Page 1

KHOFIFAH YAKIN MENANGKAN

PILGUB JATIM

12

GEMBONG NARKOBA NGESEKS DAN

NYABU DI LAPAS

22

SUARA PEMRED TAHUN I l EDISI 1 l AGUSTUS 2013

BERANI BERTANGGUNG JAWAB

HARGA RP20.000

Said Aqil Siroj

Nasionalisme

dan Islam Sudah Tuntas KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Menjadi Hamba Bangsa Asing

MERAJUT NASIONALISME Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013 1


2

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013


Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

3


FOTO COVER: SP/PAULINUS HARDI

Kiprah Said Aqil Siroj Nasionalisme dan Islam

44

Sudah Tuntas

46 Patrialis Akbar 47

DAFTAR ISI

Jadi Hakim MK

Menjadi Hamba Bangsa Asing Fokus Utama Nasionalisme Terkikis Indonesia di Bibir Jurang

48 52

Pebisnis Jadi Paranoid

Politik

12

Hukum Yang Muda Yang Narkoba

Suara PEMRED l Tahun I l Agustus 2013 Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

24

4

30 32 34

Ancaman Produk Dalam Negeri Masyarakat Ogah Pakai Produk Dalam Negeri Galau Pemerintah di Blok Mahakam

Generasi Penerus

26

Suramnya Masa Depan Hukum di Negeri Kami

Ekonomi Kedaulatan Pangan

28

RI Terganggu

Menepis Perang Asimetris Oegroseno Harus Singkirkan Mafia Proyek

Olah Raga Harga Mati Karate Juara Umum di Myanmar

Khofifah Yakin Menangkan Pilgub Jatim

25

Hankam

6 10 Berantas Korupsi Serampangan

Japto Soerjosoemarno Lunturnya Patriotisme

Landasan Kurang Kuat Ganjal Semangat Nasionalisme

Daerah SBS Gagal Bangun Komunikasi

36 38

dengan Pengusaha Daerah Rekonsiliasi Syiah, Akankah Tercapai?

Iptek Indonesia Sarang Hacker

40

Terbesar Dunia

56 58 60

Antara Bisnis dan Nasionalisme ISG Akan Jadi Pesta Rakyat

Seleb

62 Cornelia Agatha Alami KDRT


Email: suarapemred@yahoo.com

Suara Pemred menyediakan tempat untuk menyuarakan pendapat Anda tentang apa pun, atau tentang majalah yang sedang Anda pegang ini.

Jangan Arogan Jadi Pengacara

REAKSI geram pengacara Hotma Sitompul saat ditanya dugaan penyuapan anak buahnya, Mario C. Bernardo,

seharusnya tak perlu terjadi jika dia merasa tak bersalah. Saya prihatin atas sikap arogan Hotma usai diperiksa

Indahnya Jakarta Lengang

Urip Dermawan Jalan Sumber, Kota Cirebon, Jawa Barat

Tingkatkan Pelayanan Kereta Commuter Line Jabodetabek SAYA kerap naik kereta Commuter Line di Stasiun Cakung, Jakarta Timur. Pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, para penumpang mengular di depan loket. Waktu yang saya habiskan untuk antre membeli tiket single trip atau kartu tiket perjalanan tunggal sekitar 20 menit. Meski ada tiga loket tiket yang dibuka, namun antrean penumpang tetap mengular. Saya berharap waktu tunggu yang lama bisa segera diperbaiki pihak pengelola kereta Jabodetabek. Saya setuju tiketnya menjadi murah, tapi jangan sampai pelayanannya menjadi murahan. Perbanyak loket di setiap stasiun. Loket yang ada jangan dibiarkan kosong saat penumpang sedang banyak. Indah Pertiwi Cakung, Jakarta Timur DKI Jakarta

Suara PEMRED l Tahun I l Agustus 2013 Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

DARI tahun ke tahun saat Lebaran tiba, jalanan Jakarta selalu lengang. Bundaran Hotel Indonesia yang biasanya padat oleh mobil pada siang dan sore hari terlihat lengang di penghujung Ramadhan. Saya berharap Gubernur Joko Widodo segera menata lalu lintas Jakarta, terutama di dekat pasar usai Lebaran. Saya setuju langkah pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang hendak merelokasi pedagang yang berjualan di badan jalan di Pasar Tanah Abang. Pemprov DKI Jakarta tak boleh kalah oleh preman. Menurut peraturan, badan jalan haram untuk dijadikan tempat berjualan. Jika para pedagang tetap membandel, saya mendukung langkah pemprov melaporkan para pedagang ke aparat penegak hukum. Nurul Anisa Tanah Baru, Beji, Depok

ANTARA/WAHYU PUTRO A

SURAT PEMBACA

Pengacara Hotma Sitompul saat tiba di Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan.

KPK. Dia malah memarahi wartawan yang menanyakan ulah anak buahnya yang terlilit kasus dugaan suap. “Gini, kalau mau bertanya dipikir dulu. Anda kan tanya bagaimana dengan penanganan case-case-nya. Saya tanya balik, apa saya tahu pekerjaan yang dilakukan lawyer saya. Apakah atasan perlu tahu pekerjaan bawahannya. Tidak usah tanya yang seperti itu,� kata Hotma dengan arogan. Celotehan Hotma itu tidak berdasar. Kalau memang tak tahu, bilang tak tahu. Tak perlu pura-pura bersih dan justru menyalahkan wartawan.

5


Sekapur Sirih

Suara Pemred

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Tampil Beda S

6

UARA Pemred pada edisi keempat ini tampil dalam bentuk majalah, setelah pada tiga edisi sebelumnya berbentuk tabloid. Perubahan ini semata-mata didasarkan kepada niat memberi pelayanan yang lebih baik kepada para pembaca, mengingat format majalah lebih ringkas hingga memberi berbagai kemudahan. Tentu saja, perubahan tidak hanya menyangkut bentuk. Tata letak kami perbarui disertai perbanyakan foto dan penempatan secara khusus pokok-pokok informasi. Dengan demikian tampilan halaman menjadi lebih cerah dan segar. Secara keseluruhan, ketebalan halaman juga bertambah. Kami juga menambah halaman untuk rubrik olahraga. Suatu kegiatan fisik yang tidak hanya menyehatkan, namun juga membangkitkan rasa kebersamaan. Bisa saja, suatu ketika, membangkitkan pula kebanggaan nasional. Yang tidak berubah adalah niat untuk menyajikan informasi secara lebih mendalam, bersifat mendahului atau yang diabaikan tetapi penting. Dengan demikian, para pembaca dapat memperoleh pemahaman bagi apa yang sudah, tengah maupun yang akan terjadi. Niat serupa itu tidak mudah diwujudkan, tetapi harus dilakukan agar majalah ini bermanfaat bagi khalayak pembaca. Sehubungan dengan itu, kami mohon dukungan dan doa restu pembaca, di samping mohon kesediaan berbagi informasi demi kemaslahatan bangsa dan negara. Niat yang kuat ini dilandasi pendapat bahwa pers sewajarnya memberi kontribusi, betapapun kecilnya, bagi perbaikan kehidupan berbangsa dan negara. Apalagi pers memiliki ruang yang luas sebagai pembawa dan pembentuk opini yang sehat. Ruang yang luas itu tebentuk lantaran sejumlah lembaga yang seharusnya memberi kontribusi itu justru larut dalam ketidakbenaran. Hal ini terjadi setelah banyak oknum-oknum pegawainya terlibat dalam perbuatan tercela. Peluang yang tersedia bagi pers tersebut layak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu Suara Pemred bertekad terus memberi kontribusi dengan berpegang kepada kode etik jurnalistik. Khusus untuk edisi keempat, Suara Pemred menampilkan informasi tentang nasionalisme yang dirasakan telah tergerus karena berbagai sebab. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan sebab berdampak fatal terhadap nasib bangsa dan NKRI. Secara khusus, kami juga mengungkapkan informasi tentang perang asimetris yang melanda banyak negara, termasuk Indonesia. Perang asimetris dilancarkan pihak tertentu, sebab terbukti lebih murah dalam melakukan kolonisasi terhadap negara lain. Tentu saja, kami juga menampilkan informasi lain yang bermanfaat bagi pembaca. Termasuk yang tersaji pada halaman Kiprah. Kami berharap semoga Majalah Suara Pemred dan Menit.TV merupakan milik dan bagian dari keseharian pembaca. Terima kasih! v SH-Aby

SUARA PEMRED BERANI BERTANGGUNG JAWAB

Dewan Redaksi : M Yunus Yosfiah, Gories Mere, Prof R Adiseputra MBA PhD, Pitan Daslani Pemimpin Perusahaan : Myrani Isnaniati Wakil Pemimpin Perusahaan : Sjarifuddin Hamid Pemimpin Redaksi : Martin Mohede Wakil Pemimpin Redaksi : Aby Bahagiana Sekretaris Redaksi/Keuangan : Anton Setiawan Redaktur Pelaksana Visual: Luther Ulag Redaktur : Dara Lidya, Sandi Yunus, YC Kurniantoro, Mourino S, Uwa Kurawa, Raisya Chairul, Lius Nelly, Daryadi Koordinator Design Grafis : Agus Setiawan Lay Out: Nurul Anisa, M Ery Khoiri Desain Grafis: Arifin, Korektor Bahasa: Fery Sagita IT : Yusuf, Teten Alamat Redaksi : PT. SUARA PEMRED INDONESIA, Gedung The City Tower Lt 18 Jln MH Thamrin No.81 Jakarta Telp: (021) 31996270, Fax: (021) 31996268, E足mail : suarapemred@yahoo.com


Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

7


Fokus Utama

ANTARA/PRASETYO UTOMO

INDONESIA VS CHELSEA -- Suporter Chelsea meneriakkan yel-yel saat mendukung tim kesayangannya melawan BNI Indonesia All Star pada pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, beberapa waktu lalu. Chelsea menang dengan skor 8-1.

Nasionalisme Terkikis,

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Indonesia di Bibir Jurang

8

Generasi muda korban globalisasi. Nasionalisme tak dikenal lagi. Tak ada upaya melakukan pemulihan. Eksistensi Indonesia dipertanyakan.

P

ADA malam yang temaram dan berangin, puluhan ribu orang ber­angsur-angsur meninggalkan Ge­langgang Olahraga Bung Karno. Sua­sananya ramai, sambil bergerombol me­reka berceloteh ditingkahi tawa nya­ring khas anak muda. “Kamu nggak sedih BNI All Stars di­bantai Chelsea FC 1-8?” tanya satu suporter. Nggak lah, kan kita Chelsea, kata se­pa­sang muda-mudi sambil tertawa geli. Malam itu banyak yang berperilaku se­­perti orang Inggris, termasuk Ayu

yang ru­mahnya di Kukusan, Depok. Pen­du­kung Chelsea ini rela berbuka puasa se­­adanya di stadion. Ia dan pacarnya yang mengenakan kaus biru dan syal bi­ru bergaris putih, turut bernyanyi, meneriakkan yel-yel, membentangkan span­duk mendukung Frank Lampard dan ka­wan-kawan. Suasana setali tiga uang juga terlihat ke­tika The Dream Team dicukur Arsenal 0-8 dan Eleven diembat Liverpool 0-2. Tak ada rasa sedih walau kesebelasan bangsa sendiri dibuat tak berdaya. Nasionalisme seperti tak berbekas da­lam ajang sepak bola, konser musik, ber­bisnis atau berbelanja. Ada kekuatan lain yang menggeser nasionalisme yak­ni sesuatu yang serbahebat, mengg­a­irahkan, menguntungkan, berkualitas dan menarik hati. Sekalipun semuanya itu berasal dari negara lain.

Definisi Hans Kuhn bahwa na­sio­ nalisme adalah penyerahan diri se­ pe­nuh­nya individu terhadap negara dan bang­sa memang tidak dapat diterapkan sem­barangan. Apalagi dalam dunia yang serba terbuka dan tanpa batas, di­mana ide, pendapat, gagasan datang da­rimana saja tanpa bisa dihalangi. Ayu dan rekannya rupanya terkena dampak du­nia yang serbaterbuka ini. Perasaan nasionalisme baru bergolak ke­tika kedaulatan wilayah diganggu. Se­ketika demo meletup di mana-mana. Se­ruan boikot meluap. Razia terhadap war­ga negara asing dilakukan. v SH

Nasionalisme seperti tak berbekas dalam ajang sepak bola, musik, bisnis, atau berbelanja.


Korupsi Berjamaah DI jagat ini, hanya Indonesia, Vi­etnam, dan Aljir yang merebut ke­mer­dekaan dengan darah dan air ma­ta. Di Afrika, para pemimpin dan rak­yatnya dengan rasa hormat serta tak­zim menyebut Indonesia sebagai ne­gara yang membantu mewujudkan ke­merdekaan. Indonesia memang ditakdirkan men­jadi pelopor perubahan konstelasi po­­litik dunia. Hanya sepuluh ta­hun setelah merdeka, mampu meng­him­pun 29 negara, dengan jumlah pen­duduk se­­paruh penduduk du­nia, dalam Kon­­ferensi

Asia-Afrika di Bandung pada 1824 April 1955 untuk bersatu me­ majukan kerja sama ekonomi dan kebudayaan serta melawan ko­l­o­ni­a­ lisme atau neokolonialisme. Sayang, kita tidak sepenuhnya mam­pu mempertahankan kadar na­sionalisme. Dari hari ke hari na­ sionalisme tergerus bahkan dicela se­bagai sudah bukan zamannya lagi men­jadikan nasionalisme sebagai dasar bersikap dan bertindak. Penyebab melunturnya na­sio­ nalis­me adalah lemahnya pewarisan dari sa­tu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini disebabkan pergantian yang dramatis dari pemimpin era ke­merdekaan kepada penggantinya, bah­kan penggantian itu disertai peng­hujatan dan aksi melupakan jejak pa­ra pendiri negara. Sampai kini, masih saja ada usa­ha untuk tidak menghargai pe­me­rintah. Ada opini publik yang meng­ arahkan supaya kembali ke masa la­lu atau mengharap ke masa depan. Pa­ dahal intinya adalah membuat rakyat terombang ambing dalam

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

ke­bingungan. Kini, mulai dirasakan betapa ting­ginya harga yang harus dibayar ketika nasionalisme terkikis. Investor asing leluasa menguasai hajat hidup rakyat, mu­lai dari perdagangan eceran, per­­bankan, penerbangan hingga eks­plorasi dan eksploitasi sumber daya alam. Di lain pihak, korupsi berjamaah yang di­lakukan bangsa sendiri sudah me­rasuk ke tahap yang memilukan. Tak ada lagi rasa malu melakukan per­buatan yang dicela Tuhan itu. Berdasarkan data Kementerian Da­lam Negeri (Kemendagri) sejak 2005 hingga 2013, jumlah bupati/ wali kota/gubernur yang tersangkut ko­rupsi mencapai 297 kepala daerah. Diprediksi angkanya bisa tembus 300 orang hingga akhir tahun. Pola korupsi di setiap daerah ber­­beda satu sama lain. Di daerah yang kaya sumber daya alam, pola ko­rupsi terjadi lewat izin tambang dan alih fungsi lahan. Sedangkan di daerah yang minim sumber daya alam pola korupsi banyak terjadi le­wat manipulasi anggaran belanja dae­rah untuk pengadaan barang dan jasa. Kini, muncul kesadaran adalah ti­dak pantas bangsa yang besar ini, tersudut di negerinya sendiri. Na­sio­nalisme kembali digelorakan, ekonomi kebangsaan kembali digalakkan. Ironisnya suara mulia itu ha­ nya terdengar sesekali, lalu di­teng­ gelamkan pemuja faham globalisasi. Padahal para pemuja itu sadar globalisasi ber­ pangkal dari kepentingan nasional ne­gara besar. Artinya, negara besar itu se­ benarnya memiliki dan berpegang te­guh kepada nasionalismenya sendiri, lalu melakukan perang asimetris de­ngan Indonesia. v SH

Fokus Utama

Nasionalisme Digerus

9


Fokus Utama

Orang asing lebih mudah menguasai kekayaan alam Indonesia dibanding zaman Belanda dulu yang harus melalui pertempuran.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

R

10

AMALAN Bung Karno bahwa ke depan bakal muncul pola pen­jajahan baru di Indonesia, tampaknya telah menjadi suatu ke­ nyataan. Semenjak UU No. 22/2001 ten­tang Migas dikeluarkan, pola libe­ ralisasi migas di negeri kita se­ma­kin masif dan kokoh. Hampir setiap tahun publik di­­ suguhi berita soal kisruh penge­lolaan migas yang didominasi per­ usahaan asing. Apa mau dikata, se­ lama ini kebijakan pemerintah selalu berpihak pada perusahaan swasta lokal dan asing. Walhasil, sedikit de­mi se­dikit, kelompok ka­ pitalis dan asing me­ nguasai keka­yan alam Ibu Pertiwi. Pada 2012 saja, ada tiga kasus yang menjadi sorotan publik, aki­bat ke­bijakan pemerintah yang pro-asing. Pertama, adalah kasus Blok Siak di Riau, yang akhirnya diminta dikelola oleh BUMD. Kedua, kasus Blok Tang­ guh, Papua yang diperebutkan ba­ nyak investor asing lantaran disinyalir se­bagai ladang gas terbesar di dunia. Dan ketiga, Blok Mahakam di Kalimantan Ti­mur (Kaltim). Kasus Blok Mahakam bahkan sem­ pat mengundang potensi disin­ tegrasi, lantaran masyarakat Kaltim mengancam akan bercerai dengan Indonesia jika pengelolaan ladang gas tersebut diserahkan ke pihak asing. Dengan dalih belum ada ke­mampuan teknologi dan modal, pe­merintah de­ ngan gampang menye­ rahkan keka­ yaan milik Ibu Pertiwi ke tangan asing (Prancis) lewat To­tal. Pemberian izin dan perpanjangan

Menjadi Hamba

Bangsa Asing kontrak seperti pada kasus Blok Mahakam dan Tangguh pada British Petroleum, serta tambang emas pada PT Freeport Amerika Serikat, ada­ lah contoh dari ribuan kontrak karya lainnya yang diberikan pada asing oleh pemerintah. Tidak hanya di bidang migas, kini mulai dari per­­ tambangan, perkebunan, dan per­ bankan di negara kita juga telah “dijarah” oleh negara asing. Sontak hal ini meng­ undang ke­ prihatinan pa­ kar hukum tata ne­ gara, Yusril Ihza Mahendra. Dia mengingatkan budaya kon­su­me­ risme dan de­­rasnya arus glo­­balisasi tanpa sa­ dar telah mem­ buat rakyat Indo­nesia kini telah menjadi hambahamba dari bangsa asing. “Komitmen ke­­bangsaan kita telah tergerus oleh konsumerisme dan glo­ balisasi. Wa­­­jah asli glo­ba­lisasi se­jati­ nya ada­lah ka­pi­ta­lis­me dalam ben­tuk baru,” ujar Yusril pa­da Suara Pemred saat ditemui di sela-sela acara buka puasa bersama dan talk show “Ex­ perience with OSO”, di Jakarta, barubaru ini. Menurut pengamatan mantan Men­ teri Hukum dan HAM serta Menteri Sekretaris Ne­ gara ini, kaum muda kita telah menghamba pada konsumerisme, dan po­ litisi kita sudah mabuk kepayang dengan glo­ balisasi. Im­ basnya,

tanpa sadar kita telah kehilangan dengan se­mua yang kita miliki. Guru besar hukum tata negara dari FH Universitas Indonesia ini mengaku khawatir dengan semakin mu­dahnya asing menguasai sumber daya alam kita. Di era otonomi daerah, makin banyak kepala daerah yang mengobral izin pengelolaan tambang dan kekayaan alam lain yang membuat korporasi asing kelak bisa menguasai kekayaan tambang dengan mudah. Modus yang kerap terjadi seperti ini, kata Yusril, misalnya pengusaha lokal membeli kuasa pertambangan (KP) emas se­ har­ ga Rp2 mi­ liar dari pem­ da. Setelah itu KP tersebut dibeli oleh korporasi dari

Kilang minyak di Blok Mahakam, Kalimantan Ti­mur (Kaltim). SKKMIGAS.GO.ID


Fokus Utama SP/LUTHER ULAG

Salah satu episode “Ex­perience with OSO”yang menampilkan narasumber pengacara Teuku Nasrulloh (kiri) dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (tengah), serta pembawa acara Oesman Sapta. (Walhi) Jakarta Ubaidillah mengatakan, di masa reformasi penguasaan asing terhadap migas dan mineral di In­ do­ nesia menjadi lebih masif. Dari data Walhi, perusahaan asing telah menguasai ribuan kontrak karya di sejumlah daerah, mulai dari aceh hingga Papua. Di Aceh, sejumlah per­ usahaan asing juga dikabarkan telah mengaveling sejumlah lahan per­ tambangan. Sementara Walhi Kali­ mantan Tengah mencatat, ada 190 ri­ buan hektar pertambangan di Kalsel di­kuasai oleh perusahan asing. Menurutnya, tidak perlu jauh-jauh ke luar Jawa untuk memotret pe­ ngerukan sumber daya alam nasional oleh asing. Sebab di Jakarta hal itu sudah terjadi secara diam-diam sejak 1998 silam. Disebutkan, perusahaan asal Si­ nga­ pura dan Prancis telah mengelola sumber daya air bersih di Jakarta sejak awal reformasi. Peran yang ha­ rus­ nya dilakukan PDAM dan Palyja itu ternyata telah dilimpahkan kepada pihak asing dengan kontrak karya se­ panjang 25 tahun. “Kontrak karya ini baru akan selesai pada 2022, disinyalir proses ini dilakukan tanpa tender,” ungkap Ubai­

Tata Kelola Baru Pemerintah sendiri kini tampaknya mulai sadar bahwa asing sudah ter­lalu dalam mencaplok SDA kita. Oleh sebab itu, saat diwawancarai ter­pisah, Menteri Koordinator Bi­dang Perekonomian Hatta Rajasa meng­ung­kapkan, pemerintah berencana me­ nata ulang tata kelola SDA agar dapat lebih menyejahterakan rakyat sesuai dengan UUD 1945. Untuk model tata kelola terbaru, Hatta mencontohkan rencana kebi­jak­ an pemerintah terhadap PT Freeport Indonesia selaku pengelola tambang emas dan tembaga terbesar di Tanah Air. Menurut Hatta, kepada Freeport, pemerintah sudah meminta agar perusahaan asal AS itu membangun pemurnian dan pengelolaan barang tambang mentah (smelter). Selain itu pemerintah juga meminta perseroan tersebut untuk melepaskan seba­gian lahannya, peningkatan royal­ ti dan divestasi saham 51 persen. Le­ bih lanjut Hatta mengatakan, SDA kita hanya digunakan sebagai sumber devisa melalui ekspor barang mentah sehingga tidak memiliki nilai tambah. Oleh karena itu, pada 2014 pe­ merintah bakal melarang ekspor ba­ rang mentah. Menurut Hatta, kalau ha­ nya mengekspor barang mentah saja, walhasil selamanya bangsa ini tidak akan pernah maju. v Nelly

Agustus 2013

Kasus Blok Mahakam sem­pat mengundang potensi disin­tegrasi, lantaran masyarakat Kaltim mengancam akan bercerai dengan Indonesia.

dillah saat dihubungi Suara Pemred akhir pekan lalu.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Australia dengan harga Rp10 miliar. “Mudah bukan? Kini orang asing lebih mudah menguasai kekayaan alam Indonesia dibanding zaman Be­ landa dahulu yang harus melalui per­ tem­puran,” tuturnya. Yusril mengingatkan bahwa sum­ ber daya alam (SDA) mengandung ni­lai yang strategis bagi kedaulatan ne­gara. Lantaran itu dia menyarankan, sum­ber daya alam, khususnya yang bernilai strategis harus dikelola oleh negara sendiri. “Saat ini pemerintah (pusat) hanya menguasai migas. SDA lainnya sudah diserahkan ke daerah,” lanjut Ketua Dewan Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) ini. Ahli hukum asal Belitung Timur itu menambahkan, mayoritas pemimpin dae­ rah kurang paham soal dunia per­­ tambangan. Selain itu, hadirnya produk hukum yang dinilainya sa­ngat liberal, seperti UU Penanaman Mo­dal, UU Pertambangan, Mineral, dan Batu Bara (Minerba) dan lain-lain, ma­ lah menjadi pintu masuk bagi asing untuk menguasai kekayaan sumber daya di nusantara. Merespons hal itu, Koordinator Wa­ hana Lingkungan Hidup Indonesia

11


Fokus Utama

Berantas Korupsi Serampangan,

Pebisnis Jadi Paranoid Upaya pemberantasan korupsi saat ini tengah gencar-gencarnya dilakukan. Hampir setiap hari kita disuguhi pemberitaan soal penangkapan pelaku korupsi di berbagai media.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

K

12

OMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga terdepan untuk pemberantasan korupsi, ber­ kali-kali melancarkan aksi pe­ nang­ kap­ an pada para pelaku yang diduga me­­ lakukan praktik rasuah tersebut. Sa­­­sarannya beragam, mulai dari peng­ usa­ha, anggota DPR RI, politisi bahkan sampai para penegak hukum itu sen­diri. Apakah ini pertanda penegakan hu­­ kum di Indonesia sudah mulai bang­­­ kit dan kembali hukum menjadi pang­­lima? Ataukah pengungkapan ka­­ sus-kasus korupsi seperti yang di­ la­­ ku­ kan KPK pada saat ini hanyalah di­ jadikan sebagai alat politik untuk menyingkirkan orang-orang tertentu, lantaran yang kasus yang digarap “ha­ nya” kasus korupsi Rp300 juta-Rp1 mi­li­ar yang dianggap remeh temeh. Guna mengetahui lebih jauh soal per­­kembangan upaya penegakan h­u­ kum di Indonesia, secara khusus war­­ tawan Suara Pemred Nelly Su­san­to melakukan wa­ wancara dengan pa­ kar hukum tata ne­ gara Yusril Ihza Ma­ hendra saat ditemui di sela-sela acara buka puasa bersama dan talk show “Experience with OSO”, di Jakarta, be­ lum lama ini. Berikut kutipan wa­wan­ cara tersebut: Suara Pemred (SP) : Bagaimana An­da memandang dunia hukum kita pa­da saat ini? Yusril : Saya menghargai upaya pe­ negakan hukum dan pemberantasan ko­rupsi yang tengah gencar dilakukan. Na­ mun penegakan itu seyogianya di­ sertai dengan norma dan kaidah hu­ kum yang jelas. Untuk itu upaya pe­ ne­ gakan hukum juga jangan me­ nge­ sam­­ pingkan aspek pencegahan dan pen­­didikan. Saat ini yang dimajukan hanya un­sur pidananya saja. Ratusan orang di­penjara, para pejabat dibuat menjadi pa­ ranoid lantaran takut ditangkap. Apa lagi belakangan kasus penindakan

SP/LUTHER ULAG

ko­ rupsi selalu dikaitkan dengan ke­ pentingan politik. Kalau sudah begini se­mua lini menjadi tidak bisa bergerak. Se­ mua orang ketakutan. Ngeri di­ ja­ dikan sebagai tersangka korupsi. Im­ basnya hukum yang seharusnya dapat memberi kepastian dan perlindungan malah menjadi barang menakutkan. SP : Apa maksud penegakan hu­kum membuat orang jadi paranoid? Yusril : Saya kasih contoh. Mi­sal­ nya ada kontraktor mendapat proyek ja­lan sepanjang 10 km. Kemudian ja­ lannya ambles. Kalau menurut sa­ ya, si kontraktor cukup diwajibkan me­ lakukan pembenahan jalan tersebut, ke­ mudian nilai kontraknya dipotong un­ tuk perbaikan. Kalau begitu kan peng­usaha itu tetap bisa berusaha. Kalau semua pengusaha di­ tang­ kapin, karena semua masalah dianggap korupsi, bisa rusak negara kita. Kalau peng­ usaha ditangkapin, lama-lama peng­­­usaha kita habis. Memangnya gam­­pang jadi pengusaha. Untuk men­ jadi pengusaha besar terkadang butuh wak­tu sampai 3 generasi. Negara tanpa pengusaha tidak akan berhasil.

SP : Jadi menurut Anda proses pe­ne­gakan hukum terlalu keras? Yusril : Bukan begitu. Memang ada ju­ga pengusaha yang nakal. Misal, ha­ rusnya diaspal 3 cm cuma diaspal 2,5 cm. Kalau begitu kan cukup dia disuruh memperbaiki dan upah kon­ traknya di­ po­ tong. Dengan demikian tidak ada ke­ru­gian negara. Kalau peng­ usaha sudah paranoid, saya jamin ti­ dak ada lagi yang mau berinvestasi di In­donesia. Lebih baik menjadi investor di negara asing. SP : Jadi fokus penindakan hukum masih ke penindakan? Yusril : Tepat. Saat ini tafsir norma pe­negakan hukum di Indonesia ma­sih sa­lah kaprah. Masih banyak upa­ya pe­ negakan hukum yang tidak le­pas dari un­sur politik, atau yang pa­ling parah tanpa ada rujukan hu­kum yang jelas. K­a­lau saya bicara soal perlunya proses penegakan hu­ kum wajib dibangun berlandaskan ar­ gumen hukum yang ku­at, saya ma­lah dituduh macam-ma­ cam. Dicap pem­bela koruptor lah, tidak pro, pem­berantasan korupsi lah. v

Belakangan kasus penindakan ko­rupsi selalu dikaitkan dengan ke­pentingan politik. Kalau sudah begini se­mua lini menjadi tidak bisa bergerak.


