Page 1


UIN Berasa IAIN

U

niversitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang masih dengan gagah berdiri di Sumatera Barat. Penambahan kualitas-kualitas yang selalu diupayakan membuat kampus ini semakin digemari bahkan dengan kuota yang semakin bertambah disetiap tahunnya. Sekarang ada kewajiban kampus yaitu data-data mahasiswa keseluruhan harus diinput ke Pagkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT). Hal ini tentu menjadi tugas yang harus diemban serius oleh kampus. Jangan sampai tahun berikutnya terjadi lagi, tidak terdaftarnya mahasiswa di PDPT setelah usai menjalankan Prodinya seperti beberapa kasus belakangan. Selain itu sudah 2,5 tahun berlalu Eka Putra Wirman memimpin kampus, dari yang sebelumnya IAIN kini sudah UIN. Tentunya kita ingin tahu keberhasilan apa yang beliau peroleh dan apa yang akan beliau capai 2,5 tahun ke depan. Nantinya hanya IAIN yang berubah jadi UIN, tanpa kualitas dan kuantitas yang bertambah. Mulai dari birokrasi, Sisfo, penyelesaian Dema yang tak kunjung usai, profesor yang produktivitasnya dipertanyakan serta beberapa kasus yang masih sama dengan IAIN dulu. Upaya perbaikan kualitas dan kuantitas harus terus dikembangkan, jangan sampai hanya mendapat nama UIN saja tapi masih merasakan keluh kesah IAIN. Harus ada pembenahan yang menunjang UIN yang nyata.

(+) Mahasiswa UIN IB Tidak Ter daftar di Forlap Dikti (-) Alah kuliah alun juo kami tadaftar pak (+) Kampus Harus Ideal (-) UIN jangan sekedar nama pak (+) Profesor Kami Lumpuh (-) Lebih produktif lagi untuk UIN kita pak

Akan Terus Bernapas

M

asih saja terus mengupayakan menjadi sarana informasi terupdate di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Suara Kampus menjadikan seluruh komponen kampus agar tetap membaca portal Suara Kampus sebagai media harian yang bisa di klik setiap saat. Pada penerbitan edisi 143 masih banyak kendala yang tidak jauh dari hal biasanya setiap penerbitan. Tak lepas dari itu tentunya juga tidak selalu komentar baik yang muncul, masih ada beberapa komentar yang tentunya bertujuan untuk memperbaiki kualitas Suara Kampus di universitas ini. Setelah menjadi universitas, Suara Kampus mengupayakan bagaimana tampilan dan karya lebih baik dari sebelumnya. Selain itu saat berlangsungnya penerbitan ini sebagian anggota Suara Kampus sedang mempersiapkan bibitbibit baru yang juga akan ikut berkreativitas, menuangkan ide, ikut belajar di LPM Suara Kampus. Penerimaan

Mahasiswa UIN Ikuti Tes Tulis Suara Kampus anggota baru setiap tahunnya dengan minat yang selalu bertambah setiap tahunnya. Hal ini tentunya juga harus diperhatikan oleh kampus karena minat mahasiswa yang banyak untuk menulis dan belajar, ini juga merupakan suatu kebanggaan sendiri bagi Suara Kampus. Karena dengan ini Suara Kampus akan terus bernapas dengan karya. Rasa syukur kita limpahkan kepada

sang pencipta dengan rahmat beliau terbitnya tabloid ini dengan baik. Setiap kendala yang ada selalu diupayakan seminimalisir mungkin agar tampak lebih baik kedepannya. Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami limpahkan kepada pembaca setia Suara Kampus, karena selalu menjadi penikmat karya-karya ini. Salam Persma!

Batu Pertama

Naufal Ash Siddiq Redaktur Pelaksana

B

anyak orang mengatakan, peletakan batu pertama hanya sabagai simbol belaka, untuk menunjukan bahwa akan dibangun sebuah bangunan di lokasi tertentu, namun istilah batu pertama ini telah menjadi ritual wajib ketika ingin membangun sebuah bangunan yang besar, biasanya batu ini diletakan oleh orang berpengaruh atau tokoh besar, batu tersebut juga bukan batu sembarangan bahkan ada sebagian orang yang meng-

keramatkannya. Terdapat beberapa jenis batu yang acap kali digunakan, seperti batu gunung, batu sungai dan sebagian menggunakan bata atau batako. Posisinya juga memiliki tempat khusus yang telah disediakan, bisa di tengah, di pinggir, atau di sisi bangunan yang akan dibangun tersebut. Batu pertama dipasang paling bawah bangunan dan akan menjadi patokan untuk membuat pondasi, memasang dinding dan beberapa batu lagi sebagai pelapis atau pelengkap yang nantinya akan menjadi cikal bakal untuk membuat sebuah bangunan yang kokoh dan besar. Untuk mengetahui sebuah bangunan itu kokoh atau kuat terletak pada pondasinya, pondasi yang kuat tersusun dari batu-batu pilihan seperti batu

gunung atau batu sungai, mulanya beberapa batu tersebut dipecahkan dan setiap pecahannya tidak pernah sama, lalu pecahan-pecahan tersebut dipasang dengan semen kualitas nomor satu agar merekat dengan kuat, tidak semua batu bisa digabungkan dengan batu-batu lainnya harus menyesuaikan dengan “Form� batu pertama yang telah dipilih dan dipasang terlebih dahulu. Tumpukan batu di atasnya dipasang dengan bentuk yang harus sesuai dengan batu pertama, apabila tidak cocok dan sulit dipasangkan maka akan kembali dipecahkan hingga bentuknya sesuai atau ditukar dengan batu yang lain yang lebih kuat dan serasi utuk menjadi pelapis. Dan akhirnya apabila seluruh batu telah dipasang maka terbentuklah bangunan yang kokoh.

Pemimpin Umum : Rahmi Yati. Wakil Pemimpin Umum : Nofri Migo. Sekretaris Umum : Ulvia Rahmi. Bendahara Umum : Sartika. Pemimpin Redaksi : Lisa Fauziah. Redaktur Pelaksana : M. Rahmadh Naufal Ash Siddiq, Miftahul Ilmi. Koordinator Pelindung : Rektor UIN Imam Bonjol Padang Dr. H. Eka Putra Wirman, Lc, MA Penanggung Jawab : Wakil Rektor III UIN IB Padang Dr. Ikhwan Matondang, S.H, M.Ag Kepala Biro AAKK UIN IB Padang Drs. H. Salman, MM Pembina : Yulizal Yunus, Shofwan Karim Elha, Emma Yohanna, Sheiful Yazan, Suardi Sikumbang, Abdullah Khusairi, Muhammad Nasir, Andri El Faruqi Dewan Redaksi : Zulfikar Efendi, Jeki Fernandos, Rahmadi, Aidil Ridwan Daulay, Amaliyatul Hamrah

Liputan : Ganti Putra Wardana. Redaktur : Muhammad Iqbal, Miftahul Jhannah, Cani Silpina, Siti Sundari, Syifa Aulia. Editor

Video : Rifki Harpen Hidayat. Koordinator Pracetak : Dina Audya F.R. Pemimpin Perusahaan : Khairul Nasri. Manager Usaha

dan EO : Ananda Rhandy Pratama. Manajer ADM dan Umum : Utia Syafitri. Manejer Iklan : Suci Mawardah Warahmah. Manajer Sirkulasi : Tika Refendra. Pemimpin SDM : Anindia Padsun. Koordinator SDM : Fatma Sari. Kepala Pusda Litbang : Meilia Utami. Koordinator Litbang : Muliadi. Koordinator Pusda : Zulfaizah Fitri. Wartawan

Iko Juhansyah (Mg), Jafri Ayub (Mg), Fadhil Anriva (Mg), Amelysa (Mg), Lisa Arischa (Mg), Dola Oktavia (Mg), Fitrah Al Siddiq(Mg), Jul Mardiyah (Mg), Zikra Mulyani (Mg), Alri Fandi Fernando (Mg), Amalia Ulfa (Mg), Ijul (Mg), Alqanit Qurba (Mg), Irfan Taufiq

(Mg), Ayu Anda (Mg), Sri Mardaleni (Mg), Citra Mona Zahara (Mg), Purna Mutiah (Mg), Cici Yuli Wartuti (Mg), Indah Purnama Sari (Mg), Putri Diana (Mg), Nola Chorlina (Mg), Dayu Al Azmi (Mg), Waladon (Mg), Aulia Zikra (Mg), Rosida (Mg), Siska Fahira (Mg), Devia Yolanda (Mg), Riyandi (Mg),


Patah Tumbuh

Deradikalisasi Yes Deidiologisasi No

Hilang Berganti

Meilia Utami Kepala Pusat Data dan Litbang Suara Kampus

“ S

Patah tubuh hilang berganti, belum patah sudah tumbuh belum hilang sudah ada gantinya”. emboyan ini sangat akrab ditelinga penulis. Setiap tahun semboyan ini selalu dibacakan dalam laporan pertanggungjawaban dan serah terima amanat jabatan kepengurusan. Dimana masa kepengurusan yang telah habis masa jabatan selama satu periode harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya organisasi memiliki tujuan bersama. Kembali kepada penggalan paragraf satu, penggalan motto ini erat kaitannya dengan waktu. Pada waktu tersebut seluruh anggota bersinergi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dan disinalah letak pentingnya peran seorang pemimpin. Namun pemimpin tidak dapat bekerja sendiri, kerjasama seluruh anggota sangat diperlukan. Penyebab tidak tercapainya tujuan salah satunya seleksi alam. Kata ini sering diungkapkan kepada anggota dan satu persatu mulai hilang hingga memutuskan tidak aktif. Hal ini berakibat pada penyusutan anggota dalam segi kuantitas serta berkurangnya kepengurusan yang bertanggungjawab dalam menyelesaikan program kerjanya. Untuk itu, sebelum melangkah dan ikut terlibat sebuah organisasi berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak menjadi salah satu dari anggota yang terseleksi alam. Belajar bersosialisasi, bertanggungjawab serta bekerja sama dalam tim. Karena waktu yang berlalu tidak terulang kembali. Maka manfaatkanlah setiap kesempatan yang kita miliki. Kami menerima tulisan dalam berbagai bentuk, silahkan kirimkan karya terbaru mu ke email lpm Suarakampus@gmail.com . Pengiriman karya terbuka untuk umum. Sertakan foto dan identititas diri. Untuk info lebih lanjut silahkan hubungi 081261381055. 08127564xxx Awak lebih mempertanyakan dema UIN IB, kalau bisa kedepannya kerja dema harus ditingkatkan. Kami sebagai mahasiswa saja tidak mengenal siapa

G

ejala radikalisme di Indonesia tampaknya kian mencuat ke permukaan. Pemerintah menilai gejala ini merupakan sebuah ancaman bagi kelangsungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Untuk menanggapi hal demikian, pada 10 Juli 2017, Pemerintah mengeluarkan Perpu RI Nomor 2 Tahun 2017. Salah satu isinya, pasal 59 ayat 4 poin C menegaskan bahwa, “ormas dilarang menganut, mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila”. Maksud dari ajaran atau paham yang bertentangan dengan pancasila antara lain adalah ajaran ateisme, komunisme atau marxisme-leninisme atau paham lain yang bertujuan mengganti atau mengubah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (salinan PERPU No. 2 Tahun 2017).

Pertanyaannya, segawat dan segenting itukah keamanan NKRI sehingga mengharuskan presiden mengeluarkan Perppu?. Atau ini hanyalah sebuah tindakan subjektif pemerintah untuk mempolitisasi kelompok yang oposisi?. Persoalan ini ternyata menimbulkan spekulasi beragam dari berbagai tokoh dan lembaga. Misalnya Yati, Koordinator Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mengingatkan bahwa Pemerintah tidak perlu mengeluarkan Perppu ormas ini, karena UU No. 17 Tahun 2013 tentang Ormas telah cukup jelas mengatur pembubaran suatu ormas yang dianggap mengancam negara. (Kompas, 24 Juli 2017) Adanya gejala radikalisme memang tidak dapat dibantah. Berbagai aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini menguatkan hal itu. Pasca bom Thamrin 12 Januari 2016, teror bom kembali terjadi pada 24 Mei 2017 di kampung Melayu. Dalam aksi ini, lima orang tewas dan sepuluh luka-luka. (Kompas, dema, apa kerja dema. Dema terkesan sekedar pajangan didepan gsg. Kemana dema? 0898564xxxx Teruntuk dosen-dosen tercinta, kami sebagai mahasiswa menginginkan agar dosen-dosen bertanggung jawab dengan tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pengajar. Jangan lepas tangan, mahasiswa tidak boleh terlambat kenapa dosen boleh terlambat? Mahasiswa harus melakukan tugas tepat waktu, kenapa dosen tidak menjalankan tugasnya dan jarang masuk kelokal?

diktator sebagaimana komentar anggota DPR RI, Fahri Hamzah. (Kompas. com , 10/08/2017)

Nanda El Jambaky Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Imam Bonjol Padang

25 Mei 2017) Ini merupakan fakta bahwa radikalisme tengah mengancam keamanan negeri ini. Akan tetapi, sebuah ironi ketika belakangan ini, radikalisme selalu diidentikan dengan Islam. Frame ini agaknya terbangun karena aksi teror yang ada di Indonesia kerap dimotori oleh kelompok Islam “radikal”. Kenyataan ini jelas merugikan umat Islam Indonesia. Sebab akan memberikan streotype pada seorang muslim dan agamanya, sebagaimana dituduhkan pada HTI belum lama ini. Lalu persepsi ini, pada akhirnya tentu akan melahirkan islamophobia di negeri yang mayoritas muslim sendiri. Padahal sesungguhnya tidak satupun ajaran Islam mengajarkan penganutnya untuk bertindak radikal.

