Issuu on Google+

G A B E Apri l 2013 ©GABE

01

kami tolonglah Parsobinsaran di jalan adi olsek Ha ia Polisi i tidak j h Pak Kap cil ini, razaluan, kam kami tela rakryaant ksuedah nkaetne’rlkarena uang bu e ‘o belabnisjadkikuras.” ha

EDISI 02|MADRID|April 2013

Selamat datang k a b u pat e n habinsaran Omzet Singkong Rp 4 Miliar

kisah paus dari negeri maradona Menggugat Hipotesis Peradaban Baru Orang Batak kisah orang batak mengadu nasib di jakarta Tersengat

Korupsi Tersengat

Kasmin

Kasmin

Bupati

Bupati

Korupsi

kisah orang batak mengadu nasib di jakarta

Menggugat Hipotesis Peradaban Baru Orang Batak

kisah paus dari negeri maradona Omzet Singkong Rp 4 Miliar

Selamat datang k a b u pat e n habinsaran EDISI 02|MADRID|April 2013

EDITORIAL

mengandung senyawa sulfur.   Ketika bawang diiris atau di kupas maka terjadi reaksi kimia antara enzim dan juga senyawa sulfur yang menghasilkan gas volatil (mudah menguap). Gas ini akan bereaksi dengan udara sekitar menjadi sulphuric acid. Karena ujung saraf dari mata ini sangat sensitif, maka saat terkena gas tersebut mata menjadi teriritasi dan merangsang keluarnya air mata untuk melindungi mata.   Ternyata, kepedihan mata tersebut bisa diatasi dengan mengunyah permen karet. Dengan mengunyah akan membuat pernafasan lewat mulut sehingga mengurangi paparan gas ke mata. Ini berarti uap dari bawang tidak semuanya memasuki rongga hidung dan mengurangi efek dari uap bawang. ***

Colek-colek Caleg  

Pemilu 2014 semakin dekat. Tak lama

lagi, atribut pemilihan calon legislatif akan menyesaki pinggiran jalan. Akan diselingi kabar yang mengarah ke arena pemilihan presiden 2014, lengkap dengan berbagai jenis prediksi.   Bisa dipastikan, hampir seluruh porsi berita di media massa akan memuat berita politik, dengan berbagai cara penyajian. Ada yang menggunakan bahasa sederhana sehingga terlihat jelas motivasi untuk promosi. Tetapi ada pula yang dengan cerdas mengemas gaya kampanye sehingga terlihat wajar dan santun.   Era reformasi memang membawa angin baru bagi dinamika politik di Tanah Air, terutama di daerah. Kini semua partai politik punya akses ke daerah dan setiap orang bisa menjadi calon legislatif alias caleg dengan persyaratan tertentu. Selebihnya, karena pertemanan atau kekerabatan. Tidak harus teruji loyalitasnya terhadap partai dan tidak mesti seorang figur publik yang sudah berkontribusi terhadap masyarakat umum.   Namun, apapun itu, musim caleg menjadi fenomena yang cukup menarik dicermati, termasuk di Parsoburan. Sebab, hanya sekali dalam lima tahun. Caleg yang ikut bertarung pun beragam, hampir mewakili semua marga. Akibatnya, seringkali terjadi perselisihan politik antara kerabat lantaran perbedaan pilihan. Barangkali, inilah poin utama yang penting dipahami. Tali kekerabatan tidak boleh terputus hanya karena perbedaan warna partai. Politik harus dipisahkan tersendiri. Keluarga adalah keluarga sementara politik adalah politik.   Pemilu 2014 semakin menarik karena Habinsaran, Borbor, dan Nassau menjadi satu daerah pemilihan, dengan kuota lima kursi DPRD. Itu berarti, ada lima putera daerah asli yang duduk sebagai anggota DPRD Tobasa untuk mewakili aspirasi masyarakat Habinsa-

ran, Borbor, dan Nassau. Siapa saja mereka? Pilihan ada di tangan Anda. Untuk sementara, mari colek-colek dulu caleg kita. ***

Berat Ponsel Pertama Mencapai 1 Kilogram  

Pernah melihat seperti apa telepon seluler alias ponsel yang pertama kali dibuat di dunia? Ponsel pertama di dunia dibuat Dr Martin Cooper dari Motorola pada 1973. Beratnya mencapai sekitar 1 kilogram dan hanya memiliki waktu bicara selama 35 menit, serta baterainya hanya mampu bertahan selama 20 menit. Lebih fantastis, biaya produksinya menelan dana sampai 1 juta dollar AS.   Ponsel pertama ini kemudian mulai diproduksi Motorola sejak tahun 1983 sampai 1994 dan diberi nama Dyna TAC. Selanjutnya, ponsel pertama yang dijual massal ini sudah lebih baik daripada sebelumnya. Sudah punya waktu standby sampai 8 jam meski juga hanya mampu memiliki waktu bicara selama 30 menit. Beratnya juga sudah tidak sampai satu kilogram, tapi hanya 790 gram dengan tinggi sekitar 25 cm.   Sekilas mengenai sang penemu ponsel pertama Martin Coooper, dia adalah warga negara Amerika Serikat, keturunan imigran Ukraina. Mantan wakil presiden Motorola yang lahir pada 26 Desember 1928 ini menjabat manajer divisi Motorola di tahun 1970-an. Saat itulah dia memimpin tim yang bertugas membuat ponsel pertama di dunia. ***    

Kunyah Permen Karet Saat Memotong Bawang  

Kenapa mengiris atau mengupas bawang membuat mata pedih hingga mengeluarkan air mata? Saat bawang dipotong, akan memecahkan sel-sel di bawang yang menggabungkan tiap lapisan. Satu membran bawang mengandung enzim sedangkan yang lainnya

Saat Kecil, Fernando Torres adalah Penjaga Gawang

  Semasa kecil, Fernando Torres awalnya bermain bola sebagai kiper namun berubah posisi setelah kehilangan 2 gigi depannya saat menangkap bola. Torres memulai karier dengan akademi sepak bola Atlético Madrid hingga kemudian menembus skuad utama klub tersebut. Ia membuat debut pada musim kompetisi 2001-2002. Ia mencetak 7 gol dari 40 kali penampilan di dua musim Segunda División. Selama bermain untuk Atlético, Torres berhasil mencetak 75 gol dalam 174 penampilan di La Liga. Torres bergabung dengan tim Liga Primer Inggris Liverpool pada tahun 2007 dengan memecahkan rekor transfer klub tersebut. Pada musim perdananya bersama Liverpool, ia membuat sejarah dengan menjadi pemain Liverpool pertama yang berhasil mencetak lebih dari 20 gol liga sejak Robbie Fowler melakukannya pada musim 1995-1996.   Torres menjadi pemain Liverpool tercepat dalam sejarah klub tersebut yang mencetak 50 gol liga setelah mencetak gol ke gawang Aston Villa pada bulan Desember 2009. Torres bergabung dengan Chelsea pada bulan Januari 2011 dengan biaya transfer 50 juta poundsterling; memecahkan rekor transfer pemain di Britania Raya sekaligus menjadikannya sebagai pemain Spanyol termahal dalam sejarah.   Torres yang bernama lengkap Fernando José Torres Sanz lahir di Fuenlabrada, Comunidad de Madrid, Spanyol, 20 Maret 1984. Ia dijuluki El Niño, bocah laki-laki dalam bahasa Spanyol. ***

Dewan Redaksi: Juliardos JM Lubis, Maddenleo T Siagian Pemimpin Redaksi: Ishak H Pardosi Redaktur Pelaksana: Pangeran Pardosi Redaktur: Robin Manurung Staf Redaksi: Alex Manurung, Benni Pardosi, Budi Simanjuntak Tata Letak dan Desain: Jeff Rekando Lubis 02 Redaksi: Taman Chrysant I Blok O3 Nomor 6, Sektor XII.3 Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan 15317 Apri l 2013Alamat ©GABE Situs: www.tabloidgabe.com Email: tabloidgabe@gmail.com

HUKUM

Bupati

Kasmin Simanjuntak

Tersengat

Korupsi

PLTA Asahan III Nasib Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak serasa di ujung tanduk. Ia tersengat dugaan korupsi pembebasan lahan PLTA Asahan III. Menyusul jejak Monang Sitorus?

K

asubbid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) AKBP MP Nainggolan mengatakan, penetapan status calon tersangka Bupati Tobasa dilakukan setelah Penyidik menerima hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumut. “Dari hasil audit BPKP Sumut tersebut terindikasi ada kerugian negara mencapai Rp 5.903.884.164,” jelasnya, seperti dilansir Waspada. Bupati Tobasa dikenakan pasal berlapis, yakni pasal 2 ayat (1), pasal 3 UU No 31/1999 jo yang telah diubah dan diperbaharui dengan UU No 20/2001 jo pasal 55 ayat (1) KUHP. Sebelumnya, dua warga yang mengaku sebagai pemilik lahan di Dusun Batumamak, Desa Meranti Utara, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Tobasa telah dimintai keterangan di penyidik Subdidt III/Tipidkor Ditreksrimsus untuk memperkuat bukti adanya dugaan korupsi “Warga yang mengaku sebagai pemilik lahan sudah kita periksa,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Sadono Budi Nugroho. Menurut Sadono, Bupati Kasmin bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tobasa diduga memanipulasi status lahan akses menuju PLTA Asahan III itu dari hutan lindung menjadi berstatus hutan rakyat. Dari Rp17 miliar uang yang dikucurkan PLN untuk pembebasan lahan seluas 9 hektar tersebut, sebesar Rp3,8 miliar diketahui masuk ke rekening pribadi Kasmin Simanjuntak. “Kita juga sudah dapat bukti adanya dugaan manipulasi status lahan dari hutan lindung menjadi hutan rakyat. Bahkan, ada lahan dibuat atas nama Apri l 2013 ©GABE

orang lain, padahal statusnya hutan lindung,” terang Sadono. Ditambahkanya, mantan pegawai bagian keuangan Pikitring Suar Wilayah I, Lasmaria Sitorus dan Kurniawan Tanjung, sudah diperiksa karena mengetahui pemberian dana pelepasan lahan tersebut. Diketahui, peletakan batu pertama pembangunan akses berupa base camp dan jalan sudah dilakukan Bupati Kasmin pada 2011. Sedangkan pembangunan PLTA di Kabupaten Asahan hingga kini belum dimulai karena air terjun yang akan digunakan sebagai pembangkit listrik terutama jalan menuju lokasi, berada di kawasan hutan lindung. Di pihak lain, Bupati Kasmin membantah terlibat dalam kasus tersebut. Ia bahkan melaporkan aliansi LSM ke Polsek Balige, dengan aduan penghinaan dan perbuatan tidak menyenangkan. Aliansi LSM yang terdiri dari LSM MPN, LSM K, LSM PUBI itu dilaporkan karena getol menanggapi perkara korupsi Asahan III.   Kapolsek Balige AKP Gibson Siagian mengatakan, laporan pengaduan Pandapotan Kasmin Simanjuntak tertanggal 6 Maret 2013. Saat itu, Kasmin didampingi Staf Ahli Pemkab Tobasa Rudolf Manurung dan Kabag Hukum Manoras Debataraja. Pengaduan itu dilakukan Kasmin dalam kapasitas pribadi dan juga sebagai Bupati. “Benar bahwa ketiganya dilaporkan kemari. Mereka sudah kita jadikan sebagai tersangka,” kata Gibson.   Menanggapi pengaduan itu, aliansi LSM menyatakan tidak gentar. “Kita kooperatif datang ke Polsek untuk segera diperiksa. Silakan dibuktikan di pengadilan kalau memang salah, harus dibuktikan.”

