desa Tobat. Jalan sama saja, hanya saja lebih terhindar dari kebisingan kendaraan dan kami ingin menikmati aroma dan gemercik sungai. Sungai kecil yang biasa dipakai anak-anak kampung untuk berenang. Lalu keadaan mengejutkan menyelimuti kami. Tak kami perhatikan bahwa selama ini kejorokan masyarakat di sini kian menjadi-jadi. Sepertinya, belum lama pemerintah daerah telah melakukan program pembersihan sungai, sampai-sampai sungai ini mengalami reparasi yang begitu memakan biaya. Tadinya keadaan sungai kian membaik. Tapi, sekarang airnya makin mengeruh ditambah lagi tadi kulihat seorang warga yang tengah bersiap melempar sampah ke arah sungai dan berhamburanlah sampahsampah itu di sungai, mengambang mengikuti laju air sungai. Dan


yang tak kalah berbahayanya adalah limbah pabrik yang ikut meramaikan pencemaran. Beberapa pabrik yang kami tahu telah membuang limbah-limbah hasil industrinya sungai. Mereka, para pengusaha, hanya memikirkan keuangan mereka saja, tanpa memikirkan keserasian lingkungan hidupnya. Nasib anak sungai Cimanceuri ini begitu tragis, sama dengan beberapa sungai-sungai di daerah Tangerang lainnya. Seperti sungai Cirarab dan sungai Cisadane, yang lebih dahulu tercemar. Bumi terpaksa menanggung dosa-dasa besar yang kian menumpuk di dalam tubuhnya. Berjuta-juta sampah yang menyakitinya di dalam tubuh mesti ia tanggung. Manusialah aktor di balik kisah penderitaan bumi kita ini. Ah, lagi-lagi manusia, mahluk sempurna yang oleh Allah SWT diberi akal dan pikiran. Mereka diberikan kebebasan berfikir. Maka para pemikir yang salah, para pemikir yang tak menggabungkan pikirannya dengan keyakinan kepada Allah, berfikiran bahwa dunia ini milik mereka, dan mereka berhak melakukan apapun kepada bumi ini. Walau secara tidak sadar mereka semua menganiaya bumi. Dan mereka setelah menyadari hal ini mulai menyalahkan sesama. “Kau yang salah, kau yang salah!� berbagai hujatan menghujani sesama manusia tanpa memikirkan solusi terbaik untuk bumi ini. Walau mereka memikirkan sebuah bahkan jutaan solusi, mereka hanya memberi solusi, ya itu saja, hanya solusi. Tanpa melakukan sosialisasi. Tidak turun ke lapangan untuk membersihkan sungai,


tidak ikut membersihkan got, tidak ikut megurangi polusi. Hal ini, hanya dilakukan sebagian orang saja, orang-orang yang benarbenar cinta bumi. Tapi kebanyakan yang orang kaya, yang selalu mengadakan solusi untuk bumi tak berani turun membersihkan lingkungannya. Entah mengapa, mungkin mereka takut kalau nantinya sampah-sampah itu akan mengotori jas-jas mereka. “Kayanya baru kemaren deh ini sungai di kerok sampe di plester gini?” aku memulai pembicaraan. “Iya, kayanya baru aja kemaren sungai bersih...” Iwan menimpali. Yang lain pun ikut mengangguk. “Tapi liat tuh, sampah mulai menyebar. Airnya mulai keruh. Bodoh amat orang-orang sini!” aku mulai emosi. “Ya udahlah, kita juga ga bisa mencegah orang itu sekarang. Kalo sekarang dicegah, paling lu, Har, yang bonyok 19 digebukin20 orang sekampung...” ucap Tedi. Benar juga apa yang dikatakan Tedi, apabila aku meneriaki orang tersebut, atau aku menegurnya, maka yang aku dapati adalah: digebukin orang sekampung! Parah. Begitu hancurkah Indonesia? Memberitahukan sesuatu yang benar malah digebukin, terkesan akulah yang mempunyai salah. Padahal mereka sendiri yang memulainya. Apabila banjir datang, sungai

19 20

Muka atau tubuh yang babak belur. Dipukuli.


meluap lalu mereka merengek minta bantuan pemerintah. Itu jadi salah siapa? Ya kita introspeksi sendiri-sendiri sajalah. Kami berempat pun berjalan meninggalkan orang tadi. Kami bertatapan di ujung sungai. Orang tadi melihat kami santai saja. Dan begitulah, berlalu begitu saja semua ini. Sekarang kami berada di sebuah kawasan industri, pabrikpabrik besar nan megah telah menancapkan cerobong-cerobongnya di tanah Balaraja ini. Udara mulai mereka hitamkan. Sekarang rasa sedih menyelimutiku lagi. Tanah yang sangat aku cintai ini kembali terkotori. Apa sih dosa Balaraja? Aku sekarang bertanya dalam hati. Mungkin dari perjalanan ini aku banyak mengambil kisah yang bisa dijadikan sebagai bahan perenungan diri. Kami tak banyak komentar ketika melewati daerah ini. Jalan rusak, becek ketika hujan, air sungai yang kotor, udara tak sejuk, bahkan embun pun sungkan berada di sini lagi, karena apa? Ya salah satunya adalah karena keberadaan pabrik-pabrik bercerobong itu! Kami melanjutkan perjalanan Keluarlah kami dari kawasan pabrik, lalu sampailah di kawasan Lampu Merah – sebuah kawasan di Balaraja yang dulunya terdapat lampu merah tapi sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Letaknya persis di arah masuk kendaraan menuju pintu Tol Balaraja Barat. Di sini adalah daerah transit, tempat orang berangkat, pulang atau berganti mobil ketika melakukan perjalanan. Sangat berdebu dan menyesakan


nafas. Jutaan butir debu berterbangan menghiasi jalanan. Ditambah lagi suasana yang mulai panas. “Tersiksa gue, tersiksa!” kata Tedi sambil menutupi hidungnya. “Ah lu, Ted, ngeluh aja. Udah sih rasakan aja...” Iwan tidak senang melihat Tedi seperti itu. “Abisnya panas banget, mana ngebul lagi. Uh shit!” lanjutnya. Terlihat keringat mengalir membasahi leher juga sekujur tubuhnya. `

“Ya udah sih sepele,” ucap Tyan santai. Tedi kali ini lebih banyak mengeluh. Jujur, keadaan kali

ini begitu menyiksa. Debu-debu yang beterbangan bukan disebut banyak lagi, tapi semua celah jalan raya dipenuhi oleh debu. “Aduhhh aduuuhhh...” aku mengeluh kesakitan. “Kenapa lu, Har? Ngikutin Tedi nih?” tanya Tyan. Sambil mengucek mata yang mulai merah dan terasa pedih, aku menjawab, “Bukan, ini kaya ada yang masuk ke mata gue!” “Coba gue liat...” Tyan pun memperhatikan mataku di pinggir jalan. Setelah beberapa detik, “ Pantes aja, ada batu meteor sebesar mobil masuk ke mata lu, Har...” Iwan dan Tedi pun langsung tertawa. Mana bisa batu meteor yang sebesar itu masuk ke mataku. “Bodoh lu Tyan, udah tiupin dulu nih...”


“Puiiihhhhh...” “Ahh.. mendingan...” mataku yang sebelah kiri jadi merah akibat kukucek dengan keras tadi. Kami terus menelusuri jalan Balaraja – atau lebih dikenal sebagai Jalan Raya Serang km 24. Yang kian berdebu itu. Lalu kembali kami disuguhi pemandangan yang mencengangkan. Di Balaraja akan di buat fly over! – jalan layang yang akan menghubungkan jalan yang satu ke jalan yang lain, upaya ini dilakukan untuk mengentaskan penyakit macet yang ada di setiap daerah. Jalan pun sekarang rusak parah. Semoga saja pekerjaan pembuatan fly over ini tidak memakan waktu lama sehingga jalan yang rusak tadi segera dibetulkan agar bisa menambah keindahan Balaraja. Jangan seperti rencana pembangunan pasar modern atau lebih dikenal sebagai segitiga Balaraja yang ada di samping pasar tradisional Balaraja. Keadaan pasar modern yang dijanjikan beberapa tahun yang lalu tidak membuahkan hasil. Hanya terlihat bongkahan-bongkahan bangunan yang berlantai satu, mirip bangunan mall yang belum jadi, terbengkalai begitu saja. Nah, ini yang salah satunya merusak pemandangan Balaraja. Tak sedap dipandang. Sebuah bangunan megah yang gagal karena uangnya dikorupsi oleh para pekerja sehingga uang untuk melanjutkan pekerjaannya habis dan para pekerjanya tidak tersisa sedikit pun. Di ujung pertigaan Balaraja terlihat seorang polisi yang sibuk mengatur lalulintas. Entah, perasaan kesal menyelimutiku


saat melihat orang-orang berbaju coklat dan berompi hijau itu. Mungkin aku sering melihat kejadian yang begitu memilukan hati. Ya, memilukan hati. Kejadian itu sudah lama terjadi, saat aku mengendarai sepeda motor bersama temanku di daerah Bitung. Aku saat itu tidak memiliki Surat Izin Mengemudi dan temanku tidak menggunakan helm. Memang aku memaklumi kami saat itu melanggar tata tertib lalu lintas. Yang jadi permasalahan adalah ketika polisi yang menangkapku memberikan surat tilang juga memberikan sebuah tarip21. Tarip yang berisi pelanggaran kami. Lalu ia berkata, “Gimana, mau ditilang atau bayar ke saya? Nih saya pilihin, mending kamu bayar yang ngga pake helm aja. Soalnya lebih murah. Bayarnya ke saya...” “Ih pak, saya lagi ngga punya duit” aku memelas. “Yee, ngeyel lagi, ngga percaya saya!” polisi tadi tidak percaya. Lalu temanku mengeluarkan dompetnya, “ tuh Pak, bener kan ngga ada duit, Cuma ada tiga puluh ribu doang...” Polisi itu menengok isi dompet temanku, lalu ia segera meraih uang tiga puluh ribu temanku, “ Ya udah sini tiga puluh ribu dulu, tapi masih kurang nih. Coba dompet kamu.” Bangsat! Darahku mulai naik. Oh ya, untung dompetku kosong. Ketika dompetku dibuka, tidak satu lembar pun uang yang

21

Daftar harga, daftar sewa dll.


ia dapat, tapi lagi-lagi ia segera mengambil sesuatu dalam dompetku. “Ini, apa ini?” kata polisi itu sambil mengangkat kartu ATM-ku. Wajahnya seperti habis menemukan harta karun. “Pasti ada duitnya ini...” “Ih Pak, ngga ada. Lagian kalo ada buat saya pacaran sama pacar saya. Eh maksud saya buat ongkos sebulan...” “Alah, alesan aja kamu ini. Udah sono ambil di samping alfamart – nama sebuah minimarket. Di situ bisa ko ngambil duit. Sekalian saya mau ngeliat struknya. Biar kamu ga bohong!” “Ih, janganlah pa...” “Kamu ini! Cepet, nanti malem saya mau nyewa bencong nih, eh maksud saya mau jalan sama yang muda.” “Huh tua-tua ganjen...” “Ngomong apa kamu!” “Ngga pak...” “Ya udah cepet! Lima menit!” Dengan perasaan yang tidak ikhlas aku segera berlari mengambil uangku yang ada di ATM22. Lalu dengan berat hati, uang seratus ribu yang tersisa harus aku serahkan. Setelah itu polisi tadi menasihatiku dengan sok baik, dengan nada-nada sok ustadz. Alah! Aku lebih senang memanggil mereka Pelacur

22

Anjungan Tunai Mandiri.


Berkerah. Kejadian yang memilukan di tempat itu yang lain adalah, polisi hanya diam saja di tengah dan di pinggir jalan. Sedangkan yang sibuk mengatur jalan adalah Pak Ogah – seorang polisi cepek yang mengatur jalan, bukan polisi sesunggguhnya. Yang berharap pengendara memberikannya uang walau hanya lima ratus rupiah. Pak Ogah tadi terlihat begitu serius dan semangat mengatur jalan. Tapi polisi sesungguhnya malah jadi patung polisi yang siap menilang orang di tengah jalan dan menguras habis kantongnya. Aku hanya bisa menyimpulkan, apabila nanti pada hari kiamat, mungkin saja cuma ada dua jenis polisi yang langaung masuk surga tanpa siksa, yaitu, patung polisi dan polisi tidur. Dengarlah polisi yang ada di seluruh Indonesia, jadikan kisahku di atas sebagai renungan kalian! Perasaan kesal dan benciku masih terselubung hingga sekarang. Di mana pun aku melihat polisi, perasaan benciku menjadi-jadi. “Heh pelacur berkerah di pinggir jalan! Ngapain lu di situ, mending lu bercinta sama bencong-bencong23 aja di salon 24!� teriakku dengan kencang, mengagetkan semua temanku, orang

23

Sejenis orang-orang yang tak puas akan jenis kelamin yang mereka miliki. biasanya mereka mengubah diri menjadi pria, apabila yang wanita dan wanita apabila yang pria. 24 Tempat tata rias, potong rambut dan perawatan rambut.


yang ada di dalam mobil angkutan kota, tukang ojeg, juga polisi itu sendiri. “Heh, Har, ngapain lu teriak kaya gitu sama polisi? Nyari mati lu?!” kritik Tedi yang mulai cemas melihat polisi yang mulai memperhatikan gerak-gerik kami. “Tau lu, Har, goblok banget!” Iwan pun sama. “Bagus, Har, gue suka gaya lu. Gue juga kesel sama tu polisi!” tapi Tyan malah senang dengan perlakuanku tadi. Ia memberikan

support25

yang

besar

dan

membangkitkan

semangatku. Aku tambah bergairah. “Boi, nyantai aja sih, kita ini kan bener, jadi jangan takut...” dengan semangatnya, aku memandangi polisi yang ada di hadapan kami dengan berjuta-juta kebencian. Semua orang memberikan berjuta pandang terhadapku. Semua orang memperhatikan aku. Tukang ojeg sepertinya mencium bau pertempuran, segera saja merapatkan barisan di bagian depan untuk menonton agar tak ketinggalan. Beberapa orang polisi yang lain keluar dari pos polisi tempat mereka berjaga. Aku menarik nafas panjang. Dengan senyum yang memilukan hati para polisi, aku menunjuk mereka semua dan berkata, “Woy pelacur berkerah, ngapain lu semua berdiri di sono

25

Dukungan.


aja? Alah, katanya pengayom masyarakat, tapinya cuma bisa mintain duit orang miskin doang!” aku mengumpulkan energi lagi di

tengah

terik

matahari,

polisi-polisi

itu

berbisik

dan

memperhatikan kami, “Udahlah, ga pantes lu bekerja buat negara, mending lu jadi penghibur aja. Kalo nggak, lu ngadem terus tuh di pos ampe mati. Bukannya itu aja yang lu semua lakuin tiap hari? Kalo ada pimpinan aja sok sibuk!” Huh, ampuh. Hatiku merasa tenang. Semua uneg-uneg yang terpendam di dalam hatiku tentang kebencian, tentang kekesalan, tentang segalanya, keluar semua. Kepuasan yang aku nantikan telah hadir. Ya, mereka yang di hadapanku patut menerima serapah dariku. Polisi-polisi itu mendekatiku, lalu ia segera mencengkram tanganku dan tangan teman-temanku. “Jelaskan ini semua di kantor!” Ucap salah seorang polisi yang mencengkramku. “Hey rakyat, liat gue. Haha. Mereka cuma bisa menyiksa di dalam penjara aja! Lu liat kan, ini pengayom masyarakat kita?” Tyan mulai menimpali, saat kami diseret ke kantor polisi. Tedi dan Iwan hanya garuk-garuk kepala saja. Wow, petualangan gila yang menyangkut nyawa dan hidup. Semua orang yang ada di sana memperhatikan kami semua. Aku sebisa mungkin mengacungkan jempolku kepada mereka dan tersenyum yang menyatakan bahwa aku telah menang.


Jarak kantor polisi dari pos polisi tempat mereka berjaga tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga puluh meter. Jadi kami tidak terlalu lama, kepanasan dan diseret pelacur berkerah ini. Sepanjang jalan,

orang-orang memperhatikanku dengan beribu

tanda tanya. Entahlah apa yang mereka pikirkan. Aku sih sudah lelah berteriak-teriak seperti tadi. Jadi aku sepanjang jalan diam saja. Kami ini persis seperti buronan teroris yang dicari bertahuntahun dan baru tertangkap di sebuah daerah kecil ini. Kami memasuki kantor polisi dengan berbagai perasaan. Aku mulai menebak-nebak apa yang dipikirkan teman-temanku. Pertama Tyan, ia terlihat agak gembira ketika polisi menangkapnya. Iwan dan Tedi terlihat cemas dengan menyiapkan seribu jawaban yang membela diri mereka sendiri ketika nanti akan ditanyai oleh polisi-polisi yang ada di sana. Kalau aku, perasaan benci yang dari dulu kupendam akhirnya meledak juga. Perasaan bahagia menyelimutiku. Polisi-polisi yang menyeretku tadi di jalan masuk ke sebuah ruangan dan mengetuknya. Lalu suara yang ramah keluar dari dalam ruangan. “Ya, masuk.� Suara yang keluar dari balik pintu, tegas dan ramah. Ketika pintu dibuka, seseorang yang tak lagi muda, rambut putih di berbagai celah, menggunakan kaca mata, badan besar,


yang pasti mengenakan seragam coklat. Orang itu memperhatikan kami dengan begitu jelas. “Siapa mereka?” tanyanya dengan begitu menyelidiki, “Abis nyolong ayam? Atau nyolong kambing?” “Bukan pak, mereka ini tiba-tiba berteriak-teriak di tengah jalan, dengan kata-kata menghina polisi!” salah satu polisi yang menyeret kami menjawab. “Emang mereka ngomong apa?” “P..... ,” belum saja polisi itu membuka mulutnya, aku langsung berteriak. “Gue bilang, lu semua pelacur berkerah!” Iwan dan Tedi hanya geleng-geleng kepala. Hal ini mengagetkan polisi yang akan menanyai kami dan semua yang ada bersamaku. Polisi itu menghela nafas, lalu berkata, “Kamu boleh keluar, Ais...” Polisi yang menangkap kami segera meninggalkan kami. Lalu di hadapan kami ada seorang polisi, mungkin ia seorang pimpinan di sini. Ia menatap kami dengan santai. Terlihat kewibawaannya yang begitu tinggi, sehingga semua orang yang berada di sini menghormatinya. Tapi aku tetap membenci semua polisi yang ada di dunia. “Kalian di penjara!” ucapnya yang mengagetkan kami semua. Singkat, padat dan jelas. Hal yang begitu tak terpikirkan.


Tapi inilah hidup, setiap perbuatan harus ada pertanggung jawaban. “Tttapi pa, yang bilang kaya tadi cuma si Hardi doang, kenapa yang laennya malah ditahan juga?” tanya Tedi membela diri. Huh, kurang solidaritas26 Si Tedi ini. Iwan yang dari tadi menunduk, kini menatap tajam Tedi. Begitu juga dengan Tyan. Aku sudah mengerti sifatnya, jadi sudahlah. “Heh, lu anak muda!” bentak polisi itu, mengarah ke Tedi, “Lu kan temennya, jadi lu juga jadi tersangka, dengan tuduhan pencemaran nama baik di pinggir jalan. Mana rasa solidaritas lu? Payah lu.” Tedi terdiam setelah dibentak oleh si polisi. Lalu dimasukkanlah kami ke dalam ruang tahanan. Ternyata di sana tidak hanya kami saja, ada juga lelaki yang berbadan besar, dengan tato di sekujur tubuhnya, dan lelaki kurus dengan tatapan mata yang sangat tajam, setajam silet. Mereka menatap kami dengan sinis. Lalu pintu ruang tahanan kembali dikunci. “Kalian menunggu proses saja...” kata polisi tadi lalu meninggalkan kami begitu saja.