Beragam cara tengah diupayakan untuk menangkal arus radikalisasi. Salah satu upaya pemerintah dalam hal ini adalah mendirikan BNPT (Badan Nasional Penaggulangan Terorisme) sesuai Peraturan Presiden Nomor 46 tahun 2001. Akan tetapi arah deradikalisasi pemerintah masih belum jelas dan tegas, apalagi setelah terbitnya PERPU NO 2 tahun 2017. Pemerintah selama ini hanya terpaku pada pendekatan hukum dan keamanaan. Jika demikian, pemerintah akan dinilai 089567xxxx Buk, pak… kami butuh fasilitas wifi untuk mencari tugas. Karena tidak semua kami bisa membeli paket setiap hari. Mungkin tidak hanya mahasiswa yang membutuhkan wifi, dosen pun terkadang juga membutuhkan untuk proses ajar mengajar. 089578xxxx Dari segi aturan yang diterapkan di UIN Imam Bonjolini yang berbasis minang kabau yang tau dengan ABSSBK (adat basandi syara’, syara basandi kitabullah) harusnya tidak ditinggalkan. Dari

Meskipun upaya de-radikalisasi cukup gencar dilakukan melalui berbagai institusi pemerintahan dan lembaga sosial-pendidikankan, akan tetapi belum tanpak titik terang dari persoalan radikalisme yang cukup pelik ini. Salah satu penyebabnya, deradikalisasi masih ber-orientasi pada penyeragaman idiologi. Misalnya, poin ke empat deklarasi Pimpinan PTKIN se Nusantara beberapa waktu lalu seakan ingin mengekang manusia-manusia idealis di dunia kampus untuk kritis dan peka terhadap kebijakan pemerintah. (Republika, 2/5/2017) Dengan slogan NKRI harga mati Bila demikian, proyek de-radikalisme agaknya dapat menjadi pintu masuk politisasi pemerintah dalam mambatasi pihak-pihak yang mengancam status quonya. Karena setiap advokasi yang dilakukan untuk menyampaikan aspirasi dan kritikan tentunya akan diklaim tindakan radikal dan subversif. Bagaikan api dalam sekam, “proyek” de-radikalisme yang diupayakan Pemerintah tampaknya hanya akan melahirkan bibit radikalisme baru. Apalagi dengan sikap subjektif Pemerintah dalam menghakimi Ormas Islam dengan klaim radikal dan non radikal, dapat menyulut perpecahan internal umat. Oleh karena itu, deradikalisasi mestinya harus berimplikasi pada pencegahan tindakan radikal, tidak boleh digunakan sebagai legitimasi untuk mengintimidasi sebuah lembaga atau kelompok. Pemerintah bisa saja membubarkan organisasi setiap menitnya dan memenjarakan tokohtokohnya. Namun pemerintah tidak akan mampu memenjarakan apalagi membubarkan sebuah idiologi yang bersemayam dalam aqal manusia. segi aturan nan berlaku di UIN IB yang biaso kito liek, masih ado nan marokok dikampus, belajar lanjut ketika azan sholat. Kenapa kebiasaan ini tidak dapt dihilangkan? 089523xxxx Mohon maaf sebelumnya bapak ibuk yang terhormat, kenapa harus ada larangan memakai gamis? Bukankah itu lbih baik dan lebih sopan ketimbang rok span dan baju ketat pas-pasan badan? Allah telah tunjukkan yang baik, kita adalah universitas islam kenapa berbasic awwam?


Mendaftar Tapi Belum Terdaftar Terjadi Kegagalan Pengiriman Data ke Forlap Dikti

S

eperti tidak habis-habisnya permasalahan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Mahasiswa dan alumni disibukkan dengan pengisian data ke Forlap Dikti karena alumni dinyatakan banyak yang tidak terdaftar dan mahasiswa yang sedang kuliah juga harus antisipasi dengan terdaftar atau tidaknya di UIN ini. Sistem Informasi (Sisfo) UIN IB Padang gagal untuk meng-ekstrak datadata mahasiswa ke laman website Forlap Dikti. Akibatnya, terdapat banyak data mahasiswa maupun alumni yang tidak terdaftar di Forlap Dikti. Menanggapi hal ini, Rektor UIN IB Padang Eka Putra Wirman himbau seluruh alumni yang tidak terdaftar untuk mendaftarkan dirinya ke Pusat Teknologi Informasi Pangkalan Data (Pustipanda) UIN IB Padang. “Mahasiswa yang sudah memeriksa di Forlap Dikti dan nama serta datadata dirinya tidak ada segera daftarkan ke Pustipanda,” himbaunya. Rektor menyayangkan hal ini terjadi, ia mengatakan hal tersebut merupakan tanggung jawab Pustipanda. Namun karena kurangnya daya tampung server tersebut Eka sudah merancang sebuah sistem baru yang dinamakan Portal Akademik. “Kita tinggalkan Sisfo dan diganti dengan Portal Akademik yang daya tampung server-nya telah dirancang sebaik mungkin,” kata dia.

“Mahasiswa yang sudah mencek di Forlap Dikti dan nama serta data-data dirinya tidak ada segera daftarkan ke Pustipanda,” ~ Eka Putra Wirman ~ Rektor UIN Imam Bonjol Padang

Adanya isu tentang tidak diakuinya ijazah UIN IB Padang oleh Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Eka menegaskan bahwa hal tersebut bukan permasalahan ijazah. “Permasalahannya data mereka yang kuliah di sini tidak ada di Forlap Dikti, selanjutnya silahkan tanyakan ke Pustipanda,” ujar Eka saat diwawancarai oleh Suarakampus.com di ruangannya. Di lain tempat, Arwen Rian Kepala Pustipanda saat ditemui di ruang kerjanya menanggapi persoalan di atas, disebabkan kegagalan Sisfo untuk mengekstrak data ke Forlap Dikti. “Seharusnya data seluruh mahasiswa yang ada di Sisfo tersebut langsung masuk ke Forlap Dikti,” kata Arwen. Kegagalan tersebut mengakibatkan mahasiswa bersangkutan tidak ter-

daftar di Forlap Dikti sehingga ketika melamar kerja, terjadi kesulitan-kesulitan administrasi. Arwen mengatakan hal ini terjadi ketika melamar pekerjaan di perusahaan besar atau penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Ketika di cek datanya ke Forlap Dikti, data mahasiswa tersebut tidak ada. “Pengalaman saya waktu itu ada perusahaan di Jakarta yang menelepon untuk menanyakan seorang Alumni IAIN yang melamar di perusahaannya tapi datanya tidak ada di Forlap Dikti. Lalu saya cek nama mahasiswa tersebut di fakultas dan jurusannya ternyata dia memang alumni dari sini,” kata dia. Ketika dicek oleh Suarakampus.com pada website forlap.kemenristekdikti. go.id, mahasiswa yang baru terdaftar dan memiliki data hanya pada tahun masuk 2017. Arwen mengatakan data

mahasiswa yang terdaftar di Forlap Dikti baru sampai pada mahasiswa yang masuk tahun 2015, juga terdapat beberapa alumni yang tidak terdaftar. Ia juga mengatakan, jadwal pengiriman data mahasiswa ke Forlap Dikti adalah satu kali dalam satu semester. “Untuk semester ini, terjadi kegagalan pengiriman data ke Forlap Dikti,” uajrnya. Arwen juga menegaskan hal ini bukan berarti ijazah UIN IB Padang tidak diakui oleh Kemenristekdikti. Ia mengatakan ini hanya persoalan data online mahasiswa. Untuk itu, setiap fakultas saat ini harus mengetik ulang semua data mahasiswa lama dan baru untuk di daftarkan ke Forlap Dikti. Berdasarkan fakta yang ada, pembaharuan data belakangan ini banyak dilakukan di media sosial seperti Facebook, WhatsApp dan lainnya. Arwen Rian mengakui bahwa hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk pembaharuan data mahasiswa. “Ya, itu salah satu upaya, selain pengisian di masing-masing fakultas,” ujarnya. Solusi mengenai persoalan ini, Arwen mengatakan sudah merancang sebuah portal akademik yang diuji coba pada bulan ini. Mengenai persiapan tahap pengujicobaan portal akademik, saat ini tengah dilakukan migrasi data dari Sisfo ke Portal Akademik. Ia sangat optimis portal akademik tersebut akan berhasil uji coba. “Portal Akademik itu


akan berhasil uji coba karena dibuat dengan sungguh-sungguh,” ujar dia. Pengumpulan Data Forlap Dikti resmi dipakai pada tahun 2009, namun kenyataannya di Kementrian Agama (Kemenag) baru memakai sejak tahun 2014 dan data yang harus ada dimulai dari 2009. Mantan Wakil Rektor I UIN IB Padang Ikhwan Matondang mengatakan pihak Dikti harus lebih bijak lagi menetapkan dan menempatkan orang yang benar-benar paham hukum dalam menetapkan peraturan.Untuk melengkapi kekurangan data tersebut pihak UIN sendiri terpaksa bekerja keras dalam mengumpulkan data dari seluruh mahasiswa dan juga dari para alumni. “Pengumpulan data tersebut bisa melalui media sosial seperti Facebook, Whatsaap dan juga lewat pesan singkat. Kemudian data akan dikumpulkan oleh tiap fakultas dan di kirim ke Pustipanda yang akan diinput ke Dikti,” ujar Ikhwan. Nurul Salihin selaku Wakil Dekan I Fakultas Syariah mengatakan prosedur yang sudah dijalankan yaitu menyebar-

kan link pemutakhiran data di internet. “Bagi alumni dan mahasiswa aktif yang sudah mendapat informasi untuk segera mengisi data,” ujar Nurul. Nurul menambahkan kedua metode tersebut belum menjamin pasti semua data terdaftar, karena ada 41 hal yang harus diisi. Jika data belum lengkap, maka belum terdaftar secara resmi. Ditakuti akan ada masalah yang timbul nantinya. “Saat ini pihak fakultas sudah semaksimal mungkin untuk memasukkan kembali data mahasiswa yang tidak terdaftar secara manual,” ungkap Nurul. Tujuan dari pengumpulan data itu sendiri adalah menata rapi seluruh ijazah agar diketahui mana yang asli dan yang palsu. Masalah Sistem informasi (Sisfo) UIN Imam Bonjol menjadi masalah utama tidak terdaftarnya mahasiswa ke Forlap Dikti, sehingga merugikan mahasiswa yang sudah menjadi alumni karena ijazah tersebut tidak diakui dan dianggap palsu. Tidak hanya Sisfo, mahasiswa send-

iri juga mempengaruhi dalam pengumpulan data ini karena data yang diisi tidak memenuhi secara rinci sebab kapasitas Sisfo yang terbatas dan nilai mahasiswa yang tidak keluar juga menjadi kendala karena belum menginput nilai ke Sisfo. “Angkatan 2009, 2010, 2011 menjadi kendala besar dalam mengumpulkan kembali karena saat itu kampus belum menggunakan Sisfo,” ungkap Nurul saat ditemui Suarakampus.com. UIN IB harus lebih giat lagi memperbaiki proses kerja Sisfo dengan daya tampung yang lebih besar dan penyebaran data harus update setiap tahunnya. “Jika data di internet tidak lengkap maka akan digunakan metode manual kembali agar seluruh nama mahasiswa UIN IB terdaftar dan tidak ada lagi kasus ijazah palsu,” sambung Nurul. Salah seorang alumni Yaumil yang ijazahnya belum terdaftar menyayangkan hal ini, menurutnya pihak kampus harus kembali mencari solusi untuk hal ini. ”Seharusnya sejak awal masuk mengisi data dan langsung terdaftar hendaknya, bukan setelah wisuda ini

baru didaftarkan,” keluhnya. Menurutnya hal ini sangat mengecewakan karena ijazah yang diterima adalah sebuah kebutuhan, contohnya dalam mencari kerja. Dalam hal ini seharusnya pihak kampus memberikan akses yang mudah kepada mahasiswa untuk mempermudah segala urusan yang menyangkut sistem informasi agar hal ini tidak terulang kembali. “Sudah empat tahun saya menyelesaikan kuliah namun tidak pernah sekalipun mengisi data seperti saat ini, hal ini juga sulit bagi saya untuk pertama kalinya,” tegasnya. Harapan Yaumil untuk kejadian ini, ada baiknya kampus UIN IB Padang lebih meniru lagi kepada kampuskampus yang sudah mendaftarkan diri ke-PDPT. Serta pihak kampus lebih baik lagi kedepanya, baik administrasi maupun fisik untuk mempermudahkan urusan di kampus,”harapnya. Ganti Putra Wardana, Fadil Anriva (Mg),

Dola Oktavia (Mg), Sri Mardaleni (Mg),

Jumlah Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang Terdaftar di Forlap Dikti

Citra (Mg), Zikra Mulyani (Mg)


Menuju UIN Imam Bonjol Padang yang Ideal

S

etengah abad keberadaan IAIN Imam Bonjol (IB) Padang sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang memiliki banyak pengaruh terhadap dunia pendidikan di Sumatera Barat. Kini, IAIN itu telah beralih status menjadi UIN Imam Bonjol. Perubahan tersebut tertera dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 tahun 2017. Perubahan itulah yang selalu didambakan oleh seluruh civitas akademika. Sudah saatnya, UIN Imam Bonjol sebagai perguruan tinggi Islam merencenakan semua hal terkait kemajuan kampus yang ideal. Sehingga kampus ini mampu menghasilkan pemuda dan pemudi dari berbagai wilayah Indonesia sebagai mahasiswa yang berkualitas. Untuk mewujudkan semua itu, perguruan tinggi harus merealisasikan fungsinya, berupa pendidikan, penelitian hingga pengabdian masyarakat yang harus diterapkan dengan sebaik mungkin. Bukan hanya sekedar ikutikutan menjadi UIN yang telah dimiliki kampus lain tanpa melihat kesiapan dan kesanggupan hingga kapasitas sumber daya yang kita miliki. Meningkatkan mutu dan memajukan sebuah perguruan tinggi yang dihuni oleh kaum intelektual merupakan sebuah keharusan yang harus perlu diusahakan. Apalagi dewasa ini, mengingat persaingan maupun serangan

“Kita perlu perubahan yang signifikan untuk kampus kita ke arah yang lebih sempurna” ~ Eka Putra Wirman ~ Rektor UIN Imam Bon jol Padang

berupa kompetisi antar lembaga perguruan tinggi semakin sengit. Eka Putra Wirman, Rektor UIN IB Padang menyebutkan, perubahan IAIN menjadi UIN bukan akhir dari segala perjuangan, tetapi menjadi alat untuk membenahi diri. “Kita perlu perubahan yang signifikan untuk kampus kita ke arah yang lebih sempurna,” paparnya. Bukan hanya perubahan status belaka, melainkan mengharuskan terjadinya perubahan dalam seluruh aspek, seperti ideologi, konseptual, sistem administrasi hingga manajerial. “Tinggalkan pola pikir tradisional menjadi pola pikir yang lebih modern yang memiliki tolak ukur, harus bercitarasa UIN, tidak institut lagi,” terangnya. Salah satu persoalan yang menjadi kendala bagi Eka untuk mengembangkan UIN IB adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang efektif. Eka mengaku tidak puas dengan kinerja SDM yang ada, walaupun Eka juga mnegakui pencapaian-pencapaian SDM yang ada

telah bagus. “Menurut saya itu takdir dan harus diterima, tetapi saya akan berusaha untuk mendorong agar SDM yang ada dapat bekerja lebih baik lagi,” ungkapnya. “Saya juga telah beberapa kali berbincang dengan Biro mengenai tunjangan kinerja (Tukin) untuk pegawai. Kalau kerjanya memang bagus tidak apa-apa diberi Tukin, kalau kinerjanya buruk untuk apa diberi Tukin,” tegas Eka. Eka mengaku persoalan besar yang dihadapi saat ini adalah civitas akademik harus mengorbankan semangat optimisme UIN. Pasalnya, hingga saat ini lapisan civitas akademik hanya menerima apa adanya tanpa melakukan perubahan atau inofasi. “Ini persoalan besarnya. Namun saya sangat optimis masa depan UIN ke depannya, kalau tidak optimis saya akan tinggalkan jabatan ini,” ujar Eka. Menuju Kampus UIN yang Ideal Setelah beralih status dari IAN ke

