Page 1

Kabinet Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Dengan bangga mempersembahkan:

Platform KM ITB 2010-2011 Terbangunnya Fondasi KM ITB secara Sinergis & Harmonis yang Bergerak Bersama Rakyat menuju Kemandirian Indonesia


1

Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang: •

Memiliki keinsafan tanggungjawab atas kesejahteraan masyarakatnya

•

Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan

•

Cakap dalam memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat

Mohammad Hatta


2

Falsafah Dasar Mahasiswa Mahasiswa pada dasarnya adalah sebuah status yang disematkan pada diri seseorang setelah ia berhasil memasuki sebuah institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Menurut definisi pemerintah 1, mahasiswa adalah: Peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program pendidikan akademik, professional, atau profesi di Institut dan merupakan komponen masyarakat akademik Institut yang bersama-sama dengan komponen lainnya bertanggungjawab dalam melaksanakan misi pendidikan Institut. Namun status mahasiswa juga memiliki fungsi dan peranan dalam ranah yang lebih luas. Seperti yang dijelaskan oleh Hatta, yaitu: Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang: 1. Memiliki keinsafan tanggungjawab atas kesejahteraan masyarakatnya 2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. Cakap dalam memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat Ungkapan pemikiran Hatta di atas dapat disederhanakan bahwa mahasiswa merupakan insan akademis. Insan akademis adalah insan yang memiliki peran untuk selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Kemudian, peran yang akan muncul dengan sendirinya apabila mengikuti watak ilmu itu sendiri yaitu selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan selalu mengikuti watak ilmu ini maka insan akademis mengemban peran untuk selalu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan berdasarkan kebenaran ilmiah. 2

Pemerintah PERGURUAN TINGGI

Ekonomi

Sipil

Mahasiswa Indonesia menempati sebuah kelas yang istimewa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Posisinya berada dalam kelompok masyarakat sipil bersama dengan LSM dan masyarakat pada umumnya. Mereka berperan mengkritisi dua kelompok masyarakat lainnya, yaitu masyarakat 3 4 pemerintahan dan masyarakat ekonomi untuk menghasilkan sebuah tatanan negara yang ideal.

Kenapa disebut istimewa? Karena mahasiswa memiliki beragam potensi yang tidak dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya. Mahasiswa adalah masyarakat sipil muda yang terpelajar dengan sifat kritis, idealis, independen, memiliki basis keilmuan, memiliki kemudahan jaringan untuk membangun afiliasi, berwawasan luas dan multidimensi. Sehingga pada saat menjadi mahasiswa saja mereka mampu berperan sebagai kontrol sosial dan motor perubahan bangsa dan 1 2

3 4

PP No 155 tahun 2000, pasal 63 ayat 1 dan 2 Konsepsi kemahasiswaan ITB Pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR, DPRD, DPD, MPR, lembaga-lembaga negara seperti BUMN dsb Industri, pengusaha, praktisi perbankan dsb


3 ketika mereka memasuki kehidupan nyata mereka berperan sebagai pengganti aktor-aktor peradaban masa depan yang bertugas menggantikan generasi pendahulunya dalam membangun bangsa. KM ITB sebagai organisasi mahasiswa yang berfungsi memenuhi kebutuhan seluruh anggotanya, mengembangkan potensi dan karakter mahasiswanya dan kemudian mewujudkan karya nyatanya dalam perjuangan menata kehidupan berbangsa telah mengalami berbagai macam perubahan selama 12 tahun keberjalanannya. Dalam menentukan arah gerak KM ITB kedepannya tentu kita dituntut harus mengetahui kondisi dan tantangan yang akan dihadapi untuk kemudian merumuskan posisi dan peran KM ITB dalam menyelesaikan permasalahan- permasalahan tersebut. Satu kondisi yang harus dipahami bersama saat ini adalah adanya revolusi informasi dimana manusia telah mampu terhubung satu sama lain dan mampu menembus batas-batas geografis dengan mudahnya. Tatanan masyarakat dunia telah berubah sehingga menghasilkan analogi “The world is flat� 5 dan “Earth as a global village� 6. Konsekueksi yang tidak dapat dihindari dari hal ini adalah kejadian apapun yang terjadi pada belahan bumi manapun akan tetap mempengaruhi keberlangsungan hidup kita cepat atau lambat. Sebagai penghuni bumi ini kita dituntut untuk selalu menjaga keselamatan dan keberlangsungannya, menyiapkan diri terhadap perubahan cepat yang terjadi di dalamnya dan tetap menjalani segala aspek kehidupan dengan harmoni. Oleh karena itu pembangunan dasar berpikir terhadap arah gerak KM ITB harus diawali dengan menelaah kondisi dan tantangan global yang akan dihadapi, kemudian kondisi dan tantangan yang dihadapi Indonesia dan terakhir kondisi dan tantangan dalam kemahasiswaan ITB itu sendiri.

5 6

Thomas L Friedman, (2005), The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century Alvin Toffler, (1980), The Third Wave


4

The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom Isaac Asimov


5

Kondisi dan Tantangan Global IPTEK Kita tidak dapat memungkiri bahwa penguasaan dan kemajuan ilmu pengetahuan merupakan indikator penting kemajuan sebuah peradaban. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti telah mampu memberikan kemampuan untuk melepaskan kendala ruang dan waktu lalu kemudian membawanya pada peradaban dan kehidupan yang baru. Setiap produk dari inovasi teknologi akan memberi dampak langsung pada perubahan kultur, budaya dan keberlanjutan dari kehidupan itu sendiri. Fakta sejarah membuktikan bahwa para ilmuwan beserta temuannya telah mampu merubah tatanan hidup manusia secara menyeluruh. James Watt tak sekedar membuat mesin uap, yang ia buat adalah sesuatu yang melahirkan revolusi industri dan pada akhirnya mengubah tatanan sosial secara global. Dari sanalah lahir marxisme, dikotomi borjouis-proletar dan kolonialisme. Oppenheimer tak sekedar membuat bom atom, yang ia buat adalah sesuatu yang pada akhirnya menentukan konfigurasi politik global. Pun demikian dengan Shockley yang tak sekedar membuat transistor, yang ia ciptakan menjadi landasan revolusi teknologi informasi dan kini telah menjelma menjadi alat untuk infiltrasi budaya dan rekayasa sosial. Sejarah memang membuktikan bahwa kaum ilmuwan senantiasa berada didepan dalam gerak sejarah dan peradaban. Mungkin inilah yang membuat Michael hart menempatkan sebanyak 37 ilmuwan dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di Dunia. 7 Saat ini seluruh bangsa di dunia sedang berlomba-lomba mengembangkan tiga bidang ilmu, yaitu information technology, bio-technology dan nano-technology. Sejumlah futurist mengatakan akan terdapat unsur keempat yang tergabung dalam convergent technology, yaitu cogno/neuro technology yang pada dasarnya adalah paduan dari ketiga teknologi diatas. 8 Kata inovasi akan menjadi kunci dalam pengembangan teknologi kedepannya. Kita sudah sering melihat bahwa produk-produk yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan menjadi tidak berguna ketika tidak ada nilai inovasi didalamnya. Sebaliknya seringkali produk-produk usang menjadi terlihat more useful & more powerful ketika dimasukkan unsur inovasi. Menurut beberapa ahli terdapat 4 syarat dalam pengembangan inovasi teknologi di masa mendatang, yaitu: ramah lingkungan, hemat energi, hemat ruang dan hemat waktu. RAND Corporation menuliskan dalam technical report-nya yang berjudul The Global Technology Revolution 2020, In Depth Analysis (2006) terdapat 16 macam aplikasi teknologi yang penting dan akan menjadi identitas serta kultur baru perikehidupan manusia, yaitu: 1. Cheap solar energy 2. Rural wireless communications 3. Communications devices for ubiquitous information access anywhere, anytime 4. Genetically modified (GM) crops 5. Rapid bioassays 7 8

Zulkaida Akbar, Reorientasi Gerakan Mahasiswa : Kesadaran atas Peran Kaum Intelektual, 2009 James Canton, The Extreme Future, Dutton-Penguin Book Ltd


6 6. Filters and catalyst for water purification and decontamination 7. Targeted drug delivery 8. Cheap autonomous housing 9. Green manufacturing 10. Ubiquitous RFID tagging of commercial products and individuals 11. Hybrid vehicles 12. Pervasive sensors 13. Tissue engineering 14. Improved diagnostics and surgical method 15. Wearable computers 16. Quantum cryptography Lalu dimanakah peran ITB sebagai institut berbasis teknologi dalam menjawab tantangan ini? Tidak ada salahnya apabila kita sedikit berkaca pada MIT sebagai institut teknologi terbaik di dunia saat ini yang menyatakan9, “Ukuran seberapa besar MIT mampu membentuk masa depan bergantung kepada bagaimana cara kita melihat nama kita sendiri. Apabila kita sekedar melihat bahwa kita hanyalah bagian dari Massachusets Institute of Technology, maka kita akan berakhir menjadi peran pembantu dalam bagian perubahan sejarah yang sangat signifikan. Namun apabila kita menekankan bahwa kita adalah bagian dari Massachusets Institute of Technology –sebuah penemuan sosial yang penuh dengan kebanggaan, tempat dimana orang-orang bekerjasama dalam membangun masyarakat dalam keberagaman, kesamaan dan keadilan- maka kita tentu akan mengambil peran utama dalam membentuk masa depan yang lebih baik”

Ekonomi

Masyarakat dunia beserta perekonomiannya berkembang dan berevolusi seperti grafik yang terlihat diatas. Era masyarakat informasi yang disebutkan Alvin Toffler kini telah berganti menjadi masyarakat ekonomi kreatif menurut John Howkins 10. Trend ekonomi kreatif diperkirakan tumbuh 5% pertahun

9

MIT: Shaping the Future (1991) Howkins, John, “The Creative Economy: How People Make Money From Ideas”, Penguin, 2001

10


7 secara global. Dari yang pada tahun 2000 sebesar $2,2 triliun hingga menjadi $6,1 triliun pada tahun 2020. Menurut Dept. of culture-media-sports Inggris, terdapat 11 sub-sektor dalam ekonomi kreatif, yaitu: 1. Periklanan 2. Arsitektur 3. Pasar seni dan barang antik 4. Kerajinan 5. Desain 6. Fashion 7. Video, film, animasi, fotografi 8. Software, computer games, e-book 9. Music, visual arts, performing arts 10. Penerbitan, percetakan 11. Televisi dan radio Di beberapa negara maju, peran industri kreatif sudah semakin terasa. Di Inggris, ekonomi kreatif merupakan sektor ekonomi terbesar kedua setelah sektor financial dengan pertumbuhan diatas 9% pertahun. Di Korea selatan, industri kreatif sudah mampu mengalahkan industri manufaktur dalam menghasilkan GDP. Sedangkan di 5% dari GDP Singapura disumbangkan oleh industri kreatif. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia baru saja memulai pembentukan ekonomi kreatifnya sejak penyelenggaraan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang pertama tahun 2007. Ekonomi kreatif di Indonesia selama 2002-2006 telah menyumbang 6,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau mencapai Rp104,6 triliun dan menyerap 5,4 juta tenaga kerja. Kontribusinya terhadap kinerja ekspor cukup besar, yaitu sekitar 10% atau Rp81,5 triliun pada 2006. Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif pada 2015 naik menjadi 7-8 persen. 11 Dalam peta kekuatan ekonomi belakangan ini muncul kekuatan baru, yaitu China, India dan Rusia. Ketiga negara ini memiliki bargaining position yang tinggi di mata negara-negara maju. Sementara itu negaranegara berkembang lain semakin merapat ke ketiganya. Kehadiran ketiga kekuatan tersebut dapat mengimbangi dominasi negara-negara maju atas perekonomian negara-negara berkembang. Bahkan 11

Analisa Jkt, Rabu, 18 November 2009


8 tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat ketiga negara ini secara ekonomi dapat disejajarkan dengan negara-negara Uni Eropa dan AS. Selain itu saat ini semakin terlihat pemerataan ekonomi internasional. Akibat krisis global dengan titik episentrum yang berada di negara-negara maju. Maka mereka-lah yang paling parah menderita akibat krisis tersebut. Sehingga kekuatan-kekuatan ekonomi yang baru muncul memiliki bargaining position yang tinggi di mata negara-negara maju. Dalam perkembangan mazhab ekonomi dunia, sistem ekonomi syariah juga mulai berkembang pesat. Pusat kajian studi sistem ini justru berada di negara kelahiran revolusi industri dan kapitalisme, yaitu Inggris. Sistem ini dapat dikatakan menjadi alternatif yang paling diharapkan akibat kejenuhan dunia terhadap sistem liberal dan kapitalis dengan segala macam ketamakan dan kerusakan yang ditimbulkan. Sistem ekonomi syariah lebih mengedepankan perputaran sektor riil, yang lebih terjamin ketika terjadi ketidakstabilan pasar moneter. Selain itu dalam sistem ini juga terdapat sistem jaminan sosial yang sudah teruji, seperti instrument zakat, infaq dan sedekah.

Politik AS sebagai negara adidaya kini diambang kehancurannya akibat krisis ekonomi global yang terjadi pada akhir 2008. Kini semakin terlihat sikap politik AS dan negara-negara Uni Eropa melemah terhadap negara-negara berkembang. Saat pasar dalam negeri mereka melemah, jumlah pengangguran meningkat, aliran modal tersendat, nilai tukar mata uang melemah. Sehingga negara-negara maju sangat memerlukan dana segar atau investasi langsung untuk menutupi kerugian akibat sebab-sebab di atas. Tentu saja negara-negara berkembang tidak dapat begitu saja menuruti keinginan negara-negara maju. Sebagai negara yang berdaulat mereka pun akan memanfaatkan kesempatan itu untuk meningkatkan daya tawarnya. Dalam laporan yang dilansir oleh National Intellegence Council (NIC), tentang Mapping the Global Future, terdapat gambaran bahwa Cina, sebagai kekuatan baru dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta keteguhannya berpegang kepada ideologi Sosialis, ditopang dengan jumlah demografis yang besar dan wilayah geografis yang luas, benar-benar menjadi ancaman real bagi Amerika, dan negara-negara Barat-Kapitalis lainnya. Di sisi lain, India disebut-disebut sebagai negara berikutnya, dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang signifikan, serta jumlah penduduk yang besar akan berpotensi menjadi kekuatan baru di masa depan. Dalam bidang militer, muncul pula kekuatan-kekuatan baru yang diperhitungkan AS dan sekutusekutunya yaitu China, Rusia dan Iran. Karena didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, maka wajar bila China dan Rusia meningkatkan anggaran militernya. Sedangkan Iran walaupun secara ekonomi masih berada pada level rata-rata negara berkembang, namun memiliki teknologi militer yang cukup tangguh dan mandiri. Iran pun menjalin kedekatan militer dengan Rusia dan China. Selain itu iran secara diplomatis dekat dengan Suriah, Libia dan Amerika Latin seperti Venezuela, Kuba dan Bolivia. Semua ini memberinya posisi tawar yang tinggi di mata AS, Uni Eropa dan Israel. 12

12

Cecep Zakarias El Bilad, (2009), Dampak Krisis Global Terhadap Perubahan Peta Politik Dunia, Malang


9

Sosial budaya Kondisi sosial dunia sangat berubah semenjak terjadinya revolusi informasi. Masyarakat dunia menjadi semakin terhubung satu sama lain dengan adanya situs jaringan pertemanan sosial yang beraneka ragam. Menurut data, dibutukan waktu 38 tahun bagi radio untuk mencapai angka 50 juta pengguna, 13 tahun bagi televisi sedangkan internet hanya dalam waktu 4 tahun. Namun facebook hanya membutuhkan 9 bulan untuk menambah penggunanya hingga 100 juta. Hal tersebut berakibat pada budaya dunia yang semakin menjadikan ruang virtual seakan-akan sebuah kenyataan (virtual reality).

Generasi muda saat ini mengalami sebuah krisis identitas ditengah derasnya arus informasi yang bisa mereka dapatkan. Mereka cenderung tidak bisa memilah dan memilih mana saja budaya global yang sesuai dengan jatidiri & kearifan lokal bangsanya masing-masing. Bagi negara-negara yang tidak mampu membendung marketisasi budaya global, maka tinggal menunggu waktu hingga para pemudanya menjadi penganut gaya hidup seks bebas, konsumen setia barang-barang bermerk internasional dengan harga yang sensasional, narkotika, tempat hiburan malam dsb. Hal tersebut menyebabkan pragmatisme & individualisme di kalangan pemuda masa kini, dimana mereka memandang segala persoalan hidup hanya berdasarkan asas manfaat bagi dirinya sendiri. Dilain pihak revolusi informasi telah menghasilkan kerajaan media yang kemudian melahirkan satu pengetahuan kolektif bernama Imagologi. Imagologi lahir ketika dunia ide direkayasa menjadi dunia materi melalui proses pencitraan, agar ide dapat diproduksi massal dan populer. Produksi ide secara massal ini ternyata melahirkan pendangkalan pikiran gaya baru. Seperti contohnya berbagai berita hiburan (infotainment) yang bagi masyarakat semakin sulit dipisahkan dengan kebutuhan akan berita politik, ekonomi dan hukum. Media yang disebut sebagai pilar keempat demokrasi ternyata dapat dikatakan bebas nilai sehingga bergantung siapa yang memiliki akses untuk menguasainya. Kerajaan media mampu melokalisir kebusukan para stake holder-nya agar tidak meluas, menyebarluaskan paham & ideologi agar


10 dikonsumsi masyarakat dunia dan menciptakan suasana yang sesuai dengan keinginan korporatokrasi global untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Contohnya ketika sejumlah media di Amerika membesar-besarkan berita bahwa terdapat gelombang kemarahan masyarakat Iran yang menentang keputusan menangnya Mahmoud Ahmadinedjad. Padahal unjuk rasa itu dilakukan tak lebih oleh para pendukung Mousavi dan merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah pemilihan kepala negara, seperti yang sering terjadi di negara-negara demokratis lainnya.


