Page 1

EDUCATION OBJECTIVITY 15 Maret - 15 April 2014 HIBAH PAMERAN s.14 : 2013/2014

Kurator Pameran

Angga Wijaya Seniman

Ika Setyaningsih Iin Novitasari Meita Meilita Eti Kurniasih Sarah Fidiyanti


Pengantar s.14

Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena berkat petunjuknya kami bisa beraktivitas kembali di tahun 2014 ini. Memulai tahun dengan beberapa program baru; Hibah Pameran s.14 (2013/2014) dan Proyek Kamar Seniman sebenarnya sudah diluncurkan pada Ulang Tahun s.14 yang ke-5 pada Juli 2013 lalu, tetapi realisasi programnya baru dilakukan awal tahun ini. Sedangkan program-program baru yang diluncurkan pada tahun 2014 ini adalah Wanita Inspirasi 2014, Pameran Kurasi s.14, dan Family Art Affair. Diawali dengan program Presentasi dan Diskusi “Quo Vadis Pendidikan yang berpusat pada Anak” pada Sabtu, 1 Maret 2014 lalu, tahun 2014 ini diawali dengan tema Pendidikan. s.14 mengundang saudari Vina Adriany, staff pengajar Psikologi UPI Bandung (PG/PAUD) yang baru saja menyelesaikan studi S3-nya di Lancester University, Inggris, dengan riset disertasinya mengenai Pendidikan Anak. Presentasi dan diskusi ini adalah bentuk apresiasi s.14 kepada Wanita-wanita Inspiratif di bidangnya, yang mau berbagi pengalaman, keahlian, dan ilmunya kepada publik luas demi terjalinnya komunikasi, silahturahmi, dan informasi seputar aktivitas kehidupan. Lalu dilanjutkan dengan realisasi pameran dari Hibah Pameran s.14 (2013/2014) yang dimenangkan oleh Angga Wijaya, anggota perpustakaan s.14, dengan gagasan kurasi pameran ajuannya yang berjudul “Education Objectivity”. Angga, yang masih tercatat sebagai Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta (UNJ) ini mengajak 5 seniman perempuan—mahasiswi UNJ yang tergabung dalam kelompok ABC Forum (http://abcforum.tumblr.com) untuk membuat karya seni berdasarkan hasil riset masing-masing mengenai seni dan pendidikan. Mereka adalah Iin Novitasari, Ika Setyaningsih, Meita Meilita, Eti Kurniasih, dan Sarah Fidiyanti yang telah berhasil menyelesaikan proses kreatifnya ke dalam karya seni rupa berupa gambar, video, fotografi, ilustrasi dan media campur (mixed media) dari hasil riset lapangan yang telah mereka lakukan. Pameran ini juga didukung oleh kontribusi tulisan dari Ferika Yustina, untuk memperkaya wacana seni dan pendidikan yang mereka bangun. Selain pameran, para seniman yang terlibat akan mengadakan lokakarya bermain tanah liat bersama anak-anak berkebutuhan khusus (ABK-Tuna Netra) bekerjasama dengan Yayasan Wiyata Guna, Bandung pada Sabtu, 5 April 2014.

1


2014 juga menjadi spirit bagi keluarga s.14 untuk segera membuka kamar garapan Henrycus Napit Sunargo dan Prilla Tania dari Proyek Kamar Seniman yang telah mereka lakukan pada pertengahan tahun 2013 lalu. Kamar ini disewakan untuk UMUM, khususnya bagi periset, seniman, kurator yang dapat mengakses perpustakaan s.14 langsung juga berapresiasi secara intim pada karya-karya yang ditampilkan di sekitarnya. Program ini merupakan salah satu bentuk penggalangan dana untuk operasional program kegiatan s.14. Selain itu, karena permintaan beberapa pihak akan kelas kreativitas bagi Anak , sebagai kelanjutan Program Liburan Anak 2011-2012, dan setelah vakum satu (1) tahun di 2013, maka s.14 akan membuka program regular Family Art Affair pada bulan Juli 2014 dan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Program ini kami khususkan bagi anak, keluarga yang mencari aktivitas bersama melalui eksperimen variasi medium dalam berkarya seni, lebih jauh untuk mempererat hubungan antar orang tua dan anak, kakak adik melalui media seni. Pameran Kurasi s.14 akan menutup tahun dengan pameran yang dirancang oleh tim kurator s.14, dapat dilakukan di ruang pamer s.14 ataupun bekerjasama dengan ruang/galeri/institusi lain untuk merealisasikannya. Tahun ini, kami mengajak Adhya Ranadireksa, yang dikenal sebagai seniman yang menggunakan medium fotografi dalam karyanya, tetapi kali ini ia akan memamerkan keahliannya dalam media lain yang tidak kalah menarik dari karya fotografinya. Di tahun 2014 pula, kami memulai untuk membuka ruang pamer s.14 bagi UMUM, melalui ajuan proposal pameran dan bersedia membiayai pamerannya sendiri. Hal ini dilakukan untuk efisiensi pendanaan pameran dan operasional manajemen secara mandiri. Kami berharap, hal ini tidak mengurangi semangat para seniman atau pekerja seni lainnya untuk memamerkan karyanya kepada publik dengan cara gotong royong. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung s.14 ; Natasha Sidharta dan Natas Setiabudhi yang mempercayakan dan memberikan donasinya untuk keberlangsungan program s.14 ke depan, Ardanti Andiarti yang sudah membantu sebagai moderator dalam presentasi dan diskusi Wanita Inspirasi s.14 perdana, para pendukung pameran Hibah s.14 (Angga Wijaya dan ABC forum, Universitas Nasional Jakarta (UNJ), Pedro Siahaan-MIL Print, Keni Soeriaatmadja-BINUKON, Veranika-Warung Taru, Novia-PINGsnack, Kang Gianto Yayan & Pak Idik Sodikin dari Tirta Anugerah, Yayasan Wiyata Guna, Roy Voragen dan Contemporary Arts Bandung, Itsnie-LOTF, Irfanda dan Tom H. Tandio – Indoartnow, tim Videolab : Amelia Lestari, Muhammad Akbar, dan Laurs Oscar Osman), tidak lupa ucapan terima kasih kami berikan kepada anggota perpustakaan s.14, warga komp. UNPAD Cigadung, teman-teman pengunjung pameran yang mendorong semangat kami untuk terus menjalankan s.14 sebagai ruang seni alternatif yang terbuka untuk UMUM melalui seni, kehidupan dan berbagi. Selamat berapresiasi! Keluarga s.14

