Issuu on Google+

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 1


2 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


SAPATORIAL

SENGKARUT

MULTIKULTURALISME

cover by david

SULUH MHSA edisi Juni-Juli 2012 DEWAN REDAKSI MH Said Abdullah, Januar Herwanto, Moh Rasul Junaidy. PEMIMPIN REDAKSI Abrari Alzael SEKRETARIS REDAKSI Zeinul Ubbadi LAY OUTER Ahmed David REPORTER Ahmad Sai, Veros Afif FOTOGRAFER Saiful Bahri BIRO-BIRO Sampang: Mamak, Pamekasan: Syah Manaf, Sumenep: Fauzi, Bangkalan: Safi’, Jakarta: Alwi Assegaf Koresponden: Rozaki (Jogja), Firdhia Lisnawati (Bali) AE: Deddy Prihantono PEMASARAN Abu Sholeh ALAMAT REDAKSI Jalan Adirasa 5-7 Sumenep 69417 tel. 0328-674374 faks. 0328-661719. email: suluh_mhsa@yahoo.com. web : www.suluhmhsa.com.

Sineas Garin Nugroho mengangkat kisah perjuangan tokoh-tokoh multikulturalisme Soekarno, Mohammad Hatta, KH Hasyim Asyari dan Ki Hajar Dewantara ke dalam sebuah layar lebar. Ini sebagai bentuk kepedulian bahwa multikulturalisme dewasa ini telah ditempatkan di ruang yang amat sempit dari yang seharusnya luas di dalam kehidupan berbangsa. Garin ingin menempatkan kebhinnekaan sebagai lintas batas dan perang selalu berakhir dengan kenestapaan. Sekedar menyebut contoh, tokoh kebhinekaan yang berjuang dengan taktik strategi silent diplomacy, Soegijapranata, Uskup Agung (Monsegneur = Mgr) pertama dari kalangan pribumi berperan besar saat pecah perang lima hari di Semarang antara pemuda melawan Jepang yang menyerah (15-20 Okrober 1945). Dengan kecekatan diplomasi mereka mampu mendialogkan pimpinan tentara sekutu dan Jepang di gereja Gedangan untuk segera menghentikan perang lima hari itu. Film ini bukan sebagai film dakwah, melainkan mengajak penontonya untuk menata kembali kerakter sebagai bangsa yang luhur. Di India, Gandhi merupakan tokoh multikultural yang penuh toleransi dan anti kekerasan. Bapak bangsa pada awalnya memang seperti itu, antikekerasan. Namun entah apa yang terjadi, bapak bangsa mutakhir menjadi lebih binal dan menular kepada generasi muda lainnya dalam sebentuk tawuran. Betapa perkasanya anak-anak bangsa merusak, melukai, dan membunuh sesamanya untuk tujuan yang juga tidak diketahui dengan jelas. Tetapi wajah perusuh dan pentawur di televisi, mereka merasa gagah dan tak mau peduli pada sesama, pada bangsanya. Padahal, tawuran dalam bahasa yang lain sebentuk pamer diri sebagai pribadi yang tidak kreatif-inovatif dan bangga pula. Padahal, kesadaran multikultur sebenarnya sudah muncul sejak NKRI terbentuk. Namun di

masa orba, kesadaran tersebut dipendam atas nama kesatuan dan persatuan. Saat itu, monokulturalisme ditekankan. Akibatnya, sampai saat ini wawasan multikulturalisme masih rendah. Indonesia di bawah orba tidak ditegakkan melalui multikulturalisme. Indonesia ketiak itu berkembang biak dalam asbak dalam keseragaman yang menakutkan. Multikulturalisme sebagai ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik individual maupun secara kebudayaan. Para pendiri republik ini sangat menghargai pluralisme, perbedaan (multikulturalisme) baik dalam konteks sosial maupun politik. Bahkan pencoretan “tujuh kata� dalam Piagam Jakarta, dipahami dalam konteks menghargai sebuah multikulturalisme dalam arti luas. Kemudian sebuah ideologi yang diharapkan mampu menjadi jalan tengah sekaligus jembatan yang menjembatani terjadinya perbedaan dalam negara Indonesia (Pancasila), yang seharusnya mampu mengakomodasi seluruh kepentingan kelompok sosial yang multikultural, multietnis, dan agama ini. Diskursus tentang multikulturalisme ini menjadi menarik didialogkan. Terutama menyangkut sejarahkebudayan, kemajuan SDM-iptek dan isu global-internasional yang masuk ke NKRI. Dalam konteks ini, seringkali dilupakan bagaimana bangsa pada awalnya berdiri. Generasi muda menjadi seonggok warga yang melupakan nilai-nilai sejarah dan enggan belajar dari masa lalu meski Bung Karno mengatakan jangan (sekalikali) melupakan sejarah. Semangat kebangsaan untuk menyadari walau berbeda-beda kita tetap satu tujuan hilang dari ingatan kolektif warga republik ini. Multikulturalisme di negeri ini merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural geografis yang begitu beragam dan luas. Secara geografis geografis, nusantara memiliki banyak pulau yang dihuni sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat tertentu. Dari masyarakat terbentuk kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri dan berimbas pada keberadaan dan keberagaman kebudayaan. Dalam multikulturalisme terdapat kaitan erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika untuk mewujudkan kebudayaan komunal-nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Hanya, dalam atmosfer kehidupan bangsa, multikulturalisme menderita sangkarut. (*)

Surat pembaca

Tembakau, Pemerintah jangan tutup mata

S

aat ini masyarakat Madura khususnya di Kabupaten Pamekasan dan Sumenep sedang giat mengolah sawah dan merawat tanaman tembakaunya. Mereka sangat berharap bisa meraup untung dari hasil tanaman ini.

Oleh karenanya pemerintah harus benar-benar serius mengawala tata niaga tembakau yang selama ini masih cendrung hanya menguntungkan para tengkulak dan pihak gudang. Petani sangat berharap, minimal harga tembakau sama dengan harga tahun lalu. Khairul Mufid Warga Desa Gingging Bluto Sumenep

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 3


SULUH UTAMA foto: abrari/sm

TARI BUDAYA: Dua orang gadis tampak sedang memeragakan tari tradisional Madura dalam sebuah seminar tentang multikulturalisme di Bangkalan.

MULTIKULTURALISME

Perekat Integrasi Bangsa

I

su multikulturalisme yang terus menguat karena dipandang bisa membantu dan merekatkan integrasi bangsa. Apalagi, integrasi bangsa selama ini dibangun berdasarkan politik kebudayaan seragam dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi dan semangat demokrasi global yang juga meningkat sejalan dengan reformasi tersebut. Tidak ada yang menghendaki hidup bercerai-berai hanya karena alasan berbeda satu sama lainnya 4 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

dalam hal etnis, bahasa, keyakinan, kebiasaan, makanan, dan lain-lain. Panikos Panayi (2000) memunculkan bentuk-bentuk keberagaman/ anekawarna/perbedaan itu dapat dilihat dari dua hal. Pertama, perbedaan secara biologis mencakup jenis kelamin, usia, intelektual, dan ras. Kedua, perbedaan berdasarkan kondisi sosial budaya yang mencakup suku bangsa yang berhubungan dengan adatistiadat, kesenian, pakaian, bahasa, teknologi, sistem pengetahuan, ci-

ri-ciri fisik, ritual, makanan khas/ tradisional, dan kesamaan dalam tata nilai, pandangan tentang jagad raya, dan keyakinan. Sejak abad XX, para antroplog telah memikirkan cara untuk menangkal semakin menguatnya faham etnosentrisme pada suatu masyarakat multikultural sebagai akibat terjadinya persinggungan budaya yang beranekaragam dan semakin kompleks. Salah satu cara yang digalakkan adalah memberikan suatu pemahaman yang


disebut dengan relativitas budaya atau kenisbian budaya. Faham ini menyebut suatu kebudayaan tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Ini berarti harus ada yang memberikan penghargaan setara kepada semua adat-istiadat. Dengan demikian penilaian tidak boleh didasarkan pada pengalaman pribadi yang ditafsirkan setiap individu dengan ukuran dalam kebudayaan sendiri. Memahami kebudayaan harus mampu memahami kompleksitas simbolisme dalam unsurunsur kebudayan. Dalam konsep relativitas budaya, tidak satupun budaya atau tradisi yang dapat dicap aneh, rendah, kuno, atau menjijikkan hanya karena ia berbeda. Sebab kebudayaan menurut konsep nilai-simbol telah melekat pada kebudayaan itu sendiri. Ideologi multikulturalisme merupakan suatu kebijakan dan pendekatan budaya yang berorientasi pada prinsip-prinsip pelestarian budaya dan saling menghormati di antara kelompok-kelompok budaya dalam suatu masyarakat. Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang ideal dimana kelompok-kelompok masyarakat dapat hidup secara harmonis, bebas untuk melestarikan kebiasaankebiasaan agama, linguistik atau sosial, persamaan dalam hal akses sumber daya dan pelayanan, hakhak sipil, kekuatan politis, dan lainlain (Dufty, 1986). Secara sederhana multikulturalisme tidak hanya berarti keberagaman budaya, tapi yang teramat penting adalah adanya pengakuan bahwa sebuah negara dan masyarakat adalah beragam dan majemuk. Makna pengakuan dan penghargaan di sini adalah kemampuan melihat bahwa berbagai

perbedaan unsur budaya itu adalah suatu realitas yang tidak perlu dipertentangkan. Perbedaan bukanlah suatu hal yang negatif, tapi sebaliknya memberikan pengaruh positif agar kita mampu menjadi manusia multikultural. Pendekatan multikultural berangkat dari suatu keadaan yang baru, yaitu keberadaan dua atau lebih kebudayaan berbeda yang hidup berdampingan. Multikultural adalah sebuah pendekatan yang mengakui keberagaman budaya yang ada dan memfokuskan bahasannya mengenai pengenalan dan hidup berdampingan dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dengan prinsip kesetaraan bagi setiap individu. Multikulturalisme ini tidak tidak hanya menyeruak di Indonesia, tetapi juga di manapun. Di Prancis misalnya, kedatangan para imigran Arab ke negerinya NapolĂŠon Bonaparte pada akhir abad ke-19, menyebabkan Prancis tidak lagi dihuni bangsa kulit putih saja. Kalangan imigran yang sebagian besar berasal dari Aljazair dan Maroko mendiami negeri itu untuk bekerja, dan akhirnya memiliki keturunan di sana, sehingga turut memperkaya keberagaman etnis penduduknya selain etnis lokal seperti Korsika, Normandia, dan Bretonne. Peneliti di bidang sejarah Prancis dan etnologi, Magali Morel mengurai status negara-negara di sebagian besar wilayah Afrika Barat dan Utara, termasuk Aljazair dan Maroko, masih dalam kekuasaan atau koloni Prancis. Seiring terjadinya Perang Dunia I dan II, banyak tentara dibutuhkan untuk membantu Prancis melawan kependudukan Jerman, termasuk para tentara dari negara-negara

koloninya tersebut. Pasca perang, Prancis banyak membutuhkan tenaga kerja kasar untuk membangun kembali negerinya yang porak poranda, sehingga semakin banyak imigran yang datang ke negeri itu untuk bekerja, kemudian menetap di sana. Kakek moyangnya Magali juga termasuk salah seorang imigran yang dimaksud. Kemudian, sejak dikeluarkannya UU tentang penggabungan keluarga (Regroupement Familial), para imigran ini memboyong istri mereka dan sekaligus melahirkan anak di sana, sehingga komposisi penduduk Prancis tidak hanya warga Prancis asli maupun para imigran, melainkan juga warga Prancis keturunan. Ini hanya contoh bahwa asimilasi itu terjadi di manapun yang berbasis multikulturalisme. Soal keragaman ini, merupakan anugerah dan realitas sosial yang tidak bisa ditolak. Yang terpenting adalah adanya kehendak untuk memahami, menghargai, mengakui dan menerima keberagaman yang sudah menjadi realitas sosial. Memahami kebudayaan lain bukan berarti lalu menerima dan mempraktekkannya. Sebenarnya, sudah lama negeri ini berpijak pada masyarakat Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi masih ada yang perlu dibentuk melalui pendidikan multikultural dan pemahaman tentang relativitas budaya. Terutama budaya untuk menghargai, mengakui, dan menerima keberagaman yang ada. Apabila kurang bijak dan tertutup menyikapi keberagaman yang semakin kompleks, maka konflik sosial yang berakibat pada kehancuran umat akan terjadi sebagai manifestasi dari kejahiliyahan manusia dalam keniscayaan keberagaman. (tim) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 5


SULUH UTAMA

TETAP SATU JUA: Kulit dan baju boleh berbeda-beda, namun kerukunan adalah bahasa semua bangsa untuk mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman.

Multikulturalisme

Harga Mati Keanekaragaman kultural dalam suatu negara kesatuan merupakan aset atau kekayaan khazanah budaya bangsa, dan sekaligus merupakan potensi pengembangan dalam sektor pariwisata, budaya, ekonomi hingga politik. Sebab, masing-masing kebudayaan yang berkembang pada suatu wilayah tertentu, memiliki kekhasan tersendiri berbeda dengan kebudayaan pada masyarakat atau suku, ras, etnis tertentu di daerah lain. Kekhasan itu, bisa dalam

6 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

bentuk sistem sosialnya, adat istiadatnya, sistem ekonominya, sistem kekerabatannya dan sistem politik pemerintahannya baik dalam sosial kemasyarakatannya. Hal ini bila digali dan dikembangkan dengan pendekatan persatuan dan kesatuan akan melahirkan masyarakat multikultural yang harmonis dan mengagumkan, sebagai pengakuan dan takzim terhadap ke-

besaran ilahi yang telah menciptakan aneka ragam budaya di setiap jengkal bumi. Oleh karena itu, agaknya sangat riskan dan arogan bila ada suatu kultur masyarakat tertentu merasa lebih baik dan lebih bagus dari kultur masyarakat tertentu yang lain. Ini juga yang disampaikan Bapak Multikulturalisme Madura, MH Said Abdullah. Menurutnya, heterogenitas merupakan fakta yang tidak terbantahkan tentang Indonesia. Para Founding Fathers membangun negeri ini di atas keberagaman suku, kultur, agama, bahasa, ideologi politik dan sebagainya. Bangsa kita terdiri dari puluhan ribu pulau yang dihuni oleh suku-suku yang beragam. Indonesia berada di tengah masyarakat dunia sebagai satu bangsa yang sangat majemuk.


foto: abrari/sm

Kemajemukan mempunyai dua sisi yang saling berseberangan jika tidak dikelola secara benar. Di satu sisi, kemajemukan merupakan suatu kekayaan yang bisa menjadikan Indonesia suatu bangsa besar, kuat dan disegani. Sisi-sisi yang berbeda – entah suku, agama, kultur, aliran politik – ibarat unsur-unsur yang membentuk pilar utama sebuah rumah bangsa bernama Indonesia. Perbedaan-perbedaan itu bisa menjadi kekuatan yang mendorong terwujudnya persatuan dan kerja sama. Tetapi, di sisi lain, keberagaman bisa tampil sebagai kekuatan destruktif yang menyulut pertentangan dan konflik serta menceraiberaikan kehidupan suatu negara bangsa. Perbedaan-perbedaan suku, agama, haluan politik dan sebagainya menjadi bara api yang menjalar ke mana-mana hingga menghanguskan persaudaraan dan meruntuhkan perdamaian. Kondisi seperti ini bisa terjadi kalau setiap kelompok masyarakat yang berbeda lebih suka mengedepankan kepentingan kelompoknya, dan selalu merasa diri yang terbaik, paling benar, paling berhak dan paling sahih. Kehadiran dan keberadaan kelompok-kelompok lain yang berbeda dengan “kita” dianggap tidak ada (nothing). Konflik-konflik dan kekerasankekerasan berbau primordial yang merebak di sejumlah kawasan di tanah air sejak paruh kedua tahun 1990-an memperlihatkan betapa heterogenitas bangsa Indonesia mudah dibelokkan oleh kelompok-kelompok tertentu menjadi kekuatan destruktif. Kerusuhan-kerusuhan rasial yang terjadi di Kalimantan, Ambon, Maluku, Poso serta beberapa kota di Sumatera dan Jawa, termasuk Jakarta menyisakan luka parah (fisik dan psikogis) yang membutuhkan proses panjang untuk menyembuhkannya.

