Issuu on Google+

KONTRIBUSI KEILMUAN DAN KELEMBAGAAN ISLAM DI INDONESIA SOLIHIN, S.Pd.I. 1. perkembangan keilmuan dan kelembagaan pendidikan islam masa klasik dan implikasinya bagi masa sekarang A. Pendidikan pada Zaman Rasulullah S.A.W. Pendidikan Islam dimulai pada zaman Rasulullah S.a.w di Makkah dan merupakan bentuk dasar dari pendidikan yang bertujuan untuk membina pribadi muslim agar menjadi kader yang berjiwa kuat dan dipersiapkan menjadi masyarakat Islam, mubaligh, dan pendidik yang baik. Dan setelah hijrah, disamping membentuk pribadi muslim pendidikan Islam mengalami perkembangan dan diarahkan untuk membina seluruh aspek-aspek kehidupan manusia dalam mengelola dan menjaga kesejahteraan umat manusia. Kepedulian Rasulullah terhadap pendidikan ini terlihat sekali pada saat selesai perang Badar, bahwa tawanan perang dari orang-orang Quraisy yang mampu membaca dan menulis ditawari oleh beliau untuk mengajar membaca dan menulis kepada masyarakat muslim di Madinah untuk menebus kebebasan mereka, sehingga dalam waktu relatif singkat masyarakat muslim di Madinah banyak yang mampu membaca dan menulis. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah sesuai dengan tujuan hidup manusia, sebab pendidikan hanyalah alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya baik sebagai individu maupun masyarakat1. B. Sejarah Pendidikan dalam Islam

1

Muh. Thalhah hasan, Dinamika Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Lantabora Press) hal. 58


Pendidikan Islam secara kelembagaan tampak dalam berbagai bentuk dan variasi. Disamping lembaga yang bersifat umum seperti masjid, terdapat juga lembaga yang sengaja dibangun dengan orientasi tertentu. Ahmad Syalabi membagi institusi-institusi pendidikan Islam itu menjadi dua kelompok, yakni kelompok sebelum madrasah dan setelah madrasah2. 1. Lembaga Pendidikan sebelum Madrasah Jauh sebelum mengenal madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang terstruktur dan terorganisasi, umat Islam telah mengenal beberapa lembaga pendidikan yang bisa dikatakan sebagai embrio perkembangan pendidikan Islam, adapun lembaga-lembaga tersebut adalah3: 1.1. Shuffah Pada masa Rasulullah SAW, shuffah adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktivitas pendidikan biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Di sini para siswa diajari membaca dan menghafal Al-qur’an secara benar dan hukum islam dibawah bimbingan langsung dari Nabi, dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu filsafat. 1.2 Kuttab atau maktab. Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis menulis. Kurikulum pendidikan di kuttab ini berorientasi kepada al- qur’an sebagai suatu teks book, hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa arab. Sejarah khususnya yang berkaitan dengan Nabi SAW. Bahkan dalam perkembangan kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab yang mengajarkan 2

3

Ahmad Syalaby, History of Muslim Education, (Beirut: Dar-al-Kassyaf, 1954.), hal. 55

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), hal. 32-42


pengetahuan non agama (secular learning) dan kuttab yang mengajarkan ilmu agama (religius learning).

1.3 Halaqah. Halaqah artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk di lantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan di halaqah ini tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat. 1.4 Majlis. Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya disaat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi dimana aktivitas pengajaran berlangsung. Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan, dan majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin Ahmad ada 7 (tujuh) macam majlis, seperti: Majlis al-hadits, Majlis al-tadris, Majlis al- manazharah, Majlis muzakarah, Majlis al-syu’ara, Majlis aladab, Majlis al-fatwa dan al-nazar. 1.5 Masjid Semenjak berdirinya di zaman Nabi SAW, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga

pendidikan.

Perkembangan

masjid

sangat

signifikan

dengan

perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan. Urgensi masyarakat terhadap masjid menjadi semakin kompleks, hal ini menyebabkan karakteristik masjid berkembang menjadi dua bentuk yaitu masjid sebagai tempat sholat jum’at atau jami dan masjid biasa. Kurikulum pendidikan di masjid biasanya merupakan tumpuan


pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat pemerintah, seperti, qodhi, khotib dan iman masjid.