2


Daftar Isi /Content

Pengantar s.14 ................................................................................

1

“ Education Objectivity” oleh Angga Wijaya ....... ...................................................................

4

Karya Sarah Fidiyanti .......................................................................

7

Karya Eti Kurniasih ...........................................................................

9

Karya Iin Novitasari ..........................................................................

11

Karya Ika Setyaningsih .....................................................................

13

Karya Meita Meilita .........................................................................

15

“Menapaki Ruang Kreasi” oleh Ferika Yustina ...........................................................................

17

Dokumentasi foto proses Riset dan Kekaryaan ................................

20

Profil .................................................................................................

24

Sisipan Program “Quo Vadis Pendidikan yang berpusat pada Anak” oleh Vina Adriany .............................................................................

28

3


EDUCATION OBJECTIVITY

Memperhatikan fenomena pendidikan di sekeliling kita merupakan upaya penting bagi perkembangan seni rupa. Alasannya, hal itu dapat menjadi salah satu landasan untuk mengetahui sejauh apa peran pendidikan terhadap dunia seni rupa kita saat ini. Hal itulah yang menjadi dasar proyek “Education Objectivity�. Proyek ini memakai pendekatan berdasarkan kenyataan objektif, mempertimbangkan antara hubungan seni rupa dengan pendidikan sebagai objeknya. Dalam waktu empat bulan, kelima perupa: Iin Novitasari, Ika Setyaningsih, Meita Meilita, Eti Kurniasih dan Sarah Fidiyanti melakukan riset dengan presentasi proyek seni rupa mengenai konteks pendidikan. Pendidikan adalah proses penyaluran pengetahuan, yang di dalam prosesnya membutuhkan interaksi. Untuk memudahkan pengetahuan tersebut tersosialisasikan, terdapat berbagai metode sebagai cara penyampaiannya. Seperti pola kerja yang dilakukan oleh ke lima perupa, mereka membuka interaksi dan pastisipasi obyek, mereka melakukan wawancara, mengamati tempat dan faktor lain yang mempengaruhinya. Dari proses penelitian tersebut menghadirkan pertemuan baru secara nyata, dan tak disadari telah membongkar hakikat “pendidikan� itu sendiri sebagai sebuah interaksi yang menghasilkan informasi dan pengetahuan. Ke lima perupa tertarik untuk mengamati berbagai metode pendidikan dalam menyalurkan pengetahuan, baik kepada peserta didik maupun masyarakat luas. Dalam perkembangan saat ini, demokrasi memunculkan berbagai alternatif pendidikan, dan masyarakat pun menjadi banyak pilihan dan cara untuk mendapatkan pengetahuan. Disinilah perupa mencoba melihat seperti apakah kecenderungan pilihan masyarakat terhadap pendidikan. Sarah Fidiyanti tertarik mengamati bagaimana homeschooling dapat tumbuh di tengah sistem pendidikan di Indonesia. Homeschooling berdiri menjadi pengganti sekolah bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus dalam belajar yang tidak formal. Dari hasil penelitian di lapangan, ternyata memunculkan banyak alasan-alasan pribadi siswa, dari alasan sibuk syuting hingga di-bully, yang membuat homescholling ini dapat tumbuh sebagai ruang alternatif pendidikan yang berkembang di era mutakhir saat ini.