Peluang Menuju Jatim 1

Politik

Khofifah In­dar Parawansa

Terbuka Kembali P

Agustus 2013

SP/LUTHER ULAG

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

INTU bertarung menuju Jatim 1 ter­ bu­ka untuk pasangan Khofifah In­dar Parawansa dan Herman S. Su­ ma­­ wiredja. Meski sempat terjegal di pleno KPU Daerah Jawa Timur, pasangan yang meng­ usung tag line “Berkah” itu akhirnya lo­ los berkat keputusan De­ wan Kehormatan Pe­ nyelengara Pemilu (DKPP) Rabu (31/7) akhir Juli lalu. Menyikapi hal itu, Khofifah me­nga­ta­kan siap berkampanye secara fair dan pe­nuh waspada. Sebab baginya, pe­milihan ke­ pala daerah di timur Pulau Ja­ wa itu ber­ potensi terjadi permainan daf­ tar pe­milih tetap (DPT). Apalagi in­dikasi per­mainan DPT juga sempat ter­jadi pa­d­a Pilgub 2008 silam. “Kami berharap semua pihak ba­ ik KPU dan cagub lain dapat trans­paran,” ujar Khofifah yang ber­pasangan de­ngan mantan Ke­pala Kepolisian Daerah Ja­tim itu. Selain memantau DPT, ke­ tua pu­ sat Muslimat Nahdlatul Ula­ma itu te­rus aktif melakukan koor­dinasi dan kon­solidasi. Ba­ gi sejumlah pengamat, kasus ter­ganjalnya Khofifah di KPUD Ja­tim justru dapat memancing ra­sa simpati dan mendongkrak suara. Pasangan Berkah—begitu du­ et ini dipanggil, digadang-gadang akan men­dapat dukungan dari 130 ribu pemilih da­ri PKB dan PPNU di Jatim. Angka itu bisa menggelembung jika Khofifah ber­hasil menjaring pemilih baru dari ber­bagai golongan. Untuk mendukung kader ter­ ba­ ik­ nya bertarung di Jatim, DPP PKB juga te­­lah menginstruksikan pada pengurus dan kader untuk memberi dukungan ter­hadap Berkah. DPP juga tidak segan mem­beri sanksi kepada pengurus dan ka­der yang tidak memperjuangkan ke­ me­nangan Khofifah sepenuh hati. v Tryas/Nelly

13


Politik

DIZALIMI BERULANG KALI

Khofifah Yakin Menangkan

Pilgub Jatim Permainan penuh jegal dalam dunia politik sudah biasa diterima Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

T

14

AHUN 2008, mimpi Khofifah In­ dar Parawansa menjadi Gu­ ber­ nur Jatim kandas lantaran MK menolak gugatannya. Bukti ke­cu­ rangan selama proses pemilihan di Pil­ gub Jatim 2008 itu dianggap kurang ku­at. Kubu Khofifah-Mudjiono harus me­nyerahkan kursi Jatim 1 dan 2 ke Soekarwo-Syaifullah. Lima tahun berselang, usaha Ketua Umum PP Muslimat NU itu hampir saja dicoret KPU karena polemik dukungan dari PKB. Untungnya pasangan yang mengusung tagline Berkah itu akhirnya lolos berkat keputusan De­ wan Kehormatan penyelengara Pemilu (DKPP) Rabu(31/7) kemarin. Bagi Khofifah, hambatan yang di­ hadapinya merupakan tantangan yang harus dihadapi seorang pemimpin. Mes­ ki ketinggalan start sekitar dua ming­gu, mantan Menteri Negara Pem­ berdayaan Perempuan tak mau banyak protes dan memacu proses sosialisasi nomor urutnya. Selain mengintensifkan sosialisasi nomor urut pihaknya juga akan me­la­ ku­kan koordinasi dengan seluruh ke­ kuatan tim pendukung untuk turun ke la­pangan guna menyapa masyarakat. “Intinya dua puluh jam dalam se­ hari kami akan bertemu dengan ma­ sya­ rakat dengan harapan pintu yang su­dah terbuka lebar ini akan semakin baik,” katanya. Politisi yang berpasangan dengan Man­tan Kepolisian Daerah Jatim itu ju­ga mengatakan siap memantau pro­ ses proses kampanye dan pemilihan di Jatim. Sebab baginya pemilihan ke­ pa­ la daerah di timur pulau Jawa itu ber­potensi terhajadi permainan daftar pemilih tetap (DPT). Apalagi indikasi per­ mainan DPT juga sempat terjadi pada Pilgub 2008 silam. “Kami berharap semua pihak baik KPU dan cagub lain dapat transparan,” ujarnya. Dukungan dari sejumlah tokoh ju­ga

ANTARA FOTO/ERIC IRENG

PANTANG MENYERAH -- Bacagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa (kanan) dan Bacawagub Jatim, Herman S Sumawiredja, menggelar konferensi pers di DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur usai dinyatakan tidak lolos menjadi Cagub-Cawagub oleh KPU Jawa Timur pada Pemilukada Jatim 2013 Surabaya, beberapa waktu lalu. diperoleh Khofifah, salah satunya dari Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso. DS berharap Kho­fifah da­ pat memimpin Jawa Ti­mur periode 20142018 sekaligus me­me­nangkan pemilihan kepala daerah se­tempat. “Saya datang ke sini, artinya saya mendukung dan mendoakan KhofifahHerman memimpin provinsi ini periode mendatang,” ujar Djoko Santoso di sela kunjungannya di kediaman Khofifah di kawasan Surabaya, Selasa (6/8) Menurut dia, dukungan yang diberikan kepada Khofifah tidak lepas dari kekerabatan antarpersonel. De­ ngan Khofifah, lanjut dia, sudah me­ nge­nal sejak lama sejak di Jakarta dan men­jadi politisi senayan. “Sedangkan dengan Herman, kami adalah sahabat sejak sama-sama me­ nge­nyam pendidikan. Saya di TNI, dan Herman di Polri,” kata mantan Kepala Staf Angkatan Darat tersebut. Pasangan Berkah digadang-gadang akan mendapat dukungan dari 130 ri­

bu pemilih dari PKB dan PPNU di Jatim. Ang­ ka itu bisa menggelembung jika Kho­­fifah berhasil menjaring pemilih ba­ru dari berbagai golongan. ­Khofifah juga mengaku telah men­ dapat dukungan penuh dari para kiai Nahdlatul Ulama. Keyakinan itu di­per­ kuat pengalaman pada Pilghub 2008, saat dia bersaing ketat melawan Su­ karwo, gubernur saat ini. “Saya hakul yakin, aninul yakin atas dukungan dari kiai, selama saya ke­liling di daerah, mereka menyambut hangat. Karena saya jalan sendiri, saya dengar sendiri, saya bersapa sendiri. Jadi saya tidak pinjam pendengaran orang,” ucapnya yakin. Untuk mendukung kader terbaiknya bertarung di Jatim DPP PKB juga telah menginstruksikan pada pengurus dan kader untuk memberi dukungan terhadap Berkah. DPP juga tidak segan memberi sanksi kepada pengurus dan kader yang tidak memperjuangkan ke­ menangan Khofifah sepenuh hati. v

Dua puluh jam dalam se­hari kami akan bertemu dengan ma­sya­rakat dengan harapan pintu yang su­ dah terbuka lebar ini akan semakin baik.


Pencalonan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai calon presiden 2014 terus digoyang. Dewan Pertimbangan (Wantim) Partai Golkar, bahkan mengancam akan mengevaluasi pencalonan Ical.

P

Zainal Bintang

IST

ni mewakili syarat tua-muda dan mewakili Jawa dan luar Jawa. “Se­ hingga sangat ideal untuk maju di Pil­ pres,” kata dia. Jika tim sukses Aburizal Bakrie ingin menggaet Jokowi maka Zai­ nal memperkirakan akan terjadi perta­ rungan tim sukses antara tim sukses Ical-Jokowi versus tim sukses JK-Jo­ kowi. “Secara formal, Ical sementara ini didukung pengurus struktural Golkar. Sementara pendukung JK di Golkar adalah ‘silent’ mayority,” kata dia. Jangan sampai banyak orang Golkar di depan mendu­kung Ical tapi diam-diam nanti balik arah mendukung capres lain, lanjut Bintang. Sudah Kunci Ical Terpisah, Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Idrus Marham me­ nyatakan bahwa seluruh kader Partai Golkar, khususnya bakal calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat, di­ instruksikan hanya memegang satu skenario politik, yakni Ical for President. “Hanya ada satu skenario politik, tidak ada skenario lain,” kata Idrus Mar­ham. Pernyataannya itu pertama kali ter­ lontar saat pembekalan caleg dan pengukuhan Badan Koordinasi Pe­ me­ nangan Pemilu (BKPP) di Bali, per­ tengahan Juni lalu. Hingga Agustus ini,

Agustus 2013

Kalau pencapresan terus ditentang oleh sebagian kader, berarti Ical di ujung tanduk. Bila Ical ngotot terus maju, Itu artinya Golkar di pinggir jurang.

Masih Diragukan Politisi senior Partai Golkar Ak­ bar Tandjung masih meragukan pen­ ca­ lonan Ical. Apalagi dia melihat elektabilitas Ical yang tak pernah ter­ kerek tinggi. “Saya meminta DPP Gol­ kar melakukan kajian serius ke­ napa ini terjadi,” kata Ketua Dewan Per­ timbangan Partai Golkar ini. Akbar bahkan meminta DPP Partai Golkar membentuk tim khusus yang mengkaji tren elektabilitas Ical.”Supaya diketahui persoalan elektabilitasnya apa. Dari sana DPP bisa menyikapi per­ soalan yang terjadi,” ujar Akbar. Jika elektabilitas Ical tetap stagnan, Akbar bahkan menawarkan evaluasi pen­ calonannya sebagai presiden. Ak­ bar membantah usulan mengkaji elek­ tabilitas Ical sebagai bentuk ketidak­ setujuan terhadap pencapresan Ical. Dia mengaku tidak keberatan Ical maju sebagai capres. Hanya saja dia tidak bersepakat dalam proses penetapan Ical sebagai capres. Meski begitu, wacana Akbar itu perlahan-lahan tenggelam. Ical justru semakin kuat menjadi calon tunggal presiden di Partai Golkar. Hingga saat ini, Ical pula yang terus tampil di depan ketika akan mengambil keputusan penting partai. v SY

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

OLITISI senior Partai Golkar, Zainal Bintang kerap berbeda pendapat dengan pengurus par­ pol berlambang pohon beringin itu. Kepada sejumlah media, Zenal me­ nyatakan, Ical sebaiknya tidak perlu ngo­tot untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. “Kalau pencapresan terus ditentang oleh sebagian kader, berarti Ical di ujung tanduk. Bila Ical ngotot terus maju, Itu artinya Golkar di pinggir jurang,” kata Zainal belum lama ini. Zainal mengatakan, masa depan Golkar di Pemilu 2014 bakal suram bila, Ical juga tak mampu mengendalikan partai. “Ical kan punya ring satu (tim sukses), kalau mereka tidak mampu mengendalikan internal kader, aki­bat­ nya bisa fatal, Ical tersungkur, Golkar ter­singkir,” katanya. Saat ini, kata Zainal, solusi terbaik yang harus dilakukan Ical, selain mengevaluasi pencalonannya, juga ha­ rus membenahi partai. Ical harus se­ gera bersihkan kader Golkar dari unsur “musang berbulu ayam”, artinya kader yang suka menusuk Ical dari belakang supaya segera ditindak. “Nah itu, seharusnya tugas utama Sekjen Idrus Marham. Dia kerjanya apa, Masa Ical terus-terusan dibiarkan mengurusi yang begituan. Sekjen ma­ cam apaan tuh,” kata Zainal. Kemudian, Zainal Bintang pun me­ nawarkan ide duet Jusuf Kalla (JK) dan Jokowi sebagai pasangan calon pre­­ siden (capres) dan cawapres pada Pilpres 2014 mendatang. Menurut Zainal, pasangan JK-Jo­ kowi memiliki banyak kelebihan dan ideal untuk maju pada Pilpres nanti. “Ke­ dua pasangan itu sudah dikenal luas oleh rakyat,” kata dia. Dikatakan pasangan JK-Jokowi masing-masing punya kelebihan yak­

pernyataan Idrus masih terus se­ perti itu. Iklan Ical bahkan semakin masif berseliweran di sejumlah stasiun televisi, terutama televisi merah atau TVOne. Sikap konsisten Idrus punya ala­ san. Menurutnya, kekalahan parpol ke­ rap terjadi karena terlalu banyak skenario politik. Apalagi di Golkar, ba­ nyaknya politisi senior membuat partai ini kerap mengalami perpecahan setiap kali ganti ketua umum atau menghadapi pemilihan presiden. Keyakinan terhadap pemilik kera­ jaan bisnis Bakrie and Brothers ini un­ tuk diusung menjadi calon presiden juga dikarenakan elektabilitasnya yang konsisten menanjak. Berdasarkan hasil survei berbagai lembaga survei, Idrus mengklaim, elek­ ta­bilitas Ical sudah berada di tiga besar. Di beberapa daerah, salah satunya Ka­ bupaten Bogor, Ical bahkan berada di urutan teratas. Ditambah dengan iklan di televisi dan rajinnya turun ke daerah-daerah, Id­rus yakin elektabilitas Ical terus me­ nanjak. Bahkan, kata dia, tak menutup kemungkinan akan bersaing dengan elek­tabilitas Jokowi.

Politik

Ical Digoyang Internal Partai

15


Politik

Prabowo Kalah Pamor dari Jokowi Melesatnya nama Jokowi dalam berbagai survei nasional me­ rupakan ancaman serius bagi sejumlah capres yang sudah le­bih dulu mendeklarasikan diri dan mengeluarkan uang ba­nyak.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

K

16

ETUA Umum DPP Partai Ge­ rindra Suhardi merasa heran terhadap sejumlah hasil survei yang menempatkan nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) le­bih unggul daripada Ketua Dewan Pem­ bina Partai Prabowo Subianto. “Saya heran kenapa yang keluar nama Jokowi terus, apa karena survei hanya dilakukan di Jakarta atau media massa yang memberitakan kebanyakan di Jakarta,” kata Suhardi pekan lalu di Jakarta. Dia menjelaskan dari survei kecil-kecilan yang pernah dilakukan tim internal partai ke daerah-daerah, ham­ pir seluruh responden menjawab dengan yakin kalau pemilu dilakukan saat itu juga, Prabowo memperoleh suara terbanyak. “Saya mendapat jawaban Jokowi hanya sekali dan itu pun ragu-ragu me­nyebutkan namanya. Sementara yang lain dengan yakin menjawab Pra­bowo,” jelasnya. Menurut survei Indonesia Research Centre (IRC), elektabilitas Prabowo se­besar 8 persen dikalahkan Jokowi yang meraih 32 persen suara dari 794 responden. Sementara itu Lembaga Survei Nasional (LSN), yang tidak melibatkan na­ ma Jokowi di dalam survei, me­ nempatkan Prabowo di urutan teratas dengan perolehan suara 22,7 persen dari total 1.230 responden. Artinya, jika Jokowi tidak mengikuti bursa pen­ capresan untuk Pemilu 2014, elektabilitas Prabowo bisa tinggi. Anggota Dewan Pembina Par­ tai Gerindra Martin Hutabarat me­ngatakan, hasil survei LSN itu me­nunjuk­kan bahwa masyarakat Indo­nesia merindukan figur pemimpin yang tegas. “Hasil survei LSN, yang me­ nempatkan Pak Prabowo di posisi teratas, menunjukkan masyarakat me­ rindukan pemimpin nasional yang tegas,” kata Martin. Tingginya tingkat elektabilitas Prabowo itu disebabkan oleh karier militernya yang pernah menjabat se­ba­gai mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus). “Sikap tegas Pak Prabowo yang menjadi harapan masyarakat saat ini,” ujarnya. Disalip Jokowi Karena terus menerus disalip pen­datang baru Jokowi, muncul ide memasangkan Prabowo dengan Jo­ kowi pada Pilpres 2014 mendatang. Memang, kedua tokoh inilah yang sering terdengar. Tetapi karena PDIP masih menunggu hasil pemilu legislatif, maka deklarasi siapa capres dari partai tersebut baru akan diketahui tahun depan. Berbeda dengan Partai Gerindra yang yakin bahwa suaranya akan mele­bihi 10 persen sehingga berani men­ja­ dikan Prabowo menjadi capres­nya. Andaikan perolehan suara PDIP tidak mencapai 20 persen kemung­ kinan harus mencari koalisi untuk mengajukan calon. Begitu juga dengan Gerindra. Makanya kecil kemungkinan Prabowo mau menjadi cawapres ber­ pasangan dengan Jokowi. Tetapi jika melihat keadaan saat ini yang lebih unggul popularitasnya Jokowi, dan Prabowo mau mengesampingkan ego­ nya maka kemungkinan yang kecil ter­sebut menjadi kekuatan yang besar.

Suhardi, Ketua Umum Gerindra

IST

Penggalangan Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Mu­ zani mengatakan, pencapresan Pra­bowo sesuai keputusan kongres luar biasa ta­hun lalu yang diikuti seluruh unsur Partai Gerindra di tingkat pusat sampai daerah. Untuk mewujudkan target itu Dewan Pembina Partai Gerindra sudah mengambil langkahlangkah strategis untuk penguatan mesin partai “Target kami kini memaksimalkan perolehan pemilu legislatif 2014 sebagai modal pencapresan,” ujar Muzani Guna mendongkrak elektabilitas, Gerindra telah menginstruksikan se­ mua elemen partai untuk melaku­ kan kerja secara nyata. Muzani mencon­toh­kan kerja-kerja di daerah seperti me­nggelar posko mudik gratis dari Aceh sampai Bima menjadi upaya nyata mendekatkan Gerindra dengan masyarakat. Selain itu, capres yang pernah menjadi Danjen Kopasus itu aktif bersilaturahmi dengan tokoh na­ sional hingga upaya penggalangan ke daerah. Untuk meloloskan Prabowo ke bursa pencalonan presiden, Gerindra harus meraih 112 kursi di DPR RI. Pa­dahal saat ini partai berlambang Garuda itu hanya mempunyai 26 kursi di Senayan. Untuk itu, lanjutnya, du­kungan masyarakat harus dioptimal­kan. Muzani tak menampik jika pintu koalisi terbuka lebar-lebar. Namun, Muzani belum mau menyebutkan par­tai mana yang akan diajak berkoalisi. v Tryas

Tingginya tingkat elektabilitas Prabowo disebabkan karier militernya yang pernah menjabat mantan Danjen Kopassus.


Politik

Ada Calon Presiden

di Saku Mega

Hingga 2010, semua kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah tahu siapa yang akan maju setiap kali perhelatan pemilihan presiden berlangsung. Satu nama yang pasti, yakni Megawati Soekarnoputri.

K

ONGRES pertama PDIP pada 2000 menyatakan bahwa ketua umum terpilih otomatis menjadi calon presiden. Walhasil, Megawati men­ jadi Presiden per 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004. Mengulangi kesuksesan kongres pertama, pada kongres kedua 2005, Megawati yang juga menjabat ketua umum didukung mayoritas kader PDIP untuk kembali bertarung dalam pilpres 2009. Untuk kedua kalinya, Mega gagal menjabat Presiden. Kongres ketiga PDIP, keputusan berubah drastis. April 2010 itu, Kong­ res PDIP memutuskan bahwa ca­ lon presiden merupakan tanggung ja­ wab penuh ketua umum. Lagi-lagi Me­gawati yang menjadi pusat penentu. Akan tetapi, kali ini putri proklamator Soekarno itu tak menjadi satu-satunya calon, melainkan satusatunya yang akan menentukan calon. “Ibu Mega bisa menentukan sendiri dirinya menjadi calon presiden, bisa juga menentukan Jokowi (gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo) atau bisa me­ nentukan siapa pun,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Maruarar Sirait.

Pensiun dari Partai Oposisi Ara menegaskan bahwa pemilu 2014 mendatang adalah akhir dari PDIP menjadi partai oposisi. Artinya, target utama PDIP adalah menguasai

WIKIPEDIA

pemerintahan. Tak heran, partai ber­ lambang banteng moncong putih ini benar-benar bereksperimen dalam pe­ milihan kepala daerah. Kader-kader loyal dan muda hasil gemblengan partai seperti Rieke Diah Pitaloka, Rano Karno, Ganjar Pranowo, dan AA Ngurah Puspayoga diorbitkan. Kalah menang urusan belakangan. Ara menyatakan, PDIP ingin menguji sejauh mana kekuatan mesin partai. Hasilnya mencengangkan. Walau­ pun Rieke kalah di pemilihan gubernur Jawa Barat, namun suaranya tinggi. Hasil survei internal menyebutkan suara Rieke di tatar sunda hanya 15 per­sen, namun pemilihnya justru 28 persen. Puspayoga di Bali juga demikian. Survei internal hanya 40 persen, nya­ tanya suaranya mendekati 50 persen. Walaupun keduanya harus rela kalah dari calon lain yang didukung banyak partai. Nasib Ganjar lebih beruntung. Politisi 44 tahun ini berhasil me­ lenggang menjadi Gubernur Jawa Te­ ngah yang akan dilantik 23 Agustus 2013 ini. Ada di Saku Mega Lalu siapakah yang akhirnya men­ jadi calon presiden dari PDIP? Ara te­tap emoh membuka suara. “Pada wak­tunya nanti kami akan umumkan,” ujar dia. PDIP tak mau latah seperti par­tai lain yang jauh-jauh hari sudah me­nentukan calon presidennya. “Ka­ mi juga punya strategi sendiri,” tam­bah­nya. Calon presiden PDIP hanya ada di saku Bu Mega. Di dalam sakunya mungkin hanya ada Jokowi yang paling mendekati kriteria yang diinginkan PDIP, yakni populer, berintegritas, taat terhadap ideologi, bahkan selalu me­ men­tingkan rakyat. v Sandi Yunus

Agustus 2013

PDIP selalu mewanti-wanti jangan sampai Pilpres tak menjawab persoalan rakyat, pelayanan publik di­ abaikan, plu­ralisme menjadi barang mahal.

Maruarar Sirait

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Mentereng di Survei Jika diibaratkan, sembilan dari se­ puluh lembaga survei yang mencoba men­cari siapa orang terpopuler untuk menduduki kursi presiden? Jawa­ bannya adalah Jokowi. Ya, popularitas Jokowi melesat tinggi sejak dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 15 Oktober 2012 lalu. Belum genap setahun menjabat po­ pularitasnya mengalahkan caloncalon presiden stok lama, termasuk atasannya sendiri di partai, yakni Me­ gawati. Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kerap beriklan masif di televisi pamornya tetap kalah oleh Jokowi. Sama halnya dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal

Bakrie yang entah sudah berapa be­ sar uang yang dia keluarkan untuk menggelembungkan popularitasnya. Nyala api Jokowi memang kelewat benderang. Namun, Bang Ara, sapaan Maruarar, tak silau. Dia tetap bergeming untuk menyebutkan bahwa PDIP akan mengusung mantan Walikota Solo ini. “Suara Jokowi memang selalu menjadi yang tertinggi. Itu patut disyukuri. Tapi, bukan saat yang tepat bagi kami menentukan calon presiden,” kata dia. Ara justru mene­ gaskan bahwa capres dari PDIP harus sejalan dengan ideologi partai. PDIP berideologi Pan­ casila. Siapa pun yang akan terpilih pas­tinya sudah teruji jiwa Pancasilanya, bukan hanya jargon. Bagi PDIP, Pancasila berarti men­ cip­ takan masyarakat yang adil dan mak­ mur melalui politik yang ber­ dau­ lat, ekonomi yang berdikari, dan ke­­ budayaan yang berkepribadian. “Ideo­ logi bagi kami adalah hal yang pasti, yakn­i untuk menyejahterakan rakyat,” tegas dia. Berpijak dari sana PDIP mene­ gaskan bahwa pemilihan presiden tak akan menjadi ajang memperebutkan ke­­kuasaan. Indonesia, menurutnya, sa­ngat mem­butuhkan pemimpin yang berka­ rakter kuat. Indonesia tak bu­ tuh angka-angka perekonomian yang optimistis namun mengabaikan ke­ se­ jah­teraan masyarakatnya. “Kami di PDIP selalu mewanti-wanti jangan sampai Pilpres tak menjawab persoalan rakyat. Pelayanan publik di­ abaikan, hukum tebang pilih, atau plu­ ralisme menjadi barang mahal,” jelas dia.

17


Politik

Suara Hanura Terbelah Suara mereka terbelah. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentangnya.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

P

18

ARTAI Hanura terpecah. Ironi itulah yang terjadi menyusul deklarasi Wiranto-Hary Tanoesoedibjo (HT) sebagai pasangan capres-cawapres 2014. Duet purnawirawan jenderal bintang empat dengan pengusaha keturunan ini tidak mendapat respons positif dari kalangan elite internal partai tersebut. Kubu penentang yang dimotori Fuad Bawazier, menganggap pencalonan itu tidak sah. Bahkan, mereka menyatakan bahwa duet itu terlalu prematur dan masih bisa dikoreksi di kemudian hari. Koreksi ini akan merujuk pada perkembangan politik mendekati pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) 2014. “Apa yang telah disampaikan Pak Fuad Bawazier itu, memang sesuai konstitusi partai. Di dalam konstitusi, untuk kepentingan strategis, seperti pilkada, capres dan cawapres, harus diputuskan melalui Rapimnas. Jadi, masih bisa dikoreksi,” kata fungsionaris Partai Hanura, Yuddy Chrisnandi baru-baru ini. Menurut mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Hanura itu, Rapimnas digelar sekurang-kurangnya satu kali dalam satu periode. Pengesahannya harus diputuskan dalam forum resmi. “Dalam Rapimnas nanti, bisa saja duet itu dikukuhkan, atau bisa juga dikoreksi,” tegasnya. Saat ditanya sikap dukungannya terhadap pencapresan Wiranto, Yuddy dengan tegas menyatakan bahwa dirinya mendukung sepenuhnya ketua umumnya itu. “Kalau Pak Wiranto, tidak mungkin kami halangi,” ujar mantan politisi Golkar tersebut. Deklarasi duet Wiranto-HT memang bukan diputuskan dalam forum Rapimnas, melainkan dalam acara pembekalan caleg. Padahal, forum tinggi untuk pengambilan keputusan partai adalah Munas dan Rapimnas. Bahkan, bisa juga melalui Rakernas. Meski mendadak dan keputusan itu diambil atas inisiatif Wiranto, namun masih perlu dicermati lebih mendalam. “Proses kemarin itu, semata-mata pertimbangan Pak Wiranto yang disampaikan kepada forum pertemuan antara pengurus DPP dan DPD, di mana Pak Wiranto menginginkan Pak Hary Tanoe didukung sebagai cawapres Hanura untuk Pemilu 2014 mendatang,” tegasnya. Diungkapkan Yuddy, tidak ada kesepakatan sebelumnya di internal Hanura terkait siapa cawapres. Sebab, partai hanya bulat sepakat menetapkan capres, yakni Wiranto. “Dari awal semua orang masuk Hanura, perencanaan Bappilu hanya Pak Wiranto. Kami tidak pernah bicara cawapres dan belum sempat. Tiba-tiba saya diberitahu sudah diputuskan bahwa cawapres Pak Hary Tanoe. Tentu saja saya terkejut,” tandas dia. Sudah Final Sementara itu, Ketua Fraksi Hanura DPR RI, Syarifuddin Sudding menegaskan bahwa duet Wiranto-HT sudah final. Penetapan ini didukung penuh para pengurus DPP, DPD hingga DPC. “Mereka solid untuk mendukung pencalonan Bapak Wiranto dengan Bapak Hary Tanoe sebagai caprescawapres dari Hanura,” ujarnya.

Yuddy Chrisnandi

INILAH.COM

Kesolidan pasangan Wiranto-HT, ujar anggota Komisi III DPR ini, karena aspirasinya muncul dari kader-kader di bawah. “Munculnya pasangan ini memang dari kader-kader di bawah, baik dari DPC maupun DPD yang terus mendesak, agar DPP segera mengakomodasi keinginan para kader. Jadi, ini murni aspirasi internal kader dari bawah,” jelas Sudding. Namun, ungkap dia, pencalonan duet pasangan tersebut, juga telah digodok di DPP Partai Hanura. Dirinya pun setuju dan sepakat bahwa pasangan ini sebagai pasangan ideal. “Pak Wiranto merupakan sosok yang tegas dan disiplin karena dididik secara militer, dan itu diimbangi sosok Pak HT yang low profile, karena dibesarkan dalam keluarga pebisnis,” ujar politisi yang memolisikan ICW itu. Seperti diketahui, akhirnya Partai Ha­nura menetapkan Wiranto-Hary Ta­ noe sebagai capres dan cawapres un­ tuk Pilpres 2014. Penetapan pasangan ini dilakukan setahun sebelum pe­ laksanaan pemilu. Deklarasi keduanya pun dilakukan di Hotel Mercure pada Selasa awal Juli (02/07) lalu. Di Partai Hanura, Hary Tanoe baru saja bergabung dan langsung dilantik sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu). Posisi ini sendiri, sebelumnya dipegang Yuddy Crisnandi. Sebelum bergabung dengan Hanura, Hary Tanoe adalah Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem. Ia keluar dari partai itu, setelah berseteru dengan Surya Paloh. v Tryas

Dari awal semua orang masuk Hanura, perencanaan Bappilu hanya Pak Wiranto.