MAHASISWI: Seorang mahasiswi bertanya tentang multikulturalisme dalam seminar keragaman budaya di STKIP PGRI Sumenep beberapa waktu lalu.

Dewasa ini, tampaknya, virusvirus permusuhan menjalar secara liar di tengah masyarakat Indonesia seperti wabah penyakit menular yang sulit dibasmi. Fenomena yang menguat akhir-akhir ini adalah betapa mudahnya orang tersinggung dan cepat marah. Kalau boleh digeneralisir, orang-orang Indonesia semakin temperamental. Emosi dan perasaannya seperti kepala korek api. Digesek sedikit langsung menyala. Repotnya, kemarahan itu semakin membara ketika yang menjadi lawannya adalah orang atau kelompok dari lain suku, agama, ideologi atau golongan. Sementara itu, tindakan sewenangwenang tanpa dilandasi hukum yang berlaku merupakan gejala yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, orang-orang cenderung mengelompokkan diri berdasarkan identitas primordial apakah suku bangsa, kultur, agama, ideologi politik dan lain-lain. Kondisi seperti ini merupakan ancaman besar bagi eksistensi bangsa Indonesia yang sangat heterogen. Akibat terburuk dari realitas sosial tersebut adalah sebagian besar

warga masyarakat, terutama yang tinggal di daerah-daerah yang rawan konflik, merasa bahwa Indonesia bukan lagi tempat yang aman untuk dihuni bersama oleh masyarakat yang memiliki latar belakang yang sangat beragam. Bagi mereka, semboyan ‘bhineka tunggal ika’ sudah kehilangan relevansinya. Itu hanya jargon politis yang tidak punya makna apa-apa. Mereka tidak merasakan ketentraman dan kedamaian berada di negeri ini. Pengalaman membuktikan bahwa kekerasan memang melukai semua orang, baik yang menjadi korban maupun yang menjadi pelaku. Bagaimana membangun kerukunan dan perdamaian di atas heterogenitas masyarakat Indonesia? Jawabannya hanya satu: Indonesia membutuhkan manusia pendobrak (prime mover), yaitu orang yang bisa mendorong perubahan menuju tataran hidup bersama yang lebih baik, orang mampu berpikir dan hidup lintas batas agama, suku, adat istiadat, ideologi politik serta berbagai label sosial lainnya. “Multikulturalisme dan toleran terhadap perbedaan tak bisa ditawar lagi,” katanya. (bet/abe)

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 7


SULUH UTAMA

Bhinneka Tunggal Ika itu... Benni Genika Keng Tonggelle Genika

D

ewasa ini ada kecendrungan remaja kontemporer lupa terhadap pentingnya persatuan. Akibatnya, satu pihak menganggap yang lain sebagai “musuh� meski mereka berasal dari warga yang sama. Padahal, sebagai warga dari republik yang sama seharusnya menjaga persatuan dan kesatuan. 8 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

Berikut pandangan budayawan HD Zawawi Imron terkait nasionalisme, multikulturalisme, dan Bhinneka Tunggal Ika yang dikemas secara bertutur. Saya sebenarnya tidak begitu banyak mengetahui multikulturalisme secara konseptual. Tetapi pemaha-

man saya tentang multikulturalisme itu adalah turunan dari Bhinneka Tunggal Ika. Satu pihak boleh berbeda dengan yang lain tetapi perbedaan itu bukan sebagai pertentangan. Sehingga perbedaan itu pada akhirnya menjadi rahmatan lil alamien.


Dalam pemaknaan saya sebagai warga Madura, Bhinneka Tunggal Ika sejatinya sebentuk benni genika keng tonggelle genika (bukan itu tetapi setunggal dengan itu). Dalam bahasa yang lebih lazim, kira-kira artinya berbeda tetapi tetap satu juga. Nah, kebhinnekaan inilah yang mulai tercerabut dari akar budaya bangsa. Hal ini terjadi pantas diduga karena kepentingan pribadi atau kelompok yang dominan. Soal kepentingan ini, idealnya siapapun mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Sebab, dengan menomorsatukan kepentingan umum maka kepentingan pribadi katut di dalamnya. Sebaliknya, kepentingan pribadi yang didahulukan maka kepentingan umum akan tertinggal. Saya lihat pengabaian ini melahirkan ancaman, disintegrasi, dan rasa hormat terhadap perbedaan berkurang. Sisi lainnya, saya lihat ada sejumlah pihak yang kurang ikhlas menjadi warga negara yang berbeda-beda. Tetapi ada juga yang rela menjadi warga yang multietnik dan multi segala-galanya. Meski di sebagian Sulawesi sering terjadi kerusuhan, tetapi di sebagian wilayah lainnya ada juag yang ikhlas menjadi warga negara yang multi ini. Saya yang dari Madura ini, seringkali diminta datang, diundang untuk sebuah acara. Begitu berbaur dengan masyarakat Bugis-Makasar, saya dan mereka sama sebagai warga republik ini dan tidak dibedakan oleh sekat Madura-Bugis. Begitu seringnya ke Bugis-Makasar, warga di sana menganggap saya sebagai Bugis-Makasar juga. Saya juga membuat puisi (antolog) yang berlatar Bugis-Makasar (Berlayar di Pamor Badik). Artinya torang

samua bersaudara. Nah, dulu Bung Karno kan juga mengajarkan soal persaudaraan ini melalui gotongroyong. Di sana ada kebersamaan dan persatuan sebagai warga bangsa. Saya tertarik dengan sosok Bung Karno karena setelah dirasakan, semangat nasionalismenya terus menyala. Saya pernah (termasuk di hadapan Megawati Soekarnoputri) membacakan ulang pidato Bung Karno. Chairil mau hidup seribu tahun lagi. Soekarno mau hidup seribu tahun juga, tapi 100 tahun pun belum tentu bisa, tapi cita-citaku untuk bangsa Indonesia akan ditanamkan sampai seribu tahun lagi.... Oleh karena itu para remaja saat ini pantas menyemangati rasa bersatu dan bersaudara yang mulai berkurang. Termasuk juga para orangtua tidak lagi mengajarkan disintegrasi terhadap generasi bangsa saat ini dengan alasan apapun. Dalam hal usia saya pasti tidak cukup syarat dibilang remaja meski seperti Chairil Anwar dan Bung Karno, saya sebenarnya masih ingin hidup seribu tahun lagi. Begitu juga seperti Chairil dan Bung Karno, pasti itu tak mungkin kecuali menanamkan semangat untuk terus bersatu, berprestasi, dan menjadi warga negara yang lebih bermartabat.

Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilalang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985. Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Buku puisinya yang lain adalah Berlayar di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003). Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria. Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002) dan Hadiah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Write Award) 2011, yang penganugerahannya dilaksanakan di Mandarin Oriental, Bangkok, 16 Februari 2012).

D. Zawawi Imron, lahir di desa Batang-batang Sumenep 1 Januari 1945. Mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 1982.

Diantara karyanya antara lain, Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996) dan Madura Akulah Darahmu (1999).

Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan sekolah dasar) melanjutkan pendidikan di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep.

Saat ini sekalipun namanya sudah dikenal di dunia internasional namun Zawawi tetap tinggal di desanya di Kecamatan Batang-Batang. (abe)

Biodata

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 9


OPINI

Multikulturalisme,

NKRI, dan Runtuhnya Peradaban

P

emimpin Gopher Gang di New York, Amerika Serikat, James T. Ellison (1861) mengatakan : ”The real death of America will come when everyone is alike”. Jika kalimat James ini ditarik benang merah panjang dan dihubungkan ke negeri ini, maka kalimatnya kira-kira seperti ini, ”The real death of Indonesia will come when everyone is alike”. Bila melihat kondisi bangsa saat ini, maka sesungguhnya “kematian” (Indonesia) serasa akan terjadi tak lama lagi. Ini ditandai dengan (nyaris) tiadanya kecintaan terhadap nasionalisme yang mendedahkan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan, disintegrasi merajalela ke hampir setiap tema kehidupan sosial-masyarakat. Di luar itu, negara seolah-olah dikapling “milik” kelompok dan keluarga tertentu meski seharusnya tidak demikian adanya. Ini berlawanan dengan gaya hidup berbangsa dan bertentangan pula dengan pesan Bapak Bangsa, Bung Karno (Surabaya, 24 September 1955) : “Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau yang di dalamnya hidup aneka macam flora dan fauna serta ratusan etnis dengan beragam budaya . Hanya Indonesia yang mempunyai ratusan macam bahasa , tarian, dan lagu daerah, cerita rakyat, pakaian dan ritual adat. Indonesia adalah multikultur dan multikultur

10 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

itulah Indonesia. Multikulturalisme adalah identitas yang melekat pada Indonesia. Identitas ini akan tetap kuat dan bertahan selama NKRI yang berdasarkan Pancasila ini tetap eksis. Dengan begitu merusak atau meniadakan identitas multikultural sama saja dengan membuka jalan bagi runtuhnya NKRI. Begitu juga Madura yang terbentang dari Bangkalan sampai dengan Sumenep. Di Sumenep saja, keberagaman terjadi di dalamnya yang multietnik, multikultur, dan multidimensi. Keberagaman ini adalah realitas yang harus diterima oleh rakyat Indonesia, apapun suku dan agamanya. Sedangkan kebangsaan tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atau kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan disebut dengan Nasionalisme (Ensiklopedi Nasional Indonesia). Negeri ini, bukan negara homogen atau monokultur seperti Jepang atau Korea. Sebagai negara berlatar belakang heterogen, upaya penanaman nasionalisme menjadi fungsi yang wajib dijalankan secara konstan. Sementara manusia sebagai makhluk yang unik , secara naluri mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan segala sesuatu yang menjadi simbol identitas dirinya yang membuatnya berbeda dengan manusia lainnya. Tetapi dalam kosmologi Indonesia,

MH. Said Abdullah Anggota DPR RI Dapil Madura

perbedaan ini justru menguatkan identitas dan lokalitas berbangsa bagi yang beriman kebangsaan. Identitas ini biasanya terkait dengan tanda-tanda primordial seperti suku, ras, adat istiadat budaya, agama dan daerah atau teritori. Tantangan bagi negara multikultur adalah bagaimana agar identitas bangsa tidak dikaitkan dengan identitas primordial tapi ke identitas nation atau bangsa. Bangsa dan negara merupakan kesatuan komunitas masyarakat pluralis yang di dalamnya terdapat berbagai macam unsur yang saling melengkapi yang diatur dalam sebuah sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Nasionalisme tidak dibatasi oleh suku, bahasa, agama, daerah dan strata sosial. Nasionalisme memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup (Soekarno, “Di Bawah Bendera Revolusi. Jilid 1.1964. hal.76). Penanaman nilai nasionalisme merupakan upaya menyatukan berbagai suku bangsa ke dalam satu ikatan yang sama: ikatan kebangsaan


Indonesia. Identitas baru ini dimaksudkan agar banyak suku bangsa yang sepakat untuk menyatu dalam wadah NKRI memiliki identitas yang seragam. Namun, keseragaman identitas dalam bingkai semangat nasionalisme ini tidak membunuh keberagaman. Berbeda-beda namun disatukan oleh kesamaan cita-cita. Perwujudan cita-cita bersama lebih penting dan berada di atas kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan. Inilah prinsip Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity. Prinsip ini menolak segala bentuk dominasi dan diskriminasi. Semua unsur komponen bangsa berkedudukan sederajat, tidak ada mayoritas dan minoritas. Bahkan seorang Mikhail Gorbachev pun mengakui hal ini dengan katakatanya yang terkenal, Peace is not unity in similarity but unity in diversity, in the comparison and conciliation of differences. Karena itu tidak terbantahkan bila keberagaman ini justru (seharusnya) menyatukan bangsa meski di saat yang berbeda kebhinnekaan ini dilacurkan kelompok tertentu untuk kepentingan yang amat sangat primordial. Padahal, bapak bangsa menguapayakan semangat nasionalisme dengan pembentukan identitas simbolik seperti simbol negara, bendera, lagu kebangsaan atau melalui penetapan bahasa persatuan serta penanaman nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan. Keberadaan negara tidak dapat lepas dari simbol-simbol negara. Orang begitu bangga dengan bendera, simbol negara dan lagu-lagu nasional. Tahun 1928 silam, sekelompok anak muda bersumpah menyatukan tekat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Ini didasarkan pada kesadaran atas realitas bahwa Indonesia terdiri atas ribuan pulau, berbagai suku, budaya, dan bahasa, bahkan berbagai agama dan kepercayaan. Sumpah menyatukan nusan-

tara ini terbukti mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mengundang kekaguman dunia. Betapa tidak, di atas segala bentuk perbedaan yang ada, Indonesia diproklamasikan sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai pengikat yang menyatukan seluruh anak bangsa. Indonesia yang multikultur, yang terdiri atas ribuan pulau ini telah berkembang menjadi negara besar yang punya peran besar dalam kehidupan dunia. Namun kini, setelah lebih dari 80 tahun sumpah pemuda berlalu, rasa-rasanya semangat sumpah pemuda ini telah semakin luntur. Rasa nasionalisme, kecintaan terhadap negeri, dan kebersamaan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika tampak semakin hari semakin terlupakan. Pertikaian terjadi dimana-mana, kekerasan, pembunuhan, fitnah, dan segala bentuk penghancuran kenyamanan kehidupan manusia, semakin sering nampak, setidaknya di media massa. Perseteruan antar anak bangsa baik yang berlatar belakang sara maupun yang dikembangkan sehingga seolah-olah nampak berlatar belakang sara, agaknya menjadi hal yang semakin tak terkendali. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sepertinya sudah tak lagi dipahami maknanya dan tak lebih dari sekedar slogan semata. Kemana perginya semangat persatuan yang begitu nyaring terdengar kala kita peringati hari Sumpah Pemuda ? Semakin seringnya terjadi benturan dan pertikaian antar anak bangsa, memang sudah menjadi realitas menyedihkan yang terjadisaat ini. Yang sesungguhnya penting dan perlu dipikirkan secara serius, sistematis, dan komprehensif adalah upaya-upaya meminimalisasi konflik dan membangun kesadaran terhadap keragaman dalam masyarakat. Tumbuhnya sikap dan kesadaran tentang realitas yang pluralis- multikultur ini semakin dirasakan penting agar

dapat melahirkan sikap yang toleran dan memandang mereka yang berbeda sebagai mitra yang harus dihormati dan dihargai. Oleh karena itu, pendidikan adalah salah satu media yang paling efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan bahwa realitas multikultur ini merupakan bagian yang harus diapresiasi secara konstruktif. Pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Internalisasi pemahaman dan kesadaran terhadap realitas yang pluralis – multikultur melalui jalur pendidikan dalam semua jenjang, tentu akan memiliki dampak yang konkret dalam kehidupan secara luas. Ada beberapa alasan yang menjadikan pendidikan multikultur ini menjadi semakin dirasakan penting. Pertama, realitas bangsa Indonesia tingkat heterogenitasnya sangat tinggi, nampak di dalam masyarakat terdapat perbedaan-perbedaan baik dalam agama, suku, ras, latar belakang budaya, dan sebagainya. Pemahaman terhadap realitas yang berbeda ini akan mempermudah dalam menjembatani perbedaan, mengurangi persepsi negatif terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Setidaknya, seseorang akan lebih bisa menentukan sikap positif ketika harus berhadapan dengan orang yang berbeda dari dirinya sehingga mampu mengantisipasi kemungkinan terjadinya friksi. Kedua, setiap relasi antar pribadi akan mengandung potensi interaksi multikultur. Dalam ranah kemajemukan masyarakat, setiap hubungan yang dibangun dapat terjadi pada individu-individu dengan latar belakang yang berbeda. Maka diperlukan pemahaman masing-masing individu terhadap individu lain sehingga interaksi dapat menghasilkan sesuatu yang konstruktif sebagaimana hakikat manusia sebagai makhluk sosial. (*)

