Page 4



surya jatim

SABTU, 20 OKTOBER 2012

surya.co.id | surabaya.tribunnews.com

Pekerja PLN Disandera Warga ■ Cabuti Tiang Listrik sumenep, surya - Delapan petugas PT PLN yang hendak mencabut tiang listrik di Desa Lanjuk, Kecamatan Manding, Sumenep nyaris dikeroyok warga setempat karena salah paham, Jumat (19/10). Mereka dianggap pencuri yang hendak mengambil tiang listrik di desa yang sudah berdiri sejak 15 tahun lalu. Situasi menjadi memanas tatkala komunikasi antara warga dan petugas yang mengaku dari Kantor PT PLN Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Pamekasan itu tidak nyambung. Warga ingin menanyakan

mengapa PLN mencabuti tiang listrik tersebut. Sedang petugas menjawab hanya menjalankan perintah dari kantornya. Karena tak memperoleh jawaban yang memuaskan, kedelapan petugas PLN itu disandera oleh warga. Beruntung mereka segera dilerai Kades Lanjuk, Abd Rachem. Bahkan petugas dari Polsek Manding ikut turun ke lokasi. Menurut Abd Rachem, sehari sebelumnya petugas PLN juga datang untuk mencabuti tiang listrik dari beton dan kemudian mengangkutnya dengan truk ke luar desa. Rahem mengakui bahwa pengambilan tiang listrik itu

tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu kepadanya, sehingga warga menjadi salah sangka. "Sudah ada 13 tiang listrik yang dibawa tanpa pemberitahuan kepada saya selaku kades,’’ imbuhnya. Tiang listrik itu berdiri di sana sejak tahun 1997. Padahal waktu pemancangannya, warga dimintai sumbangan Rp 50.000/KK. Warga tidak berkeberatan, dengan harapan listrik segera menyala di desa mereka. Kendati warga ikut menyumbang untuk pemancangan tiang 15 tahun lalu, hingga kini listrik di desa itu belum mengalir. Hanya ada tiang dan kabelnya saja. Hal itu yang menyebabkan warga kesal terhadap PT PLN. Kekesalan itu bertambah saat mengetahui tiang listrik itu dica-

storyhighlights ■ Delapan petugas PLN mencabuti tiang listrik di Desa Lanjuk. ■ Warga menyandera petugas PLN. ■ Warga merasa ikut andil dalam pemancangan tiang listrik. buti kembali oleh PT PLN. Warga yang merasa ikut andil dalam pemancangan tiang listrik itu, mempertanyakan tujuan PT PLN mencabut tiang listrik. Kapolsek Manding, AKP Bambang Adi W, yang datang ke lokasi kejadian langsung meng-

amankan kedelapan petugas PLN itu. Pihaknya segera mengumpulkan tokoh masyarakat, serta perwakilan PLN di Kecamatan Ambunten. ‘’Ini sengaja kami kumpulkan agar tidak ada keributan dan ada solusinya,’’ ujar Bambang. Bagaimana hasil pertemuan itu, belum diketahui. "Kasus ini menjadi tanggungjawab PLN Pamekasan. Kami menunggu keputusan PLN Pamekasan," tambah Bambang Adi. Untuk sementara, pekerjaan pencabutan tiang listrik dihentikan sampai ada penjelasan dari Kantor PLN di Pamekasan. Hingga berita ini ditulis belum ada penjelasan resmi dari kantor PT PLN APJ Pamekasan. (riv)

surya/rivai

disandera - Para pekerja PLN yang disandera warga karena mencabut puluhan tiang listrik tanpa pamit di Desa Lanjuk.

