Issuu on Google+

DOKTRIN ALLAH: Theology Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div. Daftar Isi Doktrin Reformed The Existence Of God (Keberadaan Allah) The Knowability Of God (Allah bisa dikenal) Sifat - Sifat Allah Allah Tritunggal The Eternal Generation & procession Providence Of God Kutipan - kutipan Pendukung

e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com Base URL http://www.geocities.com/golgotha_ministry/

DOKTRIN ALLAH: Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

Pendahuluan: DOKTRIN REFORMED I) Doktrin II) Reformed III) Urut-urutan belajar doktrin THE EXISTENCE OF GOD (KEBERADAAN ALLAH) I) Penyangkalan terhadap keberadaan Allah II) Bukti-bukti rasionil tentang adanya Allah The knowability of God (Allah bisa dikenal) I) Allah tidak dapat dimengerti, tetapi dapat dikenal II) Allah dapat dikenal karena pernyataan diriNya III) Fungsi Roh Kudus dalam pengenalan akan Allah IV) Peranan iman dalam pengenalan akan Allah V) Diri Allah dan sifat-sifat Allah Sifat-sifat Allah I) Sifat2 yang tak dapat diberikan (Incommunicable attributes) A) Self existence (= ada dari dirinya sendiri) B) Immutability (= sifat tetap / tidak bisa berubah) C) Infinity (= ketidakterbatasan) D) The Unity of God (= Kesatuan Allah) II) Sifat2 yang dapat diberikan (Communicable attributes) 1


A) Personal Spirit (= Roh yang berpribadi) B) Omniscience (= Kemahatahuan) C) Wisdom (= Hikmat / kebijaksanaan Allah) D) Goodness (= Kebaikan Allah) E) Holiness (= Kekudusan) F) Righteousness (= Kebenaran) G) Justice (= Keadilan) H) Sovereignty (= Kedaulatan) ALLAH TRITUNGGAL I) Pernyataan tentang doktrin Allah Tritunggal II) Istilah ‘hakekat’ dan ‘pribadi’ III) Dasar Kitab Suci dari doktrin Allah Tritunggal A) Kitab Suci menunjukkan ketunggalan Allah B) Kitab Suci menunjukkan adanya ‘kejamakan dalam diri Allah’ 1) Dalam Perjanjian Lama 2) Dalam Perjanjian Baru 3) Keilahian Yesus dan Roh Kudus Kesimpulan IV) Ajaran-ajaran sesat tentang Allah Tritunggal The eternal generation & procession I) The eternal generation of the Son 1) Arti kata 2) Definisi dari doktrin ini 3) Dasar Kitab Suci II) The eternal procession of the Holy Spirit 1) Arti kata 2) Seperti Anak, Roh Kudus juga sehakekat dengan Bapa 3) Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak 4) Persamaan ‘eternal generation’ dan ‘eternal procession’ 5) Perbedaan ‘Generation’ dengan ‘Spiration’ 6) Dasar Kitab Suci III) Keberatan dan jawabannya 1) Ketidaksetujuan Loraine Boettner 2) Pandangan William G. T. Shedd PROVIDENCE OF GOD Pendahuluan: I) Definisi ‘Providence’. II) Providence tidak mungkin gagal

2


A) Rencana Allah ada dari semula dan tidak mungkin berubah / gagal B) Providence / pelaksanaan Rencana Allah tidak mungkin gagal. C) Problem ‘Allah menyesal’ III) Providence berhubungan dengan segala sesuatu A) Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu B) ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu C) Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak! D) Rencana Allah, Providence of God, dan sifat-sifat Allah yang lain IV) Providence dan dosa 1) Rencana Allah dan dosa 2) Terjadinya dosa 3) Dasar Kitab Suci hubungan Providence & dosa 4) Penetapan dosa mempunyai tujuan yang baik V) Providence dan tanggung jawab manusia 1) Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan 2) Manusia melakukan dosa dengan kemauannya sendiri! VI) Keberatan / serangan terhadap doktrin ini: 1) Manusia menjadi seperti robot / wayang. 2) Penetapan Allah bertentangan dengan kebebasan dan tanggung jawab 3) Bagaimana Allah yang maha suci bisa menciptakan dosa? 4) Bisa menimbulkan tanggapan yang negatif VII) Guna doktrin ini bagi kita: 1) Pada saat mengalami penderitaan / kesedihan. 2) Dalam keadaan bahaya / kritis 3) Pada saat mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan VIII) Kutipan-kutipan pendukung: John Calvin, ‘Institutes of the Christian Religion’: ‘Westminster Confession of Faith’: ‘The Larger Catechism’: John Owen, ‘The works of John Owen’, vol 10: Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’: Robert L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’: B. B. Warfield, ‘Biblical and Theological Studies’: Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol I: Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol II: William G. T. Shedd, ‘Calvinism: Pure & Mixed’: Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’: Herman Hoeksema, ‘Reformed Dogmatics’: Herman Bavinck, ‘The Doctrine of God’: John Murray, ‘Collected Writings of John Murray’, vol II: Gresham Machen, ‘The Christian View of Man’: Arthur Pink, ‘The Sovereignty of God’: Arthur Pink, ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross" Jerome Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’: 3


-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

Pendahuluan DOKTRIN REFORMED I) Doktrin. 1) Doktrin adalah sesuatu yang sangat penting. Banyak orang kristen tidak senang pada ajaran yang bersifat doktrinal karena ajaran yang bersifat doktrinal dianggap bersifat teoritis dan tidak berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Seorang Penginjil / Pendeta menulis surat kepada seseorang, dan dalam suratnya ada kata-kata sebagai berikut: "Kita bertengkar soal ‘sedikit’ domba yang suka berpindah pindah padahal ada ratusan juta tanpa kesaksian Injil, kita kedagingan ribut dengan ganas soal2 doktrin yang benar dan membiarkan orang kafir, bingung dan binasa". Kelihatannya, Pendeta ini tidak terlalu peduli soal doktrin, dan ia rupanya beranggapan bahwa satu-satunya yang penting adalah penginjilan. Tetapi pandangan-pandangan seperti ini salah sama sekali. Doktrin adalah sesuatu yang sangat penting. Mengapa? a) Perlu diingat bahwa ‘Injil’ itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat dok-trinal, dan Injil merupakan fondasi yang paling dasari dari kekristenan. Doktrin adalah sesuatu yang sangat penting karena doktrin adalah seperti fondasi dan tiang-tiang beton dari suatu bangunan. b) Ajaran doktrinal yang salah sangat mempengaruhi hidup kita. o

Bisa membuat orang hidup dalam dosa. Misalnya kalau seseorang tidak percaya pada kebangkitan orang mati, ia akan hidup seenaknya sendiri (1Kor 15:32).

o

Bisa membingungkan orang kristen, bahkan menggoncangkan imannya atau menyebabkan ia ragu-ragu apakah ia sudah beriman atau tidak. Misalnya ajaran yang mengatakan bahwa orang yang mempunyai Roh Kudus harus berbahasa roh. Ini akan menyebabkan orang yang sungguh-sungguh sudah percaya tetapi tidak mempunyai bahasa roh menjadi ragu-ragu akan imannya sendiri. 4


o

Bisa menyebabkan orang kristen menjadi gelisah, takut, kuatir. Misalnya ajaran Arminian yang mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang, jelas bisa menimbulkan kekuatiran dalam diri orang kristen yang mempercayai ajaran yang salah itu. c) Perbedaan antara kekristenan dan agama-agama lain, pada umumnya / hampir selalu terletak pada perbedaan doktrinal. Dalam hal-hal yang bersifat etika / moral, sekalipun ada perbedaan tetapi tidaklah terlalu banyak. Karena itu, kalau saudara adalah orang kristen yang tidak senang pada doktrin, sebetulnya tidak ada bedanya bagi saudara kalau saudara pindah ke agama lain. d) Perbedaan antara ajaran kristen yang alkitabiah dan injili dengan ajaran kristen yang sesat / salah / tidak alkitabiah seperti Saksi Yehovah, Mormon, Liberalisme, Roma Katolik, dsb, juga hampir seluruhnya terletak pada perbedaan doktrin. Tanpa pengertian yang baik tentang doktrin yang benar, maka kita dengan mudah bisa disesatkan oleh berbagai macam ajaran sesat tersebut. Tetapi kalau kita mengerti doktrin yang benar dengan baik, maka kita akan sukar sekali disesatkan oleh ajaranajaran sesat itu. Karena itu doktrin adalah sesuatu yang sangat penting, baik bagi gereja maupun bagi setiap individu kristen. Sekalipun pelajaran doktrinal itu penting tetapi: a. Pengertian doktrinal yang hanya bersifat intelektual tidak bisa menye-lamatkan siapapun juga. Yang menyelamatkan hanyalah iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat! Dalam prakata dari buku ‘The Doctrine of God’ karya Herman Bavinck, penterjemahnya yaitu William Hendriksen, mengutip kata-kata Bavinck pada saat mau mati sebagai berikut: "My learning does not help me now; neither does my Dogmatics; faith alone saves me" (= Pengetahuanku tidak menolongku sekarang; Dogma-ku juga tidak; hanya iman yang menyelamatkan aku). b. Jangan bersikap extrim dengan hanya mau ajaran yang bersifat dok-trinal saja. Ajaran-ajaran yang praktis, yang bersifat moral / etika, tentu juga sangat penting! Illustrasi: biarpun daging itu adalah makanan yang penting dan bergizi, tetapi kalau saudara hanya makan daging saja, tidak mau makan sayur, buah, nasi dsb, maka itu tentu tidak baik. Demikian juga, sekalipun doktrin itu penting, tetapi kalau saudara hanya belajar doktrin saja, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup kristen saudara. Saudara mungkin sekali akan menjadi seperti ahli-ahli Taurat dan orangorang Farisi pada jaman Yesus, yang hanya otaknya hebat, tetapi hidupnya kacau balau. 2) Doktrin adalah pelajaran yang sukar. Memang ada doktrin yang mudah (seperti Injil), tetapi banyak doktrin yang sukar, seperti doktrin Allah Tritunggal, Kristologi, Eschatologi dsb). Ini menyebabkan pelajaran doktrinal dalam gereja menjadi semakin jarang. Banyak hamba Tuhan yang malas menyiapkan pelajaran doktrinal karena sukarnya pelajaran itu. Dan ada juga hamba-hamba Tuhan yang sebetulnya mau berjerih payah untuk menyiapkan dan mengajarkan pelajaran-pelajaran doktrinal, tetapi karena jemaat tak bisa menerimanya (karena tak terbiasa?), maka mereka akhirnya menuruti keinginan jemaat dengan mengajarkan hal-hal yang sederhana / praktis saja. Tetapi ini adalah sikap yang salah! Hamba Tuhan harus mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan jemaatnya, bukan apa yang diinginkan oleh jemaatnya. Illustrasi: kalau saudara adalah orang tua yang baik, tentu saudara tidak akan selalu menuruti keinginan anak saudara pada waktu mau makan. Saudara akan memberikan (bahkan 5


memaksakan, kalau perlu) apa yang dibutuhkan oleh anak saudara. Mungkin mengharuskannya makan sayur, atau minum susu, atau minum vitamin dan bahkan obat, yang baginya tentu saja tidak enak. Bagian-bagian Kitab Suci di bawah ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki orang kristen terus mendapat pelajaran yang seder-hana terus menerus: o o

Mat 28:19-20 - Kata ‘murid’ dan ‘ajar’ secara implicit menunjukkan bahwa harus ada peningkatan dalam pengajaran. Ibr 5:11-6:1 Yoh 16:12 1Kor 3:2 juga menunjukkan bahwa harus ada peningkatan pengajaran.

II) Reformed. 1) Apakah ‘Reformed’ itu? Jangan menyamakan / mengacau-balaukan istilah ‘Reformed’ dengan istilah ‘Reformer(s)’. ‘Reformer(s)’ menunjuk kepada tokoh-tokoh Refor-masi, seperti Martin Luther, John Knox, Zwingli, John Calvin. Sedangkan ‘Reformed’ menunjuk pada aliran yang mengikuti ajaran / theologia dari John Calvin. Karena itu ‘Reformed’ sebetulnya sama dengan ‘Calvinisme’. 2) Apakah salah kalau seseorang mempunyai aliran? a. Banyak orang kristen yang ‘alergi’ terhadap aliran, dimana mereka beranggapan bahwa orang kristen / gereja tidak boleh mempunyai aliran, dan bahkan banyak yang berpendapat bahwa kalau kita mempunyai aliran, kita adalah pengikut manusia. Karena itu kalau ditanya alirannya, mereka akan menjawab ‘aliran Yesus Kristus’, atau ‘aliran Kitab Suci’. Jawaban seperti ini sekalipun kelihatannya saleh, tetapi ini adalah jawaban dari orang yang tidak / kurang mengerti Kitab Suci / Theologia. b. Ada juga yang berpendapat bahwa aliran menyebabkan gereja ter-pecah-pecah. Tetapi semua ini salah! Mengapa? a. Harus diakui bahwa ada orang yang memegang alirannya sedemikian rupa sehingga ia memang mengikut manusia. Misalnya orang Cal-vinist yang secara membuta menganggap Calvin benar dalam segala hal. Tetapi hal semacam ini tidak harus terjadi. Orang yang mempu-nyai aliran tidak harus menjadi pengikut manusia. Saya mengikuti theologia Calvin, karena saya beranggapan bahwa theologia Calvin itu sesuai dengan ajaran Kristus / Kitab Suci (Bandingkan dengan 1Kor 11:1 dimana saudara akan melihat bahwa Paulus menyuruh orang Korintus mengikuti dia, karena dia sendiri mengikuti Kristus). Disamping itu, menjadi seorang Calvinist tidak berarti menerima segala sesuatu yang dipercayai / diajarkan oleh Calvin. Tentu saja, kalau hal-hal besar dalam theologia Calvin ia tolak (misalnya tentang Predestinasi atau Providence of God), maka ia tidak bisa disebut se-bagai seorang Calvinist). Tetapi bisa saja seorang Calvinist menerima ajaran-ajaran pokok Calvinisme, tetapi dalam persoalan yang kecil-kecil ia tidak setuju dengan ajaran Calvin (Misalnya: mengapa Yunus marah dalam Yunus 4?). b. Harus diakui bahwa aliran memang bisa memecah gereja. Tetapi lagi-lagi hal itu sebetulnya tidak perlu terjadi. Kita bisa berbeda aliran, dan menyadari perbedaan itu, tetapi tetap bersatu karena kita menyadari bahwa semua orang kristen yang sejati, dari aliran apapun ia berasal (asal bukan aliran sesat), adalah anak Allah, sama seperti kita. Illustrasi: suami dan istri berbeda, tetapi bisa tetap bersatu dan saling mengasihi. Bertentangan dengan pandangan umum jaman sekarang yang anti aliran, saya berpendapat bahwa orang kristen, apalagi hamba Tuhan sebaiknya mempunyai aliran. Mengapa? Karena kalau kita tidak mempunyai aliran, atau kita mempunyai aliran ‘gado-gado’, maka biasanya terjadi perten-tangan dalam pandangan kita sendiri. Misalnya kalau dari 5 pokok Calvin-isme, saudara hanya menerima 3, sedangkan yang 2 saudara menerima pandangan Arminian, maka saya yakin akan terjadi kontradiksi / ketidak-konsistenan antara 3 pokok yang saudara terima dan 2 pokok yang sau-dara tolak itu.

6


III) Urut-urutan belajar doktrin. 1) Theology - doktrin tentang Allah. 2) Anthropology - doktrin tentang manusia. 3) Christology - doktrin tentang Kristus. 4) Soteriology - doktrin tentang keselamatan. 5) Ecclesiology - doktrin tentang gereja. 6) Eschatology - doktrin tentang akhir jaman. Sekalipun urut-urutan ini tidak mutlak harus diikuti, tetapi akan sangat mem-bantu kalau diikuti.

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

THE EXISTENCE OF GOD (KEBERADAAN ALLAH) I) Penyangkalan terhadap keberadaan Allah. 1) Practical Atheist / Atheis praktis. Ini adalah orang yang sekalipun sebetulnya percaya bahwa Allah itu ada, tetapi hidup seakanakan Allah tidak ada (bdk. Ro 1:21). Mereka tidak berbakti kepada Allah ataupun memuliakan Allah, sebaliknya mereka hidup untuk dunia dan dirinya sendiri. Di dalam gerejapun ada banyak orang yang hidup seakan-akan Allah tidak ada, dan makin mendekati akhir jaman / kedatangan Yesus yang keduakalinya, makin banyak orang ‘kristen’ yang seperti ini! Bdk. 2Tim 3:1-5 Tit 1:16. 2) Theoretical Atheist / Atheis teoritis. Ini adalah atheisme yang bersifat intelektual dan berusaha untuk membe-narkan pernyataan bahwa Allah itu tidak ada dengan menggunakan argu-mentasi yang bersifat rasionil. Biasanya ketidakmampuan mereka dalam membuktikan keberadaan Allah dijadikan bukti rasionil bahwa Allah tidak ada. Karena itu ada seseorang yang mengatakan: "An atheist is a man who looks through a telescope and tries to explain what he can’t see" (= Seorang atheis adalah seorang yang melihat melalui sebuah teleskop dan mencoba menjelaskan apa yang tidak bisa ia lihat). Contoh: Yuri Gagarin pergi ke ruang angkasa dan tidak melihat Allah, lalu berkata Allah tidak ada. 7


Ada beberapa macam atheis teoritis: a) Dogmatic atheist / atheis dogmatis. Ini adalah orang yang secara terang-terangan menyangkal adanya Allah atau sesuatu makhluk yang bersifat ilahi. Ini adalah atheis yang sejati / sungguh-sungguh. b) Sceptical atheist / atheis skeptis. Ini adalah orang yang meragukan kemampuan pikiran manusia untuk menentukan ada atau tidaknya Allah. c) Critical atheist / atheis kritis. Ini adalah orang yang beranggapan bahwa tidak ada bukti yang sah tentang keberadaan Allah. Sekarang perlu dipersoalkan: adakah orang yang betul-betul atheis (dogmatic atheist)? 1) Ro 1:19-20 menunjukkan bahwa Allah menanamkan dalam diri setiap orang suatu perasaan tentang keberadaannya. Tetapi Ro 1:19-20 versi Kitab Suci Indonesia salah / kurang tepat ter-jemahannya, dan karena itu saya memberikan Ro 1:19-20 versi NASB di bawah ini. Ro 1:19-20 (NASB): "because that which is known about God is evident within them; for God made it evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes, His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being understood through what has been made, so that they are without excuse" (= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan). Ini menunjukkan bahwa tidak ada orang yang terlahir sebagai atheist. Ide / pemikiran tentang adanya Allah adalah sesuatu yang bersifat universal, dan bahkan ada di antara suku-suku yang bersifat primitif / biadab. Calvin berkata: "A sense of deity is inscribed on every heart" [= perasaan tentang adanya Allah dituliskan pada setiap hati]. 2) Manusia berusaha menekan perasaan yang mengatakan bahwa Allah itu ada (Maz 10:4b Maz 14:1 Maz 53:2). Keadaan manusia yang rusak / sesat secara moral dan keinginan manusia untuk menghindari Allah menyebabkan ia membutakan dirinya dengan sengaja dan menekan naluri yang paling dasari dari ma-nusia dan yang merupakan kebutuhan rohani yang terdalam (bdk. Yoh 3:19-20). Seseorang mengatakan: "Fervid atheism is usually a screen for repressed religion" (= atheisme yang sungguh-sungguh biasanya merupakan layar dari agama yang ditekan). Seseorang lain mengatakan: "Atheists put on a false courage in the midst of their darkness and misappprehensions, like children who, when they fear to go in the dark, will sing or whistle to keep up their courage" (= Orang atheis mengenakan / mengadakan suatu keberanian yang palsu di tengah-tengah kegelapan dan kesalahmengertian mereka, seperti anak-anak yang pada waktu takut berjalan 8


dalam kegelapan, lalu menyanyi atau bersiul untuk membangkitkan keberanian mereka). Ini mirip seperti orang yang takut mati, lalu tidak mau bicara tentang mati. 3) Bisakah mereka berhasil? a) Ada yang berkata bisa. Louis Berkhof: "Surely, there can be no doubt about the presence of theoretical atheists in the world. When David Hume expressed doubt as to the existence of a dogmatic atheist, Baron d’Holback replied: ‘My dear sir, you are at this moment sitting at table with seventeenth such persons’" (= Jelas, tidak ada keraguan tentang adanya atheis teoretis dalam dunia ini. Ketika David Hume menyatakan keragu-raguannya tentang adanya atheis dogmatis, Baron d’Holback menjawab: ‘Tuan, saat ini engkau sedang duduk dengan 17 orang seperti itu’) - ‘Systematic Theology’, hal 23. b) Kebanyakan berkata tidak bisa. o

Robert L. Dabney tidak yakin ada orang / suku yang betul-betul atheist.

o

Herman Bavinck: "... the Bible never makes any attempt to prove the existence of God but assumes this; and it presupposes all along that man has an ineradicable idea of that existence" (= Alkitab tidak pernah berusaha untuk membuktikan keberadaan Allah tetapi menganggap bahwa Allah ada; dan Alkitab menganggap bahwa manusia mempunyai idee yang tidak dapat dihilangkan tentang keberadaan Allah itu) - ‘The Doctrine of God’, hal 14.

o

Sir Francis Bacon: "Atheism is rather in the lip than in the heart of man" (= Atheisme lebih ada di bibir dari pada dalam hati manusia).

o

Henry More: "In agony or danger, no nature is atheist. The mind that knows not what to fly to, flies to God" (= Dalam penderitaan yang hebat atau bahaya, tidak ada manusia yang atheis. Pikiran yang tidak tahu harus lari kemana, akan lari kepada Allah).

o

Seorang lagi berkata: "An atheist is one who prays when he can think of no other way out of his trouble" (= Seorang atheis adalah orang yang berdoa pada waktu ia tidak bisa memikirkan jalan keluar dari problemnya).

o

Benjamin Whichcote: "Some are atheists by neglect; others are so by affectation; they that think there is no God at some times do not think so at all times" (= Beberapa orang adalah atheis karena pengabaian; yang lain adalah demikian karena pura-pura; mereka yang pada satu saat berpikir bahwa tidak ada Allah tidak selalu berpikir demikian).

o

Edward Young:

9


"By night, an atheist half believes in God" (= pada malam hari, seorang atheis setengah percaya kepada Allah). o

Seorang lagi berkata: "All atheists are rascals, and all rascals are atheist" (= semua atheis adalah bajingan, dan semua bajingan adalah atheis). Karena itu kata-kata mereka tidak bisa dipercaya!

II) Bukti-bukti rasionil tentang adanya Allah. 1) Ontological Argument (Anselm, Descartes, Samuel Clarke). Anselm berkata bahwa manusia mempunyai idee tentang sesuatu makhluk yang sempurna secara mutlak. Keberadaan adalah sifat dari kesempurnaan, dan karena itu makhluk yang sempurna secara mutlak itu pasti ada. Keberatan: Kita tidak bisa menyimpulkan pikiran yang abstrak menjadi keberadaan yang nyata. Fakta bahwa kita mempunyai ide / gagasan / pemikiran tentang Allah belum / tidak membuktikan keberadaanNya secara obyektif. 2) Cosmological Argument. Setiap benda yang ada di dunia ini pasti mempunyai penyebab (cause), dan karena itu alam semesta ini pasti juga mempunyai penyebab, dan penyebab itu pastilah tidak terbatas besarnya, yaitu Allah. Illustrasi: o

o

o

Seorang Rusia pergi ke USA dan melihat alam semesta mini dan marah waktu diberi tahu bahwa semua itu tidak ada yang membuat. Orang Amerikanya lalu berkata: ‘Kalau alam semesta mini ini saja kamu tidak percaya bahwa tidak ada yang membuat, bagaimana mungkin kamu percaya bahwa alam semestanya yang asli bisa ada tanpa ada yang membuat?’. ada pendeta yang bertanya: ‘Ayam dan telor, mana yang ada lebih dulu?’. Tidak mungkin telor ada lebih dulu, karena siapa yang mengeraminya? Kalau ayamnya ada lebih dulu, lalu dari mana ayam itu? Tidak bisa tidak, harus dijawab: ‘Dari Allah’. pendeta yang sama bertanya: ‘Kamu asalnya dari mana?’. Dijawab: ‘Dari mama’. ‘Mamamu dari mana?’. ‘Dari mamanya mama’. ‘Mamanya mama dari mana?’. Pertanyaan seperti ini diteruskan sampai orangnya berkata : ‘Dari mama pertama’. Lalu ditanyakan: ‘Mama pertama dari mana?’. Kalau dia tidak mau mengakui ‘Dari Allah’, ia harus mengakui bahwa mama pertama itu dari monyet (teori evolusi). Orang yang tidak mau mengakui keberadaan Allah tidak bisa mempertahankan existensinya sebagai manusia! Keberatan: Kant berkata bahwa kalau setiap benda yang ada mempunyai penyebab, maka hal itu juga harus berlaku bagi Allah.

3) Teleological Argument. Dalam dunia / alam semesta kita melihat adanya intelligence / kecer-dasan, keteraturan, keharmonisan, dan tujuan. Misalnya: o o

air laut menguap → jadi hujan → menyuburkan tanah → kembali ke sungai → kembali ke laut. adanya 4 musim / 2 musim. 10


o o o

matahari terbit dan terbenam. peredaran planet-planet. O2 → manusia → CO2 → tumbuh-tumbuhan → O2. Semua ini menyatakan secara tidak langsung keberadaan dari suatu makhluk yang mempunyai intelligence untuk menciptakan dunia / alam semesta yang seperti itu. Illustrasi: adanya arloji menunjukkan pembuatnya mempunyai intelligence. Keberatan: Kant berkata bahwa adanya tujuan dan intelligence / kecerdasan di dunia ini menunjukkan adanya suatu makhluk yang mempunyai intelligence dan tujuan. Tetapi itu tidak / belum menunjukkan bahwa makhluk itu adalah Allah / Pencipta. Seorang lain berkata: Teleological Argument ini hanya menunjukkan adanya suatu pikiran / mind yang mengontrol dunia / alam semesta.