HIBAH PAMERAN s.14 : 2013/2014

4


Sedangkan Eti Kurniasih tertarik untuk mengamati faktor urbanisasi mahasiswa yang datang ke Jakarta demi mengenyam pendidikan. Bagaimanakah proses adaptasi seseorang yang berpindah dari daerah ke Ibukota? Bagaimana kaitannya terhadap mahasiswa yang semenjak lahir sudah merasakan sistem pendidikan yang ada di Ibukota? Dalam penelitian ini Eti melihat pengaruh budaya dan geografis terhadap pendidikan di Indonesia, bahwa penyebaran pendidikan tidak dapat disamaratakan begitu saja sesuai sistem pemerintah di pusat. Iin Novitasari mengamati sosialisasi EQ (Emotional Quotients) dan IQ (Intelligence Quotients) dalam praktik pendidikan di sekolah. Pendidikan formal hanya mengukur siswa dari kecakapan dalam pelajaran (IQ), lewat Ujian Nasional sebagai tolak ukur kelulusan siswa. Dalam penelitian ini, Iin menemukan bahwa SQ (Spiritual Quotients) juga belum tersosialisasikan dengan baik, sedangkan SQ berperan penting dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Karena ketiganya saling terkait untuk kelengkapan aplikasi keseharian siswa sebagai manusia, di luar pendidikan formal itu sendiri. Dalam sistem pendidikan di Indonesia terdapat segmentasi lembaga pendidikan yang berdasarkan pada kemampuan fisik dan mental siswa. Atas dasar itu, Ika Setyaningsih tertarik untuk meneliti mengenai “Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tuna Netra”. Dalam penelitian tersebut, Ika membawa anak tuna netra untuk merasakan pengalaman visual. Sedangkan Meita Meilita meneliti penggunaan slogan sebagai bentuk edukasi yang berkembang di masyarakat. Meita khusus mengkaji pemakaian kata slogan “buanglah sampah pada tempatnya”. Kata “buang” jika dilihat dari segi psikologis bahasa (psikolinguistik) memiliki makna dan kesan negatif, yang mungkin menjadi salah satu penyebab masyarakat masih “membuang” sampah pada tempatnya. Jika asumsi ini benar, bagaimanakah seharusnya bentuk edukasi yang sesuai untuk masyarakat? Dari masing-masing hasil penelitian yang mereka lakukan menjadi dasar penciptaan karya seni rupa dalam pameran ini, disinilah percobaan mengkaji visual dalam konteks pendidikan teruji. Bagaimanakah presentasi sebuah karya seni rupa bila mengangkat persoalan pendidikan? Karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini memiliki kecenderungan bersifat interaktif, yang membutuhkan partisipasi pengunjung. Dengan itu karya-karya mereka menjadi dekat sebagai media pembelajaran, yang memberi pengalaman edukatif secara sederhana, untuk memberikan pandangan reflektif mengenai konteks pendidikan.

Angga Wijaya

Kurator pameran “Education Objectivity”

HIBAH PAMERAN s.14 : 2013/2014

5


ARTWORKS

Image & Description Foto dan Deskripsi Karya

6


7


Sarah Fidiyanti “Belakang Panggung � Water Colour, Pop-up/Collage, Various Dimension (10 frames) 2014 Sarah Fidiyanti melakukan observasi di Sun Homeschooling yang berada perumahan di Cipinang Indah, Jakarta Timur. Sarah tertarik mengamati bagaimana homeschooling dapat tumbuh di tengah sistem pendidikan di Indonesia. Sarah melakukan interaksi dengan siswa homeschooling disana untuk mengetahui alasan mereka mengikuti pendidikan di homeschooling. Dalam karyanya Sarah membuat ilustrasi yang menggambarkan cerita siswa tersebut. 8


9


Eti Kurniasih “Unlimit � drawing on soft foam pieces (puzzle) diameter : 1,5 m 2014 Eti Kurniasih tertarik untuk mengamati faktor urbanisasi mahasiswa yang datang ke Jakarta demi mengenyam pendidikan. Sebagai sampel Eti mengambil mahasiswa dari kampus Univeristas Negeri Jakarta, Eti berdialog dengan mahasiswa-mahasiswa tersebut seputar perkembangan pendidikan. Dalam karyanya, Eti membuat drawing potret dari mahasiswa-mahasiswa tersebut, dan dipotong-potong menjadi puzzle.

10


11


Iin Novitasari “Repair� nails on plywoods interactive, 3D 2014 Iin Novitasari tertarik mengamati sosialisasi EQ (Emotional Quotients), IQ (Intelligence Quotients) dan SQ (Spiritual Quotients) dalam praktik pendidikan di sekolah formal, Iin melakukan observasi ke sekolah SMA 35 Jakarta. Dalam karya yang dihadirkan Iin membuat tiga gambar interpretasi kegiatan dari EQ, IQ dan SQ, tiga gambar tersebut di potong menjadi tiga bagian yang dapat digerakan seperti rubik. 12


Ika Setyaningsih “See� (image still) video installation video looping on box 40 cm x 23 cm 2014 13