Razia Ecek-ecek di Parsoburan

  etiap Selasa tiba, ada-ada saja oknum polisi yang ikut ‘maronan’ di Parsoburan. Konon, Pak Polisi itu datang dari Polres Tobasa, 50 kilometer dari pusat Parsoburan. Kedatangan oknum baju coklat itu bukan untuk mencicipi soto atau martabak. Hanya sekadar minta ‘parsantabian’ dari pengguna jalan. Bah...!!!   Parsoburan, tak lagi seperti dulu. Sudah sedikit kota, pelan-pelan meninggalkan jejak primordialnya. Sinyal telepon seluler sudah kencang menenggelamkan pamor telepon rumah yang heboh di pengujung 90an. Ke belakang lagi, antena parabola ibarat kacang goreng, menyempil di atap belakang rumah. Menghapus pengalaman semasa anak-anak yang wajib membayar Rp 50 alias ‘limpul’ bila hari libur tiba. Juga hari Selasa. Usai maronan, mampir di kedai sekadar menikmati tontonan televisi.   Wajah Parsoburan kian berseri, semua serba baru. Rumah baru makin mudah dijumpai, mengisi lahan kosong di pinggiran kampung. Pemilik rumah baru itu pun tak lagi melulu PNS, tetapi sudah diimbangi pekerja wiraswasta. Kendaraan baru, seperti sepeda motor dan mobil bukan lagi terlihat istimewa.   Fenomena kemajuan itu pun lambat-laun ternyata dilirik juga aparat penegak hukum. Maka, mulailah oknum polisi menyisir Parsoburan. Paling sering, datang setiap Selasa, biasanya dua atau tiga orang, mengendarai motor gede alias moge. Lengkap dengan dinas kebesarannya. Tak lupa, ada segepok surat tilang yang biasanya terselip di antara sepatu botnya.   Sekali prit, nilainya bisa Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Sepertinya, tidak pernah dua kali prit, sebab pengguna jalan yang didominasi pemotor langsung paham. Merogoh kantong, salaman, lalu tancap gas. Seperti lagu Iwan Fals. Bedanya, tidak ada lagi tawar-menawar. Semua sudah harga pas.   Oknum polisi yang memilih mengetem di daerah Gonting atau Buluduri itu pun sepertinya sudah hal biasa. Buktinya, Polsek Habinsaran, yang berwenang langsung di Parsoburan, tampak slow saja. Atau jangan-jangan, mereka memang main mata. Entahlah, yang pasti razia ecek-ecek itu kini masih terus berlangsung.   “Pak Kapolsek Habinsaran Tolonglah kami Rakyat kecil ini, razia Polisi di Jalan Parsoburan sudah keterlaluan, kami tidak jadi belanja ke “onan” karena uang kami telah habis dikuras,” demikian bunyi SMS berantai yang beredar beberapa waktu lalu.   Razia ecek-ecek itu memang masuk akal. Ini jika dikaitkan dengan penegakan hukum yang sebenarnya. Istilahnya, tidak pandang bulu. Bila Pak Polisi menggelar razia yang sebetulnya, mungkin separuh pengendara motor di Parsoburan akan kena sanksi. Tidak punya SIM, tanpa helm, dan pelanggaran lalu lintas lainnya. Celah hukum inilah yang dimanfaatkan. Akibatnya, pengendara motor pasrah dan rela memberikan upeti. Melawan sedikit, bisa kena angkut.   Kendati begitu, oknum polisi semestinya juga memahami kebiasaan yang di lingkungannya. Bukan justru memanfaatkan kelemahan masyarakatnya. Kebiasaan masyarakat Parsoburan tentu berbeda dengan masyarakat kota seperti Balige, Siantar, atau Medan. Orang Parsoburan berpikir masih nyaman meski tidak mengenakan helm, apalagi punya SIM. Ini sangat masuk akal karena kondisi lalu lintas yang tergolong sepi. Risiko kecelakaan masih sangat rendah. Berbeda dengan kota, yang lalu lintasnya sudah sangat padat. Barangkali, masih lebih penting memberantas perjudian, narkoba, dan kasus lain yang mungkin sudah mengepung Parsoburan. Pak Polisi, menggelar razia esek-esek mungkin lebih berguna ketimbang razia ecek-ecek. TIM GABE

S

03

Illustrasi Ibukota Kabupaten Habinsaran 2016

Laporan utama

Selamat Datang Kabupaten Habinsaran Seandainya Kecamatan Habinsaran, Borbor, Nassau, dan Pintu Pohan Meranti bergabung dan membentuk kabupaten baru, apakah sebuah kemajuan atau kemunduran? Itulah pertanyaan utama yang wajib dijawab jika hendak membentuk kabupaten baru. Jawaban akan maju atau justru mundur juga wajib disertai data dan bukti kuat. Tidak boleh sembarangan, apalagi hanya karena didorong ego belaka.

P

EMBENTUKAN Kabupaten Habinsaran sudah cukup lama bergaung dan mendapat banyak respons masyarakat di Tobasa. Paling tidak, keinginan itu sudah mencuat ketika Kabupaten Tobasa yang berdiri pada 1999, ternyata bisa disebut berhasil. Namun, semangat otonomi daerah seperti tertuang dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan UU No 34 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah bukanlah ajang untuk beramai-ramai memekarkan wilayah tanpa mempertimbangkan banyak aspek. Implementasi otonomi daerah bukan tanpa masalah. Ia menimbulkan sederet persoalan ketika diterapkan langsung ke lapangan. Masih banyak daerah otonom yang belum mampu memenuhi kewajibannya, khususnya ketika masa transisi dari pemerintahan induk. Laksana pedang bermata dua, pemekaran daerah yang sejatinya ditujukan menyelesaikan ketertinggalan, seringkali dituding menjadi penyebab bertambahnya jumlah daerah tertinggal. Malah ada yang menilai pemekaran daerah sebagai penyebab ketertinggalan itu sendiri.   Bila dinilai sebagai penyebab ketertinggalan barangkali tidak tepat. Akan tetapi, kalau dikatakan pemekaran daerah bisa menyebabkan bertambahnya jumlah kabupaten tertinggal, itu ada benarnya. Ambil contoh, jika satu daerah tertinggal dimekarkan menjadi tiga daerah otonom, maka secara administratif, jumlah daerah tertinggal menjadi tiga, yaitu satu daerah induk yang dari awalnya memang sudah tertinggal dan dua daerah otonom baru.

Apri l 2013 ©GABE

Sebaliknya, dimekarkan ataupun tidak, dua wilayah yang menjadi daerah otonom baru tersebut tetap saja tertinggal. Hanya yang pasti, dengan pemekaran ini, kedua wilayah itu mempunyai peluang untuk lebih diperhatikan dan keluar dari ketertinggalan. Sebab, dengan menjadi daerah otonom, pelayanan masyarakat menjadi lebih dekat dan punya anggaran sendiri. Sewaktu bergabung dengan daerah induk, boleh jadi alokasi anggaran ke wilayah tersebut sangat kecil.   Jika begitu, bagaimana dengan Habinsaran dan sekitarnya? Apakah sudah saatnya berpisah dari Kabupaten Tobasa? Anggota DPR Anton Sihombing mengungkapkan, pemekaran satu wilayah provinsi atau kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara baru bisa dilakukan pada 2015 sampai tahun 2025. “Desain Besar Penataan Daerah (Desartada) yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri, sampai tahun 2015 hanya satu provinsi dan satu kabupaten/kota yang layak dimekarkan di Provinsi Sumatera Utara,” ungkap Anton di Jakarta, belum lama ini.   Desartada merupakan program pemerintah dalam upaya meningkatkan pelayanan publik, percepatan demokratisasi, percepatan pembangunan perekonomian daerah, pengembangan potensi daerah, peningkatan keamanan dan ketertiban, serta memperpendek rentang kendali penyelenggaraan pemerintahan. Berdasarkan kajian Tim 8 Pokja Kementerian Dalam Negeri, penambahan maksimal pemekaran provinsi di Sumut adalah dua provinsi. Sedangkan potensi penambahan kabupaten/

kota di Provinsi Sumut, hanya dua daerah. Lalu, apakah Kabupaten Habinsaran bisa termasuk salah satu di dalamnya?   Penentuan maupun pengalihan ibukota juga sering menemui persoalan pelik. Tertundanya pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) juga karena diwarnai perdebatan penentuan ibukota. Siborong-borong dan Sibolga sama-sama menginginkan sebagai ibukota Protap. Masing-masing merasa berhak sebagai ibukota Protap yang dibungkus dengan sederet alasan logis maupun historis. Tarik menarik antara dua kubu ini pada akhirnya membuat Sibolga keluar dari arena pembentukan Protap. Bila ditarik ke wilayah calon kabupaten Habinsaran, kecamatan manakah yang paling layak sebagai ibukota? Tentu, persoalan ini menjadi tidak mudah ketika tokoh-tokoh pemrakarsa berasal dari kecamatan berbeda. Manakah yang paling layak menyandang ibukota? Sekilas, jika dilihat dari tokoh pemrakarsanya, Kecamatan Habinsaran dan Borbor akan bersaing merebut jatah ibukota. Namun, jika berdasarkan sudut pandang egosentrisme, masing-masing kecamatan akan merasa paling berhak sebagai ibukota. Persoalan tidak hanya di situ. Sesuai konstitusi, pembentukan kabupaten baru mewajibkan minimal lima kecamatan. Masih butuh satu kecamatan lagi mendampingi Habinsaran, Borbor, Nassau, dan Pintu Pohan Meranti. Ada usulan, kawasan Lumban Balik hingga ke Pagar Batu sudah layak membentuk sebuah kecamatan baru. Jika ini tercapai, pembentukan kabupaten Habinsaran bukanlah angan-angan belaka. TIM GABE 04

15.496 jiwa 87,1 km/2 AJIBATA

7.030 jiwa 38.695 Ha

6.905 jiwa 22,2 km2

LUMBAN JULU

7.588 jiwa 72,8 km/2

AR NT

ULUAN

UM AR

SIGUMPAR

10.027 jiwa 25,2 km/2 TA M

N ME

POHA

N

“Lumban”

AE

SIL

NASSAU HAB

INSA

LAGUBOTI

RAN

7.863 jiwa 335,5 km/2

BALIGE

PAH

5.100 jiwa 24,45 km/2

PINTU

N

SIA

10.630 jiwa 109 km/2

44.839 jiwa 91,05 km/2

DA

ON

PORSEA

10.050 jiwa 154,4 km/2

? ?

I RANT

AN

18.414 jiwa 408,7 km/2

BORBOR 15.877 jiwa 62,9 km/2

21.272 jiwa 91,05 km/2

Penduduk = 494 Jiwa Ls Wilayah = 14 Km/2

7.809 jiwa 176,7 km/2

22

Penduduk = 417 Jiwa Ls Wilayah = 12 Km/2

19 17

16

Penduduk = 362 Jiwa Ls Wilayah = 8,03 Km/2

I

NT

20

Penduduk = 293 Jiwa Ls Wilayah = 7,1 Km/2

18

Penduduk = 351 Jiwa Ls Wilayah = 4,1 Km/2

13

Penduduk = 910 Jiwa Ls Wilayah = 3 Km/2

21 15 Janji Maria

14 07 12

Simare

Penduduk = 379 Jiwa Ls Wilayah = 41,1 Km/2

II u

ng

Pa

!

n!

a rur

Natumingka

Penduduk = 428 Jiwa Ls Wilayah = 18,4 Km/2

li

au

N

09

a Tu

nI

ra

n

ma

do

11

Penduduk = 560 Jiwa Ls Wilayah = 9,14 Km/2

a

uru

Raniate

Pr

08

Penduduk = 199 Jiwa Ls Wilayah = 7 Km/2

rb

ng an

ur

ur

06

10

Riganjang

Pa

02

ng

03

Lintong

Pa

04

Penduduk = 893 Jiwa Ls Wilayah = 2,1 Km/2

Huta Gurgur Pasar Borbor Lbn Sewa

Pu

01

05

Penduduk = 299 Jiwa Ls Wilayah = 9 Km/2

Aek Unsim

Penduduk = 653 Jiwa Ls Wilayah = 18,2 Km/2

Sibuntuon Parsoburan Tengah Lumban Rau Sltn 01 Penduduk = 4.140 Jiwa 10 Penduduk = 348 Jiwa 19 Penduduk = 435 Jiwa Ls Wilayah = 36,6 Km/2 Ls Wilayah = 30,08 Km/2 Ls Wilayah = 24,4 Km/2 Lumban Pinasa

02 Penduduk = 759 Jiwa

Ls Wilayah = 30,3 Km/2

Pangunjungan

11 Penduduk = 505 Jiwa Ls Wilayah = -

Penduduk = 302 Jiwa Ls Wilayah = 15,2 Km/2

Panamparan

20 Penduduk = 256 Jiwa

Penduduk = 307 Jiwa Ls Wilayah = 8,51 Km/2

Ls Wilayah = 58,9 Km/2

Pararungan Lumban Rau Barat Parsoburan Barat 03 Penduduk = 1.451 Jiwa 12 Penduduk = 932 Jiwa 21 Penduduk = 135 Jiwa Ls Wilayah = Ls Wilayah = 24,5 Km/2 Ls Wilayah = 14,7 Km/2 Lumban Ruhap

