Issuu on Google+

Buletin bulanan IKAMARU Jakarta dan Sekitarnya edisi XI April 2013/ blog: suyuthionline.blogspot.com

Salam Redaksi

Ke-Ikamaru-an

Love Inoleh:Ikamaru Jakarta Muhammad Fahdi* “Ikamaru Jakarta tak pernah mati.” Mungkin itulah celetukan kata yang cocok ketika membincangkan Ikamaru Jakarta, minimal di antara anggota Ikamaru Jakarta sendiri. Maksimal tak terkirakan, mungkin para malaikat di atas sana turut membincangkan, siapa tahu saja. Betapa tidak, sejak Ikamaru Jakarta resmi berdiri, mulai 2 tahun belakangan ini merupakan puncaknya kejayaan Ikamaru Jakarta. Sebenarnya tak perlu berlebihan, tapi kalau memang lebih kenapa tidak diungkapkan, toh almaghfurlah Yi Humam pernah dawuh menggunakan istilah kata tahaddust bin ni’mah’ atau berkabar-kabar akan kenikmatan. Memang merupakan sebuah kenikmatan bagi para anggota Ikamaru Jakarta saat ini, dengan kondisi ‘jaya’-nya mereka turut me rasakan berkah dari berbagai lini. Minimal bangga menyandang sebagai anggota Ikamaru Jakarta, atau dengan sebutan barunya Ikamarues Jakes. Coba saja tanya aktivis-aktivis di UIN Jakarta, UKM maupun organisasi ekstra kampus perihal Ikamaru Jakarta, minimal tahu atau bahkan heran dengan keaktifan dan kehebatan anggota-anggota Ikamaru Jakarta. Karena memang mereka sudah malangmelintang dan menjadi pentolan-pentolan yang memegang peran penting di bidangnya masing-masing. Dan tentu saja di kelas mereka juga merupakan pihak yang diperhitungkan, dilihat dari IP mereka yang selalu di

dok.Ikamaru

atas rata-rata. Itu baru kampus UIN Jakarta, belum lagi kampus lain, dan non-kampus. Selain itu semua hal yang cukup membanggakan adalah keberhasilan anggota Ikamaru dalam memulai usaha dan mengembangkan usahanya masing-masing. Tentu saja halhal tersebut belum cukup meyakinkan tanpa adanya data, maka berikut akan dipaparkan datanya walau belum mencakup semua. Kita mulai dari angkatan lama ke angkatan muda, Khoirul Anwar (2005) mantan ketua UKM Pramuka UIN dan sedang aktif mengajar Pramuka dan sebagai guru SD, Ulil Anshor (2006) dengan usaha steamnya, Rudi Ismail (2006) yang bekerja di salah satu Bank Syariah terbesar, Muhammad Jazuli (2006) mantan wakil ketua BEMF (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas) Syariah dan Hukum yang sekarang bekerja di salah satu koperasi besar di Pati, Ali Rif ’an (2006) Mantan Ketua FLP (Forum Lingkar Pena) Ciputat, Muhammad Muchlisin (2006) mantan ketua BEMJ (Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan) Pendidikan Biologi yang sekarang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat ICRS (Indonesian Consortium For Religious Studies). Nur Hasan (2007) yang menjual kemampuan IT dan desainnya, Muhammad Sofwan (2007) mantan ketua BEMJ Manajemen

Bersambung ke h.7 kol. 1

Assalamualaikum Wr.Wb Alhamdulillah, di sela-sela sempitnya waktu yang penuh dengan kesibukan, The Suyuthi Institute kembali hadir di tangan para pembaca. Hal ini tidak luput dari kerja keras semua elemen yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Madrasah Raudlatul Ulum (IKAMARU) cab. Jakarta dan Sekitarnya. Pada edisi sebelas kali ini, The Suyuthi Institute terbit dengan delapan halaman, dengan tambahan rubrikrubrik baru yang belum ada pada edisi sebelumnya. Sebuah inovasi baru memang, mengingat semangat dan tekad anggota Ikamaru Jakes (sebutan ala anak Ikamaru Jakarta dan Sekitarnya) yang bernafsu untuk terus berkarya, khususnya dalam bidang kepenulisan. Opini kritis tentang UN yang “amburadul”, esai tentang kekerasan TNI, dan juga saastra-sastra yang menginspirasi diharapkan dapat menghibur pembaca sekaligus menjadi bahan pandangan baru mengenai dinamika pemerintahan. Selain itu, disertakan pula foto-foto kegiatan Ikamaru beberapa bulan terakhir ini, bukan bermaksud untuk narsis atau lain sebagainya, namun sebagai bahan “tahadus bin ni’mah” atas segala karunia Allah. Bahwa rasa kekluargaan dan memoar untuk terus menjaga dan melestarikan ajaran yang telah dibekalkan dari Raudlatul Ulum dulu. Terlepas dari itu semua, seluruh anggota redaksi mengucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran yang terlibat dalam penerbitan buletin bulanan ini. Tak lupa pula, ucapan beribu terimakasih dan takdim kepada para Asatid Pesantren Raudlatul Ulum, yang mana telah ikhlas mentransfer berbagai macam ilmu kepada santrinya, sehingga membentuk pribadi yang unggul, dan ulet dimanapun tempatnya. Akhir kata, semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan kasih sayang dari Allah. Wassalam

Kritik dan saran yang membangun bisa disampaikan lewat e-mail: ikamarujakes@gmail.com/ atau twitter: @suyuthionline. Alamat redaksi: Jln. Pesanggrahan no.63, Ciputat, Tangerang Selatan. telp.085717422184/ blog: suyuthionline.blogspot.com


