Page 1


Contents Juli 2013

6 RANU KUMBOLO Ranu Kumbolo, salah satu surga di bumi Indonesia. Terletak di ketinggian 2400 mdpl, Ranu Kumbolo menawarkan pemandangan spektakuler bagi siapa saja yang mengunjunginya

18 THE PORTER Sang pembawa barang yang membantu para pendaki menggapai puncak. Sering terlupakan tapi perannya tak tergantikan

13 MAHAMERU Puncak Semeru yang konon katanya tempat bersemayam para dewa. Tanah tertinggi di pulau Jawa yang merupakan impian para pendaki gunung nusantara

2 | Wongkentir Magazine


Editor Note Alhamdulillah, akhirnya kelar juga wongkentir magazine edisi yang pertama. Majalah digital ini melengkapi catatan perjalananku setelah sebelumnya selama lebih dari tiga tahun berkecimpung di dunia blog melalui wongkentir.blogdetik.com Memiliki majalah sendiri adalah impianku sejak kecil. Maklumlah banyak artikel yang kukirim ke majalah ditolak alias gagal cetak, sehingga satu-satunya cara untuk bisa membagi tulisanku ke para pembaca sekalian ya mempunyai majalah sendiri. Di Edisi perdana ini, semua berkisah tentang cerita perjalananku bersama rekan-rekan dari Paguyuban Jepret Brantas menjelajahi hutan rimba Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk mencapai ranu kumbolo. Sebagian rekan melanjutkan perjalanan hingga Puncak Mahameru. Sebuah perjalanan yang seru dan mengesankan. Total hanya 22 halaman di edisi perdana ini. Tapi 22 halaman itu bagiku cukup untuk sebuah permulaan. Selanjutnya diperlukan semangat dan konsistensi agar edisi selanjutnya bisa terbit. Keseluruhan cerita di wongkentir magazine edisi perdana ini semuanya sudah pernah termuat di blog wongkentir.blogdetik.com. Di edisi mendatang diharapkan ada kontributor baik tulisan maupun foto yang bisa menyumbangkan tulisan dan foto2nya sehingga kelangsungan majalah ini bisa terus terjaga. Dan akhirnya, selamat membaca edisi perdana. Pemimpin Redaksi

Surya Hardhiyana Putra Wongkentir Magazine Pemimpin Perusahaan Dewi Wara Shinta Pemimpin Redaksi Surya Hardhiyana Putra

Editor Surya Hardhiyana Putra Design dan Layout Surya Hardhiyana Putra Photo Editor Surya Hardhiyana Putra

Publisher Hardhiyana Corp Office Surabaya Contact surya00[at]gmail[dot]com

Cover Ranu Kumbolo di sebuah pagi yang cerah

Location : Ranu Kumbolo, Lumajang Photo by Surya Hardhiyana Putra Wongkentir Magazine | 3


Contributors

IMRON FAUZI Forografer asli Ponorogo yang menyukai landscape dan nature. Hobinya jalan足jalan, mendaki gunung, menjelajah pantai dan menulis buku. Selain sebagai tukang foto yang handal, dia juga menjadi salah satu pengajar di sebuah akademi pembangkitan tenaga listrik

BAMBANG WAHYU JATMIKO Pria Tulung Agung yang sangat menggilai fotografi. Sejak mengenal fotografi sekitar pertengahan tahun 2011, dia langsung menekuni dunia seni ini. Meskipun sampai sekarang belum terjun secara professional, tetapi karya足karyanya sudah tidak perlu diragukan. Obsesinya adalah memotret pergerakan bintang di kala malam dan berburu Milky Way.