26

Sifat yang menunjukkan suatu kesatuan dan kesetiakawanan.


“Ah goblok-goblok! Masa gue ditahan!” Tedi terus menggerutu, sambil memukul-mukul tembok penjara. Ia terus memberontak dan mengucapkan sejuta serapah kepada polisi. Lalu dua tahanan tadi menaruh jari telunjuk ke bibir mereka, menandakan untuk tidak berisik. Tapi, Tedi malah terus ribut bahkan makin menjadi-jadi keributannya. Di ruang tahanan kami menjadi begitu bising. “Heh, lu bisa diem ga?” ucap tahanan yang berbadan besar dan penuh tato itu. Tedi balik menatap lelaki tadi dan berkata, “Bawel, ngapain lu ceramahin gue? Songong lu!” Gila! Tedi berani sekali mengucapkan itu kepada tahanan yang notabene sudah ditahan kerena kejahatannya. Mana menyeramkan lagi. Aku hanya menahan nafas. Iwan dan Tyan, hanya bisa menahan air ludahnya. Amarah orang bertato tadi tersulut oleh ucapan Tedi. “Bangsat! Gue habisin juga lu di sini!” “Bos sabar bos...” aku mencoba menahan perkelahian yang hampir berlangsung. Tapi orang itu tidak bisa diajak kompromi, ia segera menyiapkan kepalan tangannya ke arah Tedi. Aku, Tyan dan Iwan segera menahan dengan cara memegangi tubuh lelaki yang berbadan besar tadi. Tapi kami tak mampu menahannya. Orang yang berbadan kurus, malah berkata dengan santainya, “Udahlah, hantem aja...”


“Awas lu semua, biar, gue ngebungkem mulut temen lu!” Kami terus menahannya sekuat tenaga. Walau yang dilakukan Tedi terhadapku tadi begitu menyakitkan hati, tapi aku mengetahui arti solidaritas itu. Sesuatu yang amat dibutuhkan dalam pertemanan. Sesuatu yang merasa iba bila melihat teman sendiri dalam kesusahan. Membantu memberikan jalan keluar terhadap teman yang berada dalam bahaya. Tedi masih saja berkomentar yang membakar amarah si lelaki berbadan besar. “Ted, udah diem!” Iwan berteriak, “Lu ngertiin kita juga. Kita udah nahan ni orang, tapi kenapa lu malah ngebuat orang ini marah?! Mana rasa persahabatan lu?” Lalu dengan tenaga yang besar dikeluarkan oleh lelaki itu, kami bertiga langsung terhempas. Lelaki itu mencengkram leher Tedi. Ia terlihar gemetar, ya, cuma bisa menang di mulut saja. Keringat yang menjadi khasnya apabila merasa tertekan, keluar dengan deras. Mukanya kian memelas. Lalu baru saja pukulan keras yang mampu merontokkan gigi itu akan di keluarkan dan bersarang di wajahnya, dua orang polisi datang dan mengagetkan kami. Pintu ruang tahanan dibuka. Lalu mereka menyuruh kami bangun dan menyuruh keluar dari ruangan ini. “Masa tahanan kalian selesai...” ucap salah seorang polisi. Hah, penjara apa ini? Masa tahanan ditahan hanya dalam jangka waktu setengah jam. Aneh. Wajah yang begitu tak percaya


keluar dari wajah lelaki yang hendak memukul Tedi tadi. Pintu tahanan segera dikunci, kami perlahan-lahan menjauh dari ruang tahanan. Ketidakpercayaan masih tergambar jelas di wajah lelaki itu. “Kenapa mereka dibebasin, sedangkan gue engga!” teriak lelaki itu. Kami pun heran melihat kejadian ini. Kami terus digiring pada suatu ruangan. Dan kami masuk dan melihat orang yang menjebloskan kami tadi. Yang memberi perintah bahwa kami ditahan. Tapi ditahan dalam jangka waktu setengah jam. Kami duduk dan terdiam. Keadaan sunyi. Di hadapan kami hanya ada polisi tadi. “Hmmmm, anak muda. kalian semua emang bener-bener anak muda...” ucapnya datar, “Kalian semua emang lagi pada mau ke mana?” Aku angkat bicara, “Kami cuma mau berpetualang aja. Ya, bisa dibilang muter-muter Balaraja gitulah.” “Aku juga dulu hobi berpetualang, sama kaya kalian, mencoba mencari jati diri siapakah aku ini. Sama kaya kalian juga, aku bareng semua temanku...” tiba-tiba keadaan sedih menyelimutinya. Aku membisiki yang lain, “Jangan-jangan orang di hadapan kita ini, salah satu anak-anak terpilih yang pertama. Yang telah


dikatakan Mbah Sugi dulu. Anak-anak yang terpilih sebelum kita?” “Iya juga ya?” balas Iwan dengan berbisik. “Boleh aku melanjutkan?” tanyanya. Kami mengangguk. “Aku yang sebenernya udah mengetahui kalian dan telah menunggu-nunggu hari ini. di mana kita bisa bertemu sebagai orang yang pernah terpilih untuk mencari siapakah kita ini.” Tuh kan bener! Ucapku dalam hati. “Tapi bagaimana dengan temen-temen bapak yang lain? Tapi emang bener, bapak dulu salah satu anak yang terpilih?” tanya Iwan tanpa ragu bahwa yang dihadapan kami ini adalah salah satu anak yang terpilih. “Sebelumnya aku pengen ngejelasin siapa aku, pake bahasa anak muda ajalah, ribet pake bahasa resmi mah. Panggil aja gue Nan, itu nama kecil gue. Gue dulu hobi banget mengelilingi tanah ini. Gue bentuklah kelompok Atap Langit. Nah di situ gue kumpulin dah tiga orang yang mempunyai aura beda dengan para anak muda yang lain...” ia meneguk segelas kopi, lalu melanjutkan ceritanya, “Temen-temen gue yang pertama, dia adalah orang yang mempunyai seribu pengetahuan, tak ada yang ia tak tahu, ia baik kepada setiap orang, ia mengetahui setiap pengetahuan apapun, ia serba bisa, ia adalah Arga Jiwa, dipanggil Jiwa. Yang kedua, ia menyebut dirinya seseorang ciptaan Allah SWT yang begitu


lemah, ia seorang penulis, kami terinspirasi berpetualang sebagian besar dari kisah-kisahnya, ia menyebut dirinya Inisial K...” Aku teringat sesuatu tentang orang yang disebutkan oleh Pak Nan, si Inisial K, “Inisial K? Apakah dia...!” Pak Nan bingung. “Siapa yang lu maksud, Har?” tanya Iwan. “Dia, dia, si Inisial K, ternyata anak terpilih yang pertama...” Aku begitu kaget. “Siapa dia?” Tyan pun penasaran. “Dia, sang guru, sang guru yang tak boleh disebut namanya!” ucapku. Tedi, Tyan dan Iwan kaget. “Apakah dia berasal dari Bandung, Pak?” tanyaku. “Ya, memang kalian mengenalnya?” “Ya kami mengenalnya, dia yang memberikan virus petualangan dan menyatukan kami!” “Oh, ya sudah nanti kita terusin tentang dia. Gue pengen ngelanjutin cerita tentang Atap Langit dulu. Yang terakhir adalah seorang seniman, namanya Miming...” “Terus nasib Atap Langit sendiri gimana?” Tyan penasaran. “Atap Langit yang semula telah dibentuk oleh anak-anak yang terpilih, hancur karena ketidaksepahaman dan kekurangan solidaritas sesama. Pertama, Jiwa, terpengaruh sebuah godaan setan yang dulu ia membencinya, nah lalu kami mengeluarkan dia.


Maka, hilanglah sudah ensiklopedia 27 Atap Langit, yang kedua, sang gurumu, si Inisial K. Dia melakukan suatu hal yang fatal, sehingga kami berencana menghilangkan Atap Langit dari dunia ini. Kalau dengan kalian, kenapa si Inisal K pergi?” Iwan menarik nafas panjang, “Beliau melakukan sesuatu yang tak bisa kami lupakan. Tapi maaf pak, ini tak bisa saya, atau yang lain ceritakan. Maaf...” “Oh, ya sudahlah.” “Terus, gimana nasib tentang si seniman Atap Langit?” tanya Tedi. “Gue dan si Miming, Miming Munardi, nama lengkapnya, masih suka ketemu. Bahkan ngopi bareng. Dia salah satu sahabat gue yang bener-bener sahabat. Kita sehati. Ya, walaupun udah ngga di Atap Langit. Dia juga yang meramalkan bahwa hari ini gue bakal ketemu anak-anak terpilih yang kedua. Yaitu kalian semua!” “Oohhhhhh....” “Makanya, gue cuma mau ngasih pesen yang diamanatin Mbah Sugi...” Lalu aku teringat seseorang yang begitu kuat, yang menunjuk kami sebagai anak-anak yang terpilih berikutnya. Yang ketika bertaruh dengan hal-hal yang aneh. Yang selalu bergaya 27

Kamus atau artikel-artikel tertentu yang tersusun secara rapi dan urutannya sesuai abjad.


anak muda padahal sudah duda dan tua. Ya dia, dia, Mbah Sugi, yang juga menunjuk Pak Nan dan yang lain sebagai anak terpilih yang pertama. Mbah Sugi, yang telah tenang di alamnya. Untuk selamanya. “Waktu saat sakaratul maut beliau menunggu lu semua, tapi terlambat, sebelum lu lu pada dateng, mbah Sugi keburu meninggal. Si Mbah malah ngasih pesen buat lu semua, tadinya gue bingung, nyari lu ke mana, tapi berkat Miming yang bisa meramal, akhirnya lu dateng sendiri. Gini amanatnya, „pertama solidaritas yang mesti lu bikin, solidaritas yang kuat, karena Atap Langit hancur salah satunya kurang solidaritas. Yang kedua pandanglah ilmu ke atas, tapi kalau masalah dunia, lihat ke bawah‟ ok, itu doang yang diamanatin beliau. Masalah solidaritas, makanya tadi gue negur lu!” Pak Nan menunjuk ke arah Tedi, “Lu jangan ngurangin solidaritas temen, inget, temen itu adalah kekuatan kita.” “Makasih ya, Pak Nan...” kata Tyan. “Oia, coba nanti kalo ada waktu lu semua ke tempat Miming. Dia baik, mau menerima siapa aja. Mungkin bisa shareshare gitu tentang seni. Ok. Oia satu lagi, nggak semua polisi itu yang seperti kalian pikirkan. Walau sebagian besar polisi bertindak seperti pelacur, tapi sebagian lagi mereka berbakti kepada negara dan agama. Inget itu, sebutan „pelacur berkerah‟ boleh lu pake buat manggil polisi, tapi inget, itu cuma sebutan buat polisi yang


menyalahi aturan dan yang bertindak seperti pelacur, yang hobi nilang sambil minta duit dan duitnya masuk ke kantong.” “Okelah Pak,...” aku sadar. Hal yang aku lakukan itu salah. Tapi aku merasa benar, beberapa polisi memang bertindak seperti pelacur. Ya, pelacur berkerah. “Silahkan lu semua mencari jati diri yang belum ketemu. Jadilah laki-laki yang kuat, yang tak boleh hancur hanya karena diterpa angin malam, yang tak boleh bergetar walau topan di hadapan lu. Terus mengikuti alur hidup dengan semangat tanpa pernah mengeluh dan cintai wanita yang benar-benar lu sayangi. Cukup satu aja ye. Satu!” Kami pun tertawa. “Oia, Pak, kenapa tadi malah menahan kami?” tanya Tedi yang masih penasaran. “Oh, itu cuma buat ngetes kalian aja. Dan biar anak buah gue seneng kalo udah nangkep orang terus orang itu dipenjara. Oia satu lagi biar kita nggak ketahuan kalo kita anak yang terpilih. Hehe” jawab pak Nan dengan meyakinkan. “Oia, petualangan kami bukan sekedar mencari jati diri, seperti Atap Langit. Kami, Hitam Putih Abu-Abu, dengan sebutan petualangan mencari ujung pelangi!” kataku dengan bangga. Pak Nan tersenyum. Ya, ternyata kami benar-benar bertemu dengan salah satu anak terpilih yang pertama.


Petualangan di lanjutkan. Kami pun mengucapkan beribu terima kasih kepada Pak Nan. Sedikit demi sedikit filosofi hidup mulai terangkai. Walau gambarnya belum jelas terlihat, tapi aku yakin, suatu hari nanti, aku atau bersama yang lainnya bisa melihat gambar yang begitu nyata di hati kami semua.


3 Hilangkanlah segala prasangka buruk di hati & pikiranmu.Karena aku di sini masih tetap setia. – Ayu Lestari

“Aahhh,

bosenlah makan nasi goreng bikinan Tedi...”

keluh Tyan sambil memegangi perutnya. “Huh, lu mah. Kemaren lu yang muji masakan gue enak. Sekarang lu yang bilang kalo bosen makan nasi goreng buatan gue. Gimana kali!” Tedi kesal karena Tyan tak bisa memegang omongannya. “Ah berisik lu, udahlah. Gue laper nih. Makan apa ya enaknya?” Tyan terus saja menggerutu. “Uuhhhmmm, mending kita nyicipin makanan yang ada di Balaraja, gimana?” saran yang begitu bagus dari Iwan. Kami pun menyetujui. Perjalanan dilanjutkan ke arah Bakung, di sana kami menemukan penjual kue serabi. Ya, kue serabi yang rasanya enak sekali, karena perut kami begitu lapar. Kalau tidak lapar, ya, entahlah, lidah kami saat ini sedang dibutakan oleh kelaparan. “Emmmmm... enak Bu, serabinya, ” puji Tyan, seperti biasa, ia selalu memuji setiap makanan yang ia makan.


“Ah yang bener? Uuhh, Ibu jadi malu...” si Ibu penjual serabi pun merasa terbang ke langit ketika dipuji oleh Tyan. Ia mengatakan bahwa selama ia hidup, baru pertama kali ada yang memuji makanan hasil buatannya. Kata orang, ia tidak pandai dalam memasak makanan. Kebanyakan ia memasak dengan rasa asin yang berlebihan. Atau paling parahnya, gosong. Nah, mungkin ia menemukan jiwanya sebagai pembuat kue. Tapi bukan kue sembarangan, kue serabi. Sebuah kue tradisional asal jawa barat. “Kalau membuat kue biasa, seperti kue-kue basah atau kue bolu, yang jadi malah gosong, atau salah masukin gula, yang dimasukin malah garam,” ucap si Ibu. Katanya pula, ia tak bisa membedakan rasa manis dan asin. Ia seperti menderita buta rasa (bukan buta warna ya). Lidahnya tidak bersahabat. Makanya ia lebih memilih membuat kue serabi. Karena kue ini adalah kue yang sudah turun-temurun diwariskan oleh keluarganya. Lalu kami mencoba menikmati makanan WARTEG (warung tegal) khas Balaraja. Penjualnya orang Jawa – panggilan untuk orang-orang yang berbicara dengan logat bahasa Jawa. Rasanya lumayan enak, juga yang membuat bersahabat adalah harganya yang terjangkau oleh kantong kalangan orang-orang berprofesi kuli. Ketika akan membayar, yang menjadi masalah adalah Tyan. Uangnya hilang!


“Gimana nih duit gue ilang?” katanya dengan ketakutan. “Yang bener lu!” Aku kaget mendengar hal itu. Kalau aku membayari Tyan makan, maka untuk besok, aku dijamin puasa. Karena uangku atau yang lain sudah benar-benar pas-pasan. Gawat ini. Lalu kami mencoba berunding bagaimana sebaiknya. “Ya udah kita kumpulin aja uangnya dulu.” Aku mencoba memberikan solusi. “Iya, abis itu kita kabur. Abis bayar langsung kabur ya!” jelas Tyan dengan gembira. “Ok” kata Tedi menyetujui. “Tapi masalahnya siapa yang bakal ngasih uangnya nih?” tanya Iwan. Kami bingung. Lalu aku punya ide lagi, “Tyan aja, diakan yang ga punya duit” “Iya ya, gue setuju.” Tedi kegirangan. Ia merasa senang dengan harapan Tyan segera ditegur oleh di Ibu WARTEG. Ia begitu kesal terhadap Tyan karena masalah makanan nasi goreng tadi. Sebaliknya. Muka Tyan terlihat begitu ketakutan. Ia sedikit gemetar, “Kok gue sih, kan gue takut, nanti kalo ketauan, gue malu seumur hidup nih...”


“Alah, banyak ngomong lu, Tyan. Udah nih duitnya.” Tedi pun menyerahkan uang yang sudah terkumpul. Uangnya seribuan semua, agar bisa mengecoh si Ibu WARTEG itu. Ketika akan membayar, Tyan terlihat gemetaran. Kami semua sudah menunggu di seberang jalan. Lalu ketika ia ingin keluar dengan terburu-buru, si ibu WARTEG itu berkata, “Tunggu dulu sebentar...” Lama kami menunggu di seberang jalan, Tyan tak keluar dari WARTEG. Kami tak berani menyusulnya. Karena kami bertiga sejujurnya sangat malu untuk menanggung malu. Haha, sekumpulan orang egois. Hampir satu setengah jam. Lalu Tyan keluar sambil berlari dan berteriak, “kabur!” Kami yang sedang cemas menunggunya di bawah pohon, segera bangkit dan berlari ketika melihatnya lari dengan kencang. Di tengah berlari, Iwan bertanya, “kenapa lu lama banget, Tyan?” “Gue ketauan!” nafasnya terengah-engah. “Kenapa?” aku penasaran. “Gila, gue disiksa!” “Maksud lu?” tanya Tedi. Sekitar tiga ratus meter, kami berhenti karena kelelahan berlari. Nafas kami terengah-engah. Jantung kami berdetak kencang, tapi yang paling kencang berdetak jantungnya adalah Tyan. Dari wajahnya, terlihat bahwa ia sangat ketakutan.


Sambil mengatur nafas, ia menjawab pertanyaan Tedi,” Ggguee takut, soalnya gue langsung disuruh nyuci piring...” ia terus mengatur nafasnya, “Ggue sih sah-sah saja sama nyuci piring. Si Ibu WARTEG-nya juga nyuruh dengan lembut. Padahal tu gue takut banget. Eh pas lagi nyuci, tiba-tiba gue dipeluk sama si Ibu WARTEG!” “Hah gila!” kami kaget bersamaan. “Iya, kata Si Ibu WARTEG itu „maen sama saya yu mas ganteng. Suami saya lagi ngojek di depan‟ gue udah takut tuh, tapi gue masih sabar. Gue ikutin aja pas dia ngajak ke kamarnya. Tapi pas dia buka baju gue langsung lari! Dan ngunciin tu Ibu WARTEG. Gila! Takut gue!” ia mencoba menjelaskan dengan detail. “Oh, makanya lu langsung lari?” tanyaku. Ia mengangguk. “Haha gila si Tyan dibilang ganteng. Hihi. Si Indah, cewe lu aja belom pernah bilang lu ganteng!” ledek Iwan. Kami semua tertawa. Ketika dicari, ternyata uang Tyan terselip di kantongnya. Dasar bodoh! Ah, biasa, dia selalu begitu pelupa. Katanya ia mengidap penyakit lupa yang begitu akut. Karena ia kebanyakan tidur.


Karena uangnya telah ditemukan, kami segera membeli martabak, makanan favorit kami, untuk dimakan nanti malam. Martabak, oh martabak.