Pagar Batu

Ls Wilayah = 20,19 Km/2

Ls Wilayah = 16,2 Km/2

Tornagodang

Lumban Balik

Ls Wilayah = 16,2 Km/2

Ls Wilayah = 29,75 km/2

Penduduk = 518 Jiwa Ls Wilayah = 50,36Km/2

TomMarisi

04 Penduduk = 410 Jiwa

Ls Wilayah = 6,44 Km/2

05 Penduduk = 1.021 Jiwa 14 Penduduk = 271 Jiwa

Lobu Hole Lumban Gaol 06 Penduduk = 574 Jiwa 15 Penduduk = 218 Jiwa Ls Wilayah = 12,28 KM/2 Ls Wilayah = 24,1 Km/2 Lbn Pinasa Saroha 07 Penduduk = 613 Jiwa Ls Wilayah = -

Ls Wilayah = 37,2 Km/2

Apri l 2013 ©GABE

Penduduk = 348 Jiwa Ls Wilayah = 6,72 Km/2

*Dusun II *Dusun III

*Janji *Lobu Daddap *Parluasan *Sikkamjulu

* Dusun 1 * Dusun 2

C

U

RA

*Batu URSandar, TIM*Pagar

Gu*NaL pajulu, *Sibaning

BN

* IN H TA Si asa D pa ng A M *Si nge AI tara LBN RAU TENGAH *S k ijun BATU *Nassau g *Si ma kat MANUMPAK *Pattil nal ese *Batu *Sigalagala *

RA G

Ls Wilayah = 10,4 Km/2

Hite Tano

18 Penduduk = 272 Jiwa

PAJO *Dusun I

NA

SIATTARASA LBN RAU UTARA

Penduduk = 818 Jiwa Ls Wilayah = 46,38 Km/2

G RIN

nung,

Penduduk = 564 Jiwa Ls Wilayah = 49,4 Km/2

TG

Batu Nabolon

09 Penduduk = 750 Jiwa

*Liattondung *Sigaol *Huta Godang

U RA

Ls Wilayah = -

* Sipagabu * Batu Hallung * Sibodat

N LB

Aek Ulok

08 Penduduk = 303 Jiwa

LIAT TONDUNG

Penduduk = 878 Jiwa Ls Wilayah = 61,8 Km/2

Lumban Pea 16 Penduduk = 441 Jiwa Ls Wilayah = 16,49 Km/2 Penduduk = 1.184 Jiwa Ls Wilayah = 22,89 Km/2 Lumban Lintong 17 Penduduk = 313 Jiwa Ls Wilayah = -

Penduduk = 407 Jiwa Ls Wilayah = 67,6 Km/2

SIPAGABU

13 Penduduk = 1.266 Jiwa 22 Penduduk = 192 Jiwa

Manumpak *Parronggangan *Pandumaan

Penduduk = 751 Jiwa Ls Wilayah = 8,97 Km/2

Penduduk = 1.207 Jiwa Ls Wilayah = 14,2 Km/2

Penduduk = 607 Jiwa Ls Wilayah = 7,15 Km/2

Data: Andre Pardosi, BPS Tobasa

05

Kaltara Gembira Protap Merana

P

rovinsi di Indonesia kini berjumlah 34. Provinsi termuda saat ini adalah Provinsi Kalimantan Utara atau disingkat Kaltara, yang telah disahkan dalam sidang paripurna DPR di Jakarta, Kamis (25/10/2012). Kaltara adalah kebutuhan yang sudah lama diharapkan masyarakat, juga pemerintah daerah di wilayah utara Kalimantan Timur (Kaltim). Wilayah Kaltara mencakup lima kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Adapun ibu kota Kaltara adalah Tanjung Selor (Bulungan).   Dengan demikian, wilayah Kaltim

yang awalnya memiliki 14 daerah (10 kabupaten dan 4 kota), hanya akan memiliki 9 daerah (6 kabupaten dan 3 kota). Sembilan daerah itu adalah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Berau, Kota Balikpapan, Kota Samarinda, dan Kota Bontang. Sayang seribu sayang, rencana pengesahan Provinsi Tapanuli alias Protap ternyata masih tetap merana. Padahal, pemekaran provinsi maupun kabupaten/kota di Sumut sudah tergolong terlambat dibanding dengan wilayah propinsi lain di Indonesia. Ketimbang Sulawesi Selatan (Sulsel), pemekaran di Sumut tergolong ketinggalan. Di

Sulsel, setiap 15 km ditemui sebuah kabupaten atau kota. Sementara di Sumut sudah berpuluhan kilometer masih dalam satu kabupaten.   “Pemekaran di Sumut sangat tertinggal. Contohnya Tarutung, Balige, dan Berastagi harusnya sudah layak menjadi kota, bukan lagi sebagai ibukota kabupaten. Masalah Protap sebenarnya sudah diketok di paripurna DPR dan sudah ampres (amanat presiden). Tapi ada unsur kepentingan lain, sehingga masalah Protap digoreng-goreng yang akhirnya mentah kembali,” ujar politisi senior PDIP Panda Nababan, beberapa waktu lalu. TIM GABE

Menggugat Hipotesis Peradaban Baru Orang Batak Ada hipotesis yang cukup menggelitik; orang Batak yang berasal dari pedalaman cenderung tidak sanggup bersaing dengan mereka yang berasal dari perlintasan emas Tapanuli. Jika ditelisik lebih mendalam, lahirnya sebuah peradaban baru adalah penyebabnya. Kini, setelah era otonomi daerah bergelora, masihkah hipotesis itu relevan?  Ishak H Pardosi

T

iga potong kue, semangkuk jus jeruk plus alunan musik lembut mendayu di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. Sore itu, saya akhirnya bisa bertatap muka dengan salah satu putra terbaik Batak, yang kini sedikit terlihat renta. Ya, membuat janji sepakat untuk bertemu muka dengan pria ini memang gampang-gampang susah. Dibalut jas coklat lengkap dengan topi koboi, ia memulai perbincangan di sebuah meja berbalut kain putih, di sebelah kanan pintu masuk hotel yang tidak terlalu mentereng itu. Ihwal pertemuan itu sendiri, sebenarnya karena saya ingin memintai analisis dan pengamatannya soal maraknya aksi teror di Tanah Air, belakangan ini. Sebagai veteran di dunia intelijen formal, DR AC Manullang memang dikenal tahu banyak seluk-beluk spionase. Sehingga, ia acapkali dimintai komentar oleh awak media massa. Meski sudah cukup lama meninggalkan dunia intelijen formal, AC Manullang ternyata masih mampu mengendus pihak mana saja yang berupaya menciptakan kerusuhan di Indonesia. Sedikit bocoran dari Manullang, rangkaian teror yang melanda Indonesia memang sengaja diciptakan demi kepentingan ekonomi pihak Barat. Sedangkan motif ideologi atau agama yang sering disebut sebagai alasan di balik teror itu, hanyalah topeng untuk mengaburkan pemahaman publik. Harus diakui, AC Manullang adalah seorang dedengkot yang dikenal piawai tentang seluk-beluk spionase. Apalagi, karirnya semasa di intelijen cukup meyakinkan pengetahuannya itu. Terakhir, ia menjabat sebagai salah satu direktur di BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) sebelum berubah nama menjadi BIN (Badan Intelijen Negara). Namun, bukan analisis soal bagaimana teroris beraksi di Indonesia yang membuat saya semakin penasaran. Bukan pula soal misteri intelijen yang sepertinya sering tidak masuk akal. Akan tetapi, ada hal menarik dari “Si Ompung” demikian ia biasa disapa, yang membuat akal logika saya sedikit terguncang.

Apri l 2013 ©GABE

Dikatakan Manullang, bibit unggul orang Batak yang dibuktikan dengan banyaknya putra-putri Batak yang cukup sukses di negeri ini, sebenarnya tidak datang begitu saja. Akan tetapi, pencapaian itu tumbuh secara perlahan sebagai akibat dari kerasnya perjuangan kehidupan di bumi Tapanuli. Tanah yang kurang subur ditambah metode pertanian yang tradisional, minimnya lapangan pekerjaan, serta masih sulitnya akses ke daerah lain memaksa orang Batak terdahulu berjibaku untuk keluar dari kesengsaraan itu. Tidak ada pilihan lain kecuali melakukan migrasi ke daerah lain yang lebih maju. Itulah awal diaspora orang Batak ke wilayah luar, seperti halnya langkah Yahudi zaman dulu. Tak perlu waktu lama, orang Batak dengan mudahnya bisa ditemukan di setiap sudut Nusantara, di samping terus menjelajah ke mancanegara. Hebatnya lagi, orang Batak bukan sekadar berpencar tanpa hasil. Diyakini, karena diawali tekad ingin mengubah ritme kehidupan, secara sporadis pula orang Batak akhirnya berhasil menuai kesuksesan. Dalam beberapa dekade saja, Batak berubah menjadi salah satu suku yang disegani di Republik, paling tidak untuk sampai saat ini. Sampai di sini, paparan Manullang masih sama dengan apa yang di pikiran saya sebelumnya. Dari berbagai pengalaman dan banyaknya literatur mengenai seluk-beluk kesuksesan orang Batak, apa yang dikatakan Manullang di atas, tidak ada yang terlalu istimewa. Suara musik mendayu masih berlanjut. Ia masih setia dengan tutur katanya yang meledakledak, sesekali tertawa terbahak. Manullang kembali melanjutkan paparannya. Kata Manullang, orang Batak yang berasal dari daerah Tapanuli pedalaman akan sulit bersaing dengan orang Batak yang berasal dari daerah Tapanuli yang telah bersinggungan dengan budaya dari luar. “Dalam hal kemajuan berpikir yang selanjutnya mempengaruhi tingkat kesuksesan, orang Habinsaran tidak akan mungkin bisa mengalahkan orang Balige, misalnya. Begitu juga dengan daerah lainnya,” seru Manullang mendeskripsikan dua daerah yang berbeda. Saya harus menghela nafas sejenak. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan komentar itu. Pertanyaannya, kenapa itu bisa terjadi. Bukankah orang Batak di Habinsaran sama dengan orang Batak di Balige? “Pada dasarnya, keduanya adalah sama, yang membedakan adalah di Habinsaran itu tidak ada peradaban baru yang lahir, sedangkan di Balige itu jelas ada,” jawab Manullang. Hadirnya sebuah peradaban baru merupakan jawaban kenapa seseorang atau sebuah komu-

nitas bisa menjadi lebih maju. Membandingkan Habinsaran dengan Balige, dalam hal peradaban baru tentulah sangat jauh berbeda. Di Habinsaran, hampir tidak ada peradaban baru, berbeda dengan Balige yang sejak lama sudah disinggahi peradaban baru. Masih kata Manullang, peradaban baru merupakan hasil dari percampuran budaya asli dengan budaya yang datang dari luar. Dengan adanya percampuran itu, selanjutnya akan melahirkan budaya baru yang lebih modern. Dengan kata lain, perjumpaan antara masyarakat Balige dengan masyarakat luar Balige, pelan-pelan akan melahirkan pemikiran dan kemajuan baru. Sampai di sini, saya harus menyerah dan manggut-manggut saja. Sepintas, pemikiran Manullang ini ada benarnya. Buktinya, orang Batak yang saat ini mampu berkiprah di tingkat nasional, mayoritas berasal dari lintasan ‘emas’ Tapanuli. Mereka rata-rata berasal dari kawasan Tarutung, Balige, Samosir, Porsea, maupun Siantar. Kalaupun ada yang berasal dari daerah pedalaman Tapanuli seperti Habinsaran, jumlahnya memang bisa dihitung jari. Itu pun sebenarnya belum bisa disebut mampu merebut tempat di tingkat nasional. Namun, hipotesis yang agaknya sudah mendekati kebenaran milik AC Manullang itu, kemungkinan besar akan gugur, paling lama dua puluh tahun mendatang. Ini menurut saya. Otonomi daerah yang kini menggelora di seluruh Indonesia, termasuk di kawasan Tapanuli adalah alasan utamanya. Kita tentu sepakat, relevansi antara otonomi daerah dengan peradaban baru sangatlah kuat. Pembangunan kawasan Tapanuli, seperti Kecamatan Habinsaran di Kabupaten Tobasa merupakan indikator utamanya. Sejak otonomi daerah bergulir 1999 lalu, Habinsaran yang dulu dikenal tertinggal, saat ini boleh sedikit dibanggakan. Denyut pembangunan di berbagai sektor kehidupan senantiasa berkembang. Saat ini, sudah cukup banyak orang di luar Habinsaran yang mempunyai kepentingan dan harus bersinggungan dengan daerah ini. Otomatis, sebagaimana analisis AC Manullang, peradaban baru di bumi Habinsaran sebenarnya sudah terlahir. Di luar Habinsaran, saya meyakini hal yang sama juga sedang terjadi. Bahkan, mungkin lebih dahsyat. Saya juga percaya, DR AC Manullang tidak akan keberatan apabila hipotesis miliknya akan segera berakhir, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Tanpa kecuali, seluruh kawasan Tapanuli nantinya akan bisa maju bersama-sama, membangun sekaligus mengabdi hanya untuk negeri tercinta. Selamat datang peradaban baru.