Rp 81 Juta Melayang Kena Jambret

LINTAS JATIM

Xenia Angkut 372 Liter Arak jombang - Polisi menggagalkan pengiriman 372 liter minuman keras yang diangkut mobil Daihatsu Xenia, di Desa Jatisari, Kecamatan Kabuh, Jombang, Jumat (19/10). Miras sebanyak itu dikemas dalam 10 jeriken ukuran 30 liter serta botol-botol bekas minuman air kemasan. Polisi juga mengamankan orang yang membawanya, Herman (53), asal Desa/Kecamatan Prajuritkulon, Kabupaten Mojokerto, beserta mobil Xenia hitam nopol S 1859 QC. Bermula dari informasi yang diperoleh polisi tentang pengiriman miras dengan menggunakan mobil Xenia. Polisi lantas mencoba menghentikannya. Tapi tersangka tancap gas berusaha kabur. Beruntung polisi berhasil menghentikan mobil tersangka, setelah disalip dan dihadang di depannya. Dalam pemeriksaan Tersangka mengaku, miras tersebut dibelinya dari Tuban dan hendak dijual kembali di Mojokerto. (uto)

Siagakan 90 Relawan Banjir mojokerto - Menghadapi musim hujan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyiagakan 90 relawan. Para relawan ditugaskan untuk memantau wilayah rawan bencana selama musim hujan. Kepala BPBD Susantoso didampingi Kabag Humas Pemkab Mojokerto Lutfi Ariyono mengatakan, para relawan ini akan disebar di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. "Di setiap kecamatan disiagakan minimal lima relawan," katanya. Menurut Susanto, para relawan ini sudah diberi pembekalan dan pelatihan tentang tanggap bencana alam. Pemantauan, terutama untuk kecamatan rawan bencana banjir dan rawan bencana longsor. Selain mengandalkan 90 relawan, BPBD juga berkoordinasi dengan instansi lain, seperti, TNI, Kepolisian, PMI, dan organisasi masyarakat. (bet)

surya/sudarmawan

pendataan - Petugas dari Pemkab Madiun tengah mendata sebuah tower seluler. Dari pendataan itu diketahui banyak tower seluler yang tetap beroperasi, namun tak memiliki izin. Penyebabnya, izinnya sudah habis atau memang belum mengajukan izin sama sekali.

60 Tower Seluler Tak Berizin Bebas Beroperasi madiun, surya - Puluhan tower seluler yang tersebar di 15 wilayah kecamatan di Kabupaten Madiun ternyata tak mengantongi izin atau tak memperpanjang izinnya setelah habis masa berlaku. Kendati demikian, mereka tetap bebas beroperasi. Hal ini diketahui setelah Pemkab Madiun mendata semua tower seluler yang berdiri. Menurut Kasi Keamanan dan Ketertiban (Trantib) Satpol PP Pemkab Madiun, Toni Agus P, dari 105 tower, ada 60 tower tidak berizin atau tak memperpanjang izin. "Yang tidak memperpanjang izin ada 45 tower dan 15 sisa-

nya belum berizin sama sekali," tuturnya. Menurut Toni, tower tak berizin hampir bisa ditemui di setiap kecamatan. Terbanyak berada di kecamatan Saradan 17 unit, disusul kemudian Kecamatan Mejayan 11 unit, dan di Kecamatan Balerejo unit. Satpol PP Pemkab Madiun segera memberikan peringatan kepada pemilik tower yang izinnya habis dan bakal menyegel tower seluler yang tak berizin sama sekali. Tower yang tak berizin biasanya karena ada operator lain yang 'membonceng'. Sebagai contoh di Desa Sambirejo, Ke-

camatan Jiwan, ada satu tower seluler yang dibangun tahun 2005. Semula tower itu digunakan oleh satu operator. Dalam perjalanan ada dua operator lain yang menumpang, sehingga ini melanggar aturan. Sementara itu, Kades Sambirejo, Kushartoyo menjelaskan sejak empat tahun lalu menjabat sebagai kades tidak pernah diajak bicara maupun adanya pengurusan izin ke desa untuk tower seluler itu. "Jangankan izin, surat pemberitahuan bahwa tower digunakan tiga operator sekaligus seperti ini, pihak kami tak pernah mendapatkan

Bocah Penderita Sindrome Marfan

Pemkab Lepas Tangan, Sekolah Tanggung Biaya Harapan keluarga Lutfi Triat Habibah (14), bocah penderita sindrome marfan untuk segera menyembuhkan dari penyakitnya tampaknya tak bisa segera terlaksana. Kendati tergolong keluarga miskin, mereka tak mempunyai kartu jamkesmas atau jamkesda. Sementara Pemkab Blitar belum bisa berbuat apa-apa.