4) Moral Argument. a) Suara hati / hati nurani yang bisa membedakan baik dan jahat menun-jukkan adanya suatu hukum moral dalam hati, dan ini secara tidak langsung menunjukkan adanya seorang Pemberi Hukum, dan Pemberi hukum ini adalah Allah. b) Adanya ketidakadilan dalam dunia ini, adanya banyak dosa yang tidak dihukum, adanya orang-orang saleh yang menderita dan orang-orang jahat yang hidup enak di dunia ini, menuntut / membutuhkan penga-dilan. Secara tidak langsung ini menunjukkan akan adanya seorang Hakim yang benar, yaitu Allah. Keberatan: Sekalipun argumentasi ini menunjukkan keberadaan ‘seseorang’ yang suci dan adil, tetapi tidak bisa menunjukkan adanya Allah, pencipta, atau makhluk yang sempurna secara mutlak. 5) Historical / Ethnological Argument. Semua manusia mempunyai naluri tentang adanya sesuatu yang ilahi. Karena hal itu bersifat universal, maka itu pasti merupakan sesuatu yang bersifat dasari pada manusia. Dan kalau sifat dasar manusia itu mem-bawa manusia pada penyembahan yang bersifat agama, maka pastilah ada suatu makhluk yang lebih tinggi yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang religius. Makhluk yang lebih tinggi itu adalah Allah. Keberatan: o o

kejadian universal itu mungkin dimulai karena kesalahan manusia yang mula-mula. Sifat beragama pada manusia itu kuat sekali pada orang primitif, tetapi jadi hilang di kalangan orang beradab.

Kesimpulan dan evaluasi: a) Tidak satupun dari argumentasi tersebut di atas yang bisa memberi bukti yang meyakinkan tentang adanya Allah. b) Sekalipun demikian, argumentasi-argumentasi tersebut mungkin bisa ber-guna untuk orang-orang tertentu. Ingat bahwa yang bisa memberi keberatan adalah ahli-ahli filsafat, yang semuanya ‘gila’. Contoh ke‘gila’an ahli filsafat: Saya pernah mendengar cerita tentang Aristotle dan temannya, yang sebut saja bernama si A. Suatu hari Aristotle pergi ke rumah temannya. Dari jendela Aristotle sudah melihat bahwa si A ada di rumah. Lalu ia mengetok pintu dan seorang 11


pembantu muncul. Aristotle bertanya: ‘Si A ada?’. Pembantu masuk sebentar lalu keluar lagi dan berkata: ‘Si A tidak ada’. Aristotle merasa dibohongi, tetapi ia diam saja dan pergi. Suatu hari Si A pergi ke rumah Aristotle, dan setelah mengetok pintu ternyata Aristotle sendiri yang membukakan pintunya. Si A langsung menyapa ‘Hai Aristotle!’. Aristotle menjawab: ‘O kamu mencari Aristotle? Aristotle tidak ada!’. Temannya menjadi marah, tetapi Aristotle lalu menjawab: ‘Pada waktu aku pergi ke rumahmu, pembantumu mengatakan kamu tidak ada dan aku percaya kepadanya. Bagaimana mungkin sekarang kamu tidak percaya bahwa aku tidak ada, padahal bukan pembantuku, melainkan aku sendiri yang mengatakan hal itu kepadamu’. Sekarang pikirkan: gila atau tidak? Seorang mengatakan: "Philosophers are people who talk about something they don’t understand and make you think it is your fault!" (= Ahli-ahli filsafat adalah orang-orang yang berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka mengerti dan membuat kamu berpikir bahwa itu adalah kesalahanmu!). c) Orang kristen tidak membutuhkan argumentasi-argumentasi tersebut. Keyakinan akan adanya Allah didasarkan pada pernyataan Allah dalam Kitab Suci. d) Orang yang mau percaya akan adanya Allah dengan adanya bukti yang rasionil adalah orang yang tidak menerima wibawa Kitab Suci.

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

The knowability of God (Allah bisa dikenal) I) Allah tidak dapat dimengerti, tetapi dapat dikenal. 1) Kita yang terbatas tidak dapat mengerti yang tidak terbatas. Ayub 11:7 - "Dapatkan engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?". 2) Agnostics. a. Mereka berkata bahwa pikiran manusia tidak dapat mengetahui / mengenal apapun yang melebihi / melampaui natural phenomena (kejadian alam) dan karena itu pikiran manusia tidak tahu apa-apa tentang hal-hal ilahi. b. Sama seperti Sceptics, mereka tidak mau disebut sebagai atheis karena mereka tidak menyangkal keberadaan Allah. 12


c. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak tahu apakah Allah ada atau tidak, dan kalau Allah ada, mereka tidak tahu apakah Dia bisa dikenal atau tidak (sebagian Agnostics berpendapat bahwa Allah tidak bisa dikenal).

II) Allah dapat dikenal karena penyataan diriNya. 1) Penyataan umum (general revelation). a) Melalui hati nurani / pikiran (Ro 1:19-20). Ro 1:19-20 (NASB): "because that which is known about God is evident within them; for God made it evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes, His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being understood through what has been made, so that they are without excuse" (= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya yang kekal dan keilahiannya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan). b) Melalui alam semesta. Dalam pasal pertama dari 12 Pengakuan Iman Rasuli diakui bahwa Allah adalah Khalik / Pencipta seluruh langit dan bumi (Kej 1:1-dst Neh 9:6 Maz 102:26 Kis 14:15b Kis 17:24a). Yang dimaksud dengan ‘langit dan bumi’ adalah seluruh alam semesta (langit, bumi dan segala isinya). Apa yang bisa kita ketahui tentang Allah dari alam semesta ini? Pertama: Melalui alam semesta ini kita bisa melihat kemuliaan Tuhan (Maz 19:2-3). Mengapa? Karena besarnya dan megahnya alam se-mesta yang diciptakan oleh Tuhan menunjukkan kemahakuasaan dan kemuliaan Penciptanya. Untuk bisa mengetahui hebatnya dan besar-nya alam semesta yang Allah ciptakan, mari kita melihat: 1. Ukuran dari benda-benda langit yang diciptakan oleh Allah itu. o

bumi punya garis tengah ± 8.000 mil (± 12.800 km).

o

matahari punya garis tengah ± 860.000 mil (± 1.376.000 km).

o

bintang Antares punya garis tengah ± 150 juta mil (± 240 juta km).

o

bintang bernama IRS 5 yang mempunyai garis tengah ± 9,375 milyar mil (± 15 milyar km). Jadi perbandingan garis tengah bumi, matahari, Antares dan IRS 5 adalah: 1 : 108 : 18.750 : 1.171.875. Dengan kata lain, kalau kita mau menggambarkan bumi sebagai bola kecil dengan diameter 1 mm, maka kita harus menggambar-kan matahari sebagai bola dengan diamater 10,8 cm, Antares se-bagai bola dengan diameter 18,75 meter, dan IRS 5 sebagai bola dengan diameter hampir 1,2 km! Kalau matahari dalamnya dikosongkan, maka matahari bisa menampung sekitar 1,3 juta buah bumi! Kalau Antares dikosong-kan, ia bisa menampung sekitar 5,26 juta buah matahari. Kalau IRS 5 dikosongkan, ia bisa menampung sekitar 244.000 Antares!

2. Memperkirakan besarnya / luasnya alam semesta. a. Besarnya / luasnya tatasurya kita. 13


Tatasurya kita terdiri dari 1 matahari dengan 9 buah planet. Jarak rata-rata Bumi - Bulan sekitar 384.400 km, atau ± 1,3 detik cahaya (jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam 1,3 detik; cahaya mempunyai kecepatan 300.000 km / detik). Jarak rata-rata Bumi - Matahari sekitar 150 juta km, atau ± 500 detik cahaya (jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam 500 detik). Jarak rata-rata Pluto (planet ke 9, yang terjauh dari Matahari) Matahari adalah 5,9 milyar km, atau sekitar hampir 5,5 jam cahaya. Kalau bumi hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk mengitari matahari 1 kali, maka Pluto membutuhkan waktu 284 tahun! b. Besarnya galaxy kita. Dalam galaxy kita ada 200 milyar bintang. Bintang yang terde-kat adalah Alpha Centauri yang berjarak 4-4,5 tahun cahaya (Catatan: 1 tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam waktu 1 tahun = 365 x 24 x 60 x 60 x 300.000 km = 9,46 1012 km). Galaxy berbentuk seperti cakram, yang mempunyai diameter 100.000 tahun cahaya, dengan ketebalan pada pusatnya 20.000 tahun cahaya. Volume galaxy sekitar 1 milyar kali lebih besar dari volume tata surya. c. Besarnya alam semesta. Dalam alam semesta sedikitnya ada 500 juta galaxy, dan jarak-nya satu sama lain ada yang mencapai jutaan tahun cahaya. Ini hanya yang bisa dilihat oleh manusia dengan teleskop tercang-gih manusia, yang bisa menyelidiki sampai jarak sedikitnya 5 milyar tahun cahaya. Lebih dari itu manusia tidak bisa melihat. Catatan: data-data di atas ini diperolah dari sumber-sumber ini: o o o

Encyclopedia Americana. Halley’s Bible Handbook. Kenneth N. Taylor, ‘Creation and Evolution’. Setelah saudara melihat / merasakan besarnya alam semesta, maka ketahuilah bahwa semua itu diciptakan oleh Allah hanya dengan firmanNya. Ibr 11:3 - "Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat" (bdk. Maz 148:5). Ini semua menunjukkan kemahakuasaan Allah, dan karena itu tidak ada yang mustahil bagi Dia! Yer 32:17 - "kataku: ‘Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu’". Penerapan: Kalau saudara mempunyai persoalan, betapapun banyaknya dan beratnya persoalan itu, percayalah bahwa Allah bisa membereskan-nya, dan bawalah persoalan itu kepada Allah dalam doa! Bdk. 2Raja-raja 19:15 Kis 4:24. Kedua: Melalui alam semesta ini kita bisa melihat kebaikan Allah. Dalam Kis 14:17 dikatakan bahwa Allah menyatakan diriNya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu 14


melalui pemberian hujan, musim-musim, dsb. Sebetulnya ada banyak hal lain dari alam semesta me-lalui mana kita bisa melihat kasih dan kebijaksanaan Allah. Hal ini dinyatakan dengan begitu indah oleh David D. Riegle dalam bukunya yang berjudul ‘Creation or Evolution’, hal 18-21, dimana ia berkata: 1. Bumi (planet ke 3) terletak dalam jarak yang tepat dari matahari, sehingga manusia bisa mendapatkan jumlah panas yang tepat untuk mendukung kehidupannya. Mercurius (planet ke 1) dan Venus (planet ke 2) terlalu dekat dengan matahari sehingga terlalu panas, sedangkan Mars sampai Pluto (planet ke 4 - ke 9) terlalu jauh dari matahari sehingga terlalu dingin. 2. Bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan yang tepat. Kalau bumi berputar dengan kecepatan sepersepuluh dari yang sekarang ini, maka waktu untuk pagi / siang dan malam akan men-jadi sepuluh kali lebih panjang, sehingga pada pagi / siang hari tanaman akan terbakar, dan malam hari akan menjadi begitu dingin sehingga tanaman tidak bisa hidup. 3. Jarak bumi bulan adalah sekitar 240.000 mil. Andaikata bulan didekatkan sehingga menjadi hanya 50.000 mil, maka air pasang yang sekarang tidak membahayakan ini, akan merendam seluruh benua yang ada 2 x sehari! 4. Besarnya bumi juga tepat. Kalau bumi hanya sebesar bulan maka gravitasinya hanya 1/6 dari yang sekarang, sehingga tidak bisa menahan baik atmosfir maupun air. Sebaliknya kalau diameter bumi diduakalikan, maka gravitasi juga akan menjadi 2 x lipat, sehingga tekanan atmosfir akan naik dari 15 menjadi 30 pounds / inci persegi. Ini akan mempengaruhi secara serius semua kehidupan di bumi. Dan kalau diameter bumi diperbesar sampai sebesar matahari, maka tekanan atmosfir akan menjadi lebih dari 1 ton / inci persegi, sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan. 5. Komposisi atmosfir kita adalah 21 % oksigen dan 78 % nitrogen. Kerapatan udara bisa berbeda antara di gunung dan di pantai, tetapi perbandingan oksigen dan nitrogen itu selalu tetap. Kalau nitrogennya atau oksigennya dinaikkan manusia akan mati. 2) Penyataan khusus (special revelation). Adanya dosa menyebabkan: a) Penyataan umum menjadi kabur. Misalnya: o o o

adanya bencana alam menyebabkan orang bertanya: ‘Kasihkah Allah itu?’. adanya banyak ketidakadilan menyebabkan orang bertanya: ‘Adilkah Allah itu?’. adanya banyak dosa / kebejadan moral menyebabkan orang bertanya: ‘Sucikah Allah itu?’. b) Manusia menjadi buta secara rohani. Misalnya:

o o

pada waktu melihat bintang, manusia bukannya melihat kemuliaan Allah, tetapi lalu menggunakannya sebagai alat meramal. manusia menganggap dirinya berasal dari monyet. 15


Ini menyebabkan manusia tidak bisa mengenal Allah melalui penyataan umum dan karena itu Allah lalu memberikan penyataan khusus, yaitu: o o

Kitab Suci / Firman Tuhan. Yesus Kristus. (1Sam 3:7 Mat 11:27 Yoh 1:18 Yoh 14:7-9 Ibr 1:1-2). Ada banyak hal yang tidak bisa diketahui melalui penyataan umum tetapi bisa diketahui melalui penyataan khusus, misalnya keberdosaan kita, penebusan oleh Yesus Kristus, dsb.

Penyataan umum dan penyataan khusus tidak bisa / tidak boleh berten-tangan. Kalau terjadi pertentangan, maka ada 2 kemungkinan: 1. Ilmu pengetahuan tentang penyataan umum itu salah. Misalnya: Teori evolusi bertentangan dengan Kitab Suci. Dalam hal ini ilmu pengetahuan tentang penyataan umum itu yang salah. 2. Penafsiran tentang penyataan khusus itu salah. Misalnya: Orang kristen jaman dulu, berdasarkan Maz 19:2-7 (perhatikan khususnya ay 6-7), lalu berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi, dan ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang menyatakan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Dalam hal ini penafsiran dari Maz 19:2-7 itu yang salah. Perlu dicamkan bahwa Alkitab tidak ditulis sebagai buku ilmiah, dan karenanya tidak ditulis menurut cara ilmiah. Banyak bagian Alkitab yang ditulis menurut pandangan mata manusia / sebagai-mana kelihatannya oleh mata manusia. Karena dalam mata manusia kelihatannya mataharilah yang mengelilingi bumi, maka demikianlah ditulisnya. Contoh lain dimana Kitab Suci menuliskan / menggambarkan menurut pandangan mata manusia ialah Kej 1:14-16. Di sini Allah menciptakan benda-benda penerang (matahari, bulan dan bintang-bintang), dan dikatakan dalam Kej 1:16 bahwa matahari dan bulan adalah benda penerang yang besar, dan ini secara implicit / tidak langsung berarti bahwa bintang-bintang adalah benda-benda penerang yang kecil. Padahal kita tahu bahwa bintangbintang itu jauh lebih besar dari bulan dan bahkan dari matahari! Tetapi Kitab Suci tetap menulis begitu, karena Kitab Suci menuliskan sebagaimana kelihatan oleh mata manusia (bintang kelihatan kecil, matahari dan bulan kelihatan besar).

III) Fungsi Roh Kudus dalam pengenalan akan Allah. Karena manusia itu buta rohani maka penyataan khusus itupun belum cukup bagi manusia untuk bisa mengenal Allah. Di sini letak peranan Roh Kudus. 1) Allah dapat dikenal hanya dengan pertolongan Roh Kudus. 2) Roh Kudus melahirkan kita kembali (regenerate) dan menyucikan (sanctify) kita untuk menghapuskan kebutaan rohani kita. 3) Roh Kudus menerangi hati dan pikiran kita sehingga kita bisa mengerti Firman Tuhan dan melalui Firman Tuhan itu kita bisa mengenal Allah. Karena itu kita harus banyak berdoa (bersandar kepada Roh Kudus) untuk bisa mengerti Firman Tuhan dengan benar. Firman Tuhan dan doa berhubungan sangat erat. Bdk. Kol 1:910 Fil 1:9 Maz 119:12,18,19,26, 33,34,64,68,73,124,125,135,169. Tetapi juga perlu diwaspadai extrim dari banyak orang yang tidak mau belajar dari manusia, dan hanya mau langsung dari Allah. Ini salah, karena sekalipun Allah bisa mengajar langsung, tetapi Ia juga menetap-kan hamba-hambaNya sebagai alat untuk mengajar jemaat (Ef 4:1113).

16


IV) Peranan iman dalam pengenalan akan Allah. Allah hanya bisa dikenal oleh orang yang mau menerima penyataan Allah tentang diriNya sendiri dengan iman. Dalam penyataan Allah ini ada banyak hal-hal yang melampaui pengertian / akal kita, seperti: • • • •

doktrin Allah Tritunggal. Yesus Kristus yang adalah 100% Allah dan 100% manusia. Yesus ditinggal oleh Bapa (Mat 27:46). Allah tidak terbatas oleh waktu. Hal-hal seperti itu harus diterima dengan iman.

V) Diri Allah dan sifat-sifat Allah. 1) Diri Allah / hakekat (essence) Allah. Ini tidak bisa didefinisikan dan tidak dapat dimengerti (incomprehensible). 2) Hubungan antara diri Allah dan sifat-sifat Allah: a) Kita tidak dapat mendapat pengetahuan tentang diri (being) Allah ter-lepas dari penyataan Allah tentang sifat-sifatNya (attributes). b) Allah dan sifat-sifatNya adalah satu. o o o

Sifat-sifatNya tidak boleh dianggap sebagai komponen-komponen yang membentuk Allah. Kita juga tidak boleh beranggapan bahwa hakekat Allah ada lebih dulu dari sifat-sifatNya dan lalu sifat-sifatNya ditambahkan kepada hakekat Allah itu. Kita tidak boleh memisahkan hakekat ilahi (divine essence) dan sifat-sifat ilahi (divine attributes). Dalam theologia selalu dikatakan bahwa sifat-sifat Allah adalah Allah sendiri. Karena hubungan yang begitu dekat antara diri Allah dan sifat-sifat Allah, maka dapat dikatakan bahwa mengetahui tentang sifat-sifat Allah berarti mengetahui hakekat Allah. 3) Sekalipun melalui penyataan Allah kita bisa mendapat pengetahuan tentang diri Allah, pengetahuan kita terbatas. Mengapa? a) Karena dalam penyataanNya, bahkan dalam penyataan khususNya, Allah tidak menyatakan diriNya secara keseluruhan (ada banyak yang Dia rahasiakan). b) Karena pikiran kita terbatas sehingga tidak bisa mengerti penyataan Allah dengan sempurna.

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

17


Sifat-sifat Allah I) Sifat2 yang tak dapat diberikan (Incommunicable attributes). A) Self existence (= ada dari dirinya sendiri). 1) Karena Allah itu ada dari diriNya sendiri, maka ini menunjukkan bahwa Ia mempunyai sifat independent (= tak tergantung). Apa saja yang independent? o o o o o o

Diri / keberadaan Allah (Yoh 5:26). Sifat-sifatNya. ketetapan-ketetapanNya / rencanaNya (Maz 33:11 Ro 9:10-18). pikiranNya (Ro 11:33-34). kehendakNya (Daniel 4:35 Ro 9:19 Ef 1:5 Wah 4:11). tindakanNya (Maz 115:3). 2) Karena Allah adalah satu-satunya yang mempunyai sifat self-exist-ence, dan segala sesuatu yang lain di luar diri Allah ada hanya melalui Dia dan dipelihara olehNya, maka ini juga berarti bahwa segala sesuatu tergantung kepada Dia (Maz 94:17-19 Neh 9:6 Maz 104:27-30 Kis 17:28 1Tim 6:13 Ibr 1:3).

B) Immutability (= sifat tetap / tidak bisa berubah). 1) Kesempurnaan Allah menyebabkan Dia tidak bisa berubah, baik diriNya (Maz 102:26-28 Mal 3:6 Yak 1:17) maupun tujuan / maksud / janji-janjiNya (Yes 14:24,27 Yes 46:10). Allah tidak bisa menjadi makin baik atau makin jelek, karena hal itu menunjukkan Ia tidak sempurna. Tetapi perlu dingat bahwa sekalipun Allah tidak berubah, tetapi: a) TindakanNya bisa berubah, dalam arti, bisa saja Ia tidak mau melakukan lagi apa yang dulu pernah Ia lakukan. Misalnya: o

dulu Ia pernah menghancurkan manusia dengan air bah, tetapi Ia berjanji tidak akan mengulang hal itu (Kej 9:12-16).

o

dulu Ia pernah memimpin Israel menggunakan tiang awan dan tiang api, tetapi dalam sepanjang Kitab Suci, Ia tidak pernah mengulangi tindakan itu.

b) CaraNya bisa berubah (Ibr 1:1). Karena itu jangan menggunakan ketidak-bisa-berubahan Allah ini sebagai dasar untuk berkata bahwa kalau dulu Ia membangkitkan orang mati, sekarang Ia pasti juga membangkitkan orang mati, kalau dulu Ia berfirman dengan menggunakan mimpi, malaikat dsb, maka sekarang Ia pasti juga melakukan hal yang sama. Ini salah! 2) Manusia bisa berubah dan hubungan antara Allah dan manusia bisa berubah, tetapi Allah sendiri tidak bisa berubah.

C) Infinity (= ketidakterbatasan). 18


Beberapa aspek dari ketidak-terbatasan Allah: 1) KesempurnaanNya yang mutlak (His absolute perfection). KesempurnaanNya menjadi sifat dari semua sifat-sifat yang dapat diberikan (Communicable attributes). Jadi, kuasa Allah, kesucian Allah, pengetahuan Allah, hikmat Allah, kasih / kebenaran Allah itu sempurna. KesempurnaanNya menyebabkan Ia tidak mempunyai batas ataupun cacat cela (Ayub 11:7-9 Maz 145:3 Mat 5:48). 2) KekekalanNya (His eternity). Ini adalah ketidak-terbatasan Allah di dalam hal waktu. KekekalanNya berarti: o o

Ia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya (Maz 90:2 Maz 102:13 Wah 1:8,17). Ia tidak terbatas oleh waktu / Ia melampaui semua batasan waktu (2Pet 3:8). Ia tidak mempunyai waktu lampau, sekarang, atau akan datang. Ada orang yang mengatakan: "He is the eternal ‘I am’" (= Ia adalah ‘I am’ yang kekal). Bdk. Yoh 8:58 (NIV): ‘Before Abraham was born, I am’. 3) Kebesaran / keluasan Allah (His immensity). Ini adalah ketidak-terbatasan Allah di dalam hal tempat. Artinya:

a. Ia melampaui semua batasan-batasan tempat (1Raja-raja 8:27 Yes 66:1 Yer 23:24b). b. Ia ada / hadir di setiap tempat dengan seluruh keberadaanNya / seluruh diriNya (His whole being) (Kis 17:27-28 Yer 23:23 Maz 139:7-10 Mat 18:20 Mat 28:20 Yoh 1:18 Yoh 14:23). Jadi, jangan membayangkan seakan-akan Allah adalah seperti gas yang menyebar, sebagian ada di sini dan sebagian ada di situ. Juga jangan membayangkan seakan-akan Allah seperti raksasa yang besar, dimana di sini hanya ada tangannya, di situ hanya ada kakinya dsb. Yang benar adalah: seluruh Allah ada di mana-mana. Hati-hati dengan ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang maha ada / ada dimana-mana itu bukanlah Allahnya, tetapi kehendak Allah atau kuasa Allah atau pengetahuan Allah. Ini salah / sesat! Yang maha ada adalah Allahnya sendiri. Kita tidak perlu merasa menghina Allah kalau kita mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana, bahkan ditempat-tempat yang kotor (got, tempat sampah, dsb), dan di neraka sekalipun! Ada orang yang bertanya: ‘Where is God?’ (= dimanakah Allah?) yang lalu dijawab dengan pertanyaan: ‘Where is He not?’ (= dimana Ia tidak ada?). Kalau dalam Kitab Suci dikatakan Allah datang, pergi, turun, naik, dsb (Kej 11:5-7 Hakim-hakim 13:20), itu semua hanyalah bahasa Anthropomorphism (= bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia). Kalau dikatakan bahwa dosa memisahkan manusia dengan Allah, maka itu hanya menunjukkan perpisahan rohani, bukan secara jasmani / fisik. Dalam kemahadaaan Allah ini terlihat sifat ‘transcendent’ dan ‘immanent’ dari Allah. 19


o

‘Transcendent’ artinya: ‘that exists apart from the material universe’ (= yang ada di luar alam semesta yang bersifat materi). Deisme hanya menekankan sifat transcendent dari Allah.

o

‘Immanent’ merupakan lawan kata dari ‘transcendent’, artinya: ‘present throughout the universe’ (= ada / hadir di setiap tempat dalam alam semesta). Berlawanan dengan Deisme, maka Pantheisme hanya menekan-kan sifat immanent dari Allah. Baik Deisme maupun Pantheisme adalah salah / sesat, karena Allah mempunyai kedua sifat ini, dan ini terlihat dengan jelas dalam Yer 23:23. Istilah ‘immensity’ hampir sama dengan ‘omnipresence’ (= kemaha-adaan), tetapi:

o o

Immensity lebih menekankan ‘Allah tidak dibatasi tempat’. Omnipresence lebih menekankan ‘Allah ada di mana-mana dengan seluruh keberadaanNya diriNya’. Sekalipun Allah itu ada / hadir dimana-mana, tetapi Allah tidak hadir di semua tempat dengan sikap dan arti yang sama. Louis Berkhof: "This does not mean, however, that He is equally present and present in the same sense in all His creatures" (= Tetapi ini tidak berarti bahwa Ia hadir secara sama dan hadir dalam arti yang sama dalam semua makhluk ciptaanNya) - ‘Systematic Theology’, hal 61. Herman Bavinck: "He is not present in the same degree and manner everywhere" (= Ia tidak hadir dalam tingkat dan cara yang sama di mana-mana) - ‘The Doctrine of God’, hal 157. Misalnya:

o o o o o o

KehadiranNya di surga berbeda dengan di bumi. KehadiranNya pada benda berbeda dengan kehadiranNya pada binatang. KehadiranNya pada binatang berbeda dengan kehadiranNya pada manusia. KehadiranNya pada orang kafir berbeda dengan kehadiranNya pada orang kristen. KehadiranNya pada orang kristen yang tidak memberitakan Injil berbeda dengan kehadiranNya pada orang kristen yang memberitakan Injil (bdk. Mat 28:19-20). KehadiranNya pada orang kristen / gereja berbeda dengan kehadiranNya pada diri Kristus sendiri (Bdk. Yoh 3:34 dan Kol 2:9 dengan Yoh 1:16). Illustrasi: Polisi hadir bersama presiden maupun bersama penjahat, tetapi waktu hadir bersama presiden, ia hadir dengan sikap hormat dan bertujuan melindungi, sedangkan waktu hadir bersama penjahat, ia hadir untuk mengawasi supaya penjahat itu tidak lari. Ini jelas menunjukkan cara hadir yang berbeda. Penerapan:

o

o

Kalau kita berdoa: ‘Tuhan, hadirlah dalam kebaktian ini’, maka itu tidak berarti bahwa kalau kita tidak berdoa Ia lalu tidak hadir. Ten-tu saja Ia sudah hadir. Tetapi kalau Ia sudah hadir, untuk apa kita meminta Ia hadir lagi? Supaya Ia hadir dengan cara yang berbeda, yaitu hadir untuk melindungi kita dari setan, untuk menguasai dan menerangi hati dan pikiran kita, dan untuk memberkati kita. Untuk orang kristen yang betul-betul hidup sesuai kehendak Tu-han, sifat maha ada dari Allah ini menyenangkan dan memberi damai / sukacita. Untuk orang kristen yang berdosa, ini tidak me-nyenangkan. Untuk orang kafir, ini mengerikan! Karena itu setiap mau berbuat dosa, baik berdusta, menipu, ngerpek, berzinah, dsb, pikirkan bahwa Allah itu ada di dekat saudara dan mengawasi saudara! 20


D) The Unity of God (= Kesatuan Allah). Louis Berkhof membedakan 2 macam kesatuan: 1) Unitas Singularitatis. Ini menekankan: a) Allah itu hanya satu (Ul 6:4 1Raja-raja 8:60 1Kor 8:6 1Tim 2:5). b) Allah itu unik, tidak ada yang seperti Dia (Kel 15:11 Yes 46:9). Keunikan Allah ini menyebabkan berhala itu dilarang. 2) The Unitas Simplicitatis. Ini menekankan bahwa Allah itu tidak terbagi-bagi atas komponen-komponen yang membentuk Allah. Berbeda dengan manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, dan tubuhnya terdiri dari daging, tulang, darah, dsb, maka Allah tidak terdiri dari komponen-komponen seperti itu. Ingat bahwa: a) 3 pribadi dalam Allah Tritunggal bukanlah 3 bagian yang memben-tuk hakekat ilahi. Ke tiga pribadi ini sekalipun bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. b) Sifat-sifat Allah dan hakekat ilahi juga tidak terpisahkan.

