Issuu on Google+

surya.co.id ALAMAT REDAKSI/IKLAN: JL. RUNGKUT INDUSTRI III NO. 68 & 70 SIER SURABAYA TELEPON (031) 8419000 www.surya.co.id

EDISI PAGI NO. 28 TAHUN I

rabu, 28 MARET 2012

TERBIT 2 HALAMAN

Neymar Emoh ke Eropa ■

Tetap Pilih Santos

SANTOS, SURYA - Penyerang Santos, Neymar, tidak sependapat dengan anggapan yang menyebut bahwa dirinya bisa menjadi permain terbaik dunia jika hijrah ke Eropa. Neymar mengaku yakin bisa lebih berkembang meskipun tetap bertahan di Brasil. Pernyataan Neymar ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukan sebelumnya oleh legenda Brasil, Ronaldo. Ronaldo mengaku yakin, Neymar bisa lebih hebat dari Lionel Messi jika hengkang dari Brasil. Pelatih Brasil, Mano Menezez, juga memiliki opini yang sama. “Aku telah berkembang selama tiga tahun. Aku terus berusaha mengembangkan diri dengan kerja keras,” ungkap Neymar kepada Globoesporte. “Aku tidak perlu pergi ke tempat yang baru atau meraih lebih banyak pengalaman. Aku mendapatkan banyak pengalaman di Santos dengan prestasi yang positif. Aku tidak perlu pindah ke Eropa. Mano ingin yang terbaik dari diriku. Namun, ini keputusanku, ayahku, dan seluruh keluargaku,” beber Neymar. Dikabarkan sebelumnya salah satu legenda sepak bola dunia, Ronaldo Luiz Nazario de Lima mengatakan bahwa Messi tengah berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding pemain lain di planet ini. Namun, lanjutnya, Neymar yang sudah mencetak delapan gol dalam 16 pertandingannya untuk Brasil adalah harta terpendam dari Negeri Samba itu. “Neymar adalah bakat terbesar kami. Saya percaya bahwa dia bisa lebih baik daripada Messi.

Tanggapi Ronaldo

Masih banyak ruang untuk meningkatkan kemampuannya, tetapi tidak, jika ia terus bermain di Brasil,” ujar Ronaldo kepada TV Cultura seperti dilansir Goal.com. “Jika dia tidak bermain di luar negeri, jelas dia tak akan menjadi yang terbaik di dunia sepak bola. Meskipun kompetisi sepak bola Brasil kian tumbuh, hal itu tak cukup untuk mengembangkan potensi untuk bermain mengesankan di luar negeri,” lanjut mantan striker mumpuni Inter Milan dan Real Madrid tersebut. Tak Sombong Penilaian Ronaldo ternyata berbeda dengan pendapat Romario, striker legendaris Brasil. Ia menilai Neymar bukan tipe pemain sombong yang cepat “keblinger” (lupa diri karena kekayaan dan kebesaran) oleh kebesaran seperti halnya Adriano. Dia tetap bersikap santai dan natural, meski sudah menjadi milioner dan sorotan media massa.

Romario juga menilai, bintang muda Santos yang beru 18 tahun itu seperti dirinya saat masih 20 tahunan. Saat itu, Romario juga sudah menjadi pemain kaya dan memenangkan kejuaraan Rio de Janeiro dua kali dan menjadi top skorer di turnamen Brasileirao. Namun, dia tak terpukau oleh kekayaan atau kebesaran namanya dan tetap natural menghadapi sorotan media. “Pada umur 18 tahun, saya sudah menjadi milioner dan selalu disorot media. Menurut saya Neymar peribadi yang berbeda jika dibandingkan dengan Adriano,” kata Romario yang pernah memperkuat PSV Eindhoven dan Barcelona. Berbeda dengan Adriano, Neymar memang menjaga sikapnya. Sebaliknya, Adriano menjadi pecandu pesta dan seks saat masih muda. Sehingga, namanya yang besar kala memperkuat Inter, tiba-tiba langsung ternoda. Bahkan, kariernya hancur karena kebiasaannya berpesta. (kompas.com/globoesporti)