s

ehari-hari Lutfi hanya bisa tergolek lemas di ranjangnya di rumah. Kondisi ini tampaknya masih harus dijalaninya dalam rentang waktu lama. Upaya pengobatan pelajar kelas 2 SMPN 1 Srengat ini, satusatunya jalan adalah operasi. Tapi, jangankan untuk operasi, hanya sekadar check up ke rumah sakit yang layak seperti RS Saiful Anwar Malang saja, sepertinya tak bakalan terjadi. Alasannya, karena pemkab sudah tak memiliki anggaran untuk menanggung biaya pengobatan pasien miskin. Sebab, pelayanan terhadap pasien yang memiliki surat keterangan miskin (SKM) sudah dihentikan sejak awal bulan ini. Terhadap Lutfi, pemkab hanya mampu membawanya ke RS daerah, yakni RS Ngudi Waluyo, Wlingi, yang notabene tak akan mampu melakukan operasi terhadap penyakit langka tersebut. "Setelah saya cek dan tanyakan ke puskesmas di tempatnya, ia belum punya surat jamkesda dan jamkesmas. Untuk

sementara, kemampuan kami baru bisa membawanya ke RS daerah. Sebab, kalau ke RS Saiful Anwar, Malang, belum ada biaya, sehingga menunggu sekitar tiga bulan lagi (Januari 2013) setelah dibuatkan surat jamkesda dan jamkesmas," kata dr Kuspardani, Kadinkes Pemkab Blitar, Jumat (19/10). Menanggapi hal itu, Ahmad Tamim, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar menyayangkan sikap pemkab yang menghentikan pelayanan terhadap pasien miskin. Apalagi sampai membiarkan penderitaan gadis asal Lingkungan Kendal Grogong RT 01/RW 01, Kelurahan Togokan, Kecamatan Srengat ini. Menurut Tamim, penyakit yang diderita Lutfi tak boleh disamakan dengan pasien lainnya. Pemkab harus bertanggung jawab dan menanggung biaya pengobatannya. "Bahkan, seandainya, ia harus diobatkan ke luar negeri sekali pun, tak masalah karena itu jadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dia memang berasal dari keluarga miskin, apalagi masa depannya masih panjang," tegas anggota

join facebook.com/suryaonline

pemberitahuan," ungkapnya. Salah seorang penjaga tower seluler di Desa Sambirejo, Alek, mengaku, dia tak pernah tahu bahwa tower itu digunakan tiga operator sekaligus. "Dulu kalau tahu setinggi ini bangunannya saya tidak mau. Apalagi, penambahan pengguna seperti menjadi ajang bisnis bagi penyedia tower," ujarnya. Terpisah Bupati Madiun, Muhtarom, mengatakan, sulitnya mendeteksi bangunan tower tak berizin disebabkan operator menyerahkan urusan izin ke pihak ketiga, sehingga petugas tak mengetahui alamat operator. (wan)

jombang, surya - Dua penjambretan terjadi dalam satu hari, Jumat (19/10), hingga menyebabkan kerugian total sekitar Rp 81 juta. Peristiwa pertama menimpa Jamanhudi (56), Kaur Keuangan Dusun Sembung dan Samsul Huda (44), Kaur Keuangan Dusun Brumbung, Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan. Uang yang dirampas Rp 77,288 juta, yang merupakan uang Alokasi Dana Desa (ADD) bantuan pemerintah. Sekitar pukul 13.00 WIB, keduanya berboncengan sepeda motor mengambil uang ADD di Bank Jatim. Sepulang dari bank, di Jalan Raya Karangmojo, Tanpa banyak Plandaan, omong, salah keduanya satu pelaku dihadang mengacungkan dua lakilaki ber- pedang merampas tas isi uang k e n d a r a yang dibawa kedua perangkat m o t o r Y a m a h a desa tersebut. Vi x i o n . L e b i h terkejut lagi, di belakang mereka juga ada dua laki-laki bermotor Yamaha Vega yang tak diketahui nopolnya. Mereka mengenakan jaket hitam dan berhelm teropong. Tanpa banyak omong, salah satu pelaku sembari mengacungkan pedang merampas tas isi uang yang dibawa kedua perangkat desa tersebut. Setelah uang diperoleh, para perampok kabur ke arah timur. Atas kejadian itu, keduanya segera lapor ke Polsek Kabuh. Perampasan kedua menimpa Yuni Astutik (43), guru SMPN 1 Diwek. Ketika dalam perjalanan mengendarai motor usai dari sekolah, tas yang dibawanya dirampas dua lelaki pria berkendara motor. Uang Rp 4 juta yang disimpan dalam tasnya ikut amblas. Korban lapor ke Polsek Diwek. (uto)