2

SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

OPINI

Ujian “Amburadul” Nasional Oleh: M. Ridwan Zain* Rencana Mendiknas untuk mengurangi kecurangan saat UN, de ngan membuat 20 soal yang berbeda. Rencana baru tersebut tampaknya membawakan hasil, yaitu pendistribusibusian soal yang kalang-kabut dan berdampak pada diundurnya UN tahun ini di beberapa provinsi. Pengunduran jadwal ini terjadi di 11 provinsi, yakni di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. Dikarenakan salah satu perusahaan percetakan dari enam perusahaan yang memenangkan tender soal UN, mengalami keterlambatan dalam pengiriman soal UN ke daerahdaerah. Ialah PT. GHALIA INDONESIA, pihaknya mengaku bahwa pembuatan soal sudah selesai jauh-jauh hari, namun yang membuat terlambat adalah pada saat pengepakan soal-soal. Seperti yang diberitakan KOMPAS beberapa hari lalu, kejadian ini ditanggapi beragam oleh peserta ujian, ada yang menjadikan kejadian ini sebagai berkah, dan ada juga yang kecewa. Para siswa yang kecewa, mereka merasa telah mempersiapkan ini jauh-jauh hari, malah diundur begitu saja. Siswa yang menganggap kejadian ini sebagai berkah, beranggapan bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk belajar lagi dan mengisi waktu mereka untuk mengambil kursus agar lebih siap menghadapi ujian. Kejadian ini tidak hanya membuat para siswa kecewa, namun juga para guru. Mereka khawatir kejadian ini akan mempengaruhi mental murid-murid mereka. Bagaikan pasangan calon suami-istri yang sudah mempersiapkan pernikahan berbulan-bulan lamanya, lalu dibatalkan begitu saja gara-gara sesuatu yang sepele, mungkin analogi

sederhananya seperti itu. Ujian Nasional yang harusnya dilaksanakan serempak di seluruh Indonesia, kini hanya terlaksana di Indonesia bagian barat dan timur. Jika kenyataannya seperti ini, seharusnya istilah ujian nasional diubah menjadi ujian regional. Bagaimana, setuju ? Ujian susulan ini juga rawan berpotensi kecurangan, karena soal ujian sama de ngan soal yang dikerjakan sebelumnya. Bisa saja terjadi kasus seperti soal dibocorkan, dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, atau malah yang parah diperjual-belikan. Ini menimbulkan prasangka dari berbagai pihak, juga kecemburuan bagi para siswa yang mengerjakan ujian terlebih dahulu. Untuk menanggulangi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, Mendiknas dirasa perlu membuat naskah soal baru agar berbeda dengan soal sebelumnya, sebagai pertimbangan stabilitas publik. Selain itu, pemerintah harus mengonsep matang-matang sistem yang mereka buat, agar tak ada lagi kejadian di tahun depn yang serupa. Nah, akhirnya, jika persiapan Ujian nasional setiap tahunnya tidak semakin baik dan akibat dari Ujian nasional malah menjadi momok menakutkan bagi pelajar. Ada baiknya kita menimbang pendapat dari ibu Badariyah Fayumi. “UN membuat semua pihak tertekan. Apalagi, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda sehingga akan sulit mengukur kemampuan anak dari UN semata. “UN merupakan bentuk kekerasan struktural yang dilakukan negara.”

*Penulis adalah ikamaru 2011 & mahasiswa Perbandingan Agama UIN Jakarta


SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

ESAI

3

Kesatria (ala) TNI Oleh : Moch. Abdul Kholiq*

Nasib negara hukum kini di ambang kehancuran. Setidaknya, spekulasi inilah yang sedang berkembang di masyarakat saat ini. Setelah rentetan kekerasan selama beberapa tahun terakhir mencuat dipermukaan, pertikaian di Aceh, Maluku, Papua, Ambon dan lain-lain. Akhir-akhir ini, masyarakat kembali disuguhi drama penyerangan Lapas Kelas II B Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta oleh 11 anggota Kopassus. Sebelas pasukan membawa 6 senjata api dari markas pelatihan di Gunung Lawu, yaitu 3 jenis senjata AK-47, 2 pucuk AK-47 replika, dan satu pucuk pistol SIG Sauer replika. Tindakan anarkis yang merenggut nyawa empat tahanan --Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi dan Yohanes Juan Manbait-- Lapas itu dilatarbelakangi pembunuhan Sersan Satu Santosa (anggota Kopassus) di Hugo’s Café. Aksi anggota Kopassus ini dianggap telah menggoreskan tinta hitam bagi penegak hukum di Indonesia. Para penegak hukum yang seharus nya menjaga ketertiban dan keamanan negara, malah berbuat sebaliknya, menerjang hukum, menghalalkan pelbagai upaya demi membela rasa kehormatan satuan. Meskipun begitu, dengan alibi apapun, tindakan main hakim sendiri dan menghilangkan nyawa orang lain tidak bisa dibenarkan. Adalah menarik dari peristiwa ini, ketika Brigjen TNI Unggul Yudhoyono, dalam konferensi pers di Jakarta mengatakan, “Bahwa secara kesatria dan dilandasi kejujuran serta tanggung jawab, serangan LP Cebongan, Sleman, pada 23 Maret 2013 pukul 00.15 WIB diakui dilakukan oleh oknum anggota TNI AD, dalam hal ini Grup 2 Kopassus Kartasura yang mengakibatkan terbunuhnya empat tahanan,” (Kompas, 7 April, 2013) pernyataan singkat itu, seolah-olah membuka pemahaman kita tentang kehidupan TNI. bahwa, masyarakat sejatinya mengapresiasi jiwa kesatuan yang anggota TNI miliki, karena, masyarakat kini mulai kehilangan jati diri sebagai NKRI. Namun perlu digarisbawahi, pelanggaran hukum –oleh aparat penegak hukum-- yang mengancam keselamatan dan ketertiban umum, idealnya harus mendapat perhatian khusus, dalam artian, Mahkamah Militer harus transparan menyajikan proses hukum kepada masyarakat, serta Mabes TNI tidak bisa mempengaruhi Mahkamah Militer dalam persidangan. Selebihnya, terkesan absurd. Bahwa, dalam perjalanan mentasbihkan sebagai seorang ksatria membunuhi orang tak berdaya tanpa persenjataan, main keroyok menodongkan senjata, menyerang