Ika Setyaningsih “ProďŹ lâ€? Digital Print on Photo Paper (with clay display) 60 cm x 60 cm, various dimension (clay) 2014 Pada bulan November 2013 Ika mengobservasi ABK ke sekolah SLB A Tan-Miyat Bekasi. Di sekolah tersebut terdapat banyak siswa dengan beragam kebutuhan khusus. Ika tertarik untuk berinteraksi dengan siswa Tuna Netra. Ika membuat karya video yang menampilkan proses Anak Tuna Netra bernama Elsa dan Thariq, mereka berdua membentuk benda tiga dimensi dengan media clay untuk merasakan pengalaman visual. 14


15


Meita Meilita “Sinonim � drawing on custom made box (interactive) 25 cm x 25 cm x 115 cm 2014 Meita Meilita meneliti penggunaan slogan sebagai bentuk edukasi yang berkembang di masyarakat. Meita khusus mengkaji pemakaian kata slogan “buanglah sampah pada tempatnya�. Dalam karyanya, Meita membuat distorsi bentuk tempat sampah menjadi box persegi panjang, yang berisi tiga pilihan gambar kegiatan manusia memperlakukan sampah; membuang, menaruh, meletakan.

16


MENAPAKI RUANG KREASI

Daya estetik sejatinya ada dalam diri manusia, yang mampu melahirkan berbagai rasa yang begitu dinamis. Sama halnya dengan seni yang cenderung dinamis dan lahir secara naluriah dari daya estetik tersebut. Jika seni bersifat naluriah, tidak begitu dengan pendidikan. Pendidikan dalam manusia bukanlah naluri, hewan bisa saja mendapatkan pendidikan secara naluriah, dalam cara bertahan hidup, berkembang biak, dan bentuk adaptasi lainnya. Itu dilakukan berdasarkan insting dan naluri (kodrati). Berbeda dengan manusia, jika pendidikan pada hewan sudah kodrati, maka manusia diperlukan pendidikan yang secara sengaja dan dalam rancangan tertentu memanusiakan manusia itu sendiri, minimal memahami hakikat keberadaannya. Salah satu caranya melalui pendidikan seni, di luar kebutuhan manusia soal pendidikan yang lain, mengemukakan nilai pasti dalam dunia sains dan teknologi. Pandai memposisikan diri dalam diskusi, menganalisa dan mengkritisi fenomena, hingga cara berhubungan dengan orang lain, adalah buah dari pendidikan. Sejatinya sejak Taman Kanakkanak, kita kenal dengan sosok guru, seorang tenaga pengajar yang mendidik juga membantu mengembangkan kepekaan menghadapi proses mobilisasi peserta didik. Melalui guru, penyelenggaraan pendidikan dengan sendirinya menjadi terorganisir. Kepiawaian guru dalam mengaplikasikan metode ajar dan mengenali murid menjadi senjata dalam mewujudkan tujuan mendidik. Berjalan secara teroganisir, ya, pendidikan menghasilkan organisasi. Tetapi tujuan organisasi tak sama dengan tujuan pendidikan. Organisasi bekerja dalam mendidik dan mengembangkan masyarakat serta ditujukan untuk menyelesaikan masalah, Sedangkan pendidikan tidak untuk menyelesaikan masalah. Seperti yang dikatakan Myles Horton (pionir pendidikan perubahan sosial asal Tennessee), bahwa jika pendidikan memberikan solusi maka mereka tidak memberi kesempatan peserta didik untuk mencari solusinya sendiri. Pandangan luhur pun datang dari tokoh pendidikan nasional; seorang pemerhati pendidikan sekaligus berkonstribusi besar membangun rumusan-rumusan pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri.*1

