Page 18

18

GERBATAMA 84 // 05 -2019

jelas

Coko

Musik

dari

Sudhobool.

Meski kedua band tersebut diklasifikasikan sebagai band indie, sebenarnya mereka berangkat dari beragam inspirasi dan gaya bermusik berbeda. “Referensi kita tuh beda-beda. Kan Baskara itu ke pop, gua funk metal, Awan tuh rock vintage 70-an, Dicky tuh yang ala-ala AC/DC glam metal gitu deh,” kata Bodat, drummer .Feast. Baskara menjelaskan bahwa konsep genre itu sendiri sudah melebur sehingga sebagian besar musisi tidak memilih genre. Mereka lebih memilih membuat karya musik yang terinspirasi dari lagu-lagu yang mereka suka dengarkan. “Karena sembilan puluh persen gua bisa bilang teman-teman kita semua di ruang musik itu, mereka engga memilih genre, genrenya memilih mereka.” kata Baskara. Hal yang sama juga dirasakan

oleh para anggota Sudhobool yang memiliki selera musik berbeda-beda tetapi disatukan musik orkes dan dangdut. “Jadi mungkin kalau gua suka metal, nih Munjin suka metal, ada juga yang suka punk gitu. Giliran orkes kita enggak kayak kita main pop gitu ya, jadi lebih senang aja karena orkes sama dangdut, apapun yang kita nyanyiin orang happy aja,” kata Yudha Sudhobool. Untuk ke depannya, Sudhobool berharap para penikmat dan para musisi bisa mengembangkan musik indie menjadi sarana ekspresi yang bermanfaat dan bukan sekedar kultur. “Kalau gua sih harapannya, kalau untuk musisinya ciptakan kreativitas yang lebih bebas lagi. Terserah mau ngomong apa yang penting itu buat kebaikan bersama. Kalau buat penggemar, gua saranin lebih belajar lagi lah. Jangan kata indie itu terjebak di stigma

kopi susu, males-malesan gitu. Intinya, lebih belajar lagi lah buat penggemar. Karena indie tuh kebebasan berekspresi, jadi kita pemuda bareng-bareng ekspresiin sesuatu yang bisa bermanfaat buat orang lain.” kata Munjin Sementara itu, .Feast berharap penggemar musik indie dan industri musik itu sendiri bisa meningkatkan apresiasi terhadap karyakarya musisi indie dengan membeli rilisan fisik maupun membiasakan penyelenggaraan acara musik tanpa bayaran. “Pokoknya, intinya adalah bagaimana caranya diapresiasi dengan baik lah. Kalau rilisan fisik lu bisa beli kan, cuma ini kan, kalau penyelenggaraan acara kan itu sesuatu yang kayak lu punya power 100% dari penyelenggaraan acara ini mau berbayar apa engga.” tutur Baskara. (mif/arpd)

Profile for Suara Mahasiswa Universitas Indonesia

Gerbatama: Ini UI! Edisi #84: "Terpisahkan Oleh Pilihan"  

Advertisement
Advertisement
Advertisement