Page 1

TUGAS KELOMPOK FILSAFAT ILMU

DOSEN PEMBIMBING MASDUKI, M.AG

“RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU”

Disusun Oleh : SYAMSUL BAHRI 11043101652

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM

RIAU


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya Ilmu memiliki dua macam objek, yaitu material dan objek formal. Dan ilmu sebagai objek filsafat adalah bahwa objek filsafat lebih luas disbanding dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoaln yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan non empiris. Objek ilmu terkait dengan filsafat pada objek empiris, dan fungsi filsafat itu sendiri adalah kreatif, menetapkan nilai, dan menetapkan tujuan dan menuntut pada jalan yang baru.

B. Tujuan 1. Bahwa kita dapat mengetahui, mengenal ruang lingkup dan filsafat ilmu. 2. Kita dapat mengetahui siapa tokoh-tokoh dan ilmu filsafat itu sendiri. 3. Dan juga kita dapat mengetahui tujuan dari filsafat ilmu itu sendiri.


BAB II PEMBAHASAN A. Tentang Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. 1 Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui. Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini ? Dibatas manakah ilmu mulai dan dibatas manakah dia berhenti ? Kemanakah saya harus berpaling dibatas ketidak tahuan ini ? apakah kelebihan dan kekurangan ilmu ? Mengetahui kekurangan bukan berarti merendahkanmu, namun secara sadar memanfaatkan, untuk terlebih jujur dalam mencintaimu. Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berdiri dipuncak yang tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya.dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.

1

Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1990


B. Pengertian Filsafat Ilmu 1. Filsafat Filsafat dalam bahasa inggris, yaitu : philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa yunani : philosophia, yang terdiri atas dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, praktis, intelegensi). Jadi secara etimoilogis, filasafat berarti cinta, kebijaksanaan, atau kebenaran (love of windom). Orangnya disebut filosof atau dalam bahasa arab disebut failasuf. Adapun pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah: a. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematis serta lengkap tentang seluruh realitas. b. Upaya untuk melukiskan hakekat realities akhir dan dasar serta nyata. c. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan, sumbernya, hakikatnya, ke absahannya dan nilainya. d. Penyelidikan kritis atas pengadaan-pengadaan dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. e. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda katakana dan mengatakan apa yang anda lihat. Filsafat, dapat diibaratkan pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini diibaratkan sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang menenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat di andalkan. Setelah penyerahan dilakukan, maka filsafat pun pergi. Dia kembali menjelajah laut lepas, berspekulasi dan menerantas. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada Ilmu pengetahuan-pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.2

2

Ibid hal.24


Pengertian filsafat menurut para filosof : Pythagoras (572-497 SM) adalah filosof yang pertama kali menggunakan kata filsafat, dia mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi kedalam tiga type : mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tujuan kebijaksanaan dalam pandangannya emnyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam hal keagamaan, yang intinya mencari keutamaan mental. Plato (427-347 SM) menyatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolute (keduanya sama dalam pandangannya). Aristoteles (384-322 SM ) tokoh utama dalam filosof klasik, mengatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dan wujud. Karena itu ia menamakan filsafat “teologi� atau filsafat pertama. Al-Farabi (W. 90 M) seorang filosof muslim terbesar sebelum ibnu sina berkata : “filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya. Ibnu Rasyid (1126-1198 M ) berpendapat bahwa filsafat merupakan pengetahuan otonom yang perlu dikaji oleh manusia karena dia dikaruniai akal, Al-Qur’an filsafat mewajibkan manusia berfilsafat untuk menambah dan memperkuat keimanan kepada Tuhan. Immanuel Kant (1724-7804 M) mengatakan bahwa filsafat itu ilmu dasar segala pengetahuan. Sultan Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf, yang dimaksud dengan insaf adalah berpikir dengan teliti, menurut aturan yang pasti. Dapat diuraikan dari definisi yang ada, bahwa dengan jelas menunjukkan cirri dan karakteristik berpikir secara filosofi, intinya adalah upaya secara sungguh-sungguh dan menggunakan akal pikiran sebagai alat utamanya untuk menentukan hakikat segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu. Apa yang sebenarnya ditelaah filsafat ? selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia (filsafat) menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai mempermasalahkan hal-hal yang pokok, terjawab masalah yang satu, dia pun mulai meramabah


pertanyaan lain. Tentu saja tiap kurun Zaman mempunyai masalah yang merupakan mode pada waktu itu. 3 2. Ilmu Ilmu berasal dari bahasa Arab, alima ya’lamu, ‘ilman, dan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti mengerti, memahami benar-benar, yaitu pengetahuan tentang satu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan). Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli diantaranya adalah : Mohammad Hatta, mendefiniskan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dan suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam. Ralph Ross dan Ernest Van Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris rasional, umum dan sistematis, dan keempatnya serentak. Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana. Ashley Montagu, guru besar antropologi di Rutgurs University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. Dari keterangan para ahli tentang ilmu ini, dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang memiliki ciri, tanda, isyarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka, dan bersusun timbun. Setelah dipahami pengertian filsafat, ilmu dan pengetahuan, maka dapat disimpulkan bahwa Filsafat Ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, akan tetapi filsafat dan ilmu mereka memiliki perbedaan dan persamaan.

