Issuu on Google+

Budidaya dan Pasca Panen Ubi Jalar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai orang Indonesia kita pasti mengetahui tanaman ubi jalar. Tanaman satu ini memang banyak ditemui di Indonesia. Sayangnya masih banyak orang yang memandang sebelah mata pada tanaman ini. Banyak petani yang menanam ubi jalar hanya sebagai selingan selain dari menanam padi di sawah. Padahal kandungan gizinya cukup baik dan kaya akan vitamin A yang baik untuk kesehatan mata. Selain itu pemanfaatan ubi jalar pun belum maksimal dan hanya terpaku pada beberapa jenis makanan olahan. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Agronomi. Selain itu juga untuk berbagi pengetahuan tentang budidaya dan pasca panen ubi jalar kepada para pembaca. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Tentang Ubi Jalar Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya. Bunga ubi jalar.Ubi jalar berasal dari Amerika Selatan tropis dan, yang masih diperdebatkan, Papua. Kalangan yang tidak menyetujui asal muasal ubi jalar dari Papua berpendapat bahwa orang Indian telah berlayar menuju ke barat melalui Samudra Pasifik dan membantu menyebarkan ubi jalar ke Asia. Proposal ini banyak ditentang karena bertentangan dengan fakta-fakta klimatologi dan antropologi. 2.2 Potensi Ubi Jalar Di Indonesia Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai potensi besar di Indonesia. Areal panen ubi jalar di Indonesia tiap tahun seluas 229.000 hektar, tersebar di seluruh propinsi, baik di lahan sawah maupun tegalan dengan produksi rata-rata nasional 10 ton per hektar (Khudori, 2001). Penghasil utama ubi jalar di Indonesia adalah Jawa dan Irian Jaya yang menempati porsi sekitar 59 persen. Peluang perluasan areal panen masih sangat terbuka. Dengan perbaikan teknik budidaya dan penggunaan varietas unggul nasional, produktivitas bisa dinaikkan menjadi 30 ton per hektar. Ubi jalar bisa ditanam sepanjang tahun, baik secara terus menerus, bergantian maupun secara tumpang sari. Ubi jalar bisa ditanam sepanjang tahun di jenis tanah apa saja dan di mana saja. Pada tanah Ultisol yang kurang subur di Kalimantan, produksinya juga cukup tinggi, 20 ton per hektar (Santoso dan Wibowo, 1997, dalam Khudori, 2001). Teknik budidaya ubi jalar mudah, tidak perlu penguasaan pengetahuan dan kultur teknis serta teknologi yang rumit, serta hama dsan penyakitnya juga sedikit. Keunggulan lain dari ubi jalar adalah umur panen ubi jalar yang singkat yaitu hanya empat bulan, sementara ubi kayu delapan bulan. 2.3 Varietas Unggul Ubi jalar merupakan palawija penghasil karbohidrat terpenting setelah jagung dan ubi kayu. Komoditas ini juga mengandung vitamin A dan C. Selain untuk pangan, ubi jalar digunakan pula