malam hari serta melarikan diri setelah mengeksekusi. Lantas, saya mulai bingung, dimana jiwa ksatria? Mungkinkah ksatria main keroyok? Apakah yang dimaksud dengan ksatria dalam “sesuluh” Mahabharata persis seperti yang dilakukan anggota TNI? atau ksatria modern memang sewajarnya bertindak seperti itu?

“Setuju preman-

isme diberantas. Bukankah itu sudah diperintahkan Presiden kepada Kapolri? Masak, saya tak setuju. Tetapi haruskah memberantas itu dengan cara-cara kekerasan, main dor? Hukum haruslah menjadi payung dalam pemberantasan itu

Sekadar mengingatkan, dalam UndangUndang No. 34 tahun 2004 tentang tugas pokok TNI. Di dalam prinsipnya, pertama,

menegakkan kedaulatan Negara. TNI yang selama ini digadang-gadang akan menjadi sentral pengamanan kedaulatan negara, tidak seharusnya membuat onar yang pada prinsipnya, atau dalam perjalanannya akan mengancam kedaulatan negara. kedua, mempertahankan keutuhan wilayah. Persatuan yang selama ini dipertahankan para pemimpin negara dengan segala cara sejatinya, dilestarikan. Jangan sampai, hadiah yang tak ternilai ini hilang dari bumi tercinta. ketiga, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan. Merupakan tugas mulia jikalau TNI bersungguh-sungguh menjalankan aturan sebagaimana mestinya. Tetapi, sebuah ironi jika TNI melakukan tindakan yang sebaliknya. Akhirnya saya setuju dengan Putu Setia ditulisannya yang berjudul (Kesatria, Tempo, 7 April 2013) dalam tulisan yang singkat, nyentrik sekaligus kritis itu, ia –Putu Setia-- berujar “Setuju premanisme diberantas. Bukankah itu sudah diperintahkan Presiden kepada Kapolri? Masak, saya tak setuju. Tetapi haruskah memberantas itu dengan caracara kekerasan, main dor? Hukum haruslah menjadi payung dalam pemberantasan itu” Sudah barang tentu masyarakat ingin hukum ditindak sebagaimana mestinya, tidak peduli itu anggota TNI : sebagai salah satu penegak hukum. Yang perlu dipertegas adalah, jelas di Negara ini tidak ada satu orang atau instansi manapun yang kebal oleh hukum. Di tengah suasana skeptisme yang kini mendera masyarakat Indonesia terhadap aparat penegak hukum. Tentu penanganan tepat akan menjadi pemicu pandangan masyarakat selanjutnya, masyarakat akan semakin ragu atau berangsur membaik. Apabila penanganan terhadap kasus ini terbuka dan adil, bisa saja hal ini menjadi moment memperbaiki citra nama instansi terkait. Akan tetapi, jikalau penegak hukum bertindak sesuai keinginan mereka –tidak sesuai hukum— tanpa mematuhi aturan, maka bisa dipastikan masyarakat akan merasa dikhianati terhadap negaranya sendiri. Upaya memperbaiki sistem secara holistik akan membawa angin segar bagi hilangnya kepercayaan publik yang mulai tak acuh ini.

*Penulis adalah Ikamaru angkatan 2011,aktifis Forum Lingkar Pena Ciputat, dan mahasiswa Tafsir Hadis UIN Jakarta


