Page 1

20 19

WASTE RECYCLE WORKSHOP 2016420108 2017420012 2017420039 2017420041 2017420152 2017420200

HANA GRACIA NURJADI YOSHUA VINCENTIUS REGINALD RIADI PATRICIA MAYASARI KRISNAWAN MARCEL SEPTIANO PIO OKTOVIANUS BAMBANG O.S


UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN CIUMBULEUIT, BANDUNG 40142, 022-2032655


KONTEN

PROLOG Latar belakang Tujuan

THE PROJECT Persiapan Timeline Pelaksanaan

EPILOG Komentar dan Saran


PROLOG Latar Belakang

Pembelajaran mengenai Arsitektur Berkelanjutan yang kami tempuh pada Universitas Katolik Parahyangan tidak hanya sampai pada kegiatan di dalam kelas. Ilmu - ilmu yang telah kami pelajari selama 1 semester ini ditutup dengan pelaksanaan workshop sebagai final project kelompok, yang kali ini merupakan ajang saling berbagi ilmu dengan pihak eksternal, yaitu Desa Buntis. Final Project menjadi wadah bagi kami untuk mengaplikasikan apa yang telah kami dapat dan ide-ide untuk prinsip sustainability lingkungan dimulai dari hal-hal di sekitar kami. Isu-isu lingkungan yang sedang marak perlu diketahui oleh siapa saja. Pemanfaatan plastik sebagai single-use material berkembang menjadi masalah sampah plastik yang berlebih, di mana seharusnya plastik dapat digunakan kembali atau pun didaur ulang. Kelompok kami mengambil workshop sebagai bentuk final project dengan visi membuat orang-orang di sekitar kami tahu bahwa sampah plastik pun dapat diolah menjadi benda yang bernilai lebih.


PROLOG Tujuan

Tujuan dari proyek workshop kali ini adalah pertukaran pengetahuan dan informasi antar peserta yang bermanfaat dan dapat diterapkan sesuai dengan bidang profesi dan kehidupan melalui pelatihan. Selain itu, kegiatan workshop kali ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai wadah dalam membangun kebersamaan dan kemitraan antar peserta. Kegiatan ini juga menjadi media untuk mendiskusikan metode dan mensosialisasikan suatu program kepada peserta. Dalam proyek ini, workshop secara spesifik juga menargetkan sosialisasi program sustainable atau keberlanjutan dan prinsip ramah lingkungan kepada peserta. Mengangkat isu sampah yang menjadi perhatian kedua pihak, workshop yang dilaksanakan mengolah sampah-sampah untuk digunakan kembali atau pun didaur ulang menjadi barang yang kembali memiliki nilai.


THE PROJECT Preparation

1.1. Proses Terbentuknya Bentukan Final Project Berangkat dari latar belakang masalah mengenai permasalahan bahan maket sisa yang terbuang namun sebenarnya dapat didaur ulang kembali menjadi barang baru yang dapat dimanfaatkan.  Pada awal pembuatan Final Project, barang yang telah didaur ulang oleh kelompok kami akan dijual kembali kepada orang yang berminat, namun seiring dengan berjalannya proses berpikir dan melewati beberapa kali proses asistensi dengan dosen pembimbing, dan masukan Sisa bahan-bahan maket

dari

teman

sekelas,

kelompok

kami

memutuskan untuk memperbaiki sistem final project kami dan memperluas dampak yang dihasilkan dari bentukan final project kami.


THE PROJECT Preparation

1.1. Proses Terbentuknya Bentukan Final Project Melalui proses diskusi kelompok sampai kepada satu bentukan yang tetap menggunakan prinsip mendaur ulang barang bekas, namun menambah bahan yang dapat digunakan yakni sampah plastik terutama botol plastik.Kelompok kami tiba pada titik dimana hasil daur ulang yang kurang dapat memberi dampak apabila barang hasil daur ulang hanya dijual. Kelompok kami memerlukan wadah untuk membuat barang hasil daur ulang ini dapat lebih berdampak bagi orang lain. Workshop merupakan kata kunci yang muncul dari hasil asistensi dan diskusi kelompok kami. Dalam menciptakan wadah berupa workshop ini, kelompok kami memutuskan untuk bekerja sama dengan salah satu program kerja himpunan arsitektur yakni Bhakti Ganva dimana Bhakti Ganva menyediakan wadah bagi kelompok kami untuk

kerja sama dengan Bhakti Ganva

menyebarluaskan sistem daur ulang yang telah kami pelajari dan sintesis agar dapat bermanfaat bagi masyarakat luar dimulai dari Kampung Buntis.


