Page 1

Inspirasi BUDAYA

Taman Plaza

Kolom Haqqi El-Anshary

S

etiap kota selalu punya landmark (tetenger) baik berupa bangunan gedung atau pun ruang publik di mana saat tempat itu disebut serta merta ingatan kita secara asosiatif langsung tertuju pada destinasi tertentu. Taruh misal, anda menyebut Simpang Lima. Saya yakin hampir mustahil ada yang salah tebak jika lokasi itu letaknya bukan di Semarang. Atau kita ambil contoh, ciri khas apa yang anda ingat dari Yogyakarta? Pasti siapa pun bakal dengan enteng menyahut tentang Malioboro. Demikianlah, selalu ada lokasi ikonik yang hadir merepresentasikan keberadaan sebuah kota. Begitu halnya dengan Wonosobo. Siapa pun yang pernah mukim atau setidaknya sempat mampir di kota dingin ini pasti paham di mana letak Taman Plaza. *** Ya, Taman Plaza dengan tugu Adipura-nya seakan menjelma melting pot (tempat berbaur) bagi siapa pun yang hendak berkunjung ke Wonosobo. Mereka yang datang dari luar kota naik bus Maju Makmur atau Sinar Jaya, pasti transit di kompleks Taman Plaza. Sebaliknya mereka yang hendak bepergian ke kota tetangga, otomatis duduk manis menunggu bus Jati Nugroho, Cebong Jaya, atau Putra Perdana, juga di kompleks Taman Plaza. Sungguh, Taman Plaza tak ubah meeting point (titik temu) beragam manusia dengan aneka kepentingan. Boleh jadi di antara mereka sendiri bahkan tak saling mengenal. Masing-masing mereka anonim bagi lainnya. Namun banyak juga yang sudah familiar satu sama lain oleh sebab mereka nyaris berinteraksi setiap hari utamanya ketika malam tiba. Setidaknya pemandangan semacam itu yang tampak manakala sekali waktu hangout (cari angin) nongkrong di warung lesehan persis di depan taman. Menjelang tengah malam kompleks Taman Plaza senantiasa ramai pedagang sate Madura yang sejenak mampir usai berjualan keliling kota. Ada juga warung nasi Padang Ampera punya Bang Buyung yang selalu jadi tempat mangkal warga Minang di kota dingin. Agak ke timur, puluhan tukang ojek di depan toko Varia tampak guyon dengan pemilik warung kopi dan sesekali juga mencandai perempuan malam yang melintas. Sungguh kehangatan tegur sapa antarmereka yang mencari nafkah di kompleks Taman Plaza menerbitkan keyakinan bahwa potret kecil multikulturalitas demikian elok hadir di sini. Wajah keindonesiaan yang majemuk tumpah ruah di kompleks taman ini. Orang Madura gojek dengan tukang ojek yang Jawa. Sesekali warga Minang menimpali dengan celetukan. Musafir yang suntuk menunggu bus ngobrol akrab dengan bakul mie ongklok yang sejatinya tak saling mengenal. It’s a beautiful life. Aha, hidup yang indah. *** Taman Plaza yang berdiri di atas bekas lokasi stanplaat (terminal bus) betapa pun turut memberi warna denyut peradaban The Highlanders (wong nggunung) selama hampir tiga puluh tahun. Sebuah kurun yang tak singkat tentunya. Lantas bagaimana wajah Taman Plaza hari ini? Apakah masih pantas ruang publik yang satu ini dilabeli raut muka Wonosobo tercinta? Alih-alih berdebat alangkah lebih bijaksana bersama-sama mempercantik tampilan Taman Plaza dengan beberapa sentuhan semisal menambah daya lampu taman agar lebih benderang, mengganti pohonan yang menjulang ngrembuyung dengan tanaman perdu sehingga dapat mengurangi kesan singup mesum, dan menghidupkan kembali air mancur sekaligus membersihkan kolam. Bukankah suara gemericik air dipercaya sanggup meredakan emosi, mengademkan pikiran, menenangkan batin, dan paling penting menghadirkan inspirasi? (Haikukaura)