1.6 Khan. Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang- barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, khan al narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di bagdad. 1.7 Ribarth Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah. 1.8 Rumah Ulama. Rumah sebenarnya bukan tempat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama dizaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. 1.9 Toko buku dan perpustakaan. Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya manjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan disitu. Disamping toko buku, perpustakan juga memilki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam. 1.10.Rumah sakit. Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percabaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan dilaksanakan sehingga kemajuan ilmu kedoteran dan obat-obatan cukup pesat. Rumah sakit juga merupan tempat praktikum sekolah kedoteran yang didirikan diluar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.


1.11.Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui) Badiah merupakan sumber bahasa arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa arab. Oleh karena itu badiahbadiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak kholifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi ke badiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan. 2. Lembaga Pendidikan Setelah Madrasah Diantara faktor yang mendukung berdirinya madrasah adalah faktor politik4, hal ini bermula pada perpecahan yang terjadi akibat dari berdirinya kekhalifahan Syi’ah di Kairo yang memisahkan diri dari kekhalifahan Sunni di Baghdad sebelum akhir abad ke 4 Hijriyah. Selain karena perbedaan doktrin kedua golongan terjadi pula persaingan diantara keduanya. Maka dari itu pendidikan menjadi senjata dari perlombaan politik tersebut. Khalifah-khalifah Syi’ah di Kairo

mengklaim

diri

mereka

sebagai

keturunan

Nabi

dan

mereka

memperkuatnya melalui pendidikan yang terencana dan diselenggarakan oleh negara yang berpusat pada lembaga yang diberi nama Dar-al-Ilmi. Sebuah masjid yang berhasil direbut di Kairo segera digunakan sebagai tempat belajar sesuai dengan doktrin penguasa baru. Masjid ini sekarang dikenal dengan Al-Azhar, dan dianggap sebagai universitas tertua di dunia5. Menanggapi tantangan pendidikan tersebut, meskipun agak terlambat khalifah Sunni yang berada di Baghdad dengan langkah yang sama juga mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama madrasah pada abad ke 5 hijriyah. Serupa dengan apa yang dilakukan oleh saingannya, lembaga ini didirikan guna menyebarluaskan dogma penguasa saat itu. pendirian madrasah adalah untuk mengambil hati rakyat, mengaharap ampunan dari Allah,

4

Mahmud yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992) diantara

motivasi, h.40 5

Ibid. Hal. 48


memelihara kehidupan anak-anak di kemudian hari, memperkuat aliran keagamaan bagi sultan atau penguasa.(motif politik ini yg paling dominan). Masih pada abad 5 hijriyah Nizam Al-Mulk6 salah seorang wazir Dinasti Seljuk yang sunni dan juga seorang penganut ideologi Syafi’iyah Asy’ariyah, merasa bahwa untuk melawan ideologi Dinasti Fathimiyah di Kairo yang beraliran Sy’iah saat itu tidak cukup dengan mengangkat senjata, maka beliau berinisiatif untuk mendirikan madrasah-madrasah di setiap kota daerah kekuasaannya yang tidak lain untuk membendung doktrin-doktrinSyi ’a h yang disebarkan secara aktif dan sistematik oleh Dinasty Fathimiyah. Lahirnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan pendidikan yang pada awalnya berlangsung di mesjid-mesjid. Disisi lain perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, madrasah adalah tujuan sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak mengganggu kegiatan ibadah, dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah. Dengan berdirinya madrasah, maka pendidikan islam mesasuki periode baru, dan madrasah-madrasah tersebut adalah: 2.1. Madrasah sebelum Nizhamiyah. Sebelum Nizham Al-Mulk menggagas berdirinya madrasah bagi Dinasty Seljuk, sebelumnya telah berdiri madrasah-madrasah yang menjadi cikal bakal munculnya madrasah Nizhamiyah, madrasah tersebut berada di daerah Persia yaitu di wilayah Nisyafur misalnya madrasah Al-Baihaqiyah, Sa’idiyah. Akan tetapi madrasah ini tidak begitu terkenal karena masih bersifat ahliyah (kekeluargaan)7. 2.2. Madrasah Nizhamiyah. Madrasah nizhamiyah merupakan prototipe awal bagi lembaga pendidikan tinggi, ia juga dianggap sebagai tonggak baru dalam penyelenggaraan pendidikan islam, dan merupakan karakteristik tradisi pendidikan islam sebagai suatu 6