II) Sifat2 yang dapat diberikan (Communicable attributes). A) Personal Spirit (= Roh yang berpribadi). 1) Kepribadian Allah. a) Kepribadian yang sempurna hanya ada pada diri Allah sedangkan kepribadian manusia hanyalah suatu ‘copy’ dari kepribadian Allah. b) Tiga kepribadian dalam Allah tidak mempunyai analogi dalam diri manusia. Ada yang menganalogikan tiga kepribadian dalam Allah itu dengan Trichotomy (doktrin yang mengatakan bahwa manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu tubuh, jiwa, dan roh). Tetapi ini salah, karena berten-tangan dengan banyak bagian Kitab Suci yang menunjukkan bah-wa manusia terdiri hanya dari 2 bagian, yaitu ‘tubuh’ dan ‘jiwa atau roh’. Ini dibahas dalam Anthropology (Doktrin Manusia). 2) Allah adalah Roh (Yoh 4:24). a) Allah adalah Roh. Malaikat dan setan juga adalah roh. Manusia juga mempunyai roh. Tetapi semua itu berbeda, karena Allah adalah Roh yang sem-purna. b) Allah adalah seseorang yang tidak bersifat materi dan karena itu Ia tidak bisa terlihat (1Tim 1:17 1Tim 6:15-16). Tetapi pada saat Ia menghendaki, maka Ia bisa menampakkan diri.

B) Omniscience (= Kemahatahuan). 21


1) Bahwa Allah itu maha tahu dinyatakan secara jelas dalam 1Sam 2:3 Yes 40:27-28. 2) Berbeda dengan pengetahuan pada manusia, pengetahuan Allah tidak didapatkan dari luar diriNya, melalui pengamatan / penyelidikan atau melalui proses berpikir (bdk. Ro 11:33-34). 3) Pengetahuan Allah sempurna, dalam arti: a) Pengetahuan Allah tidak bisa salah. b) Allah mengetahui segala sesuatu. o

DiriNya sendiri.

o

Hal-hal di waktu lampau, sekarang, maupun yang akan datang (Yes 42:9 Mat 6:8).

o

Hal-hal yang tersembunyi (1Sam 16:7 1Taw 28:9 Ayub 34:21-22 Maz 68:18 Maz 139:11-12 Yes 29:15).

C) Wisdom (= Hikmat / kebijaksanaan Allah). Hikmat Allah adalah aspek khusus dari pengetahuan Allah. Pengetahuan tidak sama dengan hikmat, tetapi keduanya berhubungan sangat erat (Amsal 8 Ro 11:33-34). Baik hikmat maupun pengetahuan Allah adalah sempurna. Definisi hikmat: o o

H. B. Smith: "Sifat Allah dengan mana Ia menghasilkan hasil yang terbaik dengan menggunakan jalan yang terbaik". Louis Berkhof: "the perfection of God whereby He apllies His knowledge to the attainment of His ends in a way which glorifies Him most" (= Kesempurnaan Allah dengan mana Ia menerapkan pengetahuanNya untuk mencapai tujuanNya melalui jalan yang paling memuliakan Allah) - ‘Systematic Theology’, hal 69.

D) Goodness (= Kebaikan Allah). Beberapa aspek dari kebaikan Allah: 1) Kebaikan Allah kepada ciptaanNya secara umum (Maz 36:6-7 Maz 104:21 Maz 145:9,15,16 Mat 5:45 Mat 6:26 Luk 6:35 Kis 14:17). 2) Kasih Allah. a. Allah tetap mengasihi orang berdosa sekalipun Ia membenci dosa-nya (Yoh 3:16). b. Allah mengasihi orang percaya dengan kasih yang khusus (Ro 9:13). Sifat adil tidak berarti bahwa Allah mengasihi / memberi secara sama rata! Ayat-ayat Kitab Suci seperti 1Kor 10:13 Ro 8:28 Yer 29:11 berlaku hanya untuk orang percaya / pilihan. 3) Kasih karunia Allah (The grace of God). a. Kasih karunia adalah pemberian kebaikan secara cuma-cuma kepada orang yang tidak berlayak menerimanya. b. Kasih karunia Allah adalah sumber segala berkat rohani yang diberikan kepada manusia (Ef 1:6-7 Ef 2:7-9). 4) Belas kasihan / rakhmat / kemurahan hati Allah (The mercy of God).

22


a. Ini adalah kebaikan / kasih Allah yang ditunjukkan kepada mereka yang ada di dalam kesukaran / kesengsaraan, sekalipun kesukar-an / kesengsaraan itu diakibatkan oleh dosa mereka. b. Ini berhubungan erat dengan kasih karunia. 5) Kepanjang-sabaran Allah (The long suffering of God). a. Ini adalah kebaikan / kasih Allah terhadap orang-orang yang terus berbuat dosa sekalipun sudah diperingatkan. b. Sifat ini dinyatakan dengan menunda penghukuman (Ro 2:4 Ro 9:22 2Pet 3:9,15). Tetapi kalau adanya penundaan hukuman itu terus tidak mentobatkan orang yang berdosa itu, maka Allah akan melaksanakan keadilanNya dengan menghukum orang itu (Nahum 1:3 Ro 2:5-11).

E) Holiness (= Kekudusan). 1) Kekudusan berarti ‘berbeda dengan’ atau ‘terpisah dari’. Kalau kita mengatakan bahwa Allah itu kudus, maka itu bisa berarti: a) Diri Allah memang berbeda dengan seluruh ciptaanNya (Kel 15:11 1Sam 2:2). Yang dimaksud di sini bukan berbeda dalam sifat mo-ral, tetapi bahwa diri Allah memang berbeda dengan ciptaanNya. b) Allah terpisah dari dosa / kejahatan moral. Ini menyebabkan: o

Allah tidak bisa berhubungan dengan dosa (Ayub 34:10 Yes 59:1-2 Hab 1:13 1Yoh 1:5 1Yoh 3:5).

o

Allah tidak bisa berbuat dosa / kejahatan moral (Tit 1:2 Ibr 6:18 2Tim 2:13).

2) Perwujudan dari kekudusan Allah. a) Kekudusan Allah dinyatakan dalam hukum moral yang ditanamkan dalam hati manusia / hati nurani (Ro 2:15). b) Kekudusan Allah dinyatakan secara khusus dalam hukum-hukum dalam Firman Tuhan / Kitab Suci. Karena itu jangan heran dan menganggap Allah itu tidak masuk akal karena Ia memberikan hukum-hukum yang begitu tinggi seperti Mat 5:28,44 dsb. Sebetul-nya hukum-hukum itu tidak terlalu tinggi andaikata manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, semua manusia dikuasai oleh dosa, dan condong kepada dosa sehingga tidak lagi mampu melakukan hukum-hukum Tuhan itu. Tetapi melihat hal ini Tuhan tidak lalu menurunkan tingkat hukum-hukumNya, karena kalau Ia melakukan hal ini maka itu menunjuk-kan bahwa Ia tidak kudus / kurang kudus. c) Kekudusan Allah dinyatakan melalui pahala yang Allah berikan kepada orang-orang yang mentaati hukum-hukumNya. d) Kekudusan Allah dinyatakan melalui hukuman yang Ia berikan kepada orang-orang yang melanggar hukum-hukumNya. e) Kekudusan Allah dinyatakan oleh Yesus yang disebut sebagai ‘Yang Kudus dan Benar’ (Kis 3:14). Yesus menyatakan kekudusan Allah melalui hidupNya yang suci. f) Kekudusan Allah dinyatakan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus (1Pet 1:1516 1Yoh 2:6). 23


F) Righteousness (= Kebenaran). Kebenaran sebetulnya berarti suatu ketaatan yang ketat terhadap hukum. Karena itu banyak orang yang berpendapat bahwa kita tidak bisa berbicara tentang kebenaran dalam Allah karena tidak ada hukum di atas Allah. Tetapi sekalipun tidak ada hukum di atas Allah, pastilah ada hukum di dalam diri Allah sendiri (bdk. 2Tim 2:13).

G) Justice (= Keadilan). 1) Keadilan yang menguntungkan (Remunerative justice). Ini dinyatakan dengan memberikan pahala kepada manusia. Hal ini sebenarnya merupakan perwujudan dari kasih ilahi. Pahala diberikan, sebenarnya bukan karena kita betul-betul berjasa dan layak meneri-manya, tetapi karena adanya janji Allah (Ul 7:9,12-13 Maz 58:12 Mat 25:21,34 Ro 2:6-7 Luk 17:10 1Kor 4:7). 2) Keadilan pembalasan (Retributive justice). Ini berhubungan dengan pemberian hukuman sebagai perwujudan dari murka Allah (Ro 2:8-9 Ro 12:19 2Tes 1:8-9). Perlu diperhatikan bahwa sekalipun manusia tidak berhak / tidak layak menerima pahala, tetapi ia betul-betul layak menerima hukuman.

H) Sovereignty (= Kedaulatan). Kitab Suci menekankan kedaulatan Allah dengan menyatakan bahwa: o o o o o o o

Allah adalah pencipta segala sesuatu. Kehendak Allah merupakan penyebab segala sesuatu. Langit, bumi dan segala isinya adalah milik Allah. Allah mempunyai hak / wewenang atas segala ciptaanNya. Allah menentukan tujuan segala sesuatu. Segala sesuatu tergantung kepada Dia dan tunduk kepada Dia. Ia memerintah sebagai raja dalam arti yang mutlak. Dasar Kitab Suci: Kej 14:19-20 Kej 50:20 Kel 18:11 Ul 10:14,17 1Taw 29:11-12 2Taw 20:6 Neh 9:6 Maz 22:29 Maz 47:3-5,8-9 Maz 50:10-12 Maz 95:3-5 Maz 115:3 Maz 135:5-7 Luk 1:51-53 Kis 17:24-26 Wah 19:6. Ada 2 hal yang penting dalam hal kedaulatan Allah ini: 1) Kehendak Allah yang berdaulat (the sovereign will of God). a) Macam-macam kehendak Allah: 1. Kehendak Allah yang menunjuk pada prinsip-prinsip kehidupan yang Ia berikan kepada manusia, dan ini mencakup baik pe-rintah-perintah maupun larangan-larangan dari Allah untuk manusia. Kehendak yang ini sering tidak terjadi, karena manusianya tidak taat. 2. Kehendak Allah yang menunjuk pada hal yang menyenangkan Allah kalau hal itu terjadi (1Tim 2:3-4 2Pet 3:9). 3. Kehendak Allah yang menunjuk pada RencanaNya yang telah Ia tetapkan dalam kekekalan. Kehendak yang ini pasti terlaksana dan tidak mungkin digagal-kan oleh apapun / siapapun juga (Ayub 23:13 Ayub 42:1-2 Maz 33:10-11 Yes 14:24-27 Yes 46:10-11 Ibr 6:17).

24


Kehendak Allah yang kita bicarakan di sini adalah kehendak Allah dalam arti yang ke 3. b) Kehendak Allah adalah penyebab dari segala sesuatu: o

penciptaan dan pemeliharaan (Maz 135:6-7 Wah 4:11).

o

pemerintah (Amsal 21:1 Daniel 4:35 Ro 13:1).

o

penderitaan Kristus (Luk 22:22 Kis 2:23 Kis 4:27-28 1Pet 1:20).

o

regeneration / kelahiran baru (Yak 1:18 Yoh 3:8).

o

pengudusan (Fil 2:13).

o

penderitaan orang percaya (1Pet 2:19 3:17 4:19).

o

kehidupan dan nasib manusia (Ro 15:32 Kis 4:27-28 Kis 17:26 Yak 4:15).

o

hal-hal yang terkecil dalam kehidupan kita (Mat 10:29-30).

o

Predestinasi, yang mencakup:

o

Election / Pemilihan (Mat 24:22,24,31 Mat 25:34 Yoh 5:21 Kis 13:48 Kis 18:10 Ro 8:29-30,33 Ro 9:6-26 Ro 11:5-7,25 Ef 1:4,5,11 2Tes 2:13 2Tim 1:9 1Pet 1:1-2).

o

Reprobation / penentuan binasa [Amsal 16:4 Yes 6:9-10 (Bdk. Mat 13:10-15 Mark 4:12 Luk 8:10 Yoh 12:39-40 Kis 28:26-27 Ro 11:8) Mat 11:25 Yoh 17:12 Ro 9:13,17-18,22 1Pet 2:8 Yudas 4). 1Pet 2:8 - "Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan". Kitab Suci Indonesia ini salah terjemahan. Perhatikan terjemahan-terjemahan bahasa Inggris di bawah ini: o

NASB: "for they stumble because they are disobedient to the word, and to this doom they were also appointed" (= karena mereka tersandung karena mereka tidak taat kepada firman, dan pada tujuan / nasib ini mereka juga telah ditetapkan).

o

NIV: "They stumble because they disobey the message which is also what they were destined for" (= Mereka tersandung karena mereka tidak mentaati pesan / firman yang juga merupakan apa yang telah ditentukan untuk mereka).

o

KJV: "even to them which stumble at the word, being disobedient: whereunto also they were appointed" (= bahkan bagi mereka yang tersandung pada firman, karena tidak taat: untuk mana mereka juga telah ditetapkan).

o

RSV: "for they stumble because they disobey the word, as they were destined to do" (= karena mereka tersandung karena mereka tidak mentaati firman, sebagaimana mereka telah ditentukan untuk melakukannya).

c) Kebebasan kehendak Allah (the freedom of God’s will). 25


Kebebasan Allah tidak boleh diartikan bahwa Ia menentukan se-gala sesuatu dengan sikap acuh tak acuh. Ia mempunyai alasan-alasan yang menyebabkanNya menghendaki sesuatu terjadi. Allah tidak bisa menghendaki sesuatu yang bertentangan dengan sifat dasarNya (His nature), kebijaksanaanNya, kasihNya, kebenar-anNya, keadilanNya dan kesucianNya. d) Kehendak Allah dalam hubungannya dengan dosa. 1. Dalam Rencana Allah yang kekal juga terdapat dosa; jadi Allah juga menentukan adanya dosa (Kis 2:23 Kis 4:27-28). 2. Allah bukan pencipta dosa (God is not the author of sin). 3. Ada orang-orang yang menggunakan istilah ‘Allah mengijinkan adanya / terjadinya dosa’. Istilah ini boleh digunakan tetapi harus disertai dengan pengertian yang benar. ‘Allah mengijinkan dosa’ tidak berarti bahwa dosa itu mungkin terjadi, atau terjadi secara kebetulan, tetapi berarti bahwa dosa itu pasti terjadi. Kata ‘mengijinkan’ berarti bahwa dalam pelak-sanaan terjadinya dosa, Allah bekerja secara pasif. 4. Kehendak Allah untuk mengijinkan / menentukan adanya dosa tidak berarti bahwa Ia senang melihat adanya / terjadinya dosa. 2) Kuasa Allah yang berdaulat (The sovereign power of God). Schleirmacher dan Strauss berkata bahwa kuasa Allah terbatas pada hal-hal yang sungguh-sungguh Ia lakukan. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kuasa Allah melampaui apa yang betul-betul Ia lakukan (Yer 32:27 Mat 3:9 Mat 26:53). Jadi jelas bahwa Ia mempunyai kuasa untuk melakukan hal-hal yang dalam kenyataanNya tidak Ia lakukan. Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa ada banyak hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh Allah. Ia tidak bisa berdusta, berdosa, berubah, maupun menyangkal diriNya sendiri (Bil 23:19 1Sam 15:29 2Tim 2:13 Ibr 6:18 Tit 1:2 Yak 1:17).

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

ALLAH TRITUNGGAL I) Pernyataan tentang doktrin Allah Tritunggal. 26


1) Dalam diri Allah hanya ada 1 hakekat yang tidak terbagi-bagi (one indivisible essence), tetapi ada 3 pribadi yaitu Bapa, Anak & Roh Kudus. a) Adanya 3 pribadi tidak berarti bahwa orang kristen mempercayai 3 Allah! Calvin: "Three are spoken of, each of which is entirely God, yet there is not more than one God" (= Tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak ada lebih dari satu Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 3. b) Tetapi orang kristen juga tidak mempercayai Allah itu tunggal secara mutlak. Orang kristen mempercayai Allah Tritunggal. Calvin mengutip kata-kata Gregory Nazianzus sebagai berikut: "I cannot think on the one without quickly being encircled by the splendor of the three; nor can I discern the three without being straightway carried back to the one" (= Saya tidak dapat memikirkan yang satu tanpa dengan cepat dilingkupi oleh kemegahan dari yang tiga; juga saya tidak bisa melihat yang tiga tanpa segera dibawa kembali kepada yang satu) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 17. c) Allah menyatakan diriNya dalam 3 pribadi bukan karena Ia memilih / menghendaki hal itu, tetapi karena memang Ia adalah demikian. Louis Berkhof: "This tri-personal existence is a necessity in the Divine Being, and not in any sense the result of a choice of God. He could not exist in any other than the tri-personal form" (= Keberadaan yang bersifat tiga pribadi ini adalah suatu keharusan dalam diri Allah, dan sama sekali bukanlah hasil dari pilihan Allah. Ia tidak bisa berada dalam sesuatu yang lain dari pada bentuk tiga pribadi) ‘Systematic Theology’, hal 84. 2) Ketiga pribadi dalam diri Allah itu ditandai dengan urut-urutan (order) yang tertentu. Allah Bapa adalah yang pertama; Allah Anak yang ke 2; dan Allah Roh Kudus yang ke 3. Urut-urutan ini tidak berhubungan dengan waktu atau hakekat, tetapi hanya dengan uruturutan asal mula mereka secara logika. Louis Berkhof: "It need hardly be said that this order does not pertain to any priority of time or of essential dignity, but only to the logical order of derivation (= Hampir tidak perlu dikatakan bahwa urut-urutan ini tidak berhubungan dengan keberadaan lebih dulu atau kewibawaan hakiki, tetapi hanya dengan urut-urutan asal mula secara logika) - ‘Systematic Theology’, hal 88-89. 3) Doktrin Allah Tritunggal adalah suatu misteri yang melampaui pengertian manusia. a) Manusia tidak dapat mengertinya atau membuatnya bisa dimengerti. Otak kita yang terbatas tidak mungkin bisa mengerti sepenuhnya tentang Allah yang tak terbatas! Seseorang pernah berkata bahwa kalau ada seseorang yang bisa mengajarkan Doktrin Allah Tritunggal sehingga bisa dimengerti sepenuhnya, maka itu pasti adalah ajaran sesat. b) Kesulitan yang terbesar terletak pada hubungan antara pribadi-pribadi dalam diri Allah dengan hakekat illahi dan hubungan antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Kesulitan-kesulitan ini tidak pernah bisa dipecahkan oleh manusia. Kita berusaha untuk menyatakan doktrin Allah Tritunggal ini sedemikian rupa, bukan supaya semua ini bisa dimengerti dengan jelas, tetapi hanya supaya kita terhindar / terlindung dari ajaran-ajaran sesat tentang Allah Tritunggal. 27


II) Istilah ‘hakekat’ dan ‘pribadi���. Mengapa digunakan istilah-istilah seperti person (= pribadi) dan essence (= hakekat), padahal istilahistilah tersebut tidak ada dalam Kitab Suci? Calvin (pada waktu ia berbicara tentang Allah Tritunggal dalam Yoh 1:1-2) menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: "And yet the ancient writers of the Church were excusable, when, finding that they could not in any other way maintain sound and pure doctrine in opposition to the perplexed and ambiguous phraseology of the heretics, they were compelled to invent some words, which after all had no other meaning than what is taught in the Scriptures. They said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God" (= dan penulis-penulis kuno dari gereja bisa dibenarkan, karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat dan murni untuk menentang penyusunan kata yang membingungkan dan berarti dua dari orang-orang sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti lain dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah yang satu dan sederhana). Herman Bavinck (‘Our Reasonable Faith’, p 322) mengatakan sebagai berikut: "It is of course self-evident that this confession of Nicea and Chalcedon may not lay claim to infallibility. The terms of which the church and its theology make use, such as person, nature, unity of substance, and the like, are not found in Scripture, but are the product of reflection which Christianity gradually had to devote to this mystery of salvation. The church was compelled to do this reflecting by the heresies which loomed up on all sides, both within the church and outside of it. All those expressions and statements which are employed in the confession of the church and in the language of theology are not designed to explain the mystery which in this matter confronts it, but rather to maintain it pure and unviolated over against those who would weaken or deny it" (= Jelaslah bahwa pengakuan iman Nicea dan Chalcedon tidak bisa dianggap infallible / tak bisa salah. Istilah-istilah yang digunakan oleh gereja dan theologinya, seperti pribadi, hakekat, kesatuan hakekat / zat, dan sebagainya, tidak ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi merupakan hasil pemikiran yang secara bertahap / perlahan-lahan harus diberikan oleh kekristenan kepada misteri tentang keselamatan ini. Gereja dipaksa untuk melakukan pemikiran ini oleh bidat-bidat yang muncul dan mengancam dari semua sisi, baik di dalam maupun di luar gereja. Semua istilah dan pernyataan yang digunakan dalam pengakuan iman gereja dan dalam bahasa theologia, tidak dimaksudkan untuk menjelaskan misteri yang dihadapi, tetapi untuk menjaganya supaya tetap murni dan tak terganggu dari mereka yang ingin melemahkan atau menyangkalnya). Bavinck melanjutkan lagi: "There have been many, and there still are many, who look down upon the doctrine of the two natures from a lofty vantage point, and try to supplant it by other words and phrases. What differences does it really make, they begin by saying, whether we agree with this doctrine or not? What matters is that we ourselves possess the person of Christ, He who stands high and exalted above this awkward confession. But before long these same persons begin introducing words and terms themselves in order to describe the person of Christ whom they accept. ... And then history has taught that the terms of the attackers of the Doctrine of the Two Natures are far poorer in worth and force, and that they often, indeed, involve doing injustice to the incarnation as Scripture explains it to us" (= pernah ada banyak orang, dan sampai sekarang masih ada banyak orang, yang dari tempat yang tinggi dan menguntungkan, meremehkan / memandang rendah doktrin tentang 2 hakekat ini, dan mencoba untuk menggantinya dengan kata-kata dan ungkapanungkapan yang lain. Mereka memulainya dengan berkata: apa bedanya apakah kami menyetujui doktrin ini atau tidak? Yang penting adalah bahwa kami memiliki pribadi Kristus, yang berdiri jauh di atas pengakuan yang aneh ini. Tetapi sebentar lagi, orang-orang ini sendiri mulai memperkenalkan kata-kata dan istilah-istilah untuk menggambarkan pribadi Kristus yang mereka terima. ... Dan sejarah telah mengajar bahwa istilah-istilah dari para penyerang doktrin tentang 2 hakekat ini, jauh lebih jelek dalam nilainya dan kekuatannya, dan bahwa 28


mereka bahkan sering terlibat dalam perlakuan yang tidak benar terhadap inkarnasi seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci kepada kita). Apa yang dikatakan Herman Bavinck ini memang tepat. Orang yang menolak istilah ‘pribadi’ dan ‘hakekat’ biasanya lalu menciptakan istilah sendiri yang ternyata jauh lebih jelek dari istilah ‘pribadi’ dan ‘hakekat’ ini. Contoh: Pdt. Yohanes Bambang dari GKI dalam buku sesatnya yang berjudul ‘Tuhan ajarlah aku’ berkata sebagai berikut: "Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewartaan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori ‘UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE’ (satu zat yang memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus adalah cara berpikir yang filsafati ketimbang cara berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang memiliki kepribadian sendiri. Alkitab tidak pernah mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian ZAT ILAHI" (hal 131). Jadi, Pdt. Yohanes Bambang menolak ajaran Tertullian ini tentang satu hakekat dan tiga pribadi ini dengan alasan bahwa istilah ‘zat ilahi’ itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi anehnya, dalam buku yang sama: • •

di hal 109 ia berkata: "Secara matematis memang berjumlah tiga. Tetapi dari penghayatan iman dan materi Allah: ketigaNya adalah YANG TUNG-GAL". di hal 110 ia berkata: "Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki ilahi dan karya (pekerjaan)Nya". di hal 135 ia berkata: "... sehingga dalam diri Yesus Kristus nampak seluruh ciri hakiki Allah sendiri". Yang ingin saya tanyakan adalah: dari mana ia mendapatkan istilah ‘ciri hakiki Allah / ilahi’ dan ‘materi’ itu? Apakah istilah itu ada dalam Kitab Suci? Kalau tidak ada, mengapa ia mau menggunakannya tetapi pada saat yang sama menolak penggunaan istilah ‘zat ilahi’, karena tidak ada dalam Kitab Suci? Bukankah semua ini menunjukkan ketidak-konsekwenannya?