Lebih dekat dengan

Grup Reggae Alphablopho

Inspirasi SENI

Ciptakan Lagu Anak Gimbal Dieng, Rekaman Dari Hasil Ngamen

K

elompok musik Reggae Alphablopho tergolong produktif, kendati usianya masih muda. Sudah mampu menelurkan beberapa lagu. Targetnya pada pertengahan tahun ini mampu melahirkan satu album. Seperti apa? Nama kelompok musik ini cukup aneh, Alphablopho. Belakangan grup musik ini cukup dikenal di kota dingin Wonosobo. Tak aneh, grup yang mengusung aliran reggae ini kerap nongol dalam sejumlah acara musik di Wonosobo. Selain itu, yang membuat grup ini kian mentereng lantaran menjadi home band di sebuah pujasera terkenal di Wonosobo. Grup beraliran rasta ini berpersonil sembilan orang, meliputi Ipunk (vokal) David (gitar), Satria (Gitar) Dyo (bass) Widanta (Keyboard) Very (drum) Yoga dan Ricky (Jimbe) serta Ivan (Perkusi) saat ditemui Taman Plaza di White House Cafe, Ipunk pentolan grup ini berkisah, bahwa Alphablopho diakui tidak cukup bersahabat ditelinga publik, karena memang nama itu berasal dari Negara Pantai Gading yang merupakan tokoh musik Alphablondie yang telah menelurkan lagu Laila ha Ilallah serta Jerusalem yang telah mendapatkan penghargaan Nobel. “Alphablopho merupakan tokoh yang melalui karya musiknya mampu mendorong kedamain. Maka nama ini kita pakai,” Aku vokalis Difabel ini. Melalui nama ini, lanjut Ipunk , harapannya kelompok musik Alphablopho ini akan mampu meniru misi kedamaian yang dilakukan sang tokoh. Dalam bermusik, kelompok Alphablopho ini menyebut aliran modern roots reggae yakni menggabungkan aroma musik jazz, Bosas dan Rock. Menurutnya dengan musik ini bisa diterima banyak kalangan, muda tua dan anak-anak. “ Tiap kali manggung, banyak yang memberikan kesan, bahwa musik kami enak dinikmati,”katanya Saat dipanggung, Alphablopho tidak melulu membawakan lagu reggae yang sudah bersahabat ditelinga pecandu musik rasta. Namun juga kerap membawakan lagu ciptaan sendiri. Beberapa lagu yang telah berhasil diciptakan dan selesai rekaman meliputi, Bocah Gimbal Dieng, Pejuang Hidup, Untuk Dia, Inilah Cinta serta aransemen lagu Bengawan Solo karya Gesang menjadi beraliran Reggae. “Kita rencanakan pada Agustus depan kita sudah keluarkan album indi. Sekarang tinggal lima lagu masih dalam proses rekaman,”katanya Kendati album belum dilempar ke pasaran, nampaknya lagu ciptaan Alphablopho ini banyak disukai orang. Tercatat selama empat pekan terakhir, lagu Bocah gimbal dieng dan untuk dia selalu menempati posisi pertama pilihan pendengar radio di wilayah karisidenan kedu meliputi, Temanggung, Purworejo, Magelang dan Wonosobo. “ Lagu yang kita kirim ke radio memang baru dua judul itu. Berdasarkan laporan dari radio kita selalu menempati poisis pertama paling banyak direques pendengar,”katanya Kendati baru berusia dua tahun, karya kelompok musik ini cukup enak didengar, termasuk isi syairnya. Dengar saja salah satu lagu bertajuk Bocah Gimbal Dieng berikut ini; “Banyak Bocah-Bocah Berkerumun / Di Pegunungan Dataran Tinggi Dieng Jawa/ Si Bocah-Bocah Gimbal Bercanda&Tertawa/ Si Bocah Gimbal Kinipun Jadikan Cerita / Di Dieng Jawa Bukan Hanya, itu Saja/Panorama Alam Yang Begitu Mempesona/Ada Juga Telaga Warna Bagaikan Rasta.” Menurut Dyo (bassis), lagu ini sengaja diciptakan menandai bahwa Dieng merupakan kawasan yang unik dan banyak potensi. Selain alam, adanya anak Gimbal merupakan kekayaan budaya. Untuk itu melalui lagu ini diharapkan akan menyadarkan banyak kalangan. Bahwa kondisi lingkungan dan budaya Dieng harus terus dijaga. “ Kita tidak hanya menciptakan lagu cinta, namun juga sosial, lingkungan serta budaya,” kata Dyo. Menariknya, selain dalam melakukan aransemen dan menciptakan syair lagi sendiri. Pembiayaan untuk proses rekaman juga dibiayai secara mandiri. Biaya rekaman ini dikumpulkan dari hasil mereka mengamen disejumlah panggung. “ Kita akui, rekaman kita memang cukup pelan. Sebab biaya untuk rekaman kita kumpulkan bertahap dari hasil ngamen,” pungkas Ipunk disambut ketawa teman-temannya. ( SUMALI IBNU CHAMID )

15

tamanplaza hal 15  

Inspirasi BUDAYA Inspirasi SENI Kolom Haqqi El-Anshary Ciptakan Lagu Anak Gimbal Dieng, Rekaman Dari Hasil Ngamen elompok musik Reggae Alpha...