http: //e n. wikipe dia. o rg /wiki/ Niz am_ al -Mulk

7

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), hal. 58


lembaga pendidikan resmi dengan sistem asrama. Pemerintah atau penguasa ikut terlibat didalam menentukan tujuan, kurikulum, tenaga pengajar, pendanaan, sarana fisik dan lain-lain. 2.3. Madrasah di Mekah dan Madinah. Informasi tentang madrasah mendapat dukungan banyak dari berbagai literatur. Namun sayang para sejarawan tidak cukup tertarik berbicara madrasah di Mekah dan Madinah. Hal ini mengakibatkan pelacakan informasi tentang permasalahan tersebut kurang lengkap. Lebih lanjut secara kuantitatif madrasah di Mekah lebih banyak dibandingkan di Madinah. Diantara madrasah Abu Hanifah, Maliki, madrasah Ursufiyah, madrasah Muzhafariah, sedangkan madrasah megah yang dijumpai di Mekah adalah madrasah qoi’it bey, didirikan oleh Sultan Mamluk di Mesir.8 3. Kurikulum Pendidikan Islam 3.1.Kurikulum Pendidikan Islam sebelum Madrasah. 3.1.1. Kurikulum pendidikan rendah Sebelum berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan islam, tetapi hanya satu tingkat yang bermula dikuttab dan berakhir didiskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat islam, dilembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping alqur’an, kadang diajarkan tata bahasa Arab.9 3.1.2.Kurikulum pendidikan tinggi. Kurikulum pendidikan tinggi, berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu. Kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama dan jurusan ilmu pengetahuan. Al-Khuwarazmi (Yusuf al- kutub, tahun 976) meringkas kurikulum agama

8

Ibid. 83

9

Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1992) hal. 113


sebagai berikut: Ilmu Fiqih, ilmu nahwu, ilmu kalam, ilmu kitabah (sekretaris), ilmu arudh, dan lain- lain.10 3.1.3.Kurikulum setelah berdirinya Madrasah. Pada zaman keemasan Islam, aktivitas-aktivitas kebudayaan pendidikan islam tidak mengizinkan teologi dan dogma membatasi ilmu pengetahuan mereka, mereka meyelidiki setip cabang ilmu pengetahuan manusia, baik psikologi, sejarah, historiografi, hukum, sosiologi, kesustraan, etika, filsafat, teologi, kedokteran, matematika, logika, seni, arsitektur. Sejalan dengan perkembangan zaman dan tingkat kebutuhan, mendirikan madrasah dianggap krusial. Biasanya sebuah madrasah dibangun untuk seorang ahli fiqih yang termasyhur dalam suatu mazhab yang empat. Umpamanya Nuruddin Mahmud bin Zanki telah mendirikan di Damaskus dan Halab beberapa madrasah untuk mazhab Hanafi dan Syafi’i dan telah dibangun juga sebuah madrasah untuk mazhab ini di kota Mesir.11 C. Implikasinya terhadap masa sekarang Madrasah sebagai sebuah institusi yang lahir karena kondisi sosial politik masa itu, motivasi yang mendasari berdirinya lembaga pendidikan Islam selain motivasi agama, sosial, dan ekonomi juga didorong oleh motivasi politik. Dengan berdirinya madrasah maka dunia pendidikan dalam Islam memasuki fase baru, yaitu lembaga pendidikan menjadi fungsi bagi negara untuk doktrinisasi dan sebagai pembentukan kader negara. Meskipun madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran di dunia Islam baru timbul sekitara abad ke 4 H, namun cukup memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan Islam di masa sekarang ini. Hal ini terbukti dengan masih dipakainya model atau metode pengajaranya bagi pendidikan Islam sekarang ini, terutama prinsip-prinsip dasar yang sesuai dengan kaidah –kaidah Al-Qur’an dan hadits.