III) Dasar Kitab Suci dari doktrin Allah Tritunggal. A) Kitab Suci menunjukkan ketunggalan Allah. 1) Ayat-ayat Kitab Suci yang secara explicit menyatakan bahwa Allah itu satu (Ul 6:4 1Kor 8:4 1Tim 2:5 Yak 2:19). 2) Penggunaan kata-kata bentuk tunggal untuk Allah atau dalam hubungannya dengan Allah: a) Penggunaan kata ganti orang bentuk tunggal. Contoh: o

kalau Allah berbicara tentang diriNya sendiri, maka pada umumnya Ia menggunakan kata ’Aku’ (bahasa Inggris: ‘I’).

o

kalau orang lain berbicara tentang Allah, maka pada umumnya digunakan kata ‘Dia’ (bahasa Inggris: ‘He’).

o

kalau orang berbicara kepada Allah, maka pada umumnya digunakan kata ‘Engkau’ (bahasa Inggris: ‘You’). Dalam bahasa Yunani maupun Ibraninya terlihat bahwa yang digunakan adalah ‘You’ dalam bentuk tunggal.

b) Penggunaan kata kerja bentuk tunggal. 29


Contoh: dalam bahasa Ibraninya, kata ‘menciptakan’ dalam Kej 1:1 adalah kata kerja bentuk tunggal. c) Penggunaan kata sifat bentuk tunggal. Contoh: dalam bahasa Ibraninya, kata-kata ‘baik’ dan ‘benar’ dalam Maz 25:8 adalah kata sifat bentuk tunggal. 3) Allah mempunyai sifat self-existent, dan sifat ini tidak memungkinkan adanya lebih dari satu makhluk seperti Dia. a) Sifat self-existent (= ada dengan sendirinya / ada dari dirinya sendiri) dari Allah, jelas merupakan ajaran dalam Kitab Suci, karena Kitab Suci menunjukkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah (Kej 1:1-31 Yoh 1:3,10), tetapi Kitab Suci tidak pernah menceritakan tentang terjadinya Allah, dan ini menunjukkan bahwa Allah sendiri tidak pernah diciptakan / dijadikan oleh siapapun / apapun juga. b) Sifat self-existent ini mempunyai 2 perwujudan: o

Allah adalah makhluk yang independent (= bebas / tak tergantung) secara mutlak.

o

diriNya / keberadaanNya / hidupNya independent (Yoh 5:26).

o

pikiranNya / rencanaNya / kehendakNya / tindakanNya independent (Ro 11:33-34 9:10-24 Daniel 4:35 Ef 1:5 Maz 115:3 1Yoh 5:14).

o

Segala sesuatu ada hanya melalui Dia, dan Ia membuat segala sesuatu tergantung kepada Dia (Neh 9:6 Maz 104:27-30 Yoh 1:3 Kis 17:28 Ibr 1:3 1Tim 6:13a). c) Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin ada lebih dari satu makhluk yang seperti itu! Karena tidak mungkin bisa ada 2 makhluk yang sama-sama tidak tergantung apapun / siapapun, dan yang membuat segala sesuatu tergantung dirinya.

B) Kitab Suci menunjukkan adanya ‘kejamakan dalam diri Allah’. Catatan: Perhatikan bahwa saya tidak menyebut adanya ‘banyak Allah’, tetapi adanya ‘kejamakan dalam diri Allah’. Jadi, saya tetap percaya pada ketunggalan / keesaan Allah, tetapi dalam keesaanNya itu terdapat suatu kejamakan tertentu. 1) Dalam Perjanjian Lama. a) Penggunaan kata ‘ELOHIM’ untuk Allah (Kej 1:1 dll) yang merupakan kata bentuk jamak / plural. Ada 2 hal yang ingin saya bahas di sini: 1. Dalam membahas tentang kata ELOHIM ini, Pdt. Stephen Tong dalam seminar dan bukunya berkata bahwa dalam bahasa Ibrani ada bentuk singular (= tunggal), bentuk dual (= ganda / dobel), dan bentuk plural (= jamak). Dan ia lalu berkata, bahwa penggunaan bentuk singular berarti kita membicarakan hanya satu, bentuk dual berarti kita membicarakan dua, sedangkan bentuk plural berarti kita membicarakan tiga atau lebih. Istilah ELOHIM tidak ada dalam bentuk singular, tidak di dalam bentuk dual, tetapi ada dalam plural, dan ini menunjukkan tiga atau lebih (dalam hal ini tentu ia memilih tiga, bukan lebih dari tiga) Stephen Tong, ‘Allah Tritunggal’, hal 28. 30


Pembahasan ini boleh jadi menarik tetapi sangat salah! Mengapa? Karena penjelasan ini tidak sesuai dengan grama-tika bahasa Ibrani. Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani: o

tidak ada kata benda yang mempunyai bentuk singular, dual dan plural. Kalau kata benda mempunyai bentuk singular dan dual, maka kata itu tidak mempunyai bentuk plural, dan kalau kata benda itu mempunyai bentuk singular dan plural, maka kata itu tidak mempunyai bentuk dual.

o

bentuk dual adalah bentuk plural dari kata benda yang biasanya ada dalam bentuk ganda / dobel, seperti tangan, kaki, telinga, dada, mata, dsb. Karena itu, kalau kita ingin mengatakan ‘tiga tangan’, maka kita tetap menggunakan bentuk dual, bukan bentuk plural, karena kata ‘tangan’ tidak mempunyai bentuk plural!

o

sebaliknya kalau kita mengatakan ‘dua meja’, maka kita tetap menggunakan bentuk plural, bukan bentuk dual, karena kata ‘meja’ tidak mempunyai bentuk dual. Demikian juga kalau kita mau berkata ‘dua allah’, maka kita tetap harus menggunakan bentuk plural ELOHIM, karena kata itu memang tidak mempunyai bentuk dual. Kesimpulan: tidak beralasan untuk mengatakan bahwa bentuk plural ELOHIM berarti tiga atau lebih! 2. Kata ‘ELOHIM’ mempunyai bentuk tunggal / singular yaitu ‘ELOAH’ yang digunakan antara lain dalam Ul 32:15-17 dan Hab 3:3. Tetapi dalam Perjanjian Lama kata ‘ELOAH’ hanya digunakan sebanyak 250 x, sedangkan kata ‘ELOHIM’ sekitar 2500 x. Penggunaan kata bentuk jamak / plural yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya ‘kejamakan dalam diri Allah’. Memang harus diakui bahwa ELOHIM sering dianggap sebagai bentuk tunggal, tetapi yang perlu dipertanyakan adalah: kalau memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digu-nakan ELOAH saja terus menerus? Mengapa digunakan ELO-HIM, dan lebih lagi, mengapa digunakan ELOHIM jauh lebih banyak dari ELOAH? Dalam persoalan ini, buku dari sekte Saksi Yehovah yang ber-judul ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’ membe-rikan suatu serangan yang bagus, yang saya kutip di bawah ini: "‘ELOHIM’ bukan berarti ‘pribadi-pribadi’, melainkan ‘allahallah’. Jadi mereka yang berkukuh bahwa kata ini menyatakan suatu Tritunggal menjadikan diri sendiri politeis, penyembah lebih dari satu Allah. Mengapa? Karena ini berarti ada tiga allah dalam Tritunggal" (hal 13). Untuk menjawab serangan ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

o

ELOHIM tidak boleh diartikan ‘Allah-Allah’, karena ini akan bertentangan dengan ayat-ayat yang menggunakan ELO-AH. Sedangkan ELOAH tidak boleh diartikan ‘Allah yang satu secara mutlak’, karena akan bertentangan dengan ayat-ayat yang menggunakan ELOHIM. Jadi untuk meng-harmoniskan ayat-ayat yang menggunakan ELOAH dengan ayat-ayat yang menggunakan ELOHIM, haruslah diartikan bahwa Allah itu tunggal dalam hakekatNya, tetapi jamak dalam pribadiNya.

o

Allah itu begitu besar, ajaib, dan ada diluar jangkauan akal manusia. Karena itu jelaslah bahwa tidak ada bahasa manu-sia (termasuk bahasa Ibrani), yang bisa menggambarkan Allah dengan sempurna. Tata bahasa dan kata-kata dari 31


bahasa Ibrani (atau bahasa lain apapun) tidak bisa meng-gambarkan bahwa Allah itu satu hakekat tetapi tiga pribadi. Kalau selalu digunakan kata bentuk tunggal (ELOAH), maka akan menunjuk pada Allah yang tunggal secara mutlak. Sedangkan kalau selalu digunakan bentuk jamak (ELOHIM), maka akan menunjuk pada banyak Allah. Karena itu maka ayat-ayat tertentu menggunakan ELOAH dan ayat-ayat ter-tentu menggunakan ELOHIM. b) Penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam hubungan-nya dengan Allah: o

Kata ganti orang bentuk jamak. Contoh: Kej 1:26 3:22 11:7. Ada yang mengatakan bahwa pada waktu Allah menggunakan ‘Kita’ dalam Kej 1:26, maka saat itu Ia berbicara kepada para malaikat. Jadi itu tidak menunjukkan ‘kejamakan dalam diri Allah’. Tetapi ini tidak mungkin, sebab kalau dalam Kej 1:26 diartikan bahwa ‘Kita’ itu menunjuk kepada Allah dan para malaikat, maka haruslah disimpulkan bahwa:

o

manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat.

o

Allah mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta / creator, maka malaikat adalah cocreator (= rekan pencipta). Disamping itu, kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menterjemahkan: "Whom shall I send and who will go for Us?" (= Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?). Catatan: Dalam Yes 6:8 ini, Kitab Suci bahasa Indonesia (baik terjemahan lama maupun baru) salah terjemahan!

o

Kata kerja dalam bentuk jamak. Contoh:

o

Kej 20:13 - kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.

o

Kej 35:7 - kata ‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.

o

2Sam 7:23 - kata ‘pergi’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.

o

Maz 58:12 - kata ‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak (sebetulnya ini bukan kata kerja tetapi participle). Padahal dalam ayat-ayat di atas ini, subyeknya adalah kata ‘ELOHIM’ yang digunakan untuk menyatakan Allah yang esa.

o

Kata-kata bentuk jamak lainnya seperti dalam:

o

Pengkhotbah 12:1 - kata ‘pencipta’ (creator), dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak, sehingga seharusnya terjemahannya adalah ‘creators’ (= pencipta-pencipta). 32


o

Maz 149:2 - kata-kata ‘yang menjadikannya’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak.

o

Yos 24:19 - dalam bahasa Ibraninya, kata ‘kudus’ ada dalam bentuk jamak, tetapi kata ‘cemburu’ ada dalam bentuk tunggal. Jadi, kalau dalam Yes 6:8 digunakan kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menunjuk kepada Allah, maka di sini digunakan kata sifat bentuk tunggal dan jamak terhadap diri Allah. c) Beberapa ayat dalam Kitab Suci membedakan Allah yang satu de-ngan Allah yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah).

o

Maz 45:7-8. Karena dalam ayat ini Kitab Suci Indonesia kurang tepat terjemahannya, mari kita lihat terjemahan NASB di bawah ini. Psalm 45:6-7 (NASB): "Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God, Thy God has anointed Thee" (= TahtaMu, Ya Allah, kekal selama-lamanya. Karena itu, Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau). Bandingkan dengan Ibr 1:8-9.

o

Maz 110:1. Juga untuk ayat ini perhatikan terjemahan NASB di bawah ini. Psalm 110:1 (NASB): "The LORD says to my Lord ..." (= TUHAN berkata kepada Tuhanku). Bandingkan dengan Mat 22:44-45.

o

Hos 1:7 (NASB): "But I will have compassion on the house of Judah and deliver them by the LORD their God, and will not deliver them by bow, sword, battle, horses, or horseman" (= Tetapi Aku akan berbelaskasihan kepada kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka dengan / oleh TUHAN Allah mereka, dan tidak akan menyelamatkan mereka oleh / dengan busur, pedang, pertempuran, kuda-kuda, atau penunggang-penunggang kuda).

o

Kej 19:24 - "Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit".

o

Amsal 8 berbicara tentang ‘hikmat Allah’. Kalau dilihat dari istilahnya, yaitu ‘hikmat Allah’ [the wisdom of God (= hikmat dari / milik Allah)], maka jelas bahwa ‘hikmat Allah’ ini tidak sama dengan Allah. Tetapi Amsal 8 ini lalu mempersonifikasikan ‘hikmat Allah’ itu dan menunjukkannya sebagai seorang pribadi yang bersifat kekal (Yesus). Dengan kata lain, hikmat Allah itu juga adalah Allah (bdk. 1Kor 1:24 "Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah").

o

Penampilan dari Malaikat TUHAN (Kej 16:2-13 22:11,16 31:11,13 48:15,16 Kel 3:2,4,5 Hak 13:20-22). Sama seperti istilah ‘hikmat Allah’ di atas, maka istilah ‘Malaikat TUHAN’ ini juga menunjukkan bahwa ‘Malaikat TUHAN’ (the Angel of the LORD) ini tidak sama dengan Allah. 33


Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri. Contoh: o

dalam Kej 16:7 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.

o

dalam Kej 16:13 - disebut sebagai TUHAN sendiri.

o

dalam Kej 22:11 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.

o

dalam Kej 22:12 - disebut sebagai Allah sendiri. Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah / TUHAN sendiri. d) Penggunaan nama ‘TUHAN’ (YAHWEH / YEHOVAH) 3 x berturut-turut dalam Bil 6:24-26 dan sebutan ‘kudus’ bagi Allah 3 x berturut-turut dalam Yes 6:3. Tidak anehkah bahwa ayat-ayat itu menyebutkan ‘TUHAN’ dan ‘kudus’ sebanyak 3 kali? Mengapa tidak 2 kali, atau 5 kali, atau 7 kali? Jelas karena ada hubungannya dengan Allah Tritunggal! e) Kata ‘esa / satu’ yang digunakan dalam Ul 6:4, dalam bahasa Ibraninya adalah ECHAD. Orang Saksi Yehovah mengatakan bahwa kata ECHAD ini berarti ‘satu yang mutlak’ dan tidak mengandung kejamakan. Untuk itu perhatikan kutipan dari buku mereka yang berjudul ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’,hal 13, di bawah ini: "Kata-kata tersebut terdapat dalam Ulangan 6:4. New Jerusalem Bible (NJB) Katolik berbunyi: ‘Dengarlah Israel: Yahweh Allah kita adalah esa, satu-satunya Yahweh’. Dalam tatabahasa dari ayat itu kata ‘esa’ tidak mengandung sifat jamak untuk menyatakan bahwa kata itu mempunyai arti yang lain, yaitu bukan satu pribadi". Tetapi pandangan Saksi Yehovah ini justru salah, dan mereka mendukung kesalahannya itu dengan mengutip suatu versi Alkitab yang justru salah terjemahan! (Catatan: taktik menggunakan versi Kitab Suci yang terjemahannya salah sehingga sesuai dengan pandangan mereka adalah taktik yang sering sekali dipakai oleh orang-orang Saksi Yehovah). Bahwa kata ECHAD ini sering berarti ‘satu gabungan / a compound one’, bukan ‘satu yang mutlak / an absolute one’, bisa terlihat dari contoh-contoh di bawah ini:

o

Kej 1:5 - gabungan dari petang dan pagi membentuk satu (ECHAD) hari.

o

Kej 2:24 - Adam dan Hawa menjadi satu (ECHAD) daging.

o

Ezra 2:64 - seluruh jemaat itu satu (ECHAD) tapi terdiri dari banyak orang (Catatan: ini hanya bisa terlihat dalam bahasa Ibraninya).

o

Yeh 37:17 - dua papan digabung menjadi satu (ECHAD) papan. 34


Sebetulnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘satu yang mutlak’ atau ‘satu-satunya’. Kata itu adalah YACHID. Contoh: Kej 22:2,16. Kalau Musa memang mau menekankan tentang ‘kesatuan yang mutlak’ dari Allah dan bukannya ‘kesatuan gabungan’ (a compound unity), maka dalam Ul 6:4 itu ia pasti menggunakan kata YACHID dan bukannya ECHAD. Tetapi ternyata Musa menggunakan kata ECHAD, dan ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada kejamakan dalam diri Allah. f) Pdt Stephen Tong dalam seminar dan buku ‘Allah Tritunggal’ (hal 82), menggunakan Kej 1:1-3 sebagai dasar dari Tritunggal, karena dalam Kej 1:1 ada ‘Allah’ (Bapa), dalam Kej 1:2 ada ‘Roh Allah’ (Roh Kudus), dan dalam Kej 1:3 ada kata ‘berfirmanlah’ dan kata ‘firman’ ini diartikan sebagai Yesus (bdk. Yoh 1:1,14). Tetapi saya tidak setuju dengan penafsiran ini, karena saya ber-pendapat bahwa sekalipun kata ‘Firman’ dalam Yoh 1:1,14 menun-juk kepada Yesus, tetapi tidak setiap kata ‘firman’ dalam Kitab Suci menunjuk kepada Yesus. Biasanya kata ‘firman’ menunjuk kepada ‘kata-kata Allah’, termasuk dalam Kej 1:3. Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari berhubung dengan sebutan ‘Firman’ bagi Yesus: o

Kata ‘Firman’ hanya menunjuk kepada Yesus dalam Yoh 1:1,14 1Yoh 1:1 Wah 19:13 (Catatan: ada yang berpendapat bahwa Luk 1:2 juga termasuk, tetapi saya tidak sependapat dengan ini). Dalam bagian-bagian Kitab Suci yang lain, kata ‘Firman’ menunjuk pada ‘kata-kata Allah’, dan tidak menunjuk kepada Yesus!

o

Mengapa Yesus disebut ‘Firman / Word’?

o

karena ‘Word / Kata’ berfungsi untuk menyatakan diri kita, pikiran kita, kehendak kita, dan apa yang ada dalam diri kita kepada orang lain. Yesus disebut ‘Word / Kata’, karena Ia menyatakan Allah, pikiran Allah, kehendak Allah kepada kita (bdk. ay 18 Mat 11:27 Ibr 1:1).

o

karena Yesus merupakan subyek utama dalam Kitab Suci, yang merupakan Firman yang tertulis.

2) Dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang lebih jelas tentang pri-badi-pribadi yang berbeda dalam diri Allah. a) Kalau dalam Perjanjian Lama YAHWEH / YEHOVAH disebut seba-gai Penebus dan Juruselamat (Maz 19:15 78:35 Yes 43:3,11,14 47:4 49:7,26 60:16), maka dalam Perjanjian Baru, Anak Allah / Yesuslah yang disebut demikian (Mat 1:21 Luk 1:76-79 Luk 2:11 Yoh 4:42 Gal 3:13 4:5 Tit 2:13). b) Kalau dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa YAHWEH / YEHOVAH tinggal di antara bangsa Israel dan di dalam hati orang-orang yang takut akan Dia (Maz 74:2 Maz 135:21 Yes 8:18 Yes 57:15 Yeh 43:7,9 Yoel 3:17,21 Zakh 2:10-11), maka dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Roh Kuduslah yang mendiami Gereja / orang percaya (Kis 2:4 Ro 8:9,11 1Kor 3:16 Gal 4:6 Ef 2:22 Yak 4:5). c) Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang jelas tentang Allah yang mengutus AnakNya ke dalam dunia (Yoh 3:16 Gal 4:4 Ibr 1:6 1Yoh 4:9), dan tentang Bapa dan Anak yang mengutus Roh Kudus (Yoh 14:26 15:26 16:7 Gal 4:6). 35


d) Dalam Perjanjian Baru kita melihat Bapa berbicara kepada Anak (Mark 1:11) dan Anak berbicara kepada Bapa (Mat 11:25-26 26:39 Yoh 11:41 12:27) dan Roh Kudus berdoa kepada Allah dalam hati orang percaya (Ro 8:26). e) Dalam Perjanjian Baru kita melihat ketiga pribadi dalam diri Allah disebut dalam satu bagian Kitab Suci (Mat 3:16-17 Mat 28:19 1Kor 12:4-6 2Kor 13:13 1Pet 1:2 Wah 1:4-5). Untuk ini ada komentar / serangan dari orang Saksi Yehovah dalam buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’: o

"Apakah ayat-ayat ini menyatakan bahwa Allah, Kristus, dan roh kudus membentuk suatu Keilahian Tritunggal, bahwa ketiganya sama dalam bentuk, kekuasaan, dan kekekalan? Tidak, tidak demikian, sama halnya menyebutkan tiga orang, seperti Amir, Budi dan Bambang, tidak berarti bahwa mereka tiga dalam satu" (hal 23).

o

"Ketika Yesus dibaptis, Allah, Yesus, dan roh kudus juga disebutkan dalam konteks yang sama. Yesus ‘melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya’ (Matius 3:16). Tetapi, ini tidak berarti bahwa ketiganya adalah satu. Abraham, Ishak, dan Yakub banyak kali disebutkan bersama-sama, tetapi hal itu tidak membuat mereka menjadi satu. Petrus, Yakobus dan Yohanes disebutkan bersama-sama, tetapi itu tidak membuat mereka menjadi satu juga" (hal 23). Kita bisa menjawab serangan ini dengan berkata:

o

Jelas bahwa doktrin Allah Tritunggal tidak bisa didapatkan selu-ruhnya hanya dari ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat itu hanyalah salah satu dasar dari doktrin Allah Tritunggal, sehingga kalau kita hanya menyoroti ayat-ayat itu saja, maka mungkin sekali memang tidak bisa dihasilkan doktrin Allah Tritunggal!

o

Memang adanya tiga nama yang disebutkan bersama-sama tidak membuktikan bahwa mereka itu satu. Bahkan tidak selalu membuktikan / menunjukkan bahwa mereka setingkat. Tetapi kadang-kadang hal itu memang bisa menunjukkan bahwa mereka itu setingkat. Itu tergantung dari kontexnya; dan karena itu harus dipertanyakan: dalam situasi dan keadaan apa ketiga orang itu disebutkan bersama-sama? Dalam ayat-ayat di atas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan dalam kontex yang sakral, seperti formula baptisan (Mat 28:19), berkat kepada gereja Korintus (2Kor 13:13), baptisan Yesus (Mat 3:16-17), dsb. Karena itu ayat-ayat itu bisa dipakai sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat.

o

Dalam Mat 28:19 dikatakan ‘dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus’. Sesuatu yang menarik adalah: sekalipun disini disebutkan 3 buah nama, tetapi kata ‘nama’ itu ada dalam bentuk tunggal, bukan bentuk jamak! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name, bukan names. Karena itu ayat ini bukan hanya menun-jukkan bahwa ketiga Pribadi itu setingkat, tetapi juga menun-jukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu!

Catatan: Ada satu ayat Kitab Suci / Perjanjian Baru yang berbicara tentang kesatuan dari tiga pribadi Allah itu, yaitu 1Yoh 5:7-8 yang berbunyi: "Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu". 36


Tetapi perlu diketahui bahwa ayat ini, pada bagian yang ada dalam tanda kurung, sangat diragukan keasliannya dan dianggap sebagai suatu penambahan pada text asli Kitab Suci. Persoalannya, ada banyak manuscript yang tidak mempunyai bagian ini. Dan manuscript-manuscript yang mempunyai bagian ini hanyalah manuscriptmanuscript yang kurang bisa dipercaya. Karena itu, dalam beberapa Kitab Suci Bahasa Inggris, seperti NIV dan NASB, bagian ini bahkan dihapuskan dari text Kitab Suci dan hanya diletakkan pada footnote (= catatan kaki). Dalam berdebat / berdiskusi dengan orang-orang Saksi Yehovah ten-tang Allah Tritunggal, jangan menggunakan bagian ini sebagai dasar dari Allah Tritunggal, karena: o

o o

o

Pada umumnya orang-orang Saksi Yehovah, yang terkenal ‘ahli’ dalam hal menyerang doktrin Allah Tritunggal, mengetahui bahwa ayat itu sangat diragukan keasliannya. Jadi kalau saudara meng-gunakan ayat itu, itu bisa justru menjadi bumerang bagi saudara! Tidak fair bagi kita untuk menggunakan ayat yang kita tahu ke-tidak-orisinilannya. Dalam perang melawan setan, Firman Tuhan adalah senjata (pedang Roh) bagi kita (Ef 6:17). Kalau bagian ini sebetulnya tidak termasuk dalam Kitab Suci, maka itu berarti bahwa bagian itu juga bukan merupakan Firman Tuhan, dan karenanya tidak cocok untuk kita gunakan sebagai senjata. Ada cukup banyak dasar Kitab Suci yang lain yang mendukung doktrin Allah Tritunggal. 3) Keilahian Yesus dan Roh Kudus. Bukti-bukti keilahian Yesus: a) Kitab Suci secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5 Yoh 1:1 Roma 9:5 Fil 2:5b-7 Titus 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20). Beberapa dari ayat-ayat ini saya jelaskan di bawah ini: 1. Yoh 1:1. Kata ‘Firman’ (bahasa Yunani: LOGOS) disini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya sebagai ‘Anak Tunggal Allah’. Dan Yoh 1:1 ini secara explicit mengatakan bahwa Firman / Yesus itu adalah Allah. Tetapi orang-orang Saksi Yehovah mengatakan bahwa kata ‘God / Allah’ yang ditujukan kepada Yesus dalam Yoh 1:1 ini tidak mempunyai definite article / kata sandang (bahasa Inggris: ‘the’) dan karena itu harus diartikan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’ yang lebih rendah dari YEHOVAH, yang adalah Allah yang sesungguhnya. Terhadap penafsiran orang-orang Saksi Yehovah ini perlu kita tunjukkan bahwa dalam Tit 2:13 dan Ibr 1:8 kata ‘Allah’ yang ditujukan kepada Yesus dalam bahasa Yunaninya mengguna-kan definite article / kata sandang. 2. Tit 2:13 (NIV): ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus). Jadi terlihat dengan jelas bahwa disini Yesus Kristus disebut dengan sebutan ‘our great God and Savior’ (= Allah kita yang besar dan Juruselamat kita). 37


3. Fil 2:6-7 berbunyi sebagai berikut: "... Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia". Sebetulnya istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ sudah secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi disini akan dijelaskan hal-hal lain sehingga ayat ini menjadi dasar yang lebih kuat lagi bagi keilahian Kristus. o

Kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ dalam Fil 2:6 diterjemahkan ‘being in the form of God’ oleh KJV. Kata ‘being’ itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah (‘It describes that which a man is in his very essence and which cannot be changed’). Ketidak-bisa-berubahan ini ditunjukkan oleh bentuk present participle dari kata HUPARCHON tersebut. Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk aorist (= past / lampau) pada kata-kata setelahnya, dan ini menunjuk pada ‘continuance of being’ (= keberadaan yang terus-menerus). Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah dan ini tak bisa berubah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28 Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna!

o

Juga kalau ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

o

Disamping itu kata ‘rupa’ dalam ay 6 itu (KJV: form) dalam bahasa Yunaninya adalah MORPHE, dan seorang penafsir mengatakan bahwa kata MORPHE ini adalah "not a mere external resemblance, but a deep, real, inner conformity" (= bukan semata-mata suatu kemiripan lahiriah / luar, tetapi suatu persesuaian / kecocokan di dalam yang mendalam dan sungguh-sungguh). 4. 2Pet 1:1 (NASB): "... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ" (= oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus). b) Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus (Yes 9:5 Yer 23:5-6 Yer 33:14-16 Mat 1:23 2Tim 1:10 Ibr 1:8,10). 1. Yes 9:5 jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat itu Ia disebut sebagai ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR). Tetapi orang-orang Saksi Yehovah menyerang ayat ini dengan berkata bahwa Kristus hanya disebut ‘Allah yang perkasa’, sedangkan YAHWEH / YEHOVAH disebut sebagai ‘Allah yang mahakuasa’ (Ibrani: EL SHADDAI) seperti dalam Kel 17:1.