4

SASTRA CERPEN

Di Balik Kerudung Pilihanmu... Oeh: Laily Fathia* Azan isya berkumandang , saatnya menutup kembali lembaran-lembaran suci yang telah terlantun. Setelah sholat isya Fafa bersiap ke masjid untuk melaksanakan kegiatan rutin malam Jum’atnya, melantunkan puji-pujian kepada nabi bersama teman remaja lainnya. Entah kenapa, sesampainya di masjid, Fafa tak mendapati teman-teman yang biasanya sudah berkumpul sebelum ia datang. Hanya ada Tia, dan beberapa menit kemudian Habib bersama teman-teman yang lain menyusul dari belakang. Usai kegiatan berjanjenan beberapa orang termasuk Fafa masih tertinggal di masjid, mereka membersihkan dan merapihkan keadaan masjid yang sempat tak enak dipandang mata. Habib: “Fafa.., (panggil Habib pelan)” Fafa: “Iya Bib ada apa?” Habib: “Ini ada oleh-oleh dari Lombok kemaren (sambil menyodorkan kotak dalam plastik kecil)” Fafa: “Terimakasih (sambil menerima pemberian Habib) “Ehem,,, ehem,,,” goda Tia yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Sesampai di rumah, Fafa pun membuka plastik pemberian Habib. Mata Fafa sedikit melotot ketika mendapati isi dalam plastik tersebut, sebuah kotak kecil yang belum diketahui isinya. Sesegera mungkin, tangan Fafa membuka kotak kecil yang ternyata berisi bros berbentuk love berhias bunga berwarna pink. Tak sadar Fafa sempat menyimpulkan senyum paling manisnya. Setelah puas memandang isi kotak tersebut, mata Fafa kembali fokus dengan kertas kecil yang ternyata masih menyempil dalam kotak. Ia letakkan bros barunya, kemudian membuka perlahan kertas wangi itu. “Pada dasarnya bunga itu indah, namun…akan tampak lebih indah jika ada satu hati yang mendampinginya, karna adanya hati itu akan menjaganya hingga tak ada lagi kumbang yang berani mencuri kemanisan madu yang tersimpan padanya. Maafkan aku yang telah membiarkan tangan ini mengukirkan isi hatiku, walau banyak hati yang menengadah mendambakan hatimu, namun aku yakin bahwa aku diciptakan tuk menjagamu. Aku tau prinsipmu untuk tidak berpacaran dan menerima khitbah setelah selesai skripsi. Dan aku hanya ingin engkau tau bahwa aku kan setia menunggumu.” Habib adalah remaja yang aktif, selain sibuk kuliah, ia juga menyempatkan diri untuk menafkahi dirinya sendiri. Dia juga banyak pengetahuan tentang ke-Islam-an, bahkan terkadang dia berceramah menggantikan ustaz yang berhalangan hadir walaupun dia mahasiswa manajemen, tapi aku tidak bisa merubah statusku, hanya sebatas teman. Meski ini yang kedua kali ia lontarkan, aku tak mau membagi hatiku untuk orang yang telah diciptakan untukku. (Pikir Fafa dalam hati) Satu bulan berikutnya Pagi-pagi buta HP Fafa berdering, ia tampak tak mempedulikan hal itu, mulutnya masih saja melantunkan ayat-ayat suci. Namun, matanya tak tahan untuk menengok siapa yang mengirimkan pesan itu. Habib, sontak ia menghentikan tadarusnya,dan segera membukanya. Ass…. Besok aku wisuda, hadir ya… Iya insyaallah (balas Fafa singkat) Besoknya Fafa pun datang bersama anak remaja masjid yang lain. Ia ikut hanyut dalam hari kemenang Habib. Lelaki yang pernah menyatakan perasaannya kepada Fafa. ***

Habib, hanya kata itu yang masih terukir dalam benak Fafa. Laki-laki yang pernah mempunyai keinginan untuk menyandingkan hatinya bersama hati Fafa. Mata Fafa sekarang tak lagi melihat sosok Habib, lelaki yang diam-diam ia kagumi. Delapan bulan lamanya, hanya pesan singkat untuk sekadar berkirim kabar ia jalani bersama Habib, sebuah kemakluman, saat ini Habib tengah menjalani hidup di Balik Papan, kota yang sangat jauh dari tempat tinggal Fafa. Laksana baju yang terpakai bertahun-tahun lamanya, hubungan Fafa dan Habib semakin luntur ditelan waktu. Fafa tak lagi mendengar kabar lelaki di seberang, entah apa gerangan yang menyebabkannya. Fafa pun merasa enggan untuk memulai mengirimkan sebuah pesan singkat. Sebenarnya ia merindu akan suara merdu Habib tatkala melantunkan shalawat. Namun, ia cepat-cepat mengubur dalam-dalam rasa yang sedikit demi sedikit menyayat hati kecilnya, oh Habib. Hari demi hari, keistiqomahan Fafa menjadi remaja masjid sedikit terganggu dengan kegiatan barunya, meyusun skripsi. Maklum saja, Fafa ingin segera membanggakan kedua orang tuanya. Fafa melangkahkan kaki mungilnya menapaki jalan kecil menuju fakultasnya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara yang tidak begitu asing di telinganya. “Hai Fa” suara Faiz yang ternyata teman satu jurusannya, Tafsir Hadis. Fafa:“Eh Faiz, ada apa?” Faiz:“Ini ada titipan” Fafa: “Dari siapa?” Faiz: “Dari Habib” Fafa: “Habib…???” sontak Fafa kaget mendengarnya. Faiz: “Habib anak masjid!” Fafa: “kok bisa sampai ke kamu?” Faiz: “Kemarin pas aku qori’ di Palembang ketemu dia, terus malemnya pas aku mau pulang dia nitip ini untuk kamu.” Kata Faiz sambil menyodorkan bingkisan yang terbalut kertas. Fafa: “ oo…. gitu, makasih banyak ya Iz” Faiz:” Iya Fa, sama-sama. Fafa: “Udah dulu ya, soalnya aku ada janji sama dosen, Assalamu’alaikum.” Faiz: “Wa’alaikum salam, eh.. HPnya Habib yang dulu hilang makanya dia tak pernah hubungin kamu, tapi nomernya yg baru udah aku save kok. Ntar aku smsin deh. Fafa: “Iya makasih” (jawabnya sambil berlalu). Rembulan pun tampak tersenyum melihat jari Fafa yang sibuk memijit keyboardnya. Fafa tampak serius mengerjakan skripsi. Namun di tengah keseriusannya tersebut, titipan yang diberikan Faiz tempo siang tadi sempat meme cahkan konsentrasi Fafa. Sontak tangannya tertuntun untuk merenguh bingkisan yang sedari tadi diam seribu kata. Sebuah kerudung yang mengisi kotak kecil itu, ia kibaskan kerudung manis tersebut, dengan harapan secarik kertas terjatuh. Muka Fafa sedikit terlihat kecewa tatkala secarik kertas yang ia dampakan tak ditemui. Lantas ia segera membuka ponsel, tapi nomor yang dijanjikan Faiz belum juga mengis inboxnya. Fafa tersenyum dalam harapan. Pagi harinya ketika Fafa ingin berkunjung ke perpustakaan ia kembali bertemu Faiz di jalan. Belum sempat ia menyapa terlebih dahulu, Faiz mendekat sambil menyimpulkan senyum. Faiz membuka percakapan dengan kata maaf karena belum memberikan nomor Habib kepada