Politik WHATINDONEWS.COM

Megawati Ingin

Pancasila Membumi “SEJARAH adalah mata air teladan dan pembelajaran hidup yang menautkan masa lalu dengan masa depan. Ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik dari masa lalu. Warisan terbaik pendiri bangsa tak boleh terserak”.

K

noputri itu sangat menginginkan Pan­ casila menjadi dasar negara sekaligus filosofi kehidupan berbangsa yang bu­ kan simbol mati, melainkan roh bangsa un­tuk membawa Indonesia pada titik k­e­sejahteraan. Megawati mengatakan, ke­ma­je­­ mu­­ k­ an negara ini sudah sejak la­ ma se­ hingga harus dipertahankan. Ia se­ pakat untuk berpegang pada kon­ sep empat pilar bangsa yang di­ ga­ gas sang suami, almarhum Taufiq Kie­­mas, yakni Pancasila, Bhinneka Tung­ gal Ika, UUD 45, dan NKRI, yang menjamin kehidupan ke­majemukan wajib dipertahankan oleh segenap rakyat Indonesia. “Tanpa empat

Agustus 2013

Pancasila jangan jadi simbol, tetapi harus membumi dan diterapkan dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali apakah dia pemimpin dan rakyat jelata.

pilar itu negara ini akan hancur dan orang tidak mengenal Indonesia,” katanya. Ia mengatakan, kemajemukan ada­ lah penghargaan dalam berbagai as­ pek kehidupan berbangsa. Megawati sen­ diri mengaku lahir dalam bingkai ke­majemukan itu termasuk dalam hal agama yang dianutnya saat ini. Masa depan tentang Megawati bagi bangsa Indonesia adalah konsep-kon­ sepnya termasuk menjadikan Pancasila sebagai roh bangsa yang membawa pada kesejahteraan sekaligus konsep kemajemukan yang harus ditolerensi. Satu hal yang tidak terelakkan ada­­ lah Megawati tetaplah putri yang te­ lah memberikan sesuatu yang terbaik bagi bangsa ini pada masanya. Kini su­dah saatnya bagi Mega untuk mem­ persiapkan mandat politik kepada ge­ ne­rasi muda untuk memimpin negeri ini menjadi lebih baik. v Dara

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

UTIPAN itulah yang kini men­ jadi jargon utama Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa yang dipelopori Megawati Institute. Untaian kalimat itu laksana mewakili konsep dan filosofi seorang putri kesayangan Bung Karno; Megawati Soekarnoputri. ”Pancasila jangan jadi simbol, tetapi harus membumi dan diterapkan dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali apakah dia pemimpin dan rakyat jelata,” kata Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-Perjuangan) itu. Perempuan bernama lengkap Diah Permata Megawati Setiawati Su­ kar­

19


Politik TERSANGKA KERUSUHAN – Sejumlah tersangka diamankan petugas setelah terjadinya kerusuhan pascakongres rakyat Papua beberapa waktu lalu.

VIVANEWS.COM

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Konflik Tak Terselesaikan

20

Sisakan Dendam Resolusi konflik tampaknya tak pernah benar-benar terjadi di Indonesia, kecuali penyelesaian konflik Poso, Sulawesi Tengah. Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia hanya selesai pada tahapan menemukan solusi, belum pada tataran resolusi.

K

ONFLIK di Aceh yang diinisiasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memang sudah surut, namun masih belum pada tahap resolusi. Riak-riak GAM masih berlangsung di Aceh. Begitu juga dengan Papua. Organisasi Papua Merdeka (OPM) hingga saat ini masih hidup walaupun menggunakan taktik gerilya. Penyelesaian kasus Ahmadiyah juga segendang sepenarian. Ada bisul konflik yang sewaktuwaktu bisa pecah. “Yang namanya resolusi adalah kembali ke keadaan awal sebelum konflik. Saat ini, konflik-konflik di Indonesia sebagian besar belum terselesaikan hingga benar-benar

bersih. Masih tersisa dendam,� kata pengajar dari Universitas Pertahanan (Unhan) Muhammad Dahrin La Ode dalam perbincangan dengan Suara Pemred pekan ini di Jakarta. Dahrin melihat problem pelunturan nasionalisme dimulai dari sana. Masyarakat merasa tak yakin konflikkonflik tersebut bakal terselesaikan dengan baik, sehingga mereka lari dari masalah. Kebetulan keran demokrasi sedang terbuka lebar sehingga segala paham bisa masuk dengan mudah. Hedonisme Negara maju, terutama Amerika Serikat yang berpaham liberal, dengan cermat memanfaatkan celah ini. Hedonisme (yang merupakan anak kandung liberalisme) kemudian menjadi serum mujarab untuk memalingkan masyarakat, terutama pemuda sebagai garda terdepan kemajuan bangsa, dari rasa nasionalisme. Secara sederhana, hedonisme merupakan paham yang


Bela Negara DAHRIN mengatakan penyakit-penyakit yang menyerang kekebalan nasionalisme hanya bisa disembuhkan dengan cara bela negara. Pemerintah harus mulai melakukan aksi nyata. Saat ini tiga kementerian sudah ditugaskan untuk memompa nasionalisme, yakni Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Kementerian Pertahanan. Kementerian Dalam Negeri diminta memompa wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional. Kementerian Pemuda dan Olahraga diminta menggelorakan semangat patriotisme melalui olahraga. Sedangkan Kementerian Pertahanan melalui bela negara. “Sayangnya, untuk bela negara kita sedikit terkendala karena RUU Komponen Cadangan masih banyak ditentang lantaran dinilai menyerempet HAM melalui konsep wajib militer,” kata dia. Patut disayangkan, mengapa dua kementerian yang sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan nasionalisme tak dilibatkan. “Seharusnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama diikutsertakan untuk membudidayakan nasionalisme ini,” kata dia. Benih-benih nasionalisme bisa tumbuh subur ketika kedua kementerian ini menularkannya kepada para pemuda yang menjadi kepedulian mereka. Selanjutnya, Dahrin juga me­ nyarankan agar pemerintah kembali meng­ingatkan masyarakat akan pen­ ting­nya empat konsensus nasional. Ma­jelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) me­mopulerkannya menjadi empat pilar ke­bangsaan. Institusi-institusi kebangsaan ha­rus dibebaskan dari korupsi, mulai dari mili­ter, polisi, pegawai negeri sipil, hingga masyarakat. “Pelajar tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi harus diajarkan bagaimana berutang budi pada negara dan para pahlawannya,” kata dia. Di sisi lain, media yang menjadi corong kebebasan harus bisa memberikan edukasidan obat-obatan terlarang (narkoba) sedikit-banyak menjauhkan pemuda dari kebudayaan leluhur mereka. Mo­ dernisasi di bidang kebudayaan kerap ditumpangi westernisasi yang jauh dari semangat kebudayaan timur.

SP/LUTHER ULAG

edukasi mengenai jiwa kebangsaan. “Hindari berita-berita yang menyulut konflik dan provokatif,” kata dia. Sedangkan tangan-tangan tak tampak bisa diredam dengan penguatan program kontra intelijen. Dahrin melihat institusi intelijen Indonesia, dari segi loyalitas sudah cukup kuat. Namun, untuk urusan teknologi, intelijen Indonesia sangat lemah. “Saya melihat intelijen kita masih sangat tradisional. Masih manual karena hanya bertumpu pada intelijen manusia,” katanya. Butuh ratusan triliun untuk memperkuat teknologi di institusi-institusi intelijen Indonesia. Dahrin memperkirakan di Badan Intelijen Strategis (Bais) butuh puluhan triliun untuk meningkatkan teknologi intelijen. Di Badan Intelijen Negara (BIN) bahkan membutuhkan ratusan triliun untuk pengadaan teknologi intelijen. Belum lagi intelijen di kementerian dan kepolisian yang juga membutuhkan puluhan triliun. “Jika teknologi intelijen diperkuat, niscaya kita bisa menangkal berbagai upaya penyadapan yang dilakukan negara lain,” katanya. Dan dia optimistis, kekuatan teknologi yang digabung dengan nasionalisme yang kuat akan membuat bangsa ini menjadi kuat. Resolusi konflik akan bergerak seiring nasionalisme yang semakin perkasa. v Sandi Yunus “Lelaki dan perempuan banyak mengalami penyimpangan seksual. Ini pula yang membuat nasionalisme kita tak bernyawa,” kata Dahrin. Front Pembela Islam (FPI) se­ benarnya tanggap dengan isu-isu yang menggerus kebudayaan ini, terutama dalam menumpas kemaksiatan. Sa­ yangnya, kata Dahrin, kiprah FPI kerap dianggap melanggar HAM dan banyak dikecam karena caranya yang radikal. v Sandi Yunus

Agustus 2013

Hedonisme menjadi serum mujarab untuk memalingkan masyarakat, terutama pemuda sebagai garda terdepan kemajuan bangsa, dari rasa nasionalisme.

Dahrin La Ode

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Tangan Tak Tampak Virus-virus penggerus nasionalisme juga datang dari tangan-tangan tak tampak (invisible hand). “Harus diakui, ada banyak negara yang ingin turut campur dalam urusan rumah tangga Indonesia,” terang Dahrin. Para invisible hand ini biasanya menyusup melalui perjuangan mene­ gakkan hak asasi manusia, berbalut demokratisasi, menyasar pelestarian lingkungan hingga bertopeng kepe­ dulian terhadap persoalan sosial dan budaya. Dahrin sedikit lega karena UU In­ telijen sudah disahkan. Alotnya pem­ bahasan RUU tersebut dan se­ rangan yang masif dari sejumlah lem­ baga swa­ daya masyarakat, kata dia, me­ nun­­jukkan banyak yang kha­wa­tir akan mengamputasi tangan-ta­ ngan tak tampak itu. “Tanpa ada UU In­te­ lijen, saya sangat khawatir pe­ mi­ lihan Presiden pada 2014 nanti akan di­su­ supi para invisible hand,” kata dia. Leluasanya kiprah invisible hand juga terjadi karena lemahnya politik luar negeri di Kementerian Luar Negeri (Kemlu). “Kemlu masih sangat lemah untuk persoalan intelijennya,” ujar dia. Tak haran jika penyadapan-pe­ nyadapan terhadap simbol-simbol ne­ gara kerap dilakukan. Dahrin juga sa­ngat yakin teori konspirasi tumbuh subur di negara-negara yang lemah in­ telijennya. Virus penggerus nasionalisme juga tumbuh subur di dalam kebudayaan kita. Gencarnya peredaran narkotika

Politik

mementingkan kebahagiaan individu. Ketika individu telah mencapai keba­ hagiaan yang diinginkan, maka tugas­ nya selesai. “Dengan terbukanya keran demokrasi, orang bisa bergerak leluasa apalagi yang memiliki kemampuan ekonomi. Karena sibuk dengan ke­ puas­an pribadinya mereka lupa nasio­ nalisme,” kata Dahrin. Tergerusnya nasionalisme tak ha­ nya terjadi di masyarakat. Aparat pe­ merintah pun mabuk dengan pe­ menuhan hak pribadi. Dan akibatnya fatal. Korupsi merajalela. Institusi pe­ merintahan hingga penegak hukum be­lepotan korupsi. “Korupsi yang masif tak lain karena adanya demokrasi yang kebablasan yang sudah melupakan nasionalisme,” kata pengamat intelijen ini.

21


22

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

Foto Bicara


Foto Bicara Agustus 2013

SP/LUTHER ULAG

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

BALIHO KEMERDEKAAN RI Baliho berukuran besar gambar Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan istri serta Wakil Presiden RI, Boediono dan istri terpasang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Pemasangan baliho tersebut dalam rangka menyambut perayaan HUT ke-68 RI.

23


Hukum

Gembong Narkoba

Ngeseks dan Nyabu di Lapas Tingginya dinding beton dan tajamnya kawat berduri ternyata tidak membuat Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Cipinang terlihat angker. Kasus napi narkoba Freddy Budiman dan kekasihnya Vanny Rossyane, membuat publik kembali tersadar, tentang bobroknya sistem penjara yang memudahkan terjadinya bisnis narkoba dari dalam bui.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

S

24

KANDAL seks dan penggunaan narkoba diungkap Vanny pada sejumlah media massa akhir Juli. Model majalah dewasa bertubuh sek­si ini mengaku kerap berpesta sabu dan berhubungan intim dengan napi ka­sus narkoba Freddy di ruang kepala lapas. Parahnya lagi, gadis berwajah sen­ sual itu juga kerap melihat Freddy meng­ gunakan telepon genggam di da­­ lam lapas untuk mengatur bis­ nis narkobanya. Pernyataan itu di­ be­­nar­kan Freddy dalam wawancara singkat di sebuah televisi swasta pe­ kan lalu. Lewat uraiannya, Freddy me­ ngaku dari dalam lapas dirinya juga le­luasa memesan nar­koba ke jaringan internasional dengan uang muka Rp3 miliar. “Dana awal yang masuk ke jaringan in­ ternasional Rp1 miliar, disusul beberapa kali pengiriman sehingga to­ talnya berjumlah Rp3 miliar,” ucapnya gam­blang. Dicopot Pengakuan gembong pil haram itu tentu membuat banyak orang mem­ pertanyakan fungsi dari lapas. Bukan memberikan efek je­ ra, bobroknya sistem lapas justru men­jadikan tempat perlindungan baru bagi kartel narkoba tanpa takut tersentuh hukum. Terungkapnya geliat gembong nar­ koba di lapas membuat Kementerian Hu­ kum dan HAM (Kemenkum HAM) men­copot Kepala Lapas Cipinang Thur­ man Hutapea dan tiga anak buahnya. Sayangnya, hukuman berupa pem­ berhentian ataupun menggiatkan ins­

Freddy Budiman

METROTVNEWS

pek­ si mendadak (sidak) dipandang ku­rang efektif. Hal itu terjadi lantaran be­ lum terpisahkannya pecandu, pe­ ng­edar, dan bandar narkoba di dalam lapas. “Di dalam lapas, pecandu, pengedar, dan ban­dar jadi satu. Ketika pecandu tidak ter­obati dia bisa minta obat sama si pengedar dan bandar yang ada di sa­ na,” terang Kepala Humas Badan Nar­ kotika Nasional (BNN) Kombes Sumirat Dwiyanto di Jakarta, kemarin. Wajah buruk manajemen lapas ju­ ga menjadi perhatian sejumlah po­ l­ i­ tisi, salah satunya Wakil Ketua DPR Pramono Anung. Menurutnya ke­ bobrokan sistem “hotel prodeo” di Indonesia terjadi lantaran banyak oknum yang bermain dan membuka celah bagi napi nakal. “Kasus Vanny dan Freddy ini harus jadi momentum Kemenkum HAM un­ tuk memperbaiki manajemen lapas,”

Vanny Rossyane

VIVANEWS

ujar Promono di Gedung DPR RI. Dari data yang dihimpun Suara Pem­red sejak bulan Juni-Juli saja, ada lebih dari lima kasus keterlibatan na­ rapidana dalam pengedaran narkoba. Pa­da bulan Juni, Satuan Reserse Nar­ koba Polresta Bandar Lampung meng­ ungkap jaringan narkotika di Lapas Way Hui. Sementara di Tangerang, dua na­ pi pemuda Tangerang tertangkap me­miliki 10 kg ganja kering siap edar yang sengaja disediakan untuk napi di dalam lapas. Di awal bulan Juli, Polres Madiun Ko­ta juga menemukan narkoba saat ra­ zia lapas awal Juli (4/7) silam. Terakhir penyisiran di Lapas Tanjung Gusta Me­ dan (31/7) pascakerusuhan, juga me­ nemukan berbagai jenis narkoba seperti sabu-sabu, ekstasi, dan ganja. Selain itu ada juga beberapa alat untuk memproduksi sabu-sabu. v Tryas Oleg

Di dalam lapas, pecandu, pengedar, dan ban­dar jadi satu. Ketika pecandu tidak ter­obati dia bisa minta obat sama si pengedar dan bandar yang ada di sa­na.


Hukum

SUAP KASASI MA -- Tersangka kasus suap penanganan kasasi di Mahkamah Agung Mario Camelio Bernardo berjalan dari Gedung KPK, Jakarta, Jumat (26/7). Mario ditahan KPK setelah tertangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Kamis (25/7) di Kantor Hotma Sitompoel & Associates. ANTARA/ROSA PANGGABEAN

Kasus Anak Buah Hotma Meredup Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bikin gebrakan lagi. Kali ini, menangkap tangan oknum pegawai Mahkamah Agung (MA) yang diduga menerima suap. Operasi yang terjadi Kamis (25/7) siang lalu itu juga menciduk pengacara Mario C. Bernardo (MBC) di kantor Hotma Sitompul di Jalan Martapura.

L

Setelah mengamankan Djodi, pe­ nyi­ dik bergerak ke kantor pengacara Ma­rio di Hotma Sitompul dan rekan di Jl. Martapura, Jakpus. Dengan proses yang cukup cepat, Mario langsung di­ ge­ landang ke kantor KPK di Rasuna Sa­ id. Seminggu setelah Mario diciduk KPK, giliran pamannya Hotma Sitompul diperiksa ketat di KPK. Johan menyebut penyidik men­ duga uang yang diterima Djodi ter­se­ but berkaitan dengan pem­ berian Ma­ rio yang berprofesi sebagai peng­aca­ra itu. Soal kasus, Johan mengaku tak tahu. “Diduga ini berkaitan dengan pe­ na­nganan perkara di MA,” kata Johan

Agustus 2013

Kalau sudah ada keputusan hu­kumnya tentu kami tindak. Jika ter­buk­ti, kami akan merekomendasi De­wan Kehormatan Advokat Indonesia un­tuk mencabut izinnya.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

EWAT operasi itu ditahan juga staf di Diklat MA Djodi Supratman yang kedapatan mem­ bawa tas warna cokelat berisi uang Rp80 juta. Dalam pernyataannya di depan awak media, juru bicara KPK Johan Bu­ di menjabarkan proses penangkapan di­ mulai dengan pengawasan Djodi oleh pe­nyidik KPK di kawasan Monumen Na­ sional (Monas) Jakarta Pusat. Bersama Djodi, penyidik juga meng­ amankan sebuah tas selempang co­kelat. “Di dalamnya ada uang sekitar Rp80 juta yang diduga pemberian ini berasal dari Mario C. Bernardo,” ka­ta­ nya kemarin.

sing­kat. Terpisah, Wakil Ketua Komisi Peng­ awasan Advokat Indonesia (KPAI) Achi­ el­­Suyanto mengatakan, tindakan yang di­lakukan oknum pengacara itu telah men­coreng profesi advokat. Sebab se­ bagai profesi yang memiliki kode etik yang jelas dan mengikat, pengacara ha­ rus taat asas, etika, dan hukum. “Kami mengusung asas praduga tak bersalah, tetapi jika terbukti, tindakan ini kami nilai sebagai perilaku tidak terhormat oleh advokat,” ujar Achiel saat dihubungi Suara Pemred baru-baru ini. Pengacara yang juga menjabat se­ bagai Wakil Ketua Umum DPN Peradi itu juga akan menunggu sampai ke­pu­ tusan hukum terhadap perkara Ma­rio C Bernardo keluar. Menurutnya, du­ gaan pelanggaran kode etik itu da­pat diganjar sejumlah sanksi mulai da­ ri skorsing hingga pencabutan izin prak­ tik advokat. “Kalau sudah ada keputusan hu­ kumnya tentu kami tindak. Jika ter­ buk­ti, kami akan merekomendasi De­ wan Kehormatan Advokat Indonesia un­tuk mencabut izinnya,” tambah dia. v Tryas Oleg

25


Hukum MOS ANTINARKOBA

Siswa baru melihat tayangan bahaya narkoba saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di SMA Angkasa 2 Halim Perdana Kusuma, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pihak sekolah bekerja sama dengan Badan Narkotika Na­sional (BNN) menyosialisasikan bahaya narkotika dalam kehidupan dan diharapkan para siswa nantinya dapat menjauhi zat berbahaya tersebut.

ANTARA/SAPTONO

“Berikan 10 pemuda, maka saya akan mengguncang dunia” begitulah pidato Bung Karno dengan berapi-api. Presiden RI pertama itu hanya meminta 10 pemuda untuk bisa membuat gempar dan heboh dunia.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

T

26

API, kegemparan yang dibuat pemuda masa kemerdekaan dengan pemuda masa sekarang sudah jauh berbeda. Kondisi anak muda saat ini banyak yang salah gaul. Di era revolusi dulu, pemuda ber­ taruh jiwa raga demi merebut ke­ merdekan bangsa, pemuda masa kini mengisi kemerdekaan dengan hurahura. Menurut Ketua Kongres Wanita In­ donesia (Kowani) Dewi Motik Pra­ mono, masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. Oleh sebab itu mereka butuh pengertian dan du­ kungan orang tua dalam masa ke­ rentanan tersebut. Bila kebutuhan remaja kurang di­­ perhatikan, niscaya remaja akan ter­ jebak dalam perkembangan pribadi yang lemah, bahkan dapat dengan mu­dah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba. Kepada Suara Pemred, Dewi me­ ngatakan, hingga sekarang pe­ nya­ lah­ gunaan narkoba semakin luas di ma­ sya­ rakat kita, terutama semakin ba­ nyak di kalangan para remaja yang si­ fat­nya ingin tahu dan ingin coba-coba. Darurat Narkoba Ditemui usai acara buka bersama tokoh Medan Erwan Soekarja dan

Yang Muda

Yang Narkoba Keluarga, Sabtu di Hotel Sangri La, Jakarta, beberapa waktu lalu, Sekjen Gerakan Anti-madat (Granat) Ashar Sur­ yobroto menuturkan sejatinya kon­di­si pemuda pada saat ini tengah meng­alami darurat narkoba. “Kini sudah 5 juta orang (usia 1564) yang menjadi pecandu narkoba/ napza. Dampaknya bagi kesehatan, eko­ nomi, dan kejahatan juga kian tidak terkendali,” sebut Ashar. Dia menambahkan, mayoritas peng­ guna narkoba adalah generasi mu­da. Data dari hasil penelitian yang dilakukan Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2011 menyebutkan bahwa anak muda yang terlibat penyalahgunaan narkoba mencapai angka 3,8 juta jiwa. Ashar mengaku khawatir dengan semakin banyaknya pemuda yang terje­ rumus dalam jeratan narkoba. Agar remaja bisa terhindar dari ke­can­ duan barang haram tersebut, Ashar berpendapat fondasi keluarga yang kini tampak sudah mulai memudar harus ditegakkan kembali.

Lebih jauh pensiunan polisi dengan pangkat terakhir brigadir jenderal tersebut juga tidak setuju jika para pecandu narkoba dikriminalkan. Pasal­ nya mereka adalah korban. “Kalau disatukan dengan para pe­ laku kriminal lain, walhasil kelakuan mereka akan lebih parah,” sebutnya. Untuk itu dekriminilisasi bagi para pecandu adalah cara terbaik. Artinya para pemuda pecandu seharusnya diobati, dan jangan malah dimasukkan dalam penjara. Selain itu, pemberian bimbingan bagi para pemuda pecandu usai menjalani rehabilitasi penting. Pasalnya bila mereka tidak diterima ke masyarakat dan sulit bekerja, mereka pasti bakal kembali ke lingkungan lama mereka. Saat ini saja, tingkat relapse (kekambuhan) pecandu yang sudah sembuh mencapai 90 persen. “Karena tidak diterima lingkungan dan sulit mencari kerja, mereka yang sejatinya masih berusia produktif itu terpaksa kembali ke dunia narkoba yang mereka nilai lebih menerima mereka,” sebutnya sedih. v Nelly

Bila kebutuhan remaja kurang di­perhatikan, niscaya remaja dengan mudah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba.


Lunturnya Patriotisme

Hukum

Japto Soerjosoemarno

Generasi Penerus K

ALAU Anda ada waktu senggang, coba perhatikan tingkah polah siswa sekolah saat mengikuti upacara bendera yang biasanya digelar di halaman sekolah. Bukannya khidmad mengikuti jalannya proses upacara, mayoritas siswa tersebut tampak bengong seolah-olah hanyut dalam pikiran mereka sendiri. Padahal tujuan dari upacara digelar adalah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah memberikan jiwa raga untuk kemerdekaan. Tanpa perjuangan mereka, bukan tidak mungkin para siswa tersebut bisa menempuh pendidikan seperti pada saat ini. Tidak khidmad mengikuti upacara bendera memang bukan ukuran untuk mengetahui kadar nasionalisme bangsa. Namun pasti sebagian besar masyarakat kita sepakat bahwa rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan

K SP/YC

URNIA

NTOR

O

pemuda kita sudah memudar. Lunturnya rasa patriotisme pemuda ini tentu mengundang keprihatinan di berbagai kalangan. Salah satu tokoh pemuda yang mengelus dada dengan fenomena itu adalah Japto Soerjosoemarno. Japto menyatakan, saat ini rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda pada saat ini hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong, seperti kasus pengklaiman beberapa kebudayan Indonesia oleh Malaysia beberapa waktu yang lalu. Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) ini prihatin dengan semakin lunturnya jiwa nasionalisme para pemuda Indonesia di masa kini. Memudarnya jiwa nasionalisme di dada kawula muda, menurutnya disebabkan oleh tidak dipakainya lagi Pancasila sebagai falsafah hidup dan budaya bangsa. “Pancasila yang digali dari budaya dan tata sosial nenek moyang orang Indonesia

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

kini sudah mulai ditinggalkan. Infiltrasi budaya asing dari barat dan timur tengah menjadi penyebab memudarnya nilai-nilai Pancasila,� sebut Japto, usai buka bersama tokoh Medan Erwan Soekarja dan Keluarga, di Hotel Sangri La, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pudarnya Pancasila menyebabkan sejumlah nilai luhur bangsa, seperti toleransi, gotong royong, dan sifat kebhinekaan perlahan namun pasti sudah semakin menghilang di tengah masyarakat. Walhasil, sambungnya, kejadian bentrok antarkelompok akibat masalah primordial dan semakin mudahnya para pemuda bentrok hanya akibat masalah sepele menjadi suatu keniscayaan dan hal yang sudah lumrah di negeri ini. Kalau soal bentrok antarpemuda, pria yang hingga kini masih aktif di Pemuda Pancasila ini mengatakan, hal itu disebabkan oleh kurang pekanya para pemangku kebijakan untuk mengarahkan mereka. Menurut hematnya, mayoritas bentrok organisasi pemuda disebabkan oleh masalah perebutan lahan ekonomi. “Kebanyakan bentrok terjadi lantaran urusan perut,� imbuhnya. Oleh sebab itu, seharusnya para pemangku kebijakan bisa mengatur dan memberdayakan para pemuda. Artinya pemuda diberi kesempatan untuk berkarya dan bekerja. Agar adil, semua diberi kesempatan berdasarkan porsi yang adil, dan bahkan kalau perlu antarmereka (kelompok) bisa saling bekerja sama. Sedangkan terkait bentrok berlatarkan masalah promordial, Japto menyarankan agar pemerintah kembali menyosialisasikan Pancasila lebih gencar dengan pemberian materi sesuai dengan zaman. Selain itu, pemerintah juga harus bersikap tegas dalam menyikapi kelompok yang melakukan kekerasan dengan dalih idiologi atau kelompok. v Nelly

27


Hukum Agustus 2013

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Suramnya

Masa Depan Hukum

di Negeri Kami

Belum lama ini Komisi Pem足be足rantasan Korupsi (KPK) menangkap pengacara Mario Carlio Bernardo. Pria yang bekerja di kantor pengacara Hotma Sitompoel & Associates itu diduga menyuap pegawai Mahkamah Agung (MA). Hingga saat ini KPK masih terus mengembangkan perkara ini untuk mencari ke mana muara dari uang tersebut. AKILMOCHTAR.COM