38


Untuk menjawab serangan ini kita bisa melihat Yes 10:21 yang menyebut Allah / YAHWEH / YEHOVAH dengan sebutan ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR). 2. Yer 23:5-6 dan Yer 33:14-16 juga jelas merupakan nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat-ayat itu Kristus disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah YAHWEH / YEHOVAH. Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi orang-orang Saksi Yehovah karena dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut dengan sebutan YAHWEH / YEHOVAH. Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci kata Ibrani ‘ADONAI’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes 21:8). Demikian juga dengan kata Ibrani ‘EL / ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau kata Yunani THEOS, bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel 4:16 Kel 7:1 Kel 12:12 Kel 20:3,23 Hakimhakim 16:23-24 1Raja-raja 18:27 Maz 82:1,6 Kis 28:6). Tetapi sebutan YAHWEH / YEHOVAH (= TUHAN / LORD) tidak pernah digunakan untuk siapapun / apapun selain Allah! Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YAHWEH / YEHOVAH, itu pasti menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri. 3. Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah Immanuel, yang artinya adalah ‘God with us’ (= Allah dengan kita). 4. Dalam Perjanjian Lama, sebutan ‘Juruselamat’ dan ‘Penebus / Penolong’ ditujukan kepada Allah (Yes 43:3,11 Yes 45:15 Yer 14:8 Hos 13:4), tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim 1:10 Tit 1:4 Tit 2:13 Tit 3:6 2Pet 1:11 2Pet 2:20 2Pet 3:18). 5. Dalam Ibr 1:8,10 Allah menyebut Yesus / Anak dengan sebutan ‘Allah’ dan ‘Tuhan’. c) Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti: 1. Kekal (Mikha 5:1b Yoh 1:1 Yoh 8:58 Yoh 10:10 Yoh 17:5 Ibr 1:1112 Wah 1:8,17-18 Wah 22:13). o

Mikha 5:1b, yang jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, mengatakan ‘yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala’.

o

Yoh 1:1 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu sudah ada ‘pada mulanya’.

o

Yoh 8:58 mengatakan bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham, padahal Abraham hidup lebih dari 2000 tahun sebelum Kristus lahir.

o

Yoh 10:10, dan banyak ayat Kitab Suci yang lain, mengatakan bahwa Yesus ‘datang’. Ini menunjuk pada saat kelahiran Yesus. Tidak dikatakan ‘dilahirkan’ tetapi ‘datang’, karena ‘datang’ menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

o

Yoh 17:5 mengatakan bahwa Yesus memiliki kemuliaan di hadapan hadirat Allah sebelum dunia ada.

o

Ibr 1:11-12.

39


Perhatikan kata-kata ‘semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada. ... tetapi Engkau tetap sama, dan tahuntahunMu tidak berkesudahan’. Bahwa bagian ini menunjuk kepada Yesus adalah sesuatu yang jelas, karena Ibr 1:10-12 merupakan sambungan dari Ibr 1:8-9 (dihubungkan oleh kata ‘dan’ pada awal Ibr 1:10), dan Ibr 1:8 berkata ‘tentang Anak’. o

Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai Alfa dan Omega (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani), dan Wah 1:17 dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah ‘Yang Awal dan Yang Akhir’, dan Wah 22:13 juga mengata-kan bahwa Yesus adalah ‘Yang pertama dan Yang terkemudian’, dan semua ini jelas menunjukkan bahwa Ia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Lalu Wah 1:18 mengatakan bahwa Ia hidup sampai selama-lamanya. 2. Suci / tak berdosa (2Kor 5:21 Ibr 4:15). 3. Mahakuasa. Mujijat-mujijat yang Ia lakukan, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang lebih dengan 5 roti dan 2 ikan, menenangkan badai, mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, mengusir setan, dsb, menunjukkan kemahakuasaannya. Memang nabi-nabi dan rasul-rasul tertentu juga melakukan banyak mujijat, tetapi ada beberapa perbedaan:

o

Tak ada nabi / rasul yang bisa melakukan mujijat sesuai kehendaknya sendiri, tetapi Kristus bisa (Yoh 5:21).

o

Nabi melakukan mujijat bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Allah, sedangkan rasul juga demikian karena mereka melakukan mujijat dengan menggunakan nama Yesus. Tetapi Yesus melakukan mujijat dengan kuasaNya sendiri (bdk. Yoh 10:18), dan Ia tidak pernah menggunakan nama orang lain untuk melakukan mujijat.

o

Tidak ada seorangpun pernah melakukan mujijat sebanyak / sehebat yang Yesus lakukan (Yoh 15:24). 4. Mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh 2:24-25 Yoh 6:64). 5. Mahaada.

o

Ini terlihat dari Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan Bapa. Ini dinyatakan oleh bentuk present tense. Yoh 1:18 (NIV): "... but God the only Son, who is at the Father’s side ...".

o

Kemahaadaan Yesus juga jelas terlihat dari janji yang Ia berikan dalam Mat 18:20 dan Mat 28:20b. Dengan adanya janji seperti itu, kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti adalah seorang pendusta! 6. Tidak berubah (Ibr 13:8). d) Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan ilahi seperti: 40


1. Penciptaan (Yoh 1:3,10 Kol 1:16 Ibr 1:2,10). 2. Pengampunan dosa (Mat 9:2-7). 3. Penghancuran segala sesuatu (Ibr 1:10-12). 4. Pembaharuan segala sesuatu (Fil 3:21 Wah 21:5). 5. Penghakiman pada akhir jaman (Mat 25:31-32 Yoh 5:22,27). Bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, menunjukkan bahwa Ia juga adalah Allah sendiri. Mengapa? o

Jumlah manusia yang pernah hidup dalam dunia ini sejak dari jaman Adam dan Hawa sampai kedatangan Kristus yang keduakalinya adalah begitu banyak. Kalau Kristus bukanlah Allah sendiri, bagaimana mungkin Ia bisa menghakimi begitu banyak manusia itu dengan adil?

o

Karena ada begitu banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjatuhkan hukuman kepada orang-orang berdosa (ingat bahwa neraka bukanlah semacam ‘masyarakat komunis’ dimana hukuman semua orang sama), seperti: 

banyaknya dosa yang dilakukan seseorang. Orang yang dosanya sedikit tentu tak bisa disamakan hukumannya dengan orang yang dosanya banyak.



tingkat dosanya. Misalnya, dosa membunuh dan mencuri tentu tidak sama hukumannya (bdk. Kel 21:12 dan Kel 22:1). o

tingkat pengetahuannya. Makin banyak pengetahuan Firman Tuhan yang dimiliki seseorang, makin berat hukumannya kalau ia berbuat dosa (Luk 12:47-48).

o

kesengajaannya. Dosa sengaja dan tidak sengaja tentu juga berbeda hukumannya (Kel 21:12-14).

o

pengaruh dosa yang ditimbulkan. Kalau seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja berbuat dosa, maka pengaruh negatif yang ditimbulkan akan lebih besar dari pada kalau orang kristen biasa berbuat dosa. Dan karena itu hukumannya juga lebih berat. Hal ini bisa terlihat dari kata-kata Yesus yang menunjukkan bahwa para ahli Taurat pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Mark 12:40b Luk 20:47b).

o

apa yang menyebabkan seseorang berbuat dosa. Seseorang yang mencuri tanpa ada pencobaan yang terlalu berarti tentu lebih berat dosanya dari pada orang yang mencuri karena membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang hampir mati. Hal ini bisa terlihat dari 41


ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang-orang yang melakukan dosa tanpa sebab / alasan, seperti dalam Maz 35:19 Maz 69:5 Maz 119:78,86. Juga dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang yang mencintai / mencari dosa, seperti Maz 4:3. o

Demikian juga pada saat mau memberi pahala kepada orang-orang yang benar, pasti ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti: 

banyaknya perbuatan baik yang dilakukan.



jenis perbuatan baik yang dilakukan.



besarnya pengorbanan pada waktu melakukan perbuat-an baik. Yesus berkata bahwa janda yang memberi 2 peser memberi lebih banyak dari semua orang kaya yang memberi persembahan besar, karena janda itu memberikan seluruh nafkahnya (Luk 21:1-4).



motivasinya dalam melakukan perbuatan baik itu, dsb. Untuk bisa melakukan semua ini dengan benar, maka Hakim itu haruslah seseorang yang maha tahu, maha bijaksana dan maha adil, dan karena itu Ia harus adalah Allah sendiri! Karena itu adalah sesuatu yang aneh kalau ada orang-orang yang percaya bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, tetapi tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah sendiri!

e) Kitab Suci memberikan kehormatan ilahi kepada Yesus seperti: 1. Penghormatan (Yoh 5:23). 2. Kepercayaan (Yoh 14:1). 3. Pengharapan (1Kor 15:19). 4. Penyejajaran namaNya dengan pribadi-pribadi lain dari Allah Tritunggal (Mat 28:19 2Kor 13:13). f) KesatuanNya dengan Bapa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11, jelas menunjukkan keilahian Yesus. g) Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Allah / Anak Allah (Yoh 5:23 Yoh 10:30 Yoh 14:7-10 Yoh 15:23 Mat 26:63-64). Catatan: pengakuan sebagai Anak Allah, tidak perlu dibedakan dengan pengakuan sebagai Allah. Untuk itu lihat Yoh 5:18 yang berbunyi: "Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah". Memang kalau seseorang mengaku bahwa dirinya adalah Allah / Anak Allah, itu tidak / belum berarti bahwa ia memang betul-betul adalah Allah. Bisa saja bahwa ia adalah seorang pendusta. Tetapi Yesus bukan hanya mengaku bahwa diriNya adalah Allah / Anak Allah, tetapi Ia juga rela mati demi pengakuan tersebut! Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan keilahian Yesus dengan cara sebagai berikut: 42


Yesus = Allah / Anak Allah

Tidak benar Benar

Tahu Tidak tahu

Pendusta Orang gila Allah / Anak Allah Orang tolol

Keterangan: Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan Ia mau mati untuk pengakuan itu. Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau BENAR. Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi yaitu: Yesus TAHU bahwa penga-kuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU bahwa pengaku-anNya tidak benar. Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk suatu dusta). Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa yang Ia sendiri katakan. Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH / ANAK ALLAH. Jadi sekarang, hanya ada beberapa pilihan untuk saudara: o

Yesus adalah pendusta / orang tolol.

o

Yesus adalah orang gila.

o

Yesus betul-betul adalah Allah / Anak Allah. Yang mana yang menjadi pilihan saudara? C.S. Lewis berkata: "A man who was merely a man and said the sort of things Jesus said wouldn’t be a great moral teacher. He’d either be a lunatic ... or else he’d be the Devil of Hell. You must make your choice. Either this man was, and is, the Son of God, or else a madman or something worse" (= seseorang yang adalah semata-mata seorang manusia dan mengucapkan hal-hal seperti yang Yesus katakan, bukanlah seorang guru moral yang agung. Atau ia adalah seorang gila ... atau ia adalah Iblis dari Neraka. Kamu harus menentukan pilihanmu. Atau orang ini adalah Allah, baik dulu maupun sekarang, atau ia adalah orang gila atau sesuatu yang lebih jelek lagi). h) Setan mengakui bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah dan setan tunduk kepada Yesus (Mat 8:28-32). i) Kitab Suci memerintahkan penyembahan terhadap Yesus. 43


Dalam Ibr 1:6 Allah sendiri berkata bahwa malaikat-malaikat harus menyembah Anak / Yesus. Yesus sendiri mau disembah dan disebut Tuhan / Allah (Mat 14:33 Mat 28:9,17 Yoh 9:38 Yoh 20:28), padahal Yesus sendiri berkata bahwa kita hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10). Perhatikan juga bahwa: o

rasul-rasul menolak sembah (Kis 10:25-26 Kis 14:14-18).

o

malaikatpun menolak sembah, dan berusaha mengalihkan sem-bah itu kepada Allah (Wah 19:10 Wah 22:8-9).

o

Herodes dihukum mati oleh Tuhan karena menerima penghormatan ilahi (Kis 12:20-23). Karena itu, kalau Yesus menerima sembah, dan bahkan menerima sebutan Tuhan / Allah bagi diriNya, maka hanya ada 2 pilihan: atau Dia adalah orang yang kurang ajar / nabi palsu, atau Dia adalah Allah sendiri! Yang mana yang saudara pilih?

Bukti-bukti keilahian Roh Kudus: a) Kitab Suci menggunakan sebutan Roh Kudus dan Allah / Tuhan (ADONAI) / TUHAN (Yahweh) secara interchangeable (= bisa dibolak-balik). Contoh: 1. Bandingkan Yes 6:8-10 dengan Kis 28:25-27: Yes 6:8-10 - "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’. Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!’. Kemudian firmanNya: ‘Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguhsungguh, tetapi mengerti: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya lalu berbalik dan menjadi sembuh’". Kis 28:25-27 - "Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan perkataan yang satu ini: ‘Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya: Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka’". Kalau kita membandingkan 2 bagian Kitab Suci di atas, maka jelas terlihat bahwa apa yang dikatakan Paulus dalam Kis 28:25-27 itu ia kutip dari Yes 6:8-10. Tetapi dalam Yes 6:8-10 itu dikatakan bahwa itu adalah ‘suara Tuhan’ kepada nabi Yesaya, sedangkan dalam Kis 28:2527 itu Paulus berkata bahwa ‘firman itu disampaikan oleh Roh Kudus’ dengan per-antaraan nabi Yesaya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan sendiri! 44


2. Bandingkan Ibr 3:7-11 dengan Maz 95:7b-11 dan Kel 17:1-7: Ibr 3:7-11 - "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalanKu, sehingga Aku bersumpah dalam murkaKu: Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu’". Karena kata-kata dalam Ibr 3:7-11 ini merupakan kata-kata Roh Kudus, maka kata-kata ‘mencobai Aku’ berarti ‘mencobai Roh Kudus’. Kalau sekarang kita melihat dalam Maz 95:7b-11, yang hampir-hampir identik dengan Ibr 3:7-11 tadi, maka bisa kita dapatkan dari Maz 95:8 bahwa itu adalah peristiwa yang terjadi di Masa dan Meriba. Dan peristiwa Masa dan Meriba itu diceritakan dalam Kel 17:1-7. Sekarang perhatikan Kel 17:7 yang berbunyi: "Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: ‘Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?’". Jadi disini dipakai istilah ‘mencobai TUHAN (Yahweh)’, padahal tadi dalam Ibr 3:7-11 dikatakan bahwa mereka ‘mencobai Roh Kudus’. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah TUHAN (Yahweh)! 3. Bandingkan Ibr 10:15-17 dengan Yer 31:33-34. Ibr 10:15-17 - "Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah Ia berfirman: ‘Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,’ Ia berfirman pula: ‘Aku akan menaruh hukumKu di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.’" Yer 31:33-34 - "Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka". Jelas terlihat bahwa Ibr 10:16-17 merupakan kutipan sebagian (tidak seluruhnya) dari Yer 31:33,34. Tetapi dalam Yer 31 dikatakan bahwa kata-kata itu diucapkan oleh TUHAN / Yahweh (perhatikan kata-kata ‘firman TUHAN’ dalam Yer 31:31,32c,34b). Sedangkan dalam Ibr 10:15-17 dikatakan bah-wa itu merupakan ‘kesaksian / firman Roh Kudus’ (Ibr 10:15b,16b). Disamping itu, dalam Yer 31 itu, yang mengadakan perjanjian, yang menaruh Taurat dalam batin umatNya, dan yang mengam-puni / tidak mengingat dosa umatNya, adalah TUHAN / Yahweh sendiri. Sedangkan dalam Ibr 10:15-17, yang mengadakan per-janjian, yang 45


menaruh hukum dalam hati, dan yang mengam-puni / tidak mengingat dosa, adalah Roh Kudus. Juga perlu diperhatikan bahwa Roh Kudus dikatakan ‘tidak mengingat dosa’. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus mempu-nyai kuasa untuk mengampuni dosa. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah TUHAN / Yahweh sendiri! 4. Sekarang mari kita melihat pada Kis 5:3-4,9 yang berbunyi sebagai berikut: "Tetapi Petrus berkata: 'Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah. ... Kata Petrus: ‘Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?’". Perhatikan bahwa kalau dalam Kis 5:3 Petrus berkata bahwa Ananias ‘mendustai Roh Kudus’, maka dalam Kis 5:4 Petrus berkata bahwa Ananias ‘mendustai Allah’. Lalu dalam Kis 5:9 Petrus berkata bahwa mereka ‘mencobai Roh Tuhan’. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah! 5. Dalam 1Kor 3:16 Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah ‘bait Allah’ (= rumah Allah), tetapi anehnya ia melanjutkan dengan kata-kata ‘dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu’. Kalau memang tubuh kita adalah bait / rumah Allah, maka itu seha-rusnya berarti bahwa Allahlah yang tinggal di dalam tubuh kita. Tetapi Paulus mengatakan Roh Allah (= Roh Kudus) yang tinggal di dalam kita. Dan kalau kita melihat dalam 1Kor 6:19 maka di sana Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah ‘bait Roh Kudus’. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah Allah! 6. Dengan cara yang sama, kalau kita membandingkan Yes 40:13 dengan Yes 40:14 maka bisa kita simpulkan bahwa ‘Roh TU-HAN’ dalam Yes 40:13 itu adalah ‘TUHAN’ dalam Yes 40:14. b) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai sifat-sifat Allah seperti: 1. Kekal (Ibr 9:14). 2. Mahaada (Maz 139:7-10). 3. Mahatahu (1Kor 2:10-11 Yes 40:13). 1Kor 2:10-11 yang menunjukkan bahwa Roh Kudus itu tahu apa yang ada dalam diri Allah, jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus itu mahatahu! 4. Mahakuasa (Mat 12:28). 5. Suci. 46


Ini terlihat dari sebutan ‘kudus’, dan juga terlihat dari Ef 4:30 yang menunjukkan bahwa dosa kita mendukakan Roh Kudus. c) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus melakukan pekerjaanpekerjaan ilahi seperti: 1. Penciptaan (Kej 1:2 Ayub 33:4). 2. Melahirbarukan (Yoh 3:5-6 Tit 3:5). 3. Membangkitkan Yesus (Ro 8:11). d) Nama Roh Kudus ditempatkan dalam posisi yang sejajar dengan nama Bapa dan Anak, seperti dalam Mat 28:19 dan 2Kor 13:13. Perlu saudara ingat bahwa dalam Mat 28:19 nama Bapa, Anak dan Roh Kudus disejajarkan bukan dalam sembarang peristiwa, tetapi dalam formula baptisan. Adalah aneh, bahkan tidak masuk akal, kalau Yesus memerintahkan supaya seseorang dibaptis dalam nama Bapa (yang adalah Allah), Anak (yang juga adalah Allah), dan Roh Kudus (yang bukan Allah, bahkan bukan pribadi). Demikian juga dalam 2Kor 13:13 Paulus menyejajarkan Yesus, Allah (Bapa) dan Roh Kudus, bukan dalam peristiwa sembarangan, tetapi pada saat ia memberi berkat kepada gereja Korintus. Karena itu bisa disimpulkan bahwa dalam 2 ayat tersebut, penyejajaran Bapa, Anak dan Roh Kudus menunjukkan bahwa 3 pribadi itu setingkat! Dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri! Bahwa Yesus dan Roh Kudus juga adalah Allah, sebagaimana Bapa adalah Allah, jelas menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah.

Kesimpulan: Dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah dan juga ada ayat-ayat yang menunjukkan ‘kejamakan Allah’. Inilah yang menye-babkan munculnya doktrin Allah Tritunggal, yang merupakan satu-satunya jalan untuk mengharmoniskan kedua grup ayat tersebut. Sekarang, bagi kita hanya ada 2 pilihan: a) Menerima doktrin Allah Tritunggal yang mengharmoniskan kedua golongan ayat tersebut. b) Menolak doktrin Allah Tritunggal, dan ini berarti kita harus menghadapi kontradiksi yang tidak mungkin bisa diharmoniskan dalam Kitab Suci! Yang mana yang menjadi pilihan saudara?

IV) Ajaran-ajaran sesat tentang Allah Tritunggal. 1) Monarchianism. a) Dynamic Monarchianism. Mengajarkan bahwa Kristus hanyalah manusia biasa yang diberi kuasa illahi dan diangkat ke posisi illahi. Jadi, Ia mengalami kemajuan dari manusia biasa menjadi ‘semacam Allah’. Pandangan ini juga disebut Adoptionism. Tentang Roh Kudus mereka berpendapat bahwa Ia hanyalah suatu pengaruh illahi. b) Modalistic monarchianism (Sabellianism).

47


Mengajarkan bahwa di dalam diri Allah tidak ada perbedaan-perbedaan. Allah bukannya mempunyai 3 pribadi yang berbeda, tetapi 3 perwujudan. Dalam penciptaan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam penebusan sebagai Anak, dan dalam pengudusan sebagai Roh Kudus. Mereka membuang kemanusiaan Tuhan Yesus dengan berkata bahwa di dalam Kristus, Allah Bapa sendiri telah berinkarnasi sebagai Anak dan menderita. Karena itu pandangan ini juga disebut Patripassianism. 2) Arianism. Ajaran ini menyangkal keillahian Anak dan Roh Kudus. Anak adalah ciptaan yang pertama dari Bapa, jadi Anak mempunyai awal, berbeda hakekat dengan Bapa dan lebih rendah tingkatnya daripada Bapa (dalam hal hakekatnya!). Roh Kudus adalah ciptaan yang pertama dari Anak dan lebih rendah tingkatnya daripada Anak. Ini ajaran yang sekarang menjadi Saksi Yehovah! 3) Tritheism. Ajaran ini menekankan kejamakan / ketigaan Allah dengan mengorban-kan kesatuanNya, sehingga menimbulkan adanya 3 Allah.

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

The eternal generation & procession I) The eternal generation of the Son. 1) Arti kata. o o

‘to generate’ = memperanakkan, memproduksi keturunan. ‘generation’ = tindakan memperanakkan.

2) Definisi dari doktrin ini: a) Hal ini adalah suatu tindakan yang tidak bisa tidak dilakukan oleh Allah (It is a necessary act of God). b) Ini merupakan tindakan kekal dari Allah. Dengan kata lain, hal ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh Allah Bapa di masa yang lalu, tetapi merupakan tindakan yang dilakukan secara terus-menerus. 48


Herman Bavinck: "It is not to be regarded as having been completed once for all in the past, but it is an act eternal and immutable, eternally finished yet continuing forevermore. As it is natural for the sun to give light and for the fountain to pour forth water, so it is natural for the Father to generate the Son" (= Hal itu tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang telah diselesaikan sekali dan selamanya pada waktu lampau, tetapi merupakan suatu tindakan yang kekal dan abadi, diselesaikan secara kekal tetapi berlangsung selama-lamanya. Sebagaimana adalah alamiah bagi matahari untuk memberikan sinar dan bagi mata air untuk mengeluarkan air, begitu pula adalah alamiah bagi Bapa untuk memperanakkan Anak) -’The Doctrine of God’, hal 309. Illustrasi / analogi yang dipakai oleh Bavinck di sini adalah sangat penting. ‘Bapa memperanakkan Anak’ merupakan suatu tindakan yang sudah selesai, tetapi terus berlangsung secara kekal. Analoginya adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Matahari itu sudah selesai memancarkan sinarnya, tetapi hal itu tetap berlangsung terus menerus. Dengan analogi ini terlihat bahwa sama seperti kita tidak bisa mengatakan bahwa matahari itu ada lebih dulu dari sinarnya (ingat bahwa matahari tanpa sinar tidak bisa disebut sebagai mata-hari!), maka kitapun tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu lebih kekal dari pada Anak. William G. T. Shedd mengutip kata-kata Turrettin: "‘The Father,’ says Turrettin, ‘does not generate the Son either as previously existing, for in this case there would be no need of generation; nor as not yet existing, for in this case the Son would not be eternal; but as coexisting, because he is from eternity in the Godhead’" (= ‘Bapa’, kata Turretin, ‘tidak memperanakkan Anak seakan-akan Anak itu sudah ada sebelumnya, karena kalau begitu maka tidak diperlukan tindakan memperanakkan itu; juga tidak seakan-akan Anak itu belum ada, karena kalau begitu maka Anak itu tidak kekal; tetapi sebagai ada bersama-sama, karena Ia ada dalam diri Allah sejak kekekalan’) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 293-294. Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat bahwa sekalipun Yesus memang betulbetul diperanakkan oleh Bapa, Ia tetap sama kekal-nya dengan Bapa. Jadi doktrin ini memang disusun sedemikian rupa sehingga melindungi kekekalan Anak, dan dengan demikian juga melindungi keilahian Anak. c) Hal ini merupakan kelahiran / generation dari pribadi, bukan kelahiran / generation dari hakekat Anak Allah. Louis Berkhof: "It is better to say that the Father generates the personal subsistence of the Son, but thereby also communicates to Him the divine essence in its entirety. But in doing this we should guard against the idea that the Father first generated a second person, and then communicated the divine essence to this person, for that would lead to the conclusion that the Son was not generated out of the divine essence but created out of nothing. In the work of generation there was a communication of essence but created out of nothing. In the work of generation there was a communication of essence; it was one indivisible act" (= Lebih baik untuk mengatakan bahwa Bapa memperanakkan keberadaan pribadi dari Anak, tetapi dengan demikian juga memberikan kepadaNya seluruh hakekat ilahi. Tetapi dalam melakukan ini kita harus waspada terhadap gagasan bahwa Bapa mulamula memperanakkan pribadi yang kedua, dan lalu memberikan hakekat ilahi kepada pribadi ini, karena itu akan membawa pada kesimpulan bahwa Anak bukan diperanakkan dari hakekat ilahi tetapi diciptakan dari ‘tidak ada’. Dalam pekerjaan memperanakkan ada pemberian hakekat; itu adalah satu tindakan yang tidak terpisahkan) - ‘Systematic Theology’, hal 93,94. 49


‘Communication of essence’ ini menyebabkan Anak mempunyai hidup dari diriNya sendiri (Yoh 5:26). d) Hal ini bersifat rohani dan illahi. Louis Berkhof: "This generation must not be conceived in a physical and creaturely way, but should be regarded as spiritual and divine, excluding all idea of division or change" (= Tindakan memperanakkan ini tidak boleh dipahami / dibayangkan secara fisik dan bersifat ciptaan, tetapi harus dianggap sebagai rohani dan ilahi, membuang semua gagasan tentang perpecahan atau perubahan) - ‘Systematic Theology’, hal 94. Catatan: keempat definisi di atas ini kelihatannya diberikan begitu saja tanpa dasar Kitab Suci, tetapi saya berpendapat bahwa dasarnya sebe-tulnya ada. Dalam menyusun definisi-definisi itu, para ahli theologia mem-perhatikan beberapa hal yang tidak boleh dilanggar, yaitu: o o

Anak adalah Allah, dan harus bersifat kekal, dan bahkan sama kekal-nya dengan Bapa. Allah tidak bisa berubah. Ada yang berdasarkan Maz 2:7 mendefinisikan doktrin ‘the eternal gene-ration of the Son’ sebagai suatu tindakan Bapa yang terjadi di minus tak terhingga. Orang itu berkata bahwa pada saat itu waktupun belum ada sehingga tidak ada ‘sebelum’ atau ‘sesudah’. Dengan demikian tidak bisa dikatakan bahwa Bapa ada sebelum Anak. Tetapi saya tidak setuju dengan argumentasi ini. Untuk itu saya akan mengutip kata-kata John Murray dalam tafsirannya tentang Ro 9:11 (NICNT) dimana ia berkata: "This consideration that the electing purpose is supratemporal does not, however, rule out the thought of priority; there can be priority in the order of thought and conception quite apart from the order of temporal sequence" (= Pertimbangan bahwa rencana pemilihan ini ada di atas waktu tidak menyingkirkan pemikiran tentang ke-lebih-dahulu-an; bisa ada ke-lebih-dahulu-an dalam urut-urutan pemikiran dan pengertian terlepas dari uruturutan waktu). John Murray mendukung hal ini menggunakan Ro 8:29 dimana secara implicit ditunjukkan bahwa ‘foreknew’ (= diketahui lebih dulu; tetapi Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘dipilihNya’) mendahului ‘predestined’ (= ditentukanNya), padahal jelas bahwa baik ‘foreknew’ maupun ‘predestined’ adalah hal-hal yang terjadi di dalam kekekalan. Karena itu, kalau kita mengatakan bahwa Anak diperanakkan di satu saat pada waktu yang lampau, sekalipun itu terjadi di minus tak terhingga, pada saat waktupun belum ada, maka secara logika kita tetap bisa melihat bahwa Bapa lebih kekal dari Anak, dan juga bahwa terjadi perubahan dalam diri Allah dari satu pribadi menjadi dua pribadi. Tetapi dengan mendefinisikan bahwa Bapa memperanakkan Anak secara kekal / terus menerus, maka prinsip tentang keilahian dan kekekalan Yesus dan ketidakberubahan Allah bisa dipertahankan.

