Page 1

Inspirasi BISNIS

JANGAN INVESTASI EMAS... NUR CHOLIS CEO Multazam Network

K

etika menjadi pembicara pada acara seminar kewirausahaan yang diselenggarakan oleh PNPM Perkotaan di pendopo Kabupaten Wonosobo beberapa hari yang lalu, salah seorang peserta bertanya “Pak, ada rekan saya yang mengajak untuk join bisnis, tapi disisi lain saya juga tertarik untuk investasi di emas, sebaiknya pilih yang mana ya?”. Karena saat itu waktunya terbatas dan banyaknya pertanyaan yang diajukan, saya hanya bisa menjawab sekedarnya, lewat tulisan ini barangkali kita bisa mendiskusikan walau sedikit hal-hal yang menarik tentang investasi emas.

B

erbicara tentang emas tentu kita sepakat bahwa dari tahun ke tahun harga emas selalu naik. Pada tahun 1975 harga emas masih sekitar Rp. 2.500,-/gram, lalu pada tahun 1980 naik menjadi berkisar 13.500 rupiah/gram, lalu pada tahun 2007 sudah menjadi 184 ribu/gram, kemudian tahun 2009 menjadi sekitar 311 ribu/gram dan sekarang pada awal tahun 2012 sudah berkisar pada angka 550 ribu/gram (Kitco.com) dengan asumsi kenaikan rata-rata 20% per/tahun, dan ini melebihi inflasi tahunan kita yang rata-rata 11% per/tahun, maka jangan heran kalau pada tahun 2013 nanti harga emas bisa mencapai 1 juta rupiah/gram. Jadi tidak usah dipertanyakan, bahkan sejak kita belum mengenal investasi yang namanya deposito, saham, atau rekasadana, mengapa nenek moyang kita berabad-abad yang lampau sudah mengenal instrumen investasi yang anti inflasi (zero inflation) ini. Juga karena fungsinya bisa sebagai lambang kesuksesan dan kekayaan seseorang maka orang tua kita (terutama ibu-ibu) biasanya selalu menyisihkan anggaran untuk satu benda yang bisa dijadikan aset kekayaan yang bisa diwariskan secara turun temurun ini sebagai sarana investasi.

B

erbicara tentang investasi emas, maka kita bisa melakukannya dengan cara biasa/tradisional, dengan cara modern, atau dengan cara ‘awuawu’ (entah berantah dan untung-untungan). Dengan cara biasa/tradisional maksudnya kita membeli emas dalam bentuk perhiasan emas atau emas batangan atau koin emas kemudian didiamkan dalam jangka waktu tertentu lantas menjualnya kembali ketika harga emas sudah naik. Investasi semacam ini memang seakan-akan menguntungkan, padahal karena harga emas beriringan dengan inflasi (naiknya harga-harga) maka sebetulnya kita tidak untung tetapi juga tidak rugi, hal ini bisa terjadi karena sebetulnya nilai emas itu flat tetapi nilai mata uang kita yang selalu melemah dan terus turun akibat dampak dari inflasi, maka yang sangat rugi sebetulnya adalah kalau kita menyimpan uang karena uang yang kita simpan sekarang nilainya akan terus turun dan melemah dan tidak akan bisa mengikuti harga-harga barang pada tahun-tahun yang akan datang, contoh kongkritnya ; pada tahun 80-an dengan uang 20 juta-an kita bisa membeli mobil baru, tetapi dengan uang yang sama saat ini kita hanya bisa membeli mobil second yang jadul. Bayangkan kalau pada tahun 80-an uang yang 20 juta itu kita belikan emas yang bisa setara dengan 1,4 kg, maka kalau saat ini emas itu kita jual maka kita akan bisa mendapatkan uang sekitar 800 juta atau senilai mobil Mercy seri C terbaru. Itulah saktinya emas, dengan hanya disimpan saja nilainya selalu sama dengan inflasi bahkan bisa melebihinya, padahal kita meng-investasikannya dengan cara biasa atau sangat tradisional, yaitu beli kemudian disimpan.

18

Ada satu kelemahan ber-investasi emas dengan cara tradisional, yaitu kita harus menyimpannya secara fisik, bagaimana kalau jumlahnya banyak? tentu hal ini menimbulkan rasa was-was dan ketidaknyamanan. Nah saat ini didunia investasi emas sudah dikenal pula cara-cara yang lebih modern seperti reksadana emas, sertifikat emas, saham pertambangan emas, dan kontrak emas berjangka. Investasi semacam ini kita tidak memegang emasnya secara fisik, tetapi mengambil ‘nilai manfaat’ dari emas itu, dan kita biasanya hanya memegang sertifikat atau sahamnya saja. Dan karena investasi semacam ini sudah lebih canggih dan diperdagangkan di bursa maka apabila kita berminat investasi emas dengan instrumen semacam ini sebaiknya kita berkonsultasi kepada pialang atau penasihat keuangan secara khusus.