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 11


OPINI

Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif

P

endidikan multikultural mendapatkan tempat krusial pada masa kini dan mendatang. Dengan keanekaragaman perspektif individu sebagai wujud keunikannya, akan menjadi efektif dalam relasi sosialnya, jika ia berada dalam konteks kolaboratif. Kolaborasi dapat terbangun efektif, manakala antarindividu dapat mensinergikan kekuatannya, dan saling mengelimenasi kekurangannya, atas dasar saling menghormati. Penghormatan sesama akan terjadi berdasarkan nilai kemanusiaan, jika pandangan antarmanusia didasarkan atas bersatunya keunggulan masing-masing, tanpa sekat perbedaan kedudukan, jenis kelamin, adat istiadat, kepercayaan, aliran, paham, suku dan agama. Bethany Brison (2006), profesor dari Universitas Virginia, mengungkapkan, dalam sebuah masyarakat multibudaya (seperti masyarakat kita), masing-masing elemen atau komponen tidak bisa saling mengecualikan (mutually exlusive), tetapi harus saling mengisi dan mengapresiasi. Membangun kesadaran multikultural yang berdimensi etis menuntut tanggung jawab moral berupa pengakuan, rasa hormat dan belas kasih pada keberadaan dan kehadiran orang lain, karena yang ditekankan sebuah kesadaran, dan penyadaran, dan hal ini dapat terjadi secara efektif dalam konteks pendidikan. Pemahaman makna kebersamaan dengan memadukan potensi di tengah beragamnya perbedaan sebagai realitas multikultur individual, dalam konteks aktualisasi nilai kultural yang

12 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

dinamis, dunia pendidikan menempatkan diri pada posisi strategis. Sebagai wahana transformasi pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap secara terus menerus dan berkelanjutan, multikultur akan berada dalam harmoni dan ini akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga eksistensi dan jatidiri masyarakat, bangsa dan negaranya, jika terbangun dan terimplementasikan pendidikan multikultural. Bencana tinggal tunggu waktu jika terjadi sebaliknya. Lintasan sejarah dan pijakan dasar Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial mencatat, bahwa pendidikan multikultural lahir dari gerakan reformasi pendidikan di Amerika yang muncul dan berkembang berlatarbelakang perjuangan hak-hak kaum sipil AfroAmerika di tahun 60-an. Perubahan demografi masyarakat Amerika akibat peningkatan populasi imigran memberikan signifikansi ekses pada lembaga-lembaga pendidikan (Kuper dalam Lelono, 2012). Dalam perjalanannya, Banks dalam Lelono (2012) menyatakan bahwa evolusi pendidikan multikultural terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) upaya untuk menyatukan kajian-kajian etnik pada kurikulum; (2) hal ini diikuti oleh pendidikan multietnik sebagai usaha untuk menciptakan persamaan hak pendidikan; (3) kelompok marginal, seperti perempuan, penyandang cacat, mulai menuntut perubahan-perubahan mendasar dalam lembaga pendidikan; dan (4) perkembangan peradaban budaya menuntut perhatian pada relasi antarras, antaretnik, antarkultur, dan

Drs. Musaheri, M.Pd Ketua STKIP PGRI Sumenep

antarkelas. Gerakan reformasi pada dunia pendidikan mengupayakan transformasi pendidikan pada semua tingkatan sehingga semua orang akan menikmati akses yang sama untuk menikmati pendidikan. Konsep pendidikan multikultural menjadi komitmen global sejalan dengan rekomendasi UNESCO, Oktober 1994 di Jenewa. Rekomendasi UNESCO tersebut memuat empat seruan, meliputi; (1) pendidikan mengembangkan kesadaran untuk memahami dan menerima sistem nilai dalam kebhinnekaan pribadi, jenis kelamin, ras, etnik, dan kultur; (2) pendidikan mendorong konvergensi gagasan yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas dalam masyarakat; (3) pendidikan membangun kesadaran untuk menyelesaikan konflik secara damai; dan (4) pendidikan meningkatkan pengembangan kualitas toleransi dan kemauan untuk berbagi secara mendalam. Pijakan dasar paradigma pendidikan multikultural dituangkan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidi-


kan Nasional. Pasal ini menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Dengan dasar pijakan tersebut, tujuan pendidikan multikultural adalah menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan kultural yang berbeda. Prinsip Dasar implementasi Untuk memahami paradigma dan implementasi pendidikan multikultural, perlu dikenal prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. Prinsip-prinsip tersebut mencakup kondisi dan realitas yang multikultur dengan segala keunikannya, adanya penghargaan dan penghormatan yang menumbuhkan kualitas interaksi, dan menumbuhkan kebiasaan dan gaya yang spesifik dalam implementasinya, dan diintegrasikan dalam struktur kurikulum. Pemahaman utuh bahwa interaksi dalam melakukan proses pembelajaran sejatinya tidak selamanya dilaksanakan dengan peserta berlatar monokultural. Suatu hal yang niscaya dalam suatu interaksi pembelajaran akan berkumpul peserta belajar di dalam satu kelas yang berlatar belakang budaya beragam. Budaya tetaplah beragam dan tidak akan pernah bisa disatukan. Masing-masing mempertahankan kebiasaannya. Penghargaan kepada masing-masing budaya diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Penghargaan memunculkan motivasi dan inilah yang akan memacu kualitas proses pembelajaran yang bermakna, dilandasi nilai hak asasi manusia dan membangun kecakapan hidup dan kehidupan. Kecerdasan memahami dan kesediaan menyesuaikan diri dalam mengadapi kondisi kelas dengan latar belakang budaya yang beragam. Setiap budaya memiliki kebiasaan spesifik

dan mencirikan budayanya, ini akan berpengaruh pada gaya belajar peserta. Pemahaman secara cerdas tentang karakter budaya peserta belajar adalah hal yang paling utama diperhatikan dalam melakukan tindakantindakan kelas. Pendidikan multikultural dapat memberi makna maksimal, bila diintegrasikan ke dalam masing-masing mata pelajaran atau mata kuliah dan semua pihak untuk peduli. Jangan ada anggapan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu cabang ilmu yag berdiri sendiri; dan tidak ditangani oleh semua pihak yang terlibat dalam praksis pendidikan. Dimensi Implementasi Pendidikan multikultural diimplementasikan dalam beragam dimensi, tidak hanya melalui pendidikan formal namun juga dapat dimplementasikan dalam kehidupan masyarakat maupun keluarga(Lelono, 2012). Dalam pendidikan formal pendidikan multikultural ini dapat diintegrasikan dalam sistem pendidikan melalui kurikulum mulai pendidikan usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah, bahkan perguruan tinggi. Sebagai wacana baru, Pendidikan Multikultural ini tidak harus dirancang sebagai muatan substansi yang

berdiri sendiri dan teralienasi, namun dapat diintegrasikan dalam kurikulum yang telah berlangsung. Secara substansif, pendidikan multikultural dapat dinitegrasikan dalam kurikulum yang berlandaskan konsep multikulturalisme, misalnya melalui mata kuliah Kewarganegaraan, ISBD, Agama dan Bahasa. Pada pendidikan anak usia dini, pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam Out Bond Program, Jigsaw, dll. Pada pendidikan dasar dan menengah, pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam materi pembelajaran bidang studi PKn, Agama, Sosiologi dan Antropologi, dan atau melalui metode pembelajaran cooperative learning, contextual learning. Dalam ranah pendidikan nonformal, wacana pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam format-format pelatihan dengan model pembelajaran yang responsive multikultural yang mengedepankan penghargaan terhadap pluralisme. Wacana pendidikan multikultural juga dapat diimplementasikan dalam lingkungan keluarga. Keluarga sebagai institusi sosial terkecil merupakan media pembelajaran yang paling efektif dalam proses internalisasi, ... bersambung ke halaman 19

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 13


POLITIK

Foto-foto: obeth/sm

BUPATI NYABUP: Bupati Pamekasan, Kholilurrahman menyerahkan berkas lamarannya secara resmi untuk menjadi calon bupati Pamekasan kepada Pengurus DPC Partai Persatuan Pembangunan Pamekasan.

JELANG PEMILUKADA PAMEKASAN

Ke Mana Bandol PPP Menepi?

B

akal calon bupati yang mengemuka selama ini, Achmad Syafii dan Kholilurrahman menanti bandol politik PPP. Sebab, kedua tokoh “incumbent” ini sama-sama mendaftar ke partai berlambang ka’bah itu. Padahal, baik Syafii maupun Kholilurrahman, keduanya bukan kader PPP. Mengapa keduanya memilih partai PPP? Dari sisi sejarah, Syafii pernah menjadi kader PPP dan menjadi ketua DPRD Pamekasan. Sukses menjadi ketua DPRD, Syafii mencalonkan bupati Pamekasan dari PPP pada tahun 2003. Waktu itu, pemilihan bupati dieksekusi anggota DPRD dan dia menang. Syafii akhirnya menjadi Bupati Pamekasan periode 2003-2008. Pada

14 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

tahun 2008, Syafii kembali dicalonkan menjadi Bupati Pamekasan dari PPP meski akhirnya tidak berhasil menjadi bupati untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 2009, Syafii menjadi caleg DPR RI dan berhasil lolos ke Senayan menjadi anggota parlemen dari Partai Demokrat. Sedangkan Kholilurrahman, kader PKB. Sebelumnya, 1999– 2004 Kholil menjadi anggota DPRD Jatim. Pada tahun 2004-2009, Kholil kembali lolos sebagai anggota DPRD Jatim untuk yang kedua kalinya. Namun pada tahun 2008, Kholil mencalonkan bupati Pamekasan dari koalisi antarpartai (PBB dan Golkar). PKB sendiri tidak mendukung Kholilurrahman meski pada saat itu Kholilurrahman menjadi Ketua Dewan Syuro. Karena

terpilih menjadi Bupati Pamekasan 2008-2013, Kholil mundur dari keanggotaannya sebagai parlemen di Jatim. Saat ini, Kholilurrahman kembali mencalonkan diri dengan alasan didukung para ulama. DPC PKB Pamekasan bertekad mengusung ketua dewan syuro ini. Sebagaimana pemilukada sebelumnya, dukungan DPC masih tergantung DPP. Sebab, didukung DPC PKB belum tentu didukung DPP PKB. Ini dialami Kholilurrahman pada pemilukada 2008 silam saat berpasangan dengan Kadarisman Sastrodiwirjo. Kalaupun DPP PKB mendukung, suara PKB yang hanya lima kursi belum cukup dan karenanya harus berkoalisi dengan partai lain. Sebab, partai yang dapat


MANTAN BUPATI NYABUP LAGI: Mantan Bupati Pamekasan, Achmad Syafi’e sedang berada di kantor DPC PPP Pamekasan dalam rangka menyampaikan lamaran resminya untuk menjadi calon Bupati Pamekasan dalam Pemilukada setempat 9 Januari 2013 mendatang..

mencalonkan kader atau bukan kadernya apabila telah memiliki 15% dari keseluruhan anggota di parlemen Pamekasan yang berjumlah 45 orang. Dalam hitungan matematik, lima kursi hanya setara dengan 10% lebih dan tidak sampai dengan 15%. Inilah antara lain alasan Kholil mengapa dia harus mendaftarkan dirinya ke partai selain PKB. Termasuk yang didaftar PPP, PAN, Golkar, dan PDI Perjuangan. Kholil menyadari partai yang dibesutnya masih kurang dari ketentuan yang mematok 15%. Sisi lainnya, mendaftarnya Kholil ke partai selain PKB agar mendapat dukungan banyak pihak selain PKB sendiri. Saat datang ke kantor PPP di Jalan Pintu Gerbang, Kholilurrahman datang bersama Ketua DPD Partai Golkar Pamekasan Boy Suhari Sajidin, asisten pribadinya Anwari Kholil serta sejumlah petugas keamanan dari Satpol PP Pamekasan. “Parpol yang menerima pendaftaran calon bupati akan saya datangi (untuk mendaftar),” katanya.

Begitu juga Achmad Syafii. Kader Demokrat ini juga menyadari perlu mendapat dukungan dari partai selain Demokrat. Sebab, Demokrat hanya berhasil meraup suara sekitar 10% dari total keanggotaan parlemen Pamekasan 45 orang. Itu berarti, untuk mencapai 15% pihaknya harus bergerilya dukungan atau perlu menambah 2 dukungan suara dari partai lain. Lebih dari 2 dukungan suara di parlemen pasti lebih bagus. Karena itu Syafii juga melirik PPP yang cukup syarat karena perolehan suara PPP di parlemen mencapai 8 kursi (lebih dari 15%). Syafii mengaku, ia menjatuhkan pilihan kepada PPP, karena masih terjalin komunikasi yang baik dengan partai yang pernah membesarkan dirinya. Selain itu, PPP juga merupakan partai besar yang akan dilirik semua bakal calon di Pamekasan. Iskandar, ketua panitia desk pilkada DPC PPP Pamekasan, menyambut baik lamaran secara resmi yang dilakukan Achmad Sayfii. Untuk tindak lanjut yang akan

dilakukan,pihaknya masih menunggu tahapan penjaringan hingga selesai. Menurut Iskandar, sampai saat ini, baru achmad Syafii yang mendaftar ke PPP. Pihaknya tidak tahu, apa masih ada kandidat lain termasuk kandidat wakil bupati hingga penjaringan ditutup. Sekurang-kurangnya tiga nama yang akan dikirim ke DPW PPP Jatim, baik di dari bakal calon bupati ataupun dari bakal calon wakil bupati. Dan terakhir, dewan pengurus pusat PPP di Jakarta nantinya akan menetapkan satu nama, baik dari bakal calon bupati ataupun calon wakil bupati untuk maju pada pilkada Pamekasan 2013. Ada tiga orang yang mengambil formulir pendaftaran di partai berlambang ka’bah tersebut. Ketiga orang itu masing-masing Achmad Syafii dari Partai Demokrat, Kholilurrahman dari PKB dan Kholil Asy’ari dari PPP sendiri. “Tapi kalau Kholil Asy’ari mendaftar sebagai bakal calon wakil bupati,” kata Iskandar menjelaskan. (naf/bet) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 15


POLITIK

DEMO PEMILUKADA: Sejumlah warga mendatangi Kantor KPUD Pamekasan karena perekrutan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dianggap tidak transparan.

JELANG PEMILUKADA PAMEKASAN

DISOAL, KPUD NETRAL ATAU SEMPAL?

