Issuu on Google+

DIGITAL NE WS PA PER

Spirit Baru Jawa Timur surabaya.tribunnews.com

surya.co.id

steven gerrard

| SENIN, 15 OKTOBER 2012 | Terbit 2 halaman

Pimpin The Three Lions

edisi pagi

ROY HODGSON LONDON, SURYA — Pelatih tim nasional Inggris, Roy Hodgson, memberi sinyal kalau Wayne Rooney berpeluang menyandang ban kapten “The Three Lions” secara permanen. Dengan catatan, jika gelandang Steven Gerrard, yang selama ini menjadi kaptem timnas Inggris, pensiun dari karier sepak bola internasionalnya. Untuk pertama kalinya, Rooney didaulat menjadi skipper Inggris dalam ajang internasional resmi ketika menghadapi San Marino dalam laga penyisihan grup Pra-Piala Dunia Brasil 2014, Jumat (12/10/2012). Dalam pertandingan yang berakhir 5-0 untuk Inggris itu, Gerrard absen akibat akumulasi sanksi kartu. Hodgson mengaku memang mempersiapkan Rooney, sebagai kapten Inggris ketika Gerrard tak bermain meski masih ada pemain berpengalaman lainnya, seperti gelandang Chelsea, Frank Lampard. “Ya. Sesuatu (menyandang ban kapten timnas) yang memang membanggakan dan itu diinginkan Rooney. Dia selalu bermain baik bagi Inggris dan itu sangat bagus,” ujar Hodgson saat ditanya mengenai kemungkinan Rooney menjadi kapten masa depan Inggris. “Wayne adalah

deputi kapten tim saya di Euro 2012. Steven telah dipercaya sebagai kapten. Jadi, jelas Rooney akan jadi wakilnya. Frank (Lampard) kembali bermain dan dia pasti memimpin timnya. Akan tetapi, dalam kepala saya, tetap Rooney wakil kapten tim ini,” lanjutnya. Saat melawan Polandia, yang direncanakan digelar Selasa (16/10/2012), Gerrard akan kembali memimpin rekanrekannya. Meski tak menyandang jabatan kapten lagi, Rooney berjanji akan selalu tampil maksimal meraih poin bagi timnya. “Sebagai pemain muda, impian Anda adalah bermain di timnas Inggris dan ketika Anda sudah bermain langkah selanjutnya adalah menjadi kapten negara Anda sendiri,” kata Rooney. “Aku telah melakukannya sekarang. Sebuah kehormatan besar. Suatu saat nanti, aku berharap memakai ban kapten itu untuk seterusnya,” ujarnya. (kompas.com)

Rooney join facebook.com/suryaonline

follow @portalsurya


2

SENIN, 15 OKTOBER 2012 | surya.co.id | surabaya.tribunnews.com

BATIK, SURABAYA SURYA - Sebagai pecinta batik dan pembuat film, Nia Dinata merasa terpanggil untuk membuat film dokumenter tentang batik. Apalagi, di Indonesia, belum ada film yang secara khusus mengabadikan keragaman corak batik di Indonesia berikut cerita di balik pembuatannya. Menyusul dikukuhkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi dari Indonesia oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009, film “Batik: Our Love Story” akhirnya rampung dibuat dan diputar secara perdana pada September 2011. Bukan hal yang mudah, mengawali pembuatan film yang menyentuh realitas kehidupan pembatik, termasuk para perempuan pembatik ini. Nia mengaku, ada banyak hal yang ternyata tidak dipahaminya mengenai batik, meskipun sudah mengenal kain ini sejak kecil. “Waktu kecil saya tumbuh bersama nenek buyut saya yang mengoleksi batik. Ia merawat kain-kain batiknya dengan menutupkannya di atas sangkar ayam, lalu diasapi dengan menyan. Cara itu membuat batiknya selalu wangi. Ini menjadi suatu lovely memory buat saya,” papar Nia, saat diskusi mengenai filmnya di @america, Pacific

join facebook.com/suryaonline

Place, Jakarta. Batik memiliki makna filosofis, dan orang Jawa hidup dengan memegang teguh filosofi tersebut. Semua tahapan dalam hidup mereka selalu ditandai dengan penggunaan batik. “Misalnya tujuh bulanan anak, pakai batik. Cukuran, pakai batik. Meninggal pun dibungkus kain batik,” ujar Nia, yang melakukan riset tentang batik di Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Madura, dan Lasem selama tiga bulan, sejak Januari 2011. Di kawasan lain, batik juga menyimpan makna tersendiri. Hal inilah yang lalu mengembangkan motif batik di setiap daerah, karena para pembuatnya mengaitkannya dengan kultur mereka. Batik dari Madura menampilkan gambar-gambar ikan dan kapal, karena para pria di sana

Tradisi Penuh Filosofi mencari nafkah sebagai nelayan. Motif ikan dan kapal menggambarkan doa dari para istri, agar suami mereka selamat saat bekerja. Lain lagi dengan batik pekalongan. Orang-orang China peranakan di kota tersebut sangat menyukai bunga, sehingga batik pekalongan pun banyak menggunakan motif bunga. “Orang Jawa lebih filosofis, sehingga banyak menampilkan motif pemandangan yang indah, dan beragam. Motif untuk anak yang mau hamil, motifnya berisi doa-doa. Untuk pengantin digunakan motif sidomukti, yang sangat kaya pengembangannya. Tetapi pada

akhirnya, orang Indonesia mencintai batik karena mereka mengembangkannya with heart and soul,” tugas Nia. Dari riset yang dilakukannya, diketahui pula bahwa motif print seperti batik ternyata bukan hanya dimiliki oleh Indonesia. Namun Nia berpendapat bahwa hal ini tidak perlu diperdebatkan, karena pada akhirnya terbukti bahwa orang Indonesia lah yang mencintai batik dan mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang membuatnya lebih bahagia saat proses pembuatan film ini, adalah menyaksikan bagaimana dedikasi para perempuan pembuat batik. “Mereka rela duduk berjam-jam dalam sehari untuk membatik. Itu artinya They Have Pure Love terhadap batik,” tukasnya. (kompas.com)

follow @portalsurya


Surya Digitalpaper 15 Oktober 2012Pagi