4 Bentangkanlah sayap-sayapmu dan selalu tempa impianmu. Tinggalkanlah semua rasa sakit dan bersalah yang selama ini kau dera. Jadikanlah hidup ini lebih bermakna dari sebelumnya. – Tyan Oriza

Hari ini adalah hari keempat kami dalam mengelilingi Balaraja, kami masih kuat. Perjalanan mencari ujung pelangi belumlah berakhir. Karena mencari adalah sesuatu yang begitu meyakinkan dan menjanjikan dibandingkan dengan menunggu, menanti yang tak pasti, hanya diam saja berharap pelangi jatuh di dalam kamar. Sebagai anak-anak yang terpilih, kami akan menafsirkan dunia ke dalam kehidupan kami. Mengumpulkan filosofi hudup. Dan merangkainya, menjadikannya gambar yang begitu nyata di hadapan semua orang. Kami akan selalu membuktikan bahwa setiap detik dalam hidup itu berarti. Kami juga siap menantang bahaya apapun yang berada di ujung jalan terakhir kami. Kali ini matahari membuat kami bermalas-malasan di pematang sawah. Panas yang begitu membakar dibanding hari-hari sebelumnya menyengat kulit kami. “Heuft males banget gue...� keluhku sambil menguap. Memang, panas-panas seperti ini lebih enak minum es.


“Iya males banget...� lanjut Iwan. “Heuft...� Tedi menguap. Tyan malah sudah terbang dengan mimpi-mimpinya. Sawah ternyata begitu indah. Dengan warna hijau membentang sepanjang mata memandang. Burung-burung blekok28 berkejaran menikmati senandung alam. Gemericik air dari pengairan menambah tenteram hati. Beberapa tikus pun sibuk menggerogoti padi dengan cermatnya, walau kadang mereka kabur ketika mendengar suara gemuruh kaleng yang dipasang di badan orangorangan sawah, atau Bebegig. Lalu kulihat beberapa orang petani yang juga sedang beristirahat di sebuah gubuk. Mereka dengan semangat melahap makanan yang mungkin telah disiapkan oleh istri atau anak-anaknya. Mereka saling bercanda, melepas lelah, bahkan ada juga yang tertidur. Aku sangat merindukan semua ini. Ya, merindukan semua ini, suatu hari nanti. Semua temanku telah terlelap. Hanya aku saja yang masih menikmati alam Balaraja ini. mimpi-mimpiku mungkin agak berbeda dengan yang lain pada siang ini. Tedi, Iwan dan Tyan mungkin bermimpi sambil tertidur, sedangkan aku bermimpi dengan menatap langit, membayangkan seandainya saja anak cucuku masih bisa merasakan suasana seperti ini di sini. Suasana yang menyejukkan hati. Suasana yang memasyarakat. Yang begitu

28

Sebutan untuk burung Bangau. Biasanya sebutan burung Blekok ini digunakan oleh orang-orang Tangerang.


dijaga oleh orang-orang zaman dahulu. Suasana yang mampu menciptakan rasa kekeluargaan di antara masyarakat. Bukan suasana pada kehidupan industri, berangkat kerja pagi, pulang malam. Tak ada waktu untuk bermasyarakat dengan sesama tetangga. Sebuah kehidupan yang serba uang, tahta dan harta menjadi Tuhan. Lalu ketika kehidupan yang dirasakan oleh orangorang zaman dahulu mulai berubah menjadi kehidupan serba uang, mereka mengatakan bahwa tiada tempat nikmat selain di penjara. Dengan seketika, kehidupan ini segera berubah menjadi surganya polusi. Berjuta masyarakat dipaksa tunduk dengan industrialisasi. Menuhankan uang. Berusaha mengejar sesuatu yang tak pasti. Kehidupan yang dicemari pemikiran-pemikiran yang sempit. Mengerucutkan imajinasi seorang kreatif. Lalu mimpi-mimpi mulai ditancapi oleh semua bocah ke dalam pabrik, tahukah kalian, pabrik. Pabrik sepatu, pabrik makanan, pabrik spare part kendaraan, pabrik narkoba, pabrik racun, pabrik kabel, pabrik plastik, tapi yang pasti semua pabrik itu adalah pabrik limbah. Di mana bumi tak kuat lagi menahan limbah akibat meledaknya industri. Bahkan kalau kalian belum tahu, di samudera pasifik itu ada sebuah pulau yang terbentuk dari tumpukan sampah plastik. Tanpa tanah, semuanya plastik. Sampah-sampah plastik itu tak dapat hancur, mereka hanya menjadi kecil-kecil seukuran plangton. Saking banyaknya plastik di sana, ketika diteliti, kadar air di pulau sampah itu, kandungan


plastik yang sebesar plangton itu lebih banyak enam kali dari pada plangton itu sendiri. Mencengangkan. Style, atau gaya hidup remaja pun segera berubah menjadi masyarakat hedonis, masyarakat dengan kehidupan serba uang. Mementingkan fashion. Mementingkan trend. Atau pemikiran yang membutakan hati, bahwa kehiduan itu bukan hanya hura-hura dan pesta saja. Mereka, masyarakat hedonis, lebih gemar hurahura, berpesta bahkan kehidupan seks yang bebas. Semuanya serba free. Uuppzzz. Angan-anganku malah semakin jauh. Labih baik aku menyusul yang lain bermimpi di alam khayal. Aku mencoba terbang jauh ke awan. Awan yang biru dengan begitu cerah. Terbang jauh. Walau garis finis masih tak terlihat. Jiwaku melayang-layang jauh menembus surga, melewati neraka, memetik bunga surga yang tak henti aku nikmati harumnya. Setelah berasyik-asyik tidur di saung, di tengah sawah tadi sore. Kami mencoba mengelilingi Balaraja pada malam hari. Keadaan yang tak pernah kami lakukan sebelumnya. Merasakan udara dingin di daerah ini. menghisap udara yang berhembus ketika

keadaan sepi

menyelimuti.Jalan-jalan malam,

kami

menyebutnya. Sebelumnya, kami memang sering jalan-jalan malam di kota-kota besar, seperti di Bogor. Pada waktu itu, aku sangat merasakan kehidupan malam kota itu. Di mana para gelandangan Bogor sibuk berkeliaran, pasar-pasar malam yang


digelar di sekitar stasiun, dan lampu-lampu jalan yang kelap-kelip menghilangkan gelapnya malam.

“Mana nih tukang martabak?” tanya Tyan sambil melihat sekitar. “Iya ya, ko pada sepi? Tukang martabak yang biasa enak itu pergi ke mana ya?” Tedi pun ikut mempertanyakan hal yang sama. Memang, tukang jualan di sekitar jalan raya Serang, sekitar km 22,5 – 24, sudah berpindah tempat sejak pembangunan jalan layang alias fly over sejak beberapa bulan lalu. Kebanyakan tukang martabak dan tukang kue-kue kering telah meninggalkan tempat ini. “Tuh, di depan SMA ada tukangnya!” ucapku sambil menunjuk ke arah tukang martabak. Yang lain pun melihat ke arah yang aku tunjuk. “Itu mah tukang martabak yang di depan toko sepatu. Kurang enak!” jelas Tedi. “Yah, udah ngga ada lagi. Martabak yang kemaren kita beli, tukangnya cuma sampe sore. Udah sih ngga apa-apa.” Aku berusaha meyakinkan yang lain. “Trus gimana donk?” tanya Iwan. “Ya udahlah, ngga apa-apa...” ucap Tyan.


Kami pun membeli martabak di tukang itu, walau kurang enak, kami tetap membelinya, karena martabak adalah salah satu makanan kesukaan kami. Setelah membeli martabak, kami menyimpannya, sengaja tidak memakannya untuk mencari tempat yang cocok bersantai malam ini. Perjalanan dilanjutkan menuju gerbang tol Balaraja Barat. Gerbang tol ini menuju Jakarta dan Merak. Kami biasa melewati jalan tol ini apabila sedang bermain ke Serang atau ke Cilegon. Kami duduk-duduk di pinggir jalan tol. Merasakan senandung kelelahan malam para manusia yang berada di mobilnya. Melihat anggunnya gelap malam yang dihiasi bintanggemintang. Dengan sekoteng di samping kami dan tak lupa juga martabak, kami memandang langit. “Coba deh kita tunjuk salah satu bintang. Anggap aja itu adalah cita-cita, mimpi dan harapan kita...� ajakku sambil memandang langit. Lalu yang lain pun menunjuk bintang-bintang yang mereka pilih. “Sejauh itulah cita-cita, mimpi dan harapan kita. Kita sepertinya tidak akan mampu meraihnya� kata Iwan. “Ngga juga, Boi, asalkan kita mau berusaha, berdoa yang bakal jadi perjuangan kita, pasti bintang yang kita pilih itu bakan kita dapetin� lanjutku.


“Ah, lebay29 lu semua. Tapi iya juga sih, karena usaha dan doa adalah perjuangan kita.” Kata Tyan. Kami sangat lama terlelap memandangi bintang di tengah malam. “Jalan lagi yu...” ajak Tedi yang segera bangkit dan berdiri. Aku langsung bangun dan berkata, “Ke mana lagi emang?” “Lah, ke mana aja deh. Daripada di sini, mending jalanjalan. Diem-diem aja mah dingin, Lu!” nasehat Tedi. Aku mengangguk. Sekarang kami berempat berjalan-jalan tak jelas tujuan. Kendaraan saat ini sudah sepi ekali. Hanya terlihat satu atau dua mobil yang lewat. Begitu juga dengan motor-motor. Di pos polisi simpang tiga Balaraja, tempat kami beberapa waktu lalu ditanggap polisi, yang biasanya banyak tukang ojeg berkumpul menanti penumpang, hanya dapat dihitung dengan jempol kaki saja jumlah mereka saat ini. Juga dengan mobil Angkot atau angkutan kota, yang biasa parkir di bahu jalan sambil menunggu penumpang, malam ini karena sudah larut, mereka semua sudah tidak ada, yang tersisa 29

Suatu sifap berlebihan terhadap sesuatu. Biasanya orang-orang yang memiliki sifat lebay ini terlalu menday-dayu, banyak omong, mendramatisir, dan terlalu over akting.


hanya ada satu mobil Angkot saja. Itu juga tidak ada penumpangnya seorang pun. Sepi sekali malam ini. Kami terus memperhatikan setiap sisi jalan yang mulai tidur. Lalu perjalanan terus kami lanjutkan menelusuri jalan raya Kresek. Beberapa ruas jalan ini banyak yang rusak, ya, walau sebelumnya bagus karena sudah diperbaiki. Namun lubang tetap saja berpenghuni di jalan ini. Entah, apakah dana yang dipakai untuk membangun jalan ini kurang? Atau sebenarnya dana yang dipakai untuk pembangunan jalan sudah melebihi dari kecukupan sehingga dikorupsi para kontraktor? Ini merupakan pertanyaan besar yang ditujukan kepada aparat pemerintahan yang telah dipilih oleh rakyat. Kalau bicara pemerintahan memang sulit. Karena aku atau teman-teman hitam putih abu-abu yang lain tak ada satu pun yang mengerti tentang tatanan negara atau hukum sekali pun. Kami memang kerjanya suka mengkritik. Ya, walau sebagian orang dari pemerintahan sendiri kewalahan mengurusi negara atau daerahnya. Tapi,

sesungguhnya,

kami

tak

merasakan

apapun

yang

membangun di daerah kami. Walau harus berganti jutaan pemimpin atau aparat pemerintahan di sini, tapi apa? Apa yang kami rasakan? Kurasa hanya sebagian kecil. Pernah pada suatu hari aku menanyakan kepada beberapa aparat pemerintah tentang cara kerja mereka di pemerintahan. Tahukah kau kawan, semua hal itu begitu mengejutkanku.


Pertama, mereka melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi dari Strata 1 hanya untuk medapatkan kenaikan gaji, lalu bagaimana kutanya tentang jam kerja mereka, mereka hanya mengatakan bahwa, kerja di pemerintahan atau dinas seperti ini memang enak. Biasanya mereka datang seenaknya. Walau tiga kali seminggu juga tidak apa-apa. Dan apabila mereka mendapat amanah untuk memberi bantuan untuk orang miskin, maka mereka akan mendapatkan keuntungan besar dari bantuan itu. Bukan sebuah bonus dari pimpinan mereka, melainkan dari dana orang miskin itu sendiri. Tapi hal ini kudapati dari seseorang aparat pemerintahan yang bukan bertugas di Balaraja. Ah, sudahlah. Membicarakan keburukan orang memang tiada habisnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Terus, terus dan terus. Malam kini semakin dingin. Begitu menusuk tulangku dingin malam ini. Lalu sampailah kami di dekat pom bensin di daerah Kedaung. Tak jauh di depan kami, terlihat seorang wanita seksi, sangat seksi, sedang jalan di depan kami. Mata kami yang tadinya mulai kabur karena mengantuk, sekarang melek lagi. Dingin yang sedari tadi menyetubuhi seluruh badan, kini lenyap, rasa hangat seketika datang. Kami berempat senyum-senyum sendiri, lalu saling pandang. “Gue mimpi, Boi!� ucapku penuh semangat.


“Subhanallah!” ujar Tedi dengan kegembiraannya. “Haha, rejeki yang mantep tengah malem!” kata Tyan sambil mengucek kedua matanya. “Hah, cubit gue cubit gue!” kata Iwan. Aku segera mencubitnya, “Ini beneran mimpi, ga berasa!” “Hah mimpi!” teriakku. Mata kami tak bisa berkedip sedikit pun dari wanita seksi di hadapan kami ini. “Masa mimpi?!” Tedi terlihat begitu kecewa. “Iwan mah kulit badak, makanya ga berasa! Coba tampar gue!” suruh Tyan. Seketika aku langsung menampar Tyan. Ia pun mengerang kesakitan. “Awww, sakit gila!” teriak Tyan. “Wah, berarti bukan mimpi donk?” tanya Tedi yang kembali memancarkan wajah kegembiraannya. “Ribut mulu! Mending gue duluanlah yang ngembat tu waniitaaa” ucap Iwan dengan wajah yang begitu tak sabaran. Ia langsung saja berlari mengejar wanita itu. “Wan! Tunggu duu....” aku tadinya ingin memperingati Iwan sambil menyusun strategi. Tapi ia langsung lari begitu saja. Dan ketika ia berada di hadapan wanita itu, wajahnya langsung berubah ketakutan. Kami yang mengikutinya dari belakang, melihat jelas sebuah ketakutan di wajahnya, ia pun menjerit histeris, “Aaaaarrrrrggggghhhhh!”


“Kenapa, Wan!” teriak Tyan tak sabaran. Aku dan yang lain mengejarnya dan berada di hadapan wanita itu sekarang, wanita yang kami puji-puji dari belakang. Yang dari belakangnya terlihat bagus, tanpa cacat sedikit pun. Yang dari belakang terlihat mengenakan pakaian super seksi. Cantik, cantik dari belakang. Lalu kami sekarang ada di hadapan wanita itu. Ya, wanita itu segera menebarkan senyumnya. “Aaaarrrggghhhhh!” aku, Tyan dan Tedi mengikuti Iwan, mengikuti teriakannya yang lebih dahulu menggema. Serasa hawa hangat yang baru saja menyelimutiku, berubah menjadi api yang membakar degup jantungku ketika melihat wanita yang ada di hadapanku. “Gila!” aku segera berlari. Ternyata, wanita yang ada di hadapan kami ini seorang siluman (seorang waria atau banci, alias wanita setengah pria). Dari belakang aja mulus, ternyata dari depan penuh bulu30. Penuh jenggot dan kumis tuh muka. Sumpah, aku sangat takut ketika melihat mahluk yang satu ini, dengan berwujud wanita dari belakang dan pria di depannya, ia mampu menjelma menjadi manusia. Yang lain pun mengikutiku berlari.

30

Sebenarnya bukan Bulu, melainkan rambut-rambut halus yang memenuhi wajah. Bisa merupakan jenggot atau kumis.


“Eh, ganteng, tunggu dulu, mau kemana? Sini donk temenin, Eik. Temenin, Eik malem iniii, ” ucap waria tadi dengan nada pusing. Ia sepertinya sedang mabuk, sebab dari mulutnya tercium aroma alkohol dan gaya bicara yang seenaknya. Juga jalannya yang terlihat sempoyongan. “Tuh siluman manggil lu, Wan!” ucap Tedi sambil lari. “Gila aja, masa gue dikasih monster kaya gitu?! Ihh, najis” balas Iwan dengan nada yang begitu ketakutan. “Haha, tadi lu yang keliatan agresif ngejar-ngejar tu banci!” aku ikut-ikutan meledek. “Huh gila!” teriak Iwan. Sejuta cara yang dilakukan manusia di zaman sekarang hanya untuk mendapatkan uang. Halal atau pun haram yang penting mendapatkan uang maka dijalaninya. Contohnya menjadi seorang waria seperti tadi. Benar-benar sudah rusak zaman ini. Mungkinkah sudah susah mencari sebuah pekerjaan halal yang bisa dilakukan? Ataukah pada zaman sekarang yang namanya pekerjaan hanya dapat dijalankan oleh orang-orang tertentu? Ironis, sebuah bangsa kaya raya, namun anak bangsanya menderita dan terpaksa menggadaikan harga diri, demi selembar kertas. Mengenaskan. “Woy, berhenti dulu...” ucapku dengan nafas terengahengah.


Dari tadi kami berlari dengan kecepatan maksimal, padahal jarak yang kami tempuh hanya beberapa meter namun staminaku sudah lelah. Yang lain pun segera memberhentikan langkahnya. “Ngga ngejarkan tuh banci?” tanya Tedi sambil menarik nafas panjang. “Udah, udah...” jawab Tyan. “Gila tuh, gila!” Iwan dari tadi terlihat menyesali tindakannya selalu menggerutu. “Ya udahlah, jalan aja ga usah lari segala...” kata Tedi yang terlihat makin lelah. Setelah puas berlari beberapa meter menjauh dari waria tadi, kami pun berjalan santai untuk mengembalikan energi yang hilang. Kami sekarang berada di daerah Kedaung atau biasa disebut-sebut daerah Mandiri, karena di dekat sini berdiri sebuah sekolah lanjutan tingkat atas dengan nama SMA dan SMK Mandiri Balaraja. “Udahlah cape, istirahat dulu yu” ucap Tedi dengan keringat yang mengucur deras. “Ya udah nanti aja tuh di depan sana kan ada ruko-ruko baru yang ada optik. Sekalian buat tidur.” Aku memberi saran kepadanya. Yang lain hanya mengangguk.


Setelah 30 detik berjalan akhirnya kami sampai di depan ruko yang kubicarakan tadi. “Cepet yu, Cepet! Gue udah cape nih...” Tedi tidak sabaran. Ia pun berlari duluan mendahului kami. Aku, Tyan dan Iwan berjalan santai. Seketika, Tedi tercengang. Entah apa yang dilihatnya. Ia berdiri mematung. Kami segera menyusulnya. Lalu... “Hai mas-mas yang guanteng...” salah seorang waria menyapa kami. Terlihat di tempat itu berkumpul para waria. Jumlahnya sekitar 15 orang. Mereka tepat mangkal di depan sebuah optik yang tadi kubicarakan. Para waria itu tersenyum menggoda ke arah kami. Perasaan mual dan jijik menghantui diriku. “Ah, godaan apa lagi ini” . “Hadooohhh, Har, lu salah milih tempat” bisik Tyan, tepat di telingaku. “Ini cuma kebetulan, Tyan...” balasku dengan sangat perlahan. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Iwan yang tak berani menoleh ke mana pun. Para waria itu berjalan mendekati kami. Tedi yang dari roman mukanya terlihat begitu gugup dan ketakutan, masih mematung dengan mulut menganga.