10 11

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), hal. 120 Ibid. 124


2. pandangan tentang pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang dan kontribusi pemikiran yang ditawarkan untuk pendidikan Islam di masa mendatang

A. Terjadinya pergeseran makna tentang konsep pendidikan Islam Konsep-konsep kependidikan Islam dewasa ini mengalami proses perubahan, pergeseran, dan dinamika, disebabkan dengan berkembangannya pandangan dunia Islam mengenai segala sesuatu, dan kepentingan atau kebutuhan masyarakat muslim untuk mengejawantahkan keberagamaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, jika kita perhatikan, pengertian pendidikan Islam mengalami pemaknaan yang dinamis dari waktu ke waktu. Sehingg masingmasing pihak memaknai pendidikan Islam secara berbeda-beda. Hanya kelebihannya, tidak sebagaimana dalam perbedaan masalah-masalah fiqh (ikhtilaf), perbedaan pemahaman dan pemakanaan pendidikan Islam tidak banyak menimbulkan sengketa dan konfrontasi. Dan, apa yang dipahami mengenai pendidikan Islam, itulah yang mereka jalankan, sehingga coraknya dapat berbeda-beda, sekaligus memperkaya perspektif pendidikan Islam. Ada sementara kalangan memaknai pendidikan Islam dari aspek kelembagaannya, sehingga muncul beberapa kategori lembaga pendidikan, seperti pesantren, madrasah, dan sekolah yang diberi nama-nama yang bernuansa Islam, seperti pendidikan Muhammadiyah dan Ma’arif. Ada juga yang mengartikan pendidikan Islam dari segi muatan kurikulum yang dikembangkan, yakni yang disebut sebagai pendidikan Islam manakala diajarkan mata pelajaran-mata pelajaran berkarakteritik Islam, misalnya fiqh, tawkhid atau kalam, akhlak dan tasawwuf, tarikh, dan bahasa Arab. B. Perlunya Regulasi Lembaga Pendidikan Islam Variasi pendidikan Islam tidak saja terkait dengan isi atau kurikulum yang dikembangkan, melainkan juga menyangkut kelembagaannya. Lembaga pendidikan Islam sangat variatif, yaitu ada pesantren, diniyah, madrasah, dan


sekolah dengan berbagai jenjang, mulai dari Raudatul Athfal atau Taman Kanak-kanak (RA/TK), Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar (MI/SD), Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah Menengah Pertama (MTs./SMP), Madrasah Aliyah atau Sekolah Menengah Atas (MA/SMA), hingga Perguruan Tinggi. Berbagai jenis dan jenjang pendidikan Islam itu sebagian berstatus negeri dan sebagian lainnya berstatus swasta. Bahkan pesantren, 100 % seluruhnya berstatus swasta. Kuantitas pertumbuhan lembaga pendidikan swasta selalu meningkat lebih cepat. Semangat berpartisipasi atau mendirikan lembaga pendidikan di kalangan swasta sangat tinggi. Justru yang dirasakan berat bagi pemerintah, bukan

mendorong

partisipasi

masyarakat

terhadap

penyelenggaraan

pendidikan, melainkan justru mengeremnya, agar pertumbuhan itu tidak terlalu cepat. Atau, dengan kata lain, perlu regulasi yang jelas dan berperspektif ke depan yang jauh. Peraturan itu tentu saja mengungkapkan berbagai restriksi, namun, pembatasan-pembatasan itu hendaknya terkait dengan standar kualitas yang diharapkan dan disesuaikan dengan tujuantujuan yang lebih strategis. C. Untuk Pengembangan Pendidikan Perlu adanya sebuah Rancangan Strategis yang baik Tampak dengan jelas bahwa pengembangan pendidikan Islam selama ini hanya sampai pada tataran alamiah. Pengembangan pendidikan Islam belum didasarkan pada perencanaan yang menyeluruh dan komprehensif. Kebijakan yang selama ini muncul dari pemerintah hanyalah berupa rambu-rambu aturan main pendirian lembaga dan pengawasannya agar tidak merugikan masyarakat. Pemerintah hanya membuat peraturan kapan lembaga pendidikan dapat didirikan dan apa saja syarat minimal yang harus dipenuhi. Peraturan itu juga hanya menyangkut lembaga pendidikan formal, baik yang diprakarsai oleh masyarakat maupun yang dikembangkan sendiri oleh pemerintah, yang disebut sebagai lembaga pendidikan yang berstatus negeri.