UIN, Eka mengatakan telah terjadi perubahan visi. Untuk saat ini, Eka menjelaskan visinya saat ini yaitu Menjadi Universitas yang Kompetitif di ASEAN pada 2037. “Kita jelas tidak bisa menyaingi UIN Jakarta, namun kita ingin berada dalam lingkaran persaingan seASEAN, itu maksud dari kompetitif,” jelas dia. Eka memaparkan, harus menyiakan langkah-langkah dasar untuk memajukan UIN ke arah yang lebih baik. Hal-hal tersebut seperti pembenahan sarana dan prasarana. “Kita berfikir fundamental dahulu tidak mercusuar,” ujar Eka. Lain dari pada itu, diatas semua pencapaian besar yang telah dilakukan, Eka mengaku telah gagal dalam menyelesaikan persoalan mahasiswa dan Sistem Informasi (Sisfo) yang selalu mengalami kerusakan. Eka menjelaskan semua itu tidak lepas dari kegagalan tim kerjanya. Eka akan memfokuskan kepada sarana pembuatan laboraturium bagi masing-masing jurusan atau Program Studi (Prodi) yang telah mencapai akreditasi A. “Untuk empat tahun pertama ini perbaikan sarana dan prasarana. Selama ini kan labor itu hanya labor-labor saja, untuk ke depannya, akan segera direalisasikan, saya sudah beritahu ke seluruh fakultas,” papar Eka. Bukan hanya sekedar SDM, Eka


akan melakukan perombakan terhadap pelayanan akademik salah satunya dengan memperbaiki Sisfo. Eka telah merancang Portal Akademik sebagai pengganti dari Sisfo dan sedang berada dalam tahap imigrasi (pemindahan) data-data UIN IB Padang. “Rancangannya sudah selesai, akan diuji cobakan pada bulan ini (Oktober 2017),” katanya. Eka juga menyayangkan beberapa kinerja SDM yang kurang bagus, namun pemecatan terhadap SDM seperti itu tidak bisa dilakukan karena bukan dalam kebijakannya. “Mana bisa diganti, mereka itu kalau diganti hanya bisa ketika terkena pasal-pasal hukum, seperti perbuatan kriminal, asusila, dan lain-lain. Duduk-duduk saja kerjanya tidak apa-apa itu,” kata Eka. Senator UIN Imam Bonjol Padang, Sheifullah mengatakan bahwa UIN menghadapi kondisi yang tidak diinginkan oleh seluruh civitas akademika. Dia juga menjelaskan UIN masih tetap IAIN namun ada perubahan perlu dilakukan. Hal yang perlu dirubah adalah sikap, mental dan mindset pemikiran ke arah yang lebih maju. “Civitas akademika UIN ini harus lebih giat, bertanggung jawab, rajin dan lebih perhatian kepada kondisi mahasiswa pada saat ini. Kita tidak akan bisa merubah UIN ini jika pemikiran kita masih sebatas IAIN belaka,” paparnya. Untuk menuju UIN Imam Bonjol Padang yang ideal, Sheifullah memaparkan, SDM hingga bangunan kampus harus ditingkatkan walau lambat namun pasti. Tenaga kepegawaian harus ditambah, kapan perlu ditambah pelatihan guna menambah wawasannya. Jangan hanya para tenaga pendidik saja yang

diperhatikan. “Nah, untuk masa yang akan datang, kita berikan kesempatan pegawai untuk maju,” paparnya. Bukan hanya pegawai, dosen serta mahasiswa yang diperhatikan. Pimpinan kampus perlu diperhatikan, Eka mesti mencapai targetnya sebagai pimpinan. Menurut undang-undang rektor sudah memenuhi syarat yang sudah sah, tapi untuk sekarang yang penting gaya kepemimpinan rektor harus baik dari sebelumnya. “Rektor musti profesor, untuk periode yang akan datang, ndak ado cerito doktor bisuak harus profesor lai, namun untuk sekarang sudah cukuplah ini, kan rektor sekarang adalah periode transisi IAIN ke UIN,” katanya. Sementara itu, menurut Kabiro Administrasi Umum dan Keuangan, Khairunnas berpendapat, untuk memajukan kampus, perlunya membangun birokrasi yang berpatokan pada statuta. “Birokrasi sudah berjalan dengan baik hanya saja SDM semua belum merata, disamping itu belum ada pelatihan yang khusus untuk meningkatkan SDM kita. Contoh pengelola keuangan dan kepegawaian,” paparnya. Selain itu, Kepala Perpustakaan Institut, Afrizal mengatakan, banyak perkembangan yang telah dirasakan, sejak Agustus perpustakaan telah memiliki link pustakauinib.ac.id dan telah memiliki input story yang bertujuan untuk menyimpan file PDF skripsi mahasiswa yang telah wisuda. “Ada juga Jurnal Imam Bonjol kajian informasi dan perpustakaan yang sudah online dan dicetak baru sekali,” ungkapnya. “untuk menunjang kualitas akademik, nantinya akan ada 5000 koleksi buku untuk semua jurusan dan

kami juga menggandakan buku yang dibutuhkan mahasiswa namun terbatas, seperti buku penelitian, sejarah dan psikologi untuk kami utamakan bagi mahasiswa yang akan tamat,” lanjut Afrizal. Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Usman mengatakan, UIN IB harus meningkatkan pembangunan, pendidikan, penelitian hingga pengabdian masyarakat serta merubah pola pikir mahasiswa agar tidak terbui oleh sebuah nama dari kampus. ”Maksudnya jangan hanya besar nama tapi juga besar jiwa dan tangung jawab dalam menjunjug tinggi sebuah nama,” katanya. Untuk kedepannya, infrastruktur musti lebih lengkap agar civitas akademika menjadi nyaman untuk melakukan kegiatan sehariannya di kampus. ”Pernah ketika saya mengajar dikelas tidak ada kipas angin dan setiap saya menyampaikan materi pembelajaran saya selalu meminjam infocus dan itu bisa membuang waktu,” paparnya. Senada dengan Usman, Taufiq Ismail, Mahasiswa Jurusan Tadris Fisika juga meyampaikan keluh kesahnya sebagai mahasiswa. Menurut Taufiq, sistem administrasi dan infrastuktur harus lebih baik. “Sering sekali masalah Sisfo dan pembayaran ukt lelet dan itu mugkin tidak hanya saya yang merasakan dan berharap itu lebih baik lagi,” jelasnya. Memang belum ada perubahan yang dirasakan selama kuliah disini.”Seperti tidak percaya bahwa kita sudah UIN padahal belum ada perubahan sistem dan insfratrukturnya,” lanjutnya.

Identitas Keilmuan UIN Imam Bonjol Padang Eka Putra Wirman memaparkan, dengan alih status menjadi UIN bukan berarti dasar keilmuan dari UIN IB Padang akan berubah. Identitas UIN adalah agama Islam, walau Prodi umum terus dikembangkan namun pondasi awal tidak akan berubah. “UIN harus memiliki komitmen untuk menyelamatkan ilmu yang memang menjadi simbol bagi kita,” paparnya. Eka mengatakan, saat ini lembaga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan zaman serta jawaban bagi pengembangan ilmu Islam. “Karena dengan menjadi UIN, kita sangat leluasa mengembangkan Prodi,” katanya. Lanjutnya, perguruan tinggi harus berbenah diri dan melakukan inovasi guna meningkatkan keilmuan yang semakin kompetitif dan kompleks. “Sosialisasi sistem ideologi dan perubahan kinerja perlu kearah yang lebih baik,” ujarnya. “Walau nantinya banyak mahasiswa yang memilih Prodi umum, disetiap mata kuliah kami akan menyiapkan kurikulum yang berbasis Islam. Jadi kekhawatiran yang ditakutkan oleh pemuka kampus sebelumnya tidak akan terjadi, tujuan tafaqquh fiddin ini tidak akan hilang,” tambahnya. Senator Sheifullah, UIN IB Padang merupakan lembaga yang terbilang di belahan barat Indonesia, berpondasi kepada kearifan lokal dan memiliki jati diri Minangkabau yang kental sebagai identitas keilmuan yang dimiliki. “Identitas keilmuan kita jangan sampai goyang dan memegang teguh apa yang telah kita pedomankan,” paparnya. “Jan lupo bahwa seharusnyo awak mencetak ulama, tapi takuiknyo UIN mengurangi porsi keagamaannyo. Ilmu ndak dapek ulama malah ilang, nan dikaja ndak dapek nan dikapik lapeh,” terangnya. Sementara itu, Asman Abnur selaku Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) juga menginangkan saat menyampaikan mata kuliah umum di Auditorium Mahmud Yunus, Jumat (13/10). Kampus UIN harus belajar dari perguruan tinggi di luar dan tidak meninggalkan jati diri kampus. “Jati diri kampus ini adalah keagamaan. Sejatinya, kita harus melihat kampus yang lebih maju tanpa meninggalkan identitas,” harapnya. Muhammad Iqbal, Fadil Anriva (Mg), Putri

Diana (Mg)

MASTER PLANE KAMPUS TIGA


Pantaskan Diri untuk Dapatkan yang Terbaik Tetap gigih mesti gagal berulang kali

Y

asrul Huda Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang yang berhasil meraih beasiswa, melanjutkan pendidikannya di Leiden Universitas (LU) Belanda Faculty of art and theologi. Berangkat dari sebuah aspirasi belajar harus di tempat terbaik dan pada guru yang terbaik pula. Tak mudah memang untuk menjadi mahasiswa di Leiden University, Udo sapaan akrabnya telah mendaftar ke LU setiap tahun sejak 1994 baru di tahun 2001 ia lulus. Ia tak menyerah, ketika ditanya apa kendala sehingga tujuh kali mendaftar belum juga jebol Udo selalu menjawab “Ketika itu saya belum pantas lulus, untuk dapat yang terbaik maka tantangannya yang terbaik” ujarnya. “Setelah beberapa kali saya gagal namun tidak menyurutkan semangat, untuk terus mencoba berkompetisi sehingga pada akhirnya saya berhasil lulus untuk berkuliah di LU pada tahun 2001,” jelas Udo. “Saya kira yang mendorong saya untuk gigih dalam menuntut ilmu adalah ajaran Islam, menyuruh kita belajar pada yang baik dan tempat yang baik,” lanjutnya. Udo memilih Leiden University karena beberapa hal di antaranya, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda. Jadi sedikit banyaknya hukum belanda juga berpengaruh terhadap hukum di Indonesia. Setelah menyelesaikan studinya di LU Udo berpendapat bahwa hukum di Indonesia terlalu jauh jarak antara teks dengan prilaku. Keluarga, istri dan anaknya selalu mendukung keinginan udo untuk melanjutkan pendidikannya di Negeri Kincir angin itu. “My wife, Children parents were very support,” kata Udo. Tak banyak persiapan yang dilakukan Udo menuju LU, “Persiapan saya memiliki toufel 550 dan memantaskan diri untuk bersekolah di sana,” pungkasnya.

Belajar di Leiden sangat berbeda dengan di Indonesia, awalnya Udo harus menyesuaikan diri disana. Baik dari penyesuaian cuaca, makanan, bahasa dan proses pembelajaran. Beda dengan kebanyakan di Indonesia, kuliah di Leiden sangat modren didukung oleh fasilitas yang sangat memadai. “Jika ingin mendapat yang terbaik maka pergilah ke tempat terbaik,” ulangnya. Tidak hanya dari kalangan keluarga, dukungan teman sesama dosenpun mengalir untuk Udo seperti rektor ke Empat IAIN Imam Bonjol Padang Amir Syarifuddin, Aditya Warman, Abrar, Irsad Gunas, alfadli, Testru Hendra, Taufik. Setelah menyelasikan pendidikannya di Leiden University Udo berpandangan bahwa hukum indonesia terlalu berjarak antara teks dengan prilaku. Teman dekat udo sesama dosen di Fakultas Syariah Zelfimi Wimra mengatakan, Udo merupakan pribadi yang berdisiplin tinggi. “Udo mengatur semua jadwalnya dan ditempelkan di dinding ruang kerjanya bahkan jadwal untuk dua tahun ke depan”. Kata Wimra. “Jika mau bertemu Udo harus buat janji dulu, karena ia telah punya jadwal kegiatan yang penuh,” tambahnya. Dalam kesehariannya Udo senang belajar sendiri , namun ia tak sungkan berbagi ilmu dengan temanteman yang lain, ia memiliki rasa solidaritas yang tinggi. “Belajar Bahasa Inggris untuk persiapan ke Leiden pun ia belajar sendiri,” lanjutnya. Udo sangat menginspirasi ,banyak pelajaran yang bermanfaat dari kehidupannya. “Kedisiplinan yang tinggi serta kegigihan yang pantang menyerah,” tutup Wimra Dikalangan mahasiswa

Nama : Dr. Yasrul Huda, MA NIP/ NIDN : 19670108 1994031003/2008016701 Tempat/ Tanggal Lahir : Pasaman, 8 January 1967 Pekerjaan : Dosen Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang Pangkat Golongan : Pembina Iva Jabatan : Lektor Kepala Alamat : 1. Rumah : JL. Mandaliko No. 16 Kampung Baru, Lubuk Begalung- Sumatera Barat 2. Kantor : Fakultas Syariah UIN IMAM Bonjol Padang, Jln. Prof. Mahmud Yunus, Lubuk Lintah Padang Sumatera Barat 3. Email : yasrulhuda@gmail.com 4. Hp : 085356795707 Penerima Tanda Kehormatan “SATYALANCANA KARYA SATYA XX TAHUN” tahun 2014 dari presiden RI. Dr. H. Susilo Bamabang Yudhoyono

Udo juga menjadi dosen favorit, Anggigih belajar, memanfaatkan segala gun Mahasiswi Jurusan Jinayah Siyasah sesuatu untuk mendapatkan ilmu. menuturkan, belajar dengan Udo sanMempunyai spirit islam walau dengan gat menarik karena belajar dengan sansegala keterbatasan, namun kita harus tetap tanamkan spirit kesadaran, tai dan ia mampu berbaur denmemanfaatkan teknologi, gan mahasiswa, bahkan memanfaatkan pelmakan dan minum keuang, spirit keiltika belajarpun bemuan, memiliki liau tidak memmimpi yang perslahkan itu, tinggi, spiritual banyak pen“Belajar, belajar, belajar, untuk menjadi galaman dan ibadah dan menikmati hidup, lebih baik. cerita yang ia Enjoy your life,” Orang barat bagi kepada dapat berkemmahasiswa,” ~ Yasrul Huda ~ bang dengan kata Anggun. pesat karena Sama halmereka memiliki nya dengan Tasril spiritual dan mimpi mahasiswa Fakuluntuk jadi yang terdetas Syariah yang menpan dan itu bertolak belakang gatakan, pengetahuan Udo dengan Indonesia makanya kita ketingluas banyak pengalamannya. “Dia galan,“ Saya kira mahasiswa sekarang mengajarkan kami untuk menjadi masudah dimudahkan dengan kemajuan hasiswa yang teknologi informasi ,” jelas Udo. kritis,” tuPesan Udo untuk mahasiswa Uniturnya. versitas Islam Negeri (UIN) Imam U d o Bonjol (IB) Padang untuk senantiasa ke ra b mencintai ilmu. “Belajar, belajar, belamengjar, Ibadah dan menikmati hidup, Enjoy himbau your life,” ujar Udo. mahasiswa u n tuk Miftahul jhannah, Waladon Karimin (Mg), seRiandi (Mg), Indra (Mg) lalu