17


Pendidikan mempunyai arah untuk memenuhi keperluan kehidupan. Hanya manusia mandiri yang mampu mendapatkannya, lalu bagaimana mewujudkan manusia mandiri itu? Jawabannya manusia harus secara sadar dan terencana menebarkan pendidikan tanpa sebuah paksaan. Artinya dilakukan dengan penciptaan tertib dan damai (membimbing). Ketepatan penerapan pendidikan ala Ki Hajar Dewantara tersebut dapat dibuktikan dalam hubungan sinergi antara logika dan etika. Pada dasarnya secara kodrati manusia tumbuh dan berkembang, baik ďŹ sik dan psikis. Dan manusia memerlukan pendidikan karena perkembangan akalnya perlu diarahkan atau dibimbing secara nyata untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kehidupan. Dengan penemuan kebenaran, praktiknya akan berada di jalur yang benar, sehingga lahir manusia yang beraktivitas dalam kebenaran pada akhirnya tercipta kebaikan. Akan tetapi, bila pelaksanaan pendidikannya bernafaskan paksaan dengan konsekuensi dominan hukuman, bagaimana mungkin akan tercipta manusia intelektual yang berbudi sehat dan berinisiatif -tanpa perintah dan desakan ia akan aktif bekerja-, yang akan terjadi adalah ruang kembang anak akan sempit dan terbatas. Berkenaan dengan hal itu, yang menjadi fokus perhatian dalam pendidikan adalah peserta didik. Secara individu dan kelompok, formal maupun nonformal, peserta didik akan membentuk sebuah habitus yang longgar dalam melihat fenomena. Ekspetasi mereka akan berkembang, luas, dan bebas walaupun, bergerak dalam sistem yang terorganisir. Di sini lah tujuan pendidikan terlihat, bukan menyelesaikan masalah melainkan membawa kesadaran pada keluasan tujuan dan tak terbatas. Dalam kapasitasnya sebagai aktivis seni, kelima pameris mencoba menggiring fenomenafenomena pendidikan yang kaitan konteksnya antara karya seni dan seniman mengkreasikan nilai-nilai pendidikan. Iin dan Sarah mengambil objek fase remaja (12-18 tahun), di mana pemikiran yang mulai logis, abstrak, dan idealis menjadi identitas dalam fase ini. Walaupun bahan riset yang berbeda; Iin mengkaji tentang kebutuhan EQ yang harus lebih besar dibandingkan IQ dalam praktik kehidupan khususnya pendidikan dan Sarah tentang makna dan peran homeschooling di Indonesia. Tetapi kedua riset ini memiliki kondisi objek yang sama, berada dalam fase kebingungan, dalam arti berusaha mengintegrasikan perannya -sebagai anak, siswa, dan teman- dengan perkembangan pemikiran tentang dunia sekelilingnya. Gejolak keinginan dan perasaan-perasaan yang baru bermunculan seiring menemukan keidealan dengan apa yang dialaminya, sehingga mereka cenderung membandingkan. Lain hal dengan riset Ika. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang luar biasa. Luar biasa memiliki kemampuan di atas rata-rata atau di bawah rata-rata atau dapat dikatakan cenderung positif dan negatif. Dengan keluarbiasaannya itu dibutuhkan perlakuan khusus karena secara signiďŹ kan mereka berbeda dengan anak-anak seusia pada umumnya. Objeknya adalah penyandang tunanetra, bernama Thariq dan Elsa. Sungguh menarik, Ika membawa mereka pada dunia seni rupa. Bagaimana cara mereka memvisualkan sesuatu, sementara selama ini mereka mengenal hanya dengan raba dan dengar. Sebuah impresif yang menakjubkan tatkala visualisasi mereka tuangkan dalam media rupa.

18


Subjek yang lebih variasi datang dari riset Meita. Bahan dan sasarannya yaitu masyarakat luas, mencakup anak-anak hingga dewasa. Melalui kata-kata dalam sebuah slogan bertemakan lingkungan hidup, Meita mencoba merumuskan pola tingkah laku yang baru. Mengkritisi bagaimana kalimat yang tepat dalam slogan dengan kebutuhan lingkungan sekitar dalam hal membuang sampah. Sedangkan Eti, mengisahkan fenomena ketidakmerataan pendidikan di desa dan kota. Dengan kelebihan dan kekurangan dari berbagai aspek yang berkembang di desa maupun kota, melahirkan konsekuensi beragam. Seperti nilai modernisme yang berkembang pesat di kota, sehingga cenderung mempercepat pemenuhan kebutuhan pendidikan, yakni kemajuan informasi dan teknologi yang menjadi faktor utama pemenuhan sarana prasana pendidikan. Berbeda dengan di desa, karena faktor geologis ini kemajuan sarana dan prasarana pendidikan belum berjalan merata, akan tetapi norma, adat istiadat, dan budaya yang kental di desa, telah melahirkan jiwa intelektual yang luhur dan khas berbudaya. Sungguh menarik. Melalui kreativitas dan riset, mereka menghubungkan apa dan bagaimana seni melihat pendidikan. Memanfaatkan daya estetik seseorang untuk sama-sama mempelajari sesuatu hal secara naluriah.

Ferika Yustina 1. Dalam Ihat Hatimah, 2008, “Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan�, UT, Jakarta, Hal 1.34.

19


Eti sedang mewawancarai Nur Latifah dan Waluyo yang hijrah mengenyam pendidikan di Ibukota Jakarta.

Potongan gambar dalam video dokumentasi riset Meita Meilita saat mewawancarai Satpam dan warga sekitar mengenai slogan buang sampah dan tentang keamanan, kebersihan.

Iin sedang mewawancarai guru-guru mengenai sosialisasi IQ dan EQ pada sekolah-sekolah formal

Ika sedang mewawancarai pengajar pendidikan berkebutuhan khusus dan anak ABK

Sarah sedang mewawancarai pengurus dan observasi tempat Sun Homeschooling

20


Dokumentasi Riset Lapangan para seniman.

21


Proses Diskusi seniman dan ABC Forum

22


Proses Berkarya Seniman

23


Profil Singkat

ABC Forum adalah sebuah kerja kolektif mahasiswa-alumni Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta, meliputi pengajar, seniman, penulis, peneliti, designer dan pekerja kreatif. Forum ini didirikan untuk membuka ruang-ruang diskusi mengenai seni rupa dan pendidikan. Sebagai fasilitator, forum ini melahirkan berbagai art project, pameran, jurnal, zine, workshop dll. Contact: abcforumgf@gmail.com +62 896 3550 2712 Web: abcforum.tumblr.com Twitter: @abcforumgf Instagram: @abc_forum

Iin Novitasari lahir pada 1991, Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Ia aktif berkarya dengan medium paku yang menampil kan berbagai object dan tokoh. Pameran yang baru diikutinya yaitu “Lempuyangan –Ps. Senen #2” di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta. Ika Setyaningsih lahir pada 1990, Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Karya-karyanya banyak mengolah media drawing terha dap pengemasannya.. Pameran yang baru diikutinya yaitu “Are You Feeling Fine?” di Bentara Budaya Jakarta. Meita Meilita lahir pada 1992, Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Ia menyukai karya-karya dengan medium fabric dan fiber. Pameran yang pernah diikutinya yaitu “15x15x15” di Galeri Soemardja, ITB, Bandung.