28


Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

EMBALI tertangkapnya seorang praktisi hukum l 25 Juli 2013 an ditangkap seperti Mario, semakin me­ negaskan persepsi ah Agung Djodi Supratm Staf di Diklat Mahkam nardo Ber C. io di pub­ lik bahwa di zaman ini se­ makin sulit i pengacara Mar saat menerima suap dar itu juta 7 Rp7 r esa mencari sosok penegak hukum yang layak untuk seb p rta. Sua di kawasan Monas Jaka dijadikan sebagai a­­­nutan. Kini KPK kian gampang saja ko Santoso. diduga untuk kasus Djo me­­ nangkap jaksa, ha­ kim, polisi, dan pe­ ng­ acara yang menerima upeti dari ha­sil tran­saksi perkara. a l 22 Juli 2013 sebagai tersangka penerim Adalah pemandangan yang kian lum­rah kini, para ha­ insial P dan A ditetapkan Dua hakim Tipikor ber ten Grobogan. kim, jaksa, polisi me­ng­isi kamar-kamar ta­han­an di pen­ pengadilan tipikor Kabupa suap kasus korupsi di jara. Pengadilan tampaknya kini telah ber­ubah menjadi pasar tempat orang berjual beli ke­adilan. 3 l 18 Maret 2013-08-0 annna Marpaung “Proses hukum kita menjadi se­ma­­kin transak­sio­nal. ilan Tipikor Semarang Juli Hakim Ad Hoc pengad suap dalam a erim men n Imbasnya dunia hu­­kum kita semakin terpuruk,” ujar Ke­ atas tindaka divonis 8 tahun penjara an. bog Gro D DPR a tua Mah­kamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar pa­da Suara ketu perkara korupsi mantan Pemred saat di se­la-sela acara buka pua­sa bersama dan talk show “Experience with OSO”, di Jakarta, baru-baru l 22 Maret 2013 udi ini. Ketua PN Bandung Setyab Hakim sekaligus Wakil 50 juta Rp1 p sua ima Bagi Akil, dunia hukum Indonesia se­pertinya sudah ner me ah ap bas Tejocahyono ditangk nsos) Kota (Ba ial Sos n ter­­ancam kiamat. Ki­ni katanya, semua lini penegak hu­ us korupsi Bantua untuk memuluskan kas im hak an apk net me kum su­dah ikut-ikutan terjerat kasus hu­kum. a jug Setya KPK Bandung 2012. Selain “Anda tinggal sebut saja, kini ha­kim, jaksa, polisi, se­ ka. ang ters i Toto Hutagalung sebaga mua­nya sudah ter­­kena kasus hukum. Suram masa de­­ pan negeri ini,” tandas mantan anggota DPR RI dari Frak­si l 13 Desember 2012 ilo serta wakil Lintas Irjen Pol Djoko Sus Golkar ini. Mantan Kepala Korps Lalu kan sebagai tap Pada Suara Pemred Akil me­nge­mu­kakan terdapat dua Brigjen Didik Purnomo dite Kepala Korlantas Porlri faktor utama yang menyebabkan bangunan hukum di ulator SIM. tersangka korupsi sim negeri ini semakin retak-retak. Per­tama adalah men­talitas para apa­rat pe­ne­gak hukum dan budaya korupsi yang se­ l 20 Juni 2012 n penjara ma­kin masif. g Sistoyo divonis enam tahu Kejaksaan Negeri Cibinon perkara. ber g yan k piha i “Sistem hukum yang dibangun se­­betulnya sudah baik. Rp100 juta dar setelah menerima duit Na­mun men­­­­talitas para penegak hukum am­bu­radul. Hal ini foto-foto: ist l Dari berbagai sumber, membuat distrust pub­lik pada aparat semakin tinggi. Pa­da­hal banyak petugas hukum yang se­betulnya masih baik.” Ketidakpuasan publik pada dunia per­­adilan kita ter­gam­ Akil memberi contoh kinerja pegawai KPK dan MK yang bar dari survei Ling­­karan Survei Indonesia (LSI) yang me­­nye­ butkan, ketidakpuasan publik atas penegakan hukum telah tetap perform ken­dati tidak mendapatkan remunerasi. Akil mencontohkan sengketa pemilu ka­da di MK harus diputus mencapai titik terendah. lam 14 hari. Sudah hampir 600 per­­ kara Survei LSI yang dilakukan pada 2013 itu menunjukkan, maksimal da­ 56 persen res­ponden menyatakan tak puas dengan penegakan sengketa pemilu kada yang di­sidangkan di MK, namun tidak hukum di Indonesia. Ha­nya 29,8 persen responden yang me­ ada sa­tu pun yang lewat dari batas waktu mak­simal. Menurut dirinya, transparansi yang ber­ akibat ma­ nya­takan puas terhadap penegakan hu­kum di Indonesia. Publik, lanjut Akil, sudah tidak lagi hor­mat dan puas syarakat dan pers bisa meng­akses proses peradilan seluaspada pengadilan. Ke­ti­dakpuasan itu diekspresikan dengan luasnya, dapat menjadi solusi paling jitu untuk menegakkan pe­ rilaku main hakim sendiri yang marak akhir-akhir ini. kembali nama baik dunia hukum Indonesia. “Pengadilan yang singkat dan transparan menjadi kunci,” Pub­lik menempuh cara sendiri dalam menyelesaikan ma­ salah. Hukum menjadi rumusan pasal-pasal tanpa makna sebutnya. Dia memberi gambaran, semua proses per­­kara di dan kehilangan daya jerat. MK bisa dengan mudah di­akses oleh masyarakat dan pers. Akil tidak menampik jika anak bu­ ah­ nya di MK kerap Kotori Kemerdekaan “digoda” oleh pihak-pi­hak yang terkait perkara. Namun dia Distrust yang ada di benak ma­ sya­ rakat, di mata Akil memiliki sejumlah tips, agar peluang “main mata” antartidak boleh ter­lalu lama dibiarkan. “Bisa hancur negara ini pegawai dan pihak yang berperkara tidak terjadi. kalau ketidakpercayaan dibiarkan,” sergahnya. “Kalau keputusan (pengadilan) akan keluar pada pukul Guna menekan praktik korupsi yang dilakukan oleh apa­ 14.00 WIB, ma­ka staf baru diberi tahu pada pukul 9.00 WIB. ratur negara, pe­me­rintah telah melakukan kebijakan re­­mu­ne­ Sehingga peluang ‘bekerja sama’ sangat kecil,” tuturnya. rasi pada gaji PNS. Namun me­nu­rut Akil, hal itu jelas bukan Selain itu, Akil juga meminta agar pa­ra pemimpin, khu­ menjadi so­lusi terbaik. Menurutnya dampak yang diberikan susnya Presiden RI dapat menjadi garda terdepan bagi pro­­ dari remunerasi pada penurunan praktik korupsi sangat ke­cil. ses penegakan hukum. Kalau sudah ada contoh dari pe­ “Remunerasi tanpa disertai per­ubahan mentalitas dan mimpin yang tegas, walhasil yang di bawah, sambung dia, sistem akan sia-sia. Lihat saja pegawai pajak. Ba­nyak yang bakal mengikuti. Akil yakin, kalau semua pihak ber­ ikhtiar ingin mem­ tertangkap,” imbuh dia. perbaiki dunia hukum In­donesia, niat perbaikan itu pasti ber­ hasil. Dia mengingatkan, dahulu pa­ ra fo­unding father Publik sudah tidak lagi hor­mat dan puas negara kita berikhtiar un­tuk melahirkan negara Indonesia. “Mereka telah rela mengorbankan ji­wa dan raga. Namun pada pengadilan. Ke­ti­dakpuasan itu diekskini perbuatan pa­ ra oknum penegak hukum malah me­ presikan dengan pe­rilaku main hakim sendiri. ngotori kemerdekaan,” tutupnya. v Nelly

Hukum

K

kut Korupsi Penegak Hukum Tersang

29


Ekonomi

ANTARA/IRSAN MULYADI

China-Malaysia Bangun Sawah Rp20 Triliun

Kedaulatan Pangan RI Terancam Pangan ibarat benteng terakhir yang memagari negeri ini dari gempuran asing. Sehingga bila sektor pangan goyah, maka kedaulatan negara berada dalam ancaman besar.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

I

30

NDONESIA yang pernah mengklaim sebagai negara agraris, sekaligus negeri maritim, kini berada da­ lam ancaman menakutkan ketika se­jumlah perusahaan asing ber­ niat meng­ inves­ tasikan dananya dalam jumlah besar untuk sektor pangan. Terlebih ketika mereka berbondongbondong datang untuk satu tujuan menggarap pasar domestik yang terus ber­kembang pangsanya. Gempuran di sektor pangan itu pada dasarnya tinggal menunggu waktu, apalagi menjelang pemberlakuan era pasar bebas ASEAN yang tidak lagi mengenal batas negara dalam memasarkan komoditas. Ancaman itu bukan isapan jempol, manakala November akhir tahun ini, investor patungan China-Malaysia akan membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu di Su­­bang, Jawa Barat, dengan nilai in­ vestasi US$2 miliar atau setara Rp20 triliun. Perusahaan China itu berharap bisa memasuki pasar pangan di Tanah Air, sekaligus memenuhi pa­ sok­an beras domestik. Harus Alih Teknologi Ketua Badan Pertimbangan Orga­ nisasi (BPO) Himpunan Kerukunan Ta­ni Indonesia (HKTI) Ahmad Mubarok me­

Ahmad Mu­barok

SP/LUTHER ULAG

nga­takan, investasi tersebut kalau tidak disertai dengan alih teknologi ti­dak akan mendatangkan keuntungan yang berarti bagi masyarakat di Tanah Air.     “Kalau mau menggarap pasar pa­ ngan kita, harus ada alih teknologi di da­lamnya. Jika tidak, maka se­ma­ngat ke­mandirian itu tidak akan pernah ter­­ bangun,” kata Ahmad Mu­barok di Ja­ karta awal pekan ini. Ia mengatakan, investasi tersebut memang potensial untuk mendongkrak sektor pertanian Indonesia, tetapi bisa berpotensi untuk mengerdilkan peran

petani di Tanah Air. Padahal, sejak zaman Presiden Soe­­­ karno hingga Presiden Megawati, pe­ nge­ lolaan lahan sawah yang masuk da­lam sek­tor penguasaan hajat hidup orang ba­nyak, jelas-jelas dikategorikan da­lam Daf­tar Negatif Investasi (DNI). Itu ar­ti­nya obyek atas investasi tersebut ti­ dak bisa dimasuki oleh pemodal asing, ka­rena menyangkut kepentingan vital bangsa. Liberalisasi Sawah Sayangnya, kini penguasaan lahan sawah telah juga diliberalisasi menjadi investasi terbuka pada asing. Padahal kondisi itu dinilai banyak pihak bisa mengancam masa depan ketahanan pa­ngan Indonesia. Dengan masuknya investor asing, petani-petani terancam akan se­makin menjadi buruh tani. Petani lokal hanya menge­lola lahan yang berada di bawah pe­ngua­saan asing. Ini juga berpotensi mengancam status sawah yang se­ mula merupakan bagian dari tradisi ke­pemilikan kolektif, atau bagian dari warisan adat, menjadi sebuah in­ dustri yang padat modal. Selain itu, penguasaan lahan sawah oleh asing menjadi ancaman bagi Indo­ nesia un­ tuk terus tunduk pada penguasa modal asing. v Dara

Dengan masuknya investor asing, petani-petani terancam akan semakin menjadi buruh tani yang mengelola lahan yang berada di bawah penguasaan asing.


Dahlan Iskan

JIBI PHOTO

KEHADIRAN Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dalam acara penandatanganan kerja sama Optimization of Agriculture Cultivation for 50.000-1.000.000 hectares area in Indonesia, antara perusahaan patungan China-Malaysia, Liaoning Wufeng Agricultural-Amarak dan PT Tri Indah Mandiri itu ibarat restu pemerintah terhadap penguasaan modal asing di bidang persawahan. Memang, Liaoning Wufeng

Agricultural, perusahaan perkebunan China, seperti dilansir Malaysia Chronicle, sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Malaysian Amarak Group dan perusahaan lokal Tri Indah Mandiri pada 21 Juli 2013 untuk menggarap 50.000 hektar lahan sawah di Subang. Mereka bakal menggarap komoditas padi dan kedelai. Hasilnya, sebanyak 80 persen di antaranya akan dilepas ke pasar domestik. Usai menyaksikan penandatanganan, Dahlan Iskan mengatakan, potensi lahan pertanian di Indonesia mencapai 60 juta hektar. “Untuk bisa mengembangkan 60 juta hektar lahan pertanian itu butuh keroyokan, tidak bisa BUMN bergerak sendiri,” katanya. Dahlan mengakui kerja sama swasta dengan investor asing merupakan proyek kompetitor bagi perusahaan BUMN, namun di sisi lain kerja sama semacam itu dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional. “BUMN tidak akan ikut masuk dalam kerja sama ini. BUMN tetap mengembangan lahan pertanian yang selama ini telah berjalan. Namun kerja sama ini tetap dapat menjadi ladang bisnis bagi

perusahaan BUMN, misalnya dalam hal penyediaan pupuk dan benih,” katanya. Fakta itu menjadi ironi tersendiri manakala cita-cita untuk berswasembada beras menuju kemandirian pangan masih terus tertatih-tatih hingga saat ini.

Ekonomi

Restu Dahlan Iskan

Perlu Konsep Besar Meski Liaoning Wufeng Agricultural, perusahaan perkebunan China, yang akan berinvestasi di Indonesia tersebut telah menyatakan akan memberikan transfer ilmu pengetahuan pertanian kepada peta­ ni, termasuk dalam mengembangkan pro­duk turunan padi dan kedelai, namun isu kedau­latan pangan tetap menjadi bahasan utama. Memang, Ma Dian Cheng, Chief Executive Wufeng, menegaskan perusahaannya juga akan memproduksi cuka beras dan minyak olahan beras. Setelah menghasilkan minyak, sekam padi akan dibakar untuk menghasilkan listrik guna keperluan penggilingan padi, dan hasil abunya yang mengandung silika dapat digunakan untuk industri ban. Tetapi tetap saja, hal itu tidak sepadan dengan apa yang diperoleh Indonesia dalam kerja sama tersebut. v Dara

Jangan Hanya Jadi Sapi Perah Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

KERJA sama pengelolaan pangan jangka panjang untuk meningkatkan dari investor asing China-Malaysia juga produksi pangan dalam negeri. Solusi itu di mendapat tanggapan dari anggota DPR RI antaranya dengan cara membuka areal-areal Komisi IV Siswono Yudo Husodo. Menurut per­tanian baru yang luas, terutama di luar anggota Dewan Penasihat Himpunan Jawa. Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pimpinan Jika Indonesia masih saja bergantung Oesman Sapta ini, Indonesia tidak bisa pada asing, me­nurut dia, kemandirian selamanya menjadi sapi perahan dan pasar pangan akan semakin sulit di­wujudkan. bagi negara lain. “Indonesia semakin tidak mandiri dalam Indonesia, kata dia, memerlukan so­ hal pa­ngan, bayangkan hampir semua lusi jangka panjang menuju ke­mandirian kebutuhan pokok kita itu diimpor,” katanya. pangan nasional. Ia mencontohkan, Indonesia masih Menurut anggota Dewan Penasihat mengimpor seti­daknya 1 juta ton beras Himpunan Kerukunan Tani Indonesia setiap tahun, gula 1,5 juta ton, ke­delai 1,7 (HKTI) pimpinan Oesman Sapta ini, ton, daging 80.000 ton, belum lagi buahSP/YC KURNIANTORO Indonesia jangan terus bergantung pada buahan. Siswono Yudo Husodo investasi asing dalam hal pangan. “Kita “Ga­ram kita juga masih mengimpor, bahkan harus mencari solusi yang mampu menyejahterakan separuh dari kebutuhan nasional,” katanya. rakyat, petani, dan nelayan dalam jangka panjang,” kata Perlu sebuah konsep besar dari pemimpin besar mantan menteri transmigrasi era Soeharto ini. yang memiliki lan­g­kah besar dalam bidang ketahanan Pemerintah, lanjutnya, harus memikirkan solusi pangan. v Dara

31


Ekonomi

Banjir Impor di Era Pasar Bebas

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Ancaman Produk Dalam Negeri

32

Banjirnya produk impor sejak era perdagangan bebas diterapkan menjadi salah satu indikator lemahnya daya saing produk lokal. Kondisi itu diperparah oleh gejala semakin meredupnya kebanggaan bangsa terhadap produk buatan dalam negeri.

Produk buah impor di Pasar Buah Glodok, Jakarta Barat. SP/LUTHER ULAG


Fokus Pasar Lokal Era pasar tunggal ASEAN seperti halnya kesepakatan perdagangan yang lain tidak mungkin terelakkan. Pi­ lihan Indonesia saat ini hanyalah me­ nyiapkan strategi yang tepat untuk bisa memanfaatkan peluang dan tan­ tangan di era itu.

LEKAD.ORG

Meningkatkan daya saing dengan me­manfaatkan keunggulan kompetitif yang dimiliki adalah jawaban yang pasti. Indonesia memiliki jumlah penduduk besar, dengan sumber daya alam yang melimpah, dan posisi strategis di kawasan Asia merupakan modal yang cukup untuk memenangkan per­ saingan. Hal itu hanya perlu ditunjang dengan koordinasi yang baik antara se­ mua pemangku kepentingan. Deputi Bidang Pengkajian Sumber Daya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta berpendapat, Indonesia harus fokus untuk meng­ garap pasar lokal menjelang diberla­ku­ kannya era pasar tunggal ASEAN. “Kita harus fokus untuk menggarap pasar domestik kita yang besar, sebab jumlah penduduk kita ada­lah 60 per­ sen dari total se­ luruh populasi pen­du­duk ASEAN yang men­ capai 600 juta jiwa,” kata I Wayan Dipta. Hal itu merupakan sa­ lah satu strategi lain yang di­­ang­gapnya tepat un­tuk menangkal banjirnya pro­ duk im­por di pasar do­mes­ tik. Menggarap pasar lokal dengan optimal juga berarti menghentikan upaya asing untuk menjadikan In­do­nesia sebagai pasar bagi produk mereka. Kecintaan produk da­­ lam negeri, kata dia, ju­ga harus mulai ditanamkan dalam be­ nak masyarakat di Tanah Air. “Kita harus

SP/LUTHER ULAG

Bawang putih impor dari Cina di Pasar Induk Kramatjati, Jaktim.

Agustus 2013

“Kita harus fokus untuk menggarap pasar domestik, sebab jumlah penduduk kita 60 persen dari total penduduk ASEAN yang mencapai 600 juta jiwa.”

Membangun Konektivitas Asisten Staf Khusus Presiden Bi­ dang Ekonomi dan Pembangunan Eddy Cahyono Sugiarto berpendapat, fenomena merebaknya produk impor di pasar domestik, dapat dijadikan bukti bahwa produk yang memiliki daya saing tinggi dan harga yang kompetitif dapat merajai pasar dan mengalahkan produk lokal. “Dari fenomena tersebut dapat dipetik pelajaran berharga bahwa da­ lam persaingan pasar bebas, dituntut membangun keunggulan inti dengan membangun daya saing,” katanya. Daya saing itu juga pada akhirnya ber­muara pada pembangunan ko­nek­­ tivitas yang baik agar bisa mem­ peroleh efisiensi bia­ya produksi dan mene­kan ekonomi biaya tinggi. v Dara

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Daya Saing Melemah Lemahnya daya saing secara na­ sio­ nal sebelumnya, juga tercermin dari laporan World Economic Forum (WEF) pada 2012 yang mencatat, dari 144 negara, indeks daya saing global Indonesia turun dari peringkat 46 pa­ da 2011 menjadi urutan 50. Salah sa­tu penyebab pelemahan daya saing nasional ini diperkirakan adalah mi­ nimnya inovasi sebagai salah satu indi­ kator penilaian daya saing. Minimnya inovasi terlihat dari catatan World Intelectual Property Or­ ganization (WIPO), indeks inovasi global Indonesia hanya menduduki peringkat 100 (dari 141 negara), sebelumnya men­ duduki peringkat 99 (dari 125 negara), di bawah peringkat negara Asia Tenggara Iainnya, seperti Thailand (57), Brunei (53), dan Malaysia (32). Kondisi ini harus segera dibenahi jika Indonesia tidak ingin tertinggal di era pasar tunggal ASEAN 2015.

I Wayan Dipta

sadar bahwa produk kita secara kualitas tidak kalah dengan produk buatan luar,” katanya. Ia mencontohkan, beberapa produk buatan lokal seperti garmen, kerajinan tangan, dan furnitur Indonesia justru sangat diminati di Korea Selatan dan China. Pihaknya menyadari daya saing produk Indonesia menjadi t­urun lantaran persoalan konektivitas dan infrastruktur yang masih belum ter­ bangun optimal. “Ini yang memang menjadi masa­ lah, kita masih kesulitan dalam hal in­ frastruktur, misalnya bagaimana meng­ efi­sien­kan dalam mengirimkan pro­duk dari Maluku ke Singapura,” ka­tanya. Wayan menyatakan pemerintah akan terus bersinergi lintas sektoral un­ tuk meningkatkan daya saing pro­duk di Indonesia termasuk untuk mem­­bangun infrastruktur yang mema­dai.

Ekonomi

J

ELANG berlakunya pasar tunggal ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) 2015, daya saing produk Indonesia ternyata masih tertinggal dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh Ketua ASEAN Competitiveness Institute (AEI) Soy Pardede belum lama ini. Tercatat saat ini, Indonesia berada pada peringkat ke-46 dari seluruh ne­ gara di dunia dalam hal daya saing produk. Dibandingkan beberapa negara tetangga ASEAN, peringkat Indonesia belum terlampau membanggakan, meng­ingat Singapura berada di nomor 2, Malaysia 21, Thailand 39, Vietnam 65, dan Filipina 75. “Ada 10 negara daya saing tertinggi di dunia yaitu Swiss, Singapura, Swe­ dia, Finlandia, AS, Jerman, Belanda, Denmark, Jepang, dan Inggris,” kata­nya. Rendahnya daya saing produk lokal itu, tentu akan menjadi tantangan dan ancaman besar bagi Indonesia un­ tuk bertarung dengan negara-negara ASEAN lain di era pasar tunggal tersebut.

33


Ekonomi

NASIONALISME LUNTUR, PICU PENYIMPANGAN

Masyarakat Ogah Pakai

Produk Dalam Negeri Ketika seseorang baru saja memulai aktivitasnya di pagi hari, inilah umumnya yang akan dilakukan; meneguk air mineral buatan Prancis, memanggang roti racikan Malaysia, mengecek ponsel buatan Kanada, menoleh ke arah jam yang dibuat di pedalaman China, hingga mengendarai kendaraan buatan Jepang.

I

negeri yang berdaulat secara ekonomi pun terasa semakin sulit manakala berhadapan langsung dengan ujian makin terkikisnya nasionalisme bangsa itu. Guru Besar Fakultas Ekonomi Uni­ versitas Indonesia, Prof. Dr. Sri Edi Swasono mengatakan lunturnya ra­ sa cinta terhadap bangsa memicu ter­ jadinya penyimpangan, salah

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

RONI itu rupanya telah terjadi selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka hingga kini. Masyarakat di Tanah Air telah dikondisikan begitu biasa untuk menikmati kemudahankemudahan yang ditawarkan produk yang diimpor dengan harga murah. Akibatnya nasionalisme terhadap produk buatan lokal terasa semakin luntur. Jalan terjal Indonesia menjadi

satunya dalam bidang perekonomian. “Salah satu gejala yang terjadi saat ini banyak masyarakat yang enggan menggunakan produk lokal dan memilih produk asing,” katanya. Padahal, sebagai bangsa yang besar, Indonesia sudah semestinya mencintai produk dan menggunakan barang hasil in­ dustrinya sendiri. Itu semata agar pro­ duk tersebut mampu menguasai pa­ sar dalam negeri dan mampu me­ nem­bus pasar internasional. Sayangnya, saat ini produk dalam ne­geri justru harus berperang di negeri sendiri, bersaing langsung dengan poduk asing, di tengah semakin lebih di­minatinya produk impor yang murah.

34

Handphone Impor dari China membanjiri pasar Indonesia

SP/LUTHER ULAG


“Karena itu, peran pemerintah sa­ ngat dibutuhkan, jangan lagi menganut pa­ ham barat. Sehingga sistem per­ ekonomian di Indonesia berjalan sesuai keadaan kita,” katanya.

KEMANDIRIAN ekonomi pada dasarnya dapat dibangun jika dasar nasionalisme bangsa telah kuat. Oleh karena itu Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mendorong masyarakat di Indonesia untuk menumbuhkan rasa nasionalisme terhadap produk buatan lokal. “Sudah seharusnya kita sebagai warga negara memiliki rasa nasionalisme yang tinggi termasuk dalam hal konsumsi produk. Utamakan untuk menggunakan produk buatan lokal,” kata Sjarifuddin Hasan. Ia mendorong masyarakat untuk cinta produk dalam negeri sebagai salah satu dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut menteri, jika semakin banyak masyarakat menggunakan produk dalam negeri hal itu akan menggerakkan industri domestik semakin laju.

“Industri lokal akan berkembang, hasilnya akan kembali ke kita juga,” katanya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penum­buhan rasa nasionalisme produk lokal itu untuk mencapai perkembangan ekonomi yang menyejahterakan. “Ingat bahwa China itu perekonomiannya bisa tumbuh sampai 7,7 persen karena konsumsi domestik mereka yang tinggi,” katanya. Hal itu, menurut dia, mungkin saja terjadi di Indonesia mengingat jumlah penduduk di Tanah Air yang begitu besar atau 60 persen dari total penduduk ASEAN sebesar 600 juta jiwa. v Dara

WW

W.SM E

SCO

INDO

NES

IA.C OM

Agustus 2013

Ketergantungan Fakta itu mencerminkan betapa ketergantungan atas produk impor In­ donesia yang demikian tinggi sementara kinerja ekspor justru menurun. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan

Nasionalisme Produk Lokal

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Bagaikan Mati di Lumbung Padi Pertumbuhan perekonomian In­ do­nesia beberapa tahun terakhir dila­ porkan cukup signifikan, hingga men­ capai angka 6,3 persen. Pertumbuhan yang tinggi ini masih di­dominasi oleh faktor konsumsi rumah tangga. Ini menandakan bahwa tingkat produktivitas belum mendominasi to­ tal PDB (Produk Domestik Bruto) In­ do­ nesia. Para ekonom berpendapat, jika tingkat konsumsi masyarakat In­ donesia tidak digiring ke produksi ma­ ka akan memberi dampak yang buruk bagi per­ekonomian Indonesia. Produksi domestik yang kurang ini meng­akibatkan tingginya nilai impor ke In­donesia. Ironisnya lagi meski sumber da­ya alam Indonesia berlipah, baik da­ rat maupun laut, namun tidak dapat me­menuhi kebutuhan dalam negeri. “Indonesia bagaikan ‘mati di lum­ bung padi’, dengan kekayaan yang be­ gitu melimpah, impor bahan-bahan po­ kok seperti beras, bahkan garam pun menjadi komoditas impor,” kata peng­ amat ekonomi pangan Siswono Yudo Husodo. Menurut dia, pemerintah harus me­nerapkan kebijakan yang berpihak pa­ da rakyat untuk mendorong per­ tumbuhan perekonomian dalam negeri dan memiliki konsep besar untuk kem­ bali pada cita-cita ekonomi bangsa. Data laporan tahunan yang diliris Bank Indonesia (BI) menyebutkan, bahwa nilai impor Indonesia prakrisis yang melanda Amerika Serikat sebagai salah satu negara eksportir terbesar ke pasar domestik cenderung stagnan. Namun peningkatan yang paling ra­di­ kal terjadi pascakrisis tersebut adalah naiknya impor Indonesia hingga mencapai angka mencapai US$190,04 miliar selama 2012, atau turun 6,61 persen dibanding periode sama 2011 yang mencapai US$203,5 miliar.

Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muhammad Taufik mengatakan, pe­ merintah tidak bisa sepenuhnya di­sa­ lahkan atas apa yang terjadi saat ini. “Pemerintah yang sekarang ada­ lah korban dari kebijakan pe­ nan­ da­ ta­ nganan IMF pada masa lalu. Itu sumber malapetaka bagi bangsa kita, sehingga saat ini kita sulit bergerak akibat aturan yang menghambat ki­ta menjadi bangsa

yang mandiri,” ka­tanya. Menurut dia, untuk menjadi bangsa yang mandiri seluruh tata aturan kini dalam bernegara harus dikembalikan pada aturan dasar seperti semula. “Ki­ ta harus kompak merumuskan kem­ bali tata aturan yang mendukung ki­ta menjadi bangsa yang mandiri,” ka­ ta­ nya. Ia mengatakan, siapa pun yang kini berkuasa hanya sedang melaksanakan atur­an dan sistem yang pernah dilak­ sa­ nakan kepada Indonesia sehingga akan sulit baginya untuk mewujudkan suatu kebijakan yang mendorong ke­ man­dirian bangsa. v Dara

Ekonomi

Pemerintah yang sekarang adalah korban dari kebijakan pe­nan­datanganan IMF pada masa lalu. Itu sumber malapetaka bagi bangsa kita.

35


Ekonomi

Blok Mahakam memang sangat potensial dan strategis. Saat ini produksi gas dari blok tersebut memasok 25-30 persen kebutuhan gas nasional dan 8 persen kebutuhan minyak.