DONI WICAKSONO Seorang penjelajah ulung yang sudah menjejaki hampir seluruh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Semeru, Welirang, Arjuno, Lawu adalah beberapa contohnya. Tubuhnya yang kurus membuatnya begitu lincah bergerak menembus hutan belantara, meski sebuah ransel berat tersandar di pundaknya

4 | Wongkentir Magazine


Journey

Mataku mendadak terbuka. Kurasakan semilir belaian lembut menyentuh wajahku. Membawa serasa hawa yang sudah lama tidak pernah kujumpa. Aku ingin bergerak. Tapi tak bisa. Aku terbujur beku. Tak ada lagi ruang kosong. Kugerakkan kepalaku perlahan-lahan. Aku pandang tubuhku sendiri. Semuanya terbungkus rapat. Jaket, kantung tidur, kaus tangan, topi kupluk hingga kaus kaki. Tapi tampaknya itu semua belum cukup. Tubuhku masih menggigil. Jari tangan terasa kaku. Samar-samar lalu kuamati sekelilingku. Sebuah ruang sempit berbentuk seperti piramida dari kain memenuhi garis pandang. Ruangan itu tidak gelap, bahkan cukup terang. Sepercik sinar yang menyala dari lampu senter menjadi lenteranya. Kuperjapperjap mata untuk sedikit menghilangkan samar itu. 6 | Wongkentir Magazine

“Ah, ternyata sebuah tenda,� batinku. Perlahan anganku melayang, terkenang akan masa perjalanan dua hari yang lalu. Sebuah jalan setapak yang panjang dan berbahaya. Di satu sisinya adalah jurang, dan di sisi lainnya adalah tebing curam. Pepohonan tumbuh subur dan liar di sepanjang perjalanan. Tinggi dan besar. Banyak diantara pohon-pohon itu, aku tidak bisa melihat akarnya, karena nun jauh di bawah jurang dalam sana. Di beberapa titik, daundaun menghijau dengan rimbunnya. Tapi di titik lain tampak dahan dan batang menghitam seperti bekas terbakar. Dengan gontai, ku paksa kakiku untuk terus berjalan dan berjalan menyusuri jalan setapak itu. Kadang menanjak, turun, berbelok. Ransel di punggung menambah tekanan pada bahu, punggung serta sendisendi lutut dan engkel.


Aku tidak sendiri menjalaninya. Perjalanan ini terlalu indah dan berbahaya untuk dijalani sendirian. Ada Imron Fauzi, Bambang Wahyu Jatmiko, Farikh Ardiansyah, Imam Subeki, Rahmad Adriansyah, Doni Wicaksono, Heru Sutjahjono, Satria Yuwana, Arif Biantoero, Fajar Kurniawan dan Fendhito Pratama Putra di sampingku. Mereka bukan hanya rekan sejalan, tapi juga pembangkit semangat dan pemberi inspirasi. Ketika nafas memang sudah memburu dan kaki sudah tak sanggup lagi melangkah, aku berhenti sejenak. Aku biarkan oksigen mengisi penuh kembali paru-paru sambil menikmati seteguk, dua teguk air. Menghilangkan dahaga sekaligus mengurangi beban. Kata orang, jika sering-sering berhenti ketika mendaki, maka lelahnya akan makin terasa. Tapi bagiku, ini lebih baik daripada

kehilangan konsentrasi yang bisa berakibat fatal. Aku memang belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Rekor terbaikku hanyalah mencapai pos kokopan, sebuah pos peristirahatan dalam perjalanan menuju puncak Gunung Arjuno ataupun Welirang.

Wongkentir Magazine | 7


Perlahan-lahan dengan ditemani sisa-sisa nafas yang ada, akhirnya tibalah aku di Ranu Kumbolo. Total lima setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk menempuh jarak sekitar 9 km dari Ranu Pani hingga Ranu Kumbolo. “Perjalanan yang menyenangkan,� gumamku mengakhiri lamunan. Dengan susah payah aku bangkit dari pembaringan. Awalnya mengangkat badan saja aku tak sanggup. Lalu kumanfaatkan kedua siku lenganku untuk menumpu punggungku. Dan hap, aku berhasil duduk. Mataku kembali menjelajah isi tenda. Tampak tiga orang yang berbagi tenda denganku tengah menikmati mimpinya dengan badan yang juga terbungkus kantung tidur. Di setiap sudut tenda, berbagai tas tergolek bisu, memenuhi isi ruang tenda yang sudah penuh oleh empat orang manusia. Tubuhku kaku. Aku gerakkan badanku ke kiri kanan untuk mengusirnya. Tampaknya selama beberapa jam tertidur, posisi tubuhku tidak berubah, terlentang.