24


Eti Kurniasih lahir pada 1992, Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Selain mengeksplorasi drawing dengan berbagai teknik arsir, ia juga sedang tertarik mengeksplorasi medium performance art. Pameran yang pernah diikutinya “Art EduCare #3” di Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Sarah Fidiyanti lahir pada 1994, Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Ia banyak bereksplorasi dalam karya-karyanya, teru tama pada pemakaian karya yang interaktif. Ia pernah mengikuti pameran bersama “Kartu Pos Nusantara” di Kersan Art Studio, Yogyakarta. Saat ini ia sedang meng ikuti Project_Or di Serrum yang memfasilitasi seniman terpilih untuk berkarya.

Angga Wijaya lahir pada 1989. Saat ini ia sedang mengelola Galeri Serrum di Jakarta. Kerja kuratorialnya diasah dengan mengkordinator berbagai perhelatan, seperti Ass Project Officer Galeri Nasional Indonesia Residency dan Licencing Coor dinator di 15th Jakarta Biennale 2013. Selain itu ia baru saja mengikuti program workshop kurator muda di Dewan Kesenian Jakarta-ruangrupa, dan The Japan Foundation, Jakarta. Ferika Yustina lahir pada 1992. Ia sedang menempuh pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta. Ia sedang mendalami dunia penulisan seni rupa, ia baru saja terpilih sebagai Best Writer dalam Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan di Biennale Jogja XXI 2013.

Tim Kerja: Program Kordinator/Kurator Sekretaris/Penulis Keuangan/Manager Design dan Publikasi Dokumentasi

: Angga Wijaya : Ferika Yustina : Anita Bonit : Adi Sundoro : Hafiz Maha

Ucapan Terimakasih: Allah S.W.T, Orang Tua, s.14, Herra Pahlasari, Aminudin TH Siregar, Deden H. Durahman, Henricus Napitsumargo, Prilla Tania, Fajar Faturrahman, Bpk Drs Indro Moerdi, Universitas Negeri Jakarta, Bpk. Drs. I Wayan Djana dan seluruh dosen dan staf Jurusan Seni Rupa UNJ, HIMA SR UNJ, Riezky Hana Putra, Ima Angraeni, Mg. Pringgotono, Hari Prasetyo, Dinakumis Lestari, M. Hasrul Indrabakti, Angga Cipta, Serrum, M. Sigit Budi S, Bang Murki, SMAN 35 Jakarta, Bu Rosmala, Pak Zainul, Nira, sekolah SLB A Tan-miyat Bekasi, Ibu Umi, Pak Abas, Elsa Salsabila, Thariq, Andhika, Yuriana, Rachmah, Yusuf Fauzi, Nur Latifa, Waluyo, Sun Homeschooling, Sisil, Rafi, Ogi, Vira, Wildigda Sunu, Irvanda, Anamone, Adi Dhigel, Amy, Gilang, Jamilah, Rama, Menceng, Indra, Ongko, Om Jhon, Arudaya, Galang serta seluruh teman-teman dan KBSR UNJ.

25


Apresiasi Profesi Wanita Inspirasi s.14 #1 : Vina Adriany

26


27


Quo Vadis Pendidikan yang berpusat pada Anak ? Sebuah Pengantar Diskusi* oleh Vina Adriany

Pendidikan yang berpusat pada anak atau biasa dikenal dengan istilah “child-centred” merupakan salah satu pendekatan dalam pendidikan yang memandang anak sebagai pusat dari segala kegiatan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Froebel dalam bukunya yang berjudul “The Education of Man” pada tahun 1889((Chung and Walsh 2000). Dalam bukunya tersebut, Froebel menekankan bahwa anak, khususnya anak usia dini (usia 0-8 tahun) memiliki karakteristik yang berbeda dengan remaja apalagi orang dewasa. Sehingga pendidikan untuk anak usia dini seyogyanya dilaksanakan berbeda dengan pendidikan untuk orang dewasa. Froebel juga menegaskan bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan penting bagi guru untuk menghargai setiap keunikan anak ini. Konsep Froebel ini sangat mewarnai kajian psikologi perkembangan dan pendidikan untuk anak. Salah satu tokoh dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan, Jean Piaget pun mengadaptasi konsep “child-centred” ini di dalam teorinya. Teori Piaget memandang bahwa seorang anak akan melewati empat tahapan perkembangan. Tahapan ini terdiri dari tahapan sensori motor (0-2 tahun), tahapan pra-operasional (2-6 tahun), tahapan konkret operasional (6-12 tahun), dan yang terakhir tahapan formal operasional (12 tahun ke atas) (Walkerdine 1998) Teori Piaget juga memandang bahwa anak merupakan makhluk yang dapat mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuannya. Sehingga peran orang tua dan guru hanya merupakan fasilitator saja yang akan memfasilitasi setiap tahapan perkembangan anak ini (Walkerdine 1998; Burman 2008). Satu point penting dalam teori perkembangan Piaget ini adalah bahwa setiap orang tua ataupun guru perlu menunggu anak berada dalam tahapan perkembangan yang sesuai. Dengan kata lain, anak yang berada pada fase sensory motor tidak sepatutnya distimulasi dengan kegiatan yang lebih sesuai untuk fase pra-operasional atau fase konkret operasional. Dengan kata lain, anak lah yang harus menjadi pusat sehingga orang tua dan guru tidak seharusnya memaksakan stimulasi kepada anak. WANITA INSPIRASI s.14 #1, 2014