Hidup untuk Sanggar

Hidupkan Sanggar Kampus dengan Kemauan Tinggi Mencintai dunia seni Rido menghidupkan Sanggar Karateh Putiah (SKP) yang sempat terabaikan di UIN Imam Bonjol Padang. Minat awal akan kecintaannya ini berawal dari keinginannya melihat banyak orang yang bisa mendirikan sanggar hanya dari jurusan seni. Namun berkat kegigihannya, Rido mampu memecah rekor. Sebagai mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Islam ia mampu menghidupkan sanggar yang ia beri nama Sanggar Karateh Putiah. Rido mengaku sudah sejak kecil dididik oleh kedua orang tuanya untuk bergelut di bidang seni. Ia merasakan bakat yang ia punya sejak SMA. Rido sempat ingin kuliah dengan Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik). Namun Tuhan berkehendak lain. Akhirnya ia berkuliah di UIN dengan menemukan berbagai hobinya juga di UIN ini. Ia sering menang diperlombaan tari, teater dan Rido sering ikut dengan senior mengikuti event-event yang sering dia ikuti dan sering menang. Menurutnya ia menamai Sanggar Karateh Putiah karena Karateh Putiah bisa mengambarkan jati diri seseorang konselor, yang biasanya bertugas menyelesaikan permasalahannya seperti Karateh Putiah. Untuk mengembangkan SKP Rido mendapat dana dari hasil perlombaan yang ia ikuti untuk memajukan SKP. Dana pribadi ia menang lomba. Ia ingin mendalami ini karena ingin menjadi penikmat, pelaku dan pengembang dari kesenian. Ia bangga dengan ini dan tetap

bertahan karena ia bisa mendirikan sanggar ini karena biasanya yang bisa mendirikan itu hanya yang kuliah di bidang Sendratasik. “Namun dengan usaha saya ini, saya bisa gitu yang berasal dari jurusan BK, ini yang membuat saya tetap bertahan,” ucapnya. Rido menyukai ini karena hobi, karena di Solok juga ada sanggar, jadi ingin saja menghidupkan. Modal nekat dan kemauan Rido mengembangkan SKP. “Awalnya banyak yang tidak suka, juga ada yang memfitnah kami mendirikan UKM baru tanpa izin, padahal ini tidak UKM,” terangnya. Rido menyayangkan tidak adanya dukungan dari pihak kampus. Ada dukungan dari luar seperti Alumni Dakwah, yang menyisihkan dana untuk menyewa pelatih. Biasanya kami latihan di lokal-lokal kampus karena sumbangsih dari kampus kurang. “Saya mengharapkan adanya dukungan dari kampus, walaupun hanya sebatas ruangan saja untuk mengembangkan Sanggar Karateh Putiah ini,”harapnya.

Rido di Mata Orang Terdekat Dela Yurisman selaku sahabat dekat Rido, mengatakan bahwa ia sudah mengenal Rido sejak dua tahun yang lalu disaat ia menjadi penari untuk menyambut Alumni Jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Negeri Islam (UIN) Imam Bonjol Padang dan Rido sebagai Make Up serta wardrop. Dela mengungkapkan sosok Rido itu baik, tegas, sangat disiplin. “Sosok

Rido itu baik, tegas pada anggota, sangat disiplin, pokoknya kalau kita salah pasti ditegur oleh bang Rido,” ungkap Mahasiswa Jurusan TBI semester V. “Semenjak saya menjadi anggota tetap di SKP, saya diberi kepercayaan oleh bang Rido untuk membantu beliau dalam melatih anggota-anggota yang lainnya. Cara ajarnya bagi yang telah memiliki skill dan kemampuan maka akan dilatih lebih baik lagi, tapi bagi anggota yang baru bergabung akan diajarkan dari awal dan akan diajarkan teknik-teknik nari,” ujarnya kepada Suarakampus.com. Silvia Maniri kakak kandung Rido mengatakan sangat bangga dengan adiknya. Ia menyampaikan Rido merupakan sosok yang pendiam dan pekerja keras. Menurutnya Rido sudah menekuni hobinya sejak SMP. Ikut dalam sanggar tari, menyukai kesenian dan jika ada kegiatan baralek ia ikut main talempong. “Kami sebagai keluarga tentunya mendukung penuh apa yang terbaik untuk pencapaian kesuksesannya,” paparnya ketika dihubungi Suarakampus. com. Ia dari SMP juga sering memenangkan lomba-lomba. Serta ia juga seorang yang aktif mengajar ngaji sejak SMP, dengan

Nama :Ridho Adrianto Nim : 1512020087 Jurusan : Bimbingan Konseling Islam Tempat/ Tanggal Lahir : Kampung Batu, 07 Juli 1997 Alamat : -Bariang Surau Balai - Kampung Patu, Danau Kembar Kab.Solok Riwayat Pendidikan : SDN 08 Kampung Batu Dalam (2009) : SMPN 02 Danau Kembar (2012) : MAN Kota Solok (2015) Anak ke : 3 dari 4 bersaudara Riwayat Organisasi : 1.Ketua Umum Assalam Sumbar DPD Kota Solok tahun 2013-2014 2.OSIS MAN Kota Solok 3.Forum rohis nusantara Kota Solokm th.2012-2013 dll Moto Hidup

: Gagal dalam merencankan sama dengan merencanakan kegagalan jati diri sendiri, aktif, tanggap dan kreatif

Prestasi : 1. Juara 3 Tari Minang Kreasi Sumbar Festifal Sumarak Pongkoji Kabupaten Dhamasraya. 2. Juara 2 Tari Minang Kreasi Group Sanggar Rumah Gadang dalam acara The Great Beauty Bazaar Mal Plaza Bukittinggi th 2016. 3. Juara 3 puisi haru ibu Tingkat Kec. Danau Kembar Th.2014. 4. Juara 1 MSQ tingkat Kabupaten Solok Th. 2015. 5. Juara 3 tari minang kreasi tingkat provinsi th 2015.dll

mengaktifkan surau di dekat rumah. Sehingga Surau tersebut hidup dengan pengajian. “Sekarang surau tersebut tidak ada lagi sejak Rido kuliah di Padang, orang kampung jauh pergi mengaji jadinya,” terangnya. Pembina Rido dalam sanggar Fedri Ramadhani juga menyampaikan, ia merupakan sosok yang gigih, dan pekerja keras. Tekun dan ingin terus belajar. “Rido orang yang mau dan terus ingin belajar, kami bangga dengan kemauan dan prestasi yang ia miliki,” ujarnya Dina

Audya, F a t m a Sari,


Produktivitaskan Profesor

P

rofesor merupakan gelar tertinggi dari sebuah perguruan tinggi. Orang yang memiliki semangat optimisme dan intelektual tinggi yang bisa meraih gelar itu. Meraih gelar tersebut bukanlah masalah yang mudah, kewajiban mereka itu tentu harus dilaksanakan dengan melaksanakan tugasnya. Tugas tersebut adalah menciptakan dan menghasilkan sebuah penelitian baru dalam bentuk jurnal nasional maupun internasional terakreditasi. Bukan hanya jurnal, profesor mesti menerbitkan sebuah buku dengan Internasional Standard Book Number (ISBN) sesuai dengan jurusan mereka masing-masing dan menyebar luaskannya ke pustaka institut maupun pustaka daerah. Aturan tersebut sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2013. Sebanyak 17 profesor UIN Imam Bonjol (IB) Padang, hanya enam orang yang melakukan penelitian dalam waktu lima tahun terakhir diantaranya Tamrin Kamal (2012), Asasriwarni (2014), Asnawir (2016), Syafruddin Nurdin (2016) dan Awis Karni (2017). Menanggapi hal tersebut, Rektor UIN IB Padang Eka Putra Wirman memaparkan, profesor yang tidak produktif akan dievaluasi secara bertahap dari laporan penelitian yang dilakukan. Pemeriksaan kinerja dilakukan oleh inspektoral jendral dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). “Kita lakukan upaya internal dan eksternal, upaya internal yaitu berupa seruan yang akan mengeksekusinya itu

dari pihak yang berwajib dan berkompeten,” ungkap Eka. Eka menegaskan, seharusnya profesor membuat buku dan jurnal yang bertaraf nasional maupun internasional. Sebanyak 17 profesor, hanya sebagian profesor yang produktif. “Dari sebanyak profesor yang ada, beberapa profesor telah pensiun dan ada meninggal,” paparnya. Profesor merupakan elemen terpenting dari sebuah perguruan tinggi yang memiki peran besar bagi akreditasi kampus, apabila profesor tidak produktif, maka kualitas kampus akan menurun. “Profesor dinilai dari karyanya, karena karya profesor itu tidak kelas sini saja, profesor telah kelas nasional, bahkan kelas internasional,” lanjut Eka. Semoga profesor bertanggung jawab atas kewajibannya, apabila profesor tidak melakukan kewajiban maka pihak kampus akan mengoreksi, profesor telah mengetahui tugasnya sebagai seorang profesor. “Dalam setahun, profesor itu harus mencapai satu buku dan sebagian besar telah mencapai target dari tahun 2009 sampai 2010,” harap Eka. Duski Samad selaku profesor UIN IB Padang mengungkapkan, produktifnya seorang profesor dapat ditandai dengan melakukan penelitian dan berkarya demi kemajuan UIN di masa yang akan datang. Dari tahun 2008 ia telah diangkat menjadi Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. “Saya telah menerbitkan 29 buku, diantara empat buah buku dipakai untuk pedoman Mahasiswa UIN IB Padang dan 24 lainnya

dipakai oleh perpustakaan universitas lain,” ujarnya. Ia mengatakan, seorang profesor tersebut harus melakukan penelitian, berkarya dan mengabdi, baik untuk kampus maupun luar kampus. “Jumlah profesor UIN sangat minim dibandingkan dengan dosen yang seharusnya lebih banyak guru besar untuk menunjang kemajuan UIN kedepannya,” katanya. Lain hal dengan Sheifullah, seorang profesor yang berasal dari Fakultas Adab dan Humaniora berpendapat, berbuat lebih, bekerja lebih baik, berfikir dan berlari lebih kencang menjadi gambaran sosok kriteria profesor yang musti diperbanyak. Berfikir, berbicara, bertindak dan bertanggung jawab secara akademik. “Tidak hanya formalitas saja namun sejatinya juga ada peran untuk UIN,” terangnya. Nantinya akan ada proses pemeriksaan profesor pada pertengahan bulan November oleh tim pemeriksa dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis). Sheifullah memperkirakan, pemeriksaan Diktis sudah berjalan di perguruan tinggi yang lain. Ia juga sudah edarkan kepada semua profesor agar aktif kembali menulis dan melahirkan karya ilmiah. “Bisa saja ada tunjangan profesor yang dibatalkan sebagai sanksi untuk profesor yang tidak produktif lagi. Berhubung kami sedang memakan uang negara maka tidak ada kata basabasi, seberapa banyak kami menerima harus sebanding dengan yang kami berikan,” jelasnya. Demisioner Ketua LPPM, Wakidul

Kohar mengatakan, idealnya profesor tidak harus dalam satu tahun sekali melakukan penelitian, namun juga bisa dilakukan dalam waktu tiga tahun. “Tahun pertama penyebaran ide-ide, tahun kedua implementasi, kemudian tahun ketiga terbit buku,” katanya. Pihak LPPM mendeteksi karya profesor-profesor UIN yang terdaftar di LPPM, namun jika profesor melakukan penelitian di lembaga lain pihak LPPM hanya bisa mendeteksi melalui Google Cendikia dengan cara memasukkan nama-nama profesor langsung, apabila nama-nama profesor tersebut tercantum, maka karenya profesor tersebut tertera di dalam Google Cendikia tersebut. Apabila profesor tidak memberikan konrtibusi terhadap universitas maka diadakan evaluasi dan berdampak kepada tunjangan untuk profesor tersebut karena profesor telah difasilitasi oleh negara. Setiap tahun guru besar di perguruan tinggi mendapatkan dana penelitian sebanyak 30 persen dari anggran Bantuan Oprasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), pada 2017 dana penelitian sebanyak 1,8 Milyar rupiah untuk Profesor UIN Imam IB Padang. “Semoga para profesor UIN IB mampu dan sesuai dengan tuntutan undang-undang yaitu menyebarkan ide, memberikan gagasan, menulis, berkarya demi kemajuan kampus dan masyarakat,” harapnya. Cani Silpina, Putri Diana (Mg), Iko Juhansyah (Mg), Sri Mardaleni (Mg)


Minang Murtad Minangkabau atau Minang identik dengan Islam, hal ini didasarkan azas yang dianut masyarakat Minang “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. Namun kenyataannya ada sebagian masyarakat Minang yang murtad dari agama Islam itu sendiri. Seperti contoh yang didapatkan Suarakampus.com di daerah Pesisir Selatan seseorang murtad dari agama Islam. Kejadian ini Suarakampus.com membahas hal tersbut dengan Budayawan Sumatera Barat mengenai masyarakat Minang yang Murtad dari Islam.

Apakah hal tersebut hanya berdasarkan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah?

Apakah masyarakat Minang harus Islam?

Setau bapak, berapa persenkah orang Minang yang murtad?

Orang Minang wajib Islam, karena apabila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat baru sah dia menganut adat Minang. Kenapa diwajibkan Islam? Karena azas kita Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Jika tidak membaca dua kalimat syahadat hilang haknya untuk menganut adat Minang. Sejak kapan kewajiban itu dipakai? Orang Minang setelah masuknya Syiar Islam hingga sekarang menganut azas Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”, dengan begitu maka setiap keturunan Minang wajib hukumnya secara adat memeluk agama Islam. Bagaimana hukum secara adat jika orang Minang yang Islam murtad? Jika dia murtad maka dalam hal harta pusaka dan panggilan adat tidak memiliki hak, bahkan ketika ada kematian dia tidak bisa ikut campur dalam hal tersebut. Apakah orang Minang murtad masih dibolehkan menetap di tanah Minang? Jika sekedar menetap dibolehkan tidak ada yang melarang contohnya saja seperti orang Cina di daerah Pondok, mereka bukan orang Minang namun diperbolehkan menetap di sini. Bisakah dia panggil orang Minang kepada orang Minang yang Murtad? Secara identitas dia tetap orang Minang karena dia memiliki darah Minang. Namun kita bisa memanggilnya Minang murtad.