8 | Wongkentir Magazine


Kubuka kaus tanganku. Seketika itu pula angin berebut menyapa pori-pori kulitku. BrrrA Aku raba kantung tidurku. Basah. Jaket, kaus tangan, kaus kaki. Semuanya basah. Hujankah semalam? Bocorkah tenda ini? Dan kemudian aku melihat titik-titik embun yang membasahi pori-pori kain tenda. Ingin rasanya aku kembali berbaring, tapi ternyata Fendhito dan Farikh sudah mengambil tempatku. Ruang yang beberapa detik yang lalu kutinggalkan ternyata memberikan kelegaan bagi mereka untuk bergerak. Kedua wajah yang tersembul dari kantung tidur tampak nyaman dan damai. Tak tega rasanya membangunkan mereka untuk mengambil lagi ruang tidurku. Hmm, mungkin tampaknya sudah waktunya bagiku untuk mengakhiri jam tidur. Kabut tipis bersambut riang ketika aku menyembulkan wajahku dari dalam tenda. Langit masih gelap. Hening. Sunyi. Sungguh berbeda dengan beberapa jam yang lalu

ketika suara denting gitar dan suara sumbang beradu dengan tarian api unggun. Percakapan bergantian dengan tawa renyah. Lebih dari tiga ratusan orang memenuhi camp ground Ranu Kumbolo Waktu memang masih menunjuk angka jam 3 lebih 1 0 pagi tapi aku memaksakan diri untuk keluar dari tenda. Wuusshh, sebuah asap tipis keluar dari mulutku bersamaan dengan nafas yang kuhembuskan. Wah, keren, batinku, seperti yang pernah kulihat di adegan film-film bersetting musim salju. Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah hitam. Tenda-tenda yang bertebaran di sekeilingku seolah-olah hilang ditelan kegelapan. Yang ada hanyalah kabut tipis yang menari-nari di atas air danau. Tapi tunggu dulu, apa yang tampak berkilauan di atas sana. Ternyata ada pesta di angkasa malam ini. Ribuan bintang saling berkilauan, memamerkan cahaya terbaiknya ke muka bumi. Tiada awan, tak ada kabut, sehingga perjalanan cahaya mereka bisa sampai Wongkentir Magazine | 9


dengan selamat hingga permukaan kornea mataku. “Milky Way!!!� Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang. Entah sejak kapan Bambang Wahyu Jatmiko sudah keluar dari tendanya dengan kamera yang terhunus lengkap dengan tripod. Beberapa detik kemudian dia sudah menghilang di kegelapan sebelum aku sanggup menyapanya. Bambang, salah satu sahabatku yang berdedikasi tinggi pada dunia fotografi. Keahlian memotretnya berkembang sangat pesat, padahal dia baru saja mengenal kamera sekitar dua tahun yang lalu. Peralatannya tergolong yang paling banyak diantara kami mulai dari lensa, filter hingga remote shutter. Dia juga mempunyai persiapan yang baik sebelum melakukan hunting foto, seperti membawa baterei cadangan, menyediakan plastik untuk membungkus kamera dan 10 | Wongkentir Magazine