“Ya udeh, kita jalan ninggalin nih para banci. Pelan-pelan abis itu kita lari...” Tyan memberikan saran. Kami semua mengangguk. Waria-waria itu pun semakin dekat. Dengan rokok di tangan mereka. Dekat, dekat dan semakin sampai. Lalu aku mulai menelan ludahku. Aku memberi aba-aba, “Satu, dua, tiiiigaaa....” “Lari!” teriak Iwan dengan begitu kerasnya. Kami berempat pun mengeluarkan tenaga yang tersisa berlari meninggalkan gerombolan waria itu. Dengan begitu semangat, aku berlari mendahului yang lain. Tapi kudengar jelas teriakan itu. “Aduuhhh! Tolong hitam putih abu-abu! Tolong gue!” Itu teriakan Tedi. Ia terjatuh saat berlari tadi. Ia sekarang dikerumuni para waria. Wajahnya terlihat dari jauh begitu pucat. Sepertinya ia menangis. “Tolong gue, Cuy! Tolong!” Aku, Tyan dan Iwan segera menghentikan lari. Lalu rasanya aku tak ingin menolongnya. Karena kurangnya rasa solidaritas dari Tedi membuatku kesal. “Tolong, jangan?” tanya Tyan ragu. “Ehm... pikir-pikir dulu...” jawabku sambil berlagak berfikir.


“Udeh tinggalin ajalah. Buat pelajaran buat dia” kata Iwan datar, dengan gayanya, berjalan meninggalkan masalah yang ada di depannya. Tapi, ketika aku berfikir untuk meninggalkannya, aku teringat akan arti persahabatan yang kita bangun selama ini. Juga tentang solidaritas yang telah diamanatkan Mbah Sugi dan disampaikan oleh Pak Nan. “Lu inget ga apa yang diomongin Pak Nan waktu kita ketangkep di kantor polisi tempo hari?” aku mencoba membuka hati Iwan. Ia hanya terdiam. Aku melanjutkan, “Inget ga lu, tentang solidaritas? Kan lu semua yang bilang kalo kita saling ngelindungin satu sama lain?” “Iya Har, tapi kan...” Iwan mencoba membela diri. “Tapi apa? Lu tega, ngeliat temen sendiri hilang keperjakaannya

gara-gara

kita,

sahabat

sejatinya,

meninggalkannya begitu saja di antara banci-banci kampung!” “Ok, gue maju!” Tyan segera berbalik mencoba menolong Tedi. “Terserah lu, Wan...” aku pun menyusul Tyan. Sedikit berlari, kami berdua menyelamatkan Tedi. “Gue dateng, Ted!” Iwan seketika berlari sambil teriak mendahului aku dan Tyan.


Aku hanya bisa tersenyum melihat semangat temanku yang satu ini. Ternyata solidaritas kami begitu kuat. Tanpa berat hati, ia langsung berada di hadapan para waria-waria itu. Terlihat dengan jelas, Tedi sudah menangis dengan air mata yang hampir kering. Ia berada di pelukan waria-waria itu. Ia pun tak mampu berkutik. Tangan dan kakinya benar-benar dikunci. Benar-benar menderita, Tedi dicium, diraba-raba dan, ya hampir saja keperjakaannya itu hilang kalau kami tak datang. “Heh banci, lepasin temen gue!” teriak Iwan dengan keras. Lalu di kedua tangannya, telah siap dua buah batu yang besar dan segera mendarat di wajah para waria, Tyan siap dengan jurus-jurus silatnya yang sangat ia banggakan, ia telah memasang kuda-kuda, lalu aku pun telah siap, dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan pandangan sambil menengadah ke langit, aku konsentrasi. “Har, lu ngapain?” tanya Tyan yang mengganggu konsentrasiku. “Lu ga liat gue lagi ngapain?” aku kembali bertanya kepadanya. Tyan memperhatikanku dengan seksama. Sepertinya ia tak mampu mengartikan gerak-gerikku. “Gue jelasin, Iwan udah siap dengan batunya, lu juga udah siap dengan jurus silat lu, nah yang kurang apa? Cuma doa, jadi gue nolong Tedi dengan doa aja ya. Hehe.” Ucapku dengan bangga


dan aku meneruskan sambil berteriak, “Gue doain lu, Ted, semoga lu ga hamil!” Wajah Tedi langsung pucat ketika mendengar ucapanku tadi. “Serius dikit donk, Har!” ucap Iwan. “Iye gue serius, Wan!” “Woy, cepet tolong gue!” Tedi meringis. Ketika kami bertiga sibuk meributkan masalah kecil yang akan kulakukan, salah satu waria tadi langsung berdiri dan berkata, “Tyan, kamukah Tyan?” Ucapannya begitu wanita seutuhnya, hanya saja masih nampak di wajahnya gurat seorang pria dewasa yang tak dapat hilang. Kami yang sibuk berdebat dikagetkan dengan salah seorang yang waria yang mengenal Tyan. “Apakah benar kamu Tyan? Tyan, kamukah itu?” waria tadi mencoba mendekati kami. Para waria yang lainnya pun memperhatikannya. Tyan mengangguk. “Tyan, lu pernah tidur sama tu banci? Ternyata kau, Tyan...” tanya Iwan. “Ga pernah, gila siapa nih banci?” jawab Tyan sambil berbisik.


Lalu semakin dekat banci itu menghampiri kami. Ia dengan muka yang begitu penuh harap mencoba mendekati kami bertiga. Tubuhku gemetar ketika salah seorang waria mendekati kami. Ia tersenyum ke arahku. “Lu siapa banci rombeng!” tanya Tyan dengan begitu galaknya. “Ih pelan-pelan dikit donk, aku juga kan manusia...” waria itu membela diri. “Tapi lu siluman!” ucapku dan Iwan dengan bersamaan. Lalu waria tadi menoleh ke arah Iwan, ia pun tersenyum kepadanya. “Iwan, kau Iwankan? Ternyata kalian berdua bersama terus. Sejak dulu...” semakin ganjil kata-kata waria ini. Ia seperti mengenal begitu dekat Iwan dan Tyan. “Emangnya lu siapa? Ko lu kenal gue en Iwan?” tanya Tyan memberanikan diri. “Masa lu semua ga kenal sama aku? Coba perhatiin lagi deh...” Iwan dan Tyan memperhatikannya dari atas sampai bawah, dari jempol sampai ujung rambutnya. Iwan menggeleng, Tyan juga. “Tolong gue, tolong!” Tedi menjerit makin keras. “Lepasin temen gue!” teriakku.


“Lepasin aja temen-temen, kasian anak orang,” ucap waria yang mengenal Tyan. Rambut lurus keriting di bawahnya, dengan warna pirang, alis mata yang begitu panjang, wajah dipoles dengan bedak, tapi tipis karena ia memang pada awalnya sudah putih, mata agak sipit, badan agak berisi, dadanya, sepertinya hanya diisi dengan bantal, bukan disuntik silikon, sepatu berhak. Lagi-lagi ia tersenyum. Begitu menakutkan bagiku. “Inget sama aku, Tyan, Iwan?” pertanyaan yang penuh harap keluar dari mulutnya. Tyan menggeleng, begitu juga dengan Iwan. “Coba perhatikan lagi...” “Ga kenal gue” ucap Iwan. “Ini aku, aku,...” si waria mencoba memberi penjelasan, lalu nada suaranya berubah, menjadi suara seorang lelaki yang begitu mereka berdua kenal dekat, “Aku, Ferdian” Perasaan tidak percaya tergambar di wajah mereka berdua. “Gila!” ucap Iwan kaget, “Bule, lu kenapa jadi...” “Jadi siluman gini!” lanjut Tyan sambil teriak. “Ehmm!” para waria berdehem mendengar kata siluman yang keluar dari mulut Tyan. “Maaf-maaf..” ucapnya dengan wajah takut kepada para waria itu.


Aku pernah bertemu dengan Ferdian, dulu, ketika kami – aku, Tyan dan Iwan, pergi menonton film di bioskop. Ia terlihat begitu gagah, menurutku. Ya, sebagai seorang lelaki muda, ia mempunyai karisma yang begitu menawan. Wajahnya yang tampan, gaya pakaiannya yang tak ketinggalan zaman, dan kendaraannya, motor gede, yang selalu menemaninya setiap waktu. Walau ia tak sekaya orang-orang yang memiliki motor gede lainnya. Bagiku, hal ini yang membuatnya bisa menarik hati wanita, kalau ia mau. Tapi entah mengapa ia sekarang berubah seperti ini, ya, walau aku tak mengenalnya lebih dekat, tidak seperti Tyan dan Iwan, tapi aku pernah mengenalnya juga dari berbagai cerita Tyan. “Duduk dulu yu, nanti aku ceritain semuanya.” ajak Ferdian sambil mempersilahkan kami duluan. Ia mengarahkan kami ke tempat teman-temannya. “Tapi gue ngga lu mangsa kan?” Iwan sedikir ragu. “Ya nggak lah, paling ilang keperjakaan kalian semua. Hehe” jawab Ferdian sambil tertawa nakal. Dengan rasa was-was dan hati-hati, aku pun segera duduk di antara para waria, begitu juga dengan Tyan dan Iwan. Kulihat Tedi tak dapat berkata-kata, dengan tubuh yang gemetaran, yang sedari tadi telah berada diantara kawanan waria itu.


Ferdian pun duduk. Ia mengambil nafas panjang dan memulai pembicaraan, “Lu semua pada ngapain malem-malem gini?” “Kami, biasalah, lagi berpetualang” jawab Iwan dengan bangga. “Sama aja kalian, seperti masih sekolah dulu, sibuk jalanjalan yang ngga jelas kaya gini.” Ferdian melanjutkan dengan suara wanitanya. “Trus lu kenapa jadi gini, Fer ?” tanya Iwan. Aku hanya diam saja, belum saatnya aku ikut dalam percakapan mereka, percakapan teman lama yang sudah tak bertemu sekian lamanya. Aku sekarang sedang sibuk memperhatikan sekelilingku, para waria, yang dari tadi mulai mencolekcolek kami. Ngeri, sekaligus geli. “Kalian berdua tahu kan kisah cintaku dengan gadis minang dulu?” Kami bertiga mengangguk. “Ya, aku frustasi gara-gara hubungan kami berakhir...” ia mulai merasa bersedih, air matanya perlahan menetas, keadaan hening seketika. “Emang kenapa? Kayanya lu berdua ngga pernah bertengkar sedikit pun, malahan seperti yang gue liat, hubungan cinta kalian seperti kisah cinta yang pasti dibawa mati.” Tyan berusaha mendapatkan alasan dari Ferdian.


“Emang sih, hubungan kami berakhir bukan karena kami bertengkar, bahkan kalau salah satu dari kami mati, aku atau dia, lalu aku atau dia yang masih hidup pun akan menyusulnya...” Ferdian menunduk dan melanjutkan, “Kami bertiga ngga pernah bertengkar, seperti kisah cinta kalian semua, kami juga saling mengerti dan telah mengetahui seluruh isi hati masing-masing, juga sifat, dan semuanya. Kecuali...” “Kecuali apa? Kan lu berdua sudah seperti itu, sepertinya ngga ada alesan lagi hancurnya hubungan kalian?” aku pun ikut membuka mulut. “Kecuali diriku, yang tak pernah tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuanya.” Kami

semua

termasuk

para

waria

diam,

fokus

mendengarkan penuturannya. “Kedua orang tuanya telah merencanakan perjodohan dirinya dengan seorang lelaki yang telah mapan. Mereka berbeda usia begitu jauh, 15 tahun!” “ Apa?! Lima belas tahun!” kami semua yang berada di tempat itu berkata dengan nada kaget bersama-sama. “Ya, benar, lelaki yang telah dijodohkannya itu telah mapan, orang tuanya ternyata telah merencanakan perjodohan itu sudah empat tahun yang lalu...” “Lalu lu diem aja, Fer?” tanya Tyan.


Ferdian langsung berlinangan air mata tak kuat untuk melanjutkan ceritanya itu. Salah

seorang

waria

yang

berada

di

sebelahnya

memeluknya, dan berkata, “Sudahlah cantik, ngga usah nangis gitu, kan masih ada kita-kita, PBW, perserikatan banci waria, yang selalu ada di sampingmu, cantik” “Apa, Perserikatan Banci Waria! Apa aku tak salah dengar, gila, waria-waria juga punya organisasi,” ucapku dalam hati. “Iya, Mih, makasih, aku lanjutin yah ceritanya?” ia terlihat begitu sedih, tapi ketika bersama waria di sampingnya, ia terlihat ada orang yang selalu menemaninya. Waria yang dipanggil MAMIH itu mengangguk. “Ketika itu datanglah waktu yang aku dan gadis minang itu takutkan, waktu di mana kami berdua akan dipisahkan oleh adat...” “Sebentar, emang si cewek lu itu ga bisa ngelawan gitu?” Iwan memotong penuturan Ferdian. “Orang aku lagi mau ngejelasin juga, makanya dengerin dulu...” Iwan mengangguk. “Ya, setelah kami berdua telah mengetahui waktu perjodohan itu, kami berdua syok berat, terlebih aku sudah diancam bapaknya gadis minang itu, untuk tidak menemuinya lagi,


selamanya. Walau dia bilang akan mati kalau kau mati, tapi ia tidak berani mengambil resiko membantah perintah orang tuanya. Ia takut adat. Seluruh perkataan orang tuanya, baik ataupun buruk, menguntungkan atau merugikan, harus selalu ia patuhi. Karena ia selalu patuh terhadap adat istiadat keluarganya.” Ferdian menarik nafas panjang, lalu melanjutkan, “Setelah itu, ia selalu menolak untuk bertemu denganku. Aku memohon dengan baik, ia menolak dengan halus, aku meminta dengan agak kasar, ia memakiku dengan sadis, sepertinya aku maling saja. Aku memang bisa membaca pikirannya, ia terpaksa melakukan itu demi kedua orang tuanya yang begitu keras. Padahal hatinya masih mengarah kepadaku.” “Tapi lu jangan nyerah gitu!” aku mencoba memberi semangat. “Terlambat kau mengucapkannya, aku sejak saat itu sering melamun, kadang kalau ditegur marah-marah. Kerjaanku, yang dulu menjaga toko, sering aku tutup dan aku pun pergi berkeliling tidak jelas, seperti yang selalu kalian ucapkan, Iwan dan Tyan, „pergilah ke mana pun yang kau inginkan apabila hatimu gundah, lalu kembalilah kau apabila telah menerima ketenangan hati dariNya.‟” “Wah

ternyata

kata-kata

gue

sudah

ada

yang

mengamalkannya dalam perbuatan. Hehe” seketika itu Iwan merasa berbangga hati.


“Hah sampah!” gerutuku. “Ya, karena seringnya aku gundah dan stres, aku pun sering pergi kemana pun hatiku menyuruh, dan sering pula toko aku tutup dan karena toko aku tutup, lalu penghasilan keluargaku berkurang secara drastis, sejak saat itu pula kedua orang tuaku terlalu sering memarahiku. Membentakku dengan kasar, padahal aku tak senang apabila ada seseorang, sejahat apa pun, berkata dengan nada yang begitu tinggi.” Ferdian terus berlinangan air mata, ia terus melanjutkan kisahnya, “Aku pun memberontak, aku pergi dari rumah, motor yang dulu aku banggakan juga kalian sering pinjem buat ngejemput wanita cantik yang ngga jelas, aku bakar, ketika aku akan pergi dari rumah.” “Emang ngga ada wanita lain apa?” Tedi yang dari tadi gemetaran mulai angkat bicara. Ia kami kenal sebagai seseorang yang tangguh dalam permasalahan cinta, kisah cintanya tidak pernah gagal. Menurut Tyan yang pernah menginap di rumahnya, ia menyimpan suatu buku atau sejenis kitab pusaka yang berisi doa-doa untuk menarik hati wanita, isinya bahasa arab, gundul semua. Makanya ia mampu menaklukan hati sejuta wanita. Tapi yang membuat ia tak mengerti kepada hatinya sendiri adalah mengapa ia tak pernah betah dengan seluruh wanita yang ia pacari. Dengan mudah ia mengambil kesimpulan, bahwa ia belum menemukan pasangan hidup yang setia sampai mati. Hah, dasar anak muda.


“Bagiku tiada wanita terindah selain si gadis Minang pujaan hatiku. Lebih baik mati kalau aku tak pernah bisa menikmati kehidupanku bersamanya...” “Lalu kenapa lu ngga mati aja?” Iwan keceplosan Lalu para waria pun menatapnya dengan tajam, selah satu dari mereka mencubitnya dan berkata, “Eh ganteng, jangan ngomong gitu donk sama temen eik, dia bisa selamat kaya gini kan berkat eik en temen-temen yang sudah nolongin dia, emang lu mau ngeliat sahabat lu mati gara-gara plustasi ?!” Iwan yang terlihat takut, hanya mengangguk saja. “Seperti yang dibilang Mas Marno tadi, eh maaf mba, maksudku Mba Marni tadi. Aku tadinya prustasi dan hampir saja bunuh diri karena kemana lagi aku akan kembali. Lalu saat itu aku ternyata berhenti di depan sebuah salon. Lalu aku yang sudah tak lagi mementingkan diriku, mencoba akan ngiris urat nadiku, datanglah Mas Marno, eh salah, Mba Marni, yang akan membuka salonnya. Ia langsung mencegahku dan memarahiku. Saat itu aku menceritakan semua kepadanya, ia pun mencoba menolongku sebisanya. Ia langsung memanggil para anggota PBW saat itu juga dan segera merapatkan semuanya, aku pun diajaknya kerja di salonnya.

Makanya aku berterima kasih sekali kepadanya...”

Ferdian pun langsung memeluk erat Mas Marno, eh salah, Mba Marni.


“Tapi kenapa Mba Marni nyuruh lu jadi kaya gini?” tanya Iwan. “Siapa yang bilang kalo eik yang nyuruh. Ga ada lagi, eik kasih tau yah, kenapa orang memilih jadi kaya gini, pertama lingkungan, awalnya si cantik ini juga bukan kaya gini, tapi dia memilih jalannya sendiri karena lingkungan, kedua adalah ia kesal kepada kehidupannya yang sama apabila ia menjalani seperti itu terus, makanya ia memilih jalan yang berbeda. Ia pun menjadi seseorang yang memiliki dua kepribadian, ketiga karena ia kesal dan menyimpan dendam yang teramat sangat terhadap wanita..” Mba Marni menjelaskan dengan detail. Ternyata faktor yang kuanggap sepele, adalah faktor yang dapat menentukan seseorang melangkah dalam kehidupannya. Menakutkan. “Makasih ya Mba...” air mata yang terus berlinang membasahi pipinya. Mas Marno, eh salah, Mba Marni pun hanya tesenyum. “Benar apa yang tadi dijelaskan sama Mba Marni ini, aku hanya melihat, ternyata yang lebih tau perasaanku adalah mereka semua, jadi aku mencoba jadi seperti ini agar bisa mengerti perasaan sesama...” Ini salah! Salah besar! Hatiku memberontak. “Ini bukan jalan lu, Ferdian!” ucap Iwan dengan begitu mengagetkan kami, ia melanjutkan, “Bukan juga jalan kalian semua, mas-mas!”