THE PROJECT Preparation

1.2 Timeline

1. Pengumuman project kelompok di kelas 2. Diskusi ide mengolah bahan maket bekas menjadi barang-barang yang berguna, pembuatan contoh barang hasil olahan maket bekas 3. Pengembangan ide mengolah maket bekas dengan sistem berbayar, pengembangan modul dan jenis barang, serta teknis pengumpulan bahan(Ide Maquette Recycler) 4. Revisi sistem dengan menghilangkan sistem berbayar 5. Tujuan utama proyek ditetapkan untuk memberi pengetahuan dan informasi bahwa sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai 6. Pengembangan ide menjadi recycle workshop untuk mencapai yang audience lebih luas(Ide Recycle Workshop) 7. Bekerja sama dengan salah satu program kerja himpunan arsitektur Bhakti Ganva yang menyediakan wadah bagi kelompok untuk menyebarluaskan sistem daur ulang agar dapat bermanfaat bagi masyarakat luar 8. Persiapan workshop (diskusi kelompok, pemilihan modul, pengumpulan bahan) 9. Workshop Persiapan Workshop

Setelah adanya barang daur ulang dari maket yang sebelumnya telah disebutkan, kelompok kami mencari kembali modul yang lebih relevan untuk workshop kepada masyarakat desa. Modul-modul daur ulang di bawah ini adalah beberapa contoh modul yang dipertimbangkan masuk dalam workshop namun tidak digunakan karena mempertimbangkan keterbatasan waktu dalam workshop yang ada


THE PROJECT

Pelaksanaan Sesuai dengan kesepakatan dan ketersediaan waktu dari warga Kampung Buntis, workshop ini dilaksanakan pada hari Minggu, 30 November 2019 di Gedung Serba Guna Desa Buntis Pk. 10.00 - 14.00 WIB

Di Gedung Serba Guna Desa Buntis, lokasi workshop, kami berdiskusi dengan tim Bhakti Ganva yang merupakan program kerja himpunan Arsitektur. Proses diskusi yang dilakukan untuk mempersiapkan kegiatan workshop tersebut. Ketika proses diskusi berlangsung dan menunggu ibu-ibu PKK, sebagian dari antara kami mempersiapkan modul dan bahan untuk workshop


THE PROJECT

Karena kegiatan workshop kami saling berbagi ilmu dengan pihak setempat, maka kami mempersilahkan para ibu PKK untuk menjelaskan hasil produk mereka kepada kami, yakni membuat tikar dari plastik bungkus kopi sachet.

Kami mencoba mempelajari dengan seksama bagaimana membuat tikar dari plastik bungkus kopi sachet. Mulai dari proses mengumpulkan bungkusan tersebut sampai proses menganyam plastik bungkusan-bungkusan kopi sachet, para ibu PKK menjelaskannya sangat rinci kepada kami sehingga cukup mudah untuk diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.


THE PROJECT

Pada sesi acara selanjutnya, giliran kami yang membagikan ilmu mengenai penggunaan botol plastik menjadi pot tanaman gantung. Para ibu PKK mengamati bagaimana caranya mempergunakan kembali botol tersebut menjadi pot.

Botol-botol tersebut kami potong ditengahnya agar botol tersebut dapat dimasukkan tanahnya dan diberikan lubang-lubang kecil untuk sisa penyerapan air tanamannya. Pot tersebut diberikan rangkanya agar dapat digantung di salah satu sisi bangunan rumah tinggal dan gedung serba guna.