06

LAPORAN KHUSUS

Warga melintas di depan gereja Huria Batak Kristen Protestan (HKBP) Kernolong, di Jalan Kramat, Jakarta. Gereja tersebut merupakan gereja tertua di Jakarta

Kisah Orang Batak Mengadu Nasib di Jakarta

T  

ahun 1930, ada sekitar 1.300 orang Batak di Jakarta. Tahun 1963, jumlahnya berlipat menjadi 22 ribu orang. Sedangkan hasil sensus Badan Pusat Statistik 2010 mencatat, jumlah orang Batak di Jakarta mencapai 326.332 orang. Bila ditambah orang Batak di Bogor, Tangerang, dan Bekasi jumlahnya sangat mencengangkan.   Demi kehormatan dan kesuksesan, orang Batak lalu mengembara. Di perantauan, mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja,

Apri l 2013 ©GABE

dan deretan ”lapo” atau kedai Batak. Lapo-lapo itu berderet memanjang. Aneka menu khas Batak tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Medan. Itulah sejumput suasana Sumatera Utara yang hadir di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur. Datanglah hari Minggu, sepanjang jalan ini penuh mobil. Orang yang baru pulang dari gereja mampir makan. Di belakang deretan lapo-lapo itu, suasana Tanah Batak lebih kental lagi. Di sana ada perkampungan orang Batak yang disebut Kampung Mayasari (karena di situ pernah ada pul bus Mayasari Bhakti). Pe n g h u n i n y a adalah orang Batak Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Angkola.

Tidak mengherankan, lagulagu pop Batak senantiasa terdengar dari kampung itu. Gereja Batak bertebaran di sejumlah sudut. Saking banyaknya gereja, baru 200-an meter melangkah sudah tiga gereja terlewati. Kampung Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, ada kantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Kampung Rambutan, hingga Tambun (Bekasi). Cerita yang sama juga mengalir di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Bagi warga Batak yang sudah lama tinggal di Ibukota, pastilah sudah cukup akrab dengan keberadaan pasar Senen. Bagaimana tidak, khusus blok Pasar Inpres Senen, hampir seluruh pedagangnya merupakan warga Batak. Jenis dagangannya pun sarat dengan barang khas Batak, termasuk teri Medan. Otomatis, pembelinya pun mayoritas warga Batak.   Logat Batak mendominasi suara orang berbincang. Kain-kain yang dijual pun kain tradisional Batak, termasuk beragam jenis ulos berdasar daerah asal. Ikan asinnya pun, terutama teri, khusus didatangkan dari 07

Foto: Kondektur MetroMini berteriak memanggil penumpang

Medan.   Setelah zaman kemerdekaan hingga tahun 1975, Senen menjadi pusat perdagangan terkemuka di Jakarta. Pada tahun 1974 terjadi tragedi Malari yang memporakporandakan Pasar Senen. Aksi mahasiswa yang dipimpin Hariman Siregar saat itu, marah atas kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai bergantung pada Jepang. Saat itu, Pasar Senen merupakan simbol dari penjualan produk-produk Jepang. Namun, tidak ada data sejarah pasti, mengapa Pasar Senen ‘dikuasai’ orang Batak.   Orang Batak di perantauan memang cepat berkembang. Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907. Jejak perantau pertama di Jakarta berupa kebaktian berbahasa Batak pada 20 September 1919. Mereka lalu membangun Gereja HKBP Kernolong Resort Jakarta yang tercatat sebagai gereja Batak tertua di Jakarta. Hingga kini, gereja di Gang Kernolong, Jakarta Pusat, itu masih digunakan jemaat Batak. Praeses HKBP Distrik DKI Jakarta Pendeta Colan WZ Pakpahan mengatakan, gereja-gereja HKBP lain di Jakarta dapat dikatakan pemekaran dari KerApri l 2013 ©GABE

nolong. ”Dulu, banyak sekali orang Batak tinggal di Kernolong. Sekarang, sebagian pindah ke daerah lain di Jakarta,” ujarnya. Menurut Castle, etnis Batak termasuk kaum perantau terbesar di Indonesia. Tahun 1930, sebanyak 15,3 persen orang Batak tinggal di luar kampung halamannya. Migrasi besar-besaran terutama terjadi setelah revolusi tahun 1945-1949. Mereka menangkap peluang pendidikan dan kehidupan modern. Awalnya, mereka merantau di daerah pesisir Sumatera. Selanjutnya, mereka menargetkan Jakarta. Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon (kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua. ”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, banyak yang ingin jadi pengacara,” katanya.

Athony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatera menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja. Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.   Kepemimpinan Jokowi yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta juga banyak melibatkan orang Batak. Beberapa Kepala Dinas di Pemprov DKI adalah orang Batak. Bahkan, posisi Sekda Pemprov DKI saat ini juga ditempati orang Batak. TIM GABE/berbagai sumber

08

OP I N I Maddenleo T Siagian, SH

Advokat, tinggal di Jakarta

Masih Adakah Hukum? 

M

eski Memorandum of Understanding (MOU) antara TNI dan Polri sudah ditandatangani, tibatiba pada hari Kamis, 7 Maret 2013, pukul 07.30 WIB Markas Polres OKU, Sumatera Selatan dibakar sebanyak 95 anggota TNI yang disinyalir berawal dari aksi unjuk rasa untuk memprotes salah satu rekan mereka yang tertembak.   Berlanjut pada kasus penyerangan dan pembunuhan 4 tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta yang diduga dilakukan oleh sekitar 17 orang bersenjata api laras panjang jenis AK-47, pistol jenis FN, dan granat dan hanya berlangsung 15 menit.   Bahkan kasus teranyar, penegak hukum Kapolsek Dolok Pardamean AKP Andar Siahaan tewas dianiaya massa saat melaksanakan tugas mulianya menangkap seorang pelaku judi togel setelah diteriaki maling dan kendati korban sudah melepaskan pelaku judi namun massa tetap beringas dan memukuli hingga tewas di tempat.   Superior Melawan Hukum   Berkaca pada tiga kejadian tersebut munculah pertanyaan, masih adakah hukum? Negara hukum (rechstaat) yang diagungkan dalam konstitusi harus dipahami dalam konteks bernegara untuk melindungi dan menghargai setiap perilaku masyarakat Indonesia. Hukum harus di depan menata dan mendesain setiap hubungan manusia, tidak terkecuali hubungan dengan aparat Negara dan sebaliknya. Teori check and balancing tiga pilar Negara (legislatif, eksekutif, dan judikatif ) pun harus diterjemahkan dengan kesetaraan dan pengakuan.   Di sisi lain, hukum sendiri memberikan kekuasaan (power) kepada bagian dari masing-masing tiga pilar tadi untuk mengelola institusi, yang berakibat diberikannya kewenangan untuk menafsirkan dan bertindak sendiri dan tragisnya bahkan sampai kebablasan. Akibatnya, menjurus menjadi tindakan anarkis tanpa diimbangi dengan kekuasaan pilar lain. Tidak ada lagi kesucian simbol dan atribut untuk tujuan mulia, semuanya digunakan untuk kepentingan segelintir orang semata. Legitimasi hukum atas kekuasaan penuh (full power) menjadi sumber malapetaka. Selalu masyarakat yang menjadi kebingungan menghadapi gesekan seperti ini.   Posisi yang demikian sangat disukai segelintir penguasa yang memudahkannya memprovokasi pendukungnya bahkan sampai berani merelakan diri untuk mendukung kepentingan yang didukungnya melebihi batas-batas hukum.   Tidak ada lagi jabatan dan kekuasaan memihak hukum. Namun, dibiarkan dan bahkan diciptakan, bahwa kekuasaan itulah hukum. Hukum membantu melegitimasi kekuasaan dan steril dari bentuk inter-

Apri l 2013 ©GABE

vensi, dan tidak ada acuan dalam mengambil tindakan dan kebijakan, semuanya ditakar oleh keinginan penguasa tersebut. Berakibat pada adanya pembiaran, berujung pada intensi mengesampingkan hukum sebab berpikir bahwa hukum itu menghambat dan tidak praktis.   Tidak lagi melihat apa kata hukum, rangkaian katakata peraturan dibiarkan sendiri tertutup rapat dan bahkan naif jika dibuka apalagi ditegakkan. Hanya perdebatan dalam arena diskusi saja yang seakanakan mengutip dan merujuk kepada hukum, hal ini lumrah sebab dalam konteks yang demikian tidak ada kepentingan yang dipertaruhkan dan hanya pencitraan kepada publik mendiskribsikan hukum seakan-akan ditegakkan.   Munculah kemudian, adanya kekuasaan (power) yang hirarkinya jauh superior dibanding hukum itu sendiri. Tipikal superioritas tersebut tidak hanya menular pada kekuasaan dalam pengertian pemegang jabatan, namun menjalar jauh hingga ke semua lapisan masyarakat. Buktinya, sangat banyak dijumpai lapisan masyarakat kebal (immunitas) dan tidak tersentuh hukum, seperti organisasi pemuda, organisasi keagamaan, organisasi adat.   Tidak ada lagi keseganan dan ketakutan terhadap hukum. Lebih dari itu, tidak jarang mereka tidak mau berbicara apalagi berdebat tentang hukum, sebab sudah terdogmatik bahwa apa kata pemimpin itulah hukum bagi anggota atau pengikutnya. Keadaan ini juga diperparah dengan pemanfaatan kekuasaan itu menjadi sumber pendapatan utama. Akibatnya, kekuasaan itu bagaikan madu yang harus dipertahankan dengan semua cara.   Pengadilan Jalanan   Tidak bisa dipungkuri, keadaan superior melawan hukum menciptakan suatu arena pengadilan sendiri bernama pengadilan jalanan. Tidak ada penuntut umum, penasihat hukum dan majelis hakim, semua bertindak sebagai eksekutor. Berat ringan hukuman seseorang tergantung kepuasan dan hasrat sang eksekutor, jika perlu hukuman mati. Tidak ada upaya hukum banding, kasasi dan peninjauan kembali. Sebab, pengadilan biasanya hanya sekali saja dan tuntas (final, binding, and executable). Istilah hukum dalam peraturan perundang-undangan tidak dikenal, yang ada bahwa setiap orang yang dibawa ke pengadilan jalanan pasti bersalah dan dieksekusi.   Dari ketiga kasus di atas, jelas tidak ada perintah majelis hakim untuk mengeksekusi tereksekusi (korban) sebab tidak ada suatu putusan yang berkekuatan hukum tetap yang harus dilaksanakan, akan tetapi semuanya bersumber pada kekuatan yang dipunyai pada saat itu. Selain itu, pelaku eksekusi bukan juga jaksa yang diberikan otoritas untuk mengeksekusi. Bahkan, tidak diketahui juga siapa eksekutor sesungguhnya sebab semuanya seolah-olah maya hanya korban yang nyata. Tereksekusi (korban) tidak punya