L

ebih dari seratus orang mendatangi kantor KPU, akhir Juni lalu. Mereka menduga, KPU mulai sempal dan tak lagi netral. Versi massa yang tergabung dalam

16 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

barisan Aliansi Mahasiswa Peduli Pilkada (AMPP), KPU patut ditengara telah memainkan peran untuk mengegolkan calon tertentu melalui caranya KPU. Ini tercium indikasi

kuat KPU telah memilih anggota PPK dari kroni salah satu kandidat bupati Pamekasan. Sehingga, kroni KPU, PPK yang diduga diangkat atas dasar pesanan ini bisa membantu melolo-


foto: saiful bahri/sm

skan salah satu pasangan. Benarkah demikian? Memang tidak ada jaminan apakah diangkatnya 65 anggota PPK itu pesanan atau bukan titipan. Ini hanya bisa dibuktikan dengan kinerja KPU, PPK, PPS, dan KPPS. Sepanjang KPU dan jajarannya bisa menunjukkan tidak ada KKN dalam perekrutan PPK, sepanjang itu pula dugaan massa batal demi kenyataan. Hanya, masalahnya tidak sesederhana itu. Beberapa hari sebelum pelantikan anggota PPK berlangsung, ada sms yang beredar di tengah masyarakat. Isinya, seruan kepada PPK untuk satu tekad memenang-

kan salah satu calon bupati. Pengirim sms itu ditengarai dari nomor ponsel orang penting di Pamekasan. SMS yang sedianya hanya untuk orang-orang tertentu itu, akhirnya bocor kepada pihak lawan. Sampai akhirnya, terjadi gelombang massa ke kantor KPU di Jalan Brawijaya yang menolak pengukuhan anggota PPK yang akan bertugas pada pilkada 9 Januari mendatang. Salah seorang pengunjuk rasa, Hadiri, menduga proses rekrutmen PPK pada awal Juni lalu diduga berangkat dari niat yang tidak tulus KPU. Sebab, KPU dia tengara menerima order dari salah satu calon bupati. Sehingga, jika sistem terbentuk mulai dari KPU dan PPK (ke bawah), kemenangan calon yang diduga di back up KPU akan dengan mudah leading. Dengan penilaian seperti itu, AMPP meminta KPU lebih transaparan dan jurdil dalam rekrutmen PPK. Sebab, dugaan KPU sempal dan tidak netral justru akibat tidak adanya transparansi dari KPU. “Rekrutmen PPK tak sah dan harus diulang,” katanya. Aksi massa ini nyaris bentrok. Sebab, massa datang tidak hanya untuk menyampaikan pendapat melainkan melangsungkan aksi saling dorong dengan aparat yang bertugas. Tidak diketahui siapa yang melakukan aksi dorong pertama kalinya, tetapi antara aktivis dan aparat terlibat aksi dorong-dorongan. Aksi saling dorong ini tidak berlangsung lama ketika parat peolisian lainnya mempersilakan perwakilan pengunjuk rasa berdialog dengan jajaran KPU. Pada saat dialog pun, aktivis tetap yakin KPU bermain yang ditandai dengan rektutmen PPK. Itu sebabnya, KPU dianggap berkewajiban mengulangi rekrutmen PPK dan membatalkan PPK terpilih. “Ada yang tidak beres dengan rekrutmen PPK, oleh KPU,” tegasnya. Namun, KPU tetap melanjutkan

pelantikan PPK yang dianggapnya sah baik de jure maupun de facto. Bahwa terdapat pihak yang tidak sepakat, KPU menganggap hal itu wajar. Prinsip, KPU telah menjalankan rekrutmen PPK mengacu pada mekanisme yang berlaku. Ketua KPU HM Ramli menandaskan hal yang seperti itu kepada sejumlah wartawan. KPU bersikukuh menegaskan bahwa yang telah dilakukannya sah demi hukum. Selain itu, jika KPU mengabulkan tuntutan pengunjuk rasa, pelaksanaan pemilukada terancam molor dari jadwal 9 Januari 2013. “Rekrutmen PPK saya nyatakan selesai, tinggal seleksi Panitia Pemungutan Suara (PPS),” Ramli menjelaskan. Di Pamekasan, jumlah kecamatan mencapai 13 buah. Setiap kecamatan terdiri atas 5 orang anggota PPK. Total anggota PPK berjumlah 65 orang (13 x 5). Pasca PPK, KPU akan menyeleksi calon PPS yang berjumlah 3 orang per desa. Total anggota PPS yang diperlukan mencapai 567 orang. Bila penyelenggara pemilukada benar-benar berpihak, maka setidaknya calon tertentu telah memiliki 637 orang yang terdiri atas 5 orang anggota KPU, 65 (PPK), dan 567 orang dari unsur PPS. Mereka akan bekerja untuk kepentingan calon tertentu dan dibiayai negara. Tetapi petugas KPU dan jajarannya yang baik pasti tetap netral, dan tidak menyempal ke calon tertentu. Namun, aksi dugaan kemiringan KPU terhadap calon tertentu ini tidak terjadi saat ini saja. Lima tahun yang lalu, saat akan digelar pilkada tahun 2008, KPU juga didatangi gelombang massa. Massa saat itu juga menuding KPU tidak netral karena dianggap lebih “membela” salah satu calon bupati. Hanya, membuktikan KPU dan jajarannya tidak netral, hal ini bukan perkara mudah. Sampai akhirnya, KPU netral atau sempal, akan teruji melalui kinerja sampai pemilu kada digelar 9 Januari 2013 mendatang. (naf/bet) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 17


POLITIK

REKOM DARI PDI PERJUANGAN: Makmun Ibnu Fuad di rekomendasi DPD PDI Perjuangan Jatim untuk maju menjadi Bupati Bangkalan Madura.

JELANG PEMILUKADA BANGKALAN

BERJIBAKU MENUJU PUNCAK S uasana pemilukada di Bangkalan mulai menyeruak. Sejumlah pihak menjagokan calonnya masing-masing. Hingga saat ini, tiga nama diprediksi berebut hati menuju kursi bupati. Mereka antara lain Makmun Ibnu Fuad. Ia adalah sosok pengantin baru yang belum lama menikah. Pernikahan putra Mahkota dari RKH Fuad Amin ini ditengarai erat kaitannya degan pemilukada. Sebab, pria yang akrab disapa Ra Mumun itu belum berusia 30 tahun sebagai persyaratan usia minimal bagi seorang calon kepala daerah. Tetapi persyaratan usia minimal itu dapat gugur apa18 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

bila seseorang telah menikah. Ra Mumun diduga menikah karena (antara lain) ingin lolos persyaratan sebagai calon kepala daerah. Di samping itu, Ra Mumun memang ditengarai sudah siap menikah.

Sosok lain yang juga ramai dibicarakan adalah Imam Bukhori. Pria yang menjadi pimpinan PKNU ini telah lama digadang-gadang pendukungnya untuk menggantikan Ra Fuad yang tidak boleh mencalonkan lagi karena sudah mencapai dua periode. Imam yang juga pernah menjadi anggota DPR RI ini dianggap sosok

yang layak sebagai calon bupati Bangkalan, bertanding dengan calon lainnya pada pemilu kada Bangkalan yang dijadwal berlangsung tanggal 12 Desember tahun ini.

Bakal calon bupati lainnya yang juga disebut banyak pihak akan maju antara lain Farid Al Fauzi. Saat menjadi anggota DPRD Jatim ini, nama Farid tidak asing. Selain pernah menjadi ketua salah satu parpol di Jatim, Farid dikenal sebagai pengusaha. Nama Farid disebut-sebut akan berlaga dengan menggunakan jalur independen bila pada akhirnya tidak


menemukan kendaraan politik (parpol) pengusung. Untuk nama Makmun Ibnu Fuad, PDI Perjuangan telah tegas mendukung calon ini yang berpasangan dengan Mondzir Rofii. Saat peringatan Bulan Bung Karno di Bangkalan, Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Sirmadji Tjondropranolo memberikan surat rekomendasi dukungan atas bakal calon bupati Ra Mumun. Selain dukungan dari PDI Perjuangan, Ra Mumun dikabarkan juga mendapat dukungan dari Partai Hanura. Dalam Rapimcab DPC Hanura Bangkalan, Ra Mumun disepakati sebagai bakal calon bupati dari Hanura yang memiliki 3 kursi di parlemen. Untuk calon independen, KPU Bangkalan mematok dukungan minimal 41.641 jiwa. Ketua KPU Fauzan Djafar mengatakan, ketetapan tersebut berdasar jumlah penduduk yang diterima dari Dispendukcapil. Berdasar jumlah penduduk, Bangkalan secara Keseluruhan 1.388.051 jiwa. Minimal dukungan dari jalur perseorangan itu tiga persen dari julah total penduduk itu. Dasarnya UU 12/2008/ tentang otoda yang didalamnya mengatur tentang Pilkada. Selain itu, peraturan KPU 06/2011 tentang pedoman pencalonan. “Ketentuannya seperti itu,� Fauzan menjelaskan. Selain itu, bakal calon bupati dan wakil bupati yang akan maju pada pemilu kepala daerah (pilkada) periode 2013-2018 nanti harus sehat jasmani dan rohani. Pemeriksaan kesehatan dalam rangka pencalonan untuk maju di pilkada kali ini, ada perbedaan mekanisme dibanding pilkada periode sebelumnya. Pada pilkada periode sebelumnya, pemeriksaan kesehatan para calon dilakukan setelah melakukan pendaftaran ke KPU. “Nah, untuk kali ini, hal itu dilakukan sesaat sebelum mendaftarkan diri ke KPU. (naf/obet)

... halaman ke halaman 13 transformasi, dan sosialisasi sebuah tata nilai. Orang tua berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai yang lebih responsif multikultural dengan mengedepankan penghargaan terhadap pluralisme di sekitar lingkungannya (agama, ras, golongan) terhadap anggota keluarga yang lain. Pendidik menjadi Pelopor Limas Sutanto-dengan mengambil inspirasi dari Ian M Harris dan Mary Lee Morisson(Peace Education,2003) sebagaimana dikutip Said Abdullah( -menyebut setidaknya tujuh hal penting yang diharapkan akan meresapi perilaku pendidik. Pertama, pendidik perlu memberikan respons terhadap situasi di depan mata(immediate situation)-di tengah kelas, di tengah sekolah, bahkan di tengah masyarakat dan dunia- yang bersifat mengancam atau membahayakan kehidupan,engan membela kehidupan itu.Jadi,pendidik tidak boleh hanya bicara namun juga harus menjadi pelaku perdamaian.Himpunan respons terhadap immediate situations yang terangkai dalam hari-hari pendidikan perdamaian, akan mengakumulasikan kekuatan kesadaran manusia akan perdamaian. Kedua,pendidik niscaya sungguh riil membantu tiap peserta didik atau insan di sekolah dan masyarakat yang dilanda ketakutan,untuk terbebas dari ketakutan itu. Dalam perdamaian tiada ketakutan. Ada ketakutan berarti ada ketidakdamaian,dan adanya ketakutan acapkali berkaitan dengan pengalaman kekerasan.Maka fenomena ketakutan manusia sungguh perlu diajdikan perjatian tiap pendidik perdamaian. Pendidik tidak boleh acuh tak acuh terhadap peserta didik atau siapapun yang mengalami ketakutan,dan dalam berpraktik mendidik,pendidik tidak boleh merebakkan ketakutan. Ketiga,pendidik harus peka dan memebri respons nyata yang relevan terhadap kebutuhan kemanusiaan peserta didik, terutama kebutuhan fisikal mendasar dan kebutuhan psikologis mendasar. Paradigma pemahaman tentang keamanan bagi pendidik perdamain adalah keamanan sebagai kondisi yang disangga oleh keterpenuhan wajar kebutuhan manusia bukan sebagai produk represi. Keempat, pendidik niscaya berperilaku riil sehari-hari sebagai insan yang mempu mendengarkan secara efektif,mampu menunda memberi penilaian,mampu merespons pembicaraan orang lain secara relevan dan obyektif dengan memosisiskan pengaruh wicara dalam pikirannnya sendiri secara proporsional.Keterampilan emndengarkan secara efektif merupakan salah satu budaya penyangga perdamaian.Maka pendidik perdamaian niscaya mengejawantahkan keterampilan itu di tengah kehidupan sehari-hari. Kelima, pendidik niscaya lebih mengejawantahkan perilaku kooperasi konstruktif ketimbang komposisi destruktif,karena kooperasi konstruktif lebih mampu memberi penyelasaian damai atas konflik ketimbang kooperasi destruktif. Keenam, pendidik perlu memiliki citra diri(self-image)yang positif sehingga bisa menghayati betapa dirinya berharga,lalu menjadikan semua itu sebagai landasan rasional dan realistik untuk menghargai orang lain dan menghargai setiap wujud kehidupan. Ketujuh,pendidik niscaya mengembangkan dan terus belajar mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal nan efektif dengan memperkuat empati dan kesadaran etis,karena komunikasi interpersonal nan efektif,empati dan,dan kesadaran etis merupakan landasan penyelasaian damai atas konflik di tengah kehidupan sehari-hari. (*) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 19


POLITIK

foto: saiful bahri/sm

EKSEKUSI: Beberapa orang petugas Pengadilan Negeri Pamekasan sedang melakukan penyitaan terhadap rumah dinas polri yang disengketakan warga.

JELANG PEMILUKDA SAMPANG

DUA KIAI, SATU KPU

D

i era lalu Sampang belum seperti saat ini, beberapa orang gregetan karena IPM Sampang nyaris berada di nomor butut. Salah seorang warga Sampang ketika itu secara berkelakar, bila Sampang tidak maju-maju, rakyat akan mengusulkan agar status Kabupaten Sampang diturunkan menjadi Kecamatan Sampang. Sedangkan Sampang sebagai kabupaten boleh memilih apakah bergabung ke Bangkalan atau Pamekasan. Itu cerita lalu saat Sampang belum seperti saat ini, lebih maju dari masa lalu. Ketika Sampang sudah maju, kiai pun ingin maju lagi dengan menjadi calon bupati. Terdapat dua pasangan calon bupati yang telah menyerahkan berkasnya. Satu pihak, KH Ahmad Yahya dan KH Faidol Mubarok. 20 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

Di pihak lain terdapat KH Faisol Mukaddas Said dan pasangannya, Triyadi Khusnul Yakin. Keduanya telah menyerahkan berkas kepada KPU, untuk menjadi nomor satu di Sampang. Masih dimungkinkan kiai lain yang akan maju melalui parpol. Mengapa mereka maju, tentu ingin agar Sampang lebih maju. Ini yang antara lain disuarakan Faisol Mukaddas. Sebagai orang Sampang, dia merasa tahu apa yang harus dilakukan (untuk membuat Sampang lebih maju). Tetapi, yakin saja belum cukup membangun Sampang dan belum tentu lolos sebagai bupati dan wakil bupati Sampang. Sebab, masing-masing pihak masih harus berikhtiar untuk menjadi yang diinginkannya, bupati atau wakil bupati.

Data yang dihimpun, pasangan Ahmad Yahya dan Faidol Mubarok kurang lebih telah menghimpun 42.500 fotokopi KTP yang terbagi di 13 kecamatan. Sedangkan jumlah dukungan untuk pasangan Faisol Mokaddas Said dengan Triyadi Husnul Yakin kurang lebih 43.430 KTP yang terbagi di 14 kecamatan. Benarkah fotokopi KTP itu benarbenar mewakili pemiliknya dalam mendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati? Ternyata tidak. Sedikitnya, 93 warga Tambelangan Kabupaten Sampang, merasa kartu tanda penduduknya di fotocopi dan tanda tangannya ditengarai agak berbeda. Ini kerap terjadi bagi dukungan warga dari jalur independen. Tidak semua berkas yang diajukan kepada KPU memenuhi syarat. Sudah bisa dipastikan sebagian persyaratan perlu dilengkapi. Akibat ketidakpercayaan ini, warga mendirikan Posko Rakyat Menggugat Calon Independent Pemilu


Sampang 2012. Pendirian posko ini diyakini berguna untuk mendukung kelancaran pilkada 2012 serta menjembatani warganya yang merasa tanda tangannya dipalsukan. Versi tim sukses, berkas yang diajukan sudah mengikuti ketentuan dan sesuai prosedur, asli, dan tidak mengada-ada. Bola liar ini tidak dibirakan menggelinding dan ini Panwas Kecamatan menindak lanjuti temuan warga yang diduga telah terjadi perbedaan tanda tangan dalam berkas dukungan warga. Berkas terus diteliti dengan hati-hati siapa tahu sudah benar tetapi masih dipersoalkan atau memang kurang benar dan karenanya perlu diperbaiki. Belum selesai soal silang sengketa dukungan ini, Ketua KPU KH Abu Ahmad Dovier Syah diadukan kepada polisi. Orang pertama di KPU yang juga kiai itu diduga melakukan kebohongan publik. Sebab, warga mengaku telah menemukan ucapan dan kenyataan berbeda menyangkut satu sosok ketua KPU. Forum Demokrasi Sampang (Fordems) menduga, naskah soal tes PPK yang dibagikan kepada peserta tidak diminta kembali oleh KPU. Hal ini dinilai rawan kebocoran. Semua peserta tes tulis mengetahui bahwa naskah soal diminta kembali oleh panitia dan diserahkan bersamaan dengan lembar jawaban pada waktu itu juga dan diduga bocor. Abu Ahmad Dhovier Syah membantah melakukan kebohongan publik. Namun, dia berjanji akan menunggu tindak lanjut laporan tersebut. Dia menegaskan, kebocoran soal itu justru timbul setelah naskah tes tulis diserahkan kepada para peserta calon PPK. Dhovier balik bertanya, dengan berbagai fakta yang disampaikan, siapa yang telah merekayasa soal dan melakukan kebohongan publik. Draf 30 soal yang dianggap bocoran itu ditulis oleh satu orang. Padahal asumsinya tulisan itu harusnya berasal dari 3 orang komisioner. “Sebenarnya kami tak ingin berpolemik, karena tugas KPU sangat berat dalam menangani persiapan pilkada,’’ ujarnya. (naf/bet)

CURIGA DARI AWAL?