“Iya bener, inget, lu semua masih punya Tuhan, tempat kita mengadu! Tempat kita menyerahkan diri. Tempat kita berharap keajaiban datang! Bukannya lari dari kenyataan seperti ini. Yang lu semua lakukan sekarang adalah perbuatan dosa! Dosa besar!” dengan marah, Tedi langsung memperlihatkan keahliannya dalam berkhutbah. Para waria pun kaget mendengar kemarahan Tedi dan Iwan. Mereka agak gentar dan gemetar sepengelihatanku. “Tapikan menurut kami ini ba....” belum sempat waria yang dipanggil MAMIH tadi berkata, langsung dipotong Tedi. “Menurut kalian apa? Baik? Menurut kalian baik, bagus. Tapi lihat menurut Tuhan, menurut Allah Swt, itu adalah perbuatan merubah kenyataan. Menyalahi takdir. Berkhianat terhadap apa yang diciptakan Allah. Ngga mensyukuri nikmat lu semua!” Saat itu pulalah hati mereka semua bergetar, mereka saling berpelukan dan menangis satu sama lain. Begitu juga dengan Ferdian. Ah dasar waria, mudah sekali hati kalian tersentuh. “Tobatlah, tobat31! Sesungguhnya Allah maha pengampun” ucapan Tedi mulai melemah. Ia kelihatannya bisa menyadari hati para waria ini.

31

Sesal atau menyesal akan dosanya, perbuatannya yang jahat dan berniat berbuat baik.


Mereka semua menangis, aku pun ingin ikut menangis, tapi, tak usahlah. Iwan dan Tyan pun berlinangan air mata juga dengan Tedi. Saat inilah waktu yang tepat untuk menenangkan hati mereka semua. “Semuanya, di tengah malam ini, izinkanlah gue, membacakan sebuah puisi yang telah lama gue siapin buat waktu ini. Puisi yang telah gue buat untuk mencairkan hati dan kerasnya sifat ini. Juga untuk menghilangkan kesedihan ini.�

DI SISI JALAN INI32 :untuk malam yang tak lagi sunyi

Di sisi jalan ini aku memperhatikan semua Keadaan malam yang berlalu lalang seperti kunangkunang Merah kuning kelapkelip menyorot aspal yang diselimuti sejuta tetes embun Betisbetis bahkan dadadada yang diobral murah Diskon besarbesaran Seperti jual baju kurang bahan Atau salah jahitan

32

Sebuah puisi yang termasuk di dalam buku kumpulan puisi : Sajak Sebutir Peluru, Hardia Rayya.


Para kerah berdasi yang berkeliaran memasuki lingkaran Garis pembatas yang tak boleh dilewati Membawa sejuta tanya Lelah dan peluh di sekujur tubuh Yang disulap menjadi berbagai kupukupu Juga mereka dengan tawanya yang berdusta Lalu anak bangsa yang menikmati kelakuan ibunya Bertindak semenamena Mereka berkata dengan air mata,“Ternyata ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri!“ Mengais rejeki di kolong kali

Lalu dosa berkembang biak Bagai jamur yang diternak Sedang pahala Angkat kaki karena tak punya tempat lagi

Lalu aku bertanya kepada dingin “Apakah kau punya mantel untuk menyelimutiku Dari keganasan nafsumu?” Dia hanya menjawab, “Di sana kau mendapatkan kehangatan Seperti sebatang lilin yang terus meleleh” Aku hanya mendapati Seorang lelaki tua tak bergigi


Sujud sembari memandangi Sajadah menunggu pagi

Di bangunan yang tak lagi Berdiri Dengan satu kaki

Lalu langit memunculkan mentari Mengganti malam menjadi pagi Dan kesibukan mulai menerangi Lalu tawa tak ada lagi

Aku menatap suatu kebebasan di wajah mereka semua. Perasaan bahagia dan gembira terukir jelas pada senyum bercampur air mata itu. Aku senang, mereka semua semoga saja mampu bertobat secara utuh, sempurna. Dalam hati ini rasanya bangga apabila melihat salah seorang teman mampu kembali ke jalan-Mu, Ya Allah. Tak lama mereka semua berpelukan dengan air mata pertobatan, Tedi berdiri, dengan semangatnya ia berkata, “Mari kita mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagai tanda kita semua menyesali perbuatan kita, sebagai tanda kita, gue, lu, dan


semuanya akan kembali ke jalan yang lurus dan menjalankan perintah-Nya. Bareng-bareng ya...” “Assyhaduallailahaillalah, wa assyhaduannam-uhammadarrasulullah...” dengan hati ikhlas kami mengucapkan syahadat. Aku merasa ada sesuatu yang berubah dari diriku ini, sesuatu penyesalan tentang perbuatan salah yang sering aku lakukan. Para waria itu menunduk sambil mengelap sisa-sisa air mata yang masih menetes. Fajar hampir tiba, kumandang azan subuh pun sebentar lagi akan menggema. Udara dingin masih menyelimuti

detik-detik

ini.

Embun

pun

masih

enggan

meninggalkan bumi ini. “Lu semua, janji kan buat bertobat?” tanya Tedi. Mereka semua mengangguk. “Iya tobatlah. Kerjaan di salon itu ga perlu jadi siluman kaya gini kok. Jadi seorang lelaki utuh seutuh-utuhnya juga bisa. Ga apa-apa kerja di mana pun, cara apapun, yang penting halal. Kerja di salon itu halal, tapi kenapa lu semua ngebikin gaya hidup kaya gini? Yang ngebuat seluruh kehidupan lu menjadi dosa...” ucapku karena tergerak untuk mengingatkan semua orang, betapa pentingnya hidup ini dengan kebaikan. Ya, kalau kita bertemu dengan orang, baik dikenal maupun tidak, usahakan selalu mengingatkan kebaikan, terjaganya

ibadah dan keharmonisan karena

keberlangsungan hidup

antara

manusia

dengan

manusia, manusia dengan Allah, juga manusia dengan alam. Kalau


kita jauh, maka tugas kita adalah saling mendoakan. Karena kekuatan doa itu lebih hebat dari pada apapun. “Mungkin kita mau ngelanjutin perjalanan nih...” kata Tyan sambil melirik jam yang ada di handphonenya. “Iya, ok. Oia tapi buat Ferdian, inget orang tua lu nungguin lu. Sejahat atau sejelek apapun sifat seorang anak, orang tua pasti kangen kepada anaknya. Dan kembalilah ke rumah, karena rumah adalah awal perjalanan dan akhir perjalanan. Pulanglah, karena tempat terakhir kau dalam perjalanan itu adalah rumah. Minta maaflah kawan...” kata Iwan dengan idealismenya. Kami bersalaman dengan para waria sebagai tanda perpisahan. Kami pun melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa meter kami melangkah, Mba Marni, eh salah, Mas Marno memanggil kami, “ Eh lu semua, tunggu sebentar!” Kami pun menoleh ke belakang secara bersamaan. Ferdian berdiri dan menghampiri kami. Ia mendekat ke arah Iwan. Lalu ia memberikan sebuah syal dan berkata, “Wan, dan semuanya, aku terima kasih, begitu juga temen-temen yang lain. Terima kasih, aku dan yang lain mencoba untuk bertobat dan memulai kehidupan baru dalam hidup kami...” Iwan hanya bisa tersenyum. Lalu Ferdian memeluk Iwan dan Tyan dengan erat, lalu mencium mereka berdua. Aku hanya tertawa kecil, ia pun langsung lari. Iwan dan Tyan yang agak ngeri


dan syok, menatapnya dengan kekesalan, lalu Iwan berkata, “Banci gila!� Para banci hanya tersenyum sambil melambaikan tangan mereka. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju masjid untuk solat subuh.


5 Jalani dan nikmati hari-harimu dengan penuh semangat dan percaya diri. Usaha yang setengah-setengah tidak akan membuat kita meraih tujuan. Tapi, kalau berusaha matimatian kita pasti mencapai tujuan. Kemudian semua jerih payah itu pasti akan dapat imbalannya. – Bsik Hikari

Siang yang melelahkan. Seharian ini kami hanya tidur-tiduran di sebuah masjid. Hawa panas dan rasa kantuk akibat semalaman tak terlelap,

membuat

kami

bermalas-malasan

sambil

tidur.

Mengingat-ingat setiap kejadian kemarin-kemarin, aku hanya bisa tersenyum sendiri. Aku sepertinya merasakan suatu kehidupan yang tak ada tandingnya. Apakah di luar sana banyak remajaremaja yang gemar berpetualang seperti kami, hitam putih abuabu? Aku belum menemukan jawabnya. Yang kami dapati dari setiap petualangan banyak sekali, yang pasti pengalaman dan pelajaran hidup yang begitu berharga. Menatap dunia secara langsung adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan istilah petualangan. Aku terbangun dari tidurku. Waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Si muadzin sepertinya sudah bersiap-siap untuk mengumandangkan seruan illahi siang ini. Segera kubangunkan yang lain. Mereka tidur nyenyak sekali. Ya, walau sesekali


mengigau seperti ketakutan dikejar-kejar sesuatu. Yang paling banyak mengigau adalah Tedi. Sepertinya ia masih syok akibat ditangkap waria semalam. Aku tersenyum kepada si muadzin33. Ia pun membalas senyumanku dengan ramahnya. Ia hanya menggeleng ketika aku berkata untuk memaklumi teman-temanku masih tidur. Mungkin dalam hatinya mengatakan, “Dasar anak muda, kerjaannya cuma begadang, begadang dan begadang”. Lalu, ketika adzan dzuhur berkumandang, barulah nyawa mereka semua bersatu. Walau ya, masih setengah masuk ke dalam raganya. Mereka bertiga masih sibuk menggeliat sambil mengucek mata. “Emang jam berapa nih udah adzan?” tanya Tedi. “Lu liat aja, Ted, sendiri...” jawabku sambil menunjuk ke arah jam dinding. Wajahku telah segar karena baru selesai berwudhu. “Ayo semuanya, wudhu juga gih. Kita segera solat berjamaah!” ucap si muadzin dengan lembutnya. Setelah selesai berwudhu, si muadzin segera iqomah. Aku bingung, masa solat berjamaah di masjid ini cuma ada tujuh orang, itu pun termasuk kami. Kalau kami tidak ada, berarti, ya cuma sekitar tiga orang, lebihnya paling sedikit, atau paling parahnya 33

Orang yang mengumandangkan adzan, ketika masuk waktu solat, di masjid atau di mushalla.


cuma dua orang saja. Padahal, masjid di tempat tinggalku, walaupun itu solat dzuhur, pasti orang yang melaksanakan solat berjamaah bisa berjumlah lima puluh orang atau lebih. Kalau solat subuh, di mana waktu setiap orang masih sibuk terlelap dalam tidurnya, di masjid tempat tinggalku pasti hampir semua shaf34 penuh oleh jamaah. Entahlah, padahal masjid ini termasuk dekat dengan pemukiman warga. Dengan

khusyu

dan

khidmad,

kami

bertujuh

melaksanakan solat dzuhur. Selesai solat, Tyan segera mengambil posisi yang pas untuk melanjutkan petualangannya di alam mimpi. Disambung dengan Iwan. Lalu aku. Tapi Tedi masih khusyu berzikir. Sepertinya ia sudah tidak mengantuk lagi. Aku masih mencoba memejamkan mata. Padahal hawa kantuk ini sudah menjalar ke seluruh tubuh. Tapi mata belum bisa terpejam. Aku masih melihat Tedi berzikir. Sangat jarang sekali ia melakukan zikir sehabis solat selama ini. “Gue coba ajak ngobrol aja nih si Tedi...” ucapku dalam hati. Aku yang tak bisa tidur mendekatinya. “Ted, lu ga ngantuk?” tanyaku. Ia diam saja. Khusyu sekali dia. 34

Barisan dalam solat.


Aku mendekatinya dan mencoleknya. Ia tetap tidak mau menoleh ke arahku. Aku menggoyang-goyangkan badannya, “Ted, Ted, so sibuk lu!” Ketika digoyang-goyang berkali-kali, ia pun langsung jatuh. Matanya terpejam. Dengkurannya terdengar, pertanda begitu lelahnya ia. Dalam hati, aku berkata, “Sial lu, Ted, bisa bisanya tidur sambil duduk!”.

Tyan datang dengan tergopoh-gopoh. Kami yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun menatapnya dengan penuh harap.

Samar-samar

kutangkap

senyuman

darinya

yang

memuaskan kami. Wajah yang gelap ditambah lagi gelapnya malam membuatnya hampir tidak terlihat di tengah rimbunnya ilalang. “Nih gue dapet...” ucapnya bangga. Aku sejenak melirik. Banyak sekali singkong dan jagung yang ia dapat. “Boleh nyolong di mana, Lu?” tanya Iwan penuh selidik. “Ah, biasalah. Kemaren gue ngeliat suatu tempat yang menyimpan sumber daya alam yang cukup memuaskan. Dan, inilah hasilnya.”

Ia pun tersenyum bangga. Memang, prestasi

Tyan dalam berbagai hal tidak boleh diremehkan, walau kelihatannya ia urakan.


“Banyak sih banyak. Tapi tetep aja boleh nyolong!” Tedi terlihat kurang puas dengan hasil yang didapat Tyan. Lalu Tyan memandangnya dengan penuh keseriusan. Ia pun langsung mengacungkan jari telunjuknya. “Ssst, ssst ssstt. Hari gini nyolong. Sori yah. Gue ini orang cerdas. Ga pake cara haram, Cuy.” Ia lagi-lagi membesarkan dirinya. Huh, selalu begitu. Kami bertiga kaget, lalu ia mendapatkan jagung dan singkong itu bagaimana? Apakah ia mempunyai uang banyak untuk mendapatkan singkong dan jagung itu Kukira tidak begitu. Sudah jelas, saat itu, saat ia makan di WARTEG, ia kehabisan uang. Lalu bagaimana? Apakah ia rela menggadaikan tubuhnya kepada seorang tante-tante hanya demi mendapatkan singkong dan jagung itu? Tapi pakaiannya tidak lusuh, dan celananya tidak basah? Lalu? “Terus lu gimana bisa dapet harta karun banyak banget? Lu ngepet buat dapet duit ya?” tanyaku. “Enak aja lu, Har. Gue kan pekerja keras, jadi wajar donk Allah memberikan upah yang lebih kepada hamba-Nya yang lemah ini. He...he...” jawab Tyan yang makin membuat kami semua bingung. “Ah lu. Yang bener nih?” Iwan makin ragu dengan jawabannya.


“Kasian gue sama lu semua. Haha. Oke, gue kasih tau semuanya...” Tyan menarik nafas yang dalam dan melanjutkan ceritanya, “Gue bingung pas lu semua cari makanan, sedangkan kita ada di tengah sawah gini, tempat yang kurang strategis buat makan enak. Ya udah, gue ambil keputusan aja buat nyolong ni harta karun...” Tedi segera memotong cerita Tyan, “Apa gue bilang, lu nyolong. Udeh, dari awal aja ngaku susah amat!” “Sabar, Ted, gue kan belom beres.” ucapnya dengan senyum khas, “Gue udah ngeluarin jurus andalan gue padahal. Jurus menghilang, yang udah diajarin sama nenek moyang gue turun temurun...” Aku kaget, ternyata Tyan punya jurus yang langka. Memang, daerah Kresek tempat tinggalnya masih menyimpan cerita-cerita mistis tentang kekuatan yang magis dan ilmu-ilmu hitam untuk menyantet orang. Lalu Iwan tertawa geli. Aku pun heran melihatnya, begitu juga dengan Tedi. “Ilmu apa?” Iwan masih tertawa geli. “Ah lu, Wan.” Tyan agak malu melihat Iwan. “Iya ilmu apa? Si Tyan kan item, trus sekarang malem. Kalo dia masuk ke tempat gelap dan penuh rerimbunan pohon dan ilalang, jadinya... taaaraaaaa, tidak kelihatan deh lu...” Iwan mencoba memberi penjelasan sambil tertawa. “Hahaha...” kami tertawa keras.


Tyan melanjutkan, “Iya, jadi ternyata yang punya kebun tuh pak haji, lupa gue, pak haji siapa, yang jelas dia punya ilmu tinggi dan bisa ngeliat gue dalam kegelapan. Terus gue langsung lari, kaget gue pas pak haji tadi mergokin gue. Eh gue malah kesandung. Jatoh dah gue. Pak haji tadi langsung nangkep gue sambil berkata, „ Heh nak, kamu mau ngapain? Nyolong ya?‟. Gue gugup...”. Tyan menarik nafas, “Terus gue jawab dah „Aaaanuu pak...‟, beliau langsung motong jawaban gue, „udahlah ngaku aja. Nih saya kasih, ambil aja satu karung sama jagungnya‟. Gue langsung kaget. Kaget banget. „tapi ada satu syarat...‟ gue bertanya-tanya dalam hati tuh, syarat apaan? Gue saat itu diam mendengarkan, „syaratnya adalah kamu harus bakarin saya jagung, tujuh buah, ok?‟. Gue seneng banget, langsung aja gue ngangguk dan nyium tangan tuh pak haji. Makanya abis kita bakar-bakar nih harta karun, gue langsung ngasihin jagung ke beliau...” Ada-ada saja Si Tyan. Ternyata masih banyak juga orang baik di dunia ini. Tak percuma aku dilahirkan di zaman sekarang. Kami semua, malam ini bersenda gurau, bercerita sampai larut malam. Bercerita tentang malam, tentang bintang-bintang, tentang mimpi ketika kami kecil, mimpi ketika sudah menginjak dewasa yang sudah berbeda jauh ketika bermimpi di waktu kecil, tentang angan, tentang harapan, tentang tuntutan, tentang kebebasan, ya tentang segalanya.