3) Dasar Kitab Suci dari "the eternal generation of the Son". a) Dasar yang salah: Maz 2:7 yang berbunyi: "Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuper-anakkan pada hari ini". Pdt. Stephen Tong dalam seminar dan buku ‘Allah Tritunggal’ (hal 40-41,43) menggunakan Maz 2:7 ini sebagai dasar dari ‘the eternal gene-ration of the Son’, dan Calvin juga mengatakan bahwa ada orang-orang yang menggunakan Maz 2:7 sebagai 50


dasar dari doktrin ‘the eternal generation of the Son’. Tetapi Calvin tidak setuju dengan penafsiran itu. Saya setuju dengan Calvin, dan saya berpen-dapat ada beberapa alasan yang menyebabkan Maz 2:7 tidak bisa menjadi dasar dari ‘the eternal generation of the Son’, yaitu: o

o

Kata-kata ‘hari ini’ menunjuk pada satu titik di masa yang lampau, dan dengan demikian maka tindakan memperanakkan itu merupa-kan suatu tindakan yang terjadi pada masa yang lampau, dan ini tidak sesuai dengan definisi dari ‘the eternal generation of the Son’ (lihat point 2,a dan 2,b di atas, dan perhatikan juga catatan di bawah point 2,d di atas). Maz 2:7 hanya menunjukkan bahwa Allah memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah. Calvin: "He is not said to be begotten in any other sense than as the Father bore testimony to him as being his own Son" (= Ia tidak dikatakan diperanakkan dalam arti yang lain dari pada bahwa Bapa memberikan kesaksian kepadaNya sebagai AnakNya sendiri).

o

Kata-kata ‘hari ini’ menunjuk pada saat dimana ke-Anak-an Yesus diproklamirkan kepada dunia. Calvin: "This expression, to be begotten, does not therefore imply that he began to be the Son of God, but that his being so was then made manifest to the world" (= Ungkapan ‘diperanakkan’ ini tidak berarti bahwa Ia mulai menjadi Anak Allah, tetapi bahwa keberadaanNya sebagai Anak Allah dinyatakan kepada dunia pada saat itu).

o

Maz 2:7 dikutip 3 kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Kis 13:33 Ibr 1:5 Ibr 5:5, dan tidak ada satupun dari ayat-ayat itu yang me-ngutipnya untuk menunjuk pada ‘the eternal generation of the Son’. b) Dasar yang benar:

o o o o o

Sebutan ‘Bapa’ dan ‘Anak’ menunjukkan bahwa Bapa memper-anakkan Anak. Sebutan ‘Anak Tunggal’ bagi Yesus / Anak Allah (Yoh 1:14 3:16,18 1Yoh 4:9). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah ‘the only begotten’ (= satu-satunya yang diperanakkan). Sebutan ‘sulung’ bagi Yesus / Anak Allah (Kol 1:15 Ibr 1:6). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah ‘firstborn’ (= dilahirkan pertama). Kitab Suci berkata bahwa Allah Bapa ‘memberikan’ Allah Anak untuk mempunyai hidup dalam diriNya sendiri (Yoh 5:26 bdk. Yoh 6:57). Yoh 1:18 - 'Anak Tunggal Allah'. Dalam istilah / bagian ini terdapat textual problem (= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain). Ada 4 golongan manuscript: 1. the only begotten (= satu-satunya yang diperanakkan). 2. the only begotten Son (= satu-satunya Anak yang diperanak-kan). 3. the only begotten Son of God (= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan). 4. only begotten God (= satu-satunya Allah yang diperanakkan). Kebanyakan penafsir menganggap bahwa yang keempatlah yang benar, dengan alasan: o

ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.

o

Ini merupakan bacaan yang ‘lebih sukar’, atau yang lebih tidak masuk akal. Memang kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / 51


lebih tidak masuk akal yang diterima, dengan suatu anggapan bahwa penyalin manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari yang tidak masuk akal menjadi masuk akal, dari pada mengubah dari yang masuk akal menjadi yang tidak masuk akal. Dalam peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1 atau no 2 atau no 3, tidak mungkin penyalin manuscript itu lalu mengubah menjadi yang no 4. Sebaliknya, kalau no 4 yang benar, mungkin sekali penyalin menganggap bacaan itu tak masuk akal sehingga ia mengubahnya menjadi no 1 atau no 2 atau no 3.

II) The eternal procession of the Holy Spirit. 1. Arti kata. o o

‘to proceed’ = keluar. ‘procession’ = tindakan keluar.

1. Seperti Anak, Roh Kudus juga sehakekat dengan Bapa. 2. Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak (The Holy Spirit proceeds from the Father and the Son). Point ini memecah gereja menjadi dua pada abad ke 11, yaitu: o o

Greek Orthodox, yang mempercayai bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa. Roma Katolik, yang mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak.

1. Banyak hal-hal tentang ‘eternal generation’ yang juga berlaku untuk ‘eternal procession’. Semua point dalam definisi dari ‘the eternal generation of the Son’ juga berlaku di sini. 2. Perbedaan ‘Generation’ dengan ‘Spiration’. a. ‘Generation’ adalah pekerjaan Bapa saja, sedangkan ‘Spiration’ meru-pakan pekerjaan Bapa dan Anak. b. Karena adanya ‘Generation’, maka Anak bisa ikut ambil bagian dalan ‘Spiration’. c. Secara logika (bukan secara chronologis!), ‘Generation’ mendahului ‘Spiration’. Tetapi faktanya adalah bahwa keduanya sama-sama merupakan tindakan kekal. Catatan: kata ‘spiration’ tidak ada dalam kamus, bahkan dalam kamus Webster sekalipun. Tetapi kelihatannya, kalau ‘procession’ berarti ‘tindak-an keluar’, maka ‘spiration’ berarti ‘tindakan mengeluarkan’. Kalau ‘procession’ adalah ‘the property of the Holy Spirit’, maka ‘spiration’ adalah ‘the property of the Father and the Son’ (= milik Bapa dan Anak). 6) Dasar Kitab Suci dari ‘the procession of the Holy Spirit from the Father and the Son’: a. Roh Kudus disebut sebagai Roh Allah / Roh Bapa (Ro 8:9 Mat 10:20) dan juga sebagai Roh Kristus / Roh Anak (Ro 8:9 Gal 4:6). Kata ‘Roh’ bisa diartikan sebagai ‘nafas’ dan ini secara tidak langsung menunjuk-kan bahwa Ia keluar dari Bapa dan Anak. b. Yoh 15:26 & Yoh 14:26 mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan diutus oleh Bapa. c. Yoh 15:26 dan 16:7 mengatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Anak. Catatan: tidak adanya ayat yang menyatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Anak menyebabkan Greek Orthodox menganggap bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa. Tetapi bahwa Roh Kudus disebut Roh Kristus, dan kata ‘Roh’ bisa diartikan nafas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Roh Kudus juga keluar dari Anak.

III) Keberatan dan jawabannya. 1) Loraine Boettner tidak setuju dengan kedua doktrin ini. a) Doktrin ‘the eternal generation of the Son’: 52


Loraine Boettner berkata bahwa ayat-ayat seperti Yoh 5:26 Ibr 1:6 Yoh 3:16, tidak mengajarkan doktrin ini. Tujuan utama dari ayat itu dan dari ayat-ayat lain yang serupa adalah mengajarkan bahwa: o o o

Kristus berhubungan secara intim dengan Bapa. Anak sama dengan Bapa dalam kuasa, kemuliaan dan ‘nature’. Anak adalah Allah sepenuhnya. Loraine Boettner juga berkata bahwa rupa-rupanya pandangannya juga merupakan pandangan John Calvin, karena pada bagian terakhir dari pasalnya tentang Tritunggal, Calvin berkata: "But studying the edification of the Church, I have thought it better not to touch upon many things, which unnecessarily burdensome to the reader, without yielding him any profit. For to what purpose is it to dispute whether the Father is always begetting? For it is foolish to imagine a continual act of regeneration, since it is evident that three Persons have subsisted in God from all eternity" (= Tetapi mempelajari pendidikan Gereja, saya berpikir lebih baik tidak menyentuh banyak hal, yang secara tidak perlu memberatkan pembaca tanpa memberikan keuntungan / menfaat apapun kepadanya. Karena apa tujuannya memperdebatkan apakah Bapa itu terus memperanakkan? Karena adalah bodoh untuk membayangkan suatu tindakan melahirkan yang terus menerus, karena adalah jelas bahwa tiga Pribadi terus ada dalam Allah dari kekekalan) - Loraine Boettner, ‘Studies in Theology’, hal 122 (ini dikutip oleh Loraine Boettner dari ‘Insitutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 29). Tetapi dalam bagian sebelumnya Calvin berkata: "... and we must not seek in eternity a before or an after, nevertheless the observance of an order is not meaningless or superfluous, when the Father is thought of as first, then from him the Son, and finally from both the Spirit. ... For this reason, the Son is said to come forth from the Father alone; the Spirit, from the Father and the Son at the same time" (= ... dan kita tidak boleh mencari sebelum atau sesudah dalam kekekalan, meskipun demikian pengamatan tentang suatu urut-urutan bukanlah tanpa arti ataupun berlebihan, ketika Bapa dianggap sebagai yang pertama, lalu dari Dia Anak, dan akhirnya dari keduanya Roh. ... Karena itu, Anak dikatakan muncul / lahir dari Bapa saja; Roh, dari Bapa dan Anak pada saat yang sama) - ‘Insitutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 18. b) Doktrin ‘The Eternal Procession of the Holy Spirit’: Loraine Boettner berkata sebagai berikut:

o o

o

o

Hanya ada 1 ayat dalam Kitab Suci yang bisa dipakai sebagai dasar doktrin ini, yaitu Yoh 15:26. Ada ahli-ahli theologia yang berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan doktrin ini, tetapi ada pula yang berkata bahwa ayat itu semata-mata menunjukkan misi dari Roh Kudus untuk datang ke dunia. Dalam Yoh 16:28, Tuhan Yesus menggunakan bentuk yang mirip dengan Yoh 15:26 (Yoh 16:28 - "Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa"). Yoh 16:28 jelas menunjukkan bahwa Tuhan Yesus berbicara tentang misiNya untuk datang ke dunia, bukan tentang ‘eternal generation’, karena dalam ayat itu Tuhan Yesus mengkon-traskan antara ‘datang dari Bapa ke dalam dunia’ dengan ‘mening-galkan dunia dan pergi kepada Bapa’. (Jadi maksudnya, kalau Yoh 16:28 menunjuk pada misi Tuhan Yesus, bukan pada ‘eternal generation’, maka Yoh 15:26 juga menunjuk pada misi Roh Kudus, bukan pada ‘eternal procession’). Yoh 15:26 diucapkan oleh Tuhan Yesus pada saat Ia sudah mendekati saat penyaliban. Jadi rasanya tidak mungkin saat itu Tuhan Yesus mengajarkan hal-hal yang bersifat filsafat dan begitu mendalam. Lebih cocok, kalau pada saat itu Tuhan Yesus mengajar hal-hal yang bersifat praktis dan berguna untuk meme-nuhi kebutuhan murid-murid (menghibur dan 53


menguatkan mereka) pada saat Tuhan Yesus ditangkap, disalibkan dan mati. Jadi ayat ini tidak boleh diartikan sebagai ‘eternal procession’, tetapi hanya sebagai janji Tuhan Yesus bahwa Ia akan memberikan seorang Penolong yang lain yang keluar dari Bapa. c) Kesimpulan Loraine Boettner tentang ‘eternal generation’ dan ‘eternal procession’: "We prefer to say, as previously stated, that within the essential life of the Trinity no one Person is prior to, nor generated by, nor proceeds from, another" (= Kami lebih suka berkata, seperti telah dinyatakan sebelumnya, bahwa di dalam kehidupan hakiki dari Tritunggal tidak seorangpun yang mendahului, atau dilahirkan oleh, atau keluar dari, yang lain) - ‘Studies in Theology’, hal 123. 2) Pandangan William G. T. Shedd. Pandangan William G. T. Shedd tentang orang yang menolak kedua doktrin ini: Ini adalah sesuatu yang tidak konsisten. Nama-nama ‘Bapa’, ‘Anak’, dan ‘Roh’ yang diberikan kepada Allah dalam Kitab Suci, menimbulkan ide / gagasan tentang paternity, filiation, spiration, dan procession. Seseorang tidak bisa menyebut oknum I sebagai Bapa, dan menyangkal bahwa Ia memperanakkan. Juga tidak bisa menyebut oknum ke II sebagai Anak, dan menyangkal bahwa Ia diperanakkan. Juga tidak bisa menyebut oknum ke III sebagai Roh, dan menyangkal bahwa Ia keluar dari Bapa dan Anak. Kalau seseorang percaya / menerima bahwa kata-kata ‘Bapa’, ‘Anak’, ‘Roh’ itu menyampaikan kebenaran yang mutlak, maka ia juga harus percaya / menerima kata-kata ‘beget’ (= memperanakkan), ‘begottten’ (= diperanakkan), ‘spirate’ (= mengeluarkan), ‘proceed’ (= keluar) juga menyampaikan suatu kebenaran yang mutlak (Shedd’s Dogmatic Theology, vol I, hal 292-293).

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

PROVIDENCE OF GOD Pendahuluan: 1) Doktrin Providence of God ini penting bagi kita: Calvin: •

"Ignorance of Providence is the ultimate of all miseries; the highest blessedness lies in the knowledge of it" (= ketidaktahuan tentang Providence adalah asal mula semua kesengsaraan; berkat yang terbesar terletak dalam pengenalan tentang providence) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 11. "Nothing is more profitable than the knowledge of this doctrine" (= tidak ada yang lebih berguna dari pada pengenalan tentang doktrin ini) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 3. 54


2) Siapa saja yang percaya / mengajarkan doktrin Providence of God ini? Doktrin ini dipercaya dan diajarkan oleh: Agustinus, John Calvin, Martin Luther, Jerome Zanchius, John Owen, Charles Hodge, R.L. Dabney, Louis Berkhof, Loraine Boettner, W.G.T. Shedd, Herman Hoeksema, Herman Bavinck, G.C. Berkouwer, B.B. Warfield, John Murray, Gresham Machen, Arthur W. Pink, dsb. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satupun orang Reformed yang sejati yang tidak mempercayai doktrin ini. Juga doktrin ini masuk dalam Westminster Confession of Faith, yang merupakan pengakuan iman dari gereja-gereja Reformed / Presbyterian di Amerika. Karena itu saya berpendapat bahwa orang yang mengaku dirinya Reformed, tetapi tidak percaya pada doktrin ini, sebetulnya hanyalah orang yang Semi-Reformed!

I) Definisi ‘Providence’. Kalau dilihat dalam kamus, maka ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’. Tetapi dalam Theologia, ‘Providence’ berarti lebih dari sekedar ‘pemelihara-an baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana. B. B. Warfield: "His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan" (= PekerjaanNya dalam providence semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281. Jadi sekalipun Providence berbeda dengan Rencana Allah, tetapi keduanya berhubungan sangat erat.

II) Providence tidak mungkin gagal. A) Rencana Allah sudah ada / direncanakan sejak semula (2Raja-raja 19:25 Maz 139:16 Yes 25:1 Yes 37:26 Yes 46:10 2Tim 1:9) dan Rencana Allah itu tidak mungkin berubah / gagal (Bil 23:19 1Sam 15:29 Maz 33:11). Charles Hodge: "Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention" (= Perubahan rencana timbul atau karena kekurangan hikmat atau kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan yang maksud / rencana semula) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 538-539. Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita merencanakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa merencanakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan. Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak semula! Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya, dan percaya bahwa Rencana Allah bisa gagal. Sebetulnya ini merupakan suatu penghinaan bagi Allah karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya! Ada banyak alasan / dasar yang menyebabkan kita harus percaya bahwa Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya atau gagal dalam mencapai rencanaNya: 55


o o

Ayat-ayat pada point II A di atas secara jelas menunjukkan bahwa Rencana Allah tidak mungkin gagal! kemahatahuan Allah. Pada waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu apakah rencanaNya akan berhasil atau gagal? Kalau Ia tahu bahwa RencanaNya akan gagal, lalu mengapa Ia tetap merencanakannya?

o

kemahabijaksanaan Allah. Kebijaksanaan Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana yang terbaik. Kalau ini diubah, maka akan menjadi bukan yang terbaik. Ini tidak mungkin!

o

kemahakuasaan Allah. Manusia sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa mengubah rencananya karena ia tidak maha kuasa, sehingga tidak mampu untuk mencapai / melaksanakan rencananya. Tetapi Allah yang maha kuasa tidak mungkin gagal mencapai rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya (Yes 14:24,26-27 25:1b 37:26 43:13b)!

o

kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah rencana-Nya, karena perubahan rencana membuat Ia menjadi tergantung pada situasi dan kondisi (tidak lagi berdaulat). B) Providence / pelaksanaan Rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2 Yes 14:24,26-27 Yes 46:10-11). Contoh:

o

Allah merencanakan supaya Rut dan Boas menikah dan dari pernikahan itu mereka menurunkan Yesus / Mesias. Kelihatannya Rencana Allah ini sukar terlaksana karena Rut ada di Moab dan Boas ada di Yehuda. Tetapi Allah yang maha kuasa itu mengatur sehingga hal itu akhirnya terjadi juga, sehingga mereka menikah dan akhirnya menurunkan Yesus (baca Rut 14).

o

Allah merencanakan bahwa Yesus akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1 Luk 2:1-7). Kelihatannya Rencana Allah yang satu ini akan gagal, karena Maria sudah hamil besar dan saat itu ia masih ada di Nazaret. Tetapi Allah mengatur dengan menggerakkan hati kaisar untuk meng-adakan sensus (bdk. Amsal 21:1) sehingga Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem dan akhirnya Yesus lahir di Betlehem. C) Problem ‘Allah menyesal’ (Kej 6:5-6 Kel 32:10-14 1Sam 15:1 Yes 38:1,5 Yer 18:8 Yunus 3:10 Amos 7:3,6). Apakah ini berarti bahwa Allah mengubah RencanaNya? Tidak! Penjelasan: 1) Prinsip Hermeneutics yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menafsirkan suatu bagian Kitab Suci sehingga bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci. Karena itu, maka penafsiran ayat-ayat pada point C) ini tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat pada point A) dan B). Kalau kita menafsirkan bahwa ‘Allah menyesal’ dalam ayat-ayat di sini memang menunjukkan bahwa Allah mengubah renca-naNya, maka jelas bahwa ayat-ayat ini akan bertentangan dengan ayat-ayat pada point A) dan B). 2) ‘Allah menyesal’ adalah Anthropopathy. Kitab Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa 56


yang menggambarkan Allah dengan perasa-an-perasaan manusia). Kalau Kitab Suci menggunakan bahasa An-thropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul demikian. Misalnya kalau dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang panjang’ (Yes 59:1), atau pada waktu dikatakan ‘mata TUHAN ada di segala tempat’ (Amsal 15:3). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempu-nyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Demi-kian juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy / meng-gambarkan Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia, kita tidak boleh mengartikan bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Con-tohnya adalah ayat-ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini. Perlu saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu. Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui. Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu. Tetapi Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal! Kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah. 3) Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia. Illustrasi: Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandi-wara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah pikiran / rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak ber-ubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb. Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.

III) Providence berhubungan dengan segala sesuatu. A) Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu. Dasar dari pandangan ini: 1) Dasar Kitab Suci: o o

o

Maz 139:16 - ‘... dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya’. Mat 10:29-30 - hal-hal yang remeh seperti jatuhnya burung pipit yang tidak berharga, atau rontoknya rambut kita, ternyata hanya bisa terjadi kalau itu sesuai dengan kehendak / Rencana Allah. Kel 21:13 - hal-hal yang kelihatannya kebetulan hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak Allah. Semua ini menunjukkan bahwa dalam membuat rencanaNya, Allah bukan hanya merencanakan / menetapkan garis besarnya saja, tetapi lengkap dengan semua detaildetailnya. 2) Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan Allah: 57


a) Loraine Boettner: "Foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination" (= pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44. Penjelasan: Bayangkan saat dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Pada saat itu, karena Allah itu maha tahu, maka Ia sudah tahu segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu. b) Dalam persoalan ini perlu saudara ketahui bahwa penentuan itu terjadi bukan karena Allah sudah tahu. Roma 8:29 (NIV) - "For those He foreknew, He also predestined ..." (= Karena mereka yang Ia ketahui lebih dulu, juga Ia tentukan ...). Ayat ini sering dipakai oleh orang Arminian sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Allah menentukan karena Dia sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi. Jadi, Allah menentukan supaya si A menjadi orang beriman, karena Ia tahu bahwa orang itu akan menjadi orang beriman. Allah menentukan si B menjadi orang saleh, karena Ia tahu si B akan mentaati Dia, dsb. Untuk mengerti Ro 8:29 ini mari kita melihat penjelasan di bawah ini: 1. Pembahasan kata ‘know’ (= tahu) dalam Kitab Suci. o

dalam Perjanjian Lama. Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA. Kata YADA ini digunakan dalam Kej 4:1 (KJV/Lit): "Adam knew Eve his wife, and she conceived" (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung). Dari sini bisa kita lihat bahwa ‘to know’ tidak selalu sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya. Kata YADA ini digunakan dalam Kej 18:19 dan diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia. "Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya". RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia! ASV/KJV/NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh. Kej 18:19 (KJV): "For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the 58


way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him" (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya). Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia. "Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu". KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih). Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata: "what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care" (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288. Loraine Boettner: "The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2." [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti sekedar pengetahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100. Penggunaan kata YADA yang lain: o

Kel 2:25 - diterjemahkan ‘memperhatikan’.

o

Maz 1:6 - diterjemahkan ‘mengenal’.

o

Maz 101:4 - diterjemahkan ‘tahu’.

o

Nahum 1:7 - diterjemahkan ‘mengenal’. Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai sekedar suatu pengetahuan intelektual.

o

dalam Perjanjian Baru. Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam Mat 7:23 Yoh 10:14,27 1Kor 8:3 Gal 4:9 59


2Tim 2:19. Baca ayat-ayat ini dan saudara akan melihat bahwa dalam ayat-ayat inipun kata know / GINOSKO tidak bisa diartikan sekedar sebagai pengetahuan intelektual. 2. Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu). Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, fore-knew, dsb: Ro 11:2 Kis 2:23 1Pet 1:2 1Pet 1:19-20. Loraine Boettner: "Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are fore-appointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’" (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah: o

‘menentukan karena sudah tahu’ tidak bisa disebut sebagai ‘menentukan’.

o

Kalau Allah sudah tahu bahwa suatu hal akan terjadi, maka hal itu pasti akan terjadi. Lalu apa gunanya ditentukan lagi?

o

Kalau kita menafsirkan Ro 8:29 sebagai ‘menentukan karena sudah tahu’, maka ini akan bertentangan dengan Ef 1:4,5,11.

o

Ef 1:4 mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, dalam pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada dulu, dan tujuannya adalah supaya kita menjadi kudus dan tidak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran tadi / penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada dulu dalam pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih.

o

Ef 1:5b,11b menunjukkan bahwa kita dipilih sesuai dengan kerelaan kehendak Allah (dalam bahasa Jawa / pasaran mungkin bisa dikatakan ‘saksirnya Allah’). Jadi jelas bahwa pemilihan itu dilakukan oleh Allah bukan karena Ia melihat akan adanya sesuatu yang baik dalam diri kita! c) Hubungan yang benar tentang kemahatahuan Allah dan penetapan Allah. B. B. Warfield: "... God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will" (= ... Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

B) ‘Providence’ adalah pelaksanaan Rencana Allah dan karena Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, maka ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu. Hal-hal alamiah yang kelihatannya terjadi dengan sendirinya (secara otomatis, diatur oleh hukum alam), ternyata juga diatur / diperintah / dikontrol oleh Allah setiap saat. Contoh: 60


o o

o o o

matahari (Yos 10:13 Yes 38:8). kelihatannya tumbuh-tumbuhan hidup karena sinar matahari, tetapi Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan pada hari ke 3 dan matahari pada hari ke 4, dan ini menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan itu mendapatkan kehidupan dari Allah, bukan dari matahari. orang mendapat anak (Maz 127:3 1Sam 1:5,19-20). semua makhluk / binatang dapat makan (Maz 136:25 Maz 104:27-28). kesehatan bukan dari makanan tetapi dari Allah (Dan 1:8-15). Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa ‘Providence’ berhubungan dengan segala sesuatu:

o o o o o o o o o o

Kel 12:36 - Tuhan yang membuat orang Mesir bermurah hati kepada orang Israel. 2Sam 17:14 - Tuhan yang bekerja sehingga nasehat Ahitofel ditolak dan ini menyebabkan kekalahan Absalom. Ezra 1:1 - Tuhan menggerakkan hati raja Koresy. Maz 75:7-8 - peninggian / perendahan seseorang merupakan pekerjaan Allah. Maz 135:6-7 - semua yang terjadi di bumi, di laut / samudera raya, baik kabut, kilat, angin dsb merupakan pekerjaan Allah. Amsal 16:1,9 - kata-kata dan arah langkah kita telah ditetapkan oleh Tuhan (bdk. Amsal 20:24). Amsal 19:21 - manusia bisa merencanakan, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana. Amsal 21:1 - Hati raja diarahkan oleh Tuhan sesuai kehendakNya. Amsal 21:31 - kemenangan dalam perang bukan tergantung persiapan kekuatan pasukan, tetapi tergantung Tuhan. Amsal 22:2 (NIV) - "Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all" (= orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah pembuat mereka semua). Ini sesuai dengan Maz 75:7-8 di atas, dan menunjukkan bahwa orang bisa jadi kaya / miskin karena pekerjaan Tuhan.

o o o o o

Pengkhotbah 7:14 - hari malang juga dijadikan oleh Allah Yes 45:7 - nasib mujur / malang diciptakan Tuhan. Ratapan 3:37-38 - dari mulut Tuhan keluar apa yang buruk dan yang baik. Amos 3:6 - Tuhanlah yang mengerjakan semua malapetaka. Yak 4:13-16 - keberhasilan dalam usaha kita tergantung pada kehendak Tuhan. C) Bahwa Rencana Allah dan Providence of God berhubungan dengan segala sesuatu menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak! Kata ‘berdaulat’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sovereign’, yang berasal dari bahasa Latin superanus (super = above, over), dan yang dalam Kamus Webster diberikan definisi sebagai berikut: a)Above or superior to all others; chief; greatest; supreme. b)supreme in power, rank, or authority. c)of or holding the position of a ruler; royal; reigning d)independent of all others. Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu, dan Ia melaksana-kan ketetapanNya itu tanpa tergantung pada siapapun dan apapun di luar diriNya! Jelas adalah omong kosong kalau seseorang berbicara tentang kedaulatan Allah / mengakui kedaulatan Allah, tetapi tidak mempercayai bahwa Rencana Allah dan Providence of God itu mencakup segala se-suatu dalam arti kata yang mutlak! D) Rencana Allah dan pelaksanaannya (Providence of God) tidak terlepas dari sifat-sifat Allah, seperti kasih, bijaksana, dan suci. 61


Loraine Boettner: "Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left" (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.