3

Ibid hal.25


C. Pendekatan Umum pada Filsafat Ilmu (Hakikat, Ruang Lingkup ). Sebagai suatu disiplin Ilmu, Filsafat ilmu pertama-tama berusaha menjelaskan unsure-unsur yang tertlibat dalam proses penelitian ilmiah, yaitu : prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argument, metode penyajian dan penghitungan, praandaian-praandaian metafisik dan seterusnya. Dalam bentuk kontemporer filsafat ilmu kemudian menjadi suatu topik bagi analisis dan diskusi yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya , yaitu : etika, logika dan epistemologi ( teori pengetahuan). Disepanjang perkembangan filsafat, topik yang digeluti oleh mereka, (seandainya hidup sekarang akan disebut filsuf ilmu) terbagi atas dua jenis utama, yaitu : ontologis dan epistemologis. Pembagian ini mencerminkan pembedaan yang telah berlangsung lama antara objek dan subjek yakni, antara alam yang diperhatikan untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah, dengan manusia itu sendiri. Keasyikan para filsuf ilmu, yakni perhatian mereka atas yang ada (being) kerap tumpang tindih dengan bidang-bidang ilmu itu sendiri. Karena mereka telah berhubungan dengan persoalan umum. Karena cakupan permasalahannya sangat luas, filsafat ilmu telah menarik perhatian orang dari latar belakang dan minat-minat profesional yang sangat berbeda-beda. Beda orang, beda cara berpikirnya dalam mendekati filsafat ilmu. Mulai dari yang sangat abstrak dan matematis hingga yang konkret dan historis dan dari yang sangat positivistik hingga yang sangat teologis. 4 Dengan demikian, tak dapat ditarik garis pemisah yang jelas antara analisis filosofis teori-teori ilmiah dengan analisis statistik prosedur-prosedur ilmiah dengan eksperimen-eksperimen. Juga tak dapat di tarik garis pemisah yang jelas antara filsafat ilmu dengan sejarah ide-ide ilmiah. Perdebatan barubaru ini tentang penulisan sejarah ilmu yaitu tentang maslah-masalah dan metode-metode yang menyorotkan cahaya pada sejarahnya, menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan khusus yang membawa seorang sejarawan ilmu tiba pada analisisnya mengenai perubahan ilmiah mau tidak mau bergantung pada sikap-sikap dan komitmen-komitmen filosofisnya.

4

Jerome R.Ravertz, Filsafat Ilmu Sejarah dan Ruang lIngkup Bahasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009


Oleh karena itu, penyelidikan masa kini pada filsafat ilmu tidak memuat upaya prasangka terhadap persoalan utama yakni apakah metode-metode analisis logis saja yang syah ataukah pada titik tertentu topiknya bertumpang tindih secara sah dengan topik-topik yang berdekatan dengannya seperti psikologi kognitif, sejarah ilmu, dan epistemologi. Sehubungan dengan persoalan ini para filsuf ilmu dibagi secara tajam. Sebagian menolak aliansi apapun kecuali dengan logika. Sementara yang lainnya menggarap hubunganhubungan historis dan prilaku yang lebih luas dan kedua sudut pandang ini harus diperhitungkan. 5

D. Tujuan Filsafat Ilmu 1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu. 2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis. 3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalam studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan ilmiah dan non ilmiah. 4. Mendorong pada calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya. 5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antar ilmu dan agama tidak ada pertentangan.

E. Manfaat Mempelajari Filsafat Ilmu Sekurang-kurangnya ada empat faedah mempelajari filsafat agar berlatih berpikir serius, agar mampu memahami filsafat, agar mungkin menjadi filosof dan agar menjadi warga negara yang baik. Kemampuan berpikir serius itu mendalam adalah salah satu cirinya, tidak akan dimiliki tanpa melalui latihan, belajar filsafat merupakan salah satu cirinya, belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh 5

Ibid hal.92


kemampuan berpikir serius, kemampuan ini akan memberikan kemampuan memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam sehungga kita bisa memahami akan hakikat dari filsafat dan ilmu itu sendiri. 6 Dengan dimilikinya kemampuan berpikir serius, seseorang mungkin saja mampu menemukan rumusan baru dalam penyelesaian masalah dunia, mungkin itu berupa kritik, mungkin berbentuk usul, jika argumennya kuat usul atau kritik itu menjadi suatu pemikiran orang menjadi filosof.

6

Tafsir Ahmad, Filsafat Ilmu, PT Rosdakarya, Bandung, 2004


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari uraian makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa Filsafat merupakan upaya yang secara sungguh-sungguh dengan menggunakan akal dan pikiran sebagai alat utamanya untuk menemukan hakikat segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu. Sedangkan Ilmu merupakan sebagian pengetahuan yang memiliki ciri, tanda, isyarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka, dan bersusun timbun. Jadi, Filsafat Ilmu adalah kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, akan tetapi filsafat dan ilmu mereka memiliki perbedaan dan persamaan.

B. Saran Kami menyadari bahwa didalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu Saran, Kritik dan Masukan yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Jerome.R. Ravertz, 2009, Filsafat Ilmu-sejarah dan ruang lingkup bahasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Jujun S.Suriasumantri, 1990, Filsafat Ilmu-sebuah pengantar populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta Tafsir Ahmad, 2004 ,Filsafat Ilmu, PT Rosdakarya, Bandung http://filsafat ilmu.com

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu  

Makalah Ruang Lingkup Filsafat Ilmu (UTS Sibernetika) UIN SUSKA RIAU

Advertisement