Iya, karena Kitab Allah yang disempurnakan adalah Al Quran. Namun azas tersebut tidak bersandi Al Quran karena akan menyalahi rukun Iman yaitu percaya kepada kitab Allah bukan percaya kepada Al Quran.

Persenny saya tidak tidak tau, namun hanya sedikit sekali orang Minang yang murtad. Bagaimana pendapat bapak mengenai orang Minang murtad tersebut? Itu adalah hak mereka sendiri untuk memilih agama, tidak ada paksaan dalam

memilih agama. Jika itu sudah menjadi kehendaknya silahkan saja. Ganti Putra Wardana, Fadhil nriva (Mg)


Dunia Sudah Bisa Dibalik

“Berekspresi Menarik, Isi Sakumu Satu Juta”

T

erbalik, wah...!! Mejanya terbalik, kursinya terbalik, suasana ruangan ini terbalik semua. Iya memang…!! Inilah yang kita temukan di bangunan yang baru di-launching 02 September 2017. Upside Down World nama wisata terbaru di Kota Padang ini. Pada awalnya muncul pertama kali di Pulau Dewata Bali hingga merambah ke kota-kota yang menjadi destinasi para wisatawan seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Medan hingga Padang. Keunikan yang berbeda inilah juga membuat Upside Down World merancah ke luar negeri seperti Thailand, Philipina dan Kamboja. Upside Down World sebuah tempat wisata keluarga yang bernuansakan dunia terbalik atau bisa disebut studio terbalik. Ide ini awalnya muncul dari orang-orang yang mengedit foto dengan nuansa terbalik. Wisata yang beralamatkan di Jalan S.Parman No 234, Ulak Karang, Kota Padang. Tempat ini dibuka mulai pukul 10.00 WIB sampai 20.30 WIB dengan insert untuk anak-anak Rp. 25.000 dan dewasa Rp. 50.000. Muhammad Ferdiansyah Akbar yang biasa dipanggil Ferdi, pria asal Medan yang bernenek moyang di Kota Pariaman Sumatera Barat ini menjadi

pemimpin di Upside Down World. Pria ini mejelaskan bahwa Padang menjadi kota pilihan untuk mendirikan tempat wisata ini. Bukan hanya untuk masyarakat Kota Padang sendiri studio terbalik ini didirikan. Namun untuk seluruh wisatawan karena Padang merupakan daerah destinasi liburan yang terpilih baik itu untuk lokal, nasional maupun internasional. Saat ditanya kenapa bisa terbalik? Apakah pernah jatuh? Ferdi menjelaskan bahan-bahannya sudah dipilih dan terkonsep secara matang dengan upaya seaman mungkin. “Pernah saat gempa kemarin saya agak cemas, Alhamdulillah ruangan tetap aman dengan posisinya, tak ada satupun yang jatuh. Ini aman,” tegasnya. Upside Down World Padang terdiri dari 13 ruangan dengan keadaan terbalik, dengan 180 derajat dan ada tiga ruangan yang hanya terbalik dengan 90 derajat. Diantaranya ruangan tersebut living room, cafe macaron, khicen room, bad room, bath room, kids room, hello kitty room, wonder land, class room, stady room, prison room, laundri room dan sate padang room. “Pada ruangan Sate Padang, penjara atau prision room dan wonder land room ini memiliki kemirigan 90 derajat,” jelas-

nya kepada Suarakampus.com. Sate Padang merupakan sebuah ruangan yang menjadi ciri khas di Upside Down Word ini. Tidak hanya di Padang di kota lainya Upside Down World juga menghadirkan ruangan dengan ciri khas kota itu sendiri. Tidak hanya menyuguhkan tampilan ruangan yang unik, Upside Down World Padang juga dilengkapi dengan guide assisten sebagai pemandu yang akan membantu pengunjung dan menjelaskan kepada pengunjung bagaimana pose dan gaya yang menarik dan pas untuk berfoto. Pengunjung dianjurkan untuk dapat menikmati tiap ruangan di Upside Down World Padang sepuasnya karena tidak di batasi waktu kunjungan. Upside Down World Padang juga mengadakan audisi fotografi. Bagi peserta audisi yang memiliki pose foto paling unik akan mendapatkan hadiah sebesar satu juta. Akan dipilih dengan enam nominasi dengan gaya senatural mungkin. Serta akan diseleksi mana yang terbaik dan layak jadi pemenang. Ditanya tentang kendala, resiko dan animo pengujung, Ferdi menjelaskan bahwa untuk kendala sampai saat ini tidak terlalu berat. Ia juga memiliki beberapa karyawan diantaranya se-

curity, kasir, dan guide asisten. Untuk keamanan Ferdi menjelaskan bahwa keamanan furniture telah dipersiapkan jauh hari. “Sampai hari ini untuk animo pengunjung sangatlah bagus,” jelas Ferdi. Salah seorang karyawan Adek juga berkomentar bahwa sejak berdirinya Upside Down World mendapat banyak komentar baik dari pengunjung. Wajah-wajah pengunjung tampak puas dengan animasi-animasi yang disediakan di sini. “Semoga dengan kepuasan pengunjung ini kedepannya Upside Down World makin disukai dan semakin banyak pengunjungnya,” ujar pria asal Kota Pariaman ini di ruangan animasi Upside Down Word. Ditemui di Upside Down World Padang Yeni sebagai pengunjung mejelaskan bahwa hadirnya Upside Down World Padang sebagai tempat wisata yang baru di Kota Padang sangatlah bagus dan juga memajukan Kota Padang sendiri. Cuma keluhannya hanya masalah biaya, dikarenakan dengan keadaan ekonomi di Kota Padang. “Kalau biayanya terjangkau oleh semua kalangan mungkin akan menjadi lebih bagus,” paparnya kepada Suarakampus.com.

Dayu Al Azmi (Mg)


Pelantikan | Rektor Eka Putra Wirman lantik petinggi UIN IB Padang

Pembangunan | Gedung rektorat hampir selesai

Lapangan Parkir | Parkiran baru khusus roda dua

Upacara | Penyerahan piala pemenang olimpiade Fisika

Makan Bersama | Jalin silaturrahmi Biro AAKK bersama UKM KSR-PMI

Pramuka | Pembukaan Pentas Seni dan Kreasi di Padang Besi


Membaca Rukun Kehidupan untuk Cerdas

S

eseorang tidak bisa menulis tanpa membaca. Membaca adalah rukun kehidupan bagi orang yang mau cerdas. Karena tingkat peradapan manusia itu diukur dari seberapa jauh mereka menguasai informasi. Informasi itu ada pada bacaan yang hadir pada sebuah proses waktu yang ada pada sejarah dan pewarisan itu ada pada bacaan. Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Duski Samad ketika dihubungi Suarakampus.com. Menurutnya seseorang harus menghidupkan kebiasaan membaca pada dirinya. “Ketika orang tidak membaca berarti mereka tidak bisa berpikir, tidak bisa berpikir tidak bisa membaca,” tuturnya. Duski menyampaikan minat baca sangat rendah pada masyarakat itu terjadi karena; pertama pendidikan rendah, biasanya orang yang suka membaca itu orang yang berpendidikan tinggi. Kedua lingkungan tidak memberikan kesempatan masyarakat untuk membaca. Ketiga karakter itu yang rendah. “Karena efek budaya instan yang dibawa oleh teknologi, jadi mereka mengira tidak ada yang diuntungkan dari membaca,” menurutnya. Ketua Forum Aktif Menulis Indonesia Muhammad Subhan juga berkomentar mengenai minat baca masyarakat yang rendah dikalangan mahasiswa dan pelajar perlu menjadi pikiran dan diperhatikan oleh pemerintah. Sebenarnya perkembangan teknologi dan media juga berpengaruh dengan rendahnya minat baca karena mereka terlena. Subhan menambahkan, Taufik Ismail juga pernah mengatakan bahwa Indonesia ini merupakan generasi nol buku karena sangat memprihatinkannya minat baca ini. Salah seorang penulis Yusrizal KW juga mengatakan, rendahnya minat baca masyarakat itu karena terpengaruh dari kebiasaan mereka yang serba cepat pada saat ini. Seperti media-media yang sudah menyajikan info dengan tayangan langsung. Sehingga mereka merasa hal tersebut lebih cepat dari membaca. Hal ini membuat mereka merasa cepat untuk menangkap informasi tanpa harus membaca. “Namun hal ini tidak terjadi secara keseluruhan oleh masyarakat,” ujar pria pendiri Tanah Ombak (rumah baca) ini. Gus Sakai salah seorang novelis juga menyampaikan bahwa minat baca masyarakat itu tergolong rendah karena mereka yang tidak membiasakan atau terbiasa untuk membaca. Tentunya hal ini akan berat jika belum menjadi kebiasaan, apalagi dengan

dunia instan yang serba menyajikan informasi secara langsung tanpa mereka harus membaca. “Tentu ini juga mempengaruhi minat baca,” paparnya. Beragam Solusi Cerdas Menurut Duski Samad hal yang bisa dilakukan masyarakat agar minat baca semakin meningkat ialah menggerakkan pusat pendidikan secara serentak, PAUD, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Ada pendidikan keluarga dan ada pendidikan di masyarakat. Selanjutnya motivasi yang seharusnya diberikan kepada masyarakat agar minat baca bertambah ialah memperbanyak contoh kepada masyarakat serta membuka kesempatan yang

tinggi untuk membaca. Senada dengan solusi tersebut Subhan juga menyampaikan, sebenarnya

gerakan pemerintah, dan sudah mulai diperhatikan. Contohnya dari hal ini yaitu lima indikator yang rencananya akan diterapkan oleh pemerintah untuk menyadarkan mengenai pentingnya membaca diantaranya. Pertama, sekolah-sekolah menerapkan wajib baca kepada siswa di awal-awal sebelum belajar 15 menit pertama dengan buku-buku yang sudah direkomendasikan. Kedua buku-buku harus tersedia di pustaka. Ketiga bukubuku tersebut yang dipilih akan dijarkan oleh guru. Keempat siswa harus membaca buku yang sudah disiapkan dan kelima

akan didiskusikan bersama hasil dari bacaan mereka tersebut. Sebenarnya untuk membaca pelajar

“Ketika orang tidak membaca berarti mereka tidak bisa berpikir, tidak bisa berpikir tidak bisa membaca,” ~ Duski Samad ~

tidak semua kalangan di masyarakat digolongkan pada minat baca yang rendah. Alasannya karena sejak adanya gerakan literasi yang sudah dicanangkan oleh pemerintah 5-6 tahun belakangan sudah mulai tampak dari

hanya perlu sadar, bahwa merekalah yang akan meneruskan bangsa dengan bacaan-bacaannya. Agar kembali terbentuk lagi Taufik Ismail, Buya Hamka dan berbagai tokoh penulis masa depan dengan bacaanya. Karena dengan membaca banyak hal yang bisa men-

unjang masa depan lebih gemilang lagi. Generasi hebat itu pembaca, dan penulis hebat akan terlahir dari pembaca yang hebat. Ia juga berkata Taufik Ismail bisa hebat karena dididik oleh Ayahnya dengan mengosumsi buku setiap awal bulan dengan bacaan-bacaan baru. Sehingga ia memiliki banyak ilmu sampai memiliki ribuan buku. “Hal itu patutnya ditiru oleh generasi bangsa,” pungkasnya. Gus Tf juga menyampaikan, sebenarnya pemerintah perlu memperhatikan lemahnya minat baca masyarakat ini. Walaupun sebenarnya saat ini sudah tampak gerakan-gerakan untuk meningkatkan minat baca, namun tetap saja belum terperhatikan. Ini perlu diperhatikan dengan mambuka kesempatan baca di setiap sudut wilayah di setiap kota misalnya. “Bisa juga dengan meletakkan pusat baca di tempat yang mudah untuk dijumpai,” terangnya. Yusrizal KW juga menambahkan, sebenarnya minat baca masyarakat tidak rendah lagi. Menurutnya sudah banyak usaha pemerintah untuk mulai membangun serta membudayakan budaya baca itu hidup dalam masyarakat pada umumnya. “Jadi tinggal generasi kita ini untuk sadar bahwa membaca itu sangatlah penting,” ucapnya. Pandangan Membaca Pentingnya membaca diungkapkan mahasiswa UIN IB Padang Jurusan Tadris Bahasa Inggris Sripida Febma Muharlistra, Menurutnya membaca itu sangatlah penting. Namun, adanya internet menjadikan minat baca pada masyarakat sangat rendah, sehingga masyarakat lebih banyak lari ke gadget mereka masing-masing. Menjadi suatu hal yang wajar apabila rendahnya minat baca di tengah masyarakat dikarenakan internet tersebut. “Semua orang menginginkan hal yang praktis dan instant, internet datang untuk memudahkan masyarakat tanpa harus mencari dan membeli buku terlebih dahulu,” lanjut Sripida. Jenny Saputra menjelaskan, mengenai minat baca di masyarakat pada saat ini menyebabkan kurangnya pengetahuan, sehingga menyebakan pola pikir yang sempit dan mudah terpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Sangat rugi sekali bagi masyarakat yang tidak suka membaca buku. Karena akan membuat dirinya sendiri terkurung dalam kebodohan.

Lisa Fauziah, Amelysa (Mg), Lisa Arischa (Mg), Cici Yulia Wartuti (Mg)


WR I UIN IB: Wisuda ke-78 Diprediksi pada Pertengahan November Suarakampus.com- Hetti Waluaty, Wakil Retor (WR) I Bidang Akademik UIN Imam Bonjol (IB) Padang memprediksi wisuda ke-78 akan digelar pada pertengahan November. Pasalnya, penyesuaian akreditasi IAIN ke UIN dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) belum turun. “Terlambatnya wisuda ini bukan alasan lain, tapi dikarenakan sinkronisasi antara ijazah lulusan dan akreditasi kampus maupun Prodi belum rampung. Maka dari itu, dapat diprediksi wisuda ini akan dilaksanakan November mendatang,” jelasnya, Selasa (17/10). Hetty menjelaskan, Akreditasi Institut Perguruan Tinggi (AIPT) telah ditetapkan pada bulan Mei 2015 lalu adalah B. Penetapan tersebut telah

berlangsung selama dua tahun setengah lalu. “Saat ini kita dapat mengajukan visitation surveillance untuk mengalihkan penyesuaian akreditasi institut menjadi universitas, jika telah disesuaikan baru kita bisa memastikan kapan wisuda,” terangnya. Pada dasarnya, seluruh pemimpin telah siap melaksanakan wisuda termasuk Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). “Kita sangat menginginkan alumni memiliki ijazah UIN dan bisa berkompetisi dengan wisudawan yang telah memiliki ijazah yang berlandaskan universitas,” papar Hetty. “Semoga penyesuaian akreditasi IAIN menjadi UIN dari BANPT cepat turun dan pelaksanaan wisuda segera digelar secapatnya,” harapnya. Riyandi (Mg)

WR III: Mahasiswa Baru Harus Cerdas Memilih UKM

Suarakampus.com- Demisioner Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Imam Bonjol (IB) Padang, Alkhendra mengatakan, mahasiswa baru harus cerdas memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pemilihan tersebut harus sesuai dengan bakat dan minat. “Ada 12 UKM disini, mahasiswa baru harus mampu menyesuaikan minat dan bakat guna mengembangkan potensi yang ada pada dirinya,” paparnya kepada Suarakampus.com, Senin (02/10). Alkhendra menjelaskan, mahasiswa itu harus paham fungsi dan tujuan UKM yang dijajakinya. Namun, kuliah harus tetap menjadi prioritas utama. “Kuliah tidak boleh ditinggalkan dan UKM jangan dinomor duakan,” lanjutnya. Selain itu, UKM itu akan berguna untuk dibawa setelah tamat kuliah.