Neymar

Ayu Dewi Jalani Terapi Laser Wajah JAKARTA, SURYA - Hari pernikahan Ayu Dewi (27), yang masih dirahasiakannya, agaknya kian dekat. Berbagai persiapan telah ia lakukan, termasuk menjalani terapi laser muka. Ayu ingin wajahnya tampak lebih cantik. Oleh karena itu, pembawa acara, model, dan artis itu menjalani terapi tersebut. “Ada dong nih, laser muka, biar makin cantik. Untuk kolagennya, biar sel-sel barunya tumbuh,” ungkap pembawa acara, model, dan artis peran ini di Jakarta, Selasa (27/3) dini hari. “Bagiannya, semua muka dong aku bikin cantik. Pengin cantik rupawan kan di hari pernikahan gue,” tambahnya lantas tertawa. Tapi, ia berjani tak akan mengubah bentuk wajahnya. Untuk hal itu, lanjutnya, ia mendapat dukungan dari calon suaminya, yang namanya berinisial RD. Bagaimana persiapan nikahnya, Ayu tidak menampik kalau dirinya sudah memiliki rencana yang cukup matang, antara lain dengan memesan salah satu gedung di Jakarta. “Insya Allah tahun ini. Belum pesan penghulu, penghulu sekarang sibuk. Gedung, sudah. Enggak mau yang macemmacem, yang penting nikah dan jadi,” tuturnya. Setelah menjalani akad nikah dan mengadakan resepsi pernikahan di Jakarta, Ayu juga akan menggelar pesta pernikahan di Gorontalo, kampung halaman kekasihnya. Ayu mengaku masa pacaran dengan RD tidak lama, namun mereka serasa menemukan banyak kesamaan. Salah satu kesamaan mereka adalah keduanya gemar menyaksikan pertandingan sepak bola, khususnya saat Timnas berlaga. “Emang seru aja. Dalam hubungan harus ada yang dibikin seru,” tuturnya Mantan kekasih Zumi Zola ini, tak hanya menyaksikan bola dari layar kaca, ia rela berdesak-desakan mendukung Timnas di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Menurutnya, jika menonton langsung akan ada atmosfer yang berbeda. Apalagi bersama orang yang terkasih, membuat acara nonton bolanya tambah spesial.

Orang Gemar Coklat Massa Tubuhnya Lebih Rendah WASHINGTON, SURYAOrang sehat yang berolahraga dan juga memakan coklat secara rutin cenderung memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang jarang memakan penganan manis yang berwarna coklat itu, demikian hasil satu studi Senin (26/3). Survei atas kumpulan orang lebih dari 1.000 orang dewasa, yang disiarkan sebagai dokumen penelitian di Archives of Internal Medicine, memperkuat pendapat bahwa coklat memiliki manfaat

kesehatan bagi jantung, meskipun memiliki kandungan gula dan kalori tinggi. Orang-orang di dalam studi tersebut, yang berusia dari 20 sampai 85 tahun, melaporkan mereka ratarata memakan coklat dua kali dalam satu pekan dan berolahraga rata-rata 3,6 kali sepekan. Mereka yang mengatakan mereka makan coklat lebih sering daripada normal cenderung memiliki rasio lebih rendah berat berbanding tinggi, perhitungan yang dibuat dengan mengukur berat seseorang

dan membaginya dengan tinggi mereka dikali dua. Indeks massa tubuh (BMI) normal adalah 18,5 sampai 24,9, sementara orang yang ukurannya lebih rendah dipandang sebagai kekurangan berat dan mereka yang memiliki BMI di atas 25 berarti kelebihan berat. “Orang dewasa yang lebih sering mengkonsumsi coklat memiliki BMI yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tak terlalu sering mengkonsumsi coklat,” kata studi itu --yang dipimpin oleh

Beatrice Golomb dan rekannya di University of California San Diego. “Temuan kami --bahwa konsumsi coklat yang lebih seing berkaitan dengan BMI yang lebih rendah-menarik,” tambanya, sebagaimana dikutip AFP --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa malam. Studi itu menyerukan penelitian lebih lanjut dan barangkali percobaan klinik secara acak mengenai manfaat metabolis coklat. Meskipun penelitian tersebut tak sampai menetapkan batas yang

beralasan atau bermanfaat bagi konsumsi coklat, para ahli mendesak orang tak terlalu berlebihan. “Sebelum anda mulai mengkonsumsi satu potong coklat sehari agar tak sering ke dokter, ingat lah bahwa satu potong coklat

dapat berisi lebih dari 200 kalori, yang kebanyakan berasal dari gula dan lemak jenuh,” kata Nancy Copperman, Direktur Public Health Initiatives di North Shore-Long Island Jewish Health System di New York. (antara)