11

Hal-hal yang melemahkan umat manusia: Politik tanpa prinsip Kesenangan dunia tanpa nurani Kekayaan tanpa usaha Pengetahuan tanpa jiwa Usaha tanpa moral Sains tanpa kemanusiaan Pemujaan tanpa mau berkorban Mahatma Gandhi


12

Kondisi dan Tantangan Indonesia Ekonomi Sebagai salah satu negara yang mengikuti poin-poin dalam Washington Consensus, Indonesia menganut paham ekonomi neoliberal yang mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan pada metode pasar bebas, pembatasan yang sedikit terhadap perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi. Sedangkan dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui caracara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi militer. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya. Dari sana dapat terlihat dengan jelas bahwa Indonesia lebih tepat disebut korban mazhab ekonomi neoliberal dibanding sebagai penganutnya. Dalam sektor riil, sudah jelas bahwa Indonesia memiliki potensi terbesar yang tidak dimiliki semua bangsa di dunia. Yaitu kekayaaan sumber daya alamnya yang sangat melimpah. Menurut buku World in Figure 2003, Indonesia adalah negara nomor 1 di dunia dalam menghasilkan lada putih, buah pala, kayu lapis, nenas dan LNG. Indonesia adalah archipelago 13.000 pulau yang memiliki perairan laut seluas 60 juta km2 dengan garis pantai terpanjang di dunia, yaitu 81.ooo kilometer. Dari wilayah yang seluas itu, potensi perikanan tangkap di Indonesia mencapai 6,26 juta ton pertahun 13. Indonesia juga memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang menyumbang sekitar 10% dari total luas hutan dunia. Belum cukup sampai disana, Indonesia memiliki cadangan yang lebih dari cukup untuk kebutuhan mineral dan logam nasional, bahkan internasional. Hingga saat ini Indonesia mampu memasok sekitar 24% timah dari total kebutuhan dunia atau setara dengan 60.ooo ton, lalu merupakan produsen terbesar keempat dunia untuk komoditas tembaga, kelima untuk komoditas nikel dan ketujuh untuk emas. 14 Namun kenyataan yang terjadi adalah Indonesia ibarat tikus mati dalam lumbung padi. Masyarakat mengalami resource curse 15 justru karena kekayaan alamnya. Bagaimana tidak, sekalipun Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya sejak 65 tahun yang lalu, akan tetapi hegemoni bangsa asing terhadap Indonesia masih terasa saat ini melalui neo-kolonialisme di bidang ekonomi. Pemerintah melakukan privatisasi aset strategis kemudian menyusun kebijakan ekonomi yang berpihak pada kepentingan asing. Jelas terlihat bahwa penguasaan sumber daya alam, minyak, gas, dan tambang saat ini sudah dikuasai asing sebesar 80%, di mana 70% di antaranya adalah pengusaha Amerika Serikat (AS). Perusahaan asing tersebut antara lain: Freeport di Papua (Freeport McMoran), Blok Cepu di Jawa Timur (ExxonMobil), Blok Gas Tangguh di Papua Barat (British Petroleum), Blok 13

www.indonesia.go.id Berdasarkan pernyataan kepala subdit industri logam, departemen perindustrian, Dani Ramdani, di Pangkalpinang, 17 Oktober 2008 15 Auty, Richard M. (1993). Sustaining Development in Mineral Economies: The Resource Curse Thesis. London: Routledge 14


13 Mahakam di Kalimantan Timur (Total E&P Indonesie, Perancis), Blok Natuna di Kepulauan Riau (ExxonMobil); juga migas di Riau yang dikuasai Chevron Pacific, Newmont Minahasa dan Nusa Tenggara, Kelian Equatorial Mining (Aurora Gold Australia), dan lain-lain. Adapula Indosat yang dikuasai Temasek Holding dan Qatar Telecom. Pihak asing berhasil mencampuri pembuatan/pengesahan sejumlah undang-undang, bahkan dari mulai pembuatan draft (rancangan)-nya. Akibatnya, sejumlah UU terindikasi semakin kapitalistik dan liberal, yang ujung-ujungnya lebih memihak asing. Sebut saja UU Migas (UU No. 22 Th. 2001), UU BUMN (UU No. 19 Th. 2003), UU PMA (UU No. 25 Th. 2007), UU SDA (UU No. 7 Th. 2004), UU Kelistrikan (UU No. 20 Th. 2002), UU Tenaga Kerja (UU No. 13 Th. 2003), UU Pelayaran (UU No. 17 Th. 2008), UU Pengalihan Hutan Lindung menjadi Pertambangan (UU No. 19 Th. 2004), dan lainnya. Stiglitz menyatakan kondisi itu sebagai market fundamentalism, Naomi Klein menyebutnya sebagai shock doctrine, John Perkins menyebutnya sebagai akibat perbuatan the economic hitman dan Hertz mengindikasikannya sebagai the silent take over FAO menyatakan bahwa kerugian yang dialami oleh Indonesia akibat illegal fishing mencapai 30 trilyun rupiah pertahun. Praktek-praktek penebangan liar hutan Indonesia telah menyebabkan laju pengurangan luas hutan tertinggi di dunia, yaitu lebih dari 2 juta hektar pertahun dan menyebabkan kerugian negara sebesar 36,22 trilyun rupiah. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir luas areal hutan Indonesia mengalami penurunan dari 160 juta hektar menjadi 98 juta hektar. Dalam bidang moneter, Industri keuangan Indonesia masih didominasi oleh sektor perbankan yang meliputi sekitar 54% dari total PDB, sedangkan asset lembaga keuangan non-bank menyumbang sekitar 13,7% PDB. Sisanya adalah dana pensiun sebesar 5,8% PDB, asuransi sebesar 4,1% PDB dan perusahaan pembiayaan sebesar 3,7% PDB. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yang tercermin dari peningkatan produk domestik bruto (PDB). Tahun 2009, PDB Indonesia sudah mencapai Rp 5.309 triliun. Padahal berdasarkan laporan World Economic Forum yang berjudul The Global Competitiveness Report 1999, perbankan di Indonesia menduduki peringkat nomor 59 dari 59 negara. Begitu juga mengenai lembaga-lembaga atau institusi-institusi yang diperlukan di dalam perekonomian, Indonesia mendapatkan peringkat ke 55 dari 59 negara. Hal tersebut tidak lain disebabkan oleh korupsi yang merajalela. Selain itu pada kenyataannya angka pertumbuhan tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Angka pengangguran terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data BPS jumlah penduduk miskin sampai dengan Maret 2008 mencapai 15,42 persen atau 34,52 juta orang. Dilain pihak masih ada fakta bahwa saat ini masih ada 34,96 juta orang yang harus cukup dengan biaya hidup sebesar Rp 6.066 per hari. 16 Sedangkan manusia terkaya di Indonesia memiliki nilai kekayaan US$ 9,2 miliar (Rp.84,6 Triliun) dari total aset 150 orang terkaya di Indonesia sebesar US$ 69,3 miliar (Rp.637,3 triliun). 16

Penentuan standar miskin didasarkan pada ukuran pendapatan (ukuran finansial), dimana batas kemiskinan dihitung dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan. Untuk kebutuhan makanan digunakan patokan 2100 kalori perhari


14 Bandingkanlah nilai kekayaan mereka dengan APBN 2008 sebesar Rp854,6 triliun, maupun anggaran penanggulangan kemiskinan 2008 sebesar Rp 32 Triliun. Terbukti dengan sistem ekonomi saat ini terjadi disparitas pendapatan dan kesenjangan ekonomi yang sangat lebar. Nilai kekayaan seorang Aburizal Bakrie bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi anggaran penanggulangan kemiskinan di Indonesia! Dalam bidang pasar tenaga kerja dan SDM, fakta menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia hingga tahun 2008 masih jauh tertinggal, bahkan dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia masih bertengger pada posisi 107 dari 177 negara, dibandingkan Singapura pada peringkat 25, Malaysia 78, Thailand 79, Filipina 90 dan Vietnam 105. Tantangan berikutnya yang harus dihadapi Indonesia adalah kesepakatan dunia tentang Millennium Sustainable Development yang menghasilkan 8 target, yang juga disebut sebagai The Millenium Development Goals (MDG’s). Indonesia sebagai salah satu dari 189 negara yang ikut konferensi pada tanggal 3-14 Juni 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, harus mencapai target-target tersebut pada tahun 2015. Kedelapan poin tersebut adalah: 1. penurunan tingkat kemiskinan dan kelaparan 2. peningkatan kesempatan mendapatkan/menyelesaikan pendidikan dasar 3. realisasi kesamaan gender 4. menurunkan tingkat kematian bayi 5. peningkatan kesehatan ibu 6. mewujudkan kesehatan masyarakat & meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat 7. mewujudkan pelestarian lingkungan 8. melaksanakan kerjasama global untuk pembangunan negara tertinggal Oleh karena itu ITB, baik lulusan-lulusannya maupun sebagai institusi yang juga berbasis bisnis, harus mampu menjawab berbagai macam tantangan dan keterpurukan bangsa dalam bidang ekonomi. Bukankah professor Habibie bahkan memiliki mazhab ekonominya sendiri? Yang tidak kalah bersaing dengan mazhab Begawan ekonomi dari UI, Widjojo Nitisastro.


14

Analisis Masalah Ekonomi dan Peran Keluarga Mahasiswa ITB

KEBIJAKAN EKONOMI

mempengaruhi Liberalis

Tidak Protektif

Menentukan keberjalanan

SISTEM EKONOMI

mempengaruhi

landasan filosofis Ekonomi Pancasila / Kerakyatan

Kapitalis Pelaksanaan Tidak Sesuai dengan Landasan Filosofis Indonesia Kompetisi antarbangsa / kebutuhan untuk memperkuat daya asing Globalisasi mengatur

menumbuhkembangkan

KONDISI EKONOMI Aset resource

• • • • •

menjamin stabilitas

Tidak Stabil Kesenjangan Ekonomi Bergantung pada Produk Impor dan Investasi Asing Bertumpu pada Ekonomi Makro Kurang Memberdayakan Ekonomi Mikro / Sektor Riil

UMKM

Pembentukan Jiwa Wirausaha / Profesional

Mendukung ASET VITAL • • • • •

Air Energi Pangan Mineral Telekomunikasi

INDUSTRI mengelola

SDM

mempekerjakan

Mengelola Asset

Technopreneur

Kualitas Rendah

Meningkatkan efisiensivitas

menggunakan IPTEK

KETERANGAN : Peran KM ITB

• •

Terpuruk Penguasaan Rendah Pembangunan Basis Keprofesian


14

Politik Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjadi negara yang bermartabat dan sejajar di mata bangsa yang lain, serta mampu mensejahterakan masyarakatnya dengan potensi yang dimiliki. Semua itu didukung oleh seluruh instrumen politik di Indonesia, yaitu: sistem, pelaku, dan kebijakan politik yang kuat. Saat ini bangsa Indonesia sering kali dinilai lemah dalam sikap dan pendapatnya dalam bidang politik. Hal ini selain disebabkan lemahnya political will dari elit politik akibat terlalu banyaknya partai. Sehingga yang terjadi adalah koalisi-koalisi yang tidak bertujuan mensejahterakan rakyat, tetapi justru mencari optimasi dari setiap hubungan antara partai untuk mencapai tujuannya. Partai pada akhirnya hanya menjadi kendaraan politik dalam melanggengkan kekuasaan semata. Kader partai hanya berisi orang-orang kelaparan yang mudah digerakkan, atau justru berisi artis-artis yang menjual ketenaran. Banyak ideologi partai yang tidak jelas sehingga seakan tidak dapat dibedakan satu sama lain. Proses rekruitmen dan kaderisasi yang tidak becus sehingga menghasilkan jutaan swingvoters dan golput disetiap pemilihan. Ditambah lagi, ongkos politik yang sangat tinggi dan money politic yang menghasilkan wakil-wakil rakyat yang busuk dan korup. Kasus studi banding keluar negeri yang menghabiskan triliunan rupiah dari APBN per tahunnya, pembelian mobil mewah bagi aparatur negara, pembangunan gedung baru lengkap dengan fasilitas spa dan pusat kebugaran, skandal seks anggota dewan dan lain sebagainya merupakan sekian banyak dari deretan kasus wakil rakyat kita. Proses pemilihan secara langsung juga mengakibatkan pemimpin yang terpilih lebih menekankan politik pencitraan dan memperjuangkan kepentingan partai yang mengusungnya. Produk politik yang dihasilkan pun tak jauh dari kepentingan korporatokrasi global. Kontrak kerja dengan perusahaan tambang multinasional yang merugikan negara, prioritas pembangunan mall-mall dan hypermarket dibanding pasar tradisional, ketergantungan terhadap modal dan pinjaman asing. Hal tersebut mengakibatkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap para elit politik beserta segala dinamika didalamnya.


14

Analisis Masalah Politik dan Peran Keluarga Mahasiswa ITB KEBIJAKAN / KONSTITUSI

PEMERINTAH / PEMIMPIN membuat

Tidak Berkeadilan

Menentukan keberjalanan

• • •

Aktualisasi di masa depan Tidak Memiliki Integritas Tidak Memiliki Kapabilitas Krisis Kepemimpinan

Pembentukan Jiwa Kepemimpinan

mengatur

landasan SISTEM

IDEOLOGI & FALSAFAH

menaungi

MASYARAKAT KAWAL &KRITISI • •

Batasan Bersikap Ekskalasi

KETERANGAN : Peran KM ITB

mencerdaskan

Pencerdasan Masyarakat


15

Sosial budaya Setelah momentum proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia telah menutup fase liberation untuk kemudian membuka fase berikutnya, yaitu fase nation and character building 17. Namun, tantangan yang dihadapi pada fase kedua jauh lebih sulit daripada fase pertama. Untuk menghadapi tantangan tersebut bangsa Indonesia dituntut untuk tetap membangun dan menjaga kohesivitas serta tanggap terhadap perubahan yang terjadi di dunia 18. Pada fase ini, pembangunan tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, namun juga dengan pembangunan karakter. Pembangunan karakter tersebut menempatkan manusia sebagai subyek utama dan penggerak pembangunan bangsa. Karakter suatu bangsa berperan besar dalam mempertahankan eksistensi dan kemerdekaan, menentukan tingkat keberhasilan dan kemajuan bangsa tersebut, Sehingga pada akhirnya terwujudlah Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Dalam proses ini, jelas bahwa pendidikan nasional memiliki peran sentral dalam membentuk karakter sebuah bangsa. Para bapak bangsa memiliki sebuah tujuan luhur yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karenanya negara memiliki kewajiban untuk memajukan pendidikan nasional. Negara bertanggung jawab untuk memenuhi amanat konstitusi, baik itu menyediakan alokasi anggaran, menjamin aksesibilitas fasilitas pendidikan oleh seluruh elemen masyarakat, maupun menyusun mekanisme instutisional yang efektif, efisien, serta bermutu. Mekanisme instutisional yang ada harus mampu dievaluasi setiap saat untuk mengukur ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional 19 adalah: "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." Untuk itu Departemen Pendidikan Nasional menyusun Visi Pembangunan Pendidikan 2005-2025 20 dengan tahapan: peningkatan kapasitas & modernisasi (2005-2010), penguatan pelayanan (2010-2015), peningkatan daya saing regional (2015-2020) dan peningkatan daya saing internasional (2020-2025) Kebutuhan kita saat ini adalah untuk mengembalikan paradigma pendidikan kepada filosofi pendidikan. Bahwa sesungguhnya pendidikan harus mampu menyiapkan peserta didik untuk menghadapi segala perubahan, mampu mencerdaskan, serta memanusiakan peserta didik. Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan manusia paripurna yang dapat memaknai hakikatnya sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial.

17

Soekarno Prof. I Dewa Gede Raka 19 Undang-Undang 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional 20 Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2025 (2005) 18


16 Disisi lain pendidikan tidak akan terlepas dari peran pendidik itu sendiri. Ki Hajar Dewantara merumuskan peran pendidik sebagai seorang yang mampu memberi teladan (ing ngarso sung tuladha), mampu memberi motivasi (ing madyo mangun karsa), dan mampu memberi dorongan (tut wuri handayani). Peran ini tidak hanya harus dilakoni oleh guru di sekolah, namun juga oleh seluruh komponen bangsa lainnya, terutama orang tua. Lingkungan pendidikan harus dibentuk dari komunitas terkecil, yaitu keluarga, dan baru kemudian beranjak ke komunitas yang lebih besar, sehingga terbentuklah learning society yang kondusif. Dari sanalah anak bangsa ini belajar bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kebesaran bangsa ini tidak hanya terlihat dari jumlah penduduknya yang mencapai 250 juta jiwa, tetapi juga dari kemajemukan budayanya. Kemajemukan budaya tersebut terlihat dengan terdapatnya 495 suku etnis dan 567 dialek bahasa lokal yang tersebar di seluruh Indonesia. 21 Kemajemukan budaya yang ada merupakan keunggulan yang dimiliki Indonesia, namun dapat pula memicu konflik apabila tidak disikapi dengan bijak. Untuk menghindari potensi konflik yang terkandung dalam kemajemukan budaya diperlukan modal sosial untuk membangun kohesivitas (persatuan) bangsa. Modal sosial dapat didefinisikan sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat 22. Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial juga tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Bung Karno menyatakan bahwa Gotong royong adalah nilai bangsa, yang merupakan salah satu modal sosial yang menjadi corak kepribadian Indonesia. Modal-modal sosial lainnya tentu dapat dengan mudah kita temukan apabila kita mampu merenungi kearifan budaya Indonesia yang sangat kaya dan beraneka ragam, sama seperti bung karno ketika menghasilkan buah pemikiran pancasila-nya. Namun pada kenyataannya kini kita banyak menemukan fenomena rendahnya apresiasi terhadap budaya bangsa Indonesia sendiri. Bangsa ini baru akan menghargai budayanya setelah diklaim oleh negara lain. Cotohnya ketika Malaysia mengklaim batik motif perang asli Yogyakarta, angklung asli Jawa Barat, lagu daerah Maluku "Rasa Sayange", Reok ponorogo dari Jawa Timur dsb. Selain itu masih banyak pula pencurian artefak yang memiliki nilai sejarah atas kualitas seni yang tinggi untuk dijual di pasar internasional. Dan lebih parahnya lagi banyak cagar budaya yang seringkali dirusak oleh anak bangsa sendiri. Kekurangan modal sosial juga mengakibatkan bangsa ini rentan terhadap perpecahan dan konflik. Sebut saja masalah kebebasan memeluk agama dan kejadian penusukan jemaat HKBP Bekasi, atau konflik Poso dan Ambon yang telah lalu. Masyarakat berperilaku semakin liar dan mudah tersulut akibat persoalan-persoalan yang menyangkut perbedaan. Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan separatis yang masih menghantui keutuhan NKRI.

21 22

KBRI Beijing Francis Fukuyama


17

Analisis Masalah IPTEK dan Peran Keluarga Mahasiswa ITB MASYARAKAT

PENDIDIK

peran

KAWAL &KRITISI • •

peran

pasrtisipasi

Batasan Bersikap Ekskalasi

GURU • •

Mutu Guru Jaminan Kehidupan

Karakter Bangsa

identitas Apresisasi

materi Menentukan keberjalanan

Kebijakan Pendidikan

SISTEM PENDIDIKAN

KURIKULUM

Kearifan Lokal nilai

Menanamkan nilai,membentuk perilaku,meningkatkan kompetensi membuat

SDM Pendidikan

PEMERINTAH / PEMIMPIN • • •

Tidak Memiliki Integritas Tidak Memiliki Kapabilitas Krisis Kepemimpinan

Menyediakan / menjamin ketersediaan

Fasilitas

Menentukan kualitas

KEBUDAYAAN

Kualitas Rendah

Menciptakan, mengadopsi, mengfilter

Apresiasi Kurang

Menetukan kemampuan untuk mengakses

GLOBALISASI Benturan kebudayaan, asimilasi,dsb

produk

menentukan Kualitas Hidup

KESEJAHTERAAN • •

Aset pariwisata KESENIAN

Tangbel Intergbel

Menetukan kemampuan untuk mengakses membuat Pengabdian Masyarakat GAYA HIDUP

Kesehatan Daya dukung LINGKUNGAN Kebijakan Lingkungan Memberikan perlindungan / pengelolaan berkelanjutan

• •

Himpunan &unit

Unit Olahraga

Salah Kelola Eksploitasi

KETERANGAN :

Himpunan & Unit

Pemberdayaan Potensi Kampus

Peran KM ITB Pengembangan Kultur Pengelolaan Lingkungan Secara Berkelanjutan


18

IPTEK Indonesia merupakan negara yang memiliki indeks pencapaian teknologi dan indeks daya saing teknologi yang rendah. Berdasarkan data indikator keluaran teknologi Indonesia sebesar 24,8 sedangkan Amerika sebesar 93,9. Jika indikator ini dibandingkan dengan Thailand, mereka memang berada 4 poin dibawah Indonesia, namun dalam hal produktivitas dan infrastruktur teknologi kita tertinggal dari Thailand 23. Pada tahun 2001, UNDP melaporkan bahwa dari empat kelompok indeks pencapaian teknologi, yaitu: (1)Technology Inovator Countries, (2)Technology Implementator countries, (3)Technology Adaptor Countries dan (4)Marginalized Countries - Indonesia masih berada pada kelompok ketiga. Kita juga bisa melihat anggaran penelitian di Indonesia yang masih jauh dari cukup. Yakni hanya sekitar 0,5% dari produk domestik bruto (PDB) nasional per tahun. Idealnya anggaran riset di Indonesia mencapai antara 1-2% PDB. Menteri Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa alokasi anggaran untuk penelitian pada RAPBN 2009 diperkirakan akan mencapai Rp 8,3 triliun atau sebesar 0,157%dari GDP. Padahal anggaran riset negara Malaysia dan Singapura telah mencapai di atas 1%dari PDB. Bahkan, di Jepang hingga 7% PDB nasional dan Inggris mengalokasikan dana hingga US$ 15 Miliar untuk kegiatan penelitiannya. Menurut pemerintah, berikut adalah permasalahan utama pembangunan Iptek di Indonesia 24: 1. Keterbatasan sumberdaya iptek 2. Belum berkembangnya budaya iptek 3. Belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek 4. Lemahnya sinergi kebijakan iptek 5. Belum maksimalnya kelembagaan litbang 6. Belum terkaitnya riset dan kebutuhan nyata 7. Rendahnya aktivitas riset di perguruan tinggi 8. Kelemahan aktivitas riset Permasalahan lain yang bisa kita temukan dalam bidang IPTEK di Indonesia antara lain 25: rendahnya kemunculan inovasi baru dari lingkungan kampus–industri–masyarakat, aplikasi teknologi dan pengawasan yang minim dalam memajukan bidang industri primer, kemajuan teknologi yang tidak didukung dengan pertumbuhan industri hilir, orientasi pengembangan IPTEK yang berbasis modal bukan karakter, minimnya apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap prestasi, kurangnya fokus pada pengembangan IPTEK, perbandingan alokasi anggaran riset yang rendah, link and match hasil kegiatan litbang dan kebutuhan industri masih belum terwujud. Untuk menjawab itu semua pengembangan ITB sendiri selama tahun 2010-2015 bertujuan untuk: “Mewujudkan ITB sebagai innovator dan inkubator untuk kemandirian teknologi bagi industri strategis bangsa Indonesia� 23

