Issuu on Google+

surya.co.id ALAMAT REDAKSI/IKLAN: JL. RUNGKUT INDUSTRI III NO. 68 & 70 SIER SURABAYA TELEPON (031) 8419000 www.surya.co.id

EDISI PAGI NO. 8 TAHUN I

rabu, 8 MARET 2012

TERBIT 2 HALAMAN

Ronaldo Incar Sepatu Emas ■

Untuk Ketiga Kalinya

MADRID, SURYA - Penampilan Cristiano Ronaldo dari musim ke musim selalu meningkat. Sampai jornada ke-25 Liga BBVA, Ronaldo telah mencetak 30 gol untuk Real Madrid. Yang unik, jumlah gol CR7 -julukan Ronaldoitu ternyata lebih banyak ketimbang 12 klub yang berlaga di kompetisi tertinggi Spanyol musim ini. Tim berperingkat 10 sampai 20 Liga BBVA musim ini mencetak gol tak lebih dari jumlah gol Ronaldo. Ditambah tim berperingkat ketujuh yakni Osasuna yang baru mengemas 29 gol. Ronaldo sendiri bermain dalam seluruh laga yang dimainkan Madrid musim ini di kompetisi liga lokal. Dari 25 pertandingan, Ronaldo berhasil mencetak gol dalam 16 laga. Enam kali pemain asal Portugal itu mencetak hat-trick untuk Madrid. Sedangkan melawan Athletic Bilbao dan Atletico Madrid, eks pemain Manchester United tersebut berhasil menceploskan dua gol. Sisa­ nya, delapan kali Ro­na­ ldo hanya

Golnya Ungguli 12 Klub

mencetak sebiji gol. Hingga akhir pekan lalu, Ronaldo masih memimpin daftar El Pichichi dengan torehan 30 gol, atau unggul dua gol dari Messi di tempat kedua. Tidak hanya memimpin top skorer di Liga BBVA, Ronaldo juga memimpin perburuan Golden Shoe (Sepatu Emas). Pemain asal Portugal ini memimpin dengan raihan 60 poin dari 30 golnya dan Messi di urutan kedua dengan 56 poin dari 28 golnya. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh striker Arsenal Robin van Persie dengan torehan 50 poin dari 25 golnya bersama Arsenal. Sebagai info, perhitungan poin ini adalah hasil perkalian total gol dengan koefisien liga masing-masing. Liga BBVA dan Premier League sama-sama memiliki koefisien dua atas setiap gol yang diciptakan oleh pemain. Dengan sisa 13 partai Liga BBVA bersama Madrid, bukan tidak mungkin pundipundi gol Ronaldo akan terus bertambah. Jika memenangkan Golden Shoe musim ini, itu adalah kali ketiganya Ronaldo meraih gelar tersebut. Sebelumnya, Ro­ naldo pernah meraih Golden Shoe 200708 saat berkostum Manchester United dan bersama Mad­ rid pada musim lalu. (dunia soccer)

Cristiano Ronaldo

Kain Tenun Kalimantan Dibuat untuk Obat BANJARMASIN, SURYA - Berbagai cara dilakukan untuk pengobatan bagi masyarakat pedesaan, khususnya di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan Selatan, antaranya memanfaatkan sebuah kain tenun. Kain tenun yang khusus untuk obat itu dipakai maka dipercayai menyembuhkan suatu penyakit yang sulit disembuhkan melalui medis, itulah sebuah kepercayaan masyarakat khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Kain tenun yang disebut Sarigading, bagi sebagian orang yang dipercayai begitu ampuhnya mengobati penyakit yang dianggap sulit disembuhkan. “Penyakit yang dianggap tak bisa disembuhkan secara medis tersebut adalah penyakit yang dianggap karena keturunan, makanya pengobatannya harus menggunakan kain tenun Sarigading,” kata Noor Saidah seorang pembuat kain tenun Sarigading. Ia mengakui kegiatan menenun Kain Sarigading sudah diwarisi keluarganya sejak enam generasi

berawal pada Penjajahan Jepang. Kain Sarigading produksi keluarga Saidah menggunakan Benang Mandar yang dicelup menggunakan pewarna alami, misal dari jenar (kunyit) dan lainnya. “Semakin bermotif, kain Sarigading semakin mahal” kata Saidah yang ahli membuat Kain Sari Gading aneka motif dan lima warna, dimana harga Kain bermotif ia jual Rp100 ribu per potong, jika tanpa motif Rp 70 ribu per potong.