A

khir Juni lalu, posko pemenangan Kiai Haji Achmad Faisol Muqoddas dengan Haji Triyadi Husnul Yakin dilurug 93 warga Desa Tambelangan Kecamatan Tambelangan Kabupaten Sampang. Dalam kesempatan tersebut, warga mengaku kesal karena merasa KTPnya telah dipalsukan untuk kepentingan persayaratan pencalonan Kiai Haji Achmad Faisol Muqoddas dengan Haji Triyadi Husnul Yakin untuk maju sebagai calon bupati dan wakil bupati dalam pemilukada Sampang akhir tahun ini. Tak hanya itu, warga bahkan membuat posko pengaduan pemalsuan KTP untuk mengadvokasi dan menerima pengaduan adanya pemalsuan KTP oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Rusdi, salah satu warga Desa Tambelangan mengaku tidak pernah memberikan memberikan KTPnya untuk mendukung pasangan calon bupati manapun. Namun ternyata ia terdaftar sebagai salah satu pendukung Kiai Haji Achmad Faisol Muqoddas dengan Haji Triyadi Husnul Yakin. Atas kejadian ini, Rusdi mengaku akan membawanya ke jalur hukum. Sebab menurutnya, jika hal ini dibiarkan maka ke depan akan menjadi preseden buruk bagi perjalanan demokrasi di Kabupaten Sampang. Menurutnya, tidak mungkin pasangan calon yang berangkat dengan cara membohongi rakyat, saat benar-benar menjabat kelak akan berubah menjadi jujur dan simpati kepada rakyat. Ia mengaku yakin, pemimpin yang berangkat dengan cara tidak benar, maka ia kelak juga akan menggunakan kekuasaannya untuk halhal yang tidak benar. “Belum menjabat saja sudah membohongi rakyat, bagaimana kalo sudah menjabat” Ujarnya dengan nada kesal. Sementara itu M. Ansori, Ketua Tim sukses Bakal Calon Bupati Faisol Mokaddas Said, menerangkan, pihaknya tidak pernah melakukan pemalsuan data seperti yang dituduhkan selama ini. “Kami tidak pernah meminta KTP kepada warga untuk dipalsukan, kalau tidak percaya langsung kroscek kepada yang bersangkutan,“ tutur M Ansori. Menanggapi permasalahan ini, Panwas Kecamatan akan menindak lanjuti temuan yang ada untuk diteruskan ke tingkat Kabupaten, mengingat keputusan ini sepenuhnya kewenangan Panwas Kabupaten. Jika ternyata benar pasangan Faisol Mokaddas Said memalsukan KTP, maka pencalonannya tentu akan dibatalkan oleh KPUD setempat. (*) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 21


fokus lensa

22 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


GARAM RAKYAT Seorang petani garam tampak sedang mengangkut hasil panennya ke pinggir tambak

foto: muhammad ghozi/sm

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 23


fokus lensa

24 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


Garam yang Benar-Benar Asin

D

ahulu ada guyonan “Garam itu asin jika sedikit, tapi jika banyak rasanya jadi manis�. Begitulah gurauan masyarakat untuk menggambarkan nikmatnya memiliki lahan garam dan mengelolalnya sendiri. Namun kini guyonon ini tak lagi relevan. Sebab pertikaian antara warga dan PT. Garam tak kunjung menemukan titik damai. PT Garam yang konon menjadi pemilik lahan garam, dituduh membuat kebijakan sepihak. Sehingga pera petani merasa sering dirugikan. Kejadian ini tidak hanya terjadi di satu tempat saja di Madura. Di Pamekasan dan Sumenep juga terjadi hal serupa. Hingga saat ini sengketa lahan garam di dua kabupaten ini masih menjadi bara dalam sekam. Sewaktu-waktu bisa meledak. Di Pamekasan, beberapa pekan lalu masyarakat melakukan audiensi ke kantor pemerintah provinsi jawa timur terkait pengelolaan lahan garam ini. Juru bicara petani garam Pamekasan, Agus Sumantri, menjelaskan, kedatangan mereka untuk menangih janji Gubernur pada tahun 2006 lalu. “Saat kami melakukan audiensi ke Pemprov Jatim, Gubernur ketika itu berjanji akan memberikan hak garap bagi petani. Tapi faktanya tidak ada,� kata Agus. Bahkan, pihak PT Garam telah mengubah kebijakannya dengan mengubah hak kelola lahan garam yang ada di Desa Pandan, Kecamatan Galis, Pamekasan itu dengan akat sewa. Sementara, kesepakatan antara petani garam dengan PT Garam yang dimediasi Pemprov Jatim tahun 2006 lalu, adalah bagi hasil, bukan akat sewa sebagaimana diberlakukan saat ini. Selain itu, sambung Agus, kedatangan perwakilan petani garam ke Gubernur Jatim kali ini untuk mengadukan sengketa antara petani dengan PT Garam yang terjadi pada Selasa (5/6) kemarin. Kedua belah pihak, baik perwakilan petani ataupun PT Garam sudah berulang kali melakukan perundingan damai, namun hingga kini belum ada kata sepakat. Alhasil, banyak dan sedikitnya garam kini sama saja. Samasama asin dan tak jarang menimbulkan bara kesumat yang tak berkesudahan. Pemerintah seharusnya tanggap dalam menyikapi persoalan ini. Sebab meskipun PT. Garam adalah perusahaan negera, tugas negera adalah menyejahterakan rakyat, bukan semata menyejahterakan dirinya sendiri. (*)

foto-foto: muhammad ghozi/sm

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 25


RESENSI

Menata Cahaya dari Lentera Hati Judul Buku: Menyusun Wajah Tanah Air| Penulis: Benazir Nafilah dkk | Penyunting: M Fauzi |Penerbit: UKM Sanggar Lentera STKIP Sumenep | Tebal: xii + 504 halaman | Cetakan: Pertama, 2012 | Peresensi: Nina Anina, Guru SMAN 1 Sidayu, Gresik

P

enyair, seringkali mencari jati diri menggapai yang terindah, Tuhan. Tetapi dalam penjelajahan, penyair tak kunjung bertemu yang dicari karena yang dinanti tidak ada di mana-mana. Melainkan, ia ada dalam hati, di dalam kesejatian diri. Tetapi penyair terus mencari melalui berbagai macam media. Tetapi ke mana pun dicari, yang ditunggu tetap berada di hati. Ia menuntun ruang imajinasi lalu lahirlah sebait puisi. Indah atau tidak indah kata-kata yang tertoreh, seperti Tardji (Sutardji Coulzumbachri), kata sendirilah yang mengabarkan keindahan atau ketidakindahan itu. Namun indah atau tidak indah, ia tetap bernama puisi. Ini juga yang dilakukan sejumlah penyair di Sanggar Lentera STKIP Sumenep dalam antologi puisi bertajuk Menyusun Wajah Tanah Air. Dalam bahasa gaul, ada isyarat galau kolektif karena melihat kesaksian peradaban sangat rapuh, menjauh dari cita-cita. Seperti penyair Benazir Nafilah, tersirat kegalauan hati yang patah-patah

26 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

dan lamat-lamat tercermin dalam puisinya, Pemberangkatan Terakhir/tanah pucat penuh retak/hujan telah datang menyirami sesosok manusia/yang ditanam seusai adan asar/kilau airmata/gemerincing doa-doa/tak juga sembuhkan sesenggukan ini/lalu begitu saja/linang kenangan patah di ranting usia/entah aku menyusul di hari, tanggal, bulan, dan tahun berapa. Puisi itu dalam pemahaman publik mencerminkan bahasa diri penulisnya yang galau tentang kematian seseorang yang disayanginya. Jika seseorang yang disayanginya pun pergi, maka kepergian itu pasti juga datang pada dirinya ketika saatnya tiba meski ia tidak tahu kapan hal itu terjadi. Padahal, dalam doa talqin, kematian itu tak usah dibuat galau karena diminta atau tidak diminta, suatu saat akan tiba. Tetapi pada puisi ini, masalahnya bukan pada kematian itu sendiri. Melainkan republik ini telah ambruk sebelum hari keruntuhan itu tiba. Ini suatu bentuk penafsiran personifikatik atas puisi Benazir yang galau atas kondisi bangsa yang hanya berdaul-


at pada kata-kata dan tidak pada kisah nyata. Keresahan anak bangsa yang merasa hidup tanpa cahaya republiken antara lain juga ditampilkan Deni Hidayat. Puisinya bertajuk Seputar Negara-Bangsa; Jalan Demokratisasi Ketiga. Ia bertutur tentang gadis dari Jepang, bunga sakura dan prilaku harakiri yang dianggap terhormat. Sedangkan di republik ini, seseorang yang menjadi terdakwa bahkan terpidana pun enggan mundur diri (dari jabatannya) apalagi sampai melakukan aksi bunuh diri. Keempat belas penyair dalam antologi ini (Yogi Manggara, Wahyu Saputra, Syamsuri, Syaiful Ikhsan, Moh Zammil Rosi, Moh Juhdi, M Fauzi, Khalik, Kadarisman, Junaidi Efendi, Fathorrahman, Deni Hidayat, A Yazid dan Benazir Nafilah) ibarat sedang memamerkan lukisan. Sebagai seniman, mereka memiliki aliran sendiri yang sebagian sama dan sebagian lainnya berbeda. Jika dipilah, mereka beraliran realis dan surealis atau dalam istilah Afrizal Malna, gelap dan tidak gelap. Tetapi gelap atau tidak gelap, para penyair dalam Menyusun Wajah Tanah Air menggambarkan wajah yang gelisah dan galau dengan masa depan bangsanya yang menjauh dari peradaban. Sebagai karangan bebas, puisi ini seperti lukisan yang berbeda gambar, warna, dan komposisi. Karena itu, membaca antologi puisi sangat berbeda dengan membaca satu tema dalam karya ilmiah. Puisi memang tidak ilmiah tetapi di dalamnya bisa ditafsir sebagai satu

semesta. Puisi ibarat satu cermin yang melahirkan banyak gambar. Tetapi puisi bukan pendekar seribu bayangan yang hanya ada dalam komik. Puisi adalah kesejatian dan menulsinya tidak bisa dengan begitu mudah. Puisi adalah hati dan cinta, keduanya menggumpal menjadi cahaya, menjadi lentera. Namun apapun pesan yang dimunculkan dengan kacamata hati untuk menafsir puisi, penyair dari Madura ini telah mencoba berkarya dan mengabadikan alam melalui sepotong senja, luka, dan darah. Dalam keseluruhan puisi dalam Menyusun Wajah Tanah Air, dapatlah ditarik “sesuatu banget� (meminjam bahasa Syahrini) tentang negeri yang rapuh, tentang cinta yang setengah hati, tentang penguasa yang bertahta melampaui setengah dewa, dan karut-marut bangsa yang tidak beraura. Ketika kondisi pekat, maka anak-anak bangsa membuat budaya tanding atas kumpulan surat-surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Gelap menjadi Habis Gelap Terbitlah Gelap.

NINA ANINA

Guru SMAN 1 Sidayu, Gresik.

Nah dalam kegelapan ini, siapapun butuh lentera, butuh hati, perlu hati-hati, cinta dan rasa. Sayangnya, gelap Indonesia kita hari ini tak lagi bisa melihat meski labirin dan lentara bertebar di manamana. Inilah pentingnya puisi yang harus hadir dalam situasi apapun dan memang selalu ada pada rezim manapun, orde lama, orde baru, reformasi, atau orde yang lebih baru. Ini sebagai penjelas bahwa benar apa yang telah dikatakan Seno Gumira Adjidarma, Darah itu Merah Jenderal!!! (*) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 27


PERCIK Akhir Juni lalu, ratusan ulama, pengasuh pesantren, dan sebagian masyarakat Madura antusias mengikuti acara peluncuran al quran ini yang dipusatkan di pendopo Ronggosukowati. Setiap undangan mendapat jatah satu al Quran untuk pegangan dan agar disosialisasikan terhadap masyarakat lainnya. Penerjemahan Al Quran berbahasa Madura ini digagas Juni 2008 dan dikerjakan setahun kemudian. Lamanya waktu yang diperlukan dalam penerjemahan ini terkait kehati-hatian penerjemahan karena rawan. Muakmam, salah satu anggota tim penerjemah al Quran dari Yayasan Pakem Madduh Pamekasan menyadari banyak kendala untuk merampungkan terjemahan itu. Antara lain, kendala dalam penerjemahan itu lantaran banyaknya pemahaman yang berbeda dari sejumlah tim yang terlibat di dalamnya. Misalnya, pemahaman para ulama, pakar bahasa Madura, dan yang lainnya melahirkan perdebatan yang panjang. Dia menyadari karena memang seharusnya begitu dan baru kelar di tahun 2012.

Mengukuhkan Bahasa Ibu

Lewat Al-Qruan T

iga tahun berlalu sejak 2009 silam, kehendak Pamekasan untuk mewujudkan al Quran dengan terjemahan bahasa ibu (Madura) akhirnya purna sudah. Jika dihitung rata-rata, setiap tahun tim di bawah bendera Lembaga Penerjemahan dan Pengkajian Al Quran (LP2Q) berhasil 28 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

menerjemahkan 1 juz. Sebab, dalam 3 juz yang diluncurkan dikerjakan selama 3 tahun. Bila hendak merampungkan penerjemahan sebanyak 30 juz, itu artinya masih butuh waktu 27 tahun lagi untuk merampungkan 27 juz yang tersisa (belum diterjemahkan ke dalam bahasa Madura).

Sebelum akhirnya naik cetak, Al Quran terjemahan bahasa Madura ini sudah mendapat tashih dari Kementerian Agama Republik Indonesia (2010). Pasca cetak dengan baik dan benar diluncurkan dan dikirim ke sejumlah perpustakaan di Indonesia. Untuk cetakan pertama, LP2Q meluncurkan 3.000 eksemplar. Pada mulanya, penerjemahan al Quran ke Bahasa Madura ini digagas almarhum KH Abdullah Sattar Majid Ilyas, Pengasuh Jamaah Pengajian Surabaya ( JPS ), ulama sepuh yang banyak mengajarkan al Quran melalui forum pengajian rutin di Surabaya dan Lawang. Selanjutnya, gagasan ini berkesinambungan dan gayung bersambut dari ulama dan ahli bahasa Madura di Pamekasan.(naf/bet)


OLAHRAGA foto: abe/sm

permainan itu hebat. Tetapi arena itu menjadi lebih menarik karena para pendukung bebas mengatakan apa saja kepada pemain dari dua negara itu. Sebagai penonton di depan layar lebar hasil antaran cahaya melalui proyektor ke papan kain, penonton di acara yang dihelat SULUH-Kades lebih bisa bermain dari Fabregas atau Inesta sekalipun. Bahkan wasit yang memimpin laga final piala Euro ini juga tak luput dari umpatan dan penonton menyebutnya, goblok! Luar biasa.