IV) Providence dan dosa. 1) Rencana Allah dan dosa. Bahwa dalam Rencana Allah juga tercakup dosa bisa terlihat dari: a) Dalam point III A di atas sudah ditunjukkan bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, dan itu berarti termasuk dosa. b) Rencana Allah tentang penebusan dosa oleh Kristus (1Pet 1:19-20) menunjukkan adanya Rencana / penentuan terjadinya dosa. Bahwa penebusan dosa sudah ditentukan, jelas menunjukkan bahwa: o o

dosa yang akan ditebus itupun harus juga sudah ditentukan! Ka-rena kalau tidak, bisa-bisa penebusan dosa itu tidak terjadi. pembunuhan yang dilakukan terhadap Kristus, yang dilakukan dengan menyalibkan Dia, jelas juga sudah ada dalam Rencana Allah (Kis 2:23 Kis 4:27-28). Padahal pembunuhan ini jelas adalah dosa! Charles Hodge: "The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained" (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi doktrin Alkitab bahwa dosa itu ditentukan lebih dulu) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544. c) Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:

o

Adam ditentukan untuk tidak jatuh. Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh (ingat bahwa Rencana Allah tidak bisa gagal lihat point II A di atas).

o

Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu. Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang 62


hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mem-punyai Rencana? o

Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa. Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah. d) Dasar Kitab Suci yang menunjukkan adanya dosa dalam Rencana Allah:

o o o o o

o o o o o

o o

Kel 3:19 - Firaun ditentukan untuk tidak taat. Ul 31:16-21 - Allah sudah menetapkan kemurtadan Israel. 2Sam 12:11-12 (bdk. 2Sam 16:22) - bahwa Absalom akan meniduri istri-istri Daud adalah sesuatu yang sudah ditentukan sebelumnya. 2Raja-raja 8:11-13 - kekejaman Hazael sudah ditentukan sebelumnya. Yes 6:9-10 (bdk. Mat 13:13-15 / Mark 4:12 / Luk 8:10 Yoh 12:40 Kis 28:26-27) - Allah sudah menentukan bahwa Yehuda akan menolak Firman Tuhan yang akan disampaikan oleh Yesaya, dan Allah juga sudah menentukan bahwa orang-orang Yahudi akan menolak Kristus. Daniel 11:36 - dosa dari raja ini sudah ditetapkan. Mat 18:7 - penyesatan harus ada. Ini jelas adalah dosa, tetapi ini telah ditetapkan oleh Allah. Mat 24:5,10-12,24 - nabi palsu dan Mesias palsu harus ada. Mat 26:23-24 - pengkhianatan Yudas sudah ditentukan. Mat 26:31-35 - larinya murid-murid meninggalkan Yesus, dan penyangkalan Petrus sebanyak 3 x sudah ditentukan sebelumnya. Bagaimanapun kerasnya keinginan Petrus untuk menolak terjadinya hal itu, akhirnya hal itu tetap terjadi. Luk 17:25 - Penolakan dan penyiksaan terhadap Yesus harus terjadi. Luk 22:22 - "Sebab Anak manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan". Ayat ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus, yang jelas adalah suatu dosa, telah ditetapkan oleh Allah. Sesuatu yang sangat menarik dan sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa ayat paralel dari Luk 22:22 itu, yaitu Mat 26:24, berbunyi sebagai berikut: "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan". Dengan membandingkan kedua ayat yang paralel ini, terlihat jelas bahwa tertulisnya pengkhianatan Yudas dalam Kitab Suci (Mat 26:24) berarti bahwa hal itu memang telah ditetapkan oleh Allah (Luk 22:22). Jadi, kalau dalam Kitab Suci dinubuatkan sesuatu, itu tidak sekedar berarti bahwa Allah hanya tahu hal itu akan terjadi dan lalu memberitahukan hal itu kepada manusia, tetapi berarti bahwa Allah sudah menetapkan hal itu!

o

o o o

o

Kis 2:23 Kis 3:18-20 Kis 4:27-28 - pembunuhan terhadap Kristus (ini adalah dosa yang paling terkutuk) sudah ditentukan sejak semula. Perhatikan khususnya Kis 4:28 yang menggunakan kata ‘tentukan’. Jelas ini bukan sekedar menunjuk pada foreknowledge (= pengetahuan lebih dulu) dari Allah. 1Tim 4:1 - bahwa orang-orang akan murtad dan mengikuti ajaran-ajaran sesat sudah ditentukan sebelumnya. 2Tim 3:1-5 - kebrengsekan orang-orang pada akhir jaman sudah ditetapkan dan pasti akan terjadi. 2Tim 4:3-4 - Paulus mengatakan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi mendengar ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru palsu yang menyenangkan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Wah 6:11 - istilah ‘genap’ menunjukkan bahwa jumlah orang yang dibunuh sudah ditentukan. 63


e) Penentuan dosa sejalan dengan doktrin-doktrin Reformed yang lain, seperti: o o

o

Election / pemilihan (Ro 9:6-24 Ef 1:4,5,11 1Tes 5:9 2Tes 2:13 2Tim 1:9), karena manusia dipilih untuk diselamatkan dari dosa. Reprobation / penentuan binasa (Amsal 16:4 Yoh 17:12 Ro 9:13,17-18,21-22 1Pet 2:8 Yudas 4), yang jelas mensyaratkan penetapan dosa dalam kehidupan orang-orang yang ditentukan untuk binasa itu. Infralapsarianisme maupun Supralapsarianisme, yang sama-sama percaya adanya penetapan dosa. Jika saudara adalah orang yang mengaku Reformed, tetapi tidak percaya Allah tetapkan dosa, maka renungkanlah hal-hal di atas ini!

2) Terjadinya dosa. a) Dalam hal ini Allah bekerja secara pasif (dalam terjadinya hal-hal yang baik, misalnya dalam kelahiran baru, pengudusan, dsb, Allah bekerja secara aktif). Dengan kasih karuniaNya, Allah mengekang / menahan manusia sehingga tidak berbuat dosa. Pada saat Allah menghendaki dosa terjadi (sesuai dengan RencanaNya), maka Ia mengangkat kasih karuniaNya itu, dan dosapun terjadi. Perhatikan istilah ‘Allah menyerahkan’ dalam Ro 1:24,26,28 (bdk. Maz 81:12-13). Ini menunjukkan bahwa Allah mencabut kasih karunia-Nya yang tadinya menahan manusia untuk berbuat dosa, dan karena itu dosapun terjadi. Lihat juga Kis 14:16 yang berbunyi: ‘Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing’. b) Allah menggunakan ‘second causes’ (= penyebab-penyebab kedua), misalnya: o

setan. Contoh:

o

o

Ayub 1:15,17

o

1Sam 16:14

o

1Raja-raja 22:19-23

o

1Taw 21:1 & 2Sam 24:1

manusia. Contoh: o

1Raja-raja 22:19-23

o

Mat 24:4-5

Kedua point di atas (Allah pasif dan adanya penggunaan ‘second causes’) menyebabkan Allah bukanlah pencipta dosa (God is not the author of sin). c) Istilah ‘Allah mengijinkan’. o

Banyak orang menggunakan istilah ini untuk melindungi kesucian Allah. Tetapi kalau ‘penentuan Allah tentang terjadinya dosa’ dianggap sebagai dosa, maka ‘pemberian ijin dari Allah sehingga dosa terjadi’ juga harus dianggap sebagai dosa (dosa pasif). Sama halnya kalau saya membunuh orang maka itu adalah dosa (dosa aktif). Tetapi kalau saya membiarkan / mengijinkan seseorang bunuh diri, padahal saya bisa mencegahnya, maka saya juga berdosa (dosa pasif) - bdk. Yak 4:17! 64


o

Istilah ‘Allah mengijinkan’ boleh digunakan, tetapi artinya harus benar. Ini tidak berarti bahwa sebetulnya Allah merencanakan seseorang berbuat baik / tidak berbuat dosa, tetapi karena orangnya memaksa berbuat dosa, maka Allah mengijinkan. Kalau diartikan seperti ini, maka itu berarti bahwa Rencana Allah sudah gagal, dan ini bertentangan dengan point II,A dan II,B di atas. ‘Allah mengijinkan’ berarti bahwa Allah bekerja secara pasif dan Ia menggunakan second causes, tetapi dosa yang diijinkan itu pasti terjadi, persis sesuai dengan rencana Allah! Jadi digunakannya istilah ‘Allah mengijinkan’ hanyalah karena dalam pelaksanaannya Allah bekerja secara pasif dan menggunakan second causes.

3) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hubungan Providence & dosa: o

Kej 45:5-8 - khususnya perhatikan kata-kata ‘Allah menyuruh aku mendahului kamu’ (ay 5,7) dan ‘bukan kamu yang menyuruh aku ke sini tetapi Allah’ (ay 8). Bdk. Maz 105:17 ‘diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak’. Semua ini menunjukkan bahwa penjualan Yusuf ke Mesir, yang jelas adalah suatu dosa, merupakan pekerjaan Allah, yang melakukan semua itu untuk melaksanakan rencana tertentu. Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata: "Good men are ashamed to confess, that what men undertake cannot be accomplished except by the will of God; fearing lest unbridled tongues should cry out immediately, either that God is the author of sin, or that wicked men are not to be accused of crime, seeing they fulfil the counsel of God. But although this sacrilegious fury cannot be effectually rebutted, it may suffice that we hold it in detestation. Meanwhile, it is right to maintain, what is declared by the clear testimonies of Scripture, that whatever men may contrive, yet, amidst all their tumult, God from heaven overrules their counsels and attempts; and, in short, does, by their hands, what he himself decreed" (= Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia lakukan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, tetapi ditengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan). Calvin melanjutkan dengan berkata: "Good men, who fear to expose the justice of God to the calumnies of the impious, resort to this distinction, that God wills some things, but permits others to be done. As if, truly, any degree of liberty of action, were he to cease from governing, would be left to men. If he had only permitted Joseph to be carried into Egypt, he had not ordained him to be the minister of deliverance to his father Jacob and his sons; which he is now expressly declared to have done. Away, then, with that vain figment, that, by the permission of God only, and not by his counsel or will, those evils are committed which he afterwards turns to a good account" (= Orang-orang saleh, yang takut membuka keadilan Allah terhadap fitnahan dari orang-orang jahat, memutuskan untuk mengadakan pembedaan ini, yaitu bahwa Allah menghendaki beberapa hal, tetapi mengijinkan hal-hal yang lain untuk dilakukan. Seakan-akan ia berhenti dari tindakan memerintah, dan memberikan kebebasan bertindak tertentu kepada manusia. Jika Ia hanya mengijinkan Yusuf untuk dibawa ke Mesir, Ia tidak menetapkannya untuk menjadi pembebas bagi ayahnya Yakub dan anak-anaknya; yang dinyatakan secara jelas telah dilakukannya. Maka singkirkanlah isapan jempol yang sia-sia yang mengatakan bahwa hanya karena ijin Allah, dan bukan karena rencana atau kehendakNya, 65


hal-hal yang jahat itu dilakukan yang setelah itu ia balikkan menjadi sesuatu yang baik). o

Kej 50:19-20 secara explicit menunjukkan bahwa sekalipun saudara-saudara Yusuf merekarekakan / memaksudkan yang jahat terhadap Yusuf, tetapi Allah telah mereka-rekakannya / memaksudkannya untuk kebaikan! Jadi, jelas bahwa Allah bekerja menggunakan dosa dari saudara-saudara Yusuf demi kebaikan Yusuf / Israel. Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata: "The selling of Joseph was a crime detestable for its cruelty and perfidy; yet he was not sold except by the decree of heaven. For neither did God merely remain at rest, and by conniving for a time, let loose the reins of human malice, in order that afterwards he might make use of this occasion; but, at his own will, he appointed the order of acting which he intended to be fixed and certain. Thus we may say with truth and propriety, that Joseph was sold by the wicked consent of his brethren, and by the secret providence of God" (= Penjualan terhadap Yusuf adalah suatu kejahatan yang menjijikkan karena kekejaman dan pengkhianatannya; tetapi ia tidak dijual kecuali oleh ketetapan dari surga. Karena Allah bukannya sematamata berdiam diri, dan sambil menutup mata / pura-pura tidak melihat untuk sementara waktu, melepaskan kendali terhadap keinginan jahat manusia, supaya setelah itu ia bisa menggunakan kejadian ini; tetapi, pada kehendakNya sendiri, Ia menetapkan urut-urutan tindakan yang Ia maksudkan untuk menjadi tetap dan tertentu. Jadi kita bisa berkata dengan benar dan tepat, bahwa Yusuf dijual oleh persetujuan jahat dari saudara-saudaranya, dan oleh providensia rahasia dari Allah).

o o

o o o o o o o o

Kel 1:8-10 bdk. Maz 105:25. Jelas dikatakan bahwa Tuhanlah yang mengubah hati orang Mesir untuk membenci Israel, supaya dengan demikian rencanaNya bisa terlaksana. Kel 4:21 7:3,22 8:15,19,32 9:12 9:15-16 (bdk. Ro 9:15-18) 9:34-35 10:1-2,20,27 11:10 14:4,8,17. Berulang kali dikatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun! Dan itulah yang menyebabkan hati Firaun menjadi keras. Bahkan setelah Firaun terpaksa membiarkan Israel meninggalkan Mesir, Tuhan lalu bekerja mengeraskan hati Firaun, sehingga ia memerintahkan tentaranya untuk mengejar Israel. Tujuan Allah ialah supaya baik Israel maupun Mesir bisa melihat kuasaNya (Kel 10:1-2 14:4,17-18,30-31). Ul 2:30 - Allah mengeraskan hati Sihon supaya bisa menyerahkannya ke tangan Israel. Yosua 11:20 - Allah mengeraskan hati orang Kanaan supaya mereka tidak dikasihani tetapi ditumpas. Hakim-hakim 9:22-24,56-57 - Allah membangkitkan semangat jahat dalam diri orang-orang tertentu supaya Ia bisa menghukum mereka (ay 23)! Hakim-hakim 14:3-4 - Simson mau kawin dengan orang Filistin / kafir, dan hal itu datang dari Tuhan, karena Tuhan menghendaki Simson mencari gara-gara terhadap orang Filistin! 1Sam 2:25b - Tuhan bekerja sehingga anak-anak Eli tidak menuruti nasehat ayahnya (Catatan: ini adalah dosa!) karena Tuhan hendak membunuh mereka. 2Sam 12:11 bdk. 2Sam 16:20-23 - Tuhan bekerja sehingga Absalom tidur dengan gundikgundik Daud. 2Sam 16:10-11 - Tuhan ‘menyuruh’ (= bekerja sehingga) Simei mengutuki Daud. 2Sam 24:1 bdk. 1Taw 21:1. Dua bagian Kitab Suci ini akan bertentangan kecuali kita menafsirkan Allah sebagai first cause (= penyebab pertama), dan setan sebagai second cause (= penyebab kedua) dari peristiwa sensus ini. Catatan: Orang yang menolak doktrin Providence of God yang diajarkan oleh orang Reformed / Calvinist ini pasti akan kesulitan untuk mengharmoniskan 2 bagian Kitab Suci yang kelihatannya bertentangan ini!

o o

1Raja-raja 11:14,23 - Tuhan membangkitkan lawan-lawan untuk memberontak terhadap Salomo. 1Raja-raja 12:15,24 (2Taw 10:15 11:4) - Tuhan bekerja sehingga Rehabeam menolak nasehat yang baik dari tua-tua, karena Tuhan mau memecah Israel. 66


o

o o o o

o o o o

o o o o o o o o o o o o o o

o o o

1Raja-raja 22:20-23 (2Taw 18:19-22) - Tuhan ‘kongkalikong’ dengan setan? Ini lagi-lagi menunjukkan Tuhan sebagai first cause dan setan sebagai second cause pada peristiwa penyesatan oleh nabi-nabi palsu terhadap Ahab. 2Raja-raja 19:25 - Tuhan mewujudkan ketetapan / rencanaNya tentang penghancuran Israel / Yerusalem. 1Taw 10:4,14 - sekalipun Saul bunuh diri, tetapi tetap dikatakan bahwa ‘Tuhan yang membunuh dia’ (ay 14). 2Taw 21:16-17 - Tuhan menggerakkan hati orang Filistin dan Arab untuk melawan Yoram. 2Taw 25:16,20 - penolakan Amazia terhadap nasehat nabi membuat nabi itu yakin / tahu bahwa Allah telah menentukan supaya Amazia tidak mendengarkan nasehatnya, karena Allah hendak menyerahkan-nya ke tangan Yoas. 2Taw 36:17 - Tuhan menggerakkan raja orang Kasdim untuk meng-hancurkan Yehuda. Ayub 1:21 42:11b - Semua malapetaka yang dialami Ayub adalah pekerjaan Tuhan. Amsal 16:4 - Tuhan membuat orang fasik untuk hari malapetaka! Yes 10:5-7,12,15,22,23 - Penindasan oleh Asyur terhadap Yehuda merupakan pekerjaan Tuhan yang menggunakan Asyur sebagai ‘cambuk murka / tongkat amarah’ (ay 5). Padahal penindasan itu sendiri adalah dosa, dan karena itu akhirnya Asyur dihukum oleh Tuhan (ay 12). Yes 63:17a - "Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalanMu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepadaMu?". Yer 19:7-9 - Tuhan membuat orang Yehuda mati oleh pedang lawan, dan Tuhan membuat mereka memakan anak dan temannya sendiri! Perbuatan kanibal ini datang dari Tuhan! Yer 25:9-12 - Tuhan bekerja sehingga Babilonia menghancurkan Yehuda. Yer 43:10-11 - Tuhan bekerja menggunakan Babilonia untuk menghancurkan Mesir. Yer 47:6-7 - Tuhan menyuruh pedang Firaun untuk membunuhi orang Filistin. Yer 50:9 - Tuhan menggerakkan bangsa-bangsa besar dari Utara untuk menghancurkan Babel. Ratapan 2:6 - Tuhan menjadikan orang lupa akan perayaan dan sabat! Yeh 14:9 - kalau nabi palsu membiarkan dirinya tergoda dengan me-ngatakan suatu ucapan, maka Tuhan yang menggoda nabi palsu itu. Hab 1:6,12 - Tuhan membangkitkan orang Kasdim untuk membunuh / menyiksa. Zakh 14:2 - Tuhan bekerja mengumpulkan segala bangsa untuk me-merangi mereka, dan melakukan perampokan dan pemerkosaan. Mat 11:25,26,27b - Tuhan menyembunyikan Injil terhadap orang pan-dai. Ini membuat mereka tidak mungkin bisa percaya kepada Kristus. Mark 4:11-12 Yoh 12:39-40 - Tuhan bekerja sehingga nubuat Yesaya terjadi. Kis 2:23 4:27-28 - Tuhan bekerja sehingga pembunuhan / penyaliban terhadap Yesus yang sudah Ia tetapkan, terlaksana. Ro 11:7-8,25b - Orang-orang menjadi tegar karena Allah membuat mereka tertidur, memberi mata / telinga yang tidak dapat melihat / mendengar. Jelas bahwa ketegaran mereka merupakan pekerjaan Tuhan. Ro 11:32 berkata bahwa Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua! 2Tes 2:10-11 - Allah mendatangkan kesesatan atas mereka yang menyebabkan mereka percaya akan dusta! Wah 17:17 (NIV) - "For God has put it into their hearts to accomplish his purpose by agreeing to give the beast their power to rule, until God’s words are fulfilled" (= Karena Allah telah memasukkan hal itu kedalam hati mereka untuk melaksanakan tujuanNya dengan menyetujui untuk memberikan binatang itu kuasa untuk memerintah, sampai firman Allah tergenapi). Ini menunjukkan bahwa Allah bekerja sehingga orang-orang itu mau tunduk kepada binatang itu! Kalau saudara betul-betul ingin mengetahui apakah doktrin Providence of God ini betulbetul merupakan ajaran Kitab Suci, bacalah semua ayat-ayat di atas ini dengan teliti! 4) Sekalipun ada dosa dalam Providence of God, itu tentu tidak berarti bahwa dosa itu merupakan tujuan akhir dari Allah. Kalau Allah menetapkan terjadinya dosa dan lalu melaksanakan rencanaNya itu, maka tentu Ia mempunyai tujuan yang baik. Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hal itu: 67


o o o o

Ro 3:5 - ‘... ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah’. Ro 3:7 - ‘... kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya’. Ro 5:20b - ‘di mana dosa bertambah banyak di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah’. Ro 11:32 - ‘Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua’. Kata-kata ‘telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan’ menunjukkan bahwa dalam Providence of God ada dosa, dan kata-kata ‘supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua’ menunjukkan adanya tujuan yang baik di dalam semua itu.

o

o

o o

1Tim 1:13-16, khususnya ay 16nya, menunjukkan bahwa kebejadan Paulus sebelum ia menjadi kristen justru akhirnya menjadi suatu contoh bagi orang bejad lainnya. Tentu saja bukan supaya mereka meniru kebejadan itu, tetapi supaya mereka melihat dalam diri Paulus bahwa orang bejadpun bisa diampuni asal mau percaya kepada Yesus. Dengan dermikian ini menjadi suatu dorongan bagi orang-orang bejad yang lain untuk percaya kepada Yesus, dan sekaligus menjadi suatu jaminan bahwa kalau mereka mau percaya kepada Yesus, maka sama seperti Paulus merekapun akan diampuni. Adanya dosa memang menunjukkan kasih / kemurahan Allah secara lebih menyolok, karena kalau tidak ada dosa, kita tidak bisa melihat bagaimana Allah mengampuni manusia berdosa melalui salib. Adanya dosa juga menunjukkan kesabaran Allah, yang tidak langsung menghukum pada waktu melihat dosa (bdk. Ro 2:4). Adanya dosa juga lebih bisa menunjukkan keadilan dan kesucian Allah. Jadi jelas dari semua contoh di atas ini bahwa dosa akhirnya memang bisa membawa kemuliaan bagi Allah! Catatan: Tetapi awas, ini tak berarti kita boleh / harus berbuat dosa untuk bisa memuliakan Allah (bdk. Ro 3:7-8 Ro 6:1-2,12-14).