hak untuk membela dan juga tidak disediakan penasihat hukum guna membela dan mempertahankan hak hukumnya. Tidak ada proses hukum (due process of law) yang layak dalam peradilan jalanan. Dasar untuk mengadili dan mengeksekusi hanya atas kehendak eksekutor atau penguasa di belakang eksekutor semata. Tidak tahu apa yang menjadi motivasi dan dorongan bahkan tidak tahu ukuran hukuman, hanya saja korban adalah nyata. Lagipula, tidak ada aturan bagaimana cara mengeksekusi, melalui dipukuli, dianiaya, dan bahkan diberondong dengan tembakan AK-47. Selera dan keahlian sang eksekutorlah yang menjadi ukurannya. Tindakan eksekusinya pun harus cepat dan praktis, tidak diperlukan pemberitahuan kepada korban maupun keluarganya. Korban hanya tinggal nama dan mayat sampai kepada keluarga. Tidak ada pula penghormatan atas hak asasi manusia (HAM) sebab istilah ini tidak dikenal pula dalam kamus pengadilan jalanan.   Supremasi Hukum   Dalam arti legalistik positivisme sebagai Negara hukum, hukum sangat menentang pengadilan jalanan sebab cara main hakim sendiri (eigen righting) ini melanggar ketentuan Pasal 170 Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP). Selain pasal 170 KUHP ini sebenarnya banyak peraturan lain yang melarang tindakan tersebut. Oleh karenanya, banyak aturan-aturan yang dapat dipakai untuk menjerat pelaku pengadilan jalanan ini.   Untuk itu, yang diperlukan sekarang adalah keseriusan dan kekuatan penegak hukum dalam menghadapi superioritas penguasa pengadilan jalanan ini. Tidak hanya keseriusan yang diperlukan, selain itu supremasi hukum yang harus dikedepankan dan sangat perlu komitmen untuk mengawal proses hukum (due process of law). Integrasi penegakan hukum dari awal proses sampai dengan eksekusi harus dikawal dan dikontrol oleh penegak hukum yang punya mental kuat dalam memberantas penyimpangan hukum. Kecolongan kontrol penegak hukum tentu akan memunculkan masalah baru dan menjadi alasan pembenar untuk melakukan pengadilan jalanan.   Era masyarakat madani seperti sekarang harus mengedepankan supremasi hukum dan harus pula punya mental untuk menolak setiap bentuk provokasi anarkis dan setiap bentuk tindakan melawan hukum lain yang merugikan orang lain. Masyarakat harus membiarkan hukum bekerja sendiri menurut aturan dan tata caranya. Adil tidaknya suatu hasil proses hukum adalah relatif dan oleh karenanya, harus benar-benar disikapi secara dewasa dan butuh sikap lapang dada untuk menerima. Tentu, terkadang tidak memuaskan jika kita melihat dari satu sisi. Keadilan hukumlah yang menjadi patokan. Karena hanya dengan demikianlah hukum benar-benar tegak.  

09

Cerita singkong Dengan Omzet Rp 4 Miliar Sebulan Meski sudah lama menjadi camilan favorit masyarakat luas, ternyata keripik singkong masih bisa menjadi mesin pencetak laba bagi pengusaha. Dengan pemasaran gaya baru nan unik, produsen bisa mengantongi omzet hingga miliaran rupiah.

J

elas, keripik singkong bukan jenis makanan baru bagi masyarakat indonesia. tapi, akhir-akhir ini, pamor keripik singkong kembali beken di kalangan remaja, tak kalah dibandingkan dengan potato chips, kebab, donat, atau pizza. Anda tentu pernah mendengar kehebohan keripik singkong Maicih? Asal Anda tahu, konon, omzet Maicih mencapai Rp 4 miliar dalam sebulan.

singkong tradisional, keripikkeripik modern memiliki gradasi rasa. Kribo, misalnya, menggunakan istilah “zona galau” untuk menunjukkan tingkat kepedasan. Adapun tingkat kemanisan ditunjukkan dengan “zona CLBK”. Jadi, jangan heran kalau suatu saat Anda mendengar ungkapan “Kribo Galau Satu” atau “Kribo CLBK Dua”. “Kata-kata ini sering dipakai anak muda. Jadi saya harap produk saya bisa cepat dikenal,” tutur Maulana.

Kesuksesan Maicih tentu memancing minat para pebisnis lain untuk turut mencicipi gurihnya laba berjualan keripik singkong. Nah, ternyata, sebagian pendatang baru ini juga sukses. Yana Hawiarifn, produsen keripik pedas Karuhun dari Bandung, misalnya, mengaku mampu mengantongi omzet Rp 3 miliar per bulan. Ada lagi keripik singkong merek Kribo asal Bekasi yang mulai masuk pasar oktober 2011. Maulana, sang produsen, mampu menjual keripik hingga senilai puluhan juta rupiah.

Selain berkreasi dengan merek, mereka juga menggunakan strategi pemasaran unik. Nyaris mustahil Anda menemui keripikkeripik ini di warung kelontong, minimarket bahkan toko oleholeh. Kebanyakan keripik populer ini dijual melalui jaringan pemasaran langsung (reseller). Nah, sebagian reseller heboh memasarkan dagangan lewat beragam media sosial, seperti Facebook, twitter, dan Kaskus.

Apa rahasia kesuksesan penjualan camilan lama tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini cuma s a t u : strategi pemasaran yang unik dan kreatif. Benar, kecuali sedikit modifkasi rasa, sebetulnya nyaris tak ada yang baru dari sosok keripiknya sendiri. Pertama, tak seperti keripik Apri l 2013 ©GABE

‘’Logikanya, konsumen akan berpikir jika seseorang berani merekomendasikan keripiknya, tentu mereka sudah pernah mencicipi dan puas’’ ujarnya. Kreativitas mereka tak terhenti sampai di situ saja. Agar semakin unik, mereka menjuluki para reseller ini dengan sebutan-sebutan lucu. Kribo menyebut para reseller dengan julukan “dosen”. Sedangkan Maulana dan tim menjuluki diri mereka dengan panggilan “dekan”. Begitu pula dengan Karuhun yang memanggil para reseller mereka dengan sebutan “patih”. Agar mampu menarik minat calon reseller, produsen rela berbagi margin sehingga keuntungan tak setebal umumnya bis-

nis makanan lain. Maulana cuma menyisir laba 25 persen dari omzet. “Saya mengambil dari jumlah yang mampu saya jual,” kata dia. Karuhun malah hanya menyisir untung bersih 10–20 persen dari total penjualan. Dengan mengambil margin tipis, mereka memberi kesempatan kepada para penjual untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Sekadar gambaran, harga jual Karuhun kepada reseller Rp 9.000 per bungkus. oleh para patih, Karuhun dijual ke konsumen seharga Rp 15.000–Rp 18.000 per bungkus. Demikian pula dengan Kribo. Harga kulakan para dosen Rp 7.500–Rp 10.000 per bungkus, tetapi mereka menjual ke konsumen Rp 12.000–Rp 15.000 per bungkus. Cara ini terbukti membuat jangkauan pasar mereka meluas. Sekarang jaringan pemasaran Karuhun sudah mencapai luar kota, bahkan sampai luar negeri. Reseller Karuhun mencapai 400 orang. Adapun Kribo sudah menjangkau sedikitnya 10 kota. “Antara lain Semarang, Surabaya, dan Balikpapan,” ujar Maulana, bangga. Tahap penting bisnis strategi pemasaran seperti ini tentu saat mengenalkan produk ke pasar. Nah, awalnya, para produsen ini melakukan tes pasar. Setelah yakin bakal mendapat sambutan hangat, mereka menawarkan keripik kepada teman, saudara, atau rekan kerja. Dari sana, berkembanglah menjadi reseller baru. Strategi pemasaran lain yang lazim dipakai adalah menjualnya di pusat keramaian. “Saya pertama kali menjual di Bandung saat ada car free day,” ucap

Yana. Supaya menarik minat konsumen, kemasan keripik dibuat seunik mungkin. Rasa pedas keripik singkong memang menjadi daya tarik pelanggan Maicih. tapi, Yana ogah asal mengekor reputasi pedas itu. Agar menarik pelanggan, dia memilih memberikan citarasa berbeda, yaitu menggunakan daun jeruk purut sebagai campuran rasa pedas. “Kami juga menggunakan singkong berkualitas sehingga lebih renyah,” kata Yana. Adapun Maulana tak hanya menawarkan keripik singkong. Dia juga menjual keripik ubi, opak dan beberapa produk lain. “Saya coba menawarkan makanan khas dari daerah Bekasi,” tukasnya. Jika ingin mencoba bisnis ini, Anda dapat memilih dua model produksi. Pertama, menyerahkan proses produksi keripik kepada orang lain. Gandenglah partner yang tepercaya sehingga kualitas terjaga. Sekadar informasi, saat memulai bisnis keripik singkong, Maulana hanya bermodal Rp 11 juta, termasuk untuk tester dan promosi. Kedua, memproduksi sendiri seperti Yana. Keuntungannya, Anda leluasa berkreasi dengan produk namun modal yang dibutuhkan lebih besar.

010

Cassava, Tanaman Komersil Sejak 1810 Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga euphorbiceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Nama latinnya, manihot utilissima.

U

mbi atau akar pohon singkong memiliki fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung jenisnya. Sedangkan daging umbi berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong kaya karbohidrat namun miskin protein. Sumber protein justru terdapat pada daunnya karena mengandung asam aminometionin. Jenis singkong manihot utilissima kali pertama dikenal di amerika selatan ke mudian dikembangkan pada masa prasejarah di brasil dan paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di brasil selatan. Meskipun spesies manihot yang liar ada banyak, semua varitas manihot esculenta dapat dibudidayakan. Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di amerika latin dan kepulauan karibia. Singkong ditanam secara komersial di wilayah indonesia (waktu itu hindia belanda) sekitar 1810, setelah sebelumnya diperkenalkan orang portugis pada abad ke-16.

Mudahnya budidaya singkong juga sudah dilirik menteri perdagangan Gita Wirjawan. Menurutnya, untuk menuju ketahanan pangan diperlukan keberanian mengubah pola konsumsi dan melakukan diversifikasi pangan. Melimpahnya singkong dapat menjadi alternatif andalan guna mewujudkan ketahanan pangan dan surplus beras 10 juta ton pada 2014. ”mulailah kita mensubstitusi beras dengan singkong, ubi dan bahan pangan lainnya,” kata gita dalam satu kesempatan. “saya sekarang sudah mulai kurangi konsumsi beras. Saya makan singkong setiap hari. Berat badan saya turun delapan kilogram,” ucapnya.

arus diakui, singkong belum ’’naik kelas’’. Ia hanya dianggap golongan komoditas kelas dua (secondary corps). Padahal, manihot utilissima memiliki kadar karbohidrat lebih tinggi dibanding nasi putih. “Singkong merupakan tanaman yang paling tahan, seperti ‘’Rambo’’ di kalangan bahan makanan”

Kini, budidaya singkong terus meningkat. Seiring dengan pemberitaan impor singkong yang marak menjadi pembicaraan. Hal ini dibuktikan dengan naiknya luas areal tanam. Pasar singkong juga terus membesar. Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) memprediksi 2016 diramalkan uang beredar dari pasar singkong dalam negeri mencapai Rp57,6 triliun.

FAKTA SINGKONG Singkong ditanam secara komersial di wilayah

Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) sekitar 1810, setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16. Indonesia merupakan salah satu penghasil utama singkong di dunia, di samping Muangthai, Brasil, Zaire, dan Nigeria.

Singkong. Siapa yang tidak mengenal tanaman ini. Nama bekennya tampak tidak sejajar dengan pamornya yang terlihat rendah. Mungkin karena selama ini singkong identik ditanam dan dikonsumsi kalangan bertaraf hidup tak mampu.

Produksi singkong pada tahun 2012 diperkirakan mencapai 25 juta ton. Jumlah itu meningkat 19 persen ketimbang realisasi produksi tahun lalu.

Apri l 2013 ©GABE

H

Triliun

kita lihat dari produk-produk inovatif yang dijajakan di pasaran saat ini. Mulai dari singkong keju, kripik hingga spaghetti singkong.

Produksi singkong pada tahun 2012 sebesar 25 juta ton singkong segar setara dengan 8 juta ton chips singkong atau 6,4 juta ton tepung singkong.

Dari segi ekonomi, singkong merupakan komoditas penting. Tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi saja tapi juga menjadi bahan baku sejumlah industri, baik besar maupun rumahan. Bagi petani, mudahnya menanam singkong merupakan keuntungan tersendiri. Terbukti, belakangan harganya membaik sehingga mendorong sejumlah petani di daerah lebih giat menanam singkong.

Sebesar Rp 57,6

Dalam per 100 gram singkong terkandung: Kalori 121 kal; Air 62.50 gram; Fosfor 40.00 gram; Karbohidrat 34.00 gram; Kalsium 33.00 miligram; Vitamin C 30.00 miligram; Protein 1.20 gram; Besi 0.70 miligram; Lemak 0.30 gram; Vitamin B1 0.01 miligram. Sementara kulit batangnya mengandung tannin, enzim Padahal, tanaman ini mampu mengperoksidase, kalsium oksalat, dan hasilkan uang miliaran rupiah. Bisa glikosida.

