Issuu on Google+

Inspirasi KITA

Dra. Siti Nur Zubaedah Man Jadda Wajada Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil

4

D

ra. Siti Nur Zubaedah (47), tergolong peremuan super sibuk. Dalam posisi sebagai Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Dana Mulia Wonosobo, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di kantor. Saban hari mesti nyanggong di Kantor Pusat di Jl. Giri Margo No. 151 Puntuksari Wonosobo. Dari kantor yang cukup mentereng itulah, wanita berjilbab dan murah senyum itu siap mengedalikan 10 Kantor Cabang dan 14 Kantor Kas KSP Dana Mulia yang tersebar di beberapa kota di Jawa Tengah. Menurut Bu Nur 窶電emikian sapaanyauntuk mengelola sebuah lembaga keuangan yang bergerak di simpan-pinjam memang butuh totalitas. Dia pun tak mau terjun hanya setengahsetengah. Maka demi memajukan KSP Dana Mulia yang dipimpinya dan membangkitkan ekonomi rakyat kecil dia harus bisa meluangkan waktu banyak. Selain harus standby di Kantor Pusat, dia musti gesit membangun jaringan dengan berbagai pihak demi mencari permodalan agar lembaga keuangan yang dikelolanya kian maju dan berkembang. Saat ini, berkat kerja kerasnya, KSP Dana Mulia sudah punya aset sebesar 23 milyar. Aset itu didapat sejak dia merintis lembaga koperasi sejak akhir tahun 2005. "Hingga saat ini anggota yang berhasil dihimpun sekitar 30 ribu nasabah. Nasabah sebanyak itu baru bisa dilayani oleh 300 karyawan", katanya. Meski persaingan di bisnis simpan pinjam sangat ketat, dia optimis lembaga yang dipimpinnya akan terus meroket. Apalagi, pihaknya tidak banyak menghimpun dana masyarakat tapi justru memberi permodalan bagi usaha mikro, kecil dan menengah. Untuk mendapatkan modal yang terbilang tidak sedikit itu, KSP Dana Mulia harus menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Baik dengan Kementerian Koperasi dan UMKM maupun lembaga perbankkan. "Alhamdulillah banyak pengusaha kecil yang berkembang setelah saya beri suntikan modal", tuturnya ketika ditemui TP di rumahnya yang bersih dan asri di Perum Purnamandala Blok K No. 1 Bumireso Wonosobo.

Asal Mula Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Tidak ada kesuksesan jatuh dari langit. Demikian pula yang dialami oleh istri dari Minhajun Nadhlor SH ini. Pasalnya, sebelum sukses mengelola KSP Dana Mulia seperti sekarang ini, Bu Nur hanyalah seorang guru dan pedagang biasa. Alumnus Jurusan Pendidikan Dunia Usaha IKIP Negeri Yogyakarta - sekarang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, selesai kuliah tahun 1989 pernah mengabdi menjadi guru di SMA Takhassus Kalibeber Mojotengah. Waktu itu dia mengampu mata pelajaran PPKN dan IPS. "Terhitung selama dua tahun saya menjadi guru," kisahnya. Di sela-sela mengajar, jiwa bisnisnya terus mengejar-ngejar Bu Nur. Maka setelah memutuskan berhenti jadi guru, dia mencoba berdagang. Pada tahun 2001 dia membuka toko