menghindarkan serangan embun, serta tak lupa membawa serta tripod. (salah satu foto bambang bisa dilihat di postingan ini). Sedangkan aku hanya bisa memandangnya lesu. Kali ini kameraku tidak bisa beraksi. Kapasitas batereiku hanya tinggal kurang dari 30 % saja dan aku tidak membawa baterei cadangan. Sisa-sisa itu rencananya kugunakan untuk mengabadikan sunrise pagi ini setelah kemarin gagal total karena kabut yang turun. Ya mungkin untuk kali ini aku hanya bisa merekam pesta bintang ini lewat mata dan memori otakku saja. Tapi itu sudah merupakan rahmat yang harus disyukuri karena tidak semua orang bisa menikmatinya. Apalagi bagi orang yang tinggal di kota. Gemerlapan lampu, asap, debu telah membentuk perisai yang meredupkan sinar sang bintang. Aku merasakan tangan dan kakiku semakin menggigil. Kaus tangan yang basah bukan melindungi kulitku, tapi malah membuat kulitku makin mengingsut. Kukorek abu kayu sisa api unggun sore tadi. Tapi rupanya tidak ada lagi bara yang tersisa disana. Bantuan datang di saat yang tepat. Tampaknya teriakan Bambang tadi telah membangunkan satu orang lagi, mas Eko, salah satu kenalan di perjalanan. Seseorang yang istimewa di mataku. Penakluk hampir semua puncak tertinggi di nusantara. Mulai dari Kerinci di Sumatera, Mahameru dan Lawu di Jawa hingga Rinjani di Nusa Tenggara. Tinggal satu puncak di Indonesia yang belum digapainya. Sebuah gunung yang telah menjadi impiannya sejak lama. Cartens Pyramid, puncak tertinggi Papua, sekaligus di Indonesia. Melihatku menggigil, dia langsung bereaksi mengambil kompor portablenya yang tergeletak di depan tendanya. Peralatannya mendakinya yang lengkap menunjukkan sudah betapa banyak asam garamnya dalam dunia pendakian. Semua peralatan mulai dari tenda, kompor, kantung tidur, matras dan ransel carrier adalah milik pribadi dan bukan sewa. Dengan cekatan, dia menuangkan dua sendok spirtus ke dalam tungku kompornya. Menyalakan api. Meletakkan panci di


atasnya. Terakhir dituangkannya beberapa mili liter air kedalam panci tersebut. “Dingin sekali ya mas, kira-kira berapa derajat ya?” tanyaku sambil menghangatkan tanganku di atas panci. “Hmm, berapa ya kira-kira? Sebentar aku ambil termometer,” Mas Eko lalu menghilang, masuk kedalam tendanya. Tak berselang lama, dia keluar dengan membawa sebuah arloji yang mempunyai fitur termometer digital. “Sebentar, diukur dulu ya,” Beberapa menit kemudian, mas Eko memperlihatkan jajaran angka yang tampil di termometer digital miliknya, tiga koma lima derajat celcius. -Detik demi detik berlalu, gelap pun mulai tersibak. Segaris warna tergurat nun jauh di ufuk timur sana. Fajar menyingsing. Sudah waktunya Subuh. Ku langkahkan kakiku mendekati bibir danau. Perlahan-lahan, aku benamkan dia ke dalam air yang berkabut itu. Hmm, ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Segera kuambil wudhu. Tidak ada hal yang lebih indah ketika bersujud pada-Nya di tengah-tengah alam yang terhampar. Beratapkan langit yang bermandikan cahaya bintang dan ditemani semilir kabut tipis. Mengakui betapa kecilnya kita di semesta raya ini. Setelah menunaikan sholat subuh, aku bersila menatap langit timur. Secangkir teh hangat dan keripik singkong menjadi penghangat suasana bersanding dengan kamera yang sudah terpasang gagah pada tripod. Sesekali ku tekan shutter kamera dan satu lukisan-Nya pun terekam sempurna. Disampingku, Fendhito tengah sibuk dengan panci-panci. Dipilihnya panci-panci yang terlihat bersih. Lalu ditumpuknya satu persatu hingga setinggi sekitar 40 sentimeter. Setelahnya diletakkan kamera di atas tumpukan itu. Tak ada tripod, panci pun jadi. Semakin siang, suara shutter yang terdengar semakin banyak, berirama, beradu dengan riuhnya para pendaki yang telah terbangun dari lelapnya mimpi. Tanpa dikomando, mereka memenuhi bibir danau. Membawa kamera, tetapi bukan untuk memotret,

melainkan dipotret. Nasib kurang mujur bagi mereka yang terpaksa harus memotret. Bagi yang beruntung, ekspresi terbaikpun dipasang. Tersenyum simpul, tertawa lebar, ataupun juga berlagak dingin penuh misteri. Tangan pun tak luput untuk ikut bergaya, mulai dari gaya jempol, victory ataupun metal. Matahari terbit diatas air danau menjadi latar belakang favorit. Sebagai bukti nyata telah menjejakkan kaki di lereng Semeru. Sebagai kebanggan untuk ditunjukkan kepada kawan-kawan bahwa Ranu Kumbolo sudah digapainya. Aku dan teman-teman pun turut bernarsis ria. Hanya saja di tim kami tidak ada yang tidak beruntung karena semuanya bisa masuk frame. Lalu siapa pemotretnya? Tripod.