Galau Pemerintah

di Blok Mahakam

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

S

36

ATU blok minyak dan gas (migas) dengan cadangan raksasa akan berakhir kontraknya pada 2017, yakni Blok Mahakam, di Kalimantan Timur. Saat ini Blok Mahakam dikelola perusahaan migas dunia asal Prancis, Total E&P Indonesie. Idealnya, lima tahun sebelum kon­ trak berakhir, pemerintah telah mem­ beri keputusan apakah akan mem­ perpanjang kontrak lama, ataukah me­nye­­rah­­kannya pada pihak lain. Per­ ta­mi­na selaku satu-satunya BUMN mi­ gas pun telah menyatakan kesang­gup­ annya mengambil alih. Nyatanya, hingga pertengahan 2013, pemerintah belum juga berani me­ngeluarkan satu putusan final. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengaku pihaknya sampai sekarang belum membuat ke­ pu­tusan terkait nasib Total E&P Indo­ nesie di Blok Mahakam. “Untuk Total, saya katakan, kepen­ tingan Indonesia harus diutamakan. Tetapi kepentingan Total harus juga serius dipertimbangkan,” kata Wacik usai menerima Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius di Jakarta, awal Agustus. Wacik beralasan, hingga saat ini pihaknya masih mengkaji pengelolaan Blok Mahakam. Pasalnya, pengelolaan blok ini membutuhkan teknologi tinggi dan investasi yang cukup besar. Selain itu, pemerintah masih mencermati ma­ sukan dari masyarakat luas. Blok Mahakam memang sangat po­ tensial dan strategis. Saat ini produksi gas dari blok tersebut memasok 25-30 persen kebutuhan gas nasional dan 8 persen kebutuhan minyak. Vice President Human Resources, Communications and General Servi­ ces Total E&P Indonesie, Arividya No­ viyanto mengatakan, kepastian dari pemerintah sangatlah penting ba­ gi Total, mengingat pihaknya ha­ rus mempersiapkan investasi dan tek­ nologi. “Siapa pun yang mengelola blok ini akan sulit kalau waktunya mendesak. Persiapan harus dilakukan sedini mungkin,” katanya. Total pun, ujar Novi, tidak ke­ beratan menegosiasikan kembali split atau bagi hasil pengelolaan Blok Ma­ hakam dengan pemerintah. “Soal split kita biasa, tapi tentu saja kita tidak

SETKAB.GO.ID

akan lari dari hitungan keekonomian,” terangnya. Novi mengatakan pihaknya sung­ guh-sungguh akan menanamkan in­ vestasi US$7,3 miliar di Blok Mahakam jika kontraknya diper­ pan­ jang. “Kalau toh ke depan akan ada pergantian pengelolaan, menurut ka­ mi masa transisi itu penting, ibarat se­buah pesa­ wat yang akan ganti pilot, tentu pilot yang lama akan mem­berikan informasi hal apa saja yang harus diperhatikan, agar pesawat da­ pat diterbangkan de­ ngan layak,” ujar Novi. Isu Nasionalisasi Terpisah, Direktur Eksekutif Refor­ Miner Institute, Priagung Rakhmanto mengatakan kontrak Blok Mahakam menjadi isu besar, karena mencuatnya dikotomi nasional vs asing dan label nasionalis vs tidak nasionalis. Pri Agung menambahkan, Blok Ma­ hakam menjadi rebutan, karena negara tidak secara konsisten menjalankan politik kemandirian dan kedaulatan mi­­gas, dan itu sudah berlangsung se­ jak lama. Sebagai jalan tengah, dia meng­

usul­kan Total tetap mendapatkan ke­­ sem­ patan mengelola di sana se­ lama 5 tahun, bersama Pertamina, de­ ngan status kontrak baru, bukan per­ pan­ jangan. Selanjutnya, Pertamina bisa ma­ suk sebagai operator penuh di Blok Mahakam pasca 2022. “Selama lima tahun itu, adalah masa transisi, per­ siapan operator baru untuk mengelola Blok Mahakam. Dan yang lebih pen­ ting, putuskan tahun ini juga, jangan dibawa ke 2014,” tegas Pri Agung. Dia khawatir, semakin banyaknya muatan politik, jika finalisasi nasib blok itu sampai menyeberang ke 2014. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengatakan, Pe­merintah Indonesia dan Pemerintah Prancis telah menandatangani ker­ja­sa­ ma strategis dua tahun lalu. Pihaknya mulai secara riil mengimplementasikan kerja sama dua negara tersebut. Ter­ masuk di sektor energi dan sumber daya mineral yang berkembang cepat. “Total E&P sudah lama berinvestasi di Indonesia, karenanya kami ya­ kin Pemerintah Indonesia akan membe­ ri­ kan keputusan terbaik,” kata dia. v TS

Blok Ma­hakam menjadi rebutan, karena negara tidak secara konsisten menjalankan politik kemandirian dan kedaulatan mi­­gas, dan itu sudah berlangsung se­jak lama.


Memimpin

Kantor Oranye I Ketut Mardjana memang mumpuni. Setelah berhasil mentransformasikan kantor pos, dia juga piawai menyiapkan pengganti. Awal Agustus lalu, ia pensiun sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pos Indonesia. Dia digantikan Budi Setiawan, Direktur Teknologi dan Jasa Keuangan.

I

I Ketut Mardjana yang terpaksa dipensiunkan bulan lalu. Sudah beberapa kali masa jabatannya diperpanjang. Namun karena sudah melewati empat tahun batas pensiun, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mau tak mau harus menyerah. I Ketut mampu membuat jalan tol, bahkan jalan layang, untuk pengiriman barang dan uang yang merupakan kerja pokok perseroan milik negara ini. Belakangan, Dahlan tak lagi demam setelah mengetahui riwayat hidup Budi Setiawan yang menggantikan I Ketut sebagai direktur utama PT Pos Indonesia. Ketut benar-benar

Agustus 2013

IST

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Ketut Mardjana disebut berhasil memimpin BUMN yang tertinggal. Lalu mengubahnya sesuai dengan selera konsumen. Setara dengan kantor pos di luar negeri. Lem kertas tak lagi berserakan di kantor Pos Indonesia cabang Kota Bogor. Antrean untuk mengirim surat yang biasanya mengular juga tiada. Tata letak dan suasana dalam ruangan begitu lapang serta nyaman. Sejumlah orang yang hendak mengirim uang juga cukup menunggu panggilan melalui pengeras suara. Begitu dipanggil, mereka tinggal mendekati loket yang sudah disulap interiornya mirip pelayanan loket di bank. Petugas pos memberi surat tanda telah mengirim sekaligus nomor pengambilan. Yang menarik, penerima uang dapat seketika mengambil uangnya, asalkan pengirim memberitahukan nomor pengambilan. Terobosan ini terjadi berkat penggunaan teknologi informasi. Penantian kedatangan wesel yang dirindukan sudah tinggal cerita. Wajah PT Pos Indonesia sudah berubah. Tak hanya kantor pos cabang Kota Bogor, namun juga kantor lain di seluruh Indonesia. Bangunan tua yang terkesan suram, sudah bertabur warna oranye jeruk. Segar dan menyejukkan mata. Apalagi kantor pos cabang Kota Bogor bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor, berkunjung ke kantor pos pun layaknya rekreasi. Revolusi kantor pos itu tak lain adalah berkat jasa kepemimpinan

pemimpin yang baik. Dia sukses menemukan kader pada diri Budi Setiawan. Saat masih dipimpin Ketut, Budi merupakan salah satu andalan Ketut dan dipercaya menjadi Direktur Teknologi dan Jasa Keuangan. Sebagai bukti, Budi langsung membeberkan rencana kerjanya dalam mengembangkan jasa pengiriman barang dan uang ini. “Saya akan membawa perseroan ini mendunia dan lebih modern lagi,” ujarnya. Lima tahun ke depan Budi menargetkan PT Pos Indonesia menjadi basis teknologinya pada digital office. “Pos menjadi sangat kental dengan sentuhan teknologi. Nantinya, Pos bisa di mana saja dan kapan saja kita layani. Jenis pelayanan pun makin beragam,” kata Budi optimistis. Dia bahkan mengumpamakan bahwa pelayanan barang dan uang secepat kedipan mata. Kinerja perseroan semester I menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data yang diperolehnya, perseroan mencatat laporan kinerja pada semester I/2013 dengan membukukan pendapatan Rp1,8 triliun. Meningkat dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp1,7 triliun. “Kinerja semester I saat dipimpin Pak Ketut meningkat cukup bagus, saya mau buat Pos makin berkembang lagi. Kinerja semester I sejauh ini sudah cukup baik, tahun lalu Rp1,7 triliun, tahun ini Rp1,8 triliun,” ucap Budi. Peningkatan pendapatan Pos Indonesia pada semester I/2013 disumbang produk-produk surat sebesar 55 persen, jasa keuangan 32 persen, logistik 8 persen, dan sisanya ritel serta properti 5 persen. Budi berjanji akan melakukan revolusi jilid II di PT Pos Indonesia. Ia ingin meneruskan inovasi-inovasi yang sudah dilakukan I Ketut. v sy/sh

Advertorial

Budi Setiawan

37


Daerah Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

KADIN

38

ILUSTRASI: SP/ARIFIN

SBS Gagal Bangun Komunikasi dengan Pengusaha Daerah Kegagalan Suryo Bambang Sulisto (SBS) dalam membangun komunikasi yang baik dengan para pengusaha di daerah berujung pada pemecatan dirinya sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

P

EMECATAN SBS melalui Mu­ sya­ warah Nasional Luar Biasa (Mu­naslub) yang sah pada akhir April 2013 di Pontianak Kalimantan Ba­rat, menjadi pelajaran berharga ba­ gi siapa pun yang sedang memangku ama­nah memimpin suatu organisasi. Seorang pemimpin sudah se­ mes­ ti­ nya mementingkan urusan anggota,

bu­ kan justru menyelewengkan demi ke­pentingan pribadi. Namun, faktanya hal itulah yang ter­jadi dalam kasus SBS yang sempat me­ mimpin Kadin sejak 2010 hingga Ap­ ril 2013 itu. SBS yang pernah be­ kerja di perusahaan Bakrie itu dinilai oleh banyak pengusaha di daerah te­lah nyata-nyata menyelewengkan ke­ kua­


vi­­sio­ner. Kedua, pe­nyem­purnaan lan­­das­an hukum Ka­din de­ngan me­ rivisi UU Nomor 1 Ta­ hun 1987 ten­ tang Kamar Dagang dan Industri agar menjadi landasan struk­ tural Kadin menjadi lebih relevan de­ ngan tantangan dan si­tuasi terkini. Ke­­tiga, kematangan dan kapabilitas ang­­ gota Kadin di­ting­katkan, keempat ke­­ beranian mela­kukan ino­vasi, dan ke­­ lima soal pengembangan ka­ derisasi yang berkelanjutan. SBS pernah mengungkapkan ten­ tang perlunya kehadiran generasi peng­ usaha-pengusaha baru untuk me­ningkatkan produktivitas sekaligus se­bagai upaya untuk mendorong tum­ buhnya pengusaha baru di daerah. “Revitalisasi yang bersandar pa­ da lima hal di atas kata SBS akan men­ do­ rong terwujudnya sebuah sistem eko­no­mi yang lebih adil yang dimotori oleh du­nia usaha. Dia bahkan berkata se­mua daerah dengan dimotori Kadin Dae­­rah bersama-sama menjadi solusi ba­­gi pembangunan yang menciptakan ke­makmuran bagi Indonesia. Tapi ini se­ mua sudah diing­ kari,” kata Barry Djadid. v Dara

SP/LUTHER ULAG

Agustus 2013

Noer Ach­mad Af­fandi, Ketua Kadin DIY

KEPUTUSAN pemberhentian sepihak se­jumlah pengurus Kadin Daerah oleh SBS terbukti tidak sesuai dengan Ang­garan Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang berlaku. “Oleh karena itu kepengurusan Ka­din di NTB yang masih berlaku sampai 2014 itu akan tetap jalan,” kata Barry Djadid. Ia mengatakan, Surat Keputusan (SK) pem­berhentian yang dikeluarkan SBS pa­da 27 April 2013 sudah tak ber­laku. Meng­ ingat, sehari se­be­lumnya, pada 26 April 2013, kepengurusan Kadin Indonesia yang meng­atasnamakan Sur­yo Bambang Sulistiyo sebagai Ketua su­dah dinyatakan tidak sah. Hal itu berdasarkan hasil Mu­ naslub di Pontianak, Ka­li­man­tan Barat, da­lam fo­rum yang memenuhi kuo­rum ka­rena di­ikuti lebih da­ri dua pertiga pengurus pro­vinsi di In­donesia. Ketua Kadin DIY Noer Ach­ mad Af­fandi me­nga­ta­kan pa­ra pengusaha di daerah te­lah sepakat bah­wa SBS me­­mang lebih ba­ik dipecat dan di­berhentikan melalui me­kanisme Mu­nas­lub, karena telah melakukan ba­nyak pelanggaran yang prinsip. “SBS justru terbukti melanggar AD/ART karena mencopot beberapa ketua Ka­din daerah tanpa melalui prosedur yang jelas. Pencopotan tidak sesuai de­ngan anggaran dasar dan anggaran ru­mah tangga Kadin yang mengatur bah­wa pencopotan keanggotaan ba­ru bisa dilaksanakan setelah ada su­rat peringatan. Namun hal yang ter­jadi pen­copotan keanggotaan ter­jadi be­gitu saja tanpa mekanisme su­­rat peringatan. Ar­ ti­nya SBS telah me­­langgar AD/ ART Kadin,” ka­ta Nur. v Dara

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

saan dan kewenangannya untuk ke­ pentingan sendiri. SBS dianggap menggunakan posisi stra­tegisnya sebagai Ketua Umum Ka­ din, untuk mendekati para pejabat agar bisa mengembangkan usaha-usa­­­ ha yang dinakhodainya sendiri. Pa­ ra pengusaha di daerah mengaku te­ lah hafal betul tabiat SBS yang ingin se­ la­ lu mengekor perjalanan dinas para pe­­ jabat, sembari melakukan lobi-lobi bis­­ nis untuk kepentingannya sendiri, bu­kan untuk kepentingan anggota Ka­ din lainnya. Ketua Kadin Nusa Tenggara Barat (NTB) Barry Djadid bahkan menghujat SBS yang telah mengingkari janjinya sen­diri untuk selalu prodaerah. “Se­­­be­ lum terpilih, SBS berjanji akan mem­­ berikan prioritas perhatian pada Ka­din Daerah, mengingat dalam waktu ter­ akhir banyak Kadin Daerah yang ma­ti suri. Padahal peluang usaha se­ sung­ guhnya ada di daerah. Tapi ini sama se­kali tidak dijalankan,” katanya. Menurut dia, SBS yang ketika itu masih mendapatkan kesempatan un­­ tuk memimpin Kadin Indonesia, mes­ tinya bisa menghidupkan dinamika usaha di daerah. “Intinya saya menangkap harapan dan tuntutan yang sangat besar ter­ hadap peran dan fungsi Kadin, agar da­ pat memberikan perhatian lebih besar kepada perekonomian dan percepatan pembangunan di daerah,” katanya. Selama ini para pengusaha di daerah, kata Barry, selalu meng­ ha­ rapkan sosok pemimpin di Kadin In­ d­ o­ nesia sebagai tokoh yang memiliki kon­ sistensi dan mengayomi daerah, me­miliki konsep yang tegas, dan men­ dorong regulasi yang mengarah pada ter­ bentuknya iklim yang kondusif di dae­rah. “Ternyata kriteria tersebut sa­ ma tidak ada pada SBS,” tuding Barry Djadid dengan nada tinggi. Sebelum terpilih men­jadi Ketua Ka­din Indonesia, SBS banyak meng­ umbar janji. Namun tak satu pun yang di­buktikannya. Ia juga pernah me­ lontarkan lima hal kru­­ sial untuk mere­vi­ta­­li­ sasi Ka­ din, yakni ke­ pe­ mimpinan yang arif, ber­­­­pengalaman, dan

Lebih Baik Memang Dipecat

Daerah

Sebelum terpilih SBS berjanji akan memberikan prioritas perhatian pada Kadin Daerah, mengingat dalam waktu terakhir banyak Kadin Daerah yang mati suri.

39


Daerah

IST

Warga Muslim Syiah di tempat pengungsian dalam gedung olahraga Sampang, Madura, Jawa Timur.

Rekonsiliasi Syiah,

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Akankah Tercapai?

40

Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan ulama Madura bukan perundingan, namun komunikasi. SBY cuma mendengarkan pemikiran ber­bagai kelompok. Sementara para penganut Syiah baru bisa pulang jika tidak ada lagi intimidasi dan ancaman-ancaman oleh mereka sendiri atau sebaliknya.

S

UDAH hampir setahun pa­ ra penganut ajaran Islam Syiah terusir dari kampung ha­la­man­ nya di Sampang, Madura-Jawa Timur (Jatim). Mereka terusir tepat pada hari kedua perayaan Idul Fitri, tahun 2012 lalu. Pengikut Syiah yang mencapai 220 jiwa atau 69 kepala keluarga (KK) itu dipaksa meninggalkan kampung ha­laman, rumah-rumah di­bakar, dike­ jar, bahkan ada satu orang me­ninggal karena dikeroyok warga. Sejauh ini, alasan pengusiran ha­ nya karena menganut aliran Syiah. Oleh mayoritas masyarakat Madura yang menganut Islam-Sunni, aliran

Syiah dianggap sesat. Karena itu, peng­ ikutnya harus diusir, bila perlu di­len­ yapkan. Pada awal pengusiran, para peng­ anut Syiah ini diungsikan ke ge­ dung olahraga (GOR) Wijaya Ku­suma, Sampang-Madura. Kemudian ak­ hir Juli 2013 lalu, terjadi lagi upaya peng­ usiran terhadap mereka. Maka kini, mereka mengungsi ke Puspa Agro, Si­ doarjo, Jatim. Pada kegiatan Safari Ramadhan yang dilakukan di wilayah Jatim, pekan lalu, Pre­siden SBY sempat memimpin per­ temuan membahas masalah pengungsi Syiah. Pertemuan yang

diadakan di kantor Gubernur Jatim itu bersifat informal, tetapi tertutup untuk media. Separuh menteri Kabinet Indonesia Bersatu II mendampingi SBY seperti Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djo­ ko Suyanto, Menteri Koordinator Per­ ekonomian Hatta Rajasa, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan Menteri Da­ lam Negeri Gamawan Fauzi. Terli­ hat pula Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Pendidikan dan Ke­ budayaan M Nuh, Menteri Pertanian Sus­wono, dan Menteri Sekretaris Nega­ ra Sudi Silalahi. Selain itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono juga ikut hadir. Dari unsur pemerintah daerah Ja­ tim, terlihat Gubernur Jatim Soekarwo. Adapun dari Sampang, Madura ada­lah


Bupati Sampang Fanan Hasib, per­ wakilan ulama Madura dan ulama Syiah. Tampak pula Rektor IAIN Sunan Ampel yang juga Ketua Tim Rekonsiliasi Abdul A’la. Usai pertemuan, A’la menjelaskan rapat fokus membahas kemajuan (progres) upaya pengembalian peng­ ungsi Syiah. Dalam rapat itu, Pre­ si­ den SBY mendengar langsung dan mengevaluasi perkembangan proses re­kon­siliasi. Presiden menginginkan pe­mu­langan dilakukan secepatnya. Bah­­kan, Presiden mengamanatkan bi­ la tidak bisa pulang pada Lebaran ta­ hun ini maka pemulangan paling lam­ bat bulan Desember. Positif Menteri Agama (Menag) Sur­ ya­ dharma Ali (SDA) menjelaskan per­ te­ muan Presiden SBY dengan para ula­ ma Madura berlangsung positif. Me­ nurutnya, arah menuju rekonsiliasi se­makin dekat. “Dalam pertemuan disepakati ada­ nya rekonsiliasi akan dibangun melalui ‘pencerahan’ terhadap para pengungsi guna melakukan persamaan persepsi atas pemahaman keagamaan yang dianut. Proses pencerahan ini akan dila­kukan di perumahan Pus­poargo di Sidoarjo,” kata SDA di Sura­baya, Ju­ mat (2/8) pagi. Menag menjelaskan, pertemuan

Suryadharma Ali

SUARAKAWAN.COM

pada Kamis (1/8) malam merupakan kelanjutan dari pertemuan antara para ulama dengan pengungsi Syiah di Sampang, Madura pada 24 Juli dan pertemuan 25 Juli lalu. Dalam kedua pertemuan ter­ se­ but sudah terlihat keinginan kuat dari kedua belah pihak untuk rekonsiliasi. Hal itu karena tali kekeluargaan dan persaudaraan antara kedua belah pihak masih kuat, baik dari para santrinya maupun ulamanya. “Hasil dari pertemuan-pertemuan sebelumnya adalah telah ada tujuh keluarga yang kembali ke rumah. Mereka disambut baik warga setelah

Agustus 2013

SUARAKAWAN.COM

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

NAHIMUNKAR.COM

proses pencerahan tersebut,” tuturnya. Namun Ketua Umum Partai Per­ satuan Pembangunan ini tidak me­nye­ butkan seperti apa bentuk pencerahan yang dilakukan. Apakah dipaksa meninggalkan ajaran Syiah atau secara sadar meninggalkan ajaran tersebut. Dia juga tidak menjelaskan apakah pencerahan yang dimaksud dalam arti mereka harus menyesuaikan ting­ kah laku dan perbuatan dengan war­ ga sekitarnya, tanpa harus meninggalkan ajaran Syiah. Dia hanya menegaskan pencerahan adalah upaya untuk memudahkan dan mempercepat kembalinya pengungsi syiah ke tempat tinggalnya. Di tempat terpisah, Men­ ko Pol­ hukam Djoko Su­yanto me­nge­mukakan pemerintah ti­­dak bisa mem­beri target ke­­pasti­an keamanan peng­ung­si Syiah kembali ke kam­pungnya di Sampang ter­ masuk saat Lebaran. Me­ nurutnya, pemerintah me­­ mang berharap para warga Syiah kem­ ba­ li ke kampung mereka. Namun proses menuju ke arah tersebut masih dilakukan yaitu lewat re­kon­­siliasi. “Siapa yang memberikan target? Kan memang enggak ada. Percuma kalau dipaksa Lebaran kalau kond­i­si­ nya tidak bagus. Senang kalau cepat pulang tapi enggak aman? Senang enggak teman-teman? Enggak kan?” kata Djoko Suyanto kepada pers di Istana Presiden, Jakarta, awal Agustus. Ia menegaskan para penganut Syiah baru bisa pulang jika tidak ada lagi intimidasi dan ancaman-ancaman oleh mereka sendiri atau sebaliknya. Menurutnya, pertemuan Presiden SBY dengan ulama Madura bukan per­ undingan namun komunikasi. Saat itu, Presiden mendengarkan pemikiran berbagai kelompok. “Tidak diberikan batasan waktu. Pertemuan itu bagaimana me­ nyo­ sia­ lisasikan dan meng­har­mo­nisasikan pandangan-pandangan yang berbeda. Tapi, kedua pihak sepakat akan turn down dan tidak melakukan tindakan kekerasan,” ujarnya. Kita berharap rekonsiliasi segera terjadi. Tetapi persoalannya adalah ula­ma Madura yang berhaluan Sunni memberikan sejumlah syarat dalam rekonsiliasi. Sya­ rat yang paling berat ada­ lah meminta para peng­ ikut Syiah untuk ber­ to­ bat dengan cara me­ ninggalkan ajaran mereka dan meng­ anut ajaran Sunni. Kelompok Syiah sen­ diri su­ dah menyatakan pe­­no­­lakan atas syarat ter­­ se­but. Akan­kah re­kon­siliasi ter­jadi? Ki­ta tunggu sa­ja per­kembangan se­lan­ jut­nya. v Mou

Daerah

Oleh mayoritas masyarakat Madura yang menganut Islam-Sunni, aliran Syiah dianggap sesat. Karena itu, peng­ikutnya harus diusir, bila perlu di­len­yapkan.

41


Iptek

Ingin Berwisata ke Bulan,

Siapkan Rp15 Triliun S

EBUAH perusahaan ruang angkasa swasta di Amerika Serikat (AS) mengumumkan rencana ambisius mereka untuk mengirimkan wisatawan ke bulan pada 2020. Nama Golden Spike akhirnya disematkan setelah baut terakhir diketukkan ke badan The First Transcontinental Railroad yang akan memasarkan setiap misi berisikan dua penumpang dengan harga US$1,5 miliar atau sekitar Rp15 triliun ke bulan. Mantan Direktur Misi Ilmu NASA Alen Stern akan menjadi CEO dan para penasehatnya terdiri dari Manager Shuttle Program NASA Wayne Hale, dan mantan insinyur NASA Homer Hickam. Mereka mengumumkan rencana itu pada peringatan ulang tahun ke40 mendaratnya Apollo 17, sebagai misi berawak terakhir yang mendarat di bulan. “Kami tidak bisa bisa melakukan ini tanpa banyak terobosan yang dibuat NASA ketika menciptakan

Apollo, Shuttle, Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan upaya terkini untuk mendorong perkembangan penerbangan luar angkasa komersial,” kata Chairman Golden

Spike Gerry Griffin. Tujuan penggunaan teknologi yang sudah ada dan roket untuk menjalankan misi itu, semata untuk mempertahankan agar harga misi

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Indonesia Sarang Hacker Terbesar Dunia

42

PARA peretas atau hacker in­ter­ net rupanya telah menemukan ru­ mah barunya untuk menyebarkan ke­kacauan dalam dunia online. Kabar bu­ruknya, sarang hacker itu adalah In­donesia yang kini disematkan sebagai tempat aktivitas hacking terbesar dunia setelah China, pada kuartal pertama 2013. Dalam tiga bulan terakhir 2012, In­donesia hanya menjadi tuan ru­ mah sekitar 0,7 persen seluruh ak­ ti­vitas hacking internet,. Tetapi se­ lama tiga bulan berikutnya angka itu membengkak menjadi 21 persen. Chi­na sendiri tetap menjadi negara su­ perpower global dalam dunia hacking in­ternet, tetapi posisi Indonesia tibatiba meningkat dalam tabel yang meng­indikasikan bagaimana difusi ja­ringan hacker di seluruh dunia bisa mengeksploitasi kelemahan-ke­le­

mahan web. Berdasarkan penelitian cloud com­ pu­ting provider Akamai, kenaikan ak­­tivitas peretas yang berasal dari In­ do­nesia boleh jadi tidak dilakukan di Ja­karta. Sebaliknya, lonjakan tiba-tiba da­lam kegiatan retas itu diindikasikan ka­rena ada sekumpulan hacker yang me­lakukan operasi besar untuk me­ man­­faatkan server di Indonesia. Me­ re­ka menyerang dan memperkuat dam­­pak serangan itu. Sistem itu me­­mungkinkan para hackers untuk me­­nyamarkan lokasi mereka yang se­ be­narnya. Akamai menempatkan Amerika Se­ rikat pada peringkat ketiga dengan 8,3 persen aktivitas peretas dari servernya. Sementara Turki dan Rusia menempati posisi lima besar dengan presentasi aktivitas peretas masing-masing 4,5 persen dan 2,7 persen.v Dara


Iptek

Dicari Miss Internet Pertama di Dunia!

karena itu, diperlukan tokoh atau simbol untuk menjadi duta internet yang sehat. “Ini program pertama di Indonesia untuk mendukung peran perempuan da­­lam pemanfaatan teknologi in­ formasi. Program ini diyakini mampu memberikan multiplier effect untuk mengampanyekan pengguna in­ter­ net perempuan di Indonesia,” kata Juniarto. Miss Internet sendiri terbuka untuk perempuan berusia 17-25 ta­ hun, memiliki KTP atau KIPEM (Kartu Identitas Penduduk Musiman) Bali. Selain itu, peserta harus memiliki akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Blog dan lainnya. Pendaftaran Miss Internet dibuka mulai 23 Juni sampai 23 Agustus 2013. Peserta akan diseleksi hingga berjumlah 100 orang. Mereka akan diwawancara dan dites hingga mengerucut jadi 20 orang. Kontestan-kontestan inilah yang berhak meng­ikuti grand final di Hotel Aston Den­pasar, pada 14 September 2013. v Dara

Agustus 2013

JIKA Anda perempuan berusia 17-25 tahun, aktif dalam berjejaring sosial, dan memiliki blog kreatif, bisa jadi Andalah Miss Internet Indonesia pertama di dunia yang sedang dicari. MISS Internet boleh jadi merupakan sesuatu yang tidak lazim dalam bidang Teknologi Informasi (TI) ataupun fashion. Namun Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) wilayah Bali menganggap perlu untuk mencari talenta-talenta berbakat yang berhak menyandang mahkota Miss Internet Indonesia. Oleh karena itu APJII Bali meng­ gelar kompetisi bertajuk Miss In­ter­ net Indonesia. Ketua Panitia Pe­mi­ lihan Miss Internet APJII Bali, Wa­hid Juniarto, mengatakan pe­nye­leng­ garaan kompetisi itu berawal dari keinginan asosiasinya untuk me­nyo­ sialisasikan program internet yang se­hat, aman, dan produktif ke­pada ma­syarakat luas. “Ini merupakan kontes kecantikan terkait TI yang pertama di Indonesia. Bahkan belum ada satu pun acara pemilihan Miss Internet di dunia sampai saat ini. Itu berarti Indonesia akan menjadi negara pertama yang me­nyelenggarakan kontes Miss In­ternet di dunia,” kata Juniarto. Menurut Juniarto, pencarian ta­lenta berbakat untuk diangkat se­bagai Miss Internet sangat perlu di­la­kukan mengingat di Indonesia pengguna internet terbanyak berasal dari kalangan perempuan. Sekitar 53,73 persen dari 63 juta total pengguna internet di Indonesia adalah kaum perempuan. Oleh

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

STATIC4.BUSINESSINSIDER.COM

NEWRISINGMEDIA.COM

MISSINTERNET.CO.ID

tetap terjangkau. Nantinya setiap perjalanan akan melibatkan empat peluncuran (dua untuk awak yang mendarat di bulan dan dua yang lain untuk mengirimkan kru dan kargo). Golden Spike merilis bahwa mereka telah bekerja selama lebih dari dua tahun, tetapi mengakui masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Sejauh ini belum diumumkan tentang bagaimana misi itu akan didanai sampai dengan penerbangan pertama. Dan, bahkan belum diputuskan jenis roket apa yang akan digunakan untuk mendaratkan wisatawan ke satelit bumi itu. Tapi Golden Spike mengatakan, perusahaan telah memulai studi dengan berbagai perusahaan lain untuk mendesain pendarat bulan, baju luar angkasa di bulan, dan percobaan di permukaan bulan. “Ini tidak hanya tentang Amerika yang akan kembali ke bulan, ini tentang industri Amerika dan semangat terdepan kewirausahaan Amerika di era eksplorasi manusia ke bulan,” kata Stern. Stern mengatakan kepada Space.com bahwa perusahaannya adalah “state-of-the-art cool” dan ia sangat yakin akan ada antrean dari pemerintah, perusahaan, dan individu yang bersedia mendanai misi tersebut hingga sukses. v Dara

43


44

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

Foto Bicara


Foto Bicara

TERTIDUR PULAS – Seorang bayi tertidur pulas di dalam kardus bersama ibunya di tempat penampungan darurat, saat banjir melanda rumah mereka akibat meluapnya Sungai Ciliwung, Kampung Pulo, Jarinegara, Jakarta Timur baru-baru ini. SP/Luther Ulag

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013 45


Kiprah

Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA

Nasionalisme dan Islam

Sudah Tuntas

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Jika ada yang masih menyangsikan hubungan baik antara nasionalisme dan agama, maka orang itu akan ditentang habis-habisan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj. Said menuturkan di Indonesia persoalan nasionalisme dan Islam sudah tuntas.