***

Padahal, tanaman ini mampu menghasilkan uang miliaran rupiah. Bisa kita lihat dari produk-produk inovatif yang dijajakan di pasaran saat ini. Mulai dari singkong keju, kripik hingga spaghetti singkong. Keuntungan lain, tanaman ini mudah dibudidayakan secara massal. Sebab, singkong cocok dengan kultur tanah indonesia dan proses penanaman terbilang mudah. Bahkan, tanaman ini kebal serangan hama.

Tahun 2016 Uang Beredar Dari Singkong

Luas lahan perkebunan singkong 2011 sekitar 1,2 juta hektare, sementara luas lahan perkebunan singkong 2012 diperkirakan meningkat 25 persen, menjadi seluas 1,5 juta hektare. Impor singkong tercatat sebanyak 13.300 ton senilai 3,4 juta dolar AS atau Rp32,3 miliar sampai Oktober 2012. Dari jumlah tersebut 98,6 persennya adalah tepung singkong. Sementara dua negara yang paling banyak mengirim singkong ke Indonesia adalah Vietnam dan Thailand. China memacu penggunaan etanol bahan bakar bersumber dari singkong.

Ketua 1 Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyono Husen memaparkan, tahun ini pihaknya meluncurkan Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Berasama (Gernas SSB) fase 1 (2012-2016). Tahun ini akan dimulai dengan sosiasilisasi di 16 provinsi dan 50 kabupaten. Pada 2013 akan dilaksanakan pilot project di 50 kabupaten/kota sebanyak 150 klaster dengan anggaran Rp 20 miliar per klaster atau total Rp3 triliun dari dana APBN. Proyek itu akan melibatkan 18 ribu kepala keluarga (KK) petani. Hingga 2016, lanjut dia, program itu akan dikembangkan menjadi 1.200 klaster dengan lahan 360 ribu hektare (ha) melibatkan 144 ribu KK. Saat ini, produksi singkong diperkirakan 36 juta ton singkong basah atau setara 12 juta ton chips singkong Rp24 triliun. jumlah itu akan ditambah dari penjualan 9,6 juta ton mocaf Rp33,6 triliun. “total uang beredar pada akhir Gernas SSB (2016) akan mencapai Rp57,6 triliun dan mensejahterakan 576 ribu petani di 33 provinsi,” tutur Sujaryono saat dialog publik mengangkat gengsi singkong untuk memantapkan ketahanan pangan di Jakarta, akhir Desember 2012. Selain memperoleh pendapatan yang besar, pada saat ini Indonesia juga bisa menyetop impor mocaf karena bisa memenuhi dari dalam negeri. Saat ini, Indonesia impor mocaf sekitar 300 ribu ton per tahun untuk keperluan berbagai macam industri, seperti makanan dan kertas.

***

011

PROFIL

Nikson Pandjaitan, SH Perjuangan Panjang Putera Tornagodang Inilah sepenggal kisah Nikson Pandjaitan, SH, putera Tornagodang yang tengah melirik satu kursi di DPRD Tobasa, 2014 nanti. Ia bertekad terjun ke politik bukan sekadar mencari sensasi, apalagi harta. Dia hanya ingin mengabdi untuk kampung halaman yang amat dicintainya.

N

ikson Pandjaitan, SH menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Tornagodang, sebuah desa di barat Parsoburan, Tobasa. Bukan apa-apa, kendati berstatus warga Jakarta, ia rela bolak-balik ke Tornagodang, demi sebuah tujuan. Membela tanah leluhurnya. Ia sangat kental dengan motto ‘Wong Cilik’ yang kerap didengungkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Masyarakat Tornagodang memang sudah lama dikepung ketertinggalan akibat ketidakadilan rezim penguasa. Tornagodang sering dinomorduakan, diabaikan tanpa katakata. Cerita pilih kasih pemerintah itu bisa diuraikan lewat sengketa Kebun Teh Sibosur yang kini dikelola PTPN IV. Nasib lahan ratusan hektar yang diserahkan masyarakat Tornagodang ke Pemkab Tapanuli Utara (saat ini masuk wilayah Tobasa) pada 1984 itu kini terombang-ambing. Selain tidak produktif, status hukum lahan tersebut juga memprihatinkan. Padahal sudah jelas, areal yang berada di pintu masuk Habinsaran itu hanya berstatus dipinjamkan kepada pemerintah. Tetapi itulah yang terjadi, Pemkab Tobasa terkesan enggan menyerahkan perkebunan teh Sibosur kepada warga Tornagodang. Tak rela diperlakukan sebagai warga kelas dua, Nikson bersama ratusan masyarakat Tornagodang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Desa Tornagodang akhirnya menggelar aksi unjuk rasa damai di lokasi kebun teh Sibosur, 25 Januari 2012. Massa dari seluruh golongan usia itu bahkan disakApri l 2013 ©GABE

sikan perwakilan PTPN IV, Anggota DPRD Tobasa, Camat Habinsaran mewakili Bupati Toba Samosir, termasuk aparat Kepolisian Resort Tobasa. Tugas Nikson tak cukup hanya ikut berorasi. Di pundaknya, ia memikul tanggungjawab sebagai Kuasa Hukum Forum Masyarakat Peduli Desa Tornagodang. Bagi Nikson, tindakan PTPN IV yang memandang sebelah mata masyarakat Tornagodang sudah keterlaluan. “Jika tidak dipergunakan lagi oleh Pemkab Tobasa dan PTPN IV sebagai perkebunan teh dengan sistem PIR (Perkebunan Inti Rakyat), maka hak atas tanah tersebut dengan sendirinya kembali kepada penduduk masyarakat Tornagodang sebagai pemilik tanah,” seru Nikson mengutip bunyi surat penyerahan tanah oleh tokoh dan tetua Tornagodang. Upaya menggelar aksi unjuk rasa ternyata membawa angin segar bagi bumi Tornagodang. Hanya berselang tiga hari, DPRD Tobasa melakukan kunjungan ke kantor pusat PTPN IV di Medan. Rombongan DPRD yang dipimpin Ketua DPRD Tobasa Ir. Sahat Pandjaitan beserta Komisi C itu, membawa harapan baru. “Kami bersyukur dan berterimakasih kepada DPRD Tobasa. Karena pada 3 Pebruari 2012, Forum Masyarakat Peduli Desa Tornagodang, Pemkab Tobasa, dan PTPN IV Medan bisa duduk bersama di Kantor DPRD Tobasa,” urai Nikson. Nikson makin bersyukur karena pertemuan tersebut dihadiri semua pihak terkait. Di antaranya Ketua Komisi C DPRD yang membidangi perekonomian Ir. Sakkan Siahaan, Ketua DPRD Tobasa, Ir. Sahat Pan-

djaitan. Sedangkan PTPN IV dihadiri jajaran manajemen yang dipimpin Humas PTPN IV Lidang Panggabean. Kesempatan emas itu tentunya tidak disia-siakan masyarakat Tornagodang. Mereka tetap pada tuntutan semula agar tanah Sibosur segera dikembalikan kepada masyarakat. Nikson Cs juga meminta Pemkab Tobasa ikut melindungi kepentingan masyarakat Tornagodang. Alotnya pertemuan yang dipimpin Ir. Sakkan Siahaan itu pun akhirnya menguak fakta baru. Ternyata, pihak PTPN IV telah menyerahkan aset eks PIR Lokal kepada Pemkab Tobasa sesuai dengan SK Menkeu No S-285/ MK-06/2004 yang dikenal dengan istilah Plasma. Ironisnya, Pemkab Tobasa tidak pernah menyerahkan lahan Plasma tersebut kepada masyarakat yang terdaftar sebagai anggota Plasma. Masyarakat lantas berinisiatif menggarap tanah tersebut karena sudah ditelantarkan PTPN IV. Sedangkan wilayah Kebun Sibosur, Ladang Ambar Sibirong, Ladang Sirumae, dan Ladang Sigala-gala yang dikenal dengan istilah Inti dinyatakan sudah menjadi milik BUMN oleh PTPN IV dan masih dikelola dengan cara KSO (Kerjasama Operasional) dengan perusahaan dari Suka Bumi dengan nama CV. AIR MAS. Hal inilah yang memicu perdebatan dalam pertemuan tersebut. Namun, pihak PTPN IV akhirnya bersedia melepaskan hak atas tanah tersebut kepada masyarakat Tornagodang. Persoalan tidak cukup berhenti di situ saja. Masih kata Nikson, proses pelepasan tanah itu bisa terwujud apabila Bupati Tobasa bersedia membuat Surat Permohonan Pele012

pasan Hak Atas Lahan Inti kepada Kementerian BUMN di Jakarta. Lagi-lagi masyarakat Tornagodang merasa lega karena Ketua DPRD Tobasa langsung mendesak Pemkab Tobasa untuk mengirimkan Surat Permohonan tersebut kepada Kementerian BUMN. “Ketua DPRD bahkan meminta Sekwan DPDR untuk juga membuatkan surat dari DPRD Tobasa, mendampingi surat dari BupatiTobasa,” kata Nikson. Namun, perjuangan sepertinya belum usai. Masyarakat Tornagodang masih khawatir lahan Sibosur tidak akan bernasib lebih baik di masa mendatang. Itu kalau Pemkab Tobasa malah menjadikan perkebunan teh Sibosur sebagai BUMD. Jika itu yang terjadi maka sama saja lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. “Tapi kami yakin DPRD Tobasa akan mengawal proses pelepasan Lahan Sibosur kembali ke tangan masyarakat Desa Tornagodang,” harap Nikson Pandjaitan. Perjuangan merebut kembali lahan Sibosur belum tuntas, Nikson Pandjaitan kembali dihadapkan pada persoalan ‘Wong Cilik’ lainnya. Kali ini, ia kembali gusar karena proyek pencetakan  sawah seluas 160 hektar yang juga berlokasi di Tornagodang. Dia menduga, proses pembuatan dan luas areal yang dikerjakan tidak sesuai dengan harapan masyarakat. “Masalah ini juga sekarang menjadi perhatian saya. Sebab ada orang yang bermain di balik pekerjaan ini,” tegas dia. Merebut Kembali Kebun Teh Sibosur BARANGKALI, Nikson Pandjaitan, SH bukanlah sosok anak rantau yang telah mengharumkan Desa Tornagodang, tempat ia lahir dan dibesarkan. Apa yang dia lakukan mungkin belum seberapa ketimbang anak rantau lainnya. Akan tetapi, sekecil apapun sumbangsih yang dia berikan, itu sudah cukup membuat dirinya berbangga. Toh, demi kampung halaman tercinta, perjuangan masih panjang. Sebagai Kuasa Hukum Forum Masyarakat Peduli Desa Tornagodang, Nikson Pandjaitan memang memikul tanggung jawab yang tak ringan. Inilah wawancara dengan Nikson Pandjaitan di Jakarta, belum lama ini: Bagaimana Anda pertama kali ikut serta menyoroti persoalan kebun teh Sibosur? Yang jelas adalah panggilan. Sudah cukup lama masyarakat Tornagodang terkurung dalam ketidaktahuan atas hak mereka sendiri. Sebagai putra daerah yang lahir dan dibesarkan di sana, saya kira sangat wajar kalau saya ikut bertanggungjawab atas apapun yang terjadi di kampung saya sendiri. Terutama soal nasib perkebunan teh Sibosur yang sejak 1984 diserahkan leluhur kami kepada pemerintah dan PTPN IV. Tapi nyatanya, lahan seluas ribuan hektar itu malah dibiarkan terlantar. Soal penunjukan Anda sebagai Kuasa Hukum Forum Masyarakat Peduli Desa Tornagodang? Keprihatianan terhadap nasib dan masa depan kebun teh Sibosur akhirnya membuat saya Apri l 2013 ©GABE