V) Providence dan tanggung jawab manusia: Adanya Rencana Allah dan Providence of God tidak membuang tanggung jawab manusia. Alasannya: 1) Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan kepada kita (yaitu Firman Tuhan), bukan berdasarkan kehendak Allah yang tersembunyi / yang tidak kita ketahui. Ul 29:29 - "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini". Charles Haddon Spurgeon: "Let the providence of God do what it may, your business is to do what you can" (= Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalahm melakukan apa yang kamu bisa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 43. Contoh: Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:22 Ro 9:22), tetapi kita / manusia tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini: o o

sekarang ini saya tak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti pasti akan percaya dengan sendirinya. mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti akan percaya dengan sendirinya. 68


Kita harus hidup berdasarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinya-takan bagi kita), misalnya: o o

Kis 16:31 - perintah untuk percaya kepada Yesus. Mat 28:19-20 - perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang. 2) Sekalipun Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi pada saat dosa itu terjadi, manusia melakukan dosa itu dengan kemauannya sendiri! Ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak dibuang! Contoh:

o o o o o

Kel 7:3,13 - Allah mengeraskan hati Firaun, tetapi Firaun juga mengeraskan hatinya sendiri. Ul 2:30 - Allah mengeraskan hati Sihon, tetapi Sihon juga mengeraskan hatinya sendiri. Ayub 1:15,17,21 - Ayub berkata bahwa ‘Tuhan yang mengambil’; tetapi orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan hal itu dengan kemauan mereka sendiri. Yes 10:5-7 - Asyur adalah alat Tuhan, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan motivasi lain. Yer 25:9-12 - Allah menggunakan Nebukadnezar, tetapi ia dihukum oleh Allah karena hal itu. Charles Haddon Spurgeon: (tentang tentara yang tak mematahkan kaki Kristus tetapi menusuk Kristus dengan tombak) "They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The fore-ordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other" (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orangorang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garisgaris yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - ‘A Treasury o f Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’, hal 670-671.

Ini semua menyebabkan manusia tetap bertanggung jawab atas dosa-dosanya, dan ini membedakan manusia dari robot / wayang. Ini menyebabkan Calvinism / Reformed berbeda dengan Fatalism maupun Hyper-Calvinism, yang karena percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, lalu hidup secara apatis / acuh tak acuh / tak bertanggung jawab!

VI) Keberatan / serangan terhadap doktrin ini: 1) Manusia menjadi seperti robot / wayang. Jawab: Lihat point V di atas. 69


2) Kalau Allah sudah menetapkan segala sesuatu, bagaimana mungkin manusia masih bisa mempunyai kebebasan, dan bahkan harus bertanggung jawab atas dosanya? Jawab: a) Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini. Orang Reformed hanya melihat bahwa 2 hal itu sama-sama diajarkan oleh Kitab Suci, tetapi Kitab Suci tidak pernah mengharmoniskannya. Karena itu orang Reformed juga mengajarkan kedua hal itu, tanpa bisa mengharmoniskannya. Loraine Boettner: "But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency" (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providence ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38. Charles Haddon Spurgeon: "man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible" (= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasi-kan segala sesuatu tetapi manusia bertanggungjawab) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10. Charles Hodge: "God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility" (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332. Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa). Kalau saya membuat film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi selalu ada sedikit kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun. Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan. b) Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu maha kasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia maha kasih dan maha tahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang 70


yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang mengharmoniskan 2 hal itu, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin Providence of God ini kita tidak mau bersikap sama? 3) Bagaimana Allah yang maha suci bisa menciptakan dosa? Jawab: a) Allah memang menetapkan terjadinya dosa dan mengatur sehingga dosa terjadi, tetapi Allah bukan pencipta dosa. Lihat point IV, 2, a,b di atas. b) Dalam menetapkan dan mengatur terjadinya dosa Allah mempunyai tujuan yang baik. Lihat point IV, 4 di atas. 4) Ada banyak orang yang keberatan dengan diajarkannya doktrin ini karena bisa menimbulkan tanggapan yang negatif, misalnya malah berbuat dosa karena toh sudah ditentukan, marah kepada Allah sebagai penentu penderitaan kita, malas berdoa / memberitakan Injil karena semua toh sudah ditentukan, dsb. Jawab: Harus diakui bahwa tanggapan salah seperti itu bisa saja terjadi, tetapi itu adalah kesalahan orang yang mendengar ajaran ini! Jangan lupa bahwa Injilpun bisa menimbulkan tanggapan yang negatif. Misalnya: Kalau ada orang yang mendengar bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa-dosanya, baik yang dulu, yang sekarang, maupun yang akan datang, maka bisa saja ia lalu malah berbuat dosa karena toh sudah dibayar / ditebus oleh Yesus. Lalu, apakah Injil sebaiknya tidak diajarkan karena bisa menimbulkan tanggapan negatif seperti ini? John Murray berkata: "... perversion does not refute the truth of the doctrine perverted" (= penyim-pangan tidak menyangkal kebenaran dari doktrin yang disimpangkan) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 87.

VII) Guna doktrin ini bagi kita: Doktrin ini mempunyai banyak manfaat yang penting dalam hidup kita, seperti: 1) Pada saat kita mengalami penderitaan, kesedihan dsb, kita harus ingat bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak / Rencana Allah, dan kita juga harus percaya bahwa semua itu terjadi untuk kebaikan kita yang adalah anak-anakNya / orang pilihanNya (Ro 8:28). Ini akan merupakan penghiburan yang luar biasa di tengah-tengah segala penderitaan / kesedihan. John Owen: "Amidst all our afflictions and temptations, under whose pressure we should else faint and despair, it is no small comfort to be assured that we do nor can suffer nothing but what his hand and counsel guides unto us, what is open and naked before his eyes, and whose end and issue he knoweth long before; which is a strong motive to patience, a sure anchor of hope, a firm ground of consolation" (= Di tengah-tengah semua penderitaan dan pencobaan, yang tekanannya bisa membuat kita lemah / takut dan putus asa, bukan penghiburan kecil untuk yakin bahwa kita tidak bisa menderita apapun kecuali apa yang tangan dan rencanaNya pimpin kepada kita, apa yang terbuka dan telanjang di depan mataNya, dan yang akhirnya dan hasilnya Ia ketahui jauh sebelumnya; yang merupakan motivasi yang kuat pada kesabaran, jangkar pengharapan yang pasti, dasar penghiburan yang teguh) - ‘The works of John Owen’, vol 10, hal 29. 2) Dalam keadaan bahaya / kritis, doktrin ini memberikan ketenangan kepada kita karena kalau kita yakin bahwa Allah mengontrol segala sesuatu maka kita tidak perlu kuatir terhadap apapun juga. 71


3) Pada saat kita mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, kita bisa lebih mengampuni dan tidak mendendam, kalau kita mengingat bahwa dibalik semua itu ada Rencana Allah dan Providence of God. Contoh: o o o o

Yusuf dalam Kej 45:5,7,8 Kej 50:20 Ayub dalam Ayub 1:21 Daud dalam 2Sam 16:5-11 Yesus dalam Yoh 18:11

-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

DOKTRIN ALLAH : Theology oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

VIII) Kutipan-kutipan pendukung: Bahwa apa yang saya ajarkan di atas memang adalah ajaran Calvinism / Reformed yang sejati, dan bukannya ajaran Hyper-Calvinism, saya buktikan di bawah ini dengan mengutip dari tulisan-tulisan John Calvin, dari Westminster Confession of Faith (Pengakuan Iman dari gerejagereja Presbyterian / Reformed di Amerika), dan dari tulisan-tulisan para ahli Theologia Reformed. Perlu saya tekankan sekali lagi bahwa tujuan saya memberikan kutipan-kutipan yang banyak di bawah ini, bukanlah untuk membuktikan kebenaran dari doktrin Providence of God ini. Bukti dan dasar Kitab Suci dari doktrin Providence of God telah saya berikan di depan. Juga saya tidak memberikan kutipan-kutipan ini secara sistimatis, karena tujuan saya memberikan kutipankutipan ini hanyalah untuk membuktikan bahwa doktrin Provi-dence of God yang ajarkan benar-benar merupakan ajaran Refomed yang dipercaya dan diajarkan oleh John Calvin dan ahli-ahli theologia Reformed yang lain.

John Calvin, ‘Institutes of the Christian Religion’: "But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan" [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah] - Book I, Chapter XVI, no 2. "... we make God the ruler and governor of all things, who in accordance with his wisdom has from the farthest limit of eternity decreed what he was going to do, and now by his might carries out what he has decreed. From this we declare that not only heaven and earth and the inanimate creatures, but also the plans and intentions of men, are so governed by his providence that they are borne by it straight to their appointed end" (= ... kami membuat Allah pengatur dan pemerintah segala sesuatu, yang sesuai dengan kebijaksanaanNya telah menetapkan sejak batas terjauh dari kekekalan apa yang Ia akan lakukan, dan sekarang dengan kuasaNya melaksanakan apa yang telah Ia tetapkan. Dari sini kami menyatakan bahwa bukan hanya surga dan bumi dan makhluk tak bernyawa, tetapi juga rencana dan maksud manusia begitu diperintah / diatur oleh providenceNya sehingga mereka dilahirkan olehnya langsung menuju tujuan yang ditetapkan bagi mereka) - Book I, Chapter XVI, no 8. 72


"Does nothing happen by chance, nothing by contingency? I reply: Basil the Great has truly said that ‘fortune’ and ‘chance’ are pagan terms, with whose significance the minds of the godly ought not to be occupied. For if every success is God’s blessing, and calamity and adversity his curse, no place now remains in human affairs for fortune or chance" (= Apakah tidak ada yang terjadi secara kebetulan? Saya menjawab: Basil yang Agung secara benar telah berkata bahwa ‘nasib baik’ dan ‘kebetulan’ adalah istilah kafir, dan pikiran orang benar tidak seharusnya diisi dengan istilah itu. Karena jika setiap sukses adalah berkat Allah, dan malapetaka dan kemalangan adalah kutukanNya, tidak ada tempat tertinggal dalam hidup manusia untuk nasib baik atau kebetulan) - Book I, Chapter XVI, no 8. "God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers" [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja-raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehen-daki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] - Book I, Chapter XVIII, no 1. "Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission - as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will"(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providence Allah dengan ‘sekedar ijin’ - seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya tergantung pada kehendak manusia) - Book I, Chapter XVIII, no 1. "Likewise in Isaiah, He declares that he will send the Assyrians against the deceitful nation and will command them ‘to take spoil and seize plunder’ (Isa 10:6) - not because he would teach impious and obstinate men to obey him willingly, but because he will bend them to execute his judgments, as if they bore his commandments graven upon their hearts; from this it appears that they had been impelled by God’s sure determination. I confess, indeed, that it is often by means of Satan’s intervention that God acts in the wicked, but in such a way that Satan performs his part by God’s impulsion and advances as far as he is allowed" [= Demikian juga dalam Yesaya, Ia menyatakan bahwa Ia akan mengirim orang Asyur terhadap bangsa yang dusta dan akan memerintahkan mereka ‘untuk melakukan perampasan dan penjarahan’ (Yes 10:6) - bukan karena Ia akan mengajar orang-orang jahat dan keras kepala untuk mentaatiNya secara sukarela, tetapi karena Ia akan membengkokkan mereka untuk melaksanakan penghakimanNya; seakan-akan mereka mempunyai perintahNya tertulis dalam hati mereka; dari sini terlihat bahwa mereka dipaksa oleh penentuan yang pasti dari Allah. Saya mengakui bahwa seringkali Allah bertindak dalam diri orang jahat dengan menggunakan intervensi Setan, tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga Setan melakukan bagiannya oleh dorongan Allah dan bergerak maju sejauh ia diijinkan] - Book I, Chapter XVIII, no 2. "To sum up, since God’s will is said to be the cause of all things, I have made his providence the determination principle for all human plans and works, not only in order to display its force in the elect, who are ruled by the Holy Spirit, but also to compel the reprobate to obedience" (= Kesimpulannya, karena kehendak Allah dikatakan sebagai penyebab dari segala sesuatu, saya telah membuat providenceNya suatu prinsip yang menentukan untuk semua rencana dan pekerjaan manusia, bukan hanya untuk menunjukkan kekuatannya dalam diri orang pilihan, yang dipimpin oleh Roh Kudus, tetapi juga untuk memaksa orang yang bukan pilihan pada ketaatan) - Book I, Chapter XVIII, no 2. "... so that in a wonderful and ineffable manner nothing is done without God’s will, not even that which is against his will. For it would not be done if he did not permit it, yet he does not unwillingly permit it, but willingly; nor would he, being good, allow evil to be done, unless being 73


also almighty he could make good even out of evil" (= ... sehingga dalam cara yang indah dan tidak terkatakan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa kehendak Allah, bahkan apa yang bertentangan dengan kehendakNya. Karena itu tidak akan terjadi jika Ia tidak mengijinkannya, tetapi Ia tidak mengijinkannya dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela; dan Ia, karena Ia adalah baik, tidak akan mengijinkan kejahatan terjadi, kecuali Ia, yang juga adalah mahakuasa, bisa membuat yang baik bahkan dari hal yang jahat) - Book I, Chapter XVIII, no 3 (bagian ini dikutip oleh Calvin dari Agustinus).

‘Westminster Confession of Faith’: Chapter II, 1: "... God, ... working all things according to the counsel of His own immutable and most righteous will" (= ... Allah ... mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dari kehendakNya sendiri yang tetap dan paling benar). Chapter III, 1: "God from all eternity, did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass; yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures; nor is the liberty or contingency of second causes taken away, but rather established" (= Allah dari sejak kekekalan, melakukan, oleh rencana kehen-dakNya sendiri yang paling bijaksana dan suci, dengan bebas, dan dengan tidak berubah menetapkan apapun yang akan terjadi; tetapi dengan demikian Allah bukan pencipta dosa, dan kekerasan tidak digunakan terhadap kehendak dari makhluk ciptaan; juga kebebasan atau ketidakpastian dari penyebab kedua tidaklah diambil, tetapi sebaliknya diteguhkan). Chapter III, 2: "Although God knows whatsoever may or can come to pass upon all supposed conditions, yet hath He not decreed any thing because He foresaw it as future, or as that which would come to pass upon such conditions" (= Sekalipun Allah mengetahui apapun yang bisa terjadi dalam segala kondisi yang mungkin, tetapi Ia tidak menetapkan sesuatupun karena Ia melihatnya lebih dulu sebagai masa depan, atau sebagai apa yang akan terjadi dalam kondisi seperti itu). Chapter V, 1: "God the great Creator of all things doth uphold, direct, dispose, and govern all creatures, actions, and things, from the greatest even to the least, by His most wise and holy providence, according to His infallible foreknowledge, and the free and immutable counsel of His own will, to the praise of the glory of His wisdom, power, justice, goodness, and mercy" (= Allah Pencipta yang besar dari segala sesuatu menegakkan, mengarahkan, menentukan / mengatur, dan memerintah semua makhluk ciptaan, tindakan dan benda-benda, dari yang terbesar bahkan sampai kepada yang terkecil, oleh providenceNya yang paling bijaksana dan kudus, sesuai dengan pengetahuan-lebih-duluNya yang tidak bisa salah, dan rencana kehendakNya sendiri yang bebas dan tetap / kekal, untuk memuji kemuliaan dari hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan belas kasihanNya). Chapter V, 4: "The almighty power, unsearchable wisdom, and infinite goodness of God so far manifest themselves in His providence, that it extendeth itself even to the first fall, and all other sins of angels and men; and that not by a bare permission, but such as hath joined with it a most wise and powerful bounding, and otherwise ordering and governing of them, in a manifold dispensation, to His own holy ends; yet so, as the sinfulness thereof proceedeth only from the creature, and not from God, who, being most holy and righteous, neither is nor can be the author or approver of sin" (= Kemahakuasaan, hikmat yang tak terselami, dan kebaikan yang tak terbatas dari Allah begitu jauh memanifestasikan dirinya dalam providenceNya, sehingga menjangkau bahkan kejatuhan pertama ke dalam dosa, dan semua dosa-dosa lain dari malaikat dan manusia; dan itu bukan sekedar suatu ijin, tetapi sedemikian rupa sehingga telah menggabungkan dengannya batasan yang paling bijaksana dan kuat, dan selain itu menetapkan / mengatur dan menguasai mereka, dalam berbagai-bagai pengaturan, untuk tujuanNya sendiri yang kudus; tetapi sedemikian rupa sehingga keberdosaan dari padanya keluar hanya dari makhluk ciptaan, dan bukan dari Allah, yang karena keberadaanNya yang paling kudus dan benar, bukanlah dan tidak bisa menjadi pencipta atau penyetuju dosa). Chapter VI, 1: "Our first parents, being seduced by the subtilty and temptation of Satan, sinned, in eating the forbidden fruit. This their sin, God was pleased, according to His wise and holy counsel, to permit, having purposed to order it to His own glory" (= Nenek moyang kita yang pertama, 74


setelah digoda oleh kelicinan / kelicikan dan pencobaan Setan, berdosa dengan memakan buah terlarang. Dosa mereka ini, Allah berkenan, menurut rencanaNya yang bijaksana dan kudus, mengijinkannya, setelah menetapkan untuk menentukannya untuk kemuliaanNya sendiri).

‘The Larger Catechism’: Question 12: "What are the decrees of God?" (= Pertanyaan 12: Apakah ketetapan-ketetapan Allah itu?). Answer: "God’s decrees are the wise, free, and holy acts of the counsel of His will, whereby, from all eternity, he hath, for his own glory, unchangeably foreordained whatsoever comes to pass in time, especially concerning angels and men" (= Jawab: Ketetapan-ketetapan Allah adalah tindakan-tindakan dari rencana kehendakNya yang bijaksana, bebas dan kudus, dengan mana dari sejak kekekalan, Ia telah, untuk kemuliaanNya sendiri, menentukan secara tidak bisa berubah segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu, khususnya berhubungan dengan malaikat dan manusia).

John Owen, ‘The works of John Owen’, vol 10: "Whatsoever God hath determined, according to the counsel of his wisdom and good pleasure of his will, to be accomplished, to the praise of his glory, standeth sure and immutable" - hal 20. "If God’s determination concerning any thing should have a temporal original, it must needs be either because he then perceived some goodness in it of which before he was ignorant, or else because some accident did affix a real goodness to some state of things which it had not from him; neither of which, without abominable blasphemy, can be affirmed, seeing he knoweth the end from the beginning" - hal 20. "Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass" - hal 23.

Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’: "Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)" - hal 100. "In the case of some things God decided, not merely that they would come to pass, but that He himself would bring them to pass, either immediately, as in the work of creation, or through the mediation of secondary causes, which are continually energized by His power. He himself assumes the responsibility for their coming to pass. There are other things, however, which God included in His decree and thereby rendered certain, but which He did not decide to effectuate Himself, as the sinful acts of His rational creatures" - hal 103. "It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man 'both to will and to do', when man goes contrary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination" - hal 105.

Robert L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’:

75


"The decrees of God are His eternal purpose according to the counsel of His will, whereby, for His own glory, He hath foreordained whatsoever comes to pass" - hal 121. "God’s decree ‘foreordained whatsoever comes to pass’; there was no event in the womb of the future, the futurition of which was not made certain to God by it" - hal 213. "By calling it permissive, we do not mean that their futurition is not certain to God; or that He has not made it certain; we mean that they are such acts as He efficiently brings about by simply leaving the spontaneity of other free agents, as upheld by His providence, to work of itself, under incitements, occasions, bounds and limitations, which His wisdom and power throw around. To this class may be attributed all the acts of rational free agents, except such are evoked by God’s own grace, and especially, all their sinful acts" - hal 214.

B. B. Warfield, ‘Biblical and Theological Studies’: "the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)" - hal 296. "Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan - a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass" - hal 276. "an all-inclusive plan embracing all that is to come to pass; in accordance with which plan He now governs His universe, down to the least particular, so as to subserve His perfect and unchanging purpose" - hal 278. "According to the Old Testament conception, God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will, and His works of providence are merely the execution of His allembracing plan" - hal 281. "We are never permitted to imagine, to be sure, that God is the author of sin, either in the world at large or in any individual soul ... But neither is God’s relation to the sinful acts of His creatures ever represented as purely passive ... Nevertheless, it remains true that even the evil acts of the creature are so far carried back to God that they too are affirmed to be included in His allembracing decree, and to be brought about, bounded and utilized in His providential government. It is He that hardens the heart of the sinner that persists in his sin (Ex. 4:21, 7:3, 10:1,27, 14:4,8, Deut 2:30, Jos 11:20, Isa 63:17); it is from Him that the evil spirits proceed that trouble sinners (1Sam. 16:14, Judg. 9:23, 1Kings 22, Job 1); it is of Him that the evil impulses that rise in sinners’ hearts take this or that specific form (2Sam. 24:1)" - hal 284. "this God is e Person who acts purposefully; there is nothing that is, and nothing that comes to pass, thatHe has not first decreed and then brought to pass by His creation or providence" - hal 284. "But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise" - hal 285.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol I: "By this is meant that from the indefinite number of systems, or series of possible events, present to the divine mind, God determined on the futurition or actual occurrence of the existing order of things, with all its changes, minute as well as great, from the beginning of time to all eternity. The reason, therefore, why any event occurs, or, that it passes from the category of the possible into that of the actual, is that God has so decreed" - hal 537. 76


"Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention" - hal 538-539. "The decrees of God are certainly efficacious, that is, they render certain the occurrence of what He decrees. Whatever God foreordains, must certainly come to pass. ... All events embraced in the purpose of God are equally certain, whether He has determined to bring them to pass by his own power, or simply to permit their occurrence through the agency of his creatures. ... Some things He purposes to do, others He decrees to permit to be done. He effects good, He permits evil. He is the author of the one, but not of the other" - hal 540-541. "... the unity of God’s plan. If that plan comprehends all events, all events stand in mutual relation and dependence. If one part fails, the whole may fail or be thrown into confusion" - hal 541. "The doctrine of the Bible is, that all events, whether necessary or contingent, good or sinful, are included in the purpose of God, and that their futurition or actual occurrence is rendered absolutely certain" - hal 542. "With regard to the sinful acts of men, the Scriptures teach, (1)That they are so under the control of God that they can occur only by His permission and in execution of His purposes. He so guides them in the exercise of their wickedness that the particular forms of its manifestation are determined by His will" - hal 589.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol II: "As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception" - hal 313. "And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself" - hal 320. "If He foreordains whatsoever comes to pass, then events correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs" - hal 323.

William G. T. Shedd, ‘Calvinism: Pure & Mixed’: "When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul" - hal 31. "Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’" - hal 36. 77


"Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’; and yet occurs through the agency of the unforced and self-determining will of man as the efficient" hal 37.

Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’: "Since the universe had its origin in God and depends on Him for its continued existence it must be, in all its parts and at all times, subject to His control so that nothing can come to pass contrary to what He expressly decrees or permits. Thus the eternal purpose is represented as an act of sovereign predestination or foreordination, and unconditioned by any subsequent fact or change in time. Hence it is represented as being the basis of the divine foreknowledge of all future events, and not conditioned by that foreknowledge or by anything originated by the events themselves" hal 14. "The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages" - hal 23. "His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestination. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and overruled for the divine glory" - hal 24. "Even the sinful acts of men are included in the plan and are overruled for good" - hal 29. "All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do" - hal 38. "The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain" - hal 42. "Common sense tells us that no events can be foreknown unless by some means, either physical or mental, it has been predetermined. Our choice as to what determines the certainty of future events narrows down to two alternatives - the foreordination of the wise and merciful heavenly Father, or the working of blind, physical fate" - hal 42.

Herman Hoeksema, ‘Reformed Dogmatics’: "For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world" - hal 157. "Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for is the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permission presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must maintain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God. For it is certainly according to the determinate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with 78


the Gentiles and Israel, are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to serve the cause of God’s covenant" - hal 158.

Herman Bavinck, ‘The Doctrine of God’: "All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man" - hal 342. "God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, ..." - hal 369. "Furthermore, God’s thought, embodied in creation, cannot be conceived of as an uncertain idea, doubtful of realization; it is not a ‘bare knowledge’ that receives its contents from creation; it is not a plan, a project, or purpose whose execution can be frustrated" - hal 370. "God’s counsel is no more an act that pertains to the past than is the generation of the Son; it is eternal, divine act, eternally finished, yet continuing forevermore, apart from and raised above time. Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will; neither is it a plan once for all completed and finished and simply awaiting execution. But God’s decree is the eternally active will of God: it is the willing and purposing God himself; it is not something accidental to God, but being God’s will in action, it is one with his essence. It is impossible to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will. Nevertheless, all this does not conceal the fact that God’s decree is an ‘immanent work’ determined by nothing else than by God himself, and distinct in character from God’s works in time, Acts 15:18; Eph 1:4" - hal 370.

John Murray, ‘Collected Writings of John Murray’, vol II: "It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass" - hal 64. "The foreknowledge of God presupposes certainty of occurrence; hid foreordination renders all occurrence certain; by his providence what is foreordained is unalterably put into effect" - hal 6566. "The question here is that of the divine causality in connection with sin. ... There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. ... The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history - the crucifixion of our Lord - was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall" - hal 72-73.

Gresham Machen, ‘The Christian View of Man’: "How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple. The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan" (= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam ren-cana kekal Allah; tidak ada sedikitpun yang terjadi di luar rencana kekalNya) - hal 35.

Arthur Pink, ‘The Sovereignty of God’: "To declare that the Creator’s original plan has been frustrated by sin, is to dethrone God. To suggest that God was taken by surprise in Eden and that He is now attempting to remedy an unforeseen calamity, is to degrade the Most High to the level of a finite, erring mortal" - hal 21-22. 79


Arthur Pink, ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross": "It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events - a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two malefactors, all unknown to himself, he was but putting into execution the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should be ‘numbered with the transgressors’ (Isa 53:12). ...Not a single word of God can fall to the ground. ‘Forever, O LORD, Thy word is settled in heaven’ (Ps 119:89). Just as God had ordained, and just as He had announced, so it came to pass" [= bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari segala hari, atau dalam hubungannya dengan Peristiwa di antara segala peristiwa - suatu Hari dan Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tentukan terjadi persis seperti yang Ia tentukan, dan tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 kriminil, tanpa ia sendiri sadari, ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyatakan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkan sebagai pemberon-tak / pelanggar’ (Yes 53:12). ... Tidak satupun dari firman Allah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Maz 119:89 - diterjemahkan dari KJV). Persis seperti yang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan, begitulah hal itu terjadi] - hal 24-25.

Jerome Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’: "We assert that God did from eternity decree to make man in His own image, and also decreed to suffer him to fall from that image in which he should be created, and thereby to forfeit the happiness with which he was invested, which decree and consequences of it were not limited to Adam only, but included and extended to all his natural posterity" - hal 87-88. "That he fell in consequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? ... Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, He certainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eternal, though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether man stood or fell’. But in what a shameful, unworthy light does this represent the Deity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are not ‘the very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial and worthless are subject to the appointment of His decree and the control of His providence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?" - hal 88-89. Catatan: Jerome Zanchius sebetuolnya tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed, karena ia hidup sejaman dengan Calvin, yaitu tahun 1516-1590. Tetapi pandangannya dalam hal ini jelas merupakan pandangan Reformed.

80


-AMINe-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com

81


doktrin alllah