Pasalnya, jika kita sungguh-sungguh dalam menimba ilmu di UKM, nantinya akan membawa dampak baik pada dunia kerja. “Pilihlah UKM yang cocok, harus aktif di UKM dan harus memiliki IPK di atas rata-rata dari mahasiswa lainnya. Kecerdasan intelektual mahasiswa sangat penting untuk UKM yang diminatinya itu,” harap Alkhendra. Berdasarkan pantauan Suarakampus.com di awal perkuliahan semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 sejumlah UKM selingkup UIN IB Padang buka penerimaan anggota baru seperti Kopma, Korp Suka Relawan-Palang Merah Indonesia (KSR-PMI), Resimen Mahasiswa, KSI Ulul Albab, UKM Musik dan LPM Suara Kampus. Sri Mardaleni (Mg)

Rektor UIN IB: Bukan Reshuffle! Hanya Pelantikan Suarakampus.com- Adanya pergantian maupun pertukaran kursi jabatan dalam kepemimpinan UIN Imam Bonjol (IB) Padang, Rektor UIN IB Padang Eka Putra Wirman menegaskan hal itu bukanlah reshuffle. Eka mengatakan ini hanya pelantikan pejabat baru UIN IB Padang. “Tidak ada reshuffle. Ini hanya karena masa kepemimpinan UIN sudah selesai, jadi bukan reshuffle,” ujar Eka saat ditemui Suarakampus.com, Kamis (05/10). Terkait adanya pertukaran dan pergantian kursi jabatan, Eka menjelaskan hal tersebut sebagai bentuk penguatan terhadap tim kerja UIN IB Padang. “Semata-mata untuk tim, seperti bermain sepak bola, biasa kan kalau penyerangnya diganti atau untuk posisi ini lebih cocok yang ini,” jelasnya.

Sebelum adanya pertukaran dan pergantian pejaba, telah dilaksanakan proses penyeleksian sesuai dengan statuta UIN IB Padang. Eka mengatakan, langkah awal yang dilakukan yaitu pembentukan panitia penyeleksian yang diketuai oleh Kepala Biro Bagian Umum Khairunnas. “Semuanya sudah sesuai dengan prosedur yang terdapat di dalam statuta,” ujar Eka. Tambahnya, persyaratan yang diajukan juga ditambah dengan lampiran perihal pemahaman terhadap visi dan misi UIN IB Padang. “Yang mengajukan persyaratan, semuanya kami sudah mengetahui track record-nya, sehingga tidak sulit untuk menyeleksi,” tutupnya. Fadhil (Mg)

Menpan RB: Sistem UIN IB Padang Perlu Perubahan Suarakampus.com- Asman Abnur, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) mendukung Eka Putra Wirman, Rektor UIN Imam Bonjol (IB) Padang untuk memberikan inovasi yang baru dalam memajukan kampus. Hal tersebut Asman sampaikan saat kuliah umum perihal Reformasi Birokrasi dalam Mewujudkan Islmic World Class University, di Auditorium Mahmud Yunus, Jumat (13/10). Asman menegaskan bahwa inovasi itu penting, “Jangan hanyut terhadap hal-hal yang biasa dan jangan berfikir lokal,” ujarya. “Wawasan civitas akademika harus luas, jangan hanya berfikir lokal saja. Maka dari itu, tingkatkan terus kedisiplinan, jangan puas terhadap apa yang

ada saat ini. Pasalnya, kita akan menjadi universitas yang global,” paparnya. Menurut Asman Abnur, Eka Putra Wirman perlu mengukur kinerja para dekan hingga pegawai guna mengevaluasi kemampuan yang telah mereka capai sampai saat ini. “Ini harus kita rubah, harus banyak SDM yang berkualitas apapun bidang yang ada di kampus ini,” terangnya. “Mentalitas civitas jangan arogan, tidak boleh lagi mengedapankan kekuasaan, pegawai harus professional, Jangan tergantung pada sistem yang tradisional, ubah sistem menjadi lebih canggih,” pungkas Asman.

Muhammad Iqbal


Titik Tanpa Arti Oleh

Iftihal Muslim Rahman

Suara Mahasiswa Ia enggan nyaring Terpisah berbagai golongan Jelas saja mereka pecah Apa ada lagi Gumam HIDUP MAHASISWA ! Merindingkan kalbu rakyat? Pemuda yang hebat itu Kini hanya rakyat biasa Suaranya tak berarti Iya.. Mereka itu tanpa arti Perih terluka ditusuk runcing Mana peduli Si Kaum Kapitalis itu! Mereka ingin dinilai Hebat dan dielu-elukan Ditebas lagi oleh kapak tajam Peduli apa Si Kaum Komunis itu! Ingin dibilang solidaritas Tapi hancurkan ideologi bangsa Tak elok bukan? Mereka, kita.. Hanya titik pada langit Tinggi namun sering ditutup awan Besar namun tak berguna Tak akan lagi ku tanya Mengapa kalian kejam? Bagaimana bisa hianati Sumpah Pemuda dulu? Biar.. Biar saja kita diracun Tak ada lagi jalan, kan? Disembukan atau mati Hanya itu, Bung! Apa sulitnya bersatu! Itu jeritanku! Kau, kau dan di kau Lempar kotoran ke wajah sendiri Mengapa biarkan jadi musuh Di tanah sendiri? Mencekik nuranimu Hanya untuk meninggikan egositas Merantai idealisme Hanya demi bersaing Bersaing dengan bangsa sendiri Kini.. Jika memang sulit Rasamu bersatu Biarkan persekutuan Jadi dasar untuk sejahtera Untuk rakyat Indonesia Untuk sila ketiga Pancasila Persatuan Indonesia

Kenal Jurnalisme Sastrawi

D

iklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (DJMTL) 2017 yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bahana Mahasiswa Universitas Riau (UR) di ikuti oleh 21 peserta dari perwakilan LPM se-Indonesia. Kegiatan berlangsung tujuh hari di Kota Istana Riau, kabupaten Siak Sri Indra Pura dengan mengacu tema “Bernarasi di Negeri Istana.” Kegiatan yang akrab disebut kelas kenal sastrawi ini di pandu oleh Andreas Harsono penerima beasiswa Nieman Fellowship on Jurnalisme di Harvard University tahun 1999, aktivis hak asasi manusia, penulis dan pegiat Jurnalisme Sastrawi serta pendiri Yayasan Pantau. Jurnalisme sastrawi mendapat banyak kritikan dari kalangan wartawan, mereka tidak setuju jika jurnalistik di kaitkan dengan sastra. Karena jurnalistik dan sastra itu jelas perbedaannya. Dari kontra tersebut Andreas menjelaskan sebenarnya Jurnalisme Sastrawi adalah istilah yang salah kaprah, membingungkan, yang di maksud jurnalisme sastrawi adalah jurnalisme narasi / jurnalisme baru yaitu kegiatan jurnalistik yang di kemas menjadi sebuah cerita namun fakta yang menarik dengan memperhatikan diksi dan keindahannya serta tidak menghilangkan unsur jurnalistiknya. “Saat ini banyak jurnalis yang tulisannya kadang membosankan untuk membaca seperti tak terasa estetikanya, dengan dengan jurnalisme narasi inilah kita dapat mempoles menjadi susunan peristiwa fakta yang diceritakan secara panjang namun tidak membosankan,” jelas Andreas. “Jurnalisme sastrawai adalah sebuah penulisan reportase yang mengedepankan fakta tetapi di tulis dengan gaya,” tambahnya. Materi pertama di jelaskan Andreas mengenai elemen-elemen jurnalistik, referensi yang dipakai adalah karya Bil Kovach dan Tom Rosenstiel yang telah di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Andreas Harsono. 10 Elemen Jurnalistik yaitu, Tugas utama

Miftahul Jhannah Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam praktisi jurnalistik adalah memberitakan kebenaran. “Kebenaran yang di maksud tidak termasuk perdebatan filsafat atau agama namun kebenaran fungsional yang di perlukan dalam keseharian masyarakat,” pungkasnya. Loyalitas utama wartawan pada masyarakat, “Bukan kepentingan pihak tertentu termasuk ownernya,” kata Andreas. Esensi jurnalistik adalah verifikasi, “Memastikan data yang di pakai fakta bukan fiksi,” tuturnya. Wartawan harus independen, “Tak gentar menuliskan baik buruknya persoalan sepanjang sesuai fakta,” ujarnya . Jurnalisme harus memantau kekuasaan, “Menyambung lidah yang tertindas,” katanya singkat. Jurnalisme sebagai forum publik, “Penulis harus bertanggung jawab atas liputannya.” Jurlisme harus memikat dan relevan, Berita harus proporsional dan komprehensif. Maksudnya jika kita ibaratkan membuat peta maka ada detail suatu blok dan juga gambaran lengkap sebuah kota. Mendengarkan hati nurani, “Dead line memang harga mati tapi kebenaran dan ketepatan berita harus di-

Perjuangan Merah Ketika tiba waktu untuk merekah Bunga itu telah layu sebelum merah Ingin kembali padanya Kini dia adalah si merah darah Yang tak kan pernah mengenal kalah Tiada kata menyerah Tidak akan layu ataupun kalah Dia adalah si merah tidak tau cara mengalah Kamu baginya adalah sampah Saat kamu menyerah dan meninggalkan merah

utamakan,” tegas Andreas. Elemen yang adalah hak dan kewajiban terhadap berita, elemen terakhir ini hadir beriringan dengan berkembangnya teknologi informasi, khususnya internet. “Demokrasi dan jurnalisme lahir bersama-sama, “Untuk lebih jelas tercantum pada UU Internet November 2016,” jelas owner yayasan pantau ini. Materi kelas kenal sastrawi yang kedua yaitu “Perkakas Menulis” Andreas mengutip perkataan Roy Peter Clark yang menyatakan, “Tidak ada hukum dalam menulis,” guna perkakas ini sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tulisan yang terstruktur sesuai dengan genrenya. “Dalam menulis yang dibutuhkan adalah konsisten dalam pemakaian kata ataupun tanda baca,” jelasnya “Ketika menulis jangan memperdebatkan EYD, karena tidak ada hukum dalam pemakaiannya, tidak mempengaruhi hasil tulisan, yang penting konsisten saja,” pungkas aktifis hak asasi manusia ini. Andreas juga menerangkan bagaimana liputan untuk permasalahan sensitif misalnya, kasus pelecehan seksual pada anak. Pada kasus seperti ini banyak yang harus di perhatikan oleh wartawannya, seperti anonim, identitas korban yang harus disembunyikan, saksi mata yang tidak bersedia namanya dicantumkan. Namun wartawan harus jeli menyikapi narasumber yang minta dilindungi takutknya ia berbicara dibawah tekanan atau untuk kepentingan suatu pihak “Selidiki dulu narasumber yang seperti itu, sebagai antisipasi. Jangan cepat percaya dengan ssemua yang di katakannya. Klarifikasi lagi jangan sampai diperalat oleh narasumber untuk kepentingan pihak tertentu,” jelas wartawan berdarah Tiong Hoa ini. Hari terakhir Diklat Andreas berpesan pada seluruh peserta kelas kenal satrawi bahwa “Belajar jurnalisme sebetulnya bukan hanya tentang kewartawanan, belajar jurnalisme melatih orang untuk berpikir sebelum menulis,

Bencana

Tak akan ku duga Awan mendung ,,, berubah ,,, Tangis menghentak ,,, Tak akan terlerai tangis air mata Hujan turun deras Tak menyangka,,, Ku berharap,,, Tuhan mendengar Ratapan yatim piatu Membuat gempar alam Oh tuhan,,, Kapan,,,, Bencana segera berakhir

Fajri


Gadis Tengah Ladang

Jangan lagi kau berayun di ranting yang rapuh itu Rumi” “bukan begitu mak, ada sisi lain yang tidak amak lihat darinya” “iya, aku melihat sisi lain darinya. Apa jadinya kau kawin dengan bujang tak tau di untung itu. Kau ingat, kampung ini tak pernah di raungi mobil polisi sebelumnya. Buat malu saja” “mak…! Aku hanya..” “apalagi, aku kenal dia lebih jauh dari pada kau. Dan ingat, aku tak mau darah penghuni kadang situmbin ada dalam keluarga ini” Amak membalikkan badannya sembari mengacungkan telunjuk di dahi Rumi.Amarah dan kebencian sangat terlihat dari raut perempuan paruh baya itu. Beberapa hari ini aku melihat Sinpul lalu-lalang, tak seperti biasanya. Deru sepeda motornya begitu memekakkan.Gemetar mesinnya seolah menggetarkan pijakanku. Derungannya mengingatkanku pada cerita masa dulu,tempo hari kau datang menegur hati yang bisu,kau arakku dalam bayangan ilusi. Kehendak mencintamu seperti menggelegar.Jika kau hendak maka aku tak menolak, tapi jika aku hendak aku takut kau yang menolak. Dia yang tempo hari menyandang bilah bambu. Sebuah parang yang diikatkan pada tali raphia yang menggantung di pinggang lelaki itu. Badannya begitu tegap, perkasa. Hanya dari kejauhan Rumi mampu mengagumi lelaki yang bersenyum manis itu. Kumis tipis menghiasi wajahnya yang oval. Janggut tumbuh pada bagian dagu ia biarkan memanjang setengah jari kelingking, tipis terlihat, namun Rumi dibuat melayang olehnya. Entah mengapa bayangan lelaki itu terus melayang di kepala rumi. Gadis dua puluh tahun yang hidup ibarat burung. Mata luas memandang, sementara badan dalam kurungan. Ia hidup dalam rumah gadang dengan enam gonjong di atapnya. Kolong rumah begitu tinggi, sekitar dua meter dari tanah. Kolong rumah itu tidak dibiarkan begitu saja kosong. Pak Reman, ayah Rumi menjadikannya sebagai bagasi. Rumi bukanlah gadis sembarangan, ayahnya datuk kebesaran yang diangkat sebagai kepala dusun. Sementara ibunya, bundo kanduang yang disegani, tutur bahasanya membuat rupanya semakin menawan. Dan Rumi seorang saja, tidak ada kakak dan adik. “Perempuan itu hakikatnya menunggu, Rumi” “Aku tidak percaya” Perdebatan itu sering terjadi antara aku dan bayanganku di cermin. Ia tajam menatap, aku memohon belas kasihan padanya. Sembari mengutuki