Kids House, yang khusus menyediakan pakaian anak-anak di Jakarta. Selain berbisnis pakaian di ibu kota, Bu Nur juga mencoba membuka toko yang sama di Wonosobo. Waktu itu dia memiliki kios Kids House di Jl Pasar II Wonosobo. Karena keterbatasan modal bisnis pakaian itu hanya jalan di tempat dan tak bisa berkembang secara cepat. Kala itu, dia mengalami kesulitan dalam mencari modal untuk mengembangkan dagangannya. Ketika datang ke Bank guna mengajukan kredit, ternyata tak semudah yang dia bayangan, bisa cepat dan mudah. Karena ada beberapa prosedur rumit yang harus dilalui. Ibu dari tiga anak ini lalu berfikir untuk mendirikan koperasi. Ide itu lahir berangkat dari keprihatinan betapa banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang butuh difasilitasi modal. Dan, salah satu jalan yang bisa menolong mereka hanya dengan mendirikan lembaga keuangan. "Orang lain saja bisa, kenapa saya tidak?", pikirnya saat itu. Setelah tekadnya bulat, dia berguru pada kakaknya, Nur Zubaidi, yang lebih dulu mendirikan KSP Artha Prima. Dari situlah Bu Nur banyak belajar mengelola dan mengembangkan koperasi dengan unit usaha simpan-pinjam. "Dari kakak saya dan KSP Artha Prima, saya banyak menimba ilmu tentang koperasi", katanya. Awal merintis KSP Dana Mulia, dia mengontrak di sebuah rumah kecil di Jl. Giri Margo Wonosobo. Dikatakan Bu Nur, kali pertama mendirikan usaha koperasi tantangan terberatnya adalah membangun kepercayaan pada masyarakat dan mempasarkan produk simpan-pinjam. Untuk bisa membangun kepercayaan, kata Bu Nur, butuh kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Man jadda wajada (siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil), menjadi prinsip yang jadi pegangan perempuan ulet dan punya jiwa bisnis yang tinggi ini. Kini kerja kerasnya telah berbuah. KSP Dana Mulia yang dipimpinya maju pesat. Itu bisa diukur dari kepercayaan pengusaha kecil dan menengah yang mengajukan usulan permodalan ke pihaknya. "Syukur alhamdulillah KSP Dana Mulia bisa berkembang seperti saat ini", ucapnya mantap.

Jiwa Bisnis Seolah tak puas dengan mengelola usaha simpan pinjam, putri ketiga dari enam bersaudara pasangan almarhum KH. Moch Bahrin dan Siti Urifah ini, masih sempat untuk mengelola bisnis lain di bidang kuliner, fashion dan arena permainan anak. Meski sudah cukup sibuk mengendalikan KSP Dana Mulia, naluri bisnis yang ada di sanubari Bu Nur, tidak bisa dibiarkan. Dia pun masih

mendirikan Resto Orchi, yang khusus menyediakan makanan fried chiken di tengah kota Wonosobo. Selain itu, dia bersama beberapa kerabatnya baru saja melaunching Rumah Makan Ikan Mas di dekat Terminal Induk Mendolo Wonosobo. "Lokasi Rumah Makan Ikan Mas, ke depan akan saya kembangkan menjadi "Sobo Kids Funs" atau arena permainan air khusus anak-anak", tandas Bu Nur. Saat ini konsep dan desain sudah jadi, tinggal tahap pembangunan. Di lokasi atas akan dijadikan lahan parkir dan rumah makan. Sedang di bagian bawah di mana sekarang berdiri Rumah Makan Ikan Mas akan dijadikan arena permainan air untuk anak-anak. Sedang bisnis fashion, dia kembangkan di Gevira Boutiqe yang berdiri di Kampung Kliwonan, dekat Pasar Induk Wonosobo. Hanya saja semua bisnis yang dia kelola di luar manajemen KSP Dana Mulia. "Ini unit usaha sendiri. Karena meski sudah mengelola lembaga keuangan yang cukup menyita waktu, ternyata naluri bisnis tak bisa lepas dari jiwa saya", ungkap Bu Nur, sembari menambahkan jika sejak awal dirinya hanya ingin jadi pedagang yang cukup sukses. Biar waktunya banyak tersita untuk mengelola KSP Dana Mulia dan mengurusi beberapa usaha kuliner serta fashion, dia tak lupa perannya sebagai seorang ibu dan istri. Jika ada waktu luang Bu Nur menyempatkan waktu untuk mengantar jemput anak menuju dan pulang sekolah. Anak-anaknya, selepas sekolah juga kerap langsung datang ke kantor. Itu dilakukan karena intensitas pertemuan dengan anak di rumah tergolong kurang. Meski berada di kantor, ujar Bu Nur, anak-anak tidak akan menganggu pekerjaan ibunya. Di akhir pekan, dituturkan Bu Nur, dia meyempatkan berlibur atau makan di luar bersama suami dan anak-anak. Sesibuk-sibuk mengurusi pekerjaan dan bisnis dia tetap tak melupakan suami dan anak-anak yang menjadi aset keluarga yang tak ternilai h a r g a y a . "Pekerjaan dan usaha jalan, suami dan anak-anak tetap mendapat perhatian", pungkas Bu Nur mengakhiri perbincangan. (Emha Zarka)


tamanplaza hal 4