High Tech Indicator Value tahun 2003 yang dilaporkan pada Indicators of Technology-Based Competitiveness of 33 Nations oleh Technology Policy Assessment Center, Georgia Institute of Technology, USA 24 Diuraikan oleh Kementrian Riset dan Teknologi pada Seminar Sinergisasi Pengembangan Teknologi dan Industri dalam rangka Akselerasi Pembangunan Nasional Bandung, 26 Maret 2007 25 Platform KM ITB 2009-2010


19

Dengan fokus pada pengembangan 10 macam bidang riset, yaitu 26: 1. Biotechnology & agriculture 2. Medical & healthcare technology 3. Hospital & health care centre 4. Pharmacy 5. Alternative energy 6. Water & sanitation 7. Waste & emission 8. Manufacture & process industry 9. Material sciences 10. Transportations

26

Rencana Induk Pengembangan (RIP) ITB 2025


20

Analisis Masalah dan Peran Keluarga Mahasiswa ITB

Sinergisasi Keprofesian kampus

PEMERINTAH / PEMIMPIN • • •

BELUM SINERGIS membuat

Tidak Memiliki Integritas Tidak Memiliki Kapabilitas Krisis Kepemimpinan

Perguruan Tinggi

Lembaga Penelitian

Memetakan Potensi Strategis KeprofesianSecara Tepat Guna

Meningkatkan kompetensi

KONDISI EKONOMI

SDM Kualitas Rendah

Melakukan riset

membuat

• • • • •

Tidak Stabil Kesenjangan Ekonomi Bergantung pada Produk Impor dan Investasi Asing Bertumpu pada Ekonomi Makro Kurang Memberdayakan Ekonomi Mikro / Sektor Riil

menggunakan mendukung

Tidak Sinergis

INDUSTRI

IPTEK

KEBIJAKAN RISET Menentukan daya dukung pemerintah

• •

Meningkatkan Efisiensivitas Terpuruk Penguasaan Rendah

Mengelola Asset

Membentuk iklim yang kondusif BUDAYA RISET Minim

Kompetitif

Pola Pikir Ilmiah

Pengembangan Budaya Riset KETERANGAN : Peran KM ITB Inovasi

Apresiasi Kreativitas


21

Yang memungkinkan penguasa yang bijak, jenderal yang baik untuk menguasai, dan mencapai semua hal diluar kemampuan orang biasa, adalah mengetahui lebih banyak Sun Tzu, Art of War


22

Kondisi dan Tantangan Kemahasiswaan ITB Dalam sebuah cerita ada seorang anak lelaki yang pernah berjanji pada dirinya bahwa suatu saat dia akan mengubah dunia yang penuh dengan kerusakan dan ketidakadilan. Setelah berumur 20 tahun dia berkata pada dirinya bahwa mengubah dunia mungkin terlalu sulit, maka ia berjanji akan mengubah bangsanya terlebih dahulu. Selang satu dekade ketika berumur 30 tahun ia berpikir bahwa mengubah bangsanya juga bukan hal gampang, sehingga ia berjanji akan mengubah masyarakat di kotanya. Saat berumur 40 tahun lagi-lagi ia merasa kesulitan, sehingga memutuskan untuk mengubah keluarganya terlebih dahulu. Pada akhirnya saat menjelang ajal dia baru menyadari bahwa untuk mengubah dunia, bangsa, kota atau bahkan keluarga harus diawali dari mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu. Sebesar apapun mimpi-mimpi kita sebagai mahasiswa dalam mengubah realita, pada akhirnya itu semua harus diawali dengan sebuah tindakan nyata. Perjalanan 1000 mil tidak akan dimulai tanpa sebuah langkah kecil, perubahan dunia tidak akan terjadi sebelum kita mengubah diri kita sendiri. Karena yang terpenting bukanlah ‘sebesar apa mimpi kita’, tapi ‘sebesar apa kita untuk mimpi itu’… Untuk itu mari kita kembali mencermati apa saja yang telah terjadi selama keberjalanan kemahasiswaan ini, bagaimana kondisinya saat ini, apa saja perubahan yang telah terjadi dan apa tantangan bagi KM ITB kedepannya?

Input mahasiswa Mayoritas mahasiswa ITB sudah jelas merupakan orang-orang yang memiliki tingkat intelektualitas terbaik. Berdasarkan data akademik WRAM, paling sedikit salah satu dari 5 besar peringkat SNMPTN tertinggi di Indonesia selalu memasuki kampus ITB. Nilai masuk terendah mahasiswa ITB masih lebih tinggi dibandingkan nilai masuk rata-rata universitas terbaik ke-5 di Indonesia (Unair). Kemudian berdasarkan data biro psikologis, IQ seluruh mahasiswa ITB berada dalam tingkat kecerdasan diatas rata-rata(>110).

35 30 25 20 15

33

10

14

5 0 Tahun 2009

Tahun 2010

Gambar 4. 1 Data Prestasi Nasional Mahasiswa ITB

9 8,8 8,6 8,4 8,2 8 7,8 7,6 7,4

9 8

Tahun 2009

Tahun 2010

Gambar 4. 2 Data Prestasi Internasional Mahasiswa ITB


23

Jika melihat dari latar belakang pendidikan pun, mayoritas mahasiswa ITB berasal dari sekolah-sekolah yang terbaik, baik dalam skala nasional maupun daerah masing-masing. Sehingga kita memang masih bisa merasakan kemajemukan suku dan budaya di kampus. Namun nama besar ITB ditambah gaya hidup kota Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa-siswa kota besar untuk berbondong-bondong masuk ITB. Ditunjang dengan kemampuan ekonomi yang diatas rata-rata membuat akses mereka terhadap pengetahuan, informasi dan teknologi menjadi lebih tinggi dibandingkan siswa-siswa lain. Di sisi lain kita semakin merasakan kepekaan sosial dan daya juang mahasiswa ITB yang semakin rendah. Karena sudah terbiasa hidup dalam kemudahan membuat banyak mahasiswa yang enggan keluar dari zona nyamannya. Gaya hidup kota besar telah menjadi sebuah kebutuhan, ditunjang dengan fasilitas kota Bandung yang lebih dari cukup. Bahkan saat ini tidak banyak mahasiswa ITB yang mengetahui apa ideologi hidupnya sendiri. Karena pola pikir yang terbawa cenderung berorientasi pada hal-hal yang bersifat material ketimbang substansi esensial.

Kemahasiswaan dalam lingkup ITB ITB sebagai institusi pendidikan tentu menyadari pentingnya mahasiswa dan kemahasiswaan sebagai salah satu upaya dalam mencapai tujuannya. Pemerintah menetapkan tujuan ITB 27 itu sendiri adalah: “Memajukan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta ilmu sosial dan kemanusiaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sejalan dengan dinamika masyarakat dunia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan melalui tridharma� Dalam surat keputusan yang dikeluarkan oleh Senat Akademik tentang kebijakan pembinaan kemahasiswaan 28, disebutkan bahwa: “Pembentukan karakter insan sosial lulusan ITB tidak mungkin sepenuhnya diperoleh dari kegiatan akademik ataupun kurikuler yang terprogram dan terjadwal mahasiswa dalam kelas. Sehingga selama di ITB, para mahasiwa dijamin memperoleh kesempatan untuk melatih diri mencapai prestasi akademik yang sangat tinggi secara efektif dan efisien, yang mendukung sikap percaya diri yang tinggi sehingga kelak menjadi duta ITB di masyarakat melalui karir professional, profesi akademik maupun sosial yang berguna bagi lingkungan dan bangsanya� Senada dengan hal tersebut, tujuan Keluarga Mahasiswa ITB 29 adalah: 1. Ikut serta mengusahakan tujuan pendidikan untuk membentuk sarjana yang berbudi pekerti, cakap, mandiri, berwawasan luas, demokratis, dan bertanggung jawab. 2. Memberikan dorongan kepada mahasiswa untuk menjadi pemimpin dan penggerak dalam kehidupan berbangsa. 3. Ikut serta menyumbangkan karya dan pikiran dalam penataan kehidupan bangsa. 4. Memupuk dan membina rasa persaudaraan dan kekeluargaan di lingkungan civitas akademika

27

PP No. 155 tahun 2000, pasal 10 Keputusan Senat Akademik ITB No: 02/SK/K01-SA/2008 tentang kebijakan pembinaan kemahasiswaan 29 AD/ART KM ITB 28


24 5. Mengusahakan kesejahteraan material dan spiritual serta memperjuangkan kepentingan mahasiswa di lingkungan kampus Permasalahan yang kemudian timbul biasanya lebih kepada pola komunikasi dan koordinasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu rektorat sebagai pelaksana kebijakan dengan Keluarga Mahasiswa ITB beserta semua elemen didalamnya. Pola Koordinasi & Komunikasi Semenjak terpilihnya rektor baru Akhmaloka, KM ITB masih dalam upaya mencari bentuk komunikasi terbaiknya. Belajar dari pengalaman yang telah lalu, mahasiswa telah menyadari bahwa organisasi kemahasiswaan adalah bagian tak terpisahkan dari ITB yang juga memikul tanggung jawab dan melaksanakan tujuan ITB. Kemudian hikmah dari berbagai permasalahan yang timbul telah membuat mahasiswa kini selalu berupaya untuk mendahulukan solusi dialogis dibanding dengan bersikap semaunya sendiri. Dilain pihak rektorat pun telah menyadari bahwa mahasiswa adalah elemen yang tidak bisa dilupakan dalam membangun ITB. MWA wakil mahasiswa sebagai representasi KM ITB dalam lembaga tertinggi di ITB merupakan sebuah bukti, sekaligus peluang bagi mahasiswa untuk membuktikan hal tersebut. Civitas akademika menyadari bahwa keberadaan mahasiswa juga akan mempengaruhi atmosfer dan semangat mereka dalam meneliti. Secara struktural, kehadiran Lembaga Kemahasiswaan yang terasa lebih dekat dan mau menyerap aspirasi dari mahasiswa merupakan sebuah pertanda bahwa arah menuju sinergisasi dengan rektorat semakin nyata. Ditambah lagi dengan adanya dosen-dosen muda pembimbing kemahasiswaan di setiap fakultas yang diharapkan mampu menjadi solusi atas berbagai permasalahan komunikasi antara himpunan dan fakultas maupun program studi. Namun permasalahan belum selesai begitu saja. Hingga saat ini kedudukan KM ITB beserta elemen didalamnya masih tidak menemukan kesesuaian pandangan antara rektorat dengan mahasiswa. Mahasiswa menilai pola hubungannya dengan ITB merupakan hubungan koordinasi dan interdependensi (saling bergantung-saling membutuhkan). Dilain pihak, ITB menganggap semua organisasi mahasiswa berada dibawah tanggungjawab struktural rektorat, baik fakultas, program studi ataupun LK. Mahasiswa cukup beruntung apabila personal yang dihadapinya masih membuka ruang komunikasi dan diskusi menuju kesepahaman. Namun yang sering mahasiswa temukan adalah sebaliknya. Pembatasan kegiatan dan penjatuhan sanksi akademik akibat kasus kemahasiswaan yang sifatnya non-akademik adalah salah satu contoh penghalang yang membuat mahasiswa lebih sering bersikap antipati apabila mendengar kata ‘rektorat’. Selain itu kita juga tidak dapat menafikan bahwa masih ada kalangan dosen yang trauma dan beranggapan bahwa mahasiswa lebih baik di'disiplin'kan, sebelum melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal ini merupakan suatu kewajaran, karena para dosen -yang notabene adalah lulusan ITB juga - pernah merasakan keras dan ngawur-nya dunia kemahasiswaan pada masanya.


25 Oleh karena itu komunikasi dan keterbukaan dari semua pihak menjadi hal yang sangat vital dalam membangun kesepahaman. Sehingga mimpi untuk menjadikan ITB dan organisasi mahasiswa sinergisharmonis bukan angan-angan belaka.

LOKAKARYA KEMAHASISWAAN 2005

Saat ini ...

• Tidak adanya interface yang jelas antara wilayah yang menjadi wewenang penuh mahasiswa dan wilayah yang menjadi wewenang penuh rektorat • Adanya kebijakan rektorat yang membatasi ruang gerak mahasiswa • Minimnya ruang diskusi • Tidak jelasnya kedudukan KM ITB dengan sistem yang ada di ITB • LPKM hanya berfungsi sebagai perpanjangan tangan WRMA, bukan sebagai penyerap aspirasi mahasiswa • Komunikasi yang dipakai rektorat (WRMA) cenderung represif

•Mulai terbukanya ruang diskusi dengan rektorat (ex: K3L, OKSM dll) • Fungsi LK selain sebagai bagian dari struktur rektorat, tapi juga berperan sebagai penyerap & penyampai aspirasi ke pihak yang lebih berwenang (ex: kasus wisuda 2 hari) • Adanya dosen-dosen pembimbing kemahasiswaan di setiap fakultas • Komunikasi yang dibangun lebih partisipatif, terbuka& mengayomi • Mulai dibangun kesepahaman bersama dalam semua aspek kemahasiswaan •Masih ada kalangan dosen yang trauma & beranggapan mahasiswa lebih baik di'disiplin'kan

Kedepan ... • Harmonis • Sinergis • Interdepen densi

Mengawal ITB menuju World Class University 2025 Majelis Wali Amanat ITB telah menetapkan arah pengembangan ITB menuju World Class University yang dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) ITB 2025. RIP ini mencoba membawa kampus ITB menuju Research University, dimana budaya riset menjadi suatu identitas ITB sebagai universitas kelas dunia. Namun sayangnya ada beberapa kekurangan yang terlihat dari sudut pandang mahasiswa dalam keberadaan RIP ini. RIP ITB mengidentifikasikan salah satu kunci suksesnya suatu World Class University adalah tanggung jawabnya yang besar untuk mewujudkan cita – cita bangsa Indonesia. Namun masih terlihat bahwa RIP menempatkan mahasiswa ITB sebagai objek pendidikan. Hal tersebut terindikasi dari minimnya penyebutan peran mahasiswa dalam mencapai tujuan ITB 2025. Padahal mahasiswa adalah entitas terbesar ITB! Mahasiswa adalah salah satu penyumbang dana terbesar dan paling kontinu dalam membiayai berbagai macam kegiatan pengembangan institusi.


26 Dalam RIP memang disebutkan bahwa potensi yang ingin dikembangkan oleh ITB untuk mahasiswa adalah agar memiliki nalar riset sebagai hasil dari pembentukan budaya akademik. Namun RIP tidak menyebutkan peran mahasiswa beserta organisasi kemahasiswaan didalamnya. Padahal mahasiswa memiliki potensinya sendiri dalam menentukan arah perubahan ITB, dimana potensi tersebut terkumpul dalam organisasi kemahasiswaan. RIP juga tidak membicarakan potensi lain dari mahasiswa yaitu potensi gerakan sosial dan politik kepada masyarakat. Bagaimana mungkin budaya inovasi akan terbentuk jika mahasiswa tidak pernah terlatih untuk menemukan masalah dalam masyarakat? Padahal jika potensi ini bisa dipetakan dengan baik maka tidak mustahil lingkungan di sekitar ITB bisa menjadi terberdayakan dan masyarakat pun akan mengalami peningkatan daya juang hidup. Semua itu merupakan sebuah sumbangsih tersendiri dari mahasiswa kepada ITB untuk melaksanakan fungsi pengabdiannya pada bidang non akademik. Terlepas dari itu semua -cepat atau lambat- kemahasiswaan ITB pun harus mampu menjawab tantangan ITB menuju World Class University. Organisasi mahasiswa sendiri harus memetakan perannya untuk ikut melaksanakan tridharma yang inovatif dan bermutu tinggi serta tanggap terhadap perubahan global dan tantangan lokal. Lebih jauh lagi organisasi mahasiswa juga harus mampu berperan dalam menjadikan ITB selalu berada di garis terdepan sains, teknologi, seni dan bisnis serta mengembangkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas potensi dan keunikan bangsa.

Pengembangan Organisasi KM ITB Pola Pemerintahan Menurut konsepsi, Keluarga Mahasiswa ITB adalah sebuah organisasi yang bersifat representatif, efektif dan efisien. Representatif berarti kebijakan dan sistem perwakilan yang dipergunakan dalam pengambilan tindakan mencakup seluruh unsur secara proporsional. Efektif dan efisien berarti struktur, mekanisme, dan fungsi berbagai elemen yang dibentuk dalam organisasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Hingga saat ini pola pemerintahan dalam KM ITB masih belum mencapai kata ideal. Sebagian besar mahasiswa tidak mengetahui dan tidak memahami konstitusi yang berlaku sehingga berakibat pada tidak terlaksananya konstitusi itu sendiri. Sejauh ini upaya untuk memahami konstitusi KM ITB hanya dilakukan oleh mahasiswa yang beraktivitas di kongres dan kabinet. Kemudian AD/ART himpunan dan unit yang sangat beragam dan tidak merujuk pada AD/ART KM ITB menyebabkan orientasi hubungan dengan kemahasiswaan terpusat menjadi tidak jelas. Konsep lembaga yudikatif –yang tertera di konsepsi merupakan kewenangan kabinet- yang bertugas memberi sanksi organisasi dan sanksi lain tidak berjalan. Kemungkinan karena ‘sebab jatuhnya sanksi’ dan ‘jenis sanksi yang diberikan’ tidak jelas. Ditambah masih adanya kultur yang menganggap kemahasiswaan terpusat hanyalah alternatif pilihan dalam berkemahasiswaaan. Hingga saat ini pun kita tidak menemukan adanya standarisasi dan verifikasi bagi pejabat publik kemahasiswaan ITB. Hal tersebut mengakibatkan kesulitan dalam menyamakan persepsi dan tujuan


27 bersama kemahasiswaan ITB. Serta seringkali terdapat permasalahan etika akibat tidak adanya kode etik yang baku bagi para pejabat publik kemahasiswaan.


28

LOKAKARYA KEMAHASISWAAN 2005 Kabinet •Tidak memiliki infrastuktur di tingkat departemen atau fakultas sehingga menyulitkan proses penarikan aspirasi dan eksekusi •Kabinet tidak aspiratif (21 %), terlalu idealis (19 %), tidak terasa manfaatnya (15 %) (dari polling) •Kabinet tidak berperan sebagai mana mestinya, namun hanya seperti menjadi HMD ke 26 atau UKM ke 78. •Kabinet tidak memiliki media yang mampu menjadi leading opinion di masyarakat kampus. •Kurang tersosialisasinya kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh kabinet •Kabinet sering kali dianggap eksklusif dan “satu warna” (FAQ di LPJ Anas) •Kabinet di cap tidak mengakar dan tidak merakyat (FAQ di LPJ Anas) •Hubungan dengan rektorat yang kurang baik (Kabinet Mustofa dan Kabinet Anas) •Himpunan •Untuk kegiatan eksternal HMD tidak pernah membawa nama KM ITB •Menurut polling : hal yang tidak disukai oleh mahasiswa thd HMD adalah, arogansi dan senioritas (25 %), kurang nyaman dengan kulturnya (16 %), kurang bertindak nyata (15 %), dan tidak terasa manfaatnya (15 %). •Adanya forsil yang menjadi sarana sharing informasi kondisi masing – masing HMD •Beragamnya AD/ART HMD dan belum tentu sesuai dengan AD/ART KM ITB •Unit •Tidak adanya data unit yang jelas terkait dengan masalah keaktifan. •Tidak adanya standarisasi pendirian unit yang diatur di dalam AD/ART •Unit seringkali merasa dimarginalkan •Beberapa unit merasa berjalan sendiri dan tidak nyambung dengan elemen KM ITB yang lain •Peran LPKM lebih dirasakan oleh unit dibandingkan dg peran kabinet

Saat ini ... Kabinet •Mulai berfungsi sebagai lembaga sentral • Kegiatan kabinet lebih diapresiasi massa kampus • Hubungan dengan rektorat dibangun dengan baik •Himpunan • Cenderung menjadi EO •Forsil, rapim & rakor sebagai media komunikasikoordinasi kabinet dan himpunan • Perubahan AD/ART beberapa himpunan yang sudah mengakomodasi kepentingan bersama (ex: senator) • Unit • Kebutuhannya mulai difasilitasi oleh kabinet • Aspirasinya diwadahi oleh komisi unit dalam kongres

Kedepan... • Sinergis • Harmonis


29 Manajerial Organisasi Saat ini sangat sulit menemukan organisasi mahasiswa yang memiliki skill mumpuni dalam mengatur organisasinya. Kita menyadari bahwa saat ini kita memang masih dalam tahap pembelajaran. Namun – menurut Panji Prabowo, Sekretaris Jenderal kabinet KM ITB- jelas bahwa kemampuan manajerial yang baik adalah prasyarat dari keberjalanan sebuah organisasi yang besar. Yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi saat ini tidak hanya kemampuan leadership yang handal, tetapi juga kemampuan manajerial yang baik. Pengembangan kapasitas manajerial dari masing-masing personalnya merupakan hal-hal yang wajib dimiliki oleh sebuah organisasi, semisal kemampuan mengatur SDM, mengolah konflik dan manajemen waktu. 30 Hal tersebut merupakan tantangan bagi kemahasiswaan kita untuk menuju student governance yang lebih baik. Administrasi Sifat efektif dan efisien KM ITB juga mengandung pengertian mekanisme terbaik dalam menjalankan organisasi. Saat ini organisasi kemahasiswaan masih belum menyadari arti pentingnya administrasi dalam pengembangan organisasi. Kultur organisasi yang tidak tertib administrasi mengakibatkan kesulitan dalam mempelajari trend dan pancapaian organisasi. Masih terdapat beda standard masingmasing organisasi sehingga menyebabkan kesulitan dalam berhubungan dengan pihak luar. Contohnya ketika pembuatan proposal kepada sponsor atau birokrasi ITB. Dokumentasi Rekam sejarah kemahasiswaan ITB yang buruk menyebabkan knowledge management tidak berjalan dengan baik. Kita cenderung lupa akan apa saja pencapaian kemahasiswaan ITB. Hal tersebut terindikasi dari minimnya dokumentasi tentang KM ITB jika dibandingkan dengan masa DeMa. Selain itu hingga saat ini KM ITB belum memiliki database dokumentasi kemahasiswaan secara terpusat. 31 Keuangan Kondisi pengelolaan keuangan kemahasiswaan ITB saat ini masih dalam upaya perbaikan profesionalisme dana kemahasiswaan bersama dengan rektorat, sehingga akuntabilitas & transparansi dana kemahasiswaan mulai membaik. Dengan adanya menteri keuangan & bendahara kabinet, saat ini mulai dibangun standar keuangan bersama dalam KM ITB. Selain itu optimalisasi dana DIPA dari rektorat selalu diupayakan untuk dioptimalkan keterserapannya bagi seluruh organisasi mahasiswa ITB, ditambah dengan upaya kabinet tahun ini menuju kemandirian finansial KM ITB.