28


Teori perkembangan Piaget ini mendapatkan apresiasi yang cukup luas dari para pendidik. Teori Piaget banyak dipandang sebagai sebuah teori yang menawarkan alternative baru. Bagi banyak pihak teori Piaget ini dianggap lebih memandang anak secara lebih demokratis dan humanis (Walkerdine 1998; Chung and Walsh 2000; Ryan and Grieshaber 2005; Burman 2008). Teori Piaget ini terus mendapatkan pengakuan di bidang pendidikan khususnya di bidang pendidikan anak usia dini. Sehingga meminjam istilah yang digunakan oleh Foucault (Foucault 1980; Foucault 1980), teori “child centred” versi Piaget ini sudah menjadi sebuah “regime of truth”. Dengan kata lain, pendekatan ini sudah menjadi satu-satunya pendekatan yang digunakan dalam memahami perkembangan anak. Pandangan lain yang dianggap berbeda atau bertentangan dengan pandangan Piaget sebagai konsekuensinya akan dimarginalkan dan dianggap sebagai sosok lian (the other) (Ryan and Grieshaber 2005; Burman 2008). Sebagaimana diungkapkan oleh Macnaughton (2005) teori Piaget “regulates and governs what is the appropriate or correct way to understand and organise young children”. Ketika sesuatu sudah menjadi regime of truth maka orang akan kesulitan untuk melihat dampak negative yang mungkin muncul dari teori tersebut. Presentasi ini mencoba memaparkan sisi lain dari pendekatan child-centred. Tentu saja dalam melakukan ini, penulis mengambil ungkapan dalam bahasa Inggris, “not throw the baby out of the hot water”, tidak bermaksud menafikan keberadaan atau sisi positif dari pendekatan child-centred ini. Dalam presentasi ini, penulis akan menggunakan pendekatan post-structuralist. Secara umum, pendekatan post-structuralist akan mengacu kepada teori yang diperkenalkan oleh Foucault (1980& 1984). Yang dimaksud dengan pendekatan post structuralist disini adalah bagaimana sebuah makna dikonstruksi, serta bagaimana relasi kuasa (power) yang bermain ketika sebuah makna dikonstruksi. Penulis juga tertarik untuk melihat makna apakah yang menjadi makna yang dominan? Serta makna manakah yang disembunyikan atau dimarginalkan keberadaannya? Dalam menggunakan pendekatan post-structuralist, penulis menggunakan beberapa konsep seperti discourse dan power. Kedua konsep ini kembali mengacu kepada konsep yang diperkenalkan oleh Foucault (1980 & 1984). Discourse dalam presentasi ini dimaksudkan sebagai “regulated practices that accounts for number of statements’ (Foucault, 1980: 84). Disini, discourse dimaknai sebagai sebuah mekanisme kontrol yang mengatur sebuah praktis. Ketika discourse menjadi alat kontrol maka tentu saja ada makna yang akan mendominasi dan ada makna lain yang akan dinafikan keberadaannya.