Pekatnya kegelapan perlahan memudar, berganti dunia yang penuh warna. Matahari memancarkan sinarnya yang keemasan. Langit membiru dengan gugusan awan putih yang menggumpal. Menghijaunya air danau ranu kumbolo. Serta aneka warna dari tenda para pendaki yang berdiri tegak di camping ground. Sebuah keajaiban pagi di salah satu tempat terindah di muka bumi. Semuanya itu kini terabadikan dalam bingkai frame kameraku dan terekam indah di salah satu tempat terdalam diantara lipatan-lipatan otakku. Dan rekaman itu tak henti-hentinya mengirimkan impuls kepada saraf-saraf di kepalaku agar aku bisa sesegera mungkin kembali ke sana. Semoga. Wongkentir Magazine | 11


Journey

Wongkentir Magazine | 13


Kaki-kaki gontai berjalan beriringan di

pekatnya malam. Gelap berpacu dengan dingin dan debu. Dua tiga langkah kaki maju diikuti satu langkah mundur. Nafas memburu terengah-engah. Paru-paru menjerit, meronta, mendamba oksigen yang kian menipis. Badan sudah tidak sanggup berdiri tegak. Tongkat menjadi tumpuan, menggantikan lutut yang sudah seperti mati rasa. Bahkan beberapa sudah ada yang ambruk dan musti berjalan merangkak. Kerongkongan terasa kering, tetapi persediaan air harus dihemat. Tetes demi tetes sangat berharga. Ditengah itu semua, fokus dan konsentrasi harus tetap terjaga. Meski mata terasa berat, meski badan sudah remuk redam. Sudah sekitar tiga jam yang lalu pos Arcopodo kami tinggalkan. Puncak masih menunggu nun jauh di atas sana sedang kiri kanan jurang menganga. Mahameru, puncak para dewa. Sosok hitam itu menjulang angkuh menantang angkasa. Pesonanya menawan.

14 | Wongkentir Magazine

Kedamaiannya dirindukan. Dan kini, kami disini. Diantara bebatuan dan pasir, disekitar tebing 45 derajat yang terbentang, ditengah rasa keputusasaan, kami mencoba menggapai kemolekan itu. Banyak orang bilang, jika sesuatu itu didapatkan dengan mudah, maka dengan mudah pula sesuatu itu akan pergi. Tidak akan ada sebuah kesan yang tertinggal. Sebaliknya, jika sesuatu itu didapatkan dengan sulit, maka akan sulit pula sesuatu itu akan pergi. Dan sesuatu itu pastinya akan memberikan kesan yang sangat dalam dan membekas. Hanya itu lah keyakinan kami saat ini. Perjuangan yang berat ini, pasti nantinya akan setimpal dengan apa yang kami raih nantinya. Fajar menyingsing di ufuk timur, tetapi kami masih disini. Di punggungan Semeru, tanah tertinggi di pulau jawa. Kami berhenti sesaat. Membiarkan mata menangkap salah satu momen terindah di muka bumi sambil memberikan waktu untuk nafas kami. Sungguh sempurna matahari terbit pagi ini. Sebuah nikmat yang sangat luar biasa dari


Sang Pencipta. Jadi nikmat Allah mana yang kau dustakan. Istirahat bukan berarti berhenti. Perjalanan masih dilanjutkan. Puncak sudah melambai di atas sana. Meminta segera dijejaki. Beberapa rekan sudah mengibarkan bendera putih. Cukup disini perjuangan kali ini bagi mereka. Respect! Kami tahu, mereka berhenti bukan karena menyerah, bukan karena kalah. Tapi karena mereka tahu keselamatan adalah yang utama. Perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan pulang. Kembali berkumpul bersama keluarga. Akan sia-sia jika kita meraih puncak, tetapi pada akhirnya tidak bisa pulang. Tidak akan ada kegembiraan. Yang ada hanyalah kegetiran dan air mata. Semakin ke atas, tebing semakin curam. Empat puluh lima derajat, perlahan-lahan berubah menjadi enam puluh derajat. Stamina makin terkuras, tetapi konsentrasi harus makin fokus. Dan, akhirnya sampailah kami di puncak.