untuk pakan dan bahan baku industri. Dikaitkan dengan keragaman kegunaannya maka ubi jalar berperan penting dalam pengembangan diversifikasi pangan dan agribisnis. Di Jepang, ubi jalar diolah menjadi permen, es krim, beverage (sejenis minuman), mi, alkohol, dan pakan. Di negara sakura itu terdapat restoran dengan menu utama ubi jalar, yang dikunjungi oleh sedikitnya 100 orang setiap hari. Di Indonesia, pengembangan ubi jalar belum mendapat perhatian serius, sebagaimana tercermin dari luas tanam yang fluktuatif dengan produktivitas yang baru mencapai 9,5 t umbi/ha. Padahal di tingkat penelitian, ubi jalar mampu memberi hasil hingga 40 t/ha. Senjang hasil ini disebabkan oleh berbagai hal, termasuk belum berkembangnya penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi di kalangan petani. Untuk mendukung pengembangan ubi jalar, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) terus berupaya menghasilkan varietas unggul kacang-kacangan dan umbi-umbian melalui penelitian. Dewasa ini pemuliaan ubi jalar tidak hanyadiarahkan pada hasil tinggi, tetapi juga mengedepankan kualitas gizi umbi, di antaranya protein dan beta karoten. Balitkabi telah berhasil merakit lima varietas unggul baru ubi jalar masing-masing dengan nama Sari,Boko, Sukuh, Jago, dan Kidal. Varietas Sari dan Kidal berwarna merah, masing-masing memiliki beta karoten (pro-vitamin A) 380,9 dan 347,8 mkg/100 g umbi. Ubi jalar yang dilepas sebelumnya hanya memiliki beta karoten 51,2 mkg/100g untuk umbi berwarna putih dan 174,2 mkg/100 g untuk umbi berwarna merah. Keberhasilan perakitan varietas unggul tersebut tidak terlepas dari dukungan koleksi plasma nutfah ubi jalar. Varietas unggul Sari merupakan hasil persilangan antara varietas lokal Blitar dan varietas lokal Banyuwangi, sedangkan varietas unggul Kidal merupakan hasil persilangan bebas dari klon Inaswang. Daya hasil varietas unggul baru ubi jalar berkisar antara 25-35 t/ha. Selain berdaya hasil tinggi, kelima varietas juga agak tahan terhadap Cylas formicarius serta tahan hama penggulung daun, Sphaceloma batatas dan Cercospora. Kelima varietas unggul tersebut diharapkan segera meluas pengembangannya di kalangan petani. 2.4 Budidaya Ubi Jalar 2.4.1 Penyiapan Lahan Ubi jalar dapat ditanam ditegalan atau sawah. Penyiapan lahan ditujukan untuk menciptakan media tumbuh yang gembur dan subur. Tanah dan diolah dan dibuat guludan dengan lebar 40 – 60 cm dan tinggi 25- 30 cm . Jarak antar guludan 80-100 cm. Pada tanah berat(berlempung) untuk membuat guludan yang gembur perlu ditambah 10 ton bahan organic/ha. 2.4.2 Cara Tanam Ubi jalar ditanam setelah padi yaitu awal hingga pertengahan musim kemarau. Penyertaan ubi jalar dalam pergiliran tanaman dengan padi sawah sangat bagus dipandang dari segi aspek keberlanjutan, khususnya aplikasi bahan organic pada ubi jalar saat musim kemarau. Populasi tanaman sekitar 35.000 sampai 50.000 tanaman /ha. Dengan jarak antar baris /gulud 80100 cm, dan dalam baris 20-30 cm. Bibit dari stek pucuk, tunas semai umbi. Ubi jalar dapat pula ditanam pada system tumpang sari dengan tingkat naungan tidak lebih 30 %. 2.4.3 Pemupukan Takaran pupuk 100-200 kg urea + 100 kg SP 36 +100 kg KCI + 10 ton pupuk kandang/ha. Pupuk kandang diberikan bersamaan pembuatan guludan. 1/3 dosis urea dan KCI serta seluruh SP 36 diberikan pada saat tanam. Sedangkan sisanya, 2/3 Urea dan KCI diberikan pada saat tanaman berumur 1,5 bulan. Aplikasi pupuk harus ditutup dengan tanah. 2.4.4 Penyiangan Gulma Penyiangan gulma dilakukan sebelum pemupukan kedua. Bagi ubi jalar yang ditanam setelah padi sawah, jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai mulsa sehingga dapat mengurangi biaya penyiangan gulma dan pembalikan batang. Peran pembalikan batang dapat digantikan dengan penggunaan mulsa karena pembalikan batang mencegah munculnya akar dari ruas batang. 2.4.5 Penyiraman Pertanaman ubijalar musim kemarau, perlu diairi untuk mencapai produktivitas tinggi. Selain itu, pengairan yang cukup dapat menghindarkan ubi jalar dari serangan hama boleng Cylas formicarius.