Nurwidya Anggraini Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Tadris IPA-Fisika

diri yang malang, aku meriasinya membedaki, mengukir alis dan menambalkan pewarna pada bagian mata dan pipi. Setidaknya jika aku keluar dari semayam ini, orang menilai aku baikbaik saja. Beberapa kali aku dengar bilah terbelah. Seorang tengah membaginya beberapa keping.Aku melonjak, mengangkat badan dengan cepat dari meja rias.Ku jembatani saja dipan itu, lalu melompat kepinggir jendela.Dengan lambat aku palikkan badan pada seorang pembelah bambu itu. Oh, senyumnya membawaku melayang lagi. Disuatu tempat, ku sandarkan tubuh ini pada badannya yang berisi dan tegap.Sekeliling kami hanya rerumputan hijau, Bunga Dendolion bergoyang ramah disapa sejuknya mentari sore. Dari kejauahan terlihat perbukitan hijau berdampingan dengan deburan ombak, menghempas di dinding karang bukit.Semilir angin senja sepoi menyapa rambutku yang sepinggang. Rambutku tersibak, mengibar menutupi tubuh lelaki itu.Dekapannya begitu hangat kurasakan. Lembut ia mengibaskan rambutku yang mengenai wajahnya, hingga rasa lembut itu melelapkanku. Kala itu hari tak kunjung petang.Matahari terpaku, seperti aku yang terpaku dalam dekapannya. Tiba-tiba matahari lepas dari gantungannya, cepat saja bulan menggantikan.Lenganku dihoyak, hoyakkan itu semakin lama terasa semakin kencang. Digoyangkan kanan dan kiri, hingga aku tergagap dan sekelilingku langsung berganti.Perbukitan dengan ombak yang menghempasnya hilang saja. Sementara aku bersandar pada sebilah tonggak yang diletakkan seolah menopang kamarku. “Ada surat untukmu” Aku diam, dengan mulut yang masih ternganga, tak percaya keadaan itu hilang begitu cepat.Suasana sekejap berganti.Dan tepat di depanku Aisyah berdiri terpaku, heran dia dengan gelagat gatalku. “Dari siapa?” aku sigap mengambil amplop yang sedari tadi disodorkan Aisyah padaku. “Seseorang memberiku, katanya untukmu“ “Aisyah, uni ada sesuatu di lemari dapur. Cobalah kau tengok” Aku memutar badan gadis kecil itu dan mengiringnya menuju pintu.Metode pengusurian lembut itu sangat ampuh. Dusun kapuk, 22 februari 2013 A ntara tahajud menanti subuh Untukmu yang kupandangi dari jauh.

Penguasa keelokan rupa, Puan Rumi Hudzaifah

Surat ini kulayangkan sebagai tanda maaf padamu/ Maaf dariku yang hanya berani memandangi elok wajahmu dari kejauhan/Maafkan aku yang tempo hari mencoba melangkah pelan sekedar untuk menatapmu lebih lama/Maafkan aku yang menghentakkan deras bilah bambu agar kau menyibukku dari tirai itu/Maafkan aku yang menghadirkanmu dalam mimipi malamku tempo hari/Maafkan aku yang merinduimu hadir dalam dekapanku/Maafkan aku yang berlinang peluh dan berdebu ini/Untukmu yang jelita, maafkan ketidak tau dirian ini/ Maafkan aku yang berharap agar punduk tak hanya merindukan bulan, melainkan aku harap menggapai dan memetiknya untukmu/Maafkan aku dengan angan yang tinggi mengharap bercinta dengan puan nan elok/Maaf atas ketidak sungkananku ini/lama sudahku menanti masa hendak surat ini ada di tanganmu, maafkan kelusuhannya Esok, Kutunggui engkau saat bayang sepanjang badan di rumah tengah ladang Si Punduk Pagi ini,selepas aku membaca surat itu, entah mengapa hatiku terus melonjak. Bahkan bibirku tak henti-henti menyunggingkan senyum.Tak biasanya aku bangun sepagi itu, biasanya selepas subuh dan mengaji aku tertidur kembali.Justru pagi ini semua seperti tak biasanya.Burung-burung bernyanyi, bunga melambai, dan sapaan angin pagi lembut membelai rambutku. Matahari cerah mencogok dari ufuk timur menuju barat, ia berjalan pelan sekali. Sesekali aku tegak di halaman sembari menunggu bayang sepanjang badan itu. “Kau kenapa” “Tidak mak,cerah sekali hari ini ya?” “Ah, hari ini seperti biasa saja. Setiap hari juga seperti itu.” “tidak mak, hari ini sangat berbeda” Kemudian aku tinggalkan amak yang saat itu tengah menyapu beranda rumah.Kupandangi amak dari balik jendela. Terkadang aku lihat bayangnya saat ia tengah bolak-balik di taman. Aku juga tak lupa memandang cemara yang tumbuh sepinggang di halaman. Kupandangi bayang cemara itu, bayangannya tak kunjung bergerak mundur ke arah barat.Kusandarkan badanku pada dinding rumah gadang yang berukir itik berarak.

“Mak,temanku zara hari ini ada kenduri di rumahnya,dia memintaku datang” “Ibunya tidak mengundang amak” “Hhhmmm… mungkin mereka kenduri kecil-kecilan saja” “Memangnya ada kenduri yang kecil-kecilan” kata amak melangkah jauh meninggalkanku “Aku boleh pergi” aku meminta secara lunak, dalam pikiranku, amak pasti akan meminta Kemi atau Mak Juih yang menemani ke rumah zara “Kau bisa pergi dengan Kemi atau Mak Juih” “Sudahku tebak” pikirku dalam hati “Tidak usah mak, aku bisa sendiri” Amak menyeringai, ia memandangiku dari ujung kaki hingga pandangannya masuk ke mataku. Menembus hingga ke otak dan berjalan turun ke jantung. Aku rasa saat ini ia tengah menghitung detak jantungku. Tatapannya tajam, sementara itu, aku tunduk saja agar bohong dari mataku tak mampu ia baca. “Pergilah, tapi ingat marwah keluarga kita saat berperangai di rumah orang” Singkat saja pesan amak siang itu, tapi aku hirau saja perihal sikap amak yang tajam. “terimakasih mak”sorakku dari kejauahan Tanah yang kupijak saat ini berdetak seirama dengan jantungku yang berdebar semakin kencang.Semilir angin menyapu debu jalan setapak menuju ladang.Sebongkah bukit kecil sembunyikan pondok dari baliknya. Dari pondok itu kita bisa melayangkan pandangan hingga jauh,terdapat danau kecil di depannya. Sekeliling pondok itu ada ladang jagung yang mulai meninggi. Itulah sebabnya ia disebut pondok tengah ladang Aku berjalan perlahan,sembari menengok kebelakang.Celingak-celinguk kanan kiri.Seperti burung dalam kandang yang lepas terbang jauh.Hatiku bersorak, langkahku perlahan menapak pada jalan setapak itu. Debunya satu persatu hinggap di kakiku.Aku rasakan saat butiran halus itu terbawa angin, kemudian hinggap menyapa pipiku. Takku kibaskan. Dari kejauhan aku melihat seorang yang tengah menguntaikan kakinya. Memang dari jauh hanya kakinya saja yang terlihat.Pondok itu berdindingkan daun pinang yang disusun rapat setinggi pinggang. Hingga saat berjuntai hanya kaki saja yang terlihat. Danau itu dibuat bergelombanng oleh hentakkan kaki orang itu, entah siapa dia. Hatiku berkata jika ia tengah menungguku di pondok ladang itu.


Mata Indah Bola Pingpong, Soekarno &Nasser: “Karena Memang Terkadang Seseorang Dinilai Salah oleh Zamannya”

Muhammad Ilham (Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora)

Matanya bulat seindah bola pingpong, memancarkan kebeningan dalam berpikir”, demikian penggalan kalimat pujian (meminjam syair Iwan Fals). Pada Bacharuddin Joesoef Habibie (BJ. Habibie) di era 19961997.Tersebab matanya “membelalak” bulat,menarik, sehingga diumpamakan ping-pong. Teknokrat jebolan Aanchen Universitet Jerman bergelar “Mr. Crack” dianggap figur muslim “borjuis” panutan dan dibanggakan. Dipandang kaum muslim Indonesia sebagai orang yang mampu “menghijaukan” ranah politik Indonesia era 90-an. Habibie bahkan ditasbihkan sebagai “orang paling berpengaruh” di lingkaran Soeharto pasca kematian ibu Tien. Putra Mahkota Politik Soeharto, demikian kata indonesianist William Liddle di jelang Pemilu 1998. Pada era ini, perbincangan terpusat pada Habibie, kecuali kalangan militer (maklum Habibie berasal dari kalangan sipil), hampir tak ada cela founding father Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut. Tapi, “mata indah itu” kehilangan kebeningannya di era 1999, ia menjadi Presiden RI setelah lengser keprabon-nya Soeharto. Habibie yang dijulang tinggi pada masa Orde Baru, justru dipojokkan dari segala mata angin.”Bola matanya” diplesetkan jadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal.Bulat, Habibie yang dianggap sebagai Presiden RI pembuka “kran” demokrasi ini, dituding-hina. Abdurrahman Wahid yang juga menyerang Habibie dengan anekdot “Gila”nya yang terkenal itu: “Soekarno gila perempuan, Soeharto gila harta, Habibie gila beneran dan saya - justru pemilihnya yang gila.” Padahal, pasca Habibie inilah, diharapkan Indonesia modern terlahirkan secara demokratis. Melalui improvisasi Poros Tengah-nya Amien Rais, Gus Dur naik tahta. Tapi sayang, oleh Amien Rais, ia disuruh keluar dari istana dan digantikan oleh Megawati Soekarno Putri. Megawati dianggap representasi “makhluk terzalimi” oleh rezim politik Orde Baru. Den-

gan otoritas-genetik yang dimilikinya, Megawati dianggap sosok yang pas memimpin Indonesia pasca reformasi. Tapi apa nyatanya, seketika “soulmate” Taufik Kiemas ini jadi Presiden RI, hantaman berdatangan. Ia-lah yang dianggap sebagai Presiden RI paling pelit dalam sejarah, Pelit bicara. Mega tak sempat menikmati kekuasaan paruh kedua. Ia dikalahkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pemilihan Presiden langsung pertama. Banyak harapan diletakkan pada pundak putra Pacitan ini, presiden yang dianggap gagah, pintar dan kharismatik, “melayari” dua paruh kekuasaannya. Sebagaimana halnya Habibie, Megawati dan Gus Dur, maka SBY yang menantu bekas Komandan RPKAD nan terkenal itu Sarwo Edhie Wibowo, juga merasakan bagaimana “pahitnya” jadi Presiden RI. Tak ada celah yang luput dari serangan. Apapun yang dilakukan oleh SBY, pencitraan dan tindakan lamban, menja-

nanti, ia dan keluarganya tidak ikut mencalonkan diri menjadi Presiden, bermunculan pula tanggapan para pengamat : “SBY tak demokratis dan melanggar undang-undang, karena menghambat hak asasi manusia untuk dicalonkan jadi Presiden”, kata seorang pengamat politik yang “teramat” rajin menganalisis gerak-gerik politik SBY. Diam dianggap lamban, cepat dianggap ceroboh dan intervensi. Betapapun hebatnya seorang pemimpin, pasti ada celah yang enak untuk dikecam. Bila ia sukses di satu bidang, dibidang lain ia akan “ditembak”, biasanya, kesuksesan besar dan kelebihan utama seseorang itu akan abih tandeh oleh secuil kesalahannya. Jangankan Habibie, Mega, Abdurrahman Wahid ataupun SBY, tokoh besar se”gadang” Soekarno dan Gamal Abdel Nasser juga tak luput dari hal demikian. Soekarno, Siapa yang meragukan kebesaran dan ketokohannya, Pemersatu bangsa, proklamator, pejuang kemerdekaan sejak muda, penggali Pancasila tapi (masih ) teramat sering kita mendengar tentang “kegenitannya”. Bahkan dianggap “megalomania”, orang yang gemar serba besar dan serba cemerlang. Kemudian Gamal Abdel Nasser, walau Nasser dianggap tokoh pemersatu bangsa Arab yang dikenal teramat susah untuk bersatu Nasser dianggap orang besar yang berhasil membabat feodalisme dan mendirikan masyarakat yang demokratis dan sosialis, walaupun ia hidup dengan amat sederhana dan tidak k o rup,

Soekarno gila perempuan, Soeharto gila harta, Habibie gila beneran dan saya - justru pemilihnya yang gila.”

d i d u a kata yang dilekatkan pada mantan Menkopolhukam masa Megawati ini. “Maju kena mundur kena”, harus dinikmati SBY, ketika ia tidak mensikapi apa yang dikatakan oleh para elit Partai Demokrat. Banyak pengamat yang mengatakan diamnya SBY sebagai tindakan politik yang tak etis. Diam tersebut berarti SBY setuju. Ini artinya, SBY menyetujui politik dinasti sebagaimana yang terjadi di India, Korea Utara ataupun di negara-negara non-monarkis Timur Tengah dan Afrika Utara sana. Namun kala SBY mengatakan bahwa 2014

lebi h s u k a tinggal di tempat barak perwira dibandingkan di istana, betapapun beliau sudah mampu membawa Mesir sebagai bangsa yang disegani dan diperhitungkan dalam konstelasi politik dunia pada masanya, tapi sebagaimana halnya Soekarno, masih tetap saja ada suara-suara sinis mengenai dirinya. Desas desus yang menyindirnya sebagai pemimpin otoriter dan tidak becus.Ada anekdot tentang ketidaksukaan orang Mesir terhadap Nasser. Anekdot yang pernah saya baca dalam sebuah kolom kolumnis Mahbub Junaidi di Harian Kom-

pas kala saya masih di SMP. Ekonomi pasar bebas menjadi tidak bisa berkutik karena tangan-tangan negara amat kuat mencengkeram. Kaum kapitalis dalam negeri terjepit karena Nasser menginginkan masyarakat yang sosialis.Untuk memperoleh barang-barang kebutuhan harian, orang terpaksa mengantre.Akibat dari hidup serba antre ini, ada orang yang menjadi gusar. “Apa kalau mau beli pisau orang harus antre?”, tanyanya suatu ketika. “Oh, kalau sekedar pisau, tak perlu mengantri,” jawab temannya. Maka orang ini segera membeli sebilah pisau belati di pasar dan langsung bergegas menuju kediaman Preside Nasser. Di pintu gerbang ia dihadang oleh pengawal. “Apa maksud saudara ke tempat Presiden Nasser!” “Saya mau membunuhnya, Ia sudah bikin susah hidup saya dan semua orang Mesir”. “Oh, itu bisa saja! Tapi saudara harus antri !”, kata pengawal. Ternyata antrean orang yang ingin (berniat) membunuh Nasser cukup panjang. Karena tak tahan dengan antrean yang pan jang tersebut, ia kemudian pulang dan tidur. Saya yakin, anekdot tersebut bukanlah mencerminkan keadaan Mesir sesungguhnya dalam bersikap terhadap orang besar. Menghadapi gerakan sosialis Arab yang dilancarkan Nasser, sikap progressif revolusioner yang ditunjukkannya merupakan refleksi terhadap sikap anti-Israel yang tidak kenal kompromi, sudah tentu menumbuhkan rasa tidak senang lawan-lawan politiknya. Mereka inilah yang kemudian memanfaatkan “kondisi “ dalam negeri untuk menyebarkan anekdot seperti diatas. Biarlah sejarah yang akan menjadi saksi, apakah orang-orang seperti Soekarno atau Nasser itu oportunis yang korup dan memikirkan dirinya sendiri, atau seorang pemimpin yang mampu memaksa orang lain untuk menghormati negerinya dengan sikap tegar tanpa menunduk pada “kekuatan lain”. Biarlah sejarah yang “menilai” siapa sebenarnya Habibie ? Apakah makna gilanya Gus Dur ataupun diam emasnya Megawati serta politik akomodasi dan penuh perhitungan SBY. Karena memang, kata Frantz Fanon, terkadang seseorang dinilai salah oleh zamannya. Dan, tak salah memang kemudian, bila Soeharto dirindukan orang pada masa sekarang.