30 31

Panji Prabowo, Membangun Budaya Good Governance KM ITB, 2010 Hingga saat ini hanya LFM yang masih menyimpan dokumentasi KM ITB secara teratur.


30

LOKAKARYA KEMAHASISWAAN 2005

Saat ini ...

•Tidak mempunyai kemandirian finansial, sehingga sangat besar tingkat ketergantungan pada alumni dan rektorat •Akuntabilitas dana masih belum baik •Belum ada standar baku pengelolaan keuangan KM ITB •Setiap elemen mempunyai kas masing – masing (tidak terintegrasi) •Belum ada mentri keuangan atau bendahara KM ITB •Belum meratanya pendapatan tiap elemen (proporsional) •Adanya tawaran dari rektorat untuk mengelola dana kemahasiswaan •Tidak ada dana abadi atau dana sosial yang dapat digunakan untuk menyantuni mahasiswa ITB •Tidak terlaksananya pemungutan iuran anggota KM ITB • Tidak adanya transparansi dana kemahasiswaan dari rektorat

• Masih belum meratanya pendapatan tiap elemen • Masih belum ada dana abadi kemahasiswaan • Masih belum terlaksananya pemungutan iuran anggota KM ITB • Sedang dibangun upaya pengelolaan dana kemahasiswaan bersama dengan rektorat • Akuntabilitas & transparansi dana kemahasiswaan mulai membaik • Mulai dibangun standar keuangan bersama dalam KM ITB • Telah terdapat menteri keuangan & bendahara kabinet • Sedang dibangun upaya menuju KEMANDIRIAN FINANSIAL KM ITB

Kedepan ... • • • •

Mandiri Sinergis Transparan Akuntabel

Pengembangan Karakter Sesuai dengan amanat dalam konsepsi KM ITB bahwa organisasi kemahasiswaan berorientasi untuk mengembangkan potensi dan karakter mahasiswa. Penjelasan mengenai kondisi dunia dan Indonesia secara tidak langsung telah memberikan sebuah gambaran apa saja tantangan yang akan kita hadapi ketika bersentuhan dengan dunia nyata. Tentunya kita pun menyadari bahwa tidak semua kondisi itu mampu kita selesaikan saat ini juga, sehingga dibutuhkan penanaman kesadaran dengan membiasakan sehingga kemudian menjadi karakter mahasiswa ITB. Kita semua pasti menyadari bahwa mahasiswa ITB sebenarnya memiliki posisi, potensi, dan peran yang sangat besar untuk membangun kemandirian bangsanya. Tinggal bagaimana semangat itu dapat terbingkai dalam proses pewarisan nilai (baca:kaderisasi) yang baik sesuai dengan amanah RUK KM ITB dan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi dalam porsi mahasiswa. Untuk itulah, proses pengembangan karakter mahasiswa ITB harus benar-benar menjadi sebuah pembiasaan secara kultural dan integral. Maksud ‘pembiasaan’ disini adalah, sebuah proses penurunan nilai yang dijalankan terus-menerus dan ‘integral’ disini maksudnya adalah didukung oleh semua elemen KM ITB.


31 Kaderisasi Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah manusia. -KonfusiusHingga saat ini masih terasa jelas terpisahnya proses kaderisasi dengan proses pendidikan berbasis keilmuan-keprofesian. Himpunan -yang menurut RUK- merupakan wadah utama pengembangan karakter mahasiswa ITB belum sepenuhnya menggunakan masa kaderisasi untuk membentuk pola pikir yang sesuai dengan bidang ilmunya. Sehingga tak jarang terdengar sebutan ‘omdo dan ‘gak konkrit’ bagi aktivis kaderisasi, sedangkan julukan ‘study oriented’, ‘kutu buku’ atau ‘hantu lab’ bagi mereka yang memilih fokus pada bidang ilmu dan keprofesian. Ini merupakan kesalahan paradigma yang masih banyak terjadi di kemahasiswaan kita. Kemudian masih sering kita dapati kegiatan-kegiatan pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan masih dititikberatkan pada momen-momen eventual, seperti kaderisasi awal, LKO dan sejenisnya. Padahal pada hakikatnya penanaman nilai dan pembentukan watak tidak akan mampu dicapai dalam waktu sebentar, melainkan dibutuhkan upaya konsisten dalam pelaksanaannya. Baru kemudian fungsi acara-acara eventual tersebut menjadi akselerator proses pembentukan karakter mahasiswanya. 32 RUK sebagai landasan kaderisasi yang telah disepakati oleh seluruh lembaga di tahun 2008, ternyata belum cukup baik diinternalisasi oleh para elit kampus yang saat itu ikut memberikan pandangannya. Alhasil ketika didiskusikan kembali dengan para pengurus baru, mereka merasa bahwa RUK adalah sebuah standar kaderisasi yang dtentukan oleh kabinet dan kongres yang diberikan kepada mereka. 33 Menurut Adiputra, menteri PSDM Kabinet: Pola dan konten kaderisasi dalam KM ITB pada umumnya adalah sebuah model kaderisasi yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan adaptif dengan kondisi. ITB yang memiliki input mahasiswa yang sangat dinamis tiap tahunnya –terutama dari segi budaya dan cara pandang- merupakan faktor yang harus diperhatikan dengan baik. Hal-hal yang harus tetap dipertahankan dan menjadi harga mati adalah nilai dan esensi dari kaderisasi, sedangkan metoda dan pola kaderisasi adalah hal-hal yang termasuk pada ranah yang lebih adaptif terhadap perkembangan kondisi dan kebutuhan. 34

32 33

Auzan Abirama, essay pengembangan karakter KM ITB, 2010

Hasil forum “KM ITB Summit” bidang kaderisasi Adi Putra, PSDM sebagai salah satu tulang punggung kabinet KM ITB 2010-2011 yang bergerak bersama rakyat, 2010

34


32

LOKAKARYA KEMAHASISWAAN 2005

Saat ini ...

•Kaderisasi merupakan sarana menyeleksi anggota bukan merupakan hak anggota •Kaderisasi HMD bernuansa keprofesian dan disesuaikan dengan karakder HMD dan departemen masing – masing •Metode kekerasan fisik dan mental masih dilaksanakan •Unsur tradisi masih sangat kuat di dalam kaderisasi •Belum ada grand desain kaderisasi kemahasiswaan ITB (tahapan kaderisasi secara berjenjang) •Proses kaderisasi (OS) mendapat tekanan dari rektorat •Kecenderungan mahasiswa besar terhadap program kaderisasi ( hasil polling) •OSKM merupakan kegiatan di KM ITB yang dapat meneyerap keterlibatan mahasiswa ITB tersebesar (panitia terdaftar > 1000) •Di HMD tertentu ada diskriminasi terhadap mahasiswa yang tidak mengikuti proses kaderisasi •Proses dan metode kaderisasi di UKM sangat beragam •adanya status Him dan Non Him

• Pembentukan karakter mahasiswa ITB belum memaksimalkan kolaborasi semua potensi (ex: unithimpunan-kabinet) • Kaderisasi kemahasiswaan secara umum belum membentuk karakter mahasiswa secara utuh • Kaderisasi masih dipandang sebagai momen eventual • Hambatan pelaksanaan kaderisasi berasal dari dekan/prodi • Telah terdapat RUK (Rancangan Umum Kaderisasi) yang telah disepakati bersama semua lembaga • Rektorat & KM ITB sedang mencari bentuk terbaik dalam mengintegrasikan kaderisasi kemahasiswaan dalam proses pendidikan secara keseluruhan

Kedepan ... • • • •

Kolaboratif Terintegrasi Utuh Berkelanjut an

Keprofesian Bidang keprofesian saat ini mulai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemahasiswaan ITB. Hal tersebut dapat terlihat dari sebagian besar visi-misi ketua himpunan saat ini yang bertujuan mengembangkan bidang keprofesian di himpunan mereka. Kegiatan keprofesian pun sangat beragam, mulai dari pelatihan, studi banding, kuliah lapangan, seminar, workshop dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan keprofesian pun sudah mulai merambah ke kegiatan lintas jurusan. Sebut saja unit robotika yang membuka keanggotaannya bagi semua program studi, proyek garapan I3M yang mengkolaborasikan berbagai himpunan dan lain sebagainya.


33 Namun sayangnya semangat itu masih dalam tataran menciptakan karya (produk), belum untuk menciptakan insan-insan yang berkarya. Contohnya terlihat dari penanaman budaya berkeprofesian yang belum merata dalam proses kaderisasi masing-masing himpunan. Kemudian inovasi –inovasi yang diciptakan mahasiswa ITB pun belum benar-benar tepat guna dan sasaran. Seringkali terlontar pertanyaan, “kenapa produk karya mahasiswa ITB tidak banyak yang beredar di pasaran? Apa itu menunjukkan produk-produk tersebut belum mampu menjawab kebutuhan di masyarakat?� Sedangkan bagi himpunan yang sudah memiliki budaya keprofesian masih ditemukan kendala teknis, seperti pendanaan & jaringan. Masih ada himpunan yang sudah memiliki jaringan yang baik, namun belum dioptimalkan untuk kemanfaatan bersama. Ditambah lagi proses pendokumentasian sebuah produk masih buruk, sehingga seringkali cenderung mengulangi proses. Pengabdian Masyarakat Gambaran kegiatan pengabdian masyarakat KM ITB hingga saat ini harus diakui belum mampu menyentuh seluruh mahasiswa ITB. Hal tersebut menyebabkan karakter peduli itu tersendiri belum terbangun di seluruh mahasiswa ITB. Secara umum kegiatan-kegiatan PM masih eventual & cenderung sebagai pelengkap, contohnya hanya dilakukan pada saat pelantikan. Sehingga mahasiswa ITB yang ada di tengah-tengah masyarakat masih belum mengambil dan menjalankan perannya dengan baik. Kewirausahaan Saat ini gairah entrepreneurship di kampus semakin marak dengan banyaknya kegiatan yang meningkatkan jiwa kewirausahaan dan program-program bisnis skala kampus. Ditambah lagi dengan kuliah-kuliah kewirausahaan yang semakin diminati mahasiswa dan terbukanya mata kuliah di SBM untuk diakses oleh mahasiswa dari jurusan lain. Hal tersebut sangat berbeda keadaannya dengan beberapa tahun yang lalu dimana mahasiswa bahkan masih belum mengenal kata entrepreneurship itu sendiri. Namun harus disadari bahwa hingga kini belum ada wadah formal kemahasiswaan yang mampu memfasilitasi para entrepreneur kampus. Hal tersebut terbukti dengan pelaksanaan KM ITB Summit lalu yang cukup kesulitan dalam mengumpulkan mereka. Kemudian masih minimnya entrepreneur kampus yang berorientasi pada keprofesian masing-masing, atau yang biasa kita sebut technopreneur. Padahal apabila hal tersebut dibudayakan, bukan tidak mungkin KM ITB bisa menjadi salah satu komponen dalam membangun kemandirian bangsa berbasis teknologi.

Pelayanan & Dinamisasi Kampus Umum Pelayanan mahasiswa secara umum dilakukan oleh kabinet dan lembaga kemahasiswaan yang mencakup bidang Advokasi akademik-non-akademik, kesejahteraan, fasilitas dan infrastruktur kemahasiswaan. Permasalahan yang seringkali timbul dalam bidang akademik -contohnya pada kasus mata kuliah TPB- adalah sulit terdeteksinya permasalahan dan tertutupnya mahasiswa yang bermasalah. Sehingga dibutuhkan kerjasama yang baik dengan teman-teman seangkatan dan organisasi tempat bersosialisasi agar bisa mengantisipasi secara dini. Kemudian dilimpahkan kepada LTPB yang memiliki biro psikologinya tersendiri.


34 Dalam bidang kesejahteraan, terutama beasiswa, dapat dikatakan deputi kesejahteraan LK sudah cukup mampu mengorganisir semua jaringan yang dibutuhkan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Kesulitan yang harus diatasi adalah cara untuk menyalurkannya kepada pihak yang benar-benar membutuhkan. Karena masih tidak sedikit mahasiswa penerima beasiswa yang memiliki fasilitas hidup bahkan melebihi mahasiswa pada umumnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan fasilitas dan infrastruktur kemahaiswaan masih dirasakan kesulitan bagi mahasiswa dalam mengakses info dan bantuan. Hal tersebut terlihat jelas dari kondisi ruang-ruang sekretariat unit yang kurang layak dan tidak mencukupi untuk ditempati seluruh jumlah unit. Selain itu pihak rektorat, dalam hal ini direktorat sarana dan prasarana, masih terasa jauh dari mahasiswa. Sehingga komunikasi yang terbangun masih belum optimal dalam memenuhi kebutuhan dalam biadng fasilitas. JUMLAHPENERIMA BEASISWA TAHUN 2009 BPP

58 431 1980

BIAYA HIDUP

JUMLAH PENERIMA BEASISWA TAHUN 2010 (per 30 September 2010) 80 274

740

BPP BIAYA HIDUP

PONDOKAN ASRAMA

PONDOKAN ASRAMA

3584 BANTUAN BELAJAR (BUKU, TA, DARURAT)

2841

BANTUAN BELAJAR (BUKU, TA, DARURAT)

Sumber: Rencana Strategis LK

Media Hingga saat ini unit-unit media maupun pihak yang bergerak di bidang tersebut sudah semakin jarang mampu mempengaruhi opini publik massa kampus. Walaupun metoda yang digunakan sudah semakin beragan, tidak melulu berupa bulletin, majalah, pamphlet, poster, namun masih terasa bahwa belum ada sebuah portal informasi yang mampu diakses dan diminati oleh semua massa ITB secara massiv. Selain itu unit-unit yang sudah eksis dalam bidang media pun seringkali masih harus menemui kendalakendala teknis seperti dana, SDM dan lain sebagainya. Seni Budaya ITB merupakan sebuah institusi pendidikan yang diberikan anugerah untuk memiliki keberagaman agama, suku, ras dan golongan mahasiswa yang sangat majemuk. Dalam bidang seni budaya, unit-unit mampu menghimpun mahasiswa yang memiliki kesamaan minat dan bakat untuk turut bergerak bersama dalam mengapresiasi dan melestarikan seni, baik tradisional maupun kontemporer. Meskipun


35 kondisi mereka berbeda-beda -ada yang sudah mapan, ada yang masih dalam tahap pengembangannamun itu merupakan peluang agar mereka dapat saling membantu. 35 Selama ini kita ketahui bahwa unit-unit seni budaya sudah sangat berkontribusi dalam kesenian secara material, namn masih kurang dalam bidang non-material. Perlu ditumbuhkan kajian dan penanaman kearifan budaya lokal untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi wawasan nusantara mahasiswa ITB. Lebih jauh lagi bagi masyarakat Indonesia yang sudah mulai melupakan jati diri bangsanya. Selain itu kita juga tidak bisa melupakan komunitas-komunitas seni di himpunan yang selama ini tidak tersentuh kabinet KM ITB. Pada dasarnya semua pihak sangat terbuka dalam berkolaborasi dan saling memberi masukan, baik dengan unit lain maupun kabinet. Kunci suksesnya adalah apresiasi dan pengayoman antara unit dan kabinet. Olahraga Harus diakui bahwa mayoritas tujuan mahasiswa ITB beraktivitas di bidang olahraga masih berupa pemenuhan hobi mereka. Hal tersebut sedikit banyak berpengaruh kepada orientasi pengembangan unit-unit olahraga yang sebatas mewadahi hobi dan belum mencapai tahap kesadaran lembaga dalam memperoleh prestasi. Dilihat dari sisi manajerial pun, mayoritas unit-unit olahraga tidak menitikberatkan kepada aktivitas organisasional, melainkan kegiatan latihan olahraga dan keakraban para anggotanya. Dilain pihak tidak sedikit pula unit-unit olahraga yang sudah malang melintang di kejuaraan-kejuaraan dan mengharumkan nama ITB dengan prestasi mereka. Namun kekurangannya hingga saat ini adalah apresiasi, baik dari pihak ITB sebagai institusi dan mahasiswa ITB sendiri masih minim. Apabila dicermati dari dampak yang diberikan, hingga saat ini kemahasiswaan di bidang olahraga belum benar-benar mampu menciptakan kebersamaan seluruh mahasiswa ITB. Lebih jauh lagi, kemahasiswaan di bidang olahraga belum mampu membentuk jiwa sportifitas pada mahasiswa ITB. Hal tersebut dapat tercermin dari setiap event olahraga skala kampus yang dihasilkan seringkali berujung pada kericuhan, baik antar supporter maupun pemain. Pendidikan Permasalahan umum dari aktivitas kemahasiswaan di bidang pendidikan adalah ketidakjelasan klasifikasi rumpun unit pendidikan itu sendiri. Klasifikasi rumpun unit pendidikan pada awalnya terbentuk karena lahirnya unit-unit yang tidak terwadahi dalam rumpun selain olahraga, media, seni-budaya dan agama. Namun hingga kini unit-unit yang tergabung dalam rumpun pendidikan seringkali menjadi terbengkalai. Karena ketika digabungkan bersama dengan unit kajian menjadi rumpun P&K, unit pendidikan tidak merasa bahwa aktivitas mereka sejalan dengan kajian yang seringkali mendominasi forsil P&K. Kajian Aktivitas kemahasiswaan dibidang kajian kini mulai bergeser kearah isu-isu populer sehingga kurang membentuk ideologi mahasiswa. Hal tersebut menjadi wajar dikala pola pikir mahasiswa menjadi semakin pragmatis dan sulit untuk ditawarkan pada kajian-kajian yang berat dan ideologis. Sehingga 35

Argo cahyadi, essay kementerian seni budaya kabinet KM ITB, 2010


36 unit-unit kajian pun harus mencari sebuah titik tengah yang mampu membuat mahasiswa ikut berpikir kritis namun tetap menarik dalam dijalani. Permasalahan lain yang seringkali timbul adalah karakter unit-unit kajian yang masih sering memarjinalkan diri. Sehingga pemikiran-pemikiran yang dihasilkan tidak selalu dapat dibagikan bersama dengan mahasiswa lain.