NOBAR: Sejumlah warga di desa Karduluk antusias mengikuti acara nonton bareng final Euro 2012 yang digelar Majalah Suluh MHSA bekerjasama dengan Pemdes Karduluk.

NOBAR-MISBAR EURO 2012 Ala Suluh MHSA-Kades Karduluk

A

da yang lain di rumah Kades Karduluk Kecamatan Pragaan Sumenep H Zainul Ihsan saat piala Euro 2012 awal Juli lalu. Di halaman rumah itu berlangsung nobar-misbar yang digelar Majalah SULUH dengan Kades. Disebut nobar karena nonton bareng dan dikatakan misbar terancam bubar bila gerimis mengumbar. Tetapi beruntung nobar-misbar piala Euro ini aman dari gerimis tetapi tidak selamat dari hawa dingin dan tendangan angin. Beberapa menit berlangsung pada babak kedua, suporter Italia satu per satu mulai mengumpat pemain idolanya terutama Buffon, penjaga gawang Italia yang kemasukan bola untuk yang ketiga kalinya. Bahkan, pendukung lainnya, Kholifah, juga menganggap Italia tak pantas didukung. Selain memalukan negara Italia, ia menganggap kekalahan Italia juga membuat malu pendukungn-

ya yang tumpek di halaman rumah kades Karduluk. “Cukup kali ini saja saya dukung Italia,” katanya. Awalnya, antar pendukung membuat bloking penonton yang berbedabeda dan berkelompok. Pendukung Italia di sebelah kiri dan pendukung Spanyol di sebelah kanan. Tetapi saat Spanyol tak terkejar, pendukung Italia menyerah dan berbalik arah. Sehingga, pasca babak pertama usai dan laga kedua dimulai, para penonton mulai bersahabat. Suatu ekpresi yang berbeda sebelum laga itu dimulai dimana antarpendukung sama-sama kencang mendukung jagonya. Misalnya, satu pihak bersesumber bahwa saat itu Spanyol harus menyadari kekalahannya dan pihak lainnya juga garang bersuara. “Italia pasti keok,” kata salah seorang pendukung Spanyol. Kehebohan piala Euro di kawasan kampung ini bukan karena

Abrari Alzael, penyelenggara nobar-misbar dari pihak SULUH menyadari animo masyarakat terhadap sepak bola khususnya tim luar negeri. Para penonton di dalam negeri bukan tidak suka kepada timnas. Tetapi, persepakbolaan di dalam negeri sedang karut-marut dan selalu diambang perpecahan dan kerusuhan. Sehingga, pola permainan yang semestinya lebih terlihat justru tidak ditemukan di dalam negeri. Sedangkan sepakbola di luar negeri dominan lebih mengedepankan permainan dibanding percekcokan. Hanya yang dianggap lebih menarik nobar-misbar di kampung adalah kebersamaan, silaturrahim, dan celetukan lucu dari masing-masing supporter. “Bagi kami nobar-misbar satu hal tetapi kebersamaan dan gotong royong hal lain yang lebih urgen,” katanya. Sementara Zainol Ihsan selaku penyelenggara desa mengaku senang karena duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Pihaknya bersama SULUH juga menyelenggarakan lomba domino sambil menanti siaran final Euro dimulai. Baik dirinya, SULUH, dan partisipan bergotong-royong dalam penyediaan kopi, rokok, mie instant, dan hadiah-hadiah lomba. “Ini baru pertama dan ke depan saya kira perlu dibuat lebih sip dan terkonsep biar semakin menarik,” katanya. (bet/vid) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 29


30 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 31


ADVERTORIAL

Rp 6 TRILIUN UNTUK PAJAK RAN 32 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


P

foto: istimewa

NMOR JATIM

emprov Jatim Penerimaan PKB dan BBNKB Pemprov 2011 Capai Rp 5,9 Triliun . Tarif BBNKB ini mengalami penurunan 5 Persen. Jumlah kendaraan baru di Jatim selama 2012 diprediksi bakal mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebab mulai 2 Januari 2012, Pemprov Jatim menurunkan tarif Bea Balik Nama kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk kendaraan baru dari 15 persen menjadi 10 persen.

pemprov tak khawatir Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor BBNKB akan menurun. Sebab meski tarifnya menurun, tapi diprediksi jumlah kendaraan baru juga akan meningkat. Dengan begitu, PAD dari PKB ataupun BBNKB tidak mengalami penurunan. “Tahun 2012, kami menarget PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) sebesar Rp. 2,930 triliun. Sedangkan BBNKB sebesar Rp. 3,381 triliun. Kami optimis target itu akan kami penuhi,” kata Gde Raka.

Kepala Dipenda Provinsi Jatim Drs Ec AA Gde Raka Wija MSi menuturkan, penurunan tarif BBNKB tersebut berlaku bagi semua jenis kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Dengan adanya penurunan tarif BBNKB tersebut, diharapkan akan ada kenaikan jumlah kendaraan baru di Jatim mencapai 3 persen lebih. “Ini merupakan hadiah dan gebrakan kebijakan baru dari Pak Gubernur Soekarwo untuk masyarakat Jatim. Tujuannya untuk meringankan beban masyarakat Jatim, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2012,” ungkapnya.

Jika jumlah kendaraan baru meningkat, apakah nanti tidak menyebabkan kemacetan semakin parah? Gde Raka mengatakan, saat ini sudah terjadi macet, jadi tak perlu dirisaukan. “Biarkan masyarakat menikmati kendaraan baru sambil menikmati kemacetan yang ada. Meski sekarang tak ada penambahan kendaraan baru dengan jumlah yang banyak, sudah terjadi kemacetan,” paparnya.

Menurut Gde Raka, jika di tahun 2011 jumlah kendaraan baru roda dua sebanyak 998.180 unit, dan roda empat sebanyak 75.070 unit diharapkan dengan adanya kebijakan ini bisa turun sebesar 3 persen lebih, karena harga kendaraan baru akan turun harga. Dicontohkan, jika tarif BBNKB untuk mobil baru jenis Kijang Innova biasanya sebesar Rp. 24 juta, dengan adanya penurunan ini, besaran tarif BBNKB hanya sebesar Rp. 16 juta, dengan begitu ada selisih Rp. 8 juta. Sedangkan untuk roda dua, jika tarif BBNKB sepeda motor Honda Revo sebesar Rp. 1.515.000, kini tinggal Rp. 1.010.000. Dengan diturunkannya tarif BBNKB ini, menurut Gde Raka,

Sementara itu, untuk diketahui, penerimaan PKB dan BBNKB selama 2011, mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan melebihi target. Kesuksesan ini diraih setelah Dipenda Provinsi Jatim melakukan berbagai macam kebijakan seperti memberikan pelayanan Samsat Keliling hingga malam hari. Berdasarkan data yang diperoleh Bhirawa dari Dipenda Provinsi Jatim hingga 27 Desember 2011, PKB yang diperoleh mencapai Rp. 2.666.539.520.720. Jumlah ini mencapai 102,17 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp. 2,610 triliun. Sedangkan penerimaan BBNKB sebesar Rp3.310.811.896.100, atau mencapai 105,11 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp. 3,150 triliun. “Jika dijumlahkan PKB dan BBNKB ini jumlahnya mencapai Rp. 5,9 triliun. Saya ucapkan terima kasih kepada Kepala UPT se-Jatim SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 33


ADVERTORIAL beserta jajarannya atas keberhasilan pencapaian target ini. Mereka telah bekerja keras agar capaian PKB dan BBNKB tersebut bisa terpenuhi,” katanya. Menurut dia, meski dirinya telah mengambil beberapa kebijakan seperti pelayanan Samsat Keliling hingga malam hari, Operasi Bersama dengan pihak Kepolisian serta pemberian kemudahan persyaratan dalam pembayaran pajak, namun sampai 27 Desember 2011 masih terdapat dua UPT yang belum mencapai target penerimaan PKB. Dua UPT tersebut yakni Surabaya Timur yang baru mencapai 99,39 persen dan Surabaya Selatan yang mencapai 99,70 persen. SEMENTARA di Sumenep realisasi pajak ranmor (BBNKB) mencapai lebih dari 100% dari patokan awal. Ali Mukson, selaku Kepala UPTD Dispenda Pemprov di Kabupaten Sumenep menerangkan bahwa tingkat pencapaian BBNKB di beberapa jenis kendaraan hampir dikatakan sukses pada tingkat pencapaian lebih dari 100 %. “ Terkecuali alat berat, karena selain jumlahnya, sosialisasi masalah BBNKB masih belum merata” jawabnya. Ali Juga mengatakan ada beberapa kendala yang serius yang tengah kami hadapi ada beberapa kendala yang serius yang tengah kami hadapi bersama anggota Tim Intensifikasi PKB/BBN Kabupaten Sumenep. “Banyaknya Kendaraan bermotor atas nama pemerintah Kab. Sumenep belum melakukan pendaftaran dan pelunasan Pajak Kendaraan Bermotor hingga kisaran 30 % pengaruhnya terhadap bagi hasil sektor PKB ini,“ lanjut dia. Lebih jelasnya, terurai bahwa sampai bulan desember 2011 sebanyak 78.230 obyek dengan po34 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

SAMSAT KEPULAUAN: Saat ini Samsat Sumenep membuka kantor perwakilan di Kepulauan Kangean Kecamatan Kangayan Sumenep.

tensi Rp. 7.116.949.360,00 dengan ancaman apabila tunggakan tersebut tidak terpenuhi, sesuai dengan pasal 64 ayat 2 huruf d UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Kendaraan Bermotor wajib diregistrasikan. Ancamannya sanksi administrasi bunga sebesar 2 % setiap bulan serta

dapat dilakukan Penagihan dengan Surat Paksa dengan Payung Hukum Perda.Prov.Jatim No.9 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. (bet/vid). Layanan ini dipersembahkan oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumenep


SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 35


ADVERTORIAL

Narkoba, Primadona dan Primadosa

SAY NO TO DRUG: Salah satu kegiatan sosialisasi anti narkoba yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kabupaten sumenep

D

iam-diam, narkoba tidak saja merusak kesehatan pemakainya. Tetapi jika dirunut panjang, narkoba pada gilirannya akan merusak bangsa. Bisa dibayangkan apabila pemimpin negeri ini justru pengonsumsi narkoba. Seperti apakah nasib bangsa masa depan di tangan remaja pengonsumsi narkoba? Meski telah dilakukan ceramah– ceramah tentang bahaya narkoba, tetap saja para generasi muda pada umumnya ingin mencoba dan menggunakan narkoba. Atas dasar masalah tersebut, kampanye antinarkoba terus dilakukan dinas 36 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

sosial. Ini dalam rangka menyelamatkan bangsa, setidaknya di kabupaten Sumenep. Apalagi, data dan fakta telah menunjukkan bahwa sebagian remaja di kabupaten paling timur Madura ini telah ada yang terlanjur menikmati narkoba. Pengenalan dan sosialisasi narkoa yang telah dilakukan dinas sosial ini hampir merata di Kabupaten Sumenep. Antara lain di Kecamatan Dasuk, Lenteng, Kalianget, Gapura sampai Batu Putih. Sebelumnya, pada tahun 2011, hal yang sama dilakukan di kecamatan yang berbeda dan terus berkelanjutan. Tujuannya, agar masyarakat mengetahui dan menjauhi narkoba dengan alasan seperti

disebutkan, mengancam jiwa, raga, dan bangsa secara umum. Atas dasar itulahlah dinas sosial sangat berharap agar dapat membuka pikiran pemuda dan masyarakat secara umum. Ini tidak hanya selesai mengatakan say no to drugs, tetapi benar-benar menjauhinya serta memberitahukan kepada petugas apabila terdapat pihak lain yang mengonsumsi atau mengedarkan narkoba. Sebagai fakta bahwa bangsa ini terus menerus dirusak oleh narkoba yaitu beberapa bulan yang lalu ditemukannya pabrik shabu-shabu yang beroperasi di Batam di mana omsetnya sekitar Rp 454 miliar dan dibongkar Polri yang beker-


jasana dengan Kepolisian Internasional beberapa waktu lalu. Ini, cukup membuktikan bahwa ancaman narkoba bagi generasi muda sudah sangat banyak dan cukup serius. Bila semakin banyak generasi bangsa yang terusak oleh narkoba, maka bangsa ini bisa menjadi bangsa yang semakin tertinggal.

Padahal dahulu bangsa Indonesia dikenal oleh mata dunia sebagai bangsa yang dihormati, bukan saja karena pemimpinnya Soekarno, tapi juga generasi pada jaman dahulu selalu bekerja keras, menjunjung nama bangsa. Tidak seperti saat ini, generasi modern, bagaimana bisa dibilang modern bila mempunyai

sifat yang malas, berpangku tangan terhadap masa depannya sendiri. Kepala Dinas Sosial Koersman Hadi menilai sosialisasi narkoba sebagai kewajiban. Dalam hal ini, dinas sosial tidak sendirian tetapi dibantu oleh lembaga terkait di kabupaten Sumenep. Bila dilihat dari sudut pandang tertentu, bangsa Indonesia sekarang ini telah menjadi ”mangsa pasar” golongan sindikat narkoba. Didorong karena kengintahuan tentang bahaya narkoba yang mengancam generasi muda pada umumnya, maka siapapun harus dijauhkan dari pemakaian dan kecanduan narkoba. Sosialisasi ini menggunakan data primair yang terdiri dari bahan-bahan pengetahuan tentang bahaya narkoba serta akibat-akibatnya, dan bahan pengetahuan hukum primair yaitu undang-undang yang berkaitan dengan narkoba.