Hapus Sedihmu, Allah Bersamamu

Judul Buku Penulis penerbit Tahun Terbit Cetakan Jumlah Halaman Resensiator

: Hapus Sedihmu, Allah bersamamu : Didi Junaedi : Elex Media : 2017 : Pertama : 115 halaman : Putri Intan Purwari

Didi Junaidi, lahir di Brebes Jawa Tengah tiga dasawarsa silam. Ia menyelesaikan studi S1 dan S2-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan mengambil konsentrasi Tafsir Hadist. Disamping aktivitas akademis, Ia juga aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, diantaranya menjadi tutor tetap kajian Tafsir. Dalam buku ini terdapat tujuh tema utama, yang masing-masing tema ter-

diri dari lima tulisan: Pertama, Realize Your Weakness. Pada bab ini penulis mengajak kita semua untuk menyadari kelemahan di dalam diri kita. Dengan menyadari kelemahan tersebut, maka kita akan selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik, memahami segala kekuatan dalam diri, serta memohon petunjuk kepada Tuhan untuk terus bimbingannya.

Kedua, Everything Is Okay. Dalam bagian ini penulis menyemangati kita untuk selalu berpikir positif (positive thinking). Dengan pikiran positif, maka kita akan merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Ketiga, Let Is Follow. Bab ini berisi tentang pentingnya berperasaan positif (positive felling), ikuti kata hati kita. Abaikan suara-suara sumbang dan nada-nada miring yang menyertai langkah kaki kita. Hidup kita, kitalah yang menentukan bukan orang lain. Keempat, Every Cloud Has A Silver Lining. Bagian ini menjelaskan tentang rintangan dan hambatan yang menghalangi jalan kita menuju sukses. Hadirnya masalah akan mendewasakan kita, jangan putus asa, ketika persoalan datang menimpa Kelima, All Beginnings Are Difficult. Bab ini mengulas betapa memulai sesuatu itu sulit. Tersebab, kita belum membiasakannya. Keenam, Step by Step. Pada bagian ini penulis menggugah kesadaran kita betapa pentingnya langkah pertama. Selanjutnya, kita menikmati setiap langkah yang kita ayunkan. Ketujuh, Eliminate Your Sadness. Dalam bab terakhir penulis mengajak kita semua untuk belajar menghalau

galau. karena hidup ini indah, terlalu sayang untuk disia-siakan. “Life Is like a roller Coaster. It has its ups and down,“ demikian sebuah ungkapan manyatakan hidup ini layaknya kita menaiki roller coaster, kadang kita berada diatas, kadang kita berada dibawah. Sesaat kita menikmati suka, tak lama kemudian duka datang menyapa. Buku ini merupakan jawaban atas kegelisahan hati tentang bagaimana agar kita semua mampu menghapus kesedihan dan menjalani hidup penuh semangat, antusiasme dan optimisme. Buku ini dikemas dengan gaya bertutur yang mengalir dan mudah dipahami, sangat cocok bagi siapa saja yang ingin segera mengahapus kesedihan di bawah bimbingan Illahi, pada buku ini sangat banyak pelajaran- pelajaran yang dapat kita ambil dan memiliki motivasi yang besar dalam menjani kehidupan. Buku ini memiliki banyak kelebihan dari pada kekurangan, walaupun demikian buku ini juga memiliki kelemahan salah satunnya ketika penulis mengemukakan tentang tema utama yang ada pada buku, penulis tidak melandasi tema itu dengan Hadist yang jelas serta ayat Alquran.

Sirkus Pohon, Pohon Sirkus.

S

irkus Pohon merupakan karya ke-10 Andrea Hirata, berselang dua tahun setelah menerbitkan novel ayah. Novel ini masih menceritakan kisah masyarakat Tanjung Lantai, Belitung dengan ciri khas Melayunya yang perekonomiannya menengah kebawah. Awal cerita, Anderea Hirata menyuguhkan tentang kehidupan pohon-pohon yang mampu di deskripsikan begitu detail dan humoris. Sobri, karena hal sepele namanya berubah menjadi Hobri adalah seorang pemuda kampung yang tidak tamat SMP karena ulah sahabatnya Taripol yang tak lain adalah seorang pencuri. Imbasnya, Hobri dituduh mencuri TOA Masjid oleh warga sekitar. Hobri adalah pemuda yang malang tidak mempunyai pekerjaan tetap seperti yang di agung-agungkan adiknya Azizah yaitu harus memiliki seragam, bergaji tetap dan bangun pagi, let’s go. Satu balasan pantun tak berirama yang sangat menakutkan bagi Hobri untuk mencari pekerjaan, “SMA atau Sederajat� momok yang selalu menghantuinya setiap malam. Sampai suatu hari, adik ipar Hobri, Suruhudin yang iba dengan Hobri yang kadang akrab menggelandang di pasar menawari sebuah lowongan

pekerjaan misterius. Kabar dari si adik ipar rupanya menjadi pengantar Hobri menuju kesadaran dan meraih mimpinya memperistrikan Dinda serta akan panggilan hidupnya, menjadi badut sirkus keliling. Cerita besar dibalik novel ini adalah kisah cinta pertama Tara dan Tegar. Tara adalah mandor di sirkus keliling di tempat Hobri bekerja, sementara Tegar adalah montir sepeda di bengkel peninggalan ayahnya. Pertemuan mereka diawali di kantor Pengadilan Agama, Tara yang dikerjai oleh beberapa anak laki-laki yang jahil di tolong oleh Tegar. Namun, mereka tidak sempat untuk berkenalan. Tegar memberinya nama Layang-layang, sementara Tara menamainya pembela. Layang-layang dan Pembela, itu terjadi ketika mereka duduk di kelas 5 SD. Benci Hobri pada Delima hingga dia berniat menebang pohon tersebut yang berada di pekarangan rumahnya. Tetapi tak sampai hati dia ketika melihat terjalinnya cinta sepasang burung Kutilang di sana. Ada yang berbeda dari karya ke-10 Andrea Hirata ini, yaitu untuk pertama kalinya ia memasuki ranah politik dalamnya. Tak luput Andrea mengkritik hal-hal dalam setiap karyanya, tentu

saja dengan cara eksentrik darinya dan dapat memecah tawa pembaca. Andrea Hirata membagi cerita Sirkur Pohon dengan enam babak, setiap babak menceritakan satu tema besar. Babak tersebut memudahkan pembaca dalam memahami setiap kejadian. Dalam cerita kali ini Andrea juga menceritan dengan alur yang maju

mundur. Jika kita tidak teliti dalam memahami isi cerita tersebut akan membuat keraguan sehingga kita akan kembali ke halaman pertama untuk mencari titik terang cerita ini. Sirkus pohon memberikan banyak hal, tentang memaknai hidup, tentang perjuangan, tentang nasib, tentang cinta, tentang kegigihan, tentang kepercayaan dan tentang harapan.

Judul Buku : Sirkus Pohon Pengarang : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Pustaka Cetakan : Pertama Resensitor : Ganti Putra Wardana


Vlog Dunia Baru

Dikalangan generasi milenial Vlog berkembang denganpesat

P

ertumbuhan Video Blog (Vlog) di Indonesia sangat berkembang pesat, terkhusus di Sumatera Barat banyak vlog yang tersebar pada umumnya dari orang-orang komunitas wisata. Untuk mendapatkan informasi mengenai vlog saat ini sangatlah mudah dan cepat dari media sosial seperti publik figur dan tokoh lainnya. Pakar Komunikasi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Mulyanti Syas mengatakan vlog adalah Vlog yang merupakan kegiatan bloging tapi formatnya adalah dalam bentuk text dan audio visual. Selama ini ngeblog hanya text dan gambar saja, sedangkan vlog hadir dalam bentuk text dan audio visual dan itu bisa diakses lewat Youtube dan media lainnya. Menurutnya, pengguna bisa berkreasi serta share cerita kehidupan pribadi, sosial, aktivitas, keahlian yang ia punya dengan vlog. Vlog merupakan bentuk baru dari media. “Kalo biasanya kita membuat video kita bagikan ke orang-orang. Sedangkan sekarang sudah ada medianya seperti Youtube,” paparnya. Vlog itu bisa bomming karena teknologi dan kemudahan. Jadi siapapun selama dia memilki perangkat untuk memvideokan dan videonya itu bisa kita gabung antara video yang satu dengan yang lain. Hal itu bukan dengan pola yang tinggi, tidak harus paham, yang penting kalo dia pandai dalam mengambil spot-spot yang bagus lalu dia buat alur ceritanya yang menarik itu akan bagus. Sementara untuk eksistensi budaya vlog itu tergantung pada te-

berkembang terus dengan memberikan format-format atau aplikasi baru, seperti dulu hanya kirim gambar dan sekarang sudah dapat mengirim video itu secara teknologi semakin menarik, mudah dan murah dan itu yang akan dicari orang. “Blog diganti dengan vlog dan apalagi nanti?” Menurut Sas kelebihan vlog dibandingkan blog, vlog bersifat audio visual dengan kemudahan untuk menggunakannya apalagi dengan mempunyai perangkat. Sementara kekurangannya belum ada, sebelum ada nanti teknologi yang baru yang bisa menggantikan kelebihan- kelebihan dari vlog. “Sesuai perkembangan

itu untuk hal yang positif, untuk meningkatkan kerukunan, jadi lebih kekreativitas dan mengajak kepada hal yang lebih baik. Menurut salah seorang vlogger Masturi ia berpendapat bahwa vlog sebenarnya sebuah karya jurnalistik yang sering ditampilkan di acara televisi seperti jurnalisme travel, kuliner dan masih banyak lainnya. Beberapa tahun terakhir ini banyak masyarakat yang mulai mengadopsi untuk memperkenalkan keindahan wisata dan dirinya sendiri kepada orang banyak melalui akun Youtube, Metube, bahkan Instagram. Menurut Mahasiswa Jurusan Otomotif Universitas Negeri Makasar ini semenjak tahun 2016 ia mengge“Saya secara pribadi tetap ingin menambah mari vlog. vlog walaupun tantangan yang diberikan Awalnya oleh youtube berat,” saya mengganggap be~ Masturi ~ berapa vlogger di sekeliling saya sebagai orang alay yang s a j a ,” ngomong di depan kamera dan ujarnya kepada Suarakampus.com. menampilkan action mulai dari berjoVlog yang lebih baik berkembang get sampai parkour di taman atau temadalah vlog yang positif, yang memberipat wisata. kan wawasan baru kepada masyarakat. Akhirnya ia menyukai vlog karena Apapun itu jenisnya, yang sederhana ingin belajar public speaking dan belaseperti bagaimana berteman yang baik. jar percaya diri tampil di depan kamera Bagaimana bisa memperbanyak bisa maupun tampil di depan orang banyak. bersosialisasi, jangan kehidupan priba“Hal yang paling saya suka dari vlog selain dikenal oleh banyak orang melalui

sasiun televisi untuk mengisi program acaranya. “Akun vlog Youtube saya saat ini yaitu Turi Coki namun akun ini belum banyak video vlog yang saya buat dan upload sebab setiap video yang saya buat kebayakan di upload di channel Youtube komunitas untuk membangun branding,” paparnya. Menurutnya Akun vlog pribadi saya belum pernah terjual karena masih kategori pemula. Untuk akun pribadi sendiri biasanya saya mengangkat tema traveling namun untuk kedepannya saya akan memulai dengan cara yang baru yang lebih keren dan pastinya tidak akan membosankan. Sementara untuk penambahan vlog, Masturi mengatakan dilihat dari perkembangan zaman dari tahun ketahun perkembangan penghasilan yang ditawarkan oleh Youtube semakin menggiurkan. “Saya secara pribadi tetap ingin menambah vlog walaupun tantangan yang diberikan oleh Youtube berat,”cetusnya. Biasanya waktu yang digunakan untuk membuat vlog kalau tidak sibuk hanya memerlukan waktu lima sampai 10 jam hingga proses upload. Namun ada juga beberapa vlog yang memerlukan waktu yang cukup banyak disebapkan adanya kepentingan yang lebih urgen yang harus dikerjakan. “Perasaan bangga tentunya jika banyak yang menenoton video yang saya upload,” tutupnya

Ganti P.W, Siska Fahira

knologi dan perkembangannya yang pesat. Bisa jadi teknologi vlog ini bisa digantikan dengan yang lebih baru. Seperti sekarang friendster tidak digunakan lagi dan hanya tinggal nama. Sedangkan yang bertahan sekarang seperti facebook yang terus

(Mg), Amelysa (Mg)

di apalagi kehidupan seksual yang diumbar . Semakin m e n g gunakan teknologi

Youtube, kita juga dapat memproleh uang dari youtube untuk menambah uang jajan,” paparnya pada Suarakampus.com. Hal yang paling memotivasi saya tentang dunia vlog yaitu vlogger-vlogger indonesia yang memperoleh banyak uang melalui akun youtube dan dan tidak jarang diantaranya di undang ke


Tabloid edisi 143 LPM Suara Kampus  

Tabloid edisi 143 LPM Suara Kampus membahas tentang beberapa permasalahan di UIN Imam Bonjol Padang. Diantaranya mahasiswa yang tidak terdaf...