Dalam hal ini semestinya, pemerintah tidak membeda-bedakan antara sekolah yang negeri ataupun yang swasta dalam memberikan aturan-aturan (regulasi) tentang kelembagaan pendidikan. Selama ini, pemerintah belum memiliki rencana yang berskala besar dan menyeluruh tentang pengembangan pendidikan Islam. Jika diumpamakan negeri ini sebagai sebuah kebun, dan kebun itu akan ditanami berbagai jenis tanaman berupa lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi; kenyataannya, hingga saat ini belum ada rancangan yang sistematik tentang tanaman itu. Pertumbuhan semacam itu, selain berakibat tidak ada jaminan terhadap kualitas yang akan dihasilkan, juga keberadaannya tidak merata. Lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi Islam, hanya menyentuh aspek eksistensialnya dan belum pada tingkat kualitasnya. Sebagai akibatnya, pertumbuhan lembaga pendidikan Islam secara kuantitatif sangat cepat; namun, belum diikuti gerakan untuk meningkatkan kualitasnya. Itulah yang saya sebut sebagai buah dari kesadaran eksistensial itu. D. Perlu Adanya Reformasi Kurikulum dan Sistem Evaluasi Polemik tentang pelaksanaa Ujian Nasional (UN), semakin marak ketika pemerintah dituntut oleh organisasi-organisasi kependidikan agar tidak lagi mengadakan Ujian Nasional. Karena tidak sesuai dengan prinsip pemerataan kualitas antara pendidikan Negeri dan swasta, antara perkotaan dan pedesaan. Pendidikan agama Islam di sekolah umum hanya diberikan dua jam mata pelajaran satu minggu, sementara klasifikasi pendidikan agama Islam cukup banyak: Fiqih, Akidah, Akhlaq dan lain sebagainya. Hal ini tidak mungkin terjadi kesesuaian dengan konsep pendidikan Islam yang selama ini diwacanakan. Bahkan disinyalir mengalami kemunduran yang cukup signifikan. Bahkan di lembaga pendidikan Islam seperti MI, MTs, MA , aspek-aspek mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan Islam sudah mulai menurun. Penyebabnya secara psikologis adalah bahwa pendidikan Agama Islam tidak dimasukkan dalam UN. Sehingga penambahan dan


penguatan jam pelajaran agama tidak diperhatikan. Di dalam kurikulum KTSP Domain pendidikan yang berisi tentang kognitif, afektif dan psikomotorik mensyaratkan tidak perlu diadakannya UN. Karena sejauh ini pelaksanaan UN hanya diberlakukan melalui ranah Kognitif saja, sementara nilai afektif dan psikomotorik yang dirasa lebih penting tidak masuk penilaian bahkan kelulusan dalam pelaksanaa UN. Dalam konsep kurikulum terbaru ada pemberlakuan Value ( nilai) yang tersimpul dalam pendidikan karakter bangsa . Terdapat 18 aspek yang berkaitan dengan penilaian. Aspek-aspek tersebut sesungguhnya merupakan interpretasi dari pemaknaan pendidikan agama Islam. Penerapan model ini paling tidak memberikan sedikit pencerahan untuk perkembangan sistem pendidikan Nasional di Indonesi. Kata Kuncinya adalah; hilangkan Ujian Nasional ( UN). Biarkan pendidik ( Guru, Dosen) yang memberikan penilaian terhadap peserta didiknya. Sekian!!!

DAFTAR PUSTAKA Ahmad Syalaby, History of Muslim Education, (Beirut: Dar-al-Kassyaf, 1954.) Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1992) Muh. Thalhah hasan, Dinamika Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Lantabora Press, 2006) Nata, Abuddin. Prof. DR., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004) Yunus, Mahmud. Prof. DR., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992) http://en.wikipedia.org/wiki/Nizam_al-Mulk



kontribusi pendidikan Islam di Indonesia