Sosilaisasi Anti Narkoba Dinas Sosial Kabupaten Sumenep 2012 NO

HARI/TANGGAL

PUKUL

TEMPAT

PESERTA 50 orang

01

Kamis, 19 April 2012

08.00 WIB s/d selesai

Desa Kolor Kec. Kota Sumenep

02

Senin, 23 April 2012

08.00 WIB s/d selesai

OSIS SMK Negeri 1 Kalianget

Selasa, 24 April 2012

08.00 WIB s/d selesai

LSM FKP2I Kec. Dasuk

04

Rabu, 25 April 2012

08.00 WIB s/d selesai

Desa Lenteng Timur Kec. Lenteng

50 orang

05

Kamis, 26 April 2012

08.00 WIB s/d selesai

Desa Bilis-Bilis Kec. Arjasa

50 orang

06

Kamis, 15 Sept 2011

08.00 WIB s/d selesai

MA Al Ishlah Bilapora Barat Kec. Ganding

07

Selasa, 20 Sept 2011

08.00 WIB s/d selesai

PAC IPNU Kec. Lenteng

08

Rabu, 21 Sept 2011

08.00 WIB s/d selesai

PP. An Nuqayah Lubangsa Kec. Guluk Guluk

50 orang

09

Kamis, 29 Sept 2011

08.00 WIB s/d selesai

PP. Salafiyah Safi”iyah Nurul Islam Sapeken Kec. Sapeken

50 orang

03

50 orang 50 orang

50 orang 50 orang

Gunanya, agar masyarakat dan Bangsa Indonesia dapat terhindar dari bahaya narkoba dan sedapat mungkin dilakukan pencegahan dan memperkecil ruang gerakpara pengedar narkoba yang merusak generasi muda dan Bangsa Indonesia. Remaja dan golongan muda, identik dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang menurutnya menarik dan itu patut untuk dicoba. Salah satunya yang pantas dicoba menurut mereka(pecandu) adalah narkoba. Padahal narkoba, ekstasi, dan sejenisnya itu tidak untuk dicoba–coba. Karena bila seseorang sekali mencobanya, orang tersebut akan menjadi kecanduan, karena pada narkoba mengandung zat addictive yang dapat membuat orang awalnya kecanduan dan lama kelamaan ingin menambah dosis secara terus menerus sehingga bisa OD(Over Dosis) dan menyebabkan kematian. (*) Iklan Layanan ini Dipersembahkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sumenep SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 37


ADVERTORIAL

PEDULI: Seorang siswa di Desa Gaddu Timur Kecamatan Ganding sedang menerima bantuan seragam dan beberapa peralatan sekolah dari Dinas Sosial Kabupaten Sumenep

Bimbingan Motivasi dan Pembinaan Sosial

S

elain gencar melakukan sosialisasi anti narkoba, Dinas Sosial Kabupaten Sumenep juga melaksanakan kegiatan Bimbingan Motivasi dan Pembinaan Sosial terhadap siswa tingkat sekolah dasar. Kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya di Sekolah Dasar Negeri saja, namun juga di Madrasah-Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kabupaten Sumenep. Sejak dari Kecamatan Rubaru hingga Kecamatan Nonggunong di Pulau Gayam. Pada kegiatan ini, Dinas Sosial memberikan sumbangan berupa seragam sekolah dan beberapa perlatan sekolah lain. Sumbangan ini diharapkan dapat memotivasi semangat belajar siswa, sehingga yang bersangkutan makin berprestasi dan makin giat belajar. Ada lima belas sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang menjadi objek kegiatan ini. Dengan rincian 8 SDN dan 7 MI. (*) Iklan Layanan ini Dipersembahkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sumenep

38 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

Pelaksanaan Bimbingan Motivasi dan Pembinaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sumenep 2012 No

Hari / Tanggal

Waktu

Lokasi

Ket

1

Kamis, 24 Mei 2012

08.00 WIB s/d selesai

SDN Bula’an II Desa Bula’an Kec. Batuputih

35 anak

2

Kamis, 24 Mei 2012

10.00 WIB s/d selesai

MI Nurul Muchlishin Desa Pakondang Kec. Rubaru

35 anak

3

Jum’at, 25 Mei 2012

08.00 WIB s/d selesai

SDN Bangselok I Kelurahan Bangselok Kec. Kota Sumenep

35 anak

4

Senin, 28 Mei 2012

09.00 WIB s/d selesai

MI Nurainiyah Desa Padike Kec. Talango

35 anak

5

Selasa, 29 Mei 2012

08.00 WIB s/d selesai

MI Raudlatul Amal Desa Gadu Timur Kec. Ganding

35 anak

6

Selasa, 29 Mei 2012

10.00 WIB s/d selesai

MI Nurul Jadid Desa Gilang Kec. Bluto

35 anak

7

Kamis, 31 Mei 2012

08.00 WIB s/d selesai

MI Miftahul Ulum Desa Aenganyar Kec. Giligenting

35 anak

8

Kamis, 31 Mei 2012

10.00 WIB s/d selesai

MI An-Nibros II Desa Galis Kec. Giligenting

35 anak

9

Senin, 04 Juni 2012

08.00 WIB s/d selesai

10

Senin, 04 Juni 2012

10.00 WIB s/d selesai

11

Selasa, 05 Juni 2012

08.00 WIB s/d selesai

12

Selasa, 05 Juni 2012

10.00 WIB s/d selesai

SDN Ambunten Timur I Desa Ambunten Timur Kec. Ambunten

35 anak

13

Rabu, 06 Juni 2012

08.00 WIB s/d selesai

SDN Torbang III Desa Torbang Kec. Batuan

35 anak

14

Kamis, 07 Juni 2012

12.00 WIB s/d selesai

SDN Somber Desa Somber Kec. Nonggunong

35 anak

15

Kamis, 07 Juni 2012

14.00 WIB s/d selesai

MI Khairul Jadid Desa Pancor Kec. Gayam

35 anak

SDN Romben Rana Desa Romben Rana Kec. Dungkek SDN Nyabakan Barat I Desa Nyabakan Barat Kec. Batang Batang SDN Campor Timur Desa Campor Timur Kec. Ambunten

35 anak 35 anak 35 anak


EKONOMI

N

foto: obbath/sm

iat baik, tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang baik pula. Begitulah orang bijak mengatakan kepada generasi yang lebih muda agar tidak grusa-grusu, tidak tergesa-gesa. Ini yang terjadi di Desa Tanjung Kecamatan Saronggi. “Niat baik” untuk melakukan eksplorasi migas di desa ini tidak berjalan mulus karena warga menolaknya. Penolakan terakhir, jika tidak terjadi lagi berlangsung awal Juli lalu. Warga Tanjung Saronggi Sumenep menolak eksplorasi migas. Padahal, dalam acara ini semula direncanakan sebagai istighasah untuk memohon keselamatan secara bersama-sama. Namun, pada istighasah terkait kelanjutan eksplorasi drilling sumur ENC-1, mendapat perlawanan dari warga. Sejumlah pejabat yang hadir dalam acara ini terpaksa “diungsikan” karena gelombang massa tidak terkendali. Ini dilakukan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Massa yang sebagian besar ibu-ibu ini memebrikan perlawanan dengan cara bersuara bernada tak setuju dan bicara mereka nyaris tak bisa diatur dan tanpa irama. “Warga Desa Tanjung tetap menolak pengeboran migas. Tidak ada pilihan lain, hentikan pengeboran migas,” kata Suhartatik, salah seorang warga Desa Tanjung yang hadir sebagai massa antimigas. Kisruh istighasah ini berawal saat masuk ke acara parade pidato. Bupati A Busyro Karim yang dijadwalkan untuk menyampaikan sambutan justru harus meninggalkan lokasi lebih awal. Tokoh masyarakat dan pejabat di lingkungan pemerintah daerah Sumenep juga dievakuasi dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Petinggi daerah sebagian besar memilih meninggalkan lokasi istighasah karena massa tak terkendali. Awalnya istighasah berlangsung sederhana sebagaimana lazimnya doa bersama. Tetapi dalam psikologi massa dan komunikasi lintas batas yang tidak

TOLAK MIGAS: Kerumunan warga Desa Tanjung Kecamatan Saronggi Sumenep mendatangi kantor DPRD setempat. Mereka menolak ekplorasi migas yang dilkukan PT. EML di Desa mereka.

Fulus Migas Tak Selalu Mulus ter-kendali, massa khusuk dan larut dalam kerumunan massa. Bahkan sebagian warga terlihat histeris sampai pingsan ketika mengikuti acara istighasah yang berubah ke penolakan eksplorasi migas. Aksi penolakan terus tak terkendali dan nyarsi terjadi kekisruhan. Bahkan, Kades, Salamet, menjadi tumpuhan dan sasaran massa agar ikut menolak eksplorasi. Selain itu, kades nyaris diberondong massa. Namun masih beruntung, karena aparat yang berwajib sigap mengamankan kades yang ada di tengah-tengah massa yang mulai panas. Warga merasa ditelikung. Sebab, penolakan ekslorasi ini sudah sejak awal. Belakangan, ada upaya pendekatan kepada masyarakat. Bahkan. Istighasah dinilai sebagai pendekatan kultural dari pemilik modal maupun pemerintah. Sebagaimana pernah diberitakan, sejak 3 April 2011, PT Energi Mineral Langgeng (EML), meresmikan penanja-

kan sumur gas ENC 1 di Desa Tanjung. Keberadaan sumur migas itu sudah diamati selama 6 tahun. Diperkirakan, jika pengeboran berhasil, kandungan gasnya cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di Madura, sekitar seribu megawatt. Ini juga dibenarkan Kepala Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Sumenep Suprayugi. Disebutkan, lokasi migas sebenarnya layak untuk ditindaklanjuti ke tahap eksploitasi. Sebab, keberadaan sumur migas di Tanjung itu cukup ekonomis dan layak dieksploitasi. Tetapi, warga masih menolak. Manajemen PT EML, sudah tidak melakukan eksplorasi migas di sumur ENC-1 atas permintaan warga setempat yang juga disetujui oleh BP Migas sejak Mei lalu. “Padahal, banyak yang berharap eksplorasi migas tetap berjalan sesuai rencana, tetapi apa daya, warga masih belum sepenuhnya setuju,” urainya. (sai/bet) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 39


GENERASI BANGSA

Lensa Kegiatan Ayu Azhari Di Sumenep

Beberapa pekan lalu, Ayu Azhari mengunjungi Kabupaten Kabupaten Sumenep. Dalam kunjungannya ini, banyak sekali kegiatan yang dijalani Wanita yang didaulat menjadi duta kuliner Indonesia ini. Tampil LIVE di acara Caca Colo Machan tv dan Machan FM, Mengunjungi sentra produksi batik, Mengunjungi keraton dan mandi bersama bupati dan pejabat teras Sumenep, serta menghadiri festifal dan wisata kuliner pendopo kabupaten Sumenep.

40 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


GENERASI BANGSA

Optimis dan selalu riang

S

aat datang ke Sumenep dan tampil di Madura Channel Televisi dan Machan FM, banyak penelpon yang rupanya sangat terpesona dengan keanggunan Ayu Azhari. Mereka banyak yang bertanya, “apa resep kecantikan Ayu sehingga sekalipun kini sudah beranak empat, tapi tetap seksi dan cantik?” Menanggapi pertanyaan ini Ayu tersenyum lebar. Menurut artis yang terakhir kali di peristri oleh vokalis Grup Band asal Australia, White Line, selain olahraga, kecantikan juga harus dirawat dengan suasana hati. “Jika hati selalu riang dan menyikapi setiap persoalan dengan ringan, maka kecantikan akan dengan sendirinya menjadi awet” Ujar ayu. Sebaliknya, jika suasana hati selalu resah dan gelasah, maka syaraf-syaraf pada raut muka dan seluruh jaringan tubuh akan ikut terbebani. Akibatnya, aura kecantikan akan sedikit demi sedikit hilang tanpa terasa. Untuk itu menurut ayu, setiap wanita yang ini ingin kecantikannya awet, maka harus selalu menjaga hatinya agar tetap selalu bahagia. Setiap persoalan yang datang hendaknya diahadapi dengan enjoy santai. “Namun tentu tetap harus serius, enjoy bukan berarti menghadapi masalah dengan main-main”. Ucapnya sembari tersenyum. Ditengah kesibukannya sebagai artis dan ibu rumah tangga, Ayu mengaku selalu meluangkan waktu untuk rIleks bersama anak-anaknya. Sehingga kondisi psikologisnya selalu terjaga dan moodnya senantiasa selalu positif. “Itu sangat membantu dalam upaya perawatan kecantikan”. Pungkas Ayu (obeth)

SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 41


ASPIRASI

DUGAAN PUNGLI DI KANKEMENAG PAMEKASAN

Anarkisme dalam Demo Kankemenag

D

ugaan pungli (pungutan liar) di kankemenang (kantor kementrian agama) Pamekasan belum berakhir. Meski pada bulan Mei aksi serupa berlangsung di Pamekasan dan kanwilkemenang Jatim, namun gelombang aksi ini tak bubrah juga. Aksi lanjutan terus berlanjut di bulan Juni, dan rusuh. Tiga orang pengunjuk rasa yang melakukan demontrasi di bawah bendera guru dan terluka (di bibir, kepala, dan pelipis). Diduga, lukanya aktivis pengunjuk rasa ini disebabkan terkena bogem maupun pentungan nyasar dari beberapa orang yang mirip aparat yang berwajib. Mengapa aktivis termasuk guru di lingkungan kankemenag Pamekasan berunjuk rasa, apa masalahnya. Hasil telusur SULUH menyebutkan, sebagian civitas di lingkungan kankemenag gelisah. Keresahan ini dipicu adanya dugaan pungli yang ditengara diberlekaukan kankemenag kepada siswa dan guru berprogram sertifikasi. Kankemenag diduga memberikan instruksi kepada para siswa di sekolah-sekolah yang berada dibawah lembaga itu agar membayar biaya ujian kenaikan kelas sebesar Rp. 100 ribu hingga Rp200 ribu. Begitu juga, kankemenag memebrikan instruksi kepada para guru yang telah mengikuti program 42 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

sertifikasi dan akan mengambil sertifikatnya. Mereka dikenai “pajak” sebesar Rp. 50 ribu. Tidak itu saja, Kepala kantor KUA di masing-masing kecamatan juga dikenai pungli senilai Rp. 40 ribu untuk setiap urusan pernikahan yang melibatkan kankemenag (KUA). Akibat dari semua dugaan ini, massa bergerak dengan tuntutan yang sama, meminta Kankemenag Pamekasan (Normaludin) mengundurkan diri atau Pimpinan Kementrian Agama di Pusat memindahkan orang nomor satu di kankemenag Pamekasan. Desakan massa ini nyaris tidak terdengar. Pemerintah melalui Kementrian Agama tetap membiarkan kepala kankemenag Pamekasan menjabat tugasnya. Sikap kecewa terhadap pemerintah ini ditindaklanjuti dengan unjuk rasa yang akhirnya ricuh. Kericuhan terjadi karena tindakan pendemo dianggap “ter-la-lu”. Buktinya, pendemo melemparkan beberapa telur busuk dan tomat ke papan nama Kantor Kemenag Pamekasan. Awalnya, tindakan itu masih dibiarkan aparat. Aksi berikutnya, beberape pendemo meletakkan poster bergambar Kepala Kemenag Pamekasan Normaluddin, di jalan raya, di depan kankemenag dan hendak dibakar. Petugas melarang, namun pendemo tidak mengindahkan. Belum sempat dibakar,

sejumlah aparat merangsek maju mencegah pendemo yang siap membakar poster. Tubuh pendemo ditarik ke belakang, lalu diduga dipukuli aparat dan menyisakan lupa bagi para pendemo. Mengapa polisi bersikap tegas dalam unjuk rasa ini? Kapolres Pamekasan, AKBP Nanang Chadarusman, yang memimpin pengamanan unjuk rasa mengatakan, tindakan jajarannya mencegah pendemo membakar sejumlah poster bergambar Kamenag sudah sesuai dengan prosedur. Polisi menganggap tindakan aktivis telah mengganggu jalan umum. Untuk menghindari terjadinya sesuatu dan lain hal yang lebih besar daripada sekedar membakar foto, pihaknya khawatir massa bringas dan membakar yang lain seperti kendaraan. “Kami hanya mencegah kejadian yang tidak diinginkan,” kapolres menegaskan. Benarkah ada pungli di lingkungan Kankemenang Pamekasan? Kepala Kankemenag Pamekasan Normaluddin membantah tudingan pungli maupun sebagai otak pungutan liar. Dia merasa sebagai orang baru di Kankemenag Pamekasan. Bila pungli benar-benar ada, dia duga terjadi sebelum akhirnya di menjabat sebagai Kankemenag. Normaluddin juga membantah telah mengeluarkan instruksi untuk menarik pungli seperti yang dituduhkan pengunjuk rasa. “Tidak ada perintah dari lembaga untuk memungli,” tegasnya. Salah seorang pengunjuk rasa, Zainal Abidin, mengaku sangat kecewa terhadap tindakan aparat yang represif. Sebab, pihaknya hanya melakukan unjuk rasa dan menyampaikan pendapat. Selain itu, para aktivis belum sempat


membakar foto (karikatur) bergambar kepala kankemenag. Aktivis juga memberikan second opinion agar Kankemenag Pamekasan diberhentikan karena dinilai gagal memimpin lembaga di bawah kemenag itu. “Jika memang tidak ada pungli, ya harus dibuktikan,” Zainal mendesak kankemenag.

Sebagai catatan akhir, telusur SULUH juga menyerap aspirasi dari kelompok masyarakat. Secara kelambagaan, kankemenag agak sulit mengeluarkan instruksi untuk melakukan pungli. Tetapi pungli di lingkungan kankemenag dinilai lumrah dan sifatnya personal. Siapa personal yang menarik pungli, foto: abe/sm

TEATERIKAL: Sejumlah aktifis The Ngadeg Sodeg Parjuge menggelar aksi teaterikal menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.