Aku langsung terhanyut ketika kami berbagi cerita di waktu kecil. Aku teringat kembali, ketika aku tak membatasi setiap mimpi. Ketika bermimpi menjadi seorang penjelajah yang sedang tersesat di daerah Mesir, tepatnya peradaban Mesir kuno. Saat itu aku bermimpi menemukan suatu peradaban yang hilang di tengah padang pasir yang tandus dan gersang tanpa air. Dan ketika itu aku bertemu sesosok peri, entah peri apakah itu. Ia hanya mengatakan bahwa ia utusan Firâ€&#x;aun yang bisa memberikan satu pilihan dari tiga buah pilihan, pertama adalah emas yang sebesar gunung, pastinya kalau aku memilih itu semua aku bisa kaya raya, pilihan yang kedua adalah sebuah pulau yang berisi istana megah hanya untukku, pastinya kalau aku memilih yang ini, aku bisa menjadi seorang raja, pilihan yang ketiga adalah sebotol air yang mampu menghilangkan kehausanku dalam perjalanan di tempat ini. Aku masih bingung saat itu. tapi ketika kehausanku sudah mencapai puncaknya, aku tak menghiraukan harta dan tahta, aku lebih

membutuhkan

air,

air

yang

dapat

menghilangkan

kehausanku. Ya, langsung saja kupilih pilihan yang ketiga tadi. Lalu peri itu memberikan sebotol air dengan botol emas, yang airnya berasal dari sebuah pulau, pulau yang masih asri, belum terjamah suatu kehidupan penghancur. Aku bangga, ketika peri utusan Firâ€&#x;aun tadi mengatakan bahwa aku memiliki hati yang lebih indah dari emas, dan memiliki tahta di dalam diri, juga


seorang raja yang mampu mengatur hawa nafsunya. Ah, dasar mimpi-mipi anak kecil, sulit dimengerti. Berikutnya adalah cerita Iwan, ketika kecil, ia sudah bermimpi terhempas pada sebuah dunia yang ia sendiri pun tak mengerti. Di dunia itu, hanya ada hewan-hewan aneh, mulai yang baik sampai yang buas, hewan-hewan itu berbicara selayaknya manusia. Di dunia itu, ia bertemu dengan beberapa teman. Ia pun berkelana mengelilingi dunia yang tak ia mengerti, bersama teman-temannya yang juga tak pernah saling mengerti terhadap dunia itu. Bertarung menghadapi kejahatan dan mendirikan kerajaan monster dengan kebijaksanaan di dalamnya. Berikutnya adalah cerita Tyan. Tyan termasuk satu dari seribu anak kecil yang mampu menggambar mengalahkan orang dewasa. Saat itu ia menggambar sebuah kota dengan berjuta-juta kejahatan di dalamnya. Ia pun langsung tersedot ke dalam gambarnya itu. Ketika itu ia bisa berubah menjadi sang pembela kebenaran. Ia mampu menciptakan berbagai senjata di sana. Hanya dengan berbekal krayon andalannya. Ia pun mampu menjadikan kota itu menjadi lebih aman dan ia diangkat sebagai pelindung oleh presiden di kota itu. Lalu Tedi, ia sangat bercita-cita menjadi seorang profesor yang mampu membuat robot. Robot terhebat di dunia. Robot yang bisa berubah menjadi apapun, yang merupakan replika dirinya . Tapi dalam ceritanya, robot ciptaannya itu berubah menjadi ganas


karena dia memasukkan sebuah ingatan seorang penjahat. Ia pun bertarung melawan robot ciptaannya sendiri, yang berarti melawan dirinya sendiri. Kemampuannya yang begitu cerdas mampu dikalahkan sang robot, pertarungan seimbang. Lalu dia berfikir tentang kelemahan dirinya. Dia pun mampu mengalahkan robot itu sekaligus mampu berkaca diri akan kelemahan yang dimiliki. Kebanyakan, bahkan sebagian besar mimpi anak kecil adalah menjadi seorang pemenang dalam pertarungan. Juga tentang petualangan melawan mahluk asing, atau menemukan harta karun di sebuah daerah antah berantah. Sebuah imajinasi yang tanpa batas. Berbeda ketika seseorang menginjak dewasa. Imajinasi

dan

mimpinya

kebohongan, ego, minder,

mereka

batasi

dengan

sebuah

gengsi, dan sudah lupa dengan

imajinasi. Mimpi mulai dipersempit dengan batas-batas wilayah yang tak sewajarnya. Entahlah, apakah di pikiran orang dewasa, mimpi itu seperti membeli sebuah benda yang berharga sangat mahal, sehingga mereka semua sayang untuk bermimpi? Aku merasakan hal itu. Mimpi, sebuah kata yang tak asing lagi di telinga anak kecil. Sebuah khayalan, sebuah imajinasi kehidupan yang timbul dari pemberontakan pikiran. Hal-hal yang jenius lahir tanpa ada paksaan dan belum terkontaminasi sebuah kehidupan yang kotor dan berpolusi. Tapi kata mimpi mungkin asing dan begitu sepele di dalam pemikiran orang dewasa, mereka kebanyakan memikirkan


hal-hal yang riil saja. Sesuatu yang nyata dan tanpa tantangan yang berarti untuk dilalui dalam sebuah kehidupan. Hanya memikirkan sesuatu yang dapat dicapai dengan pas-pasan. Kurang memaksimalkan pikiran. Terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang hanya kasat mata, orang dewasa itu. tidak pernah sadar, bahwa banyak hal yang menunggu di depan. Dan semua itu adalah tidak kasat mata. Belum terlihat. Maka dari itu, “mimpimu adalah masa depanmu!� kata sebuah iklan reklame di pinggir jalan. Lewat mimpi, kita bisa mengembangkan dan mengubah jalan hidup ke arah yang lebih baik. Seperti, kita bermimpi untuk berkelana menjelajahi dunia, maka dengan mati-matian kita akan mengumpulkan cara untuk berkelana menjelajahi dunia, entah dengan cara mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya atau dengan cara nekat. Atau bermimpi menjadi seorang pecinta lingkungan. Dengan segenap pemikiran kita, bagaimana cara alam sekitar kita menjadi kembali asri. Bagaimana kita memaksimalkan otak kita berfikir untuk menjaga lingkungan dapat dilakukan setiap orang. Atau bagaimana menyadarkan orang lain agar ikut melestarikan lingkungan. Itulah dasyatnya mimpi. Mimpi yang maksimal dan membakar nafsu untuk mencapainya. Keinginan yang besar, suatu ambisi yang untuk mendapatkannya diperlukan semangat yang menggebu-gebu.

Maka dari itu marilah bermimpi untuk dapat


menafsirkan kehidupan yang begitu indah. Jagan menyerah, karena setiap kegagalan itu berarti. Belajarlah! Berdiri dan bangkit! Lalu berlari! Teriak, bahwa kita adalah sesuatu yang nyata dan patut untuk dipandang dunia. Patutlah kita, para pemimpi, disejajarkan dengan Albert Einstein, Issac Newton, Jalaludin Rumi, Pramoedya Anantatoer, Soe Hok Gie, Mahatma Ghandi, David Beckham, Tony Hawk, Ibnu Sina, Bill Gate, Soekarno, Andrea Hirata, Gajah Mada, Christophorus Colombus juga yang lainnya. Bermimpi, Bermimpi dan BERMIMPI bersama kami, Hitam Putih Abu-Abu.


6 Aku mendengar dan aku melupakan. Aku melihat dan aku melupakan. Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi di catatan perjalanan hidupmu, Kawan. Kau sendiri yang akan menentukan akhir cerita, hanya usaha dan doamu. Ingatlah dirimu dan carilah dirimu. Jadi jangan pernah takut menatap dunia! – Angkasa Wirawan

“Oke semuanya, tarik nafas...� perintah seseorang yang berambut gondrong itu. Kami yang sedang duduk bersila pun mematuhinya. Ya, dia, dia adalah seorang seniman Balaraja, Miming Munardi. Sahabatnya Pak Nan, juga seorang anak yang terpilih terdahulu. Kami saat ini berinisiatif untuk menemuinya karena bagi kami berkenalan dengan sesama anak yang terpilih adalah suatu keharusan. Ia pun termasuk orang yang dikenal di Balaraja ini, sebagai seorang seniman. Lukisannya sangat bagus, menurutku. Dengan gayanya yang terlihat amburadul35, rambut gondrong, tapi wajahnya memancarkan suatu kebersihan dan ketenangan hati, membuat setiap orang yang berbicara dengannya merasa senang. Wajahnya

35

seperti

menggambarkan

Berantakan, tak terurus.

sebuah

ketidakpedulian


terhadap apapun, tapi malah sebaliknya, sifat ingin membantu sesamanya sangatlah tinggi. Yang sebenarnya berhasrat ingin bertemu dengan Pak Miming Munardi adalah Tyan. Mungkin kesamaan hobi yang membuatnya berambisi belajar kepada pak Miming, yaitu tentang seni rupa. Tyan bagiku ahli dalam memainkan pensil, pena, spidol atau alat tulis lainnya, tapi ia sepertinya belum terlalu mahir memainkan kuas di atas kanvas. Dan ketika kami memberitahukan kami ini siapa, mengapa kami tahu dia, juga maksud kedatangan kami, Pak Miming segera menyambut kami dengan senang hati. Makanya, sebelum memulai melukis, dia menyuruh kami untuk melakukan ritual yang harus dilakukan seorang pelukis agar mendapatkan ketenangan hati. “Tahan... keluarkan...” Pak Miming memerintah sambil berjalan berputar-putar mengelilingi kami. “Tahan...keluarkan...” Aku diam saja. Dengan konsentrasi yang khusyu mengikuti jalannya ritual. “Tahan...diam, agak lama. Jangan dikeluarkan dulu...” “Oke, keluarkan...” “Haaaaaahhhh...” aku masih belum kuat menahan nafas berlama-lama.


“Sekarang harus benar-benar konsentrasi kalian semua. Sekarang, tahan lagi, tahan nafas lagi. Tenangkan pikiran. Rileks. Tahan...� Konsentrasi yang penuh adalah suatu teknik untuk mencapai ketenangan hati. Apabila kita sudah tenang, maka pekerjaan yang kita lakukan pun Insyaallah akan baik, pekerjaan kita akan selalu kita hayati dan yang terpenting adalah sebuah rasa syukur yang bisa kita kita nikmati apabila kita telah mencapai ketenangan hati. Hidup tidak dibuat susah, mencoba menghadapi masalah dengan kepala dingin, marah-marah pun dapat terhindari. Itu yang pertama kali dijelaskan oleh Pak Miming. “Tahan... tahan.. tahan!� Konsentrasiku hampir mencapai titiknya. Lalu sebuah bunyi mengganggu bahkan menghancurkan semua konsentrasiku. Bunyi yang nyata dan jelas sebuah bunyi yang biasa aku dengar selama ini. Aku mencoba melirik sekitar. Tedi, ia pun melirikku dengan tatapan aneh. Iwan, ia juga sama, sepertinya nafasnya yang ia tahan sudah keluar dan sepertinya ia keracunan. Tyan, wajahnya gembira, senang tak terkira, senyum-senyum sendiri, sambil mengangkat kedua jempolnya. Bau itu, ya, bau itu menusuk selasela hidungku, yang awalnya telah menusuk hidung Iwan lalu hidung Tedi.


“Aaahhhh, mantab. Sedap baunya...” ucap Tyan setelah mengeluarkan angin surganya. “Uuhhhkkk, uuhhhkkk. Telor busukk!” Aku menggerutu sambil memegang hidung yang pesek ini. “Pantat meledak, racun, racun septictank kena bom!” Tedi seperti tercekik lehernya. “Gila! Bom Hirosima meledak di Balaraja!” ucap Iwan sambil menutup hidung dengan tangannya. Pak Miming kok diam saja? Apakah orang yang sudah mencapai ketenangan hati itu tak dapat merasakan sebuah pahitnya dunia, seperti kentutnya Tyan. Di hadapanku ia tak ada, di samping kami, dia juga tak ada. Lalu aku menoleh ke belakang. Aku kaget sambil teriak, “Pak Miming pingsan! pak Miming pingsan!” Seketika itu yang lain pun menengok ke belakang. Ia pingsan terkena kentut supernya Tyan yang tepat meledak di hadapannya.

Setelah sepuluh menit pingsan, Pak Miming akhirnya sadar. Ia menatap tajam ke arah Tyan. Tyan hanya senyumsenyum merasa tidak enak kepada beliau. Pak Miming segera bangun dan menepuk pundaknya, “Jadilah pelukis yang hebat, guncang dunia lewat penafsiran sebuah alam dengan karya-karyamu...”


Tyan terpana mendengar kata-katanya. Kami semua kaget. Apakah mungkin, Tyan mampu menjadi pelukis hebat seperti yang diucapkan Pak Miming tadi? Seperti yang telah dikatakan Pak Nan tempo hari, bahwa Pak Miming itu mempunyai kemampuan meramal yang hebat. Mungkin hanya dengan melihat cara seseorang bertingkah laku, bergerak, berpendapat, berbicara, mengeluarkan argumen, ia sudah bisa menebak akan jadi seperti apa orang itu nantinya. “Jadilah pelukis yang hebat...” kata-kata itu beliau ulangi lagi, “Jadilah pelukis yang hebat dengan banyak melukis, memandang alam, membaca alam, menjaga alam, melestarikan alam, bersyukur karena Allah telah menciptakan alam yang indah, pergi ke alam dan, lihatlah! Lihatlah apa yang ada di sana!” Petuah yang begitu berharga bagi kami. Ia bukan hanya guru bagi lukisan kami, tetapi juga guru yang bisa mengarahkan kami cinta terhadap sesama ciptaan-Nya. Tak salah, ia menjadi salah satu anak yang terpilih. Tanpa banyak berkomentar, Pak Miming segera bangun dan mengajak kami melanjutkan latihan. “Berikutnya, pikirkanlah apa yang akan kalian semua gambar atau lukis. Pikirkan saja...” beliau pun segera membagikan kuas, “Lalu anggap aja kalian lagi ngelukis. Lukislah. Pejamkan mata kalian!”


Kami memejamkan mata, “Dan di hadapan kalian sekarang ada kanvas, cat, berbagai jenis kuas, pinsil dan sebuah ide. Cepat, lukis!” Aku mencoba mengikuti apa yang disuruh Pak Miming. Mungkin orang yang melihat kami saat ini bisa memanggil kami orang gila, tapi aku juga agak tidak percaya dengan apa yang dikatakan pak Miming barusan. Entahlah, tapi aku ikuti sajalah apa yang dikatakannya. Aku mulai berimajinasi dengan apa yang sedang aku gambar di hadapanku.

Mulai dari langit-langit oranye yang

terbentang luas. Dicampur dengan berbagai warna gelap, bersatu padu. Membentuk semburat tentang kegelisahan hatiku yang tak menentu. Aku pun menggambarkan seseorang yang berlari mencoba menangkap pelangi. Dengan dandanan seadanya, ia berlari menangkap pelangi di senja ini. “Terus melukis. Gambarkan, gambarkan, gambarkan!” Pak Miming memberi semangat kepada kami. “Tedi, kamu buat apa?” Pak Miming menanyakan satu persatu apa yang kami buat. “Saya melukis

jutaaan berlian yang indah dan kuat!”

jawab Tedi dengan tegas. “Iwan, kamu gambar apa?” “Saya menggambar jutaan orang sedang berlari menuju sebuah titik cahaya...”


“Hardi, kamu sendiri ?” “Saya bikin seseorang yang berlari ingin menggapai pelangi ketika senja hari dan angin yang sedang berhembus sepoisepoi...” “Kamu Tyan ?” “Saya membuat sekelompok orang terbang mengitari langit,” Ternyata, kukira mereka tak serius berkhayal. Dasar, hitam putih abu-abu. Selalu saja bermain-main dengan khayalan kalian. “Oia pak, apa maksudnya bapak tadi menyuruh kami melukis di alam pikiran kami? Apakah cuma iseng-seng saja atau ada maksud lainnya?” aku masih belum yakin tentang teknik melukis yang diajarkannya tadi. “Ehmm, begini anak muda, kalian tadi mencoba mengembangkan imajinasi kalian, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kalian, meledakkan otak kalian dengan semua khayalan-khayalan yang kalian punya. Dengan cara ini, apabila kalian hendak melukis di atas kanvas langsung bisa melukiskannya. Bagi pemula, melukis di atas kanvas, apabila langsung melukis saja tanpa melakukan metode penenang hati itu bakal susah mengeluarkan imajinasinya. Gambar pun masih jauh dari harapan.” “Ooo...” kami berempat ber-O ria. Ternyata, dari tadi kami melakukan konsentrasi itu ada manfaatnya. Salah satunya adalah mengeluarkan imajinasi seperti


yang dikatakan Pak Miming tadi. Oke, aku mulai menangkap ke arah mana beliau mengajarkan kami. Lalu Pak Miming mengeluarkan peralatan melukisnya. Kami pun memperhatikan bagaimana dia mengguratkan kuaskuasnya. Perlahan-lahan, perlahan-lahan dan segurat warna muncul. Warna yang indah. “Melukis itu yang sebenarnya gampang, engga ada di dunia ini yang susah, kecuali kalian malas. Mencoba itu lebih baik, walaupun gagal. Ketimbang kalian hanya tidur, nonton, tidur, nonton, tidur dan ngga bangun lagi.” Ucap Pak Miming di selasela guratan kuasnya. Setelah selesai mengajari kami dasar-dasar melukis, kami berlima bercerita panjang lebar, tentang anak yang terpilih dahulu, tentang Mbah Sugi, tentang kehidupan pilunya Pak Miming, tentang atap langit yang telah membawanya sadar akan kehidupan ini, juga tentang banyak hal. Kami berempat pun menceritakan perjalanan kami, tentang pertemuan kami dengan Mbah Sugi, tentang Pak Nan, juga tentang mimpi-mimpi kami. “Udah, nih kopi,” kata pak Miming menawarkan segelas kopi, hitam pekat. Ia tadi sempat membuat kopi. Katanya kopi itu penghilang stres dan membuat pikiran jernih untuk mengambil suatu keputusan. Segelas kopi. “Diminum ya, Pak...” ucap Iwan sambil mengangkat gelas kopi. Pak Miming pun mengangguk.


“Hitam...” kataku, yang juga mengangkat gelas. “Putih...” Tyan melanjutkan. “Abu...” Iwan ikutan. “Abu...” Tedi juga. “Bersulang...” ucap kami berbarengan, kami pun bersulang dan menenggak kopi bersama-sama. Kopi itu perlahan mengalir di bibir kami, melesat melewati lidah, terjelembab di dalam tenggorokan. Tapi, ada suatu hal yang janggal, sepertinya aku belum pernah merasakan rasa yang begitu aneh seperti ini. “Mmbbbuuuuaahhhhh....” kopi yang telah masuk ke mulut Tedi, dimuntahkan kembali, Iwan menyemburkannya, kopi di mulut Tyan mengalir keluar. Aku hanya bisa menahannya dan membiarkan cairan kopi itu masuk ke tubuhku. “Pak, mau ngeracunin kami apa?!” Iwan kelihatan marah. “Iya nih, kopi kok pahit banget, dikasih racun ya!” Tedi ikut menimpali. Aku coba menjatuhkan tubuhku ke lantai lalu bangun dan teriak, “Pahit! Betul betul pahit!” Pak Miming tersenyum. Aku tak mengerti arti senyum itu. Lalu ia berkata seperti tak berdosa, “Gula lagi mahal, juga ngga baik buat tubuh, entar pada kencing manis lagi...”. “Dicampur apaan nih kopi? Racun tikus?” tanyaku dengan rasa pahit yang tak kunjung pergi dari lidahku.


Pak Miming menggeleng. “Lalu?” tanya kami bersama-sama. “Kopi murni, asli, tanpa campuran MSG, mecin, garam, racun tikus, apalagi gula...” jawabnya dengan polos. Aku menghela nafas.

Pertemuan kami dengan Pak Miming memberikan kesan tersendiri di hati kami. Masing-masing dan berbeda. Aku senang bisa bertemu orang ini. Dia juga menyampaikan bahwa kalau ada waktu, berkunjunglah ke tempat itu lagi. Ia pun dengan senang hati menerima kami apabila ingin belajar melukis lagi. Singkat tapi sangatlah berkesan. Kami jalan lagi, mencoba untuk melewati batu karang yang ada di depan. Lalu, entah ini sebuah ilusi atau bukan, suara yang datangnya entah dari mana bergetar di telingaku, “Carilah! Cari dan kejarlah ujung pelangi itu sampai dapat!”


7 Sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yg disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri – Vera Kristin

“Haha,

ngapain ke sini lagi?” tanya Tedi sambil melirik ke

telepon genggamnya. “Ada hal yang harus kita selesaikan, Ted!” jawab Iwan dengan tegas. “Ya, bener kata Iwan. Hal yang menyangkut ketentraman perumahan kita!” aku melanjutkan jawaban Iwan. Sekarang tepat pukul sebelas malam. Kami berempat ada di depan gerbang perumahan Permata Balaraja, yang tidak lain adalah perumahan tempat tinggal aku dan Tedi. Aku mempunyai alasan yang kuat untuk kembali ke perumahan ini. Aku dan Iwan yang telah mengetahui rencana jahat seseorang untuk merusak ketentraman

perumahan.