Benar-benar sebuah perasaan yang luar bisa. Membuncah penuh kegembiraan. Kami terpekur memandang semua yang tersaji disana. Langit biru. Gugusan awan yang berarak-arak. Bukit-bukit kehijauan yang menjulang. Sungguh, manusia ini memang sangat kecil dihadapan-Nya. Sungguh, sebuah perjuangan yang sulit, akan meraih sesuatu yang sulit untuk dilupakan. Dan kami pasti tidak akan lupa dengan apa yang kami lihat pagi ini di sepanjang usia kami. Dengan penuh kerendahan hati, kami bersujud padaNya. Bersyukur penuh haru telah diberi kesempatan menikmati keindahan ini. Tiba-tiba terasa puncak itu berguncang. Terdengar suara gemuruh dari dalam perut bumi. Tubuh kami bergetar. Nyali menciut. Pasir dan batu di puncak berderak. DanAwhuzzz.. sebuah gumpalan asap menggelegak ke angkasa. Itulah awan panas yang tersembur dari kawah Jongring Saloka. Bentuknya seperti jamur dan sangat mematikan. Wongkentir Magazine | 15


Awan itulah yang diperkirakan membunuh Soe Hok Gie dan Idhan Lubis di tahun 1 969, dua orang pecinta alam dari Universitas Indonesia. Saat ini awan tersebut belum terlalu membahayakan, karena arah angin masih menuju ke selatan. Tetapi di atas jam 1 0 pagi, arah angin berubah ke utara, menuju puncak yang saat ini kami jejak. Untuk itulah, kami harus segera turun sebelum jam 1 0 pagi. Satu jam berlalu, akhirnya kami pun turun. Perjalanan turun jauh lebih mudah dibandingkan ketika mendaki. Kami seperti bermain ski pasir. Tapi justru disinilah kewaspadaan diperlukan. Banyak data yang menunjukkan bahwa banyak pendaki hilang di Semeru justru pada saat turun dari puncak.

16 | Wongkentir Magazine

Euforia yang berlebihan dan disorientasi arah menjadi penyebabnya. Hanya ada satu jalan dari Arcopodo menuju Puncak Mahameru. Dari situlah kami berangkat, dan menuju situlah kami pulang kembali ke Arcopodo dan lanjut ke camp ground Kali Mati. Sisanya adalah jurang menganga yang siap menerkam. Oleh tim SAR, area jurang ini disebut Blank75. Tak sampai setengah jam, kami sudah sampai di pos Arcopodo. Disini kami memandang sekali lagi semeru yang menawan itu. Kelak, suatu hari nanti, kami pasti akan kembali disini. Dalam suasana dan kesempatan yang berbeda. Mereguk lagi keindahan dan kedamaian yang ditawarkannya.


Profile

SEORANG PORTER BERNAMA HARTONO Text by Surya Hardhiyana Putra Photo By Doni Wicaksono

“Mas, tunggu!!,� panggilku memecah kesunyian sore dengan nafas yang tersengal. Posisiku sudah setengah merangkak. Tanganku berpegang erat pada sebuah batang pohon. Peluh membasahi wajah, tubuh hingga kakiku. Seseorang yang berjarak sekitar 5 meter di depanku menghentikan langkahnya, seraya kemudian memalingkan wajahnya. Tubuhnya kurus. Rambutnya hitam pendek. Kumisnya tipis menghiasi mukanya. Sebuah kacamata membingkai sepasang matanya. Dengan ringan dia melangkah ke arahku. Wajahnya tampak tenang dengan nafas yang stabil, seolah tak merasakan kelelahan. Padahal di bahunya terpanggul ransel seberat 20 kg. Aku sendiri hanya membawa beban ransel sekitar 1 2 kg. 18 | Wongkentir Magazine