2.4.6 Pengendalian Hama dan Penyakit Hama utama adalah hama boleng cylas formicarius, penggerek batang Omphisa anastomasalis serta nematode Meloidogyne sp yang merugikan ubi jalar Penyakit utama pada ubi jalar adalah jamur stek Fusarium sp. Dan kudis Spaceloma batatas 2.5 Pasca Panen Ubi jalar dapat dipanen jika umbi sudah tua dan besar. Panen dapat serentak maupun bertahap. Secara fisik ubi jalar siap dipanen apabila daun dan batang sudah mulai menguning. Didataran rendah, ubi jalar umumnya dipanen pada umur 3,5 – 5 bulan. Sedangkan didataran tinggi ubi jalar dapat dipanen pada umur 2 – 8 bulan. Setelah dibersihkan dari tanah dan dipisahkan dari umbi yang tidak seha, umbi yang bertangkai hingga pangkal batang disatukan dalam bentuk ikatan tergantung pada tujuan kegunaan akhir. Umbi yang dikirimkan kepabrik dikemas dalam karung maupun curah. Sedangkan umbi yang dikirimkan kepasar dapat dikemas dalam berbagai bentuk sesuai selera pasa, misalnya diikat atau ditaruh dalam keranjang. Ubi jalar dapat diolah secara sederhana menjadi berbagai bentuk masakan, dikukus, direbus, digoreng, dipanggang, dibakar, maupun dioven merupakan cara yang umum dilakukan dalam mempersiapkan ubi jalar untuk disajikan. Selain dikonsumsi langsung ubi jalar dapat diolah menjadi produk antara dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan yepung diperoleh dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur dan menghancurkan (menepungkan) diayak pada ukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubi jalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim. Bagi pembutan kue-kue kering (cookies), tepung ubi jalar juga dapat digunakan sebagai bahan baku. Penggunaan tepung ubi jalar sebagai bahan baku pembuatan kue bisa mencapai 100 persen. Pada pembuatan cake dan cookies, penggunaan ubi jalar bisa mengurangi kebutuhan gula sampai 20 persen. Sebagai bahan baku mie dan roti manis, tepung ubi jalar dapat dibuat dari umbi segar berwarna putih. Untuk bahan baku industri roti basah, cake atau kue-kue kering, tepung ubi jalar dapat dibuat dari umbi segar berwarna putih, kuning atau jingga. Sedangkan sebagai bahan baku industri kue yang diberi bahan coklat, Tepung ubi jalar dapat dibuat dari umbi berwarna ungu. Pembuatan ubi jalar menjadi tepung yang dilanjutkan dengan pembuatan produk-produk berbasis tepung ubi jalar bisa dilakukan pada industri skala rumah tangga atau industri kecil, terutama di pedesaan. Pada usaha skala rumah tangga untuk pembuatan tepung ubi jalar diperlukan dua sampai tiga orang tenaga dengan kapasitas 200 kg ubi jalar per hari. Alat yang diperlukan satu unit mesin pemotong, bak pencuci dan alat penjemur dari bambu. Pada usaha kelompok tani/pengrajin dibutuhkan 10 sampai 12 tenaga kerja dengan kapasitas produksi 1 ton ubi jalar segar/hari. Usaha industri tepung ubi jalar nyaris tanpa limbah karena kulit ubi jalar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada industri pembuatan mie, biscuit atau bakery yang berbasis tepung terigu, bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan relative sederhana. Kalau selama ini banyak industri kecil yang bisa beroperasi dengan bahan baku tepung terigu, kenapa kita tidak coba menggantinya dengan tepung ubi jalar? Hal ini akan sangat berarti pada masa sekarang, terutama karena akan menurunkan impor gandum sebagai bahan baku terigu. Selain itu dengan banyaknya perusahaan yang mem-PHK karyawannya sekarang ini, orang akan kesulitan mencari kerja. Dengan adanya industri pembuatan tepung ubi jalar dan produk olahannya akan menyerap sejumlah tenaga kerja. Hal ini paling tidak akan sedikit membantu kesulitan ekonomi yang sampai saat ini belum berlalu di negara kita. Selain itu karena harga bahan bakunya yang lebih murah, maka harga tepung ubi jalar yang dihasilkan juga akan lebih murah.


BAB III KESIMPULAN Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai potensi besar di Indonesia. Sayangnya pemanfaatan ubi jalar di Indonsia kurang maksimal. Padahal ubi jalar memiliki nilai gizi yang tinggi dan kaya akan vitamin A dan Beta Karotin. Dengan adanya varietas unggul ubi jalar diharapkan dapat meningktkan produktivitas ubi jalar di Indonesia. Daftar Pustaka http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/nuraini.pdf http://banabakery.wordpress.com/2009/01/01/ubi-jalar-dan-kandungan-gizinya-yangmencengangkan/ www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr24502j.pdf http://blog.unila.ac.id/wasetiawan/files/2009/11/budidaya-pemanenan-dan-penyimpanan-produkubi-jalar.pdf http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=133:teknologibudidaya-ubi-jalar&catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leaflet&Itemid=53


Budidaya Ubijalar