I

nvestasi emas berikutnya (karena belum menemukan padanan katanya) saya namakan investasi emas ‘awu-awu’ atau entah berantah atau untung-untungan. Investasi jenis inilah yang telah membikin bangkrut rakyat Wonosobo karena trilyunan uang dari PNS, buruh, petani, pedagang, guru-guru, tokoh-tokoh agama, tukang ojek, dll harus lenyap dari Wonosobo tanpa tahu bisa kembali atau tidak. Modusnya, ‘seorang pintar’ mendirikan sebuah perusahaan trading investasi emas (atau pulsa) kemudian mereka menawarkan sebuah produk yang sangat menggiurkan yang mana mereka yang berinvestasi atau menanamkan uangnya di perusahaan tersebut akan mendapatkan bunga/fee sebesar 10-25% per/bulan dari keseluruhan nilai investasinya dan juga diimingimingi janji bahwa modal akan kembali dalam jumlah besar diatas normal (ROI+Bonus). Pada kenyataanya uang ‘para investor’ yang telah masuk di perusahaan tersebut tidak diperdagangkan di bursa berjangka emas tetapi yang dipraktikkan adalah money game dengan skema ponzi dimana bunga/fee para investor yang masuk lebih dahulu akan dibayar dengan uang para investor yang masuk berikutnya, demikian seterusnya, maka selama masih ada yang tertarik untuk investasi di perusahaan itu akan selamatlah bisnis itu. Biasanya setelah yakin bahwa bunga/fee-nya benarbenar dibayar oleh perusahaan itu maka para investor itu akan menanamkan kembali uangnya itu demi mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Dan setelah perputaran uangnya besar dan rekeningnya gendut maka si boss atau si aktor intelektual dari perusahaan trading emas ‘awu-awu’ itu akan mengeluarkan ‘jurus mautnya’ yang dengan sangat telak akan menghantam kita yaitu melarikan diri dengan membawa uang yang berlimpah ruah, dan itu yang terjadi di Wonosobo, dan kita pasti berharap hal itu bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua sehingga kita tidak akan tergiur lagi dengan investasi yang akan bisa membikin kita kaya mendadak sekaligus kolaps mendadak s e p e r t i i t u . Pengalaman memang mahal harganya.

Gadai Emas Setelah mengenal berbagai investasi emas dengan cara yang biasa/tradisional, modern, dan ‘awu-awu’, maka saat ini yang sedang jadi trend adalah gadai emas, investasi dengan sistem gadai emas ini skemanya adalah kita sebagai pemilik emas menggadaikan (menjaminkan) emas kita di sebuah bank/pegadaian untuk mendapatkan uang tunai dengan cepat. Emas yang digadaikan biasanya adalah emas batangan, skema gadai emas ini jatuh temponya berakhir setiap 4 bulan dan dikenakan biaya administrasi dan biaya titip yang dihitung per/gram per/hari (tergantung kebijakan bank), selanjutnya setelah jatuh tempo kita bisa menebusnya atau memperpanjang gadai kembali. Bank-bank yang bisa menerima gadai emas ini adalah bank-bank syari’ah seperti Bank Syari’ah Mandri, BRI Syari’ah, BNI Syari’ah, Bank Mega Syari’ah, BPD Syari’ah, Pegadaian Syari’ah, dll. Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2011, jumlah nasabah gadai emas syariah sudah mencapai 104.863 nasabah dari total portofolio 6,1 triliun.

Y

ang sangat menggiurkan dari investasi gadai emas ini adalah setelah kita mendapatkan uang hasil gadai yang pertama, cash money-nya langsung kita belikan emas lagi dan kita gadaikan lagi, selanjutnya uang hasil gadainya kita belikan emas lagi lalu kita gadaikan lagi, begitu seterusnya skema gadai emas ini kita lakukan berulang-ulang. Nah pada saat trend harga emas bullish alias melesat naik maka saat menjualnya kembali kita akan menikmati keuntungan yang berlipat-lipat dengan modal yang sedikit. Tentu saja hal sebaliknya juga bisa terjadi, disaat harga emas mulai masuk trend bearish alias turun kita juga akan mengalami kerugian yang berlipat karena kita akan menanggung selisih dari biaya beli dan juga biaya administrasi dan biaya titip yang tetap harus dibayar. Nah dengan alasan investasi gadai emas ini spekulatif maka per Desember 2011 Bank Indonesia (BI) mulai membatasi skema gadai emas ini dengan beberapa peraturan baru, diantaranya plafon pembiayaan yang tadinya unlimited dibatasi menjadi maksimal 100 juta per/nasabah, selanjutnya kalau sebelumnya beberapa bank menetapka rasio loan to value (LTV) lebih dari 90% akhirnya dibatasi menjadi maksimal 80% dari nilai tunai emas, hal ini dimaksudkan dengan LTV yang rendah maka nasabah akan pikir-pikir untuk menggadaikan emasnya kembali, dan yang terakhir pembiayaan gadai emas disetiap bank syari’ah dibatasi tidak boleh lebih 10% dari total pembiayaan yang mereka salurkan, hal ini tentu dimaksudkan supaya bank bisa kembali berfungsi sebagai penggerak sektor riil.

tamanplaza hal 18  

Gadai Emas NUR CHOLIS nvestasi emas berikutnya (karena belum menemukan padanan katanya) saya namakan ang sangat menggiurkan dari investasi g...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you