Kami

sekarang

mencoba

untuk

mengembalikan ketentraman yang hampir hilang itu. Tedi dan Tyan menampilkan wajah penuh sejuta tanda tanya. Kami berempat melangkah perlahan memasuki perumahan Permata Balaraja. Sedikit informasi tentang perumahan ini, perumahan permata Balaraja ini dibangun pada tahun 1994 yang lalu. Dahulu daerah ini merupakan wilayah pesawahan yang


membentang luas. Entah mengapa warga desa Balaraja tergiur dengan uang yang ditawarkan oleh pemilik perumahan ini sehingga menyerahkan tanahnya untuk pembangunan perumahan. Dan berdirilah rumah-rumah sederhana dengan berbagai ukuran luas tanah. Bagiku beberapa puluh tahun lagi perumahan ini hanya akan menjadi perumahan orang tua, karena para remaja yang mulai beranjak dewasa memilih untuk berkelana mencari tempat tinggal sesuai hati mereka masing-masing. Tapi entahlah, biar waktu yang menunjukkan. Rumahku persis berada sebelahan dengan rumah Tedi. Kami berarti memiliki rumah dengan satu tembok. Keadaan hening menyelimuti perjalanan kami. Suasana jalan yang rusak dan keadaan gelap membuat kengerian yang menjadi, tapi untungnya perumahan ini sudah dihuni semuanya. Jadi dari pinggir jalan utama sampai belakang ramai oleh para keluarga. Tapi sekarang ketentraman itu diusik oleh rencana juga perbuatan jahat seseorang, tepatnya sebuah teror. “Emang ada apa sih?� Tedi masih saja diselimuti penasaran dengan rencanaku dan Iwan. “Lu tau kan mitos tentang pocong di sini? Tepatnya di RT 7 pocong36 itu sering berkeliaran?� kataku yang balik bertanya.

36

Suatu mahluk gaib yang berbentuk seperti mayat, dibungkus kain kafan putih. Biasanya, ini mitos yang terjadi karena apabila ada orang yang meninggal, tapi tidak dilepaskan ikatan kain kafannya. Pocong ini bergerak sambil melompat.


Tedi mengangguk. “Iya, Ted, udah satu bulan gue sama Hardi nyusun rencana dan melakukan penelitian tentang mahluk apakah pocong di sini. Jadi sekarang bukti udah jelas. Kita bakal nangkep pocong itu dan kita telanjangin trus diarak keliling Balaraja.” Terang Iwan sambil tersenyum. “Tapi emang itu pocong bener orang?” Tedi masih bingung. “Lu liat aja sendiri. Gue belom bisa mastiin sih,” jawabku. “Apa ga sayang tuh kalo pocong kita ngga gebukin dulu ?” Tyan ikut bertanya. “Sip, ide bagus. Kita bikin jebakan dulu!” kataku mengiyakan saran Tyan. Mitos yang benar-benar mengusik. Membuat teror yang mencekam. Pocong itu sudah beraksi selama tiga bulan. Keluar setiap malam jumat. Kabarnya dia selalu menakuti orang-orang yang lewat. Siapa pun. Pernah pula dicoba seorang Ustadz berusaha mengusir pocong itu, tapi tidak berhasil. Kata Si Ustadz, sinyal pocong itu sulit ditangkap (emang hape?). Katanya pula bahwa pocong itu berilmu tinggi, jadi susah dilacak. Atau saja Ustadz itu yang berilmu rendah sehingga tidak bisa membedakan mana jin, setan atau manusia. Entahlah. Belum ada bukti-bukti yang membuat kejelasan tentang kejadian ini. Hanya cerita-cerita dari mulut ke mulut.


Lalu aku dan Iwan berinisiatif untuk memecahkan kasus ini. dari beberapa bukti yang telah kami kumpulkan dari saksisaksi yang pernah melihat, kemungkinan besar ini hanya sebuah teror dari seorang pencuri kampung. Karena kebanyakan ketika kutanya kepada para saksi, mereka menjawab bahwa ketika akan pulang ke rumah, mereka melihat kain putih melayang seperti sedang memperhatikan sesuatu, lalu kain putih itu menoleh ke arah mereka, ketika nampak wajahnya, mukanya rusak sekali, sangat menyeramkan. Itu tidak lain adalah mahluk dari dunia bawah bernama pocong yang tersesat tak tahu jalan pulang ke alamnya. Kami berdua hanya geleng-geleng ketika mendengar penuturan para saksi. Lalu kami berdua membuktikan apakah itu benar-benar pocong atau bukan. Ketika bukti-bukti sudah jelas, dan kami pun melakukan penelitian lapangan. Yaitu membuktikan bahwa pocong itu hanyalah mitos belaka. Dua minggu lalu kami beraksi. Kami bersembunyi di berbagai tempat untuk menyelidiki di mana pocong itu beraksi malam itu. Lalu kami memang benar melihat sesosok kain putih, entahlah. Pokoknya kain putih. Dari balik kain itu muncul tangan yang mengeluarkan kantong plastik merah, pocong itu seperti mengendap-endap. Dan dihabisilah jambu dari sebuah pohon di RT 4 itu. Dan demikianlah, kami langsung kabur dengan kepuasan tersendiri di dalam hati.


Dan malam ini, waktunya kami, hitam putih abu-abu menangkap pocong yang amat meresahkan itu. Tugas besar sebagai penanggung beban sebagai remaja yang beda dengan remaja lain. Malam ini adalah malam Jumâ€&#x;at, petang tiga puluh (kata orang melayu adalah malam yang tergelap tanpa cahaya bulan atau bintang sedikit pun). Rumah-rumah pun sudah gelap, karena mereka semua takut dengan teror sang pocong. Angin malam menyapa kami. Dengan nada pemberani yang tak gentar kami terus melangkah dan mencari di mana lokasi pocong itu berada. Strategi demi strategi kami susun, walau kami yakin itu semua tidak akan berjalan lancar, diacak-acak oleh keangkuhan kami yang berniat menghabisi pocong itu. “Sstt, jangan pada ribut ya...â€? bisik Iwan seraya mengendap-endap melewati gang demi gang di RT 5. Kami mengangguk. Daerah RT belakang ini adalah kekuasaan Iwan. Makanya ia sekarang memimpin jalan. Memperhatikan jalan setiap gang. Betul-betul sepi sekali malam ini. Hanya ada dinginnya malam. Sampai-sampai jangkrik pun enggan menggesekkan sayapnya demi sebuah suara untuk memeriahkan malam. Di RT 5 tidak ada. Sekarang kami melaju menuju RT 6. Lalu pandangan kami dikejutkan ketika melihat kain putih berjalan di hadapan kami, itu dia, pocong yang kami cari. Tapi, nampaknya


ia tak melihat kami berada di sini. Sebab ia tak bereaksi. Lalu kami menjalani rencana yang tadi disusun. “Oke, seperti yang tadi gue omongin...” aku mencoba mengambil kendali. “Sebentar, emang lu ngomong apa tadi, Har?” tanya Tedi. “Iya, Har, emang lu tadi ngomong apa?” Iwan ikut bertanya. “Masa lu lupa sih, nih Tedi, lu jadi umpannya, pas pocong ngeliat, lu pura-pura kaget. Iwan lu juga bareng Tedi, lu berdua keliatan lagi mabok. Pake gaya orang mabok. Oke?” aku menjelaskan. Oh ya, kayaknya aku tadi tak berbicara seperti itu deh. “Emang lu tadi ngomong kaya gitu, Har ?” Tedi kelihatan bingung. “Iya, Har, terus kenapa ga lu sama Tyan aja yang jadi umpannya?!” Iwan malah memberondongku dengan perasaan kesalnya. “Tadi kan, Ted? Barusan kan gue ngomong. Hehe...” aku senyum ketahuan berbohong, “Wan, kan hitam putih abu-abu sutradaranya gue? Masa lu lupa? Katanya lu mau jadi bintang film? Kalo Tyan yang jadi tokoh utamanya, ntar pocongnya malah takut ngeliat dia...” Kami semua tertawa. “Huh, selalu begitu!” gerutu Iwan.


Iwan dan Tedi pun memulai aksinya. Mereka berdua berjalan seperti orang mabuk. Berjalan sambil jatuh-jatuhan bernyanyi-nyanyi yang tidak jelas. Sambil bergoyang-goyang, lalu jatuh. Berjalan lagi, bernyanyi dan bergoyang. Mereka berdua itu sangat ahli dalam mendalami suatu peran. Jadi memasang wajah apapun mereka bisa. Kali ini mereka piawai sekali memasang wajah orang yang sedang mabuk. Sendawa dan kecegukan, muka kumal, dengan suara yang amburadul saat bernyanyi, mata sipit. Aku dan Tyan memperhatikan mereka dari jarak yang tak jauh. “Malammm, iiiniii maalammm juummaaattt...” Tedi bernyanyi. “Juuuummaaaatttt,

juuuuuu...

ukkhhkk

uuhhhkkk...”

sambung Iwan sambil terbatuk-batuk. “Kknnnhaaapeee lu Iiwaaannn ?” “Ahh, lu Tedd, hahahaaa, putus cinntaaaaaa...” “Jaaangggaaannn

mabookk

lu,

Wann,

masuk

nnerraaa...kaaaa. hahahaaa” “Kataa bapaa ddii nerakaaa bannyaaaakkk cewee cakeep, Teed. Masuk neeeraaakaa yuuu.hahaha!” Mereka

berdua

sudah

dekat

dengan

pocong

itu.

Sepertinya si pocong tak menyadari kehadiran mereka. Ia sedang asyik menyodok jambu, satu-persatu. “Loh, mas-mas nnggpaaiihhnn. Uhhhkkk uhhhkkk” ucap Iwan berpas-pasan dengan pocong itu.


Pocong itu menoleh ke arah mereka berdua. Mereka bertiga saling bertatapan. Iwan dan Tedi terlihat kaget sekali, karena muka pocong itu begitu menakutkan, mukanya hancur. Tapi menurutku itu hanya sebuah topeng saja. Pocong itu pun kaget, jambu yang ia ambil jatuh berhamburan ke bawah. Tedi dan Iwan segera berlari. “Pppppooocong!” teriak Iwan. Mereka berdua terus berlari menuju ke arah kami. Lalu Tedi terjatuh, ah kebiasaan, atau ia masih berusaha menjadi peran pemabuk. Sebab dari cara bicaranya ia terlihat seperti orang mabuk. “Tttooo...looongg gue Iiwannn... tttooolll...llooonggg...lontooooongggg!” teriak Tedi. Iwan melirik Tedi, segera saja ia membantu Tedi bangkit. Pocong itu dari belakang berusaha mengejar dan menakut-nakuti mereka berdua. “Bangun cepet, Ted!” “Merinding gue, Wan, gemeteran nih kaki gue. Serem banget tuh pocong!” “Dikit lagi, Ted, dikit lagi!” Iwan langsung menarik Tedi. Ia berhasil berdiri, tapi jatuh lagi, karena Iwan pun terjatuh ke belakang. Pocong mendekat. Aku sudah siap dengan kayu di tangan. Rencananya akan kupukul


pocong itu sekuat tenaga agar semua orang memandangku sebagai pahlawan. Haha, ide yang aneh. “Pocong! Gue matiin lu!� teriak Tyan sambil berlari dengan membawa bambu di tangannya. Ah sial, seperti biasa, dia menggagalkan rencanaku. Hampir saja aku jadi terkenal. Pocong kulihat kaget dengan keluarnya Tyan sambil berteriak. Iwan dan Tedi tercengang melihat tingkah Tyan. Pocong itu berbalik dan terjatuh karena tersangkut kain kafan yang ia gunakan. Tapi ternyata ia langsung bangkit dan mencoba menghadapi Tyan. Ia memasang kuda-kuda. Tyan bersemangat, karena pocong itu berani menantangnya. “Ga dapet banci, pocong pun gue tiduri!� ia mencoba mengeluarkan pantun-pantun andalannya. Ia memasang kuda-kuda juga, seperti pendekar shaolin yang memegang tongkat. Angin malam mulai

menusuk tulang kami.

Tapi

pertarungan malam ini memanas. Iwan dan Tedi masih terpana melihat pertarungan Tyan, mereka berdua belum sempat berdiri, aku masih bersembunyi dan belum bergerak. Tyan mengayunkan bambunya, gayanya persis pendekar shaolin37 di televisi. Tidak percuma ia belajar silat di perguruan Sundul Langit di daerahnya. Pocong itu berhasil menghindari bambunya Tyan. Ternyata benar, pocong itu adalah manusia, karena mana mungkin ada pocong yang jago silat, lalu memakai 37

Pendekar biksu yang berasal dari negeri China, beragama Budha.


sepatu ala pemain skate board. Tyan mengayuhkan bambunya ke bawah, mengarah ke kakinya pocong. Pocong melompat dengan lincahnya. Diayunkannya lagi bambu ke arah dada si pocong, tapi pocong itu berhasil menghindarinya dengan sikap khayang yang andal. Mereka berdua mengambil jarak untuk mengambil ancang-ancang. Diangkatnya kain kafan pocong itu sampai pinggang, lalu diikatkan di pinggang. Dia memakai celana jeans ketat. Gaya anak muda zaman sekarang. Kulihat dari cara bertarung mereka, sepertinya mereka mempunyai jurus yang sama. “Jurus tendangan sapi terbang!� teriak pocong itu, yang mulai membuka mulutnya. Ia melompat. “Jurus sapi tidur!� Tyan pun mengambil posisi tidur. Kabarnya, jurus sapi tidur ini adalah teknik pertahanan andalannya. Ia tak dapat merasakan apapun apabila ia sudah mengeluarkan jurus ini. Tubuhnya menjadi kebal. Badannya menjadi berat dan sangat keras. Apabila ada yang mencoba memukul atau menendangnya pasti akan merasakan sakit. Oh ya, kawan, menurutku pertarungan mereka seperti film anak kecil saja, atau yang ada di film kartun. Kalau mengeluarkan jurus saja harus berteriak-teriak segala. Pocong tadi tak dapat membuat Tyan sakit. Ia sepertinya nyenyak tidur. Pocong itu mundur. Lalu bersiap dengan jurus lainnya.


“Jurus membelah bulan!” teriak si pocong. Tyan segera terbangun. Pocong itu melompat tinggi sekali. Lalu Tyan mengangkat tangan kanannya ke atas. Kami tegang melihat kejadian ini, apakah ia akan kalah? “Stop!” Tyan mencoba menghentikan jurus si pocong. Pocong itu pun turun ke bawah, dengan perasaan heran. Lalu mereka berhadapan. “Tadi lu ngeluarin jurus apa?” tanya Tyan keheranan, apakah Tyan tahu jurus ini? Ataukah ini jurus yang amat menakutkan? “Jurus membelah bulan. Emang kenapa?” pocong itu menjawab dengan lugunya. “Lu liat donk ke langit...” ucap Tyan menunjuk ke atas. Kami semua melihat ke atas, langit begitu gelap, gelap sekali, “Ga ada bulan kan? Jadi jangan ngeluarin jurus membelas bulan kalo ngga ada bulannya. Bakal kalah lu sama gue.” Tyan bodoh! Untuk apa dia memberi tahu hal sepele semacam itu. huh. “Ya udah, gue ganti jurus...” pocong itu ikut-ikutan lagi, “Jurus andalan!” “Sebentar!” teriak Tyan, teriakannya menghentikan gerakan si pocong. “Mau apa lagi?”


“Mau kentut dulu...” ucap Tyan dengan muka menahan sesuatu. Lalu, “Breeettttt....” suara kentutnya membahana ke seluruh penjuru. Kami semua tertawa. “Oke, gue serius, ini jurus yang terakhir. Serius lu, Pocong!” ucap Tyan sambil menantang pocong itu.

Serius?

Memang dari tadi siapa yang tidak serius? “Oke, gue juga, gue pake jurus andalan gue, jurus yang gue dapet dari goa karang. Jurus andalan, jurus pocong nyolong jambu!” teriak pocong itu sambil melompat. Ia menghilang di tengah kegelapan malam. Kain kafannya berkibar-kibar di langit. Kabut seakan mengangkat dia terbang. Tak diragukan lagi, dia memiliki jurus yang menakutkan, pantas saja orang-orang bilang pocong itu bisa menghilang. Tyan terlihat wajahnya gugup, seperti sedang menahan sesuatu, seperti dia mau mengeluarkan angin lagi. “Hitam putih abu-abu, tutup hidung kalian!” perintah Tyan. Seketika kami segera menutup hidung kami. Begitu juga dengannya. “Jurus andalan, Krakatau Meletus!” Tyan berteriak sambil mengeluarkan sesuatu dari bokongnya. Sebuah suara yang begitu kencang. Bahkan, aku lihat dari kejauhan, celananya sampai sobek, seperti dari bokongnya keluar suatu benda yang mengarah ke pocong itu, tapi tak terlihat. Dan baunya, padahal kami sudah menutup hidung kami, masih tercium,


bau sekali. Daun-daun yang ada di sekelilingnya langsung rontok dan layu. Dasyat sekali. Pocong yang tadi tak terlihat rupanya, sekarang seperti kertas melayang di udara. Ia mencoba menghindari jurusnya Tyan. Sepertinya gagal. Ia terpental, dan jatuh ke bawah seperti sehelai kertas. Ia terkena jurus Tyan. Jurus krakatau meletus, jurus yang telah menjatuhkan Pak Miming. Kami melihat pocong itu jatuh dari langit. Kalau kau mau tahu kawan, getaran angin saat itu sangatlah kuat, benar-benar mengejutkan. Lalu si pocong tergeletak tak berdaya. Kami menghampiri Tyan dan merangkulnya. “Lu ngga kenapa-kenapa, Tyan?” tanya Iwan. “Santai aja, Cuma celana nih sobek...” jawabnya sambil tersenyum. Kami lalu melihat pocong dan membuka topengnya. Ia terlihat lemah tak berdaya. Kami menatapnya dengan iba. “Jurus dahsyat...” ucap si pocong itu yang ternyata manusia. Tyan hanya tersenyum. “Gue menyerah...” langsung saja ia pingsan. “Kita apain nih pocong?” tanya Tyan. Ia terlihat gagah setelah mengalahkan pocong itu. “Baru aja mau diarak keliling Balaraja sambil telanjang, malah pingsan. Payah...” kata Tedi. “Tau nih, mending dibawa ke kantor polisi yuk...” ajak Iwan.


Lalu kami membopong pocong ini ke kantor polisi. Dalam keadaan pingsan. Ah, gagal deh jadi pahlawan. Di sela-sela perjalanan menuju kantor polisi, kami berempat bercakap-cakap. “Tyan, jurus lu aneh banget?” tanyaku. “Iya, mana ada jagoan jurusnya kentut,” Iwan menimpali. “Gini, gue bingung abisnya...” Tyan mengambil nafas. “Bingung kenapa?” tanya Tedi. “Gue bingung, soalnya jurus nyolong jambu itu adalah jurus legendaris. Jurus yang tak bisa disentuh oleh siapapun. Ketika si pocong melompat dan menghilang di langit, kita kebingungan nyari dia. Lalu dia tiba-tiba muncul dan menghilang di kegelapan malam, sambil meloncat-loncat. Persis pocong sungguhan. Gue juga bingung abis itu, kata guru gue, kalo jurus itu ga bisa dikalahin sama apapun, kecuali serangan jarak jauh,” tuturnya dengan semangat. “Terus lu diajarin jurus krakatau meletus itu sama guru lu?” tanya Tedi. “Ngga, ngga ada yang ngajarin. Gue inget kalo kentut gue itu ampuh, pernah waktu berkemah dulu, Wan. Waktu pramuka, lu inget ngga?” tanya Tyan, Iwan mengangguk, “Waktu itu api unggun seketika mati waktu gue kentut, padahal itu ngga ada suaranya, tapi baunya semerbak harummm.”