tergerak untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat Tornagodang. Saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya masalah yang mereka hadapi. Ternyata, mereka ingin sekali untuk kembali menggarap lahan para orangtua. Itu karena PTPN IV tidak mengurus lahan dengan baik. Masalahnya, mereka kurang tahu bagaimana proses menuju ke sana. Karena saya kebetulan seorang advokat, itulah awalnya dipercaya menjadi kuasa hukum. Dan terus terang, ini saya lakukan tanpa pamrih. Sebagai Kuasa Hukum, langkah apa yang pertama kali Anda lakukan? Kasus ini cukup rumit. Bayangkan, dari tahun 1984 kita harus runut masalahnya. Beruntung, surat penyerahan tanah dari tokoh masyarakat kepada Pemkab Tapanuli Utara dan PTPN IV masih ada. Surat inilah yang saya jadikan sebagai pegangan awal. Artinya, pewaris sah lahan itu memang masyarakat Tornagodang yang terdiri dari beberapa marga. Saya juga langsung menyurati pihak PTPN IV dan CV Air Mas untuk menanyakan seperti apa sebenarnya status lahan itu. Seperti apa hasilnya? Jangankan direspons, surat yang kita kirimkan ke pihak PTPN IV tidak pernah ada balasan. Padahal, saya sudah beberapa kali mengirimi surat. Tetap tidak ada balasan. Kalau CV Air Mas masih bersedia duduk bersama. Sayangnya, CV Air Mas malah menawarkan solusi yang sepertinya kurang masuk akal. Mereka hanya bersedia memberikan kompensasi Rp 1 juta perbulan kepada warga. Itu kan tidak masuk akal sama sekali. Benarkah aksi unjuk rasa masyarakat Tornagodang dilakukan karena PTPN IV dan CV Air Mas tidak serius menanggapi tuntutan pihak Anda? Itu betul. Akibat kebuntuan tersebut, kami sepakat melakukan aksi turun ke jalan sebagai cara untuk menyampaikan tuntutan. Sebenarnya, tuntutan kami sederhana saja, kembalikan hak-hak kami sebagai pemilik lahan yang sah. Ternyata, upaya ini cukup ampuh untuk menarik perhatian Pemkab Tobasa. Kami juga sangat bersyukur karena DPRD Tobasa mau mendengarkan keluhan kami. Mereka langsung bergerak cepat dengan menggelar audiensi seluruh pihak terkait. Kesimpulannya, CV Air Mas bersedia angkat kaki dari Sibosur, sedangkan PTPN IV juga berjanji akan segera mengikuti langkah CV Air Mas. Sikap Bupati Tobasa bagaimana? Sejak ikut terjun menangani persoalan ini, saya cukup sering berkomunikasi dengan Pak Bupati (Kasmin Simanjuntak). Beliau cukup memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Tornagodang. Bahkan, beliau juga setuju terhadap segala upaya yang kami lakukan. Kami sangat berterimakasih karena beliau mendukung dan bersedia menuntaskan masalah ini.

Saat ini, dengan dukungan penuh Bupati dan DPRD, apa saja harapan masyarakat Tornagodang? Tentu saja kami ingin masalah ini cepat selesai. Bagaimana nanti masa depan kebun teh Sibosur akan kembali dibahas setelah proses hukum sudah mantap. Namun, kami tetap berharap agar Pak Bupati dan DPRD tetap satu suara. Jangan lagi mengulangi kesalahan pemimpinpemimpin sebelumnya. Tapi kami percaya, eksekutif dan legislatif Tobasa mampu mencari jalan terbaik bagi masyarakat Tornagodang. Menjadi Banteng di Kampung Sendiri PERUBAHAN membutuhkan gerakan. Gerakan memerlukan kekuatan. Sedangkan kekuatan yang konstitusional adalah kekuatan politik. Prinsip itulah yang melatarbelakangi Nikson Pandjaitan, SH akhirnya memilih jalur politik untuk menuntaskan sengketa yang membelit kampung halamannya. Ia sangat paham, gerakannya selama ini bisa saja akan siasia bila tidak didukung kekuatan politik. Ia pun resmi terdaftar sebagai calon legislatif dari PDIP, mewakili daerah pemilihan V meliputi Habinsaran, Borbor, dan Nassau. Satu kursi DPRD Tobasa pun menjadi incarannya. Diakui, untuk meraih satu kursi dari 30 kursi DPRD Tobasa, bukanlah persoalan mudah. Kendati begitu, sebagai kader partai berlambang banteng, Nikson justru semakin semangat terjun langsung ke tengah masyarakat. “Modal saya hanya perhatian dan sekuat tenaga akan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Apalagi, PDIP sebagai partai yang sangat dekat rakyat kecil niscaya mampu mewujudkan itu semua,” ujar dia. Jebolan Universitas Sisingamangaraja, Medan ini mengakui, keputusan terjun ke politik menjadi pilihan terakhir karena melihat kondisi dan kehidupan masyarakat Habinsaran, Borbor, dan Nassau yang kurang diperhatikan pemerintah setempat. “Belum ada perubahan yang signifikan,” ujar suami R br Siallagan dan ayah tiga anak ini. Pria yang aktif di HKBP Sutoyo Jakarta ini pun semakin yakin akan mampu mengemban tugas dan fungsi wakil rakyat. Pengalamannya sebagai pengacara selama puluhan tahun sudah cukup untuk memahami selukbeluk dunia hukum. Ditambah pergaulannya yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Dengan kata lain, Nikson tak ingin hanya tampil sebagai banteng di perantauan, tetapi juga menjadi banteng di kampung sendiri. Jaringan politik Nikson semakin kuat menyusul derasnya dukungan dari berbagai pihak yang berada di sejumlah titik wilayah Habinsaran, Borbor, dan Nassau. “Saya sudah berkomunikasi dengan beberapa keluarga dan rekan di Lumban Pinasa, Lumban Ruhap, Buluduri, dan daerah lainnya. Mereka menyatakan siap mendukung. Dengan dukungan ini, dan tentu saja atas restu Tuhan, saya yakin akan sukses meraih satu kursi DPRD Tobasa,” pungkas Nikson Pandjaitan, SH. Tim GABE 013

CERPEN

CERMIN WAKTU Mungkin sudah suratan tangan bila dia tak pernah mengerti perasaanku. Sudah cukup banyak kisah yang sebenarnya kusimpan rapi jauh di lubuk hatiku. Kebanyakan , kisahnya cukup mengharukan meski menurutku dia sedikit munafik . Di sini , sebuah kota besar bergelimang keegoisan , aku diam terpaku. Sudahlah , ini tidak boleh terjadi lagi . Toh , semuanya telah berlalu.

lebih senior dari aku, untuk ukuran bolos-membolos tentunya. “Tolong bawain tasku ya, oke?” rayuku seraya mencubit lengan Tantri perlahan. Ia langsung paham kalau sudah begini.

Budi Simanjuntak

Kamu di sini saja,” pinta sesosok perempuan berparas cantik. Kutaksir, dia memakai jenis parfum yang hanya dijual di kota Medan. Baunya berbeda jauh dari parfum yang dipakai kebanyakan perempuan lain di seantero sekolahku. Aku menurut saja ketika ia meraih tanganku, mengajakku duduk di sampingnya. “Kalau duduk sebangku kan lebih enak, bisa diskusi,” Tantri merayu. “Ya sudah,” jawabku. Aku masih canggung ketika ia memintaku mengerjakan soal matematika. Bukannya aku tak tahu mengerjakan soal itu, parasnya yang cantik mengenakan bando warna merah ditambah wangi tubuhnya, seolah menghentikan logikaku. “Tanya Maurit saja, dia pasti tahu,” saranku, meyakinkan Tantri. Padahal, dalam hati, aku ingin mengerjakan soal itu sekilat mungkin. Malang, jari tanganku gemetar ketika mencoba mengerjakan soal itu. Tantri, sejak itu semakin dekat saja denganku. Bila bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran telah usai, Citra yang jadi sahabat dekatya, pernah sekali waktu mengerlingkan matanya padaku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Mungkin, menurut dia, perhatian serta banyaknya yang kami lalui bersama telah membuatnya jatuh hati padaku. Citra memang tidak salah bila ia merasakan sesuatu di hatinya. Rasa yang amat mendalam kurasa telah membekas di lubuk hatinya. Tapi aku pura-pura saja tidak tahu. Jujur, bila ia mengungkapkan perasaannya, pastilah akan bertepuk sebelah tangan. Sama sekali, aku hanya menganggap dia sebagai teman biasa. Tak lebih. “Kamu mau jujur nggak sama aku,” desak Citra pada jam pelajaran olahraga, senin siang. Apri l 2013 ©GABE

Sebenarnya aku sudah tahu apa maksudnya tetapi kucoba mengernyitkan dahiku seakan aku bingung apa maksudnya. “Jujur apa?” kataku sedikit tersenyum. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” bujuknya meyakinkan dirinya sendiri. “Ya,” jawabku singkat. Citra lalu menaruh selembar kertas di saku bajuku. Ada bau wangi di kertas itu. Kata orang-orang, kertas itu namanya kertas bunga, yang biasa dipakai bila ingin mengungkapkan perasaaan kepada pujaan hati. Isinya pasti kata-kata romantis dibumbui kata-kata mutiara. Aku diam saja, sejenak. Kubuka kertas itu perlahan. Betul, Citra jatuh cinta padaku. Aku bingung harus bagaimana. Toh, dia bagiku hanya sebagai teman biasa yang enak diajak bicara, pintar berdiskusi, meski ia sedikit munafik soal asmara. Citra agaknya paham soal perasaanku padanya. Ia sadar, Tantri memang lebih sempurna ketimbang dia. Paling tidak, itulah menurut penilaianku.

Jumat siang biasanya segerombolan anakanak berdinas putih abu-abu, lebih memilih bolos ketika pelajaran kimia tiba. Gurunya cerewet, materinya susah dicerna, penuh angka-angka berpangkat ditambah kotakkotak yang hingga saat ini aku tidak mengerti apa maksudnya. Benny, salah seorang siswa kelas sebelah, adalah orang yang biasanya mengajak bolos, termasuk aku di dalamnya. Aku menurut saja, hitung-hitung untuk lebih mendekatkan diri kepada mereka, yang sudah

“Dasar. Memangnya aku pembantumu?” sergahnya. Aneh, besoknya tas kecil yang sudah turun temurun terpakai itu, sudah tersimpan rapi di laci mejaku. Hampir tiap minggu kejadian serupa berulang, terlebih bila pelajaran kimia yang gurunya sering hamil sudah memasuki kelas sebelum lonceng. Lebih bahagia lagi ketika tersiar kabar; ibu guru kimia sudah melahirkan. Sontak saja, sejagat sekolah berbahagia mendengar kabar itu. Paling tidak, satu bulan ke depan, panasnya tensi pelajaran kimia akan sedikit berkurang. Kepala Sekolah, yang sangat mahir dalam berbagai bidang pelajaran apalagi eksakta, didaulat sebagai gantinya, dengan suasana belajar yang sedikit mencair. “Tan,” ucapku pelan. Ia menoleh. Sungguh pandangan matanya menciutkan nyaliku saat itu. Di mata itu, aku melihat keindahan yang sungguh luar biasa. “Ada apa?” sahutnya. Gerakan bibirnya yang mungil menambah keraguan hatiku. Yang lebih aneh, Tantri yang pagi itu mengenakan sedikit hiasan lipstick di bibirnya malah menerbangkan anganku entah ke mana. Darahku berdesir, jantungku berdegup kencang. Kedua kakiku mulai berontak saling menindih. “Wah, rasanya pasti enak,” bisik iblis dalam hatiku. Segera saja kutepis pikiran itu. “Nanti malam aku ke rumahmu ya,” aku memberanikan diri. Sejujurnya, aku ingin menumpahkan isi hatiku padanya saat itu juga. Tapi kuputuskan tidak dulu. Suasana di sekolah sepertinya kurang mendukung. “Boleh. Datang aja, siapa larang,” jawabnya enteng saja. “Oh ya, mau ngapain ya,” potongnya buruburu. Aku tak langsung menjawab, guru fisika yang 014

sedang menuliskan kisi-kisi ujian di papan tulis membuyarkan pikiranku. Pura-pura aku sibuk meraih pulpen dari tasku. “Oh kalau soal-soal begitu, pasti gampang,” hiburku dalam hati, mengalihkan pikiranku. “Pokoknya tunggu saja nanti ya,” aku memastikan kedatanganku. Tantri cuma mengangguk saja. Semburat senyum di wajahnya sedikit meyakinkanku. Aku melirik jam tangan warna pink milik Pasu. Jarum kecil menunjuk di antara angka satu dan dua, dengan jarum panjang yang mendekati angka enam. Hatiku sedikit lebih lega, sebentar lagi lonceng sekolah pasti berbunyi.