Imigran Gelap Lubangi Tembok pasuruan, surya - Rumah Detensi Imigrasi, Surabaya di Raci, Bangil, Kabupaten Pasuruan kembali kebobolan tatkala tujuh imigran gelap yang ditahan di dalamnya berhasil kabur, Jumat (19/10) sekitar pukul 05.00. "Para deteni (sebutan bagi penghuni rudenim) yang kabur tersebut berasal dari Afganistan. Mereka melarikan diri dengan cara melubangi tembok kamar tahanan lalu memanjat tembok pagar pembatas menggunakan tangga," ujar Wahyu Triwibowo, Kasubsi Ketertiban

dan Keamanan rudenim. Mereka adalah sebagian dari 10 imigran gelap yang dikirim dari Sidoarjo pada 10 Oktober 2012. Selama ini mereka ditempatkan dalam kamar A4, yang sedang dalam proses renovasi karena sering dirusak oleh para deteni. Mereka berhasil mendapatkan tangga karena memanfaatkan tangga milik tukang bangunan yang sedang merenovasi bangunan rudenim. Kejadian kaburnya para deteni telah berkali-kali terjadi. Semua itu karena kurangnya pengawasan akibat jumlah

personel di rudenim tidak sebanding dengan jumlah deteni yang harus diawasi. Mengantisipasi kaburnya para deteni kembali, pihak rudenim mempercepat proses renovasi. Mereka juga meminta bantuan Polres Pasuruan untuk penjagaan. Menurut Wahyu saat ini jumlah deteni di Rudenim Raci, Bangil 51 orang. Karena keterbatasan tempat, meskipun beberapa kamar dan bangunan masih dalam tahap renovasi terpaksa digunakan. Hal ini mengundang kerawanan deteni meloloskan diri. (st42)

surya/imam taufiq

tunggu operasi - Sehari-hari Lutfi Triat Habibah hanya bisa tergolek di atas ranjang. Satu-satunya jalan penyembuhan hanyalah operasi. dewan dari FKB ini. Beruntung Lutfi masih punya guru dan kepala sekolah yang punya kepedulian tinggi. Kepala SMPN 1 Srengat Choirul Anam bakal membawanya kembali ke RS Saiful Anwar, Malang pada Senin (22/10). Hal ini untuk menindaklanjuti operasi pertamanya yang sempat gagal karena Lutfi tak tahan sakit akibat hanya dibius lokal. "Soal biayanya, akan ditanggung pihak sekolah, dan mudah-mudahan dengan operasi ini penyakitnya sembuh dan bisa kembali ke sekolah," ungkapnya. Lutfi Triat Habibah anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Suparno (55) dan Mustifa (53) sejak tiga bulan lalu hanya

tergolek di rumahnya dan tak bisa apa-apa. Jangankan sekolah, hanya sekadar berdiri saja, dia harus memaksakan diri. Hasil pemeriksaan medis memvonisnya menderita sidrom marfan, yakni gangguan jaringan saraf, di mana penderitanya mengalami pembengkakan pada saraf lunak dan keras. Seperti mata rabun dengan kondisi melotot dan tak bisa melihat benda di sekitarnya meski kelopaknya terbuka. Anggota tubuhnya, seperti jari tangan dan kakinya terus memanjang, termasuk ukuran tinggi badannya. Namun, dampak lainnya tubuhnya kian mengecil atau makin kurus. Untuk berdiri, tubuhnya tidak tahan lama. (imam taufiq) follow @portalsurya

SURYA 20 Oktober 2012: Lulusan SMA Bobol Pulsa Miliaran  

SURYA 20 Oktober 2012: Lulusan SMA Bobol Pulsa Miliaran

Advertisement