“Oh pantes, gue kira waktu itu ada setan!” Iwan mencoba mengingat kembali kejadian waktu dulu itu. “Iya, tapi ngga ada yang tahu, kakak pembina aja yang ada di sebelah gue pingsan. Kan Trus gue pake aja, dengan mengeluarkan segenap tenaga yang ada. Meletuslah Krakatau...” Tawa meledak di antara kami, di tengah perjalanan menuju kantor polisi dengan angkot. “Kok, lu bisa-bisanya namain kentut lu itu Krakatau Meletus?” tanya Iwan. “Gue waktu tadi inget kalo letusan paling dasyat itu letusan Krakatau. Jadi gue namain aja Krakatau Meletus, lagian pantat gue kan bentuknya kaya gunung Krakatau. Hehe” Kami terus saja tertawa. Lalu sampailah kami di kantor polisi. Kami menyerahkan peneror perumahan Permata Balaraja, si pocong jambu. Kami menjelaskan semuanya kepada polisi, bahwa betapa bahayanya pocong ini. “Kalian semua telah berhasil menangkap pocong ini, mitos yang menakutkan. Jadi, saya sebagai kepala polisi mengucapkan terima kasih, sebagai imbalannya, kami akan memberi kalian 3 permintaan,” ucap polisi itu yang menggantikan tugas jaga Pak Nan. Kami semua berebut untuk meminta. Aku mencoba mengambil alih lagi. “Stop semua, stop! Biar gue yang ambil alih kendali!”


“Kenapa mesti lu, Har?!” Iwan tak setuju. “Gue kan sutradaranya...”jawabku sambil tersenyum. “Huuuu” semua menyorakiku. “Oke, yang pertama saya minta agar pak polisi memberi tahu warga Permata Balaraja agar tak usah cemas, karena pocong sudah tertangkap oleh hitam putih abu-abu. Bapak harus kumpulkan semua warga dan katakanlah semua itu, dan ketentraman sudah kembali. Oke?” Polisi mengangguk. “Yang kedua, berikan Tyan, teman kami ini, celana. Karena dia yang berhasil melumpuhkan pocong itu dan celananya harus dikorbankan...” “Iya, celana tentara, pak!” pinta Tyan. “Ais...!” polisi tadi memanggil anak buahnya. Seorang polisi yang kami kenal menghampirinya. Ya, polisi yang telah menyeret kami ke hadapan Pak Nan. Ia melirik kami dengan angkuh. Sepele. “Ambilkan celana yang baru, celana sisa latihan kemarin. Masih ada, kan?” Polisi tadi memerintahkan anak buahnya untuk mengambil celana untuk Tyan. Lalu kepada Tyan diberikanlah sebuah celana. Ya, celana tentara. “Keren...” ucap Tyan.


“Yang ketiga...” aku bingung dengan permintaan yang ketiga ini. Aku menggaruk kepala. Aku mencoba mengajak berdiskusi yang lain. “Gimana nih, gue bingung...” “Udahlah jangan bingung-bingung, minta aja pistol...” Tedi memberikan ide. “Jangan, ntar kalo salah tembak, bisa mati orang, trus mau lu dipenjara lagi?” “Kaga dah...” “Jadi?” “Uang!” ucap kami secara bersamaan. Karena keuangan kami sudah hampir habis. “Begini pak...” aku mencoba memberi penjelasan kepada pak polisi, “Karena keuangan kami menipis...” aku masih cengengesan, “Kami minta uang aja deh, buat bekal petualangan kami.” “Gampang, ntar saya kasih...” “Oia pak, izinin kami juga donk, dibolehin nongkrong di belakang kantor polisi, soalnya ga ada tempat nongkrong lagi nih di Balaraja...” Tyan langsung menyerobot dengan permohonan yang bagus. “Boleh-boleh, tapi inget jangan berbuat kejahatan...” jawab pak polisi itu sambil tersenyum. Kami semua mengangguk.


Lalu kami pun pergi meninggalkan kantor polisi dengan perasaan senang karena mengantongi uang tiga ratus lima puluh ribu rupiah, buat pesta besok nih.

Keesokan paginya di perumahan Permata Balaraja. Pengumuman membahana di mana-mana. Di masjid dan musallah, orang yang berkeliling dengan speaker. Mengatakan bahwa segera warga Permata Balaraja untuk berkumpul di kantor pemasaran, karena akan ada pengumuman penting dari polisi. Seketika, seluruh warga pun beramai-ramai mendatangi kantor pemasaran dengan penasaran. Sekitar sepuluh orang polisi pun sudah siap dengan berjuta-juta pidatonya yang membosankan. Karena, di mana-mana tidak ada pidato yang mengasyikkan, kecuali pengumuman libur panjang sekolah yang disampaikan oleh kepala sekolah saat upacara. Polisi itu mengambil posisi. “Selamat pagi semuanya! Salam sejahtera..� polisi yang berbicara adalah polisi yang semalam berbincang dengan kami. “Hari ini semuanya harus semangat dan jangan lagi terprovokasi isu-isu yang membuat resah warga. Karena saya dan teman-teman membawa kabar gembira. Yaitu tertangkapnya pocong yang meneror daerah kita ini!�


Semua warga tepuk tangan, di antara riuh tepuk tangan ada bisik-bisik sesama warga, “Saya bilang juga apa, bu, itu bukan pocong. Itu orang...” “Eh, wong sampeyan sendiri yang bilang dan pertama ngasih gosip kalo di Permata ada pocong” Polisi tadi melanjutkan, “Pocong itu hanyalah keisengan orang yang ingin mencuri jambu. Lalu si pocong itu sekarang sudah tertangkap. Semuanya, sekarang jangan panik lagi!” Tepuk tangan kembali membahana. “Ya,

karena

ketentraman

ini

dikembalikan

oleh

sekelompok anak muda yang telah menyerahkan pocong itu, yang tidak lain hanya manusia, mereka adalah hitam putih abu-abu!” Tepuk tangan kembali membahana. Di antara tepuk tangan, terdengar lagi bisik-bisik, tapi kali ini dari para remaja wanitanya. “Wah pasti pada ganteng ya si hitam putih abu-abu itu” “Ah kata siapa, gue udah pernah ngedenger nama hitam putih abu-abu, mereka anak alay, anak layang layang, yang tidak laen tidak bukan cuma segerombol anak kampung” “Yang bener lu?” “Bener gue, tapi mereka ganteng-ganteng tau...” “Kaga lah, orang gue sering ngeliat foto mereka di Facebook...” “Ohh”


“Gembel semua...� Parah.... “Yang pastinya, sekarang Permata Balaraja tentram semua, tanpa mitos dan teror. Saya hanya ingin menghimbau, apabila ada teror semacam ini lagi, segeralah menghubungi kantor polisi, agar polisi mampu mengambil tindakan dengan cepat...� Pidato polisi-polisi itu pun diakhiri dengan tepuk tangan meriah, para warga pun bertepuk tangan dengan meriah. Ketentraman kembali tercipta di perumahan ini.


8 Percuma kalo ngumpul tapi negatif, percuma kalo ngobrol tapi cuma ketawa, percuma kalo saling komunikasi kalo buat nanyain kabar, percuma kalo kenal tapi nggak berguna. Katanya teman, ayo gebrak dunia bersama-sama! – Hardia Rayya

Sore yang indah, ketika senja memancarkan semburat jingganya ke langit. Warna-warna seakan meledak bersatu padu, berputarputar di langit yang maha luas ini. Burung-burung camar beterbangan, juga burung bangau dengan anggunnya berkelompok terbang menuju arah timur laut. Kami sedang menikmati akhir-akhir petualangan di Balaraja ini dengan sebuah pesta di dalam senja. Terlelap. Angin sepoi-sepoi. Pesta bagi kami bukanlah sebuah acara mewah dengan dentuman musik khas disko, pesta bagi kami adalah berkumpulnya teman-teman dalam suatu tempat sambil bercerita pengalaman, baik suka maupun duka, berbagi beban, saling meminta maaf dan bermaafan satu sama lain. Apabila diantara kami ada yang mengalami kesulitan, hendaknya kami saling membantu mencari penyelesaiannya. Tak jarang kami semua turun tangan membantu apabila seseorang itu tak bisa menyelesaikan


masalahnya sendiri. Itulah pesta bagi kami, saat-saat tepat untuk saling berbagi. Lalu teringatlah aku kepada semuanya, kepada semua orang yang telah hadir dalam setiap petualangan hitam putih abuabu, seperti seseorang yang menginspirasi kami, Guru yang tidak boleh disebut namanya. Yang telah menanamkan pada kami tentang kecintaannya pada petualangan yang telah mengajari kami arti dari sebuah hidup. Juga Mbah Sugi, seorang guru yang telah memanggil kami sebagai anak-anak yang terpilih, yang ditugaskan untuk menjadikan diri sendiri seseorang yang benar-benar menjadi orang, guru yang benar-benar mampu menjadi sebuah teman dan ilmu di alam, guru yang tak terlihat seperti seorang guru. Pak Nan dan pak Miming, anak-anak yang terpilih sebelum kami, yang telah mengajarkan kami arti solidaritas, pentingnya sebuah usaha dalam meraih mimpi, mengajarkan kami menilai seseorang tidak dari kebanyakan, mengajarkan kami pentingnya imajinasi dan sebuah ketenangan. Aku yakin itu semua bermanfaat bagiku dan bagi temanteman yang lain. “Halo, Wan...� suara perempuan terdengar dari balik BBnya Iwan. “Ya halo, Ncik lu semua di mana?� Iwan mencoba menjawab suara tadi. kami mengerubunginya.


“Gue sama yang laen lagi di depan masjid Al-Jihad, lagi jalan nih. Lu sama yang laen sendiri, di mana?” “Gue di Talang, cepet lu semua ke sini...” “Iya tunggu gue ya...” Lalu telepon ditutup. Tamu kami datang. Teman lama, para perempuan hitam putih abu-abu, yang hampir tak bertemu sekian lama. Dari kejauhan, dari atas, kami melihat tiga orang perempuan muda

berjalan

menuju tempat

kami.

Mereka

melambaikan tangan. Kami pun berteriak-teriak menyatakan bahwa kami ada di sini, di atas sini, di sebelah pintu air (orangorang Balaraja menyebutnya daerah talang). Tepat di bawah kami sungai Cimanceuri yang anggun walau sudah kotor tercemar, disebelahnya sawah terbentang luas dan di ujungnya terlihat perumahan Permata Balaraja. Indah sekali sore ini. Kami lalu bersalaman, perempuan yang pertama, yang paling tua di antara mereka, namanya Bsik, Bsik Hikari, dia adalah seorang wanita perkasa. Dengan gaya tomboi, dia tidak mudah menyerah, tak takut kepada siapapun, ia jago karate. Tapi dibalik semua itu, dia amatlah perhatian kepada teman-temannya, ia pun sangat baik hati, terkadang manja. Sudah lama aku tak bertemu dengannya, sekarang ia terlihat lebih dewasa. Oh ya, Bsik ini sangat mengagumi kebudayaan Jepang, dia sampai-sampai sangat ahli membuat origami, seni lipat kertas dari jepang.


Yang kedua adalah Ayu Lestari, perempuan yang satu ini seperti biasa, walau manis wajahnya ia sangatlah judes dan jutek. Banyak kenalan laki-lakinya. Walau begitu ia sangat lebay di depan kenalannya. Keahilannya hebat membuat essai. Sudah lama aku tak bertemu dengannya, ia sekarang mengenakan jilbab. Yang terakhir adalah Vera Kristin, seorang perempuan cerewet keturunan Tionghoa. Ia begitu cermat dalam hitunghitungan, sistem pengeluarannya sangatlah rumit, ia adalah seorang ahli keuangan. Meskipun begitu ia baik sekali kepada teman, walau kami semua berbeda agama dengannya, tak ada batasan dan diskriminasi antara kami semua. Kami sangat menghormati perbedaan. Dia juga jago merias wajah. Ini adalah momen yang kunantikan sedari dulu. Saat kami semua merindukan kebersamaan yang entah kapan lagi bisa terjalin. Karena kami semua mungkin sudah dewasa juga memiliki kesibukan yang benar-benar menyita waktu, sehingga memakan seluruh kebersamaan ini yang dulu kami junjung tinggi. Saatnya bersantai. “Gila lu semua! Ngapain muter-muter Balaraja. Kurang kerjaan!� Ucap Bsik. Dia amat terbuka orangnya. “Tau lu, mending dapet oleh-oleh buat gue!� lanjut Ayu dengan juteknya.


“Iya kalian semua. Ternyata kalian hebat, kalian tidur di mana aja sih? Pasti di kebon-kebon. Ih, aku mah ga mau jadi seperti kalian. Nanti pada gatel-getel kena ulet bulu lagi. Iihh” “lebay lu, Ver!” teriak kami bersamaan. Tawa kembali bergema. “Kapan nih jalan-jalan lagi bareng? Nyari komik atau nyari novel, kek?” ajak Bsik. “Iya, tunggu aja. Nyantailah” jawab Iwan. “Ah lu mah, ga pernah ngajak-ngajak gue...” Ayu kesal, karena dari dulu dia tak pernah diajak hunting bersama karena kesibukannya. “Lu mah, Yu, ngomongnya gitu. Kalo kita ajak, lu pasti berjuta alesan, ya lembur lah, ya jalan lah sama tukang ojeg lu. Ya mau kawin lah sama sapi. Hehe” kataku mengingat berjuta alasan yang disampaikannya apabila kami mau pergi hunting barang. “Ah, lu mah...” Tawa kembali berderai. “Iya nih, bulan depan kita jalan yu, kita ngeborong novel sama komik!” ajak Tedi dengan semangat. Mengingat bulan depan adalah hari ulang tahunnya. “Iya, kita beli komik sama novel setumpuk dan beli makanan dan beli sendal, sepatu dan...” sambung Tyan. “Dan makan!” teriak Iwan.


Kami pun saling berbagi kisah yang selama ini kami hadapi. Kisah perjalanan, kisah masing-masing dari kami, juga tentang segala hal. Tidak ada benci, tidak ada dendam, tidak ada kesalah pahaman, yang pasti saling memaafkan dan senyuman yang terpancar di sore ini. Sampai senja tenggelam, senandung persahabatan terus menggema. Petualangan hitam putih abu-abu belum berakhir, malah baru sampai sini. Tak pernah ada kata berakhir untuk sebuah petualangan apabila ujung pelangi belum didapat. Kami mencari jalan hidup ini. Dengan mengumpulkan filosofi hidup. Dan merangkainya, menjadikannya gambar yang begitu nyata di hadapan semua orang. Biarkan semua orang tahu, bahwa kebenaran itu selalu benar, kebenaran itu harus dicari dan tak mungkin datang sendiri. Hidup itu, perjuangan yang harus diperjuangkan. Lalu kami bersulang dan terlarut dalam senja.


SAJAK SENJA V38 : untuk hitam putih abu-abu

kapankah kita bersama lagi menggurat takdir? juga menanti halhal yang merindu aku ingat saat kita berpelukan sambil berdendang mengutarakan sajaksajak yang berisi tentang perjalanan menuju maut ketika kita dulu bersulang menikmati kekalahan merenungi kemenangan yang mungkin tak sepatutnya kita dapati aku merindu merindu ketika menghadap kepada sore yang tersenyum menyajikan oranyenya di hadapan kita juga saat kita menyatukan kekuatan untuk saling melindungi

kapan kita bersama lagi menggurat takdir? kalau kalian semua tak sempat untuk berkumpul lagi maka sisipkanlah setiap hari

38

Sebuah puisi yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi: Sajak Sebutir Peluru, Hardia Rayya.


untuk melihat senja sebagai tanda kita pernah mabuk dalam kesunyian


EPILOG Tak ingin kusebutkan ini sebuah akhir. Tapi ini adalah awal sebuah pijakan untuk melompat. AWAL YANG BUKAN AKHIR

Balaraja, sebuah daerah yang berisi berbagai macam cerita, tawa, air mata, suka, duka dari semua orangnya. Tak dapat dipastikan apakah sebuah keyakinan atau pilihan di Balaraja ini. Yang nyata adalah sebuah daerah yang terus digerus industrialisasi. Nafas hijaunya mulai habis, polusi mulai menggurui, tak ada yang benarbenar peduli, tanah hijau ini mulai digenangi kapitalisasi. Tak terjaga karena merasa dikhianati. Mata air bersih kini sunyi tak ditemui di sumur-sumur timba warga. Jalan yang rusak semoga segera diperbaiki. Daerah yang memiliki dua kepribadian, hijau dan kelabu, kayu dan besi, asri dan polusi, petani dan buruh, burung dan bisingnya mesin, segala hal yang berlawanan berdampingan di sini, di Balaraja ini, di tanah yang dulu memang pernah menjadi saksi bisu perhentian raja. Di mana orang-orangnya dari berbagai suku, Sabang sampai Merauke.


Lalu sejenak renungkanlah apa yang bisa kita perbuat untuk daerah kita sendiri, kalau daerahku Balaraja ini. Entah daerah kalian di mana. Lihat sekeliling. Apa yang menyedihkan. Apa yang mengenaskan. Segera ambil tindakan. Lalu apa yang manfaat dan apa yang membawa khasiat, manfaatkkan. Beritahu bahwa kita, sebagai warga itu bisa, saling berbagi dan buktikan, buktikan, buktikan,

bahwa

kita

bisa

menjaga

daerah

kita

dan

memanfaatkannya tanpa merusak. Bangun daerah kita itu, buatlah sesuatu yang bisa membanggakan. Biarkan orang mengenal wajah sesungguhnya daerah kita yang sangat kita banggakan. Sebarkan kabar gembira bahwa ketentraman sekarang akan ada!

Hitam Putih Abu-Abu


UCAPAN TERIMA KASIH Kepada Allah SWT dan Baginda Nabi Muhammad SAW. Berikutnya kepada orang yang begitu mempengaruhi hidupku : Mama dan Bapak, kedua adikku, Oi dan Ica, juga keponakanku, Lola. Juga kepada sumber inspirasiku, Hitam Putih Abu-Abu, Tedi, Iwan, Tyan, Ayu, Vera dan Bsik, kapan neh traveling lagi ke luar pulau? Hehe. Juga kepada Toni yang sedang bertapa di kalimantan, Leona. Teman-temanku di komunitas Balebambu, A Atma, A Miming, A Nana, Yayu, Nina, Jannah, Jati, Mumun, Nisa, Fitri, Nita, Doni, Gie, Romly. Juga orang yang mengenalkanku kepada dunia tulis menulis, Khairi Hamba (terimakasihku begitu besar untuk kalian semua). Berikutnya, untuk Bunda Elis Tating Bardiyah, ibu di jejaring sosialku. Teh Iis Istiana, tetehku yang paling tersayang, Kemala Hayati. Putri Pratiwi Bharata yang hampir ketinggalan. Abah Yoyok dengan Tangerang Serumpunnya dan kawan-kawan yang lain. Mas Langlang Rhandawa, Gola Gong dan Roy Goozly dengan Rumah Dunianya.Teteh Rifka juga. Sanggar Matahariku, komunitas yang kubentuk dengan keringatku sendiri. Juga untuk Five Oods Reaching The Rainbow, Dika, Bayu, Tedi, Babul, teman-teman bandku, kapan-kapan kita bikin lagu buat soundtrack film ya, hehe (mimpi lagi gua dah).


Teman-temanku sewaktu kecil, di SDN KELAPA DUA II di tangerang. Juga Neni Susanti. Dan seluruh kawan-kawan lain yang mungkin luput dari penyebutan di atas, aku berterimakasih sebesar-besarnya kepada kalian semua, karena tanpa kalian, mungkin aku bukanlah apa-apa.


Tentang penulis Hardia rayya, tinggal di daerah seribu pabrik, Balaraja. Hobi traveling dan menulis. Bersama teman-temannya, hitam putih abuabu, ia mengadakan beragam petualangan ke berbagai tempat. Keresahannya terhadap kehidupan remaja dan dunianya, ia tuangkan dalam berbagai tulisan. Kumpulan puisi, Sajak Sebutir Peluru adalah karyanya yang pertama. Saat ini, dia tengah sibuk mengaktifkan diri di Sanggar Matahari. Email

: hardiarayya@ymail.com

Facebook

: lalat_merah@rocketmail.com


JALAN-JALAN TUJUH HARI  

Karya Perdana Hardia Rayya

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you