“Istirahat dulu ya mas,� ajakku padanya. Tanpa menjawab, dia mengambil posisi duduk dengan ransel masih tertambat dipunggungnya. Dibuka kacamatanya. Sejurus kemudian dia mengeluarkan pisau kecil yang terbungkus kertas dari balik saku celananya. Diambil kertas pembungkus itu, diletakkan pisaunya dan mulailah dia melihatlihat kertas pembungkus yang sudah lusuh serta kumal tersebut. Matanya tampak menekuni tulisan dan gambar yang tercetak, sambil sesekali menatap ke langit, seperti memikirkan sesuatu. Namanya Hartono, salah satu dari dua porter yang kami sewa untuk mendampingi kami mendaki lereng Semeru. Usianya masih sangat muda, 1 6 tahun, tapi wajahnya terlihat sedikit lebih tua dibanding usianya. Tapi diantara rekan sesama porter, penampilan Hartono terlihat berbeda. Dengan hoodie warna hijau, kacamata hitam dengan kaca merah serta rambut yang klimis dan kaku, Hartono tampak sangat modis. Ketika aku dan teman-teman memintanya mengambil foto, dia tanpa ragu melakukannya. Ketika banyak rekan sesama porter yang menolak dengan alasan tidak bisa ataupun takut merusakkan, Hartono cukup percaya diri menerima amanah itu. Bahkan mengoperasikan kamera DSLR, dimana untuk memotret harus mengintip ke lubang kamera, dia pun bisa. Hasilnya pun relatif oke. Tingkahnya yang dari tadi membaca kertas pembungkus pisau membuatku penasaran. Hampir setiap istirahat dia selalu melakukan hal itu. Sangat berbeda dengan porter lainnya yang lebih memilih menghisap tembakau ataupun sekedar berbincang-bincang dengan tamu yang diantarnya. Kertas pembungkusnya pun bukan cuman 1 lembar saja, tapi 4 lembar. Tapi sepanjang perjalanan dari Ranu Pani hingga sampai ke Ranu Kumbolo, aku belum bisa menuntaskan rasa penasaran itu. Malam pun tiba. Setelah membantu menyiapkan makan, Hartono dan Wirrohman, kedua porter kami, mohon diri untuk berkumpul bersama rekan-rekan porter yang


lain. Mereka berdua menolak ketika kami menawari mereka makan. Tempat para porter berkumpul biasanya adalah sebuah bangunan berbentuk rumah yang merupakan satu-satunya bangunan permanen di Ranu Kumbolo. Tapi keduanya tidak berkumpul disana, melainkan di sebuah tempat terbuka di bibir ranu, yang kebetulan tidak jauh dari tempatku dan teman-teman mendirikan tenda. Tidak ada tenda disana. Mereka tidur beralas rumput dan beratap langit penuh bintang. Sarung dan kobaran api unggun menjadi andalan untuk mengusir dingin. Ditengah jilatan api yang berjoget, Hartono kembali mengeluarkan pisaunya. Lagi-lagi dia buka kertas pembungkusnya dan tak lama kemudian membaca. Tapi kali ini dia tak sendiri membacanya. Ada porter lain yang menemani. Mereka tampak berdiskusi serius. Sesekali kawan Hartono ini terlihat mengeluarkan ekspresi kegeraman sambil menepuk bahu ataupun punggung Hartono. Penasaran, aku mendekati mereka. Aku coba mencuri dengar pembicaraan mereka. Ayo, Jowo kuwi nduwe pirang propinsi? Sik, tak mikir disek. Satu detik, dua detik, sepuluh detik berlalu, belum ada jawaban. Ketika sampai satu menit terlewati, belum juga ada jawaban, sang kawan ini mulai kehilangan kesabaran. Wes mbok woco rung bukune Uwis, ro, iki kertase tak gawe bungkusan lading. Kok jik ga iso? Woconanku rung tekan kono. Aku jik tekan halaman loro. Yo gak mungkin, ngapusi kowe. Lha pelajaran kuwi lho ning halaman siji kok. Hartono meringis. Yo wes, tak wocone ulang maneh. Yap misteri sedikit terkuak. Ternyata pembungkus pisau itu bukan kertas biasa. Juga bukan kertas mantra aji-aji biar bisa kuat mendaki. -Pagi-pagi sekali, Hartono sudah mendatangi tenda kami. Dia mau meminta botol kosong air mineral untuk mengambil air. Sebenarnya kami bisa saja mengambil sendiri airnya. Tapi Hartono menawari untuk mengambil di