Fafa. Sebenarnya Fafa dapatkan nomornya Fa ketika Faiz mengaku k Rasa kecewa dan pr wajah Fafa. Di satu sisi kan nomornya Habib, d gan musibah yang men Faiz bisa membaca sem sesegera mungkin ia p * 7 bulan terlewati, skr bulan ini ada 3 hati ya namun dia tetap teguh sipnya. Sejujurnya ia tid Habib, pria yang diamSemakin lama, Fafa rindu yang tengah terp itu selalu ada di setiap Di setiap jeda waktu is bib datang dengan ked rakan maksud mengkh dipenuhi mentari senja peraduannya, jendela air mata yang tiba-tib “Fafa….” Suara ib

Fafa. Belum sempat ia kamar Fafa terbuka, muncul dengan amplop terdiam, seakan sudah rupa. “Paling juga sur Ketika ibunya kemb bali larut dalam kha ikut-ikutan kembali da berkumandang, Fafa nya untuk kembali ke ditinggalkan ibunya ta amplop itu terbalik, d nama pengirimnya, HA segera merengkuh dan but. Ia menangis tak k


berharap hari itu juga ia bisa menaiz, namun harapan itu tak terjawab kalau HPnya hilang entah kenapa. rihatin tampak tak begitu jelas di i ia kecewa karena tidak mendapatdi satu sisi juga ia merasa iba dennimpa Faiz. Fafa takut kalau-kalau mburat yang timbul di wajahnya, pamit dan menuju perpustakaan. * * ripsi Fafa hampir selesai.semasa 7 yang menyatakan suka dengannya, pada apa yang telah menjadi prindak bia begitu saja melupakan sosok -diam telah melekat pada dirinya. semakin tersiksa dengan perasaan patri dalam hatinya. Habib, nama p gerak dan hembusan nafasnya. stirahatnya ia sering berhayal, Hadua orang tuanya untuk mengutahitbah dirinya. Saat ini matanya a yang tampak akan kembali ke rapuh itu tak kuasa menahan ba menetes dari mata sayu Fafa. bunya menghancurkan khayalan

a menimpali panggilan itu, pintu beberapa saat kemudian ibunya p coklat di tangannya. Fafa hanya terbiasa dengan amplop yang serat undangan diskusi,� batinnya. bali keluar kamar, Fafa pun kemayalannya, begitu juga mentari, alam peraduannya. Azan magrib segera meninggalkan hanyalandunia nyata. Amplop coklat yang adi sedikit menyita perhatiannya, dengan jelas ia menangkap ejaan ABIB, dengan cekatan tangannya n membuka amplop coklat tersekaruan ketika membaca isi surat

SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

5

PUISI tersebut, Fafa menagis dalam deburan suara azan. *** Fafa tampak bersiap-siap, pakaian terbaikknya ia kenakan, tak ketinggalan kerudung dan bros yang diperolehnya dari Habib. ia tampak cantik hari itu. Hari ini ia akan mendatangi pernikahan sahabatnya, yang surat undangannya ia terima tempo hari, surat yang membuat hatinya hancur berkeping-keping, surat yang membuat khayalannya selama ini terbang dibawa angina begitu saja. Hari ini seorang yang sering ia dambakan untuk menjadi imam di setiap derap langkahnya tinggallah sebuah sejarah, sejarah khayalan pilu. Terasa berat sekali langkah Fafa, tak tahu apa sebabnya, hatinya berteriak kencang tak terima dengan pernikahan Habib. badannya bergetar, pikirannya terbang dengan ingatannya beberapa tahun silam, di mana ia bersholawat bareng, saat Habib menyatakan perasaan, dan ketika kerudung yang tiba-tiba datang menghampirinya, lengkap dengan bros cantik yang menemani. Kini, hanyalah tinggal sebuah kenangan semu, kenangan yang menyayat, kenagan yang menjadikan sembilu di sanubari Fafa. Ia senyum dalam kehancuran perasaannya tatkala melihat Habib bersama istrinya duduk di atas pelaminan. Tiba-tiba dalam keadaan yang demikian, ada seorang laki-laki yang lebih tua tiga tahun dari umurnya saat ini yang memanggilnya dari belakang. Ia pun kaget bercampur tidak tahu tatkala mendapati muka yang tidak begitu asing baginya. Setelah bercakap-cakap lumayan lama ia baru tersadar, kalau laki-laki itu adalah Firman, seorang mayoret saat ia masih menempuh pelajaran di Raudlatul Ulum. Ia sedikit tersipu malu ketika Firman mengingatkan bahwa dirinya pernah meminta foto bareng ketika ada Pekan Olah Raga dan Seni di Kabupaten Pati. Semakin lama berbincang dengan Firman, Fafa tak sadar jika sakit hatinya semakin tak dirasakan, seakan mendapat angina segar yang selama ini tak kunjung menjumpainya. Diam-diam ia takjub juga dengan cerita Firman, tujuh bulan kuliah di Al Azhar, dan saat ini tengah menempuh perkuliahan di kedokteran UI, tampaknya semakin membuat candu kepada Fafa untuk terus menyimak pengalaman sang idolanya dulu. Betapa semakin malunya Fafa, saat Firman menunjuk kerudung yang tengah dipakainya, tak dinyana, kerudung yang tengah membalut kepalanya itu adalah pilihan Firman. Tuhan selalu menyertakan sakit dengan obat, sakit hati yang diderita Fafa hilang dengan obat yang dijelmakan Tuhan sebagai sosok Firman. Waktu terus berjalan, begitu juga hubungan Fafa dan Firman, semakin lama semakin membandrol sebuah status, sebuah status pilihan Fafa untuk menerima Firman menjadi imam dalam menjalani bahtera kehidupannya. Kerudung yang dulu didapatnya dari Habib memang murni pemberian Habib, namun hati yang terkandung di dalamnya adalah hati Firman, hati yang diberikan lewat bros mungilnya, kini hati yang cacat itu kembali semurna, dan bersanding hingga hari tua.