Eksternal Kemahasiswaan Hubungan Luar Dalam bidang pembangunan jaringan dengan pihak eksternal, pergantian kepengurusan seringkali menjadi hambatan. Karena memang pada dasarnya jaringan yang dibangun akan terus ‘menempel’ pada orang yang membangunnya apabila hal tersebut tidak ditransfer kepada kepengurusan berikutnya. Selain itu juga masih terasa belum adanya sinergisasi untuk memasifkan dampak jaringan yang dimiliki oleh mahasiswa ITB. Contoh yang mudah ditemui adalah jaringan alumni yang dimiliki oleh himpunanhimpunan yang telah lama berdiri dapat dipastikan akan lebih kuat dan lebih stabil. Namun apabila ada himpunan lain yang bermaksud meminta bantuan untuk menghubungi alumni tadi, biasanya akan sulit untuk dilakukan. Kebijakan Publik Pasca gerakan reformasi tahun 98, geliat pergerakan mahasiswa justru terlihat semakin menurun. Aksiaksi yang dilakukan tidak pernah lagi mampu mengubah kebijakan nasional yang manfaatnya dirasakan oleh segenap anak bangsa. Gerakan mahasiswa kini masih terjebak dengan romantika pergerakan terdahulu, terkotak-kotak, tak mampu menyatu dan tidak lagi berbasiskan landasan ideologi perjuangan yang kokoh. Harus diakui pergerakan eksternal KM ITB pun tidak terlepas dari fenomena ini. Permasalahan yang ada dalam gerakan eksternal mahasiswa ITB saat ini seolah hanya menjadi kegiatan seremonial belaka, tanpa ada ruh. Metode yang dipakai dinilai konservatif dan kurang diminati oleh mahasiswa ITB saat ini, ditambah lagi dengan mayoritas lembaga yang sulit bergerak dalam menyikapi isu-isu eksternal. Di lain pihak, para pengonsep gerakan belum bisa membumikan ruh gerakannya dengan baik. Belum ada target pencapaian yang jelas oleh eksekutor –baik unit maupun kabinet- yang kemudian dihayati oleh segenap mahasiswa. Dan yang paling penting pergerakan eksternal KM ITB belum mampu menjadi sarana pengembangan karakter mahasiswa dalam upaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang ideal Pendidikan Kajian mahasiswa ITB di bidang pendidikan telah membahas konsep-konsep dasar pendidikan, falsafah pendidikan & sistem pendidikan. Selain itu tidak lupa peristiwa-peristiwa aktual seperti kasus Badan Hukum Pendidikan (BHP), UAS sebagai indikator kelulusan siswa, sekolah-sekolah RSI-RSBI dan pastinya pendidikan di ITB sendiri.


37 Kedepannya diharapkan muara dari kajian pendidikan mahasiswa ITB tidak hanya berujung pada kepuasan intelektual semata, namun juga gerakan sosial yang bergerak bersama rakyat. Contohnya SKHOLE dan rumah-rumah belajar anak jalanan. Energi KM ITB sudah dipercaya menjadi koordinator isu energi dan sumber daya mineral BEM SI sejak tahun 2008. Tentunya ini bukan hal yang mudah, karena isu energi bukan isu kemasyarakatan yang mudah diangkat sewaktu-waktu, kecuali ada momentum seperti kenaikan harga BBM dsb. Isu-isu yang penting untuk dibahas adalah isu skala nasional dengan perolehan data primer yang cukup sulit didapat. Antara lain data penguasaan pihak asing terhadap sumber energi Indonesia, kontrak karya migas dsb. Kedepannya diharapkan gerakan dalam isu energi ini tidak terbatas pada audiensi dan membangun jaringan ke tokoh-tokoh nasional saja, namun juga membumikan gerakan dengan pencerdasan masyarakat seperti kampanye hemat listrik dan pemakaian tabung gas dengan aman. Industri Isu industri adalah isu yang baru muncul di kepengurusan kabinet tahun ini. pertimbangan ini diambil mengingat mayoritas program studi di ITB bersentuhan dengan berbagai macam industri, baik sektor hulu maupun hilir. Selain itu terdapat pada awal kepengurusan juga terdapat momentum ACFTA yang seharusnya membuat seluruh elemen dalam KM ITB tidak tinggal diam dalam menyikapi hal tersebut. Kedepannya diharapkan KM ITB dapat mengusung gerakan kemandirian industri berbasis ekonomi kreatif dan mampu memberdayakan ekonomi kerakyatan. Lingkungan Saat ini patut disykuri bahwa kesadaran berperilaku ramah lingkungan masyarakat secara umum meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari permasalahan lingkungan menjadi topik yang selalu hangat diperbincangkan. Mahasiswa ITB pun tidak ketinggalan melakukan gerakan lingkungannya dengan tagline ‘eco-campus’. Semenjak terbentuknya ‘Ganesha Hijau’, gerakan lingkungan mahasiswa ITB semakin terorganisir dengan baik dan mampu menyentuh masyarakat sekitar. Kedepannya diharapkan gerakan ini mampu mengikutsertakan seluruh elemen massa kampus, tidak hanya mahasiswa yang berlatar belakang keilmuan dan minat pada permasalahan lingkungan. Karena biar bagaimanapun, bumi ini adalah milik kita bersama.


38

The word ‘Impossible’ is not in my dictionary Napoleon Bonaparte

Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan Konfusius


39

Platform KM ITB 2010-2011 Visi Kabinet Terbangunnya fondasi KM ITB secara sinergis dan harmonis yang bergerak bersama rakyat menuju kemandirian Indonesia

Berikut adalah beberapa definisi kata kunci dalam visi kabinet di Kamus Besar Bahasa Indoneisa: fon·da·si n dasar bangunan yg kuat, biasanya (terdapat) di bawah permukaan tanah tempat bangunan itu didirikan; fundamen si·ner·gis n 1 berkaitan dengan kegiatan atau operasi gabungan; 2 sinergisme; har·mo·nis a bersangkut paut dengan (mengenai) harmoni; seia sekata; ber·ge·rak v 1 berpindah dari tempat atau kedudukan (tidak diam saja); 2(mulai) melakukan suatu usaha; mengadakan aksi; berusaha giat (dl lapangan politik, sosial): mereka ~ untuk memperbaiki nasib; ke·man·di·ri·an n hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain

Penjelasan visi:


40 Susunan kata dalam visi menunjukkan tahapan-tahapan yang hendak dilewati oleh kabinet KM ITB 20102011 selama kepengurusannya. Kata ‘Fondasi’ menunjukkan dasar yang harus dibangun dalam KM ITB, yaitu membangun jiwa dan badannya. Pembangunan jiwa KM ITB termaktub dalam misi pertama dan kedua kabinet, yaitu ‘membangun partisipasi dan rasa kepemilikan terhadap KM ITB’ serta ‘membangun kesadaran kritis dan berkarya mahasiswa ITB’. Pembangunan badan KM ITB berarti membangun sistem yang berkelanjutan. Hal tersebut tertera dalam misi ketiga dan keempat, yaitu ‘Membudayakan good governance dalam kemahasiswaan ITB’ dan ‘Menjadikan kabinet sebagai lembaga sentral organisasi mahasiswa ITB yang mampu mengkoordinasikan, mensinergiskan dan mengkolaborasikan arah gerak segenap elemen kemahasiswaan’ Kemudian kata “Sinergis” dan “Harmonis” menggambarkan prinsip yang hendak diterapkan oleh KM ITB dalam membangun hubungan dengan semua pihak, baik internal maupun eksternal. Yaitu mengoptimalkan segala potensi, menghindari konflik, mendahulukan kesamaan pandangan dan kemudian mencapai win win solutions. Hal tersebut terejawantahkan dalam misi kelima dan keenam kabinet, yaitu ‘Membangun kesepahaman dan sinergisasi dengan institusi ITB dalam segala aspek kemahasiswaan’ serta ‘Mengembangkan jaringan dan mempertahankan leading position KM ITB dalam kemahasiswaan Indonesia’ Berikutnya kata-kata “Bergerak Bersama Rakyat” merupakan sebuah ciri khas yang akan ditekankan oleh kabinet tahun ini untuk melanjutkan mimpi yang telah dibangun oleh kabinet-kabinet sebelumnya, yaitu “Menuju Kemandirian Indonesia”. Hal tersebut tercermin dari visi ketujuh kabinet, ‘Membangun gerakan kemandirian Indonesia bersama dengan rakyat’. Jika pada kepemimpinan Shana mimpi tersebut dibumikan kepada mahasiswa ITB dalam sebuah brand ‘Gerakan Kebangkitan Bangsa’ (GKN), kemudian pada masa kepemimpinan Yusuf dengan jargon ‘Indonesia Tersenyum’ yang berhasil membuat KM ITB dipercaya menjadi koordinator pusat gerakan community development mahasiswa Indonesia, maka pada kepengurusan tahun ini diharapkan KM ITB benar-benar mampu membuktikan bahwa KM ITB memang layak menyandang status tersebut. Caranya adalah dengan menjadikan ITB tidak lagi menjadi menara gading dan membuat mahasiswanya merasa menjadi bagian dari masyarakat sekelilingnya.


41

Penjelasan Misi Kabinet 1. Membangun partisipasi dan rasa kepemilikan terhadap KM ITB KM ITB tidak akan pernah bergerak dan menghasilkan kesatuan gerakan tanpa partisipasi dan rasa kepemilikan mahasiswanya. Hal yang menjadi akar permasalahan hingga saat ini adalah belum terasanya manfaat berKM ITB secara langsung. Ditambah lagi dengan buruknya alur sehingga informasi tidak sampai hingga tataran grassroot. Oleh karena itu diperlukan terobosan untuk memperbesar manfaat KM ITB, baik kepada individu maupun organisasi mahasiswa ITB. Kemudian hal tersebut harus diiringi dengan arus informasi yang mampu menyentuh semua elemen kemahasiswaan sehingga terbangun budaya apresiasi dalam rangka meningkatkan rasa kepemilikan terhadap kemahasiswaan terpusat ITB. 2. Membangun kesadaran kritis dan berkarya mahasiswa ITB Dari analisis input mahasiswa ITB sebelumnya, tidak heran apabila kita semua menyadari bahwa budaya diskusi dan kajian mahasiswa kini semakin terkikis. Ditambah lagi kesadaran untuk memberikan karya nyata dalam menjawab tantangan bangsa semakin sulit ditemui dalam kepalakepala mahasiswa saat ini. Jika hal ini dibiarkan maka jiwa-jiwa pembangun organisasi kemahasiswaan akan kehilangan orientasinya dalam beraktivitas. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah upaya untuk kembali menanamkan kesadaran kritis dan berkarya dalam keseharian aktivitas mahasiswa ITB. Hal tersebut sudah harus dimulai semenjak pertama mahasiswa menjejakkan kakinya di kampus ini dan kemudian menjadikan kesadaran kritis dan berkarya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan di ITB. 3. Membudayakan good governance dalam kemahasiswaan ITB Dalam konsepsi KM ITB dijelaskan bahwa salah satu sifat organisasi KM ITB adalah efektif dan efisien. Artinya struktur dan fungsi berbagai elemen yang dibentuk dalam organisasi berjalan secara tepat daya dan tepat guna. Birokratisasi, dualisme fungsi, dan tumpang tindihnya peran antar badan kelengkapan tidak boleh terjadi. Sifat-sifat yang terdapat pada konsepsi diatas merupakan beberapa karakteristik dari good governance. Beberapa kekurangan yang harus segera dibenahi antara lain dari sisi budaya administrasi dan dokumentasi yang masih belum tersistematis, dari sisi transparansi dan akuntabilitas yang masih kurang akibet kesadaran mengenai urgensi pertanggungjawaban yang masih belum baik, dari sisi koordinasi kabinet-himpunan-unit yang masih belum jelas sehingga terjadi tumpang tindih antar lembaga dalam pelaksanaan program kerja dan dari sisi manajerial skill yang masih terasa timpang antar organisasi. Pemahaman yang kemudian harus ditekankan adalah bahwa prinsip Good Governance hanya akan berjalan –jika dan hanya jika- rakyatnya tidak lagi memandang program-program yang dijalankan pemerintah mereka sebagai ‘program milik pemerintah’ tetapi sebagai ‘program milik bersama’. Karena prinsip Good Governance akan lebih mudah terwujud jika terdapat dua kekuatan yang saling mendukung, yaitu warga yang aktif dan bertanggungjawab serta pemerintah yang tanggap dan terbuka.


42 4. Menjadikan kabinet sebagai lembaga sentral organisasi mahasiswa ITB yang mampu mengkoordinasikan, mensinergiskan dan mengkolaborasikan arah gerak segenap elemen kemahasiswaan Dalam ART KM ITB dijelaskan bahwa Kabinet KM ITB memiliki wewenang mengkoordinasikan himpunan dan unit kegiatan mahasiswa untuk melaksanakan program pemenuhan kebutuhan seluruh mahasiswa. Kabinet KM ITB juga berhak memberikan sanksi organisasi kepada anggota KM ITB apabila terdapat pelanggaran peraturan yang berlaku di KM ITB. Namun selama ini kabinet belum menjadi lembaga sentral dalam penyearahan gerak lembaga sebagai satu kesatuan KM ITB. Maka pada kepengurusan tahun ini kabinet mencoba menjawab amanat tersebut dengan membentuk sebuah Badan Semi Otonom baru untuk memfasilitasi kegiatan dan gerakan yang mahasiswa ITB bangun pada skala kampus 5. Membangun kesepahaman dan sinergisasi dengan institusi ITB dalam segala aspek kemahasiswaan Konsepsi KM ITB mendefinisikan bahwa pada hakikatnya posisi organisasi mahasiswa berada dalam sistem institusi ITB, namun secara struktural tidak berada di bawah rektorat dan memiliki otonomi penuh untuk menentukan kehidupan organisasinya. Hubungan antara rektor dengan organisasi kemahasiswaan adalah suatu hubungan yang demokratis dan saling menghormati posisi masingmasing. Oleh karena itu mutlak diperlukan kesepahaman dan sinergisasi dengan institusi ITB dalam segala aspek yang menyangkut kemahasiswaan. Maka kabinet beserta MWA wakil mahasiswa di tahun ini berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan membina komunikasi yang baik dan berkala dengan rektorat. Sehingga terbentuk ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang menyangkut kemahasiswaan. Serta tak lupa untuk menambah signifikansi peran mahasiswa dalam mencapai misi ITB 2010-2014 sebagai ‘world class university yang berkebangsaan’. 6. Mengembangkan jaringan dan mempertahankan leading position KM ITB dalam kemahasiswaan Indonesia Secara sah dinyatakan dalam ART KM ITB bahwa kabinet mewakili organisasi KM ITB ke dalam dan keluar ITB. Sehingga untuk menjawab orientasi dan tujuan pendidikan di perguruan tinggi, kabinet KM ITB harus mampu mewakili kemahasiswaan ITB dalam menjawab tantangan di masyarakat. Kabinet pada kepengurusan sebelumnya telah berhasil mempelopori diversifikasi gerakan kemahasiswaan Indonesia dan mengembangkan jaringan KM ITB agar gerakan yang dilakukan dapat bersinergi dengan berbagai pihak. Pencapaian-pencapaian tersebut menjadi sebuah tantangan untuk tetap diteruskan dalam kepengurusan kabinet berikutnya. 7. Membangun gerakan kemandirian Indonesia bersama dengan rakyat Dalam upaya untuk mencapai warna kepengurusan kabinet tahun ini, diharapkan segala bidang dalam kabinet KM ITB mampu mengikutsertakan rakyat. Yang dimaksud dengan rakyat disini adalah masyarakat sipil, dimana termasuk juga mahasiswa, dosen, pegawai dan masyarakat sipil lainnya. Contoh model yang telah ada seperti: aplikasi teknologi tepat guna, pendirian rumah belajar, advokasi dan pelayanan masyarakat, event bersama masyarakat hingga aksi massa. Hal tersebut harus dilakukan untuk mencapai sebuah gerakan yang dekat dengan rakyat dan mampu menghilangkan stigma menara gading dari ITB.


43

Penjabaran struktur kabinet terhadap misi Ketua Kabinet

Sekretaris

Menko Perekonomian

Bendahara kabinet

Ekonomi

Keuangan

Menko bidang 1 Pengembangan karakter

PSDM

Admin

BRT

PSDM

Litbang

Menko bidang 3

Menko bidang 2

Pelayanan & dinamisasi kampus

Kebijakan Publik

Kajian Strategis

Satgas

Jenderal

Comdev

Pengabdian Masyarakat

Sosial politik

I3M

Proinov

Hubungan luar

Event Coordinator

Seni Budaya

Ganesha Hijau

Olahraga Kesehatan Pelayanan kesejahteraan mahasiswa

Biro Komunikasi & informasi


40 Sekretaris Jenderal Visi : menjadi fungsionaris ‘ketua kabinet’ untuk memastikan keberjalanan kinerja dan ketercapaian setiap kementerian sesuai arahan Presiden & GBHP Misi : • • •

Membudayakan good governance dalam bidang manajerial organisasi & administrasi KM ITB Mengkoordinasikan manajer-manajer yang berada di bawahnya Menentukan pola koordinasi antar kemenkoan di kabinet

Bidang kesekjenan terdiri dari manajer-manajer yang mendukung kinerja elemen lain di kabinet secara teknis. Seperti SDM, administrasi, pengembangan organisasi dan rumah tangga. Sebagai pribadi, seorang sekretaris jenderal adalah “bapak rumah tangga” kabinet yang mengatur urusan internal kabinet dan bertugas mengayomi mahasiswa yang beraktivitas di kabinet. Seorang sekjen juga berperan menjadi second man di kabinet yang berwenang menggantikan Presiden apabila berhalangan untuk mengambil keputusan. Sehingga konsekuensi logis dari hal tersebut adalah seorang sekjen juga harus mampu mengerti permasalahan umum di kabinet, serta mampu menokohkan dirinya di dalam kabinet. Selain itu rapat-rapat yang diselenggarakan oleh kabinet - baik rakor umum maupun rakor per bidangjuga akan dikoordinir, dijadwalkan dan dipimpin oleh sekjen. Sehingga –menurut Arif Afriyanto, wakil sekretaris jenderal kabinet- dengan kesolidan dari tim kesekjenan, kabinet KM ITB diharapkan mampu mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dan menjadi inspirasi semua lembaga dalam KM ITB untuk melakukan tindakan nyata kepada masyarakat 36. Manajer administrasi Manajer administrasi adalah penanggungjawab kerapihan dan ketertiban administrasi kabinet. Selain itu manajer administrasi juga memiliki fungsi khusus dalam menjalankan visi kabinet untuk membudayakan good governance, tidak hanya didalam kabinet tetapi untuk KM ITB secara keseluruhan. Bertugas untuk mengatur segala mekanisme surat-menyurat kabinet, mendokumentasikan arsip-arsip dokumen dari setiap kementerian -termasuk notulensi-, mengkoordinir pengumpulan laporan kerja setiap kementerian secara berkala, mengatur alur organisasi kabinet, mengkoordinasikan setiap sekretaris yang berada dibawah koordinasi kabinet (sekretaris menteri ataupun kepanitiaan) • • • • • •

36

Penanggungjawab materi untuk workshop kesekretariatan Pembuatan SOP penerimaan & pembuatan surat Rekapitulasi surat keluar-masuk kabinet Perapihan dokumen kabinet –termasuk notulensi- untuk kemudian diberikan kepada pusdatin kominfo Mengkoordinasikan pengumpulan LPJ semua kementerian secara berkala (sebulan sekali) Mengatur alur organisasi kabinet (timeline)

Arif Afriyanto, Kesekjenan untuk KM ITB yang lebih baik, 2010


41 Manajer Sumber Daya Manusia Kabinet Menurut Tedy Muslim Haq, manajer SDM kabinet, manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan untuk memasok SDM bagi sebuah organisasi dengan orang yang tepat, pada posisi yang tepat dan waktu yang tepat. Secara umum manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang terkait dengan SDM agar dapat menunjang aktivitas organisasi demi mencapai tujuan organisasi tersebut.37 Manajer Sumber Daya Manusia Kabinet (SDMK) merupakan penanggungjawab kualitas dan kuantitas SDM di setiap kementerian. Bertugas untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif dan mendukung produktivitas kerja di dalam kabinet, memecahkan permasalahan SDM kabinet secara umum, memastikan keberjalanan proses kaderisasi SDM kabinet secara umum dan per kementerian secara khusus serta mengkoordinasikan manajer SDM di setiap kementerian. • • • • • • •

Menyelenggarakan open recruitment untuk pemenuhan SDM kabinet. Melaksanakan event kaderisasi umum kabinet dengan parameter yang terukur Mengadakan acara berkala (3 bulan sekali) untuk menciptakan suasana kerja kabinet yang kondusif Menanamkan etos kerja dan nilai-nilai inti (core value) kabinet Menganalisis kinerja SDM disetiap kementerian dan memecahkan permasalahan yang ada bersama dengan menteri terkait. Mengkoordinasikan MSDM di setiap kementerian dalam memastikan kualitas & kuantitas SDM. Mengkoordinir staff SDMK khusus presiden untuk mengingatkan pelaksanaan jadwal kepresidenan dan mendokumentasikan kegiatan presiden.