Saidah mengaku, kain tenun Sarigading khas Kabupaten Hulu Sungai Utara HSU Kalimantan Selatan belakangan ini terancam punah, para pelaku kerajinan kain tenun inipun kini tersia hanya di dua desa, yaitu Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan-Alabio dan Desa Sungai Tabukan di Kecamatan Sungai Tabukan. Kain tenun Sarigading menjadi langka karena fungsi kain tenun ini kebanyakan hanya dikembangkan untuk peralatan prosesi pengobatan tradisonal yang diwarisi turuntemurun dan bukan untuk tujuan komersil. Selain kain tenun Sarigading, masyarakat Kalimantan Selatan juga menggunakan kain khas Sasirangan untuk pengobatan tradisional, seringnya dipakai dikalangan kerajaan Banjar. Menurut salah seorang warga, Muhammad, mengatakan nasib kain Sasirangan lebih beruntung ketimbang kain tenun Sarigading, setelah dimodifikasi sedemikian rupa maka kain Sasirangan menjadi batik khas Kalsel dan sekarang menjadi ikon cenderamata wisatawan ke wilayah ini. (antara)

Perampok Bantah Lecehkan

Alexandra Gottardo

JAKARTA, SURYA - Artis peran sekaligus model Alexandra Ria Farista Gottardo tak menyangka keinginannya untuk tidur terganggu oleh kehadiran dua remaja di kamar tidurnya. Belum hilang keterkejutannya, dua remaja tak dikenal itu langsung mengarahkan pisau dapur ke arahnya. Kejadian tersebut berlangsung pada Senin (5/3) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Kedua pelaku kemudian meminta uang tunai kepada Alexandra senilai Rp 20 juta. Lantaran tak memegang uang tunai, Alexandra pun menawarkan barang miliknya yang ada di dalam kamar kepada kedua tamu tak diundang. “Kalian mau apa? Bilang saja, tapi jangan ngapa-ngapain saya,” kata Kania, asisten pribadi Alexandra Gottardo, menirukan ucapan Alexandra waktu kejadian saat ditemui di lokasi kejadian di Kompleks BCS, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (5/3). Kedua pelaku sempat menanyakan iPad yang ada di atas meja. Begitu juga dengan laptop yang sedang dipegang oleh Alexandra. Kemudian, kedua pelaku pun menggasak perhiasan berupa anting dan satu jam tangan kulit berwarna hitam. “Waktu itu Alex dibekap dengan kain serbet dari dapur, diikat di kaki dan mulutnya,” kata Kania. Kedua pelaku memaksa Alex untuk memberikan uang tunai. Dengan terpaksa Alexandra akhirnya memutuskan untuk mengambil uang di ATM BCA di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Dan terbesit kabar, perampok itu juga melakukan pelecehan seksual terhadap Alexandra. Terkait kabar tersebut polisi menyatakan, tak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Alexandra mengalami pelecehan seksual. “Belum ada ya. Sementara, tidak ada indikasi ke situ,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel, AKBP Budi Irawan, dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Selatan, Selasa (6/3/2011). Budi juga menyatakan, salah seorang pelaku perampokan itu membantah telah melakukan pelecehan seksual terhadap bintang film Tanah Air Beta tersebut. “Enggak ada,” begitu ujar tersangka. Menurut pengakauannya dirinya bersama temannya hanya menyekap Alexa­ndra ketika mencoba membawa telepon genggam, laptop, k a­ b u r charger laptop, pisau lipat Porche design P’37141, iPod, uang tunai Rp 8.000.000, dan mobil korban. “Nyekap berdua, yang no­dong saya,” demikian u n g k a p tersangka. (kompas.com)