THE PROJECT

Setelah rangka pot gantung tersebut selesai, kami mencoba memasangkan rangka tersebut pada salah satu dinding gedung Serba Guna. Pot tersebut diletakkan di dekat karawang agar aliran udara yang dihasilkan menjadi optimal.

Beberapa komentar dari ibu-ibu PKK Desa Buntis adalah bagaimana pemanfaatan kembali botol air minum bekas untuk diolah menjadi benda lain terbilang baru untuk mereka karena biasanya botol tersebut hanya digunakan kembali sebagai tempat air atau justru dijual untuk mendapatkan uang. Sistem vertikal pot gantung juga baru untuk mereka karena pot biasanya berorientasi mendatar di tanah. Pot gantung memberi opsi vegetasi yang lebih variatif. Setelah mengetahui sistem pot gantung, mereka memiliki niat untuk menggunakan pot-pot tersebut baik sebagai hiasan atau pun penghijauan.


EPILOG

The Enriching Exchange ‘OFTEN, WE AR RECOGNIZE HOW MUC WAYS WE CAN ASSI THROUGH SHARING

E TOO SLOW TO H AND IN WHAT ST EACH OTHER EXPERTISE AND KNOWLEDGE.’ Owen Arthur

Kebutuhan untuk berbagi pengetahuan akan urgensi lingkungan hidup di dunia saat ini sangat dibutuhkan. Menjalin komunitas yang sadar akan lingkungan bukan lagi menjadi opsi namun sebuah kebutuhan. Pada akhirnya, semuanya adalah tentang bagaimana ide dan gagasan dibagikan untuk saling memperkaya. Di awal kami bermaksud menciptakan sistem daur ulang maket menjadi benda-benda berguna, hingga berakhir pada workshop daur ulang sampah dengan warga desa di mana kami pun mendapatkan ilmu yang lebih daripada sekedar melihat contoh di dunia maya. Semuanya bertolak pada keinginan untuk berbagi gagasan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.Proses workshop memang melalui banyak trial and error sebelum akhirnya terwujud. Memang pada dasarnya berbagi itu lebih menantang daripada sekedar memberikan. Beberapa kendala teknis juga terkadang menghalangi, namun proses adaptasi dan improvisasi membawa proses ini terus maju sehingga kami dapat mencari solusi paling optimal tanpa mengubah esensi. Berbagi pengetahuan dan ide juga membawa banyak hal di balik sekedar ilmu. Di dalam workshop kami saling berbagi, berbagi cerita maupun pengalaman. Dari sana juga kami dapat saling memetik nilai-nilai yang jauh dari sekedar informasi belaka. Bagaimana warga desa berbagi mengenai kehidupan dan keseharian mereka, memperlihatkan pola pikir baru dan berbeda sehingga membuka mata kami lebih lebar akan dunia yang tidak hanya terbatas oleh dinding kelas atau pagar kampus.Menjadi ramah lingkungan adalah bagaimana kita berkomitmen pada sebuah gaya hidup yang berkesinambungan. Seperti yang dikatakan oleh William McDonough, sustainability membutuhkan waktu selamanya, dan itulah intinya. Secara skala dan dampak memang kami tidaklah besar, namun kami yakin kesinambungan dan jalinan yang telah terhubung tidak akan hilang begitu saja. Sebuah proses pertukaran ide dan gagasan memperkaya komunitas dan menjaga menciptakan pola pikir-pola pikir baru yang berujung pada sejuta kemungkinan di masa depan.


EPILOG

Komentar dan Saran Masih banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk kedepannya dalam usaha mensosialisasikan kesadaran akan sustainability, baik melalui workshop-workshop independen atau workshop gabungan dengan program kerja himpunan arsitektur. Kami berharap gagasan untuk berbagi tidak berhenti hanya di sini. Dengan adanya kesinambungan proses pertukaran pengetahuan seperti ini maka pengayaan pihakpihak yang terlibat, dalam generasi apa pun, tidak mustahil untuk dilakukan.

Profile for Bang Ijal

Final Project Arsitektur Berkelanjutan 2019  

Final Project Arsitektur Berkelanjutan 2019  

Advertisement