2

Inter-nas

Rabu, 28 MARET 2012

surya.co.id

Wajah Pembantu Indonesia Disetrika ■

Majikan Singapura

SINGAPURA, SURYA - Seorang ibu rumah tangga di Singapura, dihukum penjara 13 bulan, karena menyiksa pembantunya, yang berasal dari Indonesia, hingga cacat. Norhanita Sulaiman, dinya­ takan bersalah atas tiga tuduhan penyerangan, terhadap pembantunya, yang menurut Wakil Jaksa Penuntut Umum (DPP), Norman Yew, disebabkan alasan sepele, yaitu tidak puas dengan kerja pembantunya tersebut. Ibu berusia 43 tahun itu, membakar wajah pembantunya dengan besi panas, menamparnya, dan mengancam akan menusuknya menggunakan pisau. Ia mengancam akan membunuh si pembantu dengan pisau se­ panjang 12 sentimeter karena lupa untuk mematikan termos panas setelah digunakan. Ia menyetrika pipi pembantunya, karena tidak me­ nyetrika pakaiannya dengan benar. Akibatnya, pembantunya yang berusia 44-tahun, menderita lukaluka serius. Pembantunya juga didagnosa menderita penyakit mental, karena perbuatan Nor­ hanita kepada pembantunya. Menurut pemberitaan Channel­ newsasia, Selasa (27/3/2012), Norhanita, menganiaya pemban­ tunya di apartemennya yang terletak di Geylang, Singapura, di antara Maret dan Juni 2010. Tak Digaji Kisah petaka juga dialami PRT perempuan Srilanka yang bekerja di Arab Saudi. Kusuma Nandina, namanya, akhirnya menerima kompensasi sebesar 72.000 riyal Arab Saudi (sekitar Rp 176 juta) setelah selama 17 tahun tidak mendapat bayaran sepeserpun. Kusuma yang bekerja di Riyadh sejak 1994 hidup bak seorang budak di rumah itu. Selain tidak digaji, perempuan yang kini berusia 57 tahun itu tidak boleh keluar rumah majikannya, dilarang berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya di Srilanka. Kisah Kusuma Nandina menjadi perhatian dua tahun lalu ketika putrinya yang berusia 25 tahun menghubungi Kementerian Luar Negeri Srilanka dan melaporkan

Cuma Karena Kesal

Isu Negara Timor Raya Kembali Mencuat

dia tidak mendengar kabar dari ibunya selama bertahun-tahun. Pihak Srilanka kemudian mengunjungi rumah sponsornya di Riyadh. Namun mereka mendapat jawaban bahwa tidak ada satu PRT pun yang berdiam di rumah itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, mereka berhasil melacak Kusuma Nandina. Kini perempuan itu bersiap pulang ke Srilanka. Terungkapnya kasus ini kembali mengangkat kisah perlakukan buruk terhadap para pekerja domestik asing di Arab Saudi. Tahun lalu pemerintah Saudi tidak lagi mengeluarkan visa kerja bagi tenaga kerja asing asal Indonesia dan Filipina, setelah kedua negara itu menuntut peningkatan gaji dan kondisi kerja yang lebih bagi bagi warga negaranya yang bekerja di Saudi. Kusuma Nandina merupakan satu dari sekitar 1,6 juta pekerja migran di Timur Tengah dan satu dari 600.000 yang bekerja di Saudi, menurut data Asian Times. Sistem Sponsor Sistem sponsor yang berlaku di Arab Saudi menyulitkan para

pekerja migran karena para sponsor menahan visa mereka. Banyak dari pekerja rumah tangga yang terjebak dan mereka tidak bisa berbuat banyak ketika majikan tidak membayar gaji atau ketika majikan melakukan kekerasan terhadap mereka, New York Times melaporkan. Pada 2008, Human Right Watch merilis laporan berjudul “As If Am Not Human”. Laporan itu mengungkap detail kekerasan yang dialami para pekerja migran asal Asia yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah. “Memang ada pekerja migran di Arab Saudi yang bekerja pada majikan yang baik dan tempat kerja yang enak. Dalam kasus terburuk, mereka diperlakukan seperti budak. Namun sebagian besar bekerja di antara kedua kondisi itu,” papar Nisha Varia, peneliti senior di Divisi Hak-hak Perempuan Human Right Watch, seperti dikutip New York Times. “Pemerintah Saudi seharusnya memperluas hukum perlindungan tenaga kerja hingga ke pekerja domestik dan mereformasi sistem sponsor visa supaya kaum

perempuan yang bekerja matimatian demi keluarganya tidak mempertaruhkan nyawa. Mendapat tekanan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk mereformasi sistem sponsor terhadap pekerja Asia, banyak rumah tangga Arab Saudi mengambil langkah praktis dengan mempekerjakan pembantu rumah tangga asal Afrika, menurut Ethiopian Review. Pada 2009, lebih dari 42.000 perempuan Etiopia pergi ke Arab Saudi untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sembilan puluh tiga persen di antara mereka perpenghasilan antara 100 hingga 150 dollar AS. Sementara itu pemerintah di seluruh dunia telah mengambil langkah positif untuk memberantas kekerasan terhadap pekerja domestik dengan meloloskan Konvensi Pekerja Domestik, sebuah organisasi yang dibentuk untuk memastikan para pekerja rumah tangga, pengasuh anak, dan juru masak rumah mendapat hak yang sama dengan pekerja lain. (tribunnews.com/kompas.com/ huffington post)