WANITA INSPIRASI s.14 #1, 2014

29


Konsep kedua, konsep power. Kembali dalam hal ini penulis menggunakan konsep dari Foucault, dimana power dalam presentasi ini tidak dimaknai sebagai sebuah sistem kuasa yang terpusat, melainkan sebagai sebuah proses yang terjadi didalam discourse tadi. Hal paling mudah yang bisa dilihat dari power menurut Foucault ini adalah lahirnya sebuah sistem kategorisasi yang akan melahirkan kategori normal dan tidak normal. Presentasi ini akan menggunakan hasil penelitian penulis yang dilakukan secara ethnograďŹ k di sebuah taman kanak-kanak di daerah Bandung Selatan. Penulis akan menunjukkan dengan menggunakan data-data dari hasil penelitian, bagaimana konsep childcentred apabila tidak hati-hati dipergunakan akan menjadi alat kontrol bagi guru, orang tua dan anak. Guru akan kehilangan agensinya sebagai pendidik, sementara pada saat yang sama normalisasi orang tua dan anak akan terjadi. Orang tua dan anak yang tidak masuk kedalam tahapan perkembangan yang seharusnya akan dikategorikan sebagai tidak normal. DAFTAR PUSTAKA Burman, E. (2008). Deconstructing Developmental Psychology. East Sussex, Routledge. Chung, S. and D. J. Walsh (2000). "Unpacking child-centredness: A history of meanings." Journal of Curriculum Studies 32(2): 215-234. Foucault, M. (1980). Michael Foucault: Power Knowledge. Herrtfordshire, Harvester Wheatsheaf. Foucault, M. (1980). Truth and Power. Power/ Knowledge: Selected Interviews and Other writings 1972-1977. C. Gordon. New York, Pantheon Books: 63-77. Macnaughton, G. (2005). Doing Foucault in Early Childhood Studies. Oxon, New York, Routledge. Ryan, S. and S. Grieshaber (2005). "Shifting from Developmental to Postmodern Practices in Early Childhood Teacher Education." Journal of Teacher Education 56(1): 34-45. Walkerdine, V. (1998). Developmental psychology and the child-centered pedagogy: the insertion of piaget into early education. Changing the subject: psychology, social regulation, and subjectivity J. Henriques, W. Hollway, C. Urwin, C. Venn and V. Walkerdine. London, Routledge: 153-202. *Makalah disajikan pada acara diskusi yang diadakan oleh S14 pada tanggal 1-3-2014

WANITA INSPIRASI s.14 #1, 2014

30


Vina Adriany adalah Dosen Psikologi UPI Bandung

(Prodi PG-PAUD), menempuh studi S1 dan S2 di International Islamic University Malaysia (IIUM) dengan jurusan Psikologi, dan baru saja menyelesaikan program doktornya di Lancester University, UK dengan disertasi " Gendered Power Relations within Child Center Discourse". Aktif mengikuti Konferensi Nasional dan Internasional terkait pendidikan Anak.

Ardanti Andiarti, lulusan Teknik Lingkungan ITB, memiliki ketertarikan terhadap pendidikan khususnya pendidikan anak. Sempat mengajar sebagai guru SD Rumah Belajar Semi Palar, Ardanti saat ini aktif sebagai kurator Bincang Edukasi Bandung dan bekerja sebagai Educational Programmer pada Y-PLAN.bdg, sebuah proyek pendidikan-perancangan kota kerja sama BCCF dan UC Berkeley, US.

RSVP | QUO VADIS CHILD CENTRE EDUCATION Sabtu, 1 Maret 2014 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Juliafara Feisal Fitri Sukma Yesie Citra Devi Lilis Marliana (Al-Yahya) Sri Nurhayati (Al-Yahya) Nur Pitri Insani (Al-Yahya) Nina Marliana (Al-Yahya) Eli Aprilia (Al-Yahya) Siti Masitoh (sakit) Liana Dewi Ambarwati Arie Dwiyanti Riama Maslan M. Rizky Zakaria Della Hantika Ibey Yuniarti

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

Latifah (TK YPKS) Ine Suciati (TK YPKS) Reni Rahmawati Amelia Lestari Samsul Ridwan Budiyani Marlia (RB Padi) Ira Ernandayati (RB Padi) Julia Mufidah Ahmad (RB Padi) Maya Purnamasari Dra. Rr. Metta P. Wardhani, M.Pd. Elly Kent Mira Affila (Mutiara Bunda) Dyah Ayu Safitri (Mutiara Bunda)

* hadir ** tidak hadir

31


32


Keluarga Program Director Herra Pahlasari Library Director Dimas Rizky Prasetio Nuzulianur Firdaus Operational Manager Fajar Faturrahman Intern Arafat Mahyiddin Board Consultant Aminudin TH Siregar ! Deden Hendan Durahman Henrycus Napit Sunargo Prilla Tania Technical Sta Wawan Hatiwan Nurjanah | Entin Supporter Natasha Sidharta | Natas Setiabudhi | Pedro Siahaan VIDEOLAB : Amelia Lestari | Muhammad Akbar | Laurs Oscar Osman s.14 library member, friends & audience, RT01/RW07 Komp. Perum UNPAD Cigadung neighbourhood.

s.14 adalah ruang terbuka yang bertujuan untuk mewadahi kegiatan yang terkait dengan seni, kehidupan dan berbagi melalui program pameran seni, diskusi, presentasi dan workshop untuk publik, dengan fasilitas ruang pamer, perpustakaan, ruang diskusi dan workshop, bersifat pro bono. Berdiri sejak Juli 2008.

33


family art affair

proyek kamar seniman

#1 34


art, life, & share.


s.14 | Jl. Sosiologi No. 14, Komp. perum UNPAD, Bandung 40191 | t. +62 815 469 23005 |

e. sosiologi14@gmail.com | FB : Ruang Depan | twitter@sosiologi14 | http://ruangdepans14.blogspot.com

Education objectivity  

An online catalogue for the exhibition Education objectivity. 15 March - 1 April 2014 at S.14. Contains essay from the curator, artworks ima...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you