Alexandra Gottardo


2

Inter-nas

rabu, 7 MARET 2012

surya.co.id

Jupe Sentil Marzuki Alie ■

Larangan Rok Mini di DPR RI

Ada pro-kontra

Seluruh Desa Bungkam Soal Kasus Pelecehan

Julia Perez JAKARTA, SURYA - Julia Perez atau Jupe bisa dikatakan merupakan salah satu selebriti yang tak pernah ketinggalan berita. Ia hampir selalu berkomentar tentang isu yang sedang beredar melalui media sosial. Terakhir, soal larangan mengenakan rok mini di lingkungan DPR. “Mungkin gara2 rok mini harga bbm naek!!! Aya2 waekkk neh,” tuliS Jupe pada akun microbloging Twitter-nya, Selasa (6/3) siang. “Sexy bawa upeti 2 milliar boleh masuk dong??” sentilnya dengan gaya khasnya. Jupe memertanyakan, mengapa lagi-lagi perempuan yang dituding menjadi penyebab kejahatan, bukan lelaki berotak kotor yang dibereskan. “heran gw..knp selalu cewe jd korban,,lagi2 rok di permasalah kan..padahal kalo korupsi itu akibat otak2 mereka yg sok suci,” tulisnya lagi. “Kicauan” Jupe itu muncul sesudah Ketua DPR RI, Marzuki Alie, menyatakan larangan mengenakan rok mini bagi para perempuan di lingkungan lembaga yang dipimpinnya tersebut, demi memerbaiki citra lembaganya itu di mata publik. Marzuki dalam lontarannya ke pers Senin (5/3) mengatakan perempuan yang berpakaian tak pantas, seperti menggunakan rok mini, sehingga mengakibatkan terjadinya pelecehan seksual ataupun pemerkosaan. “Kita tahu banyak sekali terjadinya perkosa, kasus-kasus asusila itu, karena perempuannya

tidak berpakaian yang pantas sehingga membuat hasrat laki-laki menjadi berubah. Itu yang harus dihindari. Namanya laki-laki, pakaian tidak pantas yang itu menarik lakilaki, akhirnya berbuat sesuatu,” kata Marzuki. Marzuki dimintai tanggapan rencana pihak Sekretariat Jenderal DPR yang mengatur pakaian di lingkungan DPR. Langkah itu menyusul banyaknya orang yang berpakaian mencolok di lingkungan DPR. Adapun mengenai rencana pengaturan berpakaian di lingkungan DPR, lanjut Marzuki, sebagai langkah perbaikan citra DPR. “Citra DPR ini terdiri berbagai aspek, seperti aspek kinerja, tampilan. Semuanya kita perbaiki. Semoga dengan langkah ini pelan-pelan citra DPR akan semakin baik,” ucapnya. Pro dan Kontra Tak bisa dipungkiri pernyataan Marzuki itu ada yang pro dan kontra di internal anggota DPR RI. Misalnya, politisi PDIP Eva Kusuma Sundari terang-terangan menentang. Menurut Eva pelarangan menggunakan rok mini di Gedung DPR sama saja merendahkan perempuan. Kaum hawa seolah-olah menjadi obyek seksual para laki-laki sehingga aturan itu muncul. “Jadi hulunya di mindset laki-laki, jangan merendahkan perempuan seolah-olah obyek seksual para laki-laki,” ujar anggota Komisi III

DPR itu dalam pesan singkatnya. Menurut Eva, pola pikir yang meletakkan sumber problem susila pada perempuan adalah pelecehan bagi perempuan dan laki-laki. Ia pun mencontohkan kasus di negara luar seperti Arab Saudi di mana perkosaan kepada kaum perempuan tetap terjadi meski tidak ada yang memakai rok mini. “Etika publik adalah urusan DPR, yaitu membuka jalan bagi kesejahteraan rakyat, bagaimana kebutuhan dasar rakyat dijamin dan dicukupi negara. Mindset yang meletakkan sumber problem susila pada perempuan adalah pelecehan bagi perempuan dan laki-laki,” tegas Eva Di kubu yang pro, diwakili Vena Malinda, anggota Komisi X DPR dari Partai Demokrat. “Kalau saya sih setuju banget. Karena, kalau kita lihat, bukan hanya pakaian saja, tapi kerbersihan juga mengganggu, misal kalau orang merokok,” ujar Vena. Meskipun berlatar belakang dari dunia artis dan terkenal sebagai pelatih salsa, Vena mengaku tidak mengenakan rok mini sewaktu tugas di Gedung DPR. Vena menilai alasan tata tertib itu diterapkan, yakni untuk menghormati lembaga DPR yang merupakan perwakilan rakyat. “Kalau peraturan dibuat, ya harus dipatuhi. Jangan hanya heboh sesaat,” imbuhnya.(kompas. com/tribunnews.com)