Manajer Biro Rumah Tangga “Sekretariat kabinet harus mampu menjadi wadah yang memusatkan seluruh elemen yang berjalan agar dapat beraktivitas dengan lancar karena ditunjang dengan suasana yang nyaman dan mengedepankan rasa kekeluargaan” 38 Manajer Biro Rumah Tangga (BRT) merupakan penanggungjawab kenyamanan ruang sekretariat kabinet agar bekerja semakin optimal. Secara umum manajer BRT memiliki fungsi mengatur pemakaian ruangan beserta peralatan yang ada di dalamnya, menjadi penghubung antara kabinet dengan pihak pengurus gedung CC/biro sarana prasarana, menjadi PJ sementara apabila ada pihak yang ingin menghubungi kabinet tapi tidak ada dalam ruangan sekretariat, memastikan keamanan dan kenyamanan dalam beraktivitas di ruang sekretariat serta memastikan ruang sekretariat dapat digunakan sesuai fungsinya. • • 37 38

Menumbuhkan rasa kepemilikan bersama terhadap semua pengguna ruang sekretariat kabinet Melakukan perbaikan & penambahan sarana-prasarana di ruang sekretariat kabinet

Tedy Muslim Haq, Antara pertamax plus dan mobil mewah, 2010 Indah Prihatin, Sekretariatku Rumah Ketigaku, 2010


42 • • • • • • • •

Mengkoordinir pemakaian ruang sekretariat oleh pihak selain kabinet Mengkoordinir piket kebersihan dan keamanan ruang sekretariat kabinet Menginventarisir barang-barang di ruang sekretariat secara berkala Menentukan barang-barang yang disimpan di ruang sekretariat kabinet Menjadi penanggungjawab dari kabinet apabila terdapat kunjungan-kunjungan ke ruang sekretariat Memastikan ruang sekretariat selalu terjaga agar selalu bisa menerima tamu Menyampaikan surat yang ditujukan ke ruang sekretariat untuk diserahkan kepada pihak yang terkait Menjaga koordinasi dengan pihak pengelola gedung CC secara berkala

Manajer Penelitian & Pengembangan Manajer penelitian dan pengembangan (litbang) adalah pengawas sekaligus pengembang sistem kerja internal kabinet. Secara umum manajer litbang memiliki fungsi mengawasi dan memperbaiki pola kerja dalam kabinet dan melakukan penelitian dengan berbagai instrumen agar dapat menilai kinerja kabinet secara komprehensif. Menurut Yuyut Putri Wahyuni, manajer litbang kabinet, proses penelitian dan pengembangan harus mampu meningkatkan kualitas kinerja kabinet dalam mencapai visi-misi. Yaitu dengan mengawasi dan memperbaiki kinerja setiap elemen, mengkoordinasikan segala hal yang berhubungan dengan evaluasi kabinet, pengoptimalan sumberdaya kabinet, menghilangkan kemungkinan error dalam pengambilan keputusan dan menjamin keberlangsungan sistem dan sub-sistem agar berjalan sesuai dengan fungsinya. 39 • • • •

Mengkoordinasikan segala hal yang berkaitan dalam evaluasi internal kinerja kabinet Melakukan evaluasi kinerja kabinet berdasarkan pandangan dari eksternal kabinet (massa kampus, dosen, alumni dll) dengan berbagai instrumen evaluasi Mengkaji hasil evaluasi dan kemudian menyusun skema perbaikan sistem kerja kabinet Memberikan pertimbangan dan masukan kepada Presiden atau pihak yang berwenang untuk memperbaiki kinerja kabinet

Menteri Kooordinator Perekonomian Visi : Satu dalam kemandirian Misi : • • • • •

39

Mengkoordinasikan kementerian & badan semi otonom yang ada di bawahnya Membudayakan good governance dalam bidang keuangan KM ITB Menanamkan karakter kemandirian pada mahasiswa ITB Memimpin gerakan entrepreneurship KM ITB Menghasilkan produk-produk yang mendukung upaya kemandirian finansial KM ITB

Yuyut Putri Wahyuni, urgensi penelitian dan pengembangan dalam pembangunan fondasi KM ITB yang bergerak bersama rakyat, 2010


43 Bendahara Kabinet • Bertanggungjawab terhadap segala hal yang berkaitan dalam cashflow keuangan kabinet • Menyusun perbaikan dan membagikan Standard Operation Procedure bidang keuangan dalam KM ITB • Memfasilitasi unit dan himpunan dalam memperoleh dana kemahasiswaan dari rektorat Keuangan • Melanjutkan proyek-proyek keuangan yang telah dihasilkan oleh kabinet sebelumnya • Menghasilkan pemasukan dana rutin bagi keberjalanan kabinet • Mengkoordinasikan segala hal yang berkaitan dengan penerimaan pendanaan kabinet yang menggunakan metoda usaha mandiri • Menghasilkan sebuah proyek keuangan yang dapat diturunkan kepada pengurus kabinet berikutnya Ekonomi • Mengadakan program-program yang membentuk jiwa entrepreneurship dari mahasiswa ITB • Mnegkoordinasikan wadah-wadah fasilitator pengembangan potensi gerakan entrepreneurship dalam KM ITB (cth: TEC, Kokesma dsb) • Mensinergiskan dan mengkolaborasikan segala kegiatan yang berkaitan dengan entrepreneurship dalam KM ITB • Memfasilitasi hubungan antara individu maupun organisasi entrepreneur KM ITB terhadap pihak luar • Membangun jaringan entrepreneurship nasional dan global • Mengawasi dan memastikan keberjalanan program ‘IEC 2011’ Menteri Koordinator Bidang I Visi : mengintegrasikan nilai keprofesian dan pengabdian masyarakat dalam pendidikan pembentukan karakter kemahasiswaan Misi : • • • • •

Mengkoordinasikan kementerian & badan semi otonom yang ada di bawahnya Memastikan keberjalanan program-program berkelanjutan dari pengembangan karakter berbasiskan tridharma perguruan tinggi Menghasilkan produk-produk kemahasiswaan yang mengimplementasikan ketiga butir tridharma perguruan tinggi Mengkoordinasikan & mensinergiskan arah gerak semua lembaga kemahasiswaan yang berhubungan dengan keprofesian, PM dalam bingkai kaderisasi Menjadi innovation intermediate dengan mengkoordinasikan PM & Proinov dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan teknologi tepat guna

Akar gerakan kemahasiswaan berasal dari proses pendidikan yang diberikan kepada mahasiswanya. Organisasi mahasiswa seringkali menyebut proses pendidikan dan pewarisan nilai tersebut sebagai proses kaderisasi. Landasan dari digabungkannya PSDM, PM dan Proinov agar mahasiswa yang baru mengalami proses pengkaderan langsung tergambar akan tanggung jawabnya sebagai insan akademis


44 yang juga mengemban amanah tridharma perguruan tinggi. Oleh karena itu sebutan bagi kementerian koordinator bidang I ini adalah menko ‘pengembangan karakter’. Salah satu contoh produk yang ingin dihasilkan dari kemenkoan ini adalah OSKM yang memiliki keberlanjutan dalam bidang pengabdian masyarakat dan aplikasi teknologi tepat guna ke lingkungan sekitar ITB. Untuk kedepan tentunya akan ada banyak lagi produk-produk lain yang dihasilkan oleh kemenkoan I dalam mengintegrasikan nilai keprofesian dan pengabdian masyarakat. Selain itu kemenkoan ini juga bertanggungjawab untuk menumbuh-kembangkan budaya keprofesian dan pengabdian masyarakat yang sedang marak di perbicangkan di kemahasiswaan ITB dalam bentuk pengembangan masyarakat (community development). Seperti yang telah diketahui bersama bahwa dalam membentuk budaya kemahasiswaan, dibutuhkan penanaman nilai melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan. Maka kemenkoan ini harus mampu menjawab tantangan tersebut dalam kemahasiswaan ITB untuk kedepannya. Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian PSDM merupakan ujung tombak pelaksanaan kaderisasi KM ITB. Memiliki posisi sentral dalam mengkoordinasikan semua elemen pengembangan SDM di KM ITB dan berperan penting untuk menjaga ketercapaian RUK dalam diri setiap mahasiswa ITB bersama dengan bantuan unit dan himpunan. Secara umum fungsi kementerian PSDM sudah dimulai sejak pengenalan nilai-nilai kemahasiswaan ITB kepada mahasiswa baru yang kemudian berlanjut pada jenjang kaderisasi lembaga sehingga menjadikan mahasiswa ITB yang lulus kelak sebagai sarjana yang utuh dan memenuhi tugas perguruan tinggi yang telah disebutkan oleh bung Hatta. Kementerian PSDM harus mampu memastikan keberjalanan proses kaderisasi di ITB berlangsung secara kondusif dan menjaga proses pelaksanaannya secara berkala sehingga membentuk pola pikir mahasiswa sebagai insan akademis yang mampu berpikir dan bertindak berlandaskan kebenaran ilmiah serta mampu menghayati dan mengamalkan tridharma perguruan tinggi. Pada masa jenjang awal pelaksanaan kaderisasi, mahasiswa tingkat 1 harus didampingi dan dibina secara intens oleh kementerian PSDM tanpa melupakan peran unit dan himpunan (melalui kaderisasi wilayah). Kemudian pada pelaksanaan tahap berikutnya –yaitu tingkat 2- kementerian PSDM harus menjaga pemahaman agar mahasiswa tetap beraktivitas dan mengembangkan potensi diri seluas-luasnya tanpa tersegmentasi, serta memastikan setiap lembaga saling menghormati dalam pelaksanaan proses kaderisasi masing-masing. Memasuki tingkat 3 maka kementerian PSDM memiliki fungsi untuk melibatkan para pemegang keputusan untuk menghasilkan alur pembinaan yang cocok dan disetujui semua lembaga. Dan masa tingkat 4 bertujuan untuk menjadikan ‘swasta’ sebagai penjaga nilai-nilai kemahasiswaan serta mendorong perbaikan pencapaian KM ITB dan memposisikan diri sebagai calon alumni yang utuh. • •

Mengawal proses integrasi kaderisasi nilai kemahasiswaan dengan nilai keprofesian dan pengabdian masyarakat Koordinator pelaksana event kaderisasi terpusat ITB (OSKM, DAT, DATL, DPK)


45 •

• •

Mengkoordinasikan semua divisi kaderisasi himpunan dan unit untuk pemenuhan kebutuhan kaderisasi, penyamaan frame kaderisasi ITB dan mendapatkan informasi dari keberjalanan kaderisasi ITB Menindaklanjuti permasalahan-permasalahan yang timbul dari event kaderisasi untuk kemudian merumuskan penyelesaiannya dan melaksanakannya bersama dengan pihak terkait (Presiden, Penkesma, Kahim dll) Melaksanakan pembinaan secara penuh kepada mahasiswa TPB 2010 melalui kerjasama dengan unit-unit dalam menumbuhkan sense keberaktivitasan & pengembangan karakter TPB 2010 Mengkoordinasikan himpunan-himpunan dalam pelaksanaan kaderisasi wilayah/fakultas Koordinasi dengan LK untuk penyusunan draft integrasi pendidikan formal & kaderisasi kemahasiswaan ITB

Keprofesian & Inovasi Keprofesian berasal dari bahasa yunani, yaitu proficio yang berarti panggilan jiwa. Semangat proficio inilah yang menjadi falsafah dasar keprofesian mahasiswa ITB. Kementerian proinov tahun ini memiliki misi membangun keunggulan dalam prestasi dan manfaat kepada masyarakat, serta menjadi wadah apresiasi, pembangunan kultur keprofesian, intermediasi dengan masyarakat dan membangun eskalasi keprofesian KM ITB. 40 Kementerian keprofesian dan inovasi merupakan penentu kondusivitas iklim keprofesian di kemahasiswaan ITB. Koordinasi yang sinergis dengan I3M akan menjadikan kemahasiswaan ITB sebagai pusat inovasi karya yang berbasiskan keragaman ilmu sains, rekayasa teknik, seni dan bisnis. Hubungan antara keduanya dapat dianalogikan seperti Menristek dan BPPT di Republik Indonesia, dimana Kementerian Ristek sebagai pembuat kebijakan dan BPPT sebagai pelaksana riset. Secara umum kementerian proinov bertujuan untuk menumbuhkan dan mendorong terbentuknya budaya inovasi keprofesian dalam kemahasiswaan ITB, memfasilitasi dan melayani segala program yang berkaitan dengan keprofesian, menjadi penghubung pengembangan keprofesian di masing-masing lembaga dan memberikan apresiasi kepada setiap entitas kemahasiswaan ITB (individu/komunitas/lembaga) yang telah menunjukkan prestasinya dalam bidang keprofesian. • • • •

40

Menanamkan unsur keprofesian dalam pengembangan karakter kemahasiswaan ITB Menumbuhkan dan menyamakan paradigma ‘proficio’ di setiap himpunan Membentuk pola koordinasi yang tepat bersama dengan I3M agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan Berkoordinasi dengan Satgas Comdev dalam memberi masukan materi atau segala hal yang berkaitan dengan keberlanjutannya

Ahmad Faris SS, Platform Worldclass Proficio, sebuah sinergisasi membangun bangsa bersama rakyat, 2010


46 •

• • • •

Melakukan kegiatan yang meningkatkan wawasan mahasiswa ITB mengenai kebijakankebijakan negara yang berkaitan dengan keprofesiannya (cth: pusat kajian kebijakan publik) Menjadi penghubung antara wadah keprofesian KM ITB dengan pihak-pihak terkait (rektorat, BPPT, Menristek dll) Pendampingan lomba-lomba dalam bidang keprofesian Mengapresiasi prestasi-prestasi mahasiswa ITB dalam bidang keilmuan & keprofesian secara berkala Memetakan potensi keprofesian dari setiap lembaga yang ada di kemahasiswaan ITB

Pengabdian Masyarakat Kementerian pengabdian masyarakat merupakan ujung tombak kabinet KM ITB dalam menyentuh masyarakat dengan asas memberi manfaat. Semangat yang ingin ditularkan kepada mahasiswa ITB adalah bahwa disela-sela rutinitas mahasiswa untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu, berinteraksi dengan masyarakat dan menelaah persoalan-persoalan yang terjadi di dalamnya tetap tidak boleh diabaikan. 41 Sehingga dari sana diharapkan fokus yang dapat dicapai dari tahun ini adalah menghilangkan paradigma bahwa “ITB adalah Menara Gading” dalam masyarakat. Kementerian pengabdian masyarakat merupakan ujung tombak kabinet KM ITB dalam menyentuh masyarakat dengan asas memberi manfaat. Secara umum kementerian PM memiliki posisi sebagai koordinator dalam kegiatan-kegiatan berbasiskan pengabdian masyarakat, seperti penanggulangan bencana, pelayanan-pemberdayaan-pengembangan komunitas dsb. Selain itu kementerian PM juga harus mampu menjadi jembatan penghubung antar elemen kemahasiswaan dengan pihak-pihak luar yang terkait (LPPM ITB, Pemda, Kemensos RI dll). Dalam menjalankan fungsinya, kementerian PM juga harus memastikan keberjalanan berbagai produk turunannya -seperti Ganesha Rescue, SKHOLE, Revitalisasi Gelap Nyawang dan Desa Mitra-bersama dengan segenap elemen lain agar tercapai kolaborasi dan sinergisasi dalam gerakan. Fungsi berikutnya dari kementerian PM adalah ikut menanamkan nilai pengabdian masyarakat dalam pembentukan karakter mahasiswa ITB. Lalu menjadi role model dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat KM ITB. Dari sana diharapkan fokus yang dapat dicapai dari tahun ini adalah menghilangkan paradigma bahwa “ITB adalah Menara Gading” dalam masyarakat. • • •

41

Menanamkan unsur pengabdian masyarakat dalam pengembangan karakter kemahasiswaan ITB Menjalin komunikasi dan berkolaborasi dengan semua pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat di KM ITB Memastikan keberlanjutan produk-produk PM kabinet yang telah ada (GR, RGN, SKHOLE, DesMit)

Ach. Januar J Pratama, essay kementerian pengabdian masyarakat, 2010


47 • • • • •

Membangun kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam pemberdayaan masyarakat di sekitar ITB Mengembangkan jaringan dalam rangka mengembangkan kemampuan & kompetensi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di ITB Menjadi role model –baik kedalam maupun keluar KM ITB- dalam pelaksanaan kegiatan PM Penyusunan SOP penanggulangan bencana agar terbangun kolaborasi & sinergisasi sebagai satu KM ITB Berkoordinasi dengan Satgas Comdev dalam memberi masukan materi atau segala hal yang berkaitan dengan keberlanjutannya

Inkubator Ide & Inovasi Mahasiswa I3M merupakan badan semi otonom yang telah terbentuk sejak tahun 2008. Hingga saat ini I3M masih berupaya menemukan bentuk terbaiknya dalam rangka mencapai tujuannya ketika dibentuk. Satu hal yang pasti adalah I3M tidak akan bisa mencapai tujuan itu sendiri tanpa bantuan dari berbagai pihak, dimana kabinet adalah salah satunya. Oleh karena itu I3M dimasukkan dalam kementerian koordinator bidang 1, agar tercipta pola hubungan yang matang dan berkelanjutan dengan elemen-elemen lain di kemahasiswaan. Secara umum posisi I3M telah dijelaskan pada uraian mengenai kementerian Proinov, dimana kedua elemen ini harus saling bersinergi dan berkolaborasi satu sama lain dalam menumbuhkan budaya inovasi keprofesian dalam kemahasiswaan ITB. Jika proinov berorientasi pada kebijakan, maka I3M berorientasi pada produk penelitian yang dikerjakan oleh suatu entitas keprofesian (individu/komunitas/lembaga). Fungsi I3M jelas seperti yang tertera pada namanya yaitu meng-inkubasi ide-ide yang ditelurkan mahasiswa hingga berhasil menjadi sebuah karya nyata. I3M harus mampu memfasilitasi aspekaspek yang dibutuhkan agar hal tersebut bisa tercapai, tanpa melupakan pentingnya komitmen si pencetus proyek. Dengan kejelasan posisi I3M dalam kabinet tahun ini, diharapkan kedepannya dapat dihasilkan pola hubungan yang paling baik dan mampu menjadi fondasi yang kokoh sehingga dapat diteruskan untuk kepengurusan kabinet berikutnya. • • • •

Membenahi internal I3M sendiri agar mampu bertahan dan tetap melaksanakan tujuan awal dibentuknya Meningkatkan bargain position di massa kampus sebagai badan semi otonom setingkat kementerian Membentuk pola koordinasi yang tepat bersama dengan kementerian Proinov agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan Memastikan keberjalanan proyek yang telah ada

Satgas Community Development Satgas comdev merupakan badan semi otonom yang baru saja terbentuk pada kepengurusan kabinet tahun ini. Tujuan dibentuknya tak lain karena KM ITB telah dipercaya sebagai koordinator pusat Gerakan Mahasiswa Pengabdi Masyarakat Indonesia (GMPMI) yang


48 merupakan hasil dari konferensi mahasiswa saat ITB Fair bulan Februari 2010 lalu. Dalam rangka menjalankan amanat tersebut, maka terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh dalam waktu 4 bulan pertama (baby steps) sebagai korpus. Karena beban ini tak mungkin diberikan hanya kepada kementerian PM atau Proinov saja, maka dibentuklah satgas comdev yang bertugas mengkolaborasikan semua elemen yang terkait dalam pelaksanaannya. Adapun fungsinya merupakan implementasi dari butir-butir baby steps tersebut, yaitu: • • • • • • •

Pembuatan jejaring komunikasi GMPMI di dunia maya Studi feasibilitas bentuk wadah “GMPMI” Pertemuan Lanjutan secara Terpusat (Munas/Muker/Rakernas/dll) Konsolidasi dan publikasi gerakan dengan kampus – kampus di Pulau Pelatihan pelaksanaan kegiatan Pengembangan Masyarakat (Community Development) Publikasi hasil Konferensi Mahasiswa Indonesia Pertemuan Wilayah + konsolidasi wilayah + perluasan jaringan ataupun kampus yang berpartisipasi dalam GMPMI


49

Menteri Koordinator Bidang II Visi : wadah pencerdasan dan sumbangsih KM ITB dalam menata kehidupan berbangsa Misi : • • • •

Mengkoordinasikan semua kementerian yang ada di bawahnya Mampu menginternalisasikan semua landasan filosofi gerakan eksternal KM ITB kepada segenap massa kampus 5K (Kenal, Kerjasama, Kaji, Kawal, Kritisi) Menghasilkan produk gerakan sosial yang bergerak bersama rakyat

Sebutan bagi kementerian koordinator bidang II ini adalah menko ‘kebijakan publik’. Dalam konsepsi kemahasiswaan dijelaskan bahwa salah satu orientasi organisasi KM ITB adalah untuk mewujudkan karya nyata mahasiswa dalam perjuangan menata kehidupan bangsa. Hal tersebut dapat dimanifestasikan dalam bentuk gerakan-gerakan sosial mahasiswa yang berbasis kebenaran ilmiah. Landasan pemikiran mengapa kementerian kajian strategis, sosial-politik dan hubungan luar ditempatkan dalam kemenkoan ini agar tidak lagi terjadi dikotomi antar bidang eksternal-internal, dimana masing-masing bidang seakan terlepas dari kesatuan gerak KM ITB. Dengan itu KM ITB diharapkan tidak melakukan pola “politik mercusuar” dimana gerakan-gerakannya hanya terasa aktif oleh pihak diluar namun tidak cukup banyak mengikutsertakan internal KM ITB dalam setiap gerakannya. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara semua kementerian di bawah kemenkoan bidang II ini diberikan tanggungjawab untuk juga membentuk karakter mahasiswa ITB serta berkewajiban mencerdaskan massa kampus dalam setiap pergerakannya. Hubungan Luar Kementerian hublu mengambil fungsi ‘Kenal’ dan ‘Kerjasama’ dari pelaksanaan misi kemenkoan II. Sebagai bagian dari kabinet yang paling bertanggungjawab terhadap jalinan komunikasi dengan pihak luar KM ITB, maka hublu berfungsi sebagai hub yang mempertemukan berbagai kebutuhan KM ITB dengan pihak luar dan begitu pula sebaliknya. Ruang lingkup kerja hublu tidak terbatas pada yang sudah dijalin namun masih mungkin terus bertambah. Pihak-pihak yang sudah menjalin komunikasi dengan kepengurusan sebelumnya adalah: BEM PT lain, Alumni ITB, Pemerintah, Media Massa, Pengusaha, Tokoh-tokoh nasional, Mahasiswa Luar Negeri dan LSM. Kementerian hublu bukanlah satu-satunya pihak yang bisa menjalin kerjasama dengan pihak luar, namun menjadi pihak yang berkewajiban menjaga (maintanance) hubungan tersebut tetap terjalin hingga sewaktu-waktu dibutuhkan. Oleh karena itu mutlak dibutuhkan koordinasi antar kementerian terkait penjagaan hubungan ini. Selain itu hublu juga memiliki fungsi kedalam KM ITB sendiri, yaitu menambah jaringan keluar dengan bantuan lembaga di KM ITB, mengkoordinir lembaga apabila terdapat kunjungan dari pihak luar dan memfasilitasi kebutuhan lembaga terhadap jaringan keluar.