tempat agak jauh dari perkemahan agar lebih bersih. Dengan dua buah botol kosong di tangan kiri, dia melenggang menuju sisi selatan ranu. Sedangkan tangan kanannya? Lagi-lagi, kertas pembungkus itu, dan matanya tak bisa lepas dari kertas itu. Ketika akhirnya dia kembali ke tenda kami, akupun tak kuasa bertanya. Sampeyan arep ujian tah mas? Wajahnya terlihat kaget. Lho, kok ngerti njenengan. Iyo mas, sesuk senin arep ujian. Ngerti lah. Sakti. Ujian opo mas? IPS mas. Oalah, sampeyan jik sekolah to. Kelas piro mas? Aku gak sekolah mas. Cuma melu kejar paket B mas. Oalah. Lha koncomu sing wingi bengi mbedek’I kuwi sopo mas? Hartono menatap curiga kepadaku. Lho, kok sampeyan ngerti nek aku wingi bedek2an karo kuro? Kan wes tak kandani, awakndewe sakti. Kuro? Koncomu kuwi jenenge kuro? Jenenge ibrahim mas. Tapi celukane kuro. De’e guruku mas.Dekne mahasiswa ning Malang. Dekne di kongkon ngajari arek-arek porter koyok aku ngene mas. Opo’o kok melu kejar paket B mas. Yo ben pinter mas, koyok kuro. Koyok sampeyan ambek konco-koncone sampeyan. Aku tersipu. Tak dongakno ben ndang pinter mas. Amiin mas. Sakjane aku pengen banget isok boso inggris mas. Saiki akeh bule bule sing munggah ning Semeru. Nek aku iso boso inggris, aku iso ngancani bule-bule kuwi. Duite pasti akeh mas, he he he. Aku yo pengen belajar moto. Pengen nduwe kamera apik koyok nggone sampeyan. Jleb, tak terasa mata ini berkaca-kaca. Sebuah kontemplasi diantara barisan bukit dan sejuknya hawa Ranu Kumbolo. Sungguh ajaib. Ternyata bukan pemandangannya saja yang membuatku menangis di Ranu Kumbolo. Sayang, hanya semalam saja kebersamaanku bersama Hartono. Wongkentir Magazine | 19


Siang hari itu, Hartono mengawal empat orang temanku, Imron Fauzi, Heru Sutjahjono, Doni Wicaksono dan Fajar Kurniawan melanjutkan perjalanan ke Kalimati lanjut puncak Mahameru. Sedangkan aku dan ketujuh rekan lainnya bertahan di Ranu Kumbolo. Meski hanya semalam, perjumpaan dengan Hartono akan menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan di sepanjang hidupku.

20 | Wongkentir Magazine

Semoga sukses selalu mas Hartono. Kejar terus cita-citamu. Semoga Allah memudahkan langkahmu, Amiin. NB : Kamus bahasa jawa Lading = pisau Ngapusi = bohong Mbedek’I = memberi pertanyaan Ngancani = menemani Woconanku = bacaanku


Wongkentir Magazine Vol 1  

Wongkentir Digital Magazine Vol 1 from http://wongkentir.blogdetik.com/ by Surya Hardhiyana Putra This edition talk about Ranu Kumbolo, the...

Wongkentir Magazine Vol 1  

Wongkentir Digital Magazine Vol 1 from http://wongkentir.blogdetik.com/ by Surya Hardhiyana Putra This edition talk about Ranu Kumbolo, the...

Advertisement