KEFAMENANU, SURYA Sem­pat muncul di permukaan saat menjelang eksekusi mati Fabianus Tibo, cs pada 2006 lalu, isu Negara Timor Raya mulai dibicarakan lagi dalam seminar sehari yang diadakan oleh Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Negara Timor Raya yaitu gabungan antara Timor Barat yang meliputi Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu dengan Negara Timor Leste. Seminar yang berlangsung di Hotel Livero, Selasa (27/3), menghadirkan tiga orang pemateri, Asisten I Setda TTU Yohanes Bani, Komandan Distrik Militer 1618 TTU Letkol Arm Eusebio Hornai Rebelo dan Pater Paul Wain, dengan topik “Peningkatan Nilai-Nilai Empat Pilar Kebangsaan Untuk Mempertahankan NKRI di Wilayah Perbatasan RI-RDTL”. Dalam diskusi dengan peserta yang berasal dari sejumlah organisasi kepemudaan itu, salah seorang peserta yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Belu mengatakan kalau negara Timor Raya akan muncul kalau pemerintah pusat bersikap diskriminasi dalam hal perhatian, khususnya terhadap kaum minoritas (agama). Selain itu menurutnya pembangunan hanya di daerah Jawa sedangkan untuk Indonesia Timur sering diabaikan. Sementara itu Ketua SRMI Ciquito Lopez disela-sela seminar kepada Kompas.com mengatakan adanya hubungan emosional yang erat antara masyarakat Timor Barat dan Timor Leste sehingga memicu munculnya Negara Timor Raya. “Secara sosiologis hubungan warga Timor Barat dan Timor Leste lebih dekat ketimbang hubungan antara Timor Barat

dan Indonesia. Kemudian apa yang menjadi dasar Timor Leste merdeka sedangkan Timor Barat tidak?,” kata Lopez. Karena itu menurutnya langkah yang tepat yang harus dilakukan pemerintah Indonesia yaitu secepatnya mensejahterakan masyarakatnya secara menyeluruh tak terkecuali Timor Barat. Hal yang sama juga disampaikan oleh Pater Paul Wain yang menilai dari aspek Mayoritas yang ingin mendominasi.

“Mengapa Papua dan Maluku bergejolak?hal tersebut disebabkan terlalu dominasinya kaum mayoritas.karena itu kita harus menghormati nilai-nilai yang sudah tertanam oleh pendiri negara kita yaitu pancasila,” kata Paul. Perhatian pemerintah pusat dari segi anggaran sudah cukup tinggi namun implementasi di lapangan yang kelihatannya pincang sehingga tidak sampai ke sasaran. Terkait dengan isu Negara Timor Raya, Komandan Distrik Militer 1618 TTU Letkol Arm Eusebio Hornai Rebelo mengatakan, hal tersebut hanya isu yang berkembang sedangkan gerakannya sampai sejauh ini tidak ada. (kompas.com)

UNHCR: Jumlah Pencari Suaka Meningkat JENEWA, SURYA - Jumlah pencari suaka di negara maju meningkat sampai 20 persen pada tahun 2011, menurut data Badan PBB urusan pengungsi UNHCR. UNHCR mengatakan pada tahun 2011 tercatat sekitar 441.300 orang pencari suaka, meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya mencapai 368.000. Laporan ini menunjukan data jumlah pencari suaka di 44 negara di Eropa, Amerika Utara, Australasia dan timur laut Asia. Jumlah pencari suaka terbesar yaitu di Eropa selatan yang mengalami peningkatan 87 persen menjadi hampir 67.000 orang.

Badan PBB mengatakan sebagian dari mereka disebutkan tiba di negara tujuan Italia dan Malta dengan menggunakan kapal dari Afrika Utara. Hanya negara Skandinavia dan Australasia menunjukan penurunan dalam jumlah pencari suaka. Tahun sulit Komisioner tinggi untuk pengungsi PBB, Antonio Guterres, mengatakan 2011 merupakan “sebuah tahun yang sulit bagi banyak orang”. Negara yang mengalami masalah berada di kawasan Afrika Barat dan Arab, dan jumlah pencari suaka

yang berasal dari Libya, Suriah dan Pantai Gading mencapai rekor tertinggi. Jumlah terbesar berasal dari Afghanistan, dengan peningkatan 34 persen menjadi 35.700. Cina masih berada di urutan kedua negara tempat yang disebut pengungsi yaitu 24.400 , menyusul Irak dengan jumlah lebih dari 23.000. Guterres mengatakan sistem internasional untuk memperlakukan pengungsi telah diakui. Dia menekankan bahwa jumlah pencari suaka di seluruh negara industri masih lebih kecil dibandingkan populasi di Dabaab, sebuah kamp pengungsi di bagian timur Kenya. (kompas/bbc)


Surya Digital 28 Maret 2012