Reportoar di Atas Trotoar

A

ktivis yang tergabung dalam The Ngadek Sodek Parjuge turun ke jalan. Tidak seperti lazimnya aktivis yang lain, para pemain teater ini menyembulkan isyarat tentag kesengsaraan yang disebabkan banyak hal. Baik karena himpitan kaum alit atas regulasi, pemiskinan yang teroganisasi, dan harga-harga yang terus merangkak di tengah pendapatan masyarakat yang tak beranjak. Rakyat teralienasi akibat hidup dikendalikan oleh para pembohong. Benar kata Soe Hok Gie, lebih baik terasing, daripada menyerah pada kemunafikan.

Anak-anak muda itu melawan dengan caranya sendiri. Mereka tidak saja melawan kemiskinan tetapi juag melawan tiran. Mereka melumuri dirinay dengan bedak, hitam putih warnanya, dwiwarna juga. Dalam penggalan larik puisi, Jejak, mereka beranjak, berteriak puitis; Dari sudut ruangan gelap, ternyata aku menemukan GIE, tidak sekedar seloroh sineas kapitalis yang memancingku mengenalmu. Jika saja saat itu kau ada menemaniku sekedar bercengkrama tentang moral, aku tak yakin akan banyak orang yang mendengarmu,

baik pada aspek pembiayaan ujian, pengambilan sertifikat guru (bersertifikasi), maupun pada setiap pernikahan, selalu tidak jelas. Boleh jadi pungli personal ini tidak hanya di kankemenag tetapi masyarakat yakin di institusi lain juga terjadi, secara sembunyi-sembunyi, di bawah meja. (naf/bet)

hingar bingar kekinian akan menenggelamkanmu dalam hiruk pikuk ego. Tapi siang itu, kau terlalu hebat untuk dilupakan GIE’, yang aku baca bukan melulu tentang filosofimu yang tegak seperti karang, tapi tentang kekuatan prinsip, yang membuat catatan usangmu tetap hidup, meski kau telah lama ditelan Semeru.... “Ini hanya aktivitas sebagai tanda bahwa perlawanan tak pernah usai,” kata kurator seni-demonstratif yang memimpin aksi ini, Yanuar Herwanto. Lelaki yang akrab disapa Wawan itu menyadari pemerintah secara intelektualitas jauh lebih tinggi daripada masyarakatnya. Tetapi intelektualnya yang tinggi kadangkadang membuat keputusan yang kurang cerdas. Sebab, untuk menutupi kelemahan pemerintah rakyat dikorbankan. Rencana kenaikan BBM menurut Wawan hanya salah satu contoh keputusan yang sesat karena dianggap satu-satunya opsi dan dipaksakan pula. “Untung masih ada yang cerdas, memprotes kenaikan harga BBM,” katanya. Selain itu menurut Wawan, Pemerintah terlihat egois dalam membuat keputusan. “Taruhlah dalam hal kenaikan BBM ini. Masuk akal jika yang tidak didengarkan adalah mahasiswa. Tapi ini kan yang bilang bahwa masih ada alternatif lain adalah Pak Kwik Kian Gie” Ujarnya kesal.(abe) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 43


OBITUARI Di sela-sela kesibukannya sebagai pengasuh dan salah satu anggota majelis kiai di lingkungan Pondok Pesantren Al Amien, Idris masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat sekitarnya dan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan tahlilan. Selain itu, almarhum mengisi seminar baik di Madura, Jawa, dan luar Jawa. Diantaranya, menjadi nara sumber dalam Dialog Interaktif “Potret Pesantren Masa Depan” di Pondok Pesantren Inayatullah, Sumatera Selatan (2001). Narasumber dalam Dialog Kependidikan di kampus IAIN Raden Fatah Palembang (2001). Narasumber dalam Sarasehan Kiai Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Gontor, di Pondok Gontor Ponorogo (2002).

foto: david/sm

Ketika Sang Sufi itu Pergi

P

agi sekitar pukul 06.55, Pondok Pesantren Al Amien Berduka. Salah satu pengasuh di pondok terbesar di Madura ini, KH Idris Jauhari wafat. Adik kandung KH Tidjani Djauhari (alm) itu wafat dalam usia yang belum genap 60 tahun (28 Nopember 1952 – 28 Juni 2012) karena penyakit yang dideritanya, stroke berat. Almarhum meninggalkan seorang istri (Ny. Hj. Zahrotul Wardah) dan 5 orang anak (H Ghozi Mubarok Idris, Hj. Faiqoh Bariroh Idris, Nazlah Hidayati Idris, Hj. Daniatul Karomah Idris dan Ny. Bisyarotul Hanun Idris).

44 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

Semasa hidupnya, Idris Jauhari berkhidmat sebagai pelaku dalam pengembangan pendidikan berbasis pesantren khususnya di Al Amien Prenduan. Sosoknya berwibawa dan memiliki kepribadian yang sangat peka terhadap tandatanda jaman. Selain itu, Idris konsisten dalam memadukan pendidikan salaf dan khalaf yang bertitik tekan pada aspek etika dan akhlak. Bahkan kepribadiannya lebih cendrung mencerminkan sebagai sufi (modern), qanaah, santun dan sederhana.

Idris juga diundang sebagai pemakalah dalam Halaqah Pendidikan di Malang (2002), Sarasehan tentang Sistem Pendidikan Pesantren di Era Otonomi Daerah (2002), Halaqah Pendidikan di Pondok Pesantren La Raiba Tabanan, Bali (2002), narasumber Halaqah Pendidikan di Banyuwangi (2002), Seminar Pondok Alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (2006), Simposium Pendidikan di Gedung Nasional Indonesia Sumenep (2006) dan narasumber dalam Kongres Budaya Madura ((2007). Kakak kandung Maktum Djauhari ini juga menjadi narasumber dalam Halaqah Pendidikan Pesantren di Sampang (2007), Dialog Politik dan Keumatan di Pondok Modern Gontor, meresmikan PP. Darul Qur’an Wal Hadits Bashirah Al-Idrisi, Lombok Tengah (2008), Kongres I Bahasa Madura Pamekasan (2009), Bedah Buku Generasi Robbi Rodliya di STAIN Jember (2008). Idris juga sempat menghadiri Pertemuan Forum Pesantren Mu’adalah di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorongo (2008), mengisi Ceramah Agama di


ilmu bahkan sampai S3, tidak memutus silaturrahim, dan tidak setengah-setengah dalam mengabdikan diri kepada pendidikan. Suatu ketika, kata Jakfar, di hadapan para ustadz Idris Jauhari pernah menyampaikan bahwa dirinya akan mengabdikan dirinya kepada pendidikan (pesantren) sampai akhirnya maut menjemput. “Banyak hal yang diajarkan almarhum untuk hidup dan kehidupan itu sendiri,” katanya terbata-bata.

foto: abe/suluh

Khusu’: Sejumlah tokoh masyarakat, santri dan kiai tampak berdoa dengan khusu’ setelah menyolatkan KH. Idris Jauhari di kediamannya di Desa Prenduan Kecamatan Pragaan Sumenep.

PP. Salman Al-Farisi, Lombok Tengah (2008), Ceramah Agama di Yayasan Islam Alimuddin Ridlo, Kab. Jonggat, Lombok Tengah (2008) dan mengisi khutbah Jumatan di Masjid Gemma Prenduan sejak tahun 1971. Selain aktif mengajar dan mengisi pengajian sosial-kemasyarakatan, ayah Ghozi Mubarak ini juga aktif menulis buku maupun bahan ajar peserta didik. Diantaranya, Ilmu Jiwa Umum, Ilmu Jiwa Pendidikan, Mabadi Ilmi Tarbiyah, Mabadi Ilmi Ta’lim, Tauhid III, Bani Umayyah dan Khulafaur Rasyidin. Buku lainnya, Ringkasan Sejarah Nabi, Muthala’ah I – VI, Al-Adzkar wal Al‘Ad’iyah, Dzikrullah, Fiqhun Nisa’ I – II, Adab Sopan Santun, Nushus, Faroid, Al-Jurumiyah, Shorrof dan Generasi Robbi Rodliya. Kakek 7 cucu ini juga menyusun SKIA I – V, Sekitar Salat Jamaah, Juklak Ujian Tahriri, Ujian Syafahi, Amaliyah Tadries, Khutuwat Tadries, Oto Identifikasi, Oto Biografi, Petunjuk Amaliyah, Berkembang, Berjasa dan Mandiri. Buku-buku lainnya karya Idris Jauhari antara lain Alumni Se-

bagai Perekat Umat, Hubungan Kerja Sama, Pembudayaan Hidup Islami, Ma’hadi dan Tarbawi, TMI Apa, Siapa dan Bagaimana, Sekilas tentang TMI Al-Amien Prenduan, Mufakkiroh, Sistem Pendidikan Pesantren, Khot Naskhi, Kutaib dan GABKO (Garisgaris Besar Kebijakan Organisasi Santri). Pria kreatif ini juga menulis buku Anak Muda Menjadi Sufi, Mencetak Muslim Multi Terampil, Disiplin dan Hidup Berdisiplin, Hakikat Pesantren dan Kunci Sukses, Cara Belajar Efektif, Tazkiyah, dan Tazwidul Mufrodat. Humas Pondok Pesantren Al Amien Ust Jakfar Shodiq atas nama keluarga besar pondok merasa sangat kehilangan. Bahwa KH Idris Jauhari selalu memberikan rasa hormat kepada siapapun, Jakfar yakin semua pihak yang mengenalnya sudah mafhum. Tetapi, Jakfar merasa perlu menyampaikan kepada publik tentang pesan-pesan almarhum kepada jajaran pondok. Diantaranya, almrhum minta santri dan civitas Al Amien menyuburkan salat berjamaah, mengedepankan akhlakul karimah, tidak bosan menuntut

Seorang pelayat, Ruysdi, mengaku menemukan karakteristik yang bershaja dalam diri Idris Jauhari. Ini ditampilkan dari gaya bicara, menyapa, busana, dan model komunikasinya yang lintas batas usia. Sebagai salah seorang ustadz, Rusydi pernah kehilangan sepeda onthel. Berita kehilangan sepeda yang dia gunakan untuk pergi dan pulang mengajar itu sampai ke telinga Idris. Rusydi pun dipanggil, diklarifikasi. Kemudian, Rusydi diminta membuat berita acara kehilangan dan penerimaan uang dari KH Idris Jauhari. Awalnya, Idris mengatakan bahwa uang yang dicairkan dari kantong pribadinya itu sebagai pinjaman yang harus dicicil Rusydi. Saat hendak mencicil uang sepeda, Idris selalu mempersulit Rusydi. Sampai akhirnya, cicilan itu menumpuk hingga tiga bulan lamanya tak terbayar. Ini bukan Rusydi tidak mau bayar karena birokrasi yang diterapkan cukup ruwet dan Rusydi selalu gagal bertemu Idris. Di bulan keempat, sebelum akhirnya Rusydi menghadap, Idris memanggilnya. Rusydi khawatir ada klarifikasi karena cicilan sepedanya tidak sesuai waktu meski dia sebenarnya mau bayar. “Tetapi apa yang terjadi, saya diuji kiai bahwa sesungguhnya sepeda itu sebenarnya memang diberikan secara cuma-cuma,” kenangnya. (abe) SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 45


OASE

Bulimia Nervosa

A

wal abad ke-19, sebagian besar wilayah India bertekuk lutut kepada Inggris. Jejak eksploitasi Inggris menimbulkan kesengsar dan rakyat India muak. Lalu para prajurit India yang masuk militer Inggris (Sepoy) meletuskan pemberontakan (Pemberontakan Sepoy). Pasca pemberontakan ini meski belum berhasil mengusir Inggris saat itu, tetapi satu hal positif yang lahir dari masyarakat; kesadaran nasionalisme. Warga India bergerak sendiri, di negerinya sendiri untuk memperbaiki nasib. Budaya Barat yang dipaksakan Inggris mendapat perlawanan dari rakyat karena mereka cinta terhadap budayanya sendiri. Nasionalisme India bukan hanya gerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan, tetapi juga untuk pembaharuan sumber daya manusia. Di republik ini, pembaharuan dalam kekuasaan politik kolonial awalnay tidak begitu jauh dari India. Keterkungkungan negara atas kuasa kolonial memunculkan perlawanan dan baru pada tahun 1945 Indonesia merdeka setelah dalam kurun waktu 3,5 abad terjajah dari berbagai aspek. Bung Karno pada mengajak seluruh bangsa untuk terus-menerus menggerakkan dan mengobarkan revolusi, dan melawan segala macam pemerasan dan penindasan terhadap rakyat oleh segala kekuatan reaksioner

46 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012

dalam negeri maupun luar negeri. Ini menjadi pedoman bagi semua kekuatan yang berjuang untuk kepentingan rakyat miskin, wong cilik, marhaen, proletar dan bagi rakyat banyak. Dalam perkembangan bangsa, ada realitas yang terbalik ketika kaum marhaen benar-benar berada di bawah dan paling pinggir. Satu sisi, ada pihak yang susah untuk sekedar makan dan pada sisi lainnya ada pihak yang makan berlebihan. Kekenyangan pada masyarakat yang kelaparan ini ternyata sebuah penyakit, bulimia nervosa. Ini adalah kelainan cara makan yang terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang terjadi secara terus menerus. Padahal, sederhana sesungguhnya sudah lebih ari cukup. Tetapi koruptor itu, tidak saja menderita bulimia nervosa namun juga membawa penyakit kleptomania. Penelitian menunjukan, bahwa kelainan mental ini juga disebabkan oleh proses kimiawi yang ada di dalam otak. Para ahli menduga bahwa kelainan neurotransmitter dalam otak, utamanya neurotransmitter serotonin merupakan pemicu terjadinya penyakit ini. Sehingga, ada kehendak untuk berkuasa lebih terhadap yang dimiliknya dan bertahta atas sesuatu yang bukan miliknya. Penyakit ini umum muncul pada masa puber dan ada sampai dewasa. Pada beberapa kasus, kleptomania diderita seumur hidup. Penderita juga

Oleh : ABRARI ALZAEL

mungkin memiliki kelainan jiwa lainnya, seperti kelainan emosi, Bulimia Nervosa, paranoid, schizoid atau borderline personality disorder. Kleptomania dapat muncul setelah terjadi cedera otak traumatik dan keracunan karbon monoksida. Tetapi dalam konteks mengambil sesuatu yang bukan miliknya dan makan berlebihan yang juga bukan rejekinya di republik ini, kehadiran bulimia nervosa dan kleptomania sebentuk personifikasi yang menjauhkan rakyat dari miliknya, kedaulatan. Sehingga, kehadiran rakyat di republik ini tetap miskin, terbelenggu, teraniaya, dizalimi, dan begitu banyak jumlahnya. Populasi warga miskin versi BPS (2010) mencapai 31,02 juta jiwa (13,33%). Ada beberapa pihak yang tidak mempercayai sepenuhya angkaangka ini. Sebab, angka keseluruhan rakyat miskin yang sebenarnya justru mendekati 40 juta jiwa. Tetapi, jumlah 31 juta jiwa orang miskin nyatanya sudah sangat besar. Berdasar pengalaman selama berpuluh-puluh tahun sejak pemerintahan orba sampai sekarang jumlah rakyat miskin masih tetap terus tinggi dari tahun ke tahun. Sat ini pun, agak sulit berharap bahwa jumlah orang miskin di Indonesia akan bisa berkurang dalam jangka pendek. Terutama sepanjang hukum tak tegak, dan sejauh penderita bulimia nervosa dan kleptomania berkeliaran. (*)


SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012 | 47


48 | SULUH MHSA | XII | MEI-JUNI 2012


Suluh MHSA XIII