46

SP/LUTHER ULAG


Kiprah

Sejumlah umat Islam menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (12/7).

O

menjadi kendala perdamaian di Ti­ mur Tengah. Di sana, menurutnya, per­­­soalan mengenai pertentangan an­ ta­ ra nasionalisme dan Islam masih be­­ lum selesai. “Pemikir dan ulama be­­­lum sepakat. Akibatnya banyak ter­­ jadi keributan di sana sini,” kata dia. Ke­ ributan yang terjadi di Mesir, Irak, hingga Syria, kata Aqil, sebagian besar karena mempertentangkan konsep na­­ sionalisme dengan konsep tauhid da­ lam Islam. Belum ada sinkronisasi an­tara semangat Islam dan semangat na­sionalisme. Dia mengatakan Nabi Muhammad SAW tak pernah memproklamasikan ber­ dirinya negara Islam atau negara Arab. Namun, nabi kerap menyebut negara yang didirikan sebagai negara Madinah atau Madani. Yakni, negara yang stabil baik dari segi hukum, hak asasi manusia, dan keadilan. “Makanya saya tak sependapat ada orang yang memperjuangkan agama Islam tapi tak pernah menyinggung persatuan dan kesatuan. Kita berjuang menegakkan Islam di atas Tanah Air. Maka, Tanah Air dulu yang harus di­ per­ juangkan, baru kita bicara agama Islam,” jelasnya. Aqil juga mengatakan Muhammad lebih mengedepankan negara kebang­ saan, bukan negara Islam atau ne­ gara Katolik. Bukan pula negara Ja­ wa, negara Sunda, atau negara ber­da­ sarkan suku. Di Indonesia, konsep itu sudah la­ ma didengungkan. NU sendiri sudah

Agustus 2013

NU bahkan jauh-jauh hari menyatakan bahwa membela Tanah Air hukumnya fardu ain. Dengan kata lain membela Tanah Air tergolong perbuatan utama bagi penganut Islam.

memproklamasikan konsep negara ke­­ bangsaan itu dalam keputusan Muk­­ tamar pada 1936. Jauh sebelum In­­do­nesia merdeka. Saat itu, NU me­ nyatakan bahwa kemerdekaan In­ do­ nesia harus berdasarkan pada empat konsensus nasional. Kalau saat ini dikenal sebagai ne­gara dengan empat pilar, menurut Aqil, justru PBNU lah yang memelopori empat pilar. “Sebab PBNU merupakan singkatan dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945,” katanya disambut senyuman ribuan hadirin. Aqil menuturkan, walaupun saat itu, sejumlah pilar belum lahir, namun semangatnya tetap sama. “Jadi, ma­ salah empat pilar sudah jauh-jauh hari disosialisasikan PBNU sebelum MPR mencetuskannya,” ujar dia. Atas dasar konsep itu maka Aqil de­­­ ngan tegas mendukung Presi­ den Su­­­ si­lo Bambang Yudhoyono mem­bu­bar­­­ kan organisasi masyarakat yang ber­­tin­ dak radikal mengatasnamakan aga­­­ma. “Saya dukung SBY menin­ dak tegas or­mas radikal yang mem­per­juang­­kan Islam. Sejak dulu sa­ya sudah meng­usul­ kan. Karena per­ buatan itu bisa meng­ hancurkan Islam itu sendiri,” katanya. Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk alam semesta. Islam se­ lalu dibawa dengan berbagai pen­ de­ katan. Di Indonesia, sembilan wali menyebarkan Islam melalui pen­de­kat­ an seni dan budaya. “Para sunan ha­ nya menyebarkan Islam selama lima ta­hun. Seluruh Jawa bisa diislamkan tanpa perang,” kata dia. Bahkan di masyarakat Jawa di­ kenal istilah Kerajaan Majapahit run­ tuh tanpa bom, namun kejayaan ke­ ning­ ratannya lebur dikalahkan doa para santri. v Sandi Yunus

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

RANG Indonesia tak pernah mempertentangkan antara Is­ lam dan nasionalisme. Ka­­re­na mereka sudah mengerti bah­ wa mem­ bela Tanah Air sama de­ngan mem­bela agama. Begitu pula se­ba­liknya. Itulah kutipan ceramah Said Aqil Siroj di hadapan ribuan un­ dangan buka puasa bersama OSO Group di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Aqil, kalau ada kelompok yang masih mem­persoalkan antara nasionalisme dan agama, maka keimanannya patut di­per­tanyakan. NU, kata dia, bahkan jauh-jauh hari me­nya­­takan bahwa membela Ta­ nah Air hukumnya fardu ain atau ke­ wa­ jib­ an setiap individu. Dengan ka­ ta lain membela Tanah Air tergolong perbuatan utama bagi penganut Islam. Per­ nyataan itu juga didengungkan Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945. Pernyataan tersebut ju­ ga merupakan buah dari perjuangan para santri da­ lam membela negara Indonesia dari pen­jajahan Belanda dan Jepang. Salah satu momentum heroik yang diperlihatkan santri dalam mendukung kemerdekaan Tanah Air adalah ketika seorang santri bernama Harun dengan gagah berani mengebom Brigjen Ma­ labi. Sayangnya, Harun terlalu dekat de­ ngan ledakan bom sehingga dia turut gugur dalam aksi heroiknya itu. Aqil juga menyayangkan aksi ke­pah­ lawanan para santri itu kurang tercatat di dalam sejarah pergerakan Indonesia. Mantan menteri agama ini me­ nyayangkan persoalan tersebut justru

ANTARA/ZABUR KARURU

47


Kiprah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjuk mantan Menkumham Patrialis Akbar sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2013. Penunjukan Patrialis ini menggantikan hakim konstitusi Achmad Sodiki yang telah memasuki masa pensiun pada bulan Agustus ini.

48

SP/LUTHER ULAG

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

P

EMERINTAH tidak mempersoalkan sejumlah LSM seperti ICW yang menggugat keputusan pemilihan Patrialis Akbar sebagai Hakim MK perwakilan pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto mengatakan hak LSM tersebut menggugat. Namun, perlu diketahui juga bahwa pemerintah punya hak mengajukan hakim MK perwakilan dari pemerintah. “Indonesia kan bebas untuk menyampaikan pendapat, jadi kita terima saja pendapat itu. Tapi aturan-aturan untuk memilih hakim konstitusi itu kan ada. Jadi ada tiga pihak dari MA, DPR dan pemerintah. Dan, ini bagian pemilihan pemerintah,” jelas Djoko di Istana Bogor, awal pekan ini. Dia menjelaskan, dipilihnya Patrialis sudah diproses di dalam internal pemerintah. Dengan mekanisme yang ada, kata dia, pemerintah berhak mengajukan nama. Sama seperti MA dan DPR yang mengajukan nama menjadi hakim MK.

Patrialis Akbar

Jadi Hakim MK

Sebelumnya, Patrialis ditolak oleh sejumlah LSM lantaran dianggap gagal saat menjadi Menkumham. Mereka juga beralasan kalau Patrialis adalah kader PAN. Sebelumnya, Patrialis Akbar meyakini dirinya siap menjaga independensi kursi hakim MK. Patrialis me­nyatakan bahwa dirinya telah keluar dari Partai Amanat Nasional (PAN) sejak Desember tahun 2011. Hal itu disebutnya sebagai bukti bahwa di­rinya cukup independen sebagai hakim MK. Karena dirinya tidak lagi terkait dengan partai tertentu. Menyinggung ka­pa­­bilitasnya, Patrialis Akbar me­ngu­rai­kan serangkaian penga­la­man­nya dan aktivitasnya pernah membimbing dua kandidat doktor bidang hukum. Patrialis Akbar hingga kini juga masih aktif mengajar di beberapa per­­guruan tinggi. Merujuk pada pe­ ngalamannya, Patrialis optimistis dirinya mampu menjabat hakim MK. Apalagi dia pernah terlibat da­lam amandemen Undang-Undang Dasar 1945 yang dilakukan pada 1999 hingga 2004. Bahkan, ketika men­­­ja­bat sebagai Men­­teri Hu­kum dan HAM, Pa­ trialis mengaku telah ber­­penga­ laman mem­­­bela pe­me­rintah da­lam sidang perkara di Mah­kamah Konstitusi. “Saya heran, mengapa ada pi­hak merasa saya tak mampu menjadi hakim MK, dengan segala pe­ngalaman yang telah saya jalani,” kata dia optimistis. Patrialis menyatakan

bahwa persoalan utama dalam pe­ ne­­gakan hukum adalah terkait pada komitmen menegakkan kebenaran dan keadilan. Patrialis melihat keberadaan lem­baga MK sangat konstruktif ba­ gi tertib undang-undang. “MK te­lah ber­hasil melakukan peran me­ka­ nisme check and balance dalam tata ne­gara di Indonesia. Lebih meng­ gem­birakan lagi, MK berperan dalam mencerdaskan bangsa melalui pu­ tusan-putusannya,” kata dia. Terkait dengan persoalan hu­kum di Indonesia, Patrialis me­ni­lai sa­­lah satu persoalan uta­ma adalah pada ko­mit­men dalam me­negakkan ke­ adil­an dan ke­be­­naran. “MK berperan mem­­­­­­berikan stabilitas bagi pe­nye­ leng­garaan ke­kua­saan negara oleh lembaga negara mana pun yang dil­ an­dasi undang-un­dang,” kata dia. Tidak Memihak Sementara peran pen­ting MK lainnya adalah se­bagai lembaga peradilan de­mokrasi. Sebagai lembaga per­­adilan demokrasi ter­se­but, MK tidak bo­leh memihak sia­pa­pun dalam ben­tuk dan keadaan apa pun. Atas peran-peran penting tersebut, Pa­trialis Akbar menilai MK sejauh ini sudah menempatkan diri secara tepat. “MK telah meluruskan politisi dalam membuat undang-undang yang harus dilandasi konstitusi. MK juga sudah membantu lebih baik dalam demokrasi,” jelasnya. Ke depannya dia berharap MK ti­ dak membuat regulasi sendiri karena tugas regulasi merupakan tugas DPR bersama Presiden. “MK tidak boleh menjadi komentator terhadap tugas lembaga negara lain. MK adalah hakim, dimana pendapat MK adalah pu­tusan. Oleh karena itu, MK da­ lam berperan akan selalu silent operation,” kata Patrialis. Ketika ditanya tentang per­lin­ dungan terhadap kaum minoritas di Indonesia, Patrialis Akbar meng­ utarakan bahwa seharusnya tidak dibedakan antara mayoritas dengan minoritas. v Amin/Sandi Yunus


Kiprah ANTARA

Landasan Kurang Kuat Ganjal

Semangat Nasionalisme Keberhasilan Garuda Indonesia membuktikan nasionalisme penumpang bakal bangkit jika kualitas diperbaiki. Sayang rute Kangaroo yang potensial terganggu karena ketebalan landasan yang tak memadai.

Emmirsyah Satar

GARUDA INDONESIA

Agustus 2013

Indonesia, Cengkareng Kamis malam pekan lalu. Dirut Citilink Muhammad Arief Wibowo menambahkan, di Bandara Haneda contohnya. Banyak orang

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

S

EMANGAT nasionalisme tak bisa diwujudkan dengan membujukbujuk supaya orang naik Garuda. Zaman sudah berbeda, ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. “Orang mau naik Garuda kalau kualitas pelayanannya bagus. Atas dasar itu kami melakukan perbaikan pada semua lini lewat program Quantum Leap. Hasilnya menggembirakan. Yang banyak naik bukan orang Indonesia saja, tetapi juga orang asing, “ ujarnya ketika menunggu kedatangan Boeing 777300 ER yang kedua di hanggar Garuda

Jepang naik pesawat Garuda. Selain meningkatkan kualitas pelayanan, Garuda juga membeli pesawat-pesawat baru, termasuk Boeing 777-300 ER. Kelak pesawat baru ini dipakai untuk rute SydneyJakarta –London pp. Di dalamnya, para penumpang akan memperoleh pelayanan personal dari awak kabin, serta juru masak khusus bagi penumpang kelas satu. Keunggulan lain rute ini, semua penumpang kelas satu, bisnis maupun ekonomi dari Sydney boleh menikmati hidangan di Lounge Garuda sambil menunggu keberangkatan menuju London. “Setelah makan langsung tidur di pesawat,” ujar Emirsyah. Sayang, rencana ini mesti ditunda sampai Mei tahun depan. Gara-gara landasan di Bandara Soekarno-Hatta kurang kuat menahan si raksasa Boeing bila berangkat dengan muatan penuh. Gara-gara aspal, rencana besar tertunda. v SH

49


Hankam

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat peduli terhadap pendidikan, karakter dan moral bangsa. Dalam berbagai kesempatan, SBY selalu meminta kementerian terkait mengedarkan buku-buku pelajaran sekolah yang bermutu, bermoral tinggi, dan sarat nilainilai agama dan budaya bangsa.

Menepis Perang

Asimetris

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

S

50

ETAHUN terakhir, buku kon­ troversial berbau mesum me­ rasuki sejumlah sekolah dasar di Kota Bogor. Kasus terakhir adalah beredarnya buku mata pelajaran Ba­ hasa Indonesia, berjudul “Anak Gem­ bala dan Induk Serigala” untuk kelas VI SD. Buku itu berpotensi merusak pola pikir anak-anak SD karena me­ ngandung konten porno. Kalimat-ka­ limat pembangkit syahwat diumbar da­ lam buku seharga Rp31.500 itu. Selang beberapa hari, sejumlah orang tua di Samarinda, Kalimantan Ti­ mur juga dibuat resah dengan beredarnya buku yang mengandung konten porno. Buku mata pelajaran Ba­ ha­sa Indonesia itu berlabel “Pendidikan Berbasis Karakter Bangsa”. Selain ber­ edar di SD, buku ini juga dibaca mu­rid di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Peredaran buku berkonten por­ nografi tak hanya terjadi secara kasus per kasus. Peredarannya pun terkesan direncanakan. Tengok saja, sebelum kedua buku itu beredar, berderet bukubuku kontroversial yang dikonsumsi calon-calon pemimpin bangsa, seperti lembar kerja siswa (LKS) tentang Pen­ didikan Lingkungan Budaya Ja­ karta yang berisi percakapan soal is­ tri simpanan. Padahal buku itu di­ peruntukkan bagi murid SD. Ditemukan pula, gambar kartun Na­bi Muhammad di sebuah buku yang dikonsumsi murid SD di Solo. Buku kontroversial itu diterbitkan Nobel Edumedia dan ada sejumlah gambar yang mengarah ke kehidupan Nabi Mu­hammad SAW. Kementerian Agama langsung bereaksi keras dan menarik buku itu dari peredaran. Murid-murid SD di Pekanbaru juga di­ hebohkan dengan buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Buku tersebut dinilai ter­ lalu vulgar dalam membahas alat ke­ lamin. Di Kota Mojokerto, lagi-lagi beredar

ASSET KOMPAS.COM

LKS yang menampilkan konten kon­ troversial. Kali ini di LKS Agama Islam tingkat SMP terdapat materi k­ eagamaan yang dianggap tidak se­ suai dengan fikih. LKS itu salah men­ definisikan salat Jumat dan salat je­ nazah. Penulisnya menyebutkan, kedua sa­ lat itu hukumnya sunah, bukan fardu ain dan fardu kifayah atau salat wajib. Beberapa kesalahan konten ter­sebut dianggap tidak sesuai dengan kai­dah fikih. LKS kembali menjadi alat me­ nyusupkan konten kotor. Foto Miyabi tampil di LKS Bahasa Inggris kelas 3 SMP. Meski kondisi fotonya tak bugil, namun foto bintang porno asal Jepang ini ramai dibicarakan. Buku itu langsung ditarik dan sebagian di antaranya dibakar. Perang Asimetris Di sini pemerintah harus jeli. Bi­ sa jadi, beredarnya buku-buku “ber­ lendir” itu merupakan upaya suatu pihak yang ingin melancarkan perang asimetris. Mereka mencoba menyerang moral anak bangsa untuk merusak akar budayanya. Unsur perang asi­ metris itu jelas terasa seperti apa yang didefinisikan ahli bedah otak asal Amerika, Dr Donald Hilton Jr. Dia meyakini bahwa konten por­

nografi dapat merusak prefrontal cortex di otak anak. “Kerusakan ini membuat anak tak mampu mengendalikan naf­ su dan emosi serta mengambil kepu­ tusan,” katanya. Peredaran sejumlah buku pelajaran berbau porno ini, jelas-jelas bertentangan dengan perintah Presiden SBY yang menginginkan anak-anak sekolah mendapat buku bermutu, bermoral tinggi dan berkarakter. Langkah Taktis TNI AD Sementara itu, jelang Ramadhan, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Moeldoko meng­ undang sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai ele­ men. Agendanya se­ derhana, yakni silaturahim dalam upa­ya mem­per­kokoh persatuan dan kesatuan bang­ sa. Acara dise­ leng­ garakan di Balai Kartini, Jakarta, pada minggu pertama Juli. Silaturahim berlangsung guyub, antara tokoh ma­ syarakat, tokoh aga­ma, dan pengusaha saling tukar sapa. Salah satu tokoh nasional Amien Rais menyempatkan diri menghadiri sil­ aturahim tersebut. Mantan ketua MPR ini sengaja jauh-jauh datang dari Yogyakarta karena baru kali ini seorang kepala staf angkatan di jajaran TNI melakukan silaturahim dengan tokoh masyarakat. “Saya tak boleh


Hankam

alpa menghadiri acara sepenting ini,” ujar dia. Apa yang membuat acara itu de­ mi­ kian penting? Sambutan Moeldoko menjawab pertanyaan itu. Mantan wakil gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) ini menyatakan bahwa posisi TNI Angkatan Darat harus berada di tengah-tengah stabilitas politik dan keterbukaan publik. “TNI AD harus bisa mengawal perjalanan ke­­ duanya. Dan harus bisa berdiri di tengah dua arus yang cenderung ber­ tentangan itu,” kata dia. Pengawalan terhadap stabilitas dan keterbukaan, lanjut Kasad, untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang semakin sejahtera. Di samping itu, negara juga tetap aman dari gang­ guan musuh. Pada pernyataannya itu tersirat semakin nyata adanya an­cam­ an perang asimetris.

asimetris semakin nyata. Apalagi Indo­ nesia memasuki tahun politik yang mencapai puncaknya pada pemilihan umum pada 2014 mendatang. “TNI harus berlatih bernegosiasi dan memahami konteks krisis seca­ ra komprehensif. TNI pun harus te­ rus belajar memperhitungkan dan meng­ analisis situasi yang terjadi dalam kon­ disi ambigu. Mampu berpikir ino­vatif dan bisa berkomunikasi efektif,” kata dia. Di tataran implementasi, Moeldoko menyatakan, bentuk pengabdian pra­­ jurit TNI adalah hadir untuk me­ nyelesaikan masalah di tengah-tengah masyarakat. Tak heran, banyak prajurit TNI yang turun ke masyarakat untuk membantu fasilitas publik. “Kami ingin lakukan pendekatan melalui bu­ daya komunikasi dengan membuka dialog atau forum diskusi. Forum dis­ kusi dilakukan untuk memberikan in­ formasi, bukan mengendalikannya,” ka­ta dia. Moeldoko melihat, Indonesia meru­ pakan negara yang sangat terbuka. Ini terciri dari kebebasan berbicara, ber­ kumpul, dan mengedepankan trans­ paransi. Di sisi lain, Indonesia ju­ ga bu­tuh kestabilan, terutama dalam me­ nahan guncangan dan kemampuan un­­tuk tidak membuat guncangan. Kurva J Merujuk pada teori yang dike­

mukakan Ian Bremmer, Moeldoko me­ lihat Indonesia saat ini sedang ber­gerak dari ujung kiri menuju ujung kanan kurva J. “Pergerakan dari kiri ke kanan ini justru mendorong be­be­­rapa negara menuju keruntuhan un­­tuk kemudian berbalik menjadi ke­ bangkitan yang di­ dasarkan pada keterbukaan,” kata Moel­doko. Dia mencontohkan China yang pada masa lalu dilingkupi pemerintahan yang otoriter. Stabilitas politik yang de­mikian kuat serta ditempa oleh ke­ ter­ bukaan yang sedikit demi sedikit mulai terlihat, membuat China se­ dikit terguncang. “Bahkan China ber­ upaya memotong kurva J agar tak terlalu terpuruk saat peralihan dari ne­ga­ra otoriter ke keterbukaan,” kata Moeldoko. Berkaca pada China, Indonesia harus mampu mengalami peralihan yang tak mencolok. Saat ini Moeldoko optimistis, setelah lepas dari rezim otoriter Orde Baru, sistem yang ada sekarang berciri bebas dan transparan. “Indonesia juga memiliki kestabilan, terutama dalam menahan guncangan di dalam dan di luar,” kata dia. Arah politik luar negeri Indonesia yang memakai pendekatan mem­ per­ ba­nyak teman dan menihilkan mu­suh (thousand friends, zero enemy), mampu menahan Indonesia untuk tak terlibat membuat guncangan. “Dan posisi TNI AD sangat jelas dan tegas, yakni mengawal perjalanan stabilitas politik dan keterbukaan itu hingga level yang aman. Agar masyarakat Indonesia semakin sejahtera dan negara tetap aman,” katanya. v Sandi Yunus

Agustus 2013

Perang asimetris kerap mengganggu stabilitas politik. Perang ini biasanya diaktori pelaku nonnegara ini berada di tataran perang budaya, eko­nomi, finansial serta informasi.

INDONESIARAYANEWS

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Ganggu Stabilitas Pada perang asimetris, seperti yang disitir Dewan Riset Nasional, ke­ rap mengganggu stabilitas politik me­­ lalui pintu keterbukaan publik. Pe­rang yang biasanya diaktori pelaku non­ negara ini berada di tataran perang bu­­daya (cultural warfare), perang eko­ nomi dan finansial (economic and financial warfare) dan perang informasi (information warfare). Penyerangan terhadap bidang-bi­ dang itu berfungsi membangun suatu per­s­epsi tertentu yang diinginkan oleh lawan. “Bahkan, korporasi dan lem­­ baga swadaya masyarakat (LSM) me­ rupakan bentuk tentara baru dalam perang asimetris,” kata pengamat mi­ liter Universitas Indonesia Letnan Jen­ deral (purn) Kiki Syahnakri. Di awal pidato, Moeldoko tegas menyatakan saat ini dunia sudah me­ masuki peperangan generasi keempat. “Ini yang kadang-kadang tak membuat kita waspada,” ujar dia. Kasad berharap Indonesia tak di­ rusak oleh cara-cara aktor negara maupun nonnegara yang membuat le­ mah segala sektor kehidupan. “Jangan sampai kita sebagai bangsa ribut ke da­ lam. Di sisi lain, ancaman musuh mengintai semakin dekat,” katanya. Jelas sudah. Silaturahim yang di­ gagas Moeldoko ini tak sekadar me­ ngumpulkan para tokoh. Namun, lebih dari itu. Tokoh dikumpulkan untuk menyatukan persepsi bahwa perang

Jenderal TNI Moeldoko

51


Hankam

Kasus The Age

Sjafrie Sjamsoeddin

P

NEWSGOVSG

”Perbatasan tak bisa dipagar de­ ngan tembok atau tentara. Strategi menjaga daerah terluar adalah dengan membangun kedaulatan ekonomi demi mendukung kedaulatan negara. Cara berpikir itulah yang harus diterapkan dalam mengelola wilayah terluar dan membangun kedaulatan Republik In­ do­nesia,” kata Ganjar. Perang asimetris kerap dipakai Ame­rika Serikat dalam melumpuhkan lawannya. Perang-perang psikologis de­ngan menebar isu untuk menggang­ gu stabilitas negara selalu dilakukan Amerika untuk memecah belah Leba­ non, Afghanistan, Libya, dan Korea se­ latan dengan Korea Utara. Strategi tersebut tergolong murah meriah tanpa mengeluarkan biaya mahal karena perang asimetris tidak menggunakan banyak alutsista, cu­ kup dengan melempar isu provokatif stabilitas negara sasaran akan goyah. Pada konflik Libya dapat dilihat bagaimana otoritas AS menekan se­ buah negara dengan menggunakan ber­ bagai strategi dari yang asimetris sampai ke konvensional untuk meng­ galang dukungan dari Uni Eropa dan Liga Arab demi menjatuhkan Libya. v Sandi Yunus

Negara dengan ekonomi dan kesenjataan lemah sa­saran utama perang asimetris

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

ERANG asimetris layaknya ajang adu domba oleh pihak yang memiliki kepentingan. Ma­ syarakat Indonesia disadarkan pada perang ini ketika pada Jumat (11 Maret 2011) pagi waktu Australia, Surat Kabar The Age menurunkan berita uta­ ma berjudul “Yudhoyono Abused of Power”. Lewat bocoran kawat WikiLeaks dari Kedubes AS di Jakarta, The Age menuding SBY melindungi tersangka kasus korupsi dan penyalahgunaan ke­ kuasaan. Dalam kawat yang tidak di­ ketahui nomor dokumennya itu, SBY dikatakan secara personal terlibat untuk memengaruhi jaksa penuntut dan hakim guna melindungi tokoh politik. SBY juga dikatakan menggunakan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memata-matai sejumlah rival politik­ nya, termasuk salah satu mantan men­ teri senior di kabinetnya. Dokumen juga menunjukkan, mantan Wapres

SBY membayar jutaan dolar AS untuk membeli pengaruh di salah satu partai terbesar di Indonesia. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa ka­ sus The Age itu merupakan contoh kon­ kret dari berlangsungnya perang asimetris. Dia berkali-kali mengatakan bahwa dunia strategi dan pertahanan sudah memasuki babak baru, yakni perang asimetris. “Kita harus menanggalkan cara berpikir perang konvensional. Banyak hal yang terjadi tanpa disadari adalah dampak perang asimetris. Media di­gu­ nakan sedemikian rupa untuk meng­ umbar sensasi. Perang asimetris itu bukan menghadapkan senjata dengan senjata atau tentara melawan tentara,” kata dia mengomentari kasus The Age. Negara yang secara ekonomi dan kesenjataan lemah merupakan sa­ saran utama perang asimetris. Sjafrie mencontohkan, media internet atau media massa tanpa sadar dipakai un­ tuk memengaruhi cara berpikir atau me­ lemahkan bangsa. Tak terkecuali lembaga swadaya masyarakat. ”Salah satu cara yang dipakai dalam perang asi­ metris adalah merusak nalar ber­ pikir,” tegas Sjafrie. Mantan Anggota Komisi II DPR RI Gandjar Pranowo juga menyadari semakin nyatanya perang asimetris. Apa­ lagi media internet semakin ber­ kembang dan informasi sudah seperti aliran air bah.