50 • • • • • • • • •

Membangun komunikasi positif dan kesan yang baik dengan pihak luar KM ITB untuk mempermudah gerakan eksternal KM ITB Memfasilitasi kebutuhan lembaga di KM ITB terhadap jaringan luar Menjaga hubungan dengan jaringan yang sudah terjalin (cth: kunjungan, kartu ucapan hari besar, surat-menyurat elektronik dll) Menambah jaringan dari lembaga di dalam KM ITB Memperbaharui secara berkala database jaringan kabinet KM ITB Berkoordinasi dengan Event Coordinator (EC) di kemenkoan III dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan jaringan terhadap event di KM ITB Berkoordinasi dengan pusdatin di biro kominfo untuk share database ke lembagalembaga kemahasiswaan Berkoordinasi dengan mahasiswa-mahasiswa yang melaksanakan kegiatan keluar negeri untuk mengadakan pencerdasan dan memberikan tambahan jaringan Menyiapkan film pendek/slide yang dapat digunakan untuk mempresentasikan KM ITB bagi kalangan luar

Sosial Politik Kementerian sospol merupakan penanggungjawab gerakan kemahasiswaan ITB dalam bidang sosial politik, baik dalam aspek internal melalui pencerdasan massa kampus maupun eksternal dalam bentuk produk gerakan. Kementerian ini lebih terfokus untuk melaksanakan fungsi ‘Kritisi’ dan ‘Kawal’ dari misi kemenkoan II. Tantangan yang dihadapi oleh gerakan mahasiswa saat ini adalah untuk menghasilkan produk gerakan sosial dengan kemasan yang menarik namun tetap menghasilkan perubahan yang signifikan. Kementerian sospol tahun ini diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut sehingga menjadikan pergerakan KM ITB menjadi pelopor dan memimpin opini masyarakat. Secara umum fungsi sospol adalah mengkoordinasikan dan mencerdaskan seluruh elemen kemahasiswaan dalam setiap bentuk gerakan eksternal KM ITB, merespon dengan cermat & tanggap dinamika isu sosial politik, melakukan pengkajian untuk bidang selain yang dikaji oleh kementerian kajstrat serta menyentuh masyarakat Bandung dengan gerakan-gerakan advokasi. • • • • • • •

Menjadi koordinator gerakan eksternal KM ITB Menghasilkan produk-produk gerakan eksternal yang cerdas, inovatif dan efektif Merespon dengan cermat dan tanggap dinamika isu sosial di masyarakat Mencerdaskan massa kampus terkait gerakan eksternal KM ITB serta mendorong massa kampus untuk melakukan follow upnya Berkoordinasi dengan BEM serta aliansinya dalam gerakan eksternal Berkoordinasi dengan hublu dalam menjalin hubungan dengan pihak terkait Menjadi eksekutor gerakan atas kajian eskalatif kementerian kajstrat dengan pertimbangan momentum yang tepat


51 Kajian Strategis Kementerian Kajstrat merupakan koordinator pengolahan data gerakan eksternal KM ITB yang terfokus pada empat bidang, yaitu: Pendidikan, Energi, Lingkungan dan Industri. Pemilihan keempat fokus isu ini tak terlepas dari keberjalanan kabinet sebelumnya yang mempertimbangkan kedekatan isu dengan core competence dari keilmuan mahasiswa ITB. Kementerian ini mewakili fungsi ‘Kenal’ dan ‘Kaji’ dalam melaksanakan misi kemenkoan II. Posisi kementerian kajstrat berada di titik sentral dengan mengkolaborasikan pengkajian, baik seluruh elemen kemahasiswaan maupun pihak luar KM ITB. Dengan data kajian yang akurat diharapkan KM ITB dapat memiliki gerakan dengan bargain position yang lebih kuat. • •

• • •

Menjadi kordinator terpusat pembahasan 4 fokus isu KM ITB Mendorong serta memberdayakan kajian unit & himpunan yang memiliki concern ke masing-masing fokus isu. − Pendidikan : SKHOLE, PSIK, TIBEN, MG, KSSEP, dan HATI. − Energi : FTTM (migas), TK (Mikrohidro, Biofuel), Biologi (Bio Ethanol), Oseanografi (Energi Angin dan Laut), Geofisika (Geothermal), Fisika (Nuklir dan Sel Surya) − Industri : FTI, SBM, KSSEP − Lingkungan : lembaga-lembaga dibawah Ganesha Hijau Berkoordinasi dengan kementerian sospol dalam gerakan yang terkait 4 fokus isu Berkoordinasi dengan kementerian Proinov dalam menambah data kajian kebijakan publik Menyusun platform gerakan eksternal KM ITB 2010-2011

Menteri Koordinator Bidang III Visi : Menjadi ujung tombak pembangun partisipasi dan rasa kepemilikan mahasiswa terhadap KM ITB Misi : • • • • •

Mengkoordinasikan kementerian & badan semi otonom yang ada di bawahnya Menjaga hubungan & komunikasi yang baik dengan para ketua lembaga KM ITB Menjadi interface antara massa kampus dengan seluruh komponen KM ITB (termasuk kementerian lain dalam kabinet) dalam hal pemenuhan kebutuhan bersama Mendukung pengembangan unit-unit agar mampu mendinamisasi KM ITB Mensinergiskan gerakan dan kegiatan internal skala kampus KM ITB

Dalam konsepsi kemahasiswaan dijelaskan bahwa salah satu orientasi organisasi KM ITB adalah untuk mewadahi upaya pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa yang meliputi pendidikan, kesejahteraan, dan aktualisasi diri. Kabinet KM ITB 2010-2011 menjawab amanat tersebut dengan membentuk sebuah kemenkoan yang fokus dalam pemenuhan hal-hal diatas. Dengan demikian diharapkan apabila kabinet


52 mampu menjawab hal-hal tersebut, maka partisipasi dan rasa kepemilikan mahasiswa terhadap KM ITB dengan sendirinya akan terbangun. Kementerian koordinator bidang III melingkupi kegiatan internal mahasiswa ITB yang membutuhkan inisiasi, koordinasi dan pelayanan dari kabinet sebagai organisasi sentral kemahasiswaan. Secara umum kementerian yang berada di bawah kemenkoan ini bertugas memfasilitasi dan mendinamisasi seluruh himpunan dan rumpun-rumpun unit. Namun selain itu terdapat juga Badan Semi Otonom yang terfokus pada sinergisasi gerakan dan kegiatan internal KM ITB agar bisa memberi dampak yang lebih besar. Oleh karena itu kemenkoan bidang III ini dikenal dengan bidang ‘pelayanan dan dinamisasi kampus’ Olahraga & Kesehatan Kementerian olahraga dan kesehatan secara umum bertujuan untuk menanamkan dan membiasakan pola hidup sehat kepada seluruh mahasiswa ITB. Salah satu potensi yang dapat dioptimalkan adalah jumlah unit olahraga yang banyak dan tersebarnya divisi-divisi olahraga secara merata di setiap himpunan. Namun tantangannya di sisi lain adalah event olahraga internal KM ITB yang belum mampu membuat mahasiswanya menghayati nilai-nilai sportivitas dan meningkatkan keakraban sesamanya. Kementerian orkes tahun ini tentunya masih berperan sebagai fasilitator kebutuhan unit-unit olahraga. Tambahan yang signifikan adalah kata ‘kesehatan’ yang melekat pada nama kementerian, yang berarti tanggungjawab lebih untuk melakukan program-program yang mengkampanyekan peningkatan taraf kesehatan hidup mahasiswa ITB. Selain itu diharapkan kementerian orkes juga dapat meningkatkan jiwa sportivitas dan keharmonisan mahasiswa ITB melalui kegiatan-kegiatan non-olahraga. • •

• • • •

Mengakomodasi dan memfasilitasi kebutuhan unit-unit olahraga Mengkoordinasikan dan mengembangkan potensi komunitas olahraga selain yang terdapat di unit olahraga (cth: divisi-divisi olahraga di himpunan, komunitas bike to work dll) Mengapresiasi prestasi unit-unit olahraga Melaksanakan program-program berkala untuk mengkampanyekan hidup sehat kepada mahasiswa ITB Menginisiasi dan memastikan keberjalanan tim supporter KM ITB Mengawasi dan memastikan kelancaran program “Olimpiade VI KM ITB”

Seni & Budaya Kementerian seni budaya pada awalnya hanya memiliki fungsi pelayanan dan koordinasi terhadap kegiatan dan kebutuhan unit-unit seni budaya. Namun seiring perkembangan, kabinet merasakan pentingnya nilai-nilai luhur seni budaya untuk ditanamkan kepada seluruh mahasiswa ITB. Sehingga kementerian seni budaya tahun ini berupaya dalam memfasilitasi segala kebutuhan perkembangan bidang seni budaya di ITB. Termasuk unit, himpunan hingga komunitas- komunitas seni di dalam kampus. Selain itu kementerian senbud juga diharapkan


53 dapat memberikan metoda yang tepat untuk mencerdaskan mahasiswa ITB dalam memahami permasalahan-permasalahan terkini dengan pendekatan yang lebih ringan dan humanis. Pemahaman yang ingin ditekankan pada kementerian senbud kali ini yaitu manfaat yang dapat dinikmati dari bidang seni budaya tidak melulu berupa produk tangible, seperti seni tari dan seni musik. Namun terdapat juga produk intangible yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh mahasiswa ITB, yaitu nilai-nilai inti yang terkandung dalam setiap kebudayaan, baik dari dalam dan luar negeri. • • • • • •

Mengakomodasi dan memfasilitasi kebutuhan unit-unit seni budaya Mengadakan kegiatan untuk memahamkan dan menanamkan nilai luhur budaya kepada mahasiswa ITB Mengapresiasi prestasi unit seni budaya Memetakan dan mengembangkan potensi komunitas seni selain yang terdapat di unit seni budaya(cth: musang GEA, ITJazz dll) Mengadakan kegiatan berkala yang mengkoordinasikan penampilan unit-unit seni budaya dengan sekaligus bertujuan mencerdaskan mahasiswa ITB Menjadi penghubung antara unit seni budaya dengan pihak luar yang terkait (cth: rektorat)

Pelayanan Kesejahteraan Mahasiswa Kementerian Penkesma berfungsi memetakan dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa ITB secara umum, baik himpunan maupun unit. Prinsip pemenuhan kebutuhan disini bukan berarti penkesma-lah yang menyediakan seluruh kebutuhan tersebut, tapi penkesma sebagai penghubung dengan pihak terkait (salah satunya rektorat) dan kemudian menyelesaikan permasalahan bersama dengan asas gotong royong. Beragam kebutuhan dasar tersebut mencakup ranah kesejahteraan, advokasi, bantuan akademik serta infrastruktur kemahasiswaan. Lebih khusus lagi, kementerian penkesma juga bertanggungjawab dalam mengkoordinasikan elemen kampus untuk pemenuhan kebutuhan bersama dalam tingkat sekunder. Sehingga dalam implementasinya, dapat dipastikan kementerian ini membutuhkan partisipasi penuh dari seluruh elemen yang membutuhkan. • • • • • • •

Membantu advokasi mahasiswa terkait kasus akademik maupun non –akademik Berkoordinasi dengan WRAM beserta jajarannya dalam mengatasi kasus-kasus akademik TPB Menjadi penghubung antara WRSA beserta jajarannya dalam pemenuhan kebutuhan infrastruktur kemahasiswaan Berkoordinasi dengan LK bidang kesejahteraan mahasiswa dalam pemenuhan kebutuhan beasiswa secara umum Berkoordinasi dengan tim beasiswa KM ITB dalam pemenuhan kebutuhan beasiswa internal KM ITB Mendampingi dan membantu keberjalanan Beasiswa BIUS Berkoordinasi dengan divisi akademik himpunan (cth: tutorial TPB dll)


54 • •

Memastikan keberjalanan dan kelancaran pelaksanaan wisuda yang dikoordinasikan oleh kabinet dan LK Mengkoordinasikan pihak-pihak internal KM ITB dalam pemenuhan kebutuhan sekunder lainnya

Event Coordinator Event coordinator adalah sebuah badan semi otonom yang baru dibentuk pada kepengurusan kabinet tahun ini. Tujuan pembentukannya adalah agar kabinet bisa menjadi pusat koordinasi, sinergisasi dan kolaborasi event-event mahasiswa skala kampus ITB sehingga mampu memperoleh dampak yang lebih optimal. Latar belakang dibentuknya BSO ini adalah karena minimnya koordinasi kegiatan-kegiatan sehingga seringkali terjadi benturan-benturan di lapangan pada masa pelaksanaan. Kemudian harus diakui bahwa knowledge sharing di internal masing-masing organisasi kemahasiswaan ITB masih buruk. Sehingga berakibat pada kesalahankesalahan teknis, seperti SOP birokrasi kampus dan format proposal yang berulangkali terjadi tanpa ada perbaikan. Selain berangkat dari permasalahan, EC juga dibentuk dengan harapan agar kegiatan-kegiatan mahasiswa ITB bisa saling melengkapi dan bersinergi hingga menghasilkan dampak yang lebih besar. Kemudian ditambah lagi dengan upaya menjadikan setiap kegiatan skala kampus ITB dapat menerapkan zero waste event dan membuka ruang publik bagi masyarakat sekitar kampus, untuk KM ITB yang bergerak bersama rakyat. • • • • • • • • •

Membantu dan mengkomunikasikan SOP terkait birokrasi kampus kepada setiap kepantiaan besar skala kampus Menyelenggarakan ruang komunikasi dan koordinasi secara berkala (cth: forsil, milis dll) bagi kepanitiaan besar skala kampus Mengkoordinasikan kegiatan dana usaha ke sponsor-sponsor yang dituju oleh setiap kepanitiaan agar tidak terjadi miskomunikasi dan tumpang tindih Memetakan dan mensinergiskan kegiatan-kegiatan kampus yang memiliki arah gerak dan tujuan yang sama (cth: bidang lingkungan hidup, entrepreneurship dll) Berkoordinasi dengan kementerian hubungan luar kabinet dalam mengumpulkan dan membagikan database jaringan yang dibutuhkan Berkoordinasi dengan biro kominfo dalam membantu publikasi kegiatan skala kampus Berkoordinasi dengan manajer admnistrasi kabinet dalam mengimplementasikan ketertiban administrasi dalam kepanitiaan Berkoordinasi dengan Ganesha Hijau untuk membuat kegiatan-kegiatan skala kampus menjadi Zero Waste Event Menekankan kegiatan kegiatan-kegiatan skala kampus ITB agar membuka ruang publik dan mencerdaskan bagi masyarakat luar kampus


55 Ganesha Hijau Ganesha Hijau adalah sebuah komunitas penggiat lingkungan yang berada dalam payung kabinet KM-ITB. Kegiatan rutinnya adalah kumpul rutin seminggu sekali untuk saling bertukar pikiran. Akan tetapi Ganesha Hijau punya peran yang luar biasa dengan cara menginspirasi, mensinergiskan, dan mengkolaborasikan gerakan mahasiswa di ITB untuk upaya pelestarian lingkungan hidup. Secara umum Ganesha Hijau memiliki peran untuk “memimpin” kelompok mahasiswa ITB untuk berjuang dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Salah satu cita-cita Ganesha Hijau (GH) adalah mewujudkan ITB Eco-Campus alias kampus yang berwawasan lingkungan. Namun Ganesha Hijau sendiri tidak akan sanggup jika setiap anggotanya tidak berperan aktif dalam mewujudkan ITB Eco-Campus. Pilar utama Ganesha Hijau adalah lembaga-lembaga dan komunitas-komunitas yang berada didalamnya. Muhammad Fariz selaku ketua GH 2010-2011 menyatakan, “GH memiliki potensi yang luar biasa yang sangat perlu ditingkatkan untuk kedepannya. GH sebagai wadah komunikasi dan jaringan harus memainkan perannya dalam mengoptimalkan setiap potensi didalamnya untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan. Programprogram yang mendukung ITB Eco-Campus perlu dipetakan dengan baik sesuai dengan potensi lembaga-lembaga yang berada di dalam GH. Dalam mewujudkan ITB Eco-Campus, GH sangat perlu untuk berkolaborasi dengan baik dengan pihak rektorat. Saat ini ITB Eco-Campus sudah menjadi Proyek Penelitian Unggulan ITB 2010. GH perlu berkolaborasi dengan baik terhadap tim peneliti ITB Eco-Campus ini, agar hasil penelitian ini dapat terus berkelanjutan. Kemudian GH harus berkolaborasi dengan baik dengan stakeholder lain di luar kampus kita. Semangat berEcoCampus harus disebarkan ke kampus-kampus lain di luar ITB” 42 • • • • •

42

Menjadi wadah komunikasi dan jaringan dalam mengoptimalkan anggota-anggotanya untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan hidup Berkoordinasi dengan kementerian kajian strategis kabinet dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang realita lingkungan Mengimplementasikan kajian-kajian lingkungan menjadi gerakan lingkungan skala kampus Melaksanakan kegiatan berkala dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada masyarakat secara umum dan mahasiswa ITB secara khusus Menjadi penghubung dengan pihak luar KM ITB dalam mengembangkan gerakan ecocampus dan gerakan kepedulian lingkungan (cth: rektorat, BEM kampus lain, komunitas pecinta lingkungan dll) Menjaga kesinambungan program ITB eco-campus dan berkolaborasi dengan tim peneliti dari dosen ITB

Muhammad Fariz, Ganesha Hijau : “Kini dan Esok”, 2010


56 Biro Komunikasi & Informasi Permasalahan informasi adalah salah satu akar masalah dari minimnya partisipasi mahasiswa ITB dalam kegiatan kemahasiswaan. Seringkali massa kampus tidak berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemahasiswaan karena tertahannya arus informasi di lembaga (setelah forsil/ surat diberikan, tapi tidak di komunikasikan kepada massa lembaga), atau kurang menariknya kemasan informasi yang diberikan. Di sisi lain, hasil evaluasi dari keberjalanan kabinet yang lalu adalah kementerian proinfo terlalu mengurusi arus informasi intra kampus, sehingga kurang menguasai informasi arus keluar. Oleh karena itulah biro ini ditempatkan setingkat dengan kemenkoan agar memiliki akses lebih luas tanpa dibatasi bidang internal-eksternal dalam rangka mempublikasikan setiap program kabinet kepada massa kampus. Biro kominfo ini juga dimaksudkan untuk bisa memberi pelayanan kepada massa kampus, baik kepada unit-unit media dan juga lembaga-lembaga yang membutuhkan publikasi di setiap pelaksanaan acaranya. Dengan mengoptimalisasikan keilmuan informasi dan komunikasi yang ada di ITB diharapkan biro kominfo mampu menyentuh permasalahan informasi yang selama ini belum mampu menyentuh langsung ke individu. Menurut M. Anggita Tresnamayung selaku kepala biro kominfo kabinet tahun ini, “kementerian kominfo akan berusaha menciptakan atmosfer dinamis yang akan membuat mahasiswa memiliki pengetahuan terhadap suatu isu yang sedang berkembang. Kemudian menciptakan iklim dinamis di kampus dengan keberaktivitasan mahasiswa terhadap suatu kegiatan kemahasiswaan. Lalu menyediakan jalur informasi dan sirkulasi informasi bagi mahasiswa serta stakeholder lainnya mengenai segala hal yang berkaitan dengan kebijakan kabinet untuk mendukung terciptanya kabinet yang transparan dan akuntabel.” 43 • • • • • • • • •

43

menghimpun semua data kemahasiswaan ITB dan melayani kebutuhan survei terkait kemahasiswaan lalu kemudian menyampaikannya kepada massa kampus sesuai kebutuhan menjadi “wartawan” di setiap kementerian yang mendokumentasikan segala aktivitas di setiap kementerian secara rutin meningkatkan kemampuan jurnalisme anggota kominfo secara khusus dan massa kampus secara umum berkoordinasi dengan kementerian sospol dalam pembuatan press release KM ITB dan pernyataan sikap menjadi filter informasi sebelum keluar dari lingkup KM ITB memperbaiki desain dan tempilan media pembentuk opini massa kampus, (cth: web KM, facebook, twitter, plurk, buletin Soul of campus, agendaganesha) melayani dan memberdayakan unit-unit media dengan mengadakan forum silaturahmi serta berkerjasama untuk penyebaran informasi kemahasiswaan melakukan inovasi terhadap media informasi KM ITB (cth: software, instalasi 3D dll) memanfaatkan momentum-momentum dalam kemahasiswaan untuk mengoptimalkan pemakaian media yang ada. (cth: OSKM untuk menambah keanggotaan agendaganesha dll) Muhammad Anggita Tresnamayung. Branding untuk kemahasiswaan KM ITB. 2010


57

Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan AA Gym


58

Alur gerak kabinet Alur gerak kabinet sebenarnya bersifat paralel, dalam artian tidak harus menunggu satu sama lain sampai selesai. Semua bisa berjalan bersamaan hingga tujuan dari masing-masing tahap tercapai. Pengelompokkan berdasarkan urutan waktu bertujuan untuk lebih memudahkan visualisasi pencapaian selama masa kepengurusan.