Penulis adalah Ikamaru angkatan 2012 & mahasiswi Perbandingan Agama UIN Jakarta

Pemuda Impian Oleh: Rahman Taufiq* Hai kau darah muda Engkaulah harapan bangsa Kini negaramu telah berduka Lihatlah pembesar pembesar diatas sana Semua telah layu dan akan berguguran oleh tiupan angin Cengkramlah negaramu ini dengan kejujuran nan kearifan Bawalah terbang melayang hingga dikenang oleh semua insan Tiada kata menyerah Walaupun engkau bercucuan darah Hingga tulangmu pun mulai mematah Engkau sang pembaru Gerak juangmu kini telah ditunggu tunggu Janganlah terus berdiam terbelenggu Puaskah kau berjalan dengan merangkak Kau tunas bangsa yang bebas bergerak Berjuang dengan penuh akhlak Teruslah bentangkan sayap lebarmu Melambunglah setinggi langit ketuju Tajamkan pandangan yang kautuju Hingga Negara ini tersenyum akan dirimu orangtuamu pun melambung dengan bahagia hingga kau bias hidup dimanapun berada Tuk mencapai asa nan cita

*Penulis adalah Ikamaru angkatan 2011 dan mahasiswa STAINI Parung

Keluarga besar Ikamaru Jakarta dan Sekitarnya mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya:

IKAMARU EXPO KAMPUS NASIONAL 2013 “Menuju Kampus Tujuan untuk Meraih Angan dan Cita-cita�


6

GALERI

SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

Sejak berdirinya Ikamaru Jakes beberapa tahun silam, membuat semangat para penggawa Ikamaru untuk tetap keukeh melestarikan ajaran-ajaran yang telah dibekalkan dari Pesantren Raudlatul Ulum. Tahlil, Diba, Al barjanji, bagaikan air dingin yang didambakan seorang yang tengah berada di tengah gurun pasir yang panas...

Tahlilan seminggu sekali

Acara Bulanan

Pamungkas Elok Syifa Fauziah

Ketua Ikamaru cab.Jakarta dan Sekitarnya


7

SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

Sambungan Love In Ikamaru Jakarta... Bisnis dan sekarang kerja di marketing salah satu perusahaan mobil, Muhammad Fairuzz Addailami (2007) dan Siti Marfuatin (2008) dengan usaha Rumah Aksesoris-nya. Muhammad Mu’ad (2009) dengan Waroeng Aksesoris-nya dan bekerja di percetakan buku, Mas Arif (2009) yang aktif di organisasi kemasyarakatan WWF (World Wild Funding), Sirojudin (2009) dengan usaha hardware dan software komputernya, Miftahul Huda (2009) sebagai pengelola website beberapa perusahaan, Abdul Jamil (2009) yang menjabat ketua SIMPATI (Silaturahmi Mahasiswa Pati). Umi Bashiroh (2010) yang menjabat ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Akuntansi, Fadhilati Haqiqiah (2010) yang menjabat wakil ketua HMJ Perbandingan Agama. Selamet Widodo (2011) aktif di UKM Pers dan Jurnalisme Kampus UIN, Alif Lutfi Azizah (2011) aktif di UKM PMI (Palang Merah Indonesia) UIN, Muhammad Ridwan Zein (2011) aktif di UKM Paduan Suara Mahasiswa UIN, Muhammad Abdul Kholik (2011) Aktif di FLP Ciputat dan kerja di Warnet, Ibnatul Mudliah (2011) aktif di FLP Ciputat dan Fakih Nur Sofyan (2011) yang memiliki usaha Aneka Wedang Nuswantoro. Demikian masih jauh dari kesempurnaan data yang dimiliki penulis, tentu saja masih banyak lagi yang belum tertulis, apalagi dari kampus-kampus lain di Jabodetabek ini. Mungkin sesuai denga niat tahadust bin ni’mah, ada hal lain yang tak mungkin dituliskan karena sangat banyaknya, bermacam beasiswa yang diterima oleh insan Ikamarues Jakes. Hal ini menunjukkan kecerdasan dan keuletan mereka yang tentu saja di atas rata-rata. Tapi masih belum, hal-hal di atas belum menjelaskan tentang Ikamaru Jakarta sendiri sebagai organisasi kekeluargaan yang menaungi para lulusan YPRU Guyangan dengan kegiatan-kegiatan khas santrinya dan perolehan-perolehan yang telah dica-