Ubah Kelamin, Pecandu Narkoba Lolos dari Hukuman

WESTKAPELLE, SURYA - Kasus pelecehan seksual besar kembali mengguncang Belanda. Minggu ini, seorang lelaki berusia 60 tahun dari Westkapelle, Zeeland, mengaku telah melecehkan sekitar seratus anak laki-laki dalam tiga puluh tahun terakhir. Lelaki ini bulan September lalu ditahan setelah ada dua pengaduan yang masuk. Yang aneh adalah seluruh desa tahu bahwa Joost melecehkan para remaja, dan semua orang hanya bungkam. Westkapelle terletak di Zeeland, Belanda selatan, adalah sebuah desa kristen yang berpenduduk 2.700 jiwa. Joost yang sering dipanggil ‘Joostje’ yang kini berusia 60 tahun bisa dengan leluasa berbuat semaunya. Di negara Belanda yang bebas, yang membicarakan semua hal, semua orang hanya bungkam. Sampai dua remaja melakukan pengaduan kepada polisi tahun lalu. Departemen kehakiman yakin bahwa ada lebih banyak korban. Bentuk pelecehan terjadi dalam pelbagai bentuk, kecuali penetrasi. Seluruh desa tahu kalau Joost suka mentraktir para bocah lelaki dengan minuman cola, bir, atau membayar uang untuk seks. Semua orang memperingatkan anak sendiri untuk berhati-hati terhadap lelaki itu. “Hal ini tidak dianggap terlalu serius di sini,” kata Marleen Man in ‘t Veld, seorang warga dari Westkapelle yang senada dengan kebanyakan pendapat orang di desa tersebut. Semua tahu tentang hal ini. “Orangorang hanya bungkam saja. Tidak begitu dihiraukan.” Seorang berumur sebaya mengekpresikannya dengan cara yang berbeda. “Ini berlangsung

SINGAPURA, SURYA Seorang pecandu narkoba di Singapura lolos dari hukuman cambuk setelah ia mengubah kelaminnya. Waria bernama Preeta Nivashani M. Rechnam melakukan operasi kelamin di Thailand pada tahun 2006. Dilansir The Straits Times, Selasa (6/3), waria berusia 40 tahun ini dinyatakan sebagai perempuan dan kini ditahan di rumah tahanan perempuan di Changi, sejak 10 Desember silam. Demikian disampaikan Deputy Public Prosecutor Kenneth Wong. Ia dijatuhi hukuman tujuh tahun tiga bulan penjara karena terbukti mengonsumsi shabu-

lama. Dia tidak memerkosa siapa pun. Tidak seperti Robert M di Amsterdam. Kasusnya jauh lebih buruk.” Padahal semua tahu bahwa Joost sudah pernah divonis penjara dua bulan dan harus menjalani terapi karena pelecehan seksual. Ibu-ibu di jalan juga tahu tentang cerita tersebut. “Pegang-pegang dan menyuap remaja belia dengan permen, uang, dan minuman. Para remaja ditraktir bir. “Ini terjadi sekitar dua puluh lima atau tiga puluh tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih lama,” kata salah satu di antara mereka. Seorang wanita berkata, “Kamu memberi peringatan kepada anak laki-laki. Kamu akan ikut Joostje? Kamu melakukan kesalahan!” Tapi tetap saja beberapa wanita terkejut karena tidak ada yang melapor ke polisi, terutama saat melibatkan begitu banyak anak. Seorang ibu menyebutnya sebagai hal yang memalukan, yang lain cemas karena komunitas tempat tinggal mereka sangat tertutup. Ada juga yang berpendapat bahwa orang tua takut akan banyak disoroti orang jika diketahui anak mereka dilecehkan. Departemen Kesehatan Mental mingguinimengatakantelahmembuka nomor telepon khusus bagi para korban pelecehan yang ingin berbicara. Sampai sekarang hanya beberapa orang yang menelepon. Seorang juru bicara berkata, “Ini merupakan sebuah komunitas yang cukup tertutup. Biasanya orang-orang mencari solusi sendiri atau dengan anggota komunitas lain.” Proses pengadilan terhadap Joost dimulai 10 Mei mendatang. (kompas. com/radio nederland)

shabu. Preeta harus menjalani hukuman selama lima tahun dan tiga kali hukuman cambuk pada tahun 1998 namun ia lolos dari hukuman cambuk. Sayangnya, si pecandu ini kembali menggunakan narkoba setelah hukumannya diturunkan. Hukumannya adalah 7-13 tahun penjara. Jika pelakunya adalah pria maka hukumannya antara lain enam sampai 12 kali cambukan. DPP Wong mengatakan di depan pengadilan bahwa Preeta ditangkap tengah malam pada 2 Desember tahun lalu di sebuah kamar dengan dua orang pria di Oxley Hotel di Geylang. Dalam urine ditemukan heroin dan shabu. (tribunnews.com)


Surya Digital 07 Maret 2012 Pagi