“Iya, aman. Tenang aja,” Tantri sedikit menghela nafas. “Dingin ya,” lanjut Tantri mengepalkan tangannya. Wah, malam itu Tantri memang sungguh berbeda. Sangat berbeda pokoknya. “Kok, kamu diam saja,” sergahnya memecah keheningan. Kalau saja ia tak bertanya seperti itu, aku mungkin hanya akan diam saja. Bibirku terkunci rapat, otakku tak mampu bekerja. Beruntung, Tantri yang dasar supel, akhirnya menembus tembok kebuntuan malam itu. Aku hanya mengangguk-angguk saja saat ia mulai bercerita tentang seorang pria yang pernah dekat dengannya. Pria itu, menurut Tantri, sangat ganteng, umurnya tiga tahun lebih tua. Sayang, mereka masih satu rumpun keluarga. “Tan,” sergahku. “Biasa saja. Ada apa sih, ?” suaranya sedikti meninggi. “Nggak ada apa-apa kok,” kataku berpura-pura. Sebenarnya, aku ingin langsung saja mengungkapkan perasaanku saat itu juga. Aku ingin katakan, aku sangat mencintai dia. Aku juga ingin berjanji akan setia sampai ajal tiba. Demi cintaku padanya, aku bahkan rela mengorbankan apa saja. Apa lacur, walau hanya mengucapkan tiga penggal kata saja, susahnya setengah mati. Padahal, untuk bercerita tentang awal mula Danau Toba, aku paling jago. “Kita sudah berteman berapa lama ya,” suaraku kini terdengar serak. “Masa nggak ingat. Mulai kelas dua SMA,” Tantri ternyata tidak lupa. “Berarti sudah jalan dua tahun ya,” ujarku menghela nafas.

Cahaya bulan sabit menuntun langkah kakiku menyusuri jalanan beraspal yang masih sedikit basah. Malam itu, aku sudah siap luardalam. Sepatu baru yang sengaja kubeli minggu lalu seakan punya mata sendiri, menghindari lubang jalanan yang dipenuhi air. Sesekali aku tersenyum sendiri, membayangkan masa-masa di sekolah bersama Tantri, dimulai sejak duduk di kelas dua SMA. Aneh memang, walau masih satu kampung, aku tidak pernah dekat dengan pujaan hatiku itu. Kata Tantri, itu karena kami tidak pernah duduk satu kelas apalagi belajar di sekolah yang sama. Dia sekolah di SD 1 sedangkan aku di SD 2. Lain SD beda SMP. Aku di SMP Negeri sedangkan dia lebih memilih perguruan Katolik, namanya SMP Kartini. Jaraknya kirakira empat kilometer dari rumahku. Tikungan terakhir kini persis di depanku. Sejenak aku menoleh ke sebelah kanan persis di pusat tikungan itu. “Coba ini bukan jurang, pasti cocok dibangun rumah toko,” aku berpikir sedikit akademis, mencoba menerapkan ilmu ekonomi yang diajarkan guru berambut keriting di sekolahku.

Tantri tak menjawab. Dari mimik wajahnya, sepertinya ia sudah tahu apa maksudku. Aku serba salah. Sikapku semakin tak menentu. Udara yang dingin tak membuatku ciut, malah ingin sekali membuka bajuku. Membasuh keringat yang kini telah membasahi sekujur tubuhku. Aku benar-benar bingung. Pilihannya sangat sulit bagiku. Sudahlah, apapun yang terjadi, rasa ini harus kusampaikan. Aku tak perduli. “Tantri, aku cinta kamu. Aku ingin kamu jadi pacarku selamanya,” kataku memberanikan diri, diikuti jurus langkah seribu. Jiwaku terasa hilang terangkat ke langit ke tujuh. Rasa indah yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jujur, aku memang egois malam itu. Aku seharusnya menunggu jawaban dari Tantri bukan malah kabur tanpa sepatah katapun. Namun, itu terpaksa kulakukan. Memandang wajahnya saja aku sudah tak bernyali apalagi harus menunggu jawaban dari bibir manisnya. Yang penting, aku sudah sampaikan perasaanku. Diterima atu ditolak itu urusan nanti. Titik.

Aku berhenti. Kini aku sudah berdiri tepat di hidung rumah Tantri. Cahaya lampu di teras rumah meyakinkan langkahku. Tapi aku masih saja memelototi rumah bertingkat dua itu. Sedikit sepi, mungkin akibat hujan tadi sore. Ayah-Ibu Tantri sepertinya langsung tidur meski jarum jam masih menunjuk angka delapan. “Mantap, ini baru ada dukungan,” gumamku tersenyum kecil. “Duduk di sini saja ya,” pinta Tantri, lembut. Suaranya sedikit parau, entah kenapa. “Aman kan?” selidikku meyakinkan situasi rumah. Untuk seusiaku, duduk berduaan apalagi berlainan jenis masih agak gamang di kampungku. Adat-istiadatnya masih kental. Tidak tahu untuk sekarang, mungkin sudah banyak berubah. Apri l 2013 ©GABE

015

dalam apartemen ketimbang istana keuskupan. Dia enggan disopiri mobil limousine dan memasak daging sendiri. Dalam ucapan pertama setelah terpilih, alih-alih memberikan pemberkatan, Paus Fransiskus justru memecah tradisi dengan meminta doa dari sekitar 150 ribu orang yang berkumpul di alun-alun Santo Peter. 4. Dia hadir dengan kontroversi Bergoglio menentang pernikahan sesama jenis dan aborsi. Ini tentu bukan hal yang mengejutkan buat seorang pemimpin gereja Katolik yang secara sosial dikenal konservatif. Namun, saat menjadi kardinal, sikap Bergoglio berbenturan dengan pemerintahan Argentina di bawah Presiden Cristina Fernandez de Kirchner yang mendukung pernikahan sesama jenis dan distribusi bebas alat kontrasepsi.

Jorge Mario Bergoglio Kisah Paus dari Negeri Maradona

J

orge Mario Bergoglio akhirnya terpilih sebagai Paus baru menggantikan Benediktus yang mengundurkan diri pada 28 Februari 2013. Terpilih dalam pemungutan suara di hari kedua konklaf, Rabu (13/3/2013) sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Inilah Paus pertama dari negeri Maradona.   Terpilihnya Kardinal asal Argentina ini disambut air mata dan seruan gembira di seluruh dunia. Sebagai Paus ke-266, Jorge Mario yang kini berusia 76 tahun ini kemudian menggunakan nama Paus Fransiskus untuk nama kepausannya. Nama yang belum pernah dipakai paus-paus sebelumnya dalam sejarah gereja. Dengan demikian, Bergoglio akan disebut sebagai Paus Fransiskus I. Ternyata, sebutan yang pertama bukan cuma soal nama. Ada hal lain yang menjadikan Bergoglio serba pertama. Dilansir dari USA Today, Bergoglio adalah orang pertama dari kalangan Ordo Jesuit yang menjadi paus. Jesuit adalah ordo relijius dalam Gereja Katolik pada 1534 yang didirikan Santo Ignatius Loyola. Ordo ini diikuti banyak kalangan intelektual Katolik dari seluruh dunia. Bergoglio juga menjadi paus yang hanya memiliki satu paru-paru. Dilansir dari Assosiated Press, sejak remaja, Bergoglio harus hidup dengan satu paru. Dia harus merelakan sebelah parunya diangkat karena mengalami infeksi.   Cerita lain juga mengiringi terpilihnya Paus Fransiskus. Lahir di negara penggila sepakbola, ia ternyata penggemar klub terkenal Argentina, San Lorenzo, juga fans berat bintang Argentina, Lionel Messi. Bergoglio tercatat memiliki kartu keanggotaan San Lorenzo empat tahun lalu. Sebagai bentuk apresiasi, klub tersebut mencantumkan sejumlah gambar Bergoglio berfoto bersama petinggi klub di situsnya.   Sebelum dilantik menjadi Paus, pria yang lahir pada 17 Desember 1936 ini adalah Uskup Agung Buenos Aires. Bergoglio adalah anak pertama dari lima bersaudara. Pemegang gelar master di bidang kimia dari Universitas Buenos Aires. Namun, alih-alih meneruskan keahliannya itu, Bergoglio memilih bergabung ke seminari di Villa Devoto dan masuk ke Serikat Jesus pada 1958.   Paus Fransiskus juga menyandang gelar di bidang filsafat dari Colegio Maximo San Jose di San Miguel. Ia juga sempat mengajar studi literatur dan psikologi di Colegio de la Inmaculada di Santa Fe, Buenos Aires. Sesudah itu, dia belajar filsafat dan teologi di Faculty of San Miguel, seminari di

San Miguel. Dia kemudian mengajar di seminari ini sampai mendapat gelar profesor.   Pelayanan gereja Bergoglio dimulai pada 1973. Pada 1980, dia menjadi rektor seminari San Miguel hingga 1986. Gelar doktoralnya diraih di Jerman. Saat menjadi kardinal, Bergoglio dikenal sebagai sosok yang rendah hati, konservatif, dan memiliki komitmen kuat terhadap keadilan sosial. Lima Hal Penting Tentang Paus Fransiskus 1. Namanya menceritakan banyak hal tentang dirinya Tidak seperti paus-paus belakangan, seperti Paus Yohannes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus tidak punya angka setelah namanya. Sebab, dia adalah paus pertama yang menggunakan nama Fransiskus. Nama Fransiskus dipilih Bergoglio untuk menghormati Santo Fransiskus dari Assisi, seorang yang membaktikan dirinya pada orangorang miskin dan melarat. Santo Fransiskus dari Assisi lahir dari orang tua kaya-raya saudagar pakaian. Namun, dia memilih hidup compang-camping di antara pengemis di Basilika Santo Petrus di Roma. 2. Dia bukan paus pertama yang berasal dari luar Eropa Paus Fransiskus adalah paus pertama non-Eropa dalam sejarah modern. Tapi kalau melihat sejarah kepausan pada abad ke-8, seorang dari Syria pernah jadi paus. Dia adalah Paus Santo Gregorius III yang memimpin gereja dari tahun 731-741. Ada juga paus yang berasal dari Betlehem (Santo Evaristus, dari tahun 97-105), Yerussalem (Paus Theodorus I, dari tahun 642-649), dan dari Libya (Paus Santo Viktorius I, dari tahun 189-199), serta sejumlah paus lain dari Syiria di akhir millenium lalu. 3. Dia adalah paus masyarakat Dalam beberapa hal, Paus Fransiskus benar-benar seorang pria yang normal. Dia memilih transportasi umum setiap hari. Bergoglio juga memilih tinggal

Apri l 2013 ©GABE

5. Dia menghadapi sejumlah tantangan berat Paus Fransiskus memperoleh posisi tertinggi gereja Katolik di tengah guncangan kasus kekerasan seksual dan korupsi oleh gereja. Paus juga perlu menemukan cara kerja baru seiring bergesernya cara pandang umat Katolik. Di Amerika, sebagai contoh, sebanyak 90 persen umat Katolik menggunakan alat kontrasepsi dan 82 persen menganggapnya sebagai hal yang lumrah secara moral.   Serba Unik Nama Paus   Dalam rentang waktu sekitar 2000 tahun sejarah kepausan, ada sejumlah paus dengan nama-nama unik. Ada juga nama populer yang sering dipakai oleh mereka yang terpilih sebagai paus. Menurut Religion News Service, 10 paus dengan nama unik tersebut adalah: 1. Telesphorus (masa kepausan 125-136 M) 2. Eleutherius ( 174-189 M) 3. Zephyrinus (198-217 M) 4. Eutychianus (275-283 M) 5. Miltiades (311-314 M) 6. Hormisdas (514-523 M) 7. Zosimus (417-418 M) 8. Symmachus (498-514 M) 9. Simplicius (468-483 M) 10. Vigilius (537-555 M) Ada juga nama yang paling banyak dipilih sebagai nama paus. Nama tersebut adalah: †† †† †† †† †† †† †† †† †† ††

Yohanes (dipakai 23 kali) Benediktus (16 kali) Gregorius (16 kali) Klemens (14 kali) Leo (13 kali) Innosensius (13 kali) Pius (12 kali) Stefanus (9 kali, ada juga yang menyebut 10 kali) Bonifatius (9 kali) Alexander dan Urbanus (masing-masing 8 kali) TIM GABE

016 Paus memegang kaos bola klub kesayangan, San Lorenzo FC

Asap hitam: pemilihan masih berlangsung - Asap putih : paus baru telah terpilih


TABLOID GABE EDISI DUA