pai untuk dibanggakan di sini. Tentu peran ketua Ikamaru Jakarta sangat mempunyai andil, Mas Arif (2009) sebagai ketua tahun kemarin dan Pamungkas Elok Syifa Fauziah (2010) sebagai ketua yang sedang menjabat tahun ini. Tidak perlu menjelaskan bagaimana kepemimpinan mereka jika tidak ingin menghabiskan berlembar-lembar lagi tulisan. Kegiatan Ikamaru Jakarta. Sebut saja tahlilan dan sholawatan, kegiatan tersebut jangan harap terlewatkan dalam seminggu sekali setiap Kamis sore menjelang malam Jumat. Walaupun sudah tidak ada basecamp Ikamaru Jakarta, tahlilan dan sholawatan tetap berjalan lancar bahkan cukup me nyenangkan dan tak membosankan karena kegiatan tersebut dilangsungkan di tempattempat yang berbeda setiap minggunya, di kos maupun kontrakan para anggota Ikamaru Jakarta yang tersebar di berbagai tempat. Diskusi keilmuan seminggu sekali, merupakan ajang pelatihan untuk memaksimalkan kepercayaan diri dan mental, di samping untuk menambah ilmu sesuai dengan siapa yang sedang mendapat giliran membawakan diskusi. Banyak ilmu, tentu saja, sebanyak bidang yang didalami para anggota Ikamaru. Kegiatan mingguan lainnya adalah olahraga bersama setiap hari minggu. Kegiatan besar bulanan, bertema apa saja, aara tersebut bertujuan sebagai ajang berkumpul dan bersilaturahmi sesama anggota Ikamaru di seluruh Jabodetabek. Menyebut satu persatu kegiatan tersebut mungkin tiada guna, karena sebagian tidak akan diulangi lagi mengingat kreatifitas tanpa henti. Tapi pun tidak salah sekadar menyebut kegiatan besar yang diingat, dan masih mungkin diulang. Salah satunya MOKKA (Masa Orientasi Kesetiaan Keluarga Ikamaru), sebagai ajang pertemuan awal bagi anggota baru Ikamaru Jakarta dengan yang lama, semacam masa orientasi di kampus-kampus, tapi kekeluargaan tetap menjadikannya beda dari sekadar orientasi yang digelar di kampus.

Keluarga besar Ikamaru Jakarta dan Sekitarnya mengucapkan selamat dan sukses atas wisuda:

M. Sofwan, SE & Ali Rifan, S.Pdi Semoga ilmu yang di peroleh barokah fi dunya wal akhirah. Aminnn....

Selain kegiatan rutin, Ikamaru Jakarta juga memiliki tim Rebana the LA (Laskar As-Suyutiah) yang sering tampil sesuai order, karena memang banyaknya relasi yang dimiliki. Kebudayaan seni tak tertinggalkan karenanya, dan juga lumayan untuk menambah uang kas Ikamaru Jakarta. Kenikmatan lainnya yang dikabarkan disini, adalah jurnalistik tampak semakin berkiprah oleh anggota Ikamaru Jakarta, lihat saja buletin Suyuthi Institute ini yang terbit setiap bulannya disesuaikan dengan acara besar Ikamaru Jakarta setiap bulan, sudah banyak tulisan masuk dari para anggota Ikamaru Jakarta, walaupun sedikit dipaksa, tapi cukup membanggakan. Selain buletin, ada satu hal lagi perkembangan Jurnalisitk baru-baru ini, sebuah blog yang memuat tulisan-tulisan tangan dan berita Ikamaru Jakarta telah hadir yang diampu Selamet Widodo (2011), yaitu Suyuthionline.blogspot. com, silahkan berkunjung diwaktu senggang dan nikmati tulisan-tulisannya. Terakhir, bukan berarti mengakhiri segalanya, karena masih akan berlanjut seiring waktu yang tak berhenti, tapi hanya sekadar mengakhiri tulisan ini. Love in Ikamaru Jakarta sebagai judul tulisan memang bukanlah semacam Love in Paris, tidak untuk menceritakan kisah cinta para anggota Ikamaru dalam Ikamaru Jakarta, walau hal tersebut mungkin saja dituliskan tapi pada kesempatan lain, mengingat jatah lapak sudah tuntas. Setuntas tulisan ini sebagai (Fall) in Love Ikamaru Jakarta (Jatuh Cinta pada Ikamaru Jakarta). Wassalam.

*Penulis adalah Ketua Umum Buletin Suyuthi Istitute periode 2009-2011 dan mahasiswa semester akhir Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

G U S M I E K

Hidup itu yang penting satu, keteladanan.


8

SUYUTHI INSTITUTE EDISI XI APRIL 2013

Melirik Demokrasi Islam Oleh: Sofyan Noerswantoro*

Judul buku : Teori Poitik Islam Judul asli : An-nazhariyatu as-siyasatul-islamiyah Penerbit : Gema Insani Press Tahun terbit : 2001 ISBN : 979-561-661-7 Halaman buku : 320 Membicarakan tentang politik islam tentunya kita akan dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang mendasar, seperti apakah sistem poitik islam itu? Apakah seperti ketika Nabi memimpin umat Islam di Madinah, atau seperti ketika era Khulafa ar-Rasidin? Ataukah seperti ketika dinasti Umaiyah dan Abbasiyah, atau malah seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dengan penduduk mayoritas Islam, menempatkan ideologi bangsanya pada Pancasila, hasil dari Piagam Jakarta yang seperti pada masa Nabi menggunakan Piagam Madina sebagai landasan perdamaian sosial masyarakat, atau juga Islam hanya sebagai agama dakwah yang tidak memiliki sistem politik apapun, namun sejarah telah mencatat bahwa pada zaman dahulu negara Islam pernah berjaya, dengan wilayah yang sangat luas, menjadi pusat perhatian dunia dengan kemajuan di bidang keilmuan, teknologi, dan kemiliteran yang tidak diragukan lagi oleh bangsa-bangsa di dunia saat itu. Penulis dalam buku ini memberikan pandangan tentang bagaimanakah sistem politik Islam itu sendiri, diawali dari pembahasan pembentukan negara Islam, kelahiran teoriteori Islam, sampai lahirnya firqah-firqah (sekte-sekte), awal munculnya partai-partai, pembahasan tentang teori-teori syi’ah, hingga lahirnya Muktazilah. Hakiakat imamah antara keimamahan, kekhalifahan, dan kerajaan. Dan pandangan Islam tentang institusi pemerintahan. Pada pertengahan buku ini, penulis membahas tentang kontrak politik dan berbagai permasalahanya, dengan memeberikan pandangan teori-teori kontrak sosial dari buku karangan Rosseau yang berjudul Le Contrat Social. Islam telah lama mengenal kontrak sosial jauh sebelum lahirnya Rosseau, dan telah di buktikan pada masa kekhalifahan di periode Khul-