Masa Konsolidasi Kabinet (April-Mei) Masa awal konsolidasi kabinet bertujuan untuk membentuk kerjasama tim dan kesamaan pandangan internal kabinet itu sendiri dalam menyusun arah gerak KM ITB di masing-masing bidang. Periode ini ditandai dengan adanya musyawarah kerja dan acara keakraban di internal kabinet. Pembangunan Fondasi KM ITB (Juni-Agustus) Periode ini adalah masa dimana misi membangun jiwa kemahasiswaan ITB mulai ditanamkan melalui pendidikan kebangsaan. Momentum awal untuk memicu hal tersebut adalah OSKM untuk kemudian diteruskan oleh tiap-tiap kementerian untuk menanamkan rasa memiliki terhadap KM ITB, serta membentuk kesadaran kritis dan berkarya dari mahasiswa ITB. Kemudian pada periode ini juga dimulai upaya untuk membangun sistem good governance dan pola koordinasi yang baik antara unit-himpunan-kabinet dalam segala aspek. Hal tersebut ditandai dengan adanya KM ITB Summit.


59 Bersinergi dalam Harmoni (September- Desember) Dalam periode ini mulai banyak kebutuhan KM ITB untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak luar, sehingga dibutuhkan konsolidasi dan pembangunan jaringan eksternal. Momentum-momentum yang menandakan masa ini antara lain ‘Musyawarah Nasional BEM SI’, ‘Perayaan 200 tahun kota Bandung’ dan ‘1 tahun pemerintahan SBY-Boediono’. Selain itu pada periode ini juga akan ditemukan banyak event-event himpunan dan unit dalam skala kampus yang membutuhkan sinergisasi oleh kabinet. Contohnya pasar seni ITB 2010, Fardes HMF, Aeroexpo KMPN, IHRPT hoki ruangan dsb. Tak ketinggalan pada periode ini juga dimulai masa suksesi para ketua himpunan angakatan 2007 menjadi 2008, sehingga dibutuhkan sebuah penanaman nilai dan gerakan secara kultural terkait Platform KM ITB. Bergerak Bersama Rakyat! (Januari – April) Periode ini adalah masa terakhir keberjalanan kabinet dimana mayoritasnya berisi program-program besar kementerian. Contohnya ‘Olimpiade VI KM ITB’, ‘ITB Entrepreneurship Challenge’, ‘Gelap Nyawang Poenya Tjerita’ dsb. Pada masa inilah pembuktian bahwa KM ITB mampu bergerak bersama rakyat. Dengan program-program besar tersebut sebagai toolsnya, diharapkan massa kampus bisa berpartisipasi secara massiv dalam mengikuti kegiatan-kegiatan kabinet yang menitikberatkan pada arahan GBHP kongres dan visi-misi kabinet.


60

Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia Nidji, Laskar Pelangi

You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one John Lennon, Imagine


61

Epilogue : Sebuah mimpi dari KM ITB untuk Almamater, Bangsa dan Dunia Mahasiswa pada akhirnya tetaplah anak-anak muda‌ Betul bahwa sampai saat ini kita memang masih dalam tahap mengkonsumsi dan memodifikasi ide yang dicerna, belum sampai pada tahap mensintesa rumusan dan solusi berbagai permasalahan bangsa. Seorang pemikir besar pun pernah berkata, “Orang muda yang terlalu cepat memimpin akan kehilangan waktu untuk belajarâ€?. Namun kita semua harus percaya bahwa pada masa inilah terjadi periode emas pembentukan ideologi dan karakter gerakan seseorang, sama halnya seperti masa balita yang merupakan periode emas pertumbuhan otak dan sifat manusia. Pemikiran bung Hatta tentang tugas perguruan tinggi pun akan tetap relevan sampai kapanpun. Karena mahasiswa akan selalu menjadi manusia-manusia muda cendekia yang memiliki keinsafan lebih akan keadaan bangsanya dan tanggungjawab lebih akan kesejahteraan masyarakatnya. Kisah-kisah epik dunia telah mencatat bahwa kemunculan para pahlawan peradaban selalu dimulai ketika para pemudanya mampu memiliki mimpi melebihi zamannya, ditambah semangat tak kenal henti untuk mencapainya. Mereka adalah manusia-manusia pembaharu, yang pemikirannnya melintasi langit-langit peradaban, yang kisah perjuangannya telah menginspirasi beragam pergerakan, yang kekuatan tekadnya membuat jutaan orang bertahan dalam berbagai siksa dan penindasan. Itu semua berawal dari mimpi kawan.. Ya, mimpi! Karena mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia.. Kawan, Pernahkah kau membayangkan sebuah dunia impian yang aman dan damai? Dimana seluruh umat manusia bersatu-padu dan bahu membahu dalam membangun dunia yang lebih baik. Tidak ada lagi peperangan, karena setiap konflik yang timbul selalu dapat teratasi dengan komunikasi dialogis. PBB maupun negara adidaya mampu menjadi penengah yang baik dalam mengatasi permasalahan antar negara serta mau meletakkan kedamaian dunia diatas kepentingan segolongan negara. Tidak ada lagi kemiskinan, karena sistem ekonomi yang diimplementasikan mampu mendistribusikan sumber daya dan harta dengan merata. Tidak ada lagi kelaparan, karena seluruh penduduk dunia saling menyayangi dan menjaga bumi sehingga persediaan makanan selalu melimpah. Tidak ada lagi kebodohan, karena pusat-pusat pendidikan terbaik tersebar merata di seluruh dunia. Bayangkan pada saat itu manusia mampu berpergian melintasi batas-batas geografis dengan murah, cepat, aman dan nyaman. Orang-orang dapat menikmati sarapan pagi mereka sambil menikmati indahnya pegunungan Alpen, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menikmati liburan bersama


62 keluarga di Disneyland dan mengakhiri hari dengan makan malam di tengah gemerlapnya kota Dubai. Anak-anak dan pelajar di seluruh dunia bisa saling bertemu dan berbagi kemajuan sehingga memperkaya khasanah kebudayan dunia. Mereka bertemu setiap tahunnya dalam sebuah konferensi tingkat dunia dan di dalamnya membicarakan tentang apa mimpi-mimpi mereka bagi dunia ketika dewasa. Bayangkan para pemimpin negara saling mengunjungi satu sama lain, membicarakan agenda perbaikan dunia di segala bidang. Pemerataan ekonomi, peningkatan taraf kesehatan, mendorong kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan, program pemberantasan kejahatan dan penegakkan supremasi hukum. Saat itu mereka semua bertemu, berdiri sama tinggi - duduk sama rendah, tanpa ada perbedaan. Entah pemimpin itu berasal dari negara di benua Afrika, Amerika, Asia, Eropa atau Australia. Mereka merasa bahwa semua bersaudara. Mereka semua sama-sama anak cucu adam yang diserahi tanggungjawab di dunia untuk meraih kemaslahatan bersama. Saat itu ada sebuah negara maju yang sangat disegani dan dihormati. Sebuah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah dan penduduk yang senantiasa ramah. Disana kemajuan peradaban modern mampu berpadu padan dengan kearifan lokal. Masyarakatnya memiliki etos kerja yang tinggi dan berkemauan belajar tak kenal henti. Mereka menjadi teladan bagi negara lainnya karena mampu hidup sinergis dan harmonis dalam keanekaragaman suku, bangsa dan agama. Serta tak lupa selalu berperan aktif menjaga ketertiban dan perdamaian dunia. Keseharian negara itu diisi dengan berita-berita positif dan prestasi menggembirakan anak bangsa sehingga terus meningkatkan semangat juang. Beragam penemuan mutakhir ilmuwan yang mendapat penghargaan masyarakat ilmiah dunia, rekor tertinggi angka penjualan produk dalam negeri ke berbagai negara, tim olahraga yang menjuarai berbagai kompetisi tingkat dunia, angka kejahatan yang mencapai titik terendah dalam beberapa tahun belakangan. Negara itu dipimpin oleh sosok teladan yang mencintai dan dicintai rakyatnya, tegas dalam memberantas ketidakadilan dan mampu tampil berwibawa di pentas dunia sehingga mengharumkan nama besar bangsanya. Para wakil rakyat rajin mencari dan mendengar aspirasi rakyatnya di berbagai pelosok negeri, mereka tak segan duduk berdiskusi sekaligus mencerdaskan rakyatnya bahkan di warung-warung kopi. Sehingga undang-undang yang dihasilkan mampu memberikan jaminan kepastian hukum dan mengakomodasi berbagai kebutuhan. Hakim-hakim dan jaksa bekerja dengan jujur dalam menegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, dibantu polisi sebagai pamong praja yang melayani rakyatnya. Tak jarang didengar berita para pejabat nakal dan orang dekat penguasa yang dihukum dengan adil sehingga menimbulkan rasa aman. Saat itu istilah ‘Korupsi’, ‘Kolusi’ dan ‘Nepotisme’ telah menjadi sejarah yang tak pernah dilihat lagi dalam keseharian. Para pengusaha berniaga dengan jiwa entrepreneur sejati sehingga mampu memutar roda perekonomian mulai dari tingkat mikro hingga makro. Para ulama dan agamawan saling menghormati dan menjaga moral sekaligus persatuan bangsa. Tahukah kau negara apa itu? Negara itu bernama… Indonesia


63 Ya, Indonesia saat itu memiliki segala yang menjadi impian semua bangsa. Kekayaan alamnya yang melimpah mampu dikelola sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat. Sistem ekonominya yang kuat mampu memberdayakan segala potensi sehingga menjadi bangsa yang mandiri. Kebijakan politik yang senantiasa bermanfaat dan mampu mengakomodasi semua aspirasi. Kekuatan hukum yang berintegritas dan mampu menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Pendidikan yang berkualitas dan merata tanpa terkecuali. Jaminan kesehatan dan taraf hidup layak begi seluruh penduduk negeri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengangkat harkat dan martabat. Tak ketinggalan para pemimpin yang bergerak bersama rakyatnya. Tahukah kau kawan? Kebangkitan bangsa itu bermula dari sebuah kampus. Disana diajarkan segala pengetahuan yang dibutuhkan untuk memacu diri menjadi pribadi yang unggul sekaligus menjadi motor penggerak peradaban. Ilmu sains yang diajarkan menghasilkan para peraih penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Ilmu rekayasa yang dikembangkan mampu menjadi rahasia kebangkitan industri dan pembangunan di segala bidang. Ilmu bisnis yang diaplikasikan mampu menghasilkan jiwa entrepreneur yang mensejahterakan. Dan ilmu seni yang dimiliki mampu membuat manusianya tak lepas dari segala aspek kemanusiaan. Kampus itu adalah‌ Institut Teknologi Bandung Didalamnya terdapat sebuah organisasi kemahasiswaan yang mampu melengkapi tujuan pendidikan. Organisasi itu mampu menghunjamkan visi hidup agar anggotanya dapat bermanfaat sebesar-besarnya. Menyediakan alam kebebasan berpikir seluas-luasnya, mampu memberdayakan segala potensi diri para anggotanya dan menjadikan mereka menjadi seutuhnya insan akademis dan manusia pembelajar. Bersamaan dengan proses tersebut, mahasiswa pun mampu memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan bangsanya. Baik dari sisi sosial-politik, kemanusiaan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya. Saat itu mahasiswa mengisi ruang-ruang publik kampus dengan beragam aktivitas bermanfaat. Ketika memasuki gerbang depan terlihat para mahasiswa yang membawa sepeda maupun berjalan kaki dalam rangka mengurangi polusi, di lapangan basket terlihat dosen yang bermain bersama mahasiswanya ditemani dengan alunan musik merdu orchestra. Di selasar-selasar labtek terdengar celotehan-celotehan diskusi tentang hukum-hukum alam beserta pemanfaatannya, kemudian terlihat sekelompok mahasiswa yang sedang fokus mendengarkan kakak senior mereka yang menjelaskan mengenai pergiliran kekuasaan peradaban bangsa-bangsa. Ketika memasuki masa ujian, tidak ada lagi pengawas yang berada di ruang-ruang kelas. Karena semua peserta sadar bahwa ujian merupakan metoda untuk mengukur pemahaman diri sendiri, bukan orang lain. Selain itu sudah barang tentu mahasiswa ITB lebih takut karena merasa diawasi Tuhannya dibandingkan manusia. Ketika ada berita tentang ketidakadilan, dengan mudahnya ribuan mahasiswa berkumpul di lapangan basket. Mereka saling bergantian berorasi menenentang keras segala bentuk penindasan diatas muka bumi. Ketika oknum-oknum pemerintah terindikasi melakukan kebobrokan,


64 segenap unit-unit kajian seketika mengumpulkan data untuk dikaji untuk kemudian dipublikasikan di media sebagai upaya pencerdasan. Ketika terjadi bencana, sekejap dana bantuan terkumpul dan mahasiswa yang memiliki kapabilitas lapangan langsung memimpin pasukan bantuan menuju daerah bencana. Ya, saat itu semua bergerak bersama, beraturan dan seirama.. ini mimpiku kawan, bagi KM ITB, Indonesia dan Dunia.. karena kini telah tiba waktu kita kawan berbakti untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater‌

Herry Dharmawan Presiden KM ITB 2010-2011

Mari bermimpi tentang takdir Indonesia di masa depan ‌ Oleh Ridwansyah Yusuf Achmad


65 Pagi yang cerah Pagi yang menginspirasi Melangkah kaki dengan segenap harap Menyambut indahnya hari Yang telah menunggu kehadiranku Selangkah demi selangkah Ku lewati, ku berlari Dengan senyuman tulus Melalui fenomena hidup Waktu yang terlewat Buat ku adalah suatu kenangan untuk masa depan Yang tak akan ku sia-siakan Demi suatu harap Untuk menjadikan diri Kian berarti untukmu, Indonesiaku.. Karena apa yang kita lakukan sekarang merupakan bagian dari sejarah Indonesia di masa depan. Sejarah yang ditorehkan dengan pena perjuangan oleh para pengisi kemerdekaan Sejarah yang berisi kebanggaan dan catatan emas keberhasilan Keberhasilan Indonesia menjadi negara yang mandiri setelah kebangkitan Saat itulah, saat ‌ Indonesia tersenyum.

Jadi, kita pengomentar sejati? Oleh Shana Fatina Sukarsono


66 sejauh ini bertemu dengan rekan-rekan, ternyata banyak banget yang punya konsep untuk perbaikan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat kita. sejauh ini berjalan-jalan, menemukan banyak sekali kesempatan dan peluang untuk kembali menancapkan kejayaan bangsa kita. sejauh ini bermain-main, menemukan banyak sekali ide liar dan gila dan luar biasa dan ajaib yang dirasa mampu menggetarkan dan merombak keseluruhan ketidakberesan di negara ini yang terjadi. tapi, apa kita memang pengomentar sejati? kita hobi sekali mengomentari dan membuat konsep, dan kemudian berdebat tentang konsep satu dan lainnya sementar orang lain tidak bisa makan, tidak bisa jalan-jalan, tidak bisa main-main. kita hobi sekali, saling menegasikan, menjadi manusia paling hebat dan paling benar. waduh, bukan jamannya lagi Bung! negeri ini sekarat, dan sekarang semua tangan perlu turun untuk mengobatinya. patungan aja, kamu bisa apa, saya bisa apa, kita bareng bisa apa. Indonesia lagi butuh satu kata : BISA! yah, ayo, kita udah banyak ide dan gagasan. teman bilang, ide itu harus diberi makan, biar tumbuh subur dan kemudian berbuah. meski dunia persilatan keras, dan banyak cobaan, tapi emang komitmen dan persistensi yang bakal selalu diuji. huff. huff. jangan lelah berlari. think. talk. act. jadi, jangan sampai kita berakhir dengan berhasil mendefinisikan sejuta persoalan dalam bangsa ini, but nothing’s happened. mari. mari. mari. untuk anak cucu, kehidupan kalian pasti akan semakin baik - ya dong, kan ada kita-kita di jaman sekarang yang bakal beresin dulu buat kalian,hehe – jaga negeri ini. *ada yang mau ikutan bikin Indonesia masa depan?

Jayalah Indonesia‌. Oleh Zulkaida Akbar


67 Berpagut dalam diri merah dan putih Merah darah putih tulang berpeluk dalam satu impian Detak detak waktu menjadi ajaib saat kita melangkah di sini Dan nafas wangi mewarnai harapan bumi Inilah Indonesiaku….. Apakah kau rasa getarnya? Dalam benakmu dan alam bawah sadarmu, wahai putra bangsa… Cinta dan Kesetiaan menyatu dalam hasrat Jayalah Indonesia Kita bukan Sukarno, bukan Hatta bukan pula Tan Malaka Kita adalah anak negri yang memiliki masa sendiri Saat ini detik ini Dan kitalah yang kan mengukir sejarah Bersama Karna kita tak mampu sendiri Dan mimpi mimpi kita lebih dari sekedar mimpiku Negri kita bukan negri seribu satu malam Negri kita bukanlah tirai besi atau Tirai bambu Kita adalah kita Bukan siapa siapa Maka tegaklah dalam ego yang melantunkan melodi pucuk rindu Akan jamrud khatulistiwa dan Samudra penuh jejak Kisah kisah anak manusia dan keberanian serta kebijakan Dalam sastra pewayangan Betapa Indah jika kita berani merajut kisah sejarah…. penuh darah dan air mata namun ditulis dengan tinta emas Dan Harum pandan serta bambu runcing Aku bosan… Akan cerita cerita ibuku tentang sejuta kepahlawanan Diponegoro,pattimura hingga Sisingamangaraja Karna aku ingin Menjadi pahlawan yang suatu saat menjadi dongeng Diceritakan pada malam malam selepas senja Ibu pada anaknya yang tumbuh Dewasa Abadilah, Abadilah kisahku Ditulis dengan daun bambu dan pucuk rindu Serta haru darah dan air mata… Jayalah Indonesia!

Platform KM-ITB 2010/2011  

arah gerak KM-ITB

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you