52

HERMANSAKSONO.COM


Letnan Kolonel Ventje Sumual saat memproklamasikan Permesta.

WIKIPEDIA.ORG

Konflik Asimetris

Ancam Indonesia

Dilema Kurva J Kurva J menjadi dilema bagi negara-negara berkembang yang sudah stabil dengan ketertutupan mereka. Ketika ingin mencapai kestabilan yang lebih tinggi, mereka harus melalui titik balik yang begitu dalam. Sedikit saja membuka diri, kurva curam mengancam. Namun apabila mereka berhasil melalui titik balik tersebut, lambat laun mereka akan menemukan kestabilan yang lebih tinggi. Lagi pula, jika sudah berada di titik balik mereka akan berat untuk kembali stabil dengan (kembali) menutup diri. Sehingga, pilihan paling mungkin adalah terus menikmati keterbukaan dengan semakin meningkatkan kestabilan. Peran negara-negara maju yang telah mencapai kestabilan dengan keterbukaan adalah membantu negaranegara berkembang melewati titik balik yang sangat curam. Saat semua negara siap membuka diri, siaplah tercapai kestabilan dunia. Kita menyebutnya era globalisasi, semua negara benar-benar terbuka terhadap negara lain, terhadap semua anggota dunia. Barangkali globalisasi akan memunculkan banyak masalah baru mulai dari ketidaksiapan warga negara hingga “penghalalan segala cara”. v Sandi Yunus

Agustus 2013

jalah TIME edisi 1 April 2011 yang me­ nurunkan artikel berjudul “Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes”. Artikel yang ditulis Andrew Mar­ shall itu menyebut berlibur di Bali ba­ gai berlibur di “neraka” dan sebagai dae­ rah tujuan wisata, Bali disebut pe­­nuh sampah serta informasi miring lainnya. The Wall Street Journal edisi 30 Maret 2011 juga merilis tulisan opini Kelley Currie, mantan Asisten Khusus Wakil Menlu AS untuk Demokrasi dan Urusan Global dan Koordinator Khusus untuk Isu Tibet di Departemen Luar Negeri AS. Tulisannya mendiskreditkan Pemerintah Indonesia. Currie menyoroti sejumlah kegagalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam mengelola sistem politik, hukum, dan HAM di In­ donesia. Wakil Ketua Umum Pengurus Be­ sar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini me­ ngatakan berbagai serangan tersebut di­maksudkan untuk menguasai Indo­ nesia. “Ini bisa motifnya kepentingan pengusaha dengan menggunakan alat negara,” katanya. Menurut As’ad, pada era globalisasi, invasi atau serangan langsung secara fisik ke negara lain sudah tidak lagi populer. Invasi model baru lebih me­ milih cara tidak langsung, misalnya menggunakan instrumen internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan organisasi non­­ pemerintah atau lembaga swadaya ma­ syarakat (LSM). v Sandi Yunus

KURVA J adalah kurva berbentuk menyerupai huruf J. Sumbu vertikal merupakan sumbu kestabilan, sumbu horizontal merupakan sumbu keterbukaan. Kurva J pertama kali dicetuskan oleh Ian Bremmer melalui bukunya “The J Curve: A New Way to Understand Why Nations Rise and Fall” (Fahri Hamzah, 2010; “Negara, Pasar, dan Rakyat”). Kurva J menggambarkan hubungan antara stabilitas dan keterbukaan suatu negara. Teori Kurva J menyatakan bahwa negara-negara tertutup, antidemokrasi, dan pengekang kebebasan berada pada tingkat stabilitas yang tinggi. Ketika posisi keterbukaan mereka ditingkatkan sedikit saja, maka tingkat stabilitas mereka akan menurun drastis karena Kurva J ini memiliki kemiringan negatif yang sangat curam di sisi kiri titik baliknya. Namun ketika tingkat keterbukaan terus didorong ke kanan, maka lambat laun tingkat stabilitas akan meningkat kembali.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

INDONESIA di era Soekarno juga hampir menjadi sasaran Amerika Se­ rikat (AS) saat pemberontakan Perang Semesta (Permesta) berlangsung. Diamdiam AS mendukung pemberontakan tersebut. Ini terbukti saat pesawat tem­ pur Permesta tertembak jatuh di per­ airan Indonesia. Pilot yang jatuh dan ditawan oleh Indonesia tak lain seorang agen CIA bernama Alan Pope beserta dokumen lengkap lainnya. Selama konflik RI - Permesta ber­ langsung, AS dengan dalih menjaga ladang minyaknya selalu berusaha ma­ suk ke wilayah Indonesia. Melihat gelagat tidak beres yang ditunjukkan AS terhadap Indonesia, TNI berusaha menggagalkan upaya tersebut dengan sesegera mungkin mengamankan la­ dang-ladang minyak AS sebelum se­ ngaja dihancurkan pemberontak Per­ mesta yang bersekongkol dengan AS. Sejak peristiwa itu, perang asimetris yang dilancarkan pihak-pihak lain se­ makin banyak. Mantan Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali menilai, saat ini In­ donesia menjadi sasaran perang asi­ metris intelijen asing. “Perang asimetris itu mencakup semuanya. Yang pasti se­mua serangan opini negatif yang di­ lakukan pihak luar, jelas kerja-kerja intelijen,” kata As’ad. As’ad menjelaskan, perang asi­ me­ tris adalah model perang yang meng­ gunakan cara-cara kerja intelijen se­ perti spionase, subversi, propaganda, teror, dan operasi terselubung. Ia men­­­­con­tohkan berita di laman ma­

Hankam

Kata Kunci: Konsep Kurva J. Ian Bremmer

53


Hankam

Oegroseno Harus Singkirkan

Mafia Proyek Mafia proyek masih menjadi momok bagi reformasi di tubuh kepolisian. Diangkatnya Komisaris Jenderal (Pol) Oegroseno sebagai Wakapolri menggantikan Komjen (Pol) Nanan Soekarna dinilai merupakan momentum menyingkirkan para mafia itu.

J

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

SP/LUTHER ULAG

ENDERAL yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Ka­ barkham) Polri itu dipromosikan atas petunjuk langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pelantikan orang kedua di Mabes Polri itu berdasarkan surat keputusan (SKep) Kapolri Nomor 557/ VII/2013 tertanggal 31

54

Januari 2013. Sertijab yang dilangsungkan di Rupatama Mabes Polri itu juga melantik Kabarkham baru, yakni Irjen (Pol) Badrodin Haiti yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Operasi Kapolri. Maka pangkat Badrodin pun naik menjadi Komisaris Jenderal. Meski akan pensiun pada 17 Februari 2014, periode kerja Oegroseno selama enam bulan dinilai cukup berat lantaran memasuki masa persiapan Pemilu 2014. Sebagian pengamat juga melihat potensi Oegroseno sebagai calon kapolri pengganti Timur Pradopo cukup besar. Timur sendiri akan masuk masa purna tugas pada 10 Januari 2014. Pengangkatan jenderal bintang tiga yang akrab disapa Oegro itu juga diapresiasi oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane. Menurutnya, Oegroseno sangat tepat mengemban jabatan barunya sebab selain menjadi perwira tinggi paling senior, Oegro juga memiliki kapabilitas dan rekam jejak yang bagus. IPW berharap ketegasan Oegro serta posisi strategis sebagai Wakapolri dan Ketua Dewan Kebijakan Tinggi (Wanjakti) Polri dapat menjadi syok terapi bagi sistem di Korps Bhayangkara. Jabatan sebagai wakapolri juga dapat membuat dirinya terjun langsung dalam rapat pengadaan proyek. “Selama ini proyek pengadaan di lingkungan Polri kerap dikuasai oleh mafia proyek. Untuk itu Oegroseno ha­rus bisa memberantas mafia,” ujarnya. Selama bertugas, mantan Kapolda Jatim itu dipandang sebagai polisi yang bersih dan mampu menyatukan semua kelompok di internal Polri. Nama Oegroseno juga dikenal saat dirinya menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara. Saat itu dia berani mengejar teroris yang merampok bank CIMB Niaga Medan. Sebelumnya, pada tahun 2005, lulusan terbaik tahun 1978 ini dipercaya menjadi Kapolda Sulawesi Tengah. Ia berperan aktif dalam penyelesaian peristiwa Poso di me­ dio 2006. Saat itu Oegro menolak mengeksekusi Tibo Cs, sehingga dirinya dicopot dari jabatan. Sikapnya yang ti­dak mau mengeksekusi orang yang belum tentu bersalah di mata hukum itu, mendapat apresiasi yang baik dari ma­syarakat. Oegroseno juga pernah masuk daftar calon Kapolri pilihan masyarakat yang dihimpun oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) April 2013 silam. Lewat jajak pendapat di situs www.kompolnas.go.id itu, Oegroseno sejajar dengan dengan nama jenderal bintang tiga lainnya seperti Komjen Pol Sutarman (Kaba­reskrim), Komjen Pol Anang Iskandar (Kepala BNN), Komjen Pol Suparni Parto (Kabaintelkam), Komjen Pol Iman Sujarwo (Irwasum) dan Komjen Pol Budi Gunawan (Kalemdikpol). v Tryas Oleg

Selama ini proyek pengadaan di lingkungan Polri kerap dikuasai oleh mafia proyek. Untuk itu Oegroseno ha­rus bisa memberantas mafia.


Picu Ketegangan di Bumi Aceh Meski mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Gubernur Aceh Zaini Abdullah melarang pengibaran bendera Bintang Bulan di Aceh. Namun, sejumlah pihak masih saja “nakal” mengibarkannya di beberapa tempat.

D

UA hari menjelang hari ulang tahun ke-68 Republik In­donesia, Gubernur Aceh Za­ini Abdullah gamang. Pasalnya, dia khawatir masyarakat berinisiatif me­ ngibarkan bendera Bintang Bulan yang identik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Padahal, bendera tersebut sudah disepakati tak boleh di­kibarkan di Serambi Mekah, julukan Nangroe Aceh Da­rus­salam. Tak mau terjadi kete­ gang­ an, Zaini de­ ngan tegas me­­ minta masyarakat ti­dak mengibarkan bendera ter­­sebut pa­­ da 15 Agustus atau bertepatan de­ngan pe­­ringatan delapan tahun MoU Hel­­sinki. “Seluruh rakyat Aceh kami im­ bau agar tidak me­ ngibarkan bendera itu. Se­­bab bisa me­nim­bulkan ke­gaduhan yang ti­dak perlu,” kata Zaini. Imbauan itu muncul setelah ada­ nya kesepakatan bersama dalam per­ te­ muan di kantor Kementerian Dalam Ne­geri (Kemendagri) pada pengujung Juli. Pada pertemuan yang menghadirkan Ke­tua DPRA Hasbi Abdullah, Ketua Ko­misi A DPRA Adnan Beuransah, Asis­ten I Pemerintahan Aceh Iskandar A Ga­ni dan Pemangku Wali Nanggroe Ma­­lik Mahmud Al-Haytar, juga lahir ke­­sepakatan penting lain. Yakni, Pe­ me­ rintah Aceh dan Jakarta kembali se­­pa­kat memperpanjang masa tenang ter­kait pembicaraan tentang bendera Bin­ tang Bulan dan lambang Buraq-Singa, sampai 31 Oktober 2013. Gubernur menambahkan, ke­se­pa­katan lain yang dicapai dalam per­te­muan itu adalah diben­ tuknya Tim Ber­sama Penyelesaian Rancangan Per­ aturan Pemerintah Undang-Undang Pe­ me­ rintah Aceh (RPP UUPA). Tim itu ter­ diri atas unsur Pemerintah Aceh dan pemerintah pu­ sat. “Tim Bersama ini bekerja untuk me­ nyelesaikan seluruh RPP UUPA yang belum tuntas sampai sekarang,” kata Zaini.

jajaran TNI AD di Aceh jika men­dapati ada warga Aceh yang me­ngibarkan bendera tersebut. Namun, di­pastikan, TNI akan melarang pe­ngi­baran bendera itu. Pernyataan Kasad dikemukakan di pendopo Gubernur Aceh, saat ber­ kunjung ke Serambi Mekah dalam rangka kunjungan kerja ke Kodam Is­kandar Muda. Kasad menyatakan hal itu di depan Wagub Aceh Muzakir Ma­ naf, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Zahari Siregar, Unsur Muspida Plus Aceh, rombongan Kasad dan Pe­ja­bat TNI di Aceh. Secara terpisah, pengamat per­ ta­ han­ an dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lespersi) Rizal Darma Putra meminta ketegasan pemerintah Aceh dan pemerintah pu­sat untuk benar-be­ nar menihilkan pe­ngi­bar­an bendera Bintang Bu­lan. “Jika bendera itu sem­pat berkibar, nega­ra lain yang pu­ nya kepen­ tingan akan lang­ sung memperkara­k an­n ya. Apa­­lagi Aceh hing­ga saat ini masih men­ ja­ di pantauan negara asing,” kata dia. v SY

NELAVIE.BLOGSPOT.COM

Agustus 2013

Za­ini Abdullah, Gubernur Aceh

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

TNI pun Melarang Kepala Staf Angkatan Darat Jen­ de­ ral TNI Moeldoko juga menolak pe­merintah daerah Aceh mengibarkan bendera Bintang Bulan. “Secara psikologis, TNI merasa kurang pas dengan ben­ dera Bintang Bulan. Sa­ya berhadap bendera itu di­sesuaikan de­ngan spirit MoU Helsinki,” kata Moel­ doko, awal Agustus lalu. Untuk persoalan bendera Aceh, Moel­ doko me­ nya­ takan TNI AD meng­ ikuti kebijakan pemerintah. Moel­doko juga tak memberi instruksi khusus ke­pada

Seluruh rakyat Aceh kami im­bau agar tidak me­ngibarkan bendera itu. Se­­bab bisa me­nim­bulkan ke­gaduhan.

Hankam

Pengibaran Bendera Bintang Bulan

55


Hankam

Pesan Bom Teroris

untuk Pengungsi Rohingya Ledakan bom di Vihara Ekayana mengusik kesiapan umat Islam jelang Lebaran. Sejumlah pihak menduga bom itu terkait kekecewaan terhadap pemerintah Myanmar yang menelantarkan pengungsi Rohingya

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

A

DZAN magrib yang menandakan berbuka puasa sudah ber­ ku­ mandang satu jam lalu di ka­was­ an Duri Kepa, Jakarta Barat, tak jauh da­ri Vihara Ekayana, pada Minggu (4 Agustus 2013). Sejumlah warga se­ dang berkemas untuk meninggalkan Ja­karta menuju kampung halamannya gu­na merayakan Lebaran. Tiba-tiba, duaarrrr! Ledakan keras mi­ rip petasan besar terdengar di ha­ lam­ an Vihara Ekayana. Ledakan itu mem­ buat panik jamaah vihara yang ke­betulan sedang melakukan ibadah. Setiap Minggu, umat Budha di vi­ ha­ ra Ekayana melaksanakan ibadah tiga sesi. Sesi pertama pukul 08:00 WIB, dilanjutkan sesi kedua pukul 11:00 WIB, dan sesi terakhir pada pu­ kul 17:00 WIB. Pada setiap sesinya, iba­dah dilakukan selama dua jam. Dan le­ dakan terjadi di menit-menit akhir ibadah sesi terakhir. Sebanyak 300 umat yang sedang melakukan kebaktian terperanjat men­ dengar ledakan itu. Mereka ke­mu­dian berlari ke depan mendekati pa­ tung Budha yang berada di ruang utama. Le­ dakan sendiri terdengar di bagian timur Vihara. “Sejumlah jamaah langsung ber­ asumsi bahwa itu ledakan bom. Wa­ lau­pun suaranya mirip petasan besar,” kata pembina Vihara Ekayana Ponijan

ARCHIVE.SAGA.VN

56

Liaw, saat ditemui di lokasi kejadian sehari setelah ledakan. Ada juga sebagian jemaah yang melanjutkan ibadah. Beberapa biksu pun terlihat meneruskan ceramahnya. Selisih beberapa menit dari ledakan pertama, suara ledakan kembali ter­ de­ngar. Kali ini terjadi di depan pintu vihara atau di belakang patung Budha Sakyamuni. Ledakan kedua inilah yang membuat jamaah memastikan bahwa ada teror di tempat ibadah mereka. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya sejumlah jamaah yang mengalami luka ringan. Abu Roban Telunjuk Badan Nasional Pe­ nang­ gu­langan Teroris (BNPT) langsung me­ nga­rah ke Abu Roban alias Bambang Nangka alias Untung sebagai kelom­ pok yang berada di belakang aksi pe­ le­ dakan. Tudingan itu berdasarkan pe­­ristiwa sebelumnya yang melibatkan Abu Roban, yakni aksi baku tembak dengan Detasemen Khusus 88 An­ ti­­ teror Polri di Batang, Kendal, Jawa Tengah, Mei lalu. “Roban memang tewas dalam baku tembak itu, namun sejumlah kadernya masih tersebar di sejumlah wilayah. Jaringan ini yang kami duga terkait pe­ nge­ boman vihara,” kata Ketua BNPT Ans­yaad Mbai di Jakarta, awal pekan ini. Dalam aksi di Kendal itu, Roban dan anak buahnya menggunakan bom yang sama seperti yang ditemukan di Vihara. Satu dari tiga bom yang meledak terbuat dari paralon. Bom paralon itu, tambah An­ syaad, juga mi­rip dengan bom di kawasan Ben­ du­­ngan Hilir, Ja­ karta, teror bom di Marga Asih, Ban­ dung, dan di Kebu­

men, Jawa Tengah. Satu bom lain yang berbentuk pan­ci tekan pun pernah dilemparkan di kantor Mapolsek Raja Polah, Ta­ sik­ malaya. “Teror ini kemungkinan besar terkait dengan kelompok Abu Roban. Apalagi jika dilihat dari teknis pembuatannya. Indikasinya bisa ke arah dia,” kata Ansyaad. Terkait Rohingya Myanmar Dalam kasus penangkapan di Bendungan Hilir, polisi mengatakan pelaku berencana untuk meledakkan kantor Kedutaan Myanmar di Jakarta. Analisis pihak keamanan mengatakan, target serangan bom ke Kedubes Myan­ mar tidak terlepas dari konflik an­tar etnis dan agama yang terjadi saat ini di negara itu. Meski demikian Ansyaad mengaku belum mau menduga apakah pelaku peledakan di Vihara Ekayana terkait motif yang sama. Adanya keterkaitan dengan pe­ me­ rintahan Myanmar pun diungkap Men­teri Agama Suryadharma Ali. Saat berkunjung ke vihara, Ali mengaku menemukan pesan tertulis pada se­ca­ rik kertas pada bom itu. “Ada pesan ber­ tuliskan ‘Kami menjawab jeritan Ro­hingya’,” ujar Suryadharma.


LEDAKAN DI VIHARA Personel Gegana berjaga di sekitar lokasi peledakan bom di Vihara Ekayana Graha Tanjung Duren, Jakarta, Minggu (4/8) malam. Ledakan yang diduga bom rakitan tersebut melukai sejumlah jamaat yang berada di tempat itu. ANTARA/WAHYU PUTRO A

jawab Jeritan Rohingya”, Polri belum bisa mengungkap identitas pelaku pe­ letak bom tersebut atau dari jaringan te­ror mana pelaku tersebut berasal. Namun, Boy mengatakan pelaku peledakan berjumlah lebih dari satu orang. “Yang jelas pelakunya lebih dari satu,” ujar Boy. Peneliti Setara Institute, Hendardi, menyatakan pemerintah jangan lang­ sung mengarahkan ledakan itu me­ rupakan peringatan atas kekerasan yang dialami etnis Rohingnya di Myan­ mar. “Yang bisa dipastikan bahwa ke­ kerasan atas nama agama dengan sub­ yek dan obyek yang berputar di arena itu, merupakan arena yang terus rentan untuk dipolitisasi dan mengalami kekerasan,” ujarnya. Ledakan bom di Vihara Ekayana, apa pun motivasinya, kata Hendardi, harus dikutuk karena merupakan tin­ dakan teror keji yang merusak kete­ nangan, kedamaian, dan harmoni so­ sial. v SY

Agustus 2013

Selisih beberapa menit dari ledakan pertama, suara ledakan kembali terdengar. Kali ini terjadi di depan pintu vihara atau di belakang patung Budha Sakyamuni.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Jelas, pernyataan Menag itu me­ nya­ takan bahwa peledakan di sana ber­kaitan erat dengan kekecewaan se­ kelompok orang karena terlunta-lun­ ta­ nya nasib pengungsi Rohingya. Di lain pihak, pemerintah Myanmar tak mengindahkan mereka. Jika hal itu benar, Menag me­ nyatakan mengutuk aksi itu. “Ini me­ rupakan perbuatan yang sangat ter­ kutuk. Yang jelas sejak dahulu umat Muslim dan Budha hidup rukun ber­ dampingan,” jelasnya. Dia melihat aksi itu sebentuk upaya teroris untuk memprovokasi hubungan harmonis umat Islam dan Budha. Mabes Polri meyakini bom yang meledak di Vihara Ekayana merupakan bom rakitan. Kepala Biro Penerangan Ma­syarakat Mabes Polri Brigadir Jen­ deral Boy Rafli Amar mengatakan pi­ hak­nya belum bisa menyimpulkan sia­ pa pelakunya. Terkait “pesan” pelaku yang ter­ tangkap CCTV bertuliskan “Kami Men­

PERSEKUTUAN Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sangat prihatin de­ ngan kejadian tersebut. Apa­ lagi dilakukan di bulan suci Ra­ madhan, ketika umat mus­ lim sedang menjalankan ibadah puasa. “Ini adalah upaya pro­vo­ kasi,” tegas Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI, Jeirry Sumampow. Analisis PGI, peledakan itu di­ lakukan dalam momentum 10 Ta­ hun bom JW Marriot. Dengan be­ gitu, Jeirry melihat unsur pe­ rencanaannya sangat besar. “Dan agaknya dimaksudkan untuk memelihara trauma ketakutan rak­ yat Indonesia terhadap bom,” kata dia. Dalam konteks ini, lanjutnya, maka pelaku peledakan ini adalah teroris yang masih berkeliaran bebas di negara ini. PGI juga melihat pelaku pe­ le­ dakan bom tak menghormati umat Islam yang sedang men­ ja­ lankan ibadah puasa dan akan me­ rayakan Idul Fitri besok. “Ka­ rena itu, kami berharap agar umat muslim tetap tenang da­lam menjalankan ibadah pua­ sa. Ja­ ngan terprovokasi dan meng­ang­ gap bahwa peledakan bom ini se­ bagai upaya untuk mengganggu ke­ tenangan umat muslim dalam men­ jalankan ibadah puasa,” je­ lasnya. PGI meminta agar pe­ me­ rin­ tah­ an dan seluruh jajaran yang terkait untuk mengusut tuntas pelaku peledakan bom tersebut. “Memang perlu dipikirkan upaya lain dalam konteks membasmi praktik terorisme yang sekarang ma­rak terjadi,” ujarnya. Cara-ca­ ra yang selama ini dilakukan di­ nilai belum cukup. Perlu pe­ ran lebih besar Kementerian Aga­­ ma dalam upaya mendorong peng­ ajaran agama yang benar di ma­ sya­rakat. PGI berharap umat Budha ju­ga tetap tenang dalam men­jal­an­kan ibadah di rumah ibadah­nya. “Kami berdoa agar para kor­ ban se­ gera bisa pulih dari trauma psi­ ko­ logi dan sembuh dari cedera fi­sik yang dialami,” kata Jeirry. v SY

Hankam

Momentum Marriot

57


Olah Raga

FOTO-FOTO: IST

KATA BEREGU PUTRA -- Andalan Indonesia meraih medali emas.

Harga Mati

Karate Juara Umum di Myanmar Di ajang SEA Games 2011 di Jakarta tim karate Indonesia keluar sebagai juara umum.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

T

58

ARGET meraih gelar juara umum di ajang SEA Games 2013 di Myan­mar, Desember mendatang memang jadi harga mati yang dipatok oleh tim karate Indonesia. Ketua Umum PB FORKI Hendardji Soe­pandji merasa target itu cukup rea­ listis untuk diraih oleh tim karateka Me­ rah Putih. Maklum, di perhelatan yang sama di Jakarta dan Palembang 2011 la­lu kontingen Indonesia sukses me­raih ge­ lar juara umum dengan me­ ngoleksi 10 emas, 2 perak dan 4 perunggu. “Memang orang bilang mem­ per­ ta­ han­ kan itu lebih sulit dari merebut. Ka­rena itu untuk mengulang prestasi se­ per­ ti di Jakarta kita harus kerja keras,” te­gas Hendardji. Bukti keseriusan PB.FORKI da­ lam me­ nyiapkan atletnya memang ter­ lihat da­ ri pelatnas yang sudah digelar jauh-ja­uh hari. Ketika cabangcabang olahraga la­ in masih terlelap, para karateka In­donesia justru sudah digembleng sejak Ap­ ril 2012 lalu. Ketika cabang-cabang olah­ raga lain

menjerit karena dana pe­ latnas yang tak kunjung turun, namun de­ ngan kemandiriannya PB.FORKI yang didukung oleh orang tua asuh Bank BRI justru sudah menggelar pelatnas. Lanjut Hendardji, bentuk keseriusan PB FORKI dalam menyiapkan atletnya ada­­lah juga dengan akan mengirimkan pa­­ ra karateka pelatnas untuk beruji co­ba di sembilan kejuaraan karate in­ ter­ na­­ sional. Hal itu dilakukan guna me­ma­­tangkan diri menghadapi SEA Ga­ mes 2013 Myanmar. Enam event akan di­­ langsungkan di luar negeri, sedang ti­­ga event lain digelar di dalam negeri. Ke­­jua­­raan-kejuaraan di luar negeri yang di­­­ikuti karateka Indonesia di antaranya Ke­­ juaraan Karate Asia Tenggara (SEAKF) di Filipina, Kejuaraan Karate Asia (AKF) di Dubai, Uni Emirat Arab, event karate Pre­­mier League di Is­ tanbul, Turki, serta ke­­ juaraan di Je­pang, Korea Selatan, dan Jer­­man. Se­mentara event internasional di dalam ne­geri adalah Karate Premier

Lea­­gue di Ja­karta, Islamic Solidarity Ga­ mes, dan Ke­ juaraan Internasional OSO Cup. ”Semoga semua ini menjadi bekal ber­harga bagi tim pelatnas untuk me­ wu­judkan ambisi menjadi juara umum pa­­­ da SEA Games 2013 Myanmar. Dan, kami berterima kasih kepada pe­ me­­ rintah dan bapak angkat karate, Bank BRI, yang telah mendukung ka­­ mi selama ini, termasuk dalam me­ nyukseskan prog­ram menuju SEA Ga­ mes 2013 Myanmar,” ujar Hendardji. Juara Umum WKF Dari event-event yang sudah diikuti oleh para karateka Indonesia, diakui Hen­­ dardji, harus dievaluasi dengan sek­­sa­ma. Di ajang Karate Premier Lea­ gue di Jakarta, Juni lalu, misalnya. Mes­ ki In­ donesia keluar sebagai juara umum na­mun event ini sulit dijadikan ukuran ka­rena banyak negara-negara pe­ serta yang tidak menurunkan ke­ kua­tan penuh.

Di ajang SEA Games 2011 Jakarta dan Palembang 2011 la­lu kontingen Indonesia sukses me­raih juara umum dengan me­ngoleksi 10 emas, 2 perak dan 4 perunggu.


Umar Syarief IST

DAFTAR KARATEKA PELATNAS INDONESIA NO KATEGORI

1. Kumite Putri 2. 3. 4. 5.

6.