faur Rasyidin yang dipilih berdasarkan bai’at. Selanjutnya penulis menjabarkan tentang syarat-syarat bedirinya sebuah negara, kapabilitas dan otoritas kekuasaan dengan menjelaskan syarat-syarat yang harus di miliki dari seorang gubernur dan menteri antara lain, berilmu dengan kualifikasi Ijtihad, mengetahui ilmu politik, perang, dan administrasi, kondisi jiwa dan raga baik, berlaku adil dan berakhlak mulia, memiliki kualifikasi kepemimipinan yang penuh seperti; muslim, bebas, laki-laki berakal, dan dari keturunan yang baik. Kemudian membahas tentang kewajiban-kewajiban umum warga negara. Penulis juga memberikan gambaran umum tentang sitem pemerintahan Islam yang dikutip dari Ibnu Khaldun yang membagi tugas-tugas yang harus dilakukan oleh negara kedalam dua rancangan, antara lain rancangan keagamaan dan rancngan kekuasaan (politik dan administrasi),(h. 263). Pada bab terakhir penulis membahas tentang Prinsip Dasar Negara Islam, pertama keadilan, persamaan di hadpan hukum, keadilan dan pembangunan, dan keadilan bagi kalangan minoritas. Dasar kedua dari sistem kenegaraan Islam ialah syura, sistem kenegaraan yang dianjurkan oleh Allah SWT adalah syura (musyawarah). Dan yang menjadi prinsip ketiga dalam pemerintahan islam menurut penulis buku ialah tanggung jawab pemimipin, selama imam atau pemimpin berpegang teguh pada perintah allah dan memimpin atas dasar keadilan, melaksanakan segala hukum yang ada, dan konsekuensi terhadap hukum dalam pelaksanaanya serta selalu menjaga amanat kepemimpinan. Penulis juga mengajak pembaca untuk membahas Islam dan demokrasi, topik yang sampai saat ini masih menjadi kajian para pemikir yaitu, pendefinisian antara Islam dan demokrasi. Jika yang dimaksud

dengan demokrasi adalah seperti adanya konsep politik, atau konsep sosial teertentu, misalnya konsep persamaan di hadapan undang-undang, kebebasan dalam akidah, mewujudkan keadilan sosial dan lainya, maka pada dasarnya pada sistem islam berusaha untuk merealisasikan keadilan yang mutlak dalam bentuknya yang paling sempurna. Pada akhir pembahasan ini penulis memberikan jawaban atas pertanyaan, sipak pemilik kedaulatan dalam konstitusi modern pada negara Islam? Sistem islam sebenarnya tidak sinonom dengan system pemerintahan apapun, dalam system islam seorang pemimpin bukanlah pemilik kedulatan, karena Islam bukan sistem autokrasi, bukan pendeta (agamawan) karena islam bukan system autokrasi, islam juga bukan undang-undang semata, karena bukan system nomokrasi, dan bukan pada umat (rakyat) semata, karena islam tidak hanya demokrasi. Sistem pemerintahan islam menyerahkan kedaulatan pada dua hal yang saling bersatu dan saling berhubungan. Dua hal itu ialah umat (rakyat) dan undang-undang atau syariat islam. Umat dan syariatlah secara bersamasama pemilik kedaulatan dalam negara Islam. Sistem ini dapat disifati general sebagai demokrasi, humanis, universal, religious, morallis, ruhiyah, dan materialis secara sekaligus. Dan penulis buku ini memyebut sistem pemerintahan ini dengan: Demokrasi Islam.

*Penulis adalah Ikamaru angkatan 2011 mahasiswa FISIP UIN Jakarta

SUSUNAN REDAKSI Pelindung; Drs. K.H. M Najib Suyuthi M. Ag, Pembina: Muhammad Fahdi, Mas Arif, Miftahul Huda, M.Sirojuddin, Muhamadun, Penanggung Jawab: Pamungkas Elok Syifa Fauziah Pemimpin Umum: Rohmat Aji Wibowo Pemimpin Redaksi: Selamet Widodo Sekretaris; Malikatul Ma’munah Bendahara; Vela Zaky Safitri Tim Redaksi: A. Zaim, Faqih Nur Sofyan, M. Abdul Kholik, Laras Respati, Laily Fathia, Luthfia Kusuma, Nadhiroh, Fitroh Awwaliah, Editor & Layouter: Ibil Ar Rambany, Distributor: Masluchi, Kontributor: Ainia Nurul Aqida (UIN Jakarta), Kholid Mirbah (LIPIA), Ersyad Mafquh (IPB Bogor), Akhid Fuadi (TRISAKTI), Abdul Jamil (SEBI), Lutfi Hakim (UI Depok), Attaquz Zahro (IIQ), Amin (PTIQ), Burhanuddin Triatmojo (PARAMADINA), Ah Saifuddin (Bekasi), Hambali (Depok), Buletin ini diterbitkan oleh IKAMARU (Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Raudlatul Ulum) Jakarta 2008/2009. Kritik dan saran melalui e-mail: ikamarujakes@gmail.com, HP: 089637799817.


BULETIN THE SUYUTHI INSTIUTE EDISI XI