Kata Perorangan

KARATEKA

KELAS

Sari Srunita Sukatendel Nurhadiyanti Fitryaningsih Cokorda Istri Agung Sanistya Rani Indah Mogia Angkat Asmaul Husna

-50 kg - 55 kg - 61 kg - 68 kg + 68 kg

Yulianti Syafrudin

7. Kata Beregu Putri 8. 9.

Ayu Rahmawati Eva Fitria Siti Maryam

10. Kumite Perorangan Putra 11. 12. 13. 14. 15.

Imam Tauhid Ragananda Donny Dharmawan Jintar Simanjuntak Christo Mondolu Hendro Salim Umar Syarief

16. Kata Beregu Putra 17. 18.

Faizal Syamsuddin Fidelis Lolobua Azwar

19. Kumite Beregu Putri 20. 21. 22.

Nova Sinaga Intan Nurjannah Yuswinda Wiwi Pertiwi

23. Kumite Beregu Putra 24. 25. 26.

Hirga Yoga Dedi I.Siregar Angga Laksmana Caesar George Isac

-55 kg - 60 kg - 67 kg - 75 kg - 84 kg + 84 kg

Agustus 2013

Manager tim : Djafar F.Djantang Pelatih kepala : Zulkarnaen Purba Pelatih : Omita Olga Ompi, Hasan Basri, Philip King, Meyti Kaseger, Zakaria

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Pemanasan di ISG Hingga lima bulan jelang ber­ lang­ sungnya SEA Games Myanmar 2013, PB FORKI memang sudah memiliki ke­ rang­ka tim yang akan bertarung di pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara itu. Se­ belum melangkah ke Myanmar, Umar Syarif dan kawan-kawan juga akan di­ ma­­tangkan dengan beberapa event in­­­­ ternasional. Yang terdekat adalah ajang Islamic Solidarity Games III di Pa­lembang, 22 September - 1 Oktober mendatang. Di pesta olahraga bagi negara-negara ang­gota OKI ini peluang Indonesia untuk berjaya memang cukup berat. Pasalnya, sejumlah karateka andal mancanegara yang memiliki peringkat WKF dijad­ wal­ kan ikut serta. Untuk kelompok putra, mi­salnya, terdapat peringkat satu nomor ku­mite -75 kg Rafael Aghayev asal Azar­ baijan, kemudian peringkat dua kumite -84 kg Yavuz Karamollaoglu dari Turki serta peringkat tiga kumite -84 kg Enes Erkan dari Turki. Sementara dari ke­ lompok putri, terdapat peringkat dua ku­ mite -50 kg Serap Ozcelik dari Turki dan peringkat dua kumite-68 kg Hafsa Sey­da Burucu yang juga berasal dari Tur­ki. Dengan kehadiran para karateka ter­baik dunia pada ajang ISG III ini, ca­bor ka­­rate bakal menyuguhkan ton­­tonan me­narik. Apalagi sejauh ini pa­ ra atlet dari ne­ garanegara Islam di kawasan Ti­ mur Tengah su­dah men­jadi kekuatan baru di samping ne­­gara Eropa lainnya. Se­baliknya ba­gi ka­ rateka Indonesia, ajang ini me­ru­pa­­kan pe­ luang langka bisa beruji coba me­lawan ka­ ra­teka pa­pan atas dunia. v Daryadi

Olah Raga

Event yang cukup pantas dijadikan re­ ferensi adalah Kejuaraan Karate Asia Teng­ g­ ara (SEAKF) II di Pampanga, Fi­ li­ pina, April 2013 lalu. Di kejuaraan yang merupakan simulasi SEA Games Myan­ mar 2013 ini kubu Indonesia justru ha­rus lebih waspada karena gagal menjadi jua­ ra setelah kalah dari tim Malaysia mes­ki hanya berselisih satu medali emas. Tim Indonesia yang turun dengan ke­ kuatan penuh hanya mengoleksi 9 me­­­ dali emas, 3 perak, dan 10 pe­ rung­ gu. Sedangkan tim Malaysia yang ke­luar se­ bagai juara umum berhasil men­dulang 10 medali emas, 8 perak, dan 6 pe­runggu. Koleksi medali yang diraih kubu In­do­ ne­sia memang masih belum lepas dari ka­ rateka senior yang belum tersaingi hingga kini. Seperti Umar Syarief yang masih me­ rajai kelas +84 kg putra. Begitu pula Donny Dharmawan di kelas -60 kg putra serta Indah Mogia Angkat di kelas -68 kg putri. Nomor kata juga menjadi tumpuan In­ donesia untuk mendulang medali, an­­­tara lain melalui nomor kata be­re­gu put­ra yang bermaterikan Faizal Zai­ nuddin, As­ war, serta Fidelys Lolobua.

59


Olah Raga

SP/LUTHER ULAG

THE GOONERS -- Suporter Arsenal FC Indonesia (The Gooners) saat menyaksikan friendly match melawan Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/7) lalu.

DALAM uji coba melawan empat tim Eropa, gawang timnas PSSI kebobolan 20 gol dan hanya membalas satu gol.

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

M

60

ENGHADIRKAN empat ke­ se­ be­lasan papan atas Eropa - 1 tim­­ nas Belanda serta 3 tim Liga Primer Inggris - dalam rentang waktu dua bulan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, me­ mang jadi peristiwa langka yang baru ka­li pertama dihelat di Tanah Air. Layaknya seorang jawara, timnas PSSI Senior Indonesia digilir oleh timtim papan atas Eropa. Diawali oleh tim­ nas “Orange” Belanda (7 Juni), tim “The Gun­ ners” Arsenal (7 Juli), tim “Reds” Li­verpool (20 Juli) serta tim “The Blues” Chel­sea (25 Juli). Hasil pertandingannya memang se­­ perti sudah bisa ditebak. Gawang tim­­ nas Indonesia yang dikawal kiper klub Arema Indonesia, Kurnia Meiga di­ be­ ron­ dong 20 gol. Masing-masing 0-3 oleh timnas Belanda, 0-7 oleh Arsenal, 0-2 oleh Liverpool, serta 1-8 oleh Chel­ sea. Kalau pun ada satu-satunya gol balasan dari kubu Indonesia - maaf - itu tercipta berkat gol bunuh diri ke gawang Chelsea. Namun, hasil pertandingan agak­nya bukan hal yang penting bagi ma­syarakat penggila sepak bola di Indonesia. Fak­ta­

Antara Bisnis dan

Nasionalisme nya, meski gawang Indonesia dihujani gol demi gol tak ada raut duka atau ke­ ce­wa di wajah-wajah penonton, apalagi me­lakukan tindakan anarkis. Ya, hari itu memang para penggila se­­pak ­bola sengaja menanggalkan at­ ri­­but tim­nas Indonesia yang biasa di­ ke­nakan sa­at Indonesia melakoni laga pen­ting seperti di Piala AFF, kualifikasi Piala Asia atau Pra Piala Dunia. Hari itu mereka seolah ingin memperlihatkan jati dirinya sebagai fans berat masingmasing kesebelasan. Kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno yang mampu menampung 120.000 penonton, pada masing-masing laga rata-rata diisi tak kurang dari 70.000 penonton. Padahal, untuk menyaksikan se­ tiap laga tersebut para penonton ha­ rus merogoh kocek lumayan dalam. Mak­lum, tiket yang dibandrol bergerak mulai dari Rp85.000 hingga Rp3 juta. Harga itu seolah terbayar lunas dengan

aksi-aksi menawan para bintang se­ pak bola yang selama ini cuma bisa di­ saksikan lewat layar kaca. Jadi, jangan pertanyakan nasionalisme mereka ke­­ tika para fans ini justru bersorak ke­ gi­rangan tatkala gawang Indonesia di­ hujani gol demi gol. Tiket Laris Manis Raja Sapta Oktohari, promotor yang men­datangkan Arsenal ke Jakarta da­ lam kesempatan berbuka puasa di ke­­diamannya mengaku terperangah de­­­ngan besarnya animo masyarakat In­donesia. Padahal, pada awalnya ada se­dikit kekhawatiran uji coba ini sulit dijual karena digelar di bulan suci Ra­ madan. Tapi, kenyataan di lapangan berbicara lain. Tiket yang dicetak sebanyak 70.000 lembar ludes terjual. “Di sisi lain saya juga dapat ma­ sukan, la­ in kali kalau bikin per­ tan­ dingan su­ pa­ ya mencari lawan yang

Kurnia Meiga di­be­ron­dong gol. Masing-masing oleh timnas Belanda (0-3), oleh Arsenal (0-7), oleh Liverpool (0-2), serta oleh Chel­sea (1-8).


ANTARA/PRASETYO UTOMO

TRANSFER ILMU -- Pelatih Chelsea Jose Mourinho (kiri) berbincang dengan pelatih BNI Indonesia All Star Rahmad Darmawan seusai konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/7). Chelsea bertanding melawan BNI Indonesia All Star pada 25 Juli lalu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. begitu luar biasa. GIA sengaja men­ jemput dan mengantar pulang Ste­van Gerrard dan kawan-kawan dari Li­ verpool ke Jakarta dan kembali ke Li­ verpool. Bahkan, GIA ikut mengantar pasukan The Reds ke be­berapa negara lain yang dikunjungi selain Indonesia, masing-masing ke Aus­tralia dan Thai­ land. Klub-klub dari Liga Primer Inggris me­mang paling banyak diminati para fans sepak bola di Indonesia. Dari ha­ sil sur­vei, sebetulnya yang tertinggi di­ catat oleh Manchester United yang me­ miliki tak kurang dari 30 juta fans di Indonesia. Klub yang dibesarkan oleh Sir Alex Ferguson ini sempat punya be­ rencana menyapa penggemarnya di Indonesia dua tahun lalu. Namun, rencana itu bu­yar akibat teror bom di Hotel JW Marriot yang akan menjadi tem­ pat tim berjuluk Setan Merah ini menginap selama di Jakarta. Agum Gumelar selaku promotor yang mendatangkan MU ke Jakarta saat itu pun dikabarkan mengalami kerugian hingga Rp30 miliar akibat kegagalan pertandingan persahabatan tersebut.

Agustus 2013

Jangan Hanya Bisnis Sepak bola, memang, akan selalu men­­jadi bisnis yang menggiurkan ke­ tika dikemas secara benar dan pro­ fesional. PSSI sendiri selaku stake ho­l­der tertinggi dalam pembinaan se­ pak bola Indonesia sejatinya tinggal me­nikmati keuntungan saja dari per­ gelaran-pergelaran friendly games

seperti tempo hari. Pasalnya, tanpa ha­ rus susah payah dari masing-masing pro­ motor PSSI mendapatkan fee se­ be­ sar Rp1,5 miliar. Itu artinya untuk em­pat laga itu PSSI sudah menikmati keuntungan Rp6 miliar. Tapi, tentunya akan lebih ideal jika bukan hanya keuntungan materi yang jadi satu-satunya tujuan yang ingin di­capai PSSI. Pasalnya, dari hasil pertandingan yang dicatat seperti men­ jadi gambaran betapa tidak seriusnya PSSI dalam menyiapkan tim. Betapa ti­­dak, untuk menghadapi tim-tim elite da­­ri Eropa, timnas Merah Putih hanya di­­bentuk dalam hitungan hari. Dengan persiapan fisik yang seadanya, hasil yang didulang pun sudah bisa diterka. “Fisik pemain-pemain Indonesia pa­ yah, mereka tidak siap untuk bermain se­lama 90 menit,” kritik Arsene Wenger, manajer tim Arsenal. Kritikan pelatih yang berkebangsaan Prancis itu memang benar adanya. Sta­ mina para pemain Indonesia hanya cu­ kup untk bermain selama 60 menit. Selebihnya para punggawa timnas In­­ donesia yang ditukangi Jackson F.Tiago dan Rahmad Darmawan jadi bu­lan-bulanan pemain lawan. PSSI se­ perti tidak serius menjadikan per­tan­ dingan uji coba tersebut sebagai se­­bu­ ah bekal yang berharga untuk meng­ hadapi event yang lebih penting. Pa­ da­ hal, Oktober mendatang Indonesia ba­­kal kedatangan tamu timnas China un­tuk melakoni babak kualifikasi Pra Piala Asia 2015. v Daryadi

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

ANTARA/ISMAR PATRIZKI

Steven Gerrard (Kapten Liverpool FC)

Olah Raga

seimbang buat In­ donesia,” ujar Okto yang juga aktif mempromotori per­ gelaran olahraga tinju dan otomotif. Kehadiran empat tim Eropa itu ke In­do­ne­sia memang dioperatori oleh empat promotor yang berbeda. Timnas Belanda hadir ke Indonesia merupakan bagian dari MOU antara PSSI dengan KNVB sebagai program pengembangan sepak bola di Indonesia. Sementara kehadiran tiga tim Li­ga Primer Inggris lebih merupakan ja­wab­ an atas kerinduan para fans me­ reka di Indonesia. Survei memang mem­­per­ lihatkan Indonesia merupakan pang­sa luar biasa yang harus dijaga. “Kami memang merasa perlu me­ nyapa penggemar Liverpool di Indonesia ka­rena data kami memperlihatkan ada se­ kitar 16 juta fans Liverpool di sini. Dan, ini merupakan yang terbesar ke­ dua setelah di negeri kami sendiri,” ujar manager Liverpool, Brendan Rodgers. Dan, atas nama bisnis pula, jangan ta­nyakan soal nasionalisme ketika mas­­ kapai penerbangan terbesar di Tanah Air Garuda Indonesia Airways (GIA) justru lebih memilih untuk mensponsori klub Liverpool ketimbang timnas Merah Pu­tih atau klub-klub sepak bola yang ber­ laga di Liga Super Indonesia. Pa­ dahal, un­tuk itu Garuda Indonesia Air­ ways ha­rus rela menggelontorkan dana hingga puluhan miliar rupiah. Servis yang diberikan untuk Li­ver­ pool saat bertandang ke Jakarta pun

61


Olah Raga

Meski hanya punya waktu dua bulan, Palembang siap untuk menjadi tuan rumah ajang Islamic Solidarity Games III, 22 September - 1 Oktober 2013.

M

Pesta Rakyat 15/2012 meru­pa­kan dasar pelaksanaan ISG di Pe­kan­baru, Riau. Pelaksanaan pesta olahraga negara Islam itu semula akan digelar di Pe­kan­ baru, Riau, 7-16 Juni. Namun, rencana itu gagal terlaksana. Selain belum siapnya infrastruktur, juga berkaitan de­ ngan status Gubernur Riau, Rus­ li Zainal yang tersangkut kasus hu­ kum dan kini menjadi tahanan KPK. Tuan rumah ISG III pun sempat di­wa­­ canakan untuk digelar di Jakarta. Na­ mun, rencana itu mentah lagi hingga akhirnya dipindah ke Palembang. Meski waktunya sempit, H. Alex Noerdin mengaku siap menjadi tuan ru­mah yang baik. Padahal, tantangan yang lebih besar peserta ISG III ini membengkak dari jumlah semula yang hanya 25 negara menjadi 38 negara. Sebanyak 25 negara yang telah me­ mastikan keikutsertaan, di antaranya Ma­ladewa, Suriah, Oman, Brunei Daru­ salam, Irak, Sudan, Kuwait, Bahrain, Tu­nisia, Iran, Gambia, Pakistan, Arab

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

ASYARAKAT Sumatera Se­ la­ tan (Sumsel) kembali akan berpesta. Setelah suk­­­ ses menggelar Pesta Olahraga Asia Teng­gara (SEA Games) 2011, Pa­ lem­­bang kem­­bali menggeliat seiring de­­ngan akan berlangsungnya ajang Is­ la­mic Soli­­darity Games III yang di­jad­ walkan berlangsung 22 September - 1 Oktober 2013 mendatang. “Kami memang seperti ditodong untuk menjadi tuan rumah ISG. Ka­ rena jika kami menolak maka ISG akan dipindah ke negara lain. Jadi, siap atau tidak siap, kami harus terima tugas ini,” ujar Gubernur Sumsel, H. Alex Noerdin saat berkunjung ke redaksi Suara Pemred, awal Agustus lalu. Sumsel memang cuma punya wak­tu dua bulan, sejak turunnya Keppres baru ISG No 23/2013 per 6 Juli lalu yang merupakan perubahan dari Kep­pres No 15/2012. Keppres baru ini merupakan dasar hukum untuk pe­ laksanaan ISG III di Palembang. Se­dangkan Keppres No

ISG Akan Jadi

SP/LUTHER ULAG

62

Pesta olahraga negara Islam itu semula akan digelar di Pekanbaru, Riau, 7-16 Juni. Rencana itu gagal karena infrastruktur belum siap serta status Gubernur Riau, Rusli Zainal kini menjadi tahanan KPK. Saudi, Mesir, Yordania, Azerbaijan, Su­ riname, Mozambiq, Albania, Aljazair, Gui­nea, Turki, dan Indonesia. Sebanyak 1.759 atlet dan 624 orang ofisial telah terdaftar untuk bertanding di 13 cabang olahraga. Jumlah atlet tersebut dipastikan bertambah seiring pertambahan jumlah negara peserta. Delegasi ISSF yang terdiri dari Abby Mubiru (Chairman Supervision and Coordination), Saeed Hussein An­ dul Ghaffar (member of SCC), Lan­ny G Kimbowa dan Ashraf Seyed Ab­ dellatif Dahtoug (ISSF Secretariat Sup­ port Team) juga sudah melakukan pe­ nin­ jauan ke Palembang, Kamis (1/8) lalu. Dari hasil kunjungan tersebut, Alex menjelaskan mereka sangat puas dengan sarana yang ada di Palembang, baik sarana hotel, stadion, atau rumah sakit yang akan menjadi rujukan. “Jumlah kamarnya memang akan kami atur agar mencukupi. Karena bila dibebaskan, negara-negara Arab yang terkenal kaya raya itu akan mem­ booking hotel tanpa batas,” tegas Alex. Khusus untuk dana, dari APBN telah dianggarkan sebesar Rp131 mi­ liar. Dana ini berkurang dari rencana semula Rp200 miliar karena terjadi peng­hematan anggaran setiap depar­te­ men. Untuk menutupinya akan ditam­ bah dari APBD serta sponsor lokal. Yang pasti, Alex menjanjikan ISG III tidak hanya akan menjadi pesta olahraga bagi negara-negara anggota OKI, tapi bagi masyarakat Palembang khususnya, serta Sumsel umumnya. “ISG akan menjadi pesta rakyat bagi seluruh masyarakat Sumsel, ka­ rena event ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Jadi, kami tidak ingin kehilangan momen yang istimewa ini,” tegas Alex. v Daryadi


Presiden SBY langsung menghubungi pemain untuk mengucapkan selamat.

Olah Raga

Pertanda Baik dari Guangzhao S

BADMINTONINDONESIA.ORG

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan me­reka mampu bersaing,” ujar Rexy be­ berapa waktu lalu. Gelar di Kejuaraan Dunia 2013 ini memang menjadi penting untuk me­ mompa semangat para pemain

In­­ donesia yang seolah trauma bila menghadapi pemain-pemain China. Kini, terbukti meski harus bertarung di kandang China, ternyata mereka pun bisa dikalahkan. v Daryadi

JUARA DUNIA BULU TANGKIS ASAL INDONESIA l

Tunggal Putra 1980 Rudy Hartono 1983 Icuk Sugiarto 1993 Joko Suprianto 1995 Hariyanto Arbi 2001 Hendrawan 2005 Taufik Hidayat

l

Ganda Campuran 1980 Christian Hadinata/Imelda Wiguna 2005 Nova Widianto/Liliyana Natsir 2007 Nova Widianto/Liliyana Natsir 2013 Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Tunggal Putri 1980 Verawaty Wiharjo 1993 Susi Susanti l

l

Ganda Putra 1977 Tjun Tjun/Johan Wahjudi 1980 Ade Chandra/Christian Hadinata 1993 Ricky Soebagdja/Rudi Gunawan 1995 Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky 1997 Candra Wijaya/Sigit Budiharto 2001 Tony Gunawan/Halim Haryanto 2007 Markis Kido/Hendra Setiawan 2013 Hendra Setiawan/Muhamad Ahsan

Ganda Putri Belum ada l

Agustus 2013

Selamat kalian sudah memberikan yang terbaik un­tuk Indonesia.

Liliyana Natsir/ Tontowi Ahmad

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

ETELAH hampir satu dasawarsa bulu tangkis Indonesia seolah tertidur, pertanda baik itu akhir­ nya mulai terlihat di ajang Ke­ jua­ raan Dunia Bulu Tangkis 2013 yang digelar di Guangzhao, China, 5-11 Agustus lalu. Dua gelar juara dunia yang berhasil di­bawa pulang lewat nomor ganda put­ ra melalui pasangan Hendra Setiawan/ Mu­hamad Ahsan serta ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Gelar itu seperti memperlihatkan bahwa bu­ lutangkis Indonesia belum habis. Di final yang dramatis, pasangan Hen­ dra/Ahsan berhasil mengalahkan pa­ sangan Denmark, Mathias Boe/ Chris­tian Mogensen 21-13, 23-21. Se­­ be­ lumnya Hendra/Ahsan juga meng­ hancurkan pasangan tuan rumah Cai Yun/Fu Haifeng. Tak kalah gemilang, pasangan Ton­ towi/Liliyana juga sukses mem­ bung­ kam dua pasangan terkuat China. Di final mereka mengalahkan Xu Chen/ Jin Ma 21-13, 16-21, 22-20. Se­ be­ lumnya di semifinal mereka juga me­ nga­ lahkan pasangan China lainnya Zhang Nan/Zhao Yunlei. “Ini sebuah pertanda yang cukup baik. Padahal, sebelumnya kami me­­nar­ getkan hanya satu gelar di Kejuaraan Dunia kali ini,” ujar Ketua Umum PBSI Gita Wirjawan yang turut mendampingi perjuangan para pemain Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, Presiden Su­silo Bambang Yudhoyono langsung menghadapi para pemain yang ber­ tarung di Guangzhao. “Saya dan para menteri menyaksikan lang­ sung perjuangan kalian. Selamat kalian sudah memberikan yang terbaik un­ tuk Indonesia,” kata Presiden SBY saat menghubungi Liliyana Natsir. Sejak ditangani oleh mantan pe­bu­lu tangkis Rexy Mainaky tiga bulan lalu, per­ ubahan besar memang langsung ter­lihat dari para pemain Indonesia. “Indonesia masih punya potensi pe­ main yang hebat, tinggal bagaimana me­­reka diyakinkan saja dengan ke­mam­ puan yang mereka miliki sebetulnya

63


Seleb

Cornelia Agatha

Alami KDRT

Nikita Mirzani

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Saling Klaim Dianiaya

64

BUKAN Nikita Mirzani kalau tak bikin sensasi. Masih hangat dalam ingatan saat ia duduk di kursi pesakitan karena kasus penganiayaan Januari 2013 lalu, Niki, sapaan akrab wanita kelahiran Jakarta, 17 Maret 1986 itu sudah bikin heboh lagi. Kasusnya, memang, masih soal peng­ ania­­ya­an. Bedanya, ketika kasus sebelumnya ia dituduh menganiaya, kali ini Niki mengaku ja­di korban penganiayaan. Peristiwa itu terjadi di Kafe Golden Monkey, Jalan Dayang Sumbi, Ke­camatan Coblong, Kota Bandung, Sabtu (27/7) lalu. Vokalis band rock Killing Me Inside, Onadio Leonardo, ikut terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap ibu satu orang anak ini. Hingga kini belum jelas, kasus dan keterlibatan Nikita maupun Onadio. Keduanya masih menjalani pemeriksaan secara maraton oleh penyidik. Di akun twitter Nikita (@NikitaMirzani) beberapa jam sebelum kejadian, Niki dan Ona­ dio memang berjanji untuk bertemu di Kafe Gol­den Monkey. Hari itu mereka bertemu untuk membicarakan pe­kerjaan. Ironisnya, sesaat sebelum ke­jadian penganiayaan, keduanya sempat mem­ublikasikan foto ciumannya di kafe tersebut. Anehnya Nikita dan Onad sama-sama meng­ aku menjadi korban pengeroyokan. Bi­bir­nya jontor, ada luka robek di bawah mata ser­ta di bagian bawah pipi kirinya ada bekas luka pu­ kulan. Ada juga luka lebam di kepala dan ta­ngan. Saling Klaim Tentang saling klaim penganiayaan, wanita bernama Fia membawa tiga saksi ke Polrestabes Bandung untuk menjerat Nikita Mirzani dengan tu­dingan penganiayaan. Ketiga saksi itu menuturkan bahwa mereka melihat Nikita menjambak rambut Fia. Sebagai selebritis, karier Nikita di dunia akting sebetulnya terbilang lumayan. Mengawali karier sebagai pembawa acara Take Me Out di Indosiar, berikutnya Niki membintangi sejumlah film layar lebar, antara lain: Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010), Perempuan-Perempuan Liar (2011), Nenek Gayung (2012), Mama Minta Pulsa (2012), Pacarku Kuntilanak Kembar (2012) serta Tali Pocong Perawan 2 (2012). v Daryadi

B

IDUK rumah tangga Cornelia Agatha, 40 tahun, dan Sony Lalwani, 40 tahun, yang dibangun sejak 27 Juni 2006 itu akhirnya karam juga. Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin Hakim Ketua Andy Reza Jaya, Kamis (1/8), mengabulkan permohonan gugatan cerai yang dilayangkan Lia, sapaan Cornelia. Gugatan cerai itu sudah dilayangkan Lia sejak 29 Oktober 2012 lalu. Setelah menutup cukup rapat soal alasan perceraiannya, pada sidang putusan itu pun terungkap salah satu alasannya adanya kekerasan. Lia menuding Sony kerap bertindak kasar alias melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga mencaci-makinya. Beberapa foto luka memar pada bahu kiri dan pipi kanan Lia sempat diajukan di dalam sidang cerai tersebut sebagai salah satu buktinya. Tak cukup sampai di situ, setelah permohonan cerainya dikabulkan hakim, Lia mengaku sudah mengadukan Sony ke Polres Metro Jakarta

Selatan. Kapan laporan dibuat dan apa materi pengaduannya tersebut, Lia belum siap membicarakannya. “Saya belum bisa komentar soal itu,” kata Lia yang tetap tegar. Ratu Vita, penasihat hukum Lia, juga tidak mau membeberkan pengaduan kliennya tersebut. “Saat ini belum bisa dijelaskan secara terperinci. Yang jelas, betul, kami melaporkan Sony ke Polres Jaksel,” jelas Ratu Vita. Hak Asuh Setelah berpisah, hakim juga memberikan hak pengasuhan atas buah cinta mereka si kembar Makayla Athaya Lalwani dan Tristan Athala Lalwani yang kini berusia tujuh tahun. Namun, hakim menolak tuntutan Lia yang meminta biaya asuh anak mereka sebesar Rp50 juta per bulan. Alasan hakim, tidak ada bukti pendukung dan tidak terungkap pekerjaan dan jumlah penghasilan pihak tergugat. Yang pasti, saat ini Lia sedang ingin menikmati kesendiriannya dengan status barunya sebagai janda. v Daryadi

TRIBUNNEWS.COM


Seleb

Yayuk Basuki Ingin Perjuangkan Nasib Atlet MENJADI anggota dewan adalah satu hal yang tak pernah terlintas dalam benak seorang Yayuk Basuki. Maklum, hampir dua pertiga hidup dari wanita kelahiran Yogyakarta, 30 November 1970 ini dihabiskan di lapangan tenis. Nyaris separuh belahan dunia sudah dijelajahinya demi tenis. Kini, ketika kiprahnya di lapangan tenis telah terhenti, seiring usianya yang tak muda lagi, Yayuk mulai merasakan betapa tidak adilnya nasib yang dialami para mantan atlet Indonesia. “Bayangkan, mereka sudah mendedikasikan hidupnya di olahraga demi nama Indonesia di mata dunia. Tapi, banyak

ID.OLAHRAGA.YAHOO.COM

sekali yang nasibnya kurang beruntung setelah mereka tidak lagi berprestasi. Hal itu akibat minimnya perhatian dari

pemerintah,” ujar Yayuk. Karena itulah Yayuk bersedia menerima pinangan dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk bertarung memperebutkan kursi anggota DPR Pusat. Mantan petenis peringkat 19 WTA ini ditempatkan di nomor urut 1 wilayah Jateng 1 dengan daerah pemilihan Semarang, Kendal, dan Ungaran. Menurut Yayuk, atlet Indonesia layak diperlakukan sama dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang setelah masa baktinya berakhir berhak mendapatkan pensiun. Adapun besarannya bergantung pada prestasi yang dicapai, mulai dari tingkat SEA Games hingga Olimpiade. v Daryadi

Vega Darwanti

Langsing, Makin Pede Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

SP/LUTHER ULAG

B

Agustus 2013

UAT presenter sekelas Vega Darwanti, penampilan adalah modal utama. Masalah itulah yang dirasakan Vega selepas melahirkan anak keduanya, seorang putri yang diberi nama Nadeva Letizia Senjaya, 18 Maret 2013 lalu. Presenter yang sempat naik daun saat mendampingi Tukul Arwana di acara “Bukan Empat Mata” di Trans7 ini mengaku selepas melahirkan anak kedua bobotnya melebihi 80 kg. “Karena itulah selama hampir tiga bulan saya belum berani tampil di depan kamera membawakan acara,” ujar Vega. Selama tiga bulan itu pula ia harus kerja keras untuk mencapai kembali bobot idealnya sekitar 55 kg. Beruntung, ia punya suami Dema Sany Senjaya yang berprofesi sebagai seorang dokter. Dengan begitu ia bisa dapat konsultasi gratis dalam mengatur diet yang ketat. Hasil­nya, Vega yang sebe­lumnya sudah memiliki seorang putra Razqa Atmadeva Senjaya (3 tahun), sudah terlihat ramping saat tampil di acara mudik bareng yang digelar PT.Sidomuncul di arena Pekan Raya Jakarta, Jumat (2/8) lalu. Yang pasti, Vega kini makin percaya diri. Terbukti, selepas jadi pendamping Tukul Arwana, wanita kelahiran Jakarta, 12 Maret 1986 ini sudah dipercaya menjadi host utama di sebuah acara talk show di Global TV. v Daryadi

65


Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

Jln Blora No.20 Jakarta 10310, Telp 021-31923388, Fax: 021-31923366

66


Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l

Agustus 2013

67


68

Suara PEMRED l Tahun I l Edisi 1 l Agustus 2013

Majalah Suara Pemred Edisi I  

Majalah Suara Pemred , Majalah yang memberikan Bnayak ulasan baik politik, hukum dan sebagainya

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you